lukas 13-24 1

 



PASAL 13  479 

I. Orang-orang Galilea yang Dibunuh (13:1-5) 479 

II. Pohon Ara yang Tidak Berbuah (13:6-9)  486 

III. Perempuan yang Sakit Disembuhkan (13:10-17) 494 

IV. Perumpamaan tentang Biji Sesawi dan Ragi (13:18-22) 501 

V. Peringatan terhadap Rasa Ingin Tahu yang Berlebihan;  

 Nasib Orang-orang yang Mengaku Percaya  

 Namun Berdosa (13:23-30) 503 

VI. Pesan Kristus kepada Herodes (13:31-35)  512 

PASAL 14  517 

I. Seorang yang Sakit Busung Air Disembuhkan (14:1-6) 518 

II. Kerendahan Hati Dipuji (14:7-14) 522 

III. Undangan yang Penuh Kemurahan Hati; 

 Perjamuan Besar yang Diabaikan (14:15-24) 527 

IV. Pentingnya Penyangkalan Diri (14:25-35) 538 

PASAL 15  549 

I. Domba dan Uang Dirham yang Hilang (15:1-10) 550 

II. Anak yang Hilang (15:11-32) 560 

PASAL 16  595 

I. Perumpamaan tentang Bendahara yang Tidak Jujur 

 (16:1-9) 596 

II. Setia dalam Perkara yang Kecil; Nasihat (16:10-18) 596 

III. Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin (16:19-31)  614 


 

PASAL 17  643 

I. Tindakan terhadap Perbuatan yang Menyesatkan 

 (17:1-10) 643 

II. Sepuluh Orang Kusta (17:11-19) 650 

III. Kemajuan Kerajaan Kristus; Kehancuran Yerusalem  

 (17:20-37) 656 

PASAL 18  669 

I. Hakim yang Lalim (18:1-8) 669 

II. Orang Farisi dan Pemungut Cukai (18:9-14) 678 

III. Perhatian Yesus terhadap Anak-anak Kecil (18:15-17) 687 

IV. Kekayaan Merupakan Halangan Rohani (18:18-30)  689 

V. Penderitaan Kristus Dinubuatkan (18:31-34)  695 

VI. Penglihatan Seorang Buta Dipulihkan (18:35-43)  698 

PASAL 19  703 

I. Pertobatan Zakheus (19:1-10)  703 

II. Seorang Bangsawan dan Hamba-hambanya (19:11-27) 714 

III. Kristus Memasuki Yerusalem (19:28-40) 727 

IV. Kehancuran Yerusalem Diratapi,  

 Kehancuran Yerusalem Dinubuatkan (19:41-48) 731 

PASAL 20  739 

I. Musuh-musuh Yesus Dibungkamkan (20:1-8) 739 

II. Perumpamaan mengenai Kebun Anggur   

 dan Penggarap-penggarapnya (20:9-19) 742 

III. Musuh-musuh Kristus Dibuat Heran (20:20-26)  747 

IV. Pertanyaan Orang Saduki tentang Kebangkitan  

 (20:27-38) 751 

V. Ahli-ahli Taurat Dibuat Heran (20:39-47) 757 

PASAL 21  763 

I. Kristus Memuji Janda yang Miskin (21:1-4) 763 

II. Penghakiman Dinubuatkan (21:5-19) 765 

III. Hari Kiamat Dinubuatkan (21:20-28)  777 

IV. Nasihat Supaya Berjaga-jaga (21:29-38) 783 

PASAL 22  789 

I. Yudas Mengkhianati Yesus (22:1-6) 789 

II. Paskah dan Penetapan Perjamuan Malam (22:7-20)  792 

III. Kristus Menguatkan Hati Murid-murid-Nya (22:21-38) 798 


 


IV. Ketakutan Kristus yang Mendalam  

 di Taman Getsemani (22:39-46) 813 

V. Kristus Diserahkan (22:47-53) 818 

VI. Petrus Menyangkal Yesus (22:54-62) 823 

VII. Kristus Mengaku Bahwa Ia yaitu  Anak Tuhan   

 (22:63-71) 828 

PASAL 23  833 

I. Kristus di Hadapan Pilatus dan Herodes;  

 Kristus Dituduh dan Dihina (23:1-12) 833 

II. Yesus Kembali di Hadapan Pilatus;  

 Barabas Dibebaskan (23:13-25) 840 

III. Yesus Dibawa untuk Disalibkan (23:26-31)  844 

IV. Yesus Disalibkan (23:32-43) 850 

V. Yesus Mati (23:44-49) 864 

VI. Yesus Dikuburkan (23:50-56)  869 

PASAL 24  873 

I. Kebangkitan Yesus (24:1-12) 874 

II. Yesus Menampakkan Diri di Jalan ke Emaus (24:13-35) 879 

III. Yesus Menampakkan Diri kepada Semua Murid  

 (24:36-49) 901 

IV. Kenaikan Yesus (24:50-53) 917 

 

   

artikel  yang sedang Anda pegang ini yaitu  salah satu bagian dari 

Tafsiran Alkitab dari Matthew Henry yang secara lengkap men-

cakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Untuk edisi bahasa 

Indonesianya, tafsiran ini  diterbitkan dalam bentuk kitab per 

kitab. Injil Lukas merupakan kitab ketiga yang diterbitkan dalam 

bahasa Indonesia. sebab  cukup tebal maka penerbitan Injil Lukas 

ini dibagi menjadi dua jilid: Injil Lukas 1-12 dan Injil Lukas 13-24. 

Matthew Henry (1662-1714) yaitu  seorang Inggris yang mulai 

menulis Tafsiran Alkitab yang terkenal ini pada usia 21 tahun. Karya-

nya ini dianggap sebagai tafsiran Alkitab yang sarat makna dan sa-

ngat terkenal di dunia. 

Kekuatan terutama terletak pada nasi-

hat praktis dan saran pastoralnya. Tafsirannya mengandung banyak 

mutiara kebenaran yang segar dan sangat tepat. Walaupun ada 

cukup banyak kecaman di dalamnya, ia sendiri sebenarnya tidak per-

nah berniat menuliskan tafsiran yang demikian, seperti yang ber-

ulang kali ditekankannya sendiri. Beberapa pakar theologi seperti 

Whitefield dan Spurgeon selalu menggunakan tafsirannya ini dan me-

rekomendasikannya kepada orang-orang untuk mereka baca. White-

field membaca seluruh tafsirannya sampai empat kali; kali terakhir 

sambil berlutut. Spurgeon berkata, “Setiap hamba Tuhan harus 

membaca seluruh tafsiran ini dengan saksama, paling sedikit satu 

kali.” 

Sejak kecil Matthew sudah terbiasa menulis renungan atau ke-

simpulan Firman Tuhan di atas kertas kecil. Namun, baru pada ta-

hun 1704 ia mulai sungguh-sungguh menulis dengan maksud me-

nerbitkan tafsiran ini . Terutama menjelang akhir hidupnya, ia 

mengabdikan diri untuk menyusun tafsiran itu.  

artikel  pertama tentang Kitab Kejadian diterbitkan pada tahun 

1708 dan tafsiran tentang keempat Injil diterbitkan pada tahun 1710. 

Sebelum meninggal, ia sempat menyelesaikan tafsiran Kisah Para Ra-

sul. sesudah  kematiannya, Surat-surat dan Wahyu diselesaikan oleh 

13 orang pendeta berdasarkan catatan-catatan Matthew Henry yang 

telah disiapkannya sebelum meninggal. Edisi total seluruh kitab-

kitab diterbitkan pada tahun 1811.    

berulang kali direvisi dan dicetak ulang. 

artikel  itu juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti 

bahasa Belanda, Arab, Rusia, dan kini sedang diterjemahkan ke 

dalam bahasa Telugu dan Ivrit, yaitu bahasa Ibrani modern.  

Riwayat Hidup Matthew Henry 

Matthew Henry lahir pada tahun 1662 di Inggris. saat  itu gereja 

Anglikan menjalin hubungan baik dengan gereja Roma Katolik. Yang 

memerintah pada masa itu yaitu  Raja Karel II, yang secara resmi 

diangkat sebagai kepala gereja. Raja Karel II ingin memulihkan ke-

kuasaan gereja Anglikan sehingga orang Kristen Protestan lainnya sa-

ngat dianiaya. Mereka disebut dissenter, orang yang memisahkan diri 

dari gereja resmi. 

Puncak penganiayaan itu terjadi saat  pada 24 Agustus 1662 

lebih dari dua ribu pendeta gereja Presbiterian dilarang berkhotbah 

lagi. Mereka dipecat dan jabatan mereka dianggap tidak sah.  

Pada masa yang sulit itu lahirlah Matthew Henry. Ayahnya, 

Philip Henry, yaitu  seorang pendeta dari golongan Puritan, sedang-

kan ibunya, Katherine Matthewes, seorang keturunan bangsawan. 

sebab  Katherine berasal dari keluarga kaya, sepanjang hidupnya 

Philip Henry tak perlu memikirkan uang atau bersusah payah men-

cari nafkah bagi keluarganya, sehingga ia dapat dengan sepenuh hati 

mengabdikan diri untuk pelayanannya sebagai hamba Tuhan. 

Matthew yaitu  anak kedua. Kakaknya, John, meninggal pada usia 6 

tahun sebab  penyakit campak. saat  masih balita, Matthew sendiri 

juga terserang penyakit itu dan nyaris direnggut maut. 

Dari kecilnya Matthew sudah tampak memiliki bermacam-ma-

cam bakat, sangat cerdas, dan pintar. namun  yang lebih penting lagi, 

sejak kecil ia sudah mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan 

mengakui-Nya sebagai Juruselamatnya. Usianya baru tiga tahun 

saat  ia sudah mampu membaca satu pasal dari Alkitab lalu mem-

berikan keterangan dan pesan tentang apa yang dibacanya.  

Dengan demikian Matthew sudah menyiapkan diri untuk tugas-

nya di kemudian hari, yaitu tugas pelayanan sebagai pendeta.  

Sejak masa kecilnya Matthew sudah diajarkan bahasa Ibrani, 

Yunani, dan Latin oleh ayahnya, sehingga walaupun masih sangat 

muda, ia sudah pandai membaca Alkitab dalam bahasa aslinya. 

Pada tahun 1685, saat  berusia 23 tahun, Matthew pindah ke 

London, ibu kota Inggris, untuk belajar hukum di Universitas Lon-

don. Matthew tidak berniat untuk menjadi ahli hukum, ia hanya me-

nuruti saran ayahnya dan orang lain yang berpendapat bahwa studi 

itu akan memberikan manfaat besar baginya sebab  keadaan di Ing-

gris pada masa itu tidak menentu bagi orang Kristen, khususnya 

kaum Puritan. 

Beberapa tahun kemudian Matthew kembali ke kampung hala-

mannya. Dalam hatinya ia merasa terpanggil menjadi pendeta. Kemu-

dian, ia diperbolehkan berkhotbah kepada beberapa jemaat di sekitar 

Broad Oak. Ia menyampaikan Firman Tuhan dengan penuh kuasa. 

Tidak lama sesudah  itu, ia dipanggil oleh dua jemaat, satu di London 

dan satu lagi jemaat kecil di wilayah pedalaman, yaitu Chester. Sete-

lah berdoa dengan tekun dan meminta petunjuk Tuhan, ia akhirnya 

memilih jemaat Chester, dan pada tanggal 9 Mei 1687 ia diteguhkan 

sebagai pendeta di jemaat ini . Waktu itu Matthew berusia 25 ta-

hun. 

Di Chester, Matthew Henry bertemu dengan Katharine Hard-

ware. Mereka menikah pada tanggal 19 Juli 1687. Pernikahan itu sa-

ngat harmonis dan baik sebab  didasarkan atas cinta dan iman ke-

pada Tuhan. Namun pernikahan itu hanya berlangsung selama satu 

setengah tahun. Katharine yang sedang hamil terkena penyakit cacar. 

Segera sesudah  melahirkan seorang anak perempuan, ia meninggal 

pada usia 25 tahun. Matthew sangat terpukul oleh dukacita ini. Anak 

Matthew dan Katherine dibaptis oleh kakeknya, yaitu Pendeta Philip, 

ayah Matthew. 

Tuhan  menguatkan Matthew dalam dukacita yang melandanya. 

sesudah  satu tahun lebih telah berlalu, mertuanya menganjurkannya 

untuk menikah lagi. Pada Juli 1690, Matthew menikah dengan Mary 

Warburton. Tahun berikutnya, mereka diberkati dengan seorang bayi, 

yang diberi nama Elisabeth. Namun, saat baru berumur satu se-

tengah tahun, ia meninggal sebab  demam tinggi dan penyakit batuk 

rejan. Setahun kemudian mereka mendapat seorang anak perempuan 

lagi. Dan bayi ini pun meninggal, tiga minggu kemudian. Betapa 

berat dan pedih penderitaan orangtuanya. Sesudah peristiwa ini, 

Matthew memeriksa diri dengan sangat teliti apakah ada dosa dalam 

hidup atau hatinya yang menyebabkan kematian anak-anaknya. Ia 

mengakhiri catatannya sebagai berikut, “Ingatlah bahwa anak-anak 

itu diambil dari dunia yang jahat dan dibawa ke sorga. Mereka tidak 

lahir percuma dan sekarang mereka telah boleh menghuni kota Yeru-

salem yang di sorga.” 

Beberapa waktu kemudian mereka mendapat seorang anak pe-

rempuan yang bertahan hidup. Demikianlah suka dan duka silih ber-

ganti dalam kehidupan Matthew Henry. Secara keseluruhan, Matthew 

Henry mendapat 10 anak, termasuk seorang putri dari pernikahan 

pertama. 

Selama 25 tahun Matthew Henry melayani jemaatnya di Chester. 

Ia sering mendapat panggilan dari jemaat-jemaat di London untuk 

melayani di sana, namun  berulang kali ia menolak panggilan ini  

sebab  merasa terlalu terikat kepada jemaat di Chester. Namun 

akhirnya, ia yakin bahwa Tuhan  sendiri telah memanggilnya untuk 

menjadi hamba Tuhan di London, dan sebab  itu ia menyerah kepada 

kehendak Tuhan .  

Pada akhir hidupnya, Matthew Henry terkena penyakit diabetes, 

sehingga sering merasa letih dan lemah. Sejak masa muda, ia bekerja 

dari pagi buta sampai larut malam, namun  menjelang akhir hayatnya 

ia tidak mampu lagi. Ia sering mengeluh sebab  kesehatannya yang 

semakin menurun. 

Pada bulan Juni 1714 ia berkhotbah satu kali lagi di Chester, 

tempat pelayanannya yang dulu. Ia berkhotbah tentang Ibrani 4:9, 

“Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat 

Tuhan .” Ia seolah-olah menyadari bahwa hari Minggu itu merupakan 

hari Minggu terakhir baginya di dunia ini. Secara khusus ia mene-

kankan hal perhentian di sorga supaya anak-anak Tuhan  dapat me-

nikmati kebersamaan dengan Tuhan.  

Sekembalinya ke London, ia merasa kurang sehat. Malam itu ia 

sulit tidur dan menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Ia dipenuhi 

rasa damai dan menulis pesan terakhirnya: “Kehidupan orang yang 

mengabdikan diri bagi pelayanan Tuhan merupakan hidup yang pa-

ling menyenangkan dan penuh penghiburan.” Ia mengembuskan 

nafas terakhir pada tanggal 22 Juni 1714, dan dimakamkan tiga hari 

kemudian di Chester. Nas dalam kebaktian pemakamannya diambil 

dari Matius 25:21, “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali 

perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah 

setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung 

jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam keba-

hagiaan tuanmu.” 

 

PASAL 1 3  

Dalam pasal ini diceritakan tentang:  

I. Kristus memanfaatkan sebuah kabar yang disampaikan ke-

pada-Nya tentang orang-orang Galilea, yang belum lama ini 

dibantai oleh Pilatus pada saat mereka mempersembahkan 

korban di bait Tuhan  di Yerusalem (ay. 1-5).  

II. Perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah, yang 

dengannya kita diperingatkan untuk menghasilkan buah se-

bagai wujud dari pertobatan yang diperintahkan-Nya kepada 

kita dalam perkataan sebelumnya (ay. 6-9).  

III. Penyembuhan Kristus atas seorang perempuan yang sakit 

dan menderita pada hari Sabat, dan pembenaran-Nya atas 

perbuatan-Nya itu (ay. 11-17).  

IV. Pengulangan dari perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi 

(ay. 18-22).  

V. Jawaban-Nya terhadap pertanyaan mengenai berapa banyak 

orang yang diselamatkan (ay. 23-30).  

VI. Teguran Kristus terhadap kejahatan dan kekejaman Hero-

des, dan penghakiman atas Yerusalem (ay. 31-35). 

Orang-orang Galilea yang Dibunuh 

(13:1-5) 

1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar 

tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan da-

rah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: "Sangka-

mu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang 

Galilea yang lain, sebab  mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku ke-

padamu. namun  jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas 

cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa 

menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua 

orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. namun  jika-

lau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” 

Di sini kita mendapati:  

I. Kabar yang dibawa kepada Kristus tentang kematian beberapa 

orang Galilea baru-baru ini, yang darahnya dicampurkan Pilatus 

dengan darah korban yang mereka persembahkan (ay. 1).  

Marilah kita cermati:  

1. Apa cerita tragis yang disampaikan ini. Cerita itu hanya di-

gambarkan sedikit dalam perikop ini, dan juga tidak dising-

gung oleh para sejarawan pada masa itu. Josephus memang 

menyebut-nyebut pembunuhan yang dilakukan Pilatus terha-

dap beberapa orang Samaria, yang atas perintah seorang pe-

mimpin dari sebuah golongan, lari berhamburan ke gunung 

Gerizim, di mana ada  tempat ibadah orang Samaria. Na-

mun kita sama sekali tidak bisa menganggap bahwa kisah ini 

sama dengan kisah yang sedang diceritakan di sini. Sebagian 

orang berpikir bahwa orang-orang Galilea ini yaitu  para 

pengikut kelompok Yudas Gaulonita, yang juga disebut Yudas, 

seorang Galilea (Kis. 5:37), yang tidak mengakui wewenang 

kaisar dan menolak membayar upeti kepadanya. Atau mung-

kin mereka ini, sebab  merupakan orang Galilea, dicurigai be-

gitu saja oleh Pilatus sebagai para pengikut Yudas Gaulonita, 

dan mereka dibunuh secara biadab sebab  para pengikut 

Yudas yang sebenarnya tidak bisa ia tangkap. sebab  orang-

orang Galilea merupakan warga Herodes, kebiadaban yang 

dilampiaskan kepada mereka oleh Pilatus ini mungkin menim-

bulkan perselisihan antara Herodes dan Pilatus, seperti yang 

kita baca dalam pasal 23:12. Kita tidak diberi tahu berapa 

banyak orang yang menderita akibat perasaan tersinggung 

Pilatus ini, mungkin hanya sedikit saja (dan sebab  itu kisah 

ini diabaikan oleh Josephus), namun kejadian yang dilaporkan 

di sini yaitu  bahwa ia mencampurkan darah mereka dengan 

darah korban yang mereka persembahkan di pelataran Bait 

Tuhan . Walaupun orang-orang Galilea ini mungkin takut terha-

dap kekejian Pilatus, namun mereka tidak mau, hanya sebab  

ketakutan itu, menjauh dari Yerusalem, sebab hukum Taurat 

mewajibkan mereka pergi ke sana untuk mempersembahkan 

korban mereka. Dr. Lightfoot berpendapat bahwa mereka ke-

mungkinan membunuh korban-korban persembahan mereka 

sendiri (dan ini diperbolehkan, sebab  menurut mereka peker-

jaan imam baru dimulai pada saat pemercikan darah), dan 

bahwa para serdadu Pilatus datang secara tiba-tiba tepat pada 

saat mereka lengah (sebab pada umumnya orang-orang Galilea 

sangat berani, dan mereka biasanya bepergian dengan bersen-

jata lengkap), dan ia mencampur darah pemberi korban de-

ngan darah korban yang dipersembahkan, seolah-olah kedua-

nya sama-sama berkenan kepada Tuhan . Kekudusan suatu 

tempat ataupun suatu ibadah tidak dapat melindungi sese-

orang dari amukan hakim yang tidak adil, yang tidak takut 

akan Tuhan  dan tidak menghormati seorang pun. Mezbah, yang 

biasanya merupakan tempat kudus dan tempat perlindungan, 

kini menjadi jerat dan jebakan, tempat berbahaya dan tempat 

pembantaian.   

2.  Mengapa cerita ini disampaikan kepada Yesus Tuhan kita 

pada waktu itu.  

(1)  Mungkin hanya sebagai berita, yang mereka pikir belum di-

dengar oleh-Nya, dan sebagai sesuatu yang mereka ratapi, 

dan berpikir bahwa Dia pun akan merasakan hal yang sa-

ma; sebab orang-orang Galilea yaitu  orang-orang sekam-

pung mereka. Perhatikanlah, segala peristiwa yang menye-

dihkan yang terjadi di dalam pemeliharaan Tuhan  haruslah 

kita perhatikan dan kita sampaikan kepada orang lain, su-

paya mereka juga dapat tersentuh olehnya dan mengambil 

pelajaran yang bermanfaat darinya.  

(2) Mungkin hal itu dimaksudkan sebagai pembenaran atas 

apa yang sudah dikatakan Kristus pada bagian penutup 

dalam pasal sebelumnya mengenai pentingnya kita berda-

mai dengan Tuhan  selama masih ada waktu, sebelum kita 

diserahkan kepada pembantu hakim, yaitu kepada kemati-

an, lalu dilemparkan ke dalam penjara, dan dengan demi-

kian akan sudah terlambat bagi kita untuk berdamai. 

“Nah,” kata mereka, “Guru, ini ada contoh yang baru saja 

terjadi, tentang sebagian orang yang dengan tiba-tiba dise-

rahkan kepada pembantu hakim, yang dijemput maut pada 

saat yang paling tidak mereka duga, dan oleh sebab  itu 

kita semua harus siap menghadapinya.” Perhatikanlah, 

akan bermanfaat bagi kita jika kita menjelaskan firman 

Tuhan  dan meneguhkannya bagi diri kita sendiri dengan 

cara mengamati segala peristiwa yang diizinkan terjadi di 

dalam pemeliharaan Tuhan . 

(3) Mungkin mereka sedang berusaha menggugah hati-Nya su-

paya Ia mencari suatu cara untuk membalas dendam atas 

kematian orang-orang Galilea ini kepada Herodes, sebab 

Dia sendiri berasal dari Galilea, dan juga merupakan se-

orang Nabi, dan Dia yaitu  orang yang sangat memperhati-

kan daerah-Nya. Jika mereka mempunyai pikiran-pikiran 

seperti itu, maka sungguh kelirulah mereka, sebab Kristus 

sebentar lagi akan pergi ke Yerusalem, untuk diserahkan 

ke tangan Pilatus, dan membiarkan darah-Nya, bukan un-

tuk dicampur dengan korban yang dipersembahkan-Nya, 

melainkan untuk dijadikan sebagai persembahan itu sen-

diri.  

(4) Mungkin cerita ini disampaikan kepada Kristus untuk men-

cegah-Nya pergi beribadah ke Yerusalem (ay. 22), jangan 

sampai Pilatus juga akan berbuat hal yang sama terhadap-

Nya seperti yang sudah diperbuatnya terhadap orang-orang 

Galilea itu, dan membujuk orang banyak untuk melawan-

Nya, seperti yang mungkin telah dilakukannya terhadap 

orang-orang Galilea itu, untuk membenarkan kekejaman-

nya dengan menuduh mereka datang memberikan persem-

bahan seperti Absalom, dengan maksud untuk menghasut, 

dengan berpura-pura membawa korban persembahan, pa-

dahal sebenarnya ingin menyulut pemberontakan. Nah, 

supaya Pilatus, saat  masih menangani masalah ini, tidak 

bertindak lebih jauh lagi, mereka berpikir bahwa Kristus 

sebaiknya menghindar dulu untuk sementara waktu.  

(5) Jawaban Kristus kepada mereka menunjukkan bahwa me-

reka memberitahukan kabar ini kepada-Nya dengan suatu 

maksud yang jahat untuk menyindir, bahwa walaupun 

Pilatus berbuat tidak adil dengan membunuh orang-orang 

ini, namun sebenarnya mereka ini yaitu  orang-orang yang 

jahat, sebab kalau tidak, Tuhan  pasti tidak akan mengizin-

kan Pilatus membunuh mereka dengan cara yang biadab 

seperti itu. Tindakan murid-murid itu sungguh dilandasi 

dengan rasa iri. Bukannya memandang orang-orang Galilea 

itu sebagai martir, padahal mereka mati sewaktu memberi-

kan korban persembahan, dan mungkin menderita sebab  

ibadah mereka, murid-murid malah, tanpa bukti sedikit 

pun, menganggap mereka sebagai penjahat, dan ini mung-

kin tiada lain dipicu oleh sebab  murid-murid tidak sego-

longan atau sealiran dengan mereka, mungkin ada suatu 

perbedaan tertentu di antara mereka. Nasib mereka ini, 

yang bukan hanya dapat kita tafsirkan sebagai sesuatu 

yang terpuji, melainkan juga sebagai sesuatu yang terhor-

mat, dapat disebut sebagai penghakiman yang adil dari 

Tuhan  terhadap mereka, walaupun mereka tidak tahu untuk 

apa.      

II.  Tanggapan Kristus terhadap laporan ini, yang di dalamnya: 

1.  Ia menyokong cerita itu dengan cerita lain lagi, yang seperti 

cerita tentang orang-orang Galilea itu. Cerita itu juga berkisah 

mengenai orang-orang yang dijemput maut dengan tiba-tiba. 

Tidak lama sebelumnya, menara dekat Siloam roboh, dan ada 

delapan belas orang yang mati dan terkubur di tengah-tengah 

reruntuhannya. Dr. Lightfoot menduga menara ini berdam-

pingan dengan kolam Siloam, yang juga disebut kolam Betes-

da, dan bahwa menara itu terletak di serambi-serambi di dekat 

kolam itu, dan di situlah orang-orang yang sakit berbaring 

sambil menantikan goncangan air di kolam itu (Yoh. 5:3), dan 

bahwa orang-orang yang terbunuh yaitu  sebagian dari me-

reka, atau sebagian orang yang biasa membersihkan diri di ko-

lam itu sebelum beribadah di Bait Tuhan , sebab kolam itu me-

mang dekat dengan Bait Tuhan . Siapa pun mereka, kisah ini 

sungguh menyedihkan. Namun demikian, kecelakaan-kecela-

kaan yang mengerikan seperti itu sudah sering kita dengar, 

sebab seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah 

anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau 

hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba (Pkh. 9:12). Menara, 

yang dibangun untuk keamanan, sering kali justru membawa 

kehancuran bagi manusia. 

2. Ia memperingatkan para pendengar-Nya untuk tidak mereka-

reka sesuatu yang buruk dari kejadian ini atau dari kejadian-

kejadian semacamnya, dan juga untuk tidak memanfaatkan 

kejadian ini untuk mencela orang-orang yang sangat men-

derita, seolah-olah sebab  penderitaan itulah mereka harus 

dipandang sebagai pendosa-pendosa besar. “Sangkamu orang-

orang Galilea ini, yang terbunuh sewaktu memberikan korban 

persembahan, lebih besar dosanya dari pada dosa semua 

orang Galilea yang lain, sebab  mereka mengalami nasib itu? 

Tidak, kata-Ku kepadamu” (ay. 2-3). Mungkin yang memberi-

tahukan Dia tentang kabar orang-orang Galilea ini yaitu  

orang-orang Yahudi. Orang-orang ini senang dengan hal-hal 

apa saja yang dapat dijadikan perenungan tentang orang-

orang Galilea. sebab  itulah Kristus membalas mereka dengan 

cerita tentang orang-orang Yerusalem, yang juga menemui ajal 

secara tidak terduga, sebab ukuran yang kita pakai untuk 

mengukur akan diukurkan kepada kita. “Nah, sangkamu 

kedelapan belas orang yang menemui ajal mereka di menara 

Siloam itu, sewaktu mereka mungkin sedang menunggu ke-

sembuhan dari kolam Siloam, harus membayar keadilan ilahi 

jauh melebihi semua orang lain yang diam di Yerusalem? 

Tidak! Kata-Ku kepadamu.” Tidak peduli apakah kejadian ini 

membenarkan atau menuduh diri kita, kita harus menaati 

aturan ini, yaitu bahwa kita tidak bisa menghakimi dosa orang 

lain dengan melihat penderitaan mereka di dunia ini, sebab 

ada banyak orang dilemparkan ke perapian seperti emas yang 

hendak dimurnikan, bukan seperti kotoran atau sekam yang 

hendak dibakar. Oleh sebab  itu kita tidak boleh keras men-

cela orang-orang yang lebih menderita daripada sesamanya, 

seperti teman-teman Ayub yang mencelanya, supaya jangan 

sampai kita justru mengutuk angkatan yang benar (Mzm. 

14:5). Jika kita ingin menghakimi, cukuplah untuk mengha-

kimi diri sendiri saja. Kita juga tidak mengetahui apa pun yang 

ada di hadapan kita, baik kasih maupun kebencian, sebab 

segala sesuatu sama bagi sekalian (Pkh. 9:1-2). sebab  itu, 

pantaslah bagi kita untuk beranggapan bahwa para pengania-

ya, termasuk Pilatus, yang mempunyai kuasa dan keberhasil-

an, yaitu  orang-orang yang paling kudus. Sama halnya juga, 

wajarlah bagi kita untuk bisa saja beranggapan bahwa orang-

orang yang dianiaya, termasuk orang-orang Galilea itu, yang 

sedang bersimbah air mata dan tidak mendapat penghiburan 

sekalipun dari imam-imam dan orang-orang Lewi yang mela-

yani mezbah, yaitu  orang-orang yang paling berdosa. Dalam 

menghakimi orang lain, marilah kita melakukannya dengan 

cara seperti yang kita juga ingin orang lain melakukannya 

terhadap kita, sebab sebagaimana kita berbuat kepada orang 

lain, demikian pula akan diperbuat oleh orang lain kepada 

kita. Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi 

(Mat. 7:1).  

3. Dengan cerita-cerita ini Kristus menyerukan seruan pertobat-

an. Ia mengakhiri setiap cerita ini dengan perkataan untuk 

menggugah hati, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua 

akan binasa atas cara demikian” (ay. 3-5).  

(1) Ini menunjukkan bahwa kita semua pantas binasa seperti 

mereka, dan seandainya kita diperlakukan menurut dosa-

dosa kita, menurut segala kesalahan (yang kita lakukan) 

terhadap segala yang dikuduskan, maka pastilah atas ke-

adilan Tuhan  darah kita sudah dicampurkan dengan darah 

korban yang kita persembahkan. Kita harus bersikap lunak 

dalam mengecam orang lain, sebab  kita harus ingat, bah-

wa kita ini bukan hanya pendosa, namun  juga sama-sama 

sangat berdosa seperti halnya mereka, dan kita juga harus 

bertobat dari banyak dosa-dosa kita seperti halnya mereka.  

(2) Oleh sebab  itu kita semua harus bertobat, menyesali kesa-

lahan yang telah kita perbuat, dan berusaha untuk tidak 

melakukannya lagi. Penghakiman Tuhan  atas orang lain me-

rupakan suatu peringatan keras bagi kita untuk bertobat. 

Lihatlah bagaimana Kristus memanfaatkan segala sesuatu 

untuk menekankan kewajiban besar itu, yang untuk itulah 

Ia datang, yaitu supaya kita memperoleh kesempatan dan 

harapan untuk bertobat.  

(3) Bahwa pertobatan yaitu  cara yang pasti, dan tidak ada 

cara lain lagi untuk menghindarkan diri kita dari kebinasa-

an, supaya kesalahan itu jangan menjadi batu sandungan 

atau kebinasaan bagimu.  

(4) Bahwa jika tidak bertobat, kita pasti akan binasa, seperti 

yang sudah terjadi pada orang-orang lain yang mendahului 

kita. Sebagian orang memberikan penekanan terhadap kata 

atas cara demikian, dan menerapkannya pada kehancuran 

yang kemudian menimpa orang-orang Yahudi, khususnya 

kota Yerusalem, yang dihancurkan oleh orang-orang Roma-

wi pada waktu mereka merayakan paskah, dan dengan 

demikian, seperti orang-orang Galilea, darah mereka dicam-

pur dengan darah korban yang mereka persembahkan; dan 

juga, saat  itu, banyak dari antara mereka, baik di Yerusa-

lem maupun di tempat-tempat lain, hancur luluh tertimpa 

dinding-dinding dan bangunan-bangunan yang diruntuh-

kan, mirip dengan orang-orang yang mati tertimpa menara 

Siloam itu. Namun demikian, perkataan “atas cara demi-

kian” ini punya maksud lebih jauh daripada hal-hal ini 

saja, yakni, jika kita tidak bertobat, kita akan binasa untuk 

selama-lamanya, seperti mereka semuanya tadi, yang habis 

binasa dari dunia ini. Yesus yang sama yang memanggil 

kita untuk bertobat sebab Kerajaan Sorga sudah dekat, me-

nyuruh kita untuk bertobat sebab, kalau tidak, kita akan 

binasa. Dengan demikian, Ia telah menyodorkan ke hadap-

an kita kehidupan dan kematian, kebaikan dan kejahatan, 

dan menyerahkan kepada kita sendiri untuk memilih. 

(5) Orang-orang yang menghakimi orang lain dengan keras dan 

kejam, namun  mereka sendiri tidak mau bertobat, mereka 

ini akan mengalami kebinasaan yang lebih mengerikan lagi. 

Pohon Ara yang Tidak Berbuah  

(13:6-9) 

6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara 

yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada 

pohon itu, namun  ia tidak menemukannya. 7 Lalu ia berkata kepada pengurus 

kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon 

ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia 

hidup di tanah ini dengan percuma! 8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia 

tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan mem-

beri pupuk kepadanya, 9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, te-

banglah dia!” 

Perumpamaan ini dimaksudkan untuk memperkuat peringatan yang 

diberikan Kristus sebelumnya, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu 

semua akan binasa atas cara demikian. Jikalau kamu tidak diperba-

harui, kamu akan dihancurkan, seperti pohon ara yang tidak ber-

buah. Jikalau pohon itu tidak berbuah, ia akan ditebang.”   

I.   Perumpamaan ini terutama merujuk pada bangsa dan umat Ya-

hudi. Tuhan  memilih mereka sebagai milik kepunyaan-Nya, men-

jadikan mereka umat yang dekat dengan-Nya, memberi mereka 

segala keistimewaan untuk mengenal dan melayani-Nya melebihi 

bangsa-bangsa lain, dan mengharapkan mereka membalasnya de-

ngan melakukan kewajiban dan ketaatan mereka terhadap-Nya, 

yang mendatangkan pujian dan hormat bagi-Nya; semuanya ini 

diperhitungkan-Nya sebagai buah. Namun mereka mengecewakan 

harapan-harapan-Nya: mereka tidak melakukan kewajiban mere-

ka; mereka mendatangkan celaan, dan bukannya pujian, bagi 

pengakuan iman mereka. Oleh sebab  itu, Ia dengan adil berkete-

tapan untuk meninggalkan mereka, memutuskan mereka, melu-

cuti segala hak istimewa mereka, dan meniadakan mereka sebagai 

suatu bangsa dan umat. Namun demikian, melalui pengantaraan 

Kristus, seperti pada waktu dulu melalui pengantaraan Musa, Ia 

dengan murah hati memberi mereka lebih banyak waktu dan 

belas kasihan. Seakan-akan Ia menguji mereka setahun lagi, de-

ngan mengutus para rasul-Nya kepada mereka untuk mengajak 

mereka bertobat dan menawarkan pengampunan kepada mereka 

dalam nama Kristus saat  bertobat. Di dalam sebagian mereka 

pertobatan dikerjakan, lalu mereka berbuah, dan bagi mereka ini 

semuanya menjadi baik. Namun sebagai bangsa mereka tetap 

tidak mau bertobat dan tidak berbuah, dan oleh sebab  itu ke-

hancuran menimpa mereka tanpa ampun sekitar empat puluh 

tahun kemudian (sesudah  masa kehidupan Yesus di tengah-tengah 

mereka – pen.), dan dibuang ke dalam api, tepat seperti yang dika-

takan Yohanes Pembaptis kepada mereka (Mat. 3:10), yang dija-

barkan dengan lebih luas lagi dalam perumpamaan ini. 

II.  Perumpamaan mengenai buah ini, tidak diragukan lagi, juga me-

rujuk kepada hal yang lebih jauh lagi, dan dirancang untuk meng-

gugah semua orang yang menikmati sarana anugerah dan segala 

hak-hak istimewa gerejawi di dunia yang kelihatan ini. Orang-

orang seperti ini harus melihat apakah sikap pikiran dan arah 

hidup mereka sudah sesuai dengan iman pengakuan mereka dan 

dengan kesempatan yang tersedia bagi mereka. Inilah buah yang 

diminta dari mereka.  

Sekarang amatilah di sini: 

1.  Keuntungan-keuntungan yang dimiliki pohon ara ini. Pohon 

ara itu tumbuh di kebun anggur, di tanah yang baik, di mana ia 

bisa lebih dirawat dan dijaga dibandingkan dengan pohon-po-

hon ara yang lain, yang biasanya tumbuh bukan di kebun 

anggur (yang memang khusus untuk anggur), melainkan di 

dekat jalan (Mat. 21:19). Pohon ara itu milik seseorang, yang 

mengurus dan merawatnya. Perhatikanlah, jemaat Tuhan  ada-

lah kebun anggur-Nya, berbeda dari tanah biasa, dan dipagari 

di sekelilingnya (Yes. 5:1-2). Kita yaitu  pohon ara yang dita-

nam di kebun anggur-Nya melalui baptisan. Kita mempunyai 

tempat dan nama di dalam gereja di dunia ini, dan inilah yang 

menjadi hak istimewa dan kebahagiaan kita. Ini suatu anuge-

rah yang istimewa, sebab  Dia tidak melakukan yang demikian 

dengan bangsa-bangsa lain. 

2. Harapan si pemilik kebun anggur untuk pohon ara itu: ia 

datang untuk mencari buah pada pohon itu, dan ia berhak 

mengharapkannya. Ia tidak menyuruh orang lain, melainkan 

datang sendiri, yang menunjukkan keinginannya untuk men-

dapatkan buah. Kristus datang ke dunia ini, datang kepada 

milik kepunyaan-Nya, kepada orang-orang Yahudi, untuk men-

cari buah. Perhatikanlah, Tuhan  di sorga menginginkan dan 

mengharapkan buah dari orang-orang yang bertempat tinggal 

di kebun anggur-Nya. Mata-nya tertuju kepada orang-orang 

yang menikmati Injil, untuk melihat apakah mereka sudah hi-

dup sesuai dengannya. Ia mencari bukti-bukti apakah mereka 

menjadi baik dengan sarana anugerah yang mereka nikmati. 

Daun saja tidak cukup, seperti orang yang hanya berseru, 

Tuhan, Tuhan. Bunga juga tidak cukup, seperti orang yang 

memulai dengan baik dan hanya menjanjikan hal yang indah-

indah saja. Harus ada buah. Segala pikiran, perkataan, dan 

perbuatan kita harus sesuai dengan Injil, terang dan kasih.    

3. Kekecewaannya terhadap apa yang ia temukan: ia tidak mene-

mukan apa-apa, tidak ada sama sekali, tidak satu buah ara 

pun. Perhatikanlah, sungguh menyedihkan melihat berapa ba-

nyak orang yang menikmati hak-hak istimewa Injil namun 

tidak melakukan apa pun untuk kemuliaan Tuhan , tidak meme-

nuhi maksud dan tujuan-Nya dalam memberikan mereka 

segala keistimewaan Injil itu. Ini sungguh mengecewakan Dia 

dan mendukakan Roh anugerah-Nya.  

(1) Ia mengeluh kepada pengurus kebun: “Aku datang untuk 

mencari buah, namun  aku kecewa, sebab aku tidak menemu-

kannya. Aku mencari anggur, namun  yang kulihat hanyalah 

anggur liar. Ia berduka dengan angkatan seperti itu. 

(2)  Bagi-Nya, hal ini sungguh keterlaluan, sebab  dua alasan:   

[1] Bahwa ia sudah lama menunggu, dan akhirnya dikece-

wakan. sebab  ia tidak mengharapkan yang tinggi-

tinggi, hanya mengharapkan buah, bukan banyak buah, 

maka ia juga tidak terburu-buru. Ia terus mendatanginya 

selama tiga tahun, tahun demi tahun. Dengan menerap-

kan pernyataan ini kepada orang Yahudi, Ia datang pa-

da satu waktu sebelum masa pembuangan, satu waktu 

lagi sesudahnya, dan satu waktu lagi saat Yohanes 

Pembaptis dan Kristus sendiri memberitakan Injil. Atau 

pernyataan ini mungkin merujuk pada tiga tahun pela-

yanan Kristus kepada orang banyak, yang pada waktu 

itu akan segera berakhir. Secara umum, pernyataan ini 

hendak mengajar kita bahwa kesabaran Tuhan  itu sa-

ngatlah panjang bagi banyak orang yang menikmati Injil 

namun masih tidak menghasilkan buah-buahnya juga, 

dan bahwa kesabaran-Nya ini sungguh teramat dileceh-

kan sehingga membuat Tuhan  benar-benar sangat mur-

ka. Sudah berapa kali tiga tahun Tuhan  mendatangi ba-

nyak dari antara kita untuk mencari buah, namun tidak 

menemukan apa-apa, atau hampir tidak menemukan 

apa-apa, atau justru lebih buruk lagi daripada tidak ada 

apa-apa! 

[2]  Bahwa pohon ara ini bukan hanya tidak menghasilkan 

buah, namun  juga menyakiti. Pohon itu hidup di tanah 

dengan percuma, mengambil tempat pohon yang ber-

buah, dan menyakiti semua yang ada di sekelilingnya. 

Perhatikanlah, orang-orang yang tidak berbuat baik bia-

sanya menyakiti orang lain dengan pengaruh dari con-

toh buruk mereka. Mereka mendukakan dan menge-

cewakan orang-orang yang baik; mereka mengeraskan 

dan membesarkan hati orang-orang yang jahat. Sema-

kin besar kesakitan yang ditimbulkannya, semakin ter-

bebanlah tanah itu, jika pohon itu tinggi, besar, dan 

melebar, atau jika pohon itu tua dan berdiri dalam wak-

tu yang lama.      

4.  Hukuman yang menimpanya: “Tebanglah pohon ini!” Ia menga-

takannya kepada pengurus kebun anggur, kepada Kristus, 

yang diberi segala kuasa untuk menghakimi, kepada hamba-

hamba yang dalam nama-Nya menyatakan penghukuman ini. 

Perhatikanlah, tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari po-

hon yang tidak berbuah selain harus ditebang. Seperti halnya 

kebun anggur yang tidak berbuah akan dibongkar, dan diin-

jak-injak (Yes. 5:5-6), begitu pula pohon yang tidak berbuah di 

kebun anggur akan dicabut dari kebun itu, dan akan menjadi 

layu (Yoh. 15:6). Pohon itu ditebang oleh penghakiman-peng-

hakiman Tuhan , terutama penghakiman-penghakiman rohani, 

seperti yang ditimpakan ke atas orang-orang Yahudi yang ti-

dak percaya (Yes. 6:9-10). Pohon itu ditebang oleh kematian, 

dan dilemparkan ke dalam api neraka, dan ini dilakukan kare-

na alasan yang baik, sebab mengapa pohon itu hidup di tanah 

dengan percuma? Untuk apa pohon itu harus diberi tempat di 

kebun anggur kalau tidak mendatangkan manfaat apa-apa?  

5.  Bagaimana si pengurus kebun anggur menengahi dan menjadi 

pengantara bagi pohon ara itu. Kristus yaitu  Sang Pengan-

tara agung. Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara 

mereka. Hamba-hamba Tuhan yaitu  para pengantara; orang-

orang yang mengurus kebun anggur harus menjadi pengantara 

bagi kebun anggur itu. Orang-orang yang kita kabari Injil ha-

ruslah kita doakan, sebab kita harus memberi diri untuk fir-

man Tuhan  dan untuk berdoa.  

Sekarang perhatikanlah: 

(1)  Apa yang diminta si pengurus kebun anggur itu. Yang di-

mintanya yaitu  penundaan waktu: “Tuan, biarkanlah dia 

tumbuh tahun ini lagi.” Ia tidak berkata, “Tuan, pohon itu 

jangan ditebang,” melainkan, “Tuan, jangan sekarang. 

Tuan, jangan usir pengurus kebun anggur, jangan halang-

halangi embun yang menetes, dan jangan cabut pohon itu.”  

Perhatikanlah:  

[1] Pohon yang tidak berbuah memang sebaiknya diberi 

kesempatan selama beberapa waktu lagi untuk ber-

buah. Sebagian orang belum diberi anugerah untuk ber-

tobat, jadi mereka yang diberi kesempatan untuk berto-

bat berarti beroleh kemurahan, seperti yang pernah 

terjadi pada bumi di zaman dulu, dengan diberikannya 

waktu selama seratus dua puluh tahun untuk berdamai 

dengan Tuhan .  

[2] Kita berutang kepada Kristus, Sang Pengantara agung, 

sehingga pohon-pohon yang tidak berbuah tidak lang-

sung ditebang. Seandainya bukan sebab  pengantara-

an-Nya, seluruh dunia pasti sudah dibabat habis kare-

na dosa Adam. namun  Kristus berkata, “Tuan, biarkan-

lah dia,” dan Dialah yang menopang segala sesuatu.  

[3] Kita didorong untuk berdoa kepada Tuhan  agar Ia berbe-

las kasihan untuk memberikan lebih banyak kesempat-

an lagi kepada pohon-pohon yang tidak berbuah: “Tuan, 

biarkanlah mereka, biarkanlah mereka sedikit lebih 

lama lagi dalam masa ujian mereka. Bersabarlah de-

ngan mereka sebentar lagi, dan bermurah hatilah kepa-

da mereka.” Demikianlah kita harus menengahi suatu 

masalah untuk menghilangkan murka.  

[4] Penundaan hukuman sebab  belas kasihan itu hanya-

lah untuk sementara. Biarkanlah dia tumbuh tahun ini 

lagi, waktu yang singkat, namun  cukup untuk mencoba. 

jika  Tuhan  sudah lama bersabar, kita boleh saja ber-

harap bahwa Dia akan bersabar sebentar lagi, namun  

kita tidak bisa berharap bahwa Ia akan selalu bersabar.  

[5] Penundaan waktu dapat diberikan melalui doa-doa 

orang lain bagi kita, namun  tidak pengampunan. Kita 

sendirilah yang harus menunjukkan iman, pertobatan, 

dan doa-doa, sebab kalau tidak, maka tidak akan ada 

pengampunan.   

(2) Bagaimana ia berjanji untuk memanfaatkan kesempatan 

ini, jika itu diberikan: “Aku akan mencangkul tanah seke-

lilingnya dan memberi pupuk kepadanya.”  

Perhatikanlah:  

[1]  Secara umum, doa-doa kita harus selalu disertai de-

ngan usaha. Pengurus kebun anggur itu tampaknya 

berkata, “Tuan, mungkin aku tidak melakukan apa 

yang seharusnya kulakukan. namun  biarkanlah pohon 

itu untuk tahun ini, dan aku akan melakukan lebih 

daripada yang sudah kulakukan untuk membuat pohon 

itu berbuah.” Demikianlah, dalam semua doa kita, kita 

harus memohon anugerah Tuhan , sambil dengan rendah 

hati berketetapan untuk melakukan kewajiban kita, 

sebab kalau tidak, kita hanya mengolok-olok Tuhan , dan 

menunjukkan bahwa kita tidak menghargai dengan be-

nar semua belas kasihan yang kita minta.  

[2] Secara khusus, saat  kita meminta kepada Tuhan  anu-

gerah untuk diri kita sendiri atau untuk orang lain, kita 

harus tekun menindaklanjuti doa-doa kita dengan 

menggunakan sarana anugerah. Pengurus kebun ang-

gur itu berjanji melakukan bagiannya, dan ini meng-

ajarkan agar hamba-hamba Tuhan melakukan apa yang 

menjadi bagian mereka. Ia akan mencangkul tanah di 

sekeliling pohon itu dan akan memberinya pupuk. 

Orang-orang Kristen yang tidak berbuah harus disen-

takkan dengan ancaman-ancaman hukum, yang mem-

buka tanah baru, dan sesudah  itu didorong dengan janji-

janji Injil, yang menghangatkan dan menyuburkan, 

seperti pupuk bagi pohon. Kedua cara ini harus dicoba, 

cara yang satu merupakan persiapan bagi cara yang 

lain, dan keduanya saling melengkapi.   

(3) Sampai mana pengurus kebun anggur itu menempatkan 

permasalahannya: “Mari kita coba, mari kita coba lakukan 

sebisanya dengan pohon itu satu tahun lagi, dan jika ia 

berbuah, itu baik (ay. 9). Mungkin saja, bahkan ada harap-

an, bahwa pohon itu akan berbuah.” Dalam harapan ini, si 

pemilik kebun anggur akan bersabar dengannya, dan si 

pengurus akan berusaha merawatnya, dan jika pohon itu 

berbuah seperti yang diharapkan, maka baik si pemilik 

maupun si pengurus akan senang bahwa pohon itu tidak 

ditebang. Perkataan “itu baik” [yang ada dalam terjemahan 

KJV – pen.] tidak ada dalam bahasa aslinya, namun  ekspresi-

nya menjadi terpotong: jika pohon itu berbuah! – di sini kita 

bisa menambahkan seruan sukacita apa saja untuk meng-

ungkapkan betapa luar biasa gembiranya sang pemilik 

maupun pengurus kebun anggur itu. Jika pohon itu ber-

buah, maka akan ada alasan untuk bersukacita, sebab  

kita memiliki apa yang ingin kita miliki. Jadi, tepatlah un-

tuk mengatakan: itu baik. Perhatikanlah, orang-orang 

percaya yang tidak kunjung-kunjung berbuah, namun  ke-

mudian bertobat, memperbaiki kelakuan, dan berbuah, 

akan mendapati bahwa segala sesuatunya baik. Tuhan  akan 

senang, sebab Ia akan dipuji. Tangan hamba-hamba Tuhan 

akan dikuatkan, dan orang-orang yang bertobat itu akan 

menjadi sukacita bagi mereka pada masa sekarang ini, dan 

akan menjadi mahkota bagi mereka tidak lama lagi. Tidak 

itu saja, bahkan akan ada sukacita di sorga untuk perto-

batan ini. Tanah tidak akan terbebani lagi, melainkan men-

jadi lebih subur, kebun anggur akan dibuat lebih indah, 

dan pohon-pohon yang baik di dalamnya akan dibuat men-

jadi lebih baik lagi. Keadaan ini pun baik bagi pohon itu 

sendiri. Ia bukan hanya tidak ditebang, melainkan juga 

akan menerima berkat dari Tuhan  (Ibr. 6:7). Pohon itu akan 

dibersihkan, dan akan lebih banyak berbuah, sebab Bapa-

lah pengusahanya (Yoh. 15:2), dan ia pada akhirnya akan 

dicangkokkan dari kebun anggur di bumi ke sorga di atas.     

namun , kemudian si pengurus kebun anggur itu juga 

menambahkan, “Jika tidak, tebanglah dia.”  

Perhatikanlah di sini:  

[1] Bahwa, walaupun Tuhan  panjang sabar, Ia tidak akan 

selalu bersabar dengan orang-orang percaya yang tidak 

berbuah. Kesabaran-Nya ada batasnya, dan jika kesa-

baran itu dilecehkan, maka ini akan membuka jalan 

bagi murka yang tiada akhir. Pohon-pohon yang tidak 

berbuah pada akhirnya pasti akan ditebang, dan dilem-

parkan ke dalam api.  

[2] Semakin lama Tuhan  menunggu, dan semakin besar har-

ga yang harus Ia bayar untuk mereka, maka semakin 

besarlah kehancuran yang akan mereka alami. Ditebang 

sesudah semuanya itu, sesudah segala pengharapan di-

harapkan darinya, segala perundingan dibuat untuk-

nya, dan segala kepedulian ditujukan terhadapnya, me-

mang akan sangat menyedihkan, dan akan memper-

berat hukuman yang diterimanya.  

[3] Menebang, walaupun harus dilakukan, yaitu  pekerja-

an yang sebenarnya tidak disenangi Tuhan , sebab , si 

pemilik itu menyuruh pengurus kebun anggur, “Tebang-

lah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan 

percuma!” ”Tidak,” kata si pengurus itu kemudian, “jika 

itu pada akhirnya harus dilakukan, engkau sendirilah 

yang harus menebangnya, aku tidak mau ikut campur 

tangan dalam hal ini.”  

[4] Orang-orang yang sekarang menjadi pengantara bagi 

pohon-pohon yang tidak berbuah dan bersusah payah 

mengurusnya, jika pohon itu tetap tidak berbuah, ma-

lah akan merasa puas melihat pohon-pohon itu dite-

bang, dan tidak akan mengatakan apa-apa lagi untuk 

membelanya. Sahabat-sahabatnya akan menerima, 

bahkan akan menyetujui dan menyambut dengan se-

nang hati penghakiman Tuhan  yang benar itu, pada hari 

penghakiman itu dinyatakan (Why. 15:3-4).    

Perempuan yang Sakit Disembuhkan 

(13:10-17) 

10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat 

pada hari Sabat. 11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas 

tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak 

dapat berdiri lagi dengan tegak. 12 saat  Yesus melihat perempuan itu, Ia 

memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” 

13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan sesaat  itu juga 

berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Tuhan . 14 namun  kepala rumah 

ibadat gusar sebab  Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia 

berkata kepada orang banyak: “Ada enam hari untuk bekerja. sebab  itu 

datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari 

Sabat.” 15 namun  Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, 

bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya 

pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 

Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, 

harus dilepaskan dari ikatannya itu, sebab  ia yaitu  keturunan Abraham?” 

17 Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan 

semua orang banyak bersukacita sebab  segala perkara mulia, yang telah 

dilakukan-Nya. 

Di sini ada :  

I.   Mujizat kesembuhan yang dialami seorang perempuan yang su-

dah lama dirasuk roh sehingga ia sakit. Yesus Tuhan kita meng-

habiskan hari-hari Sabat-Nya di rumah ibadat (ay. 10). Kita pun 

harus berusaha membangun kesadaran untuk berbuat demikian, 

saat  ada kesempatan, dan jangan berpikir bahwa kita dapat

 menghabiskan hari Sabat dengan sama baiknya di rumah dengan 

membaca artikel  yang bagus; sebab pertemuan ibadat yaitu  kete-

tapan ilahi, dan kita harus memberi kesaksian mengenainya, wa-

laupun hanya kepada dua atau tiga orang. saat  Ia berada di 

rumah ibadat pada hari Sabat, Ia sedang mengajar di sana – en 

didaskon. Perkataan ini menunjukkan suatu tindakan yang dila-

kukan terus-menerus. Ia masih mengajarkan pengetahuan kepada 

orang banyak. saat  Kristus sedang mengajar, Ia melakukan se-

suatu yang memang sudah menjadi bawaan-Nya. Nah, untuk me-

nguatkan ajaran yang disampaikan-Nya, dan untuk menyuguh-

kannya sebagai suatu ajaran yang benar dan patut diterima sepe-

nuhnya, Ia mengadakan suatu mujizat, mujizat yang timbul dari 

belas kasihan.     

1.  Orang yang menjadi sasaran belas kasihan itu yaitu  seorang 

perempuan di rumah ibadat yang telah delapan belas tahun 

dirasuk roh sehingga ia sakit (ay. 11). Ia mempunyai suatu 

penyakit yang atas seizin Tuhan  ditimpakan kepadanya oleh roh 

jahat. Penyakit itu sedemikian rupa sampai membuat pung-

gungnya bungkuk sebab  sawan yang parah, dan ia tidak 

dapat berdiri lagi dengan tegak. sebab  sudah sedemikian 

lama, penyakit itu pun tidak dapat disembuhkan lagi. Dia 

tidak dapat berdiri tegak, yang merupakan posisi tubuh yang 

membuat manusia lebih mulia dari binatang. Lihatlah, ia 

sedang menderita penyakit yang membuat tubuhnya menjadi 

sangat rusak dan menjadikannya tampak hina. Dan bukan itu 

saja, penyakit ini membuatnya merasa sangat sakit saat  

bergerak. Sekalipun demikian, ia toh tetap saja pergi ke rumah 

ibadat pada hari Sabat. Perhatikanlah, bahkan penyakit-pe-

nyakit tubuh, asalkan memang tidak terlalu parah, tidaklah 

boleh menghalang-halangi kita untuk menghadiri ibadah ber-

sama pada hari Sabat, sebab Tuhan  dapat menolong kita jauh 

melebihi apa yang dapat kita harapkan.      

2. Dengan menawarkan kesembuhan kepada orang yang tidak 

memintanya, ini menunjukkan belas kasihan dan anugerah 

Kristus yang mau bertindak bahkan sebelum kita sendiri me-

minta dari Dia: saat  Yesus melihat perempuan itu, Ia me-

manggil dia (ay. 12). Tidak tampak bahwa perempuan itu me-

nyampaikan suatu permohonan apa pun kepadanya, atau 

mengharapkan suatu hal apa pun dari-Nya. Namun demikian 


 496

sebelum dia memanggil, Kristus sudah menjawab. Perempuan 

itu datang kepada-Nya untuk diajar, dan untuk mendapatkan 

suatu hal yang baik bagi jiwanya, dan Kristus memberikan 

kelegaan kepadanya atas penyakit tubuhnya ini. Perhatikan-

lah, orang yang pertama-tama dan terutama memperhatikan 

jiwanya yaitu  orang yang dengan benar memedulikan kepen-

tingan-kepentingan tubuhnya yang sesungguhnya, sebab se-

muanya itu akan ditambahkan kepadanya. Kristus dalam Injil-

Nya memanggil dan mengundang orang-orang yang sedang 

menderita penyakit rohani untuk datang kepada-Nya agar di-

sembuhkan, dan jika Ia yang memanggil kita, maka pastilah Ia 

akan menolong kita pada saat kita datang kepada-Nya.  

3. Kesembuhan yang segera terjadi dengan berhasil itu menun-

jukkan kuat kuasa-Nya. Ia meletakkan tangan-Nya atas perem-

puan itu, dan berkata, “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh. 

Meskipun engkau sudah lama menderita sebab  pernyakitmu 

itu, engkau kini bebas darinya.” sebab  itu, bagi yang mempu-

nyai penyakit yang sudah mendarah daging dan sudah berta-

hun-tahun menderita sebab nya, janganlah berputus asa. 

Tuhan  sanggup membebaskan mereka pada akhirnya, meski-

pun mereka harus bersedia menunggu-nunggu saat-Nya. Se-

kalipun yang mencengkeram perempuan itu yaitu  roh yang 

membuat ia sakit, suatu roh jahat, Kristus mempunyai kuasa 

yang melebihi kuasa Iblis itu, Ia lebih kuat darinya. Meskipun 

ia tidak dapat berdiri lagi dengan tegak, Kristus dapat mene-

gakkannya dan memampukan dia untuk menegakkan dirinya 

sendiri. Ia yang dulunya bungkuk kini ditegakkan, dan dengan 

demikian genaplah apa yang dikatakan Kitab Suci (Mzm. 

146:8): TUHAN menegakkan orang yang tertunduk. Penyem-

buhan ini melambangkan pekerjaan anugerah Kristus dalam 

jiwa-jiwa manusia:  

(1) Dalam pertobatan para pendosa. Hati yang tidak kudus 

berada di bawah kuasa roh sakit-penyakit seperti ini. Hati 

menjadi rusak, semua fungsi dan kemampuannya tidak 

berfungsi dengan baik. Hati ditundukkan mengikuti per-

kara-perkara di bawah. O curvæ in terram animæ! Hati sa-

ma sekali tidak dapat tegak dengan kekuatan sendiri meng-

hadap Tuhan  dan sorga. Bengkoknya jiwa dalam kodratnya 

yang rusak itu telah membuat jiwa itu mengarah jauh dari 

Injil Lukas 13:10-17 

 497 

Tuhan . Jiwa-jiwa yang bungkuk seperti itu tidak akan men-

cari Kristus. Namun demikian, Ia memanggil mereka ke-

pada-Nya, meletakkan tangan kuasa dan anugerah-Nya 

atas mereka, mengucapkan kata-kata kesembuhan kepada 

mereka, dan dengan begitu Ia membebaskan mereka dari 

penyakit, menegakkan jiwa mereka, membuatnya tertib 

kembali, membawanya naik mengatasi perkara-perkara du-

niawi, dan mengarahkan segala perasaan dan tujuannya ke 

sorga. Meskipun manusia tidak dapat meluruskan apa yang 

telah dibengkokkan Tuhan  (Pkh. 7:13), anugerah Tuhan  dapat 

meluruskan apa yang telah dibengkokkan dosa.  

(2) Dalam penghiburan orang-orang benar. Banyak anak Tuhan  

sudah lama berada di bawah kuasa roh sakit penyakit, roh 

perbudakan. Melalui dukacita dan ketakutan yang meraja-

lela, jiwa mereka tertekan dan gelisah dalam diri mereka, 

mereka kebingungan, mereka terbungkuk-bungkuk, sangat 

tertunduk, dan sepanjang hari mereka berjalan dengan 

dukacita (Mzm. 38:7). Namun Kristus, melalui Roh-Nya 

yang menjadikan kita anak-anak Tuhan , membebaskan me-

reka dari sakit penyakit ini pada waktu yang tepat, dan 

menegakkan mereka kembali.      

 4. Dampak dari kesembuhan ini pada jiwa sekaligus tubuh pe-

rempuan yang sakit pada waktu itu. Ia langsung memuliakan 

Tuhan , memuji Dia yang layak menerima segala pujian atas ke-

sembuhannya ini. saat  jiwa-jiwa yang bungkuk ditegakkan, 

mereka akan menunjukkannya dengan memuliakan Tuhan .  

II.  Pelanggaran yang dituduhkan kepala rumah ibadat kepada Yesus 

atas peristiwa penyembuhan ini, seolah-olah Yesus Tuhan kita 

telah melakukan suatu kejahataan yang sangat keji dengan me-

nyembuhkan perempuan malang ini. Dia gusar sebab nya, sebab 

hal itu terjadi pada hari Sabat (ay. 14). Orang mungkin berpikir 

bahwa mujizat itu pasti akan meyakinkan hatinya, sekalipun 

terjadi pada hari Sabat. Namun seberapa pun terang dan kuatnya 

cahaya bersinar, roh kefanatikan dan permusuhan akan tetap 

menutup mata orang dari Kristus dan Injil-Nya. Belum pernah ru-

mah ibadat yang dipimpinnya ini diberi kehormatan sedemikian 

rupa seperti yang diberikan Kristus sekarang, namun demikian ia 

merasa gusar sebab nya. Ia memang tidak berbuat kurang ajar 


 498

sampai bertengkar dengan Kristus, namun ia berkata kepada 

orang banyak, sambil menyinggung Kristus, “Ada enam hari untuk 

bekerja. sebab  itu datanglah pada salah satu hari itu untuk 

disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Lihatlah bagaimana ia 

meremehkan mujizat-mujizat yang diadakan Kristus, seolah-olah 

semua mujizat itu hanyalah hal-hal yang biasa terjadi dan tidak 

lebih dari apa yang biasa dilakukan dukun atau tukang obat se-

tiap hari: “Datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuh-

kan.” Dalam pandangan matanya, penyembuhan-penyembuhan 

yang diadakan Kristus telah menjadi suatu hal yang biasa dan 

murahan. Lihat juga bagaimana dia menafsirkan hukum Taurat 

melebihi apa yang sebenarnya dimaksudkan, atau menambah-

nambahkan kehendaknya sendiri ke dalamnya, dengan meman-

dang bahwa penyembuhan atau disembuhkan dengan jamahan 

tangan, atau dengan kata-kata yang diucapkan, merupakan suatu 

pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat. Kesembuhan ini jelas 

merupakan pekerjaan Tuhan . Selain itu, saat  Tuhan  mengikat kita 

untuk tidak bekerja pada hari Sabat, apakah Dia juga mengikat 

diri-Nya sendiri? Kata Ibrani yang sama (khesed) mencakup arti 

saleh maupun berbelas kasihan, yang menunjukkan bahwa pe-

kerjaan belas kasihan dan kasih atau amal itu keduanya berke-

nan kepada Tuhan  (1Tim. 5:4), dan sebab  itu sangat pantas untuk 

dilakukan pada hari Sabat.   

III. Pembenaran Kristus terhadap diri-Nya sendiri atas apa yang telah 

diperbuat-Nya (ay. 15): namun  Tuhan menjawab dia, seperti jawab-

an-jawaban-Nya kepada orang lain yang juga mengecam-Nya de-

ngan cara yang serupa, “Hai orang-orang munafik.” Kristus, yang 

mengetahui hati manusia, bisa menyebut orang munafik, namun  

lancanglah kita kalau sampai melakukannya. Kita harus mengha-

kimi dengan kasih dan demi tujuan baik, dan hanya bisa mengha-

kimi menurut apa yang tampak dari luarnya saja. Kristus tahu 

bahwa kepala rumah ibadat itu benar-benar memusuhi Dia dan 

Injil-Nya, bahwa ia hanya menutup-nutupinya dengan berpura-

pura menghormati hari Sabat, dan bahwa saat  ia meminta 

orang banyak untuk datang pada salah satu dari enam hari itu 

untuk disembuhkan, ia sebenarnya tidak ingin mereka disembuh-

kan pada hari apa pun juga. Kristus bisa saja mengatakan hal ini 

Injil Lukas 13:10-17 

 499 

kepadanya, namun Ia lebih memilih untuk menjelaskan permasa-

lahan ini kepadanya; dan,   

1.  Ia memintanya untuk melihat kebiasaan orang Yahudi, yang ti-

dak pernah dilarang, dalam memberi minum hewan ternak me-

reka pada hari Sabat. Hewan ternak yang dikurung di dalam 

kandang biasanya dilepas dari kandangnya pada hari Sabat, 

dan dibawa ke tempat minuman. Sungguh keterlaluan jika me-

reka tidak melakukannya, sebab orang yang berbelas kasihan 

memperhatikan hidup hewannya, hewan miliknya yang mela-

yaninya. Membiarkan hewan beristirahat dan berpuasa pada 

hari Sabat, seperti yang diperintahkan hukum, akan lebih bu-

ruk daripada menyuruh mereka bekerja, seperti hewan-hewan 

orang Niniwe pada hari mereka berpuasa, yang tidak boleh 

makan rumput dan tidak boleh minum air (Yun. 3:7).    

 2. Ia menerapkan contoh ini pada permasalahan yang sedang ter-

jadi (ay. 16): “Haruskah lembu dan keledai diberi belas kasihan 

pada hari Sabat, dan diberi begitu banyak waktu dan tenaga 

untuk diurus setiap hari Sabat, untuk dilepaskan dari kan-

dang, dibawa ke tempat minuman yang mungkin jauh, dan ke-

mudian dibawa kembali lagi ke kandang, sedangkan perem-

puan ini, tidak bolehkah ia, hanya dengan jamahan tangan 

dan ucapan kata-kata, dilepaskan dari penderitaannya yang 

jauh lebih dahsyat daripada yang dirasakan hewan ternak 

yang dikurung di dalam kandang seharian tanpa diberi mi-

num? Sebab, coba pertimbangkan,”  

(1) “Dia ini seorang keturunan Abraham, bapa leluhur yang 

membuat kamu semua bangga sebab  kamu mempunyai 

hubungan kekerabatan dengannya. Dia ini saudarimu, jadi 

apakah dia tidak boleh menerima kebaikan yang kamu 

sendiri berikan kepada seekor lembu atau keledai, dengan 

sedikit tidak mengindahkan keketatan hukum pada hari 

Sabat itu, yang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk ketat 

sedemikian rupa? Dia yaitu  seorang keturunan Abraham, 

dan sebab  itu berhak menerima berkat-berkat Mesias, 

menerima roti yang disediakan bagi anak-anak.”  

(2) “Dia ini diikat oleh Iblis. Iblislah yang mendatangkan pen-

deritaan itu kepadanya, dan sebab  itu menghancurkan 

kuasa Iblis dan mengobrak-abrik rancangannya bukan ha-


 500

nya merupakan suatu tindakan kasih kepada perempuan 

yang malang ini, melainkan juga suatu tindakan yang saleh 

kepada Tuhan .”  

(3) “Dia sudah berada dalam kondisi yang mengenaskan ini se-

lama, bayangkan, delapan belas tahun! Maka dari itu, kare-

na sekarang ada kesempatan untuk membebaskannya, hal 

ini tidak boleh ditunda sehari lagi seperti yang kamu minta, 

sebab kamu semua pun pasti sependapat bahwa cukuplah 

sudah penderitaan delapan belas tahun itu.”       

IV. Dampak berbeda yang ditimbulkan perkataan ini pada diri orang-

orang yang mendengar-Nya. Sudah cukup jelas Kristus menjelas-

kan bahwa bukan hanya boleh, namun  juga sangat pantas dan 

patut untuk menyembuhkan perempuan yang malang ini pada 

hari Sabat dan di tempat ibadat di depan umum seperti ini, su-

paya mereka semua bisa menjadi saksi atas mujizat itu.  

Sekarang perhatikanlah:     

1.  Bagaimana musuh-musuh-Nya yang berniat jahat menjadi ke-

bingungan dibuatnya: waktu Ia berkata demikian, semua 

lawan-Nya merasa malu (ay. 17). Mereka dibungkamkan dan 

dikejutkan oleh perkataan-Nya, dan tidak bisa mengatakan se-

patah kata pun untuk membela diri. Perasaan malu yang me-

reka rasakan itu tidaklah mendatangkan pertobatan, melain-

kan sebaliknya, kegeraman. Perhatikanlah, cepat atau lambat 

semua orang yang memusuhi Kristus beserta segala ajaran 

dan mujizat-Nya akan dipermalukan.   

2.  Bagaimana peristiwa ini meneguhkan iman teman-teman-Nya: 

semua orang banyak, yang lebih sehat dalam memandang se-

gala sesuatu, dan lebih adil dalam menilai dibandingkan para 

pemimpin, bersukacita sebab  segala perkara mulia yang telah 

dilakukan-Nya. Rasa malu musuh-musuh-Nya yaitu  sukacita 

para pengikut-Nya. Kemajuan kepentingan-Nya membuat pi-

hak yang satu kesal dan pihak yang lain bersorak-sorai. Per-

kara-perkara yang dilakukan Kristus yaitu  perkara yang mu-

lia. Semuanya mulia, dan walaupun kemuliaannya itu seka-

rang tertutup oleh awan, kelak akan tampak dengan jelas, dan 

kita harus bersukacita di dalamnya. Segala sesuatu yang

Injil Lukas 13:18-22 

 501 

 membawa kehormatan bagi Kristus membawa penghiburan 

bagi orang-orang Kristen. 

Perumpamaan tentang Biji Sesawi dan Ragi 

(13:18-22) 

18 Maka kata Yesus: “Seumpama apakah hal Kerajaan Tuhan  dan dengan 

apakah Aku akan mengumpamakannya? 19 Ia seumpama biji sesawi, yang di-

ambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon 

dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.” 20 Dan Ia 

berkata lagi: “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Tuhan ? 21 

Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam 

tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” 22 Kemudian Yesus 

berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan 

meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. 

Dalam perikop di atas kita lihat:  

I. Kemajuan Injil dinubuatkan dalam dua perumpamaan, yang su-

dah kita lihat sebelumnya dalam Matius 13:31-33. Kerajaan Me-

sias yaitu  Kerajaan Tuhan , sebab ia mengedepankan dan me-

wartakan kemuliaan-Nya. Kerajaan ini masih merupakan suatu 

misteri pada waktu itu, dan orang banyak pada umumnya masih 

buta dan keliru mengenai Kerajaan itu sesungguhnya. Nah, biasa-

nya jika  kita ingin menjelaskan suatu hal kepada orang yang 

masih belum mengenal hal ini , kita bisa menggambarkannya 

melalui perbandingan dengan suatu hal lain. “Orang yang seperti 

itu tidak kamu ketahui, namun  Aku akan memberi tahu kamu 

mirip apa dia itu.” Demikianlah Kristus di sini berusaha menun-

jukkan seumpama apakah hal Kerajaan Tuhan  itu (ay. 18): “Dengan 

apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Tuhan ? (ay. 20). Ia 

sangat berbeda daripada apa yang kamu harapkan, dan ia akan 

bekerja, dan berhasil dalam pekerjaannya, dengan cara yang 

sangat berbeda pula.” 

1.  “Kamu menyangka Kerajaan itu akan tampak hebat, dan akan 

mencapai kesempurnaannya secara tiba-tiba. namun  kamu 

keliru, sebab ia seumpama biji sesawi, benda yang kecil, yang 

tidak membutuhkan tempat luas untuk menanamnya, bentuk-

nya mungil, dan hanya menjanjikan sedikit hal, namun apa-

bila ditaburkan di tanah yang cocok, ia akan tumbuh dan men-

jadi pohon,” (ay. 19). Mungkin banyak orang mempunyai pra-


 502

sangka buruk terhadap Injil dan enggan menaatinya, sebab 

pada permulaannya ia tampak begitu kecil. Mereka akan lang-

sung berkata tentang Kristus, “Dapatkah orang ini menyela-

matkan kita?” dan tentang Injil-Nya, “Mungkinkah ini bisa ber-

kembang menjadi sesuatu yang baik?” Nah, Kristus ingin 

menghilangkan prasangka-prasangka semacam itu dengan 

meyakinkan mereka bahwa meskipun pada permulaannya Ke-

rajaan itu tampak kecil, pada akhirnya ia akan menjadi sangat 

besar, sehingga banyak yang akan datang, datang dengan 

sayapnya, dan terbang seperti awan, untuk bersarang di ca-

bang-cabangnya dengan lebih aman dan lebih nyaman dari-

pada di cabang-cabang pohon Nebukadnezar (Dan. 4:21).  

 2. “Kamu menyangka ia akan bekerja dengan sarana-sarana la-

hiriah, dengan menaklukkan bangsa-bangsa dan mengalahkan 

bala tentara. Tidak! ia akan bekerja seperti ragi, dengan diam-

diam dan tidak terasa, dan tanpa paksaan atau kekerasan (ay. 

21). Sedikit ragi membuat khamir seluruh adonan, demikian 

pula ajaran Kristus akan tersebar dengan ajaib ke seluruh 

dunia umat manusia. Dalam hal inilah Kerajaan itu menang, 

yaitu bahwa keharuman pengenalan akan dia dinyatakan di 

mana-mana dengan cara yang tidak diketahui, melebihi apa 

yang dapat diharapkan (2Kor. 2:14). namun  kamu harus mem-

berinya waktu, menunggu sampai Injil diberitakan kepada du-

nia, dan kamu akan melihat bahwa ia melakukan perkara-per-

kara ajaib, dan mengubah jiwa-jiwa manusia sehingga menjadi 

milik Tuhan . Dengan perlahan-lahan, seluruhnya akan khamir, 

bahkan, seperti tepung terigu dan ragi, akan ada banyak orang 

yang dipersiapkan untuk menerima keharumannya.”  

II.  Perjalanan Kristus menuju Yerusalem dicatat: kemudian Yesus 

berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil 

mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem (ay. 22). 

Di sini kita mendapati Kristus pergi berkeliling, berkeliling untuk 

mengajar, sambil melanjutkan perjalanan-Nya ke Yerusalem, un-

tuk menghadiri hari raya pentahbisan, yang berlangsung pada 

musim dingin, saat  sangat tidak nyaman untuk melakukan per-

jalanan. Namun demikian, Ia ingin melakukan pekerjaan Bapa, 

dan sebab  itu, entah di kota ataupun di desa yang dilewati-Nya, 

Ia menyampaikan satu-dua khotbah kepada orang-orang di sana,

Injil Lukas 13:23-30 

 503 

 dan bukan hanya di kota-kota saja melainkan juga di desa-desa 

kecil. Ke mana pun Pemeliharaan Tuhan  membawa kita, kita harus 

berusaha melakukan segala kebaikan yang dapat kita lakukan.    

Peringatan terhadap Rasa Ingin Tahu yang Berlebihan;  

Nasib Orang-orang yang Mengaku Percaya  

Namun Berdosa  

(13:23-30) 

23 Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang 

yang diselamatkan?” 24 Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuang-

lah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepada-

mu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, namun  tidak akan dapat. 25 

Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri 

di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami 

pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari 

mana kamu datang. 26 Maka kamu akan berkata: Kami telah makan dan mi-

num di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. 27 

namun  Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, 

enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! 28 

Di sanalah akan ada  ratap dan kertak gigi, jika  kamu akan melihat 

Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Tuhan , te-

tapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. 29 Dan orang akan datang dari Timur 

dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di da-

lam Kerajaan Tuhan . 30 Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan 

menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan 

menjadi orang yang terakhir.” 

Di sini kita mendapati: 

I.   Pertanyaan yang diajukan kepada Yesus Tuhan kita. Kita tidak di-

beri tahu siapa yang mengajukan pertanyaan itu, entah kawan 

atau lawan, sebab Kristus memberikan kebebasan kepada semua 

orang untuk bertanya kepada-Nya, dan Ia juga memberikan 

jawaban bagi segala pikiran dan maksud hati. Pertanyaannya ada-

lah, “Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (ay. 23): ei oligoi 

hoi sozomenoi – “Apakah yang diselamatkan sedikit? Guru, aku 

sudah mendengar bahwa Engkau mengatakannya; benarkah itu?”  

1. Mungkin ini pertanyaan yang menjebak. Orang itu mengaju-

kannya kepada Kristus, sebab  ia ingin menguji-Nya, dengan 

maksud untuk menjerat Dia dan menjelek-jelekkan nama-Nya. 

Jika Dia berkata bahwa banyak orang akan diselamatkan, 

mereka akan mencela Dia sebab  bersikap terlalu longgar dan 

membuat keselamatan seperti barang murahan. Sebaliknya, 


 504

jika Dia berkata hanya sedikit saja yang diselamatkan, mereka 

akan mencela Dia sebab  bersikap keras dan kaku. Alim 

ulama Yahudi berkata bahwa semua orang Israel akan menda-

patkan tempat di dunia yang akan datang, jadi apakah Dia be-

rani menentang perkataan itu? Orang-orang yang sudah dije-

jali dengan suatu gagasan yang rusak biasanya akan menjadi-

kan gagasan mereka itu sebagai patokan untuk menghakimi 

semua orang. Dan tidak ada hal lain di mana manusia lebih 

menyingkapkan ketidaktahuan, keangkuhan, dan keberpihak-

an mereka selain dalam menghakimi keselamatan orang lain. 

2. Mungkin itu pertanyaan yang diajukan sebab  rasa ingin tahu, 

sebuah dugaan yang menarik yang baru-baru ini telah dirun-

dingkannya bersama teman-temannya, dan kini mereka semua 

sepakat untuk mengajukannya kepada Kristus. Perhatikanlah, 

banyak orang lebih ingin tahu tentang siapa yang akan disela-

matkan dan siapa yang tidak, daripada tentang apa yang ha-

rus mereka lakukan supaya diselamatkan. Orang biasanya 

bertanya, “Dapatkah orang seperti ini atau seperti itu disela-

matkan?” Namun, alangkah baiknya bila cukup bagi kita un-

tuk diselamatkan tanpa perlu mengetahui hal-hal seperti ini.  

3. Mungkin itu pertanyaan yang timbul sebab  perasaan takjub. 

Orang itu sudah memperhatikan betapa ketatnya hukum 

Kristus, dan betapa jahatnya dunia ini, dan saat  memban-

dingkan keduanya, berserulah ia, “Betapa sedikitnya orang-

orang yang akan diselamatkan!” Perhatikanlah, beralasanlah 

bagi kita untuk merasa takjub, sebab  dari sekian banyak 

yang diberi kabar keselamatan, hanya sedikit saja yang mene-

rima kabar itu sebagai kabar yang menyelamatkan.  

4. Mungkin itu pertanyaan yang dilontarkan untuk meminta kete-

rangan: “Jika hanya sedikit saja yang diselamatkan, lantas 

bagaimana? Apa dampaknya ini bagiku?” Perhatikanlah, kita 

semua haruslah mawas diri dengan kenyataan ini, bahwa ha-

nya sedikit saja orang yang diselamatkan.  

II.  Jawaban Kristus terhadap pertanyaan ini, yang menuntun kita 

bagaimana seharusnya bertindak atas dasar kebenaran ini. Juru-

selamat kita tidak memberikan jawaban langsung terhadap perta-

nyaan ini, sebab Ia datang untuk membimbing hati nurani manu-

sia, bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka. Janganlah 

Injil Lukas 13:23-30 

 505 

bertanya, “Berapa banyak orang yang akan diselamatkan?”, me-

lainkan, entah banyak atau sedikit, “Apakah saya akan termasuk 

salah satu dari antara mereka?” Janganlah bertanya, “Apa yang 

akan terjadi dengan orang ini dan orang itu, atau apa yang harus 

dilakukan orang ini?”, melainkan, “Apa yang harus aku lakukan, 

dan apa yang akan terjadi pada diriku?”  

Nah, dalam jawaban Kristus itu, amatilah: 

1.  Nasihat dan petunjuk yang menggugah hati: berjuanglah untuk 

masuk melalui pintu yang sesak itu! Ini tidak hanya ditujukan 

kepada orang yang mengajukan pertanyaan itu, melainkan 

juga kepada semua orang, kepada kita, sebab kata ganti yang 

dipakai di sini yaitu  kata ganti jamak: berjuanglah kalian 

[terjemahan KJV – pen.].  

Perhatikanlah:  

(1)  Semua orang yang ingin diselamatkan harus masuk melalui 

pintu yang sesak itu, harus mengalami perubahan seutuh-

nya dalam dirinya, sampai menjadi seperti orang yang dila-

hirkan kembali, dan harus menjalani pola hidup yang ke-

tat.  

(2)  Orang-orang yang ingin masuk melalui pintu yang sesak 

itu harus berjuang untuk memasukinya. Masuk sorga itu 

merupakan hal yang sulit, dan itu tidak akan dicapai tanpa 

banyak daya dan upaya, tanpa banyak kesusahan dan ke-

tekunan. Kita harus berjuang dengan Tuhan  di dalam doa, 

bergulat seperti Yakub, berjuang melawan dosa dan Iblis. 

Kita harus berjuang dalam melaksanakan setiap kewajiban 

agama, berjuang dengan hati kita sendiri, agonizesthe – 

“berjerih payah; berjuang seperti orang yang berlari untuk 

mendapatkan hadiah; mengerahkan segala daya dan upaya 

kita.”  

2.  Berbagai perti


Related Posts:

  • lukas 13-24 1 PASAL 13  479 I. Orang-orang Galilea yang Dibunuh (13:1-5) 479 II. Pohon Ara yang Tidak Berbuah (13:6-9)  486 III. Perempuan yang Sakit Disembuhkan (13:10-17) 494 IV. Perumpamaan tentang Bi… Read More