erhatikanlah, orang-orang yang jiwanya tenteram di dalam Tuhan ,
tidak bisa tidak pasti merindukan tempat tinggal di dekat ketetap-
an-Nya. ada dua mezbah di situ. Satu untuk mempersem-
bahkan korban, dan satu lagi untuk membakar dupa. Dalam ke-
rinduannya untuk mendapat tempat di pelataran Tuhan , matanya
tertuju kepada kedua mezbah itu. Begitu pulalah kita, dalam me-
nantikan Tuhan , mata kita harus tertuju baik kepada kepuasan di
dalam Kristus maupun kepada perantaraan-Nya. Terakhir, amati-
lah bagaimana Daud memandang Tuhan melalui kata-katanya ini:
Engkau yaitu TUHAN semesta alam, Rajaku dan Tuhan ku. Ke ma-
nakah orang malang yang sedang dalam kesusahan harus menca-
ri perlindungan, selain kepada rajanya? Bukankah suatu bangsa
patut meminta petunjuk kepada Tuhan nya? Rajaku, Tuhan ku, yaitu
Tuhan semesta alam. Biarlah aku hidup dan mati di dekat Dia dan
mezbah-mezbah-Nya.
IV. Pengakuannya perihal kebahagiaan para pelayan dan juga orang-
orang yang memperoleh kebebasan untuk hadir di mezbah-mezbah
Tuhan : “Berbahagialah mereka. O, kapankah aku boleh kembali me-
nikmati kebahagiaan itu?”
1. Berbahagialah para pelayan Tuhan, imam, dan orang Lewi yang
bertempat tinggal di dekat Kemah Suci dan terlibat dalam pela-
yanannya (ay. 5): Berbahagialah orang-orang yang diam di ru-
mah-Mu, yang tinggal di sana, dan menjalankan kegiatan di si-
tu. Tidak terpikirkan sama sekali olehnya untuk merasa iba
terhadap mereka yang harus terbelenggu sebab harus senan-
tiasa hadir dan wajib bersikap sungguh-sungguh tanpa henti.
Ia justru merasa lebih iri kepada mereka dibanding kepada ra-
ja-raja terbesar di dunia. Ada orang-orang yang menganggap
berbahagia mereka yang tamak, namun Daud menganggap ber-
bahagia orang-orang yang hidup saleh. Berbahagialah orang-
orang yang diam di rumah-Mu (bukan sebab mereka mendapat
gaji tinggi dan sebagian hewan kurban bagi diri sendiri sehing-
ga mampu menyediakan makanan lezat, melainkan sebab
mereka memiliki pekerjaan yang baik): Mereka akan terus-me-
nerus memuji-muji Engkau. Dan seandainya ada sorga di bumi,
maka sorga itu yaitu memuji-muji Tuhan , senantiasa memuji-
muji Dia. Bayangkanlah hal ini pada tempat kediaman-Nya di
atas. Berbahagialah mereka yang diam di sana, para malaikat
dan orang kudus yang telah dipermuliakan, sebab mereka
tidak berhenti-hentinya berseru siang dan malam memuji-muji
Tuhan . Oleh sebab itu, biarlah kita juga menghabiskan seba-
nyak mungkin waktu dalam pekerjaan yang terpuji ini. Peker-
jaan inilah yang kita harapkan untuk lakukan dengan penuh
sukacita dalam kekekalan.
2. Berbahagialah orang-orang, yakni penduduk negeri itu, yang
meskipun tidak senantiasa diam di rumah Tuhan seperti para
imam, memiliki kebebasan untuk datang ke sana pada waktu-
waktu tertentu guna menghadiri perayaan-perayaan khidmat
mereka, yakni tiga perayaan utama yang wajib dihadiri oleh
semua orang laki-laki (Ul. 16:16). Daud sama sekali tidak me-
nganggap hal ini sebagai beban dan kesulitan yang ditimpakan
ke atas mereka, hingga ia malah merasa iri terhadap kebahagiaan
mereka yang dapat menghadiri perayaan-perayaan itu (ay. 6-8).
Di sini, orang-orang yang disebutnya berbahagia itu digambar-
kan sebagai berikut.
(1) Mereka yaitu orang-orang yang kegiatan agamanya bera-
kar dari landasan pikiran untuk selalu bergantung pada Al-
lah dan mengabdi kepada-Nya: Berbahagialah manusia yang
kekuatannya di dalam Engkau, yang menjadikan Engkau
kekuatannya, yang bersandar teguh pada-Mu, dan yang
menjadikan nama-Mu menaranya yang kuat tempat ia men-
cari selamat (Ams. 18:10). Berbahagialah orang yang harap-
annya pada TUHAN, Tuhan nya (40:5; 146:5). Orang-orang
yang benar-benar disebut berbahagia yaitu mereka yang
pergi dan tetap setia menjalankan ibadah, bukan dengan
kekuatan sendiri ( sebab bila demikian halnya, upaya me-
reka pasti akan gagal), melainkan dengan kekuatan anuge-
rah Yesus Kristus, sumber kecukupan kita. Daud ingin kem-
bali ke mezbah-mezbah Tuhan lagi, supaya di sana ia dapat
memperoleh kekuatan di dalam Tuhan Tuhan nya di tengah
pelayanan dan penderitaannya.
(2) Mereka yaitu orang-orang yang sangat mencintai ketetap-
an yang kudus: yang berhasrat mengadakan ziarah, arti-
nya, yang sesudah menaruh kebahagiaan mereka di dalam
Tuhan , lalu bersukacita dalam segala jalan yang mengarah
kepada-Nya, dan semua sarana yang dapat memperkuat
anugerah serta memelihara persekutuan mereka dengan
Dia. Mereka bukan saja melangkah di jalan-jalan ini, namun
juga menyimpan semuanya di dalam hati, menyimpannya
dengan baik. Tidak ada lagi kekhawatiran atau kecemasan,
kesenangan ataupun kesukaan, yang dapat menggantikan
tempatnya. Perhatikanlah, orang-orang yang mengarahkan
perhatian kepada Yerusalem baru haruslah memiliki jalan-
jalan ke sana di dalam hati mereka dan memeliharanya.
Pandangan mereka harus terarah lurus ke jalan-jalan itu.
Mereka harus merenungkan jalan-jalan kecilnya dan tetap
berjalan di dalamnya tanpa berbelok ke kanan atau ke kiri.
Jika kita menjadikan janji Tuhan kekuatan kita, kita harus
menjadikan firman Tuhan sebagai aturan kita dan berjalan
menurut aturan itu.
(3) Mereka yaitu orang-orang yang akan menerobos kesukaran
dan keputusasaan untuk menantikan Tuhan dalam ketetap-
an-ketetapan ibadah yang kudus (ay. 7). Saat keluar dari
daerah mereka untuk pergi beribadah mengikuti perayaan,
mereka harus melalui berbagai lembah yang kering dan
tandus (begitulah yang digambarkan sebagian orang), dan
mereka siap mati kehausan di situ. Namun, guna mence-
gah hal ini, mereka lalu menggali sumur-sumur kecil untuk
menampung dan menyimpan air hujan yang dapat menye-
garkan mereka dan orang lain juga. saat mereka membu-
at kolam penampungan, langit akan menurunkan air dan
mengisinya. Jika kita siap menerima anugerah Tuhan , anu-
gerah itu tidak akan kurang, namun cukup bagi kita di sega-
la waktu. Jalan yang harus mereka lalui melintasi lembah-
lembah duka, begitulah arti kata Baka. Atau, (seperti yang
diartikan sebagian lainnya), lembah-lembah penuh air di
musim hujan, saat hujan pada awal musim menyelubung-
inya dengan berkat, baik sebab naiknya permukaan air
atau sebab kotornya jalanan hingga tidak dapat dilalui.
Namun, dengan cara mengalirkan air lewat parit, mereka
telah membuka jalan yang bermanfaat bagi orang-orang
yang hendak naik ke Yerusalem. Orang harus memelihara
dan memperbaiki jalan-jalan yang menuju gereja dan juga
pasar. Namun, semua ini dimaksudkan untuk menunjukkan,
[1] Bahwa mereka mempunyai niat baik dengan perjalanan
itu. saat mereka hendak menghadiri perayaan khid-
mat di Yerusalem, mereka tidak mau merasa dihalangi
oleh cuaca ataupun jalan-jalan buruk. Mereka juga ti-
dak akan menjadikan hal-hal itu sebagai dalih untuk te-
tap tinggal di rumah. Segala kesukaran di dalam tugas
memang dimaksudkan untuk menguji ketetapan hati ki-
ta, dan siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan
menabur.
[2] Bahwa mereka memanfaatkan sebaik-baiknya jalan me-
nuju Sion, berupaya dan bersusah payah memperbaiki
bagian-bagian yang rusak, dan sedapat mungkin me-
nanggung hal-hal kurang menguntungkan yang tidak
dapat disingkirkan. Jalan kita menuju sorga juga melin-
tasi lembah Baka, namun bahkan tempat ini pun dapat
dijadikan tempat yang bermata air jika kita memanfaat-
kan segala penghiburan yang disediakan Tuhan bagi para
musafir yang menuju kota sorgawi itu.
(4) Mereka yaitu orang-orang yang tetap maju terus sampai
tiba di akhir perjalanan, tanpa berusaha mempersingkat-
nya (ay. 8): Mereka berjalan makin lama makin kuat. Teman
seperjalanan mereka semakin banyak dengan bertambah-
nya peziarah yang berasal dari tiap kota yang mereka lalui,
sampai jumlah mereka menjadi sangat banyak. Orang-
orang yang tinggal di dekat situ maupun yang datang dari
jauh berseru memanggil-manggil mereka, Mari kita pergi ke
rumah TUHAN (122:1-2), supaya mereka dapat pergi bersa-
ma-sama seperti satu tubuh, sebagai tanda saling menga-
sihi. Atau, ini juga bisa berarti orang-orang tertentu yang
bukannya merasa kelelahan sebab beratnya perjalanan
dan kesukaran yang mereka jumpai, namun justru menjadi
semakin bersemangat dan ceria saat sudah semakin de-
kat dengan Yerusalem, sehingga mereka terus berjalan ber-
tambah-tambah kuat (Ayb. 17:9). Demikianlah dijanjikan
bahwa orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN menda-
pat kekuatan baru (Yes. 40:31). Bahkan di saat mereka le-
mah, mereka tetap kuat. Mereka berjalan dari kebajikan ke-
pada kebajikan (demikianlah menurut sebagian orang). Ini
istilah sama yang juga digunakan bagi perempuan yang
baik-baik atau cakap. Orang-orang yang bertekun dalam
perjalanan kristiani mereka akan mendapati bahwa Tuhan
menambahkan anugerah demi anugerah bagi mereka (Yoh.
1:16). Mereka akan diubahkan dari kemuliaan kepada ke-
muliaan (2Kor. 3:18), dari tingkat anugerah agung kepada
tingkat yang lebih tinggi lagi, sampai akhirnya, masing-ma-
sing menghadap Tuhan di Sion untuk memberi kemulia-
an bagi Dia dan menerima berkat dari-Nya. Perhatikanlah,
orang-orang yang bertumbuh di dalam anugerah pada akhir-
nya nanti akan menjadi sempurna dalam kemuliaan. Di da-
lam bahasa Aram dikatakan bahwa mereka akan berjalan
dari tempat kudus menuju tempat pengajaran, dan upaya
keras mereka untuk menaati hukum akan timbul di hadapan
Tuhan yang keagungan-Nya berdiam di Sion. Kita harus me-
ngerjakan tugas demi tugas, berdoa dan membaca firman-
Nya, serta melaksanakan apa yang telah kita pelajari untuk
belajar lebih banyak. Dan bila kita melakukan hal ini, ke-
baikan akan muncul bagi kemuliaan Tuhan dan bagi penghi-
buran kekal kita.
Kegemaran akan Ketetapan-ketetapan Tuhan
(84:9-13)
9 Ya TUHAN, Tuhan semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya
Tuhan Yakub. S e l a 10 Lihatlah perisai kami, ya Tuhan , pandanglah wajah
orang yang Kauurapi! 11 Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada
seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Tuhan ku
dari pada diam di kemah-kemah orang fasik. 12 Sebab TUHAN Tuhan yaitu
matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan ke-
baikan dari orang yang hidup tidak bercela. 13 Ya TUHAN semesta alam, ber-
bahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!
Di sini:
I. Sang pemazmur berdoa supaya boleh menghadap dan diterima Tuhan ,
tanpa menyebutkan apa yang ia ingin Tuhan perbuat baginya. Ia ti-
dak perlu berkata-kata lebih banyak lagi sebab ia sudah menyata-
kan penghargaan yang begitu tinggi terhadap ketetapan-ketetapan
ibadah Tuhan yang sekarang sedang dijauhkan darinya. Melalui pe-
ngakuan yang tulus di hadapan Tuhan , kerinduan dan keluh ke-
sahnya, kerinduan hatinya itu terungkap dengan jelas. Oleh se-
bab itu ia berdoa (ay. 9-10), semata-mata supaya Tuhan mendengar
doanya dan memasang telinga, supaya Ia memandang keadaan-
nya, melihat perasaan kasih sayangnya, dan melihat wajahnya,
bagaimana roman mukanya menunjukkan kerinduan mendalam
terhadap pelataran-pelataran Tuhan . Ia menyebut dirinya (seperti
pendapat banyak orang) orang yang diurapi Tuhan , sebab Daud
memang diurapi oleh Dia dan bagi Dia. Di dalam permohonan ini,
1. Ia memandang Tuhan menurut beberapa gelar agung-Nya –
sebagai TUHAN, Tuhan semesta alam, yang memerintah atas se-
mua makhluk ciptaan-Nya dan oleh sebab itu berkuasa atas
sorga dan bumi, dan sebagai Tuhan Yakub, Tuhan yang mengikat
kovenan dengan umat-Nya dan yang tidak pernah berkata ke-
pada keturunan Yakub yang sedang berdoa untuk mencari Aku
dengan sia-sia. Ia memandang Tuhan juga sebagai Tuhan perisai
kami, yang melindungi umat-Nya dengan istimewa, sesuai
kovenan-Nya dengan Abraham bapa mereka (Kej. 15:1), Jangan-
lah takut, Abram, Akulah perisaimu. saat Daud tidak dapat
bersembunyi di dalam kemah Tuhan (27:5) sebab berada jauh
dari situ, ia tetap berharap akan mendapati Tuhan sebagai peri-
sainya, di mana pun ia berada.
2. Ia memandang Sang Pengantara, sebab menurut pemahaman
saya, tentang Dia dikatakan “Pandanglah wajah Mesias,” Dia
yang diurapi, sebab Daud berbicara mengenai pengurapan diri-
Nya dalam Mazmur 45:8. Saat berbicara dengan Tuhan , kita ha-
rus berkeinginan supaya Ia memandang wajah Kristus, mene-
rima kita demi Dia, dan berkenan kepada kita di dalam Dia.
Kita harus memandang dengan mata iman, maka Tuhan dengan
mata yang berkenan akan memandang wajah orang yang diu-
rapi, yang menampakkan wajah-Nya saat kita tidak berani
menampakkan wajah tanpa Dia.
II. Ia menyatakan kasihnya terhadap ketetapan-ketetapan Tuhan dan
ketergantungannya pada Tuhan sendiri.
1. Pelataran Tuhan merupakan pilihannya (ay. 11). Ia sangat meng-
hormati ketetapan-ketetapan kudus, jauh melebihi apa pun, dan
ia mengungkapkan penghargaannya,
(1) Dengan lebih mengingini waktu untuk menyembah Tuhan
dibandingkan waktu-waktu lainnya: Lebih baik satu hari di pela-
taran-Mu, menghadiri ibadah-ibadah yang sepenuhnya ter-
pisah dari perkara-perkara dunia, dibandingkan seribu hari
namun bukan di pelataran-Mu, melainkan di tempat lain di
dunia ini yang penuh dengan semua kesenangan anak
manusia. Di dalam Alkitab (KJV) tertulis bahwa Daud hanya
mengatakan seribu, bukan seribu hari, jadi kita bisa saja
menambahkannya dengan tahun atau abad kalau mau,
namun Daud sangat ingin melibatkan diri di dalamnya.
“Satu hari di pelataran-Mu pada hari Sabat, hari yang
kudus, hari raya, sekalipun hanya satu hari, akan sangat
menyenangkan bagiku. Bahkan lebih dari itu (seperti yang
diuraikan oleh beberapa rabi), seandainyapun aku harus
mati keesokan harinya, itu akan terasa lebih manis diban-
dingkan dengan bertahun-tahun melewatkan waktu dalam
kegiatan dan kesenangan dunia ini. Satu hari penuh suka-
cita seperti ini akan mampu mengejar seribu orang, dan
dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang dengan
rasa malu sebab tidak pantas untuk dibandingkan.”
(2) Dengan lebih menginginkan tempat ibadah dibandingkan tem-
pat lainnya: Lebih baik berdiri di ambang pintu, tempat dan
kedudukan yang paling rendah, di rumah Tuhan ku, dari pada
diam dalam kemegahan sebagai tuan di kemah-kemah orang
fasik. Lihatlah , ia bahkan menyebut Kemah Suci sebagai
rumah, sebab hadirat Tuhan di dalamnya bahkan mampu
membuat tirai-tirainya tampak lebih megah dibandingkan istana
dan lebih kuat dibandingkan benteng. Ini yaitu rumah Tuhan -
ku. Kepentingan dalam kovenan yang dimilikinya di dalam
Tuhan sebagai Tuhan -nya merupakan nada merdu yang sa-
ngat suka dimainkannya dengan kecapinya. Hanya mereka
yang mampu menyebut Tuhan sebagai Tuhan mereka dengan
alasan yang baik sajalah yang dapat menikmati pelataran
rumah-Nya. Lebih baik menjadi penjaga pintu di rumah
Tuhan dibandingkan menjadi raja di kemah-kemah tempat orang
fasik berkuasa. Lebih baik berada di ambang pintu (arti ka-
ta yang dipakai), yakni tempat bagi pengemis (Kis. 3:2): “Ti-
dak jadi masalah” (kata Daud), “biarlah itu menjadi tempat-
ku dibandingkan tidak ada tempat sama sekali.” Orang-orang
Farisi menyukai rumah ibadat asalkan mereka mendapat
tempat utama di situ (Mat. 23:6), supaya mereka tampak
seperti orang penting. Daud yang saleh tidak menuntut-
nuntut hal itu. Asal diperbolehkan berdiri di ambang pintu
saja, dia akan berkata, Guru, betapa bahagianya berada di
tempat ini. Ada yang mengartikannya dengan, Lebih baik ter-
ikat di tiang rumah Tuhan -ku dibandingkan berdiam dengan bebas
di kemah-kemah orang fasik, yang menunjuk pada hukum
yang terkait dengan para pelayan, yang jika tidak mau ke-
luar sebagai orang merdeka, harus ditusuk telinganya ke
ambang pintu (Kel. 21:5-6). Daud mengasihi Tuhannya dan
begitu menyukai pekerjaannya hingga ia ingin terikat de-
ngan pelayanan ini selamanya, untuk lebih bebas melaku-
kannya, namun tidak pernah terbebas darinya. Ia jauh le-
bih suka terikat pada tugas dibandingkan bebas berbuat dosa.
Kesukaan tertinggi seperti ini melibatkan hati yang suci da-
lam tugas-tugas yang suci. Tidak ada kepuasan yang dapat
dibandingkan dengan persekutuan bersama Tuhan .
2. Tuhan sendirilah yang menjadi pengharapan, sukacita dan sega-
lanya bagi dia. Itulah sebabnya ia sangat mencintai rumah Tuhan -
nya, sebab pengharapannya datang dari Tuhan -nya, dan di sana-
lah ia biasa mengungkapkan diri (ay. 12).
Lihatlah:
(1) Seperti apa Tuhan bagi umat-Nya, baik sekarang maupun di
masa yang akan datang: Sebab TUHAN Tuhan yaitu mata-
hari dan perisai. Di sini kita tinggal dalam kegelapan, namun
bila Tuhan yaitu Tuhan kita, Dia akan menjadi matahari bagi
kita untuk memberi pencerahan dan semangat kepada ki-
ta, untuk membimbing dan memimpin kita. Di sini kita ber-
ada dalam bahaya, namun Ia akan menjadi perisai bagi kita
untuk melindungi kita dari anak panah berapi yang beter-
bangan di sekeliling kita. Dia memagari kita dengan anuge-
rah-Nya seperti perisai. Oleh sebab itu, biarlah kita senan-
tiasa berjalan di dalam terang TUHAN dan jangan pernah
lari dari perlindungan-Nya. Dengan demikian kita akan men-
dapati Dia sebagai matahari untuk melengkapi kita dengan
segala sesuatu yang baik dan sebagai perisai untuk mena-
ungi kita dari segala yang jahat.
(2) Apa yang telah dan akan dilimpahkan-Nya ke atas mereka:
kasih dan kemuliaan Ia berikan. Anugerah ini menandakan
baik kehendak baik Tuhan kepada kita maupun karya baik
Tuhan di dalam kita. Kemuliaan menandakan baik kehor-
matan yang sekarang diletakkan-Nya ke atas kita dengan
mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya, maupun segala
sesuatu yang telah dipersiapkan-Nya bagi kita dalam bentuk
warisan yang akan kita terima sebagai anak. Tuhan akan
memberi kepada mereka anugerah di dunia ini sebagai
persiapan menyambut kemuliaan, serta kemuliaan di dunia
lain sebagai penyempurnaan anugerah. Keduanya merupakan
pemberian Tuhan , pemberian cuma-cuma. Dan sebagaimana
di satu pihak, di mana pun Tuhan memberi anugerah-Nya
Ia juga akan memberi kemuliaan (sebab anugerah ada-
lah awal kemuliaan dan merupakan jaminan untuk itu),
demikian pula di pihak lain, Ia tidak akan memberi ke-
muliaan sesudah ini kepada mereka yang tidak diberi-Nya
anugerah sekarang ini, atau yang menyia-nyiakan anuge-
rah-Nya. Jika Tuhan berkenan memberi anugerah dan
kemuliaan, yakni dua hal besar yang dapat membuat kita
bahagia di dalam kedua dunia tadi, kita boleh merasa ya-
kin bahwa Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hi-
dup tidak bercela. Merupakan tabiat semua orang yang baik,
yaitu hidup tidak bercela, menyembah Tuhan dalam roh dan
kebenaran, serta berperilaku sederhana dan saleh di dunia
ini. Orang-orang seperti ini boleh merasa yakin bahwa
Tuhan tidak akan menahan kebaikan dari mereka, yang me-
mang diperlukan untuk berjalan melintasi dunia dengan
tenteram. Pastikan untuk memperoleh anugerah dan ke-
muliaan, maka semuanya itu akan ditambahkan. Ini meru-
pakan janji yang mencakup semuanya dan juga jaminan
bagi penghiburan di masa sekarang bagi orang-orang ku-
dus, yaitu bahwa apa pun yang mereka inginkan dan per-
lukan, mereka boleh merasa yakin bahwa Sang Hikmat
yang Tak Terhingga itu tidak akan memberi nya kepada
mereka bila Ia memandang keinginan mereka itu tidak baik
bagi mereka, atau Sang Kebaikan yang Tak Terhingga itu
akan mengabulkannya pada waktunya nanti bila Ia me-
mandang itu baik bagi mereka. Biarlah kita hidup dengan
tidak bercela, dan sesudah itu marilah kita percaya kepada
Tuhan untuk memberi kita segala sesuatu yang baik bagi kita.
Terakhir, ia menyebut berbahagia orang-orang yang menaruh
percaya kepada Tuhan , seperti yang dilakukannya (ay. 13). Berbaha-
gialah mereka yang beroleh kebebasan untuk beribadah dan hak
istimewa dalam rumah Tuhan . Namun, jika kita terhalang untuk
beribadah, itu bukanlah berarti bahwa kita akan terhalang untuk
menerima kebahagiaan itu, asalkan kita percaya kepada Tuhan . Jika
kita tidak dapat pergi ke rumah Tuhan, dengan iman kita boleh pergi
kepada Tuhan Sang Pemilik rumah itu, dan di dalam Dia kita akan
merasa bahagia dan tenteram.
PASAL 85
ada umumnya para penafsir berpendapat bahwa mazmur ini ditu-
lis sesudah bangsa Yahudi kembali dari penawanan di Babel, di
mana mereka belum sepenuhnya mendapat perkenanan dari Tuhan .
Dalam mazmur ini mereka berdoa agar Ia kembali berkenan kepada
mereka. Tidak ada apa pun yang menunjukkan bahwa mazmur
ini tidak mungkin ditulis pada masa itu, begitu juga Mazmur 137. Isi
mazmur ini merupakan kepentingan seluruh rakyat, dan itu ada
dekat dalam hati si pemazmur, dan sebab itu ia menulisnya bagi selu-
ruh umat itu. Di sini, jemaat seakan dilanda air bah. Di atas ada
awan tebal, sedangkan di bawah ada ombak. Segala sesuatu gelap
dan suram. Keadaan jemaat bagaikan Nuh di dalam bahtera, di anta-
ra hidup dan mati, di antara harapan dan ketakutan. Dalam keadaan
seperti ini,
I. Dikirimlah burung merpati dalam doa. Permohonan dinaik-
kan supaya mereka terlepas dari dosa dan murka (ay. 5), ser-
ta untuk memperoleh belas kasihan dan anugerah (ay. 8).
Permohonan-permohonan itu disampaikan berdasar ke-
baikan-kebaikan yang telah ditunjukkan-Nya sebelumnya (ay.
2-4) dan kesusahan-kesusahan yang sedang dialami (ay. 6-7).
II. Kembalilah si burung merpati dengan membawa ranting zai-
tun yang melambangkan damai sejahtera dan kabar baik.
Sang pemazmur mengharapkan kembalinya merpati itu (ay. 9)
lalu menceritakan lagi perkenan yang diberikan kepada Israel
umat Tuhan . Ia meyakinkan orang-orang lain mengenai hal ini
melalui roh nubuat, dan melalui roh iman ia meyakinkan diri
sendiri (ay. 10-14).
Dalam menyanyikan mazmur ini, kita dapat dibantu untuk ber-
doa kepada Tuhan bagi jemaat-Nya secara umum maupun bagi tanah
asal kita secara khusus. Bagian pertama berguna untuk mengarahkan
keinginan-keinginan kita, sedangkan bagian selanjutnya untuk mendo-
rong iman dan pengharapan kita saat memanjatkan doa-doa itu.
Doa dalam Masa Kesukaran
(85:1-8)
1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur bani Korah. 2 Engkau telah berkenan ke-
pada tanah-Mu, ya TUHAN, telah memulihkan keadaan Yakub. 3 Engkau
telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka.
S e l a 4 Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan mur-
ka-Mu yang menyala-nyala. 5 Pulihkanlah kami, ya Tuhan penyelamat kami, dan
tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami. 6 Untuk selamanyakah Engkau mur-
ka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? 7 Apakah Engkau
tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita ka-
rena Engkau? 8 Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan
berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!
Di sini, dalam penderitaan dan kesesakan, jemaat memanjatkan per-
mohonan kepada Tuhan di bawah petunjuk-Nya. Tuhan begitu siap
mendengarkan dan menjawab doa-doa umat-Nya hingga melalui Roh
di dalam firman dan di dalam hati, Ia menyusun permohonan mereka
dan menaruh perkataan di dalam mulut mereka. Di sini, dalam kea-
daan yang terpuruk dan lemah umat Tuhan diajarkan cara membuka
hati di hadapan Tuhan .
I. Mereka harus mengakui dengan penuh syukur hal-hal luar biasa
yang telah dilakukan Tuhan bagi mereka (ay. 2-4): “Engkau telah
berbuat ini dan itu bagi kami dan nenek moyang kami.” Perhati-
kanlah, rasa susah sebab derita yang sedang dialami janganlah
sampai menghapus kenangan atas rahmat yang telah dialami se-
belumnya. Sebaliknya, meskipun keadaan kita sangat terpuruk,
kita harus mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya ten-
tang kebaikan Tuhan , yang harus kita resapi dengan penuh rasa
syukur dan dengan memuji-muji Dia. Di sini mereka menyampai-
kan dengan sukacita,
1. Bahwa Tuhan telah menyatakan Ia berkenan kepada tanah me-
reka dan tersenyum kepadanya sebagai milik-Nya sendiri: “Eng-
kau telah berkenan kepada tanah-Mu sebagai kepunyaan-Mu
dengan perkenan yang khusus.” Perhatikanlah, perkenan Tuhan
merupakan mata air segala sesuatu yang baik dan sumber ke-
bahagiaan, baik bagi bangsa-bangsa maupun bagi orang per
orang. sebab perkenan Tuhan sajalah Israel mendapatkan dan
terus memiliki Kanaan (44:4). Dan seandainya Dia senantiasa
tidak berkenan kepada mereka, mereka pasti sudah sering kali
dihancurkan.
2. Bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan musuh
dan memulihkan kebebasan mereka: “Engkau telah memulih-
kan keadaan Yakub, dan telah menempatkan kembali ke nege-
ri sendiri orang-orang yang sebelumnya telah terusir dari situ
dan menjadi orang asing di negeri asing, menjadi tawanan di
negeri para penindas mereka.” Penawanan Yakub, meskipun
berlangsung lama, akan dipulihkan pada waktunya.
3. Bahwa Ia tidak memperlakukan mereka sesuai dengan ganjar-
an atas pelanggaran mereka (ay. 3): “Engkau telah mengampuni
kesalahan umat-Mu, dan tidak menghukum mereka seperti yang
bisa saja Engkau lakukan sesuai keadilan. Engkau telah menu-
tupi segala dosa mereka.” saat Tuhan mengampuni dosa, Ia
menutupinya, dan saat Ia menutupi dosa umat-Nya, Ia menu-
tupi seluruhnya. Saat Ia membawa mereka kembali dari pena-
wanan, itulah yang merupakan bukti perkenan Tuhan terhadap
mereka, yang disertai pengampunan atas kesalahan mereka.
4. Bahwa sejauh ini Ia tidak terus-menerus murka terhadap me-
reka, dan tidak selama yang mereka takutkan (ay. 4): “sesudah
menutupi segala dosa mereka, Engkau telah menyurutkan sega-
la gemas-Mu,” sebab pada saat dosa disingkirkan, murka Tuhan
pun reda. Tuhan akan kembali tenang jika kita disucikan. Li-
hatlah apa arti pengampunan dosa itu: Engkau telah mengam-
puni kesalahan umat-Mu, artinya, “Engkau telah meredakan
murka-Mu yang menyala-nyala sangat panas yang dapat meng-
hanguskan kami di dalam nyalanya. Sebaliknya, dalam belas
kasihan-Mu terhadap kami, Engkau tidak menumpahkan se-
luruh murka-Mu. sebab , saat seorang pengantara berdiri di
hadapan-Mu untuk menjembatani jurang itu, Engkau telah
meredakan murka-Mu.”
II. Mereka diajar untuk berdoa kepada Tuhan memohon anugerah dan
rahmat, berkenaan dengan kesusahan yang sedang mereka alami.
Hal ini disimpulkan dari ayat sebelumnya: “Engkau telah berbuat
baik kepada nenek moyang kami dan juga kepada kami, sebab
kami yaitu anak-anak dari perjanjian yang sama.”
1. Mereka berdoa memohon anugerah pertobatan: “Pulihkanlah
kami, ya Tuhan penyelamat kami, supaya kami dipulihkan dari
penawanan kami. Pulihkanlah kami dari kesalahan kami. Pu-
lihkanlah kami kepada diri-Mu dan kepada kewajiban kami. Pu-
lihkanlah kami, maka kami akan pulih kembali.” Semua orang
yang akan diselamatkan Tuhan , cepat atau lambat pasti akan
dipulihkan oleh-Nya. Tanpa pertobatan tidak ada keselamatan.
2. Mereka berdoa supaya Tuhan mengangkat tanda-tanda murka-
Nya yang menindih mereka: “Tiadakanlah sakit hati-Mu kepada
kami, seperti yang telah sering Engkau lakukan di masa nenek
moyang kami, saat Engkau meredakan murka-Mu dari mere-
ka.” Perhatikanlah dengan baik cara yang digunakan, “Pertama-
tama kembalikan kami kepada-Mu, kemudian alihkan sakit
hati-Mu dari kami.” saat kita diperdamaikan kembali dengan
Tuhan , maka baru saat itulah kita boleh berharap akan menda-
pat penghiburan dari perdamaian kita dengan Dia.
3. Mereka berdoa meminta pernyataan kehendak baik Tuhan ke-
pada mereka (ay. 8): “Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-
Mu, ya TUHAN, nyatakanlah diri-Mu dengan belas kasihan-Mu
kepada kami. Janganlah sekadar berbelas kasihan kepada ka-
mi, namun izinkanlah kami juga melihat penghiburan sebagai
bukti dari kasih setia-Mu itu. Biarlah kami tahu bahwa Eng-
kau berbelas kasihan terhadap kami dan menyediakan rahmat
bagi kami.”
4. Mereka berdoa supaya Tuhan bersedia tampil demi mereka de-
ngan penuh rahmat, dan demi diri-Nya sendiri dengan penuh
kemuliaan: “Berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-
Mu, berikanlah sesuai dengan janji-Mu, dan sesudah itu, tidak
diragukan lagi Engkau pasti akan melaksanakannya melalui
pemeliharaan-Mu.” Perhatikanlah, pundi-pundi rahmat Tuhan
merupakan pewaris keselamatan-Nya. Ia memperlihatkan ka-
sih setia kepada orang-orang yang dikaruniai keselamatan oleh
Dia. Sebab, keselamatan semata-mata diperoleh sebab kasih
setia.
III. Mereka diajar untuk dengan rendah hati berbicara dengan Tuhan
perihal masalah-masalah yang sedang mereka alami (ay. 6-7).
Perhatikanlah di sini:
1. Apa yang mereka takuti dan cela: “Untuk selamanyakah Eng-
kau murka atas kami? Kami akan binasa jika Engkau sung-
guh-sungguh murka dengan kami, namun kami berharap Eng-
kau tidak begitu. Apakah Engkau akan melanjutkan murka-Mu
turun-temurun? Tidak, sebab Engkau penuh rahmat, tidak
mudah murka, dan cepat memperlihatkan belas kasihan. Eng-
kau tidak akan menentang sampai selamanya. Engkau juga ti-
dak murka selamanya terhadap nenek moyang kami, melain-
kan cepat berpaling dari keganasan murka-Mu. Jadi, mengapa
Engkau akan selamanya murka kepada kami? Bukankah rah-
mat dan belas kasihan-Mu sama banyak dan kuatnya seperti
dahulu? Tuhan akan murka selamanya terhadap orang-orang
berdosa yang tidak mau bertobat. Sebab, apa itu neraka selain
kalau bukan murka Tuhan yang ditumpahkan turun-temurun
tanpa kesudahan? Namun, apakah neraka dunia akan menja-
di bagian umat-Mu?”
2. Apa yang mereka inginkan dan harapkan: “Apakah Engkau ti-
dak mau menghidupkan kami kembali (ay. 7), menghidupkan
dengan mengucapkan kata-kata penghiburan kepada kami,
menghidupkan dengan mengadakan pembebasan bagi kami?
Sebelum ini Engkau telah berkenan kepada tanah-Mu, dan
itulah yang menghidupkan tanah-Mu itu kembali. Tidakkah
Engkau akan berkenan lagi, sehingga menghidupkannya kem-
bali? Tuhan telah memberi kepada anak-anak yang ditawan
itu sedikit kelegaan di dalam perbudakan mereka (Ezr. 9:8).
Kembalinya mereka dari Babel yaitu seperti hidup dari antara
orang mati (Yeh. 37:11-12). Sekarang, Tuhan (kata mereka),
Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, dan
mengangkat pula tangan-Mu untuk menghimpun kami? (126:1,
4). Hidupkanlah pekerjaan-Mu dalam lintasan tahun (Hab. 3:2).
“Hidupkanlah kami kembali,”
(1) “Supaya umat-Mu dapat bersukacita, dan dengan demikian
kami akan terhibur oleh sebab nya” (14:7). Berilah mereka
kehidupan, supaya mereka beroleh sukacita.
(2) “Supaya mereka dapat bersukacita di dalam Engkau, dan
dengan demikian Engkau akan beroleh kemuliaan sebab -
nya.” Jika Tuhan yaitu mata air dari segala rahmat yang
kita perlukan, maka Ia pun harus menjadi pusat seluruh
sukacita kita.
Jawaban Ilahi bagi Doa;
Berkat yang Diberikan sebagai Jawaban atas Doa
(85:9-14)
9 Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan , TUHAN. Bukan-
kah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-
orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?
10 Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang
takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. 11 Kasih dan kesetia-
an akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. 12
Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.
13 Bahkan TUHAN akan memberi kebaikan, dan negeri kita akan memberi
hasilnya. 14 Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak
kaki-Nya menjadi jalan.
Di sini kita temukan jawaban atas doa-doa dan pertanyaan-pertanya-
an jemaat dalam ayat-ayat sebelumnya.
I. Secara umum, ini yaitu jawaban berupa damai sejahtera. Pe-
mazmur langsung menyadari hal ini (ay. 9), sebab ia berdiri di
tempat pengintaian untuk mendengar apa yang hendak difirman-
kan Tuhan kepadanya, seperti yang dilakukan sang nabi (Hab. 2:1-2).
Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan , TUHAN.
Hal ini menyiratkan tentang,
1. Penenangan perasaannya yang bergolak – dukacitanya, keta-
kutannya – dan gejolak rohnya yang disebabkan oleh perasa-
an-perasaan itu: “Tenangkanlah dirimu, hai jiwaku, nantikan
Tuhan dan tindakan-Nya dengan keheningan yang penuh ke-
rendahan hati. Aku telah berbicara cukup atau bahkan ter-
lampau banyak. Sekarang aku mau mendengar apa yang hen-
dak dikatakan Tuhan dan menyambut kehendak-Nya yang suci.
Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?”
Jika kita ingin Tuhan mendengar apa yang kita katakan kepa-
da-Nya melalui doa, kita juga harus siap mendengar apa yang
dikatakan-Nya kepada kita melalui firman-Nya.
2. Meningkatnya pengharapannya. Sesudah menaikkan doa, ia
menantikan sesuatu yang sangat besar dan sangat baik dari
Tuhan yang mendengarkan doa. sesudah berdoa, kita harus me-
melihara doa-doa kita, dan menantikan jawabannya.
Sekarang Lihatlah di sini:
(1) Apa yang dijanjikannya kepada diri sendiri mengenai ja-
waban dari Tuhan atas doa-doanya: Ia hendak berbicara ten-
tang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang
dikasihi-Nya. Ada orang-orang di dunia yang merupakan
umat Tuhan yang disisihkan bagi-Nya, tunduk kepada-Nya,
dan akan diselamatkan oleh-Nya. Semua umat-Nya yaitu
orang-orang yang dikasihi-Nya, dikuduskan melalui anuge-
rah-Nya, dan diabdikan bagi kemuliaan-Nya. Orang-orang
ini adakalanya kurang merasakan damai, di luar mereka
ada banyak pergumulan dan di dalam batin penuh dengan
ketakutan. Namun, cepat atau lambat, Tuhan akan berbica-
ra kepada mereka. Kalaupun Ia tidak memberi damai
lahiriah, Ia akan memberi damai batiniah dengan me-
nyampaikannya ke dalam hati mereka dengan Roh-Nya yang
telah membisikkan-Nya ke telinga mereka melalui firman
dan para hamba-Nya. Ia akan membuat mereka bisa men-
dengar berita sukacita dan kesukaan.
(2) Apa manfaat yang diperolehnya dari pengharapan ini.
[1] Ia memperoleh penghiburan darinya, dan begitulah se-
harusnya dengan kita: “Aku mau mendengar apa yang
hendak difirmankan Tuhan , mendengar jaminan damai se-
jahtera yang diberikan-Nya sebagai jawaban atas doa.”
saat Tuhan berbicara tentang damai, janganlah kita
menutup telinga, namun menerimanya dengan rendah hati
dan penuh rasa syukur.
[2] Ia memperingatkan orang-orang yang dikasihi-Nya su-
paya menjalankan kewajiban yang diperlukan untuk
memperoleh damai ini: Jangan mereka kembali kepada
kebodohan. sebab hanya dengan persyaratan inilah, bu-
kan dengan yang lain, damai bisa diharapkan. Hanya
kepada orang-orang yang berpaling dari dosalah, damai
dibicarakan. Sebaliknya, jika mereka kembali berbu-
at dosa, maka itu yaitu tanggungan mereka sendiri.
Semua dosa merupakan kebodohan, terutama dosa kem-
bali mengerjakan kebiasaan tercela. Sungguh merupa-
kan kebodohan yang sangat mencolok untuk kembali
berbuat dosa sesudah kita sepertinya telah berpaling dari-
nya, untuk kembali kepada dosa sesudah Tuhan menyam-
paikan damai sejahtera. Tuhan memang menghendaki per-
damaian, namun saat Ia berbicara, maka perkataan-Nya
menjadi perang bagi orang-orang bodoh demikian.
II. Di sini ada rincian mengenai jawaban damai sejahtera itu. Ia sa-
ma sekali tidak meragukan bahwa tidak lama lagi segala sesuatu
akan pulih kembali. Oleh sebab itu ia memberi kita harapan yang
menyenangkan perihal pertumbuhan keadaan jemaat di dalam
kelima ayat terakhir mazmur ini. Ayat-ayat ini menggambarkan
damai sejahtera dan kemakmuran yang akhirnya akan dilimpah-
kan Tuhan ke atas anak-anak tawanan yang sesudah mengalami
berbagai kesukaran dan pergolakan, akhirnya bisa menetap di ne-
geri sendiri. Namun, hal ini juga boleh diartikan, baik sebagai jan-
ji bagi semua orang yang takut akan Tuhan dan yang menegakkan
keadilan, bahwa mereka akan merasa tenteram dan bahagia, ma-
upun sebagai nubuat tentang kerajaan Sang Mesias dan tentang
berkat-berkat yang akan memperkaya kerajaan itu. Di sini terda-
pat,
1. Pertolongan yang sudah dekat (ay. 10): “Sesungguhnya kesela-
matan dari pada-Nya dekat, dekat kepada kita, bahkan lebih
dekat dibandingkan yang kita sangka. Sebentar lagi keselamatan
itu akan terlaksana saat waktu Tuhan tiba, sebesar apa pun ke-
sukaran dan kesusahan yang kita alami, dan waktu-Nya tidak
lama lagi.” saat orang Israel dituntut membuat batu bata sa-
ma banyaknya meskipun tidak diberi jerami lagi, datanglah
Musa. Pertolongan itu dekat bagi semua orang yang takut
akan Dia. saat masalah mendekat, keselamatan pun berada
dekat. Sebaliknya, keselamatan menjauh dari orang-orang fasik
(119:155). Hal ini cocok diterapkan kepada Kristus, sumber
dari keselamatan kekal. Sungguh merupakan penghiburan bagi
orang-orang kudus dari Perjanjian Lama, yang meskipun tidak
sempat melihat penebusan di Yerusalem yang mereka nanti-
nantikan itu, tetap merasa yakin bahwa keselamatan itu su-
dah dekat dan akan menjadi bagian semua orang yang takut
akan Tuhan .
2. Kehormatan dipastikan: “Sehingga kemuliaan diam di negeri ki-
ta, supaya kita bisa meneguhkan dan menetapkan penyem-
bahan kepada Tuhan di antara kita, sebab itulah yang menjadi
kemuliaan suatu negeri. jika tidak ada penyembahan, ma-
ka Ikabod – kemuliaan itu telah pergi. Di mana ada penyem-
bahan, kemuliaan akan berdiam di situ.” Hal ini bisa mengacu
kepada Mesias yang akan menjadi kemuliaan bagi Israel, umat-
Nya, dan yang datang serta tinggal di antara mereka (Yoh. 1:4).
Untuk alasan itulah negeri mereka disebut negerimu, ya Ima-
nuel (Yes. 8:8).
3. Segala anugerah bertemu dan berpelukan penuh kebahagiaan
(ay. 11-12): Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan
damai sejahtera akan bercium-ciuman. Hal ini bisa diartikan,
(1) Sebagai pembaruan rakyat dan pembaruan pemerintahan.
Bila keduanya mengalami pembaruan, maka semua anuge-
rah akan tampak jelas dan penuh kuasa di dalam kedua-
nya. Baik penguasa maupun rakyat akan murah hati dan
setia, adil dan cinta damai. Tanpa kesetiaan dan kasih, se-
galanya akan hancur (Hos. 4:1; Yes. 59:14-15). Sebaliknya,
jika kesetiaan dan kasih bertemu dalam pengelolaan se-
gala urusan, mempunyai tujuan, menegakkan hukum, apa-
bila ada banyak kebenaran hingga tumbuh di mana-mana
bak rumput yang muncul dari tanah, dan juga keadilan
hingga tercurah bak hujan dari langit, maka segala sesuatu
akan berjalan dengan baik. Jika dalam setiap pertemuan
kasih dan kesetiaan bertemu, dalam setiap pelukan keadil-
an serta damai sejahtera saling berciuman, dan kejujuran
sudah menjadi umum, maka kemuliaan akan diam di nege-
ri, sementara dosa kecurangan merupakan hal tercela bagi
siapa pun.
(2) Sebagai kembalinya perkenanan Tuhan , dan kelanjutannya.
saat umat kembali kepada Tuhan dan melekat kepada-Nya
dengan penuh hormat, Ia akan kembali kepada mereka dan
tinggal bersama mereka dengan belas kasih-Nya. Sebagian
orang memahaminya seperti ini, bahwa dengan demikian
kesetiaan manusia bertemu dengan kasih Tuhan , dan keadil-
an manusia bertemu dengan damai sejahtera Tuhan . Jika
Tuhan mendapati kita setia kepada-Nya, kepada sesama, dan
kepada diri sendiri, maka kita akan mendapati Dia bermu-
rah hati terhadap kita. Bila kita menyimpan keadilan di da-
lam hati nurani kita, kita akan menerima damai sejahtera.
Jika kesetiaan akan tumbuh dari bumi, artinya (menurut
uraian Dr. Hammond), tumbuh dari hati manusia, yaitu
tanah yang baik bagi kesetiaan untuk bisa tumbuh subur,
maka keadilan (yaitu kasih Tuhan ) akan turun dari sorga,
seperti matahari yang menyinari dunia saat menyebarkan
pengaruhnya atas hasil bumi dan memelihara pertumbuh-
annya.
(3) Sebagai keselarasan sifat-sifat ilahi dalam pekerjaan Mesi-
as. Di dalam Dia yang merupakan keselamatan dan juga
kemuliaan kita, kasih dan kesetiaan bertemu. Kasih dan ke-
setiaan Tuhan , serta keadilan dan damai sejahtera-Nya akan
bercium-ciuman. Artinya, perkara keselamatan kita yang lu-
ar biasa itu telah disusun dan direncanakan dengan begitu
baik, hingga Tuhan menaruh belas kasihan terhadap orang
berdosa yang malang dan berdamai dengan mereka, tanpa
menyalahi kesetiaan dan keadilan-Nya. Dia memang ber-
sungguh-sungguh dalam memberi ancaman dan adil
dalam pemerintahan-Nya, namun Ia juga mengampuni orang
berdosa dan membawa mereka ke dalam kovenan dengan
diri-Nya sendiri. Kristus, sebagai Pengantara, mempersatu-
kan langit dan bumi kembali, yang tadinya berseteru sebab
dosa. Melalui Dia, kesetiaan akan tumbuh dari bumi, keseti-
aan yang diperkenan Tuhan dalam batin, dan sesudah itu, ke-
adilan akan menjenguk dari langit. sebab Tuhan itu benar,
dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.
Atau, ini juga menunjukkan bahwa di dalam kerajaan Me-
sias, semua anugerah ini akan tumbuh dengan subur, ber-
jaya, dan memerintah atas semua.
4. Banyak hal yang didambakan akan diberikan (ay. 13): TUHAN
akan memberi kebaikan, segala sesuatu yang dipandang-
Nya baik bagi kita. Semua hal baik datang dari kebaikan Tuhan ,
dan saat kasih, kesetiaan, dan keadilan menanamkan pe-
ngaruh secara menyeluruh atas hati dan kehidupan manusia,
segala sesuatu yang baik boleh diharapkan. Dengan demikian
jika kita mencari dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya,
maka semuanya itu akan ditambahkan (Mat. 6:33). saat ke-
muliaan Injil tinggal di negeri kita, maka kemuliaan itu akan
bertambah-tambah, sebab kesejahteraan jiwa akan mengha-
silkan kemakmuran lahiriah bersamanya, atau membuat keti-
adaannya terasa manis (67:7).
5. Bimbingan yang pasti di jalan yang baik (ay. 14): Keadilan janji-
Nya yang telah diberikan-Nya kepada kita dan menjamin keba-
hagiaan bagi kita, serta keadilan pengudusan, karya baik yang
telah dikerjakan-Nya di dalam diri kita, semua ini akan berja-
lan di hadapan-Nya guna mempersiapkan jalan bagi-Nya, baik
untuk meningkatkan pengharapan kita akan perkenan-Nya
maupun untuk melayakkan kita. Semua ini juga akan berjalan
di hadapan kita dan menjadi pedoman kita untuk membuat je-
jak kaki-Nya menjadi jalan bagi kita. Artinya, untuk membang-
kitkan pengharapan kita dan membimbing perilaku kita supa-
ya kita dapat maju mendekati-Nya sementara Ia menghampiri
kita di jalan kasih. Kristus, surya kebenaran itu, akan mem-
bawa kita kepada Tuhan , dan menempatkan kita di jalan yang
menuju kepada-Nya. Yohanes Pembaptis, sang pengkhotbah
keadilan itu, akan pergi sebelum Kristus untuk menyediakan
jalan bagi-Nya. Keadilan merupakan pedoman yang pasti, baik
dalam menjumpai Tuhan maupun dalam mengikuti Dia.
PASAL 86
azmur ini diberi judul “Doa Daud.” Ada kemungkinan mazmur
ini tidak ditulis pada suatu kesempatan tertentu, namun meru-
pakan sebuah doa yang kerap kali dipakainya sendiri, dan disaran-
kannya kepada orang lain untuk dipakai, terutama pada masa kesu-
sahan. Banyak orang berpendapat bahwa Daud menuliskan doa ini
sebagai pelambang Kristus, “yang dalam hidup-Nya sebagai manusia
telah mempersembahkan ratap tangis” (Ibr. 5:7). Daud, dalam doa ini
(sesuai dengan hakikat kewajiban berdoa),
I. memberi kemuliaan kepada Tuhan (ay. 8-10, 12-13).
II. Mengharapkan anugerah dan kebaikan dari Tuhan , agar Dia
mendengarkan doa-doanya (ay. 1, 6-7), menjaga dan menye-
lamatkannya, dan berbelas kasihan terhadapnya (ay. 2-3, 16),
memberinya sukacita, anugerah, dan kekuatan, dan menaruh
kehormatan kepadanya (ay. 4, 11, 17). Ia berseru menyata-
kan kebaikan Tuhan (ay. 5, 15) dan kebencian musuh-musuh-
nya (ay. 14).
Dalam menyanyikan mazmur ini, kita harus, sama seperti Daud,
mengangkat jiwa kita kepada Tuhan dengan permohonan.
Permohonan-permohonan
yang Dipenuhi Kerendahan Hati
(86:1-7)
1 Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab
sengsara dan miskin aku. 2 Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kau-
kasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. 3 Engkau yaitu
Tuhan ku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru se-
panjang hari. 4 Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya
Tuhan, kuangkat jiwaku. 5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka meng-
ampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-
Mu. 6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara
permohonanku. 7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab
Engkau menjawab aku.
Mazmur ini dipampang dengan judul Doa Daud. Ini bukan seolah-
olah Daud menyanyikan semua doanya, namun ke dalam sebagian nya-
nyiannya ia menyelipkan doa-doa. Memang, dalam sebuah mazmur
diperbolehkan adanya ungkapan-ungkapan perasaan saleh dan taat.
namun dapat diamati betapa sangat sederhananya bahasa mazmur
ini, dan betapa sedikit kiasan-kiasan atau perumpamaan-perumpa-
maan puitis di dalamnya, jika dibandingkan dengan sebagian maz-
mur lain. Sebab, perhiasan akal budi bukanlah perhiasan yang sesu-
ai untuk doa. Nah, di sini kita dapat mengamati,
I. Permohonan-permohonan yang dipanjatkannya kepada Tuhan . Me-
mang benar bahwa doa secara tidak langsung bisa juga menyampai-
kan suatu khotbah pengajaran, namun yang paling sesuai yaitu
bahwa (seperti dalam doa ini) doa itu haruslah ditujukan kepada
Tuhan , sebab begitulah sifat doa, seperti yang digambarkan di sini
(ay. 4): Kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku, seperti yang
sudah dikatakannya dalam pasal 25:1. Dalam semua bagian doa,
jiwa harus terbang dengan sayap iman dan dengan keinginan yang
kudus, dan terangkat kepada Tuhan , untuk menerima anugerah
yang disampaikan-Nya. Jiwa harus berharap naik ke tempat yang
sangat tinggi untuk menerima perkara-perkara besar dari Dia.
1. Ia memohon agar Tuhan dengan penuh rahmat mendengarkan
doa-doanya (ay. 1): Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, ja-
wablah aku. jika Tuhan mendengarkan doa-doa kita, sangat-
lah tepat jika dikatakan bahwa Ia menyendengkan telinga-Nya
untuk mendengarkannya, sebab sungguh suatu perendahan
diri yang menakjubkan pada diri Tuhan bahwa Ia berkenan mem-
perhatikan makhluk-makhluk yang begitu hina seperti kita
dan mau mendengar doa-doa kita yang penuh cacat. Daud me-
ngulangi doa ini kembali (ay. 6): “Pasanglah telinga kepada doaku,
ya TUHAN, telinga yang berkenan, meskipun doa itu kubisikkan,
meskipun kuucapkan dengan terbata-bata. Perhatikanlah suara
permohonanku.” Bukan berarti bahwa belas kasihan Tuhan per-
lu dibangkitkan dengan apa saja yang dapat kita ucapkan. Te-
tapi demikianlah kita harus mengungkapkan keinginan kita
akan kebaikan-Nya. Anak Daud mengucapkannya dengan ya-
kin dan riang hati (Yoh. 11:41-42), “Bapa, Aku mengucap syu-
kur kepada-Mu, sebab Engkau telah mendengarkan Aku. Aku
tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku.”
2. Ia memohon agar Tuhan menaunginya di bawah perlindungan-
Nya secara khusus, dan dengan demikian mendatangkan kese-
lamatan baginya (ay. 2): Peliharalah nyawaku, selamatkanlah
hamba-Mu. Nyawa atau roh Daudlah yang merupakan hamba
Tuhan . Sebab, orang-orang yang menyembah-Nya dengan benar
hanyalah mereka yang menyembah-Nya di dalam roh. Apa yang
Daud pedulikan yaitu nyawanya. Jika kita memahami hal ini
sebagai hidup Daud secara jasmani, maka ini mengajar kita
bahwa cara terbaik bagi kita untuk melindungi diri yaitu de-
ngan menyerahkan diri kita kepada pemeliharaan Tuhan , dan
dengan iman serta doa menjadikan Pencipta kita sebagai Pen-
jaga kita. namun ini bisa dipahami sebagai hidupnya secara
rohani, hidup jiwa yang dibedakan dari hidup raga: “Pelihara-
lah jiwaku dari satu hal yang jahat dan berbahaya bagi jiwa
itu, yaitu dosa. Peliharalah jiwaku, dan dengan demikian sela-
matkanlah aku.” Semua orang yang akan diselamatkan Tuhan
pasti dijaga-Nya, dan mereka akan dijaga-Nya sampai tiba di
Kerajaan Sorgawi-Nya.
3. Ia memohon agar Tuhan berkenan memandangnya dengan mata
belas kasihan dan kasih sayang (ay. 3): Kasihanilah aku, ya
Tuhan! sebab belas kasihan-Nya-lah Tuhan mengampuni dosa-
dosa kita dan menolong kita keluar dari kesusahan-kesusahan
kita. Pengampunan dan pertolongan ini sudah termasuk da-
lam doa ini, ya Tuhan , berbelas kasihanlah kepadaku. “Manusia
tidak menunjukkan belas kasihan. Kami sendiri tidak pantas
mendapat belas kasihan. namun Tuhan, demi belas kasihan, ber-
belas kasihanlah terhadap aku.”
4. Ia memohon agar Tuhan memenuhinya dengan penghiburan ba-
tiniah (ay. 4): Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita. Hanya Tuhan -
lah yang dapat memberi sukacita kepada hati dan membuat
jiwa bersorak-sorai, maka saat itu, dan hanya saat itu, sukacita
itu pun penuh. Dan, sama seperti halnya kewajiban hamba-
hamba Tuhan untuk beribadah kepada-Nya dengan sukacita,
demikian pula merupakan hak istimewa bagi mereka untuk di-
penuhi dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman.
Dan di dalam iman mereka boleh berdoa, bukan saja agar Alah
menjaga jiwa mereka, melainkan juga agar Ia membuat jiwa
mereka bersukacita, dan agar sukacita sebab TUHAN menjadi
perlindungan mereka. Cermatilah, saat si pemazmur berdoa,
buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, ia menambahkan, sebab
kepada-Mulah kuangkat jiwaku. Kita dapat mengharapkan
penghiburan dari Tuhan jika kita ambil peduli untuk menja-
ga persekutuan kita dengan-Nya: doa yaitu penjaga sukacita
rohani.
II. Seruan-seruan yang dengannya ia meneguhkan permohonan-per-
mohonannya.
1. Ia menyerukan hubungannya dengan Tuhan dan kepentingan-
nya di dalam Dia: “Engkaulah Tuhan ku, kepada-Mulah aku te-
lah mengabdikan diriku, dan kepada-Mulah aku bergantung, dan
aku ini hamba-Mu (ay. 3), yang tunduk kepada-Mu, dan oleh
sebab itu mengharapkan perlindungan dari-Mu.”
2. Ia menyerukan kesusahannya: “Jawablah aku, sebab sengsara
dan miskin aku. Oleh sebab itu aku membutuhkan pertolongan-
Mu, sebab tidak ada lagi yang akan mendengarkan aku.”
Tuhan yaitu Raja bagi orang sengsara. Kemuliaan-Nya yaitu
menyelamatkan nyawa orang miskin. Orang-orang yang miskin
di hadapan Tuhan , yang merasa diri hampa dan berkekurang-
an, akan disambut dengan segala senang hati oleh Tuhan Sang
Pemberi segala anugerah.
3. Ia menyerukan kehendak baik Tuhan terhadap semua orang yang
mencari-Nya (ay. 5): “Kepada-Mulah aku mengangkat jiwaku da-
lam keinginan dan pengharapan. Sebab Engkau, ya Tuhan, ba-
ik.” Ke mana lagi pengemis harus pergi selain ke depan pintu
tuan rumah yang baik hati? Kebaikan sifat Tuhan merupakan
dorongan yang besar bagi kita dalam memanjatkan semua per-
mohonan kepada-Nya. Kebaikan-Nya tampak dalam dua hal,
memberi dan mengampuni.
(1) Dialah Tuhan yang mengampuni dosa. Bukan saja Ia dapat
mengampuni, namun juga selalu siap untuk mengampuni. Ia
selalu lebih siap untuk mengampuni dibandingkan kita untuk
bertobat. Aku berkata, aku akan mengaku, dan Engkau
mengampuni (32:5).
(2) Dialah Tuhan yang mendengarkan doa. Kasih setia-Nya ber-
limpah, sangat penuh, dan sungguh cuma-cuma, kaya dan
juga bebas bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. De-
ngan tak terbatas Ia menyediakan segala keperluan mere-
ka, dan menyediakannya dengan tangan terbuka.
4. Ia menyerukan pekerjaan baik Tuhan dalam dirinya sendiri, yang
dengannya Tuhan telah membuatnya memenuhi syarat untuk
menerima tanda-tanda kebaikan-Nya. Tiga hal yang dikerjakan
Tuhan dalam dirinya dengan anugerah ilahi, yang dipandangnya
sebagai pertanda dari semua kebaikan:
(1) Keselarasan dengan Tuhan (ay. 2): aku kudus (KJV; TB: aku
orang yang Kaukasihi – pen.), oleh sebab itu peliharalah
nyawaku. Sebab orang-orang yang dikuduskan oleh Roh
pasti akan dipelihara-Nya. Ia tidak mengatakan ini dengan
sombong dan bermegah diri, namun dengan rasa syukur
yang dipenuhi dengan kerendahan hati kepada Tuhan . Aku-
lah orang yang Kaukasihi (begitulah arti umumnya), yang
telah Engkau pilih bagi diri-Mu sendiri. Jika Tuhan telah me-
mulai pekerjaan anugerah-Nya yang baik dalam diri kita,
maka kita harus mengakui bahwa masa ini yaitu masa
cinta. Dalam mata-Nya saat itu aku bagaikan orang yang
telah mendapat kebahagiaan, dan barangsiapa yang telah
dibawa Tuhan ke dalam perkenanan-Nya, pasti akan diba-
wa-Nya ke dalam perlindungan-Nya. Semua orang-Mu yang
kudus ada di dalam tangan-Mu (Ul. 33:3). Lihatlah , aku
miskin (ay. 1), namun aku kudus (ay. 2, KJV), kudus namun
miskin, miskin dalam dunia namun kaya dalam iman. Orang-
orang yang menjaga kemurnian mereka dalam kemiskinan
yang teramat sangat dapat meyakinkan diri mereka sendiri
bahwa Tuhan akan menjaga penghiburan-penghiburan bagi
mereka, akan menjaga jiwa mereka.
(2) Kepercayaan kepada Tuhan : Selamatkanlah hamba-Mu yang
percaya kepada-Mu. Orang-orang yang kudus, walaupun de-
mikian, tidak boleh menaruh kepercayaan pada diri mereka,
atau pada kebaikan mereka sendiri, namun hanya pada Tuhan
dan anugerah-Nya. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan
dapat mengharapkan keselamatan dari-Nya.
(3) Kecondongan hati untuk bersekutu dengan Tuhan . Ia berha-
rap agar Tuhan menjawab doa-doanya, sebab Ia telah men-
condongkan hatinya untuk berdoa.
[1] Untuk terus-menerus dalam doa: Kepada-Mulah aku ber-
seru sepanjang hari (ay. 3). Dengan demikian, sudah
menjadi kewajiban kita untuk selalu berdoa, tanpa henti,
dan untuk terus-menerus di dalam doa. Kita dapat ber-
harap agar doa-doa kita, yang kita panjatkan di waktu
kesusahan, akan didengar, jika kita mau melakukan ke-
wajiban berdoa kita dengan penuh kesadaran hati nu-
rani di waktu-waktu lain, bahkan di sepanjang waktu.
Sungguh menghibur jika penderitaan mendapati roda doa
sedang berputar, dan tidak baru diputar pada saat pen-
deritaan tiba.
[2] Untuk berhubungan dengan Tuhan di dalam batin saat
berdoa, untuk mengangkat jiwanya kepada-Nya (ay. 4).
Kita dapat berharap bahwa Tuhan akan menjumpai kita
dengan kasih setia-Nya jika kita di dalam doa-doa
melambungkan jiwa seolah-olah ingin menjumpai-Nya.
[3] Untuk bersungguh-sungguh secara khusus dengan Tuhan
di dalam doa saat sedang menderita (ay. 7): “Pada hari
kesesakanku, tak peduli apa pun yang diperbuat orang
lain, aku berseru kepada-Mu, dan menyerahkan perka-
raku kepada-Mu, sebab Engkau akan mendengar dan
menjawab aku. Dan aku tidak akan mencari dengan sia-
sia seperti mereka yang berteriak-teriak, ‘Ya Baal,
jawablah kami!’; namun tidak ada suara, tidak ada yang
menjawab, tidak ada tanda perhatian” (1Raj. 18:29).
Permohonan dan Puji-pujian;
Doa Meminta Belas Kasihan dan Anugerah
(86:8-17)
8 Tidak ada seperti Engkau di antara para Tuhan , ya Tuhan, dan tidak ada se-
perti apa yang Kaubuat. 9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud
menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. 10
Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri sa-
ja Tuhan . 11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup
menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. 12
Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Tuhan ku, dengan segenap hati-
Kitab Mazmur 86:8-17
1241
ku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; 13 sebab kasih setia-
Mu besar atas aku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang
mati yang paling bawah. 14 Ya Tuhan , orang-orang yang angkuh telah bangkit
menyerang aku, dan gerombolan orang-orang yang sombong ingin mencabut
nyawaku, dan tidak mempedulikan Engkau. 15 namun Engkau, ya Tuhan, Al-
lah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia. 16
Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, berilah kekuatan-Mu kepada
hamba-Mu, dan selamatkanlah anak laki-laki hamba-Mu perempuan! 17 La-
kukanlah kepadaku suatu tanda kebaikan, supaya orang-orang yang memben-
ci aku melihat dengan malu, bahwa Engkau, ya TUHAN, telah menolong dan
menghiburkan aku.
Di sini Daud terus melanjutkan doanya.
I. Ia memberi kemuliaan kepada Tuhan . Demikianlah di dalam doa-
doa kita harus memuji dan memuja Dia dengan segala kerendah-
an hati dan hormat, dan mengakui bahwa kerajaan, kuasa, dan
kemuliaan yaitu milik-Nya. saat memuji Dia:
1. Sebagai Keberadaan yang sempurna tiada tara, yang tidak ada
duanya dan tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun (ay.
8). Di antara para Tuhan , Tuhan -Tuhan palsu, yang disembah oleh
bangsa-bangsa kafir, dan di antara para malaikat dan raja-raja
di bumi, tidak ada seperti Engkau, ya Tuhan! Tidak ada yang
begitu bijak, begitu perkasa, begitu baik. Dan tidak ada seperti
apa yang Kaubuat, yang merupakan bukti yang tidak dapat di-
sanggah bahwa tidak ada yang seperti Dia. Karya-karya-Nya
sendiri memuji-Nya, dan cara terbaik yang kita miliki untuk
memuji Dia yaitu dengan mengakui bahwa tidak ada yang
seperti Dia.
2. Sebagai sumber dari semua keberadaan dan pusat dari segala
pujian (ay. 9): “Engkau menjadikan segala bangsa, menjadikan
mereka semua dari satu darah. Keberadaan mereka semua ber-
asal dari Engkau, dan mereka senantiasa bergantung kepada-
Mu, dan oleh sebab itu mereka akan datang sujud menyembah
di hadapan-Mu, dan akan memuliakan nama-Mu.” Hal ini se-
cara sebagian digenapi dalam banyaknya bangsa yang meme-
luk agama Yahudi pada masa Daud dan Salomo, namun akan
digenapi secara penuh pada masa Mesias, saat sebagian
orang dari setiap kerajaan dan bangsa akan berhasil dibawa
masuk untuk memuji Tuhan (Why. 7:9). Oleh Kristuslah Tuhan
menjadikan segala bangsa, sebab tanpa Dia tidak ada suatu
pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan, dan oleh
sebab itu melalui Kristuslah, dan dengan kuasa Injil dan anu-
gerah-Nya, segala bangsa akan dibawa untuk sujud menyem-
bah di hadapan Tuhan (Yes. 66:23).
3. Sebagai Keberadaan yang Mahabesar (ay. 10): “Oleh sebab itu,
segala bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Mu, sebab
sebagai Raja segala bangsa, Engkau besar, kedaulatan-Mu
mutlak tak tertandingi, semarak-Mu dahsyat tak tertahankan,
kuasa-Mu menyeluruh tak terelakkan, kekayaan-kekayaan-Mu
luas tiada habis-habisnya, dan daerah kekuasaan-Mu tak ter-
batas dan tak dapat diganggu gugat. Dan, sebagai bukti dari
ini, Engkau melakukan keajaiban-keajaiban, yang dipuja oleh
segala bangsa. Melalui semua keajaiban itu mereka dengan
mudah dapat menyadari bahwa Engkau sendirilah Tuhan , dan
bukan saja tidak ada yang seperti Engkau, namun juga tiada
yang lain kecuali Engkau.” Marilah kita selalu memiliki pikiran-
pikiran yang luhur tentang Tuhan yang besar ini, dan dipenuhi
dengan rasa kagum yang kudus terhadap Tuhan yang melaku-
kan keajaiban-keajaiban ini. Kiranya hanya Dia saja, satu-sa-
tunya Tuhan , yang memiliki hati kita.
4. Sebagai Keberadaan yang Mahabaik. Manusia itu buruk, sa-
ngat fasik dan busuk (ay. 14). Tidak ada belas kasihan yang
dapat diharapkan darinya. namun Engkau, ya Tuhan, Tuhan pe-
nyayang dan pengasih (ay. 15). Inilah sifat yang Ia pakai untuk
menyatakan nama-Nya, dan kita harus mengumandangkan
sifat-Nya ini (Kel. 34:6-7). Kebaikan-Nyalah yang menyelimuti
seluruh karya-Nya, dan oleh sebab itu haruslah memenuhi
semua puji-pujian kita. Dan inilah penghiburan kita, dalam
kaitannya dengan kefasikan dunia yang kita tinggali ini, bah-
wa apa pun kefasikan itu, Tuhan itu baik. Manusia itu biadab,
namun Tuhan pengasih. Manusia itu palsu, namun Tuhan setia.
Tuhan bukan hanya penyayang, namun juga penuh kasih sa-
yang, dan di dalam Dia belas kasihan akan menang atas peng-
hakiman. Ia Penyabar terhadap kita, meskipun kita menyia-
nyiakan kebaikan-Nya dan membangkitkan amarah-Nya. Dia
berlimpah kasih dan setia, bermurah hati dalam memberi janji
dan setia dalam melaksanakan janji-Nya.
5. Sebagai Teman yang baik dan Pemberi yang murah hati. Kita
harus memuji Tuhan sebab kebaikan ada di dalam diri-Nya
sendiri. Kita bisa memuji Dia baik hati dengan penuh perasaan
bila kita sendiri meresapi betapa baiknya Dia kepada kita sela-
ma ini. Oleh sebab itu, hal inilah yang direnungkan oleh sang
pemazmur dengan sangat senang hati (ay. 12-13). Ia telah ber-
kata (ay. 9), segala bangsa yang Kaujadikan akan memuji-Mu,
ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. yaitu suatu ke-
puasan tersendiri bagi orang baik saat ia menginginkan orang
lain memuji dan memuliakan Tuhan , namun dia sendiri harus
melakukannya dengan segenap hati dan rasa senang. “Tak pe-
duli apa pun yang diperbuat orang lain” (ujar Daud), “Aku hen-
dak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Tuhan ku, bukan hanya
sebagai Tuhan, namun juga sebagai Tuhan ku. Dan aku akan me-
lakukannya dengan sepenuh hatiku. Aku akan siap melaku-
kannya dan bersenang hati di dalamnya. Aku akan melaku-
kannya dengan riang gembira dan bersemangat, dengan rasa
hormat yang tulus terhadap Engkau. Aku akan memuliakan
nama-Mu, bukan hanya untuk sementara waktu, namun untuk
selama-lamanya. Aku akan melakukannya sepanjang hidupku,
dan berharap akan terus melakukannya sampai pada kehidup-
an kekal.” Dengan alasan yang baik ia bertekad secara istimewa
seperti ini untuk memuji Tuhan , sebab Tuhan telah menunjuk-
kan kepada-Nya kebaikan-kebaikan-Nya secara istimewa: Sebab
kasih setia-Mu besar atas aku. Sumber kasih setia itu penuh
dan tak ada habis-habisnya. Sungai kasih setia itu berlimpah
tiada terkira. jika kita berbicara tentang kasih setia Tuhan
kepada kita, sudah menjadi kewajiban kitalah untuk menga-
gungkan kasih setia-Nya itu: Kasih setia-Mu besar terhadap
aku. Tentang kebesaran kasih setia Tuhan , ia memberi con-
toh ini, Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang
mati yang paling bawah, dari maut, dari maut yang begitu
hebat, seperti Rasul Paulus (2Kor. 1:10), dari kematian kekal,
sebagaimana yang dipahami bahkan oleh sebagian penulis Ya-
hudi. Daud tahu ia pantas dilemparkan selama-lamanya ke
dunia orang mati yang paling bawah sebab dosanya yang me-
nyangkut Uria. namun Natan meyakinkan dia bahwa Tuhan te-
lah menghapus dosanya, dan dengan perkataan itu ia terlepas
dari dunia orang mati yang paling bawah. Dalam hal ini kasih
setia Tuhan sungguhlah besar terhadap dia. Bahkan orang-orang
kudus yang terbaik sekalipun berutang kepada Tuhan atas ke-
baikan-Nya bahwa mereka diselamatkan dari dunia orang mati
yang paling bawah. Dan ini bukan sebab jasa mereka sendiri
melainkan sebab kasih setia Tuhan . Pertimbangan akan hal ini
haruslah membesarkan hati mereka selebar-lebarnya untuk
memuji Tuhan atas kasih setia-Nya. Mereka wajib memuliakan
Dia untuk selama-lamanya. Begitu mulia, begitu penuh rah-
mat mereka diselamatkan dari kesengsaraan kekal, dan ka-
rena itu sudah sewajarnyalah bila puji-pujian yang kekal juga
dimintakan sebagai balasan atas keselamatan itu.
II. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh meminta kasih setia dan
anugerah dari Tuhan . Ia mengeluhkan kebencian yang tiada habis-
habisnya dan tiada henti dari musuh-musuhnya terhadap dia (ay.
14): “Tuhan, berpihaklah kepadaku, sebab banyaklah orang yang
menentang aku.” Kemudian ia menggambarkan tabiat mereka.
Mereka yaitu orang-orang yang angkuh, yang memandang hina
Daud yang malang. (Banyak orang menjadi penganiaya sebab ke-
angkuhan mereka.) Mereka yaitu orang-orang yang sombong (KJV:
orang-orang yang suka melakukan kekerasan – pen.), yang akan
menyeret semua orang ke hadapan mereka dengan paksa, entah
benar entah salah. Mereka yaitu orang-orang yang jahat dan me-
nakutkan (menurut sebagian orang), yang melakukan apa saja
sebisa mereka untuk menakut-nakuti semua orang di sekeliling
mereka. Ia menyebut jumlah mereka: Mereka bergerombolan. Me-
reka orang-orang besar yang mempunyai kuasa, dan bertemu di
majelis-majelis dan mahkamah-mahkamah. Mereka pandai bersi-
lat lidah, dan bertemu di perkumpulan-perkumpulan. namun , ka-
rena bergerombol, mereka lebih sanggup melakukan kejahatan. Ia
memperhatikan permusuhan mereka terhadapnya: “Mereka bang-
kit menyerang aku, memberontak dengan terang-terangan terhadap
aku. Mereka tidak saja merancang rencana, namun juga menja-
lankan rencana itu semampu mereka. Rancangan mereka bukan
hanya untuk menggulingkan aku, namun juga untuk menghancur-
kan aku: mereka ingin mencabut nyawaku, untuk membunuhku.
Mereka mengejar nyawaku, untuk membinasakan aku, jika itu
ada dalam kuasa mereka.” Dan, yang terakhir, ia memperhatikan
kejauhan dan keterasingan mereka dari Tuhan , yang merupakan
dasar permusuhan mereka terhadap Daud: “Mereka tidak mempe-
dulikan Engkau. sebab itu, kebaikan apakah yang dapat diha-
rapkan dari orang-orang yang tidak takut akan Tuhan di hadapan
mata mereka? Tuhan, bangkitlah melawan mereka, sebab mereka
musuh-musuh-Mu dan juga musuh-musuhku.” Ia memohon,
1. Agar anugerah Tuhan bekerja di dalam dia (ay. 11). Ia berdoa
agar Tuhan memberinya,
(1) Hati yang memahami, agar Ia memberi tahu dan mengajar-
nya tentang kewajibannya: “Tunjukkanlah kepadaku jalan-
Mu, ya TUHAN! Jalan yang telah Engkau tetapkan bagiku
untuk berjalan di dalamnya. Saat aku dilanda keraguan
tentang jalan-Mu, jelaskanlah kepadaku apa yang harus
aku lakukan. Biarlah aku mendengar suara yang berkata,
inilah jalan” (Yes. 30:21). Daud diajar dengan sangat baik
dalam perkara-perkara mengenai Tuhan , namun ia sadar
bahwa ia perlu pengajaran lebih lanjut, dan kerap kali ti-
dak bisa mempercayai penilaiannya sendiri: Tunjukkanlah
kepadaku jalan-Mu, supaya aku hidup menurut kebenaran-
Mu. Orang akan menyangka bahwa seharusnya dia berdoa,
ajarilah aku kebenaran-Mu, maka aku akan berjalan di ja-
lan-Mu. namun jalan dan kebenaran-Nya itu semuanya satu
saja. Jalan kebenaranlah yang diajarkan Tuhan dan yang
harus kita pilih untuk berjalan di dalamnya (119:30). Kris-
tus yaitu jalan dan kebenaran, dan kita harus belajar me-
ngenai Kristus dan berjalan di dalam Dia. Kita tidak dapat
berjalan di dalam jalan dan kebenaran Tuhan kecuali Ia
mengajar kita. Dan, jika kita berharap Ia mengajar kita,
kita harus bertekad untuk diatur oleh ajaran-ajaran-Nya
(Yes. 2:3).
(2) Hati yang lurus: “Bulatkanlah hatiku untuk takut akan na-
ma-Mu. Buatlah aku tulus dalam beragama. Orang munafik
mempunyai hati yang bercabang dua. Kiranya hatiku tidak
bercabang dan sepenuhnya untuk Tuhan , tidak terbagi anta-
ra Dia dan dunia, dan tidak berpencar dari-Nya.” Hati kita
cenderung ke mana-mana dan bebas. Kekuatan dan ke-
mampuannya terbiasa melayang mencari-cari seribu satu
hal asing. Oleh sebab itu, kita memerlukan anugerah Tuhan
untuk menyatukan kekuatan dan kemampuan hati kita itu,
agar kita dapat melayani Tuhan dengan segenap hati kita, dan
segenap hati itu sudah cukup untuk digunakan melayani-
Nya. “Kiranya hatiku tetap pada Tuhan , dan teguh serta setia
terhadap-Nya, dan juga bersemangat dalam melayani-Nya.
Itulah hati yang bersatu.”
2. Agar Tuhan memberi pertanda-pertanda kebaikan-Nya ke-
padanya (ay. 16-17). Tiga hal yang didoakannya di sini:
(1) Agar Tuhan memperkatakan damai dan penghiburan kepa-
danya: “Berpalinglah kepadaku, sebagai orang yang Engkau
kasihi dan pedulikan dengan baik dan penuh kelembutan.
Musuh-musuhku berbalik menyerang aku, sahabat-saha-
batku berpaling dariku. Tuhan, berpalinglah Engkau kepa-
daku dan berbelas kasihanlah kepadaku. Terhiburlah hatiku
jika mengetahui bahwa Engkau mengasihani aku.”
(2) Agar Tuhan mengerjakan pembebasan untuknya, dan meng-
amankan dia: “Berilah aku kekuatan-Mu. Berikanlah keku-
atan kepadaku, agar aku dapat menolong diriku sendiri,
dan kerahkanlah kekuatan-Mu untukku, agar aku disela-
matkan dari tangan orang-orang yang berusaha menghan-
curkanku.” Ia menyerukan hubungannya dengan Tuhan :
“Aku ini hamba-Mu. Aku hamba-Mu sejak lahir, sebagai anak
laki-laki hamba-Mu perempuan, dilahirkan di rumah-Mu, dan
oleh sebab itu Engkaulah pemilikku yang sah, dan dari-Mu-
lah aku dapat mengharapkan perlindungan. Aku kepunya-
an-Mu, selamatkanlah aku.” Anak-anak dari orangtua yang
saleh, yang telah dipersembahkan kepada Tuhan sejak di-
ni, dapat menyerukan hubungan mereka seperti ini bersa-
ma Daud. Jika mereka dididik dalam keluarga-Nya, maka
mereka berhak mendapatkan hak-hak istimewa dari kelu-
arga-Nya itu.
(3) Agar Tuhan membuat namanya baik: “Lakukanlah kepadaku
suatu tanda kebaikan. Tampakkanlah kepada orang lain dan
juga kepadaku bahwa Engkau mengerjakan kebaikan kepa-
daku, dan terus merancang kebaikan-Mu itu bagiku. Kira-
nya aku mendapatkan bukti-bukti yang tidak mudah dilupa-
kan dan tidak dapat disangkal akan kebaikan-Mu kepadaku,
supaya orang-orang yang membenci aku melihatnya, dan
malu dengan permusuhan mereka terhadapku, yang sudah
sepantasnya mereka rasakan jika mereka menyadari
bahwa Engkau, ya TUHAN, telah menolong dan menghibur-
kan aku. Supaya mereka tahu bahwa mereka sudah ber-
usaha menentang Tuhan , melawan orang yang diakui-Nya,
dan menjadi sadar bahwa mereka sudah berusaha dengan
sia-sia untuk menghancurkan dan menyakiti orang yang
telah ditentukan Tuhan sendiri untuk ditolong dan dihibur-
kan-Nya.” Sukacita orang-orang kudus akan menjadi aib
bagi para penganiaya mereka.
PASAL 87
azmur sebelumnya sangatlah jelas dan mudah, namun dalam
mazmur ini ada hal-hal yang gelap dan sulit dimengerti.
Mazmur ini mengungkapkan puji-pujian kepada Sion, sebagai pelam-
bang dan bayangan dari gereja Injil. Apa yang dibicarakan di sini
benar-benar berlaku bagi Sion. Sion, sebab kepentingan Bait Suci,
lebih diutamakan di sini,
I. dibandingkan tempat-tempat lain di negeri Kanaan, sebagai tem-
pat yang dimahkotai dengan tanda-tanda khusus kebaikan
Tuhan (ay. 1-3).
II. dibandingkan tempat atau negeri lain mana pun, sebab Sion di-
penuhi dengan lebih banyak orang ternama dan lebih berlim-
pah berkat-berkat ilahi (ay. 4-7).
Sebagian orang berpikir bahwa mazmur ini ditulis untuk meng-
ungkapkan sukacita umat Tuhan saat Sion tengah berkembang.
Sementara sebagian yang lain berpikir bahwa mazmur ini dituliskan
untuk membangun iman dan pengharapan umat Tuhan saat Sion
mengalami kehancuran, dan hendak dibangun kembali sesudah
orang-orang Yahudi pulang dari pembuangan. Meskipun tidak ada
orang yang peduli terhadapnya (Yer. 30:17, “Inilah Sion, yang tiada
seorang pun menanyakannya”), namun Tuhan telah melakukan per-
kara-perkara besar baginya, dan mengatak