Home »
lukas 1-12 11
» lukas 1-12 11
lukas 1-12 11
Januari 28, 2025
lukas 1-12 11
itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya.
Dalam Injil Matius dan Markus, kisah ini diceritakan langsung sesu-
dah peristiwa pemuliaan Kristus dan percakapan-Nya dengan para
murid sesudah itu. Namun, dalam Injil Lukas di sini dikatakan bah-
wa pada keesokan harinya saat mereka turun dari gunung itu, yang
memastikan dugaan bahwa Kristus berubah rupa di malam hari, dan
sepertinya, meskipun mereka tidak jadi mendirikan tiga kemah seper-
ti yang diusulkan Petrus, mereka menemukan tempat bernaung
untuk beristirahat sepanjang malam, sebab baru keesokan harinya-
lah mereka turun dari gunung. Begitu turun gunung, Ia pun menemu-
kan hal-hal yang tidak beres di antara murid-murid-Nya, meskipun
tidak separah yang dialami Musa saat ia turun dari gunung. saat
orang-orang yang bijaksana dan baik sedang beristirahat, sungguh
baik apabila mereka merenungkan apakah pekerjaan mereka di
tengah masyarakat itu diingini atau tidak.
Di dalam kisah ini, perhatikanlah:
1. Betapa bersemangatnya orang-orang menyambut Kristus saat Ia
kembali kepada mereka. Walaupun Ia hanya pergi sebentar, orang
banyak berbondong-bondong menemui-Nya, sama seperti pada ke-
sempatan-kesempatan lain, banyak orang mengikuti Dia. Memang
itulah yang telah dinubuatkan perihal diri-Nya, bahwa kepada-
Nya akan takluk bangsa-bangsa.
2. Betapa mendesaknya sikap ayah anak yang dirasuk setan itu
dalam memohon pertolongan Kristus bagi anaknya (ay. 38): Aku
memohon supaya Engkau menengok anakku. Inilah permohonan-
nya, permohonan yang sangat sederhana. Satu pandangan penuh
belas kasihan dari Kristus sudah cukup untuk membereskan se-
gala sesuatu. Marilah kita membawa diri kita sendiri dan anak-
anak kita kepada Kristus, supaya ditengok oleh-Nya. Permohonan
orang itu yaitu , “Ia yaitu satu-satunya anakku.” Mereka yang
memiliki banyak anak dan mengalami kesulitan dengan salah
seorang, masih bisa mendapatkan penghiburan dari yang lain.
Namun, jika mereka hanya memiliki seorang anak saja dan meng-
alami kesulitan dengan anak itu, maka kesusahan yang dirasakan
dapat diimbangi dengan kasih Tuhan yang memberikan Anak tung-
gal-Nya bagi kita.
3. Betapa menyedihkan masalah yang dialami anak itu (ay. 39). Ia
berada di bawah kuasa roh jahat yang menyerangnya. Sakit se-
macam ini lebih mengerikan daripada yang sekadar disebabkan
oleh hal-hal alami. saat serangan itu kambuh tanpa pertanda
sebelumnya, ia akan mendadak berteriak. Sering kali jeritan-jerit-
annya ini merobek-robek hati sang ayah yang berhati lembut. Roh
jahat ini menggoncang-goncangkannya dan menyiksa dia serta
hampir-hampir tidak mau meninggalkannya. Saat meninggalkan
tubuh anak itu, setan membantingnya terlebih dahulu. Alangkah
beratnya kesusahan orang yang menderita di dunia ini! Betapa
jahatnya perbuatan Iblis jika dia merasuki seseorang! Namun,
berbahagialah mereka yang memiliki jalan untuk mendatangi
Kristus!
4. Betapa kurangnya iman para murid. Walaupun Kristus telah
memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, mereka tidak dapat
mengusir roh itu (ay. 40). Boleh jadi mereka tidak mempercayai
kuasa yang darinya mereka dapat memperoleh kekuatan, atau
tidak yakin dengan tugas yang telah diberikan kepada mereka,
atau mungkin juga mereka tidak bertekun dalam doa seperti
seharusnya. sebab inilah Kristus menegur mereka. “Hai kamu
angkatan yang tidak percaya dan yang sesat.” Menurut pema-
haman Dr. Clarke, inilah yang dimaksudkan-Nya kepada murid-
murid-Nya, “Masakan kalian ini menjadi begitu tidak beriman dan
tidak percayanya sampai tidak sanggup menjalankan tugas yang
telah Kuberikan kepadamu?”
5. Betapa sempurnanya kesembuhan yang diberikan Kristus kepada
anak itu (ay. 42). Kristus mampu melakukan bagi kita hal yang ti-
dak mampu dilakukan murid-murid-Nya: Yesus menegor roh jahat
itu dengan keras pada waktu roh itu mengamuk. Setan itu mem-
bantingkan anak itu ke tanah dan menggoncang-goncangnya, se-
akan-akan hendak mencabik-cabiknya. Namun, satu perkataan
dari Kristus menyembuhkan anak itu dan memulihkan kerusakan
yang telah dibuat setan itu terhadapnya. Di sini ditambahkan
bahwa Ia mengembalikannya kepada ayahnya. Perhatikanlah,
saat anak-anak kita sembuh dari penyakit, kita harus menyambut
mereka seperti dikembalikan lagi kepada kita, menyambut mereka
seakan-akan hidup kembali dari kematian, menyambut mereka
seperti saat kita pertama kalinya menerima mereka. Sungguh me-
nyenangkan bisa menerima mereka dari tangan Kristus, melihat-
Nya mengembalikan mereka kepada kita lagi, “Terimalah anak ini
dan bersyukurlah. Terima dia, dan besarkan dia untuk-Ku, ka-
rena kamu telah menerimanya lagi dari-Ku. Terimalah dia, dan
jangan terlampau mengkhawatirkan dia.” Dengan peringatan-
peringatan seperti ini, para orangtua harus menerima anak-anak
mereka dari tangan Kristus, lalu dengan sukacita menyerah-
kan mereka kembali ke dalam tangan-Nya.
Keinginan Berlebihan Murid-murid
Mendapat Teguran
(9:43-50)
43a Maka takjublah semua orang itu sebab kebesaran Tuhan . 43b saat semua
orang itu masih heran sebab segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata
kepada murid-murid-Nya: 44 “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku
ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” 45 Mereka
tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehing-
ga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan
arti perkataan itu kepada-Nya. 46 Maka timbullah pertengkaran di antara
murid-murid Yesus tentang siapa yang terbesar di antara mereka. 47 namun
Yesus mengetahui pikiran mereka. sebab itu Ia mengambil seorang anak
kecil dan menempatkannya di samping-Nya, 48 dan berkata kepada mereka:
“Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan
barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku.
sebab yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” 49 Yoha-
nes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu
kami cegah orang itu, sebab ia bukan pengikut kita.” 50 Yesus berkata
kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia
ada di pihak kamu.”
Di sini kita bisa melihat:
I. Kesan yang ditimbulkan mujizat-mujizat Kristus pada semua
orang yang menyaksikannya (ay. 43): Maka takjublah semua orang
itu sebab kebesaran Tuhan . Tidak bisa tidak, mereka sungguh
menyaksikan kebesaran Tuhan dalam semua mujizat yang diper-
buat Kristus. Perhatikanlah, segala pekerjaan yang dihasilkan
oleh kuasa Tuhan yang mahakuasa memang sangat menakjubkan,
terutama yang dikerjakan melalui tangan Tuhan Yesus, sebab Dia
yaitu kebesaran Tuhan atau kuasa Tuhan itu sendiri, dan nama-
Nya yaitu Ajaib. Rasa takjub itu terjadi pada semua orang itu:
mereka semua takjub. Penyebab rasa takjub itu juga banyak: me-
reka takjub pada segala yang diperbuat Yesus. Di dalam semua
tindakan-Nya ada sesuatu yang tidak biasa dan mengheran-
kan.
II. Pemberitahuan yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya
mengenai penderitaan-Nya yang mendekat: Anak Manusia akan
diserahkan ke dalam tangan manusia, manusia yang jahat, manu-
sia yang wataknya teramat buruk. Mereka akan diizinkan untuk
melecehkan Dia sesuka hati. Di sini hal ini dinyatakan secara
tersirat, namun oleh para penulis Injil lain dinyatakan secara ter-
surat: Mereka akan membunuh Dia.
Namun, ada yang lebih khusus yang dinyatakan dalam Injil ini:
1. Hubungan antara pernyataan ini dengan apa yang terjadi
sebelumnya, yakni rasa takjub orang-orang saat melihat
mujizat-mujizat yang diperbuat Kristus (ay. 43): saat semua
orang itu masih heran sebab segala yang diperbuat-Nya itu,
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya. Dengan bodohnya me-
reka suka membangga-banggakan bahwa kerajaan-Nya itu
bersifat sementara, dan bahwa Ia akan memerintah bersama
mereka dalam kemegahan dan kekuasaan duniawi. Pikir mere-
ka, kuasa-Nya yang akbar itu dapat mewujudkan apa yang
mereka angan-angankan, apalagi orang-orang sangat kagum
kepada-Nya sebab mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. Oleh
sebab itu, Kristus yang tahu isi hati mereka, menggunakan
kesempatan ini untuk memberitahukan mereka lagi mengenai
apa yang pernah disampaikan-Nya kepada mereka, yakni bu
kannya manusia yang diserahkan ke dalam tangannya, namun
Dialah yang justru yang harus diserahkan ke dalam tangan
manusia. Bukannya hidup dalam kehormatan, Ia justru malah
harus mati dengan cara yang memalukan. Semua mujizat dan
ketertarikan yang ditimbulkannya dalam hati orang-orang itu
tidak akan mampu mencegah terjadinya kematian-Nya.
2. Ungkapan khidmat yang mendahului pernyataan-Nya itu: “De-
ngarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini, perhatikan
baik-baik apa yang Kukatakan, dan imanilah itu. Janganlah
segala pemikiranmu tentang kerajaan sementara Sang Mesias
menutup telingamu terhadap perkataan-Ku, atau membuatmu
enggan mempercayainya. Akuilah apa yang Kukatakan dan
terimalah.” Dengarlah dan camkanlah, demikianlah yang di-
artikan dalam bahasa Siria dan Arab. Perkataan Kristus tidak
akan berguna bagi kita kecuali kita mencamkannya di dalam
kepala dan hati kita.
3. Kebodohan para murid yang teramat sangat, dalam kaitannya
dengan nubuat tentang penderitaan Kristus. Di dalam Injil
Markus dikatakan, “Mereka tidak mengerti perkataan itu.” Se-
benarnya perkataan itu cukup jelas, namun mereka tidak mau
memahaminya secara harfiah sebab hal itu tidak sesuai de-
ngan pemikiran mereka. Mereka juga tidak bisa memahami
maksudnya dengan cara lain serta tidak berani menanyakan
arti perkataan itu kepada-Nya supaya tidak tersadar dan ter-
jaga dari impian mereka yang menyenangkan itu. Namun, di
sini ditambahkan bahwa artinya tersembunyi bagi mereka, se-
hingga mereka tidak dapat memahaminya sebab lemahnya
iman dan kuatnya prasangka mereka. Tidak mungkin hal itu
tersembunyi bagi mereka sebab alasan belas kasihan, yakni
untuk menjaga supaya mereka tidak tenggelam dalam duka-
cita berlebihan sebab membayangkan kematian-Nya itu. Se-
baliknya, pernyataan Kristus itu menimbulkan paradoks atau
pertentangan bagi mereka, sebab mereka sendirilah yang mem-
buatnya demikian.
III. Teguran yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya sebab
mempertengkarkan perihal siapa yang terbesar di antara mereka
(ay. 46-48). Kita sudah membaca bagian perikop tentang hal ini
sebelumnya, dan yang menyedihkan, kita masih akan membaca-
nya lagi.
Perhatikanlah di sini:
1. Keinginan berlebihan akan kehormatan dan pertengkaran un-
tuk memperebutkan keunggulan dan tempat utama yaitu
dosa-dosa yang paling mudah menimpa murid-murid Yesus
Tuhan kita, dan oleh sebab itu mereka pantas mendapat te-
guran keras. Dosa-dosa demikian mengalir dari berbagai kece-
maran yang justru seharusnya ditundukkan dan dimatikan
oleh murid-murid itu (ay. 46). Mereka yang berharap menjadi
besar dalam dunia ini biasanya menghendaki segala yang ting-
gi-tinggi, dan tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk
menjadi yang terbesar. Hal ini membuat mereka menghadapi
banyak godaan dan masalah, sesuatu yang tidak akan dialami
oleh mereka yang puas dengan menjadi yang kecil, menjadi
yang terkecil, terkecil di antara yang paling kecil.
2. Yesus Kristus sangat mengenal pikiran dan isi hati kita: Ia me-
ngetahui pikiran mereka (ay. 47). Bagi-Nya, pikiran sama de-
ngan perkataan, sedangkan bisikan sama dengan seruan yang
nyaring. sebab itu, kita harus ketat dalam menguasai segala
pikiran kita, sebab Kristus sangat memperhatikan segala
yang kita pikirkan.
3. Kristus ingin agar murid-murid-Nya menghendaki kehormatan
yang diperoleh melalui kerendahan hati yang tenang, bukan
yang diperoleh melalui keinginan berlebihan yang resah dan
muluk-muluk. Kristus mengambil seorang anak kecil dan me-
nempatkannya di samping-Nya (ay. 47, sebab Ia selalu lembut
dan ramah terhadap anak-anak kecil), dan menjadikan anak
kecil ini sebagai contoh bagi mereka.
(1) Biarlah mereka memiliki tabiat anak ini, yaitu rendah hati
dan tenang, serta damai dengan diri sendiri. Biarlah me-
reka tidak mendambakan kemegahan duniawi, atau kebe-
saran, atau jabatan tinggi, namun mati terhadap hal-hal
ini sama seperti anak ini. Biarlah mereka tidak lagi
menaruh dendam terhadap pesaing mereka, seperti sikap
anak ini. Biarlah mereka bersedia untuk menjadi yang ter-
kecil, supaya bisa menjadi lebih berguna, dan bisa meren-
dahkan diri untuk melakukan tugas sederhana demi suatu
kebaikan.
(2) Biarlah mereka menjadi yakin bahwa inilah cara menuju
kedudukan yang lebih tinggi, sebab hal ini akan meninggi-
kan mereka sehingga dapat dihargai saudara-saudara me-
reka: oleh sebab itu mereka yang mengasihi Kristus akan
menerima orang-orang semacam ini dalam nama-Nya, se-
bab mereka sangat serupa dengan-Nya, dan mereka yang
menerima orang-orang itu juga akan menerima kebaikan-
Nya, sebab Kristus menghitung kebaikan yang dilakukan
terhadap mereka itu sebagai terhadap diri-Nya sendiri.
Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, yaitu
menyambut seorang pemberita Injil yang berwatak seperti
anak ini, ia telah berlaku hormat kepadanya dan menyam-
but Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, dengan me-
nyambut seorang pelayan Tuhan, ia telah menyambut Dia,
yang mengutus Aku. Kehormatan terbesar yang bisa diper-
oleh di dunia ini yaitu diterima oleh manusia sebagai se-
orang utusan Tuhan dan diterima dan disambut sendiri oleh
Tuhan dan Kristus. Kehormatan ini akan dimiliki oleh semua
murid Yesus Kristus yang rendah hati, dan dengan demi-
kian mereka yang terkecillah yang benar-benar akan men-
jadi yang terbesar.
IV. Teguran yang diberikan Kristus kepada murid-murid-Nya sebab
mencela orang yang menghormati dan melayani Dia, yang bukan
berasal dari kalangan mereka, yang bukan salah satu dari kedua
belas atau ketujuh puluh murid, yang juga bukan dari antara
orang-orang yang pernah berhubungan dengan atau melayani
mereka. Mereka cuma sesekali mendengar pengajaran Kristus,
lalu percaya kepada-Nya dan menggunakan nama-Nya dengan
iman dan doa yang sungguh-sungguh untuk mengusir setan.
Sekarang:
1. Orang ini mereka tegur dan cegah. Mereka tidak mau mem-
biarkan dia berdoa dan berkhotbah walaupun tindakannya itu
mendatangkan kehormatan bagi Kristus dan membawa ke-
baikan bagi orang lain dan melemahkan kerajaan Iblis. Alasan
mereka yaitu sebab ia tidak mengikuti Kristus bersama
mereka, ia memisahkan diri dari jemaat mereka, tidak ditah-
biskan seperti mereka, tidak memberikan penghormatan ke-
pada mereka, dan tidak bersekutu dengan mereka. Mungkin
hanya kedua belas murid ini yang merupakan satu-satunya
masyarakat Kristen yang punya alasan untuk bertindak demi-
kian dalam membungkam orang-orang yang bukan berasal
dari lingkungan mereka. Melihat hal yang demikian,
2. Yesus Kristus menegur mereka dan memperingatkan mereka
agar tidak mengulanginya lagi terhadap siapa pun yang meng-
aku menjadi penerus para rasul: “Jangan kamu cegah mereka
(ay. 50), namun doronglah mereka, sebab mereka memikul tu-
gas yang sama denganmu, meskipun untuk alasan yang hanya
diketahui oleh mereka sendiri, mereka tidak ikut bersamamu.
Mereka akan berjumpa denganmu di akhir perjalanan yang
sama, meskipun mereka tidak menyertaimu di jalan yang
sama. Orang lain tidak perlu mengikuti caramu dalam berbuat
baik, jadi jangan anggap kamu benar dengan mencegah dia.
Sebab barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita,
dan oleh sebab itu tindakannya patut kita setujui.” Janganlah
sampai kita kehilangan seorang pun dari teman-teman kita,
sebab teman kita tidaklah seberapa, sedangkan musuh kita
begitu banyak. Orang bisa saja menjadi pengikut Kristus yang
setia dan disambut oleh-Nya meskipun mereka bukan pengikut
kita (Mrk. 9:38-39). Seandainya saja kisah ini direnungkan
benar-benar, alangkah besarnya kerugian jemaat bisa dicegah,
juga yang disebabkan oleh orang-orang yang membangga-
banggakan hubungannya dengan Kristus dan berpura-pura iri
oleh sebab Dia!
Orang Samaria Menolak Kristus;
Semangat Yakobus dan Yohanes yang Salah
(9:51-56)
51 saat hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan
pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, 52 dan Ia mengirim beberapa utus-
an mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Sama-
ria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. 53 namun orang-orang Sa-
maria itu tidak mau menerima Dia, sebab perjalanan-Nya menuju Yeru-
salem. 54 saat dua murid-murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat
hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami me-
Injil Lukas 9:51-56
327
nyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” 55 Akan namun Ia
berpaling dan menegor mereka. 56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.
Kisah ini tidak kita dapati dalam ketiga Injil yang lain, dan sepertinya
kisah ini dimuat di sini sebab pertaliannya dengan kejadian sebe-
lumnya, sebab dalam kejadian ini Kristus juga menegur murid-
murid-Nya sebab iri hati demi kepentingan-Nya. Dalam kejadian
sebelumnya, dengan dalih semangat bagi Kristus, mereka lalu ber-
usaha membungkam dan mencegah orang-orang di luar lingkungan
mereka. Dalam kejadian ini, dengan dalih yang sama, mereka ber-
usaha membinasakan orang-orang bukan-Yahudi itu. Baik untuk ke-
jadian sebelumnya maupun yang sekarang ini, Kristus menegur
mereka, sebab sikap keras dalam mempertahankan pendirian dan
penganiayaan sama sekali bertolak belakang dengan sikap Kristus
dan Kekristenan.
Perhatikanlah di sini:
I. Kesediaan dan ketetapan hati Yesus Tuhan kita dalam melak-
sanakan tugas berat bagi penebusan dan keselamatan kita. Me-
ngenai hal ini kita dapati sebuah contoh: saat hampir genap
waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-
Nya untuk pergi ke Yerusalem (ay. 51).
Perhatikanlah:
1. Sudah ditentukan waktunya bagi penderitaan dan kematian
Yesus Tuhan kita, dan Ia tahu betul kapan itu akan terjadi. Ia
sudah melihatnya dengan jelas dan pasti, namun Ia sama
sekali tidak berusaha menghindar, sebaliknya Ia malah tampil
dengan lebih terang-terangan di depan khalayak ramai dan
bekerja semakin giat lagi, sebab tahu bahwa waktu-Nya
sangat singkat.
2. saat tahu bahwa kematian dan penderitaan-Nya sudah se-
makin dekat, Ia mengarahkan pandangan menembus kemati-
an dan penderitaan-Nya itu dan untuk melihat apa yang ada
jauh ke depan, yaitu kemuliaan yang akan mengikuti setelah
itu. Ia memandangnya sebagai saat saat Ia akan diangkat
dalam kemuliaan (1Tim. 3:16), diangkat ke langit tertinggi
untuk duduk di atas takhta. Musa dan Elia berbicara tentang
kematian-Nya sebagai saat untuk meninggalkan dunia ini, su-
paya kematian itu tidak terasa menakutkan. Akan namun , Ia
melangkah lebih jauh lagi, dan memandang kematian itu seba-
gai perubahan menuju dunia yang lebih baik, sehingga men-
jadikan kematian itu sebagai sesuatu yang sangat dirindukan.
Semua orang Kristen yang sejati boleh menerapkan pikiran
yang sama tentang kematian dan menyebutnya sebagai peng-
alaman diangkat, untuk berada bersama Kristus di tempat Ia
berada, supaya bila saat bagi mereka untuk diangkat sudah
tiba, biarlah mereka menengadahkan kepala dan yakin bahwa
penyelamatan mereka sudah dekat.
3. Dengan melihat sukacita yang disediakan bagi-Nya inilah, Ia
mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, tem-
pat di mana Ia akan menderita dan mati. Ia benar-benar berte-
kad untuk pergi dan tidak mau dibujuk untuk tidak melaku-
kannya. Ia langsung pergi ke Yerusalem, sebab sekarang di
situlah tugas-Nya menanti. Ia juga tidak pergi ke kota-kota
lain atau mengambil jalan pintas, sebab seandainya Ia mela-
kukan hal itu seperti yang biasa dilakukan-Nya, Ia mungkin
saja akan menghindari Samaria. Dengan penuh semangat dan
ceria Ia pergi ke sana, meskipun mengetahui hal-hal yang
akan menimpa-Nya di situ. Ia tidak akan menjadi pudar dan
tidak akan patah terkulai, namun meneguhkan hatinya seperti
keteguhan gunung batu sebab tahu bahwa Ia bukan saja akan
dibenarkan, namun juga dimuliakan (Yes. 50:7). Ia bukannya
direndahkan, namun malah diangkat. Betapa hal ini sudah se-
pantasnya membuat kita malu dengan keengganan kita beker-
ja dan menderita bagi Kristus! Kita telah menarik diri dan
membuang muka dari pelayanan-Nya, padahal Ia telah dengan
tabah mengarahkan pandangan menghadapi semua perlawan-
an, dan menyelesaikan tugas demi keselamatan kita.
II. Kekasaran orang Samaria di suatu desa (yang tidak disebut na-
manya sebab memang tidak layak disebut), yang tidak mau
menerima Dia, atau membiarkan-Nya singgah untuk makan dan
beristirahat di kota mereka, walaupun perjalanan-Nya melewati
desa itu.
Perhatikanlah di sini:
1. Betapa sopannya Dia terhadap mereka: Ia mengirim beberapa
utusan mendahului Dia, yakni beberapa dari antara murid-
murid-Nya yang pergi untuk mencari penginapan dan mencari
tahu apakah Ia diperbolehkan mendapatkan tempat menginap
bagi diri-Nya dan para pengikut-Nya di antara penduduk situ,
sebab Ia datang bukan untuk menyakiti hati atau menying-
gung perasaan mereka sebab jumlah para pengikut-Nya itu.
Ia mengutus beberapa orang untuk mempersiapkan segala se-
suatu bagi-Nya, bukan untuk gagah-gagahan, melainkan demi
kemudahan, dan supaya kedatangan-Nya tidak mengejutkan.
2. Betapa tidak sopannya sikap mereka terhadap-Nya (ay. 53).
Mereka tidak menerima Dia, dan tidak mau membiarkan-Nya
datang ke desa mereka, dan malah memerintahkan penjaga
untuk mengusir-Nya. Padahal, sebenarnya Ia bisa saja memba-
yar untuk segala sesuatu yang diminta-Nya, dan menjadi tamu
yang murah hati di antara mereka, berbuat baik kepada mere-
ka, serta memberitakan Injil kepada mereka seperti yang dila-
kukan-Nya beberapa waktu sebelumnya di kota Samaria yang
lain (Yoh. 4:41). Seandainya mereka berkenan, Ia akan men-
jadi berkat terbesar yang pernah datang ke desa mereka, na-
mun mereka melarang Dia masuk. Perlakuan seperti ini sering
dihadapi oleh Injil dan para pemberitanya. Nah, alasan peno-
lakan mereka yaitu sebab perjalanan-Nya menuju ke Yeru-
salem. Melalui gerak-gerik-Nya, mereka mengamati bahwa Ia
sedang berjalan ke arah sana. Pertentangan hebat di antara
orang Yahudi dan Samaria berkisar soal tempat ibadah – apa-
kah tempat itu yaitu Yerusalem atau gunung Gerizim di de-
kat Sikhar (Yoh. 4:20). Pertentangan di antara mereka itu begi-
tu hebatnya sehingga orang Yahudi tidak bergaul dengan orang
Samaria, begitu pula sebaliknya (Yoh. 4:9). Namun, kita dapat
menduga bahwa mereka tidak menolak orang-orang Yahudi
lain yang hendak menginap di antara mereka, terutama saat
mereka sedang menuju Yerusalem untuk hari perayaan, sebab
seandainya sejak dahulu mereka selalu menolak, Kristus
tentunya tidak akan mencoba mencari penginapan di situ. Lagi
pula, orang Galilea terpaksa harus mengambil jalan putar
yang jauh bila hendak menuju ke Yerusalem jika tidak melalui
Samaria. Namun, orang Samaria sangat marah kepada
Kristus, seorang guru terkenal, sebab mengakui dan setia ke-
pada Bait Tuhan di Yerusalem, padahal para imam di tempat itu
begitu bermusuhan dengan-Nya, dan orang Samaria berharap
hal ini akan membuat-Nya datang serta beribadah di Bait
Tuhan milik mereka dan mendatangkan nama baik bagi tempat
itu. Namun, saat melihat bahwa Ia hendak menuju Yerusa-
lem, mereka pun tidak mau menunjukkan sopan santun yang
mungkin pernah mereka berikan kepada-Nya saat melewati
daerah mereka.
III. Kemarahan Yakobus dan Yohanes terhadap penghinaan ini (ay.
54). saat keduanya mendengar berita penolakan ini, hati mere-
ka langsung terbakar dan tidak ada yang dapat memuaskan me-
reka selain mengirim kebinasaan kota Sodom ke atas desa ini.
“Tuhan,” kata mereka, “beri kami izin untuk memerintahkan api
turun dari langit, bukan sekadar untuk menakut-nakuti mereka,
namun juga untuk membakar habis mereka.”
1. Di sini memang tampak sesuatu yang patut dipuji, sebab me-
nunjukkan:
(1) Keyakinan kuat terhadap kuasa yang telah mereka terima
dari Yesus Kristus. Meskipun hal ini belum disebutkan da-
lam tugas perutusan mereka, dengan satu perkataan saja
mereka dapat menyuruh api turun dari langit. Theleis
eipōmen – Maukah Engkau supaya kami ucapkan perkataan
itu, maka hal itu akan terjadi.
(2) Semangat yang meluap-luap demi kehormatan Guru mere-
ka. Mereka menganggap sungguh tidak pantas bila Dia
yang berbuat baik di mana pun Ia datang, mendapati
bahwa bukannya sambutan hangat yang mereka terima,
melainkan larangan untuk melintas oleh sekelompok orang
Samaria yang tidak berharga. Mereka tidak tahan dan
marah bahwa Guru mereka disepelekan seperti itu.
(3) Walaupun marah, mereka bersikap tunduk pada niat baik
dan perkenan Guru mereka. Mereka tidak akan melakukan
hal itu kecuali Kristus mengizinkannya: Maukah Engkau
supaya kami melakukannya?
(4) Rasa hormat terhadap teladan para nabi sebelum mereka.
Itu tindakan yang sama seperti yang dilakukan Elia. Mereka
tidak akan terpikirkan untuk melakukan hal itu seandai-
nya Elia dahulu tidak melakukannya terhadap para ser-
dadu yang datang untuk menangkapnya (2Raj. 1:10, 12).
Peristiwa yang terjadi sebelumnya ini menjadi peringatan
bagi mereka. Begitu mudahnya kita salah menerapkan tela-
dan yang diberikan orang-orang bijak, dan menyangka
bahwa kita telah berbuat benar, padahal kita melakukan-
nya sekehendak hati kita dan tidak pada tempatnya.
2. Namun, meskipun apa yang mereka katakan itu ada benarnya,
masih ada banyak kekeliruan di dalamnya:
(1) Ini bukan pertama kalinya dalam sekian banyak kejadian,
bahwa Yesus Tuhan kita dihina seperti itu. Lihat saja
bagaimana orang-orang Nazaret mengusir-Nya keluar dari
kota mereka, dan orang Gadara ingin agar Dia keluar dari
daerah mereka. Namun, meskipun demikian, Ia tidak per-
nah menjatuhkan hukuman ke atas mereka, melainkan
dengan sabar tetap bertahan dengan keadaan yang menya-
kitkan itu.
(2) Ini yaitu orang-orang Samaria, yang memang tidak bisa
terlampau diharapkan, dan mungkin mereka telah men-
dengar bahwa Kristus telah melarang murid-murid-Nya ma-
suk ke dalam kota orang Samaria (Mat. 10:5), sehingga per-
lakuan mereka ini tidak bisa dibilang lebih buruk daripada
orang-orang lain yang tahu lebih banyak tentang Kristus
dan telah menerima begitu banyak kebaikan dari-Nya.
(3) Boleh jadi hanya beberapa orang saja dari desa itu yang
tahu tentang kejadian itu atau yang mengirim pesan kasar
itu kepada-Nya, sementara tanpa mengetahuinya sedikit
pun, ada banyak penduduk desa itu yang seandainya men-
dengar bahwa Kristus berada sedekat itu dengan mereka,
pasti akan pergi menjumpai dan menyambut Dia. Harus-
kah seluruh penduduk desa itu dibinasakan dan hangus
sebab kejahatan segelintir orang? Apakah murid-murid itu
mau supaya orang-orang yang benar juga dibinasakan
bersama yang jahat?
(4) Guru mereka belum pernah menyuruh api turun dari langit
dalam kesempatan mana pun. Tidak, Ia bahkan menolak
memberikan suatu tanda dari sorga kepada orang-orang
Farisi yang menuntut hal itu (Mat. 16:1-2), jadi mengapa
kedua murid itu harus berpikir untuk melakukannya?
Yakobus dan Yohanes yaitu kedua murid yang diberi-Nya
nama Boanerges – anak-anak guruh (Mrk. 3:17), dan masih
belum cukup sesuaikah nama itu bagi mereka sehingga
mereka harus menjadi anak-anak kilat juga?
(5) Contoh yang diberikan Elia tidak dapat diterapkan dalam
hal ini. Elia diutus untuk menunjukkan kengerian hukum
Taurat, dan untuk itu ia memberikan buktinya dan bersak-
si mengenainya dalam tugasnya sebagai seorang penegur
yang gagah berani terhadap penyembahan berhala dan ke-
jahatan raja Ahab. Jadi cukup dapat diterima bila ia mem-
buktikan jabatannya dengan cara itu. Namun, yang seka-
rang akan diperkenalkan yaitu pemberian atau dispensasi
anugerah, dan sebab itu, pertunjukan keadilan ilahi yang
mengerikan seperti itu sungguh merupakan hal yang sama
sekali tidak dapat diterima. Menurut Uskup Agung
Tillotson, mungkin sebab sedang berada di dekat Samaria,
tempat Elia pernah menurunkan api dari langit, mereka
lalu menjadi teringat akan hal itu. Mungkin itulah
tempatnya. Namun, meskipun tempatnya sama, masanya
telah berubah.
IV. Teguran yang diberikan-Nya kepada Yakobus dan Yohanes sebab
semangat mereka yang berapi-api penuh kemarahan (ay. 55): Ia
berpaling dengan rasa tidak senang yang tulus, lalu menegor
mereka, sebab barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar, ter-
utama sebab apa yang mereka perbuat, yang tidak baik dan
tidak pantas bagi mereka, dengan dalih bersemangat demi Dia.
1. Ia terutama menunjukkan kesalahan mereka: Kalian tidak
tahu roh mana yang menguasai kalian (KJV), artinya:
(1) “Kalian tidak menyadari betapa roh jahat dan watak buruk
menguasai kalian, betapa besar kesombongan, nafsu, dan
dendam pribadi yang tersembunyi di balik semangat palsu
yang kalian tunjukkan bagi Guru kalian.” Perhatikanlah,
mungkin saja ada sejumlah besar kebusukan yang
mengintai dan bahkan bergolak di hati orang baik-baik,
yang tidak mereka sadari.
(2) “Kalian tidak memikirkan semangat baik yang seharusnya
ada pada kalian, yang bertentangan dengan semangat ini.
Kalian masih harus belajar banyak, meskipun kalian sudah
belajar begitu lama, tentang bagaimana sebenarnya sema-
ngat Kristus dan Kekristenan itu. Bukankah kalian telah
diajar, kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka
yang menganiaya kamu, dan memohonkan anugerah dari
langit, bukannya api ke atas mereka? Kalian tidak tahu be-
tapa bertolak belakangnya sikap kalian ini dengan tujuan
Injil yang akan diserahkan untuk menjadi tanggung jawab
kalian. Sekarang ini kalian bukan berada di bawah peng-
aturan belenggu, kekejaman, dan maut, melainkan di ba-
wah pengaturan kasih, kemerdekaan, dan anugerah yang
ditawarkan bersama pemberitaan tentang damai sejahtera
di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Ke-
pada hal-hal inilah kalian harus menyesuaikan diri, dan
bukannya menentang diri sendiri dengan berbagai kutukan
seperti itu.”
2. Ia menunjukkan kepada mereka rencana umum dan kecende-
rungan ajaran-Nya (ay. 56): Anak Manusia itu tidak datang
sendiri dan oleh sebab itu tidak mengutus kalian untuk mem-
binasakan nyawa orang, melainkan untuk menyelamatkannya
(KJV). Ia berencana menyebarkan ajaran-Nya yang kudus itu
melalui kasih dan kelembutan, serta melalui apa saja yang
mengundang dan disukai, bukan melalui api, pedang, darah,
dan pembantaian; melalui mujizat kesembuhan, dan bukan-
nya melalui wabah penyakit dan mujizat yang menghancurkan
seperti yang terjadi saat Israel dibawa keluar dari Mesir.
Kristus datang untuk melenyapkan semua perseteruan, bukan
untuk memupuknya.
Orang-orang yang mengutuk serta menumpas mereka yang
tidak sepikir dan sejalan, sehati dan seperbuatan dengan me-
reka, sudahlah pasti tidak memiliki roh Injil. Kristus datang
bukan saja untuk menyelamatkan jiwa manusia, melainkan
untuk menyelamatkan nyawa mereka juga, seperti yang bisa
kita saksikan dari banyak mujizat yang diadakan-Nya untuk
menyembuhkan penyakit-penyakit yang sebenarnya memati-
kan. Melalui hal ini dan juga ribuan contoh perbuatan baik
lainnya, tampaklah bahwa Kristus menghendaki agar murid-
murid-Nya berbuat baik kepada semua orang dengan sekuat
tenaga dan tidak menyakiti siapa pun. Kristus mau mereka
menarik orang menjadi jemaat-Nya dengan tali kesetiaan dan
ikatan kasih, dan bukannya dengan tongkat kekerasan atau
cemeti lidah.
V. Pengunduran diri-Nya dari desa ini. Bukan saja tidak mau meng-
hukum mereka atas kekasaran mereka itu, Kristus bahkan tidak
mau bersikeras mempertahankan hak-Nya untuk melintasi jalan
itu (yang bebas dipakai oleh-Nya seperti oleh orang-orang lain).
Ia tidak mau berusaha memaksa, namun dengan tenang dan penuh
damai pergi ke desa yang lain, di mana penduduknya tidak begitu
pelit dan berpendirian keras. Di sanalah Ia beristirahat lalu me-
lanjutkan perjalanan. Perhatikanlah, jika arus pertentangan sa-
ngat kuat, lebih bijak untuk menghindar daripada menentangnya.
Kalau ada yang bersikap sangat kasar, maka daripada membalas
dendam, lebih baik kita coba dengan orang lain yang mungkin
bersikap lebih sopan.
Meninggalkan Semua demi Kristus
(9:57-62)
57 saat Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, ber-
katalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau,
ke mana saja Engkau pergi.” 58 Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempu-
nyai liang dan burung memiliki sarang, namun Anak Manusia tidak mem-
punyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 59 Lalu Ia berkata kepada
seorang lain: “Ikutlah Aku!” namun orang itu berkata: “Izinkanlah aku pergi
dahulu menguburkan bapaku.” 60 namun Yesus berkata kepadanya: “Biarlah
orang mati menguburkan orang mati; namun engkau, pergilah dan beritakan-
lah Kerajaan Tuhan di mana-mana.” 61 Dan seorang lain lagi berkata: “Aku
akan mengikut Engkau, Tuhan, namun izinkanlah aku pamitan dahulu de-
ngan keluargaku.” 62 namun Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk
membajak namun menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Tuhan .”
Di sini diceritakan kepada kita tentang tiga orang berbeda yang me-
nawarkan diri untuk mengikut Kristus, serta jawaban yang diberikan
Kristus kepada mereka masing-masing. Mengenai kedua orang yang
pertama, sudah diceritakan dalam Matius 19:21.
I. Di sini ada seseorang yang sangat bernafsu untuk segera
mengikut Kristus. Namun, sepertinya ia bersikap terlampau ter-
buru-buru, tanpa pertimbangan yang matang, dan tidak duduk
terlebih dulu untuk menghitung harganya.
1. Ia mengucapkan janji yang sangat berat kepada Kristus (ay.
57): saat Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan
mereka menuju Yerusalem, di mana Kristus diharapkan per-
tama kalinya muncul dalam kemuliaan-Nya, seseorang berkata
kepada-Nya, “Tuhan, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja
Engkau pergi.” Ini memang sudah seharusnya menjadi kete-
tapan hati semua orang yang ingin disebut murid Kristus. Me-
reka mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi (Why.
14:4), sekalipun melalui api dan air, penjara ataupun kemati-
an.
2. Kristus memberinya suatu peringatan yang penting, dan tidak
menjanjikannya hal-hal besar di dalam dunia ini. Sebaliknya,
dalam mengikut Dia, orang itu harus bersedia menanggung
kemiskinan dan kekurangan, sebab Anak Manusia tidak
memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.
Kita boleh melihat hal ini:
(1) Sebagai pernyataan tentang keadaan sangat berkekurangan
yang dijalani Yesus Tuhan kita dalam dunia ini. Ia bukan
saja tidak memiliki kesenangan dan hiasan yang biasanya
dimiliki para raja, namun bahkan kebutuhan akan tempat
tinggal yang dimiliki serigala dan burung-burung pun tidak
ada pada-Nya. Lihatlah betapa dalamnya kemiskinan yang
dijalani Yesus Tuhan kita demi kita. Ini dijalani-Nya untuk
meningkatkan nilai dan harga pekerjaan-Nya, dan untuk
membeli bagi kita tebusan anugerah yang lebih besar, su-
paya kita menjadi kaya oleh sebab kemiskinan-Nya (2Kor.
8:9). Ia yang telah menciptakan segala sesuatu tidak mem-
buat tempat tinggal bagi diri-Nya sendiri dan rumah pribadi
untuk meletakkan kepala-Nya, namun menggunakan rumah
orang lain. Di sini Ia menyebut diri-Nya Anak Manusia, se-
orang Anak Adam, yang mengambil bagian dalam darah
dan daging. Ia merasa bangga dalam sikap merendahkan
diri-Nya terhadap kita. Bukan saja terhadap rendahnya
sifat kemanusiaan kita, namun juga terhadap keadaan ren-
dah yang ada dalam sifat kita itu. Ini diperbuat-Nya untuk
membuktikan kasih-Nya kepada kita, dan untuk mengajar
kita agar membenci dunia ini beserta segala yang ada di
dalamnya dengan maksud yang suci dan terus-menerus
mengarahkan pandangan ke dunia yang lain. Kristus men-
jadi miskin seperti ini untuk menyucikan dan membuat ke-
miskinan terasa manis bagi umat-Nya. Para rasul pun ti-
dak memiliki tempat tinggal yang tetap (1Kor. 4:11), dan
keadaan ini lebih mudah ditanggung mereka saat mereka
mengetahui bahwa Guru mereka pun tidak memilikinya
(2Sam. 11:11). Sudah sepantasnya kita merasa puas men-
jalani keadaan seperti Kristus.
(2) Untuk menawarkan hal ini sebagai pertimbangan bagi
orang-orang yang bermaksud menjadi murid-murid-Nya.
Jika kita bermaksud mengikut Kristus, kita harus menge-
sampingkan angan-angan tentang hal-hal besar dalam du-
nia, dan tidak berpikir untuk menjadikan apa pun lebih
penting daripada sorga sebagai agama kita, sebab kita ha-
rus bertekad untuk tidak menerima apa pun yang kurang
penting. Janganlah kita ke sana kemari mencampuraduk-
kan pengakuan Kekristenan dengan keuntungan-keun-
tungan duniawi. Kristus telah menceraikan kedua hal ini,
jadi janganlah kita berpikir untuk mempersatukannya. Se-
baliknya, kita harus bersiap memasuki Kerajaan Tuhan me-
lalui banyak penderitaan. Kita harus menyangkal diri, dan
memikul salib kita. Kristus menyampaikan kepada orang ini
perihal apa saja yang harus dipertimbangkannya jika ingin
mengikut Dia, yakni berbaring kedinginan dan merasa ti-
dak nyaman, menjalani kehidupan yang keras, dan hidup
direndahkan orang. Bila ia tidak sanggup menjalaninya,
lebih baik ia tidak berpura-pura mengikut Kristus. Perkata-
an ini membuat orang itu mengundurkan diri sebab ke-
hampaan yang bakal dialaminya. Namun, hal ini tidak
akan mengecilkan hati siapa pun yang tahu tentang apa
saja yang akan disediakan nantinya di dalam Kristus dan
sorga sebagai imbangan atas segalanya ini.
II. lalu , ada seorang lain lagi, yang sepertinya bertekad meng-
ikut Kristus, namun ia meminta izin sehari (ay. 59). Mula-mula
Kristus memanggil orang ini. Kata-Nya, “Ikutlah Aku.” Orang yang
menawarkan diri untuk mengikut Dia itu akhirnya mengundur-
kan diri setelah mendengar tentang semua kesukaran yang akan
ditemuinya. Namun, orang yang dipanggil oleh Kristus itu, meski-
pun pada mulanya agak ragu, pada akhirnya menyerah juga. Be-
tapa benarnya perkataan Kristus, “Bukan kamu yang memilih Aku,
namun Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16). Hal itu bukan
bergantung pada kehendak orang atau usaha orang (seperti yang
tercetus dalam ayat-ayat sebelumnya), namun pada Tuhan yang
menunjukkan kemurahan hati, yang memberikan panggilan itu,
dan membuatnya berhasil, seperti yang terjadi pada diri orang ini.
Perhatikanlah:
1. Alasan yang diajukannya: “Izinkanlah aku pergi dahulu mengu-
burkan bapaku. Ayahku di rumah sudah lanjut usia dan tidak
akan bertahan hidup lama serta membutuhkanku selama ia
masih hidup. Biarkan aku mengurusnya sampai ia mati. Sete-
lah melaksanakan tugas kasihku yang terakhir kepadanya,
aku bersedia melakukan apa pun.” Di sini kita bisa melihat
tiga godaan berbahaya yang bisa menarik dan menahan kita
untuk mengikut Kristus. Oleh sebab itu kita perlu berjaga-jaga
terhadap godaan ini :
(1) Kita tergoda untuk bersantai-santai sebagai murid yang
biasa-biasa saja. Pada akhirnya ini akan membuat kita
kehilangan tujuan dan bukannya menjadi semakin dekat.
Kita dibuat menyerah sehingga tidak bersikap tegas dan
tetap.
(2) Kita tergoda untuk menangguhkan pekerjaan yang kita
tahu yaitu tugas kita dan menundanya untuk waktu lain.
Kita merasa bahwa nantilah, setelah terlepas dari segala
kesusahan dan kesukaran, setelah merampungkan suatu
pekerjaan, setelah mencapai puncak kehidupan, barulah
kita berpikir tentang hal-hal rohani. Dengan demikian kita
telah tertipu sehingga kehilangan seluruh waktu kita,
sebab terbujuk untuk mengabaikan saat sekarang.
(3) Kita tergoda untuk berpikir bahwa kewajiban kita terhadap
sanak keluarga dapat membebaskan kita dari kewajiban
kita terhadap Kristus. Ini memang alasan yang masuk akal:
“Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku – biar-
kan aku mengurus dahulu keluargaku dan memberi ma-
kan anak-anakku, dan setelah itu aku akan berpikir untuk
melayani Kristus.” Padahal Kerajaan Tuhan dan kebenaran-
nya haruslah dicari dan diperhatikan terlebih dahulu.
2. Jawaban Kristus atas permintaannya (ay. 60): “Biarlah orang
mati menguburkan orang mati. Anggaplah benar (sekalipun
sangat tidak mungkin) bahwa hanya ada orang mati yang akan
menguburkan sesamanya yang mati, atau hanya ada orang-
orang lanjut usia yang sudah mendekati ajal saja, yang kon-
disinya sama saja dengan orang mati, dan sudah tidak mampu
lagi untuk melakukan apa-apa. Sekalipun benar demikian
adanya, engkau tetap saja masih memiliki tugas lain untuk
dilakukan. Pergilah dan beritakanlah Kerajaan Tuhan di mana-
mana.” Ini bukan berarti bahwa Kristus ingin agar para peng-
ikut atau pelayan-Nya bersikap tidak wajar. Agama kita meng-
ajar agar kita bersikap manis dan berbuat baik dalam setiap
hubungan, untuk menunjukkan kesalehan di rumah, dan
membalas budi kepada orangtua kita. Namun, janganlah kita
menjadikan tugas-tugas ini sebagai dalih untuk meninggalkan
kewajiban kita terhadap Tuhan . Jika sampai hubungan terdekat
dan tererat yang kita miliki di dunia ini menjauhkan kita dari
Kristus, maka ini berarti bahwa kita membutuhkan suatu
semangat lagi untuk membuat kita melupakan ayah dan ibu
kita, seperti yang dilakukan oleh Lewi (Ul. 33:9). Murid ini di-
panggil untuk menjadi pelayan, dan oleh sebab itu tidak boleh
memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya (2Tim.
2:4). Sudah menjadi peraturan bahwa kapan pun Kristus me-
manggil, kita tidak boleh meminta pertimbangan kepada manu-
sia (Gal. 1:15-16). Janganlah ada dalih yang mengganggu ke-
taatan kita saat ini terhadap panggilan Kristus.
III. Ada juga seorang yang lain lagi yang bersedia mengikut Kristus,
namun meminta sedikit waktu untuk berpamitan dengan keluarga-
nya terlebih dahulu.
Perhatikanlah baik-baik:
1. Permintaannya agar diberi pengecualian (ay. 61). Katanya,
“Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, aku tidak merencanakan
yang lain. Aku bertekad untuk melakukannya. namun , sebe-
lum itu izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.”
Tampaknya permintaan ini masuk akal. Itulah yang juga
diinginkan Elisa saat Elia memanggilnya, Biarkanlah aku men-
cium ayahku dan iartikel dahulu, dan permintaannya itu dika-
bulkan. Namun, pelayanan Injil lebih diutamakan, dan pelak-
sanaannya lebih mendesak dibandingkan dengan pelayanan
para nabi, dan itulah sebabnya di sini permintaan itu tidak
dikabulkan. Biarkan aku apotaxasthai tois eis ton oikon mou –
Biarkan aku pergi dan membereskan urusan rumah tanggaku,
dan memberikan pengarahan seperlunya; demikianlah sebagi-
an orang memahaminya. Nah, yang menjadi masalah dalam
permintaan orang itu yaitu :
(1) Ia beranggapan bahwa mengikut Kristus merupakan sesua-
tu yang menyedihkan, menyusahkan, dan berbahaya. Bagi-
nya, ia seakan-akan ia bakal mati, dan oleh sebab itu ia ha-
rus berpamitan dengan semua temannya, tidak akan per-
nah berjumpa dengan mereka lagi, atau tidak akan pernah
terhibur lagi. Padahal, dengan mengikut Kristus ia akan
lebih menjadi sumber penghiburan dan berkat bagi mereka
daripada jika ia tetap berada bersama mereka.
(2) Sepertinya ia lebih mementingkan hal-hal duniawi daripada
seharusnya, lebih daripada menjalankan kewajibannya se-
bagai pengikut Kristus. Sepertinya ia sangat merindukan
hubungan dan perkara-perkara dengan keluarganya, serta
tidak mudah berpisah dari mereka. Semua perkara ingin
melekat pada dirinya. Boleh jadi ia telah pamitan dengan
mereka, namun enggan berpisah membuat orang sering kali
berpamitan, dan oleh sebab itu ia harus pamitan sekali lagi,
sebab mereka berada di rumahnya.
(3) Ia bersedia memasuki godaan yang menghalangi tujuannya
mengikut Kristus. Dengan pergi dan pamitan kepada mere-
ka yang berada di rumahnya, ia seperti memperhadapkan
diri sendiri dengan permintaan paling kuat untuk meng-
ubah ketetapan hatinya. Mereka semua akan menentang
tujuannya itu dan akan memohon dengan sangat agar ia
tidak meninggalkan mereka. Sangatlah ceroboh orang itu
dengan menceburkan diri dalam godaan seperti itu. Orang-
orang yang telah berketetapan hati untuk berjalan bersama
Pencipta mereka dan mengikut Penebus mereka harus ber-
tekad untuk tidak pernah berembuk dengan penggoda
mereka.
2. Teguran yang diberikan Kristus kepadanya atas permintaan
itu (ay. 62): “Tidak ada orang yang siap untuk membajak, dan
bermaksud untuk membajak tanah dengan baik, akan melihat
ke belakang, atau menoleh-noleh ke belakang, sebab jika
demikian halnya, ada banyak bagian tanah yang tidak akan
terbajak dan tanahnya menjadi tidak bagus untuk ditaburi
benih. Jadi kalau engkau telah berencana untuk mengikut
Aku dan mau menuai keuntungan seperti yang diperoleh
orang-orang yang telah mengikut Aku, dan engkau masih me-
noleh ke belakang pada kehidupan dunia lagi serta merindu-
kannya, jika engkau menoleh ke belakang seperti yang dilaku-
kan istri Lot di Sodom, yang tampaknya disiratkan di sini,
engkau tidak layak untuk Kerajaan Tuhan .”
(1) “Engkau bukanlah tanah yang pantas menerima benih
yang baik dari Kerajaan Tuhan , jika kamu dibajak setengah-
setengah, tidak sampai selesai.”
(2) “Engkau bukanlah penabur yang layak menabur benih yang
baik dari Kerajaan Tuhan bila engkau tidak dapat membajak
dengan baik.” Membajak bekerja seiring dengan menabur.
Sama seperti orang-orang yang tidak layak ditaburi dengan
berkat ilahi sebab tanah barunya tidak dibuka terlebih da-
hulu, demikian pula orang-orang yang tidak tahu cara
membuka tanah baru dan telah siap membajak namun se-
nantiasa menoleh dan berpikir untuk menghentikan peker-
jaan mereka, tidak layak dipekerjakan dalam pekerjaan
menabur. Perhatikanlah, orang-orang yang telah memulai
dengan pekerjaan Tuhan harus bertekad untuk melanjutkan-
nya, atau mereka tidak akan menghasilkan apa pun. Meno-
leh ke belakang cenderung membuat orang mengundurkan
diri, dan mengundurkan diri sama dengan kehancuran.
Orang-orang yang tadinya mengarahkan pandangan ke
atas lalu menoleh ke tempat lain tidaklah layak bagi
sorga. namun dia, dan hanya dia yang bertahan sampai pa-
da kesudahannya akan selamat.
PASAL 10
Dalam pasal ini kita mendapati:
I. Amanat besar yang diberikan Kristus kepada ketujuh puluh
murid untuk memberitakan Injil dan meneguhkannya lewat
mujizat-mujizat; ada juga perintah lengkap yang diberikan-
Nya kepada mereka tentang tata cara melaksanakan tugas-
tugas mereka; dorongan semangat juga diberikan-Nya kepada
mereka (ay. 1-16).
II. Laporan yang disampaikan ketujuh puluh murid itu kepada
Guru mereka mengenai keberhasilan yang diperoleh mereka,
dan tanggapan-Nya mengenai hal ini (ay. 17-24).
III. Percakapan Kristus dengan seorang ahli hukum perihal jalan
menuju sorga, dan perintah yang diberikan Kristus kepada-
nya melalui sebuah perumpamaan untuk memandang setiap
orang sebagai sesamanya, yang kepadanya ia harus berbuat
baik atau yang darinya ia bisa menerima kebaikan (ay. 25-
37).
IV. Jamuan yang diterima Kristus di rumah Marta, teguran yang
diberikan-Nya kepadanya sebab kepeduliannya atas perka-
ra-perkara dunia, dan pujian yang diberikan-Nya kepada Ma-
ria sebab kepeduliannya atas jiwanya (ay. 38-42).
Pengutusan Ketujuh Puluh Murid
(10:1-16)
1 lalu dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu
mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat
yang hendak dikunjungi-Nya. 2 Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang
banyak, namun pekerja sedikit. sebab itu mintalah kepada Tuan yang
empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke
tengah-tengah serigala. 4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau
kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perja-
lanan. 5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Da-
mai sejahtera bagi rumah ini. 6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak
menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. namun
jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 7 TinggTuhan dalam rumah itu,
makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang
pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. 8
Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ,
makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 9 dan sembuhkanlah orang-
orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Tuhan
sudah dekat padamu. 10 namun jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota
dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan
serukanlah: 11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebas-
kan di depanmu; namun ketahuilah ini: Kerajaan Tuhan sudah dekat. 12 Aku
berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya
dari pada kota itu.” 13 “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Bet-
saida! sebab jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah
terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.
14 Akan namun pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan
lebih ringan dari pada tanggunganmu. 15 Dan engkau Kapernaum, apakah
engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan
sampai ke dunia orang mati! 16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mende-
ngarkan Aku, dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barang-
siapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”
Di sini kita dapati pengutusan tujuh puluh murid, berdua-dua, ke
berbagai bagian daerah untuk memberitakan Injil, serta mengadakan
mujizat-mujizat di tempat-tempat yang hendak dikunjungi Kristus
sendiri, guna mempersiapkan segala perbekalan bagi-Nya. Hal ini
tidak dicatat oleh penulis-penulis Injil yang lain, namun perintah
yang di sini diberikan kepada mereka sangat mirip dengan yang dibe-
rikan kepada kedua belas murid.
Amatilah:
I. Jumlah mereka, yakni tujuh puluh orang. Sama seperti dalam
memilih kedua belas rasul itu, Kristus menaruh perhatian pada
kedua belas bapa leluhur, kedua belas suku, dan kedua belas raja
dari suku-suku tadi, demikian pula di sini Ia sepertinya menaruh
perhatian pada ketujuh puluh tua-tua Israel. Ada begitu banyak
orang yang naik bersama Musa dan Harun ke atas gunung dan
melihat kemuliaan Tuhan Israel (Kel. 24:1, 9). Ada begitu banyak
yang setelah itu terpilih untuk membantu Musa dalam kepemim-
pinan, sesuai tata tertib Roh yang turun ke atas mereka (Bil.
11:24-25). Kedua belas mata air dan ketujuh puluh pohon korma di
Elim merupakan bayangan kedua belas rasul dan ketujuh puluh
murid itu (Kel. 15:27). Mereka yaitu ketujuh puluh tua-tua orang
Yahudi yang dipekerjakan oleh Raja Ptolomei, raja Mesir, untuk
menuliskan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani, yang hasil
terjemahannya sebab itu disebut Septuaginta. Anggota Mahka-
mah Agama atau Sanhedrin juga terdiri atas jumlah ini.
Sekarang:
1. Kita senang mendapati bahwa Kristus memiliki begitu ba-
nyak pengikut yang layak untuk diutus. Jerih payah-Nya ti-
daklah sia-sia walaupun menghadapi banyak tentangan. Per-
hatikanlah, perhatian Kristus yaitu perhatian yang bertum-
buh, dan sama seperti Israel di Mesir, para pengikut-Nya akan
berlipat ganda meskipun ditindas. Ketujuh puluh murid ini,
yang meskipun tidak senantiasa berada dekat dengan-Nya se-
perti kedua belas murid itu, bagaimanapun juga selalu menyi-
mak ajaran-Nya, menyaksikan mujizat-mujizat-Nya, dan per-
caya kepada-Nya. Ketiga orang yang disebutkan di akhir pasal
sebelum ini bisa akan termasuk di antara ketujuh puluh orang
ini, jika mereka bersungguh-sungguh dalam upaya mereka.
Ketujuh puluh orang ini disebut Petrus sebagai “mereka yang
senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan
Yesus bersama-sama dengan kami,” dan merupakan sebagian
dari keseratus dua puluh orang yang disebut-sebut di situ
(Kis. 1:15, 21). Kelihatannya, banyak dari antara orang-orang
yang menyertai para rasul, yang bisa kita baca dalam Kisah
Para Rasul dan Surat-surat, yaitu ketujuh puluh murid ini.
2. Kita senang mendapati bahwa ada pekerjaan bagi begitu ba-
nyak pelayan, pendengar bagi begitu banyak pengkhotbah. De-
mikianlah biji sesawi itu mulai bertumbuh, dan ragi itu larut
serta meresap ke dalam tepung supaya mengembang seluruh-
nya.
II. Pekerjaan dan kesibukan mereka: Ia mengutus mereka berdua-
dua supaya mereka dapat saling menguatkan dan membesarkan
hati. Jika salah seorang jatuh, maka yang lain akan membantu-
nya berdiri. Ia mengutus mereka bukan ke semua kota di Israel,
seperti yang dilakukan-Nya terhadap kedua belas murid itu, me-
lainkan hanya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-
Nya (ay. 1), sebagai para pendahulu-Nya untuk menyiapkan tem-
pat tinggal bagi Dia. Dan meskipun tidak dicatat, pastilah sesu-
dah itu Kristus pergi ke semua tempat ke mana Ia mengutus me-
reka, meskipun Ia hanya tinggal sebentar di sana. Mereka diperin-
tahkan untuk melakukan dua hal, yang sama seperti yang dilaku-
kan Kristus ke mana pun Ia pergi:
1. Mereka harus menyembuhkan orang-orang sakit (ay. 9), me-
nyembuhkan di dalam nama Yesus, supaya dengan begitu
orang-orang menjadi rindu melihat Yesus ini dan siap me-
nyambut Dia yang memiliki nama yang begitu penuh kuasa.
2. Mereka harus memberitakan kedatangan Kerajaan Tuhan , ke-
datangannya kepada mereka: “Katakan hal ini kepada mereka,
Kerajaan Tuhan sudah dekat padamu, dan sekarang kamu bisa
masuk ke dalamnya, jika kamu mau memandang ke sekeliling-
mu. Sekaranglah hari Ia melawat kamu, ketahui dan pahami-
lah hal itu.” Sungguh baik bila kita disadarkan mengenai ke-
untungan dan kesempatan yang kita miliki, supaya kita dapat
menaruh pengharapan kita. saat Kerajaan Tuhan sudah dekat
pada kita, sudah menjadi urusan kita untuk maju dan me-
nyambutnya.
III. Petunjuk-petunjuk yang diberikan-Nya kepada mereka.
1. Mereka harus berangkat dengan doa (ay. 2), dan di dalam doa:
(1) Sudah sepatutnya mereka memperhatikan keperluan jiwa-
jiwa manusia yang membutuhkan pertolongan mereka.
Mereka harus melihat di sekeliling mereka, supaya mereka
tahu betapa tuaian memang banyak, betapa berlimpahnya
manusia yang ingin agar Injil diberitakan kepada mereka
dan mau menerimanya, dan terlebih lagi pada waktu itu
harapan mereka semakin tinggi menantikan kedatangan
Sang Mesias serta kerajaan-Nya. Tuaian sudah siap se-
dangkan tangan-tangan yang harus mengumpulkannya ter-
lampau sedikit. Perhatikanlah, para hamba Tuhan harus
mencurahkan tenaga pada tugas mereka dan menaruh per-
hatian mendalam bagi jiwa-jiwa yang sangat berharga, me-
mandang jiwa-jiwa ini sebagai harta tak ternilai dunia ini,
yang harus diamankan bagi Kristus. Mereka juga harus
merasa prihatin bahwa pekerja sedikit saja. Guru-guru Ya-
hudi memang banyak, namun mereka bukanlah pekerja.
Mereka bukan mengumpulkan jiwa ke dalam kerajaan
Tuhan , namun ke dalam kepentingan dan kelompok mereka
sendiri. Perhatikanlah, pelayan-pelayan yang baik akan
berharap supaya ada lebih banyak pelayan yang baik
lagi, sebab ada tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh
lebih banyak orang lagi. Sudah merupakan hal biasa bagi
para pedagang untuk berharap bahwa tidak banyak pe-
saing yang berdagang barang yang sama, namun Kristus
ingin agar para pekerja di kebun anggur-Nya mengeluhkan
jumlah pekerja yang hanya sedikit.
(2) Mereka harus sungguh-sungguh ingin menerima penugas-
an dari Tuhan , agar Dia yang yaitu Tuan yang empunya
tuaian itu mau mengutus mereka sebagai pekerja-pekerja
untuk tuaian, dan agar Dia juga akan mengutus orang-
orang lain lagi. Sebab apabila Tuhan yang mengutus mereka,
mereka boleh berharap bahwa Dia akan menyertai mereka
dan membuat mereka berhasil. Oleh sebab itu, biarlah
mereka mengatakan seperti yang dikatakan sang nabi (Yes.
6:8), Ini aku, utuslah aku! Sungguh perlu sekali untuk me-
nerima penugasan kita dari Tuhan , supaya kita bisa maju
terus dengan berani.
2. Mereka harus pergi dengan menyadari bahwa akan ada masa-
lah dan aniaya: “Camkanlah, sesungguhnya Aku mengutus
kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala, namun
pergilah, dan tetapkanlah hatimu untuk bekerja sebaik-baik-
nya. Musuh-musuhmu akan seperti serigala yang haus darah
dan ganas, siap mencabik-cabikmu. Mereka akan mengancam
dan mencercamu, seperti serigala yang melolong untuk meng-
gentarkan hatimu. Mereka akan menganiaya kamu bagaikan
serigala kelaparan yang mencabik-cabikmu. namun kamu harus
seperti anak domba yang cinta damai dan sabar, meskipun
mudah dimangsa.” Jadi sungguh berat untuk diutus sebagai
anak domba ke tengah-tengah serigala seperti itu, jika Ia tidak
memperlengkapi mereka dengan Roh dan dorongan-Nya.
3. Mereka tidak boleh membebani diri dengan berbagai perbekal-
an, seakan-akan hendak melakukan perjalanan jauh, melain-
kan mengandalkan Tuhan dan teman-teman mereka untuk
mencukupi keperluan mereka: “Janganlah membawa pundi-
pundi untuk membawa uang, atau kantung untuk membawa
pakaian atau makanan, atau kasut (seperti yang diperintah-
kan-Nya sebelumnya kepada kedua belas murid, Luk. 9:3),
dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam
perjalanan.” Perintah seperti ini juga diberikan Elisa kepada
pelayannya saat mengutusnya untuk menengok anak perem-
puan Sunem yang mati itu (2Raj. 4:29). Ini bukan berarti bah-
wa Kristus ingin supaya para pelayan-Nya bersikap kasar, mu-
rung, atau bahkan tidak sopan, namun :
(1) Supaya mereka pergi seperti orang yang sedang bergegas,
yang sudah tahu tempat ke mana mereka ditugaskan un-
tuk menyampaikan berita mereka, dan dalam perjalanan
menuju tempat-tempat itu tidak boleh mengganggu atau
menghambat diri mereka dengan macam-macam basa-basi
atau sapaan yang tidak perlu.
(2) Mereka harus pergi sebagai seorang pebisnis, yang bisnis-
nya berkaitan dengan dunia lain, yang harus mereka urus
dengan sungguh-sungguh, sehingga sebab itu mereka ti-
dak boleh melibatkan diri dalam hal-hal duniawi. Minister
verbi est; hoc age – Kamu yaitu pelayan Firman; setialah
pada tugasmu.
(3) Mereka harus pergi sebagai orang yang bersungguh-sung-
guh, dan sebagai orang-orang yang penuh kesengsaraan.
Pada waktu itu, sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang
yang berkabung untuk tidak memberi salam kepada siapa
pun selama tujuh hari pertama dari masa perkabungan
mereka (Ayb. 2:13). Kristus yaitu seorang yang penuh ke-
sengsaraan dan terbiasa dengan penderitaan. Jadi melalui
hal ini dan juga isyarat-isyarat lain, sudah selayaknya para
pembawa berita-Nya juga menyerupai diri-Nya dan merasa
prihatin atas malapetaka yang menimpa umat manusia
yang hendak mereka selamatkan, serta tersentuh oleh
keadaan mereka.
4. Mereka harus menunjukkan bukan saja kehendak baik me-
reka, namun juga kehendak baik Tuhan , kepada semua orang
yang mereka datangi, dan memercayakan masalah dan keber-
hasilan kepada Dia yang mengenal hati manusia (ay. 5-6).
(1) Perintah yang diberikan kepada mereka yaitu , seperti apa
pun rumah yang mereka masuki, mereka harus berkata,
“Damai sejahtera bagi rumah ini.”
Di sini:
[1] Mereka harus memasuki rumah pribadi. sebab mereka
tidak diizinkan masuk ke rumah-rumah ibadah orang
Yahudi, maka mereka terpaksa memberitakan Injil di
tempat-tempat yang diperbolehkan. sebab para pem-
beritaan Injil diusir masuk ke dalam rumah, ke sana
pulalah murid-murid ini membawa Injil itu. Sama se-
perti Guru mereka, ke mana pun mereka datang ber-
kunjung, mereka memberitakan Injil di rumah-rumah
orang (Kis. 5:42; 20:20). Pada mulanya jemaat Kristus
khususnya berupa jemaat di dalam rumah.
[2] Mereka diperintahkan untuk berkata, “Damai sejahtera
bagi rumah ini kepada seluruh penghuninya, kepada ke-
luarga ini, dan kepada semua yang termasuk di dalam-
nya.” Damai sejahtera bagimu yaitu bentuk salam
yang umum di antara orang Yahudi. Mereka tidak boleh
menggunakannya sekadar basa basi sesuai adat kebia-
saan terhadap orang-orang yang mereka jumpai di te-
ngah jalan. Mereka harus menggunakannya dengan
khidmat terhadap orang-orang yang menerima mereka
di dalam rumah mereka: “Janganlah memberi salam ke-
pada siapa pun selama dalam perjalanan sekadar seba-
gai basa basi. namun kepada orang-orang yang meneri-
mamu dalam rumah mereka, katakanlah, Damai sejah-
tera bagimu dengan sepenuh hati, sebab ucapan ini
dimaksudkan lebih daripada sekadar salam biasa.” Para
pelayan Kristus pergi ke seluruh dunia untuk berkata,
dalam nama Kristus, Damai sejahtera bagimu.
Pertama, Kita harus menawarkan damai sejahtera
kepada semua orang, untuk memberitakan damai sejah-
tera oleh Yesus Kristus, untuk memberitakan Injil per-
damaian, perjanjian atau kovenan perdamaian, damai
di atas bumi, dan untuk mengajak anak-anak manusia
datang serta menerima manfaat darinya.
Kedua, Kita harus berdoa untuk damai sejahtera
bagi semua orang. Kita harus sungguh-sungguh meng-
inginkan keselamatan jiwa orang-orang yang kepadanya
kita beritakan Injil, dan menaikkan keinginan ini kepa-
da Tuhan dalam doa. Ada baiknya bila kita memberi tahu
mereka bahwa kita mendoakan mereka seperti itu dan
memberkati mereka di dalam nama Tuhan.
(2) Keberhasilan yang mereka raih akan berbeda, sesuai de-
ngan macam-macam watak orang yang mereka khotbahi
dan doakan. Juga tergantung pada penghuni rumah yang
mereka kunjungi, apakah mereka layak menerima damai
sejahtera atau tidak, apakah damai sejahtera yang mereka
bawa perlu tinggal di atas rumah itu atau tidak. Recipitur ad
modum recipientis – Sifat atau mutu si penerima menen-
tukan sifat penerimaannya.
[1] “Kamu akan berjumpa dengan beberapa orang yang
layak menerima damai sejahtera, yang oleh pekerjaan
anugerah ilahi dan maksud rencana ilahi siap mene-
rima pesan Injil dalam terang dan mencintainya, serta
membiarkan hati mereka diubah menjadi lunak sehing-
ga mampu menerima pengaruhnya. Orang-orang seperti
itu layak menerima penghiburan melalui Injil sebab di
dalam diri mereka telah terjadi karya anugerah yang
indah. Bagi orang-orang seperti itulah damai sejahtera-
mu akan tinggal di atas mereka. Doa-doamu bagi mere-
ka akan didengar, janji-janji Injil akan diteguhkan atas
mereka, hak-hak istimewanya akan dianugerahkan ke-
pada mereka, dan buah-buahnya akan berdiam dan te-
tap berada bersama mereka – yang menjadi bagian yang
tidak akan ditarik kembali.”
[2] “Kamu juga akan berjumpa dengan orang-orang lain
yang sama sekali tidak ingin mendengar atau menerima
pesanmu, rumah-rumah di mana tidak ada se-
orang pun yang layak menerima damai sejahtera.” Su-
dah jelas sekarang bahwa damai sejahtera kita tidak
akan tinggal di atas mereka, sebab tidak ada bagian
mereka di dalamnya. Berkat yang turun ke atas orang-
orang yang layak menerima damai sejahtera tidak akan
pernah turun ke atas anak-anak Belial. Tidak seorang
pun dapat mengharapkan berkat perjanjian (kovenan),
bila tidak mau taat kepada persyaratan-persyaratan
kovenan itu. Sebaliknya, berkat itu akan kembali lagi
kepada kita. Artinya, kita akan menerima penghiburan
sebab telah melaksanakan tugas kita bagi Tuhan dan
mempercayakan diri kepada-Nya. Sama seperti doa-doa
Daud, doa-doa kita akan kembali timbul dalam dada
kita (Mzm. 35:13) dan kita akan mendapat penugasan
untuk melanjutkan pekerjaan itu. Damai sejahtera itu
akan kembali kepada kita lagi, bukan hanya untuk kita
nikmati sendiri, namun juga untuk disalurkan kepada
orang berikutnya yang akan kita jumpai, yakni mereka
yang layak menerima damai sejahtera.
5. Mereka harus menerima kebaikan hati orang-orang yang akan
menerima dan menyambut mereka (ay. 7-8). “Orang-orang yang
menyambut Injil akan menyambut kamu yang memberita-
kannya dan menjamu kalian. Janganlah kamu berpikir untuk
mendapatkan harta kekayaan, namun kamu boleh percaya akan
menerima kebutuhan pokok hidupmu; dan,”
(1) “Jangan malu, jangan berprasangka terhadap sambutan
mereka, atau khawatir akan merepotkan mereka, namun
makan dan minumlah dengan kenyang apa yang diberikan
orang kepadamu, sebab setiap kebaikan yang mereka tun-
jukkan kepadamu hanyalah balasan kecil yang tidak ber-
arti dibandingkan dengan kebaikan yang kamu berikan ke-
pada mereka dalam membawakan kabar sukacita perda-
maian. Kamu berhak menerimanya, sebab seorang pekerja
patut mendapat upahnya. Pekerja yang bekerja dalam bi-
dang pelayanan patut mendapat upah demikian jika ia me-
mang benar-benar seorang pekerja, dan ini bukanlah suatu
derma, melainkan keadilan yang ditujukan kepada orang-
orang yang menerima pengajaran dalam firman untuk mem-
bagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang
membagikan pengajaran itu.”
(2) “Jangan kurang sopan dan terlalu berhati-hati dengan ma-
kananmu. Makan dan minumlah apa yang diberikan orang
kepadamu (ay. 7), apa yang dihidangkan kepadamu (ay. 8).
Bersyukurlah atas makanan yang sederhana, dan jangan
mencela meskipun makanan itu tidak dihidangkan dengan
indah.” Sungguh tidak patut apabila murid-murid Kristus
ingin akan makanan yang lezat. Sama seperti Ia tidak
mengikat mereka dengan puasa orang Farisi yang penuh
takhayul itu, Ia juga tidak mengizinkan mereka berpesta
pora seperti para penganut Epikureisme. Boleh jadi di sini
Kristus merujuk pada kebiasaan para tua-tua yang hidup
dengan makanan berlimpah hingga orang-orang yang
mengamati mereka bersikap sangat mencela. Orang nyaris
tidak bisa hanya menghidangkan sepiring makanan begitu
saja di hadapan mereka sebab ada ketentuan-ketentuan
tertentu mengenai itu. Namun, Kristus tidak ingin murid-
murid-Nya mempermasalahkan perkara-perkara makanan
seperti ini, melainkan memakan apa saja yang diberikan
kepada mereka, tanpa bertanya-bertanya.
6. Mereka harus menyatakan penghakiman Tuhan ke atas orang-
orang yang menolak mereka dan pesan mereka: “Bila kamu
masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ,
bila tidak ada orang di situ yang mau mendengarkan pengajar-
anmu, tinggalkan mereka (ay. 10). Jika mereka tidak mau me-
nerima kamu di dalam rumah mereka, pergilah ke jalan-jalan
raya kota itu dan serukanlah peringatan kepada mereka.”
Kristus menyuruh mereka (9:5) melakukan hal yang sama
seperti yang disuruhkan-Nya kepada para rasul, “Katakanlah
kepada mereka, bukan dengan amarah, caci maki, atau den-
dam, melainkan dengan rasa belas kasih akan jiwa malang
mereka yang akan binasa, serta dengan rasa kecemasan
kudus akan kehancuran yang mereka timpakan ke atas diri
mereka sendiri, Juga debu kotamu yang melekat pada kaki
kami, kami kebaskan di depanmu (ay. 11). Janganlah mene-
rima kebaikan apa pun dari mereka ini, dan jangan berutang
budi kepada mereka. Nabi Tuhan yang menerima makanan
dari seorang nabi di Betel harus membayar mahal untuk itu
(1Raj. 13:21-22). Katakan kepada mereka bahwa kamu tidak
akan membawa debu kota mereka. Biarkan mereka membawa-
nya sendiri, sebab mereka yaitu debu.” Debu itu akan
menjadi saksi bagi utusan Kristus bahwa mereka pernah da-
tang ke situ sesuai perintah Guru mereka. Dengan menunjuk-
kan sikap lemah lembut dan penolakan seperti itu, mereka
memperlihatkan kepercayaan mereka kepada-Nya. namun debu
ini juga akan menjadi saksi melawan orang-orang yang meno-
lak itu, yang menyatakan bahwa mereka ini tidak mau mela-
yani para utusan Kristus, bahkan dengan air untuk
membasuh kaki mereka sekalipun, sehingga mereka terpaksa
mengebaskan debu itu dari kaki mereka. “Dan katakan dengan
terus terang kepada mereka, dan mintalah mereka untuk
meyakini bahwa Kerajaan Tuhan sudah dekat. Tawaran yang
baik diberikan kepadamu sekarang. Jika kamu tidak mau
memanfaatkannya, itu yaitu kesalahanmu sendiri. Injil telah
dibawa ke depan pintumu. Jika kamu menutup pintu, maka
darahmu tertanggung atasmu. Sekarang kerajaan Tuhan sudah
dekat kepadamu, dan jika kamu tidak mau menerimanya,
dosamu tidak dapat diampuni, dan hukuman yang akan jatuh
ke atasmu tidak akan tertanggungkan.” Perhatikanlah,
semakin besar anugerah dan kehidupan yang ditawarkan ke-
pada kita melalui Kristus, semakin besar pula pertanggung-
jawaban yang harus kita berikan suatu hari nanti, jika kita
mengabaikan tawaran itu: pada hari itu Sodom akan lebih
ringan tanggungannya dari pada kota itu (ay. 12). Penduduk
Sodom memang telah mengabaikan peringatan yang disampai-
kan Lot. namun menolak Injil yaitu kejahatan yang lebih keji
dan akan mendapat hukumannya pada hari itu. Yang dimak-
sudkan-Nya yaitu hari penghakiman (ay. 14), namun untuk
menekankannya, Ia menyebutnya hari itu, sebab hari itu
yaitu hari yang terakhir dan terdahsyat, saat kita harus
mempertanggungjawabkan semua hari yang telah kita lalui
dan saat keadaan kita akan ditentukan untuk hari-hari keke-
kalan.
Mengenai kejadian ini, sang penulis Injil mengulangi:
(1) Malapetaka khusus ke atas kota-kota tempat sebagian be-
sar pekerjaan besar Kristus telah dilakukan (Mat. 11:20
dst.). Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum, yang semuanya
berbatasan dengan danau Galilea, yang paling dikenal
Kristus, yaitu tempat-tempat yang disebutkan di sini.
[1] Mereka menikmati hak-hak istimewa yang lebih besar.
Mujizat-mujizat Kristus telah terjadi di tengah-tengah
mereka, dan semuanya merupakan pekerjaan yang pe-
nuh rahmat dan belas kasihan. Dengan segala mujizat
ini mereka dinaikkan sampai ke langit, bukan saja
dimuliakan dan dihormati, namun juga ditempatkan di
jalan yang menuju kebahagiaan. Mereka dibawa sedekat
sorga melalui segala cara lahiriah yang paling mampu
melakukannya.
[2] Tujuan Tuhan dengan memilih mereka seperti itu yaitu
untuk membawa mereka kepada pertobatan dan pem-
baruan hidup, supaya mereka berkabung, baik untuk
merendahkan diri sebab dosa-dosa yang telah mereka
perbuat maupun untuk tunduk kepada pemerintahan
Tuhan .
[3] Sikap mereka yang membuat tujuan ini berantakan,
sehingga anugerah Tuhan yang mereka terima itu sia-sia
saja. Di sini dinyatakan secara tidak langsun
Related Posts:
lukas 1-12 11keras dan menyembuhkan anak itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya. Dalam Injil Matius dan Markus, kisah ini diceritakan langsung sesu-dah peristiwa pemuliaan Kristus dan percakapan-Nya dengan para mur… Read More