mazmur 51-100 13


  berbuat begitu 

banyak bagi mereka, namun tetap saja mereka mencobai dan 

memberontak terhadap Tuhan   Yang Mahatinggi. Ia memberi  ke-

saksian-kesaksian-Nya kepada mereka, namun  mereka tidak me-

meliharanya. Mereka menjanjikan banyak hal pada awalnya, 

namun  kemudian mereka murtad. Mereka mengucapkan kata-kata 

indah kepada Tuhan  , namun  bertindak dengan tidak setia. Mereka 

seperti busur yang memperdaya, yang tampaknya saja hendak 

melepaskan anak panah ke sasaran, namun, jika  ditarik, ia 

patah dan jatuh ke bawah kaki si pemanah, atau mungkin ber-

Kitab Mazmur 78:40-72 

 1141 

balik ke wajahnya. Mereka tidak bisa diandalkan, dan janji-janji 

atau pengakuan-pengakuan mereka tidak bisa dipercaya. Ada-

kalanya mereka tampak taat kepada Tuhan  , namun  segera saja me-

reka membelot, dan menyakiti hati-Nya dengan bukit-bukit pengor-

banan mereka dan patung-patung mereka. Penyembahan berhala 

yaitu  dosa yang begitu mudah merintangi mereka, dan meski-

pun mereka sering kali mengaku bertobat darinya, sering pula 

mereka kembali terjerumus ke dalamnya. Menyembah berhala 

atau menyembah Tuhan   melalui patung-patung yaitu  perzinahan 

rohani, seolah-olah Ia yaitu  berhala, dan oleh sebab itu dengan 

berbuat demikian mereka dikatakan membangkitkan cemburu-Nya 

(Ul. 32:16, 21).   

IV. Penghakiman-penghakiman yang ditimpakan Tuhan   ke atas mere-

ka  sebab  dosa-dosa ini. Dengan berdiam di Kanaan, itu tidak 

berarti bahwa mereka bisa aman-aman saja dalam berbuat dosa. 

Seperti halnya juga, sekalipun mereka keturunan Israel, itu tidak 

berarti mereka akan aman dan tidak dihukum sesudah  berbuat 

dosa. Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, 

sebab itu Aku akan menghukum kamu (Am. 3:2). Penyembahan 

berhala diabaikan begitu saja di antara bangsa-bangsa bukan-

Yahudi, namun  tidak di tengah-tengah bangsa Israel,  

1. Tuhan   murka kepada mereka (ay. 59): saat  Tuhan   mendengar-

nya, saat  Ia mendengar teriakan pelanggaran mereka, yang 

naik ke hadapan-Nya, Ia menjadi gemas, Ia memandangnya 

sebagai sesuatu yang sangat keji. Ia sangat membenci Israel, 

yang sebelumnya sangat Ia kasihi dan yang sudah membuat-

Nya bergirang. Orang-orang yang sudah menjadi kaum pilih-

an-Nya kini menjadi angkatan murka-Nya. Dosa-dosa yang 

pongah, terutama penyembahan berhala, membuat orang-

orang Israel sekalipun menjadi kejijikan bagi kekudusan Tuhan   

dan memuakkan bagi keadilan-Nya.  

2.  Ia meninggalkan kediaman-Nya di tengah-tengah mereka, dan 

memindahkan perisai yang merupakan kehormatan tempat 

kediaman-Nya (ay. 60). Tuhan   tidak pernah meninggalkan kita 

jika kita tidak terlebih dahulu meninggalkan Dia. Ia tidak 

pernah menarik diri jika kita tidak terlebih dahulu mengusir-

Nya dari kita. Nama-Nya yaitu  Cemburu, Ia yaitu  Tuhan   yang 

cemburu. Oleh sebab itu tidak heran jika umat yang telah di-


 1142

jadikan pasangan-Nya sendiri dibenci dan ditolak. Ia menolak 

untuk berdiam bersama mereka lagi, jika  mereka jatuh ke 

dalam pelukan orang lain. Kemah di Silo yaitu  kemah yang 

didiami Tuhan   di antara manusia, yang di dalamnya Tuhan   

benar-benar hendak diam bersama dengan manusia di atas 

bumi. Akan namun , saat  umat-Nya meninggalkan kemah itu 

dengan berkhianat, maka sewajarnyalah jika Ia meninggalkan-

nya pula. Dan bila sudah begitu, segala kemuliaan kemah itu 

pun lenyap. Israel tidak bisa banyak bersukacita atas kemah 

suci tanpa hadirat Tuhan   di dalamnya.  

3.  Ia membiarkan semuanya jatuh ke tangan musuh. Orang-

orang yang ditinggalkan Tuhan   akan menjadi mangsa yang 

empuk bagi si pembinasa. Orang-orang Filistin yaitu  musuh 

bebuyutan umat Israel milik Tuhan  , dan mereka juga musuh 

bebuyutan Tuhan   Israel, namun Tuhan   mau memakai mereka 

sebagai cambuk bagi umat-Nya.  

(1) Tuhan   mengizinkan mereka merebut tabut perjanjian, dan 

menggotongnya sebagai piala kemenangan mereka, untuk 

menunjukkan bahwa bukan saja Ia telah meninggalkan 

kemah-Nya namun  juga bahkan tabut perjanjian itu sendiri, 

yang kini tidak akan lagi menjadi pertanda hadirat-Nya (ay. 

61): Ia membiarkan kekuatan-Nya tertawan, seolah-olah ke-

kuatan-Nya itu melemah dan ditaklukkan, dan kehormat-

an-Nya jatuh ke dalam penghinaan  sebab  ditinggalkan di 

tangan musuh. Kita bisa membaca kisahnya dalam 1 

Samuel 4:11. saat  tabut perjanjian telah menjadi seperti 

orang asing di antara orang-orang Israel, maka tidak heran 

jika tabut itu segera dibuat menjadi tawanan di antara 

orang-orang Filistin.  

(2) Ia membiarkan pasukan Israel dikalahkan oleh orang-orang 

Filistin (ay. 62-63): Ia membiarkan umat-Nya dimakan pe-

dang, pedang keadilan-Nya sendiri dan pedang kegeraman 

musuh, sebab gemaslah Ia atas milik-Nya sendiri. Dan 

murka-Nya yaitu  api yang memakan teruna mereka, pada 

masa kejayaan mereka, dengan pedang atau penyakit, dan 

memporak-porandakan mereka sedemikian rupa sehingga 

anak-anak dara mereka tidak lagi dipuja, maksudnya, tidak 

dikawinkan (yang merupakan suatu kehormatan bagi se-

mua gadis),  sebab  tidak ada pemuda yang bisa mengawini 

Kitab Mazmur 78:40-72 

 1143 

mereka, dan  sebab  segala kesusahan dan malapetaka 

Israel begitu banyak dan besar sehingga sukacita upacara 

perkawinan dipandang tidak pada tempatnya, dan pada 

waktu itu dikatakan, Berbahagialah ibu yang tidak mengan-

dung. Kehancuran yang terjadi di mana-mana membuat 

manusia menjadi jarang. Aku akan membuat orang lebih 

jarang dari pada emas tua (Yes. 13:12), sehingga tujuh 

orang perempuan akan memegang seorang laki-laki (Yes. 

4:1; 3:25). Namun ini bukan yang terburuk:  

(3) Bahkan imam-imam mereka, yang melayani tabut perjanji-

an, gugur oleh pedang, yakni Hofni dan Pinehas. Sudah 

sewajarnyalah mereka gugur, sebab mereka membuat diri 

mereka sendiri hina, dan menjadi orang-orang yang sangat 

berdosa di hadapan Tuhan. Jabatan imamat mereka sama 

sekali tidak menjadi perlindungan bagi mereka, malah jus-

tru semakin memperberat dosa mereka dan mempercepat 

kejatuhan mereka. Sudah sewajarnyalah mereka gugur 

oleh pedang, sebab mereka sengaja membiarkan diri tanpa 

perlindungan di medan pertempuran, tanpa dipanggil atau 

diperintah. Kita membuang diri dari perlindungan Tuhan   

jika  keluar dari tempat kita berada dan dari jalan kewa-

jiban kita. saat  imam-imam gugur, janda-janda mereka 

tidak dapat menangis (ay. 64). Segala upacara berkabung 

hilang dan terkubur bersama dukacita yang sangat dalam. 

Janda Pinehas, bukannya meratapi kematian suaminya, 

malah mati sendiri, sesudah  ia menamakan anaknya yang 

baru lahir Ikabod (1Sam. 4:19, dst.).  

V. Kembalinya Tuhan  , dengan belas kasihan, kepada mereka, dan 

penampakan diri-Nya yang penuh rahmat bagi mereka sesudah  ini. 

Kita tidak membaca tentang pertobatan dan kembalinya mereka 

kepada Tuhan  , namun  Tuhan   tidak dapat lagi menahan hati-Nya 

melihat kesukaran Israel (Hak. 10:16) dan peduli terhadap kehor-

matan-Nya sendiri, kuatir disakiti hati-Ku oleh musuh, jangan-

jangan lawan mereka salah mengerti (Ul. 32:27). Dan oleh sebab 

itu lalu terjagalah Tuhan, seperti orang yang tertidur (ay. 65), dan 

seperti pahlawan yang siuman dari mabuk anggur, bukan saja 

seperti orang yang baru bangun tidur dan sadar kembali sesudah  

mabuk, yang kemudian memperhatikan apa yang sebelumnya 


 1144

tampak ia abaikan sepenuhnya, namun  juga seperti orang yang 

merasa segar kembali sesudah  bangun tidur, dan yang hatinya 

dibuat senang  sebab  sudah minum anggur dengan secukupnya, 

dan yang oleh sebab itu lebih hidup dan bersemangat, dan siap 

melakukan kegiatan. sesudah  Tuhan   membiarkan tabut kekuatan-

Nya tertawan, seperti orang yang cemburu demi kehormatan-Nya, 

Ia segera merentangkan lengan kekuatan-Nya untuk menyelamat-

kannya, mengerahkan kekuatan-Nya untuk melakukan perkara-

perkara besar bagi umat-Nya. 

1. Ia menyerbu orang-orang Filistin yang menahan tabut perjanji-

an (ay. 66). Ia memukul mundur mereka dengan borok-borok, 

melukai mereka dari belakang, seolah-olah mereka melarikan 

diri dari-Nya, sekalipun mereka menyangka bahwa mereka 

lebih dibandingkan  pemenang. Ia membuat mereka mendapat cela, 

dan mereka sendiri turut ambil bagian dalam menjadikan cela 

bagi mereka berlangsung untuk selama-lamanya dengan gam-

bar emas borok-borok mereka, yang mereka kembalikan ber-

sama tabut sebagai korban penebus salah (1Sam. 6:5). Ini ter-

jadi in perpetuam rei memoriam – sebagai peringatan untuk 

selama-lamanya. Perhatikanlah, cepat atau lambat Tuhan   akan 

memuliakan diri-Nya dengan menimpakan penghinaan ke atas 

musuh-musuh-Nya, sekalipun mereka sedang berada di pun-

cak keberhasilan mereka.   

2. Ia menyediakan tempat tinggal baru bagi tabut-Nya sesudah  

beberapa bulan lamanya ditawan dan beberapa tahun lamanya 

disembunyikan. Ia sungguh menolak kemah Yusuf. Ia tidak 

pernah mengirimkannya kembali ke Silo, dari suku Efraim (ay. 

67). Kehancuran tempat itu merupakan tugu peringatan akan 

keadilan ilahi. Lihatlah apa yang telah Kulakukan kepada Silo 

(Yer. 7:12). namun  tidak sepenuhnya Ia mengambil kemuliaan 

dari Israel. Berpindahnya tabut perjanjian tidak berarti dising-

kirkannya tabut itu. Silo telah kehilangan tabut itu, namun  

Israel tidak. Tuhan   akan tetap mempunyai jemaat di dunia, dan 

kerajaan di tengah-tengah manusia, meskipun mungkin kaki 

dian di tempat ini atau di tempat itu diambil. Bahkan, peno-

lakan terhadap Silo merupakan terpilihnya Sion, sama seperti, 

lama sesudah itu, kejatuhan orang-orang Yahudi merupakan 

kekayaan bagi bangsa-bangsa lain (Rm. 11:12). saat  Tuhan   

tidak memilih suku Efraim, yang darinya Yosua berasal, Ia me-

Kitab Mazmur 78:40-72 

 1145 

milih suku Yehuda (ay. 68),  sebab  dari suku itulah Yesus 

akan muncul, yang lebih besar dibandingkan  Yosua. Kiryat-Yearim, 

tempat tabut perjanjian dibawa sesudah  diselamatkan dari 

tangan orang-orang Filistin, terletak di dalam wilayah suku 

Yehuda. Di sana tabut itu menguasai suku ini . namun  

dari sana ia dipindahkan ke Sion, gunung Sion yang dikasihi-

Nya (ay. 68), yang menjulang permai, kegirangan bagi seluruh 

bumi. Di sanalah Ia membangun tempat kudus-Nya setinggi 

langit, laksana bumi (ay. 69). Daud memang hanya mendirikan 

kemah bagi tabut itu, namun  Bait Suci pada waktu itu sudah 

dirancang dan dipersiapkan, dan kemudian dirampungkan 

oleh anaknya. Dan Bait itu merupakan,  

(1) Bangunan yang sangat megah. Bait itu dibangun bak is-

tana para raja dan para pembesar di bumi, bahkan, bait itu 

mengungguli semua istana itu dalam semarak dan keme-

gahannya. Salomo membangunnya, namun di sini dikata-

kan Tuhan   membangunnya, sebab ayahnya telah mengajar-

nya, mungkin dengan merujuk pada pekerjaan ini, bahwa 

jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah 

usaha orang yang membangunnya (127:1), yang merupa-

kan mazmur bagi Salomo.  

(2) Bangunan yang sangat teguh, seperti bumi, meskipun 

tidak akan terus ada selama bumi ada, namun selagi ada, 

ia kokoh seperti bumi, yang ditopang Tuhan   dengan firman-

Nya. Juga, Bait itu tidak dihancurkan seluruhnya sampai 

Bait Injil ditegakkan, yang akan terus ada untuk selama-lama-

nya seperti matahari dan bulan yang ada selama-lamanya 

(89:37-38) dan alam maut tidak akan menguasainya.    

3. Ia mendirikan pemerintahan yang baik atas mereka, sebuah 

kerajaan, dan raja yang berkenan di hati-Nya: Ia memilih Daud 

hamba-Nya dari beribu-ribu orang Israel, dan menyerahkan 

tongkat kerajaan ke dalam tangannya, yang dari keturunannya 

Kristus akan datang, dan ia sendiri yang menjadi pelambang 

Kristus (ay. 70). Berkenaan dengan Daud, Lihatlah   di sini,  

(1) Kehinaan asal usulnya. Bapa leluhurnya memang orang 

besar, sebab ia keturunan raja suku Yehuda, namun  ia tidak 

begitu berpendidikan. Ia tidak dibesarkan sebagai cende-

kiawan atau prajurit, namun  sebagai gembala. Ia diambil 


 1146

dari padang, seperti Musa. Ini terjadi sebab Tuhan   bersuka 

untuk memberi  kehormatan kepada orang yang rendah 

hati dan tekun, untuk mengangkat orang miskin dari debu 

dan menempatkan mereka di antara para penguasa. 

Terkadang juga Ia mendapati bahwa yang paling cocok un-

tuk melakukan tindakan bagi kepentingan umum yaitu  

orang-orang yang sudah menghabiskan awal hidupnya da-

lam kesendirian dan perenungan. Anak Daud dicela  sebab  

asal usul-Nya yang tidak jelas: Bukankah Ia ini tukang 

kayu? Daud diambil, tidak dikatakan dari menggembala 

domba-domba jantan, namun  dari mengikuti domba-domba 

betina (KJV), terutama domba-domba gemuk yang sedang 

menyusui, yang menunjukkan bahwa dari semua sifat baik 

seorang gembala, ia sangat menonjol dalam hal kelembutan 

dan kasih sayangnya kepada kawanan dombanya yang 

paling membutuhkan perhatiannya. Sikap pikiran seperti 

ini membuatnya cocok untuk memerintah, dan menjadi-

kannya sebagai pelambang Kristus, yang saat  memberi 

makan kawanan-Nya seperti seorang gembala, menuntun 

induk-induk domba dengan hati-hati (Yes. 40:11).  

(2) Pesatnya kemajuannya. Tuhan   memilihnya untuk menggem-

balakan Yakub umat-Nya (ay. 71). Sungguh merupakan 

kehormatan besar yang diberikan Tuhan   kepadanya dengan 

mengangkatnya sebagai raja, terutama dengan menjadi-

kannya raja atas Yakub dan Israel, umat Tuhan   yang isti-

mewa, yang dekat dengan-Nya dan disayangi-Nya. namun  

bersamaan dengan itu sungguh kepercayaan yang besar 

yang diberikan kepadanya saat  ia diberi tugas untuk me-

merintah orang-orang milik Tuhan   sendiri. Tuhan   mengang-

katnya ke atas takhta agar ia bisa memberi mereka makan, 

dan bukan supaya ia memberi makan dirinya sendiri. Agar 

ia bisa berbuat baik, dan bukan supaya ia dapat membuat 

keluarganya besar. Tugas yang diberikan kepada semua 

gembala, baik para hakim maupun hamba Tuhan, yaitu  

agar mereka menggembalakan kawanan domba Tuhan  .  

(3) Kebahagiaan pemerintahannya. Daud,  sebab  diberi keper-

cayaan yang begitu besar ke dalam tangannya, menerima 

belas kasihan Tuhan sehingga ia menjadi orang yang cakap 

dan setia dalam memenuhi kepercayaan itu (ay. 72): Ia 

Kitab Mazmur 78:40-72 

 1147 

menggembalakan mereka. Ia memerintah dan mengajari 

mereka, menuntun dan melindungi mereka,  

[1] Dengan sangat jujur. Ia melakukan tugasnya dengan 

ketulusan hatinya, bertujuan hanya bagi kemuliaan 

Tuhan   dan demi kebaikan rakyat yang dipercayakan ke-

padanya. Asas-asas agamanya merupakan aturan-atur-

an baku dalam pemerintahannya, yang dijalankannya 

bukan dengan kebijakan duniawi, melainkan dengan 

ketulusan dari Tuhan  , oleh kekuatan kasih karunia Tuhan  . 

Dalam segala sesuatu yang diperbuatnya, ia mempu-

nyai maksud baik dan tidak bertujuan macam-macam.  

[2] Dengan sangat bijak. Ia melakukan tugasnya dengan 

kecakapan tangannya. Ia bukan saja sangat jujur dalam 

apa yang dirancangnya, namun  juga sangat bijaksana 

dalam apa yang diperbuatnya, dan memilih sarana yang 

paling sesuai untuk mencapai tujuannya. Ini dilakukan-

nya sebab Tuhan  nya memang mengajarnya untuk ber-

laku bijaksana. Berbahagialah rakyat yang berada di 

bawah pemerintahan seperti itu! Dengan alasan yang 

baik sang pemazmur menjadikan ini sebagai contoh pe-

nutup yang memahkotai Israel dengan kebaikan Tuhan  , 

sebab Daud yaitu  pelambang Kristus, Sang Gembala 

yang agung dan baik itu, yang pertama-tama direndah-

kan namun kemudian ditinggikan, dan yang tentang-

Nya dinubuatkan bahwa Ia akan dipenuhi dengan roh 

hikmat dan pengertian dan yang akan menghakimi de-

ngan keadilan dan kejujuran (Yes. 11:3-4). Kejujuran 

hati-Nya dan kecakapan tangan-Nya dapat diandalkan 

sepenuhnya oleh seluruh rakyat-Nya. Kejayaan pemerin-

tahan-Nya dan rakyat-Nya tidak akan berkesudahan.  

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

PASAL 79  

azmur ini, jika benar ditulis atas dasar suatu peristiwa tertentu, 

kemungkinan besar merujuk kepada penghancuran Yerusalem 

dan Bait Suci, dan malapetaka menyedihkan yang diperbuat terha-

dap bangsa Yahudi oleh orang-orang Kasdim di bawah raja Nebukad-

nezar. Nada untuk menyanyikan mazmur ini disamakan, jika boleh 

saya mengatakannya, dengan Ratapan Yeremia, dan nabi yang mera-

tap itu pun meminjam dua ayat dari Ratapan Yeremia itu (ay. 6-7) 

dan menggunakannya dalam doanya (Yer. 10:25). Sebagian orang 

menduga mazmur ini ditulis jauh-jauh hari sebelumnya melalui roh 

nubuatan, yang dipersiapkan untuk digunakan jemaat pada hari 

yang berkabut dan gelap itu. Sementara sebagian yang lain berpen-

dapat bahwa mazmur ini ditulis pada waktu peristiwa itu terjadi me-

lalui roh doa, entah oleh seorang nabi yang bernama Asaf atau oleh 

seorang nabi lain untuk anak-anak Asaf. Walaupun begitu, apa pun 

peristiwa khusus yang dirujuknya, di sini kita mendapati,  

I.  Gambaran keadaan umat Tuhan   yang sangat mengenaskan 

pada waktu itu (ay. 1-5).  

II.  Permohonan kepada Tuhan   untuk meminta pertolongan dan 

kelegaan, agar Dia mengadakan perhitungan dengan musuh-

musuh mereka (ay. 6-7, 10, 12), agar dosa-dosa mereka di-

ampuni (ay. 8-9), dan agar mereka dilepaskan (ay. 11).  

III. Seruan yang disampaikan mengenai kesiapan umat-Nya un-

tuk memuji Dia (ay. 13).  

Pada saat jemaat mengalami kedamaian dan kemakmuran, maz-

mur ini, saat  kita menyanyikannya, memberi kita kesempatan un-

tuk memuji Tuhan   bahwa kita beruntung tidak diinjak-injak dan 

dihina seperti yang dialami bangsa Yahudi itu. namun  mazmur ini 


 1150

sesuai terutama pada saat kita diinjak-injak dan dilanda kebimbang-

an, untuk membangkitkan kerinduan kita akan Tuhan   dan mendorong 

iman kita di dalam Dia sebagai pelindung jemaat. 

Keluhan-keluhan yang Penuh Dukacita 

(79:1-5) 

1 Mazmur Asaf. Ya Tuhan  , bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah 

milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbun-

an puing. 2 Mereka memberi  mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan 

kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada 

binatang-binatang liar di bumi. 3 Mereka menumpahkan darah orang-orang 

itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. 4 Kami 

menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi 

orang-orang sekeliling kami. 5 Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka 

terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api? 

Di sini kita mendapati keluhan sedih yang dicurahkan di pelataran 

sorga. Dunia penuh dengan keluhan, demikian pula dengan jemaat, 

sebab jemaat menderita, bukan saja bersama dunia itu melainkan 

juga  sebab nya, seperti bunga bakung di antara duri-duri. Tuhan   di-

jadikan tempat orang mengaduh. Sebab, kemana lagi anak-anak ha-

rus pergi mengaduh selain kepada bapak mereka, kepada bapak yang 

mampu dan mau membantu? Bangsa-bangsa kafir dikeluhkan, kare-

na mereka ini, yang yaitu  orang asing bagi negara persemakmuran 

Israel, merupakan musuh bebuyutan dari bangsa Israel. Meskipun 

mereka tidak mengenal Tuhan   atau mengakui-Nya, namun mereka ada 

dalam belenggu tangan Tuhan  , sehingga  sebab  itu layak bagi jemaat 

untuk berseru kepada-Nya melawan mereka. Sebab, Dialah Raja se-

gala bangsa, yang memerintah atas mereka, dan yang menghakimi 

bangsa-bangsa kafir. Dialah Raja orang-orang kudus, yang menga-

yomi dan melindungi mereka. 

I.   Di sini mereka mengeluhkan amarah musuh-musuh mereka dan 

amukan yang membabi buta dari para penindas mereka, yang 

dikerahkan,   

1. Melawan semua tempat (ay. 1). Mereka berbuat segala kejahat-

an yang bisa mereka perbuat,  

(1) Terhadap tanah suci. Mereka menyerangnya, dan menge-

pungnya: “Bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah 

milik-Mu, untuk menjarahnya, dan memporak-porandakan-

Kitab Mazmur 79:1-5 

 1151 

nya.” Tanah Kanaan lebih disayangi oleh orang-orang Israel 

yang saleh bukan  sebab  tanah itu milik mereka sendiri, 

melainkan  sebab  tanah itu milik Tuhan Tuhan  . Di tanah 

itulah Tuhan   dinyatakan dan di situ nama-Nya besar. Mere-

ka menyayanginya bukan  sebab  di tanah itu mereka dila-

hirkan dan dibesarkan dan  sebab  tanah itu sudah lama 

menjadi milik mereka dan nenek moyang mereka. Perhati-

kanlah, penistaan terhadap agama haruslah membuat kita 

lebih berdukacita dibandingkan  pelanggaran terhadap hak asasi 

umumnya, bahkan, terhadap hak kita sendiri. Kita harus 

lebih tahan melihat warisan kita sendiri diporak-poranda-

kan dibandingkan  melihat warisan Tuhan   diperlakukan demi-

kian. Pemazmur ini sudah menyebutkan dalam mazmur se-

belumnya sebagai contoh kebaikan Tuhan   yang besar terha-

dap Israel, bahwa telah dihalau-Nya bangsa-bangsa dari 

depan mereka (78:55). namun  lihatlah betapa besarnya per-

ubahan yang dibuat oleh dosa. Sekarang bangsa-bangsa 

kafir dibiarkan datang menyerbu mereka.  

(2) Terhadap kota suci: Mereka membuat Yerusalem menjadi 

timbunan puing, timbunan sampah, timbunan di atas ku-

buran, begitu menurut sebagian orang. Para penduduknya 

terkubur di dalam reruntuhan rumah-rumah mereka sen-

diri, dan tempat-tempat kediaman mereka menjadi kubur-

an mereka sendiri, kediaman mereka untuk selamanya.  

(3) Terhadap Bait Suci. Tempat kudus yang sudah dibangun 

Tuhan   setinggi langit itu, dan yang dipandang akan teguh 

laksana bumi, kini telah rata dengan tanah: Mereka telah 

menajiskan bait kudus-Mu, dengan memasukinya dan meng-

obrak-abriknya. Oleh  sebab  umat Tuhan   sendiri telah mena-

jiskannya dengan dosa-dosa mereka, maka Tuhan   membiar-

kan musuh-musuh mereka menajiskannya dengan kesom-

bongan dan kekurangajaran mereka.    

2.  Melawan orang-orang, melawan tubuh umat Tuhan  ; yang lebih 

dari itu, kebencian mereka tidak terbendung.  

(1) Mereka menumpahkan darah umat Tuhan   habis-habisan, 

dan membunuh mereka tanpa belas kasihan. Mata mereka 

tidak kenal lelah, dan mereka tidak menyisakan ruang se-

dikit pun (ay. 3): Mereka menumpahkan darah orang-orang 


 1152

itu seperti air, di mana pun mereka menjumpai umat Tuhan  , 

di sekeliling Yerusalem, di semua jalan-jalan kota. Siapa 

pun yang keluar atau yang masuk  sudah ditentukan untuk 

dimakan pedang. Melimpahlah darah manusia yang ter-

curah, sehingga saluran air mengalirkan darah. Dan ia 

mengalirkannya tanpa segan-segan atau rasa sesal seperti 

saat  menumpahkan banyak air, tanpa menyadari bahwa 

setiap tetesnya akan dibalaskan pada hari saat  Tuhan   

membalas penumpahan darah.  

(2) Mereka berlaku kejam terhadap jasad-jasad umat Tuhan  . 

sesudah  mereka membunuh umat Tuhan  , mereka tidak mem-

biarkan mayat seorang pun dikuburkan. Bukan itu saja, 

mayat-mayat yang telah dikubur, bahkan mayat hamba-

hamba Tuhan  , daging orang-orang yang dikasihi-Nya, yang 

mereka ingat dan namanya mereka benci, mereka gali lagi, 

dan mereka berikan sebagai makanan kepada burung-

burung di udara, kepada binatang-binatang liar di bumi. 

Setidak-tidaknya, mereka membiarkan orang-orang yang 

mereka bantai menjadi makanan binatang. Mereka meng-

gantung mayat-mayat itu dengan rantai, yang sungguh 

membuat orang Yahudi ngeri bila melihatnya,  sebab  Tuhan   

telah memberi mereka hukum yang jelas untuk melarang 

ini, sebagai perbuatan yang biadab (Ul. 21:23). Perlakuan 

yang tidak berperikemanusiaan terhadap saksi-saksi Kristus 

ini sudah dinubuatkan (Why. 11:9), dan dengan demikian 

bahkan mayat menjadi saksi melawan orang-orang yang 

membantai mereka. Ini disebutkan (menurut Augustinus, 

De Civitate Dei [Kota Tuhan  ], lib. 1 cap. 12) bukan untuk 

menggambarkan kesengsaraan orang-orang yang dianiaya 

(sebab jasad orang-orang kudus akan bangkit dalam kemu-

liaan, betapapun mereka menjadi makanan burung-burung 

di udara), melainkan untuk menggambarkan kebencian para 

penganiaya mereka.  

3.  Melawan nama mereka (ay. 4): “Kami yang tinggal telah men-

jadi cela bagi tetangga-tetangga kami. Mereka semua berusaha 

merendahkan kami dan membebani kami dengan penghinaan, 

dan membuat kami tampak bagaikan orang-orang konyol, atau 

menjijikkan, atau keduanya, mencela kami dengan dosa-dosa 

dan penderitaan-penderitaan kami, atau mengatakan dusta

Kitab Mazmur 79:6-13 

 1153 

 tentang hubungan kami dengan Tuhan   dan apa yang kami ha-

rapkan dari-Nya. Dengan begitu kami telah menjadi olok-olok 

dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami.” Jika umat Tuhan   

yang mengaku percaya kepada-Nya merosot keberadaan mere-

ka dari keadaan mereka dan keadaan nenek moyang mereka 

yang sebenarnya, maka mereka harus sadar bahwa mereka 

akan diberi tahu mengenai hal itu. Sungguh baik jika teguran 

yang adil dapat membantu kita untuk bertobat dengan sung-

guh-sungguh. Akan namun , sudah menjadi nasib kaum Israel 

Injili bahwa mereka akan diolok-olok dan dicemooh secara 

tidak adil. Para rasul sendiri disamakan dengan kotoran dari 

segala sesuatu.  

II. Mereka bertanya-tanya lebih lagi tentang murka Tuhan   (ay. 5). 

Murka Tuhan   ini mereka sadari saat menyaksikan murka tetangga-

tetangga mereka, dan inilah yang teramat sangat mereka keluh-

kan: Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka? Akankah itu te-

rus-menerus? Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengingin-

kan apa pun selain agar Tuhan   mau berdamai dengan mereka, agar 

murka-Nya dihilangkan, supaya dengan begitu murka manusia 

dikekang dan tidak datang lagi. Perhatikanlah, orang-orang yang 

menginginkan kebaikan Tuhan   sebagai sesuatu yang lebih baik 

dibandingkan  hidup tidak bisa tidak pasti ngeri dan menjauhi murka-

Nya sebagai sesuatu yang lebih buruk dibandingkan  maut.   

Permohonan Meminta Pertolongan dan Kelegaan;  

Permohonan untuk Dibebaskan  

(79:6-13) 

6 Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas bangsa-bangsa yang tidak mengenal 

Engkau, ke atas kerajaan-kerajaan yang tidak menyerukan nama-Mu; 7 

sebab mereka telah memakan habis Yakub, dan tempat kediamannya mereka 

hancurkan. 8 Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang 

kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat 

lemah kami. 9 Tolonglah kami, ya Tuhan   penyelamat kami, demi kemuliaan 

nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh  sebab  nama-

Mu! 10 Mengapa bangsa-bangsa lain boleh berkata: “Di mana Tuhan   mereka?” 

Biarlah di hadapan kami bangsa-bangsa lain mengetahui pembalasan atas 

darah yang tertumpah dari hamba-hamba-Mu. 11 Biarlah sampai ke hadap-

an-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biar-

kanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh! 12 Dan 

balikkanlah ke atas pangkuan tetangga kami tujuh kali lipat cela yang telah 


 1154

didatangkan kepada-Mu, ya Tuhan! 13 Maka kami ini, umat-Mu, dan kawan-

an domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lama-

nya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun. 

Permohonan-permohonan yang dipanjatkan kepada Tuhan   di sini 

sangat sesuai dengan segala kesusahan yang tengah dialami jemaat 

pada saat ini. Dan mereka menguatkan semua permohonan itu de-

ngan menyelipkan seruan-seruan yang berisi alasan mengapa mereka 

berseru, dan sebagian besarnya menyinggung kehormatan Tuhan  .    

I.  Mereka berdoa agar Tuhan   mengalihkan murka-Nya dari mereka 

dan mengarahkannya kepada orang-orang yang menganiaya serta 

menghina mereka (ay. 6): “Tumpahkanlah amarah-Mu, sepenuh-

penuhnya, ke atas bangsa-bangsa. Biarlah mereka sampai mengo-

rek-ngorek ampasnya, dan meminumnya.” Doa ini sungguh meru-

pakan sebuah nubuatan, yang di dalamnya murka Tuhan   nyata 

dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia.  

Lihatlah   di sini:  

1.  Karakter atau sifat dari orang-orang yang dilawan si pemaz-

mur dalam doanya. Mereka itu orang-orang yang sungguh 

tidak mengenal Tuhan   dan menyerukan nama-Nya. Penyebab 

mengapa manusia tidak berseru kepada Tuhan   yaitu   sebab  

mereka tidak mengenal-Nya, tidak tahu betapa sanggup dan 

inginnya Dia menolong mereka. Orang-orang yang bersikeras 

tidak mau mengenal Tuhan   dan mengabaikan doa, yaitu  orang 

fasik, yang hidup tanpa Tuhan   di dalam dunia. Ada kerajaan-

kerajaan yang tidak mengenal Tuhan   dan tidak mematuhi Injil, 

namun  gabungan rakyat mereka yang banyak dan kekuatan-

kekuatan mereka sekali-kali tidak akan membuat mereka 

aman dari penghakiman-penghakiman-Nya yang adil.  

2.  Kejahatan mereka: Mereka telah memakan habis Yakub (ay. 7). 

Ini sudah cukup merupakan perbuatan jahat menurut pan-

dangan Dia yang menganggap bahwa mereka yang menyentuh 

umat-Nya berarti menyentuh biji mata-Nya. Mereka tidak saja 

telah mengganggu namun  juga telah memakan habis Yakub, 

tidak saja telah menerobos masuk tempat kediamannya, tanah 

Kanaan, namun  juga telah memporak-porandakannya dengan 

menjarah dan membantai penduduknya.  

3. Penghukuman mereka: “Tumpahkanlah amarah-Mu ke atas 

mereka. Jangan hanya mengekang mereka supaya tidak mela-

Kitab Mazmur 79:6-13 

 1155 

kukan kejahatan lebih jauh lagi, namun  adakanlah perhitungan 

dengan mereka atas kejahatan yang telah mereka perbuat.”  

II. Mereka berdoa untuk pengampunan dosa, yang mereka akui 

sebagai penyebab dari segala malapetaka yang menimpa mereka. 

Betapapun lalimnya manusia, Tuhan   bertindak benar dalam mem-

biarkan mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Mereka 

berdoa, 

1. Agar Tuhan   tidak memperhitungkan kepada mereka kesalahan 

nenek moyang mereka (ay. 8). Ini mencakup kesalahan-kesa-

lahan mereka sendiri yang telah lalu, yang mereka perbuat di 

masa muda, agar kini saat  mereka sudah tua, tidak ditimpa-

kan kepada mereka. Ini juga termasuk kesalahan-kesalahan 

umat mereka yang dahulu, dosa-dosa nenek moyang mereka. 

Dalam pembuangan di Babel, kesalahan-kesalahan yang telah 

lalu diperhitungkan. namun  Tuhan   berjanji untuk tidak akan 

melakukannya lagi (Yer. 31:29-30), jadi mereka berdoa, “Ja-

nganlah perhitungkan dosa-dosa kami yang mula-mula.” Doa 

ini, menurut sebagian orang, memandang jauh ke belakang 

saat  mereka membuat lembu emas,  sebab  Tuhan   berkata, 

pada hari pembalasan-Ku itu Aku akan membalaskan dosa 

mereka ini kepada mereka (Kel. 32:34). Jika anak-anak mema-

tahkan kutuk dari dosa orangtua mereka melalui pertobatan 

dan pembaharuan diri, maka mereka di dalam iman boleh 

berdoa agar Tuhan   tidak mengingatnya untuk melawan mereka. 

jika  Tuhan   mengampuni dosa, Ia menghapuskannya dan 

tidak mengingat-ingatnya lagi.  

2. Agar Ia mau membersihkan mereka dari dosa-dosa mereka be-

lakangan ini,  sebab  kesalahan dari dosa-dosa itu telah men-

cemari pikiran dan hati nurani: Lepaskanlah kami dan am-

punilah dosa kami (ay. 9). Kelepasan dari masalah dikarunia-

kan di dalam kasih, dan merupakan belas kasihan yang se-

sungguhnya, jika  didasarkan pada pengampunan dosa dan 

mengalir keluar akibat pengampunan itu. Oleh sebab itu kita 

harus lebih bersungguh-sungguh untuk berdoa kepada Tuhan   

agar terutama Dia menyingkirkan dosa-dosa kita lebih dari-

pada penderitaan-penderitaan kita.  sebab  pengampunan dosa 

itu merupakan dasar serta pemanis bagi kelepasan-kelepasan 

kita.   


 1156

III. Mereka berdoa agar Tuhan   mengerjakan kelepasan bagi mereka, 

dan mengakhiri permasalahan mereka dengan baik dan cepat: 

Kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami (ay. 8). Mereka 

tidak mempunyai pengharapan-pengharapan lain kecuali rahmat 

Tuhan  , rahmat-Nya yang lembut. Keadaan mereka begitu merana 

sehingga mereka memandang diri sebagai orang-orang yang 

pantas dikasihani Tuhan  . Mereka begitu nyaris putus asa sehingga 

kecuali rahmat ilahi segera turut campur untuk menghalangi ke-

hancuran mereka, mereka akan binasa. Ini membuat mereka 

memohon dengan semakin mendesak: “Tolonglah kami, ya Tuhan  . 

Lepaskan kami, ya Tuhan  . Tolonglah kami dalam kesesakan, agar 

kami kuat menanggungnya. Tolonglah kami keluar dari kesukar-

an-kesukaran kami, agar roh kami tidak letih lesu. Lepaskanlah 

kami dari dosa, janganlah biarkan kami tenggelam.” Tiga hal yang 

mereka serukan:  

1. Kesesakan besar yang membuat mereka terpuruk: “Sudah sa-

ngat lemah kami, dan,  sebab  lemah, kami akan terhilang jika-

lau Engkau tidak menolong kami.” Semakin lemah dan rendah 

kita terpuruk, semakin kita butuh pertolongan dari sorga, dan 

semakin kuasa ilahi akan dimuliakan dalam mengangkat kita.  

2. Kebergantungan mereka kepada-Nya: “Engkaulah Tuhan   penye-

lamat kami, hanya Engkaulah yang dapat menolong kami. Dari 

TUHAN datang pertolongan, dan dari-Nya kita mengharapkan 

pertolongan. Sebab hanya di dalam Tuhanlah datangnya kese-

lamatan bagi umat-Nya.” Orang-orang yang menjadikan Tuhan   

sebagai Tuhan   penyelamat mereka pasti akan mendapati-Nya 

demikian.  

3. Kepentingan kehormatan-Nya sendiri dalam perkara mereka. 

Mereka tidak berseru dengan memakai jasa apa pun dari diri 

mereka sendiri untuk menopang seruan mereka. Mereka tidak 

mengaku berjasa atas apa pun juga. namun  ini yang mereka 

serukan, “Tolonglah kami demi kemuliaan nama-Mu! Ampuni-

lah kami demi nama-Mu.” Yang terbaik dalam mendorong hati 

kita saat berdoa yaitu  hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan   

dan segala sesuatu yang dengannya Ia menyatakan diri-Nya. 

Ada dua hal yang tersirat dalam permohonan ini:  

(1) Bahwa nama dan kehormatan Tuhan   akan sangat dirusak-

kan jika Ia tidak melepaskan mereka. Sebab orang-orang 

Kitab Mazmur 79:6-13 

 1157 

yang mencemooh mereka berarti menghujat Tuhan  , seolah-

olah Ia lemah dan tidak mampu menolong mereka, atau te-

lah mundur dan tidak mau membantu mereka. Oleh sebab 

itu mereka berseru (ay. 10), “Mengapa bangsa-bangsa lain 

boleh berkata: Di mana Tuhan   mereka? Ia telah meninggal-

kan mereka, dan melupakan mereka. Dan sekarang, inilah 

yang mereka dapatkan dengan menyembah Tuhan   yang 

tidak bisa mereka lihat.” (Nil præter nubes et cœli numen 

adorant. Juv. – Mereka tidak memuja ilah mana pun selain 

awan-awan dan langit.). Bahwa apa yang menjadi pujian 

mereka (yaitu bahwa mereka menyembah Tuhan   yang ada di 

mana-mana) kini berbalik menjadi celaan bagi mereka dan 

juga bagi Dia, seolah-olah mereka menyembah Tuhan   yang 

tidak ada di mana pun. “Tuhan,” seru mereka, “Tunjukkan-

lah bahwa Engkau ada dengan menunjukkan bahwa Eng-

kau hadir bersama kami dan membela kami, sehingga apa-

bila kami ditanya, Di mana Tuhan  mu? kami dapat menjawab, 

Ia dekat dengan kami dalam segala sesuatu yang kami seru-

kan kepada-Nya dan kalian lihat bahwa Tuhan   memang be-

serta kita berdasar  apa yang diperbuat-Nya bagi kami.”  

(2) Bahwa nama dan kehormatan Tuhan   akan sangat dipermu-

liakan jika Ia benar-benar melepaskan mereka. Rahmat-

Nya akan dimuliakan saat  Ia melepaskan orang-orang 

yang demikian sengsara dan tidak berdaya. Dengan meng-

acungkan lengan-Nya yang kekal demi mereka, maka Ia 

akan mengabadikan nama-Nya. Dan kelepasan mereka akan 

menjadi suatu pelambang dan bayangan dari keselamatan 

agung, yang dalam kegenapan waktu akan dikerjakan oleh 

Mesias Sang Raja, demi kemuliaan nama Tuhan  .   

IV. Mereka berdoa agar Tuhan   membalas musuh-musuh mereka,  

1. Atas kekejaman dan kebiadaban mereka (ay. 10): “Kiranya 

pembalasan menuntut darah (sesuai dengan hukum pada 

zaman dulu, Kej. 9:6) diketahui di antara bangsa-bangsa kafir. 

Kiranya mereka sadar bahwa penghakiman-penghakiman yang 

ditimpakan ke atas mereka merupakan hukuman atas kesa-

lahan yang telah mereka perbuat terhadap kami. Kiranya itu 

terjadi di hadapan kami, dan dengan sarana ini biarlah bang-

sa-bangsa lain mengetahui Tuhan   sebagai Hakim bumi (94:2) 


 1158

dan sebagai Tuhan   yang mendukung kepentingan umat-Nya.” 

Mereka yang telah mabuk dengan darah orang-orang kudus 

akan diberi minum darah, sebab hal itu wajar bagi mereka.  

2.  Atas penghinaan dan ejekan mereka (ay. 12): “Balikkanlah cela 

yang telah mereka datangkan. Segala ejekan yang telah me-

reka sampaikan dengan perkataan dan perbuatan terhadap 

umat Tuhan   sendiri dan terhadap nama-Nya biarlah dibalaskan 

kepada mereka dengan berlipat ganda.” Penghinaan yang 

diucapkan orang lain terhadap kita haruslah kita serahkan ke-

pada Tuhan  , apakah Dia akan membalaskannya kepada mereka 

atau tidak, dan kita harus berdoa agar Ia mengampuni me-

reka. namun  penghinaan yang diucapkan mereka untuk meng-

hujat Tuhan   sendiri dapat kita doakan di dalam iman agar Tuhan   

membalikkan tujuh kali lipat kepada diri mereka sendiri, se-

hingga mereka terpukul, merendahkan diri, dan bertobat. Doa 

ini merupakan sebuah nubuatan, yang sama pentingnya de-

ngan nubuatan Henokh, bahwa Tuhan   akan menginsafkan 

orang-orang berdosa atas kata-kata nista yang telah mereka 

ucapkan melawan-Nya (Yud. 1:15) dan akan membalikkannya 

ke diri mereka sendiri dengan kengerian-kengerian kekal se-

tiap kali mereka diingat.  

V. Mereka berdoa agar Tuhan   memberi  jalan keluar untuk menye-

lamatkan orang-orang tahanan-Nya yang malang, terutama para 

tahanan yang ditentukan untuk mati (ay. 11). Keadaan saudara-

saudara mereka yang sudah jatuh ke tangan musuh sungguh 

menyedihkan. Mereka dijadikan tahanan yang terus diawasi de-

ngan ketat, dan  sebab  mereka takut kalau-kalau ratapan mereka 

terdengar, mereka melampiaskan kesedihan mereka dalam keluh 

kesah yang dalam dan tak terucapkan. Segala nafas mereka 

hanyalah keluhan, dan begitu pula dengan doa mereka. Mereka 

ditentukan untuk mati, seperti domba yang akan dibantai, dan 

telah menerima hukuman mati dalam diri mereka. Keadaan yang 

mengenaskan ini diserahkan sang pemazmur,  

1.  Kepada belas kasihan ilahi: “Biarlah sampai ke hadapan-Mu 

keluhan orang tahanan, dan kiranya Engkau berkenan mende-

ngarkan rintihan-rintihan mereka.”  

2.  Pada kuasa ilahi: “Sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, yang 

tidak dapat dilawan oleh makhluk mana pun, biarkanlah hidup 

Kitab Mazmur 79:6-13 

 1159 

orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh, selamat-

kanlah mereka dari kematian yang sudah ditentukan bagi me-

reka.” Ketidakberdayaan manusia yaitu  kesempatan Tuhan   

untuk tampil bagi umat-Nya (2Kor. 1:8-10).  

Yang terakhir, mereka berjanji akan memuji-muji Tuhan   bila 

doa mereka didengar (ay. 13): Maka kami ini akan bersyukur 

kepada-Mu untuk selama-lamanya.  

Lihatlah  :  

1.  Bagaimana mereka menghibur diri dengan hubungan yang 

mereka miliki dengan Tuhan  . “Meskipun kami tertindas dan 

menjadi lemah, namun kami yaitu  domba-domba gembala-

an-Mu, maka janganlah menyangkal dan menolak kami oleh 

 sebab  semua ini: Kami ini milik-Mu. Selamatkanlah kami.”  

2. Bagaimana mereka berharap akan mendapatkan kesempat-

an untuk memuji Tuhan   atas kelepasan mereka. Kelepasan 

ini sangat mereka rindukan, dan akan mereka sambut, ka-

rena kelepasan itu akan melengkapi mereka dengan pokok 

pujian dan mempersiapkan hati mereka untuk melaksana-

kan dengan gembira pekerjaan yang sangat baik itu, peker-

jaan sorgawi, yaitu memuji-muji Dia.  

3. Bagaimana mereka merasa wajib tidak saja untuk bersyu-

kur kepada Tuhan   pada saat ini, namun  juga untuk memberi-

takan puji-pujian untuk-Nya turun-temurun. Yaitu, untuk 

berbuat semampu mereka agar kenangan akan kebaikan-

kebaikan Tuhan   terus diingat dan agar keturunan mereka 

tetap memuji-muji Tuhan   senantiasa.  

4.  Bagaimana mereka menyerukan ini kepada Tuhan  : “Tuhan, 

bangkitlah bagi kami untuk melawan musuh-musuh kami. 

Sebab, jika mereka semakin kuat, mereka akan menghujat-

Mu (ay. 12). namun , jika kami dilepaskan, kami akan me-

muji-Mu. Tuhan, kami yaitu  umat-Mu yang telah Kauben-

tuk bagi-Mu sendiri, untuk memberitakan kemasyhuran-Mu. 

Jika kami terbunuh, dari manakah pujian dan penghor-

matan itu akan dinaikkan?” Perhatikanlah, hidup yang se-

penuhnya diabdikan untuk memuji Tuhan   pasti akan tetap 

dijaga di bawah perlindungan-Nya.  

 

  

 

 

PASAL 80  

azmur ini mempunyai tujuan yang sedikit banyak sama dengan 

mazmur sebelumnya. Menurut sebagian orang, mazmur ini 

ditulis pada masa kesusahan dan pembuangan sepuluh suku Israel, 

sama seperti dua mazmur sebelumnya. Namun sungguh banyaklah 

kesesakan umat Israel milik Tuhan   ini, dan mungkin banyak yang 

tidak tercatat dalam sejarah suci. Sebagian dari antara yang tidak 

tercatat itu bisa saja memberi  kesempatan bagi dirancangnya 

mazmur ini, yang sesuai untuk dinyanyikan pada masa kesusahan 

Yakub. Dan jika dalam menyanyikannya kita mengungkapkan kasih 

yang sejati kepada jemaat Tuhan   dan kepedulian yang sepenuh hati 

terhadap kepentingannya, dengan keyakinan yang teguh pada kuasa 

Tuhan   untuk menolong jemaat keluar dari kesusahan-kesusahannya 

yang hebat, maka itu berarti kita bernyanyi dengan segenap hati 

kepada Tuhan. Di sini sang pemazmur,  

I.  Memohonkan tanda-tanda hadirat Tuhan   bersama umat-Nya 

dan kebaikan-Nya terhadap mereka (ay. 2-4).  

II.  Mengeluhkan teguran-teguran ilahi yang sedang mereka 

alami (ay. 5-8).  

III. Menggambarkan kehancuran yang sedang dialami jemaat, 

melalui perumpamaan pohon anggur dan kebunnya, yang 

sebelumnya tumbuh subur namun kini hancur (ay. 9-17).  

IV. Menutup mazmur ini dengan doa kepada Tuhan  , untuk mem-

persiapkan datangnya belas kasihan bagi mereka dan mem-

persiapkan mereka untuk menerima belas kasihan (ay. 18-

20).  

Mazmur ini, sama seperti banyak mazmur sebelum dan sesudah-

nya, berkaitan dengan kepentingan-kepentingan Israel milik Tuhan   se-


 1162

cara umum, yang seharusnya berada lebih dekat di hati kita dibandingkan  

kepentingan-kepentingan duniawi kita sendiri.  

Keluhan-keluhan yang Penuh Dukacita 

(80:1-8) 

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Bunga bakung. Kesaksian Asaf. 

Mazmur. 2 Hai gembala Israel, pasanglah telinga, Engkau yang menggiring 

Yusuf sebagai kawanan domba! Ya Engkau, yang duduk di atas para kerub, 

tampillah bersinar 3 di depan Efraim dan Benyamin dan Manasye! Bangkit-

kanlah keperkasaan-Mu dan datanglah untuk menyelamatkan kami. 4 Ya 

Tuhan  , pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan sela-

mat. 5 TUHAN, Tuhan   semesta alam, berapa lama lagi murka-Mu menyala 

sekalipun umat-Mu berdoa? 6 Engkau memberi mereka makan roti cucuran 

air mata, Engkau memberi mereka minum air mata berlimpah-limpah, 7 

Engkau membuat kami menjadi pokok percederaan tetangga-tetangga kami, 

dan musuh-musuh kami mengolok-olok kami. 8 Ya Tuhan   semesta alam, 

pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat. 

Di sini sang pemazmur, atas nama jemaat, datang kepada Tuhan   di da-

lam doa, dengan membawa keadaan Israel yang kini tertimpa derita.  

I.  Ia memohonkan kebaikan Tuhan   bagi mereka (ay. 2-3). Kebaikan 

Tuhan   merupakan segala-galanya yang diminta di tempat kudus 

jika  orang sedang sengsara. Itulah yang pertama-tama dicari 

saat itu.  

Lihatlah  :  

1.  Bagaimana di dalam permohonannya ia memandang Tuhan   se-

bagai Gembala Israel, yang telah menyebut Israel sebagai ka-

wanan domba gembalaan-Nya (79:13), yang di bawah bimbing-

an serta perhatian-Nya Israel berada, seperti kawanan domba 

berada dalam perhatian dan tuntunan sang gembala. Kristus 

yaitu  Gembala yang agung dan baik, yang kepada-Nya kita di 

dalam iman boleh mempercayakan tugas penjagaan kawanan 

domba Tuhan   yang diberikan kepada-Nya. Ia menggiring Yusuf 

sebagai kawanan domba, ke padang berumput hijau yang ter-

baik dan jauh dari mara bahaya. Jika Yusuf tidak mengikuti-

Nya dengan taat seperti halnya kawanan domba mengikuti 

gembalanya, maka itu salahnya sendiri. Ia duduk di atas para 

kerub, di mana Ia siap menerima permohonan-permohonan 

dan memberi  bimbingan-bimbingan. Tutup pendamaian 

berada di antara dua kerub. Dan, di dalam doa, sungguh sa-

Kitab Mazmur 80:1-8 

 1163 

ngat menghibur untuk memandang Tuhan   yang duduk di atas 

takhta anugerah. Kita merasa terhibur  sebab  pendamaian 

agung yang telah dikerjakan Kristus, sebab tutup pendamaian 

itu yaitu  untuk mendamaikan.  

2.  Apa yang diharapkan dan diinginkan sang pemazmur dari 

Tuhan   yaitu  agar Ia membuka telinga pada teriakan keseng-

saraan-kesengsaraan dan doa-doa mereka, agar Ia tampil ber-

sinar baik dalam kemuliaan-Nya sendiri maupun dalam kemu-

rahan dan kebaikan-Nya kepada umat-Nya, agar Ia menun-

jukkan diri-Nya dan senyum-Nya kepada mereka, dan agar Ia 

membangkitkan keperkasaan-Nya, agar Ia membangunkan dan 

mengerahkannya. Keperkasaan-Nya tampak terlelap: “Tuhan, 

bangunkanlah keperkasaan-Mu.” Kepentingan-Nya mendapat 

perlawanan hebat dan musuh-musuh mengancam untuk me-

ngalahkannya: “Tuhan, kerahkanlah keperkasaan-Mu dengan 

lebih kuat lagi, dan datanglah untuk menyelamatkan kami. 

Jadilah Engkau bagi umat-Mu pertolongan yang penuh kuasa 

dan selalu siap sedia. Tuhan, perbuatlah ini di depan Efraim 

dan Benyamin dan Manasye,” maksudnya, “Di hadapan semua 

suku Israel. Biarlah mereka melihatnya sampai puas.” Ada ke-

mungkinan ketiga suku ini disebutkan  sebab  mereka yaitu  

suku-suku yang membentuk pasukan kemah Israel yang ber-

jalan melintasi padang gurun mengikuti tabut perjanjian. 

 sebab  itu di depan mereka tabut keperkasaan Tuhan   bangkit 

untuk menyerakkan musuh-musuh mereka. 

II.  Ia mengeluhkan murka Tuhan   yang melawan mereka. Tuhan   murka, 

dan inilah yang ditakutkannya melebihi apa pun (ay. 5). 

1. Murka itu besar. Ia khawatir jangan-jangan murka Tuhan   me-

nyala sekalipun umat-Nya berdoa, bukan saja bahwa Ia murka 

kendati dengan doa-doa mereka, yang dengannya mereka 

berharap dapat menyingkirkan murka-Nya dari mereka, namun  

juga bahwa Ia murka dengan doa-doa mereka, meskipun 

umat-Nya sendirilah yang berdoa. Kalau Tuhan   murka terhadap 

dosa-dosa umat-Nya dan terhadap doa-doa para musuh-Nya, 

maka itu tidaklah aneh. namun  kalau Ia murka terhadap doa-

doa umat-Nya, maka itu sungguh aneh. Ia tidak hanya me-

nunda-nunda waktu untuk menjawab doa-doa mereka (hal ini 

sering kali dilakukan-Nya di dalam kasih), namun  juga Ia tidak 


 1164

berkenan kepada doa-doa itu. Kalau Tuhan   sudah benar-benar 

murka terhadap doa-doa umat-Nya, maka kita boleh yakin 

bahwa itu  sebab  mereka salah berdoa (Yak. 4:3). Mereka 

berdoa, namun  tidak bergumul di dalam doa. Tujuan-tujuan 

mereka tidaklah benar, atau ada suatu dosa tersembunyi yang 

diam-diam mereka simpan dan turuti. Mereka tidak mengang-

kat tangan yang murni, atau mereka mengangkatnya dengan 

amarah dan keraguan. namun  kekhawatiran ini mungkin ha-

nya pengertian mereka sendiri saja. Ia tampak marah terhadap 

doa-doa mereka, padahal sebenarnya tidak. Sebab dengan 

demikian Ia mau menguji kesabaran dan ketekunan mereka di 

dalam doa, seperti Kristus menguji wanita Kanaan saat  Ia 

berkata, Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi 

anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.  

2. Murka itu sudah berlangsung sangat lama: “Berapa lama lagi 

murka-Mu menyala? Kami terus-menerus berdoa, namun Eng-

kau tetap tidak berkenan kepada kami.” Sekarang tanda-tanda 

murka Tuhan   yang selama ini menimpa mereka membuat mere-

ka berdukacita dan menanggung malu.  

(1) Membuat mereka berdukacita (ay. 6): Engkau memberi me-

reka makan roti cucuran air mata. Dari hari ke hari mereka 

makan makanan dengan bersimbah air mata. Inilah cuka 

yang ke dalamnya mereka mencelupkan makanan mereka 

(42:4). Mereka diberi minum air mata, mengecap cawan 

yang pahit itu tidak hanya sekali-sekali, namun  dalam jum-

lah yang sangat banyak. Perhatikanlah, ada banyak orang 

yang menghabiskan waktu dalam dukacita, namun kelak 

mereka akan menghabiskan kehidupan kekal mereka da-

lam sukacita.  

(2) Mereka menanggung malu (ay. 7). Tuhan  , dengan murka ter-

hadap mereka, membuat mereka menjadi pokok pencedera-

an tetangga-tetangga mereka. Setiap orang berusaha mem-

permalukan mereka sejadi-jadinya, dan mereka telah men-

jadi mangsa yang empuk bagi tetangga-tetangga mereka, 

sehingga orang-orang di sekeliling mereka hanya berlomba-

lomba untuk menelanjangi dan menjarah mereka. Musuh-

musuh mereka tertawa-tertawa melihat ketakutan-ketakut-

an yang melanda mereka, kesusahan-kesusahan yang me-

nimpa mereka, dan kekecewaan-kekecewaan yang mereka 

Kitab Mazmur 80:1-8 

 1165 

temui. jika  Tuhan   murka terhadap umat-Nya, maka kita 

harus bersiap-siap melihat mereka bersimbah air mata dan 

musuh-musuh mereka bersorak-sorai dalam kemenangan.    

III. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh meminta anugerah untuk 

membuat mereka bertobat supaya mereka berkenan bagi Tuhan   

dan diselamatkan oleh-Nya: Ya Tuhan  , pulihkanlah kami (ay. 4). Ya 

Tuhan   semesta alam, pulihkanlah kami (ay. 8) dan buatlah wajah-

Mu bersinar, maka kami akan selamat. Ini merupakan pokok 

beban dalam nyanyian itu, sebab kita menjumpainya lagi dalam 

ayat 20. Mereka sadar diri bahwa mereka sudah menyimpang dari 

Tuhan   dan kewajiban mereka, dan telah berbelok ke jalan-jalan 

dosa, dan bahwa hal inilah yang membuat Tuhan   menyembunyi-

kan wajah-Nya dari mereka dan menyerahkan mereka ke tangan 

musuh-musuh mereka. Oleh sebab itu, mereka ingin memulai se-

galanya dengan benar: “Tuhan, bawalah kami kembali kepada-Mu 

dalam jalan pertobatan dan pembaharuan, maka, tidak diragukan 

lagi, Engkau akan kembali kepada kami dalam jalan belas kasih-

an dan kelepasan.”  

Lihatlah  :  

1.  Tidak ada keselamatan selain dari kemurahan Tuhan  : “Buatlah 

wajah-Mu bersinar, kiranya kami memiliki kasih-Mu dan caha-

ya wajah-Mu, maka kami akan selamat.” 

2. Kita tidak bisa mendapat perkenanan Tuhan   jika kita tidak ber-

balik kepada-Nya. Kita harus berbalik lagi kepada Tuhan   dari 

dunia dan dari kedagingan, maka Ia akan membuat wajah-Nya 

bersinar atas kita.  

3.  Kita tidak bisa berbalik kepada Tuhan   kecuali melalui anuge-

rah-Nya sendiri. Kita harus mengatur perbuatan-perbuatan 

kita agar bisa berbalik kepada-Nya (Hos. 5:4) dan kemudian 

berdoa sungguh-sungguh memohon anugerah-Nya, Bawalah 

aku kembali, supaya aku berbalik, sambil menyerukan janji 

yang penuh rahmat itu (Ams. 1:23), Berpalinglah kamu kepada 

teguranku! Sesungguhnya, Aku hendak mencurahkan isi hati-

Ku (KJV: Sesungguhnya, Aku hendak mencurahkan Roh-Ku 

kepadamu – pen.). Doa yang dipanjatkan di sini yaitu  untuk 

pertobatan seluruh bangsa. Dengan cara inilah kita harus ber-

doa memohon belas kasihan bagi bangsa kita, supaya apa 


 1166

yang salah diluruskan, maka penderitaan-penderitaan kita 

akan segera dipulihkan. Kekudusan bangsa akan menjamin 

kebahagiaan bangsa.   

Pohon Anggur yang Ditinggalkan 

(80:9-20) 

9 Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir, telah Kauhalau bangsa-bangsa, 

lalu Kautanam pohon itu. 10 Engkau telah menyediakan tempat bagi dia, 

maka berakarlah ia dalam-dalam dan memenuhi negeri; 11 gunung-gunung 

terlindung oleh bayang-bayangnya, dan pohon-pohon aras Tuhan   oleh cabang-

cabangnya; 12 dijulurkannya ranting-rantingnya sampai ke laut, dan pucuk-

pucuknya sampai ke sungai Efrat. 13 Mengapa Engkau melanda temboknya, 

sehingga ia dipetik oleh setiap orang yang lewat? 14 Babi hutan menggerogoti-

nya dan binatang-binatang di padang memakannya. 15 Ya Tuhan   semesta 

alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah 

pohon anggur ini, 16 batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! 17 Mereka 

telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang 

lenyap oleh hardik wajah-Mu! 18 Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang 

di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu 

itu, 19 maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami 

hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu. 20 Ya TUHAN, Tuhan   semesta 

alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat. 

Di sini sang pemazmur menyerukan tuntutannya bagi Israel milik 

Tuhan  . Ia memohon dengan sangat di hadapan takhta anugerah, ber-

seru mohon belas kasihan dan anugerah dari Tuhan Tuhan   kepada 

mereka. Di sini jemaat digambarkan sebagai pohon anggur (ay. 9, 15) 

dan kebun anggur (ay. 16). Akar dari pohon anggur ini yaitu  Kristus 

(Rm. 11:18). Ranting-rantingnya yaitu  orang-orang percaya (Yoh. 

15:5). Jemaat itu seperti pohon anggur, lemah dan perlu ditopang, 

tidak enak dipandang dan tidak menjanjikan apa-apa bila dilihat dari 

luar, namun  ia menyebar dan subur, dan buah-buahnya sangat baik. 

Jemaat yaitu  pohon anggur pilihan. Kita mempunyai alasan untuk 

mengakui kebaikan Tuhan  , sebab Ia telah menanam pohon anggur 

seperti itu di padang gurun dunia ini, dan menjaganya sampai hari 

ini.  

Sekarang cermatilah di sini: 

I.  Bagaimana pohon anggur jemaat Perjanjian Lama ditanam pada 

mulanya. Pohon itu diambil dari Mesir dengan tangan yang dinaik-

kan. Bangsa-bangsa dihalau dari Kanaan untuk mempersiapkan 

tempat baginya, tujuh bangsa harus menyediakan tempat bagi

Kitab Mazmur 80:9-20 

 1167 

bangsa itu. Engkau menyapu bersih mereka demi dia (begitu seba-

gian orang membacanya, ay. 10), untuk membuat lancar pekerja-

an itu. Bangsa-bangsa disapu bersih seperti kotoran dengan sapu 

kehancuran. Tuhan  , sesudah  menyediakan tempat bagi dia, dan me-

nanamnya, membuatnya berakar dalam-dalam dengan mendiri-

kan pemerintahan yang sentosa baik dalam jemaat maupun ne-

gara bagi mereka. Mereka begitu teguh sehingga meskipun bang-

sa-bangsa di sekitar sering kali mencoba menyerangnya, mereka 

tidak berhasil mencabutnya. 

II.  Bagaimana pohon itu berkembang dan tumbuh subur.  

1. Tanah Kanaan itu sendiri dipenuhi penduduk. Pertama-tama, 

jumlah mereka ini tidak begitu banyak sehingga tidak sampai 

memenuhi tanah itu (Kel. 23:29). namun  pada masa Salomo, 

orang Yehuda dan orang Israel jumlahnya seperti pasir di tepi 

laut. Seluruh negeri menjadi penuh dengan mereka, namun  

negeri itu begitu subur sehingga tidak kekurangan tempat un-

tuk menampung mereka (ay. 10). Gunung-gunung Kanaan ter-

lindungi oleh bayang-bayang mereka, dan pucuk-pucuknya, 

meskipun merentang jauh, seperti pucuk-pucuk pohon anggur, 

tidak lemah seperti pucuk-pucuk pohon anggur itu, namun 

sekuat pucuk-pucuk pohon aras. Israel tidak hanya mempunyai 

banyak sekali penduduk, namun  juga pahlawan-pahlawan yang 

gagah perkasa.  

2. Mereka memperluas penaklukan dan kekuasaan mereka ke 

bangsa-bangsa sekitar (ay. 11): Dijulurkannya ranting-ranting-

nya sampai ke laut, laut lepas di arah barat, dan pucuk-pucuk-

nya sampai ke sungai, ke sungai Mesir di arah selatan, sungai 

Damsyik di arah utara, atau lebih tepatnya ke sungai Efrat di 

sebelah timur (Kej. 15:18). Kebesaran Nebukadnezar digam-

barkan dengan pohon yang tumbuh subur (Dan. 4:20-21). 

namun  dapat diamati di sini mengenai kebun anggur ini, bahwa 

ia dipuji  sebab  bayang-bayangnya, cabang-cabangnya, dan 

pucuk-pucuknya, namun  tidak sepatah kata pun terucap ten-

tang buahnya, sebab Israel yaitu  pohon anggur yang riap 

tumbuhnya (anggur yang kosong – pen., Hos. 10:1). Tuhan   

datang mencari buah anggur yang baik, namun, malangnya, Ia 

mendapati buah anggur yang asam (Yes. 5:2). Dan jika pohon 

anggur tidak menghasilkan buah, maka tidak ada lagi pohon 


 1168

yang sungguh tidak berguna, yang sungguh tidak berharga, 

seperti pohon ini (Yeh. 15:2, 6).     

III. Bagaimana pohon itu terabaikan dan hancur: “Tuhan, Engkau 

telah melakukan perkara-perkara besar untuk pohon anggur ini, 

mengapakah ia harus tercabut kembali? Seandainya pohon itu 

bukan tanaman yang ditanam Tuhan  , maka tidak aneh bila ia 

tercabut. Namun, akankah Tuhan   meninggalkan dan mencampak-

kan apa yang telah diciptakan-Nya sendiri?” (ay. 13). Mengapa 

Engkau melanda temboknya? Ada alasan yang baik mengapa 

terjadi perubahan pada jalan Tuhan   terhadap mereka ini. Pohon 

anggur pilihan itu telah berubah menjadi pohon berbau busuk, po-

hon anggur liar! (Yer. 2:21), yang mendatangkan cela bagi pemilik-

nya yang agung, maka tidaklah heran jika Ia menebang pagar 

durinya (Yes. 5:5). Namun kebaikan-kebaikan Tuhan   yang dulu 

terhadap pohon anggur ini diserukan di dalam doa kepada Tuhan  , 

dan dimanfaatkan sebagai dorongan untuk beriman, sehingga 

kendati dengan semua ini, Tuhan   tidak akan membuang mereka 

sepenuhnya.  

Lihatlah  :  

1. Kebencian dan permusuhan bangsa-bangsa kafir melawan 

bangsa Israel. Segera sesudah  Tuhan   melanda temboknya dan 

membiarkannya begitu saja, pasukan-pasukan musuh mene-

robos masuk menyerang mereka, sesudah  sebelumnya menanti-

kan kesempatan untuk memusnahkan mereka. Orang-orang 

yang lewat memetiknya, babi hutan dan binatang-binatang di 

padang siap mengobrak-abriknya (ay. 14). namun ,  

2. Lihatlah juga apa yang menahan musuh-musuh yang kejam 

ini. Sebab sebelum Tuhan   melanda temboknya, mereka tidak 

dapat memetik sehelai daun pun dari pohon ini. Iblis tidak da-

pat menyakiti Ayub selama Tuhan   terus menjaga pagar di seke-

liling dia (Ayb. 1:10). Lihatlah betapa setiap orang berkepen-

tingan untuk tetap menjaga diri mereka sendiri dalam kebaik-

an Tuhan  , maka mereka tidak perlu takut terhadap binatang 

liar apa pun di padang (Ayb. 5:23). Jika kita membangkitkan 

amarah Tuhan   sehingga Ia menarik diri, maka perisai kita telah 

meninggalkan kita, dan kita akan binasa. Keadaan Israel yang 

menyedihkan digambarkan (ay. 17): Mereka telah membakar-

Kitab Mazmur 80:9-20 

 1169 

nya dengan api dan menebangnya. Orang-orang yang terkutuk 

dan yang kesudahannya yaitu  untuk dibakar akan diper-

lakukan seperti putri malu dan rumput, dan tidak lagi seperti 

pohon anggur yang dilindungi dan dirawat. Mereka tidak 

binasa  sebab  amukan binatang liar dan babi hutan, namun  

 sebab  hardik wajah-Mu. Itulah yang sangat mereka takutkan 

dan yang mereka pandang sebagai penyebab dari segala mala-

petaka yang menimpa mereka. Baik buruknya keadaan kita 

bergantung pada senyuman bibir atau kernyit dahi Tuhan  .  

IV. Apa saja yang mereka minta dari Tuhan   dalam hal ini.  

1. Agar Tuhan   menolong pohon anggur itu (ay. 15-16), agar Ia de-

ngan penuh rahmat mau mengindahkan keadaannya dan ber-

buat apa yang pantas diperbuat-Nya: “Ya Tuhan   semesta alam, 

kembalilah! Sebab Engkau tampak pergi jauh dari kami. Pan-

danglah dari langit, tempat Engkau telah menarik diri. Dari 

langit, tempat pengharapan itu, yang dari atas sana Engkau 

melihat segala perbuatan jahat yang dilakukan terhadap kami. 

Dari tempat kekuasaan itu, yang dari sana Engkau dapat 

memberi  kelegaan seutuhnya. Dari langit, di mana Engkau 

telah mempersiapkan takhta penghakiman-Mu, yang ke sana-

lah kami berseru, dan di tempat mana Engkau telah memper-

siapkan sebuah negeri yang lebih baik bagi orang-orang Israel 

sejati. Dari sana, pandanglah dan kunjungilah pohon anggur 

ini dengan penuh rahmat. Pertimbangkanlah dengan penuh 

belas kasihan keadaan kami yang terkutuk ini, dan kami se-

rahkan kepada-Mu apa yang akan Engkau perbuat secara 

khusus dalam belas kasihan-Mu. Hanya pandanglah saja ke-

bun anggur ini, atau lebih tepatnya akarnya ini, yang telah 

ditanam oleh tangan kanan-Mu, dan yang oleh sebab itu kami 

berharap agar tangan kanan-Mu melindungi pucuk yang telah 

Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, untuk memberitakan kemasy-

huran-Mu (Yes. 43:21), sehingga dengan buahnya Engkau 

dapat memperoleh penghormatan. Tuhan, pohon itu dibentuk 

oleh-Mu sendiri dan bagi diri-Mu sendiri, dan  sebab  itu 

dengan keyakinan yang dipenuhi kerendahan hati pohon itu 

dapat diserahkan kepada-Mu dan kepada perawatan-Mu.” 

Adapun Tuhan  , jalan-Nya sempurna. Kata yang diterjemahkan 

dengan ranting atau tunas (KJV) yaitu  anak (Ben) dalam ba-


 1170

hasa Ibrani, yang dalam keputusan kehendak-Mu telah Kau-

teguhkan bagi diri-Mu. Tunas itu akan datang dari keturunan 

Israel (hamba-Ku, yakni Sang Tunas, Za. 3:8), dan oleh sebab 

itu, sampai Ia datang, kehidupan Israel secara umum, dan 

keluarga Daud secara khusus, harus dilindungi, ditopang, dan 

dipelihara. Dialah pokok anggur yang benar (Yoh. 15:1; Yes. 

11:1). Janganlah musnahkan itu, sebab di dalamnya masih ada 

berkat! (Yes. 65:8).  

2.  Agar Ia mau menolong pengurus kebun (ay. 18-19): “Kiranya 

tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu,” raja 

(siapa pun itu) dari keluarga Daud itu yang kini akan masuk 

dan keluar di hadapan mereka. “Kiranya tangan-Mu melin-

dunginya, bukan hanya untuk melindungi dan menutupinya 

namun  juga untuk mengakuinya, menguatkannya, dan mem-

berinya keberhasilan.” Kita juga mendapati ungkapan ini da-

lam Ezra 7:28b, Maka aku menguatkan hatiku,  sebab  tangan 

TUHAN, Tuhan  ku, melindungi aku. Raja mereka disebut orang 

yang di sebelah kanan Tuhan    sebab  ia mewakili pemerintahan 

mereka, yang sangat dikasihi Tuhan  , seperti Benyamin kepu-

nyaan-Nya, anak di sebelah kanan-Nya,  sebab  ia yaitu  

pemimpin segala urusan mereka dan merupakan sarana di 

tangan kanan Tuhan   untuk melakukan banyak kebaikan bagi 

mereka, membela mereka dari diri mereka sendiri dan dari 

musuh-musuh mereka, dan menuntun mereka di jalan yang 

benar, dan  sebab  ia yaitu  gembala di bawah Dia Sang Gem-

bala agung Israel. Para raja, yang mempunyai kuasa, harus 

ingat bahwa mereka hanyalah anak-anak manusia, anak-anak 

Adam (sesuai dengan kata yang digunakan di sini), bahwa jika 

mereka kuat, Tuhan  -lah yang telah menjadikan mereka kuat, 

dan Ia telah menjadikan mereka demikian bagi diri-Nya sen-

diri, sebab mereka yaitu  hamba-hamba-Nya untuk melayani 

kepentingan-kepentingan kerajaan-Nya di tengah-tengah ma-

nusia.  sebab  itu, jika mereka melakukan ini dengan tulus 

hati, maka tangan-Nya akan melindungi mereka. Dan kita ha-

rus berdoa di dalam iman agar ini bisa terjadi, dengan menam-

bahkan janji ini, yaitu bahwa jika Tuhan   menyertai pemimpin-

pemimpin kita, maka kita akan setia terus kepada Dia: Maka 

kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Kami tidak akan 

pernah meninggalkan kepentingan yang kami tahu didukung 

Kitab Mazmur 80:9-20 

 1171 

oleh Tuhan   dan yang pelindungnya yaitu  Dia. Kiranya Tuhan   

menjadi pemimpin kita, maka kita akan mengikuti-Nya. Tam-

bahkanlah juga doa ini, “Biarkanlah kami hidup, berikanlah 

kehidupan ke dalam diri kami, hidupkanlah kembali kepen-

tingan-kepentingan kami yang telah mati, bangkitkanlah kem-

bali semangat kami yang kendor, maka kami akan menyerukan 

nama-Mu. Kami akan terus melakukannya dalam segala ke-

sempatan,  sebab  kami telah mendapati bahwa berbuat demi-

kian tidaklah sia-sia.” Kita tidak dapat menyerukan nama 

Tuhan   dengan cara yang benar kecuali Dia menghidupkan kita. 

namun  Dialah yang memberi  hidup kepada jiwa kita, yang 

memberi  kehidupan kepada doa-doa kita. Namun banyak 

penafsir, baik dari kalangan Yahudi maupun Kristen, mene-

rapkan perkataan ini kepada Mesias, Anak Daud, Sang Pelin-

dung dan Juruselamat jemaat dan Pengurus kebun anggur.  

(1) Dialah orang yang di sebelah kanan Tuhan  , yang kepada-Nya 

Tuhan   telah bersumpah demi tangan kanan-Nya (demikian 

menurut Alkitab bahasa Aram). Dialah yang telah ditinggi-

kan Tuhan   di sebelah kanan-Nya, dan yang benar-benar me-

rupakan tangan kanan-Nya, lengan Tuhan, sebab segala 

kuasa diberikan kepada-Nya.  

(2) Dialah Anak Manusia yang telah Tuhan   teguhkan bagi diri-

Nya, untuk memuliakan nama-Nya dan memajukan kepen-

tingan-kepentingan kerajaan-Nya di tengah-tengah manu-

sia.  

(3) Tangan Tuhan   melindungi-Nya dalam seluruh pekerjaan-

Nya, untuk menopang dan menuntun-Nya, untuk melin-

dungi dan menghidupkan-Nya, sehingga kehendak baik 

TUHAN akan terlaksana oleh-Nya. 

(4) Kekokohan dan keteguhan orang-orang percaya yaitu  se-

penuhnya  sebab  anugerah dan kekuatan yang disediakan 

bagi kita di dalam Yesus Kristus (68:28). Di dalam Dialah 

kekuatan kita didapati, yang melalui kekuatan itu kita di-

mampukan untuk bertekun sampai pada akhirnya. Kiranya 

tangan-Mu melindungi-Nya. Kiranya kita mengandalkan 

pertolongan kita dari Dia yang mahakuasa. Kiranya Ia 

sanggup menyelamatkan kita sampai pada akhirnya, dan 

itu akan menjadi keamanan bagi kita. Maka kami tidak 

akan menyimpang dari pada-Mu. 


 1172

Yang terakhir, mazmur ini ditutup dengan permohonan yang sama 

yang sudah disampaikan sebanyak dua kali sebelumnya, namun ini 

bukanlah pengulangan yang sia-sia (ay. 20): Pulihkanlah kami. Ada 

gelar yang diberikan di sini kepada Tuhan   yang bangkit: ya Tuhan  ! (ay. 

4), ya Tuhan   semesta alam! (ay. 8), ya TUHAN (Yehova), Tuhan   semesta 

alam (ay. 20). jika  kita datang kepada Tuhan   untuk meminta anu-

gerah-Nya, memohon kehendak baik-Nya terhadap kita dan pekerja-

an baik-Nya di dalam diri kita, maka haruslah kita berdoa dengan 

sungguh-sungguh, terus berdoa dengan tekun, dan berdoa dengan 

lebih sungguh-sungguh lagi.  

 

 

 

 

PASAL 8 1  

ipercayai bahwa mazmur ini ditulis bukan  sebab  adanya tin-

dakan pemeliharaan ilahi tertentu, melainkan  sebab  kekhid-

matan suatu ketetapan. Mungkin itu ketetapan mengenai bulan baru 

secara umum, atau tentang pesta sangkakala pada bulan baru dari 

bulan ketujuh (Im. 23:24; Bil. 29:1). saat  Daud, oleh tuntunan Roh, 

memperkenalkan acara melantunkan mazmur dalam ibadah di Bait 

Suci, mazmur ini dimaksudkan khusus bagi hari itu, untuk menggai-

rahkan dan mendukung ibadah penyembahan. Semua mazmur me-

mang dapat bermanfaat, namun  jika ada salah satu mazmur yang lebih 

sesuai bagi hari tertentu dan ibadahnya, kita harus memilihnya. Dua 

tujuan utama dari perhimpunan ibadah yang harus kita perhatikan 

dengan saksama disebutkan dalam mazmur ini, yaitu untuk membe-

rikan kemuliaan kepada Tuhan   dan untuk menerima pengajaran dari 

Tuhan  . Untuk “menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-

Nya.” Dengan demikian, dengan mazmur ini, kita terbantu dalam 

menjalani hari-hari raya ibadah kita dengan sungguh-sungguh, 

I.   Dalam memuji Tuhan   atas keberadaan-Nya bagi umat-Nya (ay. 

2-4), dan atas apa yang telah dilakukan-Nya bagi mereka (ay. 

5-8). 

II. Dalam mengajar dan mengingatkan satu sama lain menyang-

kut kewajiban kita terhadap Tuhan   (ay. 9-11), bahaya membe-

rontak dari-Nya (ay. 12-13), dan kebahagiaan yang akan kita 

raih jika  kita mau tetap dekat dengan-Nya (ay. 14-17).  

Semua hal ini, walaupun terutama berbicara tentang umat Israel 

pada zaman dahulu, juga ditulis untuk pembelajaran kita dan oleh 

 sebab  itu patut dinyanyikan dan diterapkan.  


 1174

Ajakan untuk Memuji 

(81:1-8) 

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Dari Asaf. 2 Bersorak-sorailah 

bagi Tuhan  , kekuatan kita, bersorak-soraklah bagi Tuhan   Yakub. 3 Angkatlah 

lagu, bunyikanlah rebana, kecapi yang merdu, diiringi gambus. 4 Tiuplah 

sangkakala pada bulan baru, pada bulan purnama, pada hari raya kita. 5 

Sebab hal itu yaitu  suatu ketetapan bagi Israel, suatu hukum dari Tuhan   

Yakub. 6 Sebagai suatu peringatan bagi Yusuf ditetapkan-Nya hal itu, pada 

waktu Ia maju melawan tanah Mesir. Aku mendengar bahasa yang tidak 

kukenal: 7 “Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah 

bebas dari keranjang pikulan; 8 dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku 

meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur, 

Aku telah menguji engkau dekat air Meriba. S e l a 

saat  umat Tuhan   berhimpun bersama pada pertemuan raya, hari 

raya TUHAN, mereka harus diberitahu bahwa ada tugas yang harus 

mereka lakukan, sebab orang tidak pergi beribadah untuk tidur atau 

bermalas-malasan. Tidak, ada tugas yang harus dikerjakan setiap hari, 

pekerjaan pada hari itu yang harus dilaksanakan.  

Di sini:   

I.   Para penyembah Tuhan   sangat bersemangat dalam tugas mereka, 

dan melalui nyanyian mazmur ini mereka diajar untuk membang-

kitkan semangat diri sendiri dan juga orang lain (ay. 2-4). Tugas 

kita yaitu  untuk memberi  kemuliaan kepada Tuhan    sebab  

nama-Nya, dan dalam semua perhimpunan ibadah, kita harus 

menjadikan hal ini tugas kita. 

1. Dalam melakukan tugas ini kita harus memandang Tuhan   se-

bagai kekuatan kita, dan sebagai Tuhan   Yakub (ay. 2). Dia ada-

lah kekuatan Israel sebagai bangsa, sebab Dia yaitu  Tuhan   

yang mengikat kovenan dengan mereka, yang akan melindu-

ngi, mendukung, dan melepaskan mereka dengan penuh kua-

sa, yang berperang bagi mereka dan membuat mereka mampu 

berperang dengan perkasa dan meraih kemenangan. Dia ada-

lah kekuatan setiap orang Israel. Oleh anugerah-Nya kita di-

mampukan untuk menjalani seluruh pelayanan, penderitaan, 

dan pertentangan yang kita hadapi. Kepada Dia sajalah, yang 

merupakan kekuatan kita, kita harus berdoa dan menyanyi-

kan pujian, sebagai Tuhan   keturunan Yakub yang sedang ber-

gumul. Dengan Yakub kita memiliki persekutuan rohani.  

2.  Saat menaikkan puji-pujian, kita harus melakukannya dengan 

segenap ungkapan sukacita dan kemenangan yang kudus. Pada 

Kitab Mazmur 81:1-8 

 1175 

masa dulu, hal ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat 

musik seperti rebana, kecapi, dan gambus. Dan dengan meni-

up sangkakala, beberapa dari antara mereka teringat akan bu-

nyi sangkakala yang dulu pernah ditiup di gunung Sinai yang 

berkumandang makin lama makin nyaring. Demikianlah keti-

ka itu dan juga sekarang, puji-pujian dilakukan dengan me-

nyanyikan mazmur, bernyanyi dengan bersorak-sorai dan ber-

sorak-sorak. Bunyi merdu kecapi yang menyenangkan dan 

dahsyatnya bunyi sangkakala menyiratkan kepada kita bahwa 

Tuhan   harus disembah dengan ceria dan sukacita, dengan rasa 

hormat dan takut pada Tuhan  . Bernyanyi dan bersorak-sorai 

dengan nyaring menyiratkan bahwa kita harus bersikap ha-

ngat dan penuh kasih sayang dalam memuji Tuhan  , bahwa kita 

harus mengungkapkan pujian kepada-Nya dengan sepenuh 

kehendak hati. Kita harus bersikap sebagai orang-orang yang 

tidak malu mengakui kebergantungan kita pada-Nya dan ke-

wajiban kita terhadap Dia, dan bahwa kita harus mengajak 

bergabung banyak orang lain dalam kegiatan ini. Makin banyak 

makin baik, sehingga suasana akan lebih menyerupai suasana 

di sorga.  

3. Kegiatan ini harus dilakukan pada waktu yang telah ditetap-

kan. Tidak ada waktu yang terlewat untuk memuji Tuhan   (Tujuh 

kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, bahkan tengah ma-

lam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu). Namun, ada be-

berapa waktu yang memang ditentukan, bukan supaya Tuhan   

dapat menemui kita ( sebab  Dia senantiasa siap untuk dite-

mui), melainkan supaya kita dapat saling berjumpa satu sama 

lain, supaya kita bisa bersama-sama memuji Dia. Hari raya 

yang khidmat itu haruslah menjadi hari penuh puji-pujian. 

saat  kita menerima berbagai karunia dari kelimpahan Tuhan   

dan bersukacita di dalamnya, sudah sepatutnya kita menya-

nyikan pujian bagi-Nya. 

II.  Di sini mereka diberi petunjuk mengenai cara melakukannya. 

1. Mereka harus memandang penetapan ilahi yang patut dicer-

mati. Dalam semua penyembahan ibadah, kita harus memper-

hatikan perintah yang diberikan (ay. 5): Sebab hal itu yaitu  

suatu ketetapan bagi Israel, untuk menjaga ibadah mereka. 

Hal itu yaitu  suatu hukum dari Tuhan   Yakub, yang mengikat 


 1176

semua keturunan Yakub dan mereka harus tunduk kepada-

nya. Perhatikanlah, memuj


Related Posts:

  • mazmur 51-100 13  berbuat begitu banyak bagi mereka, namun tetap saja mereka mencobai dan memberontak terhadap Tuhan   Yang Mahatinggi. Ia memberi  ke-saksian-kesaksian-Nya kepada mereka, namun  mereka tida… Read More