di sini yaitu ,
1. Perempuan-perempuan yang menangisi dewa Tamus (ay. 14).
Sungguh hal yang keji, bahwa ada orang yang lebih memilih
melayani suatu berhala dengan air mata daripada melayani
Allah yang benar dengan sukacita dan gembira hati! namun
demikianlah ketidakwarasan yang dilakukan orang-orang yang
bersalah dengan berpegang teguh pada berhala kesia-siaan,
dan meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.
Ada yang menduga untuk Dewa Adonis, berhala orang Yunani,
atau Osiris, berhala orang Mesirlah, perempuan-perempuan
itu menumpahkan air mata mereka. Gambar itu, kata orang,
dibuat untuk menangis, lalu para penyembahnya menangis
bersamanya. Mereka meratapi kematian Tamus ini, dan segera
bersuka atas kembalinya dia kepada hidup lagi. Perempuan-
perempuan yang meratap ini duduk di pintu gerbang rumah
TUHAN, dan di sana mereka menumpahkan air mata berhala
mereka, seolah sedang menantang Allah dan menghina upa-
cara-upacara kudus ibadah-Nya. Sebagian orang menduga,
dengan saat melakukan penyembahan berhala itu, perem-
puan-perempuan itu juga melakukan persundalan jasmani,
sebab kedua perbuatan dosa ini biasanya berjalan bersama,
dan orang yang menghina kodrat ilahi, Allah pantas menyerah-
kan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk dan perasaan
terkutuk untuk menghina kodrat manusiawi. Dan keadaan ini
tidak pernah orang alami sampai sedemikian dalamnya seperti
saat orang terlibat dalam upacara-upacara berhala seperti
ini.
2. Orang laki-laki sujud pada matahari (ay. 16). Dan lebih sung-
guh teramat menjijikkan dan keji lagi bahwa perbuatan ini
dilakukan di pelataran dalam rumah TUHAN; sungguh, dekat
jalan masuk ke bait TUHAN, di antara balai Bait Suci dan mez-
bah. Di situ, di tempat semua upacara suci dari agama kudus
mereka biasanya dijalankan, kejahatan keji itu dilakukan.
Maka wajarlah jika dalam rasa cemburu-Nya Allah berkata
kepada orang-orang yang menyakiti hati-Nya sedemikian rupa
di depan pintu rumah-Nya sendiri, seperti yang dilakukan raja
kepada Haman, Masih jugakah ia hendak menggagahi sang
ratu di dalam istanaku sendiri? Di sini ada kira-kira dua puluh
lima orang laki-laki yang memberi penghormatan kepada
matahari, yang seharusnya diberikan kepada Allah saja. Ada
Kitab Yehezkiel 8:13-18
yang berpendapat bahwa orang-orang itu yaitu raja Yehuda
dan para pejabatnya. namun tampaknya lebih tepat kalau
mereka itu yaitu para imam, sebab ini yaitu pelataran
para imam, dan itu tempat yang cocok untuk menemukan me-
reka. Kepada mereka ini sudah dipercayakan agama yang
sejati, diberi tanggung jawab untuk memeliharanya, dan diberi
tugas untuk menjaganya, namun justru mereka yang meng-
khianatinya.
(1) Mereka membelakangi bait TUHAN, dengan bulat hati melu-
pakannya dan dengan sengaja menghina dan mencelanya.
Perhatikan, saat manusia membelakangi segala ketetap-
an Allah dan menghinanya, maka tidak heran kalau mere-
ka tanpa henti terus mengejar-ngejar sesuatu yang baru.
Perbuatan dan sikap tidak saleh merupakan awal dari
berhala dan semua kejahatan.
(2) Mereka menghadap ke sebelah timur sambil sujud pada
matahari di sebelah timur. Ini yaitu sebuah kebiasaan
penyembahan berhala kuno, sudah ada pada masa Ayub
(Ayb. 31:26), dan umum dilakukan di antara bangsa-bang-
sa, yang menyembah matahari dengan nama-nama terten-
tu. Para imam ini menemukan bahwa kebiasaan ini sudah
dilakukan sejak dahulu kala dan bangsa-bangsa menyetu-
juinya, dan sebab itu mereka menerapkannya juga di
pelataran rumah Tuhan, sebab sangka mereka kebiasaan
itu sudah dihilangkan dan tidak disertakan dalam upacara
ibadah mereka. Lihatlah kebodohan para penyembah ber-
hala, mereka menyembah suatu allah dan menyebutnya
Baal – tuan, padahal Allah menciptakan mereka untuk men-
jadi pelayan bagi alam semesta (sebab begitulah matahari
itu, dan demikianlah arti dari nama Semes [Ul. 4:19]).
Betapa bodohnya mereka dalam memuja terang pinjaman
dan menghina Bapa segala terang.
II. Kesimpulan dari semua penyingkapan ini (ay. 17): “Kaulihatkah
itu, hai anak manusia? Pernahkah terpikir olehmu bahwa hal-hal
seperti ini bisa dilakukan di Bait Tuhan?” Nah,
1. Allah menyatakan keberatan-Nya kepada sang nabi mengenai
kekejian perbuatan jahat ini. Menurut sang nabi, perkara kecil-
kah itu bagi kaum Yehuda, yang mengetahui dan mengaku me-
miliki perkara-perkara yang lebih baik dan sudah dimuliakan
dengan begitu banyak hak istimewa melebihi bangsa-bangsa
lain? Apakah bisa dimaafkan orang-orang yang memiliki segala
firman dan ketetapan Allah untuk melakukan perbuatan-per-
buatan kekejian yang mereka lakukan di sini? Tidakkah pantas
orang-orang ini menderita akibat dosa mereka ini? Bukankah
kekejian seperti ini harus membawa kebinasaan? (Dan. 9:27).
2. Allah memperberat kesalahan mereka lagi sebab segala tipu
daya dan penindasan yang ditemukan di semua bangsa-bang-
sa: mereka memenuhi tanah ini dengan kekerasan. Tidaklah
mengherankan kalau orang-orang yang berbuat jahat kepada
Allah juga tidak akan peduli untuk berbuat jahat terhadap
satu sama lain. Kalau yang kudus saja sudah diinjak-injak,
maka yang benar pun akan sama diinjak. Kejahatan perilaku
mereka bahkan membuat ibadah mereka kepada Allah mereka
menjadi kekejian bagi-Nya (Yes. 1:11, dst.): “Mereka memenuhi
tanah ini dengan kekerasan, lalu mereka pergi ke Bait Suci
untuk menyakiti hati-Ku (KJV: membuat Aku marah) di sana.
Korban-korban persembahan mereka, bukannya diterima
sebagai korban penebusan dosa, sebaliknya menambah besar
kesalahan mereka. Mereka terus menyakiti hati-Ku, melakukan-
nya lagi dan lagi, dan lihatlah, sungguh, mereka berkelakuan tak
senonoh di hadapan-Ku.” Mereka mengolok-olok dan memper-
mainkan Allah. Mereka mencibir dan mengendus-ngendus saat
beribadah kepada-Nya, seperti orang mengendus-ngendus bu-
nga. Kita membaca mengenai karangan-karangan bunga yang
dipakai orang saat menyembah berhala (Kis. 14:13), di mana
setiap orang memegang sebuah dahan bunga untuk dicium
dan diendus-endus. Dr. Lightfoot (dalam karangannya Hor.
Heb. in John 15.6) memberi arti lain lagi mengenai tempat
berhala ini: Mereka menaruh dahan bunga lagi bagi murka
mereka, atau pada murka-Nya, seperti tafsiran kaum Masorite.
Yaitu, mereka terus saja membawa bahan bakar (seperti
dahan-dahan pohon anggur yang kering) dan menaruhnya
dalam api murka ilahi. Mereka membakar dahannya dahulu,
seolah-olah murka itu belum cukup panas terbakar. Atau taf-
siran lain lagi, mereka terus menyakiti Dia dan menimbulkan
Kitab Yehezkiel 8:13-18
amarah Allah atau manusia. Mereka yaitu angkatan manusia
yang suka berbuat jahat.
3. Allah menjatuhkan hukuman atas mereka, bahwa mereka
akan habis dibinasakan. sebab itu, sebab dengan ganasnya
mereka membengkokkan diri pada dosa, maka terhadap mere-
ka pula Aku akan membalas di dalam kemurkaan-Ku (ay. 18).
Mereka memenuhi tanah ini dengan kekerasan, maka Allah pun
akan memenuhinya juga dengan musuh-musuh mereka. Dan
Ia tidak akan mencondongkan telinga-Nya kepada segala per-
mohonan,
(1) Dari rasa kasihan-Nya. Aku tidak akan merasa sayang dan
tidak akan kenal belas kasihan. Pertobatan tidak akan
dilihat oleh mata-Nya. Atau,
(2) Dari doa-doa mereka. Dan kalaupun mereka berseru-seru
kepada-Ku dengan suara yang nyaring, Aku tidak akan
mendengarkan mereka. Sebab masih saja dosa-dosa mere-
ka berseru-seru nyaring menuntut balas daripada doa-doa
mereka berseru minta belas kasih. Sekarang Allah akan
tuli terhadap doa-doa mereka seperti semua berhala mere-
ka tuli terhadap mereka, yang darinya mereka berteriak
minta tolong namun sia-sia (1Raj. 18:26). Dahulu ada wak-
tunya saat Allah sudah lebih dulu siap untuk mendengar
mereka bahkan sebelum mereka memanggil, dan menjawab-
nya bahkan saat mereka sedang berbicara. Namun seka-
rang, mereka akan bertekun mencari aku, namun tidak akan
menemukan aku (Ams. 1:28). Bukan suara nyaring, melain-
kan hati yang lurus, yang Allah peduli.
PASAL 9
ang nabi, dalam penglihatan, telah menyaksikan kejahatan yang
dikerjakan di Yerusalem, dalam pasal sebelumnya. Dan kita boleh
yakin bahwa kejahatan yang diperlihatkan kepadanya itu tidaklah
lebih buruk daripada yang sebenarnya. Sekarang menyusullah dalam
pasal ini, tentu saja, sebuah penggambaran tentang kehancuran
mereka yang sedang datang mendekat. Sebab, saat dosa berjalan
mendahului, hukuman datang menyusul. Dalam pasal ini kita dapati,
I. Dipersiapkan semua alat yang akan dipakai dalam menghan-
curkan kota itu (ay. 1-2).
II. Terangkatnya Shekhinah (kemuliaan Allah – pen.) dari atas
kerub ke ambang pintu Bait Suci (ay. 3).
III. Perintah diberikan kepada salah satu dari orang-orang yang
dipakai. Orang ini dibedakan dari yang lainnya. Ia harus me-
nandai suatu sisa umat untuk diselamatkan dari kehancuran
yang menimpa semua orang itu (ay. 3-4).
IV. Wewenang dikeluarkan untuk menghukum mati orang-orang
yang tidak ditandai, dan mulailah pelaksanaannya sesuai
dengan wewenang itu (ay. 5-7).
V. Sang nabi menengahi pelaksanaan hukuman itu, meminta
hukumannya diperingan. Peringanan hukuman ditampik,
sebab keputusan sudah keluar (ay. 8-10).
VI. Laporan dari orang yang akan menandai sisa umat yang sa-
leh itu, tentang apa yang telah dikerjakannya sesuai dengan
perintah itu (ay. 11). Dan hal ini menunjukkan suatu cara
yang biasanya dipakai oleh Sang Pemelihara dalam memerin-
tah dan mengatur dunia ini.
Persiapan untuk Menghancurkan Yerusalem;
Orang Benar Ditandai untuk Diselamatkan
(9:1-4)
1 Lalu aku mendengar Dia berseru dengan suara yang nyaring: “Maju ke
mari, hai, yang harus menjalankan hukuman atas kota ini! Masing-masing
dengan alat pemusnah di tangannya!” 2 Lihat, enam orang laki-laki datang
dari jurusan pintu gerbang Atas, yang menghadap ke utara, masing-masing
dengan alat pemukul di tangannya. Dan satu orang di antara mereka ber-
pakaian lenan dan di sisinya ada suatu alat penulis. Mereka ini masuk
dan berdiri di samping mezbah tembaga. 3 Pada saat itu kemuliaan Allah
Israel sudah terangkat dari atas kerub, tempatnya semula, ke atas ambang
pintu Bait Suci dan Dia memanggil orang yang berpakaian lenan dan yang
memiliki alat penulis di sisinya. 4 Firman TUHAN kepadanya: “Berjalanlah
dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi
orang-orang yang berkeluh kesah sebab segala perbuatan-perbuatan keji
yang dilakukan di sana.”
Dalam perikop di atas kita dapati,
I. Seruan kepada para pemusnah Yerusalem untuk tampil dan
hadir. Orang yang menampilkan diri kepada sang nabi (8:2), yang
membawa dia ke Yerusalem dan menunjukkan kepadanya keja-
hatan yang diperbuat di sana, dia berseru, “Maju ke mari, hai,
yang harus menjalankan hukuman atas kota ini” (ay. 1). Allah
telah berfirman, Aku akan membalas di dalam kemurkaan-Ku
(8:18), dan sekarang Ia berkata kepada sang nabi, siapa yang
akan dipakai sebagai alat kemurkaan-Ku. Appropinquaverunt
visitationes civitatis – Lawatan (atau para pelawat) kota ini sudah
dekat. Para penghuni Yerusalem tidak mengetahui saat, bilamana
Allah melawat mereka dalam belas kasih, dan sebab itu sekarang
mereka akan dilawat dalam kemurkaan. Amatilah,
1. Bagaimana pemberitahuan tentang lawatan ini disampaikan
kepada sang nabi: Dia berseru dengan suara yang nyaring,
yang menggambarkan kerasnya perasaan dan mendesaknya
Dia yang berbicara itu. saat orang begitu disakiti dan men-
jadi marah, ia akan berbicara dengan suara keras. Orang-
orang yang tidak mau mendengarkan nasihat-nasihat yang
Allah berikan dengan suara kecil dan tenang, mereka akan
dibuat mendengar ancaman-ancaman, untuk mendengar dan
gemetar. Suara yang nyaring itu juga menunjukkan bahwa
sang nabi tidak bersedia untuk diberitahukan tentang lawatan
ini, telinganya tuli untuk mendengar, namun apa boleh buat,
tidak ada obat penawar lagi, dosa orang-orang itu menolak
Kitab Yehezkiel 9:1-4
pengampunan dan sebab itu hukuman mereka pun menolak
penundaan. “Dia berseru dengan suara yang nyaring. Dia
membuat aku mendengarnya, dan aku mendengarnya dengan
hati yang sedih.”
2. Apa isi pemberitahuan ini. Ada orang yang harus menjalankan
hukuman atas kota ini untuk menghancurkannya, bukan
pasukan Kasdim, mereka memang akan dipakai dalam peker-
jaan ini, namun mereka bukan para pelawat, hanya hamba-
hamba saja, atau sekadar alat. Para malaikat Allah yang seka-
rang menerima tugas untuk memusnahkan kota itu, kota yang
sudah lama mereka lindungi dan jaga selama ini. Mereka
sudah berada dekat sekarang, sebagai malaikat-malaikat
pemusnah, sebagai para pelayan kemurkaan, sebab masing-
masing dengan alat pemusnah di tangannya, seperti malaikat
yang menjaga pohon kehidupan dengan pedang bernyala-nyala
supaya tidak dimasuki. Perhatikan, orang-orang yang oleh
dosa telah menjadikan Allah sebagai musuh, pada saat yang
sama juga menjadikan para malaikat yang baik menjadi
musuh mereka. Para pelawat itu dipanggil dan disuruh maju
ke mari. Perhatikan, Allah memiliki para pelayan kemurkaan
yang selalu siap untuk dipanggil-Nya, selalu siap diperintah,
kekuatan yang tidak kelihatan, yang dengannya Ia menuntas-
kan segala tujuan-Nya. Sang nabi dibuat menyaksikan hal ini
dalam penglihatan, supaya dengan keyakinan penuh ia bisa
mengumumkan semua penghukuman ini. Allah memberitahu-
kan semua ini kepadanya dengan suara nyaring, tangan-Nya
menguasai aku, (dan) saat Ia memperingatkan aku (Yes. 8:11,
KJV: ia mengajarikan aku dengan tangan yang kuat), supaya
tertanam kuat-kuat dalam hatinya sehingga ia bisa menyata-
kannya kuat-kuat kepada bangsa Israel.
II. Kemunculan para pelawat itu, saat dipanggil, dicatat. Segera saja
enam orang laki-laki datang (ay. 2), masing-masing untuk tiap
pintu gerbang utama Yerusalem. Dua orang malaikat pemusnah
diutus melawan Sodom, namun enam orang untuk Yerusalem.
Sebab, petaka Yerusalem dalam hal hukuman akan tiga kali lebih
berat dari petaka Sodom. Ada seorang malaikat yang berjaga-jaga
di setiap pintu gerbang untuk memusnahkan, untuk mendatang-
kan hukuman-hukuman dari setiap penjuru, dan untuk meng-
awasi agar tidak ada seorang pun yang luput. Satu orang malaikat
bekerja untuk membinasakan anak sulung orang Mesir, dan
menghancurkan perkemahan orang Asyur, namun di sini ada enam
orang sekaligus. Dalam Kitab Wahyu kita dapati ada tujuh malai-
kat yang disuruh, tumpahkanlah ketujuh cawan murka Allah itu ke
atas bumi (Why. 16:1). Keenam malaikat pemusnah itu masing-
masing datang dengan alat pemukul di tangannya, yang disiapkan
untuk pekerjaan yang untuknya mereka dipanggil. Bangsa-bangsa
yang dikumpulkan oleh raja Babel menjadi pasukannya bisa
disebut alat pemukul (KJV: alat pembunuh) dalam tangan malaikat.
Bangsa-bangsa ini menurut orang ada enam, dan para panglima
pasukan raja Babel itu ada enam orang di antaranya disebut
sebagai perwira raja (Yer. 39:3). Para malaikat dilengkapi dengan
senjata lengkap bagi setiap pekerjaan.
1. Amati dari mana mereka datang. Yaitu, dari jurusan pintu
gerbang atas, yang menghadap ke utara (ay. 2), entah sebab
pasukan Kasdim datang dari utara (Yer. 1:14). Dari utara akan
mengamuk malapetaka, atau sebab berhala cemburuan
didirikan di dekat pintu gerbang pelataran dalam yang meng-
hadap ke utara (8:3, 5). Melalui pintu gerbang Bait Suci para
malaikat pemusnah itu masuk, untuk menunjukkan apa itu
yang membuka pintu bagi mereka. Perhatikan, jalan di mana
ada dosa, di situ segala penghukuman pasti datang.
2. Amatilah di mana para malaikat itu berdiri. Mereka ini masuk
dan berdiri di samping mezbah tembaga, yang di atasnya segala
persembahan biasanya dipersembahkan dan upacara penda-
maian atas dosa dilakukan. saat mereka bertindak sebagai
pemusnah, mereka bertindak juga sebagai pemberi persem-
bahan, bukan sebab alasan pribadi untuk balas dendam atau
niat jahat, namun dengan maksud hati yang murni dan tulus
untuk kemuliaan Allah. Sebab bagi keadilan-Nyalah semua
orang yang dibunuh mereka dibawa oleh mereka sebagai kor-
ban-korban persembahan. Mereka berdiri di samping mezbah,
seolah untuk melindungi dan mempertahankannya, membela
perkaranya yang benar, dan membalas segala tindakan yang
mencemarinya. Di mezbah itu mereka akan menerima tugas
untuk memusnahkan, yang menunjukkan bahwa kejahatan
Yerusalem, seperti keluarga imam Eli, takkan dihapuskan
Kitab Yehezkiel 9:1-4
dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk
selamanya.
III. Perhatian ditujukan kepada satu malaikat yang ada di antara
para malaikat pemusnah itu, yang jubahnya berbeda dari yang
lainnya, dari dia suatu pertolongan dinantikan. Tampaknya dia
bukan salah satu dari keenam malaikat itu, namun di antara
mereka, untuk menunjukkan bahwa belas kasihan bercampur
dengan hukuman (ay. 2). Orang ini berpakaian lenan, seperti yang
biasanya dengan imam-imam dahulu, dan ia memiliki suatu alat
penulis yang bergantung di sisinya, seperti halnya para ahli dan
pembela hukum adanya pada masa lampau, dan alat penulis ini
akan dipakainya seperti halnya keenam malaikat lain itu
mempergunakan alat pemusnah mereka. Di sini kehormatan alat
tulis mengungguli segala kehormatan pedang, sebab dia yaitu
Tuhan para malaikat yang menggunakan alat penulis itu. Sebab,
pada umumnya disepakati di antara para penafsir terbaik bahwa
orang ini menggambarkan Kristus sebagai Sang Perantara yang
menyelamatkan orang-orang milik-Nya dari pedang keadilan ilahi
yang menyala-nyala. Dia yaitu Imam Besar kita, berpakaian
kekudusan, sebab itulah yang diartikan oleh kain lenan halus
(Why. 19:8). Sebagai nabi, Ia mengenakan alat penulis. Kitab
kehidupan yaitu kitab Anak Domba. Hal-hal besar mengenai
hukum Allah dan Injil yang Allah telah tuliskan kepada kita
merupakan tulisan-Nya. Sebab, Roh Kristuslah, dalam diri para
penulis Kitab Suci, yang bersaksi mengenai kebenaran tersebut
kepada kita, dan Alkitab merupakan penyataan Yesus Kristus.
Perhatikanlah, merupakan penghiburan besar bagi semua orang
Kristen yang baik bahwa di tengah-tengah para pemusnah dan
penghancuran yang sedang terjadi, masih ada seorang Peng-
antara, seorang Imam Besar agung, yang punya peranan besar di
sorga, dan yang dari-Nya para orang kudus di bumi bisa mem-
peroleh pertolongan.
IV. Terangkatnya penampakan kemuliaan Allah dari atas kerub.
Sebagian penafsir menduga ini yaitu penampakan yang biasa-
nya dari kemuliaan Allah, yaitu di antara kerub dan tutup pen-
damaian di dalam tempat mahakudus, yang kini sudah mening-
galkan mereka dan tidak pernah kembali lagi. Sebab, pastilah
penampakan kemuliaan Allah itu tidak terlihat lagi di Bait Suci
kedua. Sebagian orang lagi penampakan kemuliaan Allah di atas
kerub yaitu yang dilihat oleh sang nabi hanya dalam penglihat-
an saat itu saja, dan tafsiran ini yang mungkin, sebab yang
dilihatnya itu disebut kemuliaan Allah Israel (8:4), dan inilah yang
saat itu menjadi perhatian sang nabi. Kemuliaan Allah ini berpin-
dah ke atas ambang pintu Bait Suci, seolah seperti untuk me-
manggil hamba-hamba yang sedang berdiri di luar menunggu
untuk disuruh melakukan tugas dan diberi petunjuk-petunjuk.
Dan terangkatnya kemuliaan Allah seperti yang dilihat sang nabi
ini, dan yang dahulu biasanya ada dalam Bait Suci itu, bisa saja
merupakan tanda akan perginya Allah dari mereka, dan mening-
galkan Bait mereka itu menjadi sunyi. saat Allah pergi, maka
semua yang baik pun ikut pergi. Namun sesungguhnya, Allah
tidaklah meninggalkan siapa pun, sampai merekalah yang meng-
usir Dia pergi. Pada awalnya Allah tidak pergi lebih jauh dari
ambang pintu, supaya Ia bisa memperlihatkan betapa enggannya
Ia untuk pergi, dan supaya Ia bisa memberi waktu dan dorongan
kepada mereka untuk mengundang-Nya kembali dan tinggal
bersama mereka. Perhatikanlah, perginya Allah meninggalkan
suatu umat terjadi secara perlahan-lahan, namun jiwa-jiwa yang
mulia segera tersadar begitu Allah mengambil langkah pertama
untuk pergi. Nabi Yehezkiel segera mengamati bahwa kemuliaan
Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub. Dan jika Allah pergi,
penglihatan seperti apakah yang akan dilihat mengenai para
malaikat?
V. Tugas yang diberikan kepada satu orang di antara mereka ber-
pakaian lenan untuk menyelamatkan umat sisa dari kebinasaan
yang menimpa semua orang itu. Kita tidak membaca bahwa Sang
Penyelamat ini dipanggil dan diutus seperti yang terjadi dengan
para pemusnah itu. Sebab, Ia selalu siap, menghadap hadirat
Allah guna kepentingan kita. Dan kepada Dialah, sebagai orang
yang paling pantas, diberikan tugas untuk memelihara orang-
orang yang ditandai untuk diselamatkan (ay. 4). Sekarang amati-
lah,
1. Sifat dan perilaku umat sisa yang dibedakan untuk diselamat-
kan itu. Mereka itu yaitu orang-orang yang begitu berkeluh
kesah, mengaduh dalam dirinya, seperti orang yang kesakitan
Kitab Yehezkiel 9:1-4
dan tertekan, berseru kepada Allah dalam doa, sepenuh hati,
oleh sebab segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di
Yerusalem. Bukan saja mereka bersalah atas segala perbuatan
berhala, namun juga atas semua kebejatan akhlak lainnya, yang
sungguh-sungguh keji di mata Allah. Segelintir orang-orang
saleh ini telah menyaksikan segala perbuatan keji ini dan
berusaha sebisa mereka sesuai kedudukan mereka untuk
menghancurkan perbuatan-perbuatan itu. Namun, segala
usaha mereka tidak membuahkan hasil untuk memperbarui
perilaku orang-orang itu, lalu mereka pun duduk terkulai dan
berkeluh kesah, menangis diam-diam, dan mengeluh kepada
Allah, sebab penghinaan kepada nama-Nya yang diperbuat
melalui kejahatan orang-orang itu, dan kehancuran yang
diakibatkannya atas jemaat dan bangsa mereka. Perhatikan-
lah, tidaklah cukup bagi kita untuk tidak bersuka dalam dosa-
dosa orang lain dan bergaul dengan mereka, namun kita juga
harus berkabung atas mereka dan menanggungnya dalam
hati. Kita harus berduka atas masalah yang tidak bisa kita
bantu, berduka sebagai orang yang membenci dosa sebab
dosa itu sendiri, dan prihatin terhadap jiwa-jiwa lain, seperti
Daud (Mzm. 119:136), dan Lot yang jiwanya yang benar itu
tersiksa dengan perilaku jahat sesamanya. Dengan cara
khusus semua perbuatan keji Yerusalem itu patut diratapi,
sebab dengan cara khusus pula mereka telah menyakiti hati
Allah.
2. Pemeliharaan istimewa diberikan terhadap mereka yang berke-
luh kesah itu. Perintah dikeluarkan untuk menemukan orang-
orang yang memiliki roh yang saleh dan peduli terhadap orang
banyak itu: Berjalanlah dari tengah-tengah kota untuk mencari
mereka, dan meskipun mereka tercerai-berai, dan sangat ter-
sembunyi dari keganasan para penganiaya mereka, namun
kamu pasti akan menemukan mereka juga, dan tulislah huruf
T (KJV: memberi tanda) pada dahi mereka,
(1) Untuk menandai bahwa Allah mengakui mereka sebagai
milik-Nya, dan bahwa Dia akan mengakui mereka suatu
hari nanti. Karya kasih karunia di dalam jiwa bagi Allah
merupakan huruf T pada dahi, yang akan Dia akui sebagai
tanda-Nya, dan melalui tanda itu Tuhan mengenal siapa
kepunyaan-Nya.
(2) Untuk memberi jaminan akan perkenan Allah kepada
mereka yang ditandai seperti itu, supaya mereka menge-
tahuinya sendiri. Dan penghiburan yang didapat dengan
mengetahui hal itu akan menjadi dukungan yang paling
memberi kekuatan kelak dalam masa-masa celaka. sebab
itu, mengapa kita mau menggelisahkan diri dengan kehi-
dupan yang sementara ini jika kita tahu melalui tanda itu
bahwa kita memiliki hidup kekal?
(3) Untuk menjadi petunjuk bagi para pemusnah itu siapa
yang harus mereka lewati, seperti darah pada tiang-tiang
pintu rumah menjadi petunjuk bahwa itu rumah orang
Israel dan anak sulung yang ada di dalamnya tidak boleh
dibunuh. Perhatikanlah, barangsiapa menjaga dirinya tetap
murni di masa-masa saat pelanggaran terjadi di mana-
mana, Allah akan menjaganya tetap aman di masa-masa
saat malapetaka menimpa semua orang. Siapa yang
membedakan dirinya, ia akan dibedakan. Siapa yang ber-
keluh kesah sebab dosa-dosa orang lain, ia tidak akan
berkeluh kesah lagi saat tertimpa celaka, sebab ia akan
dilepaskan dari celaka itu atau dihiburkan dalam celaka
itu. Allah akan menandai para pekabung-Nya, akan men-
catat keluh kesah mereka dan menyimpan air mata mereka
dalam kendi. Dimeteraikannya hamba-hamba Allah pada
dahi mereka seperti disebutkan dalam Wahyu 7:3 merupa-
kan tanda pemeliharaan Allah yang sama atas umat kepu-
nyaan-Nya seperti yang dipakai di sini. Hanya saja per-
bedaannya, tanda pemeliharaan dalam Yehezkiel ini yaitu
untuk menyelamatkan umat-Nya dari kebinasaan, sedang-
kan yang disebutkan dalam Kitab Wahyu itu untuk menye-
lamatkan dari kesesatan, yang sama saja tujuannya.
Orang Benar Dibedakan; Sang Nabi Menengahi
(9:5-11)
5 Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: “Ikutilah dia dari
belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa
sayang dan jangan kenal belas kasihan. 6 Orang-orang tua, teruna-teruna
dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan
musnahkan! namun semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan
singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!” Lalu mereka mulai dengan
tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci. 7 Kemudian firman-Nya kepada
Kitab Yehezkiel 9:5-11
169
mereka: “Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya
dengan orang-orang yang terbunuh. Pergilah!” Mereka pergi ke luar dan
memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota. 8 Sedang mereka memu-
kuli orang-orang sampai mati – waktu itu aku tinggal di belakang – aku sujud
dan berseru, kataku: “Aduh, Tuhan ALLAH, apakah Engkau memusnahkan
seluruh sisa Israel di dalam mencurahkan amarah-Mu atas Yerusalem?”
9 Jawab-Nya kepadaku: “Kesalahan kaum Israel dan Yehuda sangat banyak,
sehingga tanah ini penuh hutang darah dan kota ini penuh ketidakadilan;
sebab mereka berkata: TUHAN sudah meninggalkan tanah ini dan TUHAN
tidak melihatnya. 10 sebab itu Aku juga tidak akan merasa sayang dan tidak
akan kenal belas kasihan; kelakuan mereka akan Kutimpakan atas kepala
mereka.” 11 Lihat, orang yang berpakaian lenan itu dan yang memiliki alat
penulis di sisinya memberi laporan, katanya: “Aku sudah kerjakan seperti
Engkau perintahkan kepadaku.”
Dalam perikop di atas kita dapati,
I. Perintah diberikan kepada para pemusnah itu untuk menjalankan
tugas sesuai yang diperintahkan kepada mereka. Mereka ini
masuk dan berdiri di samping mezbah tembaga, sambil menunggu
perintah. Perintah-perintah diberikan kepada mereka untuk
membunuh dan membinasakan semua orang yang bersalah atau
terlibat dalam perbuatan membenci Yerusalem dan yang tidak
berkeluh kesah atas orang-orang yang bersalah ini. Perhatikanlah,
saat Allah telah mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung,
maka tidak akan ada lagi yang tersisa, namun debu jerami itu akan
dibakar-Nya (Mat. 3:12).
1. Mereka diperintahkan untuk memusnahkan semuanya,
(1) Tanpa kecuali. Mereka harus masuk dan melalui kota itu
dan pukullah sampai mati. Mereka harus bunuh dan mus-
nahkan, menghabisi, melukai sampai mati. Mereka tidak
boleh membeda-bedakan umur dan jenis kelamin, melain-
kan sikat habis orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-
dara, anak-anak kecil. Kecantikan anak dara atau keluguan
bayi-bayi tidak akan menyelamatkan mereka. Hal ini
digenapi dalam kematian banyak orang akibat kelaparan
dan penyakit sampar, dan terutama akibat pedang orang
Kasdim, selama serbuan pasukan berlangsung. Terkadang
pekerjaan berdarah seperti ini juga merupakan pekerjaan
Allah sendiri. Sungguh betapa jahatnya dosa itu, sampai
memancing murka Allah sedemikian rupanya sehingga Ia
yang Mahapengasih itu pun bertindak keras seperti itu.
(2) Tanpa belas kasihan. “Janganlah merasa sayang dan ja-
ngan kenal belas kasihan (ay. 5). Jangan kamu selamatkan
siapa pun yang Allah sudah tetapkan untuk binasa.
Jangan berbuat seperti yang Saul lakukan terhadap Agag
dan orang-orang Amalek, sebab itu berarti melaksanakan
pekerjaan TUHAN dengan lalai (Yer. 48:10, KJV: melak-
sanakan pekerjaan TUHAN dengan curang). Siapa pun tidak
perlu bertindak murah hati melebihi Allah. Dan Dia sendiri
sudah berkata (8:18), Aku tidak akan merasa sayang dan
tidak akan kenal belas kasihan.” Perhatikanlah, barang-
siapa hidup dalam dosa dan benci untuk diperbarui, ia akan
binasa dalam dosa, dan pantas untuk tidak dikasihani,
sebab bisa saja ia dengan mudah mencegah kehancurannya,
namun tidak mau melakukannya.
2. Para pemusnah itu diperingatkan untuk tidak melukai orang-
orang yang sudah ditandai untuk selamat: “namun semua
orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung.
Mengancam atau menakut-nakuti mereka pun jangan. Sudah
dijanjikan kepada orang-orang yang akan selamat itu bahwa
yang jahat tidak akan mendekati mereka, dan sebab itu
kalian harus menjauh dari mereka.” Raja Babel mengeluarkan
perintah-perintah khusus bahwa Yeremia harus dilindungi.
Barukh dan Ebed-Melekh, dan mungkin juga teman-teman
Yeremia lainnya, ikut selamat oleh sebab Yeremia. Allah telah
berjanji bahwa umat sisa-Nya akan baik-baik saja dan mereka
akan diperlakukan dengan baik-baik (Yer. 15:11, KJV). sebab
itu kita punya alasan untuk berpikir bahwa tidak satu pun
dari sisa umat-Nya yang pendoa dan peratap itu gugur oleh
pedang orang Kasdim, namun sebaliknya Allah pasti menemu-
kan suatu cara untuk mengamankan mereka semua, seperti
yang terjadi saat penghancuran Yerusalem yang terakhir oleh
orang Romawi, di mana orang-orang Kristen semuanya sela-
mat di sebuah kota yang bernama Pella, dan tidak satu pun
dari mereka binasa bersama orang-orang Yahudi yang tidak
mau percaya Tuhan. Perhatikanlah, tidak akan hilang satu
pun orang-orang yang telah Allah tandai untuk hidup dan
selamat, sebab dasar pijakan Allah berdiri kuat dan pasti.
3. Para pemusnah itu dituntun untuk mulailah dari tempat kudus
Allah (ay. 6), yaitu tempat kudus yang, di pasal sebelumnya,
Kitab Yehezkiel 9:5-11
dilihat sang nabi telah terjadi perbuatan tercela yang mengeri-
kan di situ. Mereka harus mulai dari sana, sebab di sanalah
dimulai kejahatan yang menimbulkan kemarahan Allah sam-
pai Ia mengirimkan semua penghakiman ini. Perbuatan-
perbuatan bejat dari para imam itu telah meracuni mata air,
dan ini menjadi sumber pencemaran semua aliran sungai.
Kejahatan yang diperbuat terhadap tempat kudus merupakan
pelanggaran yang paling menyakiti hati Allah di antara semua
kejahatan lainnya, dan sebab itu di sanalah pembantaian
harus dimulai: “Mulai di sana, untuk melihat apakah rakyat
bisa menerima peringatan melalui penghakiman Allah atas
para imam-imam mereka atau tidak, dan lalu bertobat dan
memperbarui diri. Mulai di sana, supaya seluruh dunia boleh
melihat dan mengetahui bahwa Tuhan, yang nama-Nya Cem-
buruan, yaitu Allah yang cemburu, dan bahwa Ia membenci
dosa terutama yang dilakukan orang-orang yang berada paling
dekat dengan Dia.” Perhatikanlah, saat berbagai penghakim-
an terjadi, itu biasanya pada rumah Allah sendiri yang harus
pertama-tama dihakimi (1Ptr. 4:17). Hanya kamu yang Kukenal
dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan meng-
hukum kamu (Am. 3:2). Bait Suci Allah yaitu sebuah tempat
kudus, suatu tempat pengungsian dan perlindungan bagi para
pendosa yang bertobat, namun tidak untuk orang-orang yang
tetap hidup dalam kesalahan-kesalahannya. Kekudusan Bait
Suci atau keunggulan tempat para pendosa tidak akan ber-
guna sebagai tempat mencari keamanan bagi mereka. Tam-
paknya para pemusnah itu mengalami kesulitan untuk mem-
bunuh orang-orang di dalam Bait Suci, namun Allah menyuruh
mereka untuk tidak ragu-ragu, melainkan, najiskanlah Bait
Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya dengan orang-
orang yang terbunuh (ay. 7). Jangan mengambil orang-orang itu
dari mezbah-Ku, seperti yang ditetapkan oleh hukum Taurat
(Kel. 21:14). Mereka pikir akan aman dan selamat dengan
terus memegang tanduk-tanduk mezbah seperti yang dilakukan
Yoab, dan sebab itu, sama seperti Yoab berkata, di sinilah aku
mau mati (1Raj. 2:30-31). Di tempat kudus itulah darah
seorang nabi Allah telah dicurahkan (Mat. 23:35) dan sebab
itu biarkan juga darah mereka tercurah di sana. Perhatikan-
lah, jika para hamba rumah Allah mencemari rumah-Nya
dengan perbuatan berhala mereka, maka adil jugalah bagi
Allah untuk membiarkan musuh-musuh rumah-Nya men-
cemari tempat itu dengan segala tindakan kekerasan mereka
(Mzm. 79:1). namun , semua tindakan keadilan yang ter-
jadi di sini, apa pun itu bentuknya, harus dilakukan terutama
untuk memurnikan, dan bukan untuk mencemari tempat
kudus itu. Tindakan itu yaitu untuk menghapuskan yang
jahat dari tengah-tengah mereka.
4. Mereka ditetapkan untuk pergi ke dalam kota (ay. 6-7). Perhati-
kanlah, ke mana pun dosa pergi, penghakiman akan meng-
ikuti. Dan meskipun pada rumah Allah sendiri yang harus per-
tama-tama dihakimi, penghakiman itu tidak berakhir di sana.
Kota kudus tidak lagi akan menjadi tempat perlindungan bagi
orang-orang fasik seperti halnya rumah kudus bagi imam-
imam fasik itu.
II. Demikianlah pelaksanaan hukuman dikerjakan sebagaimana
mestinya. Para pemusnah itu menjalankan segala perintah, dan,
1. Mereka mulai dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait
Suci, dan pertama-tama membantai mereka, entah itu ketujuh
puluh tua-tua yang menyembah berhala di kamar-kamar
mereka (8:12) atau kedua puluh lima orang yang di dalam
kamar tempat ukiran-ukiran mereka, sujud pada matahari di
antara balai Bait Suci dan mezbah (8:12), atau mungkin lebih
tepatnya di hadapan Bait Suci. Perhatikanlah, para pemimpin
yang penuh dosa boleh bersiap-siap menghadapi bahwa mere-
ka pasti yang pertama-tama ditemui oleh penghakiman Allah.
Dan dosa-dosa para pemuka dan tokoh-tokoh masyarakat
akan dipakai sebagai contoh penghakiman.
2. Para pemusnah melanjutkan penghakiman dengan orang-orang
biasa. Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai
mati di dalam kota. Sebab, bilamana keputusan sudah dikeluar-
kan, maka tidak akan ada penundaan. Jika Allah memulai, Dia
akan menyelesaikan.
III. Di sini sang nabi menengahi meminta keringanan hukuman, dan
pembebasan bagi beberapa orang (ay. 8): Sedang mereka memu-
kuli orang-orang sampai mati – waktu itu aku tinggal di belakang –
aku sujud. Amatilah di sini,
Kitab Yehezkiel 9:5-11
1. Betapa sang nabi merasakan betul belas kasihan Allah bagi
dia, sehingga ia tetap aman sementara begitu banyak orang di
sekitarnya binasa. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan
sepuluh ribu di sebelah kananmu, namun itu tidak akan menim-
pamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri
dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik (Mzm. 91:
7-8). Ia berbicara sebagai orang yang lolos dari kebinasaan
dengan jalan yang hampir tidak mungkin, dan sebab itu
mensyukurinya sebagai kebaikan Allah, dan bukan sebab
kemampuannya. Perhatikanlah, orang-orang kudus yang ter-
baik harus mengakui bahwa mereka berutang atas belas
kasihan yang menyelamatkan mereka dari kebinasaan. sebab
itu, saat penghakiman yang membinasakan terjadi di mana-
mana dan orang banyak gugur oleh sebab nya, maka selayak-
nya kita bersyukur mendapat kebaikan besar itu bahwa Allah
memberi nyawa kita sebagai jarahan. Sebab, bisa saja
adillah bagi kita sebenarnya untuk binasa bersama orang-
orang yang binasa itu.
2. Amatilah bagaimana sang nabi memanfaatkan belas kasih
yang didapatnya itu. Ia menganggap bahwa waktu itu ia bisa
tinggal di belakang, atau dibiarkan selamat, supaya ia bisa
berdiri di tengah-tengah untuk menepiskan murka Allah. Per-
hatikan, kita harus menganggap bahwa alasan kita diselamat-
kan yaitu supaya kita boleh berbuat baik di tempat kita,
boleh berbuat kebaikan melalui doa-doa kita. Yehezkiel tidak
bersorak-sorak dalam pembunuhan yang Tuhan lakukan,
sebaliknya badanku gemetar sebab ketakutan terhadap Eng-
kau (Mzm. 119:120). Ia sujud dan berseru, bukan sebab ia
ketakutan mencari selamat sendiri (ia termasuk salah satu
yang sudah ditandai untuk selamat), melainkan sebab mera-
sa kasihan terhadap sesamanya. Orang-orang yang berkeluh
kesah atas dosa-dosa para pendosa, mereka pasti juga ber-
keluh kesah atas kesengsaraan para pendosa itu. Namun
demikian, akan tiba harinya saat semua rasa prihatin ini
akan ditelan sepenuhnya oleh rasa puas, bahwa dalam segala
yang terjadi itu Allah dimuliakan. Dan semua orang yang
sekarang sujud dan berseru: Aduh, Tuhan ALLAH, mereka nan-
tinya akan mengangkat kepala dan bernyanyi Haleluya (Why.
19:1, 3). Dengan rendah hati sang nabi berbantah dengan
Allah: “Apakah Engkau memusnahkan seluruh sisa Israel, dan
akankah tidak ada lagi yang tersisa selain sedikit orang yang
ditandai? Akankah Israel milik Allah binasa, habis binasa?
saat hanya sedikit yang tersisa, akankah mereka juga bi-
nasa, padahal mereka merupakan benih dari angkatan selan-
jutnya? Dan akankah Allah Israel sendiri yang menjadi pem-
binasa mereka? Akankah Engkau sekarang memusnahkan
Israel, padahal Engkau sebelumnya melindungi dan membe-
baskan mereka? Akan Engkau di dalam mencurahkan amarah-
Mu atas Yerusalem sampai begitu murkanya sehingga dengan
menghancurkan kota itu seluruh negeri juga ikut musnah?
Pastilah Engkau tidak akan melakukan hal itu!” Perhatikan,
walaupun kita mengakui bahwa Engkau memang benar, ya
TUHAN, namun kita diberi izin juga bilamana aku berbantah
dengan Engkau! namun aku mau berbicara dengan Engkau
tentang keadilan (Yer. 12:1).
IV. Inilah penolakan Allah terhadap permohonan sang nabi agar hu-
kuman diperingan, disertai dengan pembenaran Allah terhadap
diri-Nya sendiri dalam menolak permohonan itu (ay. 9-10).
1. Tidak ada yang dapat dikatakan untuk mengurangi beratnya
dosa ini. Di waktu-waktu lalu Allah bersedia menunjukkan
belas kasihan seperti yang diinginkan sang nabi. Dan Dia
selalu seperti itu. Namun, di sini perkara yang sekarang ini
tidak dapat memperbolehkan yang demikian. Perkaranya su-
dah sedemikian buruk sehingga belas kasihan tidak bisa
diberikan tanpa menyalahi keadilan. Tidaklah pantas bahwa
sifat Allah yang satu dimuliakan dengan mengorbankan sifat-
Nya yang lain. Adakah Sang Mahakuasa bersuka bahwa Dia
harus membinasakan, terutama bahwa Dia harus membinasa-
kan Israel? Sama sekali tidak. Namun persoalan yang sebenar-
nya yaitu bahwa kejahatan-kejahatan orang Israel sudah
sedemikian bejatnya sampai membatalkan hukuman para
pendosa itu berarti sama saja dengan diam-diam ikut terlibat
dalam dosa itu: “Kesalahan kaum Israel dan Yehuda sangat
banyak. Tidak ada yang dapat menghentikan mereka. Tanah
ini penuh hutang darah (KJV: penuh dengan darah orang-orang
yang tidak bersalah), dan saat pengadilan-pengadilan kota
diimbau untuk membela orang-orang yang tidak bersalah yang
Kitab Yehezkiel 9:5-11
dijahati itu, tidak ada obatnya lagi, sebab kota ini penuh
ketidakadilan atau hukum diputarbalikkan. Dan pegangan
yang mereka pakai untuk mendukung kejahatan mereka inilah
yaitu pegangan cemar yang sama yang mereka pakai untuk
membuai diri mereka saat melakukan tindakan berhala,
yaitu tidak mempercayai Allah (8:12), bahwa TUHAN sudah
meninggalkan tanah ini, dan membiarkannya kepada kita
untuk melakukan apa saja yang kita kehendaki di dalamnya,
dan Dia tidak akan mencampuri urusan kita itu, dan perbuat-
an salah apa saja yang kita perbuat, Dia tidak melihatnya. Dia
tidak mengetahuinya, atau tidak peduli dengannya.” Nah,
bagaimana mungkin orang-orang ini mengharapkan keuntung-
an belas kasih Allah jika mereka begitu menentang keadilan-
Nya? Ini tidak akan terjadi. Tidak ada yang bisa ditawarkan
seorang pengacara hukum untuk meminta pengampunan atas
kejahatan sementara si pembuat kejahatan itu sendiri mem-
bela dirinya sedemikian rupa seperti itu. Dan sebab itu,
2. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk meringankan hukuman-
nya (ay. 10): “Tak peduli apa pun yang kamu pikir mengenai
hukuman itu, namun bagi Aku, Aku juga tidak akan merasa
sayang dan tidak akan kenal belas kasihan. Selama ini Aku
telah banyak bersabar dengan para pendosa kurang ajar itu
sepanjang yang Aku pikir pantas dilakukan terhadap mereka.
Dan sebab itu sekarang akan Kutimpakan atas kepala mereka
upah atas kelakuan mereka.” Perhatikan, para pendosa teng-
gelam dan binasa di bawah berat dosa-dosa mereka sendiri.
Bukan kelakuan Allah, namun kelakuan mereka sendiri, yang
mereka pilih dengan sengaja, dan yang mereka bersikeras ada
di dalamnya, untuk menghina firman Allah, yang ditimpakan
atas mereka. Kejahatan besar membenarkan Allah dalam
melakukan tindakan teramat keras. Dan bukan itu saja, Ia
siap membenarkan diri-Nya sendiri, seperti yang dilakukan-
Nya di sini saat menjawab sang nabi, sebab Ia bersih dalam
penghukuman-Nya.
V. Di sini ada jawaban atas kewenangan yang diberikan untuk me-
lindungi dan menyelamatkan orang-orang yang berkabung di Sion
(ay. 11): Orang yang berpakaian lenan itu dan yang memiliki
alat penulis di sisinya memberi laporan, memberi pertanggung-
jawaban atas apa yang telah ia kerjakan sesuai tugas yang diberi-
kan kepadanya. Ia telah mencari dan menemukan semua orang
yang dengan diam-diam meratapi dosa-dosa negeri itu dan men-
jerit melawan semua dosa itu di depan umum. sesudah itu ia me-
nandai orang-orang yang berkabung itu pada dahi mereka dengan
huruf T. Tuhan, Aku sudah kerjakan seperti Engkau perintahkan
kepadaku. Kita tidak menemukan orang-orang yang ditugaskan
untuk membinasakan itu melaporkan penghancuran yang mereka
telah lakukan, sebaliknya yang kita dapati datang melapor hanya-
lah orang yang ditugaskan untuk melindungi. Itu sebab , lebih
menyenangkan bagi Allah maupun sang nabi untuk mendengar
tentang orang-orang yang diselamatkan daripada tentang orang-
orang yang binasa. Atau, laporan ini dibuat sekarang sebab
pekerjaannya sudah selesai, sedangkan pekerjaan membinasakan
itu memerlukan waktu, dan saat sudah selesai dilakukan nanti
barulah dilaporkan. Lihatlah betapa setianya Kristus terhadap
kepercayaan yang diberikan kepada-Nya. Adakah Ia diperintahkan
untuk mengamankan hidup kekal bagi sisa-sisa terpilih? Ia telah
melakukan seperti yang diperintahkan kepada-Nya. Dari mereka
yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiar-
kan binasa.
PASAL 10
ang nabi sudah mengamati bagi kita (8:4) bahwa saat ia men-
dapat penglihatan di Yerusalem, ia melihat penampakan kemulia-
an Allah yang sama seperti yang dilihatnya di tepi sungai Kebar.
Sekarang, dalam pasal ini, ia menceritakan sedikit mengenai penam-
pakan itu, untuk membantu menjelaskan dua petunjuk yang di-
dapatnya dari Allah mengenai kehancuran Yerusalem yang datang
mendekat.
I. Dihamburkannya bara api ke atas kota Yerusalem, yaitu bara
api yang diambil dari tengah-tengah kerub (ay. 1-7).
II. Pemindahan kemuliaan Allah dari Bait Suci, menaiki sayap
kerub (ay. 8-22). saat Allah pergi meninggalkan suatu
bangsa, maka segala penghukuman pun menimpa mereka.
Penglihatan akan Kerub
(10:1-7)
1 Lalu aku melihat, sungguh, di atas cakrawala yang di atas kepala kerub
tampak di atas mereka sesuatu yang menyerupai takhta, yang seperti per-
mata lazurit kelihatannya. 2 Maka Ia berkata kepada orang yang berpakaian
lenan itu: “Masuklah ke bawah kerub dari antara roda-rodanya dan penuhi-
lah rangkup tanganmu dengan bara api dari tengah-tengah kerub itu dan
hamburkan ke atas kota itu.” Lalu aku melihat dia masuk. 3 Kerub-kerub itu
berdiri di sebelah selatan Bait Suci, waktu orang itu masuk ke tengah-tengah
roda-rodanya; dan segumpal awan memenuhi pelataran dalam. 4 Dalam pada
itu kemuliaan TUHAN naik dari atas kerub dan pergi ke atas ambang pintu
Bait Suci, dan Bait Suci ini dipenuhi oleh awan itu dan pelatarannya penuh
dengan sinar kemuliaan TUHAN. 5 Suara sayap kerub itu terdengar sampai
pelataran luar seperti suara ALLAH Yang Mahakuasa, kalau Ia berfirman. 6 Ia
memerintahkan kepada orang yang berpakaian lenan itu: “Ambillah api dari
tengah-tengah roda-rodanya, dari tengah-tengah kerub itu!” Maka yang
berpakaian lenan ini pergi berdiri di samping salah satu dari roda-roda itu.
7 Lalu seorang kerub itu mengulurkan tangannya dari tengah kerub-kerub ke
api yang ada di tengah-tengah mereka, diambilnya sedikit dan ditaruhnya di
dalam tangan orang yang berpakaian lenan. Orang ini menerimanya dan
pergi.
Untuk mengilhami kita dengan rasa kagum dan gentar yang kudus
terhadap Allah, dan untuk memenuhi hati kita dengan rasa takut
kepada-Nya, marilah kita amati bagian penglihatan yang dialami sang
nabi ini.
I. Penampakan keagungan-Nya yang penuh kemuliaan. Sesuatu
dari dunia yang tidak kelihatan di sini menjadi kelihatan, suatu
gambaran yang samar-samar mengenai terang dan keindahannya,
suatu bayangan. Walaupun begitu, yang terlihat ini tidak dapat
dibandingkan dengan keadaannya atau intinya yang sebenarnya,
seperti sebuah gambar tidak dapat dibedakan dengan benda
aslinya. Namun demikian, kesan-kesan yang kita terima dengan
penyingkapan tentang Allah ini seharusnya sudah cukup untuk
mengharuskan kita memberi penghormatan tertinggi kepada Allah
saat kita merenung mengenai Dia dan saat kita mendekati
Dia.
1. Di sini Allah tampak berada di atas cakrawala yang di atas
kepala kerub (ay. 1). Ia menyatakan kemuliaan-Nya di dunia
atas, di mana kemurnian dan terangnya ada dalam kesem-
purnaan. Jangkauan cakrawala yang mahaluas dimaksudkan
untuk menyatakan Allah yang bersemayam di sana di tempat
yang tak terbatas. Itu yaitu cakrawala-Nya yang kuat dan
tempat Ia melihat. Sebab, dari sana Ia mengamat-amati semua
anak-anak manusia. Kodrat Ilahi tak terhingga mengatasi
kodrat malaikat, dan Allah ada di atas kepala kerub, yang
menunjukkan bukan saja keagungan-Nya melebihi mereka,
namun juga kekuasaan-Nya atas mereka. Para kerub memiliki
kuasa, hikmat dan pengaruh yang besar, namun mereka semua
tunduk kepada Allah dan Kristus.
2. Allah di sini sedang ada di atas takhta, atau di atas sesuatu
yang menyerupai takhta (sebab kemuliaan dan pemerintahan
Allah secara tak terbatas mengatasi segala gagasan akal budi
kita yang paling cemerlang sekalipun, sehingga akal kita tidak
dapat membentuk atau mencerna kemuliaan-Nya itu seperti
apa). Takhta-Nya itu seperti permata lazurit kelihatannya, mur-
ni dan bersinar gemerlap. Takhta seperti inilah yang Allah
Kitab Yehezkiel 10:1-7
tegakkan di sorga, jauh mengungguli segala takhta penguasa
di bumi.
3. Allah tampak diiringi oleh sekelompok malaikat-malaikat ku-
dus. saat Allah masuk ke Bait Suci-Nya, kerub-kerub itu ber-
diri di sebelah selatan Bait Suci (ay. 3), seperti pangawal raja,
menjaga pintu gerbang istana-Nya. Kristus memiliki malaikat-
malaikat yang siap menunggu perintah-Nya. Perintah yang di-
berikan kepada semua malaikat Allah yaitu supaya menyem-
bah Dia. Sebagian penafsir mengamati bahwa kerub-kerub itu
berdiri di sebelah selatan Bait Suci, atau di sebelah kanan (KJV),
sebab di sebelah selatan ada patung kecemburuan dan ma-
cam-macam berhala, yang darinya mereka harus menempat-
kan diri jauh-jauh.
4. Penampakan kemuliaan-Nya diselubungi dengan awan, na-
mun dari balik awan itu memancar keluar berkas cahaya yang
luar biasa menyilaukan mata. Di dalam Bait Suci, dan di pela-
taran dalam hanya ada awan dan kegelapan, yang memenuhi
keduanya, namun pelataran luar, atau pelataran dalam,
sesudah beberapa saat menjadi penuh dengan sinar kemuliaan
TUHAN (ay. 3-4). Cahaya dan terang besar memancar keluar.
namun , kalau ada mata yang penuh keingin-tahuan hen-
dak mencoba mengintip ke dalam, maka tidak ada yang terli-
hat selain awan saja. Keadilan-Nya menjulang tinggi seperti
gunung-gunung Allah, dan terangnya yang besar memenuhi
pelataran. namun , hukum-Mu bagaikan samudera raya
yang hebat, yang tak dapat kita selami, awan yang tak dapat
kita lihat menembusnya. Sinar terangnya yang besar itu cukup
untuk membuat nurani kita terkesima dan terbangun, namun
awan menghalangi kita untuk berharap bisa memuaskan rasa
ingin tahu kita. Sebab, tak ada yang dapat kami paparkan oleh
sebab kegelapan. Demikianlah (Hab. 3:4), ada kilauan seperti
cahaya, sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung
kekuatan-Nya. Tidak ada yang lebih jelas daripada siapa itu
Allah, dan tidak ada yang lebih gelap daripada apa yang
dilakukan-Nya. Allah berselimutkan terang, namun terhadap
kita, Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi pondok-
Nya. Allah memiliki kemah dan Bait Suci itu dalam bungkusan
awan, yang selalu menjadi lambang kehadiran-Nya. Namun di
Bait Suci di sorga tidak akan ada awan, dan kita akan saling
lihat muka dengan muka.
5. Kerub-kerub itu membuat bunyi menakutkan dengan sayap-
sayap mereka (ay. 5). Getarannya, seperti senar alat musik,
menghasilkan melodi aneh. Lebah dan serangga-serangga ber-
sayap membuat bunyi-bunyi bising juga dengan sayap mereka.
Mungkin kepakan sayap para kerub ini menandakan mereka
sedang membuat persiapan untuk berpindah, dengan meren-
tangkan sambil mengangkat turun-naik sayap mereka, sehing-
ga menimbulkan suara bising itu, seperti hendak memberi
peringatan. Suara ini dikatakan seperti suara ALLAH Yang
Mahakuasa, kalau Ia berfirman, seperti bunyi guntur, yang
disebut suara TUHAN (Mzm. 29:3), atau seperti suara TUHAN
saat Ia berbicara kepada orang Israel di Gunung Sinai, dan
saat itu Ia memberi hukum dengan kengerian luar biasa, un-
tuk menunjukkan betapa dengan dahsyatnya Ia akan memin-
tai pertanggungjawaban bila ada yang melanggarnya, yang
sekarang hendak Ia laksanakan. Suara sayap-sayap itu ter-
dengar sampai pelataran luar, yaitu pelataran tempat umat
berkumpul. Sebab, suara Tuhan, saat menghakimi, berseru-
seru di dalam kota, supaya orang-orang yang tidak melihat
penglihatan-penglihatan seperti Yehezkiel, bisa mendengar saja.
II. Perintah-perintah mengerikan akibat murka-Nya. Penglihatan ini
memiliki maksud lebih lanjut dan bukan sekadar memperlihatkan
kedahsyatan Allah. Perintah-perintah selanjutnya hendak diberi-
kan mengenai kehancuran Yerusalem. Bencana dahsyat akan
ditimbulkan oleh api dan pedang. Dalam pasal sebelumnya ada
diberikan perintah untuk membunuh semua penduduk Yeru-
salem, dan sekarang dalam pasal ini kita dapati perintah untuk
meratakan kota ini dalam debu, dengan menghamburkan bara api
ke atas kota itu, bara yang diambil dari tengah-tengah kerub itu.
1. Untuk mengeluarkan perintah, kemuliaan Allah terangkat dari
atas kerub (seperti yang terjadi sebelumnya saat perintah
dikeluarkan [lihat 9:3]), dan pergi ke atas (KJV: duduk di atas)
ambang pintu Bait Suci, seperti sedang duduk di kursi peng-
adilan yang biasanya dilakukan orang di pintu-pintu gerbang
kota. Orang Israel tidak mau mendengar sabda-sabda yang
Kitab Yehezkiel 10:1-7
Allah sampaikan kepada mereka dari Bait Suci-Nya, dan kare-
na itu mereka akan dibuat mendengar malapetaka mereka.
2. Orang yang berpakaian lenan itu, yang menandai orang-orang
yang akan diselamatkan, dipakai dalam pelayanan ini. Sebab,
Yesus yang sama, Sang Pelindung dan Penyelamat mereka
yang percaya, sesudah semua penghakiman diserahkan kepada-
Nya, baik untuk menghukum maupun untuk membebaskan,
akan datang dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-
nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang
tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus. Dia
yang duduk di atas takhta memanggil orang yang berpakaian
lenan itu, dan berkata, “Masuklah ke bawah kerub dari antara
roda-rodanya dan penuhilah rangkup tanganmu dengan bara
api dari tengah-tengah kerub itu dan hamburkan ke atas kota
itu.” Hal ini menyiratkan bahwa,
(1) Pembakaran kota dan Bait Suci oleh orang-orang Kasdim
memang sudah ditetapkan, dan dalam melakukannya,
mereka menjalankan keputusan Allah, melaksanakan apa
yang sudah dirancangkan-Nya sebelumnya.
(2) Api murka Allah, yang menyalakan hukuman ke atas suatu
umat, sungguh adil dan kudus, sebab api itu diambil dari
tengah-tengah kerub itu. Api di atas mezbah Allah, tempat
pendamaian atas dosa diadakan, telah dihina, dan sebab
itu, sebagai pembalasan, api penghakiman ini diambil dari
sorga, seperti api yang dipakai untuk membunuh Nadab
dan Abihu yang mengadakan korban bakaran dengan api
yang asing. saat suatu kota, desa, atau rumah terbakar,
entah disengaja atau tidak, dan jika kita telusuri asal-
usulnya, kita akan mendapati bahwa bara yang menyulut
api itu berasal dari antara roda-roda kerub. Sebab tidak
ada kejahatan apa pun di tempat itu yang menyebabkan-
nya selain Tuhan yang melakukannya.
(3) Yesus Kristus bertindak sesuai perutusan dari Bapa, sebab
dari Dia Kristus menerima kuasa untuk menghakimi, kare-
na Ia yaitu Anak Manusia. Kristus datang untuk melem-
parkan api ke bumi (Luk. 12:49) dan pada hari besar itu Ia
akan berfirman kepada dunia ini sehingga menjadi abu.
Dengan api yang keluar dari tangan-Nya, bumi dan segala
pekerjaan yang ada di dalamnya akan terbakar habis.
3. Orang yang berpakaian lenan itu siap melaksanakan peker-
jaannya. Walaupun dengan berpakaian lenan ia sangat tidak
pantas untuk pergi ke tengah-tengah bara, namun begitu di-
panggil, ia pun menjawab, sungguh, aku datang. Perintah ini Ia
terima dari Bapa-Nya, dan Ia pun setuju dengan perintah itu.
Sang nabi melihatnya pergi masuk. Ia pergi berdiri di samping
salah satu dari roda-roda itu, menanti untuk diberi bara-bara
api untuk ditebarkannya. Sebab, apa yang akan diberikan oleh
Kristus Ia diterima-Nya terlebih dahulu, baik itu belas kasihan
ataupun penghakiman. Ia diberi perintah untuk mengambil api,
namun ia berdiri menunggu sampai api itu diberikan kepadanya,
untuk memperlihatkan betapa ia lambat dalam melaksanakan
hukuman, dan betapa panjang sabarnya ia terhadap kita.
4. Salah satu dari para kerub mengulurkan segenggam api dari
tengah-tengah makhluk-makhluk hidup. Sebelumnya, sang
nabi, saat pertama kali melihat penglihatan ini, mengamati
bahwa ada bara api yang menyala, suluh, yang bergerak kian
ke mari di antara makhluk-makhluk hidup (1:13). Nah, dari
antara makhluk-makhluk hidup inilah api itu diambil (ay. 7).
Roh yang membakar, api tukang pemurni logam, yang dengan-
nya Kristus memurnikan jemaat-Nya, berasal dari Allah. De-
ngan api dari sorga, api dari tengah-tengah kerub itu-lah, se-
gala keajaiban itu dikerjakan. Seorang kerub itu mengulurkan
tangannya dari tengah kerub-kerub ke api yang ada di tengah-
tengah mereka, diambilnya sedikit dan ditaruhnya di dalam
tangan orang yang berpakaian lenan itu. Sebab para malaikat
selalu siap dipekerjakan oleh Tuhan Yesus untuk melayani
segala tujuan-Nya.
5. sesudah mengambil api itu, orang itu pun pergi, tidak diragu-
kan lagi, untuk menghamburkan api itu di seluruh kota itu
seperti diperintahkan kepadanya. Dan, Siapakah yang dapat
tahan akan hari kedatangan-Nya? Siapa yang dapat tahan di
hadapan-Nya saat Ia tampil dalam amarah-Nya?
Penglihatan akan Kemuliaan Allah
(10:8-22)
8 Pada kerub-kerub itu tampak yang menyerupai tangan manusia di bawah
sayap mereka. 9 Aku melihat, sungguh, di samping kerub-kerub itu ada
Kitab Yehezkiel 10:8-22
183
empat roda, satu roda di samping seorang kerub, dan roda-roda ini kelihat-
annya seperti kilauan permata pirus. 10 Kelihatannya keempatnya yaitu
serupa, seolah-olah roda yang satu ditengah-tengah yang lain. 11 Kalau
mereka berjalan mereka dapat menuju keempat jurusan tanpa berbalik kalau
berjalan; sebab tempat mana yang dituju oleh yang di muka, ke situlah
pergi yang lain-lain, tanpa berbalik kalau berjalan. 12 Seluruh badan mereka,
punggungnya, tangannya, sayapnya, dan roda-rodanya penuh dengan mata
sekelilingnya, ya, roda-roda mereka berempat juga. 13 Aku dengar bahwa
roda-rodanya disebut “puting beliung.” 14 Masing-masing memiliki empat
muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka
manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka
rajawali. 15 Kerub-kerub itu naik ke atas. Itulah makhluk-makhluk hidup
yang dahulu kulihat di tepi sungai Kebar. 16 Kalau kerub-kerub itu berjalan,
roda-roda itu juga berjalan di samping mereka; kalau kerub-kerub itu
mengangkat sayapnya untuk terbang dari tanah, roda-roda itu tidak bergerak
dari samping mereka. 17 Kalau kerub-kerub itu berhenti, roda-roda itu
berhenti, kalau kerub-kerub itu naik ke atas, roda-roda itu sama-sama naik
dengan mereka; sebab roh makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-
roda itu. 18 Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan
hinggap di atas kerub-kerub. 19 Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap
mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan
roda-rodanya bersama-sama dengan mereka. Lalu mereka berhenti dekat
pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah
Israel berada di atas mereka. 20 Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu
kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa
mereka yaitu kerub-kerub. 21 Masing-masing memiliki empat muka dan
bagi masing-masing ada empat sayap dan di bawah sayap mereka ada yang
berbentuk tangan manusia. 22 Kelihatannya muka mereka yaitu serupa
dengan muka yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan
lurus ke mukanya.
Ayat-ayat ini menggambarkan lebih lanjut penglihatan akan kemulia-
an Allah. Di sini diperkenalkan pertanda yang mengerikan itu, yakni
perginya kemuliaan Allah itu dari antara orang Israel, yang membuka
pintu bagi kehancuran untuk masuk menerobos.
I. Nabi Yehezkiel melihat kemuliaan Allah bersinar terang di tempat
kudus, seperti yang telah dilihatnya dahulu di tepi sungai Kebar.
Ia lalu memberi penjelasan tentang penglihatannya itu, bahwa
orang-orang yang telah menyulut murka Allah dengan kejahatan
mereka hingga Ia meninggalkan mereka, akan mengetahui apa
yang telah hilang dari mereka, dan mereka akan meratap di
hadapan-Nya, meraung-raung mencari Ikabod (telah lenyap kemu-
liaan dari Israel – pen.) mereka, Di mana kemuliaan itu? Yehezkiel
di sini melihat bagaimana Allah Sang Pemelihara bekerja meme-
rintah dunia bawah dan segala urusannya, yang di sini digambar-
kan dengan empat roda. Sedangkan kesempurnaan para malaikat
kudus, para penghuni dunia atas itu, dan segala pelayanan mere-
ka digambarkan dengan empat makhluk hidup, masing-masing
memiliki empat muka. Cara kerja para malaikat dalam meng-
urus segala urusan dunia ini digambarkan dengan hubungan
dekat yang terjadi antara makhluk hidup dan roda-roda, di mana
roda-roda dikendalikan oleh para makhluk hidup itu untuk ber-
gerak, seperti kereta dipandu oleh orang yang mengemudikannya.
namun , Roh yang sama yang bekerja di dalam diri makhluk
hidup dan roda-roda menunjukkan adanya Sang Hikmat Tak Ter-
batas, yang melayani tujuan-tujuan-Nya sendiri melalui pelayan-
an para malaikat dan segala peristiwa yang terjadi di dunia bawah
ini. Dengan demikian penglihatan ini memberi kesempatan bagi
iman untuk melihat bahwa TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya
di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mzm.
103:19). Sang nabi mengamati bahwa penglihatan ini juga yang
dahulu kulihat di tepi sungai Kebar (ay. 15, 22), namun ada satu
perbedaan, yaitu dalam penglihatan sebelumnya itu ada muka
lembu di sebelah kiri (1:10), sedangkan di sini ada muka kerub,
muka yang pertama (ay. 14). Ada yang menafsirkan bahwa muka
kerub itu sama dengan muka lembu yang ada dalam pikiran
orang Israel saat mereka membuat lembu emas dahulu.
Namun, menurut saya, dalam penglihatan yang terakhir ini, muka
yang pertama ini merupakan rupa atau tampilan yang sebenarnya
dari kerub, yang dikenal Yehezkiel dengan baik sebagai seorang
imam, seperti yang telah dilihatnya di dalam Bait Suci Tuhan
(1Raj. 6:29), namun sekarang memang tidak kita ketahui secara
pasti lagi. Dan kini dengan penglihatan ini Yehezkiel tahu dengan
pasti, sementara sebelumnya ia hanya menduga-duga, bahwa
muka-muka itu semuanya yaitu para kerub, walaupun tampil
dengan muka-muka yang berbeda (ay. 20). Dan dengan tampilnya
kerub dalam rupanya yang selayaknya, dan tetap dalam jumlah-
nya yang empat, maka muka lembu dari kerub pun disingkirkan,
sebab muka kerub selama ini sudah dilecehkan melalui penyem-
bahan seekor lembu. Seperti adakalanya saat Allah tampil mem-
bebaskan umat-Nya, demikian pula sekarang saat tampil mening-
galkan umat-Nya, Ia mengendarai kerub, lalu terbang. Sekarang
mari kita amati di sini.
1. Bahwa dunia ini tunduk pada perputaran dan perubahan,
serta pada berbagai perubahan yang tiba-tiba. Arah peristiwa
yang terjadi di dalamnya digambarkan melalui roda-roda (ay.
Kitab Yehezkiel 10:8-22
9). Adakalanya jari-jari roda yang satu ada di atas dan terka-
dang yang lain. Naik turun seperti laut, mengecil dan mem-
besar seperti bulan (1Sam. 2:4, dst.). Bahkan, tampilan roda-
roda itu seolah-olah roda yang satu ditengah-tengah yang lain,
yang menandakan mereka saling menunjang, bergantung satu
sama lain, dan saling bersambung menuju satu tujuan,
sementara gerakan mereka tampaknya rumit, membingungkan
dan kelihatan berlawanan.
2. Bahwa ada suatu keselarasan dan keseragaman dalam ber-
bagai kejadian tindak pemeliharaan Allah, Mengenai roda-roda
itu, walaupun mereka bergerak ke beberapa arah, namun
mereka diteriaki, Wahai roda! (ay. 13, KJV). Mereka semua
seperti satu adanya, dibimbing oleh satu Roh menuju satu
tujuan. Sebab, Allah bekerja semuanya menurut keputusan
kehendak-Nya sendiri, yang yaitu satu, demi kemuliaan-Nya
sendiri, yang yaitu satu. Dan ini sungguh membuat tindakan
pemeliharaan-Nya benar-benar mengagumkan, dan harus di-
pandang dengan rasa takjub. Seperti segala pekerjaan pencip-
taan-Nya, dilihat secara terpisah, baik adanya, namun secara
bersama-sama semuanya sangat baik, demikian pula dengan
roda-roda pemeliharaan-Nya, bila dilihat terpisah satu per
satu, indah adanya, namun bila digabung bersama-sama sung-
guhlah indah. Wahai roda!
3. Bahwa semua gerakan Sang Pemelihara itu tetap dan teratur,
dan apa pun yang berkenan di hati-Nya, Ia melakukannya dan
tidak akan berubah pikiran. Roda-roda itu, kalau mereka ber-
jalan mereka dapat menuju keempat jurusan tanpa berbalik ka-
lau berjalan (ay. 11), sementara makhluk-makhluk hidup itu,
masing-masing berjalan lurus ke mukanya (ay. 22). Tak peduli
apa pun kesulitan yang menghadang di jalan, mereka yakin
bisa melewatinya, dan tidak bisa dibuat berhenti, berbelok dan
kembali. Betapa sempurnanya Allah mengenal semua pekerja-
an-Nya hingga tidak sekali-kali Ia berubah pikiran.
4. Bahwa Allah banyak memakai pelayanan para malaikat dalam
mengatur dunia bawah ini lebih daripada yang kita sadari. Di
samping kerub-kerub itu ada empat roda, satu roda di
samping seorang kerub (ay. 9). Apa yang selama ini dibayang-
kan sementara orang mengenai wilayah dunia atas, bahwa
setiap ujud memiliki kemampuan berpikir untuk membimbing
dirinya, di sini tersirat pemikiran seperti itu dalam hal roda-
roda itu, bahwa setiap roda memiliki kerubnya untuk mem-
bimbingnya. Sangatlah memuaskan hati kita bila di bawa
tuntunan Allah yang bijak ada orang-orang bijak yang dipakai
dalam mengatur berbagai urusan kerajaan-kerajaan dan gere-
ja-gereja. namun apakah ini terjadi atau tidak, satu hal tampak
pasti di sini bahwa para malaikat yang bijak sungguh dipakai,
satu roda di samping seorang kerub.
5. Bahwa semua gerakan pemeliharaan ilahi dan pelayanan para
malaikat ada di bawah penguasaan Allah yang Mahabesar.
Semuanya penuh dengan mata sekelilingnya, yaitu mata-mata
dari Tuhan yang bergerak ke sana kemari melalui bumi, yang
selalu diikuti gerakannya oleh para malaikat (ay. 12). Makhluk-
makhluk hidup, dan roda-roda semuanya serasi dalam gerak-
an-gerakan dan perhentian mereka (ay. 17). Sebab, Roh yang
memberi hidup, seperti yang bisa ditafsirkan demikian, roh
makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-roda itu. Roh
Allah mengarahkan semua makhluk hidup sedemikian rupa,
baik di dunia atas maupun bawah, supaya mereka semua
melayani tujuan ilahi. Segala peristiwa tidak ditentukan oleh
roda keberuntungan, yang buta, namun oleh roda-roda Pemeli-
haraan Ilahi, yang penuh dengan mata di sekelilingnya.
II. Yehezkiel melihat kemuliaan Allah meninggalkan tempat kudus,
tempat kehormatan Allah selama ini berdiam, dan pemandangan
ini sungguh menyedihkan. Walaupun sangat menyenangkan hati
melihat Allah tidak meninggalkan tanah ini (seperti yang disangka
para penyembah berhala [9:9]), namun sungguh sedih juga bahwa
Ia sampai meninggalkan tempat kudus-Nya. Kemuliaan TUHAN
pergi ke atas ambang pintu Bait Suci, sesudah memberi perin-
tah-perintah yang perlu untuk menghancurkan kota itu, dan dari
situ hinggap di atas kerub-kerub, bukan yang ada di ruang maha-
kudus, namun yang sekarang dilihat Yehezkiel dalam penglihatan
ini (ay. 18). Kemuliaan TUHAN naik ke atas kereta yang anggun,
sebagai Hakim, saat Ia bangkit dari kursi pengadilan, masuk ke
dalam kereta dan pergi. Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap
mereka (ay. 19), sebagaimana mereka diarahkan, dan mereka naik
dari tanah, seperti burung-burung dengan sayapnya. Dan, waktu
mereka pergi, roda-rodanya bersama-sama dengan mereka, secara
Kitab Yehezkiel 10:8-22
naluri, tidak ditarik. Dengan demikian tampaklah bahwa roh
makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-roda itu. Demi-
kianlah, saat Allah meninggalkan suatu umat dalam kemarah-
an, para malaikat di atas dan semua peristiwa di bawah turut
sepakat dalam mendukung kepergian-Nya. Amatilah di sini, di
pelataran-pelataran Bait Suci di mana orang Israel telah meng-
hina Allah mereka dan melemparkan kuk yang ditaruh-Nya di
bahu mereka, para malaikat yang terberkati tampil siap sedia
melayani Dia, untuk menarik kereta yang dinaiki-Nya, dan naik ke
atas bersamanya. Sebelumnya Allah memperlihatkan kepada sang
nabi betapa kehendak Allah telah diabaikan oleh manusia di bumi
(ps. 8), dan sekarang di sini Dia menunjukkan kepadanya betapa
siapnya kehendak-Nya ditaati oleh para malaikat dan makhluk-
makhluk yang lebih rendah tingkatannya. Jadi sungguh meng-
hibur hati bila sementara bersedih atas kejahatan orang fasik,
kita bisa merenungkan betapa patuhnya para malaikat-Nya terha-
dap segala perintah-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya
(Mzm. 103:20). Marilah sekarang kita,
1. Perhatikan kereta ini, yang dinaiki kemuliaan Allah Israel de-
ngan penuh kemenangan. Ia yang yaitu Allah Israel merupa-
kan Allah empunya sorga dan bumi, dan berkuasa atas segala
kuasa di sorga dan di bumi. Hendaklah semua orang Israel
yang setia terhibur hatinya dengan ini, bahwa Dia yang yaitu
Allah mereka berkuasa atas para kerub. Sang Penebus mereka
juga demikian adanya (1Ptr. 3:22) dan berkuasa sepenuh-
penuhnya dalam mengatur segala peristiwa dunia ini. Semua
makhluk hidup dan roda-roda sepakat untuk melayani Dia, dan
Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari
segala yang ada. Para guru agama Yahudi menyebut peng-
lihatan yang dilihat Yehezkiel ini dengan istilah Mercabah,
yaitu penglihatan tentang kereta. Dari sebutan ini kemudian
mereka menyebut bagian yang lebih sulit dipahami tentang
Allah, yaitu tentang Allah dan roh-roh, dengan Opus currûs,
artinya pekerjaan kereta. Sedangkan bagian yang lebih jelas
dan sudah umum dikenal, mereka sebut Opus bereshith, arti-
nya karya penciptaan.
2. Mari kita perhatikan gerak-gerik dari kereta ini: Kerub-kerub
itu, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka, ber-
henti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur
(ay. 19). Amati di sini berapa banyak tempat perhentian yang
disinggahi Allah, seolah-olah Ia ingin melihat kalau-kalau ada
yang merintangi-Nya supaya kembali. Tidak satu pun dari
para imam di pelataran dalam, antara Bait Suci dan mezbah,
yang mau menjamu-Nya. sebab itu Ia pun meninggalkan
pelataran mereka dan berdiri di pintu gerbang sebelah timur,
yang menuju ke pelataran tempat berkumpul umat, untuk meli-
hat-lihat lagi kalau-kalau ada dari antara umat yang mau
maju mengantarai Dia dengan umat. Ingatlah, sedikit demi
sedikit Allah meninggalkan suatu umat yang menyulut murka-
Nya. namun saat Ia sudah hendak meninggalkan mereka
dalam amarah, Ia mau saja kembali kepada mereka dengan
penuh belas kasih, jika mereka mau kembali menjadi umat
yang bertobat dan pendoa.
PASAL 1 1
asal ini mengakhiri penglihatan yang dilihat Yehezkiel, dan bagi-
an penglihatan yang digambarkan dalam pasal ini melengkapi dia
dengan dua pesan, yaitu
I. Sebuah pesan kemurkaan melawan orang-orang Israel yang
terus tinggal di Yerusalem. Dalam puncak kepongahan mere-
ka mengira tidak akan binasa (ay. 1-13).
II. Sebuah pesan penghiburan kepada orang-orang yang dibawa
sebagai tawanan ke Babel. Di kedalaman roh yang terpuruk
mereka menyangka diri tidak akan pernah bangkit lagi. Dan,
sebagaimana kelompok yang pertama tadi diyakinkan bahwa
Allah telah menyediakan berbagai hukuman bagi mereka
sekalipun keadaan mereka sekarang aman-aman saja, demi-
kian pula halnya kelompok yang kedua ini juga diyakinkan
bahwa Allah telah menyediakan belas kasih-Nya bagi mereka
sekalipun dengan keadaan mereka yang sedang tertekan (ay.
14-21). Dan kemuliaan Allah terangkat semakin jauh (ay. 22-
23). Penglihatan menghilang (ay. 24), dan Yehezkiel dengan
setia menyampaikan kepada para pendengarnya tentang
penglihatan itu (ay. 25).
Pesan Kemurkaan kepada Yerusalem;
Kepongahan Pemimpin;
Nubuat-nubuat yang Mengentakkan
(11:1-13)
1 Lalu Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pintu gerbang Timur
dari rumah TUHAN, pintu yang menghadap ke sebelah timur. Lihat, di dalam
pintu gerbang itu ada dua puluh lima orang dan di antara mereka kulihat
Yaazanya bin Azur dan Pelaca bin Benaya, yaitu pemimpin-pemimpin bangsa.
2 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, inilah orang-orang yang meran-
cang kedurjanaan dan menaburka