sirah nabawiyah 5

 


pernah 

membiarkanmu dan akan melawanmu dalam masalah ini." Abdul Muthalib berkata: "Jika itu 

yang kalian mau, maka carilah orang yang kalian suka lalu  kita selesaikan perkara ini di 

hadapannya." Mereka berkata: "Kita pilih seorang dukun wanita Bani Sa'ad Hudzaim." Abdul 

Muthalib berkata: "Ya, silahkah saja." Dukun wanita yang mereka sebut itu tinggal di pinggiran 

kota Syam. 

 

Abdul Muthalib berangkat ke sana ber- sama dengan beberapa orang dari kabilah ayahnya, 

Bani Abdu Manaf yang diikuti pula beberapa orang dari setiap kabilah Quraisy. 

 

Ali bin Abu Thalib berkata: Saat itu lokasi-lokasi ini  ada yang rnasih berbentuk padang 

Sahara yang tandus. saat  melintasi salah satu padang Sahara yang tandus di antara Hijaz dan 

Syam, persediaan air Abdul Muthalib dan rombongannya habis. Mereka pun kehausan dan 

yakin akan mati akibat kehausan. Mereka meminta air kepada kabilah-kabilah Quraisy, namun 

kabiiah-kabilah Quraisy menolak memberi air kepada mereka. Kabiiah-kabilah Quraisy 

berkata: "Kita sedang berada di tengah padang sahara vang kering kerontang dan kami juga 

khavatir akan mengalami apa yang sedang kalian alarm." saat  Abdul Muthalib mengetahui 

jawaban kabiiah-kabilah Quraisy dan kekhawatiran mereka terhadap diri mereka. ia berkata: 

"Ba- gaimana menurut pendapat kalian? Mereka berkata: "Kami senantiasa mengikuti penda- 

patmu. Maka perintahkan apa saja yang engkau inginkan kepada kami!" Abdul Muthalib 

berkata: "Aku berpendapat bahwa hendaklah setiap orang dari kalian membuat galian untuk 

dirinya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Jika ada yang meninggal dunia, maka 

sahabat-sahabatnya mendorongnya ke dalam lubang galiannya, lalu  mengu- ruknya, 

hingga tinggal tersisa satu orang di antara kita, sebab  kehilangan satu orang itu lebih ringan 

mudharatnya daripada kehilangan semua rombongan." Mereka berkata: "Apa yang engkau 

katakan ini yaitu  sebuah pendapat yang tepat." 

 

Lalu masing-masing orang menggali lubang untuk dirinya, dan menunggu datang- nya 

kematian akibat dilanda kehausan. Abdul Muthalib berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Demi 

Allah, Sebetulnya  menjatuhkan diri kepada kematian dengan cara seperti ini, dan tidak 

berjalan di permukaan bumi serta tidak berusaha untuk mencari karunia bagi diri sendiri benar-

benar sebuah tindakan lemah! Semoga Allah memberi kita air di salah satu negeri. Pergilah 

kalian!" Sahabat-sahabat Abdul Muthalib pun beranjak pergi sebagaimana diperintahkan oleh 

Abdul Muthalib. sesudah  mereka berangkat dan kabiiah-kabilah Quraisy menyaksikan apa yang 

mereka kerjakan, maka Abdul Muthalib berjalan menuju hewan tunggangannya. saat  hewan 

tunggangan- nya berjalan tiba-tiba dari telapak kaki hewan tunggangannya memancar air 

tawar. Abdul Muthalib mengumandangkan takbir yang lalu  diikuti para sahabatnya. 

Abdul Muthalib turun dari hewan tunggangannya, lalu bersama para sahabatnya meminum air 

ini , mengisi tempat air minun mereka sampai penuh. Barulah Abdul Muthalib memanggil 

kabiiah-kabilah Quraisy dan berkata kepada mereka: "Marilah kita bersama-sama pergi Ke air! 

Allan telaii mengarunikan air mi- num kepada kita. Minumlah dari air ini  lalu isilah 

tempat air minum kalian." Mereka datang ke air ini , lalu minum dan mengisi tempat air 

minum mereka. Mereka berkata: "Demi Allah, perkara ini engkau menangkan atas kami, wahai 

Abdul Muthalib. Demi Allah, kami tidak akan melawanmu dalam perkara Sumur Zamzam 

untuk selama-lamanya. Sebetulnya  Dzat yang memberimu air di padang Sahara yang tandus 

ini pastilah Dzat yang memberimu air Zamzam. Kembalilah engkau untuk mengurusi 

pemberian minum dengan damai." Abdul Muthalib pulang demikian pula mereka. Mereka 

tidak meneruskan perjalanan kepada dukun wanita dan membatalkan maksud perjalanannya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Itulah yang sampai kepadaku apa yang dikatakan oleh Ali bin Abu Thalib 

tentang Zamzam. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Aku mendengar dari orang yang pernah berbicara mengenai Abdul 

Muthalib bahwa telah dikatakan kepadanya saat  ia diperintahkan menggali Sumur Zamzam: 

 

Ajaklah orang-orang kepada air pelepas dahaga yang tidak keruh 

Ia berikan air minum orang-orang yang berhaji 

dalam setiap tempat yang di dalamnya ada ketaatan 

Tak perlulah kau risau untuk kehabisan 

 

Mendengar ucapan seperti itu, Abdul Muthalib bergegas pergi menemui orang-orang Quraisy, 

dan berkata kepada mereka: "Ketahuilah, bahwa aku diperintahkan untuk menggali Sumur 

Zamzam untuk kalian." Mereka berkata: "Apakah telah dijelaskan kepadamu di tempat mana 

Sumur Zamzam ini  berada." Abdul Muthalib berkata: "Tidak." Mereka berkata: "Jika 

demikian, tidurlah engkau kembali sebagaimana engkau tidur sebelumnya dan bermimpi 

seperti itu sebab ucapan ini  berasal dari Allah, Dia pasti akan memberi penjelasan 

kepadamu. Jika ucapan ini  berasal dari setan, ia tidak akan kembali kepadamu." Abdul 

Muthalib kembali ke tempat tidurnya semula. Dalam tidurnya, datanglah seseorang kepadanya, 

lalu  berkata kepadanya: "Galilah Zamzam sebab  jika engkau menggalinya, kau tidak 

akan pernah menyesal, sebab  Zamzam ini  yaitu  peninggalan ayahmu yang teragung. 

Airnya tidak akan habis selamanya lamanya, melimpah, dan memberi minum kepada jama'ah 

haji yang mulia. Zamzam itu laksana burung unta yang kencang larinya dan belum dibagi. Di 

dalamnya, orang bernazar buat Dzat Pemberi nikmat yang menjadi warisan dan perjanjian yang 

kokoh kuat. Dia tidaklah seperti apa yang engkau telah ketahui sebelum ini. Zamzam berada 

di antara kotoran dan darah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ucapan di atas dan ucapan sebelumnya dalam penuturan Ali bin Abu 

Thalib tentang Zamzam, menurut kami, yaitu  sajak biasa dan bukan syair. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Mereka beranggapan bahwa saat  perkataan di atas dikatakan kepada 

Abdul Muthalib ia berkata: "Di manakah Zamzam ini  adanya?'" Lalu di jawab: "Dia 

berada di dekat rumah semut di mana di sana ada burung gagak mematuk-matuk dengan 

paruhnya besok." Wallahu Alam, dimana yang benar dari kisah di atas. 

 

Keesokan harinya Abdul Muthalib dengan ditemani anaknya, Al-Harts, anak satu-satunya saat 

itu, pergi lalu  melihat rumah semut, dan mereka dapatkan di tempat itu ada burung gagak 

yang sedang mematuk-matuk tanah, tepat di antara dua patung: Isaf dan Nailah. Tempat dimana 

orang-orang Quraisy biasa menyembelih hewan qurban mereka. Abdul Muthalib mengambil 

cangkul, lalu menggali tanah di tempat yang telah ia di perintah untuk menggalinya. saat  

orang- orang Quraisy memperhatikan keseriusan Abdul Muthalib, mereka datang menemuinva 

seraya berkata: "Demi Allah, kami tidak akan membiarkanmu menggali di area di antara dua 

patung kami, tempat kami biasa menvembelih hewan qurban." Abdul Muthalib berkata kepada 

anaknya Al-Harits: "Lindungilah aku sampai aku tuntas menggali. Demi Allah, aku akan tetap 

melakukan apa yang telah diperintahkan kepadaku." 

 

Melihat Abdul Muthalib tidak menyerah orang-orang Quraisy membiarkan Abdul Muthalib 

menggali, dan menahan diri dari padanya. Dalam waktu yang sangat singkat dalam menggali 

Abdul Muthalib melihat isi sumur ini , lalu  bertakbir dan mengetahui bahwa ia 

benar-benar dipercaya. Begitu meneruskan penggalian, ia melihat dua patung rusa yang terbuat 

dari emas yang di timbun oleh Jurhum di dalamnya saat mereka akan meninggalkan Mekkah. 

Abdul Muthalib juga mendapatkan beberapa pedang dari Qal'ah dan baju besi. Orang-orang 

Quraisy berkata kepada Abdul Muthalib: Wahai Al Muthalib, Sebetulnya  kami memiliki  

hak yang sama denganmu untuk berbagi dalam urusan Zamzam ini!" Abdul Muthalib berkata: 

"Tidak! Namun demikian mari kita ambil keputusan yang adil antara aku dengan kalian! Kita 

selesaikan persoalan ini dengan kotak dadu dan diundi." Mereka berkata: "Apa yang akan 

engkau lakukan?" Abdul Muthalib berkata: "Aku membikin dua dadu untuk Ka'bah, dua dadu 

untukku, dan dua dadu untuk kalian. Barangsiapa kedua dadunya keluar, ia mendapat bagian. 

Barangsiapa kedua da-dunya tidak keluar, ia tidak mendapat bagian sedikit pun." Mereka 

berkata: "Engkau telah bertindak adil." lalu  Abdul Muthalib membikin dua buah dadu 

berwarna kuning untuk Ka bah, dua dadu berwarna hitam untuk dirinya, dan dua dadu berwarna 

putih un¬tuk orang-orang Quraisy. sesudah  itu mereka memberi nya kepada penjaga kotak 

dadu yang bertugas menyelenggarakan undian di samping patung Hubal. Hubal terletak di 

dalam Ka'bah dan merupakan patung terbesar mereka. Patung Hubal inilah yang dimaksud Abu 

Sufyan pada Perang Uhud: "Bangkitlah Vk'ahai Hubal!" artinya menangkan agamamu." Abdul 

Muthalib berdiri sambil berdo'a kepada Allah. Lalu penjaga kotak dadu mengadakan undian 

dan keluarlah dua dadu berwarna kuning yang berarti dua patung kijang dari emas menjadi 

milik Ka'bah, dan dua dadu berwarna hitam yang berarti bahwa pedang dan baju besi menjadi 

milik Abdul Muthalib. Sedangkan dua dadu milik orang-orang Quraisy tidak muncul. 

 

Abdul Muthalib memasang pedang-pedang ini  sebagai pintu Ka'bah, yang dihiasi dua 

patung kijang dari emas. Itulah emas pertama kali yang dikenakan di Ka'bah menurut pendapat 

para ahli. Maka sesudah itu Abdul Muthalib memberi air minum Zamzam pada jama'ah haji. 

 

 

Sumur-sumur Kabilah Quraisy di Mekkah 

 

Ibnu Hisyam berkata: Sebelum penggalian Sumur Zamzam, orang Quraisy sudah lebih dulu 

menggali demikian banyak sumur di Mekkah sebagaimana hal ini dikatakan kepadaku oleh 

Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq dimana ia berkata: Abdu Syams bin 

Abdu Manaf menggali Sumur Ath-Thawiy yang berada di Mekkah Atas di Al-Baidha' di rumah 

Muhammad bin Yusuf Ats-Tsaqafi. 

 

Hasyim bin Abdu Manaf menggali Sumur Badzdzar yang berada di Al-Mustandzar Khathmu 

Al-Khandamah di atas lorong jalan milik Abu Thalib. Ada yang menyebutkan bahwa pada saat 

menggalinya Hasyim bin Abdu Manaf berkata: "Demi Allah, aku akan menjadikan Sumur 

Badzdzar untuk keperluan banyak orang." 

 

Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang penyair berkata: 

 

Allah mengirimkan air minum yang aku ketahui tempatnya 

Di Jurab, Malkum, Badzdzar, dan Al-Ghamm 

 

Ibnu Ishaq berkata: Hasyim bin Abdu Manaf juga menggali Sumur Sajlah yang merupakan 

sumur milik Al-Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf, dan orang-orang mengambil air 

minum darinya. Bani Naufal mengaku bahwa Al-Muth'im membeli sumur ini  dari Asad 

bin Hasyim. Namun Bani Hasyim juga mengaku bahwa sumur itu dihibahkan kepadanya saat  

muncul Sumur Zamzam, merekapun merasa tercukupi dengan sumur Zamzam dan tidak lagi 

membutuhkan sumur-sumur lainnya. 

 

Umayyah bin Abdu Syams menggali Sumur Al-Hafru untuk kepentingan dirinya sendiri. 

 

Bani Asad bin Abdul Uzza menggali Sumur Saquyyah, milik Bani Asad. 

 

Bani Abduddar menggali Sumur Ummu Ahrad. 

 

Bani Jumah menggali Sumur As-Sunbu- lah, milik Khalaf bin Wahb. 

 

Bani Sahm menggali Sumur Al-Ghamru, milik Bani Sahm. 

 

Di sana sudah ada sumur galian Mekkah jaman dulu sejak zaman Murrah bin Ka'ab, Kilab bin 

Murrah, dan tokoh-tokoh Quraisy dari generasi pertama dan mereka minum darinya. Yakni 

Sumur Rumm yang menjadi milik Murrah bin Ka'ab bin Luay, Sumur Khamm yang merupakan 

sumur Bani Kilab bin Murrah, dan Sumur Al-Hafru. Hudzaifah bin Ghanim, saudara Bani Adi 

bin Ka'ab bin Luay. 

 

Ibnu Hisyam berkata bahwa Hudzaifah bin Ghanim yaitu  ayah dari Abu Jahm bin Hudzaifah. 

Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair di atas yaitu  penggalan syair-syiar Hudzaifah, Insyaallah 

selengkapnya akan saya paparkan pada tempatnya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Air Zamzam lebih higienis dari air-air yang ada sebelumnya. Jama'ah haji 

berdatangan kepadanya, sebab  ia dekat dengan Masjidil Haram dan lebih utama dari air-air 

lainnya serta sebab  Sumur Zamzam yaitu  Sumur Ismail bin Ibrahim 'Alaihimas Salam. 

 

Bani Abdu Manaf berbangga diri dengan Sumur Zamzam atas seluruh orang-orang Quraisy, 

bahkan atas semua bangsa Arab. Musafir bin Abu Amr bin Umayyah bin Abdu Syams bin 

Abdu Manaf berkata dalam sebuah syair dengan membangga-banggakan prestasi mereka 

dengan memberi minum jama'ah haji, menjamin jamuan mereka, pemberian mereka berikan 

kepada manusia, Sumur Zamzam yang ada pada mereka, bahwa Bani Manaf yaitu  pemilik 

Ka'bah, mereka lebih mulia dan tehormat dari lainnya. 

 

 

Nazar Abdul Mutthalib untuk Menyembelih Salah Seorang Anaknya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Menurut sebagian besar orang, dan hanya Allah yang lebih tahu, Abdul 

Muthalib bernazar tatkala dia mendapatkan apa yang dia dapatkan dari orang-orang Quraisy 

saat menggali Sumur Zamzam bahwa jika ia memiliki  sepuluh anak dan mereka besar 

sementara ia mampu melindunginya, ia akan menyembelih salah seorang dari mereka untuk 

Allah di samping Ka'bah. saat  anaknya sudah berjumlah sepuluh, dan ia mengetahui bahwa 

mereka akan mencegah dan menghalanginya. Maka iapun mengumpulkan anak-anaknya untuk 

menjelaskan nazarnya serta mengajak mereka menetapi nazar untuk Allah itu. Mereka 

mentaatinya dan berkata: "Apa yang semestinya harus kami lakukan?" Abdul Muthalib 

berkata: "Setiap orang dari kalian mengambil satu dadu lalu menulis namanya di atasnya, lalu 

tunjukkan hasilnya padaku." Merekapun mengerjakan apa yang diperintahkan Abdul Muthalib 

lalu mereka menemui bapaknya. Abdul Muthalib membawa mereka ke Patung Hubal di dalam 

Ka'bah. Patung Hubal terletak di atas sumur di dalam Ka'bah. Sumur ini  yaitu  tempat 

dikumpulkannya apa yang mereka persem- bahkan untuk Ka'bah. 

 

Di sisi Patung Hubal ada  tujuh dadu dan pada setiap dadu ada  tulisan Al-'Aqlu (diyat, 

denda atas darah). Pada saat itu jika orang-orang Quraisy, berselisih tentang siapa yang berhak 

menanggung tebusan, mereka mengocok ketujuh dadu ini . Jika yang keluar Al-'Aqlu, 

maka diyat harus ditanggung oleh orang yang keluar namanya pada dadu ini . Di antara 

dadu ini  ada  tulisan Na'am untuk satu hal yang mereka inginkan. Jika mereka 

menginginkan sesuatu, mereka mengocok kotak dadu. Jika yang muncul yaitu  dadu yang 

bertuliskan Na'am, mereka mengerjakan apa yang diinginkan. Ada pula dadu yang bertuliskan 

Laa. Jika mereka menginginkan sesuatu, mereka mengkocok dadu. jika  yang muncul 

yaitu  dadu yang bertuliskan Laa mereka tidak mengerjakan apa yang diingkan. Ada pula dadu 

yang bertuliskan Minkum, ada yang bertuliskan Mulshaq, ada tulisan Min Ghairikum, dan Al-

Miyahu. jika  mau menggali sebuah sumur mereka mengocok dadu, dan tulisan apapun 

yang keluar maka mereka mengerjakan sesuai dengan tulisan yang muncul itu. 

 

Jika orang-orang Quraisy mau mengkhitan, atau menikahkan anak-anak atau memakamkan 

jenazah mereka, atau ragu-ragu mengenai garis keturunan salah seorang dari mereka, mereka 

pergi membawa orang itu kepada Hubal sembari tidak lupa membawa uang sejumlah seratus 

dirham dan hewan sembelihan lalu  mereka memberi nya kepada penjaga dadu. 

Mereka mendekatkan sahabat yang mereka inginkan sesuatu padanya sambil berkata: "Wahai 

Tuhan kami, inilah Si Fulan bin Fulan. Kami menginginkan ini dan itu untuknya. Maka 

tampakkanlah kebenaran baginya." Mereka berkata kepada penjaga kotak dadu: "Lakukan 

undian dengan dadu itu!" Jika yang muncul dadu yang bertuliskan Minkum, maka orang 

ini  menjadi bagian dari mereka. Jika yang muncul dadu yang bertuliskan Min Ghairikum, 

orang ini  menjadi sekutu bagi mereka. Jika yang keluar yaitu  dadu yang bertuliskan 

Mulshaq, maka orang ini  akan ditempatkan sesuai dengan kedudukan yang ada di tengah 

mereka; tidak memiliki  nasab dan persekutuan. Jika yang muncul yaitu  dadu yang 

bertuliskan Na'am, mereka mengerjakan hal ini . Jika yang keluar yaitu  dadu yang 

bertuliskan Laa, mereka menunda perkara ini  hingga tahun depan lalu pada tahun 

berikutnya mereka datang kembali. Jadi mereka menggantungkan segala perkara mereka 

kepada dadu yang muncul. 

 

Abdul Muthalib berkata kepada penjaga dadu: "Undilah anak-anakku sesuai dengan dadu 

mereka." Abdul Muthalib memberi  penjelasan pada penjaga dadu tentang nazarnya, 

lalu  penjaga dadu memberi dadu untuk setiap anak-anak Abdul Muthalib sesuai dengan 

nama yang ada di dalamnya. Adapun Abdullah bin Abdul Muthalib yaitu  anak terakhir Abdul 

Muthalib. Ibu Abdullah, Az-Zubayr, dan Abu Thalib yaitu  Fathimah binti Amr bin Aidz bin 

Abd bin Imran bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah bin Ka ab bin Luay bin Ghalib bin 

Fihr. 

 

Ibnu Hisyam berkata: A'idz anak Imran bin Makhzum. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Menurut sebagai pa- kar, Abdullah merupakan anak yang paling dicintai 

oleh Abdul Muthalib. Abdul Muthalib memandang, jika ternyata dadu mengenai dirinya maka 

dia akan disisakan. Ia yaitu  ayah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

Tatkala penjaga dadu mengambil dadu untuk mengadakan undian, Abdul Muthalib bangkit 

dari duduknya lalu  berdoa kepada Allah di sisi Hubal, sementara penjaga dadu mengocok 

dadunya, namun ternyata dadu yang muncul yaitu  atas nama Abdullah. Abdul Muthalib 

memanggil Abdullah dan mengambil pisau panjang lalu membawa Abdullah ke patung Isaf 

dan Nailah untuk di sembelih. 

 

Orang-orang Quraisy beranjak dari balai pertemuan mereka dan datang menemui Abdul 

Muthalib. Mereka berkata: "Apa yang engkau mau, wahai Abdul Muthalib?" Abdul Muthalib 

menjawab: "Aku akan membunuhnya." Orang-orang Quraisy dan anak-anak Abdul Muthalib 

berkata: "Demi Allah, engkau tidak boleh membunuhnya sampai kapan pun hingga engkau 

memberi argumen kuat atas tindakanmu ini. Jika engkau tetap ngotot menyembelihnya, 

pastilah setiap orang akan menyembelih anaknya. Lalu bagaimana jadinya manusia nanti?" Al-

Mughirah bin Abdullah bin Amr Makhzum bin Yaqazhah berujar kepada Abdul Muthalib: 

"Demi Allah, janganlah engkau menyembelihnya hingga engkau mampu mendatangkan 

argumen kuat atas penyembelihannya. Jika tebusannya yaitu  dengan harta, kita pasti 

menebusnya." Orang-orang Quraisy dan anak-anak Abdul Muthalib berkata kepadanya: 

"Hentikan niatmu itu! Bawalah dia ke Hijaz, sebab  di sana ada seorang wanita juru ramal yang 

memiliki pendamping jin. Tanyakan padanya, dan engkau harus taat kepada keputusannya. Jika 

ia memerintahkanmu untuk menyembelih anak-mu maka engkau harus menyembelihnya. Jika 

ia menyuruhmu mengerjakan sesuatu dan di dalamnya ada  jalan keluar bagimu dan 

baginya maka engkau hendaknya menerima dengan lapang hati." 

 

Merekapun berangkat. Setiba di Madinah, mereka tidak mendapatkannya di tempatnya. 

Peramal wanita itu ternyata sedang berada di Khaybar. Merekapun segera memacu 

kendaraannya menuju ke Khaybar. saat  tiba di Khaybar, mereka bertanya kepada tukang 

ramal wanita ini . Sementara Abdul Muthalib bercerita mengenai dirinya, anaknya, apa 

yang ia inginkan pada anaknya serta tentang nazarnya ini . Dukun wanita itu berkata: 

"Pulanglah kalian pada hari ini untuk sementara, hingga jinku khadamku datang kepadaku 

sehingga aku bisa menanyakan masalah ini kepadanya." Mereka keluar dari rumah peramal 

wanita itu. saat  mereka telah keluar Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah. Usai 

berdoa, mereka balik kembali ke rumah peramal wanita itu. Peramal wanita itu berkata kepada 

mereka: "Aku telah menda- patkan bisikan. Berapa jumlah diyat di tempat kalian?" Mereka 

menjawab: "Sepuluh unta." Jumlah diyat kala itu memang sepuluh unta. Peramal wanita itu 

berkata: "Kembalilah kalian semua ke negeri kalian!" Kurbankanlah sahabat kalian itu 

(maksudanya Abdullah) dan kurbankan pula sepuluh unta. lalu  bikinlah dadu atas nama 

unta dan dadu atas nama sahabat kalian. Jika ternyata dadu keluar atas nama sahabat kalian, 

maka tambahkan unta hingga Tuhan ridha kepada kalian. Jika ternyata dadu keluar atas nama 

unta, sembelihlah unta ini  sebagai ganti sahabat kalian, sebab  Tuhan telah ridha kepada 

kalian itu sedangkan sahabat kalian telah selamat." 

 

Mereka pun pulang. Setiba di Mekkah, mereka mufakat untuk menjalankan perintah 

paranormal wanita itu, Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah. Mereka 

memposisikan Abdullah sebagai kurban dan sepuluh unta sebagai kurban yang lain sedangkan 

Abdul Muthalib tetap berdiri dan berdoa kepada Allah di sisi patung Hubal. Mereka mengocok 

dadu dan ternyata dadu yang muncul yaitu  dadu atas nama Abdullah. Mereka menambahkan 

sepuluh unta sehingga unta berjumlah dua puluh ekor. Abdul Muthalib tetap berdiri dan berdoa 

kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu dan kembali dadu yang keluar yaitu  dadu atas 

nama Abdullah. Kembali mereka menambahkan sepuluh unta hingga unta berjumlah tiga 

puluh. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, 

ternyata dadu yang muncul yaitu  dadu atas nama Abdullah. Mereka kembali menambahkan 

sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah empat puluh ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa 

kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu ternyata dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama 

Abdullah. Mereka kembali menam-bahkan sepuluh unta hingga unta berjumlah lima puluh 

ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, 

ternyata kembali dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama Abdullah. Mereka menambahkan 

sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah enam puluh ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa 

kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, ternyata dadu yang keluar yaitu  dadu atas 

nama abdullah. Mereka menambahkan sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah tujuh puluh 

ekor. lalu  Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah sedang mereka mengocok 

dadu, ternyata dadu yang keluar dadu atas nama Abdullah. Mereka kembali menambah sepuluh 

unta lagi hingga unta berjumlah delapan puluh ekor. lalu  Abdul Muthalib berdiri dan 

berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, ternyata nama Abdullah keluar kembali. 

Mereka menambahkan sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah sembilan puluh ekor. Abdul 

Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah sedang mereka dadu ternyata dadu yang muncul 

kembali atas nama Abdullah. Mereka kembali menambahkan sepuluh unta hingga unta 

berjumlah seratus ekor. lalu  Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang 

mereka mengocok kotak dadu, ternyata akhirnya dadu yang keluar atas nama unta. Orang-

orang Quraisy dan orang-orang yang hadir pada peristiwa ini  berkata: "Kini tercapailah 

sudah tercapai keridhaan Tuhanmu, wahai Abdul Muthalib." Namun ada yang menyebutkan 

bahwa Abdul Muthalib berkata: "Tidak! demi Allah, hingga aku mengocok kotak dadu ini 

hingga tiga kali." 

 

lalu  mereka mengocok kotak dadu atas nama Abdullah dan unta, sedang Abdul Muthalib 

berdiri dan berdoa kepada Allah, ternyata dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama unta. 

Mereka mengulanginya untuk kedua kalinya, sedang Abdul Muthalib berdiri dan berdoa 

kepada Allah, ternyata kembali dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama unta. Mereka 

mengulanginya untuk ketiga kalinya, sedang Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, 

ternyata kembali dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama unta. lalu  semua unta ini  

disembelih, dan manusia dibiarkan bebas mengambil dan menikmatinya. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Hanya manusia dan bukan hewan buas dibiarkan mengambilnya. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Di antara ucapan-ucapan ini  ada  banyak sekali syair yang tidak 

dikenal oleh pakar syair di tengah-tengah kami. 

 

 

Wanita yang Menawarkan Diri Untuk Dinikahi Abdullah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abdul Muthalib kembali ke rumah dengan menggapit tangan tangan 

anaknya Abdullah. Menurut sebagian orang, saat  Abdul Muthalib bersama Abdullah, 

melewati seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin 

Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Wanita ini  yaitu  saudari Waraqah bin Naufal bin 

Asad bin Abdul Uzza. Ia sedang berada di samping Ka'bah. Tatkala wanita itu melihat 

Abdullah ia berkata: "Wahai Abdullah, akan pergi kemana engkau?" Abdullah menjawab: 

"Aku akan pergi bersama dengan ayahku." Wanita ini  berkata: "Bagimu unta sebanyak 

yang disembelih sebab mu. Gaulilah aku sekarang juga!" Abdullah berkata: Aku bersama 

ayahku dan aku tidak bisa menentang pendapatnya tidak pula berpisah dengannya." 

 

Abdul Muthalib bersama Abdullah pergi hingga sampai ke ke rumah Wahb bin Abdu Manaf 

bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Wahb bin Abdu 

Manaf kala itu yaitu  orang Bani Zuhrah yang paling baik nasab keturunannya, dan seorang 

tokoh paling tehormat. Ia menikahkan Abdullah bin Abdul Muthalib dengan Aminah binti 

Wahb. Aminah binti Wahb yaitu  wanita yang paling baik garis keturunan dan kedudukannya 

di kalangan Quraisy. Aminah yaitu  putri Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar 

bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. 

 

Barrah yaitu  putri Ummu Habib binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah 

bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. 

 

Ummu Habib yaitu  putri Barrah binti Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Kaab bin Luay 

bin Ghalib bin Fihr. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat, Abdullah bertemu dengan Aminah saat  ia 

diserahkan kepadanya. Abdullah berhubungan dengannya lalu  Aminah mengandung 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. sesudah  itu, Abdullah keluar dari rumah dan pergi ke 

rumah wanita yang menawarkan diri untuk menikah dengannya. Abdullah berkata kepada 

wanita tadi: "Kenapa engkau tidak menawarkan nikah kepadaku sebagaimana engkau lakukan 

kemarin?" Wanita ini  berkata kepada Abdullah: 'Cahaya yang ada padamu kemarin kini 

tiada lagi, ia telah lenyap. Maka kini aku tak lagi butuh padamu. 

 

Wanita tadi pernah menyimak dari saudaranya, Waraqah bin Naufal, pemeluk Kristen yang 

mengikuti kitab-kitab yang kuat bahwa akan ada nabi di umat ini. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku bahwa ia diberitahu, Abdullah 

bertemu dengan seorang wanita yang ia cintai selain Aminah binti Wahb. Sebelumnya, 

Abdullah bekerja di tanah miliknya hingga tampak bekas-bekas tanah padanya. Abdullah 

mengajak wanita ini  untuk menikah dengannya, namun wanita ini  sangat lambat 

merespon Abdullah sebab ia melihat bekas tanah di badan Abdullah. Abdullah pun segera 

keluar dari rumah wanita ini  lalu  ia berwudhu dan membersihkan tanah yang 

melekat di badannya, lalu  dengan sengaja dia pergi ke rumah Aminah dan melewati 

wanita ini . Wanita ini  mengajak Abdullah menikah dengannya, namun Abdullah 

tidak meresponnya dan tetap pergi ke rumah Aminah. Abdullah masuk kepada Aminah, dan 

menggaulinya, lalu  Aminah mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Taklama lalu , Abdullah berjalan melewati wanita ini  dan berkata kepadanya: 

"Apakah engkau tertarik kepadaku?" Wanita ini  menjawab: "Tidak!! tadi engkau berjalan 

melewatiku, sedang pada kedua matamu ada  warna putih. Aku pun mengajakmu, namun 

engkau tidak merespon ajakanku, lalu  engkau masuk kepada Aminah, lalu warna sinar 

putih itu sirna bersamanya." 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang menyatakan tentang wanita yang berkata kepada Abdullah 

yang berjalan melewatinya, sedang di kedua mata Abdullah ada  cahaya warna putih seperti 

warna putih di kuda berkata: Aku pun mengajak Abdullah dengan sebuah harapan warna putih 

ini  bisa menjadi milikku sayang ia tidak merespon ajakanku. Ia masuk menemui Aminah, 

lalu menggaulinya, lalu  Aminah mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

Dengan demikian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu  orang Quraisy yang paling 

baik nasabnya, dan paling tehormat baik dari jalur ayah dan ibunya. 

 

 

 

Apa yang Dikatakan Tentang Aminah Saat Mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Banyak orang mengatakan, dan hanya Allah yang lebih tahu, bahwa 

Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bercerita: Saat 

mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia bermimpi didatangi seseorang 

lalu  orang itu berkata kepadanya: "Sebetulnya  engkau sedang mengandung penghulu 

umat ini. lika dia telah lahir ke bumi, maka ucapkanlah: Aku berlindung kepada Allah Tuhan 

Yang Esa dari keburukan semua pendengki,' dan namakanlah dia Muhammad." 

 

Saat mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia melihat cahaya keluar dari 

perutnya yang dengannya dia bisa melihat istana-istana Bushra di wilayah Syam. 

 

Tak berapa lama lalu  Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahanda Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam meninggal dunia, saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berada 

dalam kandungan ibundanya, Aminah. 

 

 

 

 

 

Bab 3 

 

 

 

 

Kelahiran Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam dan Kehidupannya 

Menjadi Nabi dan Rasul 

 

 

 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul 

Awwal, tahun Gajah. 

Ibnu lshaq berkata: Al-Muthalib bin Abdullah bin Qais bin Makhramah berkata kepadaku dari ayahnya 

dari kakeknya yang berkata: Aku dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lahir pada tahun gajah. 

Kami lahir di tahun yang sama. 

Ibnu Ishaq berkata: Shalih bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata kepadaku dari Yahya bin 

Abdullah bin Sa'ad bin Zura- rah Al-Anshari yang berkata bahwa beberapa orang dari kaumku berkata 

kepadaku dari Hassan bin Tsabit yang berkata: "Demi Allah, aku saat itu seorang anak yang kuat, 

berusia tujuh atau delapan tahun." Saat itu, aku mendengar seorang Yahudi berteriak dengan suara 

sangat keras di atas menara di Yatsrib: "Wahai orang-orang Yahudi!" Manakala orang-orang Yahudi 

telah berkumpul di sekitarnya, mereka berkata kepadanya: "Celakalah engkau, ada apa gerangan 

denganmu?" Ia berkata: Malam ini, telah terbit bintang Ahmad yang ia lahir dengannya. 

Muhammad bin Ishaq berkata: Aku bertanya kepada Sa'id bin Abdurrahman bin Hassan bin Tsabit: 

"Berapa usia Hassan bin Tsabit saat  Rasulullah tiba di Madinah?'"Ia menjawab: "Enam puluh tahun. 

Sedang usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat tiba di Madinah yaitu  lima puluh tiga tahun. 

Artinya Hassan mendengar apa yang ia dengar saat dia berusia tujuh tahun: 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  melahirkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ibundanya mengutus 

seseorang menemui kakeknya, Abdul Muthalib, dengan sebuah pesan bahwa Sebetulnya  telah lahir 

bayi untukmu. Oleh sebab  itu, datanglah dan lihatlah bayi itu! Abdul Muthalib segera melihat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aminah menuturkan kepada mertuanya Abdul Muthalib apa 

yang ia lihat saat ia mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, apa yang dikatakan 

kepadanya tentang anaknya, dan perintah untuk menamakan anaknya ini  dengan satu nama. 

Ada yang mengatakan bahwa Abdul Muthalib mengambil Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari 

ibundanya lalu dia membawanya ke Ka'bah. Abdul Muthalib berdoa dan bersyukur kepada Allah atas 

segala nikmat yang diberikan kepadanya. lalu  ia menyerahkan kembalikan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam kepada ibunya, dan ia mencarikan ibu susuan untuk Rasulullah. 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Maradhi' (tentang susuan), di sebutkan dalam Kitab Allah saat mengisahkan 

kisah Musa, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: 

 

 

Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) 

sebelum itu." (QS. al-Qashash: 12). 

Ibnu Ishaq berkata: Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam disusui seorang wanita dari Bani Saad 

bin Bakr yang bemama Halimah binti Abu Dzuaib. Abu Dzuaib yaitu  Abdullah bin Al-Harits bin Syijnah 

bin Jabir bin Rizam bin Nashirah bin Fushaiyyah bin Nashr bin Saad bin Bakr bin Hawazin bin Manshur 

bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan. Nama ayah susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

yaitu  Al-Harits bin Abdul Uzza bin Rifa'ah bin Mallan bin Nashi¬rah bin Fushaiyyah bin Nashr bin 

Sa'ad bin Bakr bin Hawazin. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpenda- pat bahwa Hilal yaitu  anak Nashirah. 

Ibnu Ishaq berkata: Saudara-saudara se-susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu  

Abdullah bin Al-Harits, Unaisah binti Al-Harts. Khidzamah binti Al-Harits yang nama aslinya yaitu  Asy-

Syaima'. Khidza¬mah. tidak dikenal di tengah kaumnya kecuali dengan nama Asy-Syaima. Ibu mereka 

yaitu  Halimah binti Abu Dzuaib Abdullah bin Al- Harits, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ada yang pula yang mengatakan bahwa Asy-Syaima ikut mengasuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersama ibunya saat  beliau hidup bersama mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: lahm, bekas pelayan Al-Harits bin Hathib Al-Jumahi berkata kepadaku dari 

Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib atau dari seseorang yang mengutarakan kepadanya bahwa Halimah 

bin Abu Dzuaib As-Sa'diyyah, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang menyusui beliau 

bercerita bahwa ia bersama suaminya keluar dari negerinya sambil membawa seorang anak kecil yang 

sedang disusuinya bersama dengan wanita-wanita Bani Sa'ad bin Bakr guna mencari anak-anak untuk 

disusui. Halimah As-Sa'diyyah bertutur bahwa tahun itu yaitu  tahun kering dan tidak menyisakan 

apapun dari makanan kami. Lalu kami berangkat dengan nengendarai keledaiku yang berwarna putih 

dan seekor unta tua yang tidak lagi menghasilkan susu setetes pun. Kami semua tidak bisa 

memejamkan mata di malam hari sebab  tangisan anak-anak kecil yang ikut bersama kami. Mereka 

menangis sebab  lapar sementara air susu ku tidak bisa mengenyangkannya demikian pula dengan 

unta tua yang kami miliki. Namun demikian kami tetap berharap mendapatkan pertolongan dan solusi. 

Aku pun berangkat dengan menunggang keledai. Perjalanan kami memakan waktu yang lama hingga 

semakin menambah kelaparan dan kelelahan mereka. Demikianlah yang terjadi hingga kami sampai 

di Mekkah dan kami mencari anak-anak untuk disusui. Setiap wanita dari kami pernah ditawari untuk 

menyusui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tapi semua menolaknya sesudah  mereka tahu bahwa 

anak (Rasulullah) yaitu  seorang anakyatim. Padahalkami mengharap imbalan yang banyak dari ayah 

anak yang kami susui. Kami berkata: "Wahai Anak yatim! Apa yang bisa dilakukan ibu dan kakeknya? 

Alasan inilah yang membuat kami tidak mau mengambilnya. Semua wanita telah mendapatkan anak 

susuan kecuali aku." saat  kami semua sepakat untuk kembali ke negeri, aku berkata kepada 

suamiku: “Demi Allah, aku tidak mau kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang anak 

yang bisa aku susui. Aku akan pergi kepada anak yatim ini  dan mengambilnya." Suamiku berkata: 

"Rasanya tidak salah jika engkau melakukannya. Semoga Allah memberkahi kita melalui anak yatim 

itu. Lalu akupun pergi kepada anak yatim itu dan mengambilnya. Dan tidaklah aku melakukan itu 

kecuali sebab  aku tidak mendapatkan anak lain. sesudah  mengambilnya, aku kembali ke tempat 

peristirahatan. saat  aku merebahkannya di pangkuanku, aku menyusuinya hingga kenyang. 

Demikian pula dengan saudaranya. sesudah  menyusu keduanya tertidur satu hal yang sebelumnya 

tidak bisa kami nikmati. Sementara itu ia pergi pada unta tua milik kami ajaibnya air susu unta tua itu 

penuh. Kami pun memerah - nya lalu meminumnya hingga kenyang dan puas. Kami melewati malam 

ini  dengan indah. Pagi harinya sahabat-sahabatku berkata padaku: "Demi Allah, ketahuilah 

wahai Halimah engkau telah dikaruniai seorang anak yang penuh berkah. Demi Allah, demikian pula 

harapanku, jawabku." Lalu kami pulang dengan mengendarai keledaiku dan membawa serta 

Muhammad. Demi Allah, aku mampu meninggalkan rombonganku dan tidak ada satupun dari keledai 

mereka yang mampu menyusulku hingga membuat wanita-wanita ini  heran dan berkata 

kepadaku: "Celakalah engkau, wahai putri Abu Dzuaib tunggu dan berjanlah pelan-pelan! Bukankah 

keledai ini yaitu  keledai yang engkau bawa dari negerimu?" "Benar, demi Allah, dia dia juga!" 

jawabku. Mereka berkata: "Demi Allah, keledai ini terasa sangat berbeda dengan keledai-keledai yang 

lain." 

Kami pun tiba di Bani Sa'ad negeri kami. Sepanjang yang saya tahu tidak ada bumi Allah yang jauh 

lebih tandus dan kering dari negeri Bani Sa'ad. saat  tiba di negeriku membawa Muhammad, 

kambingku datang padaku da- lam keadaan kenyang dan susu penuh. Kami memerah dan 

meminumnya, pada saat yang sama orang-orang lain tidak dapat memerah susu setetes pun dan tidak 

mendapatkannya pada kambing mereka. Begitulah, hingga kaumku berkata kepada para 

penggembala, 'Celakalah kalian, gembalakanlah kambing-kambing kalian itu di tempat 

penggembalaan kambing anak perempuan Abu Dzuaib.' 

Di senja hari, kambing-kambing mereka kembali dalam keadaan lapar dan tidak mengeluarkan susu 

setetes pun sementara di saat yang sama kambingku pulang dalam keadaan kenyang dan air susu 

melimpah. Kami terus mendapatkan kucuran nikmat dan kebaikan dari Allah hingga berlangsung 

selama dua tahun. saat  Muhammad telah berusia dua tahun aku menyapihnya dan ia tumbuh 

menjadi anak muda yang berbeda dengan anak-anak muda pada umumnya. Belum genap dua tahun 

usianya ia telah menjadi anak yang kokoh dan kuat. 

Halimah As-Sadiyyah berkata: "Lalu kami membawa Muhammad kembali kepada ibunya padahal kami 

lebih suka jika ia tinggal bersama kami sebab  keberkahan yang ada padanya." Aku berkata pada 

ibunya: "Bagaimana kalau anakmu tetap tinggal bersamaku, hingga ia kuat, sebab  aku khawatir ia 

terkena epedemi penyakit Mekkah?" Kami berdiam di Mekkah hingga ibunya menyerahkan dia 

kembali kepada kami. 

Halimah As-Sadiyyah berkata: Kamipun pulang bersamanya. Demi Allah, sebulan sesudah  kedatangan 

kami bersama saudaranya ia menggembala kambing di belakang rumah, tiba-tiba saudaranya datang 

kepada kami dengan berlari. Saudaranya berkata kepadaku dan kepada ayahnya: "Saudaraku dari 

Quraisy diambil dua orang yang berpakaian serba putih lalu keduanya membaringkannya, membelah 

perutnya lalu mengaduk-aduk isi perutnya." Aku dan ayahnya segera keluar untuk mencarinya. Kami 

mendapatinya berdiri dengan muka pucat pasi. Kami memeluknya dengan erat. Kami bertanya 

padanya: "Apa yang terjadi denganmu wahai anakku?" Dia menjawab: "Dua orang berpakaian serba 

putih datang kepadaku lalu mereka membaringkanku, membelah perutku, dan mencari sesuatu yang 

tidak aku ketahui dalam perutku." Lalu kami pulang ke rumah. 

Halimah berkata: "Ayahnya berkata kepadaku: 'Wahai Halimah, aku khawatir anak ini sakit! Oleh 

sebab  itu, antarkanlah kembali kepada keluarganya sebelum sakitnya tampak dan semakin parah.'" 

Halimah As-Sadiyyah berkata: "lalu  kami membawa Muhammad dan menyerah- kannya 

kembali pada ibunya." Dengan heran Aminah bertanya: "Kenapa engkau mengantarkannya kembali 

kepadaku wahai ibu susuan bukankah sebelumnya engkau sendiri yang meminta agar ia tinggal 

bersamamu?" Aku menjawab: "Benar apa yang aku katakan. Namun kini Allah telah membesarkan 

anakku dan aku telah menyelesaikan apa yang menjadi tugasku. Aku khawatir sebab  banyak kejadian 

aneh yang terjadi padanya. Jadi kini aku kembalikan ia padamu sebagaimana yang engkau kehendaki." 

Ibunya berkata: Ada apa denganmu? Katakanlah sejujurnya!" Ibunya tidak membiarkanku pergi begitu 

saja, aku harus bercerita tentang apa yang terjadi pada anaknya kepadanya. Ibunya berkata: "Adakah 

engkau takut setan mengganggu dirinya?" Aku menjawab: "Benar!" Ibunya berkata: "Demi Allah, 

sekali-kali tidak!! Setan tidak mungkin memiliki kemampuan untuk merasukinya. 

Anakku akan memegang perkara besar di belakang hari. Maukah aku ceritakan padamu tentang 

perihal dia?" Aku berkata: "Tentu saja saya mau." Ibunya berkata: "Saat mengandungnya aku melihat 

cahaya keluar dariku yang dengan sinar ini  aku bisa melihat istana-istana Busra, di kawaan Syam. 

Sungguh aku belum pernah melihat kandungan yang lebih ringan dan lebih gampang darinya. saat  

aku melahirkannya, ia meletakkan kedua tangannya di bumi sedangkan kepalanya menghadap ke 

langit. Biarkan dia, dan pulanglah engkau dengan tenang. !" 

Ibnu Ishaq berkata: Tsaur bin Yazid berkata kepadaku dari dari beberapa orang berilmu dan aku kira 

berasal dari Khalid bin Ma'dan Al-Kalaiyyu, bahwa beberapa sahabat berkata kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Kisahkanlah pada kami tentang dirimu, wahai Rasulullah!" Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:  

 

"Baiklah, aku ada yaitu  berkat doa ayahku Ibrahim dan berita gembira saudaraku Isa bin Maryam. 

saat  ibuku mengandungku, ia melihat cahaya keluar dari perutnya, yang dengannya dia melihat 

istana-istana di kawasan Syam. Aku disusui di Bani Sa'ad bin Bakr. saat  aku sedang bersama 

saudaraku di belakang rumah menggembalakan kambing, tiba-tiba datang dua orang yang 

berpakaian serbaputih meng- hampiriku sambil membawa cawan dari emas yangpenuh berisi es. 

Mereka mengambilku lalu membelah perutku lalu mengeluarkan hatiku, membelahnya, 

mengeluarkan gumpalan hitam dari hatiku lalu mereka melemparnya. sesudah  itu mereka berdua 

mencuci hati dan perutku dengan es yang telah dibersihkan. Salah seorang dari keduanya berkata 

kepada sahabatnya: "Timbanglah dia dengan sepuluh orang dari umatnya." Dia menimbangku 

dengan sepuluh orang umatku namun ternyata aku lebih berat daripada mereka. Orang pertama 

berkata lagi: "Timbanglah dengan seratus orang dari umatnya." Orang kedua menimbangku dengan 

seratus orang dari umatku, namun ternyata aku lebih berat daripada mereka. Orang pertama berkata 

lagi: "Timbanglah dengan seribu orang dari umatnya." Orang kedua menimbangku dengan seribu 

orang dari umatku namun ternyata aku lebih berat daripada mereka. Orang pertama berkata: Biarkan 

dta. Demi Allah, seandainya engkau menimbangnya dengan seluruh umatnya, pastilah ia lebih berat 

daripada timbangan mereka."8 

Ibnu Ishaq berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

"Tidak ada seorang nabipun yang tidak pernah tidak menggembala kambing." Beliau ditanya: "Engkau 

juga, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Benar, termasuk diriku."9 

Ibnu Ishaq berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada para 

sahabatnya: 

"Aku yaitu  orang yang paling fasih di antara kalian. Aku orang Quraisy dan aku disusui di Bani' Sa 'ad 

bin Bakr."10 

---------------------- 

8 Permulaan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Hakim pada hadits nomer 4175 dan dia mengatakan sanadnya shahih. Pendapat 

ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Hadits ini memiliki syawahid dari Abu Dzar dari hadits ad-Darimi pada hadits nomer. 13. 

9 HR. Bukhari nomor: 2262. 

10 Sangat lemah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dalam At-Thabaqat dengan sanad mu'dhal (1/113), dan Imam Ath- Thabrani 

dalam Al-Kabiir dalam sanadnya ada seorang yang bernama Mubassyir bin Ubaid dan dia termasuk perawi yanq ditinggalkan (matruk). 

-----------------------

Ibnu Ishaq berkata: Banyak orang menyebutkan, dan Allah Maha lebih Tahu, saat  ibunda Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam Halimah As-Sa'diyyah membawanya ke Mekkah, Rasulullah tiba-tiba 

lenyap di tengah orang banyak tatkala akan dikembalikan kepada keluarganya. Halimah As-Sa'diyyah 

mencarinya, namun sayang tidak berhasil menemukannya. Halimah As-Sa'diyyah segera menemui 

Abdul Muthalib dan berkata kepa- danya: "Malam ini aku datang bersama Mu-hammad, tapi saat aku 

berada di Mekkah Atas, ia tiba-tiba lenyap. Demi Allah, aku tidak tahu di mana keberadaannya." 

Lalu Abdul Muthalib berdiri di sisi Ka'bah seraya berdoa kepada Allah agar Dia berkenan 

mengembalikan Muhammad kepadanya. Ada juga yang mengatakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam ditemukan Waraqah bin Naufal bin Asad dan seseorang dari Quraisy, lalu  keduanya 

membawanya kepada Abdul Muthalib, kakeknya. Keduanya berkata kepada Abdul Muthalib: "Inilah 

anakmu. Kami mendapatkan dia di Mekkah Atas." Abdul Muthalib mengambil Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam lalu  memanggulnya di pundaknya sambil thawaf di Ka'bah. Abdul Muthalib 

memintakan perlindungan dan berdoa untuk beliau, lalu  mengembalikan Rasulullah kepada 

Aminah binti Wahb, ibunya. 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian Ahli berkata kepadaku, di antara sebab lain yang mengha- ruskan ibu 

susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Halimah As-Sa'diyyah, mengembalikan Rasulullah 

kepada ibu kandungnya di samping sebab yang telah dijelaskan Halimah As-Sa'diyyah kepada Aminah 

binti Wahb- bahwa beberapa orang Kristen dari Habasyah melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sal¬lam bersama Halimah As-Sa'diyyah saat  ia kembali bersama beliau sesudah  disapih. Mereka 

memandang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan sangat seksama bertanya kepada Halimah 

As-Sa'diyyah tentangnya serta menimang-nimang beliau. Mereka berkata: "Kami pasti mengambil 

anak ini dan akan kami bawa ia kepada raja kami dan ke nege- ri kami, sebab  kelak anak ini akan 

menjadi orang terhormat, sebab  kami telah mengetahui seluk-beluk tentangnya." Orang yang 

mengatakan hal ini kepadaku berkata bahwa Halimah As-Sa'diyyah hampir saja tidak bisa kabur 

meloloskan diri dari mereka. 

 

 

Meninggalnya Aminah, dan Kondisi Rasulullah Bersama Kakeknya Abdul Muthalib sesudah nya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  hidup bersama ibundanya, 

Aminah binti Wahb dan kakeknya, Abdul Muthalib, beliau berada dalam pemeliharaan Allah dan 

perlindungan-Nya. Allah menumbuhkan beliau dengan perkembangan yang baik sebab  Dia hendak 

memuliakan- nya. saat  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah berusia enam tahun, Aminah 

binti Wahb, ibunya meninggalkannya untuk selamanya. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku, 

ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Aminah binti Wahb meninggal dunia di Al-Abwa', 

sebuah kawasan yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Saat itu usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam baru enam tahun. Aminah membawa beliau mengunjungi paman-pamannya dari jalur 

ibunya di Bani Adi bin An-Najjar, lalu  ia meninggal dunia saat dalam per- jalanan pulang menuju 

Mekkah. 

Ibnu Hisyam berkata: Ibunda Abdul Muthalib Hisyam yaitu  Salma binti Amr An-Najjariyah. Hubungan 

kepamanan inilah yang diuraikan Ibnu Ishaq pada saat dia membahas paman-paman Rasulullah dari 

Bani Adi bin An-Najjar ini . 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  itu, hiduplah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama Abdul 

Muthalib, kakeknya. Abdul Muthalib memiliki  permadani di Ka'bah. Anak-anaknya duduk di sekitar 

permadani ini  sampai ia duduk di permadani itu. Tak seorang pun di antara anak-anaknya yang 

berani duduk di atas permadani ini  sebab  demikian hormat kepadanya. Saat masih kecil, 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang di atas permadani ini  lalu  duduk di atasnya. 

Melihat beliau duduk di permadani kakeknya, paman-pamannya mengambilnya dari permadani 

ini  sehingga dengan demikian mereka bisa men- jauhkan beliau dari Abdul Muthalib. Melihat 

perlakukan paman-pamannya seperti itu terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abdul 

Mulhthalib dengan bijak berkata: "Jangan larang anakku (cucuku) ini duduk di atas permadani ini. 

Demi Allah, kelak di lalu  hari dia akan menjadi orang besar." lalu  Abdul Muthalib 

mendudukkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersamanya, membelainya dengan tangannya, 

dan ia demikian senang atas apa yang diperbuatnya. 

 

 

 

Wafatnya Abdul Muthalib dan Syair-syair Eligi Duka Untuknya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berusia delapan tahun, kakeknya 

Abdul Muthalib meninggal dunia, delapan tahun sesudah  tahun gajah. 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Abbas bin Abdul-lah bin Ma'bad bin Al-Abbas berkata kepadaku dari sebagian 

keluarganya bahwa Abdul Muthalib meninggal dunia saat  usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

baru delapan tahun. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Sa'id bin Al-Musayyib berkata kepadaku, saat  Abdul Muthalib 

merasa tidak lama lagi akan meninggal dunia, ia kumpulkan anak-anak perempuannya yang berjumlah 

enam orang: Shafiyyah, Barrah, Atikah, Ummu Hakim Al-Baidha', Umaimah, dan Arwa. Ia berkata 

kepada mereka: "Menangislah kalian untukku agar aku bisa mendengar apa yang kalian katakan 

sebelum aku menghembuskan napas terakhirku!" 

Saat Abdul Muthalib meninggal dunia, kelanjutan pengelolaan Sumur Zamzam dan pemberian air 

minum kepada jama'ah haji di ambil alih Al-Abbas bin Abdul Muthalib, anak bungsu di antara saudara-

saudaranya. Jabatan ini  ia pangku, hingga Islam muncul. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam menetapkannya sebagaimana semula. Jabatan ini  berada pada keluarga Al-Abbas hingga 

saat ini. 

 

 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Bawah Asuhan Abu Thalib 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sepeninggal Abdul Muthalib, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  

dibenarkan oleh pamannya, Abu Thalib, menurut para ulama, sesuai dengan wasiat kakeknya Abdul 

Muthalib, sebab  ayah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Ab- dulllah dan Abu Thalib yaitu  

saudara sekandung. Ibu mereka berdua yaitu  Fathimah binti Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin 

Makhzum. 

Ibnu Hisyam berkata: Aidz yaitu  anak Imran bin Makhzum. 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib mengasuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sepeninggal kakeknya 

Abdul Muthalib. Beliau diserahkan kepadanya dan senantiasa bersamanya. 

Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku bahwa ayahnya 

berkata kepadanya bahwa seseorang dari Lahab, Ibnu Hisyam mengatakan Lihb berasal dari Azdi 

Syanu'ah. Ia seorang juru tenung. jika  ia datang ke Mekkah, orang-orang Quraisy datang 

menemuinya dengan membawa anak-anak mereka untuk dilihat dan diramal oleh Lihb tentang masa 

depan mereka buat kedua orang tuanya. saat  Lihb sedang berada di Mekkah Abu Thalib datang 

menemuinya dengan membawa serta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang saat itu masih muda 

belia bersama orang-orang Quraisy yang lain. Pada saat Lihb melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, ia terlena hingga lupa urusan lainnya. Lihb ber-kata: "Dekatkan anak muda itu padaku!" Saat 

Abu Thalib merasakan kesungguhan Lihb dan keinginannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, maka ia menjauhkannya dari penglihatan Lihb. Lihb berkata: "Sialan kalian semua, bawalah 

anak muda yang aku li- hat tadi padaku. Demi Allah dia akan menjadi orang besar di belakang hari* 

Lalu Abu Thalib segera membawa pergi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

 

Pertemuan dengan Pendeta Bahira 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib menyertai rombongan dagang Quraisy menuiu Svam. Tatkala ia telah 

siap untuk berangkat, menurut sebagian ulama, Rasulu'ilah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkeinginan 

untuk ikut pergi bersamanya. Abu Thalib tidak kuasa meninggalkannya. Ia berkata: "Demi Allah aku 

harus membawanya pergi bersamaku. Ia harus tidak berpisah denganku dan aku harus tidak berpisah 

dengannva untuk lama- nya" -atau sebagaimana yang diucapkan oleh Abu Thalib. lalu  Abu 

Thalib berangkat dengan membawa serta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersamanya. 

saat  rombongan bisnis Quraisy sampai di Busra, sebuah kawasan di Syam, ternyata di sana hidup 

seorang pendeta bernama Bahira sedang berada di rumah ibadahnya. Ia yaitu  sosok yang paling tahu 

tentang agama Kristen. Di rumah ibadah itulah dia hidup sebagai seorang pendeta, dan umat Nasrani 

mendapatkan ilmu dari rumah ibadah ini  melalui sebuah kitab yang ada di dalamnya yang 

diwariskan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikianlah menurut 

klaim banyak ulama. 

Pada tahun itu rombongan Quraisy berhenti di Bahira dimana sebelumnya mereka senantiasa 

melewatinya namun Bahira tidak pernah mau berbicara dan tidak mempedulikan mereka hingga 

tahun itu. Tatkala rombongan berhenti di dekat rumah ibadah Bahira di tahun itu, ia membuatkan 

makanan yang banyak sekali untuk mereka. Pendeta Bahira melakukan itu semua, menurut sebagian 

besar ulama, sebab  ada sesuatu yang dia lihat saat berada di dalam rumah ibadahnya. Ada pula yang 

mengatakan, saat  Bahira sedang berada dirumah ibadahnya, ia melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam berada di tengah-tengah rombongan Quraisy sedangkan awan menaungi beliau di tengah 

mereka. 

Lanjut Ibnu Ishaq: lalu  mereka berhenti di bawah rindang pohon dekat Bahira. Bahira melihat 

awan saat  pohon menaungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan ranting-ranting pohon 

merunduk luluh kepada beliau hingga Rasulullah bernaung di bawahnya. Saat Bahira menyaksikan 

peristiwa, ia keluar dari rumah ibadahnya dan menyuruh pembantunya membuat makanan. 

Sedang ia sendiri pergi ke tempat rombong- an bisnis Quraisy. Ia berkata kepada mereka: "Wahai 

orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua dari 

anak kecil, orang dewasa, budak, dan orang merdeka semuanya ikut hadir." Ada seseorang yang 

bertanya kepada Bahira: "Demi Allah wahai Bahira, betapa luar biasanya apa yang engkau lakukan 

kepada kami di hari ini, padahal sebelum ini kami sering sekali melewati tempat tinggalmu ini. Apa 

gerangan yang terjadi pada dirimu pada hari ini?" Bahira berkata kepada orang itu: "Engkau tidaklah 

salah. Aku dulu memang persis seperti yang engkau utarakan. Namun kalian yaitu  tamu dan aku suka 

untuk menjamu kalian. Aku telah membuat makanan untuk kalian dan aku ingin semua 

menikmatinya." Merekapun masuk ke rumah Buhaira, sementara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam tidak ikut bersama mereka sebab  masih kecil. Beliau bernaung di bawah pohon untuk menjaga 

perbekalan rombongan Quraisy. saat  Bahira melihat rombongan Quraisy dan ia tidak menyaksikan 

sifat yang telah ia ketahui, ia berkata: "Hai orang-orang Quraisy, saya ingatkan jangan sampai ada 

seorang pun yang tidak makan makananku ini." Mereka berkata kepada Bahira: "Wahai Bahira, "Masih 

ada seorang anak kecil di antara kami yang tertinggal di tempat perbekalan rombongan." Bahira 

berkata: "Janganlah kalian bertindak seperti itu, panggillah dia agar makan bersama dengan kalian." 

Salah seorang rombongan Quraisy berkata: "Demi Al-Lata dan Al-Uzza, sungguh sebuah aib bagi kami 

jika anak Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ikut serta makan bersama kami." sesudah  itu, Bahira 

datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mendekapnya dan mendudukkannya 

bersama rombongan Quraisy lainnya. 

Ibnu Ishaq berkata: saat  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang, ia memperhatikan beliau 

dengan teliti, dan memperhatikan seluruh tubuhnya. Dari hasil penglihatannya, ia dapatkan sifat-sifat 

kenabian pada beliau. Tatkala mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar sedangkan Bahira 

mendekati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada beliau: "Wahai anak muda, dengan 

menyebut nama Al-Lata dan A1 Uzza aku menanyakan kepadamu dan engkau hendaknya menjawab 

apa yang aku tanyakan kepadamu." Bahira mengatakan seperti itu, sebab  ia mendengar bahwa kaum 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersumpah dengan Al-Lata dan Al-Uzza. Ada yang mengatakan, 

bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Janganlah sekali-kali engkau bertanya 

tentang sesuatupun kepadaku dengan menyebut nama Al-Lata dan Al-Uzza. Demi Allah, tidak ada yang 

sangat aku benci melebihi keduanya." Bahira berkata: "Baiklah aku bertanya padamu dengan 

menyebut nama Allah, dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam berkata: "Tanyakanlah kepadaku apa saja yang hendak engkau tanyakan!" 

Bahira menanyakan banyak hal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tentang kondisi tidur 

beliau, postur tubuh beliau masalah-masalah lain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab 

apa yang dia tanyakan. Dan semua jawaban Rasulullah sesuai dengan apa yang dia ketahui lalu  

Bahira melihat punggung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan ia melihat tanda kenabian ada di 

antara kedua pundak persis seperti ciri-ciri Nabi yang diketahuinya. 

Ibnu Hisyam berkata: Tanda kenabian Rasulullah seperti bekas bekam. 

Ibnu Ishaq berkata: sesaat sesudah  itu, Bahira menyapa paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

Abu Thalib, dan bertanya padanya: "Apakah anak muda ini anakmu?' Dengan cepat Abu Thalib 

menjawab: "Benar, dia anakku!" Bahira berkata: "Tidak!, dia bukanlah anakmu. Anak muda ini tidak 

layak memiliki seorang ayah yang masih hidup." Abu Thalib berkata: "O, ya! Dia anak saudaraku." 

Buhaira bertanya: "Apa pekerjaan ayahnya?" Abu Thalib menjawab: "Ayahnya meninggal dunia saat 

dia ada di dalam kan- dungan ibunya." Bahaira berkata: "Segera bawa pulang ponakanmu ini ke negeri 

asalmu sekarang juga! Jagalah dia dari kejahatan orang-orang Yahudi! Demi Allah, jika mereka 

melihatnya seperti yang aku saksikan, niscaya mereka membunuhnya. Sebetulnya  akan terjadi 

suatu perkara besar pada ponakanmu ini. sebab  itulah, bawalah dia pulang segera ke negeri asalmu!" 

sesudah  menuntaskan urusan bisnisnya di Syam, Abu Thalib segera membawa pulang Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke Mekkah. Banyak orang mengklaim bahwa Zurair, Tamam dan Daris, 

ketiganya Ahli Kitab, melihat pada diri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam persis sebagaimana yang 

Bahira lihat pada beliau dalam perjalanan bersama pamannya, Abu Thalib. Mereka bertiga berusaha 

keras mencari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, namun Bahira melindunginya dari mereka. 

Bahira mengingatkan mereka kepada Allah, tentang nama dan sifatnya yang bisa mereka temukan 

dalam kitab mereka, serta bahwa sekalipun mereka sepakat untuk membunuh beliau, mereka tidak 

mungkin dapat mendekati beliau. Bahira tidak henti-hentinya memberi nasihat hingga akhirnya 

mereka menyadari kebenaran ucapan Bahira, lalu  membenarkan ucapannya dan menarik 

mundur niatnya untuk membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan mereka berpaling 

meninggalkan Bahira. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tumbuh besar dan berkembang, sementara Allah menjaganya 

dan melindunginya dari daki-daki dekil jahiliyah. Ini sebab  Allah hendak memuliakan dan memberi  

risalah kepadanya. Hingga saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi seorang dewasa dia 

menjadi pahlawan di tengah kaumnya, sosok yang paling baik akhlak dan budi pekertinya, paling mulia 

nasabnya, paling baik bertetangga, teragung sikap santunnya, paling benar tutur katanya, paling agung 

memegang amanah, paling jauh dari kekejian, paling jauh dari akhlak-akhlak yang mengotori orang 

laki-laki, hingga akhirnya kaumnya menggelarinya dengan "Al-Amin" sebab  Allah menghimpun dalam 

diri beliau hal-hal yang baik. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah menceritakan tentang perlindungan Allah padanya dari 

perilaku jahiliyah sejak masa kecilnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

Pada masa kanak-kanakku, aku bersama dengan anak-anak kecil Quraisy mengangkat batu untuk 

satu permainan yang biasa anak-anak lakukan. Kami semua telanjang dan meletakkan bajunya 

dipundaknya masing-masing untuk memanggul batu. Aku ikut maju dan mundur bersama dengan 

mereka. Namun tiba-tiba ada seseorang yang belum pernah jumpa sebelumnya menamparku dengan 

tamparan yang amat menyakitkan sambil membisikkan sebuah kata: "Kenakan kembali pakaianmu!" 

Lalu segera aku mengambil pakaianku dan mengenakannya. sesudah  itu, aku memanggul batu di atas 

pundakku dengan tetap mengenakan pakaian, tidak seperti yang dilakukan teman-temanku. 

 

 

Perang Fijar 

 

Ibnu Hisyam berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berumur empat belas atau lima 

belas tahun seperti dikatakan Abu Ubaidah An Nahwi kepadaku dari Abu Amr bin Al-Ala terjadi perang 

dahsyat antara Quraisy yang didukung Kinanah mela- wan Qais Ailan. 

Penyulut perang ini yaitu  bahwa Urwah Ar-Rahhal bin Utbah bin Ja'far bin Kilab bin Rabiah bin Amir 

bin Shashaah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin melindungi unta pengangkut barang kepunyaan An-

Nu'man bin Al- Mundzir. Al-Barradh bin Qais, salah seorang dari Bani Dhamrah bin Bakr bin Abdu 

Manat bin Kinanah berkata kepada Urwah Ar-Rahhal: "Apakah engkau memberi perlindungan pada 

unta ini  dari Kinanah?" Urwah Ar-Rahhal menjawab: "Benar, bahkan lebih dari itu aku juga 

melindunginya dari semua manusia." sesudah  itu Urwah Ar-Rahhal keluar membawa unta ini . A1 

Barradh juga keluar untuk mengintai kelengahan Urwah Ar-Rahhal. Sesampainya di Taiman Dzi Thallal, 

di sebuah bebukitan yang tinggi, Urwah Ar- Rahhal lengah, saat itulah Al-Barradh menyerangnya 

lalu  membunuhnya pada bulan haram. Oleh sebab itulah perang ini disebut dengan Perang Fijar. 

Ibnu Hisyam berkata: Seseorang datang menemui orang-orang Quraisy lalu  berkata: 

"Sebetulnya  Al-Barradh telah membunuh Urwah, padahal mereka sedang berada di bulan haram 

di Ukazh." Orang- orang Quraisy segera berangkat ke tempat orang-orang Hawazin tanpa diketahui 

oleh mereka. saat  orang-orang Hawazin mendengar keberangkatan orang-orang Quraisy, mereka 

mengejarnya dan mendapatkan mereka sebelum memasuki tanah haram. Mereka pun bertempur 

hingga tiba waktu malam. sesudah  itu orang-orang Quraisy memasuki tanah haram, namun Hawazin 

menahan diri dan tidak mengejar mereka. Keesokan harinya mereka bertempur kembali. Demikianlah 

perang itu berlangsung berhari-hari. Sementara pada kedua belah pihak tidak ada seorang peminpin 

yang mampu menyatukan mereka. Baik kabilah dari Quraisy dan Kinanah memiliki  seorang 

pemimpin, demikian pula dengan kabilah Qais masing-masing memiliki  pemimpin. Rasulullah 

pernah mengikuti sebagian dari hari-hari perang itu sebab  diajak oleh paman-pamannya. Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

"saat  itu mengambil panah-panah musuh yang dipanahkan pada paman-pamanku lalu aku 

serangkan pada mereka untuk dipanahkan balik pada musuh mereka."11 

11.  Sanadnya mu'dhal. Hadits ini diriwayatkan oteh Ibnu Sa'ad dalam Al-Thabaqat (1/126-128), sedangkan dia matruk. 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Perang Fijar bergolak, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat itu 

berumur dua puluh tahun. Perang ini  disebut Perang Fijar, sebab  kedua perkampungan 

ini , dan Kinanah Ailan telah menghalalkan hal-hal yang diharamkan atas mereka. Panglima 

perang Quraisy dan Kinanah yaitu  Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Pada pagi hari, kemenangan 

berada di pihak Qais atas Kinanah, namun pada tengah hari, kemenangan berbalik dan berada di pihak 

Kinanah atas Qais. 

Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan ten- tang Perang Al-Fijjar lebih panjang dari apa 

yang saya sebutkan. Saya sengaja tidak menguraikannya secara lengkap sebab  khawatir mengurangi 

uraian tentang sirah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menikah dengan Khadijah Radhiyallahu Anhu 

 

Ibnu Hisyam berkata; Saat Rasulullah Shalla-lahu alaihi wa Sallam berusia dua puluh lima tahun, beliau 

menikah dengan Khadijah binti 

Khuwailid Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Luay bin Ghalib seperti dikatakan 

kepadaku oleh sekian banyak ulama dari Abu Amr Al Madani. 

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid yaitu  seorang perempuan pelaku bis- nis, terpandang 

dan kaya raya. Ia mempeker- jakan banyak karyawan untuk menjalankan roda bisnisnya dengan sistem 

bagi hasil. Orang- orang Quraisy yaitu  kaum pedagang. saat  

Khadijah mendengar tentang pribadi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kejujuran kata-katanya 

beliau, keagungan amanah dan keindahan akhlaknya, ia mengutus seseorang untuk menemui 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Khadijah menawarkan kepada Rasulullah memasarkan 

dagangannya ke Syam dengan ditemani karyawan laki-lakinya yang sangat terpercaya yang bernama 

Maisarah. Jika Rasulullah mau Khadijah akan memberi- kan gaji yang lebih banyak daripada gaji yang 

pernah diterima orang-orang lain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerima tawaran ini, 

lalu  pergi dengan membawa barang dagangan Khadijah dengan ditemani karyawan laki-laki 

Khadijah yang bernama Maisarah hingga ke Syam. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti di bawah naungan pohon dekat rumah ibadah seorang 

satu pendeta. Pendeta itu menemui Maisarah dan bertanya: "Siapa lelaki yang berhenti dan bernaung 

di bawah pohon itu?" Maisarah berkata kepada pendeta itu: Lelaki itu berasal dari suku Quraisy dan 

warga  asli tanah haram." Pendeta itu berkata: Yang bernaung di bawah pohon itu pasti seorang 

nabi." 

sesudah  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjual barang-barangnya yang dia bawa dari 

Mekkah, dan membeli apa yang beliau mau beli. sesudah  menyelesaikan semua urusan bisnisnya, 

Rasulullah pulang ke Mekkah dengan ditemani Maisarah. Menurut para ulama, jika matahari sedang 

berada di puncak panasnya, Maisarah melihat dua malaikat menaungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam dari sengatan panas sinar matahari, sedangkan beliau tetap berjalan di atas untanya. 

Sesampainya di kota Mekkah, Rasulullah menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada 

Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang Rasulullah bawa dengan harga dua kali lipat 

atau lebih sedikit. Maisarah menceritakan ucapan pen- deta dan tentang dua malaikat menaungi 

Ra¬sulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada Khadijah. 

Tatkala Maisarah menceritakan tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam padanya ia mengutus 

seseorang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa pesan: "Wahai sepupu, 

aku sangat tertarik kepadamu, sebab  kedekatan kekerabatanmu, kemuliaanmu di tengah kaummu, 

amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan kejujuran ucapanmu." lalu  Khadijah menawarkan dirinya 

kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, paling 

tehormat dan paling kaya. Orang-orang Quraisy berkeinginan nikah dengannya, andai mereka mampu. 

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah yaitu  putri Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin 

Murrah bin Ka'ab bin Luay bs-Ghalib bin Fihr. Ibu Khadijah yaitu  Fathimah binti Zaidah bin Al-Asham 

bin Rawahah bin Hajar bin Abd bin Ma'ish bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr. 

Ibu Fathimah yaitu  Halah binti Abdu Manaf bin Al-Harits bin Amr bin Munqidz bin Amr bin Ma'ish 

bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr. 

Ibu Halah yaitu  Qalabah binti Su'aid bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay bin 

Ghalib bin Fihr. 

Tatkala Khadijah mengutarakan keinginan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Rasulullah 

menceritakan hal ini kepada paman-pamannya. Maka dengan didampingi pamannya, Hamzah bin 

Abdul Muthalib, Rasulullah pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah bin Abdul Muthalib melamar 

Khadijah untuk beliau. Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya, Khadijah dengan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerahkan maskawin kepada Khadijah 

sebanyak dua puluh unta betina muda. Khadijah yaitu  wanita pertama yang dinikahi Rasulullah 

Shallalahu alaihi wa Sallam dan Rasulullah tidak menikah dengan wanita manapun semasa hidup 

Khadijah. Rasulullah baru menikah lagi sesudah  Khadijah meninggal dunia. 

Ibnu Ishaq berkata: Dari Khadijahlah seluruh putera puteri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

dilahirkan kecuali Ibrahim al-Qasim. Beliau dipanggil dengan nama Abu Al-Qasim. Putera-puterinya 

yaitu  Ath-Thahir, Ath-Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah. Salam sejahtera 

untuk mereka semua. 

Ibnu Hisyam berkata: Anak laki-laki Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sulung yaitu  Al-

Qasim, Ath-Thayyib, lalu Ath-Thahir. Puteri beliau yang sulung yaitu  Ruqayyah, Zainab, lalu Ummu 

Kaltsum dan terakhir Fathimah. 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Qasim, Ath-Thayyib dan Ath-Thahir, mereka meninggal dunia pada masa 

jahiliyah. Sedangkan puteri-puterinya hidup hingga zaman Islam, masuk Islam dan ikut hijrah bersama 

Rasulullah. 

Ibnu Hisyam berkata: Ibu Ibrahim yaitu  Mariyah al-Qibthiyyah. 

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abdullah bin Wahb berkata kepadaku dari Ibnu Lahi'ah yang berkata: Ibu 

Ibrahim yaitu  Mariyah, wanita yang dihadiahkan Al-Muqaiqis kepada beliau. Mariyah berasal dari 

Hafn di kawasan Anshina. 

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwalid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul 

Uzza, pamannya. Ia seorang pemeluk Kristen yang mempelajari kitab-kitab, dan mengetahui banyak 

tentang Antropologi. Khadijah bercerita tentang apa yang dikisahkan Maisarah budaknya, tentang apa 

yang dikatakan seorang pendeta kepadanya dan dua malaikat yang menaungi beliau. Waraqah bin 

Naufal berkata: "Jika ini benar wahai Khadijah, pastilah Muhammad yaitu  nabi untuk umat ini. Aku 

tahu pasti bahwa umat ini akan memiliki  seorang nabi yang dinanti kedatangannya dan kini telah 

tiba waktu kemunculan nabi ini ," atau sebagaimana dikatakan oleh Waraqah bin Naufal. 

Ibnu Ishaq berkata: Sepertinya Waraqah menemui akhir penantiannya yang demikian lama dan 

membosankan yang senantiasa dia tanyakan: Hingga kapan? 

Tentang hal di atas, Waraqah bin Naufal berkata dalam senandung syair:  

Telah lama kuingat dengan sabar 

Dengan sedih kadang dengan air mata berlinang 

Khadijah menggambarkannya dan senantiasa memberi gambaran 

Sungguh tlah lama masa tungguku wahai Khadijah 

Di lembah Mekkah kutunggu dengan penuh harap 

Dari katamu kuharap dia muncul di sana  

Ku tak ingin apa yang dikatakan para pendeta 

Menjadi sebuah ramalan yang palsu belaka  

Muhammad akan menjadi pemimpin kami Ia taklukkan lawannya lewat hujjah 

Kilau cahayanya kan menebar di seantero bumi 

Ia luruskan jalan manusia yang bengkok  

Orang yang memeranginya pastilah mengalami kerugian 

Sedangyang berdamai dengannya memperoleh kemenangan 

Wahai, andai ku hidup di saat itu 

Aku saksian dia hingga aku menjadi orang yang paling beruntung 

Walau apa yang dibenci orang Quraisy itu demikian berat 

Dengan pekik teriakan keras mereka di kota Mekkah 

Aku punya harapan dari apa yang mereka benci 

Kepada Pemangku Arasy, jika mereka turun dan naik 

Bukankah sebuah kebodohan jika kita takpercaya pada-Nya 

Zat telah memilihnya dan mengangkatnya ke bintang-bintang 

Jika mereka masih ada dan aku juga ada kan terjadi banyak persoalan  

Orang-orang kafir itu kan berteriak dengan bising 

Jika aku mati, Sebetulnya  semua manusia  

Akan menemui takdirnya dan ia kan berakhir juga 

 

 

Pembangunan Ka'bah dan Keputusan Rasulullah di Tengah Orang- orang Quraisy dalam Peletakan 

Hajar Aswad 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasul

Related Posts:

  • sirah nabawiyah 5  pernah membiarkanmu dan akan melawanmu dalam masalah ini." Abdul Muthalib berkata: "Jika itu yang kalian mau, maka carilah orang yang kalian suka lalu  kita selesaikan perkara ini di hadapannya." Me… Read More