rayaan hidup kudus untuk menghormati
Kristus.
(3) Perayaan itu yaitu suatu ketetapan untuk selamanya (ay.
17). Selama kita hidup, kita harus senantiasa makan dari
Kristus dan bersukacita di dalam Dia, selalu menyebutkan
dengan penuh syukur perkara-perkara besar yang telah
diperbuat-Nya bagi kita.
168
Paskah
(12:21-28)
21 Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka:
“Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak
domba Paskah. 22 lalu kamu harus mengambil seikat hisop dan
mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu
kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorang
pun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi. 23 Dan
TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; jika Ia melihat darah
pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan mele-
wati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu
untuk menulahi. 24 Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai
selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu. 25 Dan jika kamu tiba di
negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya,
maka kamu harus pelihara ibadah ini. 26 Dan jika anak-anakmu berkata
kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? 27 maka haruslah kamu berkata:
Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel
di Mesir, saat Ia menulahi orang Mesir,namun menyelamatkan rumah-
rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. 28 Pergilah
orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN
kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka.
I. Musa di sini, sebagai pelayan yang setia di rumah Allah, mengajar
orang-orang Israel untuk melakukan segala sesuatu yang telah
diperintahkan Tuhan kepadanya. Dan tidak diragukan lagi bahwa
Musa memberi petunjuk-petunjuk secara panjang lebar sama
seperti ia telah menerimanya, meskipun petunjuk-petunjuk itu
tidak dicatat di sini dengan begitu panjang lebar. Di sini ditam-
bahkan,
1. Bahwa pada malam ini, saat anak-anak sulung akan dibina-
sakan, orang Israel tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai
pagi, yaitu, sampai menjelang pagi, saat mereka akan di-
panggil untuk pergi meninggalkan Mesir (ay. 22). Bukan ber-
arti bahwa sang malaikat pemusnah tidak bisa membedakan
orang Israel dan orang Mesir di jalan.namun Tuhan ingin me-
nunjukkan kepada mereka bahwa keselamatan mereka terjadi
berkat darah pemercikan. Jika mereka tidak menempatkan diri
mereka di bawah perlindungan darah itu, maka mereka sendiri
yang akan terkena bahaya. Orang-orang yang sudah ditandai
Tuhan bagi diri-Nya sendiri tidak boleh berbaur dengan para
pembuat kejahatan (lihat Yes. 26:20-21). Mereka tidak boleh
keluar pintu, sebab kalau tidak, mereka akan berkeluyuran
dan tersesat saat mereka harus dipanggil untuk berangkat.
Kitab Keluaran 12:21-28
169
Mereka harus tinggal di dalam, untuk menanti pertolongan
TUHAN, dan sungguh baik berbuat demikian.
2. Bahwa sesudah ini mereka harus dengan penuh perhatian
mengajar anak-anak mereka tentang arti dari ibadah ini (ay.
26-27). Amatilah,
(1) Pertanyaan yang akan diajukan oleh anak-anak mereka
mengenai upacara ini (yang akan segera mereka perhatikan
dalam keluarga): “Apakah artinya ibadahmu ini? Apa arti
dari semua kesungguhan dan ketepatan dalam memakan
anak domba ini, dan roti yang tidak beragi ini, lebih dari-
pada makanan biasa? Mengapa ada perbedaan seperti itu
antara makanan ini dan makanan-makanan lain?” Perhati-
kanlah,
[1] Sungguh suatu hal yang baik melihat anak-anak ingin
tahu mengenai perkara-perkara tentang Allah. Diharap-
kan bahwa orang-orang yang menanyakan jalan dengan
penuh perhatian, akan menemukannya. Kristus sendiri,
saat masih anak-anak, mendengarkan dan mengaju-
kan pertanyaan-pertanyaan (Luk. 2:46).
[2] yaitu kepentingan kita semua untuk memahami
dengan benar arti dari ketetapan-ketetapan kudus yang
di dalamnya kita menyembah Allah, apa hakikatnya dan
apa tujuannya, apa yang ditandakan dan dimaksudkan,
kewajiban apa yang diharapkan dari kita di dalamnya
dan keuntungan-keuntungan apa yang dapat kita nan-
tikan. Setiap ketetapan memiliki arti. Sebagian kete-
tapan, seperti sakramen-sakramen, tidak memiliki
arti yang begitu terang dan jelas seperti sebagian kete-
tapan lain. Oleh sebab itu, kita berkepentingan untuk
menyelidikinya, supaya kita tidak membawa seekor
binatang buta untuk dipersembahkan, agar dengan
dengan demikian kita dapat melakukan ibadah yang
pantas. Jika kita tidak tahu, atau keliru, mengenai arti
dari ketetapan-ketetapan yang kudus, maka kita tidak
dapat menyenangkan hati Tuhan dan hanya merugikan
diri kita sendiri.
(2) Jawaban yang harus diberikan orangtua terhadap perta-
nyaan ini (ay. 27): Haruslah kamu berkata: Itulah korban
170
Paskah bagi TUHAN, yaitu, “Dengan menyembelih dan
mengorbankan anak domba ini, kita terus mengingat karya
ajaib dan karya anugerah yang diperbuat Tuhan bagi nenek
moyang kita, saat ,”
[1] “Untuk membuka jalan bagi pembebasan kita dari per-
budakan, Ia membunuh anak-anak sulung orang-orang
Mesir, dan dengan demikian memaksa mereka untuk
menyetujui pembebasan kita.” Dan,
[2] “Meskipun pada kita, bahkan pada kita, ada dosa-dosa
kepada Tuhan Tuhan kita, yang untuk itu sang malaikat
pemusnah, saat ia keluar menjalankan penghukum-
an, dengan adil dapat membinasakan anak-anak sulung
kita juga, namun Tuhan dengan penuh rahmat menetap-
kan dan menerima korban persembahan keluarga kita
berupa anak domba, sebagai ganti anak sulung. Seperti
pada waktu dulu, seekor domba jantan sebagai ganti
Ishak, dan di setiap rumah di mana anak domba disem-
belih, anak sulung diselamatkan.” Diulanginya upacara
ini pada setiap pergantian tahun dimaksudkan,
Pertama, untuk melihat kembali ke belakang sebagai
peringatan, supaya dengan begitu mereka dapat meng-
ingat perkara-perkara besar apa yang telah dilakukan
Tuhan untuk mereka dan nenek moyang mereka. Kata
pesakh berarti lompatan, atau peralihan. Artinya mele-
wati, berjalan lewat. Sebab malaikat maut melewati ru-
mah-rumah orang Israel, dan tidak membinasakan
anak-anak sulung mereka. saat Tuhan mendatangkan
kehancuran yang sepenuhnya ke atas umat-Nya, Ia ber-
kata, Aku tidak akan melewati mereka lagi (Am. 7:8; 8:2,
KJV), yang menyiratkan seberapa sering Ia sudah mele-
wati atau memaafkan mereka, seperti sekarang saat
sang malaikat pemusnah melewati rumah-rumah me-
reka. Perhatikanlah,
1. Semua rahmat yang istimewa menuntut kewajiban
khusus yang harus kita kerjakan. saat seribu
orang rebah di sisi kita, dan sepuluh ribu di sebelah
kanan kita, dan diri kita terlindungi, dan nyawa kita
terselamatkan dan tidak ikut menjadi mangsa, maka
Kitab Keluaran 12:21-28
171
hal ini haruslah menyentuh hati kita (Mzm. 91:7).
Dalam peperangan atau wabah penyakit, jika anak
panah maut melewati kita, terbang melintas di atas
kita, mengena orang di sebelah kita dan meleset dari
kita, maka kita tidak boleh berkata bahwa sebab
kebetulanlah kita terlindungi, melainkan sebab
pemeliharaan istimewa dari Tuhan kita.
2. Rahmat-rahmat yang kita atau nenek moyang kita
terima dahulu, tidak boleh dilupakan,namun harus
diingat selama-lamanya, supaya Tuhan dipuji, iman
kita kepada-Nya didorong, dan hati kita dilapangkan
dalam melayani-Nya.
Kedua, diulanginya ibadah atau upacara Paskah ini
pada setiap pergantian tahun dimaksudkan untuk meli-
hat ke depan, sebagai jaminan bahwa korban agung
Anak Domba Tuhan akan digenapi pada waktunya, seba-
gai ganti diri kita dan anak sulung kita. Kita patut men-
jadi sasaran pedang malaikat pemusnah,namun Kristus
anak domba Paskah kita telah disembelih untuk kita,
kematian-Nya yaitu kehidupan kita, dan dengan demi-
kian Dia yaitu Anak Domba yang telah disembelih sejak
dunia dijadikan, sejak jemaat Yahudi dibentuk. Musa
menjalankan Paskah dengan iman kepada Kristus, se-
bab Kristus yaitu kegenapan hukum Taurat, sehingga
kebenaran diperoleh.
II. Umat Israel menerima petunjuk-petunjuk ini dengan hormat dan
kesiapan untuk taat.
1. Mereka berlutut dan sujud menyembah (ay. 27). Mereka dengan
begitu menunjukkan kepatuhan mereka pada ketetapan ini
sebagai sebuah hukum, dan rasa syukur mereka atas ketetap-
an itu sebagai sebuah perkenanan dan hak istimewa. Perhati-
kanlah, saat Tuhan memberi hukum kepada kita, kita
harus memberi penghormatan kepada-Nya. saat Ia ber-
firman, kita harus berlutut dan sujud menyembah.
2. Mereka pergi dan berbuat seperti yang diperintahkan kepada
mereka (ay. 28). Di sini tidak ada rasa tidak puas dan sungut-
sungut di antara mereka seperti yang kita temukan sebelum-
172
nya dalam pasal 5:20-21. Tulah-tulah Mesir telah mendatang-
kan kebaikan bagi mereka, dan membesarkan harapan-harap-
an mereka untuk menantikan suatu pembebasan yang mulia,
yang tidak mereka impikan lagi sebab sudah berputus asa
akan mendapatkannya. Dan sekarang mereka pergi menyong-
song kebebasan itu di jalan yang sudah ditetapkan. Perhati-
kanlah, penggenapan rahmat-rahmat Tuhan bagi kita haruslah
kita nantikan dengan menjalankan ketetapan-ketetapan-Nya
dengan rendah hati.
Kematian Anak Sulung
(12:29-36)
29 Maka pada tengah malam TUHAN membunuh tiap-tiap anak sulung di
tanah Mesir, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai
kepada anak sulung orang tawanan, yang ada dalam liang tutupan, beserta
segala anak sulung hewan. 30 Lalu bangunlah Firaun pada malam itu, ber-
sama semua pegawainya dan semua orang Mesir; dan kedengaranlah seruan
yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak kematian. 31 Lalu
pada malam itu dipanggilnyalah Musa dan Harun, katanya: “Bangunlah,
keluarlah dari tengah-tengah bangsaku, baik kamu maupun orang Israel;
pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, seperti katamu itu. 32 Bawalah juga
kambing dombamu dan lembu sapimu, seperti katamu itu,namun pergilah!
Dan pohonkanlah juga berkat bagiku.” 33 Orang Mesir juga mendesak dengan
keras kepada bangsa itu, menyuruh bangsa itu pergi dengan segera dari
negeri itu, sebab kata mereka: “Nanti kami mati semuanya.” 34 Lalu bangsa
itu mengangkat adonannya, sebelum diragi, dengan tempat adonan mereka
terbungkus dalam kainnya di atas bahunya. 35 Orang Israel melakukan juga
seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas
dan perak serta kain-kain. 36 Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah
hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikian-
lah mereka merampasi orang Mesir itu.
Di sini kita mendapati,
I. Anak-anak laki-laki orang Mesir, yaitu anak-anak sulung mereka,
dibunuh (ay. 29-30). Kalau saja Firaun mau mendengar peringat-
an yang diberikan sebelumnya kepadanya mengenai datangnya
tulah ini, dan mau membebaskan Israel seturut peringatan itu,
betapa banyak nyawa orang yang terkasih dan berharga yang
akan diselamatkan!namun lihatlah apa yang didatangkan oleh
kedurhakaan dan kedegilan hati ke atas manusia. Amatilah,
1. Waktu saat hantaman ini didatangkan: Terjadinya pada
tengah malam, yang menambah kengeriannya. Tiga malam
Kitab Keluaran 12:29-36
173
sebelumnya dibuat mengerikan oleh tulah tambahan, yaitu
tulah kegelapan, yang dapat dirasakan, dan tidak diragukan
lagi mengganggu istirahat mereka. Dan sekarang, saat mere-
ka berharap mendapat satu istirahat yang tenang di malam
hari, pada tengah malam tanda bahaya dibunyikan. saat sang
malaikat pemusnah menghunus pedangnya melawan Yeru-
salem, itu terjadi pada siang hari (2Sam. 24:15), yang membuat-
nya tidak begitu menakutkan.namun kehancuran Mesir terjadi
oleh penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap (Mzm. 91:6).
Dalam sekejap saja terdengar seruan yang menggegerkan pada
tengah malam, lihatlah, mempelai datang!
2. Pada siapa tulah itu terpancang, yaitu pada anak sulung
mereka, yang merupakan sukacita dan harapan dari tiap-tiap
keluarga. Mereka sudah membunuh anak-anak orang Ibrani,
dan sekarang Tuhan membunuh anak-anak mereka. Demikian-
lah Ia membalaskan kejahatan bapa kepada anak-anaknya.
Dan tidak adilkah Allah, jika Ia menampakkan murka-Nya?.
3. Seberapa jauh tulah itu menjangkau, yaitu dari atas takhta
sampai ke dalam liang tutupan. Raja dan petani berdiri sama
tinggi di hadapan penghakiman-penghakiman Allah, sebab Ia
tidak membeda-bedakan orang (lihat Ayb. 34:19-20). Lihatlah,
orang-orang yang mati terbunuh oleh TUHAN banyak jumlah-
nya. Banyak, banyak sekali orang yang jatuh di lembah penen-
tuan ini, saat perseteruan antara Tuhan dan Firaun hendak
diselesaikan.
4. Betapa hebatnya seruan yang ditimbulkan oleh peristiwa ini:
Kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, di mana-mana
banyak orang meratapi anak tunggal mereka, dan semua orang
meratapi anak sulung mereka. Biasanya jika ada orang yang
tiba-tiba jatuh sakit pada malam hari, kita bisa saja meminta
tolong pada tetangga, namun dalam peristiwa ini, orang-orang
Mesir tidak bisa mendapat pertolongan, tidak bisa mendapat
penghiburan, dari tetangga-tetangga mereka, sebab semua
orang terkena malapetaka yang sama. Marilah kita belajar dari
sini,
(1) Untuk gemetar di hadapan Allah, dan takut kepada penghu-
kuman-Nya (Mzm. 119:120). Siapakah yang mampu berdiri
di hadapan-Nya, atau berani menentang-Nya?
174
(2) Untuk bersyukur kepada Tuhan atas terpeliharanya diri kita
dan keluarga kita setiap hari. sebab begitu rentan terha-
dap bahaya, maka beralasan bagi kita untuk berkata, “Ber-
kat rahmat Tuhanlah kita tidak dihabisi.”
II. Anak-anak Allah, bahkan anak-anak sulung-Nya, dibebaskan.
Penghakiman ini menaklukkan Firaun, dan mengharuskannya
untuk menyerah dengan bijak, menyerah tanpa syarat. Manusia
sebaiknya memenuhi syarat-syarat Tuhan dari sejak awal, sebab Ia
tidak akan pernah turun untuk mengikuti syarat-syarat mereka,
sekalipun mereka berkeberatan selama yang mereka inginkan.
Sekarang kesombongan Firaun direndahkan, dan ia menyerah
pada semua yang dituntut oleh Musa: Beribadahlah kepada
TUHAN, seperti katamu itu (ay. 31), dan bawalah juga kambing
dombamu seperti katamu itu (ay. 32). Perhatikanlah, firman Tuhan
akan teguh berdiri, dan kita tidak akan mendapat apa-apa dengan
membantahnya, atau menunda-nunda untuk tunduk kepadanya.
Hingga pada saat itu orang-orang Israel tidak diizinkan untuk
pergi,namun sebab sekarang keadaan sudah luar biasa parah,
sehingga sebagai akibatnya,
1. Mereka diperintahkan untuk berangkat. Bangunlah, dan ke-
luarlah (ay. 31). Sebelumnya Firaun mengusir Musa dan ber-
kata bahwa Musa tidak akan melihat mukanya lagi.namun
sekarang Firaun mengirim orang untuk menemuinya. Orang-
orang yang sebelumnya membangkang terhadap Allah, akan
buru-buru mencari-Nya saat mereka dalam kesusahan.
Betapa Firaun sekarang dilanda ketakutan sehingga ia menge-
luarkan perintah di malam hari untuk membebaskan mereka,
sebab takut jangan-jangan, jika ia menunda-nunda lagi, ia
sendiri yang akan binasa berikutnya. Dan ia menyuruh mere-
ka pergi, bukan sebagai orang-orang yang dibenci (seperti yang
digambarkan para sejarawan kafir tentang peristiwa ini), me-
lainkan sebagai orang-orang yang ditakuti. Hal itu terlihat
jelas melalui permintaannya yang penuh kerendahan hati
kepada mereka (ay. 32): “Pohonkanlah juga berkat bagiku.
Hendaklah engkau mendoakan aku, supaya aku tidak terkena
tulah atas apa yang sudah terjadi, saat engkau sudah pergi.”
Perhatikanlah, orang-orang yang menjadi musuh bagi jemaat
Kitab Keluaran 12:29-36
175
Allah, menjadi musuh bagi diri mereka sendiri, dan, cepat atau
lambat, mereka akan dibuat menyadarinya.
2. Mereka didesak untuk cepat-cepat pergi oleh orang-orang
Mesir. Orang-orang Mesir berseru (ay. 33), nanti kami mati
semuanya. Perhatikanlah, saat kematian mendatangi rumah
kita, maka sudah waktunya kita memikirkan fananya hidup
kita sendiri. Adakah saudara-saudara kita meninggal? Mudah
untuk menyimpulkan dari sini bahwa kita sendiri juga akan
mati, dan, sesungguhnya, kita ini sudah menjadi orang mati.
Atas pertimbangan ini, orang-orang Mesir mendesak orang-
orang Israel untuk pergi, yang memberi keuntungan besar
bagi orang-orang Israel saat mereka meminta perhiasan-per-
hiasan orang Mesir (ay. 35-36). saat orang-orang Mesir men-
desak mereka untuk pergi, mudah bagi mereka untuk berkata
bahwa orang-orang Mesir telah membuat mereka miskin,
sehingga mereka tidak bisa melakukan perjalanan seperti itu
dengan dompet kosong. sebab itu, mereka bisa mengemuka-
kan alasan bahwa jika orang-orang Mesir mau memberi mere-
ka bekal untuk menanggung biaya perjalanan mereka, maka
mereka akan pergi. Dan inilah yang dirancang oleh Tuhan sang
Pemelihara dalam membiarkan segala sesuatunya menjadi
luar biasa parah seperti ini, supaya mereka, sebab sudah
menjadi begitu menakutkan bagi orang Mesir, bisa mendapat-
kan apa yang mereka minta. Tuhan juga, melalui pengaruh
yang dimiliki-Nya atas pikiran orang, mencondongkan hati
orang-orang Mesir untuk melengkapi mereka dengan apa yang
mereka inginkan. Ada kemungkinan bahwa dengan berbuat
begitu orang-orang Mesir berniat untuk membuat pendamaian,
supaya tulah-tulah itu dapat dihentikan, seperti orang-orang
Filistin, saat mereka mengembalikan tabut Allah, mengirim-
kan pemberian bersamanya sebagai tebusan salah, dengan
mengingat apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya (1Sam.
6:3, 6). Orang-orang Israel dapat menerima dan menyimpan
apa yang mereka pinjam, atau lebih tepatnya, apa yang
mereka tuntut, dari orang-orang Mesir itu,
(1) Sebagai upah yang pantas mereka peroleh sebagai hamba
dari majikan mereka atas pekerjaan yang sudah mereka
kerjakan, dan menuntutnya jika upah itu ditahan.
176
(2) Sebagai barang-barang jarahan yang patut diambil para
penakluk dari dari musuh-musuh mereka yang telah mere-
ka kalahkan. Firaun sudah memberontak terhadap Tuhan
orang Ibrani, maka semua yang dimilikinya diambil darinya
sebab perbuatannya sendiri.
(3) Sebagai harta benda yang pantas diterima oleh rakyat,
sebab diberikan oleh raja mereka. Tuhan yaitu pemilik
yang berdaulat atas bumi dan segala isinya. Dan, jika Ia
mengambil dari yang seorang dan memberi kepada
yang lain, siapa pula yang dapat berkata kepada-Nya: Apa
yang Kaulakukan? Oleh perintah dan ketetapan Tuhan yang
istimewalah orang-orang Israel melakukan apa yang
mereka lakukan, yang sudah cukup untuk membenarkan
mereka, dan menyokong mereka.namun apa yang mereka
lakukan itu sama sekali tidak akan memberi wewenang
kepada orang lain (yang tidak bisa berlagak mendapat
perintah seperti itu) untuk melakukan hal yang sama.
Marilah kita ingat,
[1] Bahwa Raja segala raja tidak bisa berbuat salah.
[2] Bahwa Ia akan berbuat kebaikan kepada orang-orang
yang dijahati oleh orang lain (Mzm. 146:7). Itulah sebab-
nya kekayaan orang berdosa sering kali terbukti disim-
pan bagi orang benar (Ams. 13:22; Ayb. 27:16-17).
Keberangkatan Orang-orang Israel
(12:37-42)
37 lalu berangkatlah orang Israel dari Raamses ke Sukot, kira-kira
enam ratus ribu orang laki-laki berjalan kaki, tidak termasuk anak-anak.
38 Juga banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka; lagi
sangat banyak ternak kambing domba dan lembu sapi. 39 Adonan yang
dibawa mereka dari Mesir dibakarlah menjadi roti bundar yang tidak beragi,
sebab adonan itu tidak diragi, sebab mereka diusir dari Mesir dan tidak
dapat berlambat-lambat, dan mereka tidak pula menyediakan bekal baginya.
40 Lamanya orang Israel diam di Mesir yaitu empat ratus tiga puluh tahun.
41 Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga,
keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir. 42 Malam itulah malam
berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir.
Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun,
untuk kemuliaan TUHAN.
Di sini ada keberangkatan orang-orang Israel keluar dari Mesir. Sete-
lah memperoleh pembebasan, mereka melangkah maju tanpa menun-
Kitab Keluaran 12:37-42
177
da-nunda, dan tidak menunggu-nunggu sampai waktu yang lebih
nyaman. Pikiran Firaun sedang baik sekarang. Dan beralasan bagi
mereka untuk berpikir bahwa ia tidak akan lama terus begitu, dan
sebab itu tidak ada waktu untuk tinggal berlama-lama. Kita men-
dapati di sini penjelasan,
1. Tentang jumlah mereka, sekitar 600.000 orang (ay. 37), tidak ter-
masuk perempuan dan anak-anak, yang menurut saya, tidak
mungkin kurang dari 1.200.000 orang. Betapa banyaknya per-
tambahan mereka ini, dari tujuh puluh jiwa hanya dalam waktu
200 tahun lebih sedikit! Lihatlah kuasa dan kemanjuran dari
berkat itu, saat Tuhan memerintahkannya, beranakcuculah dan
bertambah banyak. Ini merupakan perlambang dari banyaknya
orang yang dibawa ke dalam jemaat Injil saat jemaat itu per-
tama kali didirikan. Dengan jalan ini makin tersiarlah firman
Tuhan dan makin berkuasa.
2. Tentang rombongan lain yang menyertai mereka (ay. 38): Juga
banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka,
orang-orang yang mengikuti keluarga besar itu. Sebagian mung-
kin rela meninggalkan negeri mereka sebab sudah sudah di-
porak-porandakan oleh tulah-tulah, dan sebab itu mereka men-
cari peruntungan dengan mengikuti orang-orang Israel. Sebagian
yang lain ikut berangkat sebab rasa ingin tahu, ingin melihat
khidmatnya persembahan korban Israel kepada Tuhan mereka,
yang sudah begitu banyak diperbincangkan. Mereka berharap
dapat melihat beberapa penampakan yang mulia dari Tuhan Israel
di padang gurun, sesudah melihat penampakan-penampakan
Tuhan yang mulia seperti itu di antara orang Israel di padang Zoan
(Mzm. 78:12). Mungkin sebagian besar orang dari berbagai-bagai
bangsa ini hanyalah gerombolan kasar dan tidak berpikiran
panjang, yang mengikuti kerumunan itu tanpa tahu alasannya.
Kita mendapati sesudahnya bahwa mereka terbukti menjadi jerat
bagi orang-orang Israel (Bil. 11:4), dan ada kemungkinan bahwa
segera sesudah sadar orang-orang Israel akan terus berputar-
putar di padang gurun selama empat puluh tahun, mereka pun
meninggalkan orang-orang Israel dan kembali ke Mesir. Perhati-
kanlah, di antara orang-orang Israel selalu ada saja orang-orang
yang bukan Israel. Masih tetap ada orang-orang munafik di dalam
178
jemaat, yang berbuat banyak kejahatan,namun yang akan di-
kebaskan pada akhirnya.
3. Tentang harta benda orang Israel. Pada mereka ada sangat
banyak ternak kambing domba dan lembu sapi. Hal ini dicatat
sebab jauh sebelumnya Firaun mau mengizinkan mereka pergi
hanya dengan membawa serta harta benda yang terutama berupa
ternak (Kej. 46:32).
4. Tentang bekal yang dibawa selama tinggal di perkemahan, yang
sangat sedikit dan sekadarnya saja. Mereka membawa sedikit
adonan dari Mesir dalam kantung-kantung (ay. 34). Mereka sudah
bersiap-siap untuk memanggang adonan itu pada keesokan hari-
nya, sebagai perbekalan saat berangkat, sebab mengetahui bah-
wa waktunya sudah sangat dekat. Akannamun , sebab disuruh
berangkat segera lebih cepat dibandingkan yang mereka pikir, bebe-
rapa jam lebih awal, maka mereka pun membawa adonan yang
ada begitu saja, tidak beragi. saat mereka sampai di Sukot, tem-
pat perhentian pertama mereka, mereka memanggang roti-roti
bundar yang tidak beragi, dan, meskipun tentu saja roti-roti ini
hambar rasanya, namun sebab sekarang mereka sudah bebas
merdeka, santapan ini pun terasa sebagai yang paling menyuka-
kan hati yang pernah mereka makan seumur hidup mereka.
Perhatikanlah, hamba-hamba Tuhan tidak boleh menjadi budak
bagi hawa nafsu mereka. Janganlah mereka berhasrat untuk
mengecap semua kenikmatan indrawi sampai ke puncaknya. Kita
harus bersedia untuk mencukupkan diri dengan roti kering,
bahkan, dengan roti tidak beragi, dibandingkan mengabaikan atau
menunda suatu pekerjaan yang harus kita lakukan untuk Allah.
Kita harus menjadi seperti orang yang makanan dan minumannya
yaitu melakukan kehendak-Nya.
5. Tentang penanggalan dari peristiwa besar ini. Peristiwa ini terjadi
tepat 430 tahun sesudah janji yang dibuat kepada Abraham
(seperti Rasul Paulus menjelaskannya [Gal. 3:17]), pada waktu ia
pertama kali datang ke Kanaan. Selama itu orang Israel, yaitu
orang Ibrani, keturunan yang dibedakan dan dipilih, menjadi
pendatang di negeri yang bukan milik mereka, entah Kanaan atau
Mesir. Janji yang diucapkan Tuhan kepada Abraham tentang ber-
diamnya mereka di sebuah negeri begitu lama terdiam dan tidak
tergenapi,namun sekarang, pada akhirnya, janji itu dihidupkan
kembali, dan segala sesuatu mulai bekerja menuju penggenapan-
Kitab Keluaran 12:37-42
179
nya. Hari pertama dari perjalanan keturunan Abraham menuju
Kanaan jatuh tepat 430 tahun sesudah janji yang dibuat kepada
Abraham (Kej. 12:2), Aku akan membuat engkau menjadi bangsa
yang besar. Lihatlah betapa Tuhan itu tepat waktu. Meskipun janji-
janji-Nya tidak dilaksanakan dengan cepat, namun janji-janji itu
akan digenapi pada waktunya.
6. Tentang tak terlupakannya peristiwa itu. Malam itulah malam
berjaga-jaga (ay. 42, KJV: Itu yaitu malam yang harus banyak
diingat).
(1) Tindakan-tindakan penyelenggaraan ilahi yang dilakukan pada
malam pertama itu sangat jelas terlihat. Sungguh tak terlupa-
kan kehancuran orang-orang Mesir, dan pembebasan bangsa
Israel melaluinya. Tuhan dalam hal ini membuat diri-Nya diper-
hatikan.
(2) Ketetapan-ketetapan pada malam itu, dalam pengulangannya
setiap tahun, harus dijalankan dengan penuh perhatian: Ma-
lam itulah malam bagi TUHAN, malam yang luar biasa, untuk
dirayakan turun-temurun. Perhatikanlah, perkara-perkara be-
sar yang dilakukan Tuhan bagi umat-Nya hendaklah jangan men-
jadi keajaiban seumur jagung saja,namun hendaklah dikenang
dari masa ke masa, terutama karya penebusan kita oleh Kris-
tus. Malam Paskah pertama ini yaitu malam bagi Tuhan yang
harus banyak diingat.namun malam Paskah terakhir, yang
pada saat itu Kristus dikhianati (dan bersamaan dengan itu
Paskah di Mesir, beserta semua ketetapan upacara yang lain,
digantikan dan dihapuskan), yaitu malam bagi Tuhan yang
harus lebih banyak diingat. Pada malam itu kuk yang lebih
berat dibandingkan kuk Mesir dipatahkan dari leher kita, dan
tanah yang lebih baik dibandingkan tanah Kanaan diperhadapkan
kepada kita. Malam Paskah yang pertama di Mesir yaitu
pembebasan sementara yang dirayakan turun-temurun di an-
tara orang Israel saja. sedang malam Paskah yang terakhir
yaitu penebusan kekal yang akan dirayakan dalam puji-
pujian orang-orang kudus yang mulia sampai selamanya dan
seterusnya.
180
Petunjuk-petunjuk mengenai Paskah
(12:43-51)
43 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: “Inilah ketetapan mengenai
Paskah: Tidak seorang pun dari bangsa asing boleh memakannya. 44 Seorang
budak belian barulah boleh memakannya, sesudah engkau menyunat dia.
45 Orang pendatang dan orang upahan tidak boleh memakannya. 46 Paskah
itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikit pun
dari daging itu keluar rumah; satu tulang pun tidak boleh kamu patahkan.
47 Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya. 48namun jika seorang
asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka
setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia
boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli.
Tetapi tidak seorang pun yang tidak bersunat boleh memakannya. 49 Satu
hukum saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing yang
menetap di tengah-tengah kamu.” 50 Seluruh orang Israel berbuat demikian;
seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah
diperbuat mereka. 51 Dan tepat pada hari itu juga TUHAN membawa orang
Israel keluar dari tanah Mesir, menurut pasukan mereka.
Beberapa petunjuk lebih lanjut tentang Paskah diberikan di sini,
seperti yang harus dijalankan pada masa-masa yang akan datang.
I. Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya (ay. 47). Semua
orang yang berbagi dalam rahmat-rahmat Tuhan haruslah ber-
gabung dalam puji-pujian yang penuh syukur atas rahmat-rah-
mat itu. Meskipun perayaan itu dijalankan dalam keluarga-
keluarga secara terpisah, namun perayaan itu harus dipandang
sebagai tindakan seluruh jemaat. Sebab kumpulan-kumpulan
yang lebih kecil membentuk kumpulan yang lebih besar. Paskah
Perjanjian Baru, perjamuan Tuhan, tidak boleh diabaikan oleh
siapa saja yang mampu merayakannya. Tidak layak disebut seba-
gai orang Israel jika orang itu mengabaikan begitu saja peringatan
tentang pembebasan yang begitu besar.
1. Orang asing yang tidak disunat tidak diperbolehkan untuk
makan darinya (ay. 43, 45, 48). Tak seorang pun dapat duduk
di meja perjamuan selain mereka yang masuk melalui pintu.
Sama halnya juga, tak seorang pun boleh datang mendekat
pada upacara perjamuan Tuhan yang agung itu, jika orang itu
tidak pertama-tama menyerahkan diri pada upacara baptisan,
yang merupakan upacara penerimaan. Kita harus dilahirkan
kembali dengan firman sebelum kita dapat dibuat bertumbuh
olehnya. Juga, tak seorang pun dapat ambil bagian dalam
manfaat yang diberikan oleh korban Kristus, atau berpesta
Kitab Keluaran 12:43-51
181
atasnya, jika ia tidak pertama-tama melakukan sunat hati
(Kol. 2:11).
2. Orang asing yang disunat dipersilakan makan dari perjamuan
Paskah, bahkan budak-budak belian (ay. 44). Jika, dengan
disunat, mereka mau membuat diri mereka berutang pada
beban-beban hukum Taurat, maka mereka dipersilakan untuk
berbagi dalam sukacita dari perayaan-perayaannya yang khid-
mat.namun , jika tidak disunat, mereka tidak diperkenankan.
Hanya saja disiratkan (ay. 48), bahwa orang-orang yang men-
jadi kepala keluarga tidak boleh hanya menyunat diri mereka
sendiri saja,namun semua laki-laki dalam keluarga mereka
harus ikut disunat juga. Jika dengan tulus hati, dan dengan
semangat yang layak dan pantas, kita menyerahkan diri kita
kepada Allah, maka kita pun pasti akan bersedia menyerah-
kan semua yang kita miliki kepada-Nya, dan berbuat semam-
pu kita supaya semua milik kita dapat menjadi milik-Nya juga.
Di sini ada petunjuk awal mengenai perkenanan Tuhan terha-
dap bangsa-bangsa bukan Yahudi yang malang, bahwa orang
asing, jika disunat, berdiri sama tinggi dengan orang Israel
asli. Satu hukum saja akan berlaku untuk keduanya (ay. 49).
Hal ini untuk merendahkan hati orang-orang Yahudi, dan
mengajar mereka, bahwa ibadah mereka kepada Allahlah, dan
bukan sebab menjadi keturunan Abraham, yang membuat
mereka berhak atas hak-hak istimewa. Orang yang dengan
tulus hati menjadi penganut agama Yahudi disambut ke dalam
perjamuan Paskah sama seperti orang Israel asli (Yes. 56:6-7).
II. Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga (ay. 46), demi
menjalin persekutuan yang baik, supaya mereka dapat bersuka-
cita bersama-sama, dan membangun satu sama lain dalam me-
makannya. Jamuan paskah tidak boleh dibawa ke tempat lain,
atau disisakan untuk lain waktu. Sebab Tuhan tidak ingin mereka
begitu sibuk mengurusi keberangkatan mereka sehingga tidak
sempat lagi menikmati penghiburan atas keluarnya mereka dari
Mesir. Tuhan ingin supaya mereka meninggalkan Mesir dan masuk
ke padang gurun dengan hati yang gembira, dan sebagai tanda
untuk itu, seharusnya mereka makan dengan hati gembira.
Pasal ini ditutup dengan mengulangi inti dari seluruh peristiwa
Paskah ini, bahwa orang-orang Israel berbuat seperti yang apa yang
182
diperintahkan kepada mereka, dan Tuhan berbuat untuk mereka
seperti yang telah dijanjikan-Nya (ay. 50-51). Sebab, Ia pasti akan
mengadakan keselamatan bagi orang-orang yang mematuhi-Nya.
PASAL 1 3
Dalam pasal ini kita mendapati,
I. Perintah-perintah yang diberikan Tuhan kepada Israel,
1. Untuk menguduskan semua anak sulung mereka bagi-
Nya (ay. 1-2).
2. Untuk memastikan supaya mereka mengingat pembebas-
an mereka dari Mesir (ay. 3-4), dan, dalam mengingatnya,
untuk memelihara perayaan roti tidak beragi (ay. 5-7).
3. Untuk meneruskan pengetahuan tentang perayaan itu
kepada anak-anak mereka dengan segala perhatian (ay. 8-
10).
4. Untuk memisahkan bagi Tuhan yang sulung dari ternak
mereka (ay. 11-13), dan untuk menjelaskan hal itu juga
kepada anak-anak mereka (ay. 14-16).
II. Pemeliharaan Tuhan terhadap Israel sesudah Ia membawa
mereka keluar dari Mesir.
1. Dengan memilih jalan untuk mereka (ay. 17-18).
2. Dengan membimbing mereka di jalan (ay. 20-22). Dan
III. Perhatian orang Israel terhadap tulang-tulang Yusuf (ay. 19).
Pengudusan Anak Sulung
(13:1-10)
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 2 “Kuduskanlah bagi-Ku semua anak
sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik
pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka.” 3 Lalu
berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Peringatilah hari ini, sebab pada hari
ini kamu keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan; sebab dengan
kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana. Sebab
itu tidak boleh dimakan sesuatu pun yang beragi. 4 Hari ini kamu keluar,
184
dalam bulan Abib. 5 jika TUHAN telah membawa engkau ke negeri orang
Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Hewi dan orang Yebus, negeri yang
telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk mem-
berikannya kepadamu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu-
nya, maka engkau harus melakukan ibadah ini dalam bulan ini juga. 6 Ma-
kanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya dan pada hari yang ketujuh
akan diadakan hari raya bagi TUHAN. 7 Roti yang tidak beragi haruslah
dimakan selama tujuh hari itu; sesuatu pun yang beragi tidak boleh dilihat
padamu, bahkan ragi tidak boleh dilihat padamu di seluruh daerahmu.
8 Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini
yaitu sebab mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku
keluar dari Mesir. 9 Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan
menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu; sebab
dengan tangan yang kuat TUHAN telah membawa engkau keluar dari Mesir.
10 Haruslah kaupegang ketetapan ini pada waktunya yang sudah ditentukan,
dari tahun ke tahun.
Di sini diberikan perhatian untuk mengabadikan ingatan,
I. Akan terlindungnya anak-anak sulung orang Israel, saat anak-
anak sulung orang Mesir dibunuh. Untuk mengingat perkenanan
yang istimewa itu, dan bersyukur untuknya, semua anak sulung,
di sepanjang masa, harus dikuduskan bagi Allah, sebagai kesa-
yangan-Nya (ay. 2), dan harus ditebus (ay. 13). Allah, yang berda-
sarkan hak penciptaan yaitu pemilik dan penguasa yang ber-
daulat atas semua makhluk, di sini mengajukan tuntutan khu-
susnya atas anak-anak sulung orang Israel, berdasar hak
perlindungan: Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung. Orang-
tua tidak boleh memandang diri mereka sendiri sebagai pihak
yang berkepentingan atas anak sulung mereka, sebelum mereka
terlebih dahulu mempersembahkan anak sulung mereka secara
khidmat kepada Allah, mengakui hak-Nya atas mereka, dan me-
nerima mereka kembali, dengan suatu cara, dari-Nya lagi. Perhati-
kanlah,
1. Apa yang diberikan kepada kita dengan suatu rahmat yang
istimewa dan khusus, haruslah secara khusus pula dipersem-
bahkan bagi kehormatan Allah. Setidak-tidaknya harus dibuat
suatu pengakuan yang penuh syukur, dengan berbuat saleh
dan beramal, jika hidup kita, atau hidup anak-anak kita,
sudah diselamatkan bagi kita.
2. Allah, sebagai yang pertama dan terbaik, harus mendapatkan
yang pertama dan terbaik, dan kepada-Nya kita harus menye-
rahkan apa yang paling kita sayangi, dan paling berharga bagi
kita. Anak sulung yaitu sukacita dan harapan tiap-tiap
Kitab Keluaran 13:1-10
185
keluarga. Oleh sebab itu mereka akan menjadi milik-Ku, firman
Allah. Dengan ini akan tampak bahwa kita paling mengasihi
Tuhan (seperti yang seharusnya), yaitu jika kita rela menyerah-
kan kepada-Nya apa yang paling kita kasihi di dunia ini.
3. Jemaat anak-anak sulunglah yang dikuduskan bagi Tuhan (Ibr.
12:23). Kristus yaitu yang sulung di antara banyak saudara
(Rm. 8:29). Dan, berdasar persatuan mereka dengan-Nya,
maka semua orang yang dilahirkan kembali, dan dilahirkan
dari atas, diperhitungkan sebagai anak-anak sulung. Keluhur-
an dan kuasa menjadi milik mereka. Dan, jika kita yaitu
anak, maka kita juga yaitu ahli waris.
II. Ingatan akan keluarnya mereka dari Mesir juga harus diabadikan:
“Peringatilah hari ini (ay. 3). Peringatilah hari itu dengan suatu
tanda yang baik, sebagai hari yang paling luar biasa dalam hidup-
mu, hari kelahiran bangsamu, atau hari kebangkitan bangsamu,
tidak lagi ada di bawah tongkat penyiksa.” Demikian pula hari ke-
bangkitan Kristus harus diingat, sebab dalam kebangkitan-Nya
itu kita dibangkitkan bersama Kristus dari rumah perbudakan
kematian. Kitab Suci tidak memberi tahu kita dengan jelas pada
hari di tahun apa Kristus bangkit, seperti Musa memberi tahu
orang Israel pada hari di tahun apa mereka dibawa keluar dari
Mesir, supaya mereka dapat memperingatinya setiap tahun. Na-
mun, kita diberitahukan secara sangat khusus pada hari di
minggu apa kebangkitan-Nya terjadi. Hal ini jelas menyiratkan
bahwa, sebagai pembebasan yang lebih berharga, dan yang jauh
lebih penting, peristiwa kebangkitan-Nya itu harus diperingati
setiap minggu. Peringatilah hari itu, sebab dengan kekuatan ta-
ngan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar. Perhatikanlah,
semakin hebat Tuhan dengan kuasa-Nya tampak dalam suatu
pembebasan kita, semakin tak terlupakan pembebasan itu. Nah,
supaya pembebasan orang Israel dari Mesir dapat diperingati,
1. Mereka harus memastikan untuk melakukan perayaan roti
tidak beragi (ay. 5-7). Tidak cukup bagi mereka untuk mem-
peringatinya saja, mereka juga harus merayakan ingatan akan
peristiwa itu dengan cara yang sudah ditetapkan Allah, dan
memakai sarana-sarana yang ditentukan untuk meles-
tarikan ingatan akan peristiwa itu. Begitulah, di bawah Injil,
kita tidak hanya harus mengingat Kristus,namun juga harus
186
berbuat ini menjadi peringatan akan Dia. Amatilah, betapa
ketatnya larangan tentang ragi itu (ay. 7). Bukan saja tidak
boleh ada ragi yang dimakan, terlihat saja pun tidak boleh,
bahkan di ruangan-ruangan rumah mereka. Sesuai dengan
larangan itu, sudah menjadi kebiasaan orang Yahudi untuk,
sebelum hari raya Paskah, membuang keluar semua roti bera-
gi dari rumah mereka. Mereka membakarnya, atau mengubur-
nya, atau memecah-mecahkannya sampai kecil dan mengham-
burkannya ke udara. Mereka mencari-cari dengan teliti ke
semua sudut rumah mereka dengan lilin-lilin yang menyala,
kalau-kalau masih ada ragi yang tertinggal. Perhatian dan
keketatan yang diperintahkan dalam hal ini dimaksudkan,
(1) Untuk membuat perayaan itu lebih khidmat, dan sebab -
nya lebih diperhatikan oleh anak-anak mereka, yang akan
bertanya, “Mengapa kita harus repot-repot seperti itu?”
(2) Untuk mengajar kita betapa kita harus bersungguh-sung-
guh untuk menjauhkan semua dosa dari diri kita (1Kor.
5:7).
2. Mereka harus mengajar anak-anak mereka tentang artinya,
dan menceritakan kepada mereka kisah pembebasan mereka
dari Mesir (ay. 8). Perhatikanlah,
(1) Harus diberikan perhatian sejak dini untuk mengajar anak-
anak untuk mengenal Allah. Inilah hukum yang sudah ada
sejak dahulu untuk mengajar agama.
(2) Akan sangat bermanfaat secara khusus untuk memperke-
nalkan anak-anak dengan cerita-cerita Kitab Suci sejak
dini, dan membuat cerita-cerita itu akrab bagi mereka.
(3) Kita berutang demi kehormatan Allah, dan demi kepenting-
an jiwa anak-anak kita, untuk memberi tahu mereka
tentang karya-karya agung yang telah dilakukan Tuhan bagi
jemaat-Nya, baik karya-karya yang sudah kita lihat dengan
mata kita, dan yang dilakukan di zaman kita, maupun
karya-karya yang sudah kita dengar dengan telinga kita,
dan yang telah diberitahukan oleh nenek moyang kita
kepada kita: Pada hari itu (hari raya itu) harus kauberitahu-
kan kepada anakmu laki-laki tentang perkara-perkara ini.
saat mereka sedang merayakan ketetapan itu, mereka
harus menjelaskannya. Segala sesuatu indah pada waktu-
Kitab Keluaran 13:11-16
187
nya. Paskah ditetapkan untuk menjadi tanda, menjadi peri-
ngatan, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu. Perhatikan-
lah, kita harus memelihara ingatan akan karya-karya
Allah, supaya kita tetap tinggal di bawah kuasa hukum
Allah. Dan orang-orang yang memiliki hukum Tuhan dalam
hati mereka, haruslah memilikinya dalam mulut mereka,
dan sering berkata-kata tentangnya, untuk membuat hati
mereka semakin tergerak dan untuk mengajar orang lain.
Tuntutan Tuhan atas Anak Sulung
(13:11-16)
11 jika engkau telah dibawa TUHAN ke negeri orang Kanaan, seperti yang
telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu dan kepada nenek moyang-
mu, dan negeri itu telah diberikan-Nya kepadamu, 12 maka haruslah kauper-
sembahkan bagi TUHAN segala yang lahir terdahulu dari kandungan; juga
setiap kali ada hewan yang kaupunyai beranak pertama kali, anak jantan
yang sulung yaitu bagi TUHAN. 13namun setiap anak keledai yang lahir ter-
dahulu kautebuslah dengan seekor domba; atau, jika engkau tidak menebus-
nya, engkau harus mematahkan batang lehernya.namun mengenai manusia,
setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus. 14 Dan
jika anakmu akan bertanya kepadamu di lalu hari: Apakah artinya
itu? maka haruslah engkau berkata kepadanya: Dengan kekuatan tangan-
Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan.
15 Sebab saat Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan kita pergi,
maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak
sulung manusia sampai anak sulung hewan. Itulah sebabnya maka aku
biasa mempersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir
terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-
anakku lelaki kutebus. 16 Hal itu harus menjadi tanda pada tanganmu dan
menjadi lambang di dahimu, sebab dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN
membawa kita keluar dari Mesir.”
Di sini kita mendapati,
I. Petunjuk-petunjuk lebih jauh tentang dipersembahkannya anak-
anak sulung mereka kepada Allah.
1. Yang sulung dari ternak mereka harus dipersembahkan ke-
pada Allah, sebagai bagian dari harta milik mereka. Binatang-
binatang yang tidak najis, seperti anak sapi, anak domba, dan
anak kambing, kalau jantan, harus dikorbankan (22:30; Bil.
18:17-18). Binatang-binatang yang najis, seperti anak keledai,
harus ditebus dengan anak domba, atau dipatahkan batang
lehernya. Sebab apa saja yang najis (seperti kita semua secara
kodrati), jika tidak ditebus, akan dibinasakan (ay. 11, 13).
188
2. Anak-anak sulung mereka harus ditebus, dan tidak boleh
dikorbankan sama sekali, seperti bangsa-bangsa kafir mengor-
bankan anak-anak mereka kepada Molokh. Harga penebusan
anak sulung ditetapkan oleh hukum Taurat (Bil. 18:16) sebe-
sar lima syikal. Kita semua pantas terkena murka dan kutuk-
an Allah.namun kita ditebus oleh darah Kristus, supaya kita
dapat bergabung dengan jemaat anak-anak sulung. Mereka ha-
rus menebus anak-anak mereka, seperti juga yang sulung dari
binatang-binatang najis, sebab anak-anak kita sudah tercemar
secara kodrati. Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari
yang najis?
II. Petunjuk-petunjuk lebih jauh tentang bagaimana mengajarkan
hal ini kepada anak-anak mereka, dan semua orang dari angkat-
an yang muncul nanti, dari masa ke masa. saat anak-anak me-
lihat semua anak sulung dipersembahkan seperti itu, pastilah
mereka akan menanyakan artinya. sebab itu orangtua dan guru-
guru mereka harus memberi tahu mereka (ay. 14-16), bahwa hak
Tuhan yang istimewa untuk memiliki anak sulung, dan semua yang
sulung dari ternak mereka, didasarkan atas perlindungan isti-
mewa yang pernah dilakukan-Nya terhadap anak-anak sulung,
yang menyelamatkan mereka dari pedang malaikat pembinasa.
sebab sudah dibebaskan seperti itu, maka anak-anak sulung itu
harus melayani-Nya. Perhatikanlah,
1. Anak-anak harus dibimbing dan didorong untuk bertanya ke-
pada orangtua mereka mengenai perkara-perkara tentang Allah.
Ini merupakan sebuah kebiasaan yang mungkin paling berman-
faat dibandingkan cara-cara lain untuk mendidik anak dalam
hal agama. Dan orangtua harus membekali diri mereka sendiri
dengan pengetahuan yang berguna, supaya mereka bisa selalu
siap untuk memberi jawaban terhadap pertanyaan dari
anak-anak mereka. Supaya pengenalan akan Tuhan meliputi
bumi, seperti air meliputi laut, maka sumber-sumber pengajaran
dari keluarga haruslah dibuka terlebih dahulu.
2. Kita semua harus mampu menjelaskan mengapa kita melaku-
kan sesuatu hal dalam ibadah kita. Sama seperti sakramen-
sakramen dikuduskan oleh firman, demikian pula sakramen-
sakramen itu harus dijelaskan dan dipahami dengan firman.
Ibadah kepada Tuhan itu masuk akal, dan akan berkenan
Kitab Keluaran 13:17-22
189
kepada-Nya jika kita menjalankannya dengan akal budi,
dengan mengetahui apa yang kita lakukan dan mengapa kita
melakukannya.
3. Harus diperhatikan seberapa sering dikatakan dalam pasal ini,
bahwa dengan kekuatan tangan (ay. 3, 14, 16), dengan tangan
yang kuat (ay. 9), Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir.
Semakin besar perlawanan yang digencarkan terhadap penca-
paian tujuan-tujuan Allah, semakin kuasa-Nya diagungkan
dalam pencapaian tujuan-tujuan-Nya itu. Tangan yang kuat-
lah yang menaklukkan hati yang keras. Adakalanya Tuhan di-
katakan mengerjakan pembebasan bukan dengan keperkasaan
dan bukan dengan kekuatan (Za. 4:6), bukan dengan menun-
jukkan kuasa-Nya di depan mata seperti yang dicatat di sini.
4. Keturunan mereka yang akan lahir di Kanaan diperintahkan
untuk berkata, TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir
(ay. 14, 16). Rahmat-rahmat kepada nenek moyang kita yaitu
rahmat-rahmat bagi kita. Kita menuai keuntungan dari rah-
mat-rahmat itu, dan sebab itu harus terus memelihara ingat-
an yang penuh syukur tentangnya. Kita berpijak di atas dasar
pembebasan-pembebasan sebelumnya, dan berada dalam kan-
dungan nenek moyang kita saat mereka dibebaskan. Jauh
lebih banyak alasan bagi kita untuk berkata bahwa dalam
kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, kita telah ditebus.
Tiang Awan dan Tiang Api
(13:17-22)
17 sesudah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Tuhan tidak menuntun
mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling
dekat; sebab firman Allah: “Jangan-jangan bangsa itu menyesal, jika me-
reka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.” 18namun
Tuhan menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju
ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari
tanah Mesir. 19 Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf
telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh:
“Tuhan tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-
tulangku dari sini.” 20 Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berke-
mah di Etam, di tepi padang gurun. 21 TUHAN berjalan di depan mereka,
pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan
pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga
mereka dapat berjalan siang dan malam. 22 Dengan tidak beralih tiang awan
itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan
bangsa itu.
190
Di sini ada,
I. Pilihan yang dibuat Tuhan untuk menentukan jalan mereka (ay.
17-18). Dia yaitu pembimbing mereka. Musa memberi mereka
petunjuk hanya seperti yang telah diterimanya dari Tuhan. Per-
hatikanlah, manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya
(Yer. 10:23). Ia bisa saja memikir-mikirkan jalannya, dan meran-
cangnya. Akannamun , bagaimanapun juga, Allahlah yang menen-
tukan arah langkahnya (Ams. 16:9). Manusia berencana,namun
Tuhan yang menentukan, dan ketentuan-Nya harus kita terima,
dan kita harus menetapkan hati untuk mengikuti pemeliharaan
ilahi. Ada dua jalan dari Mesir ke Kanaan. Yang satu yaitu jalan
pintas dari bagian utara Mesir ke bagian selatan Kanaan, mung-
kin sekitar empat atau lima hari perjalanan. Yang lain yaitu
jalan yang lebih jauh dan berputar-putar, melewati padang gurun,
dan itulah jalan yang dipilih Tuhan untuk menuntun umat-Nya
Israel (ay. 18).
1. Ada banyak alasan mengapa Tuhan memimpin mereka melalui
jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Orang-orang
Mesir akan ditenggelamkan di Laut Teberau. Orang-orang Is-
rael akan direndahkan dan dicobai di padang gurun (Ul. 8:2).
Tuhan telah memberi nya kepada Musa sebagai tanda (3:12),
kamu akan beribadah kepada Tuhan di gunung ini. Mereka su-
dah berulang kali memberi tahu Firaun bahwa mereka harus
pergi selama tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersem-
bahkan korban, dan sebab itu mau tidak mau mereka harus
membelokkan perjalanan mereka ke sana, sebab kalau tidak,
mereka dengan wajar akan diumpat sebagai orang yang di-
kenal suka menyembunyikan sesuatu. Sebelum mereka maju
ke medan pertempuran untuk menghadapi musuh-musuh
mereka, perkara-perkara antara mereka dan Tuhan mereka
harus diselesaikan, hukum-hukum harus diberikan, ketetap-
an-ketetapan ditegakkan, perjanjian-perjanjian dimeteraikan,
dan kesepakatan awal disahkan. Untuk melakukannya, mere-
ka harus menarik diri ke dalam kesunyian di padang gurun,
satu-satunya bilik untuk orang-orang ramai seperti itu. Jalan
raya tidak akan menjadi tempat yang tepat untuk pertukaran-
pertukaran ini. Dikatakan bahwa (Ul. 32:10), dikelilingi-Nya
mereka, sepanjang beberapa ratus kilometer, dan sekalipun
Kitab Keluaran 13:17-22
191
begitu (Mzm. 107:7), dibawa-Nya mereka menempuh jalan
yang lurus. Jalan Tuhan yaitu jalan yang lurus, meskipun
tampak berputar-putar. Kalaupun kita berpikir bahwa Ia tidak
memimpin umat-Nya di jalan yang paling dekat, kita bisa
yakin bahwa Ia memimpin mereka di jalan yang terbaik, dan
demikianlah yang akan terlihat saat kita sampai pada akhir
perjalanan kita. Janganlah menghakimi sebelum waktunya.
2. Ada satu alasan mengapa Tuhan tidak memimpin mereka di
jalan yang terdekat, yang akan membawa mereka ke negeri
orang Filistin selama beberapa hari saja (sebab negeri itu
yaitu bagian dari Kanaan yang terletak di sebelah Mesir),
yaitu, sebab mereka masih belum pantas untuk berperang,
apalagi berperang melawan orang Filistin (ay. 17). Roh mereka
hancur oleh perbudakan. Tidak mudah bagi mereka untuk
beralih dari memegang sekop lalu memegang pedang secara
tiba-tiba. Orang-orang Filistin yaitu musuh-musuh yang
tangguh, terlalu bengis untuk dihadapi oleh prajurit-prajurit
yang masih mentah. Lebih pantas kalau mereka memulai
dengan orang Amalek, dan mempersiapkan diri untuk pepe-
rangan dengan orang Kanaan dengan mengalami kesusahan-
kesusahan di padang gurun. Perhatikanlah, Tuhan menyesuai-
kan cobaan-cobaan umat-Nya dengan kekuatan mereka, dan
tidak akan membiarkan mereka dicobai melampaui kekuatan
mereka (1Kor. 10:13). Janji dalam Surat Korintus itu, jika di-
bandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya, akan tampak me-
rujuk pada peristiwa ini, sebagai contoh darinya. Tuhan sendiri
tahu apa kita, dan mempertimbangkan kelemahan dan sifat
penakut kita, dan melalui pencobaan-pencobaan yang kecil
akan mempersiapkan kita untuk menghadapi pencobaan-
pencobaan yang lebih besar. Tuhan dikatakan membawa Israel
dari Mesir laksana rajawali membesarkan anak-anaknya (Ul.
32:11), mengajar mereka untuk terbang secara bertahap.
sebab sudah diberikan perintah-perintah ke mana mereka
harus pergi, kita diberi tahu,
(1) Bahwa mereka berjalan, bukan dengan kacau balau, melain-
kan secara teratur, dengan berbaris dan berderet: dengan
siap sedia berperang berjalanlah mereka (ay. 18). Mereka
berjalan dengan dibagi-bagi lima orang dalam satu pasukan
(demikian menurut sebagian orang), dalam lima regu, demi-
192
kian menurut sebagian yang lain. Mereka berbaris seperti
tentara dengan panji-panji, yang semakin menambah ke-
kuatan dan kehormatan mereka.
(2) Bahwa mereka membawa tulang-tulang Yusuf bersama me-
reka (ay. 19), dan mungkin tulang-tulang semua anak Ya-
kub yang lain, kecuali (seperti menurut sebagian orang)
tulang-tulang itu sudah dibawa sendiri ke Kanaan (Kis.
7:16), beberapa tulang setiap kali ada yang meninggal.
Yusuf sudah meminta secara khusus supaya tulang-
tulangnya dibawa saat Tuhan mengindahkan mereka (Kej.
50:25-26). Dengan demikian, dibawanya tulang-tulangnya
oleh mereka bukan hanya merupakan pelaksanaan dari
sumpah yang telah diucapkan nenek moyang mereka ke-
pada Yusuf, melainkan juga sebuah pengakuan akan peng-
genapan janji Tuhan kepada mereka melalui Yusuf bahwa Ia
akan mengindahkan mereka dan membawa mereka keluar
dari tanah Mesir. Dan itu merupakan sebuah dorongan
bagi iman dan harapan mereka bahwa Ia akan menggenapi
bagian lain dari janji itu, yaitu membawa mereka ke
Kanaan. Dalam menantikan penggenapan janji itu, mereka
membawa tulang-tulang ini bersama mereka selama mereka
mengembara di padang gurun. Mereka mungkin berpikir,
“Tulang-tulang Yusuf pasti akan mendapat tempat perhenti-
an pada akhirnya, dan pada saat itu kita pun akan men-
dapatkannya.” Musa dikatakan membawa tulang-tulang ini
bersama dia. Musa sekarang yaitu seorang yang sangat
besar. Demikian pula Yusuf pada zamannya, namun seka-
rang ia hanya tinggal peti berisi tulang-tulang kering. Ini
sajalah yang tersisa dari dirinya di dunia ini, yang dapat
berguna sebagai peringatan bagi Musa untuk mengingat
kefanaan hidupnya. Aku sendiri telah berfirman: “Kamu
yaitu allah.” Dikatakan demikian kepada Musa secara
tegas (7:1). Namun seperti manusia kamu akan mati.
II. Di sini ada panduan yang dengannya mereka diberkati di jalan:
TUHAN berjalan di depan mereka dalam tiang (ay. 21-22). Dalam
dua tempat perhentian yang pertama, sudah cukup Tuhan meng-
arahkan Musa ke mana harus berjalan: Musa mengenal negeri itu
dan jalannya dengan cukup baik.namun sebab sekarang mereka
Kitab Keluaran 13:17-22
193
sudah sampai di tepi padang gurun (ay. 20), mereka akan mem-
butuhkan sesosok pemandu. Dan pemandu yang sangat baiklah
yang mereka dapatkan, sosok yang bijak, baik, dan setia secara
tak terhingga: TUHAN berjalan di depan mereka, shekinah itu
(atau penampakan dari Keagungan ilahi, yang merupakan perlam-
bang Kristus) atau manifestasi sebelumnya dari Firman kekal,
yang, dalam kegenapan waktu, akan menjadi manusia, dan diam
di antara kita. Kristus ada bersama jemaat di padang gurun (1Kor.
10:9). Sekarang Raja mereka akan berjalan terus di depan mereka,
TUHAN sendiri di kepala barisan mereka (Mi. 2:13). Perhatikanlah,
orang-orang yang dibawa Tuhan ke padang gurun, tidak akan
ditinggalkan-Nya atau dibiarkan-Nya tersesat di sana,namun Ia
akan memberi perhatian untuk menuntun mereka melewatinya.
Beralasan bagi kita untuk berpikir bahwa merupakan suatu
kepuasan yang sangat besar bagi Musa dan orang-orang Israel
yang saleh untuk merasa yakin bahwa mereka berada di bawah
bimbingan ilahi. Orang-orang yang dituntun seperti itu tidak perlu
takut kehilangan arah, dan orang-orang yang dipimpin seperti itu
tidak perlu takut tersesat. Orang-orang yang diterangi seperti itu
tidak perlu takut diliputi kegelapan, dan orang-orang yang dilin-
dungi seperti itu tidak perlu takut dirampok. Orang-orang yang
menjadikan kemuliaan Tuhan sebagai tujuan mereka, dan firman
Tuhan sebagai pedoman mereka, Roh Tuhan sebagai pembimbing
perasaan-perasaan mereka, dan pemeliharaan Tuhan sebagai
pembimbing perkara-perkara mereka, dapat yakin bahwa TUHAN
berjalan di depan mereka, dengan sebenar-benarnya seperti Ia
berjalan di depan Israel di padang gurun, meskipun dengan tidak
begitu terlihat seperti itu. Kita harus hidup oleh iman.
1. Mereka memiliki bukti-bukti yang terlihat mata dari berja-
lannya Tuhan di depan mereka. Mereka semua melihat sebuah
penampakan tiang dari langit, yang pada siang yang cerah
tampak seperti awan, dan pada malam yang gelap tampak
seperti api. Kita biasanya melihat bahwa apa yang merupakan
api di malam hari yaitu asap di siang hari, demikian pula
dengan tiang ini. Tuhan memberi mereka penampakan hadirat-
Nya yang terlihat mata ini, dalam belas kasihan terhadap kele-
mahan iman mereka, dan sesuai dengan keadaan jemaat yang
baru bertumbuh itu, yang perlu diajak berbicara dengan cadel
menurut kemampuan berbahasa mereka.namun berbahagialah
194
mereka yang tidak melihat, namun percaya akan hadirat Tuhan
yang penuh rahmat bersama mereka, sesuai dengan janji-Nya.
2. Mereka merasakan dampak-dampak yang terlihat mata dari
berjalannya Tuhan di depan mereka dalam tiang ini. Sebab,
(1) Tiang itu memimpin jalan di padang gurun yang luas dan
menderu itu, di mana tidak ada jalan, tidak ada jejak, tidak
ada penunjuk jalan, tidak ada peta untuknya, dan tidak ada
pemandu bagi mereka untuk melaluinya. saat mereka ber-
jalan, tiang ini berjalan di depan mereka, dengan kecepatan
yang dapat mereka ikuti, dan menentukan tempat perke-
mahan mereka, seperti yang dianggap pantas oleh sang Hik-
mat Tak Terhingga. Hal ini membebaskan mereka dari ke-
khawatiran dan juga melindungi mereka dari bahaya, baik
dalam bergerak maupun beristirahat.
(2) Tiang itu menaungi mereka dari panas terik di siang hari,
yang, dalam beberapa waktu selama setahun, luar biasa
panasnya.
(3) Tiang itu memberi mereka terang di malam hari saat me-
reka membutuhkannya, dan membuat perkemahan mereka
menyenangkan sepanjang waktu, dan padang gurun yang
di dalamnya mereka berada tidak begitu menakutkan.
III. Tiang awan dan tiang api ini yaitu mujizat-mujizat yang terus-
menerus ada (ay. 22): Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap
ada (KJV: Tuhan tidak mengambil tiang awan itu). Tidak, bahkan
saat mereka tampak tidak begitu membutuhkannya, saat
mereka berjalan melewati negeri-negeri yang berpenduduk. Tidak,
sekalipun mereka bersungut-sungut dan menyulut murka-Nya.
Tiang itu tidak pernah meninggalkan mereka, sampai ia membawa
mereka ke perbatasan Kanaan. Tiang itu yaitu awan yang tidak
bisa diserakkan angin. Perkenanan ini diakui dengan penuh
syukur lama sesudah itu (Neh. 9:19; Mzm. 78:14). Ada pelajaran
rohani yang bisa dipetik dalam tiang awan dan tiang api ini.
1. Orang-orang Israel dibaptis untuk menjadi pengikut Musa
dalam awan ini, yang, menurut sebagian orang, meneteskan
embun ke atas mereka (1Kor. 10:2). Dengan masuk di bawah
awan ini, mereka menunjukkan bahwa mereka menempatkan
diri mereka di bawah bimbingan dan perintah ilahi melalui
Kitab Keluaran 13:17-22
195
pelayanan Musa. Perlindungan mengundang kesetiaan. Awan
ini yaitu lambang dari perlindungan Allah, dan dengan demi-
kian menjadi pengikat kesetiaan mereka. Demikianlah mereka
diterima masuk, dan diakui di bawah pemerintahan itu, seka-
rang saat mereka tengah memasuki padang gurun.
2. Sebagian orang memandang awan ini sebagai perlambang Kris-
tus. Awan dari kodrat manusia-Nya yaitu tudung bagi terang
dan api dari kodrat ilahi-Nya. Kita mendapati Dia (Why. 10:1)
berselubungkan awan, dan kaki-Nya bagaikan tiang api. Kristus
yaitu jalan kita, terang dalam jalan kita dan pembimbing jalan
kita.
3. Tiang awan itu melambangkan bimbingan dan perlindungan
istimewa yang menaungi jemaat Kristus di dunia ini. Tuhan
sendiri yaitu penjaga Israel, dan Ia tidak terlelap dan tidak
tertidur (Mzm. 121:4; Yes. 27:3). Dibuat suatu tudung, bukan
hanya di atas pertemuan-pertemuan Sion, melainkan juga di
atas seluruh wilayah gunung Sion (lihat Yes. 4:5-6). Bahkan,
setiap orang Israel sejati disembunyikan di bawah naungan
sayap Tuhan (Mzm. 17:8). Para malaikat, yang pelayanannya
dipakai dalam awan ini, bekerja demi kebaikan orang-orang
Israel, dan mendirikan perkemahan mereka di sekeliling
orang-orang Israel. Berbahagialah engkau, hai Israel; siapakah
yang sama dengan engkau?
PASAL 14
eristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir, yang merupakan
lahirnya jemaat Yahudi, menjadi semakin mengesankan dengan
terjadinya pelbagai mujizat yang segera berlangsung sesudahnya.
Saksikanlah kisah yang tercatat di dalam pasal ini, yang isinya serta
maknanya dapat kita temukan dalam Kitab Ibrani 11:29, “Mereka
telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering,
sedang orang-orang Mesir tenggelam, saat mereka mencobanya
juga.” Orang Israel melakukannya sebab iman, dan ini mengandung
suatu perlambangan dan ada sesuatu yang rohaniah mengenai
perbuatan mereka itu. Dalam pasal ini kita temukan,
I. Kesesakan dan bahaya besar yang dialami bangsa Israel di
Laut Merah.
1. Hal ini telah disampaikan kepada Musa sebelumnya (ay.
1-4).
2. Penyebabnya yaitu pengejaran Firaun yang sadis terha-
dap mereka (ay. 5-9).
3. Kebingungan besar melanda bangsa Israel sebab nya (ay.
10-12).
4. Musa berjuang keras menguatkan hati orang Israel (ay.
13-14).
II. Kelepasan luar biasa yang dikerjakan Tuhan bagi bangsa Israel
dari kesesakan itu.
1. Musa mendapat perintah mengenai hal itu (ay. 15-18).
2. Adanya batas yang tidak dapat dilalui antara kemah
orang Israel dan kemah Firaun (ay. 19-20).
3. Oleh kekuatan ilahi, Laut Merah terbelah (ay. 31), dan
dibuat menjadi,
P
198
(1) Jalan bagi orang Israel yang berjalan beriringan mela-
luinya dengan aman (ay. 22, 29).namun ,
(2) Bagi orang Mesir, jalur itu dibuat menjadi,
[1] Suatu perangkap, yang ke dalamnya pasukan Me-
sir ditarik masuk (ay. 23-25). Serta,
[2] Sebuah makam, yang di dalamnya segenap pasuk-
an Mesir terkubur (ay. 26-28)
III. Kesan yang dirasakan orang Israel akan semua ini (ay. 30-31).
Orang Israel Dikejar oleh Firaun
(14:1-9)
1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian: 2 “Katakanlah kepada orang
Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot,
antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi
laut. 3 Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di
negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. 4 Aku akan mengeraskan
hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh
pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir me-
ngetahui, bahwa Akulah TUHAN.” Lalu mereka berbuat demikian. 5 saat di-
beritahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubah-
lah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah
mereka: “Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang
Israel pergi dari perbudakan kita?” 6 lalu ia memasang keretanya dan
membawa rakyatnya serta. 7 Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya,
segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya. 8 Demikian-
lah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar
orang Israel.namun orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang
dinaikkan. 9 Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang
berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada
waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon.
Kita dapati di sini,
I. Petunjuk yang diberikan kepada Musa mengenai pergerakan dan
perkemahan orang Israel, yang sangat mengherankan sehingga
bila Musa tidak menyampaikannya dalam bentuk perintah, orang
Israel hampir pasti tidak akan mau mengikuti tiang awan dan
tiang api. Agar tidak ada keraguan atau keberatan tentang petun-
juk itu, kepada Musa disampaikan sebelumnya,
1. Ke mana mereka harus pergi (ay. 1-2). Mereka harus berang-
kat ke tepi padang gurun (13:20), dan satu atau dua perhenti-
an lagi akan membawa mereka ke Horeb, tempat yang telah
ditunjuk untuk membawa persembahan bagi Allah. Akan te-
Kitab Keluaran 14:1-9
199
tapi, bukannya berjalan maju, mereka diperintahkan untuk
berbalik kembali, dengan tanah Kanaan di sisi kanan mereka,
dan berjalan menuju Laut Merah. Di tempat mereka sebelum-
nya berada, yakni di Etam, tidak ada laut di tengah-tengah
jalur yang menghambat perjalanan mereka,namun Tuhan sendiri
memerintahkan mereka bergerak menuju laut. Tuhan hendak
meyakinkan mereka bahwa saat kehendak-Nya dilaksana-
kan, Ia tidak akan gagal membawa mereka menyeberangi laut
sekalipun. Perhatikanlah, Tuhan terkadang memunculkan ke-
sulitan demi kesulitan saat Ia hendak menyelamatkan mere-
ka, agar Ia mendapat kemuliaan saat menaklukkan dan
membantu umat-Nya mengatasi semua kesulitan itu.
2. Rancangan Tuhan di dalam perintah-perintah-Nya yang ganjil
ini. Musa jelas pasti akan mematuhi perintah Allah, meski
Tuhan tidak memberinya alasan apa pun.namun , akankah Ia
menyembunyikan dari Musa perbuatan yang Ia kerjakan?
Tidak, Musa akan mengetahui,
(1) Bahwa Firaun memiliki rancangan untuk menghancurkan
bangsa Israel (ay. 3).
(2) Bahwa oleh sebab nya Tuhan memiliki rancangan untuk
menghancurkan Firaun, dan Ia menempuh cara ini untuk
mewujudkan rancangan-Nya itu (ay. 4).
(3) Nalar Firaun akan menyimpulkan bahwa bangsa Israel akan
terjebak di padang gurun, sehingga mereka akan dengan
mudah menjadi mangsanya. Dan, supaya Firaun semakin
lebih berpikiran demikian lagi, Tuhan pun memerintahkan
bangsa Israel menuju perangkap yang lebih besar lagi. Se-
lain itu, dengan membuat orang Israel memutar jauh dari
jalan mereka, Tuhan membuat Firaun semakin tercengang
dan memberinya alasan yang lebih kuat untuk menyimpul-
kan bahwa bangsa Israel berada dalam keadaan yang me-
malukan dan membahayakan. Demikianlah Tuhan berfir-
man, Terhadap Firaun Aku akan menyatakan kemuliaan-
Ku. Perhatikan,
[1] Setiap manusia diciptakan demi kemuliaan Pencipta
mereka, dan terhadap mereka yang tidak memuliakan-
Nya, Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya atas mere-
ka.
200
[2] Apa yang sepertinya hendak menghancurkan jemaat ke-
rap kali dijungkirbalikkan menjadi kehancuran di pihak
musuh jemaat. Kesombongan dan amarah musuh-mu-
suh jemaat terhadap jemaat dikeraskan lagi oleh Peme-
liharaan Allah, agar menjadi semakin matang untuk
kehancuran mereka sendiri.
II. Pengejaran Firaun terhadap bangsa Israel. Meskipun tindakan
Firaun ini dikerjakannya untuk memuaskan amarah dan nafsu
balas dendamnya, ia sesungguhnya sedang menggenapi putusan
rencana Tuhan atas dirinya. Diberitahukan kepada raja Mesir,
bahwa bangsa itu telah lari (ay. 5). Firaun berada dalam ketakut-
an terhadap bangsa Israel sehingga membiarkan bangsa itu pergi,
tetapi saat ketakutan itu sedikit saja telah sirna, ia menjadi
lupa atau tidak mau mengakui bahwa bangsa itu telah pergi
dengan persetujuannya, sehingga ia bersikeras bahwa kepergian
mereka itu merupakan pemberontakan terhadap Mesir. Demikian-
lah, sesuatu yang dapat dengan mudah dibenarkan, dapat pula
dengan mudah disalahkan, dengan memakai topeng-topeng palsu
untuk mempersalahkan. Nah, mengenai hal ini,
1. Firaun merenungkan kepergian bangsa Israel dengan penye-
salan, bahwa ia telah mengizinkan mereka pergi. Firaun dan
pegawai-pegawainya marah terhadap diri mereka sendiri, kare-
na telah membiarkan bangsa Israel pergi, meskipun alasannya
sungguh teramat benar. Apakah yang telah kita perbuat ini,
bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan
kita?
(1) Mereka terusik dengan kenyataan bahwa bangsa Israel
telah bebas, bahwa mereka telah kehilangan keuntungan
atas budak-budak mereka, dan kenikmatan dalam meng-
hajar mereka. Bagi para penindas yang sombong, makanan
dan minuman mereka yaitu menginjak-injak orang-orang
kudus kepunyaan Sang Mahatinggi dan mengolok-olok jiwa
mereka dengan berkata, Tunduklah, supaya kami lewat
menginjak kamu. Oleh sebab itu, para penindas ini jengkel
saat tangan mereka terbelenggu. Perhatikan, kebebasan
umat Tuhan membawa duka cita yang sangat besar bagi
musuh-musuh mereka (Est. 5:12-13; Kis. 5:17, 33).
Kitab Keluaran 14:1-9
201
(2) Kejengkelan ini semakin bertambah saat mereka kala itu
harus menyetujui kepergian bangsa Israel. Pada saat ini,
mereka berpikir bahwa mereka bisa saja tidak melepas
bangsa Israel pergi dan tunduk terhadap keinginan bangsa
Israel, meski mereka kala itu sudah bertahan hingga titik
penghabisan. Demikianlah Tuhan membuat iri hati dan
murka musuh-musuh terhadap umat-Nya menjadi siksaan
bagi diri musuh-musuh itu sendiri (Mzm. 112:10). Kepergi-
an bangsa Israel merupakan sesuatu yang baik adanya,
dan bila saja Firaun dan pegawai-pegawainya melepas
bangsa Israel dengan tulus, pastilah hati mereka akan ter-
hibur saat memikirkan kepergian bangsa itu. Akannamun ,
sebab mereka melakukannya dengan terpaksa, mereka
mengutuki diri mereka sendiri akan hal itu dan bersikukuh
membatalkan perbuatan mereka itu. Perhatikan, orang
kerap kali menyesali perbuatan baik yang telah mereka
lakukan, meski ini sangatlah aneh dan merupakan sesuatu
yang jahat. Orang menyayangkan keadilan, amal, bahkan
pertobatan yang telah mereka perbuat. Lihatlah contoh
keadaan ini di dalam Yeremia 34:10-11.
2. Firaun berkeras hati hendak melenyapkan atau membalaskan
dendamnya terhadap mereka bila memungkinkan. Oleh kare-
na itu, Firaun mengerahkan pasukannya, segenap kereta dan
orang-orang berkuda yang ia miliki (ay. 17-18) (tampaknya
Firaun tidak membawa tentara pejalan kaki bersamanya, kare-
na perkara raja harus segera dilaksanakan), sehingga dengan
demikian ia yakin betul bahwa bangsa Israel akan kembali
menjadi budaknya (ay. 6-7). Mudah bagi kita membayangkan
kemurkaan yang Firaun sedang rasakan pada saat itu. Ia
mengaum seperti singa yang kecewa sebab mangsanya luput
dibandingkan nya. Hatinya yang sombong semakin menambah
kepedihan akan penistaan yang ia rasakan, membara dengan
kemarahan, terhina sebab telah dibuat gundah, rindu akan
pembalasan dendam. Dan sekarang semua tulah yang pernah
terjadi seakan-akan tidak pernah ada. Firaun telah melupakan
pemakaman yang menyedihkan hati dari anak sulungnya, dan
tidak bisa memikirkan hal-hal lain selain membuat bangsa
Israel merasakan amarahnya. Kali ini, ia merasa bahwa dirinya
terlalu hebat bagi Tuhan sekalipun, seba