lukas 1-12 9


 entang kedatangan-Nya dan mempersiapkan orang 

untuk menyambut-Nya. Seandainya Mesias akan muncul se-

bagai seorang raja duniawi, dengan segala sifat dan ciri dunia-

wi seperti yang diharapkan orang Yahudi, maka pastilah utus-

an-Nya itu sudah tampil dalam kebesaran seorang panglima 

atau dalam kegagahan bentara bersenjata lengkap. Namun, 

cukup jelas terlihat bahwa kerajaan Kristus bersifat rohaniah, 

sebab  utusan yang disuruh-Nya mendahului untuk memper-

siapkan jalan-Nya, melakukan tugasnya itu dengan menyeru-

kan pertobatan dan pembaruan hati dan hidup manusia. Yang 

pasti, kerajaan itu bukan berasal dari dunia ini. 

5.  Menurut cerita ini, ia begitu besar hingga benar-benar tidak 

ada nabi yang melebihi dia. Para nabi yaitu  orang-orang ter-

besar yang dilahirkan oleh wanita , lebih terhormat dari-

pada raja-raja dan penguasa, dan Yohanes itu yang terbesar 

dari antara semua nabi. Negeri itu tidak menyadari betapa ber-

harganya, betapa tak ternilainya orang yang hidup di antara 

mereka ini, saat  Yohanes Pembaptis pergi ke sana kemari 

untuk berkhotbah dan membaptis. Walaupun demikian, orang 

yang terkecil dalam Kerajaan Tuhan   lebih besar dari padanya. 

Pelayan Injil yang terkecil yang telah memperoleh rahmat 

Tuhan sehingga menjadi terampil dan setia dalam pekerjaan-

Nya, atau rasul-rasul serta pemberita Injil pertama yang terke-

cil yang dipekerjakan untuk suatu tugas yang lebih mulia, 

Injil Lukas 7:19-35 

 257 

memiliki  kedudukan yang lebih terhormat lagi daripada Yo-

hanes Pembaptis. Yang terkecil dari orang-orang yang meng-

ikuti Anak Domba itu jauh melebihi kebesaran orang-orang 

yang tampil mendahului-Nya. Oleh sebab itu, mereka yang hi-

dup di bawah kemurahan Injil memiliki tanggung jawab yang 

jauh lebih banyak. 

III. Di sini diceritakan tentang kecaman yang pantas diterima orang-

orang dari angkatan itu, yang tidak mau digerakkan oleh pelayan-

an Yohanes Pembaptis atau Yesus Kristus sendiri. 

1. Di sini Kristus menunjukkan betapa Yohanes Pembaptis di-

pandang rendah saat  ia berkhotbah dan membaptis.  

(1) Orang-orang yang menghargainya hanyalah orang-orang 

biasa, yang di mata golongan terpandang lebih membawa 

aib daripada penghargaan baginya (ay. 29). Orang banyak, 

yakni gerombolan orang kasar yang disebut sebagai orang 

banyak yang tidak mengenal hukum Taurat, yang terkutuk 

(Yoh. 7:49), dan para pemungut cukai, orang-orang yang 

punya nama buruk yang biasa dianggap berakhlak bejat, 

memberi diri dibaptis oleh Yohanes dan menjadi murid-

muridnya. Sedangkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli 

Taurat, walaupun mereka itu merupakan karya mulia anu-

gerah ilahi, tidak memuliakan Yohanes di mata dunia. Se-

baliknya, orang-orang rendah tadi melalui pertobatan dan 

pembaruan diri, mengakui kebenaran Tuhan  , mengakui per-

buatan serta kebijakan-Nya dalam menunjuk orang seperti 

Yohanes Pembaptis menjadi pembuka jalan bagi Mesias. 

Dengan demikian orang-orang rendah itu telah memperli-

hatkan bahwa itulah tindakan terbaik yang sudah mereka 

ambil, sebab apa pun jadinya bagi orang lain, bagi mereka 

semuanya ini tidaklah sia-sia.  

(2) Orang-orang terkemuka dari jemaat dan bangsa itu yakni 

orang-orang berbudi dan pembesar negeri, yang mempu-

nyai banyak kesempatan untuk menghormati Yohanes di 

depan umum, tidak berbuat demikian namun  malah berusa-

ha menghina dia sebisa mereka. Mereka memang mende-

ngarkan perkataannya, namun  mereka tidak mau dibaptis 

olehnya (ay. 30). Orang-orang Farisi yang paling terkenal 


 258

dalam hal beragama dan beribadah, serta para ahli Taurat, 

yang terkenal sebab  sangat terpelajar terutama dalam pe-

ngetahuan mereka tentang Kitab Suci, menolak rencana 

Tuhan   bagi diri mereka sendiri. Mereka mengacaukan renca-

na Tuhan  . Mereka menerima anugerah Tuhan   melalui baptis-

an Yohanes dengan sia-sia. Dengan mengirimkan sang 

utusan itu ke tengah mereka, Tuhan   memiliki  semacam 

tujuan yang baik bagi mereka, yaitu untuk merancang ke-

selamatan bagi mereka. sebab  itu, seandainya mereka me-

nerima maksud Tuhan   itu, itu yaitu  untuk keuntungan diri 

mereka sendiri, mereka selamat untuk selamanya. Namun, 

yang terjadi, mereka menolaknya dan tidak mau menyetu-

jui maksud Tuhan  , dan hal itu berbalik melawan mereka 

menjadi kebinasaan bagi mereka. Mereka kehilangan man-

faat baik yang sebenarnya disediakan bagi mereka, dan bu-

kan hanya itu, mereka juga kehilangan anugerah Tuhan  , ka-

rena mengunci pintu sendiri. Juga, dengan menolak tata 

tertib yang melayakkan mereka bagi kerajaan Mesias, me-

reka telah mencegah diri masuk ke dalamnya. Mereka bu-

kan saja mengenyahkan diri sendiri, namun  juga mengha-

langi orang lain untuk masuk ke dalam kerajaan itu. 

2.  Di sini Ia menunjukkan sifat angkatan itu yang suka melawan 

melalui pertengkaran-pertengkaran mereka dengan Yohanes 

dan Kristus, serta prasangka mereka terhadap keduanya. 

(1) Mereka hanya mengolok-olok jalan-jalan Tuhan   yang sebe-

narnya justru dipakai-Nya untuk kebaikan mereka (ay. 31): 

“Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari ang-

katan ini? Hal bodoh apa yang dapat Ku pakai untuk meng-

gambarkan mereka ini? Mereka seperti anak-anak yang du-

duk di pasar, yang tidak pernah memikirkan hal-hal yang 

penting, namun  hanya suka bermain-main saja. Mereka ber-

buat seakan-akan Tuhan   sedang bercanda dengan mereka 

dalam semua hal yang dilakukan-Nya untuk membawa ke-

baikan bagi mereka, seolah seperti anak-anak yang bercan-

da satu sama lain di pasar (ay. 32). Mereka menolak semua 

jalan-Nya dengan bersenda gurau, dan menganggapnya ti-

dak lebih dari sekadar pertunjukan besar belaka.” Inilah 

kehancuran orang banyak, mereka tidak pernah bisa men-

Injil Lukas 7:19-35 

 259 

dorong diri untuk memikirkan urusan jiwa mereka dengan 

sungguh-sungguh. Orang-orang tua yang duduk di Mahka-

mah Agama hanya bersikap seperti anak-anak yang duduk 

di pasar. Mereka tidak peduli pada perkara-perkara yang 

berkaitan dengan damai abadi, sama seperti orang dewasa 

yang hanya suka pada permainan anak-anak. Betapa bo-

doh dan sia-sianya dunia yang buta dan fasik ini! Kiranya 

Tuhan membangunkan mereka dari rasa aman mereka itu. 

(2)  Mereka masih saja mencari-cari kesalahan orang lain.  

[1] Yohanes Pembaptis seorang yang sangat mengucilkan 

diri dari kenikmatan dunia ini, lebih banyak hidup me-

nyendiri, dan dia patut dikagumi sebab  sifat rendah 

hatinya, sederhana, dan menyangkal diri. Ia patut dide-

ngar sebagai orang yang bijak dan penuh perenungan. 

Namun, bukannya dipuji dengan semuanya ini, ia ma-

lah dicela. Hanya sebab  ia datang dengan tidak makan 

dan tidak minum begitu sering dan dengan senang hati 

seperti yang dilakukan orang lain, kamu berkata, “Ia di-

kuasai setan, pemurung, kerasukan, seperti orang kera-

sukan yang berkeliaran di pekuburan, meskipun ia 

tidak seliar itu.”  

[2] Yesus Tuhan kita lebih bebas dan terbuka dalam ting-

kah lakunya. Ia datang, makan dan minum (ay. 34). Ia 

bersedia makan bersama orang Farisi meskipun Ia tahu 

bahwa mereka tidak peduli dengan Dia. Ia melakukan 

hal yang sama juga dengan para pemungut cukai, mes-

kipun Ia tahu bahwa mereka tidak menghargai-Nya. Na-

mun, dengan harapan dapat berbuat baik kepada mere-

ka semua, Ia bergaul akrab dengan mereka. Jadi, tam-

paklah di sini bahwa pelayanan Kristus sangat berbeda 

dalam sifat dan pelaksanaannya, begitu pula dengan ca-

ra berkhotbah dan gaya hidup-Nya. Namun, semuanya 

baik dan berguna. Ada rupa-rupa karunia, namun  ma-

sing-masing untuk kepentingan bersama. Oleh sebab itu 

janganlah ada yang menjadikan dirinya patokan bagi 

orang lain, atau mencerca orang lain yang tidak mela-

kukan sesuatu seperti mereka. Yohanes Pembaptis 

memberi kesaksian tentang Kristus, dan Kristus memuji 

Yohanes Pembaptis, meskipun cara hidup mereka ber-


 260

tolak belakang satu sama lainnya. Namun, musuh ber-

sama mereka mencerca mereka berdua. Orang-orang 

yang menggambarkan Yohanes sebagai orang yang tidak 

waras sebab  ia datang tidak makan dan tidak minum, 

menggambarkan Yesus Tuhan kita sebagai orang yang 

rusak akhlak-Nya sebab  Ia datang makan dan minum. 

Ia seorang pelahap dan peminum. Maksud jahat tidak 

pernah berkata-kata baik. Lihatlah kebencian orang ja-

hat dan bagaimana mereka mereka-reka yang terburuk 

terhadap setiap hal yang mereka temui dalam Injil, da-

lam para pemberitanya dan penganutnya. Dan dengan 

berbuat demikian mereka menyangka telah berhasil me-

rendahkan orang-orang ini, padahal sebenarnya mereka 

justru menghancurkan diri sendiri. 

3.  Kristus menunjukkan bahwa kendati demikian, Tuhan   akan di-

permuliakan dalam keselamatan sisa-sisa orang pilihan (ay. 

35): Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya. 

Ada orang-orang yang diberi hikmat untuk menerimanya, dan 

melalui anugerah Tuhan  , mereka akan menyerahkan diri kepa-

da pimpinan dan penguasaan hikmat. Dengan demikian mere-

ka membenarkan hikmat dalam cara-cara yang membawa me-

reka pada penyerahan diri itu. Hal ini menjadikan mereka se-

bagai sisa-sisa yang terpilih. Anak-anak hikmat sama-sama 

sependapat bahwa mereka semua terpuaskan dengan cara-

cara anugerah yang dipakai  hikmat ilahi, dan mereka tidak 

merasa rugi diolok-olok oleh orang lain sebab nya. 

Kristus di Rumah Orang Farisi  

(7:36-50) 

36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. 

Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 37 Di kota itu ada 

seorang wanita  yang terkenal sebagai seorang berdosa. saat  perem-

puan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, 

datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 38 Sam-

bil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu memba-

sahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, 

lalu   ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi 

itu. 39 saat  orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata 

dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah 

wanita  yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa wanita  itu 

Injil Lukas 7:36-50 

 261 

yaitu  seorang berdosa.” 40 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang 

hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.” 41 “Ada 

dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang ber-

hutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 42 sebab  mereka tidak sang-

gup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di 

antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” 43 Jawab Simon: “Aku kira 

dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Be-

tul pendapatmu itu.” 44 Dan sambil berpaling kepada wanita  itu, Ia ber-

kata kepada Simon: “Engkau lihat wanita  ini? Aku masuk ke rumahmu, 

namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, namun  

dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambut-

nya. 45 Engkau tidak mencium Aku, namun  sejak Aku masuk ia tiada henti-

hentinya mencium kaki-Ku. 46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan 

minyak, namun  dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 47 Sebab itu 

Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia 

telah banyak berbuat kasih. namun  orang yang sedikit diampuni, sedikit juga 

ia berbuat kasih. 48 Lalu Ia berkata kepada wanita  itu: “Dosamu telah di-

ampuni.” 49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam 

hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” 50 namun  

Yesus berkata kepada wanita  itu: “Imanmu telah menyelamatkan eng-

kau, pergilah dengan selamat!” 

Kapan dan di mana penggalan kisah ini terjadi tidak dinyatakan. Di-

bandingkan dengan para penulis Injil lainnya, dalam penyampaian 

ceritanya, Lukas tidak terlampau memperhatikan soal urutan waktu 

kejadian. Namun, tampak di sini bahwa cerita ini disampaikan saat  

Kristus dicela sebagai sahabat pemungut cukai dan orang berdosa, 

dengan maksud untuk menunjukkan bahwa hanya demi kebaikan 

mereka dan untuk membawa mereka kepada pertobatanlah Ia datang 

berbincang-bincang dengan mereka. Mereka yang diperbolehkan-Nya 

mendengar perkataan-Nya lalu   diubahkan, atau diharapkan 

berubah sama sekali. Siapa wanita  yang di sini memperlihatkan 

kasih sayang sedalam itu kepada Kristus, tidak disebutkan. Umum-

nya dikatakan bahwa dia yaitu  Maria Magdalena, namun  saya tidak 

menemukan dasar atas pendapat ini di dalam Kitab Suci. Maria Mag-

dalena digambarkan (Luk. 8:2 dan Mrk. 16:9) sebagai salah seorang 

yang dibebaskan Kristus dari tujuh roh jahat. Namun, hal itu tidak di-

sebutkan di sini, dan oleh sebab itu ada kemungkinan wanita  ini 

bukan Maria Magdalena.  

Sekarang perhatikanlah: 

 

I.   Hiburan yang diberikan seorang Farisi kepada Kristus, dan kese-

diaan-Nya untuk menerima undangan itu (ay. 36): Seorang Farisi 

mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Mungkin ia 

menyangka namanya akan terkenal apabila ia mengundang tamu 


 262

seperti ini dalam perjamuannya, atau kehadiran-Nya bisa menjadi 

hiburan bagi dia beserta keluarga dan teman-temannya. Seperti-

nya orang Farisi ini tidak percaya kepada Kristus, sebab ia tidak 

mau mengakui-Nya sebagai nabi (ay. 39). Walaupun demikian, 

Kristus menerima undangannya, datang ke rumah orang Farisi itu, 

lalu duduk makan, agar mereka dapat melihat bahwa Ia mau ber-

gaul dengan siapa saja, baik dengan orang Farisi maupun dengan 

para pemungut cukai, dengan harapan dapat menolong mereka. 

Orang-orang yang memiliki cukup hikmat dan anugerah boleh 

tampil di tengah masyarakat yang berprasangka terhadap Kristus 

dan agama-Nya untuk mengajar dan berdebat dengan mereka 

yang berprasangka buruk itu. 

II.  Rasa hormat mendalam ditunjukkan kepada-Nya oleh seorang 

berdosa yang penuh penyesalan, saat  Ia sedang duduk makan 

di rumah orang Farisi. wanita  itu berasal dari kota itu, se-

orang yang berdosa, seorang bukan-Yahudi, seorang wanita  

sundal saya pikir yang dikenal demikian, dan punya nama buruk. 

Ia mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi 

itu. Setelah mendengar khotbah-Nya, ia bertobat dari jalan hidup-

nya yang buruk dan datang untuk menyatakan kewajibannya ke-

pada-Nya, dan ia belum sempat melakukannya dengan cara selain 

membasahi kaki-Nya dan mengurapi-Nya dengan minyak harum 

yang sengaja dibawanya untuk tujuan itu. Cara orang duduk di 

meja pada zaman itu membuat kaki orang itu berada di belakang 

sebagian. Jadi, wanita  ini tidak memandang wajah Kristus 

secara langsung, namun  menghampiri Dia dari belakang-Nya. Ia 

melakukan pekerjaan seorang pelayan yang memang bertugas 

membasuh kaki para tamu (1Sam. 25:41) dan mempersiapkan mi-

nyaknya.  

Sekarang kita amati apa yang dilakukan wanita  yang baik ini: 

1. Ia merasa luar biasa hina sebab  dosa. Ia berdiri di belakang-

Nya sambil menangis. Matanya telah menjadi jalan masuk dan 

jalan keluar bagi dosa, dan sekarang ia mengubah matanya itu 

menjadi sumber air mata. Sekarang wajah yang biasanya pe-

nuh riasan itu tampak buruk sebab  menangis. Rambut yang 

biasanya dikepang-kepang dan penuh hiasan itu sekarang di-

jadikannya penyeka. Kita punya alasan untuk berpikir bahwa 

Injil Lukas 7:36-50 

 263 

sebelum itu, wanita  ini telah menangis dan menyesali do-

sanya. Namun, sekarang setelah memperoleh kesempatan un-

tuk datang kepada Kristus, luka itu terbuka kembali dan ke-

sedihannya berulang. Perhatikanlah, alangkah baiknya apabila 

orang yang datang kepada Kristus dengan penuh penyesalan, 

kembali menangisi dan merasa malu atas dosanya, waktu Ia 

mengadakan pendamaian baginya (Yeh. 16:63).  

2. Kasih sayangnya yang mendalam terhadap Tuhan Yesus. Hal 

inilah yang terutama diperhatikan Yesus Tuhan kita, bahwa 

wanita  itu banyak berbuat kasih (ay. 42, 47). Ia memba-

suh kaki-Nya, sebagai tanda bahwa ia rela menundukkan diri 

untuk melakukan tugas paling hina apa saja untuk menghor-

mati-Nya. Ia bahkan membasuh kaki-Nya dengan air matanya, 

air mata sukacita. Hatinya sangat bahagia sebab  bisa berada 

begitu dekat dengan Juruselamat yang begitu dikasihi jiwanya. 

Ia mencium kaki-Nya, bagaikan orang yang merasa tidak layak 

menerima kecupan bibir-Nya, seperti yang begitu didambakan 

sang mempelai (Kid. 1:2). Ini yaitu  ciuman penuh pemujaan 

sekaligus kasih sayang. Ia menyekanya dengan rambutnya, 

seperti orang yang sepenuhnya mengabdi demi kehormatan-

Nya. Kedua matanya mengalirkan air untuk membasuh kaki-

Nya, dan rambutnya menjadi kain penyeka. Ia meminyaki-Nya 

dengan minyak wangi itu, mengakui-Nya sebagai Mesias, Dia 

yang diurapi. Ia mengurapi kaki-Nya sebagai tanda setuju atas 

rancangan Tuhan   dalam mengurapi kepala-Nya dengan minyak 

sebagai tanda kesukaan. Perhatikanlah, semua orang yang 

benar-benar menyesali dosanya akan sangat mengasihi Tuhan 

Yesus. 

III. Serangan yang dilancarkan orang Farisi terhadap Kristus sebab  

menerima penghormatan yang diberikan wanita  yang penuh 

penyesalan itu (ay. 39): Ia berkata dalam hatinya (tanpa menya-

dari bahwa Kristus tahu apa yang dipikirkannya), “Jika Ia ini nabi, 

Ia pasti akan tahu bahwa wanita  ini yaitu  seorang berdosa, 

seorang bukan-Yahudi, dan memiliki  nama buruk. Jika Ia be-

gitu suci, Ia tentu tidak akan membiarkan wanita  itu menda-

tangi-Nya sedekat itu, sebab  dapatkah orang semacam itu men-

dekati seorang nabi tanpa membuat hatinya tergetar?” Lihatlah 

betapa mudahnya orang-orang congkak dan berpikiran sempit 


 264

menganggap bahwa orang lain juga sama congkak dan suka me-

ngecamnya seperti mereka. Seandainya wanita  itu menyen-

tuh dirinya, Simon mungkin akan berkata, “Menjauhlah, jangan-

lah meraba aku, nanti engkau menjadi kudus olehku” (Yes. 65:5), 

dan sangkanya, Kristus pun akan berkata demikian. 

IV. Kristus membenarkan apa yang dilakukan wanita  itu terha-

dap Dia. Ia juga membenarkan diri-Nya sendiri sebab  membiar-

kan hal itu terjadi. Kristus mengetahui apa yang dikatakan orang 

Farisi itu dalam hatinya, lalu memberikan jawaban, “Simon, ada 

yang hendak Kukatakan kepadamu” (ay. 40). Walaupun dilayani 

dengan baik oleh Simon dalam perjamuannya, Ia tetap menegur 

Simon sebab  Ia melihat ada yang salah pada dirinya, dan tidak 

mau mendatangkan dosa kepada dirinya. Kepada orang-orang 

yang dalam diri mereka ada  sesuatu yang tidak disukai 

Kristus, akan ada yang hendak dikatakan-Nya kepada mereka, 

sebab Roh-Nya akan menginsyafkan. Simon bersedia mendengar-

kan, katanya, “Katakanlah, Guru.” Meskipun ia tidak dapat me-

mercayai bahwa Dia seorang nabi (sebab Ia tidak tampak sebaik 

dan seteliti seperti dirinya), ia menyebut-Nya Guru, seperti orang-

orang yang berseru, “Tuhan, Tuhan,” namun  tidak melakukan apa 

yang dikatakan-Nya. Sekarang, sebagai jawaban atas perkataan 

orang Farisi itu, Kristus mengemukakan alasan demikian: Me-

mang benar bahwa wanita  ini dahulunya orang berdosa. 

Kristus tahu itu. Namun, sekarang ia yaitu  seorang berdosa 

yang telah diampuni, artinya ia seorang pendosa yang telah me-

nyesali dosanya. Apa yang dilakukan wanita  itu terhadap-Nya 

yaitu  ungkapan kasih sayangnya yang besar kepada Jurusela-

matnya yang oleh-Nya dosa-dosanya diampuni. Jika dia yang tadi-

nya sangat berdosa telah diampuni, maka tidak mengherankan 

apabila ia akan mengasihi Juruselamatnya lebih daripada yang 

lain, dan akan memberikan bukti yang lebih besar daripada orang 

lain mengenai kasihnya itu. Jika tindakannya itu yaitu  buah ka-

sih sayangnya yang mengalir sebab  rasa syukur atas pengam-

punan dosanya, hal ini menyenangkan hati-Nya sehingga Ia ber-

kenan menerimanya. Sebaliknya, hal ini membuat orang Farisi itu 

tidak senang. Kristus memiliki  rencana lebih lanjut mengenai 

hal ini. Orang Farisi itu ragu-ragu apakah Ia seorang nabi atau 

bukan. Malah, ia bahkan menyangkali-Nya sebagai seorang nabi. 

Injil Lukas 7:36-50 

 265 

namun  Kristus menunjukkan bahwa Ia lebih dari sekadar nabi, se-

bab di dunia ini Ia berkuasa mengampuni dosa, dan kepada-Nya-

lah patut diberikan kasih sayang dan ucapan syukur dari orang 

berdosa yang menyesal dan telah diampuni.  

Sekarang, dalam jawaban-Nya itu: 

1.  Ia memaksa Simon melalui perumpamaan untuk mengakui 

bahwa semakin besar dosa wanita  ini dahulu, semakin 

besar pula kasih yang harus ditunjukkannya kepada Yesus 

Kristus saat  dosa-dosanya diampuni (ay. 41-43). Ada dua 

orang yang berhutang kepada seseorang, keduanya sama-sama 

tidak sanggup membayar utang mereka, namun  salah satu dari 

mereka berutang sepuluh kali lipat daripada yang satunya. 

Dengan sangat murah hati, orang yang memiutangi itu meng-

hapuskan hutang kedua orang itu, dan tidak menggunakan ja-

lur hukum untuk melawan mereka. Ia tidak memerintahkan 

agar mereka beserta anak-anak mereka dijual, atau menyerah-

kan mereka kepada algojo-algojo. Nah, keduanya sungguh me-

rasakan betapa mereka telah menerima kebaikan yang amat 

sangat. namun , siapakah di antara mereka yang akan terlebih 

mengasihi orang yang membebaskan utang mereka itu? Sudah 

tentu, kata orang Farisi itu, dia yang paling banyak dihapus-

kan utangnya. Dan benarlah penilaiannya itu. Jadi, sebab  

itu, kita yang wajib mengampuni, sama seperti kita juga ingin 

diampuni, dapat belajar di sini tentang kewajiban antara orang 

yang berutang dan yang memberikan utang. 

(1) Jika orang yang berutang memiliki sesuatu untuk dibayar-

kan, ia harus melunasi utangnya itu kepada orang yang 

memiutangi dia. Tak seorang pun dapat menyebut sesuatu 

sebagai miliknya atau menikmatinya dengan bebas, kecuali 

bila semua utangnya telah lunas. 

(2) Jika Tuhan   dalam pemeliharaan-Nya mengizinkan orang 

yang berutang itu tidak dapat melunasi utangnya, jangan-

lah si pemberi pinjaman bersikap keras terhadapnya, atau 

menuntutnya lewat hukum, namun  menghapuskan utang-

nya. Summum jus est summa injuria – Hukum yang diterap-

kan dengan keras akan menjadi tidak adil. Biarlah para 

pemberi utang yang tidak kenal kasihan membaca perum-

pamaan dalam Matius ini (18:23 dst.), dan menjadi geme-


 266

tar, sebab mereka akan mendapat hukuman tanpa ampun 

dan tanpa belas kasihan.  

(3) Orang berutang yang memperoleh belas kasihan dari si 

pemberi utang selayaknya bersyukur kepadanya, dan seki-

ranya ia tidak sanggup melunasi utangnya, ia patut menga-

sihi si pemberi utang itu. Ada sebagian pengutang pailit 

yang bukannya bersyukur malah mendendam terhadap si 

pemberi pinjaman yang sudah menderita rugi sebab  per-

buatannya itu. Pengutang-pengutang seperti ini tidak bisa 

berkata-kata dengan baik sebab  hanya mengeluh saja, se-

mentara mereka yang dirugikan itu tidak sempat berbicara. 

Namun, perumpamaan ini berbicara tentang Tuhan   sebagai 

Pencipta (atau lebih tepat Tuhan Yesus sendiri, sebab Dia-

lah yang menghapus utang dan dikasihi oleh orang yang 

berutang), dan orang-orang berdosa sebagai yang berutang.  

Dengan demikian, kita dapat belajar di sini:  

[1] Bahwa dosa yaitu  utang, dan orang berdosa yaitu  

orang yang berutang kepada Tuhan   yang Mahakuasa. Se-

bagai makhluk ciptaan, kita memiliki  utang, yakni 

utang ketaatan terhadap peraturan hukum, dan sebab  

tidak melunasinya, sebagai orang berdosa kita dapat di-

kenai hukuman. Kita belum membayar uang sewa kita. 

Kita bahkan telah menyia-nyiakan milik Tuhan kita, 

dan dengan demikian kita menjadi orang yang berutang. 

Tuhan   akan bertindak terhadap kita atas kerugian yang 

kita timbulkan pada-Nya dan atas kelalaian kita dalam 

memenuhi kewajiban terhadap-Nya.  

[2] Bahwa sebagian orang berutang dosa kepada Tuhan   lebih 

besar daripada yang lainnya: Yang seorang berhutang 

lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Orang Farisi itu 

berutang lebih sedikit. Namun, ia juga seorang yang 

berutang, lebih daripada perkiraannya, bahwa Tuhan   

yaitu  yang memberikan utang kepadanya (Luk. 18:10-

11). wanita  ini, seorang berdosa yang terkenal pu-

nya nama buruk, berutang lebih banyak. Sebagian 

orang berdosa berutang lebih banyak sebab  memang 

mereka telah berbuat dosa, dan sebagian orang yang 

menjadi pengutang lebih besar besar sebab  melakukan 

Injil Lukas 7:36-50 

 267 

hal-hal yang luar biasa, seperti orang-orang yang ber-

buat dosa dengan terang-terangan dan sangat memalu-

kan, yang berdosa terhadap terang dan pengetahuan, 

dan terlebih lagi terhadap segala bentuk nasihat dan 

peringatan, rahmat dan segala sarana anugerah.  

[3] Bahwa, entah utang kita lebih banyak atau sedikit, jum-

lahnya tetap saja lebih daripada yang mampu kita ba-

yar. Mereka tidak sanggup membayar, sama sekali tidak 

memiliki apa pun untuk berunding dengan si pemberi 

utang, sebab utangnya sangat besar. Kita memang tidak 

memiliki apa pun untuk melunasi utang kita. Emas dan 

perak tidak akan dapat melunasi utang kita. Korban 

persembahan pun tidak, sekalipun ribuan domba jan-

tan. Kebenaran dalam diri kita sendiri pun tidak dapat 

melunasinya, bahkan pertobatan dan ketaatan kita un-

tuk berbuat baik di waktu mendatang sekalipun, sebab 

kita sudah terikat dengan segala utang kita itu. Hanya 

Tuhan   sendiri sajalah yang bisa mengerjakan pembayar-

an utang itu dalam diri kita.  

[4] Bahwa Tuhan   sorgawi siap mengampuni dan menghapus-

kan utang orang berdosa sesuai syarat-syarat Injil, mes-

kipun utang mereka teramat besar. Jika kita bertobat 

dan percaya kepada Kristus, pelanggaran kita tidak 

akan menjadi kehancuran kita dan tidak akan dituduh-

kan kepada kita. Tuhan   telah menyatakan bahwa nama-

Nya pengasih dan penyayang, serta siap mengampuni 

dosa. Putra-Nya telah membayar pengampunan bagi 

orang percaya yang menyesali dosanya. Injil-Nya men-

janjikan hal ini kepada mereka, dan Roh-Nya memete-

raikannya serta memberi mereka penghiburan.  

[5] Bahwa orang yang telah diampuni dosanya, wajib me-

ngasihi Dia yang telah mengampuni mereka. Semakin 

banyak dosa mereka diampuni, semakin mereka harus 

mengasihi-Nya. Orang yang lebih berdosa sebelum ber-

tobat, harus menjadi orang yang lebih kudus setelah 

bertobat, semakin keras berusaha bekerja bagi Tuhan  , 

dan hatinya harus semakin taat kepada-Nya. saat  

Saulus si penganiaya itu berubah menjadi Paulus si 

pemberita Injil, ia bekerja lebih keras. 


 268

2.  Kristus memakai perumpamaan ini untuk menjelaskan watak 

dan perilaku yang berbeda dari orang Farisi dan orang berdosa 

terhadap diri-Nya. Meskipun orang Farisi itu tidak mengang-

gap Kristus seorang nabi, Kristus sepertinya siap menganggap-

nya sebagai orang yang sudah dibenarkan, bahwa dia orang 

yang telah diampuni, walaupun yang sedikit diampuni. Dia me-

mang menunjukkan sedikit kasih kepada Kristus dengan 

mengundang-Nya datang ke rumahnya, namun  tidak ada apa-

apanya bila dibandingkan dengan yang ditunjukkan perempu-

an yang malang itu. “Perhatikanlah baik-baik,” kata Kristus 

kepadanya, “wanita  inilah yang telah banyak diampuni, 

dan oleh sebab itu, sesuai penilaianmu sendiri, ia lebih diha-

rapkan untuk mengasihi lebih banyak daripada engkau, dan 

memang begitulah yang terjadi. Engkau lihat wanita  ini? 

(ay. 44). Engkau memandang rendah dia, namun  pikirkanlah 

betapa ia lebih bersahabat dan berbaik hati kepada-Ku diban-

dingkan engkau. Jadi bagaimana mungkin Aku harus mene-

rima kebaikanmu dan menolak kebaikannya?”  

(1) “Engkau bahkan tidak menyuruh orang membawakan air 

untuk membasuh kaki-Ku saat Aku masuk, letih dan kotor 

sebab  perjalanan, dan air itu dapat menyegarkan-Ku. Te-

tapi dia telah berbuat jauh lebih banyak: dia telah memba-

sahi kaki-Ku dengan air mata, air mata kasih sayang kepa-

da-Ku, air mata dukacita sebab  dosa, dan menyekanya de-

ngan rambutnya, sebagai tanda kasihnya yang besar kepa-

da-Ku.”  

(2) “Engkau bahkan tidak mencium pipi-Ku” (ungkapan yang 

lazim untuk menyambut teman dengan sepenuh hati), “te-

tapi wanita  ini tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku 

(ay. 45), untuk mengungkapkan kasih yang rendah hati 

dan mendalam.”  

(3) “Engkau tidak menyediakan sedikit minyak, seperti yang 

biasa dilakukan orang, untuk meminyaki kepalaku, namun  

ia telah mencurahkan sebotol minyak wangi berharga ke 

kaki-Ku (ay. 46). Perbuatannya jauh melebihi engkau.” 

Alasan mengapa sebagian orang selalu mencela jerih payah 

orang-orang Kristen yang penuh semangat dalam beriba-

dah yaitu  sebab  mereka sendiri tidak mau melakukan 

Injil Lukas 7:36-50 

 269 

hal yang sama, dan hanya mau enak saja dengan ibadah 

yang murahan dan gampangan.  

3. Kristus membungkam keberatan orang Farisi yang mengada-

ada itu: Simon, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak 

itu telah diampuni (ay. 47). Kristus mengakui bahwa perempu-

an itu telah melakukan banyak dosa: “namun  dosa-dosanya te-

lah diampuni, dan oleh sebab  itu sudah sepantasnya aku me-

nerima kebaikan hatinya. Dosa-dosanya telah diampuni, sebab 

ia telah banyak berbuat kasih.” Seharusnya diterjemahkan, ka-

rena itu ia banyak berbuat kasih, sebab  sudah jelas bahwa tu-

juan pengajaran Kristus yaitu  bahwa banyak berbuat kasih 

bukanlah penyebab, melainkan akibat dari pengampunan yang 

diterimanya dan sukacita penghiburan yang dirasakannya. Ki-

ta mengasihi, sebab  Tuhan   lebih dahulu mengasihi kita. Ia tidak 

mengampuni kita sebab  kita mengasihi-Nya terlebih dahulu. 

“namun  orang yang sedikit diampuni, seperti dirimu, sedikit 

juga ia berbuat kasih, seperti yang kauperbuat.” Dengan ini Ia 

menyiratkan kepada orang Farisi itu bahwa sebab  kasihnya 

kepada Kristus begitu sedikit, ia seharusnya berpikir untuk 

mempertanyakan apakah betul ia sungguh mengasihi-Nya, 

dan sebab  itu apakah betul dosanya, yang meskipun sedikit 

dibandingkan wanita  itu, memang telah diampuni. Kita ja-

ngan iri hati dengan pendosa-pendosa besar atas belas kasih-

an yang mereka dapatkan dari Kristus sebab  pertobatan me-

reka, sebaliknya, kita harus merasa tergerak oleh teladan me-

reka guna memeriksa diri apakah kita benar-benar telah diam-

puni dan mengasihi Kristus dengan sungguh. 

4.  Kristus menenteramkan ketakutan wanita  itu, yang 

mungkin merasa kecil hati sebab  perilaku orang Farisi itu. Ia 

tidak menjadi tawar hati sampai melarikan diri.  

(1) Kristus berkata kepadanya, “Dosamu telah diampuni” (ay. 

48). Perhatikanlah, semakin kita menyatakan kesedihan ki-

ta atas dosa dan kasih kita kepada Kristus, semakin jelas 

bukti bahwa kita telah mendapatkan pengampunan untuk 

dosa-dosa kita. Melalui pengalaman karya anugerah yang 

diadakan dalam diri kitalah, kita akan memperoleh kepasti-

an tindakan anugerah yang diadakan bagi kita. Betapa be-

sar balasan yang diterima wanita  itu atas jerih payah 


 270

dan pengorbanannya, saat  ia dipersilakan pergi dengan 

perkataan Kristus, “Dosamu telah diampuni!” Betapa kata-

kata ini akan mencegahnya berbuat dosa kembali!  

(2) Di situ hadir orang-orang yang membantah Dia dalam hati 

sebab  Ia mengampuni dosa dan memerdekakan orang ber-

dosa (ay. 49), sama seperti yang diperbuat para ahli Taurat 

(Mat. 9:3). Walaupun begitu, Ia tetap berdiri teguh dengan 

apa yang telah dikatakan-Nya, sebab sama seperti Ia telah 

membuktikan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa de-

ngan jalan menyembuhkan orang yang sakit lumpuh itu. 

Oleh sebab  itu Ia tidak mau peduli dengan keberatan 

orang, maka sekarang pun Ia hendak menunjukkan bahwa 

Ia mengampuni dosa dengan senang hati. Dan itulah yang 

menjadi kesukaan-Nya. Ia sangat suka mengucapkan kata 

pengampunan dan damai sejahtera kepada orang-orang 

yang menyesali dosa mereka. Ia berkata kepada wanita  

itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay. 50). Kata-

kata ini akan meneguhkan dan melipatgandakan penghi-

buran yang dirasakannya sebab  pengampunan dosanya, 

yaitu bahwa ia dibenarkan sebab  imannya. Semua ung-

kapan kesedihan atas dosa dan kasih kepada Kristus ini 

yaitu  hasil dan buah dari iman. Oleh sebab  itu, sama 

seperti iman dari semua anugerah yang diberikan memba-

wa kehormatan terbesar bagi Tuhan  , demikian pula Kristus 

dengan semua anugerah-Nya memberi kehormatan terting-

gi kepada iman. Perhatikanlah, mereka yang tahu bahwa 

iman mereka telah menyelamatkan mereka, dapat pergi de-

ngan damai sejahtera, pergi dengan bersukacita.  

 PASAL  8  

ebagian besar pasal ini merupakan pengulangan berbagai perikop 

mengenai khotbah-khotbah dan mujizat-mujizat Kristus yang te-

lah kita baca sebelumnya dalam Injil Matius dan Markus. Semuanya 

begitu penting hingga layak diulang. Itulah sebabnya semua kejadian 

itu dicatat lagi, supaya melalui tiga, dan bukan hanya dua mulut, ke-

saksian setiap perkataan dapat diteguhkan. 

Dalam pasal ini diceritakan tentang:  

I.   Gambaran umum mengenai khotbah Kristus dan bagaimana 

Ia menghidupi diri-Nya sendiri serta keluarga besar-Nya me-

lalui sumbangan dari orang-orang dermawan (ay. 1-13).  

II.  Perumpamaan tentang penabur dan empat jenis tanah, beri-

kut uraian dan beberapa kesimpulan yang ditarik dari situ 

(ay. 4-18).  

III. Sikap Kristus untuk lebih mendahulukan murid-murid-Nya 

yang taat dibanding sanak keluarga terdekat-Nya sendiri (ay. 

19-21).  

IV. Ia meneduhkan badai di laut dengan satu perkataan (ay. 22-

25).  

V. Ia mengusir banyak setan dari dalam seorang laki-laki yang 

kerasukan (ay. 26-40).  

VI. Ia menyembuhkan seorang wanita  yang menderita pen-

darahan, dan membangkitkan anak wanita  Yairus (ay. 

41-56). 


 272

Pelayanan Kristus 

(8:1-3) 

1 Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari 

desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Tuhan  . Kedua belas murid-Nya ber-

sama-sama dengan Dia, 2 dan juga beberapa orang wanita  yang telah di-

sembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang dise-

but Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat. 3 Yohana isteri 

Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak wanita  lain. wanita -

wanita  ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka. 

Di sini diceritakan tentang: 

I. Apa yang senantiasa Kristus kerjakan sepanjang hidup-Nya – yak-

ni memberitakan Injil, tanpa kenal lelah, dan berbuat kebaikan di 

mana-mana (ay. 1), sesudah itu – en tō kathexēs – ordine, pada 

saat atau dengan cara yang tepat. Kristus merencanakan apa 

yang hendak dikerjakan-Nya dan melaksanakannya dengan ter-

atur. Ia memperhatikan rangkaian atau urutan pekerjaan itu, se-

hingga akhir suatu pekerjaan yang baik merupakan awal pekerja-

an baik berikutnya.  

Sekarang perhatikanlah di sini:  

1.  Di mana Ia berkhotbah: Yesus berjalan berkeliling – diōdeue 

atau peragrabat. Dia seorang pengkhotbah yang berpindah-pin-

dah tempat. Ia tidak membatasi diri pada satu tempat saja, me-

lainkan memancarkan berkas-berkas cahaya-Nya. Circumibat – 

Ia pergi berkeliling sebagai hakim, mencari tempat baru yang 

paling mungkin menerima khotbah-Nya. Ia berjalan berkeliling 

dari kota ke kota, supaya tidak ada yang bisa mengeluh tidak 

diperhatikan. Dengan demikian Ia memberikan teladan kepada 

murid-murid-Nya, supaya mereka juga pergi mengunjungi 

bangsa-bangsa melintasi bumi seperti yang dilakukan-Nya di 

kota-kota di tanah Israel. Ia bahkan tidak menetap di kota-

kota besar melainkan masuk ke desa, di antara penduduk de-

sa yang sederhana, untuk memberitakan Injil kepada orang-

orang di pedusunan (Hak. 5:11).  

2.  Apa yang dikhotbahkan-Nya: Ia memberitakan berita kesukaan 

mengenai Kerajaan Tuhan  , yang sekarang akan ditegakkan di 

antara mereka. Berita tentang kerajaan Tuhan   yaitu  kabar 

baik, dan Yesus Kristus datang untuk membawanya guna di-

sampaikan kepada anak-anak manusia, bahwa Tuhan   bersedia

Injil Lukas 8:1-3 

 273 

melindungi orang-orang yang mau kembali setia mengabdi ke-

pada-Nya. Ini yaitu  kabar baik bagi dunia, bahwa masih ada 

harapan bagi dunia untuk diubahkan dan diperdamaikan.  

3. Siapa saja yang menyertai-Nya: Kedua belas murid-Nya ber-

sama-sama dengan Dia, bukan untuk berkhotbah selama Dia 

masih ada, melainkan untuk belajar dari-Nya tentang apa 

yang kelak harus mereka khotbahkan, cara melakukannya, 

dan bila memang diperlukan, untuk diutus ke tempat-tempat 

yang tidak dapat didatangi oleh-Nya. Alangkah bahagianya 

para pelayan-Nya ini yang mendengar hikmat dari mulut-Nya. 

II. Dari mana Ia memperoleh dukungan untuk keperluan hidup: Ia 

hidup dari kebaikan hati sahabat-sahabat-Nya. Ada beberapa 

orang wanita , yang dengan teratur mengikuti pelayanan-Nya, 

yang melayani-Nya dengan kekayaan mereka (ay. 2-3). Beberapa 

dari mereka disebut namanya, namun  masih ada lagi banyak pe-

rempuan lain, yang menerima pengajaran Kristus dengan tekun, 

dan menganggap diri mereka pantas menyokong pemberitaan 

ajaran-Nya itu sebab  mereka telah merasakan manfaatnya, dan 

mereka mau beramal, dengan harapan banyak orang akan mene-

rima manfaat yang sama juga. 

1.  Kebanyakan dari mereka pernah disembuhkan oleh Kristus 

dan mereka merupakan bukti dari kuasa dan rahmat-Nya. Me-

reka telah disembuhkan oleh-Nya dari roh-roh jahat atau ber-

bagai penyakit. Beberapa dari mereka pernah terganggu pikir-

an mereka. Ada yang depresi, dan ada pula yang mengalami 

gangguan kesehatan jasmani, dan Ia menyembuhkan mereka 

semua dengan kuasa-Nya yang ajaib. Dia yaitu  penyembuh 

tubuh maupun jiwa, dan mereka yang telah disembuhkan 

oleh-Nya layak melakukan apa saja yang bisa mereka persem-

bahkan kepada-Nya. Kita harus peduli untuk mengikuti-Nya, 

supaya setiap saat kita bisa datang kepada-Nya untuk minta 

tolong saat tergelincir. Kita juga terikat dalam rasa syukur un-

tuk melayani Dia serta Injil-Nya, sebab  Dia telah menyelamat-

kan kita melalui Injil-Nya. 

2.  Salah seorang dari wanita -wanita  itu yaitu  Maria 

Magdalena yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, jumlah 

yang pasti bagi sesuatu yang tidak pasti. Ada yang beranggap-

an bahwa dahulu ia sangat jahat, dan kita bisa saja mengang-


 274

gap dialah si wanita  berdosa yang baru disebutkan dalam 

pasal 7:37. Menurut Dr. Lightfoot, yang menemukan dalam tu-

lisan-tulisan para ahli Talmud bahwa Maria Magdalena ini di-

sebut sebagai Maria si pengepang rambut, boleh jadi perem-

puan ini yaitu  Maria Magdalena, sebab  namanya dicatat se-

masa ia masih dalam keadaan sangat berdosa, sebab  pada 

masa itu rambut yang berkepang-kepang dianggap berlawanan 

dengan cara berdandan yang pantas (1Tim. 2:9). Namun, wa-

laupun ia pernah menjadi wanita  yang tidak pantas, pada 

saat ia bertobat dan diubahkan, ia memperoleh rahmat dan 

menjadi murid Kristus yang berapi-api. Perhatikanlah, para 

pendosa besar tidak perlu merasa putus asa bahwa tidak ada 

lagi pengampunan bagi mereka. Namun, semakin buruk kehi-

dupan seseorang sebelum bertobat, semakin keras pula ia ha-

rus berusaha bekerja bagi Kristus setelah itu. Atau, boleh jadi 

Maria ini menderita depresi, dan kalau begitu, mungkin saja 

dialah Maria saudara Lazarus, seorang wanita  yang sa-

ngat bersusah hati, yang mungkin berasal dari Magadan namun  

lalu pindah ke Betania. Maria Magdalena yang ini hadir di sa-

lib Kristus dan kubur-Nya, dan seandainya dia bukan saudara 

wanita  Lazarus, maka sahabat dan kesayangan Kristus ini 

tidak hadir di situ, atau tidak akan diperhatikan oleh para pe-

nulis Injil.  Namun, pendapat yang mana yang benar, kita 

tidak dapat menduga. Demikianlah pendapat Dr. Lightfoot. Na-

mun, masih ada sanggahan lain lagi, Maria Magdalena terhi-

tung berada di antara wanita -wanita  yang mengikuti 

Yesus dari Galilea (Mat. 27:55-56), sedangkan Maria, saudara 

wanita  Lazarus, tinggal di Betania. 

3.  wanita  lain lagi yang ada di antara mereka yaitu  Yohana 

istri Khuza bendahara Herodes. Ia pernah menjadi istrinya 

(menurut beberapa orang), namun  sekarang sudah menjanda, 

dan hidupnya sejahtera. Seandainya saat itu dia masih men-

jadi istri Khuza, kita punya alasan untuk berpikir bahwa mes-

kipun memilih untuk tinggal di istana Herodes, suaminya te-

lah menerima Injil dan sangat mendukung bila istrinya men-

jadi pendengar ajaran Kristus sekaligus penyokong bagi-Nya. 

4.  Banyak dari antara mereka yang melayani rombongan Kristus 

dengan kekayaan mereka. Ini merupakan contoh keadaan ber-

kekurangan yang rela dijalani Juruselamat kita sehingga Ia

Injil Lukas 8:4-21 

 275 

memerlukan bantuan, dan juga contoh kerendahan hati dan 

sikap merendahkan diri yang besar sehingga Ia mau meneri-

manya. Walaupun sebenarnya kaya, namun demi kita Ia rela 

menjadi miskin dan hidup dari sedekah. Janganlah orang me-

rasa malu untuk meminta kebaikan hati dari sesamanya keti-

ka Tuhan   membawanya ke dalam kesukaran, namun  biarlah ia 

meminta dan bersyukur saat  menerimanya sebagai sebuah 

kemurahan hati. Kristus lebih suka berutang budi kepada 

sahabat-sahabat-Nya yang sudah dikenali-Nya demi kesejahte-

raan diri-Nya dan murid-murid-Nya daripada menjadi beban 

bagi orang-orang yang tidak dikenal-Nya di kota-kota dan de-

sa-desa yang dikunjungi-Nya saat  berkhotbah. Perhatikan-

lah, sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang yang diajar da-

lam firman Tuhan untuk berbagi dengan mereka yang menga-

jarkan banyak hal yang baik kepada mereka. Mereka yang 

memberi dengan murah hati dan penuh sukacita, menghor-

mati Tuhan dengan kekayaan mereka dan membawa berkat ke 

atas kekayaan mereka itu. 

Perumpamaan tentang Seorang Penabur 

(8:4-21) 

4 saat  orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang 

dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu 

perumpamaan: 5 “yaitu  seorang penabur keluar untuk menaburkan benih-

nya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu 

diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. 6 Se-

bagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi ke-

ring sebab  tidak mendapat air. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, 

dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. 8 

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus 

kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa memiliki  teli-

nga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 9 Murid-murid-Nya berta-

nya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. 10 Lalu Ia menjawab: “Kepa-

damu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Tuhan  , namun  kepada 

orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun 

memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak 

mengerti. 11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Tuhan  . 12 

Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudi-

an datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya 

mereka jangan percaya dan diselamatkan. 13 Yang jatuh di tanah yang berba-

tu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya de-

ngan gembira, namun  mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja 

dan dalam masa pencobaan mereka murtad. 14 Yang jatuh dalam semak duri 

ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selan-


 276

jutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hi-

dup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. 15 Yang jatuh 

di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, me-

nyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ke-

tekunan.” 16 “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya de-

ngan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, namun  ia me-

nempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam 

rumah dapat melihat cahayanya. 17 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembu-

nyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang 

tidak akan diketahui dan diumumkan. 18  sebab  itu, perhatikanlah cara ka-

mu mendengar. sebab  siapa yang memiliki , kepadanya akan diberi, teta-

pi siapa yang tidak memiliki , dari padanya akan diambil, juga apa yang ia 

anggap ada padanya.” 19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, 

namun  mereka tidak dapat mencapai Dia sebab  orang banyak. 20 Orang mem-

beritahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan 

ingin bertemu dengan Engkau.” 21 namun  Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan 

saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Tuhan   dan me-

lakukannya.” 

Kalau perikop pertama yang telah kita bahas di atas tadi diawali de-

ngan uraian tentang kegigihan Kristus dalam memberitakan Injil (ay. 

1), maka perikop ini diawali dengan uraian tentang kegigihan orang 

banyak dalam mendengarkan khotbah-Nya (ay. 4). Ia berjalan keliling 

dari kota ke kota untuk berkhotbah, sehingga bisa saja kita berpikir 

bahwa orang-orang di setiap kota itu sudah puas mendengarkan Dia 

saat Ia mengunjungi kota-kota mereka (kita tahu ada orang-orang 

yang bersikap seperti ini). Namun, ternyata di sini ada  juga 

orang-orang yang datang dari kota ke kota menggabungkan diri pada 

Yesus, dan tidak sabar menunggu sampai Ia datang kepada mereka, 

atau merasa telah mendengar cukup banyak saat Ia meninggalkan 

mereka. Mereka menggabungkan diri pada-Nya saat Ia berjalan meng-

hampiri mereka, namun  juga mengikuti-Nya saat Ia meninggalkan me-

reka. Dan Kristus sendiri pun tidak mencari-cari alasan dengan me-

manfaatkan hal ini untuk tidak pergi dari kota ke kota, bahwa orang-

orang dari kota-kota itu sudah datang kepada-Nya, jadi Ia tidak perlu 

mengunjungi mereka. Sebab, meskipun ada yang mendatangi-Nya, 

namun, kebanyakan orang tidak punya keinginan menyala-nyala un-

tuk datang kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Ia begitu meren-

dahkan diri sehingga mau datang kepada mereka, sebab  Ia berkenan 

ditemukan oleh orang yang tidak mencari-Nya (Yes. 65:1). 

Di sini sepertinya ada  kumpulan orang yang sangat banyak, 

orang banyak berbondong-bondong datang. Ada ikan berlimpah-lim-

pah yang siap untuk dijaring. Dan Ia siap dan bersedia untuk menga-

jar, sama seperti orang banyak itu juga siap untuk diajar.  

Injil Lukas 8:4-21 

 277 

Dalam ayat-ayat ini kita temukan: 

I.   Aturan-aturan dan peringatan-peringatan yang penting dan sa-

ngat baik dalam mendengar firman-Nya. Aturan-aturan ini disam-

paikan-Nya melalui perumpamaan penabur, disertai penjelasan 

dan penerapannya, dan hal ini telah dua kali kita baca sebelum-

nya dengan lebih terperinci.  

saat  Kristus menyampaikan perumpamaan ini:  

1. Para murid ingin mengetahui artinya (ay. 9). Mereka bertanya 

kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Perhatikanlah, 

kita harus memiliki keinginan sungguh untuk mengetahui 

maksud yang sebenarnya dan seluas-seluasnya dari firman 

yang kita dengar, supaya kita tidak salah mengerti. 

2.  Kristus menyadarkan mereka betapa beruntungnya mereka 

sebab  beroleh kesempatan mengetahui rahasia dan makna 

firman-Nya, yang tidak didapatkan orang lain: Kepadamu di-

beri karunia (ay. 10). Perhatikanlah, orang-orang yang ingin 

menerima pengajaran dari Kristus harus mengetahui dan me-

mikirkan betapa istimewanya hak yang mereka peroleh sebab  

mendapatkan pengajaran dari-Nya, betapa istimewanya hak 

itu sebab  boleh dibimbing menuju terang, sementara orang 

lain tetap berada dalam kegelapan yang sangat pekat. Berba-

hagialah kita dan berutang budi selamanya sebab  anugerah 

yang cuma-cuma, jika hal yang sama merupakan perumpama-

an bagi orang lain dan sekadar menjadi penghibur hati bagi 

mereka, hal ini  justru menjadi kebenaran yang terbuka 

jelas bagi kita, yang olehnya kita dicerahi, dikendalikan dan 

dibentuk.  

Sekarang, dari perumpamaan itu sendiri dan juga penjelas-

annya, perhatikanlah bahwa: 

(1)  Hati manusia seperti tanah bagi benih atau firman Tuhan  . 

Hati itu mampu menerimanya dan menghasilkan buah 

darinya. Namun, kecuali benih itu ditabur di dalamnya, 

tanah itu tidak akan menghasilkan apa pun yang ber-

harga. sebab  itu penting sekali untuk mempersatukan 

benih dengan tanah itu. Untuk apa benih yang kita baca 

dalam Kitab Suci itu, jika tidak ditaburkan? Dan untuk 


 278

apa tanah dalam hati kita, jika tidak ditaburi dengan 

benih itu? 

(2)  Keberhasilan menanam benih sangat bergantung pada 

sifat dan keadaan tanahnya, apakah siap atau tidak siap 

menerima benih itu. Firman Tuhan   yaitu  bagi kita, bau 

kehidupan yang menghidupkan, atau bau kematian yang 

mematikan. 

(3)  Iblis yaitu  musuh yang tidak kentara dan pendendam, 

yang suka mencegah kita memperoleh manfaat dari fir-

man Tuhan  . Ia merampas firman itu dari dalam hati pende-

ngar yang acuh tak acuh, supaya mereka jangan percaya 

dan diselamatkan (ay. 12).  

Hal ini ditambahkan di sini untuk mengajar kita bahwa:  

[1] Kita tidak dapat diselamatkan kecuali kita percaya. 

Perkataan Injil tidak akan menyelamatkan kita kecuali 

disertai iman.  

[2] Oleh sebab itu Iblis akan berbuat apa saja untuk men-

cegah kita percaya, untuk membuat kita tidak mem-

percayai firman itu saat kita membaca atau mende-

ngarnya. Atau, jika kita mendengarkannya pada saat 

ini, ia membuat kita melupakannya kembali dan ha-

nyut (Ibr. 2:1). Atau, kalaupun kita mengingatnya, dia 

menciptakan prasangka buruk dalam pikiran kita ter-

hadap firman itu atau mengalihkan pikiran kita ke hal 

lain. Semua ini dilakukannya supaya kita jangan per-

caya dan diselamatkan, supaya jangan kita percaya 

dan bersukacita, sementara dia percaya dan gemetar. 

(4) saat  firman Tuhan   didengarkan dengan acuh tak acuh, 

biasanya juga ada  rasa benci terhadapnya. Di sini di-

tambahkan dalam perumpamaan itu bahwa benih yang 

jatuh di pinggir jalan diinjak orang (ay. 5). Mereka yang 

dengan sengaja menutup telinga terhadap firman itu, se-

benarnya telah menginjak-injaknya di bawah kaki. Mere-

ka menghina perintah TUHAN. 

(5) Orang-orang yang terkesan oleh firman namun  tidak ber-

akar dan sebentar saja, akan menampakkan kemunafikan 

mereka saat pencobaan datang, bagaikan benih yang ja-

tuh di tanah berbatu-batu sehingga tidak berakar (ay. 13). 

Injil Lukas 8:4-21 

 279 

Orang-orang seperti ini percaya sebentar saja. Pengakuan 

mereka tampak menjanjikan, namun  dalam masa pencoba-

an mereka murtad dari maksud awal yang baik itu. Tidak 

peduli pencobaan itu berasal dari senyuman atau kemu-

raman dunia ini, tetap saja mereka mudah dikalahkan 

olehnya. 

(6) Sama seperti hal-hal lainnya, kenikmatan hidup yaitu  

duri-duri berbahaya dan jahat yang menghimpit benih 

firman yang baik. Hal ini ditambahkan di sini (ay. 14) dan 

tidak dicatat dalam kitab-kitab Injil yang lain. Orang-

orang yang tidak terjerat dalam kekhawatiran hidup ini, 

yang tidak terpedaya dengan tipu daya kekayaan, jangan-

lah membangga-banggakan diri bahwa mereka sudah ma-

ti terhadap hal-hal ini , sebab  mereka bisa saja di-

jauhkan dari sorga bila terperosok dalam kemalasan dan 

terbuai dalam kenyamanan dan kesenangan indrawi, wa-

laupun bebas dari tipu daya kekayaan. Hal-hal yang me-

nyukakan indra, sekalipun diperbolehkan, bisa merusak 

jiwa, bila dinikmati secara berlebihan. 

(7) Tidaklah cukup bila menghasilkan buah saja, buah itu 

juga harus sempurna, harus matang betul. Jika tidak, ini 

sama saja dengan tidak menghasilkan buah sama sekali. 

Istilah tidak berbuah yang dipakai  dalam Injil Matius 

dan Markus sama artinya dengan istilah tidak menghasil-

kan buah yang matang yang dipakai  di sini. sebab  

factum non dicitur quod non perseverat – ketekunan diperlu-

kan untuk menghasilkan kesempurnaan suatu pekerjaan. 

(8) Tanah yang baik, yang menghasilkan buah yang matang, 

yaitu  hati yang jujur dan baik, yang siap menerima peng-

ajaran dan perintah (ay. 15). Hati yang bebas dari pence-

maran dosa, terpancang dengan teguh pada Tuhan   dan ke-

wajiban terhadap-Nya, hati yang tulus dan lembut, yang 

tergetar mendengar firman itu, itulah hati yang tulus dan 

baik, yang setelah mendengar firman itu, mengertinya (se-

perti yang dikatakan dalam Matius), menyambutnya (se-

perti yang tertulis dalam Markus), dan menyimpannya (se-

perti yang tertulis di sini), sebab  tanah bukan sekadar 

menyambut, namun  juga menyimpan benih itu. Perut bu-

kan sekadar menerima, namun  juga menyimpan makanan. 


 280

(9)  Jika firman itu disimpan dengan baik, akan dihasilkan 

buah dalam ketekunan atau kesabaran. Hal itu juga di-

tambahkan di sini. Harus ada ketekunan atau kesabaran 

dalam menanggung dan menanti; ketekunan dalam men-

derita penindasan dan penganiayaan yang mungkin da-

tang sebab  firman itu, ketekunan untuk terus berbuat 

baik sampai akhir. 

(10) Mengingat semua hal ini, kita perlu memperhatikan cara 

kita mendengar (ay. 18), memperhatikan hal-hal yang da-

pat menghambat manfaat firman yang kita dengar, men-

jaga hati kita dalam mendengar, dan memperhatikan 

supaya jangan kita tertipu. Kita harus hati-hati, jangan 

sampai kita mendengar dengan acuh tak acuh dan de-

ngan setengah hati, sebab  ini bisa membuat kita mena-

ruh prasangka buruk terhadap firman yang kita dengar 

itu. Kita harus menjaga keadaan rohani kita setelah men-

dengar firman itu, supaya jangan kita kehilangan apa 

yang telah kita dapatkan. 

II.  Petunjuk-petunjuk berguna diberikan kepada orang-orang yang 

ditentukan untuk memberitakan firman itu, dan juga kepada 

orang-orang yang telah mendengarnya.  

1.  Orang-orang yang telah menerima karunia harus melayani se-

orang akan yang lain. Para pelayan Tuhan yang bertugas 

untuk memberitakan Injil yang dipercayakan kepada mereka, 

orang-orang yang telah memperoleh manfaat dari firman itu 

sehingga layak untuk meneruskan manfaat itu kepada orang 

lain, harus memandang diri mereka sebagai pelita yang menya-

la. Pelayan Tuhan harus memberitakan firman dengan otoritas 

penuh, sedangkan umat harus ramah dan bersaudara terha-

dap sesama. Mereka harus memancarkan terang, sebab pelita 

tidak boleh ditutupi dengan tempayan atau ditempatkan di ba-

wah tempat tidur (ay. 16). Para pelayan Tuhan dan orang Kris-

ten harus menjadi terang dunia, sambil berpegang pada firman 

kehidupan. Terang mereka harus bercahaya di hadapan semua 

orang. Mereka bukan saja harus tampak baik, namun  juga ber-

buat baik.  

2. Kita harus tahu bahwa apa yang sekarang dilakukan dengan 

tersembunyi dan berasal dari sumber yang tidak tampak, tidak 

Injil Lukas 8:4-21 

 281 

lama lagi akan diketahui dan diumumkan (ay. 17). Apa yang di-

sampaikan kepadamu dengan tersembunyi harus diwujudkan 

melalui dirimu juga, sebab Gurumu tidak memberikan talenta 

kepadamu untuk dikuburkan, melainkan untuk diusahakan. 

Biarlah hal yang sekarang tersembunyi diumumkan, sebab jika 

tidak diwujudkan olehmu, maka akan diwujudkan untuk me-

lawanmu, akan diungkapkan sebagai bukti atas pengkhianat-

anmu.  

3. Karunia-karunia yang kita miliki akan terus diberikan kepada 

kita atau diambil dari kita, bergantung dari apakah kita me-

manfaatkannya atau tidak untuk kemuliaan Tuhan   serta untuk 

pertumbuhan saudara-saudara kita: siapa yang memiliki , 

kepadanya akan diberi (ay. 18). Dia yang memiliki  karunia 

dan menggunakannya dengan baik, akan menerima lebih ba-

nyak. Dia yang menyembunyikan talentanya akan kehilangan 

talenta itu. Barangsiapa tidak memiliki , apa pun juga yang 

ada padanya akan diambil dari padanya, demikianlah yang 

tertulis dalam Markus 4:25, juga apa yang ia anggap ada pa-

danya, seperti dalam Injil Lukas. Perhatikanlah, anugerah 

yang hilang itu hanyalah anugerah yang semu, tidak pernah 

sejati. Orang hanya seakan-akan memiliki sesuatu yang tidak 

mereka gunakan, dan agama yang sekedar dipamerkan akan 

lenyap dan hilang. Memang mereka berasal dari antara kita, te-

tapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita (1Yoh. 

2:19). Biarlah kita menjaga anugerah yang kita miliki dengan 

sungguh-sungguh, yaitu perkara inti yang ada dalam diri kita. 

Itu yaitu  bagian baik yang tidak akan pernah diambil dari 

orang yang memilikinya. 

III. Dorongan semangat yang diberikan kepada orang-orang yang 

membuktikan diri sebagai orang yang mendengarkan firman Tuhan   

dengan setia dan melakukannya, melalui sebuah contoh tentang 

rasa hormat yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya, ka-

rena lebih mementingkan mereka daripada kerabat-Nya sendiri 

(ay. 19-21). Kisah ini telah kita baca dua kali sebelumnya. 

Perhatikanlah:  

1.  Betapa banyaknya orang yang berkerumun di sekitar Kristus. 

Sungguh sulit untuk bisa menyeruak di antara mereka yang 


 282

mengelilingi-Nya, yang meskipun begitu berdesak-desakan, ti-

dak mau didesak keluar dari perhimpunan-Nya.  

2. Beberapa dari kerabat terdekat-Nya justru termasuk yang pa-

ling tidak berminat mendengarkan khotbah-Nya. Mereka bu-

kannya masuk untuk mendengarkan Dia, seperti yang bisa me-

reka lakukan dengan mudah seandainya datang tepat waktu, 

malah berdiri di luar untuk menemui Dia. Mungkin juga mere-

ka ingin menemui Dia sebab  kekhawatiran yang bukan-

bukan, kalau-kalau Ia terlampau meletihkan diri dengan ber-

bicara terlampau banyak, jadi mereka bermaksud menyela 

pembicaraan-Nya dan menyuruh-Nya berhenti.  

3.  Yesus Kristus lebih suka sibuk dengan pekerjaan-Nya dari-

pada berbincang-bincang dengan teman-teman-Nya. Ia tidak 

mau menghentikan khotbah-Nya untuk berbicara dengan ibu 

dan saudara-saudara-Nya, sebab bagi-Nya pekerjaan itu ada-

lah makanan dan minuman-Nya.  

4.  Kristus berkenan mengakui orang-orang yang mendengarkan 

firman Tuhan   dan melakukannya sebagai sanak saudara-Nya 

yang terdekat. Bagi-Nya, mereka lebih daripada ibu dan sau-

dara-saudara-Nya sendiri. 

Kuasa Kristus atas Angin dan Setan-setan 

(8:22-39) 

22 Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan mu-

rid-murid-Nya, dan Ia berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke sebe-

rang danau.” Lalu bertolaklah mereka. 23 Dan saat  mereka sedang berlayar, 

Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga pe-

rahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. 24 Maka datang-

lah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Guru, guru, kita bina-

sa!” Ia pun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan 

angin dan air itu pun reda dan danau itu menjadi teduh. 25 Lalu kata-Nya ke-

pada mereka: “Di manakah kepercayaanmu?” Maka takutlah mereka dan 

heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, 

sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-

Nya?” 26 Lalu mendaratlah Yesus dan murid-murid-Nya di tanah orang Gera-

sa yang terletak di seberang Galilea. 27 Setelah Yesus naik ke darat, datang-

lah seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh 

setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam ru-

mah, namun  dalam pekuburan. 28 saat  ia melihat Yesus, ia berteriak lalu 

tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-

Mu dengan aku, hai Yesus Anak Tuhan   Yang Mahatinggi? Aku memohon kepa-

da-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.” 29 Ia berkata demikian sebab 

Yesus memerintahkan roh jahat itu keluar dari orang itu. sebab  sering roh

Injil Lukas 8:22-39 

 283 

itu menyeret-nyeret dia, maka untuk menjaganya, ia dirantai dan dibelenggu, 

namun  ia memutuskan segala pengikat itu dan ia dihalau setan itu ke tempat-

tempat yang sunyi. 30 Dan Yesus bertanya kepadanya: “Siapakah namamu?” 

Jawabnya: “Legion,” sebab  ia kerasukan banyak setan. 31 Lalu setan-setan 

itu memohon kepada Yesus, supaya Ia jangan memerintahkan mereka masuk 

ke dalam jurang maut. 32 yaitu  di sana sejumlah besar babi sedang mencari 

makan di lereng gunung, lalu setan-setan itu meminta kepada Yesus, supaya 

Ia memperkenankan mereka memasuki babi-babi itu. Yesus mengabulkan 

permintaan mereka. 33 Lalu keluarlah setan-setan itu dari orang itu dan me-

masuki babi-babi itu. Kawanan babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam 

danau lalu mati lemas. 34 Setelah penjaga-penjaga babi itu melihat apa yang 

telah terjadi, mereka lari lalu menceritakan hal itu di kota dan di kampung-

kampung sekitarnya. 35 Dan keluarlah orang-orang untuk melihat apa yang 

telah terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan mereka menjumpai orang 

yang telah ditinggalkan setan-setan itu duduk di kaki Yesus; ia telah berpa-

kaian dan sudah waras. Maka takutlah mereka. 36 Orang-orang yang telah 

melihat sendiri hal itu memberitahukan kepada mereka, bagaimana orang 

yang telah dirasuk setan itu telah diselamatkan. 37 Lalu seluruh penduduk 

daerah Gerasa meminta kepada Yesus, supaya Ia meninggalkan mereka, 

sebab mereka sangat ketakutan. Maka naiklah Ia ke dalam perahu, lalu ber-

layar kembali. 38 Dan orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu meminta 

supaya ia diperkenankan menyertai-Nya. namun  Yesus menyuruh dia pergi, 

kata-Nya: 39 “Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang 

telah diperbuat Tuhan   atasmu.” Orang itu pun pergi mengelilingi seluruh kota 

dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya. 

Di sini kita dapati dua bukti yang menggambarkan kuasa Yesus 

Tuhan kita, dan yang telah kita baca sebelumnya – kuasa-Nya atas 

angin dan kuasanya atas setan-setan (Mrk. 4-5). 

I.   Kuasa-Nya atas angin, atas penguasa kerajaan angkasa yang be-

gitu ditakuti manusia, terutama di laut, dan yang menyebabkan 

kematian atas banyak orang.  

Perhatikanlah: 

1.  Kristus memerintahkan murid-murid-Nya untuk bertolak ke 

seberang danau, supaya Ia dapat menunjukkan kemuliaan-

Nya atas air dengan membuat teduh gelombang, dan berbuat 

baik kepada orang yang dirasuk setan di seberang danau. 

Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-mu-

rid-Nya (ay. 22). Mereka yang mengikuti perintah-perintah 

Kristus boleh merasa yakin akan kehadiran-Nya bersama me-

reka. Jika Kristus mengutus murid-murid-Nya, Ia akan pergi 

bersama mereka. Jadi, kita boleh merasa aman dan berani 

pergi menantang bahaya ke mana pun, sebab  Kristus me-

nyertai kita. Ia berkata, “Marilah kita bertolak ke seberang da-

nau,” sebab ada pekerjaan baik yang harus dilakukan-Nya di 


 284

sana. Dengan mengambil sedikit jalan berputar, Ia bisa saja ke 

sana lewat jalan darat, namun  Ia memilih untuk pergi lewat 

jalan air, supaya Ia dapat menunjukkan perbuatan-perbuatan-

Nya yang ajaib di tempat yang dalam. 

2.  Orang-orang yang bertolak ke laut yang tenang atas perintah 

Kristus, harus mempersiapkan diri menghadapi badai dan ba-

haya luar biasa dalam badai itu. Sekonyong-konyong turunlah 

taufan ke danau (ay. 23), seakan-akan badai telah menanti di 

tempat itu, bukan di tempat lain. Akhirnya perahu mereka be-

gitu terombang-ambing hingga penuh dengan air dan hidup 

mereka berada dalam bahaya. Boleh jadi Iblis yang yaitu  pe-

nguasa kerajaan angkasa dan yang membangkitkan badai se-

izin Tuhan  , merasa curiga mendengar beberapa perkataan yang 

mungkin diucapkan Kristus, bahwa sekarang Ia sengaja pergi 

ke seberang danau untuk mengusir pasukan setan dari dalam 

lelaki malang di seberang itu. Maka ia pun mendatangkan ba-

dai ke atas perahu di mana Ia berada, dengan maksud, bila 

memungkinkan, menenggelamkan Dia dan menggagalkan ke-

menangan telak itu. 

3. Kristus tertidur di tengah badai itu (ay. 23). Ia memang mem-

butuhkan istirahat bagi tubuh jasmani-Nya dan memilih wak-

tu yang paling tidak mengganggu kerja-Nya. Murid-murid 

Kristus mungkin saja beroleh anugerah berupa kehadiran-Nya 

bersama mereka di tengah badai di danau, namun sepertinya 

Ia sedang tertidur. Sepertinya Ia tidak akan segera bertindak 

untuk menolong, bahkan saat keadaan semakin genting. De-

ngan demikian Ia menguji iman dan kesabaran mereka, serta 

mendorong mereka untuk berdoa dan membangunkan-Nya, 

sekaligus membuat penyelamatan itu terasa semakin disyu-

kuri saat  akhirnya datang juga. 

4.  Keluhan kepada Kristus tentang bahaya yang kita hadapi dan 

kesukaran yang dihadapi jemaat-Nya, cukup untuk memba-

ngunkan-Nya dan tampil bagi kita (ay. 24). Mereka berseru, 

Guru, Guru, kita binasa! Cara untuk meredakan ketakutan kita 

yaitu  dengan membawanya kepada Kristus dan meletakkan-

nya di hadapan-Nya. Orang-orang yang dengan sepenuh hati 

menyebut Kristus sebagai Guru, dan dengan iman serta ke-

sungguhan menyebut-Nya Guru mereka, boleh yakin bahwa Ia 

tidak akan membiarkan mereka binasa. Tidak ada pertolongan 

Injil Lukas 8:22-39 

 285 

bagi jiwa-jiwa malang yang berada di bawah perasaan bersalah 

dan ketakutan akan murka selain datang kepada Kristus dan 

menyebutnya Guru sambil berkata, “Aku akan binasa bila 

Engkau tidak menolongku.” 

5.  Sudah menjadi urusan Kristus untuk meredakan badai, dan 

urusan Iblis untuk membangkitkannya. Kristus mampu mela-

kukannya, dan Ia telah melakukannya. Ia senang melakukan-

nya sebab Ia datang untuk menawarkan perdamaian di bumi. 

Ia menghardik angin dan air yang mengamuk itu sehingga lang-

sung menjadi teduh (ay. 24). Bukan sedikit-sedikit atau pelan-

pelan, namun  sesaat  itu juga danau itu menjadi teduh. De-

ngan demikian Kristus menunjukkan bahwa sekalipun Iblis 

berpura-pura menjadi penguasa kerajaan angkasa, bahkan di 

sana pun Ia membelenggunya dengan rantai. 

6. saat  bahaya yang kita hadapi telah berlalu, sudah sepantas-

nya kita merasa malu atas ketakutan kita dan memberikan ke-

muliaan kepada Kristus atas kuasa-Nya itu. Waktu Kristus 

mengubah taufan itu menjadi teduh, mereka bersukacita, se-

bab semuanya reda (Mzm. 107:30).  

Setelah itu:  

(1) Kristus menegur mereka sebab  ketakutan mereka yang 

tidak keruan itu: “Di manakah kepercayaanmu?” (ay. 25). 

Perhatikanlah, banyak orang yang memiliki kepercayaan 

teguh justru kehilangan kepercayaan pada saat mereka ha-

rus menggunakannya. Mereka gemetar dan berkecil hati ji-

ka keadaan tampak suram. Hal kecil saja menciutkan hati 

mereka, dan bila demikian halnya, di manakah kepercaya-

an mereka?  

(2) Mereka memberikan kemuliaan kepada-Nya atas kuasa-

Nya itu: Maka takutlah mereka dan heran. Sesudah bahaya 

berlalu, orang-orang yang takut pada badai tadi memang 

pantas merasa takut kepada-Nya setelah Ia meredakan ba-

dai itu. Mereka berkata seorang kepada yang lain, “Siapa 

gerangan orang ini?” Mereka juga bisa berkata, “Siapakah 

Tuhan   seperti Engkau?” Sebab hanya Tuhan   sajalah yang 

mampu meredakan deru lautan, deru gelombang-gelom-

bangnya (Mzm. 65:8). 


 286

II.  Kuasa-Nya atas Iblis, si penguasa kerajaan angkasa. Dalam bagi-

an kisah berikutnya, Ia berhadapan lebih langsung dengan Iblis 

daripada saat  Ia menghardik angin. Tidak lama setelah angin 

kembali reda, mereka akhirnya sampai juga ke tempat tujuan, 

yakni di tanah orang Gerasa, dan mereka pun naik ke darat (ay. 

26-27). Dan segeralah Ia menjumpai apa yang menjadi tujuan ke-

datangan-Nya ke sana, dan yang dianggap-Nya berharga walau-

pun harus menempuh badai sekalipun.  

Kita bisa belajar banyak dari kisah ini mengenai dunia neraka 

ini, atau mengenai roh-roh jahat, yang walaupun di zaman seka-

rang biasanya tidak bekerja seperti yang terlihat di sini, namun 

harus senantiasa kita waspadai dengan berjaga-jaga. 

1. Jumlah roh-roh jahat ini sangat banyak. Roh-roh yang mera-

suki orang ini menyebut diri mereka Legion (ay. 30), sebab ia 

dirasuki oleh banyak setan (ay. 27). Namun, boleh jadi setan-

setan yang sudah lama merasuki orang itu, saat  melihat 

bahwa Juruselamat kita akan datang untuk menyerang mere-

ka dan mereka tidak berhasil menghalangi-Nya melalui badai 

yang mereka timbulkan itu, lalu mengirimkan anak buah me-

reka dengan tujuan menjadikan pertempuran ini perang yang 

menentukan. Sekarang mereka berharap kekuatan mereka ter-

lampau besar bagi Dia yang telah mengusir begitu banyak roh 

najis, dan bisa mengalahkan-Nya. Roh-roh itu yaitu  atau se-

tidaknya dianggap satu legion atau pasukan yang hebat, seper-

ti bala tentara dengan panji-panjinya, atau paling kurang, akan 

menjadi seperti pasukan Romawi kedua puluh yang sudah se-

jak lama berpangkalan di Chester, yang disebut sebagai legio 

victrix – pasukan yang jaya. 

2. Mereka mengadakan permusuhan mendalam terhadap manu-

sia, termasuk terhadap ketenteraman dan kenyamanan hidup-

nya. Orang yang dirasuki setan-setan sejak lama dan berada di 

bawah pengaruh mereka ini tidak berpakaian dan tidak tinggal 

dalam rumah (ay. 27), padahal pakaian dan tempat kediaman 

merupakan dua pendukung yang diperlukan dalam hidup ini. 

Bahkan, sebab  manusia pada umumnya takut pada tempat 

kediaman orang mati, setan-setan itu memaksa orang ini ting-

gal di pekuburan, supaya ia semakin menakutkan bagi diri 

sendiri dan bagi semua orang di sekitarnya. Dengan demikian 

Injil Lukas 8:22-39 

 287 

jiwanya semakin dibuat merasa jemu dengan hidupnya sendiri 

dan lebih suka dicekik dan mati. 

3.  Setan-setan ini sangat kuat, buas, dan susah diatur. Mereka 

benci dan tidak suka dikekang: Ia dirantai dan dibelenggu, su-

paya tidak merugikan orang lain atau diri sendiri, namun  ia me-

mutuskan segala pengikat itu (ay. 29). Perhatikanlah, orang-

orang yang tidak bisa diatur oleh orang lain menunjukkan 

bahwa mereka berada di bawah kendali Iblis. Orang-orang se-

perti ini tidak mau diikat oleh Tuhan  , Kristus, dan sahabat-sa-

habat terbaik mereka. Mereka hanya mau diikat oleh kehen-

dak mereka sendiri: Marilah kita memutuskan belenggu-beleng-

gu mereka. Ia dihalau oleh setan itu. Orang-orang yang berada 

di bawah kendali Kristus akan dibawa dengan lembut dengan 

tali-tali manusia dan pengikat kasih, sedangkan orang-orang 

yang berada di bawah perintah Iblis akan dihalau dengan 

kasar. 

4.  Setan-setan itu sangat marah kepada Yesus Tuhan kita, namun  

juga sangat takut kepada-Nya: saat  orang yang dirasuki oleh 

setan-setan dan yang berbicara seperti yang dikehendaki me-

reka itu melihat Yesus, ia berteriak bagaikan orang yang seka-

rat, dan tersungkur di hadapan-Nya, berusaha menghindari 

murka-Nya, dan mengakui Dia sebagai Anak Tuhan   Yang Maha-

tinggi, yang jauh mengatasinya dan terlampau berat baginya. 

Mereka menyangkal memiliki  hubungan atau persekongkol-

an apa pun dengan-Nya (dan ini cukup untuk membungkam 

hujatan para ahli Taurat dan orang Farisi terhadap-Nya): Apa 

urusan-Mu dengan aku? Setan-setan itu tidak berniat melayani 

Kristus atau berharap mendapatkan manfaat dari-Nya: Apa 

urusan-Mu dengan aku? Namun, mereka sangat takut pada 

kuasa dan murka-Nya: Aku memohon kepada-Mu, supaya Eng-

kau jangan menyiksa aku. Mereka tidak berkata, “Aku memo-

hon kepada-Mu, selamatkan aku,” melainkan, “Jangan menyik-

sa aku.” Lihatlah bagaimana mereka berkata-kata seperti 

orang yang hanya merasa takut pada neraka sebagai tempat 

siksaan, dan sama sekali tidak memiliki kerinduan akan sorga 

sebagai tem


Related Posts:

  • lukas 1-12 9 entang kedatangan-Nya dan mempersiapkan orang untuk menyambut-Nya. Seandainya Mesias akan muncul se-bagai seorang raja duniawi, dengan segala sifat dan ciri dunia-wi seperti yang diharapkan orang Yahudi, maka pasti… Read More