lukas 1-12 1

 



Tafsiran Injil Lukas 

PASAL 1  1 

I. Pendahuluan (1:1-4)                                                            2 

II. Penampakan Malaikat kepada Zakharia;                        

Pemberitahuan tentang Kelahiran Yohanes Pembaptis; 

Ketidakpercayaan Zakharia (1:5-25)                                    7 

III. Pemberitahuan tentang Kelahiran Kristus (1:26-38)         31 

IV. Percakapan antara Maria dan Elisabet;   

        Nyanyian Pujian Maria (1:39-56)                                       41 

V. Kelahiran Yohanes Pembaptis (1:57-66) 57 

VI. Nyanyian Pujian Zakharia (1:67-80) 62 

PASAL 2  75 

I. Kelahiran Yesus (2:1-7)  76 

II. Penampakan Malaikat kepada Para Gembala;  

Kunjungan Para Gembala kepada Kristus (2:8-20)  81 

III. Kristus Dipersembahkan di dalam Bait Tuhan   (2:21-24) 90 

IV. Kristus, Simeon, dan Hana di Bait Tuhan   (2:25-40)  95 

V. Yesus Duduk Bersama Para Alim Ulama (2:41-52) 110 

PASAL 3  121 

I.  Pelayanan Yohanes Pembaptis (3:1-14)  122  

II.  Pemenjaraan Yohanes Pembaptis (3:15-20)  135  

III.  Silsilah Kristus (3:21-38)  141    

PASAL 4 147 

I.  Pencobaan di Padang Gurun (4:1-13)  147  

 


II. Kristus di Rumah Ibadat di Nazaret; 

 Kristus Dihalau dari Nazaret  (4:14-30)  161 

III. Yesus Mengusir Roh Jahat dan Kepergian-Nya dari 

Kapernaum (4:31-44)  177  

PASAL 5 187 

I.  Petrus, Yakobus, dan Yohanes Dipanggil                             

Mengikut Yesus (5:1-11)  187 

II. Seorang yang Sakit Kusta Ditahirkan (5:12-16)  198 

III.  Orang Lumpuh Disembuhkan (5:17-26)  202  

IV.  Matius Dipanggil; Nasihat untuk Berjaga-jaga (5:27-39)  208 

PASAL 6 213 

I.  Perbuatan Belas Kasih sesuai untuk Dilakukan              

pada Hari Sabat (6:1-11)  213 

II.  Yesus Memilih Kedua Belas Rasul (6:12-19)  218 

III. Ucapan Bahagia dan Peringatan (6:20-26)  221 

IV. Nasihat tentang Keadilan dan Belas Kasihan (6:27-36)  227 

V.  Nasihat tentang Keadilan dan Ketulusan Hati (6:37-49)  233 

PASAL 7 241 

I.  Yesus Menyembuhkan Hamba Seorang Perwira (7:1-10)  241   

II. Janda dari Nain (7:11-18)  247  

III.  Pesan Yohanes kepada Yesus;                                

Pelayanan Yohanes dan Kristus (7:19-35)  252 

IV. Kristus di Rumah Orang Farisi (7:36-50)  260 

PASAL 8 271 

I.  Pelayanan Kristus (8:1-3)  272  

II.  Perumpamaan tentang Seorang Penabur (8:4-21)  275  

III.  Kuasa Kristus atas Angin dan Setan-setan (8:22-39)  282  

IV. Sakit Pendarahan Disembuhkan; Anak wanita           

Kepala Rumah Ibadat Dibangkitkan  (8:40-56)  290     

PASAL 9 297 

I.  Pengutusan Kedua Belas Murid (9:1-9)  298   

II.  Orang Banyak Diberi Makan secara Ajaib (9:10-17)  303  

III.  Pengakuan Petrus; Penyangkalan Diri Diperintahkan    

(9:18-27)  307  

IV. Yesus Dimuliakan (9:28-36)  313 

V. Roh Jahat Diusir (9:37-42)  319 



VI.  Keinginan Berlebihan Murid-murid Mendapat Teguran 

(9:43-50)  321 

VII. Orang Samaria Menolak Kristus; Semangat Yakobus              

dan Yohanes yang Salah (9:51-56)  326 

VIII.  Meninggalkan Semua demi Kristus (9:57-62)  334 

PASAL 10 341 

I.  Pengutusan Ketujuh Puluh Murid (10:1-16)  341  

II.  Keberhasilan Ketujuh Puluh Murid (10:17-24)  353  

III.   Siapakah Sesama Kita (10:25-37)  362  

IV. Marta dan Maria (10:38-42)  374 

PASAL 11 385 

I.  Para Murid Diajar Berdoa (11:1-13)  385  

II.  Kristus Dituduh Bersekutu dengan Iblis;  

Hal Berjaga-jaga Ditekankan Berulang-ulang  

 (11:14-26)  398  

III. Pujian dan Berkat (11:27-28)  408 

IV. Tanda Nabi Yunus (11:29-36)  410 

V.  Kutuk Diberikan kepada Angkatan Itu;  

Ahli-ahli Taurat dan Orang-orang Farisi Ditegur  

 (11:37-54)  415 

PASAL 12 429  

I.  Perintah Kristus kepada Murid-murid-Nya (12:1-12)  430 

II.  Pikiran Duniawi Dibeberkan (12:13-21)  439 

III. Teguran atas Kekhawatiran yang Berlebihan 

(12:22-40) 454 

IV.  Kewaspadaan dan Ketekunan Ditekankan                   

Berkali-kali (12:41-53)  465 

V. Berdamai dengan Tuhan   (12:54-59)  474 

 







artikel  yang sedang Anda pegang ini yaitu  salah satu bagian dari 

Tafsiran Alkitab dari Matthew Henry yang secara lengkap men-

cakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Untuk edisi bahasa 

Indonesianya, tafsiran ini  diterbitkan dalam bentuk kitab per 

kitab. Injil Lukas merupakan kitab ketiga yang diterbitkan dalam 

bahasa Indonesia. sebab  cukup tebal maka penerbitan Injil Lukas 

ini dibagi menjadi dua jilid: Injil Lukas 1-12 dan Injil Lukas 13-24. 

Matthew Henry (1662-1714) yaitu  seorang Inggris yang mulai 

menulis Tafsiran Alkitab yang terkenal ini pada usia 21 tahun. Karya-

nya ini dianggap sebagai tafsiran Alkitab yang sarat makna dan sa-

ngat terkenal di dunia. 

Kekuatan terutama terletak pada nasi-

hat praktis dan saran pastoralnya. Tafsirannya mengandung banyak 

mutiara kebenaran yang segar dan sangat tepat. Walaupun ada 

cukup banyak kecaman di dalamnya, ia sendiri sebenarnya tidak per-

nah berniat menuliskan tafsiran yang demikian, seperti yang ber-

ulang kali ditekankannya sendiri. Beberapa pakar theologi seperti 

Whitefield dan Spurgeon selalu menggunakan tafsirannya ini dan me-

rekomendasikannya kepada orang-orang untuk mereka baca. White-

field membaca seluruh tafsirannya sampai empat kali; kali terakhir 

sambil berlutut. Spurgeon berkata, “Setiap hamba Tuhan harus 

membaca seluruh tafsiran ini dengan saksama, paling sedikit satu 

kali.” 

Sejak kecil Matthew sudah terbiasa menulis renungan atau ke-

simpulan Firman Tuhan di atas kertas kecil. Namun, baru pada ta-

hun 1704 ia mulai sungguh-sungguh menulis dengan maksud me-

nerbitkan tafsiran ini . Terutama menjelang akhir hidupnya, ia 

mengabdikan diri untuk menyusun tafsiran itu.  

artikel  pertama tentang Kitab Kejadian diterbitkan pada tahun 

1708 dan tafsiran tentang keempat Injil diterbitkan pada tahun 1710. 

Sebelum meninggal, ia sempat menyelesaikan tafsiran Kisah Para Ra-

sul. Setelah kematiannya, Surat-surat dan Wahyu diselesaikan oleh 

13 orang pendeta berdasarkan catatan-catatan Matthew Henry yang 

telah disiapkannya sebelum meninggal. Edisi total seluruh kitab-

kitab diterbitkan pada tahun 1811.    

berulang kali direvisi dan dicetak ulang. 

artikel  itu juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti 

bahasa Belanda, Arab, Rusia, dan kini sedang diterjemahkan ke 

dalam bahasa Telugu dan Ivrit, yaitu bahasa Ibrani modern.  

Riwayat Hidup Matthew Henry 

Matthew Henry lahir pada tahun 1662 di Inggris. saat  itu gereja 

Anglikan menjalin hubungan baik dengan gereja Roma Katolik. Yang 

memerintah pada masa itu yaitu  Raja Karel II, yang secara resmi 

diangkat sebagai kepala gereja. Raja Karel II ingin memulihkan ke-

kuasaan gereja Anglikan sehingga orang Kristen Protestan lainnya sa-

ngat dianiaya. Mereka disebut dissenter, orang yang memisahkan diri 

dari gereja resmi. 

Puncak penganiayaan itu terjadi saat  pada 24 Agustus 1662 

lebih dari dua ribu pendeta gereja Presbiterian dilarang berkhotbah 

lagi. Mereka dipecat dan jabatan mereka dianggap tidak sah.  

Pada masa yang sulit itu lahirlah Matthew Henry. Ayahnya, 

Philip Henry, yaitu  seorang pendeta dari golongan Puritan, sedang-

kan ibunya, Katherine Matthewes, seorang keturunan bangsawan. 

sebab  Katherine berasal dari keluarga kaya, sepanjang hidupnya 

Philip Henry tak perlu memikirkan uang atau bersusah payah men-

cari nafkah bagi keluarganya, sehingga ia dapat dengan sepenuh hati 

mengabdikan diri untuk pelayanannya sebagai hamba Tuhan. 

Matthew yaitu  anak kedua. Kakaknya, John, meninggal pada usia 6 

tahun sebab  penyakit campak. saat  masih balita, Matthew sendiri 

juga terserang penyakit itu dan nyaris direnggut maut. 

Dari kecilnya Matthew sudah tampak memiliki bermacam-ma-

cam bakat, sangat cerdas, dan pintar. namun  yang lebih penting lagi, 

sejak kecil ia sudah mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan 

mengakui-Nya sebagai Juruselamatnya. Usianya baru tiga tahun 

saat  ia sudah mampu membaca satu pasal dari Alkitab lalu mem-

berikan keterangan dan pesan tentang apa yang dibacanya.  

Dengan demikian Matthew sudah menyiapkan diri untuk tugas-

nya di lalu   hari, yaitu tugas pelayanan sebagai pendeta.  

Sejak masa kecilnya Matthew sudah diajarkan bahasa Ibrani, 

Yunani, dan Latin oleh ayahnya, sehingga walaupun masih sangat 

muda, ia sudah pandai membaca Alkitab dalam bahasa aslinya. 

Pada tahun 1685, saat  berusia 23 tahun, Matthew pindah ke 

London, ibu kota Inggris, untuk belajar hukum di Universitas Lon-

don. Matthew tidak berniat untuk menjadi ahli hukum, ia hanya me-

nuruti saran ayahnya dan orang lain yang berpendapat bahwa studi 

itu akan memberikan manfaat besar baginya sebab  keadaan di Ing-

gris pada masa itu tidak menentu bagi orang Kristen, khususnya 

kaum Puritan. 

Beberapa tahun lalu   Matthew kembali ke kampung hala-

mannya. Dalam hatinya ia merasa terpanggil menjadi pendeta. Kemu-

dian, ia diperbolehkan berkhotbah kepada beberapa jemaat di sekitar 

Broad Oak. Ia menyampaikan Firman Tuhan dengan penuh kuasa. 

Tidak lama setelah itu, ia dipanggil oleh dua jemaat, satu di London 

dan satu lagi jemaat kecil di wilayah pedalaman, yaitu Chester. Sete-

lah berdoa dengan tekun dan meminta petunjuk Tuhan, ia akhirnya 

memilih jemaat Chester, dan pada tanggal 9 Mei 1687 ia diteguhkan 

sebagai pendeta di jemaat ini . Waktu itu Matthew berusia 25 ta-

hun. 

Di Chester, Matthew Henry bertemu dengan Katharine Hard-

ware. Mereka menikah pada tanggal 19 Juli 1687. Pernikahan itu sa-

ngat harmonis dan baik sebab  didasarkan atas cinta dan iman ke-

pada Tuhan. Namun pernikahan itu hanya berlangsung selama satu 

setengah tahun. Katharine yang sedang hamil terkena penyakit cacar. 

Segera setelah melahirkan seorang anak wanita , ia meninggal 

pada usia 25 tahun. Matthew sangat terpukul oleh dukacita ini. Anak 

Matthew dan Katherine dibaptis oleh kakeknya, yaitu Pendeta Philip, 

ayah Matthew. 

Tuhan   menguatkan Matthew dalam dukacita yang melandanya. 

Setelah satu tahun lebih telah berlalu, mertuanya menganjurkannya 

untuk menikah lagi. Pada Juli 1690, Matthew menikah dengan Mary 

Warburton. Tahun berikutnya, mereka diberkati dengan seorang bayi, 

yang diberi nama Elisabeth. Namun, saat baru berumur satu se-

tengah tahun, ia meninggal sebab  demam tinggi dan penyakit batuk 

rejan. Setahun lalu   mereka mendapat seorang anak wanita  

lagi. Dan bayi ini pun meninggal, tiga minggu lalu  . Betapa 

berat dan pedih penderitaan orangtuanya. Sesudah peristiwa ini, 

Matthew memeriksa diri dengan sangat teliti apakah ada dosa dalam 

hidup atau hatinya yang menyebabkan kematian anak-anaknya. Ia 

mengakhiri catatannya sebagai berikut, “Ingatlah bahwa anak-anak 

itu diambil dari dunia yang jahat dan dibawa ke sorga. Mereka tidak 

lahir percuma dan sekarang mereka telah boleh menghuni kota Yeru-

salem yang di sorga.” 

Beberapa waktu lalu   mereka mendapat seorang anak pe-

rempuan yang bertahan hidup. Demikianlah suka dan duka silih ber-

ganti dalam kehidupan Matthew Henry. Secara keseluruhan, Matthew 

Henry mendapat 10 anak, termasuk seorang putri dari pernikahan 

pertama. 

Selama 25 tahun Matthew Henry melayani jemaatnya di Chester. 

Ia sering mendapat panggilan dari jemaat-jemaat di London untuk 

melayani di sana, namun  berulang kali ia menolak panggilan ini  

sebab  merasa terlalu terikat kepada jemaat di Chester. Namun 

akhirnya, ia yakin bahwa Tuhan   sendiri telah memanggilnya untuk 

menjadi hamba Tuhan di London, dan sebab  itu ia menyerah kepada 

kehendak Tuhan  .  

Pada akhir hidupnya, Matthew Henry terkena penyakit diabetes, 

sehingga sering merasa letih dan lemah. Sejak masa muda, ia bekerja 

dari pagi buta sampai larut malam, namun  menjelang akhir hayatnya 

ia tidak mampu lagi. Ia sering mengeluh sebab  kesehatannya yang 

semakin menurun. 

Pada bulan Juni 1714 ia berkhotbah satu kali lagi di Chester, 

tempat pelayanannya yang dulu. Ia berkhotbah tentang Ibrani 4:9

“Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat 

Tuhan  .” Ia seolah-olah menyadari bahwa hari Minggu itu merupakan 

hari Minggu terakhir baginya di dunia ini. Secara khusus ia mene-

kankan hal perhentian di sorga supaya anak-anak Tuhan   dapat me-

nikmati kebersamaan dengan Tuhan.  

Sekembalinya ke London, ia merasa kurang sehat. Malam itu ia 

sulit tidur dan menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Ia dipenuhi 

rasa damai dan menulis pesan terakhirnya: “Kehidupan orang yang 

mengabdikan diri bagi pelayanan Tuhan merupakan hidup yang pa-

ling menyenangkan dan penuh penghiburan.” Ia mengembuskan 

nafas terakhir pada tanggal 22 Juni 1714, dan dimakamkan tiga hari 

lalu   di Chester. Nas dalam kebaktian pemakamannya diambil 

dari Matius 25:21, “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali 

perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah 

setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung 

jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam keba-

hagiaan tuanmu.”

Kita sekarang sedang memasuki karya seorang pemberita Injil lain 

bernama Lukas, yang menurut beberapa orang merupakan singkatan 

nama Lucilius. Menurut penuturan Bapa Gereja Jerome, Lukas lahir 

di Antiokhia. Sebagian orang menduga dia satu-satunya penulis Ki-

tab Suci yang bukan berasal dari benih keturunan Israel. Ia merupa-

kan seorang pemeluk baru agama Yahudi, dan lalu  , seperti du-

gaan beberapa orang, beralih kepada Kekristenan melalui pelayanan 

Rasul Paulus di Antiokhia, dan setelah kedatangannya di Makedonia 

(Kis. 16:10), ia menjadi kawan pendamping tetap Paulus. Ia belajar 

dan mempraktikkan ilmu kedokteran; oleh sebab  itu, Paulus menye-

butnya Tabib Lukas yang kekasih (Kol. 4:14). Beberapa orang yang 

mengaku-ngaku diri sebagai sejarawan kuno mengatakan bahwa dia 

seorang pelukis dan yang melukis gambar Perawan Maria. namun  me-

nurut gerejawan Dr. Whitby, hal ini tidaklah pasti, dan sebab  itu, 

dia mungkin salah satu dari ketujuh puluh murid dan menjadi se-

orang pengikut Kristus saat  Ia masih melayani di atas muka bumi 

ini. Bila memang demikian halnya, maka dia seorang keturunan 

Israel asli. Saya tidak berkeberatan dengan pendapat ini, kecuali de-

ngan beberapa tradisi kuno yang tidak memiliki kepastian dan tentu-

nya tidak dapat dipakai  sebagai dasar apa pun. Selain itu, Origen 

dan Epiphanius, penulis-penulis Kristen kuno, juga memberi kesak-

sian bahwa Lukas yaitu  salah satu dari ketujuh puluh murid itu. 

Lukas dianggap telah menulis Kitab Injil ini saat  menemani Paulus 

dalam berbagai perjalanannya, dan di bawah arahannya. Beberapa 

orang berpikir bahwa dialah yang dimaksud oleh Paulus sebagai sau-

dara kita 2Kor. 8:18), yang terpuji di semua jemaat sebab  pekerjaan-

nya dalam pemberitaan Injil; yang seakan berarti, ia dipuji di semua 

jemaat sebab  menulis Injil ini; dan inilah yang dimaksudkan Rasul 

Paulus saat  ia sekali waktu berbicara tentang Injil-nya (Rm. 2:16). 

Namun, tidak ada dasar sama sekali untuk membenarkan hal ini. Dr. 

Cave memperhatikan bahwa cara dan gaya menulisnya sangat akurat 

dan tepat; gayanya sopan dan anggun, luhur dan mulia, namun jelas; 

dan ia mengekspresikan dirinya dalam aliran yang lebih murni Yu-

nani daripada yang bisa ditemukan pada para penulis Kitab Suci 

lainnya. Oleh sebab  itu, ia mampu menghubungkan berbagai hal 

jauh lebih banyak dan mendalam dibandingkan dengan para penulis 

Injil lainnya; dan sebab  itu juga, ia mengkhususkan diri untuk 

membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan imamat 

Kristus. Tidaklah pasti bilamana atau pada waktu apa Injil ini ditulis. 

Beberapa orang menduga bahwa Injil ini ditulis di Akhaya, tujuh be-

las tahun (dua puluh dua tahun, menurut sebagian orang) setelah 

kenaikan Tuhan Yesus ke surga, semasa ia menemani Rasul Paulus 

dalam perjalanannya. Ada juga yang mengatakan bahwa Injil ini di-

tulis di kota Roma, tidak lama sebelum ia menulis Kisah Para Rasul 

(yang merupakan lanjutan kitab ini), saat  ia berada di sana ber-

sama Paulus yang saat itu menjadi orang tahanan dan berkhotbah di 

dalam rumah yang disewanya sendiri. Ini seperti yang diriwayatkan 

dalam bagian akhir Kitab Kisah Para Rasul; dan Paulus lalu   

mengatakan bahwa hanya Lukas yang tinggal dengan aku (2Tim. 

4:11). saat  ia secara sukarela menemani Paulus dalam rumah ta-

hanan ini , ia punya banyak waktu untuk menyusun dua riwa-

yat ini (dan banyak tulisan istimewa lainnya yang membuat jemaat 

merasa berutang atas peristiwa pemenjaraan ini). Bila memang demi-

kian halnya, maka kitab ini ditulis sekitar dua puluh tujuh tahun se-

telah kenaikan Kristus, dan sekitar tahun keempat pemerintahan 

Kaisar Nero. Jerome mengatakan bahwa Lukas meninggal dunia pada 

usia delapan puluh empat tahun, dan tidak pernah menikah. Bebe-

rapa orang menulis bahwa ia mati sebagai martir; namun bila me-

mang demikian halnya, tidak ada kejelasan di mana dan bilamana 

hal itu terjadi. Sungguh, penghargaan yang diberikan kepada tradisi 

Kristiani dalam hal memperlakukan para penulis Perjanjian Baru ti-

dak lebih besar daripada penghargaan yang diberikan kepada tradisi 

Yahudi dalam memperlakukan para penulis Perjanjian Lama. 

PASAL  1  

isah tentang kehidupan Tuhan Yesus Kristus yang disajikan oleh 

penulis Injil ini kepada kita (atau tepatnya oleh Tuhan   melalui dia) 

dimulai pada masa yang jauh lebih awal dibandingkan dengan yang 

disajikan oleh Matius atau Markus. Kita memang harus bersyukur 

kepada Tuhan   atas pelayanan semua penulis Injil ini, sama seperti kita 

juga harus bersyukur atas segala karunia dan anugerah yang kita 

terima melalui para pelayan Kristus lainnya. Pelayanan mereka se-

mua saling melengkapi dan selaras satu sama lain. Di dalam pasal ini 

kita temukan:  

I.  Pendahuluan Lukas tentang kitab Injilnya, atau suratnya 

yang ditujukan kepada sahabatnya Teofilus (ay. 1-4).  

II. Nubuat dan riwayat mengenai bagaimana Yohanes Pembap-

tis, yang menjadi pendahulu Kristus itu, dikandung oleh 

Roh Kudus (ay. 5-25).  

III. Pernyataan kepada perawan Maria, atau penyampaian 

kabar kepadanya bahwa ia akan menjadi ibu Sang Mesias 

(ay. 26-38).  

IV. Percakapan antara Maria ibu Yesus dan Elisabet ibu Yoha-

nes, saat  keduanya masih mengandung anak-anak yang 

akan mereka lahirkan, serta nubuat-nubuat yang mereka 

ucapkan tentang kejadian ini  (ay. 39-56).  

V.  Kelahiran dan penyunatan Yohanes Pembaptis, enam bulan 

sebelum kelahiran Yesus (ay. 57-66).  

VI. Nyanyian pujian Zakharia, penuh rasa terima kasih atas 

kelahiran Yohanes, dan tentang kelahiran Yesus yang 

dinantikan (ay. 67-79).  

VII. Catatan singkat tentang masa kecil Yohanes Pembaptis (ay. 

80). Semua ini bukan hanya memberikan sebuah cerita 

yang menarik dan menyenangkan, namun juga membawa 

kita pada pemahaman akan misteri keilahian, yakni Tuhan   

menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia. 

Pendahuluan 

(1:1-4) 

1 Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita 

tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, 2 seperti yang 

disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula yaitu  saksi mata 

dan pelayan Firman. 3 sebab  itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa 

itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk 

memartikel kannya dengan teratur bagimu, 4 supaya engkau dapat mengeta-

hui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar. 

Kata-kata pembuka dan persembahan yang penuh dengan pujian, 

bahasa yang menyanjung-nyanjung yang memuaskan keangkuhan 

memang sepantasnya ditolak oleh orang-orang bijak dan berbudi. 

Namun, ini bukan berarti bahwa semua kata-kata yang berguna dan 

mendidik lantas ditolak begitu saja. Demikian halnya dengan kata-

kata pendahuluan yang dipakai  Lukas untuk mempersembahkan 

Injilnya ini kepada sahabatnya, Teofilus. Persembahan itu tidak 

dimaksudkan untuk menyapa Teofilus sebagai seorang pengayom, 

meskipun ia seorang terhormat, supaya Injil dapat dilindunginya, 

melainkan sebagai seorang murid, agar ia dapat mempelajari dan 

memegang erat-erat Injil itu. Tidak ada kepastian siapa sebenarnya 

Teofilus ini. Nama ini  berarti Sahabat Tuhan  . Beberapa orang 

menduga nama ini  tidak terkait dengan orang tertentu, namun  

siapa saja yang mengasihi Tuhan  . Dr. Hammond (seorang gerejawan 

Inggris abad ke-17) mengutip beberapa penulis kuno yang mema-

haminya demikian: kata ini mengajarkan kepada kita bahwa orang 

yang benar-benar mengasihi Tuhan   dengan sepenuh hati akan me-

nyambut Injil Kristus, yang rancangan dan tujuannya yaitu  untuk 

membawa kita kepada Tuhan  . Namun, nama ini  lebih baik dipa-

hami sebagai seorang pribadi tertentu, mungkin seorang hakim, 

sebab  Lukas memberikan gelar kehormatan yang sama seperti yang 

diberikan Rasul Paulus kepada Festus, sang gubernur, yaitu kratiste 

(Kis. 26:25), yang diterjemahkan sebagai Festus yang mulia, dan di 

dalam Injil ini Teofilus yang mulia. Perhatikan, agama tidak meng-

hancurkan tata krama dan sopan santun, namun  mengajarkan kepada

kita untuk memberi hormat kepada orang yang berhak menerima 

hormat, sesuai dengan cara kebiasaan negeri kita. 

Sekarang perhatikanlah:  

I. Mengapa Lukas menulis Injil ini. Pasti sebab  ia digerakkan oleh 

Roh Kudus, bukan hanya untuk menulisnya saja, namun  juga se-

waktu ia menulisnya. Walaupun demikian, di dalam kedua hal ini, 

ia digerakkan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan ber-

nalar, dan bukan sekadar sebagai mesin belaka. Selama menulis, 

ia dipimpin untuk mempertimbangkan hal-hal seperti berikut: 

1. Bahwa hal-hal yang ia tuliskan merupakan suatu berita ten-

tang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita (Da-

lam KJV: hal-hal yang dipercayai dengan paling sungguh-sung-

guh di antara kita), dan sebab  itu merupakan hal-hal yang 

harus diajarkan sehingga mereka tahu apa yang mereka 

percayai dan apa yang harus disampaikan kepada anak-cucu 

(yang juga sama-sama berkepentingan di dalam hal-hal terse-

but seperti kita). Untuk itu, ia mengambil keputusan untuk 

memartikel kannya, sebuah cara yang paling aman dan pasti 

untuk menyampaikan kepada umat manusia di abad-abad 

yang akan datang. Ia tidak akan menulis tentang hal-hal yang 

meragukan yang menjadi bahan perdebatan, yakni hal-hal 

yang mengenainya orang-orang Kristen boleh saja memiliki  

pandangan yang berbeda-beda satu sama lain dan memiliki 

keraguan tentangnya di antara mereka. Sebaliknya ia menulis 

mengenai hal-hal yang memang benar, dan sudah selayaknya 

dipercayai dengan paling sungguh-sungguh, pragmata 

peplērophorēmena – hal-hal yang telah atau dilakukan (menu-

rut beberapa orang), yang telah dilakukan Kristus dan rasul-

rasul-Nya, yang sungguh-sungguh terbukti telah dilakukan 

mereka, sehingga hal-hal itu sungguh-sungguh dipercaya de-

ngan kukuh sampai selamanya. Perhatikan, meskipun bukan 

menjadi fondasi bagi iman kita, namun hal ini menjadi pendu-

kung iman kita, yaitu bahwa butir-butir pernyataan pengaku-

an iman kita terdiri dari peristiwa-peristiwa yang telah sejak 

lama dipercayai dengan paling sungguh-sungguh. Ajaran 

Kristuslah tempat ribuan orang bijak dan terbaik telah mem-

pertaruhkan nyawa mereka dengan penuh keyakinan dan ke-

puasan hati. 

2. Bahwa harus disusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa 

ini , bahwa sejarah kehidupan Kristus harus ditata de-

ngan teliti dan dituliskan menjadi artikel  supaya penyampaian-

nya dapat dilakukan dengan kepastian yang tinggi. Bila hal-

hal disusun dengan teratur, maka semakin mudah pula kita 

untuk mengetahui di mana kita bisa menemukan hal-hal itu 

untuk kegunaan kita sendiri, dan bagaimana menyimpannya 

untuk manfaat orang lain. 

3. Bahwa ada banyak orang telah berusaha menyusun cerita-

cerita tentang kehidupan Kristus, banyak orang yang bermak-

sud baik, yang merancang dengan baik, dan melakukannya de-

ngan baik. Apa yang mereka susun telah membawa kebaikan, 

meskipun dikerjakan tanpa pengilhaman ilahi, atau dikerjakan 

tidak sebaik yang seharusnya, atau tidak dimaksudkan untuk 

dipakai  terus menerus. 

Perhatikan:  

(1) Karya orang lain di dalam Injil Kristus, bila dilakukan de-

ngan setia dan jujur, harus kita hargai dan dukung, dan 

bukan kita rendahkan, meskipun mungkin ada banyak ke-

kurangannya.  

(2) Pelayanan orang lain kepada Kristus tidak boleh dianggap 

menggeser pelayanan kita, namun  sebaliknya harus dipan-

dang sebagai memperlancar pekerjaan pelayanan kita. 

4. Bahwa kebenaran dari hal-hal yang harus ditulis Lukas telah 

diteguhkan oleh kesaksian yang sama dari orang-orang meru-

pakan saksi-saksi mata yang berkompeten dan tidak diragu-

kan atas berbagai peristiwa itu sendiri. Apa yang telah disu-

sunnya secara tertulis dan apa yang sekarang akan disebar-

kannya, telah sesuai dengan apa yang biasanya disampaikan 

berulang-ulang secara lisan oleh mereka, yang dari semula 

yaitu  saksi mata dan pelayan Firman (ay. 2). 

Perhatikan:  

(1) Para rasul yaitu  pelayan firman Kristus, yang yaitu  Fir-

man itu sendiri (demikianlah sebagian orang memahami-

nya), atau pelayan dari ajaran Kristus. Mereka sendiri telah 

menerima Firman itu, dan meneruskannya kepada orang 

lain (1Yoh. 1:1). Mereka tidak menggunakan Injil ini  

untuk menjadi penguasa, namun  menyampaikannya sebagai 

seorang pelayan.  

(2) Pelayan Firman itu yaitu  saksi mata dari hal-hal yang me-

reka sampaikan, termasuk juga sebagai saksi telinga. Mere-

ka benar-benar mendengar sendiri pengajaran Kristus itu, 

dan melihat mujizat-mujizat-Nya, dan bukan mengetahui-

nya melalui cerita orang atau dari tangan kedua. Oleh 

sebab itu mereka dapat berkata-kata dengan keyakinan 

tertinggi tentang apa yang telah mereka lihat dan yang 

telah mereka dengar (Kis. 4:20).  

(3) Mereka dari semula sudah terlibat di dalam pelayanan 

Kristus (ay. 2). Para murid-Nya sudah bersama-sama de-

ngan Dia saat  Dia melakukan mujizat-Nya yang pertama 

(Yoh. 2:1). Mereka senantiasa datang berkumpul dengan 

Dia selama Dia bersama-sama dengan mereka (Kis. 1:21), 

sehingga mereka bukan hanya mendengar dan melihat apa 

yang cukup untuk menguatkan iman mereka, namun  juga, 

seandainya terjadi sesuatu yang mengguncang iman me-

reka, mereka bisa tahu apa yang menyebabkan guncangan 

itu.  

(4) Injil tertulis, yang kita miliki sampai hari ini, sepenuhnya 

sama dengan Injil yang dikhotbahkan pada hari-hari per-

tama berdirinya jemaat.  

(5) Bahwa Lukas sendiri memiliki pemahaman yang sempurna 

tentang segala peristiwa yang ia tulis, dari asal mulanya 

(ay. 3, KJV). Sebagian orang menganggap bahwa dalam ayat 

ini ada suatu celaan tersembunyi terhadap para penulis 

yang telah menulis sebelum dirinya, bahwa mereka tidak 

memiliki pemahaman sempurna tentang apa yang mereka 

tulis, dan sebab  itu ia berkata, “Inilah aku, utuslah aku 

(facit indignatio versum – amarahku menggerakkan pena-

ku)”; atau lebih baik, tanpa maksud menyindir mereka, ia 

menyatakan kemampuannya sendiri untuk melakukan 

tugas ini, “Saya menganggap baik, setelah mencapai penge-

tahuan yang pasti tentang segala sesuatu, anōthen – dari 

atas.” Menurut saya kata dari asal mulanya perlu diubah 

dengan dari atas, sebab  bila yang dia maksudkan yaitu  

dari asal mulanya (ay. 2), seperti dalam terjemahan kita,

seharusnya ia menggunakan kata yang sama dalam teks 

asli.  

[1] Ia telah menyelidiki segala peristiwa itu dengan sak-

sama, telah mengikutinya, seperti para nabi Perjanjian 

Lama yang dikatakan telah menyelidiki dan meneliti 

(1Ptr. 1:10). Ia tidak begitu saja mau menerima hal-hal 

ini  dengan mudah dan dangkal seperti yang dila-

kukan oleh orang-orang lain yang telah menulis sebe-

lum dia. Sebaliknya, ia berusaha mendapat informasi 

secara terperinci.  

[2] Ia memperoleh pemahamannya, bukan hanya melalui 

tradisi seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain, 

namun  juga melalui penyataan, yang menegaskan kebe-

naran tradisi ini  dan menjauhkannya dari keke-

liruan atau kesalahan dalam melakukan pencatatan. Ia 

mencari pengetahuan ini  dari atas (sesuai arti 

kata aslinya), dan lalu   ia mendapatkannya, sama 

seperti Elihu yang meraih pengetahuannya dari jauh. Ia 

menulis riwayatnya seperti Musa menuliskan riwayat-

nya, tentang peristiwa-peristiwa yang dituturkan oleh 

tradisi, dan lalu   disahkan melalui pengilhaman.  

[3]  Oleh sebab  itu, ia bisa berkata bahwa ia telah memiliki 

pengetahuan yang sempurna (KJV) tentang hal-hal itu. Ia 

mengetahuinya, akribōs – dengan cermat, dengan tepat. 

“Sekarang setelah menerima pengetahuan ini dari atas, 

saya menganggap baik untuk memartikel kannya;” 

sebab  talenta seperti ini tentunya tidak boleh dikubur 

di dalam tanah. 

II.  Amatilah mengapa ia mengirimkan tulisan ini kepada Teofilus: 

“Aku memartikel kannya dengan teratur bagimu, bukan supaya 

engkau mengagumi karya ini, namun  supaya engkau dapat diajar 

olehnya; supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu 

yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (ay. 4).  

1.  Di sini dinyatakan secara tidak langsung bahwa Teofilus telah 

diajarkan tentang hal-hal ini sebelum atau sejak ia dibaptis, 

atau kedua-duanya, sesuai dengan peraturan masa itu (Mat. 

28:19, 20). Mungkin Lukas telah membaptisnya dan tahu

 betapa baik ia telah diajar; peri hōn katēchēthes – berkenaan 

dengan hal-hal yang telah diajarkan kepadamu melalui kate-

kisasi, begitulah kata aslinya. Orang-orang Kristen yang sa-

ngat berpengetahuan selalu mulai dengan menerima kateki-

sasi. Teofilus yaitu  seorang yang terpandang, mungkin ia 

seorang keturunan bangsawan. Banyak usaha keras harus 

dihabiskan untuk orang-orang demikian saat  mereka masih 

muda, untuk mengajarkan kepada mereka prinsip-prinsip fir-

man Tuhan  , sehingga mereka akan kuat menghadapi pencoba-

an dan dipersiapkan untuk menduduki posisi yang mulia di 

dunia.  

2. Tulisan ini dimaksudkan agar Teofilus mengetahui, bahwa se-

gala sesuatu yang diajarkan kepadanya sungguh benar, agar ia 

bisa memahami dengan lebih jelas dan percaya dengan lebih 

teguh. Ada kepastian di dalam Injil Kristus dan di atas kepasti-

an dan kebenaran itulah kita membangun. Kita yang saat  

masih muda telah diajarkan dengan benar akan perkara-per-

kara Tuhan  , sesudahnya harus menyelidiki dengan saksama 

untuk mengetahui kebenaran dan kepastian mengenai hal-hal 

yang telah diajarkan kepada kita, agar kita bisa memahami 

bukan saja apa yang kita percayai, namun  juga mengapa kita 

mempercayai semuanya itu, sehingga kita mampu memberi-

kan alasan tentang pengharapan yang ada di dalam diri kita. 

Penampakan Malaikat kepada Zakharia;  

Pemberitahuan tentang Kelahiran Yohanes Pembaptis;  

Ketidakpercayaan Zakharia 

(1:5-25) 

5 Pada zaman Herodes, raja Yudea, yaitu  seorang imam yang bernama 

Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, 

namanya Elisabet. 6 Keduanya yaitu  benar di hadapan Tuhan   dan hidup me-

nurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. 7 namun  

mereka tidak memiliki  anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah 

lanjut umurnya. 8 Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, 

Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. 9 Sebab saat  

diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dia-

lah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan 

di situ. 10 Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. 

Waktu itu yaitu  waktu pembakaran ukupan. 11 Maka tampaklah kepada 

Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pemba-

karan ukupan. 12 Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. 13 namun  ma-1

laikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu 

telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-

laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. 14 Engkau akan ber-

sukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kela-

hirannya itu.15 Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan 

minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus 

mulai dari rahim ibunya; 16 ia akan membuat banyak orang Israel berbalik 

kepada Tuhan, Tuhan   mereka, 17 dan ia akan berjalan mendahului Tuhan 

dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada 

anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang 

benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak 

bagi-Nya.” 18 Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: “Bagaimanakah aku 

tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah 

lanjut umurnya.” 19 Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang 

melayani Tuhan   dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan 

untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. 20 Sesungguhnya engkau 

akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di 

mana semuanya ini terjadi, sebab  engkau tidak percaya akan perkataanku 

yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.” 21 Sementara itu orang 

banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu 

lama berada dalam Bait Suci. 22 saat  ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata 

kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu peng-

lihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia 

tetap bisu. 23 saat  selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke 

rumah. 24 Beberapa lama lalu   Elisabet, isterinya, mengandung dan se-

lama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: 25 “Inilah suatu per-

buatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di 

depan orang.” 

Kedua penulis Injil sebelumnya sepakat untuk memulai Injil dengan 

mengisahkan baptisan Yohanes dan pelayanannya, yang dimulai 

sekitar enam bulan sebelum pelayanan Juruselamat kita di hadapan 

umum (kini, saat  segala sesuatu semakin mendekati waktunya, 

enam bulan terasa berarti, padahal sebelumnya dianggap singkat 

saja). Oleh sebab itu, penulis Injil Lukas ingin membuat catatan yang 

lebih rinci lagi mengenai kisah dikandungnya dan kelahiran Juru-

selamat kita, termasuk catatan lengkap tentang Yohanes Pembaptis 

yang merupakan pembuka jalan dan pendahulu-Nya, bintang timur 

sebelum terbitnya Surya Kebenaran. Penulis Injil ini berbuat demi-

kian, bukan hanya sebab  biasanya orang akan merasa puas dan se-

nang bila mengetahui asal usul dan kehidupan awal orang-orang 

yang di lalu   hari muncul sebagai orang besar, namun  juga 

sebab  pada permulaan semua peristiwa ini, ada begitu banyak hal-

hal yang ajaib dan menjadi pertanda bagi apa yang di lalu   hari 

terbukti benar. Di dalam ayat-ayat ini, sejarawan kita yang diilhami 

ini memulai penulisannya dari awal dikandungnya Yohanes Pembap-

tis.  

Sekarang perhatikanlah hal-hal berikut ini: 

I.  Catatan yang dibuat tentang orangtua Yohanes Pembaptis (ay. 5): 

Mereka hidup pada zaman raja Herodes, seorang asing bukan-

Yahudi, yang yaitu  wakil Kaisar Romawi, yang baru saja men-

jadikan Yudea sebagai sebuah provinsi wilayah kekaisaran Roma-

wi. Hal ini dicatat untuk menunjukkan bahwa tongkat kerajaan 

telah sepenuhnya beranjak dari Yehuda, dan sebab  itu, sekarang 

tibalah saatnya bagi Silo untuk datang, sesuai dengan nubuat 

Yakub (Kej. 49:10). Keturunan Daud sudah tenggelam, namun  

sekarang sudah tiba saatnya untuk bangkit dan mekar kembali, 

melalui Sang Mesias. Perhatikanlah, janganlah seorang pun dari 

kita sampai berputus asa mengenai kebangunan dan pemekaran 

agama, sekalipun pada saat kebebasan hak-hak sipil kita hilang. 

Israel diperbudak, namun  lalu   tibalah masa kemuliaan Israel. 

Ayah Yohanes Pembaptis yaitu  seorang imam, seorang ketu-

runan Harun. Namanya Zakharia. Tidak ada keluarga di dunia ini 

yang begitu dimuliakan oleh Tuhan   seperti keluarga Harun dan 

Daud. Yang satu memiliki kovenan imamat, sementara yang lain 

kovenan kerajaan. Keduanya telah kehilangan kemuliaan mereka, 

namun  Injil mengembalikan kemuliaan mereka di lalu   hari. 

Kemuliaan Harun dikembalikan melalui Yohanes Pembaptis, dan 

kemuliaan Daud di dalam diri Kristus. lalu  , kedua tokoh 

ini, Harun dan Daud, meredup dan akhirnya hilang. Kristus ber-

asal dari keluarga Daud, sedangkan pendahulu-Nya (yaitu Yoha-

nes Pembaptis) dari keluarga Harun, sebab  tugas imamat dan 

pengaruh sang pendahulu ini membuka jalan bagi kuasa dan 

kemuliaan kerajaan-Nya. Zakharia termasuk di dalam rombongan 

Abia. Pada zaman Daud, keluarga Harun bertambah banyak jum-

lahnya, sebab  itu Daud membagi mereka menjadi dua puluh em-

pat rombongan, dengan tujuan mengatur pelaksanaan tugas-

tugas mereka, agar tugas-tugas ini  tidak diabaikan sebab  

kurangnya orang yang melaksanakan atau dimonopoli hanya oleh 

beberapa orang tertentu. Rombongan kedelapan yaitu  rombong-

an Abia (1Taw. 24:10), yang yaitu  keturunan Eleazar, anak 

sulung Harun. Namun, Dr. Lightfoot, seorang gerejawan Inggris 

abad ke-17, menduga bahwa banyak dari keluarga imam ini me-

ninggal selama masa pembuangan, jadi saat  mereka kembali, 

mereka mengambil orang-orang dari kalangan keluarga lain dan

tetap menyandang nama kepala rombongan masing-masing. Istri 

Zakharia juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet, 

nama yang sama dengan Eliseba, istri Harun (Kel. 6:22). Para 

imam ini (menurut Josephus, seorang sejarawan) sangat berhati-

hati dalam hal pernikahan. Mereka hanya menikah dengan orang 

di dalam lingkungan keluarga mereka sendiri, sehingga mereka 

bisa tetap memelihara martabat jabatan imamat dan menjaganya 

tidak ternoda pernikahan campur. 

Sekarang, yang kita amati mengenai Zakharia dan Elisabet 

yaitu : 

1.  Bahwa mereka yaitu  pasangan yang sangat saleh (ay. 6): 

Keduanya yaitu  benar di hadapan Tuhan  . Memang demikian-

lah keadaan mereka menurut Tuhan   yang penghakiman-Nya, 

kita percaya, berlangsung secara jujur. Mereka memang tulus 

dan benar. Mereka memang benar di hadapan Tuhan  , sama 

seperti Nuh di antara orang-orang pada zamannya (Kej. 7:1). 

Mereka menyenangkan hati-Nya, dan dengan senang hati Ia 

menerima mereka. Alangkah bahagianya bila mereka yang 

saling mengikat diri dalam pernikahan, keduanya juga meng-

ikat diri kepada Tuhan. Hal ini khususnya merupakan persya-

ratan bagi para imam, yaitu para pelayan Tuhan, supaya 

mereka bersama pasangan satu kuk mereka hidup benar di 

hadapan Tuhan  , sehingga mereka bisa menjadi teladan bagi 

jemaat, dan menyukakan hati mereka. Mereka hidup menurut 

segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.  

(1) Keadaan mereka yang benar di hadapan Tuhan   dibuktikan 

melalui rangkaian dan arah perilaku mereka. Mereka me-

nunjukkannya bukan dengan kata-kata, namun  dengan per-

buatan, dengan cara hidup yang mereka jalani dan dengan 

hukum yang mereka patuhi.  

(2) Mereka memiliki  kualitas hati dan hidup yang sama, ka-

rena ibadah mereka sejalan dengan perilaku mereka. Me-

reka tidak hanya hidup sesuai dengan perintah Tuhan yang 

berhubungan dengan peraturan-peraturan ibadah saja, 

namun  juga sesuai dengan ketetapan Tuhan yang berhu-

bungan dengan segenap perilaku dan harus ditaati.  

(3) Kepatuhan mereka bersifat menyeluruh. Bukan berarti me-

reka tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugas-tugas 

mereka, namun  mereka tetap berusaha sebaik mungkin.  

(4) Dalam hal ini, meskipun mereka bukan tanpa dosa, namun 

mereka tidak bercacat. Tidak seorang pun bisa menuduh 

mereka dengan dosa memalukan yang diketahui umum. 

Mereka hidup dengan jujur dan damai, yaitu cara hidup 

yang sudah seharusnya dijalani para pelayan Tuhan dan 

keluarga mereka, supaya pelayanan mereka tidak dihina 

sebab  kesalahan mereka. 

2. Sudah lama mereka tidak memiliki  anak (ay. 7). Sesungguh-

nya, anak-anak lelaki yaitu  milik pusaka dari pada TUHAN, 

namun banyak di antara anak-anak Tuhan, yang yaitu  ahli 

waris-Nya, yang sudah menikah, namun  tidak mendapatkan 

milik pusaka atau warisan ini. Anak-anak yaitu  berkat tak 

ternilai yang selalu dirindukan, namun banyak orang yang 

hidup benar di hadapan Tuhan   tidak memperoleh berkat ini, 

walaupun seandainya mereka memiliki anak-anak, mereka 

akan membimbing anak-anak ini menjadi orang-orang yang 

takut akan Tuhan. Sebaliknya, orang-orang dari dunia ini 

memiliki  banyak anak (Mzm. 17:4), dan kanak-kanak me-

reka dibiarkan keluar seperti kambing domba (Ayb. 21:11). 

Demikianlah, Elisabet mandul, dan mereka mulai berputus asa 

dalam harapan mereka untuk memiliki  anak, sebab  

keduanya telah lanjut umurnya, pada saat wanita  yang 

paling subur sekalipun tidak bisa melahirkan lagi. Banyak 

orang terkenal dilahirkan oleh ibu-ibu yang tidak memiliki  

anak dalam jangka waktu yang lama, seperti Ishak, Yakub, 

Yusuf, Simson, Samuel, dan di sini Yohanes Pembaptis, 

sehingga kelahiran mereka menjadi lebih istimewa dan berkat-

Nya lebih berharga bagi para orangtua mereka. Ini juga 

menunjukkan bahwa bila Tuhan   membiarkan umatnya lama 

menunggu rahmat-Nya, adakalanya Ia berkenan membalas ke-

sabaran mereka itu dengan menggandakan rahmat-Nya pada 

waktunya. 

II. Penampakan malaikat kepada ayah Yohanes, Zakharia, saat  ia 

sedang melayani di Bait Suci (ay. 8-11). Kalau nabi Zakharia ada-

lah nabi terakhir Perjanjian Lama yang berjumpa dengan malai-

kat, maka Zakharia yang yaitu  seorang imam ini menjadi imam 

pertama dalam Perjanjian Baru yang berjumpa dengan malaikat.  

Perhatikanlah hal-hal berikut ini: 

1.  Bagaimana Zakharia ditugaskan melayani Tuhan   (ay. 8): Waktu 

tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimam-

an di hadapan Tuhan. Itu yaitu  minggu saat  ia melayani 

dan ia sedang bertugas. Kendati keluarganya tidak berkem-

bang, dengan sadar ia melaksanakan tugas pada tempat dan 

waktu yang telah ditetapkan. Sekalipun kita belum mendapat-

kan rahmat Tuhan yang diharapkan, namun kita harus tetap 

cermat melaksanakan pelayanan-pelayanan yang ditetapkan; 

dan di dalam melaksanakan dengan rajin serta tekun semua 

pelayanan itu, kita bisa berharap bahwa rahmat dan peng-

hiburan pada akhirnya akan datang. Sekarang, Zakharialah 

yang kena undi untuk masuk ke dalam Bait Suci untuk mem-

bakar ukupan pagi dan petang selama minggu pelayanan ter-

sebut, sebagaimana tugas-tugas lain juga ditentukan untuk 

para iman lainnya dengan mengundi. Pelayanan-pelayanan 

ini  ditetapkan melalui pengundian, sehingga beberapa 

orang tidak mengabaikan dan yang lain tidak memonopoli tu-

gas-tugas ini . Selain itu, dikatakan juga bahwa keputus-

an pengundian itu berasal dari Tuhan, sehingga mereka mera-

sa puas dengan panggilan ilahi atas pekerjaan ini . Ini 

bukanlah upacara pembakaran ukupan oleh imam besar pada 

hari pendamaian seperti yang gemar dibayangkan sebagian 

orang. Mereka mengira bahwa dengan demikian mereka bisa 

menemukan saat kelahiran Juruselamat kita. Jelas bahwa 

yang dimaksud di sini yaitu  pembakaran ukupan harian 

yang dilakukan di atas mezbah pembakaran ukupan (ay. 11), 

di dalam Bait Suci (ay. 9), bukan di dalam ruang mahakudus, 

yang hanya bisa dimasuki oleh imam besar. Orang-orang 

Yahudi mengatakan bahwa seorang imam yang sama hanya 

membakar ukupan satu kali saja selama hidupnya (sebab  ada 

banyak imam yang bertugas dalam rombongan yang sama), 

setidaknya tidak lebih dari satu minggu. Sangat mungkin 

bahwa giliran tugas Zakharia ini terjadi pada hari Sabat, ka-

rena seluruh umat berkumpul (ay. 10), yang tidak lazim terjadi 

pada hari-hari biasa. Demikianlah Tuhan   biasanya menghor-

mati hari-Nya sendiri. Dengan bantuan penanggalan Yahudi, 

Dr. Lightfoot menghitung bahwa giliran rombongan Abia jatuh 

pada hari ketujuh belas dari bulan ketiga, yaitu bulan Sivan, 

yang jatuh sebagian pada bulan Mei dan sebagian lagi pada 

bulan Juni. Layak diperhatikan bahwa bagian dari Kitab 

Taurat dan Kitab Para Nabi yang biasa dibaca di sinagoge di 

mana-mana pada hari ini  sangat sesuai dengan apa yang 

sedang terjadi di dalam Bait Suci saat  itu, yaitu hukum 

mengenai orang nazir (Bil. 6) dan cerita mengenai dikandung-

nya Simson (Hak. 13). 

Sementara Zakharia sedang membakar ukupan di dalam 

Bait Suci, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang (ay. 

10). Dr. Lightfoot mengatakan bahwa pada saat jam sembah-

yang, di Bait Suci terus-menerus ada para imam dari 

rombongan yang sedang bertugas melayani. Bila saat itu 

yaitu  hari Sabat, selain rombongan imam-imam yang sedang 

melayani, juga hadir rombongan yang telah melayani seminggu 

sebelumnya, begitu pula orang-orang Lewi yang melayani di 

bawah para imam, serta orang-orang yang memegang jabatan. 

Begitulah para Rabi menyebut mereka, yaitu orang-orang yang 

mewakili umat untuk meletakkan tangan di atas kepala hewan 

yang dikorbankan. Di samping itu hadir juga banyak umat 

yang sengaja meninggalkan pekerjaan mereka untuk beriba-

dah pada saat itu. Semua orang ini  berkumpul dalam 

jumlah yang sangat banyak, terutama pada hari-hari Sabat 

dan hari-hari raya. Begitulah mereka semuanya memusatkan 

perhatian pada ibadah mereka (dengan berdoa di dalam hati, 

sebab  suara mereka tidak terdengar). Melalui dentingan lon-

ceng, mereka tahu bahwa seorang imam sedang masuk ke 

dalam untuk membakar ukupan.  

Sekarang amatilah ini:  

(1) Bahwa umat Israel sejati milik Tuhan   selalu terdiri dari 

orang-orang yang berdoa, dan doa yaitu  bagian ibadah 

yang paling agung dan utama, yang melaluinya kita me-

muliakan Tuhan  , menerima perkenan-Nya, dan memelihara 

hubungan kita dengan-Nya.  

(2) lalu   pada masa itu, saat  ketetapan-ketetapan ritual 

dan upacara dilaksanakan dengan begitu ketat, seperti 

pembakaran ukupan, kewajiban moral dan rohani tetap 

diperlukan mengiringi ritual dan upacara ini . Daud 

tahu dan percaya bahwa saat  ia sedang berada jauh dari 

mezbah, doanya tetap didengar, meskipun tanpa ukupan, 

sebab  doa ini  dapat disampaikan kepada Tuhan   seba-

gai persembahan ukupan (Mzm. 141:2). namun  saat  ia 

sedang berada di sekitar mezbah, ukupan ini  tidak 

dapat diterima tanpa doa, sebagaimana kacang yang hanya 

berkulit namun tanpa biji tidak dapat diterima.  

(3) Bahwa tidak cukup bila kita hanya berada di tempat di ma-

na Tuhan   disembah, padahal hati kita tidak terpaut dengan 

ibadah ini  dan tidak terus bersama dengan pelayan 

Tuhan di sepanjang ibadah ini . Bila imam membakar 

ukupan dengan begitu baik, di dalam doa yang paling se-

suai, bijaksana, dan sepenuh hati, dan pada saat yang 

sama kita tidak berdoa dalam kesehatian dengannya, apa 

gunanya bagi kita?  

(4) Semua doa yang kita panjatkan di hadapan Tuhan   akan 

diterima dan dikabulkan-Nya hanya melalui ukupan peran-

taraan Kristus yang dilakukan di Bait Tuhan   sejati di sorga. 

Penggunaan ukupan dalam ibadah di Bait Tuhan   merupa-

kan gambaran dari apa yang dilaksanakan di sorga (Why. 

8:1, 3-4), di mana kita bisa membaca, maka sunyi senyap-

lah di sorga, sama seperti di dalam Bait Tuhan  , kira-kira se-

tengah jam lamanya, sementara orang-orang dengan se-

nyap mengangkat hati mereka kepada Tuhan   di dalam doa. 

Di sana juga ada seorang malaikat, yaitu malaikat mezbah, 

yang mempersembahkan banyak kemenyan untuk diper-

sembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang 

kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Kita 

tidak bisa mengharapkan berkat melalui perantaraan 

Kristus bila kita tidak berdoa, yaitu berdoa dengan roh kita, 

di dalam doa yang terus-menerus dan berkesinambungan. 

Kita juga tidak bisa mengharapkan bahwa doa terbaik kita 

bisa diterima dan mendapat jawaban damai sejahtera bila 

tidak melalui perantaraan Kristus, yang hidup selamanya 

dan menjadi Pengantara bagi kita. 

2. Bagaimana saat  sedang melaksanakan pelayanannya, 

Zakharia memperoleh kehormatan melalui kunjungan seorang 

utusan, utusan khusus yang datang dari sorga kepadanya (ay. 

11): Tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan. 

Sebagian orang mengamati bahwa kita tidak pernah membaca 

tentang seorang malaikat yang menampakkan diri di dalam 

Bait Suci dengan membawa pesan dari Tuhan  , kecuali hanya 

ada satu peristiwa saja, yaitu kunjungan kepada Zakharia ini. 

Alasannya, sebab  di sana (di Bait Suci), Tuhan   memiliki cara-

cara lain untuk menyatakan pikiran-Nya, seperti melalui Urim 

dan Tumim, dan melalui suara lembut dari antara para kerub. 

Namun, sebab  tabut perjanjian tidak ada di dalam ruang 

maha kudus Bait Tuhan   yang kedua (pada masa Zakharia ini), 

maka diutuslah seorang malaikat bila ada pesan yang harus 

disampaikan kepada seorang imam yang sedang berada di Bait 

Suci. Dengan cara demikianlah mula-mula Injil banyak kali  

diperkenalkan, seperti halnya Hukum Taurat, yaitu melalui 

pelayanan malaikat-malaikat. Penampakan demikian sering 

kita baca di dalam Kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Na-

mun maksud sebenarnya dari cara ini, baik dalam Hukum 

Taurat maupun Injil yaitu  untuk menetapkan cara berhu-

bungan yang lain, yang lebih bersifat rohani, antara Tuhan   dan 

manusia. Malaikat berdiri di sebelah kanan mezbah pembakar-

an ukupan. Menurut Dr. Lightfoot, malaikat itu berdiri pada 

sisi sebelah utara dari mezbah, pada sisi kanan Zakharia. 

Bandingkan situasi ini dengan saat saat  Iblis berdiri di sebe-

lah kanan imam besar Yosua untuk mendakwa dia (Za. 3:1). 

Namun, Zakharia memiliki seorang malaikat yang baik yang 

berdiri di sebelah kanannya, untuk menguatkan dirinya. Seba-

gian orang memperkirakan bahwa malaikat yang menampak-

kan diri ini muncul dari ruangan mahakudus, sehingga ia 

menuju ke sisi kanan mezbah. 

3.  Kesan apa yang terjadi pada Zakharia (ay. 12): Melihat hal itu, 

ia kaget, dan bahkan ketakutan, sebab  dikatakan ia terkejut 

dan menjadi takut (ay. 12). Meskipun ia benar di hadapan 

Tuhan   dan tidak bercacat dalam perilaku dan cara hidupnya, 

namun ia tidak bebas dari rasa takut pada sesuatu yang 

penampilan dan cahaya sekitarnya menunjukkan dia melebihi 

manusia. Semenjak manusia jatuh di dalam dosa, pikirannya 

tidak mampu lagi menanggung keagungan penampakan-

penampakan semacam itu dan hati nuraninya takut akan 

kabar-kabar buruk yang dibawa serta. Bahkan Daniel pun 

tidak sanggup menanggungnya dan hilang kekuatannya (Dan. 

10:8). sebab  alasan itulah Tuhan   memilih untuk berbicara ke-

pada kita melalui manusia seperti diri kita sendiri, yang ke-

dahsyatannya tidak akan membuat kita takut.  

III. Pesan yang harus disampaikan malaikat ini  kepadanya (ay. 

13). Malaikat itu mengawali pesannya seperti yang umum dilaku-

kan oleh malaikat, “Jangan takut.” Mungkin sebelum itu Zakharia 

tidak pernah terkena undi untuk membakar ukupan, dan sebab  

ia yaitu  sosok yang sangat serius dan cermat, maka kita bisa 

menduga ia berusaha melaksanakan tugas itu dengan sangat 

hati-hati dan dengan sebaik-baiknya. Saat melihat malaikat itu, ia 

mungkin takut kalau-kalau malaikat itu datang untuk menegur-

nya sebab  suatu kesalahan atau kelalaian dalam tugas. “Tidak,” 

kata malaikat itu, “jangan takut, aku tidak membawa kabar buruk 

bagimu dari sorga. Jangan takut, tenangkan dirimu, supaya kamu 

bisa menerima berita yang harus kusampaikan kepadamu ini 

dengan baik dan tenang.” Marilah kita lihat pesan apa ini. 

1. Doa yang sering ia panjatkan, sekarang akan menerima jawab-

an yang penuh damai sejahtera, “Jangan takut, hai Zakharia, 

sebab doamu telah dikabulkan.”  

(1)  Bila yang dimaksudkan malaikat itu yaitu  doa khusus 

untuk memperoleh seorang anak guna membangun keluar-

ganya, maka doa itu pastilah doa memohon rahmat yang 

dahulu dipanjatkannya saat  ia masih mungkin memper-

oleh anak. Namun kita bisa menduga bahwa sekarang ka-

rena ia dan istrinya telah lanjut usia, mereka sudah tidak 

mengharapkan lagi hal ini, jadi mereka sudah tidak men-

doakan hal itu lagi. Sama seperti Musa, mereka merasa 

cukup, dan tidak lagi membicarakan perkara itu dengan 

Tuhan   (Ul. 3:26). Namun, Tuhan   sekarang ingin memberikan 

rahmat ini sebab  Ia ingat doa-doa yang pernah Zakharia 

panjatkan bersama istrinya di masa lampau, sama seperti 

Ishak berdoa untuk dan bersama istrinya (Kej. 25:21). Per-

hatikanlah bahwa doa-doa yang dinaikkan dengan iman 

tersimpan di dalam sorga, dan tidak dilupakan, meskipun 

hal yang didoakan sampai sekarang belum dikabulkan. 

Doa-doa yang dinaikkan saat  kita masih muda dan masih 

ada di dunia ini, mungkin baru akan dijawab saat  kita 

sudah menjadi tua dan akan meninggalkan dunia ini. Na-

mun,  

(2) Bila yang malaikat maksudkan yaitu  doa-doa yang seka-

rang ia naikkan, yang disampaikan bersama-sama dengan 

ukupannya, kita bisa menduga bahwa doa itu sesuai de-

ngan tugas yang sedang dilaksanakannya, yaitu demi umat 

Israel kepunyaan Tuhan   dan kesejahteraan mereka, serta 

demi penggenapan janji-janji tentang Mesias dan datang-

nya kerajaan-Nya, “Doamu telah dikabulkan, istrimu se-

gera akan mengandung dia yang akan membuka jalan bagi 

Mesias.” Beberapa penulis Yahudi mengatakan bahwa bia-

sanya saat  seorang imam membakar ukupan, ia berdoa 

untuk keselamatan seluruh isi dunia ini. Dan sekarang doa 

ini  akan dikabulkan. Atau,  

(3) Secara umum bisa dikatakan, “Doa-doa yang sekarang eng-

kau naikkan dan semua doa-doamu, semuanya diterima 

oleh Tuhan  , dan telah diingatkan di hadapan-Nya.” (Seperti 

yang dikatakan oleh malaikat kepada Kornelius, saat  ia 

mengunjunginya sementara ia sedang berdoa, Kis. 10:30-

31.) “Dan inilah tandanya bahwa Tuhan   berkenan kepada-

mu, Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-

laki bagimu.” Perhatikanlah, sangat menyenangkan bagi 

orang-orang yang berdoa saat  mengetahui bahwa doa-doa 

mereka sedang didengar, dan rahmat yang diberikan seba-

gai jawaban doa ini  terasa dua kali manisnya. 

2.  Ia akan memiliki  seorang anak laki-laki di dalam usianya 

yang telah lanjut, melalui Elisabet istrinya, yang telah lama 

mandul. Dalam keadaan demikian, melalui kelahiran anak 

laki-laki itu, yang boleh dikatakan suatu mujizat, orang bisa 

dipersiapkan untuk menerima dan mempercayai bahwa se-

orang gadis yang masih perawan bisa melahirkan seorang 

anak laki-laki, yang benar-benar merupakan suatu mujizat 

yang sempurna. Ia juga diarahkan tentang nama apa yang ha-

rus diberikan kepada anak laki-lakinya, “Haruslah engkau me-

namai dia Yohanes,” yang dalam bahasa Ibrani disebut 

Johanan, sebuah nama yang kerap kita jumpai di dalam Per-

janjian Lama, yang berarti penuh belas kasihan atau kebaikan 

hati. Para imam harus mencoba melunakkan hati Tuhan  , supaya 

Ia mengasihani kita (Mal. 1:9), dan memberi engkau kasih karu-

nia (Bil. 6:25). Zakharia sekarang sedang berdoa seperti itu, 

dan malaikat berkata kepadanya bahwa doanya didengar, dan 

ia akan memiliki seorang anak laki-laki, dan sebagai tanda 

akan jawaban atas doanya, anak itu akan dinamai Yang Berbe-

las Kasihan, atau, Tuhan akan mengasihani (Yes. 30:18-19). 

3.  Anak ini akan memberikan sukacita bagi keluarga dan handai 

taulannya (ay. 14). Ia akan menjadi Ishak yang lain, menjadi 

gelak tawamu. Sebagian orang beranggapan inilah sebagian 

dari alasan mengapa ia dinamakan Yohanes. Ia akan menjadi 

seorang anak yang disambut dan disayangi. Engkau akan ber-

sukacita dan bergembira. Perhatikanlah, rahmat yang sudah 

begitu lama dinanti-nantikan, saat  pada akhirnya datang 

juga, akan lebih disambut. “Ia akan menjadi seorang anak 

yang  membuatmu memiliki  alasan untuk bersukacita. Ba-

nyak orangtua, seandainya mereka bisa mengetahui sebelum-

nya akan menjadi apa kelak anak mereka, tidak akan bersuka-

cita atas saat kelahiran anaknya itu, malahan akan berharap 

kalau anak mereka itu sebaiknya tidak pernah dilahirkan. 

Namun, aku akan mengatakan apa yang akan terjadi pada 

anak laki-lakimu itu, dan janganlah bersukacita dengan geme-

tar atas kelahirannya, seperti yang seharusnya diperbuat oleh 

orang-orang besar, namun  bersukacitalah dengan penuh 

kemenangan atas kelahirannya itu.” Bukan hanya itu, bahkan 

banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Semua 

tetangga dan sanak saudara akan bersukacita dan mengucap-

kan selamat, sebab  hal itu membawa kehormatan dan peng-

hiburan bagi keluarga itu (ay. 58). Semua orang yang baik 

akan bersukacita bahwa pasangan yang saleh seperti Zakharia 

dan Elisabet memiliki seorang anak laki-laki, sebab  mereka 

tahu bahwa pasangan ini akan mendidiknya dengan benar, 

sehingga bisa diharapkan anak ini akan menjadi berkat bagi 

generasinya. Ya, dan mungkin masih banyak orang lagi yang 

akan bersukacita dengan sebab yang tak terkatakan, sebagai 

sebuah pertanda akan hari-hari sukacita di mana Injil akan 

diperkenalkan.  

4.  Anak ini akan menjadi kesukaan Sorga yang terkemuka, dan 

berkat yang luar biasa bagi bumi. Kehormatan memiliki se-

orang anak laki-laki tidak ada artinya dibandingkan dengan 

kehormatan memiliki seorang anak laki-laki seperti ini.  

(1) Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan. Yang benar-benar 

besar di hadapan Tuhan   bukanlah yang besar menurut pan-

dangan dunia yang sia-sia dan fana ini. Tuhan   akan senan-

tiasa membuat dia tegak di hadapan-Nya, akan memakai-

nya di dalam pekerjaan-Nya dan mengutusnya sebagai 

utusan-Nya, dan semuanya itu akan membuat dia benar-

benar besar dan terhormat. Ia akan menjadi seorang nabi, 

ya, lebih dari seorang nabi, dan oleh sebab itu di antara 

mereka yang dilahirkan oleh wanita  tidak pernah 

tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembap-

tis (Mat. 11:11). Ia akan mengasingkan diri dari dunia ini, 

jauh dari pandangan manusia, dan saat  tampil di depan 

umum, ia akan tampak sangat sederhana. namun , ia akan 

menjadi luar biasa dan besar di hadapan Tuhan.  

(2) Ia akan menjadi seorang nazir, dipisahkan bagi Tuhan   dari 

semua hal yang dapat mencemarkan. Ciri-ciri seorang nazir 

menurut hukum kenaziran yaitu , ia tidak akan minum 

anggur atau minuman keras – atau lebih tepatnya,  anggur 

yang lama maupun yang baru, sebab  sebagian besar orang 

berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan minuman 

keras yaitu  sejenis anggur, barangkali seperti yang seka-

rang kita sebut anggur olahan, atau segala minuman yang 

bersifat memabukkan. Ia akan menjadi nazir seumur hi-

dupnya, sama seperti Simson yang menjadi seorang nazir 

melalui perintah ilahi (Hak. 13:7) dan Samuel yang melalui 

nazar ibunya (1Sam. 1:11). Kehidupan kenaziran dan kena-

bian Yohanes ini menggambarkan kepada kita sebuah con-

toh besar bagaimana Tuhan   menunjukkan belas kasihan-

Nya kepada umat-Nya, yaitu dengan membangkitkan seba-

gian dari anak-anak mereka menjadi nabi dan sebagian dari 

teruna-teruna mereka menjadi nazir (Am. 2:11). Contoh ini 

seakan menunjukkan bahwa mereka yang dicanangkan 

untuk menjadi nabi akan dilatih untuk hidup berdisiplin 

sebagai seorang nazir, seperti yang terjadi pada Samuel dan 

Yohanes Pembaptis. Ini artinya bahwa mereka yang mau 

menjadi pelayan-pelayan Tuhan   yang unggul, dan mau digu-

nakan dalam tugas-tugas pelayanan yang mulia, harus 

belajar menjalani kehidupan yang menyangkal diri dan 

menahan nafsu, harus mati terhadap kesenangan jasmani, 

dan menjaga pikiran mereka terhadap hal-hal yang dapat 

menggelapkan hati dan mengganggu mereka. 

(3) Ia akan benar-benar pantas dan memenuhi syarat bagi se-

mua tugas pelayanan agung dan mulia yang akan diperun-

tukkan baginya nanti: Ia akan penuh dengan Roh Kudus 

mulai dari rahim ibunya, dan pada saatnya kelak ia akan 

tampil demikian.  

Perhatikanlah:  

[1] Mereka yang mau dipenuhi dengan Roh Kudus harus 

bersikap sederhana dan menguasai diri dan sangat 

mengekang diri untuk minum anggur dan minuman ke-

ras, sebab  begitulah yang tepat bagi mereka untuk 

dipenuhi dengan Roh. Janganlah mabuk oleh anggur, 

namun  hendaklah kamu penuh dengan Roh (Ef. 5:18). 

[2] Sangatlah mungkin bagi bayi untuk digerakkan oleh 

Roh Kudus, bahkan sejak mereka masih berada di da-

lam rahim ibu mereka. Sebab, Yohanes Pembaptis pun 

telah dipenuhi dengan Roh Kudus sejak masih dalam 

rahim ibunya, dan Roh menguasai hatinya sejak itu. 

Ada tanda awal yang menunjukkan hal ini, yaitu saat  

ia melonjak kegirangan di dalam rahim ibunya, saat 

Sang Juruselamat datang mendekat. Dan setelah itu, ia 

dikuduskan sangat awal pada masa hidupnya. Tuhan   

telah berjanji akan mencurahkan Roh-Nya ke atas ketu-

runan orang percaya (Yes. 44:3), dan ini tampak dari 

pengabdian diri mereka kepada Tuhan   sejak masa awal 

hidup mereka, yang merupakan hasil pencurahan Roh 

Tuhan   itu sendiri (ay. 4-5). Jadi, siapa yang bisa mence-

gah orang-orang demikian untuk dibaptis dengan air, 

orang yang setahu kita (apalagi halnya dengan orang 

dewasa, seperti Simon si mantan penyihir itu), telah 

menerima Roh Kudus, dan telah memiliki benih kasih 

karunia yang ditaburkan di dalam hati mereka? (Kis. 

10:47).  

(4) Ia akan berperan penting dalam membuat banyak jiwa ber-

balik kepada Tuhan  , dan menyiapkan mereka untuk mene-

rima dan menyambut Injil Kristus (ay. 16-17) 

[1] Ia akan diutus kepada keturunan Israel, kepada bangsa 

Yahudi, kepada merekalah Mesias juga diutus untuk 

pertama kalinya, dan bukan kepada orang-orang bu-

kan-Yahudi. Ia diutus kepada seluruh bangsa Yahudi, 

bukan hanya kepada keluarga imam-imam saja. Kita 

tidak melihat Yohanes memiliki hubungan dekat atau 

pengaruh khusus dengan keluarga imam, walaupun dia 

sendiri tergolong sebagai keluarga imam. 

[2]  Ia akan berjalan mendahului Tuhan, Tuhan   mereka, yaitu 

mendahului Mesias yang mereka harap-harapkan. Te-

tapi Mesias ini bukanlah raja mereka dalam pengertian 

yang umumnya mereka pikirkan, yaitu sebagai seorang 

pangeran yang fana untuk memimpin bangsa mereka. 

Sebaliknya, Ia yaitu  Tuhan mereka dan Tuhan   mereka, 

untuk memerintah dan membela, serta melayani mere-

ka secara rohani melalui pengaruh-Nya atas hati mere-

ka. Tomas mengetahui hal ini saat  ia berkata kepada 

Kristus, “Tuhanku dan Tuhan  ku,” lebih baik daripada 

Natanael, yang berkata, “Rabi, Engkau Raja orang 

Israel.” Yohanes Pembaptis akan berjalan mendahului 

Dia, sedikit di depan-Nya, untuk memberitakan keda-

tangan-Nya dan menyiapkan orang untuk menerima 

Dia. 

[3] Ia akan berjalan dalam roh dan kuasa Elia. Yaitu, perta-

ma, ia akan menjadi seseorang seperti Elia dan melaku-

kan pelayanan seperti yang dilakukan oleh Elia. Seperti 

Elia, dia akan berkhotbah tentang perlunya pertobatan 

dan pembaruan bagi zaman yang sangat rusak dan 

buruk akhlaknya ini. Seperti Elia, dia akan berani dan 

giat dalam mencela dosa, serta bersaksi melawan dosa 

bahkan secara dahsyat, meskipun untuk itu ia akan 

dibenci dan dianiaya oleh Herodes dan Herodias, seperti 

Elisa dibenci oleh Ahab dan Izebel. Ia akan terus melan-

jutkan tugasnya, seperti Elia, dalam roh dan kuasa 

ilahi, yang akan memahkotai pelayanannya dengan ke-

berhasilan yang gemilang. Sama seperti Elia yang berja-

lan mendahului nabi-nabi yang menulis Perjanjian Lama 

dan menulis sendiri sebuah surat singkat untuk meng-

awali periode yang penting dari dispensasi Perjanjian 

Lama itu (2Taw. 21:12), demikian pula Yohanes Pem-

baptis berjalan mendahului Kristus dan para rasul-Nya 

dan memperkenalkan dispensasi Injil dengan memberi-

takan kabar dari ajaran dan kewajiban Injil, “Bertobat-

lah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” Kedua, dialah 

orang yang dinubuatkan oleh Maleakhi dengan menggu-

nakan nama Elia (Mal. 4:5), yang akan diutus kepada-

mu menjelang datangnya hari Tuhan. Sesungguhnya 

Aku akan mengutus kepadamu seorang nabi, seperti 

Elia, bukan Elia orang Tisbe (seperti yang salah dimeng-

erti dalam terjemahan Septuaginta, untuk mendukung 

tradisi Yahudi), namun  seorang nabi di dalam roh dan 

kuasa Elia, seperti yang dijelaskan oleh malaikat di sini. 

[4] Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada 

Tuhan, Tuhan   mereka, dan akan mencondongkan hati 

mereka untuk menerima Mesias serta menyambut-Nya, 

dengan membangkitkan dalam diri mereka rasa berdosa 

dan hasrat yang kuat terhadap kebenaran. Apa pun 

yang memiliki kecenderungan membalikkan kita dari 

kesalahan, seperti yang telah ditimbulkan oleh khotbah 

dan baptisan Yohanes Pembaptis, akan membalikkan 

kita kepada Kristus sebagai Tuhan kita dan Tuhan   kita. 

Sebab, siapa yang melalui kuasa anugerah melepaskan 

kuk dosa, yakni kebiasaan duniawi dan kedagingan, 

akan dikenakan kuk Tuhan Yesus sebagai gantinya. 

[5] Dengan ini ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik 

kepada anak-anaknya, yaitu, hati orang Yahudi kepada 

orang bukan-Yahudi. Dia akan membantu mereka mele-

paskan berbagai prasangka yang sudah mengakar ter-

hadap bangsa-bangsa lain, seperti yang dilakukan oleh 

Injil, di mana pun Injil itu berkuasa. Dan hal inilah 

yang mulai dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, yang 

datang untuk memberi kesaksian supaya oleh dia semua 

orang menjadi percaya, yang membaptis dan mengajar 

serdadu-serdadu Romawi maupun orang Farisi Yahudi, 

yang mengoreksi keangkuhan dan keyakinan orang 

Yahudi yang mengagungkan diri sebab  Abraham ada-

lah bapa mereka, dengan mengatakan bahwa Tuhan   da-

pat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu 

(Mat. 3:9). Kata-kata ini diucapkan dengan maksud 

menyembuhkan kebencian mereka yang mendalam 

terhadap orang bukan-Yahudi. Dr. Lightfoot mengamati 

bahwa para nabi terus berbicara tentang umat bukan-

Yahudi sebagai anak-anak bagi umat Yahudi (Yes. 54:5-

6, 13; 60:4, 9; 62:5; 66:12). saat  orang-orang Yahudi 

yang sudah memeluk iman pada Kristus mulai berga-

bung dalam persekutuan dengan bangsa-bangsa lain 

yang juga seiman, maka saat itulah hati bapa-bapa pun 

berbalik kepada anak-anaknya. Ia juga akan mengubah 

hati yang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. 

Artinya, ia akan memperkenalkan Injil kepada bangsa-

bangsa bukan-Yahudi yang sekarang menurut Injil ada-

lah orang durhaka, sehingga mereka akan berbalik, bu-

kan kepada kepercayaan orang Yahudi yang merupakan 

bapa mereka, namun  kepada iman Kristus yang di sini 

disebut pikiran orang-orang benar, dan masuk dalam 

persekutuan bersama orang Yahudi yang percaya. Ia 

akan membuat hati bapa-bapa dan hati anak-anak ber-

balik, yakni, hati orang tua dan orang muda akan men-

jadi sarana untuk membawa setiap generasi menjadi 

orang yang saleh, untuk melakukan pembaruan besar-

besaran dalam bangsa Yahudi, untuk membawa mereka 

keluar dari kepercayaan tradisional yang sarat dengan 

ritual yang telah mendarah daging, serta untuk mem-

bawa mereka pada kesalehan yang sungguh-sungguh 

dan sebenar-benarnya. Pengaruh dari semuanya ini 

yaitu  bahwa kebencian yang ada selama ini akan 

dibuang jauh-jauh dan perselisihan akan berhenti. 

Juga, meskipun berbeda, mereka akan dipersatukan 

dalam baptisan-Nya sehingga saling bisa menerima 

dengan lebih baik. Semua yang ditulis mengenai Yoha-

nes di atas sesuai dengan catatan sejarawan Josephus 

tentang dia (Antiq. 18:117-118) “Bahwa ia yaitu  se-

orang laki-laki yang baik, mengajar orang Yahudi mem-

praktikkan kebajikan, hidup dalam kesalehan di hadap-

an Tuhan  , hidup benar di hadapan sesama, dan harus 

berhimpun dan bersekutu bersama di dalam baptisan.” 

Selanjutnya Josephus mencatat, “Orang-orang berdu-

yun-duyun mengikuti dia dan sangat menyukai ajaran-

nya.” Jadi, Yohanes membuat hati bapa-bapa dan hati 

anak-anak berbalik kepada Tuhan   dan sesama, dengan 

membalikkan hati orang-orang durhaka kepada pikiran 

orang-orang benar.  

Perhatikanlah:  

Pertama, agama yang sejati yaitu  pikiran orang-

orang benar, yang berbeda dengan hikmat dunia ini. 

Sudah merupakan keharusan dan kewajiban bagi kita 

untuk hidup saleh dan benar. Di dalamnya ada keadil-

an dan kebijaksanaan.  

Kedua, bukanlah suatu hal yang mustahil bahwa 

orang kafir dan durhaka bisa berbalik kepada pikiran 

orang-orang benar, sebab  anugerah ilahi dapat menga-

lahkan hati yang acuh tak acuh dan penuh prasangka.  

Ketiga, rancangan besar Injil yaitu  membawa orang 

kembali kepada Tuhan   serta membawa mereka lebih 

dekat satu sama lain. Untuk maksud itulah Yohanes 

Pembaptis diutus. Dalam Injil Lukas, dua kali Yohanes 

disebutkan membuat orang berbalik. Penyebutan ini 

tampaknya merupakan sebuah kiasan terhadap sebut-

an Orang Tisbe, gelar yang diberikan kepada Elia, yang 

menurut sebagian orang bukan menunjukkan nama 

daerah atau kota tempat ia berasal, melainkan sebagai 

sebuah julukan pengenal, dan sebab  itu julukan itu 

berarti Elia Sang Pengubah, orang yang banyak terlibat 

dan sangat berhasil dalam karya mengubah hati orang. 

Oleh sebab  itu, sang Elia dari Perjanjian Baru dikata-

kan membalikkan atau mengubah hati banyak orang ke-

pada Tuhan, Tuhan   mereka.  

[6] Dengan demikian ia akan menyiapkan bagi Tuhan suatu 

umat yang layak bagi-Nya. Ia akan mencondongkan 

pikiran orang untuk menerima ajaran Kristus sehingga 

mereka bisa dipersiapkan untuk menyambut kedatang-

an-Nya yang membawa penghiburan itu.  


Perhatikanlah:  

Pertama, semua orang yang ingin mengabdikan diri 

kepada Tuhan dan bersukacita di dalam Dia terlebih 

dahulu harus dipersiapkan supaya layak bagi Dia. Kita 

harus dipersiapkan melalui anugerah di dunia ini bagi 

kemuliaan di dunia lain, melalui kedahsyatan-kedah-

syatan Hukum Taurat bagi penghiburan-penghiburan 

Injil, melalui roh perbudakan bagi Roh yang mengang-

kat kita menjadi anak-anak Tuhan  .  

Kedua, tidak ada hal yang memiliki  pengaruh le-

bih langsung dalam menyiapkan hati orang bagi Kristus 

selain ajaran pertobatan, dan orang harus menerima 

dan tunduk pada ajaran ini. saat  dosa ditunjukkan 

sedemikian menyedihkan, Kristus akan menjadi teramat 

berharga.  

IV. Ketidakpercayaan Zakharia atas pemberitahuan malaikat, serta 

hukuman yang ditimpakan kepadanya akibat ketidakpercayaan-

nya itu. Ia mendengar semua yang disampaikan oleh malaikat itu, 

dan seharusnya ia menundukkan kepala dan menyembah Tuhan   

seraya berkata, “Jadilah pada hambamu ini menurut perkataanmu 

itu.” namun  Zakharia tidak berkata demikian.  

Inilah yang kita baca: 

1.  Bagaimana ia mengungkapkan ketidakpercayaannya itu (ay. 

18). Kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku 

tahu, bahwa hal ini akan terjadi?” Ini bukanlah permohonan 

yang rendah hati untuk menegaskan imannya, melainkan 

suatu keberatan yang disertai kekerasan hati terhadap apa 

yang dikatakan kepadanya sebagai suatu hal yang tidak 

masuk akal. Seolah-olah ia berkata, “Aku tidak akan pernah 

bisa memercayai hal ini.” Dia pasti memahami bahwa yang 

berbicara kepadanya yaitu  seorang malaikat; dan pesan yang 

disampaikan itu memiliki bukti kuat, dengan merujuk kepada 

nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Ada banyak contoh dalam 

Perjanjian Lama tentang orang-orang yang mendapatkan anak 

saat  mereka sudah lanjut usia, namun Zakharia ti


Related Posts:

  • lukas 1-12 1 Tafsiran Injil Lukas PASAL 1  1 I. Pendahuluan (1:1-4)                                          &nb… Read More