mazmur 51-100 15


 erhatikanlah, orang-orang yang jiwanya tenteram di dalam Tuhan  , 

tidak bisa tidak pasti merindukan tempat tinggal di dekat ketetap-

an-Nya. ada  dua mezbah di situ. Satu untuk mempersem-

bahkan korban, dan satu lagi untuk membakar dupa. Dalam ke-

rinduannya untuk mendapat tempat di pelataran Tuhan  , matanya 

tertuju kepada kedua mezbah itu. Begitu pulalah kita, dalam me-

nantikan Tuhan  , mata kita harus tertuju baik kepada kepuasan di 

dalam Kristus maupun kepada perantaraan-Nya. Terakhir, amati-

lah bagaimana Daud memandang Tuhan   melalui kata-katanya ini: 

Engkau yaitu  TUHAN semesta alam, Rajaku dan Tuhan  ku. Ke ma-

nakah orang malang yang sedang dalam kesusahan harus menca-

ri perlindungan, selain kepada rajanya? Bukankah suatu bangsa 

patut meminta petunjuk kepada Tuhan  nya? Rajaku, Tuhan  ku, yaitu  

Tuhan semesta alam. Biarlah aku hidup dan mati di dekat Dia dan 

mezbah-mezbah-Nya. 

IV. Pengakuannya perihal kebahagiaan para pelayan dan juga orang-

orang yang memperoleh kebebasan untuk hadir di mezbah-mezbah 

Tuhan  : “Berbahagialah mereka. O, kapankah aku boleh kembali me-

nikmati kebahagiaan itu?” 

1.  Berbahagialah para pelayan Tuhan, imam, dan orang Lewi yang 

bertempat tinggal di dekat Kemah Suci dan terlibat dalam pela-

yanannya (ay. 5): Berbahagialah orang-orang yang diam di ru-

mah-Mu, yang tinggal di sana, dan menjalankan kegiatan di si-

tu. Tidak terpikirkan sama sekali olehnya untuk merasa iba 

terhadap mereka yang harus terbelenggu  sebab  harus senan-

tiasa hadir dan wajib bersikap sungguh-sungguh tanpa henti. 

Ia justru merasa lebih iri kepada mereka dibanding kepada ra-

ja-raja terbesar di dunia. Ada orang-orang yang menganggap 

berbahagia mereka yang tamak, namun  Daud menganggap ber-

bahagia orang-orang yang hidup saleh. Berbahagialah orang-

orang yang diam di rumah-Mu (bukan  sebab  mereka mendapat 

gaji tinggi dan sebagian hewan kurban bagi diri sendiri sehing-

ga mampu menyediakan makanan lezat, melainkan  sebab  

mereka memiliki pekerjaan yang baik): Mereka akan terus-me-

nerus memuji-muji Engkau. Dan seandainya ada sorga di bumi, 

maka sorga itu yaitu  memuji-muji Tuhan  , senantiasa memuji-

muji Dia. Bayangkanlah hal ini pada tempat kediaman-Nya di 

atas. Berbahagialah mereka yang diam di sana, para malaikat 

dan orang kudus yang telah dipermuliakan,  sebab  mereka 

tidak berhenti-hentinya berseru siang dan malam memuji-muji 

Tuhan  . Oleh sebab itu, biarlah kita juga menghabiskan seba-

nyak mungkin waktu dalam pekerjaan yang terpuji ini. Peker-

jaan inilah yang kita harapkan untuk lakukan dengan penuh 

sukacita dalam kekekalan. 

2.  Berbahagialah orang-orang, yakni penduduk negeri itu, yang 

meskipun tidak senantiasa diam di rumah Tuhan   seperti para 

imam, memiliki kebebasan untuk datang ke sana pada waktu-

waktu tertentu guna menghadiri perayaan-perayaan khidmat 

mereka, yakni tiga perayaan utama yang wajib dihadiri oleh 

semua orang laki-laki (Ul. 16:16). Daud sama sekali tidak me-

nganggap hal ini sebagai beban dan kesulitan yang ditimpakan 

ke atas mereka, hingga ia malah merasa iri terhadap kebahagiaan 

mereka yang dapat menghadiri perayaan-perayaan itu (ay. 6-8). 

Di sini, orang-orang yang disebutnya berbahagia itu digambar-

kan sebagai berikut. 

(1) Mereka yaitu  orang-orang yang kegiatan agamanya bera-

kar dari landasan pikiran untuk selalu bergantung pada Al-

lah dan mengabdi kepada-Nya: Berbahagialah manusia yang 

kekuatannya di dalam Engkau, yang menjadikan Engkau 

kekuatannya, yang bersandar teguh pada-Mu, dan yang 

menjadikan nama-Mu menaranya yang kuat tempat ia men-

cari selamat (Ams. 18:10). Berbahagialah orang yang harap-

annya pada TUHAN, Tuhan  nya (40:5; 146:5). Orang-orang 

yang benar-benar disebut berbahagia yaitu  mereka yang 

pergi dan tetap setia menjalankan ibadah, bukan dengan 

kekuatan sendiri ( sebab  bila demikian halnya, upaya me-

reka pasti akan gagal), melainkan dengan kekuatan anuge-

rah Yesus Kristus, sumber kecukupan kita. Daud ingin kem-

bali ke mezbah-mezbah Tuhan   lagi, supaya di sana ia dapat 

memperoleh kekuatan di dalam Tuhan Tuhan  nya di tengah 

pelayanan dan penderitaannya. 

(2) Mereka yaitu  orang-orang yang sangat mencintai ketetap-

an yang kudus: yang berhasrat mengadakan ziarah, arti-

nya, yang sesudah menaruh kebahagiaan mereka di dalam 

Tuhan  , lalu bersukacita dalam segala jalan yang mengarah 

kepada-Nya, dan semua sarana yang dapat memperkuat 

anugerah serta memelihara persekutuan mereka dengan 

Dia. Mereka bukan saja melangkah di jalan-jalan ini, namun  

juga menyimpan semuanya di dalam hati, menyimpannya 

dengan baik. Tidak ada lagi kekhawatiran atau kecemasan, 

kesenangan ataupun kesukaan, yang dapat menggantikan 

tempatnya. Perhatikanlah, orang-orang yang mengarahkan 

perhatian kepada Yerusalem baru haruslah memiliki jalan-

jalan ke sana di dalam hati mereka dan memeliharanya. 

Pandangan mereka harus terarah lurus ke jalan-jalan itu. 

Mereka harus merenungkan jalan-jalan kecilnya dan tetap 

berjalan di dalamnya tanpa berbelok ke kanan atau ke kiri. 

Jika kita menjadikan janji Tuhan   kekuatan kita, kita harus 

menjadikan firman Tuhan   sebagai aturan kita dan berjalan 

menurut aturan itu. 

(3) Mereka yaitu  orang-orang yang akan menerobos kesukaran 

dan keputusasaan untuk menantikan Tuhan   dalam ketetap-

an-ketetapan ibadah yang kudus (ay. 7). Saat keluar dari 

daerah mereka untuk pergi beribadah mengikuti perayaan, 

mereka harus melalui berbagai lembah yang kering dan 

tandus (begitulah yang digambarkan sebagian orang), dan 

mereka siap mati kehausan di situ. Namun, guna mence-

gah hal ini, mereka lalu menggali sumur-sumur kecil untuk 

menampung dan menyimpan air hujan yang dapat menye-

garkan mereka dan orang lain juga. saat  mereka membu-

at kolam penampungan, langit akan menurunkan air dan 

mengisinya. Jika kita siap menerima anugerah Tuhan  , anu-

gerah itu tidak akan kurang, namun  cukup bagi kita di sega-

la waktu. Jalan yang harus mereka lalui melintasi lembah-

lembah duka, begitulah arti kata Baka. Atau, (seperti yang 

diartikan sebagian lainnya), lembah-lembah penuh air di 

musim hujan, saat  hujan pada awal musim menyelubung-

inya dengan berkat, baik  sebab  naiknya permukaan air 

atau  sebab  kotornya jalanan hingga tidak dapat dilalui. 

Namun, dengan cara mengalirkan air lewat parit, mereka 

telah membuka jalan yang bermanfaat bagi orang-orang 

yang hendak naik ke Yerusalem. Orang harus memelihara 

dan memperbaiki jalan-jalan yang menuju gereja dan juga 

pasar. Namun, semua ini dimaksudkan untuk menunjukkan, 

[1]  Bahwa mereka mempunyai niat baik dengan perjalanan 

itu. saat  mereka hendak menghadiri perayaan khid-

mat di Yerusalem, mereka tidak mau merasa dihalangi 

oleh cuaca ataupun jalan-jalan buruk. Mereka juga ti-

dak akan menjadikan hal-hal itu sebagai dalih untuk te-

tap tinggal di rumah. Segala kesukaran di dalam tugas 

memang dimaksudkan untuk menguji ketetapan hati ki-

ta, dan siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan 

menabur. 

[2] Bahwa mereka memanfaatkan sebaik-baiknya jalan me-

nuju Sion, berupaya dan bersusah payah memperbaiki 

bagian-bagian yang rusak, dan sedapat mungkin me-

nanggung hal-hal kurang menguntungkan yang tidak 

dapat disingkirkan. Jalan kita menuju sorga juga melin-

tasi lembah Baka, namun  bahkan tempat ini pun dapat 

dijadikan tempat yang bermata air jika kita memanfaat-

kan segala penghiburan yang disediakan Tuhan   bagi para 

musafir yang menuju kota sorgawi itu. 

(4) Mereka yaitu  orang-orang yang tetap maju terus sampai 

tiba di akhir perjalanan, tanpa berusaha mempersingkat-

nya (ay. 8): Mereka berjalan makin lama makin kuat. Teman 

seperjalanan mereka semakin banyak dengan bertambah-

nya peziarah yang berasal dari tiap kota yang mereka lalui, 

sampai jumlah mereka menjadi sangat banyak. Orang-

orang yang tinggal di dekat situ maupun yang datang dari 

jauh berseru memanggil-manggil mereka, Mari kita pergi ke 

rumah TUHAN (122:1-2), supaya mereka dapat pergi bersa-

ma-sama seperti satu tubuh, sebagai tanda saling menga-

sihi. Atau, ini juga bisa berarti orang-orang tertentu yang 

bukannya merasa kelelahan  sebab  beratnya perjalanan 

dan kesukaran yang mereka jumpai, namun  justru menjadi 

semakin bersemangat dan ceria saat  sudah semakin de-

kat dengan Yerusalem, sehingga mereka terus berjalan ber-

tambah-tambah kuat (Ayb. 17:9). Demikianlah dijanjikan 

bahwa orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN menda-

pat kekuatan baru (Yes. 40:31). Bahkan di saat mereka le-

mah, mereka tetap kuat. Mereka berjalan dari kebajikan ke-

pada kebajikan (demikianlah menurut sebagian orang). Ini 

istilah sama yang juga digunakan bagi perempuan yang 

baik-baik atau cakap. Orang-orang yang bertekun dalam 

perjalanan kristiani mereka akan mendapati bahwa Tuhan   

menambahkan anugerah demi anugerah bagi mereka (Yoh. 

1:16). Mereka akan diubahkan dari kemuliaan kepada ke-

muliaan (2Kor. 3:18), dari tingkat anugerah agung kepada

 tingkat yang lebih tinggi lagi, sampai akhirnya, masing-ma-

sing menghadap Tuhan   di Sion untuk memberi  kemulia-

an bagi Dia dan menerima berkat dari-Nya. Perhatikanlah, 

orang-orang yang bertumbuh di dalam anugerah pada akhir-

nya nanti akan menjadi sempurna dalam kemuliaan. Di da-

lam bahasa Aram dikatakan bahwa mereka akan berjalan 

dari tempat kudus menuju tempat pengajaran, dan upaya 

keras mereka untuk menaati hukum akan timbul di hadapan 

Tuhan   yang keagungan-Nya berdiam di Sion. Kita harus me-

ngerjakan tugas demi tugas, berdoa dan membaca firman-

Nya, serta melaksanakan apa yang telah kita pelajari untuk 

belajar lebih banyak. Dan bila kita melakukan hal ini, ke-

baikan akan muncul bagi kemuliaan Tuhan   dan bagi penghi-

buran kekal kita. 

Kegemaran akan Ketetapan-ketetapan Tuhan   

(84:9-13) 

9 Ya TUHAN, Tuhan   semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya 

Tuhan   Yakub.  S e l a  10 Lihatlah perisai kami, ya Tuhan  , pandanglah wajah 

orang yang Kauurapi! 11 Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada 

seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Tuhan  ku 

dari pada diam di kemah-kemah orang fasik. 12 Sebab TUHAN Tuhan   yaitu  

matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan ke-

baikan dari orang yang hidup tidak bercela. 13 Ya TUHAN semesta alam, ber-

bahagialah manusia yang percaya kepada-Mu! 

Di sini: 

I.  Sang pemazmur berdoa supaya boleh menghadap dan diterima Tuhan  , 

tanpa menyebutkan apa yang ia ingin Tuhan   perbuat baginya. Ia ti-

dak perlu berkata-kata lebih banyak lagi  sebab  ia sudah menyata-

kan penghargaan yang begitu tinggi terhadap ketetapan-ketetapan 

ibadah Tuhan   yang sekarang sedang dijauhkan darinya. Melalui pe-

ngakuan yang tulus di hadapan Tuhan  , kerinduan dan keluh ke-

sahnya, kerinduan hatinya itu terungkap dengan jelas. Oleh se-

bab itu ia berdoa (ay. 9-10), semata-mata supaya Tuhan   mendengar 

doanya dan memasang telinga, supaya Ia memandang keadaan-

nya, melihat perasaan kasih sayangnya, dan melihat wajahnya, 

bagaimana roman mukanya menunjukkan kerinduan mendalam 

terhadap pelataran-pelataran Tuhan  . Ia menyebut dirinya (seperti 

pendapat banyak orang) orang yang diurapi Tuhan  ,  sebab  Daud 

memang diurapi oleh Dia dan bagi Dia. Di dalam permohonan ini, 

1. Ia memandang Tuhan   menurut beberapa gelar agung-Nya – 

sebagai TUHAN, Tuhan   semesta alam, yang memerintah atas se-

mua makhluk ciptaan-Nya dan oleh sebab itu berkuasa atas 

sorga dan bumi, dan sebagai Tuhan   Yakub, Tuhan   yang mengikat 

kovenan dengan umat-Nya dan yang tidak pernah berkata ke-

pada keturunan Yakub yang sedang berdoa untuk mencari Aku 

dengan sia-sia. Ia memandang Tuhan   juga sebagai Tuhan   perisai 

kami, yang melindungi umat-Nya dengan istimewa, sesuai 

kovenan-Nya dengan Abraham bapa mereka (Kej. 15:1), Jangan-

lah takut, Abram, Akulah perisaimu. saat  Daud tidak dapat 

bersembunyi di dalam kemah Tuhan   (27:5)  sebab  berada jauh 

dari situ, ia tetap berharap akan mendapati Tuhan   sebagai peri-

sainya, di mana pun ia berada. 

2.  Ia memandang Sang Pengantara,  sebab  menurut pemahaman 

saya, tentang Dia dikatakan “Pandanglah wajah Mesias,” Dia 

yang diurapi,  sebab  Daud berbicara mengenai pengurapan diri-

Nya dalam Mazmur 45:8. Saat berbicara dengan Tuhan  , kita ha-

rus berkeinginan supaya Ia memandang wajah Kristus, mene-

rima kita demi Dia, dan berkenan kepada kita di dalam Dia. 

Kita harus memandang dengan mata iman, maka Tuhan   dengan 

mata yang berkenan akan memandang wajah orang yang diu-

rapi, yang menampakkan wajah-Nya saat  kita tidak berani 

menampakkan wajah tanpa Dia.  

II.  Ia menyatakan kasihnya terhadap ketetapan-ketetapan Tuhan   dan 

ketergantungannya pada Tuhan   sendiri. 

1. Pelataran Tuhan   merupakan pilihannya (ay. 11). Ia sangat meng-

hormati ketetapan-ketetapan kudus, jauh melebihi apa pun, dan 

ia mengungkapkan penghargaannya, 

(1) Dengan lebih mengingini waktu untuk menyembah Tuhan   

dibandingkan  waktu-waktu lainnya: Lebih baik satu hari di pela-

taran-Mu, menghadiri ibadah-ibadah yang sepenuhnya ter-

pisah dari perkara-perkara dunia, dibandingkan  seribu hari 

namun  bukan di pelataran-Mu, melainkan di tempat lain di 

dunia ini yang penuh dengan semua kesenangan anak 

manusia. Di dalam Alkitab (KJV) tertulis bahwa Daud hanya 

mengatakan seribu, bukan seribu hari, jadi kita bisa saja 

menambahkannya dengan tahun atau abad kalau mau, 

namun Daud sangat ingin melibatkan diri di dalamnya. 

“Satu hari di pelataran-Mu pada hari Sabat, hari yang 

kudus, hari raya, sekalipun hanya satu hari, akan sangat 

menyenangkan bagiku. Bahkan lebih dari itu (seperti yang 

diuraikan oleh beberapa rabi), seandainyapun aku harus 

mati keesokan harinya, itu akan terasa lebih manis diban-

dingkan dengan bertahun-tahun melewatkan waktu dalam 

kegiatan dan kesenangan dunia ini. Satu hari penuh suka-

cita seperti ini akan mampu mengejar seribu orang, dan 

dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang dengan 

rasa malu  sebab  tidak pantas untuk dibandingkan.” 

(2) Dengan lebih menginginkan tempat ibadah dibandingkan  tem-

pat lainnya: Lebih baik berdiri di ambang pintu, tempat dan 

kedudukan yang paling rendah, di rumah Tuhan  ku, dari pada 

diam dalam kemegahan sebagai tuan di kemah-kemah orang 

fasik. Lihatlah  , ia bahkan menyebut Kemah Suci sebagai 

rumah,  sebab  hadirat Tuhan   di dalamnya bahkan mampu 

membuat tirai-tirainya tampak lebih megah dibandingkan  istana 

dan lebih kuat dibandingkan  benteng. Ini yaitu  rumah Tuhan  -

ku. Kepentingan dalam kovenan yang dimilikinya di dalam 

Tuhan   sebagai Tuhan  -nya merupakan nada merdu yang sa-

ngat suka dimainkannya dengan kecapinya. Hanya mereka 

yang mampu menyebut Tuhan   sebagai Tuhan   mereka dengan 

alasan yang baik sajalah yang dapat menikmati pelataran 

rumah-Nya. Lebih baik menjadi penjaga pintu di rumah 

Tuhan   dibandingkan  menjadi raja di kemah-kemah tempat orang 

fasik berkuasa. Lebih baik berada di ambang pintu (arti ka-

ta yang dipakai), yakni tempat bagi pengemis (Kis. 3:2): “Ti-

dak jadi masalah” (kata Daud), “biarlah itu menjadi tempat-

ku dibandingkan  tidak ada tempat sama sekali.” Orang-orang 

Farisi menyukai rumah ibadat asalkan mereka mendapat 

tempat utama di situ (Mat. 23:6), supaya mereka tampak 

seperti orang penting. Daud yang saleh tidak menuntut-

nuntut hal itu. Asal diperbolehkan berdiri di ambang pintu 

saja, dia akan berkata, Guru, betapa bahagianya berada di 

tempat ini. Ada yang mengartikannya dengan, Lebih baik ter-

ikat di tiang rumah Tuhan  -ku dibandingkan  berdiam dengan bebas 

di kemah-kemah orang fasik, yang menunjuk pada hukum 

yang terkait dengan para pelayan, yang jika tidak mau ke-

luar sebagai orang merdeka, harus ditusuk telinganya ke 

ambang pintu (Kel. 21:5-6). Daud mengasihi Tuhannya dan 

begitu menyukai pekerjaannya hingga ia ingin terikat de-

ngan pelayanan ini selamanya, untuk lebih bebas melaku-

kannya, namun tidak pernah terbebas darinya. Ia jauh le-

bih suka terikat pada tugas dibandingkan  bebas berbuat dosa. 

Kesukaan tertinggi seperti ini melibatkan hati yang suci da-

lam tugas-tugas yang suci. Tidak ada kepuasan yang dapat 

dibandingkan dengan persekutuan bersama Tuhan  . 

2. Tuhan   sendirilah yang menjadi pengharapan, sukacita dan sega-

lanya bagi dia. Itulah sebabnya ia sangat mencintai rumah Tuhan  -

nya, sebab pengharapannya datang dari Tuhan  -nya, dan di sana-

lah ia biasa mengungkapkan diri (ay. 12).  

 Lihatlah: 

(1)  Seperti apa Tuhan   bagi umat-Nya, baik sekarang maupun di 

masa yang akan datang: Sebab TUHAN Tuhan   yaitu  mata-

hari dan perisai. Di sini kita tinggal dalam kegelapan, namun  

bila Tuhan   yaitu  Tuhan   kita, Dia akan menjadi matahari bagi 

kita untuk memberi  pencerahan dan semangat kepada ki-

ta, untuk membimbing dan memimpin kita. Di sini kita ber-

ada dalam bahaya, namun  Ia akan menjadi perisai bagi kita 

untuk melindungi kita dari anak panah berapi yang beter-

bangan di sekeliling kita. Dia memagari kita dengan anuge-

rah-Nya seperti perisai. Oleh  sebab  itu, biarlah kita senan-

tiasa berjalan di dalam terang TUHAN dan jangan pernah 

lari dari perlindungan-Nya. Dengan demikian kita akan men-

dapati Dia sebagai matahari untuk melengkapi kita dengan 

segala sesuatu yang baik dan sebagai perisai untuk mena-

ungi kita dari segala yang jahat.  

(2) Apa yang telah dan akan dilimpahkan-Nya ke atas mereka: 

kasih dan kemuliaan Ia berikan. Anugerah ini menandakan 

baik kehendak baik Tuhan   kepada kita maupun karya baik 

Tuhan   di dalam kita. Kemuliaan menandakan baik kehor-

matan yang sekarang diletakkan-Nya ke atas kita dengan 

mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya, maupun segala 

sesuatu yang telah dipersiapkan-Nya bagi kita dalam bentuk 

warisan yang akan kita terima sebagai anak. Tuhan   akan 

memberi  kepada mereka anugerah di dunia ini sebagai 

persiapan menyambut kemuliaan, serta kemuliaan di dunia 

lain sebagai penyempurnaan anugerah. Keduanya merupakan 

pemberian Tuhan  , pemberian cuma-cuma. Dan sebagaimana 

di satu pihak, di mana pun Tuhan   memberi  anugerah-Nya 

Ia juga akan memberi  kemuliaan (sebab anugerah ada-

lah awal kemuliaan dan merupakan jaminan untuk itu), 

demikian pula di pihak lain, Ia tidak akan memberi  ke-

muliaan sesudah ini kepada mereka yang tidak diberi-Nya 

anugerah sekarang ini, atau yang menyia-nyiakan anuge-

rah-Nya. Jika Tuhan   berkenan memberi  anugerah dan 

kemuliaan, yakni dua hal besar yang dapat membuat kita 

bahagia di dalam kedua dunia tadi, kita boleh merasa ya-

kin bahwa Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hi-

dup tidak bercela. Merupakan tabiat semua orang yang baik, 

yaitu hidup tidak bercela, menyembah Tuhan   dalam roh dan 

kebenaran, serta berperilaku sederhana dan saleh di dunia 

ini. Orang-orang seperti ini boleh merasa yakin bahwa 

Tuhan   tidak akan menahan kebaikan dari mereka, yang me-

mang diperlukan untuk berjalan melintasi dunia dengan 

tenteram. Pastikan untuk memperoleh anugerah dan ke-

muliaan, maka semuanya itu akan ditambahkan. Ini meru-

pakan janji yang mencakup semuanya dan juga jaminan 

bagi penghiburan di masa sekarang bagi orang-orang ku-

dus, yaitu bahwa apa pun yang mereka inginkan dan per-

lukan, mereka boleh merasa yakin bahwa Sang Hikmat 

yang Tak Terhingga itu tidak akan memberi nya kepada 

mereka bila Ia memandang keinginan mereka itu tidak baik 

bagi mereka, atau Sang Kebaikan yang Tak Terhingga itu 

akan mengabulkannya pada waktunya nanti bila Ia me-

mandang itu baik bagi mereka. Biarlah kita hidup dengan 

tidak bercela, dan sesudah  itu marilah kita percaya kepada 

Tuhan   untuk memberi kita segala sesuatu yang baik bagi kita. 

Terakhir, ia menyebut berbahagia orang-orang yang menaruh 

percaya kepada Tuhan  , seperti yang dilakukannya (ay. 13). Berbaha-

gialah mereka yang beroleh kebebasan untuk beribadah dan hak 

istimewa dalam rumah Tuhan  . Namun, jika  kita terhalang untuk 

beribadah, itu bukanlah berarti bahwa kita akan terhalang untuk 

menerima kebahagiaan itu, asalkan kita percaya kepada Tuhan  . Jika 

kita tidak dapat pergi ke rumah Tuhan, dengan iman kita boleh pergi 

kepada Tuhan Sang Pemilik rumah itu, dan di dalam Dia kita akan 

merasa bahagia dan tenteram.  

 

 

 

PASAL 85  

ada umumnya para penafsir berpendapat bahwa mazmur ini ditu-

lis sesudah  bangsa Yahudi kembali dari penawanan di Babel, di 

mana mereka belum sepenuhnya mendapat perkenanan dari Tuhan  . 

Dalam mazmur ini mereka berdoa agar Ia kembali berkenan kepada 

mereka. Tidak ada  apa pun yang menunjukkan bahwa mazmur 

ini tidak mungkin ditulis pada masa itu, begitu juga Mazmur 137. Isi 

mazmur ini  merupakan kepentingan seluruh rakyat, dan itu ada 

dekat dalam hati si pemazmur, dan  sebab  itu ia menulisnya bagi selu-

ruh umat itu. Di sini, jemaat seakan dilanda air bah. Di atas ada 

awan tebal, sedangkan di bawah ada ombak. Segala sesuatu gelap 

dan suram. Keadaan jemaat bagaikan Nuh di dalam bahtera, di anta-

ra hidup dan mati, di antara harapan dan ketakutan. Dalam keadaan 

seperti ini, 

I.  Dikirimlah burung merpati dalam doa. Permohonan dinaik-

kan supaya mereka terlepas dari dosa dan murka (ay. 5), ser-

ta untuk memperoleh belas kasihan dan anugerah (ay. 8). 

Permohonan-permohonan itu disampaikan berdasar  ke-

baikan-kebaikan yang telah ditunjukkan-Nya sebelumnya (ay. 

2-4) dan kesusahan-kesusahan yang sedang dialami (ay. 6-7). 

II. Kembalilah si burung merpati dengan membawa ranting zai-

tun yang melambangkan damai sejahtera dan kabar baik. 

Sang pemazmur mengharapkan kembalinya merpati itu (ay. 9) 

lalu menceritakan lagi perkenan yang diberikan kepada Israel 

umat Tuhan  . Ia meyakinkan orang-orang lain mengenai hal ini 

melalui roh nubuat, dan melalui roh iman ia meyakinkan diri 

sendiri (ay. 10-14).  


Dalam menyanyikan mazmur ini, kita dapat dibantu untuk ber-

doa kepada Tuhan   bagi jemaat-Nya secara umum maupun bagi tanah 

asal kita secara khusus. Bagian pertama berguna untuk mengarahkan 

keinginan-keinginan kita, sedangkan bagian selanjutnya untuk mendo-

rong iman dan pengharapan kita saat  memanjatkan doa-doa itu. 

Doa dalam Masa Kesukaran 

(85:1-8) 

1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur bani Korah. 2 Engkau telah berkenan ke-

pada tanah-Mu, ya TUHAN, telah memulihkan keadaan Yakub. 3 Engkau 

telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka.  

S e l a  4 Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan mur-

ka-Mu yang menyala-nyala. 5 Pulihkanlah kami, ya Tuhan   penyelamat kami, dan 

tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. 6 Untuk selamanyakah Engkau mur-

ka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? 7 Apakah Engkau 

tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita ka-

rena Engkau? 8 Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan 

berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu! 

Di sini, dalam penderitaan dan kesesakan, jemaat memanjatkan per-

mohonan kepada Tuhan   di bawah petunjuk-Nya. Tuhan   begitu siap 

mendengarkan dan menjawab doa-doa umat-Nya hingga melalui Roh 

di dalam firman dan di dalam hati, Ia menyusun permohonan mereka 

dan menaruh perkataan di dalam mulut mereka. Di sini, dalam kea-

daan yang terpuruk dan lemah umat Tuhan   diajarkan cara membuka 

hati di hadapan Tuhan  . 

I.   Mereka harus mengakui dengan penuh syukur hal-hal luar biasa 

yang telah dilakukan Tuhan   bagi mereka (ay. 2-4): “Engkau telah 

berbuat ini dan itu bagi kami dan nenek moyang kami.” Perhati-

kanlah, rasa susah  sebab  derita yang sedang dialami janganlah 

sampai menghapus kenangan atas rahmat yang telah dialami se-

belumnya. Sebaliknya, meskipun keadaan kita sangat terpuruk, 

kita harus mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya ten-

tang kebaikan Tuhan  , yang harus kita resapi dengan penuh rasa 

syukur dan dengan memuji-muji Dia. Di sini mereka menyampai-

kan dengan sukacita, 

1. Bahwa Tuhan   telah menyatakan Ia berkenan kepada tanah me-

reka dan tersenyum kepadanya sebagai milik-Nya sendiri: “Eng-

kau telah berkenan kepada tanah-Mu sebagai kepunyaan-Mu

 dengan perkenan yang khusus.” Perhatikanlah, perkenan Tuhan   

merupakan mata air segala sesuatu yang baik dan sumber ke-

bahagiaan, baik bagi bangsa-bangsa maupun bagi orang per 

orang.  sebab  perkenan Tuhan   sajalah Israel mendapatkan dan 

terus memiliki Kanaan (44:4). Dan seandainya Dia senantiasa 

tidak berkenan kepada mereka, mereka pasti sudah sering kali 

dihancurkan. 

2.  Bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan musuh 

dan memulihkan kebebasan mereka: “Engkau telah memulih-

kan keadaan Yakub, dan telah menempatkan kembali ke nege-

ri sendiri orang-orang yang sebelumnya telah terusir dari situ 

dan menjadi orang asing di negeri asing, menjadi tawanan di 

negeri para penindas mereka.” Penawanan Yakub, meskipun 

berlangsung lama, akan dipulihkan pada waktunya. 

3. Bahwa Ia tidak memperlakukan mereka sesuai dengan ganjar-

an atas pelanggaran mereka (ay. 3): “Engkau telah mengampuni 

kesalahan umat-Mu, dan tidak menghukum mereka seperti yang 

bisa saja Engkau lakukan sesuai keadilan. Engkau telah menu-

tupi segala dosa mereka.” saat  Tuhan   mengampuni dosa, Ia 

menutupinya, dan saat  Ia menutupi dosa umat-Nya, Ia menu-

tupi seluruhnya. Saat Ia membawa mereka kembali dari pena-

wanan, itulah yang merupakan bukti perkenan Tuhan   terhadap 

mereka, yang disertai pengampunan atas kesalahan mereka. 

4. Bahwa sejauh ini Ia tidak terus-menerus murka terhadap me-

reka, dan tidak selama yang mereka takutkan (ay. 4): “sesudah  

menutupi segala dosa mereka, Engkau telah menyurutkan sega-

la gemas-Mu,”  sebab  pada saat dosa disingkirkan, murka Tuhan   

pun reda. Tuhan   akan kembali tenang jika  kita disucikan. Li-

hatlah apa arti pengampunan dosa itu: Engkau telah mengam-

puni kesalahan umat-Mu, artinya, “Engkau telah meredakan 

murka-Mu yang menyala-nyala sangat panas yang dapat meng-

hanguskan kami di dalam nyalanya. Sebaliknya, dalam belas 

kasihan-Mu terhadap kami, Engkau tidak menumpahkan se-

luruh murka-Mu.  sebab , saat  seorang pengantara berdiri di 

hadapan-Mu untuk menjembatani jurang itu, Engkau telah 

meredakan murka-Mu.”  

II.  Mereka diajar untuk berdoa kepada Tuhan   memohon anugerah dan 

rahmat, berkenaan dengan kesusahan yang sedang mereka alami. 

Hal ini disimpulkan dari ayat sebelumnya: “Engkau telah berbuat 

baik kepada nenek moyang kami dan juga kepada kami,  sebab  

kami yaitu  anak-anak dari perjanjian yang sama.” 

1. Mereka berdoa memohon anugerah pertobatan: “Pulihkanlah 

kami, ya Tuhan   penyelamat kami, supaya kami dipulihkan dari 

penawanan kami. Pulihkanlah kami dari kesalahan kami. Pu-

lihkanlah kami kepada diri-Mu dan kepada kewajiban kami. Pu-

lihkanlah kami, maka kami akan pulih kembali.” Semua orang 

yang akan diselamatkan Tuhan  , cepat atau lambat pasti akan 

dipulihkan oleh-Nya. Tanpa pertobatan tidak ada keselamatan. 

2. Mereka berdoa supaya Tuhan   mengangkat tanda-tanda murka-

Nya yang menindih mereka: “Tiadakanlah sakit hati-Mu kepada 

kami, seperti yang telah sering Engkau lakukan di masa nenek 

moyang kami, saat  Engkau meredakan murka-Mu dari mere-

ka.” Perhatikanlah dengan baik cara yang digunakan, “Pertama-

tama kembalikan kami kepada-Mu, kemudian alihkan sakit 

hati-Mu dari kami.” saat  kita diperdamaikan kembali dengan 

Tuhan  , maka baru saat itulah kita boleh berharap akan menda-

pat penghiburan dari perdamaian kita dengan Dia.  

3. Mereka berdoa meminta pernyataan kehendak baik Tuhan   ke-

pada mereka (ay. 8): “Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-

Mu, ya TUHAN, nyatakanlah diri-Mu dengan belas kasihan-Mu 

kepada kami. Janganlah sekadar berbelas kasihan kepada ka-

mi, namun  izinkanlah kami juga melihat penghiburan sebagai 

bukti dari kasih setia-Mu itu. Biarlah kami tahu bahwa Eng-

kau berbelas kasihan terhadap kami dan menyediakan rahmat 

bagi kami.” 

4. Mereka berdoa supaya Tuhan   bersedia tampil demi mereka de-

ngan penuh rahmat, dan demi diri-Nya sendiri dengan penuh 

kemuliaan: “Berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-

Mu, berikanlah sesuai dengan janji-Mu, dan sesudah  itu, tidak 

diragukan lagi Engkau pasti akan melaksanakannya melalui 

pemeliharaan-Mu.” Perhatikanlah, pundi-pundi rahmat Tuhan   

merupakan pewaris keselamatan-Nya. Ia memperlihatkan ka-

sih setia kepada orang-orang yang dikaruniai keselamatan oleh 

Dia. Sebab, keselamatan semata-mata diperoleh  sebab  kasih 

setia. 

III. Mereka diajar untuk dengan rendah hati berbicara dengan Tuhan   

perihal masalah-masalah yang sedang mereka alami (ay. 6-7).  

 Perhatikanlah di sini: 

1.  Apa yang mereka takuti dan cela: “Untuk selamanyakah Eng-

kau murka atas kami? Kami akan binasa jika Engkau sung-

guh-sungguh murka dengan kami, namun  kami berharap Eng-

kau tidak begitu. Apakah Engkau akan melanjutkan murka-Mu 

turun-temurun? Tidak,  sebab  Engkau penuh rahmat, tidak 

mudah murka, dan cepat memperlihatkan belas kasihan. Eng-

kau tidak akan menentang sampai selamanya. Engkau juga ti-

dak murka selamanya terhadap nenek moyang kami, melain-

kan cepat berpaling dari keganasan murka-Mu. Jadi, mengapa 

Engkau akan selamanya murka kepada kami? Bukankah rah-

mat dan belas kasihan-Mu sama banyak dan kuatnya seperti 

dahulu? Tuhan   akan murka selamanya terhadap orang-orang 

berdosa yang tidak mau bertobat. Sebab, apa itu neraka selain 

kalau bukan murka Tuhan   yang ditumpahkan turun-temurun 

tanpa kesudahan? Namun, apakah neraka dunia akan menja-

di bagian umat-Mu?” 

2. Apa yang mereka inginkan dan harapkan: “Apakah Engkau ti-

dak mau menghidupkan kami kembali (ay. 7), menghidupkan 

dengan mengucapkan kata-kata penghiburan kepada kami, 

menghidupkan dengan mengadakan pembebasan bagi kami? 

Sebelum ini Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, dan 

itulah yang menghidupkan tanah-Mu itu kembali. Tidakkah 

Engkau akan berkenan lagi, sehingga menghidupkannya kem-

bali? Tuhan   telah memberi  kepada anak-anak yang ditawan 

itu sedikit kelegaan di dalam perbudakan mereka (Ezr. 9:8). 

Kembalinya mereka dari Babel yaitu  seperti hidup dari antara 

orang mati (Yeh. 37:11-12). Sekarang, Tuhan (kata mereka), 

Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, dan 

mengangkat pula tangan-Mu untuk menghimpun kami? (126:1, 

4). Hidupkanlah pekerjaan-Mu dalam lintasan tahun (Hab. 3:2). 

“Hidupkanlah kami kembali,” 

(1) “Supaya umat-Mu dapat bersukacita, dan dengan demikian 

kami akan terhibur oleh  sebab nya” (14:7). Berilah mereka 

kehidupan, supaya mereka beroleh sukacita. 

(2) “Supaya mereka dapat bersukacita di dalam Engkau, dan 

dengan demikian Engkau akan beroleh kemuliaan  sebab -

nya.” Jika Tuhan   yaitu  mata air dari segala rahmat yang 

kita perlukan, maka Ia pun harus menjadi pusat seluruh 

sukacita kita. 

Jawaban Ilahi bagi Doa;  

Berkat yang Diberikan sebagai Jawaban atas Doa 

(85:9-14) 

9 Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan  , TUHAN. Bukan-

kah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-

orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? 

10 Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang 

takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. 11 Kasih dan kesetia-

an akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. 12 

Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. 

13 Bahkan TUHAN akan memberi  kebaikan, dan negeri kita akan memberi 

hasilnya. 14 Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak 

kaki-Nya menjadi jalan. 

Di sini kita temukan jawaban atas doa-doa dan pertanyaan-pertanya-

an jemaat dalam ayat-ayat sebelumnya. 

I. Secara umum, ini yaitu  jawaban berupa damai sejahtera. Pe-

mazmur langsung menyadari hal ini (ay. 9),  sebab  ia berdiri di 

tempat pengintaian untuk mendengar apa yang hendak difirman-

kan Tuhan   kepadanya, seperti yang dilakukan sang nabi (Hab. 2:1-2). 

Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan  , TUHAN. 

Hal ini menyiratkan tentang, 

1. Penenangan perasaannya yang bergolak – dukacitanya, keta-

kutannya – dan gejolak rohnya yang disebabkan oleh perasa-

an-perasaan itu: “Tenangkanlah dirimu, hai jiwaku, nantikan 

Tuhan   dan tindakan-Nya dengan keheningan yang penuh ke-

rendahan hati. Aku telah berbicara cukup atau bahkan ter-

lampau banyak. Sekarang aku mau mendengar apa yang hen-

dak dikatakan Tuhan   dan menyambut kehendak-Nya yang suci. 

Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?” 

Jika kita ingin Tuhan   mendengar apa yang kita katakan kepa-

da-Nya melalui doa, kita juga harus siap mendengar apa yang 

dikatakan-Nya kepada kita melalui firman-Nya. 

2. Meningkatnya pengharapannya. Sesudah menaikkan doa, ia 

menantikan sesuatu yang sangat besar dan sangat baik dari 

Tuhan   yang mendengarkan doa. sesudah  berdoa, kita harus me-

melihara doa-doa kita, dan menantikan jawabannya.  

 Sekarang Lihatlah   di sini: 

(1) Apa yang dijanjikannya kepada diri sendiri mengenai ja-

waban dari Tuhan   atas doa-doanya: Ia hendak berbicara ten-

tang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang 

dikasihi-Nya. Ada orang-orang di dunia yang merupakan 

umat Tuhan   yang disisihkan bagi-Nya, tunduk kepada-Nya, 

dan akan diselamatkan oleh-Nya. Semua umat-Nya yaitu  

orang-orang yang dikasihi-Nya, dikuduskan melalui anuge-

rah-Nya, dan diabdikan bagi kemuliaan-Nya. Orang-orang 

ini adakalanya kurang merasakan damai, di luar mereka 

ada banyak pergumulan dan di dalam batin penuh dengan 

ketakutan. Namun, cepat atau lambat, Tuhan   akan berbica-

ra kepada mereka. Kalaupun Ia tidak memberi  damai 

lahiriah, Ia akan memberi  damai batiniah dengan me-

nyampaikannya ke dalam hati mereka dengan Roh-Nya yang 

telah membisikkan-Nya ke telinga mereka melalui firman 

dan para hamba-Nya. Ia akan membuat mereka bisa men-

dengar berita sukacita dan kesukaan. 

(2)  Apa manfaat yang diperolehnya dari pengharapan ini. 

[1] Ia memperoleh penghiburan darinya, dan begitulah se-

harusnya dengan kita: “Aku mau mendengar apa yang 

hendak difirmankan Tuhan  , mendengar jaminan damai se-

jahtera yang diberikan-Nya sebagai jawaban atas doa.” 

saat  Tuhan   berbicara tentang damai, janganlah kita 

menutup telinga, namun  menerimanya dengan rendah hati 

dan penuh rasa syukur. 

[2] Ia memperingatkan orang-orang yang dikasihi-Nya su-

paya menjalankan kewajiban yang diperlukan untuk 

memperoleh damai ini: Jangan mereka kembali kepada 

kebodohan.  sebab  hanya dengan persyaratan inilah, bu-

kan dengan yang lain, damai bisa diharapkan. Hanya 

kepada orang-orang yang berpaling dari dosalah, damai 

dibicarakan. Sebaliknya, jika  mereka kembali berbu-

at dosa, maka itu yaitu  tanggungan mereka sendiri. 

Semua dosa merupakan kebodohan, terutama dosa kem-

bali mengerjakan kebiasaan tercela. Sungguh merupa-

kan kebodohan yang sangat mencolok untuk kembali 

berbuat dosa sesudah  kita sepertinya telah berpaling dari-

nya, untuk kembali kepada dosa sesudah  Tuhan   menyam-

paikan damai sejahtera. Tuhan   memang menghendaki per-

damaian, namun  saat Ia berbicara, maka perkataan-Nya 

menjadi perang bagi orang-orang bodoh demikian.  

II.  Di sini ada rincian mengenai jawaban damai sejahtera itu. Ia sa-

ma sekali tidak meragukan bahwa tidak lama lagi segala sesuatu 

akan pulih kembali. Oleh sebab itu ia memberi kita harapan yang 

menyenangkan perihal pertumbuhan keadaan jemaat di dalam 

kelima ayat terakhir mazmur ini. Ayat-ayat ini menggambarkan 

damai sejahtera dan kemakmuran yang akhirnya akan dilimpah-

kan Tuhan   ke atas anak-anak tawanan yang sesudah  mengalami 

berbagai kesukaran dan pergolakan, akhirnya bisa menetap di ne-

geri sendiri. Namun, hal ini juga boleh diartikan, baik sebagai jan-

ji bagi semua orang yang takut akan Tuhan   dan yang menegakkan 

keadilan, bahwa mereka akan merasa tenteram dan bahagia, ma-

upun sebagai nubuat tentang kerajaan Sang Mesias dan tentang 

berkat-berkat yang akan memperkaya kerajaan itu. Di sini terda-

pat, 

1. Pertolongan yang sudah dekat (ay. 10): “Sesungguhnya kesela-

matan dari pada-Nya dekat, dekat kepada kita, bahkan lebih 

dekat dibandingkan  yang kita sangka. Sebentar lagi keselamatan 

itu akan terlaksana saat waktu Tuhan   tiba, sebesar apa pun ke-

sukaran dan kesusahan yang kita alami, dan waktu-Nya tidak 

lama lagi.” saat  orang Israel dituntut membuat batu bata sa-

ma banyaknya meskipun tidak diberi jerami lagi, datanglah 

Musa. Pertolongan itu dekat bagi semua orang yang takut 

akan Dia. saat  masalah mendekat, keselamatan pun berada 

dekat. Sebaliknya, keselamatan menjauh dari orang-orang fasik 

(119:155). Hal ini cocok diterapkan kepada Kristus, sumber 

dari keselamatan kekal. Sungguh merupakan penghiburan bagi 

orang-orang kudus dari Perjanjian Lama, yang meskipun tidak 

sempat melihat penebusan di Yerusalem yang mereka nanti-

nantikan itu, tetap merasa yakin bahwa keselamatan itu su-

dah dekat dan akan menjadi bagian semua orang yang takut 

akan Tuhan  . 

2. Kehormatan dipastikan: “Sehingga kemuliaan diam di negeri ki-

ta, supaya kita bisa meneguhkan dan menetapkan penyem-

bahan kepada Tuhan   di antara kita,  sebab  itulah yang menjadi 

kemuliaan suatu negeri. jika  tidak ada penyembahan, ma-

ka Ikabod – kemuliaan itu telah pergi. Di mana ada penyem-

bahan, kemuliaan akan berdiam di situ.” Hal ini bisa mengacu 

kepada Mesias yang akan menjadi kemuliaan bagi Israel, umat-

Nya, dan yang datang serta tinggal di antara mereka (Yoh. 1:4). 

Untuk alasan itulah negeri mereka disebut negerimu, ya Ima-

nuel (Yes. 8:8). 

3. Segala anugerah bertemu dan berpelukan penuh kebahagiaan 

(ay. 11-12): Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan 

damai sejahtera akan bercium-ciuman. Hal ini bisa diartikan, 

(1) Sebagai pembaruan rakyat dan pembaruan pemerintahan. 

Bila keduanya mengalami pembaruan, maka semua anuge-

rah akan tampak jelas dan penuh kuasa di dalam kedua-

nya. Baik penguasa maupun rakyat akan murah hati dan 

setia, adil dan cinta damai. Tanpa kesetiaan dan kasih, se-

galanya akan hancur (Hos. 4:1; Yes. 59:14-15). Sebaliknya, 

jika  kesetiaan dan kasih bertemu dalam pengelolaan se-

gala urusan, mempunyai tujuan, menegakkan hukum, apa-

bila ada banyak kebenaran hingga tumbuh di mana-mana 

bak rumput yang muncul dari tanah, dan juga keadilan 

hingga tercurah bak hujan dari langit, maka segala sesuatu 

akan berjalan dengan baik. Jika dalam setiap pertemuan 

kasih dan kesetiaan bertemu, dalam setiap pelukan keadil-

an serta damai sejahtera saling berciuman, dan kejujuran 

sudah menjadi umum, maka kemuliaan akan diam di nege-

ri, sementara dosa kecurangan merupakan hal tercela bagi 

siapa pun. 

(2) Sebagai kembalinya perkenanan Tuhan  , dan kelanjutannya. 

saat  umat kembali kepada Tuhan   dan melekat kepada-Nya 

dengan penuh hormat, Ia akan kembali kepada mereka dan 

tinggal bersama mereka dengan belas kasih-Nya. Sebagian 

orang memahaminya seperti ini, bahwa dengan demikian 

kesetiaan manusia bertemu dengan kasih Tuhan  , dan keadil-

an manusia bertemu dengan damai sejahtera Tuhan  . Jika 

Tuhan   mendapati kita setia kepada-Nya, kepada sesama, dan 

kepada diri sendiri, maka kita akan mendapati Dia bermu-

rah hati terhadap kita. Bila kita menyimpan keadilan di da-

lam hati nurani kita, kita akan menerima damai sejahtera. 

Jika kesetiaan akan tumbuh dari bumi, artinya (menurut 

uraian Dr. Hammond), tumbuh dari hati manusia, yaitu 

tanah yang baik bagi kesetiaan untuk bisa tumbuh subur, 

maka keadilan (yaitu kasih Tuhan  ) akan turun dari sorga, 

seperti matahari yang menyinari dunia saat  menyebarkan 

pengaruhnya atas hasil bumi dan memelihara pertumbuh-

annya. 

(3) Sebagai keselarasan sifat-sifat ilahi dalam pekerjaan Mesi-

as. Di dalam Dia yang merupakan keselamatan dan juga 

kemuliaan kita, kasih dan kesetiaan bertemu. Kasih dan ke-

setiaan Tuhan  , serta keadilan dan damai sejahtera-Nya akan 

bercium-ciuman. Artinya, perkara keselamatan kita yang lu-

ar biasa itu telah disusun dan direncanakan dengan begitu 

baik, hingga Tuhan   menaruh belas kasihan terhadap orang 

berdosa yang malang dan berdamai dengan mereka, tanpa 

menyalahi kesetiaan dan keadilan-Nya. Dia memang ber-

sungguh-sungguh dalam memberi  ancaman dan adil 

dalam pemerintahan-Nya, namun Ia juga mengampuni orang 

berdosa dan membawa mereka ke dalam kovenan dengan 

diri-Nya sendiri. Kristus, sebagai Pengantara, mempersatu-

kan langit dan bumi kembali, yang tadinya berseteru  sebab  

dosa. Melalui Dia, kesetiaan akan tumbuh dari bumi, keseti-

aan yang diperkenan Tuhan   dalam batin, dan sesudah  itu, ke-

adilan akan menjenguk dari langit.  sebab  Tuhan   itu benar, 

dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. 

Atau, ini juga menunjukkan bahwa di dalam kerajaan Me-

sias, semua anugerah ini akan tumbuh dengan subur, ber-

jaya, dan memerintah atas semua. 

4. Banyak hal yang didambakan akan diberikan (ay. 13): TUHAN 

akan memberi  kebaikan, segala sesuatu yang dipandang-

Nya baik bagi kita. Semua hal baik datang dari kebaikan Tuhan  , 

dan saat  kasih, kesetiaan, dan keadilan menanamkan pe-

ngaruh secara menyeluruh atas hati dan kehidupan manusia, 

segala sesuatu yang baik boleh diharapkan. Dengan demikian 

jika kita mencari dahulu Kerajaan Tuhan   dan kebenarannya,  

maka semuanya itu akan ditambahkan (Mat. 6:33). saat  ke-

muliaan Injil tinggal di negeri kita, maka kemuliaan itu akan 

bertambah-tambah,  sebab  kesejahteraan jiwa akan mengha-

silkan kemakmuran lahiriah bersamanya, atau membuat keti-

adaannya terasa manis (67:7). 

5.  Bimbingan yang pasti di jalan yang baik (ay. 14): Keadilan janji-

Nya yang telah diberikan-Nya kepada kita dan menjamin keba-

hagiaan bagi kita, serta keadilan pengudusan, karya baik yang 

telah dikerjakan-Nya di dalam diri kita, semua ini akan berja-

lan di hadapan-Nya guna mempersiapkan jalan bagi-Nya, baik 

untuk meningkatkan pengharapan kita akan perkenan-Nya 

maupun untuk melayakkan kita. Semua ini juga akan berjalan 

di hadapan kita dan menjadi pedoman kita untuk membuat je-

jak kaki-Nya menjadi jalan bagi kita. Artinya, untuk membang-

kitkan pengharapan kita dan membimbing perilaku kita supa-

ya kita dapat maju mendekati-Nya sementara Ia menghampiri 

kita di jalan kasih. Kristus, surya kebenaran itu, akan mem-

bawa kita kepada Tuhan  , dan menempatkan kita di jalan yang 

menuju kepada-Nya. Yohanes Pembaptis, sang pengkhotbah 

keadilan itu, akan pergi sebelum Kristus untuk menyediakan 

jalan bagi-Nya. Keadilan merupakan pedoman yang pasti, baik 

dalam menjumpai Tuhan   maupun dalam mengikuti Dia.  

 

 

 

 

PASAL 86  

azmur ini diberi judul “Doa Daud.” Ada kemungkinan mazmur 

ini tidak ditulis pada suatu kesempatan tertentu, namun  meru-

pakan sebuah doa yang kerap kali dipakainya sendiri, dan disaran-

kannya kepada orang lain untuk dipakai, terutama pada masa kesu-

sahan. Banyak orang berpendapat bahwa Daud menuliskan doa ini 

sebagai pelambang Kristus, “yang dalam hidup-Nya sebagai manusia 

telah mempersembahkan ratap tangis” (Ibr. 5:7). Daud, dalam doa ini 

(sesuai dengan hakikat kewajiban berdoa),  

I.   memberi  kemuliaan kepada Tuhan   (ay. 8-10, 12-13).  

II. Mengharapkan anugerah dan kebaikan dari Tuhan  , agar Dia 

mendengarkan doa-doanya (ay. 1, 6-7), menjaga dan menye-

lamatkannya, dan berbelas kasihan terhadapnya (ay. 2-3, 16), 

memberinya sukacita, anugerah, dan kekuatan, dan menaruh 

kehormatan kepadanya (ay. 4, 11, 17). Ia berseru menyata-

kan kebaikan Tuhan   (ay. 5, 15) dan kebencian musuh-musuh-

nya (ay. 14).  

Dalam menyanyikan mazmur ini, kita harus, sama seperti Daud, 

mengangkat jiwa kita kepada Tuhan   dengan permohonan.  

Permohonan-permohonan  

yang Dipenuhi Kerendahan Hati  

(86:1-7) 

1 Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab 

sengsara dan miskin aku. 2 Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kau-

kasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. 3 Engkau yaitu  

Tuhan  ku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru se-

panjang hari. 4 Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya 

Tuhan, kuangkat jiwaku. 5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka meng-

ampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-

Mu. 6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara 

permohonanku. 7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab 

Engkau menjawab aku. 

Mazmur ini dipampang dengan judul Doa Daud. Ini bukan seolah-

olah Daud menyanyikan semua doanya, namun  ke dalam sebagian nya-

nyiannya ia menyelipkan doa-doa. Memang, dalam sebuah mazmur 

diperbolehkan adanya ungkapan-ungkapan perasaan saleh dan taat. 

namun  dapat diamati betapa sangat sederhananya bahasa mazmur 

ini, dan betapa sedikit kiasan-kiasan atau perumpamaan-perumpa-

maan puitis di dalamnya, jika dibandingkan dengan sebagian maz-

mur lain. Sebab, perhiasan akal budi bukanlah perhiasan yang sesu-

ai untuk doa. Nah, di sini kita dapat mengamati, 

I. Permohonan-permohonan yang dipanjatkannya kepada Tuhan  . Me-

mang benar bahwa doa secara tidak langsung bisa juga menyampai-

kan suatu khotbah pengajaran, namun yang paling sesuai yaitu  

bahwa (seperti dalam doa ini) doa itu haruslah ditujukan kepada 

Tuhan  , sebab begitulah sifat doa, seperti yang digambarkan di sini 

(ay. 4): Kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku, seperti yang 

sudah dikatakannya dalam pasal 25:1. Dalam semua bagian doa, 

jiwa harus terbang dengan sayap iman dan dengan keinginan yang 

kudus, dan terangkat kepada Tuhan  , untuk menerima anugerah 

yang disampaikan-Nya. Jiwa harus berharap naik ke tempat yang 

sangat tinggi untuk menerima perkara-perkara besar dari Dia. 

1.  Ia memohon agar Tuhan   dengan penuh rahmat mendengarkan 

doa-doanya (ay. 1): Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, ja-

wablah aku. jika  Tuhan   mendengarkan doa-doa kita, sangat-

lah tepat jika dikatakan bahwa Ia menyendengkan telinga-Nya 

untuk mendengarkannya, sebab sungguh suatu perendahan 

diri yang menakjubkan pada diri Tuhan   bahwa Ia berkenan mem-

perhatikan makhluk-makhluk yang begitu hina seperti kita 

dan mau mendengar doa-doa kita yang penuh cacat. Daud me-

ngulangi doa ini kembali (ay. 6): “Pasanglah telinga kepada doaku, 

ya TUHAN, telinga yang berkenan, meskipun doa itu kubisikkan, 

meskipun kuucapkan dengan terbata-bata. Perhatikanlah suara 

permohonanku.” Bukan berarti bahwa belas kasihan Tuhan   per-

lu dibangkitkan dengan apa saja yang dapat kita ucapkan. Te-

tapi demikianlah kita harus mengungkapkan keinginan kita

 akan kebaikan-Nya. Anak Daud mengucapkannya dengan ya-

kin dan riang hati (Yoh. 11:41-42), “Bapa, Aku mengucap syu-

kur kepada-Mu,  sebab  Engkau telah mendengarkan Aku. Aku 

tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku.”  

2. Ia memohon agar Tuhan   menaunginya di bawah perlindungan-

Nya secara khusus, dan dengan demikian mendatangkan kese-

lamatan baginya (ay. 2): Peliharalah nyawaku, selamatkanlah 

hamba-Mu. Nyawa atau roh Daudlah yang merupakan hamba 

Tuhan  . Sebab, orang-orang yang menyembah-Nya dengan benar 

hanyalah mereka yang menyembah-Nya di dalam roh. Apa yang 

Daud pedulikan yaitu  nyawanya. Jika kita memahami hal ini 

sebagai hidup Daud secara jasmani, maka ini mengajar kita 

bahwa cara terbaik bagi kita untuk melindungi diri yaitu  de-

ngan menyerahkan diri kita kepada pemeliharaan Tuhan  , dan 

dengan iman serta doa menjadikan Pencipta kita sebagai Pen-

jaga kita. namun  ini bisa dipahami sebagai hidupnya secara 

rohani, hidup jiwa yang dibedakan dari hidup raga: “Pelihara-

lah jiwaku dari satu hal yang jahat dan berbahaya bagi jiwa 

itu, yaitu dosa. Peliharalah jiwaku, dan dengan demikian sela-

matkanlah aku.” Semua orang yang akan diselamatkan Tuhan   

pasti dijaga-Nya, dan mereka akan dijaga-Nya sampai tiba di 

Kerajaan Sorgawi-Nya.  

3.  Ia memohon agar Tuhan   berkenan memandangnya dengan mata 

belas kasihan dan kasih sayang (ay. 3): Kasihanilah aku, ya 

Tuhan!  sebab  belas kasihan-Nya-lah Tuhan   mengampuni dosa-

dosa kita dan menolong kita keluar dari kesusahan-kesusahan 

kita. Pengampunan dan pertolongan ini sudah termasuk da-

lam doa ini, ya Tuhan  , berbelas kasihanlah kepadaku. “Manusia 

tidak menunjukkan belas kasihan. Kami sendiri tidak pantas 

mendapat belas kasihan. namun  Tuhan, demi belas kasihan, ber-

belas kasihanlah terhadap aku.”  

4. Ia memohon agar Tuhan   memenuhinya dengan penghiburan ba-

tiniah (ay. 4): Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita. Hanya Tuhan  -

lah yang dapat memberi  sukacita kepada hati dan membuat 

jiwa bersorak-sorai, maka saat itu, dan hanya saat itu, sukacita 

itu pun penuh. Dan, sama seperti halnya kewajiban hamba-

hamba Tuhan   untuk beribadah kepada-Nya dengan sukacita, 

demikian pula merupakan hak istimewa bagi mereka untuk di-

penuhi dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman. 

Dan di dalam iman mereka boleh berdoa, bukan saja agar Alah 

menjaga jiwa mereka, melainkan juga agar Ia membuat jiwa 

mereka bersukacita, dan agar sukacita  sebab  TUHAN menjadi 

perlindungan mereka. Cermatilah, saat  si pemazmur berdoa, 

buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, ia menambahkan, sebab 

kepada-Mulah kuangkat jiwaku. Kita dapat mengharapkan 

penghiburan dari Tuhan   jika  kita ambil peduli untuk menja-

ga persekutuan kita dengan-Nya: doa yaitu  penjaga sukacita 

rohani.        

II. Seruan-seruan yang dengannya ia meneguhkan permohonan-per-

mohonannya.  

1. Ia menyerukan hubungannya dengan Tuhan   dan kepentingan-

nya di dalam Dia: “Engkaulah Tuhan  ku, kepada-Mulah aku te-

lah mengabdikan diriku, dan kepada-Mulah aku bergantung, dan 

aku ini hamba-Mu (ay. 3), yang tunduk kepada-Mu, dan oleh 

sebab itu mengharapkan perlindungan dari-Mu.”  

2.  Ia menyerukan kesusahannya: “Jawablah aku, sebab sengsara 

dan miskin aku. Oleh sebab itu aku membutuhkan pertolongan-

Mu,  sebab  tidak ada lagi yang akan mendengarkan aku.” 

Tuhan   yaitu  Raja bagi orang sengsara. Kemuliaan-Nya yaitu  

menyelamatkan nyawa orang miskin. Orang-orang yang miskin 

di hadapan Tuhan  , yang merasa diri hampa dan berkekurang-

an, akan disambut dengan segala senang hati oleh Tuhan   Sang 

Pemberi segala anugerah.  

3. Ia menyerukan kehendak baik Tuhan   terhadap semua orang yang 

mencari-Nya (ay. 5): “Kepada-Mulah aku mengangkat jiwaku da-

lam keinginan dan pengharapan. Sebab Engkau, ya Tuhan, ba-

ik.” Ke mana lagi pengemis harus pergi selain ke depan pintu 

tuan rumah yang baik hati? Kebaikan sifat Tuhan   merupakan 

dorongan yang besar bagi kita dalam memanjatkan semua per-

mohonan kepada-Nya. Kebaikan-Nya tampak dalam dua hal, 

memberi dan mengampuni.  

(1) Dialah Tuhan   yang mengampuni dosa. Bukan saja Ia dapat 

mengampuni, namun  juga selalu siap untuk mengampuni. Ia 

selalu lebih siap untuk mengampuni dibandingkan  kita untuk 

bertobat. Aku berkata, aku akan mengaku, dan Engkau 

mengampuni (32:5).  

(2) Dialah Tuhan   yang mendengarkan doa. Kasih setia-Nya ber-

limpah, sangat penuh, dan sungguh cuma-cuma, kaya dan 

juga bebas bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. De-

ngan tak terbatas Ia menyediakan segala keperluan mere-

ka, dan menyediakannya dengan tangan terbuka.  

4.  Ia menyerukan pekerjaan baik Tuhan   dalam dirinya sendiri, yang 

dengannya Tuhan   telah membuatnya memenuhi syarat untuk 

menerima tanda-tanda kebaikan-Nya. Tiga hal yang dikerjakan 

Tuhan   dalam dirinya dengan anugerah ilahi, yang dipandangnya 

sebagai pertanda dari semua kebaikan:  

(1) Keselarasan dengan Tuhan   (ay. 2): aku kudus (KJV; TB: aku 

orang yang Kaukasihi – pen.), oleh sebab itu peliharalah 

nyawaku. Sebab orang-orang yang dikuduskan oleh Roh 

pasti akan dipelihara-Nya. Ia tidak mengatakan ini dengan 

sombong dan bermegah diri, namun  dengan rasa syukur 

yang dipenuhi dengan kerendahan hati kepada Tuhan  . Aku-

lah orang yang Kaukasihi (begitulah arti umumnya), yang 

telah Engkau pilih bagi diri-Mu sendiri. Jika Tuhan   telah me-

mulai pekerjaan anugerah-Nya yang baik dalam diri kita, 

maka kita harus mengakui bahwa masa ini yaitu  masa 

cinta. Dalam mata-Nya saat  itu aku bagaikan orang yang 

telah mendapat kebahagiaan, dan barangsiapa yang telah 

dibawa Tuhan   ke dalam perkenanan-Nya, pasti akan diba-

wa-Nya ke dalam perlindungan-Nya. Semua orang-Mu yang 

kudus ada di dalam tangan-Mu (Ul. 33:3). Lihatlah  , aku 

miskin (ay. 1), namun aku kudus (ay. 2, KJV), kudus namun 

miskin, miskin dalam dunia namun kaya dalam iman. Orang-

orang yang menjaga kemurnian mereka dalam kemiskinan 

yang teramat sangat dapat meyakinkan diri mereka sendiri 

bahwa Tuhan   akan menjaga penghiburan-penghiburan bagi 

mereka, akan menjaga jiwa mereka.  

(2) Kepercayaan kepada Tuhan  : Selamatkanlah hamba-Mu yang 

percaya kepada-Mu. Orang-orang yang kudus, walaupun de-

mikian, tidak boleh menaruh kepercayaan pada diri mereka, 

atau pada kebaikan mereka sendiri, namun  hanya pada Tuhan   

dan anugerah-Nya. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan   

dapat mengharapkan keselamatan dari-Nya.  

(3) Kecondongan hati untuk bersekutu dengan Tuhan  . Ia berha-

rap agar Tuhan   menjawab doa-doanya,  sebab  Ia telah men-

condongkan hatinya untuk berdoa.  

[1] Untuk terus-menerus dalam doa: Kepada-Mulah aku ber-

seru sepanjang hari (ay. 3). Dengan demikian, sudah 

menjadi kewajiban kita untuk selalu berdoa, tanpa henti, 

dan untuk terus-menerus di dalam doa. Kita dapat ber-

harap agar doa-doa kita, yang kita panjatkan di waktu 

kesusahan, akan didengar, jika kita mau melakukan ke-

wajiban berdoa kita dengan penuh kesadaran hati nu-

rani di waktu-waktu lain, bahkan di sepanjang waktu. 

Sungguh menghibur jika penderitaan mendapati roda doa 

sedang berputar, dan tidak baru diputar pada saat pen-

deritaan tiba.  

[2] Untuk berhubungan dengan Tuhan   di dalam batin saat  

berdoa, untuk mengangkat jiwanya kepada-Nya (ay. 4). 

Kita dapat berharap bahwa Tuhan   akan menjumpai kita 

dengan kasih setia-Nya jika  kita di dalam doa-doa 

melambungkan jiwa seolah-olah ingin menjumpai-Nya.  

[3] Untuk bersungguh-sungguh secara khusus dengan Tuhan   

di dalam doa saat  sedang menderita (ay. 7): “Pada hari 

kesesakanku, tak peduli apa pun yang diperbuat orang 

lain, aku berseru kepada-Mu, dan menyerahkan perka-

raku kepada-Mu, sebab Engkau akan mendengar dan 

menjawab aku. Dan aku tidak akan mencari dengan sia-

sia seperti mereka yang berteriak-teriak, ‘Ya Baal, 

jawablah kami!’; namun  tidak ada suara, tidak ada yang 

menjawab, tidak ada tanda perhatian” (1Raj. 18:29). 

Permohonan dan Puji-pujian;  

Doa Meminta Belas Kasihan dan Anugerah 

(86:8-17) 

8 Tidak ada seperti Engkau di antara para Tuhan  , ya Tuhan, dan tidak ada se-

perti apa yang Kaubuat. 9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud 

menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. 10 

Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri sa-

ja Tuhan  . 11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup 

menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. 12 

Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Tuhan  ku, dengan segenap hati-

Kitab Mazmur 86:8-17 

 1241 

ku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; 13 sebab kasih setia-

Mu besar atas aku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang 

mati yang paling bawah. 14 Ya Tuhan  , orang-orang yang angkuh telah bangkit 

menyerang aku, dan gerombolan orang-orang yang sombong ingin mencabut 

nyawaku, dan tidak mempedulikan Engkau. 15 namun  Engkau, ya Tuhan, Al-

lah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia. 16 

Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, berilah kekuatan-Mu kepada 

hamba-Mu, dan selamatkanlah anak laki-laki hamba-Mu perempuan! 17 La-

kukanlah kepadaku suatu tanda kebaikan, supaya orang-orang yang memben-

ci aku melihat dengan malu, bahwa Engkau, ya TUHAN, telah menolong dan 

menghiburkan aku.

Di sini Daud terus melanjutkan doanya. 

I.  Ia memberi  kemuliaan kepada Tuhan  . Demikianlah di dalam doa-

doa kita harus memuji dan memuja Dia dengan segala kerendah-

an hati dan hormat, dan mengakui bahwa kerajaan, kuasa, dan 

kemuliaan yaitu  milik-Nya. saat  memuji Dia:   

1.  Sebagai Keberadaan yang sempurna tiada tara, yang tidak ada 

duanya dan tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun (ay. 

8). Di antara para Tuhan  , Tuhan  -Tuhan   palsu, yang disembah oleh 

bangsa-bangsa kafir, dan di antara para malaikat dan raja-raja 

di bumi, tidak ada seperti Engkau, ya Tuhan! Tidak ada yang 

begitu bijak, begitu perkasa, begitu baik. Dan tidak ada seperti 

apa yang Kaubuat, yang merupakan bukti yang tidak dapat di-

sanggah bahwa tidak ada yang seperti Dia. Karya-karya-Nya 

sendiri memuji-Nya, dan cara terbaik yang kita miliki untuk 

memuji Dia yaitu  dengan mengakui bahwa tidak ada yang 

seperti Dia.  

2.  Sebagai sumber dari semua keberadaan dan pusat dari segala 

pujian (ay. 9): “Engkau menjadikan segala bangsa, menjadikan 

mereka semua dari satu darah. Keberadaan mereka semua ber-

asal dari Engkau, dan mereka senantiasa bergantung kepada-

Mu, dan oleh sebab itu mereka akan datang sujud menyembah 

di hadapan-Mu, dan akan memuliakan nama-Mu.” Hal ini se-

cara sebagian digenapi dalam banyaknya bangsa yang meme-

luk agama Yahudi pada masa Daud dan Salomo, namun  akan 

digenapi secara penuh pada masa Mesias, saat  sebagian 

orang dari setiap kerajaan dan bangsa akan berhasil dibawa 

masuk untuk memuji Tuhan   (Why. 7:9). Oleh Kristuslah Tuhan   

menjadikan segala bangsa, sebab tanpa Dia tidak ada suatu 

pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan, dan oleh 

sebab itu melalui Kristuslah, dan dengan kuasa Injil dan anu-

gerah-Nya, segala bangsa akan dibawa untuk sujud menyem-

bah di hadapan Tuhan   (Yes. 66:23).  

3.  Sebagai Keberadaan yang Mahabesar (ay. 10): “Oleh sebab itu, 

segala bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Mu,  sebab  

sebagai Raja segala bangsa, Engkau besar, kedaulatan-Mu 

mutlak tak tertandingi, semarak-Mu dahsyat tak tertahankan, 

kuasa-Mu menyeluruh tak terelakkan, kekayaan-kekayaan-Mu 

luas tiada habis-habisnya, dan daerah kekuasaan-Mu tak ter-

batas dan tak dapat diganggu gugat. Dan, sebagai bukti dari 

ini, Engkau melakukan keajaiban-keajaiban, yang dipuja oleh 

segala bangsa. Melalui semua keajaiban itu mereka dengan 

mudah dapat menyadari bahwa Engkau sendirilah Tuhan  , dan 

bukan saja tidak ada yang seperti Engkau, namun  juga tiada 

yang lain kecuali Engkau.” Marilah kita selalu memiliki pikiran-

pikiran yang luhur tentang Tuhan   yang besar ini, dan dipenuhi 

dengan rasa kagum yang kudus terhadap Tuhan   yang melaku-

kan keajaiban-keajaiban ini. Kiranya hanya Dia saja, satu-sa-

tunya Tuhan  , yang memiliki hati kita. 

4.  Sebagai Keberadaan yang Mahabaik. Manusia itu buruk, sa-

ngat fasik dan busuk (ay. 14). Tidak ada belas kasihan yang 

dapat diharapkan darinya. namun  Engkau, ya Tuhan, Tuhan   pe-

nyayang dan pengasih (ay. 15). Inilah sifat yang Ia pakai untuk 

menyatakan nama-Nya, dan kita harus mengumandangkan 

sifat-Nya ini (Kel. 34:6-7). Kebaikan-Nyalah yang menyelimuti 

seluruh karya-Nya, dan oleh sebab itu haruslah memenuhi 

semua puji-pujian kita. Dan inilah penghiburan kita, dalam 

kaitannya dengan kefasikan dunia yang kita tinggali ini, bah-

wa apa pun kefasikan itu, Tuhan   itu baik. Manusia itu biadab, 

namun  Tuhan   pengasih. Manusia itu palsu, namun  Tuhan   setia. 

Tuhan   bukan hanya penyayang, namun  juga penuh kasih sa-

yang, dan di dalam Dia belas kasihan akan menang atas peng-

hakiman. Ia Penyabar terhadap kita, meskipun kita menyia-

nyiakan kebaikan-Nya dan membangkitkan amarah-Nya. Dia 

berlimpah kasih dan setia, bermurah hati dalam memberi janji 

dan setia dalam melaksanakan janji-Nya.  

5.  Sebagai Teman yang baik dan Pemberi yang murah hati. Kita 

harus memuji Tuhan    sebab  kebaikan ada di dalam diri-Nya 

sendiri. Kita bisa memuji Dia baik hati dengan penuh perasaan 

bila kita sendiri meresapi betapa baiknya Dia kepada kita sela-

ma ini. Oleh sebab itu, hal inilah yang direnungkan oleh sang 

pemazmur dengan sangat senang hati (ay. 12-13). Ia telah ber-

kata (ay. 9), segala bangsa yang Kaujadikan akan memuji-Mu, 

ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. yaitu  suatu ke-

puasan tersendiri bagi orang baik saat ia menginginkan orang 

lain memuji dan memuliakan Tuhan  , namun  dia sendiri harus 

melakukannya dengan segenap hati dan rasa senang. “Tak pe-

duli apa pun yang diperbuat orang lain” (ujar Daud), “Aku hen-

dak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Tuhan  ku, bukan hanya 

sebagai Tuhan, namun  juga sebagai Tuhan  ku. Dan aku akan me-

lakukannya dengan sepenuh hatiku. Aku akan siap melaku-

kannya dan bersenang hati di dalamnya. Aku akan melaku-

kannya dengan riang gembira dan bersemangat, dengan rasa 

hormat yang tulus terhadap Engkau. Aku akan memuliakan 

nama-Mu, bukan hanya untuk sementara waktu, namun  untuk 

selama-lamanya. Aku akan melakukannya sepanjang hidupku, 

dan berharap akan terus melakukannya sampai pada kehidup-

an kekal.” Dengan alasan yang baik ia bertekad secara istimewa 

seperti ini untuk memuji Tuhan  ,  sebab  Tuhan   telah menunjuk-

kan kepada-Nya kebaikan-kebaikan-Nya secara istimewa: Sebab 

kasih setia-Mu besar atas aku. Sumber kasih setia itu penuh 

dan tak ada habis-habisnya. Sungai kasih setia itu berlimpah 

tiada terkira. jika  kita berbicara tentang kasih setia Tuhan   

kepada kita, sudah menjadi kewajiban kitalah untuk menga-

gungkan kasih setia-Nya itu: Kasih setia-Mu besar terhadap 

aku. Tentang kebesaran kasih setia Tuhan  , ia memberi  con-

toh ini, Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang 

mati yang paling bawah, dari maut, dari maut yang begitu 

hebat, seperti Rasul Paulus (2Kor. 1:10), dari kematian kekal, 

sebagaimana yang dipahami bahkan oleh sebagian penulis Ya-

hudi. Daud tahu ia pantas dilemparkan selama-lamanya ke 

dunia orang mati yang paling bawah  sebab  dosanya yang me-

nyangkut Uria. namun  Natan meyakinkan dia bahwa Tuhan te-

lah menghapus dosanya, dan dengan perkataan itu ia terlepas 

dari dunia orang mati yang paling bawah. Dalam hal ini kasih 

setia Tuhan   sungguhlah besar terhadap dia. Bahkan orang-orang 

kudus yang terbaik sekalipun berutang kepada Tuhan   atas ke-

baikan-Nya bahwa mereka diselamatkan dari dunia orang mati 

yang paling bawah. Dan ini bukan  sebab  jasa mereka sendiri 

melainkan  sebab  kasih setia Tuhan  . Pertimbangan akan hal ini 

haruslah membesarkan hati mereka selebar-lebarnya untuk 

memuji Tuhan   atas kasih setia-Nya. Mereka wajib memuliakan 

Dia untuk selama-lamanya. Begitu mulia, begitu penuh rah-

mat mereka diselamatkan dari kesengsaraan kekal, dan ka-

rena itu sudah sewajarnyalah bila puji-pujian yang kekal juga 

dimintakan sebagai balasan atas keselamatan itu.      

II. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh meminta kasih setia dan 

anugerah dari Tuhan  . Ia mengeluhkan kebencian yang tiada habis-

habisnya dan tiada henti dari musuh-musuhnya terhadap dia (ay. 

14): “Tuhan, berpihaklah kepadaku, sebab banyaklah orang yang 

menentang aku.” Kemudian ia menggambarkan tabiat mereka. 

Mereka yaitu  orang-orang yang angkuh, yang memandang hina 

Daud yang malang. (Banyak orang menjadi penganiaya  sebab  ke-

angkuhan mereka.) Mereka yaitu  orang-orang yang sombong (KJV: 

orang-orang yang suka melakukan kekerasan – pen.), yang akan 

menyeret semua orang ke hadapan mereka dengan paksa, entah 

benar entah salah. Mereka yaitu  orang-orang yang jahat dan me-

nakutkan (menurut sebagian orang), yang melakukan apa saja 

sebisa mereka untuk menakut-nakuti semua orang di sekeliling 

mereka. Ia menyebut jumlah mereka: Mereka bergerombolan. Me-

reka orang-orang besar yang mempunyai kuasa, dan bertemu di 

majelis-majelis dan mahkamah-mahkamah. Mereka pandai bersi-

lat lidah, dan bertemu di perkumpulan-perkumpulan. namun , ka-

rena bergerombol, mereka lebih sanggup melakukan kejahatan. Ia 

memperhatikan permusuhan mereka terhadapnya: “Mereka bang-

kit menyerang aku, memberontak dengan terang-terangan terhadap 

aku. Mereka tidak saja merancang rencana, namun  juga menja-

lankan rencana itu semampu mereka. Rancangan mereka bukan 

hanya untuk menggulingkan aku, namun  juga untuk menghancur-

kan aku: mereka ingin mencabut nyawaku, untuk membunuhku. 

Mereka mengejar nyawaku, untuk membinasakan aku, jika itu 

ada dalam kuasa mereka.” Dan, yang terakhir, ia memperhatikan 

kejauhan dan keterasingan mereka dari Tuhan  , yang merupakan 

dasar permusuhan mereka terhadap Daud: “Mereka tidak mempe-

dulikan Engkau.  sebab  itu, kebaikan apakah yang dapat diha-

rapkan dari orang-orang yang tidak takut akan Tuhan   di hadapan 

mata mereka? Tuhan, bangkitlah melawan mereka, sebab mereka 

musuh-musuh-Mu dan juga musuh-musuhku.” Ia memohon,      

1.  Agar anugerah Tuhan   bekerja di dalam dia (ay. 11). Ia berdoa 

agar Tuhan   memberinya,  

(1) Hati yang memahami, agar Ia memberi tahu dan mengajar-

nya tentang kewajibannya: “Tunjukkanlah kepadaku jalan-

Mu, ya TUHAN! Jalan yang telah Engkau tetapkan bagiku 

untuk berjalan di dalamnya. Saat aku dilanda keraguan 

tentang jalan-Mu, jelaskanlah kepadaku apa yang harus 

aku lakukan. Biarlah aku mendengar suara yang berkata, 

inilah jalan” (Yes. 30:21). Daud diajar dengan sangat baik 

dalam perkara-perkara mengenai Tuhan  , namun ia sadar 

bahwa ia perlu pengajaran lebih lanjut, dan kerap kali ti-

dak bisa mempercayai penilaiannya sendiri: Tunjukkanlah 

kepadaku jalan-Mu, supaya aku hidup menurut kebenaran-

Mu. Orang akan menyangka bahwa seharusnya dia berdoa, 

ajarilah aku kebenaran-Mu, maka aku akan berjalan di ja-

lan-Mu. namun  jalan dan kebenaran-Nya itu semuanya satu 

saja. Jalan kebenaranlah yang diajarkan Tuhan   dan yang 

harus kita pilih untuk berjalan di dalamnya (119:30). Kris-

tus yaitu  jalan dan kebenaran, dan kita harus belajar me-

ngenai Kristus dan berjalan di dalam Dia. Kita tidak dapat 

berjalan di dalam jalan dan kebenaran Tuhan   kecuali Ia 

mengajar kita. Dan, jika kita berharap Ia mengajar kita, 

kita harus bertekad untuk diatur oleh ajaran-ajaran-Nya 

(Yes. 2:3).  

(2) Hati yang lurus: “Bulatkanlah hatiku untuk takut akan na-

ma-Mu. Buatlah aku tulus dalam beragama. Orang munafik 

mempunyai hati yang bercabang dua. Kiranya hatiku tidak 

bercabang dan sepenuhnya untuk Tuhan  , tidak terbagi anta-

ra Dia dan dunia, dan tidak berpencar dari-Nya.” Hati kita 

cenderung ke mana-mana dan bebas. Kekuatan dan ke-

mampuannya terbiasa melayang mencari-cari seribu satu 

hal asing. Oleh sebab itu, kita memerlukan anugerah Tuhan   

untuk menyatukan kekuatan dan kemampuan hati kita itu, 

agar kita dapat melayani Tuhan   dengan segenap hati kita, dan 

segenap hati itu sudah cukup untuk digunakan melayani-

Nya. “Kiranya hatiku tetap pada Tuhan  , dan teguh serta setia 

terhadap-Nya, dan juga bersemangat dalam melayani-Nya. 

Itulah hati yang bersatu.”   

2. Agar Tuhan   memberi  pertanda-pertanda kebaikan-Nya ke-

padanya (ay. 16-17). Tiga hal yang didoakannya di sini:  

(1) Agar Tuhan   memperkatakan damai dan penghiburan kepa-

danya: “Berpalinglah kepadaku, sebagai orang yang Engkau 

kasihi dan pedulikan dengan baik dan penuh kelembutan. 

Musuh-musuhku berbalik menyerang aku, sahabat-saha-

batku berpaling dariku. Tuhan, berpalinglah Engkau kepa-

daku dan berbelas kasihanlah kepadaku. Terhiburlah hatiku 

jika mengetahui bahwa Engkau mengasihani aku.”  

(2) Agar Tuhan   mengerjakan pembebasan untuknya, dan meng-

amankan dia: “Berilah aku kekuatan-Mu. Berikanlah keku-

atan kepadaku, agar aku dapat menolong diriku sendiri, 

dan kerahkanlah kekuatan-Mu untukku, agar aku disela-

matkan dari tangan orang-orang yang berusaha menghan-

curkanku.” Ia menyerukan hubungannya dengan Tuhan  : 

“Aku ini hamba-Mu. Aku hamba-Mu sejak lahir, sebagai anak 

laki-laki hamba-Mu perempuan, dilahirkan di rumah-Mu, dan 

oleh sebab itu Engkaulah pemilikku yang sah, dan dari-Mu-

lah aku dapat mengharapkan perlindungan. Aku kepunya-

an-Mu, selamatkanlah aku.” Anak-anak dari orangtua yang 

saleh, yang telah dipersembahkan kepada Tuhan sejak di-

ni, dapat menyerukan hubungan mereka seperti ini bersa-

ma Daud. Jika mereka dididik dalam keluarga-Nya, maka 

mereka berhak mendapatkan hak-hak istimewa dari kelu-

arga-Nya itu.  

(3)  Agar Tuhan   membuat namanya baik: “Lakukanlah kepadaku 

suatu tanda kebaikan. Tampakkanlah kepada orang lain dan 

juga kepadaku bahwa Engkau mengerjakan kebaikan kepa-

daku, dan terus merancang kebaikan-Mu itu bagiku. Kira-

nya aku mendapatkan bukti-bukti yang tidak mudah dilupa-

kan dan tidak dapat disangkal akan kebaikan-Mu kepadaku, 

supaya orang-orang yang membenci aku melihatnya, dan 

malu dengan permusuhan mereka terhadapku, yang sudah 

sepantasnya mereka rasakan jika  mereka menyadari 

bahwa Engkau, ya TUHAN, telah menolong dan menghibur-

kan aku. Supaya mereka tahu bahwa mereka sudah ber-

usaha menentang Tuhan  , melawan orang yang diakui-Nya, 

dan menjadi sadar bahwa mereka sudah berusaha dengan 

sia-sia untuk menghancurkan dan menyakiti orang yang 

telah ditentukan Tuhan   sendiri untuk ditolong dan dihibur-

kan-Nya.” Sukacita orang-orang kudus akan menjadi aib 

bagi para penganiaya mereka.  

 

 

 

PASAL 87  

azmur sebelumnya sangatlah jelas dan mudah, namun  dalam 

mazmur ini ada  hal-hal yang gelap dan sulit dimengerti. 

Mazmur ini mengungkapkan puji-pujian kepada Sion, sebagai pelam-

bang dan bayangan dari gereja Injil. Apa yang dibicarakan di sini 

benar-benar berlaku bagi Sion. Sion,  sebab  kepentingan Bait Suci, 

lebih diutamakan di sini,  

I.  dibandingkan  tempat-tempat lain di negeri Kanaan, sebagai tem-

pat yang dimahkotai dengan tanda-tanda khusus kebaikan 

Tuhan   (ay. 1-3).  

II. dibandingkan  tempat atau negeri lain mana pun,  sebab  Sion di-

penuhi dengan lebih banyak orang ternama dan lebih berlim-

pah berkat-berkat ilahi (ay. 4-7).  

Sebagian orang berpikir bahwa mazmur ini ditulis untuk meng-

ungkapkan sukacita umat Tuhan   saat  Sion tengah berkembang. 

Sementara sebagian yang lain berpikir bahwa mazmur ini dituliskan 

untuk membangun iman dan pengharapan umat Tuhan   saat  Sion 

mengalami kehancuran, dan hendak dibangun kembali sesudah  

orang-orang Yahudi pulang dari pembuangan. Meskipun tidak ada 

orang yang peduli terhadapnya (Yer. 30:17, “Inilah Sion, yang tiada 

seorang pun menanyakannya”), namun Tuhan   telah melakukan per-

kara-perkara besar baginya, dan mengatak


Related Posts:

  • mazmur 51-100 15 erhatikanlah, orang-orang yang jiwanya tenteram di dalam Tuhan  , tidak bisa tidak pasti merindukan tempat tinggal di dekat ketetap-an-Nya. ada  dua mezbah di situ. Satu untuk mempersem-bahkan korban, dan… Read More