gerikan dan juga lebih menghancurkan (ay.
23-24). Perhatikanlah, Tuhan menjadikan awan-awan, bukan ha-
nya sebagai tempat persediaan-Nya yang darinya Ia meneteskan
kemakmuran ke atas umat-Nya, melainkan juga gudang senjata-
Nya yang darinya, jika Ia berkehendak, Ia bisa mengeluarkan
serentetan senjata yang paling mengerikan, untuk membinasakan
musuh-musuh-Nya. Ia sendiri berbicara tentang perbendaharaan
hujan batu, yang Dia simpan untuk waktu pertempuran dan pepe-
rangan (Ayb. 38:22-23). Kehancuran yang penuh celaka ditimbul-
kan oleh hujan es ini di tanah Mesir. Hujan es itu membunuh
manusia maupun ternak, dan menumbangkan, bukan hanya
tumbuh-tumbuhan, melainkan juga pepohonan (ay. 25). Gandum
yang ada di atas tanah hancur, dan yang terlindung hanyalah apa
yang belum tumbuh (ay. 31-32). Perhatikanlah, Tuhan memiliki
banyak cara untuk mengambil kembali gandum pada masanya
(Hos. 2:8), entah melalui embusan angin secara diam-diam, atau
melalui hujan es yang bising. Dalam tulah ini halilintar, dan juga
hujan es, dikatakan menyambar ternak mereka (Mzm. 78:47-48),
dan lihat Mazmur 105:32-33. Mungkin Daud merujuk pada cerita
ini saat , dalam menggambarkan penampakan-penampakan
Tuhan yang mulia untuk mengalahkan musuh-musuh-Nya, ia ber-
134
bicara tentang hujan es dan bara api yang dilemparkan-Nya ke
tengah-tengah mereka (Mzm. 18:13-14). Dan ada rujukan yang
jelas pada cerita itu dalam penumpahan cawan yang ketujuh
(Why. 16:21). Diberikan perhatian di sini (ay. 26) kepada tanah
Gosyen yang terlindungi dan tidak mengalami kerusakan apa pun
oleh tulah ini. Allahlah yang memerintah awan-awan yang tebal,
dan membuatnya menurunkan hujan air atau hujan es di satu
kota,namun tidak di kota lain, dalam belas kasihan ataupun dalam
penghakiman.
II. Kecemasan apa yang ditimbulkan tulah itu pada Firaun. Lihatlah
apa dampaknya terhadap Firaun,
1. Ia merendahkan dirinya kepada Musa dalam ungkapan se-
orang petobat (ay. 27-28). Tak ada orang yang bisa mengata-
kannya dengan lebih baik. Ia mengakui dirinya berada di
pihak yang salah dalam perseteruannya dengan Tuhan orang
Ibrani: “Aku telah berdosa dengan bersikap keras kepala begitu
lama.” Ia mengakui keadilan dari tindakan-tindakan Tuhan
melawan dirinya: TUHAN itu yang benar, dan harus diakui
benar saat Ia berbicara, meskipun Ia berbicara dalam guruh
dan kilat. Firaun menyalahkan dirinya sendiri dan tanahnya:
“Aku dan rakyatkulah yang bersalah, dan pantas menerima
apa yang didatangkan ke atas kami.” Ia memohonkan doa-doa
Musa: “Berdoalah kepada TUHAN untukku, supaya tulah yang
mengerikan ini dijauhkan.” Dan, yang terakhir, ia berjanji
untuk menyerahkan para tahanannya: Aku akan membiarkan
kamu pergi. Begitulah, dalam keadaan seperti itu, apa pula
yang dapat diperbuat orang? Akannamun , sekalipun begitu
hatinya mengeras terus selama ini. Perhatikanlah, kengerian
tongkat penghajar sering kali memaksa pengakuan-pengakuan
yang penuh pertobatan dari orang-orang yang tidak mempu-
nyai keinginan untuk bertobat. Dalam keterkejutan dan sakit-
nya penderitaan, mereka mulai bangkit, dan mengatakan apa
yang menyentuh hati,namun bukan begitulah yang ada dalam
lubuk hati mereka yang terdalam, melainkan sebab mereka
tahu bahwa mereka harus tergerak, dan bahwa apa yang
mereka rasakan itu pantas untuk dikatakan.
2. Musa, dalam hal ini, menjadi perantara bagi Firaun kepada
Allah. Meskipun ia memiliki seribu satu alasan untuk ber-
Kitab Keluaran 9:22-35
135
pikir bahwa Firaun akan segera menyesali pertobatannya dan
menarik diri kembali, dan memang mengatakan demikian ke-
pada Firaun (ay. 30), namun ia tetap berjanji untuk menjadi
temannya di hadapan pengadilan sorga. Perhatikanlah, bahkan
orang-orang yang sedikit saja bisa kita harapkan, harus terus
kita doakan, dan kita peringatkan (1Sam. 12:23). Amatilah,
(1) Tempat yang dipilih Musa untuk menjadi pengantara. Ia
pergi keluar dari kota itu (ay. 33), bukan hanya untuk
menyendiri dalam bersekutu dengan Allah, melainkan juga
untuk menunjukkan bahwa ia berani pergi keluar ke
padang terbuka, kendati dengan hujan es dan petir yang
membuat Firaun dan pegawai-pegawainya tetap berada di
dalam rumah. Sebab Musa tahu bahwa setiap hujan es di-
perintah oleh Allahnya, yang tidak ingin mencelakakannya.
Perhatikanlah, damai dengan Tuhan membuat orang kebal
guruh, sebab guruh yaitu suara Bapa mereka.
(2) Gerakan tangannya: Dikembangkannyalah tangannya ke-
pada TUHAN. Ini merupakan ungkapan lahiriah yang me-
nandakan keinginan yang sungguh-sungguh dan pengha-
rapan yang penuh kerendahan hati. Barang siapa yang
datang kepada Tuhan untuk meminta rahmat harus berdiri
dengan siap untuk menerimanya.
(3) Tujuan yang ingin dicapai Musa dalam menjadi perantara
bagi Firaun: Supaya engkau mengetahui, dan diyakinkan,
bahwa bumi yaitu milik TUHAN (ay. 29), yaitu, bahwa
Tuhan memiliki kekuasaan yang berdaulat atas semua
makhluk, bahwa mereka semua diperintah oleh-Nya, dan
bahwa sebab itu engkau juga harus diperintah oleh-Nya.
Lihatlah betapa beragamnya cara-cara yang dipakai Tuhan
untuk menyadarkan kembali manusia. Penghakiman-peng-
hakiman dikirimkan, penghakiman-penghakiman dijauh-
kan, dan semuanya untuk tujuan yang sama, yaitu untuk
membuat manusia tahu bahwa Tuhan memerintah.
(4) Keberhasilannya.
[1] Ia berhasil dengan Tuhan (ay. 33).namun ,
[2] Ia tidak bisa berhasil dengan Firaun: Teruslah ia ber-
buat dosa dan tetap berkeras hati (ay. 34-35). Doa Musa
membuka dan menutup langit, seperti doa Elia (Yak.
136
5:17-18), dan seperti itu jugalah kuasa dari dua saksi
Tuhan (Why. 11:6). Namun, baik Musa maupun Elia, atau
kedua saksi itu, tidak dapat menaklukkan hati manusia
yang keras. Firaun menjadi ketakutan oleh penghakim-
an itu hingga ia mau patuh,namun , sesudah penghakiman
itu berakhir, keinsafan-keinsafannya hilang, dan janji-
janjinya yang manis terlupakan. Perhatikanlah, jangan
terlalu percaya dengan pengakuan-pengakuan yang di-
buat saat orang sedang menderita. Perhatikan juga,
orang-orang yang tidak dibuat menjadi lebih baik oleh
berbagai penghakiman dan belas kasihan, biasanya jus-
tru menjadi lebih buruk.
PASAL 10
ulah kedelapan dan kesembilan di Mesir, yakni tulah belalang
dan kegelapan, tercatat di dalam pasal ini.
I. Perihal tulah belalang,
1. Tuhan menjelaskan makna penyelenggaraan campur ta-
ngan-Nya yang mengagumkan ini kepada Musa (ay. 1-2).
2. Ia mengancam akan mendatangkan belalang (ay. 3-6).
3. Atas desakan para pegawainya, Firaun bersedia berbicara
lagi dengan Musa (ay. 7-9), namun keduanya tidak bisa
sependapat (ay. 10-11).
4. Belalang-belalang itu pun datang (ay. 12-15).
5. Firaun berseru, Peccavi, Aku telah berbuat dosa (ay. 16-
17). Oleh sebab itu Musa berdoa supaya tulah itu diang-
kat, dan hal itu pun terlaksana. Namun, hati Firaun
masih mengeras juga (ay. 18-20).
II. Perihal tulah kegelapan,
1. Kegelapan melanda (ay. 21-23).
2. Firaun kembali berunding dengan Musa untuk menyerah,
namun perbincangan itu berakhir dengan amarah (ay. 26,
dst.)
Tulah-tulah Mesir
(10:1-11)
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Pergilah menghadap Firaun, sebab
Aku telah membuat hatinya dan hati para pegawainya berkeras, supaya Aku
mengadakan tanda-tanda mujizat yang Kubuat ini di antara mereka, 2 dan
supaya engkau dapat menceriterakan kepada anak cucumu, bagaimana Aku
mempermain-mainkan orang Mesir dan tanda-tanda mujizat mana yang telah
Kulakukan di antara mereka, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah
T
138
TUHAN.“ 3 Lalu Musa dan Harun pergi menghadap Firaun dan berkata
kepadanya: “Beginilah firman TUHAN, Tuhan orang Ibrani: Berapa lama lagi
engkau menolak untuk merendahkan dirimu di hadapan-Ku? Biarkanlah
umat-Ku pergi supaya mereka beribadah kepada-Ku. 4 Sebab jika engkau
menolak membiarkan umat-Ku pergi, maka besok Aku akan mendatangkan
belalang-belalang ke dalam daerahmu; 5 belalang itu akan menutupi per-
mukaan bumi, sehingga orang tidak dapat melihat tanah; belalang itu akan
memakan habis sisa yang terluput, yang masih tinggal bagimu dari hujan es
itu, bahkan akan memakan habis segala pohonmu yang tumbuh di padang.
6 Belalang itu akan memenuhi rumahmu, rumah semua pegawaimu, rumah
semua orang Mesir seperti yang belum pernah dilihat oleh bapamu dan
nenek moyangmu, sejak mereka lahir ke bumi sampai hari ini.“ Lalu ber-
palinglah ia dan keluar meninggalkan Firaun. 7 Sesudah itu berkatalah para
pegawai Firaun kepadanya: “Berapa lama lagi orang ini akan menjadi jerat
kepada kita? Biarkanlah orang-orang itu pergi supaya mereka beribadah
kepada TUHAN, Tuhan mereka. Belumkah tuanku insaf, bahwa Mesir pasti
akan binasa?” 8 Lalu Musa dan Harun dibawalah kembali kepada Firaun dan
berkatalah Firaun kepada mereka: “Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN,
Allahmu. Siapa-siapa sebenarnya yang akan pergi itu?” 9 Jawab Musa: “Kami
hendak pergi dengan orang-orang yang muda dan yang tua; dengan anak-
anak lelaki kami dan perempuan, dengan kambing domba kami dan lembu
sapi kami, sebab kami harus mengadakan perayaan untuk TUHAN.” 10namun
Firaun berkata kepada mereka: “TUHAN boleh menyertai kamu, jika aku
membiarkan kamu pergi dengan anak-anakmu! Lihat, jahatlah maksudmu!
11 Bukan demikian, kamu boleh pergi,namun hanya laki-laki, dan beribadah-
lah kepada TUHAN, sebab itulah yang kamu kehendaki.“ Lalu mereka diusir
dari depan Firaun.
Di sini,
I. Musa diberi pengarahan. Kita bisa menduga betapa Musa bisa jadi
sangat heran melihat kedegilan hati Firaun dan kerasnya sikap
Allah. Keadaan ini pastilah membuat ia kasihan akan kehancuran
Mesir. Ia tidak tahu bagaimana akhir perseteruan ini nantinya.
Nah, di sini Tuhan memberitahukan dia apa yang dirangcang-Nya,
yaitu tidak saja untuk membebaskan orang Israel,namun juga
untuk membesarkan nama-Nya: supaya engkau dapat menceri-
terakan dalam tulisan-tulisanmu, yang akan tetap ada sampai
dunia berakhir, bagaimana Aku mempermain-mainkan orang Mesir
(ay. 1-2). Kesepuluh tulah di Mesir itu harus melanda Mesir, su-
paya dapat dicatat sebagai bukti tidak terbantahkan bagi ang-
katan-angkatan yang akan datang,
1. Perihal kuasa mutlak Tuhan di dalam kerajaan alam semesta,
kekuasaan-Nya atas semua ciptaan, dan wewenang-Nya untuk
memakai semua ciptaan-Nya itu, baik untuk menjalan-
kan keadilan-Nya atau untuk mengalami penderitaan akibat
ciptaan-Nya itu, sesuai rancangan kehendak-Nya.
Kitab Keluaran 10:1-11
139
2. Perihal kuasa Tuhan yang menang atas kerajaan Iblis, untuk
mengendalikan kejahatan dan menghukum kekurangajaran
mereka yang memusuhi Dia dan jemaat-Nya. Tulah-tulah ini
merupakan bukti nyata kebesaran Allah, kebahagiaan jemaat,
dan dahsyatnya dosa. Selain itu, tulah-tulah ini juga menjadi
pemantau abadi bagi anak-anak manusia di segala zaman agar
tidak membangkitkan cemburu Tuhan atau berbantah dengan
Pembentuknya. Manfaat perintah-perintah ini bagi dunia sung-
guh sepadan dengan perhatian yang kita berikan kepadanya.
II. Firaun ditegur (ay. 3): Beginilah firman TUHAN, Tuhan orang Ibrani,
orang-orang yang miskin, dihina, dan dianiaya: Berapa lama lagi
engkau menolak untuk merendahkan dirimu di hadapan-Ku? Per-
hatikanlah, sudah selayaknya orang-orang besar merendahkan
diri di hadapan Tuhan yang agung, atau mereka akang menang-
gung akibatnya bila menolak. Sudah lebih dari satu kali Tuhan
berselisih dengan para raja. Belsyazar tidak mau merendahkan
hati (Dan. 5:22). Zedekia tidak merendahkan diri di hadapan nabi
Yeremia (2Taw. 36:12). Orang-orang yang tidak bersedia meren-
dahkan diri akan direndahkan oleh Tuhan sendiri. Adakalanya
Firaun berpura-pura merendahkan diri, namun hal ini tidak ada
apa-apanya, sebab ia tidak bersungguh-sungguh ataupun setia
melakukannya.
III. Ancaman perihal tulah belalang disampaikan (ay. 4-6). Hujan es
telah memusnahkan hasil-hasil bumi, namun belalang akan da-
tang dan melahap yang tersisa. Tidak saja demikian,namun juga
mereka akan memenuhi rumah-rumah orang Mesir, padahal
selama ini serangga ini hanya ada di ladang-ladang mereka saja.
Tulah ini pasti lebih buruk dibandingkan semua bencana yang pernah
dilihat raja. sesudah menyampaikan pesannya, Musa yang tidak
mengharapkan tanggapan lebih baik dibandingkan sebelumnya, ber-
paling dan keluar meninggalkan Firaun (ay. 6). Demikian jugalah
Kristus menetapkan agar murid-murid-Nya meninggalkan orang–
orang yang tidak mau menerima mereka, dan mengebaskan debu
di kaki sebagai peringatan bagi mereka. Dan kebinasaan sudah
dekat dengan orang-orang yang ditinggalkan sedemikian rupa oleh
para utusan Tuhan (1Sam. 15:27, dst.)
140
IV. Para pegawai dan duta atau penasihat pribadi Firaun, menengahi
untuk membujuk dia agar bersepakat dengan Musa (ay. 7).
sebab terikat kewajiban, mereka ini menjelaskan tentang keada-
an menyedihkan kerajaan Mesir yang pasti akan binasa, kepada-
nya dan menasihati dia untuk membebaskan saja para tahanan-
nya. Biarkanlah orang-orang itu pergi. Sebab, mereka mendapati
bahwa Musa akan menjadi jerat bagi mereka selama para tahanan
itu tidak dibebaskan. Jadi, lebih baik mengabulkan permintaan
lebih dahulu dibandingkan dipaksa pada akhirnya. Orang Israel telah
menjadi batu yang membebani bangsa Mesir, dan akhirnya, seka-
rang para penguasa Mesir bersedia melepaskan mereka (Za. 12:3).
Perhatikanlah, sungguh merupakan hal yang patut disesali dan
dicegah jika mungkin, saat seluruh bangsa harus dihancurkan
demi kecongkakan dan kedegilan para penguasanya. Salus populi
suprema lex – memikirkan kesejahteraan rakyat yaitu hukum
yang utama.
V. Oleh sebab itu dibuatlah kesepakatan baru di antara Firaun dan
Musa yang menyebutkan bahwa Firaun setuju orang Israel pergi
ke padang gurun untuk memberi korban persembahan. Na-
mun, yang menjadi masalah sekarang yaitu , siapa saja yang
boleh pergi (ay. 8).
1. Musa berkeras agar orang Israel membawa serta seluruh
anggota keluarga dan harta benda mereka (ay. 9). Perhatikan-
lah, orang-orang yang melayani Tuhan haruslah melayani Dia
dengan segala sesuatu yang mereka miliki. Musa mengajukan
alasan, “Kami harus mengadakan perayaan. Oleh sebab itu
anggota keluarga kami harus ikut merayakannya, sedang
ternak kami akan dijadikan korban persembahan dalam
perayaan itu guna menghormati Allah.“
2. Firaun sama sekali tidak mau mengabulkan hal ini. Ia meng-
izinkan kaum laki-laki pergi, dengan pura-pura menyangka
bahwa hanya hal inilah yang mereka inginkan. Padahal, masa-
lah ini tidak pernah disebut-sebut dalam kesepakatan sebelum-
nya. Namun, tentang anak-anak, ia bersikukuh untuk menahan
mereka sebagai sandera, supaya para laki-laki itu terpaksa
kembali (ay. 10-11). Dengan amarah menyala-nyala, ia mengu-
tuki mereka. Ia mengancam bahwa jika orang Israel tetap
membawa serta anak-anak mereka, maka mereka akan mene-
Kitab Keluaran 10:12-20
141
mui bahaya. Perhatikanlah, Iblis akan berbuat apa saja demi
mencegah orang-orang yang melayani Tuhan membawa serta
anak-anak mereka untuk melayani Dia. Iblis sangat memusuhi
sifat saleh sejak usia dini, sebab tahu betapa hal ini mampu
merusak kepentingan kerajaannya. Apa pun yang dapat
menghalangi kita untuk sepenuhnya mengikutsertakan anak-
anak kita dalam pelayanan Allah, bisa kita curigai sebagai
campur tangan Iblis di dalamnya.
3. Akibatnya, kesepakatan itu pun langsung dibatalkan. Orang-
orang yang sebelum itu keluar meninggalkan Firaun (ay. 6),
sekarang malahan diusir keluar. Orang-orang yang tidak ta-
han mendengar tentang kewajiban mereka akan segera mende-
ngar tentang hukuman yang akan mereka terima (2Taw.
25:16). Quos Deus destruet eos dementat – Orang-orang yang
hendak dibinasakan Tuhan akan diserahkan-Nya kepada ke-
inginan bodoh. Belum pernah ada orang yang begitu bodoh se-
hingga menemui kebinasaannya sendiri seperti halnya Firaun.
Tulah-tulah Mesir
(10:12-20)
12 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke atas tanah
Mesir mendatangkan belalang dan belalang akan datang meliputi tanah Mesir
dan memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah, semuanya yang
ditinggalkan oleh hujan es itu.“ 13 Lalu Musa mengulurkan tongkatnya ke
atas tanah Mesir, dan TUHAN mendatangkan angin timur melintasi negeri
itu, sehari-harian dan semalam-malaman, dan sesudah hari pagi, angin timur
membawa belalang. 14 Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan
hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah
ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan
terjadi lagi yang demikian. 15 Belalang menutupi seluruh permukaan bumi,
sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala
tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon
yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau
pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir.
16 Maka segeralah Firaun memanggil Musa dan Harun serta berkata: “Aku
telah berbuat dosa terhadap TUHAN, Allahmu, dan terhadap kamu. 17 Oleh
sebab itu, ampunilah kiranya dosaku untuk sekali ini saja dan berdoalah
kepada TUHAN, Allahmu itu, supaya bahaya maut ini dijauhkan-Nya dari
padaku.“ 18 Lalu keluarlah Musa meninggalkan Firaun dan berdoa kepada
TUHAN. 19 Maka TUHAN membuat angin bertiup dari jurusan sebaliknya,
yakni angin barat yang sangat kencang, yang membawa belalang itu dan
melemparkannya ke dalam Laut Teberau: tidak ada satu belalangpun yang
tinggal di seluruh daerah Mesir. 20namun TUHAN mengeraskan hati Firaun,
sehingga tidak mau membiarkan orang Israel pergi.
142
Di sini ada ,
I. Serbuan belalang terhadap tanah Mesir. Ini yaitu pasukan
TUHAN yang sangat banyak (Yl. 2:11). Tuhan menyuruh Musa
mengulurkan tangannya (ay. 12), seakan memanggil serangga-
serangga itu (sebab mereka datang memenuhi panggilan), dan ia
pun mengulurkan tongkatnya (ay. 13). Bandingkan dengan pasal
9:22-23. Musa menganggap gerakan ini tidak berarti mengulur-
kan tangannya sendiri,namun mengulurkan tongkat Allah, yang
sudah menjadi isyarat yang ditetapkan Tuhan yang menunjukkan
kehadiran-Nya bersamanya. Belalang-belalang itu menaati pang-
gilan ini , dan terbang bersama embusan angin, yaitu angin
timur, beserta belalang pelompat tidak terbilang banyaknya (Mzm.
105:34-35). Pasukan besar yang mengendarai kuda dan berjalan
kaki mungkin lebih mudah dilawan dibandingkan serangga yang tak
terhitung banyaknya ini. Siapa gerangan sanggup berdiri di ha-
dapan Tuhan yang perkasa?
II. Kehancuran yang diakibatkan belalang itu (ay. 15): Belalang
menutupi seluruh permukaan bumi, dan memakan habis segala
tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan. Bumi telah
diberikan Tuhan kepada anak-anak manusia. Namun demikian,
bila Tuhan berkehendak, Dia dapat mengganggu tanah milik mere-
ka itu dan mengirimkan belalang serta belalang pelompat untuk
memaksa mereka pergi dari situ. Tanaman bertumbuh untuk di-
usahakan manusia. Namun, jika Tuhan mau, serangga-serang-
ga yang menjijikkan itu tidak saja akan hidup di tengah manusia,
tetapi juga menjarah miliknya, dan memakan roti dari mulutnya.
Hendaklah kita bekerja keras bukan demi memperoleh tempat
tinggal dan makanan yang mudah terpapar bahaya seperti ini,
melainkan demi hal-hal yang tetap ada untuk selamanya, yang
tidak dapat diserbu ataupun dimusnahkan seperti itu.
III. Pengakuan Firaun sesudah kejadian itu (ay. 16-17). Ia telah meng-
usir Musa dan Harun dari hadapannya (ay. 11), dan (mungkin)
berkata kepada mereka bahwa ia tidak mau berurusan lagi
dengan keduanya. Namun, sekarang ia tergesa-gesa memanggil
mereka lagi, dan mengambil hati mereka dengan sehormat-hor-
matnya mengingat bahwa sebelum itu ia telah mengusir mereka
Kitab Keluaran 10:12-20
143
dengan menghina. Perhatikanlah, akan tiba saatnya saat orang-
orang yang meremehkan para penasihat mereka, dan memandang
rendah semua teguran mereka, akan dengan senang hati mema-
kai mereka dan melibatkan mereka supaya menjadi pengantara
demi kepentingan mereka. Gadis-gadis yang bodoh itu membujuk
gadis-gadis yang bijaksana untuk memberi sedikit dari minyak
mereka (lihat Mzm. 141:6).
1. Firaun mengakui kesalahannya: Aku telah berbuat dosa
terhadap TUHAN, Allahmu, dan terhadap kamu. Sekarang ia
melihat kebodohannya sendiri sebab telah mengabaikan dan
menghina Tuhan serta para utusannya. Setidaknya, akhirnya ia
seperti menyesali perbuatannya itu. saat Tuhan menyadarkan
manusia akan dosa mereka dan merendahkan mereka untuk
itu, maka sikap menghina mereka terhadap pelayan-pelayan
Tuhan dan firman Tuhan, pasti akan diperhitungkan dan mem-
bebani hati nurani mereka. Ada yang berpendapat bahwa keti-
ka Firaun berkata, “TUHAN, Allah-mu,” sebenarnya ia sedang
berkata, “TUHAN tidak akan menjadi Allah-ku.” Banyak orang
memperlakukan Tuhan sebagai seorang musuh perkasa, yang
enggan mereka lawan. Namun, mereka juga tidak bersedia
memperlakukan-Nya sebagai raja mereka yang sah, yang seha-
rusnya mereka akui dan taati dengan penuh kasih setia.
Orang yang benar-benar menyesal akan meratapi dosa yang
diperbuatnya terhadap Allah, yaitu terhadap Tuhan mereka
sendiri, yang kepada-Nya mereka bertanggung jawab.
2. Firaun meminta ampun, bukan dari Tuhan seperti yang seha-
rusnya dilakukan orang yang bertobat, melainkan dari Musa,
yang lebih mudah memaafkannya. sebab melalui penugasan
khusus, Musa telah diangkat sebagai Tuhan bagi Firaun, dan
jikalau ia mengampuni dosa orang, dosanya diampuni. saat
Firaun memohon, ampunilah kiranya dosaku untuk sekali ini
saja, ia sebenarnya berjanji untuk tidak melakukan kesalahan
yang sama lagi. Namun, sepertinya ia enggan mengucapkan
janji itu. Ia juga tidak berkata apa pun tentang membiarkan
umat Israel pergi. Perhatikanlah, pertobatan palsu biasanya
menipu orang dengan berbagai janji, namun enggan meng-
ucapkan janji perihal dosa-dosa tertentu.
3. Firaun memohon dengan sangat agar Musa dan Harun berdoa
baginya. Ada orang-orang yang di tengah kesukaran akan
144
memohon bantuan doa orang lain. Namun, mereka tidak mau
berdoa sendiri. Dengan demikian mereka menunjukkan bahwa
mereka tidak mengasihi Tuhan dengan sungguh atau senang
bersekutu dengan-Nya. Firaun menginginkan doa mereka,
hanya supaya bahaya maut ini dijauhkan-Nya dari padanya,
bukan dosa ini: ia mengutuki tulah belalang dan bukannya
tulah hati keras yang sebenarnya lebih berbahaya.
IV. Disingkirkannya hukuman itu berkat doa Musa (ay. 18-19). Hal
ini merupakan,
1. Contoh perihal kuasa Tuhan yang sama dahsyatnya dengan
hukuman itu sendiri. Angin timur telah mendatangkan bela-
lang-belalang itu, dan sekarang angin barat membawa mereka
pergi. Perhatikanlah, ke mana pun angin mengarah, embusan-
nya itu menggenapi firman Tuhan dan berubah arah sesuai ren-
cana-Nya. Angin bertiup ke mana ia mau, tanpa bisa dipenga-
ruhi oleh kita,namun ia tunduk pada kendali Allah: Ia melepas-
kannya ke seluruh kolong langit.
2. Ini merupakan bukti nyata perihal wewenang Musa, dan me-
negaskan pengutusannya dan kepentingannya di dalam Tuhan
yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang
(Yes. 45:7). Bahkan lebih dari itu, dengan demikian Musa tidak
saja menuntut penghormatan,namun juga menyediakan diri
bagi kebaikan orang Mesir. sebab seperti halnya hukuman
itu terjadi atas perintahnya, penghapusannya juga terjadi se-
bagai jawaban atas doa-doanya. Musa tidak pernah meng-
inginkan hari yang menyengsarakan itu, meskipun ia meng-
ancamkannya. Tugas yang diembannya memang melawan
Mesir,namun pengantaraannya yaitu untuk kebaikan mereka.
Ini alasan yang tepat mengapa mereka seharusnya mengasihi
dia, meskipun mereka juga takut kepadanya.
3. Ini juga merupakan alasan kuat bagi pertobatan mereka, sama
seperti bagi hukuman itu sendiri. Melalui hal ini, Tuhan tam-
paknya siap mengampuni, dan siap menyatakan belas kasih-
an-Nya. jika Ia menghapus hukuman tertentu, seperti yang
sering dilakukan-Nya terhadap Firaun, atau menangguhkan-
nya seperti pada perkara Ahab yang mengakui penyesalannya
dan membuktikan kerendahan hatinya, maka apa saja akan
dilakukan-Nya jika kita bersungguh-sungguh dalam pertobat-
Kitab Keluaran 10:21-29
145
an kita. Betapa Ia akan menyambut orang yang menyatakan
pertobatan mereka! Kiranya kebaikan Tuhan ini menuntun kita
menuju pertobatan!
V. Firaun kembali kepada ketetapan hatinya yang degil itu, untuk
tidak membiarkan orang Israel pergi (ay. 20). Campur tangan Tuhan
mengeraskan hatinya, dan meneguhkan sikap degilnya itu. Per-
hatikanlah, orang-orang yang acap kali mengalahkan suara hati
mereka dan melawan serta mengorbankan manfaatnya, memang
pantas diserahkan kepada hawa nafsu mereka sendiri, yang tidak
peduli sekuat apa pun kata hati mereka, terbukti terlampau kuat
bagi mereka.
Tulah-tulah Mesir
(10:21-29)
21 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke langit,
supaya datang gelap meliputi tanah Mesir, sehingga orang dapat meraba
gelap itu.” 22 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah
gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari. 23 Tidak ada orang yang
dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari
tempatnya selama tiga hari;namun pada semua orang Israel ada terang di
tempat kediamannya. 24 Lalu Firaun memanggil Musa serta berkata:
“Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, hanya kambing dombamu dan lembu
sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu.”
25namun Musa berkata: “Bahkan korban sembelihan dan korban bakaran
harus engkau berikan kepada kami, supaya kami menyediakannya untuk
TUHAN, Tuhan kami. 26 Dan juga ternak kami harus turut beserta kami dan
satu kakipun tidak akan tinggal, sebab dari ternak itulah kami harus ambil
untuk beribadah kepada TUHAN, Tuhan kami; dan kami tidak tahu, dengan
apa kami harus beribadah kepada TUHAN, sebelum kami sampai di sana.”
27namun TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga dia tidak mau membiar-
kan mereka pergi. 28 Lalu Firaun berkata kepadanya: “Pergilah dari padaku;
awaslah engkau, jangan lihat mukaku lagi, sebab pada waktu engkau meli-
hat mukaku, engkau akan mati.” 29 lalu Musa berkata: “Tepat seperti
ucapanmu itu! Aku takkan melihat mukamu lagi!“
Dalam perikop di atas ada ,
I. Tulah kegelapan ditimpakan ke atas Mesir. Ini merupakan tulah
yang sangat mengerikan, dan oleh sebab itu, di dalam Mazmur
105:28 tulah ini disebutkan pertama dari kesepuluh tulah, meski-
pun merupakan salah satu tulah terakhir. Dalam penghancuran
Mesir rohani, tulah ini dihasilkan dari cawan kelima, yang di-
146
tuangkan ke atas takhta binatang itu (Why. 16:10). Kerajaannya
menjadi gelap. Amatilah dengan cermat perihal tulah ini,
1. Tulah ini berupa kegelapan pekat. Kita memiliki alasan
untuk berpikir bahwa bukan saja benda-benda terang di langit
tertutup awan,namun bahwa semua perapian dan pelita mere-
ka juga ikut padam sebab uap lembap atau basah yang men-
jadi penyebab kegelapan ini. Sebab, dikatakan (ay. 23) bahwa
tidak ada orang yang dapat melihat temannya. Diancamkan
kepada orang fasik (Ayb. 18:5-6), bahwa nyala apinya tidak
tetap bersinar, bahkan api yang dinyalakannya sendiri, (Yes.
50:11), dan bahwa terang di dalam kemahnya menjadi gelap.
Neraka benar-benar gelap gulita. Cahaya lampu tidak akan
bersinar lagi di dalammu (Why. 18:23).
2. Kegelapan itu begitu pekat sehingga orang dapat meraba gelap
itu (ay. 21), terasa dalam penyebabnya di ujung jari (sedemi-
kian pekatnya kabut itu), terasa dalam pengaruhnya di mata
menurut pendapat beberapa orang, yang terasa pedih dan
semakin sakit sebab digosok-gosok. Kesakitan luar biasa di-
katakan terjadi akibat kegelapan itu (Why. 16:10), yang merujuk
kepada peristiwa ini.
3. Maka tidak diragukan lagi bahwa peristiwa ini membuat
mereka tercengang dan sangat ketakutan. Awan belalang yang
sebelumnya menutupi seluruh permukaan bumi (ay. 15), tidak
ada apa-apanya dibanding tulah ini. Menurut cerita orang Ya-
hudi turun-temurun, di dalam kegelapan ini ada penam-
pakan roh-roh jahat yang sangat membuat orang Mesir keta-
kutan, atau lebih tepatnya oleh bunyi-bunyi dan suara-suara
menggumam menakutkan yang mereka keluarkan sendiri,
atau (yang tidak kalah menakutkannya) oleh kengerian yang
diakibatkan hati nurani mereka sendiri. Menurut pendapat
beberapa orang, untuk tujuan inilah tulah itu diadakan sebab
bila tidak, hal ini tidak akan disebutkan: Ia melepaskan kepa-
da mereka murka-Nya yang menyala-nyala, kegemasan, kege-
raman dan kesesakan, suatu pasukan malaikat yang mem-
bawa malapetaka (Mzm. 78:49). Bagi mereka yang telah ter-
tipu oleh Iblis, ia akhirnya akan menjadi kengerian.
4. Kegelapan itu berlangsung tiga hari. Menurut Uskup Hall,
enam malam dijadikan satu. Begitu lama mereka dikurung di
dalam belenggu kegelapan itu, sedang segala istana yang
Kitab Keluaran 10:21-29
147
tadinya terang benderang berubah seperti penjara di bawah
tanah. Tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya (ay.
23). Mereka semua terkurung di rumah masing-masing, dan
mereka begitu ketakutan hingga hanya sedikit yang mem-
beranikan diri melangkah dari kursi ke tempat tidur, atau dari
tempat tidur ke kursi. Demikianlah mereka akan mati binasa
dalam kegelapan (1Sam. 2:9). Nah, Firaun masih memiliki
waktu untuk mengambil keputusan, kalau ia mau manfaatkan
kesempatan sekarang. Kegelapan rohani merupakan perbu-
dakan rohani. Sementara Iblis membutakan mata manusia
agar mereka tidak melihat, ia juga membelenggu tangan dan
kaki mereka sehingga mereka tidak bekerja bagi Tuhan atau
bergerak menuju sorga. Mereka duduk di dalam gelap.
5. Tuhan sungguh adil dalam menghukum mereka seperti ini.
Firaun dan rakyatnya telah memberontak terhadap terang fir-
man Tuhan yang disampaikan Musa kepada mereka. Oleh sebab
itu sungguh adil jika mereka dihukum dengan kegelapan,
sebab mereka memang menyukai dan lebih suka memilihnya.
Kebutaan pikiran mereka membawa kegelapan udara ini.
Belum pernah ada pikiran orang begitu dibutakan seperti
Firaun ini. Belum pernah udara begitu gelap seperti di Mesir.
Dengan kebengisan mereka, orang Mesir hampir saja mema-
damkan habis pelita orang Israel, dan mematikan bara api
mereka. Oleh sebab itu, dengan adil Tuhan memadamkan se-
mua cahaya terang mereka. Bandingkanlah hal ini dengan
hukuman yang dijatuhkan ke atas orang Sodom (Kej. 19:11).
sebab itu, kiranya kita takut akan akibat dosa. Jika kegelap-
an selama tiga hari saja sudah begitu menakutkan, seperti apa
gerangan kegelapan selamanya?
6. Pada saat yang sama, di tempat orang Israel ada terang di tem-
pat kediamannya (ay. 23). Tidak saja di tanah Gosyen, tempat
sebagian besar dari mereka tinggal,namun juga di tempat ke-
diaman orang-orang Israel yang tersebar di antara orang Mesir.
Bahwa ada sebagian di antara mereka yang tersebar seperti
itu, terlihat dari adanya pembedaan yang lalu dibuat
pada ambang-ambang pintu mereka (12:7). Ini merupakan
contoh,
(1) Akan kuasa Tuhan yang melebihi kekuatan alam yang biasa.
Janganlah kita berpikir bahwa semua orang sama-sama
148
menerima rahmat sebagai mana alam bekerja, sehingga
kita tidak perlu bersyukur kepada Tuhan untuk itu. Sebalik-
nya, Ia bisa memilih kepada siapa rahmat-Nya diberikan
atau menahan rahmat-Nya jatuh kepada kita dan memberi-
kannya kepada orang lain. Tuhan memang membuat mata-
hari bersinar ke atas orang benar maupun orang fasik.
Namun, Ia bisa saja membuat pembedaan, dan kita harus
mengakui bahwa kita berutang budi kepada-Nya jika ia
tidak menahan kebaikan-Nya.
(2) Tentang perkenan khusus Tuhan terhadap umat-Nya: mere-
ka berjalan di dalam terang sementara yang lain mengem-
bara tanpa henti dalam gelap gulita. Di mana ada seorang
Israel sejati, sekalipun di dunia yang gelap ini, di situ ada
terang. Di situ ada anak-anak terang, yang kepadanya
terang sudah terbit, dan yang baginya Surya pagi dari tem-
pat yang tinggi akan melawat. saat Tuhan membuat pem-
bedaan ini di antara orang Israel dan orang Mesir, maka
siapa pula yang tidak akan lebih memilih gubuk terburuk
orang Israel dibanding istana termegah orang Mesir? Sung-
guh ada perbedaan nyata, meskipun tidak terlihat jelas, di
antara kediaman orang fasik yang berada di bawah kutuk,
dengan tempat kediaman orang benar yang diberkati (Ams.
3:33). Kita harus percaya bahwa perbedaan itu sungguh
ada, dan sebab itu baiklah kita menguasai diri. Dikirim-
Nya kegelapan, maka hari menjadi gelap,namun mereka
memberontak terhadap firman-Nya (Mzm. 105:28). Ada yang
memperkirakan bahwa di tengah kegelapan selama tiga
hari ini, orang-orang Israel disunat untuk menyambut
perayaan Paskah yang sudah dekat, dan bahwa perintah
yang mengesahkan hal ini merupakan firman yang tidak
mereka langgar. Sebab, sunat yang mereka jalankan saat
memasuki Kanaan disebutkan sebagai sunat umum kedua
(Yos. 5:2). Di tengah kegelapan tiga hari atas orang Mesir
ini, dengan perkenan Allah, orang Israel bisa saja melari-
kan diri tanpa seizin Firaun dengan bantuan terang yang
menyertai mereka. Namun, Tuhan hendak membawa mereka
keluar dengan dipimpin oleh tangan yang dinaikkan, dan
bukan dengan diam-diam atau terburu-buru (Yes. 52:12).
Kitab Keluaran 10:21-29
149
II. Beginilah kesan yang tertanam dalam diri Firaun akibat tulah ini,
yang sangat mirip dengan tulah-tulah sebelumnya.
1. Ia disadarkan begitu rupa hingga ia memperbarui kesepakatan
dengan Musa dan Harun. Sekarang ia akhirnya mengizinkan
mereka membawa serta anak-anak,namun ternak mereka ha-
rus ditinggalkan sebagai jaminan (ay. 24). Sudah menjadi
kebiasaan orang berdosa untuk melakukan tawar-menawar
dengan Tuhan yang Mahakuasa. Ada beberapa dosa yang rela
mereka tinggalkan, namun tidak semuanya. Mereka bersedia
meninggalkan dosa-dosa mereka selama beberapa waktu,
tetapi tidak mau berpisah selamanya. Mereka bersedia mem-
beri tempat kepada-Nya di dalam hati mereka,namun dunia
dan daging harus berbagi tempat dengan-Nya juga. Demikian-
lah mereka mempermainkan Allah, padahal mereka justru
menipu diri. Musa berketetapan untuk tidak mengurangi per-
syaratannya: ternak kami harus turut beserta kami (ay. 26).
Perhatikanlah, persyaratan bagi pendamaian sudah begitu
pasti dan tidak dapat ditawar lagi, hingga kalaupun manusia
memperdebatkannya begitu lama, mereka tidak akan bisa
mengubah atau menguranginya. Kita harus memenuhi semua
tuntutan kehendak Allah, sebab kita tidak bisa mengharapkan
Dia merendahkan diri demi memenuhi syarat hawa nafsu kita.
Para utusan Tuhan harus senantiasa terikat pada peraturan ini,
bahwa biarpun mereka akan kembali kepadamu, namun eng-
kau tidak perlu kembali kepada mereka (Yer. 15:19). Musa mem-
beri alasan sangat tepat mengapa mereka harus membawa serta
ternak mereka. Mereka harus pergi untuk memberi korban
persembahan, dan oleh sebab itu mereka harus membawa
persediaan yang diperlukan. Berapa banyak jumlah dan jenis
persembahan korban yang diperlukan, belumlah mereka tahu,
dan oleh sebab itu mereka harus membawa semua yang me-
reka miliki. Perhatikanlah, kita sendiri dan anak-anak kita
harus mengabdikan seluruh harta duniawi kita demi pelayanan
Allah, sebab kita tidak tahu untuk tujuan apa Tuhan akan
memakai apa yang kita miliki, atau dengan cara apa kita
akan diminta untuk menghormati Tuhan dengannya.
2. Dan, penjelasan itu membuat Firaun begitu gusar hingga saat
ia merasa tidak bisa mengajukan persyaratannya sendiri, ia
langsung menghentikan pertemuan itu dan memutuskan
150
untuk tidak membicarakan hal itu lagi. Sekarang murka
sangat meliputi hatinya, dan ia menjadi beringas tidak terkata-
kan (ay. 28). Musa diusir dalam kemarahan. Ia dilarang mun-
cul lagi di istana dengan ancaman akan dibunuh. Ia bahkan
dilarang bertemu muka dengan Firaun lagi di tepi sungai
seperti biasa: pada waktu engkau melihat mukaku, engkau
akan mati. Sungguh kegilaan yang luar biasa! Bukankah ia
sudah tahu bahwa Musa mampu menulahi dia tanpa bertemu
muka dengannya? Atau sudah lupakah ia betapa sering ia
mendatangkan Musa sebab para tabibnya tidak sanggup
menyembuhkan dirinya dan melepaskannya dari tulah-tulah
itu? Dan haruskah dia sekarang melarang Musa mendekatinya
lagi? Ini benar-benar kejahatan hati yang sudah tidak terken-
dalikan lagi! Mana mungkin ia bisa mengancam akan mem-
bunuh orang yang dipersenjatai dengan kuasa yang begitu
hebat, yang oleh rasa belas kasihan sudah sering kali justru
menyelamatkan nyawanya. Begitulah yang terjadi pada manu-
sia bila hatinya mengeras dan menghina firman dan perintah
Allah. Lalu, Musa pun menerima kata-kata Firaun itu (ay. 29):
Aku takkan melihat mukamu lagi, maksudnya, “sesudah ini,“
sebab percakapan ini tidak berhenti sampai di situ, sebab
dalam ayat 11:8, kita dapati Musa pergi dengan marah yang
bernyala-nyala, dan berkata kepada Firaun bahwa ia akan
segera berubah pikiran, dan bahwa rohnya yang congkak akan
direndahkan, yang lalu tergenapi (12:31), saat Firaun
memohon dengan rendah hati kepada Musa untuk pergi.
Demikianlah, sesudah perbincangan ini, Musa tidak datang
lagi sampai ia dipanggil menghadap. Perhatikanlah, jika
manusia menolak firman Allah, maka Ia dengan adil mengizin-
kan mereka berkhayal, dan menjawab mereka sesuai berhala
mereka yang berjumlah sangat banyak itu. saat penduduk
Gadara meminta Kristus meninggalkan tempat mereka, Ia
segera pergi meninggalkan mereka.
PASAL 1 1
iraun menyuruh Musa pergi keluar dari hadapannya (10:28), dan
Musa juga berjanji bahwa ini yaitu terakhir kalinya ia meng-
ganggunya. Walaupun begitu, Musa tetap mengatakan apa yang ha-
rus ia katakan, sebelum meninggalkan Firaun. Oleh sebab itu,
dalam pasal ini kita dapati,
I. Petunjuk-petunjuk yang Tuhan berikan kepada Musa, yang
sekarang sedang dikerjakan-Nya (ay. 1-2). Orang Israel dan
Musa mendapat rasa hormat dari orang-orang Mesir (ay. 3).
II. Pesan terakhir yang Musa sampaikan kepada Firaun, yaitu
mengenai kematian anak-anak sulung (ay. 4-8).
III. Diulanginya lagi nubuatan mengenai kekerasan hati Firaun
(ay. 9), dan kebenaran nubuatan itu (ay. 10).
Tulah-tulah Mesir
(11:1-3)
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Aku akan mendatangkan satu tulah
lagi atas Firaun dan atas Mesir, sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi
dari sini; jika ia membiarkan kamu pergi, ia akan benar-benar mengusir
kamu dari sini. 2 Baiklah katakan kepada bangsa itu, supaya setiap laki-laki
meminta barang-barang emas dan perak kepada tetangganya dan setiap
perempuan kepada tetangganya pula.” 3 Lalu TUHAN membuat orang Mesir
bermurah hati terhadap bangsa itu; lagipula Musa yaitu seorang yang
sangat terpandang di tanah Mesir, di mata pegawai-pegawai Firaun dan di
mata rakyat.
Di sini dituturkan,
I. Perkenanan yang mulia dari Tuhan bagi Musa dan bangsa Israel.
F
152
1 Musa yaitu kesayangan sorga, sebab Tuhan tidak akan me-
nyembunyikan kepadanya apa yang hendak Ia lakukan. Tuhan
tidak saja menjadikan dia sebagai utusan untuk menyampai-
kan pesan-pesan-Nya,namun juga memberitahukan kepada dia
tujuan-Nya. Seperti rekan bertukar pikiran Ia akan menda-
tangkan satu tulah lagi, dan hanya satu saja, ke atas Firaun,
yang olehnya Ia akan merampungkan pembebasan bangsa Is-
rael (ay. 1). Musa rindu melihat akhir pekerjaan yang mengeri-
kan ini, melihat Mesir tidak ditulahi lagi dan begitu juga Israel
tidak ditindas lagi. “Baiklah,” firman Allah, “sekarang akhirnya
sudah dekat, tidak lama lagi perang akan berakhir, dan tujuan
tercapai. Firaun akan dipaksa mengakui dirinya takluk, dan
menyerah.” sesudah semua sisa tulah itu, Tuhan berfirman, “Aku
akan mendatangkan satu tulah lagi.” Demikianlah, sesudah
semua hukuman dijatuhkan atas semua orang berdosa di
dunia ini, masih ada satu hukuman lagi yang disimpan untuk
dijatuhkan ke atas mereka ke dunia lain, yang akan meren-
dahkan sepenuhnya orang-orang yang sama sekali tidak mau
merendah.
2. Bangsa Israel yaitu kesayangan sorga, sebab Tuhan sendiri
mendukung perkara mereka yang dicederai itu, dan memper-
hatikan dengan sungguh-sungguh supaya mereka dibayar un-
tuk semua pedih perih mereka selama melayani orang-orang
Mesir. Hari ini yaitu hari terakhir masa perbudakan mereka.
Sekarang mereka akan pergi, dan tuan-tuan mereka yang su-
dah memperlakukan mereka dengan kejam dalam pekerjaan
mereka, tidak akan lagi menipu upah mereka, dan menyuruh
mereka pergi dengan tangan kosong.namun orang-orang Israel
yang miskin, yang begitu mendambakan kemerdekaan, akan
merasa puas biarpun pergi dengan tangan hampa, meskipun
tanpa dibayar. Mereka bersukacita menerimanya tanpa syarat
apa pun.namun TUHAN yang menjalankan keadilan dan hukum
bagi segala orang yang diperas, menetapkan bahwa para
pekerja tidak boleh kehilangan upahnya dan memerintahkan
mereka untuk meminta upah mereka sekarang juga pada saat
keberangkatan mereka, yaitu dalam bentuk barang-barang
emas dan perak (ay. 2). Semua ini bisa terjadi sebab Tuhan
telah mempersiapkannya melalui tulah-tulah itu, yang seka-
rang membuat orang-orang Mesir itu mau berbagi dengan
Kitab Keluaran 11:1-3
153
mereka tanpa syarat apa pun. Padahal sebelumnya, dengan
kekejaman mereka, mereka membiarkan orang-orang Israel
pergi tanpa syarat apa pun. Meskipun orang-orang Israel itu
rela kehilangan upah mereka, namun Tuhan tidak akan mem-
biarkan mereka pergi tanpa upah. Perhatikanlah, dengan satu
atau lain cara, Tuhan akan memberi pemulihan kepada
yang terluka, yang dalam keheningan penuh kerendahhatian
menyerahkan perkara mereka kepada-Nya. Dan Ia akan me-
mastikan bahwa tidak akan ada seorang pun pada akhirnya
akan menjadi pecundang oleh kesabaran mereka dalam pen-
deritaan, supaya hal ini setimpal dengan apa yang telah mere-
ka kerjakan.
II. Kebaikan hati yang diperoleh Musa dan Israel dari orang-orang
Mesir (ay. 3).
1. Bahkan orang-orang yang tadinya dibenci dan dipandang hina
sekarang dihormati. Mujizat-mujizat yang terjadi atas nama
mereka membawa kehormatan bagi mereka dan membuat me-
reka menjadi orang terpandang. Betapa besar jadinya orang-
orang yang untuknya Tuhan berperang! Demikianlah TUHAN
membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu,
dengan menunjukkan betapa Ia berkenan kepada mereka. Ia
juga mengubah suasana hati orang Mesir terhadap mereka,
dan membuat mereka dikasihani oleh penindas-penindas me-
reka (Mzm. 106:46).
2. Musa yaitu orang yang sangat terpandang. Bagaimana
mungkin hal itu terjadi jika mereka tidak melihat kuasa apa
yang meliputinya dan mujizat-mujizat apa yang dibuat oleh
tangannya. Begitulah juga yang terjadi dengan para rasul,
yang walaupun hanya orang-orang hina, menjadi sangat dihor-
mati orang banyak (Kis. 5:13). Orang-orang yang menghormati
Tuhan akan dihormati-Nya. Orang-orang yang membuktikan
dirinya setia kepada-Nya, tak peduli betapa hinanya mereka di
dunia ini, akan datang waktunya mereka akan tampak agung,
sangat agung di pemandangan semua orang di dunia ini, bah-
kan di mata orang-orang yang sekarang memandang mereka
dengan teramat hina. Amatilah, meskipun Firaun membenci
Musa, ada pegawai-pegawai Firaun yang menghormati dia.
Demikian juga mereka yang ada di istana kaisar, bahkan
154
pegawai-pegawai Nero, ada beberapa yang memiliki rasa hor-
mat kepada Rasul Paulus yang mulia (Flp. 1:13).
Tulah-tulah Mesir
(11:4-10)
4 Berkatalah Musa: “Beginilah firman TUHAN: Pada waktu tengah malam Aku
akan berjalan dari tengah-tengah Mesir. 5 Maka tiap-tiap anak sulung di
tanah Mesir akan mati, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya
sampai kepada anak sulung budak perempuan yang menghadapi batu
kilangan, juga segala anak sulung hewan. 6 Dan seruan yang hebat akan
terjadi di seluruh tanah Mesir, seperti yang belum pernah terjadi dan seperti
yang tidak akan ada lagi. 7namun kepada siapa juga dari orang Israel, seekor
anjingpun tidak akan berani menggonggong, baik kepada manusia maupun
kepada binatang, supaya kamu mengetahui, bahwa TUHAN membuat per-
bedaan antara orang Mesir dan orang Israel. 8 Dan semua pegawaimu ini
akan datang kepadaku dan sujud kepadaku serta berkata: Keluarlah, engkau
dan seluruh rakyat yang mengikut engkau; sesudah itu aku akan keluar.”
Lalu Musa meninggalkan Firaun dengan marah yang bernyala-nyala. 9 Ber-
firmanlah TUHAN kepada Musa: “Firaun tidak akan mendengarkan kamu,
supaya mujizat-mujizat yang Kubuat bertambah banyak di tanah Mesir.”
10 Musa dan Harun telah melakukan segala mujizat ini di depan Firaun.
Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak membiarkan orang
Israel pergi dari negerinya
Peringatan diberikan di sini kepada Firaun mengenai tulah terakhir
yang menaklukkan, yang sekarang akan ditimpakan. Tulah ini ada-
lah berupa kematian dari semua anak sulung di Mesir secara ber-
samaan. Ini yaitu tulah yang pertama kali diancamkan (4:23), Aku
akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung, namun yang terakhir
dilaksanakan. Hukuman-hukuman yang lebih ringan telah dicoba-
kan, yang jika berhasil mencapai tujuan, maka akan mencegah tulah
ini terjadi. Lihatlah betapa Tuhan lambat untuk murka, dan Ia ber-
sedia dijumpai di tengah jalan saat hukuman-hukuman-Nya sedang
dilaksanakan, supaya amarah-Nya mereda. Sebab, betapa berhar-
ganya hidup manusia di pemandangan-Nya. Sekiranya kematian
ternak orang Mesir dapat merendahkan dan memperbarui mereka,
maka anak-anak mereka pasti akan selamat. Jika manusia tidak
mau memperbaiki diri saat hukuman-hukuman ilahi datang me-
nimpanya sedikit demi sedikit, maka salah mereka sendiri jika hu-
kuman yang terburuk akhirnya disediakan bagi mereka.
1. Di sini tulah itu sendiri secara khusus diberitahukan sebelum
terjadi (ay. 4-6). Waktunya ditetapkan, yaitu sekitar tengah ma-
lam, tengah malam berikutnya, malam saat segala sesuatu su-
Kitab Keluaran 11:4-10
155
nyi sepi. saat semua mereka tertidur, semua anak sulung mere-
ka harus tidur, tidur dalam kematian, dan bukannya secara diam-
diam dan tanpa terasa sehingga baru diketahui orang pada pagi-
nya. Tidak, seluruh keluarga akan terjaga pada tengah malam itu
juga untuk melihat anak-anak sulung mereka mati. Hebatnya
tulah ini digambarkan dalam ayat 5. Putra mahkota yang akan
melanjutkan takhta kerajaan tidak terlampau tinggi untuk dijang-
kau oleh tulah itu, juga budak-budak di depan batu kilangan
tidak terlampau rendah untuk terlewati hingga luput. Musa dan
Harun tidak diperintahkan untuk memanggil tulah itu, tidak,
pada waktu tengah malam Aku akan berjalan (ay. 4). Ngeri benar,
kalau jatuh ke dalam tangan Tuhan yang hidup. Apakah itu neraka
kalau bukan ini?
2. Perlindungan khusus yang menaungi anak-anak Israel, dan per-
bedaan yang dibuat di antara mereka dan orang-orang Mesir. Se-
mentara malaikat-malaikat menghunus pedang-pedang mereka
terhadap orang-orang Mesir, tidak demikianlah yang terjadi pada
anak-anak orang Israel, bahkan seekor anjing pun tidak ada yang
berani menggonggong anak-anak orang Israel (ay. 7). Dengan ini
sebuah tanda diberikan mengenai perbedaan yang akan diadakan
kelak pada hari yang mulia itu antara umat Tuhan dan musuh-
musuh-Nya. Sekiranya manusia tahu betapa hebatnya pembeda-
an yang dilakukan dan akan dilakukan Tuhan sampai selama-
lamanya antara orang-orang yang beribadah kepada Dia dan
mereka yang tidak, maka agama tidak akan tampak sebagai hal
yang tidak penting sebagaimana yang mereka pikirkan, dan
mereka juga tidak akan menjalani hidup beragama dengan acuh
tak acuh.
3. Dengan penuh rendah hati pegawai-pegawai Firaun akan tunduk
kepada Musa, dan dengan patuhnya mereka akan meminta dia
pergi (ay. 8): Mereka akan datang dan sujud. Perhatikanlah,
musuh-musuh Tuhan dan Israel yang congkak pada akhirnya akan
dibuat tersungkur (Why. 3:9), dan akan didapati sebagai pen-
dusta-pendusta (Ul. 33:29). saat Musa telah selesai menyampai-
kan pesannya, dikatakan bahwa, ia meninggalkan Firaun dengan
marah yang bernyala-nyala, meskipun ia yaitu seorang yang
sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia di atas muka
bumi ini. Mungkin ia berharap bahwa tulah yang sangat meng-
ancam kematian anak-anak sulung akan menyebabkan Firaun
156
menjadi patuh, khususnya sebab sejauh ini Firaun sudah patuh,
dan sampai sekarang sudah melihat betapa tepatnya semua
nubuatan Musa digenapi.namun ancaman itu ternyata tidak ada
pengaruhnya. Hati Firaun yang pongah tidak mau tunduk, tidak,
bahkan untuk menyelamatkan semua anak sulung kerajaannya
sendiri. Kalau bahaya akan kehilangan keluarga tercinta di dunia
ini saja tidak membuat orang takut, maka tidak mengherankan
jika manusia tidak mau berpaling dari jalan-jalan mereka yang
jahat sekalipun mereka telah diberitahu akan kesengsaraan kekal
di dunia lain kelak. sebab itulah Musa menjadi panas hati oleh
kemarahan yang kudus, sebab berdukacita (seperti Juruselamat
kita lalu ), atas kedegilan mereka (Mrk. 3:5). Perhatikanlah,
semangat hamba-hamba Tuhan yang baik sangat diguncang
saat melihat orang-orang menutup telinga terhadap semua peri-
ngatan baik yang mereka sampaikan, dan terus berlari menyong-
song kebinasaan, meskipun segala cara telah diambil untuk men-
cegahnya. sebab itulah Yehezkiel pergi dengan hati panas dan
dengan perasaan pahit (Yeh. 3:14), sebab Tuhan telah memberi-
tahukan kepadanya bahwa kaum Israel tidak akan mendengarkan
dia (ay. 7). Marah terhadap dosa yaitu satu-satunya cara untuk
tidak berdosa dalam amarah. sesudah menjadi begitu terganggu
hatinya oleh kedegilan hati Firaun itu, Musa
(1) Merenungkan kembali peringatan yang telah diberikan Tuhan
kepadanya mengenai hal ini (ay. 9): Berfirmanlah TUHAN ke-
pada Musa, Firaun tidak akan mendengarkan kamu. Alkitab
telah menubuatkan ketidakpercayaan orang untuk mendengar
Injil, supaya hal itu tidak menjadi kejutan dan juga tidak
menjadi batu sandungan bagi kita, (Yoh. 12:37-38, Rm. 10:16).
Janganlah sampai kita memandang buruk Injil Kristus sebab
Injil itu diremehkan orang pada umumnya, sebab kita sudah
diberitahukan sebelumnya betapa Injil itu akan disambut
dingin.
(2) Menyimpulkan semua yang telah Tuhan katakan sebelumnya
mengenai hal ini (ay. 10), bahwa meskipun Musa melakukan
segala mujizat ini, seperti yang dikisahkan di sini, di depan
Firaun (dan Firaun sendiri yaitu saksi mata dari semua muji-
zat itu), namun ia tidak akan berhasil. Ini merupakan tanda
pasti bahwa Tuhan sendiri, dengan cara penghukuman yang
adil, sungguh telah mengeraskan hati Firaun. Demikian juga,
Kitab Keluaran 11:4-10
157
penolakan orang Yahudi terhadap Injil Kristus sungguh begitu
tidak masuk akalnya sehingga dengan mudah dapat disimpul-
kan, bahwa Tuhan memang membuat mereka tidur nyenyak
(Rm. 11:8).
PASAL 12
asal ini memberi penjelasan tentang salah satu ketetapan
yang paling tak terlupakan, dan salah satu pemeliharaan ilahi
yang paling terus dikenang, dari semua yang dicatat dalam Perjanjian
Lama.
I. Tak ada satu pun dari semua ketetapan jemaat Yahudi yang
lebih unggul dibandingkan ketetapan Paskah. Juga, tak ada satu
pun yang lebih sering disebutkan dalam Perjanjian Baru se-
lain ketetapan Paskah. Dan di sini kita mendapati penjelasan
tentang penetapannya. Ketetapan itu terdiri atas tiga bagian:
1. Penyembelihan dan penyantapan anak domba Paskah (ay.
1-6, 8-11).
2. Pemercikan darah pada tiang-tiang pintu, yang dibicara-
kan sebagai hal tersendiri (Ibr. 11:28), dan khusus terda-
pat dalam Paskah pertama ini (ay. 7), disertai alasan un-
tuk pemercikan itu (ay. 13).
3. Perayaan roti tidak beragi selama tujuh hari berikutnya.
Perayaan ini lebih menunjuk pada apa yang harus
dilakukan sesudah itu, dalam menjalankan ketetapan ini
(ay. 14-20). Penetapan ini disampaikan kepada umat, dan
mereka diberi petunjuk tentang pelaksanaan,
(1) Dari Paskah pertama ini (ay. 21-23).
(2) Dari Paskah-paskah sesudahnya (ay. 24-27). Dan ke-
patuhan orang-orang Israel terhadap perintah-perin-
tah ini (ay. 28).
II. Tak ada satu pun dari semua pemeliharaan Tuhan menyang-
kut jemaat Yahudi yang lebih termasyhur, atau lebih sering
P
160
disebutkan, dibandingkan pembebasan orang-orang Israel dari
Mesir.
1. Anak sulung orang-orang Mesir dibunuh (ay. 29-30).
2. Perintah-perintah diberikan dengan segera supaya orang-
orang Israel dibebaskan (ay. 31-33).
3. Orang-orang Israel memulai perjalanan mereka,
(1) Dimuati dengan harta benda mereka sendiri (ay. 34).
(2) Diperkaya dengan barang-barang jarahan dari Mesir
(ay. 35-36).
(3) Diikuti oleh banyak orang dari berbagai-bagai bangsa
(ay. 37-38).
(4) Tersediakan bekal sekadarnya untuk bersegera pergi
(ay. 39). Peristiwa itu diberi penanggalan (ay. 40-42).
Yang terakhir, sebuah ringkasan dalam bagian penu-
tup,
[1] Tentang ketetapan yang tak terlupakan ini, dengan
beberapa tambahan (ay. 43-49).
[2] Tentang pemeliharaan ilahi yang terus dikenang ini
(ay. 50-51).
Penetapan Paskah; Perayaan Roti Tidak Beragi
(12:1-20)
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: 2 “Bulan
inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan
pertama bagimu tiap-tiap tahun. 3 Katakanlah kepada segenap jemaah Israel:
Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak
domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah
tangga. 4namun jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk meng-
ambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang
terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa;
tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-
tiap orang. 5 Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur seta-
hun; kamu boleh ambil domba atau kambing. 6 Kamu harus mengurungnya
sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang
berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. 7 lalu dari
darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu
dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.
8 Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang
mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.
9 Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya
dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya.
10 Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang
tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api. 11 Dan beginilah kamu
memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di
Kitab Keluaran 12:1-20
161
tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.
12 Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak
sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan
kepada semua Tuhan di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.
13 Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu
tinggal: jika Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada
kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apa-
bila Aku menghukum tanah Mesir. 14 Hari ini akan menjadi hari peringatan
bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-
temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.
15 Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari
pertama pun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang
yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh,
orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel. 16 Kamu adakanlah pertemu-
an yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketu-
juh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apa pun; hanya apa
yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan.
17 Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi,
sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar
dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun;
itulah suatu ketetapan untuk selamanya. 18 Dalam bulan pertama, pada hari
yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu makanlah roti yang
tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada
waktu petang. 19 Tujuh hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu,
sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dile-
nyapkan dari antara jemaah Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli.
20 Sesuatu apa pun yang beragi tidak boleh kamu makan; kamu makanlah
roti yang tidak beragi di segala tempat kediamanmu.”
Musa dan Harun di sini menerima dari Tuhan apa yang sesudah itu
mereka teruskan kepada jemaat mengenai ketetapan Paskah, yang
didahului dengan perintah supaya mereka menghitung bulan-bulan
mereka dengan cara baru (ay. 1-2): Bulan inilah akan menjadi per-
mulaan segala bulan bagimu. Hingga pada saat itu mereka memulai
tahun mereka dari pertengahan September,namun untuk selanjutnya
mereka harus memulainya dari pertengahan Maret, setidak-tidaknya
dalam semua penghitungan kegiatan ibadah mereka. Perhatikanlah,
alangkah baiknya memulai hari, dan memulai tahun, dan terutama
memulai hidup kita, dengan Allah. Penghitungan yang baru ini
memulai tahun dari musim semi, yang membaharui muka bumi, dan
digunakan sebagai perlambang dari kedatangan Kristus (Kid. 2:11-
12). Kita dapat menduga bahwa, sementara Musa sedang mendatang-
kan sepuluh tulah kepada orang-orang Mesir, ia memerintahkan
orang-orang Israel untuk bersiap-siap berangkat nantinya pada jam
saat mereka diperintahkan untuk berangkat. Ada kemungkinan ia
secara bertahap mengumpulkan mereka bersama-sama dari tempat-
tempat di mana mereka terserak, sebab mereka di sini disebut seba-
gai jemaah Israel (ay. 3), dan kepada mereka sebagai jemaat, perin-
162
tah-perintah diberikan di sini. Keterkejutan mereka dan ketergesa-
gesaan mereka, mudah kita duga, sangatlah besar.namun sekarang
mereka harus mencurahkan perhatian mereka untuk menjalankan
sebuah upacara suci, bagi kehormatan Allah. Perhatikanlah, walau-
pun benak kita penuh dengan kekhawatiran, dan tangan kita penuh
dengan pekerjaan, namun kita tidak boleh lupa akan ibadah kita.
Janganlah biarkan diri enggan untuk melakukan kegiatan-kegiatan
ibadah.
I. Tuhan menetapkan bahwa pada malam saat mereka harus pergi
dari Mesir, mereka harus, dalam tiap-tiap keluarga, menyembelih
seekor anak domba, atau bahwa dua atau tiga keluarga, jika
anggota-anggotanya sedikit, harus bergabung untuk menyembelih
seekor anak domba. Anak domba itu harus dipersiapkan empat
hari sebelumnya, dan pada senja itu mereka harus menyembelih-
nya (ay. 6) sebagai korban. Tidak secara ketat dilakukan, sebab
anak domba itu tidak dipersembahkan di atas mezbah, melainkan
sebagai upacara keagamaan, untuk mengakui kebaikan Tuhan
terhadap mereka, bukan hanya dalam melindungi mereka dari
tulah-tulah yang ditimpakan kepada orang Mesir, melainkan juga
dalam membebaskan mereka melalui tulah-tulah itu. Lihatlah
betapa ibadah keluarga itu sudah ada sejak dulu kala. Dan
lihatlah betapa akan memudahkan jika keluarga-keluarga kecil
bergabung bersama-sama untuk beribadah, sehingga ibadah itu
bisa menjadi lebih khidmat.
II. Anak domba yang disembelih seperti itu haruslah mereka makan,
dipanggang (bisa kita duga, dalam beberapa potongan), dengan
roti tidak beragi dan sayur-sayur pahit, sebab mereka harus me-
makannya dengan terburu-buru (ay. 11), dan tidak boleh menyisa-
kan sedikit pun sampai keesokan pagi. Sebab Tuhan ingin supaya
mereka bergantung pada-Nya untuk makanan mereka sehari-hari,
dan tidak khawatir akan hari esok. Dia yang menuntun mereka
akan memberi mereka makan.
III. Sebelum mereka makan daging anak domba itu, mereka harus
memercikkan darahnya pada tiang-tiang pintu (ay. 7). Dengan
begitu rumah-rumah mereka akan dibedakan dari rumah-rumah
orang Mesir, dan dengan demikian anak-anak sulung mereka
Kitab Keluaran 12:1-20
163
akan terlindung dari pedang malaikat pembinasa (ay. 12-13).
Pekerjaan yang mengerikan akan dikerjakan pada malam ini di
Mesir. Semua anak sulung baik dari manusia maupun binatang
akan dibunuh, dan penghakiman akan dilaksanakan atas dewa-
dewa Mesir. Musa tidak menyebutkan penggenapannya dalam
pasal ini,namun ia berbicara tentangnya dalam Bilangan 33:4.
Besar kemungkinan bahwa berhala-berhala yang disembah oleh
orang Mesir dihancurkan, dan berhala-berhala yang terbuat dari
logam meleleh, yang terbuat dari kayu terbakar habis, dan yang
terbuat dari batu hancur berkeping-keping. Dari situlah Yitro
menyimpulkan (18:11), TUHAN lebih besar dari segala allah.
Malaikat yang sama yang membinasakan anak-anak sulung
mereka juga menghancurkan berhala-berhala mereka, yang tidak
kurang mereka sayangi. Untuk melindungi bangsa Israel dari
tulah ini, orang Israel diperintahkan untuk memercikkan darah
anak domba pada tiang-tiang pintu rumah mereka. Perbuatan
mereka ini akan diterima sebagai contoh dari iman mereka akan
peringatan-peringatan ilahi dan kepatuhan mereka terhadap
perintah-perintah ilahi. Perhatikanlah,
1. Bahwa pada masa-masa terjadi bencana yang menimpa orang
banyak, Tuhan akan melindungi umat-Nya sendiri, dan akan
menandai mereka. Mereka akan disembunyikan di langit atau-
pun di bawah langit, terlindung dari hantaman penghakiman
atau setidak-tidaknya dari sengatnya.
2. Darah pemercikan yaitu perlindungan orang kudus pada
masa-masa terjadi bencana yang menimpa orang banyak.
Darah inilah yang menandai mereka untuk Allah, yang mene-
nangkan hati nurani, dan memberi mereka keberanian untuk
menghampiri takhta kasih karunia, dan dengan demikian
menjadi tembok perlindungan di sekeliling mereka dan tembok
pemisah antara mereka dan anak-anak dunia ini.
IV. Semua persiapan untuk keluar dari Mesir ini harus dijalankan
setiap tahun sebagai hari raya bagi Tuhan secara turun-temurun,
yang kepadanya ditambahkan hari raya roti tidak beragi. Selama
perayaan itu, selama tujuh hari, mereka tidak boleh makan roti
lain selain roti yang tidak beragi, untuk mengingat bahwa sekali
waktu mereka harus makan roti itu saja, sebab terpaksa, selama
berhari-hari sesudah mereka keluar dari Mesir (ay. 14-20). Ketetap-
164
an itu diulangi berkali-kali supaya mereka memahami petunjuk-
nya dengan lebih baik, dan supaya mereka tidak keliru tentang-
nya. Dan supaya banyak orang yang mungkin selama di Mesir
sudah menjadi sangat bodoh dan tak acuh dalam perkara-perkara
agama, dapat tergugah untuk menjalankan ketetapan itu dengan
tekun. Nah, tanpa diragukan lagi, ada banyak perkara Injil dalam
ketetapan ini. Ketetapan itu sering kali dirujuk dalam Perjanjian
Baru, dan, di dalamnya, kepada kita diberitakan kabar kesukaan,
dan bukan kepada mereka saja, yang tidak dapat melihat dengan
pasti tujuan dari perkara-perkara ini (Ibr. 4:2; 2Kor. 3:13, KJV).
1. Anak domba Paskah yaitu suatu perlambang. Kristus yaitu
anak domba Paskah kita (1Kor. 5:7).
(1) Yang harus dikorbankan yaitu anak domba. Dan Kristus
yaitu Anak domba Tuhan (Yoh. 1:29), yang sering kali
dalam Kitab Wahyu disebut sebagai Anak Domba, lemah
lembut dan tidak bersalah apa-apa seperti anak domba,
kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, di
depan tukang jagal.
(2) Anak domba itu haruslah jantan berumur setahun (ay. 5),
dalam usianya yang terbaik. Kristus mempersembahkan
diri-Nya di tengah-tengah puncak hidup-Nya, bukan pada
waktu bayi bersama bayi-bayi lain di Betlehem. Usia itu
menandakan kekuatan dan kecukupan Tuhan Yesus, yang
pada-Nya kita menyandarkan pertolongan kita.
(3) Anak domba itu tidak boleh bercela (ay. 5), yang menanda-
kan kemurnian Tuhan Yesus, Anak Domba yang tak ber-
cacat (1Ptr. 1:19). Hakim yang menghukum-Nya (seolah-
olah pengadilan terhadap diri-Nya hanya untuk memeriksa
keadaan korban persembahan, apakah ada cela atau tidak)
menyatakan bahwa Dia tidak bersalah.
(4) Anak domba itu harus dipisahkan empat hari sebelumnya
(ay. 3, 6), yang menandakan penetapan Tuhan Yesus seba-
gai Juruselamat, baik dalam tujuan maupun dalam janji.
Dapat diamati dengan sangat jelas bahwa sama seperti
Kristus disalibkan pada hari Paskah, demikian pula Ia de-
ngan khidmat memasuki Yerusalem empat hari sebelum-
nya, tepat pada hari anak domba Paskah dipisahkan.
Kitab Keluaran 12:1-20
165
(5) Anak domba paskah itu harus disembelih, dan dipanggang
di api (ay. 6-9), yang menandakan penderitaan-penderitaan
hebat yang dialami Tuhan Yesus, bahkan sampai mati,
mati di kayu salib. Murka Tuhan yaitu seperti api, dan
Kristus dijadikan kutuk bagi kita.
(6) Anak domba itu harus disembelih oleh seluruh jemaat di an-
tara dua senja, yaitu, antara pukul tiga dan enam petang.
Kristus menderita pada zaman akhir (Ibr. 9:26), melalui ta-
ngan orang-orang Yahudi, seluruh khalayak ramai dari me-
reka (Luk. 23:18), dan demi kebaikan seluruh umat Israel
rohani-Nya.
(7) Satu tulang pun tidak boleh dipatahkan (ay. 46), yang
secara tegas dikatakan digenapi dalam Kristus (Yoh. 19:33,
36), yang menandakan kekuatan yang tak terpatahkan dari
Tuhan Yesus.
2. Pemercikan darah yaitu suatu perlambang.
(1) Darah anak domba itu tidak cukup ditumpahkan,namun
juga harus dipercikkan, yang menandakan bekerjanya jasa-
jasa dari kematian Kristus atas jiwa kita. Kita harus mene-
rima pendamaian itu (Rm. 5:11).
(2) Darah itu harus dipercikkan dengan seikat hisop (ay. 22)
yang dicelupkan dalam sebuah pasu. Perjanjian yang kekal,
seperti pasu, yaitu wadah untuk darah ini. Keuntungan-
keuntungan dan hak-hak istimewa yang diperoleh darinya
disimpan bagi kita di sana. Iman yaitu seikat hisop yang
dengannya kita menerapkan janji-janji itu kepada diri kita
sendiri, dan keuntungan-keuntungan dari darah Kristus
yang tersimpan di dalamnya.
(3) Darah itu harus dipercikkan pada tiang-tiang pintu, yang
menandakan pengakuan kita secara terbuka bahwa kita
beriman kepada Kristus, dan taat terhadap-Nya, sebagai
orang yang tidak malu untuk mengakui kebergantungan
kita pada-Nya. Tanda binatang bisa diterima di dahi atau di
tangan kanan,namun meterai Anak Domba selalu diterima
pada dahi (Why. 7:3). Ada jalan belakang untuk ke neraka,
tetapi tidak ada jalan belakang untuk ke sorga. Tidak, satu-
satunya jalan ke sana yaitu jalan raya (Yes. 35:8).
166
(4) Darah itu harus dipercikkan pada ambang atas dan kedua
tiang pintu,namun tidak pada lantai pintu (ay. 7), yang
mengingatkan kita untuk berjaga-jaga supaya tidak meng-
injak-injak darah perjanjian (Ibr. 10:29). Ini yaitu darah
yang berharga, dan harus berharga bagi kita.
(5) Darah itu, yang dipercikkan seperti itu, yaitu sarana un-
tuk melindungi orang-orang Israel dari malaikat pembi-
nasa, yang tidak akan berbuat apa-apa di tempat di mana
ada darah. Jika darah Kristus dipercikkan ke dalam hati
nurani kita, maka darah itu akan menjadi perlindungan
kita dari murka Allah, kutuk hukum Taurat, dan hukuman
neraka (Rm. 8:1).
3. Memakan anak domba dengan khidmat yaitu perlambang
dari kewajiban Injil kita terhadap Kristus.
(1) Anak domba Paskah itu disembelih, bukan untuk dipan-
dang saja,namun untuk dimakan. Demikian pula kita de-
ngan iman harus menjadikan Kristus sebagai milik kita,
seperti yang kita perbuat terhadap apa yang kita makan.
Dan kita harus menerima kekuatan dan makanan rohani
dari Dia, seperti kita menerima kekuatan dan gizi dari
makanan kita, dan bersuka serta berpuas hati di dalam
Dia, seperti yang kita rasakan saat makan dan minum
saat kita lapar atau haus (lihat Yoh. 6:53-55).
(2) Anak domba itu harus dimakan semuanya. Barangsiapa
makan dari Kristus dengan iman, harus makan dari Kris-
tus secara keseluruhan. Mereka harus menerima Kristus
dan kuk-Nya, Kristus dan salib-Nya, seperti juga Kristus
dan mahkota-Nya. Adakah Kristus terbagi-bagi? Barangsia-
pa mengumpulkan banyak dari Kristus, tidak akan kelebih-
an.
(3) Anak domba itu harus dimakan dengan segera, tidak ditun-
da sampai pagi (ay. 10). Hari ini Kristus dipersembahkan,
dan harus diterima selama masih dapat dikatakan hari ini,
sebelum kita tidur dalam kematian.
(4) Anak domba itu harus dimakan dengan sayur pahit (ay. 8),
untuk mengingat pahitnya perbudakan mereka di Mesir.
Kita harus makan dari Kristus dengan dukacita dan hati
yang hancur, dalam mengingat dosa. Ini akan memberi
Kitab Keluaran 12:1-20
167
kenikmatan yang mengagumkan pada anak domba Paskah
itu. Kristus akan terasa manis bagi kita jika dosa terasa
pahit.
(5) Anak domba itu harus dimakan dalam sikap tubuh yang
siap untuk pergi (ay. 11). saat kita makan dari Kristus
dengan iman, kita harus sepenuhnya meninggalkan peme-
rintahan dan kekuasaan dosa, melepaskan kuk Firaun.
Kita tidak boleh melekat pada dunia, dan segala sesuatu di
dalamnya, harus meninggalkan semuanya demi Kristus, dan
tidak menganggapnya sebagai tawaran yang buruk (Ibr.
13:13-14).
4. Perayaan roti tidak beragi yaitu perlambang dari kehidupan
Kristen (1Kor. 5:7-8). sesudah menerima Kristus Yesus Tuhan,
(1) Kita harus tetap menjalankan perayaan dalam sukacita yang
kudus, senantiasa bersuka dalam Kristus Yesus. Tidak boleh
dilakukan pekerjaan apa pun (ay. 16), tidak boleh ada kekha-
watiran yang dibiarkan masuk atau dituruti, yang tidak
sesuai, atau yang merusak, sukacita yang kudus ini. Jika
orang yang sungguh-sungguh percaya tidak bisa menjalan-
kan perayaan secara terus-menerus, itu salah mereka
sendiri.
(2) Perayaan itu haruslah perayaan roti tidak beragi, yang di-
jalankan dengan kasih, tanpa ragi kebencian, dan ketidak-
tulusan, tanpa ragi kemunafikan. Hukum yang menyang-
kut Paskah sangatlah ketat, dan orang-orang Yahudi men-
jalankannya dengan cara demikian, hingga tidak boleh ada
ragi sedikit pun dalam rumah mereka (ay. 19). Semua ragi
dosa yang lama harus dijauhkan dari kita, dengan teramat
hati-hati dan dengan perasaan yang jijik, jika kita ingin
menjalankan pe