Tafsiran Injil Lukas
PASAL 1 1
I. Pendahuluan (1:1-4) 2
II. Penampakan Malaikat kepada Zakharia;
Pemberitahuan tentang Kelahiran Yohanes Pembaptis;
Ketidakpercayaan Zakharia (1:5-25) 7
III. Pemberitahuan tentang Kelahiran Kristus (1:26-38) 31
IV. Percakapan antara Maria dan Elisabet;
Nyanyian Pujian Maria (1:39-56) 41
V. Kelahiran Yohanes Pembaptis (1:57-66) 57
VI. Nyanyian Pujian Zakharia (1:67-80) 62
PASAL 2 75
I. Kelahiran Yesus (2:1-7) 76
II. Penampakan Malaikat kepada Para Gembala;
Kunjungan Para Gembala kepada Kristus (2:8-20) 81
III. Kristus Dipersembahkan di dalam Bait Tuhan (2:21-24) 90
IV. Kristus, Simeon, dan Hana di Bait Tuhan (2:25-40) 95
V. Yesus Duduk Bersama Para Alim Ulama (2:41-52) 110
PASAL 3 121
I. Pelayanan Yohanes Pembaptis (3:1-14) 122
II. Pemenjaraan Yohanes Pembaptis (3:15-20) 135
III. Silsilah Kristus (3:21-38) 141
PASAL 4 147
I. Pencobaan di Padang Gurun (4:1-13) 147
II. Kristus di Rumah Ibadat di Nazaret;
Kristus Dihalau dari Nazaret (4:14-30) 161
III. Yesus Mengusir Roh Jahat dan Kepergian-Nya dari
Kapernaum (4:31-44) 177
PASAL 5 187
I. Petrus, Yakobus, dan Yohanes Dipanggil
Mengikut Yesus (5:1-11) 187
II. Seorang yang Sakit Kusta Ditahirkan (5:12-16) 198
III. Orang Lumpuh Disembuhkan (5:17-26) 202
IV. Matius Dipanggil; Nasihat untuk Berjaga-jaga (5:27-39) 208
PASAL 6 213
I. Perbuatan Belas Kasih sesuai untuk Dilakukan
pada Hari Sabat (6:1-11) 213
II. Yesus Memilih Kedua Belas Rasul (6:12-19) 218
III. Ucapan Bahagia dan Peringatan (6:20-26) 221
IV. Nasihat tentang Keadilan dan Belas Kasihan (6:27-36) 227
V. Nasihat tentang Keadilan dan Ketulusan Hati (6:37-49) 233
PASAL 7 241
I. Yesus Menyembuhkan Hamba Seorang Perwira (7:1-10) 241
II. Janda dari Nain (7:11-18) 247
III. Pesan Yohanes kepada Yesus;
Pelayanan Yohanes dan Kristus (7:19-35) 252
IV. Kristus di Rumah Orang Farisi (7:36-50) 260
PASAL 8 271
I. Pelayanan Kristus (8:1-3) 272
II. Perumpamaan tentang Seorang Penabur (8:4-21) 275
III. Kuasa Kristus atas Angin dan Setan-setan (8:22-39) 282
IV. Sakit Pendarahan Disembuhkan; Anak wanita
Kepala Rumah Ibadat Dibangkitkan (8:40-56) 290
PASAL 9 297
I. Pengutusan Kedua Belas Murid (9:1-9) 298
II. Orang Banyak Diberi Makan secara Ajaib (9:10-17) 303
III. Pengakuan Petrus; Penyangkalan Diri Diperintahkan
(9:18-27) 307
IV. Yesus Dimuliakan (9:28-36) 313
V. Roh Jahat Diusir (9:37-42) 319
VI. Keinginan Berlebihan Murid-murid Mendapat Teguran
(9:43-50) 321
VII. Orang Samaria Menolak Kristus; Semangat Yakobus
dan Yohanes yang Salah (9:51-56) 326
VIII. Meninggalkan Semua demi Kristus (9:57-62) 334
PASAL 10 341
I. Pengutusan Ketujuh Puluh Murid (10:1-16) 341
II. Keberhasilan Ketujuh Puluh Murid (10:17-24) 353
III. Siapakah Sesama Kita (10:25-37) 362
IV. Marta dan Maria (10:38-42) 374
PASAL 11 385
I. Para Murid Diajar Berdoa (11:1-13) 385
II. Kristus Dituduh Bersekutu dengan Iblis;
Hal Berjaga-jaga Ditekankan Berulang-ulang
(11:14-26) 398
III. Pujian dan Berkat (11:27-28) 408
IV. Tanda Nabi Yunus (11:29-36) 410
V. Kutuk Diberikan kepada Angkatan Itu;
Ahli-ahli Taurat dan Orang-orang Farisi Ditegur
(11:37-54) 415
PASAL 12 429
I. Perintah Kristus kepada Murid-murid-Nya (12:1-12) 430
II. Pikiran Duniawi Dibeberkan (12:13-21) 439
III. Teguran atas Kekhawatiran yang Berlebihan
(12:22-40) 454
IV. Kewaspadaan dan Ketekunan Ditekankan
Berkali-kali (12:41-53) 465
V. Berdamai dengan Tuhan (12:54-59) 474
artikel yang sedang Anda pegang ini yaitu salah satu bagian dari
Tafsiran Alkitab dari Matthew Henry yang secara lengkap men-
cakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Untuk edisi bahasa
Indonesianya, tafsiran ini diterbitkan dalam bentuk kitab per
kitab. Injil Lukas merupakan kitab ketiga yang diterbitkan dalam
bahasa Indonesia. sebab cukup tebal maka penerbitan Injil Lukas
ini dibagi menjadi dua jilid: Injil Lukas 1-12 dan Injil Lukas 13-24.
Matthew Henry (1662-1714) yaitu seorang Inggris yang mulai
menulis Tafsiran Alkitab yang terkenal ini pada usia 21 tahun. Karya-
nya ini dianggap sebagai tafsiran Alkitab yang sarat makna dan sa-
ngat terkenal di dunia.
Kekuatan terutama terletak pada nasi-
hat praktis dan saran pastoralnya. Tafsirannya mengandung banyak
mutiara kebenaran yang segar dan sangat tepat. Walaupun ada
cukup banyak kecaman di dalamnya, ia sendiri sebenarnya tidak per-
nah berniat menuliskan tafsiran yang demikian, seperti yang ber-
ulang kali ditekankannya sendiri. Beberapa pakar theologi seperti
Whitefield dan Spurgeon selalu menggunakan tafsirannya ini dan me-
rekomendasikannya kepada orang-orang untuk mereka baca. White-
field membaca seluruh tafsirannya sampai empat kali; kali terakhir
sambil berlutut. Spurgeon berkata, “Setiap hamba Tuhan harus
membaca seluruh tafsiran ini dengan saksama, paling sedikit satu
kali.”
Sejak kecil Matthew sudah terbiasa menulis renungan atau ke-
simpulan Firman Tuhan di atas kertas kecil. Namun, baru pada ta-
hun 1704 ia mulai sungguh-sungguh menulis dengan maksud me-
nerbitkan tafsiran ini . Terutama menjelang akhir hidupnya, ia
mengabdikan diri untuk menyusun tafsiran itu.
artikel pertama tentang Kitab Kejadian diterbitkan pada tahun
1708 dan tafsiran tentang keempat Injil diterbitkan pada tahun 1710.
Sebelum meninggal, ia sempat menyelesaikan tafsiran Kisah Para Ra-
sul. Setelah kematiannya, Surat-surat dan Wahyu diselesaikan oleh
13 orang pendeta berdasarkan catatan-catatan Matthew Henry yang
telah disiapkannya sebelum meninggal. Edisi total seluruh kitab-
kitab diterbitkan pada tahun 1811.
berulang kali direvisi dan dicetak ulang.
artikel itu juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti
bahasa Belanda, Arab, Rusia, dan kini sedang diterjemahkan ke
dalam bahasa Telugu dan Ivrit, yaitu bahasa Ibrani modern.
Riwayat Hidup Matthew Henry
Matthew Henry lahir pada tahun 1662 di Inggris. saat itu gereja
Anglikan menjalin hubungan baik dengan gereja Roma Katolik. Yang
memerintah pada masa itu yaitu Raja Karel II, yang secara resmi
diangkat sebagai kepala gereja. Raja Karel II ingin memulihkan ke-
kuasaan gereja Anglikan sehingga orang Kristen Protestan lainnya sa-
ngat dianiaya. Mereka disebut dissenter, orang yang memisahkan diri
dari gereja resmi.
Puncak penganiayaan itu terjadi saat pada 24 Agustus 1662
lebih dari dua ribu pendeta gereja Presbiterian dilarang berkhotbah
lagi. Mereka dipecat dan jabatan mereka dianggap tidak sah.
Pada masa yang sulit itu lahirlah Matthew Henry. Ayahnya,
Philip Henry, yaitu seorang pendeta dari golongan Puritan, sedang-
kan ibunya, Katherine Matthewes, seorang keturunan bangsawan.
sebab Katherine berasal dari keluarga kaya, sepanjang hidupnya
Philip Henry tak perlu memikirkan uang atau bersusah payah men-
cari nafkah bagi keluarganya, sehingga ia dapat dengan sepenuh hati
mengabdikan diri untuk pelayanannya sebagai hamba Tuhan.
Matthew yaitu anak kedua. Kakaknya, John, meninggal pada usia 6
tahun sebab penyakit campak. saat masih balita, Matthew sendiri
juga terserang penyakit itu dan nyaris direnggut maut.
Dari kecilnya Matthew sudah tampak memiliki bermacam-ma-
cam bakat, sangat cerdas, dan pintar. namun yang lebih penting lagi,
sejak kecil ia sudah mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan
mengakui-Nya sebagai Juruselamatnya. Usianya baru tiga tahun
saat ia sudah mampu membaca satu pasal dari Alkitab lalu mem-
berikan keterangan dan pesan tentang apa yang dibacanya.
Dengan demikian Matthew sudah menyiapkan diri untuk tugas-
nya di lalu hari, yaitu tugas pelayanan sebagai pendeta.
Sejak masa kecilnya Matthew sudah diajarkan bahasa Ibrani,
Yunani, dan Latin oleh ayahnya, sehingga walaupun masih sangat
muda, ia sudah pandai membaca Alkitab dalam bahasa aslinya.
Pada tahun 1685, saat berusia 23 tahun, Matthew pindah ke
London, ibu kota Inggris, untuk belajar hukum di Universitas Lon-
don. Matthew tidak berniat untuk menjadi ahli hukum, ia hanya me-
nuruti saran ayahnya dan orang lain yang berpendapat bahwa studi
itu akan memberikan manfaat besar baginya sebab keadaan di Ing-
gris pada masa itu tidak menentu bagi orang Kristen, khususnya
kaum Puritan.
Beberapa tahun lalu Matthew kembali ke kampung hala-
mannya. Dalam hatinya ia merasa terpanggil menjadi pendeta. Kemu-
dian, ia diperbolehkan berkhotbah kepada beberapa jemaat di sekitar
Broad Oak. Ia menyampaikan Firman Tuhan dengan penuh kuasa.
Tidak lama setelah itu, ia dipanggil oleh dua jemaat, satu di London
dan satu lagi jemaat kecil di wilayah pedalaman, yaitu Chester. Sete-
lah berdoa dengan tekun dan meminta petunjuk Tuhan, ia akhirnya
memilih jemaat Chester, dan pada tanggal 9 Mei 1687 ia diteguhkan
sebagai pendeta di jemaat ini . Waktu itu Matthew berusia 25 ta-
hun.
Di Chester, Matthew Henry bertemu dengan Katharine Hard-
ware. Mereka menikah pada tanggal 19 Juli 1687. Pernikahan itu sa-
ngat harmonis dan baik sebab didasarkan atas cinta dan iman ke-
pada Tuhan. Namun pernikahan itu hanya berlangsung selama satu
setengah tahun. Katharine yang sedang hamil terkena penyakit cacar.
Segera setelah melahirkan seorang anak wanita , ia meninggal
pada usia 25 tahun. Matthew sangat terpukul oleh dukacita ini. Anak
Matthew dan Katherine dibaptis oleh kakeknya, yaitu Pendeta Philip,
ayah Matthew.
Tuhan menguatkan Matthew dalam dukacita yang melandanya.
Setelah satu tahun lebih telah berlalu, mertuanya menganjurkannya
untuk menikah lagi. Pada Juli 1690, Matthew menikah dengan Mary
Warburton. Tahun berikutnya, mereka diberkati dengan seorang bayi,
yang diberi nama Elisabeth. Namun, saat baru berumur satu se-
tengah tahun, ia meninggal sebab demam tinggi dan penyakit batuk
rejan. Setahun lalu mereka mendapat seorang anak wanita
lagi. Dan bayi ini pun meninggal, tiga minggu lalu . Betapa
berat dan pedih penderitaan orangtuanya. Sesudah peristiwa ini,
Matthew memeriksa diri dengan sangat teliti apakah ada dosa dalam
hidup atau hatinya yang menyebabkan kematian anak-anaknya. Ia
mengakhiri catatannya sebagai berikut, “Ingatlah bahwa anak-anak
itu diambil dari dunia yang jahat dan dibawa ke sorga. Mereka tidak
lahir percuma dan sekarang mereka telah boleh menghuni kota Yeru-
salem yang di sorga.”
Beberapa waktu lalu mereka mendapat seorang anak pe-
rempuan yang bertahan hidup. Demikianlah suka dan duka silih ber-
ganti dalam kehidupan Matthew Henry. Secara keseluruhan, Matthew
Henry mendapat 10 anak, termasuk seorang putri dari pernikahan
pertama.
Selama 25 tahun Matthew Henry melayani jemaatnya di Chester.
Ia sering mendapat panggilan dari jemaat-jemaat di London untuk
melayani di sana, namun berulang kali ia menolak panggilan ini
sebab merasa terlalu terikat kepada jemaat di Chester. Namun
akhirnya, ia yakin bahwa Tuhan sendiri telah memanggilnya untuk
menjadi hamba Tuhan di London, dan sebab itu ia menyerah kepada
kehendak Tuhan .
Pada akhir hidupnya, Matthew Henry terkena penyakit diabetes,
sehingga sering merasa letih dan lemah. Sejak masa muda, ia bekerja
dari pagi buta sampai larut malam, namun menjelang akhir hayatnya
ia tidak mampu lagi. Ia sering mengeluh sebab kesehatannya yang
semakin menurun.
Pada bulan Juni 1714 ia berkhotbah satu kali lagi di Chester,
tempat pelayanannya yang dulu. Ia berkhotbah tentang Ibrani 4:9
“Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat
Tuhan .” Ia seolah-olah menyadari bahwa hari Minggu itu merupakan
hari Minggu terakhir baginya di dunia ini. Secara khusus ia mene-
kankan hal perhentian di sorga supaya anak-anak Tuhan dapat me-
nikmati kebersamaan dengan Tuhan.
Sekembalinya ke London, ia merasa kurang sehat. Malam itu ia
sulit tidur dan menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Ia dipenuhi
rasa damai dan menulis pesan terakhirnya: “Kehidupan orang yang
mengabdikan diri bagi pelayanan Tuhan merupakan hidup yang pa-
ling menyenangkan dan penuh penghiburan.” Ia mengembuskan
nafas terakhir pada tanggal 22 Juni 1714, dan dimakamkan tiga hari
lalu di Chester. Nas dalam kebaktian pemakamannya diambil
dari Matius 25:21, “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali
perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah
setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung
jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam keba-
hagiaan tuanmu.”
Kita sekarang sedang memasuki karya seorang pemberita Injil lain
bernama Lukas, yang menurut beberapa orang merupakan singkatan
nama Lucilius. Menurut penuturan Bapa Gereja Jerome, Lukas lahir
di Antiokhia. Sebagian orang menduga dia satu-satunya penulis Ki-
tab Suci yang bukan berasal dari benih keturunan Israel. Ia merupa-
kan seorang pemeluk baru agama Yahudi, dan lalu , seperti du-
gaan beberapa orang, beralih kepada Kekristenan melalui pelayanan
Rasul Paulus di Antiokhia, dan setelah kedatangannya di Makedonia
(Kis. 16:10), ia menjadi kawan pendamping tetap Paulus. Ia belajar
dan mempraktikkan ilmu kedokteran; oleh sebab itu, Paulus menye-
butnya Tabib Lukas yang kekasih (Kol. 4:14). Beberapa orang yang
mengaku-ngaku diri sebagai sejarawan kuno mengatakan bahwa dia
seorang pelukis dan yang melukis gambar Perawan Maria. namun me-
nurut gerejawan Dr. Whitby, hal ini tidaklah pasti, dan sebab itu,
dia mungkin salah satu dari ketujuh puluh murid dan menjadi se-
orang pengikut Kristus saat Ia masih melayani di atas muka bumi
ini. Bila memang demikian halnya, maka dia seorang keturunan
Israel asli. Saya tidak berkeberatan dengan pendapat ini, kecuali de-
ngan beberapa tradisi kuno yang tidak memiliki kepastian dan tentu-
nya tidak dapat dipakai sebagai dasar apa pun. Selain itu, Origen
dan Epiphanius, penulis-penulis Kristen kuno, juga memberi kesak-
sian bahwa Lukas yaitu salah satu dari ketujuh puluh murid itu.
Lukas dianggap telah menulis Kitab Injil ini saat menemani Paulus
dalam berbagai perjalanannya, dan di bawah arahannya. Beberapa
orang berpikir bahwa dialah yang dimaksud oleh Paulus sebagai sau-
dara kita 2Kor. 8:18), yang terpuji di semua jemaat sebab pekerjaan-
nya dalam pemberitaan Injil; yang seakan berarti, ia dipuji di semua
jemaat sebab menulis Injil ini; dan inilah yang dimaksudkan Rasul
Paulus saat ia sekali waktu berbicara tentang Injil-nya (Rm. 2:16).
Namun, tidak ada dasar sama sekali untuk membenarkan hal ini. Dr.
Cave memperhatikan bahwa cara dan gaya menulisnya sangat akurat
dan tepat; gayanya sopan dan anggun, luhur dan mulia, namun jelas;
dan ia mengekspresikan dirinya dalam aliran yang lebih murni Yu-
nani daripada yang bisa ditemukan pada para penulis Kitab Suci
lainnya. Oleh sebab itu, ia mampu menghubungkan berbagai hal
jauh lebih banyak dan mendalam dibandingkan dengan para penulis
Injil lainnya; dan sebab itu juga, ia mengkhususkan diri untuk
membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan imamat
Kristus. Tidaklah pasti bilamana atau pada waktu apa Injil ini ditulis.
Beberapa orang menduga bahwa Injil ini ditulis di Akhaya, tujuh be-
las tahun (dua puluh dua tahun, menurut sebagian orang) setelah
kenaikan Tuhan Yesus ke surga, semasa ia menemani Rasul Paulus
dalam perjalanannya. Ada juga yang mengatakan bahwa Injil ini di-
tulis di kota Roma, tidak lama sebelum ia menulis Kisah Para Rasul
(yang merupakan lanjutan kitab ini), saat ia berada di sana ber-
sama Paulus yang saat itu menjadi orang tahanan dan berkhotbah di
dalam rumah yang disewanya sendiri. Ini seperti yang diriwayatkan
dalam bagian akhir Kitab Kisah Para Rasul; dan Paulus lalu
mengatakan bahwa hanya Lukas yang tinggal dengan aku (2Tim.
4:11). saat ia secara sukarela menemani Paulus dalam rumah ta-
hanan ini , ia punya banyak waktu untuk menyusun dua riwa-
yat ini (dan banyak tulisan istimewa lainnya yang membuat jemaat
merasa berutang atas peristiwa pemenjaraan ini). Bila memang demi-
kian halnya, maka kitab ini ditulis sekitar dua puluh tujuh tahun se-
telah kenaikan Kristus, dan sekitar tahun keempat pemerintahan
Kaisar Nero. Jerome mengatakan bahwa Lukas meninggal dunia pada
usia delapan puluh empat tahun, dan tidak pernah menikah. Bebe-
rapa orang menulis bahwa ia mati sebagai martir; namun bila me-
mang demikian halnya, tidak ada kejelasan di mana dan bilamana
hal itu terjadi. Sungguh, penghargaan yang diberikan kepada tradisi
Kristiani dalam hal memperlakukan para penulis Perjanjian Baru ti-
dak lebih besar daripada penghargaan yang diberikan kepada tradisi
Yahudi dalam memperlakukan para penulis Perjanjian Lama.
PASAL 1
isah tentang kehidupan Tuhan Yesus Kristus yang disajikan oleh
penulis Injil ini kepada kita (atau tepatnya oleh Tuhan melalui dia)
dimulai pada masa yang jauh lebih awal dibandingkan dengan yang
disajikan oleh Matius atau Markus. Kita memang harus bersyukur
kepada Tuhan atas pelayanan semua penulis Injil ini, sama seperti kita
juga harus bersyukur atas segala karunia dan anugerah yang kita
terima melalui para pelayan Kristus lainnya. Pelayanan mereka se-
mua saling melengkapi dan selaras satu sama lain. Di dalam pasal ini
kita temukan:
I. Pendahuluan Lukas tentang kitab Injilnya, atau suratnya
yang ditujukan kepada sahabatnya Teofilus (ay. 1-4).
II. Nubuat dan riwayat mengenai bagaimana Yohanes Pembap-
tis, yang menjadi pendahulu Kristus itu, dikandung oleh
Roh Kudus (ay. 5-25).
III. Pernyataan kepada perawan Maria, atau penyampaian
kabar kepadanya bahwa ia akan menjadi ibu Sang Mesias
(ay. 26-38).
IV. Percakapan antara Maria ibu Yesus dan Elisabet ibu Yoha-
nes, saat keduanya masih mengandung anak-anak yang
akan mereka lahirkan, serta nubuat-nubuat yang mereka
ucapkan tentang kejadian ini (ay. 39-56).
V. Kelahiran dan penyunatan Yohanes Pembaptis, enam bulan
sebelum kelahiran Yesus (ay. 57-66).
VI. Nyanyian pujian Zakharia, penuh rasa terima kasih atas
kelahiran Yohanes, dan tentang kelahiran Yesus yang
dinantikan (ay. 67-79).
VII. Catatan singkat tentang masa kecil Yohanes Pembaptis (ay.
80). Semua ini bukan hanya memberikan sebuah cerita
yang menarik dan menyenangkan, namun juga membawa
kita pada pemahaman akan misteri keilahian, yakni Tuhan
menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia.
Pendahuluan
(1:1-4)
1 Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita
tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, 2 seperti yang
disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula yaitu saksi mata
dan pelayan Firman. 3 sebab itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa
itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk
memartikel kannya dengan teratur bagimu, 4 supaya engkau dapat mengeta-
hui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.
Kata-kata pembuka dan persembahan yang penuh dengan pujian,
bahasa yang menyanjung-nyanjung yang memuaskan keangkuhan
memang sepantasnya ditolak oleh orang-orang bijak dan berbudi.
Namun, ini bukan berarti bahwa semua kata-kata yang berguna dan
mendidik lantas ditolak begitu saja. Demikian halnya dengan kata-
kata pendahuluan yang dipakai Lukas untuk mempersembahkan
Injilnya ini kepada sahabatnya, Teofilus. Persembahan itu tidak
dimaksudkan untuk menyapa Teofilus sebagai seorang pengayom,
meskipun ia seorang terhormat, supaya Injil dapat dilindunginya,
melainkan sebagai seorang murid, agar ia dapat mempelajari dan
memegang erat-erat Injil itu. Tidak ada kepastian siapa sebenarnya
Teofilus ini. Nama ini berarti Sahabat Tuhan . Beberapa orang
menduga nama ini tidak terkait dengan orang tertentu, namun
siapa saja yang mengasihi Tuhan . Dr. Hammond (seorang gerejawan
Inggris abad ke-17) mengutip beberapa penulis kuno yang mema-
haminya demikian: kata ini mengajarkan kepada kita bahwa orang
yang benar-benar mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati akan me-
nyambut Injil Kristus, yang rancangan dan tujuannya yaitu untuk
membawa kita kepada Tuhan . Namun, nama ini lebih baik dipa-
hami sebagai seorang pribadi tertentu, mungkin seorang hakim,
sebab Lukas memberikan gelar kehormatan yang sama seperti yang
diberikan Rasul Paulus kepada Festus, sang gubernur, yaitu kratiste
(Kis. 26:25), yang diterjemahkan sebagai Festus yang mulia, dan di
dalam Injil ini Teofilus yang mulia. Perhatikan, agama tidak meng-
hancurkan tata krama dan sopan santun, namun mengajarkan kepada
kita untuk memberi hormat kepada orang yang berhak menerima
hormat, sesuai dengan cara kebiasaan negeri kita.
Sekarang perhatikanlah:
I. Mengapa Lukas menulis Injil ini. Pasti sebab ia digerakkan oleh
Roh Kudus, bukan hanya untuk menulisnya saja, namun juga se-
waktu ia menulisnya. Walaupun demikian, di dalam kedua hal ini,
ia digerakkan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan ber-
nalar, dan bukan sekadar sebagai mesin belaka. Selama menulis,
ia dipimpin untuk mempertimbangkan hal-hal seperti berikut:
1. Bahwa hal-hal yang ia tuliskan merupakan suatu berita ten-
tang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita (Da-
lam KJV: hal-hal yang dipercayai dengan paling sungguh-sung-
guh di antara kita), dan sebab itu merupakan hal-hal yang
harus diajarkan sehingga mereka tahu apa yang mereka
percayai dan apa yang harus disampaikan kepada anak-cucu
(yang juga sama-sama berkepentingan di dalam hal-hal terse-
but seperti kita). Untuk itu, ia mengambil keputusan untuk
memartikel kannya, sebuah cara yang paling aman dan pasti
untuk menyampaikan kepada umat manusia di abad-abad
yang akan datang. Ia tidak akan menulis tentang hal-hal yang
meragukan yang menjadi bahan perdebatan, yakni hal-hal
yang mengenainya orang-orang Kristen boleh saja memiliki
pandangan yang berbeda-beda satu sama lain dan memiliki
keraguan tentangnya di antara mereka. Sebaliknya ia menulis
mengenai hal-hal yang memang benar, dan sudah selayaknya
dipercayai dengan paling sungguh-sungguh, pragmata
peplērophorēmena – hal-hal yang telah atau dilakukan (menu-
rut beberapa orang), yang telah dilakukan Kristus dan rasul-
rasul-Nya, yang sungguh-sungguh terbukti telah dilakukan
mereka, sehingga hal-hal itu sungguh-sungguh dipercaya de-
ngan kukuh sampai selamanya. Perhatikan, meskipun bukan
menjadi fondasi bagi iman kita, namun hal ini menjadi pendu-
kung iman kita, yaitu bahwa butir-butir pernyataan pengaku-
an iman kita terdiri dari peristiwa-peristiwa yang telah sejak
lama dipercayai dengan paling sungguh-sungguh. Ajaran
Kristuslah tempat ribuan orang bijak dan terbaik telah mem-
pertaruhkan nyawa mereka dengan penuh keyakinan dan ke-
puasan hati.
2. Bahwa harus disusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa
ini , bahwa sejarah kehidupan Kristus harus ditata de-
ngan teliti dan dituliskan menjadi artikel supaya penyampaian-
nya dapat dilakukan dengan kepastian yang tinggi. Bila hal-
hal disusun dengan teratur, maka semakin mudah pula kita
untuk mengetahui di mana kita bisa menemukan hal-hal itu
untuk kegunaan kita sendiri, dan bagaimana menyimpannya
untuk manfaat orang lain.
3. Bahwa ada banyak orang telah berusaha menyusun cerita-
cerita tentang kehidupan Kristus, banyak orang yang bermak-
sud baik, yang merancang dengan baik, dan melakukannya de-
ngan baik. Apa yang mereka susun telah membawa kebaikan,
meskipun dikerjakan tanpa pengilhaman ilahi, atau dikerjakan
tidak sebaik yang seharusnya, atau tidak dimaksudkan untuk
dipakai terus menerus.
Perhatikan:
(1) Karya orang lain di dalam Injil Kristus, bila dilakukan de-
ngan setia dan jujur, harus kita hargai dan dukung, dan
bukan kita rendahkan, meskipun mungkin ada banyak ke-
kurangannya.
(2) Pelayanan orang lain kepada Kristus tidak boleh dianggap
menggeser pelayanan kita, namun sebaliknya harus dipan-
dang sebagai memperlancar pekerjaan pelayanan kita.
4. Bahwa kebenaran dari hal-hal yang harus ditulis Lukas telah
diteguhkan oleh kesaksian yang sama dari orang-orang meru-
pakan saksi-saksi mata yang berkompeten dan tidak diragu-
kan atas berbagai peristiwa itu sendiri. Apa yang telah disu-
sunnya secara tertulis dan apa yang sekarang akan disebar-
kannya, telah sesuai dengan apa yang biasanya disampaikan
berulang-ulang secara lisan oleh mereka, yang dari semula
yaitu saksi mata dan pelayan Firman (ay. 2).
Perhatikan:
(1) Para rasul yaitu pelayan firman Kristus, yang yaitu Fir-
man itu sendiri (demikianlah sebagian orang memahami-
nya), atau pelayan dari ajaran Kristus. Mereka sendiri telah
menerima Firman itu, dan meneruskannya kepada orang
lain (1Yoh. 1:1). Mereka tidak menggunakan Injil ini
untuk menjadi penguasa, namun menyampaikannya sebagai
seorang pelayan.
(2) Pelayan Firman itu yaitu saksi mata dari hal-hal yang me-
reka sampaikan, termasuk juga sebagai saksi telinga. Mere-
ka benar-benar mendengar sendiri pengajaran Kristus itu,
dan melihat mujizat-mujizat-Nya, dan bukan mengetahui-
nya melalui cerita orang atau dari tangan kedua. Oleh
sebab itu mereka dapat berkata-kata dengan keyakinan
tertinggi tentang apa yang telah mereka lihat dan yang
telah mereka dengar (Kis. 4:20).
(3) Mereka dari semula sudah terlibat di dalam pelayanan
Kristus (ay. 2). Para murid-Nya sudah bersama-sama de-
ngan Dia saat Dia melakukan mujizat-Nya yang pertama
(Yoh. 2:1). Mereka senantiasa datang berkumpul dengan
Dia selama Dia bersama-sama dengan mereka (Kis. 1:21),
sehingga mereka bukan hanya mendengar dan melihat apa
yang cukup untuk menguatkan iman mereka, namun juga,
seandainya terjadi sesuatu yang mengguncang iman me-
reka, mereka bisa tahu apa yang menyebabkan guncangan
itu.
(4) Injil tertulis, yang kita miliki sampai hari ini, sepenuhnya
sama dengan Injil yang dikhotbahkan pada hari-hari per-
tama berdirinya jemaat.
(5) Bahwa Lukas sendiri memiliki pemahaman yang sempurna
tentang segala peristiwa yang ia tulis, dari asal mulanya
(ay. 3, KJV). Sebagian orang menganggap bahwa dalam ayat
ini ada suatu celaan tersembunyi terhadap para penulis
yang telah menulis sebelum dirinya, bahwa mereka tidak
memiliki pemahaman sempurna tentang apa yang mereka
tulis, dan sebab itu ia berkata, “Inilah aku, utuslah aku
(facit indignatio versum – amarahku menggerakkan pena-
ku)”; atau lebih baik, tanpa maksud menyindir mereka, ia
menyatakan kemampuannya sendiri untuk melakukan
tugas ini, “Saya menganggap baik, setelah mencapai penge-
tahuan yang pasti tentang segala sesuatu, anōthen – dari
atas.” Menurut saya kata dari asal mulanya perlu diubah
dengan dari atas, sebab bila yang dia maksudkan yaitu
dari asal mulanya (ay. 2), seperti dalam terjemahan kita,
seharusnya ia menggunakan kata yang sama dalam teks
asli.
[1] Ia telah menyelidiki segala peristiwa itu dengan sak-
sama, telah mengikutinya, seperti para nabi Perjanjian
Lama yang dikatakan telah menyelidiki dan meneliti
(1Ptr. 1:10). Ia tidak begitu saja mau menerima hal-hal
ini dengan mudah dan dangkal seperti yang dila-
kukan oleh orang-orang lain yang telah menulis sebe-
lum dia. Sebaliknya, ia berusaha mendapat informasi
secara terperinci.
[2] Ia memperoleh pemahamannya, bukan hanya melalui
tradisi seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain,
namun juga melalui penyataan, yang menegaskan kebe-
naran tradisi ini dan menjauhkannya dari keke-
liruan atau kesalahan dalam melakukan pencatatan. Ia
mencari pengetahuan ini dari atas (sesuai arti
kata aslinya), dan lalu ia mendapatkannya, sama
seperti Elihu yang meraih pengetahuannya dari jauh. Ia
menulis riwayatnya seperti Musa menuliskan riwayat-
nya, tentang peristiwa-peristiwa yang dituturkan oleh
tradisi, dan lalu disahkan melalui pengilhaman.
[3] Oleh sebab itu, ia bisa berkata bahwa ia telah memiliki
pengetahuan yang sempurna (KJV) tentang hal-hal itu. Ia
mengetahuinya, akribōs – dengan cermat, dengan tepat.
“Sekarang setelah menerima pengetahuan ini dari atas,
saya menganggap baik untuk memartikel kannya;”
sebab talenta seperti ini tentunya tidak boleh dikubur
di dalam tanah.
II. Amatilah mengapa ia mengirimkan tulisan ini kepada Teofilus:
“Aku memartikel kannya dengan teratur bagimu, bukan supaya
engkau mengagumi karya ini, namun supaya engkau dapat diajar
olehnya; supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu
yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (ay. 4).
1. Di sini dinyatakan secara tidak langsung bahwa Teofilus telah
diajarkan tentang hal-hal ini sebelum atau sejak ia dibaptis,
atau kedua-duanya, sesuai dengan peraturan masa itu (Mat.
28:19, 20). Mungkin Lukas telah membaptisnya dan tahu
betapa baik ia telah diajar; peri hōn katēchēthes – berkenaan
dengan hal-hal yang telah diajarkan kepadamu melalui kate-
kisasi, begitulah kata aslinya. Orang-orang Kristen yang sa-
ngat berpengetahuan selalu mulai dengan menerima kateki-
sasi. Teofilus yaitu seorang yang terpandang, mungkin ia
seorang keturunan bangsawan. Banyak usaha keras harus
dihabiskan untuk orang-orang demikian saat mereka masih
muda, untuk mengajarkan kepada mereka prinsip-prinsip fir-
man Tuhan , sehingga mereka akan kuat menghadapi pencoba-
an dan dipersiapkan untuk menduduki posisi yang mulia di
dunia.
2. Tulisan ini dimaksudkan agar Teofilus mengetahui, bahwa se-
gala sesuatu yang diajarkan kepadanya sungguh benar, agar ia
bisa memahami dengan lebih jelas dan percaya dengan lebih
teguh. Ada kepastian di dalam Injil Kristus dan di atas kepasti-
an dan kebenaran itulah kita membangun. Kita yang saat
masih muda telah diajarkan dengan benar akan perkara-per-
kara Tuhan , sesudahnya harus menyelidiki dengan saksama
untuk mengetahui kebenaran dan kepastian mengenai hal-hal
yang telah diajarkan kepada kita, agar kita bisa memahami
bukan saja apa yang kita percayai, namun juga mengapa kita
mempercayai semuanya itu, sehingga kita mampu memberi-
kan alasan tentang pengharapan yang ada di dalam diri kita.
Penampakan Malaikat kepada Zakharia;
Pemberitahuan tentang Kelahiran Yohanes Pembaptis;
Ketidakpercayaan Zakharia
(1:5-25)
5 Pada zaman Herodes, raja Yudea, yaitu seorang imam yang bernama
Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun,
namanya Elisabet. 6 Keduanya yaitu benar di hadapan Tuhan dan hidup me-
nurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. 7 namun
mereka tidak memiliki anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah
lanjut umurnya. 8 Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya,
Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. 9 Sebab saat
diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dia-
lah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan
di situ. 10 Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang.
Waktu itu yaitu waktu pembakaran ukupan. 11 Maka tampaklah kepada
Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pemba-
karan ukupan. 12 Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. 13 namun ma-1
laikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu
telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-
laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. 14 Engkau akan ber-
sukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kela-
hirannya itu.15 Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan
minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus
mulai dari rahim ibunya; 16 ia akan membuat banyak orang Israel berbalik
kepada Tuhan, Tuhan mereka, 17 dan ia akan berjalan mendahului Tuhan
dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada
anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang
benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak
bagi-Nya.” 18 Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: “Bagaimanakah aku
tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah
lanjut umurnya.” 19 Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang
melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan
untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. 20 Sesungguhnya engkau
akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di
mana semuanya ini terjadi, sebab engkau tidak percaya akan perkataanku
yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.” 21 Sementara itu orang
banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu
lama berada dalam Bait Suci. 22 saat ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata
kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu peng-
lihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia
tetap bisu. 23 saat selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke
rumah. 24 Beberapa lama lalu Elisabet, isterinya, mengandung dan se-
lama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: 25 “Inilah suatu per-
buatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di
depan orang.”
Kedua penulis Injil sebelumnya sepakat untuk memulai Injil dengan
mengisahkan baptisan Yohanes dan pelayanannya, yang dimulai
sekitar enam bulan sebelum pelayanan Juruselamat kita di hadapan
umum (kini, saat segala sesuatu semakin mendekati waktunya,
enam bulan terasa berarti, padahal sebelumnya dianggap singkat
saja). Oleh sebab itu, penulis Injil Lukas ingin membuat catatan yang
lebih rinci lagi mengenai kisah dikandungnya dan kelahiran Juru-
selamat kita, termasuk catatan lengkap tentang Yohanes Pembaptis
yang merupakan pembuka jalan dan pendahulu-Nya, bintang timur
sebelum terbitnya Surya Kebenaran. Penulis Injil ini berbuat demi-
kian, bukan hanya sebab biasanya orang akan merasa puas dan se-
nang bila mengetahui asal usul dan kehidupan awal orang-orang
yang di lalu hari muncul sebagai orang besar, namun juga
sebab pada permulaan semua peristiwa ini, ada begitu banyak hal-
hal yang ajaib dan menjadi pertanda bagi apa yang di lalu hari
terbukti benar. Di dalam ayat-ayat ini, sejarawan kita yang diilhami
ini memulai penulisannya dari awal dikandungnya Yohanes Pembap-
tis.
Sekarang perhatikanlah hal-hal berikut ini:
I. Catatan yang dibuat tentang orangtua Yohanes Pembaptis (ay. 5):
Mereka hidup pada zaman raja Herodes, seorang asing bukan-
Yahudi, yang yaitu wakil Kaisar Romawi, yang baru saja men-
jadikan Yudea sebagai sebuah provinsi wilayah kekaisaran Roma-
wi. Hal ini dicatat untuk menunjukkan bahwa tongkat kerajaan
telah sepenuhnya beranjak dari Yehuda, dan sebab itu, sekarang
tibalah saatnya bagi Silo untuk datang, sesuai dengan nubuat
Yakub (Kej. 49:10). Keturunan Daud sudah tenggelam, namun
sekarang sudah tiba saatnya untuk bangkit dan mekar kembali,
melalui Sang Mesias. Perhatikanlah, janganlah seorang pun dari
kita sampai berputus asa mengenai kebangunan dan pemekaran
agama, sekalipun pada saat kebebasan hak-hak sipil kita hilang.
Israel diperbudak, namun lalu tibalah masa kemuliaan Israel.
Ayah Yohanes Pembaptis yaitu seorang imam, seorang ketu-
runan Harun. Namanya Zakharia. Tidak ada keluarga di dunia ini
yang begitu dimuliakan oleh Tuhan seperti keluarga Harun dan
Daud. Yang satu memiliki kovenan imamat, sementara yang lain
kovenan kerajaan. Keduanya telah kehilangan kemuliaan mereka,
namun Injil mengembalikan kemuliaan mereka di lalu hari.
Kemuliaan Harun dikembalikan melalui Yohanes Pembaptis, dan
kemuliaan Daud di dalam diri Kristus. lalu , kedua tokoh
ini, Harun dan Daud, meredup dan akhirnya hilang. Kristus ber-
asal dari keluarga Daud, sedangkan pendahulu-Nya (yaitu Yoha-
nes Pembaptis) dari keluarga Harun, sebab tugas imamat dan
pengaruh sang pendahulu ini membuka jalan bagi kuasa dan
kemuliaan kerajaan-Nya. Zakharia termasuk di dalam rombongan
Abia. Pada zaman Daud, keluarga Harun bertambah banyak jum-
lahnya, sebab itu Daud membagi mereka menjadi dua puluh em-
pat rombongan, dengan tujuan mengatur pelaksanaan tugas-
tugas mereka, agar tugas-tugas ini tidak diabaikan sebab
kurangnya orang yang melaksanakan atau dimonopoli hanya oleh
beberapa orang tertentu. Rombongan kedelapan yaitu rombong-
an Abia (1Taw. 24:10), yang yaitu keturunan Eleazar, anak
sulung Harun. Namun, Dr. Lightfoot, seorang gerejawan Inggris
abad ke-17, menduga bahwa banyak dari keluarga imam ini me-
ninggal selama masa pembuangan, jadi saat mereka kembali,
mereka mengambil orang-orang dari kalangan keluarga lain dan
tetap menyandang nama kepala rombongan masing-masing. Istri
Zakharia juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet,
nama yang sama dengan Eliseba, istri Harun (Kel. 6:22). Para
imam ini (menurut Josephus, seorang sejarawan) sangat berhati-
hati dalam hal pernikahan. Mereka hanya menikah dengan orang
di dalam lingkungan keluarga mereka sendiri, sehingga mereka
bisa tetap memelihara martabat jabatan imamat dan menjaganya
tidak ternoda pernikahan campur.
Sekarang, yang kita amati mengenai Zakharia dan Elisabet
yaitu :
1. Bahwa mereka yaitu pasangan yang sangat saleh (ay. 6):
Keduanya yaitu benar di hadapan Tuhan . Memang demikian-
lah keadaan mereka menurut Tuhan yang penghakiman-Nya,
kita percaya, berlangsung secara jujur. Mereka memang tulus
dan benar. Mereka memang benar di hadapan Tuhan , sama
seperti Nuh di antara orang-orang pada zamannya (Kej. 7:1).
Mereka menyenangkan hati-Nya, dan dengan senang hati Ia
menerima mereka. Alangkah bahagianya bila mereka yang
saling mengikat diri dalam pernikahan, keduanya juga meng-
ikat diri kepada Tuhan. Hal ini khususnya merupakan persya-
ratan bagi para imam, yaitu para pelayan Tuhan, supaya
mereka bersama pasangan satu kuk mereka hidup benar di
hadapan Tuhan , sehingga mereka bisa menjadi teladan bagi
jemaat, dan menyukakan hati mereka. Mereka hidup menurut
segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.
(1) Keadaan mereka yang benar di hadapan Tuhan dibuktikan
melalui rangkaian dan arah perilaku mereka. Mereka me-
nunjukkannya bukan dengan kata-kata, namun dengan per-
buatan, dengan cara hidup yang mereka jalani dan dengan
hukum yang mereka patuhi.
(2) Mereka memiliki kualitas hati dan hidup yang sama, ka-
rena ibadah mereka sejalan dengan perilaku mereka. Me-
reka tidak hanya hidup sesuai dengan perintah Tuhan yang
berhubungan dengan peraturan-peraturan ibadah saja,
namun juga sesuai dengan ketetapan Tuhan yang berhu-
bungan dengan segenap perilaku dan harus ditaati.
(3) Kepatuhan mereka bersifat menyeluruh. Bukan berarti me-
reka tidak pernah gagal dalam melaksanakan tugas-tugas
mereka, namun mereka tetap berusaha sebaik mungkin.
(4) Dalam hal ini, meskipun mereka bukan tanpa dosa, namun
mereka tidak bercacat. Tidak seorang pun bisa menuduh
mereka dengan dosa memalukan yang diketahui umum.
Mereka hidup dengan jujur dan damai, yaitu cara hidup
yang sudah seharusnya dijalani para pelayan Tuhan dan
keluarga mereka, supaya pelayanan mereka tidak dihina
sebab kesalahan mereka.
2. Sudah lama mereka tidak memiliki anak (ay. 7). Sesungguh-
nya, anak-anak lelaki yaitu milik pusaka dari pada TUHAN,
namun banyak di antara anak-anak Tuhan, yang yaitu ahli
waris-Nya, yang sudah menikah, namun tidak mendapatkan
milik pusaka atau warisan ini. Anak-anak yaitu berkat tak
ternilai yang selalu dirindukan, namun banyak orang yang
hidup benar di hadapan Tuhan tidak memperoleh berkat ini,
walaupun seandainya mereka memiliki anak-anak, mereka
akan membimbing anak-anak ini menjadi orang-orang yang
takut akan Tuhan. Sebaliknya, orang-orang dari dunia ini
memiliki banyak anak (Mzm. 17:4), dan kanak-kanak me-
reka dibiarkan keluar seperti kambing domba (Ayb. 21:11).
Demikianlah, Elisabet mandul, dan mereka mulai berputus asa
dalam harapan mereka untuk memiliki anak, sebab
keduanya telah lanjut umurnya, pada saat wanita yang
paling subur sekalipun tidak bisa melahirkan lagi. Banyak
orang terkenal dilahirkan oleh ibu-ibu yang tidak memiliki
anak dalam jangka waktu yang lama, seperti Ishak, Yakub,
Yusuf, Simson, Samuel, dan di sini Yohanes Pembaptis,
sehingga kelahiran mereka menjadi lebih istimewa dan berkat-
Nya lebih berharga bagi para orangtua mereka. Ini juga
menunjukkan bahwa bila Tuhan membiarkan umatnya lama
menunggu rahmat-Nya, adakalanya Ia berkenan membalas ke-
sabaran mereka itu dengan menggandakan rahmat-Nya pada
waktunya.
II. Penampakan malaikat kepada ayah Yohanes, Zakharia, saat ia
sedang melayani di Bait Suci (ay. 8-11). Kalau nabi Zakharia ada-
lah nabi terakhir Perjanjian Lama yang berjumpa dengan malai-
kat, maka Zakharia yang yaitu seorang imam ini menjadi imam
pertama dalam Perjanjian Baru yang berjumpa dengan malaikat.
Perhatikanlah hal-hal berikut ini:
1. Bagaimana Zakharia ditugaskan melayani Tuhan (ay. 8): Waktu
tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimam-
an di hadapan Tuhan. Itu yaitu minggu saat ia melayani
dan ia sedang bertugas. Kendati keluarganya tidak berkem-
bang, dengan sadar ia melaksanakan tugas pada tempat dan
waktu yang telah ditetapkan. Sekalipun kita belum mendapat-
kan rahmat Tuhan yang diharapkan, namun kita harus tetap
cermat melaksanakan pelayanan-pelayanan yang ditetapkan;
dan di dalam melaksanakan dengan rajin serta tekun semua
pelayanan itu, kita bisa berharap bahwa rahmat dan peng-
hiburan pada akhirnya akan datang. Sekarang, Zakharialah
yang kena undi untuk masuk ke dalam Bait Suci untuk mem-
bakar ukupan pagi dan petang selama minggu pelayanan ter-
sebut, sebagaimana tugas-tugas lain juga ditentukan untuk
para iman lainnya dengan mengundi. Pelayanan-pelayanan
ini ditetapkan melalui pengundian, sehingga beberapa
orang tidak mengabaikan dan yang lain tidak memonopoli tu-
gas-tugas ini . Selain itu, dikatakan juga bahwa keputus-
an pengundian itu berasal dari Tuhan, sehingga mereka mera-
sa puas dengan panggilan ilahi atas pekerjaan ini . Ini
bukanlah upacara pembakaran ukupan oleh imam besar pada
hari pendamaian seperti yang gemar dibayangkan sebagian
orang. Mereka mengira bahwa dengan demikian mereka bisa
menemukan saat kelahiran Juruselamat kita. Jelas bahwa
yang dimaksud di sini yaitu pembakaran ukupan harian
yang dilakukan di atas mezbah pembakaran ukupan (ay. 11),
di dalam Bait Suci (ay. 9), bukan di dalam ruang mahakudus,
yang hanya bisa dimasuki oleh imam besar. Orang-orang
Yahudi mengatakan bahwa seorang imam yang sama hanya
membakar ukupan satu kali saja selama hidupnya (sebab ada
banyak imam yang bertugas dalam rombongan yang sama),
setidaknya tidak lebih dari satu minggu. Sangat mungkin
bahwa giliran tugas Zakharia ini terjadi pada hari Sabat, ka-
rena seluruh umat berkumpul (ay. 10), yang tidak lazim terjadi
pada hari-hari biasa. Demikianlah Tuhan biasanya menghor-
mati hari-Nya sendiri. Dengan bantuan penanggalan Yahudi,
Dr. Lightfoot menghitung bahwa giliran rombongan Abia jatuh
pada hari ketujuh belas dari bulan ketiga, yaitu bulan Sivan,
yang jatuh sebagian pada bulan Mei dan sebagian lagi pada
bulan Juni. Layak diperhatikan bahwa bagian dari Kitab
Taurat dan Kitab Para Nabi yang biasa dibaca di sinagoge di
mana-mana pada hari ini sangat sesuai dengan apa yang
sedang terjadi di dalam Bait Suci saat itu, yaitu hukum
mengenai orang nazir (Bil. 6) dan cerita mengenai dikandung-
nya Simson (Hak. 13).
Sementara Zakharia sedang membakar ukupan di dalam
Bait Suci, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang (ay.
10). Dr. Lightfoot mengatakan bahwa pada saat jam sembah-
yang, di Bait Suci terus-menerus ada para imam dari
rombongan yang sedang bertugas melayani. Bila saat itu
yaitu hari Sabat, selain rombongan imam-imam yang sedang
melayani, juga hadir rombongan yang telah melayani seminggu
sebelumnya, begitu pula orang-orang Lewi yang melayani di
bawah para imam, serta orang-orang yang memegang jabatan.
Begitulah para Rabi menyebut mereka, yaitu orang-orang yang
mewakili umat untuk meletakkan tangan di atas kepala hewan
yang dikorbankan. Di samping itu hadir juga banyak umat
yang sengaja meninggalkan pekerjaan mereka untuk beriba-
dah pada saat itu. Semua orang ini berkumpul dalam
jumlah yang sangat banyak, terutama pada hari-hari Sabat
dan hari-hari raya. Begitulah mereka semuanya memusatkan
perhatian pada ibadah mereka (dengan berdoa di dalam hati,
sebab suara mereka tidak terdengar). Melalui dentingan lon-
ceng, mereka tahu bahwa seorang imam sedang masuk ke
dalam untuk membakar ukupan.
Sekarang amatilah ini:
(1) Bahwa umat Israel sejati milik Tuhan selalu terdiri dari
orang-orang yang berdoa, dan doa yaitu bagian ibadah
yang paling agung dan utama, yang melaluinya kita me-
muliakan Tuhan , menerima perkenan-Nya, dan memelihara
hubungan kita dengan-Nya.
(2) lalu pada masa itu, saat ketetapan-ketetapan ritual
dan upacara dilaksanakan dengan begitu ketat, seperti
pembakaran ukupan, kewajiban moral dan rohani tetap
diperlukan mengiringi ritual dan upacara ini . Daud
tahu dan percaya bahwa saat ia sedang berada jauh dari
mezbah, doanya tetap didengar, meskipun tanpa ukupan,
sebab doa ini dapat disampaikan kepada Tuhan seba-
gai persembahan ukupan (Mzm. 141:2). namun saat ia
sedang berada di sekitar mezbah, ukupan ini tidak
dapat diterima tanpa doa, sebagaimana kacang yang hanya
berkulit namun tanpa biji tidak dapat diterima.
(3) Bahwa tidak cukup bila kita hanya berada di tempat di ma-
na Tuhan disembah, padahal hati kita tidak terpaut dengan
ibadah ini dan tidak terus bersama dengan pelayan
Tuhan di sepanjang ibadah ini . Bila imam membakar
ukupan dengan begitu baik, di dalam doa yang paling se-
suai, bijaksana, dan sepenuh hati, dan pada saat yang
sama kita tidak berdoa dalam kesehatian dengannya, apa
gunanya bagi kita?
(4) Semua doa yang kita panjatkan di hadapan Tuhan akan
diterima dan dikabulkan-Nya hanya melalui ukupan peran-
taraan Kristus yang dilakukan di Bait Tuhan sejati di sorga.
Penggunaan ukupan dalam ibadah di Bait Tuhan merupa-
kan gambaran dari apa yang dilaksanakan di sorga (Why.
8:1, 3-4), di mana kita bisa membaca, maka sunyi senyap-
lah di sorga, sama seperti di dalam Bait Tuhan , kira-kira se-
tengah jam lamanya, sementara orang-orang dengan se-
nyap mengangkat hati mereka kepada Tuhan di dalam doa.
Di sana juga ada seorang malaikat, yaitu malaikat mezbah,
yang mempersembahkan banyak kemenyan untuk diper-
sembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang
kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Kita
tidak bisa mengharapkan berkat melalui perantaraan
Kristus bila kita tidak berdoa, yaitu berdoa dengan roh kita,
di dalam doa yang terus-menerus dan berkesinambungan.
Kita juga tidak bisa mengharapkan bahwa doa terbaik kita
bisa diterima dan mendapat jawaban damai sejahtera bila
tidak melalui perantaraan Kristus, yang hidup selamanya
dan menjadi Pengantara bagi kita.
2. Bagaimana saat sedang melaksanakan pelayanannya,
Zakharia memperoleh kehormatan melalui kunjungan seorang
utusan, utusan khusus yang datang dari sorga kepadanya (ay.
11): Tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan.
Sebagian orang mengamati bahwa kita tidak pernah membaca
tentang seorang malaikat yang menampakkan diri di dalam
Bait Suci dengan membawa pesan dari Tuhan , kecuali hanya
ada satu peristiwa saja, yaitu kunjungan kepada Zakharia ini.
Alasannya, sebab di sana (di Bait Suci), Tuhan memiliki cara-
cara lain untuk menyatakan pikiran-Nya, seperti melalui Urim
dan Tumim, dan melalui suara lembut dari antara para kerub.
Namun, sebab tabut perjanjian tidak ada di dalam ruang
maha kudus Bait Tuhan yang kedua (pada masa Zakharia ini),
maka diutuslah seorang malaikat bila ada pesan yang harus
disampaikan kepada seorang imam yang sedang berada di Bait
Suci. Dengan cara demikianlah mula-mula Injil banyak kali
diperkenalkan, seperti halnya Hukum Taurat, yaitu melalui
pelayanan malaikat-malaikat. Penampakan demikian sering
kita baca di dalam Kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Na-
mun maksud sebenarnya dari cara ini, baik dalam Hukum
Taurat maupun Injil yaitu untuk menetapkan cara berhu-
bungan yang lain, yang lebih bersifat rohani, antara Tuhan dan
manusia. Malaikat berdiri di sebelah kanan mezbah pembakar-
an ukupan. Menurut Dr. Lightfoot, malaikat itu berdiri pada
sisi sebelah utara dari mezbah, pada sisi kanan Zakharia.
Bandingkan situasi ini dengan saat saat Iblis berdiri di sebe-
lah kanan imam besar Yosua untuk mendakwa dia (Za. 3:1).
Namun, Zakharia memiliki seorang malaikat yang baik yang
berdiri di sebelah kanannya, untuk menguatkan dirinya. Seba-
gian orang memperkirakan bahwa malaikat yang menampak-
kan diri ini muncul dari ruangan mahakudus, sehingga ia
menuju ke sisi kanan mezbah.
3. Kesan apa yang terjadi pada Zakharia (ay. 12): Melihat hal itu,
ia kaget, dan bahkan ketakutan, sebab dikatakan ia terkejut
dan menjadi takut (ay. 12). Meskipun ia benar di hadapan
Tuhan dan tidak bercacat dalam perilaku dan cara hidupnya,
namun ia tidak bebas dari rasa takut pada sesuatu yang
penampilan dan cahaya sekitarnya menunjukkan dia melebihi
manusia. Semenjak manusia jatuh di dalam dosa, pikirannya
tidak mampu lagi menanggung keagungan penampakan-
penampakan semacam itu dan hati nuraninya takut akan
kabar-kabar buruk yang dibawa serta. Bahkan Daniel pun
tidak sanggup menanggungnya dan hilang kekuatannya (Dan.
10:8). sebab alasan itulah Tuhan memilih untuk berbicara ke-
pada kita melalui manusia seperti diri kita sendiri, yang ke-
dahsyatannya tidak akan membuat kita takut.
III. Pesan yang harus disampaikan malaikat ini kepadanya (ay.
13). Malaikat itu mengawali pesannya seperti yang umum dilaku-
kan oleh malaikat, “Jangan takut.” Mungkin sebelum itu Zakharia
tidak pernah terkena undi untuk membakar ukupan, dan sebab
ia yaitu sosok yang sangat serius dan cermat, maka kita bisa
menduga ia berusaha melaksanakan tugas itu dengan sangat
hati-hati dan dengan sebaik-baiknya. Saat melihat malaikat itu, ia
mungkin takut kalau-kalau malaikat itu datang untuk menegur-
nya sebab suatu kesalahan atau kelalaian dalam tugas. “Tidak,”
kata malaikat itu, “jangan takut, aku tidak membawa kabar buruk
bagimu dari sorga. Jangan takut, tenangkan dirimu, supaya kamu
bisa menerima berita yang harus kusampaikan kepadamu ini
dengan baik dan tenang.” Marilah kita lihat pesan apa ini.
1. Doa yang sering ia panjatkan, sekarang akan menerima jawab-
an yang penuh damai sejahtera, “Jangan takut, hai Zakharia,
sebab doamu telah dikabulkan.”
(1) Bila yang dimaksudkan malaikat itu yaitu doa khusus
untuk memperoleh seorang anak guna membangun keluar-
ganya, maka doa itu pastilah doa memohon rahmat yang
dahulu dipanjatkannya saat ia masih mungkin memper-
oleh anak. Namun kita bisa menduga bahwa sekarang ka-
rena ia dan istrinya telah lanjut usia, mereka sudah tidak
mengharapkan lagi hal ini, jadi mereka sudah tidak men-
doakan hal itu lagi. Sama seperti Musa, mereka merasa
cukup, dan tidak lagi membicarakan perkara itu dengan
Tuhan (Ul. 3:26). Namun, Tuhan sekarang ingin memberikan
rahmat ini sebab Ia ingat doa-doa yang pernah Zakharia
panjatkan bersama istrinya di masa lampau, sama seperti
Ishak berdoa untuk dan bersama istrinya (Kej. 25:21). Per-
hatikanlah bahwa doa-doa yang dinaikkan dengan iman
tersimpan di dalam sorga, dan tidak dilupakan, meskipun
hal yang didoakan sampai sekarang belum dikabulkan.
Doa-doa yang dinaikkan saat kita masih muda dan masih
ada di dunia ini, mungkin baru akan dijawab saat kita
sudah menjadi tua dan akan meninggalkan dunia ini. Na-
mun,
(2) Bila yang malaikat maksudkan yaitu doa-doa yang seka-
rang ia naikkan, yang disampaikan bersama-sama dengan
ukupannya, kita bisa menduga bahwa doa itu sesuai de-
ngan tugas yang sedang dilaksanakannya, yaitu demi umat
Israel kepunyaan Tuhan dan kesejahteraan mereka, serta
demi penggenapan janji-janji tentang Mesias dan datang-
nya kerajaan-Nya, “Doamu telah dikabulkan, istrimu se-
gera akan mengandung dia yang akan membuka jalan bagi
Mesias.” Beberapa penulis Yahudi mengatakan bahwa bia-
sanya saat seorang imam membakar ukupan, ia berdoa
untuk keselamatan seluruh isi dunia ini. Dan sekarang doa
ini akan dikabulkan. Atau,
(3) Secara umum bisa dikatakan, “Doa-doa yang sekarang eng-
kau naikkan dan semua doa-doamu, semuanya diterima
oleh Tuhan , dan telah diingatkan di hadapan-Nya.” (Seperti
yang dikatakan oleh malaikat kepada Kornelius, saat ia
mengunjunginya sementara ia sedang berdoa, Kis. 10:30-
31.) “Dan inilah tandanya bahwa Tuhan berkenan kepada-
mu, Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-
laki bagimu.” Perhatikanlah, sangat menyenangkan bagi
orang-orang yang berdoa saat mengetahui bahwa doa-doa
mereka sedang didengar, dan rahmat yang diberikan seba-
gai jawaban doa ini terasa dua kali manisnya.
2. Ia akan memiliki seorang anak laki-laki di dalam usianya
yang telah lanjut, melalui Elisabet istrinya, yang telah lama
mandul. Dalam keadaan demikian, melalui kelahiran anak
laki-laki itu, yang boleh dikatakan suatu mujizat, orang bisa
dipersiapkan untuk menerima dan mempercayai bahwa se-
orang gadis yang masih perawan bisa melahirkan seorang
anak laki-laki, yang benar-benar merupakan suatu mujizat
yang sempurna. Ia juga diarahkan tentang nama apa yang ha-
rus diberikan kepada anak laki-lakinya, “Haruslah engkau me-
namai dia Yohanes,” yang dalam bahasa Ibrani disebut
Johanan, sebuah nama yang kerap kita jumpai di dalam Per-
janjian Lama, yang berarti penuh belas kasihan atau kebaikan
hati. Para imam harus mencoba melunakkan hati Tuhan , supaya
Ia mengasihani kita (Mal. 1:9), dan memberi engkau kasih karu-
nia (Bil. 6:25). Zakharia sekarang sedang berdoa seperti itu,
dan malaikat berkata kepadanya bahwa doanya didengar, dan
ia akan memiliki seorang anak laki-laki, dan sebagai tanda
akan jawaban atas doanya, anak itu akan dinamai Yang Berbe-
las Kasihan, atau, Tuhan akan mengasihani (Yes. 30:18-19).
3. Anak ini akan memberikan sukacita bagi keluarga dan handai
taulannya (ay. 14). Ia akan menjadi Ishak yang lain, menjadi
gelak tawamu. Sebagian orang beranggapan inilah sebagian
dari alasan mengapa ia dinamakan Yohanes. Ia akan menjadi
seorang anak yang disambut dan disayangi. Engkau akan ber-
sukacita dan bergembira. Perhatikanlah, rahmat yang sudah
begitu lama dinanti-nantikan, saat pada akhirnya datang
juga, akan lebih disambut. “Ia akan menjadi seorang anak
yang membuatmu memiliki alasan untuk bersukacita. Ba-
nyak orangtua, seandainya mereka bisa mengetahui sebelum-
nya akan menjadi apa kelak anak mereka, tidak akan bersuka-
cita atas saat kelahiran anaknya itu, malahan akan berharap
kalau anak mereka itu sebaiknya tidak pernah dilahirkan.
Namun, aku akan mengatakan apa yang akan terjadi pada
anak laki-lakimu itu, dan janganlah bersukacita dengan geme-
tar atas kelahirannya, seperti yang seharusnya diperbuat oleh
orang-orang besar, namun bersukacitalah dengan penuh
kemenangan atas kelahirannya itu.” Bukan hanya itu, bahkan
banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Semua
tetangga dan sanak saudara akan bersukacita dan mengucap-
kan selamat, sebab hal itu membawa kehormatan dan peng-
hiburan bagi keluarga itu (ay. 58). Semua orang yang baik
akan bersukacita bahwa pasangan yang saleh seperti Zakharia
dan Elisabet memiliki seorang anak laki-laki, sebab mereka
tahu bahwa pasangan ini akan mendidiknya dengan benar,
sehingga bisa diharapkan anak ini akan menjadi berkat bagi
generasinya. Ya, dan mungkin masih banyak orang lagi yang
akan bersukacita dengan sebab yang tak terkatakan, sebagai
sebuah pertanda akan hari-hari sukacita di mana Injil akan
diperkenalkan.
4. Anak ini akan menjadi kesukaan Sorga yang terkemuka, dan
berkat yang luar biasa bagi bumi. Kehormatan memiliki se-
orang anak laki-laki tidak ada artinya dibandingkan dengan
kehormatan memiliki seorang anak laki-laki seperti ini.
(1) Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan. Yang benar-benar
besar di hadapan Tuhan bukanlah yang besar menurut pan-
dangan dunia yang sia-sia dan fana ini. Tuhan akan senan-
tiasa membuat dia tegak di hadapan-Nya, akan memakai-
nya di dalam pekerjaan-Nya dan mengutusnya sebagai
utusan-Nya, dan semuanya itu akan membuat dia benar-
benar besar dan terhormat. Ia akan menjadi seorang nabi,
ya, lebih dari seorang nabi, dan oleh sebab itu di antara
mereka yang dilahirkan oleh wanita tidak pernah
tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembap-
tis (Mat. 11:11). Ia akan mengasingkan diri dari dunia ini,
jauh dari pandangan manusia, dan saat tampil di depan
umum, ia akan tampak sangat sederhana. namun , ia akan
menjadi luar biasa dan besar di hadapan Tuhan.
(2) Ia akan menjadi seorang nazir, dipisahkan bagi Tuhan dari
semua hal yang dapat mencemarkan. Ciri-ciri seorang nazir
menurut hukum kenaziran yaitu , ia tidak akan minum
anggur atau minuman keras – atau lebih tepatnya, anggur
yang lama maupun yang baru, sebab sebagian besar orang
berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan minuman
keras yaitu sejenis anggur, barangkali seperti yang seka-
rang kita sebut anggur olahan, atau segala minuman yang
bersifat memabukkan. Ia akan menjadi nazir seumur hi-
dupnya, sama seperti Simson yang menjadi seorang nazir
melalui perintah ilahi (Hak. 13:7) dan Samuel yang melalui
nazar ibunya (1Sam. 1:11). Kehidupan kenaziran dan kena-
bian Yohanes ini menggambarkan kepada kita sebuah con-
toh besar bagaimana Tuhan menunjukkan belas kasihan-
Nya kepada umat-Nya, yaitu dengan membangkitkan seba-
gian dari anak-anak mereka menjadi nabi dan sebagian dari
teruna-teruna mereka menjadi nazir (Am. 2:11). Contoh ini
seakan menunjukkan bahwa mereka yang dicanangkan
untuk menjadi nabi akan dilatih untuk hidup berdisiplin
sebagai seorang nazir, seperti yang terjadi pada Samuel dan
Yohanes Pembaptis. Ini artinya bahwa mereka yang mau
menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang unggul, dan mau digu-
nakan dalam tugas-tugas pelayanan yang mulia, harus
belajar menjalani kehidupan yang menyangkal diri dan
menahan nafsu, harus mati terhadap kesenangan jasmani,
dan menjaga pikiran mereka terhadap hal-hal yang dapat
menggelapkan hati dan mengganggu mereka.
(3) Ia akan benar-benar pantas dan memenuhi syarat bagi se-
mua tugas pelayanan agung dan mulia yang akan diperun-
tukkan baginya nanti: Ia akan penuh dengan Roh Kudus
mulai dari rahim ibunya, dan pada saatnya kelak ia akan
tampil demikian.
Perhatikanlah:
[1] Mereka yang mau dipenuhi dengan Roh Kudus harus
bersikap sederhana dan menguasai diri dan sangat
mengekang diri untuk minum anggur dan minuman ke-
ras, sebab begitulah yang tepat bagi mereka untuk
dipenuhi dengan Roh. Janganlah mabuk oleh anggur,
namun hendaklah kamu penuh dengan Roh (Ef. 5:18).
[2] Sangatlah mungkin bagi bayi untuk digerakkan oleh
Roh Kudus, bahkan sejak mereka masih berada di da-
lam rahim ibu mereka. Sebab, Yohanes Pembaptis pun
telah dipenuhi dengan Roh Kudus sejak masih dalam
rahim ibunya, dan Roh menguasai hatinya sejak itu.
Ada tanda awal yang menunjukkan hal ini, yaitu saat
ia melonjak kegirangan di dalam rahim ibunya, saat
Sang Juruselamat datang mendekat. Dan setelah itu, ia
dikuduskan sangat awal pada masa hidupnya. Tuhan
telah berjanji akan mencurahkan Roh-Nya ke atas ketu-
runan orang percaya (Yes. 44:3), dan ini tampak dari
pengabdian diri mereka kepada Tuhan sejak masa awal
hidup mereka, yang merupakan hasil pencurahan Roh
Tuhan itu sendiri (ay. 4-5). Jadi, siapa yang bisa mence-
gah orang-orang demikian untuk dibaptis dengan air,
orang yang setahu kita (apalagi halnya dengan orang
dewasa, seperti Simon si mantan penyihir itu), telah
menerima Roh Kudus, dan telah memiliki benih kasih
karunia yang ditaburkan di dalam hati mereka? (Kis.
10:47).
(4) Ia akan berperan penting dalam membuat banyak jiwa ber-
balik kepada Tuhan , dan menyiapkan mereka untuk mene-
rima dan menyambut Injil Kristus (ay. 16-17)
[1] Ia akan diutus kepada keturunan Israel, kepada bangsa
Yahudi, kepada merekalah Mesias juga diutus untuk
pertama kalinya, dan bukan kepada orang-orang bu-
kan-Yahudi. Ia diutus kepada seluruh bangsa Yahudi,
bukan hanya kepada keluarga imam-imam saja. Kita
tidak melihat Yohanes memiliki hubungan dekat atau
pengaruh khusus dengan keluarga imam, walaupun dia
sendiri tergolong sebagai keluarga imam.
[2] Ia akan berjalan mendahului Tuhan, Tuhan mereka, yaitu
mendahului Mesias yang mereka harap-harapkan. Te-
tapi Mesias ini bukanlah raja mereka dalam pengertian
yang umumnya mereka pikirkan, yaitu sebagai seorang
pangeran yang fana untuk memimpin bangsa mereka.
Sebaliknya, Ia yaitu Tuhan mereka dan Tuhan mereka,
untuk memerintah dan membela, serta melayani mere-
ka secara rohani melalui pengaruh-Nya atas hati mere-
ka. Tomas mengetahui hal ini saat ia berkata kepada
Kristus, “Tuhanku dan Tuhan ku,” lebih baik daripada
Natanael, yang berkata, “Rabi, Engkau Raja orang
Israel.” Yohanes Pembaptis akan berjalan mendahului
Dia, sedikit di depan-Nya, untuk memberitakan keda-
tangan-Nya dan menyiapkan orang untuk menerima
Dia.
[3] Ia akan berjalan dalam roh dan kuasa Elia. Yaitu, perta-
ma, ia akan menjadi seseorang seperti Elia dan melaku-
kan pelayanan seperti yang dilakukan oleh Elia. Seperti
Elia, dia akan berkhotbah tentang perlunya pertobatan
dan pembaruan bagi zaman yang sangat rusak dan
buruk akhlaknya ini. Seperti Elia, dia akan berani dan
giat dalam mencela dosa, serta bersaksi melawan dosa
bahkan secara dahsyat, meskipun untuk itu ia akan
dibenci dan dianiaya oleh Herodes dan Herodias, seperti
Elisa dibenci oleh Ahab dan Izebel. Ia akan terus melan-
jutkan tugasnya, seperti Elia, dalam roh dan kuasa
ilahi, yang akan memahkotai pelayanannya dengan ke-
berhasilan yang gemilang. Sama seperti Elia yang berja-
lan mendahului nabi-nabi yang menulis Perjanjian Lama
dan menulis sendiri sebuah surat singkat untuk meng-
awali periode yang penting dari dispensasi Perjanjian
Lama itu (2Taw. 21:12), demikian pula Yohanes Pem-
baptis berjalan mendahului Kristus dan para rasul-Nya
dan memperkenalkan dispensasi Injil dengan memberi-
takan kabar dari ajaran dan kewajiban Injil, “Bertobat-
lah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” Kedua, dialah
orang yang dinubuatkan oleh Maleakhi dengan menggu-
nakan nama Elia (Mal. 4:5), yang akan diutus kepada-
mu menjelang datangnya hari Tuhan. Sesungguhnya
Aku akan mengutus kepadamu seorang nabi, seperti
Elia, bukan Elia orang Tisbe (seperti yang salah dimeng-
erti dalam terjemahan Septuaginta, untuk mendukung
tradisi Yahudi), namun seorang nabi di dalam roh dan
kuasa Elia, seperti yang dijelaskan oleh malaikat di sini.
[4] Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada
Tuhan, Tuhan mereka, dan akan mencondongkan hati
mereka untuk menerima Mesias serta menyambut-Nya,
dengan membangkitkan dalam diri mereka rasa berdosa
dan hasrat yang kuat terhadap kebenaran. Apa pun
yang memiliki kecenderungan membalikkan kita dari
kesalahan, seperti yang telah ditimbulkan oleh khotbah
dan baptisan Yohanes Pembaptis, akan membalikkan
kita kepada Kristus sebagai Tuhan kita dan Tuhan kita.
Sebab, siapa yang melalui kuasa anugerah melepaskan
kuk dosa, yakni kebiasaan duniawi dan kedagingan,
akan dikenakan kuk Tuhan Yesus sebagai gantinya.
[5] Dengan ini ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik
kepada anak-anaknya, yaitu, hati orang Yahudi kepada
orang bukan-Yahudi. Dia akan membantu mereka mele-
paskan berbagai prasangka yang sudah mengakar ter-
hadap bangsa-bangsa lain, seperti yang dilakukan oleh
Injil, di mana pun Injil itu berkuasa. Dan hal inilah
yang mulai dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, yang
datang untuk memberi kesaksian supaya oleh dia semua
orang menjadi percaya, yang membaptis dan mengajar
serdadu-serdadu Romawi maupun orang Farisi Yahudi,
yang mengoreksi keangkuhan dan keyakinan orang
Yahudi yang mengagungkan diri sebab Abraham ada-
lah bapa mereka, dengan mengatakan bahwa Tuhan da-
pat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu
(Mat. 3:9). Kata-kata ini diucapkan dengan maksud
menyembuhkan kebencian mereka yang mendalam
terhadap orang bukan-Yahudi. Dr. Lightfoot mengamati
bahwa para nabi terus berbicara tentang umat bukan-
Yahudi sebagai anak-anak bagi umat Yahudi (Yes. 54:5-
6, 13; 60:4, 9; 62:5; 66:12). saat orang-orang Yahudi
yang sudah memeluk iman pada Kristus mulai berga-
bung dalam persekutuan dengan bangsa-bangsa lain
yang juga seiman, maka saat itulah hati bapa-bapa pun
berbalik kepada anak-anaknya. Ia juga akan mengubah
hati yang durhaka kepada pikiran orang-orang benar.
Artinya, ia akan memperkenalkan Injil kepada bangsa-
bangsa bukan-Yahudi yang sekarang menurut Injil ada-
lah orang durhaka, sehingga mereka akan berbalik, bu-
kan kepada kepercayaan orang Yahudi yang merupakan
bapa mereka, namun kepada iman Kristus yang di sini
disebut pikiran orang-orang benar, dan masuk dalam
persekutuan bersama orang Yahudi yang percaya. Ia
akan membuat hati bapa-bapa dan hati anak-anak ber-
balik, yakni, hati orang tua dan orang muda akan men-
jadi sarana untuk membawa setiap generasi menjadi
orang yang saleh, untuk melakukan pembaruan besar-
besaran dalam bangsa Yahudi, untuk membawa mereka
keluar dari kepercayaan tradisional yang sarat dengan
ritual yang telah mendarah daging, serta untuk mem-
bawa mereka pada kesalehan yang sungguh-sungguh
dan sebenar-benarnya. Pengaruh dari semuanya ini
yaitu bahwa kebencian yang ada selama ini akan
dibuang jauh-jauh dan perselisihan akan berhenti.
Juga, meskipun berbeda, mereka akan dipersatukan
dalam baptisan-Nya sehingga saling bisa menerima
dengan lebih baik. Semua yang ditulis mengenai Yoha-
nes di atas sesuai dengan catatan sejarawan Josephus
tentang dia (Antiq. 18:117-118) “Bahwa ia yaitu se-
orang laki-laki yang baik, mengajar orang Yahudi mem-
praktikkan kebajikan, hidup dalam kesalehan di hadap-
an Tuhan , hidup benar di hadapan sesama, dan harus
berhimpun dan bersekutu bersama di dalam baptisan.”
Selanjutnya Josephus mencatat, “Orang-orang berdu-
yun-duyun mengikuti dia dan sangat menyukai ajaran-
nya.” Jadi, Yohanes membuat hati bapa-bapa dan hati
anak-anak berbalik kepada Tuhan dan sesama, dengan
membalikkan hati orang-orang durhaka kepada pikiran
orang-orang benar.
Perhatikanlah:
Pertama, agama yang sejati yaitu pikiran orang-
orang benar, yang berbeda dengan hikmat dunia ini.
Sudah merupakan keharusan dan kewajiban bagi kita
untuk hidup saleh dan benar. Di dalamnya ada keadil-
an dan kebijaksanaan.
Kedua, bukanlah suatu hal yang mustahil bahwa
orang kafir dan durhaka bisa berbalik kepada pikiran
orang-orang benar, sebab anugerah ilahi dapat menga-
lahkan hati yang acuh tak acuh dan penuh prasangka.
Ketiga, rancangan besar Injil yaitu membawa orang
kembali kepada Tuhan serta membawa mereka lebih
dekat satu sama lain. Untuk maksud itulah Yohanes
Pembaptis diutus. Dalam Injil Lukas, dua kali Yohanes
disebutkan membuat orang berbalik. Penyebutan ini
tampaknya merupakan sebuah kiasan terhadap sebut-
an Orang Tisbe, gelar yang diberikan kepada Elia, yang
menurut sebagian orang bukan menunjukkan nama
daerah atau kota tempat ia berasal, melainkan sebagai
sebuah julukan pengenal, dan sebab itu julukan itu
berarti Elia Sang Pengubah, orang yang banyak terlibat
dan sangat berhasil dalam karya mengubah hati orang.
Oleh sebab itu, sang Elia dari Perjanjian Baru dikata-
kan membalikkan atau mengubah hati banyak orang ke-
pada Tuhan, Tuhan mereka.
[6] Dengan demikian ia akan menyiapkan bagi Tuhan suatu
umat yang layak bagi-Nya. Ia akan mencondongkan
pikiran orang untuk menerima ajaran Kristus sehingga
mereka bisa dipersiapkan untuk menyambut kedatang-
an-Nya yang membawa penghiburan itu.
Perhatikanlah:
Pertama, semua orang yang ingin mengabdikan diri
kepada Tuhan dan bersukacita di dalam Dia terlebih
dahulu harus dipersiapkan supaya layak bagi Dia. Kita
harus dipersiapkan melalui anugerah di dunia ini bagi
kemuliaan di dunia lain, melalui kedahsyatan-kedah-
syatan Hukum Taurat bagi penghiburan-penghiburan
Injil, melalui roh perbudakan bagi Roh yang mengang-
kat kita menjadi anak-anak Tuhan .
Kedua, tidak ada hal yang memiliki pengaruh le-
bih langsung dalam menyiapkan hati orang bagi Kristus
selain ajaran pertobatan, dan orang harus menerima
dan tunduk pada ajaran ini. saat dosa ditunjukkan
sedemikian menyedihkan, Kristus akan menjadi teramat
berharga.
IV. Ketidakpercayaan Zakharia atas pemberitahuan malaikat, serta
hukuman yang ditimpakan kepadanya akibat ketidakpercayaan-
nya itu. Ia mendengar semua yang disampaikan oleh malaikat itu,
dan seharusnya ia menundukkan kepala dan menyembah Tuhan
seraya berkata, “Jadilah pada hambamu ini menurut perkataanmu
itu.” namun Zakharia tidak berkata demikian.
Inilah yang kita baca:
1. Bagaimana ia mengungkapkan ketidakpercayaannya itu (ay.
18). Kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku
tahu, bahwa hal ini akan terjadi?” Ini bukanlah permohonan
yang rendah hati untuk menegaskan imannya, melainkan
suatu keberatan yang disertai kekerasan hati terhadap apa
yang dikatakan kepadanya sebagai suatu hal yang tidak
masuk akal. Seolah-olah ia berkata, “Aku tidak akan pernah
bisa memercayai hal ini.” Dia pasti memahami bahwa yang
berbicara kepadanya yaitu seorang malaikat; dan pesan yang
disampaikan itu memiliki bukti kuat, dengan merujuk kepada
nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Ada banyak contoh dalam
Perjanjian Lama tentang orang-orang yang mendapatkan anak
saat mereka sudah lanjut usia, namun Zakharia ti