a dari Tuhan .
(1) Agar Ia memuliakan diri-Nya sendiri, dan mendapat kehor-
matan demi nama-Nya sendiri. Para penganiaya yang fasik
berpikir bahwa Tuhan telah menarik diri dan mencampak-
kan bumi. “Tuhan,” seru umat-Nya, “tunjukkanlah diri-Mu.
Buatlah mereka tahu bahwa Engkau ada, dan bahwa Eng-
kau siap menunjukkan diri-Mu kuat atas nama orang-orang
yang hatinya lurus dengan-Mu.” Musuh-musuh menyangka
Tuhan dikalahkan sebab umat-Nya dikalahkan. “Tuhan,”
seru mereka, “bangunlah, bangkitlah, ya TUHAN, di dalam
kuasa-Mu. Bangunlah, agar Engkau dilihat, ditakuti. Ja-
ngan biarkan nama-Mu diinjak-injak dan dihina.”
(2) Agar Ia mempermalukan para penindas: Balaslah kepada
orang-orang congkak apa yang mereka lakukan. Yakni, “Ada-
kanlah perhitungan dengan mereka atas segala penghinaan
mereka dan kejahatan yang telah mereka perbuat terhadap
umat-Mu.” Doa-doa ini merupakan nubuatan, yang berbi-
cara tentang kengerian bagi semua anak pelaku kekerasan.
Tuhan yang benar akan berurusan dengan mereka sesuai
dengan perbuatan mereka.
II. Keluhan yang rendah hati kepada Tuhan atas kecongkakan dan
kekejaman para penindas, dan tanya jawab dengan-Nya mengenai
hal itu (ay. 3-6).
Di sini perhatikanlah:
1. Tabiat musuh-musuh yang mereka keluhkan. Mereka orang-
orang fasik. Mereka yaitu orang yang melakukan kejahatan.
Mereka jahat, sangat jahat, dan oleh sebab itu mereka mem-
benci dan menganiaya orang-orang yang kebaikannya mem-
permalukan dan menyatakan kebersalahan mereka. Orang
sudah benar-benar menjadi fasik dan pembuat kejahatan yang
terburuk, kehilangan segala kehormatan dan kebajikannya, jika
mereka kejam terhadap yang tidak bersalah dan membenci
yang benar.
2. Perbuatan congkak dan biadab dari orang-orang yang mereka
keluhkan itu.
(1) Mereka besar mulut dan senang membesar-besarkan diri
mereka sendiri. Omongan mereka tinggi dan besar. Mereka
bermegah diri. Mereka berbicara dengan lantang. Mereka
menyombongkan diri, seolah-olah lidah mereka, dan juga
tangan mereka, yaitu milik mereka sendiri. Mereka tidak
bertanggung jawab terhadap siapa pun atas apa yang mere-
ka katakan atau lakukan. Seolah-olah hari milik mereka
sendiri. Lagi, tanpa ragu mereka mengusung perkara mela-
wan Tuhan dan agama. Orang-orang yang berbicara tinggi
tentang diri mereka sendiri, yang sombong dan bermegah,
cenderung berbicara keras tentang orang lain. namun , akan
datang hari pembalasan terhadap perkataan keras yang
telah diucapkan orang-orang berdosa dan fasik melawan
Tuhan , kebenaran-Nya, jalan-jalan-Nya, dan umat-Nya (Yud.
1:15).
(2) Mereka tidak saleh, dan senang menginjak-injak umat
Tuhan oleh sebab mereka milik-Nya (ay. 5): “Ya Tuhan! Me-
reka itu menghancurkan segala umat-Mu! menghancurkan
perkumpulan mereka, harta benda mereka, keluarga mere-
ka, dan pribadi mereka hingga berkeping-keping. Mereka
berbuat semampu mereka untuk menyakiti milik pusaka-
Mu, untuk mendukakan mereka, meremukkan mereka,
menginjak-injak mereka, dan mencabut mereka.” Umat
Tuhan yaitu milik pusaka-Nya. Ada orang-orang yang se-
ngaja membenci umat-Nya itu dan berusaha menghancur-
kan mereka hanya oleh sebab Dia. Ini merupakan seruan
yang sangat bagus kepada Tuhan , untuk menaikkan doa-
doa syafaat kita bagi jemaat: “Tuhan, jemaat ini milik-Mu.
Milik-Mu ada di dalam jemaat itu. Mereka itu milik pusaka-
Mu. Kesukaan-Mu ada pada mereka, dan dari merekalah
tersingkaplah kemuliaan-Mu dalam segala hal yang terjadi
di dunia ini. Maka akankah Engkau membiarkan orang-
orang fasik ini menginjak-injak jemaat itu sedemikian rupa?”
(3) Mereka tidak berperikemanusiaan, dan merasa senang ber-
buat salah terhadap orang-orang yang sungguh tak ber-
daya menolong diri mereka sendiri (ay. 6). Mereka tidak ha-
nya menindas dan membuat orang sengsara, namun juga
menyembelih janda dan orang asing. Tidak saja mengabai-
kan anak-anak yatim dan memangsa mereka, namun juga
membunuh mereka, sebab lemah dan rentan, dan kadang-
kadang bergantung pada belas kasihan mereka. Orang-orang
yang seharusnya mereka lindungi dari kejahatan justru
paling mereka jahati, mungkin sebab Tuhan telah memberi-
kan perhatian-Nya kepada mereka secara istimewa. Siapa
sangka bahwa anak-anak manusia bisa sampai sedemikian
biadab?
3. Seruan yang rendah hati kepada Tuhan mengenai keadaan
penganiayaan itu yang tiada putus-putusnya: “Tuhan, berapa
lama lagi mereka akan berbuat demikian?” Dan lagi, berapa
lama? Kapankah kefasikan orang-orang fasik ini berakhir?
III. Dakwaan atas ketidakpercayaan para penganiaya akan Tuhan , dan
perbantahan dengan mereka dalam dakwaan itu.
1. Pikiran-pikiran orang fasik yang tidak percaya kepada Tuhan
disingkapkan di sini (ay. 7): Dan mereka berkata: “TUHAN tidak
melihatnya.” Teriakan kefasikan orang-orang fasik itu sangat
keras dan nyaring, dan mereka memberontak melawan terang
alam dan suara hati nurani mereka sendiri. Dan walaupun
sudah berbuat demikian, mereka masih juga punya keyakinan
untuk berkata, “Tuhan tidak akan melihatnya. Ia tidak saja
akan mengabaikan kesalahan-kesalahan kecil, namun juga akan
menutup mata-Nya terhadap kesalahan-kesalahan besar.” Atau
mereka berpikir bahwa mereka sudah mengaturnya dengan
begitu lihai, dengan dalih keadilan dan agama mungkin, se-
hingga perbuatan mereka itu tidak akan dihakimi sebagai per-
buatan pembunuhan. “Tuhan Yakub, meskipun umat-Nya
mengaku mempunyai kepentingan yang begitu besar di dalam
Dia, tidak menganggap perbuatan jahat mereka itu sebagai se-
suatu yang melawan keadilan atau melawan umat-Nya sendiri.
Ia tidak akan pernah menuntut pertanggungjawaban dari kita
untuk itu.” Demikianlah mereka menyangkal pemerintahan
Tuhan atas dunia, mengolok-olok kovenan-Nya dengan umat-
Nya, dan menantang penghakiman-Nya.
2. Di sini mereka didakwa atas kebodohan dan pikiran mereka
yang tidak masuk akal. Orang yang berkata bahwa Yahweh
Tuhan yang hidup tidak akan melihat atau bahwa Tuhan Yakub
tidak akan peduli dengan kejahatan-kejahatan yang diperbuat
terhadap umat-Nya, mereka itu Nabal namanya dan bebal
orangnya. Walaupun begitu, di sini orang seperti itu didebat
dengan tegas, agar ia menjadi insaf dan bertobat, dan terhin-
dar dari kekacauan (ay. 8): “Perhatikanlah, hai orang-orang bo-
doh di antara rakyat, dan biarlah akal sehat membimbingmu!”
Perhatikanlah, orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan,
para filsuf, dan para negarawan, meskipun mereka mengaku
berakal cerdas, sesungguhnya hanyalah orang-orang bodoh di
antara rakyat. Jika saja mereka mau mengerti, mereka pasti
percaya. Tuhan , melalui nabi-Nya, berfirman seolah-olah Dia
berpikir bahwa makan waktu lama bagi manusia itu untuk da-
pat bertindak sebagai manusia yang sejati dan menunjukkan
diri demikian melalui pengertian dan pertimbangan: “Hai orang
bodoh, kapan engkau akan menjadi bijak, menjadi bijak untuk
menyadari bahwa Tuhan melihat dan memperhatikan semua
yang engkau ucapkan dan lakukan, sehingga engkau bijak
untuk berkata dan berbuat sebagai orang yang harus memberi
pertanggungjawaban?” Perhatikanlah, tidak ada orang yang
sedemikian jahat, yang diperlukan hanyalah sarana untuk
menarik mereka kembali dan memperbaharui hidup mereka.
Tidak ada yang sedemikian bodoh, sedemikian tolol, yang di-
perlukan hanyalah mencoba apakah mereka masih bisa dijadi-
kan bijak. Selama hayat masih dikandung badan, masih ada
harapan. Untuk membuktikan kebodohan orang-orang yang
mempertanyakan kemahatahuan dan keadilan Tuhan , si pemaz-
mur menunjuk,
(1) Dari karya penciptaan (ay. 9), pembentukan tubuh manus-
ia, selain terbukti bahwa Tuhan itu ada, juga terbukti bahwa
Tuhan secara tidak terbatas dan adikodrati memiliki di
dalam diri-Nya segala kesempurnaan yang ada pada
makhluk apa saja. Dia yang menanamkan telinga (dan
telinga itu ditanamkan di kepala, seperti pohon ditanam di
tanah), masakan tidak mendengar? Tidak diragukan lagi
Dia pasti mendengar, lebih banyak dan lebih baik dibandingkan
kita. Dia yang membentuk mata (dan betapa ajaibnya mata
dibentuk melebihi bagian tubuh yang lain, seperti diketa-
hui oleh ahli-ahli tubuh manusia dan diberitahukan kepa-
da kita melalui pembedahan-pembedahan mereka), masa-
kan tidak memandang? Dapatkah Dia memberi , akan-
kah Dia memberi , kepada makhluk suatu kesempurna-
an yang tidak dimiliki-Nya sendiri?
Perhatikanlah:
[1] Semua kekuatan alam berasal dari Tuhan yang berkuasa
atas alam (Kel. 4:11).
[2] Melalui pengetahuan tentang diri kita sendiri, kita bisa
dituntun ke jalan besar untuk mendapat pengetahuan
tentang Tuhan . Jika dengan pengetahuan tentang tubuh
kita sendiri, dan tentang panca indra kita, kita dapat
menyimpulkan bahwa kita bisa melihat dan mendengar,
dan sebab itu terlebih lagi Tuhan , maka hal yang sama
pun pasti dapat dilakukan dengan pengetahuan tentang
jiwa kita sendiri dan kemampuan-kemampuannya yang
mulia. Ilah-ilah bangsa kafir mempunyai mata namun
tidak melihat, mempunyai telinga namun tidak mende-
ngar. Tuhan kita tidak mempunyai mata atau telinga se-
perti kita, namun kita dapat menyimpulkan dengan pasti
bahwa Ia melihat dan mendengar, sebab kita mem-
peroleh penglihatan dan pendengaran kita dari-Nya, dan
penggunaan keduanya harus kita pertanggungjawabkan
kepada-Nya.
(2) Dari pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan ilahi (ay. 10): Dia
yang menghajar bangsa-bangsa sebab menyembah banyak
ilah dan berhala-berhala, masakan terlebih lagi tidak akan
menghukum umat-Nya sendiri atas ketidakpercayaan mere-
ka kepada-Nya dan kecemaran mereka? Dia yang meng-
hajar anak-anak manusia sebab menindas dan satu sama
lain berbuat salah, masakan tidak akan menghukum
orang-orang yang mengaku sebagai anak-anak-Nya sendiri,
dan menyebut diri mereka demikian, namun menganiaya
orang-orang yang benar-benar anak-anak Tuhan ? Masakan
kita tidak termasuk orang-orang yang akan dibetulkan-
Nya, sementara seluruh dunia diatur oleh-Nya? Bukankah
sebagai Raja segala bangsa Ia akan memperhatikan, dan
bukankah terlebih lagi sebagai Tuhan Yakub Ia akan mem-
perhatikan semuanya? Dr. Hammond memberi kemung-
kinan arti lain dari perkataan ini: “Ia yang mengajar bangsa-
bangsa (maksudnya, memberi mereka hukum-Nya), masak-
an tidak akan menghukum, yaitu, masakan Dia tidak meng-
hakimi mereka sesuai dengan hukum itu, dan menuntut
pertanggungjawaban dari mereka atas pelanggaran-pelang-
garan mereka terhadapnya? Sia-sia saja hukum itu diberi-
kan jika tidak ada penghakiman berdasar hukum itu.”
Dan memang benar bahwa kata yang sama yang dipakai di
sini bisa berarti menghajar atau mengajar, sebab hajaran
dimaksudkan untuk mengajar, dan ajaran harus disertai
dengan hajaran.
(3) Dari pekerjaan-pekerjaan anugerah: Dia yang mengajarkan
pengetahuan kepada manusia, masakan tidak tahu? Seba-
gai Tuhan yang berkuasa atas alam, Ia tidak saja sudah mem-
berikan terang akal budi, namun juga, sebagai Tuhan yang me-
ngaruniakan anugerah, Ia telah memberi terang wahyu,
telah menunjukkan kepada orang apa hikmat dan pengerti-
an yang benar itu. Dan Dia yang melakukan ini, masakan
tidak tahu? (Ayb. 28:23, 28). Mengalirnya sungai merupa-
kan suatu pertanda yang pasti akan penuhnya mata air.
Jika semua pengetahuan berasal dari Tuhan , maka tidak
diragukan lagi semua pengetahuan ada di dalam Tuhan .
Dari ajaran umum tentang kemahatahuan Tuhan ini, si
pemazmur tidak saja membantah orang-orang yang tidak
percaya kepada Tuhan, yang berkata, “TUHAN tidak melihat
(ay. 7), Ia tidak akan menaruh perhatian pada apa yang
kita perbuat,” namun juga menyadarkan kita semua untuk
mempertimbangkan bahwa Tuhan bahkan akan memper-
hatikan apa yang kita pikirkan (ay. 11): TUHAN mengetahui
rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya
sia-sia belaka.
[1] Ia mengetahui rancangan-rancangan manusia itu seca-
ra khusus yang mengenai Tuhan yang mengabaikan kefa-
sikan orang-orang fasik, dan Ia tahu bahwa semua itu
sia-sia belaka, dan menertawakan kebodohan orang-
orang yang membuat diri mereka terlena di dalam dosa
dengan pemikiran-pemikiran congkak yang demikian
mereka gemari itu.
[2] Ia mengetahui semua rancangan anak-anak manusia,
dan tahu bahwa rancangan-rancangan itu, untuk seba-
gian besarnya, sia-sia belaka. Ia tahu bahwa khayalan-
khayalan pikiran dan hati manusia itu jahat, semata-
mata jahat, dan itu terus-menerus mereka lakukan. Bah-
kan dalam rancangan-rancangan atau pikiran-pikiran
yang baik sekalipun ada ketidaktetapan dan ketidaksela-
rasan yang bisa disebut sebagai kesia-siaan belaka. Kare-
na itu, wajiblah kita untuk benar-benar menjaga pikir-
an-pikiran kita, sebab Tuhan memperhatikannya secara
khusus. Pikiran merupakan perkataan bagi Tuhan , dan
pikiran yang sia-sia merupakan pancingan yang mem-
bangkitkan amarah-Nya.
Penghiburan bagi Orang-orang Kudus yang Menderita;
Tuhan Tempat Perlindungan bagi Umat-Nya
(94:12-23)
12 Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari
Taurat-Mu, 13 untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sam-
pai digali lobang untuk orang fasik. 14 Sebab TUHAN tidak akan membuang
umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya; 15 sebab
hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang
yang tulus hati. 16 Siapakah yang bangkit bagiku melawan orang-orang jahat,
siapakah yang tampil bagiku melawan orang-orang yang melakukan kejahat-
an? 17 Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat su-
nyi. 18 saat aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN,
menyokong aku. 19 jika bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghi-
buran-Mu menyenangkan jiwaku. 20 Masakan bersekutu dengan Engkau takhta
kebusukan, yang merancangkan bencana berdasar ketetapan? 21 Mereka
bersekongkol melawan jiwa orang benar, dan menyatakan fasik darah orang
yang tidak bersalah. 22 namun TUHAN yaitu kota bentengku dan Tuhan ku ada-
lah gunung batu perlindunganku. 23 Ia akan membalas kepada mereka per-
buatan jahat mereka, dan sebab kejahatan mereka Ia akan membinasakan
mereka; TUHAN, Tuhan kita, akan membinasakan mereka.
Si pemazmur, sesudah menyatakan datangnya kesengsaraan bagi
orang-orang yang mengganggu umat Tuhan , di sini meyakinkan orang-
orang yang diganggu bahwa mereka akan mendapat kelegaan (2Tes.
1:6-7). Ia menyampaikan penghiburan kepada orang-orang kudus
yang menderita berdasar janji-janji Tuhan dan pengalamannya
sendiri.
I. berdasar janji-janji Tuhan , yang sedemikian rupa sehingga
tidak saja akan menyelamatkan mereka dari kesengsaraan, namun
juga menjamin kebahagiaan bagi mereka (ay. 12): Berbahagialah
orang yang Kauhajar. Di sini ia melihat jauh melampaui apa yang
menjadi sarana permasalahan itu, dan memandang tangan Tuhan ,
yang memberi nama lain terhadap permasalahan itu dan
menggoreskan sebuah warna yang agak berbeda padanya. Mu-
suh-musuh meremukkan umat Tuhan (ay. 5). Yang mereka tuju
tidak kurang dari itu. namun apa yang sebenarnya terjadi yaitu
bahwa Tuhan melalui mereka menghajar umat-Nya, seperti bapak
menghajar anak yang dikasihinya, dan para penganiaya hanyalah
tongkat yang dipakainya. namun mereka sendiri tidak demikian
maksudnya dan tidak demikian rancangan hati mereka (Yes. 10:5-
7). Nah, di sini dijanjikan,
1. Bahwa umat Tuhan akan menjadi baik sebab penderitaan-pen-
deritaan mereka. jika Ia menghajar mereka, Ia ingin meng-
ajar mereka, dan berbahagialah orang yang diberi disiplin ilahi
seperti itu, sebab tidak seorang pun mengajar seperti Tuhan .
Perhatikanlah:
(1) Penderitaan orang-orang kudus merupakan hajaran dari
seorang bapak, dirancang untuk mengajar, memperbaha-
rui, dan memajukan mereka.
(2) jika ajaran-ajaran firman dan Roh selaras dengan tegur-
an-teguran Pemeliharaan ilahi, maka semua itu menunjuk-
kan bahwa orang-orang yang sedang mengalaminya diber-
kati dan juga membantu mereka untuk sungguh-sungguh
diberkati. Sebab semua hajaran itu merupakan pertanda
pengangkatan mereka sebagai anak dan merupakan sarana
untuk menguduskan mereka. jika kita dihajar, kita
harus berdoa supaya diajar, dan melihat pada hukum se-
bagai ekspositor (penjelas) yang terbaik mengenai Pemeli-
haraan ilahi. Bukan penghajaran itu sendiri yang mem-
bawa kebaikan, melainkan ajaran yang menyertai hajaran
itu, dan yang menjelaskan maksudnya.
2. Bahwa mereka akan melihat ke depan melalui semua penderi-
taan mereka (ay. 13): Agar Engkau menenangkan dia terhadap
hari-hari malapetaka.
Perhatikanlah:
(1) Ada ketenangan yang tersisa bagi umat Tuhan sesudah mere-
ka melalui hari-hari malapetaka, yang sekalipun mungkin
banyak dan panjang, akan terhitung dan terselesaikan
pada waktunya, dan tidak akan berlangsung untuk selama-
nya. Ia yang mengirimkan masalah akan mengirimkan ke-
tenangan, agar Ia dapat menghibur mereka sesuai dengan
lamanya penderitaan yang dibiarkan-Nya terjadi pada me-
reka.
(2) Oleh sebab itu, Tuhan mengajar umat-Nya melalui permasa-
lahan mereka, agar Ia bisa mempersiapkan mereka bagi da-
tangnya kelepasan. Dengan demikian Ia memberi mereka
ketenangan dari permasalahan mereka, sehingga, sebab
sudah diperbaharui, mereka bisa dilepaskan, dan penderi-
taan boleh disingkirkan seusai melakukan tugasnya.
3. Bahwa mereka akan melihat kehancuran orang-orang yang
menjadi alat penderitaan mereka. Ini merupakan suatu janji,
bukan untuk memuaskan hasrat mereka, melainkan untuk
membawa kemuliaan bagi Tuhan : Sampai digali lobang (atau
lebih tepatnya selagi lobang digali) untuk orang fasik, Tuhan me-
merintahkan damai bagi mereka pada saat yang bersamaan
saat Dia menetapkan anak-anak panah-Nya melawan para
penganiaya.
4. Bahwa, meskipun mungkin bersedih hati, mereka pasti tidak
akan dibuang (ay. 14). Kiranya umat Tuhan yang sedang men-
derita meyakinkan diri mereka dengan hal ini, bahwa apa pun
yang diperbuat teman-teman mereka, Tuhan tidak akan mem-
buang mereka, atau mengeluarkan mereka dari kovenan-Nya
ataupun dari perhatian-Nya. Ia tidak akan meninggalkan me-
reka, sebab mereka yaitu milik pusaka-Nya, yang hak-Nya
atas mereka tidak akan dilepaskan-Nya begitu saja. Tidak
akan dibiarkan-Nya siapa pun untuk merampas mereka dari
Dia. Rasul Paulus juga menghibur dirinya dengan hal ini (Rm.
11:1).
5. Bahwa seburuk apa pun keadaannya, semua itu akan baik
kembali, dan meskipun kini mereka sesat, mereka akan kem-
bali pada jalan mereka yang dulu dan yang sebenarnya (ay.
15): Hukum akan kembali kepada keadilan. Kekacauan yang
tampaknya ada pada Pemeliharaan ilahi (sebab yang sebenar-
nya tidaklah demikian) akan diluruskan. Hukum Tuhan , yakni,
pemerintahan-Nya, adakalanya tampak seolah-olah jauh dari
keadilan, saat orang fasik makmur, dan orang-orang terbaik
mengalami hal terburuk. namun hukum itu akan kembali lagi
pada keadilan, entah di dunia ini atau selambat-lambatnya
pada hari penghakiman agung di akhir zaman, yang akan
membetulkan segala sesuatu. Maka hukum itu akan diikuti
oleh semua orang yang tulus hati. Mereka akan mengikutinya
dengan puji-pujian mereka, dan dengan kepuasan penuh. Me-
reka akan kembali ke keadaan mereka yang makmur dan ber-
kembang, dan akan bersinar dari kegelapan. Mereka akan me-
nyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan Pemeliharaan
ilahi, dan dengan perasaan-perasaan yang selaras akan meng-
ikuti segala pergerakannya. Mereka akan mengikuti TUHAN
(Hos. 11:10). Dr. Hammond berpendapat bahwa hal ini secara
menonjol digenapi dalam kehancuran Yerusalem yang per-
tama, dan sesudah itu dalam kehancuran bangsa kafir Romawi,
para penyalib Kristus dan penganiaya orang-orang Kristen,
dan segala hal lainnya yang dimiliki jemaat. Maka hukum akan
kembali kepada keadilan, kepada belas kasihan dan kebaikan,
dan kemurahan kepada umat Tuhan , yang tetap didukung-Nya
sama seperti sebelum mereka diinjak-injak.
II. Si pemazmur menunjuk pada pengalaman dan pengamatannya
sendiri.
1. Dia dan teman-temannya sudah ditindas oleh orang-orang
yang kejam dan congkak, yang mempunyai kuasa di tangan
mereka, dan yang menyalahgunakannya dengan menyakiti
semua orang baik dengannya. Mereka sendiri yaitu orang-
orang jahat dan orang-orang yang melakukan kejahatan (ay.
16). Dengan semaunya mereka melakukan segala hal yang
tidak saleh dan asusila, dan takhta mereka yaitu takhta ke-
busukan (ay. 20). Martabat mereka dimanfaatkan untuk ber-
buat dosa, dan wewenang mereka dipakai untuk mendukung-
nya, dan untuk mewujudkan rancangan-rancangan mereka
yang fasik. Sangat disayangkan bahwa takhta, yang seharus-
nya menjadi kengerian bagi orang-orang jahat dan perlindung-
an serta pujian bagi mereka yang berbuat baik, harus menjadi
kursi dan tempat perlindungan bagi kebusukan. Itulah takhta
kebusukan yang dengan kebijakan mahkamahnya merancang-
kan bencana, dan dengan kedaulatannya menegakkannya dan
menjadikannya sebagai hukum. Kebusukan berani dikerjakan
sekalipun hukum manusia menentangnya, yang sering kali
membuktikan bahwa hukum terlalu lemah untuk mengendali-
kannya dengan berhasil. namun betapa kurang ajar, betapa
jahatnya kebusukan jika didukung oleh hukum! Kebusuk-
an tidak menjadi lebih baik, namun justru menjadi jauh lebih
buruk, sebab ditegakkan oleh hukum. Orang-orang yang me-
lakukannya tidak bisa berdalih dengan berkata bahwa mereka
sekadar berbuat seperti apa yang diperintahkan kepada mere-
ka. Para pembuat kejahatan ini, sesudah merancangkan ben-
cana berdasar ketetapan, berusaha memastikan bahwa
ketetapan itu dilaksanakan. Sebab mereka bersekongkol mela-
wan jiwa orang benar, yang tidak berani berpaut kepada
ketetapan-ketetapan Omri atau kelakuan keluarga Ahab. Mere-
ka menyatakan fasik darah orang yang tidak bersalah sebab
melanggar ketetapan-ketetapan mereka. Lihatlah satu contoh-
nya pada musuh-musuh Daniel. Mereka merancangkan ben-
cana berdasar ketetapan saat berhasil membujuk raja
mengeluarkan sebuah titah yang tidak saleh untuk melarang
orang berdoa (Dan. 6:7). saat Daniel tidak mau menaatinya,
mereka bersekongkol melawannya (ay. 21) dan menyerahkan
darah orang yang tidak bersalah pada singa-singa. Pahlawan-
pahlawan terbaik dari antara umat manusia sudah sering kali
diperlakukan demikian, dengan dalih hukum dan keadilan, se-
bagai penjahat-penjahat terburuk.
2. Penindasan yang menimpa mereka terasa sangat berat bagi
mereka, dan menindas roh mereka juga. Janganlah orang-
orang kudus yang menderita merasa putus asa, meskipun, ke-
tika dianiaya, mereka mendapati diri kebingungan dan patah
semangat. Demikianlah yang terjadi pada si pemazmur di sini:
Jiwanya nyaris diam di tempat sunyi (ay. 17). Ia sudah keha-
bisan akal, dan tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan atau
lakukan. Nyawanya, dalam rasa khawatirnya, berada di ujung
tanduk, siap roboh ke dalam kubur, negeri kesunyian itu. Ra-
sul Paulus, dalam keadaan serupa, merasa seolah-olah telah
dijatuhi hukuman mati (2Kor. 1:8-9). Ia berkata, “Kakiku go-
yang (ay. 18). Aku sudah tidak dapat berdiri tegak lagi, tidak
ada obat penawar, aku pasti jatuh. Bagaimanapun juga pada
suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Hancurlah sudah
harapanku. Aku tidak mendapatkan tempat berpijak yang ko-
koh bagi imanku seperti yang pernah kudapati dulu” (73:2). Di
dalam batinnya ada banyak pikiran yang kacau dan ku-
sut mengenai keadaannya pada saat ini. Ia tidak tahu bagai-
mana dia harus memahaminya, dan mana jalan yang harus
diambilnya serta ke mana jalan itu akan mengantarnya.
3. Dalam kesusahan ini mereka yang menderita mencari
pertolongan, bantuan, dan kelegaan.
(1) Mereka mencari-cari semua itu, namun mereka kecewa (ay.
16): “Siapakah yang bangkit bagiku melawan orang-orang
jahat? Apakah aku mempunyai teman yang mengasihiku
dan mau tampil bagiku? Adakah keadilan mempunyai te-
man yang, dalam kemarahan yang saleh terhadap ketidak-
adilan, akan menyerukan kepentinganku yang dirugikan
ini?” Ia mencari, namun tidak seorang pun yang menyela-
matkan, tidak seorang pun yang menopang. Perhatikanlah,
saat kekuasaan berpihak pada para penindas, tidaklah
heran bila yang tertindas tidak mempunyai penghibur.
Tidak ada seorang pun yang berani mengakui mereka, atau
mengatakan hal yang baik untuk mereka (Pkh. 4:1). saat
Rasul Paulus dibawa ke hadapan takhta kebusukan Kaisar
Nero, tidak seorang pun yang membantunya (2Tim. 4:16).
(2) Mereka menengadah untuk mencari pertolongan (ay. 20).
Dengan penuh kerendahan hati mereka bersoal jawab de-
ngan Tuhan : “Tuhan, masakan bersekutu dengan Engkau
takhta kebusukan? Apakah Engkau akan membiarkan dan
mendukung para penguasa lalim ini dalam kefasikan mere-
ka? Kami tahu Engkau tidak akan berbuat seperti itu.”
Takhta bersekutu dengan Tuhan jika ia merupakan takh-
ta keadilan dan memenuhi tujuannya. Sebab sebab Dia
para raja bertakhta, dan jika mereka bertakhta untuk-
Nya, maka hukum-hukum mereka yaitu milik-Nya, dan Ia
mengakui mereka sebagai hamba-hamba-Nya, dan siapa
pun menolak mereka, atau bangkit melawan mereka, akan
menerima kutukan. namun , jika takhta itu menjadi takh-
ta kebusukan, ia tidak lagi bersekutu dengan Tuhan . Jauh-
lah kiranya dari Tuhan yang adil dan kudus untuk menjadi
pelindung ketidakadilan, sekalipun itu diperbuat oleh raja-
raja dan penguasa-penguasa yang bertakhta, bahkan, mes-
kipun itu takhta-takhta milik keluarga raja Daud.
4. Mereka mendapatkan pertolongan dan kelegaan di dalam Tuhan ,
dan hanya di dalam Dia. Pada saat teman-teman lain menjauh,
di dalam Dialah mereka mendapati seorang Teman yang setia
dan penuh kuasa. sebab itu, semua orang kudus kepunyaan
Tuhan yang menderita disarankan untuk menaruh kepercayaan
kepada-Nya.
(1) Tuhan menolong pada saat kita menemui jalan buntu (ay.
17): “saat aku nyaris diam di tempat sunyi, pada saat itu-
lah Tuhan menolong aku, menjagaku tetap hidup, menjaga
hatiku. Jika bukan TUHAN yang kujadikan pertolonganku,
dengan menaruh percayaku kepada-Nya dan mengharap-
kan kelegaan dari-Nya, maka aku tidak akan pernah dapat
mengendalikan jiwaku sendiri. Sebaliknya, hidup dengan
iman kepada-Nya telah menjaga kepalaku tetap di atas air,
telah memberiku nafas, dan sesuatu untuk dikatakan.”
(2) Kebaikan Tuhan merupakan sokongan yang besar bagi roh
yang tenggelam (ay. 18): “saat aku berpikir: Kakiku go-
yang, dan tergelincir ke dalam dosa, ke dalam kehancuran,
ke dalam keputusasaan, maka kasih setia-Mu, ya TUHAN,
menyokong aku, menjagaku untuk tidak jatuh, dan menga-
lahkan rancangan orang-orang yang bermaksud menghem-
paskanku dari kedudukanku yang tinggi” (62:5). Kita ber-
utang bukan hanya kepada kuasa Tuhan , melainkan juga
kepada belas kasihan-Nya, untuk dukungan-dukungan ro-
hani yang kita terima: Kasih setia-Mu, karunia-karunia
kasih setia-Mu dan pengharapanku akan kasih setia-Mu,
menyokong aku. Tangan kanan Tuhan menopang umat-Nya
saat mereka melihat ke sebelah kanan dan kiri mereka
dan tidak ada seorang pun yang menyokong mereka. Kita
siap menerima dukungan-dukungan Tuhan yang penuh rah-
mat jika kita sadar akan kelemahan dan ketidakmam-
puan kita sendiri untuk berdiri dengan kekuatan kita sen-
diri dan datang kepada Tuhan , untuk mengakui dan menga-
takan kepada-Nya bagaimana kaki kita goyang.
(3) Penghiburan-penghiburan ilahi merupakan kelegaan yang
sesungguhnya bagi jiwa yang gelisah (ay. 19): “jika
bertambah banyak pikiran dalam batinku, yang ribut seperti
orang ramai, yang saling dorong dan berdesakan seperti
orang ramai, dan yang sangat tidak bisa diatur atau di-
perintah, jika bertambah banyak pikiran yang sedih,
khawatir, dan takut, maka penghiburan-Mu menyenangkan
jiwaku. Dan penghiburan-Mu itu tidak pernah terasa lebih
menyenangkan selain saat ia datang tepat pada waktunya
untuk mendiamkan batinku yang gelisah dan membuat
pikiranku tenang.” Penghiburan-penghiburan duniawi ha-
nya memberi sedikit kenikmatan bagi jiwa yang dice-
kam oleh pikiran-pikiran yang sedih. Penghiburan-penghi-
buran seperti itu bagaikan nyanyian bagi hati yang sedih.
namun penghiburan-penghiburan Tuhan akan menjangkau
jiwa, dan bukan angan-angan saja. Penghiburan-Nya itu
membawa serta damai dan kesenangan yang tidak dapat
diberikan oleh senyuman dunia ini dan tidak dapat diram-
pas oleh kernyit dahi dunia.
5. Tuhan yaitu , dan akan menjadi, Hakim yang benar, penjaga
dan pelindung mereka yang benar dan penghukum serta pem-
balas mereka yang salah. Hal ini diyakini dan juga dialami oleh
si pemazmur sendiri.
(1) Tuhan akan membalaskan orang-orang yang ditindas (ay.
22): “saat tidak ada orang lain yang mau, atau sanggup,
atau berani melindungiku, TUHAN yaitu kota bentengku,
yang menjagaku dari kejahatan permasalahanku, supaya
aku tidak tenggelam di dalamnya dan dihancurkan oleh-
nya. Dia yaitu gunung batu perlindunganku, yang di le-
reng-lerengnya aku bisa berlindung, dan yang di puncak-
nya aku bisa menginjakkan kakiku, supaya jauh terhindar
dari marabahaya.” Tuhan yaitu tempat perlindungan umat-
Nya, kepada-Nya mereka bisa berlari, dan di dalam Dia
mereka bisa aman dan nyaman. Dia yaitu gunung batu
perlindungan mereka, begitu kokoh, begitu teguh, tak ter-
kalahkan, tak tergoyahkan, seperti gunung batu: kadang-
kadang, kekokohan benteng alami jauh melampaui kete-
guhan benteng buatan.
(2) Ia akan mengadakan perhitungan dengan orang-orang yang
menindas (ay. 23): Ia akan membalas kepada mereka per-
buatan jahat mereka. Ia akan berurusan dengan mereka se-
suai dengan apa yang pantas mereka dapatkan, dan keja-
hatan yang mereka perbuat dan rancang melawan umat
Tuhan akan berbalik menimpa mereka sendiri. Kelanjutan-
nya, dan sebab kejahatan mereka Ia akan membinasakan
mereka. Manusia tidak bisa dibuat lebih sengsara dibandingkan
apa yang bisa diperbuat oleh kefasikannya sendiri, jika Tuhan
membalaskan kefasikan itu kepadanya: dengan mengingat-
nya, hati mereka akan tersayat. Dengan dibalaskannya kefa-
sikan mereka, mereka akan binasa. Dengan keyakinan yang
penuh kemenangan akan hal inilah mazmur ini ditutup:
TUHAN, Tuhan kita, yang berpihak kepada kita dan meng-
akui kita sebagai milik-Nya, akan membinasakan mereka
dari persekutuan apa pun dengan-Nya, dan dengan demi-
kian akan membuat mereka benar-benar sengsara, dan ke-
megahan serta kekuasaan mereka tidak akan memberi
keuntungan apa-apa bagi mereka.
PASAL 95
ntuk menjelaskan mazmur ini, kita bisa meminjam terang yang
sangat besar dari uraian sang rasul dalam Kitab Ibrani 3 dan 4.
Dari uraian sang rasul ini tampak bahwa mazmur ini ditulis oleh
Daud dan dirancang untuk hari-hari Mesias. Sebab di sana dikata-
kan dengan jelas (Ibr. 4:7), bahwa hari yang dibicarakan di sini (ay. 7)
harus dipahami sebagai waktu Injil, di mana pada waktu ini
Tuhan berbicara kepada kita melalui Anak-Nya dalam suara yang
menuntut kita untuk mendengarnya. Dan suara itu menyodorkan
kepada kita suatu tempat perhentian selain Kanaan. Dalam menya-
nyikan mazmur, diharapkan,
I. Agar kita “bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan.” Di sini kita di-
gugah untuk melakukannya, dan dibantu dalam melakukan-
nya, sebab kita diajak untuk memuji Tuhan (ay. 1-2) sebagai
Tuhan yang besar (ay. 3-5) dan sebagai Sang Pemberi yang pe-
nuh rahmat bagi kita (ay. 6-7).
II. Agar kita mengajar dan memperingatkan diri kita sendiri ser-
ta satu sama lain. Juga, kita diajar dan diperingatkan untuk
mendengarkan suara Tuhan (ay. 7), dan untuk tidak menge-
raskan hati kita, seperti yang telah diperbuat orang-orang
Israel di padang gurun (ay. 8-9), agar jangan kita jatuh ke
dalam murka Tuhan dan gagal tiba di tempat perhentian-Nya,
seperti yang mereka alami (ay. 10-11).
Mazmur ini harus dinyanyikan dengan sikap hormat yang kudus
terhadap kebesaran Tuhan dan kengerian terhadap keadilan-Nya, de-
ngan keinginan untuk menyenangkan hati-Nya dan ketakutan agar
jangan sampai menyakiti hati-Nya.
Ajakan untuk Memuji Tuhan ;
Alasan-alasan untuk Memuji
(95:1-7a)
1 Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung
batu keselamatan kita. 2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyi-
an syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. 3 Sebab
TUHAN yaitu Tuhan yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala Tuhan .
4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-
gunung pun kepunyaan-Nya. 5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadi-
kannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya. 6 Masuklah, marilah
kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. 7
Sebab Dialah Tuhan kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan
domba tuntunan tangan-Nya.
Si pemazmur di sini, seperti yang sering kali diperbuatnya di tempat-
tempat lain, menggugah dirinya sendiri dan orang lain untuk memuji
Tuhan . Sebab memuji Tuhan merupakan kewajiban yang harus dilak-
sanakan dengan penuh penghayatan, dan untuk melakukannya, kita
sangat butuh digugah, sebab sering kali kita tertinggal untuk mela-
kukannya dan bersikap dingin dalam menjalankannya.
Perhatikanlah:
I. Bagaimana Tuhan harus dipuji.
1. Dengan sukacita dan kesenangan yang kudus di dalam Dia.
Lagu pujian itu haruslah berupa sorak-sorai (ay. 1-2). Sukacita
rohani merupakan hati dan jiwa dari pujian yang penuh syu-
kur. yaitu kehendak Tuhan (begitulah anugerah-Nya yang
mau merendah) bahwa jika kita memberi kemuliaan
kepada-Nya sebagai Keberadaan yang mahasempurna dan pe-
nuh berkat, maka kita harus, pada saat yang sama, bersuka-
cita di dalam Dia sebagai Bapa dan Raja kita, dan sebagai
Tuhan yang mengikat kovenan dengan kita.
2. Dengan sikap hormat yang penuh kerendahan hati dan rasa
takjub yang kudus akan Dia (ay. 6): “Masuklah, marilah kita
sujud menyembah, berlutut di hadapan-Nya, sebagaimana yang
wajib dilakukan oleh orang-orang yang tahu betapa jauh tak
terhingganya jarak antara kita dan Tuhan , dan betapa besarnya
kita terancam murka-Nya dan membutuhkan belas kasihan-
Nya.” Meskipun latihan badani itu sendiri terbatas gunanya,
namun sudah barang tentu merupakan kewajiban kita untuk
memuliakan Tuhan dengan tubuh kita melalui ungkapan-ung-
kapan sikap hormat, kesungguhan, dan kerendahan hati se-
cara lahiriah, dalam menjalankan kewajiban beragama.
3. Kita harus memuji Tuhan dengan suara kita. Kita harus menya-
takan dengan lantang, menyanyikan dengan nyaring puji-puji-
an untuk-Nya, meluap keluar dari dalam hati yang penuh de-
ngan kasih, sukacita, dan rasa syukur. Marilah kita bersorak-
sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak, bersorak-sorak bagi-Nya
dengan nyanyian mazmur, seperti orang yang sungguh-sung-
guh tersentuh oleh kebesaran dan kebaikan-Nya, yang berhas-
rat mengakui bahwa hati kita tersentuh dan ingin terus demi-
kian. Juga, sebagai orang yang rela ingin menjadi alat untuk
menyalakan dan membakar perasaan saleh dan taat yang
sama dalam diri orang lain.
4. Kita harus memuji Tuhan bersama-sama, dalam suatu kumpul-
an jemaat yang khidmat: “Marilah kita bersorak-sorai. Marilah
kita bergabung bersama memuji Tuhan. Jangan orang lain
saja tanpa aku, atau aku sendiri saja, melainkan orang lain
bersama-sama dengan aku. Marilah kita bersama-sama meng-
hadap wajah-Nya, di pelataran rumah-Nya, di mana umat-Nya
biasa melayani-Nya dan berharap agar Dia menyatakan diri-
Nya.” jika kita datang menghadap hadirat Tuhan , kita harus
datang dengan rasa syukur bahwa kita diperbolehkan untuk
mendapat kebaikan seperti itu. jika ada rasa syukur untuk
diucapkan, kita harus datang menghadap wajah Tuhan , berdiri
di hadapan-Nya, dan menunjukkan diri kepada-Nya dalam
ketetapan-ketetapan yang telah ditentukan-Nya.
II. Mengapa Tuhan harus dipuji dan apa yang harus menjadi pokok
pujian kita. Kita tidak kekurangan pokok pujian. Jadi sungguh
baik jika kita tidak kekurangan hati untuk memuji. Kita harus
memuji Tuhan ,
1. sebab Ia Tuhan yang besar, dan Tuhan yang berdaulat atas
semuanya (ay. 3). Ia besar, dan oleh sebab itu terpuji sangat.
Dia tak terbatas dan mahabesar, dan memiliki segala kesem-
purnaan di dalam diri-Nya.
(1) Kuasa-Nya besar: Dia Raja yang besar mengatasi segala
Tuhan , mengatasi segala ilah jadi-jadian, segala hakim, yang
kepada mereka Dia telah berfirman, kamu yaitu Tuhan (Ia
mengatur mereka semua dan memenuhi tujuan-Nya sendiri
melalui mereka, dan kepada-Nya mereka semua bertang-
gung jawab). Dia mengatasi segala ilah palsu, segala yang
mengaku ilah, segala perebut kekuasaan. Ia sanggup mela-
kukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh seorang pun
dari antara mereka. Ia sanggup, dan akan, membuat mere-
ka mati kelaparan dan menaklukkan mereka semua.
(2) Kepunyaan-Nya melimpah. Dunia bawah ini dibicarakan
secara khusus di sini. Kita menganggap hebat orang-orang
yang mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, yang mere-
ka sebut sebagai milik mereka sendiri dan terpisah dari ba-
gian dunia yang lain, namun wilayah mereka itu hanyalah
sebagian yang sangat kecil saja dari alam semesta ini. Dan
jika demikian adanya, betapa dahsyatnya Tuhan yang empu-
nya bumi serta segala isinya, yang tidak saja ada di bawah
kaki-Nya, sebab kekuasaan-Nya mutlak atas semua makh-
luk dan mereka semua yaitu kepunyaan-Nya, namun juga
yang ada dalam genggaman tangan-Nya, sebab Ia sungguh-
sungguh mengarahkan dan mengatur segala isinya (ay. 4).
Bahkan bagian-bagian bumi yang paling dalam, yang tidak
tampak oleh mata kita, mata air dan tambang yang ada di
bawah lapisan bumi, ada di tangan-Nya. Lagi, puncak gu-
nung-gunung, yang ada di luar jangkauan kita, apa pun
yang tumbuh atau mencari makan di atasnya, juga kepu-
nyaan-Nya. Perkataan ini bisa diartikan secara kiasan:
yang paling hina dari anak-anak manusia, yang seperti
bagian-bagian bumi di bawah, tidak luput dari perhatian-
Nya. Dan yang terbesar dari antara mereka, yang seperti
kokohnya gunung-gunung, tidak di luar pengawasan-Nya.
Kekuatan apa saja yang ada pada makhluk mana saja
semuanya berasal dari Tuhan dan dipakai untuk-Nya (ay. 5):
Kepunyaan-Nya laut, dan segala yang ada di dalamnya
(ombak-ombak menggenapi firman-Nya). Laut kepunyaan-
Nya, sebab Dialah yang menjadikannya, mengumpulkan
airnya dan menetapkan garis-garis pantainya. Dan darat,
meskipun diberikan kepada anak-anak manusia, yaitu
kepunyaan-Nya juga, sebab Ia masih menyediakannya bagi
diri-Nya sendiri. Darat kepunyaan-Nya, sebab tangan-Nya-
lah yang membentuknya, saat firman-Nya membuat tanah
yang kering menjadi tampak. sebab Dia Pencipta segala
sesuatu, maka tanpa bisa dibantah lagi, Dialah Pemilik
atas segalanya. sebab mazmur ini yaitu mazmur Injil,
kita boleh-boleh saja menduga bahwa Tuhan Yesuslah yang
diajarkan kepada kita di sini untuk kita puji. Dialah Tuhan
yang besar. Tuhan perkasa yaitu salah satu gelar-Nya, dan
Tuhan atas segalanya, yang terpuji sampai selama-lamanya.
Sebagai Pengantara, Dia Raja yang besar mengatasi segala
Tuhan . Oleh Dia para raja memerintah, dan para malaikat,
pemerintahan, dan penguasa tunduk kepada-Nya. Oleh
Dia, sebagai Firman kekal, segala sesuatu dijadikan (Yoh.
1:3), dan sungguh pantas Dia, yang yaitu Pencipta segala
sesuatu, menjadi Pemulih dan Pendamai segala sesuatu
(Kol. 1:16, 20). Kepada-Nya segala kuasa diberikan baik di
sorga maupun di bumi, dan ke dalam tangan-Nya segala
sesuatu diserahkan. Dialah yang menginjakkan kaki ka-
nan-Nya di atas laut dan kaki kiri-Nya di atas bumi, seba-
gai Tuhan yang berdaulat atas keduanya (Why. 10:2), dan
oleh sebab itu kepada-Nyalah kita harus menyanyikan
lagu-lagu pujian kita, dan di hadapan-Nyalah kita harus
sujud menyembah.
2. sebab Dia Tuhan kita, bukan saja yang berkuasa atas diri kita,
seperti Dia berkuasa atas semua makhluk, namun juga yang
mempunyai hubungan khusus dengan kita (ay. 7): Dialah
Tuhan kita, dan oleh sebab itu kita diharapkan untuk memuji-
Nya. Siapa lagi yang akan melakukannya jika bukan kita? Un-
tuk apa lagi kita dijadikan oleh-Nya selain agar kita menjadi
ternama dan terpuji bagi Dia?
(1) Dialah Pencipta kita, dan yang menjadikan kita. Kita harus
berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita (ay. 6).
Para penyembah berhala berlutut di hadapan ilah-ilah yang
mereka jadikan sendiri. Sedangkan kita berlutut di hadapan
Tuhan yang menjadikan kita dan seluruh dunia, dan yang
oleh sebab itu merupakan pemilik kita yang sah. Sebab kita
kepunyaan-Nya, dan bukan kepunyaan diri kita sendiri.
(2) Dia Juruselamat kita, dan yang membuat kita berbahagia.
Di sini Dia disebut gunung batu keselamatan kita (ay. 1),
bukan hanya pendiri melainkan juga dasar dari pekerjaan
yang ajaib itu, yang di atasnya keselamatan dibangun. Gu-
nung batu itu ialah Kristus. Oleh sebab itu, kepada-Nyalah
kita harus menyanyikan lagu-lagu pujian kita, bagi Dia
yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba.
(3) Oleh sebab itu, kita yaitu kepunyaan-Nya, dan terikat
dengan segala kemungkinan kewajiban: Kitalah umat gem-
balaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya.
Demikian pula dengan semua anak manusia. Mereka diberi
makan dan dituntun oleh Pemeliharaan-Nya, yang menjaga
mereka, dan memimpin mereka, sebagaimana yang diper-
buat gembala terhadap kawanan dombanya. Kita harus
memuji-Nya, bukan hanya sebab Dia menjadikan kita, te-
tapi sebab Dia menjaga dan memelihara kita, dan nafas
serta jalan-jalan kita berada dalam tangan-Nya. Demikian
pula dengan semua anak-anak jemaat secara khusus.
Israel yaitu umat gembalaan-Nya dan kawanan domba
tuntunan tangan-Nya. Oleh sebab itu Ia menuntut penghor-
matan dari mereka secara khusus. Jemaat Injil yaitu ka-
wanan domba-Nya. Kristus yaitu Gembalanya yang agung
dan baik. Kita, sebagai orang-orang Kristen, dituntun oleh
tangan-Nya ke padang yang berumput hijau, oleh-Nya kita
dilindungi dan diberi persediaan dengan baik, dan demi ke-
hormatan serta pelayanan kepada-Nya kita sepenuhnya
mengabdi sebagai umat kepunyaan Tuhan sendiri. Oleh se-
bab itu, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat (entah itu
di dunia atau bukan) sampai selama-lamanya (Ef. 3:21).
Peringatan terhadap Kekerasan Hati
(95:7b-11)
7 Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! 8 Janganlah keraskan
hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, 9 pada
waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka
melihat perbuatan-Ku. 10 Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu,
maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak
mengenal jalan-Ku.” 11 Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: “Mereka
takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”
Bagian terakhir dari mazmur ini, yang dimulai di tengah-tengah se-
buah ayat, merupakan nasihat kepada orang-orang yang menyanyi-
kan mazmur Injil, agar mereka hidup sesuai dengan Injil dan men-
dengarkan suara firman Tuhan . Sebab jika tidak, bagaimana mereka
dapat berharap bahwa Ia akan mendengarkan suara doa-doa dan
puji-pujian mereka?
Perhatikanlah:
I. Kewajiban yang dituntut dari semua orang yang merupakan umat
gembalaan Kristus dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Ia
berharap agar mereka mendengar suara-Nya, sebab Ia telah ber-
kata, domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku (Yoh. 10:27). Kita-
lah umat gembalaan-Nya, kata mereka. Apakah engkau juga? Maka
dengarlah suara-Nya. Jika engkau memanggil-Nya Guru, atau Tuan,
maka perbuatlah apa yang dikatakan-Nya, dan jadilah umat-Nya
yang patuh dan taat. Dengarlah suara ajaran-Nya, suara hukum-
Nya, dan di dalam keduanya, suara Roh-Nya. Dengar dan cam-
kanlah. Dengar dan berserahlah. Dengarlah suara-Nya, dan bu-
kan suara orang asing. Sekiranya kamu mendengar suara-Nya. Se-
bagian orang memandang ini sebagai sebuah pengharapan, oh
sekiranya saja kamu mendengar suara-Nya! Sekiranya kamu men-
jadi begitu bijak, dan berbuat begitu baik bagi dirimu sendiri. Ini
serupa dengan perkataan berikut, jika pada hari ini juga engkau
mengerti (Luk. 19:42), yaitu, Oh sekiranya saja engkau mengerti!
Suara Kristus harus didengar pada hari ini. Hal ini sangat dite-
kankan oleh sang rasul, dengan merujuk pada hari Injil. jika
Ia sedang berbicara kepadamu, pastikan bahwa engkau menyi-
maknya, sebab kesempatan yang engkau dapatkan pada hari ini
tidak akan selalu ada. Oleh sebab itu, manfaatkanlah itu, selama
masih dapat dikatakan “hari ini” (Ibr. 3:13, 15). Mendengarkan
suara Kristus berarti percaya. Hari ini, jika dengan iman kamu
menerima tawaran Injil, maka itu baik, namun besok mungkin su-
dah terlambat. Dalam hal yang teramat penting seperti ini, tidak
ada yang lebih berbahaya dibandingkan menunda-nunda.
II. Dosa yang diperingatkan kepada mereka, sebagai hal yang tidak
selaras dengan telinga yang percaya dan taat, yang dituntut dari
mereka, dan dosa itu ialah kekerasan hati. Sekiranya kamu men-
dengar suara-Nya, dan mendapat manfaat dari apa yang kamu de-
ngar, maka janganlah keraskan hatimu. Sebab benih yang ditabur
di atas batu tidak akan pernah menghasilkan buah yang sempur-
na. Oleh sebab itu, orang-orang Yahudi tidak percaya pada Injil
Kristus, sebab hati mereka mengeras. Mereka tidak diyakinkan
akan kejahatan dosa, dan akan bahaya yang mengintai mereka
sebab dosa, dan oleh sebab itu mereka tidak mengindahkan ta-
waran keselamatan. Mereka tidak mau menanggung kuk Kristus,
atau berserah pada tuntutan-tuntutan-Nya. Jika hati orang ber-
dosa sudah mengeras, itu yaitu perbuatan dan tindakannya
sendiri (dia sendirilah yang mengeraskannya) dan dia sendirilah
yang akan menanggung kesalahannya untuk selama-lamanya.
III. Contoh yang dijadikan peringatan bagi mereka, yaitu tentang
orang-orang Israel di padang gurun.
1. “Berjaga-jagalah agar tidak berdosa seperti mereka, sebab ka-
lau tidak, tempat perhentian kekal akan tertutup bagimu sama
seperti Kanaan bagi mereka.” Jangan seperti nenek moyang
mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak (78:8). Demi-
kian pula di sini, janganlah keraskan hatimu seperti yang
kamu perbuat (maksudnya, yang diperbuat nenek moyangmu)
seperti saat mereka membangkitkan amarah-Nya, atau seper-
ti saat di Meriba, tempat mereka bertengkar dengan Tuhan
dan Musa (Kel. 17:2-7), dan seperti pada hari di Masa di pa-
dang gurun (ay. 8). Demikian seringnya mereka membangkit-
kan amarah Tuhan dengan ketidakpercayaan dan sungut-
sungut mereka sehingga seluruh waktu yang mereka habiskan
di padang gurun bisa disebut sebagai masa pencobaan, atau
Masa, nama lain yang diberikan untuk tempat itu (Kel. 17:7),
sebab mereka mencobai Tuhan, dengan berkata, “Adakah
TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Hal ini mereka per-
buat sewaktu di padang gurun, di mana mereka tidak berdaya
menolong diri mereka sendiri, namun justru sepenuhnya ber-
gantung pada belas kasihan Tuhan , dan di mana Tuhan secara
ajaib telah menolong mereka dan memberi mereka bukti-bukti
kekuasaan-Nya yang dapat mereka saksikan dengan panca
indra, dan pertanda-pertanda kebaikan-Nya seperti yang be-
lum pernah diberikan kepada umat mana pun sebelum atau
sesudahnya.
Perhatikanlah:
(1) Hari-hari pencobaan yaitu hari-hari yang membangkitkan
amarah Tuhan. Tidak ada yang lebih menyakitkan hati
Tuhan dibandingkan ketidakpercayaan terhadap janji-Nya dan
keputusasaan akan pelaksanaannya oleh sebab beberapa
kesulitan yang tampak menghadang di tengah jalan.
(2) Semakin banyak pengalaman yang kita miliki akan kuasa
dan kebenaran Tuhan , semakin besar dosa kita jika kita
tidak percaya kepada-Nya. Coba bayangkan, mencobai-Nya
di padang gurun, di mana kita hidup dengan bergantung
pada-Nya! Sungguh suatu tindakan yang selain tidak tahu
berterima kasih, juga ganjil dan tidak masuk akal.
(3) Kekerasan hati merupakan dasar dari segala ketidakper-
cayaan kita terhadap Tuhan dan perselisihan kita dengan-
Nya. Hati yang keras yaitu hati yang tidak mau menerima
kesan-kesan penyingkapan ilahi dan tidak mau menuruti
maksud-maksud kehendak ilahi, yang tidak mau luluh,
tidak mau diluruskan.
(4) Dosa-dosa orang lain haruslah menjadi peringatan bagi
kita untuk tidak mengikuti jejak langkah mereka. Sungut-
sungut Israel dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita
(1Kor. 10:11).
2. Sekarang di sini Lihatlah ,
(1) Dakwaan yang diajukan, dalam nama Tuhan , melawan
orang-orang Israel yang tidak percaya (ay. 9-10). Tuhan di
sini, berabad-abad sesudahnya, mengeluhkan kelakuan
mereka yang jahat terhadap-Nya, melalui ungkapan-ung-
kapan kebencian yang mendalam.
[1] Dosa mereka yaitu ketidakpercayaan: mereka menco-
bai dan menguji Tuhan . Mereka mempertanyakan apakah
mereka bisa memegang perkataan-Nya, dan bersikeras
untuk mendapatkan jaminan yang lebih jauh lagi sebe-
lum mereka melangkah maju ke Kanaan, dengan mengi-
rimkan mata-mata. saat mata-mata itu mematahkan
semangat mereka, mereka mengeluhkan kemampuan
kuasa dan janji ilahi, dan berniat mengangkat seorang
pemimpin lalu pulang ke Mesir (Bil. 14:3-4). Ini disebut
perbuatan yang menentang (Ul. 1:26, 32).
[2] Yang memperberat dosa ini yaitu bahwa mereka su-
dah melihat perbuatan Tuhan . Mereka melihat apa yang
telah diperbuat-Nya bagi mereka dalam membawa mere
ka keluar dari Mesir, bahkan, apa yang pada saat itu
tengah diperbuat-Nya bagi mereka setiap hari, pada hari
ini, dalam roti yang diturunkan-Nya dari langit bagi me-
reka dan air yang keluar dari gunung batu yang meng-
ikuti mereka. Selain hal ini, mereka tidak dapat mem-
punyai bukti-bukti yang lebih tidak diragukan lagi akan
hadirat Tuhan bersama mereka. Bagi mereka, bahkan
melihat belum tentu percaya, sebab mereka mengeras-
kan hati mereka, sekalipun mereka telah melihat apa
yang didapat Firaun dengan mengeraskan hatinya.
[3] Penyebab-penyebab dosa mereka. Lihatlah apa yang di-
pandang Tuhan sebagai penyebabnya: Mereka suatu
bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal
jalan-Ku. Ketidakpercayaan dan keraguan manusia akan
Tuhan , sungut-sungut dan perselisihan mereka dengan-
Nya, merupakan dampak dari kemasabodohan dan kesa-
lahan mereka. Pertama, dampak dari kemasabodohan
mereka: Mereka itu tidak mengenal jalan-Ku. Mereka me-
lihat perbuatan-Nya (ay. 9) dan Ia telah memperkenalkan
perbuatan-perbuatan-Nya kepada mereka (103:7), namun
mereka tidak mengenal jalan-Nya, jalan pemeliharaan-
Nya, yang di dalamnya Ia berjalan menghampiri mereka,
atau jalan perintah-perintah-Nya, yang di dalamnya Ia
ingin agar mereka berjalan menghampiri-Nya. Mereka
tidak tahu, mereka tidak mengerti dengan benar, dan
oleh sebab itu tidak menerima jalan-jalan ini. Perhatikan-
lah, alasan mengapa orang meremehkan dan meninggal-
kan jalan-jalan Tuhan yaitu sebab mereka tidak menge-
tahuinya. Kedua, dampak dari kesalahan mereka: Me-
reka suatu bangsa yang sesat hati. Mereka sudah ter-
sesat. Di dalam hati mereka berpaling. Perhatikanlah,
dosa yaitu kesalahan, kesalahan yang nyata dalam
perbuatan, kesalahan di dalam hati. Demikianlah dosa-
dosa itu, dan sama mematikannya seperti kesalahan-
kesalahan di dalam pikiran. jika perasaan yang ru-
sak mengacaukan penghakiman, dan dengan demikian
mengantar jiwa keluar dari jalan kewajiban dan jalan
ketaatan, maka ada kesesatan di dalam hati.
[4] Kebencian Tuhan terhadap dosa mereka: Empat puluh
tahun Aku jemu kepada angkatan itu. Perhatikanlah,
dosa-dosa umat yang mengaku kepunyaan Tuhan tidak
saja membuat-Nya marah, namun juga mendukakan-Nya,
membuat-Nya jemu, terutama ketidakpercayaan mereka
terhadap-Nya. Dan Tuhan mencatat betapa seringnya (Bil.
14:22) dan betapa lamanya mereka mendukakan-Nya.
Lihatlah betapa sabarnya Tuhan terhadap orang-orang
berdosa yang membangkitkan amarah-Nya. Dia berduka
oleh sebab mereka selama empat puluh tahun, namun
tahun-tahun itu berakhir dengan masuknya keturunan
mereka berikutnya ke tanah Kanaan dengan penuh ke-
menangan. Jika dosa-dosa kita telah mendukakan hati
Tuhan , pastilah dosa-dosa itu harus mendukakan hati
kita juga, dan tidak ada hal lain di dalam dosa yang
bisa teramat sangat mendukakan kita selain dosa yang
mendukakan Tuhan .
(2) Hukuman yang dijatuhkan ke atas mereka sebab dosa
mereka (ay. 11): “Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-
Ku, jika mereka masuk ke tempat perhentian-Ku, maka bo-
lehlah dikatakan bahwa Aku bisa berubah-ubah dan tidak
berlaku setia.” Lihatlah hukuman ini secara panjang lebar
dalam Bilangan 14:21, dst.
Perhatikanlah:
[1] Dari mana hukuman ini datang, yaitu dari murka Tuhan .
Ia bersumpah dalam murka-Nya dengan sungguh-sung-
guh, murka-Nya yang adil dan kudus. namun janganlah
sebab itu manusia bersumpah dengan sembarangan di
dalam murka mereka, murka kebinatangan mereka
yang penuh dosa. Tuhan tidak tunduk pada perasaan-
perasaan demikian seperti kita. namun Ia dikatakan mur-
ka, sangat murka, terhadap dosa dan terhadap orang-
orang berdosa, untuk menunjukkan kejahatan dosa dan
keadilan pemerintahan Tuhan . Pasti sesuatu yang jahat
pantas mendapat balasan yang berat seperti ini dari
Tuhan yang murka.
[2] Apa hukuman itu: Bahwa mereka takkan masuk ke
tempat perhentian-Nya, tempat perhentian yang telah
dipersiapkan dan dirancang-Nya untuk mereka, tempat
kediaman untuk mereka dan untuk dijadikan sebagai
milik mereka, bahwa tidak seorang pun dari mereka
yang turut serta keluar dari Mesir akan didapati tertulis
dalam kitab orang-orang hidup saat memasuki tanah
Kanaan, selain Kaleb dan Yosua.
[3] Bagaimana hukuman itu disahkan: Aku bersumpah.
Hukum ini bukan sekadar niat, melainkan sebuah titah.
Sumpah menunjukkan kepastian putusan-Nya. TUHAN
telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal. Dengan
sumpah, pupuslah sudah segala harapan akan masih
tersedianya belas kasihan. Ancaman-ancaman Tuhan itu
sepasti janji-janji-Nya.
Nah, masalah Israel ini bisa diterapkan kepada keturunan-ketu-
runannya yang hidup pada masa Daud, saat mazmur ini ditulis-
kan. Biarlah mereka mendengar suara Tuhan , dan tidak mengeraskan
hati mereka seperti yang diperbuat oleh nenek moyang mereka.
Sebab jika tidak, jika mereka tegar tengkuk seperti nenek moyang
mereka, maka murka Tuhan akan bangkit untuk menghapuskan hak-
hak istimewa mereka atas Bait Suci-Nya di Yerusalem, yang tentang-
nya Dia telah berkata, “Inilah tempat perhentian-Ku.” namun masalah
ini juga berlaku bagi kita orang-orang Kristen, sebab demikianlah
sang rasul menerapkannya. Ada suatu tempat perhentian rohani dan
kekal yang dipersiapkan bagi kita, dan yang dijanjikan kepada kita,
yang diperlambangkan dengan Kanaan. Kita semua (setidak-tidaknya
dalam pengakuan) sedang menuju tempat perhentian ini. Namun
banyak orang yang tampaknya demikian ternyata kemudian gagal
dan tidak akan pernah memasukinya. Dan apakah yang menjadi
penghalang di pintu mereka? Penghalangnya yaitu dosa. Pengha-
langnya yaitu ketidakpercayaan, dosa yang diperbuat melawan obat
penawar itu, melawan permohonan kita sendiri untuk masuk ke tem-
pat peristirahatan itu. Orang-orang yang, seperti Israel, tidak percaya
akan Tuhan , dan akan kuasa serta kebaikan-Nya, dan lebih memilih
bawang merah dan bawah putih Mesir dibandingkan susu dan madu
Kanaan, sudah sewajarnya untuk dihalangi masuk ke dalam tempat
perhentian-Nya. Demikianlah nasib yang akan menimpa mereka. Me-
reka sendiri telah memutuskannya. Sebab itu, baiklah kita waspada
(Ibr. 4:1).
PASAL 96
azmur ini merupakan bagian dari nyanyian yang disampaikan
ke tangan Asaf dan saudara-saudaranya untuk dinyanyikan
(1Taw. 16:7). Dengan ini tampak bahwa Daud yaitu penulisnya dan
bahwa nyanyian itu merujuk pada perarakan tabut perjanjian ke kota
Daud. Entah mazmur yang panjang itu dibuat terlebih dahulu, dan
kemudian mazmur ini diambil darinya, atau mazmur ini dibuat
terlebih dahulu, dan sesudah itu dipinjam untuk melengkapi mazmur
yang panjang itu, tidaklah pasti. namun yang pasti bahwa, meskipun
dinyanyikan pada saat tabut perjanjian dipindahkan, mazmur ini
memandang lebih jauh, pada Kerajaan Kristus, dan dirancang untuk
merayakan kemuliaan-kemuliaan Kerajaan itu, terutama masuknya
orang-orang bukan-Yahudi ke dalamnya. Inilah,
I. Sebuah panggilan yang diberikan kepada semua orang untuk
memuji Tuhan , untuk menyembah-Nya, dan untuk memberi
kemuliaan kepada-Nya, sebagai Tuhan yang besar dan mulia
(ay. 1-9).
II. Pemberitahuan kepada semua orang tentang pemerintahan
dan penghakiman Tuhan atas segala sesuatu, yang harus
menjadi pokok sukacita bagi segala bangsa (ay. 10-13).
Dalam menyanyikan mazmur ini, hati kita haruslah dipenuhi de-
ngan pikiran-pikiran yang agung dan luhur tentang kemuliaan Tuhan
dan anugerah Injil, serta dipenuhi dengan kepuasan penuh akan
pemerintahan Kristus yang berdaulat dan akan pengharapan mengenai
penghakiman yang akan datang.
Sebuah Ajakan untuk Memuji dan Menghormati Tuhan ;
Sebuah Panggilan untuk Memuliakan Tuhan
(96:1-9)
1 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai
segenap bumi! 2 Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah
keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. 3 Ceritakanlah kemuliaan-
Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di an-
tara segala suku bangsa. 4 Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia
lebih dahsyat dari pada segala Tuhan . 5 Sebab segala Tuhan bangsa-bangsa yaitu
hampa, namun TUHANlah yang menjadikan langit. 6 Keagungan dan semarak
ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya. 7
Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan
kekuatan! 8 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembah-
an dan masuklah ke pelataran-Nya! 9 Sujudlah menyembah kepada TUHAN
dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi!
Ayat-ayat ini paling baik diuraikan dengan perasaan-perasaan saleh
dan taat kepada Tuhan yang bekerja di dalam jiwa kita, dengan pemu-
jaan yang tinggi akan kebesaran dan keunggulan-Nya yang melam-
paui segalanya. Panggilan yang diberikan kepada kita di sini untuk
memuji Tuhan sangatlah hidup, ungkapan-ungkapannya dinaikkan dan
diulangi, yang kesemuanya menuntut balasan sepadan dari gema
sebuah hati yang penuh syukur.
I. Di sini kita dituntut untuk menghormati Tuhan ,
1. Dengan nyanyian (ay. 1-2). Tiga kali di sini kita dipanggil un-
tuk bernyanyi bagi Tuhan. Bernyanyi bagi Bapa, bagi Anak,
dan bagi Roh Kudus, seperti pada permulaan, pada waktu bin-
tang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, pada saat ini,
dalam jemaat yang sedang berjuang, dan pada saat nanti,
dalam jemaat yang menang. Kita mempunyai alasan untuk
sering melakukannya, dan kita perlu sering diingatkan untuk
melakukannya, serta digugah untuk menjalankannya. Bernya-
nyilah bagi Tuhan, maksudnya, “Pujilah nama-Nya, katakanlah
yang baik tentang Dia, agar engkau dapat membawa orang lain
untuk berpikiran baik pula tentang Dia.”
(1) Nyanyikanlah nyanyian baru, nyanyian bagus, buah karya
dari perasaan-perasaan yang baru, dibungkus dengan ung-
kapan-ungkapan baru. “Lagu lama” biasanya kita bicara-
kan dengan nada merendahkan, namun lagu akan dipuji jika
baru. Sebab dalam lagu baru kita mengharapkan sesuatu
yang mengejutkan. Nyanyian baru yaitu nyanyian untuk
kebaikan-kebaikan yang baru, untuk kasih setia yang se-
lalu baru setiap pagi. Nyanyian baru yaitu nyanyian Per-
janjian Baru, nyanyian pujian untuk kovenan baru dan hak-
hak istimewa yang berharga dari perjanjian itu. Nyanyian
baru yaitu nyanyian yang senantiasa baru, dan yang tidak
akan pernah menjadi tua atau hilang lenyap. Nyanyian baru
yaitu nyanyian abadi, yang tidak akan pernah usang atau
ketinggalan zaman.
(2) Biarlah segenap bumi menyanyikan nyanyian ini, bukan
orang-orang Yahudi saja, yang kepada mereka sudah di-
tetapkan untuk melayani Tuhan hingga saat ini, yang tidak
dapat menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing (atau
tidak mau menyanyikannya untuknya), melainkan juga biar-
lah segenap bumi, semua yang telah ditebus dari bumi, mem-
pelajari dan menyanyikan nyanyian baru ini (Why. 14:3). Ini
merupakan nubuatan tentang dipanggilnya orang-orang
bukan-Yahudi. Segenap mulut bumi akan penuh dengan
nyanyian baru ini, akan mempunyai alasan maupun pang-
gilan untuk menyanyikannya.
(3) Biarlah yang menjadi pokok nyanyian ini yaitu keselamat-
an yang dari pada-Nya, keselamatan agung yang akan di-
kerjakan oleh Tuhan Yesus. Itulah yang harus diperlihat-
kan sebagai penyebab dari sukacita dan pujian ini.
(4) Biarlah nyanyian ini dinyanyikan terus-menerus, bukan
hanya pada waktu-waktu yang ditetapkan sebagai hari-hari
perayaan, namun juga dari hari ke hari. Keselamatan ini me-
rupakan pokok pembicaraan yang tidak akan pernah habis.
Biarlah perkataan ini diucapkan hari demi hari, sehingga di
bawah pengaruh ibadah-ibadah Injil, setiap hari kita dapat
menunjukkan contoh ajaran Injil.
2. Dengan pemberitaan (ay. 3): Ceritakanlah kemuliaan-Nya di an-
tara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib
di antara segala suku bangsa.
(1) Keselamatan oleh Kristus di sini dibicarakan sebagai per-
buatan yang ajaib, dan yang di dalamnya kemuliaan Tuhan
bersinar sangat terang. Dengan memperlihatkan keselamat-
an itu, kita menceritakan kemuliaan Tuhan yang bersinar
pada wajah Kristus.
(2) Keselamatan ini, pada zaman Perjanjian Lama, seperti hal-
nya kebahagiaan sorgawi pada saat ini, merupakan kemu-
liaan yang akan diungkapkan. namun pada kegenapan wak-
tu keselamatan itu dinyatakan, dan penyingkapan yang
sepenuhnya diberikan, bahkan kepada orang-orang kecil,
yang ingin dan berharap dilihat oleh para nabi dan raja,
namun tidak diberikan.
(3) Apa yang disingkapkan pada waktu itu diceritakan hanya
di antara orang-orang Yahudi, namun sekarang hal itu juga
diceritakan di antara bangsa-bangsa, di antara segala suku
bangsa. Bangsa-bangsa yang sudah lama terbaring dalam
kegelapan kini melihat terang besar ini. Amanat yang di-
berikan kepada para rasul untuk memberitakan Injil ke-
pada setiap makhluk disalin dari sini: Ceritakanlah kemu-
liaan-Nya di antara bangsa-bangsa.
3. Dengan ibadah-ibadah (ay. 7-9). Sampai pada saat itu, meski-
pun dalam setiap bangsa orang-orang yang takut akan Tuhan
dan yang melakukan kebaikan dikenan oleh-Nya, namun kete-
tapan-ketetapan ibadah yang telah ditegakkan dengan baik
hanya ada dalam agama Yahudi. Walaupun demikian, pada
masa Injil, suku-suku bangsa akan diundang dan diterima da-
lam beribadah kepada Tuhan dan akan disambut dengan sama
baiknya seperti orang-orang Yahudi sebelum-sebelumnya. Pe-
lataran bangsa-bangsa lain tidak akan lagi menjadi pelataran
luar, namun akan dipadukan bersama-sama dengan pelataran
Israel. Segenap bumi di sini dipanggil untuk takut akan
Tuhan, untuk menyembah-Nya sesuai dengan ketentuan-Nya.
Di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi na-
ma-Nya (Mal. 1:11; Za. 14:17; Yes. 66:23). Ini memang ber-
bicara tentang aib bagi orang-orang Yahudi, namun bersamaan
dengan itu, hal ini memberi pengharapan akan suatu hal
yang akan membawa kemuliaan berlimpah bagi Tuhan dan bagi
kebahagiaan umat manusia. Sekarang Lihatlah bagaimana
ibadah-ibadah kepada Tuhan digambarkan di sini.
(1) Kita harus memberi kepada Tuhan. Bukan seolah-olah
Tuhan memerlukan sesuatu atau bisa menerima sesuatu
dari kita atau dari makhluk mana pun, yang seakan sebe-
lumnya bukan milik-Nya, apalagi seolah Ia tidak memper-
oleh keuntungan apa pun dari mereka. namun dalam segala
perasaan, pemujaan, dan pelayanan kita yang terbaik, kita
harus kembalikan kepada-Nya apa yang telah kita terima
dari-Nya, dan melakukannya dengan bebas, seperti kalau
kita memberi sesuatu. Sebab Tuhan mengasihi orang yang
memberi dengan sukacita. Semua yang harus kita berikan
itu yaitu utang, biaya sewa, upeti, sesuatu yang harus
dibayarkan, yang jika tidak diberikan, akan dituntut kem-
bali. Namun, jika semuanya itu datang dari kasih yang
kudus, maka Tuhan berkenan menerimanya sebagai suatu
pemberian.
(2) Kita harus mengakui Tuhan sebagai Tuhan yang berdaulat
dan memberi penghormatan kepada-Nya sesuai dengan
kedudukan-Nya itu (ay. 7): Kepada TUHAN sajalah kemulia-
an dan kekuatan, kemuliaan dan kerajaan, atau pemerin-
tahan. Demikian menurut sebagian orang. Sebagai Raja,
Dia berpakaian jubah kemuliaan dan berikatpinggangkan
kekuasaan, dan kita harus tunduk pada keduanya. Eng-
kaulah yang empunya Kerajaan, dan oleh sebab itu Eng-
kaulah yang empunya kuasa dan kemuliaan. “Berilah ke-
muliaan kepada Tuhan . Janganlah menyimpannya untuk
dirimu sendiri, atau memberi nya kepada makhluk lain.”
(3) Kita harus memberi kepada TUHAN kemuliaan nama-
Nya, yakni, penyingkapan akan diri-Nya yang berkenan di-
berikan-Nya kepada anak-anak manusia. Dalam semua
ibadah agama, inilah yang harus kita tuju, yaitu untuk
menghormati Tuhan , untuk memberi kepada-Nya sebagi-
an dari penghormatan yang wajib kita bayarkan kepada-
Nya sebagai Yang Terbaik dari semua yang ada dan sebagai
Sumber dari keberadaan kita.
(4) Kita harus membawa persembahan dan masuk ke pelatar-
an-Nya. Kita harus membawa, pertama-tama, persembahan
bangsa-bangsa bukan Yahudi (Rm. 15:16). Kita harus se-
nantiasa mempersembahkan korban syukur (Ibr. 13:15), ha-
rus sering kali tampil di hadapan Tuhan dalam ibadah ber-
sama dan jangan pernah tampil di hadapan-Nya dengan
tangan hampa.
(5) Kita harus sujud menyembah-Nya dengan berhiaskan keku-
dusan, dalam kumpulan jemaat yang khidmat di mana
ketetapan-ketetapan ilahi dijalankan dalam ibadah agama,
yang perhiasannya yaitu kekudusan mereka, yaitu, ke-
taatan mereka pada peraturan. Kita harus menyembah-Nya
dengan hati yang suci, yang dikuduskan oleh anugerah
Tuhan , diabdikan untuk kemuliaan Tuhan , dan dimurnikan
dari kecemaran dosa.
(6) Kita harus gemetar di hadapan-Nya. Segala tindakan iba-
dah harus dijalankan berdasar asas takut akan Tuhan
dan dengan rasa takjub serta sikap hormat yang kudus.
II. Di tengah-tengah panggilan untuk memuji Tuhan dan untuk mem-
berikan kemuliaan kepada-Nya ini, hal-hal yang mulia dikatakan
di sini tentang Dia, baik sebagai alasan untuk memuji maupun
sebagai pokok pujian: TUHAN mahabesar, dan oleh sebab itu
terpuji sangat (ay. 4) dan lebih dahsyat, besar dan terhormat bagi
hamba-hamba-Nya, besar dan mengerikan bagi musuh-musuh-
Nya. Bahkan nyanyian baru menyatakan bahwa Tuhan itu besar
dan juga baik. Sebab kebaikan-Nya yaitu kemuliaan-Nya. saat
Injil kekal diberitakan, beginilah bunyinya, takutlah akan Tuhan
dan muliakanlah Dia (Why. 14:6-7).
1. Ia besar dalam kedaulatan-Nya atas segala sesuatu yang meng-
aku-ngaku ilah. Tidak seorang pun berani bersaing dengan-Nya:
Ia lebih dahsyat dari pada segala Tuhan , dibandingkan segala pengua-
sa, yang sering kali dituhankan sesudah kematian mereka, dan
bahkan sewaktu masih hidup dipuja sebagai ilah-ilah kecil,
atau lebih tepatnya segala berhala, Tuhan bangsa-bangsa (ay.
5). sebab segenap bumi dipanggil untuk menyanyikan nya-
nyian baru, mereka harus insaf bahwa Tuhan Yahweh, yang
demi kehormatan-Nya mereka harus menyanyikannya, yaitu
satu-satunya Tuhan yang hidup dan benar, jauh mengatasi
segala lawan dan ilah-ilah palsu. Ia besar, dan mereka kecil.
Dia segalanya, dan mereka hampa. Demikianlah arti kata ber-
hala yang dipakai di sini (KJV), sebab kita tahu bahwa tidak
ada berhala di dunia (1Kor. 8:4).
2. Dia sendiri besar, bahkan dibandingkan dengan makhluk cip-
taan yang paling mulia. Sebab makhluk yaitu karya-Nya sen-
diri dan keberadaan mereka berasal dari Dia: TUHANlah yang
menjadikan langit dan segala tentaranya. Mereka yaitu buat-
an jari-Nya (8:3). Begitu indah, begitu ajaib, mereka dicipta-
kan. Ilah bangsa-bangsa semuanya merupakan buatan. Mere-
ka itu ilah-ilah, makhluk-makhluk ciptaan khayalan manusia.
namun Tuhan kita yaitu Pencipta matahari, bulan, dan bin-
tang, cahaya-cahaya di langit itu, yang manusia khayalkan
sebagai ilah dan sembah sebagai ilah.
3. Ia besar dalam menyatakan kemuliaan-Nya baik di dunia atas
maupun di dunia bawah, di antara para malaikat-Nya di sorga
dan di antara orang-orang kudus-Nya di bumi (ay. 6): Keagung-
an dan semarak ada di hadapan-Nya. Di dunia atas hadirat-Nya
tampak langsung, dan para malaikat menutupi wajah mereka
sebab tidak tahan menatap kemuliaan-Nya yang menyilaukan.
Kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya, baik yang
di atas maupun yang di bawah. Di dalam Tuhan ada segala
sesuatu yang dahsyat, namun semuanya itu bersahabat. Jika
kita melayani-Nya di tempat kudus-Nya, maka kita akan me-
mandang keindahan-Nya, sebab Tuhan itu kasih. Kita akan
mengalami kekuatan-Nya, sebab Ia gunung batu kita. Oleh kare-
na itu, marilah kita maju dalam kekuatan-Nya, terpikat oleh ke-
indahan-Nya.
Kerajaan Kristus
(96:10-13)
10 Katakanlah di antara bangsa-bangsa: “TUHAN itu Raja! Sungguh tegak
dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.” 11
Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut
serta isinya, 12 biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka
segala pohon di hutan bersorak-sorai 13 di hadapan TUHAN, sebab Ia datang,
sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan
keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.
Di sini kita mendapati perintah-perintah diberikan kepada orang-
orang yang hendak memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa ten-
tang apa yang harus mereka beritakan. Perintah-perintah ini juga
ditujukan kepada mereka yang sudah menerima Injil secara pribadi,
tentang penjelasan apa yang harus mereka berikan kepada sesama
mereka, apa yang harus dikatakan di antara bangsa-bangsa. Ayat-
ayat ini melukiskan dengan jelas nubuatan tentang didirikannya Ke-
rajaan Kristus di atas reruntuhan kerajaan Iblis, yang segera dimulai
sesudah kena