tobat dan
mengubah kebiasaan jahat dan jalan hidup mereka.” Per-
hatikanlah, orang-orang bodoh memang selalu memikirkan
cara-cara yang lebih baik daripada cara yang telah dipilih
dan ditetapkan Tuhan untuk membuat orang bertobat.
(4) Abraham bersikeras menolaknya, dengan alasan yang me-
yakinkan (ay. 31): “Jika mereka tidak mendengarkan kesak-
sian Musa dan para nabi, dan tidak mau percaya pada
kesaksian atau mendengarkan peringatan yang diberikan
Musa dan para nabi itu, mereka tidak juga akan mau diya-
kinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara
orang mati. Jika mereka tidak mengacuhkan pewahyuan
umum, yang diteguhkan dengan mujizat-mujizat, mereka
juga tidak akan digerakkan oleh kesaksian pribadi sese-
orang yang disampaikan langsung kepada mereka sendiri.”
[1] Perkaranya sudah ditetapkan sejak lama, dan ini sudah
teruji, bahwa Tuhan harus berbicara melalui Musa dan
nabi-nabi seperti itu, dan bukan melalui utusan-utusan
langsung dari sorga. Israel memilih cara ini di Gu-
nung Sinai, sebab mereka tidak tahan terhadap kenge-
rian-kengerian yang ditimbulkan saat para utusan
sorga langsung berbicara kepada mereka.
[2] Seorang utusan yang bangkit dari antara orang mati
tidak bisa mengatakan apa-apa melebihi yang dikata-
kan dalam Kitab Suci. Ia juga tidak bisa menyampai-
kannya dengan wewenang yang lebih besar.
[3] Kalau orang mati diutus, maka akan ada macam-ma-
cam alasan untuk curiga bahwa utusan ini hanya-
lah sebuah tipuan atau khayalan, sama seperti kecuri-
gaan terhadap Kitab Suci. Bahkan utusan orang mati
ini malah jauh lebih dicuriga lagi. Memang orang-orang
kafir yang tidak percaya dalam satu hal pasti akan tidak
percaya dalam hal lain juga.
[4] Kekuatan merusak dalam sifat manusia yang meng-
halanginya untuk meyakini kebenaran firman tertulis,
akan menghalanginya pula dalam meyakini kebenaran
yang disaksikan oleh seorang saksi yang bangkit dari
antara orang mati. Walaupun seorang pendosa mungkin
pada awalnya merasa ketakutan terhadap kesaksian se-
perti itu, namun sesudah rasa takut itu berlalu, ia akan
segera kembali pada kedegilan hatinya.
[5] Pada masa kini Kitab Suci sudah menjadi cara biasa
yang dipakai Tuhan untuk menyatakan pikiran-Nya ke-
pada kita, dan ini sudah cukup. Sungguh lancang jika
kita ingin menentukan cara-cara lain, dan kita juga
tidak mempunyai dasar untuk berharap atau berdoa
agar anugerah Tuhan bekerja di dalam diri kita dengan
cara lain, jika kita menolak dan menyingkirkan cara
yang biasa itu. Apa yang dikatakan oleh Juruselamat
kita di sini sungguh terbukti benar dalam diri orang-
orang Yahudi yang tidak percaya itu. Mereka tidak mau
mendengar Musa dan para nabi, Kristus dan para rasul,
dan tetap tidak mau percaya, meskipun Lazarus bangkit
dari antara orang mati (dan mungkin dengan merujuk
pada dialah Kristus memberi nama Lazarus kepada
orang malang dalam perumpamaan ini), Bahkan lebih
dari itu, mereka justru berencana untuk menghukum
mati Dia, dan tetap tidak mau diyakinkan oleh Dia, se-
kalipun Ia sendiri juga bangkit dari antara orang mati.
saat Eutikhus dihidupkan kembali, orang-orang yang
ada di sekitarnya terus mendengarkan Paulus berkhot-
bah, dan tidak berbalik untuk menanyakan sesuatu ke-
padanya (Kis. 20:10-11). Oleh sebab itu, janganlah kita
menginginkan penglihatan-penglihatan atau penampak-
an-penampakan, atau bertanya kepada arwah-arwah,
melainkan kepada pengajaran dan kesaksian (Yes. 8:19-
20), sebab itulah firman teguh yang telah disampaikan
oleh para nabi, yang padanya kita dapat bergantung.
PASAL 17
Dalam pasal ini kita mendapati:
I. Beberapa percakapan khusus Kristus dengan para murid-
Nya, saat Ia mengajari mereka supaya berhati-hati untuk
tidak menyesatkan orang lain, dan untuk mengampuni
orang-orang yang berbuat dosa terhadap mereka (ay. 1-4);
mendorong mereka untuk berdoa supaya iman mereka ber-
tambah (ay. 5-6); Ia kemudian mengajari mereka mengenai
kerendahan hati di dalam pelayanan apa pun yang mereka
lakukan bagi Tuhan (ay. 7-10).
II. Penyembuhan terhadap sepuluh orang kusta yang dilakukan-
Nya, dan ucapan syukur yang Ia dapatkan dari hanya satu
orang saja di antara mereka, yaitu seorang Samaria (ay. 11-19).
III. Percakapan-Nya dengan para murid saat orang-orang Fa-
risi menanyakan kapan kiranya kerajaan Tuhan akan muncul
(ay. 20-37).
Tindakan terhadap Perbuatan yang Menyesatkan
(17:1-10)
1 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada
penyesatan, namun celakalah orang yang mengadakannya. 2 yaitu lebih baik
baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilem-
parkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang
yang lemah ini. 3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah
dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 4 Bahkan jikalau ia berbuat do-
sa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu
dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.“ 5 Lalu kata
rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” 6 Jawab Tuhan:
“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu da-
pat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di
644
dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.” 7 “Siapa di antara kamu yang mem-
punyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak ba-
ginya, akan berkata kepada hamba itu, sesudah ia pulang dari ladang: Mari
segera makan! 8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu:
Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai se-
lesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan mi-
num. 9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, sebab hamba itu telah
melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 10 Demikian jugalah kamu.
jika kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu,
hendaklah kamu berkata: Kami yaitu hamba-hamba yang tidak berguna;
kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”
Di sini kita diajari:
I. Bahwa mengadakan penyesatan merupakan sebuah dosa besar,
sehingga setiap dari kita harus mawas diri dalam menghindarinya
(ay. 1-2). Kita harus bersiap menghadapi penyesatan yang pasti
akan terjadi, oleh sebab kejahatan dan kedegilan yang ada
dalam sifat alami manusia, dan juga sebab ada tujuan dan ren-
cana Tuhan yang bijak dalam segala penyesatan itu. Dia akan terus
melanjutkan pekerjaan-Nya kendati penyesatan-penyesatan terse-
but terjadi, dan akan menjadikan sesuatu yang baik dari kejahat-
an. Hampir tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, oleh kare-
na itulah kita harus bersiap sebaik mungkin untuk menghadap-
inya. Akan namun , celakalah orang yang mengadakannya, sebab
hukumannya akan sangat berat (ay. 2), lebih mengerikan dari-
pada hukuman yang akan diterima oleh penjahat terbejat sekali-
pun yang sudah dijatuhi hukuman untuk dibuang ke dalam laut,
sebab mereka akan tenggelam oleh sebab beban yang lebih berat
daripada batu kilangan.
Hukuman ini akan menimpa:
1. Para penganiaya, yang berusaha menyesatkan orang-orang le-
mah milik Kristus, dengan perkataan maupun perbuatan, yang
menyebabkan mereka menjadi putus asa dalam melayani
Kristus dan melaksanakan kewajiban mereka, atau membuat
mereka terancam mangkir dari semua kewajiban itu.
2. Para penipu, yang memutarbalikkan kebenaran Kristus dan
ketetapan-ketetapan-Nya, sehingga mengacaukan pikiran para
murid; mereka inilah yang mengadakan penyesatan.
3. Orang-orang yang mengaku beragama Kristen namun hidup se-
rampangan, melemahkan ikatan umat Tuhan dan menyedihkan
hati mereka. Oleh merekalah penyesatan itu terjadi, dan ke-
nyataan bahwa penyesatan memang harus terjadi tidaklah da-
pat dijadikan alasan untuk meringankan kesalahan ataupun
hukuman mereka.
II. Bahwa mengampuni merupakan sebuah tugas besar yang harus
disadari oleh setiap kita (ay. 3): Jagalah dirimu! Kalimat ini mung-
kin mengacu kepada kalimat sebelumnya atau juga kepada kali-
mat sesudahnya: Jagalah dirimu supaya tidak menyesatkan salah
satu dari orang-orang yang lemah ini. Para hamba Tuhan haruslah
berhati-hati supaya tidak mengatakan ataupun melakukan sesua-
tu yang dapat menggoyahkan hati orang-orang Kristen yang le-
mah. Mereka harus berhati-hati dan penuh pertimbangan di da-
lam perkataan dan perbuatan mereka supaya tidak melemahkan
orang-orang ini . Atau, “Jikalau saudaramu berbuat dosa ter-
hadap kamu, menyakitimu, menghina atau melawanmu, jika dia
merugikanmu baik dalam hal harta kekayaan maupun nama
baik, jagalah dirimu dalam keadaan seperti itu, supaya kamu ja-
ngan terseret ke dalam angkara murka. Bila hatimu terbakar,
janganlah sampai kamu menjadi teledor dengan kata-katamu, dan
terpancing untuk bersumpah hendak membalas dendam (Ams.
24:29): Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlaku-
kan dia. Jagalah perkataanmu dalam keadaan yang demikian, su-
paya kamu tidak berbicara serampangan.”
1. Jika ada kesempatan untuk menegornya, sebaiknya lakukan
saja. Jangan memendam rasa sakit hati, namun utarakanlah
semua itu. Beritahukan dia apa kesalahannya; tunjukkan ke-
padanya bagaimana dia telah berlaku tidak baik atau tidak
adil terhadapmu, dan mungkin saja kamu akan mendapati
(dan jika demikian, kamu harus berlapang dada mengakuinya)
bahwa kamu telah salah paham terhadapnya, bahwa kesalah-
annya itu bukanlah sebuah dosa terhadap kamu, atau kesa-
lahan yang disengaja, melainkan hanya keteledoran semata,
sehingga kamu harus meminta maaf sebab telah salah pa-
ham terhadapnya (Yos. 22:30-31).
2. sesudah dia menyesali kesalahannya itu, kamu harus mengam-
puni dan berdamai kembali dengannya: Jikalau ia menyesal,
ampunilah dia. Lupakanlah kesalahan itu, jangan dipikirkan
lagi, apalagi sampai mengungkit-ungkit untuk memojokkan-
nya. Dan jika dia tidak menyesal, janganlah mendendam ter-
hadapnya, atau berusaha mencari impas. namun , jika dia bah-
kan tidak berkata bahwa dia menyesal, kamu tidak wajib
mengakrabinya seperti sebelumnya. Jika dia terperangkap da-
lam sebuah dosa yang menjijikkan dan merugikan lingkungan
Kristen tempatnya bernaung, maka biarlah dia ditegur keras
dengan cara yang lembut, dan jika ia menyesal, biarlah dia
diterima kembali dalam lingkungan dan persekutuan ini .
Itulah yang dinamakan sang rasul sebagai pengampunan
(2Kor. 2:7).
3. Kamu harus terus mengampuninya setiap kali dia mengulangi
kesalahannya (ay. 4). “Jika dia memang benar-benar teledor
atau kurang ajar sehingga ia berbuat dosa terhadap engkau
tujuh kali sehari, dan kemudian mengaku menyesal sebanyak
tujuh kali juga, dan berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi,
teruslah ampuni dia.” Humanum est errare – Berbuat salah itu
manusiawi. Perhatikanlah, orang-orang Kristen harus memiliki
jiwa yang mengampuni, bersedia untuk memikirkan yang
baik-baik saja tentang orang lain, dan tidak bersikap rewel
terhadap mereka; selalu siap untuk memaklumi kekeliruan
dan tidak membesar-besarkannya; dan mereka juga harus ber-
usaha sedapat mungkin untuk memperlihatkan bahwa mereka
telah mengampuni kesalahan seseorang senyata seperti orang
lain sedang menunjukkan kemarahannya terhadap kesalahan
ini .
III. Bahwa iman kita semua perlu dikuatkan, sebab seiring dengan
bertumbuhnya anugerah ini , maka bertumbuh pula anu-
gerah-anugerah lainnya. Semakin teguh kita memercayai ajaran
Kristus, dan semakin kukuh kita bergantung kepada anugerah
Kristus, maka segala hal akan menjadi lebih baik bagi kita. Kini,
perhatikanlah di sini,
1. Permintaan murid-murid kepada Kristus, supaya iman mereka
ditambahkan (ay. 5). Rasul-rasul itu sendiri, demikianlah me-
reka disebut di sini, tetap mengakui kelemahan dan kekurang-
an iman mereka, sekalipun mereka itu para pelayan utama da-
lam kerajaan Kristus. Mereka menyadari bahwa mereka mem-
butuhkan anugerah Kristus untuk meningkatkan iman me-
reka. Kata mereka kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami,
dan sempurnakanlah apa yang kurang di dalamnya.” Biarlah
panggilan iman semakin nyata, hasrat iman semakin kuat, ke-
tergantungan iman semakin teguh dan berakar, pengabdian
iman semakin menyeluruh dan bulat, dan kesukaan iman se-
makin menyenangkan. Perhatikanlah, pertumbuhan iman me-
rupakan hal yang seharusnya kita sungguh-sungguh inginkan,
dan kita harus memanjatkan keinginan kita itu kepada Tuhan
melalui doa. Beberapa orang berpikir bahwa para rasul memo-
honkan hal ini sebab Ia sangat menekankan kewajiban mere-
ka untuk mengampuni kesalahan orang lain: “Tuhan, tambah-
kanlah iman kami, sebab jika tidak begitu, kami tidak akan
pernah sanggup menjalankan kewajiban yang sesulit ini.”
Iman akan belas kasihan Tuhan untuk mengampuni akan
memampukan kita untuk mengatasi segala kesulitan terbesar
yang menghalangi kita dalam mengampuni saudara-saudara
kita. Menurut sebagian orang lagi, permintaan ini diaju-
kan pada kesempatan lain, yaitu saat para rasul mengalami
kebuntuan dalam mengerjakan suatu mujizat sehingga mereka
ditegur oleh Kristus sebab iman mereka yang lemah itu (Mat.
17:16, dst.). Mereka harus meminta Dia yang menegur mereka
itu memberikan anugerah kepada mereka dalam memperbaiki
kekurangan mereka itu. sebab itulah mereka berseru kepada-
Nya, “Tuhan, tambahkanlah iman kami.”
2. Jaminan yang diberikan Kristus mengenai keampuhan iman
yang teguh (ay. 6): “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman
sebesar biji sesawi saja, sama kecilnya seperti biji sesawi, se-
bab imanmu masih lebih kecil daripada biji sesawi yang terke-
cil; atau seruncing biji sesawi, begitu tajam dan mampu mem-
bangkitkan anugerah-anugerah lainnya, sebagaimana sesawi
membangkitkan semangat binatang-binatang,” sehingga dijadi-
kan perumpamaan, “kamu bisa mengerjakan perbuatan-per-
buatan ajaib yang lebih hebat daripada yang kamu lakukan
sekarang; tidak ada yang terlampau sukar bagimu untuk me-
lakukan hal-hal yang layak bagi kemuliaan Tuhan dan bagi pe-
neguhan ajaran yang kamu beritakan, sekalipun itu berupa
memerintahkan sebuah pohon untuk terbantun dari tanah dan
tertanam di dalam lautan.” (Mat. 17:20). Seperti halnya bagi
Tuhan tidak ada yang mustahil, demikianlah tidak ada yang
mustahil bagi orang yang percaya.
IV. Bahwa, apa pun yang kita lakukan di dalam pelayanan kita bagi
Kristus, kita haruslah tetap bersikap rendah hati dan tidak ber-
anggapan bahwa kita layak menerima kebaikan dari-Nya, atau
menuntutnya sebagai piutang kita. Bahkan para rasul itu sendiri
yang telah banyak bekerja bagi Kristus dibandingkan orang-orang
lain pun tidak boleh beranggapan bahwa Dia berutang budi ke-
pada mereka.
1. Kita semua yaitu para pelayan Tuhan (terutama para rasul
dan hamba-hamba Tuhan), dan sebagai pelayan, kita wajib
melaksanakan segala sesuatu semampu kita demi kehormat-
an-Nya. Segenap kekuatan dan waktu kita harus dipakai bagi
Dia, sebab kita bukan milik kita sendiri, dan tidak boleh ber-
laku semaunya, melainkan harus melayani Guru kita.
2. Sebagai pelayan-pelayan Tuhan , kita wajib mempergunakan wak-
tu kita untuk menjalankan kewajiban kita, dan banyak sekali
pekerjaan yang telah ditetapkan untuk kita tuntaskan. Kita ha-
rus menjadikan akhir dari sebuah pelayanan sebagai permulaan
dari pelayanan berikutnya. Seorang pelayan yang telah mem-
bajak atau menggembalakan ternak di ladang masih tetap pu-
nya pekerjaan untuk dilakukan saat dia sudah pulang ke
rumah pada malam hari; Ia harus melayani di meja (ay. 7-8). Ke-
tika kita sudah dipakai untuk mengerjakan kewajiban berperi-
laku saleh, hal itu tidaklah berarti bahwa kita boleh melalaikan
ibadah saat teduh kita. sesudah kita bekerja bagi Tuhan , kita tetap
harus melayani Tuhan , terus melayaninya sepanjang waktu.
3. Tugas utama kita yaitu memastikan terlaksananya kewajiban
kita dahulu, dan menyerahkan sisanya ke tangan Guru kita,
untuk memberikan penghiburan bagi kita di saat dan dengan
cara yang Dia anggap paling baik. Tidak satu pun pelayan bo-
leh berharap mendengar majikannya berkata, “Mari segera
makan!” Ada saatnya untuk mendengar perkataan seperti itu
jika kita telah melaksanakan pekerjaan kita hari itu. Biarlah
kita selesaikan pekerjaan kita dengan baik terlebih dahulu, dan
upahnya akan menyusul nanti pada waktu yang tepat.
4. Kristus layak dilayani terlebih dahulu daripada kita: Sediakan-
lah makananku, dan sesudah itu engkau boleh makan dan
minum. Orang-orang Kristen yang penuh keragu-raguan berda-
lih bahwa mereka tidak bisa memberi Kristus segala kemulia-
an kasih-Nya seperti yang seharusnya mereka lakukan, sebab
mereka belum merasakan kenikmatan dari kasih-Nya itu. Ini
jelas suatu sikap yang keliru. Pertama-tama, biarlah Kristus
yang mendapatkan kemuliaan, biarlah kita melayani-Nya de-
ngan puji-pujian, maka sesudah itu kita akan makan dan mi-
num di dalam kenikmatan kasih-Nya, dan di sanalah ada
jamuan besar.
5. saat harus melayani Kristus, para pelayan-Nya harus meng-
ikat pinggang, membebaskan diri mereka dari segala sesuatu
yang menghalang-halangi, dan mempersiapkan pikiran mereka
untuk melanjutkan dan menuntaskan pekerjaan mereka. Mere-
ka harus menyiapkan akal budi mereka. saat kita telah mem-
persiapkan segala sesuatu bagi Kristus, telah menyiapkan ma-
kanan-Nya, kita lalu harus mengikat pinggang kita untuk mela-
yani-Nya. Inilah yang diharapkan dari para hamba, dan Kristus
juga mungkin menginginkan hal yang sama dari kita, walau-
pun Ia tidak memaksakan hal ini . Dia yaitu orang yang
melayani di antara para murid-murid-Nya, dan tidak seperti ke-
banyakan tuan, Dia tidak datang untuk memegahkan diri,
tidak pula datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani;
lihatlah bagaimana Ia membasuh kaki murid-murid-Nya.
6. Hamba-hamba Kristus tidak lantas layak menerima ucapan te-
rima kasih-Nya atas pelayanan yang mereka kerjakan bagi Dia:
“Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu? Apakah ia pikir
bahwa dengan begitu dia berutang kepada hambanya itu?
Tentu saja tidak.” Tidak satu pun pekerjaan baik kita layak
menerima balasan apa pun dari tangan Tuhan . Kita tentu saja
mengharapkan kebaikan Tuhan , namun bukan sebab kita telah
menjadikan-Nya berutang budi kepada kita, melainkan sebab
Dia telah menjadikan diri-Nya sendiri berutang kepada kehor-
matan-Nya sendiri melalui janji-janji-Nya, dan inilah yang bisa
kita mohonkan kepada-Nya, dan tidak untuk dituntut dari-Nya
sebagai quantum meruit – upah atau balasan.
7. Apa pun yang kita lakukan bagi Kristus, walaupun mungkin
lebih banyak dari yang dilakukan orang lain, semua itu tetap
sudah menjadi kewajiban yang harus kita kerjakan. Meski kita
harus melaksanakan segala sesuatu yang ditugaskan Tuhan ke-
pada kita, (walaupun begitu ternyata ada banyak yang tidak
kita kerjakan), tetap saja semua yang kita kerjakan itu tidak-
lah melebihi apa yang diwajibkan kepada kita. Semua peker-
jaan itu merupakan kewajiban kita berdasarkan hukum Tuhan
yang pertama dan yang terutama, yaitu mengasihi Tuhan de-
ngan segenap hati dan jiwa kita, termasuk melakukan yang
terbaik yang dapat kita kerjakan.
8. Hamba-hamba Kristus yang terbaik pun, sekalipun melakukan
pelayanan terbaik, tetap saja harus mengakui dengan rendah
hati bahwa mereka hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna.
Meskipun mereka tidaklah sama dengan hamba-hamba tidak
berguna yang mengubur talentanya dan yang akan dilemparkan
ke dalam kegelapan yang terkelam, tetap saja bagi Kristus, me-
reka itu hamba-hamba yang tidak berguna, walaupun mereka
mendatangkan keuntungan kepada-Nya dengan pelayanan me-
reka itu. Kebajikan kita tiada sampai kepada Tuhan , jikalaupun
engkau benar, apakah yang kau berikan kepada Dia? (Mzm.
16:2; Ayb. 22:2; 35:7). Tuhan tidak mendapatkan keuntungan
apa-apa dengan pelayanan kita, dan sebab itulah Dia tidak ber-
utang budi kepada kita. Dia tidak membutuhkan kita, dan pela-
yanan kita tidak akan bisa menambah kesempurnaan-Nya. Ka-
rena itulah kita layak menyebut diri kita sebagai hamba-hamba
yang tidak berguna, dan menyebut pelayanan-Nya sebagai pela-
yanan yang berguna, sebab Tuhan berbahagia tanpa kita, namun
kita akan celaka tanpa Dia.
Sepuluh Orang Kusta
(17:11-19)
11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria
dan Galilea. 12 saat Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kus-
ta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 13 dan berteriak: “Yesus,
Guru, kasihanilah kami!” 14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergi-
lah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di
tengah jalan mereka menjadi tahir. 15 Seorang dari mereka, saat melihat
bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Tuhan dengan suara nya-
ring, 16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-
Nya. Orang itu yaitu seorang Samaria. 17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah
kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang
sembilan orang itu? 18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk
memuliakan Tuhan selain dari pada orang asing ini?” 19 Lalu Ia berkata ke-
pada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan
engkau.”
Di sini diceritakan mengenai kesembuhan sepuluh orang kusta, yang
tidak kita temukan di dalam kitab-kitab Injil lainnya. Kusta meru-
pakan sebuah penyakit yang dianggap orang Yahudi sebagai hukum-
an atas dosa tertentu, dan terkena penyakit ini, lebih dari penyakit
lainnya, diartikan sebagai tanda ketidaksenangan Tuhan . Dan oleh
sebab itulah Kristus, yang datang untuk menghapuskan dosa dan
melenyapkan murka, sangat peduli untuk mentahirkan orang kusta
yang Ia temui dalam perjalanan-Nya. Kristus sedang menuju Yeru-
salem, di tengah-tengah perjalanan-Nya, di mana Dia tidak begitu ba-
nyak memiliki kenalan bila dibandingkan dengan yang dimiliki-Nya di
Yerusalem ataupun di Galilea. Dia telah berada di garis batas wila-
yah, perbatasan yang menghampar di antara Samaria dan Galilea.
Dia melewati jalan itu untuk menemukan orang-orang kusta itu dan
menyembuhkan mereka, sebab Dia berkenan ditemukan oleh orang
yang tidak mencari-Nya.
Perhatikanlah:
I. Permintaan orang-orang kusta itu kepada Kristus. Mereka berse-
puluh, sebab, meskipun mereka dikucilkan dari pergaulan dengan
orang lain, mereka tetap leluasa untuk bergaul dengan sesama
penderita kusta lainnya, dan hal itu menghiburkan mereka, sebab
dengan begitu mereka memiliki kesempatan untuk saling berbagi
dan saling menguatkan.
Kini perhatikanlah:
1. Mereka menemui Kristus saat Ia memasuki suatu desa. Mere-
ka tidak membiarkan-Nya beristirahat terlebih dahulu sesudah
perjalanan jauh, melainkan segera menemui-Nya begitu Ia me-
masuki desa, dengan tubuh yang pasti masih letih. Namun,
Dia tetap tidak mengusir mereka ataupun menunda-nunda
melayani perkara mereka.
2. Mereka tinggal berdiri agak jauh, sebab mereka tahu bahwa
berdasarkan hukum Taurat, penyakit mereka itu mengharus-
kan mereka untuk menjaga jarak. Kesadaran akan penyakit
kusta rohani kita haruslah membuat kita rendah hati saat
datang menghampiri-Nya. Siapakah kita ini, sehingga berani
mendekat kepada Dia yang benar-benar kudus? Kita sendiri
jauh dari kudus.
3. Mereka sepakat meminta satu hal, dan benar-benar gigih me-
mohonkannya (ay. 13): Mereka berteriak, sebab mereka berada
agak jauh, dan berseru, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
Orang-orang yang mengharapkan bantuan dari Kristus harus
memandang-Nya sebagai Guru dan taat terhadap perintah-
Nya. Jika Dia yaitu Guru, maka itu berarti bahwa Dia juga
yaitu Yesus, Sang Juruselamat, dan bukan sebaliknya. Mere-
ka tidak secara khusus meminta supaya disembuhkan dari
penyakit kusta, melainkan memohon, “Kasihanilah kami”; dan
itu pun cukup untuk menimbulkan belas kasihan Kristus, se-
bab belas kasihan-Nya tak habis-habisnya. Mereka telah men-
dengar tentang Yesus (sekalipun Ia sendiri jarang berkhotbah
di daerah itu), dan itulah yang meneguhkan mereka untuk
meminta pertolongan dari-Nya. Dan memang, jika ada satu
orang saja yang memulai permohonan yang sederhana seperti
itu, maka semua yang lain pun akan ikut bergabung.
II. Kristus mengirim mereka kepada imam, supaya diperiksa oleh
imam, yang merupakan pengadil dalam hal penyakit kusta.
Kristus tidak mengatakan bahwa mereka pasti akan sembuh. Ia
hanya menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri kepada
imam-imam (ay. 14). Hal itu merupakan ujian bagi ketaatan me-
reka, dan mereka memang pantas diuji sebagaimana Naaman
yang disuruh pergi mandi dalam sungai Yordan. Perhatikanlah,
orang-orang yang mengharapkan kebaikan Kristus haruslah ber-
sedia mendapatkannya dengan cara yang telah Ia tentukan. Bebe-
rapa dari orang kusta ini mungkin saja ingin membantah suruhan
itu: “Kalau Dia mau, seharusnya Dia langsung saja menyembuh-
kan kita. namun kalau tidak, Dia sebaiknya berterus-terang saja.
Tidak usah suruh kita pergi menemui imam-imam seperti ini.”
Akan namun , sebab sisanya setuju, maka akhirnya mereka semua
pergi menghadap imam. Oleh sebab hukum tata cara masih
berlaku, Kristus pun berhati-hati menjaga hukum ini su-
paya dijalankan dan supaya nama baik hukum itu tetap dijaga. Ia
juga ingin menjaga agar penghormatan yang selayaknya tetap di-
berikan kepada para imam yang menjalankan tugas mereka se-
suai dengan hukum itu. Akan namun , mungkin juga Ia memiliki
rencana lain, yaitu supaya imam itu bisa menilai dan menyaksi-
kan kesempurnaan kesembuhan ini , dan supaya sang imam
menjadi tergugah, dan menggugah rekan-rekan imamnya yang
lain untuk mencari tahu mengenai pribadi yang memiliki kuasa
sebegitu dahsyatnya atas penyakit-penyakit tubuh.
III. Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir, se-
hingga mereka layak untuk diperiksa oleh sang imam dan disah-
kan olehnya bahwa mereka telah menjadi tahir. Perhatikanlah,
kita barulah dapat berharap Tuhan akan menyongsong kita dengan
belas kasihan-Nya bila kita didapati sedang menjalankan tugas
kita. Jika kita melakukan apa yang kita bisa, Tuhan tidak akan se-
gan-segan turun tangan untuk melakukan apa yang tidak mampu
kita lakukan. Pergilah, jalankanlah segala perintah dan ketetapan.
Pergilah, berdoalah dan bacalah firman Tuhan : Pergilah, perlihat-
kanlah dirimu kepada imam-imam; pergilah dan ungkapkanlah
perkaramu di hadapan hamba Tuhan yang setia. Segala sarana itu
tidaklah dengan sendirinya punya kekuatan untuk memulihkan-
mu, namun Tuhan sendirilah yang akan memulihkan engkau mela-
lui sarana-sarana ini .
IV. Seorang dari mereka, hanya seorang saja, kembali, untuk meng-
ucap syukur (ay. 15). saat melihat bahwa ia telah sembuh, dia
tidak lantas terus pergi menemui sang imam untuk dinyatakan
tahir olehnya dan dibebaskan dari segala pengucilan yang sebe-
lumnya telah mengungkungnya, seperti yang hendak dilakukan
oleh sembilan orang lainnya, melainkan kembali kepada Dia yang
merupakan sumber dari kesembuhannya itu. Ia ingin memberikan
kemuliaan kepada-Nya terlebih dahulu, sebelum ia mengecap ke-
baikan-Nya. Kelihatannya dia begitu tulus dan bersungguh-sung-
guh dalam pengucapan syukurnya itu: Ia memuliakan Tuhan de-
ngan suara nyaring, mengakui bahwa kesembuhannya itu berasal
dari Dia. Ia mengangkat suaranya dalam puji-pujian, seperti yang
dilakukannya saat berseru memohon kepada-Nya (ay. 13).
Orang-orang yang telah menerima belas kasihan dari Tuhan harus-
lah mengumandangkannya kepada orang lain, supaya mereka da-
pat memuji Tuhan juga, dan didorong melalui pengalaman mereka
itu, memercayai Tuhan . Akan namun , dia juga mengungkapkan rasa
syukurnya kepada Kristus dengan cara yang istimewa (ay. 16): Ia
lalu tersungkur di depan kaki Yesus, dalam sikap hormat yang
menunjukkan kerendahan hati yang paling dalam, dan mengucap
syukur kepada-Nya. Perhatikanlah, kita harus mengucap syukur
atas kebaikan yang telah Kristus limpahkan kepada kita, teruta-
ma atas kesembuhan penyakit kita, dan kita haruslah bergegas
dalam melayangkan pujian, tidak menunda-nundanya, sebab bisa
saja waktu akan melunturkan kesadaran kita akan belas kasihan
ini . Kita juga wajib merendahkan diri saat mengucapkan
syukur, seperti saat berdoa. Sudah merupakan kewajiban ketu-
runan Yakub, sebagaimana dia sendiri, untuk mengakui diri me-
reka sebagai yang paling hina dan tidak layak menerima belas
kasihan Tuhan , sesudah mereka menerima belas kasihan itu, se-
perti halnya saat mereka sedang meminta belas kasihan terse-
but.
V. Kristus memperhatikan yang seorang itu, yang dengan demikian
terlihat menonjol dari yang lainnya. Kelihatannya dia yaitu se-
orang Samaria, sementara yang lainnya yaitu orang-orang Yahu-
di (ay. 16). Orang-orang Samaria terpisah dari jemaat Yahudi dan
tidak memiliki pengetahuan dan ibadah penyembahan yang murni
terhadap Tuhan seperti yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi.
Akan namun , justru seorang Samaria-lah yang memuliakan Tuhan
saat orang-orang Yahudi lupa melakukannya, atau bahkan me-
nolak untuk melakukannya.
Kini perhatikanlah di sini:
1. Perhatian khusus yang diberikan Kristus kepadanya. Orang Sa-
maria itu kembali untuk berterima kasih. Padahal yang lainnya
menunjukkan sikap tidak berterima kasih walaupun mereka
juga sama-sama menikmati belas kasihan Kristus. Ternyata
justru orang asing di negeri Israellah yang menjadi satu-satu-
nya orang yang kembali untuk memuliakan Tuhan (ay. 17-18).
Lihatlah di sini:
(1) Betapa murah hatinya Kristus dalam berbuat baik: Bukan-
kah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di
sini terjadi penyembuhan secara besar-besaran, semua si
sakit dipulihkan dengan hanya sebuah perkataan saja. Per-
hatikanlah, ada kelimpahan penyembuhan di dalam darah
Kristus, yang cukup bagi semua pasien-Nya, betapapun
banyaknya jumlah mereka itu. Kita lihat di sini sepuluh
orang ditahirkan sekaligus. Jadi, kita tidak akan kehabisan
anugerah dengan membaginya bersama orang lain.
(2) Betapa pelitnya kita dalam membalas budi: “Di manakah
yang sembilan orang itu? Mengapa mereka tidak kembali
untuk berterima kasih?” Hal ini menyiratkan bahwa sikap
tidak tahu berterima kasih yaitu dosa yang kerap ditemu-
kan. Dari antara banyak orang yang menerima belas kasih-
an Tuhan , hanya ada sedikit, sangat sedikit, yang kembali
untuk berterima kasih dengan cara yang benar (bahkan ku-
rang dari satu berbanding sepuluh), yang bersikap tahu
membalas budi atas kebaikan yang telah mereka terima.
(3) Betapa seringnya terjadi bahwa yang paling berterima kasih
justru yaitu orang yang paling tidak terduga akan mela-
kukannya. Seorang Samaria mengucap syukur, sementara
orang Yahudi tidak. Begitulah, banyak orang yang meng-
aku-ngaku beragama dikalahkan dan dipermalukan oleh
orang-orang yang hanya mengikuti dorongan rohani ala-
miah saja, bukan hanya dalam hal nilai-nilai moral, namun
juga di dalam kesalehan dan bakti. Hal ini memperberat
kesalahan orang-orang Yahudi yang tidak tahu berterima
kasih itu, yang menurut Kristus telah menyepelekan ke-
baikan-Nya. Hal itu juga menunjukkan bahwa Kristus
sungguh layak untuk merasa kesal sebab sikap umat ma-
nusia yang tidak tahu berterima kasih itu. Dia telah ber-
buat begitu banyak bagi mereka, namun hanya menerima
begitu sedikit saja balas budi dari mereka.
2. Peneguhan besar yang Kristus berikan baginya (ay. 19). Ke-
sembilan orang lainnya memang mendapatkan kesembuhan,
dan kesembuhan itu tidak ditarik kembali, walaupun hal sede-
mikian pantas diterima oleh mereka yang tidak tahu berterima
kasih itu, bahkan sekalipun mereka melihat suatu teladan si-
kap berterima kasih di depan mata mereka. Akan namun , orang
ini mendapatkan peneguhan atas kesembuhannya itu secara
khusus, dengan sebuah pujian istimewa: Imanmu telah menye-
lamatkan engkau. Kesembilan orang lainnya dipulihkan oleh
kuasa Kristus, oleh belas kasihan-Nya atas kesulitan mereka,
dan sebagai jawaban atas doa mereka. Akan namun orang Sa-
maria itu diselamatkan oleh imannya, yang membuatnya me-
nonjol di mata Kristus. Perhatikanlah, berkat-berkat semen-
tara yang kita peroleh di dunia ini akan dilipatgandakan dan
terasa manis bagi kita bila didapatkan melalui doa yang penuh
iman dan disyukuri dengan puji-pujian yang juga penuh iman.
Kemajuan Kerajaan Kristus; Kehancuran Yerusalem
(17:20-37)
20 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, jika Kerajaan Tuhan akan datang,
Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Tuhan datang tanpa tanda-tanda la-
hiriah, 21 juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada
di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada di antara kamu.” 22 Dan Ia
berkata kepada murid-murid-Nya: “Akan datang waktunya kamu ingin meli-
hat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihat-
nya. 23 Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada
di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. 24 Sebab sama seperti
kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, de-
mikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. 25
namun Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh
angkatan ini. 26 Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah
halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: 27 mereka makan dan minum,
mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam
bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. 28 Demi-
kian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum,
mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. 29 namun
pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang
dari langit dan membinasakan mereka semua. 30 Demikianlah halnya kelak
pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. 31 Barangsiapa pada
hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di
dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga
orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. 32 Ingatlah akan isteri
Lot! 33 Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nya-
wanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkan-
nya. 34 Aku berkata kepadamu: Pada malam itu ada dua orang di atas satu
tempat tidur, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. 35
Ada dua orang perempuan bersama-sama mengilang, yang seorang akan
dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” 36 [Kalau ada dua orang di ladang,
yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.] 37 Kata mereka
kepada Yesus: “Di mana, Tuhan?” Kata-Nya kepada mereka: “Di mana ada
mayat, di situ berkerumun burung nasar.”
Di sini kita mendapati perkataan Kristus mengenai kerajaan Tuhan ,
yaitu kerajaan Mesias, yang kini segera didirikan, dan yang sudah la-
ma dinanti-nantikan.
I. Di sini kita temui pertanyaan orang-orang Farisi mengenai hal ke-
rajaan Tuhan , yang mengawali percakapan Kristus. Mereka berta-
nya jika Kerajaan Tuhan akan datang, yang menunjukkan
pikiran mereka bahwa kerajaan itu bersifat sementara atau dunia-
wi, yang akan meninggikan bangsa Yahudi di atas segala bangsa
di bumi ini. Mereka tidak sabar untuk mendengar kabar mengenai
kedatangannya. Mereka mungkin mengetahui bahwa Kristus telah
mengajarkan para murid-Nya untuk mendoakan kedatangan ke-
rajaan itu, dan bahwa murid-murid-Nya itu telah lama memberi-
takan bahwa kerajaan Tuhan sudah dekat. “Nah,” kata orang-orang
Farisi, “kapankah pemandangan yang menakjubkan itu akan di-
mulai? Kapankah kita dapat melihat kerajaan yang sudah lama
dinanti-nantikan itu?”
II. Jawaban Kristus mengenai pertanyaan ini , yang diarahkan
pertama-tama kepada orang-orang Farisi terlebih dahulu, kemu-
dian kepada para murid-Nya sendiri, yang dapat memahaminya
dengan lebih baik (ay. 22). Apa yang Ia katakan kepada kedua
pihak ini juga ditujukan bagi kita.
1. Bahwa kerajaan Mesias yaitu suatu kerajaan rohani, tidak
bersifat sementara dan lahiriah. Mereka bertanya bilamana ke-
rajaan itu akan datang. “Kamu tidak tahu apa yang kamu ta-
nyakan,” kata Kristus, “mungkin saja kerajaan itu sudah
datang, namun kamu bahkan tidak menyadarinya.” Sebab, ke-
rajaan itu tidak memiliki tanda-tanda lahiriah seperti yang di-
miliki oleh kerajaan-kerajaan lainnya, tidak memiliki kegemi-
langan dan gejolak seperti yang diperhatikan oleh bangsa-
bangsa di bumi ini dan dimuat dalam surat-surat kabar. De-
mikianlah rupa kerajaan Tuhan yang mereka harapkan itu.
“Tidak,” kata Kristus,
(1) “Kerajaan itu akan datang secara diam-diam, tanpa keme-
wahan, tanpa hingar-bingar, tanpa tanda-tanda lahiriah,”
meta paratereseos – tanpa pamer fisik atau lahiriah. Mereka
ingin rasa penasaran mereka dipuaskan dengan mengeta-
hui kapan semuanya itu akan terjadi. namun Kristus tidak
menjawab mereka. Sebaliknya, Ia memperbaiki kekeliruan
anggapan mereka mengenai sifat kerajaan ini . “Eng-
kau tidak perlu mengetahui masa kerajaan ini, sebab hal itu
merupakan hal-hal tersembunyi, yang bukan menjadi hak-
mu. Akan namun , maksud agung dari kerajaan itu yaitu
hal-hal yang dinyatakan.” Saat Mesias Sang Raja datang
untuk mendirikan kerajaan-Nya, mereka tidak akan ber-
kata, “Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!”, seperti saat
seorang raja datang mengunjungi daerah kekuasaannya
dan menjadi buah bibir semua orang, dia ada di sini, atau
dia ada di sana, sebab di mana ada raja, di situ ada istana-
nya. Kristus tidak akan datang dengan semua gegap gem-
pita seperti itu. Kerajaan-Nya tidak akan didirikan di tem-
pat ini atau di tempat itu. Begitu pula istana kerajaan-Nya
tidak akan ada di sini atau di sana. Kerajaan-Nya tidak ada
di tempat itu atau di tempat ini, seperti halnya manusia
dengan tempat tinggalnya, seolah-olah tempat itu akan
membuat mereka lebih dekat atau lebih jauh darinya.
Orang-orang yang membatasi Kekristenan dan gereja hanya
sebatas wilayah atau golongan, akan berseru, ia ada di sini
atau ia ada di sana, yang benar-benar berlawanan dengan
rancangan Kekristenan secara keseluruhan. Hal ini terjadi
pula dengan orang-orang yang menjadikan kemakmuran
dan kemewahan lahiriah sebagai tanda dari gereja sejati.
(2) “Kerajaan itu memiliki pengaruh rohani: Kerajaan Tuhan ada
di antara kamu.” Kerajaan itu bukan dari dunia ini (Yoh.
18:36). Kemuliaannya tidak memuaskan khayalan manu-
sia, namun memengaruhi jiwa mereka, dan kuasanya meng-
gugah jiwa dan hati nurani mereka. Dari situlah kerajaan
ini mendapatkan kehormatannya, dan bukan dari tu-
buh mereka semata. Kerajaan Tuhan tidak akan mengubah
keadaan lahiriah manusia, melainkan mengubah hati dan
kehidupan mereka. Jadi, kerajaan itu datang saat orang-
orang yang tadinya angkuh, dangkal, dan penuh nafsu,
diubahkan menjadi rendah hati, sungguh-sungguh dan
rohaniah. Inilah yang akan terjadi saat kerajaan itu me-
renggut mereka yang tadinya melekat kepada dunia ini.
sebab itu, carilah kerajaan Tuhan yang mengubah hati, bu-
kan yang memerintah secara lahiriah. Kerajaan Tuhan ada
di antara kamu, begitulah beberapa orang mengartikannya.
“Kamu bertanya kapan kerajaan itu akan datang, namun
tidak menyadari bahwa kerajaan itu sebenarnya telah mu-
lai didirikan di tengah-tengah kamu. Injil telah diberitakan,
diteguhkan oleh mujizat-mujizat, diterima oleh orang ba-
nyak, sehingga itu berarti bahwa kerajaan Tuhan telah ada
di tengah-tengah bangsamu, sekalipun tidak di dalam hati-
mu.” Perhatikanlah, bodoh sekali orang-orang yang mena-
nyakan kapan sesuatu yang mereka sedang cari-cari itu
akan muncul di hadapan mereka, padahal hal itu justru
telah ada di tengah-tengah mereka sendiri.
2. Bahwa pendirian kerajaan ini merupakan sebuah pekerjaan
yang akan berhadapan dengan banyak sekali pertentangan dan
hambatan (ay. 22). Para murid mengira bahwa mereka akan da-
pat melakukan segalanya, dan bahwa pekerjaan mereka akan
selalu berhasil, namun Kristus mengatakan sebaliknya: “Akan
datang waktunya, sebelum kamu menyelesaikan kesaksianmu
dan menunaikan tugasmu, kamu ingin melihat satu dari pada
hari-hari Anak Manusia itu” (seperti yang kini kamu nikmati),
“yang berupa kejayaan dan kemajuan Injil, namun kamu tidak
akan melihatnya. Pertama-tama, memang kamu akan meng-
alami keberhasilan yang menakjubkan” (yang mereka alami
saat ribuan orang ditambahkan ke dalam jemaat dalam satu
hari); “namun keadaan tidak akan selamanya berlangsung demi-
kian; tidak, kamu akan dianiaya dan tercerai-berai, dibungkam
dan dipenjara, sehingga kamu tidak akan memiliki kesempatan
untuk mengabarkan Injil tanpa rasa takut, seperti yang kini
kamu nikmati. Orang-orang akan menjadi dingin terhadap Injil
sesudah mereka menikmatinya untuk sementara waktu, sehing-
ga kamu tidak akan melihat tuaian jiwa bagi Kristus secara
besar-besaran seperti yang pertama-tama terjadi, ataupun
orang banyak yang berdesak-desakan mengikuti-Nya seperti
burung merpati ke pintu kandangnya.” Inilah yang harus diha-
dapi para murid-Nya di abad-abad mendatang, mereka harus
siap mengalami banyak kekecewaan. Injil tidak akan selalu da-
pat diberitakan dengan penuh keleluasaan dan keberhasilan
seperti itu. Para hamba Tuhan dan gereja-gereja terkadang harus
berada di bawah tekanan dari luar. Para guru akan dipojokkan,
dan persekutuan rohani akan dicerai-beraikan. Maka mereka
akan berharap dapat melihat hari-hari yang penuh kesempatan
seperti yang telah mereka nikmati sebelumnya, yakni hari-hari
sabat, hari perjamuan, hari khotbah, hari doa. Inilah hari-hari
Anak Manusia itu, saat kita bisa mendengarkan-Nya dan ber-
cakap-cakap dengan-Nya. Akan tiba saatnya saat kita merin-
dukan saat-saat seperti itu namun tidak dapat mengalaminya
lagi. Tuhan mengajari kita untuk memahami betapa berharganya
belas kasihan seperti itu dengan cara membiarkan kita meng-
alami kekurangan belas kasihan ini . Dan sementara hal
itu terus berlanjut, kita haruslah memanfaatkan apa yang kita
punya, serta menimbun di tahun-tahun kelimpahan untuk ber-
jaga-jaga di tahun-tahun kelaparan. Terkadang mereka harus
mengalami tekanan dari dalam, kehilangan tanda hadirat Anak
Manusia di antara mereka, seperti yang mereka miliki sebelum-
nya. Roh Kudus ditarik dari mereka; tanda-tanda tidak mereka
lihat; sang malaikat tidak turun untuk mengguncang-guncang-
kan air kolam; ada kebodohan besar di antara anak-anak ma-
nusia, dan juga kehangatan yang suam-suam kuku di antara
anak-anak Tuhan ; saat itulah mereka akan berharap melihat
hari-hari Anak Manusia yang penuh dengan kemenangan yang
gemilang yang telah kerap mereka saksikan, saat Dia maju
dengan panah dan mahkota-Nya, sebagai pemenang untuk me-
rebut kemenangan, namun mereka tidak akan melihat semua
itu. Perhatikanlah, kita tidak boleh berpikir bahwa gereja dan
kepentingan Kristus telah kalah hanya sebab gereja dan ke-
pentingan-Nya itu tidak selalu kelihatan berhasil.
3. Bahwa Kristus dan kerajaan-Nya tidak boleh dicari-cari di sua-
tu tempat tertentu, sebab penampakan-Nya akan terjadi se-
cara serempak di semua tempat (ay. 23-24): “Orang akan ber-
kata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini; ini
dia orang yang akan menyelamatkan bangsa Yahudi dari ceng-
keraman bangsa Romawi, atau itu dia yang akan menyelamat-
kan orang-orang Kristen dari tekanan bangsa Yahudi; ini dia
Sang Mesias, dan itu nabi-Nya; ia ada di gunung sini, atau di
Yerusalem sana kamu akan menemukan gereja yang benar.
Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut, jangan dengar-
kan perkataan seperti itu. Kerajaan Tuhan tidak dirancangkan
bagi kemuliaan satu bangsa saja, melainkan untuk memberi
terang bagi bangsa bukan-Yahudi; sebab sama seperti kilat
memancar dengan tiba-tiba tanpa bisa dicegah dari ujung la-
ngit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak
halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.”
(1) “Penghakiman yang akan menghancurkan bangsa Yahudi,
memporak-porandakan mereka dan menyelamatkan orang-
orang Kristen dari cengkeraman tangan mereka, akan ter-
bang seperti kilat di sepanjang negeri, akan meluluh-lantak-
kan semuanya dari satu ujung ke ujung yang lainnya, dan
orang-orang yang telah ditetapkan untuk mengalami kebi-
nasaan ini tidak akan mampu menghindarinya, sebagaima-
na mereka tidak mampu menghindar dari serangan kilat.”
(2) “Injil yang hendak mendirikan kerajaan Kristus di dunia ini
akan terbang seperti kilat di antara seluruh bangsa. Keraja-
an Mesias tidaklah dimaksudkan untuk terjadi di satu tem-
pat saja, namun harus tersebar luas ke seluruh bumi. Injil
itu akan memancar dari Yerusalem ke seluruh wilayah di
sekelilingnya, dan hal itu terjadi dalam sekejap mata. Kera-
jaan-kerajaan di bumi ini akan diubahkan oleh Injil bahkan
sebelum mereka menyadarinya.” Tugu-tugu kemenangan
Kristus akan didirikan di atas reruntuhan kerajaan Iblis,
bahkan di negeri-negeri yang tidak pernah dapat ditakluk-
kan oleh kekuasaan bangsa Romawi. Rancangan pendirian
kerajaan Kristus bukanlah untuk membuat sebuah bangsa
menjadi hebat, melainkan untuk menjadikan segala bangsa
baik – atau setidaknya, sebagian dari bangsa-bangsa. Dan
tujuan ini akan tercapai, meskipun rusuh bangsa-bangsa
dan raja-raja dunia bersiap-siap menentangnya dengan se-
genap kekuatan mereka.
4. Bahwa Sang Mesias harus menderita sebelum Ia berkuasa (ay.
25): “namun Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu,
banyak kesulitan, dan ditolak oleh angkatan ini. Dan, jika Ia
diperlakukan demikian, maka murid-murid-Nya harus bersiap
juga untuk mengalami penderitaan dan ditolak demi Dia.” Me-
reka mengira akan menyaksikan kerajaan Mesias didirikan
dalam kemegahan lahiriah: “Tidak,” kata Kristus, “kita harus
berjalan menuju mahkota melalui salib. Anak Manusia harus
menanggung banyak penderitaan. Kesakitan, aib, dan kemati-
an termasuk dalam banyak penderitaan ini . Dia akan
ditolak oleh angkatan orang-orang Yahudi yang tidak percaya
ini, sebelum Dia disambut oleh angkatan lain, yaitu angkatan
orang-orang bukan-Yahudi yang percaya, supaya Injil-Nya
mendapat kehormatan sebab mengalahkan perseteruan ter-
sengit dari orang-orang yang seharusnya justru memberikan
sokongan terbesar. Dengan begitu, kegemilangan kuasa akan
terbukti milik Tuhan , dan bukan milik manusia. Sebab, meski-
pun Israel tidak terkumpulkan, Dia tetap akan dimuliakan di
seluruh penjuru bumi.”
5. Bahwa pendirian kerajaan Mesias akan menghantarkan kebi-
nasaan bagi bangsa Yahudi, yang didapatinya sedang terlena
dalam kenyamanan, dan terbenam dalam nafsu kedagingan,
sebagaimana dunia purba pada zaman Nuh, dan Sodom pada
masa Lot (ay. 26, dst.).
Perhatikanlah:
(1) Bagaimana keadaan para pendosa dulu, dan dengan cara
apakah Tuhan menghakimi mereka. Pada akhirnya pengha-
kiman itu datang juga menimpa mereka, sekalipun mereka
telah diperingatkan sebelumnya. Tengoklah sampai jauh ke
dunia purba, saat semua manusia menjalankan hidup yang
rusak, dan bumi telah penuh dengan kekerasan. Tiliklah
dengan lebih saksama, dan pikirkan apa yang terjadi pada
orang-orang Sodom, yang sangat jahat dan berdosa terha-
dap TUHAN.
Kini perhatikanlah kedua hal berikut ini:
[1] Mereka telah diperingati secara adil sebelumnya, menge-
nai kehancuran yang hendak menimpa sebab dosa-
dosa mereka. Nuh yaitu seorang pemberita kebenaran
kepada dunia purba itu, sebagaimana Lot kepada pen-
duduk Sodom. Keduanya telah memperingatkan orang-
orang itu tentang apa yang akan mengakhiri jalan hidup
mereka yang jahat, dan bahwa hukuman itu akan
datang dengan segera.
[2] Orang-orang itu tidak mengindahkan peringatan terse-
but, tidak menghormatinya, dan tidak memperhatikan-
nya sama sekali. Mereka sangat yakin dan terus saja me-
lanjutkan kegiatan mereka sehari-hari tanpa rasa khawa-
tir, seperti yang dapat Anda bayangkan. Mereka makan
dan minum, memanjakan diri mereka dalam kenikmatan,
dan tidak mempedulikan apa pun selain merawat tubuh
untuk memuaskan keinginannya, mengandalkan keadaan
mereka saat itu yang jaya, dan sebab itulah mereka
kawin dan dikawinkan, supaya keluarga mereka tetap
berdiri tegak. Mereka semua bersukaria. Begitulah orang-
orang Sodom. Dan bukan itu saja, mereka juga sangat
sibuk: mereka membeli dan menjual, mereka menanam
dan membangun. Semua kegiatan ini memang tidak
melanggar hukum, namun kesalahan mereka yaitu kare-
na mereka terlalu memuja-muja semua itu, dan hati me-
reka melekat erat kepadanya, sehingga tidak punya
ruang lagi dalam hati mereka untuk bersiap-siap meng-
hadapi penghakiman yang sudah dikumandangkan itu.
Saat mereka seharusnya, seperti yang dilakukan orang-
orang Niniwe, berpuasa dan berdoa, bertobat dan meng-
ubah jalan hidup mereka saat mendengar peringatan me-
ngenai penghakiman yang akan segera menimpa, mereka
malah tenang-tenang saja makan daging dan minum ang-
gur. Padahal Tuhan menyuruh mereka untuk menangis
dan meratap (Yes. 22:12-13).
[3] Mereka terus saja berada di dalam kenyamanan dan ke-
dagingan, sampai penghakiman yang telah diperingat-
kan itu benar-benar datang. Sampai hari saat Nuh me-
masuki bahteranya, dan Lot keluar dari Sodom, tidak
ada satu hal pun yang telah dikatakan atau dilakukan
bagi mereka yang mampu membangkitkan kesadaran
dan kewaspadaan mereka. Perhatikanlah, memang
aneh bahwa para pendosa itu begitu bodohnya untuk
terus berkubang dalam jalan hidup yang kotor. Namun,
janganlah kita menganggapnya aneh, sebab sudah ba-
nyak contoh yang kita dapati. Kelakuan seperti itu ada-
lah jalan lama, yang dilalui orang-orang jahat yang ber-
jalan menuju neraka di dalam tidur mereka, seakan-
akan penghukuman mereka mendorong mereka untuk
berlaku seperti itu.
[4] Tuhan memperhatikan keselamatan orang-orang milik-Nya,
yang percaya dan takut, dan yang memperhatikan per-
ingatan yang mereka beritahukan sendiri kepada orang
lain. Nuh memasuki bahtera itu, dan ia selamat. Lot ke-
luar dari Sodom, dan dengan begitu melarikan diri dari
bahaya. Jika beberapa orang berlari dengan serampangan
dan langsung menuju kebinasaan, hal itu tidak akan
menghalangi keselamatan orang-orang yang percaya.
[5] Mereka terkejut dengan kebinasaan yang tadinya tidak
mereka takutkan itu, lalu tenggelam di dalam ketakutan
dan keterpanaan yang tiada terucapkan. Air bah datang
dan membinasakan semua pendosa di dunia purba; hu-
jan api dan hujan belerang turun dan membinasakan se-
mua pendosa di Sodom. Tuhan memiliki banyak anak pa-
nah dalam tabung panah-Nya, dan memakai yang mana
saja yang Ia kehendaki untuk berperang melawan
orang-orang yang memberontak terhadap-Nya, sebab
panah yang mana saja akan selalu ampuh. Akan namun
yang dimaksudkan di sini yaitu untuk menunjukkan
kebinasaan mengejutkan yang mengerikan, yang akan
menimpa orang-orang yang merasa tenang-tenang saja
dalam nafsu kedagingan mereka.
(2) Apa yang masih tetap akan menimpa para pendosa (ay. 30):
Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manu-
sia menyatakan diri-Nya. Saat Kristus datang untuk mem-
binasakan bangsa Yahudi, melalui pasukan Romawi, seba-
gian besar bangsa itu merasa diri aman-aman saja dan ber-
sikap masa bodoh. Mereka sudah mendengar peringatan
yang kini dikatakan Kristus, yang akan diulangi lagi oleh
para rasul sesudah Dia, seperti yang dilakukan Nuh dan
Lot. namun semua peringatan itu sia-sia belaka. Mereka
akan terus saja berkelakuan semaunya, tidak acuh dan
menentang Kristus serta Injil-Nya sampai semua orang
Kristen dipisahkan dari mereka dan dipindahkan ke tempat
yang aman. Tuhan akan memelihara orang-orang Kristen itu
di seberang sungai Yordan, dan kemudian banjir pengha-
kiman akan menimpa dan membinasakan semua orang Ya-
hudi yang tidak percaya. Orang pasti berpikir bahwa per-
kataan Juruselamat kita ini, yang terbuka untuk umum
dan diberitakan kepada dunia tidak lama sesudah nya, ha-
rusnya sudah berhasil menggugah mereka. namun kenyata-
annya tidak demikian, sebab hati orang-orang itu telah
menjadi keras, sampai binasa. Dengan cara yang serupa
pula, saat Yesus Kristus datang untuk menghakimi dunia
di akhir zaman, para pendosa akan didapati sedang berle-
ha-leha dan hidup serampangan. Mereka tidak peduli ter-
hadap penghakiman yang akan segera menimpa, yang aki-
batnya akan menjerat mereka seperti sebuah perangkap.
Dengan cara yang sama pula para pendosa di segala zaman
akan terus berkubang dalam jalan hidup mereka yang
jahat, dan tidak memperhatikan kesudahan mereka atau-
pun pertanggungjawaban yang harus mereka berikan.
Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion.
6. Para murid dan pengikut Kristus harus membedakan diri dari
orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada masa itu, dan
meninggalkan mereka, kota dan negeri mereka, untuk melari-
kan diri begitu tanda-tanda sudah dinyatakan, sesuai dengan
petunjuk yang diberikan. Biarlah mereka undur, seperti Nuh
memasuki bahteranya, dan Lot yang menuju Zoar. Engkau
tadinya mau menyembuhkan Yerusalem, sebagaimana Babel
tua itu, namun ia tidak dapat disembuhkan, dan sebab itu ting-
galkanlah dia, larilah dari tengah-tengahnya, dan hendaklah
setiap orang menyelamatkan nyawanya (Yer. 51:6, 9).
(1) Pelarian mereka dari Yerusalem itu haruslah dilaksanakan
dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda sebab urus-
an duniawi (ay. 31): “Barangsiapa pada hari itu sedang di
peranginan di atas rumah, saat peringatan itu dikuman-
dangkan, janganlah ia turun untuk mengambil barang-ba-
rangnya, sebab dia tidak boleh membuang-buang waktu
dan juga barang-barang ini hanya akan menghalangi
dan menghambat pelariannya.” Janganlah peduli dengan
barang-barangnya di saat-saat seperti itu, sebab dapat
memiliki nyawanya menjadi jarahan baginya saja sudah
merupakan sebuah mujizat di kala seperti itu. Lebih baik
meninggalkan barang-barangnya daripada membawanya
namun harus binasa bersama-sama dengan orang yang tidak
percaya. Mereka harusnya lebih memusatkan diri untuk
melakukan apa yang harus diperbuat Lot dan keluarganya:
Larilah, selamatkanlah nyawamu. Berilah dirimu diselamat-
kan dari angkatan yang jahat ini.
(2) Saat mereka telah berhasil membebaskan diri, mereka ti-
dak boleh memikirkan untuk kembali (ay. 32): “Ingatlah
akan istri Lot dan tariklah pelajaran darinya supaya kamu
tidak hanya kabur dari kota Sodom saja (sebab Yerusalem
akan menjadi seperti Sodom, Yes. 1:10), namun juga me-
nguatkan hati selama masa pelarian itu, dan tidak menoleh
ke belakang, seperti yang dilakukan istri Lot itu. Janganlah
segan untuk meninggalkan tempat yang sudah ditentukan
menjadi binasa, siapa pun juga yang telah kamu tinggalkan
di sana, betapapun mereka orang-orang yang sangat kau
kasihi.” Orang-orang yang telah meninggalkan Sodom hen-
daknya terus maju dan tidak mengarahkan pandangan me-
reka ke sana lagi. Janganlah mereka menoleh ke belakang,
supaya mereka tidak tergoda untuk kembali. Bukan itu
saja, menoleh ke belakang bisa berarti hati mereka kembali
ke sana atau masih melekat di tempat itu. Istri Lot diubah
menjadi tiang garam, supaya dia menjadi tugu peringatan
ketidaksukaan Tuhan terhadap orang-orang yang menjauh
dari Tuhan , yang memulai di dalam roh namun berakhir dalam
daging.
(3) Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan nyawa mereka
selain dengan meninggalkan orang-orang Yahudi. Dan, jika
mereka mengira dapat menyelamatkan diri dengan bekerja
sama dengan orang-orang Yahudi itu, mereka salah besar
(ay. 33): “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, de-
ngan mengundurkan diri dari Kekristenan dan bersekutu
dengan orang-orang Yahudi, ia akan kehilangan nyawanya
bersama-sama mereka dan binasa dalam malapetaka yang
sama. Akan namun , barangsiapa bersedia mempertaruhkan
nyawanya bersama orang-orang Kristen, di atas dasar yang
sama, untuk mengambil bagian dengan mereka dalam ke-
hidupan dan kematian, ia akan menyelamatkan nyawanya,
sebab dia pasti akan mendapatkan hidup yang kekal, dan
lebih mampu menyelamatkan diri daripada orang-orang
yang berpegang pada dasar orang Yahudi atau mengandal-
kan sarana keselamatan mereka.” Perhatikanlah, orang-
orang yang memercayai Tuhan dalam melaksanakan kewa-
jiban mereka berarti sudah melakukan yang terbaik.
7. Semua orang Kristen yang saleh pasti akan berhasil melarikan
diri, namun banyak di antaranya yang hampir-hampir saja ter-
timpa bencana ini (ay. 34-36). saat penghakiman Tuhan
menghancurkan semuanya, Dia akan memastikan bahwa
orang-orang kepunyaan-Nya selamat, dengan cara membeda-
kan mereka dari orang-orang lain yang dekat dengan mereka:
dua orang di atas satu tempat tidur, yang seorang akan dibawa
dan yang lain akan ditinggalkan; yang seorang direnggut dari
api dan dibawa ke tempat perlindungan, sedangkan yang se-
orang lainnya akan ditinggalkan untuk binasa dalam malapa-
teka itu. Perhatikanlah, sekalipun bencana menimpa yang sa-
tu dan yang lainnya, dan segala sesuatu sama bagi sekalian,
namun, cepat atau lambat akan nyata bahwa Tuhan mengenal
siapa milik kepunyaan-Nya dan siapa yang bukan dan Ia tahu
bagaimana menceraikan yang indah-indah dari pada yang
hina. Kita yakin bahwa Hakim segenap bumi pasti menghukum
dengan adil. sebab itulah, saat Ia mengirimkan hukuman de-
ngan sengaja untuk membalaskan kematian Anak-Nya kepada
orang-orang yang telah menyalibkan Dia, Dia pun akan me-
mastikan bahwa orang-orang yang memuliakan-Nya dan ber-
megah di dalam salib-Nya, luput oleh penghakiman itu.
8. Pekerjaan membedakan, memisahkan dan mencerai-beraikan
ini akan dikerjakan di segala tempat, sejauh luas kerajaan
Tuhan (ay. 37). Di mana, Tuhan? Mereka menanyakan wak-
tunya, dan Dia tidak bersedia memuaskan rasa penasaran me-
reka dengan jawaban apa pun mengenai hal itu. Lalu mereka
pun mencobai-Nya lagi dengan pertanyaan lain: “Di mana,
Tuhan? Ke mana orang-orang yang selamat itu akan dibawa?
Di mana orang-orang yang ditinggalkan itu akan binasa?” Ja-
waban yang diberikan-Nya yaitu sebuah pepatah, dan dapat
dijelaskan untuk menjawab pertanyaan itu dari dua sisi: Di
mana ada mayat, di situ berkerumun burung nasar.
(1) Di mana pun orang-orang jahat berada, yaitu mereka yang
ditentukan untuk binasa, penghakiman Tuhan akan mene-
mukan mereka, seperti juga burung-burung akan selalu
mencium bau bangkai dan memangsanya. Bangsa Yahudi
telah menjadikan diri mereka sebagai bangkai mati yang
berbau, menjijikkan di hadapan kekudusan Tuhan dan me-
nentang keadilan-Nya, sehingga di mana pun angkatan
yang tidak percaya itu berada, penghakiman Tuhan akan
tertuju kepada mereka, seperti burung nasar yang mengin-
car mangsanya: Tangan-Mu akan menjangkau semua mu-
suh-Mu (Mzm. 21:9), meskipun sarang mereka ditempatkan
di antara bintang-bintang (Ob. 1:4). Para tentara Romawi
akan memburu orang-orang Yahudi di segala tempat per-
sembunyian mereka, dan tidak seorang pun akan berhasil
meloloskan diri.
(2) Di mana pun orang-orang saleh berada, yaitu mereka yang
ditentukan untuk selamat, mereka akan didapati sedang
menikmati Kristus dengan sukacita. Sebagaimana pembu-
baran jemaat Yahudi akan meluas ke seluruh wilayah, de-
mikian pula dengan pendirian jemaat Kristen. Di mana pun
Kristus berada, orang-orang percaya akan mengerumun-
inya, seperti burung nasar yang mengerumuni mangsanya,
tanpa harus dituntun atau diarahkan, melainkan hanya
dengan dorongan naluri yang baru. Kini Kristus berada di
mana Injil-Nya, ketetapan-Nya, dan jemaat-Nya berada:
Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-
Nya, di situ Dia ada di tengah-tengah mereka, dan di sana
jugalah orang-orang lain akan dikumpulkan kepada-Nya.
Kerajaan Mesias tidak akan memiliki satu tempat sebagai
ibukotanya, sebagaimana Yerusalem menjadi pusat bagi
jemaat Yahudi, tempat semua orang Yahudi berkumpul.
namun , di mana ada mayat, di mana saja Injil diberitakan
dan segala ketetapan dijalankan, di sanalah jiwa-jiwa yang
saleh berkumpul. Di sanalah mereka akan menemukan
Kristus dan menikmati-Nya di dalam iman. Di mana pun
Kristus menorehkan nama-Nya, di situ pula Dia akan me-
nemui umat-Nya dan memberkati mereka (Yoh. 4:21, dst.;
1Tim. 2:8). Banyak penafsir yang cakap mengartikannya
sebagai berkumpulnya orang-orang kudus dengan Kristus
dalam kerajaan-Nya yang mulia: “Jangan tanyakan di ma-
na mayat itu berada, dan bagaimana mereka akan mene-
mukannya, sebab mereka akan mendapat petunjuk yang
jelas. Kepada Dia, yang merupakan sumber kehidupan me-
reka dan Kepala yang menggiatkan mereka, serta pusat
dari kesatuan mereka, kepada Dia-lah seluruh umat-Nya
akan datang berkumpul.”
PASAL 18
Kita temukan dalam pasal ini:
I. Perumpamaan mengenai seorang janda yang keras hati,
yang mengajarkan kita untuk berdoa dengan tidak jemu-
jemu (ay. 1-8).
II. Perumpamaan mengenai seorang Farisi dan pemungut
cukai, yang mengajarkan kita untuk rendah hati dan menge-
nyahkan dosa saat berdoa (ay. 9-14).
III. Perhatian Kristus terhadap anak-anak kecil yang dibawa ke
hadapan-Nya (ay. 15-17).
IV. Ujian yang dihadapi oleh seorang kaya yang memiliki hati
untuk mengikuti Kristus, apakah ia lebih mencintai Kristus
atau kekayaannya; kegagalannya dalam ujian ini , dan
pembicaraan Kristus dengan murid-murid-Nya mengenai hal
ini (ay. 18-30).
V. Nubuat Kristus mengenai kematian dan penderitaan-Nya
(ay. 31-34).
VI. Kristus memulihkan penglihatan seorang buta (ay. 35-43).
Keempat perikop dalam ayat-ayat ini telah kita baca sebe-
lumnya dalam Injil Matius dan Markus.
Hakim yang Lalim
(18:1-8)
1 Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegas-
kan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. 2 Kata-Nya:
“Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Tuhan dan
tidak menghormati seorang pun. 3 Dan di kota itu ada seorang janda yang se-
lalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. namun kemudian ia berkata
dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Tuhan dan tidak menghormati
seorang pun, 5 namun sebab janda ini menyusahkan aku, baiklah aku
membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menye-
rang aku.” 6 Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim
itu! 7 Tidakkah Tuhan akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang
malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum
menolong mereka? 8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan
mereka. Akan namun , jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati
iman di bumi?”
Perumpamaan ini mudah dipahami, arti dan tujuannya sudah dipa-
parkan di depan. Kristus menyampaikannya untuk mengajarkan ke-
pada kita bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu
(ay. 1). Hal ini mengandaikan bahwa umat Tuhan yaitu umat pendoa.
Setiap anak-anak Tuhan bercakap-cakap dengan-Nya baik secara ber-
kelanjutan maupun sewaktu-waktu, dan apa yang mereka katakan
disampaikan kepada-Nya secara terbuka, dan dalam setiap keadaan
darurat. Merupakan hak istimewa dan kehormatan bahwa kita boleh
berdoa. Ini yaitu kewajiban kita, kita harus berdoa, dan kita
berdosa jika melalaikannya. Ini hendaknya menjadi keseharian kita.
Kita harus selalu berdoa. Ini kewajiban yang dikehendaki bagi kita
setiap hari. Kita harus berdoa dan tidak boleh lelah untuk berdoa,
dan jangan berpikir untuk meninggalkannya sampai puji-pujian ke-
kal meniadakannya. Akan namun , apa yang tampaknya ingin disam-
paikan secara khusus di sini yaitu untuk mengajarkan kita menge-
nai ketetapan dan kegigihan saat kita meminta belas kasihan
rohani tertentu yang kita cari-cari, baik berkenaan dengan diri kita
sendiri maupun dengan jemaat Tuhan . saat kita sedang berdoa
untuk melawan musuh-musuh rohani kita, nafsu-nafsu kita dan
kecemaran-kecemaran hati kita, yang merupakan musuh kita yang
paling jahat, kita harus terus berdoa dan berdoa. Kita harus berdoa
dengan tidak jemu-jemu, sebab kita tidak akan sia-sia dalam mencari
Tuhan . Begitu juga yang harus kita lakukan dalam doa kita untuk
membebaskan umat Tuhan dari tangan-tangan yang menganiaya dan
menindas mereka.
I. Kristus menunjukkan, melalui sebuah perumpamaan, betapa
besarnya kuasa yang bisa ditimbulkan dari kegigihan itu pada diri
manusia. Bila tidak ada hal lain yang memengaruhinya, untuk
melakukan apa yang adil dan benar, manusia akan dikuasai oleh
kekuatan yang timbul dari kegigihan itu. Ia memberikan kita
contoh bagaimana hal ini berhasil dilakukan di hadapan seorang
hakim yang lalim, yang terjadi bukan sebab keadilan atau rasa
kasihan, namun murni sebab kekuatan kegigihan.
Perhatikanlah di sini:
1. Tabiat seorang hakim yang tinggal di kota tertentu yang tidak
terpuji. Ia tidak takut akan Tuhan dan tidak menghormati se-
orang pun. Ia tidak peduli baik terhadap hati nuraninya mau-
pun nama baiknya. Ia berdiri dengan tegar menghadapi murka
Tuhan terhadap dirinya maupun teguran manusia atasnya. Ia
tidak peduli akan kewajibannya baik terhadap Tuhan maupun
manusia. Ia benar-benar asing dalam hal kesalehan dan ke-
hormatan, dan tidak memahami kedua-duanya. Bukanlah hal
yang aneh jika mereka yang tidak gentar terhadap Sang Pen-
cipta mereka juga akan tak acuh terhadap sesama mereka,
sebab kalau takut akan Tuhan tidak ada pada diri seseorang,
maka tidak ada yang baik yang bisa diharapkan daripadanya.
Orang yang tidak saleh dan tidak berperikemanusiaan seperti
ini sangatlah jahat, apalagi kalau yang bertindak demikian
yaitu seorang hakim, yang punya kuasa di dalam tangannya.
Seorang hakim yang punya kuasa demikian harus dituntun
oleh prinsip-prinsip agama dan keadilan, sebab kalau tidak,
maka bukannya melakukan kebaikan dengan kuasanya itu,
hakim ini malah akan membahayakan diri orang lain.
Salah satu dari kefasikan paling besar yang dilihat Raja Sa-
lomo di dunia yaitu bahwa di tempat pengadilan, di situ pun
ada ketidakadilan (Pkh. 3:16).
2. Keadaan seorang janda miskin yang menyesakkan, yang mem-
buatnya harus memohon di hadapan hakim ini , sebab
ia diperlakukan dengan tidak adil oleh seseorang yang menin-
dasnya dengan menggunakan kekuasaan dan ancaman. Jelas
terlihat bahwa janda ini berada di pihak yang benar,
namun kelihatannya dalam mencari keadilan bagi dirinya, ia
tidak mengikuti aturan-aturan hukum yang telah ditetapkan.
Sebaliknya, ia secara pribadi memohon kepada hakim ini
setiap hari dengan berseru di depan rumahnya, Belalah hakku
terhadap lawanku, atau dengan kata lain, Berikanlah keadilan
kepadaku atas lawanku. Ia tidak bermaksud untuk menuntut
pembalasan dendam terhadap orang itu atas segala yang telah
dilakukannya terhadapnya. Ia hanya meminta agar orang itu
diwajibkan untuk mengembalikan apa yang telah ia rampas
daripadanya, dan agar orang itu jangan menindas dirinya lagi.
Perhatikanlah, janda-janda yang malang biasanya mempunyai
banyak musuh yang dengan biadab memanfaatkan keadaan
mereka yang lemah dan tidak berdaya untuk merampas hak-
hak mereka dan memperdayai milik mereka yang biasanya
tidak seberapa itu. Oleh sebab itu, para hakim khususnya
ditugaskan bukan saja untuk tidak menindas janda dengan
keras (Yer. 22:3), namun juga untuk membela hak anak-anak
yatim, dan memperjuangkan perkara janda-janda (Yes. 1:17),
untuk menjadi pengayom dan pelindung bagi mereka. Hakim-
hakim harus menjadi seperti Tuhan bagi mereka, sebab demi-
kianlah Tuhan adanya (Mzm. 68:5).
3. Kesulitan dan penolakan yang ditemuinya dalam jalannya: Be-
berapa waktu lamanya hakim itu menolak. Seperti yang biasa
dilakukannya, hakim itu memandang rendah janda itu, meng-
abaikan maksud tujuannya, berpura-pura tidak mengetahui
segala ketidakadilan yang dilakukan musuhnya kepadanya,
sebab janda itu tidak memiliki sogokan untuk diberikan ke-
padanya. Tidak ada orang besar yang diseganinya yang berbi-
cara atas nama janda itu, sehingga hakim ini tidak terge-
rak sama sekali untuk menangani keluh kesahnya. Hakim
ini sadar akan alasan atas keengganannya, namun di da-
lam hatinya bahwa ia tidak takut akan Tuhan dan tidak meng-
hormati seorang pun. Sungguh disayangkan jika ada orang
sudah begitu sadar akan kelemahannya, namun tidak peduli
untuk mengubahnya.
4. Keberhasilan janda ini yang dengan tidak jemu-jemu
menyusahkan hakim yang lalim ini (ay. 5): “sebab janda ini
menyusahkan aku, terus membuat masalah bagiku, maka aku
akan mendengarkan maksudnya, dan memberikan keadilan
kepadanya, supaya jangan sampai sebab seruannya yang
tidak pernah berhenti terhadapku, ia membuat namaku men-
jadi jelek; supaya ia tidak membuatku lelah dengan seruan-
nya, sebab ia sangat gigih sehingga ia tidak akan membiar-
kan aku tenang sebelum perkaranya selesai. Oleh sebab itu,
aku akan melakukannya, supaya aku terhindar dari masalah
yang lebih besar; lebih baik secepatnya daripada terlambat.“
Begitulah janda itu akhirnya mendapat keadilan sebab ia
terus-menerus memohon-mohon. Ia memohon kepada hakim
itu di depan pintu rumahnya, mengikutinya di jalan-jalan,
berseru kepadanya di lapangan terbuka, dengan seruan yang
sama, Belalah hakku terhadap lawanku. Dengan begitu, hakim
itu terpaksa melakukannya, supaya terhindar dari janda itu.
Hati nuraninya, yang sama buruknya seperti dirinya, tidak
ingin direpotkan dengan menjebloskan janda ini ke da-
lam penjara sebab telah menghina pengadilan.
II. Ia menggunakan perumpamaan ini untuk mendorong umat Tuhan
yang berdoa supaya mereka berdoa dengan iman dan kegigihan,
dan bertekun di dalamnya.
1. Ia memberikan jaminan kepada mereka bahwa Tuhan pada
akhirnya akan bermurah hati kepada mereka (ay. 6): Camkan-
lah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu, bagaimana ia
sendiri mengakui bahwa dirinya sangat direpotkan oleh kegi-
gihan yang tak henti-hentinya itu, dan tidakkah Tuhan akan
membenarkan orang-orang pilihan-Nya?
Amatilah:
(1) Apa yang mereka cari-cari dan harapkan: bahwa Tuhan
akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya