mbangan yang menyadarkan, untuk memper-
kuat nasihat ini. Oh, semoga saja kita semua tergugah oleh
berbagai pertimbangan ini! Ini yaitu pertimbangan yang men-
jawab pertanyaan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?
(1) Pikirkanlah berapa banyak orang yang sudah bersusah
payah untuk memperoleh keselamatan, namun masih juga
binasa sebab belum cukup melakukannya. Bila kita mau
506
merenungkan hal ini, kita akan sadar betapa sedikitnya
orang yang diselamatkan, dan sebab itu kita semua harus
berjuang: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, namun
tidak akan dapat. Mereka ingin, namun tidak mau berjuang.
Perhatikanlah, penyebab mengapa banyak orang tidak
memperoleh anugerah dan kemuliaan yaitu sebab mere-
ka hanya bermalas-malasan dalam mencari sesuatu yang
tidak akan dicapai kalau tanpa perjuangan yang gigih. Me-
reka mempunyai pikiran yang baik tentang kebahagiaan
dan pandangan yang baik tentang kekudusan, dan mereka
juga mengambil langkah-langkah yang baik untuk mengga-
pai keduanya. Namun keinsafan mereka ini lemah. Mereka
tidak merenungkan lebih lanjut apa yang mereka ketahui
dan percayai, dan sebagai akibatnya, keinginan-keinginan
mereka menjadi dingin dan usaha-usaha mereka melemah,
ketetapan hati mereka tidak kokoh atau teguh. Dan sebab
itu, mereka gagal dan kehilangan hadiah, sebab mereka
tidak berusaha untuk terus maju. Kristus membenarkan
hal ini dengan perkataan-Nya: Aku berkata kepadamu, dan
kita dapat mengandalkan perkataan-Nya itu, sebab Ia me-
ngetahui baik itu pikiran-pikiran Tuhan maupun hati anak-
anak manusia.
(2) Pikirkanlah betapa dahsyatnya hari menentukan yang akan
datang itu dan keputusan-keputusan yang akan ditetapkan
pada hari itu, maka kamu akan menyadari betapa sedikit-
nya orang yang diselamatkan, dan sebab itu kita semua
harus berjuang: Tuan rumah akan bangkit dan menutup
pintu (ay. 25). Kristus yaitu Tuan rumah, yang selalu
memperhatikan semua orang yang sering mengunjungi ru-
mah-Nya dan yang bekerja sebagai pelayan-pelayan di da-
lamnya. Ia akan mengamati orang-orang yang datang dan
pergi, yang melewatinya dan yang berbalik untuk melewati-
nya lagi. Sekarang tampaknya Ia membiarkan segala se-
suatu terbuka lebar-lebar, namun akan datang harinya keti-
ka Ia akan bangkit dan menutup pintu. Pintu apakah itu?
[1] Pintu pemisahan. Nah, di dalam bait jemaat ada orang
yang mengaku beriman namun masih hidup dalam keda-
gingan, yang menyembah di pelataran luar, dan ada
orang yang mengaku beriman yang hidup dalam roh,
Injil Lukas 13:23-30
507
yang menyembah di balik tabir. Di antara mereka ini
ada pintu yang sekarang terbuka, dan mereka bertemu
dengan bercampur baur dalam ibadah-ibadah lahiriah
yang sama. Namun, saat Tuan rumah bangkit, pintu di
antara mereka itu akan ditutup, sehingga mereka yang
berada di pelataran luar tetap berada di luar, dan di-
biarkan diinjak-injak oleh bangsa lain (Why. 11:2). Bagi
mereka yang cemar, tutuplah pintu bagi mereka, dan
biarlah mereka terus cemar, supaya mereka yang berada
di dalam tetap berada di dalam, dan mereka yang kudus
tetap menguduskan diri mereka. Pintu itu ditutup untuk
memisahkan antara yang mulia dan yang hina, supaya
orang-orang berdosa tidak lagi berdiri dalam perkumpul-
an orang benar. Maka kamu akan kembali ke tempatmu
dan mengenal perbedaan di antara keduanya.
[2] Pintu penolakan dan pengucilan. Pintu belas kasihan
dan anugerah telah lama terbuka bagi mereka, namun
mereka tidak mau datang melaluinya, tidak mau terge-
rak menerima kebaikan yang ditawarkannya. Sebalik-
nya, mereka malah ingin masuk dengan memanjat jalan
lain, dan masuk sorga dengan kebaikan-kebaikan mere-
ka sendiri. Oleh sebab itu, jika Tuan Rumah bang-
kit, Ia dengan adil akan menutup pintu itu. Janganlah
mereka menyangka bisa masuk melaluinya, namun biar-
lah mereka mengenakan ukuran-ukuran yang mereka
pakai sendiri. Demikianlah, saat Nuh sudah aman di
dalam bahtera, Tuhan menutup pintunya, supaya semua
orang yang mengandalkan tempat perlindungan mereka
sendiri saat air bah datang menerjang dikucilkan.
(3) Pikirkanlah berapa banyak orang yang sangat yakin akan
diselamatkan, namun ternyata ditolak pada hari penghakim-
an dan tertipu oleh keyakinan-keyakinan mereka sendiri.
Bila kita mau merenungkan ini, maka kita akan sadar be-
tapa sedikit saja orang yang diselamatkan dan bahwa kita
semua harus berjuang.
Cermatilah:
[1] Bagaimana mereka merasa yakin akan diperbolehkan
masuk, dan seberapa jauh harapan mereka membawa
508
mereka, bahkan sampai ke pintu sorga. Di sana mereka
berdiri dan mengetok-ngetok, mengetok-ngetok seolah-
olah mereka mempunyai wewenang untuk itu, menge-
tok-ngetok seolah-olah mereka anggota keluarga, sambil
berkata, “Tuan, bukakanlah kami pintu, sebab kami ya-
kin kami berhak untuk masuk. Bawalah kami masuk
bersama orang-orang yang diselamatkan, agar kami bisa
menggabungkan diri bersama mereka.” Perhatikanlah,
banyak yang dibinasakan oleh harapan mereka yang
keliru tentang sorga. Mereka tidak pernah menyangsi-
kan atau mempertanyakan harapan mereka itu, dan
oleh sebab itu mereka menganggap keadaan mereka
baik-baik saja, sebab mereka tidak pernah meragukan-
nya. Mereka memanggil Kristus, Tuan, seolah-olah me-
reka yaitu para hamba-Nya. Bahkan, sebagai tanda
keteguhan hati mereka, mereka memanggil-Nya Tuan
dua kali, Tuan, Tuan [terjemahan KJV – pen.]. Sekarang
mereka sangat ingin masuk melalui pintu itu, padahal
sebelumnya mereka sangat meremehkannya. Sekarang
dengan senang hati mereka ingin berkumpul bersama
orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh, padahal
sebelumnya mereka secara diam-diam memandang ren-
dah orang-orang Kristen.
[2] Atas dasar-dasar apa mereka memiliki keyakinan ini.
Mari kita lihat apa yang mereka serukan (ay. 26). Per-
tama, mereka telah menjadi tamu-tamu Kristus, telah
bergaul dekat dengan-Nya, dan telah turut berbagi da-
lam kebaikan-kebaikan-Nya: kami telah makan dan
minum di hadapan-Mu, di meja-Mu. Yudas makan roti
bersama Kristus, dan memasukkan tangannya ke dalam
piring bersama Dia. Orang-orang munafik, dengan me-
nyamar di balik ibadah lahiriah mereka, menerima per-
jamuan Tuhan, dan di dalamnya mereka ikut makan
roti yang disediakan bagi anak-anak, seolah-olah me-
reka sendiri termasuk anak-anak. Kedua, mereka telah
menjadi para pendengar Kristus, telah menerima perin-
tah dari-Nya, dan mengenal dengan baik ajaran serta
hukum-Nya: “Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota
kami – ini suatu berkat yang istimewa, yang hanya
Injil Lukas 13:23-30
509
dimiliki sedikit orang, dan pasti ini dapat dipandang se-
bagai suatu janji bahwa mereka juga akan diberi kehor-
matan yang istimewa sekarang, sebab kalau Engkau
mengajar kami, masakan Engkau tidak menyelamatkan
kami?”
[3] Bagaimana keyakinan mereka akan mengecewakan me-
reka, dan semua seruan serta permohonan mereka dito-
lak sebagai sesuatu yang sia-sia. Kristus akan berkata
kepada mereka, “Aku tidak tahu dari mana kamu da-
tang” (ay. 25), dan lagi, “Aku tidak tahu dari mana kamu
datang, enyahlah dari hadapan-Ku” (ay. 27). Ia tidak
menyangkal bahwa apa yang mereka serukan itu benar.
Mereka memang telah makan dan minum di hadapan-
Nya, akan namun , sejalan dengan itu, tidak lama sesudah
mereka memakan roti-Nya, mereka juga mengangkat
tumit menendang Dia. Memang benar bahwa Ia telah
mengajar di jalan-jalan kota mereka, namun benar juga
bahwa mereka telah merendahkan perintah-Nya dan
tidak mau menaatinya. Oleh sebab itu, pertama, Ia
tidak mengakui mereka: “Aku tidak mengenalmu, kamu
bukan dari keluarga-Ku.” Tuhan mengenal siapa kepu-
nyaan-Nya, namun orang-orang yang bukan kepunyaan-
Nya, yang tidak dikenal-Nya, Ia tidak mempunyai urus-
an apa-apa dengan mereka: “Aku tidak tahu dari mana
kamu datang. Kamu bukan kepunyaan-Ku, kamu bu-
kan dari atas, kamu bukan ranting-ranting dalam ru-
mah-Ku, dalam kebun anggur-Ku.” Kedua, Ia mencam-
pakkan mereka: “Enyahlah dari hadapan-Ku.” Dicam-
pakkan dari Kristus yaitu neraka dari segala neraka,
kesengsaraan yang paling ngeri yang dirasakan orang-
orang terkutuk. “Enyahlah dari pintu-Ku, sebab tidak
ada apa pun di sini untukmu, bahkan setetes air sekali-
pun.” Ketiga, Ia menyebutkan suatu perbuatan mereka
yang menyebabkan kebinasaan mereka: hai kamu seka-
lian yang melakukan kejahatan. Inilah kehancuran me-
reka, bahwa di balik kesalehan lahiriah yang mereka
perlihatkan, mereka merahasiakan dosa-dosa yang
terus membayangi mereka, dan melakukan pekerjaan
Iblis dengan memakai pakaian Kristus.
510
[4] Bagaimana mengerikannya hukuman mereka nanti (ay.
28): di sanalah akan ada ratap dan kertak gigi, pen-
deritaan dan kemarahan yang teramat dahsyat. Yang
menyebabkan semua itu, dan yang semakin menambah
penderitaan serta kemarahan mereka yaitu saat me-
reka melihat kebahagiaan orang-orang yang diselamat-
kan: kamu akan melihat Abraham, Ishak, dan Yakub
dan semua nabi di dalam Kerajaan Tuhan , namun kamu
sendiri dicampakkan keluar. Perhatikanlah di sini, per-
tama, bahwa orang-orang kudus dari Perjanjian Lama
sekarang ada di dalam Kerajaan Tuhan . Orang-orang
yang meninggal sebelum kedatangan Mesias diberi ke-
untungan oleh sang Mesias sendiri, sebab mereka meli-
hat hari-Nya dari jauh, dan hal itu mendatangkan peng-
hiburan bagi mereka. Kedua, bahwa orang-orang ber-
dosa dalam Perjanjian Baru akan dihalau dari Kerajaan
Tuhan . Ini menyiratkan bahwa mereka akan berusaha
masuk, dan menganggap diri mereka layak masuk, te-
tapi ternyata sia-sia saja. Mereka akan diusir pergi de-
ngan memalukan, sebagai orang-orang yang tidak mem-
punyai urusan atau bagian di dalam perkara itu. Ketiga,
bahwa penglihatan akan kemuliaan orang-orang kudus
semakin menambah kesengsaraan orang-orang berdosa.
Sampai sejauh itu saja mereka akan melihat Kerajaan
Tuhan , yakni hanya sebatas melihat nabi-nabi di dalam-
nya, yang mereka benci dan mereka anggap rendah se-
belumnya, sedangkan mereka sendiri, yang yakin akan
masuk ke situ, diusir pergi. Itulah sebabnya mereka
akan menggertakkan gigi mereka (Mzm. 112:10).
(4) Pikirkanlah siapa saja yang akan diselamatkan, kendati de-
ngan semua pertimbangan tadi: orang akan datang dari
Timur dan Barat, dan yang terakhir akan menjadi yang ter-
dahulu (ay. 29-30).
[1] Melalui apa yang dikatakan Kristus, tampak bahwa dari
antara orang-orang yang kita pikir kemungkinan besar
akan diselamatkan, dan yang tampak paling layak un-
tuk memperoleh keselamatan, hanya sedikit saja yang
akan diselamatkan. Namun demikian, janganlah sangka
Injil Lukas 13:23-30
511
bahwa kalau begitu jadinya, Injil diberitakan dengan
sia-sia; sebab meskipun Israel tidak dikumpulkan,
Kristus akan dimuliakan. Akan datang banyak orang
dari seluruh bagian dunia orang-orang bukan-Yahudi
yang akan dipersilakan masuk ke dalam kerajaan anu-
gerah di dunia ini dan kerajaan kemuliaan di dunia
yang akan datang. Jelaslah bahwa saat kita tiba di
sorga, kita akan bertemu dengan sangat banyak orang
yang sedikit kita sangka akan kita temui di sana, dan
akan kehilangan sangat banyak orang yang sangat kita
harapkan akan kita temui di sana.
[2] Orang-orang yang duduk makan di dalam Kerajaan
Tuhan yaitu mereka yang sudah bersusah payah untuk
sampai di sana, sebab mereka datang dari jauh – dari
Timur dan dari Barat, dari Utara dan dari Selatan. Mere-
ka telah melewati iklim-iklim yang berbeda, dan telah
menerobos banyak kesusahan dan kekecewaan. Ini
menunjukkan bahwa orang yang mau masuk ke dalam
kerajaan itu harus berjuang, seperti Ratu Negeri Syeba,
yang datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hik-
mat Salomo. Orang-orang yang sekarang bepergian un-
tuk melayani Tuhan dan demi kepentingan rohani tidak
lama lagi akan duduk beristirahat di dalam Kerajaan
Tuhan .
[3] Banyak orang yang tampak layak masuk sorga ternyata
kurang memenuhi syarat, dan orang lain yang tampak
jauh tertinggal, dan terlihat disingkirkan dari jalan me-
nuju ke sana, akan menang dan memakai mahkota ini,
dan sebab itu kita semua harus berjuang untuk masuk.
Marilah kita tergugah, seperti yang diharapkan Paulus
dari orang-orang Yahudi, untuk meniru semangat ku-
dus dan kegigihan orang-orang bukan-Yahudi (Rm.
11:14). Akankah aku dikalahkan oleh orang-orang di
bawahku? Akankah aku, yang memulai terlebih dulu
dan berdiri paling dekat, kehilangan sorga, sementara
orang lain, yang lebih kecil peluangnya, akan mema-
sukinya? Jika sorga diperoleh melalui perjuangan,
mengapa aku tidak berjuang?
512
Pesan Kristus kepada Herodes
(13:31-35)
31 Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada
Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, sebab Herodes hendak membu-
nuh Engkau.” 32 Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah ke-
pada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada
hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. 33 namun hari
ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah
semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. 34 Yerusalem,
Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu
orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan
anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di
bawah sayapnya, namun kamu tidak mau. 35 Sesungguhnya rumahmu ini
akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. namun Aku berkata kepadamu: Kamu
tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia
yang datang dalam nama Tuhan!”
Inilah:
I. Sebuah saran kepada Kristus tentang bahaya yang mengancam
dari Herodes, saat Ia sekarang sedang berada di Galilea, wilayah
kekuasaan Herodes (ay. 31). Beberapa orang Farisi (sebab orang-
orang dari golongan ini tersebar di seluruh bangsa Yahudi) datang
kepada Kristus, dengan berpura-pura bersahabat dan peduli akan
keselamatan-Nya, dan berkata, “Pergilah dari wilayah ini, dan
tinggalkanlah tempat ini, kalau tidak, Herodes hendak membunuh
Engkau, seperti yang dilakukannya terhadap Yohanes.” Menurut
sebagian orang, orang-orang Farisi ini sama sekali berbohong,
sebab Herodes tidak pernah mengatakan apa pun mengenai hal
ini. Mereka sendiri yang merancangkan kebohongan ini, untuk
mengusir-Nya dari Galilea, sebab di situ Dia semakin disukai
banyak orang, dan untuk mendesak-Nya pergi ke Yudea, sebab di
sana mereka tahu ada orang-orang yang benar-benar ingin men-
cabut nyawa-Nya. Akan namun , sebab jawaban Kristus ditujukan
langsung kepada Herodes sendiri, tampaknya ada alasan tertentu
mengapa orang-orang Farisi itu sampai berkata demikian. Tam-
paknya Herodes sangat geram terhadap Kristus, dan sedang me-
rancang suatu kejahatan terhadap-Nya, sebab Ia memberikan ke-
saksian yang sangat baik tentang Yohanes Pembaptis dan tentang
ajaran pertobatan yang diberitakan Yohanes. Herodes sangat ingin
mengusir Kristus dari wilayah kekuasaannya, dan kalaupun ia
tidak berani membunuh-Nya, ia berharap dapat menakut-nakuti-
Injil Lukas 13:31-35
513
Nya dengan pesan yang mengancam ini, supaya Ia segera mening-
galkan tempat itu.
II. Tantangan-Nya terhadap kemarahan Herodes dan terhadap orang-
orang Farisi. Ia tidak takut seorang pun dari mereka itu: Pergilah
dan katakanlah kepada si serigala itu (ay. 32). Dengan memanggil
Herodes serigala, Kristus menggambarkan karakter atau tabiat-
nya yang sebenarnya, sebab ia licik seperti serigala, terkenal akan
kecerdikannya, tipu dayanya, dan kebengisannya, dan ia me-
mangsa korbannya (seperti yang dikatakan orang tentang serigala)
di tempat yang paling jauh dari liangnya sendiri. Meskipun ini
sifat yang jahat dan buruk, Kristus tidaklah jahat dalam meng-
gambarkan Herodes secara demikian, dan Ia juga tidak melanggar
hukum yang berbunyi “Janganlah engkau berkata jahat tentang
seorang pemimpin bangsamu.” Sebab, Kristus yaitu seorang
Nabi, dan para nabi selalu mempunyai kebebasan berbicara da-
lam menegur para penguasa dan pembesar. Dan bukan itu saja,
Kristus lebih daripada seorang nabi, Dia yaitu Raja, Raja segala
raja, dan segala pembesar di dunia ini harus bertanggung jawab
kepada-Nya, dan sebab itu Dia memang harus memanggil raja
yang congkak ini dengan namanya yang sebenarnya. Namun de-
mikian, hal ini tidaklah untuk dijadikan contoh bagi kita. “Pergi-
lah, dan katakanlah kepada serigala itu, ya, katakan kepada seri-
gala ini juga” (begitulah dalam bahasa aslinya, te alopeki taute).
“Orang Farisi itu, siapa pun dia, yang mau membisik-bisikkan
berita ini ke telinga-Ku, biarlah dia tahu bahwa Aku tidak takut
kepadanya, dan juga tidak menggubris ancaman-ancamannya.”
sebab :
1. “Aku tahu bahwa Aku harus mati, dan Aku akan mati seben-
tar lagi. Aku menyadarinya, dan Aku mengharapkannya, yaitu
pada hari ketiga,” yang berarti “sudah sangat singkat; waktu-
Ku sudah dekat.” Perhatikanlah, kita dengan sangat mudah
akan mampu mengatasi rasa takut terhadap kematian, dan
terhadap mereka yang berkuasa atas kematian, jika kita meli-
hat kematian bukan sebagai sesuatu yang aneh bagi kita, jika
kita sadar bahwa kematian pasti akan datang, jika kita selalu
merenungkannya, sering memikirkannya, dan melihatnya se-
bagai sesuatu yang sudah ada di ambang pintu. “Jika Herodes
514
hendak membunuh-Ku, itu sama sekali tidak membuat-Ku
terkejut.”
2. “Aku tahu bukan saja bahwa kematian tidak akan menyusah-
kan-Ku, melainkan juga bahwa kematian itulah yang memang
akan lebih Kupilih. Oleh sebab itu, katakanlah kepadanya
bahwa aku tidak takut terhadapnya. saat Aku mati Aku
akan selesai. saat itulah Aku selesai dengan bagian tersulit
dari pekerjaan-Ku, saat itulah Aku tuntas dengan tugas-Ku,”
teleioumai – Aku akan ditahbiskan. saat Kristus mati, dikata-
kan bahwa saat itulah Ia menguduskan diri-Nya. Ia menahbis-
kan diri-Nya sebagai imam dengan darah-Nya sendiri.
3. “Aku tahu bahwa Herodes ataupun orang lain tidak dapat
membunuh-Ku sebelum Aku menyelesaikan pekerjaan-Ku. Per-
gilah, dan katakanlah kepadanya bahwa Aku sama sekali tidak
menggubris kemarahannya yang tidak punya gigi itu. Aku
mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan
besok,” artinya, “sekarang dan sedikit waktu lagi, tidak peduli
dengan Herodes dan segala ancamannya itu. Aku harus ber-
jalan, Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, dan dia sama se-
kali tidak berkuasa untuk menghalang-halangi Aku. Aku ha-
rus pergi berkeliling, seperti yang biasa Kulakukan, memberi-
takan Injil dan menyembuhkan orang, hari ini dan besok dan
lusa.” Perhatikanlah, sungguh baik bagi kita untuk melihat
bahwa waktu yang tersedia di depan kita ini hanyalah sedikit
saja, paling banyak mungkin dua atau tiga hari saja, agar kita
terpacu untuk mengerjakan tugas untuk hari ini pada hari ini
juga. Merupakan penghiburan juga bagi kita dengan mengeta-
hui bahwa musuh-musuh kita, dengan segala kejahatan mere-
ka, tidak berkuasa membunuh kita selama Tuhan masih mem-
punyai tugas bagi kita yang harus kita lakukan. Dua saksi
Tuhan (dalam Kitab Wahyu – pen.) tidak dibunuh sebelum mere-
ka menyelesaikan kesaksian mereka.
4. “Aku tahu bahwa Herodes tidak dapat melukai-Ku sedikit pun,
bukan hanya sebab saat-Ku belum tiba, namun juga sebab
tempat yang ditentukan bagi kematian-Ku yaitu Yerusalem,
yang tidak termasuk dalam wilayah kekuasaannya. Tidaklah
semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem,”
artinya, “tidak di mana pun juga kecuali di Yerusalem.” Apa-
bila seorang nabi yang benar dibunuh, ia dihukum mati seba-
Injil Lukas 13:31-35
515
gai nabi palsu. Nah, tidak ada yang bisa mengadili dan meng-
hakimi para nabi selain Mahkamah Agama (Sanhedrin) sendiri,
yang berkedudukan di Yerusalem. Mahkama Agama lokal di
tempat-tempat lain tidak bisa menangani perkara ini, dan ka-
rena itu, jika seorang nabi dihukum mati, keputusannya harus
dijatuhkan oleh Mahkamah Agama di Yerusalem.
III. Ratapan-Nya atas Yerusalem, dan pernyataan murka atas kota itu
(ay. 34, 35). Hal ini sudah kita baca sebelumnya dalam Matius
23:37-39. Mungkin perkataan ini tidak diucapkan di Galilea, na-
mun penulis Injil ini, tanpa bermaksud menempatkannya pada
tempat yang sesuai, menyelipkannya di sini, saat Kristus me-
nyinggung hal kematian-Nya di Yerusalem.
Perhatikanlah:
1. Kejahatan orang-orang dan tempat-tempat yang mengaku le-
bih beragama dan lebih bersekutu dengan Tuhan daripada se-
mua orang dan tempat lainnya sangatlah menggusarkan dan
mendukakan hati Tuhan Yesus. Betapa sedihnya Kristus keti-
ka Ia berbicara tentang dosa dan kehancuran kota suci itu! Oh
Yerusalem, Yerusalem.
2. Orang yang tidak dapat mengambil manfaat dari berlimpahnya
sarana anugerah yang mereka nikmati, sering kali berprasang-
ka buruk terhadap segala sarana anugerah itu. Banyak orang
tidak mau mendengarkan nabi-nabi atau menyambut utusan-
utusan Tuhan , lalu membunuh dan merajam mereka. Jika keja-
hatan manusia tidak ditaklukkan, kejahatan ini semakin
menjadi-jadi.
3. Yesus Kristus telah menunjukkan bahwa diri-Nya rela, sangat
rela, untuk menerima dan menghibur jiwa-jiwa malang yang
datang kepada-Nya dan menyerahkan diri mereka ke dalam
perlindungan-Nya: berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-
anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anak-
nya di bawah sayapnya, dengan begitu penuh perhatian dan
kelembutan!
4. Alasan mengapa para pendosa tidak dilindungi dan dipelihara
oleh Tuhan Yesus, seperti anak-anak ayam yang dilindungi
dan dipelihara oleh induknya, yaitu sebab mereka tidak
mau: Aku rindu, Aku sering kali rindu, namun kamu tidak mau.
516
Kerelaan Kristus semakin memberatkan ketidakrelaan para
pendosa. Kerelaan-Nya itu membiarkan darah mereka tertum-
pah di atas kepala mereka sendiri.
5. Rumah yang ditinggalkan Kristus pasti juga akan ditinggalkan
dan menjadi sunyi. Bait Tuhan , meskipun dihiasi dengan begitu
megahnya dan sering dikunjungi orang, akan menjadi sunyi
begitu Kristus meninggalkannya. Ia membiarkan Bait Tuhan itu
ke tangan mereka. Mereka telah menjadikannya berhala, jadi
biarlah mereka sendiri yang mengurusnya dan melakukan apa
saja dengannya, Kristus tidak akan memedulikannya lagi.
6. Sudah selayaknya Kristus menarik diri dari orang-orang yang
mengusir-Nya. Mereka tidak akan dikumpulkan oleh-Nya, dan
sebab itu, kata-Nya, “Kamu tidak akan melihat Aku lagi, kamu
tidak akan mendengar Aku lagi,” seperti yang dikatakan Musa
kepada Firaun saat Firaun mengusirnya dari hadapannya
(Kel. 10:28-29).
7. Penghakiman pada hari agung itu akan menyadarkan orang-
orang tidak percaya yang sekarang tidak mau yakin: “Maka
kamu akan berkata, diberkatilah Dia yang datang,” dan, “wak-
tu itu kamu akan sadar betapa berbahagianya kamu bila ber-
ada bersama orang-orang yang berkata demikian. Kamu baru
akan melihat-Ku sebagai Mesias, saat semuanya sudah ter-
lambat.”
PASAL 14
Dalam pasal ini diceritakan tentang:
I. Penyembuhan yang diadakan Yesus Tuhan kita pada hari
Sabat terhadap seorang yang sakit busung air, dan pembe-
naran-Nya atas perbuatan-Nya itu melawan orang-orang
yang berkeberatan sebab Dia melakukannya pada hari Sa-
bat (ay. 1-6).
II. Pelajaran tentang kerendahan hati yang disampaikan kepada
orang-orang yang sangat berhasrat menduduki tempat-tem-
pat kehormatan (ay. 7-11).
III. Pelajaran tentang amal sedekah kepada mereka yang men-
jamu orang-orang kaya namun tidak memberi makan orang-
orang miskin (ay. 12-14).
IV. Ketidakberhasilan Injil dinubuatkan dalam perumpamaan
tentang para tamu yang diundang ke perjamuan besar, yang
melambangkan penolakan orang Yahudi dan semua orang
lain yang hatinya hanya terpikat pada dunia ini, dan penghi-
buran bagi orang-orang bukan-Yahudi serta semua orang
lain yang datang untuk mendapat kepuasan dari Kristus (ay.
15-24).
V. Hukum agung tentang pemuridan dibentangkan, disertai
peringatan kepada semua orang yang mau menjadi murid
Kristus agar mereka mengambil keputusan berdasarkan ke-
hendak hati dan dengan pertimbangan yang matang, ter-
utama bagi para hamba Tuhan agar garam mereka jangan
sampai kehilangan rasa asinnya (ay. 25-35).
518
Seorang yang Sakit Busung Air Disembuhkan
(14:1-6)
1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari
orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati
Dia dengan saksama. 2 Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air
berdiri di hadapan-Nya. 3 Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi itu, kata-Nya: “Diperbolehkankah menyembuhkan orang
pada hari Sabat atau tidak?” 4 Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang
tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. 5
Kemudian Ia berkata kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang tidak
segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam
sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” 6 Mereka tidak sanggup mem-
bantah-Nya.
Dalam perikop ini kita mendapati:
I. Bahwa Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan bergaul
akrab dengan berbagai macam orang. Ia tidak mengabaikan para
pemungut cukai, meskipun mereka tidak mempunyai nama baik
di kalangan masyarakat Yahudi, ataupun menjauhkan diri dari
orang-orang Farisi, meskipun mereka berniat jahat terhadap-Nya.
Sebaliknya, Ia menerima semua undangan persahabatan dari
yang satu maupun dari yang lain, agar sebisa-bisanya Ia dapat
berbuat baik kepada keduanya. Di sini kita melihat Ia datang ke
rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi, mungkin
seorang penguasa atau hakim di daerahnya, untuk makan pada
hari Sabat (ay. 1). Lihatlah betapa baiknya Tuhan kepada kita se-
hingga Ia memberi kita waktu, bahkan pada hari-Nya sendiri,
untuk menyegarkan tubuh jasmani kita, dan betapa kita harus
berhati-hati agar tidak menyelewengkan kebebasan itu, atau
mengubahnya menjadi pesta pora. Kristus datang hanya untuk
makan roti [dalam terjemahan KJV – pen.], untuk menyantap
makanan yang secukupnya saja pada hari Sabat. Kita harus
benar-benar memperhatikan makanan yang kita makan pada hari
Sabat, supaya tidak sampai berlebihan. Pada hari Sabat kita
harus makan roti di hadapan Tuhan (Kel. 18:12, KJV) seperti Musa
dan Yitro. Dan, seperti yang dikatakan tentang jemaat Kristen
mula-mula, pada hari Tuhan, kita harus makan dan minum se-
perti orang yang harus berdoa lagi sebelum beristirahat, supaya
kita dapat beristirahat dengan layak pada hari Sabat.
Injil Lukas 14:1-6
519
II. Bahwa Ia berjalan berkeliling sambil berbuat baik. Ke mana pun Ia
pergi, Ia selalu mencari-cari kesempatan untuk berbuat baik, bu-
kan hanya memberikan nasihat kepada orang-orang yang ditemui-
Nya di tengah jalan. Di sini ada seorang yang sakit busung air
berdiri di hadapan-Nya (ay. 2). Kita tidak melihat bahwa orang itu
sendiri datang kepada Kristus, atau bahwa teman-temannya
membawanya kepada Kristus untuk disembuhkan. Namun demi-
kian, Kristus bertindak mendahuluinya dengan memberikan ber-
kat-berkat kebaikan-Nya. Sebelum ia memanggil, Kristus sudah
menjawabnya. Perhatikanlah, sungguh bahagia bila kita berada
bersama Kristus, berada di hadapan-Nya, meskipun tidak ada
yang membawa kita kepada-Nya. Orang ini sakit busung air,
mungkin sakitnya sangat parah dan badannya tampak sangat
bengkak. Mungkin ia punya hubungan tertentu dengan orang Fa-
risi yang menjadi tuan rumah di sini, dan pada saat itu ia sedang
menginap di rumahnya, yang jauh lebih mungkin daripada men-
duga bahwa ia yaitu salah satu tamu yang diundang dalam per-
jamuan makan itu.
III. Bahwa Ia tekun menanggung bantahan terhadap diri-Nya dari pi-
hak orang-orang berdosa: Mereka mengamat-amati Dia (ay. 1).
Tampaknya orang Farisi itu sengaja mengundang-Nya sebab
ingin berselisih dengan-Nya. Jika memang demikian, Kristus me-
ngetahuinya, dan Ia tetap datang, sebab Ia tahu bahwa Ia sang-
gup menghadapi orang yang terlicik sekalipun di antara mereka,
dan Ia tahu bagaimana mengatur langkah-langkah-Nya di hadap-
an orang-orang yang mengamati-Nya. Orang yang diamat-amati
harus berjaga-jaga. Sungguh sangat tidak sopan, seperti yang
dikatakan Dr. Hammond, bagi kita untuk memanfaatkan orang
yang kita undang sebagai tamu, sebab tamu harus kita lindungi.
Para ahli Taurat dan orang Farisi ini, seperti pemburu yang se-
dang mengawasi jerat penangkap burungnya, hanya berdiam diri,
mereka bertindak dengan sangat diam-diam. saat Kristus berta-
nya kepada mereka apakah menurut mereka menyembuhkan
orang pada hari Sabat diperbolehkan atau tidak (dan dalam hal ini
dikatakan bahwa Dia menjawab mereka, sebab apa yang dikata-
kan-Nya itu merupakan jawaban terhadap pikiran-pikiran mereka,
dan bagi Yesus Kristus pikiran yaitu perkataan), mereka tidak
mau menjawab ya atau tidak, sebab mereka hanya mau mengata-
520
kan sesuatu untuk menentang-Nya, bukan untuk diajari oleh-Nya.
Mereka tidak akan berkata bahwa menyembuhkan orang pada
hari Sabat itu diperbolehkan, sebab nanti mereka tidak bisa
menuduhkan hal ini sebagai suatu kejahatan kepada Dia. Namun
apa yang terjadi di sini sangatlah jelas dan sudah terbukti dengan
sendirinya, sehingga sebab malu mereka juga tidak bisa berkata
bahwa menyembuhkan orang pada hari Sabat itu tidak diperbo-
lehkan. Perhatikanlah, orang baik sering kali dianiaya sebab ber-
buat sesuatu yang bahkan oleh para penganiaya mereka sendiri,
jika mereka mau mendengarkan suara hati nurani mereka sen-
diri, diakui sebagai hal yang baik dan diperbolehkan. Kristus ba-
nyak melakukan perbuatan baik yang sebab nya orang melempar-
kan batu kepada-Nya dan kepada nama-Nya.
IV. Bahwa Kristus tidak bisa dihalang-halangi untuk berbuat baik
oleh perlawanan atau bantahan dari orang-orang berdosa. Ia me-
megang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan me-
nyuruhnya pergi (ay. 4). Mungkin Ia membawanya ke ruangan lain
dan menyembuhkannya di sana, sebab Ia tidak mau memamer-
kan kemampuan diri-Nya, seperti itulah kerendahan hati-Nya,
atau memanas-manasi para musuh-Nya, seperti itulah hikmat-
Nya, hikmat kelemahlembutan-Nya. Perhatikanlah, kita tidak boleh
meninggalkan kewajiban kita hanya sebab kebencian musuh-
musuh kita, namun, di lain pihak, kita juga harus mengatur se-
gala sesuatunya supaya sedapat mungkin kita tidak menyinggung
perasaan mereka. Atau, Ia memegang-Nya, yang berarti Ia mele-
takkan tangan-Nya ke atasnya, untuk menyembuhkannya.
Epilabomenos, complexus – Ia memeluknya, mendekapnya dengan
merentangkan tangan lebar-lebar, sebab sangat besarlah perut
orang itu (sebab demikianlah orang yang sakit busung air pada
umumnya), dan kemudian menyurutkan badannya menjadi seper-
ti sediakala. Biasanya kita berpikir bahwa busung air, seperti juga
penyakit-penyakit lainnya, hanya bisa disembuhkan secara perla-
han-lahan. Namun Kristus bahkan sanggup menyembuhkan pe-
nyakit itu, menyembuhkannya dengan sempurna, dalam sekejap.
Kemudian Ia menyuruhnya pergi, sebab kalau tidak, orang-orang
Farisi itu akan mempersalahkan dia sebab telah disembuhkan,
meskipun dalam hal ini ia tidak berbuat apa-apa, sebab kesalah-
Injil Lukas 14:1-6
521
an-kesalahan ganjil seperti apakah yang tidak akan diperbuat
oleh orang-orang seperti mereka itu?
V. Bahwa Yesus Tuhan kita tidak melakukan tindakan apa pun se-
lain yang dibenarkan oleh-Nya, untuk meyakinkan dan mengacau-
kan orang-orang yang berselisih dengan-Nya (ay. 5-6). Dia menja-
wab pikiran-pikiran mereka, dan membuat mereka berdiam diri
sebab malu, sementara sebelumnya mereka berdiam diri sebab
menganggap diri bijak. Yesus memperlihatkan suatu contoh ke-
biasaan mereka sendiri, seperti yang biasa dilakukan-Nya pada
kesempatan-kesempatan seperti ini, supaya Ia dapat menunjuk-
kan kepada mereka bahwa dengan mencela-Nya, mereka sebenar-
nya mencela diri mereka sendiri: Siapakah di antara kamu yang
tidak segera menarik keluar anaknya atau lembunya kalau terpero-
sok ke dalam sebuah sumur, secara tidak sengaja, meskipun pada
hari Sabat, dan tidak menunggu sampai hari Sabat berakhir, se-
bab nanti ia akan mati? Perhatikanlah, mereka melakukan ini
bukan sebab kasihan kepada makhluk malang yang terperosok
itu, melainkan terlebih sebab mereka mengutamakan kepenting-
an mereka sendiri. Lembu mereka dan keledai merekalah yang
dapat menghasilkan uang, dan mereka rela membuang hukum
Sabat demi menyelamatkannya. Nah, ini merupakan bukti kemu-
nafikan mereka, dan mereka mempersalahkan Kristus yang me-
nyembuhkan orang pada hari Sabat bukan sebab mereka sendiri
menghormati hari Sabat dengan sungguh-sungguh (itu hanyalah
pengakuan mereka saja), melainkan sebenarnya sebab mereka
marah pada segala perbuatan baik ajaib yang diadakan Kristus,
yang menunjukkan bukti misi ilahi-Nya, dan yang membawa
nama baik bagi diri-Nya di antara orang banyak. Banyak orang
dengan mudah membuang suatu hal demi kepentingan mereka
sendiri, namun mereka tidak mau membuangnya demi kemuliaan
Tuhan dan kebaikan saudara-saudara mereka. Pertanyaan ini
membungkam mereka: Mereka tidak sanggup membantah-Nya (ay.
6). Kristus akan dibenarkan saat Dia berbicara, dan setiap
mulut terkatup di hadapan-Nya.
522
Kerendahan Hati Dipuji
(14:7-14)
7 sebab Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-
tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 8 “Ka-
lau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di
tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang
yang lebih terhormat dari padamu, 9 supaya orang itu, yang mengundang
engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini
kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat
yang paling rendah. 10 namun , jika engkau diundang, pergilah duduk di
tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata
kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau
akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. 11 Sebab ba-
rangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa meren-
dahkan diri, ia akan ditinggikan.” 12 Dan Yesus berkata juga kepada orang
yang mengundang Dia: “jika engkau mengadakan perjamuan siang atau
perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau
saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang
kaya, sebab mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula
dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. 13 namun jika engkau
mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat,
orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. 14 Dan engkau akan berbahagia,
sebab mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu.
Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang
benar.”
Yesus Tuhan kita di sini memberikan contoh bagaimana kita dapat
bercakap-cakap tentang hal yang bermanfaat dan membangun pada
saat kita sedang makan bersama teman-teman kita. saat Ia hanya
makan bersama para murid-Nya, yang merupakan keluarga-Nya sen-
diri, percakapan-Nya dengan mereka terlihat sangat baik dan ber-
guna untuk membangun. Namun bukan hanya itu saja, saat Ia ber-
sama orang-orang asing, malah bersama musuh-musuh yang sedang
mengamat-amati-Nya, Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mene-
gur kesalahan mereka yang dilihat-Nya, dan memberikan pengajaran
kepada mereka. Meskipun orang fasik ada di hadapan-Nya, Ia tidak
menahan diri untuk berbuat baik (seperti Daud, Mzm. 39:2-3), sebab
kendati dipancing-pancing, hati-Nya tidak menjadi panas dan jiwa-
Nya tidak terhasut. Kita bukan saja harus melarang percakapan yang
tidak baik pada waktu makan, seperti orang fasik yang suka meng-
olok-olok dalam perjamuan makan, namun juga harus berbuat lebih
daripada sekadar memperbincangkan hal-hal yang biasa-biasa saja.
Kita harus memakai kebaikan Tuhan dalam menyediakan makanan
kepada kita sebagai kesempatan untuk mengatakan hal-hal yang
baik tentang-Nya. Kita harus belajar untuk memberi arti rohani pada
kejadian-kejadian biasa yang kita alami. Dengan demikian, bibir orang
Injil Lukas 14:7-14
523
benar memberi makan banyak orang. Sekalipun Yesus Tuhan kita Ye-
sus Tuhan kita sedang berada di antara orang-orang terhormat, tan-
pa pandang bulu:
I. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menegur para tamu yang
berusaha duduk di tempat-tempat kehormatan, dan dengan ini Ia
pun mengajar kita tentang kerendahan hati.
1. Ia mengamati bagaimana para ahli Taurat dan orang Farisi ini
berusaha mendapat tempat-tempat yang paling utama, di
bagian kepala meja (ay. 7). Sebelumnya Ia menegur orang-
orang seperti ini secara umum (11:43). Namun di sini Ia meng-
arahkan teguran-Nya kepada orang-orang tertentu, sebab
Kristus akan memberi setiap orang sesuai dengan bagiannya.
Ia melihat bagaimana mereka berusaha menduduki tempat-tem-
pat kehormatan. Setiap orang, pada waktu memasuki ruangan,
berusaha sedapat mungkin untuk duduk di dekat tempat ke-
hormatan. Perhatikanlah, bahkan dalam perbuatan-perbuatan
biasa Kristus mengamati kita, dan Dia menilai apa yang kita
lakukan, bukan hanya dalam pertemuan-pertemuan ibadah,
melainkan juga pada waktu di meja makan, dan Ia memberi-
kan penilaian-Nya tentang itu semua.
2. Ia mengamati bagaimana orang-orang yang berlaku seperti itu
sering kali memamer-mamerkan diri mereka sendiri, namun
kemudian mereka justru mendapat malu. Sementara orang-
orang yang rendah hati, yang duduk di tempat-tempat paling
rendah, sering kali pada akhirnya malah mendapat kehormat-
an sebab nya.
(1) Orang-orang yang pada waktu datang langsung duduk di
tempat yang paling utama mungkin saja nanti direndah-
kan, dan dipaksa untuk turun dan memberikan tempatnya
kepada orang yang lebih terhormat (ay. 8-9). Perhatikanlah,
dengan melihat betapa banyaknya orang yang lebih terhor-
mat daripada kita, bukan hanya dalam kedudukan dunia-
wi, melainkan juga dalam kebaikan dan keberhasilan pri-
badi, maka ini haruslah menjadi teguran bagi kita untuk
tidak memandang diri kita terlalu tinggi. Jadi, bukannya
merasa sombong melihat betapa banyak orang yang mem-
berikan tempat duduk mereka kepada kita, kita seharus-
524
nya merasa rendah hati melihat betapa banyak orang yang
harus kita beri tempat duduk. Tuan rumah yang mengada-
kan perjamuan akan mengatur tamu-tamunya, dan ia tidak
akan membiarkan orang-orang yang lebih terhormat tidak
duduk di tempat yang layak, dan sebab itu ia tidak akan
segan-segan menyuruh orang yang merampas tempat itu
untuk duduk di tempat yang lebih rendah. Berilah tempat
ini kepada orang itu, dan dengan demikian orang yang
menganggap dirinya lebih penting daripada yang sebenar-
nya akan mendapat malu di hadapan semua orang. Per-
hatikanlah, kesombongan membawa aib, dan pada akhir-
nya mendatangkan kejatuhan.
(2) Orang-orang yang pada waktu datang langsung duduk di
tempat yang paling rendah, dan merasa puas dengannya,
kemungkinan akan diberi tempat yang lebih baik (ay. 10):
“Pergilah, dan duduklah di tempat yang paling rendah, ang-
gap saja bahwa temanmu yang mengundangmu mempu-
nyai tamu-tamu yang berkedudukan lebih tinggi daripada-
mu. namun mungkin saja tidak demikian, maka sesudah itu
temanmu akan berkata kepadamu, Sahabat, silakan duduk
di depan. Tuan rumah akan berbuat adil kepadamu dengan
tidak membiarkanmu duduk di tempat yang paling rendah,
sebab kamu sudah begitu rendah hati dengan mau duduk
di sana.” Perhatikanlah, untuk naik ke tempat yang lebih
tinggi, kita harus memulai dari tempat yang paling rendah,
dan ini membuat kita dipandang baik oleh orang-orang di
sekitar kita: “Engkau akan menerima hormat di depan mata
semua tamu yang lain. Mereka akan melihatmu sebagai
orang terhormat, melebihi apa yang mereka pikirkan pada
awalnya, dan kehormatan akan tampak lebih terang bila
bersinar dari dalam kegelapan. Mereka juga akan melihat-
mu sebagai orang yang rendah hati, dan ini merupakan
kehormatan terbesar. Juruselamat kita di sini merujuk
pada amsal Salomo (Ams. 25:6-7), Jangan berdiri di tempat
para pembesar. sebab lebih baik orang berkata kepadamu:
Naiklah ke mari, dari pada engkau direndahkan di hadapan
orang mulia.” Dr. Lightfoot mengutip salah satu perum-
pamaan para rabi, yang bunyinya kira-kira seperti ini. “Ada
tiga orang,” katanya, “diundang ke suatu pesta. Yang per-
Injil Lukas 14:7-14
525
tama duduk di tempat paling terhormat, sebab, katanya,
aku yaitu penguasa. Yang kedua duduk di tempat terhor-
mat lainnya, sebab, katanya, aku orang bijak. Yang ter-
akhir duduk di tempat paling rendah, sebab, katanya, aku
orang yang rendah hati. Kemudian sang raja menempatkan
orang yang rendah hati itu di tempat paling utama, sedang-
kan si penguasa ditempatkannya di tempat yang paling
rendah.”
3. Ia menerapkan perumpamaan ini secara umum, dan mengajak
kita untuk belajar tidak memikirkan hal yang muluk-muluk,
namun harus puas dengan hal yang biasa-biasa saja, sebab
untuk alasan apa pun juga, kesombongan dan hasrat yang
menggebu yaitu hal yang tercela bagi semua orang. Sebab,
barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, sedangkan
kerendahan hati dan penyangkalan diri yaitu suatu hal yang
sungguh mulia: Barangsiapa merendahkan diri, ia akan diting-
gikan (ay. 11). Kita juga melihat dalam contoh-contoh lain bah-
wa keangkuhan merendahkan orang, namun orang yang rendah
hati menerima pujian, dan kerendahan hati mendahului kehor-
matan.
II. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menegur tuan rumah
sebab mengundang begitu banyak orang kaya, yang bisa makan
enak di rumah sendiri, padahal seharusnya ia mengundang orang
miskin, atau, yang sama baiknya, mengirimkan sebagian kepada
mereka yang tidak sedia apa-apa, dan yang tidak mampu menda-
patkan makanan yang layak (lih. Neh. 8:11). Juruselamat kita di
sini mengajar kita bahwa jika kita menggunakan apa yang kita
miliki untuk beramal, maka ini lebih baik, dan lebih dapat diper-
tanggungjawabkan, daripada menggunakannya untuk berfoya-
foya dan royal.
1. “Janganlah berusaha mentraktir orang kaya. Janganlah meng-
undang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau
kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya,” (ay.
12). Ini tidak berarti bahwa kita dilarang untuk menjamu me-
reka. Adakalanya kita harus melakukan itu untuk mempererat
tali persaudaraan di antara kaum kerabat dan tetangga-te-
tangga kita.
526
Namun:
(1) “Janganlah menjadikannya sebagai suatu kebiasaan. Ja-
nganlah menghabiskan terlalu banyak uang untuk keperlu-
an itu, supaya engkau masih bisa menggunakannya untuk
keperluan yang lebih baik, yaitu untuk amal sedekah. Eng-
kau akan merasa bahwa mengundang orang kaya sangat-
lah mahal dan merepotkan. Mengadakan sebuah perjamu-
an bagi orang kaya sama saja biayanya dengan menyedia-
kan makanan yang berlimpah bagi orang miskin.” Salomo
berkata, “Orang yang memberi hadiah kepada orang kaya,
hanya merugikan diri saja” (Ams. 22:16). “Berilah” (kata
Plinius, dalam karyanya Surat-surat.) “kepada teman-
temanmu, namun biarlah kepada teman-temanmu yang mis-
kin, bukan kepada mereka yang tidak memerlukanmu.”
(2) “Janganlah sombong sebab nya.” Banyak orang mengada-
kan perjamuan hanya sebab mereka ingin pamer, seperti
Ahasyweros (Est. 1:3-4). Pikir mereka, mereka tidak akan
dipandang hebat bila tidak mengundang orang-orang ter-
hormat untuk makan bersama mereka, dan dengan demi-
kian mereka merampas harta keluarga demi memuaskan
angan-angan mereka.
(3) “Janganlah berharap bahwa engkau akan dibalas dengan
harga yang setimpal.” Inilah yang dipersalahkan Jurusela-
mat kita dalam perjamuan-perjamuan seperti ini: “Engkau
biasanya mengundang mereka sebab engkau berharap
akan diundang lagi oleh mereka, dan dengan demikian eng-
kau akan mendapatkan ganti rugi. Engkau membayangkan
bahwa engkau akan dipuaskan kembali dengan beraneka
ragam hidangan dari mereka seperti yang telah kausuguh-
kan kepada teman-temanmu itu, dan semuanya ini akan
memuaskan nafsu keinginanmu untuk berpesta pora.
namun , sebenarnya pada akhirnya tidak ada keuntungan
apa-apa yang engkau peroleh.”
2. “Berusahalah meringankan beban orang-orang miskin (ay. 13-
14): jika engkau mengadakan perjamuan, daripada repot-
repot menyiapkan hidangan yang unik dan enak, hidangkan
saja di mejamu makanan yang secukupnya dan menyehatkan,
yang tidak terlalu mahal, dan undanglah orang-orang miskin
Injil Lukas 14:15-24
527
dan orang-orang cacat, yang tidak mempunyai apa-apa, dan
tidak mampu bekerja untuk menopang kehidupan mereka.
Merekalah yang harus dikasihani dengan amal sedekah, mere-
ka berkekurangan dalam kebutuhan-kebutuhan pokok. Sedia-
kanlah keperluan mereka itu, dan mereka akan membalasmu
dengan doa-doa mereka. Mereka akan berterima kasih atas
makanan yang telah kausediakan, sementara orang kaya
mungkin akan mencelanya. Mereka akan pergi dan bersyukur
kepada Tuhan sebab mu, sementara orang kaya mungkin akan
pergi dan menghinamu. Janganlah berkata bahwa engkau rugi
dan uangmu terkuras habis sebab mereka tidak mampu mem-
balasmu. Tidak, apa yang engkau lakukan itu yaitu untuk
sesuatu yang sangat penting, suatu jaminan yang terbaik,
sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan
orang-orang benar.” Ya, akan ada kebangkitan orang-orang
benar, suatu masa depan bagi orang-orang benar. Ada kebaha-
giaan yang disimpan bagi mereka di dunia yang akan datang,
dan kita boleh yakin bahwa orang-orang yang murah hati akan
diingat pada hari kebangkitan orang-orang benar, sebab
beramal merupakan suatu tindak kebenaran. Amal sedekah
mungkin tidak dibalas di dunia ini, sebab apa yang ada di
dunia ini bukanlah hal-hal terbaik, dan sebab itu Tuhan tidak
akan membalas orang-orang terbaik dengan hal-hal duniawi.
namun ini sama sekali tidak berarti bahwa mereka kehilangan
upah mereka, sebab mereka akan mendapat balasnya pada
hari kebangkitan. Pada saat itu akan tampak bahwa perjalan-
an-perjalanan yang ditempuh paling jauh akan membawa
hasil-hasil yang paling bernilai, dan bahwa orang yang murah
hati tidak akan rugi, melainkan akan mendapat untung yang
tidak terhingga, dengan menunggu mendapat balasannya sam-
pai pada hari kebangkitan.
Undangan yang Penuh Kemurahan Hati;
Perjamuan Besar yang Diabaikan
(14:15-24)
15 Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: “Ber-
bahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Tuhan .” 16 namun Yesus
berkata kepadanya: “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia
528
mengundang banyak orang. 17 Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyu-
ruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala
sesuatu sudah siap. 18 namun mereka bersama-sama meminta maaf. Yang
pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi
melihatnya; aku minta dimaafkan. 19 Yang lain berkata: Aku telah membeli
lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta di-
maafkan. 20 Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan sebab itu aku tidak
dapat datang. 21 Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya
itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada
hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan
bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang
buta dan orang-orang lumpuh. 22 Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan,
apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, namun sekalipun demi-
kian masih ada tempat. 23 Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke
semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, ma-
suk, sebab rumahku harus penuh. 24 Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak
ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati
jamuan-Ku.”
Inilah satu perbincangan lain lagi dari Juruselamat kita, yang di da-
lamnya Ia memberikan arti rohani pada perjamuan yang sedang diha-
diri-Nya. Ini juga merupakan suatu cara bagaimana kita memper-
bincangkan hal yang baik-baik di tengah kegiatan kita sehari-hari.
I. Perbincangan ini dipicu oleh salah seorang tamu yang berkata
kepada Kristus, sesudah Ia memberikan beberapa pedoman ten-
tang perjamuan, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam
Kerajaan Tuhan ” (ay. 15). Menurut sebagian orang, perkataan ini
biasa diucapkan di kalangan para rabi.
1. namun untuk apakah orang ini mengatakannya dalam kesem-
patan ini?
(1) Mungkin sesudah melihat bagaimana Kristus pertama-tama
menegur para tamu, lalu kemudian tuan rumah, ia merasa
tidak enak kalau-kalau Kristus sudah membuat suasana
menjadi tegang, dan ia pun mengucapkan perkataan ini
untuk mengalihkan bahan pembicaraan. Atau,
(2) sebab mengagumi pedoman-pedoman yang bagus tentang
kerendahan hati dan amal sedekah yang baru saja disam-
paikan Kristus, namun merasa putus asa dengan menyadari
bahwa semua itu tidak terwujud dalam kehidupan yang
sudah rusak ini, ia merindukan Kerajaan Tuhan , rindu
melihat semua hukum ini dan hukum-hukum baik lain-
nyalah yang akan berlaku, sehingga ia berkata berbahagia-
Injil Lukas 14:15-24
529
lah mereka yang akan mendapat tempat dalam kerajaan
itu. Atau,
(3) sebab Kristus telah menyebutkan hari kebangkitan orang-
orang benar sebagai imbalan bagi mereka yang beramal
sedekah kepada orang miskin, ia di sini meneguhkan apa
yang diucapkan-Nya itu, “Benar, Tuhan, mereka yang akan
mendapat imbalan pada hari kebangkitan orang-orang
benar akan dijamu dalam Kerajaan Tuhan , dan itu merupa-
kan balasan yang jauh lebih besar daripada diundang kem-
bali ke perjamuan orang yang paling terhormat di dunia ini
sekalipun.” Atau,
(4) sebab melihat Kristus diam sesudah Ia memberikan peng-
ajaran-Nya, sekarang ia mau memancing-Nya untuk ber-
bicara lebih banyak lagi, sebab ia begitu senang dan takjub
akan apa yang telah dikatakan-Nya, dan ia tahu bahwa
tidak ada hal lain yang dapat menarik perhatian-Nya selain
menyebutkan Kerajaan Tuhan . Perhatikanlah, bahkan orang
yang tidak mempunyai bakat khusus untuk membuat per-
cakapan yang baik sekali-kali harus mengatakan sesuatu,
misalnya dengan mengiyakan apa yang sudah dikatakan,
dan membantu melanjutkan percakapan.
2. Nah, apa yang dikatakan orang ini merupakan kebenaran yang
sudah jelas dan diakui, dan perkataan itu diucapkan pada
waktu yang sangat tepat, saat mereka sedang duduk makan.
Sebab, kita harus memanfaatkan perkara-perkara biasa untuk
berpikir dan berbicara tentang perkara-perkara sorgawi dan
rohani. Perkara-perkara ini jugalah yang dipakai dalam Kitab
Suci sebagai bahan perbandingan, seperti dalam sebuah per-
umpamaan. saat menerima pemeliharaan Tuhan berupa ber-
kat-berkat jasmani, baiklah kita merenungkan berkat-berkat
anugerah rohani apa yang juga kita terima melalui berkat-
berkat-Nya itu, sebab ini merupakan perkara-perkara yang
lebih baik. Permenungan ini sangat tepat disampaikan saat
kita sedang menikmati hal-hal yang menyegarkan tubuh jas-
mani kita: Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam
Kerajaan Tuhan .
(1) Dalam kerajaan anugerah, dalam kerajaan Mesias, yang
diharapkan akan segera didirikan. Kristus berjanji kepada
530
para murid-Nya bahwa mereka akan makan dan minum
bersama-Nya dalam kerajaan-Nya. Orang yang ikut makan
dalam perjamuan Tuhan akan dijamu dalam Kerajaan
Tuhan .
(2) Dalam kerajaan kemuliaan, pada hari kebangkitan. Keba-
hagiaan sorgawi yaitu perjamuan kekal. Berbahagialah
mereka yang akan duduk di meja perjamuan itu, sebab
mereka tidak akan beranjak lagi darinya.
II. Perumpamaan yang disampaikan Yesus Tuhan kita dalam kesem-
patan ini (ay. 16, dst.). Kristus mendukung apa yang dikatakan
orang baik itu: “Sungguh benar, berbahagialah mereka yang akan
ikut ambil bagian dalam segala keistimewaan kerajaan Mesias.
namun siapakah yang akan menikmati hak istimewa itu? Kalian
orang-orang Yahudi, yang menyangka memiliki hak ini sepenuh-
nya, sebagian besar dari kalian akan menolaknya, sementara
orang-orang bukan-Yahudi akan paling banyak ambil bagian di
dalamnya.” Ini ditunjukkan-Nya dengan sebuah perumpamaan,
sebab kalau Ia berbicara terus terang, orang-orang Farisi pasti
tidak akan tahan mendengarnya. Nah, dalam perumpamaan itu
kita dapat mengamati,
1. Anugerah dan belas kasihan Tuhan yang cuma-cuma, yang ber-
sinar dalam Injil Kristus.
Dan ini tampak:
(1) Dalam persediaan berlimpah yang disediakan-Nya bagi
jiwa-jiwa yang miskin, untuk memberi mereka makanan,
kekuatan, dan penghiburan (ay. 16): Ada seorang mengada-
kan perjamuan besar. Di dalam Kristus dan anugerah Injil
tersedia makanan dan perjamuan bagi jiwa orang yang sa-
dar akan kemampuan jiwanya sendiri, dan bagi jiwa orang
berdosa yang sadar akan kebutuhan dan kesengsaraan ji-
wanya sendiri. Perjamuan ini disebut perjamuan makan
malam, sebab di kalangan orang Yahudi makan malam
merupakan saat puncak perjamuan, sesudah mereka beker-
ja seharian. Anugerah Injil menyatakan dirinya kepada du-
nia pada malam hari, dan puncak kepenuhannya di sorga
akan dinyatakan kepada kita dalam kehidupan senja kita.
Injil Lukas 14:15-24
531
(2) Dalam undangan yang penuh kemurahan hati itu, kita di-
undang untuk datang ambil bagian dalam persediaan ini.
Inilah:
[1] Undangan yang diberikan kepada semua orang itu: Ia
mengundang banyak orang. Kristus mengundang selu-
ruh bangsa dan umat Yahudi untuk ikut menikmati
keuntungan-keuntungan Injil-Nya. Ada cukup banyak
persediaan bagi siapa saja yang datang, dan perjamuan
ini dinubuatkan sebagai perjamuan bagi segala bangsa
(Yes. 25:6). Seperti halnya Kristus di dalam Injil mera-
wat rumah yang baik, demikian pula Ia membiarkan
rumah itu terbuka.
[2] Peringatan khusus yang diberikan, saat waktu makan
malam hampir tiba. Seorang hamba disuruh mengingat-
kan para undangan: “Marilah, sebab segala sesuatu su-
dah siap.” saat Roh Kudus dicurahkan, dan gereja
Injil didirikan, orang-orang yang sudah diundang kini
semakin didesak untuk segera datang. Sekarang segala
sesuatu sudah siap, rahasia Injil kini diungkapkan se-
penuhnya, semua ketetapan Injil kini dilembagakan,
orang-orang Kristen kini dihimpun, dan sebagai pun-
caknya, Roh Kudus diberikan. Inilah panggilan yang di-
tujukan kepada kita: “Segala sesuatu sudah siap, seka-
ranglah waktu perkenanan itu, ya, inilah saatnya, dan
berlangsungnya tidak lama. Sekaranglah waktunya, dan
tidak akan lama. Inilah musim anugerah yang akan ber-
akhir sebentar lagi, dan sebab itu datanglah sekarang
juga. Jangan ditunda-tunda lagi, terimalah undangan
itu; yakinlah bahwa engkau akan disambut. Makanlah,
teman-teman, minumlah, ya minumlah yang banyak,
yang dikasihi!”
2. Sambutan dingin yang diterima anugerah Injil. Para undangan
menolak datang. Mereka tidak mengatakan dengan tegas dan
terus terang bahwa mereka tidak mau datang, melainkan mere-
ka bersama-sama meminta maaf (ay. 18). Kita mungkin me-
nyangka bahwa mereka bersama-sama akan datang ke perja-
muan besar itu, sebab mereka sudah diundang dengan begitu
baik hati. Siapa yang akan menolak undangan seperti itu?
532
Namun sebaliknya, mereka semua justru mencari-cari alasan
untuk tidak menghadiri perjamuan itu. Ini menggambarkan
pengabaian bangsa Yahudi pada umumnya untuk datang
mendekat kepada Kristus dan menerima tawaran-tawaran
anugerah-Nya, dan penghinaan mereka terhadap undangan
itu. Ini juga menandakan keengganan sebagian besar orang
untuk mendengarkan panggilan Injil. sebab malu, mereka
tidak mau mengakui bahwa mereka menolak undangan itu,
melainkan minta dimaafkan. Mereka semua apo mias, sebagi-
an memberikan jawaban hōras, dan semuanya langsung men-
jawab, mereka dapat memberikan jawaban pada saat itu juga,
tidak perlu pikir-pikir, tidak perlu mencari-cari alasan. Sebagi-
an lain lagi memberikan gnōmēs, semua sepakat, dengan suara
bulat.
(1) Nah, pertama-tama kita melihat ada dua orang pembeli di
sini, yang sedang terburu-buru ingin melihat barang-ba-
rang yang telah mereka beli sehingga tidak mempunyai
waktu untuk menghadiri perjamuan ini. Yang satu baru
membeli ladang, ia baru membeli sejengkal tanah, yang
ditawarkan kepadanya sebagai tawaran yang bagus, dan
dia harus pergi untuk melihat apakah memang benar demi-
kian, dan oleh sebab itu aku minta dimaafkan. Yang ada
di hatinya hanyalah keinginan untuk memperluas tanah-
nya, sampai dia tidak bisa beramah tamah dengan teman-
temannya lagi ataupun berbaik hati kepada dirinya sendiri.
Perhatikanlah, orang yang hatinya penuh dengan keinginan
duniawi, dan gemar menumpuk rumah demi rumah dan la-
dang demi ladang, telinganya sudah tuli untuk mendengar-
kan panggilan Injil. Sungguh alasan yang mengada-ada
saja! Ia bisa saja menunda keinginannya untuk melihat
sejengkal tanahnya itu sampai keesokan hari, dan pasti
masih menemukannya di tempat yang sama, kalau me-
mang ia mau. Yang lain baru membeli ternak bagi ladang-
nya. “Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri untuk
membajak tanah, dan aku harus pergi sekarang untuk
mencobanya. Aku harus pergi untuk memastikan apakah
lembu-lembu itu memang sesuai untuk keperluanku, dan
sebab itu aku minta dimaafkan kali ini.” Pembeli yang per-
tama menunjukkan kepuasan yang berlebihan pada dunia,
Injil Lukas 14:15-24
533
sementara pembeli yang kedua memperlihatkan kecemasan
dan kekhawatiran akan hal-hal duniawi, yang menghalang-
halangi orang untuk datang kepada Kristus dan menerima
anugerah-Nya. Keduanya menunjukkan kesukaan mereka
kepada tubuh lebih daripada jiwa, dan kepada perkara-
perkara yang sementara daripada yang kekal. Perhatikan-
lah, sungguh merupakan suatu kejahatan jika kita di-
panggil bertugas namun kita membuat alasan-alasan un-
tuk menghindarinya. Ini merupakan suatu pertanda bahwa
ada keyakinan dalam diri orang-orang itu bahwa hal terse-
but memang merupakan suatu kewajiban, namun mereka
tidak mempunyai keinginan untuk melaksanakannya.
Hal-hal yang dijadikan alasan di sini yaitu :
[1] Hal-hal sepele dan tidak begitu penting. Mereka seha-
rusnya berkata, “Aku diundang makan malam dalam
Kerajaan Tuhan , dan sebab itu aku minta maaf sebab
tidak dapat melihat ladang atau lembu-lembu yang
sudah kubeli.”
[2] Hal-hal yang diperbolehkan. Perhatikanlah, hal-hal yang
diperbolehkan dengan sendirinya dapat menghalangi
ibadah kita, jika hati kita terlalu tertuju padanya –
Licitus perimus omnes. Memang berat bagi kita untuk
mengatur agar urusan-urusan duniawi kita jangan
sampai mengalihkan kita dari kewajiban rohani, dan ini
harus menjadi masalah utama yang harus kita pikirkan
baik-baik.
(2) Seorang yang lain yaitu pengantin baru, dan ia tidak bisa
meninggalkan istrinya barang sejenak untuk menghadiri
perjamuan itu (ay. 30): Aku baru kawin dan sebab itu aku
tidak dapat datang dengan segera. Ia mengaku tidak dapat
datang, padahal sebenarnya ia tidak mau. Demikianlah ba-
nyak orang mengaku tidak dapat melakukan kewajiban
agama padahal sebenarnya mereka enggan melakukannya.
Ia baru kawin. Benar bahwa orang yang baru kawin satu
tahun diperbolehkan dalam hukum Taurat untuk tidak
ikut berperang (Ul. 24:5), namun apakah itu bisa dijadikan
alasan untuk tidak pergi ke pesta perjamuan Tuhan di
Yerusalem, yang harus dihadiri setiap tahun oleh setiap
534
laki-laki? Apalagi ini perjamuan Injil, yang diperlambang-
kan oleh perjamuan yang di Yerusalem itu. Perhatikanlah,
rasa sayang kita terhadap kerabat-kerabat kita sering kali
menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan kewajiban
terhadap Tuhan . Kalau alasan Adam dahulu yaitu perem-
puan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang membuatku
makan buah itu, maka alasan orang yang satu ini yaitu
istriku membuat aku tidak bisa ikut makan. Sebenarnya ia
bisa saja pergi menghadiri perjamuan itu bersama istrinya,
dan keduanya pun pasti akan disambut dengan baik.
3. Penjelasan yang disampaikan kepada tuan rumah atas peng-
hinaan teman-teman yang telah diundangnya, yang menunjuk-
kan betapa mereka kurang menghargai dia (ay. 21): Maka
kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada
tuannya. Dengan terkejut si pelayan memberi tahu tuannya
bahwa tuannya itu mungkin akan makan sendiri saja, sebab
para tamu yang sudah diundang, meskipun sudah diberi tahu
jauh-jauh hari sebelumnya supaya bisa mempersiapkan diri,
sekarang sedang sibuk mengurusi masalah-masalah lain. Ia
tidak menambah-nambahi ataupun mengurang-ngurangi apa
yang telah didengarnya, ia menyampaikannya apa adanya.
Perhatikanlah, hamba Tuhan harus memberikan laporan atas
keberhasilan pelayanan mereka. Mereka harus melakukannya
sekarang di hadapan takhta anugerah. Jika mereka mengalami
kesusahan jiwa, mereka harus pergi menghadap Tuhan dengan
ucapan syukur, jika mereka bersusah-susah dengan percuma,
mereka harus pergi menghadap Tuhan dengan keluhan-keluhan
mereka. Mereka juga harus melakukannya nanti di hadapan
kursi pengadilan Kristus. Mereka akan diajukan sebagai saksi
melawan orang-orang yang keras kepala dan yang akan binasa
dalam ketidakpercayaan mereka, untuk membuktikan bahwa
mereka sudah diundang dengan baik-baik. Sementara bagi
mereka yang menerima panggilan itu, mereka akan mendengar
Kristus berkata, “Lihatlah, Aku dan anak-anak yang telah
Kauberikan kepada-Ku.” Sang rasul menekankan hal ini seba-
gai suatu alasan mengapa kita harus mendengarkan firman
Tuhan yang disampaikan kepada kita oleh para hamba-Nya:
sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang
yang harus bertanggung jawab atasnya (Ibr. 13:17).
Injil Lukas 14:15-24
535
4. Kemarahan tuan rumah atas penghinaan ini, yang wajar saja
dirasakannya: Lalu murkalah tuan rumah itu (ay. 21). Perhati-
kanlah, sikap tidak berterima kasih orang-orang yang menye-
pelekan Injil yang ditawarkan kepada mereka dan penghinaan
yang mereka lontarkan kepada Tuhan sorgawi sungguh sangat
menyulut kemarahan Tuhan . Belas kasihan yang dilecehkan
akan berubah menjadi murka yang menyala-nyala. Kutukan
yang diucapkan Tuan rumah atas mereka yaitu tidak ada se-
orangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menik-
mati jamuan-Ku. Ini seperti kutukan yang ditimpakan kepada
bangsa Israel yang tidak tahu berterima kasih, saat mereka
meremehkan tanah perjanjian yang subur itu: Tuhan bersum-
pah dalam murka-Nya bahwa mereka takkan masuk ke tempat
perhentian-Nya. Perhatikanlah, meremehkan anugerah berarti
menyia-nyiakannya, seperti Esau yang menyia-nyiakan hak
kesulungannya. Orang yang tidak mau menerima Kristus pada
saat mereka dapat melakukannya, tidak akan diterima oleh-
Nya pada saat mereka menginginkannya. Bahkan mereka yang
sudah diundang, jika mereka tidak menggubris undangan itu,
tidak akan digubris-Nya nanti. saat pintu sudah tertutup,
gadis-gadis yang bodoh tidak boleh masuk.
5. Usaha yang dilakukan untuk memeriahkan meja, dan makan-
annya, dengan para tamu. “Pergilah” (kata tuan rumah itu ke-
pada para hambanya), “pergilah dengan segera ke segala jalan
dan lorong kota, dan janganlah mengundang para saudagar
yang baru keluar dari rumah cukai, atau para pedagang yang
baru menutup toko mereka, sebab mereka akan minta dimaaf-
kan (yang satu akan pergi ke kantor untuk mengurus pem-
artikel annya, dan yang lain akan pergi ke kedai untuk minum
bersama temannya). namun undanglah orang-orang yang akan
merasa senang untuk datang, bawalah ke mari orang-orang mis-
kin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-
orang lumpuh. Bawalah para pengemis yang kautemui di
jalanan.” Tidak ada keberatan bagi hamba-hamba itu bahwa
menghadirkan tamu-tamu seperti itu di meja perjamuan akan
merendahkan tuan mereka dan rumahnya sendiri, sebab
mereka tahu apa yang dipikirkan tuan mereka. sebab itu,
segeralah mereka mengumpulkan bergerombol-gerombol tamu-
tamu seperti itu: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah
536
dilaksanakan. Banyaklah orang Yahudi yang dibawa masuk,
namun tidak dari kalangan ahli Taurat atau orang Farisi, seperti
yang sedang makan malam dengan Kristus di sini, yang
berpikir bahwa merekalah yang paling layak diundang ke perja-
muan Mesias, melainkan para pemungut cukai dan orang ber-
dosa. Mereka inilah orang-orang miskin dan orang-orang cacat.
Meskipun begitu, masih ada tempat untuk lebih banyak tamu
lagi, dan masih ada cukup banyak persediaan untuk mereka
semua. “Kalau begitu, pergilah lagi ke semua jalan dan lintas-
an. Pergilah ke desa-desa, dan bawalah para gelandangan, atau
mereka yang baru kembali pada sore hari dari pekerjaan
mereka di ladang, sesudah seharian memagari tanaman dan
menggali parit di sana, dan paksalah orang-orang yang ada di
situ masuk, bukan dengan senjata, melainkan dengan membe-
rikan pernyataan-pernyataan yang meyakinkan hati. Bersung-
guh-sungguhlah dengan mereka, sebab kali ini penting bagi
kalian untuk meyakinkan mereka bahwa undangan ini me-
mang benar, dan bukan olok-olok. Mereka akan merasa malu
dan rendah diri, dan tidak akan percaya bahwa mereka sung-
guh-sungguh diundang, dan sebab itu bersikeraslah dengan
mereka dan janganlah tinggalkan mereka sampai kalian ber-
hasil membujuk mereka.” Hal ini merujuk pada panggilan bagi
orang-orang bukan-Yahudi, yang kepada mereka para rasul
berbalik saat orang-orang Yahudi menolak tawaran Injil, dan
yang dengan merekalah gereja Injil kini dipenuhi.
Sekarang perhatikanlah di sini:
(1) Bahwa persediaan yang telah dibuat bagi jiwa-jiwa yang
berharga dalam Injil Kristus tidak akan sia-sia, sebab jika
sebagian orang menolaknya, maka sebagian yang lain akan
menerima tawaran Injil itu dengan penuh rasa syukur.
Kristus menghibur diri-Nya dengan hal ini, yaitu bahwa
meskipun Israel tidak dikumpulkan, Ia akan dipermuliakan,
sebagai terang bagi bangsa-bangsa (Yes. 49:5-6). Tuhan
akan mendirikan gereja-Nya di bumi, meskipun ada sebagi-
an yang dikucilkan daripadanya, sebab ketidaksetiaan
orang tidak akan membatalkan kesetiaan Tuhan .
(2) Orang yang sangat miskin dan hina di dunia ini akan di-
sambut oleh Kristus sama seperti orang yang kaya dan ter-
Injil Lukas 14:15-24
537
hormat. Bahkan sering kali Injil jauh lebih berhasil di ka-
langan orang-orang yang berkekurangan dalam hal dunia-
wi, seperti orang miskin, dan yang mempunyai kelemahan-
kelemahan jasmani, seperti orang cacat, orang lumpuh, dan
orang buta. Kristus di sini jelas merujuk pada apa yang
baru saja dikatakan-Nya kepada kita, yaitu agar kita dalam
mengadakan perjamuan mengundang orang-orang miskin,
orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang
buta (ay. 13). Dengan melihat betapa relanya Kristus mem-
beritakan Injil-Nya kepada orang-orang miskin, maka hal
ini haruslah membuat kita bermurah hati kepada mereka.
Kerendahan hati dan belas kasihan-Nya terhadap mereka
haruslah membuat kita rendah hati dan berbelas kasihan
pula kepada mereka.
(3) Berkali-kali Injil paling berhasil diberitakan kepada orang-
orang yang paling kecil kemungkinannya untuk mendapat-
kan manfaat darinya, dan yang paling tidak diduga akan
berserah kepadanya. Para pemungut cukai dan perempuan
sundal masuk ke dalam Kerajaan Tuhan mendahului para
ahli Taurat dan orang Farisi. Demikianlah, orang yang ter-
akhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu
akan menjadi yang terakhir. Oleh sebab itu, janganlah kita
terlalu yakin dengan orang yang terlihat sangat meyakin-
kan, atau putus asa dengan orang yang tampak tidak men-
janjikan apa-apa.
(4) Hamba-hamba Kristus haruslah sigap dan pantang menye-
rah dalam mengundang orang ke perjamuan Injil: “Pergilah
dengan segera (ay. 21), janganlah membuang-buang waktu,
sebab segala sesuatu sudah siap. Panggillah mereka untuk
datang hari ini, selagi masih bisa disebut hari ini, dan pak-
salah mereka untuk masuk, dekati mereka dan bicaralah
baik-baik dan tariklah mereka dengan tali kesetiaan, dan
dengan ikatan kasih.” sebab itu, sungguh tidak masuk
akal bila kita mengajukan alasan untuk memaksakan ke-
hendak kita kepada orang lain, atau bahkan memaksa
orang lain untuk melawan kehendak hatinya sendiri dalam
masalah agama: “Kalau kamu tidak mau datang ke dalam
perjamuan Tuhan, maka kamu akan didenda atau dipen-
jara, dan harta milikmu akan dimusnahkan.” Tentu saja
538
bukan paksaan seperti ini yang dimaksudkan di sini, me-
lainkan hanyalah suatu ajakan yang didasarkan pada akal
sehat dan kasih, sebab senjata kita dalam perjuangan bu-
kanlah senjata duniawi.
(5) Meskipun sudah ada banyak orang yang diundang untuk
ikut menikmati keuntungan-keuntungan Injil, tetap saja
masih ada tempat, sebab kekayaan Kristus tidak terselami
dan tidak akan pernah habis. Di dalam Dia ada begitu ba-
nyak kekayaan untuk semua, dan setiap orang pasti akan
mendapat bagian, dan Injil tidak akan menghalang-halangi
siapa pun yang tidak menghalang-halangi dirinya sendiri.
(6) Rumah Kristus, meskipun sangat besar, pada akhirnya
akan penuh. Ini akan terjadi jika jumlah orang terpilih
sudah genap, dan saat semua orang yang telah diberikan
kepada-Nya telah dibawa ke hadapan-Nya.
Pentingnya Penyangkalan Diri
(14:25-35)
25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam
perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: 26 “Jikalau se-
orang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya,
anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nya-
wanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 27 Barangsiapa tidak memi-
kul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 28 Sebab
siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak
duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya
untuk menyelesaikan pekerjaan itu? 29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan
dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang
yang melihatnya, mengejek di