an bakar bagi hawa
nafsu kita.
(2) Mari kita lihat apa alasan kita untuk memuji Allah atas
kelimpahan, bukan hanya hasil-hasil bumi, melainkan juga
kebebasan dalam berjual beli, bahwa petani bisa memiliki
uang sebagai ganti rotinya dan pedagang bisa memiliki roti
sebagai ganti uangnya, bahwa ada kelimpahan bukan
hanya di ladang, melainkan juga di pasar, bahwa orang-
orang yang hidup di kota-kota besar, meskipun tidak
menabur, tidak juga menuai, namun diberi makanan yang
berkecukupan dari hari ke hari.
2. Perilaku sang nabi itu menandakan bahwa orang-orang yang
dibawa ke dalam pembuangan akan dipaksa untuk memakan
rotinya yang najis di tengah-tengah bangsa-bangsa (ay. 13),
memakan makanan yang dibuat oleh tangan bangsa-bangsa
bukan-Yahudi, yang tidak mengikuti hukum jemaat Yahudi,
yang selalu mereka sebut najis berdasar pengajaran yang
mereka terima, dan yang membuat mereka sangat jijik seperti
orang jijik terhadap roti yang dimasak dengan kotoran, yaitu
(seperti yang mungkin dapat dipahami), yang diadoni dan
dibentuk dengan kotoran. Daniel dan teman-temannya mem-
batasi diri mereka dengan sayur dan air, daripada harus
makan santapan raja yang ditentukan untuk mereka, sebab
mereka takut kalau-kalau itu akan menajiskan mereka (Dan.
1:8). Atau mereka akan dipaksa untuk makan daging busuk,
seperti yang akan diberikan oleh para penindas mereka saat
mereka menjadi budak-budak, makanan yang sebelumnya
tidak akan sudi mereka sentuh. sebab mereka tidak melayani
Allah dengan hati yang riang gembira dalam kelimpahan segala
sesuatu, maka Allah akan membuat mereka melayani musuh-
musuh mereka dalam kekurangan segala sesuatu.
PASAL 5
alam pasal ini kita mendapati peringatan lebih lanjut, dan tidak
kalah mengerikan, tentang penghakiman-penghakiman Allah
yang sedang mendatangi bangsa Yahudi dengan segala kecepatan
dan kekuatan, yang akan menghancurkannya sampai musnah sama
sekali. Sebab jika Allah menghakimi, Ia akan berhasil. Kehancur-
an Yehuda dan Yerusalem ini di sini,
I. Digambarkan melalui sebuah tanda, yaitu pencukuran, pem-
bakaran, dan penghamburan rambut (ay. 1-4).
II. Tanda itu dijelaskan, dan diterapkan pada Yerusalem.
1. Dosa dituduhkan kepada Yerusalem sebagai penyebab
dari kehancuran ini, yaitu penghinaan terhadap hukum
Allah (ay. 5-7) dan pencemaran terhadap tempat kudus-
Nya (ay. 11).
2. Murka diancamkan, murka yang besar (ay. 8-10), berba-
gai macam kesengsaraan (ay. 12, 16-17), yang begitu rupa
sehingga akan menjadi cela dan kehancuran mereka (ay.
13-15).
Gambaran tentang Kehancuran Yerusalem
(5:1-4)
1 Dan engkau, anak manusia, ambillah sebilah pedang yang tajam dan
pakailah itu sebagai pisau cukur tukang pangkas; cukurlah rambutmu dan
janggutmu dengan itu; lalu ambillah sebuah timbangan dan bagi-bagilah
rambutmu. 2 Sepertiga harus kaubakar dengan api di tengah-tengah kota itu
sesudah berakhir waktu pengepungannya; sepertiga harus kauambil dan
tetaklah dengan pedang itu sekelilingnya; dan sepertiga lagi hamburkanlah
ke dalam angin, dan Aku akan menghunus pedang dari belakang mereka.
3 Engkau harus mengambil sedikit dari rambut itu dan bungkus di dalam
punca kainmu. 4 Dan sekali lagi engkau harus mengambil dari padanya,
buangkan ke dalam api dan hanguskan dia di sana; dari sana akan keluar
api untuk memakan seluruh kaum Israel. Dan berkatalah kepada mereka:
Di sini kita mendapati tanda yang dengannya kehancuran sepenuh-
nya dari Yerusalem digambarkan. Dan di sini, seperti sebelumnya,
sang nabi sendiri menjadi tandanya, supaya rakyat melihat betapa ia
sendiri terenyuh dan turut prihatin dalam perkara Yerusalem, dan
betapa Yerusalem melekat di hatinya, sekalipun ia menubuatkan
kehancuran-kehancurannya. Ia begitu sangat khawatir tentangnya
sehingga merasa bahwa apa yang dilakukan terhadapnya dilakukan
terhadap dirinya sendiri, sehingga jauh baginya untuk menginginkan
hari celaka itu.
I. Ia harus mencukur rambut dan janggutnya (ay. 1), yang menanda-
kan bahwa Allah betul-betul menolak dan meninggalkan bangsa
itu, sebagai angkatan yang tidak berguna dan tidak layak, yang
tidak akan disayangkan, bahkan, yang akan menjadi kehormatan-
Nya untuk berpisah dengannya. Penghakiman-penghakiman-Nya,
dan semua alat yang dipakai-Nya dalam membinasakan mereka,
yaitu pedang yang tajam ini dan pisau cukur ini, yang layak
untuk dipakai, dan yang akan menjalankan pekerjaan itu dengan
baik. Yerusalem sudah menjadi kepala, namun , sebab merosot, ia
menjadi seperti rambut, yang jika sudah tebal dan panjang,
hanya akan menjadi beban yang ingin dilepaskan orang, seperti
Allah ingin membersihkan para pendosa di Sion. Ha, Aku akan
melampiaskan dendam-Ku kepada para lawan-Ku (Yes. 1:24).
Yehezkiel tidak boleh hanya mencukur rambut yang sudah pan-
jang, namun harus memangkas semuanya, yang menunjukkan
bahwa Allah akan sepenuhnya menghabisi Yerusalem. Rambut
yang tidak mau dicukur, dirapihkan, dan dibersihkan oleh peri-
ngatan-peringatan para nabi harus dipangkas semuanya dengan
kehancuran yang sehabis-habisnya. Orang-orang yang tidak mau
diperbaharui akan dihancurkan.
II. Ia harus menimbang rambut itu dan membagi-baginya menjadi tiga
bagian. Ini menandakan bahwa penghakiman-penghakiman Allah
diarahkan dengan sangat tepat sesuai keadilan (oleh-Nya manusia
dan tindakan-tindakan mereka ditimbang dalam timbangan kebe-
naran dan kebajikan yang tak mungkin keliru). Dan penghakim-
an-penghakiman itu juga sesuai dengan ukuran yang dipakai
Kitab Yehezkiel 5:1-4
keadilan ilahi dalam menghukum sebagian orang dengan satu
hukuman dan sebagian yang lain dengan hukuman lain. Dengan
satu atau lain cara, mereka semua akan mendapat hukuman. Se-
bagian orang memandang bahwa dicukurnya rambut ini me-
nunjukkan hilangnya kebebasan dan kehormatan mereka: hal itu
dipandang sebagai tanda aib, seperti Hanun mempermalukan
pegawai-pegawai Daud. Itu juga menunjukkan hilangnya sukacita
mereka, sebab mereka biasanya mencukur rambut pada saat ada
perkabungan besar. Saya boleh menambahkan bahwa hal itu
menunjukkan hilangnya nazar mereka, sebab mencukur rambut
yaitu akhir dari sumpah nazar (Bil. 6:18), dan Yerusalem seka-
rang tidak lagi dipandang sebagai kota kudus.
III. Ia harus membuang rambut itu sehingga semuanya musnah atau
bertebaran (ay. 2).
1. Sepertiga harus dibakar di tengah-tengah kota, yang menanda-
kan bahwa sejumlah besar orang akan binasa oleh kelaparan
dan wabah penyakit, dan mungkin banyak orang binasa dalam
kebakaran hebat di kota itu, sesudah berakhir waktu penge-
pungannya. Atau terbaringnya kota yang mulia itu di dalam
abu dapat juga dipandang sebagai sepertiga dari kehancuran
yang diancamkan.
2. Sepertiga yang lain akan dipotong-potong dengan pedang, yang
menggambarkan bahwa banyak orang, selama pengepungan
itu, tewas oleh pedang, saat mereka maju untuk menyerang
para pengepung, dan terutama saat kota itu diserbu dan di-
rebut, sebab pada masa itu orang-orang Kasdim sangat ganas
dan orang-orang Yahudi sangat rapuh.
3. Sepertiga lagi harus dihamburkan ke dalam angin, yang
menandakan bahwa sebagian orang dibawa ke negeri penak-
luk dan sebagian yang lain lari ke negeri-negeri sekitar untuk
mencari perlindungan. Jadi mereka akan lari tergesa-gesa,
sebagian ke satu arah dan sebagian yang lain ke arah lain,
seperti rambut yang bertebaran ditiup angin. namun , supaya
jangan sampai mereka berpikir bahwa penyebaran ini akan
membuat mereka dapat melarikan diri, Allah menambahkan,
Aku akan menghunus pedang dari belakang mereka, sehingga
ke mana saja mereka pergi, kejahatan akan mengejar mereka.
Perhatikanlah, Allah memiliki berbagai macam penghakim-
an yang dengannya Ia akan menuntaskan kehancuran suatu
bangsa yang berdosa dan mengakhiri apa yang dimulai-Nya.
IV. Sang nabi harus menyimpan sejumlah kecil dari sepertiga rambut
yang harus dihamburkan ke dalam angin itu, dan membungkus-
nya di dalam punca kainnya, seperti membungkus sesuatu yang
dijaganya dengan sangat hati-hati (ay. 3). Ini mungkin menanda-
kan segelintir orang yang tersisa di bawah pemerintahan Gedalya,
yang diharapkan akan merebut kembali negeri itu saat kumpul-
an bangsa itu dibawa ke dalam pembuangan. Demikianlah Allah
akan berbuat baik bagi mereka seandainya mereka mau berbuat
baik bagi diri mereka sendiri. namun , sedikit orang yang
dipelihara ini ternyata akan diambil dan dibuang ke dalam api (ay.
4). saat Gedalya dan teman-temannya dibunuh, orang-orang
yang menempatkan diri di bawah perlindungannya terserak, seba-
gian pergi ke Mesir, dan sebagian yang lain dibawa oleh orang-
orang Kasdim, dan dalam waktu singkat negeri itu benar-benar
bersih dari mereka. Maka digenapilah nubuat ini, sebab dari
kebakaran besar itu keluar api untuk memakan seluruh kaum
Israel, yang, seperti halnya bahan bakar bila terkena api, menyala
dan menghanguskan satu sama lain. Perhatikanlah, sungguh
buruk bagi sebuah bangsa jika orang-orang yang terbunuh di
dalam murka tampak ditandai untuk menjadi tugu peringatan
belas kasihan. Sebab dengan demikian tidak ada yang tersisa
atau melarikan diri, tidak ada yang terkurung atau tertinggal.
Kesalahan Yerusalem;
Hukuman terhadap Yerusalem
(5:5-17)
5 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Inilah Yerusalem! Di tengah-tengah bangsa-
bangsa Kutempatkan dia dan sekelilingnya ada negeri-negeri mereka. 6 Ia
sudah memberontak terhadap peraturan-peraturan-Ku lebih jahat dari pada
bangsa-bangsa dan terhadap ketetapan-ketetapan-Ku lebih jahat dari negeri-
negeri yang di sekitarnya; sebab mereka menolak peraturan-peraturan-Ku
dan kelakuan mereka tidak selaras dengan ketetapan-ketetapan-Ku. 7 Sebab
itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh sebab engkau lebih jahat dari pada
bangsa-bangsa yang di sekitarmu dan kelakuanmu tidak selaras dengan
ketetapan-ketetapan-Ku dan engkau tidak melakukan peraturan-peraturan-
Ku, bahkan engkau melakukan peraturan-peraturan bangsa-bangsa yang di
sekitarmu, 8 sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku, ya Aku
sendiri akan menjadi lawanmu dan Aku akan menjatuhkan hukuman ke-
Kitab Yehezkiel 5:5-17
95
padamu di hadapan bangsa-bangsa. 9 Oleh sebab segala perbuatanmu yang
keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang
tidak pernah lagi akan Kuperbuat. 10 Sebab itu di tengah-tengahmu ayah-
ayah akan memakan anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya dan
Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu, sedang semua yang masih
tinggal lagi dari padamu akan Kuhamburkan ke semua penjuru angin.
11 Sebab itu, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH,
sesungguhnya, oleh sebab engkau menajiskan tempat kudus-Ku dengan
segala dewamu yang menjijikkan dan dengan segala perbuatanmu yang keji,
Aku sendiri akan meruntuhkan engkau; Aku tidak akan merasa sayang dan
tidak akan kenal belas kasihan. 12 Sepertiga dari padamu akan mati kena
sampar dan mati kelaparan di tengah-tengahmu; sepertiga akan tewas
dimakan pedang di sekitarmu; dan sepertiga lagi akan Kuhamburkan ke
semua mata angin dan Aku akan menghunus pedang dari belakang mereka.
13 Aku akan melampiaskan murka-Ku kepada mereka, sehingga hati-Ku yang
panas tenang kembali dan Aku merasa puas; dan mereka akan mengetahui,
bahwa Akulah TUHAN yang mengatakannya di dalam cemburu-Ku, tatkala
Aku melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. 14 Aku akan membuat
engkau menjadi reruntuhan dan buah celaan di antara bangsa-bangsa yang
di sekitarmu di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. 15 Engkau
akan menjadi buah celaan dan cercaan, menjadi peringatan dan suatu
kengerian bagi bangsa-bangsa yang di sekitarmu, tatkala Aku menjatuhkan
hukuman kepadamu di dalam kemurkaan dan kemarahan dan di dalam
penghajaran-penghajaran kemarahan – Aku, TUHAN, yang mengatakannya –
16 tatkala Aku mendatangkan atasmu kelaparan yang dahsyat, yang membi-
nasakan, dan Aku mendatangkannya untuk membinasakan kamu, tatkala
Aku memperdahsyat bencana kelaparan atasmu dan memusnahkan per-
sediaan makananmu. 17 Aku akan mendatangkan kelaparan atasmu dan
binatang-binatang buas di tengah-tengahmu, yang akan memunahkan anak-
anakmu; sampar akan berkecamuk dan darah akan mengalir di tengah-
tengahmu dan Aku akan mendatangkan pedang atasmu, Aku, TUHAN, yang
mengatakannya.”
Di sini kita mendapati penjelasan dari kiasan yang disampaikan
dalam perikop sebelumnya: Inilah Yerusalem. Demikianlah, bahasa
Kitab Suci biasa memberi nama dari apa yang dilambangkan
kepada perlambangnya, seperti saat Kristus berkata, inilah tubuh-
Ku. Kepala sang nabi, yang harus dicukur, melambangkan Yeru-
salem, yang oleh penghakiman-penghakiman Allah akan segera di-
lucuti semua perhiasannya, ditinggalkan oleh seluruh penduduknya
menjadi kosong, dan dibiarkan telanjang, dicukur dengan pisau cukur
yang dipinjam (Yes. 7:20). Kepala orang yang menjabat sebagai imam,
nabi, dan orang kudus paling pantas melambangkan Yerusalem kota
kudus. Nah, isi dari ayat-ayat ini banyak samanya dengan apa yang
sudah sering kita jumpai, dan masih akan kita jumpai, dalam
tulisan-tulisan para nabi. Di sini kita mendapati,
I. Hak-hak istimewa yang dengannya Yerusalem dihormati (ay. 5): Di
tengah-tengah bangsa-bangsa Kutempatkan dia dan sekelilingnya
ada negeri-negeri mereka, negeri-negeri yang termasyhur dan
sangat besar. Yerusalem tidak terletak di suatu ujung dunia yang
terpencil, jauh dari negeri-negeri tetangga, melainkan di tengah-
tengah kerajaan-kerajaan yang padat penduduknya, berbudi
halus dan beradab, tersohor dengan pendidikan, seni, dan ilmu
pengetahuan, dan yang terpandang di dunia pada masa itu.
namun di dalamnya tampak ada yang lebih daripada ini.
1. Yerusalem dijunjung martabatnya di atas negeri-negeri sekitar
dan kota-kota mereka. Ia ditempatkan di tengah-tengah mereka
sebagai yang mengungguli mereka semua. Gunung suci ini
menjulang tinggi di atas bukit-bukit (Yes. 2:2). Hai gunung-
gunung yang berpuncak banyak, mengapa kamu menjeling
cemburu, kepada gunung yang dikehendaki Allah menjadi
tempat kedudukan-Nya? (Mzm. 68:17). Yerusalem yaitu kota
di atas bukit, menonjol dan dikagumi, dan diperhatikan oleh
bangsa-bangsa sekitar, sebagian untuk niat baik, dan sebagi-
an lain untuk niat jahat.
2. Yerusalem dirancang untuk memberi pengaruh baik ke-
pada bangsa-bangsa dan negeri-negeri sekelilingnya. Ia ditem-
patkan di tengah-tengah mereka seperti pelita di atas kaki
dian, untuk menyebarkan terang wahyu ilahi, yang dengannya
ia diberkati, ke seluruh penjuru bangsa-bangsa sekitar yang
gelap, supaya dari sana terang itu dapat menyebar ke tempat
yang lebih jauh, bahkan sampai ke ujung-ujung bumi. Yeru-
salem ditempatkan di tengah-tengah bangsa-bangsa, seperti
jantung dalam tubuh, untuk menghidupkan dunia yang mati
ini dengan kehidupan ilahi dan mencerahkan dunia yang gelap
ini dengan terang ilahi, untuk menjadi teladan dari segala
sesuatu yang baik. Bangsa-bangsa yang mengamati betapa
unggulnya peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan yang
mereka miliki menyebut bahwa mereka yaitu bangsa yang
bijaksana dan berakal budi (Ul. 4:6), pantas untuk dimintai
nasihat dan bimbingan, seperti pada zaman Salomo (1Raj.
4:34). Dan, seandainya mereka menjaga nama baik ini dan
menggunakannya dengan benar, maka betapa Yerusalem akan
menjadi berkat bagi semua bangsa di sekitarnya! namun ,
sebab gagal melakukan hal ini, penggenapan maksud ini
disediakan untuknya di akhir zaman, saat dari Sion akan
keluar pengajaran Injil, dan firman TUHAN Yesus dari Yerusa-
Kitab Yehezkiel 5:5-17
lem, dan di sana pertobatan dan pengampunan mulai diberita-
kan, dan dari sana para pemberitanya pergi ke segala bangsa.
Dan, sesudah hal itu terlaksana, Yerusalem diratakan dengan
tanah. Perhatikanlah, tempat-tempat dan orang-orang dibuat
menjadi besar dengan maksud supaya mereka berbuat kebaik-
an, dan orang-orang di sekeliling mereka menjadi lebih baik
sebab mereka, supaya terang mereka bercahaya di depan
orang.
II. Tindakan-tindakan Yerusalem yang menyulut murka, yang men-
jadi kesalahannya. Sebuah dakwaan yang sangat berat diajukan
di sini melawan kota itu, dan tanpa dapat disanggah lagi terbukti
cukup untuk membenarkan Allah dalam merampas hak-hak
istimewanya dan membiarkannya diserang.
1. Kelakuannya tidak selaras dengan ketetapan-ketetapan Allah,
dan ia tidak melakukan peraturan-peraturan-Nya (ay. 7). Bah-
kan, para penduduk Yerusalem telah menolak peraturan-
peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya (ay. 6). Mereka
tidak melakukan kewajiban mereka, bahkan mereka tidak
mau, mereka berkata bahwa mereka tidak mau. Ketetapan-
ketetapan dan peraturan-peraturan yang dikagumi oleh tetang-
ga-tetangga mereka justru mereka rendahkan. Apa yang seha-
rusnya mereka tempatkan di depan wajah mereka, justru mere-
ka lemparkan ke belakang. Perhatikanlah, penghinaan terhadap
firman dan hukum Allah membukakan pintu bagi segala macam
kejahatan. Ketetapan-ketetapan Allah yaitu syarat-syarat
yang dengannya Ia berurusan dengan manusia. Orang-orang
yang menolak syarat-syarat-Nya tidak bisa mengharapkan
perkenanan-Nya.
2. Ia sudah memberontak terhadap peraturan-peraturan Allah le-
bih jahat dari pada bangsa-bangsa (ay. 6, KJV: Ia telah meng-
ubah penghakiman-penghakiman Allah menjadi kefasikan). Ini
sebuah tindak kecemaran yang sangat besar, bahwa rakyat
tidak saja melanggar hukum-hukum Allah, namun juga sudah
sedemikian menyelewengkan dan menyalahgunakannya, se-
hingga mereka menjadikan hukum-hukum Allah sebagai dalih
dan alasan bagi kefasikan mereka. Mereka memperkenalkan
kebiasaan-kebiasaan dan perilaku-perilaku keji bangsa kafir,
bukannya ketetapan-ketetapan Allah. Inilah yang dinamakan
menggantikan kebenaran Allah dengan dusta (Rm. 1:25) dan
kemuliaan Allah dengan noda (Mzm. 4:3). Perhatikanlah,
orang-orang yang sudah dididik dengan baik namun hidup tidak
benar, mereka itu memberi penghinaan tertinggi yang tak
terbayangkan terhadap Allah, seolah-olah Ia yaitu pelindung
dosa dan penghakiman-penghakiman-Nya diubah menjadi
kefasikan.
3. Ia sudah berlaku lebih buruk daripada bangsa-bangsa tetang-
ga, yang kepada mereka seharusnya ia memberi teladan
yang baik: Ia telah mengubah peraturan-peraturan-Ku, dengan
penyembahan berhala dan ibadah palsu, lebih dari pada bang-
sa-bangsa (ay. 6). Dan ia telah melipatgandakan (yaitu, meli-
patgandakan berhala-berhala dan mezbah-mezbah, dewa-dewa
dan kuil-kuil, melipatgandakan hal-hal yang kesatuannya
merupakan pujian bagi mereka) lebih jahat dari pada bangsa-
bangsa di sekitar mereka. Allah Israel yaitu satu, dan nama-
Nya satu, mezbah-Nya satu. namun mereka, tidak puas dengan
Tuhan yang satu ini, melipatgandakan dewa-dewa mereka se-
demikian rupa sehingga seperti banyaknya kota mereka demi-
kian banyaknya para allah mereka, dan mezbah-mezbah mere-
ka yaitu seperti timbunan batu di alur-alur ladang. Sehingga
mereka melebihi semua tetangga mereka dalam memiliki
banyak “allah” dan banyak “tuhan.” Mereka merusak agama
wahyu lebih daripada bangsa-bangsa bukan-Yahudi merusak
agama alami. Perhatikanlah, jika orang-orang yang sudah
mengaku beragama, dan dididik dalam kesalehan, kemudian
murtad darinya, mereka biasanya lebih cemar dan keji
daripada orang-orang yang tidak pernah mengaku beragama
sama sekali. Mereka memiliki tujuh roh lain yang lebih jahat.
4. Ia tidak melakukan peraturan-peraturan bangsa-bangsa yang
di sekitar mereka (ay. 7, KJV). Israel tidak berbuat bagi Allah
mereka seperti bangsa-bangsa lain berbuat bagi dewa-dewa
mereka, meskipun itu dewa-dewa palsu. Mereka tidak begitu
patuh terhadap-Nya atau tetap setia kepada-Nya. Adakah
bangsa menukarkan allahnya, atau meremehkannya, seperti
yang sudah mereka lakukan? (Yer. 2:11). Atau mungkin itu
merujuk pada budi pekerti mereka. Bukannya memperbaharui
tetangga-tetangga mereka, mereka malah kalah dari tetangga-
tetangga mereka. Banyak orang yang tak bersunat memper-
Kitab Yehezkiel 5:5-17
hatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat lebih baik diban-
dingkan dengan mereka yang bersunat (Rm. 2:26-27). Orang-
orang yang memiliki terang Kitab Suci tidak melakukan per-
aturan-peraturan seperti yang diperbuat banyak orang lain
yang hanya memiliki terang natural. Perhatikanlah, ada orang-
orang yang disebut sebagai orang Kristen nantinya pada hari
penghakiman akan dihukum berdasar tabiat dan kehidup-
an yang lebih baik dari orang-orang kafir yang bersahaja.
5. Kejahatan khusus yang dituduhkan kepada Yerusalem yaitu
mencemarkan hal-hal yang kudus, yang telah dipercayakan
kepadanya dan yang dengannya ia sudah dihormati (ay. 11):
Engkau menajiskan tempat kudus-Ku dengan segala dewamu
yang menjijikkan, dengan berhala-berhalamu dan penyembah-
an-penyembahan berhalamu. Patung-patung dari para allah
jadi-jadian mereka, dan tiang-tiang berhala yang didirikan
untuk menghormati mereka, dibawa ke dalam bait suci. Dan
upacara-upacara yang dipakai oleh para penyembah berhala
dimasukkan ke dalam ibadah penyembahan kepada Allah.
Dengan demikian segala sesuatu yang suci dicemarkan. Per-
hatikanlah, berhala yaitu hal yang menjijikkan di mana saja,
namun terutama di tempat kudus.
III. Hukuman-hukuman yang akan menimpa Yerusalem sebab per-
buatan-perbuatan yang menyulut murka ini: Masakan Allah tidak
menghukum mereka sebab semuanya ini? Tidak ragu lagi Ia akan
menghukum mereka. Hukuman yang dijatuhkan di sini kepada
Yerusalem sangatlah mengerikan, dan cara pengungkapannya
membuat hukuman itu lebih mengerikan lagi. Penghakiman-peng-
hakimannya beragam, dan ancaman-ancamannya bermacam-
macam, diulangi berkali-kali, ditanamkan dalam-dalam, sehingga
orang dapat berkata, siapakah yang tahan berdiri di hadapan
Allah pada saat Ia murka?
1. Allah akan turun tangan sendiri untuk menghukum Yeru-
salem. Dan siapakah yang mengenal kekuatan murka-Nya?
Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup!
Amatilah betapa hal ini ditekankan dengan kuat (ay. 8): Aku,
ya Aku sendiri akan menjadi lawanmu. Allah sudah berpihak
pada Yerusalem, untuk membela dan menyelamatkannya.
namun sengsaralah keadaannya jika Ia telah berbalik men-
jadi musuhnya dan berperang melawannya. Jika Allah mela-
wan kita, maka seluruh ciptaan berperang melawan kita, dan
tak ada yang dapat berpihak pada kita untuk membela: “Kamu
pikir hanya tentara Kasdim yang melawanmu, mereka yaitu
tangan Allah, atau lebih tepatnya tongkat di tangan-Nya. Aku,
ya Aku sendirilah yang akan menjadi lawanmu, yang tidak
hanya akan berbicara menentangmu melalui para nabi, namun
juga bertindak melawanmu melalui penyelenggaraan ilahi. Aku
akan menjatuhkan hukuman kepadamu (ay. 10), di tengah-
tengahmu (ay. 8, KJV), bukan hanya di pinggiran kota, melain-
kan juga di pusat kota, bukan hanya di perbatasan, melainkan
juga di pedalaman negeri.” Perhatikanlah, orang-orang yang
tidak mau mematuhi penghakiman-penghakiman mulut Allah
tidak akan luput dari penghakiman-penghakiman tangan-Nya.
Dan penghakiman-penghakiman Allah, jika datang untuk
memenuhi tugas, akan menembus ke tengah-tengah bangsa,
akan masuk ke dalam jiwa, merembes seperti air ke dalam diri,
dan seperti minyak ke dalam tulang-tulang. Aku akan men-
jatuhkan hukuman. Perhatikanlah, Allah sendiri turun tangan
untuk menjalankan hukuman-hukuman-Nya, sesuai dengan
maksudnya yang sebenarnya dan seutuhnya. Apa pun yang
menjadi alat-alatnya, Dialah pelaku utamanya.
2. Hukuman-hukuman ini akan timbul dari murka-Nya. Bagi
tubuh bangsa itu, hukuman itu bukanlah hajaran di dalam
kasih, namun Ia akan menjatuhkan hukuman di dalam kemurka-
an dan kemarahan dan di dalam penghajaran-penghajaran
kemarahan (ay. 15). Ungkapan aneh yang datang dari Allah
yang sudah berfirman, kehangatan murka tiada pada-Ku, dan
yang telah menyatakan diri-Nya penyayang dan pengasih, dan
panjang sabar. namun hukuman-hukuman itu dirancang
untuk menunjukkan kejahatan dosa, dan penghinaan yang di-
berikannya terhadap Allah yang adil dan kudus. Pasti sangat-
lah jahat apa yang menyulut-Nya hingga Ia menjadi murka
seperti itu, dan melawan umat-Nya sendiri lagi, yang selama
itu amat berkenan pada-Nya. Lagi pula, murka-Nya itu terlon-
tar dengan kepuasan hati yang sangat (ay. 13): “Murka-Ku,
yang sudah lama ditahan, sekarang akan dilampiaskan ke-
pada mereka, sehingga hati-Ku yang panas tenang kembali.
Murka-Ku tidak hanya akan menyala atas mereka, namun juga
Kitab Yehezkiel 5:5-17
menindih mereka, dan memenuhi mereka seperti bejana-
bejana kemurkaan dipenuhi dengan kefasikan mereka hingga
hancur. Dan, sebab dengan demikian keadilan akan dimulia-
kan, Aku akan merasa puas, Aku akan sepenuhnya puas
dengan apa yang telah Kulakukan.” Sama seperti, saat Allah
dihina oleh dosa-dosa manusia, Ia dikatakan jemu (Mzm.
95:10), demikian pula saat Ia dihormati oleh kehancuran
dosa-dosa itu, Ia dikatakan puas. Pergulatan antara belas
kasihan dan hukuman sudah selesai, dan dalam hal ini
hukuman menang, benar-benar menang. Sebab belas kasihan
yang sudah begitu lama disalahgunakan sekarang bungkam
dan menyerah, tidak bisa mengucapkan satu kata lagi bagi
bangsa yang begitu tidak tahu terima kasih dan tidak bisa
diperbaiki seperti itu: Aku tidak akan merasa sayang dan tidak
akan kenal belas kasihan (ay. 11). Belas kasihan ilahi menang-
guhkan hukuman, atau meringankannya, atau menopang
orang yang ada di bawahnya, atau mempersingkatnya. namun
di sini ada penghakiman yang tak berbelas kasihan, murka
tanpa bercampur dengan belas kasihan atau diringankan oleh-
nya. Ungkapan-ungkapan ini dipertajam dan dipertegas seperti
itu mungkin dengan maksud untuk melihat lebih jauh, yaitu
pada pembalasan api kekal, yang diperlambangkan oleh seba-
gian kehancuran yang kita baca dalam Perjanjian Lama, dan
terutama kehancuran Yerusalem. Sebab pasti bukan di mana
pun di seberang neraka sini firman ini digenapi secara penuh,
Aku tidak akan merasa sayang, namun hati-Ku yang panas
akan tenang kembali. Perhatikanlah, orang-orang yang hidup
dan mati tanpa bertobat akan binasa selama-lamanya tanpa
mendapat belas kasihan. Akan tiba saatnya Tuhan tidak akan
merasa sayang.
3. Hukuman-hukuman akan ditimpakan kepada semua orang
secara terang-terangan: Aku akan menjatuhkan hukuman ini
kepadamu di hadapan bangsa-bangsa (ay. 8). Hukuman-
hukuman itu sendiri akan begitu luar biasa sehingga semua
bangsa yang jauh dan dekat akan memperhatikannya. Semua
hukuman itu akan menjadi bahan pembicaraan di bagian
dunia itu, dan terlebih lagi sebab menonjolnya tempat dan
bangsa yang dijatuhi hukuman-hukuman itu. Perhatikanlah,
sama seperti dosa-dosa yang diperbuat di depan semua orang
menuntut teguran-teguran yang diberikan di depan semua
orang (mereka yang berbuat dosa hendaklah kautegor di depan
semua orang), demikian pula, jika teguran-teguran itu tidak
berhasil, dosa-dosa itu menuntut hukuman-hukuman yang
ditimpakan di depan semua orang. Mereka ditampar-Nya kare-
na kefasikan mereka, dengan dilihat orang banyak (Ayb.
34:26), supaya Ia dapat mempertahankan dan membela kehor-
matan pemerintahan-Nya, sebab (seperti pendapat Grotius
tentangnya di sini) mengapa Ia harus membiarkan orang ber-
kata, lihat betapa fasiknya hidup orang-orang yang mengaku
menyembah satu-satunya Allah yang benar! Dan, sama seperti
hukuman-hukuman yang ditimpakan di depan semua orang
akan membawa kehormatan bagi Allah, demikian pula hal itu
akan membantu,
(1) Memperparah hukumannya, dan membuatnya menindih
dengan lebih berat. Yerusalem, sebab dijadikan reruntuh-
an, menjadi buah celaan di antara bangsa-bangsa, di ha-
dapan semua orang yang lintas (ay. 14). Semakin menonjol
dan istimewa seseorang pada waktu ia makmur, semakin
besar aib yang menyertai kejatuhannya. Dan itulah yang
terjadi pada Yerusalem. Semakin Yerusalem menjadi ke-
masyhuran di bumi, semakin ia sekarang menjadi celaan
dan cercaan (ay. 15). Hal ini telah diperingatkan kepada-
nya, tidak kurang seperti hal-hal lain, saat kemuliaannya
dimulai (1Raj. 9:8), dan hal ini diratapi, tidak kurang
seperti hal-hal lain, saat ia terbaring di dalam debu (Rat.
2:15).
(2) Untuk mengajar bangsa-bangsa supaya takut terhadap
Allah Israel, saat mereka melihat betapa Ia yaitu Allah
yang cemburu, dan betapa beratnya Ia menghukum dosa
sekalipun dalam diri orang-orang yang paling dekat de-
ngan-Nya: Hal itu akan menjadi peringatan bagi bangsa-
bangsa (ay. 15). Yerusalem seharusnya mengajar tetangga-
tetangganya untuk takut akan Allah melalui kesalehan dan
kebajikannya, namun , sebab ia tidak melakukannya,
Allah akan mengajarkan itu kepada mereka melalui kehan-
curannya. Sebab mereka memiliki alasan untuk berkata,
jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah
yang akan terjadi dengan kayu kering? Jika penghakiman
Kitab Yehezkiel 5:5-17
dimulai pada rumah Allah sendiri, di mana ia akan ber-
akhir? Jika bangsa yang hanya memiliki beberapa
penyembah berhala di antara mereka dihukum seperti itu,
apa jadinya dengan kita semua yang yaitu penyembah-
penyembah berhala? Perhatikanlah, kehancuran sebagian
orang dirancang untuk mengajar sebagian yang lain. Para
penjahat dihukum di depan semua orang in terrorem –
sebagai peringatan bagi orang lain.
4. Hukuman-hukuman ini, menurut jenisnya, akan sangat berat
dan pedih.
(1) Hukuman-hukuman itu akan sedemikian rupa seperti yang
belum pernah terjadi atau belum pernah ada yang sepadan
dengannya. sebab dosa-dosa mereka lebih menyulut
murka daripada dosa-dosa bangsa lain, maka hukuman-
hukuman yang dijalankan atas mereka akan luar biasa (ay.
9): “Akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuper-
buat terhadapmu sebelumnya, meskipun engkau sudah
lama pantas mendapatkannya. Bahkan, itu belum pernah
Aku lakukan di kota lain mana pun.” Hukuman terhadap
Yerusalem ini dikatakan melebihi hukuman Sodom (Rat.
4:6), lebih pedih daripada semua hukuman yang sudah
berlangsung sebelumnya. Bahkan, hukuman itu sedemi-
kian rupa sehingga “tidak pernah lagi akan Kuperbuat,
dengan menimbang semua keadaannya, kepada kota lain
mana pun, sampai hukuman serupa ditimpakan lagi
kepada kota ini, saat kota itu digulingkan untuk terakhir
kali oleh orang-orang Romawi.” Ini merupakan ungkapan
kiasan tentang hukuman-hukuman yang teramat pedih,
seperti dikatakan tentang tabiat Hizkia, bahwa baik yang
sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang
sama seperti dia.
(2) Hukuman-hukuman itu akan sedemikian rupa sehingga
akan memaksa mereka untuk memutuskan ikatan-ikatan
kasih kekeluargaan satu terhadap yang lain, yang akan
menjadi hukuman yang adil terhadap mereka, sebab me-
reka sudah sengaja mematahkan ikatan-ikatan kewajiban
mereka kepada Allah (ay. 10): Ayah-ayah akan memakan
anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya, sebab
luar biasanya kelaparan itu, atau mereka akan dipaksa
melakukannya oleh para penakluk mereka yang biadab.
(3) Akan ada bermacam-macam penghakiman, dan salah satu-
nya saja sudah amat mengerikan, dan meluluh-lantakkan.
namun apa jadinya bila semua penghakiman itu disatu-padu-
kan dan dijalankan dengan sempurna? Sebagian orang akan
tewas oleh wabah penyakit (ay. 12). Sampar akan berkeca-
muk di tengah-tengahmu (ay. 17), menyapu bersih semua
yang ada di hadapannya, seperti malaikat pembinasa. Seba-
gian yang lain akan mati kelaparan, akan habis secara per-
lahan-lahan seperti orang yang mati akibat penyakit yang
terus-menerus menggerogotinya (ay. 12). Hal ini ditegaskan
lagi (ay. 16): Aku mendatangkan atasmu kelaparan yang
dahsyat. Kelaparan akan membuat mereka menderita ber-
lama-lama, dan akan menusuk sampai ke jantung mereka,
seolah-olah panah, panah-panah yang dahsyat, anak-anak
panah yang beracun, ditembakkan kepada mereka. Allah
memiliki banyak panah, panah-panah yang dahsyat, dalam
tabung-Nya. jika sebagian panah ditembakkan, Ia ma-
sih memiliki lebih banyak persediaan panah lagi. Aku mem-
perdahsyat bencana kelaparan atasmu. Kelaparan di se-
buah negeri yang kekurangan bisa saja mereda seiring
hasil-hasil bumi tumbuh. namun kelaparan di sebuah kota
yang terkepung tentu akan bertambah parah. Namun Allah
berbicara tentangnya sebagai tindakan-Nya: “Aku memper-
dahsyat bencana kelaparan atasmu dan memusnahkan
persediaan makananmu, akan mengambil penopang-peno-
pang kebutuhan hidup, akan mengecewakanmu dalam
semua hal yang kepadanya kamu bergantung, sehingga
tidak ada obat penawar, dan kamu pasti jatuh rebah ke
tanah.” Hidup itu rapuh, lemah, penuh beban, sehingga,
jika tidak ada makanan setiap hari sebagai tongkat baginya
untuk bersandar, tidak bisa tidak ia pasti jatuh, dan akan
segera lenyap jika tongkat itu patah. Sebagian yang lain
akan tewas dimakan pedang di sekitar Yerusalem, saat
mereka maju menyerang para pengepung. Pedang itu ada-
lah pedang yang akan didatangkan Allah (ay. 17). Pedang
Tuhan, yang dulu dihunus untuk membela Yerusalem, se-
karang dihunus untuk menghancurkannya. Sebagian yang
Kitab Yehezkiel 5:5-17
lain dilahap oleh binatang-binatang buas, yang akan me-
mangsa orang-orang yang melarikan diri ke padang-padang
gurun dan gunung-gunung untuk mencari perlindungan.
Mereka akan menemui kehancuran di tempat mereka
mengharapkan perlindungan, sebab tidak ada yang bisa
luput dari hukuman-hukuman Allah (ay. 17). Dan, yang
terakhir, orang-orang yang melarikan diri akan dihambur-
kan ke seluruh penjuru dunia, ke semua mata angin
(demikian hal itu diungkapkan, ay. 10, 12), yang menyirat-
kan bahwa mereka tidak hanya akan diserakkan, namun
juga dibuat pergi dengan tergesa-gesa dan diombang-
ambingkan ke sana kemari, seperti sekam dibawa angin.
Bahkan, kutukan terhadap Kain (untuk menjadi pelarian
dan pengembara) bukanlah kutukan yang terburuk. Hidup
mereka yang gelisah akan diputus oleh kematian yang
berdarah: “Aku akan menghunus pedang dari belakang
mereka, yang akan mengikuti mereka ke mana saja mereka
pergi.” Orang berdosa dikejar oleh malapetaka, dan kutuk-
an akan mengejar dan menyusul mereka.
5. Hukuman-hukuman ini akan membawa kehancuran kepada
mereka secara perlahan. Mereka akan diruntuhkan (ay. 11).
Kekuatan dan kemuliaan mereka akan semakin berkurang
dan berkurang. Mereka akan dipunahkan (ay. 17), semua yang
menjadi sukacita dan keyakinan mereka akan dikuras habis.
Allah mengirimkan penghakiman-penghakiman ini dengan
tujuan untuk membinasakan mereka (ay. 16). Anak-anak
panah itu tidak ditembakkan (seperti Yonatan menembakkan-
nya) untuk membimbing mereka, melainkan untuk mem-
binasakan mereka. Sebab Allah akan melampiaskan murka-
Nya kepada mereka (ay. 13). Hari kesabaran Allah sudah
berakhir, dan kehancuran itu tidak ada penawarnya. Meski-
pun nubuat ini akan segera digenapi, dalam kehancuran
Yerusalem oleh tentara Kasdim, namun sebab para pelak-
sananya tidak disebutkan di sini, namun penjahatnya saja
(inilah Yerusalem), maka kita dapat menduga bahwa nubuat
itu melihat lebih jauh, pada kehancuran terakhir dari kota
yang agung itu oleh orang-orang Romawi, saat Allah meng-
akhiri bangsa Yahudi dengan sepenuhnya, dan membuat
murka-Nya menetap atas mereka.
6. Semua ini disahkan oleh wewenang dan kebenaran ilahi: Aku,
TUHAN, yang mengatakannya (ay. 15), dan lagi (ay. 17).
Hukuman itu dijatuhkan oleh Dia yang yaitu Hakim langit
dan bumi, yang hukuman-Nya berlangsung secara jujur, dan
yang penghakiman tangan-Nya sesuai dengan penghakiman
mulut-Nya. Dia yang telah mengatakannya dapat melakukan-
nya, sebab bagi-Nya tidak ada yang mustahil. Dia yang telah
mengatakannya akan melakukannya, sebab Ia bukanlah ma-
nusia, sehingga Ia berdusta. Dia, yang wajib kita dengar dan
perhatikan, telah mengatakannya, dan ipse dixit – perkataan-
Nya menuntut perhatian yang sungguh-sungguh dan perse-
tujuan yang disertai kepatuhan. Dan mereka akan mengetahui,
bahwa Akulah TUHAN yang mengatakannya (ay. 13). Ada
sebagian orang yang beranggapan bahwa itu cuma omongan
sang nabi dalam igauannya. namun Allah akan membuat
mereka tahu, melalui penggenapan nubuat itu, bahwa Ia telah
mengatakannya dalam gelora semangat-Nya. Perhatikanlah,
cepat atau lambat, firman Allah akan terbukti benar dengan
sendirinya.
PASAL 6
Dalam pasal ini kita temukan,
I. Ancaman penghancuran Israel sebab penyembahan berhala-
nya, beserta dengan penghancuran berhala-berhala mereka
(ay. 1-7).
II. Janji mengenai kembalinya sisa Israel kepada Allah oleh ka-
rena kemurahan-Nya, melalui pertobatan dan pembaruan
sejati (ay. 8-10).
III. Perintah diberikan kepada sang nabi dan hamba-hamba Tu-
han yang lain untuk meratapi baik kesalahan maupun kema-
langan Israel (ay. 11-14).
Penghancuran Penyembahan Berhala
(6:1-7)
1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 Hai anak manusia, tuju-
kanlah mukamu ke gunung-gunung Israel dan bernubuatlah melawan mere-
ka! 3 Katakanlah: Hai gunung-gunung Israel, dengarkanlah firman Tuhan
ALLAH! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada gunung-gunung dan bukit-
bukit, kepada alur-alur sungai dan lembah-lembah: Sungguh, Aku akan
mendatangkan perang atasmu dan Aku akan membinasakan bukit-bukit
pengorbananmu. 4 Mezbah-mezbahmu akan menjadi sunyi sepi dan pedupa-
an-pedupaanmu akan dirusak; dan Aku akan merebahkan orang-orangmu
yang terbunuh di hadapan berhala-berhalamu. 5 Aku akan mencampakkan
mayat-mayat orang Israel di hadapan berhala-berhala mereka dan mengham-
burkan tulang-tulangmu keliling mezbah-mezbahmu. 6 Di mana saja kamu
diam, kota-kotamu akan menjadi reruntuhan dan bukit-bukit pengorbanan-
mu akan menjadi sunyi sepi, supaya mezbah-mezbahmu dihancurkan dan
ditinggalkan sunyi sepi, berhala-berhalamu diremukkan dan ditiadakan,
pedupaan-pedupaanmu diluluhkan dan buatan-buatan tanganmu dihapus-
kan. 7 Dan orang-orangmu yang terbunuh akan berebahan di tengah-tengah-
mu dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.
Di sini,
I. Nubuat ini diarahkan pada gunung-gunung Israel (ay. 1-2). Sang
nabi harus menujukan mukanya ke gunung-gunung itu. jika ia
dapat memandang jauh ke seluruh negeri Israel, maka gunung-
gunung di negeri itu pastilah pemandangan yang paling pertama
dan paling jauh terlihat. Ke arah gunung-gunung itulah, sebab
itu, ia harus memandang, dengan tegas dan dengan teguh hati,
seperti hakim memandang narapidana saat menjatuhkan hukum-
an kepadanya. Sekalipun gunung-gunung Israel sangat tinggi dan
sangat kokoh, ia harus menujukan mukanya ke arah gunung-
gunung itu, seperti hendak menyatakan penghakiman yang akan
mengguncangkan dasar-dasarnya. Gunung-gunung Israel tadinya
yaitu gunung-gunung yang kudus, namun sebab sekarang Israel
telah mencemarinya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka,
maka Allah menujukan muka-Nya terhadap gunung-gunung itu
dan, sebab itu, sang nabi pun harus berbuat demikian. Israel di
sini, bukan, seperti adakalanya, melambangkan sepuluh suku,
namun melambangkan seluruh negeri. Gunung-gunung itu dipang-
gil untuk mendengarkan Firman Tuhan, untuk mempermalukan
penduduknya yang tidak mau mendengarkan. Para nabi mungkin
akan mendapat tanggapan dari gunung-gunung itu sesegera
dengan tanggapan dari bangsa yang memberontak dan memban-
tah itu, yang kepadanya para nabi sepanjang hari mengulurkan
tangannya dengan sia-sia. Dengarlah, hai gunung-gunung, peng-
aduan TUHAN (Mi. 6:1-2), sebab perkara Allah pasti akhirnya akan
didengar juga, entah kita mendengarkannya atau tidak. Namun,
dari gunung-gunung, Firman Tuhan bergema kepada bukit-bukit,
kepada alur-alur sungai dan lembah-lembah sebab kepada tem-
pat-tempat ini juga Tuhan Allah berbicara, yang menyiratkan
bahwa seluruh negeri berkepentingan dengan apa yang sekarang
akan disampaikan dan akan menjadi saksi terhadap bangsa ini
bahwa mereka telah diberi peringatan yang adil mengenai pengha-
kiman yang akan datang, namun mereka tidak mau menerimanya.
Bahkan, mereka menentang pesan itu dan menganiaya para pem-
bawa pesannya sehingga nabi-nabi Tuhan lebih aman dan nya-
man berbicara kepada bukit-bukit dan gunung-gunung daripada
kepada mereka.
II. Ancaman dalam nubuat ini yaitu penghancuran menyeluruh
terhadap berhala-berhala itu beserta penyembah-penyembahnya,
Kitab Yehezkiel 6:1-7
dan keduanya dihancurkan oleh pedang perang. Allah sendirilah
yang menjadi panglima perang dalam peperangan melawan
gunung-gunung Israel ini. Allah-lah yang berkata, Sungguh, Aku
akan mendatangkan pedang atasmu (KJV). Pedang orang Kasdim
ada dalam kendali Allah, pergi ke mana pun Dia mengirimnya,
datang ke mana pun Dia membawanya, dan bergerak saat Dia
mengarahkannya. Dalam kebinasaan sebab perang ini,
1. Berhala-berhala itu dan segala perlengkapannya harus dihan-
curkan. Bukit-bukit pengorbanan, yang ada di puncak-puncak
gunung (ay. 3), harus diratakan dan dibuat menjadi sunyi sepi
(ay. 6). Bukit-bukit itu tidak akan dihiasi lagi, tidak akan
dikunjungi lagi seperti sebelumnya. Mezbah-mezbah, tempat
mereka mempersembahkan korban dan membakar dupa bagi
allah-allah asing, akan diremukkan berkeping-keping dan di-
tinggalkan sunyi sepi. Pedupaan-pedupaan (KJV: patung-patung
tuangan) dan berhala-berhala akan dirusak, akan diremukkan
dan ditiadakan, akan diluluhkan, dan semua buatan tangan
yang halus dan mahal untuk membuat berhala-berhala itu
akan dihapuskan (ay. 4, 6). Amatilah di sini,
(1) Bahwa perang menyebabkan kebinasaan yang menyedih-
kan, saat orang-orang, tempat-tempat, dan benda-benda
yang paling dihargai tidak dapat luput, sebab sudah biasa
pedang makan orang ini atau orang itu.
(2) Bahwa Allah adakalanya menghancurkan penyembahan
berhala dengan menggunakan tangan para penyembah ber-
hala juga, sebab orang Kasdim itu pun penyembah berhala.
Namun, sebab pemujaan dewa-dewa seolah-olah khas
untuk setiap daerah tertentu, maka para pemuja terbesar
ilah-ilah suatu negeri menjadi para pencemooh terbesar
ilah-ilah negeri lain.
(3) Allah itu benar dalam membinasakan apa pun yang kita
berhalakan, sebab Dia yaitu Allah yang cemburu dan
tidak mau memiliki saingan.
(4) Jika manusia tidak, seperti seharusnya, menghancurkan
penyembahan berhala, maka Allah pasti, suatu waktu, akan
mendapatkan cara untuk melakukannya. saat Yosia meng-
hancurkan bukit-bukit pengorbanan, mezbah-mezbah, dan
patung-patung tuangan dengan pedang keadilan, mereka
membangunnya kembali. Namun, Allah sekarang akan
menghancurkannya dengan pedang perang, dan marilah
kita lihat siapa yang berani menegakkannya kembali.
2. Penyembah-penyembah berhala dan semua pengikutnya juga
harus dihancurkan sedemikian rupa. Sebagaimana semua bu-
kit-bukit pengorbanan mereka akan menjadi sunyi sepi, demi-
kian pula tempat-tempat di mana saja mereka diam, bahkan
semua kota-kota mereka (ay. 6). Orang-orang yang mencemari
kekudusan tempat kediaman Allah, seperti yang dilakukan
orang-orang Israel itu, tidak dapat mengharapkan apa-apa
selain bahwa Ia akan menghancurkan tempat kediaman mere-
ka (5:11). Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka
Allah akan membinasakan dia (1Kor. 3:17). Diancamkan di sini
bahwa orang-orang mereka yang terbunuh akan berebahan di
tengah-tengah mereka (ay. 7). Dengan kata lain, akan terjadi
pembunuhan besar-besaran, bahkan di tempat-tempat yang
dianggap paling aman. Namun, yang membuat peristiwa ini
menjadi luar biasa yaitu bahwa mereka akan terbunuh di
hadapan berhala-berhala mereka (ay. 4), bahwa mayat-mayat
mereka akan dicampakkan, dan tulang-tulang mereka diham-
burkan keliling mezbah-mezbah mereka (ay. 5).
(1) Dengan demikian, berhala-berhala mereka akan dicemar-
kan, dan tempat-tempat yang mereka agungkan itu dinajis-
kan dengan mayat-mayat mereka. Jika mereka tidak mau
menganggap najis patung-patung mereka yang disalut, maka
Allah yang akan menajiskannya (Yes. 30:22). Pencampakan
mayat-mayat di antara berhala-berhala itu, seperti pencam-
pakan ke atas timbunan kotoran, menggambarkan bahwa
berhala-berhala itu hanyalah dewa-dewa kotoran.
(2) Oleh sebab itu, tergambar jelas bahwa berhala-berhala itu
hanyalah benda mati, tidak pantas menjadi saingan Allah
yang hidup. Mayat-mayat orang mati, yang seperti berhala-
berhala itu, memiliki mata namun tidak melihat, mempu-
nyai telinga namun tidak mendengar, yaitu padanan paling
sesuai untuk berhala-berhala itu.
(3) Demikianlah, berhala-berhala itu dicela sebab ketidak-
mampuannya menolong penyembahnya, dan para penyem-
bah berhala itu dicela sebab kebodohannya mempercayai
Kitab Yehezkiel 6:8-10
berhala-berhala itu. Sebagai contoh, tampaknya, para
penyembah berhala itu dibunuh oleh pedang lawan, saat
mereka benar-benar ada di hadapan berhala-berhala me-
mohon pertolongannya, dan meletakkan diri mereka dalam
perlindungannya. Sanherib dibunuh oleh putra-putranya
saat ia sujud menyembah di dalam kuil allahnya.
(4) Dosa dapat dibaca dari keadaan sekeliling saat hukuman
terjadi, orang-orang yang terbunuh direbahkan di hadapan
berhala-berhala mereka, untuk menunjukkan bahwa kare-
na itulah mereka dibunuh, sebab mereka menyembah ber-
hala-berhala itu (Yer. 8:1-2). Biarlah orang-orang yang sela-
mat mengamatinya, dan belajar dari peringatan ini untuk
tidak menyembah patung-patung tuangan. Biarlah mereka
melihatnya, dan mengetahui bahwa Tuhanlah Allah, dan
bahwa Tuhan, Dia yaitu Allah dan Dia saja.
Belas Kasih Dijanjikan kepada
Orang-orang yang Bertobat; Hasil Pertobatan
(6:8-10)
8 namun sebagian, yaitu yang terluput dari pedang, akan Kutinggalkan hidup
di antara bangsa-bangsa, bilamana kamu dihamburkan ke negeri-negeri itu.
9 Di sana, di tengah-tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka dibawa ter-
tawan, orang-orang yang terluput dari antara kamu akan mengingat kepada-
Ku, tatkala Aku mengembalikan hati mereka yang berzinah itu, yang sudah
menjauh dari pada-Ku dan mengalihkan mata mereka, yang selalu berzinah
dengan mengikuti berhala-berhala mereka; maka mereka sendiri akan me-
rasa mual melihat kejahatan yang mereka lakukan dan melihat segala per-
buatan mereka yang keji. 10 Dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah
TUHAN dan bukan cakap angin, kalau Aku berfirman hendak menjatuhkan
malapetaka ini atas mereka.”
Penghakiman sampai sejauh ini telah menang, namun dalam ayat-ayat
di atas, belas kasihan bersorak penuh kemenangan atas penghakim-
an. Akhir cerita orang-orang yang membangkang ini menyedihkan,
namun nasib mereka ternyata belum sepenuhnya berakhir. Penghan-
curan itu tampaknya habis-habisan, namun sebagian akan Kutinggal-
kan hidup, sedikit sisa, yang dipisahkan dari seluruh bangsa, sedikit
saja dari banyak orang, sedikit orang ini dibiarkan hidup saat yang
lain binasa, dan Allah-lah yang membiarkan mereka hidup. Hal ini
menyiratkan bahwa mereka selayaknya dibinasakan bersama yang
lain, dan pasti dibinasakan jika Tuhan tidak membiarkan mereka
hidup (lihat Yes. 1:9). Allah-lah, yang oleh anugerah-Nya bekerja di
dalam mereka, yang mata-Nya memperhatikan mereka, bertindak
membiarkan mereka hidup. Sekarang,
I. Mereka yaitu sisa yang diamankan, diselamatkan dari kehan-
curan yang menimpa seluruh bangsa (ay. 8): namun sebagian,
yaitu yang terluput dari pedang, akan Kutinggalkan hidup. Allah
berkata (5:12) bahwa Dia akan menghunus pedang dari belakang
mereka yang dihamburkan-Nya, supaya kehancuran terus menge-
jar mereka selama mereka menyebar ke mana-mana. Namun, di
sini, kasih sayang diingat dalam murka itu, dan janji diberikan,
bahwa sebagian orang Yahudi di perantauan, sebagaimana mereka
disebut sesudah itu, akan terluput dari pedang. Tiada satu pun
dari mereka yang ditetapkan untuk tewas dimakan pedang di
sekitar Yerusalem akan ditinggalkan hidup, sebab mereka meng-
andalkan dinding-dinding Yerusalem sebagai sumber keamanan
mereka, dan mereka akan dipermalukan oleh kepercayaan mereka
yang sia-sia itu. namun , sebagian dari mereka akan ditinggal-
kan hidup di antara bangsa-bangsa, di mana mereka akan kehi-
langan semua tempat bersandar, dan hanya menyandarkan diri
kepada Allah saja. Mereka dikatakan memiliki orang-orang yang
akan terluput, sebab mereka akan menjadi benih dari suatu
generasi yang lain, yang darinya Yerusalem akan berkembang
kembali.
II. Mereka yaitu sisa yang bertobat (ay. 9): orang-orang yang terlu-
put dari antara kamu akan mengingat kepada-Ku. Perhatikanlah,
kepada mereka yang dirancangkan Allah untuk hidup, Dia akan
memberi pertobatan yang memimpin kepada hidup. Mereka
menerima penangguhan hukuman, dan terluput dari pedang, agar
mereka mendapat waktu untuk berbalik kepada Allah. Perhati-
kanlah, kesabaran Allah memberi kesempatan untuk pertobatan
sekaligus menjadi dorongan bagi orang berdosa untuk bertobat.
saat Allah merancangkan anugerah untuk bertobat, Dia mem-
berikan kesempatan untuk bertobat. Namun, banyak orang yang
sudah mendapatkan kesempatan itu, mengingini anugerah itu,
banyak orang yang terluput dari pedang, namun tidak meninggal-
kan dosa, seperti yang dijanjikan akan dilakukan. Sisa ini, yang di
sini ditandai untuk diselamatkan, merupakan perlambang dari
Kitab Yehezkiel 6:8-10
kelompok sisa yang dipisahkan dan dipelihara dari antara umat
manusia untuk menjadi tugu belas kasihan, yang diselamatkan
dengan cara yang sama dengan orang-orang ini, yaitu dengan
membawa mereka pada pertobatan. Sekarang amatilah di sini,
1. Peristiwa pertobatan mereka, yang yaitu campuran antara
penghakiman dan belas kasihan-penghakiman. Pertama, peng-
hakiman, yaitu bahwa mereka dibawa tertawan, namun juga
belas kasihan, yaitu bahwa mereka terluput dari pedang di
negeri tempat mereka ditawan. Mereka diusir dari negeri
mereka sendiri, namun tidak diusir dari dalam negeri orang-
orang hidup, tidak dienyahkan dari dunia seperti yang lain,
yang pantas mereka dapatkan. Perhatikanlah, renungan akan
penghajaran yang adil dari Sang Pemelihara dalam hidup kita,
dan bahwa hajaran-Nya itu pun disertai dengan belas kasihan,
seharusnya menarik kita untuk bertobat, sehingga kita dapat
memenuhi tujuan Allah dalam menghajar dan mengasihani
kita. Dan pertobatan sejati pastilah akan diterima oleh Allah,
meskipun kita dibuat bertobat oleh masalah kita sendiri.
Bahkan, kesengsaraan yang dikuduskan sering kali merupa-
kan sarana yang ampuh untuk bertobat, seperti yang terjadi
pada Manasye.
2. Akar dan dasar pertobatan mereka: Di tengah-tengah bangsa-
bangsa, mereka akan mengingat kepada-Ku. Orang-orang yang
melupakan Allah di negeri mereka yang damai dan makmur,
yang menjadi gemuk dan menendang ke belakang, dibuat
mengingat-Nya kembali di negeri tempat mereka ditawan. Si
anak yang hilang tidak pernah teringat akan rumah ayahnya
sebelum ia hampir binasa sebab kelaparan di negeri yang
jauh. Teringatnya mereka kepada Allah yaitu langkah per-
tama yang mereka ambil untuk kembali kepada Allah. Perhati-
kanlah, mulai ada harapan bagi orang berdosa saat mereka
berdosa melawan Allah dan bertanya Di mana Allah, yang
membuat aku? Dosa berawal dari melupakan Tuhan (Yer.
3:21). Pertobatan dimulai dari mengingat Dia dan mengingat
kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya. Allah berkata, mereka
akan mengingat kepada-Ku, dengan kata lain, “Aku akan
memberi mereka anugerah untuk mengingat Aku” sebab, jika
tidak, mereka akan melupakan Dia selamanya. Anugerah itu
akan menemukan mereka di mana pun mereka berada, dan
dengan membawa Allah masuk ke dalam pikiran mereka,
mereka akan dibawa pada pikiran yang benar. Si anak yang
hilang, saat ia mengingat ayahnya, ia mengingat bagaimana ia
telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapanya, dan
demikian pula dengan sisa umat yang bertobat ini.
(1) Mereka mengingat penghinaan luar biasa yang mereka per-
buat terhadap Allah melalui penyembahan berhala mereka.
Inilah penghinaan yang terus dipikirkan dan paling diratapi
dalam pertobatan yang sejati. Mereka telah berpaling dari
Allah kepada berhala-berhala, dan menyerahkan kehormat-
an itu kepada allah-allah palsu, ciptaan dari khayalan
manusia dan hasil karya tangan manusia, padahal kehor-
matan ini seharusnya diberikan kepada Allah Israel. Mere-
ka menjauh dari Allah, dari Firman-Nya, yang seharusnya
menjadi aturan hidup mereka, dari pekerjaan-Nya, yang
seharusnya mereka jadikan urusan mereka. Hati mereka
sudah menjauh dari pada-Nya. Hati, yang sangat diingin-
kan dan dituntut-Nya, dan yang tanpanya latihan badani
terbatas gunanya, hati, yang seharusnya diarahkan ke-
pada-Nya, dan dibawa sepenuhnya kepada-Nya, saat
menjauh dari-Nya, maka akan sama khianatnya seperti
seorang istri yang lari dari suaminya, atau seperti seorang
hamba yang membangkang dan memberontak terhadap
tuannya. Mata mereka juga selalu berzinah dengan meng-
ikuti berhala-berhala. Mereka sangat mencintai berhala-
berhala itu, dan menaruh pengharapan besar kepadanya.
Hati mereka mengikuti mata mereka dalam memilih allah
bagi mereka (mereka hanya mau allah-allah yang dapat
mereka lihat), dan kemudian mata mereka mengikuti hati
mereka dalam mengagungkan allah-allah itu. Nah, kejahat-
an dosa ini yaitu perzinahan rohani. Hati yang berzinah-
lah yang menjauh dari Allah, dan mata merekalah yang
selalu berzinah dengan mengikuti berhala-berhala. Perhati-
kanlah, penyembahan berhala yaitu perzinahan rohani,
pelanggaran terhadap perjanjian-nikah dengan Allah. Pe-
nyembahan berhala yaitu menaruh segala perhatian dan
perasaan pada sesuatu yang menjadi pesaing allah. Penyem-
bahan berhala yaitu menenggelamkan diri dalam nafsu
yang rendah, yang menipu dan mencemari jiwa, yang meru-
Kitab Yehezkiel 6:8-10
pakan kesalahan besar terhadap Allah dalam kehormatan-
Nya,
(2) Mereka mengingat betapa dosa ini menyebabkan kesedihan
besar bagi Allah dan betapa Allah murka sebab nya. Mere-
ka akan mengingat betapa Aku telah diremukkan oleh hati
mereka yang berzinah dan mata mereka yang penuh
dengan perzinahan rohani ini, bukan hanya Aku marah
akan hal itu, namun juga berduka, seperti seorang suami
yang berduka atas kemesuman istri yang sangat dicintai-
nya, berduka sampai remuk hatinya sebab nya. Hati-Nya
hancur memikirkan betapa Dia telah dikhianati. Hati-Nya
berkeping-keping seperti seorang ayah yang telah renta
terluka oleh perilaku anaknya yang tidak berbakti, yang
memberontak dan tidak taat, yang membuat jiwanya ter-
puruk dan tubuhnya terbungkuk. Empat puluh tahun Aku
jemu kepada angkatan itu (Mzm. 95:10). Ketetapan-ketetap-
an Allah dilanggar, demikianlah menurut sebagian orang.
Lalu, Dia menghentikan aliran kasih karunia-Nya terhadap
mereka, dan bahkan terpaksa menghukum mereka. Hal
inilah yang akan mereka ingat pada hari pertobatan mere-
ka, sehingga membuat mereka luar biasa bersedih dan me-
rendahkan diri oleh sebab merasa Allah begitu diremuk-
kan oleh dosa mereka. Rasa sedih ini melebihi apa yang
mereka alami saat rasa damai mereka hilang atau saat
negeri mereka hancur. Demikianlah mereka akan meman-
dang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan
meratapi dia (Za. 12:10). Perhatikanlah, tiada yang lebih
mendukakan seorang petobat sejati selain pemikiran bah-
wa dosanya telah mendukakan Allah dan Roh kasih karu-
nia-Nya.
3. Hasil dan bukti pertobatan mereka: Mereka sendiri akan mera-
sa mual melihat kejahatan yang mereka lakukan dan melihat
segala perbuatan mereka yang keji. Maka Allah akan memberi-
kan mereka anugerah untuk melayakkan mereka menerima
pengampunan dan pembebasannya. Sekalipun Dia telah dire-
mukkan oleh hati mereka yang berzinah, namun Dia tidak
akan membuang mereka sama sekali (Yes. 57:17-18; Hos.
2:13-14). Kebaikan-Nya ditunjukkan di atas keburukan mere-
ka sehingga kebaikan-Nya tampil jauh lebih mulia. Perhatikan-
lah,
(1) Petobat sejati melihat dosa sebagai sesuatu yang keji, yaitu
perkara kekejian yang dibenci Tuhan dan yang membuat
orang berdosa, dan bahkan pelayanannya, menjijikkan
bagi-Nya (Yer. 44:4; Yes. 1:11). Dosa mencemari hati nurani
si pendosa sendiri, dan membuatnya menjadi, kecuali jika
dia sudah mati rasa, kekejian bagi dirinya sendiri. Berhala
secara khusus disebut sebagai dewa kekejian (Yes. 44:19).
Kepuasan itu, yang oleh hati pendosa dijadikan sebagai hal
yang menyukakan, ditolak oleh hati petobat dan dilihatnya
sebagai hal yang menjijikkan.
(2) Ada banyak kejahatan yang dilakukan dalam kekejian ini,
banyak kejahatan yang termasuk di dalamnya, terjadi ber-
samaan dengannya, dan mengalir darinya, banyak pelang-
garan dalam satu dosa (Im. 16:21). Dalam penyembahan
berhala mereka, mereka adakalanya bersalah sebab ber-
buat sundal (seperti dalam penyembahan Peor), adakalanya
sebab melakukan pembunuhan (seperti dalam penyem-
bahan dewa Molokh). Semua ini yaitu segala kejahatan
yang dilakukan dalam kekejian mereka. Dengan kata lain,
penyembahan berhala menggambarkan adanya sifat jahat
yang besar dalam dosa. Penyembahan berhala yaitu keke-
jian yang mengandung sangat banyak kejahatan di dalam-
nya.
(3) Mereka yang benar-benar muak terhadap dosa tidak bisa
tidak akan muak terhadap dirinya sendiri sebab dosa.
Muak pada diri sendiri selalu beriringan dengan pertobatan
sejati. Petobat bertengkar dengan dirinya sendiri, dan tidak
akan pernah bisa berdamai dengan dirinya sampai ia me-
miliki dasar untuk berharap bahwa Allah telah berdamai
dengan dirinya. Bahkan, sesudah nya petobat itu akan me-
ringkuk dalam rasa malu, saat Ia berdamai dengan
mereka (16:63).
4. Kemuliaan yang akan kembali kepada Allah melalui pertobat-
an mereka (ay. 10): “Mereka akan mengetahui, bahwa Akulah
TUHAN. Mereka akan yakin penuh bahwa Dia yaitu Tuhan
sebab mengalaminya sendiri, dan akan siap mengakuinya.
Kitab Yehezkiel 6:11-14
Dan bukan cakap angin, kalau Aku berfirman hendak men-
jatuhkan malapetaka ini atas mereka. Mereka akan mengeta-
hui bahwa apa yang Aku katakan pasti akan terlaksana, ter-
wujud untuk kebaikan, untuk menggenapi tujuan yang baik,
dan bahwa sangatlah adil kalau mereka itu sampai diancam
dan dihukum sedemikian rupa.” Perhatikanlah,
(1) Dengan segala cara, Allah akan membuat orang berdosa
mengetahui dan mengakui bahwa Dia yaitu Tuhan, baik
melalui pertobatan mereka maupun melalui kehancuran
mereka.
(2) Semua petobat sejati dibuat mengakui keadilan sekaligus
kepastian Firman Tuhan, terutama segala ancaman dalam
Firman Tuhan, dan dibuat mengakui kebenaran Allah di
dalamnya dan di dalam penggenapannya.
Ratapan Sang Nabi
(6:11-14)
11 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke
tanah dan serukanlah: Awas! Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang
keji dan jahat, mereka akan rebah mati sebab pedang, kelaparan dan
penyakit sampar. 12 Yang jauh akan mati sebab sampar, yang dekat akan
rebah sebab pedang dan yang terluput serta terpelihara akan mati sebab
kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka.
13 Dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, tatkala orang-orang
mereka yang terbunuh berebahan di tengah-tengah berhala-berhala mereka
keliling mezbah-mezbahnya, di atas setiap bukit yang tinggi dan di atas
semua puncak-puncak gunung, di bawah setiap pohon yang rimbun dan
setiap pohon keramat yang penuh cabang-cabang, di tempat mana mereka
membawa korban persembahan yang harum bagi semua berhala-berhala
mereka. 14 Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanah-
nya, di mana saja mereka diam, akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi
sepi mulai dari padang gurun sampai ke Ribla dan mereka akan mengetahui,
bahwa Akulah TUHAN.”
Semua ancaman yang sama, yang kita lihat dalam pasal sebelumnya,
dan dalam bagian sebelumnya dalam pasal ini, diulangi lagi di sini,
dengan perintah agar sang nabi meratap oleh sebab semua ancaman
itu, sehingga orang-orang yang dinubuatinya itu menjadi lebih takut
terhadap nubuat ancaman itu.
I. Sang nabi harus, dengan bahasa tubuhnya dalam berkhotbah,
menyatakan perasaannya yang mendalam baik mengenai kesalah-
an maupun kemalangan kaum Israel (ay. 11): Bertepuklah dan
entakkanlah kakimu ke tanah. Demikianlah, ia harus berusaha
agar tampak jelas bahwa ia bersungguh-sungguh dalam apa yang
ia katakan kepada mereka, bahwa ia benar-benar percaya dengan
ancaman itu dan terus memikirkannya. Oleh sebab itu, Ia harus
menunjukkan rasa marah yang ada dalam hatinya terhadap dosa-
dosa mereka, dan rasa takut yang dirasakannya mengenai peng-
hakiman yang akan datang kepada mereka. Sebagian orang akan
menolak bahasa tubuh ini, dan menyebutnya aneh dan konyol,
namun Allah memerintahkan sang nabi untuk menggunakannya
sebab bahasa tubuh dapat membantu menekankan Firman-Nya
pada beberapa orang dan membantu menggambarkan situasi
yang mendasarinya. Orang yang mengerti betapa berharganya
jiwa-jiwa akan tetap tenang meski ditertawakan oleh para peng-
olok, hanya agar mereka dapat meneguhkan yang lemah. Dua hal
yang harus diratapi sang nabi:
1. Dosa bangsa. Awas! Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel
yang keji dan jahat. Perhatikanlah, dosa orang berdosa yaitu
dukacita hamba-hamba Allah yang setia, terutama perbuatan
kaum Israel yang keji dan jahat, yang dosanya lebih keji dan
mengandung lebih banyak kejahatan di dalamnya dibanding-
kan dosa-dosa bangsa lain. Celaka! Apakah yang akan menjadi
kesudahannya?
2. Penghakiman bangsa. Untuk menghukum mereka sebab
semua kekejian ini, mereka akan rebah mati sebab pedang,
kelaparan dan penyakit sampar. Perhatikanlah, tugas kitalah
untuk terbeban bukan hanya dengan dosa dan penderitaan
kita sendiri, namun juga dengan dosa dan penderitaan orang
lain, dan untuk memandang dengan belas kasihan terhadap
kesengsaraan yang didatangkan orang jahat atas dirinya
sendiri, seperti Kristus melihat Yerusalem dan menangisinya.
II. Ia harus menekankan apa yang ia katakan sebelumnya mengenai
kehancuran yang akan datang menimpa mereka.
1. Mereka akan dilindas dan dihancurkan oleh berbagai pengha-
kiman yang akan menjumpai mereka dan mengikuti mereka di
mana pun mereka berada (ay. 12): Yang jauh, dan yang
berpikir ia bebas dari bahaya, sebab ada di luar jangkauan
panah-panah orang Kasdim, akan mendapati bahwa ia tidak
Kitab Yehezkiel 6:11-14
ada di luar jangkauan panah-panah Allah, yang terbang siang
dan malam (Mzm. 91:5): Mereka akan mati sebab sampar.
Yang dekat dengan kubu pertahanan, yang ia harap dapat
menjadi tempat perlindungan baginya, akan rebah sebab
pedang, sebelum ia sempat mengundurkan diri. Yang terlalu
takut untuk mengambil bahaya ke luar kota, sehingga memilih
tinggal saja (KJV) di dalam kota, akan mati di sana sebab kela-
paran, kematian yang paling menyedihkan di antara semua
yang lain. Demikianlah Allah akan melampiaskan amarah-Nya,
yaitu melakukan segala sesuatu melawan mereka seperti yang
telah dirancangkan-Nya.
2. Mereka akan menyadari dosa mereka saat melihat penghu-
kuman mereka, sebab orang-orang mereka yang terbunuh
berebahan di tengah-tengah berhala-berhala mereka keliling
mezbah-mezbahnya, seperti yang diancamkan sebelumnya (ay.
5-7). Di sana, tempat mereka bersujud untuk menghormati
berhala-berhala mereka, Allah akan mencampakkan mereka
dalam keadaan tidak bernyawa, sebagai cela bagi mereka, dan
cela bagi segala berhala mereka. Mereka hidup di antara
berhala-berhala itu dan akan mati di antaranya juga. Mereka
telah mempersembahkan bau-bauan yang harum bagi berhala
mereka, namun di sana bangkai mereka akan menghantarkan
bau yang menusuk, seolah-olah untuk menebus dupa yang
salah tempat itu.
3. Negeri itu semuanya akan menjadi reruntuhan, seperti dinya-
takan sebelumnya, kota-kotamu (ay. 6): Aku menjadikan negeri
itu sunyi sepi. Negeri yang selama itu subur, indah, dan ber-
penduduk banyak, yang menjadi seperti taman Tuhan, tanah
yang permai di antara semua negeri, akan dijadikan sunyi
sepi, menjadi lebih sunyi daripada padang gurun sampai ke
Diblath (ay. 14, KJV). Tempat itu disebut Diblataim (Bil. 33:46;
Yer. 48:22), padang gurun yang besar dan dahsyat itu, yang
dijelaskan dalam Ulangan 8:15, yang di dalamnya tinggal ular-
ular yang ganas serta kalajengking. Negeri Kanaan saat ini
yaitu salah satu negeri yang paling kering dan tandus di
dunia. Kota dan negeri dipunahkan penduduknya supaya mez-
bah-mezbah dihancurkan dan ditinggalkan sunyi sepi (ay. 6).
Daripada mezbah-mezbah penyembahan berhala mereka di-
biarkan tetap berdiri, lebih baik kota maupun negerinya
diratakan sekalian saja. Dosa yaitu perkara yang membina-
sakan. Oleh sebab itu, gemetarlah, dan jangan berbuat dosa
(KJV).
PASAL 7
alam pasal ini kehancuran tanah Israel yang sudah dekat dinu-
buatkan secara khusus dalam ungkapan-ungkapan yang me-
nyentuh dan sering diulang-ulang, supaya kalau mungkin mereka
menjadi tersadar oleh pertobatan untuk mencegahnya. Sang nabi
harus memberi tahu mereka,
I. Bahwa kehancuran itu akan menjadi kehancuran yang
terakhir, kehancuran yang sepenuhnya dan sehabis-habis-
nya, yang akan mendatangkan kesudahan bagi mereka, akhir
yang menyengsarakan (ay. 1-6).
II. Bahwa kehancuran itu sudah dekat, sudah di ambang pintu
(ay. 7-10).
III. Bahwa kehancuran itu tak dapat dihindari, sebab dengan
dosa mereka telah mendatangkannya atas diri mereka sendiri
(ay. 10-15).
IV. Bahwa kekuatan dan kekayaan mereka tidak bisa menjadi
pelindung terhadapnya (ay. 16-19).
V. Bahwa bait suci sendiri, yang mereka andalkan, akan hancur
juga (ay. 20-22).
VI. Bahwa kehancuran itu akan menimpa semuanya, sebab
dosa yang mendatangkannya diperbuat oleh semua orang
(ay. 23-27).
Kehancuran Israel
(7:1-15)
1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Engkau, anak manusia,
katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tanah Israel: Berakhir!
Berakhirlah keempat penjuru tanah itu. 3 Kini kesudahanmu tiba dan Aku
akan mencurahkan murka-Ku atasmu dan Aku akan menghakimi engkau
selaras dengan tingkah lakumu dan Aku akan membalaskan kepadamu
segala perbuatanmu yang keji. 4 Aku tidak akan merasa sayang kepadamu
dan tidak akan kenal belas kasihan, namun Aku akan membalaskan kepada-
mu selaras dengan tingkah lakumu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji
akan tertimpa atasmu. Maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.
5 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, bencana demi bencana akan datang!
6 Kesudahan datang, kesudahanmu tiba, seakan-akan ia terbangun melawan
engkau, lihat datangnya! 7 Malapetaka datang atasmu, hai penduduk negeri!
Waktunya datang, saatnya tiba! Hari huru-hara, bukan tempik sorak di atas
gunung-gunung. 8 Sekarang dengan segera Aku akan mencurahkan amarah-
Ku atasmu dan melampiaskan murka-Ku kepadamu, Aku akan menghakimi
engkau selaras dengan tingkah lakumu dan membalaskan kepadamu segala
perbuatan-perbuatanmu yang keji. 9 Aku tidak akan merasa sayang dan
tidak akan kenal belas kasihan; selaras dengan tingkah lakumu akan Kuba-
laskan kepadamu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji akan tertimpa atas-
mu. Maka kamu akan mengetahui, bahwa Aku, TUHANlah, yang memusnah-
kan. 10 Lihat, harinya sungguh datang: malapetaka akan menimpa, kelaliman
bertunas, keangkuhan bertaruk. 11 Kekerasan bersimaharajalela, yang men-
jadi penopang segala kejahatan. Tidak ada dari mereka yang tertinggal, baik
dari kelimpahan mereka maupun dari kemewahannya; kemolekannya pun
akan terhapus. 12 Waktunya datang, harinya mendekat! Biarlah si pembeli
jangan bergembira dan biarlah si penjual jangan berdukacita, sebab keha-
ngatan murka tertimpa atas segala kegemparan mereka. 13 Sebab si penjual
tidak akan kembali kepada jualannya, kalaupun mereka masih di tengah-
tengah orang hidup, sebab kehangatan murka tertimpa atas segala kegem-
paran mereka dan tidak dapat ditahan lagi, dan seorang pun tidak dapat
mempertahankan hidupnya oleh sebab kesalahannya. 14 Tiuplah sangkakala
dan sediakanlah segala sesuatu! namun seorang pun tidak maju berperang,
sebab kehangatan murka-Ku tertimpa atas segala kegemparan mereka.
15 Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa
yang di luar kota akan mati sebab pedang, dan barangsiapa yang di dalam
kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar.
Di sini kita mendapati peringatan yang baik diberikan tentang kehan-
curan tanah Israel, yang sudah semakin cepat datangnya. Allah,
melalui sang nabi, tidak hanya menyampaikan pemberitahuan ten-
tangnya, namun juga ingin supaya hal itu ditanamkan dalam ungkap-
an-ungkapan yang sama, untuk menunjukkan bahwa hal ini sudah
pasti, waktunya sudah dekat, dan bahwa sang nabi sendiri sungguh
sadar akal hal ini dan ingin supaya mereka juga bisa menyadarinya.
Namun ia mendapati mereka tuli, bodoh, dan tak tergerak sama
sekali. Kalau kota sedang terbakar, orang tidak akan mencari kata-
kata yang indah dan ungkapan-ungkapan yang agung untuk meng-
gambarkannya, namun akan berteriak-teriak di jalan-jalan, dengan
suara nyaring dan meratap, “Kebakaran! Kebakaran!” Demikian pula
sang nabi di sini bersuara lantang, Berakhir! Berakhir! Kesudahan
datang, kesudahan tiba, lihat datangnya. Siapa bertelinga, hendaklah
ia mendengar.
Kitab Yehezkiel 7:1-15
I. Berakhir! Berakhirlah (ay. 2), dan lagi (ay. 3, 6), kini kesudahanmu
tiba, yaitu kesudahan atas semua kefasikan mereka, dan yang
sudah sering kali diberitahukan Allah kepada mereka bahwa itu
akan datang pada akhirnya, saat Ia melalui nabi-nabi-Nya
bertanya kepada mereka, apakah yang akan kamu perbuat, apa-
bila datang kesudahannya? Itulah akhir seperti yang hendak
dicapai dari semua penghakiman selama ini, sebagai sarana
untuk mewujudkannya (kehancuran mereka akan tuntas seka-
rang). Atau, itulah kesudahan, yaitu akhir dari pemerintahan
mereka, kehancuran terakhir dari bangsa mereka, seperti air bah
merupakan akhir hidup segala makhluk (Kej. 6:13). Mereka telah
membuai diri mereka sendiri dengan harapan-harapan bahwa
mereka akan segera melihat akhir dari kesusahan-kesusahan
mereka. “Ya,” firman Allah, “Kesudahan datang, namun kesudahan
yang menyedihkan, bukan kesudahan yang diharapkan” (yang di-
janjikan kepada orang-orang saleh yang ters