lukas 1-12 10


pat yang penuh kesucian dan kasih. 
5.  Setan-setan itu sepenuhnya ada di bawah perintah dan kuasa 
Yesus Tuhan kita, dan mereka mengetahui hal ini, sebab me-
reka memohon kepada-Nya supaya tidak memerintahkan mere-

 288
ka pergi eis ton abysson – ke dalam jurang maut, tempat siksa-
an mereka, yang mereka akui sangat mudah dan pantas dila-
kukan-Nya. Oh, betapa melegakannya hal ini bagi umat 
Tuhan, bahwa semua kuasa kegelapan berada di bawah ken-
dali Tuhan Yesus! Ia telah membelenggu mereka semua de-
ngan rantai. Ia mampu menyuruh mereka kembali ke tempat 
kediaman mereka, kapan pun Ia mau. 
6.  Mereka senang melakukan kejahatan. saat  mendapati bahwa 
tidak ada jalan lain lagi selain harus keluar dari dalam diri 
orang yang malang ini, roh-roh jahat itu pun memohon agar 
diperbolehkan memasuki babi-babi (ay. 32). Pada saat setan 
pertama kalinya membawa manusia ke dalam penderitaan, 
Iblis juga membawa serta kutuk kepada seluruh makhluk cip-
taan-Nya untuk dijadikan sasaran permusuhan. Dan di sini, 
untuk menunjukkan rasa permusuhannya yang teramat da-
lam itu, ia ingin membinasakan babi-babi itu sebab  tidak 
mampu membinasakan orang tadi. Bila ia tidak dapat menya-
kiti tubuh manusia, ia akan menyakiti harta milik mereka, 
yang adakalanya bisa menimbulkan godaan bagi manusia un-
tuk menjauhkan mereka dari Kristus, seperti yang terjadi di 
sini. Kristus mengabulkan permintaan mereka untuk mema-
suki babi-babi itu, guna membuktikan kepada penduduk dae-
rah itu tentang kejahatan apa yang bisa dilakukan Iblis jika 
Dia mengizinkannya. Begitu setan-setan itu keluar, mereka 
langsung memasuki babi-babi itu yang lalu   berlarian 
dan terjun dari tepi jurang ke dalam danau lalu mati lemas. 
Sungguh merupakan mujizat yang penuh belas kasihan bila 
orang-orang yang dirasuk setan tidak sampai binasa dan 
musnah. Peristiwa ini, dan contoh-contoh lainnya, menunjuk-
kan bahwa singa yang mengaum-ngaum dan naga merah itu 
selalu mencari-cari apa dan siapa yang dapat mereka telan. 
7.  Jika kuasa Iblis dipatahkan dalam jiwa seseorang, jiwa itu 
akan sembuh dengan sendirinya dan kembali ke keadaannya 
yang benar, yang berarti bahwa orang-orang yang dirasuk Iblis 
itu juga tidak menjadi milik diri sendiri lagi: orang yang telah 
ditinggalkan setan-setan itu duduk di kaki Yesus (ay. 35). 
saat  masih berada di bawah kuasa Iblis, orang itu siap me-
nyerang Yesus, namun  sekarang ia duduk di kaki Yesus, pertan-
da bahwa ia sudah waras. Jika Tuhan   memiliki kita, Ia meme-
Injil Lukas 8:22-39 
 289 
lihara supaya kita bisa mengendalikan dan menikmati diri kita 
sendiri. Namun, jika Iblis memiliki kita, ia akan merampas ke-
dua hal itu dari kita. Oleh sebab itu biarlah kuasanya dalam 
diri kita dijungkirbalikkan, dan biarlah Dia yang berhak memi-
liki hati kita itu masuk, dan biarlah kita memberikan hati kita 
kepada-Nya, sebab kita tidak berhak atas diri kita lebih dari-
pada Dia atas diri kita. 
Sekarang marilah kita lihat akibat dari mujizat pengusiran 
setan-setan dari dalam orang ini.  
(1) Akibat yang ditimbulkan atas diri orang-orang yang kehi-
langan babi-babi mereka sebab  peristiwa itu: Setelah pen-
jaga-penjaga babi itu melihat apa yang terjadi, mereka lari 
lalu menceritakan hal itu di kota dan di kampung-kampung 
sekitarnya (ay. 34), mungkin juga bertujuan menghasut 
orang-orang agar menolak Kristus. Mereka menceritakan 
bagaimana orang yang dirasuk setan itu telah diselamatkan 
(ay. 36) oleh-Nya dengan cara menyuruh setan-setan itu 
memasuki babi-babi. Cara penyampaian ini bisa seperti 
orang yang sedang marah, seakan-akan Kristus tidak 
mampu melepaskan orang itu dari cengkeraman setan-
setan itu jika tidak menggunakan babi-babi itu. Maka ke-
luarlah orang-orang untuk melihat apa yang telah terjadi, 
dan bertanya-tanya tentang hal itu, maka takutlah mereka 
(ay. 35). Mereka sangat ketakutan (ay. 37). Mereka terkejut 
dan takjub sehingga tidak tahu harus berkata apa. Mereka 
lebih memikirkan matinya babi-babi itu daripada kelepasan 
tetangga mereka yang malang itu dan bebasnya penduduk 
kampung dari serangan gilanya yang sudah sangat meng-
ganggu ketenangan masyarakat. Oleh sebab itu seluruh 
penduduk daerah Gerasa meminta kepada Yesus, supaya Ia 
meninggalkan mereka sebab  takut kalau-kalau Ia akan 
mendatangkan hukuman lain lagi bagi mereka. Padahal, 
orang-orang yang bersedia meninggalkan dosa-dosa mereka 
dan menyerahkan diri kepada Kristus, tidak perlu merasa 
takut terhadap-Nya. Namun, Kristus mengikuti keinginan 
mereka: Maka naiklah Ia ke dalam perahu, lalu berlayar 
kembali. Dan orang-orang yang lebih mencintai babi-babi 
mereka itu pun kehilangan Juruselamat dan pengharapan 
mereka yang ada di dalam diri-Nya. 

 290
(2) Akibat yang ditimbulkan atas orang malang yang telah di-
sembuhkan itu. Ia sangat merindukan penyertaan Kristus, 
sama kuatnya seperti ketakutan orang lain akan penyerta-
an-Nya itu: ia meminta kepada Kristus supaya ia diperke-
nankan menyertai-Nya, sama seperti orang lain yang telah 
disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit (ay. 
2), supaya Ia menjadi Pelindung dan Gurunya, dan supaya 
ia sendiri dapat mengharumkan nama Kristus dan memu-
liakan-Nya. Ia enggan tinggal di antara penduduk Gerasa 
yang kasar, kejam, dan ingin mengusir Kristus itu. Jangan-
lah mencabut nyawaku bersama-sama orang berdosa. Na-
mun, Kristus tidak mau membawanya serta, namun  menyu-
ruhnya pulang untuk memberitahukan semua hal yang 
telah diperbuat Tuhan   baginya kepada orang-orang senegeri-
nya, supaya ia dapat menjadi berkat bagi mereka yang 
selama ini sudah dibebaninya. Adakalanya kita harus me-
nolak kepuasan diri sendiri, bahkan yang menyangkut 
manfaat dan kenyamanan rohani sekalipun, supaya bisa 
memperoleh kesempatan untuk melayani jiwa-jiwa lain. 
Mungkin Kristus tahu bahwa saat  kemarahan penduduk 
sebab  kehilangan babi-babi itu telah agak mereda, mereka 
dapat lebih merenungkan mujizat itu. Oleh sebab itu, Ia 
meninggalkan orang itu agar ia dapat menjadi tugu per-
ingatan hidup bagi mereka. 
Sakit Pendarahan Disembuhkan; Anak wanita   
Kepala Rumah Ibadat Dibangkitkan 
(8:40-56) 
40 saat  Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua 
menanti-nantikan Dia. 41 Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia 
yaitu  kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia 
memohon kepada-Nya, supaya Yesus datang ke rumahnya, 42 sebab  anak-
nya wanita  yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, 
hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak. 43 
yaitu  seorang wanita  yang sudah dua belas tahun menderita penda-
rahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapa pun. 44 Ia maju men-
dekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan sesaat  
itu juga berhentilah pendarahannya. 45 Lalu kata Yesus: “Siapa yang men-
jamah Aku?” Dan sebab  tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: 
“Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.” 46 namun  Yesus 
berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa ke-
Injil Lukas 8:40-56 
 291 
luar dari diri-Ku.” 47 saat  wanita  itu melihat, bahwa perbuatannya itu 
ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceri-
terakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia 
sesaat  itu juga menjadi sembuh. 48 Maka kata-Nya kepada wanita  itu: 
“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan sela-
mat!” 49 saat  Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepa-
la rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau 
menyusah-nyusahkan Guru!” 50 namun  Yesus mendengarnya dan berkata ke-
pada Yairus: “Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat.” 51 Se-
tibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut ma-
suk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu 
serta ibunya. 52 Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan namun  
Yesus berkata: “Jangan menangis; ia tidak mati, namun  tidur.” 53 Mereka me-
nertawakan Dia, sebab  mereka tahu bahwa anak itu telah mati. 54 Lalu 
Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangun-
lah!” 55 Maka kembalilah roh anak itu dan sesaat  itu juga ia bangkit berdiri. 
Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. 56 Dan takjublah 
orang tua anak itu, namun  Yesus melarang mereka memberitahukan kepada 
siapa pun juga apa yang terjadi itu. 
Kristus telah diusir oleh orang Gerasa. Mereka sudah bosan terha-
dap-Nya dan lebih suka terlepas dari-Nya. Namun, setelah Ia menye-
berangi danau dan kembali, orang-orang Galilea, pun menyambut 
Dia, dan menanti-nantikan kedatangan-Nya dengan sepenuh hati (ay. 
40). Bila sebagian tidak mau menerima kemurahan hati yang ditawar-
kan Kristus kepada mereka, maka yang lain akan bersedia. Jika 
orang Gerasa tidak mau berhimpun, masih ada banyak yang di anta-
ra mereka Kristus akan dimuliakan. Setelah Kristus melaksanakan 
tugas-Nya di seberang danau, Ia kembali ke tempat semula, dan me-
nemukan pekerjaan lain lagi, pekerjaan baru. Mereka yang menyedia-
kan diri untuk berbuat baik tidak akan pernah kekurangan kesem-
patan untuk berbuat baik. Orang-orang yang berkekurangan selalu 
ada padamu. 
Di sini kita dapati dua mujizat yang berjalinan satu sama lain, se-
perti halnya dalam Injil Matius dan Markus, yakni tentang Yesus 
yang membangkitkan anak wanita  Yairus dari kematian, dan 
tentang penyembuhan wanita  yang sakit pendarahan saat Ia se-
dang berjalan menuju rumah Yairus bersama orang banyak. Di sini 
kita melihat: 
I. Permohonan di depan umum yang disampaikan kepala rumah iba-
dat bernama Yairus, demi anak wanita nya yang masih kecil 
dan sakit parah, yang, dengan kesaksian semua orang yang hadir 
di situ, hampir mati. Ia menyampaikan permohonannya ini dengan 
sangat rendah hati dan penuh hormat. Walaupun ia seorang pe-

 292
nguasa, Yairus tersungkur di depan kaki Yesus, sebagai pengaku-
an bahwa Yesus yaitu  penguasa yang lebih tinggi daripadanya. 
Permohonannya sangat mendesak. Ia memohon kepada-Nya agar 
mau datang ke rumahnya. Ia tidak memiliki iman, setidaknya me-
miliki pikiran seperti si perwira yang ingin agar Kristus hanya me-
ngatakan sepatah kata saja dari jauh. Namun, Kristus memenuhi 
permintaannya dan pergi bersamanya. Iman yang kuat akan di-
hargai, namun iman yang lemah pun tidak akan ditolak. saat  
dalam rumah ada  penyakit dan kematian, kehadiran Kristus 
sangatlah dibutuhkan. Waktu Kristus sedang dalam perjalanan 
menuju rumahnya, Ia didesak-desak orang banyak. Sebagian 
ingin melihatnya sebab  didorong rasa ingin tahu, dan sebagian 
sebab  ingin menyambutnya dengan sukacita. Selama kita sedang 
melaksanakan tugas dan berbuat baik, janganlah kita mengeluh 
dan bergegas-gegas bila berada di tengah kerumunan orang ba-
nyak yang berdesak-desakan. Namun, jika tidak dalam tugas, se-
baiknya setiap orang yang bijaksana segera keluar sebisanya dari 
kerumunan itu. 
II. Di sini ada  permohonan diam-diam yang disampaikan kepada 
Kristus oleh seorang wanita  yang menderita pendarahan. Ia 
telah menguras tenaga dan juga dompetnya, sebab ia telah meng-
habiskan uangnya untuk berobat namun  tidak berhasil disembuh-
kan oleh siapa pun (ay. 43). Sifat penyakitnya itu membuatnya 
tidak bebas mengeluhkannya di depan umum (maklum sebagai 
wanita , malulah ia kalau membicarakan penyakitnya itu), 
dan oleh sebab itu ia menggunakan kesempatan untuk mendekati 
Kristus di tengah orang banyak. Menurut pendapatnya, semakin 
banyak orang mengerumuni-Nya, semakin mudah ia dapat mela-
kukannya tanpa ketahuan. Imannya sangat kuat, sebab ia tidak 
ragu bahwa hanya dengan menjamah jumbai jubah-Nya, ia akan 
bisa memperoleh kuasa penyembuhan dari-Nya yang cukup un-
tuk membebaskannya dari derita. wanita  itu menganggap 
Kristus sebagai sumber belas kasihan yang penuh melimpah,  se-
hingga kalaupun ia mencuri sedikit kesembuhan, Ia tidak akan 
rugi. Demikianlah banyak jiwa malang disembuhkan, ditolong, dan 
diselamatkan oleh Kristus yang hilang di tengah kerumunan orang 
banyak, tanpa ada yang tahu. wanita  itu langsung merasa-
kan perubahan dalam dirinya, dan sembuhlah penyakitnya (ay. 
Injil Lukas 8:40-56 
 293 
44). Sama seperti orang percaya menikmati persekutuan yang 
nyaman bersama Kristus, demikian juga mereka menikmati hu-
bungan yang nyaman dengan-Nya secara incognito – diam-diam. 
Mereka mendapatkan makanan yang tidak dikenal dunia, dan 
kesenangan yang orang lain tidak dapat turut merasakannya. 
III. Kesembuhan yang terjadi secara diam-diam itu pun ketahuan, 
dan membawa kemuliaan baik bagi Sang Penyembuh maupun 
yang disembuhkan. 
1.  Kristus tahu bahwa telah terjadi kesembuhan: Ada kuasa ke-
luar dari diri-Ku (ay. 46). Orang-orang yang telah memperoleh 
kesembuhan dari kuasa yang keluar dari diri Kristus harus 
mengakuinya, sebab Ia mengetahui hal itu. Di sini Ia berbicara 
tentang hal itu, bukan sebagai keluhan, seakan-akan hal itu 
membuat-Nya menjadi lemah atau dirugikan, melainkan kare-
na Ia merasa sangat puas. Sangat bersukalah hati-Nya bahwa 
ada kuasa yang keluar dari diri-Nya untuk suatu kebaikan, 
dan Ia sama sekali tidak keberatan untuk memberikannya ke-
pada orang-orang hina. Mereka bebas menerimanya, sama se-
perti mereka bebas menerima cahaya dan kehangatan sinar 
matahari. Kuasa di dalam diri-Nya tidaklah berkurang sebab  
keluarnya kuasa itu dari diri-Nya sebab Dia yaitu  mata air 
yang melimpah. 
2.  wanita  sakit yang malang itu menceritakan masalahnya 
dan manfaat yang telah diterimanya: saat  wanita  itu me-
lihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan ge-
metar, tersungkur di depan-Nya (ay. 47). Perhatikanlah, meng-
ingat bahwa kita tidak tersembunyi bagi Kristus, sudah seha-
rusnya kita mencurahkan isi hati kita di hadapan-Nya, dan me-
nyerahkan semua dosa dan masalah kita kepada-Nya. Ia da-
tang dengan gemetar, namun, imannya telah menyelamatkan-
nya (ay. 48). Perhatikanlah, orang bisa saja gemetar meskipun 
memiliki iman yang menyelamatkan. wanita  itu mencerite-
rakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Yesus, 
yaitu sebab ia percaya bahwa sebuah sentuhan akan menyem-
buhkannya, dan memang demikianlah yang terjadi. Orang-
orang sakit yang datang kepada Kristus harus saling menyam-
paikan pengalaman mereka satu sama lain. 

 294
3.  Sang Tabib Agung itu meneguhkan kesembuhan wanita  
itu, dan menyuruhnya pergi sambil menghiburnya: Hai, anak-
Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan se-
lamat (ay. 48). Yakub menerima berkat dari Ishak secara diam-
diam melalui tipu muslihat. Namun, saat  kecurangannya itu 
terbongkar, Ishak mengesahkannya dengan maksud tertentu. 
Berkat itu diperoleh secara diam-diam dan licik, namun disah-
kan dan disokong dengan tulus. Demikian pula halnya dengan 
kesembuhan ini. Ishak telah diberkati, dan dia akan tetap 
orang yang diberkati. Demikian juga di sini, wanita  itu 
telah sembuh, dan akan tetap sembuh.  
IV. Kita melihat dorongan yang diberikan kepada Yairus agar ia tidak 
meragukan kuasa Kristus, meskipun anaknya sudah mati dan 
mereka yang membawa berita kepadanya menyarankan agar ia 
tidak menyusah-nyusahkan Guru lagi tentang anak itu: “Jangan 
takut,” kata Kristus, “percaya saja.” Perhatikanlah, kepercayaan 
kita kepada Kristus haruslah tegas dan penuh keberanian, begitu 
juga halnya dengan jerih payah kita bagi Dia. Mereka yang berse-
dia melakukan apa pun bagi Dia dapat mengandalkan-Nya untuk 
melakukan hal-hal besar bagi mereka, bahkan melebihi perminta-
an atau pikiran mereka. saat  si sakit mati, tidak ada lagi ruang 
bagi doa atau upaya lainnya. Namun di sini, meskipun anak itu 
telah mati, namun percaya saja, maka segalanya akan baik. Post 
mortem medicus – memanggil dokter setelah kematian, yaitu  se-
suatu yang tidak masuk di akal, namun  bukan demikian halnya de-
ngan post mortem Christus – memanggil Kristus setelah kematian. 
V. Persiapan untuk membangkitkan anak itu kembali.  
1.  Pilihan Kristus atas para saksi yang boleh melihat mujizat itu 
diadakan. Orang banyak mengikuti-Nya, namun  mungkin saja 
mereka kasar dan ribut. Bagaimanapun, sungguh tidak pada 
tempatnya membiarkan orang sebanyak itu masuk ke dalam 
rumah orang terhormat, terutama sebab  keluarga itu sedang 
berduka. Oleh sebab  itulah Ia menyuruh mereka kembali, dan 
bukan sebab  Ia takut jangan sampai mereka menyelidiki ba-
gaimana Ia melakukan mujizat-Nya, sebab Ia juga membang-
kitkan Lazarus dan putra janda itu di depan umum. Selain 
Petrus, Yakobus, dan Yohanes, ketiga murid yang paling dekat 
Injil Lukas 8:40-56 
 295 
dengan-Nya, dan juga kedua orangtua anak itu, Ia tidak meng-
ajak siapa pun untuk melihat mujizat itu, sebab  jumlah me-
reka sudah mencukupi untuk menegaskan kebenarannya.  
2. Teguran yang diberikan-Nya kepada orang-orang yang berka-
bung. Semua orang menangis dan meratapi anak itu, sebab se-
pertinya anak ini sangat menyenangkan dan memberi pengha-
rapan. Ia tidak saja disayangi oleh orangtuanya, namun  juga 
oleh semua tetangga. Namun, Kristus menyuruh mereka agar 
jangan menangis, sebab  ia tidak mati, namun  tidur. Yang di-
maksudkan-Nya dalam kejadian ini yaitu  bahwa anak itu ti-
dak mati selamanya, namun  bahwa tidak lama lagi ia akan di-
bangkitkan kembali, sehingga seolah-olah seperti dalam pan-
dangan teman-temannya ia hanya tidur sebentar saja. Hal ini 
juga berlaku bagi semua orang yang mati di dalam Tuhan. 
Oleh sebab  itu, janganlah kita berdukacita bagi mereka se-
perti orang-orang yang tidak memiliki  pengharapan, sebab 
kematian itu hanyalah tidur belaka bagi orang-orang yang mati 
itu. Kematian itu bukan hanya istirahat setelah bekerja keras 
sepanjang hidup, namun  juga bahwa akan ada kebangkitan, ya-
itu bangun dan bangkit kembali menuju kemuliaan abadi. 
Kata-kata yang disampaikan Kristus kepada orang-orang yang 
sedang berkabung itu yaitu  untuk menghibur mereka, namun  
dengan jahat mereka mencemooh perkataan-Nya, dan mener-
tawakan Dia, seperti melemparkan mutiara kepada babi. Mere-
ka tidak mengenal ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama yang 
menganggap dungu orang yang menyebut kematian sebagai 
tidur. Namun, sesuatu yang baik muncul dari sesuatu yang ja-
hat, supaya dengan demikian kebenaran mujizat itu tampak 
dengan jelas. Sekarang mereka tahu bahwa anak itu telah 
mati, dan mereka yakin akan hal itu. Oleh sebab  itu, tidak 
ada suatu pun selain kuasa ilahi yang dapat menghidupkan 
anak itu kembali. Kita tidak mendapati sepatah kata pun yang 
diucapkan-Nya untuk menanggapi cemoohan mereka. Namun, 
segera Ia menjelaskannya sendiri, yang mudah-mudahan me-
nyadarkan mereka sehingga tidak pernah lagi menertawakan 
perkataan-Nya. namun  diusir-Nya semua orang itu (Mrk. 5:40). 
Mereka tidak layak menjadi saksi karya yang ajaib ini. Mereka 
yang di tengah suasana berkabung itu bisa menertawakan Dia 
sebab  apa yang dikatakan-Nya, mungkin saja juga menerta-

 296
wakan apa yang diperbuat-Nya. sebab  itu sudah sepantasnya 
mereka diusir keluar. 
VI. Anak itu hidup kembali setelah berkunjung sesaat ke tempat ar-
wah-arwah berkumpul: Yesus memegang tangan anak itu (seperti 
yang biasa kita lakukan saat membangunkan seseorang dan 
membantunya duduk), dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangun-
lah!” (ay. 55). Demikianlah tangan anugerah Kristus berjalan se-
iring dengan seruan perkataan-Nya, sehingga membuahkan hasil. 
Tidak seperti dalam ketiga Injil lainnya yang tersirat saja, di sini 
kejadian ini diungkapkan dengan jelas, bahwa kembalilah roh 
anak itu. Jiwanya kembali untuk menghidupkan jasadnya. Hal ini 
jelas membuktikan bahwa jiwa memang ada dan bertindak dalam 
keadaan terpisah dari tubuh, sehingga tidak dapat mati (abadi), 
bahwa maut tidak dapat memadamkan pelita TUHAN ini, melain-
kan membawanya keluar dari lentera yang gelap ini. Seperti yang 
dicermati dengan baik oleh bapa gereja Grotius, jiwa bukanlah 
krasis atau sifat tubuh atau apa pun yang dapat mati bersama-
nya, melainkan anthypostaton ti – sesuatu yang hidup atau ada se-
cara tersendiri, dan yang sesudah kematian berada di tempat lain 
yang terpisah dengan tubuh. Tidak dikatakan di mana jiwa anak 
ini berada dalam waktu jeda itu tetap jiwanya berada di tangan 
Bapa segala roh, yang kepada-Nya semua jiwa kembali saat kema-
tian datang. saat  roh anak itu kembali, ia pun bangkit, dan ge-
rakannya menunjukkan bahwa dia hidup, seperti yang diperlihat-
kan pula melalui keinginannya untuk makan, sebab Kristus me-
nyuruh mereka memberi anak itu makan. Sama seperti bayi yang 
baru lahir, orang-orang yang baru dibangkitkan menginginkan 
makanan rohani supaya dapat bertumbuh. Dalam ayat terakhir, 
kita tidak perlu heran mendapati bahwa takjublah orangtua anak 
itu. Namun, bila ayat ini menyiratkan bahwa hanya mereka saja 
yang merasa takjub dan orang-orang lain yang hadir di situ yang 
menertawakan Kristus tidak takjub, maka kita boleh heran meli-
hat kebodohan mereka itu. Mungkin itulah alasannya mengapa 
Kristus tidak mau mujizat ini diberitahukan ke mana-mana, se-
lain juga sebab  Ia mau menunjukkan kerendahan hati-Nya. 
PASAL  9  
Dalam pasal ini kita mendapati:  
I.    Penugasan yang diberikan Kristus kepada kedua belas ra-
sul-Nya untuk pergi beberapa waktu guna memberitakan 
Injil, dan meneguhkannya dengan mengadakan mujizat (ay. 
1-6).  
II.   Ketakutan Herodes melihat kemasyhuran Yesus Tuhan kita 
yang semakin bertambah-tambah (ay. 7-9).  
III.  Kembalinya para rasul kepada Kristus; pemencilan diri-Nya 
bersama mereka ke tempat yang sepi; dan berbondong-
bondongnya orang banyak mengikuti mereka; pemberian 
makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan oleh-
Nya (ay. 10-17).  
IV.  Percakapan-Nya dengan para murid menyangkut diri-Nya 
dan penderitaan-Nya bagi mereka, serta penderitaan mereka 
sebab  Dia (ay. 18-27).  
V.    Dimuliakannya Kristus (ay. 28-36).  
VI.  Penyembuhan seorang anak yang dirasuk setan (ay. 37-42).  
VII. Pemberitahuan berulang kali yang disampaikan Kristus ke-
pada murid-murid-Nya perihal penderitaan yang akan di-
alami-Nya (ay. 43-45).  
VIII. Teguran yang diberikan-Nya atas keinginan berlebihan para 
murid-Nya (ay. 46-48), dan atas keinginan mereka untuk 
memiliki sendiri kuasa atas setan-setan (ay. 49-50).  
IX.  Teguran yang diberikan-Nya kepada mereka atas sakit hati 
berlebihan terhadap penolakan sebuah desa Samaria terha-
dap diri-Nya (ay. 51-56).  

 298
X.  Jawaban yang diberikan-Nya kepada beberapa orang yang 
hendak mengikut Dia, namun  tidak dengan sungguh-sung-
guh, tanpa semangat dan sepenuh hati (ay. 57-62). 
Pengutusan Kedua Belas Murid  
(9:1-9) 
1 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga 
dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyem-
buhkan penyakit-penyakit. 2 Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan 
Kerajaan Tuhan   dan untuk menyembuhkan orang, 3 kata-Nya kepada mereka: 
“Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau 
bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. 4 Dan apabila kamu sudah dite-
rima dalam suatu rumah, tinggTuhan   di situ sampai kamu berangkat dari situ. 
5 Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota 
mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap 
mereka.” 6 Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil 
memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat. 7 Hero-
des, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa ce-
mas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari 
antara orang mati. 8 Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul 
kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi da-
hulu telah bangkit. 9 namun  Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepa-
lanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” 
Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. 
Di sini diceritakan tentang:  
I.  Cara yang dipakai  Kristus untuk menyebarluaskan Injil-Nya, 
yakni dengan memencarkan dan menguatkan terang Injil itu. Ia 
sendiri telah pergi ke mana-mana sambil mengabarkan Injil dan 
menyembuhkan orang sakit. Namun, Ia hanya bisa berada di satu 
tempat pada suatu saat. Itulah sebabnya sekarang Ia mengutus 
kedua belas murid-Nya yang saat itu sudah menerima cukup ba-
nyak pengajaran mengenai cara-cara memberitakan Injil, dan 
mampu mengajar orang lain serta memberikan kepada mereka apa 
yang telah mereka terima dari Tuhan. Biarlah mereka berpencar, 
beberapa orang ke satu tempat dan beberapa lagi ke tempat lain, 
guna memberitakan Kerajaan Tuhan  , yang kini sedang ditegakkan 
oleh Sang Mesias, supaya orang mengetahui makna dan tujuan 
rohaninya, serta untuk mengajak mereka turut mengambil bagian 
di dalamnya. Selain itu, sebab  ajaran ini masih baru dan menge-
jutkan orang, dan sangat berbeda dari yang diajarkan oleh para 
ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dan juga sangat bergantung
Injil Lukas 9:1-9 
 299 
 pada penerimaan orang atau penolakan orang terhadapnya, maka 
untuk meneguhkan pengajaran mereka itu, Ia memberi mereka 
kuasa untuk mengadakan mujizat (ay. 1-2): Ia memberi kuasa 
kepada mereka untuk menguasai setan-setan, untuk mengenyah-
kan dan mengusir mereka, sekalipun mereka itu begitu banyak, 
begitu licik, begitu garang, dan begitu keras kepala. Kristus bertu-
juan untuk mengalahkan dan menghancur-leburkan kerajaan ke-
gelapan, dan oleh sebab itu Ia memberi mereka kuasa atas semua 
setan. Ia juga memberikan wewenang dan menunjuk mereka un-
tuk melenyapkan sakit-penyakit, dan untuk menyembuhkan orang 
sakit. Hal ini akan membuat mereka disambut baik ke mana pun 
mereka pergi, bukan saja untuk meyakinkan penilaian orang 
terhadap Injil, melainkan juga untuk memenangkan kasih sayang 
mereka. Inilah tugas mereka.  
Sekarang perhatikanlah baik-baik: 
1. Petunjuk yang diberikan Kristus kepada mereka dalam melak-
sanakan tugas mereka kala itu, supaya mereka tidak melang-
kah terlalu jauh ataupun menetap terlalu lama.  
(1) Mereka tidak diperkenankan mengandalkan penampilan 
luar supaya dihargai orang lain. Sekarang, setelah mereka 
mulai bisa berdiri sendiri, mereka tidak boleh mengubah 
penampilan yang selama ini mereka miliki, saat  masih 
berada bersama Dia, dan tidak mengganti pakaian atau 
bahkan mengenakan sepasang kasut baru.  
(2) Mereka harus mengandalkan pemeliharaan Tuhan   dan ke-
baikan teman-teman mereka untuk memperlengkapi mere-
ka secukupnya. Mereka tidak boleh membawa roti atau 
uang, dan tetap percaya bahwa mereka tidak akan keku-
rangan. Kristus tidak mau murid-murid-Nya merasa malu 
untuk menerima kebaikan hati teman-teman mereka, 
namun  justru mengharapkannya. Namun, Paulus memiliki 
alasan untuk tidak mengikuti aturan ini, saat  ia berjerih 
payah dengan tangannya, supaya jangan menjadi beban 
bagi orang lain.  
(3) Mereka tidak boleh berpindah-pindah tempat menginap de-
ngan alasan khawatir kalau-kalau orang-orang yang mene-
rima mereka di dalam rumah mereka merasa bosan dengan 
mereka. Mereka tidak punya alasan untuk bersikap seperti 

 300
itu, sebab seperti tabut perjanjian dulu, seorang tamu sela-
lu membayar dengan baik pelayanan yang diterimanya: 
“Apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggal-
lah di situ (ay. 4), supaya orang tahu di mana mereka bisa 
menemukanmu, supaya teman-temanmu tahu bahwa ka-
mu tidak malu melayani mereka, dan musuh-musuhmu 
tahu bahwa kamu tidak malu ataupun takut menghadapi 
mereka. TinggTuhan   di situ sampai kamu berangkat keluar 
dari kota itu. TinggTuhan   bersama mereka yang sudah kau-
kenal dengan baik.”  
(4) Para murid harus menggunakan wewenang atau otoritas 
yang telah diberikan kepada mereka baik dalam menyam-
paikan peringatan kepada orang-orang yang tidak mau 
menerima mereka maupun dalam menghibur orang-orang 
yang menerima mereka (ay. 5). “Jika ada tempat yang tidak 
mau menerimamu, jika para pejabat tidak mau memberimu 
izin dan memperlakukanmu sebagai tunawisma, tinggalkan 
mereka. Jangan memaksakan diri dengan mereka atau 
membahayakan diri di antara mereka, namun  serahkanlah 
mereka kepada penghakiman Tuhan   saat itu juga. Kebas-
kanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap 
mereka.” Hal ini sesungguhnya akan menjadi bukti yang 
melawan mereka, bahwa para pemberita Injil pernah ber-
ada di antara mereka untuk menawarkan anugerah dan 
damai sejahtera dengan tulus. Debu inilah yang mereka 
tinggalkan di situ, sehingga kalau mereka akhirnya binasa 
dalam ketidaksetiaan mereka, mereka sendirilah yang me-
nanggung darah mereka sendiri. Kebaskanlah debunya dari 
kakimu, sebagai tanda bahwa kamu meninggalkan kota 
mereka dan tidak akan berurusan lagi dengan mereka. 
2.  Apa yang mereka lakukan dalam melaksanakan penugasan ini 
(ay. 6): Lalu pergilah mereka dari hadapan Guru mereka. Na-
mun, dengan tetap merasakan kehadiran rohani-Nya bersama 
mereka, seakan-akan mata dan lengan-Nya menyertai mereka, 
maka dengan memikul tugas, mereka pun pergi mengelilingi 
segala desa yang telah ditentukan bagi mereka, sambil mem-
beritakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tem-
pat. Pekerjaan mereka sama seperti yang dilakukan Guru me-
reka, yakni berbuat baik untuk jiwa dan tubuh. 
Injil Lukas 9:1-9 
 301 
II. Di sini diceritakan tentang kebingungan dan kejengkelan Herodes 
terhadap hal ini. Dialihkan atau disalurkannya kuasa Kristus ke-
pada orang-orang yang diutus dalam nama-Nya dan bertindak 
berdasarkan wewenang-Nya, merupakan bukti yang menakjubkan 
dan meyakinkan tentang keberadaan-Nya sebagai Mesias, jauh 
melebihi hal-hal lainnya. Ini membuktikan bahwa sebagai Mesias, 
Dia bukan saja mampu mengadakan mujizat sendiri, namun  juga 
bisa memampukan orang lain untuk mengadakan mujizat dengan 
kuasa yang Ia berikan kepada mereka. Hal ini semakin menyebar-
luaskan kemasyhuran-Nya lebih dari apa pun juga dan membuat 
berkas-berkas cahaya Surya Kebenaran itu semakin kuat melalui 
pantulannya itu. Bahkan dari bumi sekalipun, dari orang-orang 
sederhana yang tidak berpendidikan seperti para rasul ini, yang 
tidak memiliki apa-apa yang patut dipuji atau yang bisa diharap-
kan, kecuali bahwa mereka pernah menjadi pengikut Yesus (Kis. 
4:13). Waktu penduduk negeri itu melihat berbagai kejadian se-
perti menyembuhkan orang sakit dalam nama Yesus, mereka pun 
terpana.  
Sekarang perhatikanlah: 
1.  Berbagai dugaan yang timbul di antara orang banyak itu, yang 
meskipun pikirannya tidak benar, mau tidak mau harus mena-
ruh hormat kepada Yesus Tuhan kita. Mereka menghormati 
Dia sebagai seorang yang luar biasa, yang datang dari dunia 
lain. Pikir mereka, Dia yaitu  Yohanes Pembaptis yang telah 
dihukum mati dan dipenggal kepalanya sebab  nama Tuhan  , 
atau mungkin juga seorang dari nabi-nabi dahulu yang telah 
dihukum mati sebab  sebab yang sama dan kini bangkit kem-
bali untuk memperoleh imbalan penghormatan atas semua 
penderitaannya. Pikir mereka juga, mungkin Dia ini Elia yang 
telah diangkat hidup-hidup ke sorga dengan kereta berapi, dan 
kini telah muncul kembali sebagai seorang utusan dari sorga 
(ay. 7-8). 
2. Kecemasan besar yang ditimbulkan dalam pikiran Herodes: 
Waktu ia mendengar segala yang diperbuat oleh Kristus, rasa 
bersalah menguasai dirinya, dan ia setuju dengan orang-orang 
bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Dia me-
nyangka telah terbebas dari Yohanes dan tidak akan diusik-
usik olehnya lagi. Namun, sepertinya dia keliru. Yohanes kini 

 302
telah hidup kembali, atau ada seorang lain lagi yang memiliki 
roh dan kuasanya, sebab Tuhan   tidak akan pernah tidak me-
nyatakan diri-Nya. “Apa yang akan aku lakukan sekarang?” 
kata Herodes. “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa ge-
rangan Dia ini? Apakah Dia melanjutkan pekerjaan Yohanes, 
atau datang untuk membalas kematian Yohanes? Yohanes 
membaptis orang, namun  orang ini tidak. Yohanes tidak mem-
buat satu mujizat pun, namun  Dia ini melakukannya dan oleh 
sebab  itu tampil lebih hebat daripada Yohanes.” Perhatikan-
lah, orang-orang yang melawan Tuhan   akan merasa semakin 
malu sendiri. Bagaimanapun, Herodes berusaha supaya dapat 
bertemu dengan Yesus, entah Dia serupa dengan Yohanes atau 
tidak. Namun, sebenarnya ia bisa saja segera terbebas dari 
masalah yang menyakitkan ini seandainya ia mencari tahu hal 
yang sudah diketahui ribuan orang lain, bahwa Yesus telah 
berkhotbah dan mengadakan mujizat jauh sebelum Yohanes 
dipenggal kepalanya dan oleh sebab  itu mustahil kalau Dia 
yaitu  Yohanes yang bangkit dari antara orang mati. Herodes 
berusaha supaya dapat bertemu dengan-Nya, namun mengapa 
ia tidak pergi menemui-Nya? Mungkin sebab  Herodes meng-
anggap terlalu rendah baginya untuk datang kepada-Nya atau 
mendatangkan-Nya. Dia sudah cukup mendapat masalah de-
ngan Yohanes Pembaptis dan tidak ingin berurusan lagi de-
ngan orang yang suka memberikan teguran terhadap dosa 
seperti dia. Herodes memang ingin bertemu dengan-Nya, namun  
kita tidak tahu apakah dia pernah melakukannya, sampai ia 
berjumpa dengan-Nya di depan pengadilan, dan saat  itu 
Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan Dia 
(23:11). Seandainya saja Herodes melaksanakan keinginan itu 
sekarang juga dan pergi menemui-Nya, siapa tahu hatinya 
diubahkan menjadi lembut? Namun, sebab  ia menundanya, 
hatinya pun semakin keras, dan saat ia benar-benar berjumpa 
dengan-Nya, pikirannya sudah penuh dengan prasangka, sa-
ma seperti orang-orang lain. 
Orang Banyak Diberi Makan secara Ajaib  
(9:10-17) 
10 Sekembalinya rasul-rasul itu menceriterakan kepada Yesus apa yang telah 
mereka kerjakan. Lalu Yesus membawa mereka dan menyingkir ke sebuah 
kota yang bernama Betsaida, sehingga hanya mereka saja bersama Dia. 11 
Akan namun  orang banyak mengetahuinya, lalu mengikuti Dia. Ia menerima 
mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Tuhan   dan Ia me-
nyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. 12 Pada waktu 
hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan ber-
kata: “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa 
dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan 
makanan, sebab  di sini kita berada di tempat yang sunyi.” 13 namun  Ia 
berkata kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka 
menjawab: “Yang ada pada kami tidak lebih dari pada lima roti dan dua ikan, 
kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” 
14 Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata 
kepada murid-murid-Nya: “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, 
kira-kira lima puluh orang sekelompok.” 15 Murid-murid melakukannya dan 
menyuruh semua orang banyak itu duduk. 16 Dan setelah Ia mengambil lima 
roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu meme-
cah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya 
dibagi-bagikannya kepada orang banyak. 17 Dan mereka semuanya makan 
sampai kenyang. lalu   dikumpulkan potongan-potongan roti yang sisa 
sebanyak dua belas bakul. 
Di sini diceritakan tentang:  
I. Laporan yang disampaikan kedua belas murid kepada Guru mere-
ka tentang keberhasilan pelayanan mereka. Mereka pergi tidak 
lama; namun sekembalinya rasul-rasul itu, mereka menceritakan 
kepada Yesus apa yang telah mereka kerjakan, seperti selayaknya 
pelayan-pelayan yang disuruh mengerjakan tugas. Mereka me-
nyampaikan kepada-Nya tentang apa yang telah mereka kerjakan, 
supaya seandainya ada yang kurang, mereka bisa memperbaiki-
nya di lalu   hari. 
II.  Mereka menyepi, untuk beristirahat sejenak. Ia membawa mereka 
dan menyingkir ke sebuah kota (di suatu tempat yang sepi di kota 
itu), supaya mereka bisa bersantai sejenak setelah bekerja, dan 
tidak sibuk terus-menerus. Perhatikanlah, Dia yang telah menyu-
ruh para pelayan-Nya beristirahat, tentunya ingin agar pelayan-
pelayan itu sendiri juga beristirahat. Orang-orang yang bekerja 
melayani kepentingan umum, perlu sesekali menyendiri, meng-
ambil istirahat bagi tubuh mereka supaya segar kembali, dan juga 
demi pemulihan pikiran mereka melalui saat teduh agar dapat 
melayani dengan lebih baik. 
III. Berkumpulnya orang banyak kepada-Nya, dan sambutan yang di-
berikan-Nya kepada mereka. Mereka mengikuti Dia meskipun Ia 
berada di tempat yang sunyi, sebab  di mana Kristus berada, tem-
pat ini  tidak akan terasa sunyi. Walaupun dengan demikian 
mereka telah mengganggu istirahat yang direncanakan-Nya bagi 
diri-Nya sendiri dan para murid-Nya, Ia tetap menerima mereka 
(ay. 11). Perhatikanlah, semangat yang saleh masih memperboleh-
kan adanya sedikit kekasaran. Hal ini diizinkan Kristus, dan se-
baiknya juga demikian dengan kita. Walaupun mereka datang 
pada saat yang kurang tepat, Kristus tetap memberikan apa yang 
mereka cari.  
1. Ia berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Tuhan  , tentang 
hukum-hukum yang berlaku dalam kerajaan itu yang meng-
ikat mereka, dan tentang hak-hak istimewa kerajaan itu yang 
melaluinya mereka diberkati.  
2.  Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan kesembuhan 
dan yang memohon kepada-Nya sebab  menyadari kebutuhan 
mereka. Walaupun penyakit itu sudah sangat berurat akar 
dan tidak mampu disembuhkan oleh para tabib, walaupun 
orang-orang yang sakit itu sangat miskin dan sederhana, 
Kristus tetap menyembuhkan mereka. Ada kesembuhan dalam 
Kristus bagi semua orang yang memerlukannya, baik kesem-
buhan bagi jiwa maupun tubuh. Kristus masih memiliki kuasa 
atas penyakit-penyakit jasmani dan menyembuhkan umat-Nya 
yang memerlukan kesembuhan. Adakalanya Ia melihat bahwa 
kita lebih memerlukan penyakit demi kebaikan jiwa kita dari-
pada kesembuhan bagi tubuh kita. Jika demikian halnya, 
maka kita harus bersedia menerimanya untuk beberapa waktu 
lamanya, sebab  ada keperluan tertentu untuk menanggung 
beban itu. Namun, saat  Ia melihat bahwa kita memerlukan 
kesembuhan, kita akan menerimanya. Maut yaitu  pelayan-
Nya, untuk menyembuhkan orang-orang kudus dari semua 
sakit-penyakit. Kristus menyembuhkan penyakit-penyakit ro-
hani dengan anugerah-Nya, dengan penghiburan-Nya, dan me-
nyediakan jawaban sesuai dengan masalahnya masing-ma-
sing. Ada jalan keluar bagi setiap keadaan darurat. 
IV. Bekal berlimpah yang diberikan Kristus bagi orang banyak yang 
mengikuti Dia. Dengan lima roti dan dua ikan, Ia memberi makan 
lima ribu orang laki-laki. Sebelum ini, kisah ini  sudah dicatat 
dua kali, dan kita akan membacanya lagi. Ini yaitu  satu-satunya 
mujizat Juruselamat kita yang dicatat oleh keempat penulis Injil.  
Mari kita amati kisah ini:  
1. Orang-orang yang dengan tekun mengikuti Kristus sebab  ter-
dorong oleh kewajiban sampai membuat dirinya rentan ter-
hadap bahaya, serta melupakan diri sendiri dan kenyamanan 
lahiriah sebab  kecintaan mereka terhadap rumah Tuhan  , akan 
dipelihara secara khusus oleh-Nya dan boleh menggantungkan 
diri pada Jehovah jireh – Tuhan akan mencukupi. Dia tidak 
akan membiarkan orang-orang yang takut pada-Nya dan me-
layani-Nya dengan setia mengalami kekurangan suatu hal baik 
apa pun.  
2.  Yesus Tuhan kita memiliki roh yang rela dan murah hati. 
Murid-murid-Nya berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, 
untuk mencari makanan,” namun  Kristus berkata, “Tidak, kamu 
harus memberi mereka makan. Relakan segala apa yang ada 
pada kita, dan persilakan mereka menerimanya.” Demikianlah 
Ia mengajar para pelayan Tuhan dan juga orang Kristen untuk 
memberi tumpangan dengan tidak bersungut-sungut (1Ptr. 4:9). 
Orang-orang yang hanya memiliki sedikit biarlah melakukan 
apa saja dengan yang sedikit itu, dan itulah cara untuk mem-
perbanyaknya. Ada yang menyebar harta, namun  bertambah 
kaya.  
3.  Yesus Kristus bukan saja memberikan kesembuhan tubuh jas-
mani, namun  juga makanan bagi semua orang yang berserah 
diri kepada-Nya melalui iman. Ia bukan saja menyembuhkan 
orang-orang yang memerlukan kesembuhan, bukan saja me-
nyembuhkan penyakit-penyakit jiwa, namun  juga memberi 
makan mereka yang memerlukan makanan, menunjang kehi-
dupan rohani, mencukupi keperluan jiwa, dan memenuhi 
keinginannya. Kristus bukan saja menyediakan diri untuk me-
nyelamatkan jiwa manusia dari kebinasaan sebab  penyakit-
penyakit jiwa, namun  juga untuk memberi makanan bergizi bagi 
jiwa itu sendiri dalam memperoleh hidup kekal dan menguat-
kannya guna menjalani semua latihan rohani. 
4.  Semua karunia yang diberikan Kristus patut diterima oleh 
jemaat dengan cara yang teratur dan tertib. “Suruhlah mereka 
duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang seke-
lompok” (ay. 14). Di sini dicatat jumlah orang dalam setiap 
kelompok yang ditentukan Kristus agar murid-murid lebih 
mudah membagi-bagikan makanan dan menghitung jumlah 
mereka yang hadir.  
5. Setiap kali menerima berkat penghiburan, kita harus mene-
ngadah ke langit. Kristus melakukannya untuk mengajar kita 
melakukan hal yang sama. Kita harus mengakui bahwa kita 
menerimanya dari Tuhan   dan bahwa kita tidak layak menerima-
nya. Kita harus mengakui bahwa kita berutang atas semua 
berkat itu dan segala penghiburan yang ada di dalamnya ha-
nyalah oleh sebab  perantaraan Kristus. Oleh Dia kutukan 
dihapuskan dan perjanjian (kovenan) pendamaian ditetapkan. 
Kita bergantung pada berkat Tuhan   dan berkewajiban untuk 
memanfaatkannya bagi keuntungan kita, dan selalu mengha-
rapkan berkat itu.  
6.  Berkat Kristus mampu membuat yang sedikit menjadi sangat 
bermanfaat. Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari 
pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik, lebih baik sepi-
ring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan ke-
bencian.  
7. Orang-orang yang diberi makan oleh Kristus akan kenyang. 
Kepada siapa Ia memberi, Ia memberi dengan cukup. Sama 
seperti di dalam diri-Nya ada  cukup banyak bagi semua 
orang, begitu pula ada cukup banyak bagi setiap orang. Ia me-
ngenyangkan setiap jiwa yang lapar, memuaskannya dengan 
segala yang baik di rumah-Nya. Di sini dikumpulkan potongan-
potongan roti, untuk meyakinkan kita bahwa di dalam rumah 
Bapa kita ada  berlimpah-limpah makanan. Di dalam Dia 
kita tidak akan berkekurangan atau diperlakukan dengan 
kikir. 
Pengakuan Petrus;  
Penyangkalan Diri Diperintahkan  
(9:18-27) 
18 Pada suatu kali saat  Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-
Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, sia-
pakah Aku ini?” 19 Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang me-
ngatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi 
dahulu telah bangkit.” 20 Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, 
siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Tuhan  .” 21 Lalu Yesus melarang 
mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu 
kepada siapa pun. 22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung 
banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-
ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” 23 Kata-Nya 
kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus 
menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 24 Ka-
rena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawa-
nya; namun  barangsiapa kehilangan nyawanya sebab  Aku, ia akan menyela-
matkannya. 25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, namun  ia 
membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? 26 Sebab barangsiapa malu 
sebab  Aku dan sebab  perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu sebab  
orang itu, apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemulia-
an Bapa dan malaikat-malaikat kudus. 27 Aku berkata kepadamu: Sesung-
guhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum 
mereka melihat Kerajaan Tuhan  .” 
Di dalam ayat-ayat ini diceritakan tentang Kristus yang bercakap-
cakap dengan murid-murid-Nya mengenai hal-hal besar tentang Ke-
rajaan Tuhan  . Ada satu hal dalam percakapan yang dicatat di sini dan 
tidak ada  dalam ketiga Injil yang lain – bahwa Kristus berdoa 
seorang diri, lalu datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya waktu Ia 
memulai percakapan ini (ay. 18).  
Perhatikanlah:  
1.  Walaupun Kristus sangat sibuk melayani orang banyak, Ia masih 
menyediakan waktu untuk menyendiri, untuk merenung, untuk 
berbicara dengan Bapa-Nya dan dengan murid-murid-Nya.  
2.  saat  Kristus seorang diri, Ia berdoa. Sungguh baik bagi kita un-
tuk meningkatkan kesendirian dalam saat teduh, supaya saat  
kita seorang diri, kita tidak merasa sendirian, melainkan disertai 
oleh Bapa.  
3.  saat  Kristus berdoa seorang diri, murid-murid menyertai-Nya, 
untuk turut berdoa bersama-Nya, sehingga jadilah ini doa keluar-
ga. Para kepala rumah tangga harus berdoa dengan seisi rumah-
nya, para orangtua bersama anak-anak mereka, para majikan 
bersama pelayan-pelayan mereka, dan para guru bersama murid-
murid mereka.  
4.  Kristus berdoa bersama mereka sebelum Ia menguji mereka, supa-
ya mereka dapat diarahkan dan didorong untuk menjawab perta-
nyaan-Nya melalui doa-doa-Nya bagi mereka. Orang-orang yang 
kita beri pengarahan haruslah kita doakan dan ajak berdoa ber-
sama. Ia bercakap-cakap dengan mereka, 
I. Tentang diri-Nya sendiri, dan bertanya tentang: 
1.  Apa yang dikatakan orang banyak tentang diri-Nya: Kata orang 
banyak, siapakah Aku ini? Kristus lebih tahu daripada mereka. 
Namun, Ia lebih suka agar murid-murid-Nya menyadari masa-
lah ini lewat kekeliruan orang lain perihal diri-Nya. Betapa 
berbahagianya mereka ini yang dituntun kepada pengetahuan 
dan kebenaran mengenai diri-Nya. Kita harus memperhatikan 
ketidaktahuan dan kekeliruan orang lain supaya kita bisa 
lebih bersyukur kepada Dia yang telah menyatakan diri-Nya 
kepada kita, dan bukan kepada dunia. Dengan demikian kita 
bisa menaruh iba kepada mereka, dan berusaha sekeras 
mungkin untuk menolong mereka dan mengajar mereka de-
ngan lebih baik. Murid-murid itu menyampaikan kepada-Nya 
berbagai dugaan perihal diri-Nya yang mereka dengar dalam 
percakapan mereka dengan orang banyak. Para pelayan Tuhan 
akan lebih tahu cara menyesuaikan pengajaran, teguran, dan 
bimbingan kepada orang kebanyakan, asalkan mereka lebih 
sering dan lebih akrab bercakap-cakap dengan mereka. De-
ngan demikian, akan lebih mudah bagi mereka dalam me-
nyampaikan apa yang pantas guna meluruskan pemikiran 
mereka, memperbaiki ketidakberesan mereka, dan menyingkir-
kan prasangka mereka. Semakin akrab perbincangan dokter 
dengan pasiennya, semakin baik ia tahu apa yang harus dila-
kukannya bagi si pasien. Beberapa orang berkata bahwa Ia 
yaitu  Yohanes Pembaptis yang telah dipenggal kepalanya. 
Yang lain berkata bahwa Dia yaitu  Elia, seorang dari nabi-
nabi dahulu. Mereka mengatakan apa saja kecuali siapa Dia 
sebenarnya. 
2.  Apa yang mereka katakan tentang diri-Nya. “Sekarang coba 
pikirkanlah. Kalian ini yaitu  murid-murid-Ku. sebab  itu, 
kalian harus lebih tahu daripada mereka.” “Memang benar 
kata-Mu,” kata Petrus, “terima kasih, Guru. Kami tahu bahwa 
Engkau yaitu  Mesias dari Tuhan  , Yang Diurapi oleh Tuhan  , 
Mesias yang dijanjikan.” Sungguh tak terkatakan penghiburan 
bagi kita bahwa Yesus Tuhan kita yaitu  Yang diurapi Tuhan  , 
sebab dengan demikian wewenang atau otoritas dan kemam-
puan-Nya dalam melaksanakan tugas-Nya sebagai Mesias 
tidak dapat dipertanyakan lagi. Keberadaan-Nya yang diurapi 
itu menandakan bahwa Ia ditunjuk dan memenuhi syarat 
untuk melaksanakannya. Nah, kalau begitu jadinya, orang 
mungkin berharap bahwa Kristus akan menyuruh murid-
murid-Nya yang begitu menghargai dan yakin akan kebenaran 
ini untuk memberitakan kebenaran ini  kepada setiap 
orang yang mereka jumpai. namun  tidak, Ia justru melarang 
mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan 
hal itu kepada siapa pun, sebab untuk segala sesuatu itu ada 
waktunya. Nanti sesudah kebangkitan-Nya, yang melengkapi 
bukti kebenaran ini, barulah Petrus mengumandangkan kebe-
naran ini di seluruh Bait Tuhan  , bahwa Tuhan   telah membuat 
Yesus menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36). Namun, sebab  
pada saat itu bukti ini  belum dilengkapi sepenuhnya, 
kebenaran ini harus tetap disembunyikan dulu. Jadi kita 
boleh menyimpulkan bahwa untuk memperoleh keselamatan, 
orang pada waktu itu belum harus mempercayai kebenaran ini 
terlebih dulu. 
II.  Mengenai penderitaan dan kematian-Nya sendiri, yang sampai 
saat itu belum banyak dibicarakan-Nya. Sekarang, setelah para 
murid-Nya sudah berakar teguh dalam iman bahwa Dia memang 
Kristus, dan mampu menerima kebenaran ini , Ia berbicara 
terus terang dan tegas mengenai penderitaan dan kematian-Nya 
(ay. 22). Inilah alasannya mengapa mereka belum boleh memberi-
takan bahwa Dia yaitu  Kristus, sebab  keajaiban-keajaiban yang 
menyertai kematian dan kebangkitan-Nya yang akan menjadi 
bukti paling meyakinkan mengenai keberadaan-Nya sebagai 
Mesias dari Tuhan  . Ditinggikannya Ia di sebelah kanan Bapa itulah 
yang mengumandangkan dengan sepenuhnya bahwa Dia memang 
Sang Mesias. Demikian pula dengan diutusnya Roh Kudus (Kis. 
2:33). Oleh sebab itu, tunggulah dulu sebelum semuanya ini ter-
jadi. 
III. Mengenai penderitaan mereka demi Dia. Mereka sama sekali tidak 
boleh memikirkan cara mencegah penderitaan-Nya supaya mereka 
lebih mempersiapkan diri bagi penderitaan sendiri.  
1. Kita harus membiasakan diri dengan semua bentuk penyang-
kalan diri dan kesabaran (ay. 23). Inilah persiapan terbaik 
untuk menjalani kesyahidan. Kita harus menjalani kehidupan 
yang penuh penyangkalan diri, mati raga, dan menganggap 
rendah keduniawian. Janganlah kita memuaskan hawa nafsu 
dan kesenangan, sebab  nantinya akan sangat berat bagi kita 
dalam menanggung penderitaan, keletihan, dan kekurangan 
demi Kristus. Kita harus setiap hari bersedia menjadi sasaran 
penderitaan, menyesuaikan diri dengannya, menerimanya tan-
pa membantah kehendak Tuhan   di dalamnya, dan belajar berta-
han dalam kesukaran. Dalam melaksanakan tugas, kita sering 
menjumpai salib-salib. Kita tidak boleh mengambil salib-salib 
itu kepada kita sendiri. Namun saat salib-salib itu disediakan, 
kita harus memikulnya, membawanya mengikuti Kristus, dan 
berusaha memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. 
2.  Kita harus memilih keselamatan dan kebahagiaan jiwa kita 
melebihi urusan dunia apa pun.  
Renungkanlah:  
(1)  Bahwa orang yang demi mempertahankan kebebasan atau 
harta miliknya, kekuasaan atau kedudukannya, bahkan 
demi menyelamatkan nyawanya menyangkali Kristus dan 
kebenaran-Nya, telah dengan sengaja melawan hati nurani-
nya dan berdosa terhadap Tuhan  . Orang ini bukan saja 
tidak akan menyelamatkan sesuatu apa pun, ia bahkan 
akan kehilangan segala sesuatu, saat  untung rugi dihi-
tung. Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya berda-
sarkan syarat-syarat ini, ia akan kehilangan nyawanya. Dia 
akan kehilangan hal yang jauh lebih berharga, yaitu jiwa-
nya.  
(2) Kita juga harus teguh percaya bahwa jika kita kehilangan 
nyawa sebab  kelekatan kita pada Kristus dan iman kita, 
kita akan menyelamatkannya dengan mendatangkan keun-
tungan yang tak terkatakan, sebab kita akan memperoleh 
imbalan berlimpah pada waktu kebangkitan orang benar, 
saat kita akan menerima kehidupan baru yang kekal.  
(3) Bahwa memiliki seluruh isi dunia namun  mencampakkan 
Kristus demi kepentingan dunia, sama sekali tidak sepadan 
dengan kehilangan dan kebinasaan kekal jiwa. Keduanya 
tidak seimbang dalam hal untung ruginya (ay. 25). Sean-
dainya kita dapat memiliki semua kekayaan, kehormatan, 
dan kesenangan dunia dengan cara menyangkali Kristus, 
namun sebab  itu kita lalu merugikan diri sendiri dalam 
kekekalan, dan akhirnya nanti akan dibinasakan, apa gu-
nanya kekayaan dunia kita itu? Perhatikanlah, di dalam 
Injil Matius dan Markus disebutkan bahwa akhir mengeri-
kan yang dialami seseorang yaitu  kehilangan nyawanya, 
sedangkan dalam Injil Lukas di sini dikatakan merugikan 
dirinya sendiri, yang jelas-jelas menyiratkan bahwa nyawa 
kita yaitu  diri kita sendiri. Animus cujusque is est quisque 
– Jiwa atau nyawa yaitu  orang itu sendiri. Ini artinya 
bahwa kita ini baik atau tidak baik tergantung dari baik-
buruknya jiwa kita sendiri. Jika jiwa kita binasa selamanya 
di bawah beratnya kesalahan dan dosa, maka dengan 
sendirinya kita ini pun pasti akan pupus juga. Tubuh tidak 
bisa merasa bahagia jikalau jiwa merasa sengsara di dunia 
lain. Namun, jiwa mungkin saja merasa bahagia meskipun 
tubuh mengalami penderitaan hebat dan tekanan di dunia 
ini. Jika seseorang dicampakkan, ē zēmiōtheis – jika ia 
dihancurkan – atau jika ia dihukum, si mulctetur – jika 
jiwanya dikenai hukuman oleh penghukuman Kristus yang 
benar, oleh Kristus yang telah dicampakkan beserta segala 
tujuan dan kepentingan-Nya – jika telah diputuskan bahwa 
ia harus kehilangan semua berkatnya, apakah untungnya? 
Apakah lagi yang menjadi pengharapannya? 
3.  Oleh sebab itu, sekali-kali janganlah kita malu sebab  Kristus 
dan Injil-Nya. Jangan pula kita malu menderita aib atau mene-
rima kecaman sebab  iman setia kita kepada Dia dan Injil-Nya 
(ay. 26: Sebab barangsiapa malu sebab  Aku dan sebab  
perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu sebab  orang itu. 
Memang, sudah sepantasnyalah demikian. saat  orang yang 
demikian diminta  memberikan kesaksian dan tenaga bagi pe-
layanan dan kehormatan Kristus, maka dia menolaknya kare-
na ia melihat bahwa kepentingan Kristus dihina dan ditentang 
di mana-mana. Oleh sebab  itu, pada hari penghakiman itu 
tidak bisa diharapkan oleh orang itu bahwa Kristus akan 
membelanya. Kristus akan malu mengakui orang yang penge-
cut dan duniawi itu dan Ia akan berkata, “Dia tidak termasuk 
orang-orang kepunyaan-Ku, dia bukan milik-Ku.” Sama seperti 
Kristus memiliki keadaan yang hina dan mulia, demikian juga 
dengan tugas-Nya itu. Mereka, dan hanya mereka yang mau 
menderita bersama-sama dalam kehinaan-Nya itu yang akan 
memerintah bersama-sama dengan Dia juga. namun  orang-
orang yang tidak mau turut ambil bagian dalam aib itu dan 
berkata, “Kalau aib ini saja sudah sedemikian hina, maka aku 
pasti akan menjadi lebih hina lagi sebab nya,” maka mereka 
ini tidak akan mendapat bagian dalam kemenangannya. Per-
hatikanlah di sini bagaimana Kristus, untuk mendukung diri-
Nya dan para pengikut-Nya yang terus dipermalukan, berbi-
cara tentang kemegahan kedatangan-Nya yang kedua. Dengan 
mata yang tertuju pada pengharapan inilah, Ia telah memikul 
salib dengan mengabaikan kehinaan.  
(1) Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya. Hal ini tidak disebut-
kan dalam Injil Matius dan Markus. Dia akan datang dalam 
kemuliaan Sang Pengantara, dalam segala kemuliaan yang 
disediakan Bapa kepada-Nya, yang telah dimiliki-Nya ber-
sama Tuhan   sebelum dunia ini dijadikan, yang seakan-akan 
telah digadaikan-Nya (dan memang demikianlah adanya) 
demi menyelesaikan pekerjaan-Nya dan dituntut-Nya kem-
bali setelah tugas-Nya selesai. Oleh sebab itu, ya Bapa, 
permuliakanlah Aku (Yoh. 17:4-5). Dia akan datang dalam 
segala kemuliaan yang telah dianugerahkan Bapa kepada-
Nya saat mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya dan 
memberikan Dia kepada jemaat sebagai Kepala dari segala 
yang ada. Dia akan datang dalam segala kemuliaan yang 
diberikan kepada-Nya sebagai pemberi pernyataan akan 
kemuliaan Tuhan   dan sumber kemuliaan bagi semua orang 
kudus. Inilah kemuliaan-Nya.  
(2) Dia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya. Bapa akan 
menghakimi dunia melalui Dia, setelah menyerahkan selu-
ruh penghakiman kepada-Nya. Oleh sebab  itu, pada hari 
penghakiman itu Bapa akan mengakui-Nya di hadapan 
umum sebagai cahaya kemuliaan Tuhan   dan gambar wujud 
Tuhan  . 

(3)  Dia akan datang dalam kemuliaan malaikat-malaikat ku-
dus. Mereka akan menyertai Dia dan melayani Dia, serta 
melakukan apa saja untuk memeriahkan penampakan-
Nya. Alangkah megahnya sosok Yesus pada hari itu! Kalau 
kita percaya akan hal ini, tidak semestinya kita malu ka-
rena Dia atau sebab  perkataan-Nya pada saat ini.  
Terakhir, untuk membesarkan hati mereka dalam men-
derita bagi-Nya, Ia meyakinkan mereka bahwa Kerajaan 
Tuhan   akan segera ditegakkan, meskipun perlawanan yang 
diberikan orang sangat gigih (ay. 27). “Meskipun kedatang-
an Anak Manusia yang kedua kali masih jauh, Kerajaan 
Tuhan   akan datang dengan penuh kuasa di zaman ini juga, 
sementara beberapa yang hadir di sini masih hidup.” Me-
reka melihat Kerajaan Tuhan   saat  Roh Kudus dicurahkan, 
saat  Injil diberitakan ke seluruh dunia dan bangsa-bang-
sa dibawa kepada Kristus melalui Injil itu. Mereka melihat 
Kerajaan Tuhan   berjaya atas bangsa-bangsa bukan-Yahudi 
melalui pertobatan mereka, dan atas bangsa Yahudi mela-
lui kehancuran mereka. 
Yesus Dimuliakan  
(9:28-36) 
28 Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa 
Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. 29 
saat  Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi 
putih berkilau-kilauan. 30 Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, 
yaitu Musa dan Elia. 31 Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan 
berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusa-
lem. 32 Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan saat  
mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua 
orang yang berdiri di dekat-Nya itu. 33 Dan saat  kedua orang itu hendak 
meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: “Guru, betapa bahagianya 
kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu 
untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” namun  Petrus tidak 
tahu apa yang dikatakannya itu. 34 Sementara ia berkata demikian, datang-
lah awan menaungi mereka. Dan saat  mereka masuk ke dalam awan itu, 
takutlah mereka. 35 Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang ber-
kata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” 36 saat  suara itu 
terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu mera-
hasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapa 
pun apa yang telah mereka lihat itu. 
Di sini diceritakan tentang pemuliaan (transfigurasi, “perubahan ru-
pa”) Kristus, yang dirancang untuk memperlihatkan sekelumit kemu-
liaan-Nya yang di dalamnya Ia akan datang kelak untuk menghakimi 
dunia. Kemuliaan inilah yang akhir-akhir ini Ia bicarakan, supaya 
menjadi dorongan bagi murid- murid-Nya untuk bersedia menderita 
bagi-Nya, dan tidak usah merasa malu sebab  Dia. Kita sudah mem-
baca tentang kisah ini dalam Injil Matius dan Markus, dan kisah ini 
memang patut diceritakan ulang kepada kita untuk direnungkan 
kembali, demi meneguhkan iman kita di dalam Tuhan Yesus, yang 
yaitu  cahaya kemuliaan Bapa-Nya dan terang dunia. Juga demi 
mengisi pikiran kita dengan penilaian yang tinggi dan mulia tentang 
diri-Nya, meskipun Ia dibungkus dengan tubuh jasmani, dan untuk 
memberi kita sedikit gambaran mengenai kemuliaan yang melingkupi-
Nya pada saat kenaikan-Nya ke sorga. Dalam kemuliaan itulah Ia 
sekarang tampak di balik tirai. Kisah ini juga diceritakan ulang di sini 
guna meningkatkan dan mendorong kita untuk terus berharap dan 
menantikan kemuliaan yang disediakan bagi semua orang percaya di 
masa mendatang. 
I.   Di sini kita dapati suatu keadaan yang tampaknya berbeda dari 
yang dikisahkan oleh kedua penulis Injil lainnya. Kedua penulis 
Injil ini berkata bahwa peristiwa ini  terjadi enam hari sesu-
dah segala pengajaran yang disampaikan-Nya sebelumnya. Na-
mun, Lukas berkata bahwa ini terjadi kira-kira delapan hari sesu-
dah segala pengajaran itu, berarti bahwa pada hari itu telah 
berlalu tujuh malam dan enam hari penuh, dan itu yaitu  hari 
kedelapan. Beberapa orang beranggapan bahwa Kristus dimulia-
kan di malam hari, sebab  para murid mengantuk dan tertidur, 
seperti yang terjadi pada malam saat  Ia sedang menghadapi 
penderitaan maut. Selain itu, pada malam harilah penampakan-
Nya dalam kemuliaan yang penuh semarak itu akan tampak se-
makin terang berkilauan. Jika terjadinya memang di malam hari, 
maka perhitungan waktunya memang akan semakin diragukan 
dan tidak pasti. Mungkin peristiwa ini terjadi di malam hari, di 
antara hari ketujuh dan kedelapan, jadi kira-kira delapan hari. 
II. Dalam Injil Lukas ini juga ditambahkan dan dijelaskan mengenai 
beberapa hal lain yang sangat penting. 
1. Di sini diceritakan kepada kita bahwa Kristus mendapat kehor-
matan ini saat  ia sedang berdoa: Ia naik ke atas gunung 
untuk berdoa, seperti yang telah sering dilakukan-Nya (ay. 28). 
saat  Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah. Waktu 
Kristus merendahkan diri untuk berdoa, Ia pun dimuliakan. 
Sebelum itu, Ia sudah tahu peristiwa ini direncanakan bagi-
Nya pada saat itu, dan itulah sebabnya Ia mencarinya dengan 
berdoa. Kristus sendiri harus memohon karunia-karunia yang 
dimaksudkan bagi-Nya dan dijanjikan kepada-Nya: Mintalah 
kepada-Ku, maka akan Kuberikan kepadamu (Mzm. 2:8). Demi-
kian pula, Ia pun menghormati doa yang dipanjatkan dan 
menganjurkan kita untuk berdoa. Kewajiban untuk berdoa itu 
yaitu  kewajiban yang mengubah rupa, sebab  jika hati kita 
terangkat dan dilapangkan saat  sedang berdoa, kita seperti 
sedang melihat kemuliaan TUHAN, dan kita pun diubah men-
jadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang sema-
kin besar (2Kor. 3:8). Melalui doa, kita memperoleh hikmat, 
anugerah, dan sukacita yang menjadikan wajah bercahaya. 
2.  Lukas tidak menggunakan istilah berubah rupa (“transfigured”) 
– metamorphōtē (yang dipakai  oleh Matius dan Markus), 
mungkin sebab  istilah ini sudah sering dipakai  dalam ke-
percayaan bangsa-bangsa kafir. Sebaliknya, ia menggunakan 
ungkapan yang sepadan, yakni to eidos tou prosōpou heteron – 
rupa wajah-Nya lain daripada rupa yang sebelumnya: wajah-
Nya sangat bercahaya jauh melebihi Musa saat  turun dari 
gunung. Pakaian-Nya putih berkilau-kilauan: tampaknya 
exastraptōn – terang seperti kilat (kata ini hanya dipakai  di 
sini), hingga Ia tampak seperti berbajukan cahaya, terbungkus 
cahaya bagaikan sedang terbungkus kain.     
3.  Di dalam Injil Matius dan Markus dikatakan bahwa Musa dan 
Elia nampak kepada mereka. Di sini dikatakan bahwa mereka 
menampakkan diri dalam kemuliaan, untuk mengajar kita bah-
wa orang-orang kudus yang telah meninggal berada dalam ke-
muliaan, dalam keadaan yang penuh kemuliaan. sebab  
Kristus berada dalam kemuliaan, mereka pun menampakkan 
diri dalam kemuliaan, sama seperti semua orang kudus kelak. 
4.  Di sini diceritakan kepada kita tentang bahan pembicaraan di 
antara Kristus dan kedua nabi besar dari Perjanjian Lama itu. 
Mereka berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan di-
genapi-Nya di Yerusalem. Elegon tēn exodon autou – kepergian-
Nya keluar, keberangkatan-Nya, yang berarti kematian-Nya.  
(1)  Di sini kematian Kristus disebutkan sebagai kepergian-Nya, 
kepergian-Nya keluar, hal Ia meninggalkan dunia. Musa 
dan Elia membicarakan kematian-Nya itu dengan memakai 
pengertian ini dengan maksud untuk memperdamaikan Dia 
dengan kematian-Nya, supaya Ia dapat menatapnya ke de-
pan dengan lebih mudah bagi sifat manusia-Nya. Kematian 
orang-orang kudus yaitu  kepergian mereka keluar, kebe-
rangkatan mereka keluar dari Mesir dunia ini, pembebasan 
mereka dari rumah perbudakan. Ada yang berpendapat 
bahwa kenaikan Kristus ke sorga juga merupakan kebe-
rangkatan-Nya, sebab bila keberangkatan bangsa Israel ke-
luar dari Mesir yaitu  keberangkatan yang penuh keme-
nangan, begitu pula dengan keberangkatan-Nya saat me-
ninggalkan dunia menuju sorga.  
(2) Keberangkatan-Nya ini harus digenapi-Nya, sebab hal ini 
memang sudah ditentukan. Perkara ini telah dipastikan 
sesuai rencana Tuhan  , dan tidak dapat diubah lagi.  
(3) Ia harus menggenapinya di Yerusalem, walaupun keba-
nyakan Ia tinggal di Galilea; sebab musuh-musuh yang 
sangat membenci-Nya ada di Yerusalem, dan di sanalah 
Mahkamah Agama (Sanhedrin), yang mengadili para nabi, 
berada.  
(4) Musa dan Elia membicarakan hal ini untuk menunjukkan 
bahwa segala penderitaan Kristus dan kemuliaan yang di-
peroleh-Nya itulah yang selama ini disebut-sebut oleh Musa 
dan segala kitab nabi-nabi (24:26-27; 1Ptr. 1:11).  
(5)  Bahkan saat  sedang berubah rupa pun, Yesus Tuhan 
kita bersedia berbicara mengenai kematian dan penderita-
an-Nya, untuk mengajar kita bahwa merenungkan kemati-
an sebagai kepergian kita dari dunia ini menuju dunia lain 
bukanlah sesuatu yang tidak pada tempatnya, malah harus 
dilakukan terutama pada waktu kita sedang merasa baik-
baik saja secara rohani, supaya kita jangan meninggikan 
diri. Dalam kemuliaan kita di dunia ini, biarlah kita ingat 
bahwa di sini kita tidak memiliki  tempat tinggal yang 
tetap.  

5. Di sini diceritakan kepada kita sesuatu yang sebelum ini tidak 
diberitahukan, yakni bahwa para murid telah tertidur (ay. 32). 
Waktu penglihatan itu mulai tampak, Petrus, Yakobus, dan 
Yohanes mengantuk dan ingin tidur. Boleh jadi saat  itu hari 
sudah malam, atau mereka letih, atau terganggu istirahat 
tidur mereka pada malam sebelumnya. Mungkin juga peng-
lihatan itu didahului oleh suatu kidung yang memukau atau 
suara yang manis dan merdu yang membuat mereka terlena 
dalam tidur. Atau bisa juga disebabkan sebab  dosa kelalaian 
mereka: waktu Kristus berdoa bersama mereka, mereka tidak 
memperhatikan doa-Nya seperti seharusnya, dan sebagai hu-
kumannya, mereka dibiarkan tidur sekarang saat  Ia mulai 
berubah rupa, sehingga kehilangan kesempatan untuk melihat 
bagaimana keajaiban itu terjadi. Ketiga murid ini tertidur 
saat  Kristus sedang berada dalam kemuliaan-Nya, dan ini 
sama seperti yang mereka lakukan sesudah itu, saat  Ia 
ketakutan. Lihatlah kelemahan dan kerapuhan tabiat manusia 
itu, bahkan dalam diri manusia yang terbaik sekalipun. Beta-
pa manusia itu sungguh membutuhkan anugerah Tuhan  . Orang 
akan menyangka bahwa kemuliaan Guru mereka yang sangat 
agung dan ketakutan-Nya yang teramat sangat ini sudah pasti 
akan menyentuh hati mereka; namun, nyatanya, tidak satu 
pun dari kedua hal ini bisa membuat mereka terbangun. Beta-
pa perlunya kita berdoa kepada Tuhan   untuk memperoleh 
anugerah supaya kita bukan saja hidup, namun  juga giat! Na-
mun, supaya mereka bisa menjadi saksi yang cakap mengenai 
tanda dari sorga ini, dan juga bagi mereka yang memintanya, 
beberapa saat lalu   murid-murid itu pun menjadi sadar 
kembali, dan benar-benar terjaga. saat  itulah mereka meli-
hat semua kemuliaan ini, sehingga mereka dapat memberikan 
laporan khusus seperti yang kita lihat telah dilakukan salah 
seorang dari mereka, tentang semua hal yang terjadi waktu 
mereka berada bersama Kristus di atas gunung yang kudus 
(2Ptr. 1:18). 
6. Di sini bisa dilihat bahwa saat Musa dan Elia hendak mening-
galkan Yesus-lah baru Petrus berkata, “Guru, betapa bahagia-
nya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang 
tiga kemah.” Kita juga sering lalai dalam merasakan berharga-
nya rahmat yang kita terima, dan baru sadar saat  akan 
kehilangan rahmat itu. Kita juga sering tidak mengacuhkan-
nya, dan baru tersadar saat  rahmat itu akan meninggalkan 
kita. Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Orang-
orang kudus itu tidak perlu dibuatkan tenda di bumi ini, 
sebab  mereka sudah memiliki istana-istana yang megah di 
sorga dan mereka lebih suka kembali ke sana. 
7.  Di sini ditambahkan juga perihal awan yang menaungi me-
reka, bahwa saat  masuk ke dalam awan itu, takutlah murid-
murid itu. Awan ini secara lebih khusus menandai kehadiran 
Tuhan  . Di dalam awanlah Tuhan   dalam Perjanjian Lama menjadi-
kan Kemah Suci dan Bait Suci sebagai milik-Nya, dan saat  
awan itu menutupi Kemah Pertemuan, Musa tidak dapat mema-
sukinya (Kel. 40:34-35). saat  awan itu memenuhi Bait Suci, 
imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan 
kebaktian oleh sebab  awan itu (2Taw. 5:14). Awan seperti 
itulah yang tampak di sini, jadi tidak mengherankan bila mu-
rid-murid juga takut masuk ke dalam awan itu. namun  jangan-
lah ada seorang pun yang takut masuk ke dalam awan 
bersama Yesus Kristus, sebab Ia pasti akan membawa serta 
mereka melaluinya dengan selamat. 
8.  Di sini dan di dalam Injil Markus, suara yang datang dari sor-
ga itu tidak disebutkan sejelas dalam Injil Matius, “Inilah Anak 
yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Meskipun kata-kata “kepa-
da-Nyalah Aku berkenan” yang kita dapati dalam Injil Matius 
dan surat Petrus tidak disebutkan di sini, kata-kata itu sudah 
tersirat dalam pernyataan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi”; 
sebab siapa yang dikasihi-Nya, kepadanya juga Ia berkenan, 
keduanya tercakup menjadi satu. Kita diterima di dalam Dia, 
yang dikasihi-Nya. 
Terakhir, di sini dikatakan bahwa para rasul itu merahasia-
kan penglihatan ini. Pada masa itu, mereka tidak menceritera-
kan hal itu kepada siapa pun. Mereka menyimpannya untuk 
kesempatan lain, saat  bukti-bukti bahwa Kristus yaitu  
Anak Tuhan   telah digenapi melalui pencurahan Roh Kudus, dan 
saat itulah pengajaran itu harus diberitakan ke seluruh dunia. 
Sama seperti ada saatnya untuk berbicara, demikian pula ada 
saatnya untuk berdiam diri. Segala sesuatu itu indah dan ber-
guna pada masanya. 

Roh Jahat Diusir  
(9:37-42) 
37 Pada keesokan harinya saat  mereka turun dari gunung itu, datanglah 
orang banyak berbondong-bondong menemui Yesus. 38 Seorang dari orang 
banyak itu berseru, katanya: “Guru, aku memohon supaya Engkau mene-
ngok anakku, sebab ia yaitu  satu-satunya anakku. 39 Sewaktu-waktu ia 
diserang roh, lalu mendadak ia berteriak dan roh itu menggoncang-goncang-
kannya sehingga mulutnya berbusa. Roh itu terus saja menyiksa dia dan 
hampir-hampir tidak mau meninggalkannya. 40 Dan aku telah meminta kepa-
da murid-murid-Mu supaya mereka mengusir roh itu, namun  mereka tidak 
dapat.” 41 Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan 
yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar ter-
hadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!” 42 Dan saat  anak itu mendekati 
Yesus, setan itu membantingkannya ke tanah dan menggoncang-goncangnya. 
namun  Yesus menegor roh jahat itu dengan 

Related Posts:

  • lukas 1-12 10pat yang penuh kesucian dan kasih. 5.  Setan-setan itu sepenuhnya ada di bawah perintah dan kuasa Yesus Tuhan kita, dan mereka mengetahui hal ini, sebab me-reka memohon kepada-Nya supaya tidak memerintahkan mer… Read More