berbuat begitu
banyak bagi mereka, namun tetap saja mereka mencobai dan
memberontak terhadap Tuhan Yang Mahatinggi. Ia memberi ke-
saksian-kesaksian-Nya kepada mereka, namun mereka tidak me-
meliharanya. Mereka menjanjikan banyak hal pada awalnya,
namun kemudian mereka murtad. Mereka mengucapkan kata-kata
indah kepada Tuhan , namun bertindak dengan tidak setia. Mereka
seperti busur yang memperdaya, yang tampaknya saja hendak
melepaskan anak panah ke sasaran, namun, jika ditarik, ia
patah dan jatuh ke bawah kaki si pemanah, atau mungkin ber-
Kitab Mazmur 78:40-72
1141
balik ke wajahnya. Mereka tidak bisa diandalkan, dan janji-janji
atau pengakuan-pengakuan mereka tidak bisa dipercaya. Ada-
kalanya mereka tampak taat kepada Tuhan , namun segera saja me-
reka membelot, dan menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengor-
banan mereka dan patung-patung mereka. Penyembahan berhala
yaitu dosa yang begitu mudah merintangi mereka, dan meski-
pun mereka sering kali mengaku bertobat darinya, sering pula
mereka kembali terjerumus ke dalamnya. Menyembah berhala
atau menyembah Tuhan melalui patung-patung yaitu perzinahan
rohani, seolah-olah Ia yaitu berhala, dan oleh sebab itu dengan
berbuat demikian mereka dikatakan membangkitkan cemburu-Nya
(Ul. 32:16, 21).
IV. Penghakiman-penghakiman yang ditimpakan Tuhan ke atas mere-
ka sebab dosa-dosa ini. Dengan berdiam di Kanaan, itu tidak
berarti bahwa mereka bisa aman-aman saja dalam berbuat dosa.
Seperti halnya juga, sekalipun mereka keturunan Israel, itu tidak
berarti mereka akan aman dan tidak dihukum sesudah berbuat
dosa. Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi,
sebab itu Aku akan menghukum kamu (Am. 3:2). Penyembahan
berhala diabaikan begitu saja di antara bangsa-bangsa bukan-
Yahudi, namun tidak di tengah-tengah bangsa Israel,
1. Tuhan murka kepada mereka (ay. 59): saat Tuhan mendengar-
nya, saat Ia mendengar teriakan pelanggaran mereka, yang
naik ke hadapan-Nya, Ia menjadi gemas, Ia memandangnya
sebagai sesuatu yang sangat keji. Ia sangat membenci Israel,
yang sebelumnya sangat Ia kasihi dan yang sudah membuat-
Nya bergirang. Orang-orang yang sudah menjadi kaum pilih-
an-Nya kini menjadi angkatan murka-Nya. Dosa-dosa yang
pongah, terutama penyembahan berhala, membuat orang-
orang Israel sekalipun menjadi kejijikan bagi kekudusan Tuhan
dan memuakkan bagi keadilan-Nya.
2. Ia meninggalkan kediaman-Nya di tengah-tengah mereka, dan
memindahkan perisai yang merupakan kehormatan tempat
kediaman-Nya (ay. 60). Tuhan tidak pernah meninggalkan kita
jika kita tidak terlebih dahulu meninggalkan Dia. Ia tidak
pernah menarik diri jika kita tidak terlebih dahulu mengusir-
Nya dari kita. Nama-Nya yaitu Cemburu, Ia yaitu Tuhan yang
cemburu. Oleh sebab itu tidak heran jika umat yang telah di-
1142
jadikan pasangan-Nya sendiri dibenci dan ditolak. Ia menolak
untuk berdiam bersama mereka lagi, jika mereka jatuh ke
dalam pelukan orang lain. Kemah di Silo yaitu kemah yang
didiami Tuhan di antara manusia, yang di dalamnya Tuhan
benar-benar hendak diam bersama dengan manusia di atas
bumi. Akan namun , saat umat-Nya meninggalkan kemah itu
dengan berkhianat, maka sewajarnyalah jika Ia meninggalkan-
nya pula. Dan bila sudah begitu, segala kemuliaan kemah itu
pun lenyap. Israel tidak bisa banyak bersukacita atas kemah
suci tanpa hadirat Tuhan di dalamnya.
3. Ia membiarkan semuanya jatuh ke tangan musuh. Orang-
orang yang ditinggalkan Tuhan akan menjadi mangsa yang
empuk bagi si pembinasa. Orang-orang Filistin yaitu musuh
bebuyutan umat Israel milik Tuhan , dan mereka juga musuh
bebuyutan Tuhan Israel, namun Tuhan mau memakai mereka
sebagai cambuk bagi umat-Nya.
(1) Tuhan mengizinkan mereka merebut tabut perjanjian, dan
menggotongnya sebagai piala kemenangan mereka, untuk
menunjukkan bahwa bukan saja Ia telah meninggalkan
kemah-Nya namun juga bahkan tabut perjanjian itu sendiri,
yang kini tidak akan lagi menjadi pertanda hadirat-Nya (ay.
61): Ia membiarkan kekuatan-Nya tertawan, seolah-olah ke-
kuatan-Nya itu melemah dan ditaklukkan, dan kehormat-
an-Nya jatuh ke dalam penghinaan sebab ditinggalkan di
tangan musuh. Kita bisa membaca kisahnya dalam 1
Samuel 4:11. saat tabut perjanjian telah menjadi seperti
orang asing di antara orang-orang Israel, maka tidak heran
jika tabut itu segera dibuat menjadi tawanan di antara
orang-orang Filistin.
(2) Ia membiarkan pasukan Israel dikalahkan oleh orang-orang
Filistin (ay. 62-63): Ia membiarkan umat-Nya dimakan pe-
dang, pedang keadilan-Nya sendiri dan pedang kegeraman
musuh, sebab gemaslah Ia atas milik-Nya sendiri. Dan
murka-Nya yaitu api yang memakan teruna mereka, pada
masa kejayaan mereka, dengan pedang atau penyakit, dan
memporak-porandakan mereka sedemikian rupa sehingga
anak-anak dara mereka tidak lagi dipuja, maksudnya, tidak
dikawinkan (yang merupakan suatu kehormatan bagi se-
mua gadis), sebab tidak ada pemuda yang bisa mengawini
Kitab Mazmur 78:40-72
1143
mereka, dan sebab segala kesusahan dan malapetaka
Israel begitu banyak dan besar sehingga sukacita upacara
perkawinan dipandang tidak pada tempatnya, dan pada
waktu itu dikatakan, Berbahagialah ibu yang tidak mengan-
dung. Kehancuran yang terjadi di mana-mana membuat
manusia menjadi jarang. Aku akan membuat orang lebih
jarang dari pada emas tua (Yes. 13:12), sehingga tujuh
orang perempuan akan memegang seorang laki-laki (Yes.
4:1; 3:25). Namun ini bukan yang terburuk:
(3) Bahkan imam-imam mereka, yang melayani tabut perjanji-
an, gugur oleh pedang, yakni Hofni dan Pinehas. Sudah
sewajarnyalah mereka gugur, sebab mereka membuat diri
mereka sendiri hina, dan menjadi orang-orang yang sangat
berdosa di hadapan Tuhan. Jabatan imamat mereka sama
sekali tidak menjadi perlindungan bagi mereka, malah jus-
tru semakin memperberat dosa mereka dan mempercepat
kejatuhan mereka. Sudah sewajarnyalah mereka gugur
oleh pedang, sebab mereka sengaja membiarkan diri tanpa
perlindungan di medan pertempuran, tanpa dipanggil atau
diperintah. Kita membuang diri dari perlindungan Tuhan
jika keluar dari tempat kita berada dan dari jalan kewa-
jiban kita. saat imam-imam gugur, janda-janda mereka
tidak dapat menangis (ay. 64). Segala upacara berkabung
hilang dan terkubur bersama dukacita yang sangat dalam.
Janda Pinehas, bukannya meratapi kematian suaminya,
malah mati sendiri, sesudah ia menamakan anaknya yang
baru lahir Ikabod (1Sam. 4:19, dst.).
V. Kembalinya Tuhan , dengan belas kasihan, kepada mereka, dan
penampakan diri-Nya yang penuh rahmat bagi mereka sesudah ini.
Kita tidak membaca tentang pertobatan dan kembalinya mereka
kepada Tuhan , namun Tuhan tidak dapat lagi menahan hati-Nya
melihat kesukaran Israel (Hak. 10:16) dan peduli terhadap kehor-
matan-Nya sendiri, kuatir disakiti hati-Ku oleh musuh, jangan-
jangan lawan mereka salah mengerti (Ul. 32:27). Dan oleh sebab
itu lalu terjagalah Tuhan, seperti orang yang tertidur (ay. 65), dan
seperti pahlawan yang siuman dari mabuk anggur, bukan saja
seperti orang yang baru bangun tidur dan sadar kembali sesudah
mabuk, yang kemudian memperhatikan apa yang sebelumnya
1144
tampak ia abaikan sepenuhnya, namun juga seperti orang yang
merasa segar kembali sesudah bangun tidur, dan yang hatinya
dibuat senang sebab sudah minum anggur dengan secukupnya,
dan yang oleh sebab itu lebih hidup dan bersemangat, dan siap
melakukan kegiatan. sesudah Tuhan membiarkan tabut kekuatan-
Nya tertawan, seperti orang yang cemburu demi kehormatan-Nya,
Ia segera merentangkan lengan kekuatan-Nya untuk menyelamat-
kannya, mengerahkan kekuatan-Nya untuk melakukan perkara-
perkara besar bagi umat-Nya.
1. Ia menyerbu orang-orang Filistin yang menahan tabut perjanji-
an (ay. 66). Ia memukul mundur mereka dengan borok-borok,
melukai mereka dari belakang, seolah-olah mereka melarikan
diri dari-Nya, sekalipun mereka menyangka bahwa mereka
lebih dibandingkan pemenang. Ia membuat mereka mendapat cela,
dan mereka sendiri turut ambil bagian dalam menjadikan cela
bagi mereka berlangsung untuk selama-lamanya dengan gam-
bar emas borok-borok mereka, yang mereka kembalikan ber-
sama tabut sebagai korban penebus salah (1Sam. 6:5). Ini ter-
jadi in perpetuam rei memoriam – sebagai peringatan untuk
selama-lamanya. Perhatikanlah, cepat atau lambat Tuhan akan
memuliakan diri-Nya dengan menimpakan penghinaan ke atas
musuh-musuh-Nya, sekalipun mereka sedang berada di pun-
cak keberhasilan mereka.
2. Ia menyediakan tempat tinggal baru bagi tabut-Nya sesudah
beberapa bulan lamanya ditawan dan beberapa tahun lamanya
disembunyikan. Ia sungguh menolak kemah Yusuf. Ia tidak
pernah mengirimkannya kembali ke Silo, dari suku Efraim (ay.
67). Kehancuran tempat itu merupakan tugu peringatan akan
keadilan ilahi. Lihatlah apa yang telah Kulakukan kepada Silo
(Yer. 7:12). namun tidak sepenuhnya Ia mengambil kemuliaan
dari Israel. Berpindahnya tabut perjanjian tidak berarti dising-
kirkannya tabut itu. Silo telah kehilangan tabut itu, namun
Israel tidak. Tuhan akan tetap mempunyai jemaat di dunia, dan
kerajaan di tengah-tengah manusia, meskipun mungkin kaki
dian di tempat ini atau di tempat itu diambil. Bahkan, peno-
lakan terhadap Silo merupakan terpilihnya Sion, sama seperti,
lama sesudah itu, kejatuhan orang-orang Yahudi merupakan
kekayaan bagi bangsa-bangsa lain (Rm. 11:12). saat Tuhan
tidak memilih suku Efraim, yang darinya Yosua berasal, Ia me-
Kitab Mazmur 78:40-72
1145
milih suku Yehuda (ay. 68), sebab dari suku itulah Yesus
akan muncul, yang lebih besar dibandingkan Yosua. Kiryat-Yearim,
tempat tabut perjanjian dibawa sesudah diselamatkan dari
tangan orang-orang Filistin, terletak di dalam wilayah suku
Yehuda. Di sana tabut itu menguasai suku ini . namun
dari sana ia dipindahkan ke Sion, gunung Sion yang dikasihi-
Nya (ay. 68), yang menjulang permai, kegirangan bagi seluruh
bumi. Di sanalah Ia membangun tempat kudus-Nya setinggi
langit, laksana bumi (ay. 69). Daud memang hanya mendirikan
kemah bagi tabut itu, namun Bait Suci pada waktu itu sudah
dirancang dan dipersiapkan, dan kemudian dirampungkan
oleh anaknya. Dan Bait itu merupakan,
(1) Bangunan yang sangat megah. Bait itu dibangun bak is-
tana para raja dan para pembesar di bumi, bahkan, bait itu
mengungguli semua istana itu dalam semarak dan keme-
gahannya. Salomo membangunnya, namun di sini dikata-
kan Tuhan membangunnya, sebab ayahnya telah mengajar-
nya, mungkin dengan merujuk pada pekerjaan ini, bahwa
jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah
usaha orang yang membangunnya (127:1), yang merupa-
kan mazmur bagi Salomo.
(2) Bangunan yang sangat teguh, seperti bumi, meskipun
tidak akan terus ada selama bumi ada, namun selagi ada,
ia kokoh seperti bumi, yang ditopang Tuhan dengan firman-
Nya. Juga, Bait itu tidak dihancurkan seluruhnya sampai
Bait Injil ditegakkan, yang akan terus ada untuk selama-lama-
nya seperti matahari dan bulan yang ada selama-lamanya
(89:37-38) dan alam maut tidak akan menguasainya.
3. Ia mendirikan pemerintahan yang baik atas mereka, sebuah
kerajaan, dan raja yang berkenan di hati-Nya: Ia memilih Daud
hamba-Nya dari beribu-ribu orang Israel, dan menyerahkan
tongkat kerajaan ke dalam tangannya, yang dari keturunannya
Kristus akan datang, dan ia sendiri yang menjadi pelambang
Kristus (ay. 70). Berkenaan dengan Daud, Lihatlah di sini,
(1) Kehinaan asal usulnya. Bapa leluhurnya memang orang
besar, sebab ia keturunan raja suku Yehuda, namun ia tidak
begitu berpendidikan. Ia tidak dibesarkan sebagai cende-
kiawan atau prajurit, namun sebagai gembala. Ia diambil
1146
dari padang, seperti Musa. Ini terjadi sebab Tuhan bersuka
untuk memberi kehormatan kepada orang yang rendah
hati dan tekun, untuk mengangkat orang miskin dari debu
dan menempatkan mereka di antara para penguasa.
Terkadang juga Ia mendapati bahwa yang paling cocok un-
tuk melakukan tindakan bagi kepentingan umum yaitu
orang-orang yang sudah menghabiskan awal hidupnya da-
lam kesendirian dan perenungan. Anak Daud dicela sebab
asal usul-Nya yang tidak jelas: Bukankah Ia ini tukang
kayu? Daud diambil, tidak dikatakan dari menggembala
domba-domba jantan, namun dari mengikuti domba-domba
betina (KJV), terutama domba-domba gemuk yang sedang
menyusui, yang menunjukkan bahwa dari semua sifat baik
seorang gembala, ia sangat menonjol dalam hal kelembutan
dan kasih sayangnya kepada kawanan dombanya yang
paling membutuhkan perhatiannya. Sikap pikiran seperti
ini membuatnya cocok untuk memerintah, dan menjadi-
kannya sebagai pelambang Kristus, yang saat memberi
makan kawanan-Nya seperti seorang gembala, menuntun
induk-induk domba dengan hati-hati (Yes. 40:11).
(2) Pesatnya kemajuannya. Tuhan memilihnya untuk menggem-
balakan Yakub umat-Nya (ay. 71). Sungguh merupakan
kehormatan besar yang diberikan Tuhan kepadanya dengan
mengangkatnya sebagai raja, terutama dengan menjadi-
kannya raja atas Yakub dan Israel, umat Tuhan yang isti-
mewa, yang dekat dengan-Nya dan disayangi-Nya. namun
bersamaan dengan itu sungguh kepercayaan yang besar
yang diberikan kepadanya saat ia diberi tugas untuk me-
merintah orang-orang milik Tuhan sendiri. Tuhan mengang-
katnya ke atas takhta agar ia bisa memberi mereka makan,
dan bukan supaya ia memberi makan dirinya sendiri. Agar
ia bisa berbuat baik, dan bukan supaya ia dapat membuat
keluarganya besar. Tugas yang diberikan kepada semua
gembala, baik para hakim maupun hamba Tuhan, yaitu
agar mereka menggembalakan kawanan domba Tuhan .
(3) Kebahagiaan pemerintahannya. Daud, sebab diberi keper-
cayaan yang begitu besar ke dalam tangannya, menerima
belas kasihan Tuhan sehingga ia menjadi orang yang cakap
dan setia dalam memenuhi kepercayaan itu (ay. 72): Ia
Kitab Mazmur 78:40-72
1147
menggembalakan mereka. Ia memerintah dan mengajari
mereka, menuntun dan melindungi mereka,
[1] Dengan sangat jujur. Ia melakukan tugasnya dengan
ketulusan hatinya, bertujuan hanya bagi kemuliaan
Tuhan dan demi kebaikan rakyat yang dipercayakan ke-
padanya. Asas-asas agamanya merupakan aturan-atur-
an baku dalam pemerintahannya, yang dijalankannya
bukan dengan kebijakan duniawi, melainkan dengan
ketulusan dari Tuhan , oleh kekuatan kasih karunia Tuhan .
Dalam segala sesuatu yang diperbuatnya, ia mempu-
nyai maksud baik dan tidak bertujuan macam-macam.
[2] Dengan sangat bijak. Ia melakukan tugasnya dengan
kecakapan tangannya. Ia bukan saja sangat jujur dalam
apa yang dirancangnya, namun juga sangat bijaksana
dalam apa yang diperbuatnya, dan memilih sarana yang
paling sesuai untuk mencapai tujuannya. Ini dilakukan-
nya sebab Tuhan nya memang mengajarnya untuk ber-
laku bijaksana. Berbahagialah rakyat yang berada di
bawah pemerintahan seperti itu! Dengan alasan yang
baik sang pemazmur menjadikan ini sebagai contoh pe-
nutup yang memahkotai Israel dengan kebaikan Tuhan ,
sebab Daud yaitu pelambang Kristus, Sang Gembala
yang agung dan baik itu, yang pertama-tama direndah-
kan namun kemudian ditinggikan, dan yang tentang-
Nya dinubuatkan bahwa Ia akan dipenuhi dengan roh
hikmat dan pengertian dan yang akan menghakimi de-
ngan keadilan dan kejujuran (Yes. 11:3-4). Kejujuran
hati-Nya dan kecakapan tangan-Nya dapat diandalkan
sepenuhnya oleh seluruh rakyat-Nya. Kejayaan pemerin-
tahan-Nya dan rakyat-Nya tidak akan berkesudahan.
PASAL 79
azmur ini, jika benar ditulis atas dasar suatu peristiwa tertentu,
kemungkinan besar merujuk kepada penghancuran Yerusalem
dan Bait Suci, dan malapetaka menyedihkan yang diperbuat terha-
dap bangsa Yahudi oleh orang-orang Kasdim di bawah raja Nebukad-
nezar. Nada untuk menyanyikan mazmur ini disamakan, jika boleh
saya mengatakannya, dengan Ratapan Yeremia, dan nabi yang mera-
tap itu pun meminjam dua ayat dari Ratapan Yeremia itu (ay. 6-7)
dan menggunakannya dalam doanya (Yer. 10:25). Sebagian orang
menduga mazmur ini ditulis jauh-jauh hari sebelumnya melalui roh
nubuatan, yang dipersiapkan untuk digunakan jemaat pada hari
yang berkabut dan gelap itu. Sementara sebagian yang lain berpen-
dapat bahwa mazmur ini ditulis pada waktu peristiwa itu terjadi me-
lalui roh doa, entah oleh seorang nabi yang bernama Asaf atau oleh
seorang nabi lain untuk anak-anak Asaf. Walaupun begitu, apa pun
peristiwa khusus yang dirujuknya, di sini kita mendapati,
I. Gambaran keadaan umat Tuhan yang sangat mengenaskan
pada waktu itu (ay. 1-5).
II. Permohonan kepada Tuhan untuk meminta pertolongan dan
kelegaan, agar Dia mengadakan perhitungan dengan musuh-
musuh mereka (ay. 6-7, 10, 12), agar dosa-dosa mereka di-
ampuni (ay. 8-9), dan agar mereka dilepaskan (ay. 11).
III. Seruan yang disampaikan mengenai kesiapan umat-Nya un-
tuk memuji Dia (ay. 13).
Pada saat jemaat mengalami kedamaian dan kemakmuran, maz-
mur ini, saat kita menyanyikannya, memberi kita kesempatan un-
tuk memuji Tuhan bahwa kita beruntung tidak diinjak-injak dan
dihina seperti yang dialami bangsa Yahudi itu. namun mazmur ini
M
1150
sesuai terutama pada saat kita diinjak-injak dan dilanda kebimbang-
an, untuk membangkitkan kerinduan kita akan Tuhan dan mendorong
iman kita di dalam Dia sebagai pelindung jemaat.
Keluhan-keluhan yang Penuh Dukacita
(79:1-5)
1 Mazmur Asaf. Ya Tuhan , bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah
milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbun-
an puing. 2 Mereka memberi mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan
kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada
binatang-binatang liar di bumi. 3 Mereka menumpahkan darah orang-orang
itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. 4 Kami
menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi
orang-orang sekeliling kami. 5 Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka
terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api?
Di sini kita mendapati keluhan sedih yang dicurahkan di pelataran
sorga. Dunia penuh dengan keluhan, demikian pula dengan jemaat,
sebab jemaat menderita, bukan saja bersama dunia itu melainkan
juga sebab nya, seperti bunga bakung di antara duri-duri. Tuhan di-
jadikan tempat orang mengaduh. Sebab, kemana lagi anak-anak ha-
rus pergi mengaduh selain kepada bapak mereka, kepada bapak yang
mampu dan mau membantu? Bangsa-bangsa kafir dikeluhkan, kare-
na mereka ini, yang yaitu orang asing bagi negara persemakmuran
Israel, merupakan musuh bebuyutan dari bangsa Israel. Meskipun
mereka tidak mengenal Tuhan atau mengakui-Nya, namun mereka ada
dalam belenggu tangan Tuhan , sehingga sebab itu layak bagi jemaat
untuk berseru kepada-Nya melawan mereka. Sebab, Dialah Raja se-
gala bangsa, yang memerintah atas mereka, dan yang menghakimi
bangsa-bangsa kafir. Dialah Raja orang-orang kudus, yang menga-
yomi dan melindungi mereka.
I. Di sini mereka mengeluhkan amarah musuh-musuh mereka dan
amukan yang membabi buta dari para penindas mereka, yang
dikerahkan,
1. Melawan semua tempat (ay. 1). Mereka berbuat segala kejahat-
an yang bisa mereka perbuat,
(1) Terhadap tanah suci. Mereka menyerangnya, dan menge-
pungnya: “Bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah
milik-Mu, untuk menjarahnya, dan memporak-porandakan-
Kitab Mazmur 79:1-5
1151
nya.” Tanah Kanaan lebih disayangi oleh orang-orang Israel
yang saleh bukan sebab tanah itu milik mereka sendiri,
melainkan sebab tanah itu milik Tuhan Tuhan . Di tanah
itulah Tuhan dinyatakan dan di situ nama-Nya besar. Mere-
ka menyayanginya bukan sebab di tanah itu mereka dila-
hirkan dan dibesarkan dan sebab tanah itu sudah lama
menjadi milik mereka dan nenek moyang mereka. Perhati-
kanlah, penistaan terhadap agama haruslah membuat kita
lebih berdukacita dibandingkan pelanggaran terhadap hak asasi
umumnya, bahkan, terhadap hak kita sendiri. Kita harus
lebih tahan melihat warisan kita sendiri diporak-poranda-
kan dibandingkan melihat warisan Tuhan diperlakukan demi-
kian. Pemazmur ini sudah menyebutkan dalam mazmur se-
belumnya sebagai contoh kebaikan Tuhan yang besar terha-
dap Israel, bahwa telah dihalau-Nya bangsa-bangsa dari
depan mereka (78:55). namun lihatlah betapa besarnya per-
ubahan yang dibuat oleh dosa. Sekarang bangsa-bangsa
kafir dibiarkan datang menyerbu mereka.
(2) Terhadap kota suci: Mereka membuat Yerusalem menjadi
timbunan puing, timbunan sampah, timbunan di atas ku-
buran, begitu menurut sebagian orang. Para penduduknya
terkubur di dalam reruntuhan rumah-rumah mereka sen-
diri, dan tempat-tempat kediaman mereka menjadi kubur-
an mereka sendiri, kediaman mereka untuk selamanya.
(3) Terhadap Bait Suci. Tempat kudus yang sudah dibangun
Tuhan setinggi langit itu, dan yang dipandang akan teguh
laksana bumi, kini telah rata dengan tanah: Mereka telah
menajiskan bait kudus-Mu, dengan memasukinya dan meng-
obrak-abriknya. Oleh sebab umat Tuhan sendiri telah mena-
jiskannya dengan dosa-dosa mereka, maka Tuhan membiar-
kan musuh-musuh mereka menajiskannya dengan kesom-
bongan dan kekurangajaran mereka.
2. Melawan orang-orang, melawan tubuh umat Tuhan ; yang lebih
dari itu, kebencian mereka tidak terbendung.
(1) Mereka menumpahkan darah umat Tuhan habis-habisan,
dan membunuh mereka tanpa belas kasihan. Mata mereka
tidak kenal lelah, dan mereka tidak menyisakan ruang se-
dikit pun (ay. 3): Mereka menumpahkan darah orang-orang
1152
itu seperti air, di mana pun mereka menjumpai umat Tuhan ,
di sekeliling Yerusalem, di semua jalan-jalan kota. Siapa
pun yang keluar atau yang masuk sudah ditentukan untuk
dimakan pedang. Melimpahlah darah manusia yang ter-
curah, sehingga saluran air mengalirkan darah. Dan ia
mengalirkannya tanpa segan-segan atau rasa sesal seperti
saat menumpahkan banyak air, tanpa menyadari bahwa
setiap tetesnya akan dibalaskan pada hari saat Tuhan
membalas penumpahan darah.
(2) Mereka berlaku kejam terhadap jasad-jasad umat Tuhan .
sesudah mereka membunuh umat Tuhan , mereka tidak mem-
biarkan mayat seorang pun dikuburkan. Bukan itu saja,
mayat-mayat yang telah dikubur, bahkan mayat hamba-
hamba Tuhan , daging orang-orang yang dikasihi-Nya, yang
mereka ingat dan namanya mereka benci, mereka gali lagi,
dan mereka berikan sebagai makanan kepada burung-
burung di udara, kepada binatang-binatang liar di bumi.
Setidak-tidaknya, mereka membiarkan orang-orang yang
mereka bantai menjadi makanan binatang. Mereka meng-
gantung mayat-mayat itu dengan rantai, yang sungguh
membuat orang Yahudi ngeri bila melihatnya, sebab Tuhan
telah memberi mereka hukum yang jelas untuk melarang
ini, sebagai perbuatan yang biadab (Ul. 21:23). Perlakuan
yang tidak berperikemanusiaan terhadap saksi-saksi Kristus
ini sudah dinubuatkan (Why. 11:9), dan dengan demikian
bahkan mayat menjadi saksi melawan orang-orang yang
membantai mereka. Ini disebutkan (menurut Augustinus,
De Civitate Dei [Kota Tuhan ], lib. 1 cap. 12) bukan untuk
menggambarkan kesengsaraan orang-orang yang dianiaya
(sebab jasad orang-orang kudus akan bangkit dalam kemu-
liaan, betapapun mereka menjadi makanan burung-burung
di udara), melainkan untuk menggambarkan kebencian para
penganiaya mereka.
3. Melawan nama mereka (ay. 4): “Kami yang tinggal telah men-
jadi cela bagi tetangga-tetangga kami. Mereka semua berusaha
merendahkan kami dan membebani kami dengan penghinaan,
dan membuat kami tampak bagaikan orang-orang konyol, atau
menjijikkan, atau keduanya, mencela kami dengan dosa-dosa
dan penderitaan-penderitaan kami, atau mengatakan dusta
Kitab Mazmur 79:6-13
1153
tentang hubungan kami dengan Tuhan dan apa yang kami ha-
rapkan dari-Nya. Dengan begitu kami telah menjadi olok-olok
dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami.” Jika umat Tuhan
yang mengaku percaya kepada-Nya merosot keberadaan mere-
ka dari keadaan mereka dan keadaan nenek moyang mereka
yang sebenarnya, maka mereka harus sadar bahwa mereka
akan diberi tahu mengenai hal itu. Sungguh baik jika teguran
yang adil dapat membantu kita untuk bertobat dengan sung-
guh-sungguh. Akan namun , sudah menjadi nasib kaum Israel
Injili bahwa mereka akan diolok-olok dan dicemooh secara
tidak adil. Para rasul sendiri disamakan dengan kotoran dari
segala sesuatu.
II. Mereka bertanya-tanya lebih lagi tentang murka Tuhan (ay. 5).
Murka Tuhan ini mereka sadari saat menyaksikan murka tetangga-
tetangga mereka, dan inilah yang teramat sangat mereka keluh-
kan: Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka? Akankah itu te-
rus-menerus? Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengingin-
kan apa pun selain agar Tuhan mau berdamai dengan mereka, agar
murka-Nya dihilangkan, supaya dengan begitu murka manusia
dikekang dan tidak datang lagi. Perhatikanlah, orang-orang yang
menginginkan kebaikan Tuhan sebagai sesuatu yang lebih baik
dibandingkan hidup tidak bisa tidak pasti ngeri dan menjauhi murka-
Nya sebagai sesuatu yang lebih buruk dibandingkan maut.
Permohonan Meminta Pertolongan dan Kelegaan;
Permohonan untuk Dibebaskan
(79:6-13)
6 Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas bangsa-bangsa yang tidak mengenal
Engkau, ke atas kerajaan-kerajaan yang tidak menyerukan nama-Mu; 7
sebab mereka telah memakan habis Yakub, dan tempat kediamannya mereka
hancurkan. 8 Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang
kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat
lemah kami. 9 Tolonglah kami, ya Tuhan penyelamat kami, demi kemuliaan
nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh sebab nama-
Mu! 10 Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: “Di mana Tuhan mereka?”
Biarlah di hadapan kami bangsa-bangsa lain mengetahui pembalasan atas
darah yang tertumpah dari hamba-hamba-Mu. 11 Biarlah sampai ke hadap-
an-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biar-
kanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh! 12 Dan
balikkanlah ke atas pangkuan tetangga kami tujuh kali lipat cela yang telah
1154
didatangkan kepada-Mu, ya Tuhan! 13 Maka kami ini, umat-Mu, dan kawan-
an domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lama-
nya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.
Permohonan-permohonan yang dipanjatkan kepada Tuhan di sini
sangat sesuai dengan segala kesusahan yang tengah dialami jemaat
pada saat ini. Dan mereka menguatkan semua permohonan itu de-
ngan menyelipkan seruan-seruan yang berisi alasan mengapa mereka
berseru, dan sebagian besarnya menyinggung kehormatan Tuhan .
I. Mereka berdoa agar Tuhan mengalihkan murka-Nya dari mereka
dan mengarahkannya kepada orang-orang yang menganiaya serta
menghina mereka (ay. 6): “Tumpahkanlah amarah-Mu, sepenuh-
penuhnya, ke atas bangsa-bangsa. Biarlah mereka sampai mengo-
rek-ngorek ampasnya, dan meminumnya.” Doa ini sungguh meru-
pakan sebuah nubuatan, yang di dalamnya murka Tuhan nyata
dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia.
Lihatlah di sini:
1. Karakter atau sifat dari orang-orang yang dilawan si pemaz-
mur dalam doanya. Mereka itu orang-orang yang sungguh
tidak mengenal Tuhan dan menyerukan nama-Nya. Penyebab
mengapa manusia tidak berseru kepada Tuhan yaitu sebab
mereka tidak mengenal-Nya, tidak tahu betapa sanggup dan
inginnya Dia menolong mereka. Orang-orang yang bersikeras
tidak mau mengenal Tuhan dan mengabaikan doa, yaitu orang
fasik, yang hidup tanpa Tuhan di dalam dunia. Ada kerajaan-
kerajaan yang tidak mengenal Tuhan dan tidak mematuhi Injil,
namun gabungan rakyat mereka yang banyak dan kekuatan-
kekuatan mereka sekali-kali tidak akan membuat mereka
aman dari penghakiman-penghakiman-Nya yang adil.
2. Kejahatan mereka: Mereka telah memakan habis Yakub (ay. 7).
Ini sudah cukup merupakan perbuatan jahat menurut pan-
dangan Dia yang menganggap bahwa mereka yang menyentuh
umat-Nya berarti menyentuh biji mata-Nya. Mereka tidak saja
telah mengganggu namun juga telah memakan habis Yakub,
tidak saja telah menerobos masuk tempat kediamannya, tanah
Kanaan, namun juga telah memporak-porandakannya dengan
menjarah dan membantai penduduknya.
3. Penghukuman mereka: “Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas
mereka. Jangan hanya mengekang mereka supaya tidak mela-
Kitab Mazmur 79:6-13
1155
kukan kejahatan lebih jauh lagi, namun adakanlah perhitungan
dengan mereka atas kejahatan yang telah mereka perbuat.”
II. Mereka berdoa untuk pengampunan dosa, yang mereka akui
sebagai penyebab dari segala malapetaka yang menimpa mereka.
Betapapun lalimnya manusia, Tuhan bertindak benar dalam mem-
biarkan mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Mereka
berdoa,
1. Agar Tuhan tidak memperhitungkan kepada mereka kesalahan
nenek moyang mereka (ay. 8). Ini mencakup kesalahan-kesa-
lahan mereka sendiri yang telah lalu, yang mereka perbuat di
masa muda, agar kini saat mereka sudah tua, tidak ditimpa-
kan kepada mereka. Ini juga termasuk kesalahan-kesalahan
umat mereka yang dahulu, dosa-dosa nenek moyang mereka.
Dalam pembuangan di Babel, kesalahan-kesalahan yang telah
lalu diperhitungkan. namun Tuhan berjanji untuk tidak akan
melakukannya lagi (Yer. 31:29-30), jadi mereka berdoa, “Ja-
nganlah perhitungkan dosa-dosa kami yang mula-mula.” Doa
ini, menurut sebagian orang, memandang jauh ke belakang
saat mereka membuat lembu emas, sebab Tuhan berkata,
pada hari pembalasan-Ku itu Aku akan membalaskan dosa
mereka ini kepada mereka (Kel. 32:34). Jika anak-anak mema-
tahkan kutuk dari dosa orangtua mereka melalui pertobatan
dan pembaharuan diri, maka mereka di dalam iman boleh
berdoa agar Tuhan tidak mengingatnya untuk melawan mereka.
jika Tuhan mengampuni dosa, Ia menghapuskannya dan
tidak mengingat-ingatnya lagi.
2. Agar Ia mau membersihkan mereka dari dosa-dosa mereka be-
lakangan ini, sebab kesalahan dari dosa-dosa itu telah men-
cemari pikiran dan hati nurani: Lepaskanlah kami dan am-
punilah dosa kami (ay. 9). Kelepasan dari masalah dikarunia-
kan di dalam kasih, dan merupakan belas kasihan yang se-
sungguhnya, jika didasarkan pada pengampunan dosa dan
mengalir keluar akibat pengampunan itu. Oleh sebab itu kita
harus lebih bersungguh-sungguh untuk berdoa kepada Tuhan
agar terutama Dia menyingkirkan dosa-dosa kita lebih dari-
pada penderitaan-penderitaan kita. sebab pengampunan dosa
itu merupakan dasar serta pemanis bagi kelepasan-kelepasan
kita.
1156
III. Mereka berdoa agar Tuhan mengerjakan kelepasan bagi mereka,
dan mengakhiri permasalahan mereka dengan baik dan cepat:
Kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami (ay. 8). Mereka
tidak mempunyai pengharapan-pengharapan lain kecuali rahmat
Tuhan , rahmat-Nya yang lembut. Keadaan mereka begitu merana
sehingga mereka memandang diri sebagai orang-orang yang
pantas dikasihani Tuhan . Mereka begitu nyaris putus asa sehingga
kecuali rahmat ilahi segera turut campur untuk menghalangi ke-
hancuran mereka, mereka akan binasa. Ini membuat mereka
memohon dengan semakin mendesak: “Tolonglah kami, ya Tuhan .
Lepaskan kami, ya Tuhan . Tolonglah kami dalam kesesakan, agar
kami kuat menanggungnya. Tolonglah kami keluar dari kesukar-
an-kesukaran kami, agar roh kami tidak letih lesu. Lepaskanlah
kami dari dosa, janganlah biarkan kami tenggelam.” Tiga hal yang
mereka serukan:
1. Kesesakan besar yang membuat mereka terpuruk: “Sudah sa-
ngat lemah kami, dan, sebab lemah, kami akan terhilang jika-
lau Engkau tidak menolong kami.” Semakin lemah dan rendah
kita terpuruk, semakin kita butuh pertolongan dari sorga, dan
semakin kuasa ilahi akan dimuliakan dalam mengangkat kita.
2. Kebergantungan mereka kepada-Nya: “Engkaulah Tuhan penye-
lamat kami, hanya Engkaulah yang dapat menolong kami. Dari
TUHAN datang pertolongan, dan dari-Nya kita mengharapkan
pertolongan. Sebab hanya di dalam Tuhanlah datangnya kese-
lamatan bagi umat-Nya.” Orang-orang yang menjadikan Tuhan
sebagai Tuhan penyelamat mereka pasti akan mendapati-Nya
demikian.
3. Kepentingan kehormatan-Nya sendiri dalam perkara mereka.
Mereka tidak berseru dengan memakai jasa apa pun dari diri
mereka sendiri untuk menopang seruan mereka. Mereka tidak
mengaku berjasa atas apa pun juga. namun ini yang mereka
serukan, “Tolonglah kami demi kemuliaan nama-Mu! Ampuni-
lah kami demi nama-Mu.” Yang terbaik dalam mendorong hati
kita saat berdoa yaitu hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan
dan segala sesuatu yang dengannya Ia menyatakan diri-Nya.
Ada dua hal yang tersirat dalam permohonan ini:
(1) Bahwa nama dan kehormatan Tuhan akan sangat dirusak-
kan jika Ia tidak melepaskan mereka. Sebab orang-orang
Kitab Mazmur 79:6-13
1157
yang mencemooh mereka berarti menghujat Tuhan , seolah-
olah Ia lemah dan tidak mampu menolong mereka, atau te-
lah mundur dan tidak mau membantu mereka. Oleh sebab
itu mereka berseru (ay. 10), “Mengapa bangsa-bangsa lain
boleh berkata: Di mana Tuhan mereka? Ia telah meninggal-
kan mereka, dan melupakan mereka. Dan sekarang, inilah
yang mereka dapatkan dengan menyembah Tuhan yang
tidak bisa mereka lihat.” (Nil præter nubes et cœli numen
adorant. Juv. – Mereka tidak memuja ilah mana pun selain
awan-awan dan langit.). Bahwa apa yang menjadi pujian
mereka (yaitu bahwa mereka menyembah Tuhan yang ada di
mana-mana) kini berbalik menjadi celaan bagi mereka dan
juga bagi Dia, seolah-olah mereka menyembah Tuhan yang
tidak ada di mana pun. “Tuhan,” seru mereka, “Tunjukkan-
lah bahwa Engkau ada dengan menunjukkan bahwa Eng-
kau hadir bersama kami dan membela kami, sehingga apa-
bila kami ditanya, Di mana Tuhan mu? kami dapat menjawab,
Ia dekat dengan kami dalam segala sesuatu yang kami seru-
kan kepada-Nya dan kalian lihat bahwa Tuhan memang be-
serta kita berdasar apa yang diperbuat-Nya bagi kami.”
(2) Bahwa nama dan kehormatan Tuhan akan sangat dipermu-
liakan jika Ia benar-benar melepaskan mereka. Rahmat-
Nya akan dimuliakan saat Ia melepaskan orang-orang
yang demikian sengsara dan tidak berdaya. Dengan meng-
acungkan lengan-Nya yang kekal demi mereka, maka Ia
akan mengabadikan nama-Nya. Dan kelepasan mereka akan
menjadi suatu pelambang dan bayangan dari keselamatan
agung, yang dalam kegenapan waktu akan dikerjakan oleh
Mesias Sang Raja, demi kemuliaan nama Tuhan .
IV. Mereka berdoa agar Tuhan membalas musuh-musuh mereka,
1. Atas kekejaman dan kebiadaban mereka (ay. 10): “Kiranya
pembalasan menuntut darah (sesuai dengan hukum pada
zaman dulu, Kej. 9:6) diketahui di antara bangsa-bangsa kafir.
Kiranya mereka sadar bahwa penghakiman-penghakiman yang
ditimpakan ke atas mereka merupakan hukuman atas kesa-
lahan yang telah mereka perbuat terhadap kami. Kiranya itu
terjadi di hadapan kami, dan dengan sarana ini biarlah bang-
sa-bangsa lain mengetahui Tuhan sebagai Hakim bumi (94:2)
1158
dan sebagai Tuhan yang mendukung kepentingan umat-Nya.”
Mereka yang telah mabuk dengan darah orang-orang kudus
akan diberi minum darah, sebab hal itu wajar bagi mereka.
2. Atas penghinaan dan ejekan mereka (ay. 12): “Balikkanlah cela
yang telah mereka datangkan. Segala ejekan yang telah me-
reka sampaikan dengan perkataan dan perbuatan terhadap
umat Tuhan sendiri dan terhadap nama-Nya biarlah dibalaskan
kepada mereka dengan berlipat ganda.” Penghinaan yang
diucapkan orang lain terhadap kita haruslah kita serahkan ke-
pada Tuhan , apakah Dia akan membalaskannya kepada mereka
atau tidak, dan kita harus berdoa agar Ia mengampuni me-
reka. namun penghinaan yang diucapkan mereka untuk meng-
hujat Tuhan sendiri dapat kita doakan di dalam iman agar Tuhan
membalikkan tujuh kali lipat kepada diri mereka sendiri, se-
hingga mereka terpukul, merendahkan diri, dan bertobat. Doa
ini merupakan sebuah nubuatan, yang sama pentingnya de-
ngan nubuatan Henokh, bahwa Tuhan akan menginsafkan
orang-orang berdosa atas kata-kata nista yang telah mereka
ucapkan melawan-Nya (Yud. 1:15) dan akan membalikkannya
ke diri mereka sendiri dengan kengerian-kengerian kekal se-
tiap kali mereka diingat.
V. Mereka berdoa agar Tuhan memberi jalan keluar untuk menye-
lamatkan orang-orang tahanan-Nya yang malang, terutama para
tahanan yang ditentukan untuk mati (ay. 11). Keadaan saudara-
saudara mereka yang sudah jatuh ke tangan musuh sungguh
menyedihkan. Mereka dijadikan tahanan yang terus diawasi de-
ngan ketat, dan sebab mereka takut kalau-kalau ratapan mereka
terdengar, mereka melampiaskan kesedihan mereka dalam keluh
kesah yang dalam dan tak terucapkan. Segala nafas mereka
hanyalah keluhan, dan begitu pula dengan doa mereka. Mereka
ditentukan untuk mati, seperti domba yang akan dibantai, dan
telah menerima hukuman mati dalam diri mereka. Keadaan yang
mengenaskan ini diserahkan sang pemazmur,
1. Kepada belas kasihan ilahi: “Biarlah sampai ke hadapan-Mu
keluhan orang tahanan, dan kiranya Engkau berkenan mende-
ngarkan rintihan-rintihan mereka.”
2. Pada kuasa ilahi: “Sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, yang
tidak dapat dilawan oleh makhluk mana pun, biarkanlah hidup
Kitab Mazmur 79:6-13
1159
orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh, selamat-
kanlah mereka dari kematian yang sudah ditentukan bagi me-
reka.” Ketidakberdayaan manusia yaitu kesempatan Tuhan
untuk tampil bagi umat-Nya (2Kor. 1:8-10).
Yang terakhir, mereka berjanji akan memuji-muji Tuhan bila
doa mereka didengar (ay. 13): Maka kami ini akan bersyukur
kepada-Mu untuk selama-lamanya.
Lihatlah :
1. Bagaimana mereka menghibur diri dengan hubungan yang
mereka miliki dengan Tuhan . “Meskipun kami tertindas dan
menjadi lemah, namun kami yaitu domba-domba gembala-
an-Mu, maka janganlah menyangkal dan menolak kami oleh
sebab semua ini: Kami ini milik-Mu. Selamatkanlah kami.”
2. Bagaimana mereka berharap akan mendapatkan kesempat-
an untuk memuji Tuhan atas kelepasan mereka. Kelepasan
ini sangat mereka rindukan, dan akan mereka sambut, ka-
rena kelepasan itu akan melengkapi mereka dengan pokok
pujian dan mempersiapkan hati mereka untuk melaksana-
kan dengan gembira pekerjaan yang sangat baik itu, peker-
jaan sorgawi, yaitu memuji-muji Dia.
3. Bagaimana mereka merasa wajib tidak saja untuk bersyu-
kur kepada Tuhan pada saat ini, namun juga untuk memberi-
takan puji-pujian untuk-Nya turun-temurun. Yaitu, untuk
berbuat semampu mereka agar kenangan akan kebaikan-
kebaikan Tuhan terus diingat dan agar keturunan mereka
tetap memuji-muji Tuhan senantiasa.
4. Bagaimana mereka menyerukan ini kepada Tuhan : “Tuhan,
bangkitlah bagi kami untuk melawan musuh-musuh kami.
Sebab, jika mereka semakin kuat, mereka akan menghujat-
Mu (ay. 12). namun , jika kami dilepaskan, kami akan me-
muji-Mu. Tuhan, kami yaitu umat-Mu yang telah Kauben-
tuk bagi-Mu sendiri, untuk memberitakan kemasyhuran-Mu.
Jika kami terbunuh, dari manakah pujian dan penghor-
matan itu akan dinaikkan?” Perhatikanlah, hidup yang se-
penuhnya diabdikan untuk memuji Tuhan pasti akan tetap
dijaga di bawah perlindungan-Nya.
PASAL 80
azmur ini mempunyai tujuan yang sedikit banyak sama dengan
mazmur sebelumnya. Menurut sebagian orang, mazmur ini
ditulis pada masa kesusahan dan pembuangan sepuluh suku Israel,
sama seperti dua mazmur sebelumnya. Namun sungguh banyaklah
kesesakan umat Israel milik Tuhan ini, dan mungkin banyak yang
tidak tercatat dalam sejarah suci. Sebagian dari antara yang tidak
tercatat itu bisa saja memberi kesempatan bagi dirancangnya
mazmur ini, yang sesuai untuk dinyanyikan pada masa kesusahan
Yakub. Dan jika dalam menyanyikannya kita mengungkapkan kasih
yang sejati kepada jemaat Tuhan dan kepedulian yang sepenuh hati
terhadap kepentingannya, dengan keyakinan yang teguh pada kuasa
Tuhan untuk menolong jemaat keluar dari kesusahan-kesusahannya
yang hebat, maka itu berarti kita bernyanyi dengan segenap hati
kepada Tuhan. Di sini sang pemazmur,
I. Memohonkan tanda-tanda hadirat Tuhan bersama umat-Nya
dan kebaikan-Nya terhadap mereka (ay. 2-4).
II. Mengeluhkan teguran-teguran ilahi yang sedang mereka
alami (ay. 5-8).
III. Menggambarkan kehancuran yang sedang dialami jemaat,
melalui perumpamaan pohon anggur dan kebunnya, yang
sebelumnya tumbuh subur namun kini hancur (ay. 9-17).
IV. Menutup mazmur ini dengan doa kepada Tuhan , untuk mem-
persiapkan datangnya belas kasihan bagi mereka dan mem-
persiapkan mereka untuk menerima belas kasihan (ay. 18-
20).
Mazmur ini, sama seperti banyak mazmur sebelum dan sesudah-
nya, berkaitan dengan kepentingan-kepentingan Israel milik Tuhan se-
M
1162
cara umum, yang seharusnya berada lebih dekat di hati kita dibandingkan
kepentingan-kepentingan duniawi kita sendiri.
Keluhan-keluhan yang Penuh Dukacita
(80:1-8)
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Kesaksian Asaf.
Mazmur. 2 Hai gembala Israel, pasanglah telinga, Engkau yang menggiring
Yusuf sebagai kawanan domba! Ya Engkau, yang duduk di atas para kerub,
tampillah bersinar 3 di depan Efraim dan Benyamin dan Manasye! Bangkit-
kanlah keperkasaan-Mu dan datanglah untuk menyelamatkan kami. 4 Ya
Tuhan , pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan sela-
mat. 5 TUHAN, Tuhan semesta alam, berapa lama lagi murka-Mu menyala
sekalipun umat-Mu berdoa? 6 Engkau memberi mereka makan roti cucuran
air mata, Engkau memberi mereka minum air mata berlimpah-limpah, 7
Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami,
dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. 8 Ya Tuhan semesta alam,
pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.
Di sini sang pemazmur, atas nama jemaat, datang kepada Tuhan di da-
lam doa, dengan membawa keadaan Israel yang kini tertimpa derita.
I. Ia memohonkan kebaikan Tuhan bagi mereka (ay. 2-3). Kebaikan
Tuhan merupakan segala-galanya yang diminta di tempat kudus
jika orang sedang sengsara. Itulah yang pertama-tama dicari
saat itu.
Lihatlah :
1. Bagaimana di dalam permohonannya ia memandang Tuhan se-
bagai Gembala Israel, yang telah menyebut Israel sebagai ka-
wanan domba gembalaan-Nya (79:13), yang di bawah bimbing-
an serta perhatian-Nya Israel berada, seperti kawanan domba
berada dalam perhatian dan tuntunan sang gembala. Kristus
yaitu Gembala yang agung dan baik, yang kepada-Nya kita di
dalam iman boleh mempercayakan tugas penjagaan kawanan
domba Tuhan yang diberikan kepada-Nya. Ia menggiring Yusuf
sebagai kawanan domba, ke padang berumput hijau yang ter-
baik dan jauh dari mara bahaya. Jika Yusuf tidak mengikuti-
Nya dengan taat seperti halnya kawanan domba mengikuti
gembalanya, maka itu salahnya sendiri. Ia duduk di atas para
kerub, di mana Ia siap menerima permohonan-permohonan
dan memberi bimbingan-bimbingan. Tutup pendamaian
berada di antara dua kerub. Dan, di dalam doa, sungguh sa-
Kitab Mazmur 80:1-8
1163
ngat menghibur untuk memandang Tuhan yang duduk di atas
takhta anugerah. Kita merasa terhibur sebab pendamaian
agung yang telah dikerjakan Kristus, sebab tutup pendamaian
itu yaitu untuk mendamaikan.
2. Apa yang diharapkan dan diinginkan sang pemazmur dari
Tuhan yaitu agar Ia membuka telinga pada teriakan keseng-
saraan-kesengsaraan dan doa-doa mereka, agar Ia tampil ber-
sinar baik dalam kemuliaan-Nya sendiri maupun dalam kemu-
rahan dan kebaikan-Nya kepada umat-Nya, agar Ia menun-
jukkan diri-Nya dan senyum-Nya kepada mereka, dan agar Ia
membangkitkan keperkasaan-Nya, agar Ia membangunkan dan
mengerahkannya. Keperkasaan-Nya tampak terlelap: “Tuhan,
bangunkanlah keperkasaan-Mu.” Kepentingan-Nya mendapat
perlawanan hebat dan musuh-musuh mengancam untuk me-
ngalahkannya: “Tuhan, kerahkanlah keperkasaan-Mu dengan
lebih kuat lagi, dan datanglah untuk menyelamatkan kami.
Jadilah Engkau bagi umat-Mu pertolongan yang penuh kuasa
dan selalu siap sedia. Tuhan, perbuatlah ini di depan Efraim
dan Benyamin dan Manasye,” maksudnya, “Di hadapan semua
suku Israel. Biarlah mereka melihatnya sampai puas.” Ada ke-
mungkinan ketiga suku ini disebutkan sebab mereka yaitu
suku-suku yang membentuk pasukan kemah Israel yang ber-
jalan melintasi padang gurun mengikuti tabut perjanjian.
sebab itu di depan mereka tabut keperkasaan Tuhan bangkit
untuk menyerakkan musuh-musuh mereka.
II. Ia mengeluhkan murka Tuhan yang melawan mereka. Tuhan murka,
dan inilah yang ditakutkannya melebihi apa pun (ay. 5).
1. Murka itu besar. Ia khawatir jangan-jangan murka Tuhan me-
nyala sekalipun umat-Nya berdoa, bukan saja bahwa Ia murka
kendati dengan doa-doa mereka, yang dengannya mereka
berharap dapat menyingkirkan murka-Nya dari mereka, namun
juga bahwa Ia murka dengan doa-doa mereka, meskipun
umat-Nya sendirilah yang berdoa. Kalau Tuhan murka terhadap
dosa-dosa umat-Nya dan terhadap doa-doa para musuh-Nya,
maka itu tidaklah aneh. namun kalau Ia murka terhadap doa-
doa umat-Nya, maka itu sungguh aneh. Ia tidak hanya me-
nunda-nunda waktu untuk menjawab doa-doa mereka (hal ini
sering kali dilakukan-Nya di dalam kasih), namun juga Ia tidak
1164
berkenan kepada doa-doa itu. Kalau Tuhan sudah benar-benar
murka terhadap doa-doa umat-Nya, maka kita boleh yakin
bahwa itu sebab mereka salah berdoa (Yak. 4:3). Mereka
berdoa, namun tidak bergumul di dalam doa. Tujuan-tujuan
mereka tidaklah benar, atau ada suatu dosa tersembunyi yang
diam-diam mereka simpan dan turuti. Mereka tidak mengang-
kat tangan yang murni, atau mereka mengangkatnya dengan
amarah dan keraguan. namun kekhawatiran ini mungkin ha-
nya pengertian mereka sendiri saja. Ia tampak marah terhadap
doa-doa mereka, padahal sebenarnya tidak. Sebab dengan
demikian Ia mau menguji kesabaran dan ketekunan mereka di
dalam doa, seperti Kristus menguji wanita Kanaan saat Ia
berkata, Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi
anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.
2. Murka itu sudah berlangsung sangat lama: “Berapa lama lagi
murka-Mu menyala? Kami terus-menerus berdoa, namun Eng-
kau tetap tidak berkenan kepada kami.” Sekarang tanda-tanda
murka Tuhan yang selama ini menimpa mereka membuat mere-
ka berdukacita dan menanggung malu.
(1) Membuat mereka berdukacita (ay. 6): Engkau memberi me-
reka makan roti cucuran air mata. Dari hari ke hari mereka
makan makanan dengan bersimbah air mata. Inilah cuka
yang ke dalamnya mereka mencelupkan makanan mereka
(42:4). Mereka diberi minum air mata, mengecap cawan
yang pahit itu tidak hanya sekali-sekali, namun dalam jum-
lah yang sangat banyak. Perhatikanlah, ada banyak orang
yang menghabiskan waktu dalam dukacita, namun kelak
mereka akan menghabiskan kehidupan kekal mereka da-
lam sukacita.
(2) Mereka menanggung malu (ay. 7). Tuhan , dengan murka ter-
hadap mereka, membuat mereka menjadi pokok pencedera-
an tetangga-tetangga mereka. Setiap orang berusaha mem-
permalukan mereka sejadi-jadinya, dan mereka telah men-
jadi mangsa yang empuk bagi tetangga-tetangga mereka,
sehingga orang-orang di sekeliling mereka hanya berlomba-
lomba untuk menelanjangi dan menjarah mereka. Musuh-
musuh mereka tertawa-tertawa melihat ketakutan-ketakut-
an yang melanda mereka, kesusahan-kesusahan yang me-
nimpa mereka, dan kekecewaan-kekecewaan yang mereka
Kitab Mazmur 80:1-8
1165
temui. jika Tuhan murka terhadap umat-Nya, maka kita
harus bersiap-siap melihat mereka bersimbah air mata dan
musuh-musuh mereka bersorak-sorai dalam kemenangan.
III. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh meminta anugerah untuk
membuat mereka bertobat supaya mereka berkenan bagi Tuhan
dan diselamatkan oleh-Nya: Ya Tuhan , pulihkanlah kami (ay. 4). Ya
Tuhan semesta alam, pulihkanlah kami (ay. 8) dan buatlah wajah-
Mu bersinar, maka kami akan selamat. Ini merupakan pokok
beban dalam nyanyian itu, sebab kita menjumpainya lagi dalam
ayat 20. Mereka sadar diri bahwa mereka sudah menyimpang dari
Tuhan dan kewajiban mereka, dan telah berbelok ke jalan-jalan
dosa, dan bahwa hal inilah yang membuat Tuhan menyembunyi-
kan wajah-Nya dari mereka dan menyerahkan mereka ke tangan
musuh-musuh mereka. Oleh sebab itu, mereka ingin memulai se-
galanya dengan benar: “Tuhan, bawalah kami kembali kepada-Mu
dalam jalan pertobatan dan pembaharuan, maka, tidak diragukan
lagi, Engkau akan kembali kepada kami dalam jalan belas kasih-
an dan kelepasan.”
Lihatlah :
1. Tidak ada keselamatan selain dari kemurahan Tuhan : “Buatlah
wajah-Mu bersinar, kiranya kami memiliki kasih-Mu dan caha-
ya wajah-Mu, maka kami akan selamat.”
2. Kita tidak bisa mendapat perkenanan Tuhan jika kita tidak ber-
balik kepada-Nya. Kita harus berbalik lagi kepada Tuhan dari
dunia dan dari kedagingan, maka Ia akan membuat wajah-Nya
bersinar atas kita.
3. Kita tidak bisa berbalik kepada Tuhan kecuali melalui anuge-
rah-Nya sendiri. Kita harus mengatur perbuatan-perbuatan
kita agar bisa berbalik kepada-Nya (Hos. 5:4) dan kemudian
berdoa sungguh-sungguh memohon anugerah-Nya, Bawalah
aku kembali, supaya aku berbalik, sambil menyerukan janji
yang penuh rahmat itu (Ams. 1:23), Berpalinglah kamu kepada
teguranku! Sesungguhnya, Aku hendak mencurahkan isi hati-
Ku (KJV: Sesungguhnya, Aku hendak mencurahkan Roh-Ku
kepadamu – pen.). Doa yang dipanjatkan di sini yaitu untuk
pertobatan seluruh bangsa. Dengan cara inilah kita harus ber-
doa memohon belas kasihan bagi bangsa kita, supaya apa
1166
yang salah diluruskan, maka penderitaan-penderitaan kita
akan segera dipulihkan. Kekudusan bangsa akan menjamin
kebahagiaan bangsa.
Pohon Anggur yang Ditinggalkan
(80:9-20)
9 Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir, telah Kauhalau bangsa-bangsa,
lalu Kautanam pohon itu. 10 Engkau telah menyediakan tempat bagi dia,
maka berakarlah ia dalam-dalam dan memenuhi negeri; 11 gunung-gunung
terlindung oleh bayang-bayangnya, dan pohon-pohon aras Tuhan oleh cabang-
cabangnya; 12 dijulurkannya ranting-rantingnya sampai ke laut, dan pucuk-
pucuknya sampai ke sungai Efrat. 13 Mengapa Engkau melanda temboknya,
sehingga ia dipetik oleh setiap orang yang lewat? 14 Babi hutan menggerogoti-
nya dan binatang-binatang di padang memakannya. 15 Ya Tuhan semesta
alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah
pohon anggur ini, 16 batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! 17 Mereka
telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang
lenyap oleh hardik wajah-Mu! 18 Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang
di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu
itu, 19 maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami
hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu. 20 Ya TUHAN, Tuhan semesta
alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.
Di sini sang pemazmur menyerukan tuntutannya bagi Israel milik
Tuhan . Ia memohon dengan sangat di hadapan takhta anugerah, ber-
seru mohon belas kasihan dan anugerah dari Tuhan Tuhan kepada
mereka. Di sini jemaat digambarkan sebagai pohon anggur (ay. 9, 15)
dan kebun anggur (ay. 16). Akar dari pohon anggur ini yaitu Kristus
(Rm. 11:18). Ranting-rantingnya yaitu orang-orang percaya (Yoh.
15:5). Jemaat itu seperti pohon anggur, lemah dan perlu ditopang,
tidak enak dipandang dan tidak menjanjikan apa-apa bila dilihat dari
luar, namun ia menyebar dan subur, dan buah-buahnya sangat baik.
Jemaat yaitu pohon anggur pilihan. Kita mempunyai alasan untuk
mengakui kebaikan Tuhan , sebab Ia telah menanam pohon anggur
seperti itu di padang gurun dunia ini, dan menjaganya sampai hari
ini.
Sekarang cermatilah di sini:
I. Bagaimana pohon anggur jemaat Perjanjian Lama ditanam pada
mulanya. Pohon itu diambil dari Mesir dengan tangan yang dinaik-
kan. Bangsa-bangsa dihalau dari Kanaan untuk mempersiapkan
tempat baginya, tujuh bangsa harus menyediakan tempat bagi
Kitab Mazmur 80:9-20
1167
bangsa itu. Engkau menyapu bersih mereka demi dia (begitu seba-
gian orang membacanya, ay. 10), untuk membuat lancar pekerja-
an itu. Bangsa-bangsa disapu bersih seperti kotoran dengan sapu
kehancuran. Tuhan , sesudah menyediakan tempat bagi dia, dan me-
nanamnya, membuatnya berakar dalam-dalam dengan mendiri-
kan pemerintahan yang sentosa baik dalam jemaat maupun ne-
gara bagi mereka. Mereka begitu teguh sehingga meskipun bang-
sa-bangsa di sekitar sering kali mencoba menyerangnya, mereka
tidak berhasil mencabutnya.
II. Bagaimana pohon itu berkembang dan tumbuh subur.
1. Tanah Kanaan itu sendiri dipenuhi penduduk. Pertama-tama,
jumlah mereka ini tidak begitu banyak sehingga tidak sampai
memenuhi tanah itu (Kel. 23:29). namun pada masa Salomo,
orang Yehuda dan orang Israel jumlahnya seperti pasir di tepi
laut. Seluruh negeri menjadi penuh dengan mereka, namun
negeri itu begitu subur sehingga tidak kekurangan tempat un-
tuk menampung mereka (ay. 10). Gunung-gunung Kanaan ter-
lindungi oleh bayang-bayang mereka, dan pucuk-pucuknya,
meskipun merentang jauh, seperti pucuk-pucuk pohon anggur,
tidak lemah seperti pucuk-pucuk pohon anggur itu, namun
sekuat pucuk-pucuk pohon aras. Israel tidak hanya mempunyai
banyak sekali penduduk, namun juga pahlawan-pahlawan yang
gagah perkasa.
2. Mereka memperluas penaklukan dan kekuasaan mereka ke
bangsa-bangsa sekitar (ay. 11): Dijulurkannya ranting-ranting-
nya sampai ke laut, laut lepas di arah barat, dan pucuk-pucuk-
nya sampai ke sungai, ke sungai Mesir di arah selatan, sungai
Damsyik di arah utara, atau lebih tepatnya ke sungai Efrat di
sebelah timur (Kej. 15:18). Kebesaran Nebukadnezar digam-
barkan dengan pohon yang tumbuh subur (Dan. 4:20-21).
namun dapat diamati di sini mengenai kebun anggur ini, bahwa
ia dipuji sebab bayang-bayangnya, cabang-cabangnya, dan
pucuk-pucuknya, namun tidak sepatah kata pun terucap ten-
tang buahnya, sebab Israel yaitu pohon anggur yang riap
tumbuhnya (anggur yang kosong – pen., Hos. 10:1). Tuhan
datang mencari buah anggur yang baik, namun, malangnya, Ia
mendapati buah anggur yang asam (Yes. 5:2). Dan jika pohon
anggur tidak menghasilkan buah, maka tidak ada lagi pohon
1168
yang sungguh tidak berguna, yang sungguh tidak berharga,
seperti pohon ini (Yeh. 15:2, 6).
III. Bagaimana pohon itu terabaikan dan hancur: “Tuhan, Engkau
telah melakukan perkara-perkara besar untuk pohon anggur ini,
mengapakah ia harus tercabut kembali? Seandainya pohon itu
bukan tanaman yang ditanam Tuhan , maka tidak aneh bila ia
tercabut. Namun, akankah Tuhan meninggalkan dan mencampak-
kan apa yang telah diciptakan-Nya sendiri?” (ay. 13). Mengapa
Engkau melanda temboknya? Ada alasan yang baik mengapa
terjadi perubahan pada jalan Tuhan terhadap mereka ini. Pohon
anggur pilihan itu telah berubah menjadi pohon berbau busuk, po-
hon anggur liar! (Yer. 2:21), yang mendatangkan cela bagi pemilik-
nya yang agung, maka tidaklah heran jika Ia menebang pagar
durinya (Yes. 5:5). Namun kebaikan-kebaikan Tuhan yang dulu
terhadap pohon anggur ini diserukan di dalam doa kepada Tuhan ,
dan dimanfaatkan sebagai dorongan untuk beriman, sehingga
kendati dengan semua ini, Tuhan tidak akan membuang mereka
sepenuhnya.
Lihatlah :
1. Kebencian dan permusuhan bangsa-bangsa kafir melawan
bangsa Israel. Segera sesudah Tuhan melanda temboknya dan
membiarkannya begitu saja, pasukan-pasukan musuh mene-
robos masuk menyerang mereka, sesudah sebelumnya menanti-
kan kesempatan untuk memusnahkan mereka. Orang-orang
yang lewat memetiknya, babi hutan dan binatang-binatang di
padang siap mengobrak-abriknya (ay. 14). namun ,
2. Lihatlah juga apa yang menahan musuh-musuh yang kejam
ini. Sebab sebelum Tuhan melanda temboknya, mereka tidak
dapat memetik sehelai daun pun dari pohon ini. Iblis tidak da-
pat menyakiti Ayub selama Tuhan terus menjaga pagar di seke-
liling dia (Ayb. 1:10). Lihatlah betapa setiap orang berkepen-
tingan untuk tetap menjaga diri mereka sendiri dalam kebaik-
an Tuhan , maka mereka tidak perlu takut terhadap binatang
liar apa pun di padang (Ayb. 5:23). Jika kita membangkitkan
amarah Tuhan sehingga Ia menarik diri, maka perisai kita telah
meninggalkan kita, dan kita akan binasa. Keadaan Israel yang
menyedihkan digambarkan (ay. 17): Mereka telah membakar-
Kitab Mazmur 80:9-20
1169
nya dengan api dan menebangnya. Orang-orang yang terkutuk
dan yang kesudahannya yaitu untuk dibakar akan diper-
lakukan seperti putri malu dan rumput, dan tidak lagi seperti
pohon anggur yang dilindungi dan dirawat. Mereka tidak
binasa sebab amukan binatang liar dan babi hutan, namun
sebab hardik wajah-Mu. Itulah yang sangat mereka takutkan
dan yang mereka pandang sebagai penyebab dari segala mala-
petaka yang menimpa mereka. Baik buruknya keadaan kita
bergantung pada senyuman bibir atau kernyit dahi Tuhan .
IV. Apa saja yang mereka minta dari Tuhan dalam hal ini.
1. Agar Tuhan menolong pohon anggur itu (ay. 15-16), agar Ia de-
ngan penuh rahmat mau mengindahkan keadaannya dan ber-
buat apa yang pantas diperbuat-Nya: “Ya Tuhan semesta alam,
kembalilah! Sebab Engkau tampak pergi jauh dari kami. Pan-
danglah dari langit, tempat Engkau telah menarik diri. Dari
langit, tempat pengharapan itu, yang dari atas sana Engkau
melihat segala perbuatan jahat yang dilakukan terhadap kami.
Dari tempat kekuasaan itu, yang dari sana Engkau dapat
memberi kelegaan seutuhnya. Dari langit, di mana Engkau
telah mempersiapkan takhta penghakiman-Mu, yang ke sana-
lah kami berseru, dan di tempat mana Engkau telah memper-
siapkan sebuah negeri yang lebih baik bagi orang-orang Israel
sejati. Dari sana, pandanglah dan kunjungilah pohon anggur
ini dengan penuh rahmat. Pertimbangkanlah dengan penuh
belas kasihan keadaan kami yang terkutuk ini, dan kami se-
rahkan kepada-Mu apa yang akan Engkau perbuat secara
khusus dalam belas kasihan-Mu. Hanya pandanglah saja ke-
bun anggur ini, atau lebih tepatnya akarnya ini, yang telah
ditanam oleh tangan kanan-Mu, dan yang oleh sebab itu kami
berharap agar tangan kanan-Mu melindungi pucuk yang telah
Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, untuk memberitakan kemasy-
huran-Mu (Yes. 43:21), sehingga dengan buahnya Engkau
dapat memperoleh penghormatan. Tuhan, pohon itu dibentuk
oleh-Mu sendiri dan bagi diri-Mu sendiri, dan sebab itu
dengan keyakinan yang dipenuhi kerendahan hati pohon itu
dapat diserahkan kepada-Mu dan kepada perawatan-Mu.”
Adapun Tuhan , jalan-Nya sempurna. Kata yang diterjemahkan
dengan ranting atau tunas (KJV) yaitu anak (Ben) dalam ba-
1170
hasa Ibrani, yang dalam keputusan kehendak-Mu telah Kau-
teguhkan bagi diri-Mu. Tunas itu akan datang dari keturunan
Israel (hamba-Ku, yakni Sang Tunas, Za. 3:8), dan oleh sebab
itu, sampai Ia datang, kehidupan Israel secara umum, dan
keluarga Daud secara khusus, harus dilindungi, ditopang, dan
dipelihara. Dialah pokok anggur yang benar (Yoh. 15:1; Yes.
11:1). Janganlah musnahkan itu, sebab di dalamnya masih ada
berkat! (Yes. 65:8).
2. Agar Ia mau menolong pengurus kebun (ay. 18-19): “Kiranya
tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu,” raja
(siapa pun itu) dari keluarga Daud itu yang kini akan masuk
dan keluar di hadapan mereka. “Kiranya tangan-Mu melin-
dunginya, bukan hanya untuk melindungi dan menutupinya
namun juga untuk mengakuinya, menguatkannya, dan mem-
berinya keberhasilan.” Kita juga mendapati ungkapan ini da-
lam Ezra 7:28b, Maka aku menguatkan hatiku, sebab tangan
TUHAN, Tuhan ku, melindungi aku. Raja mereka disebut orang
yang di sebelah kanan Tuhan sebab ia mewakili pemerintahan
mereka, yang sangat dikasihi Tuhan , seperti Benyamin kepu-
nyaan-Nya, anak di sebelah kanan-Nya, sebab ia yaitu
pemimpin segala urusan mereka dan merupakan sarana di
tangan kanan Tuhan untuk melakukan banyak kebaikan bagi
mereka, membela mereka dari diri mereka sendiri dan dari
musuh-musuh mereka, dan menuntun mereka di jalan yang
benar, dan sebab ia yaitu gembala di bawah Dia Sang Gem-
bala agung Israel. Para raja, yang mempunyai kuasa, harus
ingat bahwa mereka hanyalah anak-anak manusia, anak-anak
Adam (sesuai dengan kata yang digunakan di sini), bahwa jika
mereka kuat, Tuhan -lah yang telah menjadikan mereka kuat,
dan Ia telah menjadikan mereka demikian bagi diri-Nya sen-
diri, sebab mereka yaitu hamba-hamba-Nya untuk melayani
kepentingan-kepentingan kerajaan-Nya di tengah-tengah ma-
nusia. sebab itu, jika mereka melakukan ini dengan tulus
hati, maka tangan-Nya akan melindungi mereka. Dan kita ha-
rus berdoa di dalam iman agar ini bisa terjadi, dengan menam-
bahkan janji ini, yaitu bahwa jika Tuhan menyertai pemimpin-
pemimpin kita, maka kita akan setia terus kepada Dia: Maka
kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Kami tidak akan
pernah meninggalkan kepentingan yang kami tahu didukung
Kitab Mazmur 80:9-20
1171
oleh Tuhan dan yang pelindungnya yaitu Dia. Kiranya Tuhan
menjadi pemimpin kita, maka kita akan mengikuti-Nya. Tam-
bahkanlah juga doa ini, “Biarkanlah kami hidup, berikanlah
kehidupan ke dalam diri kami, hidupkanlah kembali kepen-
tingan-kepentingan kami yang telah mati, bangkitkanlah kem-
bali semangat kami yang kendor, maka kami akan menyerukan
nama-Mu. Kami akan terus melakukannya dalam segala ke-
sempatan, sebab kami telah mendapati bahwa berbuat demi-
kian tidaklah sia-sia.” Kita tidak dapat menyerukan nama
Tuhan dengan cara yang benar kecuali Dia menghidupkan kita.
namun Dialah yang memberi hidup kepada jiwa kita, yang
memberi kehidupan kepada doa-doa kita. Namun banyak
penafsir, baik dari kalangan Yahudi maupun Kristen, mene-
rapkan perkataan ini kepada Mesias, Anak Daud, Sang Pelin-
dung dan Juruselamat jemaat dan Pengurus kebun anggur.
(1) Dialah orang yang di sebelah kanan Tuhan , yang kepada-Nya
Tuhan telah bersumpah demi tangan kanan-Nya (demikian
menurut Alkitab bahasa Aram). Dialah yang telah ditinggi-
kan Tuhan di sebelah kanan-Nya, dan yang benar-benar me-
rupakan tangan kanan-Nya, lengan Tuhan, sebab segala
kuasa diberikan kepada-Nya.
(2) Dialah Anak Manusia yang telah Tuhan teguhkan bagi diri-
Nya, untuk memuliakan nama-Nya dan memajukan kepen-
tingan-kepentingan kerajaan-Nya di tengah-tengah manu-
sia.
(3) Tangan Tuhan melindungi-Nya dalam seluruh pekerjaan-
Nya, untuk menopang dan menuntun-Nya, untuk melin-
dungi dan menghidupkan-Nya, sehingga kehendak baik
TUHAN akan terlaksana oleh-Nya.
(4) Kekokohan dan keteguhan orang-orang percaya yaitu se-
penuhnya sebab anugerah dan kekuatan yang disediakan
bagi kita di dalam Yesus Kristus (68:28). Di dalam Dialah
kekuatan kita didapati, yang melalui kekuatan itu kita di-
mampukan untuk bertekun sampai pada akhirnya. Kiranya
tangan-Mu melindungi-Nya. Kiranya kita mengandalkan
pertolongan kita dari Dia yang mahakuasa. Kiranya Ia
sanggup menyelamatkan kita sampai pada akhirnya, dan
itu akan menjadi keamanan bagi kita. Maka kami tidak
akan menyimpang dari pada-Mu.
1172
Yang terakhir, mazmur ini ditutup dengan permohonan yang sama
yang sudah disampaikan sebanyak dua kali sebelumnya, namun ini
bukanlah pengulangan yang sia-sia (ay. 20): Pulihkanlah kami. Ada
gelar yang diberikan di sini kepada Tuhan yang bangkit: ya Tuhan ! (ay.
4), ya Tuhan semesta alam! (ay. 8), ya TUHAN (Yehova), Tuhan semesta
alam (ay. 20). jika kita datang kepada Tuhan untuk meminta anu-
gerah-Nya, memohon kehendak baik-Nya terhadap kita dan pekerja-
an baik-Nya di dalam diri kita, maka haruslah kita berdoa dengan
sungguh-sungguh, terus berdoa dengan tekun, dan berdoa dengan
lebih sungguh-sungguh lagi.
PASAL 8 1
ipercayai bahwa mazmur ini ditulis bukan sebab adanya tin-
dakan pemeliharaan ilahi tertentu, melainkan sebab kekhid-
matan suatu ketetapan. Mungkin itu ketetapan mengenai bulan baru
secara umum, atau tentang pesta sangkakala pada bulan baru dari
bulan ketujuh (Im. 23:24; Bil. 29:1). saat Daud, oleh tuntunan Roh,
memperkenalkan acara melantunkan mazmur dalam ibadah di Bait
Suci, mazmur ini dimaksudkan khusus bagi hari itu, untuk menggai-
rahkan dan mendukung ibadah penyembahan. Semua mazmur me-
mang dapat bermanfaat, namun jika ada salah satu mazmur yang lebih
sesuai bagi hari tertentu dan ibadahnya, kita harus memilihnya. Dua
tujuan utama dari perhimpunan ibadah yang harus kita perhatikan
dengan saksama disebutkan dalam mazmur ini, yaitu untuk membe-
rikan kemuliaan kepada Tuhan dan untuk menerima pengajaran dari
Tuhan . Untuk “menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-
Nya.” Dengan demikian, dengan mazmur ini, kita terbantu dalam
menjalani hari-hari raya ibadah kita dengan sungguh-sungguh,
I. Dalam memuji Tuhan atas keberadaan-Nya bagi umat-Nya (ay.
2-4), dan atas apa yang telah dilakukan-Nya bagi mereka (ay.
5-8).
II. Dalam mengajar dan mengingatkan satu sama lain menyang-
kut kewajiban kita terhadap Tuhan (ay. 9-11), bahaya membe-
rontak dari-Nya (ay. 12-13), dan kebahagiaan yang akan kita
raih jika kita mau tetap dekat dengan-Nya (ay. 14-17).
Semua hal ini, walaupun terutama berbicara tentang umat Israel
pada zaman dahulu, juga ditulis untuk pembelajaran kita dan oleh
sebab itu patut dinyanyikan dan diterapkan.
D
1174
Ajakan untuk Memuji
(81:1-8)
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Dari Asaf. 2 Bersorak-sorailah
bagi Tuhan , kekuatan kita, bersorak-soraklah bagi Tuhan Yakub. 3 Angkatlah
lagu, bunyikanlah rebana, kecapi yang merdu, diiringi gambus. 4 Tiuplah
sangkakala pada bulan baru, pada bulan purnama, pada hari raya kita. 5
Sebab hal itu yaitu suatu ketetapan bagi Israel, suatu hukum dari Tuhan
Yakub. 6 Sebagai suatu peringatan bagi Yusuf ditetapkan-Nya hal itu, pada
waktu Ia maju melawan tanah Mesir. Aku mendengar bahasa yang tidak
kukenal: 7 “Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah
bebas dari keranjang pikulan; 8 dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku
meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur,
Aku telah menguji engkau dekat air Meriba. S e l a
saat umat Tuhan berhimpun bersama pada pertemuan raya, hari
raya TUHAN, mereka harus diberitahu bahwa ada tugas yang harus
mereka lakukan, sebab orang tidak pergi beribadah untuk tidur atau
bermalas-malasan. Tidak, ada tugas yang harus dikerjakan setiap hari,
pekerjaan pada hari itu yang harus dilaksanakan.
Di sini:
I. Para penyembah Tuhan sangat bersemangat dalam tugas mereka,
dan melalui nyanyian mazmur ini mereka diajar untuk membang-
kitkan semangat diri sendiri dan juga orang lain (ay. 2-4). Tugas
kita yaitu untuk memberi kemuliaan kepada Tuhan sebab
nama-Nya, dan dalam semua perhimpunan ibadah, kita harus
menjadikan hal ini tugas kita.
1. Dalam melakukan tugas ini kita harus memandang Tuhan se-
bagai kekuatan kita, dan sebagai Tuhan Yakub (ay. 2). Dia ada-
lah kekuatan Israel sebagai bangsa, sebab Dia yaitu Tuhan
yang mengikat kovenan dengan mereka, yang akan melindu-
ngi, mendukung, dan melepaskan mereka dengan penuh kua-
sa, yang berperang bagi mereka dan membuat mereka mampu
berperang dengan perkasa dan meraih kemenangan. Dia ada-
lah kekuatan setiap orang Israel. Oleh anugerah-Nya kita di-
mampukan untuk menjalani seluruh pelayanan, penderitaan,
dan pertentangan yang kita hadapi. Kepada Dia sajalah, yang
merupakan kekuatan kita, kita harus berdoa dan menyanyi-
kan pujian, sebagai Tuhan keturunan Yakub yang sedang ber-
gumul. Dengan Yakub kita memiliki persekutuan rohani.
2. Saat menaikkan puji-pujian, kita harus melakukannya dengan
segenap ungkapan sukacita dan kemenangan yang kudus. Pada
Kitab Mazmur 81:1-8
1175
masa dulu, hal ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat
musik seperti rebana, kecapi, dan gambus. Dan dengan meni-
up sangkakala, beberapa dari antara mereka teringat akan bu-
nyi sangkakala yang dulu pernah ditiup di gunung Sinai yang
berkumandang makin lama makin nyaring. Demikianlah keti-
ka itu dan juga sekarang, puji-pujian dilakukan dengan me-
nyanyikan mazmur, bernyanyi dengan bersorak-sorai dan ber-
sorak-sorak. Bunyi merdu kecapi yang menyenangkan dan
dahsyatnya bunyi sangkakala menyiratkan kepada kita bahwa
Tuhan harus disembah dengan ceria dan sukacita, dengan rasa
hormat dan takut pada Tuhan . Bernyanyi dan bersorak-sorai
dengan nyaring menyiratkan bahwa kita harus bersikap ha-
ngat dan penuh kasih sayang dalam memuji Tuhan , bahwa kita
harus mengungkapkan pujian kepada-Nya dengan sepenuh
kehendak hati. Kita harus bersikap sebagai orang-orang yang
tidak malu mengakui kebergantungan kita pada-Nya dan ke-
wajiban kita terhadap Dia, dan bahwa kita harus mengajak
bergabung banyak orang lain dalam kegiatan ini. Makin banyak
makin baik, sehingga suasana akan lebih menyerupai suasana
di sorga.
3. Kegiatan ini harus dilakukan pada waktu yang telah ditetap-
kan. Tidak ada waktu yang terlewat untuk memuji Tuhan (Tujuh
kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, bahkan tengah ma-
lam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu). Namun, ada be-
berapa waktu yang memang ditentukan, bukan supaya Tuhan
dapat menemui kita ( sebab Dia senantiasa siap untuk dite-
mui), melainkan supaya kita dapat saling berjumpa satu sama
lain, supaya kita bisa bersama-sama memuji Dia. Hari raya
yang khidmat itu haruslah menjadi hari penuh puji-pujian.
saat kita menerima berbagai karunia dari kelimpahan Tuhan
dan bersukacita di dalamnya, sudah sepatutnya kita menya-
nyikan pujian bagi-Nya.
II. Di sini mereka diberi petunjuk mengenai cara melakukannya.
1. Mereka harus memandang penetapan ilahi yang patut dicer-
mati. Dalam semua penyembahan ibadah, kita harus memper-
hatikan perintah yang diberikan (ay. 5): Sebab hal itu yaitu
suatu ketetapan bagi Israel, untuk menjaga ibadah mereka.
Hal itu yaitu suatu hukum dari Tuhan Yakub, yang mengikat
1176
semua keturunan Yakub dan mereka harus tunduk kepada-
nya. Perhatikanlah, memuj