uh anak perempuan. Mereka
datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum
kambing domba ayahnya. 17 Maka datanglah gembala-gembala yang meng-
usir mereka, lalu Musa bangkit menolong mereka dan memberi minum kam-
bing domba mereka. 18 saat mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka,
berkatalah ia: “Mengapa selekas itu kamu pulang hari ini?” 19 Jawab mereka:
“Seorang Mesir menolong kami terhadap gembala-gembala, bahkan ia me-
nimba air banyak-banyak untuk kami dan memberi minum kambing domba.”
20 Ia berkata kepada anak-anaknya: “Di manakah ia? Mengapakah kamu ting-
galkan orang itu? Panggillah dia makan.” 21 Musa bersedia tinggal di rumah itu,
lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa. 22 Perempuan itu
melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom, sebab
katanya: “Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.”
Di sini Musa menetap di Midian, sama seperti Yakub, leluhurnya,
menetap di Aram (Kej. 29:2, dst.). Kedua kejadian ini sudah seharus-
nya mendorong kita untuk memercayakan diri kepada pemeliharaan
Tuhan dan mengikutinya. Kejadian-kejadian yang tampaknya tidak
berarti dan kebetulan semata, di lalu hari terbukti telah diran-
cang melalui hikmat Tuhan demi tujuan yang sangat baik dan akibat-
nya sangat besar bagi kepentingan umat-Nya. Kejadian biasa yang
berlangsung sementara waktu saja adakalanya mendatangkan per-
ubahan paling besar dan membahagiakan dalam hidup seseorang.
Amatilah,
I. Perihal ketujuh putri Rehuel, imam atau pemimpin Midian.
1. Mereka rendah hati dan sangat rajin, sesuai perilaku orang di
negeri itu: mereka menimba air untuk memberi minum kambing
domba ayahnya (ay. 16). Jika ayah mereka seorang pemimpin,
ini mengajarkan kepada kita bahwa mereka yang terlahir seba-
gai orang terhormat, berkedudukan tinggi, dan terpandang di
negeri mereka pun, sudah seharusnya mengerjakan sekuat
tenaga hal yang bermanfaat dengan tangan sendiri. Kemalasan
tidak dapat menjadi kebanggaan siapa pun. Jika ayah mereka
seorang imam, ini mengajarkan kepada kita bahwa anak-anak
pelayan Tuhan secara khusus sudah seharusnya menjadi tela-
dan tentang kerendahan hati dan kerajinan.
2. Mereka sangat sopan, dan tidak mau mengajak orang Mesir
asing ini ikut pulang ke rumah (meskipun dia tampan dan pe-
jabat tinggi dari kalangan istana), sebelum sang ayah menyu-
ruh mereka mengajak dia. Sopan santun merupakan perhias-
an seorang perempuan.
II. Perihal Musa. Ia disangka seorang Mesir (ay. 19). Orang-orang
asing harus paham jika dipandang dengan keliru. Namun
demikian, bisa kita amati,
1. Betapa bersedianya Musa membantu putri-putri Rehuel mem-
beri minum kambing domba mereka. Meskipun dibesarkan
dan dididik di istana, ia tahu cara mengerjakan tugas sema-
cam ini saat muncul kesempatan untuk itu. Ia tidak meniru
orang Mesir yang biasanya merendahkan kaum gembala. Per-
hatikanlah, orang-orang yang mengenyam pendidikan tinggi
jangan sampai tidak tahu cara melakukan pekerjaan rendah,
sebab siapa tahu suatu waktu Tuhan Sang Pemelihara meng-
hendaki mereka mengerjakan pekerjaan demikian untuk ke-
Kitab Keluaran 2:16-22
pentingan mereka sendiri. Atau, siapa tahu juga Sang Peme-
lihara memberi mereka kesempatan untuk mengerjakan peker-
jaan seperti itu untuk melayani orang lain. Sepertinya, perem-
puan-perempuan muda ini menghadapi perlawanan dalam
mengerjakan tugas mereka, lebih dari yang mampu mereka
atasi bersama pelayan-pelayan mereka. Ada yang berpendapat
bahwa para gembala dari daerah tetangga, atau pemalas-pema-
las yang mengaku sebagai gembala, mengusir mereka. Namun
Musa, meskipun sedang dirundung kesedihan dan kesusahan,
bangkit menolong mereka, tidak saja untuk menghalau gembala-
gembala itu,namun , sesudah mengusir mereka, juga memberi
minum kambing domba itu. Ia melakukan hal ini, tidak saja
untuk menyenangkan hati putri-putri Rehuel (meskipun ia me-
mang suka melakukannya),namun juga sebab di mana pun ia
berada, dan situasi untuk memberi pertolongan itu muncul,
maka
(1) Ia gemar berbuat adil dan tampil membela orang yang dili-
hatnya sedang disakiti. Hal ini pantas dilakukan oleh
setiap orang sejauh kemampuannya.
(2) Ia gemar berbuat baik.
Ke mana pun Tuhan Sang Pemelihara membawa kita, sudah
seharusnya kita rindu dan berusaha menjadi orang berguna.
saat kita tidak mampu berbuat baik sesuai keinginan kita,
maka kita harus siap berbuat sebaik mungkin. Orang yang
setia dengan yang kecil akan dipercayakan dengan yang lebih
besar.
2. Betapa besar imbalan yang diterimanya berkat layanannya itu.
saat perempuan-perempuan muda itu menceritakan kepada
ayah mereka tentang kebaikan yang telah mereka terima dari
orang asing itu, ia menyuruh mereka mengajak orang itu ke
rumahnya, dan menjamu dia (ay. 20). Demikianlah Tuhan akan
membalas dengan setimpal kebaikan yang ditunjukkan kepada
anak-anak-Nya. Mereka tidak akan kehilangan pahala mereka.
Dalam waktu singkat Musa membuat dirinya bisa diterima,
sehingga mendapat penghargaan dan kasih sayang pemimpin
Midian ini, yang menyambut dia tinggal di rumahnya. Dan
seiring berjalannya waktu, ia menikahkan salah satu putrinya
dengan Musa (ay. 21). Ia lalu mendapat anak laki-laki
yang diberinya nama Gersom, sebab katanya: “Aku telah men-
jadi seorang pendatang di negeri asing.” Kelak bila Tuhan berke-
nan memberinya rumah sendiri, nama ini dapat mengingatkan
dia akan negeri tempat ia pernah menjadi seorang asing. Nah,
menetapnya Musa di Midian ini telah dirancang oleh Allah,
(1) Untuk melindunginya sementara waktu. Tuhan akan mene-
mukan tempat persembunyian bagi umat-Nya saat mere-
ka sedang menghadapi bahaya. Bukan itu saja, Ia sendiri
yang akan menjadi tempat perlindungan bagi mereka dan
akan menjamin keselamatan mereka, baik di bawah langit
maupun di sorga. Selain itu,
(2) Hal ini juga telah dirancang untuk mempersiapkan Musa
bagi tugas-tugas besar yang selanjutnya harus dilaksana-
kannya. Pola hidupnya di Midian, tempat ia menggembala-
kan kambing domba ayah mertuanya (sebab dia tidak me-
miliki ternak sendiri), akan sangat berguna baginya,
[1] Untuk membiasakan diri kepada kerja keras dan kemis-
kinan, supaya ia bisa belajar hidup dalam kekurangan
ataupun kelimpahan. Orang-orang yang hendak diting-
gikan Tuhan akan direndahkan terlebih dahulu oleh-Nya.
[2] Untuk membiasakan diri merenung dan beribadah. Me-
sir menjadikannya orang terpelajar dan beradab, nega-
rawan, serta prajurit. Di lalu hari semuanya ini
akan berguna baginya. Namun, masih ada satu hal
yang belum dimilikinya, dan dalam hal ini istana tidak
dapat membantunya. Orang yang harus mengerjakan
segala sesuatu berdasar pewahyuan ilahi, harus
tahu apa artinya hidup bersekutu dengan Tuhan melalui
suatu pengalaman hidup yang lama. Dan dalam hal ini
Musa akan bertumbuh pesat dalam kesunyian dan ke-
terpencilan hidup sebagai seorang gembala di Midian.
Melalui kehidupannya di Mesir tadi, ia dipersiapkan un-
tuk memerintah di Yesyurun, sedang melalui keter-
pencilan di Midian, ia dipersiapkan untuk bergaul akrab
dengan Tuhan di gunung Horeb. Di sekitar gunung itulah
ia menghabiskan sebagian besar waktunya. Orang-
orang yang tahu seperti apa rasanya berduaan dengan
Tuhan di dalam ibadah-ibadah yang kudus, akan ter-
Kitab Keluaran 2:23-25
biasa dengan kenikmatan yang lebih besar dibandingkan
yang pernah dirasakan Musa di istana Firaun.
Seruan Orang Israel yang Tertindas
(2:23-25)
23 Lama sesudah itu matilah raja Mesir.namun orang Israel masih mengeluh
sebab perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta
tolong sebab perbudakan itu sampai kepada Allah. 24 Tuhan mendengar me-
reka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham,
Ishak dan Yakub. 25 Maka Tuhan melihat orang Israel itu, dan Tuhan memper-
hatikan mereka.
Di sini ada ,
1. Berlanjutnya perbudakan orang Israel di Mesir (ay. 23). Ada
kemungkinan pembunuhan terhadap bayi-bayi mereka tidak ber-
lanjut. Bagian penderitaan mereka ini hanya terjadi dalam masa
yang berkaitan langsung dengan kelahiran Musa, dan dimaksud-
kan untuk menandai peristiwa itu. Sekarang orang Mesir justru
merasa puas dengan pertumbuhan jumlah mereka, sebab men-
dapati bahwa Mesir semakin diperkaya berkat kerja keras mereka.
Dengan demikian, mereka bisa memanfaatkan orang Ibrani seba-
gai budak, dan tidak peduli lagi tentang jumlah mereka. Oleh
sebab itu, dalam hal ini mereka bertekad menyuruh semua orang
Israel bekerja sekuat tenaga. saat seorang Firaun mati, muncul-
lah Firaun lain menggantikan tempatnya untuk memerintah
dengan peraturan-peraturan yang sama, dan menindas orang
Israel dengan sama kejamnya seperti para pendahulunya. Kalau-
pun orang Israel sesekali bisa menarik napas lega sesaat, mereka
akan ditindas kembali seperti semula. Boleh jadi, sementara se-
makin ditindas, orang Israel justru semakin berlipat ganda jum-
lahnya. sebab itu, semakin besar jumlah mereka, semakin kejam
mereka ditindas. Perhatikanlah, adakalanya Tuhan membiarkan
tongkat orang fasik mendera orang-orang benar sampai lama se-
kali. jika di Midian Musa sekali-kali berpikir betapa jauh lebih
baik keadaannya seandainya ia tetap tinggal bersama kalangan
istana, ia juga harus berpikir betapa jauh lebih buruk keadaannya
jika ia mengalami nasib seperti saudara-saudaranya. Meng-
gembalakan domba di Midian memang sungguh menurunkan
derajatnya, namun ini masih lebih baik dibandingkan membuat batu
bata di Mesir. Merenungkan penderitaan sesama kita akan mem-
bantu kita menerima penderitaan kita sendiri.
2. Awal pembebasan mereka akhirnya tiba juga.
(1) Mereka berseru-seru (ay. 23). Sekarang, mereka akhirnya mulai
berpikir tentang Tuhan di tengah kesukaran mereka, dan
kembali kepada-Nya dari berhala-berhala yang telah mereka
sembah (Yeh. 20:8). Sampai saat itu, mereka mengeluhkan sa-
rana-sarana pembawa kesukaran mereka, namun Tuhan tidak
ada dalam hati mereka. Demikianlah orang-orang yang fasik
hatinya menyimpan kemarahan; mereka tidak berteriak minta
tolong, kalau mereka dibelenggu-Nya (Ayb. 36:13). Namun,
sebelum Tuhan membebaskan mereka dari belenggu, Ia meng-
gerakkan hati mereka supaya berseru-seru kepada-Nya, seperti
yang dijelaskan di dalam Kitab Bilangan 20:16. Perhatikanlah,
sungguh merupakan pertanda baik jika Tuhan menghampiri
kita dengan membawa pembebasan, saat Ia menggerakkan
hati kita dan memampukan kita berseru-seru kepada-Nya.
(2) Tuhan mendengar (ay. 24-25). Ada empat ungkapan penuh
kasih yang menunjukkan kebaikan hati Tuhan kepada mereka.
[1] Tuhan mendengar mereka mengerang. Artinya, Ia memper-
lihatkan bahwa Ia memperhatikan keluhan mereka. Erang-
an orang tertindas terdengar nyaring di telinga Tuhan yang
adil, yang berhak menuntut balas. Apalagi kalau itu yaitu
erangan Israel rohani kepunyaan-Nya. Ia mengetahui
beban yang mereka keluhkan, dan berkat yang mereka rin-
dukan. Ia Roh yang terbekati itu, yang mengadakan peran-
taraan bagi mereka melalui semua erangan ini.
[2] Ia mengingat kepada perjanjian-Nya, yang seakan-akan te-
lah dilupakan-Nya,namun yang sebenarnya senantiasa ada
dalam pikiran-Nya. Mata-Nya terus terarah pada perjanji-
an-Nya untuk menolong mereka, tanpa memperhitungkan
jasa dan perbuatan baik mereka bagi-Nya (Im. 26:42).
(3) Maka Tuhan melihat orang Israel itu. Musa memandang mereka
dan jatuh iba kepada mereka (ay. 11),namun sekarang Tuhan
memandang dan menolong mereka.
(4) Tuhan memperhatikan mereka. Ia berkenan memperhatikan me-
reka sebagai milik-Nya. Pengulangan penyebutan nama Tuhan
di sini menyiratkan bahwa sekarang sesuatu yang besar akan
Kitab Keluaran 2:23-25
37
terjadi dan kita siap-siap menantikan saja, Opus Deo dignum –
Pekerjaan yang layak dari Allah. Mata-Nya yang terus menjela-
jahi seluruh bumi, sekarang hanya terpusat kepada Israel, un-
tuk menunjukkan bahwa Ia kuat, untuk menunjukkan bahwa
Dialah Tuhan yang membela mereka.
PASAL 3
ama seperti nubuatan telah berakhir selama berabad-abad sebe-
lum kedatangan Kristus, supaya kebangkitan kembali nubuatan
dan penyempurnaannya dalam diri Sang Nabi Agung itu dapat
semakin luar biasa, maka demikian juga penglihatan sudah berhenti
(sepanjang yang tampak) di tengah para bapa leluhur selama bebe-
rapa abad sebelum kedatangan Musa, agar semua penampakan Tuhan
kepadanya demi penyelamatan Israel bisa disambut dengan lebih
baik. Dan sekarang dalam pasal ini kita mendapati penampakan
Tuhan yang pertama kepada Musa di dalam semak duri serta perca-
kapan di antara Tuhan dan Musa dalam penglihatan itu. Dalam pasal
ini kita dapati,
I. Tuhan berkenan menyatakan kemuliaan-Nya kepada Musa di
semak duri, yang tidak boleh dihampiri Musa terlampau
dekat (ay. 1-5).
II. Pernyataan kasih karunia dan kehendak baik Tuhan kepada
umat-Nya, yang dikasihi demi nenek moyang mereka (ay. 6).
III. Pernyataan khusus tentang tujuan Tuhan menyangkut pem-
bebasan umat Israel keluar dari Mesir.
1. Tuhan meyakinkan Musa bahwa pembebasan itu harus
dilaksanakan sekarang juga (ay. 7-9).
2. Ia mengutus Musa untuk bertindak sebagai wakil-Nya,
baik terhadap Firaun (ay. 10), maupun bagi Israel (ay. 16).
3. Tuhan menjawab keberatan Musa yang merasa dirinya
tidak layak (ay. 11-12).
4. Ia memberinya petunjuk lengkap tentang apa yang harus
disampaikannya, baik kepada Firaun maupun kepada
umat Israel (ay. 13-18).
S
5. Tuhan memberitahukannya sebelumnya tentang apa yang
nanti akan terjadi (ay. 19, dst.).
Semak Duri Menyala
(3:1-6)
1 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya,
imam di Midian. Sekali, saat ia menggiring kambing domba itu ke seberang
padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu
Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang
keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu
menyala,namun tidak dimakan api. 3 Musa berkata: “Baiklah aku menyim-
pang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah ti-
dak terbakar semak duri itu?” 4 saat dilihat TUHAN, bahwa Musa menyim-
pang untuk memeriksanya, berserulah Tuhan dari tengah-tengah semak duri
itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” 5 Lalu Ia berfir-
man: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu,
sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, yaitu tanah yang kudus.” 6 Lagi
Ia berfirman: “Akulah Tuhan ayahmu, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak dan Tuhan
Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.
Masa kehidupan Musa dibagi secara menakjubkan di dalam tiga
kurun waktu yang masing-masing terdiri atas empat puluh tahun.
Kurun waktu pertama dilaluinya sebagai seorang pangeran di istana
Firaun. Yang kurun waktu empat puluh tahun kedua dijalaninya
sebagai seorang gembala di Midian, sedang yang ketiga sebagai
raja di Yesyurun. Kehidupan manusia begitu sering berubah,
terutama kehidupan orang-orang baik. Sekarang Musa telah melewati
masa empat puluh tahun kedua saat menerima pengutusan untuk
membawa umat Israel keluar dari Mesir. Perhatikanlah, adakalanya
dibutuhkan waktu yang lama sebelum Tuhan memanggil hamba-
hamba-Nya untuk melaksanakan tugas yang sudah dirancang-Nya
sejak lama, dan yang telah dipersiapkannya dengan penuh rahmat
bagi mereka. Musa dilahirkan untuk menjadi penyelamat bangsa
Israel, namun tidak sepatah kata pun disebut-sebut mengenai ini
sampai ia sudah berumur delapan puluh tahun. Sekarang amatilah,
I. Bagaimana penampakan Tuhan kepadanya itu terjadi pada saat
Musa sedang bekerja. Dia sedang menggembalakan domba di
dekat gunung Horeb (ay. 1). Bagi seseorang dengan kemampuan
serta pendidikan seperti dia, ini merupakan pekerjaan yang hina.
Namun, ia senang melakukannya, sehingga dengan demikian be-
lajar bersikap penuh kelembutan dan kepuasan. Berkat sikap ini-
Kitab Keluaran 3:1-6
lah ia lebih terkenal dalam tulisan suci dibandingkan pengetahu-
annya yang lain. Perhatikanlah,
1. Panggilan yang menjadi bagian kita harus kita jalani terus,
dan tidak boleh berubah-ubah.
2. Bahkan orang-orang yang memenuhi syarat untuk melaksana-
kan pekerjaan dan pelayanan besar pun, janganlah merasa
aneh jika mereka terkurung tanpa dikenal. Bagi banyak
orang, tampaknya sudah menjadi nasib Musa, bahwa sesudah
menjalani hidup beberapa waktu, ia akan mati sebagai seorang
gembala miskin yang hina. Hendaklah mereka yang menyang-
ka diri telah terkubur hidup-hidup, merasa puas untuk ber-
sinar bagaikan pelita di dalam kubur mereka, dan menanti
sampai tiba saatnya Tuhan menempatkan mereka di atas kaki
dian. Itulah yang dikerjakan Musa saat menerima penghor-
matan melihat penampakan ini. Perhatikanlah,
(1) Tuhan mendorong orang agar bekerja dengan giat. Para gem-
bala sedang menjaga kawanan domba saat mereka mene-
rima berita tentang kelahiran Juruselamat kita (Luk. 2:8).
Iblis sangat suka melihat kita bermalas-malasan. Tuhan
sangat senang jika mendapati kita sedang bekerja.
(2) Menyendiri sangat baik bagi kita untuk bersekutu dengan
Allah. Pada waktu kita sedang sendirian, Bapa hadir ber-
sama kita. Musa lebih sering melihat Tuhan di padang gurun
dibandingkan dengan saat ia berada di istana Firaun.
II. Seperti apa bentuk penampakan itu. Musa sangat heran saat me-
lihat semak duri yang menyala-nyala. Padahal tidak ada api, baik
dari bumi maupun langit, yang telah menyulutnya. Yang lebih
aneh lagi, semak itu tidak hangus terbakar (ay. 2). Seorang Malai-
kat TUHAN-lah yang menampakkan diri kepadanya itu. Ada yang
berpendapat malaikat itu yaitu seorang malaikat ciptaan yang
berbicara kepadanya dalam bahasa Dia yang telah mengutusnya.
Ada pula yang berpendapat Ia yaitu Pribadi kedua, Malaikat
Perjanjian, atau Yehovah sendiri. Ini sungguh merupakan penya-
taan luar biasa dari hadirat dan kemuliaan ilahi. Yang terlihat
oleh Musa itu terjadi sebab pelayanan seorang malaikat,namun ia
mendengar Tuhan berbicara kepadanya dari dalam semak itu.
1. Musa melihat nyala api, Sebab Tuhan kita yaitu api yang meng-
hanguskan. saat pembebasan Israel dari Mesir dijanjikan
kepada Abraham, ia melihat suluh yang berapi, yang menanda-
kan terang sukacita yang diakibatkan penyelamatan itu sendiri
(Kej. 15:17).namun , sekarang cahaya itu bersinar lebih terang,
bagaikan nyala api, sebab dalam pembebasan itu, Tuhan mem-
bawa ketakutan dan kehancuran kepada musuh-musuh-Nya,
terang dan kehangatan kepada umat-Nya, serta memperlihat-
kan kemuliaan-Nya di hadapan semua orang (Yes. 10:17).
2. Api yang dilihat Musa itu tidak menyala di pohon besar yang
kokoh,namun di semak, semak berduri, demikian arti sebenar-
nya. Sebab, Tuhan memilih apa yang lemah dan dihina dunia
(seperti halnya Musa yang sekarang ini hanyalah seorang
gembala miskin). Bersama mereka, Ia mempermalukan orang
berhikmat. Ia suka untuk menghiasi dan memahkotai orang
yang rendah hati.
3. Semak duri itu menyala,namun tidak dimakan api. Ini merupa-
kan lambang jemaat yang sekarang sedang diperhamba di
Mesir, yang dibakar dalam dapur pembakaran batu bata, na-
mun tidak dimakan api. Telah habis akal, namun tidak putus
asa. Terempas, namun tidak hancur.
III. Rasa heran Musa yang membuatnya ingin menyelidiki penampak-
an luar biasa ini: Baiklah aku menyimpang ke sana untuk meme-
riksa (ay. 3). Ia bicara seperti orang yang ingin tahu dan berani
dalam mencari tahu. Apa pun penampakan itu, jika mungkin, ia
hendak mengetahui artinya. Perhatikanlah, hal-hal yang diung-
kapkan kepada kita menjadi milik kita, jadi kita harus menye-
lidikinya dengan tekun.
IV. Ajakan kepadanya untuk mendekat, namun dengan peringatan
agar tidak datang terlampau dekat ataupun dengan gegabah.
1. Tuhan memberinya sebuah panggilan yang penuh rahmat, yang
segera dijawabnya dengan kesiapan penuh (ay. 4). saat meli-
hat Musa memperhatikan semak duri menyala itu dan men-
dekat untuk memeriksanya dengan meninggalkan tugas, Tuhan
pun memanggilnya. Seandainya saja ia meremehkan begitu
saja penampakan itu sebagai sebuah ignis fatuus – yang mirip-
mirip meteor, sesuatu yang tidak pantas diperhatikan, maka
Kitab Keluaran 3:1-6
mungkin saja Tuhan akan meninggalkan tempat itu dan tidak
berkata apa pun kepadanya. Namun, saat Musa berpaling
dan memandang semak itu, Tuhan pun memanggilnya. Perhati-
kanlah, orang-orang yang ingin bersekutu dengan Tuhan harus-
lah menaruh perhatian dengan sungguh-sungguh kepada-Nya
dan menghampiri-Nya, yaitu dengan melaksanakan semua
ketetapan yang di dalamnya Ia berkenan menyatakan diri ser-
ta kuasa dan kemuliaan-Nya, meskipun dalam semak duri
sekalipun. Mereka harus datang kepada harta yang sangat
berharga itu, meskipun hanya dalam bentuk bejana tanah liat
belaka. Orang-orang yang mencari Tuhan dengan tekun akan
mendapati-Nya, menemukan-Nya sebagai pemberi pahala yang
murah hati. Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat
kepadamu. Tuhan memanggil dia dengan namanya, Musa,
Musa! Suara yang didengarnya itu tidak bisa tidak membuat
dia lebih terkejut dari pada apa yang dilihatnya. Firman Tuhan
senantiasa disertai kemuliaan Tuhan, sebab setiap penglihat-
an ilahi dirancang bagi penyataan ilahi (Ayb. 4:16, dst.; 32:14-
15). Panggilan ilahi baru membawa hasil,
(1) saat Roh Tuhan menjadikannya khusus tertuju kepada kita
dan memanggil kita dengan nama kita. Firman-Nya me-
manggil, Hai, setiap orang! lalu Roh, dengan menjalan-
kan firman itu, memanggil, Hai kamu ini dan itu! Aku menge-
nal namamu (Kel. 33:12).
(2) saat kita menjawab panggilan-Nya itu dengan patuh se-
perti yang diperbuat Musa di sini, “Ya, Allah. Apakah yang
akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini? Ini aku,
tidak hanya mendengar apa yang dikatakan, melainkan
juga melakukan apa yang disuruhkan kepadaku.”
2. Tuhan memperingatkan Musa agar tidak bersikap gegabah dan
kurang sopan dalam mendekat-Nya.
(1) Musa harus menjaga jarak. Ia boleh datang mendekat, te-
tapi tidak terlampau dekat. Cukup dekat untuk bisa men-
dengar,namun tidak begitu dekat seperti hendak mencam-
puri urusan orang lain. Hati nuraninya memang perlu
dipuaskan,namun bukan rasa ingin tahunya. Keakraban
perlu dijaga supaya tidak memicu tindakan meng-
hina. Perhatikanlah, setiap kali menghampiri Allah, hati
kita sepatutnya merasakan dengan sedalam-dalamnya be-
tapa ada jarak tak terbatas di antara kita dan Tuhan (Pkh.
5:2). Atau, apa yang terjadi di sini bisa dianggap sebagai
sikap yang sesuai dengan tata aturan Perjanjian Lama,
yang merupakan tata aturan yang penuh dengan kegelap-
an, perhambaan, dan ketakutan. Injil membebaskan kita
dari semua hal ini, sehingga kita dapat dengan berani
memasuki ruang mahakudus, dan mengundang kita agar
datang mendekat.
(2) Musa harus menunjukkan rasa hormat dan kesediaannya
untuk patuh: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebagai-
mana layaknya seorang hamba. Pada masa itu, menanggal-
kan kasut serupa dengan kebiasaan melepas topi pada
masyarakat Inggris pada zaman dahulu, sebagai tanda
sikap hormat dan tunduk. “Tanah ini merupakan tanah
yang kudus, menjadi demikian sebab ada hadirat ilahi
secara khusus sekarang ini. Selama ada hadirat ilahi, ku-
duslah tempat ini. Oleh sebab itu, janganlah menginjaknya
dengan kasut yang kotor.” Jagalah langkahmu (Pkh. 5:1).
Perhatikanlah, kita perlu menghampiri Tuhan dengan lang-
kah yang khidmat disertai persiapan hati. Meskipun latih-
an tubuh jasmani memang sedikit saja manfaatnya, namun
kita juga harus memuliakan Tuhan dengan tubuh kita dan
mengutarakan rasa hormat yang keluar dari hati dengan
perilaku sungguh-sungguh dan penuh hormat dalam me-
nyembah Allah. Dengan hati-hati kita perlu menghindarkan
sikap yang seenak-enaknya, kasar, dan tidak pantas untuk
beribadah.
V. Pernyataan khidmat yang disampaikan Tuhan akan nama-Nya.
Dengan nama ini Ia dapat dikenali oleh Musa: Akulah Tuhan ayah-
mu (ay. 6).
1. Ia memberitahu Musa bahwa Tuhan sendirilah yang sedang ber-
bicara kepadanya, agar Musa bersikap hormat dan memper-
hatikan. Hal ini juga untuk membangkitkan iman dan ketaat-
annya. Perkataan Tuhan ini sudah cukup untuk menyatakan:
Akulah TUHAN. Kiranya kita senantiasa mendengar perkataan-
Nya sebagai firman Tuhan (1Tes. 2:13).
Kitab Keluaran 3:1-6
2. Ia akan dikenal sebagai Tuhan ayahnya, Amram yang saleh, dan
Tuhan Abraham, Ishak, dan Yakub, bapa-bapa leluhurnya serta
bapa leluhur seluruh bangsa Israel, bagi siapa Tuhan sekarang
akan menyatakan diri. Melalui hal ini, Tuhan berencana,
(1) Mengajar Musa tentang pengetahuan dunia lain dan me-
nguatkan kepercayaannya akan keadaan mendatang.
Demikianlah yang diartikan oleh Tuhan Yesus, Sang Penaf-
sir Kitab Suci yang terbaik, yang dari perkataan Tuhan ini
membuktikan bahwa orang mati dibangkitkan, saat Ia
melawan orang Saduki. Musa, kata Tuhan Yesus, telah
memberitahukannya dalam nas tentang semak duri (Luk.
20:37). Maksudnya, Tuhan menunjukkan kepada Musa, dan
melalui dia kepada kita (Mat. 22:31, dst.), bahwa Abraham
sudah mati, namun Tuhan tetaplah Tuhan Abraham sampai
sekarang. Itulah sebabnya jiwa Abraham tetap hidup, dan
Tuhan tetap memiliki hubungan dengan dia. Dan, agar jiwa
Abraham berbahagia sepenuhnya, maka tubuhnya harus
hidup lagi pada waktunya nanti. Janji kepada bapa-bapa
leluhur bahwa Tuhan akan menjadi Tuhan mereka, pastilah
mencakup juga kebahagiaan pada masa mendatang, kare-
na selama mereka hidup di dunia ini, Ia tidak memberi
mereka jawaban yang lengkap untuk memahami luasnya
perkataan janji-Nya itu. Namun, Tuhan sudah menyiapkan
sebuah kota bagi mereka, sehingga Ia tidak malu disebut
sebagai Tuhan mereka (Ibr. 11:16; Kis. 26:6-7; 24:15).
(2) Meyakinkan Musa akan penggenapan semua janji yang telah
diberikan kepada para bapa leluhur. Musa boleh yakin sepe-
nuhnya dalam menantikan penggenapan janji-janji ini, se-
bab melalui kata-kata ini, tampak jelas bahwa Tuhan meng-
ingat perjanjian yang telah dibuat-Nya (2:24). Perhatikanlah,
[1] Perjanjian yang dibuat Tuhan dengan kita bahwa Dia
menjadi Tuhan kita sangatlah mendukung kita di tengah
masa-masa yang paling sulit, dan juga menjadi dorong-
an luar biasa bagi iman kita dalam mempercayai suatu
janji-Nya.
[2] saat kita menyadari sendiri betapa besar ketidakla-
yakan kita, maka kita dapat menerima penghiburan
dari hubungan Tuhan dengan para bapa leluhur kita
(2Taw. 20:6).
VI. Kesan khidmat yang diakibatkan atas Musa: ia menutupi muka-
nya, malu dan takut memandang Allah. sesudah ia tahu bahwa
nyala api itu merupakan terang ilahi, matanya silau oleh sebab -
nya. Ia tidak merasa takut melihat semak duri yang menyala itu,
sampai ia paham bahwa Tuhan berada di dalamnya. Namun,
meskipun Tuhan telah menyebut diri sebagai Tuhan ayahnya, dan
Tuhan di dalam perjanjian dengannya, Musa tetap takut. Perhati-
kanlah,
1. Semakin kita melihat Allah, semakin besar pula kita terdorong
untuk menyembah Dia dengan rasa hormat dan takut yang
saleh.
2. Bahkan penyataan kasih karunia dan perjanjian Tuhan dengan
kita bahwa Dia mengasihi kita, sudah seharusnya meningkat-
kan rasa hormat kita disertai kerendahan hati kepada-Nya.
Belas Kasihan Tuhan terhadap Umat Israel
(3:7-10)
7 Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh keseng-
saraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka
yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui
penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka
dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke
suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu
dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris,
orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai
kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas
mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun
untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.”
sesudah Musa menanggalkan kasutnya (tidak diragukan lagi bahwa ia
memperhatikan perintah yang diberikan kepadanya [ay. 5]), dan me-
nutupi mukanya, Tuhan pun mulai menyatakan urusan khusus yang
harus dilaksanakan sekarang, yakni membawa Israel keluar dari
Mesir. Sekarang, sesudah empat puluh tahun Israel berada dalam per-
hambaan dan Musa berada dalam pengasingan, saat kita mungkin
menduga dia dan orang-orang Israel mulai berputus asa tidak akan
bisa dibebaskan dan Musa juga tidak bisa membebaskan mereka,
namun sekarang tibalah juga waktunya mereka dibebaskan, yaitu
Kitab Keluaran 3:7-10
tahun pembebasan mereka. Perhatikanlah, Tuhan sering kali datang
menyelamatkan umat-Nya saat mereka sudah selesai mencari-Nya.
Adakah Ia mendapati iman? (Luk. 18:8). Di sini kita melihat,
I. Perhatian Tuhan terhadap penderitaan Israel (ay. 7, 9). Bukan saja
telah Kulihat, telah memperhatikan dengan sungguh,namun juga
Aku telah mengamati dan mempertimbangkan persoalan ini de-
ngan cermat. ada tiga hal yang diperhatikan Allah:
1. Kesengsaraan mereka (ay. 7). Ada kemungkinan bahwa me-
reka tidak diizinkan menyampaikan keluhan tentang kesusah-
an mereka kepada Firaun, atau mencari pertolongan atas per-
lakuan para pengawas rodi di istananya. Boleh jadi mereka
nyaris tidak berani saling menyampaikan keluhan. Namun,
Tuhan memperhatikan air mata mereka. Perhatikanlah, bahkan
dukacita umat Tuhan yang paling tersembunyi pun diketahui
oleh-Nya.
2. Seruan mereka: Aku telah mendengar seruan mereka (ay. 7),
seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku (ay. 9). Perhati-
kanlah, Tuhan tidak menutup telinga terhadap seruan umat-
Nya yang sedang menderita.
3. Kelaliman para penganiaya mereka: telah Kulihat, betapa ke-
rasnya orang Mesir menindas mereka (ay. 9). Perhatikanlah,
sama seperti orang-orang tertindas yang paling malang pun
tidak lepas dari perhatian Allah, demikian pula para penindas
mereka yang paling terhormat pun tidak lepas dari pengamat-
an-Nya. Ia pasti akan datang untuk menangani hal-hal ini.
II. Janji yang dibuat Tuhan untuk segera membebaskan dan melega-
kan mereka: Aku telah turun untuk melepaskan mereka (ay. 8).
1. Ini menandakan tekad-Nya untuk membebaskan mereka, dan
bahwa Ia berketetapan hati melaksanakannya, sehingga hal
itu harus segera dikerjakan sampai tuntas, dan dengan cara-
cara pemeliharaan yang tidak lazim. saat Tuhan melakukan
sesuatu yang sangat tidak biasa, Ia dikatakan turun untuk
melaksanakannya (Yes. 64:1).
2. Pembebasan ini merupakan perlambang dari penyelamatan kita
oleh Kristus, yang di dalamnya Firman yang kekal itu benar-
benar turun dari sorga untuk menyelamatkan kita. Itulah tugas
yang diemban-Nya dengan datang ke dalam dunia. Ia juga
berjanji bahwa mereka akan menetap dengan bahagia di tanah
Kanaan, bahwa mereka akan menggantikan perhambaan de-
ngan kebebasan, kemiskinan dengan kelimpahan, kerja keras
dengan istirahat, serta perlakuan semena-mena para penindas
yang membahayakan mereka dengan ketenteraman dan kehor-
matan dari para tuan tanah. Perhatikanlah, orang-orang yang
melalui kasih karunia-Nya dibebaskan Tuhan dari Mesir rohani,
akan dibawa-Nya menuju Kanaan sorgawi.
III. Tugas yang diberikan-Nya kepada Musa (ay. 10). Musa tidak saja
diutus sebagai nabi kepada Israel, untuk meyakinkan mereka
bahwa mereka akan segera dibebaskan (bahkan ini pun merupa-
kan kemurahan hati yang luar biasa),namun juga dikirim kepada
Firaun sebagai utusan, untuk berurusan dengannya. Atau lebih
tepat lagi, sebagai bentara yang siap menghadapi dia untuk
menuntut agar umat Israel dilepaskan, dan menyatakan perang
jika tuntutan ini ditolak. Selain itu, Musa juga diutus sebagai
pemimpin bagi Israel yang akan memimpin dan memerintah
mereka. Demikianlah ia dibawa dari tempat domba-domba yang
menyusui, kepada tugas penggembalaan yang lebih mulia, seperti
halnya Daud (Mzm. 78:71). Perhatikanlah, Tuhan merupakan
sumber kuasa, sedang segala kekuasaan yang ada, diberikan
oleh-Nya sesuai kehendak-Nya. Tangan yang sama yang telah
mengangkat seorang gembala dari padang gurun untuk menjadi
penegak jemaat Yahudi, di lalu hari juga mengangkat para
nelayan dari perahu-perahu mereka untuk menjadi pendiri jemaat
Kristen, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu
berasal dari Allah.
Musa Diberi Petunjuk
(3:11-15)
11namun Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan
menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” 12 Lalu
firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu,
bahwa Aku yang mengutus engkau: jika engkau telah membawa bangsa
itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Tuhan di gunung
ini.” 13 Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi jika aku mendapatkan
orang Israel dan berkata kepada mereka: Tuhan nenek moyangmu telah meng-
utus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang
Kitab Keluaran 3:11-15
nama-Nya? – apakah yang harus kujawab kepada mereka?” 14 Firman Tuhan
kepada Musa: “AKU yaitu AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan
kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
15 Selanjutnya berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Beginilah kaukatakan
kepada orang Israel: TUHAN, Tuhan nenek moyangmu, Tuhan Abraham, Tuhan
Ishak dan Tuhan Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku
untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.
sesudah berbicara kepada Musa, Tuhan juga memberinya kebebasan
untuk berbicara, yang dimanfaatkannya di sini. Dan,
I. Musa menyampaikan keberatannya, bahwa ia tidak punya ke-
mampuan untuk mengerjakan pelayanan yang menjadi panggil-
annya itu (ay. 11). Siapakah aku ini? Ia menganggap dirinya tidak
layak menerima kehormatan itu, dan tidak par negotio – tidak
pantas melaksanakan tugas itu. Menurutnya, ia tidak memiliki
keberanian, dan oleh sebab itu tidak dapat menghadap Firaun
guna mengajukan tuntutan yang bisa saja merenggut kepalanya.
Ia berpendapat tidak memiliki keterampilan, dan oleh sebab itu
tidak akan mampu membawa umat Israel keluar dari Mesir.
Orang-orang ini tidak bersenjata, sulit diatur, tawar hati, dan
sama sekali tidak mampu menolong diri sendiri. Secara moral,
sungguh mustahil membawa mereka keluar.
1. Musa sebenarnya tidak tertandingi, dan dibandingkan dengan
siapa pun, ia paling pantas melaksanakan tugas ini. Ia unggul
di bidang pengetahuan, hikmat, pengalaman, keberanian,
iman, dan kekudusan. Meskipun demikian, ia berkata, Siapa-
kah aku ini? Perhatikanlah, semakin layak seseorang bagi
suatu pelayanan, biasanya ia justru semakin tidak menilai
tinggi diri sendiri (Hak. 9:8, dst.).
2. Kesulitan yang akan ditemui dalam pelaksanaan tugas itu me-
mang sangat besar, dan cukup untuk bisa menciutkan kebe-
ranian dan menggoyahkan iman Musa. Perhatikanlah, bahkan
alat-alat Tuhan yang paling bijaksana dan setia sekalipun,
bisa saja berkecil hati melihat kesukaran-kesukaran yang me-
ngadang di jalan keselamatan jemaat.
3. Sebelum itu, Musa penuh dengan keberanian saat membunuh
orang Mesir,namun sekarang semangatnya surut, sebab orang-
orang baik memang tidak selalu berani dan bersemangat.
4. Walaupun demikian, Musa-lah orang yang akhirnya melaku-
kan tugas itu, sebab Tuhan memberi kasih karunia-Nya
kepada orang-orang yang merendah. Sesuatu yang diawali de-
ngan kerendahan hati merupakan pertanda yang sangat baik.
II. Tuhan menjawab keberatan hatinya ini (ay. 12).
1. Ia menjanjikan penyertaan-Nya kepada Musa: Bukankah Aku
akan menyertai engkau? Ini sudah cukup. Perhatikanlah,
orang-orang yang lemah bisa saja melakukan banyak keajaib-
an, saat mereka kuat di dalam Tuhan dan memiliki kekuat-
an kuasa-Nya. Orang-orang yang paling merasa malu akan
keadaan sendiri, bisa saja paling merasa yakin di dalam Allah.
Kehadiran Tuhan mendatangkan kehormatan ke atas diri orang-
orang hina, memberi hikmat dan kekuatan kepada mereka
yang lemah dan bodoh, dan mengubah kesukaran-kesukaran
terbesar menjadi hal yang tidak berarti, serta cukup untuk
membungkam segala keberatan hati.
2. Ia menjanjikan keberhasilan kepada Musa, dan bahwa umat
Israel akan menyembah Tuhan di gunung ini. Perhatikanlah,
(1) Pembebasan yang paling berharga yaitu yang membuka
jalan kebebasan untuk melayani Allah.
(2) saat Tuhan memberi kita kesempatan dan hati untuk me-
layani-Nya, maka itu merupakan pertanda baik akan ber-
bagai kemurahan selanjutnya yang akan diberikan oleh-
Nya kepada kita.
III. Musa memohon diberi petunjuk agar mampu melaksanakan pe-
nugasan itu, dan ia memperolehnya sepenuhnya untuk memper-
lengkapi dirinya. Ia ingin tahu dengan nama apa Tuhan akan mem-
perkenalkan diri-Nya pada saat itu (ay. 13).
1. Musa memperkirakan bahwa umat Israel akan bertanya ke-
padanya, Bagaimana tentang nama-Nya? Mereka akan mena-
nyakan ini,
(1) Untuk membuat bingung Musa: ia sudah memperkirakan
terlebih dulu akan adanya kesulitan, tidak saja dalam ber-
urusan dengan Firaun agar ia rela berpisah dengan orang
Israel,namun juga dengan orang Israel agar mereka mau
pindah dari sana. Orang Israel akan bersikap sangat hati-
hati dan cenderung mempersoalkan hal-hal kecil dan me-
mintanya menjelaskan penugasannya. Boleh jadi pertanya-
Kitab Keluaran 3:11-15
51
an inilah yang akan mereka ajukan untuk mengujinya, “Apa-
kah ia tahu nama Allah? Apakah ia memiliki kata kunci-
nya?” Orang pernah bertanya kepadanya, Siapakah yang
mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim? Waktu
itu dia belum bisa menjawabnya, dan sekarang ia tidak ingin
dibingungkan seperti itu lagi. Ia mau agar mampu mengata-
kan dalam nama siapa ia datang. Atau,
(2) Demi kejelasan bagi diri mereka sendiri. Patut dikhawatir-
kan bahwa di Mesir mereka telah menjadi sangat acuh tak
acuh oleh sebab perhambaan yang menindas mereka, tidak
adanya pengajar, dan terhentinya pelaksanaan hari Sabat.
Oleh sebab itu mereka perlu diberi tahu perihal asas-asas
pertama tentang sabda Allah. Atau, pertanyaan Bagaimana
tentang nama-Nya? juga mempertanyakan sifat dari tata
pemerintahan yang sekarang dapat mereka harapkan:
“Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan dalam masa itu, dan
apa yang dapat kita andalkan dari-Nya?”
2. Musa menginginkan petunjuk tentang jawaban apa yang bisa
diberikannya kepada mereka: “Apakah yang harus kujawab
kepada mereka? Nama apa yang dapat kujadikan jaminan bagi
mereka sebagai bukti kewenanganku? Aku harus punya
sesuatu yang hebat dan luar biasa untuk aku katakan kepada
mereka. Jika aku harus pergi, berilah aku petunjuk lengkap,
supaya aku tidak pergi dengan sia-sia.” Perhatikanlah,
(1) Bagi orang-orang yang hendak berbicara kepada orang ba-
nyak di dalam nama Allah, sangatlah penting untuk mem-
persiapkan diri dengan baik terlebih dahulu.
(2) Orang-orang yang ingin mengetahui apa yang harus
dikatakan, harus datang kepada Allah, kepada firman
kasih karunia-Nya, dan kepada takhta anugerah-Nya guna
memperoleh petunjuk (Yeh. 2:7; 3:4, 10, 17).
(3) Setiap kali kita hendak melakukan apa pun bersama Allah,
patutlah bagi kita, dan memang sudah merupakan kewajib-
an kita, untuk mengetahui nama-Nya.
IV. Tuhan segera memberinya petunjuk lengkap dalam hal ini. Ada dua
nama yang dengannya Tuhan bisa dikenal,
52
1. Nama yang menandakan siapa Dia sebenarnya (ay. 14): AKU
yaitu AKU. Ini menjelaskan bahwa nama-Nya yaitu
Yehova, dan menandakan,
(1) Bahwa Ia ada dari diri-Nya sendirinya. Keberadaan-Nya
berasal dari diri-Nya sendiri, dan tidak bergantung pada
hal lain apa pun. Manusia terhebat dan paling baik harus
berkata, sebab kasih karunia Tuhan aku yaitu sebagai-
mana aku ada.namun hanya Tuhan saja yang dapat berkata
dengan mutlak, lebih dari makhluk ciptaan apa pun, baik
manusia maupun malaikat, bahwa AKU yaitu AKU.
sebab Dia ada oleh diri-Nya sendirinya, maka Ia tidak bisa
tidak juga Maha Mencukupi oleh diri-Nya sendiri, dan oleh
sebab itu Maha Mencukupkan serta merupakan sumber
dari keberadaan dan kebahagiaan yang tiada habisnya.
(2) Bahwa Ia kekal dan tidak dapat berubah, dan selalu sama,
baik kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya. Ia ada-
lah yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang.
Seperti adanya Ia sekarang, seperti itulah Ia nantinya (Why.
1:8).
(3) Bahwa kita tidak mampu menemukan-Nya dengan jalan
mencari. Nama ini menegur semua pertanyaan berani dan
penuh rasa ingin tahu yang hendak bertanya-tanya perihal
Allah. Nama ini pada dasarnya berkata, janganlah mena-
nyakan nama-Ku. Bukankah nama itu ajaib? (Hak. 13:18;
Ams. 30:4). Apakah kita menanyakan Tuhan itu seperti apa?
Cukuplah jika kita tahu bahwa Ia yaitu sebagaimana
Ia ada, sekarang, dahulu, dan sampai selamanya. Betapa
lembutnya bisikan yang kita dengar dari pada-Nya! (Ayb.
26:14).
(4) Bahwa Ia setia dan menepati semua janji-Nya, tidak ber-
ubah, baik dalam perkataan maupun sifat-Nya. Dia bukan-
lah manusia yang dapat berdusta. Biarlah Israel tahu
bahwa AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.
2. Nama yang menyatakan siapa Dia bagi umat-Nya. Kalau-kalau
nama Aku yaitu membuat mereka heran dan bingung, Musa
selanjutnya diarahkan untuk memakai nama lain dari
Tuhan yang lebih dikenal dan bisa dimengerti: TUHAN, Tuhan
nenek moyangmu, telah mengutus aku kepadamu (ay. 15).
Kitab Keluaran 3:16-22
53
Dengan cara itulah Tuhan telah memperkenalkan diri-Nya
kepada Musa sebelumnya (ay. 6), jadi seperti itu jugalah Musa
harus memperkenalkan Dia kepada mereka.
(1) Supaya ia dapat menghidupkan kembali agama nenek mo-
yang mereka di antara mereka, yang dikhawatirkan telah
sangat terlupakan dan nyaris musnah. Hal ini diperlukan
guna mempersiapkan mereka menerima pembebasan
(Mzm. 80:20).
(2) Supaya ia dapat membangkitkan pengharapan mereka ten-
tang terlaksananya dengan segera janji-janji kepada nenek
moyang mereka. Nama Abraham, Ishak, dan Yakub ter-
utama disebutkan, sebab dengan Abraham-lah perjanjian
itu pertama dibuat, acap kali diperbarui dengan Ishak dan
Yakub. Ketiga tokoh ini sering kali dibedakan dari saudara-
saudara mereka, dan dipilih untuk menjadi wali perjanjian
itu, saat saudara-saudara mereka yang lain ditolak. Tuhan
ingin agar nama ini menjadi milik-Nya selamanya, baik
dahulu, sekarang, maupun pada masa akan datang. Mela-
lui nama itu, mereka yang menyembah-Nya mengenal Dia,
dan dapat membedakan-Nya dari semua Tuhan palsu (1Raj.
18:36). Perhatikanlah, hubungan Tuhan dengan umat-Nya
berdasar perjanjian itu akan senantiasa diingat-Nya,
membuat-Nya selalu bangga, dan Ia mau agar kita selalu
mengingatnya. Ia ingin agar kita memuliakan Dia sebab
perjanjian itu. Jika Ia ingin agar seluruh angkatan men-
jadikan hal ini sebagai peringatan akan diri-Nya, maka di
dunia ini kita juga memiliki alasan untuk berbuat sama,
sebab ini merupakan peringatan yang sangat berharga.
Musa Diberi Petunjuk
(3:16-22)
16 Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada mere-
ka: TUHAN, Tuhan nenek moyangmu, Tuhan Abraham, Ishak dan Yakub, telah
menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sudah mengindahkan
kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir. 17 Jadi Aku telah berfir-
man: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju
ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan
orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
18 Dan bilamana mereka mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus
beserta para tua-tua Israel pergi kepada raja Mesir, dan kamu harus berkata
54
kepadanya: TUHAN, Tuhan orang Ibrani, telah menemui kami; oleh sebab itu,
izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya
untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Tuhan kami. 19namun Aku
tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa
oleh tangan yang kuat. 20namun Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan
memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan
di tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi. 21 Dan
Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehing-
ga, jika kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa, 22namun
tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan
yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain,
yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan;
demikianlah kamu akan merampasi orang Mesir itu.”
Di sini Musa menerima pengarahan yang lebih terperinci dalam me-
laksanakan tugasnya, dan diberi tahu sebelumnya perihal keber-
hasilan yang akan diraihnya.
1. Ia harus berurusan dengan para tua-tua Israel, dan membangkit-
kan pengharapan mereka akan keberangkatan ke Kanaan dalam
waktu dekat (ay. 16-17). Musa harus mengulang perkataan Tuhan
kepadanya di hadapan mereka, layaknya utusan yang setia.
Perhatikanlah, apa yang telah diterima para hamba Tuhan dari
Tuhan, harus mereka sampaikan kepada umat-Nya, dan tidak
boleh menahan apa pun yang menguntungkan bagi mereka.
Tekankanlah hal itu (ay. 17), “Aku telah berfirman: Aku akan
menuntun kamu. Itu sudah cukup untuk memuaskan mereka.
Aku telah berfirman.” Apa yang telah diucapkan-Nya, bukankah Ia
akan melaksanakannya juga? Bagi kita, mengatakan dan melaku-
kan merupakan dua hal yang berbeda, namun tidak begitu halnya
dengan Allah, sebab Ia sehati dan sepikir, dan siapa gerangan
yang mampu mengubah pikiran-Nya? “Aku telah berfirman, dan
seluruh dunia tidak dapat menentangnya. Putusan kehendak-Ku
akan tetap bertahan.” Musa akan berhasil menangani para tua-
tua, begitulah yang diberitahukan kepadanya (ay. 18). Mereka
mendengarkan perkataanmu, dan tidak akan mengusirmu seperti
yang telah mereka lakukan empat puluh tahun silam. Tuhan yang
melalui kasih karunia-Nya mampu menggerakkan hati dan mem-
buka telinga orang, dapat mengatakan jauh sebelumnya, Mereka
mendengarkan perkataanmu, sebab Ia telah memutuskan untuk
membuat mereka mau menurut dalam masa yang penuh kuasa
ini.
2. Musa harus berurusan dengan raja Mesir (ay. 18), dan juga para
tua-tua Israel. Dalam hal ini mereka tidak boleh mengawali
Kitab Keluaran 3:16-22
55
dengan mengajukan tuntutan,namun dengan permohonan penuh
kerendahan hati. Cara yang lembut dan bersikap patuh harus di-
coba terlebih dulu, bahkan terhadap orang yang sudah pasti tidak
akan tergerak hatinya. Izinkanlah kiranya kami pergi. Selain itu,
mereka hanya boleh meminta izin Firaun untuk pergi ke gunung
Sinai guna menyembah Allah, dan tidak berkata apa pun perihal
pergi ke Kanaan. Hal yang disebut belakangan ini pasti akan lang-
sung ditolak olehnya. Sebaliknya, yang disebut pertama tadi me-
rupakan permintaan yang sangat sederhana dan pantas. Penolak-
annya terhadap permintaan itu sangatlah tidak dapat dimaafkan,
dan membenarkan mereka untuk meninggalkan kerajaannya
sama sekali. jika Firaun tidak mengizinkan mereka pergi
mempersembahkan korban di Sinai, maka sudah sepantasnyalah
mereka pergi tanpa izin untuk menetap di Kanaan. Perhatikanlah,
panggilan dan perintah yang diberikan Tuhan kepada orang ber-
dosa sangatlah pantas dan disampaikan kepada mereka dengan
cara yang begitu lembut dan memukau, hingga mulut mereka
yang tidak taat perlu dibungkam selamanya. Mengenai keberhasil-
annya dalam menghadapi Firaun, di sini Musa diberi tahu,
(1) Bahwa permohonan, bujukan, dan bantahan penuh kerendah-
an hati tidak akan mampu meluluhkan hati Firaun, bahkan
oleh tangan kuat yang direntangkan dengan tanda-tanda he-
ran dan keajaiban sekalipun: Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak
akan membiarkan kamu pergi (ay. 19). Perhatikanlah, Tuhan
mengirimkan utusan-Nya kepada orang-orang yang sudah di-
ketahui-Nya keras dan degil hatinya supaya tampak bahwa Ia
ingin mereka berbalik dan hidup.
(2) Berbagai tulah akan menundukkan hati Firaun: Aku akan
mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir, dan sesudah itu
ia akan membiarkan kamu pergi (ay. 20). Perhatikanlah, Orang-
orang yang tidak mau tunduk kepada kuasa perkataan Allah,
pasti akan dipatahkan oleh kuasa tangan-Nya. Kita boleh yakin
bahwa bilamana Tuhan menghakimi, Ia akan menang.
(3) Bahwa rakyat Firaun akan bersikap lebih ramah kepada mere-
ka, dan akan membekali mereka dengan beberapa besar ba-
rang serta perhiasan emas dan perak, sehingga mereka men-
jadi kaya raya: Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati
(ay. 21-22). Perhatikanlah,
56
[1] Tuhan adakalanya tidak saja membuat musuh umat-Nya
berdamai dengan mereka,namun juga bermurah hati ter-
hadap mereka.
[2] Tuhan memiliki banyak cara untuk menciptakan keseim-
bangan di antara mereka yang teraniaya dan yang meng-
aniaya, membenarkan yang tertindas, dan memaksa mere-
ka yang bersalah memberi ganti rugi, sebab Ia duduk di
takhta sambil menghakimi dengan benar.
PASAL 4
Pasal ini,
I. Melanjutkan dan mengakhiri percakapan Tuhan dengan Musa
di semak belukar mengenai urusan yang sangat besar ini,
yaitu membawa bangsa Israel keluar dari Mesir.
1. Musa merasa keberatan dengan ketidakpercayaan bangsa
itu (ay. 1), dan Tuhan menjawab keberatan itu dengan
memberi kuasa membuat mujizat-mujizat kepadanya,
(1) Untuk mengubah tongkatnya menjadi seekor ular, dan
kembali menjadi sebatang tongkat lagi (ay. 2-5).
(2) Untuk membuat tangannya kena kusta, dan lalu
menjadi pulih kembali (ay. 6-8).
(3) Untuk mengubah air menjadi darah (ay. 9).
2. Musa merasa keberatan dengan kesulitannya sendiri di
dalam berbicara (ay. 10), dan mohon supaya dimaafkan
(ay. 13),namun Tuhan menjawab keberatan ini,
(1) Dengan menjanjikan penyertaan-Nya (ay. 11-12).
(2) Dengan mengikutsertakan Harun bersamanya dalam
tugas pengutusan ini (ay. 14-16).
(3) Dengan membubuhkan kemuliaan atas tongkat yang
sedang digenggamnya (ay. 17).
II. Musa mulai melaksanakan tugas pengutusannya.
1. Ia memperoleh izin dari ayah mertuanya untuk kembali
ke Mesir (ay. 18).
2. Ia menerima petunjuk-petunjuk lebih lanjut dan dorong-
an-dorongan dari Tuhan (ay. 19, 21-23).
3. Ia mempercepat keberangkatannya dan membawa serta
keluarganya pergi bersamanya (ay. 20)
58
4. Ia menjumpai beberapa kesulitan di tengah perjalanan
mengenai penyunatan anak laki-lakinya (ay. 24-26).
5. Ia merasa gembira dan puas atas perjumpaannya dengan
Harun, saudara laki-lakinya (ay. 27-28).
6. Ia menjelaskan tugas pengutusannya di hadapan semua
tua-tua Israel, dan mereka sangat bersukacita (ay. 29-31).
Dan dengan demikian roda-roda pembebasan yang agung
itu pun mulai dipasang dan bergulir maju.
Keberatan Musa Diatasi
(4:1-9)
1 Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan
tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menam-
pakkan diri kepadamu?“ 2 TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di
tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.” 3 Firman TUHAN: “Lemparkanlah itu
ke tanah.” Dan saat dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi
ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. 4namun firman TUHAN kepada
Musa: “Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya” – Musa mengulurkan
tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya 5 –
”supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Tuhan nenek moyang mereka, Tuhan
Abraham, Tuhan Ishak dan Tuhan Yakub telah menampakkan diri kepadamu.”
6 Lagi firman TUHAN kepadanya: “Masukkanlah tanganmu ke dalam baju-
mu.” Dimasukkannya tangannya ke dalam bajunya, dan sesudah ditariknya
ke luar, maka tangannya kena kusta, putih seperti salju. 7 Sesudah itu
firman-Nya: “Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu.” Musa
memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya dan sesudah ditariknya ke
luar, maka tangan itu pulih kembali seperti seluruh badannya. 8 “Jika mere-
ka tidak percaya kepadamu dan tidak mengindahkan tanda mujizat yang
pertama, maka mereka akan percaya kepada tanda mujizat yang kedua.
9 Dan jika mereka tidak juga percaya kepada kedua tanda mujizat ini dan
tidak mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus mengambil air dari
sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang
kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu.”
Sesungguhnya merupakan suatu kehormatan sangat besar bahwa
Musa dipanggil saat Tuhan mengutusnya untuk membawa bangsa
Israel keluar dari Mesir. Namun, dengan susah payah barulah ia ber-
hasil dibujuk untuk menerima penugasan ini. Dengan penuh keeng-
ganan akhirnya ia menerima penugasan ini. Ini sepertinya sebab
rasa tidak percaya dirinya yang penuh kerendahan hati dan rasa diri
tidak mampu, dan bukannya tidak percaya kepada Tuhan dan firman-
Nya serta kuasa-Nya. Perhatikanlah, orang-orang yang dirancang
oleh Tuhan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi dibungkus-Nya
dengan kerendahan hati. Yang paling layak untuk melayani yaitu
orang yang paling terkebelakang.
Kitab Keluaran 4:1-9
59
I. Musa merasa berat hati. Ia merasa bahwa sangatlah mungkin
orang-orang Israel tidak mau mendengarkan perkataannya (ay. 1).
Menurutnya, mereka tidak akan menerima perkataannya begitu
saja, kecuali ia dapat menunjukkan suatu tanda kepada mereka.
Keberatan hatinya ini tidak dapat dibenarkan, sebab hal itu
bertentangan dengan apa yang telah difirmankan Tuhan sebelum-
nya (3:18), Mereka akan mendengarkan perkataanmu (KJV). Jika
Tuhan berfirman, Mereka mau, patutkah Musa berkata, Mereka
tidak mau? Sepertinya ia tidak akan berkata demikian, jadi yang
ia maksudkan yaitu , “Mungkin pada mulanya mereka tidak
mau, atau ada sebagian dari mereka yang tidak mau.” Seandainya
di sana ada beberapa penentang di antara mereka yang akan
mempertanyakan pengutusannya, bagaimana seharusnya ia ber-
urusan dengan mereka? Dan dengan cara apa ia dapat meyakin-
kan mereka? Ia teringat bagaimana mereka pernah menolaknya,
dan ia merasa takut kalau-kalau hal itu akan terulang kembali.
Perhatikanlah,
1. Sering kali rasa tawar hati saat ini muncul akibat kekecewaan
di masa lalu.
2. Orang bijaksana dan baik kadang-kadang berpikiran buruk
mengenai orang lain, padahal tidak demikianlah adanya. Musa
berkata (ay. 1), Mereka tidak mau percaya kepadaku, namun
untungnya ia keliru, sebab dikatakan (ay. 31), Lalu percayalah
bangsa itu. saat itulah tanda-tanda yang ditetapkan Tuhan
untuk menjawab keberatan Musa ini dinyatakan terlebih da-
hulu di hadapan mereka.
II. Tuhan memberi kuasa kepada Musa untuk membuat mujizat, dan
secara khusus Tuhan menunjukkan tiga mujizat kepadanya, dua di
antaranya langsung dikerjakan untuk meyakinkan Musa sendiri.
Perhatikanlah, mujizat-mujizat yang sejati merupakan bukti
lahiriah yang paling meyakinkan untuk menguji kebenaran suatu
pengutusan ilahi. Itulah sebabnya Juruselamat kita sering menye-
but-nyebut tentang pekerjaan-pekerjaan-Nya (seperti Yoh. 5:36),
dan Nikodemus sendiri mengakui bahwa ia diyakinkan oleh tan-
da-tanda itu (Yoh. 3:2). Dan di sini Musa, yang diberi tugas khu-
sus sebagai seorang hakim dan pemberi hukum bagi bangsa Is-
rael, ditambahi dengan meterai ini dalam menjalankan tugas
60
pengutusannya. Dengan demikian ia didukung dengan bukti-buk-
ti yang dapat dipercaya ini.
1. Tongkat di tangan Musa dijadikan sebagai alat untuk meng-
adakan mujizat, yaitu sebuah mujizat ganda, hanya dengan di-
lemparkan ke tanah dan tongkat itu pun menjadi seekor ular.
Ia memegangnya kembali, dan ular itu pun berubah menjadi
tongkat kembali (ay. 2-4). Nah,
(1) Di sini ada kuasa ilahi yang diwujudkan di dalam perubah-
an itu sendiri, sehingga sebatang tongkat kering pun dapat
berubah menjadi seekor ular yang hidup, seekor ular yang
bisa bergerak. Bahkan, ular itu begitu menakutkan, berba-
lik mengancam Musa sendiri, sehingga Musa lari mening-
galkannya, meskipun kita dapat menduga di padang gurun
ular-ular tidaklah asing baginya. Memang apa yang dihasil-
kan secara ajaib selalu merupakan hal yang terbaik dan
besar pengaruhnya, seperti air berubah menjadi anggur.
Dan kita lihat juga, ular yang hidup itu lalu berubah
menjadi sebuah tongkat kering kembali. Hal ini tiada lain
merupakan perbuatan tangan TUHAN.
(2) Di sini suatu kehormatan itu diberikan kepada Musa, bah-
wa perubahan ini terjadi saat ia melemparkan tongkatnya
dan mengambilnya kembali, tanpa memakai kata-kata
mantra apa pun. Dengan diberinya kuasa seperti ini untuk
bertindak di bawah kuasa Allah, dengan cara yang ada di
luar cara kerja alam, maka hal ini memperlihatkan bahwa
Musa mendapat kekuasaan dari Tuhan untuk memulai sua-
tu masa penyelenggaraan baru dari kerajaan kasih karu-
nia. Pastilah Tuhan yang Mahabenar tidak akan melimpah-
kan kuasa seperti itu kepada seorang penipu.
(3) ada makna penting di dalam mujizat itu sendiri. Fir-
aun telah mengubah tongkat Israel menjadi seekor ular,
dengan menuduh orang Israel sebagai bangsa yang bahaya
(1:10), membuat perut mereka menempel di atas debu, dan
berusaha keras menghancurkan mereka.namun , sekarang
mereka akan berubah menjadi tongkat lagi. Atau, hingga
saat itu Firaun telah mengubah tongkat pemerintahan men-
jadi ular penindasan, sehingga mengakibatkan Musa me-
Kitab Keluaran 4:1-9
61
larikan diri ke Midian,namun , melalui perantaraan Musa, ke-
adaannya akan berubah kembali.
(4) Ada maksud langsung di dalamnya untuk meyakinkan
anak-anak Israel bahwa Musa memang benar diutus Tuhan
untuk melakukan apa yang ia lakukan (ay. 5). Mujizat-muji-
zat yaitu tanda bagi mereka yang tidak beriman (1Kor.
14:22)
2. Tangan Musa sendiri yang menjadi alat mujizat berikutnya. Ia
memasukkan tangannya satu kali ke dalam bajunya, dan sete-
lah menariknya keluar, maka tangannya kena kusta. Ia mema-
sukkan tangannya sekali lagi ke dalam tempat yang sama, dan
sesudah menariknya ke luar tangan itu menjadi pulih kembali
(ay. 6-7). Hal ini menunjukkan,
(1) Bahwa dengan kuasa Allah, Musa akan mendatangkan
penyakit-penyakit yang sangat menyakitkan ke atas negeri
Mesir, dan bahwa, dengan doanya, penyakit-penyakit itu
akan dilenyapkan.
(2) Bahwa sebab orang-orang Israel di Mesir telah menjadi
kusta, tercemar oleh dosa, dan nyaris musnah sebab pe-
nindasan (seorang penderita kusta dianggap seperti anak
guguran [Bil. 12:12, TL]), maka dengan dibawanya mereka
oleh Musa, mereka akan ditahirkan dan disembuhkan, dan
semua duka mereka dipulihkan.
(3) Bahwa Musa tidak membuat mujizat dengan kekuatannya
sendiri, juga tidak untuk kepujiannya sendiri,namun de-
ngan kuasa Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya. Tangan Musa
yang terkena kusta itu untuk selamanya akan mencegah
kesombongan. Nah, tampaknya jika tanda yang pertama
tidak dapat meyakinkan orang, maka tanda yang berikut-
nya akan berhasil. Perhatikanlah, Tuhan ingin menunjukkan
kebenaran dari firman-Nya dengan berkelimpahan, dan
tidak akan berhemat-hemat dalam memberi tanda dan
bukti akan kebenaran firman-Nya. Banyaknya jumlah dan
ragam mujizat menguatkan bukti itu.
3. Musa diperintahkan, saat ia sudah di Mesir nanti, untuk
mengubah sebagian sungai menjadi darah (ay. 9). Pada mula-
nya hal ini dilakukan sebagai suatu tanda,namun saat tanda
itu tidak dipedulikan oleh Firaun, maka seluruh air sungai
62
pun berubah menjadi darah, dan lalu menjadi tulah.
Musa diperintahkan untuk membuat mujizat ini jika orang
Mesir tidak dapat diyakinkan dengan dua mujizat sebelumnya.
Perhatikanlah, orang-orang yang tidak percaya akan ditinggal-
kan dalam keadaan yang tidak terampuni, dan dihukum kare-
na dengan sengaja mengeraskan hati. Mengenai orang-orang
Israel, Tuhan telah berfirman (3:18), mereka akan mendengar-
kan, namun Dia menetapkan mujizat-mujizat ini untuk me-
nyakinkan hati mereka, sebab Dia yang menetapkan suatu
tujuan, juga menetapkan sarana-sarananya.
Keberatan Musa Diatasi
(4:10-17)
10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara,
dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak,
sebab aku berat mulut dan berat lidah.” 11namun TUHAN berfirman kepada-
nya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang
bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni
TUHAN? 12 Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan meng-
ajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” 13namun Musa berkata: “Ah,
Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” 14 Maka bangkitlah
murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: “Bukankah di situ Harun,
orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah
berangkat menjumpai engkau, dan jika ia melihat engkau, ia akan
bersukacita dalam hatinya. 15 Maka engkau harus berbicara kepadanya dan
menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu
dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan.
Musa terus berusaha menolak tugas yang telah direncanakan oleh
Tuhan baginya, bahkan sampai melakukan suatu kesalahan. Sekarang
kita tidak dapat lagi berkata bahwa ia rendah hati dan mau berlaku
sopan,namun harus mengakui, bahwa ia benar-benar takut, merasa
enggan, dan tidak percaya dengan tugasnya itu. Amatilah di sini,
I. Bagaimana Musa berusaha mencari-cari alasan bagi dirinya
untuk menghindar dari pekerjaan itu,
1. Ia berdalih bahwa ia bukanlah seorang jurubicara yang baik:
Ah, TUHAN, aku ini tidak pandai bicara (ay. 10). Ia yaitu
seorang pemikir besar, seorang negarawan, dan penuh hikmat
ilahi, namun bukan seorang pembicara yang baik. Ia seorang
yang berpikiran jernih, memiliki pikiran-pikiran agung dan
penilaian yang dapat diandalkan,namun tidak memiliki lidah
Kitab Keluaran 4:10-17
63
yang fasih, atau pandai bicara, dan sebab itu menganggap diri-
nya tidak cakap berbicara di hadapan para pembesar tentang
masalah-masalah besar, dan rentan dikritik oleh orang-orang
Mesir. Amatilah,
(1) Kita tidak boleh menilai orang dari kecakapan dan kefasih-
an berbicara mereka. Musa berkuasa di dalam perkataan-
nya (Kis. 7:22), namun ia tidak fasih bicara. Apa yang ia
katakan disampaikan dengan kuat dan gugup, langsung
kepada tujuan, dan menetes seperti embun (Ul. 32:2), wa-
laupun ia tidak berbicara dengan fasih, tenang, anggun,
seperti yang dilakukan oleh sebagian orang, yang tidak
memiliki sepersepuluh dari pengertiannya. Ucapan-ucapan
Rasul Paulus juga diremehkan orang (2Kor. 10:10). Banyak
hikmat dan kebenaran yang berharga tersembunyi dalam
lidah yang berat.
(2) Kadang-kadang Tuhan berkenan memilih utusan-Nya dari
antara orang-orang yang sedikit saja memiliki kemampuan
atau keterampilan alamiah, supaya kasih karunia-Nya dapat
dinyatakan dalam diri mereka dengan lebih mulia. Murid-
murid Kristus bukanlah pembicara yang hebat, sampai Roh
membuat mereka menjadi seperti itu.
2. saat permohonan ini ditolak, dan semua alasannya dijawab,
ia memohon supaya Tuhan mengutus orang lain saja untuk
tugas ini dan membiarkannya tetap menggembalakan kambing
domba di Midian (ay. 13): “Utuslah kiranya siapa saja, jangan
saya. Engkau pasti dapat menemukan seseorang yang jauh
lebih pantas.” Perhatikanlah, pikiran yang menolak akan mu-
lai dengan alasan minta maaf dibandingkan tidak sama sekali, dan
bersedia mengalihkan pelayanan itu kepada orang lain yang
memiliki berbagai kesulitan dan menghadapi bahaya dalam
diri mereka.
II. Bagaimana Tuhan berkenan menjawab semua dalihnya. Meskipun
murka TUHAN bangkit terhadap Musa (ay. 14), namun Dia terus
bersoal jawab dengannya, sampai Dia berhasil mengatasinya. Per-
hatikanlah, bahkan sifat kurang percaya diri, jika tumbuh men-
jadi sangat berlebihan, dapat menghalangi kita dari pelaksanaan
tugas atau membebani kita di dalam tugas. Hal itu juga merin-
64
tangi ketergantungan kita pada kasih karunia Allah. Dan semua
ini sangat tidak menyenangkan hati-Nya. Pantaslah jika Tuhan me-
rasa tidak senang dengan penolakan kita dalam melayani Dia, dan
sangat beralasan baginya untuk menganggapnya sebagai sesuatu
yang tidak baik. Sebab, Ia sungguh Tuhan yang penuh kebaikan
bahkan sebelum kita memohon kepada-Nya, dan Ia juga tidak
pernah terlambat dalam memberi upah kepada kita. Perhatikan
lebih lanjut, Tuhan pantas merasa tidak senang kepada orang-
orang yang masih belum ditolak-Nya: Dia bersedia memberi
penjelasan atas suatu perkara bahkan dengan anak-anak-Nya
yang tegar tengkuk, dan mengatasi mereka, seperti yang Ia laku-
kan terhadap Musa di sini, dengan kasih karunia dan kebaikan.
1. Untuk mengimbangkan kelemahan Musa, di sini Tuhan meng-
ingatkan Musa tentang kuasa-Nya sendiri (ay. 11)
(1) Kuasa-Nya atas apa yang menjadi keberatan Musa: Siapa-
kah yang membuat lidah manusia? Bukankah Aku, yakni
TUHAN? Musa tahu bahwa Tuhan yang menciptakan manu-
sia,namun sekarang ia harus diingatkan kembali bahwa
Tuhan yang membuat lidah manusia. Pandangan kepada
Tuhan sebagai Sang Pencipta akan menolong kita mengatasi
banyak kesulitan yang terbentang di tengah jalan tugas
kita (Mzm. 124:8). Tuhan sebagai Pencipta alam semesta ini
telah memberi kepada kita kuasa dan kemampuan ber-
bicara, dan dari Dia-lah, sebagai sumber segala karunia
dan anugerah, datangnya kemampuan berbicara dengan
baik, mulut dan kata-kata hikmat (Luk. 21:15), lidah se-
orang murid (Yes. 50:4), kemurahan tercurah pada bibirmu
(Mzm. 45:3).
(2) Kuasa-Nya secara umum atas kemampuan-kemampuan
lainnya. Siapakah lagi kalau bukan Tuhan yang membuat
orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta?
[1] Kesempurnaan kemampuan-kemampuan kita yaitu
pekerjaan-Nya. Ia yang membuat penglihatan. Ia mem-
bentuk mata (Mzm, 94:9). Ia membuka pengertian, mata
pikiran (Luk. 24:45).
[2] Ketidaksempurnaan kemampuan juga berasal dari Dia.
Ia yang membuat orang bisu, tuli, dan buta. Adakah ke-
jahatan semacam ini, dan yang masih belum dilakukan
Kitab Keluaran 4:10-17
65
TUHAN? Tidak diragukan, Ia telah melakukan-Nya, dan
selalu dilakukan di dalam hikmat dan keadilan, dan
untuk kemuliaan-Nya sendiri (Yoh. 9:3). Firaun dan
orang-orang Mesir dibuat menjadi tuli dan buta secara
rohani, seperti di dalam Yesaya 6:9-10.namun Tuhan
tahu bagaimana menangani mereka, dan memperoleh
kemuliaan-Nya atas diri mereka.
2. Untuk membesarkan hati Musa di dalam pekerjaan yang besar
ini, Tuhan mengulang kembali janji penyertaan-Nya, tidak saja
secara umum, Aku akan menyertai engkau (3:12),namun secara
khusus, “Aku akan menyertai lidahmu, sehingga ketidaksem-
purnaan di dalam kemampuan berbicaramu tidak akan me-
nimbulkan kerugian terhadap pesan yang kamu sampaikan.”
Tampaknya Tuhan tidak segera melenyapkan kelemahan itu,
apa pun itu,namun Dia melakukan sesuatu yang setara, yaitu
Ia mengajarkan apa yang harus dikatakan, dan membiarkan
apa yang dikatakan itu yang memberi hasilnya. Orang lain
boleh saja berbicara dengan anggunnya,namun tidak punya
kuasa dalam perkataannya. Perhatikanlah, orang-orang yang
diutus Tuhan untuk berbicara bagi-Nya harus bergantung pada
perintah-perintah-Nya, supaya apa yang harus kamu katakan,
... semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu
juga (Mat. 10:19)
3. Tuhan mengikutsertakan Harun bersama Musa dalam tugas
pengutusan ini. Dia berjanji bahwa pada saatnya nanti Harun
akan menjumpai Musa, dan bahwa Harun akan bersukacita
saat melihatnya, sesudah bertahun-tahun (ada kemungkin-
an) tidak bertemu (ay. 14). Tuhan meminta Musa untuk me-
manfaatkan Harun sebagai penyambung lidahnya (ay. 16).
Bisa saja Tuhan menyingkirkan Musa, sebab terus menolak
diutus. Namun, Tuhan tidak melakukan hal itu, Ia sungguh me-
mahami kelemahan Musa, dan menyediakan seorang pemban-
tu baginya. Amatilah,
(1) Berdua lebih baik dibandingkan seorang diri (Pkh. 4:9). Tuhan
akan memberi dua saksi-Nya (Why. 11:3), supaya setiap
kata yang keluar dari mulut mereka dapat diteguhkan.
(2) Harun yaitu saudara laki-laki Musa, dan kebijaksanaan
ilahi sudah mengatur sedemikian rupa supaya kasih
66
sayang mereka satu sama lain sebagai saudara dapat mem-
perkuat persatuan mereka dalam menjalankan tugas peng-
utusan mereka. Kristus mengutus murid-murid-Nya ber-
dua-dua, dan beberapa di antara pasangan itu yaitu ber-
saudara.
(3) Harun yaitu kakak Musa, namun dalam urusan ini ia
bersedia bekerja di bawah Musa, sebab Tuhan menghen-
daki seperti itu.
(4) Harun dapat berbicara dengan fasih,namun dalam hal kebi-
jaksanaan ia berada jauh di bawah Musa. Tuhan membagi-
bagikan macam-macam karunia-Nya secara berbeda-beda
kepada anak-anak manusia, supaya kita dapat saling meli-
hat kebutuhan masing-masing, dan supaya setiap orang
dapat menyumbangkan sesuatu demi kebaikan seluruh
tubuh (1Kor. 12:21). Lidah Harun, bersama dengan kepala
dan hati Musa, akan membuat utusan Tuhan ini menjadi
sepenuhnya layak.
(5) Tuhan berjanji, Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya.
Bahkan Harun, yang sanggup berbicara dengan fasih itu,
tidak akan dapat berbicara dengan tepat, kecuali jika Tuhan
menyertai lidahnya. Tanpa pertolongan kasih karunia ilahi
secara terus-menerus, karunia-karunia yang terbaik pun
akan gagal.
4. Tuhan menyuruh Musa membawa tongkat yang ada di tangan-
nya (ay. 17), untuk menunjukkan bahwa ia harus melakukan
tugasnya dengan lebih banyak bertindak dibandingkan berbicara.
Tanda-tanda yang ia buat nanti dengan tongkat ini dengan
limpahnya akan membantu ketidakfasihannya dalam ber-
bicara. Satu mujizat saja akan lebih berguna bagi dia dibandingkan
semua keterampilan berbicara yang hebat. Bawalah tongkat
ini, tongkat yang selalu ia bawa sebagai seorang gembala,
supaya ia tidak merasa malu dengan keadaan hina dari mana
Tuhan telah memanggilnya. Tongkat ini harus menjadi tongkat
kekuasaannya, sebagai ganti pedang atau tongkat kerajaan
baginya.
Kitab Keluaran 4:18-23
67
Musa Kembali ke Mesir
(4:18-23)
18 Lalu Musa kembali kepada mertuanya Yitro serta berkata kepadanya:
“Izinkanlah kiranya aku kembali kepada saudara-saudaraku, yang ada di
Mesir, untuk melihat apakah mereka masih hidup.” Yitro berkata kepada
Musa: “Pergilah dengan selamat.” 19 Adapun TUHAN sudah berfirman kepada
Musa di Midian: “Kembalilah ke Mesir, seba