Yehezkiel 4

 


an bakar bagi hawa 

nafsu kita.  

(2) Mari kita lihat apa alasan kita untuk memuji Allah atas 

kelimpahan, bukan hanya hasil-hasil bumi, melainkan juga 

kebebasan dalam berjual beli, bahwa petani bisa memiliki 

uang sebagai ganti rotinya dan pedagang bisa memiliki roti 

sebagai ganti uangnya, bahwa ada kelimpahan bukan 

hanya di ladang, melainkan juga di pasar, bahwa orang-

orang yang hidup di kota-kota besar, meskipun tidak 

menabur, tidak juga menuai, namun diberi makanan yang 

berkecukupan dari hari ke hari. 

2. Perilaku sang nabi itu menandakan bahwa orang-orang yang 

dibawa ke dalam pembuangan akan dipaksa untuk memakan 

rotinya yang najis di tengah-tengah bangsa-bangsa (ay. 13), 

memakan makanan yang dibuat oleh tangan bangsa-bangsa 

bukan-Yahudi, yang tidak mengikuti hukum jemaat Yahudi, 

yang selalu mereka sebut najis berdasar  pengajaran yang 

mereka terima, dan yang membuat mereka sangat jijik seperti 

orang jijik terhadap roti yang dimasak dengan kotoran, yaitu 

(seperti yang mungkin dapat dipahami), yang diadoni dan 

dibentuk dengan kotoran. Daniel dan teman-temannya mem-

batasi diri mereka dengan sayur dan air, daripada harus 

makan santapan raja yang ditentukan untuk mereka, sebab  

mereka takut kalau-kalau itu akan menajiskan mereka (Dan. 

1:8). Atau mereka akan dipaksa untuk makan daging busuk, 

seperti yang akan diberikan oleh para penindas mereka saat  

mereka menjadi budak-budak, makanan yang sebelumnya 

tidak akan sudi mereka sentuh. sebab  mereka tidak melayani 

Allah dengan hati yang riang gembira dalam kelimpahan segala 

sesuatu, maka Allah akan membuat mereka melayani musuh-

musuh mereka dalam kekurangan segala sesuatu. 

 

 

PASAL  5  

alam pasal ini kita mendapati peringatan lebih lanjut, dan tidak 

kalah mengerikan, tentang penghakiman-penghakiman Allah 

yang sedang mendatangi bangsa Yahudi dengan segala kecepatan 

dan kekuatan, yang akan menghancurkannya sampai musnah sama 

sekali. Sebab jika  Allah menghakimi, Ia akan berhasil. Kehancur-

an Yehuda dan Yerusalem ini di sini,  

I. Digambarkan melalui sebuah tanda, yaitu pencukuran, pem-

bakaran, dan penghamburan rambut (ay. 1-4).  

II. Tanda itu dijelaskan, dan diterapkan pada Yerusalem.  

1. Dosa dituduhkan kepada Yerusalem sebagai penyebab 

dari kehancuran ini, yaitu penghinaan terhadap hukum 

Allah (ay. 5-7) dan pencemaran terhadap tempat kudus-

Nya (ay. 11).  

2. Murka diancamkan, murka yang besar (ay. 8-10), berba-

gai macam kesengsaraan (ay. 12, 16-17), yang begitu rupa 

sehingga akan menjadi cela dan kehancuran mereka (ay. 

13-15). 

Gambaran tentang Kehancuran Yerusalem 

(5:1-4)  

1 Dan engkau, anak manusia, ambillah sebilah pedang yang tajam dan 

pakailah itu sebagai pisau cukur tukang pangkas; cukurlah rambutmu dan 

janggutmu dengan itu; lalu ambillah sebuah timbangan dan bagi-bagilah 

rambutmu. 2 Sepertiga harus kaubakar dengan api di tengah-tengah kota itu 

sesudah berakhir waktu pengepungannya; sepertiga harus kauambil dan 

tetaklah dengan pedang itu sekelilingnya; dan sepertiga lagi hamburkanlah 

ke dalam angin, dan Aku akan menghunus pedang dari belakang mereka.  

3 Engkau harus mengambil sedikit dari rambut itu dan bungkus di dalam 

punca kainmu. 4 Dan sekali lagi engkau harus mengambil dari padanya, 

buangkan ke dalam api dan hanguskan dia di sana; dari sana akan keluar 

api untuk memakan seluruh kaum Israel. Dan berkatalah kepada mereka: 

Di sini kita mendapati tanda yang dengannya kehancuran sepenuh-

nya dari Yerusalem digambarkan. Dan di sini, seperti sebelumnya, 

sang nabi sendiri menjadi tandanya, supaya  rakyat melihat betapa ia 

sendiri terenyuh dan turut prihatin dalam perkara Yerusalem, dan 

betapa Yerusalem melekat di hatinya, sekalipun ia menubuatkan 

kehancuran-kehancurannya. Ia begitu sangat khawatir tentangnya 

sehingga merasa bahwa apa yang dilakukan terhadapnya dilakukan 

terhadap dirinya sendiri, sehingga jauh baginya untuk menginginkan 

hari celaka itu. 

I. Ia harus mencukur rambut dan janggutnya (ay. 1), yang menanda-

kan bahwa Allah betul-betul menolak dan meninggalkan bangsa 

itu, sebagai angkatan yang tidak berguna dan tidak layak, yang 

tidak akan disayangkan, bahkan, yang akan menjadi kehormatan-

Nya untuk berpisah dengannya. Penghakiman-penghakiman-Nya, 

dan semua alat yang dipakai-Nya dalam membinasakan mereka, 

yaitu  pedang yang tajam ini dan pisau cukur ini, yang layak 

untuk dipakai, dan yang akan menjalankan pekerjaan itu dengan 

baik. Yerusalem sudah menjadi kepala, namun , sebab  merosot, ia 

menjadi seperti rambut, yang jika  sudah tebal dan panjang, 

hanya akan menjadi beban yang ingin dilepaskan orang, seperti 

Allah ingin membersihkan para pendosa di Sion. Ha, Aku akan 

melampiaskan dendam-Ku kepada para lawan-Ku (Yes. 1:24). 

Yehezkiel tidak boleh hanya mencukur rambut yang sudah pan-

jang, namun  harus memangkas semuanya, yang menunjukkan 

bahwa Allah akan sepenuhnya menghabisi Yerusalem. Rambut 

yang tidak mau dicukur, dirapihkan, dan dibersihkan oleh peri-

ngatan-peringatan para nabi harus dipangkas semuanya dengan 

kehancuran yang sehabis-habisnya. Orang-orang yang tidak mau 

diperbaharui akan dihancurkan. 

II.  Ia harus menimbang rambut itu dan membagi-baginya menjadi tiga 

bagian. Ini menandakan bahwa penghakiman-penghakiman Allah 

diarahkan dengan sangat tepat sesuai keadilan (oleh-Nya manusia 

dan tindakan-tindakan mereka ditimbang dalam timbangan kebe-

naran dan kebajikan yang tak mungkin keliru). Dan penghakim-

an-penghakiman itu juga sesuai dengan ukuran yang dipakai

Kitab Yehezkiel 5:1-4 

 keadilan ilahi dalam menghukum sebagian orang dengan satu 

hukuman dan sebagian yang lain dengan hukuman lain. Dengan 

satu atau lain cara, mereka semua akan mendapat hukuman. Se-

bagian orang memandang bahwa dicukurnya rambut ini me-

nunjukkan hilangnya kebebasan dan kehormatan mereka: hal itu 

dipandang sebagai tanda aib, seperti Hanun mempermalukan 

pegawai-pegawai Daud. Itu juga menunjukkan hilangnya sukacita 

mereka, sebab mereka biasanya mencukur rambut pada saat ada 

perkabungan besar. Saya boleh menambahkan bahwa hal itu 

menunjukkan hilangnya nazar mereka, sebab mencukur rambut 

yaitu  akhir dari sumpah nazar (Bil. 6:18), dan Yerusalem seka-

rang tidak lagi dipandang sebagai kota kudus. 

III. Ia harus membuang rambut itu sehingga semuanya musnah atau 

bertebaran (ay. 2).  

1. Sepertiga harus dibakar di tengah-tengah kota, yang menanda-

kan bahwa sejumlah besar orang akan binasa oleh kelaparan 

dan wabah penyakit, dan mungkin banyak orang binasa dalam 

kebakaran hebat di kota itu, sesudah berakhir waktu penge-

pungannya. Atau terbaringnya kota yang mulia itu di dalam 

abu dapat juga dipandang sebagai sepertiga dari kehancuran 

yang diancamkan.  

2. Sepertiga yang lain akan dipotong-potong dengan pedang, yang 

menggambarkan bahwa banyak orang, selama pengepungan 

itu, tewas oleh pedang, saat  mereka maju untuk menyerang 

para pengepung, dan terutama saat  kota itu diserbu dan di-

rebut, sebab pada masa itu orang-orang Kasdim sangat ganas 

dan orang-orang Yahudi sangat rapuh. 

3. Sepertiga lagi harus dihamburkan ke dalam angin, yang 

menandakan bahwa sebagian orang dibawa ke negeri penak-

luk dan sebagian yang lain lari ke negeri-negeri sekitar untuk 

mencari perlindungan. Jadi mereka akan lari tergesa-gesa, 

sebagian ke satu arah dan sebagian yang lain ke arah lain, 

seperti rambut yang bertebaran ditiup angin. namun , supaya  

jangan sampai mereka berpikir bahwa penyebaran ini akan 

membuat mereka dapat melarikan diri, Allah menambahkan, 

Aku akan menghunus pedang dari belakang mereka, sehingga 

ke mana saja mereka pergi, kejahatan akan mengejar mereka. 

Perhatikanlah, Allah memiliki  berbagai macam penghakim-

an yang dengannya Ia akan menuntaskan kehancuran suatu 

bangsa yang berdosa dan mengakhiri apa yang dimulai-Nya. 

IV. Sang nabi harus menyimpan sejumlah kecil dari sepertiga rambut 

yang harus dihamburkan ke dalam angin itu, dan membungkus-

nya di dalam punca kainnya, seperti membungkus sesuatu yang 

dijaganya dengan sangat hati-hati (ay. 3). Ini mungkin menanda-

kan segelintir orang yang tersisa di bawah pemerintahan Gedalya, 

yang diharapkan akan merebut kembali negeri itu saat  kumpul-

an bangsa itu dibawa ke dalam pembuangan. Demikianlah Allah 

akan berbuat baik bagi mereka seandainya mereka mau berbuat 

baik bagi diri mereka sendiri. namun  , sedikit orang yang 

dipelihara ini ternyata akan diambil dan dibuang ke dalam api (ay. 

4). saat  Gedalya dan teman-temannya dibunuh, orang-orang 

yang menempatkan diri di bawah perlindungannya terserak, seba-

gian pergi ke Mesir, dan sebagian yang lain dibawa oleh orang-

orang Kasdim, dan dalam waktu singkat negeri itu benar-benar 

bersih dari mereka. Maka digenapilah nubuat ini, sebab dari 

kebakaran besar itu keluar api untuk memakan seluruh kaum 

Israel, yang, seperti halnya bahan bakar bila terkena api, menyala 

dan menghanguskan satu sama lain. Perhatikanlah, sungguh 

buruk bagi sebuah bangsa jika  orang-orang yang terbunuh di 

dalam murka tampak ditandai untuk menjadi tugu peringatan 

belas kasihan. Sebab dengan demikian tidak ada yang tersisa 

atau melarikan diri, tidak ada yang terkurung atau tertinggal. 

Kesalahan Yerusalem;  

Hukuman terhadap Yerusalem  

(5:5-17)  

5 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Inilah Yerusalem! Di tengah-tengah bangsa-

bangsa Kutempatkan dia dan sekelilingnya ada negeri-negeri mereka. 6 Ia 

sudah memberontak terhadap peraturan-peraturan-Ku lebih jahat dari pada 

bangsa-bangsa dan terhadap ketetapan-ketetapan-Ku lebih jahat dari negeri-

negeri yang di sekitarnya; sebab  mereka menolak peraturan-peraturan-Ku 

dan kelakuan mereka tidak selaras dengan ketetapan-ketetapan-Ku. 7 Sebab 

itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh sebab  engkau lebih jahat dari pada 

bangsa-bangsa yang di sekitarmu dan kelakuanmu tidak selaras dengan 

ketetapan-ketetapan-Ku dan engkau tidak melakukan peraturan-peraturan-

Ku, bahkan engkau melakukan peraturan-peraturan bangsa-bangsa yang di 

sekitarmu, 8 sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku, ya Aku 

sendiri akan menjadi lawanmu dan Aku akan menjatuhkan hukuman ke-

Kitab Yehezkiel 5:5-17 

 95

padamu di hadapan bangsa-bangsa. 9 Oleh sebab  segala perbuatanmu yang 

keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang 

tidak pernah lagi akan Kuperbuat. 10 Sebab itu di tengah-tengahmu ayah-

ayah akan memakan anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya dan 

Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu, sedang semua yang masih 

tinggal lagi dari padamu akan Kuhamburkan ke semua penjuru angin.  

11 Sebab itu, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, 

sesungguhnya, oleh sebab  engkau menajiskan tempat kudus-Ku dengan 

segala dewamu yang menjijikkan dan dengan segala perbuatanmu yang keji, 

Aku sendiri akan meruntuhkan engkau; Aku tidak akan merasa sayang dan 

tidak akan kenal belas kasihan. 12 Sepertiga dari padamu akan mati kena 

sampar dan mati kelaparan di tengah-tengahmu; sepertiga akan tewas 

dimakan pedang di sekitarmu; dan sepertiga lagi akan Kuhamburkan ke 

semua mata angin dan Aku akan menghunus pedang dari belakang mereka. 

13 Aku akan melampiaskan murka-Ku kepada mereka, sehingga hati-Ku yang 

panas tenang kembali dan Aku merasa puas; dan mereka akan mengetahui, 

bahwa Akulah TUHAN yang mengatakannya di dalam cemburu-Ku, tatkala 

Aku melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. 14 Aku akan membuat 

engkau menjadi reruntuhan dan buah celaan di antara bangsa-bangsa yang 

di sekitarmu di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. 15 Engkau 

akan menjadi buah celaan dan cercaan, menjadi peringatan dan suatu 

kengerian bagi bangsa-bangsa yang di sekitarmu, tatkala Aku menjatuhkan 

hukuman kepadamu di dalam kemurkaan dan kemarahan dan di dalam 

penghajaran-penghajaran kemarahan – Aku, TUHAN, yang mengatakannya – 

16 tatkala Aku mendatangkan atasmu kelaparan yang dahsyat, yang membi-

nasakan, dan Aku mendatangkannya untuk membinasakan kamu, tatkala 

Aku memperdahsyat bencana kelaparan atasmu dan memusnahkan per-

sediaan makananmu. 17 Aku akan mendatangkan kelaparan atasmu dan 

binatang-binatang buas di tengah-tengahmu, yang akan memunahkan anak-

anakmu; sampar akan berkecamuk dan darah akan mengalir di tengah-

tengahmu dan Aku akan mendatangkan pedang atasmu, Aku, TUHAN, yang 

mengatakannya.”  

Di sini kita mendapati penjelasan dari kiasan yang disampaikan 

dalam perikop sebelumnya: Inilah Yerusalem. Demikianlah, bahasa 

Kitab Suci biasa memberi  nama dari apa yang dilambangkan 

kepada perlambangnya, seperti saat  Kristus berkata, inilah tubuh-

Ku. Kepala sang nabi, yang harus dicukur, melambangkan Yeru-

salem, yang oleh penghakiman-penghakiman Allah akan segera di-

lucuti semua perhiasannya, ditinggalkan oleh seluruh penduduknya 

menjadi kosong, dan dibiarkan telanjang, dicukur dengan pisau cukur 

yang dipinjam (Yes. 7:20). Kepala orang yang menjabat sebagai imam, 

nabi, dan orang kudus paling pantas melambangkan Yerusalem kota 

kudus. Nah, isi dari ayat-ayat ini banyak samanya dengan apa yang 

sudah sering kita jumpai, dan masih akan kita jumpai, dalam 

tulisan-tulisan para nabi. Di sini kita mendapati, 

I.   Hak-hak istimewa yang dengannya Yerusalem dihormati (ay. 5): Di 

tengah-tengah bangsa-bangsa Kutempatkan dia dan sekelilingnya 

ada negeri-negeri mereka, negeri-negeri yang termasyhur dan 

sangat besar. Yerusalem tidak terletak di suatu ujung dunia yang 

terpencil, jauh dari negeri-negeri tetangga, melainkan di tengah-

tengah kerajaan-kerajaan yang padat penduduknya, berbudi 

halus dan beradab, tersohor dengan pendidikan, seni, dan ilmu 

pengetahuan, dan yang terpandang di dunia pada masa itu. 

namun  di dalamnya tampak ada yang lebih daripada ini.  

1.  Yerusalem dijunjung martabatnya di atas negeri-negeri sekitar 

dan kota-kota mereka. Ia ditempatkan di tengah-tengah mereka 

sebagai yang mengungguli mereka semua. Gunung suci ini 

menjulang tinggi di atas bukit-bukit (Yes. 2:2). Hai gunung-

gunung yang berpuncak banyak, mengapa kamu menjeling 

cemburu, kepada gunung yang dikehendaki Allah menjadi 

tempat kedudukan-Nya? (Mzm. 68:17). Yerusalem yaitu  kota 

di atas bukit, menonjol dan dikagumi, dan diperhatikan oleh 

bangsa-bangsa sekitar, sebagian untuk niat baik, dan sebagi-

an lain untuk niat jahat.  

2. Yerusalem dirancang untuk memberi  pengaruh baik ke-

pada bangsa-bangsa dan negeri-negeri sekelilingnya. Ia ditem-

patkan di tengah-tengah mereka seperti pelita di atas kaki 

dian, untuk menyebarkan terang wahyu ilahi, yang dengannya 

ia diberkati, ke seluruh penjuru bangsa-bangsa sekitar yang 

gelap, supaya  dari sana terang itu dapat menyebar ke tempat 

yang lebih jauh, bahkan sampai ke ujung-ujung bumi. Yeru-

salem ditempatkan di tengah-tengah bangsa-bangsa, seperti 

jantung dalam tubuh, untuk menghidupkan dunia yang mati 

ini dengan kehidupan ilahi dan mencerahkan dunia yang gelap 

ini dengan terang ilahi, untuk menjadi teladan dari segala 

sesuatu yang baik. Bangsa-bangsa yang mengamati betapa 

unggulnya peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan yang 

mereka miliki menyebut bahwa mereka yaitu  bangsa yang 

bijaksana dan berakal budi (Ul. 4:6), pantas untuk dimintai 

nasihat dan bimbingan, seperti pada zaman Salomo (1Raj. 

4:34). Dan, seandainya mereka menjaga nama baik ini dan 

menggunakannya dengan benar, maka betapa Yerusalem akan 

menjadi berkat bagi semua bangsa di sekitarnya! namun  , 

sebab  gagal melakukan hal ini, penggenapan maksud ini 

disediakan untuknya di akhir zaman, saat  dari Sion akan 

keluar pengajaran Injil, dan firman TUHAN Yesus dari Yerusa-

Kitab Yehezkiel 5:5-17 

lem, dan di sana pertobatan dan pengampunan mulai diberita-

kan, dan dari sana para pemberitanya pergi ke segala bangsa. 

Dan, sesudah  hal itu terlaksana, Yerusalem diratakan dengan 

tanah. Perhatikanlah, tempat-tempat dan orang-orang dibuat 

menjadi besar dengan maksud supaya  mereka berbuat kebaik-

an, dan orang-orang di sekeliling mereka menjadi lebih baik 

sebab  mereka, supaya  terang mereka bercahaya di depan 

orang.  

II. Tindakan-tindakan Yerusalem yang menyulut murka, yang men-

jadi kesalahannya. Sebuah dakwaan yang sangat berat diajukan 

di sini melawan kota itu, dan tanpa dapat disanggah lagi terbukti 

cukup untuk membenarkan Allah dalam merampas hak-hak 

istimewanya dan membiarkannya diserang.  

1. Kelakuannya tidak selaras dengan ketetapan-ketetapan Allah, 

dan ia tidak melakukan peraturan-peraturan-Nya (ay. 7). Bah-

kan, para penduduk Yerusalem telah menolak peraturan-

peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya (ay. 6). Mereka 

tidak melakukan kewajiban mereka, bahkan mereka tidak 

mau, mereka berkata bahwa mereka tidak mau. Ketetapan-

ketetapan dan peraturan-peraturan yang dikagumi oleh tetang-

ga-tetangga mereka justru mereka rendahkan. Apa yang seha-

rusnya mereka tempatkan di depan wajah mereka, justru mere-

ka lemparkan ke belakang. Perhatikanlah, penghinaan terhadap 

firman dan hukum Allah membukakan pintu bagi segala macam 

kejahatan. Ketetapan-ketetapan Allah yaitu  syarat-syarat 

yang dengannya Ia berurusan dengan manusia. Orang-orang 

yang menolak syarat-syarat-Nya tidak bisa mengharapkan 

perkenanan-Nya.  

2. Ia sudah memberontak terhadap peraturan-peraturan Allah le-

bih jahat dari pada bangsa-bangsa (ay. 6, KJV: Ia telah meng-

ubah penghakiman-penghakiman Allah menjadi kefasikan). Ini 

sebuah tindak kecemaran yang sangat besar, bahwa rakyat 

tidak saja melanggar hukum-hukum Allah, namun  juga sudah 

sedemikian menyelewengkan dan menyalahgunakannya, se-

hingga mereka menjadikan hukum-hukum Allah sebagai dalih 

dan alasan bagi kefasikan mereka. Mereka memperkenalkan 

kebiasaan-kebiasaan dan perilaku-perilaku keji bangsa kafir, 

bukannya ketetapan-ketetapan Allah. Inilah yang dinamakan 

menggantikan kebenaran Allah dengan dusta (Rm. 1:25) dan 

kemuliaan Allah dengan noda (Mzm. 4:3). Perhatikanlah, 

orang-orang yang sudah dididik dengan baik namun  hidup tidak 

benar, mereka itu memberi  penghinaan tertinggi yang tak 

terbayangkan terhadap Allah, seolah-olah Ia yaitu  pelindung 

dosa dan penghakiman-penghakiman-Nya diubah menjadi 

kefasikan.  

3. Ia sudah berlaku lebih buruk daripada bangsa-bangsa tetang-

ga, yang kepada mereka seharusnya ia memberi  teladan 

yang baik: Ia telah mengubah peraturan-peraturan-Ku, dengan 

penyembahan berhala dan ibadah palsu, lebih dari pada bang-

sa-bangsa (ay. 6). Dan ia telah melipatgandakan (yaitu, meli-

patgandakan berhala-berhala dan mezbah-mezbah, dewa-dewa 

dan kuil-kuil, melipatgandakan hal-hal yang kesatuannya 

merupakan pujian bagi mereka) lebih jahat dari pada bangsa-

bangsa di sekitar mereka. Allah Israel yaitu  satu, dan nama-

Nya satu, mezbah-Nya satu. namun  mereka, tidak puas dengan 

Tuhan yang satu ini, melipatgandakan dewa-dewa mereka se-

demikian rupa sehingga seperti banyaknya kota mereka demi-

kian banyaknya para allah mereka, dan mezbah-mezbah mere-

ka yaitu  seperti timbunan batu di alur-alur ladang. Sehingga 

mereka melebihi semua tetangga mereka dalam memiliki 

banyak “allah” dan banyak “tuhan.” Mereka merusak agama 

wahyu lebih daripada bangsa-bangsa bukan-Yahudi merusak 

agama alami. Perhatikanlah, jika orang-orang yang sudah 

mengaku beragama, dan dididik dalam kesalehan, kemudian 

murtad darinya, mereka biasanya lebih cemar dan keji 

daripada orang-orang yang tidak pernah mengaku beragama 

sama sekali. Mereka memiliki tujuh roh lain yang lebih jahat.  

4. Ia tidak melakukan peraturan-peraturan bangsa-bangsa yang 

di sekitar mereka (ay. 7, KJV). Israel tidak berbuat bagi Allah 

mereka seperti bangsa-bangsa lain berbuat bagi dewa-dewa 

mereka, meskipun itu dewa-dewa palsu. Mereka tidak begitu 

patuh terhadap-Nya atau tetap setia kepada-Nya. Adakah 

bangsa menukarkan allahnya, atau meremehkannya, seperti 

yang sudah mereka lakukan? (Yer. 2:11). Atau mungkin itu 

merujuk pada budi pekerti mereka. Bukannya memperbaharui 

tetangga-tetangga mereka, mereka malah kalah dari tetangga-

tetangga mereka. Banyak orang yang tak bersunat memper-

Kitab Yehezkiel 5:5-17 

hatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat lebih baik diban-

dingkan dengan mereka yang bersunat (Rm. 2:26-27). Orang-

orang yang memiliki terang Kitab Suci tidak melakukan per-

aturan-peraturan seperti yang diperbuat banyak orang lain 

yang hanya memiliki terang natural. Perhatikanlah, ada orang-

orang yang disebut sebagai orang Kristen nantinya pada hari 

penghakiman akan dihukum berdasar  tabiat dan kehidup-

an yang lebih baik dari orang-orang kafir yang bersahaja.  

5. Kejahatan khusus yang dituduhkan kepada Yerusalem yaitu  

mencemarkan hal-hal yang kudus, yang telah dipercayakan 

kepadanya dan yang dengannya ia sudah dihormati (ay. 11): 

Engkau menajiskan tempat kudus-Ku dengan segala dewamu 

yang menjijikkan, dengan berhala-berhalamu dan penyembah-

an-penyembahan berhalamu. Patung-patung dari para allah 

jadi-jadian mereka, dan tiang-tiang berhala yang didirikan 

untuk menghormati mereka, dibawa ke dalam bait suci. Dan 

upacara-upacara yang dipakai oleh para penyembah berhala 

dimasukkan ke dalam ibadah penyembahan kepada Allah. 

Dengan demikian segala sesuatu yang suci dicemarkan. Per-

hatikanlah, berhala yaitu  hal yang menjijikkan di mana saja, 

namun  terutama di tempat kudus. 

III. Hukuman-hukuman yang akan menimpa Yerusalem sebab  per-

buatan-perbuatan yang menyulut murka ini: Masakan Allah tidak 

menghukum mereka sebab  semuanya ini? Tidak ragu lagi Ia akan 

menghukum mereka. Hukuman yang dijatuhkan di sini kepada 

Yerusalem sangatlah mengerikan, dan cara pengungkapannya 

membuat hukuman itu lebih mengerikan lagi. Penghakiman-peng-

hakimannya beragam, dan ancaman-ancamannya bermacam-

macam, diulangi berkali-kali, ditanamkan dalam-dalam, sehingga 

orang dapat berkata, siapakah yang tahan berdiri di hadapan 

Allah pada saat Ia murka? 

1. Allah akan turun tangan sendiri untuk menghukum Yeru-

salem. Dan siapakah yang mengenal kekuatan murka-Nya? 

Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup! 

Amatilah betapa hal ini ditekankan dengan kuat (ay. 8): Aku, 

ya Aku sendiri akan menjadi lawanmu. Allah sudah berpihak 

pada Yerusalem, untuk membela dan menyelamatkannya. 

namun  sengsaralah keadaannya jika  Ia telah berbalik men-

jadi musuhnya dan berperang melawannya. Jika Allah mela-

wan kita, maka seluruh ciptaan berperang melawan kita, dan 

tak ada yang dapat berpihak pada kita untuk membela: “Kamu 

pikir hanya tentara Kasdim yang melawanmu, mereka yaitu  

tangan Allah, atau lebih tepatnya tongkat di tangan-Nya. Aku, 

ya Aku sendirilah yang akan menjadi lawanmu, yang tidak 

hanya akan berbicara menentangmu melalui para nabi, namun  

juga bertindak melawanmu melalui penyelenggaraan ilahi. Aku 

akan menjatuhkan hukuman kepadamu (ay. 10), di tengah-

tengahmu (ay. 8, KJV), bukan hanya di pinggiran kota, melain-

kan juga di pusat kota, bukan hanya di perbatasan, melainkan 

juga di pedalaman negeri.” Perhatikanlah, orang-orang yang 

tidak mau mematuhi penghakiman-penghakiman mulut Allah 

tidak akan luput dari penghakiman-penghakiman tangan-Nya. 

Dan penghakiman-penghakiman Allah, jika  datang untuk 

memenuhi tugas, akan menembus ke tengah-tengah bangsa, 

akan masuk ke dalam jiwa, merembes seperti air ke dalam diri, 

dan seperti minyak ke dalam tulang-tulang. Aku akan men-

jatuhkan hukuman. Perhatikanlah, Allah sendiri turun tangan 

untuk menjalankan hukuman-hukuman-Nya, sesuai dengan 

maksudnya yang sebenarnya dan seutuhnya. Apa pun yang 

menjadi alat-alatnya, Dialah pelaku utamanya.  

2. Hukuman-hukuman ini akan timbul dari murka-Nya. Bagi 

tubuh bangsa itu, hukuman itu bukanlah hajaran di dalam 

kasih, namun  Ia akan menjatuhkan hukuman di dalam kemurka-

an dan kemarahan dan di dalam penghajaran-penghajaran 

kemarahan (ay. 15). Ungkapan aneh yang datang dari Allah 

yang sudah berfirman, kehangatan murka tiada pada-Ku, dan 

yang telah menyatakan diri-Nya penyayang dan pengasih, dan 

panjang sabar. namun  hukuman-hukuman itu dirancang 

untuk menunjukkan kejahatan dosa, dan penghinaan yang di-

berikannya terhadap Allah yang adil dan kudus. Pasti sangat-

lah jahat apa yang menyulut-Nya hingga Ia menjadi murka 

seperti itu, dan melawan umat-Nya sendiri lagi, yang selama 

itu amat berkenan pada-Nya. Lagi pula, murka-Nya itu terlon-

tar dengan kepuasan hati yang sangat (ay. 13): “Murka-Ku, 

yang sudah lama ditahan, sekarang akan dilampiaskan ke-

pada mereka, sehingga hati-Ku yang panas tenang kembali. 

Murka-Ku tidak hanya akan menyala atas mereka, namun  juga 

Kitab Yehezkiel 5:5-17 

menindih mereka, dan memenuhi mereka seperti bejana-

bejana kemurkaan dipenuhi dengan kefasikan mereka hingga 

hancur. Dan, sebab  dengan demikian keadilan akan dimulia-

kan, Aku akan merasa puas, Aku akan sepenuhnya puas 

dengan apa yang telah Kulakukan.” Sama seperti, saat  Allah 

dihina oleh dosa-dosa manusia, Ia dikatakan jemu (Mzm. 

95:10), demikian pula saat  Ia dihormati oleh kehancuran 

dosa-dosa itu, Ia dikatakan puas. Pergulatan antara belas 

kasihan dan hukuman sudah selesai, dan dalam hal ini 

hukuman menang, benar-benar menang. Sebab belas kasihan 

yang sudah begitu lama disalahgunakan sekarang bungkam 

dan menyerah, tidak bisa mengucapkan satu kata lagi bagi 

bangsa yang begitu tidak tahu terima kasih dan tidak bisa 

diperbaiki seperti itu: Aku tidak akan merasa sayang dan tidak 

akan kenal belas kasihan (ay. 11). Belas kasihan ilahi menang-

guhkan hukuman, atau meringankannya, atau menopang 

orang yang ada di bawahnya, atau mempersingkatnya. namun  

di sini ada penghakiman yang tak berbelas kasihan, murka 

tanpa bercampur dengan belas kasihan atau diringankan oleh-

nya. Ungkapan-ungkapan ini dipertajam dan dipertegas seperti 

itu mungkin dengan maksud untuk melihat lebih jauh, yaitu 

pada pembalasan api kekal, yang diperlambangkan oleh seba-

gian kehancuran yang kita baca dalam Perjanjian Lama, dan 

terutama kehancuran Yerusalem. Sebab pasti bukan di mana 

pun di seberang neraka sini firman ini digenapi secara penuh, 

Aku tidak akan merasa sayang, namun  hati-Ku yang panas 

akan tenang kembali. Perhatikanlah, orang-orang yang hidup 

dan mati tanpa bertobat akan binasa selama-lamanya tanpa 

mendapat belas kasihan. Akan tiba saatnya Tuhan tidak akan 

merasa sayang. 

3. Hukuman-hukuman akan ditimpakan kepada semua orang 

secara terang-terangan: Aku akan menjatuhkan hukuman ini 

kepadamu di hadapan bangsa-bangsa (ay. 8). Hukuman-

hukuman itu sendiri akan begitu luar biasa sehingga semua 

bangsa yang jauh dan dekat akan memperhatikannya. Semua 

hukuman itu akan menjadi bahan pembicaraan di bagian 

dunia itu, dan terlebih lagi sebab  menonjolnya tempat dan 

bangsa yang dijatuhi hukuman-hukuman itu. Perhatikanlah, 

sama seperti dosa-dosa yang diperbuat di depan semua orang 

menuntut teguran-teguran yang diberikan di depan semua 

orang (mereka yang berbuat dosa hendaklah kautegor di depan 

semua orang), demikian pula, jika teguran-teguran itu tidak 

berhasil, dosa-dosa itu menuntut hukuman-hukuman yang 

ditimpakan di depan semua orang. Mereka ditampar-Nya kare-

na kefasikan mereka, dengan dilihat orang banyak (Ayb. 

34:26), supaya  Ia dapat mempertahankan dan membela kehor-

matan pemerintahan-Nya, sebab (seperti pendapat Grotius 

tentangnya di sini) mengapa Ia harus membiarkan orang ber-

kata, lihat betapa fasiknya hidup orang-orang yang mengaku 

menyembah satu-satunya Allah yang benar! Dan, sama seperti 

hukuman-hukuman yang ditimpakan di depan semua orang 

akan membawa kehormatan bagi Allah, demikian pula hal itu 

akan membantu,  

(1) Memperparah hukumannya, dan membuatnya menindih 

dengan lebih berat. Yerusalem, sebab  dijadikan reruntuh-

an, menjadi buah celaan di antara bangsa-bangsa, di ha-

dapan semua orang yang lintas (ay. 14). Semakin menonjol 

dan istimewa seseorang pada waktu ia makmur, semakin 

besar aib yang menyertai kejatuhannya. Dan itulah yang 

terjadi pada Yerusalem. Semakin Yerusalem menjadi ke-

masyhuran di bumi, semakin ia sekarang menjadi celaan 

dan cercaan (ay. 15). Hal ini telah diperingatkan kepada-

nya, tidak kurang seperti hal-hal lain, saat  kemuliaannya 

dimulai (1Raj. 9:8), dan hal ini diratapi, tidak kurang 

seperti hal-hal lain, saat  ia terbaring di dalam debu (Rat. 

2:15).  

(2) Untuk mengajar bangsa-bangsa supaya  takut terhadap 

Allah Israel, saat  mereka melihat betapa Ia yaitu  Allah 

yang cemburu, dan betapa beratnya Ia menghukum dosa 

sekalipun dalam diri orang-orang yang paling dekat de-

ngan-Nya: Hal itu akan menjadi peringatan bagi bangsa-

bangsa (ay. 15). Yerusalem seharusnya mengajar tetangga-

tetangganya untuk takut akan Allah melalui kesalehan dan 

kebajikannya, namun  , sebab  ia tidak melakukannya, 

Allah akan mengajarkan itu kepada mereka melalui kehan-

curannya. Sebab mereka memiliki alasan untuk berkata, 

jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah 

yang akan terjadi dengan kayu kering? Jika penghakiman 

Kitab Yehezkiel 5:5-17  

dimulai pada rumah Allah sendiri, di mana ia akan ber-

akhir? Jika bangsa yang hanya memiliki  beberapa 

penyembah berhala di antara mereka dihukum seperti itu, 

apa jadinya dengan kita semua yang yaitu  penyembah-

penyembah berhala? Perhatikanlah, kehancuran sebagian 

orang dirancang untuk mengajar sebagian yang lain. Para 

penjahat dihukum di depan semua orang in terrorem – 

sebagai peringatan bagi orang lain. 

4. Hukuman-hukuman ini, menurut jenisnya, akan sangat berat 

dan pedih.  

(1) Hukuman-hukuman itu akan sedemikian rupa seperti yang 

belum pernah terjadi atau belum pernah ada yang sepadan 

dengannya. sebab  dosa-dosa mereka lebih menyulut 

murka daripada dosa-dosa bangsa lain, maka hukuman-

hukuman yang dijalankan atas mereka akan luar biasa (ay. 

9): “Akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuper-

buat terhadapmu sebelumnya, meskipun engkau sudah 

lama pantas mendapatkannya. Bahkan, itu belum pernah 

Aku lakukan di kota lain mana pun.” Hukuman terhadap 

Yerusalem ini dikatakan melebihi hukuman Sodom (Rat. 

4:6), lebih pedih daripada semua hukuman yang sudah 

berlangsung sebelumnya. Bahkan, hukuman itu sedemi-

kian rupa sehingga “tidak pernah lagi akan Kuperbuat, 

dengan menimbang semua keadaannya, kepada kota lain 

mana pun, sampai hukuman serupa ditimpakan lagi 

kepada kota ini, saat  kota itu digulingkan untuk terakhir 

kali oleh orang-orang Romawi.” Ini merupakan ungkapan 

kiasan tentang hukuman-hukuman yang teramat pedih, 

seperti dikatakan tentang tabiat Hizkia, bahwa baik yang 

sesudah dia maupun yang sebelumnya, tidak ada lagi yang 

sama seperti dia.  

(2) Hukuman-hukuman itu akan sedemikian rupa sehingga 

akan memaksa mereka untuk memutuskan ikatan-ikatan 

kasih kekeluargaan satu terhadap yang lain, yang akan 

menjadi hukuman yang adil terhadap mereka, sebab  me-

reka sudah sengaja mematahkan ikatan-ikatan kewajiban 

mereka kepada Allah (ay. 10): Ayah-ayah akan memakan 

anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya, sebab  

luar biasanya kelaparan itu, atau mereka akan dipaksa 

melakukannya oleh para penakluk mereka yang biadab. 

(3) Akan ada bermacam-macam penghakiman, dan salah satu-

nya saja sudah amat mengerikan, dan meluluh-lantakkan. 

namun  apa jadinya bila semua penghakiman itu disatu-padu-

kan dan dijalankan dengan sempurna? Sebagian orang akan 

tewas oleh wabah penyakit (ay. 12). Sampar akan berkeca-

muk di tengah-tengahmu (ay. 17), menyapu bersih semua 

yang ada di hadapannya, seperti malaikat pembinasa. Seba-

gian yang lain akan mati kelaparan, akan habis secara per-

lahan-lahan seperti orang yang mati akibat penyakit yang 

terus-menerus menggerogotinya (ay. 12). Hal ini ditegaskan 

lagi (ay. 16): Aku mendatangkan atasmu kelaparan yang 

dahsyat. Kelaparan akan membuat mereka menderita ber-

lama-lama, dan akan menusuk sampai ke jantung mereka, 

seolah-olah panah, panah-panah yang dahsyat, anak-anak 

panah yang beracun, ditembakkan kepada mereka. Allah 

memiliki banyak panah, panah-panah yang dahsyat, dalam 

tabung-Nya. jika  sebagian panah ditembakkan, Ia ma-

sih memiliki lebih banyak persediaan panah lagi. Aku mem-

perdahsyat bencana kelaparan atasmu. Kelaparan di se-

buah negeri yang kekurangan bisa saja mereda seiring 

hasil-hasil bumi tumbuh. namun  kelaparan di sebuah kota 

yang terkepung tentu akan bertambah parah. Namun Allah 

berbicara tentangnya sebagai tindakan-Nya: “Aku memper-

dahsyat bencana kelaparan atasmu dan memusnahkan 

persediaan makananmu, akan mengambil penopang-peno-

pang kebutuhan hidup, akan mengecewakanmu dalam 

semua hal yang kepadanya kamu bergantung, sehingga 

tidak ada obat penawar, dan kamu pasti jatuh rebah ke 

tanah.” Hidup itu rapuh, lemah, penuh beban, sehingga, 

jika tidak ada makanan setiap hari sebagai tongkat baginya 

untuk bersandar, tidak bisa tidak ia pasti jatuh, dan akan 

segera lenyap jika tongkat itu patah. Sebagian yang lain 

akan tewas dimakan pedang di sekitar Yerusalem, saat  

mereka maju menyerang para pengepung. Pedang itu ada-

lah pedang yang akan didatangkan Allah (ay. 17). Pedang 

Tuhan, yang dulu dihunus untuk membela Yerusalem, se-

karang dihunus untuk menghancurkannya. Sebagian yang 

Kitab Yehezkiel 5:5-17  

lain dilahap oleh binatang-binatang buas, yang akan me-

mangsa orang-orang yang melarikan diri ke padang-padang 

gurun dan gunung-gunung untuk mencari perlindungan. 

Mereka akan menemui kehancuran di tempat mereka 

mengharapkan perlindungan, sebab tidak ada yang bisa 

luput dari hukuman-hukuman Allah (ay. 17). Dan, yang 

terakhir, orang-orang yang melarikan diri akan dihambur-

kan ke seluruh penjuru dunia, ke semua mata angin 

(demikian hal itu diungkapkan, ay. 10, 12), yang menyirat-

kan bahwa mereka tidak hanya akan diserakkan, namun  

juga dibuat pergi dengan tergesa-gesa dan diombang-

ambingkan ke sana kemari, seperti sekam dibawa angin. 

Bahkan, kutukan terhadap Kain (untuk menjadi pelarian 

dan pengembara) bukanlah kutukan yang terburuk. Hidup 

mereka yang gelisah akan diputus oleh kematian yang 

berdarah: “Aku akan menghunus pedang dari belakang 

mereka, yang akan mengikuti mereka ke mana saja mereka 

pergi.” Orang berdosa dikejar oleh malapetaka, dan kutuk-

an akan mengejar dan menyusul mereka. 

5. Hukuman-hukuman ini akan membawa kehancuran kepada 

mereka secara perlahan. Mereka akan diruntuhkan (ay. 11). 

Kekuatan dan kemuliaan mereka akan semakin berkurang 

dan berkurang. Mereka akan dipunahkan (ay. 17), semua yang 

menjadi sukacita dan keyakinan mereka akan dikuras habis. 

Allah mengirimkan penghakiman-penghakiman ini dengan 

tujuan untuk membinasakan mereka (ay. 16). Anak-anak 

panah itu tidak ditembakkan (seperti Yonatan menembakkan-

nya) untuk membimbing mereka, melainkan untuk mem-

binasakan mereka. Sebab Allah akan melampiaskan murka-

Nya kepada mereka (ay. 13). Hari kesabaran Allah sudah 

berakhir, dan kehancuran itu tidak ada penawarnya. Meski-

pun nubuat ini akan segera digenapi, dalam kehancuran 

Yerusalem oleh tentara Kasdim, namun sebab  para pelak-

sananya tidak disebutkan di sini, namun  penjahatnya saja 

(inilah Yerusalem), maka kita dapat menduga bahwa nubuat 

itu melihat lebih jauh, pada kehancuran terakhir dari kota 

yang agung itu oleh orang-orang Romawi, saat  Allah meng-

akhiri bangsa Yahudi dengan sepenuhnya, dan membuat 

murka-Nya menetap atas mereka. 

6.  Semua ini disahkan oleh wewenang dan kebenaran ilahi: Aku, 

TUHAN, yang mengatakannya (ay. 15), dan lagi (ay. 17). 

Hukuman itu dijatuhkan oleh Dia yang yaitu  Hakim langit 

dan bumi, yang hukuman-Nya berlangsung secara jujur, dan 

yang penghakiman tangan-Nya sesuai dengan penghakiman 

mulut-Nya. Dia yang telah mengatakannya dapat melakukan-

nya, sebab bagi-Nya tidak ada yang mustahil. Dia yang telah 

mengatakannya akan melakukannya, sebab Ia bukanlah ma-

nusia, sehingga Ia berdusta. Dia, yang wajib kita dengar dan 

perhatikan, telah mengatakannya, dan ipse dixit – perkataan-

Nya menuntut perhatian yang sungguh-sungguh dan perse-

tujuan yang disertai kepatuhan. Dan mereka akan mengetahui, 

bahwa Akulah TUHAN yang mengatakannya (ay. 13). Ada 

sebagian orang yang beranggapan bahwa itu cuma omongan 

sang nabi dalam igauannya. namun  Allah akan membuat 

mereka tahu, melalui penggenapan nubuat itu, bahwa Ia telah 

mengatakannya dalam gelora semangat-Nya. Perhatikanlah, 

cepat atau lambat, firman Allah akan terbukti benar dengan 

sendirinya. 

 

 

 

 

 

PASAL  6  

Dalam pasal ini kita temukan,  

I. Ancaman penghancuran Israel sebab  penyembahan berhala-

nya, beserta dengan penghancuran berhala-berhala mereka 

(ay. 1-7).  

II. Janji mengenai kembalinya sisa Israel kepada Allah oleh ka-

rena kemurahan-Nya, melalui pertobatan dan pembaruan 

sejati (ay. 8-10).  

III. Perintah diberikan kepada sang nabi dan hamba-hamba Tu-

han yang lain untuk meratapi baik kesalahan maupun kema-

langan Israel (ay. 11-14).  

Penghancuran Penyembahan Berhala  

(6:1-7) 

1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 Hai anak manusia, tuju-

kanlah mukamu ke gunung-gunung Israel dan bernubuatlah melawan mere-

ka! 3 Katakanlah: Hai gunung-gunung Israel, dengarkanlah firman Tuhan 

ALLAH! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada gunung-gunung dan bukit-

bukit, kepada alur-alur sungai dan lembah-lembah: Sungguh, Aku akan 

mendatangkan perang atasmu dan Aku akan membinasakan bukit-bukit 

pengorbananmu. 4 Mezbah-mezbahmu akan menjadi sunyi sepi dan pedupa-

an-pedupaanmu akan dirusak; dan Aku akan merebahkan orang-orangmu 

yang terbunuh di hadapan berhala-berhalamu. 5 Aku akan mencampakkan 

mayat-mayat orang Israel di hadapan berhala-berhala mereka dan mengham-

burkan tulang-tulangmu keliling mezbah-mezbahmu. 6 Di mana saja kamu 

diam, kota-kotamu akan menjadi reruntuhan dan bukit-bukit pengorbanan-

mu akan menjadi sunyi sepi, supaya  mezbah-mezbahmu dihancurkan dan 

ditinggalkan sunyi sepi, berhala-berhalamu diremukkan dan ditiadakan, 

pedupaan-pedupaanmu diluluhkan dan buatan-buatan tanganmu dihapus-

kan. 7 Dan orang-orangmu yang terbunuh akan berebahan di tengah-tengah-

mu dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN. 

Di sini,  


I.  Nubuat ini diarahkan pada gunung-gunung Israel (ay. 1-2). Sang 

nabi harus menujukan mukanya ke gunung-gunung itu. jika  ia 

dapat memandang jauh ke seluruh negeri Israel, maka gunung-

gunung di negeri itu pastilah pemandangan yang paling pertama 

dan paling jauh terlihat. Ke arah gunung-gunung itulah, sebab  

itu, ia harus memandang, dengan tegas dan dengan teguh hati, 

seperti hakim memandang narapidana saat menjatuhkan hukum-

an kepadanya. Sekalipun gunung-gunung Israel sangat tinggi dan 

sangat kokoh, ia harus menujukan mukanya ke arah gunung-

gunung itu, seperti hendak menyatakan penghakiman yang akan 

mengguncangkan dasar-dasarnya. Gunung-gunung Israel tadinya 

yaitu  gunung-gunung yang kudus, namun  sebab  sekarang Israel 

telah mencemarinya dengan bukit-bukit pengorbanan mereka, 

maka Allah menujukan muka-Nya terhadap gunung-gunung itu 

dan, sebab  itu, sang nabi pun harus berbuat demikian. Israel di 

sini, bukan, seperti adakalanya, melambangkan sepuluh suku, 

namun  melambangkan seluruh negeri. Gunung-gunung itu dipang-

gil untuk mendengarkan Firman Tuhan, untuk mempermalukan 

penduduknya yang tidak mau mendengarkan. Para nabi mungkin 

akan mendapat tanggapan dari gunung-gunung itu sesegera 

dengan tanggapan dari bangsa yang memberontak dan memban-

tah itu, yang kepadanya para nabi sepanjang hari mengulurkan 

tangannya dengan sia-sia. Dengarlah, hai gunung-gunung, peng-

aduan TUHAN (Mi. 6:1-2), sebab perkara Allah pasti akhirnya akan 

didengar juga, entah kita mendengarkannya atau tidak. Namun, 

dari gunung-gunung, Firman Tuhan bergema kepada bukit-bukit, 

kepada alur-alur sungai dan lembah-lembah sebab  kepada tem-

pat-tempat ini juga Tuhan Allah berbicara, yang menyiratkan 

bahwa seluruh negeri berkepentingan dengan apa yang sekarang 

akan disampaikan dan akan menjadi saksi terhadap bangsa ini 

bahwa mereka telah diberi peringatan yang adil mengenai pengha-

kiman yang akan datang, namun  mereka tidak mau menerimanya. 

Bahkan, mereka menentang pesan itu dan menganiaya para pem-

bawa pesannya sehingga nabi-nabi Tuhan lebih aman dan nya-

man berbicara kepada bukit-bukit dan gunung-gunung daripada 

kepada mereka. 

II.  Ancaman dalam nubuat ini yaitu  penghancuran menyeluruh 

terhadap berhala-berhala itu beserta penyembah-penyembahnya,

Kitab Yehezkiel 6:1-7 

dan keduanya dihancurkan oleh pedang perang. Allah sendirilah 

yang menjadi panglima perang dalam peperangan melawan 

gunung-gunung Israel ini. Allah-lah yang berkata, Sungguh, Aku 

akan mendatangkan pedang atasmu (KJV). Pedang orang Kasdim 

ada dalam kendali Allah, pergi ke mana pun Dia mengirimnya, 

datang ke mana pun Dia membawanya, dan bergerak saat  Dia 

mengarahkannya. Dalam kebinasaan sebab  perang ini,  

1. Berhala-berhala itu dan segala perlengkapannya harus dihan-

curkan. Bukit-bukit pengorbanan, yang ada di puncak-puncak 

gunung (ay. 3), harus diratakan dan dibuat menjadi sunyi sepi 

(ay. 6). Bukit-bukit itu tidak akan dihiasi lagi, tidak akan 

dikunjungi lagi seperti sebelumnya. Mezbah-mezbah, tempat 

mereka mempersembahkan korban dan membakar dupa bagi 

allah-allah asing, akan diremukkan berkeping-keping dan di-

tinggalkan sunyi sepi. Pedupaan-pedupaan (KJV: patung-patung 

tuangan) dan berhala-berhala akan dirusak, akan diremukkan 

dan ditiadakan, akan diluluhkan, dan semua buatan tangan 

yang halus dan mahal untuk membuat berhala-berhala itu 

akan dihapuskan (ay. 4, 6). Amatilah di sini,  

(1) Bahwa perang menyebabkan kebinasaan yang menyedih-

kan, saat  orang-orang, tempat-tempat, dan benda-benda 

yang paling dihargai tidak dapat luput, sebab sudah biasa 

pedang makan orang ini atau orang itu.  

(2) Bahwa Allah adakalanya menghancurkan penyembahan 

berhala dengan menggunakan tangan para penyembah ber-

hala juga, sebab orang Kasdim itu pun penyembah berhala. 

Namun, sebab  pemujaan dewa-dewa seolah-olah khas 

untuk setiap daerah tertentu, maka para pemuja terbesar 

ilah-ilah suatu negeri menjadi para pencemooh terbesar 

ilah-ilah negeri lain.  

(3) Allah itu benar dalam membinasakan apa pun yang kita 

berhalakan, sebab  Dia yaitu  Allah yang cemburu dan 

tidak mau memiliki saingan.  

(4) Jika manusia tidak, seperti seharusnya, menghancurkan 

penyembahan berhala, maka Allah pasti, suatu waktu, akan 

mendapatkan cara untuk melakukannya. saat  Yosia meng-

hancurkan bukit-bukit pengorbanan, mezbah-mezbah, dan 

patung-patung tuangan dengan pedang keadilan, mereka 

membangunnya kembali. Namun, Allah sekarang akan 

menghancurkannya dengan pedang perang, dan marilah 

kita lihat siapa yang berani menegakkannya kembali.  

2.  Penyembah-penyembah berhala dan semua pengikutnya juga 

harus dihancurkan sedemikian rupa. Sebagaimana semua bu-

kit-bukit pengorbanan mereka akan menjadi sunyi sepi, demi-

kian pula tempat-tempat di mana saja mereka diam, bahkan 

semua kota-kota mereka (ay. 6). Orang-orang yang mencemari 

kekudusan tempat kediaman Allah, seperti yang dilakukan 

orang-orang Israel itu, tidak dapat mengharapkan apa-apa 

selain bahwa Ia akan menghancurkan tempat kediaman mere-

ka (5:11). Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka 

Allah akan membinasakan dia (1Kor. 3:17). Diancamkan di sini 

bahwa orang-orang mereka yang terbunuh akan berebahan di 

tengah-tengah mereka (ay. 7). Dengan kata lain, akan terjadi 

pembunuhan besar-besaran, bahkan di tempat-tempat yang 

dianggap paling aman. Namun, yang membuat peristiwa ini 

menjadi luar biasa yaitu  bahwa mereka akan terbunuh di 

hadapan berhala-berhala mereka (ay. 4), bahwa mayat-mayat 

mereka akan dicampakkan, dan tulang-tulang mereka diham-

burkan keliling mezbah-mezbah mereka (ay. 5).  

(1) Dengan demikian, berhala-berhala mereka akan dicemar-

kan, dan tempat-tempat yang mereka agungkan itu dinajis-

kan dengan mayat-mayat mereka. Jika mereka tidak mau 

menganggap najis patung-patung mereka yang disalut, maka 

Allah yang akan menajiskannya (Yes. 30:22). Pencampakan 

mayat-mayat di antara berhala-berhala itu, seperti pencam-

pakan ke atas timbunan kotoran, menggambarkan bahwa 

berhala-berhala itu hanyalah dewa-dewa kotoran.  

(2) Oleh sebab  itu, tergambar jelas bahwa berhala-berhala itu 

hanyalah benda mati, tidak pantas menjadi saingan Allah 

yang hidup. Mayat-mayat orang mati, yang seperti berhala-

berhala itu, memiliki  mata namun  tidak melihat, mempu-

nyai telinga namun  tidak mendengar, yaitu  padanan paling 

sesuai untuk berhala-berhala itu.  

(3) Demikianlah, berhala-berhala itu dicela sebab  ketidak-

mampuannya menolong penyembahnya, dan para penyem-

bah berhala itu dicela sebab  kebodohannya mempercayai

Kitab Yehezkiel 6:8-10 

 berhala-berhala itu. Sebagai contoh, tampaknya, para 

penyembah berhala itu dibunuh oleh pedang lawan, saat 

mereka benar-benar ada di hadapan berhala-berhala me-

mohon pertolongannya, dan meletakkan diri mereka dalam 

perlindungannya. Sanherib dibunuh oleh putra-putranya 

saat  ia sujud menyembah di dalam kuil allahnya.  

(4) Dosa dapat dibaca dari keadaan sekeliling saat  hukuman 

terjadi, orang-orang yang terbunuh direbahkan di hadapan 

berhala-berhala mereka, untuk menunjukkan bahwa kare-

na itulah mereka dibunuh, sebab  mereka menyembah ber-

hala-berhala itu (Yer. 8:1-2). Biarlah orang-orang yang sela-

mat mengamatinya, dan belajar dari peringatan ini untuk 

tidak menyembah patung-patung tuangan. Biarlah mereka 

melihatnya, dan mengetahui bahwa Tuhanlah Allah, dan 

bahwa Tuhan, Dia yaitu  Allah dan Dia saja.  

Belas Kasih Dijanjikan kepada  

Orang-orang yang Bertobat; Hasil Pertobatan  

(6:8-10) 

8 namun  sebagian, yaitu yang terluput dari pedang, akan Kutinggalkan hidup 

di antara bangsa-bangsa, bilamana kamu dihamburkan ke negeri-negeri itu. 

9 Di sana, di tengah-tengah bangsa-bangsa, ke mana mereka dibawa ter-

tawan, orang-orang yang terluput dari antara kamu akan mengingat kepada-

Ku, tatkala Aku mengembalikan hati mereka yang berzinah itu, yang sudah 

menjauh dari pada-Ku dan mengalihkan mata mereka, yang selalu berzinah 

dengan mengikuti berhala-berhala mereka; maka mereka sendiri akan me-

rasa mual melihat kejahatan yang mereka lakukan dan melihat segala per-

buatan mereka yang keji. 10 Dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah 

TUHAN dan bukan cakap angin, kalau Aku berfirman hendak menjatuhkan 

malapetaka ini atas mereka.” 

Penghakiman sampai sejauh ini telah menang, namun  dalam ayat-ayat 

di atas, belas kasihan bersorak penuh kemenangan atas penghakim-

an. Akhir cerita orang-orang yang membangkang ini menyedihkan, 

namun  nasib mereka ternyata belum sepenuhnya berakhir. Penghan-

curan itu tampaknya habis-habisan, namun  sebagian akan Kutinggal-

kan hidup, sedikit sisa, yang dipisahkan dari seluruh bangsa, sedikit 

saja dari banyak orang, sedikit orang ini dibiarkan hidup saat yang 

lain binasa, dan Allah-lah yang membiarkan mereka hidup. Hal ini 

menyiratkan bahwa mereka selayaknya dibinasakan bersama yang 

lain, dan pasti dibinasakan jika Tuhan tidak membiarkan mereka 

hidup (lihat Yes. 1:9). Allah-lah, yang oleh anugerah-Nya bekerja di 

dalam mereka, yang mata-Nya memperhatikan mereka, bertindak 

membiarkan mereka hidup. Sekarang,  

I.  Mereka yaitu  sisa yang diamankan, diselamatkan dari kehan-

curan yang menimpa seluruh bangsa (ay. 8): namun  sebagian, 

yaitu yang terluput dari pedang, akan Kutinggalkan hidup. Allah 

berkata (5:12) bahwa Dia akan menghunus pedang dari belakang 

mereka yang dihamburkan-Nya, supaya  kehancuran terus menge-

jar mereka selama mereka menyebar ke mana-mana. Namun, di 

sini, kasih sayang diingat dalam murka itu, dan janji diberikan, 

bahwa sebagian orang Yahudi di perantauan, sebagaimana mereka 

disebut sesudah itu, akan terluput dari pedang. Tiada satu pun 

dari mereka yang ditetapkan untuk tewas dimakan pedang di 

sekitar Yerusalem akan ditinggalkan hidup, sebab  mereka meng-

andalkan dinding-dinding Yerusalem sebagai sumber keamanan 

mereka, dan mereka akan dipermalukan oleh kepercayaan mereka 

yang sia-sia itu. namun  , sebagian dari mereka akan ditinggal-

kan hidup di antara bangsa-bangsa, di mana mereka akan kehi-

langan semua tempat bersandar, dan hanya menyandarkan diri 

kepada Allah saja. Mereka dikatakan memiliki orang-orang yang 

akan terluput, sebab  mereka akan menjadi benih dari suatu 

generasi yang lain, yang darinya Yerusalem akan berkembang 

kembali.  

II.  Mereka yaitu  sisa yang bertobat (ay. 9): orang-orang yang terlu-

put dari antara kamu akan mengingat kepada-Ku. Perhatikanlah, 

kepada mereka yang dirancangkan Allah untuk hidup, Dia akan 

memberi  pertobatan yang memimpin kepada hidup. Mereka 

menerima penangguhan hukuman, dan terluput dari pedang, agar 

mereka mendapat waktu untuk berbalik kepada Allah. Perhati-

kanlah, kesabaran Allah memberi kesempatan untuk pertobatan 

sekaligus menjadi dorongan bagi orang berdosa untuk bertobat. 

saat  Allah merancangkan anugerah untuk bertobat, Dia mem-

berikan kesempatan untuk bertobat. Namun, banyak orang yang 

sudah mendapatkan kesempatan itu, mengingini anugerah itu, 

banyak orang yang terluput dari pedang, namun tidak meninggal-

kan dosa, seperti yang dijanjikan akan dilakukan. Sisa ini, yang di 

sini ditandai untuk diselamatkan, merupakan perlambang dari 

Kitab Yehezkiel 6:8-10 

kelompok sisa yang dipisahkan dan dipelihara dari antara umat 

manusia untuk menjadi tugu belas kasihan, yang diselamatkan 

dengan cara yang sama dengan orang-orang ini, yaitu dengan 

membawa mereka pada pertobatan. Sekarang amatilah di sini, 

1. Peristiwa pertobatan mereka, yang yaitu  campuran antara 

penghakiman dan belas kasihan-penghakiman. Pertama, peng-

hakiman, yaitu bahwa mereka dibawa tertawan, namun  juga 

belas kasihan, yaitu bahwa mereka terluput dari pedang di 

negeri tempat mereka ditawan. Mereka diusir dari negeri 

mereka sendiri, namun  tidak diusir dari dalam negeri orang-

orang hidup, tidak dienyahkan dari dunia seperti yang lain, 

yang pantas mereka dapatkan. Perhatikanlah, renungan akan 

penghajaran yang adil dari Sang Pemelihara dalam hidup kita, 

dan bahwa hajaran-Nya itu pun disertai dengan belas kasihan, 

seharusnya menarik kita untuk bertobat, sehingga kita dapat 

memenuhi tujuan Allah dalam menghajar dan mengasihani 

kita. Dan pertobatan sejati pastilah akan diterima oleh Allah, 

meskipun kita dibuat bertobat oleh masalah kita sendiri. 

Bahkan, kesengsaraan yang dikuduskan sering kali merupa-

kan sarana yang ampuh untuk bertobat, seperti yang terjadi 

pada Manasye. 

 2. Akar dan dasar pertobatan mereka: Di tengah-tengah bangsa-

bangsa, mereka akan mengingat kepada-Ku. Orang-orang yang 

melupakan Allah di negeri mereka yang damai dan makmur, 

yang menjadi gemuk dan menendang ke belakang, dibuat 

mengingat-Nya kembali di negeri tempat mereka ditawan. Si 

anak yang hilang tidak pernah teringat akan rumah ayahnya 

sebelum ia hampir binasa sebab  kelaparan di negeri yang 

jauh. Teringatnya mereka kepada Allah yaitu  langkah per-

tama yang mereka ambil untuk kembali kepada Allah. Perhati-

kanlah, mulai ada harapan bagi orang berdosa saat mereka 

berdosa melawan Allah dan bertanya Di mana Allah, yang 

membuat aku? Dosa berawal dari melupakan Tuhan (Yer. 

3:21). Pertobatan dimulai dari mengingat Dia dan mengingat 

kewajiban-kewajiban kita kepada-Nya. Allah berkata, mereka 

akan mengingat kepada-Ku, dengan kata lain, “Aku akan 

memberi mereka anugerah untuk mengingat Aku” sebab, jika 

tidak, mereka akan melupakan Dia selamanya. Anugerah itu 

akan menemukan mereka di mana pun mereka berada, dan 

dengan membawa Allah masuk ke dalam pikiran mereka, 

mereka akan dibawa pada pikiran yang benar. Si anak yang 

hilang, saat ia mengingat ayahnya, ia mengingat bagaimana ia 

telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapanya, dan 

demikian pula dengan sisa umat yang bertobat ini.  

(1) Mereka mengingat penghinaan luar biasa yang mereka per-

buat terhadap Allah melalui penyembahan berhala mereka. 

Inilah penghinaan yang terus dipikirkan dan paling diratapi 

dalam pertobatan yang sejati. Mereka telah berpaling dari 

Allah kepada berhala-berhala, dan menyerahkan kehormat-

an itu kepada allah-allah palsu, ciptaan dari khayalan 

manusia dan hasil karya tangan manusia, padahal kehor-

matan ini seharusnya diberikan kepada Allah Israel. Mere-

ka menjauh dari Allah, dari Firman-Nya, yang seharusnya 

menjadi aturan hidup mereka, dari pekerjaan-Nya, yang 

seharusnya mereka jadikan urusan mereka. Hati mereka 

sudah menjauh dari pada-Nya. Hati, yang sangat diingin-

kan dan dituntut-Nya, dan yang tanpanya latihan badani 

terbatas gunanya, hati, yang seharusnya diarahkan ke-

pada-Nya, dan dibawa sepenuhnya kepada-Nya, saat  

menjauh dari-Nya, maka akan sama khianatnya seperti 

seorang istri yang lari dari suaminya, atau seperti seorang 

hamba yang membangkang dan memberontak terhadap 

tuannya. Mata mereka juga selalu berzinah dengan meng-

ikuti berhala-berhala. Mereka sangat mencintai berhala-

berhala itu, dan menaruh pengharapan besar kepadanya. 

Hati mereka mengikuti mata mereka dalam memilih allah 

bagi mereka (mereka hanya mau allah-allah yang dapat 

mereka lihat), dan kemudian mata mereka mengikuti hati 

mereka dalam mengagungkan allah-allah itu. Nah, kejahat-

an dosa ini yaitu  perzinahan rohani. Hati yang berzinah-

lah yang menjauh dari Allah, dan mata merekalah yang 

selalu berzinah dengan mengikuti berhala-berhala. Perhati-

kanlah, penyembahan berhala yaitu  perzinahan rohani, 

pelanggaran terhadap perjanjian-nikah dengan Allah. Pe-

nyembahan berhala yaitu  menaruh segala perhatian dan 

perasaan pada sesuatu yang menjadi pesaing allah. Penyem-

bahan berhala yaitu  menenggelamkan diri dalam nafsu 

yang rendah, yang menipu dan mencemari jiwa, yang meru-

Kitab Yehezkiel 6:8-10 

pakan kesalahan besar terhadap Allah dalam kehormatan-

Nya,  

(2)  Mereka mengingat betapa dosa ini menyebabkan kesedihan 

besar bagi Allah dan betapa Allah murka sebab nya. Mere-

ka akan mengingat betapa Aku telah diremukkan oleh hati 

mereka yang berzinah dan mata mereka yang penuh 

dengan perzinahan rohani ini, bukan hanya Aku marah 

akan hal itu, namun  juga berduka, seperti seorang suami 

yang berduka atas kemesuman istri yang sangat dicintai-

nya, berduka sampai remuk hatinya sebab nya. Hati-Nya 

hancur memikirkan betapa Dia telah dikhianati. Hati-Nya 

berkeping-keping seperti seorang ayah yang telah renta 

terluka oleh perilaku anaknya yang tidak berbakti, yang 

memberontak dan tidak taat, yang membuat jiwanya ter-

puruk dan tubuhnya terbungkuk. Empat puluh tahun Aku 

jemu kepada angkatan itu (Mzm. 95:10). Ketetapan-ketetap-

an Allah dilanggar, demikianlah menurut sebagian orang. 

Lalu, Dia menghentikan aliran kasih karunia-Nya terhadap 

mereka, dan bahkan terpaksa menghukum mereka. Hal 

inilah yang akan mereka ingat pada hari pertobatan mere-

ka, sehingga membuat mereka luar biasa bersedih dan me-

rendahkan diri oleh sebab  merasa Allah begitu diremuk-

kan oleh dosa mereka. Rasa sedih ini melebihi apa yang 

mereka alami saat  rasa damai mereka hilang atau saat  

negeri mereka hancur. Demikianlah mereka akan meman-

dang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan 

meratapi dia (Za. 12:10). Perhatikanlah, tiada yang lebih 

mendukakan seorang petobat sejati selain pemikiran bah-

wa dosanya telah mendukakan Allah dan Roh kasih karu-

nia-Nya. 

3. Hasil dan bukti pertobatan mereka: Mereka sendiri akan mera-

sa mual melihat kejahatan yang mereka lakukan dan melihat 

segala perbuatan mereka yang keji. Maka Allah akan memberi-

kan mereka anugerah untuk melayakkan mereka menerima 

pengampunan dan pembebasannya. Sekalipun Dia telah dire-

mukkan oleh hati mereka yang berzinah, namun Dia tidak 

akan membuang mereka sama sekali (Yes. 57:17-18; Hos. 

2:13-14). Kebaikan-Nya ditunjukkan di atas keburukan mere-

ka sehingga kebaikan-Nya tampil jauh lebih mulia. Perhatikan-

lah,  

(1) Petobat sejati melihat dosa sebagai sesuatu yang keji, yaitu 

perkara kekejian yang dibenci Tuhan dan yang membuat 

orang berdosa, dan bahkan pelayanannya, menjijikkan 

bagi-Nya (Yer. 44:4; Yes. 1:11). Dosa mencemari hati nurani 

si pendosa sendiri, dan membuatnya menjadi, kecuali jika 

dia sudah mati rasa, kekejian bagi dirinya sendiri. Berhala 

secara khusus disebut sebagai dewa kekejian (Yes. 44:19). 

Kepuasan itu, yang oleh hati pendosa dijadikan sebagai hal 

yang menyukakan, ditolak oleh hati petobat dan dilihatnya 

sebagai hal yang menjijikkan.  

(2) Ada banyak kejahatan yang dilakukan dalam kekejian ini, 

banyak kejahatan yang termasuk di dalamnya, terjadi ber-

samaan dengannya, dan mengalir darinya, banyak pelang-

garan dalam satu dosa (Im. 16:21). Dalam penyembahan 

berhala mereka, mereka adakalanya bersalah sebab  ber-

buat sundal (seperti dalam penyembahan Peor), adakalanya 

sebab  melakukan pembunuhan (seperti dalam penyem-

bahan dewa Molokh). Semua ini yaitu  segala kejahatan 

yang dilakukan dalam kekejian mereka. Dengan kata lain, 

penyembahan berhala menggambarkan adanya sifat jahat 

yang besar dalam dosa. Penyembahan berhala yaitu  keke-

jian yang mengandung sangat banyak kejahatan di dalam-

nya.  

(3) Mereka yang benar-benar muak terhadap dosa tidak bisa 

tidak akan muak terhadap dirinya sendiri sebab  dosa. 

Muak pada diri sendiri selalu beriringan dengan pertobatan 

sejati. Petobat bertengkar dengan dirinya sendiri, dan tidak 

akan pernah bisa berdamai dengan dirinya sampai ia me-

miliki dasar untuk berharap bahwa Allah telah berdamai 

dengan dirinya. Bahkan, sesudah nya petobat itu akan me-

ringkuk dalam rasa malu, saat  Ia berdamai dengan 

mereka (16:63).  

4. Kemuliaan yang akan kembali kepada Allah melalui pertobat-

an mereka (ay. 10): “Mereka akan mengetahui, bahwa Akulah 

TUHAN. Mereka akan yakin penuh bahwa Dia yaitu  Tuhan 

sebab  mengalaminya sendiri, dan akan siap mengakuinya.

Kitab Yehezkiel 6:11-14 

 Dan bukan cakap angin, kalau Aku berfirman hendak men-

jatuhkan malapetaka ini atas mereka. Mereka akan mengeta-

hui bahwa apa yang Aku katakan pasti akan terlaksana, ter-

wujud untuk kebaikan, untuk menggenapi tujuan yang baik, 

dan bahwa sangatlah adil kalau mereka itu sampai diancam 

dan dihukum sedemikian rupa.” Perhatikanlah,  

(1) Dengan segala cara, Allah akan membuat orang berdosa 

mengetahui dan mengakui bahwa Dia yaitu  Tuhan, baik 

melalui pertobatan mereka maupun melalui kehancuran 

mereka.  

(2) Semua petobat sejati dibuat mengakui keadilan sekaligus 

kepastian Firman Tuhan, terutama segala ancaman dalam 

Firman Tuhan, dan dibuat mengakui kebenaran Allah di 

dalamnya dan di dalam penggenapannya.   

Ratapan Sang Nabi  

(6:11-14) 

11 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Bertepuklah dan entakkanlah kakimu ke 

tanah dan serukanlah: Awas! Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel yang 

keji dan jahat, mereka akan rebah mati sebab  pedang, kelaparan dan 

penyakit sampar. 12 Yang jauh akan mati sebab  sampar, yang dekat akan 

rebah sebab  pedang dan yang terluput serta terpelihara akan mati sebab  

kelaparan. Demikianlah Aku akan melampiaskan amarah-Ku kepada mereka. 

13 Dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, tatkala orang-orang 

mereka yang terbunuh berebahan di tengah-tengah berhala-berhala mereka 

keliling mezbah-mezbahnya, di atas setiap bukit yang tinggi dan di atas 

semua puncak-puncak gunung, di bawah setiap pohon yang rimbun dan 

setiap pohon keramat yang penuh cabang-cabang, di tempat mana mereka 

membawa korban persembahan yang harum bagi semua berhala-berhala 

mereka. 14 Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan mereka dan tanah-

nya, di mana saja mereka diam, akan Kubuat menjadi musnah dan sunyi 

sepi mulai dari padang gurun sampai ke Ribla dan mereka akan mengetahui, 

bahwa Akulah TUHAN.” 

Semua ancaman yang sama, yang kita lihat dalam pasal sebelumnya, 

dan dalam bagian sebelumnya dalam pasal ini, diulangi lagi di sini, 

dengan perintah agar sang nabi meratap oleh sebab  semua ancaman 

itu, sehingga orang-orang yang dinubuatinya itu menjadi lebih takut 

terhadap nubuat ancaman itu.  

I. Sang nabi harus, dengan bahasa tubuhnya dalam berkhotbah, 

menyatakan perasaannya yang mendalam baik mengenai kesalah-

an maupun kemalangan kaum Israel (ay. 11): Bertepuklah dan 

entakkanlah kakimu ke tanah. Demikianlah, ia harus berusaha 

agar tampak jelas bahwa ia bersungguh-sungguh dalam apa yang 

ia katakan kepada mereka, bahwa ia benar-benar percaya dengan 

ancaman itu dan terus memikirkannya. Oleh sebab  itu, Ia harus 

menunjukkan rasa marah yang ada dalam hatinya terhadap dosa-

dosa mereka, dan rasa takut yang dirasakannya mengenai peng-

hakiman yang akan datang kepada mereka. Sebagian orang akan 

menolak bahasa tubuh ini, dan menyebutnya aneh dan konyol, 

namun  Allah memerintahkan sang nabi untuk menggunakannya 

sebab  bahasa tubuh dapat membantu menekankan Firman-Nya 

pada beberapa orang dan membantu menggambarkan situasi 

yang mendasarinya. Orang yang mengerti betapa berharganya 

jiwa-jiwa akan tetap tenang meski ditertawakan oleh para peng-

olok, hanya agar mereka dapat meneguhkan yang lemah. Dua hal 

yang harus diratapi sang nabi: 

1. Dosa bangsa. Awas! Oleh sebab segala perbuatan kaum Israel 

yang keji dan jahat. Perhatikanlah, dosa orang berdosa yaitu  

dukacita hamba-hamba Allah yang setia, terutama perbuatan 

kaum Israel yang keji dan jahat, yang dosanya lebih keji dan 

mengandung lebih banyak kejahatan di dalamnya dibanding-

kan dosa-dosa bangsa lain. Celaka! Apakah yang akan menjadi 

kesudahannya?  

2. Penghakiman bangsa. Untuk menghukum mereka sebab  

semua kekejian ini, mereka akan rebah mati sebab  pedang, 

kelaparan dan penyakit sampar. Perhatikanlah, tugas kitalah 

untuk terbeban bukan hanya dengan dosa dan penderitaan 

kita sendiri, namun  juga dengan dosa dan penderitaan orang 

lain, dan untuk memandang dengan belas kasihan terhadap 

kesengsaraan yang didatangkan orang jahat atas dirinya 

sendiri, seperti Kristus melihat Yerusalem dan menangisinya.  

II.  Ia harus menekankan apa yang ia katakan sebelumnya mengenai 

kehancuran yang akan datang menimpa mereka.  

1. Mereka akan dilindas dan dihancurkan oleh berbagai pengha-

kiman yang akan menjumpai mereka dan mengikuti mereka di 

mana pun mereka berada (ay. 12): Yang jauh, dan yang 

berpikir ia bebas dari bahaya, sebab  ada di luar jangkauan 

panah-panah orang Kasdim, akan mendapati bahwa ia tidak 

Kitab Yehezkiel 6:11-14  

ada di luar jangkauan panah-panah Allah, yang terbang siang 

dan malam (Mzm. 91:5): Mereka akan mati sebab  sampar. 

Yang dekat dengan kubu pertahanan, yang ia harap dapat 

menjadi tempat perlindungan baginya, akan rebah sebab  

pedang, sebelum ia sempat mengundurkan diri. Yang terlalu 

takut untuk mengambil bahaya ke luar kota, sehingga memilih 

tinggal saja (KJV) di dalam kota, akan mati di sana sebab  kela-

paran, kematian yang paling menyedihkan di antara semua 

yang lain. Demikianlah Allah akan melampiaskan amarah-Nya, 

yaitu melakukan segala sesuatu melawan mereka seperti yang 

telah dirancangkan-Nya.  

2. Mereka akan menyadari dosa mereka saat  melihat penghu-

kuman mereka, sebab  orang-orang mereka yang terbunuh 

berebahan di tengah-tengah berhala-berhala mereka keliling 

mezbah-mezbahnya, seperti yang diancamkan sebelumnya (ay. 

5-7). Di sana, tempat mereka bersujud untuk menghormati 

berhala-berhala mereka, Allah akan mencampakkan mereka 

dalam keadaan tidak bernyawa, sebagai cela bagi mereka, dan 

cela bagi segala berhala mereka. Mereka hidup di antara 

berhala-berhala itu dan akan mati di antaranya juga. Mereka 

telah mempersembahkan bau-bauan yang harum bagi berhala 

mereka, namun  di sana bangkai mereka akan menghantarkan 

bau yang menusuk, seolah-olah untuk menebus dupa yang 

salah tempat itu.  

3. Negeri itu semuanya akan menjadi reruntuhan, seperti dinya-

takan sebelumnya, kota-kotamu (ay. 6): Aku menjadikan negeri 

itu sunyi sepi. Negeri yang selama itu subur, indah, dan ber-

penduduk banyak, yang menjadi seperti taman Tuhan, tanah 

yang permai di antara semua negeri, akan dijadikan sunyi 

sepi, menjadi lebih sunyi daripada padang gurun sampai ke 

Diblath (ay. 14, KJV). Tempat itu disebut Diblataim (Bil. 33:46; 

Yer. 48:22), padang gurun yang besar dan dahsyat itu, yang 

dijelaskan dalam Ulangan 8:15, yang di dalamnya tinggal ular-

ular yang ganas serta kalajengking. Negeri Kanaan saat ini 

yaitu  salah satu negeri yang paling kering dan tandus di 

dunia. Kota dan negeri dipunahkan penduduknya supaya  mez-

bah-mezbah dihancurkan dan ditinggalkan sunyi sepi (ay. 6). 

Daripada mezbah-mezbah penyembahan berhala mereka di-

biarkan tetap berdiri, lebih baik kota maupun negerinya 

diratakan sekalian saja. Dosa yaitu  perkara yang membina-

sakan. Oleh sebab itu, gemetarlah, dan jangan berbuat dosa 

(KJV). 

 

 

 

 

 

PASAL  7  

alam pasal ini kehancuran tanah Israel yang sudah dekat dinu-

buatkan secara khusus dalam ungkapan-ungkapan yang me-

nyentuh dan sering diulang-ulang, supaya  kalau mungkin mereka 

menjadi tersadar oleh pertobatan untuk mencegahnya. Sang nabi 

harus memberi tahu mereka,  

I. Bahwa kehancuran itu akan menjadi kehancuran yang 

terakhir, kehancuran yang sepenuhnya dan sehabis-habis-

nya, yang akan mendatangkan kesudahan bagi mereka, akhir 

yang menyengsarakan (ay. 1-6).  

II. Bahwa kehancuran itu sudah dekat, sudah di ambang pintu 

(ay. 7-10).  

III. Bahwa kehancuran itu tak dapat dihindari, sebab  dengan 

dosa mereka telah mendatangkannya atas diri mereka sendiri 

(ay. 10-15). 

IV. Bahwa kekuatan dan kekayaan mereka tidak bisa menjadi 

pelindung terhadapnya (ay. 16-19).  

V. Bahwa bait suci sendiri, yang mereka andalkan, akan hancur 

juga (ay. 20-22).  

VI. Bahwa kehancuran itu akan menimpa semuanya, sebab  

dosa yang mendatangkannya diperbuat oleh semua orang 

(ay. 23-27). 

Kehancuran Israel  

(7:1-15) 

1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Engkau, anak manusia, 

katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tanah Israel: Berakhir! 

Berakhirlah keempat penjuru tanah itu. 3 Kini kesudahanmu tiba dan Aku 

akan mencurahkan murka-Ku atasmu dan Aku akan menghakimi engkau 

selaras dengan tingkah lakumu dan Aku akan membalaskan kepadamu 

segala perbuatanmu yang keji. 4 Aku tidak akan merasa sayang kepadamu 

dan tidak akan kenal belas kasihan, namun  Aku akan membalaskan kepada-

mu selaras dengan tingkah lakumu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji 

akan tertimpa atasmu. Maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN. 

5 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, bencana demi bencana akan datang! 

6 Kesudahan datang, kesudahanmu tiba, seakan-akan ia terbangun melawan 

engkau, lihat datangnya! 7 Malapetaka datang atasmu, hai penduduk negeri! 

Waktunya datang, saatnya tiba! Hari huru-hara, bukan tempik sorak di atas 

gunung-gunung. 8 Sekarang dengan segera Aku akan mencurahkan amarah-

Ku atasmu dan melampiaskan murka-Ku kepadamu, Aku akan menghakimi 

engkau selaras dengan tingkah lakumu dan membalaskan kepadamu segala 

perbuatan-perbuatanmu yang keji. 9 Aku tidak akan merasa sayang dan 

tidak akan kenal belas kasihan; selaras dengan tingkah lakumu akan Kuba-

laskan kepadamu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji akan tertimpa atas-

mu. Maka kamu akan mengetahui, bahwa Aku, TUHANlah, yang memusnah-

kan. 10 Lihat, harinya sungguh datang: malapetaka akan menimpa, kelaliman 

bertunas, keangkuhan bertaruk. 11 Kekerasan bersimaharajalela, yang men-

jadi penopang segala kejahatan. Tidak ada dari mereka yang tertinggal, baik 

dari kelimpahan mereka maupun dari kemewahannya; kemolekannya pun 

akan terhapus. 12 Waktunya datang, harinya mendekat! Biarlah si pembeli 

jangan bergembira dan biarlah si penjual jangan berdukacita, sebab  keha-

ngatan murka tertimpa atas segala kegemparan mereka. 13 Sebab si penjual 

tidak akan kembali kepada jualannya, kalaupun mereka masih di tengah-

tengah orang hidup, sebab  kehangatan murka tertimpa atas segala kegem-

paran mereka dan tidak dapat ditahan lagi, dan seorang pun tidak dapat 

mempertahankan hidupnya oleh sebab  kesalahannya. 14 Tiuplah sangkakala 

dan sediakanlah segala sesuatu! namun  seorang pun tidak maju berperang, 

sebab kehangatan murka-Ku tertimpa atas segala kegemparan mereka.  

15 Pedang ada di luar kota, sampar dan kelaparan ada di dalam. Barangsiapa 

yang di luar kota akan mati sebab  pedang, dan barangsiapa yang di dalam 

kota akan binasa oleh kelaparan dan sampar. 

Di sini kita mendapati peringatan yang baik diberikan tentang kehan-

curan tanah Israel, yang sudah semakin cepat datangnya. Allah, 

melalui sang nabi, tidak hanya menyampaikan pemberitahuan ten-

tangnya, namun  juga ingin supaya  hal itu ditanamkan dalam ungkap-

an-ungkapan yang sama, untuk menunjukkan bahwa hal ini sudah 

pasti, waktunya sudah dekat, dan bahwa sang nabi sendiri sungguh 

sadar akal hal ini dan ingin supaya  mereka juga bisa menyadarinya. 

Namun ia mendapati mereka tuli, bodoh, dan tak tergerak sama 

sekali. Kalau kota sedang terbakar, orang tidak akan mencari kata-

kata yang indah dan ungkapan-ungkapan yang agung untuk meng-

gambarkannya, namun  akan berteriak-teriak di jalan-jalan, dengan 

suara nyaring dan meratap, “Kebakaran! Kebakaran!” Demikian pula 

sang nabi di sini bersuara lantang, Berakhir! Berakhir! Kesudahan 

datang, kesudahan tiba, lihat datangnya. Siapa bertelinga, hendaklah 

ia mendengar. 

Kitab Yehezkiel 7:1-15 

I.   Berakhir! Berakhirlah (ay. 2), dan lagi (ay. 3, 6), kini kesudahanmu 

tiba, yaitu kesudahan atas semua kefasikan mereka, dan yang 

sudah sering kali diberitahukan Allah kepada mereka bahwa itu 

akan datang pada akhirnya, saat  Ia melalui nabi-nabi-Nya 

bertanya kepada mereka, apakah yang akan kamu perbuat, apa-

bila datang kesudahannya? Itulah akhir seperti yang hendak 

dicapai dari semua penghakiman selama ini, sebagai sarana 

untuk mewujudkannya (kehancuran mereka akan tuntas seka-

rang). Atau, itulah kesudahan, yaitu akhir dari pemerintahan 

mereka, kehancuran terakhir dari bangsa mereka, seperti air bah 

merupakan akhir hidup segala makhluk (Kej. 6:13). Mereka telah 

membuai diri mereka sendiri dengan harapan-harapan bahwa 

mereka akan segera melihat akhir dari kesusahan-kesusahan 

mereka. “Ya,” firman Allah, “Kesudahan datang, namun  kesudahan 

yang menyedihkan, bukan kesudahan yang diharapkan” (yang di-

janjikan kepada orang-orang saleh yang ters


Related Posts:

  • Yehezkiel 4 an bakar bagi hawa nafsu kita.  (2) Mari kita lihat apa alasan kita untuk memuji Allah atas kelimpahan, bukan hanya hasil-hasil bumi, melainkan juga kebebasan dalam berjual beli, bahwa petani bi… Read More