.
Perhatikanlah:
[1] Ada orang-orang di dunia yang merupakan umat Tuhan ,
orang-orang pilihan-Nya, orang-orang yang dipilih-Nya
sendiri, orang-orang terpilih. Bagi mereka, Ia memberi-
kan perhatian-Nya dalam segala yang Ia perbuat bagi
mereka sebab mereka yaitu orang-orang pilihan-Nya,
sesuai dengan pilihan yang telah Ia buat atas diri me-
reka.
[2] Orang-orang pilihan Tuhan menghadapi banyak masalah
dan tentangan dalam dunia ini. Banyak musuh yang
melawan mereka, dan Setan yaitu musuh utama me-
reka.
[3] Apa yang diharapkan dan ditunggu-tunggu dari Tuhan
yaitu bahwa Ia akan menjaga dan melindungi mereka
dan memperlihatkan campur tangan-Nya dalam diri me-
reka, bahwa Ia akan mengamankan kepentingan gereja
di dunia dan anugerah-Nya dalam hati mereka.
(2) Apa yang dihendaki dari umat Tuhan untuk memperoleh hal
ini: mereka harus berseru siang malam kepada-Nya. Bukan
berarti bahwa Ia membutuhkan segala macam alasan dari
mereka atau dapat tersentuh oleh seruan-seruan mereka,
namun sebab hal ini telah Ia tetapkan sebagai kewajiban
mereka, dan untuk semuanya ini Ia telah menjanjikan
belas kasihan-Nya. Dalam berdoa kita harus terperinci da-
lam menyebutkan apa yang menjadi musuh rohani kita,
seperti yang dilakukan Rasul Paulus: Tentang hal itu aku
sudah tiga kali berseru kepada Tuhan supaya utusan Iblis
itu mundur daripadaku dan juga seperti dilakukan janda
ini. Tuhan, matikanlah kecemaran ini. Tuhan, persenjatai-
lah aku dalam melawan godaan ini. Kita harus peduli de-
ngan jemaat-jemaat yang tertindas dan teraniaya dan ber-
doa agar Tuhan memberikan keadilan bagi mereka dan
membuat mereka aman. Dalam hal ini, kita harus berge-
gas. Kita harus berseru dengan tulus: kita harus berseru
siang dan malam, seperti orang yang percaya bahwa doa-
nya pada akhirnya pasti akan didengar. Kita harus bergu-
mul dengan Tuhan , seperti orang yang tahu bagaimana
menghargai berkat dan tidak akan berkata tidak untuk
berkat itu. Umat Tuhan yang berdoa diperintahkan agar ja-
ngan biarkan Dia tinggal tenang (Yes. 62:6-7).
(3) Rintangan-rintangan yang menawarkan hati yang mungkin
akan mereka temui dalam doa-doa dan pengharapan-peng-
harapan mereka. Tuhan bisa saja akan tampak seperti meng-
ulur-ngulur waktu sebelum menolong mereka, dan tidak
segera menampakkan diri-Nya bagi mereka untuk menja-
wab doa-doa mereka. Ia yaitu makrothymōn ep’ autois – Ia
bersabar terhadap musuh-musuh umat-Nya dan tidak
membalas dendam terhadap mereka; dan Ia menguji kesa-
baran umat-Nya, dengan tidak membela perkara mereka. Ia
menahan diri terhadap seruan dosa yang dilakukan orang-
orang Mesir yang menindas Israel, dan terhadap seruan
kesedihan mereka yang tertindas.
(4) Sungguh ada jaminan bagi mereka bahwa belas kasihan-
Nya pada akhirnya akan datang, walaupun tertunda, dan
hal ini dikuatkan oleh perkataan hakim yang lalim terse-
but: kalau janda ini saja berhasil dengan kegigihannya,
lebih-lebih lagi orang-orang pilihan Tuhan , mereka akan sa-
ngat berhasil.
sebab :
[1] Janda ini yaitu seorang asing, tidak ada hubungan
apa pun dengan hakim ini . Akan namun , umat
Tuhan yang berdoa yaitu orang-orang pilihan-Nya,
orang-orang yang Ia kenal, yang Ia kasihi dan sumber
sukacita-Nya, dan yang selalu Ia pedulikan.
[2] Janda ini hanya seorang diri, namun umat Tuhan
yang berdoa kepada-Nya banyak, yang mana semuanya
datang kepada-Nya dengan satu maksud tujuan, dan
sepakat untuk meminta apa yang mereka butuhkan
(Mat. 18:19). Seperti halnya orang-orang kudus di sorga
mengelilingi takhta kemuliaan dengan puji-pujian mere-
ka yang satu, maka orang-orang kudus di dunia menge-
pung takhta anugerah dengan doa-doa mereka yang
satu.
[3] Janda itu datang kepada hakim yang menyuruhnya un-
tuk menjauhinya, namun kita datang kepada seorang
Ayah yang meminta kita menghampiri-Nya dengan pe-
nuh keberanian dan yang mengajarkan kita untuk
berseru, Ya Abba, Ya Bapa.
[4] Janda itu datang kepada hakim yang lalim, kita datang
kepada Bapa yang adil (Yoh. 17:25), pribadi yang peduli
dengan kemuliaan-Nya dan kelegaan bagi ciptaan-Nya
yang malang, khususnya mereka yang menderita, seper-
ti janda-janda dan anak yatim.
[5] Janda itu datang kepada hakim ini murni dengan usa-
hanya sendiri, namun Tuhan sendiri terlibat dengan apa
yang sedang kita minta, sehingga kita dapat berseru,
Bangunlah ya Tuhan , lakukanlah perjuangan-Mu; dan
Apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan
nama-Mu yang besar itu?
[6] Janda itu tidak mempunyai teman yang membelanya
untuk menguatkan perkaranya dan yang benar-benar
peduli terhadap dirinya, namun kita memiliki Pembela
yang berbicara pada Bapa, yang yaitu Anak-Nya sen-
diri, yang selamanya hidup sebagai pengantara bagi kita
dan yang memiliki hak penuh di sorga.
[7] Janda itu tidak memiliki janji apa pun bahwa perkara-
nya akan selesai dengan segera. Tidak, juga tidak ada
sokongan baginya untuk meminta. Sebaliknya, kita me-
miliki tongkat emas yang dijulurkan kepada kita, dan
kita disuruh untuk meminta, dengan janji bahwa apa
yang diminta itu akan diberikan kepada kita.
[8] Janda itu hanya dapat menemui hakim ini sewak-
tu-waktu, namun kita dapat berseru kepada Tuhan siang
dan malam, sepanjang waktu, sehingga kita dapat lebih
berharap bahwa kita akan berhasil jika kita gigih di
dalamnya.
[9] Kegigihannya membangkitkan amarah hakim ini
sehingga ia mungkin merasa takut bahwa hal ini
akan membuat hakim ini memperlakukannya de-
ngan lebih buruk. Tidak demikian halnya dengan kita,
kegigihan kita malah menyenangkan hati Tuhan . Doa
yang dipanjatkan oleh orang yang adil benar yaitu ke-
girangan bagi-Nya. Oleh sebab itu, kita dapat berha-
rap, bahwa doa kita akan sangat membuahkan hasil
jika dipanjatkan dengan gigih.
2. Meskipun demikian, Ia menyiratkan kepada mereka bahwa
mereka akan mulai menjadi lelah dalam menantikan-Nya (ay.
8): “Meskipun demikian, walaupun ada jaminan bahwa Tuhan
akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya, namun jika
Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
Anak manusia akan datang untuk membenarkan orang-orang
pilihan-Nya, untuk membela perkara orang-orang Kristen yang
teraniaya terhadap orang-orang Yahudi yang menganiaya me-
reka. Ia akan datang dalam pemeliharaan-Nya untuk membela
perkara orang-orang-Nya yang terluka pada segala zaman. Dan
akhirnya, pada hari penghakiman yang besar itu, Ia akan da-
tang untuk menentukan nasib Sion yang memberontak. Seka-
rang, saat Ia datang, akankah Ia menemukan iman di bumi?
Pertanyaan ini menyiratkan pengingkaran yang kuat: Tidak. Ia
tidak akan menemukannya, Ia sendiri telah melihatnya jauh-
jauh hari sebelumnya.
(1) Ini berarti bahwa hanya di bumi saja ada kesempatan un-
tuk memiliki iman, sebab para pendosa di neraka akan
merasakan apa yang mereka tolak untuk diimani, dan
orang-orang kudus di sorga akan menikmati apa yang
mereka imani.
(2) Ini berarti bahwa iman yaitu hal utama yang Kristus cari.
Ia mengamati anak-anak manusia dan tidak bertanya, Apa-
kah ada yang tidak bersalah? namun, Apakah ada iman? Ia
bertanya mengenai iman mereka yang datang kepada-Nya
untuk disembuhkan.
(3) Ini berarti bahwa jika ada iman, walaupun kecil sekali, Ia
akan mencarinya, dan mendapatkannya. Mata-Nya tertuju
kepada orang-orang percaya yang imannya paling lemah
dan paling tersembunyi.
(4) Telah dinubuatkan sebelumnya bahwa saat Kristus
datang untuk membela perkara umat-Nya, Ia hanya akan
menemukan sedikit iman dibandingkan dengan apa yang
mungkin bisa diharapkan orang.
Ini berarti:
[1] Secara umum, Ia hanya akan menemukan sedikit orang
yang adil benar, sedikit orang yang benar-benar dan
sungguh-sungguh baik. Banyak orang kelihatannya
mencerminkan sifat-sifat ilahi, namun sedikit saja yang
memiliki iman, sedikit saja yang tulus dan jujur. Ya,
bahkan Ia hanya akan menemukan sedikit saja kesetia-
an di antara manusia. Telah lenyap orang-orang yang
setia (Mzm. 12:1-2). Bahkan sampai pada akhir zaman,
masih akan ada keluh kesah yang sama mengenai hal
ini. Dunia tidak akan menjadi lebih baik. Tidak, sebab
dunia sedang mendekati akhirnya. Dunia ini jahat, dan
akan jahat, dan akan menjadi paling jahat tepat sebe-
lum kedatangan Kristus. Akhir zaman akan menjadi
masa yang paling berbahaya.
[2] Secara khusus, Ia akan menemukan sedikit yang memi-
liki iman mengenai kedatangan-Nya. saat Ia datang
untuk membela orang-orang pilihan-Nya, Ia akan meli-
hat apakah ada iman untuk ditolong dan disokong, dan
Ia heran bahwa tidak ada satu pun (Yes. 59:15; 63:5).
Hal ini menyiratkan bahwa Kristus, baik dalam keda-
tangan-Nya secara khusus untuk memberikan kelegaan
bagi umat-Nya, maupun dalam kedatangan-Nya secara
umum pada akhir zaman, dapat dan akan menunda ke-
datangan-Nya, selama; Pertama, orang-orang fasik akan
mulai memberontak, dan berseru, Di manakah janji
tentang kedatangan-Nya itu? (2Ptr. 3:4). Mereka akan
menantang-Nya untuk datang (Yes. 5:10, Am. 5:19), dan
kedatangan-Nya yang tertunda akan semakin menge-
raskan kejahatan mereka (Mat. 24:48). Kedua, bahkan
umat-Nya sendiri akan mulai putus asa, dan menyim-
pulkan bahwa Ia tidak akan pernah datang sebab Ia
telah melewati perkiraan mereka. Masa saat Tuhan
akan menampakkan diri-Nya di hadapan umat-Nya ada-
lah saat keadaan sudah sampai pada ambang batas-
nya yang terakhir, saat Sion mulai berseru, Tuhan
telah meninggalkan aku (lih. Yes. 49:14; 40:27). Ini me-
rupakan penghiburan bagi kita, sebab saat waktu
yang ditetapkan itu tiba, akan tampak bagi kita bahwa
ketidakpercayaan manusia itu tidaklah membuat janji
Tuhan batal.
Orang Farisi dan Pemungut Cukai
(18:9-14)
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan meman-
dang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 “Ada
dua orang pergi ke Bait Tuhan untuk berdoa; yang seorang yaitu Farisi dan
yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hati-
nya begini: Ya Tuhan , aku mengucap syukur kepada-Mu, sebab aku tidak
sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan
pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali
seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Teta-
pi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah
ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Tuhan , kasihanilah aku
orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya
sebagai orang yang dibenarkan Tuhan dan orang lain itu tidak. Sebab barang-
siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan
diri, ia akan ditinggikan.”
Makna dari perumpamaan ini juga telah dipaparkan di depan. Kita
diberi tahu siapa yang akan diangkat ke dalam tingkat tertentu dan
siapa yang akan dibuatkan perhitungan (ay. 9). Kristus mengguna-
kannya untuk mengecam mereka yang menganggap dirinya benar
dan memandang rendah semua orang lain.
Yang dimaksud di sini yaitu mereka yang:
1. Memandang tinggi diri mereka dan kebaikan mereka sendiri.
Mereka yang menganggap diri mereka paling suci, dan lebih suci
dari semua sesama mereka, dan dengan begitu memandang diri
sendiri sebagai teladan bagi semua orang. Bukan itu saja,
2. Mereka memiliki keyakinan tinggi akan diri mereka di hadapan
Tuhan dan tidak hanya memandang tinggi diri sendiri sebagai
orang benar, namun juga sangat mengharapkan imbalan atas
kebenaran mereka itu saat berseru kepada Tuhan : Mereka
menganggap dirinya benar, dan sebab itu mereka berpikir bahwa
mereka telah membuat Tuhan berutang kepada mereka dan dapat
menuntut apa saja dari-Nya.
3. Mereka merendahkan orang lain dan memandang mereka dengan
hina, tidak ada harganya dibandingkan dengan mereka. Nah,
Kristus melalui perumpamaan ini ingin menunjukkan kebodohan
mereka dan bagaimana mereka telah menutup pintu perkenan
Tuhan bagi diri mereka. Ini disebut suatu perumpamaan, walaupun
tidak ada hubungan perbandingan apa pun di dalamnya. Walau-
pun begitu, perumpamaan ini lebih merupakan suatu penggam-
baran mengenai tabiat dan perkataan yang berbeda dari orang-
orang yang dengan angkuh membenarkan diri mereka sendiri
dengan mereka yang dengan rendah hati mengutuk diri mereka
sendiri, dan bagaimana kedudukan mereka di hadapan Tuhan . Hal
ini menggambarkan kenyataan hidup sehari-hari.
I. Di sini digambarkan dua orang yang melakukan kewajiban mere-
ka untuk berdoa pada waktu dan tempat yang sama (ay. 10): Dua
orang pergi ke Bait Tuhan untuk berdoa. Saat itu bukan waktu bagi
ibadah bersama, namun mereka ke sana untuk melakukan ibadah
pribadi, sebagaimana yang umum dilakukan orang-orang yang
saleh pada masa itu. saat itu, Bait Tuhan bukan hanya sekadar
tempat, namun juga alat perantara dalam penyembahan dan Tuhan
telah berjanji, sebagai jawaban atas permohonan Salomo, bahwa
apapun doa yang disampaikan dengan cara yang benar di dalam
atau menghadap ke rumah ini , maka doa itu akan lebih
diterima. Kristus yaitu Bait Tuhan kita sehingga kita harus meng-
arahkan mata kita kepada-Nya pada segala waktu saat kita
datang kepada Tuhan . Orang Farisi dan pemungut cukai itu sama-
sama pergi ke Bait Tuhan untuk berdoa. Perhatikanlah, di antara
para penyembah Tuhan , yaitu di antara gereja yang kelihatan
(visible church), orang-orang yang adil benar dan orang-orang fasik
bercampur baur, ada sebagian yang berkenan kepada-Nya dan
ada sebagian lain yang tidak. Beginilah halnya sejak Kain dan
Habel memberikan korban persembahan mereka di atas altar
yang sama. Orang Farisi yang angkuh seperti biasanya selalu me-
rasa dirinya tinggi saat berdoa, dan begitu juga dengan pemungut
cukai yang rendah diri seperti biasanya selalu menganggap diri-
nya tidak layak mendapat keuntungan dari berdoa. Akan namun ,
kita memiliki dasar untuk berpikir bahwa kedua orang ini datang
ke Bait Tuhan dengan tujuan yang berbeda.
1. Orang Farisi pergi ke Bait Tuhan untuk berdoa sebab tempat
itu yaitu tempat umum, lebih umum dibandingkan dengan
sudut-sudut jalan, sehingga ia akan menarik banyak perhati-
an orang, yang akan memuji ibadahnya, yang mungkin dile-
bih-lebihkannya. Tabiat yang Kristus sematkan kepada kaum
Farisi, bahwa semua yang mereka lakukan hanya dimaksud
supaya dilihat orang, memberikan dasar kepada kita untuk
membenarkan kecurigaan ini. Perhatikanlah, orang-orang mu-
nafik biasa melakukan ibadah-ibadah lahiriah hanya supaya
dipuji. Banyak orang yang kita temui setiap hari di Bait Tuhan ,
bisa jadi, tidak akan kita temui ada di sebelah kanan Kristus
pada hari penghakiman.
2. Pemungut cukai pergi ke Bait Tuhan sebab tempat ini
ditetapkan sebagai rumah doa bagi segala bangsa (Yes. 56:7).
Orang Farisi pergi ke Bait Tuhan untuk mencari pujian, sedang-
kan pemungut cukai pergi sebab ia memiliki urusan tertentu.
Orang Farisi pergi untuk pamer, sedangkan pemungut cukai
pergi untuk menaikkan permohonannya. Demikianlah, Tuhan
melihat dengan kecenderungan dan maksud apa kita datang
untuk menantikan-Nya dalam ibadah-ibadah suci, dan Ia akan
menghakimi kita sesuai dengan kecenderungan dan maksud
kita itu.
II. Beginilah orang Farisi ini menghadap Tuhan (sebab aku
tidak dapat menyebutnya sebagai doa): Orang Farisi itu berdiri dan
berdoa dalam hatinya begini (ay. 11-12). Ia berdoa sendirian, me-
nurut pemahaman beberapa orang. Yang ia pikirkan hanyalah
dirinya sendiri. Ia tidak peduli akan hal lain kecuali dirinya sen-
diri, puji-pujiannya sendiri, bukan kemuliaan Tuhan . Mungkin juga
ia berdiri di tempat terbuka di mana ia membedakan dirinya dari
orang-orang lain, atau menampilkan dirinya secara terhormat dan
berkelas. Begitulah ia berdoa. Nah, apa yang akan ia katakan di
sini menunjukkan:
1. Bahwa ia menganggap dirinya benar. Ia mengatakan banyak
hal-hal baik mengenai dirinya sendiri, yang mungkin saja
benar. Ia bebas dari dosa-dosa yang keji dan membawa
kecemaran. Ia bukan perampok, bukan lintah darat, tidak
menindas para pengutang atau penyewa rumah. Sebaliknya, ia
berlaku baik dan adil terhadap semua orang yang bergantung
kepadanya. Ia tidak berbuat curang dalam setiap urusannya, ia
tidak berbuat jahat terhadap siapa pun. Ia dapat berkata,
seperti halnya Samuel, Lembu atau kedelai siapakah yang
telah kuambil? Ia bukan pezinah, ia hidup di dalam pengudus-
an dan penghormatan. Lebih-lebih lagi, ia berpuasa dua kali
seminggu, sebagai tindakan yang sebagian sebab dorongan
hati, sebagian sebab ibadah. Kaum Farisi dan murid-murid-
nya berpuasa dua kali dalam seminggu, Senin dan Kamis. De-
ngan demikian, ia memuliakan Tuhan dengan tubuhnya. Bukan
itu saja, ia juga memberikan sepersepuluh dari segala peng-
hasilannya sesuai dengan hukum Taurat, sehingga ia memu-
liakan Tuhan dengan harta duniawinya. Semua yang dilakukan-
nya baik dan layak dipuji. Celakalah mereka yang tidak mela-
kukan kebaikan seperti yang dilakukan orang Farisi ini. Mes-
kipun demikian, ia tidak dikenan. Mengapa demikian?
(1) Rasa terima kasih yang dipanjatkannya untuk Tuhan atas
semua ini, walaupun hal ini sendiri yaitu baik, namun
kelihatannya hanya sekadar tindakan lahiriah saja yang
tidak ada isinya. Ia tidak berkata, sebab anugerah Tuhan
aku yaitu sebagaimana aku ada sekarang, seperti halnya
Paulus. Yang dilakukannya malah menganggap remeh se-
muanya itu: Ya Tuhan , aku mengucap syukur kepada-Mu,
yang maksudnya semata-mata sebagai pengantar untuk
dengan angkuh memamerkan segala pencapaian dirinya
sendiri
(2) Ia membesar-besarkan tindakannya, dan suka membicara-
kan hal ini , seakan-akan tujuannya pergi ke Bait
Tuhan hanya untuk memberi tahu Tuhan yang mahakuasa
betapa salehnya dia. Ia tidak ragu untuk berkata, seperti
orang-orang munafik yang kita baca (Yes. 58:3): Mengapa
kami berpuasa dan engkau tidak memperhatikannya juga?
(3) Ia percaya bahwa ia melakukan suatu kebenaran, dan ti-
dak hanya menyebutkannya, namun menyeru-nyerukan-
nya, seakan-akan dengan begitu ia telah melakukan sesua-
tu yang akan mendapat imbalan dari tangan Tuhan , dan
membuat-Nya sebagai pihak yang berutang kepadanya.
(4) Tidak ada satu pun kata doa yang keluar dari mulutnya. Ia
pergi ke Bait Tuhan untuk berdoa, namun melupakan tujuan-
nya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya sendiri
dan kebaikannya sendiri sehingga ia berpikir bahwa ia
tidak membutuhkan apa pun, tidak, tidak juga pertolongan
dan anugerah Tuhan , yang kelihatannya ia anggap tidak
berharga untuk diminta.
2. Bahwa ia memandang rendah semua orang lain.
(1) Ia menganggap semua orang rendah, kecuali dirinya sen-
diri: Aku mengucap syukur kepada-Mu, sebab aku tidak
sama seperti semua orang lain. Ia berbicara secara umum,
seolah-olah ia lebih baik daripada siapa saja. Kita bisa saja
memiliki alasan untuk bersyukur kepada Tuhan bahwa kita
tidak seperti semua orang lain, yang terkenal fasik dan ber-
hati busuk. Akan namun , dengan berbicara sembarangan se-
perti ini, seolah-olah hanya kita sendiri yang baik dan
semua orang selain kita terkutuk, itu sama saja dengan
menghakimi tanpa pandang bulu.
(2) Secara khusus ia menganggap rendah si pemungut cukai
ini, yang mungkin ditinggalkannya di pelataran bagi orang-
orang bukan-Yahudi dan ditemuinya saat ia masuk ke
Bait Tuhan . Ia tahu bahwa orang ini yaitu seorang
pemungut cukai sehingga tanpa ampun lagi langsung me-
nyimpulkannya sebagai seorang perampok, orang lalim dan
segala yang jelek lainnya. Anggaplah bahwa ia benar dan ia
telah mengetahuinya, tapi lalu apa urusannya dengan
orang itu? Tidak bisakah ia membaca doanya saja (dan
inilah yang hanya dilakukan oleh orang-orang Farisi) tanpa
mencela sesamanya? Atau apakah ini bagian dari ucapan-
nya Ya Tuhan , aku mengucap syukur kepada-Mu? Dan
bukankah ia merasa puas dengan keburukan si pemungut
cukai ini , sama seperti ia merasa puas dengan ke-
baikannya sendiri? Jadi, buktinya sangat jelas bahwa da-
lam diri orang Farisi ini tidak ada kerendahan dan kemu-
rahan hati, yang ada hanyalah keangkuhan dan kedengki-
an yang menguasai dirinya.
III. Beginilah pemungut cukai ini menghadap Tuhan , yang meru-
pakan kebalikan dari orang Farisi ini . Pemungut cukai ini
sangat rendah hati dan sangat merendahkan diri, sedangkan
orang Farisi ini angkuh dan suka pamer. Pemungut cukai
ini penuh pertobatan atas dosa dan kerinduan akan Tuhan ,
sedangkan orang Farisi ini penuh dengan rasa percaya diri
akan dirinya sendiri serta akan kebenaran dan kemampuan untuk
mencukupi diri sendiri.
1. Pemungut cukai ini mengungkapkan pertobatan dan
kerendahan hati dalam segala perbuatannya. saat membawa
dirinya kepada Tuhan dalam ibadah ini, tingkah lakunya
menunjukkan kesungguhan dan kerendahan hati yang dalam,
menyatakan hatinya yang sungguh hancur, menyesal dan taat.
(1) Ia berdiri jauh-jauh. Orang Farisi berdiri, menempatkan diri-
nya setinggi mungkin di bagian yang lebih tinggi di dalam
pelataran Bait Tuhan . Pemungut cukai ini berdiri jauh-
jauh sebab merasa bahwa dirinya tidak layak untuk men-
dekati Tuhan , dan mungkin ia takut menyinggung orang
Farisi ini , takut mengganggu ibadahnya, yang ia lihat
memandang dirinya dengan jijik. Dengan demikian, ia
mengakui bahwa selayaknyalah bila Tuhan melihatnya dari
jauh saja dan menjauhinya selamanya. Namun, ia juga
mengakui belas kasih Tuhan yang besar sehingga Dia ber-
kenan menerimanya begitu dekat.
(2) Ia tidak berani menengadah ke langit, apalagi sampai meng-
angkat kedua tangannya, seperti yang lazim dilakukan ke-
tika orang berdoa. Ia sungguh mengangkat hatinya kepada
Tuhan di tempat tinggi, dengan segala kerinduan yang ku-
dus, namun, oleh rasa malu dan rendah diri yang yang
amat sangat, ia tidak menengadahkan mukanya dalam ra-
sa percaya diri dan keberanian yang kudus. Segala pelang-
garannya telah menimpa kepalanya, seperti beban berat,
sehingga ia tidak sanggup melihat (Mzm. 40:12 KJV). Wajah-
nya yang tidak bergairah yaitu tanda kesuraman pikiran-
nya saat ia memikirkan dosa.
(3) Ia memukul-mukul dadanya, dengan maksud kudus merasa
marah terhadap diri sendiri sebab telah berdosa: “Kalau
hati ini dapat kujangkau, rasanya ingin aku mencabik-
cabik hatiku yang jahat ini, mata air beracun yang darinya
mengalir semua dosa.” Hati nurani para pendosa pertama
kali menegur mereka dengan teguran penyesalan (2Sam.
24:10). Berdebar-debarlah hati Daud. Hai orang berdosa!
Apa yang telah engkau lakukan? Kemudian ia memukul
hatinya dengan ratapan penyesalan: Aku manusia celaka!
Efraim diceritakan menepuk pinggang sebagai tanda berka-
bung (Yer. 31:19). Orang-orang yang benar-benar berduka
digambarkan memukul-mukul dada (Nah. 2:7)
2. Pemungut cukai itu mengungkapkan penyesalannya dalam per-
kataannya. Doanya singkat. Ketakutan dan rasa malu meng-
halanginya untuk berkata-kata lebih banyak. Keluh dan rintih-
an menelan kata-katanya. Namun, apa yang ia katakan ber-
tujuan: Ya Tuhan , kasihanilah aku orang berdosa ini. Dan
terpujilah Tuhan bahwa doa ini tercatat bagi kita sehingga kita
bisa melihat doa ini terjawab, dan kita dapat yakin bahwa
orang yang menaikkan doa demikian akan masuk ke dalam
rumah-Nya sebagai orang yang dibenarkan. Begitulah juga
halnya dengan kita jika kita menaikkan doa yang demikian,
seperti si pemungut cukai ini , melalui Yesus Kristus: “Ya
Tuhan kasihanilah aku orang berdosa ini. Tuhan yang maha-
pengampun berbelas kasihlah terhadap aku, sebab jika tidak,
maka aku akan binasa selamanya, menderita selamanya. Ya
Tuhan , berbelas kasihlah terhadap aku, sebab aku telah ber-
tindak kejam terhadap diriku sendiri.”
(1) Ia mengakui bahwa dirinya yaitu seorang pendosa melalui
tabiatnya, perbuatannya, dan bersalah di hadapan Tuhan .
Sesungguhnya aku ini terlalu hina, jawab apakah yang
dapat kuberikan kepada-Mu? Orang Farisi menolak dirinya
disebut pendosa, tidak ada seorang pun yang dapat menu-
duhnya, dan ia tidak melihat alasan untuk menuduh diri-
nya sendiri atas kesalahan apa pun; ia bersih, ia tahir dari
dosa. Sebaliknya, pemungut cukai ini mengecam diri-
nya sendiri sebagai pendosa, sebagai seorang terpidana
dalam pengadilan Tuhan .
(2) Ia tidak bergantung kepada apa pun selain kepada belas
kasihan Tuhan , hanya itulah satu-satunya hal yang ia
andalkan. Orang Farisi ini menekankan imbalan atas
puasa dan persepuluhannya, namun pemungut cukai yang
malang ini tidak menuntut imbalan apa pun dan
mengandalkan belas kasihan sebagai tempat perlindungan-
nya. Ia mencengkeram erat-erat tampuk altar ini .
“Keadilan telah mengutuk diriku, tidak ada apa pun yang
dapat menyelamatkanku selain belas kasihan, hanya belas
kasihan.”
(3) Ia dengan tulus berdoa untuk mendapatkan anugerah be-
las kasihan ini : “Ya Tuhan , kasihanilah aku, bermurah
hatilah kepadaku, ampunilah dosa-dosaku, berdamailah
denganku dan bawalahlah aku ke dalam pertolongan-Mu,
terimalah aku dalam kasih-Mu, dan kasihilah aku apa ada-
nya.” Ia datang layaknya seorang pengemis yang meminta
sedekah saat ia hampir mati sebab kelaparan. Mungkin
ia mengulangi doa ini dengan kasih yang diperbarui, dan
mungkin menambahkan perkataannya untuk tujuan yang
sama, dengan secara khusus mengakui dosa-dosanya dan
menyebutkan belas kasihan khusus yang ia inginkan, lalu
menantikan Tuhan untuk semuanya ini. Namun, tetap saja
beban inilah yang terus disenandungkannya: Ya Tuhan ,
kasihanilah aku orang berdosa ini.
IV. Inilah perkenan Tuhan bagi pemungut cukai ini . Kita telah
melihat betapa bedanya kedua orang ini mengungkapkan
diri mereka kepada Tuhan . Sekarang, pantaslah kalau kita berta-
nya apa hasil dari perbuatan mereka. Ada orang-orang yang ber-
seru layaknya orang Farisi ini , yang datang ke rumah Tuhan
untuk mencari pujian dan memandang hina pemungut cukai yang
masuk mengendap-ngendap dan meratapi dirinya. Akan namun ,
Yesus Tuhan kita, yang di hadapan-Nya semua hati terbuka,
semua niat diketahui, dan tidak ada rahasia yang tersembunyi
dari-Nya, yang mengetahui dengan sempurna semua tata cara
pengadilan sorgawi, meyakinkan kita bahwa pemungut cukai yang
malang, menyesal dan hancur hati ini pulang ke rumahnya seba-
gai orang yang dibenarkan Tuhan dan orang lain itu tidak. Orang
Farisi ini berpikir bahwa jikalau salah satu dari mereka
hendak dibenarkan, maka pastilah dia orangnya, dan bukannya si
pemungut cukai itu. “Tidak,” kata Kristus, “Aku berkata kepada-
mu, Aku menguatkannya dengan sepasti-pastinya dan menyata-
kan kepadamu dengan perhatian yang paling mendalam, Aku ber-
kata kepadamu, pemungut cukai itulah, dan bukan orang Farisi
itu.” Orang Farisi yang angkuh itu beranjak pergi, ditolak oleh
Tuhan . Begitu jauh ucapan syukurnya itu untuk diterima, malahan
ia menjadi suatu kekejian bagi Tuhan . Ia tidak dibenarkan, dosa-
dosanya tidak diampuni, dan ia juga tidak dijauhkan dari kutuk-
an. Ia tidak diterima dalam pandangan Tuhan sebagai orang yang
adil benar, sebab ia begitu menganggap dirinya sendiri adil benar
dalam pandangannya. Sebaliknya, pemungut cukai ini , yang
dengan rendah hati menghadap Sorga, memperoleh pengampunan
atas dosa-dosanya, dan ia yang tidak akan ditempatkan bersama
anjing penjaga kambing dombanya oleh orang Farisi ini ,
ditempatkan oleh Tuhan bersama-sama dengan anak-anak dalam
keluarga-Nya. Alasan untuk ini yaitu bahwa kemuliaan Tuhan
menentang orang-orang congkak, namun mengasihi orang yang
rendah hati.
1. Orang-orang angkuh yang meninggikan diri yaitu pesaing-
pesaing Tuhan , sebab itu mereka pasti akan direndahkan.
Tuhan , dalam percakapan-Nya dengan Ayub, merujuk kepada
bukti ini bahwa Ia yaitu Tuhan , bahwa Ia mengamat-amati
setiap orang yang congkak dan merendahkan dia (Ayb. 40:6).
2. Orang yang rendah hati, yang merendahkan dirinya yaitu
orang-orang yang tunduk kepada Tuhan , dan mereka akan
ditinggikan. Tuhan menyediakan kedudukan tinggi bagi mereka
yang mengharapkannya sebagai suatu belas kasihan, namun
tidak bagi mereka yang menuntutnya sebagai suatu utang dari
Dia. Ia akan ditinggikan ke dalam kasih Tuhan dan persekutuan
dengan-Nya, akan ditinggikan dalam kepuasan akan dirinya
sendiri, dan pada akhirnya akan ditinggikan setinggi sorga.
Lihatlah hukuman atas dosa: Barangsiapa meninggikan diri, ia
akan direndahkan. Lihatlah imbalan atas kewajiban: Barang-
siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Lihatlah juga
bagaimana kuasa anugerah Tuhan dalam mendapatkan apa
yang baik dari apa yang jahat. Si pemungut cukai ini
dulunya yaitu seorang pendosa besar, namun dari dosanya
yang besar didapatkan pertobatan yang besar pula, dari si
pemakan keluar makanan. Lihatlah, sebaliknya, kuasa jahat
Setan yang mendapatkan apa yang jahat dari apa yang baik.
yaitu hal yang baik bahwa orang Farisi ini bukan
perampok atau orang lalim, namun Iblis membuatnya menjadi
angkuh dalam hal ini, sehingga ia menemui kebinasaannya.
Perhatian Yesus terhadap Anak-anak Kecil
(18:15-17)
15 Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada
Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi
orang-orang itu. 16 namun Yesus memanggil mereka dan berkata: “Biarkanlah
anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi
mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Tuhan .
17 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut
Kerajaan Tuhan seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”
Perikop kisah ini kita temukan juga dalam Injil Matius dan Markus.
Kisah ini sangat cocok menjadi kelanjutan dari kisah mengenai si
pemungut cukai, sebab ia menegaskan kebenaran yang sama bahwa
mereka yang rendah hati akan diterima oleh Tuhan dan mendapat
kehormatan dari-Nya, dan untuk merekalah Kristus menyediakan
berkat-berkat-Nya, yakni berkat-berkat pilihan dan terbaik.
Perhatikan baik-baik di sini:
1. Mereka yang diberkati di dalam Kristus harus berkeinginan agar
anak-anak mereka juga diberkati di dalam-Nya, supaya dengan
demikian mereka bisa menyaksikan kehormatan sejati yang mere-
ka miliki untuk Kristus, yaitu dengan mengambil manfaat dari-
Nya. Demikian juga, mereka bisa menyaksikan kasih sejati yang
mereka miliki kepada anak-anak mereka, yakni dengan peduli
akan jiwa-jiwa mereka. Mereka membawa anak-anak kecil ke ha-
dapan-Nya. Menurut sebagian orang, anak-anak ini masih sangat
muda, belum bisa berjalan, anak-anak yang masih menyusu.
Tidak ada orang yang terlalu kecil atau terlalu muda untuk di-
bawa kepada Kristus, yang tahu bagaimana menunjukkan kebaik-
an kepada mereka yang belum mampu melayani-Nya.
2. Satu sentuhan Kristus yang penuh anugerah akan membuat
anak-anak kita bersukacita. Mereka membawa anak-anaknya
yang kecil kepada Yesus supaya Ia menjamah mereka sebagai
tanda pemberian anugerah-Nya dan Roh-Nya ke atas mereka.
Dengan cara ini, mereka menyediakan jalan bagi berkat-Nya yang
selalu mereka nanti-nantikan (lih. Yes. 44:3): Aku akan mencurah-
kan Roh-Ku ke atas keturunanmu dan berkat-Ku ke atas anak
cucumu.
3. Bukan hal yang aneh jika mereka yang memohon sesuatu kepada
Yesus Kristus, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi anak-
anak mereka, akan menemui berbagai tantangan yang mengecil-
kan hati, bahkan dari mereka yang seharusnya mendukung dan
mendorong mereka. Melihat itu, murid-murid-Nya berpikir bahwa
jika dibiarkan, maka ini akan membawa masalah yang tiada
akhirnya bagi Guru mereka. Oleh sebab itu, dengan rasa jengkel
murid-murid Kristus memarahi mereka. Sang mempelai menge-
luhkan peronda-peronda kota (Kid. 3:3; 5:7).
4. Banyak dari mereka yang dihardik oleh murid-murid disambut
oleh Sang Guru: Yesus memanggil mereka, yang beranjak pergi
sesudah ditegur oleh murid-murid-Nya. Mereka tidak memohon ke-
pada murid-murid-Nya untuk bertemu dengan Sang Guru, namun
Sang Guru menyadari maksud tujuan mereka yang direndahkan.
5. Kristus ingin supaya anak-anak dibawa ke hadapan-Nya dan
dipersembahkan sebagai persembahan yang hidup bagi kehormat-
an-Nya: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku dan jangan
kamu menghalang-halangi mereka. Jangan lakukan apa-apa un-
tuk menghalangi mereka, sebab mereka akan disambut sama se-
perti yang lain.” Bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu.
Oleh sebab itu, Ia yang menjanjikan berkat-berkat itu sendiri
juga akan menyambut mereka bersama-sama dengan kita.
6. Anak-anak dari mereka yang menjadi milik kerajaan Tuhan juga
yaitu milik dari kerajaan ini , seperti halnya anak-anak dari
orang-orang yang merdeka juga yaitu orang-orang merdeka. Jika
orangtua menjadi anggota dari jemaat yang ada di bumi ini, maka
anak-anaknya juga termasuk sebagai anggota jemaat ini .
Demikianlah adanya, sebab jika akarnya kudus maka cabang-
cabangnya juga kudus.
7. Oleh sebab itu juga, orang-orang dewasa yang mempunyai tabiat
seperti anak kecil, mereka akan sangat disambut oleh Kristus
seperti Ia menyambut anak-anak itu (ay. 17): Sesungguhnya ba-
rangsiapa tidak menyambut Kerajaan Tuhan seperti seorang anak
kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. Maksudnya, jika ia tidak
bersedia menerima segala keuntungan dari kerajaan itu dengan
rasa rendah hati dan rasa syukur, malah menuntut imbalan
darinya seperti halnya orang Farisi ini , dan bila ia tidak mau
dengan senang hati mengakui bahwa dirinya berutang atas
anugerah yang Tuhan berikan secara cuma-cuma, seperti yang
dilakukan si pemungut cukai itu, maka orang yang tidak memiliki
sifat penyangkalan diri seperti ini tidaklah layak masuk ke dalam
kerajaan ini . Kita harus menerima kerajaan Tuhan seperti
anak-anak kecil, menerima harta kita itu melalui keturunan dan
warisan, bukan dengan membeli, dan menyebutnya hadiah dari
Bapa kita.
Kekayaan Merupakan Halangan Rohani
(18:18-30)
18 Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik,
apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 19 Jawab
Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain
dari pada Tuhan saja. 20 Engkau tentu mengetahui segala perintah Tuhan : Ja-
ngan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan
saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.” 21 Kata orang itu: “Semuanya
itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” 22 Mendengar itu Yesus berkata ke-
padanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juTuhan segala
yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka
engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah
Aku.” 23 saat orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih,
sebab ia sangat kaya. 24 Lalu Yesus memandang dia dan berkata: “Alangkah
sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Tuhan . 25 Sebab lebih
mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya
masuk ke dalam Kerajaan Tuhan .” 26 Dan mereka yang mendengar itu berkata:
“Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” 27 Kata Yesus: “Apa
yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Tuhan .” 28 Petrus berkata:
“Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau.”
29 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap
orang yang sebab Kerajaan Tuhan meninggalkan rumahnya, isterinya atau
saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, 30 akan menerima kembali
lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan
menerima hidup yang kekal.”
Dalam ayat-ayat ini kita temukan:
I. Percakapan Kristus dengan seorang pemimpin yang memiliki niat
yang baik untuk mendapat pengarahan dari-Nya mengenai jalan
ke sorga.
Dalam hal ini kita dapat mengamati:
1. Sungguh merupakan pemandangan yang terpuji bila kita me-
lihat pribadi-pribadi yang luar biasa di dunia ini membuat
kedudukan mereka berbeda dari orang lain justru dalam per-
hatian mereka terhadap masalah jiwa dan kehidupan akan
datang mereka di dunia lain. Lukas mencatat bahwa orang ter-
sebut yaitu seorang pemimpin. Hanya ada sedikit penguasa
yang memiliki rasa hormat kepada Kristus, dan yang dicerita-
kan di sini salah satu di antaranya. Tidak diketahui dengan
jelas apakah ia seorang pemimpin gereja atau pemimpin ne-
gara, namun yang pasti ia yaitu seseorang yang berkuasa.
2. Hal utama yang kita semua ingin ketahui yaitu apa yang ha-
rus kita lakukan untuk masuk ke sorga, apa yang harus kita
lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Hal ini menyirat-
kan adanya kepercayaan tertentu akan kehidupan yang kekal
sesudah kehidupan di dunia ini, suatu kepercayaan yang tidak
dimiliki oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan
orang-orang kafir. Hal ini juga menyiratkan adanya kepedulian
untuk mencari kepastian akan adanya kehidupan yang demi-
kian, yang tidak pernah dipikirkan oleh dunia yang acuh tak
acuh. Ini juga menyiratkan adanya suatu kesediaan diri untuk
memenuhi syarat-syarat apa saja untuk menjamin tercapainya
kehidupan kekal itu, dan kesediaan yang demikian tidak ada
pada diri orang-orang yang sudah kukuh membaktikan dirinya
bagi dunia dan keinginan daging.
3. Mereka yang ingin mewarisi hidup kekal harus tunduk kepada
Yesus Kristus sebagai Guru mereka, sebagai Guru yang meng-
ajar, sebagaimana yang dimaksudkan di sini (didaskale), dan
sebagai Guru yang memerintah. Dengan melakukan demikian,
mereka pasti akan menemukan Dia. Tidak ada jalan lain yang
bisa dipelajari untuk mencapai sorga, kecuali melalui sekolah
Kristus, dengan mengikutinya dan terus belajar di dalamnya.
4. Mereka yang datang kepada Kristus sebagai Guru mereka ha-
rus percaya kepada-Nya bahwa Ia tidak hanya memiliki tugas
ilahi, namun juga memiliki kebaikan ilahi. Kristus hendak
membuat pemimpin ini sadar bahwa jika ia benar-benar pa-
ham akan perkataannya dengan memanggil-Nya baik, maka ia
juga tentu akan memanggil-Nya Tuhan , dan memang demikian
bahwa Ia Tuhan (ay. 9): “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tahu-
kah engkau, tak seorang pun yang baik selain daripada Tuhan
saja? Jadi, apakah engkau akan mengakui-Ku sebagai Tuhan ?
Jika demikian yang engkau lakukan, engkau benar.”
5. Guru kita, yaitu Kristus sendiri, tidak pernah mengubah jalan
menuju sorga menjadi lain dari apa yang sudah ada sebelum
kedatangan-Nya. Ia hanya menjadikannya semakin jelas, mu-
dah dan menyenangkan, dan membuatnya selalu tersedia bagi
kelepasan kita, kalau-kalau kita menempuh langkah yang sa-
lah. Engkau tentu mengetahui segala perintah Tuhan . Kristus
tidak datang untuk membatalkan hukum Taurat dan hukum
nabi-nabi, namun justru untuk memantapkannya. Apakah
engkau ingin mewarisi hidup kekal? Kuasailah dirimu sendiri
dengan perintah-perintah Tuhan .
6. Segala kewajiban yang tertera pada loh batu yang kedua harus
benar-benar ditaati supaya kita memperoleh sukacita. Jangan-
lah kita menyangka bahwa perbuatan ibadah apa saja, betapa-
pun mulianya, dapat menebus kelalaian kita dalam menjalan-
kannya. Segala ibadah itu juga tidaklah cukup untuk membe-
baskan diri kita dari tanggung jawab berat sebab melanggar
perintah-perintah ini . Semuanya ini dijelaskan Kristus
dalam khotbah-Nya di atas bukit, secara luas dan sesuai mak-
sud rohaninya. sebab itu, cermati dan jalankanlah kewajiban-
kewajiban kita itu.
7. Manusia menganggap diri mereka tidak berdosa sebab mere-
ka acuh tak acuh. Inilah yang juga diperlihatkan oleh pemim-
pin ini. Ia berkata, Semuanya itu telah kuturuti sejak masa
mudaku (ay. 21). Ia tidak mendapati kejahatan apa pun dalam
dirinya, sama seperti orang Farisi itu (ay. 11). Ia membual
bahwa ia telah mulai berbuat kebajikan sejak masa mudanya,
bahwa ia tetap melakukannya sampai hari itu, dan ia tidak
pernah melanggarnya dalam hal apa pun. Seandainya ia telah
mengetahui makna dan sifat rohani dari perintah Tuhan terse-
but dan perbuatan hatinya, dan juga, seandainya ia telah
menjadi murid Kristus untuk beberapa saat lamanya dan bela-
jar dari-Nya, maka mungkin ia justru akan berkata sebaliknya:
“Semuanya itu telah aku langgar sejak masa mudaku, baik
dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatanku.”
8. Hal-hal yang sangat penting yang bisa kita pakai untuk meng-
uji keadaan kerohanian kita yaitu seberapa jauh kita menga-
sihi Kristus dan sesama kita, seberapa jauh kita mengasihi
dunia ini dan dunia yang lain itu. Dengan hal-hal inilah si
pemimpin itu diuji.
sebab :
(1) Jika ia memiliki kasih yang sejati kepada Kristus, ia akan
datang dan mengikuti-Nya, menuruti ajaran-ajaran-Nya,
dan tunduk pada segala aturan-Nya, apapun yang dituntut
darinya. Tidak ada seorang pun akan mewarisi hidup kekal
jika ia tidak bersedia menerima bagiannya dalam mengikuti
Tuhan Yesus, untuk mengikuti Sang Anak Domba ke mana
pun Ia pergi.
(2) Jika ia memiliki kasih yang sejati kepada sesamanya, ma-
ka setiap kali ada kesempatan, ia akan membagi-bagikan
harta bendanya kepada orang miskin, yang merupakan
penerima-penerima berkat dari Tuhan , dan berkat-berkat
yang mereka terima ini yaitu hak Tuhan yang atas kekaya-
an kita.
(3) Jika ia memandang rendah dunia ini, sebagaimana yang se-
harusnya ia lakukan, maka ia tidak akan keberatan untuk
menjual segala yang dimilikinya, jika hal itu memang diper-
lukan untuk membantu umat Tuhan yang miskin.
(4) Jika ia menghargai tinggi dunia yang lain itu, seperti yang
seharusnya ia lakukan, maka ia tidak akan mendambakan
apa pun selain memiliki harta di sorga dan akan meman-
dangnya sebagai imbalan berlimpah yang memadai atas
semua yang telah ia tinggalkan, atau atas kerugian yang ia
derita, atau atas semua yang ia kesampingkan demi Tuhan
dalam dunia ini.
9. Banyak orang memiliki hal-hal yang sangat layak dipuji dalam
diri mereka, namun demikian mereka tetap binasa hanya ka-
rena kekurangan satu hal tertentu lagi. Inilah yang terjadi pada
si pemimpin ini . Ia meninggalkan Kristus sebab satu hal
ini. Ia suka terhadap semua syarat-syarat yang diajukan
Kristus, kecuali yang satu ini, yang akan membuatnya berpi-
sah dengan harta bendanya. “Mengenai yang satu ini, aku mo-
hon, luputkanlah itu daripadaku.” Jika ini yaitu penawaran-
nya, maka tidak ada kesepakatan.
10. Banyak orang yang benci untuk meninggalkan Kristus, namun
tetap meninggalkan-Nya. sesudah pergumulan yang panjang
antara keyakinan mereka dan kecemaran mereka, kecemaran
merekalah yang akhirnya menang. Mereka sangat menyesal
bahwa mereka tidak dapat menyembah Tuhan dan Mamon pada
saat yang bersamaan, namun jika ada salah satu yang harus
ditinggalkan, pastilah itu Tuhan , bukan harta duniawi mereka.
II. Dalam pembicaraan Kristus dengan murid-murid-Nya mengenai
kejadian ini, kita dapat mengamati bahwa:
1. Kekayaan merupakan rintangan yang paling besar bagi banyak
orang dalam jalan menuju sorga. Kristus menaruh perhatian
pada keengganan dan penyesalan yang diperlihatkan orang
kaya itu saat meninggalkan Dia. Ia melihat bahwa orang itu
amat sedih, dan Ia merasa kasihan terhadapnya. Lalu, sesu-
dah itu Ia menyimpulkan, Alangkah sukarnya orang yang
beruang masuk ke dalam Kerajaan Tuhan (ay. 24). Jika saja
pemimpin ini memiliki sedikit harta di dunia ini, seperti halnya
Petrus, Yakobus dan Yohanes, lebih besar kemungkinannya
bahwa ia akan meninggalkannya demi mengikuti Kristus, se-
perti yang mereka lakukan. Akan namun , dengan memiliki ba-
nyak harta, ia berada dalam pengaruh yang besar, dan ia lebih
memilih untuk meninggalkan Kristus daripada tunduk ter-
hadap kewajiban untuk memberikan hartanya untuk kepen-
tingan amal. Dengan keprihatinan yang dalam, Kristus mene-
gaskan sukarnya orang-orang kaya untuk diselamatkan: Lebih
mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada
seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Tuhan (ay. 25). Ini ada-
lah suatu ungkapan perumpamaan yang menyatakan betapa
luar biasa sulitnya hal ini .
2. Rasa cinta akan dunia dan hal-hal yang ada di dalamnya sa-
ngat umum ditemukan dalam hati setiap orang. Oleh sebab
itu, sejak Kristus menuntut syarat bagi kita bahwa untuk
memperoleh keselamatan, kita harus melepaskan diri dari du-
nia ini, maka sungguh sangat sulitlah bagi siapa pun untuk
masuk sorga. Jika segalanya harus kita jual, dan kalau tidak
kita akan terpisah dari Kristus, maka siapakah yang dapat
diselamatkan? (ay. 26). Mereka tidak menemukan alasan un-
tuk menyatakan bahwa persyaratan Kristus itu sulit dan tidak
masuk akal. Ya! Sangatlah tepat bahwa mereka yang mengha-
rapkan kebahagiaan kekal di dunia yang lain harus rela mele-
paskan semua yang berharga bagi mereka di dunia ini, supaya
dengan begitu pengharapan mereka terarah pada dunia yang
lain itu. Akan namun , mereka tahu betapa kuatnya hati keba-
nyakan orang terpaut pada dunia ini, dan siapa saja pasti
akan segera putus asa saat menghadapi masalah ini.
3. Sungguh jalan kita menuju keselamatan itu sangatlah sukar,
sedemikian sulitnya sampai tidak teratasi kecuali murni mela-
lui kuasa ilahi, melalui anugerah Tuhan yang mahakuasa. Ha-
nya melalui Tuhan sajalah, yang jauh melampaui segala kuasa
dan hikmat ciptaan, keselamatan itu mungkin. Apa yang tidak
mungkin bagi manusia (dan memang benar-benar mustahil
bagi manusia untuk dapat mengubah jiwanya sendiri agar ber-
paling dari dunia kepada Tuhan ; seperti halnya membelah laut
dan membuat sungai Yordan mengalir ke hulu), semuanya
mungkin bagi Tuhan . Anugerah-Nya dapat bekerja atas jiwa ma-
nusia, dan mengubah hatinya yang bengkok dan sesat supaya
berbalik. Tuhan lah yang mengerjakan di dalam diri kita baik
kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
4. Ada kecenderungan dalam diri kita untuk membesar-besarkan
apa yang telah kita tinggalkan dan kerugian yang kita alami.
Kita cenderung melebih-lebihkan apa yang telah kita lakukan
dan derita demi Kristus. Hal ini juga tampak pada diri Petrus:
Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan meng-
ikut Engkau (ay. 28). Dalam hal yang menyangkut dirinya, ia
tidak tahan untuk membesar-besarkan kasihnya sendiri dan
kasih saudara-saudaranya yang lain terhadap Kristus, dalam
meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti-Nya. Namun,
kita hendaknya membuang jauh-jauh pikiran untuk menyom-
bongkan diri, sebaliknya, akuilah bahwa semuanya itu tidak-
lah berharga untuk diperhitungkan. Kita hendaknya merasa
malu dengan diri sendiri dalam menginginkan imbalan-imbal-
an seperti itu. Hendaknya kita merasa menyesal dan berat hati
dalam menyombongkan perbuatan kita itu.
5. Apa pun yang telah kita tinggalkan atau singkirkan demi
Kristus, pasti akan diganti dengan berlimpah di dunia ini dan
di dunia yang akan datang itu, tanpa memandang kelemahan
dan keragu-raguan kita (ay. 29-30): Setiap orang yang telah
meninggalkan kenikmatan harta atau hubungan dengan
orang-orang yang dikasihinya sebab Kerajaan Tuhan , daripada
hal-hal ini menghalangi pelayanannya terhadap kerajaan
Tuhan atau keuntungan untuk menikmatinya, akan menerima
kembali lipat ganda pada masa ini juga, dalam anugerah dan
penghiburan Roh Tuhan , dalam kenikmatan persekutuan de-
ngan Tuhan dan hati nurani yang bersih. Inilah keuntungan-ke-
untungan yang dengan berlimpah akan menggantikan semua
kerugian mereka yang tahu bagaimana menghargai dan meng-
usahakannya. Namun semua ini belumlah cukup, sebab di
dalam dunia yang akan datang mereka akan menerima hidup
yang kekal, yang tampaknya merupakan hal yang dicari-cari
dan didamba-dambakan oleh pemimpin ini .
Penderitaan Kristus Dinubuatkan
(18:31-34)
31 Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka:
“Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para
nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi. 32 Sebab Ia akan diserahkan ke-
pada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan , diolok-olokkan, dihina dan
diludahi, 33 dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga
Ia akan bangkit.” 34 Akan namun mereka sama sekali tidak mengerti semuanya
itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa
yang dimaksudkan.
Kita temukan di sini:
I. Kristus memberitahu murid-murid-Nya mengenai penderitaan-
penderitaan dan kematian-Nya yang semakin mendekat, dan
kemuliaan yang akan menyertainya. Ia sendiri sudah melihat dan
mengetahui dengan pasti jauh-jauh hari sebelumnya sehingga Ia
menganggap bahwa Ia perlu memperingatkan mereka agar mereka
tidak terlalu terkejut dan takut akan hal-hal yang akan menimpa-
Nya itu. Ada dua hal di sini yang tidak kita temukan dalam catat-
an penulis-penulis Injil yang lain:
1. Penderitaan Kristus di sini dikatakan sebagai memenuhi nu-
buat nabi-nabi. Dengan mempertimbangkan nubuat-nubuat ini
Kristus menyerahkan diri-Nya di dalamnya dan akan mengge-
napinya: Segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai
Anak Manusia, terutama penderitaan-penderitaan yang harus
dijalani-Nya, akan digenapi. Perhatikanlah, Roh Kristus, mela-
lui nabi-nabi Perjanjian Lama, telah memberi kesaksian ten-
tang segala penderitaan dan kemuliaan yang menyusul sesu-
dah itu (1Ptr. 1:11). Ini membuktikan bahwa Kitab Suci yaitu
firman dari Tuhan , sebab apa yang dikatakan dalam firman itu
sepenuh-penuhnya digenapi, dan bahwa Yesus Kristus yaitu
utusan Tuhan , sebab segala yang dinubuatkan mengenai Sang
Mesias digenapi pembuktiannya dalam diri-Nya. Inilah Dia
yang akan datang itu. Dan, Ia akan menyerahkan diri-Nya se-
penuhnya demi menggenapi nubuat Kitab Suci, dan tidak ada
satu titik pun dari nubuat-nubuat itu yang akan jatuh ke ta-
nah. Hal ini membuat salib bukan batu sandungan lagi dan
memberikan kehormatan ke atasnya. Ada tertulis demikian:
Mesias harus menderita, dan demikianlah yang terjadi dengan
Dia.
2. Penghinaan dan pelecehan yang dilakukan terhadap Kristus
dalam penderitaan-penderitaan-Nya sangat ditekankan di sini.
Para penulis Injil lain mengatakan bahwa Ia akan diolok-olok;
namun di sini ditambahkan bahwa Ia akan dihina,
hybristhēsetai – Ia akan dimaki-maki dan dihina, segala cerca-
an akan ditimpakan kepada-Nya. Ini yaitu bagian dari
penderitaan-Nya, yang melaluinya secara rohani Ia akan
memenuhi keadilan yang disyaratkan Tuhan atas pelanggaran
yang telah kita lakukan terhadap Dia melalui dosa kita. Dosa
ini menyinggung kehormatan-Nya. Satu contoh khusus dari
penghinaan yang dilakukan terhadap diri-Nya yaitu bahwa Ia
akan diludahi, yang secara khusus pula telah dinubuatkan
sebelumnya (Yes. 50:6). Namun di sini, seperti biasanya, saat
Kristus berbicara mengenai penderitaan dan kematian-Nya, Ia
menubuatkan kebangkitan-Nya, yang meniadakan ketakutan
dan cela dari penderitaan-Nya: Pada hari ketiga Ia akan bang-
kit.
II. Murid-murid-Nya menjadi bingung oleh sebab nya. Hal ini sung-
guh bertolak belakang dengan apa yang mereka pikirkan menge-
nai Mesias dan kerajaan-Nya, sungguh mematahkan harapan atas
Guru mereka, meruntuhkan semua perkiraan mereka, sehingga
mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu (ay. 34). Mereka
sudah sangat kuat terikat dengan segala prasangka mereka se-
hingga mereka tidak mau memahaminya secara harfiah, dan me-
reka juga tidak dapat memahaminya dengan cara lain, dan sebab
itu mereka tidak mengerti semuanya sama sekali. Semuanya men-
jadi misteri, teka-teki bagi mereka, pasti. Bagi mereka, rasanya
mustahil untuk menyesuaikan pikiran mereka dengan kemuliaan
dan kehormatan Mesias serta maksud tujuan pendirian kerajaan-
Nya. Perkataan ini tersembunyi bagi mereka, kekrymmenon ap’
autōn, sulit dipercaya kebenarannya, tidak dapat diterima. Menu-
rut pandangan mereka: mereka telah membaca Perjanjian Lama
berulang kali, namun mereka tidak pernah menemukan apa pun
yang akan digenapi dalam rupa penghinaan dan kematian Mesias
ini. Perhatian mereka begitu terpaku dengan nubuat-nubuat yang
berbicara mengenai kemuliaan-Nya sampai mereka mengabaikan
nubuat-nubuat yang menyinggung mengenai penderitaan-Nya.
Padahal hal inilah yang seharusnya lebih ditekankan oleh para
ahli Taurat dan ahli-ahli hukum Taurat kepada mereka untuk
diperhatikan, dan yang seharusnya dimasukkan dalam dasar-
dasar kepercayaan dan ajaran mereka, seperti halnya hal-hal yang
lain. Akan namun , hal ini tidak sesuai dengan rancangan mereka,
sehingga mereka mengabaikannya. Perhatikanlah, oleh sebab itu,
orang melakukan kesalahan sebab mereka membaca Kitab Suci
setengah-setengah, setengah-setengah dalam memahami nubuat
nabi-nabi dan setengah-setengah dalam memahami hukum
Taurat. Mereka hanya mengutamakan hal-hal yang manis (Yes.
30:10). Demikianlah yang terjadi dengan kita dewasa ini, saat
membaca berbagai nubuat yang masih akan digenapi, kita sangat
suka membawa harapan kita tinggi-tinggi ke dalam keadaan
mulia gereja pada hari-hari kemudian. Namun, dengan melaku-
kan demikian, kita mengabaikan saat-saat perkabungan dan ha-
nya membayangkan yang muluk-muluk, sehingga tidak ada yang
tersisa lagi bagi kita selain masa-masa yang indah. Kemudian, ke-
tika guncangan dan aniaya tiba, kita tidak memahaminya, dan
kita tidak tahu hal-hal yang terjadi ini, meskipun dengan sangat
jelas kita diberi tahu bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan
Tuhan , kita harus mengalami banyak sengsara.
Penglihatan Seorang Buta Dipulihkan
(18:35-43)
35 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di
pinggir jalan dan mengemis. 36 Waktu orang itu mendengar orang banyak
lewat, ia bertanya: “Apa itu?” 37 Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret
lewat.” 38 Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” 39 Maka me-
reka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin
keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” 40 Lalu Yesus berhenti dan
menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan saat ia telah berada di
dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: 41 “Apa yang kaukehendaki supaya
Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”
42 Lalu kata Yesus kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyela-
matkan engkau!” 43 Dan sesaat itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia
sambil memuliakan Tuhan . Seluruh warga melihat hal itu dan memuji-muji
Tuhan .
Kristus tidak hanya datang untuk membawa terang ke atas dunia
yang gelap, sehingga menampakkan benda-benda yang seharusnya
kelihatan bagi kita, namun juga untuk memberikan penglihatan bagi
jiwa-jiwa yang buta, dengan memulihkan indra yang memungkinkan
mereka dapat melihat benda-benda itu. Sebagai perlambangan akan
hal ini, Ia menyembuhkan banyak orang dari kebutaan jasmani me-
reka, dan sekarang kita punya salah satu cerita mengenai ini, yakni
seorang buta yang penglihatannya disembuhkan Kristus di dekat
Yerikho. Markus mencatat mengenai seorang buta yang disembuhkan
Kristus, dan Markus menyebut namanya, saat Yesus keluar dari
Yerikho (Mrk. 10:46). Matius berbicara mengenai dua orang buta yang
disembuhkan-Nya saat rombongan itu lewat Yerikho (Mat. 20:30).
Lukas mengatakan en tō eggizein auton – waktu Yesus hampir tiba di
Yerikho, yang mungkin terjadi saat Ia sedang beranjak pergi dari
tempat ini atau saat ia hendak memasuki tempat ini .
Amatilah:
I. Orang buta yang miskin ini duduk di pinggir jalan dan mengemis
(ay. 35). Kelihatannya ia tidak hanya buta, namun juga miskin,
tidak mempunyai apa-apa untuk bertahan hidup, tidak ada kera-
bat untuk mengasuhnya. Inilah gambaran yang lebih cocok me-
ngenai dunia umat manusia yang didatangi Kristus untuk disem-
buhkan dan diselamatkan-Nya. Begitulah, mereka malang dan
menderita, sebab mereka miskin dan buta (Why. 3:17). Orang
buta itu duduk sambil meminta-minta sebab ia buta dan tidak
dapat bekerja untuk mencari nafkah hidup. Perhatikanlah, mere-
ka yang sebab pemeliharaan Tuhan dalam satu atau lain cara
tidak mampu mencari nafkah bagi dirinya sendiri harus diberikan
kelegaan melalui perbuatan amal. Orang-orang yang membutuh-
kan belas kasihan di pinggir jalan ini hendaknya tidak kita
abaikan. Kristus di sini menunjukkan kasih-Nya bagi pengemis.
Walaupun di antara mereka ada yang penipu, namun mereka
semua tidak boleh disamaratakan.
II. Mendengar ribut-ribut orang banyak yang lewat, orang buta itu
bertanya, Apa itu? (ay. 36). Kejadian seperti ini tidak kita temukan
sebelumnya. Ini mengajarkan supaya kita hendaknya memiliki
rasa ingin tahu, sebab suatu waktu kita akan menemukan man-
faatnya. Mereka yang menginginkan penglihatannya hendaknya
juga lebih memanfaatkan pendengarannya. saat mereka tidak
dapat melihat dengan mata mereka sendiri, mereka hendaknya
menggunakan mata orang lain dengan bertanya-tanya. Inilah yang
dilakukan oleh orang buta ini di sini, sehingga dengan begitu ia
tahu bahwa Yesus dari Nazaret sedang lewat (ay. 37). yaitu baik
jika kita ada di jalan Kristus, dan bila ada kesempatan untuk
menghadap-Nya, janganlah kita melepaskannya.
III. Doanya mengandung iman dan kegigihan yang besar: Yesus Anak
Daud, kasihanilah aku (ay. 38). Ia mengakui Kristus sebagai Anak
Daud, Mesias yang dijanjikan. Ia percaya bahwa Dialah Yesus
sang Juruselamat, bahwa Ia mampu menolong dan memberikan
kelegaan baginya, sehingga dengan tulus memohon pertolongan-
Nya: “Kasihanilah aku, ampunilah dosaku, kasihanilah aku kare-
na kesengsaraanku.” Kristus yaitu Raja yang Pengasih. Kita
yang menghadap-Nya dengan mengakui Dia sebagai Anak Daud
akan mendapati Dia demikian, dan cukuplah bagi kita untuk ber-
doa kasihanilah kami, sebab belas kasih-Nya meliputi semua.
IV. Mereka yang dengan tulus memohon pertolongan dan berkat
Kristus tidak akan dibuat kecewa dalam pencarian mereka, wa-
laupun mereka menemui tantangan dan hardikan. Mereka yang
berjalan bersama-Nya menegur orang buta itu sebagai pembuat
masalah bagi Guru mereka, ribut dan lancang, sehingga mereka
meminta supaya ia diam. Akan namun , ia terus memohon. Malah-
an, teguran yang diberikan kepadanya hanyalah seperti memben-
dung aliran sungai yang deras, yang semakin membuatnya
meluap. Semakin keras ia berseru: Anak Daud, kasihanilah aku.
Mereka yang ingin doanya dikabulkan harus gigih dalam berdoa.
Peristiwa ini, yang merupakan penutup pasal ini, menyiratkan hal
yang sama dalam perumpamaan yang ada di bagian pem-
buka pasal ini, yaitu bahwa mereka harus selalu berdoa dengan
tidak jemu-jemu.
V. Yesus menguatkan hati pengemis-pengemis yang malang, yang
ditolak oleh manusia. Ia mengundang mereka untuk datang kepa-
da-Nya, siap menjamu dan menyambut mereka: Yesus menyuruh
membawa orang itu kepada-Nya. Perhatikanlah, dibandingkan
pengikut-pengikut-Nya, Kristus jauh lebih mengasihi orang-orang
susah yang datang memohon kepada-Nya. Ia mengasihi mereka
dengan kasih-Nya yang lemah lembut. Walaupun sedang dalam
perjalanan, Ia mau berhenti dan menyuruh membawa orang itu ke-
pada-Nya. Mereka yang baru saja menghardiknya sekarang harus
mengulurkan tangan mereka untuk menuntun dia kepada
Kristus.
VI. Walaupun mengetahui semua keinginan kita, Kristus terlebih su-
ka mengetahuinya dari kita sendiri (ay. 41): Apa yang kau kehen-
daki supaya Aku perbuat kepadamu? Dengan membeberkan per-
kara kita di hadapan Tuhan , dengan menyampaikan segala ke-
inginan dan beban tertentu kita, kita belajar untuk menghargai
belas kasihan yang kita cari-cari. Hal ini perlu kita lakukan,
sebab kalau tidak, kita tidak layak menerima belas kasihan-Nya
itu. Orang buta ini mencurahkan keinginan hatinya di hadapan
Kristus saat ia berkata, Tuhan, supaya aku dapat melihat. Se-
perti itulah kita hendaknya, dengan menyampaikan doa yang
khusus, pada kesempatan-kesempatan khusus pula.
VII. Doa yang berdasarkan iman, dengan dibimbing oleh dan didasar-
kan atas janji-janji Kristus yang menguatkan hati, tidak akan sia-
sia. Bahkan lebih dari itu, kita tidak hanya akan menerima ja-
waban damai sejahtera, namun juga kehormatan (ay. 42). Kristus
berkata, melihatlah Engkau, imanmu telah menyelamatkan Eng-
kau. Iman yang sejati akan menghasilkan kegigihan dalam ber-
doa, dan keduanya akan mendatangkan buah-buah pertolongan
Kristus dengan berlimpah. Keduanya sungguh akan memberi
penghiburan ganda bila bekerja bersama dengan cara demikian,
bila kita diselamatkan oleh iman.
VIII. Anugerah Kristus hendaknya diakui dengan rasa syukur, untuk
memuliakan Tuhan (ay. 43).
1. Pengemis yang miskin itu sendiri, yang penglihatannya dipu-
lihkan, mengikuti Dia sambil memuliakan Tuhan . Bagi Kristus,
memuliakan Bapa itu yaitu pekerjaan-Nya, dan oleh sebab
itu, orang yang disembuhkan-Nya akan sangat menyenang-
kan hati-Nya bila mereka memuji Tuhan . Demikian pula hal-
nya, orang yang paling menyenangkan hati Tuhan yaitu me-
reka yang memuji Kristus dan menghormati-Nya, sebab
dengan mengakui bahwa Yesus yaitu Tuhan, kita memulia-
kan Tuhan Bapa. Kita mengikuti Kristus demi kemuliaan Tuhan
sebagaimana yang akan dilakukan mereka yang matanya
dibukakan.
2. Seluruh warga yang melihat hal itu tidak tahan untuk me-
muji-muji Tuhan yang telah menganugerahkan kuasa yang
sedemikian kepada Anak Manusia, dan yang melalui-Nya
telah memberikan berkat-berkat yang demikian ke atas anak-
anak manusia. Perhatikanlah, kita harus memuji Tuhan atas
belas kasih-Nya terhadap orang lain seperti halnya belas
kasih-Nya terhadap diri kita sendiri.
PASAL 19
Dalam pasal ini kita temukan:
I. Pertobatan Zakheus pemungut cukai di Yerikho (ay. 1-10).
II. Perumpamaan mengenai uang atau mina yang dipercayakan
oleh sang raja kepada hamba-hambanya dan mengenai ham-
ba-hambanya yang pemberontak (ay. 11-27).
III. Kristus menunggangi keledai masuk ke Yerusalem dengan
kemenangan (yang sungguh merupakan kemenangan); dan
ratapan-Nya akan kehancuran kota itu yang akan terjadi (ay.
28-44).
IV. Pengajaran-Nya di Bait Tuhan , dan tindakan-Nya mengusir
para pembeli dan penjual keluar dari tempat ini (ay.
45-48).
Pertobatan Zakheus
(19:1-10)
1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. 2 Di situ
ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang
kaya. 3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, namun ia tidak
berhasil sebab orang banyak, sebab badannya pendek. 4 Maka berlarilah ia
mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus,
yang akan lewat di situ. 5 saat Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke
atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus me-
numpang di rumahmu.” 6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus
dengan sukacita. 7 namun semua orang yang melihat hal itu bersungut-su-
ngut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” 8 namun Zakheus
berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan
kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas
dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” 9 Kata Yesus kepada-
nya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, sebab orang ini-
pun anak Abraham. 10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan me-
nyelamatkan yang hilang.”
Tidak diragukan lagi, ada banyak orang yang dipertobatkan ke dalam
iman kepada Kristus namun kisahnya tidak disimpan dalam kitab-
kitab Injil. Namun, pertobatan beberapa orang yang peristiwanya
dipandang luar biasa dicatat di dalamnya, seperti yang terjadi atas
Zakheus ini. Kristus sedang melintasi kota Yerikho (ay. 1). Kota ini
dibangun di bawah kutukan, namun Kristus menghormatinya dengan
kehadiran-Nya, sebab Injil mengenyahkan kutukan. Walaupun kota
itu seharusnya tidak boleh dibangun, namun bukanlah dosa untuk
tinggal di dalamnya saat kota itu telah dibangun. Kristus sedang
melakukan perjalanan dari seberang sungai Yordan menuju Betani
yang di dekat Yerusalem, untuk membangkitkan Lazarus yang sudah
mati. saat hendak melakukan suatu perbuatan baik tertentu, Ia
merencanakan untuk melakukan banyak perbuatan baik lainnya di
sepanjang perjalanan-Nya. Ia melakukan kebaikan terhadap jiwa
maupun raga orang-orang. Di sini kita temukan satu contoh
mengenai kebaikan-Nya terhadap jiwa.
Amatilah:
I. Siapa dan apa pekerjaan Zakheus ini. Namanya menunjukkan
bahwa ia yaitu seorang Yahudi. Zaccai yaitu sebuah nama
yang umum dipakai di antara orang-orang Yahudi. Ada juga se-
orang rabbi Yahudi terkenal yang hidup kira-kira pada masa yang
sama dengan nama yang sama.
Perhatikanlah baik-baik:
1. Panggilan hidupnya dan kedudukan yang dipegangnya: Ia se-
orang kepala pemungut cukai, seorang pimpinan, yang menge-
palai semua pemungut-pemungut cukai yang lain. Dia yaitu
seorang pemungut cukai, seperti kata sebagian orang. Kita
sering membaca mengenai pemungut cukai yang datang
kepada Kristus, namun yang ada di sini yaitu seorang kepala
pemungut cukai, yang berkuasa, yang datang mencari-Nya.
Tuhan memang memiliki sisa-sisa umat-Nya dari berbagai
macam orang. Kristus datang bahkan untuk menyelamatkan
seorang kepala pemungut cukai.
2. Keadaannya di dunia ini sungguh terhormat: Ia seorang yang
kaya. Para pemungut cukai umumnya yaitu orang-orang
yang nasibnya kurang beruntung dan statusnya rendah di du-
nia ini. Namun, si kepala pemungut cukai ini telah mengum-
pulkan harta yang banyak. Belum lama berselang Kristus me-
nunjukkan betapa sukarnya bagi orang yang beruang untuk
masuk ke dalam Kerajaan Tuhan , namun sekarang Ia memberi-
kan contoh mengenai seorang kaya yang tersesat namun dite-
mukan kembali, bukan sebagai seorang anak hilang yang
jatuh miskin.
II. Bagaimana ia menemui Kristus di jalan-Nya, dan apa yang terjadi
saat ia bertemu dengan-Nya.
1. Ia mempunyai rasa keingintahuan yang besar untuk melihat
Yesus, untuk mengetahui orang seperti apakah Dia, sebab
telah mendengar banyak hal yang hebat mengenai diri-Nya (ay.
3). Bukanlah hal yang aneh bagi kita untuk bertemu, jika bisa,
dengan orang-orang terkenal yang sering kita dengar sebab
kita cenderung berpikir bahwa ada sesuatu yang luar biasa
dalam penampilan mereka. Setidaknya sesudah itu kita dapat
berkata bahwa kita telah melihat orang-orang besar yang se-
perti ini atau itu. Akan namun , mata tidak dipuaskan dengan
melihat. Sekarang ini kita harus berusaha melihat Yesus de-
ngan mata iman, untuk melihat siapa Dia sebenarnya. Dengan
kudus kita harus mengarahkan diri kita kepada Dia, dan kita
akan melihat Yesus.
2. Ia tidak dapat memuaskan rasa penasarannya sebab badan-
nya pendek, dan orang-orang sangat ramai di situ. Kristus
tidak mencoba untuk menarik perhatian, Ia tidak dipikul di
atas pundak orang supaya semua orang dapat melihat-Nya.
Baik Dia maupun kerajaan-Nya datang tanpa tanda-tanda
lahiriah. Ia tidak menunggangi kereta kuda yang terbuka
layaknya pangeran-pangeran, namun, sebagai salah satu dari
kita, Ia membaur dalam kerumunan orang, sebab hari itu
yaitu hari saat Ia akan mendapat penghinaan. Zakheus
badannya pendek dan dihalangi oleh orang-orang yang lebih
tinggi darinya sehingga ia tidak dapat melihat Yesus. Banyak
orang yang badannya kecil mempunyai jiwa yang besar dan
semangat yang hidup. Siapa yang tidak ingin lebih menjadi
seperti Zakheus daripada Saul, walaupun dari bahu ke atas ia
lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya? Janganlah
mereka yang badannya kecil ingin menambahkan sehasta ke
atas diri mereka.
3. sebab ia tidak ingin rasa penasarannya tidak terpuaskan, ia
melupakan harga dirinya sebagai kepala pemungut cukai, dan
berlarilah ia mendahului orang banyak, seperti seorang anak
kecil, dan memanjat pohon ara, untuk melihat Yesus. Perhati-
kanlah, mereka yang dengan tulus ingin melihat Kristus akan
menggunakan cara yang tepat untuk melihat-Nya dan akan
menerjang segala kesulitan dan tantangan dan rela menderita
untuk melihat-Nya. Mereka yang merasa dirinya kecil harus
menggunakan segala kesempatan yang mereka dapatkan un-
tuk meninggikan diri mereka agar dapat melihat Kristus, dan
tidak merasa malu untuk mengakui bahwa mereka membu-
tuhkan-Nya, dan sekecil apa pun yang kita lakukan, cukuplah
itu. Janganlah kita berputus asa, sebab dengan pertolongan
yang tepat, kita harus menentukan tujuan-tujuan yang tinggi
supaya dapat mencapai tempat-tempat yang tinggi.
III. Kristus melihatnya dan memanggilnya untuk berkenalan lebih
jauh dengannya (ay. 5) dan hasil dari panggilan ini (ay. 6).
1. Kristus mengundang diri-Nya sendiri untuk berkunjung ke
rumah Zakheus, tanpa meragukan kesediaan Zakheus untuk
menyambut-Nya dengan hati yang terbuka. Ya, ke mana pun
Kristus pergi, Ia membawa serta penghiburan bersama diri-
Nya, dan juga sambutan atas diri-Nya sendiri. Ia membuka
hati orang dan mencondongkannya untuk menerima Dia.
Kristus memandang ke atas pohon, dan melihat Zakheus. Ia
datang untuk melihat Kristus dan bertekad untuk secara
khusus memperhatikan Dia, namun tidak pernah menyangka
bahwa Kristus akan memperhatikannya. Ini suatu kehormatan
yang terlalu besar dan jauh melebihi apa yang layak ia dapat-
kan, jauh melebihi apa yang pernah dipikirkannya. Lihatlah
bagaimana Kristus mendahului Zakheus dengan berkat-berkat
kebaikan-Nya dan bertindak melampaui harapan-harapannya.
Lihatlah juga bagaimana Ia membesarkan hati orang-orang
yang baru mulai dan membantu mereka untuk maju. Mereka
yang berniat untuk mengenal Kristus akan dikenal oleh-Nya.
Mereka yang hanya sekadar ingin melihat-Nya akan disambut
untuk berbincang-bincang dengan-Nya. Perhatikanlah, mereka
yang setia dalam perkara kecil, akan dipercayakan dengan
sesuatu yang lebih besar lagi. Kadang-kadang mereka yang
datang untuk mendengar firman Kristus sekadar untuk me-
muaskan rasa ingin tahu mereka, seperti yang dilakukan
Zakheus, tanpa pernah mereka duga, hati nurani mereka
malah dibangunkan, dan hati mereka diubahkan. Kristus
memanggilnya dengan namanya, Zakheus, sebab Ia mengenal
orang-orang pilihan-Nya dengan nama mereka; bukankah
semuanya sudah dicatat? Zakheus mungkin bertanya, seperti
halnya Nathanel (Yoh. 1:48), “Bagaimana Engkau mengenal
aku?” Akan namun , sebelum ia mem