mazmur 51-100 19


 a dari Tuhan  .  

(1) Agar Ia memuliakan diri-Nya sendiri, dan mendapat kehor-

matan demi nama-Nya sendiri. Para penganiaya yang fasik 

berpikir bahwa Tuhan   telah menarik diri dan mencampak-

kan bumi. “Tuhan,” seru umat-Nya, “tunjukkanlah diri-Mu. 

Buatlah mereka tahu bahwa Engkau ada, dan bahwa Eng-

kau siap menunjukkan diri-Mu kuat atas nama orang-orang 

yang hatinya lurus dengan-Mu.” Musuh-musuh menyangka 

Tuhan   dikalahkan  sebab  umat-Nya dikalahkan. “Tuhan,” 

seru mereka, “bangunlah, bangkitlah, ya TUHAN, di dalam 

kuasa-Mu. Bangunlah, agar Engkau dilihat, ditakuti. Ja-

ngan biarkan nama-Mu diinjak-injak dan dihina.”  

(2) Agar Ia mempermalukan para penindas: Balaslah kepada 

orang-orang congkak apa yang mereka lakukan. Yakni, “Ada-

kanlah perhitungan dengan mereka atas segala penghinaan 

mereka dan kejahatan yang telah mereka perbuat terhadap 

umat-Mu.” Doa-doa ini merupakan nubuatan, yang berbi-

cara tentang kengerian bagi semua anak pelaku kekerasan. 

Tuhan   yang benar akan berurusan dengan mereka sesuai 

dengan perbuatan mereka.   

II. Keluhan yang rendah hati kepada Tuhan   atas kecongkakan dan 

kekejaman para penindas, dan tanya jawab dengan-Nya mengenai 

hal itu (ay. 3-6).  

Di sini perhatikanlah:  

1.  Tabiat musuh-musuh yang mereka keluhkan. Mereka orang-

orang fasik. Mereka yaitu  orang yang melakukan kejahatan. 

Mereka jahat, sangat jahat, dan oleh sebab itu mereka mem-

benci dan menganiaya orang-orang yang kebaikannya mem-

permalukan dan menyatakan kebersalahan mereka. Orang 

sudah benar-benar menjadi fasik dan pembuat kejahatan yang 

terburuk, kehilangan segala kehormatan dan kebajikannya, jika 

mereka kejam terhadap yang tidak bersalah dan membenci 

yang benar.  

2.  Perbuatan congkak dan biadab dari orang-orang yang mereka 

keluhkan itu.  

(1) Mereka besar mulut dan senang membesar-besarkan diri 

mereka sendiri. Omongan mereka tinggi dan besar. Mereka 

bermegah diri. Mereka berbicara dengan lantang. Mereka 

menyombongkan diri, seolah-olah lidah mereka, dan juga 

tangan mereka, yaitu  milik mereka sendiri. Mereka tidak 

bertanggung jawab terhadap siapa pun atas apa yang mere-

ka katakan atau lakukan. Seolah-olah hari milik mereka 

sendiri. Lagi, tanpa ragu mereka mengusung perkara mela-

wan Tuhan   dan agama. Orang-orang yang berbicara tinggi 

tentang diri mereka sendiri, yang sombong dan bermegah, 

cenderung berbicara keras tentang orang lain. namun , akan 

datang hari pembalasan terhadap perkataan keras yang 

telah diucapkan orang-orang berdosa dan fasik melawan 

Tuhan  , kebenaran-Nya, jalan-jalan-Nya, dan umat-Nya (Yud. 

1:15).  

(2) Mereka tidak saleh, dan senang menginjak-injak umat 

Tuhan   oleh  sebab  mereka milik-Nya (ay. 5): “Ya Tuhan! Me-

reka itu menghancurkan segala umat-Mu! menghancurkan 

perkumpulan mereka, harta benda mereka, keluarga mere-

ka, dan pribadi mereka hingga berkeping-keping. Mereka 

berbuat semampu mereka untuk menyakiti milik pusaka-

Mu, untuk mendukakan mereka, meremukkan mereka, 

menginjak-injak mereka, dan mencabut mereka.” Umat 

Tuhan   yaitu  milik pusaka-Nya. Ada orang-orang yang se-

ngaja membenci umat-Nya itu dan berusaha menghancur-

kan mereka hanya oleh  sebab  Dia. Ini merupakan seruan 

yang sangat bagus kepada Tuhan  , untuk menaikkan doa-

doa syafaat kita bagi jemaat: “Tuhan, jemaat ini milik-Mu. 

Milik-Mu ada di dalam jemaat itu. Mereka itu milik pusaka-

Mu. Kesukaan-Mu ada pada mereka, dan dari merekalah 

tersingkaplah kemuliaan-Mu dalam segala hal yang terjadi 

di dunia ini. Maka akankah Engkau membiarkan orang-

orang fasik ini menginjak-injak jemaat itu sedemikian rupa?”  

(3) Mereka tidak berperikemanusiaan, dan merasa senang ber-

buat salah terhadap orang-orang yang sungguh tak ber-

daya menolong diri mereka sendiri (ay. 6). Mereka tidak ha-

nya menindas dan membuat orang sengsara, namun  juga 

menyembelih janda dan orang asing. Tidak saja mengabai-

kan anak-anak yatim dan memangsa mereka, namun  juga 

membunuh mereka,  sebab  lemah dan rentan, dan kadang-

kadang bergantung pada belas kasihan mereka. Orang-orang 

yang seharusnya mereka lindungi dari kejahatan justru 

paling mereka jahati, mungkin  sebab  Tuhan   telah memberi-

kan perhatian-Nya kepada mereka secara istimewa. Siapa 

sangka bahwa anak-anak manusia bisa sampai sedemikian 

biadab?   

3. Seruan yang rendah hati kepada Tuhan   mengenai keadaan 

penganiayaan itu yang tiada putus-putusnya: “Tuhan, berapa 

lama lagi mereka akan berbuat demikian?” Dan lagi, berapa 

lama? Kapankah kefasikan orang-orang fasik ini berakhir? 

III. Dakwaan atas ketidakpercayaan para penganiaya akan Tuhan  , dan 

perbantahan dengan mereka dalam dakwaan itu. 

1.  Pikiran-pikiran orang fasik yang tidak percaya kepada Tuhan   

disingkapkan di sini (ay. 7): Dan mereka berkata: “TUHAN tidak 

melihatnya.” Teriakan kefasikan orang-orang fasik itu sangat 

keras dan nyaring, dan mereka memberontak melawan terang 

alam dan suara hati nurani mereka sendiri. Dan walaupun 

sudah berbuat demikian, mereka masih juga punya keyakinan 

untuk berkata, “Tuhan tidak akan melihatnya. Ia tidak saja 

akan mengabaikan kesalahan-kesalahan kecil, namun  juga akan 

menutup mata-Nya terhadap kesalahan-kesalahan besar.” Atau 

mereka berpikir bahwa mereka sudah mengaturnya dengan 

begitu lihai, dengan dalih keadilan dan agama mungkin, se-

hingga perbuatan mereka itu tidak akan dihakimi sebagai per-

buatan pembunuhan. “Tuhan   Yakub, meskipun umat-Nya 

mengaku mempunyai kepentingan yang begitu besar di dalam 

Dia, tidak menganggap perbuatan jahat mereka itu sebagai se-

suatu yang melawan keadilan atau melawan umat-Nya sendiri. 

Ia tidak akan pernah menuntut pertanggungjawaban dari kita 

untuk itu.” Demikianlah mereka menyangkal pemerintahan 

Tuhan   atas dunia, mengolok-olok kovenan-Nya dengan umat-

Nya, dan menantang penghakiman-Nya.  

2. Di sini mereka didakwa atas kebodohan dan pikiran mereka 

yang tidak masuk akal. Orang yang berkata bahwa Yahweh 

Tuhan   yang hidup tidak akan melihat atau bahwa Tuhan   Yakub 

tidak akan peduli dengan kejahatan-kejahatan yang diperbuat 

terhadap umat-Nya, mereka itu Nabal namanya dan bebal 

orangnya. Walaupun begitu, di sini orang seperti itu didebat 

dengan tegas, agar ia menjadi insaf dan bertobat, dan terhin-

dar dari kekacauan (ay. 8): “Perhatikanlah, hai orang-orang bo-

doh di antara rakyat, dan biarlah akal sehat membimbingmu!” 

Perhatikanlah, orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, 

para filsuf, dan para negarawan, meskipun mereka mengaku 

berakal cerdas, sesungguhnya hanyalah orang-orang bodoh di 

antara rakyat. Jika saja mereka mau mengerti, mereka pasti 

percaya. Tuhan  , melalui nabi-Nya, berfirman seolah-olah Dia 

berpikir bahwa makan waktu lama bagi manusia itu untuk da-

pat bertindak sebagai manusia yang sejati dan menunjukkan 

diri demikian melalui pengertian dan pertimbangan: “Hai orang 

bodoh, kapan engkau akan menjadi bijak, menjadi bijak untuk 

menyadari bahwa Tuhan   melihat dan memperhatikan semua 

yang engkau ucapkan dan lakukan, sehingga engkau bijak 

untuk berkata dan berbuat sebagai orang yang harus memberi 

pertanggungjawaban?” Perhatikanlah, tidak ada orang yang 

sedemikian jahat, yang diperlukan hanyalah sarana untuk 

menarik mereka kembali dan memperbaharui hidup mereka. 

Tidak ada yang sedemikian bodoh, sedemikian tolol, yang di-

perlukan hanyalah mencoba apakah mereka masih bisa dijadi-

kan bijak. Selama hayat masih dikandung badan, masih ada 

harapan. Untuk membuktikan kebodohan orang-orang yang 

mempertanyakan kemahatahuan dan keadilan Tuhan  , si pemaz-

mur menunjuk, 

(1) Dari karya penciptaan (ay. 9), pembentukan tubuh manus-

ia, selain terbukti bahwa Tuhan   itu ada, juga terbukti bahwa 

Tuhan   secara tidak terbatas dan adikodrati memiliki di 

dalam diri-Nya segala kesempurnaan yang ada  pada 

makhluk apa saja. Dia yang menanamkan telinga (dan 

telinga itu ditanamkan di kepala, seperti pohon ditanam di 

tanah), masakan tidak mendengar? Tidak diragukan lagi 

Dia pasti mendengar, lebih banyak dan lebih baik dibandingkan  

kita. Dia yang membentuk mata (dan betapa ajaibnya mata 

dibentuk melebihi bagian tubuh yang lain, seperti diketa-

hui oleh ahli-ahli tubuh manusia dan diberitahukan kepa-

da kita melalui pembedahan-pembedahan mereka), masa-

kan tidak memandang? Dapatkah Dia memberi , akan-

kah Dia memberi , kepada makhluk suatu kesempurna-

an yang tidak dimiliki-Nya sendiri? 

Perhatikanlah:  

[1]  Semua kekuatan alam berasal dari Tuhan   yang berkuasa 

atas alam (Kel. 4:11).  

[2] Melalui pengetahuan tentang diri kita sendiri, kita bisa 

dituntun ke jalan besar untuk mendapat pengetahuan 

tentang Tuhan  . Jika dengan pengetahuan tentang tubuh 

kita sendiri, dan tentang panca indra kita, kita dapat 

menyimpulkan bahwa kita bisa melihat dan mendengar, 

dan  sebab  itu terlebih lagi Tuhan  , maka hal yang sama 

pun pasti dapat dilakukan dengan pengetahuan tentang 

jiwa kita sendiri dan kemampuan-kemampuannya yang 

mulia. Ilah-ilah bangsa kafir mempunyai mata namun  

tidak melihat, mempunyai telinga namun  tidak mende-

ngar. Tuhan   kita tidak mempunyai mata atau telinga se-

perti kita, namun kita dapat menyimpulkan dengan pasti 

bahwa Ia melihat dan mendengar,  sebab  kita mem-

peroleh penglihatan dan pendengaran kita dari-Nya, dan 

penggunaan keduanya harus kita pertanggungjawabkan 

kepada-Nya.   

(2) Dari pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan ilahi (ay. 10): Dia 

yang menghajar bangsa-bangsa  sebab  menyembah banyak 

ilah dan berhala-berhala, masakan terlebih lagi tidak akan 

menghukum umat-Nya sendiri atas ketidakpercayaan mere-

ka kepada-Nya dan kecemaran mereka? Dia yang meng-

hajar anak-anak manusia  sebab  menindas dan satu sama 

lain berbuat salah, masakan tidak akan menghukum 

orang-orang yang mengaku sebagai anak-anak-Nya sendiri, 

dan menyebut diri mereka demikian, namun menganiaya 

orang-orang yang benar-benar anak-anak Tuhan  ? Masakan 

kita tidak termasuk orang-orang yang akan dibetulkan-

Nya, sementara seluruh dunia diatur oleh-Nya? Bukankah 

sebagai Raja segala bangsa Ia akan memperhatikan, dan 

bukankah terlebih lagi sebagai Tuhan   Yakub Ia akan mem-

perhatikan semuanya? Dr. Hammond memberi  kemung-

kinan arti lain dari perkataan ini: “Ia yang mengajar bangsa-

bangsa (maksudnya, memberi mereka hukum-Nya), masak-

an tidak akan menghukum, yaitu, masakan Dia tidak meng-

hakimi mereka sesuai dengan hukum itu, dan menuntut 

pertanggungjawaban dari mereka atas pelanggaran-pelang-

garan mereka terhadapnya? Sia-sia saja hukum itu diberi-

kan jika tidak ada penghakiman berdasar  hukum itu.” 

Dan memang benar bahwa kata yang sama yang dipakai di 

sini bisa berarti menghajar atau mengajar,  sebab  hajaran 

dimaksudkan untuk mengajar, dan ajaran harus disertai 

dengan hajaran. 

(3) Dari pekerjaan-pekerjaan anugerah: Dia yang mengajarkan 

pengetahuan kepada manusia, masakan tidak tahu? Seba-

gai Tuhan   yang berkuasa atas alam, Ia tidak saja sudah mem-

berikan terang akal budi, namun  juga, sebagai Tuhan   yang me-

ngaruniakan anugerah, Ia telah memberi  terang wahyu, 

telah menunjukkan kepada orang apa hikmat dan pengerti-

an yang benar itu. Dan Dia yang melakukan ini, masakan 

tidak tahu? (Ayb. 28:23, 28). Mengalirnya sungai merupa-

kan suatu pertanda yang pasti akan penuhnya mata air. 

Jika semua pengetahuan berasal dari Tuhan  , maka tidak 

diragukan lagi semua pengetahuan ada  di dalam Tuhan  . 

Dari ajaran umum tentang kemahatahuan Tuhan   ini, si 

pemazmur tidak saja membantah orang-orang yang tidak 

percaya kepada Tuhan, yang berkata, “TUHAN tidak melihat 

(ay. 7), Ia tidak akan menaruh perhatian pada apa yang 

kita perbuat,” namun  juga menyadarkan kita semua untuk 

mempertimbangkan bahwa Tuhan   bahkan akan memper-

hatikan apa yang kita pikirkan (ay. 11): TUHAN mengetahui 

rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya 

sia-sia belaka.  

[1] Ia mengetahui rancangan-rancangan manusia itu seca-

ra khusus yang mengenai Tuhan   yang mengabaikan kefa-

sikan orang-orang fasik, dan Ia tahu bahwa semua itu 

sia-sia belaka, dan menertawakan kebodohan orang-

orang yang membuat diri mereka terlena di dalam dosa 

dengan pemikiran-pemikiran congkak yang demikian 

mereka gemari itu.  

[2] Ia mengetahui semua rancangan anak-anak manusia, 

dan tahu bahwa rancangan-rancangan itu, untuk seba-

gian besarnya, sia-sia belaka. Ia tahu bahwa khayalan-

khayalan pikiran dan hati manusia itu jahat, semata-

mata jahat, dan itu terus-menerus mereka lakukan. Bah-

kan dalam rancangan-rancangan atau pikiran-pikiran 

yang baik sekalipun ada ketidaktetapan dan ketidaksela-

rasan yang bisa disebut sebagai kesia-siaan belaka. Kare-

na itu, wajiblah kita untuk benar-benar menjaga pikir-

an-pikiran kita,  sebab  Tuhan   memperhatikannya secara 

khusus. Pikiran merupakan perkataan bagi Tuhan  , dan 

pikiran yang sia-sia merupakan pancingan yang mem-

bangkitkan amarah-Nya. 

Penghiburan bagi Orang-orang Kudus yang Menderita;  

Tuhan   Tempat Perlindungan bagi Umat-Nya 

(94:12-23) 

12 Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari 

Taurat-Mu, 13 untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, sam-

pai digali lobang untuk orang fasik. 14 Sebab TUHAN tidak akan membuang 

umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya; 15 sebab 

hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang 

yang tulus hati. 16 Siapakah yang bangkit bagiku melawan orang-orang jahat, 

siapakah yang tampil bagiku melawan orang-orang yang melakukan kejahat-

an? 17 Jika bukan TUHAN yang menolong aku, nyaris aku diam di tempat su-

nyi. 18 saat  aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, 

menyokong aku. 19 jika  bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghi-

buran-Mu menyenangkan jiwaku. 20 Masakan bersekutu dengan Engkau takhta 

kebusukan, yang merancangkan bencana berdasar  ketetapan? 21 Mereka 

bersekongkol melawan jiwa orang benar, dan menyatakan fasik darah orang 

yang tidak bersalah. 22 namun  TUHAN yaitu  kota bentengku dan Tuhan  ku ada-

lah gunung batu perlindunganku. 23 Ia akan membalas kepada mereka per-

buatan jahat mereka, dan  sebab  kejahatan mereka Ia akan membinasakan 

mereka; TUHAN, Tuhan   kita, akan membinasakan mereka. 

Si pemazmur, sesudah  menyatakan datangnya kesengsaraan bagi 

orang-orang yang mengganggu umat Tuhan  , di sini meyakinkan orang-

orang yang diganggu bahwa mereka akan mendapat kelegaan (2Tes. 

1:6-7). Ia menyampaikan penghiburan kepada orang-orang kudus 

yang menderita berdasar  janji-janji Tuhan   dan pengalamannya 

sendiri. 

I.   berdasar  janji-janji Tuhan  , yang sedemikian rupa sehingga 

tidak saja akan menyelamatkan mereka dari kesengsaraan, namun  

juga menjamin kebahagiaan bagi mereka (ay. 12): Berbahagialah 

orang yang Kauhajar. Di sini ia melihat jauh melampaui apa yang 

menjadi sarana permasalahan itu, dan memandang tangan Tuhan  , 

yang memberi  nama lain terhadap permasalahan itu dan 

menggoreskan sebuah warna yang agak berbeda padanya. Mu-

suh-musuh meremukkan umat Tuhan   (ay. 5). Yang mereka tuju 

tidak kurang dari itu. namun  apa yang sebenarnya terjadi yaitu  

bahwa Tuhan   melalui mereka menghajar umat-Nya, seperti bapak 

menghajar anak yang dikasihinya, dan para penganiaya hanyalah 

tongkat yang dipakainya. namun  mereka sendiri tidak demikian 

maksudnya dan tidak demikian rancangan hati mereka (Yes. 10:5-

7). Nah, di sini dijanjikan,  

1.  Bahwa umat Tuhan   akan menjadi baik  sebab  penderitaan-pen-

deritaan mereka. jika  Ia menghajar mereka, Ia ingin meng-

ajar mereka, dan berbahagialah orang yang diberi disiplin ilahi 

seperti itu, sebab tidak seorang pun mengajar seperti Tuhan  .  

Perhatikanlah:  

(1) Penderitaan orang-orang kudus merupakan hajaran dari 

seorang bapak, dirancang untuk mengajar, memperbaha-

rui, dan memajukan mereka.  

(2) jika  ajaran-ajaran firman dan Roh selaras dengan tegur-

an-teguran Pemeliharaan ilahi, maka semua itu menunjuk-

kan bahwa orang-orang yang sedang mengalaminya diber-

kati dan juga membantu mereka untuk sungguh-sungguh 

diberkati. Sebab semua hajaran itu merupakan pertanda 

pengangkatan mereka sebagai anak dan merupakan sarana 

untuk menguduskan mereka. jika  kita dihajar, kita 

harus berdoa supaya diajar, dan melihat pada hukum se-

bagai ekspositor (penjelas) yang terbaik mengenai Pemeli-

haraan ilahi. Bukan penghajaran itu sendiri yang mem-

bawa kebaikan, melainkan ajaran yang menyertai hajaran 

itu, dan yang menjelaskan maksudnya. 

2. Bahwa mereka akan melihat ke depan melalui semua penderi-

taan mereka (ay. 13): Agar Engkau menenangkan dia terhadap 

hari-hari malapetaka.  

Perhatikanlah:  

(1) Ada ketenangan yang tersisa bagi umat Tuhan   sesudah  mere-

ka melalui hari-hari malapetaka, yang sekalipun mungkin 

banyak dan panjang, akan terhitung dan terselesaikan 

pada waktunya, dan tidak akan berlangsung untuk selama-

nya. Ia yang mengirimkan masalah akan mengirimkan ke-

tenangan, agar Ia dapat menghibur mereka sesuai dengan 

lamanya penderitaan yang dibiarkan-Nya terjadi pada me-

reka.  

(2) Oleh sebab itu, Tuhan   mengajar umat-Nya melalui permasa-

lahan mereka, agar Ia bisa mempersiapkan mereka bagi da-

tangnya kelepasan. Dengan demikian Ia memberi mereka 

ketenangan dari permasalahan mereka, sehingga,  sebab  

sudah diperbaharui, mereka bisa dilepaskan, dan penderi-

taan boleh disingkirkan seusai melakukan tugasnya.  

3. Bahwa mereka akan melihat kehancuran orang-orang yang 

menjadi alat penderitaan mereka. Ini merupakan suatu janji, 

bukan untuk memuaskan hasrat mereka, melainkan untuk 

membawa kemuliaan bagi Tuhan  : Sampai digali lobang (atau 

lebih tepatnya selagi lobang digali) untuk orang fasik, Tuhan   me-

merintahkan damai bagi mereka pada saat yang bersamaan 

saat  Dia menetapkan anak-anak panah-Nya melawan para 

penganiaya.  

4.  Bahwa, meskipun mungkin bersedih hati, mereka pasti tidak 

akan dibuang (ay. 14). Kiranya umat Tuhan   yang sedang men-

derita meyakinkan diri mereka dengan hal ini, bahwa apa pun 

yang diperbuat teman-teman mereka, Tuhan   tidak akan mem-

buang mereka, atau mengeluarkan mereka dari kovenan-Nya 

ataupun dari perhatian-Nya. Ia tidak akan meninggalkan me-

reka,  sebab  mereka yaitu  milik pusaka-Nya, yang hak-Nya 

atas mereka tidak akan dilepaskan-Nya begitu saja. Tidak 

akan dibiarkan-Nya siapa pun untuk merampas mereka dari 

Dia. Rasul Paulus juga menghibur dirinya dengan hal ini (Rm. 

11:1). 

5.  Bahwa seburuk apa pun keadaannya, semua itu akan baik 

kembali, dan meskipun kini mereka sesat, mereka akan kem-

bali pada jalan mereka yang dulu dan yang sebenarnya (ay. 

15): Hukum akan kembali kepada keadilan. Kekacauan yang 

tampaknya ada pada Pemeliharaan ilahi (sebab yang sebenar-

nya tidaklah demikian) akan diluruskan. Hukum Tuhan  , yakni, 

pemerintahan-Nya, adakalanya tampak seolah-olah jauh dari 

keadilan, saat  orang fasik makmur, dan orang-orang terbaik 

mengalami hal terburuk. namun  hukum itu akan kembali lagi 

pada keadilan, entah di dunia ini atau selambat-lambatnya 

pada hari penghakiman agung di akhir zaman, yang akan 

membetulkan segala sesuatu. Maka hukum itu akan diikuti 

oleh semua orang yang tulus hati. Mereka akan mengikutinya 

dengan puji-pujian mereka, dan dengan kepuasan penuh. Me-

reka akan kembali ke keadaan mereka yang makmur dan ber-

kembang, dan akan bersinar dari kegelapan. Mereka akan me-

nyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan Pemeliharaan 

ilahi, dan dengan perasaan-perasaan yang selaras akan meng-

ikuti segala pergerakannya. Mereka akan mengikuti TUHAN 

(Hos. 11:10). Dr. Hammond berpendapat bahwa hal ini secara 

menonjol digenapi dalam kehancuran Yerusalem yang per-

tama, dan sesudah  itu dalam kehancuran bangsa kafir Romawi, 

para penyalib Kristus dan penganiaya orang-orang Kristen, 

dan segala hal lainnya yang dimiliki jemaat. Maka hukum akan 

kembali kepada keadilan, kepada belas kasihan dan kebaikan, 

dan kemurahan kepada umat Tuhan  , yang tetap didukung-Nya 

sama seperti sebelum mereka diinjak-injak.  

II. Si pemazmur menunjuk pada pengalaman dan pengamatannya 

sendiri. 

1.  Dia dan teman-temannya sudah ditindas oleh orang-orang 

yang kejam dan congkak, yang mempunyai kuasa di tangan 

mereka, dan yang menyalahgunakannya dengan menyakiti 

semua orang baik dengannya. Mereka sendiri yaitu  orang-

orang jahat dan orang-orang yang melakukan kejahatan (ay. 

16). Dengan semaunya mereka melakukan segala hal yang 

tidak saleh dan asusila, dan takhta mereka yaitu  takhta ke-

busukan (ay. 20). Martabat mereka dimanfaatkan untuk ber-

buat dosa, dan wewenang mereka dipakai untuk mendukung-

nya, dan untuk mewujudkan rancangan-rancangan mereka 

yang fasik. Sangat disayangkan bahwa takhta, yang seharus-

nya menjadi kengerian bagi orang-orang jahat dan perlindung-

an serta pujian bagi mereka yang berbuat baik, harus menjadi 

kursi dan tempat perlindungan bagi kebusukan. Itulah takhta 

kebusukan yang dengan kebijakan mahkamahnya merancang-

kan bencana, dan dengan kedaulatannya menegakkannya dan 

menjadikannya sebagai hukum. Kebusukan berani dikerjakan 

sekalipun hukum manusia menentangnya, yang sering kali 

membuktikan bahwa hukum terlalu lemah untuk mengendali-

kannya dengan berhasil. namun  betapa kurang ajar, betapa 

jahatnya kebusukan jika  didukung oleh hukum! Kebusuk-

an tidak menjadi lebih baik, namun  justru menjadi jauh lebih 

buruk,  sebab  ditegakkan oleh hukum. Orang-orang yang me-

lakukannya tidak bisa berdalih dengan berkata bahwa mereka 

sekadar berbuat seperti apa yang diperintahkan kepada mere-

ka. Para pembuat kejahatan ini, sesudah  merancangkan ben-

cana berdasar  ketetapan, berusaha memastikan bahwa 

ketetapan itu dilaksanakan. Sebab mereka bersekongkol mela-

wan jiwa orang benar, yang tidak berani berpaut kepada 

ketetapan-ketetapan Omri atau kelakuan keluarga Ahab. Mere-

ka menyatakan fasik darah orang yang tidak bersalah  sebab  

melanggar ketetapan-ketetapan mereka. Lihatlah satu contoh-

nya pada musuh-musuh Daniel. Mereka merancangkan ben-

cana berdasar  ketetapan saat  berhasil membujuk raja 

mengeluarkan sebuah titah yang tidak saleh untuk melarang 

orang berdoa (Dan. 6:7). saat  Daniel tidak mau menaatinya, 

mereka bersekongkol melawannya (ay. 21) dan menyerahkan 

darah orang yang tidak bersalah pada singa-singa. Pahlawan-

pahlawan terbaik dari antara umat manusia sudah sering kali 

diperlakukan demikian, dengan dalih hukum dan keadilan, se-

bagai penjahat-penjahat terburuk.  

2.  Penindasan yang menimpa mereka terasa sangat berat bagi 

mereka, dan menindas roh mereka juga. Janganlah orang-

orang kudus yang menderita merasa putus asa, meskipun, ke-

tika dianiaya, mereka mendapati diri kebingungan dan patah 

semangat. Demikianlah yang terjadi pada si pemazmur di sini: 

Jiwanya nyaris diam di tempat sunyi (ay. 17). Ia sudah keha-

bisan akal, dan tidak tahu apa lagi yang harus ia katakan atau 

lakukan. Nyawanya, dalam rasa khawatirnya, berada di ujung 

tanduk, siap roboh ke dalam kubur, negeri kesunyian itu. Ra-

sul Paulus, dalam keadaan serupa, merasa seolah-olah telah 

dijatuhi hukuman mati (2Kor. 1:8-9). Ia berkata, “Kakiku go-

yang (ay. 18). Aku sudah tidak dapat berdiri tegak lagi, tidak 

ada obat penawar, aku pasti jatuh. Bagaimanapun juga pada 

suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Hancurlah sudah 

harapanku. Aku tidak mendapatkan tempat berpijak yang ko-

koh bagi imanku seperti yang pernah kudapati dulu” (73:2). Di 

dalam batinnya ada  banyak pikiran yang kacau dan ku-

sut mengenai keadaannya pada saat ini. Ia tidak tahu bagai-

mana dia harus memahaminya, dan mana jalan yang harus 

diambilnya serta ke mana jalan itu akan mengantarnya. 

3. Dalam kesusahan ini mereka yang menderita mencari 

pertolongan, bantuan, dan kelegaan.  

(1)  Mereka mencari-cari semua itu, namun mereka kecewa (ay. 

16): “Siapakah yang bangkit bagiku melawan orang-orang 

jahat? Apakah aku mempunyai teman yang mengasihiku 

dan mau tampil bagiku? Adakah keadilan mempunyai te-

man yang, dalam kemarahan yang saleh terhadap ketidak-

adilan, akan menyerukan kepentinganku yang dirugikan 

ini?” Ia mencari, namun tidak seorang pun yang menyela-

matkan, tidak seorang pun yang menopang. Perhatikanlah, 

saat  kekuasaan berpihak pada para penindas, tidaklah 

heran bila yang tertindas tidak mempunyai penghibur. 

Tidak ada seorang pun yang berani mengakui mereka, atau 

mengatakan hal yang baik untuk mereka (Pkh. 4:1). saat  

Rasul Paulus dibawa ke hadapan takhta kebusukan Kaisar 

Nero, tidak seorang pun yang membantunya (2Tim. 4:16).  

(2) Mereka menengadah untuk mencari pertolongan (ay. 20). 

Dengan penuh kerendahan hati mereka bersoal jawab de-

ngan Tuhan  : “Tuhan, masakan bersekutu dengan Engkau 

takhta kebusukan? Apakah Engkau akan membiarkan dan 

mendukung para penguasa lalim ini dalam kefasikan mere-

ka? Kami tahu Engkau tidak akan berbuat seperti itu.” 

Takhta bersekutu dengan Tuhan   jika  ia merupakan takh-

ta keadilan dan memenuhi tujuannya. Sebab  sebab  Dia 

para raja bertakhta, dan jika  mereka bertakhta untuk-

Nya, maka hukum-hukum mereka yaitu  milik-Nya, dan Ia 

mengakui mereka sebagai hamba-hamba-Nya, dan siapa 

pun menolak mereka, atau bangkit melawan mereka, akan 

menerima kutukan. namun , jika  takhta itu menjadi takh-

ta kebusukan, ia tidak lagi bersekutu dengan Tuhan  . Jauh-

lah kiranya dari Tuhan   yang adil dan kudus untuk menjadi 

pelindung ketidakadilan, sekalipun itu diperbuat oleh raja-

raja dan penguasa-penguasa yang bertakhta, bahkan, mes-

kipun itu takhta-takhta milik keluarga raja Daud.  

4.  Mereka mendapatkan pertolongan dan kelegaan di dalam Tuhan  , 

dan hanya di dalam Dia. Pada saat teman-teman lain menjauh, 

di dalam Dialah mereka mendapati seorang Teman yang setia 

dan penuh kuasa.  sebab  itu, semua orang kudus kepunyaan 

Tuhan   yang menderita disarankan untuk menaruh kepercayaan 

kepada-Nya.  

(1) Tuhan   menolong pada saat kita menemui jalan buntu (ay. 

17): “saat  aku nyaris diam di tempat sunyi, pada saat itu-

lah Tuhan menolong aku, menjagaku tetap hidup, menjaga 

hatiku. Jika bukan TUHAN yang kujadikan pertolonganku, 

dengan menaruh percayaku kepada-Nya dan mengharap-

kan kelegaan dari-Nya, maka aku tidak akan pernah dapat 

mengendalikan jiwaku sendiri. Sebaliknya, hidup dengan 

iman kepada-Nya telah menjaga kepalaku tetap di atas air, 

telah memberiku nafas, dan sesuatu untuk dikatakan.”  

(2) Kebaikan Tuhan   merupakan sokongan yang besar bagi roh 

yang tenggelam (ay. 18): “saat  aku berpikir: Kakiku go-

yang, dan tergelincir ke dalam dosa, ke dalam kehancuran, 

ke dalam keputusasaan, maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, 

menyokong aku, menjagaku untuk tidak jatuh, dan menga-

lahkan rancangan orang-orang yang bermaksud menghem-

paskanku dari kedudukanku yang tinggi” (62:5). Kita ber-

utang bukan hanya kepada kuasa Tuhan  , melainkan juga 

kepada belas kasihan-Nya, untuk dukungan-dukungan ro-

hani yang kita terima: Kasih setia-Mu, karunia-karunia 

kasih setia-Mu dan pengharapanku akan kasih setia-Mu, 

menyokong aku. Tangan kanan Tuhan   menopang umat-Nya 

saat  mereka melihat ke sebelah kanan dan kiri mereka 

dan tidak ada seorang pun yang menyokong mereka. Kita 

siap menerima dukungan-dukungan Tuhan   yang penuh rah-

mat jika  kita sadar akan kelemahan dan ketidakmam-

puan kita sendiri untuk berdiri dengan kekuatan kita sen-

diri dan datang kepada Tuhan  , untuk mengakui dan menga-

takan kepada-Nya bagaimana kaki kita goyang.  

(3) Penghiburan-penghiburan ilahi merupakan kelegaan yang 

sesungguhnya bagi jiwa yang gelisah (ay. 19): “jika  

bertambah banyak pikiran dalam batinku, yang ribut seperti 

orang ramai, yang saling dorong dan berdesakan seperti 

orang ramai, dan yang sangat tidak bisa diatur atau di-

perintah, jika  bertambah banyak pikiran yang sedih, 

khawatir, dan takut, maka penghiburan-Mu menyenangkan 

jiwaku. Dan penghiburan-Mu itu tidak pernah terasa lebih 

menyenangkan selain saat ia datang tepat pada waktunya 

untuk mendiamkan batinku yang gelisah dan membuat 

pikiranku tenang.” Penghiburan-penghiburan duniawi ha-

nya memberi  sedikit kenikmatan bagi jiwa yang dice-

kam oleh pikiran-pikiran yang sedih. Penghiburan-penghi-

buran seperti itu bagaikan nyanyian bagi hati yang sedih. 

namun  penghiburan-penghiburan Tuhan   akan menjangkau 

jiwa, dan bukan angan-angan saja. Penghiburan-Nya itu 

membawa serta damai dan kesenangan yang tidak dapat 

diberikan oleh senyuman dunia ini dan tidak dapat diram-

pas oleh kernyit dahi dunia. 

5.  Tuhan   yaitu , dan akan menjadi, Hakim yang benar, penjaga 

dan pelindung mereka yang benar dan penghukum serta pem-

balas mereka yang salah. Hal ini diyakini dan juga dialami oleh 

si pemazmur sendiri.  

(1) Tuhan   akan membalaskan orang-orang yang ditindas (ay. 

22): “saat  tidak ada orang lain yang mau, atau sanggup, 

atau berani melindungiku, TUHAN yaitu  kota bentengku, 

yang menjagaku dari kejahatan permasalahanku, supaya 

aku tidak tenggelam di dalamnya dan dihancurkan oleh-

nya. Dia yaitu  gunung batu perlindunganku, yang di le-

reng-lerengnya aku bisa berlindung, dan yang di puncak-

nya aku bisa menginjakkan kakiku, supaya jauh terhindar 

dari marabahaya.” Tuhan   yaitu  tempat perlindungan umat-

Nya, kepada-Nya mereka bisa berlari, dan di dalam Dia 

mereka bisa aman dan nyaman. Dia yaitu  gunung batu 

perlindungan mereka, begitu kokoh, begitu teguh, tak ter-

kalahkan, tak tergoyahkan, seperti gunung batu: kadang-

kadang, kekokohan benteng alami jauh melampaui kete-

guhan benteng buatan.  

(2) Ia akan mengadakan perhitungan dengan orang-orang yang 

menindas (ay. 23): Ia akan membalas kepada mereka per-

buatan jahat mereka. Ia akan berurusan dengan mereka se-

suai dengan apa yang pantas mereka dapatkan, dan keja-

hatan yang mereka perbuat dan rancang melawan umat 

Tuhan   akan berbalik menimpa mereka sendiri. Kelanjutan-

nya, dan  sebab  kejahatan mereka Ia akan membinasakan 

mereka. Manusia tidak bisa dibuat lebih sengsara dibandingkan  

apa yang bisa diperbuat oleh kefasikannya sendiri, jika Tuhan   

membalaskan kefasikan itu kepadanya: dengan mengingat-

nya, hati mereka akan tersayat. Dengan dibalaskannya kefa-

sikan mereka, mereka akan binasa. Dengan keyakinan yang 

penuh kemenangan akan hal inilah mazmur ini ditutup: 

TUHAN, Tuhan   kita, yang berpihak kepada kita dan meng-

akui kita sebagai milik-Nya, akan membinasakan mereka 

dari persekutuan apa pun dengan-Nya, dan dengan demi-

kian akan membuat mereka benar-benar sengsara, dan ke-

megahan serta kekuasaan mereka tidak akan memberi  

keuntungan apa-apa bagi mereka.  

 

 

 

PASAL  95  

ntuk menjelaskan mazmur ini, kita bisa meminjam terang yang 

sangat besar dari uraian sang rasul dalam Kitab Ibrani 3 dan 4. 

Dari uraian sang rasul ini tampak bahwa mazmur ini ditulis oleh 

Daud dan dirancang untuk hari-hari Mesias. Sebab di sana dikata-

kan dengan jelas (Ibr. 4:7), bahwa hari yang dibicarakan di sini (ay. 7) 

harus dipahami sebagai waktu Injil, di mana pada waktu ini  

Tuhan   berbicara kepada kita melalui Anak-Nya dalam suara yang 

menuntut kita untuk mendengarnya. Dan suara itu menyodorkan 

kepada kita suatu tempat perhentian selain Kanaan. Dalam menya-

nyikan mazmur, diharapkan,  

I.   Agar kita “bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan.” Di sini kita di-

gugah untuk melakukannya, dan dibantu dalam melakukan-

nya,  sebab  kita diajak untuk memuji Tuhan   (ay. 1-2) sebagai 

Tuhan   yang besar (ay. 3-5) dan sebagai Sang Pemberi yang pe-

nuh rahmat bagi kita (ay. 6-7).  

II.  Agar kita mengajar dan memperingatkan diri kita sendiri ser-

ta satu sama lain. Juga, kita diajar dan diperingatkan untuk 

mendengarkan suara Tuhan   (ay. 7), dan untuk tidak menge-

raskan hati kita, seperti yang telah diperbuat orang-orang 

Israel di padang gurun (ay. 8-9), agar jangan kita jatuh ke 

dalam murka Tuhan   dan gagal tiba di tempat perhentian-Nya, 

seperti yang mereka alami (ay. 10-11).  

Mazmur ini harus dinyanyikan dengan sikap hormat yang kudus 

terhadap kebesaran Tuhan   dan kengerian terhadap keadilan-Nya, de-

ngan keinginan untuk menyenangkan hati-Nya dan ketakutan agar 

jangan sampai menyakiti hati-Nya. 

Ajakan untuk Memuji Tuhan  ;  

Alasan-alasan untuk Memuji 

(95:1-7a) 

1 Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung 

batu keselamatan kita. 2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyi-

an syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. 3 Sebab 

TUHAN yaitu  Tuhan   yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala Tuhan  . 

4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-

gunung pun kepunyaan-Nya. 5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadi-

kannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya. 6 Masuklah, marilah 

kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. 7 

Sebab Dialah Tuhan   kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan 

domba tuntunan tangan-Nya.  

Si pemazmur di sini, seperti yang sering kali diperbuatnya di tempat-

tempat lain, menggugah dirinya sendiri dan orang lain untuk memuji 

Tuhan  . Sebab memuji Tuhan   merupakan kewajiban yang harus dilak-

sanakan dengan penuh penghayatan, dan untuk melakukannya, kita 

sangat butuh digugah, sebab sering kali kita tertinggal untuk mela-

kukannya dan bersikap dingin dalam menjalankannya. 

Perhatikanlah: 

I.  Bagaimana Tuhan   harus dipuji.  

1.  Dengan sukacita dan kesenangan yang kudus di dalam Dia. 

Lagu pujian itu haruslah berupa sorak-sorai (ay. 1-2). Sukacita 

rohani merupakan hati dan jiwa dari pujian yang penuh syu-

kur. yaitu  kehendak Tuhan   (begitulah anugerah-Nya yang 

mau merendah) bahwa jika  kita memberi  kemuliaan 

kepada-Nya sebagai Keberadaan yang mahasempurna dan pe-

nuh berkat, maka kita harus, pada saat yang sama, bersuka-

cita di dalam Dia sebagai Bapa dan Raja kita, dan sebagai 

Tuhan   yang mengikat kovenan dengan kita.  

2.  Dengan sikap hormat yang penuh kerendahan hati dan rasa 

takjub yang kudus akan Dia (ay. 6): “Masuklah, marilah kita 

sujud menyembah, berlutut di hadapan-Nya, sebagaimana yang 

wajib dilakukan oleh orang-orang yang tahu betapa jauh tak 

terhingganya jarak antara kita dan Tuhan  , dan betapa besarnya 

kita terancam murka-Nya dan membutuhkan belas kasihan-

Nya.” Meskipun latihan badani itu sendiri terbatas gunanya, 

namun sudah barang tentu merupakan kewajiban kita untuk 

memuliakan Tuhan   dengan tubuh kita melalui ungkapan-ung-

kapan sikap hormat, kesungguhan, dan kerendahan hati se-

cara lahiriah, dalam menjalankan kewajiban beragama.  

3. Kita harus memuji Tuhan   dengan suara kita. Kita harus menya-

takan dengan lantang, menyanyikan dengan nyaring puji-puji-

an untuk-Nya, meluap keluar dari dalam hati yang penuh de-

ngan kasih, sukacita, dan rasa syukur. Marilah kita bersorak-

sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak, bersorak-sorak bagi-Nya 

dengan nyanyian mazmur, seperti orang yang sungguh-sung-

guh tersentuh oleh kebesaran dan kebaikan-Nya, yang berhas-

rat mengakui bahwa hati kita tersentuh dan ingin terus demi-

kian. Juga, sebagai orang yang rela ingin menjadi alat untuk 

menyalakan dan membakar perasaan saleh dan taat yang 

sama dalam diri orang lain.  

4. Kita harus memuji Tuhan   bersama-sama, dalam suatu kumpul-

an jemaat yang khidmat: “Marilah kita bersorak-sorai. Marilah 

kita bergabung bersama memuji Tuhan. Jangan orang lain 

saja tanpa aku, atau aku sendiri saja, melainkan orang lain 

bersama-sama dengan aku. Marilah kita bersama-sama meng-

hadap wajah-Nya, di pelataran rumah-Nya, di mana umat-Nya 

biasa melayani-Nya dan berharap agar Dia menyatakan diri-

Nya.” jika  kita datang menghadap hadirat Tuhan  , kita harus 

datang dengan rasa syukur bahwa kita diperbolehkan untuk 

mendapat kebaikan seperti itu. jika  ada rasa syukur untuk 

diucapkan, kita harus datang menghadap wajah Tuhan  , berdiri 

di hadapan-Nya, dan menunjukkan diri kepada-Nya dalam 

ketetapan-ketetapan yang telah ditentukan-Nya.  

II. Mengapa Tuhan   harus dipuji dan apa yang harus menjadi pokok 

pujian kita. Kita tidak kekurangan pokok pujian. Jadi sungguh 

baik jika kita tidak kekurangan hati untuk memuji. Kita harus 

memuji Tuhan  , 

1.  sebab  Ia Tuhan   yang besar, dan Tuhan yang berdaulat atas 

semuanya (ay. 3). Ia besar, dan oleh sebab itu terpuji sangat. 

Dia tak terbatas dan mahabesar, dan memiliki segala kesem-

purnaan di dalam diri-Nya.  

(1) Kuasa-Nya besar: Dia Raja yang besar mengatasi segala 

Tuhan  , mengatasi segala ilah jadi-jadian, segala hakim, yang 

kepada mereka Dia telah berfirman, kamu yaitu  Tuhan   (Ia 

mengatur mereka semua dan memenuhi tujuan-Nya sendiri 

melalui mereka, dan kepada-Nya mereka semua bertang-

gung jawab). Dia mengatasi segala ilah palsu, segala yang 

mengaku ilah, segala perebut kekuasaan. Ia sanggup mela-

kukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh seorang pun 

dari antara mereka. Ia sanggup, dan akan, membuat mere-

ka mati kelaparan dan menaklukkan mereka semua.  

(2) Kepunyaan-Nya melimpah. Dunia bawah ini dibicarakan 

secara khusus di sini. Kita menganggap hebat orang-orang 

yang mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, yang mere-

ka sebut sebagai milik mereka sendiri dan terpisah dari ba-

gian dunia yang lain, namun wilayah mereka itu hanyalah 

sebagian yang sangat kecil saja dari alam semesta ini. Dan 

jika demikian adanya, betapa dahsyatnya Tuhan   yang empu-

nya bumi serta segala isinya, yang tidak saja ada di bawah 

kaki-Nya, sebab kekuasaan-Nya mutlak atas semua makh-

luk dan mereka semua yaitu  kepunyaan-Nya, namun  juga 

yang ada dalam genggaman tangan-Nya, sebab Ia sungguh-

sungguh mengarahkan dan mengatur segala isinya (ay. 4). 

Bahkan bagian-bagian bumi yang paling dalam, yang tidak 

tampak oleh mata kita, mata air dan tambang yang ada di 

bawah lapisan bumi, ada di tangan-Nya. Lagi, puncak gu-

nung-gunung, yang ada di luar jangkauan kita, apa pun 

yang tumbuh atau mencari makan di atasnya, juga kepu-

nyaan-Nya. Perkataan ini bisa diartikan secara kiasan: 

yang paling hina dari anak-anak manusia, yang seperti 

bagian-bagian bumi di bawah, tidak luput dari perhatian-

Nya. Dan yang terbesar dari antara mereka, yang seperti 

kokohnya gunung-gunung, tidak di luar pengawasan-Nya. 

Kekuatan apa saja yang ada pada makhluk mana saja 

semuanya berasal dari Tuhan   dan dipakai untuk-Nya (ay. 5): 

Kepunyaan-Nya laut, dan segala yang ada di dalamnya 

(ombak-ombak menggenapi firman-Nya). Laut kepunyaan-

Nya, sebab Dialah yang menjadikannya, mengumpulkan 

airnya dan menetapkan garis-garis pantainya. Dan darat, 

meskipun diberikan kepada anak-anak manusia, yaitu  

kepunyaan-Nya juga, sebab Ia masih menyediakannya bagi 

diri-Nya sendiri. Darat kepunyaan-Nya, sebab tangan-Nya-

lah yang membentuknya, saat  firman-Nya membuat tanah 

yang kering menjadi tampak.  sebab  Dia Pencipta segala 

sesuatu, maka tanpa bisa dibantah lagi, Dialah Pemilik 

atas segalanya.  sebab  mazmur ini yaitu  mazmur Injil, 

kita boleh-boleh saja menduga bahwa Tuhan Yesuslah yang 

diajarkan kepada kita di sini untuk kita puji. Dialah Tuhan   

yang besar. Tuhan   perkasa yaitu  salah satu gelar-Nya, dan 

Tuhan   atas segalanya, yang terpuji sampai selama-lamanya. 

Sebagai Pengantara, Dia Raja yang besar mengatasi segala 

Tuhan  . Oleh Dia para raja memerintah, dan para malaikat, 

pemerintahan, dan penguasa tunduk kepada-Nya. Oleh 

Dia, sebagai Firman kekal, segala sesuatu dijadikan (Yoh. 

1:3), dan sungguh pantas Dia, yang yaitu  Pencipta segala 

sesuatu, menjadi Pemulih dan Pendamai segala sesuatu 

(Kol. 1:16, 20). Kepada-Nya segala kuasa diberikan baik di 

sorga maupun di bumi, dan ke dalam tangan-Nya segala 

sesuatu diserahkan. Dialah yang menginjakkan kaki ka-

nan-Nya di atas laut dan kaki kiri-Nya di atas bumi, seba-

gai Tuhan yang berdaulat atas keduanya (Why. 10:2), dan 

oleh sebab itu kepada-Nyalah kita harus menyanyikan 

lagu-lagu pujian kita, dan di hadapan-Nyalah kita harus 

sujud menyembah. 

2.   sebab  Dia Tuhan   kita, bukan saja yang berkuasa atas diri kita, 

seperti Dia berkuasa atas semua makhluk, namun  juga yang 

mempunyai hubungan khusus dengan kita (ay. 7): Dialah 

Tuhan   kita, dan oleh sebab itu kita diharapkan untuk memuji-

Nya. Siapa lagi yang akan melakukannya jika bukan kita? Un-

tuk apa lagi kita dijadikan oleh-Nya selain agar kita menjadi 

ternama dan terpuji bagi Dia?  

(1) Dialah Pencipta kita, dan yang menjadikan kita. Kita harus 

berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita (ay. 6). 

Para penyembah berhala berlutut di hadapan ilah-ilah yang 

mereka jadikan sendiri. Sedangkan kita berlutut di hadapan 

Tuhan   yang menjadikan kita dan seluruh dunia, dan yang 

oleh sebab itu merupakan pemilik kita yang sah. Sebab kita 

kepunyaan-Nya, dan bukan kepunyaan diri kita sendiri.  

(2) Dia Juruselamat kita, dan yang membuat kita berbahagia. 

Di sini Dia disebut gunung batu keselamatan kita (ay. 1), 

bukan hanya pendiri melainkan juga dasar dari pekerjaan

yang ajaib itu, yang di atasnya keselamatan dibangun. Gu-

nung batu itu ialah Kristus. Oleh sebab itu, kepada-Nyalah 

kita harus menyanyikan lagu-lagu pujian kita, bagi Dia 

yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba.  

(3) Oleh  sebab  itu, kita yaitu  kepunyaan-Nya, dan terikat 

dengan segala kemungkinan kewajiban: Kitalah umat gem-

balaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. 

Demikian pula dengan semua anak manusia. Mereka diberi 

makan dan dituntun oleh Pemeliharaan-Nya, yang menjaga 

mereka, dan memimpin mereka, sebagaimana yang diper-

buat gembala terhadap kawanan dombanya. Kita harus 

memuji-Nya, bukan hanya  sebab  Dia menjadikan kita, te-

tapi  sebab  Dia menjaga dan memelihara kita, dan nafas 

serta jalan-jalan kita berada dalam tangan-Nya. Demikian 

pula dengan semua anak-anak jemaat secara khusus. 

Israel yaitu  umat gembalaan-Nya dan kawanan domba 

tuntunan tangan-Nya. Oleh sebab itu Ia menuntut penghor-

matan dari mereka secara khusus. Jemaat Injil yaitu  ka-

wanan domba-Nya. Kristus yaitu  Gembalanya yang agung 

dan baik. Kita, sebagai orang-orang Kristen, dituntun oleh 

tangan-Nya ke padang yang berumput hijau, oleh-Nya kita 

dilindungi dan diberi persediaan dengan baik, dan demi ke-

hormatan serta pelayanan kepada-Nya kita sepenuhnya 

mengabdi sebagai umat kepunyaan Tuhan   sendiri. Oleh se-

bab itu, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat (entah itu 

di dunia atau bukan) sampai selama-lamanya (Ef. 3:21). 

Peringatan terhadap Kekerasan Hati 

(95:7b-11) 

7 Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! 8 Janganlah keraskan 

hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, 9 pada 

waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka 

melihat perbuatan-Ku. 10 Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, 

maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak 

mengenal jalan-Ku.” 11 Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: “Mereka 

takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.” 

Bagian terakhir dari mazmur ini, yang dimulai di tengah-tengah se-

buah ayat, merupakan nasihat kepada orang-orang yang menyanyi-

kan mazmur Injil, agar mereka hidup sesuai dengan Injil dan men-

dengarkan suara firman Tuhan  . Sebab jika tidak, bagaimana mereka 

dapat berharap bahwa Ia akan mendengarkan suara doa-doa dan 

puji-pujian mereka? 

Perhatikanlah:   

I.   Kewajiban yang dituntut dari semua orang yang merupakan umat 

gembalaan Kristus dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Ia 

berharap agar mereka mendengar suara-Nya, sebab Ia telah ber-

kata, domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku (Yoh. 10:27). Kita-

lah umat gembalaan-Nya, kata mereka. Apakah engkau juga? Maka 

dengarlah suara-Nya. Jika engkau memanggil-Nya Guru, atau Tuan, 

maka perbuatlah apa yang dikatakan-Nya, dan jadilah umat-Nya 

yang patuh dan taat. Dengarlah suara ajaran-Nya, suara hukum-

Nya, dan di dalam keduanya, suara Roh-Nya. Dengar dan cam-

kanlah. Dengar dan berserahlah. Dengarlah suara-Nya, dan bu-

kan suara orang asing. Sekiranya kamu mendengar suara-Nya. Se-

bagian orang memandang ini sebagai sebuah pengharapan, oh 

sekiranya saja kamu mendengar suara-Nya! Sekiranya kamu men-

jadi begitu bijak, dan berbuat begitu baik bagi dirimu sendiri. Ini 

serupa dengan perkataan berikut, jika pada hari ini juga engkau 

mengerti (Luk. 19:42), yaitu, Oh sekiranya saja engkau mengerti! 

Suara Kristus harus didengar pada hari ini. Hal ini sangat dite-

kankan oleh sang rasul, dengan merujuk pada hari Injil. jika  

Ia sedang berbicara kepadamu, pastikan bahwa engkau menyi-

maknya, sebab kesempatan yang engkau dapatkan pada hari ini 

tidak akan selalu ada. Oleh  sebab  itu, manfaatkanlah itu, selama 

masih dapat dikatakan “hari ini” (Ibr. 3:13, 15). Mendengarkan 

suara Kristus berarti percaya. Hari ini, jika dengan iman kamu 

menerima tawaran Injil, maka itu baik, namun  besok mungkin su-

dah terlambat. Dalam hal yang teramat penting seperti ini, tidak 

ada yang lebih berbahaya dibandingkan  menunda-nunda.  

II.  Dosa yang diperingatkan kepada mereka, sebagai hal yang tidak 

selaras dengan telinga yang percaya dan taat, yang dituntut dari 

mereka, dan dosa itu ialah kekerasan hati. Sekiranya kamu men-

dengar suara-Nya, dan mendapat manfaat dari apa yang kamu de-

ngar, maka janganlah keraskan hatimu. Sebab benih yang ditabur 

di atas batu tidak akan pernah menghasilkan buah yang sempur-

na. Oleh sebab itu, orang-orang Yahudi tidak percaya pada Injil 

Kristus,  sebab  hati mereka mengeras. Mereka tidak diyakinkan 

akan kejahatan dosa, dan akan bahaya yang mengintai mereka 

 sebab  dosa, dan oleh sebab itu mereka tidak mengindahkan ta-

waran keselamatan. Mereka tidak mau menanggung kuk Kristus, 

atau berserah pada tuntutan-tuntutan-Nya. Jika hati orang ber-

dosa sudah mengeras, itu yaitu  perbuatan dan tindakannya 

sendiri (dia sendirilah yang mengeraskannya) dan dia sendirilah 

yang akan menanggung kesalahannya untuk selama-lamanya.  

III. Contoh yang dijadikan peringatan bagi mereka, yaitu tentang 

orang-orang Israel di padang gurun. 

1. “Berjaga-jagalah agar tidak berdosa seperti mereka, sebab ka-

lau tidak, tempat perhentian kekal akan tertutup bagimu sama 

seperti Kanaan bagi mereka.” Jangan seperti nenek moyang 

mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak (78:8). Demi-

kian pula di sini, janganlah keraskan hatimu seperti yang 

kamu perbuat (maksudnya, yang diperbuat nenek moyangmu) 

seperti saat  mereka membangkitkan amarah-Nya, atau seper-

ti saat  di Meriba, tempat mereka bertengkar dengan Tuhan   

dan Musa (Kel. 17:2-7), dan seperti pada hari di Masa di pa-

dang gurun (ay. 8). Demikian seringnya mereka membangkit-

kan amarah Tuhan   dengan ketidakpercayaan dan sungut-

sungut mereka sehingga seluruh waktu yang mereka habiskan 

di padang gurun bisa disebut sebagai masa pencobaan, atau 

Masa, nama lain yang diberikan untuk tempat itu (Kel. 17:7), 

 sebab  mereka mencobai Tuhan, dengan berkata, “Adakah 

TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Hal ini mereka per-

buat sewaktu di padang gurun, di mana mereka tidak berdaya 

menolong diri mereka sendiri, namun  justru sepenuhnya ber-

gantung pada belas kasihan Tuhan  , dan di mana Tuhan   secara 

ajaib telah menolong mereka dan memberi mereka bukti-bukti 

kekuasaan-Nya yang dapat mereka saksikan dengan panca 

indra, dan pertanda-pertanda kebaikan-Nya seperti yang be-

lum pernah diberikan kepada umat mana pun sebelum atau 

sesudahnya.  

Perhatikanlah:  

(1) Hari-hari pencobaan yaitu  hari-hari yang membangkitkan 

amarah Tuhan. Tidak ada yang lebih menyakitkan hati 

Tuhan   dibandingkan  ketidakpercayaan terhadap janji-Nya dan 

keputusasaan akan pelaksanaannya oleh  sebab  beberapa 

kesulitan yang tampak menghadang di tengah jalan.  

(2) Semakin banyak pengalaman yang kita miliki akan kuasa 

dan kebenaran Tuhan  , semakin besar dosa kita jika kita 

tidak percaya kepada-Nya. Coba bayangkan, mencobai-Nya 

di padang gurun, di mana kita hidup dengan bergantung 

pada-Nya! Sungguh suatu tindakan yang selain tidak tahu 

berterima kasih, juga ganjil dan tidak masuk akal.  

(3) Kekerasan hati merupakan dasar dari segala ketidakper-

cayaan kita terhadap Tuhan   dan perselisihan kita dengan-

Nya. Hati yang keras yaitu  hati yang tidak mau menerima 

kesan-kesan penyingkapan ilahi dan tidak mau menuruti 

maksud-maksud kehendak ilahi, yang tidak mau luluh, 

tidak mau diluruskan.  

(4)  Dosa-dosa orang lain haruslah menjadi peringatan bagi 

kita untuk tidak mengikuti jejak langkah mereka. Sungut-

sungut Israel dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita 

(1Kor. 10:11). 

2. Sekarang di sini Lihatlah  , 

(1) Dakwaan yang diajukan, dalam nama Tuhan  , melawan 

orang-orang Israel yang tidak percaya (ay. 9-10). Tuhan   di 

sini, berabad-abad sesudahnya, mengeluhkan kelakuan 

mereka yang jahat terhadap-Nya, melalui ungkapan-ung-

kapan kebencian yang mendalam.  

[1] Dosa mereka yaitu  ketidakpercayaan: mereka menco-

bai dan menguji Tuhan  . Mereka mempertanyakan apakah 

mereka bisa memegang perkataan-Nya, dan bersikeras 

untuk mendapatkan jaminan yang lebih jauh lagi sebe-

lum mereka melangkah maju ke Kanaan, dengan mengi-

rimkan mata-mata. saat  mata-mata itu mematahkan 

semangat mereka, mereka mengeluhkan kemampuan 

kuasa dan janji ilahi, dan berniat mengangkat seorang 

pemimpin lalu pulang ke Mesir (Bil. 14:3-4). Ini disebut 

perbuatan yang menentang (Ul. 1:26, 32).  

[2] Yang memperberat dosa ini yaitu  bahwa mereka su-

dah melihat perbuatan Tuhan  . Mereka melihat apa yang 

telah diperbuat-Nya bagi mereka dalam membawa mere

ka keluar dari Mesir, bahkan, apa yang pada saat itu 

tengah diperbuat-Nya bagi mereka setiap hari, pada hari 

ini, dalam roti yang diturunkan-Nya dari langit bagi me-

reka dan air yang keluar dari gunung batu yang meng-

ikuti mereka. Selain hal ini, mereka tidak dapat mem-

punyai bukti-bukti yang lebih tidak diragukan lagi akan 

hadirat Tuhan   bersama mereka. Bagi mereka, bahkan 

melihat belum tentu percaya,  sebab  mereka mengeras-

kan hati mereka, sekalipun mereka telah melihat apa 

yang didapat Firaun dengan mengeraskan hatinya.  

[3] Penyebab-penyebab dosa mereka. Lihatlah apa yang di-

pandang Tuhan   sebagai penyebabnya: Mereka suatu 

bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal 

jalan-Ku. Ketidakpercayaan dan keraguan manusia akan 

Tuhan  , sungut-sungut dan perselisihan mereka dengan-

Nya, merupakan dampak dari kemasabodohan dan kesa-

lahan mereka. Pertama, dampak dari kemasabodohan 

mereka: Mereka itu tidak mengenal jalan-Ku. Mereka me-

lihat perbuatan-Nya (ay. 9) dan Ia telah memperkenalkan 

perbuatan-perbuatan-Nya kepada mereka (103:7), namun 

mereka tidak mengenal jalan-Nya, jalan pemeliharaan-

Nya, yang di dalamnya Ia berjalan menghampiri mereka, 

atau jalan perintah-perintah-Nya, yang di dalamnya Ia 

ingin agar mereka berjalan menghampiri-Nya. Mereka 

tidak tahu, mereka tidak mengerti dengan benar, dan 

oleh sebab itu tidak menerima jalan-jalan ini. Perhatikan-

lah, alasan mengapa orang meremehkan dan meninggal-

kan jalan-jalan Tuhan   yaitu   sebab  mereka tidak menge-

tahuinya. Kedua, dampak dari kesalahan mereka: Me-

reka suatu bangsa yang sesat hati. Mereka sudah ter-

sesat. Di dalam hati mereka berpaling. Perhatikanlah, 

dosa yaitu  kesalahan, kesalahan yang nyata dalam 

perbuatan, kesalahan di dalam hati. Demikianlah dosa-

dosa itu, dan sama mematikannya seperti kesalahan-

kesalahan di dalam pikiran. jika  perasaan yang ru-

sak mengacaukan penghakiman, dan dengan demikian 

mengantar jiwa keluar dari jalan kewajiban dan jalan 

ketaatan, maka ada kesesatan di dalam hati.  

[4] Kebencian Tuhan   terhadap dosa mereka: Empat puluh 

tahun Aku jemu kepada angkatan itu. Perhatikanlah, 

dosa-dosa umat yang mengaku kepunyaan Tuhan   tidak 

saja membuat-Nya marah, namun  juga mendukakan-Nya, 

membuat-Nya jemu, terutama ketidakpercayaan mereka 

terhadap-Nya. Dan Tuhan   mencatat betapa seringnya (Bil. 

14:22) dan betapa lamanya mereka mendukakan-Nya. 

Lihatlah betapa sabarnya Tuhan   terhadap orang-orang 

berdosa yang membangkitkan amarah-Nya. Dia berduka 

oleh  sebab  mereka selama empat puluh tahun, namun 

tahun-tahun itu berakhir dengan masuknya keturunan 

mereka berikutnya ke tanah Kanaan dengan penuh ke-

menangan. Jika dosa-dosa kita telah mendukakan hati 

Tuhan  , pastilah dosa-dosa itu harus mendukakan hati 

kita juga, dan tidak ada hal lain di dalam dosa yang 

bisa teramat sangat mendukakan kita selain dosa yang 

mendukakan Tuhan  . 

(2) Hukuman yang dijatuhkan ke atas mereka  sebab  dosa 

mereka (ay. 11): “Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-

Ku, jika mereka masuk ke tempat perhentian-Ku, maka bo-

lehlah dikatakan bahwa Aku bisa berubah-ubah dan tidak 

berlaku setia.” Lihatlah hukuman ini secara panjang lebar 

dalam Bilangan 14:21, dst. 

 Perhatikanlah:  

[1]  Dari mana hukuman ini datang, yaitu dari murka Tuhan  . 

Ia bersumpah dalam murka-Nya dengan sungguh-sung-

guh, murka-Nya yang adil dan kudus. namun  janganlah 

 sebab  itu manusia bersumpah dengan sembarangan di 

dalam murka mereka, murka kebinatangan mereka 

yang penuh dosa. Tuhan   tidak tunduk pada perasaan-

perasaan demikian seperti kita. namun  Ia dikatakan mur-

ka, sangat murka, terhadap dosa dan terhadap orang-

orang berdosa, untuk menunjukkan kejahatan dosa dan 

keadilan pemerintahan Tuhan  . Pasti sesuatu yang jahat 

pantas mendapat balasan yang berat seperti ini dari 

Tuhan   yang murka.  

[2] Apa hukuman itu: Bahwa mereka takkan masuk ke 

tempat perhentian-Nya, tempat perhentian yang telah 

dipersiapkan dan dirancang-Nya untuk mereka, tempat 

kediaman untuk mereka dan untuk dijadikan sebagai 

milik mereka, bahwa tidak seorang pun dari mereka 

yang turut serta keluar dari Mesir akan didapati tertulis 

dalam kitab orang-orang hidup saat  memasuki tanah 

Kanaan, selain Kaleb dan Yosua. 

[3] Bagaimana hukuman itu disahkan: Aku bersumpah. 

Hukum ini bukan sekadar niat, melainkan sebuah titah. 

Sumpah menunjukkan kepastian putusan-Nya. TUHAN 

telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal. Dengan 

sumpah, pupuslah sudah segala harapan akan masih 

tersedianya belas kasihan. Ancaman-ancaman Tuhan   itu 

sepasti janji-janji-Nya.  

Nah, masalah Israel ini bisa diterapkan kepada keturunan-ketu-

runannya yang hidup pada masa Daud, saat  mazmur ini ditulis-

kan. Biarlah mereka mendengar suara Tuhan  , dan tidak mengeraskan 

hati mereka seperti yang diperbuat oleh nenek moyang mereka. 

Sebab jika tidak, jika mereka tegar tengkuk seperti nenek moyang 

mereka, maka murka Tuhan   akan bangkit untuk menghapuskan hak-

hak istimewa mereka atas Bait Suci-Nya di Yerusalem, yang tentang-

nya Dia telah berkata, “Inilah tempat perhentian-Ku.” namun  masalah 

ini juga berlaku bagi kita orang-orang Kristen,  sebab  demikianlah 

sang rasul menerapkannya. Ada suatu tempat perhentian rohani dan 

kekal yang dipersiapkan bagi kita, dan yang dijanjikan kepada kita, 

yang diperlambangkan dengan Kanaan. Kita semua (setidak-tidaknya 

dalam pengakuan) sedang menuju tempat perhentian ini. Namun 

banyak orang yang tampaknya demikian ternyata kemudian gagal 

dan tidak akan pernah memasukinya. Dan apakah yang menjadi 

penghalang di pintu mereka? Penghalangnya yaitu  dosa. Pengha-

langnya yaitu  ketidakpercayaan, dosa yang diperbuat melawan obat 

penawar itu, melawan permohonan kita sendiri untuk masuk ke tem-

pat peristirahatan itu. Orang-orang yang, seperti Israel, tidak percaya 

akan Tuhan  , dan akan kuasa serta kebaikan-Nya, dan lebih memilih 

bawang merah dan bawah putih Mesir dibandingkan  susu dan madu 

Kanaan, sudah sewajarnya untuk dihalangi masuk ke dalam tempat 

perhentian-Nya. Demikianlah nasib yang akan menimpa mereka. Me-

reka sendiri telah memutuskannya. Sebab itu, baiklah kita waspada 

(Ibr. 4:1). 

 

PASAL  96  

azmur ini merupakan bagian dari nyanyian yang disampaikan 

ke tangan Asaf dan saudara-saudaranya untuk dinyanyikan 

(1Taw. 16:7). Dengan ini tampak bahwa Daud yaitu  penulisnya dan 

bahwa nyanyian itu merujuk pada perarakan tabut perjanjian ke kota 

Daud. Entah mazmur yang panjang itu dibuat terlebih dahulu, dan 

kemudian mazmur ini diambil darinya, atau mazmur ini dibuat 

terlebih dahulu, dan sesudah itu dipinjam untuk melengkapi mazmur 

yang panjang itu, tidaklah pasti. namun  yang pasti bahwa, meskipun 

dinyanyikan pada saat tabut perjanjian dipindahkan, mazmur ini 

memandang lebih jauh, pada Kerajaan Kristus, dan dirancang untuk 

merayakan kemuliaan-kemuliaan Kerajaan itu, terutama masuknya 

orang-orang bukan-Yahudi ke dalamnya. Inilah,  

I.   Sebuah panggilan yang diberikan kepada semua orang untuk 

memuji Tuhan  , untuk menyembah-Nya, dan untuk memberi  

kemuliaan kepada-Nya, sebagai Tuhan   yang besar dan mulia 

(ay. 1-9).  

II. Pemberitahuan kepada semua orang tentang pemerintahan 

dan penghakiman Tuhan   atas segala sesuatu, yang harus 

menjadi pokok sukacita bagi segala bangsa (ay. 10-13). 

 Dalam menyanyikan mazmur ini, hati kita haruslah dipenuhi de-

ngan pikiran-pikiran yang agung dan luhur tentang kemuliaan Tuhan   

dan anugerah Injil, serta dipenuhi dengan kepuasan penuh akan 

pemerintahan Kristus yang berdaulat dan akan pengharapan mengenai 

penghakiman yang akan datang. 

Sebuah Ajakan untuk Memuji dan Menghormati Tuhan  ; 

Sebuah Panggilan untuk Memuliakan Tuhan   

(96:1-9)  

1 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai 

segenap bumi! 2 Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah 

keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. 3 Ceritakanlah kemuliaan-

Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di an-

tara segala suku bangsa. 4 Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia 

lebih dahsyat dari pada segala Tuhan  . 5 Sebab segala Tuhan   bangsa-bangsa yaitu  

hampa, namun  TUHANlah yang menjadikan langit. 6 Keagungan dan semarak 

ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya. 7 

Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan 

kekuatan! 8 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembah-

an dan masuklah ke pelataran-Nya! 9 Sujudlah menyembah kepada TUHAN 

dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi! 

Ayat-ayat ini paling baik diuraikan dengan perasaan-perasaan saleh 

dan taat kepada Tuhan   yang bekerja di dalam jiwa kita, dengan pemu-

jaan yang tinggi akan kebesaran dan keunggulan-Nya yang melam-

paui segalanya. Panggilan yang diberikan kepada kita di sini untuk 

memuji Tuhan   sangatlah hidup, ungkapan-ungkapannya dinaikkan dan 

diulangi, yang kesemuanya menuntut balasan sepadan dari gema 

sebuah hati yang penuh syukur.   

I.  Di sini kita dituntut untuk menghormati Tuhan  , 

1.  Dengan nyanyian (ay. 1-2). Tiga kali di sini kita dipanggil un-

tuk bernyanyi bagi Tuhan. Bernyanyi bagi Bapa, bagi Anak, 

dan bagi Roh Kudus, seperti pada permulaan, pada waktu bin-

tang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, pada saat ini, 

dalam jemaat yang sedang berjuang, dan pada saat nanti, 

dalam jemaat yang menang. Kita mempunyai alasan untuk 

sering melakukannya, dan kita perlu sering diingatkan untuk 

melakukannya, serta digugah untuk menjalankannya. Bernya-

nyilah bagi Tuhan, maksudnya, “Pujilah nama-Nya, katakanlah 

yang baik tentang Dia, agar engkau dapat membawa orang lain 

untuk berpikiran baik pula tentang Dia.”  

(1) Nyanyikanlah nyanyian baru, nyanyian bagus, buah karya 

dari perasaan-perasaan yang baru, dibungkus dengan ung-

kapan-ungkapan baru. “Lagu lama” biasanya kita bicara-

kan dengan nada merendahkan, namun  lagu akan dipuji jika 

baru. Sebab dalam lagu baru kita mengharapkan sesuatu 

yang mengejutkan. Nyanyian baru yaitu  nyanyian untuk

 kebaikan-kebaikan yang baru, untuk kasih setia yang se-

lalu baru setiap pagi. Nyanyian baru yaitu  nyanyian Per-

janjian Baru, nyanyian pujian untuk kovenan baru dan hak-

hak istimewa yang berharga dari perjanjian itu. Nyanyian 

baru yaitu  nyanyian yang senantiasa baru, dan yang tidak 

akan pernah menjadi tua atau hilang lenyap. Nyanyian baru 

yaitu  nyanyian abadi, yang tidak akan pernah usang atau 

ketinggalan zaman.  

(2) Biarlah segenap bumi menyanyikan nyanyian ini, bukan 

orang-orang Yahudi saja, yang kepada mereka sudah di-

tetapkan untuk melayani Tuhan   hingga saat ini, yang tidak 

dapat menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing (atau 

tidak mau menyanyikannya untuknya), melainkan juga biar-

lah segenap bumi, semua yang telah ditebus dari bumi, mem-

pelajari dan menyanyikan nyanyian baru ini (Why. 14:3). Ini 

merupakan nubuatan tentang dipanggilnya orang-orang 

bukan-Yahudi. Segenap mulut bumi akan penuh dengan 

nyanyian baru ini, akan mempunyai alasan maupun pang-

gilan untuk menyanyikannya.  

(3) Biarlah yang menjadi pokok nyanyian ini yaitu  keselamat-

an yang dari pada-Nya, keselamatan agung yang akan di-

kerjakan oleh Tuhan Yesus. Itulah yang harus diperlihat-

kan sebagai penyebab dari sukacita dan pujian ini.  

(4) Biarlah nyanyian ini dinyanyikan terus-menerus, bukan 

hanya pada waktu-waktu yang ditetapkan sebagai hari-hari 

perayaan, namun  juga dari hari ke hari. Keselamatan ini me-

rupakan pokok pembicaraan yang tidak akan pernah habis. 

Biarlah perkataan ini diucapkan hari demi hari, sehingga di 

bawah pengaruh ibadah-ibadah Injil, setiap hari kita dapat 

menunjukkan contoh ajaran Injil.    

2. Dengan pemberitaan (ay. 3): Ceritakanlah kemuliaan-Nya di an-

tara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib 

di antara segala suku bangsa.  

(1) Keselamatan oleh Kristus di sini dibicarakan sebagai per-

buatan yang ajaib, dan yang di dalamnya kemuliaan Tuhan   

bersinar sangat terang. Dengan memperlihatkan keselamat-

an itu, kita menceritakan kemuliaan Tuhan   yang bersinar 

pada wajah Kristus. 

(2) Keselamatan ini, pada zaman Perjanjian Lama, seperti hal-

nya kebahagiaan sorgawi pada saat ini, merupakan kemu-

liaan yang akan diungkapkan. namun  pada kegenapan wak-

tu keselamatan itu dinyatakan, dan penyingkapan yang 

sepenuhnya diberikan, bahkan kepada orang-orang kecil, 

yang ingin dan berharap dilihat oleh para nabi dan raja, 

namun tidak diberikan.  

(3)  Apa yang disingkapkan pada waktu itu diceritakan hanya 

di antara orang-orang Yahudi, namun  sekarang hal itu juga 

diceritakan di antara bangsa-bangsa, di antara segala suku 

bangsa. Bangsa-bangsa yang sudah lama terbaring dalam 

kegelapan kini melihat terang besar ini. Amanat yang di-

berikan kepada para rasul untuk memberitakan Injil ke-

pada setiap makhluk disalin dari sini: Ceritakanlah kemu-

liaan-Nya di antara bangsa-bangsa.  

3. Dengan ibadah-ibadah (ay. 7-9). Sampai pada saat itu, meski-

pun dalam setiap bangsa orang-orang yang takut akan Tuhan   

dan yang melakukan kebaikan dikenan oleh-Nya, namun kete-

tapan-ketetapan ibadah yang telah ditegakkan dengan baik 

hanya ada dalam agama Yahudi. Walaupun demikian, pada 

masa Injil, suku-suku bangsa akan diundang dan diterima da-

lam beribadah kepada Tuhan   dan akan disambut dengan sama 

baiknya seperti orang-orang Yahudi sebelum-sebelumnya. Pe-

lataran bangsa-bangsa lain tidak akan lagi menjadi pelataran 

luar, namun  akan dipadukan bersama-sama dengan pelataran 

Israel. Segenap bumi di sini dipanggil untuk takut akan 

Tuhan, untuk menyembah-Nya sesuai dengan ketentuan-Nya. 

Di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi na-

ma-Nya (Mal. 1:11; Za. 14:17; Yes. 66:23). Ini memang ber-

bicara tentang aib bagi orang-orang Yahudi, namun  bersamaan 

dengan itu, hal ini memberi  pengharapan akan suatu hal 

yang akan membawa kemuliaan berlimpah bagi Tuhan   dan bagi 

kebahagiaan umat manusia. Sekarang Lihatlah   bagaimana 

ibadah-ibadah kepada Tuhan   digambarkan di sini.  

(1)  Kita harus memberi kepada Tuhan. Bukan seolah-olah 

Tuhan   memerlukan sesuatu atau bisa menerima sesuatu 

dari kita atau dari makhluk mana pun, yang seakan sebe-

lumnya bukan milik-Nya, apalagi seolah Ia tidak memper-

oleh keuntungan apa pun dari mereka. namun  dalam segala 

perasaan, pemujaan, dan pelayanan kita yang terbaik, kita 

harus kembalikan kepada-Nya apa yang telah kita terima 

dari-Nya, dan melakukannya dengan bebas, seperti kalau 

kita memberi sesuatu. Sebab Tuhan   mengasihi orang yang 

memberi dengan sukacita. Semua yang harus kita berikan 

itu yaitu  utang, biaya sewa, upeti, sesuatu yang harus 

dibayarkan, yang jika tidak diberikan, akan dituntut kem-

bali. Namun, jika semuanya itu datang dari kasih yang 

kudus, maka Tuhan   berkenan menerimanya sebagai suatu 

pemberian.  

(2) Kita harus mengakui Tuhan   sebagai Tuhan yang berdaulat 

dan memberi  penghormatan kepada-Nya sesuai dengan 

kedudukan-Nya itu (ay. 7): Kepada TUHAN sajalah kemulia-

an dan kekuatan, kemuliaan dan kerajaan, atau pemerin-

tahan. Demikian menurut sebagian orang. Sebagai Raja, 

Dia berpakaian jubah kemuliaan dan berikatpinggangkan 

kekuasaan, dan kita harus tunduk pada keduanya. Eng-

kaulah yang empunya Kerajaan, dan oleh sebab itu Eng-

kaulah yang empunya kuasa dan kemuliaan. “Berilah ke-

muliaan kepada Tuhan  . Janganlah menyimpannya untuk 

dirimu sendiri, atau memberi nya kepada makhluk lain.”  

(3) Kita harus memberi  kepada TUHAN kemuliaan nama-

Nya, yakni, penyingkapan akan diri-Nya yang berkenan di-

berikan-Nya kepada anak-anak manusia. Dalam semua 

ibadah agama, inilah yang harus kita tuju, yaitu untuk 

menghormati Tuhan  , untuk memberi  kepada-Nya sebagi-

an dari penghormatan yang wajib kita bayarkan kepada-

Nya sebagai Yang Terbaik dari semua yang ada dan sebagai 

Sumber dari keberadaan kita.  

(4) Kita harus membawa persembahan dan masuk ke pelatar-

an-Nya. Kita harus membawa, pertama-tama, persembahan 

bangsa-bangsa bukan Yahudi (Rm. 15:16). Kita harus se-

nantiasa mempersembahkan korban syukur (Ibr. 13:15), ha-

rus sering kali tampil di hadapan Tuhan   dalam ibadah ber-

sama dan jangan pernah tampil di hadapan-Nya dengan 

tangan hampa.  

(5) Kita harus sujud menyembah-Nya dengan berhiaskan keku-

dusan, dalam kumpulan jemaat yang khidmat di mana 

ketetapan-ketetapan ilahi dijalankan dalam ibadah agama, 

yang perhiasannya yaitu  kekudusan mereka, yaitu, ke-

taatan mereka pada peraturan. Kita harus menyembah-Nya 

dengan hati yang suci, yang dikuduskan oleh anugerah 

Tuhan  , diabdikan untuk kemuliaan Tuhan  , dan dimurnikan 

dari kecemaran dosa.  

(6) Kita harus gemetar di hadapan-Nya. Segala tindakan iba-

dah harus dijalankan berdasar  asas takut akan Tuhan   

dan dengan rasa takjub serta sikap hormat yang kudus. 

II. Di tengah-tengah panggilan untuk memuji Tuhan   dan untuk mem-

berikan kemuliaan kepada-Nya ini, hal-hal yang mulia dikatakan 

di sini tentang Dia, baik sebagai alasan untuk memuji maupun 

sebagai pokok pujian: TUHAN mahabesar, dan oleh sebab itu 

terpuji sangat (ay. 4) dan lebih dahsyat, besar dan terhormat bagi 

hamba-hamba-Nya, besar dan mengerikan bagi musuh-musuh-

Nya. Bahkan nyanyian baru menyatakan bahwa Tuhan   itu besar 

dan juga baik. Sebab kebaikan-Nya yaitu  kemuliaan-Nya. saat  

Injil kekal diberitakan, beginilah bunyinya, takutlah akan Tuhan   

dan muliakanlah Dia (Why. 14:6-7).  

1. Ia besar dalam kedaulatan-Nya atas segala sesuatu yang meng-

aku-ngaku ilah. Tidak seorang pun berani bersaing dengan-Nya: 

Ia lebih dahsyat dari pada segala Tuhan  , dibandingkan  segala pengua-

sa, yang sering kali dituhankan sesudah  kematian mereka, dan 

bahkan sewaktu masih hidup dipuja sebagai ilah-ilah kecil, 

atau lebih tepatnya segala berhala, Tuhan   bangsa-bangsa (ay. 

5).  sebab  segenap bumi dipanggil untuk menyanyikan nya-

nyian baru, mereka harus insaf bahwa Tuhan Yahweh, yang 

demi kehormatan-Nya mereka harus menyanyikannya, yaitu  

satu-satunya Tuhan   yang hidup dan benar, jauh mengatasi 

segala lawan dan ilah-ilah palsu. Ia besar, dan mereka kecil. 

Dia segalanya, dan mereka hampa. Demikianlah arti kata ber-

hala yang dipakai di sini (KJV), sebab kita tahu bahwa tidak 

ada berhala di dunia (1Kor. 8:4).  

2. Dia sendiri besar, bahkan dibandingkan dengan makhluk cip-

taan yang paling mulia. Sebab makhluk yaitu  karya-Nya sen-

diri dan keberadaan mereka berasal dari Dia: TUHANlah yang 

menjadikan langit dan segala tentaranya. Mereka yaitu  buat-

an jari-Nya (8:3). Begitu indah, begitu ajaib, mereka dicipta-

kan. Ilah bangsa-bangsa semuanya merupakan buatan. Mere-

ka itu ilah-ilah, makhluk-makhluk ciptaan khayalan manusia. 

namun  Tuhan   kita yaitu  Pencipta matahari, bulan, dan bin-

tang, cahaya-cahaya di langit itu, yang manusia khayalkan 

sebagai ilah dan sembah sebagai ilah.  

3.  Ia besar dalam menyatakan kemuliaan-Nya baik di dunia atas 

maupun di dunia bawah, di antara para malaikat-Nya di sorga 

dan di antara orang-orang kudus-Nya di bumi (ay. 6): Keagung-

an dan semarak ada di hadapan-Nya. Di dunia atas hadirat-Nya 

tampak langsung, dan para malaikat menutupi wajah mereka 

 sebab  tidak tahan menatap kemuliaan-Nya yang menyilaukan. 

Kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya, baik yang 

di atas maupun yang di bawah. Di dalam Tuhan   ada  segala 

sesuatu yang dahsyat, namun semuanya itu bersahabat. Jika 

kita melayani-Nya di tempat kudus-Nya, maka kita akan me-

mandang keindahan-Nya, sebab Tuhan   itu kasih. Kita akan 

mengalami kekuatan-Nya, sebab Ia gunung batu kita. Oleh kare-

na itu, marilah kita maju dalam kekuatan-Nya, terpikat oleh ke-

indahan-Nya.  

Kerajaan Kristus 

(96:10-13) 

10 Katakanlah di antara bangsa-bangsa: “TUHAN itu Raja! Sungguh tegak 

dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.” 11 

Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut 

serta isinya, 12 biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka 

segala pohon di hutan bersorak-sorai 13 di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, 

sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan 

keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya. 

Di sini kita mendapati perintah-perintah diberikan kepada orang-

orang yang hendak memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa ten-

tang apa yang harus mereka beritakan. Perintah-perintah ini juga 

ditujukan kepada mereka yang sudah menerima Injil secara pribadi, 

tentang penjelasan apa yang harus mereka berikan kepada sesama 

mereka, apa yang harus dikatakan di antara bangsa-bangsa. Ayat-

ayat ini melukiskan dengan jelas nubuatan tentang didirikannya Ke-

rajaan Kristus di atas reruntuhan kerajaan Iblis, yang segera dimulai 

sesudah  kena


Related Posts:

  • mazmur 51-100 19 a dari Tuhan  .  (1) Agar Ia memuliakan diri-Nya sendiri, dan mendapat kehor-matan demi nama-Nya sendiri. Para penganiaya yang fasik berpikir bahwa Tuhan   telah menarik diri dan mencampak-… Read More