hnya ini,
I. Pertama-tama ia mengetengahkan keyakinan yang ia pegang te-
guh dan tidak ingin ia lepaskan saat ia bergumul dengan goda-
Kitab Mazmur 73:1-14
1041
an itu (ay. 1). Ayub, saat dia masuk ke dalam cobaan seperti ini,
berpegang pada keyakinannya mengenai kemahatahuan Tuhan :
masa ditentukan oleh Yang Mahasuci (Ayb. 24:1, TL). Dasar keper-
cayaan Yeremia yaitu keadilan Tuhan : Engkau memang benar, ya
TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! (Yer. 12:1).
Dasar kepercayaan Habakuk yaitu kekudusan Tuhan : Mata-Mu
terlalu suci untuk melihat kejahatan (Hab. 1:13). Di sini, yang
menjadi dasar kepercayaan sang pemazmur yaitu kebaikan
Tuhan . Hal-hal ini merupakan kebenaran yang tidak dapat
tergoyahkan dan harus kita pegang teguh dalam kehidupan ini,
bahkan sampai kita mati nanti. Meskipun kita mungkin tidak da-
pat mengaitkan semua karya Pemeliharaan ilahi dengan kebenar-
an ini , kita tetap harus mempercayai bahwa keduanya sebe-
narnya berkesesuaian. Perhatikanlah, pikiran-pikiran yang luhur
mengenai Tuhan akan membentengi kita dari serbuan godaan Iblis.
Sesungguhnya Tuhan itu baik. Pikiran-pikiran tentang pemelihara-
an Tuhan terus berkecamuk di benaknya, namun kalimat ini akhir-
nya menenangkannya: “Melalui semua ini, Tuhan itu baik, baik
bagi orang Israel, bagi orang yang bersih hatinya.”
Perhatikanlah:
1. Orang-orang yang bersih hatinya, yang disucikan oleh darah
Kristus dan dimurnikan dari segala kenajisan dosa, dan yang
berbakti demi kemuliaan Tuhan dengan sepenuh hati mereka
dapat dikatakan sebagai bangsa Israel kepunyaan Tuhan . Hati
yang jujur yaitu hati yang bersih. Kebersihan hati merupa-
kan kebenaran yang terletak di dalam batin.
2. Tuhan , yang baik terhadap semua orang, baik kepada umat dan
gereja-Nya dengan cara yang istimewa, seperti yang ditunjuk-
kan-Nya terhadap bangsa Israel di zaman dulu. Tuhan begitu
baik kepada bangsa Israel dengan memimpin mereka keluar
dari Mesir dan membawa mereka masuk di dalam kovenan
dengan-Nya. Ia memberi hukum-hukum dan ketetapan-
ketetapan-Nya kepada mereka dan mencukupi mereka dengan
berbagai pemeliharaan-Nya. Dia juga baik terhadap semua
orang yang berhati bersih dengan cara yang serupa. Dan, apa
pun yang terjadi, kita tidak boleh berpikiran sebaliknya.
1042
II. Lalu ia menceritakan guncangan yang menerpa imannya menge-
nai kebaikan Tuhan yang istimewa terhadap Israel, oleh sebab
godaan kuat untuk merasa iri terhadap kemujuran orang fasik.
sebab itulah ia juga tergoda untuk beranggapan bahwa ternyata
orang-orang Israel itu tidak lebih bahagia dibandingkan orang lainnya,
dan bahwa Tuhan itu tidak lebih baik kepada mereka dibandingkan
kepada orang lainnya.
1. Dia menceritakan keluputannya dari serangan godaan terse-
but sebagai peristiwa yang hampir saja membuatnya tergelin-
cir (ay. 2): “namun aku, meskipun aku benar-benar dipuaskan
oleh kebaikan Tuhan terhadap Israel, sedikit lagi maka kakiku
terpeleset (si penggoda itu hampir saja berhasil meremukkan
tumitku), nyaris aku tergelincir (aku hampir saja meninggalkan
agamaku dan berhenti mengharapkan berkat darinya), sebab
aku cemburu kepada pembual-pembual.”
Perhatikanlah:
(1) Iman orang-orang percaya yang paling teguh pun terkadang
dapat diguncangkan sampai-sampai hampir terempas. Ada
badai kencang yang akan melanda jangkar-jangkar yang
paling kuat terpancang.
(2) Orang-orang yang tidak akan pernah hancur terkadang
hampir mengalami kehancuran itu sendiri, dan merasa se-
akan-akan telah hancur. Banyak jiwa-jiwa yang berharga,
yang akan hidup selama-lamanya, sekali waktu pernah
menjumpai ambang kehancuran dalam hidup mereka. Me-
reka hampir dan dekat sekali dengan kebinasaan, hanya
berjarak selangkah saja dari kemurtadan yang mematikan,
akan namun direnggut kembali bagaikan puntung dari keba-
karan. Kenyataan seperti ini akan selamanya mengagung-
kan kekayaan kasih karunia ilahi di antara bangsa-bangsa
dari orang-orang yang diselamatkan itu. Nah,
2. Marilah kita memperhatikan bagaimana godaan itu menyerang
sang pemazmur, bagaimana dan dengan apa dia digoda.
(1) Dia mengamati bahwa orang fasik yang bebal terkadang
mendapatkan kemakmuran lahiriah yang besar. Dengan
sedihnya, dia melihat kemujuran orang-orang fasik (ay. 3).
Orang fasik memang betul-betul bebal sebab bertindak
melawan akal sehat dan kepentingan mereka sendiri. Akan
Kitab Mazmur 73:1-14
1043
namun , orang-orang justru bisa melihat kemakmuran atau
kemujuran mereka.
[1] Kelihatannya mereka hanya kebagian sedikit kesusahan
dan bencana dalam hidup ini (ay. 5): Mereka tidak meng-
alami kesusahan manusia, bahkan yang dialami oleh
orang-orang yang baik dan bijaksana. Mereka tidak kena
tulah seperti orang lain, melainkan seolah-olah melalui
hak istimewa tertentu dikecualikan dari kepedihan yang
biasanya menimpa kebanyakan orang. Jika mereka sam-
pai mengalami sedikit masalah, maka masalah mereka
itu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan masalah
yang dihadapi oleh orang lain yang tidak sebejat me-
reka. Justru orang-orang yang kurang berdosalah yang
tampaknya harus lebih banyak menderita dibandingkan
mereka.
[2] Mereka sepertinya mendapatkan banyak sekali kese-
nangan di dalam hidup ini. Mereka hidup dengan nya-
man dan bermandikan kenikmatan, sehingga kesalahan
mereka menyolok sebab kegemukan, (ay. 7). Lihatlah
apa yang menjadi dampak buruk dari kenikmatan ber-
lebih itu. Mengecap kenikmatan dalam jumlah yang tepat
memang menyegarkan mata, namun orang-orang yang
mendewa-dewakan kenikmatan lahiriah akan diperbudak
olehnya. Rasa nikmat itu justru menjadi siksaan bagi
mereka, sebab semakin dipuaskan, rasa nikmat itu
justru terus menuntut lebih lagi. Dan orang-orang yang
memiliki hati meluap-luap dengan sangkaan memang
bisa sebanyak-banyaknya mengenyangkan perut mere-
ka, lebih dari yang dapat mereka pikirkan atau yang
sanggup mereka kendalikan. Setidaknya, mereka memi-
liki lebih banyak dibandingkan yang didambakan orang-
orang yang berhati sederhana, lemah lembut dan tidak
sombong. Akan namun , mereka tetap saja tidak merasa
puas dengan apa yang mereka miliki. Ada banyak orang
yang menggenggam banyak hal dari kehidupan ini, na-
mun tidak memiliki sedikit pun kehidupan lain di dalam
hati mereka. Mereka tidak saleh dan hidup tanpa rasa
takut dan tanpa penyembahan akan Tuhan . Namun, me-
reka maju dan berhasil di dunia ini. Mereka bukan saja
1044
kaya, namun juga terus menambah harta benda (ay. 12).
Mereka dipandang sebagai orang yang berhasil. Semen-
tara orang-orang lain bersusah payah mempertahankan
apa yang mereka miliki, mereka malah terus mendapat-
kan lebih banyak lagi, lebih banyak kehormatan, kuasa,
kenikmatan, sebab harta mereka yang terus bertam-
bah. Mereka orang yang paling berhasil di zamannya,
demikianlah yang diartikan oleh sebagian orang.
[3] Nasib mereka sepertinya berakhir dengan penuh keda-
maian. Hal inilah yang disebutkan pertama-tama, seba-
gai hal yang paling mengherankan dari semuanya, se-
bab mati dalam damai selalu dianggap sebagai hak isti-
mewa bagi orang-orang saleh (37:37). Akan namun ,
dipandang dari penampakan luar, hal itu justru sering
kali menjadi nasib orang-orang fasik (ay. 4): Sebab kesa-
kitan tidak ada pada mereka. Nyawa mereka tidak
direnggut melalui sebuah kematian yang menyeramkan.
Mereka bebal, namun tidak mati sebagaimana orang
bebal layak mati, sebab tangan mereka tidak terikat dan
kaki mereka tidak dirantai (2Sam. 3:33-34). Nyawa me-
reka tidak diambil sebelum waktunya, seperti buah
yang terjatuh dari pohonnya sebelum matang, melain-
kan dibiarkan menggantung di sana sampai mereka
berjatuhan sendiri sebab usia tua. Mereka tidak mati
sebab menderita suatu penyakit yang mematikan:
tidak ada kesakitan, tidak ada penderitaan, dalam ke-
matian mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka sampai
ajal menjelang, sehingga mereka jarang sekali dapat
merasakan kematian itu. Mereka yaitu orang-orang
yang mati dengan masih penuh tenaga, dengan sangat
tenang dan sentosa, tidak termasuk yang mati dengan
sakit hati, dengan tidak pernah merasakan kenikmatan
(Ayb. 21:23, 25). Bukan itu saja, mereka bahkan tidak
merasakan tekanan hati nurani saat menghadapi
maut. Mereka tidak juga menjadi takut sebab ingat
akan dosa-dosa mereka atau pikiran mengenai keseng-
saraan yang menanti mereka, melainkan mati dengan
penuh rasa aman. Kita tidak dapat menghakimi keada-
an manusia seperti apa di seberang kematian sana ha-
Kitab Mazmur 73:1-14
1045
nya dengan melihat cara kematian mereka ataupun ke-
adaan jiwa mereka saat mereka sedang sekarat. Ma-
nusia bisa saja mati seperti domba, namun kebagian
tempat bersama kambing-kambing.
(2) Ia mengamati bahwa mereka menyalahgunakan kemujuran
lahiriah mereka itu dan semakin menjadi-jadi di dalam
kejahatan mereka, sehingga ia pun semakin tergoda untuk
merasa marah sebab nya. Seandainya saja kemujuran itu
menjadikan mereka lebih baik, tidak membuat mereka
semakin kurang ajar terhadap Tuhan dan semakin menindas
manusia lain, mungkin dia tidak akan seresah itu. Akan
namun , yang terjadi malah sebaliknya.
[1] Kemujuran itu membuat mereka angkuh dan tinggi
hati. Oleh sebab mereka hidup dengan nyaman, mere-
ka pun berkalungkan kecongkakan (ay. 6). Kepada se-
mua orang yang melihat mereka, mereka bersikap cong-
kak sebab kemujuran mereka itu, bagaikan orang yang
memamerkan perhiasannya. Kecongkakan Israel men-
jadi saksi terhadap dirinya sendiri (Hos. 5:5; Yes. 3:9).
Kecongkakan melekat pada rantai atau kalung mereka,
begitulah Dr. Hammond mengartikannya. Bukan berarti
memakai rantai atau kalung itu membahayakan, namun
jika kesombongan melekat di sana dan bila benda itu
dipakai untuk memanjakan pikiran yang sia-sia, maka
fungsinya tidak lagi hanya sekedar sebagai perhiasan.
Pakaian atau perhiasan yang kita kenakan (meskipun
kita memiliki aturan mengenai hal itu, 1Tim. 2:9) tidak-
lah sepenting dasar pemikiran dan tujuan pemakaian-
nya. Dan, sebagaimana kesombongan para pendosa
tampak dalam pakaian mereka, hal itu juga nyata da-
lam perkataan mereka: Mereka bicara dengan tinggi hati
(ay. 8). Mereka mengucapkan kata-kata yang congkak
dan hampa (2Ptr. 2:18), meninggikan diri dan meremeh-
kan semua orang di sekeliling mereka. Mereka mem-
bual, didorong oleh kesombongan yang memenuhi hati
mereka.
[2] Kemujuran itu membuat mereka semakin merajalela
dalam menindas sesama (ay. 6): mereka berpakaian ke-
1046
kerasan. Semua yang telah mereka dapat melalui kecu-
rangan dan penindasan, mereka pertahankan dan ting-
katkan dengan cara jahat yang serupa. Mereka tidak
peduli kerugian yang mereka akibatkan bagi orang lain
ataupun kekerasan yang mereka pakai demi memper-
kaya dan membesarkan diri mereka sendiri. Mereka be-
jat, seperti orang-orang raksasa, para pendosa di dunia
purbakala, saat bumi telah penuh dengan kekerasan
(Kej. 6:11, 13). Mereka tidak peduli kejahatan apa yang
mereka lakukan, supaya mereka tetap berbuat jahat
atau demi kepentingan mereka sendiri. Hal pemerasan
dibicarakan mereka dengan tinggi hati. Mereka menin-
das dan membenarkan tindakan mereka itu. Orang-
orang yang begitu lantang membicarakan dosa juga
mengatai-ngatai dengan jahatnya. Mereka bejat, artinya,
mereka larut dalam kenikmatan dan segala hal yang
mewah (begitulah yang ditafsirkan sebagian orang), lalu
kemudian mereka mencemooh dan berkata-kata keji.
Mereka tidak peduli siapa yang mereka sakiti dengan
panah fitnah mereka yang penuh racun itu, sebab dari
tempat tinggi mereka menggaungkan penindasan.
[3] Kemujuran itu membuat mereka semakin bertingkah
laku kurang ajar terhadap Tuhan dan manusia (ay. 9):
Mereka membuka mulut melawan langit, menghina Tuhan
dan kehormatan-Nya, menentang-Nya dan menentang
kuasa serta keadilan-Nya. Mereka tidak sanggup meng-
gapai langit dengan tangan mereka untuk menggun-
cangkan takhta Tuhan , sebab kalau saja mereka dapat,
mereka pasti akan melakukannya. Sebagai gantinya,
mereka menunjukkan niat jahat mereka dengan mem-
buka mulut melawan langit. Lidah mereka juga mem-
bual di bumi, dan dengan semena-mena mereka men-
celakakan semua orang yang merintangi jalan mereka.
Kebesaran atau kebaikan seseorang tidak akan melin-
dunginya dari serangan lidah yang berbisa. Mereka me-
megahkan diri dan bersukaria dalam berbantah dengan
semua umat manusia. Mereka pengacau negeri, sebab
mereka tidak takut akan Tuhan dan tidak mengindahkan
sesama manusia.
Kitab Mazmur 73:1-14
1047
[4] Dalam segala hal ini mereka begitu tidak percaya
dan tidak mengenal Tuhan . Mereka pastilah begitu jahat-
nya sampai-sampai telah terlatih untuk berkata (ay. 11),
Bagaimana Tuhan tahu hal itu, adakah pengetahuan
pada Yang Mahatinggi? Mereka begitu tidak menghen-
daki pengenalan akan Tuhan , yang telah memberi mere-
ka segala hal baik yang mereka miliki dan pastinya ber-
kenan mengajari mereka untuk memanfaatkan hal-hal
baik itu dengan bijaksana. Mereka tidak sudi memper-
cayai bahwa Tuhan melihat mereka, bahwa Ia memper-
hatikan kejahatan mereka dan bahwa Ia akan menun-
tut pertanggungjawaban mereka. Seolah-olah sebab
Dia itu Yang Mahatinggi maka Dia tidak dapat atau
tidak akan melihat mereka (Ayb. 22:12-13). Padahal,
justru sebab Ia Yang Mahatinggi-lah, maka Ia mampu
dan akan mengawasi semua anak-anak manusia beser-
ta seluruh perbuatan dan perkataan mereka, juga pikir-
an mereka. Pertanyaan adakah pengetahuan pada Yang
Mahatinggi? yaitu sebuah penghinaan yang amat sa-
ngat terhadap Tuhan yang memiliki pengetahuan tidak
terbatas, yang dibandingkan -Nyalah semua pengetahuan itu
bersumber. sebab itulah Ia layak berkata (ay. 12), se-
sungguhnya, itulah orang-orang fasik.
(3) Sang pemazmur mengamati bahwa sementara orang-orang
fasik terus berjaya di dalam kejahatan mereka dan menjadi
semakin bejat oleh sebab kemujuran mereka itu, orang-
orang benar justru berada dalam kesesakan hebat, teruta-
ma dirinya sendiri. Hal ini semakin memperbesar godaan
untuk berbantah dengan Sang Pemelihara.
[1] Dia memandang ke luar dan menyaksikan betapa ba-
nyaknya umat Tuhan yang dilanda kebingungan (ay. 10):
“Begitu lancangnya orang-orang fasik itu sampai-sam-
pai orang-orang berbalik kepada mereka. Mereka sama
tertegunnya, sama tercengangnya seperti aku. Mereka
juga kehabisan kata-kata seperti aku, malah rasanya
air berlimpah-limpah tercurah kepada mereka. Mereka
bukan saja terpaksa harus meminum cawan kesusahan
itu, melainkan juga harus mereguk habis semua isinya.
1048
Tidak setetes cairan pahit pun yang dibiarkan lolos dari
tegukan mereka. Air itu menimpa mereka dengan ber-
tubi-tubi, sehingga sisa endapan pun harus mereka
minum. Seperti yang dilakukan Daud (119:136), mereka
mencucurkan deraian air mata saat mendengar orang-
orang fasik menghujat Tuhan dan berkata-kata semba-
rangan.” Itulah air berlimpah-limpah yang menimpa
mereka.
[2] Dia melihat ke dalam dan masih juga terus-menerus
merasakan kegeramam Sang Pemelihara, sementara
orang-orang fasik menyeringai senang (ay. 14): “Inilah
bagianku,” katanya, “Sepanjang hari aku kena tulah
dengan kesusahan demi kesusahan, dan kena hukum
setiap pagi, saat fajar menjelang.” Kesusahannya amat
berat – dia dihukum dan kena tulah. Dan hal itu terjadi
berulang-ulang, setiap pagi selalu begitu, terus berlang-
sung tanpa henti, sepanjang hari. Inilah yang dianggap-
nya berat, yakni bahwa saat orang-orang yang meng-
hujat bergelimang kemakmuran, dia yang memuji Tuhan
malah harus menanggung kesusahan yang sedemikian
berat. Dia berkeluh kesah mengenai kesusahannya itu
dengan sepenuh hati. Tidak ada yang bisa mengalahkan
kuatnya perasaan, kecuali iman.
(4) Semua kejadian itu memicu godaan yang amat kuat untuk
meninggalkan kepercayaannya.
[1] Sebagian orang yang memperhatikan kemujuran orang-
orang fasik, terutama bila dibandingkan dengan kesu-
sahan orang-orang benar, tentunya tergoda untuk me-
nentang pemeliharaan ilahi dan beranggapan bahwa
Tuhan telah mencampakkan bumi ini. Begitulah bagai-
mana beberapa orang menafsirkan ayat 11 tadi. Bahkan
di antara orang-orang yang mengakui Tuhan pun ada
yang masih saja berkata, “Bagaimana Tuhan tahu? Ten-
tunya segala hal diatur oleh keberuntungan semata dan
bukan ditentukan oleh Tuhan yang mahamelihat.” Ada
orang-orang kafir yang membalas pernyataan tadi de-
ngan bertanya, Quis putet esse deos? – Siapa yang akan
percaya bahwa ilah-ilah itu ada?
Kitab Mazmur 73:15-20
1049
[2] Sekalipun kaki sang pemazmur tidak sampai benar-
benar tergelincir dengan mempertanyakan kemahatahu-
an Tuhan , namun ia sempat tergoda untuk mempertanya-
kan faedah agama atau kepercayaan, dan berkata (ay.
13), “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang
bersih, dan membasuh tanganku tanda tak bersalah.”
Itu tidak menghasilkan apa-apa. Lihatlah di sini makna
kesalehan itu, yakni membersihkan hati kita sebagai
hal yang terutama, melalui pertobatan dan pemulihan,
lalu kemudian membasuh tangan kita tanda tak bersa-
lah melalui pembaruan yang menyeluruh dalam hidup
kita. Tentu saja perbuatan seperti itu, yakni melayani
Tuhan dan mengikuti segala ketetapan-Nya, tidaklah sia-
sia. Akan namun , orang-orang benar terkadang dicobai
untuk berkata, “Semua ini sia-sia saja,” dan “Agama
tidak akan menghasilkan apa-apa,” sebab mereka meli-
hat orang-orang fasik berjaya. Namun, akan tampak je-
las saat akhirnya orang-orang yang suci hatinya, mere-
ka yang berbahagia itu, melihat Tuhan (Mat. 5:8), maka
mereka pun tidak lagi akan berkata bahwa mereka telah
mempertahankan kesucian hati dengan sia-sia belaka.
Kesudahan Orang Fasik
(73:15-20)
15 Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu,” maka se-
sungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu. 16 namun
saat aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di
mataku, 17 sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Tuhan , dan memper-
hatikan kesudahan mereka. 18 Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kauta-
ruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. 19 Betapa binasa mereka
dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh sebab kedahsyatan! 20 Seperti mimpi
pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupan-
dang hina.
Kita telah menyaksikan betapa kuatnya cobaan yang dialami oleh
sang pemazmur untuk merasa iri terhadap kefasikan yang terus ber-
jaya. Kini kita mendapati bagaimana ia tetap berdiri teguh dan ber-
kemenangan.
1050
I. Ia mempertahankan rasa hormatnya terhadap umat Tuhan , dan
dengan rasa hormat itulah ia mengekang mulutnya dari perkata-
an tidak benar yang tadinya telah ia pikirkan (ay. 15). Kemenang-
an yang diraihnya itu didapat secara bertahap, dan inilah hal per-
tama yang dia raih. Tadinya ia hampir saja berkata, sia-sia sama
sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan mengira bahwa
dia memiliki alasan kuat untuk mengatakannya. namun kemudian
dia membungkam mulutnya dengan pertimbangan ini, “Seandai-
nya aku berkata: Aku mau berkata-kata seperti itu, maka sesung-
guhnya aku telah berkhianat, memberontak dan murtad, serta
melakukan pelanggaran yang amat besar kepada angkatan anak-
anakmu.”
Perhatikanlah di sini:
1. Meskipun dia telah berpikir yang tidak-tidak, dia tetap ber-
jaga-jaga supaya tidak melontarkan pikiran buruk yang tadi
telah ada di benaknya. Perhatikanlah, berpikiran jelek sudah
merupakan tindakan buruk, namun mengatakannya bahkan
lebih parah lagi, sebab hal itu sama saja dengan memberi
imprimatur – persetujuan terhadap pikiran busuk tadi. Melon-
tarkan pikiran buruk sama saja dengan mengizinkannya dan
menyetujuinya, serta mengumandangkannya untuk menulari
orang lain. Baiklah jika kita bertobat dari kesesatan hati itu
dengan meredamnya, dan dengan begitu, kekeliruan itu ha-
nyalah sebatas dalam diri kita saja. Jikalau engkau telah ber-
laku begitu bebal dengan berpikiran buruk, bersikaplah bijak-
sana dan tekapkanlah tangan pada mulut, dan janganlah
membiarkannya berkembang lebih lanjut (Ams. 30:32). Sean-
dainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu. Perhati-
kanlah, meskipun hatinya yang tercemar tadi telah mengambil
kesimpulan seperti itu mengenai kemujuran orang-orang fasik,
ia tidak menyinggung-nyinggungnya kepada orang lain, apa-
kah hal itu pantas diucapkan atau tidak. Perhatikanlah, kita
harus berpikir dua kali sebelum membuka mulut, sebab terka-
dang hal-hal yang dipikirkan ternyata tidak perlu diucapkan,
dan juga pikiran yang kedua dapat membetulkan kekeliruan
pikiran yang pertama.
2. Dia tidak mau mengutarakannya sebab takut menyinggung
orang-orang yang telah diakui Tuhan sebagai anak-anak-Nya.
Kitab Mazmur 73:15-20
1051
Perhatikanlah:
(1) Ada sekawanan orang di dunia ini yang merupakan ang-
katan anak-anak Tuhan , yaitu sejumlah orang yang men-
dengar dan mengasihi Tuhan sebagai Bapa mereka.
(2) Kita harus berhati-hati untuk tidak mengatakan atau mela-
kukan hal-hal yang mungkin dapat menyesatkan salah
satu dari anak-anak kecil ini (Mat. 18:6), terutama hal-hal
yang mungkin dapat menyesatkan angkatan mereka, yang
dapat menyedihkan hati mereka, atau melemahkan tangan
mereka dan merugikan kepentingan mereka.
(3) Tidak ada satu hal pun yang lebih dapat menyesatkan
angkatan anak-anak Tuhan dibandingkan berkata bahwa sia-sia
sama sekali kita mempertahankan hati yang bersih, atau
bahwa sia-sia saja melayani Tuhan . Alasannya, tidak ada hal
lain yang lebih bertentangan dengan perasaan dan peng-
alaman mereka, ataupun yang lebih menyedihkan mereka
selain mendengar Tuhan dianggap demikian.
(4) Orang-orang yang mendambakan keadaan seperti orang-
orang fasik itu pada dasarnya telah meninggalkan tempat
bernaung anak-anak Tuhan .
II. Sang pemazmur dapat melihat kebinasaan yang pada akhirnya
akan menimpa orang fasik. Dengan itulah ia membungkam goda-
an ini , sebagaimana ia meredakannya dengan rasa hormat
terhadap umat Tuhan . Oleh sebab dia tidak mengutarakan apa
yang telah ia pikirkan sebab takut menyinggung orang lain, ia
pun bertanya-tanya apakah dia sebenarnya memiliki alasan kuat
untuk berpikir seperti itu (ay. 16): “Aku berusaha keras untuk
memahami makna karya Pemeliharaan yang sukar dimengerti ini,
namun hal itu menjadi kesulitan di mataku. Aku tidak dapat menye-
laminya dengan kekuatan akalku sendiri.” Hal itu memang meru-
pakan suatu perkara yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan
terang alam semata. Sebab, jika tidak ada hidup sesudah kemati-
an, tentunya kita tidak dapat melihat ketidaksesuaian yang men-
colok antara kemujuran orang fasik dengan keadilan Tuhan . Akan
namun , ia masuk ke dalam tempat kudus Tuhan (ay. 17), mengambil
saat teduh, lalu merenungkan sifat-sifat Tuhan dan hal-hal yang
dinyatakan bagi kita dan bagi anak-anak kita. Dia menelaah Kitab
Suci dan mengindahkan perkataan para imam yang melayani di
1052
tempat kudus. Dia berdoa kepada Tuhan supaya perkara ini diper-
jelas dan supaya Tuhan membantunya melewati semua kesukaran
ini. Dan, pada akhirnya, dia memahami kesudahan orang fasik
yang mengerikan. Ia malah dengan jelas dapat melihat kesudahan
mereka itu sampai membuatnya merasa kasihan terhadap mereka
dan bukan merasa iri, sekalipun mereka terlihat begitu berjaya.
Sebab, sebenarnya mereka sedang menuai kebinasaan. Perhati-
kan, ada banyak sekali hal-hal besar yang perlu dipahami, dan
yang hanya bisa dipahami dengan cara masuk ke tempat kudus
Tuhan melalui firman dan doa. Oleh sebab itu, tempat kudus ha-
ruslah menjadi tempat bernaung bagi jiwa yang sedang dicobai.
Perhatikanlah lebih lanjut lagi, kita harus menilai orang dan per-
kara-perkara dengan terang pewahyuan ilahi, sebab hanya de-
ngan cara itulah kita dapat menilai dengan benar. Dan terutama,
kita harus menilai sesuatu berdasar kesudahannya. Setiap hal
baik pasti berakhir dengan baik pula, untuk selama-lamanya.
Akan namun , hal yang buruk selalu berakhir dengan tidak baik,
untuk selama-lamanya. Kesukaran orang benar berakhir dalam
damai, dan sebab itu dia menjadi bahagia, namun sukaria orang
fasik berakhir dalam kebinasaan, sehingga ia pun menderita.
1. Kemujuran orang fasik hanya berlangsung untuk sementara
saja dan tidak menentu. Kedudukan tinggi yang disediakan
Sang Pemelihara bagi mereka yaitu tempat-tempat licin (ay.
18), yang tidak bisa mereka pijak lama-lama. Justru, saat
mereka mencoba memanjat lebih tinggi, usaha mereka itu
hanya akan membuat mereka tergelincir dan jatuh. Kemujur-
an mereka tidak memiliki dasar yang teguh, sebab tidak diba-
ngun di atas kebaikan atau janji Tuhan . Dan mereka pun tidak
memiliki rasa puas yang terpatri pada dasar yang teguh.
2. Kehancuran pasti menimpa mereka dengan tiba-tiba dan dah-
syat. Kehancuran yang dimaksud bukanlah yang bersifat se-
mentara, sebab mereka memang ditetapkan untuk menghabis-
kan hari-hari mereka dalam kemujuran, dan kematian mereka
sendiri pun tidaklah menyakitkan: dan dengan tenang mereka
turun ke dalam dunia orang mati, sehingga itu pun hampir
tidak dapat disebut dengan kebinasaan mereka. Jadi, pastilah
kalimat itu berarti kehancuran kekal di seberang kematian
sana, yaitu neraka dan kebinasaan. Mereka memang berkem-
bang untuk sesaat, namun akan binasa untuk selama-lamanya.
Kitab Mazmur 73:15-20
1053
(1) Kehancuran pasti akan menimpa mereka dan tidak mung-
kin terelakkan. Dia membicarakan kehancuran itu seolah-
olah memang sudah terjadi – Mereka dibanting, sebab kebi-
nasaan memang pasti menimpa mereka sehingga boleh di-
katakan sudah terjadi. Dia membicarakan kehancuran itu
sebagai perbuatan Tuhan , dan sebab itulah, tidak mungkin
dapat ditolak: Kaujatuhkan mereka. Inilah permusnahan
dari Yang Mahakuasa (Yl. 1:15), dari kemuliaan kekuatan-
Nya (2Tes. 1:9). Siapa yang dapat menolong orang-orang
yang akan dibanting Tuhan , yang akan dijejali Tuhan dengan
banyak beban?
(2) Kehancuran itu terjadi dengan cepatnya dan tanpa disang-
ka-sangka. Kutukan bagi mereka itu tidak pernah tertidur.
Betapa binasa mereka dalam sekejap mata (ay. 19). Kehan-
curan itu datang dengan mudahnya dan akan mencengang-
kan mereka serta orang-orang di sekeliling mereka.
(3) Kehancuran itu sangat parah dan menakutkan. Kejadian
itu akan menjadi kehancuran akhir dari segalanya: Mereka
lenyap, habis oleh sebab kedahsyatan. Kesengsaraan
orang-orang yang terkutuk yaitu merasakan ancaman ke-
dahsyatan Yang Mahakuasa, yang sudah mereka jadikan
musuh itu, menghabisi hati nurani mereka yang disiksa
rasa bersalah. Hati nurani mereka itu pun tidak sanggup
menaungi mereka dari ancaman murka itu, ataupun me-
nguatkan mereka dalam menanggung semuanya. sebab
itulah, yang akan dihabisi oleh murka Tuhan itu bukanlah
keberadaan mereka, melainkan kebahagiaan mereka. Tidak
secercah harapan atau penghiburan pun yang akan tersisa
bagi mereka. Semakin tinggi mereka terangkat dalam ke-
mujuran mereka, maka semakin menyakitkan pula keja-
tuhan mereka saat mereka dibanting dalam kejatuhan
demi kejatuhan (sebab kata kejatuhan ini dipakai dalam
bentuk jamak) dan sekonyong-konyong binasa.
3. Oleh sebab itu, kemujuran mereka sama sekali tidak layak di-
cemburui, melainkan harus dipandang hina, quod erat demon-
strandum – pokok persoalan yang hendak diketengahkan (ay.
20). Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada
waktu terjaga, atau saat mereka sendiri terjaga (sebagai-
mana sebagian orang mengartikannya), bayangan mereka dan
1054
rupa mereka Kaupandang hina dan Kaulenyapkan. Pada hari
penghakiman besar (demikianlah penafsirannya dalam bahasa
Aramik), saat mereka terjaga dari kubur mereka, Engkau
akan memandang hina rupa mereka dalam murka-Mu, sebab
mereka akan bangun untuk mengalami kehinaan dan kengerian
yang kekal.
Perhatikanlah di sini:
(1) Jadi apa kemujuran mereka kini. Kemujuran itu hanya se-
buah rupa saja, tontonan yang tidak berguna, penampilan
duniawi yang akan segera berlalu. Kemujuran itu tidaklah
nyata, namun hanya khayalan saja. Khayalan yang rusak
itulah yang membuatnya menjadi sebuah kebahagiaan.
Kemujuran itu bukanlah inti, namun bayangan semata. Ia
tidak tampak seperti yang seharusnya, dan juga tidak akan
terbukti memberi manfaat seperti yang kita kira sebelum-
nya. Kemujuran itu bagaikan sebuah mimpi, yang bisa saja
menyenangkan hati kita sebentar saat kita sedang tidur,
namun kemudian malah mengganggu kelelapan kita. Walau-
pun begitu, betapapun menyenangkannya, mimpi itu tetap
saja menipu, palsu semata. Kita menyadarinya saat kita
terjaga. Seorang yang lapar bermimpi ia sedang makan,
pada waktu terjaga, perutnya masih kosong (Yes. 29:8).
Seseorang tidak menjadi lebih kaya atau terhormat hanya
sebab ia memimpikannya. Jadi, siapakah yang hendak
merasa iri akan kesenangan seseorang dengan mimpinya?
(2) Perkara apa yang akan ditimbulkannya. Tuhan akan terjaga
untuk menghakimi, untuk membela perkara-Nya sendiri
dan kepentingan umat-Nya yang kena tindas. Mereka akan
dibangunkan dari perasaan aman kedagingan mereka, dan
kemudian Tuhan akan memandang hina rupa mereka. Dia
akan menunjukkan kepada seluruh dunia betapa hinanya
rasa aman mereka itu, sehingga orang-orang benar akan
menertawakan mereka (52:7-8). Betapa Tuhan memandang
hina rupa seorang yang kaya itu saat Ia berkata, “Hai
engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan
diambil dari padamu!” (Luk. 12:19-20). Kita haruslah seja-
lan dengan pikiran Tuhan , sebab penghakiman-Nya sesuai
dengan kebenaran, dan kita tidak boleh mengagumi dan
Kitab Mazmur 73:21-28
1055
mencemburui apa yang Ia benci dan akan Ia pandang hina,
sebab, cepat atau lambat Dia akan menjadikan semua
orang di dunia ini sejalan dengan pikiran-Nya.
Keyakinan yang Saleh
(73:21-28)
21 saat hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasa-
nya, 22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 23
namun aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. 24 Dengan
nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku
ke dalam kemuliaan. 25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau?
Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. 26 Sekalipun dagingku dan
hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Tuhan selama-
lamanya. 27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa;
Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. 28
namun aku, aku suka dekat pada Tuhan ; aku menaruh tempat perlindunganku
pada Tuhan Tuhan , supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.
Lihatlah, teka-teki Simson di sini terkuak lagi, Dari yang makan ke-
luar makanan, dari yang kuat keluar manisan. Sebab, di sini kita
mendapati sebuah kisah tentang perbaikan yang terjadi dalam diri
sang pemazmur melalui cobaan kuat yang telah melilitnya dan ham-
pir melumpuhkannya itu. Orang yang tersandung namun tidak sampai
jatuh, akan maju dengan lebih pesat lagi saat ia mengalami pemulih-
an. Begitulah yang terjadi dengan sang pemazmur di sini. Dia mena-
rik banyak pelajaran bermanfaat dari pencobaan, pergumulan dan
kemenangannya atas pencobaan itu. Tuhan tentu saja tidak akan
membiarkan umat-Nya dicobai jika Ia tidak memperlengkapi mereka
dengan kasih karunia yang mencukupi, bukan saja cukup untuk me-
nyelamatkan mereka dari bahaya, namun juga mendatangkan keun-
tungan bagi mereka. Bahkan, cobaan pun dapat mendatangkan ke-
baikan.
I. Dia belajar merendahkan diri dan menyalahkan dirinya sendiri di
hadapan Tuhan (ay. 21-22). Dengan rasa malu ia pun merenung-
kan tentang kekacauan dan bahaya yang sedang menghadangnya,
juga tentang keresahan yang dibiarkannya melanda hatinya de-
ngan terus mengobarkan dan bergelut dengan pencobaan itu:
hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasa-
nya, seperti seorang yang menderita kesakitan mendalam sebab
ada batu dalam ginjalnya. Kapan saja pikiran buruk merasuki
1056
pikiran orang benar, dia tidak akan mengecapnya di bawah lidah-
nya seperti makanan manis, sebab pikiran buruk itu terasa amat
pahit dan menyedihkan baginya. Bagi Paulus, pencobaan itu ba-
gaikan duri di dalam daging (2Kor. 12:7). Pencobaan yang seperti
ini, yaitu perasaan cemburu dan tidak puas, sangatlah menyakit-
kan. Jika dibiarkan berkembang terus, maka pencobaan itu akan
membusukkan tulang (Ams. 14:30), dan jika dibiarkan sekali-
sekali menyerang, maka rasanya seperti menusuk-nusuk buah
pinggang. Sikap marah-marah merupakan sebuah perilaku bu-
ruk, sekaligus hukuman bagi perilaku itu sendiri. saat ia mere-
nungkan semua itu,
1. Dia mengakui bahwa menyusahkan diri dengan bersikap de-
mikian yaitu suatu kebodohan: “Aku dungu sebab sudah
menyiksa diri sendiri.” Jadi, biarlah orang-orang yang sering
menggerutu menegur diri mereka sendiri dan merasa malu
sebab perasaan tidak puas mereka itu. “Betapa bodohnya aku
sebab telah menyusahkan diriku sendiri tanpa sebab!”
2. Dia mengakui bahwa dia bersikap begitu sebab dia tidak tahu
apa-apa: “Aku begitu tidak tahu-menahu tentang hal yang se-
harusnya kuketahui, dan jika saja aku mengetahuinya baik-
baik, maka hal itu pastilah cukup untuk membuatku berhenti
bersungut-sungut. Seperti hewan aku di dekat-Mu (Behemoth –
hewan besar). Hewan hanya memperhatikan hal-hal yang ada
di depannya saat itu saja, dan tidak pernah menghiraukan apa
yang akan terjadi nanti, begitu pula aku. Jika saja aku tidak
sedungu itu, pencobaan sepele seperti itu pastilah tidak perlu
kualami dan kubiarkan menyerangku sejauh itu. Tidak bisa
dipercaya! Masakan aku merasa cemburu terhadap kemujuran
orang fasik dan sempat tergoda untuk berganti tempat dan
menjadi salah satu dari antara mereka! Aku sungguh dungu.”
Perhatikanlah, kapan saja orang benar terjerumus dalam pikir-
an, perkataan atau perbuatan yang tidak benar oleh sebab se-
rangan pencobaan yang kuat, maka mereka akan merasa malu
dan sedih serta menyangkali diri mereka saat mereka menya-
dari kekeliruan mereka itu. Dan mereka pun akan menyebut
diri mereka dungu sebab nya. Sebab aku ini lebih bodoh dari
pada orang lain (Ams. 30:2; Ayb. 42:5-6). Begitu pula Daud
(2Sam. 24:10).
Kitab Mazmur 73:21-28
1057
II. Ia pun mengambil kesempatan untuk mengakui bahwa dia hanya
mengandalkan kasih karunia Tuhan semata dan terikat dengan
kewajiban di dalamnya (ay. 23): “namun , sekalipun aku ini dungu,
aku tetap di dekat-Mu dan berada dalam naungan kebaikan-Mu.
Engkau memegang tangan kananku.” Hal ini bisa saja menunjuk-
kan,
1. Pemeliharaan Tuhan atasnya, dan kebajikan yang telah Ia tun-
jukkan kepadanya, dari awal sampai saat itu. saat ia sedang
dicobai ia pernah berkata (ay. 14), sepanjang hari aku kena
tulah. Namun di sini ia menegur dirinya sebab telah menge-
luh seperti itu: “Meskipun Tuhan telah menghajarku, dia tidak-
lah sampai mengusirku. Tidak peduli salib apa pun yang mem-
beratiku, aku tetap berada di dekat-Mu. Hadirat-Mu kumiliki,
dan Engkau selalu dekat denganku saat aku berseru kepa-
da-Mu dalam semua keadaan itu. Dan sebab itulah, sekali-
pun aku terdesak, aku tidak putus asa. Meskipun Tuhan terka-
dang membiarkan kepahitan menimpaku, namun Dia tetap me-
megang tangan kananku. Dia melakukan itu dengan tujuan
untuk memeliharaku sehingga aku tidak meninggalkan-Nya
atau lari dari-Nya, juga untuk menahanku supaya tidak ter-
benam dan menjadi lemah dalam menanggung bebanku, atau
kehilangan arah di belantara yang harus kutempuh.” Jika kita
telah dipelihara sehingga dapat berjalan seiring dengan Tuhan ,
menunaikan tugas kita dengan baik dan mempertahankan ke-
tulusan kita, maka kita harus mengakui bahwa kita bisa ber-
tahan seperti itu oleh sebab kasih karunia yang diberikan
Tuhan secara cuma-cuma bagi kita: Aku bisa terus melaju sam-
pai saat ini oleh sebab pertolongan dari Tuhan . Jadi, jika Tuhan
telah membantu kita mempertahankan kehidupan rohani yang
kekal, kita tidak boleh lagi mengeluhkan bencana-bencana apa
pun yang menimpa kita di waktu sekarang.
2. Pengalamannya belakangan ini dalam merasakan kuasa kasih
karunia ilahi yang membawanya melewati pencobaan yang
kuat itu dan membuatnya keluar sebagai seorang pemenang:
“Aku dungu dan tidak tahu apa-apa, namun Engkau lemah lem-
but dan mau mengajariku (Ibr. 5:2), serta memeliharaku di
bawah perlindungan-Mu,” sebab ketidaklayakan manusia bu-
kanlah penghalang bagi kasih karunia Tuhan yang diberikan
secara cuma-cuma. Kita harus mengakui bahwa pemeliharaan
1058
dan kemenangan kita atas suatu pencobaan bukanlah sebab
hikmat kita sendiri, sebab kita dungu dan tidak tahu apa-apa.
Sebaliknya, oleh sebab hadirat Tuhan yang penuh kasih karu-
nia yang menyertai kita dan pengantaraan Kristus bagi kita
yang penuh kuasalah, maka iman kita tidak menjadi lemah:
“Sedikit lagi maka kakiku terpeleset, dan jika itu terjadi, maka
habislah aku tanpa akan pernah bisa pulih lagi. namun Engkau
memegang tangan kananku dan menopangku, sehingga aku
tidak sampai jatuh.”
III. Dia membesarkan hatinya sendiri dengan berharap bahwa Tuhan
yang sama yang telah melepaskannya dari setiap usaha yang
jahat, juga akan menyelamatkannya sehingga dia masuk ke dalam
Kerajaan-Nya di sorga, seperti yang dilakukan Rasul Paulus
(2Tim. 4:18): “Kini aku diangkat oleh-Mu, sebab dengan nasihat-
Mu Engkau menuntun aku, memimpinku melewati jalan-jalan yang
sulit, sebagaimana yang telah Engkau lakukan selama ini. Dan,
oleh sebab aku kini selalu dekat dengan-Mu, Engkau pun meng-
angkat aku ke dalam kemuliaan” (ay. 24). Hal ini melengkapi ke-
bahagiaan para orang kudus, sehingga mereka pun tidak lagi
memiliki alasan untuk mencemburui kemujuran duniawi para
pendosa.
Perhatikanlah:
1. Semua orang yang menyerahkan diri mereka kepada Tuhan
akan dituntun oleh nasihat-Nya, baik dengan nasihat firman-
Nya maupun dengan nasihat Roh-Nya, yang merupakan pena-
sihat terbaik. Sang pemazmur hampir saja harus membayar
mahal sebab berniat untuk mengikuti kehendaknya sendiri di
dalam pencobaan yang telah ia alami. sebab itulah, di masa
depan nanti, ia sudah bertekad hanya akan mengikuti nasihat
Tuhan saja, dan nasihat-Nya itu pasti tidak akan ditahan-tahan
untuk diberikan kepada orang-orang yang mencarinya dengan
sepenuh hati dan hendak mengikuti nasihat-Nya itu.
2. Semua orang yang dibimbing dan dipimpin oleh nasihat Tuhan
di dunia ini akan diangkat ke dalam kemuliaan-Nya di dunia
yang lain. Jika kita menjadikan kemuliaan Tuhan di dalam diri
kita sebagai tujuan utama kita, maka Ia pun akan menjadikan
kemuliaan kita bersama-Nya nanti sebagai tujuan-Nya, dan
Kitab Mazmur 73:21-28
1059
kita akan berbahagia untuk selama-lamanya di dalamnya. Ka-
rena pertimbangan itu, marilah kita tidak lagi mencemburui
para pendosa, melainkan bersyukur atas berkat yang kita
nikmati. Jika Tuhan mengarahkan kita untuk menjalankan tu-
gas di jalan yang benar dan mencegah kita untuk menyimpang
dari jalan itu, maka, saat masa pencobaan dan pemben-
tukan kita telah berlalu, Ia pun akan menerima kita ke dalam
kerajaan dan kemuliaan-Nya. Dan, iman dan pengharapan
kita mengenai semua itu dapat menguatkan kita untuk menja-
lani semua masa sulit yang kini membingungkan dan mere-
sahkan kita, serta meringankan kesengsaraan yang ditimbul-
kan oleh pencobaan yang menerjang kita itu.
IV. Dia tergerak untuk semakin erat melekat kepada Tuhan , dan ini
semakin membuatnya diteguhkan serta dihiburkan sebab telah
memilih-Nya sebagai bagiannya (ay. 25-26). Di sini pikirannya
dipenuhi dengan sukacitanya di dalam Tuhan , yang jauh lebih
besar dibandingkan kebahagiaan orang-orang fasik yang mendapat
kemujuran di dunia ini. Dia hanya bisa melihat secuil alasan saja
untuk mencemburui mereka dan benda-benda ciptaan yang me-
reka miliki, saat Ia mendapati betapa lebih banyak dan lebih baik,
lebih pasti dan lebih manisnya penghiburan yang ia miliki di
dalam Sang Pencipta. Ada alasan kuat yang ia miliki untuk berba-
hagia sebab nya. Dia telah mengeluhkan kesusahannya (ay. 14),
namun hal ini melegakannya, yaitu segala sesuatu pasti baik-baik
saja selama aku memiliki Tuhan . Di sini kita mendapati sebuah jiwa
yang telah dikuduskan mencondongkan dirinya terhadap Tuhan ,
dan bersandar dengan lega di dalam Dia. Bagi orang saleh, kelega-
an itu begitu berharga, sebagaimana kemujuran duniawi berharga
bagi orang fasik, meskipun sesungguhnya kemujuran itu hanya-
lah tipuan dan khayalan belaka: Siapa gerangan ada padaku di
sorga selain Engkau? Di seluruh kitab mazmur, jarang sekali ada
ayat yang lebih kuat dari ayat mazmur ini dalam mengungkapkan
kesalehan dan kasih sayang yang dirasakan oleh sebuah jiwa ter-
hadap Tuhan . Di sini, jiwa itu membumbung menghampiri-Nya dan
bersusah payah mengikuti-Nya. Akan namun , pada waktu yang
bersamaan, jiwa itu juga mendapatkan kepuasan menyeluruh di
dalam Dia.
1060
1. Di sini disebutkan bahwa hanya Tuhan sajalah yang menjadi
sumber kebahagiaan dan tujuan akhir manusia. Hanya Dia
yang menciptakan jiwa sajalah yang dapat memberi keba-
hagiaan bagi jiwa itu. Tidak ada seorang pun yang dapat mela-
kukan hal itu, baik di langit maupun di bumi.
2. Di sini upaya dan hasrat sebuah jiwa terhadap Tuhan diung-
kapkan. Jika Tuhan yaitu kebahagiaan kita,
(1) Maka kita harus memiliki-Nya (Siapa gerangan ada padaku
selain Engkau?). Kita harus memilih-Nya dan mempercaya-
kan perkara kita di dalam Dia. Sekalipun Dia yaitu keba-
hagiaan bagi jiwa, namun apalah artinya jika Dia tidak men-
jadi kebahagiaan jiwa kita sendiri, dan jika kita tidak men-
jadikan-Nya sebagai milik kita melalui iman yang hidup,
dengan melekatkan diri kepada-Nya melalui sebuah kove-
nan yang kekal?
(2) Maka kerinduan hati kita haruslah dilabuhkan kepada-Nya
saja, dan sukacita kita haruslah bersumber dari Dia saja
(kata kerinduan itu menggambarkan keduanya). Kita harus
bersuka sebab segala yang kita miliki di dalam Tuhan , dan
harus mendambakan apa yang masih kita harapkan dari-
Nya. Kerinduan hati kita itu tidak saja harus dipersembah-
kan kepada Tuhan , namun harus berujung di dalam Dia juga,
yaitu dengan cara tidak mengingini apa pun lebih dibandingkan
Tuhan , melainkan terus menginginkan Dia lebih dan lebih
lagi. Kalimat ini mencakup segala doa kita, Tuhan, berikan-
lah diri-Mu kepada kami, sebagaimana kalimat ini menca-
kup segenap janji-janji-Nya, Aku akan menjadi Tuhan mere-
ka. Kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu.
(3) Kita harus memilih dan menginginkan Dia lebih dibandingkan
yang lainnya.
[1] “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi, tidak
ada yang ingin kucari atau kupercayai, tidak ada yang
ingin kukenal dan kudambakan lebih dari-Mu.” Tuhan
memang lebih agung dibandingkan penghuni sorgawi mana
pun (89:7), dan harus lebih kita inginkan dari segala-
nya. Di sorga memang banyak makhluk-makhluk yang
rupawan, namun hanya Tuhan sajalah yang dapat mem-
buat kita bahagia. Kebaikan-Nya jauh lebih menyegar-
Kitab Mazmur 73:21-28
1061
kan dibandingkan embun sorgawi, ataupun cahaya lembut
bintang-bintang sorgawi. Kebaikan-Nya juga lebih ma-
nis dibandingkan persahabatan para orang kudus di sorga
ataupun pelayanan para malaikat yang ada di sana.
[2] Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Bukan
hanya di sorga saja, tempat yang letaknya jauh dari
sini, yang belum begitu kita kenal baik, namun juga di
bumi ini, di mana kita memiliki banyak sahabat, dan di
mana kebanyakan kepentingan dan kepedulian kita
berada. “Bumi sangat menghanyutkan hasrat hati keba-
nyakan manusia, namun tidak ada satu hal pun di bumi
ini, baik orang, benda, ataupun harta dan kesenangan,
yang kuingini lebih dibandingkan Engkau. Tidak ada yang
sebanding ataupun bersaing dengan Engkau.” Kita
tidak boleh mengingini apa pun selain Tuhan . Hanya Dia
sajalah yang harus kita ingini (nil præter te nisi propter
te – tidak ada apa pun selain Engkau, hanya yang ber-
kaitan dengan kepentingan-Mu sendiri). Apa yang kita
ingini haruslah dari Dia saja, dan tidak ada yang dapat
membuat kita merasa puas selain yang berasal dari Dia.
Kita tidak boleh mengingini apa pun juga selain Tuhan ,
supaya kita layak menjadi rekan-Nya dalam mendatang-
kan kebahagiaan bagi kita.
(4) Lalu kita dapat beristirahat di dalam Tuhan dengan kepuas-
an sejati (ay. 26).
Perhatikanlah di sini:
[1] Kesukaran dan kesesakan besar yang pasti akan me-
nimpa: dagingku dan hatiku habis lenyap. Perhatikan-
lah, orang lain juga pernah merasakan kelemahan da-
ging dan hati, sehingga kita pun harus siap bahwa kita
pun pasti akan menghadapinya juga. Tubuh akan mele-
mah atau lenyap oleh sebab penyakit, usia, dan kema-
tian. Hal-hal yang menggerogoti tulang dan daging itu
juga akan mempengaruhi bagian terdalam diri kita,
yang telah kita manjakan selama ini. saat daging ha-
bis, maka hati pun terancam lenyap. Perbuatan, kebe-
ranian, dan penghiburan lenyap.
1062
[2] Kelegaan ilahi disediakan di dalam kesesakan itu: gu-
nung batuku dan bagianku tetaplah Tuhan selama-lama-
nya. Perhatikanlah, dalam kesesakan mereka yang be-
sar, jiwa-jiwa yang dipenuhi kasih karunia bersandar
kepada Tuhan sebagai kekuatan rohani dan bagian
mereka untuk selama-lamanya. Pertama-tama, “Tuhan
yaitu gunung batuku, gunung batu bagi hatiku, dasar
yang teguh, yang akan menyokongku sehingga aku
tidak akan terbenam. Tuhan yaitu gunung batuku, aku
telah mendapati-Nya demikian, dan sampai kini pun
masih begitu, dan aku berharap selamanya akan men-
dapati Dia demikian.” Dalam kesesakan yang ia khawa-
tirkan, dia mengetengahkan kegagalan ganda, yaitu le-
nyapnya daging dan hati. Akan namun , di dalam kelega-
annya, ia hanya mengandalkan sokongan tunggal: dia
tidak lagi menghiraukan daging dan kekhawatiran yang
disebabkannya, sebab cukuplah bahwa Tuhan merupa-
kan gunung batunya. Dia berkata-kata seperti orang
yang tidak lagi memedulikan tubuh (biar saja tubuh
menjadi lemah, sebab hal itu tidak dapat dicegah), te-
tapi sebagai orang yang lebih mengindahkan jiwa, su-
paya diteguhkan di dalam batinnya. Kedua, “Bagianku
tetaplah Tuhan selama-lamanya. Dia tidak saja akan
meneguhkanku saat aku berada di sini, namun juga
akan membahagiakanku nanti bila aku sudah sampai
di sana.” Orang-orang kudus memilih Tuhan sebagai ba-
gian mereka. Mereka memiliki-Nya sebagai bagian me-
reka, dan kebahagiaan mereka yaitu bahwa Ia akan
menjadi bagian mereka, bagian yang sekekal kehidupan
jiwa-jiwa yang abadi.
V. Dia merasa amat yakin mengenai nasib sengsara yang akan me-
nimpa orang fasik. Dia mempelajarinya melalui kesempatan ini, di
dalam tempat kudus, dan ia tidak akan pernah melupakannya
(ay. 27): “Sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu, terpisah
dan asing dari-Mu, yang menghendaki Yang Mahakuasa supaya
menjauh dari mereka, pasti akan binasa. Itulah malapetaka yang
akan menimpa mereka. Mereka memilih untuk menjauh dari
Tuhan , sehingga mereka akan dijauhkan dari-Nya untuk selama-
Kitab Mazmur 73:21-28
1063
lamanya. Dengan adil Kaubinasakan semua orang, yang berzinah
dengan meninggalkan Engkau, yaitu semua orang murtad. Melalui
pengakuan agamawi, mereka seakan-akan telah dipertunangkan
dengan Tuhan , namun meninggalkan-Nya dan melalaikan kewajiban
mereka terhadap Tuhan serta persekutuan dengan-Nya, hanya un-
tuk lari ke pelukan orang lain yang tidak mereka kenal.” Malape-
taka mereka itu amat hebat, yaitu dilenyapkan dan dibinasakan.
Kebinasaan yang akan terjadi pun tidak pandang bulu: “Mereka
semua akan dibinasakan tanpa kecuali.” Kebinasaan itu pasti ter-
jadi: “Kaubinasakan semua orang. Begitu pastinya sampai-sampai
boleh dianggap sudah terjadi. Dan kebinasaan beberapa orang
fasik merupakan pertanda awal kehancuran bagi mereka semua.”
Tuhan sendirilah yang akan melaksanakannya. Diremukkan oleh
tangan-Nya yaitu sebuah hal yang amat menakutkan: “Meski
kebaikan-Mu tidak terbatas, Engkau tetap akan membalaskan
orang-orang yang berlaku tidak setia kepada-Mu, yang meleceh-
kan kehormatan dan menyalahgunakan kesabaran-Mu.”
VI. Dia amat dikuatkan untuk terus melekat kepada Tuhan dan ber-
gantung kepada-Nya (ay. 28). Jika orang yang jauh dari pada-Mu
akan binasa, maka,
1. Biarlah hal ini mendorong kita untuk terus hidup bersekutu
dengan Tuhan . “Jika kejadian yang akan menimpa orang-orang
yang jauh dari-Nya begitu mengerikan, maka berarti baiklah,
amat baiklah bagi seorang manusia jika ia dekat dengan Tuhan .
Itulah yang harus ia kejar dan pastikan dalam kehidupannya.
Maka aku pun sebaiknya mendekat kepada Tuhan dan mem-
biarkan-Nya mendekat kepadaku.” Teks aslinya mungkin me-
muat keduanya. Adapun bagiku (demikianlah saya mengarti-
kannya), mendekat kepada Tuhan itu baik bagiku. Mendekatnya
kita kepada Tuhan dipicu oleh mendekatnya Dia kepada kita,
dan pertemuan kita merupakan berkat yang membahagiakan.
Di sinilah terletak kebenaran yang besar, yaitu bahwa memang
baik mendekat kepada Tuhan , namun pelaksanaannya jauh lebih
penting lagi, “Baiklah bagiku.” Bijaksanalah orang-orang yang
mengetahui apa yang baik bagi mereka: “Memang baik, kata si
pemazmur (dan setiap orang benar setuju dengannya), baiklah
bagiku untuk mendekatkan diri kepada Tuhan . Itu sudah meru-
pakan kewajibanku, juga kepentinganku.”
1064
2. sebab itu, biarlah kita terus hidup bergantung kepada-Nya:
“Aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Tuhan , dan
tidak akan pernah meninggalkan Dia untuk mengejar hal-hal
lain yang fana.” Jika orang fasik, tidak peduli betapa mujurnya
mereka, akan lenyap dan dibinasakan, maka marilah kita per-
caya kepada Tuhan saja, kepada-Nya, dan bukan kepada mere-
ka, bukan juga kepada kemujuran duniawi kita. Marilah kita
percaya kepada Tuhan dan tidak bersungut-sungut sebab me-
reka ataupun takut kepada mereka. Marilah kita menaruh
kepercayaan kita di dalam Dia, sebagai bagian yang lebih baik
dibandingkan bagian yang mereka miliki.
3. Sementara kita melakukan semua itu, kita tidak boleh ragu
bahwa kita akan mendapatkan kesempatan untuk memuji
nama-Nya. Marilah kita percaya kepada Tuhan, supaya dapat
menceritakan segala pekerjaan-Nya. Perhatikanlah, orang-orang
yang menaruh kepercayaan mereka terhadap Tuhan dengan
hati yang tulus pasti tidak akan kekurangan alasan untuk
bersyukur kepada-Nya.
PASAL 74
azmur ini dengan sangat khusus menggambarkan kehancuran
Yerusalem dan Bait Tuhan , oleh Nebukadnezar dan pasukan
bangsa Kasdim, dan hampir tidak cocok dikaitkan dengan peristiwa
lainnya yang kita dapati dalam sejarah bangsa Yahudi. Oleh sebab
itu, para penafsir cenderung beranggapan bahwa mazmur ini mung-
kin ditulis oleh Daud atau Asaf, pada zaman Daud, yang mengan-
dung nubuatan mengenai peristiwa mengenaskan ini (namun
perkiraan ini kecil sekali kemungkinannya), atau ditulis oleh Asaf
yang lain, yang hidup di zaman pembuangan, atau oleh Yeremia (se-
bab mazmur ini senada dengan kitab Ratapan yang ditulisnya), atau
juga oleh seorang nabi lain, dan diserahkan kepada anak-anak Asaf
(yang dipanggil dengan nama yang sama) sesudah mereka kembali dari
pembuangan itu, supaya mazmur ini dapat dipakai oleh khalayak
dalam ibadah mereka. Bani Asaf merupakan keluarga penyanyi yang
paling terkemuka di zaman Ezra (Ez. 2:41; 3:10; Neh. 11:17, 22;
12:35, 46). Keadaan mengenaskan umat Tuhan pada masa itu kini
diungkapkan di hadapan Tuhan , dan diserahkan kepada-Nya. Sang
nabi, atas nama umat Tuhan ,
I. Mengeluhkan kesengsaraan yang mereka derita, supaya me-
ngobarkan hasrat mereka untuk berdoa (ay. 1-11).
II. Menyerukan ucapan-ucapan penghiburan untuk meneguh-
kan iman mereka di dalam doa (ay. 12-17).
III. Menutup mazmur itu dengan berbagai permintaan kepada
Tuhan supaya Ia melepaskan mereka (ay. 18-23).
Saat menyanyikan mazmur ini, kita harus tergugah oleh sebab
kesengsaraan gereja zaman dulu, sebab kita yaitu anggota dari tu-
buh yang sama. Kita juga dapat menerapkan mazmur ini untuk
M
1066
menghadapi kesesakan atau kesengsaraan yang saat ini dialami oleh
gereja Kristen di mana saja mereka berada.
Keluh Kesah
(74:1-11)
Nyanyian pengajaran Asaf. 1 Mengapa, ya Tuhan , Kaubuang kami untuk sete-
rusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-
Mu? 2 Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala,
yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion
yang Engkau diami. 3 Ringankanlah langkah-Mu ke tempat yang rusak terus-
menerus; segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat kudus. 4 La-
wan-lawan-Mu mengaum di tempat pertemuan-Mu dan telah mendirikan
panji-panji mereka sebagai tanda. 5 Kelihatannya seperti orang mengayunkan
tinggi-tinggi sebuah kapak kepada kayu-kayuan yang lebat, 6 dan sekarang
ukir-ukirannya seluruhnya dipalu mereka dengan kapak dan beliung; 7
mereka menyulut tempat kudus-Mu dengan api, mereka menajiskan tempat
kediaman nama-Mu sampai pada tanah; 8 mereka berkata dalam hatinya:
“Baiklah kita menindas mereka semuanya!” Mereka membakar segala tempat
pertemuan Tuhan di negeri. 9 Tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada
lagi nabi, dan tidak ada di antara kami yang mengetahui berapa lama lagi. 10
Berapa lama lagi, ya Tuhan , lawan itu mencela, dan musuh menista nama-Mu
terus-menerus? 11 Mengapa Engkau menarik kembali tangan-Mu, menaruh
tangan kanan-Mu di dada?
Mazmur ini diberi judul Maschil (nyanyian pengajaran), yaitu mazmur
untuk memberi pengajaran, sebab mazmur ini ditulis pada masa
kesesakan dan dimaksudkan untuk memberi pengajaran. Secara
umum, isi pengajaran ini mengajar kita bahwa sudah merupakan
hikmat dan kewajiban kita untuk melekatkan diri kepada Tuhan
melalui doa yang sungguh-sungguh dan tekun pada saat kita berada
di dalam kesesakan apa saja. Kita akan mendapati bahwa doa kita
itu tidak akan sia-sia. Ada tiga hal yang dikeluhkan umat Tuhan di
sini:
I. Ketidaksenangan Tuhan terhadap mereka, sebagai penyebab dan
akar pahit dari segala bencana yang menimpa mereka. Mereka
memandang jauh ke depan mengenai semua sarana yang menim-
bulkan kesesakan mereka itu. Mereka tahu bahwa semua sarana
itu tidak akan mampu melawan mereka jika saja tidak diberi
kuasa dari atas. Mereka mengarahkan mata mereka kepada Tuhan ,
yang dengan hikmat-Nya telah menyerahkan mereka ke dalam
tangan orang-orang fasik dan bebal. Perhatikanlah betapa bebas-
nya mereka mengaduh kepada Tuhan (ay. 1). Kita tidak boleh ber-
Kitab Mazmur 74:1-11
1067
harap untuk bersikap terlalu bebas seperti itu, sebab Kristus sen-
diri hanya berseru demikian di kayu salib, Tuhan -Ku, Tuhan -Ku,
mengapa Engkau meninggalkan Aku? namun umat-Nya itu di sini
berseru, Ya Tuhan ! Mengapa Engkau meninggalkan kami selama-
nya? Di sini mereka berkata begitu sebab didorong oleh pema-
haman mereka sendiri yang dibungkus kegelapan dan rasa sedih
yang mendalam. Jika tidak, pasti mereka berkata, Adakah Tuhan
mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! (Rm. 11:1).
Umat Tuhan tidak boleh beranggapan bahwa mereka telah dibuang
untuk seterusnya hanya sebab mereka sedang dalam keadaan
tertindas. Mereka tidak boleh berpikir bahwa Tuhan telah menolak
mereka, hanya sebab manusia menolak mereka, dan bahwa Dia
telah membuang mereka untuk seterusnya, hanya sebab Dia
menjauh dari mereka untuk sementara waktu. Akan namun , jeritan
pilu mereka itu menunjukkan bahwa mereka begitu takut di-
buang Tuhan lebih dibandingkan ketakutan akan hal lainnya. sebab
itu mereka sangat menginginkan untuk diakui oleh-Nya, apa pun
juga yang harus mereka derita akibat perbuatan manusia. Mereka
sangat ingin mengetahui apakah gerangan yang membuat Dia
sedemikian murka terhadap mereka: Mengapa menyala murka-
Mu? Yakni, mengapakah murka-Mu itu menyala sebegitu dahsyat-
nya sampai-sampai kami semua dapat melihatnya berkobar dan
bertanya-tanya, Apakah artinya murka yang hebat bernyala-nyala
ini? (Ul. 29:24, bdk. ay. 20, di mana murka dan cemburu Tuhan
dikatakan sedang menyala menghabisi para pendosa). Per-
hatikanlah apa yang mereka serukan kepada Tuhan untuk memo-
hon pembelaan saat mereka sedang ditempa dalam kesadaran
mengenai murka-Nya itu.
1. Mereka menyerukan hubungan mereka dengan-Nya: “Kami ini
domba gembalaan-Mu, domba yang telah Engkau pelihara di
padang rumput, umat-Mu yang istimewa yang telah Engkau
pisahkan bagi-Mu dan rancangkan bagi kemuliaan-Mu sendiri.
Jika si serigala tidak mengindahkan si domba, hal itu tidaklah
mengherankan, namun apakah pernah ada seorang gembala
yang sedemikian murkanya terhadap gembalaannya sendiri?
Ingatlah, kami yaitu umat-Mu (ay. 2), dibentuk oleh-Mu dan
bagi-Mu, dan diperuntukkan sebagai pujian-Mu. Kami yaitu
bangsa, atau suku bangsa milik-Mu sendiri, dan Engkau telah
berkenan meninggikan kami di atas bangsa lain (Ul. 32:9).
1068
Dari kami Engkau telah menerima puji-pujian dan penyem-
bahan lebih dari bangsa mana pun di sekeliling kami. Bukan
hanya itu saja, walaupun harta warisan seorang manusia
berada jauh-jauh, namun kami ini justru menyerukan gunung
Sion yang Engkau diami, yang telah menjadi tempat kediaman
dan kesenangan-Mu, sebagai istana dan tanah-Mu.”
2. Mereka mengungkapkan hal-hal besar yang telah Tuhan
lakukan bagi mereka dan juga pengorbanan besar yang telah
Ia curahkan bagi mereka: ”Ini yaitu umat-Mu sendiri, yang
bukan saja telah Engkau ciptakan hanya dengan sepatah kata,
namun juga yang Kauperoleh pada zaman purbakala melalui
berbagai mujizat belas kasihan saat mereka pertama kali
Engkau jadikan sebagai bangsa. Mereka yaitu bangsa milik-
Mu sendiri, yang Kautebus saat mereka masih menjadi budak
belian dulu.” Tuhan menghancurkan Mesir untuk menebus me-
reka, memberi manusia sebagai ganti mereka, dan bangsa-
bangsa sebagai ganti nyawa mereka (Yes. 43:3-4). “Kini,
Tuhan, akankah Engkau meninggalkan umat yang telah Kau-
tebus dengan begitu mahalnya itu, dan yang telah Engkau
sayangi dengan amat sangat itu?” Dan, jika penebusan Israel
dari Mesir saja sudah menjadi pendorong bagi mereka untuk
terus berharap bahwa Dia tidak akan membuang mereka,
maka terlebih lagi kita patut berharap bahwa Tuhan tidak akan
mencampakkan siapa pun yang telah ditebus Kristus dengan
darah-Nya sendiri. Sebaliknya, umat yang telah Ia tebus akan
selamanya menjadi umat sumber pujian-Nya.
3. Mereka mengungkapkan keadaan mengenaskan yang sedang
mereka alami (ay. 3): “Ringankanlah langkah-Mu. Yaitu, cepat-
lah datang untuk memulihkan kerusakan yang telah terjadi di
tempat kudus-Mu, sebab jika tidak begitu, pastilah kerusakan
itu akan berlangsung terus-menerus dan tidak lagi dapat di-
perbaiki.” Terkadang dikatakan bahwa pembalasan ilahi me-
nimpa dengan tangan besi, namun datang dengan lambat, se-
hingga orang-orang yang menanti-nantikan hari Tuhan pun
berseru, Tuhan, Ringankanlah langkah-Mu, ayunkan kaki-Mu,
besarkanlah diri-Mu melalui karya pemeliharaan-Mu. Saat ke-
rusakan di tempat kudus berlangsung lama, kita pun cende-
rung berpikir bahwa kerusakan itu akan berlangsung terus-
menerus. Namun, pikiran itu hanyalah sebuah pencobaan.
Kitab Mazmur 74:1-11
1069
Sebab, Tuhan akan melakukan pembalasan bagi umat pilihan-
Nya dengan cepat, sekalipun Ia terlihat begitu bersabar terha-
dap penindas dan penganiaya mereka.
II. Mereka mengeluhkan mengenai kebengisan murka dan kekejam-
an musuh mereka, namun tidak berkeluh kesah sama sekali terha-
dap apa yang telah dilakukan para musuh itu terhadap kepen-
tingan duniawi mereka. Di sini tidak ada keluhan mengenai
pembakaran kota ataupun kerusakan negeri mereka, melainkan
hanya keluhan tentang kerusakan di tempat kudus dan rumah
ibadah mereka. Keprihatinan mengenai agama memang harus
menggugah hati kita, lebih dari kepentingan duniawi apa pun.
Kerusakan di rumah Tuhan haruslah membuat kita merasa lebih
sedih dibandingkan bila rumah kita sendiri yang dirusak. Sebab, tidak
masalah apa yang menimpa kita dan keluarga kita di dunia ini,
asalkan nama Tuhan tetap dikuduskan, kerajaan-Nya datang, dan
kehendak-Nya jadi.
1. Sang pemazmur mengeluhkan mengenai kerusakan di tempat
kudus, sebagaimana Daniel (Dan. 9:17). Bait Tuhan di Yerusa-
lem merupakan tempat kediaman nama Tuhan , sehingga dise-
but juga sebagai tempat kudus (ay. 7). Dalam hal inilah para
musuh telah berlaku fasik (ay. 3), sebab mereka memusnah-
kannya untuk menghina Tuhan dan melawan Dia.
(1) Mereka mengaum di tempat pertemuan-Mu (ay. 4). Di tempat
itu, di mana umat setia Tuhan melayani-Nya dengan khid-
mat dan penuh hormat, tanpa banyak menimbulkan suara,
para musuh itu malah mengaum dalam kekacauan dan
bertingkah sembarangan. Mereka menjadi angkuh sebab
merasa diri mereka sudah menguasai tempat kudus itu,
yang tentangnya mereka telah banyak mendengar hal-hal
yang menakjubkan.
(2) Mereka mendirikan panji-panji mereka sebagai tanda. Mere-
ka memasang panji-panji pasukan mereka di tempat kudus
itu (yang merupakan benteng terkuat Israel, selama mereka
setia melekat kepada Tuhan ) sebagai tugu kemenangan me-
reka. Di tempat itu, di mana panji-panji hadirat Tuhan dulu
ditegakkan, kini malah panji-panji musuh yang dinaikkan.
Mereka menentang Tuhan dan kuasa-Nya dengan begitu
1070
congkak, dan kelakuan mereka itu begitu menusuk hati
umat Tuhan .
(3) Dengan angkuh mereka merusak ukir-ukiran di bait Tuhan .
Mereka begitu membanggakan diri sendiri sebab telah ber-
hasil merusakkannya (ay. 5-6), padahal dulu, orang-orang
yang dengan senang hati menggunakan tangan mereka un-
tuk membangun bait itu menganggap pekerjaan mereka itu
sebagai sebuah kehormatan besar, dan mereka menjadi
kenamaan sebab sumbangsih mereka itu. Jadi, sebagai-
mana para pekerja sebelumnya ditinggikan sebab mela-
yani kepentingan agama mereka, demikianlah para musuh
itu kini dielu-elukan sebab menghancurkannya. Oleh ka-
rena itu, beberapa orang mengartikannya demikian, Mereka
mempertunjukkan diri sebagai orang yang mengayunkan
tinggi-tinggi sebuah kapak kepada kayu-kayuan yang lebat.
Sebab, mereka merusak ukir-ukiran di bait Tuhan tanpa
pandang bulu, sebagaimana penebang kayu mengapak
pepohonan di hutan. Begitu bencinya mereka terhadap
tempat kudus itu, sampai-sampai ukiran yang paling indah
pun dirusak begitu saja oleh para serdadu. Tidak ada rasa
hormat sedikit pun terhadap karya ini , baik sebagai
barang persembahan maupun sebagai karya seni yang
cantik.
(4) Mereka menyalakan tempat itu dengan api, dan dengan
begitu menajiskan atau merusakannya sampai pada tanah
(ay. 7). Bangsa Kasdim membakar rumah Tuhan , gedung
yang begitu indah dan mahal itu (2Taw. 36:19). Dan bangsa
Romawi tidak membiarkan satu batu pun terletak di atas
batu yang lain (Mat. 24:2), melainkan terus menghancur-
kannya sampai ke dasar-dasarnya, sampai Sion, bukit suci
itu, digarap bagaikan sebidang tanah oleh Titus Vespasian.
2. Dia mengeluhkan kerusakan di tempat pertemuan Tuhan , yang
merupakan tempat belajar para nabi dan telah digunakan bah-
kan sebelum masa pembuangan, dan terlebih lagi sesudahnya.
Di sanalah firman Tuhan dibacakan dan dijelaskan, dan nama-
Nya dipuji dan diserukan, tanpa mezbah atau korban persem-
bahan. Para musuh membenci tempat ini juga (ay. 8): Baiklah
kita menindas mereka semuanya, bukan hanya bait Tuhan , teta-
pi juga semua tempat penyembahan rohani dan sekalian para
Kitab Mazmur 74:1-11
1071
penyembahnya itu. Baiklah kita menindas mereka semuanya.
Biarlah semuanya musnah dilalap api yang sama. sesudah ber-
tekad melaksanakan niat busuk itu mereka pun membakar se-
gala tempat pertemuan Tuhan di negeri dan memusnahkan sega-
lanya. Begitu menyala-nyalanya kebencian mereka terhadap
agama sampai-sampai semua tempat keagamaan diratakan
dengan tanah, supaya para penyembah Tuhan tidak dapat lagi
memuliakan Tuhan dan meneguhkan satu sama lainnya dengan
bersekutu dalam perkumpulan yang khidmat.
III. Hal terburuk dari segala bencana ini yaitu mereka tidak punya
peluang sama sekali untuk dipulihkan lagi. Mereka bahkan tidak
bisa melihat bahwa bencana itu tidak akan pernah berakhir (ay.
9): “Kami melihat tanda musuh ditegakkan di tempat kudus, te-
tapi tanda-tanda kami tidak kami lihat, tidak ada satu pun tanda
kehadiran Tuhan , atau petunjuk untuk mengharapkan kelepasan.
Tidak ada lagi nabi yang dapat mengatakan kepada kami berapa
lama lagi kesesakan ini akan terus berlangsung, dan kapankah
akan tiba akhir dari kesulitan kami ini, sehingga paling tidak
kami memiliki pengharapan yang dapat menguatkan kami dalam
menanggung kesukaran ini.” Pada masa pembuangan di Babel
mereka memiliki nabi-nabi dan mereka diberitahukan berapa
lama penawanan itu akan berlangsung, namun saat ini yaitu
masa hari berkabut dan hari kegelapan (Yeh. 34:12), dan mereka
tidak memiliki penghiburan sama sekali mengenai keadaan mere-
ka. Tuhan berbicara sekali, bahkan dua kali, mengatakan firman
yang baik dan menyejukkan, namun mereka tidak memperhatikan
dan memahaminya. Perhatikanlah, mereka tidak mengeluh, “Kami
tidak melihat pasukan kami, tidak ada yang dapat memimpin
pasukan kami di medan perang atau pergi menyertai kami.” Seba-
liknya, yang mereka keluhkan yaitu , “tidak ada nabi yang dapat
memberi tahu kami berapa lama lagi.” Hal ini membuat mereka
berbantah dengan Tuhan , bahwa Ia menunda-nunda,
1. Untuk menyatakan kehormatan-Nya (ay. 10): Berapa lama lagi,
lawan itu mencela, dan musuh menista nama-Mu terus-mene-
rus? saat tempat kudus dirusak, keprihatinan utama kita
haruslah tertuju kepada kemuliaan Tuhan , yaitu supaya kemu-
liaan Tuhan tidak dilecehkan dengan membiarkannya dinista
oleh orang-orang yang menganiaya umat Tuhan sebab Dia, ka-
1072
rena mereka milik-Nya. sebab itulah, pertanyaan kita hen-
daknya bukan, “Berapa lama lagi kita mengalami kesesakan?,”
melainkan “Berapa lama lagi Tuhan dinista?”
2. Untuk menyatakan kuasa-Nya (ay. 11): “Mengapa Engkau me-
narik kembali tangan-Mu dan tidak mengacungkannya untuk
menyelamatkan umat-Mu dan menghancurkan musuh-Mu?
Keluarkanlah dia dari pada dada-Mu, dan jangan seperti orang
yang bingung, seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong,
atau tidak mau menolong” (Yer. 14:9). saat kuasa musuh
begitu mengancam, berlari ke dalam perlindungan kuasa Tuhan
merupakan sebuah penghiburan.
Pengakuan atas Kuasa Ilahi
(74:12-17)
12 Namun Engkau, ya Tuhan yaitu Rajaku dari zaman purbakala, yang mela-
kukan penyelamatan di atas bumi. 13 Engkaulah yang membelah laut dengan
kekuatan-Mu, yang memecahkan kepala ular-ular naga di atas muka air. 14
Engkaulah yang meremukkan kepala-kepala Lewiatan, yang memberi nya
menjadi makanan penghuni-penghuni padang belantara. 15 Engkaulah yang
membelah mata air dan sungai; Engkaulah yang mengeringkan sungai-su-
ngai yang selalu mengalir. 16 Punya-Mulah siang, punya-Mulah juga malam.
Engkaulah yang menaruh benda penerang dan matahari. 17 Engkaulah yang
menetapkan segala batas bumi, musim kemarau dan musim hujan Engkau-
lah yang membuat-Nya.
Gereja yang sedang meratap ini mengarahkan perhatiannya kepada
sesuatu yang muncul dalam pikirannya sendiri, dan oleh sebab itu
dia akan berharap (Rat. 3:21). Pengharapannya itu membesarkan
hatinya dan meredam keluh kesahnya. Ada dua hal yang menenang-
kan pikiran orang-orang yang di sini sedang meratapi persekutuan
khidmat mereka:
I. Bahwa Tuhan yaitu Tuhan Israel, Tuhan yang memiliki kovenan de-
ngan umat-Nya (ay. 12): Tuhan yaitu Rajaku (sejak zaman purba-
kala). Kebenaran ini dijadikan dasar seruan doa kepada Tuhan
(44:5), Engkaulah Rajaku dan Tuhan ku dan juga penopang bagi
iman dan pengharapan mereka sendiri, untuk mendorong mereka
mengharapkan kelepasan, dengan mengingat hubungan dengan
Dia yang sudah terjadi sejak hari-hari zaman purbakala (77:5). Ge-
reja berseru sebagai sebuah tubuh yang terdiri dari banyak ang-
gota, sama di segala zaman, dan sebab itulah memanggil Tuhan ,
Kitab Mazmur 74:12-17
1073
“Rajaku, Rajaku sejak dulu kala,” atau, “semenjak zaman purba.”
Sejak hari-hari zaman purbakala Ia telah menempatkan diri-Nya
dalam hubungan seperti itu dengan mereka, dan tampil serta ber-
tindak sebagai Raja bagi mereka. Sebagai Raja Israel, Dia melaku-
kan penyelamatan di tengah-tengah bangsa di bumi ini, sebab apa
yang Ia lakukan di tengah-tengah pemerintahan dunia ini, selalu
dimaksudkan untuk menyelamatkan gereja atau umat-Nya. Di
sini disebutkan beberapa hal yang telah dikerjakan Tuhan sebagai
Raja sejak dahulu kala. Hal-hal ini mendorong mereka untuk
berserah kepada-Nya dan bergantung kepada-Nya.
1. Dia membelah lautan di hadapan mereka saat mereka keluar
dari tanah Mesir, bukan dengan kekuatan Musa atau tongkat-
nya, namun dengan kekuatan-Nya sendiri. Dan, Ia yang dapat
melakukan hal seperti itu pastilah dapat melakukan segala-
nya.
2. Dia membinasakan Firaun dan bangsa Mesir. Firaun yaitu
Lewiatan, sedangkan orang-orang Mesir yaitu ular-ular naga
yang ganas dan kejam.
Perhatikanlah:
(1) Kemenangan yang diperoleh atas musuh-musuh ini .
Tuhan meremukkan kepala mereka, mengacaukan siasat
mereka, sehingga saat mereka semakin menindas Israel,
bangsa Israel justru semakin berlipat ganda. Tuhan meng-
hancurkan kuasa mereka, sekalipun hebat kuasa itu, me-
remukkan negeri mereka dengan sepuluh tulah, dan akhir-
nya menenggelamkan mereka semua di Laut Merah. Itulah
Firaun dengan semua khalayak ramai yang mengikutinya
(Yeh. 31:18). Semua itu yaitu perbuatan Tuhan, tidak ada
seorang pun yang dapat melakukannya. Dia melakukan
semuanya dengan tangan yang kuat dan lengan yang ter-
acung. Kemenangan ini melambangkan kemenangan Kris-
tus atas Ib