keluaran imamat 9

 


. Itu yaitu  perkataan 

yang baik untuk membangun (Mzm. 105:2). Bandingkan dengan 

Mazmur 145:11-12. Menanyakan kabar dan memberitahukannya, 

dan bercakap-cakap tentangnya, tidak hanya merupakan hiburan 

percakapan yang diperbolehkan,namun  juga dapat diarahkan 

menjadi sesuatu yang sangat baik, dengan memberi perhatian 

pada pemeliharaan Allah, dan tindakan-tindakan serta kecende-

rungan-kecenderungan dari pemeliharaan-Nya dalam semua ke-

jadian. 

III. Kesan-kesan yang ditimbulkan dari cerita Musa ini terhadap Yitro.  

1. Ia mengucapkan selamat kepada Israel milik Allah: Bersuka-

citalah Yitro (ay. 9). Ia tidak hanya bersukacita atas penghor-

matan yang diperoleh menantunya, melainkan juga atas 

segala kebaikan yang dilakukan kepada Israel (ay. 9). Perhati-

kanlah, berkat-berkat bersama yaitu  sukacita bagi semua 

jiwa juga. Sementara orang-orang Israel sendiri bersungut-

sungut, kendati dengan segala kebaikan Tuhan terhadap me-

reka, di sini ada seorang Midian yang bersukacita. Ini bukan 

satu-satunya kejadian di mana iman orang bukan Yahudi 

mempermalukan ketidakpercayaan orang-orang Yahudi (Lihat 

Mat. 8:10). Orang-orang yang berdiri di sekitar lebih tergerak 


 270

hatinya oleh perkenanan-perkenanan yang telah ditunjukkan 

Tuhan kepada Israel dibandingkan  orang-orang yang menerima 

perkenanan-perkenanan itu.  

2. Yitro memberi  kemuliaan kepada Tuhan Israel (ay. 10): “Ter-

pujilah TUHAN” (sebab dengan nama itulah Ia dikenal seka-

rang), “yang telah menyelamatkan kamu, Musa dan Harun, 

dari tangan Firaun, sehingga meskipun Firaun merancangkan 

kematianmu, ia tidak dapat mewujudkannya, dan melalui 

pelayananmu, Ia telah membebaskan bangsa Israel.” Perhati-

kanlah, apa saja yang membuat kita bersukacita, Tuhan harus-

lah mendapat pujian untuknya.  

3. Imannya dengan ini diteguhkan, dan ia mengambil kesempat-

an ini untuk membuat pengakuan yang khidmat tentangnya. 

Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala Tuhan 

(ay. 11). Cermatilah,  

(1) Apa yang diimaninya: bahwa Tuhan Israel lebih besar dari-

pada semua yang mengaku-ngaku sebagai allah, semua 

ilah palsu dan tiruan, yang menyerobot kehormatan dan 

kemuliaan Allah. Dan Tuhan membungkam mereka, menak-

lukkan mereka, dan terlalu tangguh bagi mereka semua, 

dan sebab  itu Dia membuktikan diri sebagai satu-satunya 

Tuhan yang hidup dan yang benar. Ia juga lebih tinggi dari-

pada semua raja dan penguasa (yang disebut para allah), 

dan memiliki kekuasaan yang tak dapat dibantah atas 

mereka dan juga kuasa yang tak dapat dilawan untuk 

mengendalikan dan memerintah mereka. Ia mengatur me-

reka semua seperti yang dikehendaki-Nya, dan mendapat 

penghormatan sebab  bisa menguasai mereka semua, 

betapapun besarnya mereka itu.  

(2) Bagaimana iman Yitro diteguhkan dan semakin kokoh: Seka-

rang aku tahu. Ia sudah mengetahuinya sebelumnya,namun  

sekarang ia mengetahuinya dengan lebih baik. Imannya 

tumbuh menjadi keyakinan yang penuh, sesudah  mendapat-

kan bukti yang baru ini. Ia tidak berlaku seperti orang-orang 

bebal yang menutup mata sebab  tidak bersedia melihat 

terang yang benderang, sebab  tidak tahu bahwa TUHAN 

lebih besar dari segala allah.  

(3) Dasar dan alasan yang di atasnya ia membangun imannya: 

sebab  memang orang-orang ini telah bertindak angkuh, 

Kitab Keluaran 18:7-12 

para penyihir, dan berhala-berhala yang disembah oleh 

orang Mesir, atau Firaun dan para pejabat istananya (ke-

dua-duanya menentang Tuhan dan berusaha menandingi-

Nya),namun  Ia ada di atas mereka (KJV). Para penyihir 

dibuat kebingungan, berhala-berhala dibuat gemetar, Fir-

aun direndahkan, kekuatan-kekuatannya dipatahkan, dan, 

kendati dengan semua persengkokolan mereka, Israel milik 

Tuhan diselamatkan dari tangan mereka. Perhatikanlah, 

cepat atau lambat, Tuhan akan menunjukkan diri-Nya ber-

ada di atas orang-orang yang dengan tindakan-tindakan 

mereka yang angkuh berusaha menandingi-Nya. Siapa me-

ninggikan diri melawan Allah, ia akan direndahkan. 

IV. Ungkapan-ungkapan sukacita dan rasa syukur Yitro dan orang 

Israel. Mereka bersekutu dalam perayaan dan persembahan kor-

ban (ay. 12). Yitro, yang sepenuh hati mendukung kepentingan-

kepentingan Israel, dengan penuh kegembiraan diperbolehkan 

masuk dalam persekutuan dengan Musa dan tua-tua Israel, wa-

laupun ia seorang bangsa Midian, sebab  orang ini pun anak Abra-

ham, meskipun dari isteri yang lebih muda.  

1. Mereka bergabung dalam mempersembahkan korban syukur: 

Yitro mempersembahkan korban bakaran bagi Allah, dan ada 

kemungkinan mempersembahkannya sendiri, sebab dia ada-

lah seorang imam di Midian, seorang penyembah Tuhan yang 

benar, dan sebab  jabatan imamat masih belum ditetapkan di 

Israel saat itu. Perhatikanlah, persahabatan dikuduskan oleh 

ibadah bersama. Alangkah baiknya jika saudara-saudara dan 

teman-teman, saat  berkumpul bersama-sama, bersatu hati 

mempersembahkan korban rohani berupa doa dan pujian, se-

bagai orang-orang yang bertemu dalam Kristus sebagai pusat 

kesatuan.  

2. Mereka bergabung dalam pesta sukacita, pesta persembahan 

korban. Musa, dalam kesempatan ini, mengundang saudara-

saudara dan teman-temannya ke perjamuan di kemahnya sen-

diri. Ini merupakan sebuah kebiasaan yang terpuji di antara 

teman-teman, dan yang tidak hanya diperintahkan oleh Kris-

tus sendiri,namun  juga dianjurkan-Nya, seperti yang ditunjuk-

kan-Nya dengan menerima undangan-undangan seperti itu. Ini 

yaitu  pesta yang sederhana: Mereka makan bersama-sama 

(KJV: Mereka makan roti). Roti ini, dapat kita duga, yaitu  

manna. Yitro harus melihat dan mengecap roti dari sorga itu, 

dan, meskipun bukan orang Yahudi, dipersilakan untuk me-

makannya seperti orang Israel. Orang-orang bukan Yahudi 

tetap dipersilakan makan oleh Kristus, sang Roti hidup. Itu 

yaitu  pesta yang dilaksanakan dengan cara yang berkenan 

kepada Allah: Mereka makan bersama-sama di hadapan Allah, 

dengan sederhana, dengan penuh syukur, dalam takut akan 

Allah. Dan percakapan mereka di meja makan dilakukan de-

ngan cara yang sepatutnya dilakukan oleh orang-orang kudus. 

Demikianlah kita harus makan dan minum bagi kemuliaan 

Allah, dengan menjaga perilaku kita di meja makan, seperti 

orang yang percaya bahwa mata Tuhan tertuju pada kita. 

Nasihat Yitro kepada Musa 

(18:13-27) 

13 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan 

bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. 14 saat  mertua 

Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: 

“Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau se-

orang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu 

dari pagi sampai petang?” 15 Kata Musa kepada mertuanya itu: “Sebab bang-

sa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. 16 jika  ada 

perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili 

antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada 

mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah.” 17namun  mer-

tua Musa menjawabnya: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. 18 Engkau 

akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; 

sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melaku-

kannya seorang diri saja. 19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku 

akan memberi nasihat kepadamu dan Tuhan akan menyertai engkau. Adapun 

engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Tuhan dan kauhadapkanlah perkara-

perkara mereka kepada Allah. 20 lalu  haruslah engkau mengajarkan 

kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan mem-

beritahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang 

harus dilakukan. 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-

orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, 

dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara 

bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemim-

pin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 22 Dan saat -waktu 

mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar 

haruslah dihadapkan mereka kepadamu,namun  segala perkara yang kecil 

diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, 

dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. 23 Jika 

engkau berbuat demikian dan Tuhan memerintahkan hal itu kepadamu, maka 

engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang 

dengan puas senang ke tempatnya.” 24 Musa mendengarkan perkataan

Kitab Keluaran 18:13-27 

mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya. 25 Dari selu-

ruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka 

menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin 

seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 26 

Mereka ini mengadili di antara bangsa itu saat -waktu; perkara-perkara 

yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa,namun  perkara-perkara yang 

kecil diadili mereka sendiri. 27 lalu  Musa membiarkan mertuanya itu 

pergi dan ia pulang ke negerinya. 

Di sini kita lihat,  

I. Semangat dan ketekunan Musa yang besar sebagai hakim. 

1. sesudah  dipakai untuk menebus Israel dari rumah perbudakan, 

di sini ia menjadi perlambang yang lebih jauh dari Kristus, 

bahwa ia dipakai sebagai pemberi hukum dan hakim di antara 

mereka.  

(1) Ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan, harus memberi 

tahu mereka apa kehendak Tuhan dalam perkara-perkara 

yang meragukan, dan harus menjelaskan hukum-hukum 

Tuhan yang sudah diberikan kepada mereka, mengenai hari 

Sabat, manusia, dsb., di samping hukum-hukum alam, 

yang berhubungan dengan kesalehan dan keadilan (ay. 15). 

Mereka datang untuk menanyakan petunjuk Allah. Dan 

bahagialah mereka dengan memiliki  pembimbing seperti 

itu untuk dimintai petunjuk. Kita selalu berharap, dalam 

banyak kesempatan, bahwa kita memiliki  suatu cara 

yang pasti untuk mengetahui pikiran Tuhan saat  kita 

sedang kebingungan apa yang harus dilakukan. Musa 

sangat setia kepada Dia yang telah mengangkatnya sebagai 

hakim maupun kepada orang-orang yang meminta petun-

juk darinya, dan memberitahukan kepada mereka ketetap-

an-ketetapan dan keputusan-keputusan Tuhan (ay. 16). Pe-

kerjaannya yaitu , bukan membuat hukum-hukum,namun  

memberitahukan hukum-hukum Allah. Kedudukannya ha-

nyalah sebagai seorang hamba.  

(2) Ia harus memutuskan perselisahan-perselisihan, menentu-

kan masalah-masalah yang dipersengketakan, dan meng-

hakimi antara manusia dan sesamanya (ay. 16). Dan, jika 

bangsa itu suka berseteru satu sama lain seperti mereka 

berseteru dengan Allah, tidak diragukan lagi bahwa ada 

banyak perkara besar yang dibawa ke hadapannya, dan 

semakin banyak lagi sebab  persidangan-persidangan me-

reka tidak menuntut biaya, tidak pula hukumnya menun-

tut bayaran yang mahal dari mereka. saat  sebuah per-

tikaian terjadi di Mesir, dan Musa ingin mendamaikan 

orang-orang yang bertikai itu, mereka bertanya, siapakah 

yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim 

atas kami?namun  sekarang tidak bisa dibantah lagi bahwa 

Tuhan telah mengangkatnya sebagai hakim. Dan sekarang 

mereka dengan rendah hati mendengarkan dia, yang sebe-

lumnya mereka tolak dengan angkuhnya. 

2. Seperti itulah pekerjaan yang kepadanya Musa dipanggil, dan 

tampak bahwa ia melakukannya,  

(1) Dengan pertimbangan yang mendalam, yang, menurut se-

bagian orang, tersirat dalam sikap tubuhnya: ia duduk 

untuk mengadili (ay. 13), dengan tenang dan sabar.  

(2) Dengan sangat rendah hati terhadap orang banyak, yang 

berdiri di depannya (ay. 14.) Ia sangat mudah ditemui. 

Orang-orang Israel yang paling hina sekalipun disambut 

olehnya untuk membawa perkaranya ke hadapannya.  

(3) Dengan sangat setia dan penuh perhatian.  

[1] Meskipun Yitro, mertuanya, ada bersamanya, yang bisa 

saja memberinya alasan yang baik untuk berlibur 

sebab  ia bisa saja menunda pengadilan untuk hari itu, 

atau setidak-tidaknya mempersingkatnya, namun ia 

duduk, bahkan pada keesokan harinya sesudah  keda-

tangan mertuanya, dari pagi sampai petang. Perhatikan-

lah, urusan yang penting harus lebih diutamakan dari-

pada tindakan basa-basi. Terlalu berlebihan bila kita 

lebih mengutamakan bersenang-senang dengan teman-

teman kita dibandingkan  melaksanakan kewajiban kita 

terhadap Allah, yang harus dilakukan, walaupun yang 

lain itu memang jangan sampai diabaikan juga.  

[2] Meskipun Musa diangkat ke dalam kehormatan yang 

besar, namun ia tidak sebab  itu mengambil perkara-

nya dan melemparkan kepada orang lain beban untuk 

mengurus dan mengerjakannya. Tidak, ia menganggap 

bahwa pengangkatannya, bukannya membebaskan dia 

dari pelayanan, justru membuat pelayanan itu semakin 

Kitab Keluaran 18:13-27 

diwajibkan untuknya. Orang-orang yang beranggapan 

bahwa berbuat baik itu rendah, mereka itu memandang 

diri tinggi melebihi yang sepantasnya. Padahal, bahkan 

para malaikat sendiri pun merasa terhormat bila dipa-

kai untuk melayani.  

[3] Meskipun bangsa itu sudah menyulut amarahnya, dan 

nyaris melemparinya dengan batu (17:4), namun ia te-

tap menjadikan dirinya hamba bagi semua. Perhatikan-

lah, walaupun orang lain gagal melaksanakan kewajib-

an mereka terhadap kita, kita sendiri tidak boleh meng-

abaikan kewajiban kita terhadap mereka.  

[4] Meskipun Musa sudah tua, namun ia tetap melakukan 

pekerjaannya dari pagi sampai malam, dan memandang 

bahwa makanan dan minumannya yaitu  melakukan 

pekerjaannya. Tuhan memberi  dia kekuatan tubuh 

dan pikiran yang hebat, yang memampukan dia untuk 

menuntaskan banyak sekali pekerjaan dengan mudah 

dan senang hati. Dan, untuk mendorong orang lain su-

paya mencurahkan segenap kekuatan mereka dalam me-

layani Allah, ia membuktikan bahwa sesudah  semua kerja 

kerasnya, kekuatan alaminya tidak berkurang. Orang-

orang yang setia kepada Tuhan, dan setia melayani-Nya, 

akan selalu memperbaharui kekuatan mereka. 

II. Kebijaksanaan dan pertimbangan Yitro yang besar sebagai seorang 

teman.  

1. Ia tidak suka dengan cara yang dipakai Musa, dan ia begitu 

bebas dengannya sehingga ia mengatakan itu kepadanya (ay. 

14, 17-18). Yitro menganggap bahwa pekerjaan itu terlalu 

berat untuk dilakukan Musa seorang diri, bahwa itu akan 

merugikan bagi kesehatannya dan akan membuatnya sangat 

kelelahan. Dan juga bahwa itu akan membuat penegakan 

keadilan menjadi melelahkan bagi orang banyak. Oleh sebab  

itu, Yitro memberi tahu dia dengan terang-terangan, itu tidak 

baik. Perhatikanlah, bahkan dalam berbuat baik pun, kita bisa 

saja melakukannya secara berlebihan, dan sebab  itu sema-

ngat kita haruslah selalu diatur dengan kebijaksanaan, supaya 

kebaikan kita tidak digunjingkan orang. Hikmat bermanfaat 

untuk membimbing, supaya kita tidak berpuas diri dengan 

kekurangan kita dalam menunaikan kewajiban kita, atau 

membebani diri kita sendiri dengan pekerjaan yang melebihi 

kekuatan kita. 

2. Yitro menasihati Musa untuk memakai cara pengaturan yang 

akan memenuhi maksud pekerjaannya dengan lebih baik, 

yaitu,  

(1) Bahwa Musa harus mengambil tanggung jawab sendiri 

dalam memanjatkan semua permohonan kepada Tuhan (ay. 

19): Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah. 

Itu yaitu  suatu kehormatan yang di dalamnya orang lain 

tidak pantas berbagi dengannya (Bil. 12:6-8). Juga, apa 

saja yang menyangkut seluruh jemaat secara umum harus-

lah melewati tangannya (ay. 20).namun , 

(2) Bahwa ia harus mengangkat hakim-hakim dalam beberapa  

suku dan keluarga, yang akan mengadili perkara-perkara 

antara manusia dengan manusia, dan memutuskannya. 

Pengadilan seperti ini dapat berlangsung dapat dengan 

tidak begitu ribut, dan dengan lebih tuntas, dibandingkan  bila 

dilakukan dalam sidang jemaat umum di mana Musa 

sendiri memimpin. Demikianlah mereka harus diperintah 

oleh seorang raja sebagai kekuasaan tertinggi, dan hakim-

hakim bawahan yang diutus dan ditugaskan olehnya (1Ptr. 

2:13-14). Dengan demikian tangan-tangan yang banyak 

akan membuat pekerjaan menjadi ringan, perkara-perkara 

akan diadili dengan lebih cepat, dan orang akan tenang 

sebab keadilan dibawa langsung ke depan pintu kemah 

mereka. Namun,  

(3) Banding bisa diajukan, jika ada alasan yang benar untuk 

itu, dari pengadilan-pengadilan yang lebih rendah ini ke-

pada Musa sendiri, setidak-tidaknya jika para hakim 

sendiri sudah kehabisan akal. Segala perkara yang besar 

haruslah dihadapkan mereka kepadamu (ay. 22). Demikian-

lah orang yang besar akan menjadi lebih berguna dengan 

dipekerjakan hanya dalam perkara-perkara yang besar. 

Perhatikanlah, orang-orang yang karunia dan kedudukan-

nya paling unggul bisa lebih bermanfaat besar lagi bila 

dibantu oleh para pembantu di bawah mereka, dan sebab  

itu para pembantu ini janganlah sampai dipandang rendah. 

Kepala membutuhkan tangan dan kaki (1Kor. 12:21). 

Kitab Keluaran 18:13-27 

Orang-orang besar tidak hanya harus berusaha untuk 

menjadi berguna sendiri,namun  juga harus berupaya untuk 

membuat orang lain berguna, sesuai kemampuan mereka. 

Demikianlah nasihat Yitro, yang melaluinya tampak bahwa 

meskipun Musa lebih unggul darinya dalam hal bernubuat, 

namun ia lebih unggul dari Musa dalam keahlian memerin-

tah. Namun demikian,  

3. Yitro menambahkan dua syarat untuk nasihatnya:  

(1) Bahwa harus berhati-hati dalam memilih orang-orang yang 

akan diberi kepercayaan ini (ay. 21). Mereka haruslah 

orang-orang yang cakap, dst. Dituntut bahwa mereka ada-

lah orang-orang yang bertabiat terbaik,  

[1] Dalam mengadili dan memecahkan masalah. Mereka 

haruslah orang-orang yang cakap, yang berakal sehat, 

yang mengerti urusan yang ditangani, dan berani, yang 

tidak gentar menghadapi kernyit dahi atau teriakan 

orang ramai. Kepala yang jernih dan hati yang berani 

membuat orang menjadi hakim yang baik.  

[2] Dalam kesalehan dan agama. Mereka haruslah orang-

orang yang takut akan Allah, yang percaya bahwa ada 

Tuhan di atas mereka, yang mata-Nya tertuju pada mere-

ka, yang kepada-Nya mereka bertanggung jawab, dan 

yang terhadap penghakiman-Nya mereka gentar. Orang-

orang yang berhati nurani, yang tidak berani melaku-

kan sesuatu yang rendah, meskipun hanya dengan 

diam-diam tanpa diketahui orang. Takut akan Tuhan 

yaitu  dasar pegangan terbaik yang membentengi orang 

dalam melawan godaan-godaan untuk berbuat tidak 

adil (Neh. 5:15; Kej. 42:18).  

[3] Dalam kelurusan hati dan kejujuran. Mereka yaitu  

orang-orang yang dapat dipercaya, yang kata-katanya 

dapat dipegang, dan yang kesetiaannya dapat diandal-

kan, yang tidak akan berbohong demi apa pun juga, 

atau mengkhianati kepercayaan, atau bertindak licik.  

[4] Dalam memandang rendah kekayaan duniawi dengan 

hati yang mulia. Mereka benci kepada pengejaran suap, 

tidak hanya tidak mengejar suap atau bertujuan untuk 

memperkaya diri sendiri,namun  juga benci memikirkan-

nya. Orang yang pantas menjadi hakim, dan satu-

satunya yang demikian, hanyalah orang yang menolak 

untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, 

supaya jangan menerima suap (Yes. 33:15).  

(2) Bahwa Musa harus mengikuti petunjuk Tuhan dalam per-

kara itu (ay. 23): Jika engkau berbuat demikian dan Tuhan 

memerintahkan hal itu kepadamu. Yitro tahu bahwa Musa 

memiliki penasihat yang lebih baik dibandingkan  dia, dan 

kepada nasihat-Nyalah ia mengarahkan Musa. Perhatikan-

lah, nasihat harus diberikan dengan penyerahan diri yang 

penuh kerendahan hati terhadap firman dan pemeliharaan 

Allah, yang lebih berkuasa atas segala nasihat.  

Nah, Musa tidak memandang rendah nasihat ini sebab  ber-

asal dari orang yang tidak mengenal, seperti dirinya, firman Tuhan 

dan penglihatan-penglihatan dari Yang Mahakuasa. Sebaliknya, ia 

mendengarkan perkataan mertuanya itu (ay. 24). saat  Musa 

mulai mempertimbangkan perkara itu, ia melihat bahwa apa yang 

diusulkan oleh mertuanya itu masuk akal, dan ia menetapkan 

hati untuk melaksanakannya. Ia mengikuti nasihat mertuanya itu 

segera sesudah  ia menerima petunjuk-petunjuk dari Tuhan dalam 

perkara itu. Perhatikanlah, orang-orang yang berpikir bahwa 

mereka terlalu bijak untuk dinasihati, mereka itu sebenarnya 

tidaklah sebijak anggapan mereka sendiri. Sebab orang bijak (yang 

benar-benar demikian) akan mendengar dan menambah ilmu, dan 

tidak meremehkan nasihat yang baik, meskipun diberikan oleh 

seorang bawahan. Musa tidak menyerahkan pemilihan hakim-

hakim kepada orang banyak, yang sudah berbuat cukup untuk 

membuktikan bahwa mereka tidak pantas mendapat kepercayaan 

seperti itu.namun  dia sendirilah yang memilih mereka, dan meng-

angkat mereka, sebagian untuk menangani kumpulan yang lebih 

besar, dan sebagian lagi untuk yang lebih kecil, di mana yang 

terakhir ini menjadi hakim bawahan di bawah pimpinan hakim 

yang menangani kelompok yang lebih besar. Beralasan bagi kita 

untuk menghargai pemerintah sebagai rahmat yang sangat besar, 

dan bersyukur kepada Tuhan atas hukum-hukum dan hakim-

hakim, sehingga kita tidak seperti ikan-ikan di laut, di mana yang 

besar memakan yang kecil. 

Kitab Keluaran 18:13-27 

III. Kembalinya Yitro ke negerinya sendiri (ay. 27). Tidak diragukan 

lagi bahwa ia membawa pulang bersamanya banyak pengenalan 

akan Allah, dan menyampaikannya kepada tetangga-tetangganya 

sebagai pelajaran bagi mereka. Diduga bahwa orang Keni, yang 

disebutkan dalam 1 Samuel 15:6, yaitu  keturunan Yitro (bdk. 

Hak. 1:16), dan di sana mereka ada di bawah perlindungan khusus, 

sebab  kebaikan yang telah ditunjukkan oleh nenek moyang 

mereka kepada Israel di sini. Itikad baik yang ditunjukkan kepada 

umat Allah, bahkan dalam perbuatan-perbuatan yang paling kecil 

sekalipun, sama sekali tidak akan kehilangan upahnya,namun  akan 

dibalas, paling tidak, pada hari kebangkitan. 


 

 

PASAL 19  

asal ini mengantarkan khidmatnya pemberian hukum Taurat di 

atas gunung Sinai, yang merupakan salah satu dari penampak-

an-penampakan kemuliaan ilahi yang paling hebat yang pernah 

terjadi di dunia bawah ini. Kita mendapati di sini,  

I. Keadaan-keadaan seputar waktu dan tempat terjadinya (ay. 

1-2).  

II. Perjanjian antara Tuhan dan Israel ditetapkan secara umum. 

Usulan penuh rahmat yang diajukan Tuhan kepada mereka (ay. 

3-6), dan persetujuan mereka terhadap usulan itu (ay. 7-8).  

III. Pemberitahuan diberikan tiga hari sebelumnya tentang ren-

cana Tuhan untuk memberi  hukum Taurat dari balik awan 

tebal (ay. 9). Perintah-perintah disampaikan untuk memper-

siapkan umat menerima hukum itu (ay. 10-13), dan persiap-

an dilakukan untuk melaksanakan perintah-perintah itu (ay. 

14-15).  

IV. Penampakan kemuliaan Tuhan yang dahsyat di atas gunung 

Sinai (ay. 16-20).  

V. Keheningan dinyatakan, dan perintah-perintah yang ketat di-

berikan kepada umat untuk menjaga perilaku dengan pantas 

selama Tuhan berbicara kepada mereka (ay. 21, dst.). 

Perjanjian Sinai 

(19:1-8)  

1 Pada bulan ketiga sesudah  orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba 

di padang gurun Sinai pada hari itu juga. 2 sesudah  mereka berangkat dari 

Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di 

padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu. 3 Lalu 

naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepada-

nya: “Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan ke-

pada orang Israel: 4 Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada 

orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap 

rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. 5 Jadi sekarang, jika kamu sung-

guh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, 

maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala 

bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. 6 Kamu akan menjadi 

bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman 

yang harus kaukatakan kepada orang Israel.“ 7 Lalu datanglah Musa dan 

memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala 

firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya. 8 Seluruh bangsa itu men-

jawab bersama-sama: “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.” 

Lalu Musa pun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN. 

Di sini ada,  

I. Penanggalan dari piagam agung yang melaluinya Israel didirikan.  

1. Waktu penanggalannya (ay. 1), pada bulan ketiga sesudah  

mereka keluar dari Mesir. Menurut perhitungan, hukum Tau-

rat diberikan hanya lima puluh hari sesudah  mereka keluar dari 

Mesir. Untuk memperingatinya, hari raya Pentakosta diraya-

kan pada hari kelima puluh sesudah  Paskah, dan sesuai 

dengan hal itu, Roh Kudus dicurahkan ke atas para rasul pada 

hari raya Pentakosta, lima puluh hari sesudah  kematian Kris-

tus. Di Mesir mereka sudah berbicara tentang tiga hari per-

jalanan ke padang gurun ke tempat mereka mempersembah-

kan korban (5:3),namun  ternyata perjalanan itu memakan wak-

tu hampir dua bulan. Begitu sering kita meleset dalam meng-

hitung waktu, dan segala sesuatu ternyata lebih lama dalam 

pelaksanaannya dibandingkan  yang kita harapkan.  

2. Tempat diberikannya penanggalan itu. Dari Gunung Sinai, tem-

pat yang oleh alam, dan bukan buatan manusia, menjadi ter-

kemuka dan mencolok, sebab gunung itu yaitu  gunung ter-

tinggi di seluruh wilayah pegunungan itu. Demikianlah Tuhan 

memberi  penghinaan terhadap kota-kota, istana-istana, 

dan bangunan-bangunan megah, dengan mendirikan pondok-

Nya di puncak gunung yang tinggi, di padang gurun yang 

tandus dan gersang, untuk melaksanakan persepakatan ini di 

sana. Gunung itu disebut Sinai, berdasar  banyaknya 

semak duri yang tersebar luas di sekelilingnya. 

II. Piagam itu sendiri. Musa dipanggil untuk naik ke gunung itu 

(yang di puncaknya Tuhan telah memasang kemah-Nya, dan di 

Kitab Keluaran 19:1-8 

kakinya Israel telah memasang kemah mereka), dan ia dipakai 

sebagai pengantara, atau lebih tepatnya tidak lebih dibandingkan  

sebagai utusan perjanjian: Beginilah kaukatakan kepada keturun-

an Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel (ay. 3). Di sini 

cedikiawan uskup Patrick mencermati bahwa bangsa itu disebut 

dengan nama Yakub dan juga Israel, untuk mengingatkan mereka 

bahwa mereka yang belum lama ini menduduki tempat yang 

rendah serendah Yakub saat  ia pergi ke Padan-Aram, sekarang 

telah bertumbuh menjadi besar sebesar Tuhan membuat Yakub 

saat  ia datang dari sana (diperkaya secara adil dengan barang-

barang rampasan dari orang yang telah menindasnya) dan disebut 

Israel. Sekarang amatilah,  

1. Bahwa Pembuat dan Pencetus pertama perjanjian itu yaitu  

Tuhan sendiri. Tak ada satu hal pun yang dikatakan atau dila-

kukan oleh bangsa yang bodoh dan tidak berpikir ini untuk 

menetapkan perjanjian ini. Tak ada permintaan yang dibuat, 

tak ada permohonan yang diajukan, untuk mendapat perke-

nanan Allah, sebaliknya, piagam yang penuh berkat ini diberi-

kan ex mero motu – semata-mata atas kehendak baik Tuhan sen-

diri. Perhatikanlah, dalam semua urusan kita dengan Allah, 

anugerah yang cuma-cuma mendahului kita dengan berkat-

berkat kebaikan, dan semua penghiburan kita diperoleh, bu-

kan sebab  kita mengenal Allah, melainkan sebab  kita dike-

nal oleh-Nya (Gal. 4:9). Kita mengasihi Dia, datang kepada-Nya, 

dan mengadakan perjanjian dengan-Nya, sebab  Dia lebih 

dahulu mengasihi kita, datang kepada kita, dan mengadakan 

perjanjian dengan kita. Tuhan yaitu  Alfa, dan sebab  itu pasti 

Omega.  

2. Bahwa isi perjanjian itu bukan hanya adil dan tidak menim-

bulkan keberatan, dan tidak menyulitkan mereka,namun  juga 

penuh kebaikan hati dan rahmat, sehingga menawarkan ke-

pada mereka hak-hak istimewa dan keuntungan-keuntungan 

besar yang tidak terbayangkan.  

(1) Ia mengingatkan mereka akan apa yang telah dilakukan-

Nya untuk mereka (ay. 4). Ia telah membela mereka, dan 

mengadakan pembalasan terhadap para penganiaya dan 

penindas mereka. “Kamu sendiri telah melihat apa yang 

Kulakukan kepada orang Mesir, berapa banyak nyawa yang 

menjadi korban demi kehormatan dan kepentingan-kepen-

tingan Israel.” Ia sudah memberi mereka bukti-bukti perke-

nanan-Nya yang tiada tara, dan perhatian-Nya terhadap 

mereka: Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali, 

suatu ungkapan yang luhur tentang kelembutan yang 

menakjubkan yang telah ditunjukkan Tuhan bagi mereka. 

Ungkapan ini dijelaskan dalam Ulangan 32:11-12. Ungkap-

an itu menandakan kecepatan yang tinggi. Tuhan tidak ha-

nya datang dengan sayap-Nya untuk membebaskan mereka 

(saat  waktu yang ditetapkan telah tiba, Ia mengendarai 

kerub, lalu terbang),namun  juga Ia bergegas membawa 

mereka keluar, seolah-olah, di atas sayap. Ia juga melaku-

kannya dengan sangat mudah, dengan kekuatan dan ke-

cepatan rajawali. Orang-orang yang tidak lelah dan lesu, 

dikatakan naik terbang dengan kekuatan sayapnya seum-

pama rajawali (Yes. 40:31). Ungkapan itu, terutama, me-

nandakan perhatian khusus Tuhan terhadap mereka dan 

kasih sayang-Nya kepada mereka. Bahkan Mesir, dapur 

peleburan besi itu, yaitu  sarang di mana anak-anak bu-

rung ini ditetaskan, di mana mereka pertama-tama diben-

tuk sebagai janin sebuah bangsa. saat , dengan pertam-

bahan jumlah mereka, mereka bertumbuh dewasa, mereka 

dibawa keluar dari sarang itu. Burung-burung lain mem-

bawa anak-anak mereka dalam cakar mereka,namun  raja-

wali, katanya, membawa anak-anaknya pada sayapnya, se-

hingga bahkan para pemanah yang menembakkan anak 

panah mereka tidak dapat menyakiti anak-anaknya, kecuali 

mereka menembak menembus induknya. Demikian pula, di 

Laut Teberau, tiang awan dan tiang api, tanda dari hadirat 

Allah, menjadi penghalang antara bangsa Israel dan orang-

orang yang mengejar mereka (garis-garis pertahanan yang 

tidak bisa dipatahkan, tembok yang tidak bisa ditembus): 

namun ini belum semua. Jalan mereka yang begitu dimu-

dahkan, dan begitu dikawal, sungguh mulia,namun  kesu-

dahan mereka jauh lebih mulia lagi: Aku membawa kamu 

kepada-Ku. Mereka dibawa tidak hanya ke dalam kemer-

dekaan dan kehormatan, melainkan juga ke dalam per-

janjian dan persekutuan dengan Allah. Inilah kemuliaan 

dari pembebasan mereka, seperti halnya kemuliaan dari 

Kitab Keluaran 19:1-8 

pembebasan kita oleh Kristus, bahwa Ia mati, yang benar 

untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa 

kita kepada Allah. Inilah yang menjadi tujuan Tuhan dalam 

semua pemeliharaan dan anugerah-Nya yang penuh rah-

mat, yaitu untuk membawa kita kembali kepada Dia, kita 

yang sudah memberontak, dan membawa kita pulang 

kepada-Nya, sebab  hanya di dalam Dia sajalah kita bisa 

berbahagia. Tuhan berseru kepada mereka, minta mereka 

merenungkan apa yang telah mereka lihat dan alami 

selama ini, bahwa apa yang Dia katakan ini sungguhlah 

benar: Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan. 

Dengan begitu, mereka tidak bisa tidak mempercayai Allah, 

kecuali mereka terlebih dulu tidak percaya dengan mata 

mereka sendiri. Mereka melihat bagaimana semua yang di-

lakukan itu yaitu  semata-mata oleh perbuatan Tuhan. 

Bukan mereka yang berusaha menggapai Allah,namun  

Allahlah yang membawa mereka kepada diri-Nya. Sebagian 

orang mencermati dengan baik bahwa jemaat Perjanjian 

Lama dikatakan didukung di atas sayap rajawali, yang 

menandakan kekuatan dari masa penyelenggaraan itu, 

yang dijalankan dengan tangan yang dinaikkan dan lengan 

yang teracung.namun  jemaat Perjanjian Baru dikatakan 

dikumpulkan oleh Tuhan Yesus, seperti induk ayam me-

ngumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya (Mat. 

23:37), yang menandakan anugerah dan belas kasihan dari 

masa penyelenggaraan itu, dan perendahan diri serta 

kerendahan hati yang mengagumkan dari sang Penebus. 

(2) Tuhan memberi tahu mereka dengan jelas apa yang diharap-

kan dan dituntut-Nya dari mereka dalam satu kata, yaitu 

ketaatan (ay. 5), bahwa mereka harus sungguh-sungguh 

mendengarkan firman-Nya dan berpegang pada perjanjian-

Nya. sebab  sudah diselamatkan seperti itu oleh-Nya, 

maka apa yang bersikukuh dituntut-Nya yaitu  bahwa me-

reka harus diatur oleh-Nya. Tuntutan-Nya ini tetap masih 

diserukan-Nya kepada mereka lama sesudah peristiwa ini, 

seperti pada masa Yeremia di lalu  hari, bahwa pada 

waktu Ia membawa mereka keluar dari tanah Mesir, inilah 

syarat dari perjanjian itu, dengarkanlah suara-Ku (Yer. 

7:23). Dan Dikatakan bahwa Ia dengan sungguh-sungguh 

memperingatkan mereka akan hal ini (Yer. 11:4, 7). Taatlah 

saja dengan sungguh-sungguh, bukan hanya dengan meng-

aku dan berjanji, bukan dengan berpura-pura, melainkan 

dengan tulus hati. Tuhan telah menunjukkan kepada mere-

ka perkenanan-perkenanan-Nya yang nyata, dan sebab  itu 

Ia menuntut ketaatan yang nyata pula.  

(3) Tuhan meyakinkan mereka akan kehormatan yang hendak 

diberikan-Nya kepada mereka, dan kebaikan yang hendak 

ditunjukkan-Nya kepada mereka, jika mereka benar-benar 

berpegang pada perjanjian-Nya (ay. 5-6): Maka kamu akan 

menjadi harta kesayangan-Ku sendiri. Ia tidak menyebut-

kan secara khusus suatu perkenanan tertentu, seperti 

memberi mereka tanah Kanaan atau semacamnya,namun  

mengungkapkannya dalam suatu ungkapan yang menca-

kup kebahagiaan seluruhnya, yaitu bahwa Ia akan menjadi 

Tuhan mereka berdasar  perjanjian, dan mereka akan 

menjadi umat-Nya.  

[1] Tuhan di sini menegaskan kedaulatan dan kepemilikan-

Nya atas seluruh ciptaan yang terlihat: Akulah yang em-

punya seluruh bumi. Oleh sebab itu Ia tidak membutuh-

kan mereka. Dia yang memiliki wilayah kekuasaan yang 

begitu luas pasti sangat hebat, dan sangat bahagia, tan-

pa mengkhawatirkan diri-Nya dengan wilayah yang be-

gitu kecil seperti Israel. sebab  semua bangsa di bumi 

yaitu  milik-Nya, maka Ia dapat memilih siapa yang 

dikehendaki-Nya sebagai umat kesayangan-Nya, dan 

bertindak secara berdaulat. 

[2] Tuhan mengambil Israel bagi diri-Nya sendiri, pertama, 

sebagai umat kesayangan-Nya. Kamu akan menjadi har-

ta kesayangan-Ku sendiri. Tidak berarti bahwa Tuhan di-

perkaya oleh mereka, seperti manusia diperkaya oleh 

hartanya,namun  Ia berkenan menilai dan menghargai 

mereka seperti manusia menilai dan menghargai harta-

nya. Mereka berharga di mata-Nya dan mulia (Yes. 43:4). 

Hati-Nya terpikat oleh mereka (Ul. 7:7). Ia membawa 

mereka ke dalam pemeliharaan dan perlindungan-Nya 

yang istimewa, seperti harta yang disimpan di suatu 

tempat yang aman dan terkunci. Ia memandang semua 

yang lain di dunia hanya seperti sampah dan barang-

Kitab Keluaran 19:1-8 

barang yang tidak terpakai dibandingkan dengan mere-

ka. Dengan memberi mereka wahyu ilahi, ketetapan-

ketetapan, dan janji-janji hidup yang kekal yang sudah 

meliputi semuanya, dengan mengutus nabi-nabi-Nya di 

antara mereka, dan mencurahkan Roh-Nya ke atas 

mereka, Ia membedakan mereka dari dan menjunjung 

martabat mereka di atas semua bangsa lain. Dan 

kehormatan ini dimiliki semua orang kudus. Mereka 

bagi Tuhan yaitu  umat kepunyaan-Nya sendiri (Tit. 

2:14), milik kepunyaan-Nya saat  Ia menjadikan per-

hiasan-Nya. Kedua, sebagai umat yang diabdikan un-

tuk-Nya, bagi kehormatan-Nya dan untuk melayani-Nya 

(ay. 6), kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Semua 

orang Israel, jika dibandingkan dengan orang-orang dari 

bangsa lain, yaitu  imam-imam bagi Allah, begitu de-

katnya mereka pada-Nya (Mzm. 148:14), begitu banyak 

mereka dipakai untuk melayani-Nya secara langsung, 

dan begitu akrab bersekutu dengan-Nya. saat  mereka 

pertama kali dibuat menjadi bangsa yang merdeka, itu 

supaya mereka dapat mempersembahkan korban ke-

pada TUHAN, Tuhan mereka, sebagai imam-imam. Mere-

ka ada di bawah pemerintahan Tuhan secara langsung, 

dan tujuan pemberian hukum-hukum kepada mereka 

yaitu  untuk membedakan mereka dari bangsa lain, 

dan mengikat mereka kepada Tuhan sebagai bangsa yang 

kudus. Demikianlah, semua orang percaya, melalui 

Kristus, dijadikan raja-raja dan imam-imam bagi Tuhan 

kita (Why. 1:6), bangsa yang terpilih, imamat yang rajani 

(1Ptr. 2:9).  

III. Bangsa Israel menerima piagam ini, dan setuju dengan syarat-

syaratnya.  

1. Musa dengan setia menyampaikan pesan Tuhan kepada mereka 

(ay. 7): Ia membawa ke depan mereka segala firman itu. Musa 

tidak hanya menjelaskan kepada mereka apa yang telah di-

perintahkan Tuhan kepadanya,namun  juga menyerahkan pilihan 

kepada mereka, apakah mereka mau menerima janji-janji ini 

dengan syarat-syarat ini atau tidak. Dibawanya segala firman

itu ke depan mereka menandakan dimasukkannya firman itu 

ke dalam hati nurani mereka.  

2. Mereka langsung setuju dengan perjanjian yang diusulkan. 

Mereka mau mewajibkan diri mereka untuk mematuhi suara 

Allah, dan memandang sebagai suatu perkenanan yang besar 

bahwa mereka dijadikan kerajaan imamat bagi-Nya. Mereka 

menjawab bersama-sama sebagai satu tubuh, nemine contra-

dicente – tanpa suara yang menentang (ay. 8): Segala yang 

difirmankan TUHAN akan kami lakukan. Demikianlah mereka 

mengambil tawaran itu, menerima Tuhan sebagai Tuhan bagi 

mereka, dan menyerahkan diri kepada-Nya sebagai umat-Nya. 

Oh, semoga saja memang ada hati yang seperti itu pada 

mereka!  

3. Musa, sebagai pengantara, mengembalikan perkataan umat 

kepada Tuhan (ay. 8). Demikian pula Kristus, sang Pengantara 

antara kita dan Allah, sebagai nabi menyingkapkan kepada 

kita kehendak Allah, ketetapan-ketetapan, dan janji-janji-Nya. 

Dan sebagai imam, Ia mempersembahkan kepada Tuhan kor-

ban-korban rohani kita, bukan hanya berupa doa dan pujian, 

melainkan juga perasaan-perasaan yang penuh pengabdian 

dan tekad-tekad hati yang saleh, yaitu pekerjaan Roh-Nya 

sendiri dalam diri kita. Dengan demikian, Dialah wasit yang 

dapat memegang kita berdua. 

Kedatangan Tuhan Diumumkan 

(19:9-15)  

9 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan datang ke-

padamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh 

bangsa itu jika  Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka 

senantiasa percaya kepadamu.” Lalu Musa memberitahukan perkataan 

bangsa itu kepada TUHAN. 10 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Pergilah 

kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan 

besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya. 11 Menjelang hari ketiga 

mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan 

mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai. 12 Sebab itu haruslah engkau 

memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-

baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab 

siapa pun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. 13 Tangan 

seorang pun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu 

atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan 

dibiarkan hidup. Hanya jika  sangkakala berbunyi panjang, barulah mere-

ka boleh mendaki gunung itu.” 14 Lalu turunlah Musa dari gunung menda-

patkan bangsa itu; disuruhnyalah bangsa itu menguduskan diri dan mereka

Kitab Keluaran 19:9-15 

 289 

pun mencuci pakaiannya. 15 Maka kata Musa kepada bangsa itu: “Bersiaplah 

menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perem-

puan.” 

Di sini,  

I. Tuhan menunjukkan kepada Musa tujuan-Nya turun ke atas gu-

nung Sinai, dalam suatu penampakan kemuliaan-Nya yang bisa 

disaksikan mata, dalam awan yang tebal (ay. 9). Sebab Ia sudah 

berkata bahwa Ia akan diam dalam kekelaman (2Taw. 6:1), dan 

menjadikan kekelaman ini sebagai pondok-Nya (Mzm. 18:12), 

dengan menutupi pemandangan takhta-Nya saat  Ia mendiri-

kannya di atas gunung Sinai, dan melingkupinya dengan awan-

Nya (Ayb. 26:9). Awan tebal ini dimaksudkan untuk melarang 

pertanyaan-pertanyaan yang tidak semestinya tentang hal-hal 

yang rahasia, dan untuk membangkitkan kekaguman yang penuh 

hormat terhadap apa yang diwahyukan. Tuhan akan turun di 

depan mata seluruh bangsa itu (ay. 11). Meskipun mereka tidak 

akan melihat suatu rupa apa pun, namun mereka akan melihat 

sedemikian banyak hingga mereka diyakinkan bahwa Tuhan benar-

benar hadir di antara mereka. Dan begitu tingginya puncak gu-

nung Sinai itu sehingga diduga bahwa bukan hanya perkemahan 

Israel, melainkan juga bahkan negeri-negeri sekitar, dapat melihat 

suatu penampakan kemuliaan yang luar biasa di atas gunung itu, 

yang akan memicu  kengerian pada mereka. Tampak juga 

bahwa awan tebal itu terutama dimaksudkan untuk memberi  

kehormatan kepada Musa: Dengan maksud supaya dapat dide-

ngar oleh bangsa itu jika  Aku berbicara dengan engkau, dan 

juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu (ay. 9). Demi-

kianlah, pertama-tama ada kemunculan penampakan kemuliaan 

ilahi yang bisa dilihat, dan sesudah itu perkara-perkara selanjut-

nya diteruskan secara lebih diam-diam melalui pelayanan Musa. 

Dengan cara serupa, Roh Kudus turun secara terlihat ke atas 

Kristus pada pembaptisan-Nya, dan semua orang yang hadir men-

dengar Tuhan berbicara kepada-Nya (Mat. 3:17), supaya sesudah 

itu, tanpa harus mengulangi tanda-tanda yang terlihat mata 

seperti itu lagi, mereka dapat percaya kepada-Nya. Demikian pula 

Roh turun dalam lidah-lidah seperti nyala api ke atas para rasul 

(Kis. 2:3), supaya penglihatan-penglihatan itu dapat dipercaya. 

Amatilah, saat  bangsa itu sudah menyatakan diri mereka

bersedia untuk mematuhi suara Allah, pada saat itulah Tuhan ber-

janji bahwa mereka akan mendengar suara-Nya. Sebab, barang-

siapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan mengetahui kehen-

dak-Nya itu (Yoh. 7:17). 

II. Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat persiapan bagi 

kekhidmatan yang agung ini, dengan memberinya waktu dua hari 

untuk itu. 

1. Ia harus menguduskan bangsa itu (ay. 10), sama seperti Ayub, 

sebelum ini, memanggil dan menguduskan anak-anaknya (Ayb. 

1:5). Ia harus mengangkat harapan mereka dengan memberi-

tahukan kepada mereka apa yang akan dilakukan Allah, dan 

membantu mereka bersiap-siap dengan mengarahkan mereka 

apa yang harus mereka lakukan. “Suruhlah mereka mengudus-

kan diri,” yaitu, “Suruhlah mereka berhenti dari urusan dunia-

wi mereka, dan panggillah mereka untuk beribadah, merenung 

dan berdoa, supaya mereka dapat menerima hukum dari 

mulut Tuhan dengan hormat dan kesalehan. Suruhlah mereka 

bersiap” (ay. 11). Perhatikanlah, saat  kita harus menghadap 

Tuhan dalam ketetapan-ketetapan ibadah yang khidmat, sudah 

menjadi kepentingan kita untuk menguduskan diri kita 

sendiri, dan untuk mempersiapkan diri sebelumnya. Pikiran-

pikiran yang melantur harus dipusatkan, perasaan-perasaan 

yang tidak murni harus ditinggalkan, dan nafsu-nafsu yang 

meresahkan harus diredam. Bahkan, segala kekhawatiran 

tentang urusan duniawi, untuk saat ini, harus dihilangkan 

dan dikesampingkan, supaya hati kita terpaut untuk mendekat 

kepada Allah. Dua hal ditetapkan secara khusus sebagai tanda 

dan bukti dari persiapan hati mereka:  

(1) Sebagai tanda bahwa mereka membersihkan diri mereka 

dari semua kecemaran yang berdosa, supaya mereka ku-

dus bagi Allah, maka mereka harus mencuci pakaian mere-

ka (ay. 10), dan mereka berbuat demikian (ay. 14). Bukan 

berarti bahwa Tuhan memperhatikan pakaian kita.namun  

saat  mereka sedang mencuci pakaian mereka, Ia ingin 

supaya mereka merenungkan diri untuk membasuh jiwa 

mereka dengan bertobat dari dosa-dosa yang telah mereka 

perbuat di Mesir dan sejak pembebasan mereka. Sudah 

Kitab Keluaran 19:9-15

sepatutnya kita tampil dalam pakaian yang bersih saat  

kita melayani para pembesar. Demikian pula hati yang 

bersih dituntut saat  kita menghadap Tuhan yang maha-

besar, yang melihat hati kita dengan jelas seperti orang 

melihat pakaian kita. Hal ini mutlak diperlukan supaya 

penyembahan kita kepada Tuhan berkenan pada-Nya (Mzm. 

26:6; Yes.1:16-18 dan Ibr. 10:22).  

(2) Sebagai tanda bahwa mereka mengabdikan diri mereka se-

penuhnya pada ibadah-ibadah agama, pada kesempatan 

ini, mereka harus menjauhkan diri bahkan dari kesenang-

an-kesenangan yang tidak melanggar hukum selama tiga 

hari ini, dan tidak bersetubuh dengan perempuan (ay. 15; 

KJV: dengan isteri mereka). (Lihat 1Kor.7:5.) 

2. Musa harus memasang batas di sekeliling gunung itu (ay. 12-

13). Mungkin ia menarik garis, atau membuat parit, di sekitar 

kaki bukit, yang tidak boleh dilewati seorang pun dengan 

ancaman hukuman mati. Hal ini untuk menyiratkan,  

(1) Penghormatan yang penuh kerendahan hati dan kegentar-

an, yang harus menguasai pikiran semua orang yang me-

nyembah Allah. Kita yaitu  makhluk yang hina di hadapan 

Pencipta yang agung, para pendosa yang keji di hadapan 

Hakim yang kudus dan benar. Dan sebab  itu sudah 

sepatutnya kita menyembah Tuhan dengan kesalehan yang 

penuh rasa takut dan malu (Ibr. 12:28; Mzm. 2:11).  

(2) Jarak yang ditentukan untuk para penyembah, di bawah 

masa penyelenggaraan itu, yang harus kita perhatikan, su-

paya kita semakin menghargai hak istimewa kita di bawah 

Injil, dan dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam 

tempat kudus oleh darah Yesus (Ibr. 10:19). 

3. Musa harus memerintahkan bangsa itu untuk memperhatikan 

panggilan-panggilan yang akan diberikan (ay. 13): “jika  

sangkakala berbunyi panjang, maka hendaklah mereka meng-

ambil tempat mereka di kaki gunung, dan duduk di kaki Tuhan” 

seperti yang dijelaskan (Ul. 33:3). Belum pernah jemaat yang 

begitu besar itu dipanggil bersama-sama, dan diberi pengajaran, 

dengan serentak, seperti yang terjadi di sini. Tidak ada suara 

manusia yang dapat menjangkau begitu banyak orang, kecuali 

suara Tuhan saja. 


Hadirat Ilahi di Gunung Sinai 

(19:16-25)  

16 Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan 

kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat 

keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. 17 Lalu 

Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Tuhan 

dan berdirilah mereka pada kaki gunung. 18 Gunung Sinai ditutupi seluruh-

nya dengan asap, sebab  TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya mem-

bubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat.  

19 Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Tuhan 

menjawabnya dalam guruh. 20 Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, 

ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gu-

nung itu, dan naiklah Musa ke atas. 21 lalu  TUHAN berfirman kepada 

Musa: “Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan 

menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah ba-

nyak dari mereka akan binasa. 22 Juga para imam yang datang mendekat ke-

pada TUHAN haruslah menguduskan dirinya, supaya TUHAN jangan melan-

da mereka.” 23 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Tidak akan mungkin 

bangsa itu mendaki gunung Sinai ini, sebab Engkau sendiri telah memperi-

ngatkan kepada kami, demikian: Pasanglah batas sekeliling gunung itu dan 

nyatakanlah itu kudus.” 24 Lalu TUHAN berfirman kepadanya: “Pergilah, 

turunlah, lalu  naiklah pula, engkau beserta Harun;namun  para imam 

dan rakyat tidak boleh menembus untuk mendaki menghadap TUHAN, 

supaya mereka jangan dilanda-Nya.” 25 Lalu turunlah Musa mendapatkan 

bangsa itu dan menyatakan hal itu kepada mereka. 

Sekarang, pada akhirnya, tibalah hari yang tak terlupakan itu, hari 

Tuhan yang dahsyat itu, hari penghakiman itu, di mana Israel 

mendengar suara ilahi yang berbicara kepada mereka dari tengah-

tengah api, dan tetap hidup (Ul. 4:33). Belum pernah ada khotbah 

yang disampaikan seperti itu, sebelum atau sesudahnya, seperti 

khotbah yang disampaikan di sini kepada jemaat di padang gurun 

itu. Sebab, 

I.   Sang pengkhotbahnya yaitu  Tuhan sendiri (ay. 18): TUHAN turun 

dalam api, dan (ay. 20), turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai. 

Syekinah, atau kemuliaan Tuhan, tampak di depan mata semua 

orang. Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dari tengah-

tengah puluhan ribu orang yang kudus (Ul. 33:2), yaitu, diiringi, 

sebagaimana Keagungan ilahi selalu diiringi, oleh beberapa  ba-

nyak malaikat kudus, untuk menyemarakkan kekhidmatan acara 

itu maupun untuk membantu kelangsungannya. Itulah sebabnya 

hukum Taurat dikatakan disampaikan oleh malaikat-malaikat 

(Kis. 7:53). 

 

Kitab Keluaran 19:16-25 

 293 

II.  Mimbarnya (atau lebih tepatnya takhtanya) yaitu  gunung Sinai, 

yang menjulang tinggi dengan awan padat (ay. 16), ditutupi 

dengan asap (ay. 18), dan dibuat gemetar dengan amat sangat. 

Pada saat itulah bumi gemetar di hadapan TUHAN, dan gunung-

gunung melompat-lompat seperti domba jantan (Mzm. 114:4, 7), 

sehingga Sinai sendiri, meskipun keras dan berbatu, bergoyang di 

hadapan TUHAN, Tuhan Israel (Hak. 5:5). Pada saat itulah gunung-

gunung melihat Dia, dan gemetar (Hab. 3:10), dan menjadi saksi 

melawan sebuah bangsa yang keras hati dan tak tergerak, yang 

tidak akan terpengaruh oleh apa pun. 

III. Jemaat itu dipanggil bersama-sama oleh bunyi sangkakala yang 

sangat keras (ay. 16), dan kian lama kian keras (ay. 19). Hal ini 

dilakukan melalui pelayanan para malaikat, dan kita membaca 

tentang sangkakala yang ditiup oleh malaikat-malaikat (Why. 8:6). 

Itu yaitu  bunyi sangkakala yang membuat seluruh bangsa 

gemetar, seperti orang-orang yang mengetahui kesalahan mereka 

sendiri, dan sadar bahwa bunyi sangkakala ini yaitu  pekik 

perang terhadap mereka. 

IV. Musa membawa orang-orang yang mendengar bunyi sangkakala 

itu ke tempat pertemuan (ay. 17). Dia yang telah memimpin mere-

ka keluar dari perbudakan di Mesir sekarang memimpin mereka 

untuk menerima hukum dari mulut Allah. Orang-orang yang 

bekerja untuk kepentingan umum sungguh akan menjadi berkat 

bagi masyarakat umum jika  mereka, dalam kedudukan mere-

ka, berupaya mendorong orang banyak untuk menyembah Allah. 

Musa, sebagai kepala kumpulan jemaat yang menyembah Allah, 

sungguh tampak dahsyat seperti halnya Musa sebagai kepala 

pasukan di medan pertempuran. 

V.  Yang mengawali ibadah itu yaitu  guruh dan kilat (ay. 16). Guruh 

dan kilat ini dimaksudkan untuk memicu  rasa hormat dan 

takut pada umat itu, dan untuk menggugah dan menarik perhati-

an mereka. Adakah mereka tertidur? Guruh akan membangunkan 

mereka. Adakah mereka melihat ke arah lain? Kilat akan menarik 

mereka untuk memalingkan wajah mereka kepada Dia yang 

berbicara kepada mereka. Guruh dan kilat ditimbulkan oleh pe-

nyebab-penyebab alami,namun  Kitab Suci mengarahkan kita se-

cara khusus untuk memperhatikan kuasa Tuhan dan kedahsyat-

an-Nya saat  mereka terjadi. Guruh yaitu  suara Allah, dan kilat 

yaitu  api Allah, yang pantas untuk menggugah indra penglihat-

an dan indra pendengaran, dua indra yang melaluinya kita mene-

rima begitu banyak keterangan. 

VI. Musa yaitu  pelayan Allah, yang kepadanya Tuhan berbicara, un-

tuk memerintahkan umat supaya hening, dan membuat jemaat 

tetap teratur: Berbicaralah Musa (ay. 19). Sebagian orang berpikir 

bahwa pada saat itulah Musa berkata, aku sangat ketakutan dan 

sangat gemetar (Ibr. 12:21).namun  Tuhan menenangkan ketakutan-

nya dengan perkenanan-Nya yang istimewa terhadapnya, dengan 

memanggilnya untuk naik ke puncak gunung (ay. 20), yang mela-

luinya juga Tuhan menguji iman dan keberaniannya. Tidak lama 

sesudah  Musa berdiri dan memanjat sedikit menuju puncak gu-

nung itu, ia disuruh turun lagi untuk mencegah umat menembus 

hendak melihat-lihat (ay. 21). Bahkan para imam atau para 

pemimpin, kepala dari kaum-kaum mereka, yang memimpin 

keluarga masing-masing, dan sebab  itu dikatakan supaya datang 

mendekat kepada TUHAN pada waktu-waktu lain, sekarang harus 

menjaga jarak, dan menjaga tingkah laku mereka dengan sangat 

hati-hati. Musa berseru bahwa mereka tidak perlu diberi perintah 

lagi, sebab  sudah diusahakan dengan baik untuk mencegah 

timbulnya gangguan-gangguan apa pun (ay. 23).namun  Allah, 

yang mengenal sikap keras kepala dan kelancangan mereka, dan 

apa yang ada dalam hati sebagian dari mereka pada saat itu, 

menyuruhnya untuk bergegas turun dengan perintah ini, bahwa 

baik imam-imam maupun orang-orang awam tidak boleh melang-

gar garis-garis yang sudah ditetapkan, untuk mendaki menghadap 

TUHAN, selain Musa dan Harun, dua orang yang Tuhan hormati 

dengan bersuka hati. Amatilah,  

1. Apa itu yang dilarang Tuhan untuk mereka perbuat, yaitu 

menerobos naik ke gunung untuk melihat-lihat. Sudah cukup 

yang Tuhan sediakan untuk menggugah hati nurani mereka, 

tetapi mereka tidak diizinkan untuk memuaskan rasa ingin 

tahu mereka yang sia-sia. Mereka boleh melihat,namun  tidak 

boleh mendaki gunung dan melihat-lihat. Sebagian dari mere-

ka, ada kemungkinan, ingin melihat suatu rupa, untuk men-

cari tahu bagaimana membuat patung Allah, yang berusaha 

Kitab Keluaran 19:16-25 

 295 

dicegah-Nya, sebab mereka tidak melihat sesuatu rupa (Ul. 

4:15). Perhatikanlah, dalam perkara-perkara ilahi kita tidak 

boleh berhasrat untuk mengetahui lebih banyak dibandingkan  yang 

diperbolehkan Tuhan untuk kita ketahui. Ia telah mengizinkan 

kita untuk mengetahui sebanyak yang baik bagi kita. Keingin-

an akan pengetahuan yang terlarang yaitu  kehancuran dari 

orangtua pertama kita. Orang-orang yang ingin menjadi bijak 

melebihi apa yang tertulis, dan menerobos ke dalam hal-hal 

yang belum pernah mereka lihat, perlu diberi peringatan ini, 

bahwa mereka tidak boleh menembus hendak melihat-lihat.  

2. Dengan ancaman hukuman apa hal itu dilarang: Supaya 

TUHAN jangan melanda mereka (ay. 22-24), dan banyak dari 

mereka akan binasa. Perhatikanlah,  

(1) Kekangan-kekangan dan peringatan-peringatan dari hu-

kum ilahi semuanya dimaksudkan demi kebaikan kita, dan 

untuk menjauhkan kita dari bahaya yang ke dalamnya 

kita, sebab  kebodohan kita sendiri, akan terjerumus.  

(2) Kita sendirilah yang akan terkena bahaya jika kita melang-

gar batas-batas yang telah ditetapkan Tuhan bagi kita, dan 

menerobos ke dalam sesuatu yang tidak diperbolehkan-Nya 

bagi kita. Orang-orang Bet-Semes dan Uza membayar ma-

hal untuk kelancangan mereka. Dan, bahkan sekalipun 

kita dipanggil untuk datang mendekat kepada Allah, kita 

harus ingat bahwa Dia ada di sorga dan kita ada di bumi, 

dan sebab  itu sudah sepatutnya kita bersikap hormat dan 

takut dengan cara yang berkenan kepada Allah.  

  

 

 

PASAL  20  

etelah segala sesuatu dipersiapkan untuk menyambut pemberian 

hukum dari Allah, maka di dalam pasal ini kita mendapati, 

I. Kesepuluh perintah hukum yang disampaikan sendiri oleh 

Tuhan di atas Gunung Sinai (ay. 1-17), sebagai bagian luar 

biasa dari Kitab Suci, sama seperti bagian-bagian lain di 

dalam Perjanjian Lama. 

II.  Kesan yang ditimbulkan pada umat Israel (ay. 18-21). 

III. Beberapa petunjuk khusus yang diberikan Tuhan secara pri-

badi kepada Musa, untuk disampaikannya kepada umat, 

berkaitan dengan cara menyembah Dia (ay. 22 dst.) 

Sepuluh Perintah Tuhan 

(20:1-11) 

1 Lalu Tuhan mengucapkan segala firman ini: 2 “Akulah TUHAN, Allahmu, 

yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.  

3 Jangan ada padamu Tuhan lain di hadapan-Ku. 4 Jangan membuat bagimu 

patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di 

bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud 

menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, 

Allahmu, yaitu  Tuhan yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa 

kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari 

orang-orang yang membenci Aku, 6namun  Aku menunjukkan kasih setia 

kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang 

berpegang pada perintah-perintah-Ku. 7 Jangan menyebut nama TUHAN, 

Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah 

orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. 8 Ingatlah dan kudus-

kanlah hari Sabat: 9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan 

segala pekerjaanmu, 10namun  hari ketujuh yaitu  hari Sabat TUHAN, 

Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu 

laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu 

perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.  

11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan 

segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN 

memberkati hari Sabat dan menguduskannya. 

Di sini diceritakan tentang, 

I. Kata pengantar dari Musa, sang penulis hukum: Tuhan mengucap-

kan segala firman ini (ay. 1). Hukum dari sepuluh perintah Tuhan 

itu merupakan, 

1. Hukum yang dibuat oleh Allah. Kesepuluh perintah itu disu-

sun oleh Kuasa Tertinggi langit dan bumi yang tiada terbatas 

dan kekal. Dan di mana ada perkataan dari Raja segala raja, di 

situ titah raja berkuasa. 

2. Hukum itu diucapkan sendiri oleh-Nya. Tuhan memiliki  

banyak cara untuk berbicara kepada anak-anak manusia (Ayb. 

33:14), dengan satu dua cara, melalui Roh-Nya, melalui hati 

nurani, melalui tindakan-tindakan pemeliharaan-Nya, melalui 

suara-Nya, yang semuanya harus kita perhatikan dengan 

saksama. Namun, Ia tidak pernah berbicara, kapan pun dan 

dalam kesempatan apa pun, seperti saat mengucapkan kese-

puluh hukum itu. Oleh sebab itu, kita patut mendengarkan-

nya dengan lebih teliti, lebih sungguh-sungguh lagi. Kesepuluh 

hukum itu tidak saja diucapkan dengan suara yang jelas-jelas 

terdengar (seperti itu juga Tuhan meneguhkan keberadaan Sang 

Penebus dengan suara-Nya yang terdengar dari langit [Mat. 

3:17]),namun  juga dengan kemegahan luar biasa yang menim-

bulkan kegentaran. Hukum ini sudah pernah diberikan Tuhan 

kepada manusia yakni tertulis di dalam hati manusia secara 

alami. Namun, dosa telah begitu merusak dan menghapus 

tulisan ini  hingga hukum itu perlu disampaikan kembali, 

dengan cara seperti ini, supaya pengetahuan akan hukum itu 

dihidupkan kembali.  

II.  Kata pengantar Sang Pembuat hukum: Akulah TUHAN, Allahmu 

(ay. 2). Di dalam hal ini, 

1. Tuhan menegaskan kekuasaan-Nya untuk memberlakukan hu-

kum ini secara umum: “Akulah TUHAN yang memerintahkan 

kepadamu semua hal berikut.” 

2. Ia menyatakan diri-Nya sendiri sebagai satu-satunya yang ha-

rus disembah dalam ibadah penyembahan, yang dicantumkan 

Kitab Keluaran 20:1-11 

dalam keempat hukum pertama. Umat Israel diikat di sini 

untuk taat pada keempat hukum ini dengan tiga alasan yang 

sama sekali tidak bisa dipisahkan, yaitu  

(1) Sebab Tuhan yaitu  TUHAN, Yehova, Keberadaan yang ada 

dari diri-Nya sendiri, bebas tidak terikat oleh apa pun, 

kekal, dan merupakan sumber dari semua makhluk serta 

kuasa. Oleh sebab  itu, Ia memiliki  hak yang tidak ter-

bantahkan lagi untuk memerintah kita. Dia yang memberi-

kan keberadaan, boleh memberi  hukum. Oleh sebab  

itu, Ia sanggup mendukung kita di dalam ketaatan kita dan 

memberi  pahala, atau menghukum ketidaktaatan kita. 

(2) Ia yaitu  Tuhan mereka, Tuhan yang terikat perjanjian de-

ngan mereka, dan Tuhan atas persetujuan mereka sendiri. 

sebab  itu, jika mereka tidak mau mengikuti segala perin-

tah-Nya, lalu siapa lagi? Ia telah mengikat diri-Nya dengan 

berbagai kewajiban terhadap mereka melalui janji, dan oleh 

sebab itu Ia berhak pula mengenakan berbagai kewajiban 

kepada mereka melalui hukum-Nya. Meskipun sekarang 

perjanjian khusus itu sudah tidak berlaku lagi, namun ma-

sih ada perjanjian lain, berdasar  perjanjian itu, semua 

orang yang telah dibaptis juga memiliki hubungan dengan 

Dia sebagai Tuhan mereka. sebab  itu, sekarang ini, jika 

kita sampai tidak menaati-Nya, maka kita ini tidak berlaku 

adil, tidak setia, dan sangat tidak tahu berterima kasih. 

(3) Tuhan telah membawa mereka keluar dari Mesir. Oleh sebab 

itu mereka harus bersyukur dan taat kepada-Nya, sebab Ia 

telah melakukan suatu kebaikan yang luar biasa kepada 

mereka, yaitu membawa mereka keluar dari perhambaan 

yang menyengsarakan menuju kemerdekaan yang mulia. 

Mereka sendiri sudah menjadi saksi mata perkara-perkara 

besar yang dilakukan Tuhan saat membebaskan mereka. 

Dan mereka bisa melihat sendiri betapa semuanya itu 

pastilah semakin mengharuskan mereka untuk taat kepada 

Dia. Sekarang mereka sedang menikmati buah-buah manis 

pembebasan mereka, dan berharap akan segera menetap di 

Kanaan. Jadi, masakan ada hal yang terlampau berat bagi 

mereka untuk melakukan sesuatu bagi Dia yang telah 

berbuat begitu banyak bagi mereka? Bahkan lebih dari itu, 

dengan menebus mereka, Ia memperoleh hak selanjutnya 

untuk memerintah mereka. Mereka berutang pelayanan 

kepada Dia yang telah memberi  kebebasan kepada me-

reka, dan yang telah memiliki mereka dengan tebusan-Nya. 

Demikianlah, Kristus yang telah menyelamatkan kita dari 

belenggu dosa, berhak mendapatkan pelayanan terbaik 

dari kita (Luk. 1:74). sesudah  melepaskan ikatan kita, Ia 

mengikat kita untuk taat kepada-Nya (Mzm. 116:16).  

III. Hukum itu sendiri. Keempat perintah pertama dalam kesepuluh 

hukum itu menyangkut kewajiban kita kepada Allah, yang biasa 

disebut loh yang pertama, ada di dalam ayat-ayat ini. 

Patutlah bila keempat perintah pertama ini  ditempatkan di 

bagian awal, sebab manusia terlebih dahulu memiliki  Sang 

Pencipta yang harus dikasihinya sebelum ada sesamanya untuk 

dikasihi. Dan keadilan dan kemurahan hati terhadap sesama 

merupakan bentuk tindakan ketaatan yang pantas terhadap Tuhan 

hanya jika  dilakukan berdasar  asas-asas kesalehan. Kalau 

orang berlaku salah terhadap Allah-nya, maka tidak bisa diharap-

kan ia akan berlaku benar terhadap sesamanya. Nah, singkatnya, 

kewajiban kita kepada Tuhan yaitu  menyembah Dia. Artinya, 

memberi Dia kemuliaan yang diperuntukkan bagi nama-Nya, me-

nyembah Dia dengan segenap batin dan perasaan, dan menyem-

bah Dia secara lahiriah dengan perkataan dan perilaku kita 

dengan sungguh-sungguh hati. Inilah yang disebut sebagai inti 

sari dari Injil yang kekal (Why. 14:7), yaitu Sembahlah Dia. 

1. Hukum pertama berkaitan dengan Siapa yang harus kita 

sembah, yaitu Yehova, dan hanya Dia semata (ay. 3): Jangan 

ada padamu Tuhan lain di hadapan-Ku. Orang Mesir dan bang-

sa-bangsa di sekitar mereka memiliki banyak dewa, benda-

benda ciptaan hasil khayalan mereka sendiri, dewa-dewa asing, 

atau allah-Tuhan baru. Hukum ini ditempatkan di bagian awal 

sebab  pelanggaran itu. sebab  itu, sebab  Yehova yaitu  Tuhan 

orang Israel, maka mereka harus benar-benar melekat kepada-

Nya, dan bukan kepada Tuhan lain, baik yang mereka ciptakan 

sendiri maupun yang mereka pinjam dari tetangga-tetangga di 

sekitar mereka. Inilah dosa yang paling berbahaya yang sedang 

mereka hadapi sekarang sebab  dunia sudah sangat sarat 

dengan kepercayaan kepada banyak allah, yang tidak dapat 

dibasmi selain oleh Injil Kristus. Dosa terhadap perintah ini, 

Kitab Keluaran 20:1-11 

yang merupakan bahaya besar yang dihadapi manusia yaitu  

memberi kemuliaan dan kehormatan yang menjadi milik Tuhan 

kepada suatu benda atau hal lain. Kesombongan yaitu  per-

buatan yang mendewakan diri sendiri, ketamakan mendewa-

kan uang, hawa nafsu mendewakan perut. Apa pun yang 

dihargai atau dicintai, ditakuti atau dilayani, disukai atau di-

andalkan lebih dibandingkan  Allah, sebenarnya (apa pun itu) sudah 

kita jadikan sebagai allah. Larangan ini mencakup perintah 

yang merupakan dasar seluruh hukum Taurat, yaitu bahwa kita 

harus menerima TUHAN sebagai Tuhan kita, mengakui bahwa 

Dialah Allah, menerima Dia sebagai Tuhan kita, memuja Dia 

dengan rasa kagum dan hormat dengan penuh kerendahan 

hati, dan mengasihi Dia dengan segenap hati dan perasaan kita. 

Di dalam kata-kata terakhir, yakni di hadapan-Ku, tersirat, 

(1) Bahwa kita tidak dapat memiliki Tuhan lain tanpa diketahui 

oleh-Nya. Tidak ada siapa pun selain yang ada di hadapan-

Nya. Para penyembah berhala sangat ingin menyembah ber-

hala dengan sembunyi-sembunyi, namun masakan Tuhan 

tidak akan menyelidikinya? 

(2) Bahwa pelanggaran itu sangat membuat Dia murka. Dosa 

berhala itu yaitu  dosa yang menampar Dia pada muka-

Nya, sehingga membuat Dia tidak dapat dan tidak akan 

membiarkan lewat begitu saja atau tidak memedulikannya 

(Mzm. 44:21-22). 

2. Hukum kedua berkaitan dengan ketetapan tentang penyem-

bahan, atau dengan cara bagaimana Tuhan ingin disembah. 

Sungguh patut jika  Dia sendirilah yang menentukannya. 

Di sini ada , 

(1) Larangan: kita dilarang menyembah Tuhan yang sejati bah-

kan dengan memakai  patung-patung (ay. 4-5). 

[1] Orang-orang Yahudi (setidaknya sesudah pembuangan) 

berpendapat bahwa hukum ini melarang mereka mem-

buat patung atau gambar apa pun. Itulah sebabnya 

gambar-gambar yang digunakan tentara Romawi dalam 

panji-panji mereka disebut kekejian oleh orang Yahudi 

(Mat. 24:25), terutama saat  didirikan di tempat kudus. 

Sudah jelas bahwa hukum ini melarang pembuatan pa-

tung apa pun yang menggambarkan Tuhan (sebab 

dengan siapa hendak kita samakan Allah? (Yes. 40:18, 

15), atau patung makhluk apa pun untuk digunakan 

dalam ibadah. Berbuat demikian berarti menggantikan 

kebenaran Tuhan dengan dusta (Rm. 1:25), sebab patung 

yaitu  guru segala dusta. Perbuatan demikian mengela-

bui kita bahwa Tuhan memiliki tubuh, padahal Ia yaitu  

Roh yang tidak terbatas (Hab. 2:18). Hukum ini juga 

melarang kita membuat patung atau gambaran Tuhan 

dalam khalayan kita, seolah-olah Dia manusia biasa 

seperti kita. Ibadah kita harus dipimpin oleh kekuatan 

iman, bukan dengan kekuatan daya khayal. Umat Israel 

tidak boleh membuat patung atau gambar seperti yang 

disembah orang kafir, supaya mereka tidak tergoda un-

tuk menyembahnya juga. Kalau kita mau berjaga-jaga 

supaya tidak berbuat dosa, maka kita harus menjauh-

kan diri dari kesempatan berbuat dosa.  

[2] Mereka tidak boleh sesekali sujud menyembah kepada 

patung. Artinya, mereka tidak boleh menunjukkan tan-

da apa pun untuk menghargai atau menghormati, apa-

lagi sampai terus-menerus mengabdi kepada patung-

patung itu, baik dengan memberi  korban persem-

bahan, membakar dupa, atau bentuk ibadah lain apa 

saja. saat  beribadah kepada Tuhan yang benar pun, 

mereka tidak boleh memakai  patung apa saja di 

hadapan mereka untuk mengarahkan, membangkitkan 

semangat, atau mendukung ibadah mereka. Meskipun 

penyembahan ditujukan kepada Allah, namun Ia tidak 

akan berkenan jika  ibadah itu dilakukan melalui 

patung. Pemberi-pemberi hukum terbaik dan paling kuno 

di antara orang-orang kafir melarang patung-patung di-

tegakkan di kuil-kuil mereka. Perilaku ini dilarang oleh 

Numa, seorang raja pada zaman Romawi kuno.  

(2) Alasan untuk melaksanakan larangan ini (ay. 5-6), 

[1] Kecemburuan Tuhan dalam hal-hal yang berkaitan de-

ngan penyembahan kepada-Nya: “Aku, TUHAN, Yehova 

dan Allahmu, yaitu  Tuhan yang cemburu, terutama da-

lam hal menyembah-Nya.” Hal ini menyiratkan betapa 

Ia memperhatikan semua ketetapan-Nya sendiri, betapa 

Kitab Keluaran 20:1-11 

 303 

Ia membenci penyembahan berhala dan segala jenis 

penyembahan palsu, betapa Ia murka para penyembah 

berhala, serta betapa Ia benci terhadap segala sesuatu 

dalam penyembahan kepada-Nya yang terlihat seperti, 

atau menuntun kepada penyembahan berhala. Cem-

buru berarti berpandangan tajam. Penyembahan ber-

hala itu merupakan perzinaan rohani, sehingga, seperti 

yang sangat sering digambarkan dalam Kitab Suci, 

Tuhan teramat gusar terhadap perbuatan ini, sehingga 

kegusaran-Nya itu pantas disebut kecemburuan. Jika 

Tuhan cemburu terhadap hal ini, maka kita juga sepatut-

nya bersikap demikian, dan harus takut menyembah 

Tuhan dengan cara lain selain yang telah ditetapkan-Nya 

melalui firman-Nya. 

[2] Hukuman bagi para penyembah berhala. Tuhan meman-

dang mereka sebagai para pembenci Dia, walaupun 

mereka mungkin berpura-pura mengasihi-Nya. Ia akan 

membalaskan kesalahan mereka. Artinya, Ia akan meng-

hukum berat kesalahan ini, bukan saja sebagai pelang-

garan terhadap hukum-Nya,namun  juga sebagai peng-

hinaan terhadap keagungan-Nya, pelanggaran terhadap 

perjanjian-Nya, dan hantaman terhadap akar  agama se-

luruhnya. Ia akan membalaskan kesalahan bapa ke-

pada anak-anaknya. Artinya, sebab  hal ini merupakan 

dosa yang akan membuat jemaat dikucilkan dan 

dipisahkan, maka anak-anak mereka akan dikeluarkan 

dari perjanjian dan persekutuan bersama orangtua me-

reka, sama seperti anak-anak diterima di dalam jemaat 

saat  orangtua mereka menjadi bagian dalam jemaat. 

Atau, Ia akan menjatuhkan hukuman ke atas suatu 

umat seluruhnya yang dapat menghancurkan semua 

keluarga. Jika para penyembah berhala berumur pan-

jang sehingga sempat melihat keturunan mereka hingga 

angkatan ketiga atau keempat, maka mata mereka akan 

melihat kesusahan dan hati mereka akan hancur meli-

hat keturunan mereka itu roboh oleh pedang, diangkut 

ke pembuangan, dan diperbudak. Bukan merupakan 

sesuatu yang tidak adil jika  Tuhan melakukan hal itu 

(jika  para orangtua mati dalam kejahatan mereka,

dan anak-anak mereka mengikuti langkah mereka serta 

terus menjalankan penyembahan palsu sebab  meneri-

ma kebiasaan itu dari leluhur mereka). Sebab, saat  

takarannya sudah penuh, Tuhan datang dengan pengha-

kiman-Nya untuk mengadakan perhitungan dengan 

mereka, dan meminta pertanggung-jawaban atas dosa 

penyembahan berhala yang menjadi kesalahan leluhur. 

Walaupun Ia panjang sabar terhadap para penyembah 

berhala, Ia tidak akan bersabar selamanya. Paling lam-

bat sampai keturunan keempat, Ia akan mulai mem-

balaskan kesalahan. Anak-anak sangat dikasihi orang-

tua. Oleh sebab  itu, demi mencegah manusia menyem-

bah berhala, dan untuk menunjukkan betapa Tuhan 

sangat tidak menyukainya, maka bukan saja keluarga 

para penyembah berhala akan dicap keji dan hina 

turun-temurun,namun  juga hukuman Tuhan atas dosa 

itu juga bisa dijatuhkan ke atas keturunan yang malang 

itu sesudah  orangtua mereka sudah tiada.  

[3] Perkenan yang Tuhan tunjukkan kepada orang-orang 

yang menyembah Dia dengan setia: kasih setia kepada 

beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan 

yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. Hal ini 

menyiratkan bahwa walaupun dalam kata-katanya hu-

kum kedua hanya melarang penyembahan palsu, na-

mun hukum kedua ini  juga mencakup perintah 

untuk menyembah Tuhan di dalam semua ketetapan 

yang telah ditentukan-Nya. Sama seperti hukum pertama 

menghendaki penyembahan batiniah yang penuh kasih, 

kerinduan, sukacita, pengharapan, dan kekaguman, 

demikian pula hukum kedua menghendaki penyembah-

an lahiriah berupa doa, puji-pujian, dan perhatian yang 

sungguh-sungguh terhadap firman Allah. Perhatikanlah, 

pertama, orang-orang yang mengasihi Tuhan dengan sung-

guh akan senantiasa berusaha keras menjalankan perin-

tah-perintah-Nya, terutama yang berhubungan dengan 

penyembahan kepada-Nya. Orang-orang yang mengasihi 

Tuhan dan memelihara perintah-perintah itu akan me


Related Posts:

  • keluaran imamat 9 . Itu yaitu  perkataan yang baik untuk membangun (Mzm. 105:2). Bandingkan dengan Mazmur 145:11-12. Menanyakan kabar dan memberitahukannya, dan bercakap-cakap tentangnya, tidak hanya merupakan hiburan… Read More