uan umum yang mereka temui, yang membu-
tuhkan bantuan orang-orang itu. Orang-orang yang lewat itu,
yang menjelajahi seluruh tanah itu, meskipun mereka sendiri
tidak akan tinggal untuk menguburkan orang-orang mati, na-
mun, supaya tidak menjadi najis, mereka akan memperhati-
kan mayat-mayat yang mereka dapati belum terkubur. Kalau-
pun mereka hanya menemukan tulang, mereka akan meletak-
kan batu di sampingnya sebagai tanda, sampai tukang-tukang
kubur menguburkannya, dan supaya , sebelum tulang itu ter-
kubur, orang lain berhati-hati untuk tidak menyentuhnya.
Untuk alasan itulah makam-makam orang Yahudi dilabur
putih, supaya orang menjaga jarak darinya. Perhatikanlah,
jika pekerjaan yang baik harus dilakukan menghadapi
suatu bencana atau pelanggaran yang menimpa orang banyak,
maka setiap orang harus mengulurkan tangan untuk mem-
bantu, bahkan orang-orang yang hanya lewat sekalipun tidak
boleh berpikir bahwa mereka tidak berkepentingan. Dengan
begitu, semua orang bisa bersama-sama menghentikan ben-
cana atau pelanggaran itu. Orang-orang yang pekerjaannya
mentahirkan tanah tidak boleh membiarkan apa saja yang me-
najiskan tetap ada di atasnya. Meskipun bukan tubuh, melain-
kan hanya sepotong tulang manusia, yang ditemukan belum
terkubur, mereka harus mendorong orang-orang untuk mem-
beritahukan hal itu (secara pribadi, melalui tanda, secara
diam-diam), supaya mereka bisa menyingkirkannya, dan me-
nguburkannya sehingga tak terlihat lagi. Bahkan, sesudah
lewat yang tujuh bulan itu, waktu yang diberikan kepada
mereka untuk pekerjaan ini, saat segala sesuatu yang tam-
pak sudah disingkirkan, mereka akan memeriksa lagi tanah
itu, supaya apa yang tersembunyi dapat dibukakan. Mereka
akan mencari-cari kesalahan, sampai mereka tidak dapat
menemukannya. Dalam ingatan akan hal ini, mereka akan
memberi nama baru untuk kota mereka. Kota itu akan
disebut Hamonah – Khalayak Ramai. Oh, betapa banyaknya
musuh kami yang dikuburkan di kota ini! Dengan demikian
mereka mentahirkan tanah itu, dengan segenap perhatian ini,
dengan segala jerih payah ini (ay. 16). Ingatlah, sesudah penak-
lukan harus ada pentahiran. Musa menunjuk orang-orang
Israel yang sudah bekerja untuk berperang melawan orang-
orang Midian untuk mentahirkan diri (Bil. 31:24). sesudah
menerima perkenanan-perkenanan istimewa dari Allah, mari-
lah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran.
Kitab Yehezkiel 39:8-22
III. Burung-burung dan binatang-binatang pemangsa akan hinggap di
bangkai orang-orang yang terbunuh selama bangkai-bangkai itu
belum terkubur, dan akan mustahil untuk mencegah mereka (ay.
17, dst.). Kita mendapati pembantaian besar-besaran digambar-
kan dengan perlambang ini dalam Wahyu 19:17, dst., yang dipin-
jam dari peristiwa ini.
1. Ada undangan umum yang diberikan (ay. 17). Undangan itu
diberikan kepada segala jenis burung-burung dan kepada
segala binatang buas, dari yang paling besar sampai yang
paling kecil, yang memangsa bangkai-bangkai, dari burung
elang sampai burung gagak, dari singa sampai anjing. Biarlah
mereka semua berkumpul dari segala arah. Di sini ada banyak
makanan untuk mereka, dan mereka semua dipersilakan ma-
kan. Biarlah mereka datang ke perjamuan korban Allah, ke
perayaan-Nya, demikian dalam tafsiran yang agak luas. Per-
hatikanlah, penghakiman-penghakiman Allah, yang dilaksana-
kan terhadap dosa dan para pendosa, yaitu korban dan pera-
yaan, korban bagi keadilan Allah dan perayaan bagi iman dan
pengharapan umat Allah. saat Allah meremukkan kepala-
kepala Lewiatan, Ia memberi nya menjadi makanan Israel
(Mzm. 74:14). Orang benar akan bersukacita seperti pada pera-
yaan saat ia memandang pembalasan, dan akan membasuh
kakinya, seperti pada perayaan, dalam darah orang fasik. Kor-
ban ini diadakan di atas gunung-gunung Israel. Ini yaitu bu-
kit-bukit pengorbanan, mezbah-mezbah, di mana Allah telah
dihina dengan penyembahan-penyembahan berhala bangsa
itu, namun sekarang di situ Ia akan memuliakan diri-Nya dalam
kehancuran musuh-musuh-Nya.
2. Ada persiapan besar yang dibuat: Mereka akan makan daging
para pahlawan dan minum darah para pemimpin dunia (ay. 18-
19).
(1) Dengan daging dan darah manusialah mereka akan di-
jamu. Ada kalanya ini merupakan contoh dari pemberon-
takan makhluk-makhluk yang lebih rendah terhadap ma-
nusia sebagai tuan mereka, yang merupakan dampak dari
pemberontakannya terhadap Allah Penciptanya.
(2) Itu yaitu daging dan darah orang-orang besar, yang di
sini disebut domba jantan, anak domba, kambing jantan
dan lembu jantan, ternak gemukan dari Basan. Darah para
pemimpin dunialah yang akan dihidangkan kepada mereka.
Betapa memalukannya hal ini bagi para pemimpin berda-
rah, sebagaimana mereka menyebut diri mereka sendiri,
bahwa Allah dapat membuat darah itu, darah rajawi itu,
yang menggembungkan urat-urat mereka, menjadi santap-
an burung-burung dan binatang-binatang pemangsa!
(3) Kepada daging dan darah orang-orang fasiklah, musuh-
musuh jemaat dan umat Allah, mereka diundang. Sebe-
lumnya orang-orang fasik itu menganggap Israel milik Allah
sebagai domba-domba sembelihan, dan sekarang mereka
sendiri akan dianggap demikian. Sebelumnya mereka mem-
perlakukan mayat hamba-hamba Allah (Mzm. 79:2) seperti
itu, atau akan memperlakukannya demikian, dan sekarang
hal itu akan menimpa diri mereka sendiri.
3. Mereka semua akan makan, mereka semua akan berpesta
sampai kenyang (ay. 19-20): “Kamu akan makan lemak, dan
minum darah, hal-hal yang mengenyangkan dan memuaskan.
Korban itu besar dan perayaannya juga besar: Kamu akan
menjadi kenyang pada perjamuan-Ku.” Perhatikanlah, Allah
menyediakan perjamuan untuk makhluk-makhluk yang lebih
rendah. Ia menyediakan makanan untuk semua makhluk. Mata
sekalian orang menantikan Dia, dan Ia mengenyangkan mere-
ka, sebab Ia menyediakan perjamuan besar-besaran. Jika
burung-burung dan binatang-binatang akan kenyang pada
perjamuan Allah, yang telah dipersiapkan-Nya untuk mereka,
maka jauh terlebih lagi anak-anak-Nya akan dipuaskan secara
berlimpah dengan hal yang baik dari rumah-Nya, yaitu bait-
Nya yang kudus. Burung-burung dan binatang-binatang itu
akan kenyang dengan kuda dan penunggangnya. Yaitu, orang-
orang yang mengendarai kereta kuda, pahlawan dan semua
orang perang, yang sudah menyorakkan kemenangan atas
bangsa-bangsa, dan sekarang mereka sendiri yang disorak-
soraki oleh gagak lembah dan anak rajawali (Ams. 30:17).
Mereka menyangka akan memangsa Israel milik Allah dengan
mudah, dan sekarang mereka sendiri yang menjadi mangsa
yang empuk bagi burung-burung dan binatang-binatang. Lihat-
lah bagaimana orang berdosa dikejar oleh malapetaka bahkan
sesudah kematian. Dibiarkannya mayat-mayat mereka untuk
Kitab Yehezkiel 39:8-22
menjadi mangsa ini hanyalah perlambang dan tanda dari kenge-
rian-kengerian yang, sesudah kematian, akan memangsa hati
nurani mereka (yang digambarkan secara kiasan dengan bu-
rung nasar yang terus-menerus mematuki jantung), dan rasa
malu ini hanyalah perlambang dari rasa malu dan penghinaan
kekal, yang akan mereka terima dalam kebangkitan.
IV. Semuanya ini akan membawa kemuliaan yang sangat besar bagi
Allah maupun penghiburan dan kepuasan bagi umat-Nya.
1. Semuanya ini akan membawa kehormatan besar bagi Allah,
sebab dengan begitu bangsa-bangsa kafir akan dibuat menge-
tahui bahwa Dia yaitu Tuhan (ay. 21): Mereka semua akan
melihat dan mengamati hukuman yang akan Kujatuhkan, dan
dengan begitu Aku akan membuat kuasa kemuliaan-Ku berlaku
atas mereka. Pandangan ini akan diakui dan ditegakkan di
antara mereka lebih daripada sebelumnya, bahwa Allah Israel
yaitu Allah yang besar dan mulia. Ia dikenal demikian bah-
kan di antara bangsa-bangsa kafir, yang tidak memiliki, atau
tidak pernah membaca, firman-Nya yang tertulis, melalui peng-
hakiman yang dijalankan-Nya.
2. Semuanya ini akan membawa kepuasan besar bagi umat-Nya.
Sebab mereka dengan begitu akan dibuat mengetahui bahwa
Dia yaitu Allah mereka (ay. 22): Kaum Israel akan mengeta-
hui, secara berlimpah bagi penghiburan mereka, bahwa Akulah
TUHAN, Allah mereka, mulai hari itu dan seterusnya.
(1) Ia akan menjadi Allah yang demikian mulai hari itu dan se-
terusnya. Rahmat-rahmat Allah yang dialami saat ini meru-
pakan janji dan jaminan akan rahmat-rahmat yang masih
akan datang lagi. Jika Allah membuktikan kepada kita
bahwa Dia yaitu Allah kita, maka Ia meyakinkan kita
bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Inilah
Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya.
(2) Mereka akan mengetahuinya dengan lebih memuaskan
mulai dari hari itu dan seterusnya. Ada saat-saat saat
mereka siap untuk mempertanyakan apakah Tuhan me-
nyertai mereka atau tidak. namun kejadian-kejadian pada
hari ini akan membungkam keragu-raguan mereka, dan,
sebab perkaranya sudah diselesaikan dan dijernihkan
seperti itu, maka penyertaan-Nya tidak akan diragukan lagi
di masa depan. Sama seperti mereka dengan begitu tidak
dapat memegahkan diri lagi untuk selama-lamanya, demi-
kian pula mereka dengan begitu akan memegahkan Allah
untuk selama-lamanya.
Rahmat Dijanjikan kepada Israel
(39:23-29)
23 Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa sebab kesalahannya kaum
Israel harus pergi ke dalam pembuangan, dan sebab mereka berobah setia
terhadap Aku, Aku menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka. Dan Aku
menyerahkan mereka ke dalam tangan lawan-lawannya dan mereka semua-
nya mati rebah oleh pedang. 24 Selaras dengan kenajisan dan durhaka mere-
ka Kuperlakukan mereka dan Kusembunyikan wajah-Ku terhadap mereka.
25 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Sekarang, Aku akan
memulihkan keadaan Yakub dan akan menyayangi seluruh kaum Israel dan
cemburu-Ku timbul untuk mempertahankan nama-Ku yang kudus. 26 Mere-
ka akan melupakan noda mereka dan segala ketidaksetiaan mereka, yang
dilakukannya terhadap Aku, kalau mereka sudah diam kembali di tanah
mereka dengan aman tenteram dengan tidak dikejutkan oleh apapun, 27 dan
kalau Aku sudah membawa mereka kembali dari tengah bangsa-bangsa dan
mengumpulkan mereka dari tanah musuh-musuh mereka dan pada saat Aku
menunjukkan kekudusan-Ku kepada mereka di hadapan bangsa-bangsa
yang banyak. 28 Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allah
mereka, yang membawa mereka ke dalam pembuangan di tengah bangsa-
bangsa dan mengumpulkan mereka kembali di tanahnya dan Aku tidak
membiarkan seorangpun dari padanya tinggal di sana. 29 Aku tidak lagi
menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, kalau Aku mencurahkan Roh-
Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.”
Ini merupakan penutup dari seluruh perkara yang terjadi sebelumnya,
dan merujuk bukan hanya pada nubuat-nubuat tentang Gog dan
Magog, melainkan juga pada semua nubuat kitab ini yang menyang-
kut pembuangan kaum Israel, dan kemudian yang menyangkut pemu-
lihan mereka dan kembalinya mereka dari pembuangan.
I. Allah akan membuat bangsa-bangsa kafir mengetahui arti dari
kesusahan-kesusahan umat-Nya, dan meluruskan kesalahan
bangsa-bangsa kafir itu mengenai umat Allah, yang memanfaat-
kan kesempatan dari kesusahan-kesusahan Israel untuk mencela
Allah Israel, yang dianggap tidak mampu untuk melindungi me-
reka dan tidak setia terhadap kovenan-Nya dengan mereka. Sete-
lah mereka memperbarui diri dan kembali kepada-Nya, Allah
memulangkan mereka dari pembuangan, dan membawa mereka
Kitab Yehezkiel 39:23-29
kembali ke tanah mereka sendiri. Dan, atas ketekunan mereka
dalam memperbarui diri, Ia mengerjakan keselamatan-keselamat-
an yang sedemikian besar untuk mereka sehingga mereka terlu-
put dari usaha -usaha Gog untuk menyerang mereka. Maka pada
saat itulah akan diperlihatkan, bahkan kepada bangsa-bangsa
kafir yang mau menimbang-nimbang dan membanding-banding-
kan segala sesuatunya, bahwa celaan mereka itu sama sekali
tidak beralasan, bahwa Israel dibawa ke dalam pembuangan
bukan sebab Allah tidak bisa melindungi mereka, melainkan
sebab mereka, oleh dosa, telah kehilangan perkenanan-Nya dan
membuat diri mereka sendiri terlempar dari perlindungan-Nya (ay.
23-24): Bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa sebab kesalah-
annya kaum Israel harus pergi ke dalam pembuangan, dan kesa-
lahan yang mereka perbuat itu mereka pelajari dari tetangga-
tetangga kafir mereka, sebab mereka berobah setia terhadap Allah.
Itulah alasan sebenarnya mengapa Allah menyembunyikan wajah-
Nya terhadap mereka dan menyerahkan mereka ke dalam tangan
lawan-lawan mereka. Hal itu selaras dengan kenajisan dan dur-
haka mereka. Nah, dibuktikannya hal ini tidak hanya akan mem-
bungkam celaan-celaan bangsa kafir terhadap Allah, namun juga
akan mendatangkan banyak kehormatan bagi Dia. saat kesu-
sahan-kesusahan umat Allah berakhir, dan kita melihat kesudah-
annya, kita akan memahaminya dengan lebih baik dibandingkan
pada awalnya. Dan kemuliaan Allah akan tampak sangat jelas
saat dunia dibuat mengetahui,
1. Bahwa Allah menghukum dosa bahkan dalam diri umat-Nya
sendiri, sebab Ia paling membencinya dalam diri orang-orang
yang paling dekat dengan-Nya dan yang paling dikasihi-Nya
(Am. 3:2). Keadilan dipuji sebab tidak memihak.
2. Bahwa, saat Allah menyerahkan umat-Nya untuk dimangsa,
hal itu untuk menghajar mereka dan memperbarui mereka,
bukan untuk memuaskan musuh-musuh mereka (Yes. 10:7;
42:24). Oleh sebab itu, janganlah mereka meninggikan diri.
3. Bahwa begitu umat Allah merendahkan diri di bawah tongkat
hajaran itu, pada saat itulah Ia kembali dalam rahmat kepada
mereka.
II. Allah akan membuat umat-Nya sendiri mengetahui betapa besar
perkenanan yang disediakan-Nya untuk mereka, kendati dengan
kesusahan-kesusahan yang telah didatangkan-Nya kepada mere-
ka (ay. 25-26): Sekarang, Aku akan memulihkan keadaan Yakub.
1. Mengapa sekarang? Sekarang Allah akan menyayangi seluruh
kaum Israel,
(1) sebab sudah tiba waktunya bagi Dia untuk membela
kemuliaan-Nya sendiri, yang ikut menderita dalam penderi-
taan-penderitaan mereka: Sekarang cemburu-Ku timbul un-
tuk mempertahankan nama-Ku yang kudus, supaya nama-
Ku tidak akan dicela lagi.
(2) sebab sekarang mereka bertobat dari dosa-dosa mereka:
Mereka akan melupakan noda mereka dan segala ketidak-
setiaan mereka. saat para pendosa bertobat, dan me-
nanggung noda mereka sendiri, maka Allah akan berdamai
dan memberi mereka kehormatan. Suatu hal yang secara
khusus menyenangkan hati Allah yaitu bahwa orang-
orang yang bertobat ini melihat sangat jauh ke belakang
saat mereka bertobat dan merenung kembali, dan merasa
malu atas segala pelanggaran yang menjadi kesalahan
mereka, kalau mereka sudah diam kembali di tanah mereka
dengan aman tenteram dengan tidak dikejutkan oleh apa
pun. Ingatan akan rahmat-rahmat yang telah mereka nik-
mati di negeri mereka sendiri, dan perlindungan ilahi yang
di bawahnya mereka bernaung, akan semakin memper-
berat dosa-dosa yang mereka perbuat di negeri itu. Mereka
tinggal dengan aman tenteram, dan bisa jadi akan terus
demikian, dan tak seorang pun akan meresahkan atau
mengganggu mereka, seandainya mereka tetap berjalan di
jalan kewajiban ibadah mereka. Bahkan, itulah alasan
mereka melanggar, sebab mereka diam dengan aman ten-
teram. Rasa aman lahiriah sering kali menjadi penyebab
rasa aman di dalam batin, dan itu merupakan pintu masuk
bagi segala dosa (Mzm. 73). Nah, mereka bersedia menang-
gung noda dari hal ini, dan mengakui bahwa Allah dengan
adil membawa mereka ke negeri yang penuh kesusahan, di
mana semua orang membuat mereka takut, sebab mereka
telah melakukan pelanggaran terhadap-Nya di negeri yang
penuh kedamaian, di mana tak seorang pun membuat me-
reka takut. Dan, saat mereka merendahkan diri seperti
Kitab Yehezkiel 39:23-29
itu di bawah tindakan-tindakan penyelenggaran ilahi yang
merendahkan, Allah akan memulangkan mereka dari pem-
buangan. Dan,
2. Lalu apa? sesudah Allah mengumpulkan mereka dari tangan-
tangan musuh mereka, dan membawa mereka pulang lagi,
(1) Maka Allah akan mendapat pujian untuk itu: Aku akan me-
nunjukkan kekudusan-Ku kepada mereka di hadapan bang-
sa-bangsa yang banyak (ay. 27). Sama seperti Allah dicela
dalam celaan yang menimpa mereka selama pembuangan,
demikian pula Ia akan dikuduskan dalam pembaruan
mereka dan dalam menjadikan mereka bangsa yang kudus
lagi. Dan Ia akan dimuliakan dalam pemulihan mereka dan
dalam menjadikan mereka bangsa yang berbahagia dan
mulia lagi.
(2) Maka mereka akan mendapat manfaat darinya (ay. 28): Me-
reka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, Allah mereka.
Perhatikanlah, penyelenggaraan-penyelenggaraan Allah me-
nyangkut umat-Nya, yang dirancang untuk kebaikan mere-
ka, disertai dengan anugerah Allah untuk mengajar mereka
supaya memandang Allah sebagai TUHAN, dan Allah mere-
ka, dalam segala sesuatu. Maka dengan begitu penyeleng-
garaan-penyelenggaraan itu akan membawa kebaikan bagi
mereka. Mereka akan memandang Dia sebagai TUHAN dan
Allah mereka,
[1] Dalam malapetaka-malapetaka yang menimpa mereka,
bahwa Dialah yang membawa mereka ke dalam pem-
buangan. Oleh sebab itu, mereka tidak hanya harus
berserah pada kehendak-Nya, namun juga berusaha un-
tuk memenuhi tujuan-Nya di dalam pembuangan itu.
[2] Dalam penghiburan mereka, bahwa Dialah yang me-
ngumpulkan mereka kembali di tanah mereka, dan tidak
meninggalkan seorang pun dari mereka di antara bang-
sa-bangsa kafir. Perhatikanlah, melalui berbagai macam
kejadian yang menimpa kita, jika kita menengadah
kepada Allah dalam semuanya itu, kita dapat mengenal
lebih baik berbagai sifat dan rancangan-Nya.
(3) Maka Allah dan mereka tidak akan pernah berpisah (ay. 29).
[1] Allah akan mencurahkan Roh-Nya ke atas mereka, untuk
mencegah mereka supaya tidak meninggalkan Dia dan
kembali kepada kebodohan lagi, dan untuk membuat
mereka tetap dekat dengan kewajiban ibadah mereka.
Maka,
[2] Ia tidak akan lagi menyembunyikan wajah-Nya terhadap
mereka, tidak akan pernah menangguhkan perkenanan-
Nya seperti yang sudah dilakukan-Nya. Ia tidak akan
pernah berbalik dari berbuat baik terhadap mereka,
dan, supaya itu terjadi, Ia akan mengatur segala sesua-
tunya supaya mereka tidak akan pernah berbalik dari
melayani Dia. Perhatikanlah, berdiamnya Roh dalam
diri kita merupakan jaminan sejati akan terus berlan-
jutnya perkenanan Allah. Ia tidak akan lagi menyem-
bunyikan wajah-Nya dari orang-orang yang ke atas
mereka Ia telah mencurahkan Roh-Nya. Oleh sebab itu,
saat kita berdoa supaya Allah kiranya tidak lagi mem-
buang kita dari hadapan-Nya, kita juga harus berdoa
dengan sungguh-sungguh, supaya itu terjadi, bahwa Ia
kiranya tidak lagi mengambil Roh-Nya yang kudus dari
pada kita (Mzm. 51:13).
PASAL 40
ir bait suci yang dilihat sang nabi dalam penglihatan (47:1) ada-
lah gambaran yang tepat dari nubuat ini. Ada kalanya air itu
hanya setinggi pergelangan kaki, di tempat-tempat lain selutut, atau
sepinggang, namun sekarang air itu sudah naik, dan menjadi “sungai
yang tidak dapat diseberangi.” Di sini ada satu penglihatan yang
berkelanjutan, dimulai dari pasal ini, sampai akhir kitab ini, yang
sewajarnya dipandang sebagai salah satu bagian tersulit dari Kitab
Suci dalam semua kitab Allah. Orang-orang Yahudi tidak akan meng-
izinkan siapa saja untuk membaca bagian kitab ini sebelum mereka
berusia tiga puluh tahun, dan memberi tahu orang-orang yang me-
mang membacanya bahwa, meskipun mereka tidak dapat memahami
setiap hal di dalamnya, namun “saat Elia datang, ia akan menjelas-
kannya.” Banyak penafsir, baik dulu maupun sekarang, mengaku
kebingungan bagaimana harus memahaminya dan menyikapinya.
namun sebab susah dipahami, itu tidak lantas berarti kita harus
membuangnya, melainkan kita harus dengan rendah hati menye-
lidikinya, menyelaminya sejauh yang kita bisa dan sebanyak yang
dapat kita peroleh darinya. Dan, jika kita putus harapan untuk
mendapat kepuasan dalam setiap kesulitan yang kita jumpai, kita
harus memuji Allah bahwa keselamatan kita tidak bergantung
padanya, namun bahwa hal-hal yang penting sudah cukup jelas, dan
menanti bahkan sampai Allah menyingkapkan hal ini kepada kita.
Pasal-pasal ini harus lebih diperhatikan lagi sebab dua pasal ter-
akhir dari Kitab Wahyu tampak jelas merujuk padanya, sama seperti
Wahyu 20 merujuk pada nubuat sebelumnya tentang Gog dan
Magog. Di sini ada penglihatan tentang bait suci yang mulia (dalam
pasal ini, pasal 41, dan pasal 42), tentang Allah yang turun mengua-
sai bait suci (ps. 43), tentang perintah-perintah kepada para imam
yang akan melayani dalam bait suci ini (ps. 44), tentang pembagian
tanah, bagian mana yang harus ditentukan untuk tempat kudus,
bagian mana untuk kota, dan bagian mana untuk raja, baik dalam
memerintah rakyat maupun dalam beribadah kepada Allah (ps. 45),
dan petunjuk-petunjuk lebih jauh baginya dan bagi rakyat (ps. 46).
sesudah penglihatan tentang air suci itu, kita mendapati batas-batas
untuk tanah suci, dan bagian-bagian yang ditentukan untuk suku-
suku, serta ukuran-ukuran dan pintu-pintu gerbang kota suci (ps.
47-48). Sebagian orang memandang ini sebagai penglihatan yang
menggambarkan bagaimana keadaan jemaat Yahudi pada waktu ber-
kembang, betapa mulianya bait Salomo di masa-masa terbaiknya,
supaya para tawanan dapat melihat apa yang telah hilang dari mereka
sebab dosa dan supaya mereka dapat lebih merendah lagi. namun hal
itu tampak tidak mungkin. Maksud umumnya menurut saya yaitu ,
1. Untuk meyakinkan para tawanan bahwa mereka tidak hanya
akan kembali ke tanah mereka sendiri, dan berdiam di sana, yang
sudah sering kali dijanjikan dalam pasal-pasal sebelumnya, namun
juga bahwa mereka akan memiliki, dan sebab itu akan didorong
untuk membangun, bait suci lagi, yang akan direstui Allah, dan di
situ Ia akan menemui mereka dan memberkati mereka. Bahwa
ketetapan-ketetapan ibadah akan dihidupkan kembali, dan ima-
mat suci akan bertugas di sana. Dan, meskipun mereka tidak
akan memiliki seorang raja yang hidup dalam kemegahan yang
begitu rupa seperti sebelumnya, namun mereka akan memiliki
seorang pemimpin atau penguasa (yang sering kali dibicarakan
dalam penglihatan ini), yang akan menyokong ibadah kepada
Allah di antara mereka, dan dia sendiri akan menjadi contoh
orang yang rajin menjalankannya. Juga, bahwa pemimpin, para
imam, dan orang banyak, akan tinggal dan hidup dengan sangat
nyaman di negeri mereka sendiri.
2. Untuk mengarahkan mereka supaya melihat lebih jauh daripada
semuanya ini, dan untuk menantikan kedatangan Mesias, yang
sebelumnya sudah dinubuatkan di bawah nama Daud, sebab
Dialah yang merencanakan pembangunan bait suci dan yang
akan mendirikan bait suci rohani, yaitu jemaat Injil, yang kemu-
liaannya akan jauh melebihi kemuliaan bait Salomo, dan yang
akan terus berdiri sampai akhir zaman. Ukuran dari bangunan-
bangunan dalam penglihatan ini begitu luas (bait yang baru lebih
luas daripada seluruh Yerusalem lama, dan Yerusalem baru lebih
Kitab Yehezkiel 40:1-4
luas daripada seluruh tanah Kanaan). Ini jelas menyiratkan, se-
perti yang dicermati Dr. Lightfoot, bahwa hal-hal ini tidak bisa
dimengerti secara harfiah dalam bentuk jasmani, namun harus
dimengerti secara rohani. Dan bait Injil, yang didirikan oleh Kris-
tus dan para rasul-Nya, berhubungan begitu dekat dengan bait
suci kedua yang bersifat jasmani. Bait Injil didirikan dengan be-
gitu penuh perhatian tepat pada saat bait suci kedua sudah jatuh
merosot, supaya bait Injil siap menerima kemulian-kemuliaan bait
kedua saat bait kedua itu menyerahkan kemuliaan-kemuliaan-
nya. Dengan begitu, cukup tepatlah jika keduanya dirujuk dalam
satu penglihatan yang sama. Dengan memakai bait suci dan
mezbah, para imam dan korban-korban, sebagai bayangan dan
perlambang, diperlihatkanlah ibadah rohani yang akan dijalankan
pada zaman Injil, yang lebih sesuai dengan kodrat Allah maupun
manusia, dan yang disempurnakan pada akhirnya dalam kerajaan
kemuliaan. Dalam kerajaan itulah penglihatan-penglihatan ini
mungkin akan digenapi secara penuh, dan menurut sebagian
orang, dalam suatu keadaan jemaat Injil yang berbahagia dan
mulia di seberang sorga sini, pada akhir zaman. Dalam pasal ini
kita mendapati,
I. Penjelasan umum tentang penglihatan bait suci dan kota suci
ini (ay. 1-4).
II. Penjelasan khusus tentangnya dimulai, dan diberikan sebuah
gambaran,
1. Tentang tembok luar (ay. 5).
2. Tentang pintu gerbang timur (ay. 6-19).
3. Tentang pintu gerbang utara (ay. 20-23).
4. Tentang pintu gerbang selatan (ay. 24-31) dan kamar-ka-
mar jaga, serta perlengkapan-perlengkapan lain milik pin-
tu-pintu gerbang ini.
5. Tentang pelataran dalam, baik yang menghadap ke timur
maupun ke selatan (ay. 32-38).
6. Tentang meja-meja (ay. 39-43).
7. Tentang tempat-tempat tinggal bagi para biduan dan para
imam (ay. 44-47).
8. Tentang balai bait suci (ay. 48-49).
Penglihatan tentang Bait Suci
(40:1-4)
1 Dalam tahun kedua puluh lima sesudah pembuangan kami, yaitu pada
permulaan tahun, pada tanggal sepuluh bulan itu, dalam tahun keempat
belas sesudah kota itu ditaklukkan, pada hari itu juga kekuasaan TUHAN
meliputi aku dan dibawa-Nya aku 2 dalam penglihatan-penglihatan ilahi ke
tanah Israel dan menempatkan aku di atas sebuah gunung yang tinggi sekali.
Di atas itu di hadapanku ada yang menyerupai bentuk kota. 3 Ke sanalah
aku dibawa-Nya. Dan lihat, ada seorang yang kelihatan seperti tembaga dan
di tangannya ada tali lenan beserta tongkat pengukur; dan ia berdiri di pintu
gerbang. 4 Orang itu berbicara kepadaku: “Hai anak manusia, lihatlah de-
ngan teliti dan dengarlah dengan sungguh-sungguh dan perhatikanlah baik-
baik segala sesuatu yang akan kuperlihatkan kepadamu; sebab untuk itulah
engkau dibawa ke mari, supaya aku memperlihatkan semuanya itu kepada-
mu. Beritahukanlah segala sesuatu yang kaulihat kepada kaum Israel.”
Di sini ada,
1. Penanggalan dari penglihatan ini. Penglihatan itu terjadi pada
tahun kedua puluh lima dari masa pembuangan Yehezkiel (ay. 1),
yang menurut perhitungan sebagian orang jatuh pada tahun keti-
ga puluh tiga dari pembuangan pertama, dan di sini dikatakan se-
bagai tahun keempat belas sesudah kota itu ditaklukkan. Lihatlah
betapa pengharapan-pengharapan akan pembebasan mereka yang
sudah sangat nyata akan terjadi itu dinyatakan kepada mereka
tepat pada waktunya, saat mereka berada di kedalaman kesu-
sahan mereka. Jaminan akan kembalinya pagi hari diberikan
kepada mereka, saat mereka sedang melewati tengah malam
pembuangan mereka: “Pada hari itu juga kekuasaan TUHAN meli-
puti aku dan dibawa-Nya aku ke Yerusalem, tepat saat ia sedang
terbaring dalam reruntuhan, sunyi sepi dan ditinggalkan.” Sung-
guh pemandangan yang memilukan bagi sang nabi.
2. Tempat terjadinya penglihatan itu. Sang nabi dibawa, dalam peng-
lihatan-penglihatan ilahi ke tanah Israel (ay. 2). Dan itu bukan kali
pertama ia dibawa ke sana dalam penglihatan. Kita mendapatinya
dibawa ke Yerusalem untuk melihat kota itu dalam kejahatan dan
aibnya (8:3). Kali ini ia dibawa ke sana untuk melihat pemandang-
an yang menyenangkan akan kemuliaan kota itu, meskipun
keadaannya pada waktu itu, sebab tidak berpenghuni, begitu
suram. Ia ditempatkan di atas sebuah gunung yang tinggi sekali,
seperti Musa dibawa ke puncak gunung Pisga, untuk melihat
negeri ini, yang sekarang untuk kali kedua merupakan tanah
yang dijanjikan, yang masih belum dimiliki. Dari puncak gunung
ini ia melihat bentuk kota, rancangan dan polanya. namun kota ini
Kitab Yehezkiel 40:1-4
yaitu bait suci yang seluas kota. Yerusalem Baru tidak memiliki
Bait Suci di dalamnya (Why. 21:22). Apa yang kita dapati di sini
semuanya bait suci, yang semuanya menjadi satu. Ini yaitu kota
untuk didiami manusia. Ini yaitu bait suci untuk didiami Allah.
Sebab dalam jemaat di atas bumi, Allah berdiam bersama manu-
sia, sementara dalam jemaat di sorga manusia berdiam bersama
Allah. Kedua jemaat ini dibentuk dalam keputusan hikmat Allah,
dibentuk oleh hikmat yang tak terhingga, dan semuanya sangat
baik.
3. Penyingkapan-penyingkapan kota ini secara terperinci (yang pada
awalnya dia pandang secara umum) diberikan kepadanya oleh
seorang yang kelihatan seperti tembaga (ay. 3), bukan malaikat
ciptaan, melainkan Yesus Kristus, yang akan didapati dalam rupa
manusia, supaya Ia dapat menyingkapkan maupun mendirikan
bait suci Injil. Kristus membawanya ke kota ini, sebab melalui
Kristuslah kita dapat mengenal maupun memperoleh manfaat-
manfaat dan hak-hak istimewa dari rumah Allah. Dialah yang
akan mendirikan bait TUHAN (Za. 6:13). Tampilnya Dia seperti
tembaga menunjukkan kecemerlangan-Nya maupun kekuatan-
Nya. Yohanes, dalam penglihatan, melihat kaki-Nya mengkilap
bagaikan tembaga (Why. 1:15).
4. Ukuran-ukuran kota atau bait suci ini, dan sejumlah bagiannya,
diukur dengan tali lenan beserta tongkat pengukur (ay. 3), seperti
tukang kayu dengan tali dan kayu pengukurnya. Bait Allah diba-
ngun dengan garis dan patokan. Dan mereka yang ingin membuat
orang lain mengenal bait Allah harus melakukannya dengan garis
dan patokan itu. Jemaat dibentuk menurut Kitab Suci, contoh di
atas gunung. Itulah tali dan tongkat pengukur yang ada di tangan
Kristus. Dengan tali dan tongkat pengukur itulah ajaran dan
hukum-hukum harus diukur, dan diperiksa. Sebab damai sejah-
tera akan turun atas Israel milik Allah jika mereka memberi
dirinya dipimpin oleh patokan itu.
5. Di sini diberikan perintah-perintah kepada sang nabi untuk me-
nerima wahyu ini dari Tuhan dan meneruskannya secara murni
dan utuh kepada jemaat (ay. 4).
(1) Ia harus menjalankan dengan hati-hati segala sesuatu yang di-
katakan dan dilakukan dalam penglihatan ini. Perhatiannya
diangkat dan digugah (ay. 4): “Lihatlah dengan teliti segala se-
suatu yang akan kuperlihatkan kepadamu (jangan hanya meli-
hatnya, namun juga lihatlah itu dengan saksama), dan dengar-
lah dengan sungguh-sungguh segala sesuatu yang dikatakan
kepadamu. Dengarlah betul-betul, dan pastikan bahwa engkau
memperhatikannya baik-baik. Perhatikan itu dengan pikiran
yang terpancang dan curahkan seluruh akal budimu.” Apa
yang kita lihat dari karya-karya Allah, dan apa yang kita
dengar dari firman Allah, tidak akan bermanfaat sama sekali
bagi kita kecuali hati kita terpatri padanya, seperti orang yang
menganggap dirinya sangat berkepentingan di dalamnya, dan
mengharapkan keuntungan bagi jiwanya melalui firman Allah
itu.
(2) Ia harus memberitahukan itu dengan seutuhnya kepada kaum
Israel, supaya mereka mendapat penghiburan darinya. Itulah
sebabnya ia menerima, supaya ia bisa memberi. Demikian
pula wahyu Yesus Kristus dititipkan ke tangan Yohanes,
supaya ia menyampaikannya kepada jemaat-jemaat (Why. 1:1).
Dan, sebab ia harus menyatakannya sebagai pesan dari
Allah, maka ia sendiri harus diberi tahu tentang hal itu sepe-
nuhnya dan harus sangat tergerak olehnya. Perhatikanlah,
orang yang hendak memberitakan firman Allah kepada orang
lain, ia sendiri harus mempelajarinya dengan baik dan
mengarahkan hatinya padanya. Nah, alasan yang diberikan
mengapa ia sendiri harus mengamatinya dan menyatakannya
kepada kaum Israel yaitu sebab untuk maksud inilah ia
dibawa ke mari, dan ditunjukkan penglihatan itu. Ingatlah,
jika perkara-perkara tentang Allah ditunjukkan kepada
kita, maka sudah menjadi kepentingan kita untuk merenung-
kan untuk maksud apa perkara-perkara itu ditunjukkan ke-
pada kita. Dan, jika kita sedang duduk mendengarkan
pemberitaan firman, kita harus merenungkan untuk maksud
apa kita dibawa ke sana, supaya kita dapat memenuhi tujuan
kedatangan kita, dan tidak menerima anugerah Allah, dalam
menunjukkan perkara-perkara itu kepada kita, dengan sia-sia.
Penglihatan tentang Bait Suci
(40:5-26)
5 Lihat, di luar bangunan itu ada tembok, seluruh keliling bangunan itu. Dan
di tangan orang itu ada tongkat pengukur, yang panjangnya enam hasta. –
Kitab Yehezkiel 40:5-26
763
Hasta ini setapak tangan lebih panjang dari hasta biasa –. Ia mengukur tem-
bok itu, tebalnya satu tongkat dan tingginya satu tongkat. 6 Lalu ia sampai di
pintu gerbang yang menghadap ke timur dan menaiki tangganya, ia meng-
ukur ambang dari pintu gerbang itu: satu tongkat lebarnya. 7 Kemudian ia
mengukur kamar jaga: panjangnya satu tongkat dan lebarnya satu tongkat,
dan jarak antara dua kamar jaga yaitu lima hasta. Dan ambang pintu ger-
bang sebelah dalam yang dekat balai gerbang itu yaitu satu tongkat.
8 Kemudian ia mengukur balai gerbang itu: delapan hasta 9 dan tiang tem-
boknya dua hasta dan balai itu ada di sebelah dalam. 10 Mengenai kamar-
kamar jaga yang di pintu gerbang sebelah timur itu ada tiga kamar pada tiap
sisi; ketiga-tiganya sama ukurannya dan kedua tiang tembok pada kedua sisi
sama juga ukurannya. 11 Lalu ia mengukur lobang pintu gerbang itu:
lebarnya sebelah dalam yaitu sepuluh hasta, dan lebarnya sebelah luar tiga
belas hasta. 12 Di bagian muka dari kamar-kamar jaga itu ada sekatan, yang
berukuran satu hasta dan demikian juga ukuran sekatan di sebelah yang
lain. Dan ukuran kamar jaga itu yaitu enam hasta pada kedua belah pihak.
13 Lalu ia mengukur pintu gerbang itu dari dinding belakang kamar jaga yang
satu sampai dinding belakang kamar jaga yang lain, melalui kedua pintu
sekatan itu: lebarnya dua puluh lima hasta. 14 Ia mengukur juga balai ger-
bang itu: dua puluh hasta dan sekeliling balai gerbang itu yaitu pelataran.
15 Dari muka pintu gerbang luar sampai balai gerbang sebelah dalam: lima
puluh hasta. 16 Pada sekeliling pintu gerbang itu di bagian dalam ada
jendela-jendela dengan bidai, yaitu di kamar-kamar jaga dan pada tiang-tiang
tembok dan begitu juga pada balai gerbang. Dan pada tiang-tiang tembok itu
terukir gambar pohon-pohon korma. 17 Lalu dibawanya aku ke pelataran
luar, sungguh, sekeliling pelataran itu ada bilik-bilik, yang jumlahnya tiga
puluh. Dan bilik-bilik itu dibangun di atas sebuah lantai batu. 18 Dan lantai
batu itu ada di samping pintu-pintu gerbang mengikuti panjangnya. Itulah
lantai batu bawah. 19 Kemudian ia mengukur lebar pelataran itu dari sebelah
dalam pintu gerbang bawah sampai sebelah luar pintu gerbang dalam:
seratus hasta. Lalu ia berjalan di depanku menuju ke utara 20 dan sungguh,
ada pintu gerbang yang menghadap ke utara, yang termasuk pelataran luar.
Ia mengukur panjang dan lebarnya. 21 Kamar jaganya, tiga sebelah-menyebe-
lah, tiang-tiang tembok dan balai gerbangnya yaitu seukuran dengan pintu
gerbang pertama: lima puluh hasta panjangnya dan lebarnya dua puluh lima
hasta. 22 Jendela-jendelanya, balai gerbangnya dan gambar-gambar pohon
kormanya seukuran juga dengan pintu gerbang yang menghadap ke timur.
Orang dapat naik ke situ melalui tangga yang tujuh tingkat dan balai ger-
bangnya ada sebelah dalam. 23 Di pelataran dalam ada sebuah pintu gerbang
yang berhadapan dengan pintu gerbang utara sama seperti halnya dengan
pintu gerbang timur; ia mengukur dari pintu gerbang sampai pintu gerbang:
seratus hasta. 24 Kemudian ia membawa aku menuju selatan, sungguh, ada
sebuah pintu gerbang yang menghadap ke selatan; ia mengukur kamar-ka-
mar jaganya, tiang-tiang temboknya dan balai gerbangnya, ukurannya sama
saja dengan yang lain-lain. 25 Sekeliling pintu gerbang itu dan balai gerbang-
nya ada jendela-jendela, yang sama dengan yang lain-lain; panjang pintu
gerbang itu lima puluh hasta dan lebarnya dua puluh lima hasta. 26 Tangga
ke situ yaitu tujuh tingkat, dan balai gerbangnya ada sebelah dalam. Pada
pintu gerbang itu juga, di tiang-tiang temboknya, terukir gambar pohon-
pohon korma, satu batang di sebelah sini dan satu batang di sebelah sana.
Tongkat pengukur yang ada di tangan sang kepala pengukur disebut-
kan sebelumnya (ay. 3). Di sini kita diberi tahu (ay. 5) berapa tepat-
nya panjang tongkat itu, yang harus diperhatikan, sebab bait suci itu
diukur dengannya. Panjangnya enam hasta, yang dihitung bukan
dengan hasta biasa, melainkan hasta tempat kudus, hasta suci, yang
dengannya bait suci ini layak diukur. Dan hasta itu setapak tangan
lebih panjang (yaitu sepuluh sentimeter) daripada hasta biasa: hasta
biasa sama dengan empat puluh lima sentimeter, sedangkan hasta
ini lima puluh lima sentimeter (Lihat 43:13). Namun, sebagian ahli
berpendapat bahwa tongkat pengukur ini hanya enam hasta biasa
panjangnya, dan ditambah setapak tangan untuk keseluruhannya.
Pendapat sebelumnya tampak lebih memungkinkan. Di sini ada
penjelasan,
I. Tentang tembok luar dari bait suci, yang mengelilinginya, yang
tebalnya tiga meter dan tingginya tiga meter. Ini menandakan
pemisahan antara jemaat dan dunia di segala sisi, dan perlin-
dungan ilahi yang menaungi jemaat. Jika tembok yang amat tebal
ini tidak akan mengamankannya, maka Allah sendiri akan men-
jadi tembok berapi di sekelilingnya. Siapa saja yang menyerang-
nya, mereka sendiri yang akan terancam bahaya.
II. Tentang sejumlah pintu gerbang dengan kamar-kamar jaga di
sebelahnya. Di sini tidak disebutkan tentang pelataran luar dari
semua bangunan, yang disebut sebagai pelataran bangsa-bangsa.
Menurut sebagian orang, hal ini disebabkan pada zaman Injil
bangsa-bangsa bukan Yahudi akan datang berduyun-duyun ke
dalam jemaat, sehingga pelataran mereka harus dibiarkan tidak
diukur, untuk menandakan bahwa orang-orang yang akan ber-
ibadah di pelataran itu tidak terhitung banyaknya (Why. 7:9, 11-12).
1. Sang pengukur memulai dengan pintu gerbang timur, sebab
pintu itu yaitu jalan yang biasa dilewati untuk masuk ke
ujung bait suci bagian bawah, sebab tempat maha kudus ter-
letak di ujung barat, berlawanan dengan bangsa-bangsa kafir
penyembah berhala yang menyembah menghadap ke timur.
Nah, dalam penjelasan tentang pintu gerbang ini, amatilah,
(1) Bahwa Ia menaikinya dengan tangga (ay. 6), sebab jemaat
Injil ditinggikan di atas jemaat Perjanjian Lama, dan saat
kita pergi untuk menyembah Allah, kita harus naik. Demi-
kian pula panggilan yang terdengar (Why. 4:1), naiklah ke
mari. Sursum corda – Angkatlah hatimu.
Kitab Yehezkiel 40:5-26
(2) Bahwa kamar-kamar jaga yang bersebelahan dengan pintu-
pintu gerbang itu hanyalah kamar-kamar jaga kecil, sekitar
satu meter persegi (ay. 7, KJV). Kamar-kamar ini disediakan
sebagai tempat tinggal para petugas ibadah di bait suci.
Dan sudah sepatutnya orang-orang yang menjadi imam-
imam rohani bagi Allah berpuas diri dengan kamar-kamar
kecil, dan tidak mencari hal-hal besar bagi diri mereka sen-
diri. Dengan begitu, walaupun kita hanya mendapat tempat
di pinggir pelataran Allah, beralasan bagi kita untuk ber-
syukur, meskipun itu hanya kamar kecil, ruang sempit,
sekalipun kita hanya menjadi penjaga pintu di sana.
(3) Luas masing-masing kamar itu empat persegi, yang menan-
dakan kemantapan dan ukurannya yang semestinya, dan
kesesuaiannya yang tepat dengan patokan (sebab masing-
masing kamar satu tongkat panjangnya dan satu tongkat
lebarnya). Demikian pula semua kamar itu sama ukuran-
nya, supaya ada kesetaraan di antara para petugas ibadah
di bait suci.
(4) Kamar-kamar itu sangat banyak. Sebab di rumah Bapa
kita ada banyak tempat tinggal (Yoh. 14:2), di rumah-Nya
yang di atas, dan di rumah-Nya di sini di bumi. Di tempat
persembunyian dalam kemah-Nya, dan di pondok yang
aman, akan disembunyikan orang-orang yang ingin ber-
diam di rumah TUHAN seumur hidup mereka (Mzm. 27:4-
5). Sebagian orang memandangnya sebagai kamar-kamar
yang melambangkan jemaat-jemaat tertentu dari orang-
orang percaya, yang merupakan bagian-bagian dari bait
suci agung, jemaat secara keseluruhan, yang dibentuk, dan
harus dibentuk, oleh garis dan patokan Kitab Suci, dan
yang diukur oleh Yesus Kristus, yaitu yang diperhatikan-
Nya, sebab Ia berjalan di tengah-tengah tujuh kaki dian
dari emas.
(5) Dikatakan (ay. 14), Ia mengukur juga balai gerbang. Dia
yang sekarang mengukurnya yaitu Dia yang juga men-
jadikannya. Sebab Kristus yaitu pendiri jemaat-Nya, dan
sebab itu paling mampu memberi tahu kita pengetahuan
tentangnya. Dan dengan menyesuaikan kamar-kamar itu
dengan pedoman dan patokannya, Dia dikatakan menjadi-
kan kamar-kamar itu, sebab tidak ada penjelasan lebih
jauh tentangnya selain bahwa kamar-kamar itu sesuai
dengan patokannya. Carilah pengajaran dan kesaksian.
(6) Di sini ada tiang-tiang yang tingginya enam puluh hasta,
yang, menurut sebagian orang, digenapi dalam arti sebenar-
nya saat Koresh, dalam maklumatnya untuk membangun
kembali bait suci di Yerusalem, memerintahkan supaya ting-
ginya harus enam puluh hasta, yaitu lebih dari dua puluh
tujuh meter (Ezr. 6:3).
(7) Di sini ada jendela-jendela yang mengarah ke kamar-kamar
jaga itu, dan jendela-jendela yang mengarah ke tiang-tiang
tembok dan balai gerbang (yaitu, ke serambi-serambi di
bawah), dan jendela-jendela di sekelilingnya (ay. 16), untuk
menandakan terang dari sorga yang menerangi jemaat.
Wahyu ilahi dibiarkan masuk ke dalamnya untuk meng-
ajar, membimbing, dan menghibur orang-orang yang diam
di rumah Allah, terang yang dengannya mereka bisa beker-
ja, terang yang dengannya mereka bisa berjalan, dan terang
yang dengannya mereka bisa melihat diri mereka sendiri
dan satu sama lain. Ada lampu-lampu menuju ke kamar-
kamar jaga itu. Bahkan bagian-bagian dan anggota-anggota
jemaat yang terkecil sekalipun, dan yang paling tidak ber-
arti, akan diberi terang. Semua anakmu akan menjadi
murid TUHAN. namun itu yaitu jendela-jendela yang rapat,
seperti yang ada di bait suci (1Raj. 6:4). Penyingkapan-pe-
nyingkapan yang diberikan kepada jemaat di bumi hanya-
lah penyingkapan yang sempit dan sedikit sekali diban-
dingkan dengan apa yang akan disingkapkan di masa de-
pan, saat kita tidak lagi melihat dalam cermin suatu
gambaran yang samar-samar.
(8) Berbagai macam pelataran dibicarakan di sini, dari pelatar-
an yang paling luar, lalu pelataran luar, lalu pelataran da-
lam, dan kemudian pelataran yang paling dalam dari se-
muanya, yang hanya bisa dimasuki imam-imam. Hal ini
(menurut sebagian orang) dapat mengingatkan kita akan
“berbagai macam karunia, anugerah, dan jabatan, dalam
sejumlah anggota tubuh mistis Kristus di sini, dan juga
akan berbagai tingkat kemuliaan di pelataran-pelataran
dan istana-istana sorga, sama seperti ada bintang-bintang
di sejumlah jagat raya dan bintang-bintang yang beraneka
Kitab Yehezkiel 40:5-26
ragam besarnya di atas cakrawala yang tegak.” (Keterangan
dalam bahasa Inggris). Sebagian orang datang kepada Allah
dengan lebih dekat daripada sebagian yang lain, dan me-
ngenal lebih dekat perkara-perkara ilahi. namun bagi anak
Allah, satu hari di mana saja di pelataran-Nya lebih baik
dari pada seribu hari di tempat lain. Pelataran-pelataran ini
memiliki balai-balai, atau beranda-beranda, di sekeliling-
nya, sebagai tempat bernaung dari angin dan cuaca buruk
bagi orang-orang yang bertugas di sana. Sebab, jika kita
berjalan di jalan kewajiban kita kepada Allah, kita dapat
percaya bahwa kita berada di bawah perlindungan isti-
mewa-Nya, bahwa Ia dengan penuh rahmat akan menjaga
kita. Bahkan, bahwa Ia sendiri akan menjadi bagi kita per-
sembunyian terhadap angin ribut dan hujan (Yes. 4:5-6).
(9) Pada tiang-tiang tembok itu terukir gambar pohon-pohon
korma (ay. 16), untuk menandakan bahwa orang benar
akan bertunas seperti pohon korma di pelataran rumah
Allah (Mzm. 92:13). Semakin mereka tertekan oleh beban
penderitaan, semakin kuat mereka bertumbuh, seperti
yang dikatakan orang tentang pohon kurma. Ini juga me-
nyiratkan kemenangan dan sorak-sorai orang-orang kudus
atas musuh-musuh rohani mereka. Mereka memegang
daun-daun palem di tangan mereka (Why. 7:9). namun
supaya daun-daun palem itu tidak jatuh dari mereka, atau
dirampas dari tangan mereka, daun-daun palem itu di sini
diukirkan pada tiang-tiang bait suci sebagai tugu peringat-
an yang abadi akan kehormatan mereka. Syukur bagi Allah,
yang selalu membawa kita di jalan kemenangan-Nya. Bah-
kan, orang-orang percaya sendiri akan dijadikan tiang-
tiang di bait suci Allah kita, dan tidak akan keluar lagi, dan
nama mereka akan diukirkan pada tiang-tiang itu, yang
akan menjadi perhiasan dan kehormatan mereka yang
paling terang (Why. 3:12).
(10) Di sini ada perhatian tentang lantai batu pelataran (ay. 17-
18). Kata yang dipakai menyiratkan bahwa lantai batu itu
terbuat dari batu kristal merah, yang warnanya seperti bara
api yang menyala. Sebab kemuliaan-kemuliaan yang paling
terang dan berkilau dari dunia ini harus diletakkan dan
disimpan di bawah kaki kita saat kita mendekat kepada
Allah dan melayani Dia. Bintang-bintang itu, seolah-olah,
yaitu bara api yang menyala, atau batu-batu yang ber-
warna menyala seperti api, yang melapisi lantai batu dari
bait suci Allah di atas. Dan, jika lantai batu pelataran saja
begitu terang dan berkilauan, betapa mulianya, demikian
harus kita simpulkan, tempat-tempat tinggal di bait suci
itu!
2. Pintu-pintu gerbang yang menghadap ke utara (ay. 20) dan ke
selatan (ay. 24), beserta perlengkapan-perlengkapannya, ba-
nyak sama dengan pintu gerbang yang menghadap ke timur,
yang seukuran dengan pintu gerbang pertama (ay. 21). namun
gambarannya diulangi dengan sangat terperinci. Dan demikian
halnya dengan panjang lebar bangunan kemah suci diceritakan
dalam Kitab Keluaran, dan bangunan bait suci dalam kitab
Raja-raja dan Kitab Tawarikh, untuk menandakan perhatian
istimewa yang diberikan Allah, dan yang harus diberikan ham-
ba-hamba-Nya juga, terhadap segala sesuatu yang menjadi
bagian dari jemaat-Nya. Kesukaan-Nya ialah mereka, mata-Nya
tertuju kepada mereka. Ia mengenal semua kepunyaan-Nya,
semua bait suci-Nya yang hidup dan semua yang menjadi
bagian dari mereka. Amatilah,
(1) Bait suci ini tidak hanya memiliki pintu gerbang yang
menghadap ke timur, untuk membiarkan masuk orang-
orang dari timur, yang termasyhur akan kekayaan dan kebi-
jaksanaan mereka, namun juga memiliki pintu gerbang
yang menghadap ke utara, dan pintu gerbang lain yang
menghadap ke selatan, untuk membiarkan masuk bangsa-
bangsa yang lebih miskin dan kurang beradab. Yerusalem
baru memiliki dua belas pintu gerbang, dengan setiap
tiga pintu menghadap ke keempat mata angin (Why. 21:13).
Sebab banyak orang akan datang dari segala penjuru
untuk duduk makan di sana (Mat. 8:11).
(2) Untuk memasuki pintu-pintu gerbang itu mereka naik ting-
kat demi tingkat, tujuh tingkat (ay. 22-26), yang, menurut
pengamatan sebagian orang, dapat mengingatkan kita akan
pentingnya bertumbuh dalam anugerah dan kekudusan,
dengan menambahkan satu anugerah kepada anugerah
lain, berjalan langkah demi langkah, berjalan makin lama
Kitab Yehezkiel 40:27-38
769
makin kuat, terus mendesak maju menuju kesempurnaan,
terus naik ke atas dan ke atas, menuju sorga, bait suci di
atas.
Penglihatan tentang Bait Suci
(40:27-38)
27 Di bagian selatan pelataran dalam ada juga pintu gerbang; ia mengukur
dari pintu gerbang sampai pintu gerbang di bagian selatan: seratus hasta.
28 Lalu dibawanya aku ke pelataran dalam melalui pintu gerbang selatan dan
ia mengukur pintu gerbang itu, ukurannya sama saja dengan yang lain-lain.
29 Kamar-kamar jaganya, tiang-tiang temboknya dan balai gerbangnya,
ukurannya sama saja dengan yang lain-lain. Sekeliling pintu gerbang itu dan
balai gerbangnya ada jendela-jendela; panjang pintu gerbang itu lima puluh
hasta dan lebarnya dua puluh lima hasta. – 30 Sekelilingnya ada balai-balai
gerbang, panjangnya dua puluh lima hasta dan lebarnya lima hasta. –
31 Balai gerbangnya yaitu sebelah pelataran luar dan pada tiang-tiang
temboknya terukir gambar pohon-pohon korma dan tangganya ke atas ada
delapan tingkat. 32 Lalu dibawanya aku ke sebelah timur pelataran dalam
dan ia mengukur pintu gerbang yang di situ, dan ukurannya sama saja
dengan yang lain-lain. 33 Kamar-kamar jaganya, tiang-tiang temboknya dan
balai gerbangnya, ukurannya sama saja dengan yang lain-lain. Sekeliling
pintu gerbang itu dan balai gerbangnya ada jendela-jendela; panjang pintu
gerbang itu lima puluh hasta dan lebarnya dua puluh lima hasta. 34 Balai
gerbangnya yaitu sebelah pelataran luar dan pada tiang-tiang temboknya
terukir gambar pohon-pohon korma, sebelah sini dan sebelah sana, dan
tangganya ke atas ada delapan tingkat. 35 Kemudian dibawanya aku ke pintu
gerbang utara dan ia mengukurnya, dan ukurannya sama saja dengan yang
lain-lain. 36 Kamar-kamar jaganya, tiang-tiang temboknya dan balai gerbang-
nya, ukurannya sama saja dengan yang lain-lain, dan sekelilingnya ada jen-
dela-jendela; panjang pintu gerbang itu lima puluh hasta dan lebarnya dua
puluh lima hasta. 37 Balai gerbangnya yaitu sebelah pelataran luar, dan
pada tiang-tiang temboknya terukir gambar pohon-pohon korma, sebelah sini
dan sebelah sana, dan tangganya ke atas ada delapan tingkat. 38 Ada juga
sebuah bilik, yang pintunya di balai gerbang dan di sana orang membasuh
korban bakaran.
Dalam ayat-ayat ini kita mendapati gambaran tentang pelataran
dalam. Pengukuran pelataran luar berakhir di sebelah selatannya.
Sementara pengukuran pelataran dalam ini dimulai dengan sebelah
selatan (ay. 27), berlanjut ke timur (ay. 32), dan kemudian ke utara
(ay. 35). Sebab di sini tidak ada pintu gerbang pelataran luar atau
pelataran dalam ke arah barat. Dari apa yang tampak, dalam Bait
Suci Salomo ada pintu-pintu gerbang ke arah barat, sebab kita
mendapati penunggu-penunggu pintu gerbang menghadap ke barat
(1Taw. 9:24; 26:8). namun Yosefus (sejarawan Yahudi abad pertama –
pen.) berkata bahwa dalam bait suci kedua tidak ada pintu gerbang
di sebelah barat. Amatilah,
1. Pintu-pintu gerbang ke pelataran dalam ini sama persis dengan
pintu-pintu gerbang ke pelataran luar, ukuran-ukurannya sama,
kamar-kamar jaga yang di sebelahnya sama, serambi-serambi
atau baris-baris di seputar pelatarannya sama, dan bahkan ukir-
an-ukiran pada tiang-tiangnya pun sama. Karya anugerah, dan
cara-cara kerjanya, yaitu sama, sebab yang menjadi inti dalam
diri orang-orang Kristen dewasa sama seperti yang ada dalam diri
para pemula yang masih muda. Hanya saja orang-orang Kristen
dewasa sudah begitu dekat dengan kesempurnaan mereka. Iman
semua orang kudus yaitu sama berharganya, meskipun tidak
sama kuatnya. Ada banyak kemiripan antara anak Allah yang
satu dengan anak Allah yang lain, sebab mereka semua bersau-
dara dan menampakkan gambar dan rupa yang sama.
2. Pendakian ke pelataran luar pada setiap pintu gerbang harus
melewati tujuh tingkat, namun pendakian ke pelataran dalam pada
setiap pintu gerbang harus melewati delapan tingkat. Hal ini
diperhatikan secara khusus (ay. 31, 34, 37), untuk menandakan
bahwa semakin dekat kita datang kepada Allah, semakin kita
harus naik mengatasi dunia ini dan perkara-perkaranya. Orang
banyak, yang beribadah di pelataran luar, harus naik tujuh
tingkat di atas orang lain, namun para imam, yang bertugas di
pelataran dalam, harus naik delapan tingkat di atas mereka,
harus melebihi mereka setidak-tidaknya satu tingkat daripada
mereka melebihi orang lain.
Penglihatan tentang Bait Suci
(40:39-49)
39 Dalam balai gerbang itu ada dua meja sebelah sini dan dua meja sebelah
sana, tempat menyembelih korban bakaran, korban penghapus dosa dan
korban penebus salah. 40 Di samping kiri balai gerbang, di sebelah luar, ada
dua meja, dan di samping kanan balai gerbang itu juga dua meja. 41 Jadi di
pintu gerbang itu ada empat meja sebelah sini dan empat meja sebelah sana;
semuanya delapan meja di situ untuk tempat menyembelih korban. 42 Ada
juga empat meja lagi untuk korban bakaran, yang diperbuat dari batu pahat.
Panjangnya satu setengah hasta, lebarnya satu setengah hasta dan tingginya
satu hasta. Di sana diletakkan perkakas-perkakas untuk menyembelih kor-
ban bakaran dan korban sembelihan. 43 Sekeliling ruangan itu dipakukan
gantungan-gantungan yang panjangnya setapak tangan, dan di atas meja-
meja itu diletakkan daging korban. 44 Lalu dibawanya aku ke pelataran
dalam, sungguh, di sana ada dua bilik, yaitu satu di samping pintu gerbang
utara dan mukanya menghadap ke selatan, satu lagi di samping pintu
gerbang selatan dan mukanya menghadap ke utara. 45 Ia berkata kepadaku:
Kitab Yehezkiel 40:39-49
“Bilik ini, yang mukanya menghadap ke selatan, yaitu bagi imam-imam
yang bertugas di Bait Suci, 46 dan bilik yang mukanya menghadap ke utara,
yaitu bagi imam-imam yang bertugas di mezbah; mereka ini yaitu bani
Zadok dan hanya golongan inilah dari bani Lewi yang boleh mendekat kepada
TUHAN untuk menyelenggarakan kebaktian.” 47 Lalu ia mengukur pelataran
dalam: itu suatu empat persegi, yang panjangnya seratus hasta dan lebarnya
seratus hasta; mezbah ada di hadapan Bait Suci. 48 Lalu dibawanya aku ke
balai Bait Suci dan ia mengukur tiang-tiang temboknya: tebalnya lima hasta
yang sebelah sini dan lima hasta yang sebelah sana; lebar pintu itu empat
belas hasta dan dinding sampingnya masing-masing tiga hasta. 49 Panjang
balai Bait Suci itu yaitu dua puluh hasta dan lebarnya dua belas hasta.
Orang dapat naik ke situ melalui tangga yang sepuluh tingkat dan dekat
kedua tiang tembok itu ada dua tiang, satu sebelah sini dan satu sebelah
sana.
Dalam ayat-ayat ini kita mendapati penjelasan,
I. Tentang meja-meja yang ada di balai gerbang di pelataran dalam.
Kita tidak mendapati gambaran tentang mezbah-mezbah korban
bakaran di tengah-tengah pelataran itu sampai pasal 43:13. Akan
namun , sebab satu mezbah di bawah hukum Taurat akan diganti
dengan banyak meja di bawah Injil, di sini diberikan perhatian
sejak awal terhadap meja-meja, di pintu masuk kita ke pelataran
dalam. Sebab sebelum kita ambil bagian dalam meja Tuhan, kita
ini pada dasarnya hanyalah para pengaku iman saja. Diperboleh-
kannya kita untuk datang ke meja itu yaitu pintu masuk kita ke
pelataran dalam. namun dalam Bait Suci Injil kita tidak menemui
mezbah sampai sesudah kemuliaan Tuhan turun menguasainya,
sebab Kristus yaitu mezbah kita, yang menguduskan setiap
pemberian. Di sini ada delapan meja yang disediakan, yang di
atasnya korban disembelih (ay. 41). Kita tidak membaca tentang
meja-meja apa saja untuk tujuan ini di kemah suci ataupun di
Bait Suci Salomo. namun di sini meja-meja itu disediakan, untuk
menyiratkan banyaknya korban rohani yang akan dibawa ke
rumah Allah di zaman Injil, dan banyaknya tangan yang akan
dipekerjakan untuk mempersembahkan korban-korban itu. Di
sini ada tempat-tempat penyembelihan untuk mezbah itu. Di sana
ada meja-meja yang di atasnya mereka menaruh daging korban,
pisau-pisau untuk memotongnya, dan gantungan-gantungan un-
tuk menggantungnya, supaya daging korban itu siap untuk
dipersembahkan di atas mezbah (ay. 43). Dan di situ juga mereka
membasuh korban-korban bakaran (ay. 38), untuk menyiratkan
bahwa sebelum kita mendekat ke mezbah Allah, kita harus mem-
persiapkan segala sesuatunya, harus membasuh tangan kita, hati
kita, korban rohani itu, dan dengan begitu mengelilingi mezbah
Allah.
II. Untuk keperluan apa sebagian dari kamar-kamar jaga yang di-
sebutkan sebelumnya.
1. Sebagian untuk keperluan para biduan (ay. 44, KJV). Dari apa
yang tampak, merekalah yang pertama-tama diberi persediaan
sebelum orang lain yang bertugas dalam ibadah bait suci ini,
untuk menyiratkan, bukan hanya bahwa menyanyikan maz-
mur-mazmur akan terus berlanjut dalam ketetapan Injil, me-
lainkan juga bahwa Injil akan memenuhi semua orang yang
memeluknya dengan kelimpahan hal yang menimbulkan suka-
cita dan pujian, dan memberi mereka kesempatan untuk ber-
sorak-sorak dan bernyanyi, yang sering kali dinubuatkan
berkenaan dengan zaman Injil (Mzm. 96:1; 98:1). Orang-orang
Kristen harus menjadi orang-orang yang bernyanyi. Berbaha-
gialah orang-orang yang diam di rumah Allah, mereka akan
terus-menerus memuji-muji Dia.
2. Sebagian kamar yang lain untuk keperluan imam-imam, baik
orang-orang yang bertugas di Bait Suci, untuk membersihkan-
nya, dan untuk memastikan supaya tak seorang pun mema-
sukinya untuk menajiskannya, dan untuk menjaga keadaan-
nya supaya tetap baik (ay. 45), maupun orang-orang yang
bertugas di mezbah (ay. 46), yang boleh mendekat kepada
TUHAN untuk menyelenggarakan kebaktian. Allah akan mene-
mukan tempat tinggal yang nyaman untuk semua hamba-Nya.
Orang-orang yang melakukan pekerjaan untuk rumah-Nya akan
menikmati penghiburan-penghiburan dari rumah-Nya itu.
III. Penjelasan tentang pelataran dalam, pelataran para imam, yang
luasnya empat puluh meter persegi (ay. 47). Mezbah yang ada di
hadapan Bait Suci ditempatkan di tengah-tengah pelataran ini,
berhadapan dengan ketiga pintu gerbang. Dan, sebab berdiri
lurus dengan ketiga pintu gerbang pelataran luar, maka saat
pintu-pintu gerbang itu dibuka, semua orang di pelataran luar
dapat menyaksikan ibadah yang sedang dijalankan di mezbah
melalui pintu-pintu gerbang itu. Kristus yaitu mezbah dan juga
korban kita, Dialah yang harus kita pandang dengan mata iman
setiap kali kita datang mendekat kepada Allah, dan Dialah kesela-
Kitab Yehezkiel 40:39-49
matan yang di atas bumi (Mzm. 74:12), yang harus dipandang
dari segenap penjuru.
IV. Penjelasan tentang balai bait suci. Bait Suci itu, secara tegas,
disebut sebagai rumah (KJV), seolah-olah tidak ada rumah lain
yang layak disebut demikian. Di hadapan rumah ini ada balai,
untuk mengajar kita supaya tidak masuk dengan terburu-buru
dan gegabah ke dalam hadirat Allah, melainkan secara perlahan-
lahan, yaitu, dengan sungguh-sungguh, dan dengan khidmat,
pertama-tama melewati pelataran luar, lalu pelataran dalam, dan
kemudian balai, sebelum kita masuk ke dalam rumah. Di antara
balai ini dan mezbah ada tempat di mana para imam biasa berdoa
(Yl. 2:17). Di balai, selain tiang-tiang tembok yang padanya pintu-
pintu tergantung, ada juga tiang-tiang, mungkin untuk pajangan
dan hiasan, seperti Yakhin dan Boas – Ia akan menegakkan, di
dalam Dialah kekuatan (ay. 49). Dalam jemaat Injil, segala sesua-
tunya kuat dan teguh, dan segala sesuatunya harus dijaga tetap
pada tempatnya dan dilakukan dengan tata tertib.
PASAL 4 1
ebuah penjelasan tentang balai Bait Suci diberikan dalam penu-
tup pasal sebelumnya. Ini membawa kita kepada Bait Suci itu
sendiri, yang gambaran tentangnya, yang diberikan di sini, mencipta-
kan banyak kesulitan bagi para ahli dan menimbulkan perbedaan-
perbedaan di antara mereka. Orang-orang yang ingin menyelidiki
dengan saksama makna dari perincian-perincian dalam gambaran ini
harus mencari tahu dari para ahli itu. Bagi kita cukuplah untuk
mengamati,
I. Ukuran-ukuran Bait Suci, tiang-tiang temboknya (ay. 1), pin-
tunya (ay. 2), dinding dan kamar-kamar tambahannya (ay. 5-
6), dasar kamar-kamar tambahan itu, pintu-pintunya (ay. 8-
11), dan Bait Suci itu sendiri (ay. 13).
II. Ukuran-ukuran ruang belakang, atau tempat maha kudus
(ay. 3-4).
III. Penjelasan tentang bangunan lain yang ada di lapangan
tertutup (ay. 12-15).
IV. Susunan bangunan Bait Suci (ay. 7, 16-17).
V. Hiasan-hiasan Bait Suci (ay. 18-20).
VI. Mezbah pedupaan dan meja (ay. 22).
VII. Pintu-pintu di antara Bait Suci dan ruang belakang (ay. 23-
26). Ada begitu banyak perbedaan dalam syarat-syarat mau-
pun aturan-aturan pola bangunan antara zaman yang satu
dan zaman yang lain, antara tempat yang satu dan tempat
yang lain. Jadi, tidak seharusnya menjadi suatu batu san-
dungan bagi kita bahwa dalam gambaran-gambaran ini ada
begitu banyak yang gelap dan sulit untuk dipahami, yang
maknanya tidak disepakati oleh para sarjana sekalipun. Bagi
orang yang tidak pandai ilmu matematika, gambaran mate-
matis dari pola bangunan zaman sekarang akan susah di-
mengerti. Namun, bagi tukang kayu atau tukang batu biasa
di antara orang-orang Yahudi pada waktu itu, kita dapat
menduga bahwa semuanya ini, dalam arti yang sebenarnya,
cukup mudah.
Penglihatan tentang Bait Suci
(41:1-11)
1 Kemudian dibawanya aku ke dalam ruang besar Bait Suci dan ia mengukur
tiang temboknya: yang sebelah sini enam hasta tebalnya dan yang sebelah
sana enam hasta juga. 2 Lebar pintu itu yaitu sepuluh hasta dan lebar
dinding sampingnya yaitu lima hasta sebelah sini dan lima hasta sebelah
sana. Panjang ruang besar diukur juga: empat puluh hasta dan lebarnya dua
puluh hasta. 3 Lalu ia sampai ke ruang dalam. Ia mengukur tiang temboknya:
tebalnya dua hasta, dan lebar pintu sendiri: enam hasta dan lebar dinding
sampingnya tujuh hasta sebelah sini dan tujuh hasta sebelah sana. 4 Ia
mengukur panjang ruang dalam itu: dua puluh hasta, dan lebarnya: dua
puluh hasta sesuai dengan lebar ruang besar. Lalu ia berkata kepadaku:
“Inilah tempat maha kudus.” 5 Kemudian ia mengukur dinding Bait Suci itu:
enam hasta tebalnya dan lebar kamar tambahan yang ada di sekeliling
Bait Suci itu, empat hasta. 6 Kamar-kamar tambahan itu ada tiga tingkat dan
pada satu tingkat ada tiga puluh kamar. Pada sekeliling dinding Bait
Suci ada ceruk-ceruk untuk mengokohkan kamar-kamar tambahan itu,
sebab kamar-kamar ini tidak digabungkan pada dinding Bait Suci. 7 Dan
kamar-kamar tambahan semakin lebih besar dari tingkat pertama sampai
tingkat ketiga selaras dengan bertambah besarnya ceruk-ceruk pada tiap
tingkat sekeliling Bait Suci itu; ada tangga menuju ke atas dan dengan
demikian orang dapat naik dari tingkat bawah ke tingkat atas melalui tingkat
tengah. 8 Aku melihat bahwa alas Bait Suci itu lebih tinggi dari sekelilingnya.
Dasar kamar-kamar tambahan itu berukuran satu tongkat penuh, yaitu
tingginya enam hasta. 9 Tebal dinding yang sebelah luar kamar tambahan
yaitu lima hasta; lebar bagian alas Bait Suci yang dibiarkan kosong yaitu
lima hasta. Di antara alas bangunan itu dan 10 bilik-bilik ada jarak dua
puluh hasta sekeliling bangunan itu. 11 Dan pintu-pintu kamar tambahan ke
luar ke bagian yang kosong itu, satu pintu di sebelah utara dan satu pintu di
sebelah selatan; dan lebar tempat yang kosong itu yaitu lima hasta sekeli-
ling.
Kita masih mengiringi sang nabi yang sedang berada di bawah tun-
tunan seorang malaikat, dan sebab itu kita harus mengiringinya
dengan sikap hormat, meskipun kita sering kebingungan untuk
mengetahui apa yang sedang dibicarakan ini dan apa gunanya bagi
kita. Amatilah di sini,
1. sesudah sang nabi mengamati pelataran-pelataran itu, akhirnya ia
dibawa ke dalam ruang besar Bait Suci (ay. 1). Jika kita tekun
menjalankan bagian-bagian agama yang lebih jelas, yang diberi-
Kitab Yehezkiel 41:1-11
kan kepada kita, dan mengambil manfaat darinya, maka kita
akan dipimpin untuk mengenal lebih jauh misteri-misteri keraja-
an sorga. Orang yang bersedia tinggal di pelataran-pelataran Allah
pada akhirnya akan dibawa ke dalam bait-Nya. Yehezkiel sendiri
yaitu seorang imam, namun oleh kejahatan dan malapetaka pada
masa-masa itu, hak istimewanya untuk melayani di Bait Suci di-
cabut. namun Allah mengganti apa yang hilang itu dengan mem-
perkenalkan dirinya kepada Bait Suci Injili dan sorgawi ini, yang
dilihatnya dalam nubuat, dan mempekerjakannya untuk me-
nyampaikan gambaran tentangnya kepada jemaat. Dalam hal ini
martabatnya dijunjung tinggi di atas semua kawannya yang lain.
2. saat Yesus Tuhan kita berbicara tentang penghancuran Bait
Allah ini, yang dipahami oleh para pendengar-Nya yaitu Bait
Suci kedua di Yerusalem, namun yang dimaksudkan-Nya dengan
Bait Allah itu ialah tubuh-Nya sendiri (Yoh. 2:19, 21). Dan Ia
memiliki alasan yang baik untuk berbicara dengan mendua
arti seperti itu, sebab penglihatan Yehezkiel merujuk kepada
kedua Bait Allah itu secara bersama-sama, termasuk juga tubuh
mistis-Nya, yaitu jemaat, yang disebut sebagai keluarga Allah
(1Tim. 3:15), dan semua anggota tubuh itu, yang merupakan bait-
bait yang hidup, yang di dalamnya Roh berdiam.
3. Tiang-tiang dari Bait Suci ini, tiang-tiang pintunya, yang ber-
jauhan satu dari yang lainnya, dan sebab itu pintunya juga lebar
selebar kemah Musa secara keseluruhan (ay. 1, KJV), yaitu dua
belas hasta (Kel. 26:16, 22, 25). Dibandingkan dengan apa yang
ada di bawah hukum Taurat, kita dapat berkata, Lebarlah pintu
yang menuju kepada jemaat, hukum upacara, sehingga dinding
pemisah itu yang sudah membuat pintu gerbang begitu sempit,
sudah dirubuhkan.
4. Tempat maha kudus berbentuk persegi, dua puluh hasta panjang
dan lebarnya (ay. 4). Sebab Yerusalem baru berbentuk empat per-
segi (Why. 21:16), yang menandakan keteguhannya, sebab kita
menantikan kota yang tidak tergoncangkan.
5. Tingkat-tingkat yang di atas lebih lebar daripada tingkat-tingkat
yang di bawah (ay. 7). Dinding-dinding Bait Suci tebalnya enam
hasta di tingkat bawah, lima hasta di tingkat tengah, dan empat
hasta di tingkat tertinggi, yang memberi ruang untuk memper-
luas kamar-kamar, semakin tinggi orang naik. namun perhatian
diberikan supaya kayunya dapat menopang kuat-kuat (meskipun
Allah membangun tempat yang tinggi, Ia membangunnya dengan
teguh), namun tanpa melemahkan satu bagian demi menguatkan
bagian yang lain. Mereka memiliki pegangan, namun bukan di
dinding Bait Suci. Dengan menyebar secara bertahap seperti ini,
kamar-kamar tambahan yang ada di alas Bait Suci (di tingkat
tertinggi) tingginya enam hasta, sedangkan di tingkat terendah
hanya empat hasta. Setiap tingkat bertambah satu hasta. Sema-
kin tinggi kita membangun diri kita di atas dasar iman kita yang
paling suci, semakin hati kita, bait yang hidup itu, harus di-
lapangkan.
Penglihatan tentang Bait Suci
(41:12-26)
12 Bangunan yang ada di lapangan tertutup yang di sebelah barat lebar-
nya tujuh puluh hasta, sedang dinding yang mengelilinginya tebalnya lima
hasta dan panjangnya sembilan puluh hasta. 13 Lalu ia mengukur Bait Suci
itu: seratus hasta panjangnya dan lapangan tertutup bersama bangunan dan
dindingnya: seratus hasta juga; 14 begitu juga lebarnya muka Bait Suci
bersama lapangan tertutup sebelah timur: seratus hasta. 15 Kemudian ia
mengukur panjang bangunan yang ada di lapangan tertutup sebelah
barat bersama serambi-serambinya di kedua belah: seratus hasta. Ruang
besar, ruang dalam dan balai luar 16 ditutupi dengan papan dan sekeliling
ketiga ruang itu ada jendela-jendela yang berbidai dan serambi-serambi. Di
hadapan ambang itu seluruh Bait Suci ditutupi dengan papan, mulai dari
lantai sampai ke jendela-jendelanya – sedang jendela-jendela ini terlindung –
17 sampai bagian atas pintu dan ruang dalam dan juga di luar. Dan di selu-
ruh dinding bagian dalam dan bagian luar terukir 18 gambar-gambar kerub
dan pohon-pohon korma, di antara dua kerub sebatang pohon korma, dan
masing-masing kerub itu memiliki dua muka. 19 Dari sebelah yang satu
muka manusia dan dari sebelah yang lain muka singa yang menghadap ke
pohon korma itu dan begitulah dibuat di seluruh Bait Suci. 20 Dari lantai
sampai ke atas pintu terukir kerub-kerub dan pohon-pohon korma pada
dinding. 21 Tiang-tiang pintu dari ruang besar yaitu empat persegi. Dan di
hadapan tempat maha kudus ada sesuatu yang kelihatan menyerupai
22 mezbah dari kayu, tingginya tiga hasta, panjangnya dua hasta dan
lebarnya dua hasta; sudut-sudutnya serta alasnya dan dindingnya dari kayu.
Ia berkata kepadaku: “Inilah meja yang ada di hadirat TUHAN.” 23 Ruang
besar memiliki dua daun pintu dan tempat maha kudus 24 juga mem-
punyai dua daun pintu. Pada pintu-pintu itu ada dua daun pintu yang dapat
berputar, dua daun pintu pada pintu yang satu dan dua daun pintu pada
yang lain. 25 Pada pintu-pintu ini juga, yaitu pintu-pintu ruang besar, terukir
kerub-kerub dan pohon-pohon korma, seperti pada dinding-dinding. Di muka
balai Bait Suci itu, yaitu di luar, ada tangga kayu. 26 Pada kedua dinding
samping dari balai itu ada jendela-jendela yang berbidai dan ukiran pohon-
pohon korma.
Kitab Yehezkiel 41:12-26
Di sini ada,
1. Penjelasan tentang bangunan yang ada di lapangan tertutup
(yaitu di hadapan Bait Suci), di ujung sebelah barat (ay. 12), yang
di sini diukur dan dibandingkan (ay. 13) dengan ukuran Bait
Suci, dan tampak memiliki ukuran-ukuran yang sama dengan-
nya. Bangunan ini berdiri sendiri di pelataran, yang diukur ber-
sama serambi-serambinya (ay. 15), atau kamar-kamar yang men-
jadi bagiannya, tiang-tiang dan jendela-jendelanya, dan hiasan-
hiasannya (ay. 15-17). namun apa gunanya bangunan yang lain
ini, kita tidak diberi tahu. Mungkin, dalam penglihatan ini,
bangunan itu menandakan didirikannya sebuah jemaat di antara
bangsa-bangsa bukan Yahudi yang tidak kalah dengan Bait Suci
Yahudi, namun yang sifatnya berbeda, dan yang akan segera meng-
gantikannya.
2. Penjelasan tentang hiasan-hiasan Bait Suci, dan bangunan yang
lain itu. Dinding-dinding di bagian dalam dari atas ke bawah di-
hiasi dengan gambar-gambar kerub dan pohon-pohon korma, yang
ditempatkan secara bergantian, seperti dalam bait Salomo (1Raj.
6:29). Tiap-tiap kerub di sini dikatakan memiliki dua muka,
muka manusia yang menghadap ke pohon korma dari sebelah
yang satu dan muka singa yang menghadap ke pohon korma dari
sebelah yang lain (ay. 19). Kerub-kerub ini tampak menggambar-
kan para malaikat, yang memiliki hikmat yang lebih besar dari-
pada hikmat manusia dan keberanian yang lebih besar daripada
keberanian singa. Dalam kedua muka itu mereka mengarahkan
pandangan kepada pohon-pohon korma kemenangan dan kejaya-
an yang ada di hadapan mereka, yang mereka yakin akan hal itu
dalam semua perseteruan mereka melawan kuasa-kuasa kegelap-
an. Dan dalam perkumpulan orang-orang kudus, para malaikat
hadir secara khusus (1Kor. 11:10).
3. Gambaran tentang tiang-tiang pintu dari ruang besar dan tempat
kudus. Tiang-tiang itu berbentuk empat persegi (ay. 21), tidak
bulat seperti tiang-tiang biasa. Dan di hadapan tempat maha
kudus ada sesuatu yang kelihatan menyerupai mezbah dari kayu
(KJV: penampilan tiang yang satu menyerupai penampilan tiang
yang lain). Dalam kemah suci, dan dalam bait Salomo, pintu
tempat kudus, atau tempat maha kudus, lebih sempit daripada