mazmur 51-100 11

 


lis dan kerajaannya, sebagai kelanjutan dari jan-

ji yang pertama, yaitu bahwa keturunan wanita akan mere-

mukkan kepala si ular.  

(2) Manfaat kemenangan ini dalam meneguhkan gereja: Eng-

kau memberi nya menjadi makanan bangsa Israel, yang 

akan menjadi penghuni-penghuni padang belantara. Kehan-

curan bangsa Mesir akan memperkaya mereka, mereka 


 1074

melucuti persenjataan bangsa Mesir seperti sebelumnya 

mereka telah menjarah perhiasan bangsa itu. Atau, lebih 

tepat lagi, peristiwa ini merupakan makanan bagi iman dan 

pengharapan mereka, untuk menopang dan mendorong 

mereka dalam menghadapi kesulitan lain yang mungkin 

akan mereka hadapi di padang gurun. Hal itu merupakan 

bagian dari santapan rohani yang harus mereka makan. 

Perhatikanlah, penghancuran kepala musuh gereja meru-

pakan sukacita dan kekuatan bagi hati para sahabat gere-

ja. Demikianlah kawan-kawan nelayan memperdagangkan 

buaya (Ayb. 40:25).   

3. Dengan dua cara Tuhan   telah membalikkan kekuatan alam, 

yaitu dengan mengeluarkan aliran air dari batu dan mengubah 

aliran air menjadi batu (ay. 15).  

(1) Dia telah menghancurkan batu menjadi air: Engkaulah 

yang mengeluarkan mata air dan sungai (begitulah yang di-

artikan oleh sebagian orang), dan semua orang tahu dari 

mana air itu mengalir, yaitu dari batu, dari batu yang ke-

ras. Biarlah kejadian itu tidak terlupakan, melainkan selalu 

diingat bahwa batu itu yaitu  Kristus, dan air yang keluar 

dari sana yaitu  minuman rohani.  

(2) Dia telah membekukan air menjadi batu: Engkaulah yang 

mengeringkan sungai-sungai yang selalu mengalir, terutama 

sungai Yordan yang saat itu meluap sampai ke tepiannya. 

Dia, yang melakukan perbuatan ajaib seperti itu kini me-

nyelamatkan umat-Nya yang tertindas dan mematahkan 

kuk para penindas, seperti yang telah Ia lakukan sebelum-

nya. Bukan hanya itu saja, Ia memang berkenan melaku-

kannya sebab keadilan dan kebaikan-Nya, hikmat dan ke-

benaran-Nya tetaplah sama, demikian juga kuasa-Nya. 

II.  Bahwa Tuhan   Israel yaitu  Tuhan   semesta alam (ay. 16-17).  Dialah 

yang mengatur perputaran dan pergantian dari, 

1.  Siang dan malam. Dia yaitu  Tuhan atas segala waktu. Malam 

dan  pagi diatur oleh-Nya. Dialah yang membuka mata sinar 

fajar dan menutup lembayung bayangan senja. Engkaulah 

yang menaruh bulan dan matahari (begitulah beberapa orang 

mengartikannya), dua benda penerang besar, untuk mengua-

Kitab Mazmur 74:12-17 

 1075 

sai siang dan malam secara bergantian. Keteraturan dan kete-

patan waktu yang tidak pernah bergeser dari kedua benda 

penerang itu menunjukkan pengaturan yang saksama.  

2.  Musim panas dan musim dingin: “Engkaulah yang menetap-

kan segala batas bumi, dan iklim berbeda di berbagai wilayah-

nya, sebab musim kemarau dan musim hujan Engkaulah yang 

membuat-Nya, musim panas dan musim dingin. Atau juga, 

pergantian tetap sepanjang tahun dan musim-musimnya.” Di 

sinilah kita harus mengakui Tuhan  , dari siapa segenap hukum 

dan kuasa alam berasal. namun , mengapakah hal ini dising-

gung-singgung di sini?  

(1) Dia yang memiliki kuasa untuk menetapkan dan menjaga 

kelangsungan alam dengan menggunakan pergerakan hari-

an dan tahunan benda-benda langit, tentu saja memiliki 

segenap kuasa untuk menyelamatkan dan membinasakan. 

Tidak ada yang mustahil bagi-Nya, juga tidak ada kesulitan 

atau musuh apa pun yang dapat menandingi-Nya.   

(2) Dia yang begitu setia dengan kovenan-Nya terhadap siang 

dan malam, serta menjaga keteraturan langit dengan setia, 

tentu saja akan menepati janji-Nya terhadap umat-Nya dan 

tidak akan membuang siapa pun yang telah Ia pilih (Yer. 

31:35-36; 33:20-21). Kovenan-Nya dengan Abraham dan 

keturunannya seteguh kovenan-Nya dengan Nuh dan anak-

anaknya (Kej. 8:21).   

(3) Jika siang dan malam, musim panas dan musim dingin, 

terus bergantian dengan alami di seluruh batas bumi ini, 

maka tidak ada lain yang bisa kita harapkan selain kesu-

karan dan kedamaian, kemalangan dan kejayaan yang juga 

akan silih berganti dengan cara serupa, di segala batas ge-

reja. Jadi, kita harus sadar bahwa kesukaran itu pasti ada 

seperti halnya ada malam dan musim dingin. Namun, kita 

tidak sepatutnya berputus asa menantikan penghiburan, 

sebab kita juga tidak pernah meragukan datangnya siang 

dan musim panas.  


 1076

Permintaan kepada Tuhan   yang  

Dipanjatkan dengan Sepenuh Hati 

(74:18-23) 

18 Ingatlah ini: musuh mencela, ya TUHAN, dan bangsa yang bebal itu menis-

ta nama-Mu. 19 Janganlah berikan nyawa merpati-Mu kepada binatang liar! 

Janganlah lupakan terus-menerus nyawa orang-orang-Mu yang tertindas! 20 

Pandanglah kepada perjanjian, sebab tempat-tempat gelap di bumi penuh sa-

rang-sarang kekerasan. 21 Janganlah biarkan orang yang terinjak-injak kem-

bali dengan kena noda. Biarlah orang sengsara dan orang miskin memuji-

muji nama-Mu. 22 Bangunlah, ya Tuhan  , lakukanlah perjuangan-Mu! Ingatlah 

akan cela kepada-Mu dari pihak orang bebal sepanjang hari. 23 Janganlah 

lupa suara lawan-Mu, deru orang-orang yang bangkit melawan Engkau, yang 

terus-menerus makin keras.  

Di sini, atas nama gereja, sang pemazmur dengan sungguh hati me-

mohon supaya Tuhan   tampil bagi mereka untuk melawan musuh me-

reka, dan mengakhiri masa kesesakan mereka itu. Untuk meneguh-

kan imannya sendiri, Ia pun mengungkapkan kepentingan Tuhan   

dalam perkara ini (ay. 22): Bangunlah, ya Tuhan  , lakukanlah perjuang-

an-Mu! Kita tentu saja yakin bahwa Ia akan melakukannya, sebab Ia 

Tuhan   yang cemburu dalam menjaga kehormatan-Nya. Ia akan mem-

bela perkara-Nya dengan tangan yang kuat, dan tampil melawan 

orang-orang yang menentang-Nya, tampil dengan dan bagi orang-

orang yang berada di pihak-Nya. Dia akan bangkit dan membela 

kehormatan-Nya, meskipun Dia kelihatannya tidak memedulikannya 

untuk sementara waktu. Dia akan membangkitkan diri-Nya sendiri, 

memperlihatkan diri-Nya dan melakukan pekerjaan-Nya di waktu 

yang Ia anggap tepat. Perhatikanlah, perkara agama merupakan per-

kara Tuhan   sendiri dan tentu saja Ia akan membelanya. Kini, untuk 

menegaskan bahwa semua itu merupakan perkara Tuhan  , sang pe-

mazmur pun mengungkapkan, 

I.  Bahwa para penganiaya itu merupakan musuh bebuyutan Tuhan  : 

“Tuhan, mereka bukan saja telah menista kami, namun  mereka 

juga telah dan masih saja menista Engkau. Apa yang mereka 

perbuat terhadap kami, pada dasarnya sama saja dengan berbuat 

terhadap Engkau. namun  bukan hanya itu saja. Mereka juga telah 

mencela-Mu dengan terang-terangan, dan menista nama-Mu” (ay. 

18). Penghinaan itulah yang mereka serukan di tempat kudus. 

Mereka menyorakkan kemenangan seakan-akan mereka kini telah 

mengatasi Tuhan   Israel, yang tentang-Nya mereka telah banyak 

mendengar perkara-perkara besar. Sebagaimana tidak ada yang

Kitab Mazmur 74:18-23 

 1077 

 mendukakan hati para orang kudus selain mendengar nama Tuhan   

dinista, begitu pula tidak ada yang dapat lebih meneguhkan hati 

mereka selain pengharapan bahwa Tuhan   akan tampil melawan 

musuh-musuh mereka saat  para musuh itu telah begitu jahat-

nya mencela Tuhan   sendiri. Kelakuan mereka itu memperberat 

dosa mereka dan mempercepat kebinasaan mereka. Sang pemaz-

mur menekankan hal ini: “Kami tidak berani membalas celaan 

mereka. Tuhan, Engkaulah yang seharusnya membalas mereka. 

Ingatlah, bangsa yang bebal itu menista nama-Mu (ay. 18) dan 

orang-orang bebal masih saja mencela-Mu setiap hari.” Perhatikan-

lah perangai orang-orang yang mencela Tuhan  . Mereka itu bebal. 

Sebagaimana kedegilan itu bebal (14:1), begitu pulalah kedangkal-

an pikiran dan penghujatan. Mungkin orang-orang yang meleceh-

kan agama dan hal-hal kudus dianggap cemerlang pada masa-

masa tertentu, namun  sesungguhnya mereka itu orang yang paling 

bebal, dan sesaat lagi, kebebalan mereka akan dipertunjukkan di 

hadapan seluruh dunia. Akan namun , lihatlah kejahatan mereka: 

mereka mencela Tuhan   setiap hari, setekun para penyembah-Nya 

yang dengan setia berdoa dan memuji-Nya setiap hari. Lihatlah 

kelancangan mereka: mereka bahkan tidak menyembunyikan 

pikiran busuk mereka di dalam hati saja, namun  mengumandang-

kannya keras-keras (Janganlah lupa suara lawan-Mu, ay. 23). Jadi 

dengan begitu mereka terang-terangan menentang keadilan ilahi. 

Mereka bangkit melawan Engkau, dan dengan penghujatan mere-

ka itu, mereka mengobarkan perang dan menantang Yang Maha-

kuasa. Keributan dan deru mereka terus-menerus makin keras 

(begitulah yang diartikan sebagian orang), sebagaimana keluh 

kesah Sodom sampai kepada Tuhan  , meminta pembalasan (Kej. 

18:21). Seruan itu terus-menerus makin keras (begitulah yang da-

pat kita baca), semakin buruk dan buruk saja, dan keberhasilan 

mereka itu memperparah kebejatan mereka. Kini, Tuhan, ingatlah 

semua itu, jangan lupakan itu. Tuhan   tidak perlu diingatkan oleh 

kita mengenai apa yang harus Ia lakukan. Namun, dengan meng-

ingatkan-Nya, itu menunjukkan keprihatinan kita akan kehor-

matan-Nya dan rasa percaya kita bahwa Ia akan melaksanakan 

pembalasan bagi kita.  

II. Bahwa kaum yang tertindas itu yaitu  umat yang memiliki kove-

nan dengan-Nya.  


 1078

1.  Lihatlah kesesakan yang sedang menghimpit mereka. Mereka 

telah jatuh ke dalam cengkeraman binatang liar (ay. 19). Be-

tapa banyaknya yang mencelakakan mereka! Tidak ada pe-

luang untuk membela diri di hadapan kawanan yang begitu 

bengis seperti itu, apalagi yang dipersenjatai dengan kuasa 

besar. Dan lagi, jumlah mereka amat banyak, dan mereka 

amatlah keji: tempat-tempat gelap di bumi penuh sarang-sarang 

kekerasan. Meski tanah orang Kasdim terkenal sebagai tempat 

yang penuh dengan pengetahuan dan seni, tempat itu yaitu  

tempat yang gelap, sebab di sana tidak ada cahaya pengenalan 

akan Tuhan   yang benar. Para penghuninya jauh dari hidup per-

sekutuan dengan Tuhan  ,  sebab  kebodohan yang ada di dalam 

mereka, dan  sebab  itulah mereka berlaku kejam. Di mana 

tidak ada keilahian sejati, di situ rasa kemanusiaan pastilah 

langka. Mereka bersikap kejam terutama terhadap umat Tuhan  . 

Orang yang memakan habis mereka (14:4) itu tentunya tidak 

punya pengetahuan apa pun. Umat Tuhan   ditindas (ay. 21) 

 sebab  mereka miskin dan tidak berdaya membela diri. Mereka 

ditindas terus sampai menjadi miskin dan melarat.  

2.  Lihatlah alasan yang mereka miliki untuk berharap bahwa 

Tuhan   akan tampil membawa kelepasan bagi mereka, dan tidak 

akan terus membiarkan mereka diinjak-injak seperti itu. Per-

hatikanlah bagaimana sang pemazmur membela mereka di ha-

dapan Tuhan  .  

(1) “Nyawa merpati-Mu-lah yang hendak dicabut oleh sekawan-

an binatang liar itu” (ay. 19). Gereja diibaratkan sebagai 

burung merpati  sebab  dia tidak pernah mengancam dan 

selalu lembut hati, tidak bersalah dan tidak suka menye-

rang, murni dan penuh buah kebaikan. Burung merpati 

melambangkan masa kesesakan yang sukar, dan juga ke-

setiaan dan keteguhan kasih. Burung merpati yaitu  satu-

satunya burung jinak yang boleh dipersembahkan kepada 

Tuhan  . “Akankah merpati-Mu, yang begitu setia kepada-Mu 

dan mengabdi bagi kehormatan-Mu, diserahkan nyawanya 

begitu saja kepada binatang liar, yang dengan mudahnya 

akan memangsanya? Tuhan, jika Engkau menolong yang 

lemah, terutama milik-Mu sendiri, maka itu akan mem-

bawa kehormatan bagi diri-Mu sendiri.”  

Kitab Mazmur 74:18-23 

 1079 

(2) “Mereka yaitu  orang-orang-Mu yang tertindas, dan hanya 

 sebab  mereka miskin, tidak berarti mereka bukan milik-

Mu lagi (sebab Tuhan   telah memilih orang-orang yang diang-

gap miskin oleh dunia ini, Yak. 2:5). Sebaliknya, mereka 

justru malah boleh semakin berharap lagi bahwa Engkau 

akan tampil bagi mereka  sebab  jumlah mereka yang ba-

nyak itu: Mereka yaitu  orang-orang-Mu yang tertindas. Ja-

nganlah membiarkan mereka dicampakkan dan dilupakan 

selama-lamanya.”  

(3) “Mereka memiliki kovenan dengan-Mu, dan tidakkah Eng-

kau ingin memandang kepada perjanjian? (ay. 20). Tidak-

kah Engkau akan menepati janji yang telah Kaubuat de-

ngan mereka dalam kovenan itu? Tidakkah Engkau akan 

mengakui mereka yang telah Engkau undang masuk ke 

dalam ikatan kovenan itu?” saat  Tuhan   menyelamatkan 

umat-Nya, hal itu dilakukan-Nya untuk mengingat kovenan-

Nya (Im. 26:42). “Tuhan, sekalipun kami tidak layak Engkau 

pandang, namun  pandanglah kepada perjanjian-Mu itu.”  

(4) “Mereka percaya kepada Engkau dan bermegah dengan hu-

bungan yang mereka miliki dengan Engkau dan dengan 

pengharapan yang mereka dapatkan dari Engkau. Oh, ja-

ngan biarkan mereka pulang dengan rasa malu akibat peng-

harapan mereka itu (ay. 21),  sebab  itu akan terjadi jika 

mereka sampai dikecewakan.”  

(5) “Jika Engkau melepaskan mereka, mereka akan memuji 

nama-Mu dan memuliakan Engkau atas keselamatan mereka 

itu. Tuhan, tampillah bagi mereka yang akan memuji nama-

Mu, untuk melawan mereka yang menista nama-Mu.”  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

PASAL 75  

eski judul mazmur ini mengusung nama Asaf, isinya begitu 

sesuai dengan keadaan Daud saat  dia naik takhta sesudah  

kematian Saul, sehingga kebanyakan penafsir mengaitkannya dengan 

masa itu dan memperkirakan bahwa Asaf menuliskannya sebagai 

perwakilan Daud, sebagai rekanan Daud dalam menulis sajak (mung-

kin inti mazmur ini diambil dari beberapa pidato yang dijadikan Daud 

sebagai peraturan negeri pada saat dia mulai berkuasa, lalu kemu-

dian Asaf mengubahnya menjadi bait-bait syair supaya lebih mudah 

disebarkan kepada rakyat), atau mungkin juga Daud sendirilah yang 

menuliskannya, lalu menyerahkannya kepada Asaf yang merupakan 

pemimpin biduan di Bait Tuhan  . Dalam mazmur ini,  

I. Daud menyatakan rasa syukurnya kepada Tuhan    sebab  telah 

mengantarnya ke atas takhta (ay. 2, 10).  

II. Dia berjanji untuk melayani kepentingan umum dalam mema-

kai kuasa yang telah diberikan Tuhan   kepadanya (ay. 3, 4, 11).  

III. Dia menegur kekurangajaran orang-orang yang menentang-

nya naik takhta (ay. 5-6).  

IV. Dia mengungkapkan bahwa semua itu terjadi  sebab  kedau-

latan mutlak Tuhan   dalam kehidupan anak-anak manusia (ay. 

7-9).  

Pada saat kita menyanyikan mazmur ini, kita harus memuliakan 

Tuhan   atas segenap pergolakan yang terjadi di berbagai negeri dan ke-

rajaan, percaya bahwa semuanya terjadi sesuai dengan hikmat-Nya, 

dan bahwa Ia akan menjadikan segala sesuatunya baik bagi umat-

Nya.   


 1082

Tekad Sang Pengadil 

(75:1-6) 

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Mazmur 

Asaf. Nyanyian. 2 Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan  , kami bersyukur, dan 

orang-orang yang menyerukan nama-Mu menceritakan perbuatan-perbuat-

an-Mu yang ajaib. 3 “jika  Aku menetapkan waktunya, Aku sendiri akan 

menghakimi dengan kebenaran. 4 Bumi hancur dan semua penduduknya; 

namun  Akulah yang mengokohkan tiang-tiangnya.” S e l a 5 Aku berkata 

kepada pembual-pembual: “Jangan membual.” Dan kepada orang-orang 

fasik: “Jangan meninggikan tanduk! 6 Jangan mengangkat tandukmu tinggi-

tinggi, jangan berbicara dengan bertegang leher!” 

Dalam ayat-ayat di atas, 

I.  Sang pemazmur memuji Tuhan   atas keberhasilannya naik ke tem-

pat yang penuh kehormatan dan kuasa, dan atas hal-hal besar 

lainnya yang telah diperbuat Tuhan   baginya dan bagi umat-Nya 

Israel (ay. 2): Kami bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan  , atas segala ke-

baikan yang telah Engkau limpahkan kepada kami, dan lagi, kami 

bersyukur kepada-Mu. Rasa syukur kita memang harus sering 

diulang-ulang. Bukankah kita kerap berdoa meminta belas kasih-

an saat  kita memerlukannya, lalu apakah kita pikir cukup ber-

syukur sekali dua kali saja sesudah  memperoleh belas kasihan itu? 

Bukan hanya aku yang mengucap syukur, namun  kami, aku dan 

semua teman-temanku. jika  kita sepenanggungan dengan 

orang lain dalam meminta belas kasihan, maka kita pun harus 

bergabung dengan mereka dalam memanjatkan puji-pujian. “Ke-

pada-Mu, ya Tuhan  , sumber dari belas kasihan yang kami miliki 

(dan kami tidak akan melayangkan kemuliaan yang hanya layak 

diberikan kepada-Mu kepada sarana yang Engkau pakai), kami 

bersyukur  sebab  nama-Mu sudah dekat (KJV,  sebab  penggenap-

an janji-Mu terhadap Daud sudah dekat) dan segala perbuatan-Mu 

yang ajaib, yang telah Engkau perbuat baginya, diceritakan orang.”  

Perhatikanlah: 

1.  Dari antara banyak peristiwa pemeliharaan yang sifatnya biasa 

dan betul-betul di luar pemikiran kita, ada banyak sekali pe-

kerjaan yang dilakukan Tuhan   bagi umat-Nya yang sungguh 

dapat disebut sebagai perbuatan-perbuatan yang ajaib.  

2.  Perbuatan-perbuatan yang ajaib ini  mengumandangkan 

kedekatan nama-Nya, yang menunjukkan bahwa Dia selalu 

siap dan ada di dekat kita saat  kita membutuhkan-Nya, dan 

Kitab Mazmur 75:1-6 

 1083 

 bahwa Dia hendak melakukan hal-hal besar bagi umat-Nya, 

sebagai penggenapan maksud dan janji-Nya.  

3.  saat  perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan   menyatakan kedekat-

an nama-Nya, maka kita wajib bersyukur kepada-Nya, lagi dan 

lagi mengucap syukur.  

II. Daud bersedia memikul kewajiban untuk menggunakan kekua-

saannya dengan sebaik-baiknya, sebagai balasan atas kepercaya-

an agung yang diberikan kepadanya (ay. 3): jika  aku menetap-

kan waktunya, aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran. 

Di sini dia yakin bahwa Tuhan   akan menyempurnakan segala se-

suatu yang berkaitan dengan dirinya pada waktu yang tepat. Jadi, 

sekalipun rakyat begitu lambat berkumpul kepadanya dan banyak 

pertentangan sengit yang menghambat, pada akhirnya semuanya 

akan terlaksana juga. Sebab, apa yang telah disabdakan Tuhan   

dalam kekudusan-Nya pasti akan Ia laksanakan melalui hikmat 

dan kuasa-Nya. Sementara ia sedang mengharap-harapkan belas 

kasihan, ia pun berjanji untuk mengindahkan kewajibannya: 

“Saat aku menjadi hakim aku akan menghakimi, dan menghakimi 

dengan kebenaran, tidak seperti orang-orang sebelumnya yang 

mengabaikan penghakiman, atau malah lebih buruk lagi, memu-

tarbalikkannya. Mereka tidak berbuat kebaikan dengan kuasa 

mereka, atau malah menyelewengkannya untuk merugikan orang 

lain.”  

Perhatikanlah:  

1.  Orang-orang yang dinaikkan ke atas jabatan kehormatan ha-

rus ingat bahwa kedudukan itu haruslah dipakai untuk mela-

yani, serta harus menggiatkan diri mereka dengan segenap 

ketekunan dan tekad bulat untuk melaksanakan tugas yang 

telah dipercayakan kepada mereka. Dia tidak berkata, “jika  

aku menetapkan waktunya, aku akan berleha-leha, menikmati 

kedudukanku dan menyerahkan kepentingan umum ke tangan 

orang lain saja,” melainkan, “Aku sendiri yang akan mengurusi-

nya.”  

2.  Kepercayaan umum harus ditangani dengan ketulusan yang 

besar. Orang-orang yang menghakimi haruslah menghakimi 

dengan kebenaran, berdasar  aturan-aturan keadilan tanpa 

membeda-bedakan orang. 


 1084

III. Dia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa pemerintahannya akan 

menjadi berkat bagi bangsa Israel (ay. 4). Keadaan kerajaannya 

kini begitu buruk: Bumi hancur dan semua penduduknya. Tidak-

lah mengherankan jika segalanya hancur dan binasa, sebab pe-

merintahan sebelumnya begitu bobrok. Kebejatan merajalela kare-

na hukum tidak dijalankan untuk melawan kejahatan dan kebo-

brokan. Mereka terpecah-belah  sebab  kurangnya persatuan, 

tidak seperti yang seharusnya mereka lakukan dalam pemerin-

tahan yang telah ditetapkan Tuhan  . Mereka tercerai-berai, saling 

bertentangan satu sama lain, terpecah menjadi kelompok-kelom-

pok kecil, yang tampaknya akan menyeret mereka ke ambang 

kehancuran, namun  akulah yang mengokohkan tiang-tiangnya. 

Pada masa pemerintahan Saul pun Daud berusaha semampunya 

memajukan kesejahteraan rakyat. Walaupun begitu, dia berharap 

untuk dapat berbuat lebih lagi saat  sudah memegang tampuk 

pemerintahan. Tidak saja mencegah kehancuran bangsa itu, te-

tapi juga memulihkan kekuatan dan ketenteramannya. Kini, 

1. Lihatlah kelicikan pihak-pihak penentang itu. Mereka meng-

hancurkan negeri dan penduduknya.  

2. Lihatlah bagaimana kekuatan seorang pemimpin sering kali 

mampu mengokohkan bangsanya. Bangsa itu pasti sudah teng-

gelam, jika saja Daud tidak mengokohkan penyangganya. Hal 

ini juga menggambarkan Kristus dan pemerintahan-Nya. Bumi 

dan semua penduduknya hancur oleh  sebab  dosa. Kemurtad-

an manusia membuat seluruh ciptaan terancam binasa. namun  

Kristus mengokohkan tiang-tiangnya. Dia menyelamatkan 

seluruh dunia dari kebinasaan kekal dengan menyelamatkan 

umat-Nya dari dosa, dan ke dalam tangan-Nyalah diserahkan 

segenap urusan kerajaan Pemeliharaan, sebab Dia menopang 

segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan 

(Ibr. 1:3).   

IV. Dia mencela orang-orang yang menentang pemerintahannya, yang 

menentang dia untuk naik takhta dan menghalangi jalannya 

dengan berusaha mempertahankan kejahatan dan kebejatan yang 

selama ini hendak dibersihkannya (ay. 5-6): Aku berkata kepada 

pembual-pembual, “Jangan membual.” Daud telah berkata demi-

kian kepada mereka pada zaman Saul. Saat dia belum memiliki 

kuasa untuk mengekang mereka, dia telah memiliki hikmat dan 

Kitab Mazmur 75:1-6 

 1085 

anugerah untuk menegur dan menasihati mereka. Meskipun 

mereka amat congkak  sebab  didukung oleh raja yang merana 

itu, Daud tetap memperingati mereka agar tidak bersikap lancang. 

Atau lebih tepatnya, ia kini memperingatkan mereka supaya tidak 

begitu. Segera sesudah  naik takhta, ia pun mengumandangkan 

hukum melawan kejahatan dan kebejatan, yang isinya bisa kita 

dapati di sini.  

1.  Terhadap para pendosa biasa, yaitu para pembual di Israel 

yang menghancurkan diri mereka sendiri, Daud berkata, 

“Jangan membual. Janganlah begitu lancang menentang akal 

budi dan kepentinganmu sendiri seperti yang kamu lakukan 

dengan melawan hukum Tuhan   yang telah diberikan kepada 

bangsa Israel dan melawan janji-janji yang telah diberikan-Nya 

kepada Daud.” Kristus, Anak Daud, memberi  nasihat ini. 

Dia mengeluarkan peraturan ini, Jangan membual. Dia yang 

dijadikan Tuhan   sebagai hikmat bagi kita, meminta kita supaya 

bertindak bijaksana demi kepentingan kita sendiri, dan tidak 

berlaku seperti orang bebal.   

2.  Kepada para pendosa bejat yang sombong, orang-orang fasik 

yang berani menentang Tuhan  , dia berkata, “Jangan meninggi-

kan tanduk. Jangan bermegah di dalam kuasa dan hak-hak 

istimewamu. Jangan bersiteguh dalam menentang dan mem-

benci pemerintahan yang berkuasa atasmu. Jangan mengang-

kat tandukmu tinggi-tinggi, seolah-olah kamu dapat memper-

oleh segala yang kamu inginkan dan berlaku semau-maunya. 

Jangan berbicara dengan bertegang leher, dengan menegarkan 

tengkuk yang tidak rela untuk tunduk, bahkan kepada kehen-

dak Tuhan   dalam pemerintahan. Siapa yang tidak mau tunduk 

pasti akan hancur, dan siapa yang menegarkan tengkuk pasti 

akan dibinasakan.” Inilah titah Kristus dalam Injil-Nya, yaitu 

bahwa setiap gunung dan bukit akan diratakan di hadapan-

Nya (Yes. 40:4). Janganlah kuasa anti-Kekristenan meninggi-

kan diri untuk melawan-Nya dengan kepala dan tanduk mere-

ka, sebab mereka akan diluluhlantakkan. Apa yang diutarakan 

dengan tegang leher harus dibatalkan dengan hati yang sesal. 

Kalau tidak begitu, kita pasti celaka. Firaun bertanya dengan 

tegang leher, Siapakah Tuhan itu? Dan Tuhan   pun membuat dia 

merasakan akibatnya.  


 1086

Pemerintahan Tuhan   di Dunia Ini 

(75:7-11) 

7 Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun da-

tangnya peninggian itu, 8 namun  Tuhan   yaitu  Hakim: direndahkan-Nya yang 

satu dan ditinggikan-Nya yang lain. 9 Sebab sebuah piala ada di tangan 

TUHAN, berisi anggur berbuih, penuh campuran bumbu; Ia menuang dari 

situ; sungguh, ampasnya akan dihirup dan diminum oleh semua orang fasik 

di bumi. 10 namun  aku hendak bersorak-sorak untuk selama-lamanya, aku 

hendak bermazmur bagi Tuhan   Yakub. 11 Segala tanduk orang-orang fasik 

akan dihancurkan-Nya, namun  tanduk-tanduk orang benar akan ditinggikan.  

Dalam ayat-ayat di atas kita mendapati dua pengajaran agung dan 

dua kesimpulan yang ditarik dari kedua pengajaran ini , yang 

meneguhkan apa yang telah dikemukakan Daud sebelumnya.  

I.  Di sini diutarakan dua kebenaran sejati mengenai pemerintahan 

Tuhan   di dunia ini, yang harus kita imani. Keduanya sesuai dengan 

keadaan saat itu: 

1.  Bahwa para raja menerima kuasa mereka dari Tuhan   (ay. 7-8). 

 sebab  itulah, Daud hanya mau melayangkan pujian bagi 

Tuhan   saja atas peninggian yang diperolehnya itu.  sebab  ia 

menerima kuasa dari Tuhan  , maka ia pun ingin menggunakan 

kuasa itu bagi-Nya, dan  sebab  itulah orang-orang yang meng-

angkat tanduk mereka melawannya berarti bertindak sangat 

bodoh. Kita sering menyaksikan pergolakan-pergolakan yang 

tak lazim di banyak negeri dan kerajaan, dan terkejut melihat 

betapa cepatnya seseorang jatuh dan yang lain bangkit. saat  

semua itu terjadi, kita mengalami banyak sekali perubahan. 

Akan namun , di sini kita diarahkan untuk memandang Dia 

yang menciptakan semuanya, dan diajari mengenai asal mua-

sal kuasa ini  serta dari mana datangnya peninggian. Dari 

mana asalnya peninggian kerajaan-kerajaan serta kedaulatan 

mereka? Dari mana datangnya kedudukan yang penuh kekua-

saan dan kepercayaan di dalam sebuah kerajaan? Peninggian 

kerajaan tidak didasarkan atas kehendak rakyat, dan kedau-

latan pun tidak didasarkan atas kehendak sang penguasa, 

namun  keduanya merupakan kehendak Tuhan   yang menguasai 

semua hati manusia di dalam tangan-Nya.  sebab  itu, kepada 

Dia sajalah orang-orang yang sedang berusaha menggapai ke-

dudukan tinggi harus mengarahkan pandangan mereka. Jika 

Kitab Mazmur 75:7-11 

 1087 

 sudah begitu, maka berarti mereka sudah mengambil langkah 

yang tepat. Di sini kita diberi tahu,  

(1) Mengenai hal yang negatif, yaitu ke arah mana kita tidak 

boleh mencari sumber kuasa: Sebab bukan dari timur atau 

dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya pening-

gian itu. Artinya, peninggian itu tidak berasal dari padang 

gurun di sebelah utara Yerusalem ataupun dari sebelah 

selatan. Maka dari itu, peninggian tidak dapat diharapkan 

datang dari tempat mana pun yang bisa ditunjukkan oleh 

kompas, melainkan hanya dari atas saja, langsung dari 

sana. Manusia tidak dapat memperoleh peninggian melalui 

hikmat ataupun harta orang-orang dari timur, tidak juga 

dari pasukan besar yang berasal dari pulau-pulau pesisir 

yang terbentang di barat, ataupun dari Mesir dan Arab 

yang ada di selatan. Tidak ada kuasa yang dapat meninggi-

kan manusia kecuali jika kuasa itu diberikan dari atas. 

Cendekiawan Uskup Lloyd merangkumnya demikian (da-

lam Serm. in loc.): “Semua manusia menganggap bahwa 

asal mula kuasa memang berasal dari langit, namun  banyak 

yang tidak mengenal dari siapa kuasa itu berasal. Bangsa-

bangsa dari timur, yang pada umumnya menganut ilmu 

bintang, mengira bahwa kuasa itu berasal dari bintang-

bintang mereka, terutama dari matahari, dewa mereka. 

Tidak, kata Daud, kuasa itu tidak berasal dari timur, atau 

dari barat, juga bukan dari terbit atau tenggelamnya se-

buah planet atau gugusan bintang, bukan pula dari selat-

an, atau dari pemujaan matahari dan bintang tertentu di 

langit.” Dia tidak menyebutkan utara, sebab tidak seorang 

pun menyangka bahwa kuasa berasal dari sana. Atau juga, 

 sebab  kata yang sama yang menunjuk arti utara juga 

berarti tempat rahasia, dan hikmat Tuhan   memang berasal 

dari tempat yang rahasia, atau dari tabut perjanjian di 

Sion, yang terletak di sisi sebelah utara kota Yerusalem. 

Perhatikanlah, tidak ada angin yang dapat meniupkan pe-

ninggian, melainkan hanya Dia sajalah, yang menguasai 

angin di dalam genggaman tangan-Nya.  

(2) Hal yang positif: Tuhan   yaitu  Hakim, Wali Negeri atau Peng-

adil. Saat beberapa pihak bersaing memperebutkan sesuatu, 

direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain, 


 1088

sebagaimana yang Ia pandang baik, sedemikian rupa se-

hingga melayani tujuan-Nya dan menyebarkan hikmat-Nya. 

Di sini Ia bertindak dengan menggunakan hak-hak isti-

mewa-Nya. Dia tidak harus mempertanggungjawabkan hal-

hal tadi kepada kita. Dia juga tidak harus bertanggung ja-

wab atas kerusakan, mara bahaya, atau aib yang menimpa 

orang-orang tertentu, sebab Ia yang luar biasa bijaksana, 

kudus, dan baik, memiliki kuasa mutlak untuk meninggi-

kan dan merendahkan siapa pun, kapan pun, dan dengan 

cara apa pun sesuai kehendak-Nya. Inilah alasan kuat 

mengapa para pengadil harus memerintah bagi Tuhan   sebagai 

orang-orang yang harus memberi pertanggungjawaban ter-

hadap-Nya, sebab melalui Dialah para raja memerintah.  

2. Bahwa dari Tuhan   sajalah semua orang harus menerima peng-

hukuman mereka (ay. 9): Sebab sebuah piala ada di tangan 

TUHAN, yang Ia taruh ke dalam tangan anak-anak manusia, 

yaitu cawan pemeliharaan yang diisi dengan campuran banyak 

bahan (sebagaimana yang Ia anggap perlu), cawan kesukaran. 

Penderitaan Kristus disebut sebagai cawan (Mat. 20:22; Yoh. 

18:11). Penghakiman Tuhan   atas para pendosa merupakan pia-

la dari tangan kanan TUHAN (Hab. 2:16). Anggurnya berbuih 

menandakan murka Tuhan  , yang dilarutkan ke dalam pengha-

kiman atas para pendosa, dan merupakan racun dan ipuh 

dalam kesesakan dan kesengsaraan. Murka Tuhan   itu merah 

bagaikan api, merah bagaikan darah, sebab murka-Nya meng-

hanguskan dan membinasakan. Piala itu penuh campuran 

bumbu, disiapkan dengan hikmat untuk mencapai sasaran 

dengan jitu. Dalam cawan kesesakan itu ada campuran belas 

kasihan dan anugerah saat harus diminum oleh umat Tuhan   

sendiri, namun  juga ada campuran kutuk saat disodorkan ke 

tangan orang fasik. Anggurnya dicampur dengan ipuh. Cawan-

cawan itu,  

(1) Dicurahkan bagi semua orang. Dalam kitab Wahyu 15:7 

dan 16:1 diceritakan mengenai malaikat yang menumpah-

kan cawan murka Tuhan   ke atas bumi. Beberapa tetes mur-

ka ini mungkin mengenai orang-orang benar, sebab mereka 

ikut juga merasakan akibat bencana besar yang menggun-

cangkan bumi oleh  sebab  penghakiman Tuhan  . Akan namun ,  

Kitab Mazmur 75:7-11 

 1089 

(2) Ampas cawan itu hanya disediakan bagi orang fasik. Ben-

cana hanyalah sarana untuk menumpahkan murka dan 

kutukan. Bagian atasnya hanya mengandung sedikit saja 

dari murka dan kutukan itu, namun  dasarnya melimpah 

ruah dengan murka yang dahsyat, yang hanya akan me-

nimpa para pendosa. Kini pun mereka telah merasakan 

ampas cawan itu melalui ketakutan dalam hati nurani 

mereka, lalu nanti melalui siksaan neraka. Mereka harus 

menghirupnya, sehingga tidak tersisa lagi setetes murka 

pun, dan mereka akan meminumnya, sebab kutuk itu akan 

merembes seperti air ke dalam dirinya, dan seperti minyak 

ke dalam tulang-tulangnya. Cawan murka Tuhan itu akan 

menjadi cawan kegentaran bagi mereka, kegentaran untuk 

selama-lamanya (Why. 14:10). Cawan orang fasik menjadi 

penuh selagi dia berjaya di dunia ini, namun  bagian yang 

terburuk mengendap di dasar cawan itu. Orang fasik me-

mang disimpan untuk hari penghakiman.   

II. Inilah dua kesimpulan baik yang ditarik berdasar  dua kebe-

naran agung di atas, dan keduanya merupakan tujuan yang sama 

yang dipakai pemazmur untuk memulai mazmur ini, yaitu,  

1.  Ia hendak memuji Tuhan   dan memberi  kemuliaan kepada-

Nya, atas kuasa yang telah dikaruniakan kepadanya (ay. 10): 

Aku hendak bersorak-sorak untuk selama-lamanya mengenai 

perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib (ay. 2). Daud hendak me-

muji Tuhan   yang telah meninggikannya bukan saja saat  ia 

baru memperoleh belas kasihan dari-Nya, namun  juga selama-

lamanya, seumur hidupnya. Pengagungan Anak Daud akan 

menjadi pokok pujian kekal para orang kudus. Daud akan 

memberi  kemuliaan kepada Tuhan  , bukan saja sebagai Tuhan  -

Nya, melainkan juga sebagai Tuhan   Yakub,  sebab  ia tahu, ia 

menjadi raja oleh  sebab  Tuhan   mengasihi Yakub hamba-Nya 

dan juga menyayangi Israel umat-Nya.   

2. Dia akan menggunakan kekuasaan yang dipercayakan kepada-

nya untuk mencapai tujuan baik yang telah diamanatkan ke 

dalam tangannya (ay. 11), seperti sebelumnya (ay. 2, 5). Sesuai 

dengan kewajiban orang-orang yang memiliki kekuasaan besar,   


 1090

(1) Dia bertekad untuk selalu menentang para pelaku kejahat-

an, untuk mematahkan kecongkakan mereka dan mere-

mukkan kuasa mereka. “Mungkin aku memang tidak akan 

sanggup menghancurkan kepala mereka semua, namun  

segala tanduk orang-orang fasik akan Kuhancurkan, yaitu 

tanduk yang mereka pakai untuk menyerang sesamanya. 

Aku akan melumpuhkan mereka sehingga tidak lagi bisa 

berbuat jahat.” Demikianlah Tuhan   berjanji untuk membang-

kitkan para tukang besi yang akan menghempaskan tanduk 

bangsa-bangsa yang telah mengangkat tanduk hendak me-

nyerakkannya tanah Yehuda dan Israel (Za. 1:18-21).  

(2) Dia bertekad untuk selalu melindungi dan memuji orang-

orang yang berbuat baik: tanduk-tanduk orang benar akan 

ditinggikan. Mereka akan diangkat dan diletakkan di tem-

pat-tempat yang penuh kuasa. Dan orang-orang baik yang 

memiliki hati emas itu tidak akan kekurangan kesempatan 

atau kemampuan untuk menjalankan tugas mereka. Se-

mua ini sesuai dengan semua tekad hati Daud (101:3, dst.). 

Di sini Daud memperlambangkan Kristus, yang akan meng-

hancurkan orang fasik dengan nafas mulut-Nya, namun  akan 

meninggikan tanduk-tanduk orang benar (112:9).  

 

PASAL 76  

azmur ini sepertinya ditulis pada saat umat Tuhan   mengalami 

sebuah kemenangan besar atas musuh tertentu yang mengan-

cam, dan dimaksudkan untuk menyanjung kemenangan itu. Septua-

ginta menyebutnya, “Lagu tentang bangsa Asyur,” sehingga banyak 

para penafsir handal menyimpulkan bahwa mazmur ini dituliskan 

saat  pasukan Sanherib, yang saat itu sedang mengepung Yeru-

salem, disapu habis oleh malaikat pembinasa pada zaman Hizkia. 

Dan memang beberapa perikop dalam mazmur ini sangat cocok di-

kaitkan dengan kejadian ajaib itu. Akan namun , di sana juga terkan-

dung sorak-sorai rohani yang diraih oleh  sebab  suatu kemenangan 

lain, yaitu pada masa Yosafat, yang mungkin juga merupakan pokok 

bahasan dari mazmur ini (2Taw. 20:28) dan bisa disebut sebagai 

“sebuah lagu Asaf,”  sebab  selalu dinyanyikan oleh putra-putra Asaf. 

Atau, mazmur ini mungkin ditulis oleh Asaf yang hidup di zaman 

Daud, saat  mereka mengalami banyak kemenangan yang dianuge-

rahkan Tuhan   untuk menghormati masa pemerintahan itu. Apa pun 

kemenangan besar yang dimaksudkan di dalam mazmur ini,  

I. Sang pemazmur menyelamati jemaat  sebab  kebahagiaan 

mereka yang memiliki Tuhan   yang begitu dekat (ay. 2-3).  

II. Dia merayakan kemuliaan kuasa Tuhan   yang dinyatakan de-

ngan gemilang melalui peristiwa itu (ay. 5-7).   

III. Dengan begitu dia menyimpulkan mengapa semua orang ha-

rus takut akan Dia (ay. 8-10). Dan,  

IV. Mengapa umat-Nya harus percaya kepada-Nya dan menepati 

sumpah setia mereka kepada-Nya (ay. 11-13).   

Mazmur ini sesuai untuk dipakai pada hari pengucapan syukur 

atas keberhasilan umat Tuhan   dan juga cocok dipakai dalam kesem-


 1092

patan lain. Sebab, di setiap waktu, kita selalu bisa mempermuliakan 

Tuhan   atas perbuatan ajaib yang Ia lakukan bagi umat-Nya dulu, 

terutama atas kemenangan Sang Penebus melawan kuasa kegelapan, 

yang diperlambangkan oleh segala kemenangan dalam Perjanjian 

Lama, setidaknya kemenangan-kemenangan yang dirayakan di dalam  

mazmur-mazmur.  

Kemenangan di dalam Tuhan   

(76:1-7) 

1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur Asaf. Nyanyi-

an. 2 Tuhan   terkenal di Yehuda, nama-Nya masyhur di Israel! 3 Di Salem su-

dah ada pondok-Nya, dan kediaman-Nya di Sion! 4 Di sanalah dipatahkan-

Nya panah yang berkilat, perisai dan pedang dan alat perang.  

S e l a  5 Cemerlang Engkau, lebih mulia dari pada pegunungan yang ada se-

jak purba. 6 Orang-orang yang berani telah dijarah, mereka terlelap dalam 

tidurnya, dan semua orang yang gagah perkasa kehilangan kekuatannya. 7 

Oleh sebab hardik-Mu, ya Tuhan   Yakub, tertidur lelap baik pengendara mau-

pun kuda.  

Di sini, umat Tuhan   bersorak-sorai bahkan di tengah-tengah pepe-

rangan. Dengan mengatasnamakan umat Tuhan  , di sini sang pemaz-

mur bermegah di dalam Tuhan  , yang merupakan sumber dari segala 

kemenangan kita. Ia bermegah, 

I.  Dalam pernyataan diri Tuhan   kepada mereka (ay. 2). Memiliki Tuhan   

yang terkenal di antara mereka merupakan kehormatan dan hak 

istimewa yang dimiliki oleh Yehuda dan Israel. Di mana pun Ia 

dikenal, nama-Nya akan menjadi masyhur. Tuhan   menyatakan diri 

bila Ia memang berkenan untuk melakukannya, dan berbahagia-

lah orang-orang kepada siapa Dia berkenan menyatakan diri-Nya. 

Berbahagialah umat yang memiliki negeri yang penuh dengan 

pengenalan akan Tuhan  , dan berbahagialah orang-orang yang hati-

nya dipenuhi dengan pengenalan itu. Meski bangsa-bangsa lain 

tidak mengenal-Nya, Tuhan   terkenal di Yehuda. Dengan demikian, 

semakin nyata dan istimewalah kebaikan-Nya (147:19-20).  

II. Dalam tanda istimewa yang menyatakan bahwa hadirat Tuhan   ada 

di tengah-tengah mereka melalui ketetapan-ketetapan-Nya (ay. 3). 

Di seluruh tanah Yehuda dan Israel, Tuhan   dikenal dan nama-Nya 

pun masyhur. Akan namun  di Salem, di Sion, sudah ada pondok-

Kitab Mazmur 76:1-7 

 1093 

Nya dan kediaman-Nya. Di sanalah terletak pelataran-Nya, di sa-

nalah Ia menerima penghormatan yang diberikan umat-Nya mela-

lui persembahan korban dan menjamu mereka dalam perayaan 

persembahan korban ini . Ke sanalah mereka datang untuk 

menghampiri-Nya, dan dari sanalah Ia menyabdakan perintah-

perintah-Nya. Di sanalah Ia menorehkan nama-Nya, dan menge-

nai tempat itu Ia berkata, “Di sini Aku hendak diam, sebab Aku 

mengingininya.” Memiliki Tuhan   yang berdiam di antara mereka 

melalui ketetapan-ketetapan-Nya merupakan kemuliaan dan ke-

bahagiaan sebuah bangsa. Akan namun , tempat kediaman-Nya itu 

merupakan sebuah pondok yang dapat berpindah-pindah. Hanya 

sedikit waktu lagi terang ada di antara kita.  

III. Dalam kemenangan-kemenangan yang telah mereka raih atas mu-

suh-musuh mereka (ay. 4): Di sanalah dipatahkan-Nya panah 

yang berkilat. Lihatlah betapa mengerikannya bahaya yang meng-

ancam mereka. Meskipun Yehuda dan Israel, Salem dan Sion 

diistimewakan, perang tetap saja berkobar terhadap mereka, dan 

senjata perang pun disiapkan.  

1.  Inilah panah dan busur, perisai dan pedang. Semua senjata 

itu ditujukan untuk peperangan. Akan namun , semuanya dipa-

tahkan dan menjadi tidak berguna. Hal itu dilakukan di sana, 

(1)  Di Yehuda dan di Israel, sebagai pembelaan bagi umat yang 

dekat dengan Tuhan  . Senjata perang barulah bermanfaat 

saat  dipakai melawan bangsa-bangsa lain, namun  saat  

diarahkan kepada bangsa yang kudus itu, semuanya pun 

dipatahkan. Bangsa Kasdim mengungkapkannya demikian: 

saat  bangsa Israel menjalankan kehendak-Nya, Tuhan   pun 

menempatkan keagungan-Nya di antara mereka, dan di sa-

nalah Ia mematahkan panah yang berkilat-kilat. Saat me-

reka setia melayani-Nya, mereka pun terpelihara baik dan 

aman, dan segala sesuatu berjalan lancar bagi mereka. 

Atau,   

(2)  Di pondok dan tempat kediaman-Nya di Sion. Di sanalah Ia 

mematahkan panah yang berkilat-kilat. Hal itu dilakukan 

di kancah peperangan, namun  juga disebutkan terjadi di 

tempat kudus, sebagai jawaban doa yang dipanjatkan umat 

Tuhan   kepada-Nya di sana, dan sebagai penggenapan janji 


 1094

yang dibuat-Nya bagi mereka. Keduanya terlihat dalam con-

toh di sini (2Taw. 20:5, 14). Keberhasilan umum dicapai me-

lalui apa yang dilakukan di dalam gereja dan juga melalui 

apa yang dilakukan di perkemahan. Nah, 

2.  Kemenangan ini menambah-nambah, 

(1) Kemuliaan kekal Tuhan   Israel (ay. 5): Cemerlang Engkau, 

demikianlah Engkau telah menyatakan diri-Mu, lebih mulia 

dibandingkan  pegunungan yang ada sejak purba. 

[1] “Lebih mulia dibandingkan  orang-orang hebat dan perkasa di 

dunia ini pada umumnya, yang begitu angkuh dan me-

ngira diri mereka tidak tergoyahkan bagaikan pegu-

nungan. Akan namun , sesungguhnya mereka hanyalah 

barisan gunung penindas yang menganiaya semua 

orang yang ada di sekeliling mereka. Kemuliaan mereka 

yaitu  untuk membinasakan, sedangkan kemuliaan-

Mu yaitu  untuk menyelamatkan.” 

[2] “Lebih mulia dibandingkan  para penyerbu yang mengepung 

bangsa kami pada khususnya. saat  mereka menge-

pung kota-kota Yehuda, mereka membentengi diri dan 

mempersiapkan persenjataan. namun  Engkau sanggup 

melindungi kami, lebih dari yang dapat mereka lakukan 

untuk meresahkan kami.” saat  para musuh umat 

Tuhan   bersikap sombong, justru akan nyata bahwa Tuhan   

berada di atas mereka.  

(2) Aib berkepanjangan yang menimpa para musuh bangsa 

Israel (ay. 6-7). Mereka berani, memiliki tekad yang kuat 

dan nyali yang besar. Mereka bermegah dalam kemenang-

an-kemenangan yang telah mereka capai sebelumnya dan 

murka terhadap bangsa Israel. Mereka yakin akan berhasil. 

Mereka gagah perkasa, tegap, dan siap beraksi. Mereka 

memiliki kereta dan kuda, yang benar-benar diandalkan 

untuk berperang pada zaman itu (20:7). namun  segenap 

kekuatan ini  tidaklah menghasilkan apa-apa saat di-

kerahkan melawan Yerusalem.  

[1] Orang-orang yang berani telah dijarah dan saling melu-

cuti (begitulah bagaimana sebagian orang mengartikan-

nya). Kapan saja Tuhan   berkenan, Dia dapat membuat 

para musuh-Nya saling melemahkan dan membinasa-

Kitab Mazmur 76:8-13 

 1095 

kan diri mereka sendiri. Mereka terlelap, bukan dalam 

tidur orang benar yang terlelap di dalam Yesus, melain-

kan dalam tidur mereka, tidur para pendosa yang akan 

dibangunkan untuk masuk ke dalam cela dan kehinaan 

yang kekal.  

[2] Orang-orang perkasa pun dapat kehilangan kekuatan-

nya, sebagaimana orang-orang yang tinggi hati kehi-

langan semangat mereka. Sebagaimana para pemberani 

menjadi pengecut, orang-orang yang perkasa pun men-

jadi lemah dan mendapati tangan mereka terlalu lunglai 

untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri, apalagi 

untuk melukai musuh.   

[3] Kereta dan kuda dapat dikatakan sedang tertidur lelap 

saat penunggangnya tertidur. Tuhan   hanya perlu menye-

rukan satu kata, sebagaimana Tuhan   Yakub yang meme-

rintahkan keselamatan bagi Yakub, dan oleh  sebab  

hardikan-Nya, kereta dan kuda pun langsung rebah dan 

mati. saat  orang-orang langsung mati di tempat kare-

na dihajar oleh sang malaikat pembinasa, kereta dan 

kuda pun tidak lagi berdaya. Lihatlah kuasa dan keam-

puhan hardikan Tuhan  . Jadi, betapa menyenangkannya 

bagi kita, orang-orang Kristen, saat menyadari bahwa 

hal ini merupakan keuntungan yang kita dapat melalui 

Sang Penebus! Melalui Dialah Tuhan   dikenal. Di dalam 

Dialah nama Tuhan   dibesarkan, dan  sebab  Dialah Tuhan   

memiliki pondok dan tempat kediaman di dalam gereja-

Nya. Dialah yang mematahkan senjata orang-orang per-

kasa, melucuti pemerintahan-pemerintahan dan pengua-

sa-penguasa, dan menjadikan mereka tontonan umum.   

Pertahanan dan Kemuliaan Israel 

(76:8-13) 

8 Dahsyat Engkau! Siapakah yang tahan berdiri di hadapan-Mu pada saat 

Engkau murka? 9 Dari langit Engkau memperdengarkan keputusan-Mu; 

bumi takut dan tertegun, 10 pada waktu Tuhan   bangkit untuk memberi peng-

hukuman, untuk menyelamatkan semua yang tertindas di bumi. S e l a 11 

Sesungguhnya panas hati manusia akan menjadi syukur bagi-Mu, dan sisa 

panas hati itu akan Kauperikatpinggangkan. 12 Bernazarlah dan bayarlah 

nazarmu itu kepada TUHAN, Tuhan  mu! Biarlah semua orang yang di seke-

liling-Nya menyampaikan persembahan kepada Dia yang ditakuti, 13 Dia yang 


 1096

mematahkan semangat para pemimpin, Dia yang dahsyat bagi raja-raja di 

bumi. 

Di sini, kemenangan gemilang yang telah dianugerahkan Tuhan   seba-

gai berkat bagi gereja-Nya dipakai untuk mengumandangkan tiga hal: 

I.  Ancaman bagi musuh-musuh Tuhan   (ay. 8-10): “Dahsyat Engkau! 

Keagungan-Mu layak dihormati, kedaulatan-Mu layak diterima, 

dan keadilan-Mu layak ditakuti oleh orang-orang yang telah mela-

wan-Mu.” Biarlah seluruh dunia menarik pelajaran dari peristiwa 

ini supaya mereka merasa takjub terhadap Tuhan   yang dahsyat.  

1. Biarlah semua orang takut terhadap murka-Nya yang akan 

menimpa para pendosa yang keras kepala: Siapakah yang ta-

han berdiri di hadapan-Mu pada saat Engkau murka? Jika 

Tuhan   itu seperti api yang menghanguskan, bagaimana mung-

kin sekam dan jerami dapat bertahan menghadapi-Nya, sekali-

pun murka-Nya bernyala-nyala sedikit juga? (2:12, TL).  

2. Biarlah semua orang takut terhadap hasrat-Nya untuk mem-

bela perkara kudus umat-Nya yang telah dilanggar: “Dari langit 

Engkau memperdengarkan keputusan-Mu, pada waktu Engkau 

bangkit untuk menyelamatkan semua yang tertindas di bumi 

(ay. 9-10). Lalu kemudian, bumi takut dan tertegun, menanti-

nantikan apa yang memicu penampakan agung-Mu itu.” 

Perhatikanlah: 

(1) Umat Tuhan   yaitu  orang yang rendah hati di negeri (Zef. 

2:3). Mereka ialah orang-orang yang rukun di negeri (35:20), 

bersabar menghadapi perlakuan yang tidak adil tanpa per-

nah melakukan hal yang sama.   

(2)  Meskipun di dunia ini orang yang lemah lembut rentan di-

sakiti, cepat atau lambat Tuhan   pasti tampil untuk menyela-

matkan dan membela perkara mereka.  

(3) Saat Tuhan   datang untuk menyelamatkan semua yang ter-

tindas di bumi, Ia akan memperdengarkan keputusan-Nya 

dari langit. Ia akan memberi tahu seluruh dunia mengenai 

murka-Nya terhadap para penindas umat-Nya dan mem-

perhitungkan kejahatan mereka terhadap umat-Nya itu se-

bagai perlawanan terhadap-Nya juga. Tuhan   yang adil seperti-

nya sudah lama berdiam diri, namun , cepat atau lambat, Ia 

akan memperdengarkan penghakiman-Nya.  

Kitab Mazmur 76:8-13 

 1097 

(4) saat  Tuhan   memperdengarkan penghakiman-Nya dari sor-

ga, saat itulah bumi harus terdiam dalam keterpanaan dan 

penghormatan: bumi takut dan tertegun, sebagaimana kehe-

ningan tercipta saat  persidangan dilangsungkan. Diamlah 

dan ketahuilah, bahwa Akulah Tuhan  ! (46:11). Berdiam 

dirilah, hai segala makhluk, di hadapan TUHAN, sebab Ia 

telah bangkit untuk menghakimi (Za. 2:13). Orang-orang 

yang beranggapan bahwa mazmur ini dituliskan saat  

pasukan Sanherib dilucuti, juga meyakini bahwa turunnya 

sang malaikat pembinasa yang melaksanakan penghakim-

an disertai dengan guntur, yang dipakai Tuhan   untuk mem-

perdengarkan keputusan-Mu dari langit, dan bahwa bumi 

merasa takut (yaitu, terjadi gempa bumi) untuk sesaat. 

Akan namun , semua perkiraan itu masih belum dapat dipas-

tikan kebenarannya.  

II. Penghiburan bagi umat Tuhan   (ay. 11). Kita hidup di dunia yang 

penuh angkara murka. Terkadang kita merasa kewalahan dan 

cenderung gentar terhadap murka manusia yang kelihatannya ti-

dak terbatas. namun , biarlah hal-hal di bawah ini menjadi peng-

hiburan besar bagi kita, yaitu 

1. Bahwa seperti Tuhan   mengizinkan murka manusia meledak ka-

pan saja, Ia pun dapat mengubahkan murka menjadi pujian 

bagi-Nya, mendatangkan kehormatan bagi diri-Nya, dan men-

capai tujuan-Nya sendiri: Sesungguhnya panas hati manusia 

akan menjadi syukur bagi-Mu, bukan saja melalui teguran 

yang ditimbulkannya saat dia terpaksa harus mengakui keti-

dakberdayaannya, namun  bahkan melalui keleluasaan yang di-

berikan kepadanya selama beberapa waktu. Kesukaran yang 

diderita oleh umat Tuhan    sebab  murka musuh-musuh mereka 

menambah kemuliaan dan anugerah Tuhan  . Dan, semakin 

rusuh bangsa-bangsa yang bersekongkol melawan Tuhan dan 

orang yang diurapi-Nya, maka Tuhan   akan semakin dipuji kare-

na menegakkan raja-Nya di Sion, gunung-Nya yang kudus, 

meskipun mendapat perlawanan dari mereka (2:1, 6). saat  

penghuni sorgawi menjadikan hal ini sebagai kidung peng-

ucapan syukur, yaitu bahwa Tuhan   telah memangku kuasa-Nya 

yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja, walau 


 1098

semua bangsa telah marah (Why. 11:17-18), maka murka ma-

nusia justru menambah kemilau pujian bagi Tuhan  .  

2.  Bahwa hal yang tidak akan menjadi pujian bagi-Nya tidak 

akan dibiarkan meledak: Sisa panas hati itu akan Kauperikat-

pinggangkan. Manusia tidak boleh menoleransi dosa begitu 

saja, sebab sekalipun mereka ingin, mereka tidak dapat me-

ngendalikannya. namun , Tuhan   sanggup melakukannya. Dia da-

pat mengendalikan murka manusia, sebagaimana Dia mene-

nangkan lautan yang mengamuk. Sampai di sini boleh hal itu 

datang, jangan lewat, di sinilah gelombang-gelombangnya yang 

congkak akan dihentikan. Tuhan   mengekang sisa murka San-

herib, sebab Dia menaruh kelikir pada hidungnya dan kekang 

pada bibirnya (Yes. 37:29). Dan, sekalipun ia dibiarkan mem-

bual, Tuhan   tidak membiarkannya melakukan apa yang ia ran-

cangkan.   

III. Kewajiban bagi semua orang (ay. 12-13). Biarlah semua orang 

berserah kepada Tuhan   yang dahsyat ini dan menjadi hamba-Nya 

yang setia.  

Perhatikanlah:  

1.  Kewajiban yang dituntut dari kita semua, semua yang dekat 

kepada-Nya, yang bergantung kepada-Nya, dan dapat meng-

hampiri-Nya setiap waktu. Adakah yang tidak begitu?  sebab  

itulah, setiap dari kita diperintahkan untuk menghormati Raja 

dari segala raja: bernazar dan tepatilah. Artinya, bersumpah-

setialah kepada-Nya dan tepatilah sumpahmu itu. Berjanjilah 

untuk menjadi milik-Nya dan setialah kepada janjimu itu. 

Ikatkan jiwamu kepada-Nya (sebab inilah inti dari sebuah 

sumpah), dan jalankanlah kewajiban yang telah kamu setujui 

bagi dirimu sendiri, sebab lebih baik tidak bernazar dari pada 

bernazar namun  tidak menepatinya. Lalu, sesudah  memiliki-Nya 

sebagai Raja kita, marilah kita membawa persembahan bagi-

Nya, sebagaimana para hamba memberi  persembahan 

kepada pemerintah di atas mereka (1Sam. 10:27). Kirim anak 

domba kepada pemerintah negeri (Yes. 16:1). Bukan berarti 

bahwa Tuhan   membutuhkan persembahan yang dapat kita be-

rikan atau mendapat keuntungan darinya, namun   sebab  kita 

harus memberi  penghormatan kepada-Nya dan mengakui 

Kitab Mazmur 76:8-13 

 1099 

bahwa segala yang kita punya berasal dari-Nya. Doa dan puji-

an kita, dan terutama hati kita, merupakan  persembahan 

yang harus kita berikan kepada Tuhan Tuhan   kita.   

2.  Alasan untuk menunaikan kewajiban itu: Balaskan kepada 

setiap orang menurut apa yang layak mereka terima, takutlah 

kepada siapa yang layak ditakuti. Tidakkah hal itu layak 

dilayangkan kepada Tuhan  ? Benar,  

(1)  Dia layak ditakuti: Dia yaitu  kegentaran (demikianlah arti 

kata yang dipakai). Nama-Nya mulia dan menakutkan. Kita 

harus takut kepada-Nya sebab Dia memiliki kemuliaan 

yang begitu dahsyat. Tuhan   Abraham dipanggil sebagai Yang 

Disegani oleh Ishak (Kej. 31:42), dan terhadap-Nya kita 

harus gentar (Yes. 8:13). saat  kita membawa persembah-

an kepada-Nya, kita harus memandang-Nya sebagai yang 

layak ditakuti, sebab Dia dahsyat di tempat kudus-Nya.  

(2) Dia akan ditakuti, bahkan oleh orang-orang yang semula 

beranggapan bahwa hanya diri merekalah yang seharusnya 

ditakuti (ay. 13): Dia akan mematahkan semangat para 

pemimpin. Dia akan mencabut semangat itu semudah kita 

mencabut sekuntum bunga dari tangkainya atau serum-

pun anggur dari rantingnya, demikianlah arti kalimat itu. 

Dia bahkan dapat melemahkan semangat dan membuat ke-

cut hati orang-orang yang paling berani, sebab Dia dahsyat 

bagi raja-raja di bumi. Dan, cepat atau lambat, jika mereka 

tidak kunjung bersikap bijaksana dengan berserah kepada-

Nya, maka Ia akan membuat mereka terpaksa berseru-seru 

dengan sia-sia kepada gunung-gunung dan kepada batu-

batu karang itu supaya runtuh menimpa mereka dan me-

nyembunyikan mereka terhadap murka-Nya (Why. 6:16). 

Oleh  sebab  tidak ada yang dapat menandingi Tuhan  , maka 

berserah kepada-Nya merupakan kewajiban sekaligus hal 

bijaksana yang dapat kita lakukan.  

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

PASAL 77  

azmur ini, sesuai dengan cara yang dipakai dalam banyak maz-

mur lainnya, dimulai dengan keluhan-keluhan yang penuh 

dukacita, namun  diakhiri dengan dorongan-dorongan yang menghibur. 

Keluhan-keluhan itu tampaknya merupakan jeritan-jeritan pribadi, 

namun  dorongan-dorongannya berkaitan dengan kepentingan-kepen-

tingan umum di dalam jemaat, sehingga tidaklah pasti apakah maz-

mur ini ditulis berdasar  pengalaman pribadi atau umum. Jika 

permasalahan-permasalahan pribadi yang dikeluhkan si pemazmur, 

maka mazmur ini mengajar kita bahwa apa yang telah diperbuat 

Tuhan   bagi jemaat-Nya secara umum dapat dimanfaatkan bagi penghi-

buran orang-orang percaya secara pribadi. Jika suatu malapetaka 

umum yang diratapinya di sini, maka cara dia mengungkapkannya 

begitu penuh perasaan, seolah-olah permasalahannya sendirilah 

yang sedang dibicarakannya. Ini menunjukkan betapa kita harus ikut 

peduli terhadap kepentingan-kepentingan jemaat Tuhan   dan menjadi-

kannya sebagai kepentingan-kepentingan kita sendiri. Salah seorang 

rabi Yahudi pernah berkata bahwa mazmur ini ditulis dalam dialek 

orang-orang tawanan, dan oleh sebab itu menurut sebagian orang 

mazmur ini ditulis semasa pembuangan di Babel.  

I.  Di sini sang pemazmur mengeluhkan kesan-kesan mendalam 

yang diakibatkan oleh permasalahannya terhadap jiwanya. 

Ini membuatnya tergoda untuk tidak lagi mengharapkan per-

tolongan (ay. 2-11).  

II.  Ia membesarkan hatinya untuk berharap bahwa semuanya 

akan baik-baik saja pada akhirnya, dengan cara mengingat 

bagaimana pada waktu dulu Tuhan   telah sering menampak-

kan diri untuk menolong umat-Nya, dan beberapa contohnya 

diberikannya di sini (ay. 12-21).  


 1102

Dalam menyanyikan mazmur ini, kita harus malu terhadap diri 

kita sendiri atas segala dosa ketidakpercayaan kita terhadap Tuhan  , 

terhadap pemeliharaan dan janji-Nya, dan harus memberi  kemu-

liaan kepada-Nya atas kuasa dan kebaikan-Nya, seraya mengenang 

dan bersyukur atas apa yang telah diperbuat-Nya bagi kita pada 

waktu dulu dan dengan senang hati bergantung kepada-Nya untuk 

masa depan. 

Kesedihan yang Melanda;  

Permohonan-permohonan yang Penuh Kesedihan 

(77:1-11) 

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut: Yedutun. Mazmur Asaf. 2 Aku mau ber-

seru-seru dengan nyaring kepada Tuhan  , dengan nyaring kepada Tuhan  , su-

paya Ia mendengarkan aku. 3 Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; 

malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, jiwaku enggan dihi-

burkan. 4 jika  aku mengingat Tuhan  , maka aku mengerang, jika  aku 

merenung, makin lemah lesulah semangatku. S e l a 5 Engkau membuat 

mataku tetap terbuka; aku gelisah, sehingga tidak dapat berkata-kata. 6 Aku 

memikir-mikir hari-hari zaman purbakala, tahun-tahun zaman dahulu aku 

ingat. 7 Aku sebut-sebut pada waktu malam dalam hatiku, aku merenung, 

dan rohku mencari-cari: 8 “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak 

kembali bermurah hati lagi? 9 Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih 

setia-Nya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun? 10 Sudah lupa-

kah Tuhan   menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya  sebab  mur-

ka-Nya?” S e l a 11 Maka kataku: “Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan 

kanan Yang Mahatinggi berubah.” 

Di sini kita mendapati gambaran yang hidup tentang seorang baik 

yang sedang dilanda kesedihan, yang jatuh dan tenggelam ke dalam 

lubang yang mengerikan itu, ke dalam tanah yang berlumpur itu, te-

tapi berjuang untuk keluar. Orang-orang kudus yang sedang bermu-

ram durja, yang jiwanya tengah bersedih, dapat melihat wajah mere-

ka sendiri di sini seperti di dalam cermin. Pergumulan yang dihadapi 

sang pemazmur dengan segala kesedihan dan ketakutannya tampak 

sudah berakhir saat  ia menggoreskan catatan tentang itu di sini, 

sebab ia berkata (ay. 2), Aku berseru kepada Tuhan  , dan Ia telah 

mendengarkan aku (KJV). Dia tidak akan dapat mengetahui jawaban 

Tuhan   ini jika  pergumulannya masih berlangsung. Ia menyelipkan 

pernyataan ini pada permulaan ceritanya sebagai petunjuk bahwa 

permasalahannya tidak berakhir dalam keputusasaan, sebab Tuhan   

mendengarnya, dan pada akhirnya ia tahu bahwa Tuhan   benar-benar 

mendengarkannya. 

Kitab Mazmur 77:1-11 

 1103 

Lihatlah  :     

I.   Doa-doanya yang penuh kesedihan.  sebab  menderita, ia berdoa 

(Yak. 5:13), dan,  sebab  sedang tersiksa, ia berdoa dengan lebih 

sungguh-sungguh (ay. 2): “Aku mau berseru-seru dengan nyaring 

kepada Tuhan  , dengan nyaring kepada Tuhan  .” Dirinya penuh de-

ngan keluhan, keluhan-keluhan yang nyaring, namun  ia mengarah-

kan semuanya itu kepada Tuhan  , dan menjadikannya sebagai doa, 

doa-doa yang lantang, sangat sungguh-sungguh dan gigih. Demi-

kianlah ia melampiaskan kesedihannya dan mendapatkan sedikit 

banyak ketenangan. Demikianlah ia telah mengambil jalan yang 

benar untuk mendapatkan kelegaan (ay. 3): Pada hari kesusahan-

ku aku mencari Tuhan. Perhatikanlah, hari-hari kesusahan harus-

lah menjadi hari-hari doa, terutama hari-hari kesusahan batin, 

saat  Tuhan   tampak menarik diri dari kita, kita harus terus men-

cari dan mencari-Nya sampai kita menemukan-Nya. Pada hari 

kesusahannya, sang pemazmur tidak berusaha mengalihkan per-

hatiannya dengan bekerja atau mencari hiburan, untuk melupa-

kan sejenak permasalahannya dengan berbuat demikian, namun  ia 

mencari Tuhan  , dan mencari kebaikan serta anugerah-Nya. Orang-

orang yang tengah dilanda kesusahan pikiran janganlah me-

nyangka dapat menghilangkannya dengan minum-minum, atau 

tertawa-tawa, namun  harus mengusirnya di dalam doa. Malam-

malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, demikianlah Dr. 

Hammond mengartikan ayat selanjutnya, yang berbicara tentang 

kegigihan doa-doanya yang tanpa henti (bdk. 143:5-6).  

II.  Dukacitanya yang penuh kesedihan. Dukacita benar-benar dapat 

dikatakan menyedihkan,  

1.  jika  tidak ada waktu jeda di dalamnya. Seperti itulah du-

kacitanya: Kepedihanku, atau lukaku, terasa nyeri pada ma-

lam hari, dan berdarah dari dalam batin, dan tidak berhenti 

mengucur, sekalipun semestinya aku beristirahat dan tidur.  

2.  jika  tidak ada penghiburan di dalamnya. Dan seperti itu 

pula keadaannya: Jiwaku enggan dihiburkan. Tidak ada tem-

pat dalam pikirannya untuk mendengarkan orang-orang yang 

hendak menghiburnya. Orang yang menyanyikan nyanyian un-

tuk hati yang sedih yaitu  seperti cuka pada luka (Ams. 

25:20). Tidak ada tempat juga dalam pikirannya untuk memi-


 1104

kirkan hal-hal yang dapat menghiburnya. Ia menjauhkan itu 

semua darinya, seperti orang yang betul-betul terlena dalam 

kesedihannya. Orang yang sedang bersedih hati,  sebab  alas-

an apa pun, tidak hanya menyakiti diri sendiri, namun  juga me-

nentang Tuhan  , jika mereka enggan dihiburkan.  

III. Pemikiran-pemikirannya yang penuh kesedihan. Ia terlalu banyak 

memikirkan masalahnya, apa pun itu, entah yang pribadi atau 

yang menyangkut orang banyak, sehingga,  

1.  Cara-cara yang seharusnya melegakan perasaannya hanya 

menambah kesedihannya (ay. 4).  

(1) Orang akan menyangka bahwa dengan mengingat Tuhan   

pasti ia akan terhibur, namun  ternyata tidak: jika  aku 

mengingat Tuhan  , maka aku mengerang, seperti Ayub yang 

malang (Ayb. 23:15); Hatiku gemetar menghadapi Dia, kalau 

semuanya itu kubayangkan, maka aku ketakutan terhadap 

Dia. jika  ia mengingat Tuhan  , maka pikiran-pikirannya 

hanya tertuju pada keadilan-Nya, pada murka-Nya, dan 

pada keagungan-Nya yang dahsyat, dan dengan demikian 

Tuhan   sendiri menjadi suatu kengerian baginya.  

(2) Orang akan menyangka bahwa dengan mencurahkan jiwa-

nya di hadapan Tuhan  , maka ia akan merasa tenang, namun  

ternyata tidak. Ia merenung, namun semangatnya menjadi 

semakin lemah lesu, dan tenggelam  sebab  beban itu.  

2. Sarana-sarana yang dapat memberinya kelegaan sekarang 

tidak bisa diperolehnya (ay. 5). Ia tidak bisa menikmati tidur, 

padahal jika ia tidur nyenyak dan bangun dengan segar, maka 

ia bisa beristirahat sejenak dari segala dukacita dan kekhawa-

tirannya: “Engkau membuat mataku tetap terbuka dengan ke-

ngerian-kengerian-Mu, yang membuatku dicekam oleh gelisah 

sampai dinihari.” Ia tidak dapat berkata-kata,  sebab  pikiran-

nya kacau, jiwanya gelisah, dan kepalanya pusing: Ia diam 

bahkan terhadap hal yang baik, sementara hatinya bergejolak 

dalam dirinya. Seperti kirbat baru ia akan meletup (Ayb. 32:19), 

namun ia begitu gelisah sehingga ia tidak dapat berkata-kata 

dan menyegarkan jiwanya. Dukacita teramat sangat menyiksa 

jiwa terutama jika  dipendam dan ditekan-tekan dengan 

sedemikian rupa.   

Kitab Mazmur 77:1-11 

 1105 

IV. Permenungan-permenungannya yang penuh kesedihan (ay. 6-7): 

“Aku memikir-mikir hari-hari zaman purbakala, dan membanding-

bandingkannya dengan hari-hari zaman ini. Nyatanya, kejayaan 

kita pada masa lalu hanyalah semakin memperberat malapetaka 

kita pada saat ini: sebab kita tidak melihat perbuatan-perbuatan 

ajaib yang diceritakan nenek moyang kita kepada kita.” Orang 

yang berperangai sedih cenderung merenungi sepenuhnya masa-

masa lalu dan tahun-tahun yang berlalu, dan membesar-besar-

kannya, untuk membenarkan kegelisahan dan ketidakpuasan me-

reka sendiri terhadap apa yang terjadi pada saat ini. namun  

janganlah mengatakan bahwa zaman dulu lebih baik dari pada 

zaman sekarang,  sebab  sebenarnya engkau tidak tahu apakah 

memang demikian halnya (Pkh. 7:10). Dan juga janganlah ke-

nangan akan penghiburan-penghiburan yang telah hilang dari 

kita membuat kita tidak bersyukur atas penghiburan-penghibur-

an yang masih tinggal, atau tidak sabar memikul salib kita. Se-

cara khusus, ia sebut-sebut pada waktu malam dalam hatinya 

(KJV: Ia mengingat-ingat kembali nyanyiannya pada waktu malam 

– pen.), yang dengan penghiburan darinya ia dulu menyokong 

dirinya dalam dukacitanya dan menghibur dirinya dalam kesen-

diriannya. Nyanyian-nyanyian ini diingatnya, dan dicobanya apa-

kah dapat dinyanyikannya lagi. Namun, suaranya menjadi sum-

bang untuk menyanyikan lagu-lagu itu, dan ingatan akan semua 

nyanyian itu hanya membuat jiwanya gundah gulana (42:5). Lihat 

Ayub 35:10.      

V. Segala ketakutan dan kekhawatirannya yang penuh kesedihan: 

“Aku merenung (ay. 7). Ayolah, hai jiwaku, akan jadi apa semua-

nya ini? Apa yang dapat kupikirkan tentang semua itu dan apa 

yang dapat kuharapkan akan terjadi pada akhirnya? Rohku men-

cari-cari dengan giat penyebab dari permasalahanku, bertanya-

tanya mengapa Tuhan   menentangku dan apa akibat-akibatnya 

nanti. Jadi aku mulai bertanya-tanya, “Untuk selamanyakah Tu-

han menolak, seperti apa yang sedang diperbuat-Nya pada saat 

ini? Ia tidak bermurah hati sekarang. Akankah Ia tidak kembali 

bermurah hati lagi? Kasih setia-Nya kini lenyap. Dan sudah 

lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya itu? Janji-Nya kini 

tidak berlaku. Dan telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temu-

run? Tuhan   tidak menaruh kasihan sekarang. namun  sudah lupa-


 1106

kah Tuhan   menaruh kasihan? Rahmat-Nya telah ditangguhkan, 

mungkin  sebab  hikmat-Nya. namun  ditutup-Nyakah rahmat-Nya, 

ditutup oleh-Nya  sebab  murka-Nya?” (ay. 8-10). Ini yaitu  baha-

sa jiwa yang muram dan merasa ditinggalkan, yang berjalan da-

lam kegelapan dan tidak mempunyai terang, suatu keadaan yang 

bukan tidak biasa dialami sekalipun oleh orang-orang yang takut 

akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya (Yes. 50:10). Di 

sini ia bisa dipandang,  

1. Sebagai orang yang merintih dalam kesusahan yang pedih. 

Tuhan   menyembunyikan wajah-Nya dari dia, dan menarik per-

tanda-pertanda kebaikan-Nya yang dulu biasa diperlihatkan-

Nya. Perhatikanlah, kesusahan rohani yaitu  kesusahan yang 

paling mendukakan bagi jiwa yang telah beroleh rahmat. Tidak 

ada hal lain yang lebih melukai dan menusuknya seperti ke-

khawatiran-kekhawatiran akan murka Tuhan  , akan penangguh-

an kebaikan-Nya, dan akan perubahan janji-Nya. Semua ini 

melukai roh, dan siapakah yang dapat menahannya? 

2.  Sebagai orang yang tengah bergumul dengan godaan yang 

kuat. Perhatikanlah, umat Tuhan   sendiri, pada hari yang berka-

but dan gelap, bisa jadi tergoda untuk membuat pikiran-pikir-

an tak berpengharapan tentang keadaan rohani mereka sendiri 

dan keadaan jemaat serta kerajaan Tuhan   di dunia, dan, mere-

ka menjadi pasrah saja dan menganggap keduanya sudah 

lenyap. Mungkin kita tergoda untuk berpikir bahwa Tuhan   telah 

meninggalkan dan menolak kita, bahwa kovenan anugerah 

tidak berlaku bagi kita, dan bahwa rahmat Tuhan   kita yang 

lembut akan disembunyikan selamanya dari kita. namun  ja-

nganlah kita membuka pintu terhadap pemikiran-pemikiran 

seperti ini. Jika ketakutan dan kesedihan menanyakan perta-

nyaan-pertanyaan yang penuh keluh kesah seperti ini, biarlah 

iman menjawabnya dari Kitab Suci: Untuk selamanyakah 

Tuhan menolak? Sekali-kali tidak! (Rm. 11:1). Tidak, TUHAN 

tidak akan membuang umat-Nya (94:14). Akankah Ia tidak 

kembali bermurah hati lagi? Ya, Ia akan kembali bermurah 

hati.  sebab  walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menya-

yangi menurut kebesaran kasih setia-Nya (Rat. 3:32). Sudah 

lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya? Tidak, kasih 

setia-Nya untuk selama-lamanya. Sama seperti kasih setia-Nya 

dari selama-lamanya, demikian pula kasih setia-Nya itu pun 

Kitab Mazmur 77:1-11 

 1107 

sampai selama-lamanya (103:17). Telah berakhirkah janji itu 

berlaku turun-temurun? Tidak. Tuhan   tidak mungkin berdusta 

(Ibr. 6:18). Sudah lupakah Tuhan   menaruh kasihan? Tidak, Dia 

tidak dapat menyangkal diri-Nya, dan nama-Nya sendiri yang 

telah dinyatakan-Nya yaitu  penyayang dan pengasih (Kel. 

34:6). Ditutup-Nyakah rahmat-Nya  sebab  murka-Nya? Tidak. 

Rahmat-Nya selalu baru tiap pagi (Rat. 3:23), dan oleh sebab 

itu, Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim? (Hos. 11:8-

9). Demikianlah sang pemazmur terus-menerus gelisah dalam 

kekhawatiran-kekhawatirannya yang gelap dan suram sampai 

secara tiba-tiba, ia terlebih dahulu menegur dirinya sendiri de-

ngan perkataan ini, “Sela,” “Berhenti di situ. Jangan lanjutkan 

lagi. Jangan dengar lagi dugaan-dugaan yang penuh dengan 

ketidakpercayaan ini.” Kemudian ia menegur dirinya sendiri 

(ay. 11): Maka kataku: “Inilah yang menikam hatiku” (KJV: Inilah 

kelemahanku – pen.). Ia segera sadar bahwa perkataannya itu 

tidak baik, dan oleh sebab itu, “Mengapa engkau tertekan, hai 

jiwaku? Aku berkata, inilah penderitaanku” (begitu sebagian 

orang memahaminya). “Inilah malapetaka yang menimpaku 

dan aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Setiap 

orang mempunyai kesusahannya sendiri, kesusahan badani, 

dan inilah kesusahanku, salib yang harus kupikul.” Atau, le-

bih tepatnya, “Inilah dosaku. Inilah pelanggaranku, tulah yang 

melanda hatiku sendiri.” Segala keraguan dan ketakutan ini 

timbul dari kurangnya dan lemahnya iman, dan dari rusaknya 

pikiran yang gelisah.  

Perhatikanlah:  

(1) Kita semua tahu akan suatu hal tentang diri kita sendiri, 

yang tentangnya kita harus berkata, “Inilah pelanggaran 

kita, dosa yang begitu mudah merintangi kita.”  

(2) Kemuraman roh, dan ketidakpercayaan akan Tuhan  , di da-

lam penderitaan sering kali merupakan kelemahan orang-

orang baik, dan, sebagai kelemahan, haruslah kita renung-

kan dengan dukacita dan rasa malu, seperti yang diperbuat 

oleh sang pemazmur di sini: Inilah kelemahanku. Kapan 

saja kelemahan itu bekerja di dalam diri kita, kita harus 

menekannya sedemikian rupa sehingga ia tidak berkem-

bang, dan janganlah kita membiarkan roh jahat untuk ber-


 1108

bicara. Kita harus melawan dan mengalahkan gejolak-gejo-

lak ketidakpercayaan, seperti yang diperbuat oleh sang pe-

mazmur di sini: namun  aku akan mengingat tahun-tahun 

tangan kanan Yang Mahatinggi (ay. 11, KJV). Ia sudah me-

nimbang-nimbang hari-hari zaman purbakala (ay. 6), ber-

kat-berkat yang sebelumnya dinikmati, yang dengan meng-

ingatnya hanya menambah kesedihannya. namun  sekarang 

ia memandangnya sebagai tahun-tahun tangan kanan Yang 

Mahatinggi, bahwa berkat-berkat pada zaman purbakala 

itu datang dari Yang Lanjut Usianya, dari kuasa dan pem-

berian yang berdaulat dari tangan kanan-Nya yang berada 

di atas segala sesuatu, Tuhan   yang harus dipuji sampai se-

lama-lamanya, dan ini memuaskannya. Sebab, bukankah 

Yang Mahatinggi dengan tangan kanan-Nya berhak mem-

buat perubahan apa saja yang dikehendaki-Nya?   

Pengakuan-pengakuan akan Kebesaran Ilahi,  

akan Keajaiban-keajaiban yang Diperbuat Tuhan   bagi Israel  

(77:12-21) 

12 Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak 

mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. 13 Aku hendak 

menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-per-

buatan-Mu. 14 Ya Tuhan  , jalan-Mu yaitu  kudus! Tuhan   manakah yang begitu 

besar seperti Tuhan   kami? 15 Engkaulah Tuhan   yang melakukan keajaiban; 

Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa. 16 Dengan 

lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf.  

S e l a 17 Air telah melihat Engkau, ya Tuhan  , air telah melihat Engkau, lalu 

menjadi gentar, bahkan samudera raya gemetar. 18 Awan-awan mencurahkan 

air, awan-gemawan bergemuruh, bahkan anak-anak panah-Mu beterbangan. 

19 Deru guntur-Mu menggelinding, kilat-kilat menerangi dunia, bumi gemetar 

dan bergoncang. 20 Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air 

yang luas, namun  jejak-Mu tidak kelihatan. 21 Engkau telah menuntun umat-

Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun. 

Di sini sang pemazmur sedang pulih dari kesusahan dan tulah besar 

yang melandanya. Ia membungkam ketakutan-ketakutannya sendiri 

bahwa Tuhan   akan menolak umat-Nya. Ini dilakukannya dengan 

mengingat perkara-perkara besar yang telah diperbuat Tuhan   bagi 

mereka pada waktu dulu. Meskipun sebelumnya dengan sia-sia ia 

mencoba menenangkan dirinya saat teringat akan hal-hal ini (ay. 6-

7), namun ia mencobanya lagi, dan pada kali kedua, usahanya tidak-

lah sia-sia. Sungguh baik jika kita terus bertekun dalam mengguna-

Kitab Mazmur 77:12-21 

 1109 

kan sarana-sarana yang sesuai untuk menguatkan iman, walaupun 

semua sarana itu tidak berhasil pada mulanya: “Aku hendak meng-

ingat, ya, aku hendak mengingat, apa yang telah diperbuat Tuhan   bagi 

umat-Nya pada zaman dulu, sampai dari situ aku dapat menyimpul-

kan bahwa keadaan yang gelap pada saat ini akan berakhir dengan 

bahagia” (ay. 12-13).  

Perhatikanlah: 

1.  Perbuatan-perbuatan Tuhan bagi umat-Nya yaitu  perbuatan-per-

buatan yang senantiasa ajaib.  

2.  Perbuatan-perbuatan-Nya itu dicatat bagi kita agar kita dapat 

mengingatnya.  

3. Agar kita bisa memperoleh keuntungan dalam mengingat perbuat-

an-perbuatan-Nya itu, maka kita harus merenungkannya, dan 

terus memikirkannya, dan harus berbicara tentangnya, supaya 

kita dapat memberi tahu diri kita sendiri serta orang lain lebih 

lanjut mengenai itu semua.  

4. Mengingat dengan pantas perbuatan-perbuatan Tuhan   akan men-

jadi obat penawar yang a


Related Posts:

  • mazmur 51-100 11 lis dan kerajaannya, sebagai kelanjutan dari jan-ji yang pertama, yaitu bahwa keturunan wanita akan mere-mukkan kepala si ular.  (2) Manfaat kemenangan ini dalam meneguhkan gereja: Eng-kau memberi nya menjadi … Read More