lukas 1-12 11


keras dan menyembuhkan anak 
itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya.  
Dalam Injil Matius dan Markus, kisah ini diceritakan langsung sesu-
dah peristiwa pemuliaan Kristus dan percakapan-Nya dengan para 
murid sesudah itu. Namun, dalam Injil Lukas di sini dikatakan bah-
wa pada keesokan harinya saat  mereka turun dari gunung itu, yang 
memastikan dugaan bahwa Kristus berubah rupa di malam hari, dan 
sepertinya, meskipun mereka tidak jadi mendirikan tiga kemah seper-
ti yang diusulkan Petrus, mereka menemukan tempat bernaung 
untuk beristirahat sepanjang malam, sebab  baru keesokan harinya-
lah mereka turun dari gunung. Begitu turun gunung, Ia pun menemu-
kan hal-hal yang tidak beres di antara murid-murid-Nya, meskipun 
tidak separah yang dialami Musa saat ia turun dari gunung. saat  
orang-orang yang bijaksana dan baik sedang beristirahat, sungguh 
baik apabila mereka merenungkan apakah pekerjaan mereka di 
tengah masyarakat itu diingini atau tidak. 
Di dalam kisah ini, perhatikanlah:  
1.  Betapa bersemangatnya orang-orang menyambut Kristus saat  Ia 
kembali kepada mereka. Walaupun Ia hanya pergi sebentar, orang 
banyak berbondong-bondong menemui-Nya, sama seperti pada ke-
sempatan-kesempatan lain, banyak orang mengikuti Dia. Memang 
itulah yang telah dinubuatkan perihal diri-Nya, bahwa kepada-
Nya akan takluk bangsa-bangsa.  
2.  Betapa mendesaknya sikap ayah anak yang dirasuk setan itu 
dalam memohon pertolongan Kristus bagi anaknya (ay. 38): Aku 
memohon supaya Engkau menengok anakku. Inilah permohonan-
nya, permohonan yang sangat sederhana. Satu pandangan penuh 
belas kasihan dari Kristus sudah cukup untuk membereskan se-
gala sesuatu. Marilah kita membawa diri kita sendiri dan anak-
anak kita kepada Kristus, supaya ditengok oleh-Nya. Permohonan 
orang itu yaitu , “Ia yaitu  satu-satunya anakku.” Mereka yang 
memiliki banyak anak dan mengalami kesulitan dengan salah 
seorang, masih bisa mendapatkan penghiburan dari yang lain. 
Namun, jika mereka hanya memiliki seorang anak saja dan meng-
alami kesulitan dengan anak itu, maka kesusahan yang dirasakan 
dapat diimbangi dengan kasih Tuhan   yang memberikan Anak tung-
gal-Nya bagi kita.  
3.  Betapa menyedihkan masalah yang dialami anak itu (ay. 39). Ia 
berada di bawah kuasa roh jahat yang menyerangnya. Sakit se-
macam ini lebih mengerikan daripada yang sekadar disebabkan 
oleh hal-hal alami. saat  serangan itu kambuh tanpa pertanda 
sebelumnya, ia akan mendadak berteriak. Sering kali jeritan-jerit-
annya ini merobek-robek hati sang ayah yang berhati lembut. Roh 
jahat ini menggoncang-goncangkannya dan menyiksa dia serta 
hampir-hampir tidak mau meninggalkannya. Saat meninggalkan 
tubuh anak itu, setan membantingnya terlebih dahulu. Alangkah 
beratnya kesusahan orang yang menderita di dunia ini! Betapa 
jahatnya perbuatan Iblis jika dia merasuki seseorang! Namun, 
berbahagialah mereka yang memiliki  jalan untuk mendatangi 
Kristus!  
4.  Betapa kurangnya iman para murid. Walaupun Kristus telah 
memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, mereka tidak dapat 
mengusir roh itu (ay. 40). Boleh jadi mereka tidak mempercayai 
kuasa yang darinya mereka dapat memperoleh kekuatan, atau 
tidak yakin dengan tugas yang telah diberikan kepada mereka, 
atau mungkin juga mereka tidak bertekun dalam doa seperti 
seharusnya. sebab  inilah Kristus menegur mereka. “Hai kamu 
angkatan yang tidak percaya dan yang sesat.” Menurut pema-
haman Dr. Clarke, inilah yang dimaksudkan-Nya kepada murid-
murid-Nya, “Masakan kalian ini menjadi begitu tidak beriman dan 
tidak percayanya sampai tidak sanggup menjalankan tugas yang 
telah Kuberikan kepadamu?”  
5.  Betapa sempurnanya kesembuhan yang diberikan Kristus kepada 
anak itu (ay. 42). Kristus mampu melakukan bagi kita hal yang ti-
dak mampu dilakukan murid-murid-Nya: Yesus menegor roh jahat 
itu dengan keras pada waktu roh itu mengamuk. Setan itu mem- 
bantingkan anak itu ke tanah dan menggoncang-goncangnya, se-
akan-akan hendak mencabik-cabiknya. Namun, satu perkataan 
dari Kristus menyembuhkan anak itu dan memulihkan kerusakan 
yang telah dibuat setan itu terhadapnya. Di sini ditambahkan 
bahwa Ia mengembalikannya kepada ayahnya. Perhatikanlah, 
saat anak-anak kita sembuh dari penyakit, kita harus menyambut 
mereka seperti dikembalikan lagi kepada kita, menyambut mereka 
seakan-akan hidup kembali dari kematian, menyambut mereka 
seperti saat kita pertama kalinya menerima mereka. Sungguh me-
nyenangkan bisa menerima mereka dari tangan Kristus, melihat-
Nya mengembalikan mereka kepada kita lagi, “Terimalah anak ini 
dan bersyukurlah. Terima dia, dan besarkan dia untuk-Ku, ka-
rena kamu telah menerimanya lagi dari-Ku. Terimalah dia, dan 
jangan terlampau mengkhawatirkan dia.” Dengan peringatan-
peringatan seperti ini, para orangtua harus menerima anak-anak 
mereka dari tangan Kristus, lalu   dengan sukacita menyerah-
kan mereka kembali ke dalam tangan-Nya. 
Keinginan Berlebihan Murid-murid  
Mendapat Teguran  
(9:43-50) 
43a Maka takjublah semua orang itu sebab  kebesaran Tuhan  . 43b saat  semua 
orang itu masih heran sebab  segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata 
kepada murid-murid-Nya: 44 “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku 
ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” 45 Mereka 
tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehing-
ga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan 
arti perkataan itu kepada-Nya. 46 Maka timbullah pertengkaran di antara 
murid-murid Yesus tentang siapa yang terbesar di antara mereka. 47 namun  
Yesus mengetahui pikiran mereka. sebab  itu Ia mengambil seorang anak 
kecil dan menempatkannya di samping-Nya, 48 dan berkata kepada mereka: 
“Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan 
barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. 
sebab  yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” 49 Yoha-
nes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu 
kami cegah orang itu, sebab  ia bukan pengikut kita.” 50 Yesus berkata 
kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia 
ada di pihak kamu.” 
Di sini kita bisa melihat:  
I.  Kesan yang ditimbulkan mujizat-mujizat Kristus pada semua 
orang yang menyaksikannya (ay. 43): Maka takjublah semua orang 
itu sebab  kebesaran Tuhan  . Tidak bisa tidak, mereka sungguh 
menyaksikan kebesaran Tuhan   dalam semua mujizat yang diper-
buat Kristus. Perhatikanlah, segala pekerjaan yang dihasilkan 
oleh kuasa Tuhan   yang mahakuasa memang sangat menakjubkan, 
terutama yang dikerjakan melalui tangan Tuhan Yesus, sebab Dia 
yaitu  kebesaran Tuhan   atau kuasa Tuhan   itu sendiri, dan nama-
Nya yaitu  Ajaib. Rasa takjub itu terjadi pada semua orang itu: 
mereka semua takjub. Penyebab rasa takjub itu juga banyak: me-
reka takjub pada segala yang diperbuat Yesus. Di dalam semua 
tindakan-Nya ada  sesuatu yang tidak biasa dan mengheran-
kan.  
II.  Pemberitahuan yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya 
mengenai penderitaan-Nya yang mendekat: Anak Manusia akan 
diserahkan ke dalam tangan manusia, manusia yang jahat, manu-
sia yang wataknya teramat buruk. Mereka akan diizinkan untuk 
melecehkan Dia sesuka hati. Di sini hal ini dinyatakan secara 
tersirat, namun  oleh para penulis Injil lain dinyatakan secara ter-
surat: Mereka akan membunuh Dia.  
Namun, ada yang lebih khusus yang dinyatakan dalam Injil ini:  
1. Hubungan antara pernyataan ini  dengan apa yang terjadi 
sebelumnya, yakni rasa takjub orang-orang saat  melihat 
mujizat-mujizat yang diperbuat Kristus (ay. 43): saat  semua 
orang itu masih heran sebab  segala yang diperbuat-Nya itu, 
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya. Dengan bodohnya me-
reka suka membangga-banggakan bahwa kerajaan-Nya itu 
bersifat sementara, dan bahwa Ia akan memerintah bersama 
mereka dalam kemegahan dan kekuasaan duniawi. Pikir mere-
ka, kuasa-Nya yang akbar itu dapat mewujudkan apa yang 
mereka angan-angankan, apalagi orang-orang sangat kagum 
kepada-Nya sebab  mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. Oleh 
sebab  itu, Kristus yang tahu isi hati mereka, menggunakan 
kesempatan ini untuk memberitahukan mereka lagi mengenai 
apa yang pernah disampaikan-Nya kepada mereka, yakni bu
kannya manusia yang diserahkan ke dalam tangannya, namun  
Dialah yang justru yang harus diserahkan ke dalam tangan 
manusia. Bukannya hidup dalam kehormatan, Ia justru malah 
harus mati dengan cara yang memalukan. Semua mujizat dan 
ketertarikan yang ditimbulkannya dalam hati orang-orang itu 
tidak akan mampu mencegah terjadinya kematian-Nya.  
2. Ungkapan khidmat yang mendahului pernyataan-Nya itu: “De-
ngarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini, perhatikan 
baik-baik apa yang Kukatakan, dan imanilah itu. Janganlah 
segala pemikiranmu tentang kerajaan sementara Sang Mesias 
menutup telingamu terhadap perkataan-Ku, atau membuatmu 
enggan mempercayainya. Akuilah apa yang Kukatakan dan 
terimalah.” Dengarlah dan camkanlah, demikianlah yang di-
artikan dalam bahasa Siria dan Arab. Perkataan Kristus tidak 
akan berguna bagi kita kecuali kita mencamkannya di dalam 
kepala dan hati kita.  
3.  Kebodohan para murid yang teramat sangat, dalam kaitannya 
dengan nubuat tentang penderitaan Kristus. Di dalam Injil 
Markus dikatakan, “Mereka tidak mengerti perkataan itu.” Se-
benarnya perkataan itu cukup jelas, namun  mereka tidak mau 
memahaminya secara harfiah sebab  hal itu tidak sesuai de-
ngan pemikiran mereka. Mereka juga tidak bisa memahami 
maksudnya dengan cara lain serta tidak berani menanyakan 
arti perkataan itu kepada-Nya supaya tidak tersadar dan ter-
jaga dari impian mereka yang menyenangkan itu. Namun, di 
sini ditambahkan bahwa artinya tersembunyi bagi mereka, se-
hingga mereka tidak dapat memahaminya sebab  lemahnya 
iman dan kuatnya prasangka mereka. Tidak mungkin hal itu 
tersembunyi bagi mereka sebab  alasan belas kasihan, yakni 
untuk menjaga supaya mereka tidak tenggelam dalam duka-
cita berlebihan sebab  membayangkan kematian-Nya itu. Se-
baliknya, pernyataan Kristus itu menimbulkan paradoks atau 
pertentangan bagi mereka, sebab mereka sendirilah yang mem-
buatnya demikian. 
III. Teguran yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya sebab  
mempertengkarkan perihal siapa yang terbesar di antara mereka 
(ay. 46-48). Kita sudah membaca bagian perikop tentang hal ini 
sebelumnya, dan yang menyedihkan, kita masih akan membaca-
nya lagi.  
Perhatikanlah di sini: 
1. Keinginan berlebihan akan kehormatan dan pertengkaran un-
tuk memperebutkan keunggulan dan tempat utama yaitu  
dosa-dosa yang paling mudah menimpa murid-murid Yesus 
Tuhan kita, dan oleh sebab itu mereka pantas mendapat te-
guran keras. Dosa-dosa demikian mengalir dari berbagai kece-
maran yang justru seharusnya ditundukkan dan dimatikan 
oleh murid-murid itu (ay. 46). Mereka yang berharap menjadi 
besar dalam dunia ini biasanya menghendaki segala yang ting-
gi-tinggi, dan tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk 
menjadi yang terbesar. Hal ini membuat mereka menghadapi 
banyak godaan dan masalah, sesuatu yang tidak akan dialami 
oleh mereka yang puas dengan menjadi yang kecil, menjadi 
yang terkecil, terkecil di antara yang paling kecil. 
2. Yesus Kristus sangat mengenal pikiran dan isi hati kita: Ia me-
ngetahui pikiran mereka (ay. 47). Bagi-Nya, pikiran sama de-
ngan perkataan, sedangkan bisikan sama dengan seruan yang 
nyaring. sebab  itu, kita harus ketat dalam menguasai segala 
pikiran kita, sebab  Kristus sangat memperhatikan segala 
yang kita pikirkan. 
3. Kristus ingin agar murid-murid-Nya menghendaki kehormatan 
yang diperoleh melalui kerendahan hati yang tenang, bukan 
yang diperoleh melalui keinginan berlebihan yang resah dan 
muluk-muluk. Kristus mengambil seorang anak kecil dan me-
nempatkannya di samping-Nya (ay. 47, sebab Ia selalu lembut 
dan ramah terhadap anak-anak kecil), dan menjadikan anak 
kecil ini sebagai contoh bagi mereka.  
(1) Biarlah mereka memiliki tabiat anak ini, yaitu rendah hati 
dan tenang, serta damai dengan diri sendiri. Biarlah me-
reka tidak mendambakan kemegahan duniawi, atau kebe-
saran, atau jabatan tinggi, namun  mati terhadap hal-hal 
ini  sama seperti anak ini. Biarlah mereka tidak lagi 
menaruh dendam terhadap pesaing mereka, seperti sikap 
anak ini. Biarlah mereka bersedia untuk menjadi yang ter-
kecil, supaya bisa menjadi lebih berguna, dan bisa meren-
dahkan diri untuk melakukan tugas sederhana demi suatu 
kebaikan.  
(2) Biarlah mereka menjadi yakin bahwa inilah cara menuju 
kedudukan yang lebih tinggi, sebab hal ini akan meninggi-
kan mereka sehingga dapat dihargai saudara-saudara me-
reka: oleh sebab  itu mereka yang mengasihi Kristus akan 
menerima orang-orang semacam ini dalam nama-Nya, se-
bab mereka sangat serupa dengan-Nya, dan mereka yang 
menerima orang-orang itu juga akan menerima kebaikan-
Nya, sebab  Kristus menghitung kebaikan yang dilakukan 
terhadap mereka itu sebagai terhadap diri-Nya sendiri. 
Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, yaitu 
menyambut seorang pemberita Injil yang berwatak seperti 
anak ini, ia telah berlaku hormat kepadanya dan menyam-
but Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, dengan me-
nyambut seorang pelayan Tuhan, ia telah menyambut Dia, 
yang mengutus Aku. Kehormatan terbesar yang bisa diper-
oleh di dunia ini yaitu  diterima oleh manusia sebagai se-
orang utusan Tuhan   dan diterima dan disambut sendiri oleh 
Tuhan   dan Kristus. Kehormatan ini akan dimiliki oleh semua 
murid Yesus Kristus yang rendah hati, dan dengan demi-
kian mereka yang terkecillah yang benar-benar akan men-
jadi yang terbesar. 
IV. Teguran yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya sebab  
mencela orang yang menghormati dan melayani Dia, yang bukan 
berasal dari kalangan mereka, yang bukan salah satu dari kedua 
belas atau ketujuh puluh murid, yang juga bukan dari antara 
orang-orang yang pernah berhubungan dengan atau melayani 
mereka. Mereka cuma sesekali mendengar pengajaran Kristus, 
lalu percaya kepada-Nya dan menggunakan nama-Nya dengan 
iman dan doa yang sungguh-sungguh untuk mengusir setan.  
Sekarang:  
1. Orang ini mereka tegur dan cegah. Mereka tidak mau mem-
biarkan dia berdoa dan berkhotbah walaupun tindakannya itu 
mendatangkan kehormatan bagi Kristus dan membawa ke-
baikan bagi orang lain dan melemahkan kerajaan Iblis. Alasan 
mereka yaitu  sebab  ia tidak mengikuti Kristus bersama
mereka, ia memisahkan diri dari jemaat mereka, tidak ditah-
biskan seperti mereka, tidak memberikan penghormatan ke-
pada mereka, dan tidak bersekutu dengan mereka. Mungkin 
hanya kedua belas murid ini yang merupakan satu-satunya 
masyarakat Kristen yang punya alasan untuk bertindak demi-
kian dalam membungkam orang-orang yang bukan berasal 
dari lingkungan mereka. Melihat hal yang demikian,  
2.  Yesus Kristus menegur mereka dan memperingatkan mereka 
agar tidak mengulanginya lagi terhadap siapa pun yang meng-
aku menjadi penerus para rasul: “Jangan kamu cegah mereka 
(ay. 50), namun  doronglah mereka, sebab mereka memikul tu-
gas yang sama denganmu, meskipun untuk alasan yang hanya 
diketahui oleh mereka sendiri, mereka tidak ikut bersamamu. 
Mereka akan berjumpa denganmu di akhir perjalanan yang 
sama, meskipun mereka tidak menyertaimu di jalan yang 
sama. Orang lain tidak perlu mengikuti caramu dalam berbuat 
baik, jadi jangan anggap kamu benar dengan mencegah dia. 
Sebab barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita, 
dan oleh sebab itu tindakannya patut kita setujui.” Janganlah 
sampai kita kehilangan seorang pun dari teman-teman kita, 
sebab  teman kita tidaklah seberapa, sedangkan musuh kita 
begitu banyak. Orang bisa saja menjadi pengikut Kristus yang 
setia dan disambut oleh-Nya meskipun mereka bukan pengikut 
kita (Mrk. 9:38-39). Seandainya saja kisah ini direnungkan 
benar-benar, alangkah besarnya kerugian jemaat bisa dicegah, 
juga yang disebabkan oleh orang-orang yang membangga-
banggakan hubungannya dengan Kristus dan berpura-pura iri 
oleh sebab  Dia! 
Orang Samaria Menolak Kristus; 
Semangat Yakobus dan Yohanes yang Salah  
(9:51-56) 
51 saat  hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan 
pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 52 dan Ia mengirim beberapa utus-
an mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Sama-
ria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 53 namun  orang-orang Sa-
maria itu tidak mau menerima Dia, sebab  perjalanan-Nya menuju Yeru-
salem. 54 saat  dua murid-murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat 
hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami me-
Injil Lukas 9:51-56 
 327 
nyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” 55 Akan namun  Ia 
berpaling dan menegor mereka. 56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain. 
Kisah ini tidak kita dapati dalam ketiga Injil yang lain, dan sepertinya 
kisah ini dimuat di sini sebab  pertaliannya dengan kejadian sebe-
lumnya, sebab  dalam kejadian ini Kristus juga menegur murid-
murid-Nya sebab  iri hati demi kepentingan-Nya. Dalam kejadian 
sebelumnya, dengan dalih semangat bagi Kristus, mereka lalu ber-
usaha membungkam dan mencegah orang-orang di luar lingkungan 
mereka. Dalam kejadian ini, dengan dalih yang sama, mereka ber-
usaha membinasakan orang-orang bukan-Yahudi itu. Baik untuk ke-
jadian sebelumnya maupun yang sekarang ini, Kristus menegur 
mereka, sebab sikap keras dalam mempertahankan pendirian dan 
penganiayaan sama sekali bertolak belakang dengan sikap Kristus 
dan Kekristenan.  
Perhatikanlah di sini: 
I. Kesediaan dan ketetapan hati Yesus Tuhan kita dalam melak-
sanakan tugas berat bagi penebusan dan keselamatan kita. Me-
ngenai hal ini kita dapati sebuah contoh: saat  hampir genap 
waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-
Nya untuk pergi ke Yerusalem (ay. 51).  
Perhatikanlah:  
1.  Sudah ditentukan waktunya bagi penderitaan dan kematian 
Yesus Tuhan kita, dan Ia tahu betul kapan itu akan terjadi. Ia 
sudah melihatnya dengan jelas dan pasti, namun Ia sama 
sekali tidak berusaha menghindar, sebaliknya Ia malah tampil 
dengan lebih terang-terangan di depan khalayak ramai dan 
bekerja semakin giat lagi, sebab  tahu bahwa waktu-Nya 
sangat singkat.  
2. saat  tahu bahwa kematian dan penderitaan-Nya sudah se-
makin dekat, Ia mengarahkan pandangan menembus kemati-
an dan penderitaan-Nya itu dan untuk melihat apa yang ada 
jauh ke depan, yaitu kemuliaan yang akan mengikuti setelah 
itu. Ia memandangnya sebagai saat saat  Ia akan diangkat 
dalam kemuliaan (1Tim. 3:16), diangkat ke langit tertinggi 
untuk duduk di atas takhta. Musa dan Elia berbicara tentang 
kematian-Nya sebagai saat untuk meninggalkan dunia ini, su-
paya kematian itu tidak terasa menakutkan. Akan namun , Ia 
melangkah lebih jauh lagi, dan memandang kematian itu seba-
gai perubahan menuju dunia yang lebih baik, sehingga men-
jadikan kematian itu sebagai sesuatu yang sangat dirindukan. 
Semua orang Kristen yang sejati boleh menerapkan pikiran 
yang sama tentang kematian dan menyebutnya sebagai peng-
alaman diangkat, untuk berada bersama Kristus di tempat Ia 
berada, supaya  bila saat bagi mereka untuk diangkat sudah 
tiba, biarlah mereka menengadahkan kepala dan yakin bahwa 
penyelamatan mereka sudah dekat.  
3.  Dengan melihat sukacita yang disediakan bagi-Nya inilah, Ia 
mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, tem-
pat di mana Ia akan menderita dan mati. Ia benar-benar berte-
kad untuk pergi dan tidak mau dibujuk untuk tidak melaku-
kannya. Ia langsung pergi ke Yerusalem, sebab sekarang di 
situlah tugas-Nya menanti. Ia juga tidak pergi ke kota-kota 
lain atau mengambil jalan pintas, sebab seandainya Ia mela-
kukan hal itu seperti yang biasa dilakukan-Nya, Ia mungkin 
saja akan menghindari Samaria. Dengan penuh semangat dan 
ceria Ia pergi ke sana, meskipun mengetahui hal-hal yang 
akan menimpa-Nya di situ. Ia tidak akan menjadi pudar dan 
tidak akan patah terkulai, namun  meneguhkan hatinya seperti 
keteguhan gunung batu sebab  tahu bahwa Ia bukan saja akan 
dibenarkan, namun  juga dimuliakan (Yes. 50:7). Ia bukannya 
direndahkan, namun  malah diangkat. Betapa hal ini sudah se-
pantasnya membuat kita malu dengan keengganan kita beker-
ja dan menderita bagi Kristus! Kita telah menarik diri dan 
membuang muka dari pelayanan-Nya, padahal Ia telah dengan 
tabah mengarahkan pandangan menghadapi semua perlawan-
an, dan menyelesaikan tugas demi keselamatan kita. 
II. Kekasaran orang Samaria di suatu desa (yang tidak disebut na-
manya sebab  memang tidak layak disebut), yang tidak mau 
menerima Dia, atau membiarkan-Nya singgah untuk makan dan 
beristirahat di kota mereka, walaupun perjalanan-Nya melewati 
desa itu.  
Perhatikanlah di sini: 
1. Betapa sopannya Dia terhadap mereka: Ia mengirim beberapa 
utusan mendahului Dia, yakni beberapa dari antara murid-
murid-Nya yang pergi untuk mencari penginapan dan mencari 
tahu apakah Ia diperbolehkan mendapatkan tempat menginap 
bagi diri-Nya dan para pengikut-Nya di antara penduduk situ, 
sebab Ia datang bukan untuk menyakiti hati atau menying-
gung perasaan mereka sebab  jumlah para pengikut-Nya itu. 
Ia mengutus beberapa orang untuk mempersiapkan segala se-
suatu bagi-Nya, bukan untuk gagah-gagahan, melainkan demi 
kemudahan, dan supaya kedatangan-Nya tidak mengejutkan.  
2. Betapa tidak sopannya sikap mereka terhadap-Nya (ay. 53). 
Mereka tidak menerima Dia, dan tidak mau membiarkan-Nya 
datang ke desa mereka, dan malah memerintahkan penjaga 
untuk mengusir-Nya. Padahal, sebenarnya Ia bisa saja memba-
yar untuk segala sesuatu yang diminta-Nya, dan menjadi tamu 
yang murah hati di antara mereka, berbuat baik kepada mere-
ka, serta memberitakan Injil kepada mereka seperti yang dila-
kukan-Nya beberapa waktu sebelumnya di kota Samaria yang 
lain (Yoh. 4:41). Seandainya mereka berkenan, Ia akan men-
jadi berkat terbesar yang pernah datang ke desa mereka, na-
mun mereka melarang Dia masuk. Perlakuan seperti ini sering 
dihadapi oleh Injil dan para pemberitanya. Nah, alasan peno-
lakan mereka yaitu  sebab  perjalanan-Nya menuju ke Yeru-
salem. Melalui gerak-gerik-Nya, mereka mengamati bahwa Ia 
sedang berjalan ke arah sana. Pertentangan hebat di antara 
orang Yahudi dan Samaria berkisar soal tempat ibadah – apa-
kah tempat itu yaitu  Yerusalem atau gunung Gerizim di de-
kat Sikhar (Yoh. 4:20). Pertentangan di antara mereka itu begi-
tu hebatnya sehingga orang Yahudi tidak bergaul dengan orang 
Samaria, begitu pula sebaliknya (Yoh. 4:9). Namun, kita dapat 
menduga bahwa mereka tidak menolak orang-orang Yahudi 
lain yang hendak menginap di antara mereka, terutama saat  
mereka sedang menuju Yerusalem untuk hari perayaan, sebab 
seandainya sejak dahulu mereka selalu menolak, Kristus 
tentunya tidak akan mencoba mencari penginapan di situ. Lagi 
pula, orang Galilea terpaksa harus mengambil jalan putar 
yang jauh bila hendak menuju ke Yerusalem jika tidak melalui 
Samaria. Namun, orang Samaria sangat marah kepada 
Kristus, seorang guru terkenal, sebab  mengakui dan setia ke-
pada Bait Tuhan   di Yerusalem, padahal para imam di tempat itu 
begitu bermusuhan dengan-Nya, dan orang Samaria berharap
hal ini akan membuat-Nya datang serta beribadah di Bait 
Tuhan   milik mereka dan mendatangkan nama baik bagi tempat 
itu. Namun, saat  melihat bahwa Ia hendak menuju Yerusa-
lem, mereka pun tidak mau menunjukkan sopan santun yang 
mungkin pernah mereka berikan kepada-Nya saat melewati 
daerah mereka. 
III. Kemarahan Yakobus dan Yohanes terhadap penghinaan ini (ay. 
54). saat  keduanya mendengar berita penolakan ini, hati mere-
ka langsung terbakar dan tidak ada yang dapat memuaskan me-
reka selain mengirim kebinasaan kota Sodom ke atas desa ini. 
“Tuhan,” kata mereka, “beri kami izin untuk memerintahkan api 
turun dari langit, bukan sekadar untuk menakut-nakuti mereka, 
namun  juga untuk membakar habis mereka.” 
1. Di sini memang tampak sesuatu yang patut dipuji, sebab  me-
nunjukkan:  
(1) Keyakinan kuat terhadap kuasa yang telah mereka terima 
dari Yesus Kristus. Meskipun hal ini belum disebutkan da-
lam tugas perutusan mereka, dengan satu perkataan saja 
mereka dapat menyuruh api turun dari langit. Theleis 
eipōmen – Maukah Engkau supaya kami ucapkan perkataan 
itu, maka hal itu akan terjadi.  
(2) Semangat yang meluap-luap demi kehormatan Guru mere-
ka. Mereka menganggap sungguh tidak pantas bila Dia 
yang berbuat baik di mana pun Ia datang, mendapati 
bahwa bukannya sambutan hangat yang mereka terima, 
melainkan larangan untuk melintas oleh sekelompok orang 
Samaria yang tidak berharga. Mereka tidak tahan dan 
marah bahwa Guru mereka disepelekan seperti itu.  
(3) Walaupun marah, mereka bersikap tunduk pada niat baik 
dan perkenan Guru mereka. Mereka tidak akan melakukan 
hal itu kecuali Kristus mengizinkannya: Maukah Engkau 
supaya kami melakukannya?  
(4) Rasa hormat terhadap teladan para nabi sebelum mereka. 
Itu tindakan yang sama seperti yang dilakukan Elia. Mereka 
tidak akan terpikirkan untuk melakukan hal itu seandai-
nya Elia dahulu tidak melakukannya terhadap para ser-
dadu yang datang untuk menangkapnya (2Raj. 1:10, 12). 
Peristiwa yang terjadi sebelumnya ini menjadi peringatan 
bagi mereka. Begitu mudahnya kita salah menerapkan tela-
dan yang diberikan orang-orang bijak, dan menyangka 
bahwa kita telah berbuat benar, padahal kita melakukan-
nya sekehendak hati kita dan tidak pada tempatnya.  
2.  Namun, meskipun apa yang mereka katakan itu ada benarnya, 
masih ada banyak kekeliruan di dalamnya:  
(1) Ini bukan pertama kalinya dalam sekian banyak kejadian, 
bahwa Yesus Tuhan kita dihina seperti itu. Lihat saja 
bagaimana orang-orang Nazaret mengusir-Nya keluar dari 
kota mereka, dan orang Gadara ingin agar Dia keluar dari 
daerah mereka. Namun, meskipun demikian, Ia tidak per-
nah menjatuhkan hukuman ke atas mereka, melainkan 
dengan sabar tetap bertahan dengan keadaan yang menya-
kitkan itu.  
(2) Ini yaitu  orang-orang Samaria, yang memang tidak bisa 
terlampau diharapkan, dan mungkin mereka telah men-
dengar bahwa Kristus telah melarang murid-murid-Nya ma-
suk ke dalam kota orang Samaria (Mat. 10:5), sehingga per-
lakuan mereka ini  tidak bisa dibilang lebih buruk daripada 
orang-orang lain yang tahu lebih banyak tentang Kristus 
dan telah menerima begitu banyak kebaikan dari-Nya.  
(3) Boleh jadi hanya beberapa orang saja dari desa itu yang 
tahu tentang kejadian itu atau yang mengirim pesan kasar 
itu kepada-Nya, sementara tanpa mengetahuinya sedikit 
pun, ada banyak penduduk desa itu yang seandainya men-
dengar bahwa Kristus berada sedekat itu dengan mereka, 
pasti akan pergi menjumpai dan menyambut Dia. Harus-
kah seluruh penduduk desa itu dibinasakan dan hangus 
sebab  kejahatan segelintir orang? Apakah murid-murid itu 
mau supaya orang-orang yang benar juga dibinasakan 
bersama yang jahat?  
(4) Guru mereka belum pernah menyuruh api turun dari langit 
dalam kesempatan mana pun. Tidak, Ia bahkan menolak 
memberikan suatu tanda dari sorga kepada orang-orang 
Farisi yang menuntut hal itu (Mat. 16:1-2), jadi mengapa 
kedua murid itu harus berpikir untuk melakukannya? 
Yakobus dan Yohanes yaitu  kedua murid yang diberi-Nya 
nama Boanerges – anak-anak guruh (Mrk. 3:17), dan masih 
belum cukup sesuaikah nama itu bagi mereka sehingga 
mereka harus menjadi anak-anak kilat juga?  
(5) Contoh yang diberikan Elia tidak dapat diterapkan dalam 
hal ini. Elia diutus untuk menunjukkan kengerian hukum 
Taurat, dan untuk itu ia memberikan buktinya dan bersak-
si mengenainya dalam tugasnya sebagai seorang penegur 
yang gagah berani terhadap penyembahan berhala dan ke-
jahatan raja Ahab. Jadi cukup dapat diterima bila ia mem-
buktikan jabatannya dengan cara itu. Namun, yang seka-
rang akan diperkenalkan yaitu  pemberian atau dispensasi 
anugerah, dan sebab  itu, pertunjukan keadilan ilahi yang 
mengerikan seperti itu sungguh merupakan hal yang sama 
sekali tidak dapat diterima. Menurut Uskup Agung 
Tillotson, mungkin sebab  sedang berada di dekat Samaria, 
tempat Elia pernah menurunkan api dari langit, mereka 
lalu menjadi teringat akan hal itu. Mungkin itulah 
tempatnya. Namun, meskipun tempatnya sama, masanya 
telah berubah. 
IV. Teguran yang diberikan-Nya kepada Yakobus dan Yohanes sebab  
semangat mereka yang berapi-api penuh kemarahan (ay. 55): Ia 
berpaling dengan rasa tidak senang yang tulus, lalu menegor 
mereka, sebab barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar, ter-
utama sebab  apa yang mereka perbuat, yang tidak baik dan 
tidak pantas bagi mereka, dengan dalih bersemangat demi Dia. 
1.  Ia terutama menunjukkan kesalahan mereka: Kalian tidak 
tahu roh mana yang menguasai kalian (KJV), artinya:  
(1) “Kalian tidak menyadari betapa roh jahat dan watak buruk 
menguasai kalian, betapa besar kesombongan, nafsu, dan 
dendam pribadi yang tersembunyi di balik semangat palsu 
yang kalian tunjukkan bagi Guru kalian.” Perhatikanlah, 
mungkin saja ada  sejumlah besar kebusukan yang 
mengintai dan bahkan bergolak di hati orang baik-baik, 
yang tidak mereka sadari.  
(2) “Kalian tidak memikirkan semangat baik yang seharusnya 
ada pada kalian, yang bertentangan dengan semangat ini. 
Kalian masih harus belajar banyak, meskipun kalian sudah 
belajar begitu lama, tentang bagaimana sebenarnya sema-
ngat Kristus dan Kekristenan itu. Bukankah kalian telah 
diajar, kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka 
yang menganiaya kamu, dan memohonkan anugerah dari 
langit, bukannya api ke atas mereka? Kalian tidak tahu be-
tapa bertolak belakangnya sikap kalian ini dengan tujuan 
Injil yang akan diserahkan untuk menjadi tanggung jawab 
kalian. Sekarang ini kalian bukan berada di bawah peng-
aturan belenggu, kekejaman, dan maut, melainkan di ba-
wah pengaturan kasih, kemerdekaan, dan anugerah yang 
ditawarkan bersama pemberitaan tentang damai sejahtera 
di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Ke-
pada hal-hal inilah kalian harus menyesuaikan diri, dan 
bukannya menentang diri sendiri dengan berbagai kutukan 
seperti itu.” 
2. Ia menunjukkan kepada mereka rencana umum dan kecende-
rungan ajaran-Nya (ay. 56): Anak Manusia itu tidak datang 
sendiri dan oleh sebab  itu tidak mengutus kalian untuk mem-
binasakan nyawa orang, melainkan untuk menyelamatkannya 
(KJV). Ia berencana menyebarkan ajaran-Nya yang kudus itu 
melalui kasih dan kelembutan, serta melalui apa saja yang 
mengundang dan disukai, bukan melalui api, pedang, darah, 
dan pembantaian; melalui mujizat kesembuhan, dan bukan-
nya melalui wabah penyakit dan mujizat yang menghancurkan 
seperti yang terjadi saat  Israel dibawa keluar dari Mesir. 
Kristus datang untuk melenyapkan semua perseteruan, bukan 
untuk memupuknya.   
Orang-orang yang mengutuk serta menumpas mereka yang 
tidak sepikir dan sejalan, sehati dan seperbuatan dengan me-
reka, sudahlah pasti tidak memiliki roh Injil. Kristus datang 
bukan saja untuk menyelamatkan jiwa manusia, melainkan 
untuk menyelamatkan nyawa mereka juga, seperti yang bisa 
kita saksikan dari banyak mujizat yang diadakan-Nya untuk 
menyembuhkan penyakit-penyakit yang sebenarnya memati-
kan. Melalui hal ini dan juga ribuan contoh perbuatan baik 
lainnya, tampaklah bahwa Kristus menghendaki agar murid-
murid-Nya berbuat baik kepada semua orang dengan sekuat 
tenaga dan tidak menyakiti siapa pun. Kristus mau mereka 
menarik orang menjadi jemaat-Nya dengan tali kesetiaan dan 
ikatan kasih, dan bukannya dengan tongkat kekerasan atau 
cemeti lidah. 
V.   Pengunduran diri-Nya dari desa ini. Bukan saja tidak mau meng-
hukum mereka atas kekasaran mereka itu, Kristus bahkan tidak 
mau bersikeras mempertahankan hak-Nya untuk melintasi jalan 
itu (yang bebas dipakai  oleh-Nya seperti oleh orang-orang lain). 
Ia tidak mau berusaha memaksa, namun  dengan tenang dan penuh 
damai pergi ke desa yang lain, di mana penduduknya tidak begitu 
pelit dan berpendirian keras. Di sanalah Ia beristirahat lalu me-
lanjutkan perjalanan. Perhatikanlah, jika arus pertentangan sa-
ngat kuat, lebih bijak untuk menghindar daripada menentangnya. 
Kalau ada yang bersikap sangat kasar, maka daripada membalas 
dendam, lebih baik kita coba dengan orang lain yang mungkin 
bersikap lebih sopan. 
Meninggalkan Semua demi Kristus  
(9:57-62) 
57 saat  Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, ber-
katalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, 
ke mana saja Engkau pergi.” 58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempu-
nyai liang dan burung memiliki  sarang, namun  Anak Manusia tidak mem-
punyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 59 Lalu Ia berkata kepada 
seorang lain: “Ikutlah Aku!” namun  orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi 
dahulu menguburkan bapaku.” 60 namun  Yesus berkata kepadanya: “Biarlah 
orang mati menguburkan orang mati; namun  engkau, pergilah dan beritakan-
lah Kerajaan Tuhan   di mana-mana.” 61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku 
akan mengikut Engkau, Tuhan, namun  izinkanlah aku pamitan dahulu de-
ngan keluargaku.” 62 namun  Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk 
membajak namun  menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Tuhan  .” 
Di sini diceritakan kepada kita tentang tiga orang berbeda yang me-
nawarkan diri untuk mengikut Kristus, serta jawaban yang diberikan 
Kristus kepada mereka masing-masing. Mengenai kedua orang yang 
pertama, sudah diceritakan dalam Matius 19:21. 
I. Di sini ada  seseorang yang sangat bernafsu untuk segera 
mengikut Kristus. Namun, sepertinya ia bersikap terlampau ter-
buru-buru, tanpa pertimbangan yang matang, dan tidak duduk 
terlebih dulu untuk menghitung harganya. 
1. Ia mengucapkan janji yang sangat berat kepada Kristus (ay. 
57): saat  Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan 
mereka menuju Yerusalem, di mana Kristus diharapkan per-
tama kalinya muncul dalam kemuliaan-Nya, seseorang berkata 
kepada-Nya, “Tuhan, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja 
Engkau pergi.” Ini memang sudah seharusnya menjadi kete-
tapan hati semua orang yang ingin disebut murid Kristus. Me-
reka mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi (Why. 
14:4), sekalipun melalui api dan air, penjara ataupun kemati-
an. 
2. Kristus memberinya suatu peringatan yang penting, dan tidak 
menjanjikannya hal-hal besar di dalam dunia ini. Sebaliknya, 
dalam mengikut Dia, orang itu harus bersedia menanggung 
kemiskinan dan kekurangan, sebab  Anak Manusia tidak 
memiliki  tempat untuk meletakkan kepala-Nya. 
Kita boleh melihat hal ini:  
(1)  Sebagai pernyataan tentang keadaan sangat berkekurangan 
yang dijalani Yesus Tuhan kita dalam dunia ini. Ia bukan 
saja tidak memiliki kesenangan dan hiasan yang biasanya 
dimiliki para raja, namun  bahkan kebutuhan akan tempat 
tinggal yang dimiliki serigala dan burung-burung pun tidak 
ada pada-Nya. Lihatlah betapa dalamnya kemiskinan yang 
dijalani Yesus Tuhan kita demi kita. Ini dijalani-Nya untuk 
meningkatkan nilai dan harga pekerjaan-Nya, dan untuk 
membeli bagi kita tebusan anugerah yang lebih besar, su-
paya kita menjadi kaya oleh sebab  kemiskinan-Nya (2Kor. 
8:9). Ia yang telah menciptakan segala sesuatu tidak mem-
buat tempat tinggal bagi diri-Nya sendiri dan rumah pribadi 
untuk meletakkan kepala-Nya, namun  menggunakan rumah 
orang lain. Di sini Ia menyebut diri-Nya Anak Manusia, se-
orang Anak Adam, yang mengambil bagian dalam darah 
dan daging. Ia merasa bangga dalam sikap merendahkan 
diri-Nya terhadap kita. Bukan saja terhadap rendahnya 
sifat kemanusiaan kita, namun  juga terhadap keadaan ren-
dah yang ada dalam sifat kita itu. Ini diperbuat-Nya untuk 
membuktikan kasih-Nya kepada kita, dan untuk mengajar 
kita agar membenci dunia ini beserta segala yang ada di 
dalamnya dengan maksud yang suci dan terus-menerus 
mengarahkan pandangan ke dunia yang lain. Kristus men-
jadi miskin seperti ini untuk menyucikan dan membuat ke-
miskinan terasa manis bagi umat-Nya. Para rasul pun ti-
dak memiliki tempat tinggal yang tetap (1Kor. 4:11), dan 
keadaan ini lebih mudah ditanggung mereka saat mereka 
mengetahui bahwa Guru mereka pun tidak memilikinya 
(2Sam. 11:11). Sudah sepantasnya kita merasa puas men-
jalani keadaan seperti Kristus.  
(2) Untuk menawarkan hal ini sebagai pertimbangan bagi 
orang-orang yang bermaksud menjadi murid-murid-Nya. 
Jika kita bermaksud mengikut Kristus, kita harus menge-
sampingkan angan-angan tentang hal-hal besar dalam du-
nia, dan tidak berpikir untuk menjadikan apa pun lebih 
penting daripada sorga sebagai agama kita, sebab  kita ha-
rus bertekad untuk tidak menerima apa pun yang kurang 
penting. Janganlah kita ke sana kemari mencampuraduk-
kan pengakuan Kekristenan dengan keuntungan-keun-
tungan duniawi. Kristus telah menceraikan kedua hal ini, 
jadi janganlah kita berpikir untuk mempersatukannya. Se-
baliknya, kita harus bersiap memasuki Kerajaan Tuhan   me-
lalui banyak penderitaan. Kita harus menyangkal diri, dan 
memikul salib kita. Kristus menyampaikan kepada orang ini 
perihal apa saja yang harus dipertimbangkannya jika ingin 
mengikut Dia, yakni berbaring kedinginan dan merasa ti-
dak nyaman, menjalani kehidupan yang keras, dan hidup 
direndahkan orang. Bila ia tidak sanggup menjalaninya, 
lebih baik ia tidak berpura-pura mengikut Kristus. Perkata-
an ini membuat orang itu mengundurkan diri sebab  ke-
hampaan yang bakal dialaminya. Namun, hal ini tidak 
akan mengecilkan hati siapa pun yang tahu tentang apa 
saja yang akan disediakan nantinya di dalam Kristus dan 
sorga sebagai imbangan atas segalanya ini.  
II. lalu  , ada seorang lain lagi, yang sepertinya bertekad meng-
ikut Kristus, namun  ia meminta izin sehari (ay. 59). Mula-mula 
Kristus memanggil orang ini. Kata-Nya, “Ikutlah Aku.” Orang yang 
menawarkan diri untuk mengikut Dia itu akhirnya mengundur-
kan diri setelah mendengar tentang semua kesukaran yang akan 
ditemuinya. Namun, orang yang dipanggil oleh Kristus itu, meski-
pun pada mulanya agak ragu, pada akhirnya menyerah juga. Be-
tapa benarnya perkataan Kristus, “Bukan kamu yang memilih Aku, 
namun  Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16). Hal itu bukan 
bergantung pada kehendak orang atau usaha orang (seperti yang 
tercetus dalam ayat-ayat sebelumnya), namun  pada Tuhan   yang 
menunjukkan kemurahan hati, yang memberikan panggilan itu, 
dan membuatnya berhasil, seperti yang terjadi pada diri orang ini.  
Perhatikanlah: 
1. Alasan yang diajukannya: “Izinkanlah aku pergi dahulu mengu-
burkan bapaku. Ayahku di rumah sudah lanjut usia dan tidak 
akan bertahan hidup lama serta membutuhkanku selama ia 
masih hidup. Biarkan aku mengurusnya sampai ia mati. Sete-
lah melaksanakan tugas kasihku yang terakhir kepadanya, 
aku bersedia melakukan apa pun.” Di sini kita bisa melihat 
tiga godaan berbahaya yang bisa menarik dan menahan kita 
untuk mengikut Kristus. Oleh sebab itu kita perlu berjaga-jaga 
terhadap godaan ini :  
(1) Kita tergoda untuk bersantai-santai sebagai murid yang 
biasa-biasa saja. Pada akhirnya ini akan membuat kita 
kehilangan tujuan dan bukannya menjadi semakin dekat. 
Kita dibuat menyerah sehingga tidak bersikap tegas dan 
tetap.  
(2) Kita tergoda untuk menangguhkan pekerjaan yang kita 
tahu yaitu  tugas kita dan menundanya untuk waktu lain. 
Kita merasa bahwa nantilah, setelah terlepas dari segala 
kesusahan dan kesukaran, setelah merampungkan suatu 
pekerjaan, setelah mencapai puncak kehidupan, barulah 
kita berpikir tentang hal-hal rohani. Dengan demikian kita 
telah tertipu sehingga kehilangan seluruh waktu kita, 
sebab  terbujuk untuk mengabaikan saat sekarang.  
(3) Kita tergoda untuk berpikir bahwa kewajiban kita terhadap 
sanak keluarga dapat membebaskan kita dari kewajiban 
kita terhadap Kristus. Ini memang alasan yang masuk akal: 
“Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku – biar-
kan aku mengurus dahulu keluargaku dan memberi ma-
kan anak-anakku, dan setelah itu aku akan berpikir untuk 
melayani Kristus.” Padahal Kerajaan Tuhan   dan kebenaran-
nya haruslah dicari dan diperhatikan terlebih dahulu. 
2.  Jawaban Kristus atas permintaannya (ay. 60): “Biarlah orang 
mati menguburkan orang mati. Anggaplah benar (sekalipun 
sangat tidak mungkin) bahwa hanya ada orang mati yang akan 
menguburkan sesamanya yang mati, atau hanya ada orang-
orang lanjut usia yang sudah mendekati ajal saja, yang kon-
disinya sama saja dengan orang mati, dan sudah tidak mampu 
lagi untuk melakukan apa-apa. Sekalipun benar demikian 
adanya, engkau tetap saja masih memiliki  tugas lain untuk 
dilakukan. Pergilah dan beritakanlah Kerajaan Tuhan   di mana-
mana.” Ini bukan berarti bahwa Kristus ingin agar para peng-
ikut atau pelayan-Nya bersikap tidak wajar. Agama kita meng-
ajar agar kita bersikap manis dan berbuat baik dalam setiap 
hubungan, untuk menunjukkan kesalehan di rumah, dan 
membalas budi kepada orangtua kita. Namun, janganlah kita 
menjadikan tugas-tugas ini sebagai dalih untuk meninggalkan 
kewajiban kita terhadap Tuhan  . Jika sampai hubungan terdekat 
dan tererat yang kita miliki di dunia ini menjauhkan kita dari 
Kristus, maka ini berarti bahwa kita membutuhkan suatu 
semangat lagi untuk membuat kita melupakan ayah dan ibu 
kita, seperti yang dilakukan oleh Lewi (Ul. 33:9). Murid ini di-
panggil untuk menjadi pelayan, dan oleh sebab itu tidak boleh 
memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya (2Tim. 
2:4). Sudah menjadi peraturan bahwa kapan pun Kristus me-
manggil, kita tidak boleh meminta pertimbangan kepada manu-
sia (Gal. 1:15-16). Janganlah ada dalih yang mengganggu ke-
taatan kita saat ini terhadap panggilan Kristus. 
III. Ada juga seorang yang lain lagi yang bersedia mengikut Kristus, 
namun  meminta sedikit waktu untuk berpamitan dengan keluarga-
nya terlebih dahulu. 
Perhatikanlah baik-baik:  
1.  Permintaannya agar diberi pengecualian (ay. 61). Katanya, 
“Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, aku tidak merencanakan 
yang lain. Aku bertekad untuk melakukannya.  namun , sebe-
lum itu izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” 
Tampaknya permintaan ini masuk akal. Itulah yang juga 
diinginkan Elisa saat Elia memanggilnya, Biarkanlah aku men-
cium ayahku dan iartikel  dahulu, dan permintaannya itu dika-
bulkan. Namun, pelayanan Injil lebih diutamakan, dan pelak-
sanaannya lebih mendesak dibandingkan dengan pelayanan 
para nabi, dan itulah sebabnya di sini permintaan itu tidak 
dikabulkan. Biarkan aku apotaxasthai tois eis ton oikon mou – 
Biarkan aku pergi dan membereskan urusan rumah tanggaku, 
dan memberikan pengarahan seperlunya; demikianlah sebagi-
an orang memahaminya. Nah, yang menjadi masalah dalam 
permintaan orang itu yaitu :  
(1) Ia beranggapan bahwa mengikut Kristus merupakan sesua-
tu yang menyedihkan, menyusahkan, dan berbahaya. Bagi-
nya, ia seakan-akan ia bakal mati, dan oleh sebab itu ia ha-
rus berpamitan dengan semua temannya, tidak akan per-
nah berjumpa dengan mereka lagi, atau tidak akan pernah 
terhibur lagi. Padahal, dengan mengikut Kristus ia akan 
lebih menjadi sumber penghiburan dan berkat bagi mereka 
daripada jika ia tetap berada bersama mereka.  
(2) Sepertinya ia lebih mementingkan hal-hal duniawi daripada 
seharusnya, lebih daripada menjalankan kewajibannya se-
bagai pengikut Kristus. Sepertinya ia sangat merindukan 
hubungan dan perkara-perkara dengan keluarganya, serta 
tidak mudah berpisah dari mereka. Semua perkara ingin 
melekat pada dirinya. Boleh jadi ia telah pamitan dengan 
mereka, namun  enggan berpisah membuat orang sering kali 
berpamitan, dan oleh sebab itu ia harus pamitan sekali lagi, 
sebab  mereka berada di rumahnya.  
(3) Ia bersedia memasuki godaan yang menghalangi tujuannya 
mengikut Kristus. Dengan pergi dan pamitan kepada mere-
ka yang berada di rumahnya, ia seperti memperhadapkan 
diri sendiri dengan permintaan paling kuat untuk meng-
ubah ketetapan hatinya. Mereka semua akan menentang 
tujuannya itu dan akan memohon dengan sangat agar ia 
tidak meninggalkan mereka. Sangatlah ceroboh orang itu 
dengan menceburkan diri dalam godaan seperti itu. Orang-
orang yang telah berketetapan hati untuk berjalan bersama 
Pencipta mereka dan mengikut Penebus mereka harus ber-
tekad untuk tidak pernah berembuk dengan penggoda 
mereka. 

2.  Teguran yang diberikan Kristus kepadanya atas permintaan 
itu (ay. 62): “Tidak ada orang yang siap untuk membajak, dan 
bermaksud untuk membajak tanah dengan baik, akan melihat 
ke belakang, atau menoleh-noleh ke belakang, sebab jika 
demikian halnya, ada banyak bagian tanah yang tidak akan 
terbajak dan tanahnya menjadi tidak bagus untuk ditaburi 
benih. Jadi kalau engkau telah berencana untuk mengikut 
Aku dan mau menuai keuntungan seperti yang diperoleh 
orang-orang yang telah mengikut Aku, dan engkau masih me-
noleh ke belakang pada kehidupan dunia lagi serta merindu-
kannya, jika engkau menoleh ke belakang seperti yang dilaku-
kan istri Lot di Sodom, yang tampaknya disiratkan di sini, 
engkau tidak layak untuk Kerajaan Tuhan  .”  
(1) “Engkau bukanlah tanah yang pantas menerima benih 
yang baik dari Kerajaan Tuhan  , jika kamu dibajak setengah-
setengah, tidak sampai selesai.”  
(2) “Engkau bukanlah penabur yang layak menabur benih yang 
baik dari Kerajaan Tuhan   bila engkau tidak dapat membajak 
dengan baik.” Membajak bekerja seiring dengan menabur. 
Sama seperti orang-orang yang tidak layak ditaburi dengan 
berkat ilahi sebab  tanah barunya tidak dibuka terlebih da-
hulu, demikian pula orang-orang yang tidak tahu cara 
membuka tanah baru dan telah siap membajak namun  se-
nantiasa menoleh dan berpikir untuk menghentikan peker-
jaan mereka, tidak layak dipekerjakan dalam pekerjaan 
menabur. Perhatikanlah, orang-orang yang telah memulai 
dengan pekerjaan Tuhan   harus bertekad untuk melanjutkan-
nya, atau mereka tidak akan menghasilkan apa pun. Meno-
leh ke belakang cenderung membuat orang mengundurkan 
diri, dan mengundurkan diri sama dengan kehancuran. 
Orang-orang yang tadinya mengarahkan pandangan ke 
atas lalu   menoleh ke tempat lain tidaklah layak bagi 
sorga. namun  dia, dan hanya dia yang bertahan sampai pa-
da kesudahannya akan selamat. 
PASAL 10  
Dalam pasal ini kita mendapati:  
I.  Amanat besar yang diberikan Kristus kepada ketujuh puluh 
murid untuk memberitakan Injil dan meneguhkannya lewat 
mujizat-mujizat; ada juga perintah lengkap yang diberikan-
Nya kepada mereka tentang tata cara melaksanakan tugas-
tugas mereka; dorongan semangat juga diberikan-Nya kepada 
mereka (ay. 1-16).  
II. Laporan yang disampaikan ketujuh puluh murid itu kepada 
Guru mereka mengenai keberhasilan yang diperoleh mereka, 
dan tanggapan-Nya mengenai hal ini (ay. 17-24).  
III. Percakapan Kristus dengan seorang ahli hukum perihal jalan 
menuju sorga, dan perintah yang diberikan Kristus kepada-
nya melalui sebuah perumpamaan untuk memandang setiap 
orang sebagai sesamanya, yang kepadanya ia harus berbuat 
baik atau yang darinya ia bisa menerima kebaikan (ay. 25-
37).  
IV. Jamuan yang diterima Kristus di rumah Marta, teguran yang 
diberikan-Nya kepadanya sebab  kepeduliannya atas perka-
ra-perkara dunia, dan pujian yang diberikan-Nya kepada Ma-
ria sebab  kepeduliannya atas jiwanya (ay. 38-42). 
Pengutusan Ketujuh Puluh Murid  
(10:1-16) 
1 lalu   dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu 
mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat 
yang hendak dikunjungi-Nya. 2 Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang 
banyak, namun  pekerja sedikit. sebab  itu mintalah kepada Tuan yang 
empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.  
3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke 
tengah-tengah serigala. 4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau 
kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perja-
lanan. 5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Da-
mai sejahtera bagi rumah ini. 6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak 
menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. namun  
jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 7 TinggTuhan   dalam rumah itu, 
makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang 
pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. 8 
Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, 
makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 9 dan sembuhkanlah orang-
orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Tuhan   
sudah dekat padamu. 10 namun  jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota 
dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan 
serukanlah: 11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebas-
kan di depanmu; namun  ketahuilah ini: Kerajaan Tuhan   sudah dekat. 12 Aku 
berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya 
dari pada kota itu.” 13 “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Bet-
saida! sebab  jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah 
terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. 
14 Akan namun  pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan 
lebih ringan dari pada tanggunganmu. 15 Dan engkau Kapernaum, apakah 
engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan 
sampai ke dunia orang mati! 16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mende-
ngarkan Aku, dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barang-
siapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” 
Di sini kita dapati pengutusan tujuh puluh murid, berdua-dua, ke 
berbagai bagian daerah untuk memberitakan Injil, serta mengadakan 
mujizat-mujizat di tempat-tempat yang hendak dikunjungi Kristus 
sendiri, guna mempersiapkan segala perbekalan bagi-Nya. Hal ini 
tidak dicatat oleh penulis-penulis Injil yang lain, namun perintah 
yang di sini diberikan kepada mereka sangat mirip dengan yang dibe-
rikan kepada kedua belas murid.  
Amatilah: 
I.   Jumlah mereka, yakni tujuh puluh orang. Sama seperti dalam 
memilih kedua belas rasul itu, Kristus menaruh perhatian pada 
kedua belas bapa leluhur, kedua belas suku, dan kedua belas raja 
dari suku-suku tadi, demikian pula di sini Ia sepertinya menaruh 
perhatian pada ketujuh puluh tua-tua Israel. Ada begitu banyak 
orang yang naik bersama Musa dan Harun ke atas gunung dan 
melihat kemuliaan Tuhan   Israel (Kel. 24:1, 9). Ada begitu banyak 
yang setelah itu terpilih untuk membantu Musa dalam kepemim-
pinan, sesuai tata tertib Roh yang turun ke atas mereka (Bil. 
11:24-25). Kedua belas mata air dan ketujuh puluh pohon korma di 
Elim merupakan bayangan kedua belas rasul dan ketujuh puluh 
murid itu (Kel. 15:27). Mereka yaitu  ketujuh puluh tua-tua orang 
Yahudi yang dipekerjakan oleh Raja Ptolomei, raja Mesir, untuk 
menuliskan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, yang hasil 
terjemahannya sebab  itu disebut Septuaginta. Anggota Mahka-
mah Agama atau Sanhedrin juga terdiri atas jumlah ini.  
Sekarang: 
1. Kita senang mendapati bahwa Kristus memiliki  begitu ba-
nyak pengikut yang layak untuk diutus. Jerih payah-Nya ti-
daklah sia-sia walaupun menghadapi banyak tentangan. Per-
hatikanlah, perhatian Kristus yaitu  perhatian yang bertum-
buh, dan sama seperti Israel di Mesir, para pengikut-Nya akan 
berlipat ganda meskipun ditindas. Ketujuh puluh murid ini, 
yang meskipun tidak senantiasa berada dekat dengan-Nya se-
perti kedua belas murid itu, bagaimanapun juga selalu menyi-
mak ajaran-Nya, menyaksikan mujizat-mujizat-Nya, dan per-
caya kepada-Nya. Ketiga orang yang disebutkan di akhir pasal 
sebelum ini bisa akan termasuk di antara ketujuh puluh orang 
ini, jika mereka bersungguh-sungguh dalam upaya mereka. 
Ketujuh puluh orang ini disebut Petrus sebagai “mereka yang 
senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan 
Yesus bersama-sama dengan kami,” dan merupakan sebagian 
dari keseratus dua puluh orang yang disebut-sebut di situ 
(Kis. 1:15, 21). Kelihatannya, banyak dari antara orang-orang 
yang menyertai para rasul, yang bisa kita baca dalam Kisah 
Para Rasul dan Surat-surat, yaitu  ketujuh puluh murid ini. 
2. Kita senang mendapati bahwa ada pekerjaan bagi begitu ba-
nyak pelayan, pendengar bagi begitu banyak pengkhotbah. De-
mikianlah biji sesawi itu mulai bertumbuh, dan ragi itu larut 
serta meresap ke dalam tepung supaya mengembang seluruh-
nya. 
II.  Pekerjaan dan kesibukan mereka: Ia mengutus mereka berdua-
dua supaya mereka dapat saling menguatkan dan membesarkan 
hati. Jika salah seorang jatuh, maka yang lain akan membantu-
nya berdiri. Ia mengutus mereka bukan ke semua kota di Israel, 
seperti yang dilakukan-Nya terhadap kedua belas murid itu, me-
lainkan hanya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-
Nya (ay. 1), sebagai para pendahulu-Nya untuk menyiapkan tem-
pat tinggal bagi Dia. Dan meskipun tidak dicatat, pastilah sesu-
dah itu Kristus pergi ke semua tempat ke mana Ia mengutus me-
reka, meskipun Ia hanya tinggal sebentar di sana. Mereka diperin-
tahkan untuk melakukan dua hal, yang sama seperti yang dilaku-
kan Kristus ke mana pun Ia pergi:  
1. Mereka harus menyembuhkan orang-orang sakit (ay. 9), me-
nyembuhkan di dalam nama Yesus, supaya dengan begitu 
orang-orang menjadi rindu melihat Yesus ini dan siap me-
nyambut Dia yang memiliki nama yang begitu penuh kuasa.  
2. Mereka harus memberitakan kedatangan Kerajaan Tuhan  , ke-
datangannya kepada mereka: “Katakan hal ini kepada mereka, 
Kerajaan Tuhan   sudah dekat padamu, dan sekarang kamu bisa 
masuk ke dalamnya, jika kamu mau memandang ke sekeliling-
mu. Sekaranglah hari Ia melawat kamu, ketahui dan pahami-
lah hal itu.” Sungguh baik bila kita disadarkan mengenai ke-
untungan dan kesempatan yang kita miliki, supaya kita dapat 
menaruh pengharapan kita. saat  Kerajaan Tuhan   sudah dekat 
pada kita, sudah menjadi urusan kita untuk maju dan me-
nyambutnya. 
III.  Petunjuk-petunjuk yang diberikan-Nya kepada mereka. 
1. Mereka harus berangkat dengan doa (ay. 2), dan di dalam doa:  
(1) Sudah sepatutnya mereka memperhatikan keperluan jiwa-
jiwa manusia yang membutuhkan pertolongan mereka. 
Mereka harus melihat di sekeliling mereka, supaya mereka 
tahu betapa tuaian memang banyak, betapa berlimpahnya 
manusia yang ingin agar Injil diberitakan kepada mereka 
dan mau menerimanya, dan terlebih lagi pada waktu itu 
harapan mereka semakin tinggi menantikan kedatangan 
Sang Mesias serta kerajaan-Nya. Tuaian sudah siap se-
dangkan tangan-tangan yang harus mengumpulkannya ter-
lampau sedikit. Perhatikanlah, para hamba Tuhan harus 
mencurahkan tenaga pada tugas mereka dan menaruh per-
hatian mendalam bagi jiwa-jiwa yang sangat berharga, me-
mandang jiwa-jiwa ini sebagai harta tak ternilai dunia ini, 
yang harus diamankan bagi Kristus. Mereka juga harus 
merasa prihatin bahwa pekerja sedikit saja. Guru-guru Ya-
hudi memang banyak, namun  mereka bukanlah pekerja. 
Mereka bukan mengumpulkan jiwa ke dalam kerajaan 
Tuhan  , namun  ke dalam kepentingan dan kelompok mereka 
sendiri. Perhatikanlah, pelayan-pelayan yang baik akan 
berharap supaya ada  lebih banyak pelayan yang baik 
lagi, sebab ada tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh 
lebih banyak orang lagi. Sudah merupakan hal biasa bagi 
para pedagang untuk berharap bahwa tidak banyak pe-
saing yang berdagang barang yang sama, namun  Kristus 
ingin agar para pekerja di kebun anggur-Nya mengeluhkan 
jumlah pekerja yang hanya sedikit.  
(2) Mereka harus sungguh-sungguh ingin menerima penugas-
an dari Tuhan  , agar Dia yang yaitu  Tuan yang empunya 
tuaian itu mau mengutus mereka sebagai pekerja-pekerja 
untuk tuaian, dan agar Dia juga akan mengutus orang-
orang lain lagi. Sebab apabila Tuhan   yang mengutus mereka, 
mereka boleh berharap bahwa Dia akan menyertai mereka 
dan membuat mereka berhasil. Oleh sebab  itu, biarlah 
mereka mengatakan seperti yang dikatakan sang nabi (Yes. 
6:8), Ini aku, utuslah aku! Sungguh perlu sekali untuk me-
nerima penugasan kita dari Tuhan  , supaya kita bisa maju 
terus dengan berani. 
2. Mereka harus pergi dengan menyadari bahwa akan ada masa-
lah dan aniaya: “Camkanlah, sesungguhnya Aku mengutus 
kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala, namun  
pergilah, dan tetapkanlah hatimu untuk bekerja sebaik-baik-
nya. Musuh-musuhmu akan seperti serigala yang haus darah 
dan ganas, siap mencabik-cabikmu. Mereka akan mengancam 
dan mencercamu, seperti serigala yang melolong untuk meng-
gentarkan hatimu. Mereka akan menganiaya kamu bagaikan 
serigala kelaparan yang mencabik-cabikmu. namun  kamu harus 
seperti anak domba yang cinta damai dan sabar, meskipun 
mudah dimangsa.” Jadi sungguh berat untuk diutus sebagai 
anak domba ke tengah-tengah serigala seperti itu, jika Ia tidak 
memperlengkapi mereka dengan Roh dan dorongan-Nya. 
3. Mereka tidak boleh membebani diri dengan berbagai perbekal-
an, seakan-akan hendak melakukan perjalanan jauh, melain-
kan mengandalkan Tuhan   dan teman-teman mereka untuk 
mencukupi keperluan mereka: “Janganlah membawa pundi-
pundi untuk membawa uang, atau kantung untuk membawa 
pakaian atau makanan, atau kasut (seperti yang diperintah-
kan-Nya sebelumnya kepada kedua belas murid, Luk. 9:3), 
dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam 
perjalanan.” Perintah seperti ini juga diberikan Elisa kepada 
pelayannya saat mengutusnya untuk menengok anak perem-
puan Sunem yang mati itu (2Raj. 4:29). Ini bukan berarti bah-
wa Kristus ingin supaya para pelayan-Nya bersikap kasar, mu-
rung, atau bahkan tidak sopan, namun :  
(1) Supaya mereka pergi seperti orang yang sedang bergegas, 
yang sudah tahu tempat ke mana mereka ditugaskan un-
tuk menyampaikan berita mereka, dan dalam perjalanan 
menuju tempat-tempat itu tidak boleh mengganggu atau 
menghambat diri mereka dengan macam-macam basa-basi 
atau sapaan yang tidak perlu.  
(2) Mereka harus pergi sebagai seorang pebisnis, yang bisnis-
nya berkaitan dengan dunia lain, yang harus mereka urus 
dengan sungguh-sungguh, sehingga sebab  itu mereka ti-
dak boleh melibatkan diri dalam hal-hal duniawi. Minister 
verbi est; hoc age – Kamu yaitu  pelayan Firman; setialah 
pada tugasmu.  
(3) Mereka harus pergi sebagai orang yang bersungguh-sung-
guh, dan sebagai orang-orang yang penuh kesengsaraan. 
Pada waktu itu, sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang 
yang berkabung untuk tidak memberi salam kepada siapa 
pun selama tujuh hari pertama dari masa perkabungan 
mereka (Ayb. 2:13). Kristus yaitu  seorang yang penuh ke-
sengsaraan dan terbiasa dengan penderitaan. Jadi melalui 
hal ini dan juga isyarat-isyarat lain, sudah selayaknya para 
pembawa berita-Nya juga menyerupai diri-Nya dan merasa 
prihatin atas malapetaka yang menimpa umat manusia 
yang hendak mereka selamatkan, serta tersentuh oleh 
keadaan mereka. 
4.  Mereka harus menunjukkan bukan saja kehendak baik me-
reka, namun  juga kehendak baik Tuhan  , kepada semua orang 
yang mereka datangi, dan memercayakan masalah dan keber-
hasilan kepada Dia yang mengenal hati manusia (ay. 5-6). 
(1)  Perintah yang diberikan kepada mereka yaitu , seperti apa 
pun rumah yang mereka masuki, mereka harus berkata, 
“Damai sejahtera bagi rumah ini.”  
Di sini:  
[1]  Mereka harus memasuki rumah pribadi. sebab  mereka 
tidak diizinkan masuk ke rumah-rumah ibadah orang 
Yahudi, maka mereka terpaksa memberitakan Injil di 
tempat-tempat yang diperbolehkan. sebab  para pem-
beritaan Injil diusir masuk ke dalam rumah, ke sana 
pulalah murid-murid ini membawa Injil itu. Sama se-
perti Guru mereka, ke mana pun mereka datang ber-
kunjung, mereka memberitakan Injil di rumah-rumah 
orang (Kis. 5:42; 20:20). Pada mulanya jemaat Kristus 
khususnya berupa jemaat di dalam rumah.  
[2] Mereka diperintahkan untuk berkata, “Damai sejahtera 
bagi rumah ini kepada seluruh penghuninya, kepada ke-
luarga ini, dan kepada semua yang termasuk di dalam-
nya.” Damai sejahtera bagimu yaitu  bentuk salam 
yang umum di antara orang Yahudi. Mereka tidak boleh 
menggunakannya sekadar basa basi sesuai adat kebia-
saan terhadap orang-orang yang mereka jumpai di te-
ngah jalan. Mereka harus menggunakannya dengan 
khidmat terhadap orang-orang yang menerima mereka 
di dalam rumah mereka: “Janganlah memberi salam ke-
pada siapa pun selama dalam perjalanan sekadar seba-
gai basa basi. namun  kepada orang-orang yang meneri-
mamu dalam rumah mereka, katakanlah, Damai sejah-
tera bagimu dengan sepenuh hati, sebab ucapan ini 
dimaksudkan lebih daripada sekadar salam biasa.” Para 
pelayan Kristus pergi ke seluruh dunia untuk berkata, 
dalam nama Kristus, Damai sejahtera bagimu.  
Pertama, Kita harus menawarkan damai sejahtera 
kepada semua orang, untuk memberitakan damai sejah-
tera oleh Yesus Kristus, untuk memberitakan Injil per-
damaian, perjanjian atau kovenan perdamaian, damai 
di atas bumi, dan untuk mengajak anak-anak manusia 
datang serta menerima manfaat darinya.  
Kedua, Kita harus berdoa untuk damai sejahtera 
bagi semua orang. Kita harus sungguh-sungguh meng-
inginkan keselamatan jiwa orang-orang yang kepadanya 
kita beritakan Injil, dan menaikkan keinginan ini kepa-
da Tuhan   dalam doa. Ada baiknya bila kita memberi tahu 
mereka bahwa kita mendoakan mereka seperti itu dan 
memberkati mereka di dalam nama Tuhan. 
(2) Keberhasilan yang mereka raih akan berbeda, sesuai de-
ngan macam-macam watak orang yang mereka khotbahi 
dan doakan. Juga tergantung pada penghuni rumah yang 
mereka kunjungi, apakah mereka layak menerima damai 
sejahtera atau tidak, apakah damai sejahtera yang mereka 
bawa perlu tinggal di atas rumah itu atau tidak. Recipitur ad 
modum recipientis – Sifat atau mutu si penerima menen-
tukan sifat penerimaannya.  
[1] “Kamu akan berjumpa dengan beberapa orang yang 
layak menerima damai sejahtera, yang oleh pekerjaan 
anugerah ilahi dan maksud rencana ilahi siap mene-
rima pesan Injil dalam terang dan mencintainya, serta 
membiarkan hati mereka diubah menjadi lunak sehing-
ga mampu menerima pengaruhnya. Orang-orang seperti 
itu layak menerima penghiburan melalui Injil sebab  di 
dalam diri mereka telah terjadi karya anugerah yang 
indah. Bagi orang-orang seperti itulah damai sejahtera-
mu akan tinggal di atas mereka. Doa-doamu bagi mere-
ka akan didengar, janji-janji Injil akan diteguhkan atas 
mereka, hak-hak istimewanya akan dianugerahkan ke-
pada mereka, dan buah-buahnya akan berdiam dan te-
tap berada bersama mereka – yang menjadi bagian yang 
tidak akan ditarik kembali.”  
[2] “Kamu juga akan berjumpa dengan orang-orang lain 
yang sama sekali tidak ingin mendengar atau menerima 
pesanmu, rumah-rumah di mana tidak ada  se-
orang pun yang layak menerima damai sejahtera.” Su-
dah jelas sekarang bahwa damai sejahtera kita tidak 
akan tinggal di atas mereka, sebab  tidak ada bagian 
mereka di dalamnya. Berkat yang turun ke atas orang-
orang yang layak menerima damai sejahtera tidak akan 
pernah turun ke atas anak-anak Belial. Tidak seorang 
pun dapat mengharapkan berkat perjanjian (kovenan), 
bila tidak mau taat kepada persyaratan-persyaratan 
kovenan itu. Sebaliknya, berkat itu akan kembali lagi 
kepada kita. Artinya, kita akan menerima penghiburan 
sebab  telah melaksanakan tugas kita bagi Tuhan   dan 
mempercayakan diri kepada-Nya. Sama seperti doa-doa 
Daud, doa-doa kita akan kembali timbul dalam dada 
kita (Mzm. 35:13) dan kita akan mendapat penugasan 
untuk melanjutkan pekerjaan itu. Damai sejahtera itu 
akan kembali kepada kita lagi, bukan hanya untuk kita 
nikmati sendiri, namun  juga untuk disalurkan kepada 
orang berikutnya yang akan kita jumpai, yakni mereka 
yang layak menerima damai sejahtera. 
5.  Mereka harus menerima kebaikan hati orang-orang yang akan 
menerima dan menyambut mereka (ay. 7-8). “Orang-orang yang 
menyambut Injil akan menyambut kamu yang memberita-
kannya dan menjamu kalian. Janganlah kamu berpikir untuk 
mendapatkan harta kekayaan, namun  kamu boleh percaya akan 
menerima kebutuhan pokok hidupmu; dan,”  
 (1) “Jangan malu, jangan berprasangka terhadap sambutan 
mereka, atau khawatir akan merepotkan mereka, namun  
makan dan minumlah dengan kenyang apa yang diberikan 
orang kepadamu, sebab setiap kebaikan yang mereka tun-
jukkan kepadamu hanyalah balasan kecil yang tidak ber-
arti dibandingkan dengan kebaikan yang kamu berikan ke-
pada mereka dalam membawakan kabar sukacita perda-
maian. Kamu berhak menerimanya, sebab seorang pekerja 
patut mendapat upahnya. Pekerja yang bekerja dalam bi-
dang pelayanan patut mendapat upah demikian jika ia me-
mang benar-benar seorang pekerja, dan ini bukanlah suatu 
derma, melainkan keadilan yang ditujukan kepada orang-
orang yang menerima pengajaran dalam firman untuk mem-
bagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang 
membagikan pengajaran itu.”  
(2) “Jangan kurang sopan dan terlalu berhati-hati dengan ma-
kananmu. Makan dan minumlah apa yang diberikan orang 
kepadamu (ay. 7), apa yang dihidangkan kepadamu (ay. 8). 
Bersyukurlah atas makanan yang sederhana, dan jangan 
mencela meskipun makanan itu tidak dihidangkan dengan 
indah.” Sungguh tidak patut apabila murid-murid Kristus 
ingin akan makanan yang lezat. Sama seperti Ia tidak 
mengikat mereka dengan puasa orang Farisi yang penuh 
takhayul itu, Ia juga tidak mengizinkan mereka berpesta 
pora seperti para penganut Epikureisme. Boleh jadi di sini 
Kristus merujuk pada kebiasaan para tua-tua yang hidup 
dengan makanan berlimpah hingga orang-orang yang 
mengamati mereka bersikap sangat mencela. Orang nyaris 
tidak bisa hanya menghidangkan sepiring makanan begitu 
saja di hadapan mereka sebab  ada ketentuan-ketentuan 
tertentu mengenai itu. Namun, Kristus tidak ingin murid-
murid-Nya mempermasalahkan perkara-perkara makanan 
seperti ini, melainkan memakan apa saja yang diberikan 
kepada mereka, tanpa bertanya-bertanya.  
6.  Mereka harus menyatakan penghakiman Tuhan   ke atas orang-
orang yang menolak mereka dan pesan mereka: “Bila kamu 
masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, 
bila tidak ada orang di situ yang mau mendengarkan pengajar-
anmu, tinggalkan mereka (ay. 10). Jika mereka tidak mau me-
nerima kamu di dalam rumah mereka, pergilah ke jalan-jalan 
raya kota itu dan serukanlah peringatan kepada mereka.” 
Kristus menyuruh mereka (9:5) melakukan hal yang sama 
seperti yang disuruhkan-Nya kepada para rasul, “Katakanlah 
kepada mereka, bukan dengan amarah, caci maki, atau den-
dam, melainkan dengan rasa belas kasih akan jiwa malang 
mereka yang akan binasa, serta dengan rasa kecemasan 
kudus akan kehancuran yang mereka timpakan ke atas diri 
mereka sendiri, Juga debu kotamu yang melekat pada kaki 
kami, kami kebaskan di depanmu (ay. 11). Janganlah mene-
rima kebaikan apa pun dari mereka ini, dan jangan berutang 
budi kepada mereka. Nabi Tuhan yang menerima makanan 
dari seorang nabi di Betel harus membayar mahal untuk itu 
(1Raj. 13:21-22). Katakan kepada mereka bahwa kamu tidak 
akan membawa debu kota mereka. Biarkan mereka membawa-
nya sendiri, sebab  mereka yaitu  debu.” Debu itu akan 
menjadi saksi bagi utusan Kristus bahwa mereka pernah da-
tang ke situ sesuai perintah Guru mereka. Dengan menunjuk-
kan sikap lemah lembut dan penolakan seperti itu, mereka 
memperlihatkan kepercayaan mereka kepada-Nya. namun  debu 
ini juga akan menjadi saksi melawan orang-orang yang meno-
lak itu, yang menyatakan bahwa mereka ini tidak mau mela-
yani para utusan Kristus, bahkan dengan air untuk 
membasuh kaki mereka sekalipun, sehingga mereka terpaksa 
mengebaskan debu itu dari kaki mereka. “Dan katakan dengan 
terus terang kepada mereka, dan mintalah mereka untuk 
meyakini bahwa Kerajaan Tuhan   sudah dekat. Tawaran yang 
baik diberikan kepadamu sekarang. Jika kamu tidak mau 
memanfaatkannya, itu yaitu  kesalahanmu sendiri. Injil telah 
dibawa ke depan pintumu. Jika kamu menutup pintu, maka 
darahmu tertanggung atasmu. Sekarang kerajaan Tuhan   sudah 
dekat kepadamu, dan jika kamu tidak mau menerimanya, 
dosamu tidak dapat diampuni, dan hukuman yang akan jatuh 
ke atasmu tidak akan tertanggungkan.” Perhatikanlah, 
semakin besar anugerah dan kehidupan yang ditawarkan ke-
pada kita melalui Kristus, semakin besar pula pertanggung-
jawaban yang harus kita berikan suatu hari nanti, jika kita 
mengabaikan tawaran itu: pada hari itu Sodom akan lebih 
ringan tanggungannya dari pada kota itu (ay. 12). Penduduk 
Sodom memang telah mengabaikan peringatan yang disampai-
kan Lot. namun  menolak Injil yaitu  kejahatan yang lebih keji 
dan akan mendapat hukumannya pada hari itu. Yang dimak-
sudkan-Nya yaitu  hari penghakiman (ay. 14), namun untuk 
menekankannya, Ia menyebutnya hari itu, sebab hari itu 
yaitu  hari yang terakhir dan terdahsyat, saat  kita harus 
mempertanggungjawabkan semua hari yang telah kita lalui 
dan saat  keadaan kita akan ditentukan untuk hari-hari keke-
kalan. 
Mengenai kejadian ini, sang penulis Injil mengulangi: 
(1) Malapetaka khusus ke atas kota-kota tempat sebagian be-
sar pekerjaan besar Kristus telah dilakukan (Mat. 11:20 
dst.). Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, yang semuanya 
berbatasan dengan danau Galilea, yang paling dikenal 
Kristus, yaitu  tempat-tempat yang disebutkan di sini.  
[1] Mereka menikmati hak-hak istimewa yang lebih besar. 
Mujizat-mujizat Kristus telah terjadi di tengah-tengah 
mereka, dan semuanya merupakan pekerjaan yang pe-
nuh rahmat dan belas kasihan. Dengan segala mujizat 
ini mereka dinaikkan sampai ke langit, bukan saja 
dimuliakan dan dihormati, namun  juga ditempatkan di 
jalan yang menuju kebahagiaan. Mereka dibawa sedekat 
sorga melalui segala cara lahiriah yang paling mampu 
melakukannya.  
[2]  Tujuan Tuhan   dengan memilih mereka seperti itu yaitu  
untuk membawa mereka kepada pertobatan dan pem-
baruan hidup, supaya mereka berkabung, baik untuk 
merendahkan diri sebab  dosa-dosa yang telah mereka 
perbuat maupun untuk tunduk kepada pemerintahan 
Tuhan  .  
[3] Sikap mereka yang membuat tujuan ini berantakan, 
sehingga anugerah Tuhan   yang mereka terima itu sia-sia 
saja. Di sini dinyatakan secara tidak langsun

Related Posts:

  • lukas 1-12 11keras dan menyembuhkan anak itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya.  Dalam Injil Matius dan Markus, kisah ini diceritakan langsung sesu-dah peristiwa pemuliaan Kristus dan percakapan-Nya dengan para mur… Read More