lukas 13-24 6


 tobat dan 

mengubah kebiasaan jahat dan jalan hidup mereka.” Per-

hatikanlah, orang-orang bodoh memang selalu memikirkan 

cara-cara yang lebih baik daripada cara yang telah dipilih 

dan ditetapkan Tuhan  untuk membuat orang bertobat. 

(4) Abraham bersikeras menolaknya, dengan alasan yang me-

yakinkan (ay. 31): “Jika mereka tidak mendengarkan kesak-

sian Musa dan para nabi, dan tidak mau percaya pada 

kesaksian atau mendengarkan peringatan yang diberikan 

Musa dan para nabi itu, mereka tidak juga akan mau diya-

kinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara 

orang mati. Jika mereka tidak mengacuhkan pewahyuan 

umum, yang diteguhkan dengan mujizat-mujizat, mereka 

juga tidak akan digerakkan oleh kesaksian pribadi sese-

orang yang disampaikan langsung kepada mereka sendiri.”  

[1]  Perkaranya sudah ditetapkan sejak lama, dan ini sudah 

teruji, bahwa Tuhan  harus berbicara melalui Musa dan 

nabi-nabi seperti itu, dan bukan melalui utusan-utusan 

langsung dari sorga. Israel memilih cara ini  di Gu-

nung Sinai, sebab  mereka tidak tahan terhadap kenge-

rian-kengerian yang ditimbulkan saat  para utusan 

sorga langsung berbicara kepada mereka.  

[2] Seorang utusan yang bangkit dari antara orang mati 

tidak bisa mengatakan apa-apa melebihi yang dikata-

kan dalam Kitab Suci. Ia juga tidak bisa menyampai-

kannya dengan wewenang yang lebih besar. 

[3] Kalau orang mati diutus, maka akan ada macam-ma-

cam alasan untuk curiga bahwa utusan ini  hanya-

lah sebuah tipuan atau khayalan, sama seperti kecuri-

gaan terhadap Kitab Suci. Bahkan utusan orang mati 

ini malah jauh lebih dicuriga lagi. Memang orang-orang 

kafir yang tidak percaya dalam satu hal pasti akan tidak 

percaya dalam hal lain juga.  

[4] Kekuatan merusak dalam sifat manusia yang meng-

halanginya untuk meyakini kebenaran firman tertulis, 

akan menghalanginya pula dalam meyakini kebenaran 

yang disaksikan oleh seorang saksi yang bangkit dari 

antara orang mati. Walaupun seorang pendosa mungkin 

pada awalnya merasa ketakutan terhadap kesaksian se-

perti itu, namun  sesudah rasa takut itu berlalu, ia akan 

segera kembali pada kedegilan hatinya. 

[5] Pada masa kini Kitab Suci sudah menjadi cara biasa 

yang dipakai Tuhan  untuk menyatakan pikiran-Nya ke-

pada kita, dan ini sudah cukup. Sungguh lancang jika 

kita ingin menentukan cara-cara lain, dan kita juga 

tidak mempunyai dasar untuk berharap atau berdoa 

agar anugerah Tuhan  bekerja di dalam diri kita dengan 

cara lain, jika  kita menolak dan menyingkirkan cara 

yang biasa itu. Apa yang dikatakan oleh Juruselamat 

kita di sini sungguh terbukti benar dalam diri orang-

orang Yahudi yang tidak percaya itu. Mereka tidak mau 

mendengar Musa dan para nabi, Kristus dan para rasul, 

dan tetap tidak mau percaya, meskipun Lazarus bangkit 

dari antara orang mati (dan mungkin dengan merujuk 

pada dialah Kristus memberi nama Lazarus kepada 

orang malang dalam perumpamaan ini), Bahkan lebih 

dari itu, mereka justru berencana untuk menghukum 

mati Dia, dan tetap tidak mau diyakinkan oleh Dia, se-

kalipun Ia sendiri juga bangkit dari antara orang mati. 

saat  Eutikhus dihidupkan kembali, orang-orang yang 

ada di sekitarnya terus mendengarkan Paulus berkhot-

bah, dan tidak berbalik untuk menanyakan sesuatu ke-

padanya (Kis. 20:10-11). Oleh sebab itu, janganlah kita 

menginginkan penglihatan-penglihatan atau penampak-

an-penampakan, atau bertanya kepada arwah-arwah,

melainkan kepada pengajaran dan kesaksian (Yes. 8:19-

20), sebab itulah firman teguh yang telah disampaikan 

oleh para nabi, yang padanya kita dapat bergantung. 

 

 PASAL 17  

Dalam pasal ini kita mendapati:  

I. Beberapa percakapan khusus Kristus dengan para murid-

Nya, saat  Ia mengajari mereka supaya berhati-hati untuk 

tidak menyesatkan orang lain, dan untuk mengampuni 

orang-orang yang berbuat dosa terhadap mereka (ay. 1-4); 

mendorong mereka untuk berdoa supaya iman mereka ber-

tambah (ay. 5-6); Ia kemudian mengajari mereka mengenai 

kerendahan hati di dalam pelayanan apa pun yang mereka 

lakukan bagi Tuhan  (ay. 7-10).  

II. Penyembuhan terhadap sepuluh orang kusta yang dilakukan-

Nya, dan ucapan syukur yang Ia dapatkan dari hanya satu 

orang saja di antara mereka, yaitu seorang Samaria (ay. 11-19).  

III. Percakapan-Nya dengan para murid saat  orang-orang Fa-

risi menanyakan kapan kiranya kerajaan Tuhan  akan muncul 

(ay. 20-37). 

 

Tindakan terhadap Perbuatan yang Menyesatkan 

(17:1-10) 

1 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada 

penyesatan, namun  celakalah orang yang mengadakannya. 2 yaitu  lebih baik 

baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilem-

parkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang 

yang lemah ini. 3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah 

dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 4 Bahkan jikalau ia berbuat do-

sa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu 

dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.“ 5 Lalu kata 

rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” 6 Jawab Tuhan: 

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu da-

pat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di 


 644

dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” 7 “Siapa di antara kamu yang mem-

punyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak ba-

ginya, akan berkata kepada hamba itu, sesudah  ia pulang dari ladang: Mari 

segera makan! 8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: 

Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai se-

lesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan mi-

num. 9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, sebab  hamba itu telah 

melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 10 Demikian jugalah kamu. 

jika  kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, 

hendaklah kamu berkata: Kami yaitu  hamba-hamba yang tidak berguna; 

kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” 

Di sini kita diajari: 

I.  Bahwa mengadakan penyesatan merupakan sebuah dosa besar, 

sehingga setiap dari kita harus mawas diri dalam menghindarinya 

(ay. 1-2). Kita harus bersiap menghadapi penyesatan yang pasti 

akan terjadi, oleh sebab  kejahatan dan kedegilan yang ada  

dalam sifat alami manusia, dan juga sebab  ada tujuan dan ren-

cana Tuhan  yang bijak dalam segala penyesatan itu. Dia akan terus 

melanjutkan pekerjaan-Nya kendati penyesatan-penyesatan terse-

but terjadi, dan akan menjadikan sesuatu yang baik dari kejahat-

an. Hampir tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, oleh kare-

na itulah kita harus bersiap sebaik mungkin untuk menghadap-

inya. Akan namun , celakalah orang yang mengadakannya, sebab 

hukumannya akan sangat berat (ay. 2), lebih mengerikan dari-

pada hukuman yang akan diterima oleh penjahat terbejat sekali-

pun yang sudah dijatuhi hukuman untuk dibuang ke dalam laut, 

sebab mereka akan tenggelam oleh sebab  beban yang lebih berat 

daripada batu kilangan.  

Hukuman ini  akan menimpa:  

1. Para penganiaya, yang berusaha menyesatkan orang-orang le-

mah milik Kristus, dengan perkataan maupun perbuatan, yang 

menyebabkan mereka menjadi putus asa dalam melayani 

Kristus dan melaksanakan kewajiban mereka, atau membuat 

mereka terancam mangkir dari semua kewajiban itu.   

2.  Para penipu, yang memutarbalikkan kebenaran Kristus dan 

ketetapan-ketetapan-Nya, sehingga mengacaukan pikiran para 

murid; mereka inilah yang mengadakan penyesatan.  

3. Orang-orang yang mengaku beragama Kristen namun  hidup se-

rampangan, melemahkan ikatan umat Tuhan  dan menyedihkan 

hati mereka. Oleh merekalah penyesatan itu terjadi, dan ke-

nyataan bahwa penyesatan memang harus terjadi tidaklah da-

pat dijadikan alasan untuk meringankan kesalahan ataupun 

hukuman mereka.  

II.  Bahwa mengampuni merupakan sebuah tugas besar yang harus 

disadari oleh setiap kita (ay. 3): Jagalah dirimu! Kalimat ini mung-

kin mengacu kepada kalimat sebelumnya atau juga kepada kali-

mat sesudahnya: Jagalah dirimu supaya tidak menyesatkan salah 

satu dari orang-orang yang lemah ini. Para hamba Tuhan haruslah 

berhati-hati supaya tidak mengatakan ataupun melakukan sesua-

tu yang dapat menggoyahkan hati orang-orang Kristen yang le-

mah. Mereka harus berhati-hati dan penuh pertimbangan di da-

lam perkataan dan perbuatan mereka supaya tidak melemahkan 

orang-orang ini . Atau, “Jikalau saudaramu berbuat dosa ter-

hadap kamu, menyakitimu, menghina atau melawanmu, jika dia 

merugikanmu baik dalam hal harta kekayaan maupun nama 

baik, jagalah dirimu dalam keadaan seperti itu, supaya kamu ja-

ngan terseret ke dalam angkara murka. Bila hatimu terbakar, 

janganlah sampai kamu menjadi teledor dengan kata-katamu, dan 

terpancing untuk bersumpah hendak membalas dendam (Ams. 

24:29): Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlaku-

kan dia. Jagalah perkataanmu dalam keadaan yang demikian, su-

paya kamu tidak berbicara serampangan.”  

1.  Jika ada kesempatan untuk menegornya, sebaiknya lakukan 

saja. Jangan memendam rasa sakit hati, namun  utarakanlah 

semua itu. Beritahukan dia apa kesalahannya; tunjukkan ke-

padanya bagaimana dia telah berlaku tidak baik atau tidak 

adil terhadapmu, dan mungkin saja kamu akan mendapati 

(dan jika demikian, kamu harus berlapang dada mengakuinya) 

bahwa kamu telah salah paham terhadapnya, bahwa kesalah-

annya itu bukanlah sebuah dosa terhadap kamu, atau kesa-

lahan yang disengaja, melainkan hanya keteledoran semata, 

sehingga kamu harus meminta maaf sebab  telah salah pa-

ham terhadapnya (Yos. 22:30-31).  

2. sesudah  dia menyesali kesalahannya itu, kamu harus mengam-

puni dan berdamai kembali dengannya: Jikalau ia menyesal, 

ampunilah dia. Lupakanlah kesalahan itu, jangan dipikirkan 

lagi, apalagi sampai mengungkit-ungkit untuk memojokkan-

nya. Dan jika dia tidak menyesal, janganlah mendendam ter-

hadapnya, atau berusaha mencari impas. namun , jika dia bah-

kan tidak berkata bahwa dia menyesal, kamu tidak wajib 

mengakrabinya seperti sebelumnya. Jika dia terperangkap da-

lam sebuah dosa yang menjijikkan dan merugikan lingkungan 

Kristen tempatnya bernaung, maka biarlah dia ditegur keras 

dengan cara yang lembut, dan jika ia menyesal, biarlah dia 

diterima kembali dalam lingkungan dan persekutuan ini . 

Itulah yang dinamakan sang rasul sebagai pengampunan 

(2Kor. 2:7).  

3.  Kamu harus terus mengampuninya setiap kali dia mengulangi 

kesalahannya (ay. 4). “Jika dia memang benar-benar teledor 

atau kurang ajar sehingga ia berbuat dosa terhadap engkau 

tujuh kali sehari, dan kemudian mengaku menyesal sebanyak 

tujuh kali juga, dan berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi, 

teruslah ampuni dia.” Humanum est errare – Berbuat salah itu 

manusiawi. Perhatikanlah, orang-orang Kristen harus memiliki 

jiwa yang mengampuni, bersedia untuk memikirkan yang 

baik-baik saja tentang orang lain, dan tidak bersikap rewel 

terhadap mereka; selalu siap untuk memaklumi kekeliruan 

dan tidak membesar-besarkannya; dan mereka juga harus ber-

usaha sedapat mungkin untuk memperlihatkan bahwa mereka 

telah mengampuni kesalahan seseorang senyata seperti orang 

lain sedang menunjukkan kemarahannya terhadap kesalahan 

ini .  

III. Bahwa iman kita semua perlu dikuatkan, sebab seiring dengan 

bertumbuhnya anugerah ini , maka bertumbuh pula anu-

gerah-anugerah lainnya. Semakin teguh kita memercayai ajaran 

Kristus, dan semakin kukuh kita bergantung kepada anugerah 

Kristus, maka segala hal akan menjadi lebih baik bagi kita. Kini, 

perhatikanlah di sini,  

1.  Permintaan murid-murid kepada Kristus, supaya iman mereka 

ditambahkan (ay. 5). Rasul-rasul itu sendiri, demikianlah me-

reka disebut di sini, tetap mengakui kelemahan dan kekurang-

an iman mereka, sekalipun mereka itu para pelayan utama da-

lam kerajaan Kristus. Mereka menyadari bahwa mereka mem-

butuhkan anugerah Kristus untuk meningkatkan iman me-

reka. Kata mereka kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami, 

dan sempurnakanlah apa yang kurang di dalamnya.” Biarlah 

panggilan iman semakin nyata, hasrat iman semakin kuat, ke-

tergantungan iman semakin teguh dan berakar, pengabdian 

iman semakin menyeluruh dan bulat, dan kesukaan iman se-

makin menyenangkan. Perhatikanlah, pertumbuhan iman me-

rupakan hal yang seharusnya kita sungguh-sungguh inginkan, 

dan kita harus memanjatkan keinginan kita itu kepada Tuhan  

melalui doa. Beberapa orang berpikir bahwa para rasul memo-

honkan hal ini sebab  Ia sangat menekankan kewajiban mere-

ka untuk mengampuni kesalahan orang lain: “Tuhan, tambah-

kanlah iman kami, sebab  jika tidak begitu, kami tidak akan 

pernah sanggup menjalankan kewajiban yang sesulit ini.” 

Iman akan belas kasihan Tuhan  untuk mengampuni akan 

memampukan kita untuk mengatasi segala kesulitan terbesar 

yang menghalangi kita dalam mengampuni saudara-saudara 

kita. Menurut sebagian orang lagi, permintaan ini  diaju-

kan pada kesempatan lain, yaitu saat para rasul mengalami 

kebuntuan dalam mengerjakan suatu mujizat sehingga mereka 

ditegur oleh Kristus sebab  iman mereka yang lemah itu (Mat. 

17:16, dst.). Mereka harus meminta Dia yang menegur mereka 

itu memberikan anugerah kepada mereka dalam memperbaiki 

kekurangan mereka itu. sebab  itulah mereka berseru kepada-

Nya, “Tuhan, tambahkanlah iman kami.”  

2.  Jaminan yang diberikan Kristus mengenai keampuhan iman 

yang teguh (ay. 6): “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman 

sebesar biji sesawi saja, sama kecilnya seperti biji sesawi, se-

bab imanmu masih lebih kecil daripada biji sesawi yang terke-

cil; atau seruncing biji sesawi, begitu tajam dan mampu mem-

bangkitkan anugerah-anugerah lainnya, sebagaimana sesawi 

membangkitkan semangat binatang-binatang,” sehingga dijadi-

kan perumpamaan, “kamu bisa mengerjakan perbuatan-per-

buatan ajaib yang lebih hebat daripada yang kamu lakukan 

sekarang; tidak ada yang terlampau sukar bagimu untuk me-

lakukan hal-hal yang layak bagi kemuliaan Tuhan  dan bagi pe-

neguhan ajaran yang kamu beritakan, sekalipun itu berupa 

memerintahkan sebuah pohon untuk terbantun dari tanah dan 

tertanam di dalam lautan.” (Mat. 17:20). Seperti halnya bagi 

Tuhan  tidak ada yang mustahil, demikianlah  tidak ada yang 

mustahil bagi orang yang percaya.  

IV. Bahwa, apa pun yang kita lakukan di dalam pelayanan kita bagi 

Kristus, kita haruslah tetap bersikap rendah hati dan tidak ber-

anggapan bahwa kita layak menerima kebaikan dari-Nya, atau 

menuntutnya sebagai piutang kita. Bahkan para rasul itu sendiri 

yang telah banyak bekerja bagi Kristus dibandingkan orang-orang 

lain pun tidak boleh beranggapan bahwa Dia berutang budi ke-

pada mereka.  

1.  Kita semua yaitu  para pelayan Tuhan  (terutama para rasul 

dan hamba-hamba Tuhan), dan sebagai pelayan, kita wajib 

melaksanakan segala sesuatu semampu kita demi kehormat-

an-Nya. Segenap kekuatan dan waktu kita harus dipakai bagi 

Dia, sebab kita bukan milik kita sendiri, dan tidak boleh ber-

laku semaunya, melainkan harus melayani Guru kita.  

2. Sebagai pelayan-pelayan Tuhan , kita wajib mempergunakan wak-

tu kita untuk menjalankan kewajiban kita, dan banyak sekali 

pekerjaan yang telah ditetapkan untuk kita tuntaskan. Kita ha-

rus menjadikan akhir dari sebuah pelayanan sebagai permulaan 

dari pelayanan berikutnya. Seorang pelayan yang telah mem-

bajak atau menggembalakan ternak di ladang masih tetap pu-

nya pekerjaan untuk dilakukan saat  dia sudah pulang ke 

rumah pada malam hari; Ia harus melayani di meja (ay. 7-8). Ke-

tika kita sudah dipakai untuk mengerjakan kewajiban berperi-

laku saleh, hal itu tidaklah berarti bahwa kita boleh melalaikan 

ibadah saat teduh kita. sesudah  kita bekerja bagi Tuhan , kita tetap 

harus melayani Tuhan , terus melayaninya sepanjang waktu.  

3.  Tugas utama kita yaitu  memastikan terlaksananya kewajiban 

kita dahulu, dan menyerahkan sisanya ke tangan Guru kita, 

untuk memberikan penghiburan bagi kita di saat dan dengan 

cara yang Dia anggap paling baik. Tidak satu pun pelayan bo-

leh berharap mendengar majikannya berkata, “Mari segera 

makan!”  Ada saatnya untuk mendengar perkataan seperti itu 

jika  kita telah melaksanakan pekerjaan kita hari itu. Biarlah 

kita selesaikan pekerjaan kita dengan baik terlebih dahulu, dan 

upahnya akan menyusul nanti pada waktu yang tepat.  

4. Kristus layak dilayani terlebih dahulu daripada kita: Sediakan-

lah makananku, dan sesudah itu engkau boleh makan dan 

minum. Orang-orang Kristen yang penuh keragu-raguan berda-

lih bahwa mereka tidak bisa memberi Kristus segala kemulia-

an kasih-Nya seperti yang seharusnya mereka lakukan, sebab 

mereka belum merasakan kenikmatan dari kasih-Nya itu. Ini 

jelas suatu sikap yang keliru. Pertama-tama, biarlah Kristus 

yang mendapatkan kemuliaan, biarlah kita melayani-Nya de-

ngan puji-pujian, maka sesudah  itu kita akan makan dan mi-

num di dalam kenikmatan kasih-Nya, dan di sanalah ada  

jamuan besar.  

5. saat  harus melayani Kristus, para pelayan-Nya harus meng-

ikat pinggang, membebaskan diri mereka dari segala sesuatu 

yang menghalang-halangi, dan mempersiapkan pikiran mereka 

untuk melanjutkan dan menuntaskan pekerjaan mereka. Mere-

ka harus menyiapkan akal budi mereka. saat  kita telah mem-

persiapkan segala sesuatu bagi Kristus, telah menyiapkan ma-

kanan-Nya, kita lalu harus mengikat pinggang kita untuk mela-

yani-Nya. Inilah yang diharapkan dari para hamba, dan Kristus 

juga mungkin menginginkan hal yang sama dari kita, walau-

pun Ia tidak memaksakan hal ini . Dia yaitu  orang yang 

melayani di antara para murid-murid-Nya, dan tidak seperti ke-

banyakan tuan, Dia tidak datang untuk memegahkan diri, 

tidak pula datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani; 

lihatlah bagaimana Ia membasuh kaki murid-murid-Nya.  

6.  Hamba-hamba Kristus tidak lantas layak menerima ucapan te-

rima kasih-Nya atas pelayanan yang mereka kerjakan bagi Dia: 

“Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu? Apakah ia pikir 

bahwa dengan begitu dia berutang kepada hambanya itu? 

Tentu saja tidak.” Tidak satu pun pekerjaan baik kita layak 

menerima balasan apa pun dari tangan Tuhan . Kita tentu saja 

mengharapkan kebaikan Tuhan , namun  bukan sebab  kita telah 

menjadikan-Nya berutang budi kepada kita, melainkan sebab  

Dia telah menjadikan diri-Nya sendiri berutang kepada kehor-

matan-Nya sendiri melalui janji-janji-Nya, dan inilah yang bisa 

kita mohonkan kepada-Nya, dan tidak untuk dituntut dari-Nya 

sebagai quantum meruit – upah atau balasan.  

7.  Apa pun yang kita lakukan bagi Kristus, walaupun mungkin 

lebih banyak dari yang dilakukan orang lain, semua itu tetap 

sudah menjadi kewajiban yang harus kita kerjakan. Meski kita 

harus melaksanakan segala sesuatu yang ditugaskan Tuhan  ke-

pada kita, (walaupun begitu ternyata ada banyak yang tidak 

kita kerjakan), tetap saja semua yang kita kerjakan itu tidak-

lah melebihi apa yang diwajibkan kepada kita. Semua peker-

jaan itu merupakan kewajiban kita berdasarkan hukum Tuhan  

yang pertama dan yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan  de-

ngan segenap hati dan jiwa kita, termasuk melakukan yang 

terbaik yang dapat kita kerjakan.  

8.  Hamba-hamba Kristus yang terbaik pun, sekalipun melakukan 

pelayanan terbaik, tetap saja harus mengakui dengan rendah 

hati bahwa mereka hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna. 

Meskipun mereka tidaklah sama dengan hamba-hamba tidak 

berguna yang mengubur talentanya dan yang akan dilemparkan 

ke dalam kegelapan yang terkelam, tetap saja bagi Kristus, me-

reka itu hamba-hamba yang tidak berguna, walaupun mereka 

mendatangkan keuntungan kepada-Nya dengan pelayanan me-

reka itu. Kebajikan kita tiada sampai kepada Tuhan , jikalaupun 

engkau benar, apakah yang kau berikan kepada Dia? (Mzm. 

16:2; Ayb. 22:2; 35:7). Tuhan  tidak mendapatkan keuntungan 

apa-apa dengan pelayanan kita, dan sebab  itulah Dia tidak ber-

utang budi kepada kita. Dia tidak membutuhkan kita, dan pela-

yanan kita tidak akan bisa menambah kesempurnaan-Nya. Ka-

rena itulah kita layak menyebut diri kita sebagai hamba-hamba 

yang tidak berguna, dan menyebut pelayanan-Nya sebagai pela-

yanan yang berguna, sebab Tuhan  berbahagia tanpa kita, namun  

kita akan celaka tanpa Dia.   

Sepuluh Orang Kusta 

(17:11-19) 

11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria 

dan Galilea. 12 saat  Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kus-

ta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 13 dan berteriak: “Yesus, 

Guru, kasihanilah kami!” 14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergi-

lah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di 

tengah jalan mereka menjadi tahir. 15 Seorang dari mereka, saat  melihat 

bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Tuhan  dengan suara nya-

ring, 16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-

Nya. Orang itu yaitu  seorang Samaria. 17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah 

kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang 

sembilan orang itu? 18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk 

memuliakan Tuhan  selain dari pada orang asing ini?” 19 Lalu Ia berkata ke-

pada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan 

engkau.” 

Di sini diceritakan mengenai kesembuhan sepuluh orang kusta, yang 

tidak kita temukan di dalam kitab-kitab Injil lainnya. Kusta meru-

pakan sebuah penyakit yang dianggap orang Yahudi sebagai hukum-

an atas dosa tertentu, dan terkena penyakit ini, lebih dari penyakit 

lainnya, diartikan sebagai tanda ketidaksenangan Tuhan . Dan oleh 

sebab  itulah Kristus, yang datang untuk menghapuskan dosa dan 

melenyapkan murka, sangat peduli untuk mentahirkan orang kusta 

yang Ia temui dalam perjalanan-Nya. Kristus sedang menuju Yeru-

salem, di tengah-tengah perjalanan-Nya, di mana Dia tidak begitu ba-

nyak memiliki kenalan bila dibandingkan dengan yang dimiliki-Nya di 

Yerusalem ataupun di Galilea. Dia telah berada di garis batas wila-

yah, perbatasan yang menghampar di antara Samaria dan Galilea. 

Dia melewati jalan itu untuk menemukan orang-orang kusta itu dan 

menyembuhkan mereka, sebab Dia berkenan ditemukan oleh orang 

yang tidak mencari-Nya.  

Perhatikanlah:  

I. Permintaan orang-orang kusta itu kepada Kristus. Mereka berse-

puluh, sebab, meskipun mereka dikucilkan dari pergaulan dengan 

orang lain, mereka tetap leluasa untuk bergaul dengan sesama 

penderita kusta lainnya, dan hal itu menghiburkan mereka, sebab 

dengan begitu mereka memiliki kesempatan untuk saling berbagi 

dan saling menguatkan.  

Kini perhatikanlah:  

1. Mereka menemui Kristus saat  Ia memasuki suatu desa. Mere-

ka tidak membiarkan-Nya beristirahat terlebih dahulu sesudah  

perjalanan jauh, melainkan segera menemui-Nya begitu Ia me-

masuki desa, dengan tubuh yang pasti masih letih. Namun, 

Dia tetap tidak mengusir mereka ataupun menunda-nunda 

melayani perkara mereka.  

2. Mereka tinggal berdiri agak jauh, sebab mereka tahu bahwa 

berdasarkan hukum Taurat, penyakit mereka itu mengharus-

kan mereka untuk menjaga jarak. Kesadaran akan penyakit 

kusta rohani kita haruslah membuat kita rendah hati saat 

datang menghampiri-Nya. Siapakah kita ini, sehingga berani 

mendekat kepada Dia yang benar-benar kudus? Kita sendiri 

jauh dari kudus.  

3. Mereka sepakat meminta satu hal, dan benar-benar gigih me-

mohonkannya (ay. 13): Mereka berteriak, sebab mereka berada 

agak jauh, dan berseru, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” 

Orang-orang yang mengharapkan bantuan dari Kristus harus 

memandang-Nya sebagai Guru dan taat terhadap perintah-

Nya. Jika Dia yaitu  Guru, maka itu berarti bahwa Dia juga 

yaitu  Yesus, Sang Juruselamat, dan bukan sebaliknya. Mere-

ka tidak secara khusus meminta supaya disembuhkan dari 

penyakit kusta, melainkan memohon, “Kasihanilah kami”; dan 

itu pun cukup untuk menimbulkan belas kasihan Kristus, se-

bab belas kasihan-Nya tak habis-habisnya. Mereka telah men-

dengar tentang Yesus (sekalipun Ia sendiri jarang berkhotbah 

di daerah itu), dan itulah yang meneguhkan mereka untuk 

meminta pertolongan dari-Nya. Dan memang, jika ada satu 

orang saja yang memulai permohonan yang sederhana seperti 

itu, maka semua yang lain pun akan ikut bergabung.  

II. Kristus mengirim mereka kepada imam, supaya diperiksa oleh 

imam, yang merupakan pengadil dalam hal penyakit kusta. 

Kristus tidak mengatakan bahwa mereka pasti akan sembuh. Ia 

hanya menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada 

imam-imam (ay. 14). Hal itu merupakan ujian bagi ketaatan me-

reka, dan mereka memang pantas diuji sebagaimana Naaman 

yang disuruh pergi mandi dalam sungai Yordan. Perhatikanlah, 

orang-orang yang mengharapkan kebaikan Kristus haruslah ber-

sedia mendapatkannya dengan cara yang telah Ia tentukan. Bebe-

rapa dari orang kusta ini mungkin saja ingin membantah suruhan 

itu: “Kalau Dia mau, seharusnya Dia langsung saja menyembuh-

kan kita. namun  kalau tidak, Dia sebaiknya berterus-terang saja. 

Tidak usah suruh kita pergi menemui imam-imam seperti ini.” 

Akan namun , sebab  sisanya setuju, maka akhirnya mereka semua 

pergi menghadap imam. Oleh sebab  hukum tata cara masih 

berlaku, Kristus pun berhati-hati menjaga hukum ini  su-

paya dijalankan dan supaya nama baik hukum itu tetap dijaga. Ia 

juga ingin menjaga agar penghormatan yang selayaknya tetap di-

berikan kepada para imam yang menjalankan tugas mereka se-

suai dengan hukum itu. Akan namun , mungkin juga Ia memiliki 

rencana lain, yaitu supaya imam itu bisa menilai dan menyaksi-

kan kesempurnaan kesembuhan ini , dan supaya sang imam 

menjadi tergugah, dan menggugah rekan-rekan imamnya yang 

lain untuk mencari tahu mengenai pribadi yang memiliki kuasa 

sebegitu dahsyatnya atas penyakit-penyakit tubuh. 

III.  Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir, se-

hingga mereka layak untuk diperiksa oleh sang imam dan disah-

kan olehnya bahwa mereka telah menjadi tahir. Perhatikanlah, 

kita barulah dapat berharap Tuhan  akan menyongsong kita dengan 

belas kasihan-Nya bila kita didapati sedang menjalankan tugas 

kita. Jika kita melakukan apa yang kita bisa, Tuhan  tidak akan se-

gan-segan turun tangan untuk melakukan apa yang tidak mampu 

kita lakukan. Pergilah, jalankanlah segala perintah dan ketetapan. 

Pergilah, berdoalah dan bacalah firman Tuhan : Pergilah, perlihat-

kanlah dirimu kepada imam-imam; pergilah dan ungkapkanlah 

perkaramu di hadapan hamba Tuhan  yang setia. Segala sarana itu 

tidaklah dengan sendirinya punya kekuatan untuk memulihkan-

mu, namun  Tuhan  sendirilah yang akan memulihkan engkau mela-

lui sarana-sarana ini . 

IV. Seorang dari mereka, hanya seorang saja, kembali, untuk meng-

ucap syukur (ay. 15). saat  melihat bahwa ia telah sembuh, dia 

tidak lantas terus pergi menemui sang imam untuk dinyatakan 

tahir olehnya dan dibebaskan dari segala pengucilan yang sebe-

lumnya telah mengungkungnya, seperti yang hendak dilakukan 

oleh sembilan orang lainnya, melainkan kembali kepada Dia yang 

merupakan sumber dari kesembuhannya itu. Ia ingin memberikan 

kemuliaan kepada-Nya terlebih dahulu, sebelum ia mengecap ke-

baikan-Nya. Kelihatannya dia begitu tulus dan bersungguh-sung-

guh dalam pengucapan syukurnya itu: Ia memuliakan Tuhan  de-

ngan suara nyaring, mengakui bahwa kesembuhannya itu berasal 

dari Dia. Ia mengangkat suaranya dalam puji-pujian, seperti yang 

dilakukannya saat  berseru memohon kepada-Nya (ay. 13). 

Orang-orang yang telah menerima belas kasihan dari Tuhan  harus-

lah mengumandangkannya kepada orang lain, supaya mereka da-

pat memuji Tuhan  juga, dan didorong melalui pengalaman mereka 

itu, memercayai Tuhan . Akan namun , dia juga mengungkapkan rasa 

syukurnya kepada Kristus dengan cara yang istimewa (ay. 16): Ia 

lalu tersungkur di depan kaki Yesus, dalam sikap hormat yang 

menunjukkan kerendahan hati yang paling dalam, dan mengucap 

syukur kepada-Nya. Perhatikanlah, kita harus mengucap syukur 

atas kebaikan yang telah Kristus limpahkan kepada kita, teruta-

ma atas kesembuhan penyakit kita, dan kita haruslah bergegas 

dalam melayangkan pujian, tidak menunda-nundanya, sebab bisa 

saja waktu akan melunturkan kesadaran kita akan belas kasihan 

ini . Kita juga wajib merendahkan diri saat mengucapkan 

syukur, seperti saat berdoa. Sudah merupakan kewajiban ketu-

runan Yakub, sebagaimana dia sendiri, untuk mengakui diri me-

reka sebagai yang paling hina dan tidak layak menerima belas 

kasihan Tuhan , sesudah mereka menerima belas kasihan itu, se-

perti halnya saat  mereka sedang meminta belas kasihan terse-

but.  

V.  Kristus memperhatikan yang seorang itu, yang dengan demikian 

terlihat menonjol dari yang lainnya. Kelihatannya dia yaitu  se-

orang Samaria, sementara yang lainnya yaitu  orang-orang Yahu-

di (ay. 16). Orang-orang Samaria terpisah dari jemaat Yahudi dan 

tidak memiliki pengetahuan dan ibadah penyembahan yang murni 

terhadap Tuhan  seperti yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. 

Akan namun , justru seorang Samaria-lah yang memuliakan Tuhan  

saat  orang-orang Yahudi lupa melakukannya, atau bahkan me-

nolak untuk melakukannya.  

Kini perhatikanlah di sini:  

1.  Perhatian khusus yang diberikan Kristus kepadanya. Orang Sa-

maria itu kembali untuk berterima kasih. Padahal yang lainnya 

menunjukkan sikap tidak berterima kasih walaupun mereka 

juga sama-sama menikmati belas kasihan Kristus. Ternyata 

justru orang asing di negeri Israellah yang menjadi satu-satu-

nya orang yang kembali untuk memuliakan Tuhan  (ay. 17-18).  

Lihatlah di sini:  

(1) Betapa murah hatinya Kristus dalam berbuat baik: Bukan-

kah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di 

sini terjadi penyembuhan secara besar-besaran, semua si 

sakit dipulihkan dengan hanya sebuah perkataan saja. Per-

hatikanlah, ada kelimpahan penyembuhan di dalam darah 

Kristus, yang cukup bagi semua pasien-Nya, betapapun 

banyaknya jumlah mereka itu. Kita lihat di sini sepuluh 

orang ditahirkan sekaligus. Jadi, kita tidak akan kehabisan 

anugerah dengan membaginya bersama orang lain.  

(2) Betapa pelitnya kita dalam membalas budi: “Di manakah 

yang sembilan orang itu? Mengapa mereka tidak kembali 

untuk berterima kasih?” Hal ini menyiratkan bahwa sikap 

tidak tahu berterima kasih yaitu  dosa yang kerap ditemu-

kan. Dari antara banyak orang yang menerima belas kasih-

an Tuhan , hanya ada sedikit, sangat sedikit, yang kembali 

untuk berterima kasih dengan cara yang benar (bahkan ku-

rang dari satu berbanding sepuluh), yang bersikap tahu 

membalas budi atas kebaikan yang telah mereka terima.   

(3)  Betapa seringnya terjadi bahwa yang paling berterima kasih 

justru yaitu  orang yang paling tidak terduga akan mela-

kukannya. Seorang Samaria mengucap syukur, sementara 

orang Yahudi tidak. Begitulah, banyak orang yang meng-

aku-ngaku beragama dikalahkan dan dipermalukan oleh 

orang-orang yang hanya mengikuti dorongan rohani ala-

miah saja, bukan hanya dalam hal nilai-nilai moral, namun  

juga di dalam kesalehan dan bakti. Hal ini memperberat 

kesalahan orang-orang Yahudi yang tidak tahu berterima 

kasih itu, yang menurut Kristus telah menyepelekan ke-

baikan-Nya. Hal itu juga menunjukkan bahwa Kristus 

sungguh layak untuk merasa kesal sebab  sikap umat ma-

nusia yang tidak tahu berterima kasih itu. Dia telah ber-

buat begitu banyak bagi mereka, namun  hanya menerima 

begitu sedikit saja balas budi dari mereka.  

2. Peneguhan besar yang Kristus berikan baginya (ay. 19). Ke-

sembilan orang lainnya memang mendapatkan kesembuhan, 

dan kesembuhan itu tidak ditarik kembali, walaupun hal sede-

mikian pantas diterima oleh mereka yang tidak tahu berterima 

kasih itu, bahkan sekalipun mereka melihat suatu teladan si-

kap berterima kasih di depan mata mereka. Akan namun , orang 

ini mendapatkan peneguhan atas kesembuhannya itu secara 

khusus, dengan sebuah pujian istimewa: Imanmu telah menye-

lamatkan engkau. Kesembilan orang lainnya dipulihkan oleh 

kuasa Kristus, oleh belas kasihan-Nya atas kesulitan mereka, 

dan sebagai jawaban atas doa mereka. Akan namun  orang Sa-

maria itu diselamatkan oleh imannya, yang membuatnya me-

nonjol di mata Kristus. Perhatikanlah, berkat-berkat semen-

tara yang kita peroleh di dunia ini akan dilipatgandakan dan 

terasa manis bagi kita bila didapatkan melalui doa yang penuh 

iman dan disyukuri dengan puji-pujian yang juga penuh iman.  

Kemajuan Kerajaan Kristus; Kehancuran Yerusalem 

(17:20-37) 

20 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, jika  Kerajaan Tuhan  akan datang, 

Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Tuhan  datang tanpa tanda-tanda la-

hiriah, 21 juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada 

di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Tuhan  ada di antara kamu.” 22 Dan Ia 

berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin meli-

hat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihat-

nya. 23 Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada 

di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut.  24 Sebab sama seperti 

kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, de-

mikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. 25 

namun  Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh 

angkatan ini. 26 Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah 

halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: 27 mereka makan dan minum, 

mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam 

bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. 28 Demi-

kian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, 

mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun.  29 namun  

pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang 

dari langit dan membinasakan mereka semua. 30 Demikianlah halnya kelak 

pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. 31 Barangsiapa pada 

hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di 

dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga 

orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. 32 Ingatlah akan isteri 

Lot! 33 Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nya-

wanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkan-

nya. 34 Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu 

tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. 35 

Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan 

dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” 36 [Kalau ada dua orang di ladang, 

yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] 37 Kata mereka 

kepada Yesus: “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: “Di mana ada 

mayat, di situ berkerumun burung nasar.” 

Di sini kita mendapati perkataan Kristus mengenai kerajaan Tuhan , 

yaitu kerajaan Mesias, yang kini segera didirikan, dan yang sudah la-

ma dinanti-nantikan.  

I.  Di sini kita temui pertanyaan orang-orang Farisi mengenai hal ke-

rajaan Tuhan , yang mengawali percakapan Kristus. Mereka berta-

nya jika  Kerajaan Tuhan  akan datang, yang menunjukkan 

pikiran mereka bahwa kerajaan itu bersifat sementara atau dunia-

wi, yang akan meninggikan bangsa Yahudi di atas segala bangsa 

di bumi ini. Mereka tidak sabar untuk mendengar kabar mengenai 

kedatangannya. Mereka mungkin mengetahui bahwa Kristus telah 

mengajarkan para murid-Nya untuk mendoakan kedatangan ke-

rajaan itu, dan bahwa murid-murid-Nya itu telah lama memberi-

takan bahwa kerajaan Tuhan  sudah dekat. “Nah,” kata orang-orang 

Farisi, “kapankah pemandangan yang menakjubkan itu akan di-

mulai? Kapankah kita dapat melihat kerajaan yang sudah lama 

dinanti-nantikan itu?” 

II.  Jawaban Kristus mengenai pertanyaan ini , yang diarahkan 

pertama-tama kepada orang-orang Farisi terlebih dahulu, kemu-

dian kepada para murid-Nya sendiri, yang dapat memahaminya 

dengan lebih baik (ay. 22). Apa yang Ia katakan kepada kedua 

pihak ini  juga ditujukan bagi kita.  

1.  Bahwa kerajaan Mesias yaitu  suatu kerajaan rohani, tidak 

bersifat sementara dan lahiriah. Mereka bertanya bilamana ke-

rajaan itu akan datang. “Kamu tidak tahu apa yang kamu ta-

nyakan,” kata Kristus, “mungkin saja kerajaan itu sudah 

datang, namun  kamu bahkan tidak menyadarinya.” Sebab, ke-

rajaan itu tidak memiliki tanda-tanda lahiriah seperti yang di-

miliki oleh kerajaan-kerajaan lainnya, tidak memiliki kegemi-

langan dan gejolak seperti yang diperhatikan oleh bangsa-

bangsa di bumi ini dan dimuat dalam surat-surat kabar. De-

mikianlah rupa kerajaan Tuhan  yang mereka harapkan itu. 

“Tidak,” kata Kristus, 

(1) “Kerajaan itu akan datang secara diam-diam, tanpa keme-

wahan, tanpa hingar-bingar, tanpa tanda-tanda lahiriah,” 

meta paratereseos – tanpa pamer fisik atau lahiriah. Mereka 

ingin rasa penasaran mereka dipuaskan dengan mengeta-

hui kapan semuanya itu akan terjadi. namun  Kristus tidak 

menjawab mereka. Sebaliknya, Ia memperbaiki kekeliruan 

anggapan mereka mengenai sifat kerajaan ini . “Eng-

kau tidak perlu mengetahui masa kerajaan ini, sebab hal itu 

merupakan hal-hal tersembunyi, yang bukan menjadi hak-

mu. Akan namun , maksud agung dari kerajaan itu yaitu  

hal-hal yang dinyatakan.” Saat Mesias Sang Raja datang 

untuk mendirikan kerajaan-Nya, mereka tidak akan ber-

kata, “Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!”, seperti saat 

seorang raja datang mengunjungi daerah kekuasaannya 

dan menjadi buah bibir semua orang, dia ada di sini, atau 

dia ada di sana, sebab di mana ada raja, di situ ada istana-

nya. Kristus tidak akan datang dengan semua gegap gem-

pita seperti itu. Kerajaan-Nya tidak akan didirikan di tem-

pat ini atau di tempat itu. Begitu pula istana kerajaan-Nya 

tidak akan ada di sini atau di sana. Kerajaan-Nya tidak ada 

di tempat itu atau di tempat ini, seperti halnya manusia 

dengan tempat tinggalnya, seolah-olah tempat itu akan 

membuat mereka lebih dekat atau lebih jauh darinya. 

Orang-orang yang membatasi Kekristenan dan gereja hanya 

sebatas wilayah atau golongan, akan berseru, ia ada di sini 

atau ia ada di sana, yang benar-benar berlawanan dengan 

rancangan Kekristenan secara keseluruhan. Hal ini terjadi 

pula dengan orang-orang yang menjadikan kemakmuran 

dan kemewahan lahiriah sebagai tanda dari gereja sejati. 

(2)  “Kerajaan itu memiliki pengaruh rohani: Kerajaan Tuhan  ada 

di antara kamu.” Kerajaan itu bukan dari dunia ini (Yoh. 

18:36). Kemuliaannya tidak memuaskan khayalan manu-

sia, namun  memengaruhi jiwa mereka, dan kuasanya meng-

gugah jiwa dan hati nurani mereka. Dari situlah kerajaan 

ini  mendapatkan kehormatannya, dan bukan dari tu-

buh mereka semata. Kerajaan Tuhan  tidak akan mengubah 

keadaan lahiriah manusia, melainkan mengubah hati dan 

kehidupan mereka. Jadi, kerajaan itu datang saat orang-

orang yang tadinya angkuh, dangkal, dan penuh nafsu, 

diubahkan menjadi rendah hati, sungguh-sungguh dan 

rohaniah. Inilah yang akan terjadi saat kerajaan itu me-

renggut mereka yang tadinya melekat kepada dunia ini. 

sebab  itu, carilah kerajaan Tuhan  yang mengubah hati, bu-

kan yang memerintah secara lahiriah. Kerajaan Tuhan  ada 

di antara kamu, begitulah beberapa orang mengartikannya. 

“Kamu bertanya kapan kerajaan itu akan datang, namun  

tidak menyadari bahwa kerajaan itu sebenarnya telah mu-

lai didirikan di tengah-tengah kamu. Injil telah diberitakan, 

diteguhkan oleh mujizat-mujizat, diterima oleh orang ba-

nyak, sehingga itu berarti bahwa kerajaan Tuhan  telah ada 

di tengah-tengah bangsamu, sekalipun tidak di dalam hati-

mu.” Perhatikanlah, bodoh sekali orang-orang yang mena-

nyakan kapan sesuatu yang mereka sedang cari-cari itu 

akan muncul di hadapan mereka, padahal hal itu justru 

telah ada di tengah-tengah mereka sendiri.  

2.  Bahwa pendirian kerajaan ini merupakan sebuah pekerjaan 

yang akan berhadapan dengan banyak sekali pertentangan dan 

hambatan (ay. 22). Para murid mengira bahwa mereka akan da-

pat melakukan segalanya, dan bahwa pekerjaan mereka akan 

selalu berhasil, namun  Kristus mengatakan sebaliknya: “Akan 

datang waktunya, sebelum kamu menyelesaikan kesaksianmu 

dan menunaikan tugasmu, kamu ingin melihat satu dari pada 

hari-hari Anak Manusia itu” (seperti yang kini kamu nikmati), 

“yang berupa kejayaan dan kemajuan Injil, namun  kamu tidak 

akan melihatnya. Pertama-tama, memang kamu akan meng-

alami keberhasilan yang menakjubkan” (yang mereka alami 

saat  ribuan orang ditambahkan ke dalam jemaat dalam satu 

hari); “namun  keadaan tidak akan selamanya berlangsung demi-

kian; tidak, kamu akan dianiaya dan tercerai-berai, dibungkam 

dan dipenjara, sehingga kamu tidak akan memiliki kesempatan 

untuk mengabarkan Injil tanpa rasa takut, seperti yang kini 

kamu nikmati. Orang-orang akan menjadi dingin terhadap Injil 

sesudah  mereka menikmatinya untuk sementara waktu, sehing-

ga kamu tidak akan melihat tuaian jiwa bagi Kristus secara 

besar-besaran seperti yang pertama-tama terjadi, ataupun 

orang banyak yang berdesak-desakan mengikuti-Nya seperti 

burung merpati ke pintu kandangnya.” Inilah yang harus diha-

dapi para murid-Nya di abad-abad mendatang, mereka harus 

siap mengalami banyak kekecewaan. Injil tidak akan selalu da-

pat diberitakan dengan penuh keleluasaan dan keberhasilan 

seperti itu. Para hamba Tuhan  dan gereja-gereja terkadang harus 

berada di bawah tekanan dari luar. Para guru akan dipojokkan, 

dan persekutuan rohani akan dicerai-beraikan. Maka mereka 

akan berharap dapat melihat hari-hari yang penuh kesempatan 

seperti yang telah mereka nikmati sebelumnya, yakni hari-hari 

sabat, hari perjamuan, hari khotbah, hari doa. Inilah  hari-hari 

Anak Manusia itu, saat kita bisa mendengarkan-Nya dan ber-

cakap-cakap dengan-Nya. Akan tiba saatnya saat  kita merin-

dukan saat-saat seperti itu namun  tidak dapat mengalaminya 

lagi. Tuhan  mengajari kita untuk memahami betapa berharganya 

belas kasihan seperti itu dengan cara membiarkan kita meng-

alami kekurangan belas kasihan ini . Dan sementara hal 

itu terus berlanjut, kita haruslah memanfaatkan apa yang kita 

punya, serta menimbun di tahun-tahun kelimpahan untuk ber-

jaga-jaga di tahun-tahun kelaparan. Terkadang mereka harus 

mengalami tekanan dari dalam, kehilangan tanda hadirat Anak 

Manusia di antara mereka, seperti yang mereka miliki sebelum-

nya. Roh Kudus ditarik dari mereka; tanda-tanda tidak mereka 

lihat; sang malaikat tidak turun untuk mengguncang-guncang-

kan air kolam; ada kebodohan besar di antara anak-anak ma-

nusia, dan juga kehangatan yang suam-suam kuku di antara 

anak-anak Tuhan ; saat  itulah mereka akan berharap melihat 

hari-hari Anak Manusia yang penuh dengan kemenangan yang 

gemilang yang telah kerap mereka saksikan, saat  Dia maju 

dengan panah dan mahkota-Nya, sebagai pemenang untuk me-

rebut kemenangan, namun  mereka tidak akan melihat semua 

itu. Perhatikanlah, kita tidak boleh berpikir bahwa gereja dan 

kepentingan Kristus telah kalah hanya sebab  gereja dan ke-

pentingan-Nya itu tidak selalu kelihatan berhasil.   

3.  Bahwa Kristus dan kerajaan-Nya tidak boleh dicari-cari di sua-

tu tempat tertentu, sebab penampakan-Nya akan terjadi se-

cara serempak di semua tempat (ay. 23-24): “Orang akan ber-

kata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini; ini 

dia orang yang akan menyelamatkan bangsa Yahudi dari ceng-

keraman bangsa Romawi, atau itu dia yang akan menyelamat-

kan orang-orang Kristen dari tekanan bangsa Yahudi; ini dia 

Sang Mesias, dan itu nabi-Nya; ia ada di gunung sini, atau di 

Yerusalem sana kamu akan menemukan gereja yang benar. 

Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut, jangan dengar-

kan perkataan seperti itu. Kerajaan Tuhan  tidak dirancangkan 

bagi kemuliaan satu bangsa saja, melainkan untuk memberi 

terang bagi bangsa bukan-Yahudi; sebab sama seperti kilat 

memancar dengan tiba-tiba tanpa bisa dicegah dari ujung la-

ngit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak 

halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.”  

(1) “Penghakiman yang akan menghancurkan bangsa Yahudi, 

memporak-porandakan mereka dan menyelamatkan orang-

orang Kristen dari cengkeraman tangan mereka, akan ter-

bang seperti kilat di sepanjang negeri, akan meluluh-lantak-

kan semuanya dari satu ujung ke ujung yang lainnya, dan 

orang-orang yang telah ditetapkan untuk mengalami kebi-

nasaan ini tidak akan mampu menghindarinya, sebagaima-

na mereka tidak mampu menghindar dari serangan kilat.”  

(2) “Injil yang hendak mendirikan kerajaan Kristus di dunia ini 

akan terbang seperti kilat di antara seluruh bangsa. Keraja-

an Mesias tidaklah dimaksudkan untuk terjadi di satu tem-

pat saja, namun  harus tersebar luas ke seluruh bumi. Injil 

itu akan memancar dari Yerusalem ke seluruh wilayah di 

sekelilingnya, dan hal itu terjadi dalam sekejap mata. Kera-

jaan-kerajaan di bumi ini akan diubahkan oleh Injil bahkan 

sebelum mereka menyadarinya.” Tugu-tugu kemenangan 

Kristus akan didirikan di atas reruntuhan kerajaan Iblis, 

bahkan di negeri-negeri yang tidak pernah dapat ditakluk-

kan oleh kekuasaan bangsa Romawi. Rancangan pendirian 

kerajaan Kristus bukanlah untuk membuat sebuah bangsa 

menjadi hebat, melainkan untuk menjadikan segala bangsa 

baik – atau setidaknya, sebagian dari bangsa-bangsa. Dan 

tujuan ini akan tercapai, meskipun rusuh bangsa-bangsa 

dan raja-raja dunia bersiap-siap menentangnya dengan se-

genap kekuatan mereka.  

4.  Bahwa Sang Mesias harus menderita sebelum Ia berkuasa (ay. 

25): “namun  Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu, 

banyak kesulitan, dan ditolak oleh angkatan ini. Dan, jika Ia 

diperlakukan demikian, maka murid-murid-Nya harus bersiap 

juga untuk mengalami penderitaan dan ditolak demi Dia.” Me-

reka mengira akan menyaksikan kerajaan Mesias didirikan 

dalam kemegahan lahiriah: “Tidak,” kata Kristus, “kita harus 

berjalan menuju mahkota melalui salib. Anak Manusia harus 

menanggung banyak penderitaan. Kesakitan, aib, dan kemati-

an termasuk dalam banyak penderitaan ini . Dia akan 

ditolak oleh angkatan orang-orang Yahudi yang tidak percaya 

ini, sebelum Dia disambut oleh angkatan lain, yaitu angkatan 

orang-orang bukan-Yahudi yang percaya, supaya Injil-Nya 

mendapat kehormatan sebab  mengalahkan perseteruan ter-

sengit dari orang-orang yang seharusnya justru memberikan 

sokongan terbesar. Dengan begitu, kegemilangan kuasa akan 

terbukti milik Tuhan , dan bukan milik manusia. Sebab, meski-

pun Israel tidak terkumpulkan, Dia tetap akan dimuliakan di 

seluruh penjuru bumi.”  

5. Bahwa pendirian kerajaan Mesias akan menghantarkan kebi-

nasaan bagi bangsa Yahudi, yang didapatinya sedang terlena 

dalam kenyamanan, dan terbenam dalam nafsu kedagingan, 

sebagaimana dunia purba pada zaman Nuh, dan Sodom pada 

masa Lot (ay. 26, dst.).  

Perhatikanlah:   

(1) Bagaimana keadaan para pendosa dulu, dan dengan cara 

apakah Tuhan  menghakimi mereka. Pada akhirnya pengha-

kiman itu datang juga menimpa mereka, sekalipun mereka 

telah diperingatkan sebelumnya. Tengoklah sampai jauh ke 

dunia purba, saat semua manusia menjalankan hidup yang 

rusak, dan bumi telah penuh dengan kekerasan. Tiliklah 

dengan lebih saksama, dan pikirkan apa yang terjadi pada 

orang-orang Sodom, yang sangat jahat dan berdosa terha-

dap TUHAN.  

Kini perhatikanlah kedua hal berikut ini:   

[1] Mereka telah diperingati secara adil sebelumnya, menge-

nai kehancuran yang hendak menimpa sebab  dosa-

dosa mereka. Nuh yaitu  seorang pemberita kebenaran 

kepada dunia purba itu, sebagaimana Lot kepada pen-

duduk Sodom. Keduanya telah memperingatkan orang-

orang itu tentang apa yang akan mengakhiri jalan hidup 

mereka yang jahat, dan bahwa hukuman itu akan 

datang dengan segera.  

[2] Orang-orang itu tidak mengindahkan peringatan terse-

but, tidak menghormatinya, dan tidak memperhatikan-

nya sama sekali. Mereka sangat yakin dan terus saja me-

lanjutkan kegiatan mereka sehari-hari tanpa rasa khawa-

tir, seperti yang dapat Anda bayangkan. Mereka makan 

dan minum, memanjakan diri mereka dalam kenikmatan, 

dan tidak mempedulikan apa pun selain merawat tubuh 

untuk memuaskan keinginannya, mengandalkan keadaan 

mereka saat itu yang jaya, dan sebab  itulah mereka 

kawin dan dikawinkan, supaya keluarga mereka tetap 

berdiri tegak. Mereka semua bersukaria. Begitulah orang-

orang Sodom. Dan bukan itu saja, mereka juga sangat 

sibuk: mereka membeli dan menjual, mereka menanam 

dan membangun. Semua kegiatan ini  memang tidak 

melanggar hukum, namun  kesalahan mereka yaitu  kare-

na mereka terlalu memuja-muja semua itu, dan hati me-

reka melekat erat kepadanya, sehingga tidak punya 

ruang lagi dalam hati mereka untuk bersiap-siap meng-

hadapi penghakiman yang sudah dikumandangkan itu. 

Saat mereka seharusnya, seperti yang dilakukan orang-

orang Niniwe, berpuasa dan berdoa, bertobat dan meng-

ubah jalan hidup mereka saat mendengar peringatan me-

ngenai penghakiman yang akan segera menimpa, mereka 

malah tenang-tenang saja makan daging dan minum ang-

gur. Padahal Tuhan  menyuruh mereka untuk menangis 

dan meratap (Yes. 22:12-13).  

[3] Mereka terus saja berada di dalam kenyamanan dan ke-

dagingan, sampai penghakiman yang telah diperingat-

kan itu benar-benar datang. Sampai hari saat  Nuh me-

masuki bahteranya, dan Lot keluar dari Sodom, tidak 

ada satu hal pun yang telah dikatakan atau dilakukan 

bagi mereka yang mampu membangkitkan kesadaran 

dan kewaspadaan mereka. Perhatikanlah, memang 

aneh bahwa para pendosa itu begitu bodohnya untuk 

terus berkubang dalam jalan hidup yang kotor. Namun, 

janganlah kita menganggapnya aneh, sebab sudah ba-

nyak contoh yang kita dapati. Kelakuan seperti itu ada-

lah jalan lama, yang dilalui orang-orang jahat yang ber-

jalan menuju neraka di dalam tidur mereka, seakan-

akan penghukuman mereka mendorong mereka untuk 

berlaku seperti itu.   

[4] Tuhan  memperhatikan keselamatan orang-orang milik-Nya, 

yang percaya dan takut, dan yang memperhatikan per-

ingatan yang mereka beritahukan sendiri kepada orang 

lain. Nuh memasuki bahtera itu, dan ia selamat. Lot ke-

luar dari Sodom, dan dengan begitu melarikan diri dari 

bahaya. Jika beberapa orang berlari dengan serampangan 

dan langsung menuju kebinasaan, hal itu tidak akan 

menghalangi keselamatan orang-orang yang percaya.  

[5] Mereka terkejut dengan kebinasaan yang tadinya tidak 

mereka takutkan itu, lalu tenggelam di dalam ketakutan 

dan keterpanaan yang tiada terucapkan. Air bah datang 

dan membinasakan semua pendosa di dunia purba; hu-

jan api dan hujan belerang turun dan membinasakan se-

mua pendosa di Sodom. Tuhan  memiliki banyak anak pa-

nah dalam tabung panah-Nya, dan memakai yang mana 

saja yang Ia kehendaki untuk berperang melawan 

orang-orang yang memberontak terhadap-Nya, sebab 

panah yang mana saja akan selalu ampuh. Akan namun  

yang dimaksudkan di sini yaitu  untuk menunjukkan 

kebinasaan mengejutkan yang mengerikan, yang akan 

menimpa orang-orang yang merasa tenang-tenang saja 

dalam nafsu kedagingan mereka.   

(2)  Apa yang masih tetap akan menimpa para pendosa (ay. 30): 

Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manu-

sia menyatakan diri-Nya. Saat Kristus datang untuk mem-

binasakan bangsa Yahudi, melalui pasukan Romawi, seba-

gian besar bangsa itu merasa diri aman-aman saja dan ber-

sikap masa bodoh. Mereka sudah mendengar peringatan 

yang kini dikatakan Kristus, yang akan diulangi lagi oleh 

para rasul sesudah Dia, seperti yang dilakukan Nuh dan 

Lot. namun  semua peringatan itu sia-sia belaka. Mereka 

akan terus saja berkelakuan semaunya, tidak acuh dan 

menentang Kristus serta Injil-Nya sampai semua orang 

Kristen dipisahkan dari mereka dan dipindahkan ke tempat 

yang aman. Tuhan  akan memelihara orang-orang Kristen itu 

di seberang sungai Yordan, dan kemudian banjir pengha-

kiman akan menimpa dan membinasakan semua orang Ya-

hudi yang tidak percaya. Orang pasti berpikir bahwa per-

kataan Juruselamat kita ini, yang terbuka untuk umum 

dan diberitakan kepada dunia tidak lama sesudah nya, ha-

rusnya sudah berhasil menggugah mereka. namun  kenyata-

annya tidak demikian, sebab hati orang-orang itu telah 

menjadi keras, sampai binasa. Dengan cara yang serupa 

pula, saat  Yesus Kristus datang untuk menghakimi dunia 

di akhir zaman, para pendosa akan didapati sedang berle-

ha-leha dan hidup serampangan. Mereka tidak peduli ter-

hadap penghakiman yang akan segera menimpa, yang aki-

batnya akan menjerat mereka seperti sebuah perangkap. 

Dengan cara yang sama pula para pendosa di segala zaman 

akan terus berkubang dalam jalan hidup mereka yang 

jahat, dan tidak memperhatikan kesudahan mereka atau-

pun pertanggungjawaban yang harus mereka berikan. 

Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion. 

6.  Para murid dan pengikut Kristus harus membedakan diri dari 

orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada masa itu, dan 

meninggalkan mereka, kota dan negeri mereka, untuk melari-

kan diri begitu tanda-tanda sudah dinyatakan, sesuai dengan 

petunjuk yang diberikan. Biarlah mereka undur, seperti Nuh 

memasuki bahteranya, dan Lot yang menuju Zoar. Engkau 

tadinya mau menyembuhkan Yerusalem, sebagaimana Babel 

tua itu, namun  ia tidak dapat disembuhkan, dan sebab  itu ting-

galkanlah dia, larilah dari tengah-tengahnya, dan hendaklah 

setiap orang menyelamatkan nyawanya (Yer. 51:6, 9).  

(1) Pelarian mereka dari Yerusalem itu haruslah dilaksanakan 

dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda sebab  urus-

an duniawi (ay. 31): “Barangsiapa pada hari itu sedang di 

peranginan di atas rumah, saat peringatan itu dikuman-

dangkan, janganlah ia turun untuk mengambil barang-ba-

rangnya, sebab dia tidak boleh membuang-buang waktu 

dan juga barang-barang ini  hanya akan menghalangi 

dan menghambat pelariannya.” Janganlah peduli dengan 

barang-barangnya di saat-saat seperti itu, sebab  dapat 

memiliki nyawanya menjadi jarahan baginya saja sudah 

merupakan sebuah mujizat di kala seperti itu. Lebih baik 

meninggalkan barang-barangnya daripada membawanya 

namun  harus binasa bersama-sama dengan orang yang tidak 

percaya. Mereka harusnya lebih memusatkan diri untuk 

melakukan apa yang harus diperbuat Lot dan keluarganya: 

Larilah, selamatkanlah nyawamu. Berilah dirimu diselamat-

kan dari angkatan yang jahat ini.  

(2) Saat mereka telah berhasil membebaskan diri, mereka ti-

dak boleh memikirkan untuk kembali (ay. 32): “Ingatlah 

akan istri Lot dan tariklah pelajaran darinya supaya kamu 

tidak hanya kabur dari kota Sodom saja (sebab Yerusalem 

akan menjadi seperti Sodom, Yes. 1:10), namun  juga me-

nguatkan hati selama masa pelarian itu, dan tidak menoleh 

ke belakang, seperti yang dilakukan istri Lot itu. Janganlah 

segan untuk meninggalkan tempat yang sudah ditentukan 

menjadi binasa, siapa pun juga yang telah kamu tinggalkan 

di sana, betapapun mereka orang-orang yang sangat kau 

kasihi.” Orang-orang yang telah meninggalkan Sodom hen-

daknya terus maju dan tidak mengarahkan pandangan me-

reka ke sana lagi. Janganlah mereka menoleh ke belakang, 

supaya mereka tidak tergoda untuk kembali. Bukan itu 

saja, menoleh ke belakang bisa berarti hati mereka kembali 

ke sana atau masih melekat di tempat itu. Istri Lot diubah 

menjadi tiang garam, supaya dia menjadi tugu peringatan 

ketidaksukaan Tuhan  terhadap orang-orang yang menjauh 

dari Tuhan , yang memulai di dalam roh namun  berakhir dalam 

daging.  

(3) Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nyawa mereka 

selain dengan meninggalkan orang-orang Yahudi. Dan, jika 

mereka mengira dapat menyelamatkan diri dengan bekerja 

sama dengan orang-orang Yahudi itu, mereka salah besar 

(ay. 33): “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, de-

ngan mengundurkan diri dari Kekristenan dan bersekutu 

dengan orang-orang Yahudi, ia akan kehilangan nyawanya 

bersama-sama mereka dan binasa dalam malapetaka yang 

sama. Akan namun , barangsiapa bersedia mempertaruhkan 

nyawanya bersama orang-orang Kristen, di atas dasar yang 

sama, untuk mengambil bagian dengan mereka dalam ke-

hidupan dan kematian, ia akan menyelamatkan nyawanya, 

sebab dia pasti akan mendapatkan hidup yang kekal, dan 

lebih mampu menyelamatkan diri daripada orang-orang 

yang berpegang pada dasar orang Yahudi atau mengandal-

kan sarana keselamatan mereka.” Perhatikanlah, orang-

orang yang memercayai Tuhan  dalam melaksanakan kewa-

jiban mereka berarti sudah melakukan yang terbaik.  

7.  Semua orang Kristen yang saleh pasti akan berhasil melarikan 

diri, namun  banyak di antaranya yang hampir-hampir saja ter-

timpa bencana ini  (ay. 34-36). saat  penghakiman Tuhan  

menghancurkan semuanya, Dia akan memastikan bahwa 

orang-orang kepunyaan-Nya selamat, dengan cara membeda-

kan mereka dari orang-orang lain yang dekat dengan mereka: 

dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa 

dan yang lain akan ditinggalkan; yang seorang direnggut dari 

api dan dibawa ke tempat perlindungan, sedangkan yang se-

orang lainnya akan ditinggalkan untuk binasa dalam malapa-

teka itu. Perhatikanlah, sekalipun bencana menimpa yang sa-

tu dan yang lainnya, dan segala sesuatu sama bagi sekalian, 

namun, cepat atau lambat akan nyata bahwa Tuhan mengenal 

siapa milik kepunyaan-Nya dan siapa yang bukan dan Ia tahu 

bagaimana menceraikan yang indah-indah dari pada yang 

hina. Kita yakin bahwa Hakim segenap bumi pasti menghukum 

dengan adil. sebab  itulah, saat Ia mengirimkan hukuman de-

ngan sengaja untuk membalaskan kematian Anak-Nya kepada 

orang-orang yang telah menyalibkan Dia, Dia pun akan me-

mastikan bahwa orang-orang yang memuliakan-Nya dan ber-

megah di dalam salib-Nya, luput oleh penghakiman itu.   

8. Pekerjaan membedakan, memisahkan dan mencerai-beraikan 

ini akan dikerjakan di segala tempat, sejauh luas kerajaan 

Tuhan  (ay. 37). Di mana, Tuhan? Mereka menanyakan wak-

tunya, dan Dia tidak bersedia memuaskan rasa penasaran me-

reka dengan jawaban apa pun mengenai hal itu. Lalu mereka 

pun mencobai-Nya lagi dengan pertanyaan lain: “Di mana, 

Tuhan? Ke mana orang-orang yang selamat itu akan dibawa? 

Di mana orang-orang yang ditinggalkan itu akan binasa?” Ja-

waban yang diberikan-Nya yaitu  sebuah pepatah, dan dapat 

dijelaskan untuk menjawab pertanyaan itu dari dua sisi: Di 

mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.  

(1) Di mana pun orang-orang jahat berada, yaitu mereka yang 

ditentukan untuk binasa, penghakiman Tuhan  akan mene-

mukan mereka, seperti juga burung-burung akan selalu 

mencium bau bangkai dan memangsanya. Bangsa Yahudi 

telah menjadikan diri mereka sebagai bangkai mati yang 

berbau, menjijikkan di hadapan kekudusan Tuhan  dan me-

nentang keadilan-Nya, sehingga di mana pun angkatan 

yang tidak percaya itu berada, penghakiman Tuhan  akan 

tertuju kepada mereka, seperti burung nasar yang mengin-

car mangsanya: Tangan-Mu akan menjangkau semua mu-

suh-Mu (Mzm. 21:9), meskipun sarang mereka ditempatkan 

di antara bintang-bintang (Ob. 1:4). Para tentara Romawi 

akan memburu orang-orang Yahudi di segala tempat per-

sembunyian mereka, dan tidak seorang pun akan berhasil 

meloloskan diri.  

(2) Di mana pun orang-orang saleh berada, yaitu mereka yang 

ditentukan untuk selamat, mereka akan didapati sedang 

menikmati Kristus dengan sukacita. Sebagaimana pembu-

baran jemaat Yahudi akan meluas ke seluruh wilayah, de-

mikian pula dengan pendirian jemaat Kristen. Di mana pun 

Kristus berada, orang-orang percaya akan mengerumun-

inya, seperti burung nasar yang mengerumuni mangsanya, 

tanpa harus dituntun atau diarahkan, melainkan hanya 

dengan dorongan naluri yang baru. Kini Kristus berada di 

mana Injil-Nya, ketetapan-Nya, dan jemaat-Nya berada: 

Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-

Nya, di situ Dia ada di tengah-tengah mereka, dan di sana 

jugalah orang-orang lain akan dikumpulkan kepada-Nya. 

Kerajaan Mesias tidak akan memiliki satu tempat sebagai 

ibukotanya, sebagaimana Yerusalem menjadi pusat bagi 

jemaat Yahudi, tempat semua orang Yahudi berkumpul. 

namun , di mana ada mayat, di mana saja Injil diberitakan 

dan segala ketetapan dijalankan, di sanalah jiwa-jiwa yang 

saleh berkumpul. Di sanalah mereka akan menemukan 

Kristus dan menikmati-Nya di dalam iman. Di mana pun 

Kristus menorehkan nama-Nya, di situ pula Dia akan me-

nemui umat-Nya dan memberkati mereka (Yoh. 4:21, dst.; 

1Tim. 2:8). Banyak penafsir yang cakap mengartikannya 

sebagai berkumpulnya orang-orang kudus dengan Kristus 

dalam kerajaan-Nya yang mulia: “Jangan tanyakan di ma-

na mayat itu berada, dan bagaimana mereka akan mene-

mukannya, sebab mereka akan mendapat petunjuk yang 

jelas. Kepada Dia, yang merupakan sumber kehidupan me-

reka dan Kepala yang menggiatkan mereka, serta pusat 

dari kesatuan mereka, kepada Dia-lah seluruh umat-Nya 

akan datang berkumpul.” 

 

PASAL 18  

Kita temukan dalam pasal ini:  

I.  Perumpamaan mengenai seorang janda yang keras hati, 

yang mengajarkan kita untuk berdoa dengan tidak jemu-

jemu (ay. 1-8).  

II.  Perumpamaan mengenai seorang Farisi dan pemungut 

cukai, yang mengajarkan kita untuk rendah hati dan menge-

nyahkan dosa saat  berdoa (ay. 9-14).  

III.  Perhatian Kristus terhadap anak-anak kecil yang dibawa ke 

hadapan-Nya (ay. 15-17).  

IV.  Ujian yang dihadapi oleh seorang kaya yang memiliki hati 

untuk mengikuti Kristus, apakah ia lebih mencintai Kristus 

atau kekayaannya; kegagalannya dalam ujian ini , dan 

pembicaraan Kristus dengan murid-murid-Nya mengenai hal 

ini  (ay. 18-30).  

V.  Nubuat Kristus mengenai kematian dan penderitaan-Nya 

(ay. 31-34).  

VI. Kristus memulihkan penglihatan seorang buta (ay. 35-43). 

Keempat perikop dalam ayat-ayat ini telah kita baca sebe-

lumnya dalam Injil Matius dan Markus. 

Hakim yang Lalim 

(18:1-8) 

1 Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegas-

kan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. 2 Kata-Nya: 

“Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Tuhan  dan 

tidak menghormati seorang pun. 3 Dan di kota itu ada seorang janda yang se-

lalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. 

4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. namun  kemudian ia berkata 

dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Tuhan  dan tidak menghormati 

seorang pun, 5 namun sebab  janda ini menyusahkan aku, baiklah aku 

membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menye-

rang aku.” 6 Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim 

itu! 7 Tidakkah Tuhan  akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang 

malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum 

menolong mereka? 8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan 

mereka. Akan namun , jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati 

iman di bumi?”  

Perumpamaan ini mudah dipahami, arti dan tujuannya sudah dipa-

parkan di depan. Kristus menyampaikannya untuk mengajarkan ke-

pada kita bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu 

(ay. 1). Hal ini mengandaikan bahwa umat Tuhan  yaitu  umat pendoa. 

Setiap anak-anak Tuhan  bercakap-cakap dengan-Nya baik secara ber-

kelanjutan maupun sewaktu-waktu, dan apa yang mereka katakan 

disampaikan kepada-Nya secara terbuka, dan dalam setiap keadaan 

darurat. Merupakan hak istimewa dan kehormatan bahwa kita boleh 

berdoa. Ini yaitu  kewajiban kita, kita harus berdoa, dan kita 

berdosa jika melalaikannya. Ini hendaknya menjadi keseharian kita. 

Kita harus selalu berdoa. Ini kewajiban yang dikehendaki bagi kita 

setiap hari. Kita harus berdoa dan tidak boleh lelah untuk berdoa, 

dan jangan berpikir untuk meninggalkannya sampai puji-pujian ke-

kal meniadakannya. Akan namun , apa yang tampaknya ingin disam-

paikan secara khusus di sini yaitu  untuk mengajarkan kita menge-

nai ketetapan dan kegigihan saat  kita meminta belas kasihan 

rohani tertentu yang kita cari-cari, baik berkenaan dengan diri kita 

sendiri maupun dengan jemaat Tuhan . saat  kita sedang berdoa 

untuk melawan musuh-musuh rohani kita, nafsu-nafsu kita dan 

kecemaran-kecemaran hati kita, yang merupakan musuh kita yang 

paling jahat, kita harus terus berdoa dan berdoa. Kita harus berdoa 

dengan tidak jemu-jemu, sebab  kita tidak akan sia-sia dalam mencari 

Tuhan . Begitu juga yang harus kita lakukan dalam doa kita untuk 

membebaskan umat Tuhan  dari tangan-tangan yang menganiaya dan 

menindas mereka. 

I.  Kristus menunjukkan, melalui sebuah perumpamaan, betapa 

besarnya kuasa yang bisa ditimbulkan dari kegigihan itu pada diri 

manusia. Bila tidak ada hal lain yang memengaruhinya, untuk 

melakukan apa yang adil dan benar, manusia akan dikuasai oleh 

kekuatan yang timbul dari kegigihan itu. Ia memberikan kita 

contoh bagaimana hal ini berhasil dilakukan di hadapan seorang 

 hakim yang lalim, yang terjadi bukan sebab  keadilan atau rasa 

kasihan, namun murni sebab  kekuatan kegigihan.  

Perhatikanlah di sini:  

1.  Tabiat seorang hakim yang tinggal di kota tertentu yang tidak 

terpuji. Ia tidak takut akan Tuhan  dan tidak menghormati se-

orang pun. Ia tidak peduli baik terhadap hati nuraninya mau-

pun nama baiknya. Ia berdiri dengan tegar menghadapi murka 

Tuhan  terhadap dirinya maupun teguran manusia atasnya. Ia 

tidak peduli akan kewajibannya baik terhadap Tuhan  maupun 

manusia. Ia benar-benar asing dalam hal kesalehan dan ke-

hormatan, dan tidak memahami kedua-duanya. Bukanlah hal 

yang aneh jika mereka yang tidak gentar terhadap Sang Pen-

cipta mereka juga akan tak acuh terhadap sesama mereka, 

sebab  kalau takut akan Tuhan  tidak ada pada diri seseorang, 

maka tidak ada yang baik yang bisa diharapkan daripadanya. 

Orang yang tidak saleh dan tidak berperikemanusiaan seperti 

ini sangatlah jahat, apalagi kalau yang bertindak demikian 

yaitu  seorang hakim, yang punya kuasa di dalam tangannya. 

Seorang hakim yang punya kuasa demikian harus dituntun 

oleh prinsip-prinsip agama dan keadilan, sebab  kalau tidak, 

maka bukannya melakukan kebaikan dengan kuasanya itu, 

hakim ini  malah akan membahayakan diri orang lain. 

Salah satu dari kefasikan paling besar yang dilihat Raja Sa-

lomo di dunia yaitu  bahwa di tempat pengadilan, di situ pun 

ada  ketidakadilan (Pkh. 3:16).  

2. Keadaan seorang janda miskin yang menyesakkan, yang mem-

buatnya harus memohon di hadapan hakim ini , sebab  

ia diperlakukan dengan tidak adil oleh seseorang yang menin-

dasnya dengan menggunakan kekuasaan dan ancaman. Jelas 

terlihat bahwa janda ini  berada di pihak yang benar, 

namun kelihatannya dalam mencari keadilan bagi dirinya, ia 

tidak mengikuti aturan-aturan hukum yang telah ditetapkan. 

Sebaliknya, ia secara pribadi memohon kepada hakim ini  

setiap hari dengan berseru di depan rumahnya, Belalah hakku 

terhadap lawanku, atau dengan kata lain, Berikanlah keadilan 

kepadaku atas lawanku. Ia tidak bermaksud untuk menuntut 

pembalasan dendam terhadap orang itu atas segala yang telah 

dilakukannya terhadapnya. Ia hanya meminta agar orang itu 

diwajibkan untuk mengembalikan apa yang telah ia rampas 

daripadanya, dan agar orang itu jangan menindas dirinya lagi. 

Perhatikanlah, janda-janda yang malang biasanya mempunyai 

banyak musuh yang dengan biadab memanfaatkan keadaan 

mereka yang lemah dan tidak berdaya untuk merampas hak-

hak mereka dan memperdayai milik mereka yang biasanya 

tidak seberapa itu. Oleh sebab  itu, para hakim khususnya 

ditugaskan bukan saja untuk tidak menindas janda dengan 

keras (Yer. 22:3), namun  juga untuk membela hak anak-anak 

yatim, dan memperjuangkan perkara janda-janda (Yes. 1:17), 

untuk menjadi pengayom dan pelindung bagi mereka. Hakim-

hakim harus menjadi seperti Tuhan  bagi mereka, sebab  demi-

kianlah Tuhan  adanya (Mzm. 68:5).  

3.  Kesulitan dan penolakan yang ditemuinya dalam jalannya: Be-

berapa waktu lamanya hakim itu menolak. Seperti yang biasa 

dilakukannya, hakim itu memandang rendah janda itu, meng-

abaikan maksud tujuannya, berpura-pura tidak mengetahui 

segala ketidakadilan yang dilakukan musuhnya kepadanya, 

sebab  janda itu tidak memiliki sogokan untuk diberikan ke-

padanya. Tidak ada orang besar yang diseganinya yang berbi-

cara atas nama janda itu, sehingga hakim ini  tidak terge-

rak sama sekali untuk menangani keluh kesahnya. Hakim 

ini  sadar akan alasan atas keengganannya, namun di da-

lam hatinya bahwa ia tidak takut akan Tuhan  dan tidak meng-

hormati seorang pun. Sungguh disayangkan jika ada orang 

sudah begitu sadar akan kelemahannya, namun tidak peduli 

untuk mengubahnya.  

4. Keberhasilan janda ini  yang dengan tidak jemu-jemu 

menyusahkan hakim yang lalim ini (ay. 5): “sebab  janda ini 

menyusahkan aku, terus membuat masalah bagiku, maka aku 

akan mendengarkan maksudnya, dan memberikan keadilan 

kepadanya, supaya jangan sampai sebab  seruannya yang 

tidak pernah berhenti terhadapku, ia membuat namaku men-

jadi jelek; supaya ia tidak membuatku lelah dengan seruan-

nya, sebab  ia sangat gigih sehingga ia tidak akan membiar-

kan aku tenang sebelum perkaranya selesai. Oleh sebab  itu, 

aku akan melakukannya, supaya aku terhindar dari masalah 

yang lebih besar; lebih baik secepatnya daripada terlambat.“ 

Begitulah janda itu akhirnya mendapat keadilan sebab  ia 

terus-menerus memohon-mohon. Ia memohon kepada hakim 

itu di depan pintu rumahnya, mengikutinya di jalan-jalan, 

berseru kepadanya di lapangan terbuka, dengan seruan yang 

sama, Belalah hakku terhadap lawanku. Dengan begitu, hakim 

itu terpaksa melakukannya, supaya terhindar dari janda itu. 

Hati nuraninya, yang sama buruknya seperti dirinya, tidak 

ingin direpotkan dengan menjebloskan janda ini  ke da-

lam penjara sebab  telah menghina pengadilan. 

II.  Ia menggunakan perumpamaan ini untuk mendorong umat Tuhan  

yang berdoa supaya mereka berdoa dengan iman dan kegigihan, 

dan bertekun di dalamnya. 

1.  Ia memberikan jaminan kepada mereka bahwa Tuhan  pada 

akhirnya akan bermurah hati kepada mereka (ay. 6): Camkan-

lah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu, bagaimana ia 

sendiri mengakui bahwa dirinya sangat direpotkan oleh kegi-

gihan yang tak henti-hentinya itu, dan tidakkah Tuhan  akan 

membenarkan orang-orang pilihan-Nya?  

Amatilah: 

(1)  Apa yang mereka cari-cari dan harapkan: bahwa Tuhan  

akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya


Related Posts:

  • lukas 13-24 6 tobat dan mengubah kebiasaan jahat dan jalan hidup mereka.” Per-hatikanlah, orang-orang bodoh memang selalu memikirkan cara-cara yang lebih baik daripada cara yang telah dipilih dan ditetapkan Tuhan … Read More