pernah
membiarkanmu dan akan melawanmu dalam masalah ini." Abdul Muthalib berkata: "Jika itu
yang kalian mau, maka carilah orang yang kalian suka lalu kita selesaikan perkara ini di
hadapannya." Mereka berkata: "Kita pilih seorang dukun wanita Bani Sa'ad Hudzaim." Abdul
Muthalib berkata: "Ya, silahkah saja." Dukun wanita yang mereka sebut itu tinggal di pinggiran
kota Syam.
Abdul Muthalib berangkat ke sana ber- sama dengan beberapa orang dari kabilah ayahnya,
Bani Abdu Manaf yang diikuti pula beberapa orang dari setiap kabilah Quraisy.
Ali bin Abu Thalib berkata: Saat itu lokasi-lokasi ini ada yang rnasih berbentuk padang
Sahara yang tandus. saat melintasi salah satu padang Sahara yang tandus di antara Hijaz dan
Syam, persediaan air Abdul Muthalib dan rombongannya habis. Mereka pun kehausan dan
yakin akan mati akibat kehausan. Mereka meminta air kepada kabilah-kabilah Quraisy, namun
kabiiah-kabilah Quraisy menolak memberi air kepada mereka. Kabiiah-kabilah Quraisy
berkata: "Kita sedang berada di tengah padang sahara vang kering kerontang dan kami juga
khavatir akan mengalami apa yang sedang kalian alarm." saat Abdul Muthalib mengetahui
jawaban kabiiah-kabilah Quraisy dan kekhawatiran mereka terhadap diri mereka. ia berkata:
"Ba- gaimana menurut pendapat kalian? Mereka berkata: "Kami senantiasa mengikuti penda-
patmu. Maka perintahkan apa saja yang engkau inginkan kepada kami!" Abdul Muthalib
berkata: "Aku berpendapat bahwa hendaklah setiap orang dari kalian membuat galian untuk
dirinya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Jika ada yang meninggal dunia, maka
sahabat-sahabatnya mendorongnya ke dalam lubang galiannya, lalu mengu- ruknya,
hingga tinggal tersisa satu orang di antara kita, sebab kehilangan satu orang itu lebih ringan
mudharatnya daripada kehilangan semua rombongan." Mereka berkata: "Apa yang engkau
katakan ini yaitu sebuah pendapat yang tepat."
Lalu masing-masing orang menggali lubang untuk dirinya, dan menunggu datang- nya
kematian akibat dilanda kehausan. Abdul Muthalib berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Demi
Allah, Sebetulnya menjatuhkan diri kepada kematian dengan cara seperti ini, dan tidak
berjalan di permukaan bumi serta tidak berusaha untuk mencari karunia bagi diri sendiri benar-
benar sebuah tindakan lemah! Semoga Allah memberi kita air di salah satu negeri. Pergilah
kalian!" Sahabat-sahabat Abdul Muthalib pun beranjak pergi sebagaimana diperintahkan oleh
Abdul Muthalib. sesudah mereka berangkat dan kabiiah-kabilah Quraisy menyaksikan apa yang
mereka kerjakan, maka Abdul Muthalib berjalan menuju hewan tunggangannya. saat hewan
tunggangan- nya berjalan tiba-tiba dari telapak kaki hewan tunggangannya memancar air
tawar. Abdul Muthalib mengumandangkan takbir yang lalu diikuti para sahabatnya.
Abdul Muthalib turun dari hewan tunggangannya, lalu bersama para sahabatnya meminum air
ini , mengisi tempat air minun mereka sampai penuh. Barulah Abdul Muthalib memanggil
kabiiah-kabilah Quraisy dan berkata kepada mereka: "Marilah kita bersama-sama pergi Ke air!
Allan telaii mengarunikan air mi- num kepada kita. Minumlah dari air ini lalu isilah
tempat air minum kalian." Mereka datang ke air ini , lalu minum dan mengisi tempat air
minum mereka. Mereka berkata: "Demi Allah, perkara ini engkau menangkan atas kami, wahai
Abdul Muthalib. Demi Allah, kami tidak akan melawanmu dalam perkara Sumur Zamzam
untuk selama-lamanya. Sebetulnya Dzat yang memberimu air di padang Sahara yang tandus
ini pastilah Dzat yang memberimu air Zamzam. Kembalilah engkau untuk mengurusi
pemberian minum dengan damai." Abdul Muthalib pulang demikian pula mereka. Mereka
tidak meneruskan perjalanan kepada dukun wanita dan membatalkan maksud perjalanannya.
Ibnu Ishaq berkata: Itulah yang sampai kepadaku apa yang dikatakan oleh Ali bin Abu Thalib
tentang Zamzam.
Ibnu Ishaq berkata: Aku mendengar dari orang yang pernah berbicara mengenai Abdul
Muthalib bahwa telah dikatakan kepadanya saat ia diperintahkan menggali Sumur Zamzam:
Ajaklah orang-orang kepada air pelepas dahaga yang tidak keruh
Ia berikan air minum orang-orang yang berhaji
dalam setiap tempat yang di dalamnya ada ketaatan
Tak perlulah kau risau untuk kehabisan
Mendengar ucapan seperti itu, Abdul Muthalib bergegas pergi menemui orang-orang Quraisy,
dan berkata kepada mereka: "Ketahuilah, bahwa aku diperintahkan untuk menggali Sumur
Zamzam untuk kalian." Mereka berkata: "Apakah telah dijelaskan kepadamu di tempat mana
Sumur Zamzam ini berada." Abdul Muthalib berkata: "Tidak." Mereka berkata: "Jika
demikian, tidurlah engkau kembali sebagaimana engkau tidur sebelumnya dan bermimpi
seperti itu sebab ucapan ini berasal dari Allah, Dia pasti akan memberi penjelasan
kepadamu. Jika ucapan ini berasal dari setan, ia tidak akan kembali kepadamu." Abdul
Muthalib kembali ke tempat tidurnya semula. Dalam tidurnya, datanglah seseorang kepadanya,
lalu berkata kepadanya: "Galilah Zamzam sebab jika engkau menggalinya, kau tidak
akan pernah menyesal, sebab Zamzam ini yaitu peninggalan ayahmu yang teragung.
Airnya tidak akan habis selamanya lamanya, melimpah, dan memberi minum kepada jama'ah
haji yang mulia. Zamzam itu laksana burung unta yang kencang larinya dan belum dibagi. Di
dalamnya, orang bernazar buat Dzat Pemberi nikmat yang menjadi warisan dan perjanjian yang
kokoh kuat. Dia tidaklah seperti apa yang engkau telah ketahui sebelum ini. Zamzam berada
di antara kotoran dan darah.
Ibnu Hisyam berkata: Ucapan di atas dan ucapan sebelumnya dalam penuturan Ali bin Abu
Thalib tentang Zamzam, menurut kami, yaitu sajak biasa dan bukan syair.
Ibnu Ishaq berkata: Mereka beranggapan bahwa saat perkataan di atas dikatakan kepada
Abdul Muthalib ia berkata: "Di manakah Zamzam ini adanya?'" Lalu di jawab: "Dia
berada di dekat rumah semut di mana di sana ada burung gagak mematuk-matuk dengan
paruhnya besok." Wallahu Alam, dimana yang benar dari kisah di atas.
Keesokan harinya Abdul Muthalib dengan ditemani anaknya, Al-Harts, anak satu-satunya saat
itu, pergi lalu melihat rumah semut, dan mereka dapatkan di tempat itu ada burung gagak
yang sedang mematuk-matuk tanah, tepat di antara dua patung: Isaf dan Nailah. Tempat dimana
orang-orang Quraisy biasa menyembelih hewan qurban mereka. Abdul Muthalib mengambil
cangkul, lalu menggali tanah di tempat yang telah ia di perintah untuk menggalinya. saat
orang- orang Quraisy memperhatikan keseriusan Abdul Muthalib, mereka datang menemuinva
seraya berkata: "Demi Allah, kami tidak akan membiarkanmu menggali di area di antara dua
patung kami, tempat kami biasa menvembelih hewan qurban." Abdul Muthalib berkata kepada
anaknya Al-Harits: "Lindungilah aku sampai aku tuntas menggali. Demi Allah, aku akan tetap
melakukan apa yang telah diperintahkan kepadaku."
Melihat Abdul Muthalib tidak menyerah orang-orang Quraisy membiarkan Abdul Muthalib
menggali, dan menahan diri dari padanya. Dalam waktu yang sangat singkat dalam menggali
Abdul Muthalib melihat isi sumur ini , lalu bertakbir dan mengetahui bahwa ia
benar-benar dipercaya. Begitu meneruskan penggalian, ia melihat dua patung rusa yang terbuat
dari emas yang di timbun oleh Jurhum di dalamnya saat mereka akan meninggalkan Mekkah.
Abdul Muthalib juga mendapatkan beberapa pedang dari Qal'ah dan baju besi. Orang-orang
Quraisy berkata kepada Abdul Muthalib: Wahai Al Muthalib, Sebetulnya kami memiliki
hak yang sama denganmu untuk berbagi dalam urusan Zamzam ini!" Abdul Muthalib berkata:
"Tidak! Namun demikian mari kita ambil keputusan yang adil antara aku dengan kalian! Kita
selesaikan persoalan ini dengan kotak dadu dan diundi." Mereka berkata: "Apa yang akan
engkau lakukan?" Abdul Muthalib berkata: "Aku membikin dua dadu untuk Ka'bah, dua dadu
untukku, dan dua dadu untuk kalian. Barangsiapa kedua dadunya keluar, ia mendapat bagian.
Barangsiapa kedua da-dunya tidak keluar, ia tidak mendapat bagian sedikit pun." Mereka
berkata: "Engkau telah bertindak adil." lalu Abdul Muthalib membikin dua buah dadu
berwarna kuning untuk Ka bah, dua dadu berwarna hitam untuk dirinya, dan dua dadu berwarna
putih un¬tuk orang-orang Quraisy. sesudah itu mereka memberi nya kepada penjaga kotak
dadu yang bertugas menyelenggarakan undian di samping patung Hubal. Hubal terletak di
dalam Ka'bah dan merupakan patung terbesar mereka. Patung Hubal inilah yang dimaksud Abu
Sufyan pada Perang Uhud: "Bangkitlah Vk'ahai Hubal!" artinya menangkan agamamu." Abdul
Muthalib berdiri sambil berdo'a kepada Allah. Lalu penjaga kotak dadu mengadakan undian
dan keluarlah dua dadu berwarna kuning yang berarti dua patung kijang dari emas menjadi
milik Ka'bah, dan dua dadu berwarna hitam yang berarti bahwa pedang dan baju besi menjadi
milik Abdul Muthalib. Sedangkan dua dadu milik orang-orang Quraisy tidak muncul.
Abdul Muthalib memasang pedang-pedang ini sebagai pintu Ka'bah, yang dihiasi dua
patung kijang dari emas. Itulah emas pertama kali yang dikenakan di Ka'bah menurut pendapat
para ahli. Maka sesudah itu Abdul Muthalib memberi air minum Zamzam pada jama'ah haji.
Sumur-sumur Kabilah Quraisy di Mekkah
Ibnu Hisyam berkata: Sebelum penggalian Sumur Zamzam, orang Quraisy sudah lebih dulu
menggali demikian banyak sumur di Mekkah sebagaimana hal ini dikatakan kepadaku oleh
Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq dimana ia berkata: Abdu Syams bin
Abdu Manaf menggali Sumur Ath-Thawiy yang berada di Mekkah Atas di Al-Baidha' di rumah
Muhammad bin Yusuf Ats-Tsaqafi.
Hasyim bin Abdu Manaf menggali Sumur Badzdzar yang berada di Al-Mustandzar Khathmu
Al-Khandamah di atas lorong jalan milik Abu Thalib. Ada yang menyebutkan bahwa pada saat
menggalinya Hasyim bin Abdu Manaf berkata: "Demi Allah, aku akan menjadikan Sumur
Badzdzar untuk keperluan banyak orang."
Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang penyair berkata:
Allah mengirimkan air minum yang aku ketahui tempatnya
Di Jurab, Malkum, Badzdzar, dan Al-Ghamm
Ibnu Ishaq berkata: Hasyim bin Abdu Manaf juga menggali Sumur Sajlah yang merupakan
sumur milik Al-Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf, dan orang-orang mengambil air
minum darinya. Bani Naufal mengaku bahwa Al-Muth'im membeli sumur ini dari Asad
bin Hasyim. Namun Bani Hasyim juga mengaku bahwa sumur itu dihibahkan kepadanya saat
muncul Sumur Zamzam, merekapun merasa tercukupi dengan sumur Zamzam dan tidak lagi
membutuhkan sumur-sumur lainnya.
Umayyah bin Abdu Syams menggali Sumur Al-Hafru untuk kepentingan dirinya sendiri.
Bani Asad bin Abdul Uzza menggali Sumur Saquyyah, milik Bani Asad.
Bani Abduddar menggali Sumur Ummu Ahrad.
Bani Jumah menggali Sumur As-Sunbu- lah, milik Khalaf bin Wahb.
Bani Sahm menggali Sumur Al-Ghamru, milik Bani Sahm.
Di sana sudah ada sumur galian Mekkah jaman dulu sejak zaman Murrah bin Ka'ab, Kilab bin
Murrah, dan tokoh-tokoh Quraisy dari generasi pertama dan mereka minum darinya. Yakni
Sumur Rumm yang menjadi milik Murrah bin Ka'ab bin Luay, Sumur Khamm yang merupakan
sumur Bani Kilab bin Murrah, dan Sumur Al-Hafru. Hudzaifah bin Ghanim, saudara Bani Adi
bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Hisyam berkata bahwa Hudzaifah bin Ghanim yaitu ayah dari Abu Jahm bin Hudzaifah.
Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair di atas yaitu penggalan syair-syiar Hudzaifah, Insyaallah
selengkapnya akan saya paparkan pada tempatnya.
Ibnu Ishaq berkata: Air Zamzam lebih higienis dari air-air yang ada sebelumnya. Jama'ah haji
berdatangan kepadanya, sebab ia dekat dengan Masjidil Haram dan lebih utama dari air-air
lainnya serta sebab Sumur Zamzam yaitu Sumur Ismail bin Ibrahim 'Alaihimas Salam.
Bani Abdu Manaf berbangga diri dengan Sumur Zamzam atas seluruh orang-orang Quraisy,
bahkan atas semua bangsa Arab. Musafir bin Abu Amr bin Umayyah bin Abdu Syams bin
Abdu Manaf berkata dalam sebuah syair dengan membangga-banggakan prestasi mereka
dengan memberi minum jama'ah haji, menjamin jamuan mereka, pemberian mereka berikan
kepada manusia, Sumur Zamzam yang ada pada mereka, bahwa Bani Manaf yaitu pemilik
Ka'bah, mereka lebih mulia dan tehormat dari lainnya.
Nazar Abdul Mutthalib untuk Menyembelih Salah Seorang Anaknya
Ibnu Ishaq berkata: Menurut sebagian besar orang, dan hanya Allah yang lebih tahu, Abdul
Muthalib bernazar tatkala dia mendapatkan apa yang dia dapatkan dari orang-orang Quraisy
saat menggali Sumur Zamzam bahwa jika ia memiliki sepuluh anak dan mereka besar
sementara ia mampu melindunginya, ia akan menyembelih salah seorang dari mereka untuk
Allah di samping Ka'bah. saat anaknya sudah berjumlah sepuluh, dan ia mengetahui bahwa
mereka akan mencegah dan menghalanginya. Maka iapun mengumpulkan anak-anaknya untuk
menjelaskan nazarnya serta mengajak mereka menetapi nazar untuk Allah itu. Mereka
mentaatinya dan berkata: "Apa yang semestinya harus kami lakukan?" Abdul Muthalib
berkata: "Setiap orang dari kalian mengambil satu dadu lalu menulis namanya di atasnya, lalu
tunjukkan hasilnya padaku." Merekapun mengerjakan apa yang diperintahkan Abdul Muthalib
lalu mereka menemui bapaknya. Abdul Muthalib membawa mereka ke Patung Hubal di dalam
Ka'bah. Patung Hubal terletak di atas sumur di dalam Ka'bah. Sumur ini yaitu tempat
dikumpulkannya apa yang mereka persem- bahkan untuk Ka'bah.
Di sisi Patung Hubal ada tujuh dadu dan pada setiap dadu ada tulisan Al-'Aqlu (diyat,
denda atas darah). Pada saat itu jika orang-orang Quraisy, berselisih tentang siapa yang berhak
menanggung tebusan, mereka mengocok ketujuh dadu ini . Jika yang keluar Al-'Aqlu,
maka diyat harus ditanggung oleh orang yang keluar namanya pada dadu ini . Di antara
dadu ini ada tulisan Na'am untuk satu hal yang mereka inginkan. Jika mereka
menginginkan sesuatu, mereka mengocok kotak dadu. Jika yang muncul yaitu dadu yang
bertuliskan Na'am, mereka mengerjakan apa yang diinginkan. Ada pula dadu yang bertuliskan
Laa. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka mengkocok dadu. jika yang muncul
yaitu dadu yang bertuliskan Laa mereka tidak mengerjakan apa yang diingkan. Ada pula dadu
yang bertuliskan Minkum, ada yang bertuliskan Mulshaq, ada tulisan Min Ghairikum, dan Al-
Miyahu. jika mau menggali sebuah sumur mereka mengocok dadu, dan tulisan apapun
yang keluar maka mereka mengerjakan sesuai dengan tulisan yang muncul itu.
Jika orang-orang Quraisy mau mengkhitan, atau menikahkan anak-anak atau memakamkan
jenazah mereka, atau ragu-ragu mengenai garis keturunan salah seorang dari mereka, mereka
pergi membawa orang itu kepada Hubal sembari tidak lupa membawa uang sejumlah seratus
dirham dan hewan sembelihan lalu mereka memberi nya kepada penjaga dadu.
Mereka mendekatkan sahabat yang mereka inginkan sesuatu padanya sambil berkata: "Wahai
Tuhan kami, inilah Si Fulan bin Fulan. Kami menginginkan ini dan itu untuknya. Maka
tampakkanlah kebenaran baginya." Mereka berkata kepada penjaga kotak dadu: "Lakukan
undian dengan dadu itu!" Jika yang muncul dadu yang bertuliskan Minkum, maka orang
ini menjadi bagian dari mereka. Jika yang muncul dadu yang bertuliskan Min Ghairikum,
orang ini menjadi sekutu bagi mereka. Jika yang keluar yaitu dadu yang bertuliskan
Mulshaq, maka orang ini akan ditempatkan sesuai dengan kedudukan yang ada di tengah
mereka; tidak memiliki nasab dan persekutuan. Jika yang muncul yaitu dadu yang
bertuliskan Na'am, mereka mengerjakan hal ini . Jika yang keluar yaitu dadu yang
bertuliskan Laa, mereka menunda perkara ini hingga tahun depan lalu pada tahun
berikutnya mereka datang kembali. Jadi mereka menggantungkan segala perkara mereka
kepada dadu yang muncul.
Abdul Muthalib berkata kepada penjaga dadu: "Undilah anak-anakku sesuai dengan dadu
mereka." Abdul Muthalib memberi penjelasan pada penjaga dadu tentang nazarnya,
lalu penjaga dadu memberi dadu untuk setiap anak-anak Abdul Muthalib sesuai dengan
nama yang ada di dalamnya. Adapun Abdullah bin Abdul Muthalib yaitu anak terakhir Abdul
Muthalib. Ibu Abdullah, Az-Zubayr, dan Abu Thalib yaitu Fathimah binti Amr bin Aidz bin
Abd bin Imran bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah bin Ka ab bin Luay bin Ghalib bin
Fihr.
Ibnu Hisyam berkata: A'idz anak Imran bin Makhzum.
Ibnu Ishaq berkata: Menurut sebagai pa- kar, Abdullah merupakan anak yang paling dicintai
oleh Abdul Muthalib. Abdul Muthalib memandang, jika ternyata dadu mengenai dirinya maka
dia akan disisakan. Ia yaitu ayah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Tatkala penjaga dadu mengambil dadu untuk mengadakan undian, Abdul Muthalib bangkit
dari duduknya lalu berdoa kepada Allah di sisi Hubal, sementara penjaga dadu mengocok
dadunya, namun ternyata dadu yang muncul yaitu atas nama Abdullah. Abdul Muthalib
memanggil Abdullah dan mengambil pisau panjang lalu membawa Abdullah ke patung Isaf
dan Nailah untuk di sembelih.
Orang-orang Quraisy beranjak dari balai pertemuan mereka dan datang menemui Abdul
Muthalib. Mereka berkata: "Apa yang engkau mau, wahai Abdul Muthalib?" Abdul Muthalib
menjawab: "Aku akan membunuhnya." Orang-orang Quraisy dan anak-anak Abdul Muthalib
berkata: "Demi Allah, engkau tidak boleh membunuhnya sampai kapan pun hingga engkau
memberi argumen kuat atas tindakanmu ini. Jika engkau tetap ngotot menyembelihnya,
pastilah setiap orang akan menyembelih anaknya. Lalu bagaimana jadinya manusia nanti?" Al-
Mughirah bin Abdullah bin Amr Makhzum bin Yaqazhah berujar kepada Abdul Muthalib:
"Demi Allah, janganlah engkau menyembelihnya hingga engkau mampu mendatangkan
argumen kuat atas penyembelihannya. Jika tebusannya yaitu dengan harta, kita pasti
menebusnya." Orang-orang Quraisy dan anak-anak Abdul Muthalib berkata kepadanya:
"Hentikan niatmu itu! Bawalah dia ke Hijaz, sebab di sana ada seorang wanita juru ramal yang
memiliki pendamping jin. Tanyakan padanya, dan engkau harus taat kepada keputusannya. Jika
ia memerintahkanmu untuk menyembelih anak-mu maka engkau harus menyembelihnya. Jika
ia menyuruhmu mengerjakan sesuatu dan di dalamnya ada jalan keluar bagimu dan
baginya maka engkau hendaknya menerima dengan lapang hati."
Merekapun berangkat. Setiba di Madinah, mereka tidak mendapatkannya di tempatnya.
Peramal wanita itu ternyata sedang berada di Khaybar. Merekapun segera memacu
kendaraannya menuju ke Khaybar. saat tiba di Khaybar, mereka bertanya kepada tukang
ramal wanita ini . Sementara Abdul Muthalib bercerita mengenai dirinya, anaknya, apa
yang ia inginkan pada anaknya serta tentang nazarnya ini . Dukun wanita itu berkata:
"Pulanglah kalian pada hari ini untuk sementara, hingga jinku khadamku datang kepadaku
sehingga aku bisa menanyakan masalah ini kepadanya." Mereka keluar dari rumah peramal
wanita itu. saat mereka telah keluar Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah. Usai
berdoa, mereka balik kembali ke rumah peramal wanita itu. Peramal wanita itu berkata kepada
mereka: "Aku telah menda- patkan bisikan. Berapa jumlah diyat di tempat kalian?" Mereka
menjawab: "Sepuluh unta." Jumlah diyat kala itu memang sepuluh unta. Peramal wanita itu
berkata: "Kembalilah kalian semua ke negeri kalian!" Kurbankanlah sahabat kalian itu
(maksudanya Abdullah) dan kurbankan pula sepuluh unta. lalu bikinlah dadu atas nama
unta dan dadu atas nama sahabat kalian. Jika ternyata dadu keluar atas nama sahabat kalian,
maka tambahkan unta hingga Tuhan ridha kepada kalian. Jika ternyata dadu keluar atas nama
unta, sembelihlah unta ini sebagai ganti sahabat kalian, sebab Tuhan telah ridha kepada
kalian itu sedangkan sahabat kalian telah selamat."
Mereka pun pulang. Setiba di Mekkah, mereka mufakat untuk menjalankan perintah
paranormal wanita itu, Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah. Mereka
memposisikan Abdullah sebagai kurban dan sepuluh unta sebagai kurban yang lain sedangkan
Abdul Muthalib tetap berdiri dan berdoa kepada Allah di sisi patung Hubal. Mereka mengocok
dadu dan ternyata dadu yang muncul yaitu dadu atas nama Abdullah. Mereka menambahkan
sepuluh unta sehingga unta berjumlah dua puluh ekor. Abdul Muthalib tetap berdiri dan berdoa
kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu dan kembali dadu yang keluar yaitu dadu atas
nama Abdullah. Kembali mereka menambahkan sepuluh unta hingga unta berjumlah tiga
puluh. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu,
ternyata dadu yang muncul yaitu dadu atas nama Abdullah. Mereka kembali menambahkan
sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah empat puluh ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa
kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu ternyata dadu yang keluar yaitu dadu atas nama
Abdullah. Mereka kembali menam-bahkan sepuluh unta hingga unta berjumlah lima puluh
ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu,
ternyata kembali dadu yang keluar yaitu dadu atas nama Abdullah. Mereka menambahkan
sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah enam puluh ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa
kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, ternyata dadu yang keluar yaitu dadu atas
nama abdullah. Mereka menambahkan sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah tujuh puluh
ekor. lalu Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah sedang mereka mengocok
dadu, ternyata dadu yang keluar dadu atas nama Abdullah. Mereka kembali menambah sepuluh
unta lagi hingga unta berjumlah delapan puluh ekor. lalu Abdul Muthalib berdiri dan
berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, ternyata nama Abdullah keluar kembali.
Mereka menambahkan sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah sembilan puluh ekor. Abdul
Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah sedang mereka dadu ternyata dadu yang muncul
kembali atas nama Abdullah. Mereka kembali menambahkan sepuluh unta hingga unta
berjumlah seratus ekor. lalu Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang
mereka mengocok kotak dadu, ternyata akhirnya dadu yang keluar atas nama unta. Orang-
orang Quraisy dan orang-orang yang hadir pada peristiwa ini berkata: "Kini tercapailah
sudah tercapai keridhaan Tuhanmu, wahai Abdul Muthalib." Namun ada yang menyebutkan
bahwa Abdul Muthalib berkata: "Tidak! demi Allah, hingga aku mengocok kotak dadu ini
hingga tiga kali."
lalu mereka mengocok kotak dadu atas nama Abdullah dan unta, sedang Abdul Muthalib
berdiri dan berdoa kepada Allah, ternyata dadu yang keluar yaitu dadu atas nama unta.
Mereka mengulanginya untuk kedua kalinya, sedang Abdul Muthalib berdiri dan berdoa
kepada Allah, ternyata kembali dadu yang keluar yaitu dadu atas nama unta. Mereka
mengulanginya untuk ketiga kalinya, sedang Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah,
ternyata kembali dadu yang keluar yaitu dadu atas nama unta. lalu semua unta ini
disembelih, dan manusia dibiarkan bebas mengambil dan menikmatinya.
Ibnu Hisyam berkata: Hanya manusia dan bukan hewan buas dibiarkan mengambilnya.
Ibnu Hisyam berkata: Di antara ucapan-ucapan ini ada banyak sekali syair yang tidak
dikenal oleh pakar syair di tengah-tengah kami.
Wanita yang Menawarkan Diri Untuk Dinikahi Abdullah
Ibnu Ishaq berkata: Abdul Muthalib kembali ke rumah dengan menggapit tangan tangan
anaknya Abdullah. Menurut sebagian orang, saat Abdul Muthalib bersama Abdullah,
melewati seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin
Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Wanita ini yaitu saudari Waraqah bin Naufal bin
Asad bin Abdul Uzza. Ia sedang berada di samping Ka'bah. Tatkala wanita itu melihat
Abdullah ia berkata: "Wahai Abdullah, akan pergi kemana engkau?" Abdullah menjawab:
"Aku akan pergi bersama dengan ayahku." Wanita ini berkata: "Bagimu unta sebanyak
yang disembelih sebab mu. Gaulilah aku sekarang juga!" Abdullah berkata: Aku bersama
ayahku dan aku tidak bisa menentang pendapatnya tidak pula berpisah dengannya."
Abdul Muthalib bersama Abdullah pergi hingga sampai ke ke rumah Wahb bin Abdu Manaf
bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Wahb bin Abdu
Manaf kala itu yaitu orang Bani Zuhrah yang paling baik nasab keturunannya, dan seorang
tokoh paling tehormat. Ia menikahkan Abdullah bin Abdul Muthalib dengan Aminah binti
Wahb. Aminah binti Wahb yaitu wanita yang paling baik garis keturunan dan kedudukannya
di kalangan Quraisy. Aminah yaitu putri Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar
bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Barrah yaitu putri Ummu Habib binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah
bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Ummu Habib yaitu putri Barrah binti Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Kaab bin Luay
bin Ghalib bin Fihr.
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat, Abdullah bertemu dengan Aminah saat ia
diserahkan kepadanya. Abdullah berhubungan dengannya lalu Aminah mengandung
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. sesudah itu, Abdullah keluar dari rumah dan pergi ke
rumah wanita yang menawarkan diri untuk menikah dengannya. Abdullah berkata kepada
wanita tadi: "Kenapa engkau tidak menawarkan nikah kepadaku sebagaimana engkau lakukan
kemarin?" Wanita ini berkata kepada Abdullah: 'Cahaya yang ada padamu kemarin kini
tiada lagi, ia telah lenyap. Maka kini aku tak lagi butuh padamu.
Wanita tadi pernah menyimak dari saudaranya, Waraqah bin Naufal, pemeluk Kristen yang
mengikuti kitab-kitab yang kuat bahwa akan ada nabi di umat ini.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku bahwa ia diberitahu, Abdullah
bertemu dengan seorang wanita yang ia cintai selain Aminah binti Wahb. Sebelumnya,
Abdullah bekerja di tanah miliknya hingga tampak bekas-bekas tanah padanya. Abdullah
mengajak wanita ini untuk menikah dengannya, namun wanita ini sangat lambat
merespon Abdullah sebab ia melihat bekas tanah di badan Abdullah. Abdullah pun segera
keluar dari rumah wanita ini lalu ia berwudhu dan membersihkan tanah yang
melekat di badannya, lalu dengan sengaja dia pergi ke rumah Aminah dan melewati
wanita ini . Wanita ini mengajak Abdullah menikah dengannya, namun Abdullah
tidak meresponnya dan tetap pergi ke rumah Aminah. Abdullah masuk kepada Aminah, dan
menggaulinya, lalu Aminah mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Taklama lalu , Abdullah berjalan melewati wanita ini dan berkata kepadanya:
"Apakah engkau tertarik kepadaku?" Wanita ini menjawab: "Tidak!! tadi engkau berjalan
melewatiku, sedang pada kedua matamu ada warna putih. Aku pun mengajakmu, namun
engkau tidak merespon ajakanku, lalu engkau masuk kepada Aminah, lalu warna sinar
putih itu sirna bersamanya."
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang menyatakan tentang wanita yang berkata kepada Abdullah
yang berjalan melewatinya, sedang di kedua mata Abdullah ada cahaya warna putih seperti
warna putih di kuda berkata: Aku pun mengajak Abdullah dengan sebuah harapan warna putih
ini bisa menjadi milikku sayang ia tidak merespon ajakanku. Ia masuk menemui Aminah,
lalu menggaulinya, lalu Aminah mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Dengan demikian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu orang Quraisy yang paling
baik nasabnya, dan paling tehormat baik dari jalur ayah dan ibunya.
Apa yang Dikatakan Tentang Aminah Saat Mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata: Banyak orang mengatakan, dan hanya Allah yang lebih tahu, bahwa
Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bercerita: Saat
mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia bermimpi didatangi seseorang
lalu orang itu berkata kepadanya: "Sebetulnya engkau sedang mengandung penghulu
umat ini. lika dia telah lahir ke bumi, maka ucapkanlah: Aku berlindung kepada Allah Tuhan
Yang Esa dari keburukan semua pendengki,' dan namakanlah dia Muhammad."
Saat mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia melihat cahaya keluar dari
perutnya yang dengannya dia bisa melihat istana-istana Bushra di wilayah Syam.
Tak berapa lama lalu Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahanda Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam meninggal dunia, saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berada
dalam kandungan ibundanya, Aminah.
Bab 3
Kelahiran Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam dan Kehidupannya
Menjadi Nabi dan Rasul
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul
Awwal, tahun Gajah.
Ibnu lshaq berkata: Al-Muthalib bin Abdullah bin Qais bin Makhramah berkata kepadaku dari ayahnya
dari kakeknya yang berkata: Aku dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lahir pada tahun gajah.
Kami lahir di tahun yang sama.
Ibnu Ishaq berkata: Shalih bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata kepadaku dari Yahya bin
Abdullah bin Sa'ad bin Zura- rah Al-Anshari yang berkata bahwa beberapa orang dari kaumku berkata
kepadaku dari Hassan bin Tsabit yang berkata: "Demi Allah, aku saat itu seorang anak yang kuat,
berusia tujuh atau delapan tahun." Saat itu, aku mendengar seorang Yahudi berteriak dengan suara
sangat keras di atas menara di Yatsrib: "Wahai orang-orang Yahudi!" Manakala orang-orang Yahudi
telah berkumpul di sekitarnya, mereka berkata kepadanya: "Celakalah engkau, ada apa gerangan
denganmu?" Ia berkata: Malam ini, telah terbit bintang Ahmad yang ia lahir dengannya.
Muhammad bin Ishaq berkata: Aku bertanya kepada Sa'id bin Abdurrahman bin Hassan bin Tsabit:
"Berapa usia Hassan bin Tsabit saat Rasulullah tiba di Madinah?'"Ia menjawab: "Enam puluh tahun.
Sedang usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat tiba di Madinah yaitu lima puluh tiga tahun.
Artinya Hassan mendengar apa yang ia dengar saat dia berusia tujuh tahun:
Ibnu Ishaq berkata: sesudah melahirkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ibundanya mengutus
seseorang menemui kakeknya, Abdul Muthalib, dengan sebuah pesan bahwa Sebetulnya telah lahir
bayi untukmu. Oleh sebab itu, datanglah dan lihatlah bayi itu! Abdul Muthalib segera melihat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aminah menuturkan kepada mertuanya Abdul Muthalib apa
yang ia lihat saat ia mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, apa yang dikatakan
kepadanya tentang anaknya, dan perintah untuk menamakan anaknya ini dengan satu nama.
Ada yang mengatakan bahwa Abdul Muthalib mengambil Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari
ibundanya lalu dia membawanya ke Ka'bah. Abdul Muthalib berdoa dan bersyukur kepada Allah atas
segala nikmat yang diberikan kepadanya. lalu ia menyerahkan kembalikan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam kepada ibunya, dan ia mencarikan ibu susuan untuk Rasulullah.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Maradhi' (tentang susuan), di sebutkan dalam Kitab Allah saat mengisahkan
kisah Musa, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya)
sebelum itu." (QS. al-Qashash: 12).
Ibnu Ishaq berkata: Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam disusui seorang wanita dari Bani Saad
bin Bakr yang bemama Halimah binti Abu Dzuaib. Abu Dzuaib yaitu Abdullah bin Al-Harits bin Syijnah
bin Jabir bin Rizam bin Nashirah bin Fushaiyyah bin Nashr bin Saad bin Bakr bin Hawazin bin Manshur
bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan. Nama ayah susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
yaitu Al-Harits bin Abdul Uzza bin Rifa'ah bin Mallan bin Nashi¬rah bin Fushaiyyah bin Nashr bin
Sa'ad bin Bakr bin Hawazin.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpenda- pat bahwa Hilal yaitu anak Nashirah.
Ibnu Ishaq berkata: Saudara-saudara se-susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu
Abdullah bin Al-Harits, Unaisah binti Al-Harts. Khidzamah binti Al-Harits yang nama aslinya yaitu Asy-
Syaima'. Khidza¬mah. tidak dikenal di tengah kaumnya kecuali dengan nama Asy-Syaima. Ibu mereka
yaitu Halimah binti Abu Dzuaib Abdullah bin Al- Harits, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ada yang pula yang mengatakan bahwa Asy-Syaima ikut mengasuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersama ibunya saat beliau hidup bersama mereka.
Ibnu Ishaq berkata: lahm, bekas pelayan Al-Harits bin Hathib Al-Jumahi berkata kepadaku dari
Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib atau dari seseorang yang mengutarakan kepadanya bahwa Halimah
bin Abu Dzuaib As-Sa'diyyah, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang menyusui beliau
bercerita bahwa ia bersama suaminya keluar dari negerinya sambil membawa seorang anak kecil yang
sedang disusuinya bersama dengan wanita-wanita Bani Sa'ad bin Bakr guna mencari anak-anak untuk
disusui. Halimah As-Sa'diyyah bertutur bahwa tahun itu yaitu tahun kering dan tidak menyisakan
apapun dari makanan kami. Lalu kami berangkat dengan nengendarai keledaiku yang berwarna putih
dan seekor unta tua yang tidak lagi menghasilkan susu setetes pun. Kami semua tidak bisa
memejamkan mata di malam hari sebab tangisan anak-anak kecil yang ikut bersama kami. Mereka
menangis sebab lapar sementara air susu ku tidak bisa mengenyangkannya demikian pula dengan
unta tua yang kami miliki. Namun demikian kami tetap berharap mendapatkan pertolongan dan solusi.
Aku pun berangkat dengan menunggang keledai. Perjalanan kami memakan waktu yang lama hingga
semakin menambah kelaparan dan kelelahan mereka. Demikianlah yang terjadi hingga kami sampai
di Mekkah dan kami mencari anak-anak untuk disusui. Setiap wanita dari kami pernah ditawari untuk
menyusui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tapi semua menolaknya sesudah mereka tahu bahwa
anak (Rasulullah) yaitu seorang anakyatim. Padahalkami mengharap imbalan yang banyak dari ayah
anak yang kami susui. Kami berkata: "Wahai Anak yatim! Apa yang bisa dilakukan ibu dan kakeknya?
Alasan inilah yang membuat kami tidak mau mengambilnya. Semua wanita telah mendapatkan anak
susuan kecuali aku." saat kami semua sepakat untuk kembali ke negeri, aku berkata kepada
suamiku: “Demi Allah, aku tidak mau kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang anak
yang bisa aku susui. Aku akan pergi kepada anak yatim ini dan mengambilnya." Suamiku berkata:
"Rasanya tidak salah jika engkau melakukannya. Semoga Allah memberkahi kita melalui anak yatim
itu. Lalu akupun pergi kepada anak yatim itu dan mengambilnya. Dan tidaklah aku melakukan itu
kecuali sebab aku tidak mendapatkan anak lain. sesudah mengambilnya, aku kembali ke tempat
peristirahatan. saat aku merebahkannya di pangkuanku, aku menyusuinya hingga kenyang.
Demikian pula dengan saudaranya. sesudah menyusu keduanya tertidur satu hal yang sebelumnya
tidak bisa kami nikmati. Sementara itu ia pergi pada unta tua milik kami ajaibnya air susu unta tua itu
penuh. Kami pun memerah - nya lalu meminumnya hingga kenyang dan puas. Kami melewati malam
ini dengan indah. Pagi harinya sahabat-sahabatku berkata padaku: "Demi Allah, ketahuilah
wahai Halimah engkau telah dikaruniai seorang anak yang penuh berkah. Demi Allah, demikian pula
harapanku, jawabku." Lalu kami pulang dengan mengendarai keledaiku dan membawa serta
Muhammad. Demi Allah, aku mampu meninggalkan rombonganku dan tidak ada satupun dari keledai
mereka yang mampu menyusulku hingga membuat wanita-wanita ini heran dan berkata
kepadaku: "Celakalah engkau, wahai putri Abu Dzuaib tunggu dan berjanlah pelan-pelan! Bukankah
keledai ini yaitu keledai yang engkau bawa dari negerimu?" "Benar, demi Allah, dia dia juga!"
jawabku. Mereka berkata: "Demi Allah, keledai ini terasa sangat berbeda dengan keledai-keledai yang
lain."
Kami pun tiba di Bani Sa'ad negeri kami. Sepanjang yang saya tahu tidak ada bumi Allah yang jauh
lebih tandus dan kering dari negeri Bani Sa'ad. saat tiba di negeriku membawa Muhammad,
kambingku datang padaku da- lam keadaan kenyang dan susu penuh. Kami memerah dan
meminumnya, pada saat yang sama orang-orang lain tidak dapat memerah susu setetes pun dan tidak
mendapatkannya pada kambing mereka. Begitulah, hingga kaumku berkata kepada para
penggembala, 'Celakalah kalian, gembalakanlah kambing-kambing kalian itu di tempat
penggembalaan kambing anak perempuan Abu Dzuaib.'
Di senja hari, kambing-kambing mereka kembali dalam keadaan lapar dan tidak mengeluarkan susu
setetes pun sementara di saat yang sama kambingku pulang dalam keadaan kenyang dan air susu
melimpah. Kami terus mendapatkan kucuran nikmat dan kebaikan dari Allah hingga berlangsung
selama dua tahun. saat Muhammad telah berusia dua tahun aku menyapihnya dan ia tumbuh
menjadi anak muda yang berbeda dengan anak-anak muda pada umumnya. Belum genap dua tahun
usianya ia telah menjadi anak yang kokoh dan kuat.
Halimah As-Sadiyyah berkata: "Lalu kami membawa Muhammad kembali kepada ibunya padahal kami
lebih suka jika ia tinggal bersama kami sebab keberkahan yang ada padanya." Aku berkata pada
ibunya: "Bagaimana kalau anakmu tetap tinggal bersamaku, hingga ia kuat, sebab aku khawatir ia
terkena epedemi penyakit Mekkah?" Kami berdiam di Mekkah hingga ibunya menyerahkan dia
kembali kepada kami.
Halimah As-Sadiyyah berkata: Kamipun pulang bersamanya. Demi Allah, sebulan sesudah kedatangan
kami bersama saudaranya ia menggembala kambing di belakang rumah, tiba-tiba saudaranya datang
kepada kami dengan berlari. Saudaranya berkata kepadaku dan kepada ayahnya: "Saudaraku dari
Quraisy diambil dua orang yang berpakaian serba putih lalu keduanya membaringkannya, membelah
perutnya lalu mengaduk-aduk isi perutnya." Aku dan ayahnya segera keluar untuk mencarinya. Kami
mendapatinya berdiri dengan muka pucat pasi. Kami memeluknya dengan erat. Kami bertanya
padanya: "Apa yang terjadi denganmu wahai anakku?" Dia menjawab: "Dua orang berpakaian serba
putih datang kepadaku lalu mereka membaringkanku, membelah perutku, dan mencari sesuatu yang
tidak aku ketahui dalam perutku." Lalu kami pulang ke rumah.
Halimah berkata: "Ayahnya berkata kepadaku: 'Wahai Halimah, aku khawatir anak ini sakit! Oleh
sebab itu, antarkanlah kembali kepada keluarganya sebelum sakitnya tampak dan semakin parah.'"
Halimah As-Sadiyyah berkata: "lalu kami membawa Muhammad dan menyerah- kannya
kembali pada ibunya." Dengan heran Aminah bertanya: "Kenapa engkau mengantarkannya kembali
kepadaku wahai ibu susuan bukankah sebelumnya engkau sendiri yang meminta agar ia tinggal
bersamamu?" Aku menjawab: "Benar apa yang aku katakan. Namun kini Allah telah membesarkan
anakku dan aku telah menyelesaikan apa yang menjadi tugasku. Aku khawatir sebab banyak kejadian
aneh yang terjadi padanya. Jadi kini aku kembalikan ia padamu sebagaimana yang engkau kehendaki."
Ibunya berkata: Ada apa denganmu? Katakanlah sejujurnya!" Ibunya tidak membiarkanku pergi begitu
saja, aku harus bercerita tentang apa yang terjadi pada anaknya kepadanya. Ibunya berkata: "Adakah
engkau takut setan mengganggu dirinya?" Aku menjawab: "Benar!" Ibunya berkata: "Demi Allah,
sekali-kali tidak!! Setan tidak mungkin memiliki kemampuan untuk merasukinya.
Anakku akan memegang perkara besar di belakang hari. Maukah aku ceritakan padamu tentang
perihal dia?" Aku berkata: "Tentu saja saya mau." Ibunya berkata: "Saat mengandungnya aku melihat
cahaya keluar dariku yang dengan sinar ini aku bisa melihat istana-istana Busra, di kawaan Syam.
Sungguh aku belum pernah melihat kandungan yang lebih ringan dan lebih gampang darinya. saat
aku melahirkannya, ia meletakkan kedua tangannya di bumi sedangkan kepalanya menghadap ke
langit. Biarkan dia, dan pulanglah engkau dengan tenang. !"
Ibnu Ishaq berkata: Tsaur bin Yazid berkata kepadaku dari dari beberapa orang berilmu dan aku kira
berasal dari Khalid bin Ma'dan Al-Kalaiyyu, bahwa beberapa sahabat berkata kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Kisahkanlah pada kami tentang dirimu, wahai Rasulullah!" Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Baiklah, aku ada yaitu berkat doa ayahku Ibrahim dan berita gembira saudaraku Isa bin Maryam.
saat ibuku mengandungku, ia melihat cahaya keluar dari perutnya, yang dengannya dia melihat
istana-istana di kawasan Syam. Aku disusui di Bani Sa'ad bin Bakr. saat aku sedang bersama
saudaraku di belakang rumah menggembalakan kambing, tiba-tiba datang dua orang yang
berpakaian serbaputih meng- hampiriku sambil membawa cawan dari emas yangpenuh berisi es.
Mereka mengambilku lalu membelah perutku lalu mengeluarkan hatiku, membelahnya,
mengeluarkan gumpalan hitam dari hatiku lalu mereka melemparnya. sesudah itu mereka berdua
mencuci hati dan perutku dengan es yang telah dibersihkan. Salah seorang dari keduanya berkata
kepada sahabatnya: "Timbanglah dia dengan sepuluh orang dari umatnya." Dia menimbangku
dengan sepuluh orang umatku namun ternyata aku lebih berat daripada mereka. Orang pertama
berkata lagi: "Timbanglah dengan seratus orang dari umatnya." Orang kedua menimbangku dengan
seratus orang dari umatku, namun ternyata aku lebih berat daripada mereka. Orang pertama berkata
lagi: "Timbanglah dengan seribu orang dari umatnya." Orang kedua menimbangku dengan seribu
orang dari umatku namun ternyata aku lebih berat daripada mereka. Orang pertama berkata: Biarkan
dta. Demi Allah, seandainya engkau menimbangnya dengan seluruh umatnya, pastilah ia lebih berat
daripada timbangan mereka."8
Ibnu Ishaq berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Tidak ada seorang nabipun yang tidak pernah tidak menggembala kambing." Beliau ditanya: "Engkau
juga, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Benar, termasuk diriku."9
Ibnu Ishaq berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada para
sahabatnya:
"Aku yaitu orang yang paling fasih di antara kalian. Aku orang Quraisy dan aku disusui di Bani' Sa 'ad
bin Bakr."10
----------------------
8 Permulaan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Hakim pada hadits nomer 4175 dan dia mengatakan sanadnya shahih. Pendapat
ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Hadits ini memiliki syawahid dari Abu Dzar dari hadits ad-Darimi pada hadits nomer. 13.
9 HR. Bukhari nomor: 2262.
10 Sangat lemah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dalam At-Thabaqat dengan sanad mu'dhal (1/113), dan Imam Ath- Thabrani
dalam Al-Kabiir dalam sanadnya ada seorang yang bernama Mubassyir bin Ubaid dan dia termasuk perawi yanq ditinggalkan (matruk).
-----------------------
Ibnu Ishaq berkata: Banyak orang menyebutkan, dan Allah Maha lebih Tahu, saat ibunda Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam Halimah As-Sa'diyyah membawanya ke Mekkah, Rasulullah tiba-tiba
lenyap di tengah orang banyak tatkala akan dikembalikan kepada keluarganya. Halimah As-Sa'diyyah
mencarinya, namun sayang tidak berhasil menemukannya. Halimah As-Sa'diyyah segera menemui
Abdul Muthalib dan berkata kepa- danya: "Malam ini aku datang bersama Mu-hammad, tapi saat aku
berada di Mekkah Atas, ia tiba-tiba lenyap. Demi Allah, aku tidak tahu di mana keberadaannya."
Lalu Abdul Muthalib berdiri di sisi Ka'bah seraya berdoa kepada Allah agar Dia berkenan
mengembalikan Muhammad kepadanya. Ada juga yang mengatakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam ditemukan Waraqah bin Naufal bin Asad dan seseorang dari Quraisy, lalu keduanya
membawanya kepada Abdul Muthalib, kakeknya. Keduanya berkata kepada Abdul Muthalib: "Inilah
anakmu. Kami mendapatkan dia di Mekkah Atas." Abdul Muthalib mengambil Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam lalu memanggulnya di pundaknya sambil thawaf di Ka'bah. Abdul Muthalib
memintakan perlindungan dan berdoa untuk beliau, lalu mengembalikan Rasulullah kepada
Aminah binti Wahb, ibunya.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian Ahli berkata kepadaku, di antara sebab lain yang mengha- ruskan ibu
susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Halimah As-Sa'diyyah, mengembalikan Rasulullah
kepada ibu kandungnya di samping sebab yang telah dijelaskan Halimah As-Sa'diyyah kepada Aminah
binti Wahb- bahwa beberapa orang Kristen dari Habasyah melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sal¬lam bersama Halimah As-Sa'diyyah saat ia kembali bersama beliau sesudah disapih. Mereka
memandang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan sangat seksama bertanya kepada Halimah
As-Sa'diyyah tentangnya serta menimang-nimang beliau. Mereka berkata: "Kami pasti mengambil
anak ini dan akan kami bawa ia kepada raja kami dan ke nege- ri kami, sebab kelak anak ini akan
menjadi orang terhormat, sebab kami telah mengetahui seluk-beluk tentangnya." Orang yang
mengatakan hal ini kepadaku berkata bahwa Halimah As-Sa'diyyah hampir saja tidak bisa kabur
meloloskan diri dari mereka.
Meninggalnya Aminah, dan Kondisi Rasulullah Bersama Kakeknya Abdul Muthalib sesudah nya
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu hidup bersama ibundanya,
Aminah binti Wahb dan kakeknya, Abdul Muthalib, beliau berada dalam pemeliharaan Allah dan
perlindungan-Nya. Allah menumbuhkan beliau dengan perkembangan yang baik sebab Dia hendak
memuliakan- nya. saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah berusia enam tahun, Aminah
binti Wahb, ibunya meninggalkannya untuk selamanya.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku,
ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Aminah binti Wahb meninggal dunia di Al-Abwa',
sebuah kawasan yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Saat itu usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam baru enam tahun. Aminah membawa beliau mengunjungi paman-pamannya dari jalur
ibunya di Bani Adi bin An-Najjar, lalu ia meninggal dunia saat dalam per- jalanan pulang menuju
Mekkah.
Ibnu Hisyam berkata: Ibunda Abdul Muthalib Hisyam yaitu Salma binti Amr An-Najjariyah. Hubungan
kepamanan inilah yang diuraikan Ibnu Ishaq pada saat dia membahas paman-paman Rasulullah dari
Bani Adi bin An-Najjar ini .
Ibnu Ishaq berkata: sesudah itu, hiduplah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama Abdul
Muthalib, kakeknya. Abdul Muthalib memiliki permadani di Ka'bah. Anak-anaknya duduk di sekitar
permadani ini sampai ia duduk di permadani itu. Tak seorang pun di antara anak-anaknya yang
berani duduk di atas permadani ini sebab demikian hormat kepadanya. Saat masih kecil,
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang di atas permadani ini lalu duduk di atasnya.
Melihat beliau duduk di permadani kakeknya, paman-pamannya mengambilnya dari permadani
ini sehingga dengan demikian mereka bisa men- jauhkan beliau dari Abdul Muthalib. Melihat
perlakukan paman-pamannya seperti itu terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abdul
Mulhthalib dengan bijak berkata: "Jangan larang anakku (cucuku) ini duduk di atas permadani ini.
Demi Allah, kelak di lalu hari dia akan menjadi orang besar." lalu Abdul Muthalib
mendudukkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersamanya, membelainya dengan tangannya,
dan ia demikian senang atas apa yang diperbuatnya.
Wafatnya Abdul Muthalib dan Syair-syair Eligi Duka Untuknya
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berusia delapan tahun, kakeknya
Abdul Muthalib meninggal dunia, delapan tahun sesudah tahun gajah.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Abbas bin Abdul-lah bin Ma'bad bin Al-Abbas berkata kepadaku dari sebagian
keluarganya bahwa Abdul Muthalib meninggal dunia saat usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
baru delapan tahun.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Sa'id bin Al-Musayyib berkata kepadaku, saat Abdul Muthalib
merasa tidak lama lagi akan meninggal dunia, ia kumpulkan anak-anak perempuannya yang berjumlah
enam orang: Shafiyyah, Barrah, Atikah, Ummu Hakim Al-Baidha', Umaimah, dan Arwa. Ia berkata
kepada mereka: "Menangislah kalian untukku agar aku bisa mendengar apa yang kalian katakan
sebelum aku menghembuskan napas terakhirku!"
Saat Abdul Muthalib meninggal dunia, kelanjutan pengelolaan Sumur Zamzam dan pemberian air
minum kepada jama'ah haji di ambil alih Al-Abbas bin Abdul Muthalib, anak bungsu di antara saudara-
saudaranya. Jabatan ini ia pangku, hingga Islam muncul. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam menetapkannya sebagaimana semula. Jabatan ini berada pada keluarga Al-Abbas hingga
saat ini.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Bawah Asuhan Abu Thalib
Ibnu Ishaq berkata: Sepeninggal Abdul Muthalib, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu
dibenarkan oleh pamannya, Abu Thalib, menurut para ulama, sesuai dengan wasiat kakeknya Abdul
Muthalib, sebab ayah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Ab- dulllah dan Abu Thalib yaitu
saudara sekandung. Ibu mereka berdua yaitu Fathimah binti Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin
Makhzum.
Ibnu Hisyam berkata: Aidz yaitu anak Imran bin Makhzum.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib mengasuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sepeninggal kakeknya
Abdul Muthalib. Beliau diserahkan kepadanya dan senantiasa bersamanya.
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku bahwa ayahnya
berkata kepadanya bahwa seseorang dari Lahab, Ibnu Hisyam mengatakan Lihb berasal dari Azdi
Syanu'ah. Ia seorang juru tenung. jika ia datang ke Mekkah, orang-orang Quraisy datang
menemuinya dengan membawa anak-anak mereka untuk dilihat dan diramal oleh Lihb tentang masa
depan mereka buat kedua orang tuanya. saat Lihb sedang berada di Mekkah Abu Thalib datang
menemuinya dengan membawa serta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang saat itu masih muda
belia bersama orang-orang Quraisy yang lain. Pada saat Lihb melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, ia terlena hingga lupa urusan lainnya. Lihb ber-kata: "Dekatkan anak muda itu padaku!" Saat
Abu Thalib merasakan kesungguhan Lihb dan keinginannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, maka ia menjauhkannya dari penglihatan Lihb. Lihb berkata: "Sialan kalian semua, bawalah
anak muda yang aku li- hat tadi padaku. Demi Allah dia akan menjadi orang besar di belakang hari*
Lalu Abu Thalib segera membawa pergi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Pertemuan dengan Pendeta Bahira
Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib menyertai rombongan dagang Quraisy menuiu Svam. Tatkala ia telah
siap untuk berangkat, menurut sebagian ulama, Rasulu'ilah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkeinginan
untuk ikut pergi bersamanya. Abu Thalib tidak kuasa meninggalkannya. Ia berkata: "Demi Allah aku
harus membawanya pergi bersamaku. Ia harus tidak berpisah denganku dan aku harus tidak berpisah
dengannva untuk lama- nya" -atau sebagaimana yang diucapkan oleh Abu Thalib. lalu Abu
Thalib berangkat dengan membawa serta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersamanya.
saat rombongan bisnis Quraisy sampai di Busra, sebuah kawasan di Syam, ternyata di sana hidup
seorang pendeta bernama Bahira sedang berada di rumah ibadahnya. Ia yaitu sosok yang paling tahu
tentang agama Kristen. Di rumah ibadah itulah dia hidup sebagai seorang pendeta, dan umat Nasrani
mendapatkan ilmu dari rumah ibadah ini melalui sebuah kitab yang ada di dalamnya yang
diwariskan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikianlah menurut
klaim banyak ulama.
Pada tahun itu rombongan Quraisy berhenti di Bahira dimana sebelumnya mereka senantiasa
melewatinya namun Bahira tidak pernah mau berbicara dan tidak mempedulikan mereka hingga
tahun itu. Tatkala rombongan berhenti di dekat rumah ibadah Bahira di tahun itu, ia membuatkan
makanan yang banyak sekali untuk mereka. Pendeta Bahira melakukan itu semua, menurut sebagian
besar ulama, sebab ada sesuatu yang dia lihat saat berada di dalam rumah ibadahnya. Ada pula yang
mengatakan, saat Bahira sedang berada dirumah ibadahnya, ia melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam berada di tengah-tengah rombongan Quraisy sedangkan awan menaungi beliau di tengah
mereka.
Lanjut Ibnu Ishaq: lalu mereka berhenti di bawah rindang pohon dekat Bahira. Bahira melihat
awan saat pohon menaungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan ranting-ranting pohon
merunduk luluh kepada beliau hingga Rasulullah bernaung di bawahnya. Saat Bahira menyaksikan
peristiwa, ia keluar dari rumah ibadahnya dan menyuruh pembantunya membuat makanan.
Sedang ia sendiri pergi ke tempat rombong- an bisnis Quraisy. Ia berkata kepada mereka: "Wahai
orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua dari
anak kecil, orang dewasa, budak, dan orang merdeka semuanya ikut hadir." Ada seseorang yang
bertanya kepada Bahira: "Demi Allah wahai Bahira, betapa luar biasanya apa yang engkau lakukan
kepada kami di hari ini, padahal sebelum ini kami sering sekali melewati tempat tinggalmu ini. Apa
gerangan yang terjadi pada dirimu pada hari ini?" Bahira berkata kepada orang itu: "Engkau tidaklah
salah. Aku dulu memang persis seperti yang engkau utarakan. Namun kalian yaitu tamu dan aku suka
untuk menjamu kalian. Aku telah membuat makanan untuk kalian dan aku ingin semua
menikmatinya." Merekapun masuk ke rumah Buhaira, sementara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam tidak ikut bersama mereka sebab masih kecil. Beliau bernaung di bawah pohon untuk menjaga
perbekalan rombongan Quraisy. saat Bahira melihat rombongan Quraisy dan ia tidak menyaksikan
sifat yang telah ia ketahui, ia berkata: "Hai orang-orang Quraisy, saya ingatkan jangan sampai ada
seorang pun yang tidak makan makananku ini." Mereka berkata kepada Bahira: "Wahai Bahira, "Masih
ada seorang anak kecil di antara kami yang tertinggal di tempat perbekalan rombongan." Bahira
berkata: "Janganlah kalian bertindak seperti itu, panggillah dia agar makan bersama dengan kalian."
Salah seorang rombongan Quraisy berkata: "Demi Al-Lata dan Al-Uzza, sungguh sebuah aib bagi kami
jika anak Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ikut serta makan bersama kami." sesudah itu, Bahira
datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mendekapnya dan mendudukkannya
bersama rombongan Quraisy lainnya.
Ibnu Ishaq berkata: saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang, ia memperhatikan beliau
dengan teliti, dan memperhatikan seluruh tubuhnya. Dari hasil penglihatannya, ia dapatkan sifat-sifat
kenabian pada beliau. Tatkala mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar sedangkan Bahira
mendekati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada beliau: "Wahai anak muda, dengan
menyebut nama Al-Lata dan A1 Uzza aku menanyakan kepadamu dan engkau hendaknya menjawab
apa yang aku tanyakan kepadamu." Bahira mengatakan seperti itu, sebab ia mendengar bahwa kaum
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersumpah dengan Al-Lata dan Al-Uzza. Ada yang mengatakan,
bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Janganlah sekali-kali engkau bertanya
tentang sesuatupun kepadaku dengan menyebut nama Al-Lata dan Al-Uzza. Demi Allah, tidak ada yang
sangat aku benci melebihi keduanya." Bahira berkata: "Baiklah aku bertanya padamu dengan
menyebut nama Allah, dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam berkata: "Tanyakanlah kepadaku apa saja yang hendak engkau tanyakan!"
Bahira menanyakan banyak hal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tentang kondisi tidur
beliau, postur tubuh beliau masalah-masalah lain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab
apa yang dia tanyakan. Dan semua jawaban Rasulullah sesuai dengan apa yang dia ketahui lalu
Bahira melihat punggung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan ia melihat tanda kenabian ada di
antara kedua pundak persis seperti ciri-ciri Nabi yang diketahuinya.
Ibnu Hisyam berkata: Tanda kenabian Rasulullah seperti bekas bekam.
Ibnu Ishaq berkata: sesaat sesudah itu, Bahira menyapa paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
Abu Thalib, dan bertanya padanya: "Apakah anak muda ini anakmu?' Dengan cepat Abu Thalib
menjawab: "Benar, dia anakku!" Bahira berkata: "Tidak!, dia bukanlah anakmu. Anak muda ini tidak
layak memiliki seorang ayah yang masih hidup." Abu Thalib berkata: "O, ya! Dia anak saudaraku."
Buhaira bertanya: "Apa pekerjaan ayahnya?" Abu Thalib menjawab: "Ayahnya meninggal dunia saat
dia ada di dalam kan- dungan ibunya." Bahaira berkata: "Segera bawa pulang ponakanmu ini ke negeri
asalmu sekarang juga! Jagalah dia dari kejahatan orang-orang Yahudi! Demi Allah, jika mereka
melihatnya seperti yang aku saksikan, niscaya mereka membunuhnya. Sebetulnya akan terjadi
suatu perkara besar pada ponakanmu ini. sebab itulah, bawalah dia pulang segera ke negeri asalmu!"
sesudah menuntaskan urusan bisnisnya di Syam, Abu Thalib segera membawa pulang Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke Mekkah. Banyak orang mengklaim bahwa Zurair, Tamam dan Daris,
ketiganya Ahli Kitab, melihat pada diri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam persis sebagaimana yang
Bahira lihat pada beliau dalam perjalanan bersama pamannya, Abu Thalib. Mereka bertiga berusaha
keras mencari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, namun Bahira melindunginya dari mereka.
Bahira mengingatkan mereka kepada Allah, tentang nama dan sifatnya yang bisa mereka temukan
dalam kitab mereka, serta bahwa sekalipun mereka sepakat untuk membunuh beliau, mereka tidak
mungkin dapat mendekati beliau. Bahira tidak henti-hentinya memberi nasihat hingga akhirnya
mereka menyadari kebenaran ucapan Bahira, lalu membenarkan ucapannya dan menarik
mundur niatnya untuk membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan mereka berpaling
meninggalkan Bahira.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tumbuh besar dan berkembang, sementara Allah menjaganya
dan melindunginya dari daki-daki dekil jahiliyah. Ini sebab Allah hendak memuliakan dan memberi
risalah kepadanya. Hingga saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi seorang dewasa dia
menjadi pahlawan di tengah kaumnya, sosok yang paling baik akhlak dan budi pekertinya, paling mulia
nasabnya, paling baik bertetangga, teragung sikap santunnya, paling benar tutur katanya, paling agung
memegang amanah, paling jauh dari kekejian, paling jauh dari akhlak-akhlak yang mengotori orang
laki-laki, hingga akhirnya kaumnya menggelarinya dengan "Al-Amin" sebab Allah menghimpun dalam
diri beliau hal-hal yang baik.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah menceritakan tentang perlindungan Allah padanya dari
perilaku jahiliyah sejak masa kecilnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
Pada masa kanak-kanakku, aku bersama dengan anak-anak kecil Quraisy mengangkat batu untuk
satu permainan yang biasa anak-anak lakukan. Kami semua telanjang dan meletakkan bajunya
dipundaknya masing-masing untuk memanggul batu. Aku ikut maju dan mundur bersama dengan
mereka. Namun tiba-tiba ada seseorang yang belum pernah jumpa sebelumnya menamparku dengan
tamparan yang amat menyakitkan sambil membisikkan sebuah kata: "Kenakan kembali pakaianmu!"
Lalu segera aku mengambil pakaianku dan mengenakannya. sesudah itu, aku memanggul batu di atas
pundakku dengan tetap mengenakan pakaian, tidak seperti yang dilakukan teman-temanku.
Perang Fijar
Ibnu Hisyam berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berumur empat belas atau lima
belas tahun seperti dikatakan Abu Ubaidah An Nahwi kepadaku dari Abu Amr bin Al-Ala terjadi perang
dahsyat antara Quraisy yang didukung Kinanah mela- wan Qais Ailan.
Penyulut perang ini yaitu bahwa Urwah Ar-Rahhal bin Utbah bin Ja'far bin Kilab bin Rabiah bin Amir
bin Shashaah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin melindungi unta pengangkut barang kepunyaan An-
Nu'man bin Al- Mundzir. Al-Barradh bin Qais, salah seorang dari Bani Dhamrah bin Bakr bin Abdu
Manat bin Kinanah berkata kepada Urwah Ar-Rahhal: "Apakah engkau memberi perlindungan pada
unta ini dari Kinanah?" Urwah Ar-Rahhal menjawab: "Benar, bahkan lebih dari itu aku juga
melindunginya dari semua manusia." sesudah itu Urwah Ar-Rahhal keluar membawa unta ini . A1
Barradh juga keluar untuk mengintai kelengahan Urwah Ar-Rahhal. Sesampainya di Taiman Dzi Thallal,
di sebuah bebukitan yang tinggi, Urwah Ar- Rahhal lengah, saat itulah Al-Barradh menyerangnya
lalu membunuhnya pada bulan haram. Oleh sebab itulah perang ini disebut dengan Perang Fijar.
Ibnu Hisyam berkata: Seseorang datang menemui orang-orang Quraisy lalu berkata:
"Sebetulnya Al-Barradh telah membunuh Urwah, padahal mereka sedang berada di bulan haram
di Ukazh." Orang- orang Quraisy segera berangkat ke tempat orang-orang Hawazin tanpa diketahui
oleh mereka. saat orang-orang Hawazin mendengar keberangkatan orang-orang Quraisy, mereka
mengejarnya dan mendapatkan mereka sebelum memasuki tanah haram. Mereka pun bertempur
hingga tiba waktu malam. sesudah itu orang-orang Quraisy memasuki tanah haram, namun Hawazin
menahan diri dan tidak mengejar mereka. Keesokan harinya mereka bertempur kembali. Demikianlah
perang itu berlangsung berhari-hari. Sementara pada kedua belah pihak tidak ada seorang peminpin
yang mampu menyatukan mereka. Baik kabilah dari Quraisy dan Kinanah memiliki seorang
pemimpin, demikian pula dengan kabilah Qais masing-masing memiliki pemimpin. Rasulullah
pernah mengikuti sebagian dari hari-hari perang itu sebab diajak oleh paman-pamannya. Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"saat itu mengambil panah-panah musuh yang dipanahkan pada paman-pamanku lalu aku
serangkan pada mereka untuk dipanahkan balik pada musuh mereka."11
11. Sanadnya mu'dhal. Hadits ini diriwayatkan oteh Ibnu Sa'ad dalam Al-Thabaqat (1/126-128), sedangkan dia matruk.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Perang Fijar bergolak, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat itu
berumur dua puluh tahun. Perang ini disebut Perang Fijar, sebab kedua perkampungan
ini , dan Kinanah Ailan telah menghalalkan hal-hal yang diharamkan atas mereka. Panglima
perang Quraisy dan Kinanah yaitu Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Pada pagi hari, kemenangan
berada di pihak Qais atas Kinanah, namun pada tengah hari, kemenangan berbalik dan berada di pihak
Kinanah atas Qais.
Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan ten- tang Perang Al-Fijjar lebih panjang dari apa
yang saya sebutkan. Saya sengaja tidak menguraikannya secara lengkap sebab khawatir mengurangi
uraian tentang sirah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menikah dengan Khadijah Radhiyallahu Anhu
Ibnu Hisyam berkata; Saat Rasulullah Shalla-lahu alaihi wa Sallam berusia dua puluh lima tahun, beliau
menikah dengan Khadijah binti
Khuwailid Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Luay bin Ghalib seperti dikatakan
kepadaku oleh sekian banyak ulama dari Abu Amr Al Madani.
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid yaitu seorang perempuan pelaku bis- nis, terpandang
dan kaya raya. Ia mempeker- jakan banyak karyawan untuk menjalankan roda bisnisnya dengan sistem
bagi hasil. Orang- orang Quraisy yaitu kaum pedagang. saat
Khadijah mendengar tentang pribadi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kejujuran kata-katanya
beliau, keagungan amanah dan keindahan akhlaknya, ia mengutus seseorang untuk menemui
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Khadijah menawarkan kepada Rasulullah memasarkan
dagangannya ke Syam dengan ditemani karyawan laki-lakinya yang sangat terpercaya yang bernama
Maisarah. Jika Rasulullah mau Khadijah akan memberi- kan gaji yang lebih banyak daripada gaji yang
pernah diterima orang-orang lain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerima tawaran ini,
lalu pergi dengan membawa barang dagangan Khadijah dengan ditemani karyawan laki-laki
Khadijah yang bernama Maisarah hingga ke Syam.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti di bawah naungan pohon dekat rumah ibadah seorang
satu pendeta. Pendeta itu menemui Maisarah dan bertanya: "Siapa lelaki yang berhenti dan bernaung
di bawah pohon itu?" Maisarah berkata kepada pendeta itu: Lelaki itu berasal dari suku Quraisy dan
warga asli tanah haram." Pendeta itu berkata: Yang bernaung di bawah pohon itu pasti seorang
nabi."
sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjual barang-barangnya yang dia bawa dari
Mekkah, dan membeli apa yang beliau mau beli. sesudah menyelesaikan semua urusan bisnisnya,
Rasulullah pulang ke Mekkah dengan ditemani Maisarah. Menurut para ulama, jika matahari sedang
berada di puncak panasnya, Maisarah melihat dua malaikat menaungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam dari sengatan panas sinar matahari, sedangkan beliau tetap berjalan di atas untanya.
Sesampainya di kota Mekkah, Rasulullah menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada
Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang Rasulullah bawa dengan harga dua kali lipat
atau lebih sedikit. Maisarah menceritakan ucapan pen- deta dan tentang dua malaikat menaungi
Ra¬sulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada Khadijah.
Tatkala Maisarah menceritakan tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam padanya ia mengutus
seseorang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa pesan: "Wahai sepupu,
aku sangat tertarik kepadamu, sebab kedekatan kekerabatanmu, kemuliaanmu di tengah kaummu,
amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan kejujuran ucapanmu." lalu Khadijah menawarkan dirinya
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, paling
tehormat dan paling kaya. Orang-orang Quraisy berkeinginan nikah dengannya, andai mereka mampu.
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah yaitu putri Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin
Murrah bin Ka'ab bin Luay bs-Ghalib bin Fihr. Ibu Khadijah yaitu Fathimah binti Zaidah bin Al-Asham
bin Rawahah bin Hajar bin Abd bin Ma'ish bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Ibu Fathimah yaitu Halah binti Abdu Manaf bin Al-Harits bin Amr bin Munqidz bin Amr bin Ma'ish
bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr.
Ibu Halah yaitu Qalabah binti Su'aid bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay bin
Ghalib bin Fihr.
Tatkala Khadijah mengutarakan keinginan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Rasulullah
menceritakan hal ini kepada paman-pamannya. Maka dengan didampingi pamannya, Hamzah bin
Abdul Muthalib, Rasulullah pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah bin Abdul Muthalib melamar
Khadijah untuk beliau. Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya, Khadijah dengan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerahkan maskawin kepada Khadijah
sebanyak dua puluh unta betina muda. Khadijah yaitu wanita pertama yang dinikahi Rasulullah
Shallalahu alaihi wa Sallam dan Rasulullah tidak menikah dengan wanita manapun semasa hidup
Khadijah. Rasulullah baru menikah lagi sesudah Khadijah meninggal dunia.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Khadijahlah seluruh putera puteri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
dilahirkan kecuali Ibrahim al-Qasim. Beliau dipanggil dengan nama Abu Al-Qasim. Putera-puterinya
yaitu Ath-Thahir, Ath-Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah. Salam sejahtera
untuk mereka semua.
Ibnu Hisyam berkata: Anak laki-laki Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sulung yaitu Al-
Qasim, Ath-Thayyib, lalu Ath-Thahir. Puteri beliau yang sulung yaitu Ruqayyah, Zainab, lalu Ummu
Kaltsum dan terakhir Fathimah.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Qasim, Ath-Thayyib dan Ath-Thahir, mereka meninggal dunia pada masa
jahiliyah. Sedangkan puteri-puterinya hidup hingga zaman Islam, masuk Islam dan ikut hijrah bersama
Rasulullah.
Ibnu Hisyam berkata: Ibu Ibrahim yaitu Mariyah al-Qibthiyyah.
Ibnu Hisyam berkata bahwa Abdullah bin Wahb berkata kepadaku dari Ibnu Lahi'ah yang berkata: Ibu
Ibrahim yaitu Mariyah, wanita yang dihadiahkan Al-Muqaiqis kepada beliau. Mariyah berasal dari
Hafn di kawasan Anshina.
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwalid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul
Uzza, pamannya. Ia seorang pemeluk Kristen yang mempelajari kitab-kitab, dan mengetahui banyak
tentang Antropologi. Khadijah bercerita tentang apa yang dikisahkan Maisarah budaknya, tentang apa
yang dikatakan seorang pendeta kepadanya dan dua malaikat yang menaungi beliau. Waraqah bin
Naufal berkata: "Jika ini benar wahai Khadijah, pastilah Muhammad yaitu nabi untuk umat ini. Aku
tahu pasti bahwa umat ini akan memiliki seorang nabi yang dinanti kedatangannya dan kini telah
tiba waktu kemunculan nabi ini ," atau sebagaimana dikatakan oleh Waraqah bin Naufal.
Ibnu Ishaq berkata: Sepertinya Waraqah menemui akhir penantiannya yang demikian lama dan
membosankan yang senantiasa dia tanyakan: Hingga kapan?
Tentang hal di atas, Waraqah bin Naufal berkata dalam senandung syair:
Telah lama kuingat dengan sabar
Dengan sedih kadang dengan air mata berlinang
Khadijah menggambarkannya dan senantiasa memberi gambaran
Sungguh tlah lama masa tungguku wahai Khadijah
Di lembah Mekkah kutunggu dengan penuh harap
Dari katamu kuharap dia muncul di sana
Ku tak ingin apa yang dikatakan para pendeta
Menjadi sebuah ramalan yang palsu belaka
Muhammad akan menjadi pemimpin kami Ia taklukkan lawannya lewat hujjah
Kilau cahayanya kan menebar di seantero bumi
Ia luruskan jalan manusia yang bengkok
Orang yang memeranginya pastilah mengalami kerugian
Sedangyang berdamai dengannya memperoleh kemenangan
Wahai, andai ku hidup di saat itu
Aku saksian dia hingga aku menjadi orang yang paling beruntung
Walau apa yang dibenci orang Quraisy itu demikian berat
Dengan pekik teriakan keras mereka di kota Mekkah
Aku punya harapan dari apa yang mereka benci
Kepada Pemangku Arasy, jika mereka turun dan naik
Bukankah sebuah kebodohan jika kita takpercaya pada-Nya
Zat telah memilihnya dan mengangkatnya ke bintang-bintang
Jika mereka masih ada dan aku juga ada kan terjadi banyak persoalan
Orang-orang kafir itu kan berteriak dengan bising
Jika aku mati, Sebetulnya semua manusia
Akan menemui takdirnya dan ia kan berakhir juga
Pembangunan Ka'bah dan Keputusan Rasulullah di Tengah Orang- orang Quraisy dalam Peletakan
Hajar Aswad
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasul