lukas 13-24 7

 


.  

Perhatikanlah:  

[1] Ada orang-orang di dunia yang merupakan umat Tuhan , 

orang-orang pilihan-Nya, orang-orang yang dipilih-Nya 

sendiri, orang-orang terpilih. Bagi mereka, Ia memberi-

kan perhatian-Nya dalam segala yang Ia perbuat bagi 

mereka sebab  mereka yaitu  orang-orang pilihan-Nya, 

sesuai dengan pilihan yang telah Ia buat atas diri me-

reka.  

[2] Orang-orang pilihan Tuhan  menghadapi banyak masalah 

dan tentangan dalam dunia ini. Banyak musuh yang 

melawan mereka, dan Setan yaitu  musuh utama me-

reka.  

[3] Apa yang diharapkan dan ditunggu-tunggu dari Tuhan  

yaitu  bahwa Ia akan menjaga dan melindungi mereka 

dan memperlihatkan campur tangan-Nya dalam diri me-

reka, bahwa Ia akan mengamankan kepentingan gereja 

di dunia dan anugerah-Nya dalam hati mereka. 

(2) Apa yang dihendaki dari umat Tuhan  untuk memperoleh hal 

ini: mereka harus berseru siang malam kepada-Nya. Bukan 

berarti bahwa Ia membutuhkan segala macam alasan dari 

mereka atau dapat tersentuh oleh seruan-seruan mereka, 

namun sebab  hal ini telah Ia tetapkan sebagai kewajiban 

mereka, dan untuk semuanya ini Ia telah menjanjikan 

belas kasihan-Nya. Dalam berdoa kita harus terperinci da-

lam menyebutkan apa yang menjadi musuh rohani kita, 

seperti yang dilakukan Rasul Paulus: Tentang hal itu aku 

sudah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan Iblis 

itu mundur daripadaku dan juga seperti dilakukan janda 

ini. Tuhan, matikanlah kecemaran ini. Tuhan, persenjatai-

lah aku dalam melawan godaan ini. Kita harus peduli de-

ngan jemaat-jemaat yang tertindas dan teraniaya dan ber-

doa agar Tuhan  memberikan keadilan bagi mereka dan 

membuat mereka aman. Dalam hal ini, kita harus berge-

gas. Kita harus berseru dengan tulus: kita harus berseru 

siang dan malam, seperti orang yang percaya bahwa doa-

nya pada akhirnya pasti akan didengar. Kita harus bergu-

mul dengan Tuhan , seperti orang yang tahu bagaimana 

menghargai berkat dan tidak akan berkata tidak untuk 

berkat itu. Umat Tuhan  yang berdoa diperintahkan agar ja-

ngan biarkan Dia tinggal tenang (Yes. 62:6-7). 

(3) Rintangan-rintangan yang menawarkan hati yang mungkin 

akan mereka temui dalam doa-doa dan pengharapan-peng-

harapan mereka. Tuhan  bisa saja akan tampak seperti meng-

ulur-ngulur waktu sebelum menolong mereka, dan tidak 

segera menampakkan diri-Nya bagi mereka untuk menja-

wab doa-doa mereka. Ia yaitu  makrothymōn ep’ autois – Ia 

bersabar terhadap musuh-musuh umat-Nya dan tidak 

membalas dendam terhadap mereka; dan Ia menguji kesa-

baran umat-Nya, dengan tidak membela perkara mereka. Ia 

menahan diri terhadap seruan dosa yang dilakukan orang-

orang Mesir yang menindas Israel, dan terhadap seruan 

kesedihan mereka yang tertindas. 

(4) Sungguh ada jaminan bagi mereka bahwa belas kasihan-

Nya pada akhirnya akan datang, walaupun tertunda, dan 

hal ini dikuatkan oleh perkataan hakim yang lalim terse-

but: kalau janda ini saja berhasil dengan kegigihannya, 

lebih-lebih lagi orang-orang pilihan Tuhan , mereka akan sa-

ngat berhasil.  

sebab :  

[1] Janda ini yaitu  seorang asing, tidak ada hubungan 

apa pun dengan hakim ini . Akan namun , umat 

Tuhan  yang berdoa yaitu  orang-orang pilihan-Nya, 

orang-orang yang Ia kenal, yang Ia kasihi dan sumber 

sukacita-Nya, dan yang selalu Ia pedulikan.  

[2] Janda ini  hanya seorang diri, namun  umat Tuhan  

yang berdoa kepada-Nya banyak, yang mana semuanya 

datang kepada-Nya dengan satu maksud tujuan, dan 

sepakat untuk meminta apa yang mereka butuhkan 

(Mat. 18:19). Seperti halnya orang-orang kudus di sorga 

mengelilingi takhta kemuliaan dengan puji-pujian mere-

ka yang satu, maka orang-orang kudus di dunia menge-

pung takhta anugerah dengan doa-doa mereka yang 

satu.  

[3] Janda itu datang kepada hakim yang menyuruhnya un-

tuk menjauhinya, namun kita datang kepada seorang 

Ayah yang meminta kita menghampiri-Nya dengan pe-

nuh keberanian dan yang mengajarkan kita untuk 

berseru, Ya Abba, Ya Bapa.  

[4] Janda itu datang kepada hakim yang lalim, kita datang 

kepada Bapa yang adil (Yoh. 17:25), pribadi yang peduli 

dengan kemuliaan-Nya dan kelegaan bagi ciptaan-Nya 

yang malang, khususnya mereka yang menderita, seper-

ti  janda-janda dan anak yatim.  

[5] Janda itu datang kepada hakim ini murni dengan usa-

hanya sendiri, namun Tuhan  sendiri terlibat dengan apa 

yang sedang kita minta, sehingga kita dapat berseru, 

Bangunlah ya Tuhan , lakukanlah perjuangan-Mu; dan 

Apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan 

nama-Mu yang besar itu?  

[6] Janda itu tidak mempunyai teman yang membelanya 

untuk menguatkan perkaranya dan yang benar-benar 

peduli terhadap dirinya, namun  kita memiliki Pembela 

yang berbicara pada Bapa, yang yaitu  Anak-Nya sen-

diri, yang selamanya hidup sebagai pengantara bagi kita 

dan yang memiliki hak penuh di sorga.  

[7] Janda itu tidak memiliki janji apa pun bahwa perkara-

nya akan selesai dengan segera. Tidak, juga tidak ada 

sokongan baginya untuk meminta. Sebaliknya, kita me-

miliki tongkat emas yang dijulurkan kepada kita, dan 

kita disuruh untuk meminta, dengan janji bahwa apa 

yang diminta itu akan diberikan kepada kita.  

[8] Janda itu hanya dapat menemui hakim ini  sewak-

tu-waktu, namun  kita dapat berseru kepada Tuhan  siang 

dan malam, sepanjang waktu, sehingga kita dapat lebih 

berharap bahwa kita akan berhasil jika kita gigih di 

dalamnya.  

[9] Kegigihannya membangkitkan amarah hakim ini  

sehingga ia mungkin merasa takut bahwa hal ini  

akan membuat hakim ini  memperlakukannya de-

ngan lebih buruk. Tidak demikian halnya dengan kita, 

kegigihan kita malah menyenangkan hati Tuhan . Doa 

yang dipanjatkan oleh orang yang adil benar yaitu  ke-

girangan bagi-Nya. Oleh sebab  itu, kita dapat berha-

rap, bahwa doa kita akan sangat membuahkan hasil 

jika dipanjatkan dengan gigih.  

2.  Meskipun demikian, Ia menyiratkan kepada mereka bahwa 

mereka akan mulai menjadi lelah dalam menantikan-Nya (ay. 

8): “Meskipun demikian, walaupun ada jaminan bahwa Tuhan  

akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya, namun jika 

Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” 

Anak manusia akan datang untuk membenarkan orang-orang 

pilihan-Nya, untuk membela perkara orang-orang Kristen yang 

teraniaya terhadap orang-orang Yahudi yang menganiaya me-

reka. Ia akan datang dalam pemeliharaan-Nya untuk membela 

perkara orang-orang-Nya yang terluka pada segala zaman. Dan 

akhirnya, pada hari penghakiman yang besar itu, Ia akan da-

tang untuk menentukan nasib Sion yang memberontak. Seka-

rang, saat  Ia datang, akankah Ia menemukan iman di bumi? 

Pertanyaan ini menyiratkan pengingkaran yang kuat: Tidak. Ia 

tidak akan menemukannya, Ia sendiri telah melihatnya jauh-

jauh hari sebelumnya. 

(1) Ini berarti bahwa hanya di bumi saja ada kesempatan un-

tuk memiliki iman, sebab  para pendosa di neraka akan 

merasakan apa yang mereka tolak untuk diimani, dan 

orang-orang kudus di sorga akan menikmati apa yang 

mereka imani.   

(2) Ini berarti bahwa iman yaitu  hal utama yang Kristus cari. 

Ia mengamati anak-anak manusia dan tidak bertanya, Apa-

kah ada yang tidak bersalah? namun, Apakah ada iman? Ia 

bertanya mengenai iman mereka yang datang kepada-Nya 

untuk disembuhkan. 

(3) Ini berarti bahwa jika ada iman, walaupun kecil sekali, Ia 

akan mencarinya, dan mendapatkannya. Mata-Nya tertuju 

kepada orang-orang percaya yang imannya paling lemah 

dan paling tersembunyi. 

(4) Telah dinubuatkan sebelumnya bahwa saat  Kristus 

datang untuk membela perkara umat-Nya, Ia hanya akan 

menemukan sedikit iman dibandingkan dengan apa yang 

mungkin bisa diharapkan orang.  

Ini berarti:  

[1]  Secara umum, Ia hanya akan menemukan sedikit orang 

yang adil benar, sedikit orang yang benar-benar dan 

sungguh-sungguh baik. Banyak orang kelihatannya 

mencerminkan sifat-sifat ilahi, namun sedikit saja yang 

memiliki iman, sedikit saja yang tulus dan jujur. Ya, 

bahkan Ia hanya akan menemukan sedikit saja kesetia-

an di antara manusia. Telah lenyap orang-orang yang 

setia (Mzm. 12:1-2). Bahkan sampai pada akhir zaman, 

masih akan ada keluh kesah yang sama mengenai hal 

ini. Dunia tidak akan menjadi lebih baik. Tidak, sebab  

dunia sedang mendekati akhirnya. Dunia ini jahat, dan 

akan jahat, dan akan menjadi paling jahat tepat sebe-

lum kedatangan Kristus. Akhir zaman akan menjadi 

masa yang paling berbahaya.  

[2] Secara khusus, Ia akan menemukan sedikit yang memi-

liki iman mengenai kedatangan-Nya. saat  Ia datang 

untuk membela orang-orang pilihan-Nya, Ia akan meli-

hat apakah ada iman untuk ditolong dan disokong, dan 

Ia heran bahwa tidak ada satu pun (Yes. 59:15; 63:5). 

Hal ini menyiratkan bahwa Kristus, baik dalam keda-

tangan-Nya secara khusus untuk memberikan kelegaan 

bagi umat-Nya, maupun dalam kedatangan-Nya secara 

umum pada akhir zaman, dapat dan akan menunda ke-

datangan-Nya, selama; Pertama, orang-orang fasik akan 

mulai memberontak, dan berseru, Di manakah janji 

tentang kedatangan-Nya itu? (2Ptr. 3:4). Mereka akan 

menantang-Nya untuk datang (Yes. 5:10, Am. 5:19), dan 

kedatangan-Nya yang tertunda akan semakin menge-

raskan kejahatan mereka (Mat. 24:48). Kedua, bahkan 

umat-Nya sendiri akan mulai putus asa, dan menyim-

pulkan bahwa Ia tidak akan pernah datang sebab  Ia 

telah melewati perkiraan mereka. Masa saat  Tuhan  

akan menampakkan diri-Nya di hadapan umat-Nya ada-

lah saat  keadaan sudah sampai pada ambang batas-

nya yang terakhir, saat  Sion mulai berseru, Tuhan 

telah meninggalkan aku (lih. Yes. 49:14; 40:27). Ini me-

rupakan penghiburan bagi kita, sebab  saat  waktu 

yang ditetapkan itu tiba, akan tampak bagi kita bahwa 

ketidakpercayaan manusia itu tidaklah membuat janji 

Tuhan  batal. 

Orang Farisi dan Pemungut Cukai 

(18:9-14) 

9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan meman-

dang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:  10 “Ada 

dua orang pergi ke Bait Tuhan  untuk berdoa; yang seorang yaitu  Farisi dan 

yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hati-

nya begini: Ya Tuhan , aku mengucap syukur kepada-Mu, sebab  aku tidak 

sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan 

pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali 

seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Teta-

pi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah 

ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Tuhan , kasihanilah aku 

orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya 

sebagai orang yang dibenarkan Tuhan  dan orang lain itu tidak. Sebab barang-

siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan 

diri, ia akan ditinggikan.” 

Makna dari perumpamaan ini juga telah dipaparkan di depan. Kita 

diberi tahu siapa yang akan diangkat ke dalam tingkat tertentu dan 

siapa yang akan dibuatkan perhitungan (ay. 9). Kristus mengguna-

kannya untuk mengecam mereka yang menganggap dirinya benar 

dan memandang rendah semua orang lain.  

Yang dimaksud di sini yaitu  mereka yang:  

1. Memandang tinggi diri mereka dan kebaikan mereka sendiri. 

Mereka yang menganggap diri mereka paling suci, dan lebih suci 

dari semua sesama mereka, dan dengan begitu memandang diri 

sendiri sebagai teladan bagi semua orang. Bukan itu saja,  

2.  Mereka memiliki keyakinan tinggi akan diri mereka di hadapan 

Tuhan  dan tidak hanya memandang tinggi diri sendiri sebagai 

orang benar, namun juga sangat mengharapkan imbalan atas 

kebenaran mereka itu saat  berseru kepada Tuhan : Mereka 

menganggap dirinya benar, dan sebab  itu mereka berpikir bahwa 

mereka telah membuat Tuhan  berutang kepada mereka dan dapat 

menuntut apa saja dari-Nya.  

3.  Mereka merendahkan orang lain dan memandang mereka dengan 

hina, tidak ada harganya dibandingkan dengan mereka. Nah, 

Kristus melalui perumpamaan ini ingin menunjukkan kebodohan 

mereka dan bagaimana mereka telah menutup pintu perkenan 

Tuhan  bagi diri mereka. Ini disebut suatu perumpamaan, walaupun 

tidak ada hubungan perbandingan apa pun di dalamnya. Walau-

pun begitu, perumpamaan ini lebih merupakan suatu penggam-

baran mengenai tabiat dan perkataan yang berbeda dari orang-

orang yang dengan angkuh membenarkan diri mereka sendiri 

dengan mereka yang dengan rendah hati mengutuk diri mereka 

sendiri, dan bagaimana kedudukan mereka di hadapan Tuhan . Hal 

ini menggambarkan kenyataan hidup sehari-hari.  

I.  Di sini digambarkan dua orang yang melakukan kewajiban mere-

ka untuk berdoa pada waktu dan tempat yang sama (ay. 10): Dua 

orang pergi ke Bait Tuhan  untuk berdoa. Saat itu bukan waktu bagi 

ibadah bersama, namun  mereka ke sana untuk melakukan ibadah 

pribadi, sebagaimana yang umum dilakukan orang-orang yang 

saleh pada masa itu. saat  itu, Bait Tuhan  bukan hanya sekadar 

tempat, namun juga alat perantara dalam penyembahan dan Tuhan  

telah berjanji, sebagai jawaban atas permohonan Salomo, bahwa 

apapun doa yang disampaikan dengan cara yang benar di dalam 

atau menghadap ke rumah ini , maka doa itu akan lebih 

diterima. Kristus yaitu  Bait Tuhan  kita sehingga kita harus meng-

arahkan mata kita kepada-Nya pada segala waktu saat  kita 

datang kepada Tuhan . Orang Farisi dan pemungut cukai itu sama-

sama pergi ke Bait Tuhan  untuk berdoa. Perhatikanlah, di antara 

para penyembah Tuhan , yaitu di antara gereja yang kelihatan 

(visible church), orang-orang yang adil benar dan orang-orang fasik 

bercampur baur, ada sebagian yang berkenan kepada-Nya dan 

ada sebagian lain yang tidak. Beginilah halnya sejak Kain dan 

Habel memberikan korban persembahan mereka di atas altar 

yang sama. Orang Farisi yang angkuh seperti biasanya selalu me-

rasa dirinya tinggi saat berdoa, dan begitu juga dengan pemungut 

cukai yang rendah diri seperti biasanya selalu menganggap diri-

nya tidak layak mendapat keuntungan dari berdoa. Akan namun , 

kita memiliki dasar untuk berpikir bahwa kedua orang ini datang 

ke Bait Tuhan  dengan tujuan yang berbeda.  

1.  Orang Farisi pergi ke Bait Tuhan  untuk berdoa sebab  tempat 

itu yaitu  tempat umum, lebih umum dibandingkan dengan 

sudut-sudut jalan, sehingga ia akan menarik banyak perhati-

an orang, yang akan memuji ibadahnya, yang mungkin dile-

bih-lebihkannya. Tabiat yang Kristus sematkan kepada kaum 

Farisi, bahwa semua yang mereka lakukan hanya dimaksud 

supaya dilihat orang, memberikan dasar kepada kita untuk 

membenarkan kecurigaan ini. Perhatikanlah, orang-orang mu-

nafik biasa melakukan ibadah-ibadah lahiriah hanya supaya 

dipuji. Banyak orang yang kita temui setiap hari di Bait Tuhan , 

bisa jadi, tidak akan kita temui ada di sebelah kanan Kristus 

pada hari penghakiman.  

2.  Pemungut cukai pergi ke Bait Tuhan  sebab  tempat ini  

ditetapkan sebagai rumah doa bagi segala bangsa (Yes. 56:7). 

Orang Farisi pergi ke Bait Tuhan  untuk mencari pujian, sedang-

kan pemungut cukai pergi sebab  ia memiliki urusan tertentu. 

Orang Farisi pergi untuk pamer, sedangkan pemungut cukai 

pergi untuk menaikkan permohonannya. Demikianlah, Tuhan  

melihat dengan kecenderungan dan maksud apa kita datang 

untuk menantikan-Nya dalam ibadah-ibadah suci, dan Ia akan 

menghakimi kita sesuai dengan kecenderungan dan maksud 

kita itu. 

II.  Beginilah orang Farisi ini  menghadap Tuhan  (sebab  aku 

tidak dapat menyebutnya sebagai doa): Orang Farisi itu berdiri dan 

berdoa dalam hatinya begini (ay. 11-12). Ia berdoa sendirian, me-

nurut pemahaman beberapa orang. Yang ia pikirkan hanyalah 

dirinya sendiri. Ia tidak peduli akan hal lain kecuali dirinya sen-

diri, puji-pujiannya sendiri, bukan kemuliaan Tuhan . Mungkin juga 

ia berdiri di tempat terbuka di mana ia membedakan dirinya dari 

orang-orang lain, atau menampilkan dirinya secara terhormat dan 

berkelas. Begitulah ia berdoa. Nah, apa yang akan ia katakan di 

sini menunjukkan: 

1.  Bahwa ia menganggap dirinya benar. Ia mengatakan banyak 

hal-hal baik mengenai dirinya sendiri, yang mungkin saja 

benar. Ia bebas dari dosa-dosa yang keji dan membawa 

kecemaran. Ia bukan perampok, bukan lintah darat, tidak 

menindas para pengutang atau penyewa rumah. Sebaliknya, ia 

berlaku baik dan adil terhadap semua orang yang bergantung 

kepadanya. Ia tidak berbuat curang dalam setiap urusannya, ia 

tidak berbuat jahat terhadap siapa pun. Ia dapat berkata, 

seperti halnya Samuel, Lembu atau kedelai siapakah yang 

telah kuambil? Ia bukan pezinah, ia hidup di dalam pengudus-

an dan penghormatan. Lebih-lebih lagi, ia berpuasa dua kali 

seminggu, sebagai tindakan yang sebagian sebab  dorongan 

hati, sebagian sebab  ibadah. Kaum Farisi dan murid-murid-

nya berpuasa dua kali dalam seminggu, Senin dan Kamis. De-

ngan demikian, ia memuliakan Tuhan  dengan tubuhnya. Bukan 

itu saja, ia juga memberikan sepersepuluh dari segala peng-

hasilannya sesuai dengan hukum Taurat, sehingga ia memu-

liakan Tuhan  dengan harta duniawinya. Semua yang dilakukan-

nya baik dan layak dipuji. Celakalah mereka yang tidak mela-

kukan kebaikan seperti yang dilakukan orang Farisi ini. Mes-

kipun demikian, ia tidak dikenan. Mengapa demikian?  

(1) Rasa terima kasih yang dipanjatkannya untuk Tuhan  atas 

semua ini, walaupun hal ini sendiri yaitu  baik, namun 

kelihatannya hanya sekadar tindakan lahiriah saja yang 

tidak ada isinya. Ia tidak berkata, sebab  anugerah Tuhan  

aku yaitu  sebagaimana aku ada sekarang, seperti halnya 

Paulus. Yang dilakukannya malah menganggap remeh se-

muanya itu: Ya Tuhan , aku mengucap syukur kepada-Mu, 

yang maksudnya semata-mata sebagai pengantar untuk 

dengan angkuh memamerkan segala pencapaian dirinya 

sendiri  

(2) Ia membesar-besarkan tindakannya, dan suka membicara-

kan hal ini , seakan-akan tujuannya pergi ke Bait 

Tuhan  hanya untuk memberi tahu Tuhan  yang mahakuasa 

betapa salehnya dia. Ia tidak ragu untuk berkata, seperti 

orang-orang munafik yang kita baca (Yes. 58:3): Mengapa 

kami berpuasa dan engkau tidak memperhatikannya juga?  

(3)  Ia percaya bahwa ia melakukan suatu kebenaran, dan ti-

dak hanya menyebutkannya, namun menyeru-nyerukan-

nya, seakan-akan dengan begitu ia telah melakukan sesua-

tu yang akan mendapat imbalan dari tangan Tuhan , dan 

membuat-Nya sebagai pihak yang berutang kepadanya.  

(4) Tidak ada satu pun kata doa yang keluar dari mulutnya. Ia 

pergi ke Bait Tuhan  untuk berdoa, namun  melupakan tujuan-

nya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya sendiri 

dan kebaikannya sendiri sehingga ia berpikir bahwa ia 

tidak membutuhkan apa pun, tidak, tidak juga pertolongan 

dan anugerah Tuhan , yang kelihatannya ia anggap tidak 

berharga untuk diminta. 

2. Bahwa ia memandang rendah semua orang lain.  

(1) Ia menganggap semua orang rendah, kecuali dirinya sen-

diri: Aku mengucap syukur kepada-Mu, sebab  aku tidak 

sama seperti semua orang lain. Ia berbicara secara umum, 

seolah-olah ia lebih baik daripada siapa saja. Kita bisa saja 

memiliki alasan untuk bersyukur kepada Tuhan  bahwa kita 

tidak seperti semua orang lain, yang terkenal fasik dan ber-

hati busuk. Akan namun , dengan berbicara sembarangan se-

perti ini, seolah-olah hanya kita sendiri yang baik dan 

semua orang selain kita terkutuk, itu sama saja dengan 

menghakimi tanpa pandang bulu.  

(2) Secara khusus ia menganggap rendah si pemungut cukai 

ini, yang mungkin ditinggalkannya di pelataran bagi orang-

orang bukan-Yahudi dan ditemuinya saat  ia masuk ke 

Bait Tuhan . Ia tahu bahwa orang ini  yaitu  seorang 

pemungut cukai sehingga tanpa ampun lagi langsung me-

nyimpulkannya sebagai seorang perampok, orang lalim dan 

segala yang jelek lainnya. Anggaplah bahwa ia benar dan ia 

telah mengetahuinya, tapi lalu apa urusannya dengan 

orang itu? Tidak bisakah ia membaca doanya saja (dan 

inilah yang hanya dilakukan oleh orang-orang Farisi) tanpa 

mencela sesamanya? Atau apakah ini bagian dari ucapan-

nya Ya Tuhan , aku mengucap syukur kepada-Mu? Dan 

bukankah ia merasa puas dengan keburukan si pemungut 

cukai ini , sama seperti ia merasa puas dengan ke-

baikannya sendiri? Jadi, buktinya sangat jelas bahwa da-

lam diri orang Farisi ini tidak ada kerendahan dan kemu-

rahan hati, yang ada hanyalah keangkuhan dan kedengki-

an yang menguasai dirinya.  

III. Beginilah pemungut cukai ini  menghadap Tuhan , yang meru-

pakan kebalikan dari orang Farisi ini . Pemungut cukai ini 

sangat rendah hati dan sangat merendahkan diri, sedangkan 

orang Farisi ini  angkuh dan suka pamer. Pemungut cukai 

ini  penuh pertobatan atas dosa dan kerinduan akan Tuhan , 

sedangkan orang Farisi ini  penuh dengan rasa percaya diri 

akan dirinya sendiri serta akan kebenaran dan kemampuan untuk 

mencukupi diri sendiri. 

1. Pemungut cukai ini  mengungkapkan pertobatan dan 

kerendahan hati dalam segala perbuatannya. saat  membawa 

dirinya kepada Tuhan  dalam ibadah ini, tingkah lakunya 

menunjukkan kesungguhan dan kerendahan hati yang dalam, 

menyatakan hatinya yang sungguh hancur, menyesal dan taat.  

(1) Ia berdiri jauh-jauh. Orang Farisi berdiri, menempatkan diri-

nya setinggi mungkin di bagian yang lebih tinggi di dalam 

pelataran Bait Tuhan . Pemungut cukai ini  berdiri jauh-

jauh sebab  merasa bahwa dirinya tidak layak untuk men-

dekati Tuhan , dan mungkin ia takut menyinggung orang 

Farisi ini , takut mengganggu ibadahnya, yang ia lihat 

memandang dirinya dengan jijik. Dengan demikian, ia 

mengakui bahwa selayaknyalah bila Tuhan  melihatnya dari 

jauh saja dan menjauhinya selamanya. Namun, ia juga 

mengakui belas kasih Tuhan  yang besar sehingga Dia ber-

kenan menerimanya begitu dekat.  

(2) Ia tidak berani menengadah ke langit, apalagi sampai meng-

angkat kedua tangannya, seperti yang lazim dilakukan ke-

tika orang berdoa. Ia sungguh mengangkat hatinya kepada 

Tuhan  di tempat tinggi, dengan segala kerinduan yang ku-

dus, namun, oleh rasa malu dan rendah diri yang yang 

amat sangat, ia tidak menengadahkan mukanya dalam ra-

sa percaya diri dan keberanian yang kudus. Segala pelang-

garannya telah menimpa kepalanya, seperti beban berat, 

sehingga ia tidak sanggup melihat (Mzm. 40:12 KJV). Wajah-

nya yang tidak bergairah yaitu  tanda kesuraman pikiran-

nya saat  ia memikirkan dosa.  

(3) Ia memukul-mukul dadanya, dengan maksud kudus merasa 

marah terhadap diri sendiri sebab  telah berdosa: “Kalau 

hati ini dapat kujangkau, rasanya ingin aku mencabik-

cabik hatiku yang jahat ini, mata air beracun yang darinya 

mengalir semua dosa.” Hati nurani para pendosa pertama 

kali menegur mereka dengan teguran penyesalan (2Sam. 

24:10). Berdebar-debarlah hati Daud. Hai orang berdosa! 

Apa yang telah engkau lakukan? Kemudian ia memukul 

hatinya dengan ratapan penyesalan: Aku manusia celaka! 

Efraim diceritakan menepuk pinggang sebagai tanda berka-

bung (Yer. 31:19). Orang-orang yang benar-benar berduka 

digambarkan memukul-mukul dada (Nah. 2:7) 

2. Pemungut cukai itu mengungkapkan penyesalannya dalam per-

kataannya. Doanya singkat. Ketakutan dan rasa malu meng-

halanginya untuk berkata-kata lebih banyak. Keluh dan rintih-

an menelan kata-katanya. Namun, apa yang ia katakan ber-

tujuan: Ya Tuhan , kasihanilah aku orang berdosa ini. Dan 

terpujilah Tuhan  bahwa doa ini tercatat bagi kita sehingga kita 

bisa melihat doa ini terjawab, dan kita dapat yakin bahwa 

orang yang menaikkan doa demikian akan masuk ke dalam 

rumah-Nya sebagai orang yang dibenarkan. Begitulah juga 

halnya dengan kita jika kita menaikkan doa yang demikian, 

seperti si pemungut cukai ini , melalui Yesus Kristus: “Ya 

Tuhan  kasihanilah aku orang berdosa ini. Tuhan  yang maha-

pengampun berbelas kasihlah terhadap aku, sebab  jika tidak, 

maka aku akan binasa selamanya, menderita selamanya. Ya 

Tuhan , berbelas kasihlah terhadap aku, sebab  aku telah ber-

tindak kejam terhadap diriku sendiri.”  

(1) Ia mengakui bahwa dirinya yaitu  seorang pendosa melalui 

tabiatnya, perbuatannya, dan bersalah di hadapan Tuhan . 

Sesungguhnya aku ini terlalu hina, jawab apakah yang 

dapat kuberikan kepada-Mu? Orang Farisi menolak dirinya 

disebut pendosa, tidak ada seorang pun yang dapat menu-

duhnya, dan ia tidak melihat alasan untuk menuduh diri-

nya sendiri atas kesalahan apa pun; ia bersih, ia tahir dari 

dosa. Sebaliknya, pemungut cukai ini  mengecam diri-

nya sendiri sebagai pendosa, sebagai seorang terpidana 

dalam pengadilan Tuhan .  

(2) Ia tidak bergantung kepada apa pun selain kepada belas 

kasihan Tuhan , hanya itulah satu-satunya hal yang ia 

andalkan. Orang Farisi ini  menekankan imbalan atas 

puasa dan persepuluhannya, namun pemungut cukai yang 

malang ini  tidak menuntut imbalan apa pun dan 

mengandalkan belas kasihan sebagai tempat perlindungan-

nya. Ia mencengkeram erat-erat tampuk altar ini . 

“Keadilan telah mengutuk diriku, tidak ada apa pun yang 

dapat menyelamatkanku selain belas kasihan, hanya belas 

kasihan.”  

(3)  Ia dengan tulus berdoa untuk mendapatkan anugerah be-

las kasihan ini : “Ya Tuhan , kasihanilah aku, bermurah 

hatilah kepadaku, ampunilah dosa-dosaku, berdamailah 

denganku dan bawalahlah aku ke dalam pertolongan-Mu, 

terimalah aku dalam kasih-Mu, dan kasihilah aku apa ada-

nya.” Ia datang layaknya seorang pengemis yang meminta 

sedekah saat  ia hampir mati sebab  kelaparan. Mungkin 

ia mengulangi doa ini dengan kasih yang diperbarui, dan 

mungkin menambahkan perkataannya untuk tujuan yang 

sama, dengan secara khusus mengakui dosa-dosanya dan 

menyebutkan belas kasihan khusus yang ia inginkan, lalu 

menantikan Tuhan  untuk semuanya ini. Namun, tetap saja 

beban inilah yang terus disenandungkannya: Ya Tuhan , 

kasihanilah aku orang berdosa ini. 

IV. Inilah perkenan Tuhan  bagi pemungut cukai ini . Kita telah 

melihat betapa bedanya kedua orang ini  mengungkapkan 

diri mereka kepada Tuhan . Sekarang, pantaslah kalau kita berta-

nya apa hasil dari perbuatan mereka. Ada orang-orang yang ber-

seru layaknya orang Farisi ini , yang datang ke rumah Tuhan  

untuk mencari pujian dan memandang hina pemungut cukai yang 

masuk mengendap-ngendap dan meratapi dirinya. Akan namun , 

Yesus Tuhan kita, yang di hadapan-Nya semua hati terbuka, 

semua niat diketahui, dan tidak ada rahasia yang tersembunyi 

dari-Nya, yang mengetahui dengan sempurna semua tata cara 

pengadilan sorgawi, meyakinkan kita bahwa pemungut cukai yang 

malang, menyesal dan hancur hati ini pulang ke rumahnya seba-

gai orang yang dibenarkan Tuhan  dan orang lain itu tidak. Orang 

Farisi ini  berpikir bahwa jikalau salah satu dari mereka 

hendak dibenarkan, maka pastilah dia orangnya, dan bukannya si 

pemungut cukai itu. “Tidak,” kata Kristus, “Aku berkata kepada-

mu, Aku menguatkannya dengan sepasti-pastinya dan menyata-

kan kepadamu dengan perhatian yang paling mendalam, Aku ber-

kata kepadamu, pemungut cukai itulah, dan bukan orang Farisi 

itu.” Orang Farisi yang angkuh itu beranjak pergi, ditolak oleh 

Tuhan . Begitu jauh ucapan syukurnya itu untuk diterima, malahan 

ia menjadi suatu kekejian bagi Tuhan . Ia tidak dibenarkan, dosa-

dosanya tidak diampuni, dan ia juga tidak dijauhkan dari kutuk-

an. Ia tidak diterima dalam pandangan Tuhan  sebagai orang yang 

adil benar, sebab  ia begitu menganggap dirinya sendiri adil benar 

dalam pandangannya. Sebaliknya, pemungut cukai ini , yang 

dengan rendah hati menghadap Sorga, memperoleh pengampunan 

atas dosa-dosanya, dan ia yang tidak akan ditempatkan bersama 

anjing penjaga kambing dombanya oleh orang Farisi ini , 

ditempatkan oleh Tuhan  bersama-sama dengan anak-anak dalam 

keluarga-Nya. Alasan untuk ini yaitu  bahwa kemuliaan Tuhan  

menentang orang-orang congkak, namun  mengasihi orang yang 

rendah hati.  

1.  Orang-orang angkuh yang meninggikan diri yaitu  pesaing-

pesaing Tuhan , sebab  itu mereka pasti akan direndahkan. 

Tuhan , dalam percakapan-Nya dengan Ayub, merujuk kepada 

bukti ini bahwa Ia yaitu  Tuhan , bahwa Ia mengamat-amati 

setiap orang yang congkak dan merendahkan dia (Ayb. 40:6).  

2.  Orang yang rendah hati, yang merendahkan dirinya yaitu  

orang-orang yang tunduk kepada Tuhan , dan mereka akan 

ditinggikan. Tuhan  menyediakan kedudukan tinggi bagi mereka 

yang mengharapkannya sebagai suatu belas kasihan, namun  

tidak bagi mereka yang menuntutnya sebagai suatu utang dari 

 Dia. Ia akan ditinggikan ke dalam kasih Tuhan  dan persekutuan 

dengan-Nya, akan ditinggikan dalam kepuasan akan dirinya 

sendiri, dan pada akhirnya akan ditinggikan setinggi sorga. 

Lihatlah hukuman atas dosa: Barangsiapa meninggikan diri, ia 

akan direndahkan. Lihatlah imbalan atas kewajiban: Barang-

siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Lihatlah juga 

bagaimana kuasa anugerah Tuhan  dalam mendapatkan apa 

yang baik dari apa yang jahat. Si pemungut cukai ini  

dulunya yaitu  seorang pendosa besar, namun dari dosanya 

yang besar didapatkan pertobatan yang besar pula, dari si 

pemakan keluar makanan. Lihatlah, sebaliknya, kuasa jahat 

Setan yang mendapatkan apa yang jahat dari apa yang baik. 

yaitu  hal yang baik bahwa orang Farisi ini  bukan 

perampok atau orang lalim, namun Iblis membuatnya menjadi 

angkuh dalam hal ini, sehingga ia menemui kebinasaannya.      

Perhatian Yesus terhadap Anak-anak Kecil 

(18:15-17) 

15 Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada 

Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi 

orang-orang itu.  16 namun  Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah 

anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi 

mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Tuhan .  

17 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut 

Kerajaan Tuhan  seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” 

 

Perikop kisah ini kita temukan juga dalam Injil Matius dan Markus. 

Kisah ini sangat cocok menjadi kelanjutan dari kisah mengenai si 

pemungut cukai, sebab  ia menegaskan kebenaran yang sama bahwa 

mereka yang rendah hati akan diterima oleh Tuhan  dan mendapat 

kehormatan dari-Nya, dan untuk merekalah Kristus menyediakan 

berkat-berkat-Nya, yakni berkat-berkat pilihan dan terbaik.  

Perhatikan baik-baik di sini:  

1.  Mereka yang diberkati di dalam Kristus harus berkeinginan agar 

anak-anak mereka juga diberkati di dalam-Nya, supaya dengan 

demikian mereka bisa menyaksikan kehormatan sejati yang mere-

ka miliki untuk Kristus, yaitu dengan mengambil manfaat dari-

Nya. Demikian juga, mereka bisa menyaksikan kasih sejati yang 

mereka miliki kepada anak-anak mereka, yakni dengan peduli 

akan jiwa-jiwa mereka. Mereka membawa anak-anak kecil ke ha-

dapan-Nya. Menurut sebagian orang, anak-anak ini masih sangat 

muda, belum bisa berjalan, anak-anak yang masih menyusu. 

Tidak ada orang yang terlalu kecil atau terlalu muda untuk di-

bawa kepada Kristus, yang tahu bagaimana menunjukkan kebaik-

an kepada mereka yang belum mampu melayani-Nya.  

2.  Satu sentuhan Kristus yang penuh anugerah akan membuat 

anak-anak kita bersukacita. Mereka membawa anak-anaknya 

yang kecil kepada Yesus supaya Ia menjamah mereka sebagai 

tanda pemberian anugerah-Nya dan Roh-Nya ke atas mereka. 

Dengan cara ini, mereka menyediakan jalan bagi berkat-Nya yang 

selalu mereka nanti-nantikan (lih. Yes. 44:3): Aku akan mencurah-

kan Roh-Ku ke atas keturunanmu dan berkat-Ku ke atas anak 

cucumu.  

3.  Bukan hal yang aneh jika mereka yang memohon sesuatu kepada 

Yesus Kristus, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi anak-

anak mereka, akan menemui berbagai tantangan yang mengecil-

kan hati, bahkan dari mereka yang seharusnya mendukung dan 

mendorong mereka. Melihat itu, murid-murid-Nya berpikir bahwa 

jika dibiarkan, maka ini akan membawa masalah yang tiada 

akhirnya bagi Guru mereka. Oleh sebab  itu, dengan rasa jengkel 

murid-murid Kristus memarahi mereka. Sang mempelai menge-

luhkan peronda-peronda kota (Kid. 3:3; 5:7).  

4. Banyak dari mereka yang dihardik oleh murid-murid disambut 

oleh Sang Guru: Yesus memanggil mereka, yang beranjak pergi 

sesudah  ditegur oleh murid-murid-Nya. Mereka tidak memohon ke-

pada murid-murid-Nya untuk bertemu dengan Sang Guru, namun  

Sang Guru menyadari maksud tujuan mereka yang direndahkan.  

5. Kristus ingin supaya anak-anak dibawa ke hadapan-Nya dan 

dipersembahkan sebagai persembahan yang hidup bagi kehormat-

an-Nya: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku dan jangan 

kamu menghalang-halangi mereka. Jangan lakukan apa-apa un-

tuk menghalangi mereka, sebab  mereka akan disambut sama se-

perti yang lain.” Bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu. 

Oleh sebab  itu, Ia yang menjanjikan berkat-berkat itu sendiri 

juga akan menyambut mereka bersama-sama dengan kita.  

6.  Anak-anak dari mereka yang menjadi milik kerajaan Tuhan  juga 

yaitu  milik dari kerajaan ini , seperti halnya anak-anak dari 

orang-orang yang merdeka juga yaitu  orang-orang merdeka. Jika 

 orangtua menjadi anggota dari jemaat yang ada di bumi ini, maka 

anak-anaknya juga termasuk sebagai anggota jemaat ini . 

Demikianlah adanya, sebab jika akarnya kudus maka cabang-

cabangnya juga kudus.  

7.  Oleh sebab  itu juga, orang-orang dewasa yang mempunyai tabiat 

seperti anak kecil, mereka akan sangat disambut oleh Kristus 

seperti Ia menyambut anak-anak itu (ay. 17): Sesungguhnya ba-

rangsiapa tidak menyambut Kerajaan Tuhan  seperti seorang anak 

kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. Maksudnya, jika ia tidak 

bersedia menerima segala keuntungan dari kerajaan itu dengan 

rasa rendah hati dan rasa syukur, malah menuntut imbalan 

darinya seperti halnya orang Farisi ini , dan bila ia tidak mau 

dengan senang hati mengakui bahwa dirinya berutang atas 

anugerah yang Tuhan  berikan secara cuma-cuma, seperti yang 

dilakukan si pemungut cukai itu, maka orang yang tidak memiliki 

sifat penyangkalan diri seperti ini tidaklah layak masuk ke dalam 

kerajaan ini . Kita harus menerima kerajaan Tuhan  seperti 

anak-anak kecil, menerima harta kita itu melalui keturunan dan 

warisan, bukan dengan membeli, dan menyebutnya hadiah dari 

Bapa kita.  

Kekayaan Merupakan Halangan Rohani 

(18:18-30) 

18 Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik, 

apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 19 Jawab 

Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain 

dari pada Tuhan  saja. 20 Engkau tentu mengetahui segala perintah Tuhan : Ja-

ngan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan 

saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.” 21 Kata orang itu: “Semuanya 

itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” 22 Mendengar itu Yesus berkata ke-

padanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juTuhan  segala 

yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka 

engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah 

Aku.” 23 saat  orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, 

sebab ia sangat kaya. 24 Lalu Yesus memandang dia dan berkata: “Alangkah 

sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Tuhan . 25 Sebab lebih 

mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya 

masuk ke dalam Kerajaan Tuhan .” 26 Dan mereka yang mendengar itu berkata: 

“Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 27 Kata Yesus: “Apa 

yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Tuhan .” 28 Petrus berkata: 

“Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau.”  

29 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap 

orang yang sebab  Kerajaan Tuhan  meninggalkan rumahnya, isterinya atau 

saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, 30 akan menerima kembali 

lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan 

menerima hidup yang kekal.”   

Dalam ayat-ayat ini  kita temukan: 

I.  Percakapan Kristus dengan seorang pemimpin yang memiliki niat 

yang baik untuk mendapat pengarahan dari-Nya mengenai jalan 

ke sorga.  

Dalam hal ini kita dapat mengamati: 

1.  Sungguh merupakan pemandangan yang terpuji bila kita me-

lihat pribadi-pribadi yang luar biasa di dunia ini membuat 

kedudukan mereka berbeda dari orang lain justru dalam per-

hatian mereka terhadap masalah jiwa dan kehidupan akan 

datang mereka di dunia lain. Lukas mencatat bahwa orang ter-

sebut yaitu  seorang pemimpin. Hanya ada sedikit penguasa 

yang memiliki rasa hormat kepada Kristus, dan yang dicerita-

kan di sini salah satu di antaranya. Tidak diketahui dengan 

jelas apakah ia seorang pemimpin gereja atau pemimpin ne-

gara, namun yang pasti ia yaitu  seseorang yang berkuasa. 

2.  Hal utama yang kita semua ingin ketahui yaitu  apa yang ha-

rus kita lakukan untuk masuk ke sorga, apa yang harus kita 

lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Hal ini menyirat-

kan adanya kepercayaan tertentu akan kehidupan yang kekal 

sesudah  kehidupan di dunia ini, suatu kepercayaan yang tidak 

dimiliki oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan  dan 

orang-orang kafir. Hal ini juga menyiratkan adanya kepedulian 

untuk mencari kepastian akan adanya kehidupan yang demi-

kian, yang tidak pernah dipikirkan oleh dunia yang acuh tak 

acuh. Ini juga menyiratkan adanya suatu kesediaan diri untuk 

memenuhi syarat-syarat apa saja untuk menjamin tercapainya 

kehidupan kekal itu, dan kesediaan yang demikian tidak ada 

pada diri orang-orang yang sudah kukuh membaktikan dirinya 

bagi dunia dan keinginan daging.  

3.  Mereka yang ingin mewarisi hidup kekal harus tunduk kepada 

Yesus Kristus sebagai Guru mereka, sebagai Guru yang meng-

ajar, sebagaimana yang dimaksudkan di sini (didaskale), dan 

sebagai Guru yang memerintah. Dengan melakukan demikian, 

mereka pasti akan menemukan Dia. Tidak ada jalan lain yang 

bisa dipelajari untuk mencapai sorga, kecuali melalui sekolah 

Kristus, dengan mengikutinya dan terus belajar di dalamnya.  

4.  Mereka yang datang kepada Kristus sebagai Guru mereka ha-

rus percaya kepada-Nya bahwa Ia tidak hanya memiliki tugas 

ilahi, namun juga memiliki kebaikan ilahi. Kristus hendak 

membuat pemimpin ini sadar bahwa jika ia benar-benar pa-

ham akan perkataannya dengan memanggil-Nya baik, maka ia 

juga tentu akan memanggil-Nya Tuhan , dan memang demikian 

bahwa Ia Tuhan  (ay. 9): “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tahu-

kah engkau, tak seorang pun yang baik selain daripada Tuhan  

saja?  Jadi, apakah engkau akan mengakui-Ku sebagai Tuhan ? 

Jika demikian yang engkau lakukan, engkau benar.” 

5.  Guru kita, yaitu Kristus sendiri, tidak pernah mengubah jalan 

menuju sorga menjadi lain dari apa yang sudah ada sebelum 

kedatangan-Nya. Ia hanya menjadikannya semakin jelas, mu-

dah dan menyenangkan, dan membuatnya selalu tersedia bagi 

kelepasan kita, kalau-kalau kita menempuh langkah yang sa-

lah. Engkau tentu mengetahui segala perintah Tuhan . Kristus 

tidak datang untuk membatalkan hukum Taurat dan hukum 

nabi-nabi, namun justru untuk memantapkannya. Apakah 

engkau ingin mewarisi hidup kekal? Kuasailah dirimu sendiri 

dengan perintah-perintah Tuhan . 

6.  Segala kewajiban yang tertera pada loh batu yang kedua harus 

benar-benar ditaati supaya kita memperoleh sukacita. Jangan-

lah kita menyangka bahwa perbuatan ibadah apa saja, betapa-

pun mulianya, dapat menebus kelalaian kita dalam menjalan-

kannya. Segala ibadah itu juga tidaklah cukup untuk membe-

baskan diri kita dari tanggung jawab berat sebab  melanggar 

perintah-perintah ini . Semuanya ini dijelaskan Kristus 

dalam khotbah-Nya di atas bukit, secara luas dan sesuai mak-

sud rohaninya. sebab  itu, cermati dan jalankanlah kewajiban-

kewajiban kita itu.  

7.  Manusia menganggap diri mereka tidak berdosa sebab  mere-

ka acuh tak acuh. Inilah yang juga diperlihatkan oleh pemim-

pin ini. Ia berkata, Semuanya itu telah kuturuti sejak masa 

mudaku (ay. 21). Ia tidak mendapati kejahatan apa pun dalam 

dirinya, sama seperti orang Farisi itu (ay. 11). Ia membual 

bahwa ia telah mulai berbuat kebajikan sejak masa mudanya, 

bahwa ia tetap melakukannya sampai hari itu, dan ia tidak 

pernah melanggarnya dalam hal apa pun. Seandainya ia telah 

mengetahui makna dan sifat rohani dari perintah Tuhan  terse-

but dan perbuatan hatinya, dan juga, seandainya ia telah 

menjadi murid Kristus untuk beberapa saat lamanya dan bela-

jar dari-Nya, maka mungkin ia justru akan berkata sebaliknya: 

“Semuanya itu telah aku langgar sejak masa mudaku, baik 

dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatanku.” 

8. Hal-hal yang sangat penting yang bisa kita pakai untuk meng-

uji keadaan kerohanian kita yaitu  seberapa jauh kita menga-

sihi Kristus dan sesama kita, seberapa jauh kita mengasihi 

dunia ini dan dunia yang lain itu. Dengan hal-hal inilah si 

pemimpin itu diuji.  

sebab :  

(1) Jika ia memiliki kasih yang sejati kepada Kristus, ia akan 

datang dan mengikuti-Nya, menuruti ajaran-ajaran-Nya, 

dan tunduk pada segala aturan-Nya, apapun yang dituntut 

darinya. Tidak ada seorang pun akan mewarisi hidup kekal 

jika ia tidak bersedia menerima bagiannya dalam mengikuti 

Tuhan Yesus, untuk mengikuti Sang Anak Domba ke mana 

pun Ia pergi.  

(2)  Jika ia memiliki kasih yang sejati kepada sesamanya, ma-

ka setiap kali ada kesempatan, ia akan membagi-bagikan 

harta bendanya kepada orang miskin, yang merupakan 

penerima-penerima berkat dari Tuhan , dan berkat-berkat 

yang mereka terima ini yaitu  hak Tuhan  yang atas kekaya-

an kita.  

(3) Jika ia memandang rendah dunia ini, sebagaimana yang se-

harusnya ia lakukan, maka ia tidak akan keberatan untuk 

menjual segala yang dimilikinya, jika hal itu memang diper-

lukan untuk membantu umat Tuhan  yang miskin.  

(4)  Jika ia menghargai tinggi dunia yang lain itu, seperti yang 

seharusnya ia lakukan, maka ia tidak akan mendambakan 

apa pun selain memiliki harta di sorga dan akan meman-

dangnya sebagai imbalan berlimpah yang memadai atas 

semua yang telah ia tinggalkan, atau atas kerugian yang ia 

derita, atau atas semua yang ia kesampingkan demi Tuhan  

dalam dunia ini. 

9.  Banyak orang memiliki hal-hal yang sangat layak dipuji dalam 

diri mereka, namun demikian mereka tetap binasa hanya ka-

rena kekurangan satu hal tertentu lagi. Inilah yang terjadi pada 

si pemimpin ini . Ia meninggalkan Kristus sebab  satu hal 

ini. Ia suka terhadap semua syarat-syarat yang diajukan 

Kristus, kecuali yang satu ini, yang akan membuatnya berpi-

sah dengan harta bendanya. “Mengenai yang satu ini, aku mo-

hon, luputkanlah itu daripadaku.” Jika ini yaitu  penawaran-

nya, maka tidak ada kesepakatan. 

10. Banyak orang yang benci untuk meninggalkan Kristus, namun 

tetap meninggalkan-Nya. sesudah  pergumulan yang panjang 

antara keyakinan mereka dan kecemaran mereka, kecemaran 

merekalah yang akhirnya menang. Mereka sangat menyesal 

bahwa mereka tidak dapat menyembah Tuhan  dan Mamon pada 

saat yang bersamaan, namun jika ada salah satu yang harus 

ditinggalkan, pastilah itu Tuhan , bukan harta duniawi mereka. 

II.  Dalam pembicaraan Kristus dengan murid-murid-Nya mengenai 

kejadian ini, kita dapat mengamati bahwa:  

1.  Kekayaan merupakan rintangan yang paling besar bagi banyak 

orang dalam jalan menuju sorga. Kristus menaruh perhatian 

pada keengganan dan penyesalan yang diperlihatkan orang 

kaya itu saat  meninggalkan Dia. Ia melihat bahwa orang itu 

amat sedih, dan Ia merasa kasihan terhadapnya. Lalu, sesu-

dah itu Ia menyimpulkan, Alangkah sukarnya orang yang 

beruang masuk ke dalam Kerajaan Tuhan  (ay. 24). Jika saja 

pemimpin ini memiliki sedikit harta di dunia ini, seperti halnya 

Petrus, Yakobus dan Yohanes, lebih besar kemungkinannya 

bahwa ia akan meninggalkannya demi mengikuti Kristus, se-

perti yang mereka lakukan. Akan namun , dengan memiliki ba-

nyak harta, ia berada dalam pengaruh yang besar, dan ia lebih 

memilih untuk meninggalkan Kristus daripada tunduk ter-

hadap kewajiban untuk memberikan hartanya untuk kepen-

tingan amal. Dengan keprihatinan yang dalam, Kristus mene-

gaskan sukarnya orang-orang kaya untuk diselamatkan: Lebih 

mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada 

seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Tuhan  (ay. 25). Ini ada-

lah suatu ungkapan perumpamaan yang menyatakan betapa 

luar biasa sulitnya hal ini .  

2.  Rasa cinta akan dunia dan hal-hal yang ada di dalamnya sa-

ngat umum ditemukan dalam hati setiap orang. Oleh sebab  

itu, sejak Kristus menuntut syarat bagi kita bahwa untuk 

memperoleh keselamatan, kita harus melepaskan diri dari du-

nia ini, maka sungguh sangat sulitlah bagi siapa pun untuk 

masuk sorga. Jika segalanya harus kita jual, dan kalau tidak 

kita akan terpisah dari Kristus, maka siapakah yang dapat 

diselamatkan? (ay. 26). Mereka tidak menemukan alasan un-

tuk menyatakan bahwa persyaratan Kristus itu sulit dan tidak 

masuk akal. Ya! Sangatlah tepat bahwa mereka yang mengha-

rapkan kebahagiaan kekal di dunia yang lain harus rela mele-

paskan semua yang berharga bagi mereka di dunia ini, supaya 

dengan begitu pengharapan mereka terarah pada dunia yang 

lain itu. Akan namun , mereka tahu betapa kuatnya hati keba-

nyakan orang terpaut pada dunia ini, dan siapa saja pasti 

akan segera putus asa saat  menghadapi masalah ini.  

3.  Sungguh jalan kita menuju keselamatan itu sangatlah sukar, 

sedemikian sulitnya sampai tidak teratasi kecuali murni mela-

lui kuasa ilahi, melalui anugerah Tuhan  yang mahakuasa. Ha-

nya melalui Tuhan  sajalah, yang jauh melampaui segala kuasa 

dan hikmat ciptaan, keselamatan itu mungkin. Apa yang tidak 

mungkin bagi manusia (dan memang benar-benar mustahil 

bagi manusia untuk dapat mengubah jiwanya sendiri agar ber-

paling dari dunia kepada Tuhan ; seperti halnya membelah laut 

dan membuat sungai Yordan mengalir ke hulu), semuanya 

mungkin bagi Tuhan . Anugerah-Nya dapat bekerja atas jiwa ma-

nusia, dan mengubah hatinya yang bengkok dan sesat supaya 

berbalik. Tuhan lah yang mengerjakan di dalam diri kita baik 

kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.  

4.  Ada kecenderungan dalam diri kita untuk membesar-besarkan 

apa yang telah kita tinggalkan dan kerugian yang kita alami. 

Kita cenderung melebih-lebihkan apa yang telah kita lakukan 

dan derita demi Kristus. Hal ini juga tampak pada diri Petrus: 

Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan meng-

ikut Engkau (ay. 28). Dalam hal yang menyangkut dirinya, ia 

tidak tahan untuk membesar-besarkan kasihnya sendiri dan 

kasih saudara-saudaranya yang lain terhadap Kristus, dalam 

meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti-Nya. Namun, 

kita hendaknya membuang jauh-jauh pikiran untuk menyom- 

 bongkan diri, sebaliknya, akuilah bahwa semuanya itu tidak-

lah berharga untuk diperhitungkan. Kita hendaknya merasa 

malu dengan diri sendiri dalam menginginkan imbalan-imbal-

an seperti itu. Hendaknya kita merasa menyesal dan berat hati 

dalam menyombongkan perbuatan kita itu.  

5. Apa pun yang telah kita tinggalkan atau singkirkan demi 

Kristus, pasti akan diganti dengan berlimpah di dunia ini dan 

di dunia yang akan datang itu, tanpa memandang kelemahan 

dan keragu-raguan kita (ay. 29-30): Setiap orang yang telah 

meninggalkan kenikmatan harta atau hubungan dengan 

orang-orang yang dikasihinya sebab  Kerajaan Tuhan , daripada 

hal-hal ini  menghalangi pelayanannya terhadap kerajaan 

Tuhan  atau keuntungan untuk menikmatinya, akan menerima 

kembali lipat ganda pada masa ini juga, dalam anugerah dan 

penghiburan Roh Tuhan , dalam kenikmatan persekutuan de-

ngan Tuhan  dan hati nurani yang bersih. Inilah keuntungan-ke-

untungan yang dengan berlimpah akan menggantikan semua 

kerugian mereka yang tahu bagaimana menghargai dan meng-

usahakannya. Namun semua ini belumlah cukup, sebab  di 

dalam dunia yang akan datang mereka akan menerima hidup 

yang kekal, yang tampaknya merupakan hal yang dicari-cari 

dan didamba-dambakan oleh pemimpin ini . 

Penderitaan Kristus Dinubuatkan 

(18:31-34) 

31 Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: 

“Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para 

nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. 32 Sebab Ia akan diserahkan ke-

pada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan , diolok-olokkan, dihina dan 

diludahi, 33 dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga 

Ia akan bangkit.” 34 Akan namun  mereka sama sekali tidak mengerti semuanya 

itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa 

yang dimaksudkan.  

Kita temukan di sini:  

I.  Kristus memberitahu murid-murid-Nya mengenai penderitaan-

penderitaan dan kematian-Nya yang semakin mendekat, dan 

kemuliaan yang akan menyertainya. Ia sendiri sudah melihat dan 

mengetahui dengan pasti jauh-jauh hari sebelumnya sehingga Ia

menganggap bahwa Ia perlu memperingatkan mereka agar mereka 

tidak terlalu terkejut dan takut akan hal-hal yang akan menimpa-

Nya itu. Ada dua hal di sini yang tidak kita temukan dalam catat-

an penulis-penulis Injil yang lain:  

1.  Penderitaan Kristus di sini dikatakan sebagai memenuhi nu-

buat nabi-nabi. Dengan mempertimbangkan nubuat-nubuat ini 

Kristus menyerahkan diri-Nya di dalamnya dan akan mengge-

napinya: Segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai 

Anak Manusia, terutama penderitaan-penderitaan yang harus 

dijalani-Nya, akan digenapi. Perhatikanlah, Roh Kristus, mela-

lui nabi-nabi Perjanjian Lama, telah memberi kesaksian ten-

tang segala penderitaan dan kemuliaan yang menyusul sesu-

dah itu (1Ptr. 1:11). Ini membuktikan bahwa Kitab Suci yaitu  

firman dari Tuhan , sebab  apa yang dikatakan dalam firman itu 

sepenuh-penuhnya digenapi, dan bahwa Yesus Kristus yaitu  

utusan Tuhan , sebab  segala yang dinubuatkan mengenai Sang 

Mesias digenapi pembuktiannya dalam diri-Nya. Inilah Dia 

yang akan datang itu. Dan, Ia akan menyerahkan diri-Nya se-

penuhnya demi menggenapi nubuat Kitab Suci, dan tidak ada 

satu titik pun dari nubuat-nubuat itu yang akan jatuh ke ta-

nah. Hal ini membuat salib bukan batu sandungan lagi dan 

memberikan kehormatan ke atasnya. Ada tertulis demikian: 

Mesias harus menderita, dan demikianlah yang terjadi dengan 

Dia.  

2.  Penghinaan dan pelecehan yang dilakukan terhadap Kristus 

dalam penderitaan-penderitaan-Nya sangat ditekankan di sini. 

Para penulis Injil lain mengatakan bahwa Ia akan diolok-olok; 

namun di sini ditambahkan bahwa Ia akan dihina, 

hybristhēsetai – Ia akan dimaki-maki dan dihina, segala cerca-

an akan ditimpakan kepada-Nya. Ini yaitu  bagian dari 

penderitaan-Nya, yang melaluinya secara rohani Ia akan 

memenuhi keadilan yang disyaratkan Tuhan  atas pelanggaran 

yang telah kita lakukan terhadap Dia melalui dosa kita. Dosa 

ini menyinggung kehormatan-Nya. Satu contoh khusus dari 

penghinaan yang dilakukan terhadap diri-Nya yaitu  bahwa Ia 

akan diludahi, yang secara khusus pula telah dinubuatkan 

sebelumnya (Yes. 50:6). Namun di sini, seperti biasanya, saat  

Kristus berbicara mengenai penderitaan dan kematian-Nya, Ia 

menubuatkan kebangkitan-Nya, yang meniadakan ketakutan 

dan cela dari penderitaan-Nya: Pada hari ketiga Ia akan bang-

kit. 

II. Murid-murid-Nya menjadi bingung oleh sebab nya. Hal ini sung-

guh bertolak belakang dengan apa yang mereka pikirkan menge-

nai Mesias dan kerajaan-Nya, sungguh mematahkan harapan atas 

Guru mereka, meruntuhkan semua perkiraan mereka,  sehingga 

mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu (ay. 34). Mereka 

sudah sangat kuat terikat dengan segala prasangka mereka se-

hingga mereka tidak mau memahaminya secara harfiah, dan me-

reka juga tidak dapat memahaminya dengan cara lain, dan sebab  

itu mereka tidak mengerti semuanya sama sekali. Semuanya men-

jadi misteri, teka-teki bagi mereka, pasti. Bagi mereka, rasanya 

mustahil untuk menyesuaikan pikiran mereka dengan kemuliaan 

dan kehormatan Mesias serta maksud tujuan pendirian kerajaan-

Nya. Perkataan ini tersembunyi bagi mereka, kekrymmenon ap’ 

autōn, sulit dipercaya kebenarannya, tidak dapat diterima. Menu-

rut pandangan mereka: mereka telah membaca Perjanjian Lama 

berulang kali, namun  mereka tidak pernah menemukan apa pun 

yang akan digenapi dalam rupa penghinaan dan kematian Mesias 

ini. Perhatian mereka begitu terpaku dengan nubuat-nubuat yang 

berbicara mengenai kemuliaan-Nya sampai mereka mengabaikan 

nubuat-nubuat yang menyinggung mengenai penderitaan-Nya. 

Padahal hal inilah yang seharusnya lebih ditekankan oleh para 

ahli Taurat dan ahli-ahli hukum Taurat kepada mereka untuk 

diperhatikan, dan yang seharusnya dimasukkan dalam dasar-

dasar kepercayaan dan ajaran mereka, seperti halnya hal-hal yang 

lain. Akan namun , hal ini tidak sesuai dengan rancangan mereka, 

sehingga mereka mengabaikannya. Perhatikanlah, oleh sebab  itu, 

orang melakukan kesalahan sebab  mereka membaca Kitab Suci 

setengah-setengah, setengah-setengah dalam memahami nubuat 

nabi-nabi dan setengah-setengah dalam memahami hukum 

Taurat. Mereka hanya mengutamakan hal-hal yang manis (Yes. 

30:10). Demikianlah yang terjadi dengan kita dewasa ini, saat  

membaca berbagai nubuat yang masih akan digenapi, kita sangat 

suka membawa harapan kita tinggi-tinggi ke dalam keadaan 

mulia gereja pada hari-hari kemudian. Namun, dengan melaku-

kan demikian, kita mengabaikan saat-saat perkabungan dan ha-

nya membayangkan yang muluk-muluk, sehingga tidak ada yang 

tersisa lagi bagi kita selain masa-masa yang indah. Kemudian, ke-

tika guncangan dan aniaya tiba, kita tidak memahaminya, dan 

kita tidak tahu hal-hal yang terjadi ini, meskipun dengan sangat 

jelas kita diberi tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan 

Tuhan , kita harus mengalami banyak sengsara. 

Penglihatan Seorang Buta Dipulihkan 

(18:35-43) 

35 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di 

pinggir jalan dan mengemis. 36 Waktu orang itu mendengar orang banyak 

lewat, ia bertanya: “Apa itu?” 37 Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret 

lewat.” 38 Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” 39 Maka me-

reka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin 

keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” 40 Lalu Yesus berhenti dan 

menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan saat  ia telah berada di 

dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: 41 “Apa yang kaukehendaki supaya 

Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” 

42 Lalu kata Yesus kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyela-

matkan engkau!” 43 Dan sesaat  itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia 

sambil memuliakan Tuhan . Seluruh warga  melihat hal itu dan memuji-muji 

Tuhan .  

Kristus tidak hanya datang untuk membawa terang ke atas dunia 

yang gelap, sehingga menampakkan benda-benda yang seharusnya 

kelihatan bagi kita, namun  juga untuk memberikan penglihatan bagi 

jiwa-jiwa yang buta, dengan memulihkan indra yang memungkinkan 

mereka dapat melihat benda-benda itu. Sebagai perlambangan akan 

hal ini, Ia menyembuhkan banyak orang dari kebutaan jasmani me-

reka, dan sekarang kita punya salah satu cerita mengenai ini, yakni 

seorang buta yang penglihatannya disembuhkan Kristus di dekat 

Yerikho. Markus mencatat mengenai seorang buta yang disembuhkan 

Kristus, dan Markus menyebut namanya, saat  Yesus keluar dari 

Yerikho (Mrk. 10:46). Matius berbicara mengenai dua orang buta yang 

disembuhkan-Nya saat  rombongan itu lewat Yerikho (Mat. 20:30). 

Lukas mengatakan en tō eggizein auton – waktu Yesus hampir tiba di 

Yerikho, yang mungkin terjadi saat  Ia sedang beranjak pergi dari 

tempat ini  atau saat  ia hendak memasuki tempat ini .  

Amatilah: 

 

I.  Orang buta yang miskin ini duduk di pinggir jalan dan mengemis 

(ay. 35). Kelihatannya ia tidak hanya buta, namun juga miskin, 

 tidak mempunyai apa-apa untuk bertahan hidup, tidak ada kera-

bat untuk mengasuhnya. Inilah gambaran yang lebih cocok me-

ngenai dunia umat manusia yang didatangi Kristus untuk disem-

buhkan dan diselamatkan-Nya. Begitulah, mereka malang dan 

menderita, sebab  mereka miskin dan buta (Why. 3:17). Orang 

buta itu duduk sambil meminta-minta sebab  ia buta dan tidak 

dapat bekerja untuk mencari nafkah hidup. Perhatikanlah, mere-

ka yang sebab  pemeliharaan Tuhan  dalam satu atau lain cara 

tidak mampu mencari nafkah bagi dirinya sendiri harus diberikan 

kelegaan melalui perbuatan amal. Orang-orang yang membutuh-

kan belas kasihan di pinggir jalan ini  hendaknya tidak kita 

abaikan. Kristus di sini menunjukkan kasih-Nya bagi pengemis. 

Walaupun di antara mereka ada yang penipu, namun mereka 

semua tidak boleh disamaratakan. 

II.  Mendengar ribut-ribut orang banyak yang lewat, orang buta itu 

bertanya, Apa itu? (ay. 36). Kejadian seperti ini tidak kita temukan 

sebelumnya. Ini mengajarkan supaya kita hendaknya memiliki 

rasa ingin tahu, sebab  suatu waktu kita akan menemukan man-

faatnya. Mereka yang menginginkan penglihatannya hendaknya 

juga lebih memanfaatkan pendengarannya. saat  mereka tidak 

dapat melihat dengan mata mereka sendiri, mereka hendaknya 

menggunakan mata orang lain dengan bertanya-tanya. Inilah yang 

dilakukan oleh orang buta ini di sini, sehingga dengan begitu ia 

tahu bahwa Yesus dari Nazaret sedang lewat (ay. 37). yaitu  baik 

jika kita ada di jalan Kristus, dan bila ada kesempatan untuk 

menghadap-Nya, janganlah kita melepaskannya. 

III. Doanya mengandung iman dan kegigihan yang besar: Yesus Anak 

Daud, kasihanilah aku (ay. 38). Ia mengakui Kristus sebagai Anak 

Daud, Mesias yang dijanjikan. Ia percaya bahwa Dialah Yesus 

sang Juruselamat, bahwa Ia mampu menolong dan memberikan 

kelegaan baginya, sehingga dengan tulus memohon pertolongan-

Nya: “Kasihanilah aku, ampunilah dosaku, kasihanilah aku kare-

na kesengsaraanku.” Kristus yaitu  Raja yang Pengasih. Kita 

yang menghadap-Nya dengan mengakui Dia sebagai Anak Daud 

akan mendapati Dia demikian, dan cukuplah bagi kita untuk ber-

doa  kasihanilah kami, sebab  belas kasih-Nya meliputi semua. 

IV. Mereka yang dengan tulus memohon pertolongan dan berkat 

Kristus tidak akan dibuat kecewa dalam pencarian mereka, wa-

laupun mereka menemui tantangan dan hardikan. Mereka yang 

berjalan bersama-Nya menegur orang buta itu sebagai pembuat 

masalah bagi Guru mereka, ribut dan lancang, sehingga mereka 

meminta supaya ia diam. Akan namun , ia terus memohon. Malah-

an, teguran yang diberikan kepadanya hanyalah seperti memben-

dung aliran sungai yang deras, yang semakin membuatnya 

meluap. Semakin keras ia berseru: Anak Daud, kasihanilah aku. 

Mereka yang ingin doanya dikabulkan harus gigih dalam berdoa. 

Peristiwa ini, yang merupakan penutup pasal ini, menyiratkan hal 

yang sama dalam perumpamaan yang ada  di bagian pem-

buka pasal ini, yaitu bahwa mereka harus selalu berdoa dengan 

tidak jemu-jemu. 

V. Yesus menguatkan hati pengemis-pengemis yang malang, yang 

ditolak oleh manusia. Ia mengundang mereka untuk datang kepa-

da-Nya, siap menjamu dan menyambut mereka: Yesus menyuruh 

membawa orang itu kepada-Nya. Perhatikanlah, dibandingkan 

pengikut-pengikut-Nya, Kristus jauh lebih mengasihi orang-orang 

susah yang datang memohon kepada-Nya. Ia mengasihi mereka 

dengan kasih-Nya yang lemah lembut. Walaupun sedang dalam 

perjalanan, Ia mau berhenti dan menyuruh membawa orang itu ke-

pada-Nya. Mereka yang baru saja menghardiknya sekarang harus 

mengulurkan tangan mereka untuk menuntun dia kepada 

Kristus. 

VI. Walaupun mengetahui semua keinginan kita, Kristus terlebih su-

ka mengetahuinya dari kita sendiri (ay. 41): Apa yang kau kehen-

daki supaya Aku perbuat kepadamu? Dengan membeberkan per-

kara kita di hadapan Tuhan , dengan menyampaikan segala ke-

inginan dan beban tertentu kita, kita belajar untuk menghargai 

belas kasihan yang kita cari-cari. Hal ini perlu kita lakukan, 

sebab  kalau tidak, kita tidak layak menerima belas kasihan-Nya 

itu. Orang buta ini mencurahkan keinginan hatinya di hadapan 

Kristus saat  ia berkata, Tuhan, supaya aku dapat melihat. Se-

perti itulah kita hendaknya, dengan menyampaikan doa yang 

khusus, pada kesempatan-kesempatan khusus pula. 

VII. Doa yang berdasarkan iman, dengan dibimbing oleh dan didasar-

kan atas janji-janji Kristus yang menguatkan hati, tidak akan sia-

sia. Bahkan lebih dari itu, kita tidak hanya akan menerima ja-

waban damai sejahtera, namun juga kehormatan (ay. 42). Kristus 

berkata, melihatlah Engkau, imanmu telah menyelamatkan Eng-

kau. Iman yang sejati akan menghasilkan kegigihan dalam ber-

doa, dan keduanya akan mendatangkan buah-buah pertolongan 

Kristus dengan berlimpah. Keduanya sungguh akan memberi 

penghiburan ganda bila bekerja bersama dengan cara demikian, 

bila kita diselamatkan oleh iman. 

VIII. Anugerah Kristus hendaknya diakui dengan rasa syukur, untuk 

memuliakan Tuhan  (ay. 43).  

1.  Pengemis yang miskin itu sendiri, yang penglihatannya dipu-

lihkan, mengikuti Dia sambil memuliakan Tuhan . Bagi Kristus, 

memuliakan Bapa itu yaitu  pekerjaan-Nya, dan oleh sebab  

itu, orang yang disembuhkan-Nya akan sangat menyenang-

kan hati-Nya bila mereka memuji Tuhan . Demikian pula hal-

nya, orang yang paling menyenangkan hati Tuhan  yaitu  me-

reka yang memuji Kristus dan menghormati-Nya, sebab  

dengan mengakui bahwa Yesus yaitu  Tuhan, kita memulia-

kan Tuhan  Bapa. Kita mengikuti Kristus demi kemuliaan Tuhan  

sebagaimana yang akan dilakukan mereka yang matanya 

dibukakan.  

2.  Seluruh warga  yang melihat hal itu tidak tahan untuk me-

muji-muji Tuhan  yang telah menganugerahkan kuasa yang 

sedemikian kepada Anak Manusia, dan yang melalui-Nya 

telah memberikan berkat-berkat yang demikian ke atas anak-

anak manusia. Perhatikanlah, kita harus memuji Tuhan  atas 

belas kasih-Nya terhadap orang lain seperti halnya belas 

kasih-Nya terhadap diri kita sendiri. 

 

PASAL 19  

Dalam pasal ini kita temukan:  

I.  Pertobatan Zakheus pemungut cukai di Yerikho (ay. 1-10).  

II.  Perumpamaan mengenai uang atau mina yang dipercayakan 

oleh sang raja kepada hamba-hambanya dan mengenai ham-

ba-hambanya yang pemberontak (ay. 11-27).  

III. Kristus menunggangi keledai masuk ke Yerusalem dengan 

kemenangan (yang sungguh merupakan kemenangan); dan 

ratapan-Nya akan kehancuran kota itu yang akan terjadi (ay. 

28-44).  

IV. Pengajaran-Nya di Bait Tuhan , dan tindakan-Nya mengusir 

para pembeli dan penjual keluar dari tempat ini  (ay. 

45-48).  

Pertobatan Zakheus 

(19:1-10) 

1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. 2 Di situ 

ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang 

kaya. 3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, namun  ia tidak 

berhasil sebab  orang banyak, sebab badannya pendek. 4 Maka berlarilah ia 

mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, 

yang akan lewat di situ. 5 saat  Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke 

atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus me-

numpang di rumahmu.” 6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus 

dengan sukacita. 7 namun  semua orang yang melihat hal itu bersungut-su-

ngut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” 8 namun  Zakheus 

berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan 

kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas 

dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” 9 Kata Yesus kepada-

nya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, sebab  orang ini-

pun anak Abraham. 10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan me-

nyelamatkan yang hilang.”   

Tidak diragukan lagi, ada banyak orang yang dipertobatkan ke dalam 

iman kepada Kristus namun  kisahnya tidak disimpan dalam kitab-

kitab Injil. Namun, pertobatan beberapa orang yang peristiwanya 

dipandang luar biasa dicatat di dalamnya, seperti yang terjadi atas 

Zakheus ini. Kristus sedang melintasi kota Yerikho (ay. 1). Kota ini 

dibangun di bawah kutukan, namun  Kristus menghormatinya dengan 

kehadiran-Nya, sebab  Injil mengenyahkan kutukan. Walaupun kota 

itu seharusnya tidak boleh dibangun, namun bukanlah dosa untuk 

tinggal di dalamnya saat  kota itu telah dibangun. Kristus sedang 

melakukan perjalanan dari seberang sungai Yordan menuju Betani 

yang di dekat Yerusalem, untuk membangkitkan Lazarus yang sudah 

mati. saat  hendak melakukan suatu perbuatan baik tertentu, Ia 

merencanakan untuk melakukan banyak perbuatan baik lainnya di 

sepanjang perjalanan-Nya. Ia melakukan kebaikan terhadap jiwa 

maupun raga orang-orang. Di sini kita temukan satu contoh 

mengenai kebaikan-Nya terhadap jiwa.  

Amatilah: 

I.  Siapa dan apa pekerjaan Zakheus ini. Namanya menunjukkan 

bahwa ia yaitu  seorang Yahudi. Zaccai yaitu  sebuah nama 

yang umum dipakai di antara orang-orang Yahudi. Ada juga se-

orang rabbi Yahudi terkenal yang hidup kira-kira pada masa yang 

sama dengan nama yang sama.  

Perhatikanlah baik-baik:  

1. Panggilan hidupnya dan kedudukan yang dipegangnya: Ia se-

orang kepala pemungut cukai, seorang pimpinan, yang menge-

palai semua pemungut-pemungut cukai yang lain. Dia yaitu  

seorang pemungut cukai, seperti kata sebagian orang. Kita 

sering membaca mengenai pemungut cukai yang datang 

kepada Kristus, namun yang ada di sini yaitu  seorang kepala 

pemungut cukai, yang berkuasa, yang datang mencari-Nya. 

Tuhan  memang memiliki sisa-sisa umat-Nya dari berbagai 

macam orang. Kristus datang bahkan untuk menyelamatkan 

seorang kepala pemungut cukai.  

2.  Keadaannya di dunia ini sungguh terhormat: Ia seorang yang 

kaya. Para pemungut cukai umumnya yaitu  orang-orang 

yang nasibnya kurang beruntung dan statusnya rendah di du-

nia ini. Namun, si kepala pemungut cukai ini telah mengum-

pulkan harta yang banyak. Belum lama berselang Kristus me-

nunjukkan betapa sukarnya bagi orang yang beruang untuk 

masuk ke dalam Kerajaan Tuhan , namun sekarang Ia memberi-

kan contoh mengenai seorang kaya yang tersesat namun dite-

mukan kembali, bukan sebagai seorang anak hilang yang 

jatuh miskin. 

II.  Bagaimana ia menemui Kristus di jalan-Nya, dan apa yang terjadi 

saat  ia bertemu dengan-Nya.  

1. Ia mempunyai rasa keingintahuan yang besar untuk melihat 

Yesus, untuk mengetahui orang seperti apakah Dia, sebab  

telah mendengar banyak hal yang hebat mengenai diri-Nya (ay. 

3). Bukanlah hal yang aneh bagi kita untuk bertemu, jika bisa, 

dengan orang-orang terkenal yang sering kita dengar sebab  

kita cenderung berpikir bahwa ada sesuatu yang luar biasa 

dalam penampilan mereka. Setidaknya sesudah  itu kita dapat 

berkata bahwa kita telah melihat orang-orang besar yang se-

perti ini atau itu. Akan namun , mata tidak dipuaskan dengan 

melihat. Sekarang ini kita harus berusaha melihat Yesus de-

ngan mata iman, untuk melihat siapa Dia sebenarnya. Dengan 

kudus kita harus mengarahkan diri kita kepada Dia, dan kita 

akan melihat Yesus.  

2. Ia tidak dapat memuaskan rasa penasarannya sebab  badan-

nya pendek, dan orang-orang sangat ramai di situ. Kristus 

tidak mencoba untuk menarik perhatian, Ia tidak dipikul di 

atas pundak orang supaya semua orang dapat melihat-Nya. 

Baik Dia maupun kerajaan-Nya datang tanpa tanda-tanda 

lahiriah. Ia tidak menunggangi kereta kuda yang terbuka 

layaknya pangeran-pangeran, namun, sebagai salah satu dari 

kita, Ia membaur dalam kerumunan orang, sebab  hari itu 

yaitu  hari saat  Ia akan mendapat penghinaan. Zakheus 

badannya pendek dan dihalangi oleh orang-orang yang lebih 

tinggi darinya sehingga ia tidak dapat melihat Yesus. Banyak 

orang yang badannya kecil mempunyai jiwa yang besar dan 

semangat yang hidup. Siapa yang tidak ingin lebih menjadi 

seperti Zakheus daripada Saul, walaupun dari bahu ke atas ia 

lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya? Janganlah 

mereka yang badannya kecil ingin menambahkan sehasta ke 

atas diri mereka.  

3.  sebab  ia tidak ingin rasa penasarannya tidak terpuaskan, ia 

melupakan harga dirinya sebagai kepala pemungut cukai, dan 

berlarilah ia mendahului orang banyak, seperti seorang anak 

kecil, dan memanjat pohon ara, untuk melihat Yesus. Perhati-

kanlah, mereka yang dengan tulus ingin melihat Kristus akan 

menggunakan cara yang tepat untuk melihat-Nya dan akan 

menerjang segala kesulitan dan tantangan dan rela menderita 

untuk melihat-Nya. Mereka yang merasa dirinya kecil harus 

menggunakan segala kesempatan yang mereka dapatkan un-

tuk meninggikan diri mereka agar dapat melihat Kristus, dan 

tidak merasa malu untuk mengakui bahwa mereka membu-

tuhkan-Nya, dan sekecil apa pun yang kita lakukan, cukuplah 

itu. Janganlah kita berputus asa, sebab  dengan pertolongan 

yang tepat, kita harus menentukan tujuan-tujuan yang tinggi 

supaya dapat mencapai tempat-tempat yang tinggi. 

III. Kristus melihatnya dan memanggilnya untuk berkenalan lebih 

jauh dengannya (ay. 5) dan hasil dari panggilan ini  (ay. 6).  

1. Kristus mengundang diri-Nya sendiri untuk berkunjung ke 

rumah Zakheus, tanpa meragukan kesediaan Zakheus untuk 

menyambut-Nya dengan hati yang terbuka. Ya, ke mana pun 

Kristus pergi, Ia membawa serta penghiburan bersama diri-

Nya, dan juga sambutan atas diri-Nya sendiri. Ia membuka 

hati orang dan mencondongkannya untuk menerima Dia. 

Kristus memandang ke atas pohon, dan melihat Zakheus. Ia 

datang untuk melihat Kristus dan bertekad untuk secara 

khusus memperhatikan Dia, namun tidak pernah menyangka 

bahwa Kristus akan memperhatikannya. Ini suatu kehormatan 

yang terlalu besar dan jauh melebihi apa yang layak ia dapat-

kan, jauh melebihi apa yang pernah dipikirkannya. Lihatlah 

bagaimana Kristus mendahului Zakheus dengan berkat-berkat 

kebaikan-Nya dan bertindak melampaui harapan-harapannya. 

Lihatlah juga bagaimana Ia membesarkan hati orang-orang 

yang baru mulai dan membantu mereka untuk maju. Mereka 

yang berniat untuk mengenal Kristus akan dikenal oleh-Nya. 

Mereka yang hanya sekadar ingin melihat-Nya akan disambut 

untuk berbincang-bincang dengan-Nya. Perhatikanlah, mereka 

yang setia dalam perkara kecil, akan dipercayakan dengan 

sesuatu yang lebih besar lagi. Kadang-kadang mereka yang 

datang untuk mendengar firman Kristus sekadar untuk me-

muaskan rasa ingin tahu mereka, seperti yang dilakukan 

Zakheus, tanpa pernah mereka duga, hati nurani mereka 

malah dibangunkan, dan hati mereka diubahkan. Kristus 

memanggilnya dengan namanya, Zakheus, sebab  Ia mengenal 

orang-orang pilihan-Nya dengan nama mereka; bukankah 

semuanya sudah dicatat? Zakheus mungkin bertanya, seperti 

halnya Nathanel (Yoh. 1:48), “Bagaimana Engkau mengenal 

aku?” Akan namun , sebelum ia mem


Related Posts:

  • lukas 13-24 7 .  Perhatikanlah:  [1] Ada orang-orang di dunia yang merupakan umat Tuhan , orang-orang pilihan-Nya, orang-orang yang dipilih-Nya sendiri, orang-orang terpilih. Bagi mereka, Ia memberi-kan … Read More