i Tuhan bukan saja sesuatu yang
baik untuk kita lakukan, namun juga kewajiban yang sangat di-
perlukan dan wajib kita kerjakan. Sungguh berbahaya jika
kita melalaikannya. Dalam semua kegiatan peribadatan, kita
harus memperhatikan penetapan itu sebagai kewajiban dan
peraturan kita: “Ini aku lakukan sebab Tuhan telah memerin-
tahkannya kepadaku, dan sebab itu aku berharap Ia akan
menerima aku.” Dengan demikian kegiatan itu dilakukan de-
ngan iman.
2. Mereka harus mengenang kembali tindakan-tindakan pemeli-
haraan ilahi yang diperingati dalam mazmur ini. Ibadah khid-
mat ini telah diadakan sebagai suatu peringatan (ay. 6), suatu
bukti sesuai adat kebiasaan yang tetap, untuk menegaskan
kebenaran hal-hal yang nyata terjadi. Ini yaitu suatu kesak-
sian bagi bangsa Israel, supaya mereka mengetahui dan meng-
ingat apa yang telah diperbuat Tuhan bagi nenek moyang mere-
ka. Sekaligus juga, ini menjadi kesaksian yang melawan mereka
seandainya mereka melalaikan dan melupakannya.
(1) Atas nama umat, sang pemazmur mengingatkan diri sendi-
ri perihal tindakan Tuhan atas nama Israel, yang tetap diingat
melalui kekhidmatan ini dan juga yang lainnya (ay. 6).
Waktu Tuhan maju melawan tanah Mesir untuk menghan-
curkannya, supaya Ia dapat memaksa Firaun untuk mele-
paskan bangsa Israel, pada saat itu Ia menetapkan hari-
hari raya yang harus dicermati melalui peraturan yang
harus senantiasa diikuti semua angkatan sebagai peringat-
an, terutama Hari Raya Paskah, yang mungkin dimaksud-
kan dengan hari raya di dalam mazmur ini (ay. 4). Hari itu
ditetapkan tepat saat Tuhan menjalani seluruh tanah Me-
sir untuk membinasakan semua anak sulung dan melewat-
kan rumah-rumah orang Israel (Kel. 12:23-24). Melalui ke-
tetapan ini, perbuatan ajaib itu akan terus diingat, supaya
segala generasi dapat melihat kebaikan dan juga kedah-
syatan Tuhan . Sang pemazmur yang berbicara atas nama
umat-Nya, mencatat keadaan menyakitkan perbudakan di
Mesir, bahwa di sana mereka mendengar bahasa yang tidak
mereka pahami. Di sana mereka merupakan orang asing di
negeri asing. Orang Mesir dan orang Ibrani saling tidak me-
Kitab Mazmur 81:1-8
1177
mahami bahasa masing-masing, sebab Yusuf berbicara ke-
pada saudara-saudaranya dengan bantuan seorang pener-
jemah (Kej. 42:23), sedangkan bagi keturunan Yakub, orang
Mesir disebut bangsa yang asing bahasanya (114:1). Supa-
ya pembebasan itu terasa lebih mulia dan lebih agung,
sungguh baik untuk mengamati segala hal menyedihkan
dari masalah yang darinya kita dibebaskan itu.
(2) Atas nama Tuhan , sang pemazmur mengingatkan umat Isra-
el akan beberapa kejadian khusus dalam pembebasan me-
reka. Di sini ia mengganti tokohnya (ay. 7). Tuhan berbicara
melalui dirinya dengan berkata, “Aku telah mengangkat be-
ban dari bahunya.” Biarlah dia mengingat hal ini pada hari
raya itu,
[1] Bahwa Tuhan telah membawa mereka keluar dari rumah
perbudakan, mengangkat dari bahu mereka beban pe-
nindasan yang nyaris membenamkan mereka. Tangan
mereka telah bebas dari keranjang pikulan, atau bakul
besar, yang mereka pakai mengangkut tanah liat atau
batu bata. Pembebasan dari perbudakan merupakan rah-
mat yang sangat besar dan patut diingat selamanya. Te-
tapi ini belumlah semuanya.
[2] Tuhan telah membebaskan mereka di Laut Merah. saat
itu mereka berseru di tengah kesukaran, dan Ia menye-
lamatkan mereka dan mengacaukan rancangan musuh
terhadap mereka (Kel. 14:10). Kemudian Ia menjawab
seruan mereka dengan jawaban nyata, yang keluar dari
dalam persembunyian guntur. Yakni, dari dalam tiang
api yang digunakan Tuhan untuk melihat dan mengacau-
kan orang Mesir (Kel. 14:24-25). Atau, ini juga bisa me-
rujuk pada pemberian kesepuluh hukum di gunung Si-
nai, tempat tersembunyi, mengingat bahwa orang yang
melihatnya akan binasa (Kel. 19:21), dan di dalam gun-
turlah Tuhan saat itu berbicara. Bahkan kedahsyatan
Sinai pun menjadi anugerah bagi Israel (Ul. 4:33).
[3] Tuhan masih dapat menanggung perilaku mereka selama
di padang gurun: “Aku telah menguji engkau dekat air
Meriba. Di sana engkau telah memperlihatkan watak-
mu, betapa tidak percaya dan suka menggerutunya eng-
kau dulu. Meskipun begitu, Aku tetap bermurah hati
1178
kepadamu.” Sela – Camkan itu. Bandingkan kebaikan
Tuhan dengan kejahatan manusia, dan keduanya akan
saling bertolak belakang. Sekarang, jika mereka pada
hari-hari raya yang khidmat itu diingatkan akan pembe-
basan mereka dari Mesir, terlebih lagi kita pada hari Sa-
bat kristiani, sudah sepatutnya ingat akan penebusan
yang lebih agung, yang dikerjakan oleh Yesus Kristus,
dari perbudakan yang lebih buruk dibandingkan perbudakan
Mesir. Juga, selayaknya kita ingat akan banyak jawab-
an-jawaban penuh rahmat yang telah diberikan-Nya ke-
pada kita, sekalipun kita telah begitu sering memancing
amarah-Nya.
Peringatan kepada Israel
(81:9-17)
9 Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai
Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku! 10 Janganlah ada di antaramu
Tuhan lain, dan janganlah engkau menyembah kepada Tuhan asing. 11 Akulah
TUHAN, Tuhan mu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah
mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. 12 namun umat-Ku
tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku. 13 Sebab itu
Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan me-
ngikuti rencananya sendiri! 14 Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Seki-
ranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! 15 Sesaat itu juga mu-
suh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan
tangan-Ku. 16 Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat ke-
pada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. 17 namun umat-
Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung
batu Aku akan mengenyangkannya.”
Di sini, Tuhan , melalui sang pemazmur, berbicara kepada Israel, dan
melalui mereka ini, berbicara kepada kita yang akan mengalami akhir
zaman.
I. Tuhan menyuruh mereka menyimak dengan cermat apa yang hen-
dak dikatakan-Nya (ay. 9): “Dengarlah hai umat-Ku! Siapa lagi
yang akan mendengarkan Aku jika umat-Ku tidak mau men-
dengarkan? Aku telah mendengar dan menjawab seruanmu. Se-
karang, maukah engkau mendengarkan Aku? Dengarlah apa yang
dikatakan ini dengan segala kesungguhan dan kepastian yang ti-
dak perlu diragukan lagi, sebab Aku hendak memberi peringatan
kepadamu. Jangan hanya mendengarkan Aku sepintas lalu saja,
Kitab Mazmur 81:9-17
1179
namun dengarkan Aku. Artinya, bersedialah dinasihati dan diatur
oleh-Ku.” Tidak ada yang lebih masuk akal atau yang lebih pantas
diharapkan dibandingkan hal ini. namun meskipun demikian, Tuhan me-
nambahkan kata jika: “Jika engkau mau mendengarkan Aku. Su-
dah menjadi kepentinganmu untuk melakukan hal itu, namun ma-
sih menjadi pertanyaan apakah engkau mau melakukannya atau
tidak, sebab tengkukmu tegar bagaikan otot besi.”
II. Ia mengingatkan mereka akan kewajiban mereka terhadap diri-
Nya sebagai Tuhan, Tuhan dan Penebus mereka (ay. 11): Akulah
TUHAN, Tuhan mu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.
Ini merupakan kata-kata pendahuluan bagi kesepuluh perintah itu,
dan alasan yang kuat untuk memelihara perintah-perintah itu.
Kata-kata pendahuluan ini menunjukkan bahwa kita terikat ke-
padanya dalam kewajiban, kepentingan, serta rasa syukur, dan
semua ikatan ini akan putus jika kita tidak taat.
III. Sang pemazmur memberi mereka ringkasan tentang aturan-atur-
an maupun janji-janji yang telah diberikan Tuhan kepada mereka,
sebagai Tuhan dan Tuhan mereka, saat mereka dibawa keluar
dari Mesir.
1. Perintah yang utama mengatakan bahwa mereka tidak boleh
menyembah Tuhan lain selain Dia (ay. 10): Janganlah ada di an-
taramu Tuhan lain, selain Tuhan mu sendiri. Tuhan -Tuhan lain bisa
disebut Tuhan -Tuhan asing atau janggal, sebab sangatlah janggal
jika ada umat yang memiliki Tuhan yang hidup dan benar
sebagai Tuhan mereka menginginkan Tuhan lain. Tuhan cemburu
dalam hal ini, sebab Ia tidak mau membiarkan kemuliaan-Nya
diberikan kepada Tuhan lain. Oleh sebab itu, mereka harus sa-
ngat berhati-hati dalam hal ini (Kel. 23:13).
2. Janji terbesar yaitu bahwa Tuhan sendiri sebagai Tuhan yang
mampu mencukupi segala sesuatu akan dekat dengan mereka
dalam segala sesuatu yang mereka minta dari-Nya (Ul. 4:7).
Jika mereka mau bertaut kepada Dia sebagai pelindung dan
pemimpin mereka yang penuh kuasa, mereka akan selalu
mendapati-Nya sebagai dermawan bagi mereka: “Bukalah mu-
lutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh, seperti
burung rajawali muda yang membuka paruh lebar-lebar untuk
diisi makanan oleh induknya.”
Lihatlah di sini,
(1) Apa yang menjadi tugas kita: yaitu untuk meningkatkan
pengharapan kita kepada Tuhan dan juga kerinduan kita
terhadap-Nya. Kita tidak dapat mengharapkan terlampau
sedikit dari makhluk ciptaan ataupun terlampau banyak
dari Sang Pencipta. Di dalam Dia, kita tidak berkekurang-
an. Oleh sebab itu, mengapa kita harus berkekurangan di
dalam diri kita sendiri?
(2) Apa yang menjadi janji Tuhan . Aku akan memuaskanmu de-
ngan kebaikan (103:5). ada cukup banyak harta di da-
lam Tuhan untuk membuat penuh perbendaharaan kita (Ams.
8:21), untuk memuaskan jiwa yang dahaga (Yer. 31:25),
untuk mencukupi semua keperluan kita, menjawab semua
kerinduan kita, dan untuk membuat kita bahagia seutuh-
nya. Kenikmatan indra akan membosankan dan tidak per-
nah memuaskan (Yes. 55:2). Kenikmatan ilahi akan memu-
askan dan tidak pernah membosankan. Kita bisa menerima
cukup dari Tuhan jika kita mendoakannya dengan iman.
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu. Ia memberi
kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak
membangkit-bangkit. Tuhan meyakinkan Israel, umat-Nya,
bahwa yaitu salah mereka sendiri jika Ia tidak mela-
kukan hal-hal besar dan baik bagi mereka seperti yang per-
nah diperbuat-Nya bagi nenek moyang mereka. Tidak ada
yang dapat dianggap terlampau baik atau terlampau besar
untuk diberikan kepada mereka, selama mereka tetap ber-
ada di dekat Tuhan . Dia tentu menambah lagi ini dan itu
(2Sam. 12:8).
IV. Ia mendakwa mereka bahwa mereka telah memandang rendah
wibawa-Nya sebagai pemberi hukum, dan menghina Dia sebagai
dermawan bagi mereka yang telah memberi kasih karunia serta
anugerah-Nya (ay. 12) kepada mereka. Ia telah berbuat banyak
bagi mereka dan berencana untuk berbuat lebih banyak lagi, teta-
pi semua ini percuma saja: “Umat-Ku tidak mendengarkan suara-
Ku, melainkan menutup telinga terhadap segala sesuatu yang Ku-
katakan.” Ada dua hal yang dikeluhkan oleh-Nya:
1. Ketidaktaatan mereka terhadap perintah-perintah-Nya. Mereka
memang mendengar suara-Nya, yang tidak pernah dilakukan
bangsa lain mana pun, namun mereka tidak mau menaatinya
dan tidak mau diatur olehnya, baik oleh hukum maupun alas-
an mengapa hukum itu diberikan.
2. Ketidaksukaan mereka terhadap relasi-kovenan antara mereka
dan Tuhan : Mereka tidak suka kepada-Ku. Mereka tidak setuju
dengan perkataan-Ku (menurut bahasa Aram). Tuhan bersedia
menjadi Tuhan bagi mereka, namun mereka tidak bersedia
menjadi umat bagi Dia. Mereka tidak menyukai persyaratan-
persyaratan yang diajukan-Nya. “Aku hendak mengumpulkan
mereka, namun mereka tidak mau.” Orang Israel tidak suka ke-
pada-Nya. Mengapa? Bukan sebab mereka tidak boleh berelasi
dengan Tuhan , justru mereka telah diajak mengikat kovenan de-
ngan Tuhan . Bukan juga sebab mereka tidak dapat berelasi de-
ngan-Nya, justru perkataan-Nya dekat dengan mereka, bahkan
di dalam mulut dan hati mereka. Hal ini semata-mata sebab
mereka memang tidak mau. Tuhan menyebut mereka umat-
Nya, sebab mereka telah ditebus oleh-Nya, terikat erat dengan-
Nya, namun meskipun demikian, mereka tidak mau mende-
ngarkan dan menaati Dia. “Israel, keturunan Yakub sahabat-
Ku, menyia-nyiakan Aku, dan tidak suka kepada-Ku.” Perhati-
kanlah, seluruh kejahatan dunia yang jahat ini disebabkan
oleh kedegilan keinginan jahat. Alasan mengapa orang tidak
hidup saleh yaitu sebab mereka memang tidak menghen-
dakinya.
V. Ia memberi alasan mengapa Ia benar dalam menjatuhkan hu-
kuman rohani ke atas mereka (ay. 13): Sebab itu Aku membiarkan
dia dalam kedegilan hatinya. Kedegilan hati yaitu musuh yang
lebih berbahaya dan penindas yang lebih jahat dibandingkan bangsa-
bangsa tetangga. Tuhan menarik Roh-Nya dari mereka, melepas ke-
kang anugerah yang bisa menahan hati mereka, dan membiarkan
mereka sendiri, yang memang sudah sepatutnya. Mereka akan
berbuat sesuka hati, dan oleh sebab itu Ia membiarkan mereka
mengikuti keinginan sendiri. Efraim bersekutu dengan berhala-ber-
hala, biarkanlah dia! Merupakan hal yang benar jika Tuhan
menyerahkan orang-orang kepada hawa nafsu yang mereka turut-
kan dan membiarkan mereka dituntun olehnya. Sebab untuk apa
Roh-Nya harus senantiasa berusaha keras menarik mereka?
Anugerah-Nya yaitu kepunyaan-Nya sendiri, dan Ia tidak ber-
utang kepada siapa pun. Namun, sebab Ia tidak pernah membe-
rikan anugerah-Nya kepada siapa pun yang mengatakan bahwa
mereka layak menerimanya, demikian pula Ia juga tidak pernah
mengambil anugerah-Nya dari siapa pun selain bila orang itu yang
pertama menyangkali anugerah itu sendiri: Mereka tidak suka ke-
pada-Ku. Sebab itu Aku membiarkan mereka, biarlah mereka me-
ngikuti jalan mereka sendiri. Lihatlah apa yang kemudian terjadi:
Mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri, sesuai dengan ke-
inginan hati dan mata mereka, baik dalam penyembahan maupun
dalam perilaku mereka. “Aku membiarkan mereka berbuat sesuka
hati, dan mereka berbuat segala sesuatu yang jahat.” Mereka ber-
jalan mengikuti rencana sendiri dan bukan menurut rencana ser-
ta petunjuk Tuhan . Oleh sebab itu Tuhan bukanlah perancang dosa
mereka. Ia membiarkan mereka mengikuti hawa nafsu hati mere-
ka dan rencana pikiran mereka sendiri. Jika mereka tidak berbuat
baik, kesalahan itu harus ditimpakan pada hati mereka dan da-
rah ditanggungkan ke atas kepala mereka sendiri.
VI. Ia menyatakan kehendak baik-Nya bagi mereka dan berharap me-
reka melakukan yang baik bagi diri mereka sendiri. Ia melihat be-
tapa parahnya masalah mereka, dan betapa pastinya kehancuran
mereka saat mereka diserahkan kepada hawa nafsu mereka
sendiri. Ini lebih buruk dibandingkan diserahkan kepada Iblis, suatu
hal yang mungkin diperlukan demi terjadinya pembaruan (1Tim.
1:20) dan keselamatan (1Kor. 5:5). Namun, diserahkan kepada ha-
wa nafsu hati mereka sama saja dengan dimeteraikan di bawah
penghukuman. Barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar.
Alangkah curamnya tebing yang sedang dituju oleh orang seperti
ini! Sekarang, di sini Tuhan memandang mereka dengan iba. Ia me-
nunjukkan bahwa dengan rasa engganlah Ia telah menyerahkan
mereka kepada kebodohan dan nasib seperti itu. Masakan Aku
membiarkan engkau, hai Efraim? (Hos. 11:8-9). Begitu pula di sini,
O, sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! (Yes. 48:18). Begitu ju-
galah Kristus meratapi kedegilan Yerusalem. Betapa baiknya jika
engkau mengerti (Luk. 19:42). Ungkapan isi hati yang dinyatakan
di sini sangatlah menyentuh (ay. 14-17) dan dirancang untuk me-
nunjukkan betapa Tuhan tidak menghendaki ada seorang pun yang
binasa dan betapa inginnya Dia agar semua orang datang dan ber-
tobat (Ia tidak menyukai kebinasaan orang-orang atau bangsa-
bangsa yang hidup dalam dosa). Selain itu, juga untuk menunjuk-
kan betapa orang berdosa telah menjadi musuh bagi dirinya sen-
diri, dan betapa menyakitkannya penderitaan yang bakal mereka
alami sebab tidak mau menjalani persyaratan yang ringan seper-
ti itu dengan senang hati.
Lihatlah di sini:
1. Rahmat besar yang disediakan Tuhan bagi umat-Nya yang pasti
akan dikerjakan-Nya bagi mereka seandainya saja mereka taat.
(1) Ia pasti akan memberi mereka kemenangan atas musuh-
musuh mereka dan segera menuntaskan kebinasaan la-
wan-lawan mereka itu. Mereka bukan saja akan dapat
mempertahankan tanah mereka, namun juga menang atas
orang-orang Kanaan yang tersisa beserta bangsa-bangsa te-
tangga mereka yang menjengkelkan dan suka mengganggu
itu (ay. 15): Sesaat itu juga musuh mereka Aku tundukkan.
Hanya Tuhan sajalah yang harus diandalkan untuk menun-
dukkan musuh-musuh kita. Kita tidak perlu lagi melawan
mereka dalam pertempuran yang melelahkan dan membo-
sankan. Ia akan melakukannya sesaat itu juga, sebab ter-
hadap para lawan mereka Ia balikkan tangan-Nya, dan me-
reka tidak akan mampu berdiri di hadapan-Nya. Hal ini
menyiratkan betapa mudahnya Ia bisa melakukan hal itu
tanpa kesulitan sedikit pun. Hanya dengan membalikkan
tangan, bahkan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh
orang fasik (Yes. 11:4). Jika Ia membalikkan tangan saja,
orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat
kepada-Nya (ay. 16). Meskipun mereka tidak berhasil dige-
rakkan untuk mengasihi Dia, mereka akan dibuat takut ke-
pada-Nya serta mengakui bahwa Dia terlampau kuat bagi
mereka, dan bahwa sia-sia saja untuk menentang Dia.
Tuhan dihormati, demikian juga Israel umat-Nya, melalui pe-
nundukan orang-orang yang pernah memberontak mela-
wan mereka, walaupun penundukan itu hanya bersifat ter-
paksa dan pura-pura belaka.
(2) Ia pasti telah meneguhkan dan mengabadikan keturunan
mereka, dan menegakkannya di atas dasar yang kuat dan
kekal, seandainya mereka taat kepada-Nya. Terlepas dari
semua upaya musuh untuk melawan mereka, itulah nasib
mereka untuk selama-lamanya, dan seharusnya mereka ti-
dak pernah terkendala dalam menduduki tanah subur yang
telah diberikan Tuhan kepada mereka, apalagi diusir dan har-
ta benda mereka dirampas.
(3) Ia pasti akan memberi mereka banyak perkara yang baik
(ay. 17) seandainya mereka taat kepada-Nya: Umat-Nya
akan Ia beri makan gandum yang terbaik, dengan bulir-
bulir dan jenis yang terbaik. Gandum merupakan bahan
pokok dagangan di Kanaan dan mereka mengekspor seba-
gian besar dari hasil bumi ini (Yeh. 27:17). Ia bukan saja
akan menyediakan bagi mereka roti dengan mutu paling
baik, namun juga Ia akan mengenyangkan mereka dengan
madu dari gunung batu. Selain itu, Ia juga akan memberi-
kan hasil bumi yang bernilai tinggi dari tanah yang subur,
sehingga tidak ada sejengkal pun tanah yang tandus di se-
luruh negeri, bahkan celah-celah batu pun menjadi sarang
lebah dan dari dalamnya mereka akan mendapatkan madu
berlimpah (Ul. 32:13-14). Singkat kata, Tuhan berencana
untuk menjadikan jalan mereka mudah dan menyenang-
kan.
2. Kewajiban yang dituntut Tuhan dari mereka sebagai persyarat-
an untuk menerima semua rahmat ini. Yang diharapkan-Nya
dari mereka tidak lebih dibandingkan mendengarkan suara-Nya, se-
perti murid yang mendengarkan perkataan gurunya untuk
menerima pengajarannya. Atau, seperti seorang pelayan men-
dengarkan majikannya untuk menerima perintah-perintahnya.
Juga supaya mereka hidup menurut jalan yang Ia tunjukkan,
jalan-jalan Tuhan yang benar dan menyenangkan. Lagi, supa-
ya mereka memperhatikan dengan sungguh peraturan-pera-
turan yang telah ditetapkan-Nya dan mencermati isyarat tidak
langsung dari tindakan pemeliharaan-Nya. Tidak ada yang ti-
dak masuk akal dalam hal ini.
3. Lihatlah bagaimana alasannya Ia menahan rahmat-Nya ini,
yaitu sebab kelalaian mereka dalam menjalankan kewajiban:
“Seandainya saja mereka telah mendengarkan Aku, sesaat itu
juga musuh mereka Aku tundukkan.” Dosa atau ketidaktaatan
bangsa merupakan satu-satunya hal besar yang menghambat
dan merintangi pembebasan bangsa itu. “jika Aku menyem-
buhkan Israel, dan memulihkan segala sesuatu di antara me-
reka, maka tersingkaplah kesalahan Efraim, sehingga terhen-
tilah penyembuhan itu” (Hos. 7:1). Kita cenderung berkata,
“Jika cara seperti itu telah dilaksanakan, dan sarana seperti
itu digunakan, sesaat itu juga kita akan bisa menundukkan
musuh-musuh kita.” namun ini keliru. Jika kita mendengarkan
Tuhan dan tetap melaksanakan kewajiban kita, hal itu akan ter-
laksana. namun dosalah yang membuat masalah kita berke-
panjangan dan keselamatan datang berlambat-lambat. Inilah
yang dikeluhkan oleh Tuhan sendiri, dan Ia rindu agar hal seba-
liknyalah yang terjadi. Perhatikanlah, sebab itu Tuhan meng-
hendaki kita melaksanakan kewajiban kita terhadap-Nya, su-
paya kita memenuhi syarat untuk menerima anugerah-Nya. Ia
senang jika kita melayani Dia, bukan demi kebaikan-Nya,
melainkan demi kebaikan kita.
PASAL 82
azmur ini dimaksudkan bagi lingkungan istana raja dan penga-
dilan, bukan saja di Israel, namun juga di antara bangsa-bangsa
lain. Akan namun , mazmur ini mungkin juga terutama ditulis bagi para
hakim Israel, Mahkamah Agama Yahudi, beserta para tua-tua yang
memegang kekuasaan, dan boleh jadi di bawah bimbingan Daud.
Mazmur ini dirancang untuk membuat bijaksana para raja dan “untuk
memberi pengajaran kepada para hakim dunia” (seperti di dalam Maz-
mur 2 dan 10), untuk memberitahukan mereka akan kewajiban mere-
ka (2Sam. 23:3), serta untuk menunjukkan kesalahan mereka (58:2).
Di sini diceritakan tentang,
I. Martabat pengadilan dan ketergantungannya pada Tuhan (ay. 1).
II. Tugas para hakim (ay. 3-4).
III. Kemerosotan akhlak para hakim yang jahat dan kejahatan
yang mereka lakukan (ay. 2, 5).
IV. Kebinasaan mereka dibacakan (ay. 6-7).
V. Kerinduan dan doa semua orang baik, supaya kerajaan Tuhan
semakin ditegakkan (ay. 8).
Meskipun para hakim sangat pantas menerapkan mazmur ini ke-
pada diri mereka sendiri, masing-masing kita dapat juga menyanyi-
kannya dengan penuh pengertian saat memberi kemuliaan bagi
Tuhan . Sama seperti para hakim mengadili perkara masyarakat umum,
memberi perlindungan bagi yang tidak bersalah, dan siap meng-
hukum ketidakadilan yang merajalela, kita juga boleh menghibur diri
dengan percaya bahwa Dia memerintah di masa sekarang dan de-
ngan yakin berharap bahwa Dia akan menghakimi di masa menda-
tang.
Tugas Para Hakim
(82:1-5)
1 Mazmur Asaf. Tuhan berdiri dalam sidang ilahi, di antara para Tuhan Ia meng-
hakimi: 2 “Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak
kepada orang fasik? S e l a 3 Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan
kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan!
4 Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari
tangan orang fasik!” 5 Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam
kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi.
Di sini kita temukan:
I. Kepemimpinan dan kuasa mutlak Tuhan dalam semua dewan-
dewan dan pengadilan yang diteguhkan dan ditetapkan, dan ke-
nyataan ini patut dipercaya kebenarannya baik oleh para raja mau-
pun warganya (ay. 1): Tuhan berdiri, sebagai pemimpin utama, dalam
sidang ilahi, sidang Tuhan yang Mahakuasa, in coetu fortis – dalam
dewan raja, sebagai hakim agung, dan Ia menghakimi di antara
Tuhan -Tuhan , yakni para hakim bawahan. Baik kuasa raja-raja yang
berwenang membuat undang-undang maupun yang menjalankan
pemerintahan, berada di bawah pengawasan dan penanganan-Nya.
Lihatlah di sini:
1. Kuasa dan kehormatan para hakim yang besar. Mereka itu
yang berkuasa. Mereka berkuasa dan punya kewenangan, de-
mi kebaikan umum (sungguh besar kuasa yang dipercayakan
kepada mereka). sebab itu sudah sepantasnya mereka juga
besar dalam hikmat dan keteguhan hati. Di dalam dialek Ibra-
ni, mereka disebut Tuhan . Istilah yang sama juga digunakan
untuk menyebut pemimpin wilayah atau gubernur di dunia
bawah ini atau penguasa dunia yang berdaulat. Mereka yaitu
elohim. Para malaikat disebut elohim juga, baik sebab kuasa
dan kedahsyatan mereka, maupun sebab Tuhan berkenan meng-
gunakan pelayanan mereka dalam mengendalikan dunia ba-
wah ini. Dalam tingkat tanggung jawab yang lebih rendah, para
hakim juga merupakan pelayan yang menjalankan tindakan
pemeliharaan Tuhan secara umum, untuk memelihara ketertib-
an dan ketenteraman masyarakat, terutama untuk memelihara
keadilan dan kebaikan-Nya dalam menghukum pelaku keja-
hatan serta melindungi mereka yang berbuat baik. Hakim-ha-
kim baik yang menjalankan peradilan dengan baik, serupa de-
ngan Tuhan . Sebagian dari kehormatan-Nya diberikan kepada
mereka. Mereka yaitu wakil-Nya dan merupakan berkat besar
bagi setiap orang. Keputusan dari Tuhan ada di bibir raja (Ams.
16:10). Sebaliknya, sama seperti singa yang meraung atau be-
ruang yang menyerbu, demikianlah orang fasik yang memerin-
tah rakyat yang lemah (Ams. 28:15).
2. Bentuk dan undang-undang dasar pemerintahan yang baik,
yaitu bentuk kerajaan campuran seperti yang dikenal di Inggris.
Seperti ditemukan dalam perikop di atas, di sini ada Sang
Penguasa tertinggi, yang berdaulat, dan jemaat-Nya, dewan pri-
badi-Nya, parlemen-Nya, para hakim-Nya yang disebut para al-
lah.
3. Kedaulatan Tuhan yang tak tertandingi ditegakkan di dalam
dan atas semua jemaat Dia yang perkasa. Tuhan berdiri, di anta-
ra para Tuhan Ia menghakimi. Mereka menerima kuasa dari Dia
dan bertanggung jawab kepada-Nya. sebab Dia para raja me-
merintah. Ia hadir dalam semua perdebatan mereka serta me-
meriksa segala yang mereka katakan dan lakukan. Apa yang
keliru dikatakan dan dilakukan akan ditelaah kembali, dan
mereka harus bertanggung jawab jika mengelola dengan
keliru. Tuhan mengendalikan hati dan lidah mereka, dan Ia me-
nuntun mereka ke mana Ia ingini (Ams. 21:1). Dengan demiki-
an Ia dapat menyampaikan penolakan atas keputusan mereka,
dan rencana-rencana-Nya akan tetap teguh, apa pun tipu
muslihat yang ada di hati manusia. Ia memakai mereka sesuai
dengan yang dikehendaki-Nya untuk memenuhi tujuan dan
rancangan-Nya sendiri, walaupun mereka tidak menyadarinya
(Yes. 10:7). Biarlah para hakim mempertimbangkan hal ini dan
menjadi takjub oleh sebab nya. Tuhan menyertai mereka dalam
penghakiman (2Taw. 19:6; Ul. 1:17). Biarlah semua warga ne-
gara memikirkan hal ini dan terhibur olehnya. Sebab, raja-raja
serta hakim-hakim yang baik dan bertujuan baik berada di ba-
wah arahan ilahi. Sedangkan raja-raja dan hakim-hakim yang
jahat dan berniat jahat berada di bawah pengendalian ilahi.
II. Tuntutan kepada para hakim supaya menggunakan kekuasaan
mereka dengan baik, sebab mereka harus mempertanggungja-
wabkan perbuatan mereka kepada Dia yang telah mempercayakan
tugas itu kepada mereka (ay. 3-4).
1. Mereka harus menjadi pelindung bagi orang-orang yang rentan
terhadap penindasan dan pembela bagi mereka yang tidak
mendapatkan saran dan bantuan: Berilah keadilan kepada
orang yang lemah, yang tidak memiliki uang untuk beroleh te-
man atau membayar penasihat, dan kepada anak yatim, yang
selagi masih muda dan tidak mampu membela diri, telah kehi-
langan orang-orang yang seharusnya bisa menjadi pembim-
bing di masa muda mereka. Sama seperti para hakim harus
menjadi bapa bagi bangsa mereka secara umum, begitu pula
secara khusus mereka harus demikian bagi warga yang yatim.
Apakah para hakim disebut Tuhan ? Dalam hal ini mereka harus
mencontoh Dia. Mereka harus menjadi bapa bagi anak yatim.
Demikianlah halnya dengan Ayub (Ayb. 29:12).
2. Mereka harus melaksanakan keadilan tanpa memihak, dan
membela hak orang sengsara dan orang yang kekurangan,
yang sebab lemah dan tidak berdaya, sering kali diperlaku-
kan dengan semena-mena. Mereka ini terancam kehilangan
semuanya jika para hakim tidak ex officio – dengan kewe-
nangan penuh bertindak untuk membela mereka. Jika seorang
miskin menghadapi perkara dan ia sebenarnya tidak bersalah,
janganlah kemiskinannya itu merugikan perkaranya, sekeras
dan sekuat apa pun orang menentangnya.
3. Mereka harus menyelamatkan orang-orang yang sudah telan-
jur jatuh ke tangan para penindas, dan melepaskan mereka (ay.
4): Lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik! Belalah hak
mereka terhadap lawan mereka (Luk. 18:3). Mereka ini yaitu
pelanggan yang tidak bisa memberi keuntungan atau memba-
yar untuk jasa yang mereka terima. Tidak ada keuntungan
yang bisa ditarik dengan membantu mereka. Meskipun demi-
kian, orang-orang inilah yang harus diperhatikan, dihibur, dan
dibela perkaranya oleh para hakim.
III. Dakwaan yang dilancarkan terhadap para hakim yang jahat, yang
mengabaikan kewajiban mereka dan menyalahgunakan kekuasa-
an mereka, yang lupa bahwa Tuhan berdiri di antara mereka (ay. 2, 5).
Lihatlah :
1. Dosa apa yang didakwakan kepada mereka di sini. Mereka te-
lah menghakimi dengan lalim, bertentangan dengan peraturan
keadilan dan kata hati mereka, sebab menjatuhkan hukuman
ke atas orang-orang yang berada di pihak yang benar. Mereka
melakukan ini sebab terdorong sifat jahat dan dengki, atau
membela orang yang salah, sebab terdorong oleh kemurahan
hati dan rasa suka. Berbuat tidak adil yaitu sikap yang bu-
ruk, namun menghakimi dengan tidak adil jauh lebih buruk, se-
bab ini berarti melakukan kesalahan di balik topeng kebenaran.
Terhadap tindakan tidak adil seperti ini, nyaris tidak ada per-
lindungan bagi mereka yang dirugikan, dan melalui tindakan-
tindakan semacam ini, orang yang melakukan kerugian terha-
dap orang lain itu justru merasa mendapat angin. Tindakan
seperti itu sama parah dan jahatnya dengan yang pernah
dilihat Salomo di bawah matahari saat ia mengamati tempat
pengadilan, dan di situ pun ada ketidakadilan (Pkh. 3:16;
Yes. 5:7). Mereka bukan saja menyambut orang-orang kaya
sebab mereka kaya. Meskipun ini sikap yang cukup buruk,
namun (yang jauh lebih buruk lagi) mereka juga memihak kepa-
da orang fasik sebab mereka jahat. Mereka bukan saja mene-
rima mereka dalam kejahatan mereka, namun justru semakin
menyukai mereka sebab hal itu dan menyesuaikan diri dengan
minat mereka. Celakalah engkau, hai negeri, jika hakim-ha-
kimmu seperti ini.
2. Apa yang menjadi penyebab dosa ini. Mereka telah diberitahu
dengan cukup jelas bahwa sudah menjadi tugas dan kewajib-
an mereka untuk melindungi dan melepaskan orang miskin.
Hal ini telah sering kali disampaikan kepada mereka yang ber-
wenang. Meskipun demikian, mereka menghakimi dengan ti-
dak adil, sebab mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa.
Mereka tidak berminat mendengar apa yang menjadi tugas me-
reka. Mereka tidak mau bersusah payah mempelajarinya. Me-
reka tidak berkeinginan mengerjakan segala hal dengan benar.
Sebaliknya, mereka dikuasai oleh kepentingan, bukan oleh akal
sehat atau keadilan. Pemberian dengan sembunyi-sembunyi mem-
butakan mata mereka. Mereka tidak tahu sebab tidak mau
mengerti. Tidak ada yang begitu buta seperti orang-orang yang
tidak mau melihat. Mereka telah mengalahkan hati nurani me-
reka sendiri sehingga berjalan dalam kegelapan, tanpa tahu
ataupun peduli pada apa yang mereka lakukan atau ke mana
mereka pergi. Orang-orang yang berjalan dalam kegelapan se-
benarnya sedang berjalan ke dalam kegelapan kekal.
3. Apa akibat dari dosa ini: Goyanglah segala dasar bumi (atau
negeri). saat keadilan dinodai, kebaikan apa lagi yang bisa di-
harapkan? Bumi hancur dan semua penduduknya, seperti yang
dikatakan sang pemazmur dalam kejadian serupa (75:4). Kega-
galan dalam pelaksanaan keadilan oleh para tokoh masyarakat
merupakan celaka bagi masyarakat.
Kewajiban Para Hakim
(82:6-8)
6 Aku sendiri telah berfirman: “Kamu yaitu Tuhan , dan anak-anak Yang Ma-
hatinggi kamu sekalian. – 7 Namun seperti manusia kamu akan mati dan se-
perti salah seorang pembesar kamu akan tewas.” 8 Bangunlah ya Tuhan , ha-
kimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa.
Di sini diceritakan tentang,
I. Tuhan -Tuhan duniawi yang direndahkan dan dijatuhkan (ay. 6-7).
Martabat sifat mereka diakui (ay. 6): Kamu yaitu Tuhan . Mereka te-
lah mendapat kehormatan menyandang nama dan sebutan Tuhan .
Tuhan sendiri menyebut mereka demikian dalam ketetapan mela-
wan perkataan yang bersifat khianat (Kel. 22:28), Janganlah eng-
kau mengutuki Tuhan . Jadi, kalau mereka menerima gelar ini dari
sumber kehormatan itu, siapa yang dapat membantahnya? namun
siapakah manusia hingga dimuliakan seperti itu? Tuhan menyebut
mereka Tuhan -Tuhan sebab kepada merekalah firman itu disampai-
kan. Begitulah yang dijelaskan oleh Juruselamat kita (Yoh. 10:35).
Mereka mendapat pengutusan dari Tuhan , dan diutus serta ditun-
juk oleh-Nya untuk menjadi perisai bagi bumi, memelihara keten-
teraman umum, dan membalaskan murka ke atas orang-orang
yang mengganggu ketenteraman itu (Rm. 13:4). Dalam pengertian
ini, mereka semua yaitu anak-anak Yang Mahatinggi. Tuhan telah
menaruh sebagian dari kehormatan-Nya di atas mereka dan mem-
pekerjakan mereka di dalam pemerintahan dunia yang dipelihara-
Nya, sama seperti Daud mengangkat anak-anaknya menjadi pe-
nguasa utama. Atau, “ sebab Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu
yaitu Tuhan ,’ kamu telah membawa kehormatan ini lebih jauh
dibandingkan yang direncanakan semula dan kamu telah membayang-
kan dirimu sebagai anak-anak Yang Mahatinggi,” sama seperti
raja Babel yang berkata (Yes. 14:14), Aku hendak menyamai Yang
Mahatinggi, dan seperti raja Tirus (Yeh. 28:2), hatimu menempat-
kan diri sama dengan Tuhan . Memang sulit bagi manusia untuk
menerima kehormatan sebesar itu dari tangan Tuhan dan dihor-
mati dengan setinggi-tingginya oleh anak-anak manusia namun ti-
dak menjadi sombong serta congkak hingga menganggap diri lebih
tinggi dibandingkan seharusnya. Namun, kemudian menyusul pernya-
taan yang mematikan ini: seperti manusia kamu akan mati. Hal ini
dapat diartikan,
1. Sebagai hukuman bagi para hakim yang jahat, yang mengha-
kimi orang dengan tidak adil, sehingga melalui pemerintahan
yang salah mereka telah membuat goyang segala dasar bumi.
Tuhan akan membuat perhitungan dengan mereka, dan akan
memutuskan hubungan dengan mereka di tengah kebesaran
dan kejayaan mereka. Mereka akan mati seperti orang-orang
jahat yang lain, dan seperti salah seorang pembesar kafir me-
reka akan tewas (keberadaan mereka sebagai orang Israel atau
hakim pun tidak akan menjadi jaminan bagi mereka), atau se-
perti salah seorang malaikat yang jatuh dalam dosa, atau se-
perti salah seorang raksasa pada zaman dahulu. Bandingkan
hal ini dengan apa yang diamati Elihu menyangkut para pe-
nindas perkasa di zamannya (Ayb. 34:26), Mereka ditampar-
Nya sebab kefasikan mereka, dengan dilihat orang banyak.
Biarlah orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan mere-
ka tahu bahwa Tuhan akan mengambil kekuasaan dan juga
nyawa mereka. sebab saat mereka menyombongkan diri, Ia
akan menyatakan diri lebih tinggi dibandingkan mereka. Atau,
2. Sebagai masa kejayaan semua hakim di dunia ini. Janganlah
mereka menyombongkan diri dengan kehormatan yang mereka
terima atau melalaikan tugas mereka, namun biarlah kesadaran
perihal kefanaan mereka itu mematikan kesombongan mereka
dan menghidupkan kembali semangat mereka dalam menja-
lankan tugas. “Kamu memang disebut Tuhan , namun kamu tidak
berhak atas kekekalan. Seperti manusia kamu akan mati, seperti
manusia biasa, dan seperti salah seorang pembesar kamu akan
tewas.” Perhatikanlah, bagi Tuhan , para raja, pangeran, dan se-
mua hakim di dunia yaitu manusia biasa. Mereka bisa mati
seperti manusia lain, dan semua kehormatan mereka akan ter-
kubur di dalam tanah. Mors sceptra ligonibus æquat – Maut
mempersatukan tongkat kerajaan dengan sekop.
II. Tuhan sorgawi yang dimuliakan dan ditinggikan (ay. 8). Pemazmur
beranggapan bahwa beradu mulut dengan para penindas congkak
ini percuma saja. Mereka menutup telinga terhadap segala sesua-
tu yang dikatakan dan terus berjalan dalam kegelapan. Oleh sebab
itu ia memandang kepada Tuhan , mengajukan perkaranya kepada
Dia, dan memohon kepada-Nya agar menggunakan kemahakuasa-
an-Nya: Bangunlah ya Tuhan , hakimilah bumi. Saat pemazmur ber-
doa agar Tuhan melakukannya, ia juga percaya bahwa Dia akan
melakukannya: Engkaulah yang memiliki segala bangsa. Hal ini
menunjukkan rasa hormat,
1. Terhadap kerajaan Sang Pemelihara. Tuhan memerintah dunia,
menegakkan dan menjatuhkan siapa yang dikehendaki-Nya. Ia
memiliki segala bangsa, menguasai mereka sepenuhnya, dan
dapat membuang mereka seperti orang membuang miliknya.
Kita harus mempercayai dan menghibur diri dengan hal ini,
yaitu bahwa bumi tidak sepenuhnya diserahkan ke dalam ta-
ngan orang fasik, para penguasa fasik, seperti yang cenderung
kita pikirkan. Sebaliknya, Tuhan telah mencadangkan kuasa itu
bagi diri-Nya sendiri untuk mengalahkan mereka. Dengan iman
ini kita harus berdoa, “Bangunlah ya Tuhan , hakimilah bumi,
tampillah melawan orang-orang yang menghakimi dengan tidak
adil, dan tetapkan para gembala bagi umat-Mu, sesuai dengan
hati-Mu sendiri.” Masih ada Tuhan yang adil kepada siapa kita
dapat berpaling meminta tolong, dan kepada siapa kita dapat
bergantung bagi pembebasan semua orang yang dirugikan oleh
hakim-hakim yang tidak adil.
2. Terhadap kerajaan Mesias. Ini merupakan doa untuk memper-
cepat kedatangan Kristus yang akan menghakimi bumi, dan
untuk menyerukan janji bahwa Tuhan akan memberi bangsa-
bangsa menjadi milik pusakanya. Engkaulah, ya Kristus, yang
memiliki segala bangsa, dan memerintah atasnya (2:8; 22:29).
Biarlah kedatangan Kristus yang kedua kalinya meluruskan
semua kekacauan ini. Ada dua perkataan yang dapat kita gu-
nakan untuk menghibur diri, yang masing-masing berkenaan
Kitab Mazmur 82:6-8
1195
dengan penyalahgunaan kekuasaan di antara manusia. Yang
pertama ada dalam Wahyu 19:6, Haleluya! sebab Tuhan,
Tuhan kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Sedangkan yang
kedua ada dalam Wahyu 22:20, Ya, Aku datang segera!
PASAL 83
ni yaitu mazmur terakhir yang ditulis di bawah nama Asaf. Sama
seperti kebanyakan mazmur lainnya, mazmur ini ditulis menyang-
kut kepentingan umum dengan menyinggung penghinaan yang dilon-
tarkan musuh-musuh gereja yang ingin menghancurkannya. Ada be-
berapa yang berpendapat bahwa mazmur ini ditulis pada waktu orang
Moab dan Amon, yakni bani Lot yang dibicarakan di sini, mengancam
tanah Yehuda di zaman pemerintahan Yosafat (ay. 9). Mereka ini me-
mimpin persekongkolan dibantu semua bani lain yang disebut-sebut
di sini. Kita bisa membaca kisahnya dalam 2 Tawarikh 20:1, yang me-
ngatakan bahwa bani Moab, Amon, dan bani-bani lain menyerbu ne-
geri itu. Ada pula yang berpendapat bahwa mazmur ini ditulis dengan
mengacu kepada semua persekongkolan bangsa-bangsa tetangga me-
lawan Israel, mulai dari yang pertama sampai yang terakhir. Di sini
sang pemazmur mengajukan permohonan dan permintaan,
I. Supaya Tuhan tahu, melalui laporan tentang semua rencana
dan upaya untuk menghancurkan Israel (ay. 2-9).
II. Demi keadilan dan kecemburuan Tuhan , baik untuk jemaat-
Nya maupun kehormatan-Nya sendiri, melalui doa yang di-
panjatkan sepenuh hati untuk menggagalkan upaya mereka,
supaya jemaat dilindungi, musuh-musuh direndahkan, dan
supaya Tuhan dimuliakan (ay. 10-19).
Dengan menyanyikan mazmur ini, kita dapat menerapkannya ter-
hadap para musuh gereja Injili, semua kekuatan dan golongan yang
menentang Kekristenan, sambil menyampaikan kepada Tuhan perihal
persekongkolan mereka terhadap Kristus dan kerajaan-Nya. Dalam
menyanyikan mazmur ini kita juga boleh bersukacita dalam pengha-
I
1198
rapan bahwa semua rencana mereka akan digagalkan dan pintu-pintu
neraka tidak akan menang melawan gereja.
Keluhan Perihal Musuh
(83:1-9)
1 Mazmur Asaf: suatu nyanyian. 2 Ya Tuhan , janganlah Engkau bungkam, ja-
nganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Tuhan ! 3 Sebab se-
sungguhnya musuh-musuh-Mu ribut, orang-orang yang membenci Engkau
meninggikan kepala. 4 Mereka mengadakan permufakatan licik melawan umat-
Mu, dan mereka berunding untuk melawan orang-orang yang Kaulindungi. 5
Kata mereka: “Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga na-
ma Israel tidak diingat lagi!” 6 Sungguh, mereka telah berunding dengan satu
hati, mereka telah mengadakan perjanjian melawan Engkau: 7 Penghuni ke-
mah-kemah Edom dan orang Ismael, Moab dan orang Hagar, 8 Gebal dan
Amon dan Amalek, Filistea beserta penduduk Tirus, 9 juga Asyur telah berga-
bung dengan mereka, menjadi kaki tangan bani Lot. S e l a
Sekarang Israel umat Tuhan sedang berada dalam bahaya, ketakutan,
dan sangat tertekan. Namun, doa mereka disebut suatu nyanyian
atau mazmur. sebab biasanya hal menyanyikan mazmur tergantung
suasana, mazmur tidak dinyanyikan orang saat kecapi tergantung di
pohon gandarusa.
I. Di sini pemazmur memohon supaya Tuhan tampil atas nama umat-
Nya yang telah disakiti dan diancam (ay. 2): “Ya Tuhan , janganlah
Engkau bungkam, namun jadilah hakim bagi kami melawan orang-
orang yang berbuat salah kepada kami.” Demikianlah Yosafat ber-
doa saat terjadi penyerbuan (2Taw. 20:11), Lihatlah, sebagai
pembalasan mereka datang mengusir kami dari tanah milik yang
telah Engkau wariskan kepada kami. Adakalanya Tuhan seakan-
akan berkomplot di balik perlakuan tidak adil terhadap umat-Nya.
Ia tetap bungkam seperti orang yang tidak mengamati perlakuan
itu, atau yang tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Ia tetap di-
am seakan-akan sedang mengamati sesuatu yang sangat wajar dan
membiarkan mereka mengatasinya sendiri. Ia berdiam diri dan ti-
dak mengusik ataupun melawan musuh-musuh umat-Nya, namun
tampak berpangku tangan seperti orang yang bingung, seperti pah-
lawan yang tidak sanggup menolong. Kemudian ia membiarkan ki-
ta berseru kepada-Nya seperti di sini, “Janganlah berdiam diri, ya
Tuhan ! Tuhan, berbicaralah kepada kami melalui para nabi untuk
membesarkan hati kami dan menghapus ketakutan kami” (sama
Kitab Mazmur 83:1-9
1199
seperti yang dilakukan-Nya berkaitan dengan penyerbuan dalam
2Taw. 20:14 dst.) “Tuhan, berbicaralah bagi kami melalui pemeli-
haraan-Mu dan berbicaralah melawan musuh-musuh kami. Ber-
bicaralah demi pembebasan kami dan demi kekecewaan mereka.”
Perkataan Tuhan terletak dalam tindakan-Nya, sebab bagi-Nya, ber-
kata sama dengan bertindak.
II. Di sini ia melaporkan perihal permufakatan bangsa-bangsa te-
tangga melawan Israel. Ia memohon supaya Tuhan mematahkan
permufakatan itu dan menghancurkan rencana-rencana mereka.
Sekarang Lihatlah di sini:
1. Terhadap siapa persekongkolan itu dibentuk. Mereka berseku-
tu melawan Israel umat Tuhan , sehingga dengan demikian sama
saja dengan melawan Tuhan umat Israel. Demikianlah pemaz-
mur berusaha menarik perhatian Tuhan kepada perkara mere-
ka, tanpa meragukan bahwa jika mereka tampak berpihak ke-
pada Tuhan , maka Tuhan akan tampak berpihak kepada mereka,
dan mereka dapat mengalahkan semua musuh mereka. Sebab
dengan demikian, siapa lagi yang dapat melawan mereka? “Tu-
han,” kata pemazmur, “mereka yaitu musuh-musuh-Mu, dan
mereka membenci-Mu.” Semua orang fasik yaitu musuh-mu-
suh Tuhan (sebab keinginan daging yaitu perseteruan terhadap
Tuhan ), terutama para penganiaya yang kejam. Mereka ini mem-
benci para penyembah Tuhan yang saleh, sebab mereka mem-
benci agama suci Tuhan dan penyembahan kepada-Nya. Hal ini-
lah yang membuat umat Tuhan begitu bersemangat melawan
orang-orang fasik ini, yaitu sebab mereka melawan Tuhan : me-
reka telah mengadakan perjanjian melawan Engkau (ay. 6).
Seandainya kepentingan kita yang menjadi masalah, kita
mungkin masih bisa menanggungnya. Namun, saat Tuhan sen-
diri yang diserang, maka tibalah saatnya untuk berseru, “To-
long, Tuhan. Ya Tuhan , janganlah Engkau bungkam!” Pemazmur
membuktikan bahwa mereka bersekongkol melawan Tuhan . Se-
benarnya itulah yang mereka lakukan terhadap umat Tuhan
yang hidup dekat dengan-Nya dan disayang oleh-Nya. sebab
mereka dekat dengan anak-Nya, putra sulung-Nya, bagian-Nya,
dan bagian dari warisan-Nya. Orang yang berusaha keras mem-
binasakan anak-anakku, membasmi seluruh keluargaku, dan
1200
menghancurkan harta milikku, dapat dikatakan telah mela-
wan aku. “Tuhan,” kata pemazmur, “mereka yaitu musuh-
musuh-Mu, sebab mereka berunding untuk melawan umat-Mu
yang tersembunyi.” Perhatikanlah, umat Tuhan merupakan umat
yang tersembunyi. Mereka tersembunyi,
(1) Berkenaan dengan kerahasiaan. Kehidupan mereka tersem-
bunyi bersama dengan Kristus di dalam Tuhan . Dunia tidak
mengenal mereka. Seandainya mengenal mereka, orang-
orang dunia tentunya tidak akan membenci mereka seperti
itu.
(2) Berkenaan dengan keamanan. Tuhan melindungi mereka se-
cara istimewa. Ia menyembunyikan mereka di telapak ta-
ngan-Nya. Namun, dengan menentang Tuhan dan kuasa serta
janji-Nya untuk melindungi umat-Nya, mereka berunding
untuk menghancurkan dan menghempaskan dia dari kedu-
dukannya yang tinggi (62:5), dan untuk memangsa orang-
orang yang bagi-Nya TUHAN telah memilih seorang yang dika-
sihi-Nya (4:4). Mereka bertekad menghancurkan orang-orang
yang pasti dilindungi Tuhan .
2. Bagaimana persekongkolan itu dijalankan. Iblis berada di balik
ini, dan oleh sebab itu permufakatan ini dilaksanakan,
(1) Dengan berapi-api dan penuh kekerasan: Musuh-musuh-Mu
ribut (ay. 3). Keadaan rusuh bangsa-bangsa (2:1). Semua
bangsa telah marah (Why. 11:18). Mereka berteriak-teriak
dengan ribut mencerca orang-orang yang ingin mereka gilas
dengan fitnah busuk. Hal ini dipakai sebagai alasan menga-
pa Tuhan seharusnya tidak diam saja: “Musuh yang besar
mulut dan banyak bicara. Tuhan, jangan biarkan mereka
saja yang berbicara, namun berkatalah kepada mereka dalam
murka-Mu” (2:5).
(2) Dengan sangat angkuh dan menghina: Mereka meninggikan
kepala. sebab begitu yakin akan berhasil, mereka mening-
gikan diri begitu rupa seakan-akan mampu mengalahkan
Yang Mahatinggi dan menyergap Yang Mahakuasa.
(3) Dengan keahlian dan siasat tinggi: Mereka mengadakan
permufakatan licik (ay. 4). Muslihat si ular tua itu muncul
dalam cara mereka bekerja, dan mereka menyusun renca-
na dengan segala cara, tak peduli serendah dan sejahat apa
Kitab Mazmur 83:1-9
1201
pun, guna mencapai tujuan mereka. Mereka menunduk dan
sudah menggali pelubangnya dalam-dalam (Hos. 5:2, TL), sea-
kan-akan mampu mengecoh Yang Mahatahu.
(4) Dengan kebulatan suara penuh. Seperti apa pun perbeda-
an kepentingan yang ada di antara mereka, dalam hal me-
lawan umat Tuhan mereka berunding dengan satu hati (ay.
6), dan tidak akan kerajaan Iblis itu terpecah-pecah. Untuk
dapat menyulut peperangan najis ini, mereka berembuk se-
penuh hati. Fas est et ab hoste doceri – Bahkan musuh pun
dapat mengajar. Apakah musuh-musuh gereja bertindak
dengan satu kesepakatan untuk menghancurkannya? Apa-
kah raja-raja di bumi ini sependapat untuk menyerahkan
kekuasaan dan kehormatan mereka kepada makhluk itu?
Apakah sahabat-sahabat jemaat tidak akan bersepakat da-
lam melayani kepentingannya? Jika Herodes dan Pilatus
menjalin persahabatan supaya bisa bersama-sama menya-
libkan Kristus, sudah barang tentu Paulus dan Barnabas,
atau Paulus dan Petrus juga akan menjalin persahabatan
supaya bisa bersama-sama mewartakan Kristus.
3. Apa yang menjadi tujuan utama dalam persekongkolan ini.
Mereka tidak berunding seperti orang Gibeon yang hendak
bersekutu dengan orang Israel supaya dapat saling menguat-
kan dengan persekutuan yang sangat diperlukan itu, dan ini
merupakan hikmat mereka. Mereka berunding bukan saja un-
tuk membatasi kekuasaan Israel, untuk menaklukkan mereka
kembali, dan menghambat kemajuan pasukan Israel yang ber-
jaya. Mereka bukan sekadar hendak menyeimbangkan kekuat-
an dengan Israel dan menghambat kekuatan mereka supaya
tidak bertumbuh terus. Semua hal ini belumlah mencukupi.
Tidak kurang dari kehancuran dan pemusnahan mutlak Isra-
ellah yang mereka rancang (ay. 5): “Marilah kita lenyapkan
mereka sebagai bangsa, sama seperti mereka telah memang-
kas ketujuh bangsa di Kanaan. Jangan kita sisakan akar atau-
pun ranting mereka, namun mari kita musnahkan negeri mere-
ka dengan tuntas sehingga nama Israel tidak diingat lagi, tidak
diingat sepanjang sejarah.” sebab bersama bangsa ini, mere-
ka juga akan menghancurkan semua Kitab Suci mereka dan
membakar semua catatan mereka. Seperti itulah kebencian
keturunan ular itu terhadap keturunan perempuan itu. Ke-
1202
inginan tersembunyi banyak orang fasik yaitu supaya gereja
Tuhan tidak terwujud di dunia, supaya tidak ada agama di an-
tara umat manusia. Bila rasa beragama sudah tidak ada lagi
dalam hati umat Israel itu, maka mereka akan senang sekali
bila seluruh dunia juga bebas darinya. Seluruh hukum dan ke-
tetapan dihapus, seluruh pengekangan dan kewajiban ditang-
galkan, dan semua orang yang berkhotbah, mengaku percaya,
atau menjalankannya, diberantas. Inilah yang akan mereka lak-
sanakan seandainya mereka mampu melakukannya. namun Dia
yang bersemayam di sorga, tertawa.
4. Siapa saja yang diajak bergabung dalam persekongkolan ini.
Bangsa-bangsa yang bergabung dalam persekutuan ini dise-
butkan di sini (ay. 7-9). Orang Edom dan Ismael yang sama-
sama keturunan Abraham, memimpin di depan. Orang-orang
ini yang memimpin di depan, sebab orang yang murtad dari
gereja merupakan musuh yang paling pahit dan dengki terha-
dap gereja, seperti dikatakan Julian. Orang-orang tadi masih
memiliki pertalian darah dengan orang Israel, namun berseku-
tu melawan Israel. Tidak ada ikatan alami yang sekuat ini, te-
tapi roh aniaya telah mematahkan ikatan ini. Seorang saudara
akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh. Moab dan Amon
yaitu anak-anak Lot yang benar itu. Namun sebab perbuatan
mesum di antara sesama saudara, akhlak bangsa ini pun me-
rosot. Sudah sejak lama orang Filistin menjadi duri dalam da-
ging bagi orang Israel, dan mereka ini sangat menjengkelkan.
Saya tidak tahu bagaimana penduduk Tirus, yang di masa pe-
merintahan Daud merupakan sekutu Israel, sampai bisa ber-
gabung dengan musuh. Sebaliknya, bila Asyur telah bergabung
dengan mereka, ini bukanlah hal yang aneh, atau bila mereka
menjadi kaki tangan bani Lot. Lihatlah betapa banyak musuh
umat Tuhan sejak dahulu. Ya TUHAN, betapa banyaknya la-
wanku! Warisan yang diberikan Tuhan bagaikan burung belang,
burung-burung buas mengerumuninya (Yer. 12:9). Hal ini sa-
ngat melipatgandakan kuasa Tuhan dalam memelihara jemaat
di dunia bagi diri-Nya sendiri, meskipun kekuatan dunia dan
neraka bersatu padu.
Kitab Mazmur 83:10-19
1203
Kutuk-kutuk yang Dinubuatkan
(83:10-19)
10 Perlakukanlah mereka seperti Midian, seperti Sisera, seperti Yabin dekat
sungai Kison, 11 yang sudah dipunahkan di En-Dor, menjadi pupuk bagi ta-
nah. 12 Buatlah para pemuka mereka seperti Oreb dan Zeeb, seperti Zebah
dan Salmuna semua pemimpin mereka, 13 yang berkata: “Marilah kita men-
duduki tempat-tempat kediaman Tuhan !” 14 Ya Tuhan ku, buatlah mereka seperti
dedak yang beterbangan, seperti jerami yang ditiup angin! 15 Seperti api yang
membakar hutan, dan seperti nyala api yang menghanguskan gunung-gu-
nung, 16 kejarlah mereka dengan badai-Mu, dan kejutkanlah mereka dengan
puting beliung-Mu; 17 penuhilah muka mereka dengan kehinaan, supaya me-
reka mencari nama-Mu, ya TUHAN! 18 Biarlah mereka mendapat malu dan
terkejut selama-lamanya; biarlah mereka tersipu-sipu dan binasa, 19 supaya
mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi
atas seluruh bumi.
Di sini, sang pemazmur berdoa atas nama jemaat bagi kehancuran
kekuatan-kekuatan yang bersekutu itu, dan atas nama Tuhan ia mera-
malkan kehancuran mereka. Doa ini menjadi seperti sebuah nubuat-
an yang menyatakan bahwa yang didoakan itu akan terjadi, dan nu-
buat ini akan terjadi pada semua musuh gereja Injili. Siapa pun yang
menentang kerajaan Kristus bisa membaca kehancuran mereka di sini.
Secara singkat, doa itu memohon semoga semua usaha musuh-musuh
yang bersekongkol melawan Israel ini bisa digagalkan, dan semoga
musuh mengalami kehancuran mereka sendiri, sehingga dengan demi-
kian Israel umat Tuhan dapat dipelihara dan diabadikan. Nah, kehan-
curan musuh-musuh itu digambarkan,
I. Melalui beberapa contoh peristiwa yang sudah pernah terjadi. Bi-
arlah nasib orang-orang lain yang sebelum itu telah melawan Israel
umat Tuhan juga menjadi hukuman bagi mereka. Kekalahan dan
aib yang menimpa persekongkolan di masa lalu dapat dipakai se-
bagai alas bagi doa kepada Tuhan dan dimanfaatkan untuk mengu-
atkan iman serta pengharapan kita sendiri. Sebab, Tuhan masih
sama seperti dulu, sama dalam membela umat-Nya dan sama da-
lam melawan musuh-Nya dan musuh umat-Nya. Pada diri-Nya ti-
dak ada yang berubah.
1. Sang pemazmur berdoa supaya pasukan musuh dihancurkan
sama seperti yang terjadi dengan pasukan musuh-musuh se-
belum itu (ay. 10-11): Perlakukanlah mereka seperti Midian.
Biarlah mereka mundur kocar-kacir sebab ketakutan mereka
sendiri, sebab itulah yang terjadi pada orang Midian, bahkan
lebih dibandingkan yang dilakukan ketiga ratus orang-orang
Gideon. Perlakukanlah mereka seperti Engkau memperlakukan
pasukan di bawah pimpinan Sisera (yakni panglima tentara di
bawah Yabin, raja Kanaan), yang telah dikalahkan oleh Tuhan
(Hak. 4:15) di sungai Kison tidak jauh dari En-Dor. Mereka
menjadi pupuk bagi tanah. Mayat mereka dibuang bagaikan
kotoran hewan membentuk gundukan, atau ditebarkan seba-
gai pupuk untuk menyuburkan tanah. Mereka diinjak-injak
sampai lumat oleh pasukan Barak yang perkasa meskipun ke-
cil. Di sini hal itu sangat cocok dijadikan contoh, sebab begitu-
lah yang dilakukan Debora di kemudian hari. Demikianlah akan
binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! (Hak. 5:31). Artinya, de-
ngan cara itulah mereka akan binasa.
2. Ia berdoa supaya para pemimpin mereka dibinasakan seperti
pemimpin-pemimpin sebelumnya. Rakyat biasa tidak akan
menjadi sejahat itu seandainya raja-raja mereka tidak mendo-
rong mereka. Itulah sebabnya ia khusus berdoa menentang
mereka (ay. 12-13).
Lihatlah :
(1) Kedengkian mereka terhadap Israel umat Tuhan . Mereka ber-
kata, Marilah kita menduduki tempat-tempat kediaman Tuhan
(ay. 13), atau tempat-tempat yang permai milik Tuhan (demi-
kianlah yang dikatakan) yang menggambarkan tanah Kana-
an, negeri yang menyenangkan milik Imanuel. Atau juga
Bait Tuhan , tempat kediaman Tuhan yang paling indah (Yes.
64:11). Bisa juga berarti (menurut Dr. Hammond) padang-
padang rumput subur yang dipelihara dengan baik oleh
orang-orang Arab yang berdagang ternak ini. Para raja dan
bangsawan bertujuan memperkaya diri melalui peperangan
ini, dan pasukan mereka harus dijadikan pupuk bagi tanah
sebab ketamakan dan hasrat mereka.
(2) Apa yang akan menjadi bagian mereka. Mereka akan dibu-
at seperti Oreb dan Zeeb (dua raja Midian, yang saat pa-
sukan mereka dibuat kocar kacir, ditawan lalu dibantai
oleh orang Efraim, Hak. 7:25). Juga seperti Zebah dan Sal-
muna, yang dibunuh sendiri oleh Gideon (Hak. 8:21). “Biar-
lah musuh-musuh kami ini menjadi mangsa empuk bagi
kami, seperti bagi para penakluk pada masa itu.” Kita me-
mang tidak boleh mengatur Tuhan , namun kita boleh berdoa
kepada-Nya supaya Ia menghadapi musuh-musuh jemaat-
Nya di masa sekarang, seperti yang dilakukan-Nya pada ma-
sa nenek moyang kita.
II. Ia menggambarkannya melalui beberapa perumpamaan, dan ber-
doa,
1. Supaya Tuhan membuat mereka seperti dedak (ay. 14), sehingga
mereka akan senantiasa berpindah-pindah, gelisah, resah, dan
kebingungan dalam membuat perundingan dan keputusan, hing-
ga binasa dengan mudah dan cepat. Atau, seperti yang menjadi
pendapat beberapa orang, supaya mereka dipatahkan oleh hu-
kuman Tuhan , sama seperti gandum dipatahkan atau ditebah
oleh roda yang pada masa itu digunakan untuk mengirik. De-
mikianlah, saat raja yang berbudi itu menampi orang-orang
yang jahat, dikatakan bahwa ia menjalankan jantera pengirik-
an dari atasnya (Ams. 20:26, TL). Orang-orang yang memperca-
yai Tuhan memiliki hati yang teguh. Sebaliknya, orang-orang
yang melawan Dia tidaklah tetap, bagaikan sebuah roda yang
berputar.
2. Supaya mereka dikejar bagaikan jerami atau sekam, yang diti-
up angin. “Meskipun terus berputar, sebuah roda terpasang di
porosnya sendiri. namun biarlah mereka ini terus bergerak ba-
gaikan sekam ringan yang diterbangkan angin. Tidak seorang
pun ingin menyelamatkannya. Ia justru ingin supaya sekam
itu menjauh” (1:4). Demikianlah orang fasik dirobohkan sebab
kejahatannya, dan dienyahkan dari dunia.
3. Supaya mereka musnah seperti kayu yang musnah dimakan
api, atau seperti semak berduri dan tanaman pakis di gunung-
gunung yang hangus terbakar nyala api (ay. 15). jika ditiup
angin, jerami itu akhirnya akan teronggok di bawah pagar, di
parit, atau sejenisnya. namun pemazmur berdoa agar mereka
bukan saja diterbangkan seperti jerami, namun juga terbakar
habis. Maka inilah yang menjadi akhir riwayat orang fasik (Ibr.
6:8), dan terutama semua musuh umat Tuhan . Di sini kita meli-
hat penerapan perbandingan ini (ay. 16): Kejarlah mereka de-
ngan badai-Mu, kejarlah mereka sampai mereka binasa, dan
kejutkanlah mereka dengan puting beliung-Mu. Lihatlah betapa
orang berdosa dibuat sengsara. Badai murka Tuhan menimbul-
kan ketakutan di hati mereka sehingga mereka dibuat sangat
sengsara. Tuhan mampu menghadapi orang berdosa yang paling
sombong dan berani sekalipun, yang telah menentang keadil-
anNya. Ia mampu membuatnya ketakutan bagaikan belalang.
Siksaan Iblislah yang membuat mereka gemetar.
III. Pemazmur menggambarkannya melalui akibat dari kebingungan
mereka (ay. 17-19). Di sini ia berdoa supaya Tuhan , sesudah meme-
nuhi hati mereka dengan ketakutan, akan memenuhi wajah mereka
dengan kehinaan, supaya mereka malu atas sikap permusuhan me-
reka terhadap umat Tuhan (Yes. 26:11). Malu atas kebodohan mere-
ka sebab bertindak, baik melawan Yang Mahakuasa sendiri mau-
pun demi kepentingan sendiri. Mereka melakukan apa saja untuk
bisa mempermalukan umat Tuhan , namun pada akhirnya nanti, me-
reka sendirilah yang akan dipermalukan. Sekarang,
1. Awal rasa malu ini mungkin bisa menjadi sarana pertobatan
mereka: “Biarlah mereka dipatahkan dan dikalahkan dalam upa-
ya mereka, supaya mereka mencari nama-Mu, ya TUHAN! Biar-
lah mereka berhenti supaya bisa beristirahat dan berpikir seje-
nak, serta mempertimbangkan siapa yang sedang mereka lawan,
dan betapa tidak seimbangnya kekuatan mereka dibanding Dia,
sehingga dengan demikian mereka merendahkan diri, takluk,
dan menginginkan perdamaian. Biarlah mereka dibuat takut ke-
pada nama-Mu, dan mungkin hal itu akan membuat mereka
mencari nama-Mu.” Perhatikanlah, hal yang harus benar-benar
kita rindukan dan minta dari Tuhan menyangkut para musuh
dan penganiaya kita yaitu supaya Tuhan akan membawa me-
reka kepada pertobatan. Kita harus menginginkan agar mere-
ka dibuat menjadi rendah supaya bisa bertobat, dan janganlah
menginginkan kekacauan lagi terjadi atas mereka, namun ingin-
kanlah hal yang dapat membawa mereka selangkah lagi menuju
pertobatan mereka.
2. Jika hal ini tidak terbukti menjadi sarana bagi pertobatan me-
reka, penyempurnaannya akan sangat berpengaruh bagi ke-
hormatan Tuhan . Jika mereka tidak juga merasa malu dan ber-
tobat, biarlah mereka dipermalukan dan binasa. Jika mereka
tidak mau dibuat menjadi susah dan berbalik, padahal dengan
berbalik semua masalah mereka akan berakhir, suatu akhir
yang bahagia, biarlah mereka terkejut selama-lamanya dan ti-
dak pernah merasakan kedamaian. Dan ini semua akan men-
jadi kemuliaan bagi Tuhan (ay. 19), supaya orang lain tahu dan
mengakui, jika mereka sendiri tidak mau, bahwa Engkau saja-
lah yang bernama TUHAN (atau Yehovah, nama yang tidak da-
pat diperkatakan meskipun bukan tidak terlukiskan), Yang
Mahatinggi atas seluruh bumi. Kemenangan Tuhan atas musuh-
musuh-Nya dan musuh-musuh jemaat-Nya akan menjadi bukti
yang tidak dapat diragukan lagi,
(1) Bahwa sesuai dengan nama-Nya yang yaitu TUHAN (atau
YEHOVAH), Dia yang ada dengan sendirinya dan yang
Mahamencukupi, Dia memiliki seluruh kuasa dan kesem-
purnaan dalam diri-Nya.
(2) Bahwa Dia yaitu Tuhan Yang Mahatinggi, Tuhan Tuhan yang
berdaulat atas segala sesuatu, lebih tinggi di atas semua
Tuhan , semua raja, dan semua orang yang meninggikan diri
dan menganggap diri tinggi.
(3) Bahwa Dia memang demikian adanya, bukan saja atas Israel,
namun juga atas seluruh bumi, bahkan bangsa-bangsa di bumi
yang tidak mengenal atau mengakui-Nya, sebab kerajaan-Nya
memerintah atas segala sesuatu. Ini merupakan kebenaran
yang sungguh agung dan tidak dapat disangkal, namun manusia
sangat sulit diajak untuk mengetahui dan mempercayainya.
Oleh sebab itu pemazmur berdoa agar kehancuran beberapa
orang kiranya dapat menyadarkan orang-orang lain. Kehan-
curan mutlak musuh-musuh Tuhan pada hari yang agung itu
akan menjadi bukti nyata dari hal ini, di hadapan para malaikat
dan umat manusia. Pada waktu itu kehinaan dan kengerian
kekal yang dihadapi orang-orang berdosa yang bangkit (Dan.
12:2) akan berpengaruh pada kehormatan dan pujian kekal
bagi Tuhan yang empunya pembalasan itu.
PASAL 84
alaupun nama Daud tidak tercantum dalam judul mazmur ini,
cukup beralasan jika kita berpendapat bahwa dialah penu-
lisnya, sebab gaya penulisannya begitu kental dengan semangat
tingginya dan sangat mirip dengan Mazmur 63 yang ditulis olehnya.
Dipercaya bahwa Daud menuliskan mazmur ini saat ia terpaksa
meninggalkan kotanya sebab pemberontakan Absalom. Daud mera-
tapi kepergiannya dari situ bukan terutama sebab tempat ini meru-
pakan kota raja, melainkan lebih sebab ini yaitu kota suci seperti
yang disampaikan dalam mazmur ini, yang merupakan ungkapan sa-
leh jiwa yang merindukan Tuhan dan persekutuan dengan-Nya. Walau-
pun tidak diberi judul, mazmur ini dapat dianggap sebagai mazmur
atau nyanyian untuk hari Sabat, hari perhimpunan khidmat kita. Di
sini pemazmur mengungkapkan perasaan kasih sayangnya dengan
penuh pengabdian,
I. Kepada ketetapan-ketetapan Tuhan , penghargaannya terhadap
ketetapan-ketetapan itu (ay. 2), kerinduannya terhadap kete-
tapan-ketetapan itu (ay. 3-4), keyakinannya tentang kebaha-
giaan orang-orang yang menikmati ketetapan-ketetapan itu
(ay. 5-8), dan keyakinannya untuk menaruh kebahagiaannya
sendiri dalam menikmati semua ketetapan itu (ay. 11).
II. Kepada Tuhan yang memberi ketetapan-ketetapan itu. Kerin-
duannya terhadap Dia (ay. 9-10), imannya kepada Dia (ay.
12), dan keyakinannya perihal kebahagiaan orang-orang yang
menaruh kepercayaan kepada-Nya (ay. 13).
Dalam menyanyikan mazmur ini, kita juga harus memiliki rasa ka-
sih sayang penuh pengabdian yang sama terhadap Tuhan seperti yang
dimiliki Daud, agar nyanyian mazmur ini terasa sangat menyenangkan.
Kenikmatan dan Keuntungan Penyembahan Umum
(84:1-8)
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah. 2 Betapa
disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! 3 Jiwaku hancur
sebab merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku berso-
rak-sorai kepada Tuhan yang hidup. 4 Bahkan burung pipit telah mendapat
sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh
anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Raja-
ku dan Tuhan ku! 5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang
terus-menerus memuji-muji Engkau. S e l a 6 Berbahagialah manusia yang
kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! 7 jika
melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata
air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. 8 Mere-
ka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Tuhan di Sion.
Di sini pemazmur yang sebab paksaan dikekang supaya tidak bisa
menantikan Tuhan dalam ketetapan-ketetapan peribadatan bersama
jemaat, semakin disadarkan akan berharganya semua ketetapan
peribadatan itu.
Lihatlah :
I. Keindahan luar biasa yang dilihatnya dalam semua ketetapan iba-
dah kudus yang telah ditentukan itu (ay. 2): Betapa disenangi tem-
pat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Beberapa orang ber-
pendapat bahwa di sini Daud menyebut Tuhan sebagai TUHAN
semesta alam (artinya, dengan cara khusus yang digunakan para
malaikat, yakni bala tentara sorga) sebab ada kehadiran para
malaikat di tempat kudus Tuhan . Mereka menjaga Shakinah dan
(seperti pendapat sebagian orang) hal ini ditandai dengan kerub.
Tuhan yaitu Tuhan dari bala tentara sorga ini, dan Kemah Suci
atau tempat kediaman yaitu kepunyaan-Nya. Disebutkan bahwa
jumlahnya lebih dari satu (KJV: tabernacles) sebab ada bebe-
rapa pelataran tempat orang-orang berhimpun, dan juga sebab
Kemah Suci itu sendiri terdiri atas tempat kudus dan tempat ma-
hakudus. Betapa mengagumkannya tempat-tempat ini! Betapa
indahnya tempat kudus di mata semua orang yang sudah benar-
benar dikuduskan! Jiwa-jiwa yang penuh rahmat melihat kein-
dahan yang tak terkatakan dalam kesucian dan pekerjaan yang
suci. Kemah Suci merupakan tempat kediaman yang sederhana,
namun keadaan lahiriah yang kurang menguntungkan pun sama
sekali tidak membuat ketetapan-ketetapan kudus kurang menga-
gumkan, sebab keindahan kesucian bersifat rohaniah dan kemu-
liaannya memancar dari dalamnya.
II. Kerinduannya yang sangat untuk kembali menikmati ketetapan-
ketetapan ibadah bersama jemaat, atau lebih tepat lagi, untuk
kembali menikmati Tuhan yang hadir di dalamnya (ay. 3). Ini meru-
pakan kerinduan yang menyeluruh, mencakup baik jasmani, jiwa,
maupun roh di dalamnya. Tidak terpikirkan olehnya untuk berbu-
at sebaliknya guna meninggikan diri. Ini merupakan kerinduan
yang sangat hebat, sama kuatnya dengan keinginan orang-orang
yang penuh hasrat, tamak, atau sangat bergairah. Ia sangat rin-
du, jiwanya hancur dan ia menjerit, mendesak untuk dikembali-
kan lagi ke dalam pelataran Tuhan . Ia sudah nyaris tidak sabar lagi
menanti. Namun, kerinduannya akan pelataran-pelataran Tuhan
tidaklah sekuat kerinduannya kepada Tuhan yang hidup itu sendi-
ri, yang diserukannya dalam doa. O, sekiranya aku bisa mengenal
Dia dan kembali beroleh persekutuan dengan Dia! (1Yoh. 1:3). Se-
mua ketetapan peribadatan merupakan hal yang kosong belaka jika
kita tidak bertemu dengan Tuhan dalam ketetapan-ketetapan itu.
III. Rasa irinya terhadap kebahagiaan burung-burung kecil yang
membuat sarang di bangunan-bangunan yang berdekatan dengan
mezbah Tuhan (ay. 4). Ini merupakan ungkapan yang anggun seka-
ligus mengejutkan perihal rasa kasih sayangnya terhadap mez-
bah-mezbah Tuhan : Burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan
burung layang-layang sebuah sarang. Melalui naluri dan tuntunan
alam, burung-burung kecil ini menyediakan tempat tinggal bagi
mereka sendiri di dalam rumah-rumah, seperti yang dilakukan
burung-burung lain di hutan, baik untuk beristirahat sendiri ma-
upun untuk membesarkan anak-anak burung. Ada burung-
burung seperti ini yang dipercayai Daud tinggal di bangunan-ba-
ngunan di seputar pelataran tempat kediaman Tuhan , dan ia begitu
ingin berada bersama makhluk-makhluk kecil ini. Ia lebih suka
tinggal di sarang burung, tinggi di atas mezbah-mezbah Tuhan
dibandingkan di istana yang jauh dari situ. Adakalanya ia ingin me-
miliki sayap seperti merpati untuk bisa terbang ke padang gurun
(55:7-8). Di sini ia ingin memiliki sayap burung pipit, supaya bisa
terbang tanpa terlihat ke dalam pelataran Tuhan . Dan meskipun
tak bisa tidur dan menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh
merupakan penggambaran keadaan roh yang sangat memilukan
(102:8), Daud akan dengan senang hati menerimanya sebagai
bagiannya asalkan ia bisa berada di dekat mezbah-mezbah Tuhan .
Lebih baik melayani Tuhan seorang diri dibandingkan melayani dosa
bersama orang banyak. Istilah burung pipit menggambarkan
burung kecil jenis apa pun. Dan (kalau saya boleh menafsirkan) di
masa Daud, boleh jadi musik begitu banyak digunakan dalam
ibadah kudus, baik dinyanyikan secara lisan maupun hanya
dengan menggunakan alat-alat musik, dan untuk melengkapi
keserasiannya, mereka menempatkan sangkar-sangkar burung
penyanyi di seputar pelataran Kemah Suci ( sebab kita membaca
tentang burung-burung yang berkicau memuliakan Tuhan dalam
Mzm. 104:12). Daud merasa iri melihat kebahagiaan burung-
burung ini, dan dengan senang hati ia mau bertukar tempat de-
ngan makhluk-makhluk kecil ini. Lihatlah , Daud bukan merasa
iri terhadap burung-burung yang terbang di atas mezbah-mezbah,
yang hanya dapat melihat pelataran-pelataran Tuhan dengan
sekilas saja, namun terhadap burung-burung yang bersarang di
situ. Bagi Daud, belumlah cukup untuk sekadar singgah di ru-
mah Tuhan seperti orang perjalanan yang hanya singgah untuk
bermalam. Ia ingin menjadikannya tempat beristirahat, rumah-
nya, dan tempat tinggalnya. Ia juga memperhatikan bahwa bu-
rung-burung ini bukan sekadar bersarang, namun juga melahirkan
anak-anak di situ. Orang-orang yang diam di pelataran Tuhan tidak
bisa tidak pasti merindukan supaya anak-anak mereka juga
mendapat tempat di rumah Tuhan dan juga nama di dalamnya,
supaya mereka dapat menggembalakan anak-anak dekat perke-
mahan para gembala. Ada pula yang mengartikan ayat ini sebagai
berikut: “Tuhan, oleh pemeliharaan-Mu Engkau telah melengkapi
burung-burung dengan sarang dan tempat beristirahat yang se-
suai dengan sifat alamiah mereka dan menyediakan perlindungan
dengan cuma-cuma bagi mereka. namun mezbah-Mu, yang yaitu
sarang dan tempat beristirahat bagiku, yang kurindukan seperti
burung berkelana merindukan sarangnya, tidak dapat kuperoleh.
Tuhan, apakah Engkau memelihara burung-burung lebih baik
dibandingkan anak-anak-Mu? Seperti burung yang lari dari sarangnya,
demikian jugalah denganku, sesudah aku sekarang pergi dari
tempat mezbah Tuhan , sebab di situlah tempatku (Ams. 27:8). Aku
tidak akan pernah tenang sebelum kembali ke tempatku lagi.”
P