Yehezkiel 6

 


di sini yaitu , 

1. Perempuan-perempuan yang menangisi dewa Tamus (ay. 14). 

Sungguh hal yang keji, bahwa ada orang yang lebih memilih 

melayani suatu berhala dengan air mata daripada melayani 

Allah yang benar dengan sukacita dan gembira hati! namun  

demikianlah ketidakwarasan yang dilakukan orang-orang yang 

bersalah dengan berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, 

dan meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. 

Ada yang menduga untuk Dewa Adonis, berhala orang Yunani, 

atau Osiris, berhala orang Mesirlah, perempuan-perempuan 

itu menumpahkan air mata mereka. Gambar itu, kata orang, 

dibuat untuk menangis, lalu para penyembahnya menangis 

bersamanya. Mereka meratapi kematian Tamus ini, dan segera 

bersuka atas kembalinya dia kepada hidup lagi. Perempuan-

perempuan yang meratap ini duduk di pintu gerbang rumah 

TUHAN, dan di sana mereka menumpahkan air mata berhala 

mereka, seolah sedang menantang Allah dan menghina upa-

cara-upacara kudus ibadah-Nya. Sebagian orang menduga, 

dengan saat  melakukan penyembahan berhala itu, perem-

puan-perempuan itu juga melakukan persundalan jasmani, 

sebab  kedua perbuatan dosa ini biasanya berjalan bersama, 

dan orang yang menghina kodrat ilahi, Allah pantas menyerah-

kan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk dan perasaan 

terkutuk untuk menghina kodrat manusiawi. Dan keadaan ini 

tidak pernah orang alami sampai sedemikian dalamnya seperti 

saat  orang terlibat dalam upacara-upacara berhala seperti 

ini. 

2. Orang laki-laki sujud pada matahari (ay. 16). Dan lebih sung-

guh teramat menjijikkan dan keji lagi bahwa perbuatan ini 

dilakukan di pelataran dalam rumah TUHAN; sungguh, dekat 

jalan masuk ke bait TUHAN, di antara balai Bait Suci dan mez-

bah. Di situ, di tempat semua upacara suci dari agama kudus 

mereka biasanya dijalankan, kejahatan keji itu dilakukan. 

Maka wajarlah jika dalam rasa cemburu-Nya Allah berkata 

kepada orang-orang yang menyakiti hati-Nya sedemikian rupa 

di depan pintu rumah-Nya sendiri, seperti yang dilakukan raja 

kepada Haman, Masih jugakah ia hendak menggagahi sang 

ratu di dalam istanaku sendiri? Di sini ada kira-kira dua puluh 

lima orang laki-laki yang memberi  penghormatan kepada 

matahari, yang seharusnya diberikan kepada Allah saja. Ada 

Kitab Yehezkiel 8:13-18  

yang berpendapat bahwa orang-orang itu yaitu  raja Yehuda 

dan para pejabatnya. namun  tampaknya lebih tepat kalau 

mereka itu yaitu  para imam, sebab  ini yaitu  pelataran 

para imam, dan itu tempat yang cocok untuk menemukan me-

reka. Kepada mereka ini sudah dipercayakan agama yang 

sejati, diberi tanggung jawab untuk memeliharanya, dan diberi 

tugas untuk menjaganya, namun  justru mereka yang meng-

khianatinya. 

(1) Mereka membelakangi bait TUHAN, dengan bulat hati melu-

pakannya dan dengan sengaja menghina dan mencelanya. 

Perhatikan, saat  manusia membelakangi segala ketetap-

an Allah dan menghinanya, maka tidak heran kalau mere-

ka tanpa henti terus mengejar-ngejar sesuatu yang baru. 

Perbuatan dan sikap tidak saleh merupakan awal dari 

berhala dan semua kejahatan.  

(2) Mereka menghadap ke sebelah timur sambil sujud pada 

matahari di sebelah timur. Ini yaitu  sebuah kebiasaan 

penyembahan berhala kuno, sudah ada pada masa Ayub 

(Ayb. 31:26), dan umum dilakukan di antara bangsa-bang-

sa, yang menyembah matahari dengan nama-nama terten-

tu. Para imam ini menemukan bahwa kebiasaan ini sudah 

dilakukan sejak dahulu kala dan bangsa-bangsa menyetu-

juinya, dan sebab  itu mereka menerapkannya juga di 

pelataran rumah Tuhan, sebab  sangka mereka kebiasaan 

itu sudah dihilangkan dan tidak disertakan dalam upacara 

ibadah mereka. Lihatlah kebodohan para penyembah ber-

hala, mereka menyembah suatu allah dan menyebutnya 

Baal – tuan, padahal Allah menciptakan mereka untuk men-

jadi pelayan bagi alam semesta (sebab begitulah matahari 

itu, dan demikianlah arti dari nama Semes [Ul. 4:19]). 

Betapa bodohnya mereka dalam memuja terang pinjaman 

dan menghina Bapa segala terang.  

II. Kesimpulan dari semua penyingkapan ini (ay. 17): “Kaulihatkah 

itu, hai anak manusia? Pernahkah terpikir olehmu bahwa hal-hal 

seperti ini bisa dilakukan di Bait Tuhan?” Nah, 

1. Allah menyatakan keberatan-Nya kepada sang nabi mengenai 

kekejian perbuatan jahat ini. Menurut sang nabi, perkara kecil-

kah itu bagi kaum Yehuda, yang mengetahui dan mengaku me-

miliki perkara-perkara yang lebih baik dan sudah dimuliakan 

dengan begitu banyak hak istimewa melebihi bangsa-bangsa 

lain? Apakah bisa dimaafkan orang-orang yang memiliki segala 

firman dan ketetapan Allah untuk melakukan perbuatan-per-

buatan kekejian yang mereka lakukan di sini? Tidakkah pantas 

orang-orang ini menderita akibat dosa mereka ini? Bukankah 

kekejian seperti ini harus membawa kebinasaan? (Dan. 9:27). 

2. Allah memperberat kesalahan mereka lagi sebab  segala tipu 

daya dan penindasan yang ditemukan di semua bangsa-bang-

sa: mereka memenuhi tanah ini dengan kekerasan. Tidaklah 

mengherankan kalau orang-orang yang berbuat jahat kepada 

Allah juga tidak akan peduli untuk berbuat jahat terhadap 

satu sama lain. Kalau yang kudus saja sudah diinjak-injak, 

maka yang benar pun akan sama diinjak. Kejahatan perilaku 

mereka bahkan membuat ibadah mereka kepada Allah mereka 

menjadi kekejian bagi-Nya (Yes. 1:11, dst.): “Mereka memenuhi 

tanah ini dengan kekerasan, lalu mereka pergi ke Bait Suci 

untuk menyakiti hati-Ku (KJV: membuat Aku marah) di sana. 

Korban-korban persembahan mereka, bukannya diterima 

sebagai korban penebusan dosa, sebaliknya menambah besar 

kesalahan mereka. Mereka terus menyakiti hati-Ku, melakukan-

nya lagi dan lagi, dan lihatlah, sungguh, mereka berkelakuan tak 

senonoh di hadapan-Ku.” Mereka mengolok-olok dan memper-

mainkan Allah. Mereka mencibir dan mengendus-ngendus saat 

beribadah kepada-Nya, seperti orang mengendus-ngendus bu-

nga. Kita membaca mengenai karangan-karangan bunga yang 

dipakai orang saat  menyembah berhala (Kis. 14:13), di mana 

setiap orang memegang sebuah dahan bunga untuk dicium 

dan diendus-endus. Dr. Lightfoot (dalam karangannya Hor. 

Heb. in John 15.6) memberi arti lain lagi mengenai tempat 

berhala ini: Mereka menaruh dahan bunga lagi bagi murka 

mereka, atau pada murka-Nya, seperti tafsiran kaum Masorite. 

Yaitu, mereka terus saja membawa bahan bakar (seperti 

dahan-dahan pohon anggur yang kering) dan menaruhnya 

dalam api murka ilahi. Mereka membakar dahannya dahulu, 

seolah-olah murka itu belum cukup panas terbakar. Atau taf-

siran lain lagi, mereka terus menyakiti Dia dan menimbulkan 

Kitab Yehezkiel 8:13-18 

amarah Allah atau manusia. Mereka yaitu  angkatan manusia 

yang suka berbuat jahat. 

3. Allah menjatuhkan hukuman atas mereka, bahwa mereka 

akan habis dibinasakan. sebab  itu, sebab dengan ganasnya 

mereka membengkokkan diri pada dosa, maka terhadap mere-

ka pula Aku akan membalas di dalam kemurkaan-Ku (ay. 18). 

Mereka memenuhi tanah ini dengan kekerasan, maka Allah pun 

akan memenuhinya juga dengan musuh-musuh mereka. Dan 

Ia tidak akan mencondongkan telinga-Nya kepada segala per-

mohonan, 

(1) Dari rasa kasihan-Nya. Aku tidak akan merasa sayang dan 

tidak akan kenal belas kasihan. Pertobatan tidak akan 

dilihat oleh mata-Nya. Atau, 

(2) Dari doa-doa mereka. Dan kalaupun mereka berseru-seru 

kepada-Ku dengan suara yang nyaring, Aku tidak akan 

mendengarkan mereka. Sebab masih saja dosa-dosa mere-

ka berseru-seru nyaring menuntut balas daripada doa-doa 

mereka berseru minta belas kasih. Sekarang Allah akan 

tuli terhadap doa-doa mereka seperti semua berhala mere-

ka tuli terhadap mereka, yang darinya mereka berteriak 

minta tolong namun  sia-sia (1Raj. 18:26). Dahulu ada wak-

tunya saat  Allah sudah lebih dulu siap untuk mendengar 

mereka bahkan sebelum mereka memanggil, dan menjawab-

nya bahkan saat  mereka sedang berbicara. Namun seka-

rang, mereka akan bertekun mencari aku, namun  tidak akan 

menemukan aku (Ams. 1:28). Bukan suara nyaring, melain-

kan hati yang lurus, yang Allah peduli. 

 

 

 

PASAL  9  

ang nabi, dalam penglihatan, telah menyaksikan kejahatan yang 

dikerjakan di Yerusalem, dalam pasal sebelumnya. Dan kita boleh 

yakin bahwa kejahatan yang diperlihatkan kepadanya itu tidaklah 

lebih buruk daripada yang sebenarnya. Sekarang menyusullah dalam 

pasal ini, tentu saja, sebuah penggambaran tentang kehancuran 

mereka yang sedang datang mendekat. Sebab, saat  dosa berjalan 

mendahului, hukuman datang menyusul. Dalam pasal ini kita dapati, 

I. Dipersiapkan semua alat yang akan dipakai dalam menghan-

curkan kota itu (ay. 1-2). 

II. Terangkatnya Shekhinah (kemuliaan Allah – pen.) dari atas 

kerub ke ambang pintu Bait Suci (ay. 3). 

III. Perintah diberikan kepada salah satu dari orang-orang yang 

dipakai. Orang ini dibedakan dari yang lainnya. Ia harus me-

nandai suatu sisa umat untuk diselamatkan dari kehancuran 

yang menimpa semua orang itu (ay. 3-4). 

IV. Wewenang dikeluarkan untuk menghukum mati orang-orang 

yang tidak ditandai, dan mulailah pelaksanaannya sesuai 

dengan wewenang itu (ay. 5-7). 

V. Sang nabi menengahi pelaksanaan hukuman itu, meminta 

hukumannya diperingan. Peringanan hukuman ditampik, 

sebab  keputusan sudah keluar (ay. 8-10). 

VI. Laporan dari orang yang akan menandai sisa umat yang sa-

leh itu, tentang apa yang telah dikerjakannya sesuai dengan 

perintah itu (ay. 11). Dan hal ini menunjukkan suatu cara 

yang biasanya dipakai oleh Sang Pemelihara dalam memerin-

tah dan mengatur dunia ini. 

Persiapan untuk Menghancurkan Yerusalem;  

Orang Benar Ditandai untuk Diselamatkan 

(9:1-4)  

1 Lalu aku mendengar Dia berseru dengan suara yang nyaring: “Maju ke 

mari, hai, yang harus menjalankan hukuman atas kota ini! Masing-masing 

dengan alat pemusnah di tangannya!” 2 Lihat, enam orang laki-laki datang 

dari jurusan pintu gerbang Atas, yang menghadap ke utara, masing-masing 

dengan alat pemukul di tangannya. Dan satu orang di antara mereka ber-

pakaian lenan dan di sisinya ada  suatu alat penulis. Mereka ini masuk 

dan berdiri di samping mezbah tembaga. 3 Pada saat itu kemuliaan Allah 

Israel sudah terangkat dari atas kerub, tempatnya semula, ke atas ambang 

pintu Bait Suci dan Dia memanggil orang yang berpakaian lenan dan yang 

memiliki  alat penulis di sisinya. 4 Firman TUHAN kepadanya: “Berjalanlah 

dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi 

orang-orang yang berkeluh kesah sebab  segala perbuatan-perbuatan keji 

yang dilakukan di sana.” 

Dalam perikop di atas kita dapati, 

I.  Seruan kepada para pemusnah Yerusalem untuk tampil dan 

hadir. Orang yang menampilkan diri kepada sang nabi (8:2), yang 

membawa dia ke Yerusalem dan menunjukkan kepadanya keja-

hatan yang diperbuat di sana, dia berseru, “Maju ke mari, hai, 

yang harus menjalankan hukuman atas kota ini” (ay. 1). Allah 

telah berfirman, Aku akan membalas di dalam kemurkaan-Ku 

(8:18), dan sekarang Ia berkata kepada sang nabi, siapa yang 

akan dipakai sebagai alat kemurkaan-Ku. Appropinquaverunt 

visitationes civitatis – Lawatan (atau para pelawat) kota ini sudah 

dekat. Para penghuni Yerusalem tidak mengetahui saat, bilamana 

Allah melawat mereka dalam belas kasih, dan sebab  itu sekarang 

mereka akan dilawat dalam kemurkaan. Amatilah, 

1. Bagaimana pemberitahuan tentang lawatan ini disampaikan 

kepada sang nabi: Dia berseru dengan suara yang nyaring, 

yang menggambarkan kerasnya perasaan dan mendesaknya 

Dia yang berbicara itu. saat  orang begitu disakiti dan men-

jadi marah, ia akan berbicara dengan suara keras. Orang-

orang yang tidak mau mendengarkan nasihat-nasihat yang 

Allah berikan dengan suara kecil dan tenang, mereka akan 

dibuat mendengar ancaman-ancaman, untuk mendengar dan 

gemetar. Suara yang nyaring itu juga menunjukkan bahwa 

sang nabi tidak bersedia untuk diberitahukan tentang lawatan 

ini, telinganya tuli untuk mendengar, namun  apa boleh buat, 

tidak ada obat penawar lagi, dosa orang-orang itu menolak

Kitab Yehezkiel 9:1-4  

 pengampunan dan sebab  itu hukuman mereka pun menolak 

penundaan. “Dia berseru dengan suara yang nyaring. Dia 

membuat aku mendengarnya, dan aku mendengarnya dengan 

hati yang sedih.” 

2. Apa isi pemberitahuan ini. Ada orang yang harus menjalankan 

hukuman atas kota ini untuk menghancurkannya, bukan 

pasukan Kasdim, mereka memang akan dipakai dalam peker-

jaan ini, namun  mereka bukan para pelawat, hanya hamba-

hamba saja, atau sekadar alat. Para malaikat Allah yang seka-

rang menerima tugas untuk memusnahkan kota itu, kota yang 

sudah lama mereka lindungi dan jaga selama ini. Mereka 

sudah berada dekat sekarang, sebagai malaikat-malaikat 

pemusnah, sebagai para pelayan kemurkaan, sebab  masing-

masing dengan alat pemusnah di tangannya, seperti malaikat 

yang menjaga pohon kehidupan dengan pedang bernyala-nyala 

supaya  tidak dimasuki. Perhatikan, orang-orang yang oleh 

dosa telah menjadikan Allah sebagai musuh, pada saat yang 

sama juga menjadikan para malaikat yang baik menjadi 

musuh mereka. Para pelawat itu dipanggil dan disuruh maju 

ke mari. Perhatikan, Allah memiliki para pelayan kemurkaan 

yang selalu siap untuk dipanggil-Nya, selalu siap diperintah, 

kekuatan yang tidak kelihatan, yang dengannya Ia menuntas-

kan segala tujuan-Nya. Sang nabi dibuat menyaksikan hal ini 

dalam penglihatan, supaya  dengan keyakinan penuh ia bisa 

mengumumkan semua penghukuman ini. Allah memberitahu-

kan semua ini kepadanya dengan suara nyaring, tangan-Nya 

menguasai aku, (dan) saat  Ia memperingatkan aku (Yes. 8:11, 

KJV: ia mengajarikan aku dengan tangan yang kuat), supaya  

tertanam kuat-kuat dalam hatinya sehingga ia bisa menyata-

kannya kuat-kuat kepada bangsa Israel. 

II. Kemunculan para pelawat itu, saat dipanggil, dicatat. Segera saja 

enam orang laki-laki datang (ay. 2), masing-masing untuk tiap 

pintu gerbang utama Yerusalem. Dua orang malaikat pemusnah 

diutus melawan Sodom, namun  enam orang untuk Yerusalem. 

Sebab, petaka Yerusalem dalam hal hukuman akan tiga kali lebih 

berat dari petaka Sodom. Ada seorang malaikat yang berjaga-jaga 

di setiap pintu gerbang untuk memusnahkan, untuk mendatang-

kan hukuman-hukuman dari setiap penjuru, dan untuk meng-

awasi agar tidak ada seorang pun yang luput. Satu orang malaikat 

bekerja untuk membinasakan anak sulung orang Mesir, dan 

menghancurkan perkemahan orang Asyur, namun  di sini ada enam 

orang sekaligus. Dalam Kitab Wahyu kita dapati ada tujuh malai-

kat yang disuruh, tumpahkanlah ketujuh cawan murka Allah itu ke 

atas bumi (Why. 16:1). Keenam malaikat pemusnah itu masing-

masing datang dengan alat pemukul di tangannya, yang disiapkan 

untuk pekerjaan yang untuknya mereka dipanggil. Bangsa-bangsa 

yang dikumpulkan oleh raja Babel menjadi pasukannya bisa 

disebut alat pemukul (KJV: alat pembunuh) dalam tangan malaikat. 

Bangsa-bangsa ini menurut orang ada enam, dan para panglima 

pasukan raja Babel itu ada enam orang di antaranya disebut 

sebagai perwira raja (Yer. 39:3). Para malaikat dilengkapi dengan 

senjata lengkap bagi setiap pekerjaan. 

1. Amati dari mana mereka datang. Yaitu, dari jurusan pintu 

gerbang atas, yang menghadap ke utara (ay. 2), entah sebab  

pasukan Kasdim datang dari utara (Yer. 1:14).  Dari utara akan 

mengamuk malapetaka, atau sebab  berhala cemburuan 

didirikan di dekat pintu gerbang pelataran dalam yang meng-

hadap ke utara (8:3, 5). Melalui pintu gerbang Bait Suci para 

malaikat pemusnah itu masuk, untuk menunjukkan apa itu 

yang membuka pintu bagi mereka. Perhatikan, jalan di mana 

ada dosa, di situ segala penghukuman pasti datang.  

2. Amatilah di mana para malaikat itu berdiri. Mereka ini masuk 

dan berdiri di samping mezbah tembaga, yang di atasnya segala 

persembahan biasanya dipersembahkan dan upacara penda-

maian atas dosa dilakukan. saat  mereka bertindak sebagai 

pemusnah, mereka bertindak juga sebagai pemberi persem-

bahan, bukan sebab  alasan pribadi untuk balas dendam atau 

niat jahat, namun  dengan maksud hati yang murni dan tulus 

untuk kemuliaan Allah. Sebab bagi keadilan-Nyalah semua 

orang yang dibunuh mereka dibawa oleh mereka sebagai kor-

ban-korban persembahan. Mereka berdiri di samping mezbah, 

seolah untuk melindungi dan mempertahankannya, membela 

perkaranya yang benar, dan membalas segala tindakan yang 

mencemarinya. Di mezbah itu mereka akan menerima tugas 

untuk memusnahkan, yang menunjukkan bahwa kejahatan 

Yerusalem, seperti keluarga imam Eli, takkan dihapuskan 

Kitab Yehezkiel 9:1-4 

dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk 

selamanya.  

III. Perhatian ditujukan kepada satu malaikat yang ada di antara 

para malaikat pemusnah itu, yang jubahnya berbeda dari yang 

lainnya, dari dia suatu pertolongan dinantikan. Tampaknya dia 

bukan salah satu dari keenam malaikat itu, namun  di antara 

mereka, untuk menunjukkan bahwa belas kasihan bercampur 

dengan hukuman (ay. 2). Orang ini berpakaian lenan, seperti yang 

biasanya dengan imam-imam dahulu, dan ia memiliki suatu alat 

penulis yang bergantung di sisinya, seperti halnya para ahli dan 

pembela hukum adanya pada masa lampau, dan alat penulis ini 

akan dipakainya seperti halnya keenam malaikat lain itu 

mempergunakan alat pemusnah mereka. Di sini kehormatan alat 

tulis mengungguli segala kehormatan pedang, sebab dia yaitu  

Tuhan para malaikat yang menggunakan alat penulis itu. Sebab, 

pada umumnya disepakati di antara para penafsir terbaik bahwa 

orang ini menggambarkan Kristus sebagai Sang Perantara yang 

menyelamatkan orang-orang milik-Nya dari pedang keadilan ilahi 

yang menyala-nyala. Dia yaitu  Imam Besar kita, berpakaian 

kekudusan, sebab  itulah yang diartikan oleh kain lenan halus 

(Why. 19:8). Sebagai nabi, Ia mengenakan alat penulis. Kitab 

kehidupan yaitu  kitab Anak Domba. Hal-hal besar mengenai 

hukum Allah dan Injil yang Allah telah tuliskan kepada kita 

merupakan tulisan-Nya. Sebab, Roh Kristuslah, dalam diri para 

penulis Kitab Suci, yang bersaksi mengenai kebenaran tersebut 

kepada kita, dan Alkitab merupakan penyataan Yesus Kristus. 

Perhatikanlah, merupakan penghiburan besar bagi semua orang 

Kristen yang baik bahwa di tengah-tengah para pemusnah dan 

penghancuran yang sedang terjadi, masih ada seorang Peng-

antara, seorang Imam Besar agung, yang punya peranan besar di 

sorga, dan yang dari-Nya para orang kudus di bumi bisa mem-

peroleh pertolongan. 

IV. Terangkatnya penampakan kemuliaan Allah dari atas kerub. 

Sebagian penafsir menduga ini yaitu  penampakan yang biasa-

nya dari kemuliaan Allah, yaitu di antara kerub dan tutup pen-

damaian di dalam tempat mahakudus, yang kini sudah mening-

galkan mereka dan tidak pernah kembali lagi. Sebab, pastilah 

penampakan kemuliaan Allah itu tidak terlihat lagi di Bait Suci 

kedua. Sebagian orang lagi penampakan kemuliaan Allah di atas 

kerub yaitu  yang dilihat oleh sang nabi hanya dalam penglihat-

an saat itu saja, dan tafsiran ini yang mungkin, sebab  yang 

dilihatnya itu disebut kemuliaan Allah Israel (8:4), dan inilah yang 

saat itu menjadi perhatian sang nabi. Kemuliaan Allah ini berpin-

dah ke atas ambang pintu Bait Suci, seolah seperti untuk me-

manggil hamba-hamba yang sedang berdiri di luar menunggu 

untuk disuruh melakukan tugas dan diberi petunjuk-petunjuk. 

Dan terangkatnya kemuliaan Allah seperti yang dilihat sang nabi 

ini, dan yang dahulu biasanya ada dalam Bait Suci itu, bisa saja 

merupakan tanda akan perginya Allah dari mereka, dan mening-

galkan Bait mereka itu menjadi sunyi. saat  Allah pergi, maka 

semua yang baik pun ikut pergi. Namun sesungguhnya, Allah 

tidaklah meninggalkan siapa pun, sampai merekalah yang meng-

usir Dia pergi. Pada awalnya Allah tidak pergi lebih jauh dari 

ambang pintu, supaya  Ia bisa memperlihatkan betapa enggannya 

Ia untuk pergi, dan supaya  Ia bisa memberi waktu dan dorongan 

kepada mereka untuk mengundang-Nya kembali dan tinggal 

bersama mereka. Perhatikanlah, perginya Allah meninggalkan 

suatu umat terjadi secara perlahan-lahan, namun  jiwa-jiwa yang 

mulia segera tersadar begitu Allah mengambil langkah pertama 

untuk pergi. Nabi Yehezkiel segera mengamati bahwa kemuliaan 

Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub. Dan jika Allah pergi, 

penglihatan seperti apakah yang akan dilihat mengenai para 

malaikat? 

V. Tugas yang diberikan kepada satu orang di antara mereka ber-

pakaian lenan untuk menyelamatkan umat sisa dari kebinasaan 

yang menimpa semua orang itu. Kita tidak membaca bahwa Sang 

Penyelamat ini dipanggil dan diutus seperti yang terjadi dengan 

para pemusnah itu. Sebab, Ia selalu siap, menghadap hadirat 

Allah guna kepentingan kita. Dan kepada Dialah, sebagai orang 

yang paling pantas, diberikan tugas untuk memelihara orang-

orang yang ditandai untuk diselamatkan (ay. 4). Sekarang amati-

lah,  

1. Sifat dan perilaku umat sisa yang dibedakan untuk diselamat-

kan itu. Mereka itu yaitu  orang-orang yang begitu berkeluh 

kesah, mengaduh dalam dirinya, seperti orang yang kesakitan 

Kitab Yehezkiel 9:1-4 

dan tertekan, berseru kepada Allah dalam doa, sepenuh hati, 

oleh sebab  segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di 

Yerusalem. Bukan saja mereka bersalah atas segala perbuatan 

berhala, namun  juga atas semua kebejatan akhlak lainnya, yang 

sungguh-sungguh keji di mata Allah. Segelintir orang-orang 

saleh ini telah menyaksikan segala perbuatan keji ini dan 

berusaha sebisa mereka sesuai kedudukan mereka untuk 

menghancurkan perbuatan-perbuatan itu. Namun, segala 

usaha mereka tidak membuahkan hasil untuk memperbarui 

perilaku orang-orang itu, lalu mereka pun duduk terkulai dan 

berkeluh kesah, menangis diam-diam, dan mengeluh kepada 

Allah, sebab  penghinaan kepada nama-Nya yang diperbuat 

melalui kejahatan orang-orang itu, dan kehancuran yang 

diakibatkannya atas jemaat dan bangsa mereka. Perhatikan-

lah, tidaklah cukup bagi kita untuk tidak bersuka dalam dosa-

dosa orang lain dan bergaul dengan mereka, namun  kita juga 

harus berkabung atas mereka dan menanggungnya dalam 

hati. Kita harus berduka atas masalah yang tidak bisa kita 

bantu, berduka sebagai orang yang membenci dosa sebab  

dosa itu sendiri, dan prihatin terhadap jiwa-jiwa lain, seperti 

Daud (Mzm. 119:136), dan Lot yang jiwanya yang benar itu 

tersiksa dengan perilaku jahat sesamanya. Dengan cara 

khusus semua perbuatan keji Yerusalem itu patut diratapi, 

sebab dengan cara khusus pula mereka telah menyakiti hati 

Allah. 

2. Pemeliharaan istimewa diberikan terhadap mereka yang berke-

luh kesah itu. Perintah dikeluarkan untuk menemukan orang-

orang yang memiliki roh yang saleh dan peduli terhadap orang 

banyak itu: Berjalanlah dari tengah-tengah kota untuk mencari 

mereka, dan meskipun mereka tercerai-berai, dan sangat ter-

sembunyi dari keganasan para penganiaya mereka, namun 

kamu pasti akan menemukan mereka juga, dan tulislah huruf 

T (KJV: memberi tanda) pada dahi mereka, 

(1) Untuk menandai bahwa Allah mengakui mereka sebagai 

milik-Nya, dan bahwa Dia akan mengakui mereka suatu 

hari nanti. Karya kasih karunia di dalam jiwa bagi Allah 

merupakan huruf T pada dahi, yang akan Dia akui sebagai 

tanda-Nya, dan melalui tanda itu Tuhan mengenal siapa 

kepunyaan-Nya. 

(2) Untuk memberi jaminan akan perkenan Allah kepada 

mereka yang ditandai seperti itu, supaya  mereka menge-

tahuinya sendiri. Dan penghiburan yang didapat dengan 

mengetahui hal itu akan menjadi dukungan yang paling 

memberi kekuatan kelak dalam masa-masa celaka. sebab  

itu, mengapa kita mau menggelisahkan diri dengan kehi-

dupan yang sementara ini jika kita tahu melalui tanda itu 

bahwa kita memiliki hidup kekal? 

(3) Untuk menjadi petunjuk bagi para pemusnah itu siapa 

yang harus mereka lewati, seperti darah pada tiang-tiang 

pintu rumah menjadi petunjuk bahwa itu rumah orang 

Israel dan anak sulung yang ada di dalamnya tidak boleh 

dibunuh. Perhatikanlah, barangsiapa menjaga dirinya tetap 

murni di masa-masa saat  pelanggaran terjadi di mana-

mana, Allah akan menjaganya tetap aman di masa-masa 

saat  malapetaka menimpa semua orang. Siapa yang 

membedakan dirinya, ia akan dibedakan. Siapa yang ber-

keluh kesah sebab  dosa-dosa orang lain, ia tidak akan 

berkeluh kesah lagi saat  tertimpa celaka, sebab  ia akan 

dilepaskan dari celaka itu atau dihiburkan dalam celaka 

itu. Allah akan menandai para pekabung-Nya, akan men-

catat keluh kesah mereka dan menyimpan air mata mereka 

dalam kendi. Dimeteraikannya hamba-hamba Allah pada 

dahi mereka seperti disebutkan dalam Wahyu 7:3 merupa-

kan tanda pemeliharaan Allah yang sama atas umat kepu-

nyaan-Nya seperti yang dipakai di sini. Hanya saja per-

bedaannya, tanda pemeliharaan dalam Yehezkiel ini yaitu  

untuk menyelamatkan umat-Nya dari kebinasaan, sedang-

kan yang disebutkan dalam Kitab Wahyu itu untuk menye-

lamatkan dari kesesatan, yang sama saja tujuannya. 

Orang Benar Dibedakan; Sang Nabi Menengahi 

(9:5-11)   

5 Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: “Ikutilah dia dari 

belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa 

sayang dan jangan kenal belas kasihan. 6 Orang-orang tua, teruna-teruna 

dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan 

musnahkan! namun  semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan 

singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!” Lalu mereka mulai dengan 

tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci. 7 Kemudian firman-Nya kepada

Kitab Yehezkiel 9:5-11 

 169 

mereka: “Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya 

dengan orang-orang yang terbunuh. Pergilah!” Mereka pergi ke luar dan 

memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota. 8 Sedang mereka memu-

kuli orang-orang sampai mati – waktu itu aku tinggal di belakang – aku sujud 

dan berseru, kataku: “Aduh, Tuhan ALLAH, apakah Engkau memusnahkan 

seluruh sisa Israel di dalam mencurahkan amarah-Mu atas Yerusalem?”  

9 Jawab-Nya kepadaku: “Kesalahan kaum Israel dan Yehuda sangat banyak, 

sehingga tanah ini penuh hutang darah dan kota ini penuh ketidakadilan; 

sebab mereka berkata: TUHAN sudah meninggalkan tanah ini dan TUHAN 

tidak melihatnya. 10 sebab  itu Aku juga tidak akan merasa sayang dan tidak 

akan kenal belas kasihan; kelakuan mereka akan Kutimpakan atas kepala 

mereka.” 11 Lihat, orang yang berpakaian lenan itu dan yang memiliki  alat 

penulis di sisinya memberi  laporan, katanya: “Aku sudah kerjakan seperti 

Engkau perintahkan kepadaku.”  

 

Dalam perikop di atas kita dapati, 

I.  Perintah diberikan kepada para pemusnah itu untuk menjalankan 

tugas sesuai yang diperintahkan kepada mereka. Mereka ini 

masuk dan berdiri di samping mezbah tembaga, sambil menunggu 

perintah. Perintah-perintah diberikan kepada mereka untuk 

membunuh dan membinasakan semua orang yang bersalah atau 

terlibat dalam perbuatan membenci Yerusalem dan yang tidak 

berkeluh kesah atas orang-orang yang bersalah ini. Perhatikanlah, 

saat  Allah telah mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, 

maka tidak akan ada lagi yang tersisa, namun  debu jerami itu akan 

dibakar-Nya (Mat. 3:12).  

1. Mereka diperintahkan untuk memusnahkan semuanya, 

(1) Tanpa kecuali. Mereka harus masuk dan melalui kota itu 

dan pukullah sampai mati. Mereka harus bunuh dan mus-

nahkan, menghabisi, melukai sampai mati. Mereka tidak 

boleh membeda-bedakan umur dan jenis kelamin, melain-

kan sikat habis orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-

dara, anak-anak kecil. Kecantikan anak dara atau keluguan 

bayi-bayi tidak akan menyelamatkan mereka. Hal ini 

digenapi dalam kematian banyak orang akibat kelaparan 

dan penyakit sampar, dan terutama akibat pedang orang 

Kasdim, selama serbuan pasukan berlangsung. Terkadang 

pekerjaan berdarah seperti ini juga merupakan pekerjaan 

Allah sendiri. Sungguh betapa jahatnya dosa itu, sampai 

memancing murka Allah sedemikian rupanya sehingga Ia 

yang Mahapengasih itu pun bertindak keras seperti itu.  

(2) Tanpa belas kasihan. “Janganlah merasa sayang dan ja-

ngan kenal belas kasihan (ay. 5). Jangan kamu selamatkan 

siapa pun yang Allah sudah tetapkan untuk binasa. 

Jangan berbuat seperti yang Saul lakukan terhadap Agag 

dan orang-orang Amalek, sebab  itu berarti melaksanakan 

pekerjaan TUHAN dengan lalai (Yer. 48:10, KJV: melak-

sanakan pekerjaan TUHAN dengan curang). Siapa pun tidak 

perlu bertindak murah hati melebihi Allah. Dan Dia sendiri 

sudah berkata (8:18), Aku tidak akan merasa sayang dan 

tidak akan kenal belas kasihan.” Perhatikanlah, barang-

siapa hidup dalam dosa dan benci untuk diperbarui, ia akan 

binasa dalam dosa, dan pantas untuk tidak dikasihani, 

sebab bisa saja ia dengan mudah mencegah kehancurannya, 

namun  tidak mau melakukannya.  

2. Para pemusnah itu diperingatkan untuk tidak melukai orang-

orang yang sudah ditandai untuk selamat: “namun  semua 

orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung. 

Mengancam atau menakut-nakuti mereka pun jangan. Sudah 

dijanjikan kepada orang-orang yang akan selamat itu bahwa 

yang jahat tidak akan mendekati mereka, dan sebab  itu 

kalian harus menjauh dari mereka.” Raja Babel mengeluarkan 

perintah-perintah khusus bahwa Yeremia harus dilindungi. 

Barukh dan Ebed-Melekh, dan mungkin juga teman-teman 

Yeremia lainnya, ikut selamat oleh sebab  Yeremia. Allah telah 

berjanji bahwa umat sisa-Nya akan baik-baik saja dan mereka 

akan diperlakukan dengan baik-baik (Yer. 15:11, KJV). sebab  

itu kita punya alasan untuk berpikir bahwa tidak satu pun 

dari sisa umat-Nya yang pendoa dan peratap itu gugur oleh 

pedang orang Kasdim, namun  sebaliknya Allah pasti menemu-

kan suatu cara untuk mengamankan mereka semua, seperti 

yang terjadi saat penghancuran Yerusalem yang terakhir oleh 

orang Romawi, di mana orang-orang Kristen semuanya sela-

mat di sebuah kota yang bernama Pella, dan tidak satu pun 

dari mereka binasa bersama orang-orang Yahudi yang tidak 

mau percaya Tuhan. Perhatikanlah, tidak akan hilang satu 

pun orang-orang yang telah Allah tandai untuk hidup dan 

selamat, sebab dasar pijakan Allah berdiri kuat dan pasti. 

3.  Para pemusnah itu dituntun untuk mulailah dari tempat kudus 

Allah (ay. 6), yaitu tempat kudus yang, di pasal sebelumnya, 

Kitab Yehezkiel 9:5-11 

dilihat sang nabi telah terjadi perbuatan tercela yang mengeri-

kan di situ. Mereka harus mulai dari sana, sebab  di sanalah 

dimulai kejahatan yang menimbulkan kemarahan Allah sam-

pai Ia mengirimkan semua penghakiman ini. Perbuatan-

perbuatan bejat dari para imam itu telah meracuni mata air, 

dan ini menjadi sumber pencemaran semua aliran sungai. 

Kejahatan yang diperbuat terhadap tempat kudus merupakan 

pelanggaran yang paling menyakiti hati Allah di antara semua 

kejahatan lainnya, dan sebab  itu di sanalah pembantaian 

harus dimulai: “Mulai di sana, untuk melihat apakah rakyat 

bisa menerima peringatan melalui penghakiman Allah atas 

para imam-imam mereka atau tidak, dan lalu bertobat dan 

memperbarui diri. Mulai di sana, supaya  seluruh dunia boleh 

melihat dan mengetahui bahwa Tuhan, yang nama-Nya Cem-

buruan,  yaitu  Allah yang cemburu, dan bahwa Ia membenci 

dosa terutama yang dilakukan orang-orang yang berada paling 

dekat dengan Dia.” Perhatikanlah, saat  berbagai penghakim-

an terjadi, itu biasanya pada rumah Allah sendiri yang harus 

pertama-tama dihakimi (1Ptr. 4:17). Hanya kamu yang Kukenal 

dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan meng-

hukum kamu (Am. 3:2). Bait Suci Allah yaitu  sebuah tempat 

kudus, suatu tempat pengungsian dan perlindungan bagi para 

pendosa yang bertobat, namun  tidak untuk orang-orang yang 

tetap hidup dalam kesalahan-kesalahannya. Kekudusan Bait 

Suci atau keunggulan tempat para pendosa tidak akan ber-

guna sebagai tempat mencari keamanan bagi mereka. Tam-

paknya para pemusnah itu mengalami kesulitan untuk mem-

bunuh orang-orang di dalam Bait Suci, namun  Allah menyuruh 

mereka untuk tidak ragu-ragu, melainkan, najiskanlah Bait 

Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya dengan orang-

orang yang terbunuh (ay. 7). Jangan mengambil orang-orang itu 

dari mezbah-Ku, seperti yang ditetapkan oleh hukum Taurat 

(Kel. 21:14). Mereka pikir akan aman dan selamat dengan 

terus memegang tanduk-tanduk mezbah seperti yang dilakukan 

Yoab, dan sebab  itu, sama seperti Yoab berkata, di sinilah aku 

mau mati (1Raj. 2:30-31). Di tempat kudus itulah darah 

seorang nabi Allah telah dicurahkan (Mat. 23:35) dan sebab  

itu biarkan juga darah mereka tercurah di sana. Perhatikan-

lah, jika para hamba rumah Allah mencemari rumah-Nya 

dengan perbuatan berhala mereka, maka adil jugalah bagi 

Allah untuk membiarkan musuh-musuh rumah-Nya men-

cemari tempat itu dengan segala tindakan kekerasan mereka 

(Mzm. 79:1). namun  , semua tindakan keadilan yang ter-

jadi di sini, apa pun itu bentuknya, harus dilakukan terutama 

untuk memurnikan, dan bukan untuk mencemari tempat 

kudus itu. Tindakan itu yaitu  untuk menghapuskan yang 

jahat dari tengah-tengah mereka. 

4. Mereka ditetapkan untuk pergi ke dalam kota (ay. 6-7). Perhati-

kanlah, ke mana pun dosa pergi, penghakiman akan meng-

ikuti. Dan meskipun pada rumah Allah sendiri yang harus per-

tama-tama dihakimi, penghakiman itu tidak berakhir di sana. 

Kota kudus tidak lagi akan menjadi tempat perlindungan bagi 

orang-orang fasik seperti halnya rumah kudus bagi imam-

imam fasik itu. 

II. Demikianlah pelaksanaan hukuman dikerjakan sebagaimana 

mestinya. Para pemusnah itu menjalankan segala perintah, dan, 

1. Mereka mulai dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait 

Suci, dan pertama-tama membantai mereka, entah itu ketujuh 

puluh tua-tua yang menyembah berhala di kamar-kamar 

mereka (8:12) atau kedua puluh lima orang yang di dalam 

kamar tempat ukiran-ukiran mereka, sujud pada matahari di 

antara balai Bait Suci dan mezbah (8:12), atau mungkin lebih 

tepatnya di hadapan Bait Suci. Perhatikanlah, para pemimpin 

yang penuh dosa boleh bersiap-siap menghadapi bahwa mere-

ka pasti yang pertama-tama ditemui oleh penghakiman Allah. 

Dan dosa-dosa para pemuka dan tokoh-tokoh masyarakat 

akan dipakai sebagai contoh penghakiman.  

2. Para pemusnah melanjutkan penghakiman dengan orang-orang 

biasa. Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai 

mati di dalam kota. Sebab, bilamana keputusan sudah dikeluar-

kan, maka tidak akan ada penundaan. Jika Allah memulai, Dia 

akan menyelesaikan. 

III. Di sini sang nabi menengahi meminta keringanan hukuman, dan 

pembebasan bagi beberapa orang (ay. 8): Sedang mereka memu-

kuli orang-orang sampai mati – waktu itu aku tinggal di belakang – 

aku sujud. Amatilah di sini, 

Kitab Yehezkiel 9:5-11  

1.  Betapa sang nabi merasakan betul belas kasihan Allah bagi 

dia, sehingga ia tetap aman sementara begitu banyak orang di 

sekitarnya binasa. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan 

sepuluh ribu di sebelah kananmu, namun  itu tidak akan menim-

pamu. Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri 

dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik (Mzm. 91: 

7-8). Ia berbicara sebagai orang yang lolos dari kebinasaan 

dengan jalan yang hampir tidak mungkin, dan sebab  itu 

mensyukurinya sebagai kebaikan Allah, dan bukan sebab  

kemampuannya. Perhatikanlah, orang-orang kudus yang ter-

baik harus mengakui bahwa mereka berutang atas belas 

kasihan yang menyelamatkan mereka dari kebinasaan. sebab  

itu, saat  penghakiman yang membinasakan terjadi di mana-

mana dan orang banyak gugur oleh sebab nya, maka selayak-

nya kita bersyukur mendapat kebaikan besar itu bahwa Allah 

memberi  nyawa kita sebagai jarahan. Sebab, bisa saja 

adillah bagi kita sebenarnya untuk binasa bersama orang-

orang yang binasa itu. 

2. Amatilah bagaimana sang nabi memanfaatkan belas kasih 

yang didapatnya itu. Ia menganggap bahwa waktu itu ia bisa 

tinggal di belakang, atau dibiarkan selamat, supaya  ia bisa 

berdiri di tengah-tengah untuk menepiskan murka Allah. Per-

hatikan, kita harus menganggap bahwa alasan kita diselamat-

kan yaitu  supaya  kita boleh berbuat baik di tempat kita, 

boleh berbuat kebaikan melalui doa-doa kita. Yehezkiel tidak 

bersorak-sorak dalam pembunuhan yang Tuhan lakukan, 

sebaliknya badanku gemetar sebab  ketakutan terhadap Eng-

kau (Mzm. 119:120). Ia sujud dan berseru, bukan sebab  ia 

ketakutan mencari selamat sendiri (ia termasuk salah satu 

yang sudah ditandai untuk selamat), melainkan sebab  mera-

sa kasihan terhadap sesamanya. Orang-orang yang berkeluh 

kesah atas dosa-dosa para pendosa, mereka pasti juga ber-

keluh kesah atas kesengsaraan para pendosa itu. Namun 

demikian, akan tiba harinya saat  semua rasa prihatin ini 

akan ditelan sepenuhnya oleh rasa puas, bahwa dalam segala 

yang terjadi itu Allah dimuliakan. Dan semua orang yang 

sekarang sujud dan berseru: Aduh, Tuhan ALLAH, mereka nan-

tinya akan mengangkat kepala dan bernyanyi Haleluya (Why. 

19:1, 3). Dengan rendah hati sang nabi berbantah dengan 

Allah: “Apakah Engkau memusnahkan seluruh sisa Israel, dan 

akankah tidak ada lagi yang tersisa selain sedikit orang yang 

ditandai? Akankah Israel milik Allah binasa, habis binasa? 

saat  hanya sedikit yang tersisa, akankah mereka juga bi-

nasa, padahal mereka merupakan benih dari angkatan selan-

jutnya? Dan akankah Allah Israel sendiri yang menjadi pem-

binasa mereka? Akankah Engkau sekarang memusnahkan 

Israel, padahal Engkau sebelumnya melindungi dan membe-

baskan mereka? Akan Engkau di dalam mencurahkan amarah-

Mu atas Yerusalem sampai begitu murkanya sehingga dengan 

menghancurkan kota itu seluruh negeri juga ikut musnah? 

Pastilah Engkau tidak akan melakukan hal itu!” Perhatikan, 

walaupun kita mengakui bahwa Engkau memang benar, ya 

TUHAN, namun kita diberi izin juga bilamana aku berbantah 

dengan Engkau! namun  aku mau berbicara dengan Engkau 

tentang keadilan (Yer. 12:1).  

IV. Inilah penolakan Allah terhadap permohonan sang nabi agar hu-

kuman diperingan, disertai dengan pembenaran Allah terhadap 

diri-Nya sendiri dalam menolak permohonan itu (ay. 9-10). 

1. Tidak ada yang dapat dikatakan untuk mengurangi beratnya 

dosa ini. Di waktu-waktu lalu Allah bersedia menunjukkan 

belas kasihan seperti yang diinginkan sang nabi. Dan Dia 

selalu seperti itu. Namun, di sini perkara yang sekarang ini 

tidak dapat memperbolehkan yang demikian. Perkaranya su-

dah sedemikian buruk sehingga belas kasihan tidak bisa 

diberikan tanpa menyalahi keadilan. Tidaklah pantas bahwa 

sifat Allah yang satu dimuliakan dengan mengorbankan sifat-

Nya yang lain. Adakah Sang Mahakuasa bersuka bahwa Dia 

harus membinasakan, terutama bahwa Dia harus membinasa-

kan Israel? Sama sekali tidak. Namun persoalan yang sebenar-

nya yaitu  bahwa kejahatan-kejahatan orang Israel sudah 

sedemikian bejatnya sampai membatalkan hukuman para 

pendosa itu berarti sama saja dengan diam-diam ikut terlibat 

dalam dosa itu: “Kesalahan kaum Israel dan Yehuda sangat 

banyak. Tidak ada yang dapat menghentikan mereka. Tanah 

ini penuh hutang darah (KJV: penuh dengan darah orang-orang 

yang tidak bersalah), dan saat  pengadilan-pengadilan kota 

diimbau untuk membela orang-orang yang tidak bersalah yang 

Kitab Yehezkiel 9:5-11 

dijahati itu, tidak ada obatnya lagi, sebab  kota ini penuh 

ketidakadilan atau hukum diputarbalikkan. Dan pegangan 

yang mereka pakai untuk mendukung kejahatan mereka inilah 

yaitu  pegangan cemar yang sama yang mereka pakai untuk 

membuai diri mereka saat  melakukan tindakan berhala, 

yaitu tidak mempercayai Allah (8:12), bahwa TUHAN sudah 

meninggalkan tanah ini, dan membiarkannya kepada kita 

untuk melakukan apa saja yang kita kehendaki di dalamnya, 

dan Dia tidak akan mencampuri urusan kita itu, dan perbuat-

an salah apa saja yang kita perbuat, Dia tidak melihatnya. Dia 

tidak mengetahuinya, atau tidak peduli dengannya.” Nah, 

bagaimana mungkin orang-orang ini mengharapkan keuntung-

an belas kasih Allah jika mereka begitu menentang keadilan-

Nya? Ini tidak akan terjadi. Tidak ada yang bisa ditawarkan 

seorang pengacara hukum untuk meminta pengampunan atas 

kejahatan sementara si pembuat kejahatan itu sendiri mem-

bela dirinya sedemikian rupa seperti itu. Dan sebab  itu, 

2. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk meringankan hukuman-

nya (ay. 10): “Tak peduli apa pun yang kamu pikir mengenai 

hukuman itu, namun  bagi Aku, Aku juga tidak akan merasa 

sayang dan tidak akan kenal belas kasihan. Selama ini Aku 

telah banyak bersabar dengan para pendosa kurang ajar itu 

sepanjang yang Aku pikir pantas dilakukan terhadap mereka. 

Dan sebab  itu sekarang akan Kutimpakan atas kepala mereka 

upah atas kelakuan mereka.” Perhatikan, para pendosa teng-

gelam dan binasa di bawah berat dosa-dosa mereka sendiri. 

Bukan kelakuan Allah, namun  kelakuan mereka sendiri, yang 

mereka pilih dengan sengaja, dan yang mereka bersikeras ada 

di dalamnya, untuk menghina firman Allah, yang ditimpakan 

atas mereka. Kejahatan besar membenarkan Allah dalam 

melakukan tindakan teramat keras. Dan bukan itu saja, Ia 

siap membenarkan diri-Nya sendiri, seperti yang dilakukan-

Nya di sini saat  menjawab sang nabi, sebab Ia bersih dalam 

penghukuman-Nya. 

V. Di sini ada jawaban atas kewenangan yang diberikan untuk me-

lindungi dan menyelamatkan orang-orang yang berkabung di Sion 

(ay. 11): Orang yang berpakaian lenan itu dan yang memiliki  

alat penulis di sisinya memberi  laporan, memberi pertanggung-

jawaban atas apa yang telah ia kerjakan sesuai tugas yang diberi-

kan kepadanya. Ia telah mencari dan menemukan semua orang 

yang dengan diam-diam meratapi dosa-dosa negeri itu dan men-

jerit melawan semua dosa itu di depan umum. sesudah  itu ia me-

nandai orang-orang yang berkabung itu pada dahi mereka dengan 

huruf T. Tuhan, Aku sudah kerjakan seperti Engkau perintahkan 

kepadaku. Kita tidak menemukan orang-orang yang ditugaskan 

untuk membinasakan itu melaporkan penghancuran yang mereka 

telah lakukan, sebaliknya yang kita dapati datang melapor hanya-

lah orang yang ditugaskan untuk melindungi. Itu sebab , lebih 

menyenangkan bagi Allah maupun sang nabi untuk mendengar 

tentang orang-orang yang diselamatkan daripada tentang orang-

orang yang binasa. Atau, laporan ini dibuat sekarang sebab  

pekerjaannya sudah selesai, sedangkan pekerjaan membinasakan 

itu memerlukan waktu, dan saat  sudah selesai dilakukan nanti 

barulah dilaporkan. Lihatlah betapa setianya Kristus terhadap 

kepercayaan yang diberikan kepada-Nya. Adakah Ia diperintahkan 

untuk mengamankan hidup kekal bagi sisa-sisa terpilih? Ia telah 

melakukan seperti yang diperintahkan kepada-Nya. Dari mereka 

yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiar-

kan binasa. 

 

 

 

 

PASAL 10  

ang nabi sudah mengamati bagi kita (8:4) bahwa saat  ia men-

dapat penglihatan di Yerusalem, ia melihat penampakan kemulia-

an Allah yang sama seperti yang dilihatnya di tepi sungai Kebar. 

Sekarang, dalam pasal ini, ia menceritakan sedikit mengenai penam-

pakan itu, untuk membantu menjelaskan dua petunjuk yang di-

dapatnya dari Allah mengenai kehancuran Yerusalem yang datang 

mendekat. 

I. Dihamburkannya bara api ke atas kota Yerusalem, yaitu bara 

api yang diambil dari tengah-tengah kerub (ay. 1-7). 

II. Pemindahan kemuliaan Allah dari Bait Suci, menaiki sayap 

kerub (ay. 8-22). saat  Allah pergi meninggalkan suatu 

bangsa, maka segala penghukuman pun menimpa mereka. 

Penglihatan akan Kerub 

(10:1-7) 

1 Lalu aku melihat, sungguh, di atas cakrawala yang di atas kepala kerub 

tampak di atas mereka sesuatu yang menyerupai takhta, yang seperti per-

mata lazurit kelihatannya. 2 Maka Ia berkata kepada orang yang berpakaian 

lenan itu: “Masuklah ke bawah kerub dari antara roda-rodanya dan penuhi-

lah rangkup tanganmu dengan bara api dari tengah-tengah kerub itu dan 

hamburkan ke atas kota itu.” Lalu aku melihat dia masuk. 3 Kerub-kerub itu 

berdiri di sebelah selatan Bait Suci, waktu orang itu masuk ke tengah-tengah 

roda-rodanya; dan segumpal awan memenuhi pelataran dalam. 4 Dalam pada 

itu kemuliaan TUHAN naik dari atas kerub dan pergi ke atas ambang pintu 

Bait Suci, dan Bait Suci ini dipenuhi oleh awan itu dan pelatarannya penuh 

dengan sinar kemuliaan TUHAN. 5 Suara sayap kerub itu terdengar sampai 

pelataran luar seperti suara ALLAH Yang Mahakuasa, kalau Ia berfirman. 6 Ia 

memerintahkan kepada orang yang berpakaian lenan itu: “Ambillah api dari 

tengah-tengah roda-rodanya, dari tengah-tengah kerub itu!” Maka yang 

berpakaian lenan ini pergi berdiri di samping salah satu dari roda-roda itu.  

7 Lalu seorang kerub itu mengulurkan tangannya dari tengah kerub-kerub ke 

api yang ada di tengah-tengah mereka, diambilnya sedikit dan ditaruhnya di 

dalam tangan orang yang berpakaian lenan. Orang ini menerimanya dan 

pergi. 

Untuk mengilhami kita dengan rasa kagum dan gentar yang kudus 

terhadap Allah, dan untuk memenuhi hati kita dengan rasa takut 

kepada-Nya, marilah kita amati bagian penglihatan yang dialami sang 

nabi ini.  

I.  Penampakan keagungan-Nya yang penuh kemuliaan. Sesuatu 

dari dunia yang tidak kelihatan di sini menjadi kelihatan, suatu 

gambaran yang samar-samar mengenai terang dan keindahannya, 

suatu bayangan. Walaupun begitu, yang terlihat ini tidak dapat 

dibandingkan dengan keadaannya atau intinya yang sebenarnya, 

seperti sebuah gambar tidak dapat dibedakan dengan benda 

aslinya. Namun demikian, kesan-kesan yang kita terima dengan 

penyingkapan tentang Allah ini seharusnya sudah cukup untuk 

mengharuskan kita memberi penghormatan tertinggi kepada Allah 

saat  kita merenung mengenai Dia dan saat  kita mendekati 

Dia.  

1. Di sini Allah tampak berada di atas cakrawala yang di atas 

kepala kerub (ay. 1). Ia menyatakan kemuliaan-Nya di dunia 

atas, di mana kemurnian dan terangnya ada dalam kesem-

purnaan. Jangkauan cakrawala yang mahaluas dimaksudkan 

untuk menyatakan Allah yang bersemayam di sana di tempat 

yang tak terbatas. Itu yaitu  cakrawala-Nya yang kuat dan 

tempat Ia melihat. Sebab, dari sana Ia mengamat-amati semua 

anak-anak manusia. Kodrat Ilahi tak terhingga mengatasi 

kodrat malaikat, dan Allah ada di atas kepala kerub, yang 

menunjukkan bukan saja keagungan-Nya melebihi mereka, 

namun  juga kekuasaan-Nya atas mereka. Para kerub memiliki 

kuasa, hikmat dan pengaruh yang besar, namun  mereka semua 

tunduk kepada Allah dan Kristus.  

2. Allah di sini sedang ada di atas takhta, atau di atas sesuatu 

yang menyerupai takhta (sebab  kemuliaan dan pemerintahan 

Allah secara tak terbatas mengatasi segala gagasan akal budi 

kita yang paling cemerlang sekalipun, sehingga akal kita tidak 

dapat membentuk atau mencerna kemuliaan-Nya itu seperti 

apa). Takhta-Nya itu seperti permata lazurit kelihatannya, mur-

ni dan bersinar gemerlap. Takhta seperti inilah yang Allah

Kitab Yehezkiel 10:1-7 

 tegakkan di sorga, jauh mengungguli segala takhta penguasa 

di bumi. 

3. Allah tampak diiringi oleh sekelompok malaikat-malaikat ku-

dus. saat  Allah masuk ke Bait Suci-Nya, kerub-kerub itu ber-

diri di sebelah selatan Bait Suci (ay. 3), seperti pangawal raja, 

menjaga pintu gerbang istana-Nya. Kristus memiliki malaikat-

malaikat yang siap menunggu perintah-Nya. Perintah yang di-

berikan kepada semua malaikat Allah yaitu  supaya  menyem-

bah Dia. Sebagian penafsir mengamati bahwa kerub-kerub itu 

berdiri di sebelah selatan Bait Suci, atau di sebelah kanan (KJV), 

sebab di sebelah selatan ada patung kecemburuan dan ma-

cam-macam berhala, yang darinya mereka harus menempat-

kan diri jauh-jauh. 

4.  Penampakan kemuliaan-Nya diselubungi dengan awan, na-

mun dari balik awan itu memancar keluar berkas cahaya yang 

luar biasa menyilaukan mata. Di dalam Bait Suci, dan di pela-

taran dalam hanya ada awan dan kegelapan, yang memenuhi 

keduanya, namun pelataran luar, atau pelataran dalam, 

sesudah beberapa saat menjadi penuh dengan sinar kemuliaan 

TUHAN (ay. 3-4). Cahaya dan terang besar memancar keluar. 

namun  , kalau ada mata yang penuh keingin-tahuan hen-

dak mencoba mengintip ke dalam, maka tidak ada yang terli-

hat selain awan saja. Keadilan-Nya menjulang tinggi seperti 

gunung-gunung Allah, dan terangnya yang besar memenuhi 

pelataran. namun  , hukum-Mu bagaikan samudera raya 

yang hebat, yang tak dapat kita selami, awan yang tak dapat 

kita lihat menembusnya. Sinar terangnya yang besar itu cukup 

untuk membuat nurani kita terkesima dan terbangun, namun  

awan menghalangi kita untuk berharap bisa memuaskan rasa 

ingin tahu kita. Sebab, tak ada yang dapat kami paparkan oleh 

sebab  kegelapan. Demikianlah (Hab. 3:4), ada kilauan seperti 

cahaya, sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung 

kekuatan-Nya. Tidak ada yang lebih jelas daripada siapa itu 

Allah, dan tidak ada yang lebih gelap daripada apa yang 

dilakukan-Nya. Allah berselimutkan terang, namun terhadap 

kita, Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi pondok-

Nya. Allah memiliki kemah dan Bait Suci itu dalam bungkusan 

awan, yang selalu menjadi lambang kehadiran-Nya. Namun di 

Bait Suci di sorga tidak akan ada awan, dan kita akan saling 

lihat muka dengan muka. 

5. Kerub-kerub itu membuat bunyi menakutkan dengan sayap-

sayap mereka (ay. 5). Getarannya, seperti senar alat musik, 

menghasilkan melodi aneh. Lebah dan serangga-serangga ber-

sayap membuat bunyi-bunyi bising juga dengan sayap mereka. 

Mungkin kepakan sayap para kerub ini menandakan mereka 

sedang membuat persiapan untuk berpindah, dengan meren-

tangkan sambil mengangkat turun-naik sayap mereka, sehing-

ga menimbulkan suara bising itu, seperti hendak memberi 

peringatan. Suara ini dikatakan seperti suara ALLAH Yang 

Mahakuasa, kalau Ia berfirman, seperti bunyi guntur, yang 

disebut suara TUHAN (Mzm. 29:3), atau seperti suara TUHAN 

saat  Ia berbicara kepada orang Israel di Gunung Sinai, dan 

saat itu Ia memberi hukum dengan kengerian luar biasa, un-

tuk menunjukkan betapa dengan dahsyatnya Ia akan memin-

tai pertanggungjawaban bila ada yang melanggarnya, yang 

sekarang hendak Ia laksanakan. Suara sayap-sayap itu ter-

dengar sampai pelataran luar, yaitu pelataran tempat umat 

berkumpul. Sebab, suara Tuhan, saat  menghakimi, berseru-

seru di dalam kota, supaya  orang-orang yang tidak melihat 

penglihatan-penglihatan seperti Yehezkiel, bisa mendengar saja.  

II. Perintah-perintah mengerikan akibat murka-Nya. Penglihatan ini 

memiliki maksud lebih lanjut dan bukan sekadar memperlihatkan 

kedahsyatan Allah. Perintah-perintah selanjutnya hendak diberi-

kan mengenai kehancuran Yerusalem. Bencana dahsyat akan 

ditimbulkan oleh api dan pedang. Dalam pasal sebelumnya ada 

diberikan perintah untuk membunuh semua penduduk Yeru-

salem, dan sekarang dalam pasal ini kita dapati perintah untuk 

meratakan kota ini dalam debu, dengan menghamburkan bara api 

ke atas kota itu, bara yang diambil dari tengah-tengah kerub itu.  

1. Untuk mengeluarkan perintah, kemuliaan Allah terangkat dari 

atas kerub (seperti yang terjadi sebelumnya saat  perintah 

dikeluarkan [lihat  9:3]), dan pergi ke atas (KJV: duduk di atas) 

ambang pintu Bait Suci, seperti sedang duduk di kursi peng-

adilan yang biasanya dilakukan orang di pintu-pintu gerbang 

kota. Orang Israel tidak mau mendengar sabda-sabda yang 

Kitab Yehezkiel 10:1-7 

Allah sampaikan kepada mereka dari Bait Suci-Nya, dan kare-

na itu mereka akan dibuat mendengar malapetaka mereka. 

2. Orang yang berpakaian lenan itu, yang menandai orang-orang 

yang akan diselamatkan, dipakai dalam pelayanan ini. Sebab, 

Yesus yang sama, Sang Pelindung dan Penyelamat mereka 

yang percaya, sesudah  semua penghakiman diserahkan kepada-

Nya, baik untuk menghukum maupun untuk membebaskan, 

akan datang dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-

nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang 

tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus. Dia 

yang duduk di atas takhta memanggil orang yang berpakaian 

lenan itu, dan berkata, “Masuklah ke bawah kerub dari antara 

roda-rodanya dan penuhilah rangkup tanganmu dengan bara 

api dari tengah-tengah kerub itu dan hamburkan ke atas kota 

itu.” Hal ini menyiratkan bahwa, 

(1) Pembakaran kota dan Bait Suci oleh orang-orang Kasdim 

memang sudah ditetapkan, dan dalam melakukannya, 

mereka menjalankan keputusan Allah, melaksanakan apa 

yang sudah dirancangkan-Nya sebelumnya. 

(2) Api murka Allah, yang menyalakan hukuman ke atas suatu 

umat, sungguh adil dan kudus, sebab  api itu diambil dari 

tengah-tengah kerub itu. Api di atas mezbah Allah, tempat 

pendamaian atas dosa diadakan, telah dihina, dan sebab  

itu, sebagai pembalasan, api penghakiman ini diambil dari 

sorga, seperti api yang dipakai untuk membunuh Nadab 

dan Abihu yang mengadakan korban bakaran dengan api 

yang asing. saat  suatu kota, desa, atau rumah terbakar, 

entah disengaja atau tidak, dan jika kita telusuri asal-

usulnya, kita akan mendapati bahwa bara yang menyulut 

api itu berasal dari antara roda-roda kerub. Sebab tidak 

ada kejahatan apa pun di tempat itu yang menyebabkan-

nya selain Tuhan yang melakukannya. 

(3) Yesus Kristus bertindak sesuai perutusan dari Bapa, sebab 

dari Dia Kristus menerima kuasa untuk menghakimi, kare-

na Ia yaitu  Anak Manusia. Kristus datang untuk melem-

parkan api ke bumi (Luk. 12:49) dan pada hari besar itu Ia 

akan berfirman kepada dunia ini sehingga menjadi abu. 

Dengan api yang keluar dari tangan-Nya, bumi dan segala 

pekerjaan yang ada di dalamnya akan terbakar habis. 

3. Orang yang berpakaian lenan itu siap melaksanakan peker-

jaannya. Walaupun dengan berpakaian lenan ia sangat tidak 

pantas untuk pergi ke tengah-tengah bara, namun begitu di-

panggil, ia pun menjawab, sungguh, aku datang. Perintah ini Ia 

terima dari Bapa-Nya, dan Ia pun setuju dengan perintah itu. 

Sang nabi melihatnya pergi masuk. Ia pergi berdiri di samping 

salah satu dari roda-roda itu, menanti untuk diberi bara-bara 

api untuk ditebarkannya. Sebab, apa yang akan diberikan oleh 

Kristus Ia diterima-Nya terlebih dahulu, baik itu belas kasihan 

ataupun penghakiman. Ia diberi perintah untuk mengambil api, 

namun  ia berdiri menunggu sampai api itu diberikan kepadanya, 

untuk memperlihatkan betapa ia lambat dalam melaksanakan 

hukuman, dan betapa panjang sabarnya ia terhadap kita. 

4. Salah satu dari para kerub mengulurkan segenggam api dari 

tengah-tengah makhluk-makhluk hidup. Sebelumnya, sang 

nabi, saat  pertama kali melihat penglihatan ini, mengamati 

bahwa ada bara api yang menyala, suluh, yang bergerak kian 

ke mari di antara makhluk-makhluk hidup (1:13). Nah, dari 

antara makhluk-makhluk hidup inilah api itu diambil (ay. 7).  

Roh yang membakar, api tukang pemurni logam, yang dengan-

nya Kristus memurnikan jemaat-Nya, berasal dari Allah. De-

ngan api dari sorga, api dari tengah-tengah kerub itu-lah, se-

gala keajaiban itu dikerjakan. Seorang kerub itu mengulurkan 

tangannya dari tengah kerub-kerub ke api yang ada di tengah-

tengah mereka, diambilnya sedikit dan ditaruhnya di dalam 

tangan orang yang berpakaian lenan itu. Sebab para malaikat 

selalu siap dipekerjakan oleh Tuhan Yesus untuk melayani 

segala tujuan-Nya. 

5.  sesudah  mengambil api itu, orang itu pun pergi, tidak diragu-

kan lagi, untuk menghamburkan api itu di seluruh kota itu 

seperti diperintahkan kepadanya. Dan, Siapakah yang dapat 

tahan akan hari kedatangan-Nya? Siapa yang dapat tahan di 

hadapan-Nya saat  Ia tampil dalam amarah-Nya? 

Penglihatan akan Kemuliaan Allah 

(10:8-22) 

8 Pada kerub-kerub itu tampak yang menyerupai tangan manusia di bawah 

sayap mereka. 9 Aku melihat, sungguh, di samping kerub-kerub itu ada 

Kitab Yehezkiel 10:8-22 

 183 

empat roda, satu roda di samping seorang kerub, dan roda-roda ini kelihat-

annya seperti kilauan permata pirus. 10 Kelihatannya keempatnya yaitu  

serupa, seolah-olah roda yang satu ditengah-tengah yang lain. 11 Kalau 

mereka berjalan mereka dapat menuju keempat jurusan tanpa berbalik kalau 

berjalan; sebab  tempat mana yang dituju oleh yang di muka, ke situlah  

pergi yang lain-lain, tanpa berbalik kalau berjalan. 12 Seluruh badan mereka, 

punggungnya, tangannya, sayapnya, dan roda-rodanya penuh dengan mata 

sekelilingnya, ya, roda-roda mereka berempat juga. 13 Aku dengar bahwa 

roda-rodanya disebut “puting beliung.” 14 Masing-masing memiliki  empat 

muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka 

manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka 

rajawali. 15 Kerub-kerub itu naik ke atas. Itulah makhluk-makhluk hidup 

yang dahulu kulihat di tepi sungai Kebar. 16 Kalau kerub-kerub itu berjalan, 

roda-roda itu juga berjalan di samping mereka; kalau kerub-kerub itu 

mengangkat sayapnya untuk terbang dari tanah, roda-roda itu tidak bergerak 

dari samping mereka. 17 Kalau kerub-kerub itu berhenti, roda-roda itu 

berhenti, kalau kerub-kerub itu naik ke atas, roda-roda itu sama-sama naik 

dengan mereka; sebab roh makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-

roda itu. 18 Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan 

hinggap di atas kerub-kerub. 19 Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap 

mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan 

roda-rodanya bersama-sama dengan mereka. Lalu mereka berhenti dekat 

pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah 

Israel berada di atas mereka. 20 Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu 

kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa 

mereka yaitu  kerub-kerub. 21 Masing-masing memiliki  empat muka dan 

bagi masing-masing ada empat sayap dan di bawah sayap mereka ada yang 

berbentuk tangan manusia. 22 Kelihatannya muka mereka yaitu  serupa 

dengan muka yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan 

lurus ke mukanya. 

Ayat-ayat ini menggambarkan lebih lanjut penglihatan akan kemulia-

an Allah. Di sini diperkenalkan pertanda yang mengerikan itu, yakni 

perginya kemuliaan Allah itu dari antara orang Israel, yang membuka 

pintu bagi kehancuran untuk masuk menerobos.  

I.  Nabi Yehezkiel melihat kemuliaan Allah bersinar terang di tempat 

kudus, seperti yang telah dilihatnya dahulu di tepi sungai Kebar. 

Ia lalu memberi penjelasan tentang penglihatannya itu, bahwa 

orang-orang yang telah menyulut murka Allah dengan kejahatan 

mereka hingga Ia meninggalkan mereka, akan mengetahui apa 

yang telah hilang dari mereka, dan mereka akan meratap di 

hadapan-Nya, meraung-raung mencari Ikabod (telah lenyap kemu-

liaan dari Israel – pen.) mereka, Di mana kemuliaan itu? Yehezkiel 

di sini melihat bagaimana Allah Sang Pemelihara bekerja meme-

rintah dunia bawah dan segala urusannya, yang di sini digambar-

kan dengan empat roda. Sedangkan kesempurnaan para malaikat 

kudus, para penghuni dunia atas itu, dan segala pelayanan mere-

ka digambarkan dengan empat makhluk hidup, masing-masing 

memiliki  empat muka. Cara kerja para malaikat dalam meng-

urus segala urusan dunia ini digambarkan dengan hubungan 

dekat yang terjadi antara makhluk hidup dan roda-roda, di mana 

roda-roda dikendalikan oleh para makhluk hidup itu untuk ber-

gerak, seperti kereta dipandu oleh orang yang mengemudikannya. 

namun  , Roh yang sama yang bekerja di dalam diri makhluk 

hidup dan roda-roda menunjukkan adanya Sang Hikmat Tak Ter-

batas, yang melayani tujuan-tujuan-Nya sendiri melalui pelayan-

an para malaikat dan segala peristiwa yang terjadi di dunia bawah 

ini. Dengan demikian penglihatan ini memberi kesempatan bagi 

iman untuk melihat bahwa TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya 

di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mzm. 

103:19). Sang nabi mengamati bahwa penglihatan ini juga yang 

dahulu kulihat di tepi sungai Kebar (ay. 15, 22), namun ada satu 

perbedaan, yaitu dalam penglihatan sebelumnya itu ada muka 

lembu di sebelah kiri (1:10), sedangkan di sini ada muka kerub, 

muka yang pertama (ay. 14). Ada yang menafsirkan bahwa muka 

kerub itu sama dengan muka lembu yang ada dalam pikiran 

orang Israel saat  mereka membuat lembu emas dahulu.  

Namun, menurut saya, dalam penglihatan yang terakhir ini, muka 

yang pertama ini merupakan rupa atau tampilan yang sebenarnya 

dari kerub, yang dikenal Yehezkiel dengan baik sebagai seorang 

imam, seperti yang telah dilihatnya di dalam Bait Suci Tuhan 

(1Raj. 6:29), namun  sekarang memang tidak kita ketahui secara 

pasti lagi. Dan kini dengan penglihatan ini Yehezkiel tahu dengan 

pasti, sementara sebelumnya ia hanya menduga-duga, bahwa 

muka-muka itu semuanya yaitu  para kerub, walaupun tampil 

dengan muka-muka yang berbeda (ay. 20). Dan dengan tampilnya 

kerub dalam rupanya yang selayaknya, dan tetap dalam jumlah-

nya yang empat, maka muka lembu dari kerub pun disingkirkan, 

sebab muka kerub selama ini sudah dilecehkan melalui penyem-

bahan seekor lembu. Seperti adakalanya saat  Allah tampil mem-

bebaskan umat-Nya, demikian pula sekarang saat tampil mening-

galkan umat-Nya, Ia mengendarai kerub, lalu terbang. Sekarang 

mari kita amati di sini. 

1.  Bahwa dunia ini tunduk pada perputaran dan perubahan, 

serta pada berbagai perubahan yang tiba-tiba. Arah peristiwa 

yang terjadi di dalamnya digambarkan melalui roda-roda (ay. 

Kitab Yehezkiel 10:8-22 

9). Adakalanya jari-jari roda yang satu ada di atas dan terka-

dang yang lain. Naik turun seperti laut, mengecil dan mem-

besar seperti bulan (1Sam. 2:4, dst.). Bahkan, tampilan roda-

roda itu seolah-olah roda yang satu ditengah-tengah yang lain, 

yang menandakan mereka saling menunjang, bergantung satu 

sama lain, dan saling bersambung menuju satu tujuan, 

sementara gerakan mereka tampaknya rumit, membingungkan 

dan kelihatan berlawanan. 

2. Bahwa ada suatu keselarasan dan keseragaman dalam ber-

bagai kejadian tindak pemeliharaan Allah, Mengenai roda-roda 

itu, walaupun mereka bergerak ke beberapa arah, namun 

mereka diteriaki, Wahai roda! (ay. 13, KJV). Mereka semua 

seperti satu adanya, dibimbing oleh satu Roh menuju satu 

tujuan. Sebab, Allah bekerja semuanya menurut keputusan 

kehendak-Nya sendiri, yang yaitu  satu, demi kemuliaan-Nya 

sendiri, yang yaitu  satu. Dan ini sungguh membuat tindakan 

pemeliharaan-Nya benar-benar mengagumkan, dan harus di-

pandang dengan rasa takjub. Seperti segala pekerjaan pencip-

taan-Nya, dilihat secara terpisah, baik adanya, namun  secara 

bersama-sama semuanya sangat baik, demikian pula dengan 

roda-roda pemeliharaan-Nya, bila dilihat terpisah satu per 

satu, indah adanya, namun  bila digabung bersama-sama sung-

guhlah indah. Wahai roda!  

3. Bahwa semua gerakan Sang Pemelihara itu tetap dan teratur, 

dan apa pun yang berkenan di hati-Nya, Ia melakukannya dan 

tidak akan berubah pikiran. Roda-roda itu, kalau mereka ber-

jalan mereka dapat menuju keempat jurusan tanpa berbalik ka-

lau berjalan (ay. 11), sementara makhluk-makhluk hidup itu, 

masing-masing berjalan lurus ke mukanya (ay. 22). Tak peduli 

apa pun kesulitan yang menghadang di jalan, mereka yakin 

bisa melewatinya, dan tidak bisa dibuat berhenti, berbelok dan 

kembali. Betapa sempurnanya Allah mengenal semua pekerja-

an-Nya hingga tidak sekali-kali Ia berubah pikiran. 

4. Bahwa Allah banyak memakai pelayanan para malaikat dalam 

mengatur dunia bawah ini lebih daripada yang kita sadari. Di 

samping kerub-kerub itu ada  empat roda, satu roda di 

samping seorang kerub (ay. 9). Apa yang selama ini dibayang-

kan sementara orang mengenai wilayah dunia atas, bahwa 

setiap ujud memiliki kemampuan berpikir untuk membimbing 

dirinya, di sini tersirat pemikiran seperti itu dalam hal roda-

roda itu, bahwa setiap roda memiliki kerubnya untuk mem-

bimbingnya. Sangatlah memuaskan hati kita bila di bawa 

tuntunan Allah yang bijak ada orang-orang bijak yang dipakai 

dalam mengatur berbagai urusan kerajaan-kerajaan dan gere-

ja-gereja. namun  apakah ini terjadi atau tidak, satu hal tampak 

pasti di sini bahwa para malaikat yang bijak sungguh dipakai, 

satu roda di samping seorang kerub.  

5. Bahwa semua gerakan pemeliharaan ilahi dan pelayanan para 

malaikat ada di bawah penguasaan Allah yang Mahabesar. 

Semuanya penuh dengan mata sekelilingnya, yaitu mata-mata 

dari Tuhan yang bergerak ke sana kemari melalui bumi, yang 

selalu diikuti gerakannya oleh para malaikat (ay. 12). Makhluk-

makhluk hidup, dan roda-roda semuanya serasi dalam gerak-

an-gerakan dan perhentian mereka (ay. 17). Sebab, Roh yang 

memberi hidup, seperti yang bisa ditafsirkan demikian, roh 

makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-roda itu. Roh 

Allah mengarahkan semua makhluk hidup sedemikian rupa, 

baik di dunia atas maupun bawah, supaya  mereka semua 

melayani tujuan ilahi. Segala peristiwa tidak ditentukan oleh 

roda keberuntungan, yang buta, namun  oleh roda-roda Pemeli-

haraan Ilahi, yang penuh dengan mata di sekelilingnya. 

II. Yehezkiel melihat kemuliaan Allah meninggalkan tempat kudus, 

tempat kehormatan Allah selama ini berdiam, dan pemandangan 

ini sungguh menyedihkan. Walaupun sangat menyenangkan hati 

melihat Allah tidak meninggalkan tanah ini (seperti yang disangka 

para penyembah berhala [9:9]), namun sungguh sedih juga bahwa 

Ia sampai meninggalkan tempat kudus-Nya. Kemuliaan TUHAN 

pergi ke atas ambang pintu Bait Suci, sesudah  memberi  perin-

tah-perintah yang perlu untuk menghancurkan kota itu, dan dari 

situ hinggap di atas kerub-kerub, bukan yang ada di ruang maha-

kudus, namun  yang sekarang dilihat Yehezkiel dalam penglihatan 

ini (ay. 18). Kemuliaan TUHAN naik ke atas kereta yang anggun, 

sebagai Hakim, saat  Ia bangkit dari kursi pengadilan, masuk ke 

dalam kereta dan pergi. Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap 

mereka (ay. 19), sebagaimana mereka diarahkan, dan mereka naik 

dari tanah, seperti burung-burung dengan sayapnya. Dan, waktu 

mereka pergi, roda-rodanya bersama-sama dengan mereka, secara 

Kitab Yehezkiel 10:8-22 

naluri, tidak ditarik. Dengan demikian tampaklah bahwa roh 

makhluk-makhluk hidup itu ialah di dalam roda-roda itu. Demi-

kianlah, saat  Allah meninggalkan suatu umat dalam kemarah-

an, para malaikat di atas dan semua peristiwa di bawah turut 

sepakat dalam mendukung kepergian-Nya. Amatilah di sini, di 

pelataran-pelataran Bait Suci di mana orang Israel telah meng-

hina Allah mereka dan melemparkan kuk yang ditaruh-Nya di 

bahu mereka, para malaikat yang terberkati tampil siap sedia 

melayani Dia, untuk menarik kereta yang dinaiki-Nya, dan naik ke 

atas bersamanya. Sebelumnya Allah memperlihatkan kepada sang 

nabi betapa kehendak Allah telah diabaikan oleh manusia di bumi 

(ps. 8), dan sekarang di sini Dia menunjukkan kepadanya betapa 

siapnya kehendak-Nya ditaati oleh para malaikat dan makhluk-

makhluk yang lebih rendah tingkatannya. Jadi sungguh meng-

hibur hati bila sementara bersedih atas kejahatan orang fasik, 

kita bisa merenungkan betapa patuhnya para malaikat-Nya terha-

dap segala perintah-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya 

(Mzm. 103:20). Marilah sekarang kita, 

1. Perhatikan kereta ini, yang dinaiki kemuliaan Allah Israel de-

ngan penuh kemenangan. Ia yang yaitu  Allah Israel merupa-

kan Allah empunya sorga dan bumi, dan berkuasa atas segala 

kuasa di sorga dan di bumi. Hendaklah semua orang Israel 

yang setia terhibur hatinya dengan ini, bahwa Dia yang yaitu  

Allah mereka berkuasa atas para kerub. Sang Penebus mereka 

juga demikian adanya (1Ptr. 3:22) dan berkuasa sepenuh-

penuhnya dalam mengatur segala peristiwa dunia ini. Semua 

makhluk hidup dan roda-roda sepakat untuk melayani Dia, dan 

Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari 

segala yang ada. Para guru agama Yahudi menyebut peng-

lihatan yang dilihat Yehezkiel ini dengan istilah Mercabah, 

yaitu penglihatan tentang kereta. Dari sebutan ini kemudian 

mereka menyebut bagian yang lebih sulit dipahami tentang 

Allah, yaitu tentang Allah dan roh-roh, dengan Opus currûs, 

artinya pekerjaan kereta. Sedangkan bagian yang lebih jelas 

dan sudah umum dikenal, mereka sebut Opus bereshith, arti-

nya karya penciptaan.  

2. Mari kita perhatikan gerak-gerik dari kereta ini: Kerub-kerub 

itu, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka, ber-

henti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur 

(ay. 19). Amati di sini berapa banyak tempat perhentian yang 

disinggahi Allah, seolah-olah Ia ingin melihat kalau-kalau ada 

yang merintangi-Nya supaya  kembali. Tidak satu pun dari 

para imam di pelataran dalam, antara Bait Suci dan mezbah, 

yang mau menjamu-Nya. sebab  itu Ia pun meninggalkan 

pelataran mereka dan berdiri di pintu gerbang sebelah timur, 

yang menuju ke pelataran tempat berkumpul umat, untuk meli-

hat-lihat lagi kalau-kalau ada dari antara umat yang mau 

maju mengantarai Dia dengan umat. Ingatlah, sedikit demi 

sedikit Allah meninggalkan suatu umat yang menyulut murka-

Nya. namun  saat  Ia sudah hendak meninggalkan mereka 

dalam amarah, Ia mau saja kembali kepada mereka dengan 

penuh belas kasih, jika mereka mau kembali menjadi umat 

yang bertobat dan pendoa. 

 


 

PASAL 1 1  

asal ini mengakhiri penglihatan yang dilihat Yehezkiel, dan bagi-

an penglihatan yang digambarkan dalam pasal ini melengkapi dia 

dengan dua pesan, yaitu 

I. Sebuah pesan kemurkaan melawan orang-orang Israel yang 

terus tinggal di Yerusalem. Dalam puncak kepongahan mere-

ka mengira tidak akan binasa (ay. 1-13). 

II. Sebuah pesan penghiburan kepada orang-orang yang dibawa 

sebagai tawanan ke Babel. Di kedalaman roh yang terpuruk 

mereka menyangka diri tidak akan pernah bangkit lagi. Dan, 

sebagaimana kelompok yang pertama tadi diyakinkan bahwa 

Allah telah menyediakan berbagai hukuman bagi mereka 

sekalipun keadaan mereka sekarang aman-aman saja, demi-

kian pula halnya kelompok yang kedua ini juga diyakinkan 

bahwa Allah telah menyediakan belas kasih-Nya bagi mereka 

sekalipun dengan keadaan mereka yang sedang tertekan (ay. 

14-21). Dan kemuliaan Allah terangkat semakin jauh (ay. 22-

23). Penglihatan menghilang (ay. 24), dan Yehezkiel dengan 

setia menyampaikan kepada para pendengarnya tentang 

penglihatan itu (ay. 25). 

Pesan Kemurkaan kepada Yerusalem;  

Kepongahan Pemimpin;  

Nubuat-nubuat yang Mengentakkan 

(11:1-13)   

1 Lalu Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pintu gerbang Timur 

dari rumah TUHAN, pintu yang menghadap ke sebelah timur. Lihat, di dalam 

pintu gerbang itu ada dua puluh lima orang dan di antara mereka kulihat 

Yaazanya bin Azur dan Pelaca bin Benaya, yaitu pemimpin-pemimpin bangsa. 

2 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, inilah orang-orang yang meran-

cang kedurjanaan dan menaburka


Related Posts:

  • Yehezkiel 6 di sini yaitu , 1. Perempuan-perempuan yang menangisi dewa Tamus (ay. 14). Sungguh hal yang keji, bahwa ada orang yang lebih memilih melayani suatu berhala dengan air mata daripada melayani Allah yan… Read More