keluaran imamat 6

 


rayaan hidup kudus untuk menghormati 

Kristus.  

(3) Perayaan itu yaitu  suatu ketetapan untuk selamanya (ay. 

17). Selama kita hidup, kita harus senantiasa makan dari 

Kristus dan bersukacita di dalam Dia, selalu menyebutkan 

dengan penuh syukur perkara-perkara besar yang telah 

diperbuat-Nya bagi kita. 


 168

Paskah 

(12:21-28)  

21 Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: 

“Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak 

domba Paskah. 22 lalu  kamu harus mengambil seikat hisop dan 

mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu 

kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorang 

pun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi. 23 Dan 

TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; jika  Ia melihat darah 

pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan mele-

wati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu 

untuk menulahi. 24 Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai 

selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu. 25 Dan jika  kamu tiba di 

negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, 

maka kamu harus pelihara ibadah ini. 26 Dan jika  anak-anakmu berkata 

kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? 27 maka haruslah kamu berkata: 

Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel 

di Mesir, saat  Ia menulahi orang Mesir,namun  menyelamatkan rumah-

rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. 28 Pergilah 

orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN 

kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka. 

I.   Musa di sini, sebagai pelayan yang setia di rumah Allah, mengajar 

orang-orang Israel untuk melakukan segala sesuatu yang telah 

diperintahkan Tuhan kepadanya. Dan tidak diragukan lagi bahwa 

Musa memberi  petunjuk-petunjuk secara panjang lebar sama 

seperti ia telah menerimanya, meskipun petunjuk-petunjuk itu 

tidak dicatat di sini dengan begitu panjang lebar. Di sini ditam-

bahkan, 

1.  Bahwa pada malam ini, saat  anak-anak sulung akan dibina-

sakan, orang Israel tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai 

pagi, yaitu, sampai menjelang pagi, saat  mereka akan di-

panggil untuk pergi meninggalkan Mesir (ay. 22). Bukan ber-

arti bahwa sang malaikat pemusnah tidak bisa membedakan 

orang Israel dan orang Mesir di jalan.namun  Tuhan ingin me-

nunjukkan kepada mereka bahwa keselamatan mereka terjadi 

berkat darah pemercikan. Jika mereka tidak menempatkan diri 

mereka di bawah perlindungan darah itu, maka mereka sendiri 

yang akan terkena bahaya. Orang-orang yang sudah ditandai 

Tuhan bagi diri-Nya sendiri tidak boleh berbaur dengan para 

pembuat kejahatan (lihat Yes. 26:20-21). Mereka tidak boleh 

keluar pintu, sebab kalau tidak, mereka akan berkeluyuran 

dan tersesat saat  mereka harus dipanggil untuk berangkat.

Kitab Keluaran 12:21-28 

 169 

 Mereka harus tinggal di dalam, untuk menanti pertolongan 

TUHAN, dan sungguh baik berbuat demikian. 

2. Bahwa sesudah ini mereka harus dengan penuh perhatian 

mengajar anak-anak mereka tentang arti dari ibadah ini (ay. 

26-27). Amatilah, 

(1) Pertanyaan yang akan diajukan oleh anak-anak mereka 

mengenai upacara ini (yang akan segera mereka perhatikan 

dalam keluarga): “Apakah artinya ibadahmu ini? Apa arti 

dari semua kesungguhan dan ketepatan dalam memakan 

anak domba ini, dan roti yang tidak beragi ini, lebih dari-

pada makanan biasa? Mengapa ada perbedaan seperti itu 

antara makanan ini dan makanan-makanan lain?” Perhati-

kanlah,  

[1] Sungguh suatu hal yang baik melihat anak-anak ingin 

tahu mengenai perkara-perkara tentang Allah. Diharap-

kan bahwa orang-orang yang menanyakan jalan dengan 

penuh perhatian, akan menemukannya. Kristus sendiri, 

saat  masih anak-anak, mendengarkan dan mengaju-

kan pertanyaan-pertanyaan (Luk. 2:46).  

[2] yaitu  kepentingan kita semua untuk memahami 

dengan benar arti dari ketetapan-ketetapan kudus yang 

di dalamnya kita menyembah Allah, apa hakikatnya dan 

apa tujuannya, apa yang ditandakan dan dimaksudkan, 

kewajiban apa yang diharapkan dari kita di dalamnya 

dan keuntungan-keuntungan apa yang dapat kita nan-

tikan. Setiap ketetapan memiliki  arti. Sebagian kete-

tapan, seperti sakramen-sakramen, tidak memiliki  

arti yang begitu terang dan jelas seperti sebagian kete-

tapan lain. Oleh sebab  itu, kita berkepentingan untuk 

menyelidikinya, supaya kita tidak membawa seekor 

binatang buta untuk dipersembahkan, agar dengan 

dengan demikian kita dapat melakukan ibadah yang 

pantas. Jika kita tidak tahu, atau keliru, mengenai arti 

dari ketetapan-ketetapan yang kudus, maka kita tidak 

dapat menyenangkan hati Tuhan dan hanya merugikan 

diri kita sendiri. 

(2) Jawaban yang harus diberikan orangtua terhadap perta-

nyaan ini (ay. 27): Haruslah kamu berkata: Itulah korban 


 170

Paskah bagi TUHAN, yaitu, “Dengan menyembelih dan 

mengorbankan anak domba ini, kita terus mengingat karya 

ajaib dan karya anugerah yang diperbuat Tuhan bagi nenek 

moyang kita, saat ,”  

[1] “Untuk membuka jalan bagi pembebasan kita dari per-

budakan, Ia membunuh anak-anak sulung orang-orang 

Mesir, dan dengan demikian memaksa mereka untuk 

menyetujui pembebasan kita.” Dan,  

[2] “Meskipun pada kita, bahkan pada kita, ada dosa-dosa 

kepada Tuhan Tuhan kita, yang untuk itu sang malaikat 

pemusnah, saat  ia keluar menjalankan penghukum-

an, dengan adil dapat membinasakan anak-anak sulung 

kita juga, namun Tuhan dengan penuh rahmat menetap-

kan dan menerima korban persembahan keluarga kita 

berupa anak domba, sebagai ganti anak sulung. Seperti 

pada waktu dulu, seekor domba jantan sebagai ganti 

Ishak, dan di setiap rumah di mana anak domba disem-

belih, anak sulung diselamatkan.” Diulanginya upacara 

ini pada setiap pergantian tahun dimaksudkan,  

Pertama, untuk melihat kembali ke belakang sebagai 

peringatan, supaya dengan begitu mereka dapat meng-

ingat perkara-perkara besar apa yang telah dilakukan 

Tuhan untuk mereka dan nenek moyang mereka. Kata 

pesakh berarti lompatan, atau peralihan. Artinya mele-

wati, berjalan lewat. Sebab malaikat maut melewati ru-

mah-rumah orang Israel, dan tidak membinasakan 

anak-anak sulung mereka. saat  Tuhan mendatangkan 

kehancuran yang sepenuhnya ke atas umat-Nya, Ia ber-

kata, Aku tidak akan melewati mereka lagi (Am. 7:8; 8:2, 

KJV), yang menyiratkan seberapa sering Ia sudah mele-

wati atau memaafkan mereka, seperti sekarang saat  

sang malaikat pemusnah melewati rumah-rumah me-

reka. Perhatikanlah,  

1.  Semua rahmat yang istimewa menuntut kewajiban 

khusus yang harus kita kerjakan. saat  seribu 

orang rebah di sisi kita, dan sepuluh ribu di sebelah 

kanan kita, dan diri kita terlindungi, dan nyawa kita 

terselamatkan dan tidak ikut menjadi mangsa, maka 

Kitab Keluaran 12:21-28 

 171 

hal ini haruslah menyentuh hati kita (Mzm. 91:7). 

Dalam peperangan atau wabah penyakit, jika anak 

panah maut melewati kita, terbang melintas di atas 

kita, mengena orang di sebelah kita dan meleset dari 

kita, maka kita tidak boleh berkata bahwa sebab  

kebetulanlah kita terlindungi, melainkan sebab  

pemeliharaan istimewa dari Tuhan kita.  

2.  Rahmat-rahmat yang kita atau nenek moyang kita 

terima dahulu, tidak boleh dilupakan,namun  harus 

diingat selama-lamanya, supaya Tuhan dipuji, iman 

kita kepada-Nya didorong, dan hati kita dilapangkan 

dalam melayani-Nya.  

Kedua, diulanginya ibadah atau upacara Paskah ini 

pada setiap pergantian tahun dimaksudkan untuk meli-

hat ke depan, sebagai jaminan bahwa korban agung 

Anak Domba Tuhan akan digenapi pada waktunya, seba-

gai ganti diri kita dan anak sulung kita. Kita patut men-

jadi sasaran pedang malaikat pemusnah,namun  Kristus 

anak domba Paskah kita telah disembelih untuk kita, 

kematian-Nya yaitu  kehidupan kita, dan dengan demi-

kian Dia yaitu  Anak Domba yang telah disembelih sejak 

dunia dijadikan, sejak jemaat Yahudi dibentuk. Musa 

menjalankan Paskah dengan iman kepada Kristus, se-

bab Kristus yaitu  kegenapan hukum Taurat, sehingga 

kebenaran diperoleh. 

II. Umat Israel menerima petunjuk-petunjuk ini dengan hormat dan 

kesiapan untuk taat.  

1. Mereka berlutut dan sujud menyembah (ay. 27). Mereka dengan 

begitu menunjukkan kepatuhan mereka pada ketetapan ini 

sebagai sebuah hukum, dan rasa syukur mereka atas ketetap-

an itu sebagai sebuah perkenanan dan hak istimewa. Perhati-

kanlah, saat  Tuhan memberi  hukum kepada kita, kita 

harus memberi  penghormatan kepada-Nya. saat  Ia ber-

firman, kita harus berlutut dan sujud menyembah.  

2. Mereka pergi dan berbuat seperti yang diperintahkan kepada 

mereka (ay. 28). Di sini tidak ada rasa tidak puas dan sungut-

sungut di antara mereka seperti yang kita temukan sebelum-


 172

nya dalam pasal 5:20-21. Tulah-tulah Mesir telah mendatang-

kan kebaikan bagi mereka, dan membesarkan harapan-harap-

an mereka untuk menantikan suatu pembebasan yang mulia, 

yang tidak mereka impikan lagi sebab  sudah berputus asa 

akan mendapatkannya. Dan sekarang mereka pergi menyong-

song kebebasan itu di jalan yang sudah ditetapkan. Perhati-

kanlah, penggenapan rahmat-rahmat Tuhan bagi kita haruslah 

kita nantikan dengan menjalankan ketetapan-ketetapan-Nya 

dengan rendah hati. 

Kematian Anak Sulung 

(12:29-36)  

29 Maka pada tengah malam TUHAN membunuh tiap-tiap anak sulung di 

tanah Mesir, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai 

kepada anak sulung orang tawanan, yang ada dalam liang tutupan, beserta 

segala anak sulung hewan. 30 Lalu bangunlah Firaun pada malam itu, ber-

sama semua pegawainya dan semua orang Mesir; dan kedengaranlah seruan 

yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak kematian. 31 Lalu 

pada malam itu dipanggilnyalah Musa dan Harun, katanya: “Bangunlah, 

keluarlah dari tengah-tengah bangsaku, baik kamu maupun orang Israel; 

pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, seperti katamu itu. 32 Bawalah juga 

kambing dombamu dan lembu sapimu, seperti katamu itu,namun  pergilah! 

Dan pohonkanlah juga berkat bagiku.” 33 Orang Mesir juga mendesak dengan 

keras kepada bangsa itu, menyuruh bangsa itu pergi dengan segera dari 

negeri itu, sebab kata mereka: “Nanti kami mati semuanya.” 34 Lalu bangsa 

itu mengangkat adonannya, sebelum diragi, dengan tempat adonan mereka 

terbungkus dalam kainnya di atas bahunya. 35 Orang Israel melakukan juga 

seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas 

dan perak serta kain-kain. 36 Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah 

hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikian-

lah mereka merampasi orang Mesir itu.      

Di sini kita mendapati,  

I.   Anak-anak laki-laki orang Mesir, yaitu anak-anak sulung mereka, 

dibunuh (ay. 29-30). Kalau saja Firaun mau mendengar peringat-

an yang diberikan sebelumnya kepadanya mengenai datangnya 

tulah ini, dan mau membebaskan Israel seturut peringatan itu, 

betapa banyak nyawa orang yang terkasih dan berharga yang 

akan diselamatkan!namun  lihatlah apa yang didatangkan oleh 

kedurhakaan dan kedegilan hati ke atas manusia. Amatilah,  

1. Waktu saat  hantaman ini didatangkan: Terjadinya pada 

tengah malam, yang menambah kengeriannya. Tiga malam

Kitab Keluaran 12:29-36 

 173 

 sebelumnya dibuat mengerikan oleh tulah tambahan, yaitu 

tulah kegelapan, yang dapat dirasakan, dan tidak diragukan 

lagi mengganggu istirahat mereka. Dan sekarang, saat  mere-

ka berharap mendapat satu istirahat yang tenang di malam 

hari, pada tengah malam tanda bahaya dibunyikan. saat  sang 

malaikat pemusnah menghunus pedangnya melawan Yeru-

salem, itu terjadi pada siang hari (2Sam. 24:15), yang membuat-

nya tidak begitu menakutkan.namun  kehancuran Mesir terjadi 

oleh penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap (Mzm. 91:6). 

Dalam sekejap saja terdengar seruan yang menggegerkan pada 

tengah malam, lihatlah, mempelai datang!  

2. Pada siapa tulah itu terpancang, yaitu pada anak sulung 

mereka, yang merupakan sukacita dan harapan dari tiap-tiap 

keluarga. Mereka sudah membunuh anak-anak orang Ibrani, 

dan sekarang Tuhan membunuh anak-anak mereka. Demikian-

lah Ia membalaskan kejahatan bapa kepada anak-anaknya. 

Dan tidak adilkah Allah, jika Ia menampakkan murka-Nya?.  

3. Seberapa jauh tulah itu menjangkau, yaitu dari atas takhta 

sampai ke dalam liang tutupan. Raja dan petani berdiri sama 

tinggi di hadapan penghakiman-penghakiman Allah, sebab Ia 

tidak membeda-bedakan orang (lihat Ayb. 34:19-20). Lihatlah, 

orang-orang yang mati terbunuh oleh TUHAN banyak jumlah-

nya. Banyak, banyak sekali orang yang jatuh di lembah penen-

tuan ini, saat  perseteruan antara Tuhan dan Firaun hendak 

diselesaikan.  

4. Betapa hebatnya seruan yang ditimbulkan oleh peristiwa ini: 

Kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, di mana-mana 

banyak orang meratapi anak tunggal mereka, dan semua orang 

meratapi anak sulung mereka. Biasanya jika ada orang yang 

tiba-tiba jatuh sakit pada malam hari, kita bisa saja meminta 

tolong pada tetangga, namun dalam peristiwa ini, orang-orang 

Mesir tidak bisa mendapat pertolongan, tidak bisa mendapat 

penghiburan, dari tetangga-tetangga mereka, sebab  semua 

orang terkena malapetaka yang sama. Marilah kita belajar dari 

sini,  

(1) Untuk gemetar di hadapan Allah, dan takut kepada penghu-

kuman-Nya (Mzm. 119:120). Siapakah yang mampu berdiri 

di hadapan-Nya, atau berani menentang-Nya? 


 174

(2) Untuk bersyukur kepada Tuhan atas terpeliharanya diri kita 

dan keluarga kita setiap hari. sebab  begitu rentan terha-

dap bahaya, maka beralasan bagi kita untuk berkata, “Ber-

kat rahmat Tuhanlah kita tidak dihabisi.” 

II. Anak-anak Allah, bahkan anak-anak sulung-Nya, dibebaskan. 

Penghakiman ini menaklukkan Firaun, dan mengharuskannya 

untuk menyerah dengan bijak, menyerah tanpa syarat. Manusia 

sebaiknya memenuhi syarat-syarat Tuhan dari sejak awal, sebab Ia 

tidak akan pernah turun untuk mengikuti syarat-syarat mereka, 

sekalipun mereka berkeberatan selama yang mereka inginkan. 

Sekarang kesombongan Firaun direndahkan, dan ia menyerah 

pada semua yang dituntut oleh Musa: Beribadahlah kepada 

TUHAN, seperti katamu itu (ay. 31), dan bawalah juga kambing 

dombamu seperti katamu itu (ay. 32). Perhatikanlah, firman Tuhan 

akan teguh berdiri, dan kita tidak akan mendapat apa-apa dengan 

membantahnya, atau menunda-nunda untuk tunduk kepadanya. 

Hingga pada saat itu orang-orang Israel tidak diizinkan untuk 

pergi,namun  sebab  sekarang keadaan sudah luar biasa parah, 

sehingga sebagai akibatnya,  

1. Mereka diperintahkan untuk berangkat. Bangunlah, dan ke-

luarlah (ay. 31). Sebelumnya Firaun mengusir Musa dan ber-

kata bahwa Musa tidak akan melihat mukanya lagi.namun  

sekarang Firaun mengirim orang untuk menemuinya. Orang-

orang yang sebelumnya membangkang terhadap Allah, akan 

buru-buru mencari-Nya saat  mereka dalam kesusahan. 

Betapa Firaun sekarang dilanda ketakutan sehingga ia menge-

luarkan perintah di malam hari untuk membebaskan mereka, 

sebab  takut jangan-jangan, jika ia menunda-nunda lagi, ia 

sendiri yang akan binasa berikutnya. Dan ia menyuruh mere-

ka pergi, bukan sebagai orang-orang yang dibenci (seperti yang 

digambarkan para sejarawan kafir tentang peristiwa ini), me-

lainkan sebagai orang-orang yang ditakuti. Hal itu terlihat 

jelas melalui permintaannya yang penuh kerendahan hati 

kepada mereka (ay. 32): “Pohonkanlah juga berkat bagiku. 

Hendaklah engkau mendoakan aku, supaya aku tidak terkena 

tulah atas apa yang sudah terjadi, saat  engkau sudah pergi.” 

Perhatikanlah, orang-orang yang menjadi musuh bagi jemaat 

Kitab Keluaran 12:29-36 

 175 

Allah, menjadi musuh bagi diri mereka sendiri, dan, cepat atau 

lambat, mereka akan dibuat menyadarinya.  

2. Mereka didesak untuk cepat-cepat pergi oleh orang-orang 

Mesir. Orang-orang Mesir berseru (ay. 33), nanti kami mati 

semuanya. Perhatikanlah, saat  kematian mendatangi rumah 

kita, maka sudah waktunya kita memikirkan fananya hidup 

kita sendiri. Adakah saudara-saudara kita meninggal? Mudah 

untuk menyimpulkan dari sini bahwa kita sendiri juga akan 

mati, dan, sesungguhnya, kita ini sudah menjadi orang mati. 

Atas pertimbangan ini, orang-orang Mesir mendesak orang-

orang Israel untuk pergi, yang memberi  keuntungan besar 

bagi orang-orang Israel saat  mereka meminta perhiasan-per-

hiasan orang Mesir (ay. 35-36). saat  orang-orang Mesir men-

desak mereka untuk pergi, mudah bagi mereka untuk berkata 

bahwa orang-orang Mesir telah membuat mereka miskin, 

sehingga mereka tidak bisa melakukan perjalanan seperti itu 

dengan dompet kosong. sebab  itu, mereka bisa mengemuka-

kan alasan bahwa jika orang-orang Mesir mau memberi mere-

ka bekal untuk menanggung biaya perjalanan mereka, maka 

mereka akan pergi. Dan inilah yang dirancang oleh Tuhan sang 

Pemelihara dalam membiarkan segala sesuatunya menjadi 

luar biasa parah seperti ini, supaya mereka, sebab  sudah 

menjadi begitu menakutkan bagi orang Mesir, bisa mendapat-

kan apa yang mereka minta. Tuhan juga, melalui pengaruh 

yang dimiliki-Nya atas pikiran orang, mencondongkan hati 

orang-orang Mesir untuk melengkapi mereka dengan apa yang 

mereka inginkan. Ada kemungkinan bahwa dengan berbuat 

begitu orang-orang Mesir berniat untuk membuat pendamaian, 

supaya tulah-tulah itu dapat dihentikan, seperti orang-orang 

Filistin, saat  mereka mengembalikan tabut Allah, mengirim-

kan pemberian bersamanya sebagai tebusan salah, dengan 

mengingat apa yang sudah pernah terjadi sebelumnya (1Sam. 

6:3, 6). Orang-orang Israel dapat menerima dan menyimpan 

apa yang mereka pinjam, atau lebih tepatnya, apa yang 

mereka tuntut, dari orang-orang Mesir itu,  

(1) Sebagai upah yang pantas mereka peroleh sebagai hamba 

dari majikan mereka atas pekerjaan yang sudah mereka 

kerjakan, dan menuntutnya jika upah itu ditahan.  


 176

(2) Sebagai barang-barang jarahan yang patut diambil para 

penakluk dari dari musuh-musuh mereka yang telah mere-

ka kalahkan. Firaun sudah memberontak terhadap Tuhan 

orang Ibrani, maka semua yang dimilikinya diambil darinya 

sebab  perbuatannya sendiri.  

(3) Sebagai harta benda yang pantas diterima oleh rakyat, 

sebab  diberikan oleh raja mereka. Tuhan yaitu  pemilik 

yang berdaulat atas bumi dan segala isinya. Dan, jika Ia 

mengambil dari yang seorang dan memberi  kepada 

yang lain, siapa pula yang dapat berkata kepada-Nya: Apa 

yang Kaulakukan? Oleh perintah dan ketetapan Tuhan yang 

istimewalah orang-orang Israel melakukan apa yang 

mereka lakukan, yang sudah cukup untuk membenarkan 

mereka, dan menyokong mereka.namun  apa yang mereka 

lakukan itu sama sekali tidak akan memberi  wewenang 

kepada orang lain (yang tidak bisa berlagak mendapat 

perintah seperti itu) untuk melakukan hal yang sama. 

Marilah kita ingat, 

[1] Bahwa Raja segala raja tidak bisa berbuat salah. 

[2] Bahwa Ia akan berbuat kebaikan kepada orang-orang 

yang dijahati oleh orang lain (Mzm. 146:7). Itulah sebab-

nya kekayaan orang berdosa sering kali terbukti disim-

pan bagi orang benar (Ams. 13:22; Ayb. 27:16-17).  

Keberangkatan Orang-orang Israel 

(12:37-42) 

37 lalu  berangkatlah orang Israel dari Raamses ke Sukot, kira-kira 

enam ratus ribu orang laki-laki berjalan kaki, tidak termasuk anak-anak.  

38 Juga banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka; lagi 

sangat banyak ternak kambing domba dan lembu sapi. 39 Adonan yang 

dibawa mereka dari Mesir dibakarlah menjadi roti bundar yang tidak beragi, 

sebab adonan itu tidak diragi, sebab  mereka diusir dari Mesir dan tidak 

dapat berlambat-lambat, dan mereka tidak pula menyediakan bekal baginya. 

40 Lamanya orang Israel diam di Mesir yaitu  empat ratus tiga puluh tahun. 

41 Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, 

keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir. 42 Malam itulah malam 

berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. 

Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun, 

untuk kemuliaan TUHAN. 

Di sini ada keberangkatan orang-orang Israel keluar dari Mesir. Sete-

lah memperoleh pembebasan, mereka melangkah maju tanpa menun-

Kitab Keluaran 12:37-42 

 177 

da-nunda, dan tidak menunggu-nunggu sampai waktu yang lebih 

nyaman. Pikiran Firaun sedang baik sekarang. Dan beralasan bagi 

mereka untuk berpikir bahwa ia tidak akan lama terus begitu, dan 

sebab  itu tidak ada waktu untuk tinggal berlama-lama. Kita men-

dapati di sini penjelasan,  

1. Tentang jumlah mereka, sekitar 600.000 orang (ay. 37), tidak ter-

masuk perempuan dan anak-anak, yang menurut saya, tidak 

mungkin kurang dari 1.200.000 orang. Betapa banyaknya per-

tambahan mereka ini, dari tujuh puluh jiwa hanya dalam waktu 

200 tahun lebih sedikit! Lihatlah kuasa dan kemanjuran dari 

berkat itu, saat  Tuhan memerintahkannya, beranakcuculah dan 

bertambah banyak. Ini merupakan perlambang dari banyaknya 

orang yang dibawa ke dalam jemaat Injil saat  jemaat itu per-

tama kali didirikan. Dengan jalan ini makin tersiarlah firman 

Tuhan dan makin berkuasa.  

2. Tentang rombongan lain yang menyertai mereka (ay. 38): Juga 

banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka, 

orang-orang yang mengikuti keluarga besar itu. Sebagian mung-

kin rela meninggalkan negeri mereka sebab  sudah sudah di-

porak-porandakan oleh tulah-tulah, dan sebab  itu mereka men-

cari peruntungan dengan mengikuti orang-orang Israel. Sebagian 

yang lain ikut berangkat sebab  rasa ingin tahu, ingin melihat 

khidmatnya persembahan korban Israel kepada Tuhan mereka, 

yang sudah begitu banyak diperbincangkan. Mereka berharap 

dapat melihat beberapa penampakan yang mulia dari Tuhan Israel 

di padang gurun, sesudah melihat penampakan-penampakan 

Tuhan yang mulia seperti itu di antara orang Israel di padang Zoan 

(Mzm. 78:12). Mungkin sebagian besar orang dari berbagai-bagai 

bangsa ini hanyalah gerombolan kasar dan tidak berpikiran 

panjang, yang mengikuti kerumunan itu tanpa tahu alasannya. 

Kita mendapati sesudahnya bahwa mereka terbukti menjadi jerat 

bagi orang-orang Israel (Bil. 11:4), dan ada kemungkinan bahwa 

segera sesudah sadar orang-orang Israel akan terus berputar-

putar di padang gurun selama empat puluh tahun, mereka pun 

meninggalkan orang-orang Israel dan kembali ke Mesir. Perhati-

kanlah, di antara orang-orang Israel selalu ada saja orang-orang 

yang bukan Israel. Masih tetap ada orang-orang munafik di dalam 


 178

jemaat, yang berbuat banyak kejahatan,namun  yang akan di-

kebaskan pada akhirnya.  

3. Tentang harta benda orang Israel. Pada mereka ada sangat 

banyak ternak kambing domba dan lembu sapi. Hal ini dicatat 

sebab  jauh sebelumnya Firaun mau mengizinkan mereka pergi 

hanya dengan membawa serta harta benda yang terutama berupa 

ternak (Kej. 46:32).  

4. Tentang bekal yang dibawa selama tinggal di perkemahan, yang 

sangat sedikit dan sekadarnya saja. Mereka membawa sedikit 

adonan dari Mesir dalam kantung-kantung (ay. 34). Mereka sudah 

bersiap-siap untuk memanggang adonan itu pada keesokan hari-

nya, sebagai perbekalan saat berangkat, sebab  mengetahui bah-

wa waktunya sudah sangat dekat. Akannamun , sebab  disuruh 

berangkat segera lebih cepat dibandingkan  yang mereka pikir, bebe-

rapa jam lebih awal, maka mereka pun membawa adonan yang 

ada begitu saja, tidak beragi. saat  mereka sampai di Sukot, tem-

pat perhentian pertama mereka, mereka memanggang roti-roti 

bundar yang tidak beragi, dan, meskipun tentu saja roti-roti ini 

hambar rasanya, namun sebab  sekarang mereka sudah bebas 

merdeka, santapan ini pun terasa sebagai yang paling menyuka-

kan hati yang pernah mereka makan seumur hidup mereka. 

Perhatikanlah, hamba-hamba Tuhan tidak boleh menjadi budak 

bagi hawa nafsu mereka. Janganlah mereka berhasrat untuk 

mengecap semua kenikmatan indrawi sampai ke puncaknya. Kita 

harus bersedia untuk mencukupkan diri dengan roti kering, 

bahkan, dengan roti tidak beragi, dibandingkan  mengabaikan atau 

menunda suatu pekerjaan yang harus kita lakukan untuk Allah. 

Kita harus menjadi seperti orang yang makanan dan minumannya 

yaitu  melakukan kehendak-Nya.  

5. Tentang penanggalan dari peristiwa besar ini. Peristiwa ini terjadi 

tepat 430 tahun sesudah janji yang dibuat kepada Abraham 

(seperti Rasul Paulus menjelaskannya [Gal. 3:17]), pada waktu ia 

pertama kali datang ke Kanaan. Selama itu orang Israel, yaitu 

orang Ibrani, keturunan yang dibedakan dan dipilih, menjadi 

pendatang di negeri yang bukan milik mereka, entah Kanaan atau 

Mesir. Janji yang diucapkan Tuhan kepada Abraham tentang ber-

diamnya mereka di sebuah negeri begitu lama terdiam dan tidak 

tergenapi,namun  sekarang, pada akhirnya, janji itu dihidupkan 

kembali, dan segala sesuatu mulai bekerja menuju penggenapan-

Kitab Keluaran 12:37-42 

 179 

nya. Hari pertama dari perjalanan keturunan Abraham menuju 

Kanaan jatuh tepat 430 tahun sesudah janji yang dibuat kepada 

Abraham (Kej. 12:2), Aku akan membuat engkau menjadi bangsa 

yang besar. Lihatlah betapa Tuhan itu tepat waktu. Meskipun janji-

janji-Nya tidak dilaksanakan dengan cepat, namun janji-janji itu 

akan digenapi pada waktunya.  

6. Tentang tak terlupakannya peristiwa itu. Malam itulah malam 

berjaga-jaga (ay. 42, KJV: Itu yaitu  malam yang harus banyak 

diingat).  

(1) Tindakan-tindakan penyelenggaraan ilahi yang dilakukan pada 

malam pertama itu sangat jelas terlihat. Sungguh tak terlupa-

kan kehancuran orang-orang Mesir, dan pembebasan bangsa 

Israel melaluinya. Tuhan dalam hal ini membuat diri-Nya diper-

hatikan.  

(2) Ketetapan-ketetapan pada malam itu, dalam pengulangannya 

setiap tahun, harus dijalankan dengan penuh perhatian: Ma-

lam itulah malam bagi TUHAN, malam yang luar biasa, untuk 

dirayakan turun-temurun. Perhatikanlah, perkara-perkara be-

sar yang dilakukan Tuhan bagi umat-Nya hendaklah jangan men-

jadi keajaiban seumur jagung saja,namun  hendaklah dikenang 

dari masa ke masa, terutama karya penebusan kita oleh Kris-

tus. Malam Paskah pertama ini yaitu  malam bagi Tuhan yang 

harus banyak diingat.namun  malam Paskah terakhir, yang 

pada saat itu Kristus dikhianati (dan bersamaan dengan itu 

Paskah di Mesir, beserta semua ketetapan upacara yang lain, 

digantikan dan dihapuskan), yaitu  malam bagi Tuhan yang 

harus lebih banyak diingat. Pada malam itu kuk yang lebih 

berat dibandingkan  kuk Mesir dipatahkan dari leher kita, dan 

tanah yang lebih baik dibandingkan  tanah Kanaan diperhadapkan 

kepada kita. Malam Paskah yang pertama di Mesir yaitu  

pembebasan sementara yang dirayakan turun-temurun di an-

tara orang Israel saja. sedang  malam Paskah yang terakhir 

yaitu  penebusan kekal yang akan dirayakan dalam puji-

pujian orang-orang kudus yang mulia sampai selamanya dan 

seterusnya. 


 180

Petunjuk-petunjuk mengenai Paskah 

(12:43-51)  

43 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: “Inilah ketetapan mengenai 

Paskah: Tidak seorang pun dari bangsa asing boleh memakannya. 44 Seorang 

budak belian barulah boleh memakannya, sesudah  engkau menyunat dia.  

45 Orang pendatang dan orang upahan tidak boleh memakannya. 46 Paskah 

itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikit pun 

dari daging itu keluar rumah; satu tulang pun tidak boleh kamu patahkan.  

47 Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya. 48namun  jika  seorang 

asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka 

setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia 

boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. 

Tetapi tidak seorang pun yang tidak bersunat boleh memakannya. 49 Satu 

hukum saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing yang 

menetap di tengah-tengah kamu.” 50 Seluruh orang Israel berbuat demikian; 

seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah 

diperbuat mereka. 51 Dan tepat pada hari itu juga TUHAN membawa orang 

Israel keluar dari tanah Mesir, menurut pasukan mereka. 

Beberapa petunjuk lebih lanjut tentang Paskah diberikan di sini, 

seperti yang harus dijalankan pada masa-masa yang akan datang. 

I. Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya (ay. 47). Semua 

orang yang berbagi dalam rahmat-rahmat Tuhan haruslah ber-

gabung dalam puji-pujian yang penuh syukur atas rahmat-rah-

mat itu. Meskipun perayaan itu dijalankan dalam keluarga-

keluarga secara terpisah, namun perayaan itu harus dipandang 

sebagai tindakan seluruh jemaat. Sebab kumpulan-kumpulan 

yang lebih kecil membentuk kumpulan yang lebih besar. Paskah 

Perjanjian Baru, perjamuan Tuhan, tidak boleh diabaikan oleh 

siapa saja yang mampu merayakannya. Tidak layak disebut seba-

gai orang Israel jika orang itu mengabaikan begitu saja peringatan 

tentang pembebasan yang begitu besar.  

1. Orang asing yang tidak disunat tidak diperbolehkan untuk 

makan darinya (ay. 43, 45, 48). Tak seorang pun dapat duduk 

di meja perjamuan selain mereka yang masuk melalui pintu. 

Sama halnya juga, tak seorang pun boleh datang mendekat 

pada upacara perjamuan Tuhan yang agung itu, jika orang itu 

tidak pertama-tama menyerahkan diri pada upacara baptisan, 

yang merupakan upacara penerimaan. Kita harus dilahirkan 

kembali dengan firman sebelum kita dapat dibuat bertumbuh 

olehnya. Juga, tak seorang pun dapat ambil bagian dalam 

manfaat yang diberikan oleh korban Kristus, atau berpesta

Kitab Keluaran 12:43-51 

 181 

 atasnya, jika ia tidak pertama-tama melakukan sunat hati 

(Kol. 2:11).  

2. Orang asing yang disunat dipersilakan makan dari perjamuan 

Paskah, bahkan budak-budak belian (ay. 44). Jika, dengan 

disunat, mereka mau membuat diri mereka berutang pada 

beban-beban hukum Taurat, maka mereka dipersilakan untuk 

berbagi dalam sukacita dari perayaan-perayaannya yang khid-

mat.namun , jika tidak disunat, mereka tidak diperkenankan. 

Hanya saja disiratkan (ay. 48), bahwa orang-orang yang men-

jadi kepala keluarga tidak boleh hanya menyunat diri mereka 

sendiri saja,namun  semua laki-laki dalam keluarga mereka 

harus ikut disunat juga. Jika dengan tulus hati, dan dengan 

semangat yang layak dan pantas, kita menyerahkan diri kita 

kepada Allah, maka kita pun pasti akan bersedia  menyerah-

kan semua yang kita miliki kepada-Nya, dan berbuat semam-

pu kita supaya semua milik kita dapat menjadi milik-Nya juga. 

Di sini ada petunjuk awal mengenai perkenanan Tuhan terha-

dap bangsa-bangsa bukan Yahudi yang malang, bahwa orang 

asing, jika disunat, berdiri sama tinggi dengan orang Israel 

asli. Satu hukum saja akan berlaku untuk keduanya (ay. 49). 

Hal ini untuk merendahkan hati orang-orang Yahudi, dan 

mengajar mereka, bahwa ibadah mereka kepada Allahlah, dan 

bukan sebab  menjadi keturunan Abraham, yang membuat 

mereka berhak atas hak-hak istimewa. Orang yang dengan 

tulus hati menjadi penganut agama Yahudi disambut ke dalam 

perjamuan Paskah sama seperti orang Israel asli (Yes. 56:6-7). 

II. Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga (ay. 46), demi 

menjalin persekutuan yang baik, supaya mereka dapat bersuka-

cita bersama-sama, dan membangun satu sama lain dalam me-

makannya. Jamuan paskah tidak boleh dibawa ke tempat lain, 

atau disisakan untuk lain waktu. Sebab Tuhan tidak ingin mereka 

begitu sibuk mengurusi keberangkatan mereka sehingga tidak 

sempat lagi menikmati penghiburan atas keluarnya mereka dari 

Mesir. Tuhan ingin supaya mereka meninggalkan Mesir dan masuk 

ke padang gurun dengan hati yang gembira, dan sebagai tanda 

untuk itu, seharusnya mereka makan dengan hati gembira.  

Pasal ini ditutup dengan mengulangi inti dari seluruh peristiwa 

Paskah ini, bahwa orang-orang Israel berbuat seperti yang apa yang 


 182

diperintahkan kepada mereka, dan Tuhan berbuat untuk mereka 

seperti yang telah dijanjikan-Nya (ay. 50-51). Sebab, Ia pasti akan 

mengadakan keselamatan bagi orang-orang yang mematuhi-Nya. 

 

PASAL 1 3  

Dalam pasal ini kita mendapati,  

I.   Perintah-perintah yang diberikan Tuhan kepada Israel,  

1. Untuk menguduskan semua anak sulung mereka bagi-

Nya (ay. 1-2). 

2. Untuk memastikan supaya mereka mengingat pembebas-

an mereka dari Mesir (ay. 3-4), dan, dalam mengingatnya, 

untuk memelihara perayaan roti tidak beragi (ay. 5-7).  

3. Untuk meneruskan pengetahuan tentang perayaan itu 

kepada anak-anak mereka dengan segala perhatian (ay. 8-

10).  

4. Untuk memisahkan bagi Tuhan yang sulung dari ternak 

mereka (ay. 11-13), dan untuk menjelaskan hal itu juga 

kepada anak-anak mereka (ay. 14-16).  

II. Pemeliharaan Tuhan terhadap Israel sesudah  Ia membawa 

mereka keluar dari Mesir.  

1. Dengan memilih jalan untuk mereka (ay. 17-18).  

2. Dengan membimbing mereka di jalan (ay. 20-22). Dan  

III. Perhatian orang Israel terhadap tulang-tulang Yusuf (ay. 19). 

Pengudusan Anak Sulung 

(13:1-10) 

1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 2 “Kuduskanlah bagi-Ku semua anak 

sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik 

pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka.” 3 Lalu 

berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Peringatilah hari ini, sebab pada hari 

ini kamu keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan; sebab  dengan 

kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana. Sebab 

itu tidak boleh dimakan sesuatu pun yang beragi. 4 Hari ini kamu keluar, 


 184

dalam bulan Abib. 5 jika  TUHAN telah membawa engkau ke negeri orang 

Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Hewi dan orang Yebus, negeri yang 

telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk mem-

berikannya kepadamu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu-

nya, maka engkau harus melakukan ibadah ini dalam bulan ini juga. 6 Ma-

kanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya dan pada hari yang ketujuh 

akan diadakan hari raya bagi TUHAN. 7 Roti yang tidak beragi haruslah 

dimakan selama tujuh hari itu; sesuatu pun yang beragi tidak boleh dilihat 

padamu, bahkan ragi tidak boleh dilihat padamu di seluruh daerahmu.  

8 Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini 

yaitu  sebab  mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku 

keluar dari Mesir. 9 Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan 

menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu; sebab 

dengan tangan yang kuat TUHAN telah membawa engkau keluar dari Mesir. 

10 Haruslah kaupegang ketetapan ini pada waktunya yang sudah ditentukan, 

dari tahun ke tahun. 

Di sini diberikan perhatian untuk mengabadikan ingatan, 

I. Akan terlindungnya anak-anak sulung orang Israel, saat  anak-

anak sulung orang Mesir dibunuh. Untuk mengingat perkenanan 

yang istimewa itu, dan bersyukur untuknya, semua anak sulung, 

di sepanjang masa, harus dikuduskan bagi Allah, sebagai kesa-

yangan-Nya (ay. 2), dan harus ditebus (ay. 13). Allah, yang berda-

sarkan hak penciptaan yaitu  pemilik dan penguasa yang ber-

daulat atas semua makhluk, di sini mengajukan tuntutan khu-

susnya atas anak-anak sulung orang Israel, berdasar  hak 

perlindungan: Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung. Orang-

tua tidak boleh memandang diri mereka sendiri sebagai pihak 

yang berkepentingan atas anak sulung mereka, sebelum mereka 

terlebih dahulu mempersembahkan anak sulung mereka secara 

khidmat kepada Allah, mengakui hak-Nya atas mereka, dan me-

nerima mereka kembali, dengan suatu cara, dari-Nya lagi. Perhati-

kanlah,  

1. Apa yang diberikan kepada kita dengan suatu rahmat yang 

istimewa dan khusus, haruslah secara khusus pula dipersem-

bahkan bagi kehormatan Allah. Setidak-tidaknya harus dibuat 

suatu pengakuan yang penuh syukur, dengan berbuat saleh 

dan beramal, jika  hidup kita, atau hidup anak-anak kita, 

sudah diselamatkan bagi kita.  

2. Allah, sebagai yang pertama dan terbaik, harus mendapatkan 

yang pertama dan terbaik, dan kepada-Nya kita harus menye-

rahkan apa yang paling kita sayangi, dan paling berharga bagi 

kita. Anak sulung yaitu  sukacita dan harapan tiap-tiap 

Kitab Keluaran 13:1-10 

 185 

keluarga. Oleh sebab itu mereka akan menjadi milik-Ku, firman 

Allah. Dengan ini akan tampak bahwa kita paling mengasihi 

Tuhan (seperti yang seharusnya), yaitu jika kita rela menyerah-

kan kepada-Nya apa yang paling kita kasihi di dunia ini.  

3. Jemaat anak-anak sulunglah yang dikuduskan bagi Tuhan (Ibr. 

12:23). Kristus yaitu  yang sulung di antara banyak saudara 

(Rm. 8:29). Dan, berdasar  persatuan mereka dengan-Nya, 

maka semua orang yang dilahirkan kembali, dan dilahirkan 

dari atas, diperhitungkan sebagai anak-anak sulung. Keluhur-

an dan kuasa menjadi milik mereka. Dan, jika kita yaitu  

anak, maka kita juga yaitu  ahli waris. 

II.  Ingatan akan keluarnya mereka dari Mesir juga harus diabadikan: 

“Peringatilah hari ini (ay. 3). Peringatilah hari itu dengan suatu 

tanda yang baik, sebagai hari yang paling luar biasa dalam hidup-

mu, hari kelahiran bangsamu, atau hari kebangkitan bangsamu, 

tidak lagi ada di bawah tongkat penyiksa.” Demikian pula hari ke-

bangkitan Kristus harus diingat, sebab  dalam kebangkitan-Nya 

itu kita dibangkitkan bersama Kristus dari rumah perbudakan 

kematian. Kitab Suci tidak memberi tahu kita dengan jelas pada 

hari di tahun apa Kristus bangkit, seperti Musa memberi tahu 

orang Israel pada hari di tahun apa mereka dibawa keluar dari 

Mesir, supaya mereka dapat memperingatinya setiap tahun. Na-

mun, kita diberitahukan secara sangat khusus pada hari di 

minggu apa kebangkitan-Nya terjadi. Hal ini jelas menyiratkan 

bahwa, sebagai pembebasan yang lebih berharga, dan yang jauh 

lebih penting, peristiwa kebangkitan-Nya itu harus diperingati 

setiap minggu. Peringatilah hari itu, sebab dengan kekuatan ta-

ngan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar. Perhatikanlah, 

semakin hebat Tuhan dengan kuasa-Nya tampak dalam suatu 

pembebasan kita, semakin tak terlupakan pembebasan itu. Nah, 

supaya pembebasan orang Israel dari Mesir dapat diperingati, 

1. Mereka harus memastikan untuk melakukan perayaan roti 

tidak beragi (ay. 5-7). Tidak cukup bagi mereka untuk mem-

peringatinya saja, mereka juga harus merayakan ingatan akan 

peristiwa itu dengan cara yang sudah ditetapkan Allah, dan 

memakai  sarana-sarana yang ditentukan untuk meles-

tarikan ingatan akan peristiwa itu. Begitulah, di bawah Injil, 

kita tidak hanya harus mengingat Kristus,namun  juga harus 


 186

berbuat ini menjadi peringatan akan Dia. Amatilah, betapa 

ketatnya larangan tentang ragi itu (ay. 7). Bukan saja tidak 

boleh ada ragi yang dimakan, terlihat saja pun tidak boleh, 

bahkan di ruangan-ruangan rumah mereka. Sesuai dengan 

larangan itu, sudah menjadi kebiasaan orang Yahudi untuk, 

sebelum hari raya Paskah, membuang keluar semua roti bera-

gi dari rumah mereka. Mereka membakarnya, atau mengubur-

nya, atau memecah-mecahkannya sampai kecil dan mengham-

burkannya ke udara. Mereka mencari-cari dengan teliti ke 

semua sudut rumah mereka dengan lilin-lilin yang menyala, 

kalau-kalau masih ada ragi yang tertinggal. Perhatian dan 

keketatan yang diperintahkan dalam hal ini dimaksudkan, 

(1) Untuk membuat perayaan itu lebih khidmat, dan sebab -

nya lebih diperhatikan oleh anak-anak mereka, yang akan 

bertanya, “Mengapa kita harus repot-repot seperti itu?”  

(2) Untuk mengajar kita betapa kita harus bersungguh-sung-

guh untuk menjauhkan semua dosa dari diri kita (1Kor. 

5:7). 

2.  Mereka harus mengajar anak-anak mereka tentang artinya, 

dan menceritakan kepada mereka kisah pembebasan mereka 

dari Mesir (ay. 8). Perhatikanlah,  

(1) Harus diberikan perhatian sejak dini untuk mengajar anak-

anak untuk mengenal Allah. Inilah hukum yang sudah ada 

sejak dahulu untuk mengajar agama.  

(2) Akan sangat bermanfaat secara khusus untuk memperke-

nalkan anak-anak dengan cerita-cerita Kitab Suci sejak 

dini, dan membuat cerita-cerita itu akrab bagi mereka.  

(3) Kita berutang demi kehormatan Allah, dan demi kepenting-

an jiwa anak-anak kita, untuk memberi tahu mereka 

tentang karya-karya agung yang telah dilakukan Tuhan bagi 

jemaat-Nya, baik karya-karya yang sudah kita lihat dengan 

mata kita, dan yang dilakukan di zaman kita, maupun 

karya-karya yang sudah kita dengar dengan telinga kita, 

dan yang telah diberitahukan oleh nenek moyang kita 

kepada kita: Pada hari itu (hari raya itu) harus kauberitahu-

kan kepada anakmu laki-laki tentang perkara-perkara ini. 

saat  mereka sedang merayakan ketetapan itu, mereka 

harus menjelaskannya. Segala sesuatu indah pada waktu-

Kitab Keluaran 13:11-16 

 187 

nya. Paskah ditetapkan untuk menjadi tanda, menjadi peri-

ngatan, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu. Perhatikan-

lah, kita harus memelihara ingatan akan karya-karya 

Allah, supaya kita tetap tinggal di bawah kuasa hukum 

Allah. Dan orang-orang yang memiliki hukum Tuhan dalam 

hati mereka, haruslah memilikinya dalam mulut mereka, 

dan sering berkata-kata tentangnya, untuk membuat hati 

mereka semakin tergerak dan untuk mengajar orang lain. 

Tuntutan Tuhan atas Anak Sulung 

(13:11-16)  

11 jika  engkau telah dibawa TUHAN ke negeri orang Kanaan, seperti yang 

telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu dan kepada nenek moyang-

mu, dan negeri itu telah diberikan-Nya kepadamu, 12 maka haruslah kauper-

sembahkan bagi TUHAN segala yang lahir terdahulu dari kandungan; juga 

setiap kali ada hewan yang kaupunyai beranak pertama kali, anak jantan 

yang sulung yaitu  bagi TUHAN. 13namun  setiap anak keledai yang lahir ter-

dahulu kautebuslah dengan seekor domba; atau, jika engkau tidak menebus-

nya, engkau harus mematahkan batang lehernya.namun  mengenai manusia, 

setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus. 14 Dan 

jika  anakmu akan bertanya kepadamu di lalu  hari: Apakah artinya 

itu? maka haruslah engkau berkata kepadanya: Dengan kekuatan tangan-

Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan. 

15 Sebab saat  Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan kita pergi, 

maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak 

sulung manusia sampai anak sulung hewan. Itulah sebabnya maka aku 

biasa mempersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir 

terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-

anakku lelaki kutebus. 16 Hal itu harus menjadi tanda pada tanganmu dan 

menjadi lambang di dahimu, sebab dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN 

membawa kita keluar dari Mesir.” 

Di sini kita mendapati, 

I. Petunjuk-petunjuk lebih jauh tentang dipersembahkannya anak-

anak sulung mereka kepada Allah.  

1. Yang sulung dari ternak mereka harus dipersembahkan ke-

pada Allah, sebagai bagian dari harta milik mereka. Binatang-

binatang yang tidak najis, seperti anak sapi, anak domba, dan 

anak kambing, kalau jantan, harus dikorbankan (22:30; Bil. 

18:17-18). Binatang-binatang yang najis, seperti anak keledai, 

harus ditebus dengan anak domba, atau dipatahkan batang 

lehernya. Sebab apa saja yang najis (seperti kita semua secara 

kodrati), jika tidak ditebus, akan dibinasakan (ay. 11, 13).  


 188

2. Anak-anak sulung mereka harus ditebus, dan tidak boleh 

dikorbankan sama sekali, seperti bangsa-bangsa kafir mengor-

bankan anak-anak mereka kepada Molokh. Harga penebusan 

anak sulung ditetapkan oleh hukum Taurat (Bil. 18:16) sebe-

sar lima syikal. Kita semua pantas terkena murka dan kutuk-

an Allah.namun  kita ditebus oleh darah Kristus, supaya kita 

dapat bergabung dengan jemaat anak-anak sulung. Mereka ha-

rus menebus anak-anak mereka, seperti juga yang sulung dari 

binatang-binatang najis, sebab anak-anak kita sudah tercemar 

secara kodrati. Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari 

yang najis? 

II. Petunjuk-petunjuk lebih jauh tentang bagaimana mengajarkan 

hal ini kepada anak-anak mereka, dan semua orang dari angkat-

an yang muncul nanti, dari masa ke masa. saat  anak-anak me-

lihat semua anak sulung dipersembahkan seperti itu, pastilah 

mereka akan menanyakan artinya. sebab  itu orangtua dan guru-

guru mereka harus memberi tahu mereka (ay. 14-16), bahwa hak 

Tuhan yang istimewa untuk memiliki anak sulung, dan semua yang 

sulung dari ternak mereka, didasarkan atas perlindungan isti-

mewa yang pernah dilakukan-Nya terhadap anak-anak sulung, 

yang menyelamatkan mereka dari pedang malaikat pembinasa. 

sebab  sudah dibebaskan seperti itu, maka anak-anak sulung itu 

harus melayani-Nya. Perhatikanlah,  

1. Anak-anak harus dibimbing dan didorong untuk bertanya ke-

pada orangtua mereka mengenai perkara-perkara tentang Allah. 

Ini merupakan sebuah kebiasaan yang mungkin paling berman-

faat dibandingkan cara-cara lain untuk mendidik anak dalam 

hal agama. Dan orangtua harus membekali diri mereka sendiri 

dengan pengetahuan yang berguna, supaya mereka bisa selalu 

siap untuk memberi  jawaban terhadap pertanyaan dari 

anak-anak mereka. Supaya pengenalan akan Tuhan meliputi 

bumi, seperti air meliputi laut, maka sumber-sumber pengajaran 

dari keluarga haruslah dibuka terlebih dahulu.  

2. Kita semua harus mampu menjelaskan mengapa kita melaku-

kan sesuatu hal dalam ibadah kita. Sama seperti sakramen-

sakramen dikuduskan oleh firman, demikian pula sakramen-

sakramen itu harus dijelaskan dan dipahami dengan firman. 

Ibadah kepada Tuhan itu masuk akal, dan akan berkenan

Kitab Keluaran 13:17-22 

 189 

 kepada-Nya jika  kita menjalankannya dengan akal budi, 

dengan mengetahui apa yang kita lakukan dan mengapa kita 

melakukannya.  

3. Harus diperhatikan seberapa sering dikatakan dalam pasal ini, 

bahwa dengan kekuatan tangan (ay. 3, 14, 16), dengan tangan 

yang kuat (ay. 9), Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir. 

Semakin besar perlawanan yang digencarkan terhadap penca-

paian tujuan-tujuan Allah, semakin kuasa-Nya diagungkan 

dalam pencapaian tujuan-tujuan-Nya itu. Tangan yang kuat-

lah yang menaklukkan hati yang keras. Adakalanya Tuhan di-

katakan mengerjakan pembebasan bukan dengan keperkasaan 

dan bukan dengan kekuatan (Za. 4:6), bukan dengan menun-

jukkan kuasa-Nya di depan mata seperti yang dicatat di sini.  

4.  Keturunan mereka yang akan lahir di Kanaan diperintahkan 

untuk berkata, TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir 

(ay. 14, 16). Rahmat-rahmat kepada nenek moyang kita yaitu  

rahmat-rahmat bagi kita. Kita menuai keuntungan dari rah-

mat-rahmat itu, dan sebab  itu harus terus memelihara ingat-

an yang penuh syukur tentangnya. Kita berpijak di atas dasar 

pembebasan-pembebasan sebelumnya, dan berada dalam kan-

dungan nenek moyang kita saat  mereka dibebaskan. Jauh 

lebih banyak alasan bagi kita untuk berkata bahwa dalam 

kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, kita telah ditebus. 

Tiang Awan dan Tiang Api 

(13:17-22)  

17 sesudah  Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Tuhan tidak menuntun 

mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling 

dekat; sebab firman Allah: “Jangan-jangan bangsa itu menyesal, jika  me-

reka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.” 18namun  

Tuhan menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju 

ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari 

tanah Mesir. 19 Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf 

telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: 

“Tuhan tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-

tulangku dari sini.” 20 Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berke-

mah di Etam, di tepi padang gurun. 21 TUHAN berjalan di depan mereka, 

pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan 

pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga 

mereka dapat berjalan siang dan malam. 22 Dengan tidak beralih tiang awan 

itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan 

bangsa itu. 


 190

Di sini ada,  

I.  Pilihan yang dibuat Tuhan untuk menentukan jalan mereka (ay. 

17-18). Dia yaitu  pembimbing mereka. Musa memberi mereka 

petunjuk hanya seperti yang telah diterimanya dari Tuhan. Per-

hatikanlah, manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya 

(Yer. 10:23). Ia bisa saja memikir-mikirkan jalannya, dan meran-

cangnya. Akannamun , bagaimanapun juga, Allahlah yang menen-

tukan arah langkahnya (Ams. 16:9). Manusia berencana,namun  

Tuhan yang menentukan, dan ketentuan-Nya harus kita terima, 

dan kita harus menetapkan hati untuk mengikuti pemeliharaan 

ilahi. Ada dua jalan dari Mesir ke Kanaan. Yang satu yaitu  jalan 

pintas dari bagian utara Mesir ke bagian selatan Kanaan, mung-

kin sekitar empat atau lima hari perjalanan. Yang lain yaitu  

jalan yang lebih jauh dan berputar-putar, melewati padang gurun, 

dan itulah jalan yang dipilih Tuhan untuk menuntun umat-Nya 

Israel (ay. 18).  

1. Ada banyak alasan mengapa Tuhan memimpin mereka melalui 

jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Orang-orang 

Mesir akan ditenggelamkan di Laut Teberau. Orang-orang Is-

rael akan direndahkan dan dicobai di padang gurun (Ul. 8:2). 

Tuhan telah memberi nya kepada Musa sebagai tanda (3:12), 

kamu akan beribadah kepada Tuhan di gunung ini. Mereka su-

dah berulang kali memberi tahu Firaun bahwa mereka harus 

pergi selama tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersem-

bahkan korban, dan sebab  itu mau tidak mau mereka harus 

membelokkan perjalanan mereka ke sana, sebab kalau tidak, 

mereka dengan wajar akan diumpat sebagai orang yang di-

kenal suka menyembunyikan sesuatu. Sebelum mereka maju 

ke medan pertempuran untuk menghadapi musuh-musuh 

mereka, perkara-perkara antara mereka dan Tuhan mereka 

harus diselesaikan, hukum-hukum harus diberikan, ketetap-

an-ketetapan ditegakkan, perjanjian-perjanjian dimeteraikan, 

dan kesepakatan awal disahkan. Untuk melakukannya, mere-

ka harus menarik diri ke dalam kesunyian di padang gurun, 

satu-satunya bilik untuk orang-orang ramai seperti itu. Jalan 

raya tidak akan menjadi tempat yang tepat untuk pertukaran-

pertukaran ini. Dikatakan bahwa (Ul. 32:10), dikelilingi-Nya 

mereka, sepanjang beberapa ratus kilometer, dan sekalipun 

Kitab Keluaran 13:17-22 

 191 

begitu (Mzm. 107:7), dibawa-Nya mereka menempuh jalan 

yang lurus. Jalan Tuhan yaitu  jalan yang lurus, meskipun 

tampak berputar-putar. Kalaupun kita berpikir bahwa Ia tidak 

memimpin umat-Nya di jalan yang paling dekat, kita bisa 

yakin bahwa Ia memimpin mereka di jalan yang terbaik, dan 

demikianlah yang akan terlihat saat  kita sampai pada akhir 

perjalanan kita. Janganlah menghakimi sebelum waktunya.  

2. Ada satu alasan mengapa Tuhan tidak memimpin mereka di 

jalan yang terdekat, yang akan membawa mereka ke negeri 

orang Filistin selama beberapa hari saja (sebab negeri itu 

yaitu  bagian dari Kanaan yang terletak di sebelah Mesir), 

yaitu, sebab  mereka masih belum pantas untuk berperang, 

apalagi berperang melawan orang Filistin (ay. 17). Roh mereka 

hancur oleh perbudakan. Tidak mudah bagi mereka untuk 

beralih dari memegang sekop lalu memegang pedang secara 

tiba-tiba. Orang-orang Filistin yaitu  musuh-musuh yang 

tangguh, terlalu bengis untuk dihadapi oleh prajurit-prajurit 

yang masih mentah. Lebih pantas kalau mereka memulai 

dengan orang Amalek, dan mempersiapkan diri untuk pepe-

rangan dengan orang Kanaan dengan mengalami kesusahan-

kesusahan di padang gurun. Perhatikanlah, Tuhan menyesuai-

kan cobaan-cobaan umat-Nya dengan kekuatan mereka, dan 

tidak akan membiarkan mereka dicobai melampaui kekuatan 

mereka (1Kor. 10:13). Janji dalam Surat Korintus itu, jika di-

bandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya, akan tampak me-

rujuk pada peristiwa ini, sebagai contoh darinya. Tuhan sendiri 

tahu apa kita, dan mempertimbangkan kelemahan dan sifat 

penakut kita, dan melalui pencobaan-pencobaan yang kecil 

akan mempersiapkan kita untuk menghadapi pencobaan-

pencobaan yang lebih besar. Tuhan dikatakan membawa Israel 

dari Mesir laksana rajawali membesarkan anak-anaknya (Ul. 

32:11), mengajar mereka untuk terbang secara bertahap. 

sebab  sudah diberikan perintah-perintah ke mana mereka 

harus pergi, kita diberi tahu,  

(1) Bahwa mereka berjalan, bukan dengan kacau balau, melain-

kan secara teratur, dengan berbaris dan berderet: dengan 

siap sedia berperang berjalanlah mereka (ay. 18). Mereka 

berjalan dengan dibagi-bagi lima orang dalam satu pasukan 

(demikian menurut sebagian orang), dalam lima regu, demi-


 192

kian menurut sebagian yang lain. Mereka berbaris seperti 

tentara dengan panji-panji, yang semakin menambah ke-

kuatan dan kehormatan mereka.  

(2) Bahwa mereka membawa tulang-tulang Yusuf bersama me-

reka (ay. 19), dan mungkin tulang-tulang semua anak Ya-

kub yang lain, kecuali (seperti menurut sebagian orang) 

tulang-tulang itu sudah dibawa sendiri ke Kanaan (Kis. 

7:16), beberapa tulang setiap kali ada yang meninggal. 

Yusuf sudah meminta secara khusus supaya tulang-

tulangnya dibawa saat  Tuhan mengindahkan mereka (Kej. 

50:25-26). Dengan demikian, dibawanya tulang-tulangnya 

oleh mereka bukan hanya merupakan pelaksanaan dari 

sumpah yang telah diucapkan nenek moyang mereka ke-

pada Yusuf, melainkan juga sebuah pengakuan akan peng-

genapan janji Tuhan kepada mereka melalui Yusuf bahwa Ia 

akan mengindahkan mereka dan membawa mereka keluar 

dari tanah Mesir. Dan itu merupakan sebuah dorongan 

bagi iman dan harapan mereka bahwa Ia akan menggenapi 

bagian lain dari janji itu, yaitu membawa mereka ke 

Kanaan. Dalam menantikan penggenapan janji itu, mereka 

membawa tulang-tulang ini bersama mereka selama mereka 

mengembara di padang gurun. Mereka mungkin berpikir, 

“Tulang-tulang Yusuf pasti akan mendapat tempat perhenti-

an pada akhirnya, dan pada saat itu kita pun akan men-

dapatkannya.” Musa dikatakan membawa tulang-tulang ini 

bersama dia. Musa sekarang yaitu  seorang yang sangat 

besar. Demikian pula Yusuf pada zamannya, namun seka-

rang ia hanya tinggal peti berisi tulang-tulang kering. Ini 

sajalah yang tersisa dari dirinya di dunia ini, yang dapat 

berguna sebagai peringatan bagi Musa untuk mengingat 

kefanaan hidupnya. Aku sendiri telah berfirman: “Kamu 

yaitu  allah.” Dikatakan demikian kepada Musa secara 

tegas (7:1). Namun seperti manusia kamu akan mati. 

II.  Di sini ada panduan yang dengannya mereka diberkati di jalan: 

TUHAN berjalan di depan mereka dalam tiang (ay. 21-22). Dalam 

dua tempat perhentian yang pertama, sudah cukup Tuhan meng-

arahkan Musa ke mana harus berjalan: Musa mengenal negeri itu 

dan jalannya dengan cukup baik.namun  sebab  sekarang mereka 

Kitab Keluaran 13:17-22 

 193 

sudah sampai di tepi padang gurun (ay. 20), mereka akan mem-

butuhkan sesosok pemandu. Dan pemandu yang sangat baiklah 

yang mereka dapatkan, sosok yang bijak, baik, dan setia secara 

tak terhingga: TUHAN berjalan di depan mereka, shekinah itu 

(atau penampakan dari Keagungan ilahi, yang merupakan perlam-

bang Kristus) atau manifestasi sebelumnya dari Firman kekal, 

yang, dalam kegenapan waktu, akan menjadi manusia, dan diam 

di antara kita. Kristus ada bersama jemaat di padang gurun (1Kor. 

10:9). Sekarang Raja mereka akan berjalan terus di depan mereka, 

TUHAN sendiri di kepala barisan mereka (Mi. 2:13). Perhatikanlah, 

orang-orang yang dibawa Tuhan ke padang gurun, tidak akan 

ditinggalkan-Nya atau dibiarkan-Nya tersesat di sana,namun  Ia 

akan memberi perhatian untuk menuntun mereka melewatinya. 

Beralasan bagi kita untuk berpikir bahwa merupakan suatu 

kepuasan yang sangat besar bagi Musa dan orang-orang Israel 

yang saleh untuk merasa yakin bahwa mereka berada di bawah 

bimbingan ilahi. Orang-orang yang dituntun seperti itu tidak perlu 

takut kehilangan arah, dan orang-orang yang dipimpin seperti itu 

tidak perlu takut tersesat. Orang-orang yang diterangi seperti itu 

tidak perlu takut diliputi kegelapan, dan orang-orang yang dilin-

dungi seperti itu tidak perlu takut dirampok. Orang-orang yang 

menjadikan kemuliaan Tuhan sebagai tujuan mereka, dan firman 

Tuhan sebagai pedoman mereka, Roh Tuhan sebagai pembimbing 

perasaan-perasaan mereka, dan pemeliharaan Tuhan sebagai 

pembimbing perkara-perkara mereka, dapat yakin bahwa TUHAN 

berjalan di depan mereka, dengan sebenar-benarnya seperti Ia 

berjalan di depan Israel di padang gurun, meskipun dengan tidak 

begitu terlihat seperti itu. Kita harus hidup oleh iman.  

1. Mereka memiliki  bukti-bukti yang terlihat mata dari berja-

lannya Tuhan di depan mereka. Mereka semua melihat sebuah 

penampakan tiang dari langit, yang pada siang yang cerah 

tampak seperti awan, dan pada malam yang gelap tampak 

seperti api. Kita biasanya melihat bahwa apa yang merupakan 

api di malam hari yaitu  asap di siang hari, demikian pula 

dengan tiang ini. Tuhan memberi mereka penampakan hadirat-

Nya yang terlihat mata ini, dalam belas kasihan terhadap kele-

mahan iman mereka, dan sesuai dengan keadaan jemaat yang 

baru bertumbuh itu, yang perlu diajak berbicara dengan cadel 

menurut kemampuan berbahasa mereka.namun  berbahagialah 


 194

mereka yang tidak melihat, namun percaya akan hadirat Tuhan 

yang penuh rahmat bersama mereka, sesuai dengan janji-Nya.  

2. Mereka merasakan dampak-dampak yang terlihat mata dari 

berjalannya Tuhan di depan mereka dalam tiang ini. Sebab,  

(1) Tiang itu memimpin jalan di padang gurun yang luas dan 

menderu itu, di mana tidak ada jalan, tidak ada jejak, tidak 

ada penunjuk jalan, tidak ada peta untuknya, dan tidak ada 

pemandu bagi mereka untuk melaluinya. saat  mereka ber-

jalan, tiang ini berjalan di depan mereka, dengan kecepatan 

yang dapat mereka ikuti, dan menentukan tempat perke-

mahan mereka, seperti yang dianggap pantas oleh sang Hik-

mat Tak Terhingga. Hal ini membebaskan mereka dari ke-

khawatiran dan juga melindungi mereka dari bahaya, baik 

dalam bergerak maupun beristirahat.  

(2) Tiang itu menaungi mereka dari panas terik di siang hari, 

yang, dalam beberapa waktu selama setahun, luar biasa 

panasnya.  

(3) Tiang itu memberi mereka terang di malam hari saat  me-

reka membutuhkannya, dan membuat perkemahan mereka 

menyenangkan sepanjang waktu, dan padang gurun yang 

di dalamnya mereka berada tidak begitu menakutkan. 

III. Tiang awan dan tiang api ini yaitu  mujizat-mujizat yang terus-

menerus ada (ay. 22): Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap 

ada (KJV: Tuhan tidak mengambil tiang awan itu). Tidak, bahkan 

saat  mereka tampak tidak begitu membutuhkannya, saat  

mereka berjalan melewati negeri-negeri yang berpenduduk. Tidak, 

sekalipun mereka bersungut-sungut dan menyulut murka-Nya. 

Tiang itu tidak pernah meninggalkan mereka, sampai ia membawa 

mereka ke perbatasan Kanaan. Tiang itu yaitu  awan yang tidak 

bisa diserakkan angin. Perkenanan ini diakui dengan penuh 

syukur lama sesudah itu (Neh. 9:19; Mzm. 78:14). Ada pelajaran 

rohani yang bisa dipetik dalam tiang awan dan tiang api ini.  

1. Orang-orang Israel dibaptis untuk menjadi pengikut Musa 

dalam awan ini, yang, menurut sebagian orang, meneteskan 

embun ke atas mereka (1Kor. 10:2). Dengan masuk di bawah 

awan ini, mereka menunjukkan bahwa mereka menempatkan 

diri mereka di bawah bimbingan dan perintah ilahi melalui 

Kitab Keluaran 13:17-22 

 195 

pelayanan Musa. Perlindungan mengundang kesetiaan. Awan 

ini yaitu  lambang dari perlindungan Allah, dan dengan demi-

kian menjadi pengikat kesetiaan mereka. Demikianlah mereka 

diterima masuk, dan diakui di bawah pemerintahan itu, seka-

rang saat  mereka tengah memasuki padang gurun.  

2.  Sebagian orang memandang awan ini sebagai perlambang Kris-

tus. Awan dari kodrat manusia-Nya yaitu  tudung bagi terang 

dan api dari kodrat ilahi-Nya. Kita mendapati Dia (Why. 10:1) 

berselubungkan awan, dan kaki-Nya bagaikan tiang api. Kristus 

yaitu  jalan kita, terang dalam jalan kita dan pembimbing jalan 

kita.  

3. Tiang awan itu melambangkan bimbingan dan perlindungan 

istimewa yang menaungi jemaat Kristus di dunia ini. Tuhan 

sendiri yaitu  penjaga Israel, dan Ia tidak terlelap dan tidak 

tertidur (Mzm. 121:4; Yes. 27:3). Dibuat suatu tudung, bukan 

hanya di atas pertemuan-pertemuan Sion, melainkan juga di 

atas seluruh wilayah gunung Sion (lihat Yes. 4:5-6). Bahkan, 

setiap orang Israel sejati disembunyikan di bawah naungan 

sayap Tuhan (Mzm. 17:8). Para malaikat, yang pelayanannya 

dipakai dalam awan ini, bekerja demi kebaikan orang-orang 

Israel, dan mendirikan perkemahan mereka di sekeliling 

orang-orang Israel. Berbahagialah engkau, hai Israel; siapakah 

yang sama dengan engkau? 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

PASAL 14  

eristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir, yang merupakan 

lahirnya jemaat Yahudi, menjadi semakin mengesankan dengan 

terjadinya pelbagai mujizat yang segera berlangsung sesudahnya. 

Saksikanlah kisah yang tercatat di dalam pasal ini, yang isinya serta 

maknanya dapat kita temukan dalam Kitab Ibrani 11:29, “Mereka 

telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, 

sedang  orang-orang Mesir tenggelam, saat  mereka mencobanya 

juga.” Orang Israel melakukannya sebab  iman, dan ini mengandung 

suatu perlambangan dan ada sesuatu yang rohaniah mengenai 

perbuatan mereka itu. Dalam pasal ini kita temukan, 

I. Kesesakan dan bahaya besar yang dialami bangsa Israel di 

Laut Merah. 

1. Hal ini telah disampaikan kepada Musa sebelumnya (ay. 

1-4). 

2. Penyebabnya yaitu  pengejaran Firaun yang sadis terha-

dap mereka (ay. 5-9). 

3. Kebingungan besar melanda bangsa Israel sebab nya (ay. 

10-12). 

4. Musa berjuang keras menguatkan hati orang Israel (ay. 

13-14). 

II. Kelepasan luar biasa yang dikerjakan Tuhan bagi bangsa Israel 

dari kesesakan itu. 

1. Musa mendapat perintah mengenai hal itu (ay. 15-18). 

2. Adanya batas yang tidak dapat dilalui antara kemah 

orang Israel dan kemah Firaun (ay. 19-20). 

3. Oleh kekuatan ilahi, Laut Merah terbelah (ay. 31), dan 

dibuat menjadi, 


 198

(1) Jalan bagi orang Israel yang berjalan beriringan mela-

luinya dengan aman (ay. 22, 29).namun , 

(2) Bagi orang Mesir, jalur itu dibuat menjadi, 

[1] Suatu perangkap, yang ke dalamnya pasukan Me-

sir ditarik masuk (ay. 23-25). Serta, 

[2] Sebuah makam, yang di dalamnya segenap pasuk-

an Mesir terkubur (ay. 26-28) 

III. Kesan yang dirasakan orang Israel akan semua ini (ay. 30-31). 

Orang Israel Dikejar oleh Firaun 

(14:1-9) 

1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian: 2 “Katakanlah kepada orang 

Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, 

antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi 

laut. 3 Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di 

negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. 4 Aku akan mengeraskan 

hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh 

pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir me-

ngetahui, bahwa Akulah TUHAN.” Lalu mereka berbuat demikian. 5 saat  di-

beritahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubah-

lah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah 

mereka: “Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang 

Israel pergi dari perbudakan kita?” 6 lalu  ia memasang keretanya dan 

membawa rakyatnya serta. 7 Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, 

segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya. 8 Demikian-

lah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar 

orang Israel.namun  orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang 

dinaikkan. 9 Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang 

berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada 

waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon. 

Kita dapati di sini, 

I. Petunjuk yang diberikan kepada Musa mengenai pergerakan dan 

perkemahan orang Israel, yang sangat mengherankan sehingga 

bila Musa tidak menyampaikannya dalam bentuk perintah, orang 

Israel hampir pasti tidak akan mau mengikuti tiang awan dan 

tiang api. Agar tidak ada keraguan atau keberatan tentang petun-

juk itu, kepada Musa disampaikan sebelumnya, 

1. Ke mana mereka harus pergi (ay. 1-2). Mereka harus berang-

kat ke tepi padang gurun (13:20), dan satu atau dua perhenti-

an lagi akan membawa mereka ke Horeb, tempat yang telah 

ditunjuk untuk membawa persembahan bagi Allah. Akan te-

Kitab Keluaran 14:1-9 

 199 

tapi, bukannya berjalan maju, mereka diperintahkan untuk 

berbalik kembali, dengan tanah Kanaan di sisi kanan mereka, 

dan berjalan menuju Laut Merah. Di tempat mereka sebelum-

nya berada, yakni di Etam, tidak ada laut di tengah-tengah 

jalur yang menghambat perjalanan mereka,namun  Tuhan sendiri 

memerintahkan mereka bergerak menuju laut. Tuhan hendak 

meyakinkan mereka bahwa saat  kehendak-Nya dilaksana-

kan, Ia tidak akan gagal membawa mereka menyeberangi laut 

sekalipun. Perhatikanlah, Tuhan terkadang memunculkan ke-

sulitan demi kesulitan saat  Ia hendak menyelamatkan mere-

ka, agar Ia mendapat kemuliaan saat  menaklukkan dan 

membantu umat-Nya mengatasi semua kesulitan itu. 

2. Rancangan Tuhan di dalam perintah-perintah-Nya yang ganjil 

ini. Musa jelas pasti akan mematuhi perintah Allah, meski 

Tuhan tidak memberinya alasan apa pun.namun , akankah Ia 

menyembunyikan dari Musa perbuatan yang Ia kerjakan? 

Tidak, Musa akan mengetahui, 

(1) Bahwa Firaun memiliki rancangan untuk menghancurkan 

bangsa Israel (ay. 3). 

(2) Bahwa oleh sebab nya Tuhan memiliki rancangan untuk 

menghancurkan Firaun, dan Ia menempuh cara ini untuk 

mewujudkan rancangan-Nya itu (ay. 4). 

(3) Nalar Firaun akan menyimpulkan bahwa bangsa Israel akan 

terjebak di padang gurun, sehingga mereka akan dengan 

mudah menjadi mangsanya. Dan, supaya Firaun semakin 

lebih berpikiran demikian lagi, Tuhan pun memerintahkan 

bangsa Israel menuju perangkap yang lebih besar lagi. Se-

lain itu, dengan membuat orang Israel memutar jauh dari 

jalan mereka, Tuhan membuat Firaun semakin tercengang 

dan memberinya alasan yang lebih kuat untuk menyimpul-

kan bahwa bangsa Israel berada dalam keadaan yang me-

malukan dan membahayakan. Demikianlah Tuhan berfir-

man, Terhadap Firaun Aku akan menyatakan kemuliaan-

Ku. Perhatikan, 

[1] Setiap manusia diciptakan demi kemuliaan Pencipta 

mereka, dan terhadap mereka yang tidak memuliakan-

Nya, Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya atas mere-

ka. 


 200

[2] Apa yang sepertinya hendak menghancurkan jemaat ke-

rap kali dijungkirbalikkan menjadi kehancuran di pihak 

musuh jemaat. Kesombongan dan amarah musuh-mu-

suh jemaat terhadap jemaat dikeraskan lagi oleh Peme-

liharaan Allah, agar menjadi semakin matang untuk 

kehancuran mereka sendiri. 

II. Pengejaran Firaun terhadap bangsa Israel. Meskipun tindakan 

Firaun ini dikerjakannya untuk memuaskan amarah dan nafsu 

balas dendamnya, ia sesungguhnya sedang menggenapi putusan 

rencana Tuhan atas dirinya. Diberitahukan kepada raja Mesir, 

bahwa bangsa itu telah lari (ay. 5). Firaun berada dalam ketakut-

an terhadap bangsa Israel sehingga membiarkan bangsa itu pergi, 

tetapi saat  ketakutan itu sedikit saja telah sirna, ia menjadi 

lupa atau tidak mau mengakui bahwa bangsa itu telah pergi 

dengan persetujuannya, sehingga ia bersikeras bahwa kepergian 

mereka itu merupakan pemberontakan terhadap Mesir. Demikian-

lah, sesuatu yang dapat dengan mudah dibenarkan, dapat pula 

dengan mudah disalahkan, dengan memakai topeng-topeng palsu 

untuk mempersalahkan. Nah, mengenai hal ini,  

1. Firaun merenungkan kepergian bangsa Israel dengan penye-

salan, bahwa ia telah mengizinkan mereka pergi. Firaun dan 

pegawai-pegawainya marah terhadap diri mereka sendiri, kare-

na telah membiarkan bangsa Israel pergi, meskipun alasannya 

sungguh teramat benar. Apakah yang telah kita perbuat ini, 

bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan 

kita? 

(1) Mereka terusik dengan kenyataan bahwa bangsa Israel 

telah bebas, bahwa mereka telah kehilangan keuntungan 

atas budak-budak mereka, dan kenikmatan dalam meng-

hajar mereka. Bagi para penindas yang sombong, makanan 

dan minuman mereka yaitu  menginjak-injak orang-orang 

kudus kepunyaan Sang Mahatinggi dan mengolok-olok jiwa 

mereka dengan berkata, Tunduklah, supaya kami lewat 

menginjak kamu. Oleh sebab  itu, para penindas ini jengkel 

saat  tangan mereka terbelenggu. Perhatikan, kebebasan 

umat Tuhan membawa duka cita yang sangat besar bagi 

musuh-musuh mereka (Est. 5:12-13; Kis. 5:17, 33). 

Kitab Keluaran 14:1-9 

 201 

(2) Kejengkelan ini semakin bertambah saat  mereka kala itu 

harus menyetujui kepergian bangsa Israel. Pada saat ini, 

mereka berpikir bahwa mereka bisa saja tidak melepas 

bangsa Israel pergi dan tunduk terhadap keinginan bangsa 

Israel, meski mereka kala itu sudah bertahan hingga titik 

penghabisan. Demikianlah Tuhan membuat iri hati dan 

murka musuh-musuh terhadap umat-Nya menjadi siksaan 

bagi diri musuh-musuh itu sendiri (Mzm. 112:10). Kepergi-

an bangsa Israel merupakan sesuatu yang baik adanya, 

dan bila saja Firaun dan pegawai-pegawainya melepas 

bangsa Israel dengan tulus, pastilah hati mereka akan ter-

hibur saat  memikirkan kepergian bangsa itu. Akannamun , 

sebab  mereka melakukannya dengan terpaksa, mereka 

mengutuki diri mereka sendiri akan hal itu dan bersikukuh 

membatalkan perbuatan mereka itu. Perhatikan, orang 

kerap kali menyesali perbuatan baik yang telah mereka 

lakukan, meski ini sangatlah aneh dan merupakan sesuatu 

yang jahat. Orang menyayangkan keadilan, amal, bahkan 

pertobatan yang telah mereka perbuat. Lihatlah contoh 

keadaan ini di dalam Yeremia 34:10-11.  

2. Firaun berkeras hati hendak melenyapkan atau membalaskan 

dendamnya terhadap mereka bila memungkinkan. Oleh kare-

na itu, Firaun mengerahkan pasukannya, segenap kereta dan 

orang-orang berkuda yang ia miliki (ay. 17-18) (tampaknya 

Firaun tidak membawa tentara pejalan kaki bersamanya, kare-

na perkara raja harus segera dilaksanakan), sehingga dengan 

demikian ia yakin betul bahwa bangsa Israel akan kembali 

menjadi budaknya (ay. 6-7). Mudah bagi kita membayangkan 

kemurkaan yang Firaun sedang rasakan pada saat itu. Ia 

mengaum seperti singa yang kecewa sebab  mangsanya luput 

dibandingkan nya. Hatinya yang sombong semakin menambah 

kepedihan akan penistaan yang ia rasakan, membara dengan 

kemarahan, terhina sebab  telah dibuat gundah, rindu akan 

pembalasan dendam. Dan sekarang semua tulah yang pernah 

terjadi seakan-akan tidak pernah ada. Firaun telah melupakan 

pemakaman yang menyedihkan hati dari anak sulungnya, dan 

tidak bisa memikirkan hal-hal lain selain membuat bangsa 

Israel merasakan amarahnya. Kali ini, ia merasa bahwa dirinya 

terlalu hebat bagi Tuhan sekalipun, seba


Related Posts:

  • keluaran imamat 6 rayaan hidup kudus untuk menghormati Kristus.  (3) Perayaan itu yaitu  suatu ketetapan untuk selamanya (ay. 17). Selama kita hidup, kita harus senantiasa makan dari Kristus dan bersukacita … Read More