mazmur 51-100 10


 hnya ini,  

I.  Pertama-tama ia mengetengahkan keyakinan yang ia pegang te-

guh dan tidak ingin ia lepaskan saat  ia bergumul dengan goda-

Kitab Mazmur 73:1-14 

 1041 

an itu (ay. 1). Ayub, saat  dia masuk ke dalam cobaan seperti ini, 

berpegang pada keyakinannya mengenai kemahatahuan Tuhan  :  

masa ditentukan oleh Yang Mahasuci (Ayb. 24:1, TL). Dasar keper-

cayaan Yeremia yaitu  keadilan Tuhan  : Engkau memang benar, ya 

TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! (Yer. 12:1). 

Dasar kepercayaan Habakuk yaitu  kekudusan Tuhan  : Mata-Mu 

terlalu suci untuk melihat kejahatan (Hab. 1:13). Di sini, yang 

menjadi dasar kepercayaan sang pemazmur yaitu  kebaikan 

Tuhan  . Hal-hal ini  merupakan kebenaran yang tidak dapat 

tergoyahkan dan harus kita pegang teguh dalam kehidupan ini, 

bahkan sampai kita mati nanti. Meskipun kita mungkin tidak da-

pat mengaitkan semua karya Pemeliharaan ilahi dengan kebenar-

an ini , kita tetap harus mempercayai bahwa keduanya sebe-

narnya berkesesuaian. Perhatikanlah, pikiran-pikiran yang luhur 

mengenai Tuhan   akan membentengi kita dari serbuan godaan Iblis. 

Sesungguhnya Tuhan   itu baik. Pikiran-pikiran tentang pemelihara-

an Tuhan   terus berkecamuk di benaknya, namun  kalimat ini akhir-

nya menenangkannya: “Melalui semua ini, Tuhan   itu baik, baik 

bagi orang Israel, bagi orang yang bersih hatinya.”  

Perhatikanlah:  

1. Orang-orang yang bersih hatinya, yang disucikan oleh darah 

Kristus dan dimurnikan dari segala kenajisan dosa, dan yang 

berbakti demi kemuliaan Tuhan   dengan sepenuh hati mereka 

dapat dikatakan sebagai bangsa Israel kepunyaan Tuhan  . Hati 

yang jujur yaitu  hati yang bersih. Kebersihan hati merupa-

kan kebenaran yang terletak di dalam batin.  

2. Tuhan  , yang baik terhadap semua orang, baik kepada umat dan 

gereja-Nya dengan cara yang istimewa, seperti yang ditunjuk-

kan-Nya terhadap bangsa Israel di zaman dulu. Tuhan   begitu 

baik kepada bangsa Israel dengan memimpin mereka keluar 

dari Mesir dan membawa mereka masuk di dalam kovenan 

dengan-Nya. Ia memberi  hukum-hukum dan ketetapan-

ketetapan-Nya kepada mereka dan mencukupi mereka dengan 

berbagai pemeliharaan-Nya. Dia juga baik terhadap semua 

orang yang berhati bersih dengan cara yang serupa. Dan, apa 

pun yang terjadi, kita tidak boleh berpikiran sebaliknya.   


 1042

II. Lalu ia menceritakan guncangan yang menerpa imannya menge-

nai kebaikan Tuhan   yang istimewa terhadap Israel, oleh  sebab  

godaan kuat untuk merasa iri terhadap kemujuran orang fasik. 

 sebab  itulah ia juga tergoda untuk beranggapan bahwa ternyata 

orang-orang Israel itu tidak lebih bahagia dibandingkan  orang lainnya, 

dan bahwa Tuhan   itu tidak lebih baik kepada mereka dibandingkan  

kepada orang lainnya.   

1.  Dia menceritakan keluputannya dari serangan godaan terse-

but sebagai peristiwa yang hampir saja membuatnya tergelin-

cir (ay. 2): “namun  aku, meskipun aku benar-benar dipuaskan 

oleh kebaikan Tuhan   terhadap Israel, sedikit lagi maka kakiku 

terpeleset (si penggoda itu hampir saja berhasil meremukkan 

tumitku), nyaris aku tergelincir (aku hampir saja meninggalkan 

agamaku dan berhenti mengharapkan berkat darinya), sebab 

aku cemburu kepada pembual-pembual.” 

Perhatikanlah:  

(1)  Iman orang-orang percaya yang paling teguh pun terkadang 

dapat diguncangkan sampai-sampai hampir terempas. Ada 

badai kencang yang akan melanda jangkar-jangkar yang 

paling kuat terpancang.  

(2) Orang-orang yang tidak akan pernah hancur terkadang 

hampir mengalami kehancuran itu sendiri, dan merasa se-

akan-akan telah hancur. Banyak jiwa-jiwa yang berharga, 

yang akan hidup selama-lamanya, sekali waktu pernah 

menjumpai ambang kehancuran dalam hidup mereka. Me-

reka hampir dan dekat sekali dengan kebinasaan, hanya 

berjarak selangkah saja dari kemurtadan yang mematikan, 

akan namun  direnggut kembali bagaikan puntung dari keba-

karan. Kenyataan seperti ini akan selamanya mengagung-

kan kekayaan kasih karunia ilahi di antara bangsa-bangsa 

dari orang-orang yang diselamatkan itu. Nah, 

2.  Marilah kita memperhatikan bagaimana godaan itu menyerang 

sang pemazmur, bagaimana dan dengan apa dia digoda.  

(1) Dia mengamati bahwa orang fasik yang bebal terkadang 

mendapatkan kemakmuran lahiriah yang besar. Dengan 

sedihnya, dia melihat kemujuran orang-orang fasik (ay. 3). 

Orang fasik memang betul-betul bebal  sebab  bertindak 

melawan akal sehat dan kepentingan mereka sendiri. Akan 

Kitab Mazmur 73:1-14 

 1043 

namun , orang-orang justru bisa melihat kemakmuran atau 

kemujuran mereka.  

[1]  Kelihatannya mereka hanya kebagian sedikit kesusahan 

dan bencana dalam hidup ini (ay. 5): Mereka tidak meng-

alami kesusahan manusia, bahkan yang dialami oleh 

orang-orang yang baik dan bijaksana. Mereka tidak kena 

tulah seperti orang lain, melainkan seolah-olah melalui 

hak istimewa tertentu dikecualikan dari kepedihan yang 

biasanya menimpa kebanyakan orang. Jika mereka sam-

pai mengalami sedikit masalah, maka masalah mereka 

itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan masalah 

yang dihadapi oleh orang lain yang tidak sebejat me-

reka. Justru orang-orang yang kurang berdosalah yang 

tampaknya harus lebih banyak menderita dibandingkan  

mereka. 

[2] Mereka sepertinya mendapatkan banyak sekali kese-

nangan di dalam hidup ini. Mereka hidup dengan nya-

man dan bermandikan kenikmatan, sehingga kesalahan 

mereka menyolok  sebab  kegemukan, (ay. 7). Lihatlah 

apa yang menjadi dampak buruk dari kenikmatan ber-

lebih itu. Mengecap kenikmatan dalam jumlah yang tepat 

memang menyegarkan mata, namun  orang-orang yang 

mendewa-dewakan kenikmatan lahiriah akan diperbudak 

olehnya. Rasa nikmat itu justru menjadi siksaan bagi 

mereka, sebab semakin dipuaskan, rasa nikmat itu 

justru terus menuntut lebih lagi. Dan orang-orang yang 

memiliki hati meluap-luap dengan sangkaan memang 

bisa sebanyak-banyaknya mengenyangkan perut mere-

ka, lebih dari yang dapat mereka pikirkan atau yang 

sanggup mereka kendalikan. Setidaknya, mereka memi-

liki lebih banyak dibandingkan  yang didambakan orang-

orang yang berhati sederhana, lemah lembut dan tidak 

sombong. Akan namun , mereka tetap saja tidak merasa 

puas dengan apa yang mereka miliki. Ada banyak orang 

yang menggenggam banyak hal dari kehidupan ini, na-

mun tidak memiliki sedikit pun kehidupan lain di dalam 

hati mereka. Mereka tidak saleh dan hidup tanpa rasa 

takut dan tanpa penyembahan akan Tuhan  . Namun, me-

reka maju dan berhasil di dunia ini. Mereka bukan saja 


 1044

kaya, namun  juga terus menambah harta benda (ay. 12). 

Mereka dipandang sebagai orang yang berhasil. Semen-

tara orang-orang lain bersusah payah mempertahankan 

apa yang mereka miliki, mereka malah terus mendapat-

kan lebih banyak lagi, lebih banyak kehormatan, kuasa, 

kenikmatan,  sebab  harta mereka yang terus bertam-

bah. Mereka orang yang paling berhasil di zamannya, 

demikianlah yang diartikan oleh sebagian orang.  

[3] Nasib mereka sepertinya berakhir dengan penuh keda-

maian. Hal inilah yang disebutkan pertama-tama, seba-

gai hal yang paling mengherankan dari semuanya, se-

bab mati dalam damai selalu dianggap sebagai hak isti-

mewa bagi orang-orang saleh (37:37). Akan namun , 

dipandang dari penampakan luar, hal itu justru sering 

kali menjadi nasib orang-orang fasik (ay. 4): Sebab kesa-

kitan tidak ada pada mereka. Nyawa mereka tidak 

direnggut melalui sebuah kematian yang menyeramkan. 

Mereka bebal, namun  tidak mati sebagaimana orang 

bebal layak mati, sebab tangan mereka tidak terikat dan 

kaki mereka tidak dirantai (2Sam. 3:33-34). Nyawa me-

reka tidak diambil sebelum waktunya, seperti buah 

yang terjatuh dari pohonnya sebelum matang, melain-

kan dibiarkan menggantung di sana sampai mereka 

berjatuhan sendiri  sebab  usia tua. Mereka tidak mati 

 sebab  menderita suatu penyakit yang mematikan: 

tidak ada kesakitan, tidak ada penderitaan, dalam ke-

matian mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka sampai 

ajal menjelang, sehingga mereka jarang sekali dapat 

merasakan kematian itu. Mereka yaitu  orang-orang 

yang mati dengan masih penuh tenaga, dengan sangat 

tenang dan sentosa, tidak termasuk yang mati dengan 

sakit hati, dengan tidak pernah merasakan kenikmatan 

(Ayb. 21:23, 25).  Bukan itu saja, mereka bahkan tidak 

merasakan tekanan hati nurani saat  menghadapi 

maut. Mereka tidak juga menjadi takut  sebab  ingat 

akan dosa-dosa mereka atau pikiran mengenai keseng-

saraan yang menanti mereka, melainkan mati dengan 

penuh rasa aman. Kita tidak dapat menghakimi keada-

an manusia seperti apa di seberang kematian sana ha-

Kitab Mazmur 73:1-14 

 1045 

nya dengan melihat cara kematian mereka ataupun ke-

adaan jiwa mereka saat  mereka sedang sekarat. Ma-

nusia bisa saja mati seperti domba, namun  kebagian 

tempat bersama kambing-kambing.  

(2) Ia mengamati bahwa mereka menyalahgunakan kemujuran 

lahiriah mereka itu dan semakin menjadi-jadi di dalam 

kejahatan mereka, sehingga ia pun semakin tergoda untuk 

merasa marah  sebab nya. Seandainya saja kemujuran itu 

menjadikan mereka lebih baik, tidak membuat mereka 

semakin kurang ajar terhadap Tuhan   dan semakin menindas 

manusia lain, mungkin dia tidak akan seresah itu. Akan 

namun , yang terjadi malah sebaliknya.  

[1]  Kemujuran itu membuat mereka angkuh dan tinggi 

hati. Oleh  sebab  mereka hidup dengan nyaman, mere-

ka pun berkalungkan kecongkakan (ay. 6). Kepada se-

mua orang yang melihat mereka, mereka bersikap cong-

kak  sebab  kemujuran mereka itu, bagaikan orang yang 

memamerkan perhiasannya. Kecongkakan Israel men-

jadi saksi terhadap dirinya sendiri (Hos. 5:5; Yes. 3:9). 

Kecongkakan melekat pada rantai atau kalung mereka, 

begitulah Dr. Hammond mengartikannya. Bukan berarti 

memakai rantai atau kalung itu membahayakan, namun  

jika kesombongan melekat di sana dan bila benda itu 

dipakai untuk memanjakan pikiran yang sia-sia, maka 

fungsinya tidak lagi hanya sekedar sebagai perhiasan. 

Pakaian atau perhiasan yang kita kenakan (meskipun 

kita memiliki aturan mengenai hal itu, 1Tim. 2:9) tidak-

lah sepenting dasar pemikiran dan tujuan pemakaian-

nya. Dan, sebagaimana kesombongan para pendosa 

tampak dalam pakaian mereka, hal itu juga nyata da-

lam perkataan mereka: Mereka bicara dengan tinggi hati 

(ay. 8). Mereka mengucapkan kata-kata yang congkak 

dan hampa (2Ptr. 2:18), meninggikan diri dan meremeh-

kan semua orang di sekeliling mereka. Mereka mem-

bual, didorong oleh kesombongan yang memenuhi hati 

mereka.   

[2] Kemujuran itu membuat mereka semakin merajalela 

dalam menindas sesama (ay. 6): mereka berpakaian ke-


 1046

kerasan. Semua yang telah mereka dapat melalui kecu-

rangan dan penindasan, mereka pertahankan dan ting-

katkan dengan cara jahat yang serupa. Mereka tidak 

peduli kerugian yang mereka akibatkan bagi orang lain 

ataupun kekerasan yang mereka pakai demi memper-

kaya dan membesarkan diri mereka sendiri. Mereka be-

jat, seperti orang-orang raksasa, para pendosa di dunia 

purbakala, saat  bumi telah penuh dengan kekerasan 

(Kej. 6:11, 13). Mereka tidak peduli kejahatan apa yang 

mereka lakukan, supaya mereka tetap berbuat jahat 

atau demi kepentingan mereka sendiri. Hal pemerasan 

dibicarakan mereka dengan tinggi hati. Mereka menin-

das dan membenarkan tindakan mereka itu. Orang-

orang yang begitu lantang membicarakan dosa juga 

mengatai-ngatai dengan jahatnya. Mereka bejat, artinya, 

mereka larut dalam kenikmatan dan segala hal yang 

mewah (begitulah yang ditafsirkan sebagian orang), lalu 

kemudian mereka mencemooh dan berkata-kata keji. 

Mereka tidak peduli siapa yang mereka sakiti dengan 

panah fitnah mereka yang penuh racun itu, sebab dari 

tempat tinggi mereka menggaungkan penindasan.  

[3] Kemujuran itu membuat mereka semakin bertingkah 

laku kurang ajar terhadap Tuhan   dan manusia (ay. 9): 

Mereka membuka mulut melawan langit, menghina Tuhan   

dan kehormatan-Nya, menentang-Nya dan menentang 

kuasa serta keadilan-Nya. Mereka tidak sanggup meng-

gapai langit dengan tangan mereka untuk menggun-

cangkan takhta Tuhan  , sebab kalau saja mereka dapat, 

mereka pasti akan melakukannya. Sebagai gantinya, 

mereka menunjukkan niat jahat mereka dengan mem-

buka mulut melawan langit. Lidah mereka juga mem-

bual di bumi, dan dengan semena-mena mereka men-

celakakan semua orang yang merintangi jalan mereka. 

Kebesaran atau kebaikan seseorang tidak akan melin-

dunginya dari serangan lidah yang berbisa. Mereka me-

megahkan diri dan bersukaria dalam berbantah dengan 

semua umat manusia. Mereka pengacau negeri, sebab 

mereka tidak takut akan Tuhan   dan tidak mengindahkan 

sesama manusia.   

Kitab Mazmur 73:1-14 

 1047 

[4] Dalam segala hal ini  mereka begitu tidak percaya 

dan tidak mengenal Tuhan  . Mereka pastilah begitu jahat-

nya sampai-sampai telah terlatih untuk berkata (ay. 11), 

Bagaimana Tuhan   tahu hal itu, adakah pengetahuan 

pada Yang Mahatinggi? Mereka begitu tidak menghen-

daki pengenalan akan Tuhan  , yang telah memberi mere-

ka segala hal baik yang mereka miliki dan pastinya ber-

kenan mengajari mereka untuk memanfaatkan hal-hal 

baik itu dengan bijaksana. Mereka tidak sudi memper-

cayai bahwa Tuhan   melihat mereka, bahwa Ia memper-

hatikan kejahatan mereka dan bahwa Ia akan menun-

tut pertanggungjawaban mereka. Seolah-olah  sebab  

Dia itu Yang Mahatinggi maka Dia tidak dapat atau 

tidak akan melihat mereka (Ayb. 22:12-13). Padahal, 

justru  sebab  Ia Yang Mahatinggi-lah, maka Ia mampu 

dan akan mengawasi semua anak-anak manusia beser-

ta seluruh perbuatan dan perkataan mereka, juga pikir-

an mereka. Pertanyaan adakah pengetahuan pada Yang 

Mahatinggi? yaitu  sebuah penghinaan yang amat sa-

ngat terhadap Tuhan   yang memiliki pengetahuan tidak 

terbatas, yang dibandingkan -Nyalah semua pengetahuan itu 

bersumber.  sebab  itulah Ia layak berkata (ay. 12), se-

sungguhnya, itulah orang-orang fasik.  

(3)  Sang pemazmur mengamati bahwa sementara orang-orang 

fasik terus berjaya di dalam kejahatan mereka dan menjadi 

semakin bejat oleh  sebab  kemujuran mereka itu, orang-

orang benar justru berada dalam kesesakan hebat, teruta-

ma dirinya sendiri. Hal ini semakin memperbesar godaan 

untuk berbantah dengan Sang Pemelihara.  

[1] Dia memandang ke luar dan menyaksikan betapa ba-

nyaknya umat Tuhan   yang dilanda kebingungan (ay. 10): 

“Begitu lancangnya orang-orang fasik itu sampai-sam-

pai orang-orang berbalik kepada mereka. Mereka sama 

tertegunnya, sama tercengangnya seperti aku. Mereka 

juga kehabisan kata-kata seperti aku, malah rasanya 

air berlimpah-limpah tercurah kepada mereka. Mereka 

bukan saja terpaksa harus meminum cawan kesusahan 

itu, melainkan juga harus mereguk habis semua isinya. 


 1048

Tidak setetes cairan pahit pun yang dibiarkan lolos dari 

tegukan mereka. Air itu menimpa mereka dengan ber-

tubi-tubi, sehingga sisa endapan pun harus mereka 

minum. Seperti yang dilakukan Daud (119:136), mereka 

mencucurkan deraian air mata saat mendengar orang-

orang fasik menghujat Tuhan   dan berkata-kata semba-

rangan.” Itulah air berlimpah-limpah yang menimpa 

mereka.   

[2] Dia melihat ke dalam dan masih juga terus-menerus 

merasakan kegeramam Sang Pemelihara, sementara 

orang-orang fasik menyeringai senang (ay. 14): “Inilah 

bagianku,” katanya, “Sepanjang hari aku kena tulah 

dengan kesusahan demi kesusahan, dan kena hukum 

setiap pagi, saat fajar menjelang.” Kesusahannya amat 

berat – dia dihukum dan kena tulah. Dan hal itu terjadi 

berulang-ulang, setiap pagi selalu begitu, terus berlang-

sung tanpa henti, sepanjang hari. Inilah yang dianggap-

nya berat, yakni bahwa saat  orang-orang yang meng-

hujat bergelimang kemakmuran, dia yang memuji Tuhan   

malah harus menanggung kesusahan yang sedemikian 

berat. Dia berkeluh kesah mengenai kesusahannya itu 

dengan sepenuh hati. Tidak ada yang bisa mengalahkan 

kuatnya perasaan, kecuali iman.  

(4)  Semua kejadian itu memicu godaan yang amat kuat untuk 

meninggalkan kepercayaannya.  

[1] Sebagian orang yang memperhatikan kemujuran orang-

orang fasik, terutama bila dibandingkan dengan kesu-

sahan orang-orang benar, tentunya tergoda untuk me-

nentang pemeliharaan ilahi dan beranggapan bahwa 

Tuhan   telah mencampakkan bumi ini. Begitulah bagai-

mana beberapa orang menafsirkan ayat 11 tadi. Bahkan 

di antara orang-orang yang mengakui Tuhan   pun ada 

yang masih saja berkata, “Bagaimana Tuhan   tahu? Ten-

tunya segala hal diatur oleh keberuntungan semata dan 

bukan ditentukan oleh Tuhan   yang mahamelihat.” Ada 

orang-orang kafir yang membalas pernyataan tadi de-

ngan bertanya, Quis putet esse deos? – Siapa yang akan 

percaya bahwa ilah-ilah itu ada?  

Kitab Mazmur 73:15-20 

 1049 

[2] Sekalipun kaki sang pemazmur tidak sampai benar-

benar tergelincir dengan mempertanyakan kemahatahu-

an Tuhan  , namun  ia sempat tergoda untuk mempertanya-

kan faedah agama atau kepercayaan, dan berkata (ay. 

13), “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang 

bersih, dan membasuh tanganku tanda tak bersalah.” 

Itu tidak menghasilkan apa-apa. Lihatlah di sini makna 

kesalehan itu, yakni membersihkan hati kita sebagai 

hal yang terutama, melalui pertobatan dan pemulihan, 

lalu kemudian membasuh tangan kita tanda tak bersa-

lah melalui pembaruan yang menyeluruh dalam hidup 

kita. Tentu saja perbuatan seperti itu, yakni melayani 

Tuhan   dan mengikuti segala ketetapan-Nya, tidaklah sia-

sia. Akan namun , orang-orang benar terkadang dicobai 

untuk berkata, “Semua ini sia-sia saja,” dan “Agama 

tidak akan menghasilkan apa-apa,” sebab mereka meli-

hat orang-orang fasik berjaya. Namun, akan tampak je-

las saat akhirnya orang-orang yang suci hatinya, mere-

ka yang berbahagia itu, melihat Tuhan   (Mat. 5:8), maka 

mereka pun tidak lagi akan berkata bahwa mereka telah 

mempertahankan kesucian hati dengan sia-sia belaka.  

Kesudahan Orang Fasik 

(73:15-20) 

15 Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu,” maka se-

sungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu. 16 namun  

saat  aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di 

mataku, 17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Tuhan  , dan memper-

hatikan kesudahan mereka. 18 Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kauta-

ruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. 19 Betapa binasa mereka 

dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh  sebab  kedahsyatan! 20 Seperti mimpi 

pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupan-

dang hina. 

Kita telah menyaksikan betapa kuatnya cobaan yang dialami oleh 

sang pemazmur untuk merasa iri terhadap kefasikan yang terus ber-

jaya. Kini kita mendapati bagaimana ia tetap berdiri teguh dan ber-

kemenangan. 


 1050

I.  Ia mempertahankan rasa hormatnya terhadap umat Tuhan  , dan 

dengan rasa hormat itulah ia mengekang mulutnya dari perkata-

an tidak benar yang tadinya telah ia pikirkan (ay. 15). Kemenang-

an yang diraihnya itu didapat secara bertahap, dan inilah hal per-

tama yang dia raih. Tadinya ia hampir saja berkata, sia-sia sama 

sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan mengira bahwa 

dia memiliki alasan kuat untuk mengatakannya. namun  kemudian 

dia membungkam mulutnya dengan pertimbangan ini, “Seandai-

nya aku berkata: Aku mau berkata-kata seperti itu, maka sesung-

guhnya aku telah berkhianat, memberontak dan murtad, serta 

melakukan pelanggaran yang amat besar kepada angkatan anak-

anakmu.”  

Perhatikanlah di sini:  

1.  Meskipun dia telah berpikir yang tidak-tidak, dia tetap ber-

jaga-jaga supaya tidak melontarkan pikiran buruk yang tadi 

telah ada di benaknya. Perhatikanlah, berpikiran jelek sudah 

merupakan tindakan buruk, namun  mengatakannya bahkan 

lebih parah lagi, sebab hal itu sama saja dengan memberi 

imprimatur – persetujuan terhadap pikiran busuk tadi. Melon-

tarkan pikiran buruk sama saja dengan mengizinkannya dan 

menyetujuinya, serta mengumandangkannya untuk menulari 

orang lain. Baiklah jika kita bertobat dari kesesatan hati itu 

dengan meredamnya, dan dengan begitu, kekeliruan itu ha-

nyalah sebatas dalam diri kita saja. Jikalau engkau telah ber-

laku begitu bebal dengan berpikiran buruk, bersikaplah bijak-

sana dan tekapkanlah tangan pada mulut, dan janganlah 

membiarkannya berkembang lebih lanjut (Ams. 30:32). Sean-

dainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu. Perhati-

kanlah, meskipun hatinya yang tercemar tadi telah mengambil 

kesimpulan seperti itu mengenai kemujuran orang-orang fasik, 

ia tidak menyinggung-nyinggungnya kepada orang lain, apa-

kah hal itu pantas diucapkan atau tidak. Perhatikanlah, kita 

harus berpikir dua kali sebelum membuka mulut, sebab terka-

dang hal-hal yang dipikirkan ternyata tidak perlu diucapkan, 

dan juga pikiran yang kedua dapat membetulkan kekeliruan 

pikiran yang pertama. 

2. Dia tidak mau mengutarakannya  sebab  takut menyinggung 

orang-orang yang telah diakui Tuhan   sebagai anak-anak-Nya. 

Kitab Mazmur 73:15-20 

 1051 

Perhatikanlah:   

(1) Ada sekawanan orang di dunia ini yang merupakan ang-

katan anak-anak Tuhan  , yaitu sejumlah orang yang men-

dengar dan mengasihi Tuhan   sebagai Bapa mereka.  

(2) Kita harus berhati-hati untuk tidak mengatakan atau mela-

kukan hal-hal yang mungkin dapat menyesatkan salah 

satu dari anak-anak kecil ini (Mat. 18:6), terutama hal-hal 

yang mungkin dapat menyesatkan angkatan mereka, yang 

dapat menyedihkan hati mereka, atau melemahkan tangan 

mereka dan merugikan kepentingan mereka.  

(3) Tidak ada satu hal pun yang lebih dapat menyesatkan 

angkatan anak-anak Tuhan   dibandingkan  berkata bahwa sia-sia 

sama sekali kita mempertahankan hati yang bersih, atau 

bahwa sia-sia saja melayani Tuhan  . Alasannya, tidak ada hal 

lain yang lebih bertentangan dengan perasaan dan peng-

alaman mereka, ataupun yang lebih menyedihkan mereka 

selain mendengar Tuhan   dianggap demikian.  

(4) Orang-orang yang mendambakan keadaan seperti orang-

orang fasik itu pada dasarnya telah meninggalkan tempat 

bernaung anak-anak Tuhan  .  

II.  Sang pemazmur dapat melihat kebinasaan yang pada akhirnya 

akan menimpa orang fasik. Dengan itulah ia membungkam goda-

an ini , sebagaimana ia meredakannya dengan rasa hormat 

terhadap umat Tuhan  . Oleh sebab dia tidak mengutarakan apa 

yang telah ia pikirkan  sebab  takut menyinggung orang lain, ia 

pun bertanya-tanya apakah dia sebenarnya memiliki alasan kuat 

untuk berpikir seperti itu (ay. 16): “Aku berusaha keras untuk 

memahami makna karya Pemeliharaan yang sukar dimengerti ini, 

namun  hal itu menjadi kesulitan di mataku. Aku tidak dapat menye-

laminya dengan kekuatan akalku sendiri.” Hal itu memang meru-

pakan suatu perkara yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan 

terang alam semata. Sebab, jika tidak ada hidup sesudah  kemati-

an, tentunya kita tidak dapat melihat ketidaksesuaian yang men-

colok antara kemujuran orang fasik dengan keadilan Tuhan  . Akan 

namun , ia masuk ke dalam tempat kudus Tuhan   (ay. 17), mengambil 

saat teduh, lalu merenungkan sifat-sifat Tuhan   dan hal-hal yang 

dinyatakan bagi kita dan bagi anak-anak kita. Dia menelaah Kitab 

Suci dan mengindahkan perkataan para imam yang melayani di 


 1052

tempat kudus. Dia berdoa kepada Tuhan   supaya perkara ini diper-

jelas dan supaya Tuhan   membantunya melewati semua kesukaran 

ini. Dan, pada akhirnya, dia memahami kesudahan orang fasik 

yang mengerikan. Ia malah dengan jelas dapat melihat kesudahan 

mereka itu sampai membuatnya merasa kasihan terhadap mereka 

dan bukan merasa iri, sekalipun mereka terlihat begitu berjaya. 

Sebab, sebenarnya mereka sedang menuai kebinasaan. Perhati-

kan, ada banyak sekali hal-hal besar yang perlu dipahami, dan 

yang hanya bisa dipahami dengan cara masuk ke tempat kudus 

Tuhan   melalui firman dan doa. Oleh  sebab  itu, tempat kudus ha-

ruslah menjadi tempat bernaung bagi jiwa yang sedang dicobai. 

Perhatikanlah lebih lanjut lagi, kita harus menilai orang dan per-

kara-perkara dengan terang pewahyuan ilahi, sebab hanya de-

ngan cara itulah kita dapat menilai dengan benar. Dan terutama, 

kita harus menilai sesuatu berdasar  kesudahannya. Setiap hal 

baik pasti berakhir dengan baik pula, untuk selama-lamanya. 

Akan namun , hal yang buruk selalu berakhir dengan tidak baik, 

untuk selama-lamanya. Kesukaran orang benar berakhir dalam 

damai, dan  sebab  itu dia menjadi bahagia, namun  sukaria orang 

fasik berakhir dalam kebinasaan, sehingga ia pun menderita.  

1.  Kemujuran orang fasik hanya berlangsung untuk sementara 

saja dan tidak menentu. Kedudukan tinggi yang disediakan 

Sang Pemelihara bagi mereka yaitu  tempat-tempat licin (ay. 

18), yang tidak bisa mereka pijak lama-lama. Justru, saat  

mereka mencoba memanjat lebih tinggi, usaha mereka itu 

hanya akan membuat mereka tergelincir dan jatuh. Kemujur-

an mereka tidak memiliki dasar yang teguh,  sebab  tidak diba-

ngun di atas kebaikan atau janji Tuhan  . Dan mereka pun tidak 

memiliki rasa puas yang terpatri pada dasar yang teguh.  

2.  Kehancuran pasti menimpa mereka dengan tiba-tiba dan dah-

syat. Kehancuran yang dimaksud bukanlah yang bersifat se-

mentara, sebab mereka memang ditetapkan untuk menghabis-

kan hari-hari mereka dalam kemujuran, dan kematian mereka 

sendiri pun tidaklah menyakitkan: dan dengan tenang mereka 

turun ke dalam dunia orang mati, sehingga itu pun hampir 

tidak dapat disebut dengan kebinasaan mereka. Jadi, pastilah 

kalimat itu berarti kehancuran kekal di seberang kematian 

sana, yaitu neraka dan kebinasaan. Mereka memang berkem-

bang untuk sesaat, namun  akan binasa untuk selama-lamanya.   

Kitab Mazmur 73:15-20 

 1053 

(1) Kehancuran pasti akan menimpa mereka dan tidak mung-

kin terelakkan. Dia membicarakan kehancuran itu seolah-

olah memang sudah terjadi – Mereka dibanting, sebab kebi-

nasaan memang pasti menimpa mereka sehingga boleh di-

katakan sudah terjadi. Dia membicarakan kehancuran itu 

sebagai perbuatan Tuhan  , dan  sebab  itulah, tidak mungkin 

dapat ditolak: Kaujatuhkan mereka. Inilah permusnahan 

dari Yang Mahakuasa (Yl. 1:15), dari kemuliaan kekuatan-

Nya (2Tes. 1:9). Siapa yang dapat menolong orang-orang 

yang akan dibanting Tuhan  , yang akan dijejali Tuhan   dengan 

banyak beban?  

(2) Kehancuran itu terjadi dengan cepatnya dan tanpa disang-

ka-sangka. Kutukan bagi mereka itu tidak pernah tertidur. 

Betapa binasa mereka dalam sekejap mata (ay. 19). Kehan-

curan itu datang dengan mudahnya dan akan mencengang-

kan mereka serta orang-orang di sekeliling mereka.  

(3) Kehancuran itu sangat parah dan menakutkan. Kejadian 

itu akan menjadi kehancuran akhir dari segalanya: Mereka 

lenyap, habis oleh  sebab  kedahsyatan. Kesengsaraan 

orang-orang yang terkutuk yaitu  merasakan ancaman ke-

dahsyatan Yang Mahakuasa, yang sudah mereka jadikan 

musuh itu, menghabisi hati nurani mereka yang disiksa 

rasa bersalah. Hati nurani mereka itu pun tidak sanggup 

menaungi mereka dari ancaman murka itu, ataupun me-

nguatkan mereka dalam menanggung semuanya.  sebab  

itulah, yang akan dihabisi oleh murka Tuhan   itu bukanlah 

keberadaan mereka, melainkan kebahagiaan mereka. Tidak 

secercah harapan atau penghiburan pun yang akan tersisa 

bagi mereka. Semakin tinggi mereka terangkat dalam ke-

mujuran mereka, maka semakin menyakitkan pula keja-

tuhan mereka saat  mereka dibanting dalam kejatuhan 

demi kejatuhan (sebab kata kejatuhan ini dipakai dalam 

bentuk jamak) dan sekonyong-konyong binasa.  

 3. Oleh  sebab  itu, kemujuran mereka sama sekali tidak layak di-

cemburui, melainkan harus dipandang hina, quod erat demon-

strandum – pokok persoalan yang hendak diketengahkan (ay. 

20). Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada 

waktu terjaga, atau saat  mereka sendiri terjaga (sebagai-

mana sebagian orang mengartikannya), bayangan mereka dan 


 1054

rupa mereka Kaupandang hina dan Kaulenyapkan. Pada hari 

penghakiman besar (demikianlah penafsirannya dalam bahasa 

Aramik), saat  mereka terjaga dari kubur mereka, Engkau 

akan memandang hina rupa mereka dalam murka-Mu, sebab 

mereka akan bangun untuk mengalami kehinaan dan kengerian 

yang kekal.  

Perhatikanlah di sini:  

(1) Jadi apa kemujuran mereka kini. Kemujuran itu hanya se-

buah rupa saja, tontonan yang tidak berguna, penampilan 

duniawi yang akan segera berlalu. Kemujuran itu tidaklah 

nyata, namun  hanya khayalan saja. Khayalan yang rusak 

itulah yang membuatnya menjadi sebuah kebahagiaan. 

Kemujuran itu bukanlah inti, namun  bayangan semata. Ia 

tidak tampak seperti yang seharusnya, dan juga tidak akan 

terbukti memberi manfaat seperti yang kita kira sebelum-

nya. Kemujuran itu bagaikan sebuah mimpi, yang bisa saja 

menyenangkan hati kita sebentar saat kita sedang tidur, 

namun  kemudian malah mengganggu kelelapan kita. Walau-

pun begitu, betapapun menyenangkannya, mimpi itu tetap 

saja menipu, palsu semata. Kita menyadarinya saat  kita 

terjaga. Seorang yang lapar bermimpi ia sedang makan, 

pada waktu terjaga, perutnya masih kosong (Yes. 29:8). 

Seseorang tidak menjadi lebih kaya atau terhormat hanya 

 sebab  ia memimpikannya. Jadi, siapakah yang hendak 

merasa iri akan kesenangan seseorang dengan mimpinya?  

(2) Perkara apa yang akan ditimbulkannya. Tuhan   akan terjaga 

untuk menghakimi, untuk membela perkara-Nya sendiri 

dan kepentingan umat-Nya yang kena tindas. Mereka akan 

dibangunkan dari perasaan aman kedagingan mereka, dan 

kemudian Tuhan   akan memandang hina rupa mereka. Dia 

akan menunjukkan kepada seluruh dunia betapa hinanya 

rasa aman mereka itu, sehingga orang-orang benar akan 

menertawakan mereka (52:7-8). Betapa Tuhan   memandang 

hina rupa seorang yang kaya itu saat  Ia berkata, “Hai 

engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan 

diambil dari padamu!” (Luk. 12:19-20). Kita haruslah seja-

lan dengan pikiran Tuhan  , sebab penghakiman-Nya sesuai 

dengan kebenaran, dan kita tidak boleh mengagumi dan

Kitab Mazmur 73:21-28 

 1055 

 mencemburui apa yang Ia benci dan akan Ia pandang hina, 

sebab, cepat atau lambat Dia akan menjadikan semua 

orang di dunia ini sejalan dengan pikiran-Nya.   

Keyakinan yang Saleh 

(73:21-28) 

21 saat  hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasa-

nya, 22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 23 

namun  aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. 24 Dengan 

nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku 

ke dalam kemuliaan. 25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? 

Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. 26 Sekalipun dagingku dan

hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Tuhan   selama-

lamanya. 27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; 

Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. 28 

namun  aku, aku suka dekat pada Tuhan  ; aku menaruh tempat perlindunganku 

pada Tuhan Tuhan  , supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya. 

Lihatlah, teka-teki Simson di sini terkuak lagi, Dari yang makan ke-

luar makanan, dari yang kuat keluar manisan. Sebab, di sini kita 

mendapati sebuah kisah tentang perbaikan yang terjadi dalam diri 

sang pemazmur melalui cobaan kuat yang telah melilitnya dan ham-

pir melumpuhkannya itu. Orang yang tersandung namun  tidak sampai 

jatuh, akan maju dengan lebih pesat lagi saat ia mengalami pemulih-

an. Begitulah yang terjadi dengan sang pemazmur di sini. Dia mena-

rik banyak pelajaran bermanfaat dari pencobaan, pergumulan dan 

kemenangannya atas pencobaan itu. Tuhan   tentu saja tidak akan 

membiarkan umat-Nya dicobai jika Ia tidak memperlengkapi mereka 

dengan kasih karunia yang mencukupi, bukan saja cukup untuk me-

nyelamatkan mereka dari bahaya, namun  juga mendatangkan keun-

tungan bagi mereka. Bahkan, cobaan pun dapat mendatangkan ke-

baikan.  

I.  Dia belajar merendahkan diri dan menyalahkan dirinya sendiri di 

hadapan Tuhan   (ay. 21-22). Dengan rasa malu ia pun merenung-

kan tentang kekacauan dan bahaya yang sedang menghadangnya, 

juga tentang keresahan yang dibiarkannya melanda hatinya de-

ngan terus mengobarkan dan bergelut dengan pencobaan itu: 

hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasa-

nya, seperti seorang yang menderita kesakitan mendalam  sebab  

ada batu dalam ginjalnya. Kapan saja pikiran buruk merasuki 


 1056

pikiran orang benar, dia tidak akan mengecapnya di bawah lidah-

nya seperti makanan manis, sebab pikiran buruk itu terasa amat 

pahit dan menyedihkan baginya. Bagi Paulus, pencobaan itu ba-

gaikan duri di dalam daging (2Kor. 12:7). Pencobaan yang seperti 

ini, yaitu perasaan cemburu dan tidak puas, sangatlah menyakit-

kan. Jika dibiarkan berkembang terus, maka pencobaan itu akan 

membusukkan tulang (Ams. 14:30), dan jika dibiarkan sekali-

sekali menyerang, maka rasanya seperti menusuk-nusuk buah 

pinggang. Sikap marah-marah merupakan sebuah perilaku bu-

ruk, sekaligus hukuman bagi perilaku itu sendiri. saat  ia mere-

nungkan semua itu,  

1. Dia mengakui bahwa menyusahkan diri dengan bersikap de-

mikian yaitu  suatu kebodohan: “Aku dungu  sebab  sudah 

menyiksa diri sendiri.” Jadi, biarlah orang-orang yang sering 

menggerutu menegur diri mereka sendiri dan merasa malu 

 sebab  perasaan tidak puas mereka itu. “Betapa bodohnya aku 

 sebab  telah menyusahkan diriku sendiri tanpa sebab!” 

2.  Dia mengakui bahwa dia bersikap begitu  sebab  dia tidak tahu 

apa-apa: “Aku begitu tidak tahu-menahu tentang hal yang se-

harusnya kuketahui, dan jika saja aku mengetahuinya baik-

baik, maka hal itu pastilah cukup untuk membuatku berhenti 

bersungut-sungut. Seperti hewan aku di dekat-Mu (Behemoth – 

hewan besar). Hewan hanya memperhatikan hal-hal yang ada 

di depannya saat itu saja, dan tidak pernah menghiraukan apa 

yang akan terjadi nanti, begitu pula aku. Jika saja aku tidak 

sedungu itu, pencobaan sepele seperti itu pastilah tidak perlu 

kualami dan kubiarkan menyerangku sejauh itu. Tidak bisa 

dipercaya! Masakan aku merasa cemburu terhadap kemujuran 

orang fasik dan sempat tergoda untuk berganti tempat dan 

menjadi salah satu dari antara mereka! Aku sungguh dungu.” 

Perhatikanlah, kapan saja orang benar terjerumus dalam pikir-

an, perkataan atau perbuatan yang tidak benar oleh  sebab  se-

rangan pencobaan yang kuat, maka mereka akan merasa malu 

dan sedih serta menyangkali diri mereka saat mereka menya-

dari kekeliruan mereka itu. Dan mereka pun akan menyebut 

diri mereka dungu  sebab nya. Sebab aku ini lebih bodoh dari 

pada orang lain (Ams. 30:2; Ayb. 42:5-6). Begitu pula Daud 

(2Sam. 24:10).   

Kitab Mazmur 73:21-28 

 1057 

II. Ia pun mengambil kesempatan untuk mengakui bahwa dia hanya 

mengandalkan kasih karunia Tuhan   semata dan terikat dengan 

kewajiban di dalamnya (ay. 23): “namun , sekalipun aku ini dungu, 

aku tetap di dekat-Mu dan berada dalam naungan kebaikan-Mu. 

Engkau memegang tangan kananku.” Hal ini bisa saja menunjuk-

kan,  

1. Pemeliharaan Tuhan   atasnya, dan kebajikan yang telah Ia tun-

jukkan kepadanya, dari awal sampai saat itu. saat  ia sedang 

dicobai ia pernah berkata (ay. 14), sepanjang hari aku kena 

tulah. Namun di sini ia menegur dirinya  sebab  telah menge-

luh seperti itu: “Meskipun Tuhan   telah menghajarku, dia tidak-

lah sampai mengusirku. Tidak peduli salib apa pun yang mem-

beratiku, aku tetap berada di dekat-Mu. Hadirat-Mu kumiliki, 

dan Engkau selalu dekat denganku saat  aku berseru kepa-

da-Mu dalam semua keadaan itu. Dan  sebab  itulah, sekali-

pun aku terdesak, aku tidak putus asa. Meskipun Tuhan   terka-

dang membiarkan kepahitan menimpaku, namun  Dia tetap me-

megang tangan kananku. Dia melakukan itu dengan tujuan 

untuk memeliharaku sehingga aku tidak meninggalkan-Nya 

atau lari dari-Nya, juga untuk menahanku supaya tidak ter-

benam dan menjadi lemah dalam menanggung bebanku, atau 

kehilangan arah di belantara yang harus kutempuh.” Jika kita 

telah dipelihara sehingga dapat berjalan seiring dengan Tuhan  , 

menunaikan tugas kita dengan baik dan mempertahankan ke-

tulusan kita, maka kita harus mengakui bahwa kita bisa ber-

tahan seperti itu oleh  sebab  kasih karunia yang diberikan 

Tuhan   secara cuma-cuma bagi kita: Aku bisa terus melaju sam-

pai saat ini oleh  sebab  pertolongan dari Tuhan  . Jadi, jika Tuhan   

telah membantu kita mempertahankan kehidupan rohani yang 

kekal, kita tidak boleh lagi mengeluhkan bencana-bencana apa 

pun yang menimpa kita di waktu sekarang.  

2. Pengalamannya belakangan ini dalam merasakan kuasa kasih 

karunia ilahi yang membawanya melewati pencobaan yang 

kuat itu dan membuatnya keluar sebagai seorang pemenang: 

“Aku dungu dan tidak tahu apa-apa, namun  Engkau lemah lem-

but dan mau mengajariku (Ibr. 5:2), serta memeliharaku di 

bawah perlindungan-Mu,” sebab ketidaklayakan manusia bu-

kanlah penghalang bagi kasih karunia Tuhan   yang diberikan 

secara cuma-cuma. Kita harus mengakui bahwa pemeliharaan 


 1058

dan kemenangan kita atas suatu pencobaan bukanlah  sebab  

hikmat kita sendiri, sebab kita dungu dan tidak tahu apa-apa. 

Sebaliknya, oleh  sebab  hadirat Tuhan   yang penuh kasih karu-

nia yang menyertai kita dan pengantaraan Kristus bagi kita 

yang penuh kuasalah, maka iman kita tidak menjadi lemah: 

“Sedikit lagi maka kakiku terpeleset, dan jika itu terjadi, maka 

habislah aku tanpa akan pernah bisa pulih lagi. namun  Engkau 

memegang tangan kananku dan menopangku, sehingga aku 

tidak sampai jatuh.” 

III. Dia membesarkan hatinya sendiri dengan berharap bahwa Tuhan   

yang sama yang telah melepaskannya dari setiap usaha yang 

jahat, juga akan menyelamatkannya sehingga dia masuk ke dalam 

Kerajaan-Nya di sorga, seperti yang dilakukan Rasul Paulus 

(2Tim. 4:18): “Kini aku diangkat oleh-Mu,  sebab  dengan nasihat-

Mu Engkau menuntun aku, memimpinku melewati jalan-jalan yang 

sulit, sebagaimana yang telah Engkau lakukan selama ini. Dan, 

oleh  sebab  aku kini selalu dekat dengan-Mu, Engkau pun meng-

angkat aku ke dalam kemuliaan” (ay. 24). Hal ini melengkapi ke-

bahagiaan para orang kudus, sehingga mereka pun tidak lagi 

memiliki alasan untuk mencemburui kemujuran duniawi para 

pendosa.  

Perhatikanlah:  

1.  Semua orang yang menyerahkan diri mereka kepada Tuhan   

akan dituntun oleh nasihat-Nya, baik dengan nasihat firman-

Nya maupun dengan nasihat Roh-Nya, yang merupakan pena-

sihat terbaik. Sang pemazmur hampir saja harus membayar 

mahal  sebab  berniat untuk mengikuti kehendaknya sendiri di 

dalam pencobaan yang telah ia alami.  sebab  itulah, di masa 

depan nanti, ia sudah bertekad hanya akan mengikuti nasihat 

Tuhan   saja, dan nasihat-Nya itu pasti tidak akan ditahan-tahan 

untuk diberikan kepada orang-orang yang mencarinya dengan 

sepenuh hati dan hendak mengikuti nasihat-Nya itu.   

2.  Semua orang yang dibimbing dan dipimpin oleh nasihat Tuhan   

di dunia ini akan diangkat ke dalam kemuliaan-Nya di dunia 

yang lain. Jika kita menjadikan kemuliaan Tuhan   di dalam diri 

kita sebagai tujuan utama kita, maka Ia pun akan menjadikan 

kemuliaan kita bersama-Nya nanti sebagai tujuan-Nya, dan 

Kitab Mazmur 73:21-28 

 1059 

kita akan berbahagia untuk selama-lamanya di dalamnya. Ka-

rena pertimbangan itu, marilah kita tidak lagi mencemburui 

para pendosa, melainkan bersyukur atas berkat yang kita 

nikmati. Jika Tuhan   mengarahkan kita untuk menjalankan tu-

gas di jalan yang benar dan mencegah kita untuk menyimpang 

dari jalan itu, maka, saat  masa pencobaan dan pemben-

tukan kita telah berlalu, Ia pun akan menerima kita ke dalam 

kerajaan dan kemuliaan-Nya. Dan, iman dan pengharapan 

kita mengenai semua itu dapat menguatkan kita untuk menja-

lani semua masa sulit yang kini membingungkan dan mere-

sahkan kita, serta meringankan kesengsaraan yang ditimbul-

kan oleh pencobaan yang menerjang kita itu.    

IV. Dia tergerak untuk semakin erat melekat kepada Tuhan  , dan ini 

semakin membuatnya diteguhkan serta dihiburkan  sebab  telah 

memilih-Nya sebagai bagiannya (ay. 25-26). Di sini pikirannya 

dipenuhi dengan sukacitanya di dalam Tuhan  , yang jauh lebih 

besar dibandingkan  kebahagiaan orang-orang fasik yang mendapat 

kemujuran di dunia ini. Dia hanya bisa melihat secuil alasan saja 

untuk mencemburui mereka dan benda-benda ciptaan yang me-

reka miliki, saat Ia mendapati betapa lebih banyak dan lebih baik, 

lebih pasti dan lebih manisnya penghiburan yang ia miliki di 

dalam Sang Pencipta. Ada alasan kuat yang ia miliki untuk berba-

hagia  sebab nya.  Dia telah mengeluhkan kesusahannya (ay. 14), 

namun  hal ini melegakannya, yaitu segala sesuatu pasti baik-baik 

saja selama aku memiliki Tuhan  . Di sini kita mendapati sebuah jiwa 

yang telah dikuduskan mencondongkan dirinya terhadap Tuhan  , 

dan bersandar dengan lega di dalam Dia. Bagi orang saleh, kelega-

an itu begitu berharga, sebagaimana kemujuran duniawi berharga 

bagi orang fasik, meskipun sesungguhnya kemujuran itu hanya-

lah tipuan dan khayalan belaka: Siapa gerangan ada padaku di 

sorga selain Engkau? Di seluruh kitab mazmur, jarang sekali ada 

ayat yang lebih kuat dari ayat mazmur ini dalam mengungkapkan 

kesalehan dan kasih sayang yang dirasakan oleh sebuah jiwa ter-

hadap Tuhan  . Di sini, jiwa itu membumbung menghampiri-Nya dan 

bersusah payah mengikuti-Nya. Akan namun , pada waktu yang 

bersamaan, jiwa itu juga mendapatkan kepuasan menyeluruh di 

dalam Dia. 


 1060

1. Di sini disebutkan bahwa hanya Tuhan   sajalah yang menjadi 

sumber kebahagiaan dan tujuan akhir manusia. Hanya Dia 

yang menciptakan jiwa sajalah yang dapat memberi  keba-

hagiaan bagi jiwa itu. Tidak ada seorang pun yang dapat mela-

kukan hal itu, baik di langit maupun di bumi. 

2. Di sini upaya dan hasrat sebuah jiwa terhadap Tuhan   diung-

kapkan. Jika Tuhan   yaitu  kebahagiaan kita,  

(1) Maka kita harus memiliki-Nya (Siapa gerangan ada padaku 

selain Engkau?). Kita harus memilih-Nya dan mempercaya-

kan perkara kita di dalam Dia. Sekalipun Dia yaitu  keba-

hagiaan bagi jiwa, namun  apalah artinya jika Dia tidak men-

jadi kebahagiaan jiwa kita sendiri, dan jika kita tidak men-

jadikan-Nya sebagai milik kita melalui iman yang hidup, 

dengan melekatkan diri kepada-Nya melalui sebuah kove-

nan yang kekal?  

(2) Maka kerinduan hati kita haruslah dilabuhkan kepada-Nya 

saja, dan sukacita kita haruslah bersumber dari Dia saja 

(kata kerinduan itu menggambarkan keduanya). Kita harus 

bersuka  sebab  segala yang kita miliki di dalam Tuhan  , dan 

harus mendambakan apa yang masih kita harapkan dari-

Nya. Kerinduan hati kita itu tidak saja harus dipersembah-

kan kepada Tuhan  , namun  harus berujung di dalam Dia juga, 

yaitu dengan cara tidak mengingini apa pun lebih dibandingkan  

Tuhan  , melainkan terus menginginkan Dia lebih dan lebih 

lagi. Kalimat ini mencakup segala doa kita, Tuhan, berikan-

lah diri-Mu kepada kami, sebagaimana kalimat ini menca-

kup segenap janji-janji-Nya, Aku akan menjadi Tuhan   mere-

ka. Kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu.  

(3) Kita harus memilih dan menginginkan Dia lebih dibandingkan  

yang lainnya.  

[1] “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi, tidak 

ada yang ingin kucari atau kupercayai, tidak ada yang 

ingin kukenal dan kudambakan lebih dari-Mu.” Tuhan   

memang lebih agung dibandingkan  penghuni sorgawi mana 

pun (89:7), dan harus lebih kita inginkan dari segala-

nya. Di sorga memang banyak makhluk-makhluk yang 

rupawan, namun  hanya Tuhan   sajalah yang dapat mem-

buat kita bahagia. Kebaikan-Nya jauh lebih menyegar-

Kitab Mazmur 73:21-28 

 1061 

kan dibandingkan  embun sorgawi, ataupun cahaya lembut 

bintang-bintang sorgawi. Kebaikan-Nya juga lebih ma-

nis dibandingkan  persahabatan para orang kudus di sorga 

ataupun pelayanan para malaikat yang ada di sana.   

[2] Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Bukan 

hanya di sorga saja, tempat yang letaknya jauh dari 

sini, yang belum begitu kita kenal baik, namun  juga di 

bumi ini, di mana kita memiliki banyak sahabat, dan di 

mana kebanyakan kepentingan dan kepedulian kita 

berada. “Bumi sangat menghanyutkan hasrat hati keba-

nyakan manusia, namun  tidak ada satu hal pun di bumi 

ini, baik orang, benda, ataupun harta dan kesenangan, 

yang kuingini lebih dibandingkan  Engkau. Tidak ada yang 

sebanding ataupun bersaing dengan Engkau.” Kita 

tidak boleh mengingini apa pun selain Tuhan  . Hanya Dia 

sajalah yang harus kita ingini (nil præter te nisi propter 

te – tidak ada apa pun selain Engkau, hanya yang ber-

kaitan dengan kepentingan-Mu sendiri). Apa yang kita 

ingini haruslah dari Dia saja, dan tidak ada yang dapat 

membuat kita merasa puas selain yang berasal dari Dia. 

Kita tidak boleh mengingini apa pun juga selain Tuhan  , 

supaya kita layak menjadi rekan-Nya dalam mendatang-

kan kebahagiaan bagi kita.  

(4) Lalu kita dapat beristirahat di dalam Tuhan   dengan kepuas-

an sejati (ay. 26).  

Perhatikanlah di sini:  

[1] Kesukaran dan kesesakan besar yang pasti akan me-

nimpa: dagingku dan hatiku habis lenyap. Perhatikan-

lah, orang lain juga pernah merasakan kelemahan da-

ging dan hati, sehingga kita pun harus siap bahwa kita 

pun pasti akan menghadapinya juga. Tubuh akan mele-

mah atau lenyap oleh  sebab  penyakit, usia, dan kema-

tian. Hal-hal yang menggerogoti tulang dan daging itu 

juga akan mempengaruhi bagian terdalam diri kita, 

yang telah kita manjakan selama ini. saat  daging ha-

bis, maka hati pun terancam lenyap. Perbuatan, kebe-

ranian, dan penghiburan lenyap.  


 1062

[2] Kelegaan ilahi disediakan di dalam kesesakan itu: gu-

nung batuku dan bagianku tetaplah Tuhan   selama-lama-

nya. Perhatikanlah, dalam kesesakan mereka yang be-

sar, jiwa-jiwa yang dipenuhi kasih karunia bersandar 

kepada Tuhan   sebagai kekuatan rohani dan bagian 

mereka untuk selama-lamanya. Pertama-tama, “Tuhan   

yaitu  gunung batuku, gunung batu bagi hatiku, dasar 

yang teguh, yang akan menyokongku sehingga aku 

tidak akan terbenam. Tuhan   yaitu  gunung batuku, aku 

telah mendapati-Nya demikian, dan sampai kini pun 

masih begitu, dan aku berharap selamanya akan men-

dapati Dia demikian.” Dalam kesesakan yang ia khawa-

tirkan, dia mengetengahkan kegagalan ganda, yaitu le-

nyapnya daging dan hati. Akan namun , di dalam kelega-

annya, ia hanya mengandalkan sokongan tunggal: dia 

tidak lagi menghiraukan daging dan kekhawatiran yang 

disebabkannya, sebab cukuplah bahwa Tuhan   merupa-

kan gunung batunya. Dia berkata-kata seperti orang 

yang tidak lagi memedulikan tubuh (biar saja tubuh 

menjadi lemah, sebab hal itu tidak dapat dicegah), te-

tapi sebagai orang yang lebih mengindahkan jiwa, su-

paya diteguhkan di dalam batinnya. Kedua, “Bagianku 

tetaplah Tuhan   selama-lamanya. Dia tidak saja akan 

meneguhkanku saat  aku berada di sini, namun  juga 

akan membahagiakanku nanti bila aku sudah sampai 

di sana.” Orang-orang kudus memilih Tuhan   sebagai ba-

gian mereka. Mereka memiliki-Nya sebagai bagian me-

reka, dan kebahagiaan mereka yaitu  bahwa Ia akan 

menjadi bagian mereka, bagian yang sekekal kehidupan 

jiwa-jiwa yang abadi. 

V. Dia merasa amat yakin mengenai nasib sengsara yang akan me-

nimpa orang fasik. Dia mempelajarinya melalui kesempatan ini, di 

dalam tempat kudus, dan ia tidak akan pernah melupakannya 

(ay. 27): “Sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu, terpisah 

dan asing dari-Mu, yang menghendaki Yang Mahakuasa supaya 

menjauh dari mereka, pasti akan binasa. Itulah malapetaka yang 

akan menimpa mereka. Mereka memilih untuk menjauh dari 

Tuhan  , sehingga mereka akan dijauhkan dari-Nya untuk selama-

Kitab Mazmur 73:21-28 

 1063 

lamanya. Dengan adil Kaubinasakan semua orang, yang berzinah 

dengan meninggalkan Engkau, yaitu semua orang murtad. Melalui 

pengakuan agamawi, mereka seakan-akan telah dipertunangkan 

dengan Tuhan  , namun  meninggalkan-Nya dan melalaikan kewajiban 

mereka terhadap Tuhan   serta persekutuan dengan-Nya, hanya un-

tuk lari ke pelukan orang lain yang tidak mereka kenal.” Malape-

taka mereka itu amat hebat, yaitu dilenyapkan dan dibinasakan. 

Kebinasaan yang akan terjadi pun tidak pandang bulu: “Mereka 

semua akan dibinasakan tanpa kecuali.” Kebinasaan itu pasti ter-

jadi: “Kaubinasakan semua orang. Begitu pastinya sampai-sampai 

boleh dianggap sudah terjadi. Dan kebinasaan beberapa orang 

fasik merupakan pertanda awal kehancuran bagi mereka semua.” 

Tuhan   sendirilah yang akan melaksanakannya. Diremukkan oleh 

tangan-Nya yaitu  sebuah hal yang amat menakutkan: “Meski 

kebaikan-Mu tidak terbatas, Engkau tetap akan membalaskan 

orang-orang yang berlaku tidak setia kepada-Mu, yang meleceh-

kan kehormatan dan menyalahgunakan kesabaran-Mu.”  

VI. Dia amat dikuatkan untuk terus melekat kepada Tuhan   dan ber-

gantung kepada-Nya (ay. 28). Jika orang yang jauh dari pada-Mu 

akan binasa, maka,  

1.  Biarlah hal ini mendorong kita untuk terus hidup bersekutu 

dengan Tuhan  . “Jika kejadian yang akan menimpa orang-orang 

yang jauh dari-Nya begitu mengerikan, maka berarti baiklah, 

amat baiklah bagi seorang manusia jika ia dekat dengan Tuhan  . 

Itulah yang harus ia kejar dan pastikan dalam kehidupannya. 

Maka aku pun sebaiknya mendekat kepada Tuhan   dan mem-

biarkan-Nya mendekat kepadaku.” Teks aslinya mungkin me-

muat keduanya. Adapun bagiku (demikianlah saya mengarti-

kannya), mendekat kepada Tuhan   itu baik bagiku. Mendekatnya 

kita kepada Tuhan   dipicu oleh mendekatnya Dia kepada kita, 

dan pertemuan kita merupakan berkat yang membahagiakan. 

Di sinilah terletak kebenaran yang besar, yaitu bahwa memang 

baik mendekat kepada Tuhan  , namun  pelaksanaannya jauh lebih 

penting lagi, “Baiklah bagiku.”  Bijaksanalah orang-orang yang 

mengetahui apa yang baik bagi mereka: “Memang baik, kata si 

pemazmur (dan setiap orang benar setuju dengannya), baiklah 

bagiku untuk mendekatkan diri kepada Tuhan  . Itu sudah meru-

pakan kewajibanku, juga kepentinganku.”   


 1064

2.   sebab  itu, biarlah kita terus hidup bergantung kepada-Nya: 

“Aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Tuhan  , dan 

tidak akan pernah meninggalkan Dia untuk mengejar hal-hal 

lain yang fana.” Jika orang fasik, tidak peduli betapa mujurnya 

mereka, akan lenyap dan dibinasakan, maka marilah kita per-

caya kepada Tuhan   saja, kepada-Nya, dan bukan kepada mere-

ka, bukan juga kepada kemujuran duniawi kita. Marilah kita 

percaya kepada Tuhan   dan tidak bersungut-sungut  sebab  me-

reka ataupun takut kepada mereka. Marilah kita menaruh 

kepercayaan kita di dalam Dia, sebagai bagian yang lebih baik 

dibandingkan  bagian yang mereka miliki.  

3.  Sementara kita melakukan semua itu, kita tidak boleh ragu 

bahwa kita akan mendapatkan kesempatan untuk memuji 

nama-Nya. Marilah kita percaya kepada Tuhan, supaya dapat 

menceritakan segala pekerjaan-Nya. Perhatikanlah, orang-orang 

yang menaruh kepercayaan mereka terhadap Tuhan   dengan 

hati yang tulus pasti tidak akan kekurangan alasan untuk 

bersyukur kepada-Nya.  

 

PASAL 74  

azmur ini dengan sangat khusus menggambarkan kehancuran 

Yerusalem dan Bait Tuhan  , oleh Nebukadnezar dan pasukan 

bangsa Kasdim, dan hampir tidak cocok dikaitkan dengan peristiwa 

lainnya yang kita dapati dalam sejarah bangsa Yahudi. Oleh  sebab  

itu, para penafsir cenderung beranggapan bahwa mazmur ini mung-

kin ditulis oleh Daud atau Asaf, pada zaman Daud, yang mengan-

dung nubuatan mengenai peristiwa mengenaskan ini  (namun  

perkiraan ini kecil sekali kemungkinannya), atau ditulis oleh Asaf 

yang lain, yang hidup di zaman pembuangan, atau oleh Yeremia (se-

bab mazmur ini senada dengan kitab Ratapan yang ditulisnya), atau 

juga oleh seorang nabi lain, dan diserahkan kepada anak-anak Asaf 

(yang dipanggil dengan nama yang sama) sesudah  mereka kembali dari 

pembuangan itu, supaya mazmur ini dapat dipakai oleh khalayak 

dalam ibadah mereka. Bani Asaf merupakan keluarga penyanyi yang 

paling terkemuka di zaman Ezra (Ez. 2:41; 3:10; Neh. 11:17, 22; 

12:35, 46). Keadaan mengenaskan umat Tuhan   pada masa itu kini 

diungkapkan di hadapan Tuhan  , dan diserahkan kepada-Nya. Sang 

nabi, atas nama umat Tuhan  ,  

I. Mengeluhkan kesengsaraan yang mereka derita, supaya me-

ngobarkan hasrat mereka untuk berdoa (ay. 1-11).  

II. Menyerukan ucapan-ucapan penghiburan untuk meneguh-

kan iman mereka di dalam doa (ay. 12-17).  

III. Menutup mazmur itu dengan berbagai permintaan kepada 

Tuhan   supaya Ia melepaskan mereka (ay. 18-23).  

Saat menyanyikan mazmur ini, kita harus tergugah oleh  sebab  

kesengsaraan gereja zaman dulu, sebab kita yaitu  anggota dari tu-

buh yang sama. Kita juga dapat menerapkan mazmur ini untuk 


 1066

menghadapi kesesakan atau kesengsaraan yang saat ini dialami oleh 

gereja Kristen di mana saja mereka berada.  

Keluh Kesah  

(74:1-11) 

Nyanyian pengajaran Asaf. 1 Mengapa, ya Tuhan  , Kaubuang kami untuk sete-

rusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-

Mu? 2 Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, 

yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion 

yang Engkau diami. 3 Ringankanlah langkah-Mu ke tempat yang rusak terus-

menerus; segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat kudus. 4 La-

wan-lawan-Mu mengaum di tempat pertemuan-Mu dan telah mendirikan 

panji-panji mereka sebagai tanda. 5 Kelihatannya seperti orang mengayunkan 

tinggi-tinggi sebuah kapak kepada kayu-kayuan yang lebat, 6 dan sekarang 

ukir-ukirannya seluruhnya dipalu mereka dengan kapak dan beliung; 7 

mereka menyulut tempat kudus-Mu dengan api, mereka menajiskan tempat 

kediaman nama-Mu sampai pada tanah; 8 mereka berkata dalam hatinya: 

“Baiklah kita menindas mereka semuanya!” Mereka membakar segala tempat 

pertemuan Tuhan   di negeri. 9 Tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada 

lagi nabi, dan tidak ada di antara kami yang mengetahui berapa lama lagi. 10 

Berapa lama lagi, ya Tuhan  , lawan itu mencela, dan musuh menista nama-Mu 

terus-menerus? 11 Mengapa Engkau menarik kembali tangan-Mu, menaruh 

tangan kanan-Mu di dada? 

Mazmur ini diberi judul Maschil (nyanyian pengajaran), yaitu mazmur 

untuk memberi  pengajaran, sebab mazmur ini ditulis pada masa 

kesesakan dan dimaksudkan untuk memberi pengajaran. Secara 

umum, isi pengajaran ini mengajar kita bahwa sudah merupakan 

hikmat dan kewajiban kita untuk melekatkan diri kepada Tuhan   

melalui doa yang sungguh-sungguh dan tekun pada saat kita berada 

di dalam kesesakan apa saja. Kita akan mendapati bahwa doa kita 

itu tidak akan sia-sia. Ada tiga hal yang dikeluhkan umat Tuhan   di 

sini: 

I.  Ketidaksenangan Tuhan   terhadap mereka, sebagai penyebab dan 

akar pahit dari segala bencana yang menimpa mereka. Mereka 

memandang jauh ke depan mengenai semua sarana yang menim-

bulkan kesesakan mereka itu. Mereka tahu bahwa semua sarana 

itu tidak akan mampu melawan mereka jika saja tidak diberi 

kuasa dari atas. Mereka mengarahkan mata mereka kepada Tuhan  , 

yang dengan hikmat-Nya telah menyerahkan mereka ke dalam 

tangan orang-orang fasik dan bebal. Perhatikanlah betapa bebas-

nya mereka mengaduh kepada Tuhan   (ay. 1). Kita tidak boleh ber-

Kitab Mazmur 74:1-11 

 1067 

harap untuk bersikap terlalu bebas seperti itu, sebab Kristus sen-

diri hanya berseru demikian di kayu salib, Tuhan  -Ku, Tuhan  -Ku, 

mengapa Engkau meninggalkan Aku? namun  umat-Nya itu di sini 

berseru, Ya Tuhan  ! Mengapa Engkau meninggalkan kami selama-

nya? Di sini mereka berkata begitu  sebab  didorong oleh pema-

haman mereka sendiri yang dibungkus kegelapan dan rasa sedih 

yang mendalam. Jika tidak, pasti mereka berkata, Adakah Tuhan   

mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! (Rm. 11:1). 

Umat Tuhan   tidak boleh beranggapan bahwa mereka telah dibuang 

untuk seterusnya hanya  sebab  mereka sedang dalam keadaan 

tertindas. Mereka tidak boleh berpikir bahwa Tuhan   telah menolak 

mereka, hanya  sebab  manusia menolak mereka, dan bahwa Dia 

telah membuang mereka untuk seterusnya, hanya  sebab  Dia 

menjauh dari mereka untuk sementara waktu. Akan namun , jeritan 

pilu mereka itu menunjukkan bahwa mereka begitu takut di-

buang Tuhan   lebih dibandingkan  ketakutan akan hal lainnya.  sebab  

itu mereka sangat menginginkan untuk diakui oleh-Nya, apa pun 

juga yang harus mereka derita akibat perbuatan manusia. Mereka 

sangat ingin mengetahui apakah gerangan yang membuat Dia 

sedemikian murka terhadap mereka: Mengapa menyala murka-

Mu? Yakni, mengapakah murka-Mu itu menyala sebegitu dahsyat-

nya sampai-sampai kami semua dapat melihatnya berkobar dan 

bertanya-tanya, Apakah artinya murka yang hebat bernyala-nyala 

ini? (Ul. 29:24, bdk. ay. 20, di mana murka dan cemburu Tuhan 

dikatakan sedang menyala menghabisi para pendosa). Per-

hatikanlah apa yang mereka serukan kepada Tuhan   untuk memo-

hon pembelaan saat  mereka sedang ditempa dalam kesadaran 

mengenai murka-Nya itu.  

1.  Mereka menyerukan hubungan mereka dengan-Nya: “Kami ini 

domba gembalaan-Mu, domba yang telah Engkau pelihara di 

padang rumput, umat-Mu yang istimewa yang telah Engkau 

pisahkan bagi-Mu dan rancangkan bagi kemuliaan-Mu sendiri. 

Jika si serigala tidak mengindahkan si domba, hal itu tidaklah 

mengherankan, namun  apakah pernah ada seorang gembala 

yang sedemikian murkanya terhadap gembalaannya sendiri? 

Ingatlah, kami yaitu  umat-Mu (ay. 2), dibentuk oleh-Mu dan 

bagi-Mu, dan diperuntukkan sebagai pujian-Mu. Kami yaitu  

bangsa, atau suku bangsa milik-Mu sendiri, dan Engkau telah 

berkenan meninggikan kami di atas bangsa lain (Ul. 32:9). 


 1068

Dari kami Engkau telah menerima puji-pujian dan penyem-

bahan lebih dari bangsa mana pun di sekeliling kami. Bukan 

hanya itu saja, walaupun harta warisan seorang manusia 

berada jauh-jauh, namun  kami ini justru menyerukan gunung 

Sion yang Engkau diami, yang telah menjadi tempat kediaman 

dan kesenangan-Mu, sebagai istana dan tanah-Mu.”  

2.  Mereka mengungkapkan hal-hal besar yang telah Tuhan   

lakukan bagi mereka dan juga pengorbanan besar yang telah 

Ia curahkan bagi mereka: ”Ini yaitu  umat-Mu sendiri, yang 

bukan saja telah Engkau ciptakan hanya dengan sepatah kata, 

namun  juga yang Kauperoleh pada zaman purbakala melalui 

berbagai mujizat belas kasihan saat  mereka pertama kali 

Engkau jadikan sebagai bangsa. Mereka yaitu  bangsa milik-

Mu sendiri, yang Kautebus saat mereka masih menjadi budak 

belian dulu.” Tuhan   menghancurkan Mesir untuk menebus me-

reka, memberi  manusia sebagai ganti mereka, dan bangsa-

bangsa sebagai ganti nyawa mereka (Yes. 43:3-4). “Kini, 

Tuhan, akankah Engkau meninggalkan umat yang telah Kau-

tebus dengan begitu mahalnya itu, dan yang telah Engkau 

sayangi dengan amat sangat itu?” Dan, jika penebusan Israel 

dari Mesir saja sudah menjadi pendorong bagi mereka untuk 

terus berharap bahwa Dia tidak akan membuang mereka, 

maka terlebih lagi kita patut berharap bahwa Tuhan   tidak akan 

mencampakkan siapa pun yang telah ditebus Kristus dengan 

darah-Nya sendiri. Sebaliknya, umat yang telah Ia tebus akan 

selamanya menjadi umat sumber pujian-Nya.  

3.  Mereka mengungkapkan keadaan mengenaskan yang sedang 

mereka alami (ay. 3): “Ringankanlah langkah-Mu. Yaitu, cepat-

lah datang untuk memulihkan kerusakan yang telah terjadi di 

tempat kudus-Mu, sebab jika tidak begitu, pastilah kerusakan 

itu akan berlangsung terus-menerus dan tidak lagi dapat di-

perbaiki.” Terkadang dikatakan bahwa pembalasan ilahi me-

nimpa dengan tangan besi, namun  datang dengan lambat, se-

hingga orang-orang yang menanti-nantikan hari Tuhan pun 

berseru, Tuhan, Ringankanlah langkah-Mu, ayunkan kaki-Mu, 

besarkanlah diri-Mu melalui karya pemeliharaan-Mu. Saat ke-

rusakan di tempat kudus berlangsung lama, kita pun cende-

rung berpikir bahwa kerusakan itu akan berlangsung terus-

menerus. Namun, pikiran itu hanyalah sebuah pencobaan. 

Kitab Mazmur 74:1-11 

 1069 

Sebab, Tuhan   akan melakukan pembalasan bagi umat pilihan-

Nya dengan cepat, sekalipun Ia terlihat begitu bersabar terha-

dap penindas dan penganiaya mereka.   

II.  Mereka mengeluhkan mengenai kebengisan murka dan kekejam-

an musuh mereka, namun  tidak berkeluh kesah sama sekali terha-

dap apa yang telah dilakukan para musuh itu terhadap kepen-

tingan duniawi mereka. Di sini tidak ada  keluhan mengenai 

pembakaran kota ataupun kerusakan negeri mereka, melainkan 

hanya keluhan tentang kerusakan di tempat kudus dan rumah 

ibadah mereka. Keprihatinan mengenai agama memang harus 

menggugah hati kita, lebih dari kepentingan duniawi apa pun. 

Kerusakan di rumah Tuhan   haruslah membuat kita merasa lebih 

sedih dibandingkan  bila rumah kita sendiri yang dirusak. Sebab, tidak 

masalah apa yang menimpa kita dan keluarga kita di dunia ini, 

asalkan nama Tuhan   tetap dikuduskan, kerajaan-Nya datang, dan 

kehendak-Nya jadi.  

1.  Sang pemazmur mengeluhkan mengenai kerusakan di tempat 

kudus, sebagaimana Daniel (Dan. 9:17). Bait Tuhan   di Yerusa-

lem merupakan tempat kediaman nama Tuhan  , sehingga dise-

but juga sebagai tempat kudus (ay. 7). Dalam hal inilah para 

musuh telah berlaku fasik (ay. 3), sebab mereka memusnah-

kannya untuk menghina Tuhan   dan melawan Dia.  

(1) Mereka mengaum di tempat pertemuan-Mu (ay. 4). Di tempat 

itu, di mana umat setia Tuhan   melayani-Nya dengan khid-

mat dan penuh hormat, tanpa banyak menimbulkan suara, 

para musuh itu malah mengaum dalam kekacauan dan 

bertingkah sembarangan. Mereka menjadi angkuh  sebab  

merasa diri mereka sudah menguasai tempat kudus itu, 

yang tentangnya mereka telah banyak mendengar hal-hal 

yang menakjubkan.  

(2) Mereka mendirikan panji-panji mereka sebagai tanda. Mere-

ka memasang panji-panji pasukan mereka di tempat kudus 

itu (yang merupakan benteng terkuat Israel, selama mereka 

setia melekat kepada Tuhan  ) sebagai tugu kemenangan me-

reka. Di tempat itu, di mana panji-panji hadirat Tuhan   dulu 

ditegakkan, kini malah panji-panji musuh yang dinaikkan. 

Mereka menentang Tuhan   dan kuasa-Nya dengan begitu 


 1070

congkak, dan kelakuan mereka itu begitu menusuk hati 

umat Tuhan  .  

(3) Dengan angkuh mereka merusak ukir-ukiran di bait Tuhan  . 

Mereka begitu membanggakan diri sendiri  sebab  telah ber-

hasil merusakkannya (ay. 5-6), padahal dulu, orang-orang 

yang dengan senang hati menggunakan tangan mereka un-

tuk membangun bait itu menganggap pekerjaan mereka itu 

sebagai sebuah kehormatan besar, dan mereka menjadi 

kenamaan  sebab  sumbangsih mereka itu. Jadi, sebagai-

mana para pekerja sebelumnya ditinggikan  sebab  mela-

yani kepentingan agama mereka, demikianlah para musuh 

itu kini dielu-elukan  sebab  menghancurkannya. Oleh ka-

rena itu, beberapa orang mengartikannya demikian, Mereka 

mempertunjukkan diri sebagai orang yang mengayunkan 

tinggi-tinggi sebuah kapak kepada kayu-kayuan yang lebat. 

Sebab, mereka merusak ukir-ukiran di bait Tuhan   tanpa 

pandang bulu, sebagaimana penebang kayu mengapak 

pepohonan di hutan. Begitu bencinya mereka terhadap 

tempat kudus itu, sampai-sampai ukiran yang paling indah 

pun dirusak begitu saja oleh para serdadu. Tidak ada rasa 

hormat sedikit pun terhadap karya ini , baik sebagai 

barang persembahan maupun sebagai karya seni yang 

cantik.  

(4) Mereka menyalakan tempat itu dengan api, dan dengan 

begitu menajiskan atau merusakannya sampai pada tanah 

(ay. 7). Bangsa Kasdim membakar rumah Tuhan  , gedung 

yang begitu indah dan mahal itu (2Taw. 36:19). Dan bangsa 

Romawi tidak membiarkan satu batu pun terletak di atas 

batu yang lain (Mat. 24:2), melainkan terus menghancur-

kannya sampai ke dasar-dasarnya, sampai Sion, bukit suci 

itu, digarap bagaikan sebidang tanah oleh Titus Vespasian. 

2.  Dia mengeluhkan kerusakan di tempat pertemuan Tuhan  , yang 

merupakan tempat belajar para nabi dan telah digunakan bah-

kan sebelum masa pembuangan, dan terlebih lagi sesudahnya. 

Di sanalah firman Tuhan   dibacakan dan dijelaskan, dan nama-

Nya dipuji dan diserukan, tanpa mezbah atau korban persem-

bahan. Para musuh membenci tempat ini juga (ay. 8): Baiklah 

kita menindas mereka semuanya, bukan hanya bait Tuhan  , teta-

pi juga semua tempat penyembahan rohani dan sekalian para 

Kitab Mazmur 74:1-11 

 1071 

penyembahnya itu. Baiklah kita menindas mereka semuanya. 

Biarlah semuanya musnah dilalap api yang sama. sesudah  ber-

tekad melaksanakan niat busuk itu mereka pun membakar se-

gala tempat pertemuan Tuhan   di negeri dan memusnahkan sega-

lanya. Begitu menyala-nyalanya kebencian mereka terhadap 

agama sampai-sampai semua tempat keagamaan diratakan 

dengan tanah, supaya para penyembah Tuhan   tidak dapat lagi 

memuliakan Tuhan   dan meneguhkan satu sama lainnya dengan 

bersekutu dalam perkumpulan yang khidmat.  

III. Hal terburuk dari segala bencana ini yaitu  mereka tidak punya 

peluang sama sekali untuk dipulihkan lagi. Mereka bahkan tidak 

bisa melihat bahwa bencana itu tidak akan pernah berakhir (ay. 

9): “Kami melihat tanda musuh ditegakkan di tempat kudus, te-

tapi tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada satu pun tanda 

kehadiran Tuhan  , atau petunjuk untuk mengharapkan kelepasan. 

Tidak ada lagi nabi yang dapat mengatakan kepada kami berapa 

lama lagi kesesakan ini akan terus berlangsung, dan kapankah 

akan tiba akhir dari kesulitan kami ini, sehingga paling tidak 

kami memiliki pengharapan yang dapat menguatkan kami dalam 

menanggung kesukaran ini.” Pada masa pembuangan di Babel 

mereka memiliki nabi-nabi dan mereka diberitahukan berapa 

lama penawanan itu akan berlangsung, namun  saat ini yaitu  

masa hari berkabut dan hari kegelapan (Yeh. 34:12), dan mereka 

tidak memiliki penghiburan sama sekali mengenai keadaan mere-

ka. Tuhan   berbicara sekali, bahkan dua kali, mengatakan firman 

yang baik dan menyejukkan, namun  mereka tidak memperhatikan 

dan memahaminya. Perhatikanlah, mereka tidak mengeluh, “Kami 

tidak melihat pasukan kami, tidak ada yang dapat memimpin 

pasukan kami di medan perang atau pergi menyertai kami.” Seba-

liknya, yang mereka keluhkan yaitu , “tidak ada nabi yang dapat 

memberi tahu kami berapa lama lagi.” Hal ini membuat mereka 

berbantah dengan Tuhan  , bahwa Ia menunda-nunda,  

1.  Untuk menyatakan kehormatan-Nya (ay. 10): Berapa lama lagi, 

lawan itu mencela, dan musuh menista nama-Mu terus-mene-

rus? saat  tempat kudus dirusak, keprihatinan utama kita 

haruslah tertuju kepada kemuliaan Tuhan  , yaitu supaya kemu-

liaan Tuhan   tidak dilecehkan dengan membiarkannya dinista 

oleh orang-orang yang menganiaya umat Tuhan    sebab  Dia, ka-


 1072

rena mereka milik-Nya.  sebab  itulah, pertanyaan kita hen-

daknya bukan, “Berapa lama lagi kita mengalami kesesakan?,” 

melainkan “Berapa lama lagi Tuhan   dinista?”  

2. Untuk menyatakan kuasa-Nya (ay. 11): “Mengapa Engkau me-

narik kembali tangan-Mu dan tidak mengacungkannya untuk 

menyelamatkan umat-Mu dan menghancurkan musuh-Mu? 

Keluarkanlah dia dari pada dada-Mu, dan jangan seperti orang 

yang bingung, seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong, 

atau tidak mau menolong” (Yer. 14:9). saat  kuasa musuh 

begitu mengancam, berlari ke dalam perlindungan kuasa Tuhan   

merupakan sebuah penghiburan.  

Pengakuan atas Kuasa Ilahi 

(74:12-17) 

12 Namun Engkau, ya Tuhan   yaitu  Rajaku dari zaman purbakala, yang mela-

kukan penyelamatan di atas bumi. 13 Engkaulah yang membelah laut dengan 

kekuatan-Mu, yang memecahkan kepala ular-ular naga di atas muka air. 14 

Engkaulah yang meremukkan kepala-kepala Lewiatan, yang memberi nya 

menjadi makanan penghuni-penghuni padang belantara. 15 Engkaulah yang 

membelah mata air dan sungai; Engkaulah yang mengeringkan sungai-su-

ngai yang selalu mengalir. 16 Punya-Mulah siang, punya-Mulah juga malam. 

Engkaulah yang menaruh benda penerang dan matahari. 17 Engkaulah yang 

menetapkan segala batas bumi, musim kemarau dan musim hujan Engkau-

lah yang membuat-Nya. 

Gereja yang sedang meratap ini mengarahkan perhatiannya kepada 

sesuatu yang muncul dalam pikirannya sendiri, dan oleh sebab itu 

dia akan berharap (Rat. 3:21). Pengharapannya itu membesarkan 

hatinya dan meredam keluh kesahnya. Ada dua hal yang menenang-

kan pikiran orang-orang yang di sini sedang meratapi persekutuan 

khidmat mereka:

I.  Bahwa Tuhan   yaitu  Tuhan   Israel, Tuhan   yang memiliki kovenan de-

ngan umat-Nya (ay. 12): Tuhan   yaitu  Rajaku (sejak zaman purba-

kala). Kebenaran ini dijadikan dasar seruan doa kepada Tuhan   

(44:5), Engkaulah Rajaku dan Tuhan  ku dan juga penopang bagi 

iman dan pengharapan mereka sendiri, untuk mendorong mereka 

mengharapkan kelepasan, dengan mengingat hubungan dengan 

Dia yang sudah terjadi sejak hari-hari zaman purbakala (77:5). Ge-

reja berseru sebagai sebuah tubuh yang terdiri dari banyak ang-

gota, sama di segala zaman, dan  sebab  itulah memanggil Tuhan  ,

Kitab Mazmur 74:12-17 

 1073 

 “Rajaku, Rajaku sejak dulu kala,” atau, “semenjak zaman purba.” 

Sejak hari-hari zaman purbakala Ia telah menempatkan diri-Nya 

dalam hubungan seperti itu dengan mereka, dan tampil serta ber-

tindak sebagai Raja bagi mereka. Sebagai Raja Israel, Dia melaku-

kan penyelamatan di tengah-tengah bangsa di bumi ini, sebab apa 

yang Ia lakukan di tengah-tengah pemerintahan dunia ini, selalu 

dimaksudkan untuk menyelamatkan gereja atau umat-Nya. Di 

sini disebutkan beberapa hal yang telah dikerjakan Tuhan   sebagai 

Raja sejak dahulu kala. Hal-hal ini mendorong mereka untuk 

berserah kepada-Nya dan bergantung kepada-Nya.   

1.  Dia membelah lautan di hadapan mereka saat  mereka keluar 

dari tanah Mesir, bukan dengan kekuatan Musa atau tongkat-

nya, namun  dengan kekuatan-Nya sendiri. Dan, Ia yang dapat 

melakukan hal seperti itu pastilah dapat melakukan segala-

nya.  

2.  Dia membinasakan Firaun dan bangsa Mesir. Firaun yaitu  

Lewiatan, sedangkan orang-orang Mesir yaitu  ular-ular naga 

yang ganas dan kejam.  

Perhatikanlah:  

(1) Kemenangan yang diperoleh atas musuh-musuh ini . 

Tuhan   meremukkan kepala mereka, mengacaukan siasat 

mereka, sehingga saat  mereka semakin menindas Israel, 

bangsa Israel justru semakin berlipat ganda. Tuhan   meng-

hancurkan kuasa mereka, sekalipun hebat kuasa itu, me-

remukkan negeri mereka dengan sepuluh tulah, dan akhir-

nya menenggelamkan mereka semua di Laut Merah. Itulah 

Firaun dengan semua khalayak ramai yang mengikutinya 

(Yeh. 31:18). Semua itu yaitu  perbuatan Tuhan, tidak ada 

seorang pun yang dapat melakukannya. Dia melakukan 

semuanya dengan tangan yang kuat dan lengan yang ter-

acung. Kemenangan ini melambangkan kemenangan Kris-

tus atas Ib


Related Posts:

  • mazmur 51-100 10 hnya ini,  I.  Pertama-tama ia mengetengahkan keyakinan yang ia pegang te-guh dan tidak ingin ia lepaskan saat  ia bergumul dengan goda-Kitab Mazmur 73:1-14  1041 an itu (ay. 1). Ayub,… Read More