lukas 13-24 2

 


mbangan yang menyadarkan, untuk memper-

kuat nasihat ini. Oh, semoga saja kita semua tergugah oleh 

berbagai pertimbangan ini! Ini yaitu  pertimbangan yang men-

jawab pertanyaan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?  

(1) Pikirkanlah berapa banyak orang yang sudah bersusah 

payah untuk memperoleh keselamatan, namun masih juga 

binasa sebab  belum cukup melakukannya. Bila kita mau 


 506

merenungkan hal ini, kita akan sadar betapa sedikitnya 

orang yang diselamatkan, dan sebab  itu kita semua harus 

berjuang: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, namun  

tidak akan dapat. Mereka ingin, namun  tidak mau berjuang. 

Perhatikanlah, penyebab mengapa banyak orang tidak 

memperoleh anugerah dan kemuliaan yaitu  sebab  mere-

ka hanya bermalas-malasan dalam mencari sesuatu yang 

tidak akan dicapai kalau tanpa perjuangan yang gigih. Me-

reka mempunyai pikiran yang baik tentang kebahagiaan 

dan pandangan yang baik tentang kekudusan, dan mereka 

juga mengambil langkah-langkah yang baik untuk mengga-

pai keduanya. Namun keinsafan mereka ini lemah. Mereka 

tidak merenungkan lebih lanjut apa yang mereka ketahui 

dan percayai, dan sebagai akibatnya, keinginan-keinginan 

mereka menjadi dingin dan usaha-usaha mereka melemah, 

ketetapan hati mereka tidak kokoh atau teguh. Dan sebab  

itu, mereka gagal dan kehilangan hadiah, sebab mereka 

tidak berusaha untuk terus maju. Kristus membenarkan 

hal ini dengan perkataan-Nya: Aku berkata kepadamu, dan 

kita dapat mengandalkan perkataan-Nya itu, sebab Ia me-

ngetahui baik itu pikiran-pikiran Tuhan  maupun hati anak-

anak manusia. 

(2) Pikirkanlah betapa dahsyatnya hari menentukan yang akan 

datang itu dan keputusan-keputusan yang akan ditetapkan 

pada hari itu, maka kamu akan menyadari betapa sedikit-

nya orang yang diselamatkan, dan sebab  itu kita semua 

harus berjuang: Tuan rumah akan bangkit dan menutup 

pintu (ay. 25). Kristus yaitu  Tuan rumah, yang selalu 

memperhatikan semua orang yang sering mengunjungi ru-

mah-Nya dan yang bekerja sebagai pelayan-pelayan di da-

lamnya. Ia akan mengamati orang-orang yang datang dan 

pergi, yang melewatinya dan yang berbalik untuk melewati-

nya lagi. Sekarang tampaknya Ia membiarkan segala se-

suatu terbuka lebar-lebar, namun  akan datang harinya keti-

ka Ia akan bangkit dan menutup pintu. Pintu apakah itu?  

[1] Pintu pemisahan. Nah, di dalam bait jemaat ada orang 

yang mengaku beriman namun  masih hidup dalam keda-

gingan, yang menyembah di pelataran luar, dan ada 

orang yang mengaku beriman yang hidup dalam roh, 

Injil Lukas 13:23-30 

 507 

yang menyembah di balik tabir. Di antara mereka ini 

ada pintu yang sekarang terbuka, dan mereka bertemu 

dengan bercampur baur dalam ibadah-ibadah lahiriah 

yang sama. Namun, saat  Tuan rumah bangkit, pintu di 

antara mereka itu akan ditutup, sehingga mereka yang 

berada di pelataran luar tetap berada di luar, dan di-

biarkan diinjak-injak oleh bangsa lain (Why. 11:2). Bagi 

mereka yang cemar, tutuplah pintu bagi mereka, dan 

biarlah mereka terus cemar, supaya mereka yang berada 

di dalam tetap berada di dalam, dan mereka yang kudus 

tetap menguduskan diri mereka. Pintu itu ditutup untuk 

memisahkan antara yang mulia dan yang hina, supaya 

orang-orang berdosa tidak lagi berdiri dalam perkumpul-

an orang benar. Maka kamu akan kembali ke tempatmu 

dan mengenal perbedaan di antara keduanya.  

[2] Pintu penolakan dan pengucilan. Pintu belas kasihan 

dan anugerah telah lama terbuka bagi mereka, namun 

mereka tidak mau datang melaluinya, tidak mau terge-

rak menerima kebaikan yang ditawarkannya. Sebalik-

nya, mereka malah ingin masuk dengan memanjat jalan 

lain, dan masuk sorga dengan kebaikan-kebaikan mere-

ka sendiri. Oleh sebab  itu, jika  Tuan Rumah bang-

kit, Ia dengan adil akan menutup pintu itu. Janganlah 

mereka menyangka bisa masuk melaluinya, namun  biar-

lah mereka mengenakan ukuran-ukuran yang mereka 

pakai sendiri. Demikianlah, saat  Nuh sudah aman di 

dalam bahtera, Tuhan  menutup pintunya, supaya semua 

orang yang mengandalkan tempat perlindungan mereka 

sendiri saat  air bah datang menerjang dikucilkan.     

(3) Pikirkanlah berapa banyak orang yang sangat yakin akan 

diselamatkan, namun  ternyata ditolak pada hari penghakim-

an dan tertipu oleh keyakinan-keyakinan mereka sendiri. 

Bila kita mau merenungkan ini, maka kita akan sadar be-

tapa sedikit saja orang yang diselamatkan dan bahwa kita 

semua harus berjuang.  

Cermatilah:     

[1] Bagaimana mereka merasa yakin akan diperbolehkan 

masuk, dan seberapa jauh harapan mereka membawa 


 508

mereka, bahkan sampai ke pintu sorga. Di sana mereka 

berdiri dan mengetok-ngetok, mengetok-ngetok seolah-

olah mereka mempunyai wewenang untuk itu, menge-

tok-ngetok seolah-olah mereka anggota keluarga, sambil 

berkata, “Tuan, bukakanlah kami pintu, sebab kami ya-

kin kami berhak untuk masuk. Bawalah kami masuk 

bersama orang-orang yang diselamatkan, agar kami bisa 

menggabungkan diri bersama mereka.” Perhatikanlah, 

banyak yang dibinasakan oleh harapan mereka yang 

keliru tentang sorga. Mereka tidak pernah menyangsi-

kan atau mempertanyakan harapan mereka itu, dan 

oleh sebab itu mereka menganggap keadaan mereka 

baik-baik saja, sebab  mereka tidak pernah meragukan-

nya. Mereka memanggil Kristus, Tuan, seolah-olah me-

reka yaitu  para hamba-Nya. Bahkan, sebagai tanda 

keteguhan hati mereka, mereka memanggil-Nya Tuan 

dua kali, Tuan, Tuan [terjemahan KJV – pen.]. Sekarang 

mereka sangat ingin masuk melalui pintu itu, padahal 

sebelumnya mereka sangat meremehkannya. Sekarang 

dengan senang hati mereka ingin berkumpul bersama 

orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh, padahal 

sebelumnya mereka secara diam-diam memandang ren-

dah orang-orang Kristen.   

[2] Atas dasar-dasar apa mereka memiliki keyakinan ini. 

Mari kita lihat apa yang mereka serukan (ay. 26). Per-

tama, mereka telah menjadi tamu-tamu Kristus, telah 

bergaul dekat dengan-Nya, dan telah turut berbagi da-

lam kebaikan-kebaikan-Nya: kami telah makan dan 

minum di hadapan-Mu, di meja-Mu. Yudas makan roti 

bersama Kristus, dan memasukkan tangannya ke dalam 

piring bersama Dia. Orang-orang munafik, dengan me-

nyamar di balik ibadah lahiriah mereka, menerima per-

jamuan Tuhan, dan di dalamnya mereka ikut makan 

roti yang disediakan bagi anak-anak, seolah-olah me-

reka sendiri termasuk anak-anak. Kedua, mereka telah 

menjadi para pendengar Kristus, telah menerima perin-

tah dari-Nya, dan mengenal dengan baik ajaran serta 

hukum-Nya: “Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota 

kami – ini suatu berkat yang istimewa, yang hanya 

Injil Lukas 13:23-30 

 509 

dimiliki sedikit orang, dan pasti ini dapat dipandang se-

bagai suatu janji bahwa mereka juga akan diberi kehor-

matan yang istimewa sekarang, sebab kalau Engkau 

mengajar kami, masakan Engkau tidak menyelamatkan 

kami?”   

[3] Bagaimana keyakinan mereka akan mengecewakan me-

reka, dan semua seruan serta permohonan mereka dito-

lak sebagai sesuatu yang sia-sia. Kristus akan berkata 

kepada mereka, “Aku tidak tahu dari mana kamu da-

tang” (ay. 25), dan lagi, “Aku tidak tahu dari mana kamu 

datang, enyahlah dari hadapan-Ku” (ay. 27). Ia tidak 

menyangkal bahwa apa yang mereka serukan itu benar. 

Mereka memang telah makan dan minum di hadapan-

Nya, akan namun , sejalan dengan itu, tidak lama sesudah  

mereka memakan roti-Nya, mereka juga mengangkat 

tumit menendang Dia. Memang benar bahwa Ia telah 

mengajar di jalan-jalan kota mereka, namun benar juga 

bahwa mereka telah merendahkan perintah-Nya dan 

tidak mau menaatinya. Oleh sebab  itu, pertama, Ia 

tidak mengakui mereka: “Aku tidak mengenalmu, kamu 

bukan dari keluarga-Ku.” Tuhan mengenal siapa kepu-

nyaan-Nya, namun  orang-orang yang bukan kepunyaan-

Nya, yang tidak dikenal-Nya, Ia tidak mempunyai urus-

an apa-apa dengan mereka: “Aku tidak tahu dari mana 

kamu datang. Kamu bukan kepunyaan-Ku, kamu bu-

kan dari atas, kamu bukan ranting-ranting dalam ru-

mah-Ku, dalam kebun anggur-Ku.” Kedua, Ia mencam-

pakkan mereka: “Enyahlah dari hadapan-Ku.” Dicam-

pakkan dari Kristus yaitu  neraka dari segala neraka, 

kesengsaraan yang paling ngeri yang dirasakan orang-

orang terkutuk. “Enyahlah dari pintu-Ku, sebab tidak 

ada apa pun di sini untukmu, bahkan setetes air sekali-

pun.” Ketiga, Ia menyebutkan suatu perbuatan mereka 

yang menyebabkan kebinasaan mereka: hai kamu seka-

lian yang melakukan kejahatan. Inilah kehancuran me-

reka, bahwa di balik kesalehan lahiriah yang mereka 

perlihatkan, mereka merahasiakan dosa-dosa yang 

terus membayangi mereka, dan melakukan pekerjaan 

Iblis dengan memakai pakaian Kristus.    


 510

[4] Bagaimana mengerikannya hukuman mereka nanti (ay. 

28): di sanalah akan ada  ratap dan kertak gigi, pen-

deritaan dan kemarahan yang teramat dahsyat. Yang 

menyebabkan semua itu, dan yang semakin menambah 

penderitaan serta kemarahan mereka yaitu  saat  me-

reka melihat kebahagiaan orang-orang yang diselamat-

kan: kamu akan melihat Abraham, Ishak, dan Yakub 

dan semua nabi di dalam Kerajaan Tuhan , namun  kamu 

sendiri dicampakkan keluar. Perhatikanlah di sini, per-

tama, bahwa orang-orang kudus dari Perjanjian Lama 

sekarang ada di dalam Kerajaan Tuhan . Orang-orang 

yang meninggal sebelum kedatangan Mesias diberi ke-

untungan oleh sang Mesias sendiri, sebab mereka meli-

hat hari-Nya dari jauh, dan hal itu mendatangkan peng-

hiburan bagi mereka. Kedua, bahwa orang-orang ber-

dosa dalam Perjanjian Baru akan dihalau dari Kerajaan 

Tuhan . Ini menyiratkan bahwa mereka akan berusaha 

masuk, dan menganggap diri mereka layak masuk, te-

tapi ternyata sia-sia saja. Mereka akan diusir pergi de-

ngan memalukan, sebagai orang-orang yang tidak mem-

punyai urusan atau bagian di dalam perkara itu. Ketiga, 

bahwa penglihatan akan kemuliaan orang-orang kudus 

semakin menambah kesengsaraan orang-orang berdosa. 

Sampai sejauh itu saja mereka akan melihat Kerajaan 

Tuhan , yakni hanya sebatas melihat nabi-nabi di dalam-

nya, yang mereka benci dan mereka anggap rendah se-

belumnya, sedangkan mereka sendiri, yang yakin akan 

masuk ke situ, diusir pergi. Itulah sebabnya mereka 

akan menggertakkan gigi mereka (Mzm. 112:10).    

(4) Pikirkanlah siapa saja yang akan diselamatkan, kendati de-

ngan semua pertimbangan tadi: orang akan datang dari 

Timur dan Barat, dan yang terakhir akan menjadi yang ter-

dahulu (ay. 29-30).  

[1]  Melalui apa yang dikatakan Kristus, tampak bahwa dari 

antara orang-orang yang kita pikir kemungkinan besar 

akan diselamatkan, dan yang tampak paling layak un-

tuk memperoleh keselamatan, hanya sedikit saja yang 

akan diselamatkan. Namun demikian, janganlah sangka 

Injil Lukas 13:23-30 

 511 

bahwa kalau begitu jadinya, Injil diberitakan dengan 

sia-sia; sebab meskipun Israel tidak dikumpulkan, 

Kristus akan dimuliakan. Akan datang banyak orang 

dari seluruh bagian dunia orang-orang bukan-Yahudi 

yang akan dipersilakan masuk ke dalam kerajaan anu-

gerah di dunia ini dan kerajaan kemuliaan di dunia 

yang akan datang. Jelaslah bahwa saat  kita tiba di 

sorga, kita akan bertemu dengan sangat banyak orang 

yang sedikit kita sangka akan kita temui di sana, dan 

akan kehilangan sangat banyak orang yang sangat kita 

harapkan akan kita temui di sana.  

[2] Orang-orang yang duduk makan di dalam Kerajaan 

Tuhan  yaitu  mereka yang sudah bersusah payah untuk 

sampai di sana, sebab mereka datang dari jauh – dari 

Timur dan dari Barat, dari Utara dan dari Selatan. Mere-

ka telah melewati iklim-iklim yang berbeda, dan telah 

menerobos banyak kesusahan dan kekecewaan. Ini 

menunjukkan bahwa orang yang mau masuk ke dalam 

kerajaan itu harus berjuang, seperti Ratu Negeri Syeba, 

yang datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hik-

mat Salomo. Orang-orang yang sekarang bepergian un-

tuk melayani Tuhan  dan demi kepentingan rohani tidak 

lama lagi akan duduk beristirahat di dalam Kerajaan 

Tuhan .  

[3]  Banyak orang yang tampak layak masuk sorga ternyata 

kurang memenuhi syarat, dan orang lain yang tampak 

jauh tertinggal, dan terlihat disingkirkan dari jalan me-

nuju ke sana, akan menang dan memakai mahkota ini, 

dan sebab  itu kita semua harus berjuang untuk masuk. 

Marilah kita tergugah, seperti yang diharapkan Paulus 

dari orang-orang Yahudi, untuk meniru semangat ku-

dus dan kegigihan orang-orang bukan-Yahudi (Rm. 

11:14). Akankah aku dikalahkan oleh orang-orang di 

bawahku? Akankah aku, yang memulai terlebih dulu 

dan berdiri paling dekat, kehilangan sorga, sementara 

orang lain, yang lebih kecil peluangnya, akan mema-

sukinya? Jika sorga diperoleh melalui perjuangan, 

mengapa aku tidak berjuang? 


 512

Pesan Kristus kepada Herodes 

(13:31-35) 

31 Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada 

Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, sebab  Herodes hendak membu-

nuh Engkau.” 32 Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah ke-

pada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada 

hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. 33 namun  hari 

ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah 

semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem. 34 Yerusalem, 

Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu 

orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan 

anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di 

bawah sayapnya, namun   kamu tidak mau. 35 Sesungguhnya rumahmu ini 

akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. namun  Aku berkata kepadamu: Kamu 

tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia 

yang datang dalam nama Tuhan!” 

Inilah:  

I.   Sebuah saran kepada Kristus tentang bahaya yang mengancam 

dari Herodes, saat  Ia sekarang sedang berada di Galilea, wilayah 

kekuasaan Herodes (ay. 31). Beberapa orang Farisi (sebab orang-

orang dari golongan ini tersebar di seluruh bangsa Yahudi) datang 

kepada Kristus, dengan berpura-pura bersahabat dan peduli akan 

keselamatan-Nya, dan berkata, “Pergilah dari wilayah ini, dan 

tinggalkanlah tempat ini, kalau tidak, Herodes hendak membunuh 

Engkau, seperti yang dilakukannya terhadap Yohanes.” Menurut 

sebagian orang, orang-orang Farisi ini sama sekali berbohong, 

sebab  Herodes tidak pernah mengatakan apa pun mengenai hal 

ini. Mereka sendiri yang merancangkan kebohongan ini, untuk 

mengusir-Nya dari Galilea, sebab di situ Dia semakin disukai 

banyak orang, dan untuk mendesak-Nya pergi ke Yudea, sebab di 

sana mereka tahu ada orang-orang yang benar-benar ingin men-

cabut nyawa-Nya. Akan namun , sebab  jawaban Kristus ditujukan 

langsung kepada Herodes sendiri, tampaknya ada alasan tertentu 

mengapa orang-orang Farisi itu sampai berkata demikian. Tam-

paknya Herodes sangat geram terhadap Kristus, dan sedang me-

rancang suatu kejahatan terhadap-Nya, sebab Ia memberikan ke-

saksian yang sangat baik tentang Yohanes Pembaptis dan tentang 

ajaran pertobatan yang diberitakan Yohanes. Herodes sangat ingin 

mengusir Kristus dari wilayah kekuasaannya, dan kalaupun ia 

tidak berani membunuh-Nya, ia berharap dapat menakut-nakuti-

Injil Lukas 13:31-35 

 513 

Nya dengan pesan yang mengancam ini, supaya Ia segera mening-

galkan tempat itu. 

II.  Tantangan-Nya terhadap kemarahan Herodes dan terhadap orang-

orang Farisi. Ia tidak takut seorang pun dari mereka itu: Pergilah 

dan katakanlah kepada si serigala itu (ay. 32). Dengan memanggil 

Herodes serigala, Kristus menggambarkan karakter atau tabiat-

nya yang sebenarnya, sebab ia licik seperti serigala, terkenal akan 

kecerdikannya, tipu dayanya, dan kebengisannya, dan ia me-

mangsa korbannya (seperti yang dikatakan orang tentang serigala) 

di tempat yang paling jauh dari liangnya sendiri. Meskipun ini 

sifat yang jahat dan buruk, Kristus tidaklah jahat dalam meng-

gambarkan Herodes secara demikian, dan Ia juga tidak melanggar 

hukum yang berbunyi “Janganlah engkau berkata jahat tentang 

seorang pemimpin bangsamu.” Sebab, Kristus yaitu  seorang 

Nabi, dan para nabi selalu mempunyai kebebasan berbicara da-

lam menegur para penguasa dan pembesar. Dan bukan itu saja, 

Kristus lebih daripada seorang nabi, Dia yaitu  Raja, Raja segala 

raja, dan segala pembesar di dunia ini harus bertanggung jawab 

kepada-Nya, dan sebab  itu Dia memang harus memanggil raja 

yang congkak ini dengan namanya yang sebenarnya. Namun de-

mikian, hal ini tidaklah untuk dijadikan contoh bagi kita. “Pergi-

lah, dan katakanlah kepada serigala itu, ya, katakan kepada seri-

gala ini juga” (begitulah dalam bahasa aslinya, te alopeki taute). 

“Orang Farisi itu, siapa pun dia, yang mau membisik-bisikkan 

berita ini ke telinga-Ku, biarlah dia tahu bahwa Aku tidak takut 

kepadanya, dan juga tidak menggubris ancaman-ancamannya.”  

sebab : 

1.  “Aku tahu bahwa Aku harus mati, dan Aku akan mati seben-

tar lagi. Aku menyadarinya, dan Aku mengharapkannya, yaitu 

pada hari ketiga,” yang berarti “sudah sangat singkat; waktu-

Ku sudah dekat.” Perhatikanlah, kita dengan sangat mudah 

akan mampu mengatasi rasa takut terhadap kematian, dan 

terhadap mereka yang berkuasa atas kematian, jika kita meli-

hat kematian bukan sebagai sesuatu yang aneh bagi kita, jika 

kita sadar bahwa kematian pasti akan datang, jika kita selalu 

merenungkannya, sering memikirkannya, dan melihatnya se-

bagai sesuatu yang sudah ada di ambang pintu. “Jika Herodes 


 514

hendak membunuh-Ku, itu sama sekali tidak membuat-Ku 

terkejut.”  

2. “Aku tahu bukan saja bahwa kematian tidak akan menyusah-

kan-Ku, melainkan juga bahwa kematian itulah yang memang 

akan lebih Kupilih. Oleh sebab  itu, katakanlah kepadanya 

bahwa aku tidak takut terhadapnya. saat  Aku mati Aku 

akan selesai. saat  itulah Aku selesai dengan bagian tersulit 

dari pekerjaan-Ku, saat itulah Aku tuntas dengan tugas-Ku,” 

teleioumai – Aku akan ditahbiskan. saat  Kristus mati, dikata-

kan bahwa saat itulah Ia menguduskan diri-Nya. Ia menahbis-

kan diri-Nya sebagai imam dengan darah-Nya sendiri.  

3. “Aku tahu bahwa Herodes ataupun orang lain tidak dapat 

membunuh-Ku sebelum Aku menyelesaikan pekerjaan-Ku. Per-

gilah, dan katakanlah kepadanya bahwa Aku sama sekali tidak 

menggubris kemarahannya yang tidak punya gigi itu. Aku 

mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan 

besok,” artinya, “sekarang dan sedikit waktu lagi, tidak peduli 

dengan Herodes dan segala ancamannya itu. Aku harus ber-

jalan, Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, dan dia sama se-

kali tidak berkuasa untuk menghalang-halangi Aku. Aku ha-

rus pergi berkeliling, seperti yang biasa Kulakukan, memberi-

takan Injil dan menyembuhkan orang, hari ini dan besok dan 

lusa.” Perhatikanlah, sungguh baik bagi kita untuk melihat 

bahwa waktu yang tersedia di depan kita ini hanyalah sedikit 

saja, paling banyak mungkin dua atau tiga hari saja, agar kita 

terpacu untuk mengerjakan tugas untuk hari ini pada hari ini 

juga. Merupakan penghiburan juga bagi kita dengan mengeta-

hui bahwa musuh-musuh kita, dengan segala kejahatan mere-

ka, tidak berkuasa membunuh kita selama Tuhan  masih mem-

punyai tugas bagi kita yang harus kita lakukan. Dua saksi 

Tuhan  (dalam Kitab Wahyu – pen.) tidak dibunuh sebelum mere-

ka menyelesaikan kesaksian mereka.  

4.  “Aku tahu bahwa Herodes tidak dapat melukai-Ku sedikit pun, 

bukan hanya sebab  saat-Ku belum tiba, namun  juga sebab  

tempat yang ditentukan bagi kematian-Ku yaitu  Yerusalem, 

yang tidak termasuk dalam wilayah kekuasaannya. Tidaklah 

semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem,” 

artinya, “tidak di mana pun juga kecuali di Yerusalem.” Apa-

bila seorang nabi yang benar dibunuh, ia dihukum mati seba-

Injil Lukas 13:31-35 

 515 

gai nabi palsu. Nah, tidak ada yang bisa mengadili dan meng-

hakimi para nabi selain Mahkamah Agama (Sanhedrin) sendiri, 

yang berkedudukan di Yerusalem. Mahkama Agama lokal di 

tempat-tempat lain tidak bisa menangani perkara ini, dan ka-

rena itu, jika seorang nabi dihukum mati, keputusannya harus 

dijatuhkan oleh Mahkamah Agama di Yerusalem. 

III. Ratapan-Nya atas Yerusalem, dan pernyataan murka atas kota itu 

(ay. 34, 35). Hal ini sudah kita baca sebelumnya dalam Matius 

23:37-39. Mungkin perkataan ini tidak diucapkan di Galilea, na-

mun penulis Injil ini, tanpa bermaksud menempatkannya pada 

tempat yang sesuai, menyelipkannya di sini, saat Kristus me-

nyinggung hal kematian-Nya di Yerusalem.  

     Perhatikanlah:  

1.  Kejahatan orang-orang dan tempat-tempat yang mengaku le-

bih beragama dan lebih bersekutu dengan Tuhan  daripada se-

mua orang dan tempat lainnya sangatlah menggusarkan dan 

mendukakan hati Tuhan Yesus. Betapa sedihnya Kristus keti-

ka Ia berbicara tentang dosa dan kehancuran kota suci itu! Oh 

Yerusalem, Yerusalem.  

2.  Orang yang tidak dapat mengambil manfaat dari berlimpahnya 

sarana anugerah yang mereka nikmati, sering kali berprasang-

ka buruk terhadap segala sarana anugerah itu. Banyak orang 

tidak mau mendengarkan nabi-nabi atau menyambut utusan-

utusan Tuhan , lalu membunuh dan merajam mereka. Jika keja-

hatan manusia tidak ditaklukkan, kejahatan ini  semakin 

menjadi-jadi. 

3. Yesus Kristus telah menunjukkan bahwa diri-Nya rela, sangat 

rela, untuk menerima dan menghibur jiwa-jiwa malang yang 

datang kepada-Nya dan menyerahkan diri mereka ke dalam 

perlindungan-Nya: berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-

anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anak-

nya di bawah sayapnya, dengan begitu penuh perhatian dan 

kelembutan!  

4. Alasan mengapa para pendosa tidak dilindungi dan dipelihara 

oleh Tuhan Yesus, seperti anak-anak ayam yang dilindungi 

dan dipelihara oleh induknya, yaitu  sebab  mereka tidak 

mau: Aku rindu, Aku sering kali rindu, namun  kamu tidak mau. 


 516

Kerelaan Kristus semakin memberatkan ketidakrelaan para 

pendosa. Kerelaan-Nya itu membiarkan darah mereka tertum-

pah di atas kepala mereka sendiri.  

5. Rumah yang ditinggalkan Kristus pasti juga akan ditinggalkan 

dan menjadi sunyi. Bait Tuhan , meskipun dihiasi dengan begitu 

megahnya dan sering dikunjungi orang, akan menjadi sunyi 

begitu Kristus meninggalkannya. Ia membiarkan Bait Tuhan  itu 

ke tangan mereka. Mereka telah menjadikannya berhala, jadi 

biarlah mereka sendiri yang mengurusnya dan melakukan apa 

saja dengannya, Kristus tidak akan memedulikannya lagi.  

6.  Sudah selayaknya Kristus menarik diri dari orang-orang yang 

mengusir-Nya. Mereka tidak akan dikumpulkan oleh-Nya, dan 

sebab  itu, kata-Nya, “Kamu tidak akan melihat Aku lagi, kamu 

tidak akan mendengar Aku lagi,” seperti yang dikatakan Musa 

kepada Firaun saat  Firaun mengusirnya dari hadapannya 

(Kel. 10:28-29).  

7.  Penghakiman pada hari agung itu akan menyadarkan orang-

orang tidak percaya yang sekarang tidak mau yakin: “Maka 

kamu akan berkata, diberkatilah Dia yang datang,” dan, “wak-

tu itu kamu akan sadar betapa berbahagianya kamu bila ber-

ada bersama orang-orang yang berkata demikian. Kamu baru 

akan melihat-Ku sebagai Mesias, saat  semuanya sudah ter-

lambat.” 

 PASAL 14  

Dalam pasal ini diceritakan tentang: 

I.  Penyembuhan yang diadakan Yesus Tuhan kita pada hari 

Sabat terhadap seorang yang sakit busung air, dan pembe-

naran-Nya atas perbuatan-Nya itu melawan orang-orang 

yang berkeberatan sebab  Dia melakukannya pada hari Sa-

bat (ay. 1-6).  

II.  Pelajaran tentang kerendahan hati yang disampaikan kepada 

orang-orang yang sangat berhasrat menduduki tempat-tem-

pat kehormatan (ay. 7-11).  

III. Pelajaran tentang amal sedekah kepada mereka yang men-

jamu orang-orang kaya namun tidak memberi makan orang-

orang miskin (ay. 12-14).  

IV. Ketidakberhasilan Injil dinubuatkan dalam perumpamaan 

tentang para tamu yang diundang ke perjamuan besar, yang 

melambangkan penolakan orang Yahudi dan semua orang 

lain yang hatinya hanya terpikat pada dunia ini, dan penghi-

buran bagi orang-orang bukan-Yahudi serta semua orang 

lain yang datang untuk mendapat kepuasan dari Kristus (ay. 

15-24). 

V.  Hukum agung tentang pemuridan dibentangkan, disertai 

peringatan kepada semua orang yang mau menjadi murid 

Kristus agar mereka mengambil keputusan berdasarkan ke-

hendak hati dan dengan pertimbangan yang matang, ter-

utama bagi para hamba Tuhan agar garam mereka jangan 

sampai kehilangan rasa asinnya (ay. 25-35). 


 518

Seorang yang Sakit Busung Air Disembuhkan 

(14:1-6) 

1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari 

orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati 

Dia dengan saksama. 2 Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air 

berdiri di hadapan-Nya. 3 Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan 

orang-orang Farisi itu, kata-Nya: “Diperbolehkankah menyembuhkan orang 

pada hari Sabat atau tidak?” 4 Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang 

tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. 5 

Kemudian Ia berkata kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang tidak 

segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam 

sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” 6 Mereka tidak sanggup mem-

bantah-Nya. 

Dalam perikop ini kita mendapati: 

I.   Bahwa Anak Manusia datang, Ia  makan dan minum, dan bergaul 

akrab dengan berbagai macam orang. Ia tidak mengabaikan para 

pemungut cukai, meskipun mereka tidak mempunyai nama baik 

di kalangan masyarakat Yahudi, ataupun menjauhkan diri dari 

orang-orang Farisi, meskipun mereka berniat jahat terhadap-Nya. 

Sebaliknya, Ia menerima semua undangan persahabatan dari 

yang satu maupun dari yang lain, agar sebisa-bisanya Ia dapat 

berbuat baik kepada keduanya. Di sini kita melihat Ia datang ke 

rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi, mungkin 

seorang penguasa atau hakim di daerahnya, untuk makan pada 

hari Sabat (ay. 1). Lihatlah betapa baiknya Tuhan  kepada kita se-

hingga Ia memberi kita waktu, bahkan pada hari-Nya sendiri, 

untuk menyegarkan tubuh jasmani kita, dan betapa kita harus 

berhati-hati agar tidak menyelewengkan kebebasan itu, atau 

mengubahnya menjadi pesta pora. Kristus datang hanya untuk 

makan roti [dalam terjemahan KJV – pen.], untuk menyantap 

makanan yang secukupnya saja pada hari Sabat. Kita harus 

benar-benar memperhatikan makanan yang kita makan pada hari 

Sabat, supaya tidak sampai berlebihan. Pada hari Sabat kita 

harus makan roti di hadapan Tuhan  (Kel. 18:12, KJV) seperti Musa 

dan Yitro. Dan, seperti yang dikatakan tentang jemaat Kristen 

mula-mula, pada hari Tuhan, kita harus makan dan minum se-

perti orang yang harus berdoa lagi sebelum beristirahat, supaya 

kita dapat beristirahat dengan layak pada hari Sabat. 

 

Injil Lukas 14:1-6 

 519 

II.  Bahwa Ia berjalan berkeliling sambil berbuat baik. Ke mana pun Ia 

pergi, Ia selalu mencari-cari kesempatan untuk berbuat baik, bu-

kan hanya memberikan nasihat kepada orang-orang yang ditemui-

Nya di tengah jalan. Di sini ada seorang yang sakit busung air 

berdiri di hadapan-Nya (ay. 2). Kita tidak melihat bahwa orang itu 

sendiri datang kepada Kristus, atau bahwa teman-temannya 

membawanya kepada Kristus untuk disembuhkan. Namun demi-

kian, Kristus bertindak mendahuluinya dengan memberikan ber-

kat-berkat kebaikan-Nya. Sebelum ia memanggil, Kristus sudah 

menjawabnya. Perhatikanlah, sungguh bahagia bila kita berada 

bersama Kristus, berada di hadapan-Nya, meskipun tidak ada 

yang membawa kita kepada-Nya. Orang ini sakit busung air, 

mungkin sakitnya sangat parah dan badannya tampak sangat 

bengkak. Mungkin ia punya hubungan tertentu dengan orang Fa-

risi yang menjadi tuan rumah di sini, dan pada saat itu ia sedang 

menginap di rumahnya, yang jauh lebih mungkin daripada men-

duga bahwa ia yaitu  salah satu tamu yang diundang dalam per-

jamuan makan itu.   

III. Bahwa Ia tekun menanggung bantahan terhadap diri-Nya dari pi-

hak orang-orang berdosa: Mereka mengamat-amati Dia (ay. 1). 

Tampaknya orang Farisi itu sengaja mengundang-Nya sebab  

ingin berselisih dengan-Nya. Jika memang demikian, Kristus me-

ngetahuinya, dan Ia tetap datang, sebab Ia tahu bahwa Ia sang-

gup menghadapi orang yang terlicik sekalipun di antara mereka, 

dan Ia tahu bagaimana mengatur langkah-langkah-Nya di hadap-

an orang-orang yang mengamati-Nya. Orang yang diamat-amati 

harus berjaga-jaga. Sungguh sangat tidak sopan, seperti yang 

dikatakan Dr. Hammond, bagi kita untuk memanfaatkan orang 

yang kita undang sebagai tamu, sebab tamu harus kita lindungi. 

Para ahli Taurat dan orang Farisi ini, seperti pemburu yang se-

dang mengawasi jerat penangkap burungnya, hanya berdiam diri, 

mereka bertindak dengan sangat diam-diam. saat  Kristus berta-

nya kepada mereka apakah menurut mereka menyembuhkan 

orang pada hari Sabat diperbolehkan atau tidak (dan dalam hal ini 

dikatakan bahwa Dia menjawab mereka, sebab apa yang dikata-

kan-Nya itu merupakan jawaban terhadap pikiran-pikiran mereka, 

dan bagi Yesus Kristus pikiran yaitu  perkataan), mereka tidak 

mau menjawab ya atau tidak, sebab mereka hanya mau mengata-


 520

kan sesuatu untuk menentang-Nya, bukan untuk diajari oleh-Nya. 

Mereka tidak akan berkata bahwa menyembuhkan orang pada 

hari Sabat itu diperbolehkan, sebab nanti mereka tidak bisa 

menuduhkan hal ini sebagai suatu kejahatan kepada Dia. Namun 

apa yang terjadi di sini sangatlah jelas dan sudah terbukti dengan 

sendirinya, sehingga sebab  malu mereka juga tidak bisa berkata 

bahwa menyembuhkan orang pada hari Sabat itu tidak diperbo-

lehkan. Perhatikanlah, orang baik sering kali dianiaya sebab  ber-

buat sesuatu yang bahkan oleh para penganiaya mereka sendiri, 

jika mereka mau mendengarkan suara hati nurani mereka sen-

diri, diakui sebagai hal yang baik dan diperbolehkan. Kristus ba-

nyak melakukan perbuatan baik yang sebab nya orang melempar-

kan batu kepada-Nya dan kepada nama-Nya. 

IV. Bahwa Kristus tidak bisa dihalang-halangi untuk berbuat baik 

oleh perlawanan atau bantahan dari orang-orang berdosa. Ia me-

megang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan me-

nyuruhnya pergi (ay. 4). Mungkin Ia membawanya ke ruangan lain 

dan menyembuhkannya di sana, sebab  Ia tidak mau memamer-

kan kemampuan diri-Nya, seperti itulah kerendahan hati-Nya, 

atau memanas-manasi para musuh-Nya, seperti itulah hikmat-

Nya, hikmat kelemahlembutan-Nya. Perhatikanlah, kita tidak boleh 

meninggalkan kewajiban kita hanya sebab  kebencian musuh-

musuh kita, namun, di lain pihak, kita juga harus mengatur se-

gala sesuatunya supaya sedapat mungkin kita tidak menyinggung 

perasaan mereka. Atau, Ia memegang-Nya, yang berarti Ia mele-

takkan tangan-Nya ke atasnya, untuk menyembuhkannya. 

Epilabomenos, complexus – Ia memeluknya, mendekapnya dengan 

merentangkan tangan lebar-lebar, sebab  sangat besarlah perut 

orang itu (sebab demikianlah orang yang sakit busung air pada 

umumnya), dan kemudian menyurutkan badannya menjadi seper-

ti sediakala. Biasanya kita berpikir bahwa busung air, seperti juga 

penyakit-penyakit lainnya, hanya bisa disembuhkan secara perla-

han-lahan. Namun Kristus bahkan sanggup menyembuhkan pe-

nyakit itu, menyembuhkannya dengan sempurna, dalam sekejap. 

Kemudian Ia menyuruhnya pergi, sebab kalau tidak, orang-orang 

Farisi itu akan mempersalahkan dia sebab  telah disembuhkan, 

meskipun dalam hal ini ia tidak berbuat apa-apa, sebab kesalah-

Injil Lukas 14:1-6 

 521 

an-kesalahan ganjil seperti apakah yang tidak akan diperbuat 

oleh orang-orang seperti mereka itu?    

V.   Bahwa Yesus Tuhan kita tidak melakukan tindakan apa pun se-

lain yang dibenarkan oleh-Nya, untuk meyakinkan dan mengacau-

kan orang-orang yang berselisih dengan-Nya (ay. 5-6). Dia menja-

wab pikiran-pikiran mereka, dan membuat mereka berdiam diri 

sebab  malu, sementara sebelumnya mereka berdiam diri sebab  

menganggap diri bijak. Yesus memperlihatkan suatu contoh ke-

biasaan mereka sendiri, seperti yang biasa dilakukan-Nya pada 

kesempatan-kesempatan seperti ini, supaya Ia dapat menunjuk-

kan kepada mereka bahwa dengan mencela-Nya, mereka sebenar-

nya mencela diri mereka sendiri: Siapakah di antara kamu yang 

tidak segera menarik keluar anaknya atau lembunya kalau terpero-

sok ke dalam sebuah sumur, secara tidak sengaja, meskipun pada 

hari Sabat, dan tidak menunggu sampai hari Sabat berakhir, se-

bab nanti ia akan mati? Perhatikanlah, mereka melakukan ini 

bukan sebab  kasihan kepada makhluk malang yang terperosok 

itu, melainkan terlebih sebab  mereka mengutamakan kepenting-

an mereka sendiri. Lembu mereka dan keledai merekalah yang 

dapat menghasilkan uang, dan mereka rela membuang hukum 

Sabat demi menyelamatkannya. Nah, ini merupakan bukti kemu-

nafikan mereka, dan mereka mempersalahkan Kristus yang me-

nyembuhkan orang pada hari Sabat bukan sebab  mereka sendiri 

menghormati hari Sabat dengan sungguh-sungguh (itu hanyalah 

pengakuan mereka saja), melainkan sebenarnya sebab  mereka 

marah pada segala perbuatan baik ajaib yang diadakan Kristus, 

yang menunjukkan bukti misi ilahi-Nya, dan yang membawa 

nama baik bagi diri-Nya di antara orang banyak. Banyak orang 

dengan mudah membuang suatu hal demi kepentingan mereka 

sendiri, namun  mereka tidak mau membuangnya demi kemuliaan 

Tuhan  dan kebaikan saudara-saudara mereka. Pertanyaan ini 

membungkam mereka: Mereka tidak sanggup membantah-Nya (ay. 

6). Kristus akan dibenarkan saat  Dia berbicara, dan setiap 

mulut terkatup di hadapan-Nya. 


 522

Kerendahan Hati Dipuji  

(14:7-14) 

7 sebab  Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-

tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 8 “Ka-

lau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di 

tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang 

yang lebih terhormat dari padamu, 9 supaya orang itu, yang mengundang 

engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini 

kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat 

yang paling rendah. 10 namun , jika  engkau diundang, pergilah duduk di 

tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata 

kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau 

akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. 11 Sebab ba-

rangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa meren-

dahkan diri, ia akan ditinggikan.” 12 Dan Yesus berkata juga kepada orang 

yang mengundang Dia: “jika  engkau mengadakan perjamuan siang atau 

perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau 

saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang 

kaya, sebab  mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula 

dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. 13 namun  jika  engkau 

mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, 

orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. 14 Dan engkau akan berbahagia, 

sebab  mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. 

Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang 

benar.” 

Yesus Tuhan kita di sini memberikan contoh bagaimana kita dapat 

bercakap-cakap tentang hal yang bermanfaat dan membangun pada 

saat kita sedang makan bersama teman-teman kita. saat  Ia hanya 

makan bersama para murid-Nya, yang merupakan keluarga-Nya sen-

diri, percakapan-Nya dengan mereka terlihat sangat baik dan ber-

guna untuk membangun. Namun bukan hanya itu saja, saat  Ia ber-

sama orang-orang asing, malah bersama musuh-musuh yang sedang 

mengamat-amati-Nya, Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mene-

gur kesalahan mereka yang dilihat-Nya, dan memberikan pengajaran 

kepada mereka. Meskipun orang fasik ada di hadapan-Nya, Ia tidak 

menahan diri untuk berbuat baik (seperti Daud, Mzm. 39:2-3), sebab 

kendati dipancing-pancing, hati-Nya tidak menjadi panas dan jiwa-

Nya tidak terhasut. Kita bukan saja harus melarang percakapan yang 

tidak baik pada waktu makan, seperti orang fasik yang suka meng-

olok-olok dalam perjamuan makan, namun  juga harus berbuat lebih 

daripada sekadar memperbincangkan hal-hal yang biasa-biasa saja. 

Kita harus memakai kebaikan Tuhan  dalam menyediakan makanan 

kepada kita sebagai kesempatan untuk mengatakan hal-hal yang 

baik tentang-Nya. Kita harus belajar untuk memberi arti rohani pada 

kejadian-kejadian biasa yang kita alami. Dengan demikian, bibir orang 

Injil Lukas 14:7-14 

 

 523 

benar memberi makan banyak orang. Sekalipun Yesus Tuhan kita Ye-

sus Tuhan kita sedang berada di antara orang-orang terhormat, tan-

pa pandang bulu:  

I.   Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menegur para tamu yang 

berusaha duduk di tempat-tempat kehormatan, dan dengan ini Ia 

pun mengajar kita tentang kerendahan hati. 

1.  Ia mengamati bagaimana para ahli Taurat dan orang Farisi ini 

berusaha mendapat tempat-tempat yang paling utama, di 

bagian kepala meja (ay. 7). Sebelumnya Ia menegur orang-

orang seperti ini secara umum (11:43). Namun di sini Ia meng-

arahkan teguran-Nya kepada orang-orang tertentu, sebab 

Kristus akan memberi setiap orang sesuai dengan bagiannya. 

Ia melihat bagaimana mereka berusaha menduduki tempat-tem-

pat kehormatan. Setiap orang, pada waktu memasuki ruangan, 

berusaha sedapat mungkin untuk duduk di dekat tempat ke-

hormatan. Perhatikanlah, bahkan dalam perbuatan-perbuatan 

biasa Kristus mengamati kita, dan Dia menilai apa yang kita 

lakukan, bukan hanya dalam pertemuan-pertemuan ibadah, 

melainkan juga pada waktu di meja makan, dan Ia memberi-

kan penilaian-Nya tentang itu semua.   

2.  Ia mengamati bagaimana orang-orang yang berlaku seperti itu 

sering kali memamer-mamerkan diri mereka sendiri, namun 

kemudian mereka justru mendapat malu. Sementara orang-

orang yang rendah hati, yang duduk di tempat-tempat paling 

rendah, sering kali pada akhirnya malah mendapat kehormat-

an sebab nya.  

(1) Orang-orang yang pada waktu datang langsung duduk di 

tempat yang paling utama mungkin saja nanti direndah-

kan, dan dipaksa untuk turun dan memberikan tempatnya 

kepada orang yang lebih terhormat (ay. 8-9). Perhatikanlah, 

dengan melihat betapa banyaknya orang yang lebih terhor-

mat daripada kita, bukan hanya dalam kedudukan dunia-

wi, melainkan juga dalam kebaikan dan keberhasilan pri-

badi, maka ini haruslah menjadi teguran bagi kita untuk 

tidak memandang diri kita terlalu tinggi. Jadi, bukannya 

merasa sombong melihat betapa banyak orang yang mem-

berikan tempat duduk mereka kepada kita, kita seharus-


 

 524

nya merasa rendah hati melihat betapa banyak orang yang 

harus kita beri tempat duduk. Tuan rumah yang mengada-

kan perjamuan akan mengatur tamu-tamunya, dan ia tidak 

akan membiarkan orang-orang yang lebih terhormat tidak 

duduk di tempat yang layak, dan sebab  itu ia tidak akan 

segan-segan menyuruh orang yang merampas tempat itu 

untuk duduk di tempat yang lebih rendah. Berilah tempat 

ini kepada orang itu, dan dengan demikian orang yang 

menganggap dirinya lebih penting daripada yang sebenar-

nya akan mendapat malu di hadapan semua orang. Per-

hatikanlah, kesombongan membawa aib, dan pada akhir-

nya mendatangkan kejatuhan.  

(2) Orang-orang yang pada waktu datang langsung duduk di 

tempat yang paling rendah, dan merasa puas dengannya, 

kemungkinan akan diberi tempat yang lebih baik (ay. 10): 

“Pergilah, dan duduklah di tempat yang paling rendah, ang-

gap saja bahwa temanmu yang mengundangmu mempu-

nyai tamu-tamu yang berkedudukan lebih tinggi daripada-

mu. namun  mungkin saja tidak demikian, maka sesudah  itu 

temanmu akan berkata kepadamu, Sahabat, silakan duduk 

di depan. Tuan rumah akan berbuat adil kepadamu dengan 

tidak membiarkanmu duduk di tempat yang paling rendah, 

sebab kamu sudah begitu rendah hati dengan mau duduk 

di sana.” Perhatikanlah, untuk naik ke tempat yang lebih 

tinggi, kita harus memulai dari tempat yang paling rendah, 

dan ini membuat kita dipandang baik oleh orang-orang di 

sekitar kita: “Engkau akan menerima hormat di depan mata 

semua tamu yang lain. Mereka akan melihatmu sebagai 

orang terhormat, melebihi apa yang mereka pikirkan pada 

awalnya, dan kehormatan akan tampak lebih terang bila 

bersinar dari dalam kegelapan. Mereka juga akan melihat-

mu sebagai orang yang rendah hati, dan ini merupakan 

kehormatan terbesar. Juruselamat kita di sini merujuk 

pada amsal Salomo (Ams. 25:6-7), Jangan berdiri di tempat 

para pembesar. sebab  lebih baik orang berkata kepadamu: 

Naiklah ke mari, dari pada engkau direndahkan di hadapan 

orang mulia.” Dr. Lightfoot mengutip salah satu perum-

pamaan para rabi, yang bunyinya kira-kira seperti ini. “Ada 

tiga orang,” katanya, “diundang ke suatu pesta. Yang per-

Injil Lukas 14:7-14 

 

 525 

tama duduk di tempat paling terhormat, sebab, katanya, 

aku yaitu  penguasa. Yang kedua duduk di tempat terhor-

mat lainnya, sebab, katanya, aku orang bijak. Yang ter-

akhir duduk di tempat paling rendah, sebab, katanya, aku 

orang yang rendah hati. Kemudian sang raja menempatkan 

orang yang rendah hati itu di tempat paling utama, sedang-

kan si penguasa ditempatkannya di tempat yang paling 

rendah.” 

3.  Ia menerapkan perumpamaan ini secara umum, dan mengajak 

kita untuk belajar tidak memikirkan hal yang muluk-muluk, 

namun  harus puas dengan hal yang biasa-biasa saja, sebab  

untuk alasan apa pun juga, kesombongan dan hasrat yang 

menggebu yaitu  hal yang tercela bagi semua orang. Sebab, 

barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, sedangkan 

kerendahan hati dan penyangkalan diri yaitu  suatu hal yang 

sungguh mulia: Barangsiapa merendahkan diri, ia akan diting-

gikan (ay. 11). Kita juga melihat dalam contoh-contoh lain bah-

wa keangkuhan merendahkan orang, namun  orang yang rendah 

hati menerima pujian, dan kerendahan hati mendahului kehor-

matan.    

II.  Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menegur tuan rumah 

sebab  mengundang begitu banyak orang kaya, yang bisa makan 

enak di rumah sendiri, padahal seharusnya ia mengundang orang 

miskin, atau, yang sama baiknya, mengirimkan sebagian kepada 

mereka yang tidak sedia apa-apa, dan yang tidak mampu menda-

patkan makanan yang layak (lih. Neh. 8:11). Juruselamat kita di 

sini mengajar kita bahwa jika  kita menggunakan apa yang kita 

miliki untuk beramal, maka ini lebih baik, dan lebih dapat diper-

tanggungjawabkan, daripada menggunakannya untuk berfoya-

foya dan royal.      

1. “Janganlah berusaha mentraktir orang kaya. Janganlah meng-

undang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau 

kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya,” (ay. 

12). Ini tidak berarti bahwa kita dilarang untuk menjamu me-

reka. Adakalanya kita harus melakukan itu untuk mempererat 

tali persaudaraan di antara kaum kerabat dan tetangga-te-

tangga kita.  


 

 526

Namun:  

(1) “Janganlah menjadikannya sebagai suatu kebiasaan. Ja-

nganlah menghabiskan terlalu banyak uang untuk keperlu-

an itu, supaya engkau masih bisa menggunakannya untuk 

keperluan yang lebih baik, yaitu untuk amal sedekah. Eng-

kau akan merasa bahwa mengundang orang kaya sangat-

lah mahal dan merepotkan. Mengadakan sebuah perjamu-

an bagi orang kaya sama saja biayanya dengan menyedia-

kan makanan yang berlimpah bagi orang miskin.” Salomo 

berkata, “Orang yang memberi hadiah kepada orang kaya, 

hanya merugikan diri saja” (Ams. 22:16). “Berilah” (kata 

Plinius, dalam karyanya Surat-surat.) “kepada teman-

temanmu, namun  biarlah kepada teman-temanmu yang mis-

kin, bukan kepada mereka yang tidak memerlukanmu.”  

(2) “Janganlah sombong sebab nya.” Banyak orang mengada-

kan perjamuan hanya sebab  mereka ingin pamer, seperti 

Ahasyweros (Est. 1:3-4). Pikir mereka, mereka tidak akan 

dipandang hebat bila tidak mengundang orang-orang ter-

hormat untuk makan bersama mereka, dan dengan demi-

kian mereka merampas harta keluarga demi memuaskan 

angan-angan mereka.  

(3) “Janganlah berharap bahwa engkau akan dibalas dengan 

harga yang setimpal.” Inilah yang dipersalahkan Jurusela-

mat kita dalam perjamuan-perjamuan seperti ini: “Engkau 

biasanya mengundang mereka sebab  engkau berharap 

akan diundang lagi oleh mereka, dan dengan demikian eng-

kau akan mendapatkan ganti rugi. Engkau membayangkan 

bahwa engkau akan dipuaskan kembali dengan beraneka 

ragam hidangan dari mereka seperti yang telah kausuguh-

kan kepada teman-temanmu itu, dan semuanya ini akan 

memuaskan nafsu keinginanmu untuk berpesta pora. 

namun , sebenarnya pada akhirnya tidak ada keuntungan 

apa-apa yang engkau peroleh.”  

 2. “Berusahalah meringankan beban orang-orang miskin (ay. 13-

14): jika  engkau mengadakan perjamuan, daripada repot-

repot menyiapkan hidangan yang unik dan enak, hidangkan 

saja di mejamu makanan yang secukupnya dan menyehatkan, 

yang tidak terlalu mahal, dan undanglah orang-orang miskin

Injil Lukas 14:15-24 

 527 

 dan orang-orang cacat, yang tidak mempunyai apa-apa, dan 

tidak mampu bekerja untuk menopang kehidupan mereka. 

Merekalah yang harus dikasihani dengan amal sedekah, mere-

ka berkekurangan dalam kebutuhan-kebutuhan pokok. Sedia-

kanlah keperluan mereka itu, dan mereka akan membalasmu 

dengan doa-doa mereka. Mereka akan berterima kasih atas 

makanan yang telah kausediakan, sementara orang kaya 

mungkin akan mencelanya. Mereka akan pergi dan bersyukur 

kepada Tuhan  sebab mu, sementara orang kaya mungkin akan 

pergi dan menghinamu. Janganlah berkata bahwa engkau rugi 

dan uangmu terkuras habis sebab  mereka tidak mampu mem-

balasmu. Tidak, apa yang engkau lakukan itu yaitu  untuk 

sesuatu yang sangat penting, suatu jaminan yang terbaik, 

sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan 

orang-orang benar.” Ya, akan ada kebangkitan orang-orang 

benar, suatu masa depan bagi orang-orang benar. Ada kebaha-

giaan yang disimpan bagi mereka di dunia yang akan datang, 

dan kita boleh yakin bahwa orang-orang yang murah hati akan 

diingat pada hari kebangkitan orang-orang benar, sebab 

beramal merupakan suatu tindak kebenaran. Amal sedekah 

mungkin tidak dibalas di dunia ini, sebab apa yang ada di 

dunia ini bukanlah hal-hal terbaik, dan sebab  itu Tuhan  tidak 

akan membalas orang-orang terbaik dengan hal-hal duniawi. 

namun  ini sama sekali tidak berarti bahwa mereka kehilangan 

upah mereka, sebab mereka akan mendapat balasnya pada 

hari kebangkitan. Pada saat itu akan tampak bahwa perjalan-

an-perjalanan yang ditempuh paling jauh akan membawa 

hasil-hasil yang paling bernilai, dan bahwa orang yang murah 

hati tidak akan rugi, melainkan akan mendapat untung yang 

tidak terhingga, dengan menunggu mendapat balasannya sam-

pai pada hari kebangkitan. 

Undangan yang Penuh Kemurahan Hati; 

Perjamuan Besar yang Diabaikan  

(14:15-24) 

15 Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: “Ber-

bahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Tuhan .” 16 namun  Yesus 

berkata kepadanya: “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia 


 

 528

mengundang banyak orang. 17 Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyu-

ruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala 

sesuatu sudah siap. 18 namun  mereka bersama-sama meminta maaf. Yang 

pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi 

melihatnya; aku minta dimaafkan. 19 Yang lain berkata: Aku telah membeli 

lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta di-

maafkan. 20 Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan sebab  itu aku tidak 

dapat datang. 21 Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya 

itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada 

hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan 

bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang 

buta dan orang-orang lumpuh. 22 Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, 

apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, namun  sekalipun demi-

kian masih ada tempat. 23 Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke 

semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, ma-

suk, sebab  rumahku harus penuh. 24 Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak 

ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati 

jamuan-Ku.” 

Inilah satu perbincangan lain lagi dari Juruselamat kita, yang di da-

lamnya Ia memberikan arti rohani pada perjamuan yang sedang diha-

diri-Nya. Ini juga merupakan suatu cara bagaimana kita memper-

bincangkan hal yang baik-baik di tengah kegiatan kita sehari-hari.  

I.  Perbincangan ini dipicu oleh salah seorang tamu yang berkata 

kepada Kristus, sesudah  Ia memberikan beberapa pedoman ten-

tang perjamuan, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam 

Kerajaan Tuhan ” (ay. 15). Menurut sebagian orang, perkataan ini 

biasa diucapkan di kalangan para rabi. 

1. namun  untuk apakah orang ini mengatakannya dalam kesem-

patan ini?  

(1) Mungkin sesudah  melihat bagaimana Kristus pertama-tama 

menegur para tamu, lalu kemudian tuan rumah, ia merasa 

tidak enak kalau-kalau Kristus sudah membuat suasana 

menjadi tegang, dan ia pun mengucapkan perkataan ini 

untuk mengalihkan bahan pembicaraan. Atau,  

(2) sebab  mengagumi pedoman-pedoman yang bagus tentang 

kerendahan hati dan amal sedekah yang baru saja disam-

paikan Kristus, namun  merasa putus asa dengan menyadari 

bahwa semua itu tidak terwujud dalam kehidupan yang 

sudah rusak ini, ia merindukan Kerajaan Tuhan , rindu 

melihat semua hukum ini dan hukum-hukum baik lain-

nyalah yang akan berlaku, sehingga ia berkata berbahagia-

Injil Lukas 14:15-24 

 529 

lah mereka yang akan mendapat tempat dalam kerajaan 

itu. Atau, 

(3)  sebab  Kristus telah menyebutkan hari kebangkitan orang-

orang benar sebagai imbalan bagi mereka yang beramal 

sedekah kepada orang miskin, ia di sini meneguhkan apa 

yang diucapkan-Nya itu, “Benar, Tuhan, mereka yang akan 

mendapat imbalan pada hari kebangkitan orang-orang 

benar akan dijamu dalam Kerajaan Tuhan , dan itu merupa-

kan balasan yang jauh lebih besar daripada diundang kem-

bali ke perjamuan orang yang paling terhormat di dunia ini 

sekalipun.” Atau,  

(4) sebab  melihat Kristus diam sesudah  Ia memberikan peng-

ajaran-Nya, sekarang ia mau memancing-Nya untuk ber-

bicara lebih banyak lagi, sebab ia begitu senang dan takjub 

akan apa yang telah dikatakan-Nya, dan ia tahu bahwa 

tidak ada hal lain yang dapat menarik perhatian-Nya selain 

menyebutkan Kerajaan Tuhan . Perhatikanlah, bahkan orang 

yang tidak mempunyai bakat khusus untuk membuat per-

cakapan yang baik sekali-kali harus mengatakan sesuatu, 

misalnya dengan mengiyakan apa yang sudah dikatakan, 

dan membantu melanjutkan percakapan.   

2. Nah, apa yang dikatakan orang ini merupakan kebenaran yang 

sudah jelas dan diakui, dan perkataan itu diucapkan pada 

waktu yang sangat tepat, saat  mereka sedang duduk makan. 

Sebab, kita harus memanfaatkan perkara-perkara biasa untuk 

berpikir dan berbicara tentang perkara-perkara sorgawi dan 

rohani. Perkara-perkara ini jugalah yang dipakai dalam Kitab 

Suci sebagai bahan perbandingan, seperti dalam sebuah per-

umpamaan. saat  menerima pemeliharaan Tuhan  berupa ber-

kat-berkat jasmani, baiklah kita merenungkan berkat-berkat 

anugerah rohani apa yang juga kita terima melalui berkat-

berkat-Nya itu, sebab  ini merupakan perkara-perkara yang 

lebih baik. Permenungan ini sangat tepat disampaikan saat  

kita sedang menikmati hal-hal yang menyegarkan tubuh jas-

mani kita: Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam 

Kerajaan Tuhan .  

(1) Dalam kerajaan anugerah, dalam kerajaan Mesias, yang 

diharapkan akan segera didirikan. Kristus berjanji kepada 


 

 530

para murid-Nya bahwa mereka akan makan dan minum 

bersama-Nya dalam kerajaan-Nya. Orang yang ikut makan 

dalam perjamuan Tuhan akan dijamu dalam Kerajaan 

Tuhan . 

(2) Dalam kerajaan kemuliaan, pada hari kebangkitan. Keba-

hagiaan sorgawi yaitu  perjamuan kekal. Berbahagialah 

mereka yang akan duduk di meja perjamuan itu, sebab 

mereka tidak akan beranjak lagi darinya. 

II.  Perumpamaan yang disampaikan Yesus Tuhan kita dalam kesem-

patan ini (ay. 16, dst.). Kristus mendukung apa yang dikatakan 

orang baik itu: “Sungguh benar, berbahagialah mereka yang akan 

ikut ambil bagian dalam segala keistimewaan kerajaan Mesias. 

namun  siapakah yang akan menikmati hak istimewa itu? Kalian 

orang-orang Yahudi, yang menyangka memiliki hak ini sepenuh-

nya, sebagian besar dari kalian akan menolaknya, sementara 

orang-orang bukan-Yahudi akan paling banyak ambil bagian di 

dalamnya.” Ini ditunjukkan-Nya dengan sebuah perumpamaan, 

sebab kalau Ia berbicara terus terang, orang-orang Farisi pasti 

tidak akan tahan mendengarnya. Nah, dalam perumpamaan itu 

kita dapat mengamati,   

1.  Anugerah dan belas kasihan Tuhan  yang cuma-cuma, yang ber-

sinar dalam Injil Kristus.  

Dan ini tampak: 

(1) Dalam persediaan berlimpah yang disediakan-Nya bagi 

jiwa-jiwa yang miskin, untuk memberi mereka makanan, 

kekuatan, dan penghiburan (ay. 16): Ada seorang mengada-

kan perjamuan besar. Di dalam Kristus dan anugerah Injil 

tersedia makanan dan perjamuan bagi jiwa orang yang sa-

dar akan kemampuan jiwanya sendiri, dan bagi jiwa orang 

berdosa yang sadar akan kebutuhan dan kesengsaraan ji-

wanya sendiri. Perjamuan ini disebut perjamuan makan 

malam, sebab  di kalangan orang Yahudi makan malam 

merupakan saat puncak perjamuan, sesudah  mereka beker-

ja seharian. Anugerah Injil menyatakan dirinya kepada du-

nia pada malam hari, dan puncak kepenuhannya di sorga 

akan dinyatakan kepada kita dalam kehidupan senja kita. 

Injil Lukas 14:15-24 

 531 

(2) Dalam undangan yang penuh kemurahan hati itu, kita di-

undang untuk datang ambil bagian dalam persediaan ini. 

Inilah:  

[1] Undangan yang diberikan kepada semua orang itu: Ia 

mengundang banyak orang. Kristus mengundang selu-

ruh bangsa dan umat Yahudi untuk ikut menikmati 

keuntungan-keuntungan Injil-Nya. Ada cukup banyak 

persediaan bagi siapa saja yang  datang, dan perjamuan 

ini dinubuatkan sebagai perjamuan bagi segala bangsa 

(Yes. 25:6). Seperti halnya Kristus di dalam Injil mera-

wat rumah yang baik, demikian pula Ia membiarkan 

rumah itu terbuka.  

[2] Peringatan khusus yang diberikan, saat  waktu makan 

malam hampir tiba. Seorang hamba disuruh mengingat-

kan para undangan: “Marilah, sebab segala sesuatu su-

dah siap.” saat  Roh Kudus dicurahkan, dan gereja 

Injil didirikan, orang-orang yang sudah diundang kini 

semakin didesak untuk segera datang. Sekarang segala 

sesuatu sudah siap, rahasia Injil kini diungkapkan se-

penuhnya, semua ketetapan Injil kini dilembagakan, 

orang-orang Kristen kini dihimpun, dan sebagai pun-

caknya, Roh Kudus diberikan. Inilah panggilan yang di-

tujukan kepada kita: “Segala sesuatu sudah siap, seka-

ranglah waktu perkenanan itu, ya, inilah saatnya, dan 

berlangsungnya tidak lama. Sekaranglah waktunya, dan 

tidak akan lama. Inilah musim anugerah yang akan ber-

akhir sebentar lagi, dan sebab  itu datanglah sekarang 

juga. Jangan ditunda-tunda lagi, terimalah undangan 

itu; yakinlah bahwa engkau akan disambut. Makanlah, 

teman-teman, minumlah, ya minumlah yang banyak, 

yang dikasihi!”   

2.  Sambutan dingin yang diterima anugerah Injil. Para undangan 

menolak datang. Mereka tidak mengatakan dengan tegas dan 

terus terang bahwa mereka tidak mau datang, melainkan mere-

ka bersama-sama meminta maaf (ay. 18). Kita mungkin me-

nyangka bahwa mereka bersama-sama akan datang ke perja-

muan besar itu, sebab mereka sudah diundang dengan begitu 

baik hati. Siapa yang akan menolak undangan seperti itu? 


 

 532

Namun sebaliknya, mereka semua justru mencari-cari alasan 

untuk tidak menghadiri perjamuan itu. Ini menggambarkan 

pengabaian bangsa Yahudi pada umumnya untuk datang 

mendekat kepada Kristus dan menerima tawaran-tawaran 

anugerah-Nya, dan penghinaan mereka terhadap undangan 

itu. Ini juga menandakan keengganan sebagian besar orang 

untuk mendengarkan panggilan Injil. sebab  malu, mereka 

tidak mau mengakui bahwa mereka menolak undangan itu, 

melainkan minta dimaafkan. Mereka semua apo mias, sebagi-

an memberikan jawaban hōras, dan semuanya langsung men-

jawab, mereka dapat memberikan jawaban pada saat itu juga, 

tidak perlu pikir-pikir, tidak perlu mencari-cari alasan. Sebagi-

an lain lagi memberikan gnōmēs, semua sepakat, dengan suara 

bulat.  

(1)  Nah, pertama-tama kita melihat ada dua orang pembeli di 

sini, yang sedang terburu-buru ingin melihat barang-ba-

rang yang telah mereka beli sehingga tidak mempunyai 

waktu untuk menghadiri perjamuan ini. Yang satu baru 

membeli ladang, ia baru membeli sejengkal tanah, yang 

ditawarkan kepadanya sebagai tawaran yang bagus, dan 

dia harus pergi untuk melihat apakah memang benar demi-

kian, dan oleh sebab  itu aku minta dimaafkan. Yang ada 

di hatinya hanyalah keinginan untuk memperluas tanah-

nya, sampai dia tidak bisa beramah tamah dengan teman-

temannya lagi ataupun berbaik hati kepada dirinya sendiri. 

Perhatikanlah, orang yang hatinya penuh dengan keinginan 

duniawi, dan gemar menumpuk rumah demi rumah dan la-

dang demi ladang, telinganya sudah tuli untuk mendengar-

kan panggilan Injil. Sungguh alasan yang mengada-ada 

saja! Ia bisa saja menunda keinginannya untuk melihat 

sejengkal tanahnya itu sampai keesokan hari, dan pasti 

masih menemukannya di tempat yang sama, kalau me-

mang ia mau. Yang lain baru membeli ternak bagi ladang-

nya. “Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri untuk 

membajak tanah, dan aku harus pergi sekarang untuk 

mencobanya. Aku harus pergi untuk memastikan apakah 

lembu-lembu itu memang sesuai untuk keperluanku, dan 

sebab  itu aku minta dimaafkan kali ini.” Pembeli yang per-

tama menunjukkan kepuasan yang berlebihan pada dunia, 

Injil Lukas 14:15-24 

 533 

sementara pembeli yang kedua memperlihatkan kecemasan 

dan kekhawatiran akan hal-hal duniawi, yang menghalang-

halangi orang untuk datang kepada Kristus dan menerima 

anugerah-Nya. Keduanya menunjukkan kesukaan mereka 

kepada tubuh lebih daripada jiwa, dan kepada perkara-

perkara yang sementara daripada yang kekal. Perhatikan-

lah, sungguh merupakan suatu kejahatan jika  kita di-

panggil bertugas namun kita membuat alasan-alasan un-

tuk menghindarinya. Ini merupakan suatu pertanda bahwa 

ada keyakinan dalam diri orang-orang itu bahwa hal terse-

but memang merupakan suatu kewajiban, namun mereka 

tidak mempunyai keinginan untuk melaksanakannya.  

Hal-hal yang dijadikan alasan di sini yaitu :  

[1] Hal-hal sepele dan tidak begitu penting. Mereka seha-

rusnya berkata, “Aku diundang makan malam dalam 

Kerajaan Tuhan , dan sebab  itu aku minta maaf sebab  

tidak dapat melihat ladang atau lembu-lembu yang 

sudah kubeli.” 

[2] Hal-hal yang diperbolehkan. Perhatikanlah, hal-hal yang 

diperbolehkan dengan sendirinya dapat menghalangi 

ibadah kita, jika  hati kita terlalu tertuju padanya – 

Licitus perimus omnes. Memang berat bagi kita untuk 

mengatur agar urusan-urusan duniawi kita jangan 

sampai mengalihkan kita dari kewajiban rohani, dan ini 

harus menjadi masalah utama yang harus kita pikirkan 

baik-baik. 

(2) Seorang yang lain yaitu  pengantin baru, dan ia tidak bisa 

meninggalkan istrinya barang sejenak untuk menghadiri 

perjamuan itu (ay. 30): Aku baru kawin dan sebab  itu aku 

tidak dapat datang dengan segera. Ia mengaku tidak dapat 

datang, padahal sebenarnya ia tidak mau. Demikianlah ba-

nyak orang mengaku tidak dapat melakukan kewajiban 

agama padahal sebenarnya mereka enggan melakukannya. 

Ia baru kawin. Benar bahwa orang yang baru kawin satu 

tahun diperbolehkan dalam hukum Taurat untuk tidak 

ikut berperang (Ul. 24:5), namun  apakah itu bisa dijadikan 

alasan untuk tidak pergi ke pesta perjamuan Tuhan di 

Yerusalem, yang harus dihadiri setiap tahun oleh setiap 


 

 534

laki-laki? Apalagi ini perjamuan Injil, yang diperlambang-

kan oleh perjamuan yang di Yerusalem itu. Perhatikanlah, 

rasa sayang kita terhadap kerabat-kerabat kita sering kali 

menjadi penghalang bagi kita untuk melakukan kewajiban 

terhadap Tuhan . Kalau alasan Adam dahulu yaitu  perem-

puan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang membuatku 

makan buah itu, maka alasan orang yang satu ini yaitu  

istriku membuat aku tidak bisa ikut makan. Sebenarnya ia 

bisa saja pergi menghadiri perjamuan itu bersama istrinya, 

dan keduanya pun pasti akan disambut dengan baik. 

3. Penjelasan yang disampaikan kepada tuan rumah atas peng-

hinaan teman-teman yang telah diundangnya, yang menunjuk-

kan betapa mereka kurang menghargai dia (ay. 21): Maka 

kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada 

tuannya. Dengan terkejut si pelayan memberi tahu tuannya 

bahwa tuannya itu mungkin akan makan sendiri saja, sebab 

para tamu yang sudah diundang, meskipun sudah diberi tahu 

jauh-jauh hari sebelumnya supaya bisa mempersiapkan diri, 

sekarang sedang sibuk mengurusi masalah-masalah lain. Ia 

tidak menambah-nambahi ataupun mengurang-ngurangi apa 

yang telah didengarnya, ia menyampaikannya apa adanya. 

Perhatikanlah, hamba Tuhan harus memberikan laporan atas 

keberhasilan pelayanan mereka. Mereka harus melakukannya 

sekarang di hadapan takhta anugerah. Jika mereka mengalami 

kesusahan jiwa, mereka harus pergi menghadap Tuhan  dengan 

ucapan syukur, jika mereka bersusah-susah dengan percuma, 

mereka harus pergi menghadap Tuhan  dengan keluhan-keluhan 

mereka. Mereka juga harus melakukannya nanti di hadapan 

kursi pengadilan Kristus. Mereka akan diajukan sebagai saksi 

melawan orang-orang yang keras kepala dan yang akan binasa 

dalam ketidakpercayaan mereka, untuk membuktikan bahwa 

mereka sudah diundang dengan baik-baik. Sementara bagi 

mereka yang menerima panggilan itu, mereka akan mendengar 

Kristus berkata, “Lihatlah, Aku dan anak-anak yang telah 

Kauberikan kepada-Ku.” Sang rasul menekankan hal ini seba-

gai suatu alasan mengapa kita harus mendengarkan firman 

Tuhan  yang disampaikan kepada kita oleh para hamba-Nya: 

sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang 

yang harus bertanggung jawab atasnya (Ibr. 13:17).    

Injil Lukas 14:15-24 

 535 

4.  Kemarahan tuan rumah atas penghinaan ini, yang wajar saja 

dirasakannya: Lalu murkalah tuan rumah itu (ay. 21). Perhati-

kanlah, sikap tidak berterima kasih orang-orang yang menye-

pelekan Injil yang ditawarkan kepada mereka dan penghinaan 

yang mereka lontarkan kepada Tuhan  sorgawi sungguh sangat 

menyulut kemarahan Tuhan . Belas kasihan yang dilecehkan 

akan berubah menjadi murka yang menyala-nyala. Kutukan 

yang diucapkan Tuan rumah atas mereka yaitu  tidak ada se-

orangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menik-

mati jamuan-Ku. Ini seperti kutukan yang ditimpakan kepada 

bangsa Israel yang tidak tahu berterima kasih, saat  mereka 

meremehkan tanah perjanjian yang subur itu: Tuhan  bersum-

pah dalam murka-Nya bahwa mereka takkan masuk ke tempat 

perhentian-Nya. Perhatikanlah, meremehkan anugerah berarti 

menyia-nyiakannya, seperti Esau yang menyia-nyiakan hak 

kesulungannya. Orang yang tidak mau menerima Kristus pada 

saat mereka dapat melakukannya, tidak akan diterima oleh-

Nya pada saat mereka menginginkannya. Bahkan mereka yang 

sudah diundang, jika mereka tidak menggubris undangan itu, 

tidak akan digubris-Nya nanti. saat  pintu sudah tertutup, 

gadis-gadis yang bodoh tidak boleh masuk.   

5. Usaha yang dilakukan untuk memeriahkan meja, dan makan-

annya, dengan para tamu. “Pergilah” (kata tuan rumah itu ke-

pada para hambanya), “pergilah dengan segera ke segala jalan 

dan lorong kota, dan janganlah mengundang para saudagar 

yang baru keluar dari rumah cukai, atau para pedagang yang 

baru menutup toko mereka, sebab  mereka akan minta dimaaf-

kan (yang satu akan pergi ke kantor untuk mengurus pem-

artikel annya, dan yang lain akan pergi ke kedai untuk minum 

bersama temannya). namun  undanglah orang-orang yang akan 

merasa senang untuk datang, bawalah ke mari orang-orang mis-

kin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-

orang lumpuh. Bawalah para pengemis yang kautemui di 

jalanan.” Tidak ada keberatan bagi hamba-hamba itu bahwa 

menghadirkan tamu-tamu seperti itu di meja perjamuan akan 

merendahkan tuan mereka dan rumahnya sendiri, sebab 

mereka tahu apa yang dipikirkan tuan mereka. sebab  itu, 

segeralah mereka mengumpulkan bergerombol-gerombol tamu-

tamu seperti itu: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah 


 

 536

dilaksanakan. Banyaklah orang Yahudi yang dibawa masuk, 

namun  tidak dari kalangan ahli Taurat atau orang Farisi, seperti 

yang sedang makan malam dengan Kristus di sini, yang 

berpikir bahwa merekalah yang paling layak diundang ke perja-

muan Mesias, melainkan para pemungut cukai dan orang ber-

dosa. Mereka inilah orang-orang miskin dan orang-orang cacat. 

Meskipun begitu, masih ada tempat untuk lebih banyak tamu 

lagi, dan masih ada cukup banyak persediaan untuk mereka 

semua. “Kalau begitu, pergilah lagi ke semua jalan dan lintas-

an. Pergilah ke desa-desa, dan bawalah para gelandangan, atau 

mereka yang baru kembali pada sore hari dari pekerjaan 

mereka di ladang, sesudah  seharian memagari tanaman dan 

menggali parit di sana, dan paksalah orang-orang yang ada di 

situ masuk, bukan dengan senjata, melainkan dengan membe-

rikan pernyataan-pernyataan yang meyakinkan hati. Bersung-

guh-sungguhlah dengan mereka, sebab kali ini penting bagi 

kalian untuk meyakinkan mereka bahwa undangan ini me-

mang benar, dan bukan olok-olok. Mereka akan merasa malu 

dan rendah diri, dan tidak akan percaya bahwa mereka sung-

guh-sungguh diundang, dan sebab  itu bersikeraslah dengan 

mereka dan janganlah tinggalkan mereka sampai kalian ber-

hasil membujuk mereka.” Hal ini merujuk pada panggilan bagi 

orang-orang bukan-Yahudi, yang kepada mereka para rasul 

berbalik saat  orang-orang Yahudi menolak tawaran Injil, dan 

yang dengan merekalah gereja Injil kini dipenuhi. 

Sekarang perhatikanlah di sini:  

(1) Bahwa persediaan yang telah dibuat bagi jiwa-jiwa yang 

berharga dalam Injil Kristus tidak akan sia-sia, sebab jika 

sebagian orang menolaknya, maka sebagian yang lain akan 

menerima tawaran Injil itu dengan penuh rasa syukur. 

Kristus menghibur diri-Nya dengan hal ini, yaitu bahwa 

meskipun Israel tidak dikumpulkan, Ia akan dipermuliakan, 

sebagai terang bagi bangsa-bangsa (Yes. 49:5-6). Tuhan  

akan mendirikan gereja-Nya di bumi, meskipun ada sebagi-

an yang dikucilkan daripadanya, sebab ketidaksetiaan 

orang tidak akan membatalkan kesetiaan Tuhan .  

(2) Orang yang sangat miskin dan hina di dunia ini akan di-

sambut oleh Kristus sama seperti orang yang kaya dan ter-

Injil Lukas 14:15-24 

 537 

hormat. Bahkan sering kali Injil jauh lebih berhasil di ka-

langan orang-orang yang berkekurangan dalam hal dunia-

wi, seperti orang miskin, dan yang mempunyai kelemahan-

kelemahan jasmani, seperti orang cacat, orang lumpuh, dan 

orang buta. Kristus di sini jelas merujuk pada apa yang 

baru saja dikatakan-Nya kepada kita, yaitu agar kita dalam 

mengadakan perjamuan mengundang orang-orang miskin, 

orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang 

buta (ay. 13). Dengan melihat betapa relanya Kristus mem-

beritakan Injil-Nya kepada orang-orang miskin, maka hal 

ini haruslah membuat kita bermurah hati kepada mereka. 

Kerendahan hati dan belas kasihan-Nya terhadap mereka 

haruslah membuat kita rendah hati dan berbelas kasihan 

pula kepada mereka.  

(3) Berkali-kali Injil paling berhasil diberitakan kepada orang-

orang yang paling kecil kemungkinannya untuk mendapat-

kan manfaat darinya, dan yang paling tidak diduga akan 

berserah kepadanya. Para pemungut cukai dan perempuan 

sundal masuk ke dalam Kerajaan Tuhan  mendahului para 

ahli Taurat dan orang Farisi. Demikianlah, orang yang ter-

akhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu 

akan menjadi yang terakhir. Oleh sebab  itu, janganlah kita 

terlalu yakin dengan orang yang terlihat sangat meyakin-

kan, atau putus asa dengan orang yang tampak tidak men-

janjikan apa-apa. 

(4) Hamba-hamba Kristus haruslah sigap dan pantang menye-

rah dalam mengundang orang ke perjamuan Injil: “Pergilah 

dengan segera (ay. 21), janganlah membuang-buang waktu, 

sebab segala sesuatu sudah siap. Panggillah mereka untuk 

datang hari ini, selagi masih bisa disebut hari ini, dan pak-

salah mereka untuk masuk, dekati mereka dan bicaralah 

baik-baik dan tariklah mereka dengan tali kesetiaan, dan 

dengan ikatan kasih.” sebab  itu, sungguh tidak masuk 

akal bila kita mengajukan alasan untuk memaksakan ke-

hendak kita kepada orang lain, atau bahkan memaksa 

orang lain untuk melawan kehendak hatinya sendiri dalam 

masalah agama: “Kalau kamu tidak mau datang ke dalam 

perjamuan Tuhan, maka kamu akan didenda atau dipen-

jara, dan harta milikmu akan dimusnahkan.” Tentu saja 


 

 538

bukan paksaan seperti ini yang dimaksudkan di sini, me-

lainkan hanyalah suatu ajakan yang didasarkan pada akal 

sehat dan kasih, sebab  senjata kita dalam perjuangan bu-

kanlah senjata duniawi. 

(5) Meskipun sudah ada banyak orang yang diundang untuk 

ikut menikmati keuntungan-keuntungan Injil, tetap saja 

masih ada tempat, sebab kekayaan Kristus tidak terselami 

dan tidak akan pernah habis. Di dalam Dia ada begitu ba-

nyak kekayaan untuk semua, dan setiap orang pasti akan 

mendapat bagian, dan Injil tidak akan menghalang-halangi 

siapa pun yang tidak menghalang-halangi dirinya sendiri.  

(6) Rumah Kristus, meskipun sangat besar, pada akhirnya 

akan penuh. Ini akan terjadi jika  jumlah orang terpilih 

sudah genap, dan saat  semua orang yang telah diberikan 

kepada-Nya telah dibawa ke hadapan-Nya. 

Pentingnya Penyangkalan Diri 

(14:25-35) 

25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam 

perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: 26 “Jikalau se-

orang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, 

anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nya-

wanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 27 Barangsiapa tidak memi-

kul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. 28 Sebab 

siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak 

duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya 

untuk menyelesaikan pekerjaan itu? 29 Supaya jikalau ia sudah meletakkan 

dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang 

yang melihatnya, mengejek di


Related Posts:

  • lukas 13-24 2 mbangan yang menyadarkan, untuk memper-kuat nasihat ini. Oh, semoga saja kita semua tergugah oleh berbagai pertimbangan ini! Ini yaitu  pertimbangan yang men-jawab pertanyaan, sedikit sajakah orang yang disela… Read More