mazmur 51-100 12


 mpuh melawan ketidakpercayaan terha-

dap janji dan kebaikan-Nya. Sebab Ia Tuhan   dan tidak berubah. 

Jika Ia memulai, maka Ia akan menuntaskan pekerjaan-Nya dan 

meletakkan batu yang paling atas.   

Ada dua hal, pada umumnya, yang membuatnya sangat puas: 

I.   Bahwa jalan Tuhan   yaitu  kudus (ay. 14). Jalan-Nya ada dalam 

kekudusan, begitu menurut sebagian orang. jika  kita tidak 

bisa memecahkan kesulitan-kesulitan tertentu yang mungkin tim-

bul akibat kita tidak bisa menafsirkan tindakan pemeliharaan 

ilahi dengan baik, maka baiklah kita merasa yakin saja bahwa 

Tuhan   itu kudus dalam segala perbuatan-Nya, bahwa semua per-

buatan-Nya itu layak dikerjakan-Nya dan sesuai dengan kemurni-

an serta kelurusan sifat-Nya yang kekal. Dia mempunyai tujuan-

tujuan yang kudus dalam segala sesuatu yang diperbuat-Nya, dan 

semua itu akan dikuduskan dalam setiap pemeliharaan-Nya yang 

sudah ditentukan. Jalan-Nya sesuai dengan janji-Nya, yang telah 

diucapkan-Nya dalam kekudusan-Nya dan yang telah dinyatakan-

Nya di tempat kudus-Nya. Apa yang telah diperbuat-Nya sesuai 

dengan apa yang telah dikatakan-Nya, dan dapat ditafsirkan se-

cara sama. Dan dari apa yang telah dikatakan-Nya, kita dengan 


 1110

mudah dapat menyimpulkan bahwa Ia tidak akan menolak umat-

Nya untuk selamanya. Jalan Tuhan   dibuat demi tempat kudus, dan 

demi keuntungannya. Semua yang diperbuat-Nya dimaksudkan 

demi kebaikan jemaat-Nya.  

II.  Bahwa jalan Tuhan   melalui laut. Walaupun Tuhan   itu kudus, adil, 

dan baik dalam segala sesuatu yang diperbuat-Nya, namun kita 

tidak dapat memberi  penjelasan tentang alasan-alasan Dia 

bekerja, atau membuat penilaian yang pasti terhadap rancangan-

rancangan-Nya: Lorong-Mu melalui muka air yang luas, namun  

jejak-Mu tidak kelihatan (ay. 20). Jalan-jalan Tuhan   itu seperti 

samudra raya yang dalam yang tidak bisa diselami (36:7), seperti 

jalan kapal di tengah laut, yang tidak dapat dilacak (Ams. 30:18-

19). Cara-cara kerja Tuhan   harus selalu diterima saja, namun  tidak 

bisa selalu dijelaskan. Sang pemazmur memandang beberapa hal 

tertentu, dan untuk itu ia menengok jauh ke belakang ke permu-

laan jemaat Yahudi, yang darinya ia menyimpulkan,  

1.  Bahwa tidak ada ilah lain yang sebanding dengan Tuhan   Israel 

(ay. 14): Tuhan   manakah yang begitu besar seperti Tuhan   kami? 

Marilah pertama-tama kita memberi  kemuliaan kepada 

Tuhan   atas perkara-perkara besar yang telah diperbuat-Nya 

bagi umat-Nya, dan mengakui bahwa dalam hal itu Dia besar 

tiada banding. Dengan demikian kita sendiri bisa merasakan 

penghiburan dari apa yang telah diperbuat-Nya, dan mendo-

rong diri kita sendiri dengan hal itu.  

2.  Bahwa Dialah Tuhan   yang mahakuasa (ay. 15): “Engkaulah 

Tuhan   yang melakukan sendiri keajaiban, yang mengatasi ke-

kuatan makhluk mana pun. Engkau telah menyatakan, secara 

kasat mata, dan tanpa bisa dibantah, kuasa-Mu di antara 

bangsa-bangsa.” Apa yang telah diperbuat Tuhan   bagi jemaat-

Nya merupakan penyataan umum akan kemahakuasaan-Nya, 

sebab dalam hal itu Ia dengan jelas telah menunjukkan 

lengan-Nya yang kekal. 

(1) Tuhan   membawa Israel keluar dari Mesir (ay. 16). Ini meru-

pakan permulaan belas kasihan terhadap mereka, dan 

harus diperingati setiap tahun di antara mereka pada pera-

yaan Paskah: “Dengan lengan-Mu, yang terentang dalam 

begitu banyaknya mujizat, Engkau telah menebus umat-Mu 

Kitab Mazmur 77:12-21 

 1111 

dari tangan orang-orang Mesir.” Walaupun mereka dibebas-

kan dengan kuasa, namun mereka dikatakan ditebus, se-

olah-olah itu dilakukan melalui pembayaran,  sebab  peris-

tiwa itu merupakan pelambang dari penebusan agung, yang 

akan dikerjakan, dalam kegenapan waktu, baik dengan har-

ga maupun kuasa. Orang-orang yang ditebus di sini disebut 

bukan hanya sebagai bani Yakub, yang untuk mereka janji 

ini dibuat, melainkan juga bani Yusuf, yang dengan paling 

teguh dan bersemangat percaya akan penggenapan janji itu. 

Sebab, saat  Yusuf menjelang ajal, ia menyebutkan tentang 

kepergian bani Israel dari Mesir, dan memberi mereka perin-

tah untuk membawa serta tulang-tulangnya.  

(2) Ia membelah Laut Teberau di hadapan mereka (ay. 17): Air 

memberi jalan, dan sebuah lorong pun segera terbentuk 

bagi rombongan itu, seolah-olah mereka melihat Tuhan   

sendiri sebagai kepala pasukan Israel, dan mundur  sebab  

takut pada-Nya. Bukan hanya permukaan air namun  juga 

bahkan samudera raya gemetar, dan melebar ke kanan dan 

ke kiri, dalam kepatuhan terhadap perintah-Nya.  

(3) Ia membinasakan orang-orang Mesir (ay. 18): Awan-awan 

mencurahkan air ke atas mereka, sementara tiang api, se-

perti payung yang menaungi kemah Israel, melindunginya 

dari hujan, yang di dalamnya, seperti dalam air bah, air di 

atas langit bersatu padu dengan air di bawahnya untuk 

memusnahkan kaum pemberontak. Lalu awan-gemawan 

bergemuruh, bahkan anak-anak panah-Mu beterbangan, 

yang dijelaskan dalam ayat 19: Deru guntur-Mu menggelin-

ding (itulah gemuruh yang terdengar dari awan-gemawan). 

Kilat-kilat menerangi dunia – itulah anak-anak panah yang 

beterbangan, yang dengannya pasukan Mesir dipukul mun-

dur, dengan kengerian yang begitu besar sampai-sampai 

bumi di sekitar laut itu gemetar dan bergoncang. Demi-

kianlah jalan Tuhan   melalui laut, untuk menghancurkan 

musuh-musuh-Nya, dan pada saat yang sama untuk me-

nyelamatkan umat-Nya. Namun saat  air kembali ke tem-

patnya, jejak-Nya tidak kelihatan (ay. 20). Tidak ada satu 

tanda pun yang tertinggal di tempat itu, seperti yang ada 

sesudahnya di Yordan (Yos. 4:9). Dalam kisah umat Israel 

yang menyeberangi Laut Teberau, kita tidak membaca ada-


 1112

nya guntur dan kilat, dan gempa bumi. namun , itu mungkin 

saja ada, dan Yosefus [sejarawan Yahudi – pen.] berkata 

memang ada penampakan-penampakan kengerian ilahi 

seperti itu pada peristiwa itu. Namun mungkin ini merujuk 

pada guntur, kilat, dan gempa bumi yang terjadi di Gunung 

Sinai saat  hukum Taurat diberikan.  

(4) Ia membawa umat-Nya Israel di bawah bimbingan dan per-

lindungan-Nya sendiri (ay. 21): Engkau telah menuntun 

umat-Mu seperti kawanan domba.  sebab  mereka lemah 

dan tidak berdaya, dan mudah berkeliaran seperti kawanan 

domba, dan rentan terhadap binatang-binatang liar, maka 

Tuhan   pergi mendahului mereka dengan segala perhatian 

dan kelembutan seorang gembala, agar mereka tidak terse-

sat. Tiang awan dan api menuntun mereka. Namun hal itu 

tidak disebutkan dalam mazmur di sini, kecuali pengan-

taraan Musa dan Harun, yang melalui tangan mereka Tuhan   

menuntun umat Israel. Mereka tidak dapat melakukannya 

tanpa Tuhan  , namun  Tuhan   melakukannya dengan dan mela-

lui mereka. Musa yaitu  pemimpin mereka, Harun yaitu  

imam besar mereka. Kedua orang ini yaitu  para pembim-

bing, penilik, dan pemimpin Israel, dan melalui merekalah 

Tuhan   menuntun umat Israel. Jika dua ketetapan agung, 

yaitu penghakiman dan pelayanan, dijalankan dengan be-

nar dan baik, maka, walaupun bukan merupakan mujizat 

yang begitu besar, kedua hal ini bisa menjadi belas kasihan 

yang sama besarnya bagi umat mana pun seperti tiang 

awan dan api bagi umat Israel di padang gurun.      

Mazmur ini berakhir secara tiba-tiba, dan tidak menerapkan con-

toh-contoh kuasa Tuhan   pada zaman dulu terhadap kesusahan-

kesusahan jemaat pada saat ini, seperti yang mungkin diharapkan 

orang. namun  segera sesudah  orang baik ini mulai merenungkan per-

kara-perkara ini, ia mendapati bahwa ia sudah mencapai tujuanya. 

Begitu ia menggeluti perkara ini, segeralah hal ini  memberinya 

terang dan sukacita (119:130). Ketakutan-ketakutannya lenyap se-

cara tiba-tiba dan mengherankan, sehingga ia tidak perlu lagi melan-

jutkan mazmur ini. Lalu keluarlah ia, dan mau makan, dan mukanya 

tidak muram lagi, seperti Hana (1Sam. 1:18).  

PASAL 78  

azmur ini bercerita tentang sejarah. Di sini dikisahkan menge-

nai kasih setia Tuhan   yang besar yang telah dikaruniakan-Nya 

kepada Israel, sehubungan dengan dosa-dosa besar mereka yang 

telah membangkitkan amarah-Nya. Juga diceritakan mengenai ban-

yak pertanda murka-Nya yang sudah menimpa mereka atas dosa-

dosa mereka. Dalam mazmur sebelumnya, si pemazmur memulai 

dengan menceritakan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dikerja-

kan Tuhan   di masa lampau, untuk mendorong dirinya sendiri dalam 

masa kesusahan. Dalam mazmur itu ia berhenti secara tiba-tiba, 

namun  dalam mazmur ini ia meneruskan kembali pokok bahasan itu, 

untuk membangun jemaat, dan menguraikannya secara panjang 

lebar. Dengan cara ini ia tidak saja menunjukkan betapa baiknya 

Tuhan   selama ini kepada mereka, yang merupakan suatu pertanda 

akan kasih setia-Nya yang tiada berkesudahan, namun  juga mau 

memperlihatkan betapa rendahnya mereka sudah berlaku terhadap 

Tuhan  . Ia menegur dan meluruskan perbuatan mereka itu dan mela-

rang mereka untuk berkeluh kesah. Di sini didapati, 

I.  Pendahuluan dari sejarah jemaat ini, untuk meminta angkat-

an sekarang memperhatikannya dan mengajak angkatan-

angkatan berikut untuk mempelajarinya (ay. 1-8).  

II. Sejarah itu sendiri dari Musa sampai Daud. Sejarah ini dima-

sukkan ke dalam mazmur atau nyanyian supaya dapat di-

ingat dan diteruskan kepada angkatan selanjutnya secara le-

bih baik. Juga, supaya dengan menyanyikannya hati mereka 

akan lebih tergerak oleh hal-hal yang disampaikan di sini 

dibandingkan  jika hanya dengan diceritakan saja. Tujuan umum 

dari mazmur ini ada dalam ayat 9-11, yang secara khusus 

membahas teguran-teguran yang tengah mereka terima (ay. 


 1114

9), dosa yang membawa mereka ke dalam teguran-teguran itu 

(ay. 10), dan segala kasih setia Tuhan   kepada mereka pada za-

man dulu, yang semakin memperberat dosa mereka itu (ay. 

11). Mengenai hal-hal yang khusus, di sini disebutkan,  

1.  Apa perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dikerjakan Tuhan   

bagi mereka dalam membawa mereka keluar dari Mesir (ay. 

12-16), dengan menyediakan keperluan mereka di padang 

gurun (ay. 23-29), mengirimkan tulah dan menghancur-

kan musuh-musuh mereka (ay. 43-53), dan pada akhir-

nya menjadikan mereka pemilik tanah perjanjian (ay. 54-

55).  

2.  Betapa tidak bersyukurnya mereka kepada Tuhan   atas ke-

baikan-kebaikan-Nya terhadap mereka, dan betapa ba-

nyak serta besarnya kesalahan-kesalahan mereka yang 

membangkitkan amarah-Nya. Bagaimana mereka bersu-

ngut-sungut kepada Tuhan   dan tidak mempercayai-Nya 

(ay. 17-20), dan hanya berpura-pura bertobat dan berse-

rah diri saat  Dia menghukum mereka (ay. 34-37). Se-

mua ini begitu menyusahkan hati-Nya dan mencobai-Nya 

(ay. 40-42). Bagaimana mereka menentang Tuhan   dengan 

berhala-berhala mereka sesudah  sampai di Kanaan (ay. 56-

58).  

3.  Bagaimana Tuhan   dengan adil telah menghukum mereka 

atas dosa-dosa mereka (ay. 21-22) di padang gurun, de-

ngan membuat dosa mereka sebagai penghukuman mere-

ka (ay. 29-33), dan juga pada saat ini, pada waktu bela-

kangan ini, saat  tabut perjanjian direbut oleh orang-

orang Filistin (ay. 59-64).  

4.  Betapa Tuhan   dengan penuh rahmat telah menyayangi me-

reka dan kembali kepada mereka dengan belas kasihan-

Nya, kendati dengan perbuatan-perbuatan mereka yang 

membangkitkan amarah-Nya. Ia sudah mengampuni me-

reka sebelumnya (ay. 38-39), dan pada akhirnya Ia telah 

mencabut penghakiman-penghakiman yang telah mereka 

timpakan ke atas diri mereka sendiri, dan menjadikan 

mereka sebagai satu jemaat dan bangsa yang berbahagia 

(ay. 65-72). 

 

Kitab Mazmur 78:1-8 

 1115 

Seperti halnya tujuan umum dari mazmur ini dapat bermanfaat 

bagi kita saat  kita menyanyikannya, untuk mengingat-ingat apa 

yang telah diperbuat Tuhan   bagi kita dan bagi jemaat-Nya pada masa 

lampau, dan apa yang telah kita perbuat melawan-Nya, demikian 

pula kejadian-kejadian khusus di dalamnya dapat bermanfaat bagi 

kita, untuk memperingatkan kita terhadap dosa-dosa ketidakperca-

yaan dan rasa tidak bersyukur, yang seperti kita semua tahu sudah 

diperbuat oleh umat Israel pada zaman dulu, dan yang catatannya di-

pelihara sebagai pelajaran bagi kita. “Semuanya ini telah menimpa 

mereka sebagai contoh” (1Kor. 10:11; Ibr. 4:11).   

Pentingnya Pengajaran Agama 

(78:1-8) 

1 Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai 

bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. 2 Aku mau 

membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari 

zaman purbakala. 3 Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang dice-

ritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, 4 kami tidak hendak sembu-

nyikan kepada anak-anak mereka, namun  kami akan ceritakan kepada ang-

katan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan 

perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. 5 Telah ditetapkan-Nya 

peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang 

kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mere-

ka, 6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang 

akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, 7 

supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Tuhan   dan tidak melupakan 

perbuatan-perbuatan Tuhan  , namun  memegang perintah-perintah-Nya; 8 dan 

jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberon-

tak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Tuhan  .  

Ayat-ayat di atas, yang merupakan pendahuluan terhadap sejarah 

ini, menunjukkan bahwa isi mazmur itu sesuai dengan judulnya, 

yakni bahwa ini memang Maschil, sebuah nyanyian pengajaran. Jika 

kita tidak menerima pengajaran yang diberikannya, itu salah kita 

sendiri.  

Di sini:  

I.  Sang pemazmur menuntut perhatian terhadap apa yang ditulis-

nya (ay. 1): “Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku.” 

Sebagian orang memandang ini sebagai perkataan sang pemaz-

mur. Daud, sebagai raja, atau Asaf, atas nama Daud, sebagai 

sekretaris negara, atau orang yang mencatat nyanyian penyanyi 


 1116

Israel yang merdu, di sini berseru kepada semua orang banyak, 

yang yaitu  rakyat yang telah dipercayakan kepada sang raja, 

agar mereka memasang telinga untuk pengajarannya (KJV: pa-

sanglah telinga untuk hukumku – pen.). Ia menyebut pengajaran-

nya sebagai hukum atau maklumatnya, yang dengan sendirinya 

mengandung kuasa untuk memerintah. Setiap kebenaran yang 

baik, bila diterima dengan pikiran terang dan rasa cinta, akan 

mempunyai kuasa sebagai sebuah hukum terhadap hati nurani. 

Namun ini belum seberapa: Daud yaitu  seorang raja, dan dia 

hendak menggunakan kuasanya sebagai raja untuk membangun 

bangsanya. Jika Tuhan  , dengan anugerah-Nya, membuat orang 

besar menjadi orang baik, maka mereka akan mampu berbuat 

baik melebihi orang lain,  sebab  perkataan mereka akan menjadi 

hukum bagi semua orang di sekeliling mereka.  sebab  itu semua 

orang harus memasang telinga dan mendengarkan. Sebab, untuk 

apakah pewahyuan ilahi diperdengarkan ke telinga kita jika kita 

tidak mau menyendengkan telinga kepadanya, baik untuk meren-

dahkan hati kita sendiri maupun untuk mengajak diri kita agar 

mendengarkan dan mencamkannya? Atau sang pemazmur, seba-

gai seorang nabi, berkata-kata sebagai juru bicara Tuhan  , dan 

dengan demikian menyebut mereka bangsanya, dan menuntut 

ketaatan pada apa yang dikatakan seperti kepada hukum. Siapa 

bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh 

kepada jemaat-jemaat (Why. 2:7).  

II.  Beberapa alasan diberikan mengapa kita harus tekun menyimak 

apa yang disampaikan di sini.  

1. Hal-hal yang dibicarakan di sini sangat berbobot, dan patut 

dipertimbangkan, ajaib, dan perlu (ay. 2): Aku mau membuka 

mulut mengatakan amsal, mengatakan apa yang luhur dan 

luar biasa, namun yang sangat baik dan sangat pantas untuk 

engkau perhatikan. Aku mau mengucapkan teka-teki, yang 

menantang engkau untuk berpikir dengan sangat sungguh-

sungguh, sama seperti teka-teki yang dulu lazim dipakai di 

antara para penguasa dan kaum cerdik pandai dari timur 

untuk menguji satu sama lain. Perkataan ini disebut teka-teki 

bukan  sebab  sukar dimengerti melainkan  sebab  harus sa-

ngat dikagumi dan diselidiki dengan hati-hati. Hal ini dikata-

kan digenapi dalam perumpamaan-perumpamaan yang disam-

Kitab Mazmur 78:1-8 

 1117 

paikan oleh Juruselamat kita (Mat. 13:35), yang merupakan 

(sama seperti perkataan ini) gambaran dari kedudukan keraja-

an Tuhan   di tengah-tengah manusia.  

2.  Perkataan ini yaitu  karya besar dari zaman kuno – teka-teki 

dari zaman purbakala yang diceritakan kepada kami oleh 

nenek moyang kami (ay. 3). Perkataan ini yaitu  hal-hal yang 

kepastiannya tidak diragukan lagi. Kita telah mendengar dan 

mengetahuinya, dan tidak tersisa tempat bagi kita untuk 

mempertanyakan kebenarannya. Injil Lukas disebut sebagai 

suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di 

antara kita (Luk. 1:1; KJV: pernyataan tentang hal-hal yang sa-

ngat kita percaya dengan pasti di antara kita – pen.), demikian 

pula dengan hal-hal yang disampaikan di sini.  sebab  kita 

harus menunjukkan rasa hormat kita kepada orangtua dan 

nenek moyang kita, maka kita wajib menyimak apa yang mere-

ka telah sampaikan kepada kita. Dan, bila semua yang mereka 

sampaikan itu terbukti benar dan baik, maka patutlah kita 

untuk menerimanya dengan lebih hormat dan penuh perhati-

an lagi. 

3.  Perkataan ini harus diteruskan kepada angkatan selanjutnya, 

dan menjadi tanggung jawab kita untuk meneruskannya de-

ngan hati-hati kepada angkatan sesudah kita (ay. 4).  sebab  

nenek moyang kita menceritakannya kepada kita, maka per-

kataan itu tidak hendak kita sembunyikan kepada anak-anak 

mereka. Anak-anak kita disebut anak-anak mereka, sebab me-

reka peduli terhadap anak-anak dari keturunan mereka, dan 

memandangnya sebagai keturunan mereka sendiri. Dengan 

mengajarkan pengetahuan tentang Tuhan   terhadap anak-anak 

kita, maka kita membalas sebagian utang budi kita terhadap 

orangtua kita yang telah mengajar kita. Bahkan, jika kita tidak 

mempunyai anak sendiri, kita harus menyatakan perkara-

perkara tentang Tuhan   kepada anak-anak mereka, anak-anak 

orang lain. Kita harus peduli terhadap keturunan umat manu-

sia secara umum, dan bukan hanya terhadap keturunan kita 

sendiri. Juga terhadap keturunan yang akan datang sesudah  

ini, anak-anak yang akan lahir, serta juga angkatan yang akan 

bangkit sesudah nya, beserta anak-anak mereka nanti. Apa yang 

harus kita teruskan kepada anak-anak kita bukan hanya pe-

ngetahuan tentang bahasa, seni, dan ilmu pengetahuan, kebe-


 1118

basan dan hak milik, namun  terutama juga puji-pujian kepada 

Tuhan dan kekuatan-Nya yang tampak dalam perbuatan-per-

buatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. Kepedulian kita yang 

besar haruslah menyimpan agama kita, simpanan yang ber-

harga itu, dengan murni dan utuh di dalam tangan generasi 

penerus kita. Ada dua hal yang harus diketahui dengan utuh 

dan jelas, dan keduanya harus kita pelihara dan teruskan ke-

pada keturunan kita:  

(1)  Hukum Tuhan  . Sebab, hukum ini diberikan dengan perintah 

khusus untuk diajarkan dengan tekun kepada anak-anak 

mereka (ay. 5): Telah ditetapkan-Nya peringatan atau kove-

nan, dan telah ditegakkan-Nya hukum, di Yakub dan di 

Israel, diberikan-Nya kepada mereka ajaran-ajaran dan jan-

ji-janji, yang diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya 

kepada anak-anak mereka (Ul. 6:7, 20). Jemaat Tuhan  , se-

perti yang dikatakan seorang ahli sejarah tentang negara 

persemakmuran Romawi, tidak dimaksudkan sebagai res 

unius ætatis – satu hal untuk satu angkatan, namun  harus 

dipelihara dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. 

Oleh sebab itu, sama seperti Tuhan   menyediakan pergantian 

imam-imam dalam suku Lewi dan keluarga Harun, demi-

kian pula Ia menetapkan bahwa orangtua harus mendidik 

anak-anak mereka untuk mengenal hukum-Nya, dan, apa-

bila mereka sudah besar, mereka harus bangkit dan men-

ceritakannya kepada anak-anak mereka (ay. 7), supaya, 

jika  satu angkatan hamba-hamba dan penyembah-pe-

nyembah Tuhan   berlalu, angkatan yang lain akan bangkit, 

dan jemaat, seperti bumi, akan tetap untuk selama-lama-

nya. Dengan demikian nama Tuhan   di tengah-tengah manu-

sia bisa langgeng seperti hari-hari di sorga. 

(2) Pemeliharaan-pemeliharaan Tuhan   terhadap mereka, baik 

berupa belas kasihan maupun penghakiman. Pemelihara-

an-Nya berupa belas kasihan tampaknya disebutkan untuk 

hal ini:  sebab  Tuhan   memberi  perintah agar hukum-hu-

kum-Nya dinyatakan kepada keturunan yang akan datang, 

maka sudah barang tentu bahwa bersamaan dengan hu-

kum-hukum itu, perbuatan-perbuatan-Nya juga harus di-

beritahukan kepada mereka, yaitu penggenapan janji-janji 

yang dibuat bagi mereka yang taat dan ancaman-ancaman 

Kitab Mazmur 78:1-8 

 1119 

yang ditujukan melawan mereka yang tidak taat. Kiranya 

ini diceritakan kepada anak-anak kita dan anak-anak dari 

anak-anak kita.  

[1] Agar mereka dapat terdorong untuk menuruti kehendak 

Tuhan   (ay. 7): supaya, dengan tidak melupakan perbuat-

an-perbuatan Tuhan   yang dilakukan pada masa lampau, 

mereka dapat menaruh kepercayaan kepada Tuhan   dan 

memegang perintah-perintah-Nya, dapat menjadikan 

perintah-Nya sebagai pedoman hidup mereka dan kove-

nan-Nya sebagai pegangan mereka. Hanya orang-orang 

yang menjalankan perintah-perintah Tuhan   dengan pe-

nuh kesadaran hati nurani yang dapat mengharapkan 

dengan yakin keselamatan dari-Nya. Perbuatan-per-

buatan Tuhan  , jika dipertimbangkan dengan benar, akan 

sangat membulatkan tekad kita untuk menaruh keper-

cayaan kepada-Nya maupun untuk memegang perintah-

perintah-Nya, sebab Dia mampu untuk menopang kita 

di dalam keduanya.  

[2] Agar mereka memperhatikan peringatan untuk tidak 

meniru contoh nenek moyang mereka (ay. 8): Agar mere-

ka jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pen-

durhaka dan pemberontak. Lihatlah di sini, pertama, 

bagaimana sifat nenek moyang mereka. Meskipun mere-

ka keturunan Abraham, yang mengikat kovenan dengan 

Tuhan  , dan, sejauh yang kita ketahui, satu-satunya umat 

yang dimiliki-Nya pada saat itu yang mengaku percaya 

kepada-Nya, namun mereka durhaka dan memberon-

tak, dan berjalan menentang Tuhan  , ke arah yang lang-

sung berlawanan dengan kehendak-Nya. Mereka sung-

guh mengaku memiliki hubungan dengan-Nya, namun  

hati mereka tidak tetap. Hubungan mereka dengan 

Tuhan   tidaklah hangat, dan juga mereka tidak menyatu 

dengan-Nya di dalam batin saat  menyembah-Nya, dan 

oleh sebab itu jiwa mereka tidak setia kepada-Nya, ma-

lah pada setiap kesempatan mereka lari dibandingkan -Nya. 

Perhatikanlah, kemunafikan yaitu  jalan termudah me-

nuju kemurtadan. Orang-orang yang tidak tetap hatinya 

pasti tidak akan teguh bersama Tuhan  , mereka terom-

bang-ambing dan goyang. Kedua, apa yang diperintah-


 1120

kan kepada anak-anak mereka: Agar mereka jangan 

seperti nenek moyang mereka. Perhatikanlah, orang-

orang yang berasal dari keturunan nenek moyang yang 

fasik dan tidak saleh, kalau saja mereka mau memper-

timbangkan firman dan perbuatan-perbuatan Tuhan  , 

akan melihat cukup banyak alasan untuk tidak meng-

ikuti jejak nenek moyang mereka itu. Omong kosonglah 

untuk berdalih bahwa kita melakukan perbuatan jahat 

 sebab  kita mewarisinya dari nenek moyang kita (1Ptr. 

1:18). Sebab, apa yang jahat dari mereka yang kita 

ketahui haruslah dijadikan sebagai peringatan bagi kita, 

agar kita takut pada apa yang begitu merusak mereka. 

Kita harus takut dengan jalan-jalan yang telah mereka 

ambil itu yang telah menghancurkan kebahagiaan atau 

harta milik mereka.    

Keajaiban-keajaiban yang Diperbuat demi Israel;  

Kejahatan Orang-orang Israel; Penghakiman-penghakiman 

yang Ditimpakan kepada Orang-orang Israel  

(78:9-39) 

9 Bani Efraim, pemanah-pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada 

hari pertempuran; 10 mereka tidak berpegang pada perjanjian Tuhan   dan eng-

gan hidup menurut Taurat-Nya. 11 Mereka melupakan pekerjaan-pekerjaan-

Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib, yang telah diperlihatkan-Nya 

kepada mereka. 12 Di hadapan nenek moyang mereka dilakukan-Nya keajaib-

an-keajaiban, di tanah Mesir, di padang Zoan; 13 dibelah-Nya laut, disebe-

rangkan-Nya mereka; didirikan-Nya air sebagai bendungan, 14 dituntun-Nya 

mereka dengan awan pada waktu siang, dan semalam suntuk dengan terang 

api; 15 dibelah-Nya gunung batu di padang gurun, diberi-Nya mereka minum 

banyak air seperti dari samudera raya; 16 dibuat-Nya aliran air keluar dari 

bukit batu, dan dibuat-Nya air turun seperti sungai. 17 namun  mereka terus 

berbuat dosa terhadap Dia, dengan memberontak terhadap Yang Mahatinggi 

di padang kering. 18 Mereka mencobai Tuhan   dalam hati mereka dengan me-

minta makanan menuruti nafsu mereka. 19 Mereka berkata terhadap Tuhan  : 

“Sanggupkah Tuhan   menyajikan hidangan di padang gurun? 20 Memang, Ia 

memukul gunung batu, sehingga terpancar air dan membanjir sungai-su-

ngai; namun  sanggupkah Ia memberi  roti juga, atau menyediakan daging 

bagi umat-Nya?” 21 Sebab itu, saat  mendengar hal itu, TUHAN gemas, api 

menyala menimpa Yakub, bahkan murka bergejolak menimpa Israel, 22 sebab 

mereka tidak percaya kepada Tuhan  , dan tidak yakin akan keselamatan dari 

pada-Nya. 23 Maka Ia memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-

pintu langit, 24 menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, 

dan memberi  kepada mereka gandum dari langit; 25 setiap orang telah 

makan roti malaikat, Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-

limpah. 26 Ia telah menghembuskan angin timur di langit dan menggiring 

Kitab Mazmur 78:9-39 

 1121 

angin selatan dengan kekuatan-Nya; 27 Ia menurunkan kepada mereka hujan 

daging seperti debu banyaknya, dan hujan burung-burung bersayap seperti 

pasir laut; 28 Ia menjatuhkannya ke tengah perkemahan mereka, sekeliling 

tempat kediaman itu. 29 Mereka makan dan menjadi sangat kenyang; Ia 

memberi  kepada mereka apa yang mereka inginkan. 30 Mereka belum 

merasa puas, sedang makanan masih ada di mulut mereka; 31 maka bangkit-

lah murka Tuhan   terhadap mereka: Ia membunuh gembong-gembong mereka, 

dan menewaskan teruna-teruna Israel. 32 Sekalipun demikian mereka masih 

saja berbuat dosa dan tidak percaya kepada perbuatan-perbuatan-Nya yang 

ajaib. 33 Sebab itu Ia membuat hari-hari mereka habis dalam kesia-siaan, 

dan tahun-tahun mereka dalam kekejutan. 34 jika  Ia membunuh mereka, 

maka mereka mencari Dia, mereka berbalik dan mengingini Tuhan  ; 35 mereka 

teringat bahwa Tuhan   yaitu  gunung batu mereka, dan bahwa Tuhan   Yang 

Mahatinggi yaitu  Penebus mereka. 36 namun  mereka memperdaya Dia de-

ngan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia. 37 Hati 

mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya. 38 

namun  Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak 

memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak mem-

bangkitkan segenap amarah-Nya. 39 Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin 

yang berlalu, yang tidak akan kembali. 

Dalam perikop di atas, 

I.  Sang pemazmur mengamati teguran-teguran Pemeliharaan ilahi 

yang belakangan ini ditujukan kepada umat Israel, yang menimpa 

mereka  sebab  kesalahan mereka sendiri dengan berbuat khianat 

terhadap Tuhan   (ay. 9-11). Bani Efraim, yang darinya Silo berasal, 

meskipun bersenjata lengkap dan menembak dengan anak-anak 

panah, berbalik pada hari pertempuran. Ini tampak merujuk pada 

kekalahan mereka yang memalukan oleh orang-orang Filistin 

pada masa imam Eli, saat  orang-orang itu merampas tabut 

Tuhan   (1Sam. 4:10-11). Tentang inilah sang pemazmur di sini mu-

lai berbicara, dan, sesudah  lama berputar-putar, kembali lagi kepa-

da hal ini  (ay. 61). Dapat dimengerti bila peristiwa itu masih 

sedemikian segar dalam ingatan orang pada masa Daud, meski-

pun sudah lebih dari empat puluh tahun berlalu. Tabut itu sem-

pat dirampas oleh orang-orang Filistin dalam pertempuran yang 

tak terlupakan, meskipun pada akhirnya dikembalikan oleh mere-

ka. Namun peristiwa itu tetap membekas  sebab  tabut itu tidak 

pernah dirampas kembali dari penawanannya sampai Daud meng-

angkutnya dari Kiryat-Yearim ke kotanya sendiri.  

Lihatlah  :  

1.  Kepengecutan bani Efraim yang memalukan, suku yang gemar 

berperang itu, yang begitu tersohor  sebab  pahlawan-pahla-

wannya yang gagah berani, suku Yosua. Anak-anak suku itu, 


 1122

meskipun tetap bersenjata lengkap seperti sebelum-sebelum-

nya, berpaling saat  menghadapi musuh. Perhatikanlah, sen-

jata perang hanya memberi  sedikit keuntungan bila tanpa 

semangat juang, dan semangat itu lenyap jika Tuhan   lenyap. 

Dosa mematahkan semangat orang dan merampas hati.  

2.  Penyebab-penyebab kepengecutan mereka, yang tidak kalah 

memalukannya, yaitu,  

(1) Pelanggaran yang memalukan terhadap hukum Tuhan   dan 

terhadap kovenan mereka dengan-Nya (ay. 10). Dengan 

cara rendah mereka telah berkhianat dan tidak setia, sebab 

mereka tidak berpegang pada perjanjian Tuhan  . Mereka dur-

haka dan memberontak (seperti yang digambarkan tentang 

mereka dalam ayat 8), sebab dengan congkak mereka me-

nolak untuk berjalan di dalam hukum-Nya, dan dengan 

demikian, mengatakannya langsung di hadapan-Nya bahwa 

mereka tidak mau diatur oleh-Nya. 

(2) Rasa tidak bersyukur yang memalukan terhadap Tuhan   atas 

segala kebaikan yang telah dikaruniakan-Nya kepada me-

reka: Mereka melupakan pekerjaan-pekerjaan-Nya dan per-

buatan-perbuatan-Nya yang ajaib, perbuatan-perbuatan-

Nya yang ajaib yang seharusnya mereka kagumi (ay. 11). 

Perhatikanlah, sikap kita yang lupa akan perbuatan-per-

buatan Tuhan   merupakan dasar dari ketidaktaatan kita ter-

hadap hukum-hukum-Nya.   

II. Sang pemazmur mengambil kesempatan dari sini untuk melihat 

contoh-contoh yang sudah ada dan membandingkannya dengan 

keadaan nenek moyang mereka, yang juga tidak ingat akan kasih 

setia Tuhan   kepada mereka dan tidak bersyukur kepada Penyokong 

dan Penyedia mereka yang agung, dan yang oleh sebab itu mereka 

sering kali mendapatkan murka-Nya. Cerita dalam perikop ini 

sungguh menakjubkan, sebab cerita itu menyampaikan semacam 

pergumulan antara kebaikan Tuhan   dan keburukan manusia, dan 

kasih setia pada akhirnya bersorak berkemenangan atas peng-

hakiman.    

1. Tuhan   melakukan perkara-perkara besar bagi umat-Nya Israel 

saat  Ia pertama kali mempersatukan mereka dan memben-

tuk mereka menjadi sebuah umat: Di hadapan nenek moyang 

Kitab Mazmur 78:9-39 

 1123 

mereka dilakukan-Nya keajaiban-keajaiban, dan bukan hanya 

di hadapan mereka, melainkan juga demi kepentingan mereka, 

dan demi keuntungan mereka, dengan begitu ajaib, begitu baik, 

sehingga orang akan menyangka bahwa keajaiban-keajaiban itu 

tidak akan pernah mereka lupakan. Apa yang dilakukan-Nya 

bagi mereka di tanah Mesir hanya disebutkan di sini (ay. 12), 

namun  sesudah itu diteruskan lagi (ay. 43). Di sini sang pemaz-

mur melanjutkan kembali untuk menunjukkan,  

(1) Bagaimana dibuat-Nya lorong bagi mereka melalui Laut 

Teberau, dan dibesarkan-Nya hati mereka untuk menyebe-

rang, meskipun airnya menudungi kepala mereka seperti 

bendungan (ay. 13). Lihat Yesaya 63:12-13, di mana me-

reka dikatakan dituntun-Nya dengan tangan-Nya, seolah-

olah, melintasi samudera raya supaya mereka tidak pernah 

tersandung.  

(2) Bagaimana Ia menyediakan bimbingan bagi mereka melalui 

jalan-jalan yang tidak pernah dilalui di padang gurun (ay. 

14). Ia menuntun mereka langkah demi langkah, dengan 

awan pada waktu siang, yang juga menaungi mereka dari 

terik panas mentari, dan semalam suntuk dengan terang 

api, yang boleh jadi menghangatkan udara di sekitar mere-

ka. Setidak-tidaknya terang api itu membuat gelapnya ma-

lam tidak begitu menakutkan, dan mungkin menjauhkan 

binatang-binatang buas dari mereka (Za. 2:5).  

(3) Bagaimana Ia melengkapi kemah mereka dengan air segar 

di padang yang kering dan tandus di mana tidak ada air, 

bukan dengan membuka tingkap-tingkap langit (yang mung-

kin akan merupakan suatu cara biasa yang diharapkan), 

namun  dengan membelah gunung batu (ay. 15-16): Dibelah-

Nya gunung batu di padang gurun, yang mengeluarkan air, 

meskipun gunung batu itu tidak dapat menerimanya entah 

dari awan-awan di atas atau dari sumber-sumber mata air 

di bawah. Dari gunung batu yang kering dan keras Ia mem-

beri mereka minum, tidak disaring dari tempat penyu-

lingan, setetes demi setetes, namun  mengalir turun seperti 

sungai, dan memancar seperti dari samudra raya. Tuhan   

memberi dengan berlimpah-limpah, dan kaya akan belas 

kasihan. Ia memberi tepat pada waktunya, dan kadang-

kadang membuat kita merasakan bahwa belas kasihan-Nya 


 1124

kurang supaya kita bisa belajar menghargai belas kasihan-

Nya itu. Air yang diberikan Tuhan   kepada Israel dari batu 

karang ini menjadi lebih berharga lagi  sebab  air itu yaitu  

minuman rohani. Dan batu karang itu ialah Kristus. 

2.  saat  Tuhan   mulai memberkati mereka seperti itu, mereka ma-

lah mulai menentang-Nya (ay. 17): namun  mereka terus berbuat 

dosa terhadap Dia, lebih dibandingkan  yang telah mereka perbuat 

di Mesir, meskipun di sana mereka juga berlaku tidak kalah 

buruknya (Yeh. 20:8). Mereka menanggung kesengsaraan-

kesengsaraan saat berada dalam perbudakan lebih baik dari-

pada menanggung kesulitan-kesulitan saat ada dalam kebe-

basan. Saat dalam perbudakan, mereka tidak pernah bersu-

ngut-sungut kepada tuan mereka seperti yang mereka perbuat 

terhadap Musa dan Harun saat  ada dalam kebebasan. Se-

olah-olah mereka diselamatkan supaya dapat melakukan se-

gala perbuatan yang keji ini (Yer. 7:10). Sama seperti dosa ka-

dang-kadang terjadi  sebab  perintah diberikan, demikian pula 

adakalanya dosa diperbuat  sebab  ada kebebasan diberikan, 

dan ini membuat dosa itu semakin besar. Mereka memberon-

tak terhadap Yang Mahatinggi. Walaupun Dia Yang Maha-

tinggi, dan mereka sendiri tahu bahwa mereka bukanlah la-

wan yang sebanding untuk-Nya, masih saja mereka membang-

kitkan amarah-Nya dan bahkan menantang keadilan-Nya. Dan 

ini mereka lakukan di padang gurun saat mereka harus ber-

gantung sepenuhnya pada belas kasihan-Nya. Padahal demi 

kepentingan mereka sendiri, seharusnya mereka menyenang-

kan Dia. Di padang gurun itu Ia telah menunjukkan kepada 

mereka belas kasihan yang begitu besar, dan oleh sebab itu 

sebagai rasa syukur, seharusnya mereka wajib menyenang-

kan-Nya. Namun, di sana justru mereka berkata dan berbuat 

apa yang mereka tahu akan membangkitkan amarah-Nya: Me-

reka mencobai Tuhan   dalam hati mereka (ay. 18). Dosa mereka 

dimulai di dalam hati, dan dari sana timbullah kejahatannya. 

Selalu mereka sesat hati (Ibr. 3:10). Demikianlah mereka men-

cobai Tuhan  , menguji kesabaran-Nya sehebat-hebatnya, apakah Ia 

bisa tahan menghadapi mereka atau tidak, dan sebagai akibat-

nya, memancing-Nya untuk melakukan hal yang terburuk. Dua 

cara yang mereka lakukan yang membangkitkan amarah-Nya:  

Kitab Mazmur 78:9-39 

 1125 

(1) Dengan menginginkan, atau lebih tepatnya menuntut, apa 

yang belum dianggap-Nya pantas untuk diberikan kepada 

mereka: Mereka meminta makanan menuruti nafsu mereka. 

Tuhan   telah memberi mereka makanan untuk menghilang-

kan rasa lapar mereka, dengan memberi  manna, ma-

kanan yang sehat dan enak, dan yang diberikan dengan 

berlimpah. Ia telah memberi mereka makanan bagi iman 

mereka yang diambil-Nya dari kepala-kepala Lewiatan yang 

diremukkan-Nya (74:14). namun  semua ini pun belum cu-

kup. Mereka harus diberi daging untuk menuruti nafsu me-

reka, aneka masakan lezat untuk memuaskan hawa nafsu 

mereka yang berlebihan. Tidak ada yang lebih membang-

kitkan amarah Tuhan   terhadap kita selain perbantahan ten-

tang bagian yang kita dapat untuk memuaskan keinginan-

keinginan daging.  

(2) Dengan tidak mempercayai kuasa-Nya untuk memberi me-

reka apa yang mereka inginkan. Perbuatan ini sungguh-

sungguh mencobai Tuhan  . Mereka menantang-Nya untuk 

memberi mereka daging. Dan, jika Dia tidak melakukan-

nya, mereka akan berkata bahwa itu  sebab  Dia tidak 

sanggup, bukan  sebab  Ia memandangnya tidak pantas 

bagi mereka (ay. 19): Mereka berkata terhadap Tuhan   (KJV: 

Mereka berkata melawan Tuhan   – pen.). Orang-orang yang 

membatasi kuasa Tuhan   berarti berkata melawan-Nya. Sung-

guh suatu penghinaan yang menyakitkan bagi Tuhan   untuk 

berkata, Sanggupkah Tuhan   menyajikan hidangan di padang 

gurun? Mereka mempunyai manna, namun  mereka berpikir 

mereka belum mendapat hidangan sebelum ada daging 

rebus dan panggang, ada makanan pembuka, makanan 

utama, dan makanan penutup, seperti yang mereka nik-

mati di Mesir, di mana mereka makan daging dan ikan, 

dengan bumbu-bumbunya (Kel. 16:3; Bil. 11:5), senampan 

daging dan sekeranjang buah. Betapa kemewahan merupa-

kan sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak pernah ter-

puaskan! Betapa para pelahap dan peminum ini meman-

dang hidangan sebagai suatu kenikmatan yang begitu be-

sar sampai-sampai mereka berpikir bahwa Tuhan   sendiri 

tidak sanggup menyediakannya bagi mereka di padang 

gurun. Padahal segala binatang hutan, dan segala burung 


 1126

di udara, yaitu  kepunyaan-Nya (50:10-11). Ketidakperca-

yaan mereka akan kuasa Tuhan   semakin diperburuk lagi ka-

rena pada saat yang sama mereka mengakui bahwa Ia telah 

mengerahkan kekuasaan-Nya sekuat mungkin (ay. 20): Me-

mang, Ia memukul gunung batu, sehingga terpancar air, 

yang diminum oleh mereka beserta ternak-ternak mereka. 

Dan manakah yang lebih mudah, menyajikan hidangan di 

padang gurun, yang dapat dilakukan oleh orang kaya, atau 

mengeluarkan air dari gunung batu, yang tidak dapat dila-

kukan oleh penguasa terkuat di bumi sekalipun? Tidak 

pernah ketidakpercayaan, meskipun selalu tidak masuk 

akal, mengajukan pertanyaan yang begitu ganjil: “Sanggup-

kah Ia yang mengeluarkan pancaran air dari gunung batu 

memberi  roti juga? Atau sanggupkah Ia yang sudah 

memberi  roti menyediakan ikan juga?” Adakah sesuatu 

yang terlalu sukar bagi Yang Mahakuasa? jika  suatu 

saat kita melihat kekuatan-kekuatan alam yang biasa be-

kerja dilampaui, maka pada saat itulah Tuhan   telah menun-

jukkan lengan-Nya, dan kita harus mengambil pelajaran 

bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Sekalipun yang 

kita minta yaitu  sesuatu yang begitu besar, wajiblah kita 

untuk menyatakan, Tuhan, jika Tuhan mau, Tuhan dapat.    

3. Sewajarnyalah bila Tuhan   membenci tindakan mereka yang 

membangkitkan amarah-Nya itu dan sangat murka terhadap 

mereka (ay. 21): saat  mendengar hal itu, TUHAN gemas. Per-

hatikanlah, Tuhan   yaitu  saksi atas segala sungut-sungut dan 

ketidakpercayaan kita. Ia mendengarkannya dan sangat tidak 

senang dengannya. Api menyala  sebab  ini menimpa Yakub. 

Kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka (Bil. 11:1). 

Atau hal ini dapat dimengerti sebagai api murka Tuhan   yang 

menyala menimpa Israel. Bagi orang-orang yang tidak percaya, 

Tuhan   kita yaitu  api yang menghanguskan. Orang-orang yang 

tidak mau percaya pada kuasa belas kasihan Tuhan   akan mera-

sakan kuasa amarah-Nya, dan akan dipaksa mengakui bahwa 

sungguh ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan-Nya. Nah, di 

sini kita diberi tahu, 

(1) Mengapa Tuhan   membenci tindakan mereka yang membang-

kitkan amarah-Nya itu (ay. 22): Sebab dengan ini tampak 

Kitab Mazmur 78:9-39 

 1127 

bahwa mereka tidak percaya kepada Tuhan  . Mereka tidak 

menghargai penyataan diri-Nya terhadap mereka, sebab 

mereka tidak berani berserah diri kepada-Nya, atau mem-

pertaruhkan diri kepada-Nya: Mereka tidak yakin akan ke-

selamatan yang telah mulai dikerjakan-Nya bagi mereka. 

Sebab seandainya demikian, mereka tidak akan memper-

tanyakan kelanjutannya seperti itu. Orang tidak bisa dika-

takan percaya kepada keselamatan dari Tuhan   sebagai ke-

bahagiaan mereka pada akhirnya jika mereka tidak mem-

punyai ruang dalam hati mereka untuk percaya kepada 

pemeliharaan-Nya dalam hal makanan yang dibutuhkan di 

dalam jalan menuju ke sana. Apa yang memberatkan ke-

tidakpercayaan mereka yaitu  pengalaman yang sudah 

mereka alami akan kuasa dan kebaikan Tuhan   (ay. 23-25). 

Ia telah memberi mereka bukti-bukti yang tidak dapat di-

sanggah akan kuasa-Nya, bukan hanya di bumi di bawah 

melainkan juga di sorga di atas. Sebab, Ia memerintahkan 

awan-awan dari atas, sebagai yang telah menciptakannya 

dan memerintahkannya untuk ada. Ia memanfaatkannya 

sesuai dengan kehendak-Nya. Biasanya dengan menurun-

kan hujan, awan-awan itu membantu bumi menghasilkan 

gandum. namun  sekarang (saat mereka ada di padang gu-

run itu), saat  Tuhan   memerintahkan, awan-awan itu me-

nurunkan gandum itu sendiri, yang oleh  sebab nya di sini 

disebut sebagai gandum dari langit. Sebab, langit dapat me-

lakukan pekerjaan ini tanpa bumi, namun  bumi tidak dapat 

melakukannya tanpa langit. Tuhan  , yang memegang kunci 

awan-awan, membuka pintu-pintu langit, dan itu lebih dari-

pada sekadar membuka tingkap-tingkap langit, yang dibica-

rakan sebagai berkat berlimpah (Mal. 3:10). Bagi semua 

orang yang dengan iman dan doa meminta, mencari, dan 

mengetok, maka pintu-pintu ini akan dibukakan kapan 

saja. Sebab Tuhan   di sorga itu kaya akan belas kasihan bagi 

semua orang yang berseru kepada-Nya. Dia tidak saja men-

jaga rumah dengan baik, namun  juga membiarkannya tetap 

terbuka. Sudah sewajarnya Tuhan   sakit hati  sebab  mereka 

tidak mempercayai-Nya seperti itu, padahal Dia sudah be-

gitu baik terhadap mereka sampai-sampai menurunkan ke-

pada mereka hujan manna untuk dimakan, makanan yang 


 1128

bergizi, yang diberikan setiap hari, dengan secukupnya, cu-

kup bagi semua orang, dan masing-masing mendapat ba-

giannya. Setiap orang telah makan roti malaikat, makanan 

yang akan dimakan dan disyukuri oleh para malaikat sean-

dainya mereka juga makan. Atau lebih tepatnya makanan 

yang diberikan dengan pelayanan para malaikat, dan (se-

perti yang tertulis dalam Alkitab bahasa Aram) makanan 

yang diturunkan dari tempat kediaman para malaikat. Se-

tiap orang, bahkan anak terkecil di Israel, makan roti yang 

mahabesar (begitu menurut keterangan tambahan). Perut 

yang paling lemah sekalipun dapat mencernanya, dan di 

samping itu begitu bergizinya sehingga bisa juga menjadi 

makanan keras bagi orang dewasa yang kuat. Dan, walau-

pun persediaannya begitu baik, mereka tidak berhemat-he-

mat, dan juga tidak pernah kekurangan persediaan, sebab 

Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-lim-

pah. Jika mereka hanya mengumpulkan sedikit, itu salah 

mereka sendiri. Namun sekalipun demikian mereka tidak 

pernah kekurangan (Kel. 16:18). Persediaan yang diberikan 

Tuhan   kepada kita setiap hari, dan yang telah disediakan-

Nya sejak kita datang ke dunia ini, meskipun bukan meru-

pakan suatu mujizat seperti persediaan ini, mengandung 

belas kasihan yang tidak kalah besarnya.  sebab  itu, 

besarlah dosa ketidakpercayaan kita kepada-Nya. 

(2) Bagaimana Ia mengungkapkan kebencian-Nya terhadap per-

buatan mereka yang membangkitkan amarah-Nya itu, bu-

kan dengan menolak memberi  apa yang mereka inginkan 

dengan nafsu yang berlebihan, melainkan justru dengan 

mengabulkan permintaan mereka. 

[1] Adakah mereka mempertanyakan kuasa-Nya? Ia segera 

memberi mereka keyakinan yang bisa disaksikan dan 

dirasakan oleh indra jasmani bahwa Ia dapat menyaji-

kan hidangan di padang gurun. Walaupun angin tampak 

bertiup ke mana ia mau, namun jika  Tuhan   berke-

nan, Ia dapat menjadikannya sebagai pengirim makan-

an bagi-Nya untuk mengambil apa yang sudah disedia-

kan-Nya (ay. 26). Ia telah menghembuskan angin timur 

di langit dan menggiring angin selatan, entah angin 

tenggara entah angin timur terlebih dahulu untuk mem-

Kitab Mazmur 78:9-39 

 1129 

bawa burung-burung puyuh, dan kemudian angin sela-

tan untuk membawa lebih banyak lagi. Jadi Ia menurun-

kan kepada mereka hujan daging, dan daging yang pa-

ling lembut, bukan daging si tukang jagal, melainkan 

burung-burung bersayap, dengan sangat berlimpah, se-

perti debu banyaknya, seperti pasir laut (ay. 27), se-

hingga orang Israel yang paling miskin sekalipun dapat 

makan sampai puas. Dan mereka tidak usah bayar apa-

apa, bahkan tidak usah bersusah payah mengambilnya 

dari pegunungan, sebab Ia menjatuhkannya ke tengah 

perkemahan mereka, sekeliling tempat kediaman itu (ay. 

28). Kita bisa membaca kisahnya dalam Bilangan 11:31-

32. Lihatlah betapa baiknya Tuhan   bahkan kepada orang 

yang fasik dan tidak bersyukur, dan heranlah mengapa 

kebaikan-Nya itu tidak meluluhkan kejahatan mereka. 

Lihatlah betapa sedikitnya alasan bagi kita untuk meng-

hakimi kasih Tuhan   kalau kita melihat pemberian-pem-

berian-Nya yang berlimpah seperti ini. Makanan-makan-

an sedap bukanlah pertanda akan kebaikan-Nya secara 

istimewa. Kristus memberi  roti kering kepada murid-

murid yang dikasihi-Nya, namun  memberi  roti yang 

dicelupkan ke saus kepada Yudas yang mengkhianati-

Nya.  

[2] Adakah mereka menentang keadilan-Nya dan bermegah 

bahwa mereka sudah berhasil? Ia membuat mereka 

membayar mahal untuk burung-burung puyuh itu. Se-

bab, walaupun Ia memberi  kepada mereka apa yang 

mereka inginkan, mereka belum merasa puas (ay. 29-

30). Nafsu mereka tidak terpuaskan. Mereka sudah ke-

nyang namun mereka belum puas. Sebab, mereka tidak 

tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Begitulah 

sifat dari nafsu. Ia tidak akan terpuaskan dengan apa 

pun, dan semakin dituruti, semakin menjadi-jadilah ia. 

Orang-orang yang menuruti hawa nafsu mereka tidak 

akan pernah bisa dijauhkan darinya. Atau ini menun-

jukkan bahwa kebebasan Tuhan   tidak membuat mereka 

malu akan hawa nafsu mereka yang tidak tahu berteri-

ma kasih itu, sebagaimana yang seharusnya terjadi se-

andainya mereka mempunyai rasa hormat. namun  apa-


 1130

kah jadinya dengan hawa nafsu mereka itu? Sedang 

makanan masih ada di mulut mereka, sedang dikunyah 

seperti sepotong roti manis, maka bangkitlah murka 

Tuhan   terhadap mereka dan Ia membunuh gembong-gem-

bong mereka (ay. 31), orang-orang yang paling rakus 

dan paling lancang (lih. Bil. 11:33-34). Mereka diberi 

makan seperti domba-domba sembelihan: si tukang jagal 

mengambil yang paling gemuk terlebih dahulu. Ada 

alasan bagi kita untuk menduga bahwa pada waktu itu 

ada sebagian orang Israel yang saleh dan merasa puas, 

yang hanya makan burung puyuh secukupnya dan 

tidak berlebihan. Sebab bukan daging itu sendiri yang 

meracuni mereka melainkan nafsu mereka sendiri. Kira-

nya para pelahap dan peminum, dan mereka yang ha-

nya mencari kenikmatan jasmani, membaca nasib yang 

akan menimpa mereka di sini. Kesudahan orang-orang 

yang menjadikan Tuhan atas perut mereka ialah kebina-

saan (Flp. 3:19). Keberhasilan orang bebal akan meng-

hancurkan mereka, dan kehancuran mereka akan lebih 

besar lagi.   

4. Penghakiman-penghakiman Tuhan   atas mereka tidak memper-

baharui hidup mereka, atau mencapai tujuannya, sama hal-

nya dengan segala belas kasihan-Nya (ay. 32): Sekalipun demi-

kian mereka masih saja berbuat dosa. Mereka bersungut-

sungut dan berbantah dengan Tuhan   dan Musa sama seperti 

sebelum-sebelumnya. Sekalipun Tuhan   murka dan menghajar 

mereka, namun  dengan murtad mereka menempuh jalan yang 

dipilih hati mereka (Yes. 57:17). Mereka tidak percaya kepada 

perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Meskipun perbuatan-

perbuatan keadilan-Nya sama ajaibnya dan merupakan bukti 

akan kuasa-Nya yang sama besarnya dengan perbuatan-per-

buatan belas kasihan-Nya, namun hati mereka tidak tergerak 

oleh semuanya itu dan takut akan Tuhan  . Mereka tidak insaf 

bahwa betapa pentingnya bagi mereka untuk menjadikan Dia 

sebagai Sahabat mereka. Hati orang sudah benar-benar me-

ngeras bila ia tidak bisa lagi dicairkan oleh belas kasihan Tuhan   

atau diremukkan oleh penghakiman-penghakiman-Nya.     

5. Mereka bersikeras dalam dosa-dosa mereka, dan Tuhan   terus 

melanjutkan penghakiman-penghakiman-Nya. Namun pengha-

Kitab Mazmur 78:9-39 

 1131 

kiman-penghakiman itu lain sifatnya, tidak dilaksanakan se-

cara tiba-tiba, namun  secara perlahan-lahan. Sekarang Ia tidak 

menghukum mereka lagi dengan sakit-penyakit yang perih se-

perti penyakit yang membunuh gembong-gembong mereka, 

namun  dengan kekacauan yang tak kunjung lenyap (ay. 33): Se-

bab itu Ia membuat hari-hari mereka habis dalam kesia-siaan di 

padang gurun, dan tahun-tahun mereka dalam kekejutan. De-

ngan nasib yang tidak dapat diubah lagi mereka dihukum un-

tuk menghabiskan tiga puluh delapan tahun yang membosan-

kan di padang gurun, yang memang habis dalam kesia-siaan. 

Sebab, dalam tahun-tahun itu mereka tidak maju selangkah 

pun lebih dekat ke tanah Kanaan, namun  justru kembali lagi, 

dan mengembara kebingungan ke sana kemari, tanpa satu pu-

kulan yang dihantamkan untuk menaklukkannya. Dan bukan 

saja dalam kesia-siaan namun  juga dalam kekejutan dan ma-

salah, sebab mayat-mayat mereka dikutuk untuk bergelim-

pangan di padang gurun dan di sana mereka semua binasa ke-

cuali Kaleb dan Yosua. Perhatikanlah, orang-orang yang tetap 

berbuat dosa harus sadar bahwa mereka akan tetap berada 

dalam masalah. Dan alasan mengapa kita menghabiskan hari-

hari kita dalam begitu banyak kesia-siaan dan masalah, meng-

apa kita hidup dengan hanya menikmati sedikit penghiburan 

dan untuk tujuan yang tidak begitu berarti, yaitu   sebab  kita 

tidak hidup dengan iman. 

6. Dalam menanggung teguran-teguran ini mereka mengaku ber-

tobat, namun  mereka tidak semangat dan tulus dalam meng-

akuinya.  

(1) Pengakuan mereka cukup beralasan (ay. 34-35): jika  Ia 

membunuh mereka, atau menghukum mereka untuk dibu-

nuh, maka mereka mencari Dia. Mereka mengakui kesalah-

an mereka, dan memohon pengampunan-Nya. jika  se-

bagian orang dibunuh, maka sebagian yang lain di dalam 

ketakutan berseru kepada Tuhan   memohon belas kasihan-

Nya, dan berjanji bahwa mereka akan memperbaharui 

hidup mereka dan berlaku sangat baik. Lalu mereka ber-

balik dan mengingini Tuhan  . Dengan demikian orang akan 

menyangka bahwa mereka begitu ingin mendapatkan Dia. 

Dan mereka berpura-pura melakukan ini  sebab , betapa-

pun mereka sudah melupakan hal ini sebelumnya, kini me-


 1132

reka teringat bahwa Tuhan   yaitu  gunung batu mereka. Dan 

 sebab  sekarang mereka memerlukan-Nya, maka mereka 

mau berlari kepada-Nya dan berlindung di dalam Dia. Se-

karang mereka ingat bahwa Tuhan   Yang Mahatinggi yaitu  

Penebus mereka, yang membawa mereka keluar dari Mesir, 

dan yang oleh sebab itu kepada-Nya-lah mereka dapat da-

tang dengan berani. Penderitaan-penderitaan dikirim untuk 

mengingatkan kita akan Tuhan   sebagai gunung batu dan 

Penebus kita. Sebab, di dalam kemakmuran, kita cende-

rung melupakan-Nya.  

(2) Mereka tidak tulus dalam pengakuan mereka ini (ay. 36-

37): namun  mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, 

seolah-olah mereka beranggapan bahwa dengan kata-kata 

indah mereka akan berhasil membujuk-Nya untuk mem-

batalkan hukuman dan menghapuskan penghakiman-Nya 

dengan niat tersembunyi untuk melanggar janji mereka 

jika  bahaya itu sudah lewat. Mereka tidak kembali ke-

pada Tuhan   dengan tulus hatinya, namun  dengan pura-pura 

(Yer. 3:10). Segala pengakuan, doa, dan janji mereka di-

ucapkan dengan tergesa-gesa  sebab  mereka tidak tahan 

dengan penderitaan itu. Sudah jelas bahwa mereka tidak 

bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka katakan, 

sebab mereka tidak memegangnya dengan teguh. Mereka 

mencair di bawah terik matahari, namun  membeku di dalam 

tempat yang teduh. Mereka hanya membohongi Tuhan   de-

ngan lidahnya, sebab hati mereka tidak tetap pada Dia, 

tidak benar di hadapan-Nya, seperti yang tampak pada 

akhirnya, sebab mereka tidak setia pada perjanjian-Nya. 

Mereka tidak tulus dalam memperbaharui diri, sebab mere-

ka tidak melakukannya secara terus-menerus. Dan, de-

ngan berpikir untuk menunjukkan bahwa hati mereka 

mencari Tuhan  , mereka sebenarnya memberi  penghina-

an yang sama besarnya terhadap Dia seperti penghinaan-

penghinaan mereka yang lain.   

7.  sebab  itu, Tuhan   dalam belas kasihan-Nya terhadap mereka, 

menghentikan penghakiman-penghakiman yang masih meng-

ancam dan yang sebagian sudah dilaksanakan (ay. 38-39): 

namun  Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mere-

ka. Orang akan menyangka bahwa pertobatan palsu ini seha-

Kitab Mazmur 78:9-39 

 1133 

rusnya sudah melampaui batas pelanggaran mereka. Perbuat-

an apa yang lebih membangkitkan amarah Tuhan selain men-

dustai Tuhan   yang kudus seperti itu, selain menahan sebagian 

dari hasil penjualan seperti itu, bagian yang utama? (Kis. 5:3). 

Namun Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mere-

ka sejauh ini, dengan tidak memusnahkan mereka dan mem-

binasakan keberadaan mereka sebagai umat, seperti yang de-

ngan sewajarnya bisa saja dilakukan-Nya. Ia menyayangkan 

hidup mereka hingga mereka membesarkan angkatan yang 

lain yang akan memasuki tanah perjanjian. Janganlah mus-

nahkan itu, sebab di dalamnya masih ada berkat! (Yes. 65:8). 

Banyak kali Ia menahan murka-Nya (sebab Ia berkuasa untuk 

menahan murka-Nya sendiri) dan tidak membangkitkan sege-

nap amarah-Nya, untuk memperlakukan mereka sebagaimana 

pantasnya. Dan mengapa sampai Dia menahan murka-Nya 

dan tidak membinasakan mereka? Penyebabnya bukan  sebab  

kehancuran mereka akan mendatangkan kerugian bagi diri-

Nya sendiri, melainkan  

(1)  sebab  Ia bersifat penyayang dan, saat  Ia ingin memus-

nahkan mereka, belas kasihan-Nya bangkit serentak, lalu 

Ia berkata, Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, 

menyerahkan engkau, hai Israel? (Hos. 11:8).  

(2)  sebab , meskipun mereka tidak mengingat dengan benar 

bahwa Ia yaitu  gunung batu mereka, Ia ingat bahwa me-

reka itu daging. Ia mempertimbangkan kerusakan sifat me-

reka, yang mencondongkan mereka kepada kejahatan, dan 

berkenan menjadikannya sebagai alasan untuk merasa 

sayang terhadap mereka, meskipun sesungguhnya ini tidak 

bisa dijadikan sebagai alasan bagi dosa mereka (lih. Kej. 

6:3). Ia mempertimbangkan kelemahan dan kerapuhan 

sifat mereka, dan betapa mudahnya untuk meremukkan 

mereka: Mereka angin yang berlalu, yang tidak akan kem-

bali. Mungkin sebentar saja mereka akan hilang, namun  

jika  mereka lenyap, mereka lenyap untuk selama-lama-

nya, maka apa jadinya dengan kovenan dengan Abraham? 

Mereka daging, mereka angin: dari sini mudah saja untuk 

menyimpulkan bahwa dengan sewajarnya, dan dengan se-

gera, mereka dapat dimusnahkan, dan tidak akan ada yang 

merasa kehilangan: namun  sebaliknya, Tuhan   menyimpulkan 


 1134

bahwa justru  sebab  itu Ia tidak akan memusnahkan me-

reka. Sebab, alasan yang sebenarnya yaitu , Ia bersifat pe-

nyayang.  

Penghakiman dan Belas Kasihan; Keajaiban-keajaiban  

yang Diperbuat bagi Israel; Kasih Setia  

yang Diperbaharui bagi Israel  

(78:40-72) 

40 Berapa kali mereka memberontak terhadap Dia di padang gurun, dan me-

nyusahkan hati-Nya di padang belantara! 41 Berulang kali mereka mencobai 

Tuhan  , menyakiti hati Yang Kudus dari Israel. 42 Mereka tidak ingat kepada 

kekuasaan-Nya, kepada hari Ia membebaskan mereka dari pada lawan, 43 

saat  Ia mengadakan tanda-tanda di Mesir dan mujizat-mujizat di padang 

Zoan. 44 Ia mengubah menjadi darah sungai-sungai mereka dan aliran-aliran 

air mereka, sehingga tidak terminum; 45 Ia melepaskan kepada mereka lalat 

pikat yang memakan mereka, dan katak-katak yang memusnahkan mereka; 

46 Ia memberi  hasil tanah mereka kepada ulat, dan hasil jerih payah 

mereka kepada belalang; 47 Ia mematikan pohon anggur mereka dengan 

hujan batu, dan pohon-pohon ara mereka dengan embun beku; 48 Ia mem-

biarkan kawanan binatang mereka ditimpa hujan es, dan ternak mereka 

disambar halilintar; 49 Ia melepaskan kepada mereka murka-Nya yang me-

nyala-nyala, kegemasan, kegeraman dan kesesakan, suatu pasukan malaikat 

yang membawa malapetaka; 50 Ia membiarkan murka-Nya berkobar, Ia tidak 

mencegah jiwa mereka dari maut, nyawa mereka diserahkan-Nya kepada 

penyakit sampar; 51 dibunuh-Nya semua anak sulung di Mesir, kegagahan 

mereka yang pertama-tama di kemah-kemah Ham; 52 disuruh-Nya umat-Nya 

berangkat seperti domba-domba, dipimpin-Nya mereka seperti kawanan 

hewan di padang gurun; 53 dituntun-Nya mereka dengan tenteram, sehingga 

tidak gemetar, sedang musuh mereka dilingkupi laut; 54 dibawa-Nya mereka 

ke tanah-Nya yang kudus, yakni pegunungan ini, yang diperoleh tangan 

kanan-Nya; 55 dihalau-Nya bangsa-bangsa dari depan mereka, dibagi-bagi-

kan-Nya kepada mereka tanah pusaka dengan tali pengukur, dan disuruh-

Nya suku-suku Israel mendiami kemah-kemah mereka itu. 56 namun  mereka 

mencobai dan memberontak terhadap Tuhan  , Yang Mahatinggi, dan tidak ber-

pegang pada peringatan-peringatan-Nya; 57 mereka murtad dan berkhianat 

seperti nenek moyang mereka, berubah seperti busur yang memperdaya; 58 

mereka menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, mem-

buat Dia cemburu dengan patung-patung mereka. 59 saat  Tuhan   mendengar-

nya, Ia menjadi gemas, Ia menolak Israel sama sekali; 60 Ia membuang 

kediaman-Nya di Silo kemah yang didiami-Nya di antara manusia; 61 Ia mem-

biarkan kekuatan-Nya tertawan, membiarkan kehormatan-Nya jatuh ke 

tangan lawan; 62 Ia membiarkan umat-Nya dimakan pedang, dan gemaslah Ia 

atas milik-Nya sendiri. 63 Anak-anak teruna mereka dimakan api, dan anak-

anak dara mereka tidak lagi dipuja dengan nyanyian perkawinan; 64 imam-

imam mereka gugur oleh pedang, dan janda-janda mereka tidak dapat 

menangis. 65 Lalu terjagalah Tuhan, seperti orang yang tertidur, seperti pah-

lawan yang siuman dari mabuk anggur; 66 Ia memukul mundur para lawan-

Nya, Ia menyebabkan mereka mendapat cela untuk selama-lamanya. 67 Ia 

menolak kemah Yusuf, dan suku Efraim tidak dipilih-Nya, 68 namun  Ia memi-

lih suku Yehuda, gunung Sion yang dikasihi-Nya; 69 Ia membangun tempat

Kitab Mazmur 78:40-72 

 1135 

kudus-Nya setinggi langit, laksana bumi yang didasarkan-Nya untuk selama-

lamanya; 70 dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kan-

dang-kandang kambing domba; 71 dari tempat domba-domba yang menyusui 

didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, 

milik-Nya sendiri. 72 Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, 

dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya. 

Isi dan tujuan dari perikop ini sama dengan perikop sebelumnya, 

yaitu untuk menunjukkan betapa besar belas kasihan yang telah di-

limpahkan Tuhan   kepada Israel, betapa mereka senantiasa membang-

kitkan amarah-Nya, penghakiman-penghakiman apa yang telah di-

timpakan-Nya ke atas mereka  sebab  dosa-dosa mereka, namun 

juga, bagaimana di dalam penghakiman, Ia teringat akan belas kasih-

an-Nya pada akhirnya. Janganlah orang-orang yang menerima belas 

kasihan dari Tuhan   menjadi berani untuk berbuat dosa sesudah  mene-

rima belas kasihan-Nya itu, sebab segala belas kasihan yang mereka 

terima akan memperberat dosa mereka dan mempercepat datangnya 

penghukuman untuk dosa itu. Namun juga, janganlah orang-orang 

yang sedang mendapat teguran ilahi  sebab  dosa mereka menjadi 

patah semangat untuk bertobat, sebab penghukuman-penghukuman 

yang mereka terima merupakan sarana untuk bertobat, dan tidak 

akan menghalang-halangi belas kasihan yang tetap disediakan Tuhan   

bagi mereka.  

Lihatlah  :   

I.   Dosa-dosa Israel di padang gurun direnungkan kembali,  sebab  

semuanya itu ditulis untuk menjadi teguran bagi kita (ay. 40-41): 

Berapa kali mereka memberontak terhadap Dia di padang gurun! 

Bukan satu atau dua kali, melainkan berkali-kali, dan dengan 

terus diulang-ulang, maka perbuatan mereka dan tempat mereka 

melakukannya semakin diperberat (ay. 17). Tuhan   menghitung 

seberapa sering mereka membangkitkan amarah-Nya, meskipun 

mereka tidak menghitungnya (Bil. 14:22), Telah sepuluh kali me-

reka mencobai Aku. Dengan membangkitkan murka-Nya, mereka 

tidak begitu membuat-Nya marah, namun  lebih membuat Dia 

berdukacita, sebab Dia memandang mereka sebagai anak-anak-

Nya (Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung). Tingkah laku 

anak-anak yang tidak taat dan tidak hormat lebih membuat 

orangtua yang berhati lembut berdukacita dibandingkan  marah. Ting-

kah laku anak-anak itu diambil hati oleh orangtua mereka, dan 

mereka merasa sedih  sebab nya (Yes. 1:2). Orang Israel menduka-


 1136

kan hati-Nya  sebab  mereka membuat Dia harus menghukum 

mereka, yang sebenarnya tidak rela dilakukan-Nya. sesudah  me-

rendahkan diri di hadapan-Nya, kembali mereka mencobai Tuhan  , 

seperti sebelum-sebelumnya, dan menyakiti hati Yang Kudus dari 

Israel. Mereka mengatur-Nya untuk memberi  bukti-bukti akan 

kuasa dan hadirat-Nya bersama mereka dan cara-cara yang harus 

dipergunakan-Nya untuk menuntun dan menyediakan makanan 

bagi mereka. Mereka membatasi Dia untuk mengikuti cara dan 

waktu mereka, seolah-olah Ia tidak sadar bahwa mereka sedang 

berselisih dengan Dia. Sungguh kurang ajar bagi kita untuk mem-

batasi Yang Kudus dari Israel,  sebab , sebagai Yang Kudus, Ia 

akan berbuat sedapat mungkin demi kemuliaan-Nya sendiri. Dan 

juga sebagai Yang Kudus dari Israel, Ia akan berbuat sedapat 

mungkin demi kebaikan mereka. Kita mencobai hikmat-Nya dan 

menyingkapkan kesombongan serta kebodohan kita sendiri jika 

kita coba-coba mengatur-ngatur Dia. Yang membuat mereka 

membatasi Tuhan   untuk melakukan yang baik bagi masa depan 

yaitu  tindakan mereka yang melupakan kebaikan-kebaikan-Nya 

pada masa lalu (ay. 42): Mereka tidak ingat kepada kekuasaan-

Nya, tidak ingat betapa kuatnya tangan-Nya dan bagaimana dulu 

tangan itu terentang bagi mereka. Mereka juga tidak ingat kepada 

hari Ia membebaskan mereka dari pada lawan, dari Firaun, mu-

suh besar yang berusaha memusnahkan mereka itu. Ada hari-

hari yang menjadi luar biasa  sebab  pembebasan-pembebasan 

yang dilakukan dengan kasat mata, yang tidak boleh dilupakan. 

Sebab, dengan mengingatnya kita akan terhibur dan berbesar hati 

manakala sedang menghadapi masa-masa paling susah. 

II.  Segala belas kasihan Tuhan   kepada Israel, yang tidak mereka ingat 

saat  mencobai Tuhan   dan membatasi-Nya, dan daftar perbuatan 

ajaib yang dikerjakan Tuhan   bagi mereka ini mulai lebih tinggi dan 

dilanjutkan lebih jauh lagi dibandingkan  sebelumnya (ay. 12 dst.).  

1.  Daftar ini dimulai dengan pembebasan mereka dari Mesir, dan 

tulah-tulah yang dipakai Tuhan   untuk mendesak orang-orang 

Mesir agar membiarkan mereka pergi: inilah tanda-tanda yang 

diadakan Tuhan   di Mesir (ay. 43), mujizat-mujizat yang diada-

kan-Nya di padang Zoan, maksudnya, di negeri Zoan, sebagai-

mana kita berkata di padang Mesir, yang berarti di sebuah 

padang di negeri Mesir. 

Kitab Mazmur 78:40-72 

 1137 

(1) Beberapa dari tulah-tulah di Mesir disebutkan secara khu-

sus di sini, yang berbicara lantang tentang kuasa Tuhan   dan 

kebaikan-Nya kepada Israel. Tulah-tulah ini  juga ber-

bicara tentang kengerian bagi musuh-musuh-Nya dan mu-

suh-musuh Israel. Seperti,  

[1] Diubahnya air menjadi darah. Orang Mesir sudah mem-

buat diri mabuk dengan darah umat Tuhan  , bahkan de-

ngan bayi-bayi mereka, dan sekarang Tuhan   memberi 

mereka minum darah, sebab hal itu wajar bagi mereka 

(ay. 44).  

[2] Lalat pikat dan katak-katak yang menyerbu mereka, 

dan bermacam-macam serangga yang berkerumun, ber-

gerombol, memakan dan memusnahkan mereka (ay. 45). 

Sebab Tuhan   dapat menjadikan binatang-binatang yang 

paling lemah dan paling hina sebagai sarana murka-Nya 

jika  Dia menghendakinya. Kekuatan yang tidak di-

miliki binatang-binatang ini bisa diwujudkan dengan 

banyaknya jumlah mereka.  

[3] Tulah belalang, yang memakan habis panen orang Me-

sir, yang telah mereka hasilkan dengan jerih payah (ay. 

46). Belalang-belalang ini disebut tentara Tuhan   yang be-

sar (Yl. 2:25). 

[4] Hujan batu, yang mematikan pohon-pohon mereka, ter-

utama pohon anggur mereka, pohon yang paling lemah 

(ay. 47), dan binatang mereka, terutama kawanan dom-

ba mereka, binatang yang paling lemah, yang mati di-

sambar halilintar (ay. 48), dan embun beku, atau hujan 

es (menurut arti katanya), yang begitu keras sampai-

sampai menghancurkan pohon-pohon ara.  

[5] Kematian anak sulung merupakan tulah di Mesir yang 

terakhir dan yang paling pedih, dan yang menyempur-

nakan pembebasan Israel. Tulah ini yang pertama kali 

diniatkan (Kel. 4:23), namun  yang terakhir dijalankan. 

Sebab, seandainya cara-cara yang lebih lembut sudah 

berhasil, tulah ini bisa dicegah: namun  di sini tulah itu 

diceritakan secara panjang lebar (ay. 49-51). Pertama, 

murka Tuhan   yaitu  penyebab tulah itu. Murka kini te-

lah menimpa orang-orang Mesir sampai sejadi-jadinya. 

Hati Firaun sering kali kembali mengeras sesudah  peng-


 1138

hakiman-penghakiman yang lebih ringan melunakkan-

nya,  sebab  itu kini Tuhan   membangkitkan segenap ama-

rah-Nya. Ia melepaskan kepada mereka murka-Nya yang 

menyala-nyala, murka yang sejadi-jadinya, kegemasan 

dan kegeraman sebagai penyebabnya, dan kesesakan 

(penderitaan dan kesesakan, Rm. 2:8-9) sebagai akibat-

nya. Murka ini dilepaskan-Nya dari tempat tinggi ke 

atas mereka tanpa kenal ampun, dan mereka tidak 

dapat melepaskan diri dari kuasa-Nya (Ayb. 27:22). Ia 

membiarkan, atau (sesuai dengan kata yang digunakan) 

Ia menimbang-nimbang jalan untuk melepaskan murka-

Nya. Ia tidak melepaskannya kepada mereka dengan 

sembarangan, namun  dengan menimbang-nimbang terle-

bih dahulu. Murka-Nya ditimbang dengan teramat sa-

ngat tepat dengan timbangan keadilan. Sebab, dalam 

murka-Nya yang paling besar, Ia tidak pernah, dan tidak 

akan pernah, berbuat salah terhadap makhluk-makhluk-

Nya yang mana pun: jalan murka-Nya selalu ditimbang-

timbang. Kedua, malaikat-malaikat Tuhan   yaitu  sarana 

yang dipakai untuk menjalankan murka ini: Ia mengi-

rimkan suatu pasukan malaikat yang membawa mala-

petaka ke tengah-tengah mereka (KJV: Ia mengirimkan 

kepada mereka malaikat-malaikat jahat – pen.), bukan 

malaikat yang jahat sifatnya, melainkan jahat dalam 

kaitannya dengan tugas yang harus mereka laksana-

kan. Mereka yaitu  malaikat-malaikat pembunuh, atau 

malaikat-malaikat penghukum, yang berjalan melintasi 

seluruh negeri Mesir, dengan perintah, sesuai dengan 

jalan-jalan murka Tuhan   yang sudah ditimbang, bukan 

untuk membunuh semua orang, melainkan hanya 

anak-anak sulung. Malaikat-malaikat baik menjadi ma-

laikat jahat bagi orang-orang berdosa. Orang-orang 

yang menjadikan Tuhan   yang kudus sebagai musuh me-

reka jangan pernah berharap bisa menjadikan malaikat-

malaikat kudus sebagai teman mereka. Ketiga, pelak-

sanaan murka itu sendiri sangat berat: Ia tidak mence-

gah jiwa mereka dari maut, namun  membiarkan maut 

maju dengan jaya di tengah-tengah mereka dan nyawa 

mereka diserahkan-Nya kepada penyakit sampar, yang 

Kitab Mazmur 78:40-72 

 1139 

memutuskan tali penyambung nyawa dengan sesaat . 

Sebab dibunuh-Nya semua anak sulung di Mesir (ay. 51), 

kegagahan mereka yang pertama-tama, pengharapan 

bagi keluarga mereka masing-masing. Anak-anak ada-

lah kegagahan orangtua, dan anak sulung yaitu  kega-

gahan mereka yang pertama-tama. Demikianlah,  sebab  

Israel berharga di mata Tuhan  , Ia memberi  manusia 

sebagai ganti mereka, dan bangsa-bangsa sebagai ganti 

nyawa mereka (Yes. 43:4).     

(2) Melalui tulah-tulah yang menimpa orang-orang Mesir ini, 

Tuhan   membuat jalan bagi umat-Nya sendiri untuk berang-

kat seperti domba-domba, dengan membedakan mereka 

dari orang-orang Mesir, seperti gembala yang memisahkan 

domba dan kambing, sesudah  menempelkan tanda-Nya sen-

diri pada domba-domba ini dengan darah anak domba yang 

dibubuhkan pada tiang-tiang pintu mereka. Disuruh-Nya 

umat-Nya berangkat seperti domba-domba, dan mereka 

tidak mengetahui ke mana mereka pergi, dan dipimpin-Nya 

mereka seperti kawanan hewan di padang gurun, seperti 

gembala yang memimpin kawanan dombanya, dengan pe-

nuh perhatian dan kelembutan (ay. 52). Dituntun-Nya mere-

ka dengan tenteram, meskipun di jalan-jalan yang berba-

haya, supaya mereka tidak gemetar, maksudnya, supaya 

mereka tidak perlu takut. Memang mereka menjadi keta-

kutan di Laut Merah (Kel. 14:10), namun  kepada mereka 

dikatakan supaya jangan takut dan dilakukan sesuatu 

yang berhasil membungkam ketakutan mereka. Sedang 

musuh mereka dilingkupi laut, saat  berusaha mengejar-

ngejar mereka sampai ke dalamnya (ay. 53). Bagi mereka 

laut itu yaitu  jalan, namun  bagi orang-orang yang menge-

jar-ngejar mereka, laut itu yaitu  kuburan.   

2. Mereka dibawah jauh sampai ke tempat kediaman mereka di 

Kanaan (ay. 54): Dibawa-Nya mereka ke tanah-Nya yang ku-

dus, ke negeri yang di tengah-tengahnya Ia mendirikan tempat 

kudus-Nya, yang seolah-olah merupakan pusat dan ibu kota, 

mahkota dan kemuliaan, dari negeri itu. Tenteramlah tanah 

yang dijadikan batas tempat kudus Tuhan  . yaitu  kebahagiaan 

bagi negeri itu bahwa di sana Tuhan   dinyatakan, dan di sanalah 


 1140

ada  tempat kudus dan tempat kediaman-Nya (76:2-3). 

Seluruh negeri secara umum, dan Sion secara khusus, yaitu  

pegunungan yang diperoleh tangan kanan-Nya, yang dengan 

kuasa-Nya telah dikhususkan-Nya bagi diri-Nya sendiri (lih. 

44:4). Ia membuat mereka melintasi puncak bukit-bukit di bumi 

dengan kendaraan kemenangan (Yes. 58:14; Ul. 32:13). Mereka 

mendapati orang-orang Kanaan sudah memiliki tanah itu 

sepenuhnya dengan tenteram, namun  Tuhan   menghalau bangsa-

bangsa dari depan mereka, dan tidak saja mengambil hak 

mereka atasnya, sebagai Tuhan semesta alam, namun  juga Ia 

sendiri melaksanakan hukuman yang dijatuhkan melawan 

mereka. Juga, sebagai Tuhan atas segenap pasukan, Ia meng-

usir mereka dari tanah itu, dan membuat umat-Nya Israel 

untuk berjejak di bukit-bukit mereka, dengan membagi-bagikan 

kepada setiap suku tanah pusaka dengan tali pengukur, dan 

membuat mereka mendiami rumah orang-orang yang telah 

mereka musnahkan. Tuhan   bisa saja mengubah padang gurun 

yang tidak dapat dihuni dan diolah (yang mungkin hampir 

serupa dengan tanah Kanaan) menjadi tanah yang subur, dan 

menempatkan mereka di sana, namun ini tidak dilakukan-

Nya,  sebab  tanah yang dirancang-Nya bagi mereka dimaksud-

kan sebagai pelambang sorga, dan oleh sebab itu harus men-

jadi tanah yang permai di antara semua negeri. Dan  sebab  itu 

pula tanah itu harus diperjuangkan, sebab Kerajaan Sorga 

harus diperjuangkan.  

III. Dosa-dosa Israel sesudah  mereka berdiam di Kanaan (ay. 56-58). 

Anak-anak itu sama seperti nenek moyang mereka, mereka mem-

bawa serta kerusakan-kerusakan mereka yang dulu ke tempat 

tinggal mereka yang baru. Meskipun Tuhan   sudah


Related Posts:

  • mazmur 51-100 12 mpuh melawan ketidakpercayaan terha-dap janji dan kebaikan-Nya. Sebab Ia Tuhan   dan tidak berubah. Jika Ia memulai, maka Ia akan menuntaskan pekerjaan-Nya dan meletakkan batu yang paling atas. … Read More