entang kedatangan-Nya dan mempersiapkan orang
untuk menyambut-Nya. Seandainya Mesias akan muncul se-
bagai seorang raja duniawi, dengan segala sifat dan ciri dunia-
wi seperti yang diharapkan orang Yahudi, maka pastilah utus-
an-Nya itu sudah tampil dalam kebesaran seorang panglima
atau dalam kegagahan bentara bersenjata lengkap. Namun,
cukup jelas terlihat bahwa kerajaan Kristus bersifat rohaniah,
sebab utusan yang disuruh-Nya mendahului untuk memper-
siapkan jalan-Nya, melakukan tugasnya itu dengan menyeru-
kan pertobatan dan pembaruan hati dan hidup manusia. Yang
pasti, kerajaan itu bukan berasal dari dunia ini.
5. Menurut cerita ini, ia begitu besar hingga benar-benar tidak
ada nabi yang melebihi dia. Para nabi yaitu orang-orang ter-
besar yang dilahirkan oleh wanita , lebih terhormat dari-
pada raja-raja dan penguasa, dan Yohanes itu yang terbesar
dari antara semua nabi. Negeri itu tidak menyadari betapa ber-
harganya, betapa tak ternilainya orang yang hidup di antara
mereka ini, saat Yohanes Pembaptis pergi ke sana kemari
untuk berkhotbah dan membaptis. Walaupun demikian, orang
yang terkecil dalam Kerajaan Tuhan lebih besar dari padanya.
Pelayan Injil yang terkecil yang telah memperoleh rahmat
Tuhan sehingga menjadi terampil dan setia dalam pekerjaan-
Nya, atau rasul-rasul serta pemberita Injil pertama yang terke-
cil yang dipekerjakan untuk suatu tugas yang lebih mulia,
Injil Lukas 7:19-35
257
memiliki kedudukan yang lebih terhormat lagi daripada Yo-
hanes Pembaptis. Yang terkecil dari orang-orang yang meng-
ikuti Anak Domba itu jauh melebihi kebesaran orang-orang
yang tampil mendahului-Nya. Oleh sebab itu, mereka yang hi-
dup di bawah kemurahan Injil memiliki tanggung jawab yang
jauh lebih banyak.
III. Di sini diceritakan tentang kecaman yang pantas diterima orang-
orang dari angkatan itu, yang tidak mau digerakkan oleh pelayan-
an Yohanes Pembaptis atau Yesus Kristus sendiri.
1. Di sini Kristus menunjukkan betapa Yohanes Pembaptis di-
pandang rendah saat ia berkhotbah dan membaptis.
(1) Orang-orang yang menghargainya hanyalah orang-orang
biasa, yang di mata golongan terpandang lebih membawa
aib daripada penghargaan baginya (ay. 29). Orang banyak,
yakni gerombolan orang kasar yang disebut sebagai orang
banyak yang tidak mengenal hukum Taurat, yang terkutuk
(Yoh. 7:49), dan para pemungut cukai, orang-orang yang
punya nama buruk yang biasa dianggap berakhlak bejat,
memberi diri dibaptis oleh Yohanes dan menjadi murid-
muridnya. Sedangkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat, walaupun mereka itu merupakan karya mulia anu-
gerah ilahi, tidak memuliakan Yohanes di mata dunia. Se-
baliknya, orang-orang rendah tadi melalui pertobatan dan
pembaruan diri, mengakui kebenaran Tuhan , mengakui per-
buatan serta kebijakan-Nya dalam menunjuk orang seperti
Yohanes Pembaptis menjadi pembuka jalan bagi Mesias.
Dengan demikian orang-orang rendah itu telah memperli-
hatkan bahwa itulah tindakan terbaik yang sudah mereka
ambil, sebab apa pun jadinya bagi orang lain, bagi mereka
semuanya ini tidaklah sia-sia.
(2) Orang-orang terkemuka dari jemaat dan bangsa itu yakni
orang-orang berbudi dan pembesar negeri, yang mempu-
nyai banyak kesempatan untuk menghormati Yohanes di
depan umum, tidak berbuat demikian namun malah berusa-
ha menghina dia sebisa mereka. Mereka memang mende-
ngarkan perkataannya, namun mereka tidak mau dibaptis
olehnya (ay. 30). Orang-orang Farisi yang paling terkenal
258
dalam hal beragama dan beribadah, serta para ahli Taurat,
yang terkenal sebab sangat terpelajar terutama dalam pe-
ngetahuan mereka tentang Kitab Suci, menolak rencana
Tuhan bagi diri mereka sendiri. Mereka mengacaukan renca-
na Tuhan . Mereka menerima anugerah Tuhan melalui baptis-
an Yohanes dengan sia-sia. Dengan mengirimkan sang
utusan itu ke tengah mereka, Tuhan memiliki semacam
tujuan yang baik bagi mereka, yaitu untuk merancang ke-
selamatan bagi mereka. sebab itu, seandainya mereka me-
nerima maksud Tuhan itu, itu yaitu untuk keuntungan diri
mereka sendiri, mereka selamat untuk selamanya. Namun,
yang terjadi, mereka menolaknya dan tidak mau menyetu-
jui maksud Tuhan , dan hal itu berbalik melawan mereka
menjadi kebinasaan bagi mereka. Mereka kehilangan man-
faat baik yang sebenarnya disediakan bagi mereka, dan bu-
kan hanya itu, mereka juga kehilangan anugerah Tuhan , ka-
rena mengunci pintu sendiri. Juga, dengan menolak tata
tertib yang melayakkan mereka bagi kerajaan Mesias, me-
reka telah mencegah diri masuk ke dalamnya. Mereka bu-
kan saja mengenyahkan diri sendiri, namun juga mengha-
langi orang lain untuk masuk ke dalam kerajaan itu.
2. Di sini Ia menunjukkan sifat angkatan itu yang suka melawan
melalui pertengkaran-pertengkaran mereka dengan Yohanes
dan Kristus, serta prasangka mereka terhadap keduanya.
(1) Mereka hanya mengolok-olok jalan-jalan Tuhan yang sebe-
narnya justru dipakai-Nya untuk kebaikan mereka (ay. 31):
“Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari ang-
katan ini? Hal bodoh apa yang dapat Ku pakai untuk meng-
gambarkan mereka ini? Mereka seperti anak-anak yang du-
duk di pasar, yang tidak pernah memikirkan hal-hal yang
penting, namun hanya suka bermain-main saja. Mereka ber-
buat seakan-akan Tuhan sedang bercanda dengan mereka
dalam semua hal yang dilakukan-Nya untuk membawa ke-
baikan bagi mereka, seolah seperti anak-anak yang bercan-
da satu sama lain di pasar (ay. 32). Mereka menolak semua
jalan-Nya dengan bersenda gurau, dan menganggapnya ti-
dak lebih dari sekadar pertunjukan besar belaka.” Inilah
kehancuran orang banyak, mereka tidak pernah bisa men-
Injil Lukas 7:19-35
259
dorong diri untuk memikirkan urusan jiwa mereka dengan
sungguh-sungguh. Orang-orang tua yang duduk di Mahka-
mah Agama hanya bersikap seperti anak-anak yang duduk
di pasar. Mereka tidak peduli pada perkara-perkara yang
berkaitan dengan damai abadi, sama seperti orang dewasa
yang hanya suka pada permainan anak-anak. Betapa bo-
doh dan sia-sianya dunia yang buta dan fasik ini! Kiranya
Tuhan membangunkan mereka dari rasa aman mereka itu.
(2) Mereka masih saja mencari-cari kesalahan orang lain.
[1] Yohanes Pembaptis seorang yang sangat mengucilkan
diri dari kenikmatan dunia ini, lebih banyak hidup me-
nyendiri, dan dia patut dikagumi sebab sifat rendah
hatinya, sederhana, dan menyangkal diri. Ia patut dide-
ngar sebagai orang yang bijak dan penuh perenungan.
Namun, bukannya dipuji dengan semuanya ini, ia ma-
lah dicela. Hanya sebab ia datang dengan tidak makan
dan tidak minum begitu sering dan dengan senang hati
seperti yang dilakukan orang lain, kamu berkata, “Ia di-
kuasai setan, pemurung, kerasukan, seperti orang kera-
sukan yang berkeliaran di pekuburan, meskipun ia
tidak seliar itu.”
[2] Yesus Tuhan kita lebih bebas dan terbuka dalam ting-
kah lakunya. Ia datang, makan dan minum (ay. 34). Ia
bersedia makan bersama orang Farisi meskipun Ia tahu
bahwa mereka tidak peduli dengan Dia. Ia melakukan
hal yang sama juga dengan para pemungut cukai, mes-
kipun Ia tahu bahwa mereka tidak menghargai-Nya. Na-
mun, dengan harapan dapat berbuat baik kepada mere-
ka semua, Ia bergaul akrab dengan mereka. Jadi, tam-
paklah di sini bahwa pelayanan Kristus sangat berbeda
dalam sifat dan pelaksanaannya, begitu pula dengan ca-
ra berkhotbah dan gaya hidup-Nya. Namun, semuanya
baik dan berguna. Ada rupa-rupa karunia, namun ma-
sing-masing untuk kepentingan bersama. Oleh sebab itu
janganlah ada yang menjadikan dirinya patokan bagi
orang lain, atau mencerca orang lain yang tidak mela-
kukan sesuatu seperti mereka. Yohanes Pembaptis
memberi kesaksian tentang Kristus, dan Kristus memuji
Yohanes Pembaptis, meskipun cara hidup mereka ber-
260
tolak belakang satu sama lainnya. Namun, musuh ber-
sama mereka mencerca mereka berdua. Orang-orang
yang menggambarkan Yohanes sebagai orang yang tidak
waras sebab ia datang tidak makan dan tidak minum,
menggambarkan Yesus Tuhan kita sebagai orang yang
rusak akhlak-Nya sebab Ia datang makan dan minum.
Ia seorang pelahap dan peminum. Maksud jahat tidak
pernah berkata-kata baik. Lihatlah kebencian orang ja-
hat dan bagaimana mereka mereka-reka yang terburuk
terhadap setiap hal yang mereka temui dalam Injil, da-
lam para pemberitanya dan penganutnya. Dan dengan
berbuat demikian mereka menyangka telah berhasil me-
rendahkan orang-orang ini, padahal sebenarnya mereka
justru menghancurkan diri sendiri.
3. Kristus menunjukkan bahwa kendati demikian, Tuhan akan di-
permuliakan dalam keselamatan sisa-sisa orang pilihan (ay.
35): Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.
Ada orang-orang yang diberi hikmat untuk menerimanya, dan
melalui anugerah Tuhan , mereka akan menyerahkan diri kepa-
da pimpinan dan penguasaan hikmat. Dengan demikian mere-
ka membenarkan hikmat dalam cara-cara yang membawa me-
reka pada penyerahan diri itu. Hal ini menjadikan mereka se-
bagai sisa-sisa yang terpilih. Anak-anak hikmat sama-sama
sependapat bahwa mereka semua terpuaskan dengan cara-
cara anugerah yang dipakai hikmat ilahi, dan mereka tidak
merasa rugi diolok-olok oleh orang lain sebab nya.
Kristus di Rumah Orang Farisi
(7:36-50)
36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya.
Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 37 Di kota itu ada
seorang wanita yang terkenal sebagai seorang berdosa. saat perem-
puan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu,
datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 38 Sam-
bil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu memba-
sahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya,
lalu ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi
itu. 39 saat orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata
dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah
wanita yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa wanita itu
Injil Lukas 7:36-50
261
yaitu seorang berdosa.” 40 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang
hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.” 41 “Ada
dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang ber-
hutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 42 sebab mereka tidak sang-
gup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di
antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” 43 Jawab Simon: “Aku kira
dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Be-
tul pendapatmu itu.” 44 Dan sambil berpaling kepada wanita itu, Ia ber-
kata kepada Simon: “Engkau lihat wanita ini? Aku masuk ke rumahmu,
namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, namun
dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambut-
nya. 45 Engkau tidak mencium Aku, namun sejak Aku masuk ia tiada henti-
hentinya mencium kaki-Ku. 46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan
minyak, namun dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 47 Sebab itu
Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia
telah banyak berbuat kasih. namun orang yang sedikit diampuni, sedikit juga
ia berbuat kasih. 48 Lalu Ia berkata kepada wanita itu: “Dosamu telah di-
ampuni.” 49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam
hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” 50 namun
Yesus berkata kepada wanita itu: “Imanmu telah menyelamatkan eng-
kau, pergilah dengan selamat!”
Kapan dan di mana penggalan kisah ini terjadi tidak dinyatakan. Di-
bandingkan dengan para penulis Injil lainnya, dalam penyampaian
ceritanya, Lukas tidak terlampau memperhatikan soal urutan waktu
kejadian. Namun, tampak di sini bahwa cerita ini disampaikan saat
Kristus dicela sebagai sahabat pemungut cukai dan orang berdosa,
dengan maksud untuk menunjukkan bahwa hanya demi kebaikan
mereka dan untuk membawa mereka kepada pertobatanlah Ia datang
berbincang-bincang dengan mereka. Mereka yang diperbolehkan-Nya
mendengar perkataan-Nya lalu diubahkan, atau diharapkan
berubah sama sekali. Siapa wanita yang di sini memperlihatkan
kasih sayang sedalam itu kepada Kristus, tidak disebutkan. Umum-
nya dikatakan bahwa dia yaitu Maria Magdalena, namun saya tidak
menemukan dasar atas pendapat ini di dalam Kitab Suci. Maria Mag-
dalena digambarkan (Luk. 8:2 dan Mrk. 16:9) sebagai salah seorang
yang dibebaskan Kristus dari tujuh roh jahat. Namun, hal itu tidak di-
sebutkan di sini, dan oleh sebab itu ada kemungkinan wanita ini
bukan Maria Magdalena.
Sekarang perhatikanlah:
I. Hiburan yang diberikan seorang Farisi kepada Kristus, dan kese-
diaan-Nya untuk menerima undangan itu (ay. 36): Seorang Farisi
mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Mungkin ia
menyangka namanya akan terkenal apabila ia mengundang tamu
262
seperti ini dalam perjamuannya, atau kehadiran-Nya bisa menjadi
hiburan bagi dia beserta keluarga dan teman-temannya. Seperti-
nya orang Farisi ini tidak percaya kepada Kristus, sebab ia tidak
mau mengakui-Nya sebagai nabi (ay. 39). Walaupun demikian,
Kristus menerima undangannya, datang ke rumah orang Farisi itu,
lalu duduk makan, agar mereka dapat melihat bahwa Ia mau ber-
gaul dengan siapa saja, baik dengan orang Farisi maupun dengan
para pemungut cukai, dengan harapan dapat menolong mereka.
Orang-orang yang memiliki cukup hikmat dan anugerah boleh
tampil di tengah masyarakat yang berprasangka terhadap Kristus
dan agama-Nya untuk mengajar dan berdebat dengan mereka
yang berprasangka buruk itu.
II. Rasa hormat mendalam ditunjukkan kepada-Nya oleh seorang
berdosa yang penuh penyesalan, saat Ia sedang duduk makan
di rumah orang Farisi. wanita itu berasal dari kota itu, se-
orang yang berdosa, seorang bukan-Yahudi, seorang wanita
sundal saya pikir yang dikenal demikian, dan punya nama buruk.
Ia mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi
itu. Setelah mendengar khotbah-Nya, ia bertobat dari jalan hidup-
nya yang buruk dan datang untuk menyatakan kewajibannya ke-
pada-Nya, dan ia belum sempat melakukannya dengan cara selain
membasahi kaki-Nya dan mengurapi-Nya dengan minyak harum
yang sengaja dibawanya untuk tujuan itu. Cara orang duduk di
meja pada zaman itu membuat kaki orang itu berada di belakang
sebagian. Jadi, wanita ini tidak memandang wajah Kristus
secara langsung, namun menghampiri Dia dari belakang-Nya. Ia
melakukan pekerjaan seorang pelayan yang memang bertugas
membasuh kaki para tamu (1Sam. 25:41) dan mempersiapkan mi-
nyaknya.
Sekarang kita amati apa yang dilakukan wanita yang baik ini:
1. Ia merasa luar biasa hina sebab dosa. Ia berdiri di belakang-
Nya sambil menangis. Matanya telah menjadi jalan masuk dan
jalan keluar bagi dosa, dan sekarang ia mengubah matanya itu
menjadi sumber air mata. Sekarang wajah yang biasanya pe-
nuh riasan itu tampak buruk sebab menangis. Rambut yang
biasanya dikepang-kepang dan penuh hiasan itu sekarang di-
jadikannya penyeka. Kita punya alasan untuk berpikir bahwa
Injil Lukas 7:36-50
263
sebelum itu, wanita ini telah menangis dan menyesali do-
sanya. Namun, sekarang setelah memperoleh kesempatan un-
tuk datang kepada Kristus, luka itu terbuka kembali dan ke-
sedihannya berulang. Perhatikanlah, alangkah baiknya apabila
orang yang datang kepada Kristus dengan penuh penyesalan,
kembali menangisi dan merasa malu atas dosanya, waktu Ia
mengadakan pendamaian baginya (Yeh. 16:63).
2. Kasih sayangnya yang mendalam terhadap Tuhan Yesus. Hal
inilah yang terutama diperhatikan Yesus Tuhan kita, bahwa
wanita itu banyak berbuat kasih (ay. 42, 47). Ia memba-
suh kaki-Nya, sebagai tanda bahwa ia rela menundukkan diri
untuk melakukan tugas paling hina apa saja untuk menghor-
mati-Nya. Ia bahkan membasuh kaki-Nya dengan air matanya,
air mata sukacita. Hatinya sangat bahagia sebab bisa berada
begitu dekat dengan Juruselamat yang begitu dikasihi jiwanya.
Ia mencium kaki-Nya, bagaikan orang yang merasa tidak layak
menerima kecupan bibir-Nya, seperti yang begitu didambakan
sang mempelai (Kid. 1:2). Ini yaitu ciuman penuh pemujaan
sekaligus kasih sayang. Ia menyekanya dengan rambutnya,
seperti orang yang sepenuhnya mengabdi demi kehormatan-
Nya. Kedua matanya mengalirkan air untuk membasuh kaki-
Nya, dan rambutnya menjadi kain penyeka. Ia meminyaki-Nya
dengan minyak wangi itu, mengakui-Nya sebagai Mesias, Dia
yang diurapi. Ia mengurapi kaki-Nya sebagai tanda setuju atas
rancangan Tuhan dalam mengurapi kepala-Nya dengan minyak
sebagai tanda kesukaan. Perhatikanlah, semua orang yang
benar-benar menyesali dosanya akan sangat mengasihi Tuhan
Yesus.
III. Serangan yang dilancarkan orang Farisi terhadap Kristus sebab
menerima penghormatan yang diberikan wanita yang penuh
penyesalan itu (ay. 39): Ia berkata dalam hatinya (tanpa menya-
dari bahwa Kristus tahu apa yang dipikirkannya), “Jika Ia ini nabi,
Ia pasti akan tahu bahwa wanita ini yaitu seorang berdosa,
seorang bukan-Yahudi, dan memiliki nama buruk. Jika Ia be-
gitu suci, Ia tentu tidak akan membiarkan wanita itu menda-
tangi-Nya sedekat itu, sebab dapatkah orang semacam itu men-
dekati seorang nabi tanpa membuat hatinya tergetar?” Lihatlah
betapa mudahnya orang-orang congkak dan berpikiran sempit
264
menganggap bahwa orang lain juga sama congkak dan suka me-
ngecamnya seperti mereka. Seandainya wanita itu menyen-
tuh dirinya, Simon mungkin akan berkata, “Menjauhlah, jangan-
lah meraba aku, nanti engkau menjadi kudus olehku” (Yes. 65:5),
dan sangkanya, Kristus pun akan berkata demikian.
IV. Kristus membenarkan apa yang dilakukan wanita itu terha-
dap Dia. Ia juga membenarkan diri-Nya sendiri sebab membiar-
kan hal itu terjadi. Kristus mengetahui apa yang dikatakan orang
Farisi itu dalam hatinya, lalu memberikan jawaban, “Simon, ada
yang hendak Kukatakan kepadamu” (ay. 40). Walaupun dilayani
dengan baik oleh Simon dalam perjamuannya, Ia tetap menegur
Simon sebab Ia melihat ada yang salah pada dirinya, dan tidak
mau mendatangkan dosa kepada dirinya. Kepada orang-orang
yang dalam diri mereka ada sesuatu yang tidak disukai
Kristus, akan ada yang hendak dikatakan-Nya kepada mereka,
sebab Roh-Nya akan menginsyafkan. Simon bersedia mendengar-
kan, katanya, “Katakanlah, Guru.” Meskipun ia tidak dapat me-
mercayai bahwa Dia seorang nabi (sebab Ia tidak tampak sebaik
dan seteliti seperti dirinya), ia menyebut-Nya Guru, seperti orang-
orang yang berseru, “Tuhan, Tuhan,” namun tidak melakukan apa
yang dikatakan-Nya. Sekarang, sebagai jawaban atas perkataan
orang Farisi itu, Kristus mengemukakan alasan demikian: Me-
mang benar bahwa wanita ini dahulunya orang berdosa.
Kristus tahu itu. Namun, sekarang ia yaitu seorang berdosa
yang telah diampuni, artinya ia seorang pendosa yang telah me-
nyesali dosanya. Apa yang dilakukan wanita itu terhadap-Nya
yaitu ungkapan kasih sayangnya yang besar kepada Jurusela-
matnya yang oleh-Nya dosa-dosanya diampuni. Jika dia yang tadi-
nya sangat berdosa telah diampuni, maka tidak mengherankan
apabila ia akan mengasihi Juruselamatnya lebih daripada yang
lain, dan akan memberikan bukti yang lebih besar daripada orang
lain mengenai kasihnya itu. Jika tindakannya itu yaitu buah ka-
sih sayangnya yang mengalir sebab rasa syukur atas pengam-
punan dosanya, hal ini menyenangkan hati-Nya sehingga Ia ber-
kenan menerimanya. Sebaliknya, hal ini membuat orang Farisi itu
tidak senang. Kristus memiliki rencana lebih lanjut mengenai
hal ini. Orang Farisi itu ragu-ragu apakah Ia seorang nabi atau
bukan. Malah, ia bahkan menyangkali-Nya sebagai seorang nabi.
Injil Lukas 7:36-50
265
namun Kristus menunjukkan bahwa Ia lebih dari sekadar nabi, se-
bab di dunia ini Ia berkuasa mengampuni dosa, dan kepada-Nya-
lah patut diberikan kasih sayang dan ucapan syukur dari orang
berdosa yang menyesal dan telah diampuni.
Sekarang, dalam jawaban-Nya itu:
1. Ia memaksa Simon melalui perumpamaan untuk mengakui
bahwa semakin besar dosa wanita ini dahulu, semakin
besar pula kasih yang harus ditunjukkannya kepada Yesus
Kristus saat dosa-dosanya diampuni (ay. 41-43). Ada dua
orang yang berhutang kepada seseorang, keduanya sama-sama
tidak sanggup membayar utang mereka, namun salah satu dari
mereka berutang sepuluh kali lipat daripada yang satunya.
Dengan sangat murah hati, orang yang memiutangi itu meng-
hapuskan hutang kedua orang itu, dan tidak menggunakan ja-
lur hukum untuk melawan mereka. Ia tidak memerintahkan
agar mereka beserta anak-anak mereka dijual, atau menyerah-
kan mereka kepada algojo-algojo. Nah, keduanya sungguh me-
rasakan betapa mereka telah menerima kebaikan yang amat
sangat. namun , siapakah di antara mereka yang akan terlebih
mengasihi orang yang membebaskan utang mereka itu? Sudah
tentu, kata orang Farisi itu, dia yang paling banyak dihapus-
kan utangnya. Dan benarlah penilaiannya itu. Jadi, sebab
itu, kita yang wajib mengampuni, sama seperti kita juga ingin
diampuni, dapat belajar di sini tentang kewajiban antara orang
yang berutang dan yang memberikan utang.
(1) Jika orang yang berutang memiliki sesuatu untuk dibayar-
kan, ia harus melunasi utangnya itu kepada orang yang
memiutangi dia. Tak seorang pun dapat menyebut sesuatu
sebagai miliknya atau menikmatinya dengan bebas, kecuali
bila semua utangnya telah lunas.
(2) Jika Tuhan dalam pemeliharaan-Nya mengizinkan orang
yang berutang itu tidak dapat melunasi utangnya, jangan-
lah si pemberi pinjaman bersikap keras terhadapnya, atau
menuntutnya lewat hukum, namun menghapuskan utang-
nya. Summum jus est summa injuria – Hukum yang diterap-
kan dengan keras akan menjadi tidak adil. Biarlah para
pemberi utang yang tidak kenal kasihan membaca perum-
pamaan dalam Matius ini (18:23 dst.), dan menjadi geme-
266
tar, sebab mereka akan mendapat hukuman tanpa ampun
dan tanpa belas kasihan.
(3) Orang berutang yang memperoleh belas kasihan dari si
pemberi utang selayaknya bersyukur kepadanya, dan seki-
ranya ia tidak sanggup melunasi utangnya, ia patut menga-
sihi si pemberi utang itu. Ada sebagian pengutang pailit
yang bukannya bersyukur malah mendendam terhadap si
pemberi pinjaman yang sudah menderita rugi sebab per-
buatannya itu. Pengutang-pengutang seperti ini tidak bisa
berkata-kata dengan baik sebab hanya mengeluh saja, se-
mentara mereka yang dirugikan itu tidak sempat berbicara.
Namun, perumpamaan ini berbicara tentang Tuhan sebagai
Pencipta (atau lebih tepat Tuhan Yesus sendiri, sebab Dia-
lah yang menghapus utang dan dikasihi oleh orang yang
berutang), dan orang-orang berdosa sebagai yang berutang.
Dengan demikian, kita dapat belajar di sini:
[1] Bahwa dosa yaitu utang, dan orang berdosa yaitu
orang yang berutang kepada Tuhan yang Mahakuasa. Se-
bagai makhluk ciptaan, kita memiliki utang, yakni
utang ketaatan terhadap peraturan hukum, dan sebab
tidak melunasinya, sebagai orang berdosa kita dapat di-
kenai hukuman. Kita belum membayar uang sewa kita.
Kita bahkan telah menyia-nyiakan milik Tuhan kita,
dan dengan demikian kita menjadi orang yang berutang.
Tuhan akan bertindak terhadap kita atas kerugian yang
kita timbulkan pada-Nya dan atas kelalaian kita dalam
memenuhi kewajiban terhadap-Nya.
[2] Bahwa sebagian orang berutang dosa kepada Tuhan lebih
besar daripada yang lainnya: Yang seorang berhutang
lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Orang Farisi itu
berutang lebih sedikit. Namun, ia juga seorang yang
berutang, lebih daripada perkiraannya, bahwa Tuhan
yaitu yang memberikan utang kepadanya (Luk. 18:10-
11). wanita ini, seorang berdosa yang terkenal pu-
nya nama buruk, berutang lebih banyak. Sebagian
orang berdosa berutang lebih banyak sebab memang
mereka telah berbuat dosa, dan sebagian orang yang
menjadi pengutang lebih besar besar sebab melakukan
Injil Lukas 7:36-50
267
hal-hal yang luar biasa, seperti orang-orang yang ber-
buat dosa dengan terang-terangan dan sangat memalu-
kan, yang berdosa terhadap terang dan pengetahuan,
dan terlebih lagi terhadap segala bentuk nasihat dan
peringatan, rahmat dan segala sarana anugerah.
[3] Bahwa, entah utang kita lebih banyak atau sedikit, jum-
lahnya tetap saja lebih daripada yang mampu kita ba-
yar. Mereka tidak sanggup membayar, sama sekali tidak
memiliki apa pun untuk berunding dengan si pemberi
utang, sebab utangnya sangat besar. Kita memang tidak
memiliki apa pun untuk melunasi utang kita. Emas dan
perak tidak akan dapat melunasi utang kita. Korban
persembahan pun tidak, sekalipun ribuan domba jan-
tan. Kebenaran dalam diri kita sendiri pun tidak dapat
melunasinya, bahkan pertobatan dan ketaatan kita un-
tuk berbuat baik di waktu mendatang sekalipun, sebab
kita sudah terikat dengan segala utang kita itu. Hanya
Tuhan sendiri sajalah yang bisa mengerjakan pembayar-
an utang itu dalam diri kita.
[4] Bahwa Tuhan sorgawi siap mengampuni dan menghapus-
kan utang orang berdosa sesuai syarat-syarat Injil, mes-
kipun utang mereka teramat besar. Jika kita bertobat
dan percaya kepada Kristus, pelanggaran kita tidak
akan menjadi kehancuran kita dan tidak akan dituduh-
kan kepada kita. Tuhan telah menyatakan bahwa nama-
Nya pengasih dan penyayang, serta siap mengampuni
dosa. Putra-Nya telah membayar pengampunan bagi
orang percaya yang menyesali dosanya. Injil-Nya men-
janjikan hal ini kepada mereka, dan Roh-Nya memete-
raikannya serta memberi mereka penghiburan.
[5] Bahwa orang yang telah diampuni dosanya, wajib me-
ngasihi Dia yang telah mengampuni mereka. Semakin
banyak dosa mereka diampuni, semakin mereka harus
mengasihi-Nya. Orang yang lebih berdosa sebelum ber-
tobat, harus menjadi orang yang lebih kudus setelah
bertobat, semakin keras berusaha bekerja bagi Tuhan ,
dan hatinya harus semakin taat kepada-Nya. saat
Saulus si penganiaya itu berubah menjadi Paulus si
pemberita Injil, ia bekerja lebih keras.
268
2. Kristus memakai perumpamaan ini untuk menjelaskan watak
dan perilaku yang berbeda dari orang Farisi dan orang berdosa
terhadap diri-Nya. Meskipun orang Farisi itu tidak mengang-
gap Kristus seorang nabi, Kristus sepertinya siap menganggap-
nya sebagai orang yang sudah dibenarkan, bahwa dia orang
yang telah diampuni, walaupun yang sedikit diampuni. Dia me-
mang menunjukkan sedikit kasih kepada Kristus dengan
mengundang-Nya datang ke rumahnya, namun tidak ada apa-
apanya bila dibandingkan dengan yang ditunjukkan perempu-
an yang malang itu. “Perhatikanlah baik-baik,” kata Kristus
kepadanya, “wanita inilah yang telah banyak diampuni,
dan oleh sebab itu, sesuai penilaianmu sendiri, ia lebih diha-
rapkan untuk mengasihi lebih banyak daripada engkau, dan
memang begitulah yang terjadi. Engkau lihat wanita ini?
(ay. 44). Engkau memandang rendah dia, namun pikirkanlah
betapa ia lebih bersahabat dan berbaik hati kepada-Ku diban-
dingkan engkau. Jadi bagaimana mungkin Aku harus mene-
rima kebaikanmu dan menolak kebaikannya?”
(1) “Engkau bahkan tidak menyuruh orang membawakan air
untuk membasuh kaki-Ku saat Aku masuk, letih dan kotor
sebab perjalanan, dan air itu dapat menyegarkan-Ku. Te-
tapi dia telah berbuat jauh lebih banyak: dia telah memba-
sahi kaki-Ku dengan air mata, air mata kasih sayang kepa-
da-Ku, air mata dukacita sebab dosa, dan menyekanya de-
ngan rambutnya, sebagai tanda kasihnya yang besar kepa-
da-Ku.”
(2) “Engkau bahkan tidak mencium pipi-Ku” (ungkapan yang
lazim untuk menyambut teman dengan sepenuh hati), “te-
tapi wanita ini tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku
(ay. 45), untuk mengungkapkan kasih yang rendah hati
dan mendalam.”
(3) “Engkau tidak menyediakan sedikit minyak, seperti yang
biasa dilakukan orang, untuk meminyaki kepalaku, namun
ia telah mencurahkan sebotol minyak wangi berharga ke
kaki-Ku (ay. 46). Perbuatannya jauh melebihi engkau.”
Alasan mengapa sebagian orang selalu mencela jerih payah
orang-orang Kristen yang penuh semangat dalam beriba-
dah yaitu sebab mereka sendiri tidak mau melakukan
Injil Lukas 7:36-50
269
hal yang sama, dan hanya mau enak saja dengan ibadah
yang murahan dan gampangan.
3. Kristus membungkam keberatan orang Farisi yang mengada-
ada itu: Simon, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak
itu telah diampuni (ay. 47). Kristus mengakui bahwa perempu-
an itu telah melakukan banyak dosa: “namun dosa-dosanya te-
lah diampuni, dan oleh sebab itu sudah sepantasnya aku me-
nerima kebaikan hatinya. Dosa-dosanya telah diampuni, sebab
ia telah banyak berbuat kasih.” Seharusnya diterjemahkan, ka-
rena itu ia banyak berbuat kasih, sebab sudah jelas bahwa tu-
juan pengajaran Kristus yaitu bahwa banyak berbuat kasih
bukanlah penyebab, melainkan akibat dari pengampunan yang
diterimanya dan sukacita penghiburan yang dirasakannya. Ki-
ta mengasihi, sebab Tuhan lebih dahulu mengasihi kita. Ia tidak
mengampuni kita sebab kita mengasihi-Nya terlebih dahulu.
“namun orang yang sedikit diampuni, seperti dirimu, sedikit
juga ia berbuat kasih, seperti yang kauperbuat.” Dengan ini Ia
menyiratkan kepada orang Farisi itu bahwa sebab kasihnya
kepada Kristus begitu sedikit, ia seharusnya berpikir untuk
mempertanyakan apakah betul ia sungguh mengasihi-Nya,
dan sebab itu apakah betul dosanya, yang meskipun sedikit
dibandingkan wanita itu, memang telah diampuni. Kita ja-
ngan iri hati dengan pendosa-pendosa besar atas belas kasih-
an yang mereka dapatkan dari Kristus sebab pertobatan me-
reka, sebaliknya, kita harus merasa tergerak oleh teladan me-
reka guna memeriksa diri apakah kita benar-benar telah diam-
puni dan mengasihi Kristus dengan sungguh.
4. Kristus menenteramkan ketakutan wanita itu, yang
mungkin merasa kecil hati sebab perilaku orang Farisi itu. Ia
tidak menjadi tawar hati sampai melarikan diri.
(1) Kristus berkata kepadanya, “Dosamu telah diampuni” (ay.
48). Perhatikanlah, semakin kita menyatakan kesedihan ki-
ta atas dosa dan kasih kita kepada Kristus, semakin jelas
bukti bahwa kita telah mendapatkan pengampunan untuk
dosa-dosa kita. Melalui pengalaman karya anugerah yang
diadakan dalam diri kitalah, kita akan memperoleh kepasti-
an tindakan anugerah yang diadakan bagi kita. Betapa be-
sar balasan yang diterima wanita itu atas jerih payah
270
dan pengorbanannya, saat ia dipersilakan pergi dengan
perkataan Kristus, “Dosamu telah diampuni!” Betapa kata-
kata ini akan mencegahnya berbuat dosa kembali!
(2) Di situ hadir orang-orang yang membantah Dia dalam hati
sebab Ia mengampuni dosa dan memerdekakan orang ber-
dosa (ay. 49), sama seperti yang diperbuat para ahli Taurat
(Mat. 9:3). Walaupun begitu, Ia tetap berdiri teguh dengan
apa yang telah dikatakan-Nya, sebab sama seperti Ia telah
membuktikan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa de-
ngan jalan menyembuhkan orang yang sakit lumpuh itu.
Oleh sebab itu Ia tidak mau peduli dengan keberatan
orang, maka sekarang pun Ia hendak menunjukkan bahwa
Ia mengampuni dosa dengan senang hati. Dan itulah yang
menjadi kesukaan-Nya. Ia sangat suka mengucapkan kata
pengampunan dan damai sejahtera kepada orang-orang
yang menyesali dosa mereka. Ia berkata kepada wanita
itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay. 50). Kata-
kata ini akan meneguhkan dan melipatgandakan penghi-
buran yang dirasakannya sebab pengampunan dosanya,
yaitu bahwa ia dibenarkan sebab imannya. Semua ung-
kapan kesedihan atas dosa dan kasih kepada Kristus ini
yaitu hasil dan buah dari iman. Oleh sebab itu, sama
seperti iman dari semua anugerah yang diberikan memba-
wa kehormatan terbesar bagi Tuhan , demikian pula Kristus
dengan semua anugerah-Nya memberi kehormatan terting-
gi kepada iman. Perhatikanlah, mereka yang tahu bahwa
iman mereka telah menyelamatkan mereka, dapat pergi de-
ngan damai sejahtera, pergi dengan bersukacita.
PASAL 8
ebagian besar pasal ini merupakan pengulangan berbagai perikop
mengenai khotbah-khotbah dan mujizat-mujizat Kristus yang te-
lah kita baca sebelumnya dalam Injil Matius dan Markus. Semuanya
begitu penting hingga layak diulang. Itulah sebabnya semua kejadian
itu dicatat lagi, supaya melalui tiga, dan bukan hanya dua mulut, ke-
saksian setiap perkataan dapat diteguhkan.
Dalam pasal ini diceritakan tentang:
I. Gambaran umum mengenai khotbah Kristus dan bagaimana
Ia menghidupi diri-Nya sendiri serta keluarga besar-Nya me-
lalui sumbangan dari orang-orang dermawan (ay. 1-13).
II. Perumpamaan tentang penabur dan empat jenis tanah, beri-
kut uraian dan beberapa kesimpulan yang ditarik dari situ
(ay. 4-18).
III. Sikap Kristus untuk lebih mendahulukan murid-murid-Nya
yang taat dibanding sanak keluarga terdekat-Nya sendiri (ay.
19-21).
IV. Ia meneduhkan badai di laut dengan satu perkataan (ay. 22-
25).
V. Ia mengusir banyak setan dari dalam seorang laki-laki yang
kerasukan (ay. 26-40).
VI. Ia menyembuhkan seorang wanita yang menderita pen-
darahan, dan membangkitkan anak wanita Yairus (ay.
41-56).
S
272
Pelayanan Kristus
(8:1-3)
1 Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari
desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Tuhan . Kedua belas murid-Nya ber-
sama-sama dengan Dia, 2 dan juga beberapa orang wanita yang telah di-
sembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang dise-
but Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat. 3 Yohana isteri
Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak wanita lain. wanita -
wanita ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.
Di sini diceritakan tentang:
I. Apa yang senantiasa Kristus kerjakan sepanjang hidup-Nya – yak-
ni memberitakan Injil, tanpa kenal lelah, dan berbuat kebaikan di
mana-mana (ay. 1), sesudah itu – en tō kathexēs – ordine, pada
saat atau dengan cara yang tepat. Kristus merencanakan apa
yang hendak dikerjakan-Nya dan melaksanakannya dengan ter-
atur. Ia memperhatikan rangkaian atau urutan pekerjaan itu, se-
hingga akhir suatu pekerjaan yang baik merupakan awal pekerja-
an baik berikutnya.
Sekarang perhatikanlah di sini:
1. Di mana Ia berkhotbah: Yesus berjalan berkeliling – diōdeue
atau peragrabat. Dia seorang pengkhotbah yang berpindah-pin-
dah tempat. Ia tidak membatasi diri pada satu tempat saja, me-
lainkan memancarkan berkas-berkas cahaya-Nya. Circumibat –
Ia pergi berkeliling sebagai hakim, mencari tempat baru yang
paling mungkin menerima khotbah-Nya. Ia berjalan berkeliling
dari kota ke kota, supaya tidak ada yang bisa mengeluh tidak
diperhatikan. Dengan demikian Ia memberikan teladan kepada
murid-murid-Nya, supaya mereka juga pergi mengunjungi
bangsa-bangsa melintasi bumi seperti yang dilakukan-Nya di
kota-kota di tanah Israel. Ia bahkan tidak menetap di kota-
kota besar melainkan masuk ke desa, di antara penduduk de-
sa yang sederhana, untuk memberitakan Injil kepada orang-
orang di pedusunan (Hak. 5:11).
2. Apa yang dikhotbahkan-Nya: Ia memberitakan berita kesukaan
mengenai Kerajaan Tuhan , yang sekarang akan ditegakkan di
antara mereka. Berita tentang kerajaan Tuhan yaitu kabar
baik, dan Yesus Kristus datang untuk membawanya guna di-
sampaikan kepada anak-anak manusia, bahwa Tuhan bersedia
Injil Lukas 8:1-3
273
melindungi orang-orang yang mau kembali setia mengabdi ke-
pada-Nya. Ini yaitu kabar baik bagi dunia, bahwa masih ada
harapan bagi dunia untuk diubahkan dan diperdamaikan.
3. Siapa saja yang menyertai-Nya: Kedua belas murid-Nya ber-
sama-sama dengan Dia, bukan untuk berkhotbah selama Dia
masih ada, melainkan untuk belajar dari-Nya tentang apa
yang kelak harus mereka khotbahkan, cara melakukannya,
dan bila memang diperlukan, untuk diutus ke tempat-tempat
yang tidak dapat didatangi oleh-Nya. Alangkah bahagianya
para pelayan-Nya ini yang mendengar hikmat dari mulut-Nya.
II. Dari mana Ia memperoleh dukungan untuk keperluan hidup: Ia
hidup dari kebaikan hati sahabat-sahabat-Nya. Ada beberapa
orang wanita , yang dengan teratur mengikuti pelayanan-Nya,
yang melayani-Nya dengan kekayaan mereka (ay. 2-3). Beberapa
dari mereka disebut namanya, namun masih ada lagi banyak pe-
rempuan lain, yang menerima pengajaran Kristus dengan tekun,
dan menganggap diri mereka pantas menyokong pemberitaan
ajaran-Nya itu sebab mereka telah merasakan manfaatnya, dan
mereka mau beramal, dengan harapan banyak orang akan mene-
rima manfaat yang sama juga.
1. Kebanyakan dari mereka pernah disembuhkan oleh Kristus
dan mereka merupakan bukti dari kuasa dan rahmat-Nya. Me-
reka telah disembuhkan oleh-Nya dari roh-roh jahat atau ber-
bagai penyakit. Beberapa dari mereka pernah terganggu pikir-
an mereka. Ada yang depresi, dan ada pula yang mengalami
gangguan kesehatan jasmani, dan Ia menyembuhkan mereka
semua dengan kuasa-Nya yang ajaib. Dia yaitu penyembuh
tubuh maupun jiwa, dan mereka yang telah disembuhkan
oleh-Nya layak melakukan apa saja yang bisa mereka persem-
bahkan kepada-Nya. Kita harus peduli untuk mengikuti-Nya,
supaya setiap saat kita bisa datang kepada-Nya untuk minta
tolong saat tergelincir. Kita juga terikat dalam rasa syukur un-
tuk melayani Dia serta Injil-Nya, sebab Dia telah menyelamat-
kan kita melalui Injil-Nya.
2. Salah seorang dari wanita -wanita itu yaitu Maria
Magdalena yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, jumlah
yang pasti bagi sesuatu yang tidak pasti. Ada yang beranggap-
an bahwa dahulu ia sangat jahat, dan kita bisa saja mengang-
274
gap dialah si wanita berdosa yang baru disebutkan dalam
pasal 7:37. Menurut Dr. Lightfoot, yang menemukan dalam tu-
lisan-tulisan para ahli Talmud bahwa Maria Magdalena ini di-
sebut sebagai Maria si pengepang rambut, boleh jadi perem-
puan ini yaitu Maria Magdalena, sebab namanya dicatat se-
masa ia masih dalam keadaan sangat berdosa, sebab pada
masa itu rambut yang berkepang-kepang dianggap berlawanan
dengan cara berdandan yang pantas (1Tim. 2:9). Namun, wa-
laupun ia pernah menjadi wanita yang tidak pantas, pada
saat ia bertobat dan diubahkan, ia memperoleh rahmat dan
menjadi murid Kristus yang berapi-api. Perhatikanlah, para
pendosa besar tidak perlu merasa putus asa bahwa tidak ada
lagi pengampunan bagi mereka. Namun, semakin buruk kehi-
dupan seseorang sebelum bertobat, semakin keras pula ia ha-
rus berusaha bekerja bagi Kristus setelah itu. Atau, boleh jadi
Maria ini menderita depresi, dan kalau begitu, mungkin saja
dialah Maria saudara Lazarus, seorang wanita yang sa-
ngat bersusah hati, yang mungkin berasal dari Magadan namun
lalu pindah ke Betania. Maria Magdalena yang ini hadir di sa-
lib Kristus dan kubur-Nya, dan seandainya dia bukan saudara
wanita Lazarus, maka sahabat dan kesayangan Kristus ini
tidak hadir di situ, atau tidak akan diperhatikan oleh para pe-
nulis Injil. Namun, pendapat yang mana yang benar, kita
tidak dapat menduga. Demikianlah pendapat Dr. Lightfoot. Na-
mun, masih ada sanggahan lain lagi, Maria Magdalena terhi-
tung berada di antara wanita -wanita yang mengikuti
Yesus dari Galilea (Mat. 27:55-56), sedangkan Maria, saudara
wanita Lazarus, tinggal di Betania.
3. wanita lain lagi yang ada di antara mereka yaitu Yohana
istri Khuza bendahara Herodes. Ia pernah menjadi istrinya
(menurut beberapa orang), namun sekarang sudah menjanda,
dan hidupnya sejahtera. Seandainya saat itu dia masih men-
jadi istri Khuza, kita punya alasan untuk berpikir bahwa mes-
kipun memilih untuk tinggal di istana Herodes, suaminya te-
lah menerima Injil dan sangat mendukung bila istrinya men-
jadi pendengar ajaran Kristus sekaligus penyokong bagi-Nya.
4. Banyak dari antara mereka yang melayani rombongan Kristus
dengan kekayaan mereka. Ini merupakan contoh keadaan ber-
kekurangan yang rela dijalani Juruselamat kita sehingga Ia
Injil Lukas 8:4-21
275
memerlukan bantuan, dan juga contoh kerendahan hati dan
sikap merendahkan diri yang besar sehingga Ia mau meneri-
manya. Walaupun sebenarnya kaya, namun demi kita Ia rela
menjadi miskin dan hidup dari sedekah. Janganlah orang me-
rasa malu untuk meminta kebaikan hati dari sesamanya keti-
ka Tuhan membawanya ke dalam kesukaran, namun biarlah ia
meminta dan bersyukur saat menerimanya sebagai sebuah
kemurahan hati. Kristus lebih suka berutang budi kepada
sahabat-sahabat-Nya yang sudah dikenali-Nya demi kesejahte-
raan diri-Nya dan murid-murid-Nya daripada menjadi beban
bagi orang-orang yang tidak dikenal-Nya di kota-kota dan de-
sa-desa yang dikunjungi-Nya saat berkhotbah. Perhatikan-
lah, sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang yang diajar da-
lam firman Tuhan untuk berbagi dengan mereka yang menga-
jarkan banyak hal yang baik kepada mereka. Mereka yang
memberi dengan murah hati dan penuh sukacita, menghor-
mati Tuhan dengan kekayaan mereka dan membawa berkat ke
atas kekayaan mereka itu.
Perumpamaan tentang Seorang Penabur
(8:4-21)
4 saat orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang
dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu
perumpamaan: 5 “yaitu seorang penabur keluar untuk menaburkan benih-
nya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu
diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. 6 Se-
bagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi ke-
ring sebab tidak mendapat air. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri,
dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. 8
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus
kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa memiliki teli-
nga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 9 Murid-murid-Nya berta-
nya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. 10 Lalu Ia menjawab: “Kepa-
damu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Tuhan , namun kepada
orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun
memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak
mengerti. 11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Tuhan . 12
Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudi-
an datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya
mereka jangan percaya dan diselamatkan. 13 Yang jatuh di tanah yang berba-
tu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya de-
ngan gembira, namun mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja
dan dalam masa pencobaan mereka murtad. 14 Yang jatuh dalam semak duri
ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selan-
276
jutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hi-
dup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. 15 Yang jatuh
di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, me-
nyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ke-
tekunan.” 16 “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya de-
ngan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, namun ia me-
nempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam
rumah dapat melihat cahayanya. 17 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembu-
nyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang
tidak akan diketahui dan diumumkan. 18 sebab itu, perhatikanlah cara ka-
mu mendengar. sebab siapa yang memiliki , kepadanya akan diberi, teta-
pi siapa yang tidak memiliki , dari padanya akan diambil, juga apa yang ia
anggap ada padanya.” 19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya,
namun mereka tidak dapat mencapai Dia sebab orang banyak. 20 Orang mem-
beritahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan
ingin bertemu dengan Engkau.” 21 namun Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan
saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Tuhan dan me-
lakukannya.”
Kalau perikop pertama yang telah kita bahas di atas tadi diawali de-
ngan uraian tentang kegigihan Kristus dalam memberitakan Injil (ay.
1), maka perikop ini diawali dengan uraian tentang kegigihan orang
banyak dalam mendengarkan khotbah-Nya (ay. 4). Ia berjalan keliling
dari kota ke kota untuk berkhotbah, sehingga bisa saja kita berpikir
bahwa orang-orang di setiap kota itu sudah puas mendengarkan Dia
saat Ia mengunjungi kota-kota mereka (kita tahu ada orang-orang
yang bersikap seperti ini). Namun, ternyata di sini ada juga
orang-orang yang datang dari kota ke kota menggabungkan diri pada
Yesus, dan tidak sabar menunggu sampai Ia datang kepada mereka,
atau merasa telah mendengar cukup banyak saat Ia meninggalkan
mereka. Mereka menggabungkan diri pada-Nya saat Ia berjalan meng-
hampiri mereka, namun juga mengikuti-Nya saat Ia meninggalkan me-
reka. Dan Kristus sendiri pun tidak mencari-cari alasan dengan me-
manfaatkan hal ini untuk tidak pergi dari kota ke kota, bahwa orang-
orang dari kota-kota itu sudah datang kepada-Nya, jadi Ia tidak perlu
mengunjungi mereka. Sebab, meskipun ada yang mendatangi-Nya,
namun, kebanyakan orang tidak punya keinginan menyala-nyala un-
tuk datang kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Ia begitu meren-
dahkan diri sehingga mau datang kepada mereka, sebab Ia berkenan
ditemukan oleh orang yang tidak mencari-Nya (Yes. 65:1).
Di sini sepertinya ada kumpulan orang yang sangat banyak,
orang banyak berbondong-bondong datang. Ada ikan berlimpah-lim-
pah yang siap untuk dijaring. Dan Ia siap dan bersedia untuk menga-
jar, sama seperti orang banyak itu juga siap untuk diajar.
Injil Lukas 8:4-21
277
Dalam ayat-ayat ini kita temukan:
I. Aturan-aturan dan peringatan-peringatan yang penting dan sa-
ngat baik dalam mendengar firman-Nya. Aturan-aturan ini disam-
paikan-Nya melalui perumpamaan penabur, disertai penjelasan
dan penerapannya, dan hal ini telah dua kali kita baca sebelum-
nya dengan lebih terperinci.
saat Kristus menyampaikan perumpamaan ini:
1. Para murid ingin mengetahui artinya (ay. 9). Mereka bertanya
kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Perhatikanlah,
kita harus memiliki keinginan sungguh untuk mengetahui
maksud yang sebenarnya dan seluas-seluasnya dari firman
yang kita dengar, supaya kita tidak salah mengerti.
2. Kristus menyadarkan mereka betapa beruntungnya mereka
sebab beroleh kesempatan mengetahui rahasia dan makna
firman-Nya, yang tidak didapatkan orang lain: Kepadamu di-
beri karunia (ay. 10). Perhatikanlah, orang-orang yang ingin
menerima pengajaran dari Kristus harus mengetahui dan me-
mikirkan betapa istimewanya hak yang mereka peroleh sebab
mendapatkan pengajaran dari-Nya, betapa istimewanya hak
itu sebab boleh dibimbing menuju terang, sementara orang
lain tetap berada dalam kegelapan yang sangat pekat. Berba-
hagialah kita dan berutang budi selamanya sebab anugerah
yang cuma-cuma, jika hal yang sama merupakan perumpama-
an bagi orang lain dan sekadar menjadi penghibur hati bagi
mereka, hal ini justru menjadi kebenaran yang terbuka
jelas bagi kita, yang olehnya kita dicerahi, dikendalikan dan
dibentuk.
Sekarang, dari perumpamaan itu sendiri dan juga penjelas-
annya, perhatikanlah bahwa:
(1) Hati manusia seperti tanah bagi benih atau firman Tuhan .
Hati itu mampu menerimanya dan menghasilkan buah
darinya. Namun, kecuali benih itu ditabur di dalamnya,
tanah itu tidak akan menghasilkan apa pun yang ber-
harga. sebab itu penting sekali untuk mempersatukan
benih dengan tanah itu. Untuk apa benih yang kita baca
dalam Kitab Suci itu, jika tidak ditaburkan? Dan untuk
278
apa tanah dalam hati kita, jika tidak ditaburi dengan
benih itu?
(2) Keberhasilan menanam benih sangat bergantung pada
sifat dan keadaan tanahnya, apakah siap atau tidak siap
menerima benih itu. Firman Tuhan yaitu bagi kita, bau
kehidupan yang menghidupkan, atau bau kematian yang
mematikan.
(3) Iblis yaitu musuh yang tidak kentara dan pendendam,
yang suka mencegah kita memperoleh manfaat dari fir-
man Tuhan . Ia merampas firman itu dari dalam hati pende-
ngar yang acuh tak acuh, supaya mereka jangan percaya
dan diselamatkan (ay. 12).
Hal ini ditambahkan di sini untuk mengajar kita bahwa:
[1] Kita tidak dapat diselamatkan kecuali kita percaya.
Perkataan Injil tidak akan menyelamatkan kita kecuali
disertai iman.
[2] Oleh sebab itu Iblis akan berbuat apa saja untuk men-
cegah kita percaya, untuk membuat kita tidak mem-
percayai firman itu saat kita membaca atau mende-
ngarnya. Atau, jika kita mendengarkannya pada saat
ini, ia membuat kita melupakannya kembali dan ha-
nyut (Ibr. 2:1). Atau, kalaupun kita mengingatnya, dia
menciptakan prasangka buruk dalam pikiran kita ter-
hadap firman itu atau mengalihkan pikiran kita ke hal
lain. Semua ini dilakukannya supaya kita jangan per-
caya dan diselamatkan, supaya jangan kita percaya
dan bersukacita, sementara dia percaya dan gemetar.
(4) saat firman Tuhan didengarkan dengan acuh tak acuh,
biasanya juga ada rasa benci terhadapnya. Di sini di-
tambahkan dalam perumpamaan itu bahwa benih yang
jatuh di pinggir jalan diinjak orang (ay. 5). Mereka yang
dengan sengaja menutup telinga terhadap firman itu, se-
benarnya telah menginjak-injaknya di bawah kaki. Mere-
ka menghina perintah TUHAN.
(5) Orang-orang yang terkesan oleh firman namun tidak ber-
akar dan sebentar saja, akan menampakkan kemunafikan
mereka saat pencobaan datang, bagaikan benih yang ja-
tuh di tanah berbatu-batu sehingga tidak berakar (ay. 13).
Injil Lukas 8:4-21
279
Orang-orang seperti ini percaya sebentar saja. Pengakuan
mereka tampak menjanjikan, namun dalam masa pencoba-
an mereka murtad dari maksud awal yang baik itu. Tidak
peduli pencobaan itu berasal dari senyuman atau kemu-
raman dunia ini, tetap saja mereka mudah dikalahkan
olehnya.
(6) Sama seperti hal-hal lainnya, kenikmatan hidup yaitu
duri-duri berbahaya dan jahat yang menghimpit benih
firman yang baik. Hal ini ditambahkan di sini (ay. 14) dan
tidak dicatat dalam kitab-kitab Injil yang lain. Orang-
orang yang tidak terjerat dalam kekhawatiran hidup ini,
yang tidak terpedaya dengan tipu daya kekayaan, jangan-
lah membangga-banggakan diri bahwa mereka sudah ma-
ti terhadap hal-hal ini , sebab mereka bisa saja di-
jauhkan dari sorga bila terperosok dalam kemalasan dan
terbuai dalam kenyamanan dan kesenangan indrawi, wa-
laupun bebas dari tipu daya kekayaan. Hal-hal yang me-
nyukakan indra, sekalipun diperbolehkan, bisa merusak
jiwa, bila dinikmati secara berlebihan.
(7) Tidaklah cukup bila menghasilkan buah saja, buah itu
juga harus sempurna, harus matang betul. Jika tidak, ini
sama saja dengan tidak menghasilkan buah sama sekali.
Istilah tidak berbuah yang dipakai dalam Injil Matius
dan Markus sama artinya dengan istilah tidak menghasil-
kan buah yang matang yang dipakai di sini. sebab
factum non dicitur quod non perseverat – ketekunan diperlu-
kan untuk menghasilkan kesempurnaan suatu pekerjaan.
(8) Tanah yang baik, yang menghasilkan buah yang matang,
yaitu hati yang jujur dan baik, yang siap menerima peng-
ajaran dan perintah (ay. 15). Hati yang bebas dari pence-
maran dosa, terpancang dengan teguh pada Tuhan dan ke-
wajiban terhadap-Nya, hati yang tulus dan lembut, yang
tergetar mendengar firman itu, itulah hati yang tulus dan
baik, yang setelah mendengar firman itu, mengertinya (se-
perti yang dikatakan dalam Matius), menyambutnya (se-
perti yang tertulis dalam Markus), dan menyimpannya (se-
perti yang tertulis di sini), sebab tanah bukan sekadar
menyambut, namun juga menyimpan benih itu. Perut bu-
kan sekadar menerima, namun juga menyimpan makanan.
280
(9) Jika firman itu disimpan dengan baik, akan dihasilkan
buah dalam ketekunan atau kesabaran. Hal itu juga di-
tambahkan di sini. Harus ada ketekunan atau kesabaran
dalam menanggung dan menanti; ketekunan dalam men-
derita penindasan dan penganiayaan yang mungkin da-
tang sebab firman itu, ketekunan untuk terus berbuat
baik sampai akhir.
(10) Mengingat semua hal ini, kita perlu memperhatikan cara
kita mendengar (ay. 18), memperhatikan hal-hal yang da-
pat menghambat manfaat firman yang kita dengar, men-
jaga hati kita dalam mendengar, dan memperhatikan
supaya jangan kita tertipu. Kita harus hati-hati, jangan
sampai kita mendengar dengan acuh tak acuh dan de-
ngan setengah hati, sebab ini bisa membuat kita mena-
ruh prasangka buruk terhadap firman yang kita dengar
itu. Kita harus menjaga keadaan rohani kita setelah men-
dengar firman itu, supaya jangan kita kehilangan apa
yang telah kita dapatkan.
II. Petunjuk-petunjuk berguna diberikan kepada orang-orang yang
ditentukan untuk memberitakan firman itu, dan juga kepada
orang-orang yang telah mendengarnya.
1. Orang-orang yang telah menerima karunia harus melayani se-
orang akan yang lain. Para pelayan Tuhan yang bertugas
untuk memberitakan Injil yang dipercayakan kepada mereka,
orang-orang yang telah memperoleh manfaat dari firman itu
sehingga layak untuk meneruskan manfaat itu kepada orang
lain, harus memandang diri mereka sebagai pelita yang menya-
la. Pelayan Tuhan harus memberitakan firman dengan otoritas
penuh, sedangkan umat harus ramah dan bersaudara terha-
dap sesama. Mereka harus memancarkan terang, sebab pelita
tidak boleh ditutupi dengan tempayan atau ditempatkan di ba-
wah tempat tidur (ay. 16). Para pelayan Tuhan dan orang Kris-
ten harus menjadi terang dunia, sambil berpegang pada firman
kehidupan. Terang mereka harus bercahaya di hadapan semua
orang. Mereka bukan saja harus tampak baik, namun juga ber-
buat baik.
2. Kita harus tahu bahwa apa yang sekarang dilakukan dengan
tersembunyi dan berasal dari sumber yang tidak tampak, tidak
Injil Lukas 8:4-21
281
lama lagi akan diketahui dan diumumkan (ay. 17). Apa yang di-
sampaikan kepadamu dengan tersembunyi harus diwujudkan
melalui dirimu juga, sebab Gurumu tidak memberikan talenta
kepadamu untuk dikuburkan, melainkan untuk diusahakan.
Biarlah hal yang sekarang tersembunyi diumumkan, sebab jika
tidak diwujudkan olehmu, maka akan diwujudkan untuk me-
lawanmu, akan diungkapkan sebagai bukti atas pengkhianat-
anmu.
3. Karunia-karunia yang kita miliki akan terus diberikan kepada
kita atau diambil dari kita, bergantung dari apakah kita me-
manfaatkannya atau tidak untuk kemuliaan Tuhan serta untuk
pertumbuhan saudara-saudara kita: siapa yang memiliki ,
kepadanya akan diberi (ay. 18). Dia yang memiliki karunia
dan menggunakannya dengan baik, akan menerima lebih ba-
nyak. Dia yang menyembunyikan talentanya akan kehilangan
talenta itu. Barangsiapa tidak memiliki , apa pun juga yang
ada padanya akan diambil dari padanya, demikianlah yang
tertulis dalam Markus 4:25, juga apa yang ia anggap ada pa-
danya, seperti dalam Injil Lukas. Perhatikanlah, anugerah
yang hilang itu hanyalah anugerah yang semu, tidak pernah
sejati. Orang hanya seakan-akan memiliki sesuatu yang tidak
mereka gunakan, dan agama yang sekedar dipamerkan akan
lenyap dan hilang. Memang mereka berasal dari antara kita, te-
tapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita (1Yoh.
2:19). Biarlah kita menjaga anugerah yang kita miliki dengan
sungguh-sungguh, yaitu perkara inti yang ada dalam diri kita.
Itu yaitu bagian baik yang tidak akan pernah diambil dari
orang yang memilikinya.
III. Dorongan semangat yang diberikan kepada orang-orang yang
membuktikan diri sebagai orang yang mendengarkan firman Tuhan
dengan setia dan melakukannya, melalui sebuah contoh tentang
rasa hormat yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya, ka-
rena lebih mementingkan mereka daripada kerabat-Nya sendiri
(ay. 19-21). Kisah ini telah kita baca dua kali sebelumnya.
Perhatikanlah:
1. Betapa banyaknya orang yang berkerumun di sekitar Kristus.
Sungguh sulit untuk bisa menyeruak di antara mereka yang
282
mengelilingi-Nya, yang meskipun begitu berdesak-desakan, ti-
dak mau didesak keluar dari perhimpunan-Nya.
2. Beberapa dari kerabat terdekat-Nya justru termasuk yang pa-
ling tidak berminat mendengarkan khotbah-Nya. Mereka bu-
kannya masuk untuk mendengarkan Dia, seperti yang bisa me-
reka lakukan dengan mudah seandainya datang tepat waktu,
malah berdiri di luar untuk menemui Dia. Mungkin juga mere-
ka ingin menemui Dia sebab kekhawatiran yang bukan-
bukan, kalau-kalau Ia terlampau meletihkan diri dengan ber-
bicara terlampau banyak, jadi mereka bermaksud menyela
pembicaraan-Nya dan menyuruh-Nya berhenti.
3. Yesus Kristus lebih suka sibuk dengan pekerjaan-Nya dari-
pada berbincang-bincang dengan teman-teman-Nya. Ia tidak
mau menghentikan khotbah-Nya untuk berbicara dengan ibu
dan saudara-saudara-Nya, sebab bagi-Nya pekerjaan itu ada-
lah makanan dan minuman-Nya.
4. Kristus berkenan mengakui orang-orang yang mendengarkan
firman Tuhan dan melakukannya sebagai sanak saudara-Nya
yang terdekat. Bagi-Nya, mereka lebih daripada ibu dan sau-
dara-saudara-Nya sendiri.
Kuasa Kristus atas Angin dan Setan-setan
(8:22-39)
22 Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan mu-
rid-murid-Nya, dan Ia berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke sebe-
rang danau.” Lalu bertolaklah mereka. 23 Dan saat mereka sedang berlayar,
Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga pe-
rahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. 24 Maka datang-
lah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Guru, guru, kita bina-
sa!” Ia pun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan
angin dan air itu pun reda dan danau itu menjadi teduh. 25 Lalu kata-Nya ke-
pada mereka: “Di manakah kepercayaanmu?” Maka takutlah mereka dan
heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini,
sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-
Nya?” 26 Lalu mendaratlah Yesus dan murid-murid-Nya di tanah orang Gera-
sa yang terletak di seberang Galilea. 27 Setelah Yesus naik ke darat, datang-
lah seorang laki-laki dari kota itu menemui Dia; orang itu dirasuki oleh
setan-setan dan sudah lama ia tidak berpakaian dan tidak tinggal dalam ru-
mah, namun dalam pekuburan. 28 saat ia melihat Yesus, ia berteriak lalu
tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-
Mu dengan aku, hai Yesus Anak Tuhan Yang Mahatinggi? Aku memohon kepa-
da-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.” 29 Ia berkata demikian sebab
Yesus memerintahkan roh jahat itu keluar dari orang itu. sebab sering roh
Injil Lukas 8:22-39
283
itu menyeret-nyeret dia, maka untuk menjaganya, ia dirantai dan dibelenggu,
namun ia memutuskan segala pengikat itu dan ia dihalau setan itu ke tempat-
tempat yang sunyi. 30 Dan Yesus bertanya kepadanya: “Siapakah namamu?”
Jawabnya: “Legion,” sebab ia kerasukan banyak setan. 31 Lalu setan-setan
itu memohon kepada Yesus, supaya Ia jangan memerintahkan mereka masuk
ke dalam jurang maut. 32 yaitu di sana sejumlah besar babi sedang mencari
makan di lereng gunung, lalu setan-setan itu meminta kepada Yesus, supaya
Ia memperkenankan mereka memasuki babi-babi itu. Yesus mengabulkan
permintaan mereka. 33 Lalu keluarlah setan-setan itu dari orang itu dan me-
masuki babi-babi itu. Kawanan babi itu terjun dari tepi jurang ke dalam
danau lalu mati lemas. 34 Setelah penjaga-penjaga babi itu melihat apa yang
telah terjadi, mereka lari lalu menceritakan hal itu di kota dan di kampung-
kampung sekitarnya. 35 Dan keluarlah orang-orang untuk melihat apa yang
telah terjadi. Mereka datang kepada Yesus dan mereka menjumpai orang
yang telah ditinggalkan setan-setan itu duduk di kaki Yesus; ia telah berpa-
kaian dan sudah waras. Maka takutlah mereka. 36 Orang-orang yang telah
melihat sendiri hal itu memberitahukan kepada mereka, bagaimana orang
yang telah dirasuk setan itu telah diselamatkan. 37 Lalu seluruh penduduk
daerah Gerasa meminta kepada Yesus, supaya Ia meninggalkan mereka,
sebab mereka sangat ketakutan. Maka naiklah Ia ke dalam perahu, lalu ber-
layar kembali. 38 Dan orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu meminta
supaya ia diperkenankan menyertai-Nya. namun Yesus menyuruh dia pergi,
kata-Nya: 39 “Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang
telah diperbuat Tuhan atasmu.” Orang itu pun pergi mengelilingi seluruh kota
dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.
Di sini kita dapati dua bukti yang menggambarkan kuasa Yesus
Tuhan kita, dan yang telah kita baca sebelumnya – kuasa-Nya atas
angin dan kuasanya atas setan-setan (Mrk. 4-5).
I. Kuasa-Nya atas angin, atas penguasa kerajaan angkasa yang be-
gitu ditakuti manusia, terutama di laut, dan yang menyebabkan
kematian atas banyak orang.
Perhatikanlah:
1. Kristus memerintahkan murid-murid-Nya untuk bertolak ke
seberang danau, supaya Ia dapat menunjukkan kemuliaan-
Nya atas air dengan membuat teduh gelombang, dan berbuat
baik kepada orang yang dirasuk setan di seberang danau.
Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan murid-mu-
rid-Nya (ay. 22). Mereka yang mengikuti perintah-perintah
Kristus boleh merasa yakin akan kehadiran-Nya bersama me-
reka. Jika Kristus mengutus murid-murid-Nya, Ia akan pergi
bersama mereka. Jadi, kita boleh merasa aman dan berani
pergi menantang bahaya ke mana pun, sebab Kristus me-
nyertai kita. Ia berkata, “Marilah kita bertolak ke seberang da-
nau,” sebab ada pekerjaan baik yang harus dilakukan-Nya di
284
sana. Dengan mengambil sedikit jalan berputar, Ia bisa saja ke
sana lewat jalan darat, namun Ia memilih untuk pergi lewat
jalan air, supaya Ia dapat menunjukkan perbuatan-perbuatan-
Nya yang ajaib di tempat yang dalam.
2. Orang-orang yang bertolak ke laut yang tenang atas perintah
Kristus, harus mempersiapkan diri menghadapi badai dan ba-
haya luar biasa dalam badai itu. Sekonyong-konyong turunlah
taufan ke danau (ay. 23), seakan-akan badai telah menanti di
tempat itu, bukan di tempat lain. Akhirnya perahu mereka be-
gitu terombang-ambing hingga penuh dengan air dan hidup
mereka berada dalam bahaya. Boleh jadi Iblis yang yaitu pe-
nguasa kerajaan angkasa dan yang membangkitkan badai se-
izin Tuhan , merasa curiga mendengar beberapa perkataan yang
mungkin diucapkan Kristus, bahwa sekarang Ia sengaja pergi
ke seberang danau untuk mengusir pasukan setan dari dalam
lelaki malang di seberang itu. Maka ia pun mendatangkan ba-
dai ke atas perahu di mana Ia berada, dengan maksud, bila
memungkinkan, menenggelamkan Dia dan menggagalkan ke-
menangan telak itu.
3. Kristus tertidur di tengah badai itu (ay. 23). Ia memang mem-
butuhkan istirahat bagi tubuh jasmani-Nya dan memilih wak-
tu yang paling tidak mengganggu kerja-Nya. Murid-murid
Kristus mungkin saja beroleh anugerah berupa kehadiran-Nya
bersama mereka di tengah badai di danau, namun sepertinya
Ia sedang tertidur. Sepertinya Ia tidak akan segera bertindak
untuk menolong, bahkan saat keadaan semakin genting. De-
ngan demikian Ia menguji iman dan kesabaran mereka, serta
mendorong mereka untuk berdoa dan membangunkan-Nya,
sekaligus membuat penyelamatan itu terasa semakin disyu-
kuri saat akhirnya datang juga.
4. Keluhan kepada Kristus tentang bahaya yang kita hadapi dan
kesukaran yang dihadapi jemaat-Nya, cukup untuk memba-
ngunkan-Nya dan tampil bagi kita (ay. 24). Mereka berseru,
Guru, Guru, kita binasa! Cara untuk meredakan ketakutan kita
yaitu dengan membawanya kepada Kristus dan meletakkan-
nya di hadapan-Nya. Orang-orang yang dengan sepenuh hati
menyebut Kristus sebagai Guru, dan dengan iman serta ke-
sungguhan menyebut-Nya Guru mereka, boleh yakin bahwa Ia
tidak akan membiarkan mereka binasa. Tidak ada pertolongan
Injil Lukas 8:22-39
285
bagi jiwa-jiwa malang yang berada di bawah perasaan bersalah
dan ketakutan akan murka selain datang kepada Kristus dan
menyebutnya Guru sambil berkata, “Aku akan binasa bila
Engkau tidak menolongku.”
5. Sudah menjadi urusan Kristus untuk meredakan badai, dan
urusan Iblis untuk membangkitkannya. Kristus mampu mela-
kukannya, dan Ia telah melakukannya. Ia senang melakukan-
nya sebab Ia datang untuk menawarkan perdamaian di bumi.
Ia menghardik angin dan air yang mengamuk itu sehingga lang-
sung menjadi teduh (ay. 24). Bukan sedikit-sedikit atau pelan-
pelan, namun sesaat itu juga danau itu menjadi teduh. De-
ngan demikian Kristus menunjukkan bahwa sekalipun Iblis
berpura-pura menjadi penguasa kerajaan angkasa, bahkan di
sana pun Ia membelenggunya dengan rantai.
6. saat bahaya yang kita hadapi telah berlalu, sudah sepantas-
nya kita merasa malu atas ketakutan kita dan memberikan ke-
muliaan kepada Kristus atas kuasa-Nya itu. Waktu Kristus
mengubah taufan itu menjadi teduh, mereka bersukacita, se-
bab semuanya reda (Mzm. 107:30).
Setelah itu:
(1) Kristus menegur mereka sebab ketakutan mereka yang
tidak keruan itu: “Di manakah kepercayaanmu?” (ay. 25).
Perhatikanlah, banyak orang yang memiliki kepercayaan
teguh justru kehilangan kepercayaan pada saat mereka ha-
rus menggunakannya. Mereka gemetar dan berkecil hati ji-
ka keadaan tampak suram. Hal kecil saja menciutkan hati
mereka, dan bila demikian halnya, di manakah kepercaya-
an mereka?
(2) Mereka memberikan kemuliaan kepada-Nya atas kuasa-
Nya itu: Maka takutlah mereka dan heran. Sesudah bahaya
berlalu, orang-orang yang takut pada badai tadi memang
pantas merasa takut kepada-Nya setelah Ia meredakan ba-
dai itu. Mereka berkata seorang kepada yang lain, “Siapa
gerangan orang ini?” Mereka juga bisa berkata, “Siapakah
Tuhan seperti Engkau?” Sebab hanya Tuhan sajalah yang
mampu meredakan deru lautan, deru gelombang-gelom-
bangnya (Mzm. 65:8).
286
II. Kuasa-Nya atas Iblis, si penguasa kerajaan angkasa. Dalam bagi-
an kisah berikutnya, Ia berhadapan lebih langsung dengan Iblis
daripada saat Ia menghardik angin. Tidak lama setelah angin
kembali reda, mereka akhirnya sampai juga ke tempat tujuan,
yakni di tanah orang Gerasa, dan mereka pun naik ke darat (ay.
26-27). Dan segeralah Ia menjumpai apa yang menjadi tujuan ke-
datangan-Nya ke sana, dan yang dianggap-Nya berharga walau-
pun harus menempuh badai sekalipun.
Kita bisa belajar banyak dari kisah ini mengenai dunia neraka
ini, atau mengenai roh-roh jahat, yang walaupun di zaman seka-
rang biasanya tidak bekerja seperti yang terlihat di sini, namun
harus senantiasa kita waspadai dengan berjaga-jaga.
1. Jumlah roh-roh jahat ini sangat banyak. Roh-roh yang mera-
suki orang ini menyebut diri mereka Legion (ay. 30), sebab ia
dirasuki oleh banyak setan (ay. 27). Namun, boleh jadi setan-
setan yang sudah lama merasuki orang itu, saat melihat
bahwa Juruselamat kita akan datang untuk menyerang mere-
ka dan mereka tidak berhasil menghalangi-Nya melalui badai
yang mereka timbulkan itu, lalu mengirimkan anak buah me-
reka dengan tujuan menjadikan pertempuran ini perang yang
menentukan. Sekarang mereka berharap kekuatan mereka ter-
lampau besar bagi Dia yang telah mengusir begitu banyak roh
najis, dan bisa mengalahkan-Nya. Roh-roh itu yaitu atau se-
tidaknya dianggap satu legion atau pasukan yang hebat, seper-
ti bala tentara dengan panji-panjinya, atau paling kurang, akan
menjadi seperti pasukan Romawi kedua puluh yang sudah se-
jak lama berpangkalan di Chester, yang disebut sebagai legio
victrix – pasukan yang jaya.
2. Mereka mengadakan permusuhan mendalam terhadap manu-
sia, termasuk terhadap ketenteraman dan kenyamanan hidup-
nya. Orang yang dirasuki setan-setan sejak lama dan berada di
bawah pengaruh mereka ini tidak berpakaian dan tidak tinggal
dalam rumah (ay. 27), padahal pakaian dan tempat kediaman
merupakan dua pendukung yang diperlukan dalam hidup ini.
Bahkan, sebab manusia pada umumnya takut pada tempat
kediaman orang mati, setan-setan itu memaksa orang ini ting-
gal di pekuburan, supaya ia semakin menakutkan bagi diri
sendiri dan bagi semua orang di sekitarnya. Dengan demikian
Injil Lukas 8:22-39
287
jiwanya semakin dibuat merasa jemu dengan hidupnya sendiri
dan lebih suka dicekik dan mati.
3. Setan-setan ini sangat kuat, buas, dan susah diatur. Mereka
benci dan tidak suka dikekang: Ia dirantai dan dibelenggu, su-
paya tidak merugikan orang lain atau diri sendiri, namun ia me-
mutuskan segala pengikat itu (ay. 29). Perhatikanlah, orang-
orang yang tidak bisa diatur oleh orang lain menunjukkan
bahwa mereka berada di bawah kendali Iblis. Orang-orang se-
perti ini tidak mau diikat oleh Tuhan , Kristus, dan sahabat-sa-
habat terbaik mereka. Mereka hanya mau diikat oleh kehen-
dak mereka sendiri: Marilah kita memutuskan belenggu-beleng-
gu mereka. Ia dihalau oleh setan itu. Orang-orang yang berada
di bawah kendali Kristus akan dibawa dengan lembut dengan
tali-tali manusia dan pengikat kasih, sedangkan orang-orang
yang berada di bawah perintah Iblis akan dihalau dengan
kasar.
4. Setan-setan itu sangat marah kepada Yesus Tuhan kita, namun
juga sangat takut kepada-Nya: saat orang yang dirasuki oleh
setan-setan dan yang berbicara seperti yang dikehendaki me-
reka itu melihat Yesus, ia berteriak bagaikan orang yang seka-
rat, dan tersungkur di hadapan-Nya, berusaha menghindari
murka-Nya, dan mengakui Dia sebagai Anak Tuhan Yang Maha-
tinggi, yang jauh mengatasinya dan terlampau berat baginya.
Mereka menyangkal memiliki hubungan atau persekongkol-
an apa pun dengan-Nya (dan ini cukup untuk membungkam
hujatan para ahli Taurat dan orang Farisi terhadap-Nya): Apa
urusan-Mu dengan aku? Setan-setan itu tidak berniat melayani
Kristus atau berharap mendapatkan manfaat dari-Nya: Apa
urusan-Mu dengan aku? Namun, mereka sangat takut pada
kuasa dan murka-Nya: Aku memohon kepada-Mu, supaya Eng-
kau jangan menyiksa aku. Mereka tidak berkata, “Aku memo-
hon kepada-Mu, selamatkan aku,” melainkan, “Jangan menyik-
sa aku.” Lihatlah bagaimana mereka berkata-kata seperti
orang yang hanya merasa takut pada neraka sebagai tempat
siksaan, dan sama sekali tidak memiliki kerinduan akan sorga
sebagai tem