mazmur 51-100 14


 i Tuhan   bukan saja sesuatu yang 

baik untuk kita lakukan, namun  juga kewajiban yang sangat di-

perlukan dan wajib kita kerjakan. Sungguh berbahaya jika  

kita melalaikannya. Dalam semua kegiatan peribadatan, kita 

harus memperhatikan penetapan itu sebagai kewajiban dan 

peraturan kita: “Ini aku lakukan  sebab  Tuhan   telah memerin-

tahkannya kepadaku, dan  sebab  itu aku berharap Ia akan 

menerima aku.” Dengan demikian kegiatan itu dilakukan de-

ngan iman. 

2. Mereka harus mengenang kembali tindakan-tindakan pemeli-

haraan ilahi yang diperingati dalam mazmur ini. Ibadah khid-

mat ini telah diadakan sebagai suatu peringatan (ay. 6), suatu 

bukti sesuai adat kebiasaan yang tetap, untuk menegaskan 

kebenaran hal-hal yang nyata terjadi. Ini yaitu  suatu kesak-

sian bagi bangsa Israel, supaya mereka mengetahui dan meng-

ingat apa yang telah diperbuat Tuhan   bagi nenek moyang mere-

ka. Sekaligus juga, ini menjadi kesaksian yang melawan mereka 

seandainya mereka melalaikan dan melupakannya. 

(1)  Atas nama umat, sang pemazmur mengingatkan diri sendi-

ri perihal tindakan Tuhan   atas nama Israel, yang tetap diingat 

melalui kekhidmatan ini dan juga yang lainnya (ay. 6). 

Waktu Tuhan   maju melawan tanah Mesir untuk menghan-

curkannya, supaya Ia dapat memaksa Firaun untuk mele-

paskan bangsa Israel, pada saat itu Ia menetapkan hari-

hari raya yang harus dicermati melalui peraturan yang 

harus senantiasa diikuti semua angkatan sebagai peringat-

an, terutama Hari Raya Paskah, yang mungkin dimaksud-

kan dengan hari raya di dalam mazmur ini (ay. 4). Hari itu 

ditetapkan tepat saat  Tuhan   menjalani seluruh tanah Me-

sir untuk membinasakan semua anak sulung dan melewat-

kan rumah-rumah orang Israel (Kel. 12:23-24). Melalui ke-

tetapan ini, perbuatan ajaib itu akan terus diingat, supaya 

segala generasi dapat melihat kebaikan dan juga kedah-

syatan Tuhan  . Sang pemazmur yang berbicara atas nama 

umat-Nya, mencatat keadaan menyakitkan perbudakan di 

Mesir, bahwa di sana mereka mendengar bahasa yang tidak 

mereka pahami. Di sana mereka merupakan orang asing di 

negeri asing. Orang Mesir dan orang Ibrani saling tidak me-

Kitab Mazmur 81:1-8 

 1177 

mahami bahasa masing-masing, sebab Yusuf berbicara ke-

pada saudara-saudaranya dengan bantuan seorang pener-

jemah (Kej. 42:23), sedangkan bagi keturunan Yakub, orang 

Mesir disebut bangsa yang asing bahasanya (114:1). Supa-

ya pembebasan itu terasa lebih mulia dan lebih agung, 

sungguh baik untuk mengamati segala hal menyedihkan 

dari masalah yang darinya kita dibebaskan itu.  

(2) Atas nama Tuhan  , sang pemazmur mengingatkan umat Isra-

el akan beberapa kejadian khusus dalam pembebasan me-

reka. Di sini ia mengganti tokohnya (ay. 7). Tuhan   berbicara 

melalui dirinya dengan berkata, “Aku telah mengangkat be-

ban dari bahunya.” Biarlah dia mengingat hal ini pada hari 

raya itu, 

[1]  Bahwa Tuhan   telah membawa mereka keluar dari rumah 

perbudakan, mengangkat dari bahu mereka beban pe-

nindasan yang nyaris membenamkan mereka. Tangan 

mereka telah bebas dari keranjang pikulan, atau bakul 

besar, yang mereka pakai mengangkut tanah liat atau 

batu bata. Pembebasan dari perbudakan merupakan rah-

mat yang sangat besar dan patut diingat selamanya. Te-

tapi ini belumlah semuanya. 

[2] Tuhan   telah membebaskan mereka di Laut Merah. saat  

itu mereka berseru di tengah kesukaran, dan Ia menye-

lamatkan mereka dan mengacaukan rancangan musuh 

terhadap mereka (Kel. 14:10). Kemudian Ia menjawab 

seruan mereka dengan jawaban nyata, yang keluar dari 

dalam persembunyian guntur. Yakni, dari dalam tiang 

api yang digunakan Tuhan   untuk melihat dan mengacau-

kan orang Mesir (Kel. 14:24-25). Atau, ini juga bisa me-

rujuk pada pemberian kesepuluh hukum di gunung Si-

nai, tempat tersembunyi, mengingat bahwa orang yang 

melihatnya akan binasa (Kel. 19:21), dan di dalam gun-

turlah Tuhan   saat  itu berbicara. Bahkan kedahsyatan 

Sinai pun menjadi anugerah bagi Israel (Ul. 4:33). 

[3] Tuhan   masih dapat menanggung perilaku mereka selama 

di padang gurun: “Aku telah menguji engkau dekat air 

Meriba. Di sana engkau telah memperlihatkan watak-

mu, betapa tidak percaya dan suka menggerutunya eng-

kau dulu. Meskipun begitu, Aku tetap bermurah hati 


 1178

kepadamu.” Sela – Camkan itu. Bandingkan kebaikan 

Tuhan   dengan kejahatan manusia, dan keduanya akan 

saling bertolak belakang. Sekarang, jika  mereka pada 

hari-hari raya yang khidmat itu diingatkan akan pembe-

basan mereka dari Mesir, terlebih lagi kita pada hari Sa-

bat kristiani, sudah sepatutnya ingat akan penebusan 

yang lebih agung, yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, 

dari perbudakan yang lebih buruk dibandingkan  perbudakan 

Mesir. Juga, selayaknya kita ingat akan banyak jawab-

an-jawaban penuh rahmat yang telah diberikan-Nya ke-

pada kita, sekalipun kita telah begitu sering memancing 

amarah-Nya. 

Peringatan kepada Israel 

(81:9-17) 

9 Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai 

Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku! 10 Janganlah ada di antaramu 

Tuhan   lain, dan janganlah engkau menyembah kepada Tuhan   asing. 11 Akulah 

TUHAN, Tuhan  mu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah 

mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh. 12 namun  umat-Ku 

tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku. 13 Sebab itu 

Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan me-

ngikuti rencananya sendiri! 14 Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Seki-

ranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! 15 Sesaat  itu juga mu-

suh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan 

tangan-Ku. 16 Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat ke-

pada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. 17 namun  umat-

Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung 

batu Aku akan mengenyangkannya.” 

Di sini, Tuhan  , melalui sang pemazmur, berbicara kepada Israel, dan 

melalui mereka ini, berbicara kepada kita yang akan mengalami akhir 

zaman. 

I.  Tuhan   menyuruh mereka menyimak dengan cermat apa yang hen-

dak dikatakan-Nya (ay. 9): “Dengarlah hai umat-Ku! Siapa lagi 

yang akan mendengarkan Aku jika  umat-Ku tidak mau men-

dengarkan? Aku telah mendengar dan menjawab seruanmu. Se-

karang, maukah engkau mendengarkan Aku? Dengarlah apa yang 

dikatakan ini dengan segala kesungguhan dan kepastian yang ti-

dak perlu diragukan lagi, sebab Aku hendak memberi peringatan 

kepadamu. Jangan hanya mendengarkan Aku sepintas lalu saja, 

Kitab Mazmur 81:9-17 

 1179 

namun  dengarkan Aku. Artinya, bersedialah dinasihati dan diatur 

oleh-Ku.” Tidak ada yang lebih masuk akal atau yang lebih pantas 

diharapkan dibandingkan  hal ini. namun  meskipun demikian, Tuhan   me-

nambahkan kata jika: “Jika engkau mau mendengarkan Aku. Su-

dah menjadi kepentinganmu untuk melakukan hal itu, namun  ma-

sih menjadi pertanyaan apakah engkau mau melakukannya atau 

tidak, sebab tengkukmu tegar bagaikan otot besi.” 

II.  Ia mengingatkan mereka akan kewajiban mereka terhadap diri-

Nya sebagai Tuhan, Tuhan   dan Penebus mereka (ay. 11): Akulah 

TUHAN, Tuhan  mu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir. 

Ini merupakan kata-kata pendahuluan bagi kesepuluh perintah itu, 

dan alasan yang kuat untuk memelihara perintah-perintah itu. 

Kata-kata pendahuluan ini menunjukkan bahwa kita terikat ke-

padanya dalam kewajiban, kepentingan, serta rasa syukur, dan 

semua ikatan ini akan putus jika  kita tidak taat.  

III. Sang pemazmur memberi mereka ringkasan tentang aturan-atur-

an maupun janji-janji yang telah diberikan Tuhan   kepada mereka, 

sebagai Tuhan dan Tuhan   mereka, saat  mereka dibawa keluar 

dari Mesir. 

1.  Perintah yang utama mengatakan bahwa mereka tidak boleh 

menyembah Tuhan   lain selain Dia (ay. 10): Janganlah ada di an-

taramu Tuhan   lain, selain Tuhan  mu sendiri. Tuhan  -Tuhan   lain bisa 

disebut Tuhan  -Tuhan   asing atau janggal,  sebab  sangatlah janggal 

jika  ada umat yang memiliki Tuhan   yang hidup dan benar 

sebagai Tuhan   mereka menginginkan Tuhan   lain. Tuhan   cemburu 

dalam hal ini, sebab Ia tidak mau membiarkan kemuliaan-Nya 

diberikan kepada Tuhan   lain. Oleh sebab itu, mereka harus sa-

ngat berhati-hati dalam hal ini (Kel. 23:13). 

2.  Janji terbesar yaitu  bahwa Tuhan   sendiri sebagai Tuhan   yang 

mampu mencukupi segala sesuatu akan dekat dengan mereka 

dalam segala sesuatu yang mereka minta dari-Nya (Ul. 4:7). 

Jika mereka mau bertaut kepada Dia sebagai pelindung dan 

pemimpin mereka yang penuh kuasa, mereka akan selalu 

mendapati-Nya sebagai dermawan bagi mereka: “Bukalah mu-

lutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh, seperti 

burung rajawali muda yang membuka paruh lebar-lebar untuk 

diisi makanan oleh induknya.”  

 Lihatlah di sini, 

(1) Apa yang menjadi tugas kita: yaitu untuk meningkatkan 

pengharapan kita kepada Tuhan   dan juga kerinduan kita 

terhadap-Nya. Kita tidak dapat mengharapkan terlampau 

sedikit dari makhluk ciptaan ataupun terlampau banyak 

dari Sang Pencipta. Di dalam Dia, kita tidak berkekurang-

an. Oleh sebab itu, mengapa kita harus berkekurangan di 

dalam diri kita sendiri? 

(2) Apa yang menjadi janji Tuhan  . Aku akan memuaskanmu de-

ngan kebaikan (103:5). ada  cukup banyak harta di da-

lam Tuhan   untuk membuat penuh perbendaharaan kita (Ams. 

8:21), untuk memuaskan jiwa yang dahaga (Yer. 31:25), 

untuk mencukupi semua keperluan kita, menjawab semua 

kerinduan kita, dan untuk membuat kita bahagia seutuh-

nya. Kenikmatan indra akan membosankan dan tidak per-

nah memuaskan (Yes. 55:2). Kenikmatan ilahi akan memu-

askan dan tidak pernah membosankan. Kita bisa menerima 

cukup dari Tuhan   jika kita mendoakannya dengan iman. 

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu. Ia memberi  

kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak 

membangkit-bangkit. Tuhan   meyakinkan Israel, umat-Nya, 

bahwa yaitu  salah mereka sendiri jika  Ia tidak mela-

kukan hal-hal besar dan baik bagi mereka seperti yang per-

nah diperbuat-Nya bagi nenek moyang mereka. Tidak ada 

yang dapat dianggap terlampau baik atau terlampau besar 

untuk diberikan kepada mereka, selama mereka tetap ber-

ada di dekat Tuhan  . Dia tentu menambah lagi ini dan itu 

(2Sam. 12:8). 

IV. Ia mendakwa mereka bahwa mereka telah memandang rendah 

wibawa-Nya sebagai pemberi hukum, dan menghina Dia sebagai 

dermawan bagi mereka yang telah memberi kasih karunia serta 

anugerah-Nya (ay. 12) kepada mereka. Ia telah berbuat banyak 

bagi mereka dan berencana untuk berbuat lebih banyak lagi, teta-

pi semua ini percuma saja: “Umat-Ku tidak mendengarkan suara-

Ku, melainkan menutup telinga terhadap segala sesuatu yang Ku-

katakan.” Ada dua hal yang dikeluhkan oleh-Nya: 

1.  Ketidaktaatan mereka terhadap perintah-perintah-Nya. Mereka 

memang mendengar suara-Nya, yang tidak pernah dilakukan 

bangsa lain mana pun, namun  mereka tidak mau menaatinya 

dan tidak mau diatur olehnya, baik oleh hukum maupun alas-

an mengapa hukum itu diberikan. 

2. Ketidaksukaan mereka terhadap relasi-kovenan antara mereka 

dan Tuhan  : Mereka tidak suka kepada-Ku. Mereka tidak setuju 

dengan perkataan-Ku (menurut bahasa Aram). Tuhan   bersedia 

menjadi Tuhan   bagi mereka, namun  mereka tidak bersedia 

menjadi umat bagi Dia. Mereka tidak menyukai persyaratan-

persyaratan yang diajukan-Nya. “Aku hendak mengumpulkan 

mereka, namun  mereka tidak mau.” Orang Israel tidak suka ke-

pada-Nya. Mengapa? Bukan  sebab  mereka tidak boleh berelasi 

dengan Tuhan  , justru mereka telah diajak mengikat kovenan de-

ngan Tuhan  . Bukan juga  sebab  mereka tidak dapat berelasi de-

ngan-Nya, justru perkataan-Nya dekat dengan mereka, bahkan 

di dalam mulut dan hati mereka. Hal ini semata-mata  sebab  

mereka memang tidak mau. Tuhan   menyebut mereka umat-

Nya, sebab mereka telah ditebus oleh-Nya, terikat erat dengan-

Nya, namun meskipun demikian, mereka tidak mau mende-

ngarkan dan menaati Dia. “Israel, keturunan Yakub sahabat-

Ku, menyia-nyiakan Aku, dan tidak suka kepada-Ku.” Perhati-

kanlah, seluruh kejahatan dunia yang jahat ini disebabkan 

oleh kedegilan keinginan jahat. Alasan mengapa orang tidak 

hidup saleh yaitu   sebab  mereka memang tidak menghen-

dakinya. 

V. Ia memberi  alasan mengapa Ia benar dalam menjatuhkan hu-

kuman rohani ke atas mereka (ay. 13): Sebab itu Aku membiarkan 

dia dalam kedegilan hatinya. Kedegilan hati yaitu  musuh yang 

lebih berbahaya dan penindas yang lebih jahat dibandingkan  bangsa-

bangsa tetangga. Tuhan   menarik Roh-Nya dari mereka, melepas ke-

kang anugerah yang bisa menahan hati mereka, dan membiarkan 

mereka sendiri, yang memang sudah sepatutnya. Mereka akan 

berbuat sesuka hati, dan oleh sebab itu Ia membiarkan mereka 

mengikuti keinginan sendiri. Efraim bersekutu dengan berhala-ber-

hala, biarkanlah dia! Merupakan hal yang benar jika  Tuhan   

menyerahkan orang-orang kepada hawa nafsu yang mereka turut-

kan dan membiarkan mereka dituntun olehnya. Sebab untuk apa 

Roh-Nya harus senantiasa berusaha keras menarik mereka? 

Anugerah-Nya yaitu  kepunyaan-Nya sendiri, dan Ia tidak ber-

utang kepada siapa pun. Namun,  sebab  Ia tidak pernah membe-

rikan anugerah-Nya kepada siapa pun yang mengatakan bahwa 

mereka layak menerimanya, demikian pula Ia juga tidak pernah 

mengambil anugerah-Nya dari siapa pun selain bila orang itu yang 

pertama menyangkali anugerah itu sendiri: Mereka tidak suka ke-

pada-Ku. Sebab itu Aku membiarkan mereka, biarlah mereka me-

ngikuti jalan mereka sendiri. Lihatlah apa yang kemudian terjadi: 

Mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri, sesuai dengan ke-

inginan hati dan mata mereka, baik dalam penyembahan maupun 

dalam perilaku mereka. “Aku membiarkan mereka berbuat sesuka 

hati, dan mereka berbuat segala sesuatu yang jahat.” Mereka ber-

jalan mengikuti rencana sendiri dan bukan menurut rencana ser-

ta petunjuk Tuhan  . Oleh  sebab  itu Tuhan   bukanlah perancang dosa 

mereka. Ia membiarkan mereka mengikuti hawa nafsu hati mere-

ka dan rencana pikiran mereka sendiri. Jika mereka tidak berbuat 

baik, kesalahan itu harus ditimpakan pada hati mereka dan da-

rah ditanggungkan ke atas kepala mereka sendiri. 

VI. Ia menyatakan kehendak baik-Nya bagi mereka dan berharap me-

reka melakukan yang baik bagi diri mereka sendiri. Ia melihat be-

tapa parahnya masalah mereka, dan betapa pastinya kehancuran 

mereka saat  mereka diserahkan kepada hawa nafsu mereka 

sendiri. Ini lebih buruk dibandingkan  diserahkan kepada Iblis, suatu 

hal yang mungkin diperlukan demi terjadinya pembaruan (1Tim. 

1:20) dan keselamatan (1Kor. 5:5). Namun, diserahkan kepada ha-

wa nafsu hati mereka sama saja dengan dimeteraikan di bawah 

penghukuman. Barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar. 

Alangkah curamnya tebing yang sedang dituju oleh orang seperti 

ini! Sekarang, di sini Tuhan   memandang mereka dengan iba. Ia me-

nunjukkan bahwa dengan rasa engganlah Ia telah menyerahkan 

mereka kepada kebodohan dan nasib seperti itu. Masakan Aku 

membiarkan engkau, hai Efraim? (Hos. 11:8-9). Begitu pula di sini, 

O, sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! (Yes. 48:18). Begitu ju-

galah Kristus meratapi kedegilan Yerusalem. Betapa baiknya jika 

engkau mengerti (Luk. 19:42). Ungkapan isi hati yang dinyatakan 

di sini sangatlah menyentuh (ay. 14-17) dan dirancang untuk me-

nunjukkan betapa Tuhan   tidak menghendaki ada seorang pun yang 

binasa dan betapa inginnya Dia agar semua orang datang dan ber-

tobat (Ia tidak menyukai kebinasaan orang-orang atau bangsa-

bangsa yang hidup dalam dosa). Selain itu, juga untuk menunjuk-

kan betapa orang berdosa telah menjadi musuh bagi dirinya sen-

diri, dan betapa menyakitkannya penderitaan yang bakal mereka 

alami  sebab  tidak mau menjalani persyaratan yang ringan seper-

ti itu dengan senang hati.  

Lihatlah   di sini: 

1.  Rahmat besar yang disediakan Tuhan   bagi umat-Nya yang pasti 

akan dikerjakan-Nya bagi mereka seandainya saja mereka taat. 

(1) Ia pasti akan memberi mereka kemenangan atas musuh-

musuh mereka dan segera menuntaskan kebinasaan la-

wan-lawan mereka itu. Mereka bukan saja akan dapat 

mempertahankan tanah mereka, namun  juga menang atas 

orang-orang Kanaan yang tersisa beserta bangsa-bangsa te-

tangga mereka yang menjengkelkan dan suka mengganggu 

itu (ay. 15): Sesaat  itu juga musuh mereka Aku tundukkan. 

Hanya Tuhan   sajalah yang harus diandalkan untuk menun-

dukkan musuh-musuh kita. Kita tidak perlu lagi melawan 

mereka dalam pertempuran yang melelahkan dan membo-

sankan. Ia akan melakukannya sesaat  itu juga, sebab ter-

hadap para lawan mereka Ia balikkan tangan-Nya, dan me-

reka tidak akan mampu berdiri di hadapan-Nya. Hal ini 

menyiratkan betapa mudahnya Ia bisa melakukan hal itu 

tanpa kesulitan sedikit pun. Hanya dengan membalikkan 

tangan, bahkan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh 

orang fasik (Yes. 11:4). Jika Ia membalikkan tangan saja, 

orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat 

kepada-Nya (ay. 16). Meskipun mereka tidak berhasil dige-

rakkan untuk mengasihi Dia, mereka akan dibuat takut ke-

pada-Nya serta mengakui bahwa Dia terlampau kuat bagi 

mereka, dan bahwa sia-sia saja untuk menentang Dia. 

Tuhan   dihormati, demikian juga Israel umat-Nya, melalui pe-

nundukan orang-orang yang pernah memberontak mela-

wan mereka, walaupun penundukan itu hanya bersifat ter-

paksa dan pura-pura belaka. 

(2) Ia pasti telah meneguhkan dan mengabadikan keturunan 

mereka, dan menegakkannya di atas dasar yang kuat dan 

kekal, seandainya mereka taat kepada-Nya. Terlepas dari 

semua upaya musuh untuk melawan mereka, itulah nasib 

mereka untuk selama-lamanya, dan seharusnya mereka ti-

dak pernah terkendala dalam menduduki tanah subur yang 

telah diberikan Tuhan   kepada mereka, apalagi diusir dan har-

ta benda mereka dirampas. 

(3) Ia pasti akan memberi mereka banyak perkara yang baik 

(ay. 17) seandainya mereka taat kepada-Nya: Umat-Nya 

akan Ia beri makan gandum yang terbaik, dengan bulir-

bulir dan jenis yang terbaik. Gandum merupakan bahan 

pokok dagangan di Kanaan dan mereka mengekspor seba-

gian besar dari hasil bumi ini (Yeh. 27:17). Ia bukan saja 

akan menyediakan bagi mereka roti dengan mutu paling 

baik, namun  juga Ia akan mengenyangkan mereka dengan 

madu dari gunung batu. Selain itu, Ia juga akan memberi-

kan hasil bumi yang bernilai tinggi dari tanah yang subur, 

sehingga tidak ada sejengkal pun tanah yang tandus di se-

luruh negeri, bahkan celah-celah batu pun menjadi sarang 

lebah dan dari dalamnya mereka akan mendapatkan madu 

berlimpah (Ul. 32:13-14). Singkat kata, Tuhan   berencana 

untuk menjadikan jalan mereka mudah dan menyenang-

kan. 

2.  Kewajiban yang dituntut Tuhan   dari mereka sebagai persyarat-

an untuk menerima semua rahmat ini. Yang diharapkan-Nya 

dari mereka tidak lebih dibandingkan  mendengarkan suara-Nya, se-

perti murid yang mendengarkan perkataan gurunya untuk 

menerima pengajarannya. Atau, seperti seorang pelayan men-

dengarkan majikannya untuk menerima perintah-perintahnya. 

Juga supaya mereka hidup menurut jalan yang Ia tunjukkan, 

jalan-jalan Tuhan yang benar dan menyenangkan. Lagi, supa-

ya mereka memperhatikan dengan sungguh peraturan-pera-

turan yang telah ditetapkan-Nya dan mencermati isyarat tidak 

langsung dari tindakan pemeliharaan-Nya. Tidak ada yang ti-

dak masuk akal dalam hal ini. 

3. Lihatlah   bagaimana alasannya Ia menahan rahmat-Nya ini, 

yaitu  sebab  kelalaian mereka dalam menjalankan kewajiban: 

“Seandainya saja mereka telah mendengarkan Aku, sesaat  itu 

juga musuh mereka Aku tundukkan.” Dosa atau ketidaktaatan 

bangsa merupakan satu-satunya hal besar yang menghambat 

dan merintangi pembebasan bangsa itu. “jika  Aku menyem-

buhkan Israel, dan memulihkan segala sesuatu di antara me-

reka, maka tersingkaplah kesalahan Efraim, sehingga terhen-

tilah penyembuhan itu” (Hos. 7:1). Kita cenderung berkata, 

“Jika cara seperti itu telah dilaksanakan, dan sarana seperti 

itu digunakan, sesaat  itu juga kita akan bisa menundukkan 

musuh-musuh kita.” namun  ini keliru. Jika kita mendengarkan 

Tuhan   dan tetap melaksanakan kewajiban kita, hal itu akan ter-

laksana. namun  dosalah yang membuat masalah kita berke-

panjangan dan keselamatan datang berlambat-lambat. Inilah 

yang dikeluhkan oleh Tuhan   sendiri, dan Ia rindu agar hal seba-

liknyalah yang terjadi. Perhatikanlah, sebab itu Tuhan   meng-

hendaki kita melaksanakan kewajiban kita terhadap-Nya, su-

paya kita memenuhi syarat untuk menerima anugerah-Nya. Ia 

senang jika  kita melayani Dia, bukan demi kebaikan-Nya, 

melainkan demi kebaikan kita.  

 

 

 

PASAL 82  

azmur ini dimaksudkan bagi lingkungan istana raja dan penga-

dilan, bukan saja di Israel, namun  juga di antara bangsa-bangsa 

lain. Akan namun , mazmur ini mungkin juga terutama ditulis bagi para 

hakim Israel, Mahkamah Agama Yahudi, beserta para tua-tua yang 

memegang kekuasaan, dan boleh jadi di bawah bimbingan Daud. 

Mazmur ini dirancang untuk membuat bijaksana para raja dan “untuk 

memberi pengajaran kepada para hakim dunia” (seperti di dalam Maz-

mur 2 dan 10), untuk memberitahukan mereka akan kewajiban mere-

ka (2Sam. 23:3), serta untuk menunjukkan kesalahan mereka (58:2). 

Di sini diceritakan tentang, 

I.  Martabat pengadilan dan ketergantungannya pada Tuhan   (ay. 1). 

II.  Tugas para hakim (ay. 3-4). 

III. Kemerosotan akhlak para hakim yang jahat dan kejahatan 

yang mereka lakukan (ay. 2, 5). 

IV. Kebinasaan mereka dibacakan (ay. 6-7). 

V. Kerinduan dan doa semua orang baik, supaya kerajaan Tuhan   

semakin ditegakkan (ay. 8).  

Meskipun para hakim sangat pantas menerapkan mazmur ini ke-

pada diri mereka sendiri, masing-masing kita dapat juga menyanyi-

kannya dengan penuh pengertian saat memberi  kemuliaan bagi 

Tuhan  . Sama seperti para hakim mengadili perkara masyarakat umum, 

memberi  perlindungan bagi yang tidak bersalah, dan siap meng-

hukum ketidakadilan yang merajalela, kita juga boleh menghibur diri 

dengan percaya bahwa Dia memerintah di masa sekarang dan de-

ngan yakin berharap bahwa Dia akan menghakimi di masa menda-

tang. 


Tugas Para Hakim 

(82:1-5) 

1 Mazmur Asaf. Tuhan   berdiri dalam sidang ilahi, di antara para Tuhan   Ia meng-

hakimi: 2 “Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak 

kepada orang fasik? S e l a 3 Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan 

kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! 

4 Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari 

tangan orang fasik!” 5 Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam 

kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. 

Di sini kita temukan: 

I.  Kepemimpinan dan kuasa mutlak Tuhan   dalam semua dewan-

dewan dan pengadilan yang diteguhkan dan ditetapkan, dan ke-

nyataan ini patut dipercaya kebenarannya baik oleh para raja mau-

pun warganya (ay. 1): Tuhan   berdiri, sebagai pemimpin utama, dalam 

sidang ilahi, sidang Tuhan   yang Mahakuasa, in coetu fortis – dalam 

dewan raja, sebagai hakim agung, dan Ia menghakimi di antara 

Tuhan  -Tuhan  , yakni para hakim bawahan. Baik kuasa raja-raja yang 

berwenang membuat undang-undang maupun yang menjalankan 

pemerintahan, berada di bawah pengawasan dan penanganan-Nya.  

Lihatlah   di sini: 

1. Kuasa dan kehormatan para hakim yang besar. Mereka itu 

yang berkuasa. Mereka berkuasa dan punya kewenangan, de-

mi kebaikan umum (sungguh besar kuasa yang dipercayakan 

kepada mereka).  sebab  itu sudah sepantasnya mereka juga 

besar dalam hikmat dan keteguhan hati. Di dalam dialek Ibra-

ni, mereka disebut Tuhan  . Istilah yang sama juga digunakan 

untuk menyebut pemimpin wilayah atau gubernur di dunia 

bawah ini atau penguasa dunia yang berdaulat. Mereka yaitu  

elohim. Para malaikat disebut elohim juga, baik  sebab  kuasa 

dan kedahsyatan mereka, maupun  sebab  Tuhan   berkenan meng-

gunakan pelayanan mereka dalam mengendalikan dunia ba-

wah ini. Dalam tingkat tanggung jawab yang lebih rendah, para 

hakim juga merupakan pelayan yang menjalankan tindakan 

pemeliharaan Tuhan   secara umum, untuk memelihara ketertib-

an dan ketenteraman masyarakat, terutama untuk memelihara 

keadilan dan kebaikan-Nya dalam menghukum pelaku keja-

hatan serta melindungi mereka yang berbuat baik. Hakim-ha-


kim baik yang menjalankan peradilan dengan baik, serupa de-

ngan Tuhan  . Sebagian dari kehormatan-Nya diberikan kepada 

mereka. Mereka yaitu  wakil-Nya dan merupakan berkat besar 

bagi setiap orang. Keputusan dari Tuhan   ada di bibir raja (Ams. 

16:10). Sebaliknya, sama seperti singa yang meraung atau be-

ruang yang menyerbu, demikianlah orang fasik yang memerin-

tah rakyat yang lemah (Ams. 28:15).  

2. Bentuk dan undang-undang dasar pemerintahan yang baik, 

yaitu bentuk kerajaan campuran seperti yang dikenal di Inggris. 

Seperti ditemukan dalam perikop di atas, di sini ada  Sang 

Penguasa tertinggi, yang berdaulat, dan jemaat-Nya, dewan pri-

badi-Nya, parlemen-Nya, para hakim-Nya yang disebut para al-

lah. 

3. Kedaulatan Tuhan   yang tak tertandingi ditegakkan di dalam 

dan atas semua jemaat Dia yang perkasa. Tuhan   berdiri, di anta-

ra para Tuhan   Ia menghakimi. Mereka menerima kuasa dari Dia 

dan bertanggung jawab kepada-Nya.  sebab  Dia para raja me-

merintah. Ia hadir dalam semua perdebatan mereka serta me-

meriksa segala yang mereka katakan dan lakukan. Apa yang 

keliru dikatakan dan dilakukan akan ditelaah kembali, dan 

mereka harus bertanggung jawab jika  mengelola dengan 

keliru. Tuhan   mengendalikan hati dan lidah mereka, dan Ia me-

nuntun mereka ke mana Ia ingini (Ams. 21:1). Dengan demiki-

an Ia dapat menyampaikan penolakan atas keputusan mereka, 

dan rencana-rencana-Nya akan tetap teguh, apa pun tipu 

muslihat yang ada di hati manusia. Ia memakai mereka sesuai 

dengan yang dikehendaki-Nya untuk memenuhi tujuan dan 

rancangan-Nya sendiri, walaupun mereka tidak menyadarinya 

(Yes. 10:7). Biarlah para hakim mempertimbangkan hal ini dan 

menjadi takjub oleh  sebab nya. Tuhan   menyertai mereka dalam 

penghakiman (2Taw. 19:6; Ul. 1:17). Biarlah semua warga ne-

gara memikirkan hal ini dan terhibur olehnya. Sebab, raja-raja 

serta hakim-hakim yang baik dan bertujuan baik berada di ba-

wah arahan ilahi. Sedangkan raja-raja dan hakim-hakim yang 

jahat dan berniat jahat berada di bawah pengendalian ilahi. 

II.  Tuntutan kepada para hakim supaya menggunakan kekuasaan 

mereka dengan baik,  sebab  mereka harus mempertanggungja-

wabkan perbuatan mereka kepada Dia yang telah mempercayakan 

tugas itu kepada mereka (ay. 3-4). 

1. Mereka harus menjadi pelindung bagi orang-orang yang rentan 

terhadap penindasan dan pembela bagi mereka yang tidak 

mendapatkan saran dan bantuan: Berilah keadilan kepada 

orang yang lemah, yang tidak memiliki uang untuk beroleh te-

man atau membayar penasihat, dan kepada anak yatim, yang 

selagi masih muda dan tidak mampu membela diri, telah kehi-

langan orang-orang yang seharusnya bisa menjadi pembim-

bing di masa muda mereka. Sama seperti para hakim harus 

menjadi bapa bagi bangsa mereka secara umum, begitu pula 

secara khusus mereka harus demikian bagi warga yang yatim. 

Apakah para hakim disebut Tuhan  ? Dalam hal ini mereka harus 

mencontoh Dia. Mereka harus menjadi bapa bagi anak yatim. 

Demikianlah halnya dengan Ayub (Ayb. 29:12). 

2. Mereka harus melaksanakan keadilan tanpa memihak, dan 

membela hak orang sengsara dan orang yang kekurangan, 

yang  sebab  lemah dan tidak berdaya, sering kali diperlaku-

kan dengan semena-mena. Mereka ini terancam kehilangan 

semuanya jika  para hakim tidak ex officio – dengan kewe-

nangan penuh bertindak untuk membela mereka. Jika seorang 

miskin menghadapi perkara dan ia sebenarnya tidak bersalah, 

janganlah kemiskinannya itu merugikan perkaranya, sekeras 

dan sekuat apa pun orang menentangnya. 

3. Mereka harus menyelamatkan orang-orang yang sudah telan-

jur jatuh ke tangan para penindas, dan melepaskan mereka (ay. 

4): Lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik! Belalah hak 

mereka terhadap lawan mereka (Luk. 18:3). Mereka ini yaitu  

pelanggan yang tidak bisa memberi keuntungan atau memba-

yar untuk jasa yang mereka terima. Tidak ada keuntungan 

yang bisa ditarik dengan membantu mereka. Meskipun demi-

kian, orang-orang inilah yang harus diperhatikan, dihibur, dan 

dibela perkaranya oleh para hakim.  

III. Dakwaan yang dilancarkan terhadap para hakim yang jahat, yang 

mengabaikan kewajiban mereka dan menyalahgunakan kekuasa-

an mereka, yang lupa bahwa Tuhan   berdiri di antara mereka (ay. 2, 5).  

Lihatlah  : 

1. Dosa apa yang didakwakan kepada mereka di sini. Mereka te-

lah menghakimi dengan lalim, bertentangan dengan peraturan 

keadilan dan kata hati mereka,  sebab  menjatuhkan hukuman 

ke atas orang-orang yang berada di pihak yang benar. Mereka 

melakukan ini  sebab  terdorong sifat jahat dan dengki, atau 

membela orang yang salah,  sebab  terdorong oleh kemurahan 

hati dan rasa suka. Berbuat tidak adil yaitu  sikap yang bu-

ruk, namun  menghakimi dengan tidak adil jauh lebih buruk, se-

bab ini berarti melakukan kesalahan di balik topeng kebenaran. 

Terhadap tindakan tidak adil seperti ini, nyaris tidak ada per-

lindungan bagi mereka yang dirugikan, dan melalui tindakan-

tindakan semacam ini, orang yang melakukan kerugian terha-

dap orang lain itu justru merasa mendapat angin. Tindakan 

seperti itu sama parah dan jahatnya dengan yang pernah 

dilihat Salomo di bawah matahari saat  ia mengamati tempat 

pengadilan, dan di situ pun ada  ketidakadilan (Pkh. 3:16; 

Yes. 5:7). Mereka bukan saja menyambut orang-orang kaya 

 sebab  mereka kaya. Meskipun ini sikap yang cukup buruk, 

namun  (yang jauh lebih buruk lagi) mereka juga memihak kepa-

da orang fasik  sebab  mereka jahat. Mereka bukan saja mene-

rima mereka dalam kejahatan mereka, namun  justru semakin 

menyukai mereka  sebab  hal itu dan menyesuaikan diri dengan 

minat mereka. Celakalah engkau, hai negeri, jika  hakim-ha-

kimmu seperti ini. 

2. Apa yang menjadi penyebab dosa ini. Mereka telah diberitahu 

dengan cukup jelas bahwa sudah menjadi tugas dan kewajib-

an mereka untuk melindungi dan melepaskan orang miskin. 

Hal ini telah sering kali disampaikan kepada mereka yang ber-

wenang. Meskipun demikian, mereka menghakimi dengan ti-

dak adil, sebab mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa. 

Mereka tidak berminat mendengar apa yang menjadi tugas me-

reka. Mereka tidak mau bersusah payah mempelajarinya. Me-

reka tidak berkeinginan mengerjakan segala hal dengan benar. 

Sebaliknya, mereka dikuasai oleh kepentingan, bukan oleh akal 

sehat atau keadilan. Pemberian dengan sembunyi-sembunyi mem-

butakan mata mereka. Mereka tidak tahu  sebab  tidak mau 

mengerti. Tidak ada yang begitu buta seperti orang-orang yang 

tidak mau melihat. Mereka telah mengalahkan hati nurani me-

reka sendiri sehingga berjalan dalam kegelapan, tanpa tahu 

ataupun peduli pada apa yang mereka lakukan atau ke mana 

mereka pergi. Orang-orang yang berjalan dalam kegelapan se-

benarnya sedang berjalan ke dalam kegelapan kekal. 

3.  Apa akibat dari dosa ini: Goyanglah segala dasar bumi (atau 

negeri). saat  keadilan dinodai, kebaikan apa lagi yang bisa di-

harapkan? Bumi hancur dan semua penduduknya, seperti yang 

dikatakan sang pemazmur dalam kejadian serupa (75:4). Kega-

galan dalam pelaksanaan keadilan oleh para tokoh masyarakat 

merupakan celaka bagi masyarakat. 

Kewajiban Para Hakim 

(82:6-8) 

6 Aku sendiri telah berfirman: “Kamu yaitu  Tuhan  , dan anak-anak Yang Ma-

hatinggi kamu sekalian. – 7 Namun seperti manusia kamu akan mati dan se-

perti salah seorang pembesar kamu akan tewas.” 8 Bangunlah ya Tuhan  , ha-

kimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa. 

Di sini diceritakan tentang, 

I.  Tuhan  -Tuhan   duniawi yang direndahkan dan dijatuhkan (ay. 6-7). 

Martabat sifat mereka diakui (ay. 6): Kamu yaitu  Tuhan  . Mereka te-

lah mendapat kehormatan menyandang nama dan sebutan Tuhan  . 

Tuhan   sendiri menyebut mereka demikian dalam ketetapan mela-

wan perkataan yang bersifat khianat (Kel. 22:28), Janganlah eng-

kau mengutuki Tuhan  . Jadi, kalau mereka menerima gelar ini dari 

sumber kehormatan itu, siapa yang dapat membantahnya? namun  

siapakah manusia hingga dimuliakan seperti itu? Tuhan   menyebut 

mereka Tuhan  -Tuhan    sebab  kepada merekalah firman itu disampai-

kan. Begitulah yang dijelaskan oleh Juruselamat kita (Yoh. 10:35). 

Mereka mendapat pengutusan dari Tuhan  , dan diutus serta ditun-

juk oleh-Nya untuk menjadi perisai bagi bumi, memelihara keten-

teraman umum, dan membalaskan murka ke atas orang-orang 

yang mengganggu ketenteraman itu (Rm. 13:4). Dalam pengertian 

ini, mereka semua yaitu  anak-anak Yang Mahatinggi. Tuhan   telah 

menaruh sebagian dari kehormatan-Nya di atas mereka dan mem-

pekerjakan mereka di dalam pemerintahan dunia yang dipelihara-

Nya, sama seperti Daud mengangkat anak-anaknya menjadi pe-

nguasa utama. Atau, “ sebab  Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu

 yaitu  Tuhan  ,’ kamu telah membawa kehormatan ini lebih jauh 

dibandingkan  yang direncanakan semula dan kamu telah membayang-

kan dirimu sebagai anak-anak Yang Mahatinggi,” sama seperti 

raja Babel yang berkata (Yes. 14:14), Aku hendak menyamai Yang 

Mahatinggi, dan seperti raja Tirus (Yeh. 28:2), hatimu menempat-

kan diri sama dengan Tuhan  . Memang sulit bagi manusia untuk 

menerima kehormatan sebesar itu dari tangan Tuhan   dan dihor-

mati dengan setinggi-tingginya oleh anak-anak manusia namun  ti-

dak menjadi sombong serta congkak hingga menganggap diri lebih 

tinggi dibandingkan  seharusnya. Namun, kemudian menyusul pernya-

taan yang mematikan ini: seperti manusia kamu akan mati. Hal ini 

dapat diartikan, 

1. Sebagai hukuman bagi para hakim yang jahat, yang mengha-

kimi orang dengan tidak adil, sehingga melalui pemerintahan 

yang salah mereka telah membuat goyang segala dasar bumi. 

Tuhan   akan membuat perhitungan dengan mereka, dan akan 

memutuskan hubungan dengan mereka di tengah kebesaran 

dan kejayaan mereka. Mereka akan mati seperti orang-orang 

jahat yang lain, dan seperti salah seorang pembesar kafir me-

reka akan tewas (keberadaan mereka sebagai orang Israel atau 

hakim pun tidak akan menjadi jaminan bagi mereka), atau se-

perti salah seorang malaikat yang jatuh dalam dosa, atau se-

perti salah seorang raksasa pada zaman dahulu. Bandingkan 

hal ini dengan apa yang diamati Elihu menyangkut para pe-

nindas perkasa di zamannya (Ayb. 34:26), Mereka ditampar-

Nya  sebab  kefasikan mereka, dengan dilihat orang banyak. 

Biarlah orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan mere-

ka tahu bahwa Tuhan   akan mengambil kekuasaan dan juga 

nyawa mereka.  sebab  saat mereka menyombongkan diri, Ia 

akan menyatakan diri lebih tinggi dibandingkan  mereka. Atau, 

2.  Sebagai masa kejayaan semua hakim di dunia ini. Janganlah 

mereka menyombongkan diri dengan kehormatan yang mereka 

terima atau melalaikan tugas mereka, namun  biarlah kesadaran 

perihal kefanaan mereka itu mematikan kesombongan mereka 

dan menghidupkan kembali semangat mereka dalam menja-

lankan tugas. “Kamu memang disebut Tuhan  , namun  kamu tidak 

berhak atas kekekalan. Seperti manusia kamu akan mati, seperti 

manusia biasa, dan seperti salah seorang pembesar kamu akan 

tewas.” Perhatikanlah, bagi Tuhan  , para raja, pangeran, dan se-

mua hakim di dunia yaitu  manusia biasa. Mereka bisa mati 

seperti manusia lain, dan semua kehormatan mereka akan ter-

kubur di dalam tanah. Mors sceptra ligonibus æquat – Maut 

mempersatukan tongkat kerajaan dengan sekop. 

II.  Tuhan   sorgawi yang dimuliakan dan ditinggikan (ay. 8). Pemazmur 

beranggapan bahwa beradu mulut dengan para penindas congkak 

ini percuma saja. Mereka menutup telinga terhadap segala sesua-

tu yang dikatakan dan terus berjalan dalam kegelapan. Oleh  sebab  

itu ia memandang kepada Tuhan  , mengajukan perkaranya kepada 

Dia, dan memohon kepada-Nya agar menggunakan kemahakuasa-

an-Nya: Bangunlah ya Tuhan  , hakimilah bumi. Saat pemazmur ber-

doa agar Tuhan   melakukannya, ia juga percaya bahwa Dia akan 

melakukannya: Engkaulah yang memiliki segala bangsa. Hal ini 

menunjukkan rasa hormat, 

1.  Terhadap kerajaan Sang Pemelihara. Tuhan   memerintah dunia, 

menegakkan dan menjatuhkan siapa yang dikehendaki-Nya. Ia 

memiliki segala bangsa, menguasai mereka sepenuhnya, dan 

dapat membuang mereka seperti orang membuang miliknya. 

Kita harus mempercayai dan menghibur diri dengan hal ini, 

yaitu bahwa bumi tidak sepenuhnya diserahkan ke dalam ta-

ngan orang fasik, para penguasa fasik, seperti yang cenderung 

kita pikirkan. Sebaliknya, Tuhan   telah mencadangkan kuasa itu 

bagi diri-Nya sendiri untuk mengalahkan mereka. Dengan iman 

ini kita harus berdoa, “Bangunlah ya Tuhan  , hakimilah bumi, 

tampillah melawan orang-orang yang menghakimi dengan tidak 

adil, dan tetapkan para gembala bagi umat-Mu, sesuai dengan 

hati-Mu sendiri.” Masih ada Tuhan   yang adil kepada siapa kita 

dapat berpaling meminta tolong, dan kepada siapa kita dapat 

bergantung bagi pembebasan semua orang yang dirugikan oleh 

hakim-hakim yang tidak adil. 

2. Terhadap kerajaan Mesias. Ini merupakan doa untuk memper-

cepat kedatangan Kristus yang akan menghakimi bumi, dan 

untuk menyerukan janji bahwa Tuhan   akan memberi  bangsa-

bangsa menjadi milik pusakanya. Engkaulah, ya Kristus, yang 

memiliki segala bangsa, dan memerintah atasnya (2:8; 22:29). 

Biarlah kedatangan Kristus yang kedua kalinya meluruskan 

semua kekacauan ini. Ada dua perkataan yang dapat kita gu-

nakan untuk menghibur diri, yang masing-masing berkenaan 

Kitab Mazmur 82:6-8 

 1195 

dengan penyalahgunaan kekuasaan di antara manusia. Yang 

pertama ada  dalam Wahyu 19:6, Haleluya!  sebab  Tuhan, 

Tuhan   kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Sedangkan yang 

kedua ada  dalam Wahyu 22:20, Ya, Aku datang segera!  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

PASAL 83  

ni yaitu  mazmur terakhir yang ditulis di bawah nama Asaf. Sama 

seperti kebanyakan mazmur lainnya, mazmur ini ditulis menyang-

kut kepentingan umum dengan menyinggung penghinaan yang dilon-

tarkan musuh-musuh gereja yang ingin menghancurkannya. Ada be-

berapa yang berpendapat bahwa mazmur ini ditulis pada waktu orang 

Moab dan Amon, yakni bani Lot yang dibicarakan di sini, mengancam 

tanah Yehuda di zaman pemerintahan Yosafat (ay. 9). Mereka ini me-

mimpin persekongkolan dibantu semua bani lain yang disebut-sebut 

di sini. Kita bisa membaca kisahnya dalam 2 Tawarikh 20:1, yang me-

ngatakan bahwa bani Moab, Amon, dan bani-bani lain menyerbu ne-

geri itu. Ada pula yang berpendapat bahwa mazmur ini ditulis dengan 

mengacu kepada semua persekongkolan bangsa-bangsa tetangga me-

lawan Israel, mulai dari yang pertama sampai yang terakhir. Di sini 

sang pemazmur mengajukan permohonan dan permintaan, 

I.  Supaya Tuhan   tahu, melalui laporan tentang semua rencana 

dan upaya untuk menghancurkan Israel (ay. 2-9). 

II. Demi keadilan dan kecemburuan Tuhan  , baik untuk jemaat-

Nya maupun kehormatan-Nya sendiri, melalui doa yang di-

panjatkan sepenuh hati untuk menggagalkan upaya mereka, 

supaya jemaat dilindungi, musuh-musuh direndahkan, dan 

supaya Tuhan   dimuliakan (ay. 10-19). 

 Dengan menyanyikan mazmur ini, kita dapat menerapkannya ter-

hadap para musuh gereja Injili, semua kekuatan dan golongan yang 

menentang Kekristenan, sambil menyampaikan kepada Tuhan   perihal 

persekongkolan mereka terhadap Kristus dan kerajaan-Nya. Dalam 

menyanyikan mazmur ini kita juga boleh bersukacita dalam pengha-


 1198

rapan bahwa semua rencana mereka akan digagalkan dan pintu-pintu 

neraka tidak akan menang melawan gereja. 

Keluhan Perihal Musuh 

(83:1-9) 

1 Mazmur Asaf: suatu nyanyian. 2 Ya Tuhan  , janganlah Engkau bungkam, ja-

nganlah berdiam diri dan janganlah berpangku tangan, ya Tuhan  ! 3 Sebab se-

sungguhnya musuh-musuh-Mu ribut, orang-orang yang membenci Engkau 

meninggikan kepala. 4 Mereka mengadakan permufakatan licik melawan umat-

Mu, dan mereka berunding untuk melawan orang-orang yang Kaulindungi. 5 

Kata mereka: “Marilah kita lenyapkan mereka sebagai bangsa, sehingga na-

ma Israel tidak diingat lagi!” 6 Sungguh, mereka telah berunding dengan satu 

hati, mereka telah mengadakan perjanjian melawan Engkau: 7 Penghuni ke-

mah-kemah Edom dan orang Ismael, Moab dan orang Hagar, 8 Gebal dan 

Amon dan Amalek, Filistea beserta penduduk Tirus, 9 juga Asyur telah berga-

bung dengan mereka, menjadi kaki tangan bani Lot. S e l a 

Sekarang Israel umat Tuhan   sedang berada dalam bahaya, ketakutan, 

dan sangat tertekan. Namun, doa mereka disebut suatu nyanyian 

atau mazmur.  sebab  biasanya hal menyanyikan mazmur tergantung 

suasana, mazmur tidak dinyanyikan orang saat kecapi tergantung di 

pohon gandarusa. 

I.   Di sini pemazmur memohon supaya Tuhan   tampil atas nama umat-

Nya yang telah disakiti dan diancam (ay. 2): “Ya Tuhan  , janganlah 

Engkau bungkam, namun  jadilah hakim bagi kami melawan orang-

orang yang berbuat salah kepada kami.” Demikianlah Yosafat ber-

doa saat  terjadi penyerbuan (2Taw. 20:11), Lihatlah, sebagai 

pembalasan mereka datang mengusir kami dari tanah milik yang 

telah Engkau wariskan kepada kami. Adakalanya Tuhan   seakan-

akan berkomplot di balik perlakuan tidak adil terhadap umat-Nya. 

Ia tetap bungkam seperti orang yang tidak mengamati perlakuan 

itu, atau yang tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Ia tetap di-

am seakan-akan sedang mengamati sesuatu yang sangat wajar dan 

membiarkan mereka mengatasinya sendiri. Ia berdiam diri dan ti-

dak mengusik ataupun melawan musuh-musuh umat-Nya, namun  

tampak berpangku tangan seperti orang yang bingung, seperti pah-

lawan yang tidak sanggup menolong. Kemudian ia membiarkan ki-

ta berseru kepada-Nya seperti di sini, “Janganlah berdiam diri, ya 

Tuhan  ! Tuhan, berbicaralah kepada kami melalui para nabi untuk 

membesarkan hati kami dan menghapus ketakutan kami” (sama

Kitab Mazmur 83:1-9 

 1199 

seperti yang dilakukan-Nya berkaitan dengan penyerbuan dalam 

2Taw. 20:14 dst.) “Tuhan, berbicaralah bagi kami melalui pemeli-

haraan-Mu dan berbicaralah melawan musuh-musuh kami. Ber-

bicaralah demi pembebasan kami dan demi kekecewaan mereka.” 

Perkataan Tuhan   terletak dalam tindakan-Nya, sebab bagi-Nya, ber-

kata sama dengan bertindak. 

II. Di sini ia melaporkan perihal permufakatan bangsa-bangsa te-

tangga melawan Israel. Ia memohon supaya Tuhan   mematahkan 

permufakatan itu dan menghancurkan rencana-rencana mereka.  

 Sekarang Lihatlah   di sini: 

1.  Terhadap siapa persekongkolan itu dibentuk. Mereka berseku-

tu melawan Israel umat Tuhan  , sehingga dengan demikian sama 

saja dengan melawan Tuhan   umat Israel. Demikianlah pemaz-

mur berusaha menarik perhatian Tuhan   kepada perkara mere-

ka, tanpa meragukan bahwa jika mereka tampak berpihak ke-

pada Tuhan  , maka Tuhan   akan tampak berpihak kepada mereka, 

dan mereka dapat mengalahkan semua musuh mereka. Sebab 

dengan demikian, siapa lagi yang dapat melawan mereka? “Tu-

han,” kata pemazmur, “mereka yaitu  musuh-musuh-Mu, dan 

mereka membenci-Mu.” Semua orang fasik yaitu  musuh-mu-

suh Tuhan   (sebab keinginan daging yaitu  perseteruan terhadap 

Tuhan  ), terutama para penganiaya yang kejam. Mereka ini mem-

benci para penyembah Tuhan   yang saleh, sebab mereka mem-

benci agama suci Tuhan   dan penyembahan kepada-Nya. Hal ini-

lah yang membuat umat Tuhan   begitu bersemangat melawan 

orang-orang fasik ini, yaitu  sebab  mereka melawan Tuhan  : me-

reka telah mengadakan perjanjian melawan Engkau (ay. 6). 

Seandainya kepentingan kita yang menjadi masalah, kita 

mungkin masih bisa menanggungnya. Namun, saat Tuhan   sen-

diri yang diserang, maka tibalah saatnya untuk berseru, “To-

long, Tuhan. Ya Tuhan  , janganlah Engkau bungkam!” Pemazmur 

membuktikan bahwa mereka bersekongkol melawan Tuhan  . Se-

benarnya itulah yang mereka lakukan terhadap umat Tuhan   

yang hidup dekat dengan-Nya dan disayang oleh-Nya.  sebab  

mereka dekat dengan anak-Nya, putra sulung-Nya, bagian-Nya, 

dan bagian dari warisan-Nya. Orang yang berusaha keras mem-

binasakan anak-anakku, membasmi seluruh keluargaku, dan 


 1200

menghancurkan harta milikku, dapat dikatakan telah mela-

wan aku. “Tuhan,” kata pemazmur, “mereka yaitu  musuh-

musuh-Mu, sebab mereka berunding untuk melawan umat-Mu 

yang tersembunyi.” Perhatikanlah, umat Tuhan   merupakan umat 

yang tersembunyi. Mereka tersembunyi, 

(1) Berkenaan dengan kerahasiaan. Kehidupan mereka tersem-

bunyi bersama dengan Kristus di dalam Tuhan  . Dunia tidak 

mengenal mereka. Seandainya mengenal mereka, orang-

orang dunia tentunya tidak akan membenci mereka seperti 

itu. 

(2) Berkenaan dengan keamanan. Tuhan   melindungi mereka se-

cara istimewa. Ia menyembunyikan mereka di telapak ta-

ngan-Nya. Namun, dengan menentang Tuhan   dan kuasa serta 

janji-Nya untuk melindungi umat-Nya, mereka berunding 

untuk menghancurkan dan menghempaskan dia dari kedu-

dukannya yang tinggi (62:5), dan untuk memangsa orang-

orang yang bagi-Nya TUHAN telah memilih seorang yang dika-

sihi-Nya (4:4). Mereka bertekad menghancurkan orang-orang 

yang pasti dilindungi Tuhan  . 

2.  Bagaimana persekongkolan itu dijalankan. Iblis berada di balik 

ini, dan oleh sebab itu permufakatan ini dilaksanakan, 

(1)  Dengan berapi-api dan penuh kekerasan: Musuh-musuh-Mu 

ribut (ay. 3). Keadaan rusuh bangsa-bangsa (2:1). Semua 

bangsa telah marah (Why. 11:18). Mereka berteriak-teriak 

dengan ribut mencerca orang-orang yang ingin mereka gilas 

dengan fitnah busuk. Hal ini dipakai sebagai alasan menga-

pa Tuhan   seharusnya tidak diam saja: “Musuh yang besar 

mulut dan banyak bicara. Tuhan, jangan biarkan mereka 

saja yang berbicara, namun  berkatalah kepada mereka dalam 

murka-Mu” (2:5). 

(2)  Dengan sangat angkuh dan menghina: Mereka meninggikan 

kepala.  sebab  begitu yakin akan berhasil, mereka mening-

gikan diri begitu rupa seakan-akan mampu mengalahkan 

Yang Mahatinggi dan menyergap Yang Mahakuasa. 

(3) Dengan keahlian dan siasat tinggi: Mereka mengadakan 

permufakatan licik (ay. 4). Muslihat si ular tua itu muncul 

dalam cara mereka bekerja, dan mereka menyusun renca-

na dengan segala cara, tak peduli serendah dan sejahat apa 

Kitab Mazmur 83:1-9 

 1201 

pun, guna mencapai tujuan mereka. Mereka menunduk dan 

sudah menggali pelubangnya dalam-dalam (Hos. 5:2, TL), sea-

kan-akan mampu mengecoh Yang Mahatahu. 

(4)  Dengan kebulatan suara penuh. Seperti apa pun perbeda-

an kepentingan yang ada di antara mereka, dalam hal me-

lawan umat Tuhan   mereka berunding dengan satu hati (ay. 

6), dan tidak akan kerajaan Iblis itu terpecah-pecah. Untuk 

dapat menyulut peperangan najis ini, mereka berembuk se-

penuh hati. Fas est et ab hoste doceri – Bahkan musuh pun 

dapat mengajar. Apakah musuh-musuh gereja bertindak 

dengan satu kesepakatan untuk menghancurkannya? Apa-

kah raja-raja di bumi ini sependapat untuk menyerahkan 

kekuasaan dan kehormatan mereka kepada makhluk itu? 

Apakah sahabat-sahabat jemaat tidak akan bersepakat da-

lam melayani kepentingannya? Jika Herodes dan Pilatus 

menjalin persahabatan supaya bisa bersama-sama menya-

libkan Kristus, sudah barang tentu Paulus dan Barnabas, 

atau Paulus dan Petrus juga akan menjalin persahabatan 

supaya bisa bersama-sama mewartakan Kristus. 

3. Apa yang menjadi tujuan utama dalam persekongkolan ini. 

Mereka tidak berunding seperti orang Gibeon yang hendak 

bersekutu dengan orang Israel supaya dapat saling menguat-

kan dengan persekutuan yang sangat diperlukan itu, dan ini 

merupakan hikmat mereka. Mereka berunding bukan saja un-

tuk membatasi kekuasaan Israel, untuk menaklukkan mereka 

kembali, dan menghambat kemajuan pasukan Israel yang ber-

jaya. Mereka bukan sekadar hendak menyeimbangkan kekuat-

an dengan Israel dan menghambat kekuatan mereka supaya 

tidak bertumbuh terus. Semua hal ini belumlah mencukupi. 

Tidak kurang dari kehancuran dan pemusnahan mutlak Isra-

ellah yang mereka rancang (ay. 5): “Marilah kita lenyapkan 

mereka sebagai bangsa, sama seperti mereka telah memang-

kas ketujuh bangsa di Kanaan. Jangan kita sisakan akar atau-

pun ranting mereka, namun  mari kita musnahkan negeri mere-

ka dengan tuntas sehingga nama Israel tidak diingat lagi, tidak 

diingat sepanjang sejarah.”  sebab  bersama bangsa ini, mere-

ka juga akan menghancurkan semua Kitab Suci mereka dan 

membakar semua catatan mereka. Seperti itulah kebencian 

keturunan ular itu terhadap keturunan perempuan itu. Ke-


 1202

inginan tersembunyi banyak orang fasik yaitu  supaya gereja 

Tuhan   tidak terwujud di dunia, supaya tidak ada agama di an-

tara umat manusia. Bila rasa beragama sudah tidak ada lagi 

dalam hati umat Israel itu, maka mereka akan senang sekali 

bila seluruh dunia juga bebas darinya. Seluruh hukum dan ke-

tetapan dihapus, seluruh pengekangan dan kewajiban ditang-

galkan, dan semua orang yang berkhotbah, mengaku percaya, 

atau menjalankannya, diberantas. Inilah yang akan mereka lak-

sanakan seandainya mereka mampu melakukannya. namun  Dia 

yang bersemayam di sorga, tertawa. 

4.  Siapa saja yang diajak bergabung dalam persekongkolan ini. 

Bangsa-bangsa yang bergabung dalam persekutuan ini dise-

butkan di sini (ay. 7-9). Orang Edom dan Ismael yang sama-

sama keturunan Abraham, memimpin di depan. Orang-orang 

ini yang memimpin di depan,  sebab  orang yang murtad dari 

gereja merupakan musuh yang paling pahit dan dengki terha-

dap gereja, seperti dikatakan Julian. Orang-orang tadi masih 

memiliki pertalian darah dengan orang Israel, namun berseku-

tu melawan Israel. Tidak ada ikatan alami yang sekuat ini, te-

tapi roh aniaya telah mematahkan ikatan ini. Seorang saudara 

akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh. Moab dan Amon 

yaitu  anak-anak Lot yang benar itu. Namun  sebab  perbuatan 

mesum di antara sesama saudara, akhlak bangsa ini pun me-

rosot. Sudah sejak lama orang Filistin menjadi duri dalam da-

ging bagi orang Israel, dan mereka ini sangat menjengkelkan. 

Saya tidak tahu bagaimana penduduk Tirus, yang di masa pe-

merintahan Daud merupakan sekutu Israel, sampai bisa ber-

gabung dengan musuh. Sebaliknya, bila Asyur telah bergabung 

dengan mereka, ini bukanlah hal yang aneh, atau bila mereka 

menjadi kaki tangan bani Lot. Lihatlah betapa banyak musuh 

umat Tuhan   sejak dahulu. Ya TUHAN, betapa banyaknya la-

wanku! Warisan yang diberikan Tuhan   bagaikan burung belang, 

burung-burung buas mengerumuninya (Yer. 12:9). Hal ini sa-

ngat melipatgandakan kuasa Tuhan   dalam memelihara jemaat 

di dunia bagi diri-Nya sendiri, meskipun kekuatan dunia dan 

neraka bersatu padu. 

 

Kitab Mazmur 83:10-19 

 1203 

Kutuk-kutuk yang Dinubuatkan 

(83:10-19) 

10 Perlakukanlah mereka seperti Midian, seperti Sisera, seperti Yabin dekat 

sungai Kison, 11 yang sudah dipunahkan di En-Dor, menjadi pupuk bagi ta-

nah. 12 Buatlah para pemuka mereka seperti Oreb dan Zeeb, seperti Zebah 

dan Salmuna semua pemimpin mereka, 13 yang berkata: “Marilah kita men-

duduki tempat-tempat kediaman Tuhan  !” 14 Ya Tuhan  ku, buatlah mereka seperti 

dedak yang beterbangan, seperti jerami yang ditiup angin! 15 Seperti api yang 

membakar hutan, dan seperti nyala api yang menghanguskan gunung-gu-

nung, 16 kejarlah mereka dengan badai-Mu, dan kejutkanlah mereka dengan 

puting beliung-Mu; 17 penuhilah muka mereka dengan kehinaan, supaya me-

reka mencari nama-Mu, ya TUHAN! 18 Biarlah mereka mendapat malu dan 

terkejut selama-lamanya; biarlah mereka tersipu-sipu dan binasa, 19 supaya 

mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi 

atas seluruh bumi. 

Di sini, sang pemazmur berdoa atas nama jemaat bagi kehancuran 

kekuatan-kekuatan yang bersekutu itu, dan atas nama Tuhan   ia mera-

malkan kehancuran mereka. Doa ini menjadi seperti sebuah nubuat-

an yang menyatakan bahwa yang didoakan itu akan terjadi, dan nu-

buat ini akan terjadi pada semua musuh gereja Injili. Siapa pun yang 

menentang kerajaan Kristus bisa membaca kehancuran mereka di sini. 

Secara singkat, doa itu memohon semoga semua usaha musuh-musuh 

yang bersekongkol melawan Israel ini bisa digagalkan, dan semoga 

musuh mengalami kehancuran mereka sendiri, sehingga dengan demi-

kian Israel umat Tuhan   dapat dipelihara dan diabadikan. Nah, kehan-

curan musuh-musuh itu digambarkan, 

I.  Melalui beberapa contoh peristiwa yang sudah pernah terjadi. Bi-

arlah nasib orang-orang lain yang sebelum itu telah melawan Israel 

umat Tuhan   juga menjadi hukuman bagi mereka. Kekalahan dan 

aib yang menimpa persekongkolan di masa lalu dapat dipakai se-

bagai alas bagi doa kepada Tuhan   dan dimanfaatkan untuk mengu-

atkan iman serta pengharapan kita sendiri. Sebab, Tuhan   masih 

sama seperti dulu, sama dalam membela umat-Nya dan sama da-

lam melawan musuh-Nya dan musuh umat-Nya. Pada diri-Nya ti-

dak ada yang berubah. 

1. Sang pemazmur berdoa supaya pasukan musuh dihancurkan 

sama seperti yang terjadi dengan pasukan musuh-musuh se-

belum itu (ay. 10-11): Perlakukanlah mereka seperti Midian. 

Biarlah mereka mundur kocar-kacir  sebab  ketakutan mereka 

sendiri, sebab itulah yang terjadi pada orang Midian, bahkan 

lebih dibandingkan  yang dilakukan ketiga ratus orang-orang 

Gideon. Perlakukanlah mereka seperti Engkau memperlakukan 

pasukan di bawah pimpinan Sisera (yakni panglima tentara di 

bawah Yabin, raja Kanaan), yang telah dikalahkan oleh Tuhan   

(Hak. 4:15) di sungai Kison tidak jauh dari En-Dor. Mereka 

menjadi pupuk bagi tanah. Mayat mereka dibuang bagaikan 

kotoran hewan membentuk gundukan, atau ditebarkan seba-

gai pupuk untuk menyuburkan tanah. Mereka diinjak-injak 

sampai lumat oleh pasukan Barak yang perkasa meskipun ke-

cil. Di sini hal itu sangat cocok dijadikan contoh, sebab begitu-

lah yang dilakukan Debora di kemudian hari. Demikianlah akan 

binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! (Hak. 5:31). Artinya, de-

ngan cara itulah mereka akan binasa. 

2. Ia berdoa supaya para pemimpin mereka dibinasakan seperti 

pemimpin-pemimpin sebelumnya. Rakyat biasa tidak akan 

menjadi sejahat itu seandainya raja-raja mereka tidak mendo-

rong mereka. Itulah sebabnya ia khusus berdoa menentang 

mereka (ay. 12-13).  

 Lihatlah  : 

(1) Kedengkian mereka terhadap Israel umat Tuhan  . Mereka ber-

kata, Marilah kita menduduki tempat-tempat kediaman Tuhan   

(ay. 13), atau tempat-tempat yang permai milik Tuhan   (demi-

kianlah yang dikatakan) yang menggambarkan tanah Kana-

an, negeri yang menyenangkan milik Imanuel. Atau juga 

Bait Tuhan  , tempat kediaman Tuhan   yang paling indah (Yes. 

64:11). Bisa juga berarti (menurut Dr. Hammond) padang-

padang rumput subur yang dipelihara dengan baik oleh 

orang-orang Arab yang berdagang ternak ini. Para raja dan 

bangsawan bertujuan memperkaya diri melalui peperangan 

ini, dan pasukan mereka harus dijadikan pupuk bagi tanah 

 sebab  ketamakan dan hasrat mereka. 

(2)  Apa yang akan menjadi bagian mereka. Mereka akan dibu-

at seperti Oreb dan Zeeb (dua raja Midian, yang saat  pa-

sukan mereka dibuat kocar kacir, ditawan lalu dibantai 

oleh orang Efraim, Hak. 7:25). Juga seperti Zebah dan Sal-

muna, yang dibunuh sendiri oleh Gideon (Hak. 8:21). “Biar-

lah musuh-musuh kami ini menjadi mangsa empuk bagi 

kami, seperti bagi para penakluk pada masa itu.” Kita me-

mang tidak boleh mengatur Tuhan  , namun  kita boleh berdoa 

kepada-Nya supaya Ia menghadapi musuh-musuh jemaat-

Nya di masa sekarang, seperti yang dilakukan-Nya pada ma-

sa nenek moyang kita. 

II. Ia menggambarkannya melalui beberapa perumpamaan, dan ber-

doa,  

1. Supaya Tuhan   membuat mereka seperti dedak (ay. 14), sehingga 

mereka akan senantiasa berpindah-pindah, gelisah, resah, dan 

kebingungan dalam membuat perundingan dan keputusan, hing-

ga binasa dengan mudah dan cepat. Atau, seperti yang menjadi 

pendapat beberapa orang, supaya mereka dipatahkan oleh hu-

kuman Tuhan  , sama seperti gandum dipatahkan atau ditebah 

oleh roda yang pada masa itu digunakan untuk mengirik. De-

mikianlah, saat  raja yang berbudi itu menampi orang-orang 

yang jahat, dikatakan bahwa ia menjalankan jantera pengirik-

an dari atasnya (Ams. 20:26, TL). Orang-orang yang memperca-

yai Tuhan   memiliki hati yang teguh. Sebaliknya, orang-orang 

yang melawan Dia tidaklah tetap, bagaikan sebuah roda yang 

berputar. 

2. Supaya mereka dikejar bagaikan jerami atau sekam, yang diti-

up angin. “Meskipun terus berputar, sebuah roda terpasang di 

porosnya sendiri. namun  biarlah mereka ini terus bergerak ba-

gaikan sekam ringan yang diterbangkan angin. Tidak seorang 

pun ingin menyelamatkannya. Ia justru ingin supaya sekam 

itu menjauh” (1:4). Demikianlah orang fasik dirobohkan  sebab  

kejahatannya, dan dienyahkan dari dunia. 

3. Supaya mereka musnah seperti kayu yang musnah dimakan 

api, atau seperti semak berduri dan tanaman pakis di gunung-

gunung yang hangus terbakar nyala api (ay. 15). jika  ditiup 

angin, jerami itu akhirnya akan teronggok di bawah pagar, di 

parit, atau sejenisnya. namun  pemazmur berdoa agar mereka 

bukan saja diterbangkan seperti jerami, namun  juga terbakar 

habis. Maka inilah yang menjadi akhir riwayat orang fasik (Ibr. 

6:8), dan terutama semua musuh umat Tuhan  . Di sini kita meli-

hat penerapan perbandingan ini (ay. 16): Kejarlah mereka de-

ngan badai-Mu, kejarlah mereka sampai mereka binasa, dan 

kejutkanlah mereka dengan puting beliung-Mu. Lihatlah betapa 

orang berdosa dibuat sengsara. Badai murka Tuhan   menimbul-

kan ketakutan di hati mereka sehingga mereka dibuat sangat 

sengsara. Tuhan   mampu menghadapi orang berdosa yang paling 

sombong dan berani sekalipun, yang telah menentang keadil-

anNya. Ia mampu membuatnya ketakutan bagaikan belalang. 

Siksaan Iblislah yang membuat mereka gemetar. 

III. Pemazmur menggambarkannya melalui akibat dari kebingungan 

mereka (ay. 17-19). Di sini ia berdoa supaya Tuhan  , sesudah  meme-

nuhi hati mereka dengan ketakutan, akan memenuhi wajah mereka 

dengan kehinaan, supaya mereka malu atas sikap permusuhan me-

reka terhadap umat Tuhan   (Yes. 26:11). Malu atas kebodohan mere-

ka  sebab  bertindak, baik melawan Yang Mahakuasa sendiri mau-

pun demi kepentingan sendiri. Mereka melakukan apa saja untuk 

bisa mempermalukan umat Tuhan  , namun  pada akhirnya nanti, me-

reka sendirilah yang akan dipermalukan. Sekarang, 

1.  Awal rasa malu ini mungkin bisa menjadi sarana pertobatan 

mereka: “Biarlah mereka dipatahkan dan dikalahkan dalam upa-

ya mereka, supaya mereka mencari nama-Mu, ya TUHAN! Biar-

lah mereka berhenti supaya bisa beristirahat dan berpikir seje-

nak, serta mempertimbangkan siapa yang sedang mereka lawan, 

dan betapa tidak seimbangnya kekuatan mereka dibanding Dia, 

sehingga dengan demikian mereka merendahkan diri, takluk, 

dan menginginkan perdamaian. Biarlah mereka dibuat takut ke-

pada nama-Mu, dan mungkin hal itu akan membuat mereka 

mencari nama-Mu.” Perhatikanlah, hal yang harus benar-benar 

kita rindukan dan minta dari Tuhan   menyangkut para musuh 

dan penganiaya kita yaitu  supaya Tuhan   akan membawa me-

reka kepada pertobatan. Kita harus menginginkan agar mere-

ka dibuat menjadi rendah supaya bisa bertobat, dan janganlah 

menginginkan kekacauan lagi terjadi atas mereka, namun  ingin-

kanlah hal yang dapat membawa mereka selangkah lagi menuju 

pertobatan mereka. 

2. Jika hal ini tidak terbukti menjadi sarana bagi pertobatan me-

reka, penyempurnaannya akan sangat berpengaruh bagi ke-

hormatan Tuhan  . Jika mereka tidak juga merasa malu dan ber-

tobat, biarlah mereka dipermalukan dan binasa. Jika mereka 

tidak mau dibuat menjadi susah dan berbalik, padahal dengan 

berbalik semua masalah mereka akan berakhir, suatu akhir 

yang bahagia, biarlah mereka terkejut selama-lamanya dan ti-

dak pernah merasakan kedamaian. Dan ini semua akan men-

jadi kemuliaan bagi Tuhan   (ay. 19), supaya orang lain tahu dan 

mengakui, jika mereka sendiri tidak mau, bahwa Engkau saja-

lah yang bernama TUHAN (atau Yehovah, nama yang tidak da-

pat diperkatakan meskipun bukan tidak terlukiskan), Yang 

Mahatinggi atas seluruh bumi. Kemenangan Tuhan   atas musuh-

musuh-Nya dan musuh-musuh jemaat-Nya akan menjadi bukti 

yang tidak dapat diragukan lagi, 

(1) Bahwa sesuai dengan nama-Nya yang yaitu  TUHAN (atau 

YEHOVAH), Dia yang ada dengan sendirinya dan yang 

Mahamencukupi, Dia memiliki seluruh kuasa dan kesem-

purnaan dalam diri-Nya. 

(2) Bahwa Dia yaitu  Tuhan   Yang Mahatinggi, Tuhan Tuhan   yang 

berdaulat atas segala sesuatu, lebih tinggi di atas semua 

Tuhan  , semua raja, dan semua orang yang meninggikan diri 

dan menganggap diri tinggi. 

(3) Bahwa Dia memang demikian adanya, bukan saja atas Israel, 

namun  juga atas seluruh bumi, bahkan bangsa-bangsa di bumi 

yang tidak mengenal atau mengakui-Nya, sebab kerajaan-Nya 

memerintah atas segala sesuatu. Ini merupakan kebenaran 

yang sungguh agung dan tidak dapat disangkal, namun  manusia 

sangat sulit diajak untuk mengetahui dan mempercayainya. 

Oleh sebab itu pemazmur berdoa agar kehancuran beberapa 

orang kiranya dapat menyadarkan orang-orang lain. Kehan-

curan mutlak musuh-musuh Tuhan   pada hari yang agung itu 

akan menjadi bukti nyata dari hal ini, di hadapan para malaikat 

dan umat manusia. Pada waktu itu kehinaan dan kengerian 

kekal yang dihadapi orang-orang berdosa yang bangkit (Dan. 

12:2) akan berpengaruh pada kehormatan dan pujian kekal 

bagi Tuhan   yang empunya pembalasan itu.  

 

 

PASAL 84  

alaupun nama Daud tidak tercantum dalam judul mazmur ini, 

cukup beralasan jika  kita berpendapat bahwa dialah penu-

lisnya,  sebab  gaya penulisannya begitu kental dengan semangat 

tingginya dan sangat mirip dengan Mazmur 63 yang ditulis olehnya. 

Dipercaya bahwa Daud menuliskan mazmur ini saat  ia terpaksa 

meninggalkan kotanya  sebab  pemberontakan Absalom. Daud mera-

tapi kepergiannya dari situ bukan terutama  sebab  tempat ini meru-

pakan kota raja, melainkan lebih  sebab  ini yaitu  kota suci seperti 

yang disampaikan dalam mazmur ini, yang merupakan ungkapan sa-

leh jiwa yang merindukan Tuhan   dan persekutuan dengan-Nya. Walau-

pun tidak diberi judul, mazmur ini dapat dianggap sebagai mazmur 

atau nyanyian untuk hari Sabat, hari perhimpunan khidmat kita. Di 

sini pemazmur mengungkapkan perasaan kasih sayangnya dengan 

penuh pengabdian, 

I. Kepada ketetapan-ketetapan Tuhan  , penghargaannya terhadap 

ketetapan-ketetapan itu (ay. 2), kerinduannya terhadap kete-

tapan-ketetapan itu (ay. 3-4), keyakinannya tentang kebaha-

giaan orang-orang yang menikmati ketetapan-ketetapan itu 

(ay. 5-8), dan keyakinannya untuk menaruh kebahagiaannya 

sendiri dalam menikmati semua ketetapan itu (ay. 11). 

II. Kepada Tuhan   yang memberi ketetapan-ketetapan itu. Kerin-

duannya terhadap Dia (ay. 9-10), imannya kepada Dia (ay. 

12), dan keyakinannya perihal kebahagiaan orang-orang yang 

menaruh kepercayaan kepada-Nya (ay. 13).  

Dalam menyanyikan mazmur ini, kita juga harus memiliki rasa ka-

sih sayang penuh pengabdian yang sama terhadap Tuhan   seperti yang 

dimiliki Daud, agar nyanyian mazmur ini terasa sangat menyenangkan. 

Kenikmatan dan Keuntungan Penyembahan Umum  

(84:1-8) 

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah. 2 Betapa 

disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! 3 Jiwaku hancur 

 sebab  merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku berso-

rak-sorai kepada Tuhan   yang hidup. 4 Bahkan burung pipit telah mendapat 

sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh 

anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Raja-

ku dan Tuhan  ku! 5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang 

terus-menerus memuji-muji Engkau. S e l a 6 Berbahagialah manusia yang 

kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! 7 jika  

melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata 

air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. 8 Mere-

ka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Tuhan   di Sion. 

Di sini pemazmur yang  sebab  paksaan dikekang supaya tidak bisa 

menantikan Tuhan   dalam ketetapan-ketetapan peribadatan bersama 

jemaat, semakin disadarkan akan berharganya semua ketetapan 

peribadatan itu.  

Lihatlah  : 

I.  Keindahan luar biasa yang dilihatnya dalam semua ketetapan iba-

dah kudus yang telah ditentukan itu (ay. 2): Betapa disenangi tem-

pat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Beberapa orang ber-

pendapat bahwa di sini Daud menyebut Tuhan   sebagai TUHAN 

semesta alam (artinya, dengan cara khusus yang digunakan para 

malaikat, yakni bala tentara sorga)  sebab  ada kehadiran para 

malaikat di tempat kudus Tuhan  . Mereka menjaga Shakinah dan 

(seperti pendapat sebagian orang) hal ini ditandai dengan kerub. 

Tuhan   yaitu  Tuhan dari bala tentara sorga ini, dan Kemah Suci 

atau tempat kediaman yaitu  kepunyaan-Nya. Disebutkan bahwa 

jumlahnya lebih dari satu (KJV: tabernacles)  sebab  ada  bebe-

rapa pelataran tempat orang-orang berhimpun, dan juga  sebab  

Kemah Suci itu sendiri terdiri atas tempat kudus dan tempat ma-

hakudus. Betapa mengagumkannya tempat-tempat ini! Betapa 

indahnya tempat kudus di mata semua orang yang sudah benar-

benar dikuduskan! Jiwa-jiwa yang penuh rahmat melihat kein-

dahan yang tak terkatakan dalam kesucian dan pekerjaan yang 

suci. Kemah Suci merupakan tempat kediaman yang sederhana, 

namun  keadaan lahiriah yang kurang menguntungkan pun sama 

sekali tidak membuat ketetapan-ketetapan kudus kurang menga-

gumkan,  sebab  keindahan kesucian bersifat rohaniah dan kemu-

liaannya memancar dari dalamnya. 

II.  Kerinduannya yang sangat untuk kembali menikmati ketetapan-

ketetapan ibadah bersama jemaat, atau lebih tepat lagi, untuk 

kembali menikmati Tuhan   yang hadir di dalamnya (ay. 3). Ini meru-

pakan kerinduan yang menyeluruh, mencakup baik jasmani, jiwa, 

maupun roh di dalamnya. Tidak terpikirkan olehnya untuk berbu-

at sebaliknya guna meninggikan diri. Ini merupakan kerinduan 

yang sangat hebat, sama kuatnya dengan keinginan orang-orang 

yang penuh hasrat, tamak, atau sangat bergairah. Ia sangat rin-

du, jiwanya hancur dan ia menjerit, mendesak untuk dikembali-

kan lagi ke dalam pelataran Tuhan  . Ia sudah nyaris tidak sabar lagi 

menanti. Namun, kerinduannya akan pelataran-pelataran Tuhan 

tidaklah sekuat kerinduannya kepada Tuhan   yang hidup itu sendi-

ri, yang diserukannya dalam doa. O, sekiranya aku bisa mengenal 

Dia dan kembali beroleh persekutuan dengan Dia! (1Yoh. 1:3). Se-

mua ketetapan peribadatan merupakan hal yang kosong belaka jika 

kita tidak bertemu dengan Tuhan   dalam ketetapan-ketetapan itu. 

III. Rasa irinya terhadap kebahagiaan burung-burung kecil yang 

membuat sarang di bangunan-bangunan yang berdekatan dengan 

mezbah Tuhan   (ay. 4). Ini merupakan ungkapan yang anggun seka-

ligus mengejutkan perihal rasa kasih sayangnya terhadap mez-

bah-mezbah Tuhan  : Burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan 

burung layang-layang sebuah sarang. Melalui naluri dan tuntunan 

alam, burung-burung kecil ini menyediakan tempat tinggal bagi 

mereka sendiri di dalam rumah-rumah, seperti yang dilakukan 

burung-burung lain di hutan, baik untuk beristirahat sendiri ma-

upun untuk membesarkan anak-anak burung. Ada burung-

burung seperti ini yang dipercayai Daud tinggal di bangunan-ba-

ngunan di seputar pelataran tempat kediaman Tuhan  , dan ia begitu 

ingin berada bersama makhluk-makhluk kecil ini. Ia lebih suka 

tinggal di sarang burung, tinggi di atas mezbah-mezbah Tuhan   

dibandingkan  di istana yang jauh dari situ. Adakalanya ia ingin me-

miliki sayap seperti merpati untuk bisa terbang ke padang gurun 

(55:7-8). Di sini ia ingin memiliki sayap burung pipit, supaya bisa 

terbang tanpa terlihat ke dalam pelataran Tuhan  . Dan meskipun 

tak bisa tidur dan menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh 

merupakan penggambaran keadaan roh yang sangat memilukan 

(102:8), Daud akan dengan senang hati menerimanya sebagai 

bagiannya asalkan ia bisa berada di dekat mezbah-mezbah Tuhan  . 

Lebih baik melayani Tuhan   seorang diri dibandingkan  melayani dosa 

bersama orang banyak. Istilah burung pipit menggambarkan 

burung kecil jenis apa pun. Dan (kalau saya boleh menafsirkan) di 

masa Daud, boleh jadi musik begitu banyak digunakan dalam 

ibadah kudus, baik dinyanyikan secara lisan maupun hanya 

dengan menggunakan alat-alat musik, dan untuk melengkapi 

keserasiannya, mereka menempatkan sangkar-sangkar burung 

penyanyi di seputar pelataran Kemah Suci ( sebab  kita membaca 

tentang burung-burung yang berkicau memuliakan Tuhan   dalam 

Mzm. 104:12). Daud merasa iri melihat kebahagiaan burung-

burung ini, dan dengan senang hati ia mau bertukar tempat de-

ngan makhluk-makhluk kecil ini. Lihatlah  , Daud bukan merasa 

iri terhadap burung-burung yang terbang di atas mezbah-mezbah, 

yang hanya dapat melihat pelataran-pelataran Tuhan   dengan 

sekilas saja, namun  terhadap burung-burung yang bersarang di 

situ. Bagi Daud, belumlah cukup untuk sekadar singgah di ru-

mah Tuhan   seperti orang perjalanan yang hanya singgah untuk 

bermalam. Ia ingin menjadikannya tempat beristirahat, rumah-

nya, dan tempat tinggalnya. Ia juga memperhatikan bahwa bu-

rung-burung ini bukan sekadar bersarang, namun  juga melahirkan 

anak-anak di situ. Orang-orang yang diam di pelataran Tuhan   tidak 

bisa tidak pasti merindukan supaya anak-anak mereka juga 

mendapat tempat di rumah Tuhan   dan juga nama di dalamnya, 

supaya mereka dapat menggembalakan anak-anak dekat perke-

mahan para gembala. Ada pula yang mengartikan ayat ini sebagai 

berikut: “Tuhan, oleh pemeliharaan-Mu Engkau telah melengkapi 

burung-burung dengan sarang dan tempat beristirahat yang se-

suai dengan sifat alamiah mereka dan menyediakan perlindungan 

dengan cuma-cuma bagi mereka. namun  mezbah-Mu, yang yaitu  

sarang dan tempat beristirahat bagiku, yang kurindukan seperti 

burung berkelana merindukan sarangnya, tidak dapat kuperoleh. 

Tuhan, apakah Engkau memelihara burung-burung lebih baik 

dibandingkan  anak-anak-Mu? Seperti burung yang lari dari sarangnya, 

demikian jugalah denganku, sesudah  aku sekarang pergi dari 

tempat mezbah Tuhan  , sebab di situlah tempatku (Ams. 27:8). Aku 

tidak akan pernah tenang sebelum kembali ke tempatku lagi.” 

P


Related Posts:

  • mazmur 51-100 14 i Tuhan   bukan saja sesuatu yang baik untuk kita lakukan, namun  juga kewajiban yang sangat di-perlukan dan wajib kita kerjakan. Sungguh berbahaya jika  kita melalaikannya. Dalam semua keg… Read More