Home »
lukas 1-12 10
» lukas 1-12 10
lukas 1-12 10
Januari 28, 2025
lukas 1-12 10
5. Setan-setan itu sepenuhnya ada di bawah perintah dan kuasa
Yesus Tuhan kita, dan mereka mengetahui hal ini, sebab me-
reka memohon kepada-Nya supaya tidak memerintahkan mere-
288
ka pergi eis ton abysson – ke dalam jurang maut, tempat siksa-
an mereka, yang mereka akui sangat mudah dan pantas dila-
kukan-Nya. Oh, betapa melegakannya hal ini bagi umat
Tuhan, bahwa semua kuasa kegelapan berada di bawah ken-
dali Tuhan Yesus! Ia telah membelenggu mereka semua de-
ngan rantai. Ia mampu menyuruh mereka kembali ke tempat
kediaman mereka, kapan pun Ia mau.
6. Mereka senang melakukan kejahatan. saat mendapati bahwa
tidak ada jalan lain lagi selain harus keluar dari dalam diri
orang yang malang ini, roh-roh jahat itu pun memohon agar
diperbolehkan memasuki babi-babi (ay. 32). Pada saat setan
pertama kalinya membawa manusia ke dalam penderitaan,
Iblis juga membawa serta kutuk kepada seluruh makhluk cip-
taan-Nya untuk dijadikan sasaran permusuhan. Dan di sini,
untuk menunjukkan rasa permusuhannya yang teramat da-
lam itu, ia ingin membinasakan babi-babi itu sebab tidak
mampu membinasakan orang tadi. Bila ia tidak dapat menya-
kiti tubuh manusia, ia akan menyakiti harta milik mereka,
yang adakalanya bisa menimbulkan godaan bagi manusia un-
tuk menjauhkan mereka dari Kristus, seperti yang terjadi di
sini. Kristus mengabulkan permintaan mereka untuk mema-
suki babi-babi itu, guna membuktikan kepada penduduk dae-
rah itu tentang kejahatan apa yang bisa dilakukan Iblis jika
Dia mengizinkannya. Begitu setan-setan itu keluar, mereka
langsung memasuki babi-babi itu yang lalu berlarian
dan terjun dari tepi jurang ke dalam danau lalu mati lemas.
Sungguh merupakan mujizat yang penuh belas kasihan bila
orang-orang yang dirasuk setan tidak sampai binasa dan
musnah. Peristiwa ini, dan contoh-contoh lainnya, menunjuk-
kan bahwa singa yang mengaum-ngaum dan naga merah itu
selalu mencari-cari apa dan siapa yang dapat mereka telan.
7. Jika kuasa Iblis dipatahkan dalam jiwa seseorang, jiwa itu
akan sembuh dengan sendirinya dan kembali ke keadaannya
yang benar, yang berarti bahwa orang-orang yang dirasuk Iblis
itu juga tidak menjadi milik diri sendiri lagi: orang yang telah
ditinggalkan setan-setan itu duduk di kaki Yesus (ay. 35).
saat masih berada di bawah kuasa Iblis, orang itu siap me-
nyerang Yesus, namun sekarang ia duduk di kaki Yesus, pertan-
da bahwa ia sudah waras. Jika Tuhan memiliki kita, Ia meme-
Injil Lukas 8:22-39
289
lihara supaya kita bisa mengendalikan dan menikmati diri kita
sendiri. Namun, jika Iblis memiliki kita, ia akan merampas ke-
dua hal itu dari kita. Oleh sebab itu biarlah kuasanya dalam
diri kita dijungkirbalikkan, dan biarlah Dia yang berhak memi-
liki hati kita itu masuk, dan biarlah kita memberikan hati kita
kepada-Nya, sebab kita tidak berhak atas diri kita lebih dari-
pada Dia atas diri kita.
Sekarang marilah kita lihat akibat dari mujizat pengusiran
setan-setan dari dalam orang ini.
(1) Akibat yang ditimbulkan atas diri orang-orang yang kehi-
langan babi-babi mereka sebab peristiwa itu: Setelah pen-
jaga-penjaga babi itu melihat apa yang terjadi, mereka lari
lalu menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung
sekitarnya (ay. 34), mungkin juga bertujuan menghasut
orang-orang agar menolak Kristus. Mereka menceritakan
bagaimana orang yang dirasuk setan itu telah diselamatkan
(ay. 36) oleh-Nya dengan cara menyuruh setan-setan itu
memasuki babi-babi. Cara penyampaian ini bisa seperti
orang yang sedang marah, seakan-akan Kristus tidak
mampu melepaskan orang itu dari cengkeraman setan-
setan itu jika tidak menggunakan babi-babi itu. Maka ke-
luarlah orang-orang untuk melihat apa yang telah terjadi,
dan bertanya-tanya tentang hal itu, maka takutlah mereka
(ay. 35). Mereka sangat ketakutan (ay. 37). Mereka terkejut
dan takjub sehingga tidak tahu harus berkata apa. Mereka
lebih memikirkan matinya babi-babi itu daripada kelepasan
tetangga mereka yang malang itu dan bebasnya penduduk
kampung dari serangan gilanya yang sudah sangat meng-
ganggu ketenangan masyarakat. Oleh sebab itu seluruh
penduduk daerah Gerasa meminta kepada Yesus, supaya Ia
meninggalkan mereka sebab takut kalau-kalau Ia akan
mendatangkan hukuman lain lagi bagi mereka. Padahal,
orang-orang yang bersedia meninggalkan dosa-dosa mereka
dan menyerahkan diri kepada Kristus, tidak perlu merasa
takut terhadap-Nya. Namun, Kristus mengikuti keinginan
mereka: Maka naiklah Ia ke dalam perahu, lalu berlayar
kembali. Dan orang-orang yang lebih mencintai babi-babi
mereka itu pun kehilangan Juruselamat dan pengharapan
mereka yang ada di dalam diri-Nya.
290
(2) Akibat yang ditimbulkan atas orang malang yang telah di-
sembuhkan itu. Ia sangat merindukan penyertaan Kristus,
sama kuatnya seperti ketakutan orang lain akan penyerta-
an-Nya itu: ia meminta kepada Kristus supaya ia diperke-
nankan menyertai-Nya, sama seperti orang lain yang telah
disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit (ay.
2), supaya Ia menjadi Pelindung dan Gurunya, dan supaya
ia sendiri dapat mengharumkan nama Kristus dan memu-
liakan-Nya. Ia enggan tinggal di antara penduduk Gerasa
yang kasar, kejam, dan ingin mengusir Kristus itu. Jangan-
lah mencabut nyawaku bersama-sama orang berdosa. Na-
mun, Kristus tidak mau membawanya serta, namun menyu-
ruhnya pulang untuk memberitahukan semua hal yang
telah diperbuat Tuhan baginya kepada orang-orang senegeri-
nya, supaya ia dapat menjadi berkat bagi mereka yang
selama ini sudah dibebaninya. Adakalanya kita harus me-
nolak kepuasan diri sendiri, bahkan yang menyangkut
manfaat dan kenyamanan rohani sekalipun, supaya bisa
memperoleh kesempatan untuk melayani jiwa-jiwa lain.
Mungkin Kristus tahu bahwa saat kemarahan penduduk
sebab kehilangan babi-babi itu telah agak mereda, mereka
dapat lebih merenungkan mujizat itu. Oleh sebab itu, Ia
meninggalkan orang itu agar ia dapat menjadi tugu per-
ingatan hidup bagi mereka.
Sakit Pendarahan Disembuhkan; Anak wanita
Kepala Rumah Ibadat Dibangkitkan
(8:40-56)
40 saat Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua
menanti-nantikan Dia. 41 Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia
yaitu kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia
memohon kepada-Nya, supaya Yesus datang ke rumahnya, 42 sebab anak-
nya wanita yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun,
hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak. 43
yaitu seorang wanita yang sudah dua belas tahun menderita penda-
rahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapa pun. 44 Ia maju men-
dekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan sesaat
itu juga berhentilah pendarahannya. 45 Lalu kata Yesus: “Siapa yang men-
jamah Aku?” Dan sebab tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus:
“Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.” 46 namun Yesus
berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa ke-
Injil Lukas 8:40-56
291
luar dari diri-Ku.” 47 saat wanita itu melihat, bahwa perbuatannya itu
ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceri-
terakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia
sesaat itu juga menjadi sembuh. 48 Maka kata-Nya kepada wanita itu:
“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan sela-
mat!” 49 saat Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepa-
la rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau
menyusah-nyusahkan Guru!” 50 namun Yesus mendengarnya dan berkata ke-
pada Yairus: “Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat.” 51 Se-
tibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut ma-
suk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu
serta ibunya. 52 Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan namun
Yesus berkata: “Jangan menangis; ia tidak mati, namun tidur.” 53 Mereka me-
nertawakan Dia, sebab mereka tahu bahwa anak itu telah mati. 54 Lalu
Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangun-
lah!” 55 Maka kembalilah roh anak itu dan sesaat itu juga ia bangkit berdiri.
Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. 56 Dan takjublah
orang tua anak itu, namun Yesus melarang mereka memberitahukan kepada
siapa pun juga apa yang terjadi itu.
Kristus telah diusir oleh orang Gerasa. Mereka sudah bosan terha-
dap-Nya dan lebih suka terlepas dari-Nya. Namun, setelah Ia menye-
berangi danau dan kembali, orang-orang Galilea, pun menyambut
Dia, dan menanti-nantikan kedatangan-Nya dengan sepenuh hati (ay.
40). Bila sebagian tidak mau menerima kemurahan hati yang ditawar-
kan Kristus kepada mereka, maka yang lain akan bersedia. Jika
orang Gerasa tidak mau berhimpun, masih ada banyak yang di anta-
ra mereka Kristus akan dimuliakan. Setelah Kristus melaksanakan
tugas-Nya di seberang danau, Ia kembali ke tempat semula, dan me-
nemukan pekerjaan lain lagi, pekerjaan baru. Mereka yang menyedia-
kan diri untuk berbuat baik tidak akan pernah kekurangan kesem-
patan untuk berbuat baik. Orang-orang yang berkekurangan selalu
ada padamu.
Di sini kita dapati dua mujizat yang berjalinan satu sama lain, se-
perti halnya dalam Injil Matius dan Markus, yakni tentang Yesus
yang membangkitkan anak wanita Yairus dari kematian, dan
tentang penyembuhan wanita yang sakit pendarahan saat Ia se-
dang berjalan menuju rumah Yairus bersama orang banyak. Di sini
kita melihat:
I. Permohonan di depan umum yang disampaikan kepala rumah iba-
dat bernama Yairus, demi anak wanita nya yang masih kecil
dan sakit parah, yang, dengan kesaksian semua orang yang hadir
di situ, hampir mati. Ia menyampaikan permohonannya ini dengan
sangat rendah hati dan penuh hormat. Walaupun ia seorang pe-
292
nguasa, Yairus tersungkur di depan kaki Yesus, sebagai pengaku-
an bahwa Yesus yaitu penguasa yang lebih tinggi daripadanya.
Permohonannya sangat mendesak. Ia memohon kepada-Nya agar
mau datang ke rumahnya. Ia tidak memiliki iman, setidaknya me-
miliki pikiran seperti si perwira yang ingin agar Kristus hanya me-
ngatakan sepatah kata saja dari jauh. Namun, Kristus memenuhi
permintaannya dan pergi bersamanya. Iman yang kuat akan di-
hargai, namun iman yang lemah pun tidak akan ditolak. saat
dalam rumah ada penyakit dan kematian, kehadiran Kristus
sangatlah dibutuhkan. Waktu Kristus sedang dalam perjalanan
menuju rumahnya, Ia didesak-desak orang banyak. Sebagian
ingin melihatnya sebab didorong rasa ingin tahu, dan sebagian
sebab ingin menyambutnya dengan sukacita. Selama kita sedang
melaksanakan tugas dan berbuat baik, janganlah kita mengeluh
dan bergegas-gegas bila berada di tengah kerumunan orang ba-
nyak yang berdesak-desakan. Namun, jika tidak dalam tugas, se-
baiknya setiap orang yang bijaksana segera keluar sebisanya dari
kerumunan itu.
II. Di sini ada permohonan diam-diam yang disampaikan kepada
Kristus oleh seorang wanita yang menderita pendarahan. Ia
telah menguras tenaga dan juga dompetnya, sebab ia telah meng-
habiskan uangnya untuk berobat namun tidak berhasil disembuh-
kan oleh siapa pun (ay. 43). Sifat penyakitnya itu membuatnya
tidak bebas mengeluhkannya di depan umum (maklum sebagai
wanita , malulah ia kalau membicarakan penyakitnya itu),
dan oleh sebab itu ia menggunakan kesempatan untuk mendekati
Kristus di tengah orang banyak. Menurut pendapatnya, semakin
banyak orang mengerumuni-Nya, semakin mudah ia dapat mela-
kukannya tanpa ketahuan. Imannya sangat kuat, sebab ia tidak
ragu bahwa hanya dengan menjamah jumbai jubah-Nya, ia akan
bisa memperoleh kuasa penyembuhan dari-Nya yang cukup un-
tuk membebaskannya dari derita. wanita itu menganggap
Kristus sebagai sumber belas kasihan yang penuh melimpah, se-
hingga kalaupun ia mencuri sedikit kesembuhan, Ia tidak akan
rugi. Demikianlah banyak jiwa malang disembuhkan, ditolong, dan
diselamatkan oleh Kristus yang hilang di tengah kerumunan orang
banyak, tanpa ada yang tahu. wanita itu langsung merasa-
kan perubahan dalam dirinya, dan sembuhlah penyakitnya (ay.
Injil Lukas 8:40-56
293
44). Sama seperti orang percaya menikmati persekutuan yang
nyaman bersama Kristus, demikian juga mereka menikmati hu-
bungan yang nyaman dengan-Nya secara incognito – diam-diam.
Mereka mendapatkan makanan yang tidak dikenal dunia, dan
kesenangan yang orang lain tidak dapat turut merasakannya.
III. Kesembuhan yang terjadi secara diam-diam itu pun ketahuan,
dan membawa kemuliaan baik bagi Sang Penyembuh maupun
yang disembuhkan.
1. Kristus tahu bahwa telah terjadi kesembuhan: Ada kuasa ke-
luar dari diri-Ku (ay. 46). Orang-orang yang telah memperoleh
kesembuhan dari kuasa yang keluar dari diri Kristus harus
mengakuinya, sebab Ia mengetahui hal itu. Di sini Ia berbicara
tentang hal itu, bukan sebagai keluhan, seakan-akan hal itu
membuat-Nya menjadi lemah atau dirugikan, melainkan kare-
na Ia merasa sangat puas. Sangat bersukalah hati-Nya bahwa
ada kuasa yang keluar dari diri-Nya untuk suatu kebaikan,
dan Ia sama sekali tidak keberatan untuk memberikannya ke-
pada orang-orang hina. Mereka bebas menerimanya, sama se-
perti mereka bebas menerima cahaya dan kehangatan sinar
matahari. Kuasa di dalam diri-Nya tidaklah berkurang sebab
keluarnya kuasa itu dari diri-Nya sebab Dia yaitu mata air
yang melimpah.
2. wanita sakit yang malang itu menceritakan masalahnya
dan manfaat yang telah diterimanya: saat wanita itu me-
lihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan ge-
metar, tersungkur di depan-Nya (ay. 47). Perhatikanlah, meng-
ingat bahwa kita tidak tersembunyi bagi Kristus, sudah seha-
rusnya kita mencurahkan isi hati kita di hadapan-Nya, dan me-
nyerahkan semua dosa dan masalah kita kepada-Nya. Ia da-
tang dengan gemetar, namun, imannya telah menyelamatkan-
nya (ay. 48). Perhatikanlah, orang bisa saja gemetar meskipun
memiliki iman yang menyelamatkan. wanita itu mencerite-
rakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Yesus,
yaitu sebab ia percaya bahwa sebuah sentuhan akan menyem-
buhkannya, dan memang demikianlah yang terjadi. Orang-
orang sakit yang datang kepada Kristus harus saling menyam-
paikan pengalaman mereka satu sama lain.
294
3. Sang Tabib Agung itu meneguhkan kesembuhan wanita
itu, dan menyuruhnya pergi sambil menghiburnya: Hai, anak-
Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan se-
lamat (ay. 48). Yakub menerima berkat dari Ishak secara diam-
diam melalui tipu muslihat. Namun, saat kecurangannya itu
terbongkar, Ishak mengesahkannya dengan maksud tertentu.
Berkat itu diperoleh secara diam-diam dan licik, namun disah-
kan dan disokong dengan tulus. Demikian pula halnya dengan
kesembuhan ini. Ishak telah diberkati, dan dia akan tetap
orang yang diberkati. Demikian juga di sini, wanita itu
telah sembuh, dan akan tetap sembuh.
IV. Kita melihat dorongan yang diberikan kepada Yairus agar ia tidak
meragukan kuasa Kristus, meskipun anaknya sudah mati dan
mereka yang membawa berita kepadanya menyarankan agar ia
tidak menyusah-nyusahkan Guru lagi tentang anak itu: “Jangan
takut,” kata Kristus, “percaya saja.” Perhatikanlah, kepercayaan
kita kepada Kristus haruslah tegas dan penuh keberanian, begitu
juga halnya dengan jerih payah kita bagi Dia. Mereka yang berse-
dia melakukan apa pun bagi Dia dapat mengandalkan-Nya untuk
melakukan hal-hal besar bagi mereka, bahkan melebihi perminta-
an atau pikiran mereka. saat si sakit mati, tidak ada lagi ruang
bagi doa atau upaya lainnya. Namun di sini, meskipun anak itu
telah mati, namun percaya saja, maka segalanya akan baik. Post
mortem medicus – memanggil dokter setelah kematian, yaitu se-
suatu yang tidak masuk di akal, namun bukan demikian halnya de-
ngan post mortem Christus – memanggil Kristus setelah kematian.
V. Persiapan untuk membangkitkan anak itu kembali.
1. Pilihan Kristus atas para saksi yang boleh melihat mujizat itu
diadakan. Orang banyak mengikuti-Nya, namun mungkin saja
mereka kasar dan ribut. Bagaimanapun, sungguh tidak pada
tempatnya membiarkan orang sebanyak itu masuk ke dalam
rumah orang terhormat, terutama sebab keluarga itu sedang
berduka. Oleh sebab itulah Ia menyuruh mereka kembali, dan
bukan sebab Ia takut jangan sampai mereka menyelidiki ba-
gaimana Ia melakukan mujizat-Nya, sebab Ia juga membang-
kitkan Lazarus dan putra janda itu di depan umum. Selain
Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ketiga murid yang paling dekat
Injil Lukas 8:40-56
295
dengan-Nya, dan juga kedua orangtua anak itu, Ia tidak meng-
ajak siapa pun untuk melihat mujizat itu, sebab jumlah me-
reka sudah mencukupi untuk menegaskan kebenarannya.
2. Teguran yang diberikan-Nya kepada orang-orang yang berka-
bung. Semua orang menangis dan meratapi anak itu, sebab se-
pertinya anak ini sangat menyenangkan dan memberi pengha-
rapan. Ia tidak saja disayangi oleh orangtuanya, namun juga
oleh semua tetangga. Namun, Kristus menyuruh mereka agar
jangan menangis, sebab ia tidak mati, namun tidur. Yang di-
maksudkan-Nya dalam kejadian ini yaitu bahwa anak itu ti-
dak mati selamanya, namun bahwa tidak lama lagi ia akan di-
bangkitkan kembali, sehingga seolah-olah seperti dalam pan-
dangan teman-temannya ia hanya tidur sebentar saja. Hal ini
juga berlaku bagi semua orang yang mati di dalam Tuhan.
Oleh sebab itu, janganlah kita berdukacita bagi mereka se-
perti orang-orang yang tidak memiliki pengharapan, sebab
kematian itu hanyalah tidur belaka bagi orang-orang yang mati
itu. Kematian itu bukan hanya istirahat setelah bekerja keras
sepanjang hidup, namun juga bahwa akan ada kebangkitan, ya-
itu bangun dan bangkit kembali menuju kemuliaan abadi.
Kata-kata yang disampaikan Kristus kepada orang-orang yang
sedang berkabung itu yaitu untuk menghibur mereka, namun
dengan jahat mereka mencemooh perkataan-Nya, dan mener-
tawakan Dia, seperti melemparkan mutiara kepada babi. Mere-
ka tidak mengenal ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama yang
menganggap dungu orang yang menyebut kematian sebagai
tidur. Namun, sesuatu yang baik muncul dari sesuatu yang ja-
hat, supaya dengan demikian kebenaran mujizat itu tampak
dengan jelas. Sekarang mereka tahu bahwa anak itu telah
mati, dan mereka yakin akan hal itu. Oleh sebab itu, tidak
ada suatu pun selain kuasa ilahi yang dapat menghidupkan
anak itu kembali. Kita tidak mendapati sepatah kata pun yang
diucapkan-Nya untuk menanggapi cemoohan mereka. Namun,
segera Ia menjelaskannya sendiri, yang mudah-mudahan me-
nyadarkan mereka sehingga tidak pernah lagi menertawakan
perkataan-Nya. namun diusir-Nya semua orang itu (Mrk. 5:40).
Mereka tidak layak menjadi saksi karya yang ajaib ini. Mereka
yang di tengah suasana berkabung itu bisa menertawakan Dia
sebab apa yang dikatakan-Nya, mungkin saja juga menerta-
296
wakan apa yang diperbuat-Nya. sebab itu sudah sepantasnya
mereka diusir keluar.
VI. Anak itu hidup kembali setelah berkunjung sesaat ke tempat ar-
wah-arwah berkumpul: Yesus memegang tangan anak itu (seperti
yang biasa kita lakukan saat membangunkan seseorang dan
membantunya duduk), dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangun-
lah!” (ay. 55). Demikianlah tangan anugerah Kristus berjalan se-
iring dengan seruan perkataan-Nya, sehingga membuahkan hasil.
Tidak seperti dalam ketiga Injil lainnya yang tersirat saja, di sini
kejadian ini diungkapkan dengan jelas, bahwa kembalilah roh
anak itu. Jiwanya kembali untuk menghidupkan jasadnya. Hal ini
jelas membuktikan bahwa jiwa memang ada dan bertindak dalam
keadaan terpisah dari tubuh, sehingga tidak dapat mati (abadi),
bahwa maut tidak dapat memadamkan pelita TUHAN ini, melain-
kan membawanya keluar dari lentera yang gelap ini. Seperti yang
dicermati dengan baik oleh bapa gereja Grotius, jiwa bukanlah
krasis atau sifat tubuh atau apa pun yang dapat mati bersama-
nya, melainkan anthypostaton ti – sesuatu yang hidup atau ada se-
cara tersendiri, dan yang sesudah kematian berada di tempat lain
yang terpisah dengan tubuh. Tidak dikatakan di mana jiwa anak
ini berada dalam waktu jeda itu tetap jiwanya berada di tangan
Bapa segala roh, yang kepada-Nya semua jiwa kembali saat kema-
tian datang. saat roh anak itu kembali, ia pun bangkit, dan ge-
rakannya menunjukkan bahwa dia hidup, seperti yang diperlihat-
kan pula melalui keinginannya untuk makan, sebab Kristus me-
nyuruh mereka memberi anak itu makan. Sama seperti bayi yang
baru lahir, orang-orang yang baru dibangkitkan menginginkan
makanan rohani supaya dapat bertumbuh. Dalam ayat terakhir,
kita tidak perlu heran mendapati bahwa takjublah orangtua anak
itu. Namun, bila ayat ini menyiratkan bahwa hanya mereka saja
yang merasa takjub dan orang-orang lain yang hadir di situ yang
menertawakan Kristus tidak takjub, maka kita boleh heran meli-
hat kebodohan mereka itu. Mungkin itulah alasannya mengapa
Kristus tidak mau mujizat ini diberitahukan ke mana-mana, se-
lain juga sebab Ia mau menunjukkan kerendahan hati-Nya.
PASAL 9
Dalam pasal ini kita mendapati:
I. Penugasan yang diberikan Kristus kepada kedua belas ra-
sul-Nya untuk pergi beberapa waktu guna memberitakan
Injil, dan meneguhkannya dengan mengadakan mujizat (ay.
1-6).
II. Ketakutan Herodes melihat kemasyhuran Yesus Tuhan kita
yang semakin bertambah-tambah (ay. 7-9).
III. Kembalinya para rasul kepada Kristus; pemencilan diri-Nya
bersama mereka ke tempat yang sepi; dan berbondong-
bondongnya orang banyak mengikuti mereka; pemberian
makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan oleh-
Nya (ay. 10-17).
IV. Percakapan-Nya dengan para murid menyangkut diri-Nya
dan penderitaan-Nya bagi mereka, serta penderitaan mereka
sebab Dia (ay. 18-27).
V. Dimuliakannya Kristus (ay. 28-36).
VI. Penyembuhan seorang anak yang dirasuk setan (ay. 37-42).
VII. Pemberitahuan berulang kali yang disampaikan Kristus ke-
pada murid-murid-Nya perihal penderitaan yang akan di-
alami-Nya (ay. 43-45).
VIII. Teguran yang diberikan-Nya atas keinginan berlebihan para
murid-Nya (ay. 46-48), dan atas keinginan mereka untuk
memiliki sendiri kuasa atas setan-setan (ay. 49-50).
IX. Teguran yang diberikan-Nya kepada mereka atas sakit hati
berlebihan terhadap penolakan sebuah desa Samaria terha-
dap diri-Nya (ay. 51-56).
298
X. Jawaban yang diberikan-Nya kepada beberapa orang yang
hendak mengikut Dia, namun tidak dengan sungguh-sung-
guh, tanpa semangat dan sepenuh hati (ay. 57-62).
Pengutusan Kedua Belas Murid
(9:1-9)
1 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga
dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyem-
buhkan penyakit-penyakit. 2 Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan
Kerajaan Tuhan dan untuk menyembuhkan orang, 3 kata-Nya kepada mereka:
“Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau
bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. 4 Dan apabila kamu sudah dite-
rima dalam suatu rumah, tinggTuhan di situ sampai kamu berangkat dari situ.
5 Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota
mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap
mereka.” 6 Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil
memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. 7 Hero-
des, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa ce-
mas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari
antara orang mati. 8 Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul
kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi da-
hulu telah bangkit. 9 namun Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepa-
lanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?”
Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.
Di sini diceritakan tentang:
I. Cara yang dipakai Kristus untuk menyebarluaskan Injil-Nya,
yakni dengan memencarkan dan menguatkan terang Injil itu. Ia
sendiri telah pergi ke mana-mana sambil mengabarkan Injil dan
menyembuhkan orang sakit. Namun, Ia hanya bisa berada di satu
tempat pada suatu saat. Itulah sebabnya sekarang Ia mengutus
kedua belas murid-Nya yang saat itu sudah menerima cukup ba-
nyak pengajaran mengenai cara-cara memberitakan Injil, dan
mampu mengajar orang lain serta memberikan kepada mereka apa
yang telah mereka terima dari Tuhan. Biarlah mereka berpencar,
beberapa orang ke satu tempat dan beberapa lagi ke tempat lain,
guna memberitakan Kerajaan Tuhan , yang kini sedang ditegakkan
oleh Sang Mesias, supaya orang mengetahui makna dan tujuan
rohaninya, serta untuk mengajak mereka turut mengambil bagian
di dalamnya. Selain itu, sebab ajaran ini masih baru dan menge-
jutkan orang, dan sangat berbeda dari yang diajarkan oleh para
ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dan juga sangat bergantung
Injil Lukas 9:1-9
299
pada penerimaan orang atau penolakan orang terhadapnya, maka
untuk meneguhkan pengajaran mereka itu, Ia memberi mereka
kuasa untuk mengadakan mujizat (ay. 1-2): Ia memberi kuasa
kepada mereka untuk menguasai setan-setan, untuk mengenyah-
kan dan mengusir mereka, sekalipun mereka itu begitu banyak,
begitu licik, begitu garang, dan begitu keras kepala. Kristus bertu-
juan untuk mengalahkan dan menghancur-leburkan kerajaan ke-
gelapan, dan oleh sebab itu Ia memberi mereka kuasa atas semua
setan. Ia juga memberikan wewenang dan menunjuk mereka un-
tuk melenyapkan sakit-penyakit, dan untuk menyembuhkan orang
sakit. Hal ini akan membuat mereka disambut baik ke mana pun
mereka pergi, bukan saja untuk meyakinkan penilaian orang
terhadap Injil, melainkan juga untuk memenangkan kasih sayang
mereka. Inilah tugas mereka.
Sekarang perhatikanlah baik-baik:
1. Petunjuk yang diberikan Kristus kepada mereka dalam melak-
sanakan tugas mereka kala itu, supaya mereka tidak melang-
kah terlalu jauh ataupun menetap terlalu lama.
(1) Mereka tidak diperkenankan mengandalkan penampilan
luar supaya dihargai orang lain. Sekarang, setelah mereka
mulai bisa berdiri sendiri, mereka tidak boleh mengubah
penampilan yang selama ini mereka miliki, saat masih
berada bersama Dia, dan tidak mengganti pakaian atau
bahkan mengenakan sepasang kasut baru.
(2) Mereka harus mengandalkan pemeliharaan Tuhan dan ke-
baikan teman-teman mereka untuk memperlengkapi mere-
ka secukupnya. Mereka tidak boleh membawa roti atau
uang, dan tetap percaya bahwa mereka tidak akan keku-
rangan. Kristus tidak mau murid-murid-Nya merasa malu
untuk menerima kebaikan hati teman-teman mereka,
namun justru mengharapkannya. Namun, Paulus memiliki
alasan untuk tidak mengikuti aturan ini, saat ia berjerih
payah dengan tangannya, supaya jangan menjadi beban
bagi orang lain.
(3) Mereka tidak boleh berpindah-pindah tempat menginap de-
ngan alasan khawatir kalau-kalau orang-orang yang mene-
rima mereka di dalam rumah mereka merasa bosan dengan
mereka. Mereka tidak punya alasan untuk bersikap seperti
300
itu, sebab seperti tabut perjanjian dulu, seorang tamu sela-
lu membayar dengan baik pelayanan yang diterimanya:
“Apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggal-
lah di situ (ay. 4), supaya orang tahu di mana mereka bisa
menemukanmu, supaya teman-temanmu tahu bahwa ka-
mu tidak malu melayani mereka, dan musuh-musuhmu
tahu bahwa kamu tidak malu ataupun takut menghadapi
mereka. TinggTuhan di situ sampai kamu berangkat keluar
dari kota itu. TinggTuhan bersama mereka yang sudah kau-
kenal dengan baik.”
(4) Para murid harus menggunakan wewenang atau otoritas
yang telah diberikan kepada mereka baik dalam menyam-
paikan peringatan kepada orang-orang yang tidak mau
menerima mereka maupun dalam menghibur orang-orang
yang menerima mereka (ay. 5). “Jika ada tempat yang tidak
mau menerimamu, jika para pejabat tidak mau memberimu
izin dan memperlakukanmu sebagai tunawisma, tinggalkan
mereka. Jangan memaksakan diri dengan mereka atau
membahayakan diri di antara mereka, namun serahkanlah
mereka kepada penghakiman Tuhan saat itu juga. Kebas-
kanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap
mereka.” Hal ini sesungguhnya akan menjadi bukti yang
melawan mereka, bahwa para pemberita Injil pernah ber-
ada di antara mereka untuk menawarkan anugerah dan
damai sejahtera dengan tulus. Debu inilah yang mereka
tinggalkan di situ, sehingga kalau mereka akhirnya binasa
dalam ketidaksetiaan mereka, mereka sendirilah yang me-
nanggung darah mereka sendiri. Kebaskanlah debunya dari
kakimu, sebagai tanda bahwa kamu meninggalkan kota
mereka dan tidak akan berurusan lagi dengan mereka.
2. Apa yang mereka lakukan dalam melaksanakan penugasan ini
(ay. 6): Lalu pergilah mereka dari hadapan Guru mereka. Na-
mun, dengan tetap merasakan kehadiran rohani-Nya bersama
mereka, seakan-akan mata dan lengan-Nya menyertai mereka,
maka dengan memikul tugas, mereka pun pergi mengelilingi
segala desa yang telah ditentukan bagi mereka, sambil mem-
beritakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tem-
pat. Pekerjaan mereka sama seperti yang dilakukan Guru me-
reka, yakni berbuat baik untuk jiwa dan tubuh.
Injil Lukas 9:1-9
301
II. Di sini diceritakan tentang kebingungan dan kejengkelan Herodes
terhadap hal ini. Dialihkan atau disalurkannya kuasa Kristus ke-
pada orang-orang yang diutus dalam nama-Nya dan bertindak
berdasarkan wewenang-Nya, merupakan bukti yang menakjubkan
dan meyakinkan tentang keberadaan-Nya sebagai Mesias, jauh
melebihi hal-hal lainnya. Ini membuktikan bahwa sebagai Mesias,
Dia bukan saja mampu mengadakan mujizat sendiri, namun juga
bisa memampukan orang lain untuk mengadakan mujizat dengan
kuasa yang Ia berikan kepada mereka. Hal ini semakin menyebar-
luaskan kemasyhuran-Nya lebih dari apa pun juga dan membuat
berkas-berkas cahaya Surya Kebenaran itu semakin kuat melalui
pantulannya itu. Bahkan dari bumi sekalipun, dari orang-orang
sederhana yang tidak berpendidikan seperti para rasul ini, yang
tidak memiliki apa-apa yang patut dipuji atau yang bisa diharap-
kan, kecuali bahwa mereka pernah menjadi pengikut Yesus (Kis.
4:13). Waktu penduduk negeri itu melihat berbagai kejadian se-
perti menyembuhkan orang sakit dalam nama Yesus, mereka pun
terpana.
Sekarang perhatikanlah:
1. Berbagai dugaan yang timbul di antara orang banyak itu, yang
meskipun pikirannya tidak benar, mau tidak mau harus mena-
ruh hormat kepada Yesus Tuhan kita. Mereka menghormati
Dia sebagai seorang yang luar biasa, yang datang dari dunia
lain. Pikir mereka, Dia yaitu Yohanes Pembaptis yang telah
dihukum mati dan dipenggal kepalanya sebab nama Tuhan ,
atau mungkin juga seorang dari nabi-nabi dahulu yang telah
dihukum mati sebab sebab yang sama dan kini bangkit kem-
bali untuk memperoleh imbalan penghormatan atas semua
penderitaannya. Pikir mereka juga, mungkin Dia ini Elia yang
telah diangkat hidup-hidup ke sorga dengan kereta berapi, dan
kini telah muncul kembali sebagai seorang utusan dari sorga
(ay. 7-8).
2. Kecemasan besar yang ditimbulkan dalam pikiran Herodes:
Waktu ia mendengar segala yang diperbuat oleh Kristus, rasa
bersalah menguasai dirinya, dan ia setuju dengan orang-orang
bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Dia me-
nyangka telah terbebas dari Yohanes dan tidak akan diusik-
usik olehnya lagi. Namun, sepertinya dia keliru. Yohanes kini
302
telah hidup kembali, atau ada seorang lain lagi yang memiliki
roh dan kuasanya, sebab Tuhan tidak akan pernah tidak me-
nyatakan diri-Nya. “Apa yang akan aku lakukan sekarang?”
kata Herodes. “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa ge-
rangan Dia ini? Apakah Dia melanjutkan pekerjaan Yohanes,
atau datang untuk membalas kematian Yohanes? Yohanes
membaptis orang, namun orang ini tidak. Yohanes tidak mem-
buat satu mujizat pun, namun Dia ini melakukannya dan oleh
sebab itu tampil lebih hebat daripada Yohanes.” Perhatikan-
lah, orang-orang yang melawan Tuhan akan merasa semakin
malu sendiri. Bagaimanapun, Herodes berusaha supaya dapat
bertemu dengan Yesus, entah Dia serupa dengan Yohanes atau
tidak. Namun, sebenarnya ia bisa saja segera terbebas dari
masalah yang menyakitkan ini seandainya ia mencari tahu hal
yang sudah diketahui ribuan orang lain, bahwa Yesus telah
berkhotbah dan mengadakan mujizat jauh sebelum Yohanes
dipenggal kepalanya dan oleh sebab itu mustahil kalau Dia
yaitu Yohanes yang bangkit dari antara orang mati. Herodes
berusaha supaya dapat bertemu dengan-Nya, namun mengapa
ia tidak pergi menemui-Nya? Mungkin sebab Herodes meng-
anggap terlalu rendah baginya untuk datang kepada-Nya atau
mendatangkan-Nya. Dia sudah cukup mendapat masalah de-
ngan Yohanes Pembaptis dan tidak ingin berurusan lagi de-
ngan orang yang suka memberikan teguran terhadap dosa
seperti dia. Herodes memang ingin bertemu dengan-Nya, namun
kita tidak tahu apakah dia pernah melakukannya, sampai ia
berjumpa dengan-Nya di depan pengadilan, dan saat itu
Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia
(23:11). Seandainya saja Herodes melaksanakan keinginan itu
sekarang juga dan pergi menemui-Nya, siapa tahu hatinya
diubahkan menjadi lembut? Namun, sebab ia menundanya,
hatinya pun semakin keras, dan saat ia benar-benar berjumpa
dengan-Nya, pikirannya sudah penuh dengan prasangka, sa-
ma seperti orang-orang lain.
Orang Banyak Diberi Makan secara Ajaib
(9:10-17)
10 Sekembalinya rasul-rasul itu menceriterakan kepada Yesus apa yang telah
mereka kerjakan. Lalu Yesus membawa mereka dan menyingkir ke sebuah
kota yang bernama Betsaida, sehingga hanya mereka saja bersama Dia. 11
Akan namun orang banyak mengetahuinya, lalu mengikuti Dia. Ia menerima
mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Tuhan dan Ia me-
nyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. 12 Pada waktu
hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan ber-
kata: “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa
dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan
makanan, sebab di sini kita berada di tempat yang sunyi.” 13 namun Ia
berkata kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka
menjawab: “Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan,
kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.”
14 Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata
kepada murid-murid-Nya: “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok,
kira-kira lima puluh orang sekelompok.” 15 Murid-murid melakukannya dan
menyuruh semua orang banyak itu duduk. 16 Dan setelah Ia mengambil lima
roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu meme-
cah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya
dibagi-bagikannya kepada orang banyak. 17 Dan mereka semuanya makan
sampai kenyang. lalu dikumpulkan potongan-potongan roti yang sisa
sebanyak dua belas bakul.
Di sini diceritakan tentang:
I. Laporan yang disampaikan kedua belas murid kepada Guru mere-
ka tentang keberhasilan pelayanan mereka. Mereka pergi tidak
lama; namun sekembalinya rasul-rasul itu, mereka menceritakan
kepada Yesus apa yang telah mereka kerjakan, seperti selayaknya
pelayan-pelayan yang disuruh mengerjakan tugas. Mereka me-
nyampaikan kepada-Nya tentang apa yang telah mereka kerjakan,
supaya seandainya ada yang kurang, mereka bisa memperbaiki-
nya di lalu hari.
II. Mereka menyepi, untuk beristirahat sejenak. Ia membawa mereka
dan menyingkir ke sebuah kota (di suatu tempat yang sepi di kota
itu), supaya mereka bisa bersantai sejenak setelah bekerja, dan
tidak sibuk terus-menerus. Perhatikanlah, Dia yang telah menyu-
ruh para pelayan-Nya beristirahat, tentunya ingin agar pelayan-
pelayan itu sendiri juga beristirahat. Orang-orang yang bekerja
melayani kepentingan umum, perlu sesekali menyendiri, meng-
ambil istirahat bagi tubuh mereka supaya segar kembali, dan juga
demi pemulihan pikiran mereka melalui saat teduh agar dapat
melayani dengan lebih baik.
III. Berkumpulnya orang banyak kepada-Nya, dan sambutan yang di-
berikan-Nya kepada mereka. Mereka mengikuti Dia meskipun Ia
berada di tempat yang sunyi, sebab di mana Kristus berada, tem-
pat ini tidak akan terasa sunyi. Walaupun dengan demikian
mereka telah mengganggu istirahat yang direncanakan-Nya bagi
diri-Nya sendiri dan para murid-Nya, Ia tetap menerima mereka
(ay. 11). Perhatikanlah, semangat yang saleh masih memperboleh-
kan adanya sedikit kekasaran. Hal ini diizinkan Kristus, dan se-
baiknya juga demikian dengan kita. Walaupun mereka datang
pada saat yang kurang tepat, Kristus tetap memberikan apa yang
mereka cari.
1. Ia berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Tuhan , tentang
hukum-hukum yang berlaku dalam kerajaan itu yang meng-
ikat mereka, dan tentang hak-hak istimewa kerajaan itu yang
melaluinya mereka diberkati.
2. Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan kesembuhan
dan yang memohon kepada-Nya sebab menyadari kebutuhan
mereka. Walaupun penyakit itu sudah sangat berurat akar
dan tidak mampu disembuhkan oleh para tabib, walaupun
orang-orang yang sakit itu sangat miskin dan sederhana,
Kristus tetap menyembuhkan mereka. Ada kesembuhan dalam
Kristus bagi semua orang yang memerlukannya, baik kesem-
buhan bagi jiwa maupun tubuh. Kristus masih memiliki kuasa
atas penyakit-penyakit jasmani dan menyembuhkan umat-Nya
yang memerlukan kesembuhan. Adakalanya Ia melihat bahwa
kita lebih memerlukan penyakit demi kebaikan jiwa kita dari-
pada kesembuhan bagi tubuh kita. Jika demikian halnya,
maka kita harus bersedia menerimanya untuk beberapa waktu
lamanya, sebab ada keperluan tertentu untuk menanggung
beban itu. Namun, saat Ia melihat bahwa kita memerlukan
kesembuhan, kita akan menerimanya. Maut yaitu pelayan-
Nya, untuk menyembuhkan orang-orang kudus dari semua
sakit-penyakit. Kristus menyembuhkan penyakit-penyakit ro-
hani dengan anugerah-Nya, dengan penghiburan-Nya, dan me-
nyediakan jawaban sesuai dengan masalahnya masing-ma-
sing. Ada jalan keluar bagi setiap keadaan darurat.
IV. Bekal berlimpah yang diberikan Kristus bagi orang banyak yang
mengikuti Dia. Dengan lima roti dan dua ikan, Ia memberi makan
lima ribu orang laki-laki. Sebelum ini, kisah ini sudah dicatat
dua kali, dan kita akan membacanya lagi. Ini yaitu satu-satunya
mujizat Juruselamat kita yang dicatat oleh keempat penulis Injil.
Mari kita amati kisah ini:
1. Orang-orang yang dengan tekun mengikuti Kristus sebab ter-
dorong oleh kewajiban sampai membuat dirinya rentan ter-
hadap bahaya, serta melupakan diri sendiri dan kenyamanan
lahiriah sebab kecintaan mereka terhadap rumah Tuhan , akan
dipelihara secara khusus oleh-Nya dan boleh menggantungkan
diri pada Jehovah jireh – Tuhan akan mencukupi. Dia tidak
akan membiarkan orang-orang yang takut pada-Nya dan me-
layani-Nya dengan setia mengalami kekurangan suatu hal baik
apa pun.
2. Yesus Tuhan kita memiliki roh yang rela dan murah hati.
Murid-murid-Nya berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi,
untuk mencari makanan,” namun Kristus berkata, “Tidak, kamu
harus memberi mereka makan. Relakan segala apa yang ada
pada kita, dan persilakan mereka menerimanya.” Demikianlah
Ia mengajar para pelayan Tuhan dan juga orang Kristen untuk
memberi tumpangan dengan tidak bersungut-sungut (1Ptr. 4:9).
Orang-orang yang hanya memiliki sedikit biarlah melakukan
apa saja dengan yang sedikit itu, dan itulah cara untuk mem-
perbanyaknya. Ada yang menyebar harta, namun bertambah
kaya.
3. Yesus Kristus bukan saja memberikan kesembuhan tubuh jas-
mani, namun juga makanan bagi semua orang yang berserah
diri kepada-Nya melalui iman. Ia bukan saja menyembuhkan
orang-orang yang memerlukan kesembuhan, bukan saja me-
nyembuhkan penyakit-penyakit jiwa, namun juga memberi
makan mereka yang memerlukan makanan, menunjang kehi-
dupan rohani, mencukupi keperluan jiwa, dan memenuhi
keinginannya. Kristus bukan saja menyediakan diri untuk me-
nyelamatkan jiwa manusia dari kebinasaan sebab penyakit-
penyakit jiwa, namun juga untuk memberi makanan bergizi bagi
jiwa itu sendiri dalam memperoleh hidup kekal dan menguat-
kannya guna menjalani semua latihan rohani.
4. Semua karunia yang diberikan Kristus patut diterima oleh
jemaat dengan cara yang teratur dan tertib. “Suruhlah mereka
duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang seke-
lompok” (ay. 14). Di sini dicatat jumlah orang dalam setiap
kelompok yang ditentukan Kristus agar murid-murid lebih
mudah membagi-bagikan makanan dan menghitung jumlah
mereka yang hadir.
5. Setiap kali menerima berkat penghiburan, kita harus mene-
ngadah ke langit. Kristus melakukannya untuk mengajar kita
melakukan hal yang sama. Kita harus mengakui bahwa kita
menerimanya dari Tuhan dan bahwa kita tidak layak menerima-
nya. Kita harus mengakui bahwa kita berutang atas semua
berkat itu dan segala penghiburan yang ada di dalamnya ha-
nyalah oleh sebab perantaraan Kristus. Oleh Dia kutukan
dihapuskan dan perjanjian (kovenan) pendamaian ditetapkan.
Kita bergantung pada berkat Tuhan dan berkewajiban untuk
memanfaatkannya bagi keuntungan kita, dan selalu mengha-
rapkan berkat itu.
6. Berkat Kristus mampu membuat yang sedikit menjadi sangat
bermanfaat. Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari
pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik, lebih baik sepi-
ring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan ke-
bencian.
7. Orang-orang yang diberi makan oleh Kristus akan kenyang.
Kepada siapa Ia memberi, Ia memberi dengan cukup. Sama
seperti di dalam diri-Nya ada cukup banyak bagi semua
orang, begitu pula ada cukup banyak bagi setiap orang. Ia me-
ngenyangkan setiap jiwa yang lapar, memuaskannya dengan
segala yang baik di rumah-Nya. Di sini dikumpulkan potongan-
potongan roti, untuk meyakinkan kita bahwa di dalam rumah
Bapa kita ada berlimpah-limpah makanan. Di dalam Dia
kita tidak akan berkekurangan atau diperlakukan dengan
kikir.
Pengakuan Petrus;
Penyangkalan Diri Diperintahkan
(9:18-27)
18 Pada suatu kali saat Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-
Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, sia-
pakah Aku ini?” 19 Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang me-
ngatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi
dahulu telah bangkit.” 20 Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu,
siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Tuhan .” 21 Lalu Yesus melarang
mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu
kepada siapa pun. 22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung
banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-
ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” 23 Kata-Nya
kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus
menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 24 Ka-
rena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawa-
nya; namun barangsiapa kehilangan nyawanya sebab Aku, ia akan menyela-
matkannya. 25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, namun ia
membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? 26 Sebab barangsiapa malu
sebab Aku dan sebab perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu sebab
orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemulia-
an Bapa dan malaikat-malaikat kudus. 27 Aku berkata kepadamu: Sesung-
guhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum
mereka melihat Kerajaan Tuhan .”
Di dalam ayat-ayat ini diceritakan tentang Kristus yang bercakap-
cakap dengan murid-murid-Nya mengenai hal-hal besar tentang Ke-
rajaan Tuhan . Ada satu hal dalam percakapan yang dicatat di sini dan
tidak ada dalam ketiga Injil yang lain – bahwa Kristus berdoa
seorang diri, lalu datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya waktu Ia
memulai percakapan ini (ay. 18).
Perhatikanlah:
1. Walaupun Kristus sangat sibuk melayani orang banyak, Ia masih
menyediakan waktu untuk menyendiri, untuk merenung, untuk
berbicara dengan Bapa-Nya dan dengan murid-murid-Nya.
2. saat Kristus seorang diri, Ia berdoa. Sungguh baik bagi kita un-
tuk meningkatkan kesendirian dalam saat teduh, supaya saat
kita seorang diri, kita tidak merasa sendirian, melainkan disertai
oleh Bapa.
3. saat Kristus berdoa seorang diri, murid-murid menyertai-Nya,
untuk turut berdoa bersama-Nya, sehingga jadilah ini doa keluar-
ga. Para kepala rumah tangga harus berdoa dengan seisi rumah-
nya, para orangtua bersama anak-anak mereka, para majikan
bersama pelayan-pelayan mereka, dan para guru bersama murid-
murid mereka.
4. Kristus berdoa bersama mereka sebelum Ia menguji mereka, supa-
ya mereka dapat diarahkan dan didorong untuk menjawab perta-
nyaan-Nya melalui doa-doa-Nya bagi mereka. Orang-orang yang
kita beri pengarahan haruslah kita doakan dan ajak berdoa ber-
sama. Ia bercakap-cakap dengan mereka,
I. Tentang diri-Nya sendiri, dan bertanya tentang:
1. Apa yang dikatakan orang banyak tentang diri-Nya: Kata orang
banyak, siapakah Aku ini? Kristus lebih tahu daripada mereka.
Namun, Ia lebih suka agar murid-murid-Nya menyadari masa-
lah ini lewat kekeliruan orang lain perihal diri-Nya. Betapa
berbahagianya mereka ini yang dituntun kepada pengetahuan
dan kebenaran mengenai diri-Nya. Kita harus memperhatikan
ketidaktahuan dan kekeliruan orang lain supaya kita bisa
lebih bersyukur kepada Dia yang telah menyatakan diri-Nya
kepada kita, dan bukan kepada dunia. Dengan demikian kita
bisa menaruh iba kepada mereka, dan berusaha sekeras
mungkin untuk menolong mereka dan mengajar mereka de-
ngan lebih baik. Murid-murid itu menyampaikan kepada-Nya
berbagai dugaan perihal diri-Nya yang mereka dengar dalam
percakapan mereka dengan orang banyak. Para pelayan Tuhan
akan lebih tahu cara menyesuaikan pengajaran, teguran, dan
bimbingan kepada orang kebanyakan, asalkan mereka lebih
sering dan lebih akrab bercakap-cakap dengan mereka. De-
ngan demikian, akan lebih mudah bagi mereka dalam me-
nyampaikan apa yang pantas guna meluruskan pemikiran
mereka, memperbaiki ketidakberesan mereka, dan menyingkir-
kan prasangka mereka. Semakin akrab perbincangan dokter
dengan pasiennya, semakin baik ia tahu apa yang harus dila-
kukannya bagi si pasien. Beberapa orang berkata bahwa Ia
yaitu Yohanes Pembaptis yang telah dipenggal kepalanya.
Yang lain berkata bahwa Dia yaitu Elia, seorang dari nabi-
nabi dahulu. Mereka mengatakan apa saja kecuali siapa Dia
sebenarnya.
2. Apa yang mereka katakan tentang diri-Nya. “Sekarang coba
pikirkanlah. Kalian ini yaitu murid-murid-Ku. sebab itu,
kalian harus lebih tahu daripada mereka.” “Memang benar
kata-Mu,” kata Petrus, “terima kasih, Guru. Kami tahu bahwa
Engkau yaitu Mesias dari Tuhan , Yang Diurapi oleh Tuhan ,
Mesias yang dijanjikan.” Sungguh tak terkatakan penghiburan
bagi kita bahwa Yesus Tuhan kita yaitu Yang diurapi Tuhan ,
sebab dengan demikian wewenang atau otoritas dan kemam-
puan-Nya dalam melaksanakan tugas-Nya sebagai Mesias
tidak dapat dipertanyakan lagi. Keberadaan-Nya yang diurapi
itu menandakan bahwa Ia ditunjuk dan memenuhi syarat
untuk melaksanakannya. Nah, kalau begitu jadinya, orang
mungkin berharap bahwa Kristus akan menyuruh murid-
murid-Nya yang begitu menghargai dan yakin akan kebenaran
ini untuk memberitakan kebenaran ini kepada setiap
orang yang mereka jumpai. namun tidak, Ia justru melarang
mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan
hal itu kepada siapa pun, sebab untuk segala sesuatu itu ada
waktunya. Nanti sesudah kebangkitan-Nya, yang melengkapi
bukti kebenaran ini, barulah Petrus mengumandangkan kebe-
naran ini di seluruh Bait Tuhan , bahwa Tuhan telah membuat
Yesus menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36). Namun, sebab
pada saat itu bukti ini belum dilengkapi sepenuhnya,
kebenaran ini harus tetap disembunyikan dulu. Jadi kita
boleh menyimpulkan bahwa untuk memperoleh keselamatan,
orang pada waktu itu belum harus mempercayai kebenaran ini
terlebih dulu.
II. Mengenai penderitaan dan kematian-Nya sendiri, yang sampai
saat itu belum banyak dibicarakan-Nya. Sekarang, setelah para
murid-Nya sudah berakar teguh dalam iman bahwa Dia memang
Kristus, dan mampu menerima kebenaran ini , Ia berbicara
terus terang dan tegas mengenai penderitaan dan kematian-Nya
(ay. 22). Inilah alasannya mengapa mereka belum boleh memberi-
takan bahwa Dia yaitu Kristus, sebab keajaiban-keajaiban yang
menyertai kematian dan kebangkitan-Nya yang akan menjadi
bukti paling meyakinkan mengenai keberadaan-Nya sebagai
Mesias dari Tuhan . Ditinggikannya Ia di sebelah kanan Bapa itulah
yang mengumandangkan dengan sepenuhnya bahwa Dia memang
Sang Mesias. Demikian pula dengan diutusnya Roh Kudus (Kis.
2:33). Oleh sebab itu, tunggulah dulu sebelum semuanya ini ter-
jadi.
III. Mengenai penderitaan mereka demi Dia. Mereka sama sekali tidak
boleh memikirkan cara mencegah penderitaan-Nya supaya mereka
lebih mempersiapkan diri bagi penderitaan sendiri.
1. Kita harus membiasakan diri dengan semua bentuk penyang-
kalan diri dan kesabaran (ay. 23). Inilah persiapan terbaik
untuk menjalani kesyahidan. Kita harus menjalani kehidupan
yang penuh penyangkalan diri, mati raga, dan menganggap
rendah keduniawian. Janganlah kita memuaskan hawa nafsu
dan kesenangan, sebab nantinya akan sangat berat bagi kita
dalam menanggung penderitaan, keletihan, dan kekurangan
demi Kristus. Kita harus setiap hari bersedia menjadi sasaran
penderitaan, menyesuaikan diri dengannya, menerimanya tan-
pa membantah kehendak Tuhan di dalamnya, dan belajar berta-
han dalam kesukaran. Dalam melaksanakan tugas, kita sering
menjumpai salib-salib. Kita tidak boleh mengambil salib-salib
itu kepada kita sendiri. Namun saat salib-salib itu disediakan,
kita harus memikulnya, membawanya mengikuti Kristus, dan
berusaha memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
2. Kita harus memilih keselamatan dan kebahagiaan jiwa kita
melebihi urusan dunia apa pun.
Renungkanlah:
(1) Bahwa orang yang demi mempertahankan kebebasan atau
harta miliknya, kekuasaan atau kedudukannya, bahkan
demi menyelamatkan nyawanya menyangkali Kristus dan
kebenaran-Nya, telah dengan sengaja melawan hati nurani-
nya dan berdosa terhadap Tuhan . Orang ini bukan saja
tidak akan menyelamatkan sesuatu apa pun, ia bahkan
akan kehilangan segala sesuatu, saat untung rugi dihi-
tung. Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya berda-
sarkan syarat-syarat ini, ia akan kehilangan nyawanya. Dia
akan kehilangan hal yang jauh lebih berharga, yaitu jiwa-
nya.
(2) Kita juga harus teguh percaya bahwa jika kita kehilangan
nyawa sebab kelekatan kita pada Kristus dan iman kita,
kita akan menyelamatkannya dengan mendatangkan keun-
tungan yang tak terkatakan, sebab kita akan memperoleh
imbalan berlimpah pada waktu kebangkitan orang benar,
saat kita akan menerima kehidupan baru yang kekal.
(3) Bahwa memiliki seluruh isi dunia namun mencampakkan
Kristus demi kepentingan dunia, sama sekali tidak sepadan
dengan kehilangan dan kebinasaan kekal jiwa. Keduanya
tidak seimbang dalam hal untung ruginya (ay. 25). Sean-
dainya kita dapat memiliki semua kekayaan, kehormatan,
dan kesenangan dunia dengan cara menyangkali Kristus,
namun sebab itu kita lalu merugikan diri sendiri dalam
kekekalan, dan akhirnya nanti akan dibinasakan, apa gu-
nanya kekayaan dunia kita itu? Perhatikanlah, di dalam
Injil Matius dan Markus disebutkan bahwa akhir mengeri-
kan yang dialami seseorang yaitu kehilangan nyawanya,
sedangkan dalam Injil Lukas di sini dikatakan merugikan
dirinya sendiri, yang jelas-jelas menyiratkan bahwa nyawa
kita yaitu diri kita sendiri. Animus cujusque is est quisque
– Jiwa atau nyawa yaitu orang itu sendiri. Ini artinya
bahwa kita ini baik atau tidak baik tergantung dari baik-
buruknya jiwa kita sendiri. Jika jiwa kita binasa selamanya
di bawah beratnya kesalahan dan dosa, maka dengan
sendirinya kita ini pun pasti akan pupus juga. Tubuh tidak
bisa merasa bahagia jikalau jiwa merasa sengsara di dunia
lain. Namun, jiwa mungkin saja merasa bahagia meskipun
tubuh mengalami penderitaan hebat dan tekanan di dunia
ini. Jika seseorang dicampakkan, ē zēmiōtheis – jika ia
dihancurkan – atau jika ia dihukum, si mulctetur – jika
jiwanya dikenai hukuman oleh penghukuman Kristus yang
benar, oleh Kristus yang telah dicampakkan beserta segala
tujuan dan kepentingan-Nya – jika telah diputuskan bahwa
ia harus kehilangan semua berkatnya, apakah untungnya?
Apakah lagi yang menjadi pengharapannya?
3. Oleh sebab itu, sekali-kali janganlah kita malu sebab Kristus
dan Injil-Nya. Jangan pula kita malu menderita aib atau mene-
rima kecaman sebab iman setia kita kepada Dia dan Injil-Nya
(ay. 26: Sebab barangsiapa malu sebab Aku dan sebab
perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu sebab orang itu.
Memang, sudah sepantasnyalah demikian. saat orang yang
demikian diminta memberikan kesaksian dan tenaga bagi pe-
layanan dan kehormatan Kristus, maka dia menolaknya kare-
na ia melihat bahwa kepentingan Kristus dihina dan ditentang
di mana-mana. Oleh sebab itu, pada hari penghakiman itu
tidak bisa diharapkan oleh orang itu bahwa Kristus akan
membelanya. Kristus akan malu mengakui orang yang penge-
cut dan duniawi itu dan Ia akan berkata, “Dia tidak termasuk
orang-orang kepunyaan-Ku, dia bukan milik-Ku.” Sama seperti
Kristus memiliki keadaan yang hina dan mulia, demikian juga
dengan tugas-Nya itu. Mereka, dan hanya mereka yang mau
menderita bersama-sama dalam kehinaan-Nya itu yang akan
memerintah bersama-sama dengan Dia juga. namun orang-
orang yang tidak mau turut ambil bagian dalam aib itu dan
berkata, “Kalau aib ini saja sudah sedemikian hina, maka aku
pasti akan menjadi lebih hina lagi sebab nya,” maka mereka
ini tidak akan mendapat bagian dalam kemenangannya. Per-
hatikanlah di sini bagaimana Kristus, untuk mendukung diri-
Nya dan para pengikut-Nya yang terus dipermalukan, berbi-
cara tentang kemegahan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan
mata yang tertuju pada pengharapan inilah, Ia telah memikul
salib dengan mengabaikan kehinaan.
(1) Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya. Hal ini tidak disebut-
kan dalam Injil Matius dan Markus. Dia akan datang dalam
kemuliaan Sang Pengantara, dalam segala kemuliaan yang
disediakan Bapa kepada-Nya, yang telah dimiliki-Nya ber-
sama Tuhan sebelum dunia ini dijadikan, yang seakan-akan
telah digadaikan-Nya (dan memang demikianlah adanya)
demi menyelesaikan pekerjaan-Nya dan dituntut-Nya kem-
bali setelah tugas-Nya selesai. Oleh sebab itu, ya Bapa,
permuliakanlah Aku (Yoh. 17:4-5). Dia akan datang dalam
segala kemuliaan yang telah dianugerahkan Bapa kepada-
Nya saat mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya dan
memberikan Dia kepada jemaat sebagai Kepala dari segala
yang ada. Dia akan datang dalam segala kemuliaan yang
diberikan kepada-Nya sebagai pemberi pernyataan akan
kemuliaan Tuhan dan sumber kemuliaan bagi semua orang
kudus. Inilah kemuliaan-Nya.
(2) Dia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya. Bapa akan
menghakimi dunia melalui Dia, setelah menyerahkan selu-
ruh penghakiman kepada-Nya. Oleh sebab itu, pada hari
penghakiman itu Bapa akan mengakui-Nya di hadapan
umum sebagai cahaya kemuliaan Tuhan dan gambar wujud
Tuhan .
(3) Dia akan datang dalam kemuliaan malaikat-malaikat ku-
dus. Mereka akan menyertai Dia dan melayani Dia, serta
melakukan apa saja untuk memeriahkan penampakan-
Nya. Alangkah megahnya sosok Yesus pada hari itu! Kalau
kita percaya akan hal ini, tidak semestinya kita malu ka-
rena Dia atau sebab perkataan-Nya pada saat ini.
Terakhir, untuk membesarkan hati mereka dalam men-
derita bagi-Nya, Ia meyakinkan mereka bahwa Kerajaan
Tuhan akan segera ditegakkan, meskipun perlawanan yang
diberikan orang sangat gigih (ay. 27). “Meskipun kedatang-
an Anak Manusia yang kedua kali masih jauh, Kerajaan
Tuhan akan datang dengan penuh kuasa di zaman ini juga,
sementara beberapa yang hadir di sini masih hidup.” Me-
reka melihat Kerajaan Tuhan saat Roh Kudus dicurahkan,
saat Injil diberitakan ke seluruh dunia dan bangsa-bang-
sa dibawa kepada Kristus melalui Injil itu. Mereka melihat
Kerajaan Tuhan berjaya atas bangsa-bangsa bukan-Yahudi
melalui pertobatan mereka, dan atas bangsa Yahudi mela-
lui kehancuran mereka.
Yesus Dimuliakan
(9:28-36)
28 Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa
Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. 29
saat Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi
putih berkilau-kilauan. 30 Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia,
yaitu Musa dan Elia. 31 Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan
berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusa-
lem. 32 Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan saat
mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua
orang yang berdiri di dekat-Nya itu. 33 Dan saat kedua orang itu hendak
meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: “Guru, betapa bahagianya
kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu
untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” namun Petrus tidak
tahu apa yang dikatakannya itu. 34 Sementara ia berkata demikian, datang-
lah awan menaungi mereka. Dan saat mereka masuk ke dalam awan itu,
takutlah mereka. 35 Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang ber-
kata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” 36 saat suara itu
terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu mera-
hasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapa
pun apa yang telah mereka lihat itu.
Di sini diceritakan tentang pemuliaan (transfigurasi, “perubahan ru-
pa”) Kristus, yang dirancang untuk memperlihatkan sekelumit kemu-
liaan-Nya yang di dalamnya Ia akan datang kelak untuk menghakimi
dunia. Kemuliaan inilah yang akhir-akhir ini Ia bicarakan, supaya
menjadi dorongan bagi murid- murid-Nya untuk bersedia menderita
bagi-Nya, dan tidak usah merasa malu sebab Dia. Kita sudah mem-
baca tentang kisah ini dalam Injil Matius dan Markus, dan kisah ini
memang patut diceritakan ulang kepada kita untuk direnungkan
kembali, demi meneguhkan iman kita di dalam Tuhan Yesus, yang
yaitu cahaya kemuliaan Bapa-Nya dan terang dunia. Juga demi
mengisi pikiran kita dengan penilaian yang tinggi dan mulia tentang
diri-Nya, meskipun Ia dibungkus dengan tubuh jasmani, dan untuk
memberi kita sedikit gambaran mengenai kemuliaan yang melingkupi-
Nya pada saat kenaikan-Nya ke sorga. Dalam kemuliaan itulah Ia
sekarang tampak di balik tirai. Kisah ini juga diceritakan ulang di sini
guna meningkatkan dan mendorong kita untuk terus berharap dan
menantikan kemuliaan yang disediakan bagi semua orang percaya di
masa mendatang.
I. Di sini kita dapati suatu keadaan yang tampaknya berbeda dari
yang dikisahkan oleh kedua penulis Injil lainnya. Kedua penulis
Injil ini berkata bahwa peristiwa ini terjadi enam hari sesu-
dah segala pengajaran yang disampaikan-Nya sebelumnya. Na-
mun, Lukas berkata bahwa ini terjadi kira-kira delapan hari sesu-
dah segala pengajaran itu, berarti bahwa pada hari itu telah
berlalu tujuh malam dan enam hari penuh, dan itu yaitu hari
kedelapan. Beberapa orang beranggapan bahwa Kristus dimulia-
kan di malam hari, sebab para murid mengantuk dan tertidur,
seperti yang terjadi pada malam saat Ia sedang menghadapi
penderitaan maut. Selain itu, pada malam harilah penampakan-
Nya dalam kemuliaan yang penuh semarak itu akan tampak se-
makin terang berkilauan. Jika terjadinya memang di malam hari,
maka perhitungan waktunya memang akan semakin diragukan
dan tidak pasti. Mungkin peristiwa ini terjadi di malam hari, di
antara hari ketujuh dan kedelapan, jadi kira-kira delapan hari.
II. Dalam Injil Lukas ini juga ditambahkan dan dijelaskan mengenai
beberapa hal lain yang sangat penting.
1. Di sini diceritakan kepada kita bahwa Kristus mendapat kehor-
matan ini saat ia sedang berdoa: Ia naik ke atas gunung
untuk berdoa, seperti yang telah sering dilakukan-Nya (ay. 28).
saat Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah. Waktu
Kristus merendahkan diri untuk berdoa, Ia pun dimuliakan.
Sebelum itu, Ia sudah tahu peristiwa ini direncanakan bagi-
Nya pada saat itu, dan itulah sebabnya Ia mencarinya dengan
berdoa. Kristus sendiri harus memohon karunia-karunia yang
dimaksudkan bagi-Nya dan dijanjikan kepada-Nya: Mintalah
kepada-Ku, maka akan Kuberikan kepadamu (Mzm. 2:8). Demi-
kian pula, Ia pun menghormati doa yang dipanjatkan dan
menganjurkan kita untuk berdoa. Kewajiban untuk berdoa itu
yaitu kewajiban yang mengubah rupa, sebab jika hati kita
terangkat dan dilapangkan saat sedang berdoa, kita seperti
sedang melihat kemuliaan TUHAN, dan kita pun diubah men-
jadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang sema-
kin besar (2Kor. 3:8). Melalui doa, kita memperoleh hikmat,
anugerah, dan sukacita yang menjadikan wajah bercahaya.
2. Lukas tidak menggunakan istilah berubah rupa (“transfigured”)
– metamorphōtē (yang dipakai oleh Matius dan Markus),
mungkin sebab istilah ini sudah sering dipakai dalam ke-
percayaan bangsa-bangsa kafir. Sebaliknya, ia menggunakan
ungkapan yang sepadan, yakni to eidos tou prosōpou heteron –
rupa wajah-Nya lain daripada rupa yang sebelumnya: wajah-
Nya sangat bercahaya jauh melebihi Musa saat turun dari
gunung. Pakaian-Nya putih berkilau-kilauan: tampaknya
exastraptōn – terang seperti kilat (kata ini hanya dipakai di
sini), hingga Ia tampak seperti berbajukan cahaya, terbungkus
cahaya bagaikan sedang terbungkus kain.
3. Di dalam Injil Matius dan Markus dikatakan bahwa Musa dan
Elia nampak kepada mereka. Di sini dikatakan bahwa mereka
menampakkan diri dalam kemuliaan, untuk mengajar kita bah-
wa orang-orang kudus yang telah meninggal berada dalam ke-
muliaan, dalam keadaan yang penuh kemuliaan. sebab
Kristus berada dalam kemuliaan, mereka pun menampakkan
diri dalam kemuliaan, sama seperti semua orang kudus kelak.
4. Di sini diceritakan kepada kita tentang bahan pembicaraan di
antara Kristus dan kedua nabi besar dari Perjanjian Lama itu.
Mereka berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan di-
genapi-Nya di Yerusalem. Elegon tēn exodon autou – kepergian-
Nya keluar, keberangkatan-Nya, yang berarti kematian-Nya.
(1) Di sini kematian Kristus disebutkan sebagai kepergian-Nya,
kepergian-Nya keluar, hal Ia meninggalkan dunia. Musa
dan Elia membicarakan kematian-Nya itu dengan memakai
pengertian ini dengan maksud untuk memperdamaikan Dia
dengan kematian-Nya, supaya Ia dapat menatapnya ke de-
pan dengan lebih mudah bagi sifat manusia-Nya. Kematian
orang-orang kudus yaitu kepergian mereka keluar, kebe-
rangkatan mereka keluar dari Mesir dunia ini, pembebasan
mereka dari rumah perbudakan. Ada yang berpendapat
bahwa kenaikan Kristus ke sorga juga merupakan kebe-
rangkatan-Nya, sebab bila keberangkatan bangsa Israel ke-
luar dari Mesir yaitu keberangkatan yang penuh keme-
nangan, begitu pula dengan keberangkatan-Nya saat me-
ninggalkan dunia menuju sorga.
(2) Keberangkatan-Nya ini harus digenapi-Nya, sebab hal ini
memang sudah ditentukan. Perkara ini telah dipastikan
sesuai rencana Tuhan , dan tidak dapat diubah lagi.
(3) Ia harus menggenapinya di Yerusalem, walaupun keba-
nyakan Ia tinggal di Galilea; sebab musuh-musuh yang
sangat membenci-Nya ada di Yerusalem, dan di sanalah
Mahkamah Agama (Sanhedrin), yang mengadili para nabi,
berada.
(4) Musa dan Elia membicarakan hal ini untuk menunjukkan
bahwa segala penderitaan Kristus dan kemuliaan yang di-
peroleh-Nya itulah yang selama ini disebut-sebut oleh Musa
dan segala kitab nabi-nabi (24:26-27; 1Ptr. 1:11).
(5) Bahkan saat sedang berubah rupa pun, Yesus Tuhan
kita bersedia berbicara mengenai kematian dan penderita-
an-Nya, untuk mengajar kita bahwa merenungkan kemati-
an sebagai kepergian kita dari dunia ini menuju dunia lain
bukanlah sesuatu yang tidak pada tempatnya, malah harus
dilakukan terutama pada waktu kita sedang merasa baik-
baik saja secara rohani, supaya kita jangan meninggikan
diri. Dalam kemuliaan kita di dunia ini, biarlah kita ingat
bahwa di sini kita tidak memiliki tempat tinggal yang
tetap.
5. Di sini diceritakan kepada kita sesuatu yang sebelum ini tidak
diberitahukan, yakni bahwa para murid telah tertidur (ay. 32).
Waktu penglihatan itu mulai tampak, Petrus, Yakobus, dan
Yohanes mengantuk dan ingin tidur. Boleh jadi saat itu hari
sudah malam, atau mereka letih, atau terganggu istirahat
tidur mereka pada malam sebelumnya. Mungkin juga peng-
lihatan itu didahului oleh suatu kidung yang memukau atau
suara yang manis dan merdu yang membuat mereka terlena
dalam tidur. Atau bisa juga disebabkan sebab dosa kelalaian
mereka: waktu Kristus berdoa bersama mereka, mereka tidak
memperhatikan doa-Nya seperti seharusnya, dan sebagai hu-
kumannya, mereka dibiarkan tidur sekarang saat Ia mulai
berubah rupa, sehingga kehilangan kesempatan untuk melihat
bagaimana keajaiban itu terjadi. Ketiga murid ini tertidur
saat Kristus sedang berada dalam kemuliaan-Nya, dan ini
sama seperti yang mereka lakukan sesudah itu, saat Ia
ketakutan. Lihatlah kelemahan dan kerapuhan tabiat manusia
itu, bahkan dalam diri manusia yang terbaik sekalipun. Beta-
pa manusia itu sungguh membutuhkan anugerah Tuhan . Orang
akan menyangka bahwa kemuliaan Guru mereka yang sangat
agung dan ketakutan-Nya yang teramat sangat ini sudah pasti
akan menyentuh hati mereka; namun, nyatanya, tidak satu
pun dari kedua hal ini bisa membuat mereka terbangun. Beta-
pa perlunya kita berdoa kepada Tuhan untuk memperoleh
anugerah supaya kita bukan saja hidup, namun juga giat! Na-
mun, supaya mereka bisa menjadi saksi yang cakap mengenai
tanda dari sorga ini, dan juga bagi mereka yang memintanya,
beberapa saat lalu murid-murid itu pun menjadi sadar
kembali, dan benar-benar terjaga. saat itulah mereka meli-
hat semua kemuliaan ini, sehingga mereka dapat memberikan
laporan khusus seperti yang kita lihat telah dilakukan salah
seorang dari mereka, tentang semua hal yang terjadi waktu
mereka berada bersama Kristus di atas gunung yang kudus
(2Ptr. 1:18).
6. Di sini bisa dilihat bahwa saat Musa dan Elia hendak mening-
galkan Yesus-lah baru Petrus berkata, “Guru, betapa bahagia-
nya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang
tiga kemah.” Kita juga sering lalai dalam merasakan berharga-
nya rahmat yang kita terima, dan baru sadar saat akan
kehilangan rahmat itu. Kita juga sering tidak mengacuhkan-
nya, dan baru tersadar saat rahmat itu akan meninggalkan
kita. Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Orang-
orang kudus itu tidak perlu dibuatkan tenda di bumi ini,
sebab mereka sudah memiliki istana-istana yang megah di
sorga dan mereka lebih suka kembali ke sana.
7. Di sini ditambahkan juga perihal awan yang menaungi me-
reka, bahwa saat masuk ke dalam awan itu, takutlah murid-
murid itu. Awan ini secara lebih khusus menandai kehadiran
Tuhan . Di dalam awanlah Tuhan dalam Perjanjian Lama menjadi-
kan Kemah Suci dan Bait Suci sebagai milik-Nya, dan saat
awan itu menutupi Kemah Pertemuan, Musa tidak dapat mema-
sukinya (Kel. 40:34-35). saat awan itu memenuhi Bait Suci,
imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan
kebaktian oleh sebab awan itu (2Taw. 5:14). Awan seperti
itulah yang tampak di sini, jadi tidak mengherankan bila mu-
rid-murid juga takut masuk ke dalam awan itu. namun jangan-
lah ada seorang pun yang takut masuk ke dalam awan
bersama Yesus Kristus, sebab Ia pasti akan membawa serta
mereka melaluinya dengan selamat.
8. Di sini dan di dalam Injil Markus, suara yang datang dari sor-
ga itu tidak disebutkan sejelas dalam Injil Matius, “Inilah Anak
yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Meskipun kata-kata “kepa-
da-Nyalah Aku berkenan” yang kita dapati dalam Injil Matius
dan surat Petrus tidak disebutkan di sini, kata-kata itu sudah
tersirat dalam pernyataan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi”;
sebab siapa yang dikasihi-Nya, kepadanya juga Ia berkenan,
keduanya tercakup menjadi satu. Kita diterima di dalam Dia,
yang dikasihi-Nya.
Terakhir, di sini dikatakan bahwa para rasul itu merahasia-
kan penglihatan ini. Pada masa itu, mereka tidak menceritera-
kan hal itu kepada siapa pun. Mereka menyimpannya untuk
kesempatan lain, saat bukti-bukti bahwa Kristus yaitu
Anak Tuhan telah digenapi melalui pencurahan Roh Kudus, dan
saat itulah pengajaran itu harus diberitakan ke seluruh dunia.
Sama seperti ada saatnya untuk berbicara, demikian pula ada
saatnya untuk berdiam diri. Segala sesuatu itu indah dan ber-
guna pada masanya.
Roh Jahat Diusir
(9:37-42)
37 Pada keesokan harinya saat mereka turun dari gunung itu, datanglah
orang banyak berbondong-bondong menemui Yesus. 38 Seorang dari orang
banyak itu berseru, katanya: “Guru, aku memohon supaya Engkau mene-
ngok anakku, sebab ia yaitu satu-satunya anakku. 39 Sewaktu-waktu ia
diserang roh, lalu mendadak ia berteriak dan roh itu menggoncang-goncang-
kannya sehingga mulutnya berbusa. Roh itu terus saja menyiksa dia dan
hampir-hampir tidak mau meninggalkannya. 40 Dan aku telah meminta kepa-
da murid-murid-Mu supaya mereka mengusir roh itu, namun mereka tidak
dapat.” 41 Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan
yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar ter-
hadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!” 42 Dan saat anak itu mendekati
Yesus, setan itu membantingkannya ke tanah dan menggoncang-goncangnya.
namun Yesus menegor roh jahat itu dengan
Related Posts:
lukas 1-12 10pat yang penuh kesucian dan kasih. 5. Setan-setan itu sepenuhnya ada di bawah perintah dan kuasa Yesus Tuhan kita, dan mereka mengetahui hal ini, sebab me-reka memohon kepada-Nya supaya tidak memerintahkan mer… Read More