g diperbuat Daud
(1Sam. 20:17). Sebab, firman dan sumpah-Nya merupakan dua
hal yang tidak dapat diganggu gugat. Sama seperti Kristus
dijadikan sebagai Imam, demikian pula Ia dijadikan sebagai
Raja dengan sumpah (Ibr. 7:21). Sebab baik kerajaan-Nya mau-
pun jabatan imamat-Nya tidak dapat diubah-ubah.
II. Pilihan terhadap seorang pribadi yang kepadanya janji itu diberi-
kan (ay. 20-21). Daud yaitu raja yang dipilih Tuhan sendiri, demi-
kian pula Kristus, dan oleh sebab itu keduanya disebut raja-raja
Tuhan (2:6). Daud yaitu orang besar, berjiwa pemberani dan
cocok untuk bekerja. Ia dipilih dari antara orang-orang biasa, bu-
kan dari antara para pembesar melainkan dari antara para gem-
bala. Tuhan menemukannya, meninggikannya, memberi perto-
longan baginya, dan memerintah Samuel untuk mengurapinya.
Namun ini terutama harus diterapkan kepada Kristus.
1. Dialah orang besar itu, yang memenuhi syarat dari segala segi
untuk melakukan pekerjaan besar yang harus dikerjakan-Nya,
mampu menyelamatkan dengan sepenuh-penuhnya. Ia perkasa
dalam kekuatan, sebab Dia Anak Tuhan . Ia besar dalam kasih,
sebab, sesudah dicobai sendiri, Dia mampu berbelas kasihan
kepada orang-orang yang dicobai. Dialah Tuhan yang perkasa
(Yes. 9:5).
2. Dia dipilih dari antara bangsa itu, salah seorang dari kita,
tulang dari tulang kita, yang turut mengambil rupa darah dan
daging seperti kita. sebab diurapi bagi manusia, Dia diambil
dari antara manusia, sehingga kengerian-Nya tidak membuat
kita takut.
3. Tuhan telah menemukan-Nya. Dia yaitu Juruselamat yang
disediakan Tuhan sendiri. Sebab keselamatan, dari mula hingga
akhir, murni sebab perbuatan Tuhan. Tebusan telah diper-
oleh-Nya (Ayb. 33:24). Kita tidak akan pernah bisa menemu-
kan seorang pribadi yang pantas untuk menjalankan pekerja-
an besar ini (Why. 5:3-4).
4. Tuhan telah memberi pertolongan kepada-Nya, tidak hanya
menolong-Nya namun juga menyediakan pertolongan di dalam
Dia bagi kita, menyerahkan tugas kepada Dia untuk memban-
tu mengangkat kembali manusia yang sudah jatuh, untuk
menolong sisa umat pilihan pergi ke sorga. Pertolongan-Mu ada
di dalam Aku (Hos. 13:9, KJV).
5. Tuhan telah meninggikan-Nya, dengan menetapkan-Nya sebagai
Nabi, Imam, dan Raja bagi jemaat-Nya, mengenakan kuasa ke-
pada-Nya, membangkitkan-Nya dari antara orang mati, dan
mendudukkan-Nya di sebelah kanan-Nya. Siapa yang dipilih
dan dipakai Tuhan pasti akan ditinggikan-Nya.
6. Ia telah mengurapi-Nya, telah memperlengkapi-Nya untuk me-
laksanakan tugas-Nya, dan dengan demikian meneguhkan-
Nya di dalamnya, dengan memberi kepada-Nya Roh, bukan
secara terbatas, melainkan secara tidak terbatas, jauh melam-
paui teman-teman sekutu-Nya. Ia disebut Mesias, atau Kristus,
Yang Diurapi.
7. Dalam semua ini Tuhan merancang Kristus untuk menjadi ham-
ba-Nya sendiri, untuk menggenapi tujuan kekal-Nya dan demi
kemajuan kepentingan-kepentingan kerajaan-Nya di tengah-
tengah manusia.
III. Janji-janji yang dibuat untuk orang pilihan ini, untuk Daud seba-
gai pelambang dan untuk Anak Daud sebagai yang dilambangkan.
Di dalam janji-janji ini hal-hal yang bukan saja penuh rahmat
melainkan juga penuh kemuliaan dibicarakan tentang Dia.
1. Dengan merujuk pada diri-Nya sendiri, sebagai Raja dan Ham-
ba Tuhan : apa yang diperbuat untuk-Nya diperbuat juga untuk
semua hamba-Nya yang dikasihi-Nya. Dijanjikan di sini,
(1) Bahwa Tuhan akan mendampingi-Nya dan menguatkan-Nya
dalam melaksanakan tugas-Nya (ay. 22): Maka tangan-Ku
akan tetap dengan Dia, sesuai dengan janji, akan Kutetap-
kan sedemikian rupa sehingga dengannya Ia akan ditetap-
kan dan diteguhkan dalam menjalankan semua tugas-Nya,
sehingga tidak satu pun dari tugas-tugas itu yang akan
diremehkan dan dikacaukan, meskipun oleh manusia dur-
haka tugas-tugas-Nya itu akan direnggut dan diperangi.
Kristus harus melakukan banyak sekali pekerjaan berat,
dan harus melalui banyak kesukaran. namun Dia yang
memberi-Nya amanat juga memberi-Nya kekuatan yang
memadai untuk menjalankan amanat-Nya: “Bahkan le-
ngan-Ku akan meneguhkan Dia untuk menerobos dan me-
nanggung segala kesulitan yang dijumpai-Nya.” Tidak ada
pekerjaan baik yang dapat gagal di tangan orang-orang
yang akan dikuatkan oleh Tuhan sendiri.
(2) Bahwa Ia akan menang atas musuh-musuh-Nya, sehingga
mereka tidak akan datang mengganggu-Nya (ay. 23): Musuh
tidak akan menyergap-Nya atau melukai-Nya. Iblis yang
pertama kali menghancurkan perdamaian akan menantang
Dia yang ingin membuat damai. Ia akan berbuat sebisa
mungkin untuk mengacaukan rancangan-Nya. Namun, ia
hanya bisa meremukkan tumit-Nya. Ia tidak bisa menyer-
gap-Nya atau melukai-Nya lebih jauh. Kristus menjadi ja-
minan bagi utang kita, dan dengan demikian Iblis dan
maut menyangka bahwa mereka telah mendapat keuntung-
an dalam melawan-Nya. namun Kristus memenuhi semua
tuntuan keadilan Tuhan , sehingga Iblis tidak bisa menyer-
gap-Nya. Penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa
sedikit pun atas diri-Ku (Yoh. 14:30). Bahkan, mereka bu-
kan hanya tidak akan berhasil melawan-Nya, namun juga
akan jatuh di hadapan-Nya (ay. 24): Aku akan menghancur-
kan lawan-Nya dari hadapan-Nya. Penguasa dunia ini akan
dicampakkan, pemerintah-pemerintah dan penguasa-pengua-
sa akan dihancurkan, dan Ia akan menjadi maut bagi maut
itu sendiri, dan menjadi kehancuran bagi dunia orang mati
(Hos. 13:14). Sebagian orang menerapkan ini pada kehan-
curan yang ditimpakan Tuhan atas bangsa Yahudi, yang
menganiaya Kristus dan menghukum mati Dia. namun se-
mua seteru Kristus, yang membenci-Nya dan tidak mau
Dia menjadi raja atas mereka, akan dibawa dan dibunuh di
depan mata-Nya (Luk. 19:27).
(3) Bahwa Ia akan menjadi satu-satunya orang kepercayaan
dalam kovenan antara Tuhan dan manusia, sehingga Tuhan
akan bermurah hati dan berlaku setia kepada kita (ay. 25):
Kesetiaan-Ku dan kasih-Ku menyertai dia. Kesetiaan dan
kasih itu menyertai Daud. Tuhan tetap mengasihinya, dan
dengan demikian membuktikan diri-Nya tetap setia. Kese-
tiaan dan kasih itu menyertai Kristus. Tuhan menepati se-
gala janji-Nya kepada-Nya. namun ini belum seberapa.
Kasih Tuhan kepada kita, dan kesetiaan-Nya terhadap kita,
beserta Kristus. Tuhan tidak saja berkenan kepada-Nya, te-
tapi juga berkenan kepada kita di dalam Dia. Dan di dalam
Dialah semua janji Tuhan Ya dan Amin. Sehingga jika ada
orang-orang berdosa yang malang berharap akan mendapat
keuntungan dari kesetiaan dan kasih Tuhan , biarlah mereka
tahu bahwa semua itu ada pada Kristus. Semuanya tersim-
pan dalam tangan-Nya, kepada-Nya-lah mereka harus me-
mintanya (ay. 29): Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi
dia, untuk dipergunakan oleh-Nya, untuk selama-lamanya.
Di dalam saluran kepengantaraan Kristus, semua sungai
kebaikan ilahi akan mengalir selama-lamanya. Oleh sebab
itu, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus-lah yang kita harap-
kan untuk hidup yang kekal (Yud. 1:21; Yoh. 17:2). Dan,
sama seperti rahmat Tuhan mengalir kepada kita melalui
Kristus, demikian pula janji Tuhan , melalui Dia, teguh bagi
kita: Perjanjian-Ku teguh bagi Dia, baik itu kovenan pene-
busan yang dibuat dengan-Nya maupun kovenan anugerah
yang dibuat dengan kita di dalam Dia. Oleh sebab itu, kove-
nan baru akan selalu baru, dan ditetapkan dengan teguh,
sebab tersimpan di dalam tangan seorang Pengantara (Ibr.
8:6). Kovenan itu berdiri teguh, sebab berdiri di atas dasar
ini. Dan inilah yang membawa kehormatan kekal bagi
Tuhan Yesus, bahwa kepada-Nya diserahkan secara sepe-
nuhnya kepentingan besar antara Tuhan dan manusia, dan
bahwa Bapa telah menyerahkan penghakiman seluruhnya
kepada-Nya, supaya semua orang menghormati Anak (Yoh.
5:22-23). Oleh sebab itu dikatakan di sini, oleh sebab
nama-Ku tanduk-Nya akan meninggi. Inilah yang akan men-
jadi kemuliaan-Nya, bahwa nama Tuhan ada di dalam Dia
(Kel. 23:21), dan bahwa Ia bertindak di dalam nama Tuhan .
Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan
Bapa kepada-Ku.
(4) Bahwa kerajaan-Nya akan sangat diperluas (ay. 26): Aku
akan membuat tangan-Nya menguasai laut (Ia akan berkua-
sa atas laut-laut dan atas pulau-pulau di laut), dan tangan
kanan-Nya menguasai sungai-sungai, menguasai tanah-
tanah di negeri yang diairi sungai-sungai. Kerajaan Daud
meluas dengan sendirinya sampai ke Laut Besar, dan Laut
Merah, ke sungai Mesir dan sungai Efrat. namun di dalam
kerajaan Mesiaslah hal ini mendapatkan kegenapannya,
dan akan semakin digenapi lagi, saat pemerintahan atas
dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya
(Why. 11:15), dan segala pulau mengharapkan pengajaran-
Nya.
(5) Bahwa Ia akan mengakui Tuhan sebagai Bapa-Nya, dan
Tuhan akan mengakui-Nya sebagai Anak-Nya, Anak Sulung-
Nya (ay. 27-28). Ini merupakan komentar atas perkataan
Natan mengenai Salomo (sebab Salomo pun merupakan pe-
lambang Kristus, sama seperti Daud), Aku akan menjadi
Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku (2Sam. 7:14), dan
hubungan itu akan diakui oleh kedua belah pihak.
[1] Dia pun akan berseru kepada-Ku: “Bapaku Engkau.” Ada
kemungkinan bahwa Salomo melakukan itu. namun kita
yakin bahwa Kristus berbuat demikian, saat Ia meng-
ambil rupa daging, saat berseru dengan nyaring ke-
pada Tuhan , dan memanggil-Nya Bapa yang kudus, Bapa
yang adil, dan mengajar kita untuk berseru kepada-Nya
dengan memanggil Bapa kami yang ada di sorga. Kris-
tus, dalam kesengsaraan-Nya, berseru kepada Tuhan ,
Bapa-Ku Engkau (Mat. 26:39, 42, Ya Bapa-Ku), dan di
atas salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka. Ya Bapa, ke da-
lam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Kristus pun
memandang Tuhan sebagai Tuhan -Nya, dan oleh sebab itu
benar-benar patuh kepada-Nya, dan berserah kepada
kehendak-Nya dalam segala pekerjaan-Nya (Dia Tuhan -
Ku dan Tuhan mu, Yoh. 20:17). Tuhan yaitu batu karang
keselamatan-Nya, yang akan menopang-Nya dan mem-
bela-Nya dalam segala tugas-Nya, dan membuat-Nya
menjadi lebih dibandingkan pemenang, bahkan sebagai Juru-
selamat yang seutuhnya. Oleh sebab itulah, dengan
tekad bulat Ia mengabaikan kehinaan dan tekun memi-
kul salib, sebab Ia tahu bahwa Ia akan dibenarkan dan
juga dipermuliakan.
[2] Aku pun juga akan mengangkat Dia menjadi anak su-
lung. Saya pribadi tidak melihat bagaimana ucapan ini
dapat diterapkan kepada Daud. Hanya Kristuslah yang
memiliki hak istimewa untuk menjadi yang sulung dari
segala yang diciptakan, dan sebagai yang sulung, Ia
berhak menerima segala yang ada (Kol. 1:15; Ibr. 1:2,
6). saat segala kuasa baik yang di sorga maupun yang
di bumi diberikan kepada Kristus, dan semua diserah-
kan kepada-Nya oleh Bapa, maka pada saat itulah Tuhan
menjadikan-Nya sebagai Anak sulung-Nya, yang jauh
lebih tinggi, jauh lebih agung dan terhormat, dibandingkan
raja-raja di bumi. Sebab Ia Raja segala raja, segala
malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya
(1Ptr. 3:22).
2. Dengan merujuk pada keturunan-Nya. Kovenan Tuhan akan se-
lalu berlaku bagi keturunan pihak-pihak yang berjanji. Demi-
kian pula dengan kovenan ini (ay. 30, 37): Aku menjamin akan
adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan begitu
pula dengan takhtanya. Nah, ini akan dimengerti secara ber-
beda-beda tergantung apakah kita menerapkannya kepada
Kristus atau Daud.
(1) Jika kita menerapkannya kepada Daud, maka keturunan-
nya di sini harus kita mengerti sebagai para penerusnya,
Salomo dan raja-raja Yehuda yang mengikutinya, yang
berasal dari keturunan Daud. Orang menganggap bahwa
mereka ini kemudian merosot, dan tidak berjalan di dalam
roh atau mengikuti jejak langkah Daud ayah mereka. Da-
lam keadaan demikian, mereka harus sadar bahwa tegur-
an-teguran ilahi akan menimpa mereka, seperti yang
sedang dialami keluarga Daud pada saat ini (ay. 39). namun
biarlah hal ini mendorong mereka, bahwa, meskipun mere-
ka dihukum, mereka tidak akan ditinggalkan atau kehi-
langan warisan. Ini merujuk pada salah satu bagian dalam
pesan Natan itu (2Sam. 7:14-15), jika ia melakukan ke-
salahan, maka Aku akan menghukum dia, namun kasih
setia-Ku tidak akan hilang dari padanya. Sejauh itulah
keturunan dan takhta Daud akan bertahan selamanya,
bahwa, kendati dengan kefasikan yang dilakukan banyak
keturunannya, yang merupakan aib bagi keluarganya, na-
mun keluarganya tetap ada, dan terus ada menjunjung
martabat kerajaan, untuk waktu yang sangat lama. Bahwa,
selama Yehuda tetap menjadi sebuah kerajaan, keturunan
Daud menjadi raja-raja di dalamnya, dan hak kerajaan itu
tidak pernah berpindah ke keluarga lain mana pun, seperti
hak kerajaan kesepuluh suku, pertama-tama pada Yero-
boam, kemudian pada Baesa, dan seterusnya dan bahwa
keluarga Daud tetap merupakan keluarga yang terhormat
hingga tampilnya Anak Daud yang takhta-Nya akan ber-
tahan sampai selama-lamanya (Luk. 1:27, 32; 2:4, 11). Jika
keturunan Daud, pada masa-masa sesudahnya, sampai
meninggalkan Tuhan dan kewajiban mereka, dan berpaling
pada jalan-jalan dosa, maka Tuhan akan mendatangkan
penghakiman-penghakiman yang merusakkan ke atas me-
reka dan menghancurkan keluarganya. Namun, Ia tidak
mau menarik kasih setia-Nya dari Daud, atau melanggar
kovenan-Nya dengan dia. Sebab, di dalam Mesias, yang
akan datang dari keturunannya, semua janji ini akan dige-
napi dengan seutuhnya. Demikianlah, saat orang-orang
Yahudi ditolak, Rasul Paulus menunjukkan bahwa kovenan
Tuhan dengan Abraham tidak dilanggar, sebab kovenan itu
digenapi dalam keturunannya secara rohani, keturunan
sebab kebenaran, dan berdasar iman (Rm. 4:13).
(2) Jika kita menerapkannya kepada Kristus, maka keturun-
an-Nya di sini harus kita mengerti sebagai hamba-hamba-
Nya, semua orang percaya, keturunan-Nya secara rohani,
anak-anak yang telah diberikan Tuhan kepada-Nya (Ibr.
2:13). Inilah keturunan yang akan ada sampai selama-lama-
nya, dan takhta-Nya akan ada di tengah-tengah mereka, di
dalam jemaat, di dalam hati, seumur langit. Sampai pada
akhirnya, Kristus akan mempunyai sebuah umat di dunia
yang melayani dan menghormati-Nya. Ia akan melihat ketu-
runan-Nya, umur-Nya akan lanjut. Keturunan kudus ini
akan ada sampai selama-lamanya dalam keadaan yang su-
dah dimuliakan, saat waktu dan hari-hari tidak ada lagi.
Dan demikianlah takhta dan kerajaan Kristus akan diaba-
dikan: kerajaan anugerah-Nya akan terus berlanjut sepan-
jang masa, dan kerajaan kemuliaan-Nya sampai pada kehi-
dupan kekal yang tiada berakhir.
[1] Keberlangsungan Kerajaan Kristus di sini dipertanya-
kan sebab ada dosa-dosa dan penderitaan yang me-
nimpa hamba-hamba-Nya. Pelanggaran dan malapetaka
yang menimpa mereka mengancam kehancuran kelang-
sungan kerajaan-Nya itu. Keadaan ini digambarkan di
sini agar kita tidak merasa heran bilamana dosa dan
malapetaka benar-benar terjadi, agar kita bisa mema-
hami dan menerimanya dengan mengerti dan yakin
bahwa kovenan Tuhan itu tetap teguh tidak berubah
biarpun ada dosa dan malapetaka. Pertama, di sini di-
anggap bahwa akan ada banyak kesalahan pada ham-
ba-hamba di dalam Kerajaan Kristus. Anak-anak-Nya
mungkin akan meninggalkan Taurat Tuhan (ay. 31) ka-
rena lalai, dan melanggar ketetapan-Nya (ay. 32) sebab
berbuat jahat. Ada noda-noda yang diperbuat oleh
anak-anak Tuhan (Ul. 32:5). Sungguh banyak kerusakan
yang ada di dalam rahim jemaat, seperti juga di
dalam hati para anggotanya, dan kerusakan-kerusakan
ini mencuat keluar. Kedua, mereka diberi tahu di sini
bahwa mereka harus menderita sebab nya (ay. 33): Aku
akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, pelang-
garan mereka terlebih dulu, baru pelanggaran orang lain.
Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka
bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu (Am. 3:2).
Hubungan mereka dengan Kristus tidak akan bisa me-
reka jadikan dalih untuk meloloskan diri dari tanggung
jawab. namun Lihatlah apa penderitaan itu bagi umat
Tuhan .
1. Penderitaan hanyalah gada, bukan kapak, atau pe-
dang. Penderitaan hanya untuk membetulkan, bu-
kan untuk menghancurkan. Ini menandakan kelem-
butan dalam penderitaan. Penderitaan yaitu gada
bagi manusia, gada yang mereka pergunakan untuk
membetulkan anak-anak mereka. Dan ini menanda-
kan sebuah rancangan yang baik di dalam dan mela-
lui penderitaan itu. Gada yang demikian menghasil-
kan buah kebenaran yang memberi damai.
2. Gada ini yaitu gada di tangan Tuhan (Aku akan
membalas mereka). Ia yang bijak, dan tahu apa yang
diperbuat-Nya, juga penuh rahmat, dan akan ber-
buat apa yang terbaik.
3. Gada ini yaitu gada yang tidak akan pernah mere-
ka rasakan pukulannya kecuali jika memang sa-
ngat diperlukan: Jika ketetapan-Ku mereka langgar,
maka Aku akan membalas pelanggaran mereka de-
ngan gada, namun jika tidak, maka itu tidak akan
terjadi. Maka sudah wajiblah kehormatan Tuhan di-
junjung, dan mereka direndahkan serta diturunkan.
[2] Keberlangsungan Kerajaan Kristus dipastikan melalui
janji dan sumpah Tuhan yang tidak bisa dilanggar, ken-
dati dengan semua ini (ay. 34): namun kasih setia-Ku
tidak akan Kujauhkan dari pada-Nya sama sekali pada
akhirnya. Pertama, “Kendati dengan tindakan mereka
yang membangkitkan amarah-Ku, kovenan-Ku tidak
akan Kulanggar.” Perhatikanlah, penderitaan itu tidak
saja sejalan dengan kovenan kasih, namun juga dengan
umat Tuhan yang mengalir dari kovenan itu. Meskipun
keturunan Daud dihukum, itu tidak berarti bahwa me-
reka sudah kehilangan warisan. Mereka bisa saja dibuat
terpuruk, namun tidak dibuang. Kebaikan Tuhan dilanjut-
kan kepada umat-Nya,
1. Demi Kristus. Di dalam Dia belas kasihan disedia-
kan bagi kita, dan Tuhan berkata, Kasih setia-Ku
tidak akan Kujauhkan dari padanya (ay. 34), Aku
tidak akan berbohong kepada Daud (ay. 36). Kita
tidak layak, namun Dia layak.
2. Demi kovenan: Aku tidak akan berlaku curang dalam
hal kesetiaan-Ku, Aku tidak akan melanggar perjanji-
an-Ku. Mereka dianggap telah melanggar ketetapan-
ketetapan Tuhan , telah mencemarkan dan mengotori-
nya (begitulah arti kata yang dipakai). “namun ,” tegas
Tuhan , “Aku tidak akan melanggar, Aku tidak akan
mencemarkan dan mengotori kovenan-Ku.” Kata
yang digunakan di sini sama saja. Apa yang diucap-
kan dengan sumpah yaitu bahwa Tuhan akan mem-
punyai sebuah jemaat di dunia selama ada matahari
dan bulan (ay. 37-38). Matahari dan bulan yaitu
saksi-saksi setia yang ada di langit terhadap hikmat,
kuasa, dan kebaikan Sang Pencipta, dan akan terus
ada selama waktu bergulir, yang diukur menurut
keduanya. namun keturunan Kristus akan tetap ada
sampai selama-lamanya, sebagai terang dunia sela-
ma roda dunia masih berputar, yang akan bersinar
di dalamnya. Dan, jika dunia sudah berakhir,
mereka akan ditetapkan menjadi terang-terang yang
bersinar di cakrawala karya Bapa.
Keluhan-keluhan dan Pertanyaan-pertanyaan;
Pertanyaan Daud kepada Tuhan
(89:39-53)
39 namun Engkau sendiri menolak dan membuang, menjadi gemas kepada
orang yang Kauurapi, 40 membatalkan perjanjian dengan hamba-Mu, mena-
jiskan mahkotanya laksana debu, 41 melanda segala temboknya, membuat
kubu-kubunya menjadi reruntuhan. 42 Semua orang yang lewat di jalan me-
rampoknya, dan ia menjadi cela bagi tetangganya. 43 Engkau telah mening-
gikan tangan kanan para lawannya, telah membuat semua musuhnya bersu-
kacita. 44 Juga Kaubalikkan mata pedangnya, dan tidak membuat dia dapat
bertahan dalam peperangan. 45 Engkau menghentikan kegemilangannya, dan
takhtanya Kaucampakkan ke bumi. 46 Kaupendekkan masa mudanya, Kau-
selubungi dia dengan malu. S e l a 47 Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau
bersembunyi terus-menerus, berkobar-kobar murka-Mu laksana api? 48
Ingatlah apa umur hidup itu, betapa sia-sia Kauciptakan semua anak manu-
manusia! 49 Siapakah orang yang hidup dan yang tidak mengalami kematian,
yang dapat meluputkan nyawanya dari kuasa dunia orang mati? S e l a 50 Di
manakah kasih setia-Mu yang mula-mula, ya Tuhan, yang telah Kaujanjikan
dengan sumpah kepada Daud demi kesetiaan-Mu? 51 Ingatlah cela hamba-
Mu, ya Tuhan, bahwa dalam dadaku aku menanggung penghinaan segala
bangsa, 52 yang dilontarkan oleh musuh-musuh-Mu, ya TUHAN, yang dilon-
tarkan mencela jejak langkah orang yang Kauurapi. 53 Terpujilah TUHAN
untuk selama-lamanya! Amin, ya amin.
Dalam perikop di atas kita mendapati,
I. Keluhan yang sangat sedih tentang keadaan keluarga Daud yang
mengenaskan pada saat ini, yang menurut si pemazmur sulit
diterima bila mengingat kovenan yang telah dibuat Tuhan dengan
Daud. “Engkau berkata bahwa Engkau tidak akan membuang
kasih setia-Mu, namun Engkau sendiri menolak.” Kadang-kadang,
memang bukanlah hal mudah untuk menerima bahwa tindakan-
tindakan pemeliharaan Tuhan seturut dengan janji-janji-Nya. Na-
mun, yakinlah bahwa keduanya itu bersesuaian satu sama lain.
Sebab, pekerjaan-pekerjaan Tuhan menggenapi firman-Nya, dan
tidak pernah bertentangan dengannya.
1. Keluarga Daud tampak kehilangan bagiannya di dalam Tuhan ,
yang merupakan kekuatan dan keindahan terbesar baginya.
Selama ini Tuhan berkenan dengan orang yang diurapi-Nya,
namun sekarang Ia menjadi gemas kepadanya (ay. 39). Ia sudah
masuk ke dalam kovenan dengan keluarga itu, namun seka-
rang, dari apa yang dimengerti si pemazmur, Ia sudah tidak
memberlakukan kovenan itu, tidak dengan menghancurkan
sebagian isinya, namun dengan membatalkan seluruhnya (ay.
40). Kita salah menafsirkan teguran-teguran Pemeliharaan
ilahi jika kita berpikir bahwa semua teguran itu membuat
kovenan-Nya tidak berlaku lagi. saat Sang Agung yang di-
urapi-Nya, yaitu Kristus sendiri, tergantung di kayu salib,
Tuhan tampak membuang Dia, dan menjadi gemas kepada-Nya,
namun Ia tidak membatalkan kovenan-Nya dengan Dia, sebab
kovenan itu ditetapkan untuk selama-lamanya.
2. Kehormatan keluarga Daud hilang dan terkubur di dalam
debu: Engkau menajiskan mahkotanya (yang selalu dipandang
suci) dengan mencampakkannya ke tanah laksana debu, un-
tuk diinjak-injak (ay. 40). Engkau menghentikan kegemilangan-
nya (begitu tidak pastinya semua kemuliaan duniawi, dan be-
gitu cepatnya ia layu) dan takhtanya Kaucampakkan ke bumi.
Tidak saja Kaugulingkan takhta raja, namun juga Kauhentikan
kerajaannya (ay. 45). Jika mazmur ini ditulis pada masa
Rehabeam, maka hal itu benar bila menyangkut sebagian
besar dari kerajaannya, lima dari enam bagian. Jika ditulis
pada masa Zedekia, maka hal itu jauh lebih benar sebab yang
tersisa sungguhlah sedikit. Perhatikanlah, takhta dan mah-
kota yaitu hal-hal yang goyah, dan sering kali terkubur di
dalam debu. namun ada mahkota kemuliaan yang disediakan
bagi keturunan Kristus secara rohani yang tidak akan pudar.
3. Keluarganya dibiarkan menjadi mangsa bagi semua tetangga-
nya, yang menghina keluarga yang sudah terhormat sejak dari
dulu itu (ay. 41): Engkau telah melanda segala temboknya
(segala sesuatu yang menjadi perlindungannya, dan terutama
tembok perlindungan yang menurut mereka telah dibangun di
sekeliling mereka oleh kovenan dan janji Tuhan ) dan Engkau
telah membuat kubu-kubunya menjadi reruntuhan, sehingga
kubu-kubu itu lebih menjadi suatu penghinaan dibandingkan tem-
pat perlindungan bagi mereka. Dan lalu, semua orang yang le-
wat di jalan merampoknya (ay. 42) dan menjadikannya sebagai
mangsa yang empuk (80:13-14). Musuh-musuhnya berbicara
dengan kurang ajar: Ia menjadi cela bagi tetangganya, yang
bersorak-sorai atas kejatuhannya dari kehormatan yang dulu
begitu besar. Bahkan, setiap musuhnya membantu menda-
tangkan malapetaka itu (ay. 43): “Engkau telah meninggikan
tangan kanan para lawannya, tidak saja memberi mereka
kuasa, namun juga mencondongkan mereka untuk mengerah-
kan kekuatan mereka melawannya.” Jika musuh-musuh
jemaat mengangkat tangan mereka melawannya, kita harus
melihat bahwa Tuhan -lah yang meninggikan tangan mereka.
Sebab mereka tidak akan mempunyai kuasa jikalau kuasa itu
tidak diberikan kepada mereka dari atas. namun , jika Tuhan
memperbolehkan mereka untuk berbuat jahat terhadap je-
maat-Nya, hal itu membuat mereka senang: “Engkau telah
membuat semua musuhnya bersukacita. Ini demi kemuliaan-
Mu, bahwa orang-orang yang membenci-Mu sampai menda-
patkan kesenangan untuk melihat air mata dan kesengsaraan
orang-orang yang mengasihi-Mu.”
4. Keluarga itu tidak dapat menolong dirinya sendiri (ay. 44):
“Kaubalikkan mata pedangnya, dan membuatnya tumpul,
sehingga ia tidak dapat membunuh seperti yang selama ini
dapat dilakukannya. Yang lebih buruk, telah Kaubalikkan juga
mata rohnya, dan mengikis keberaniannya, dan tidak membuat
dia dapat bertahan, seperti yang dulu bisa diperbuatnya, da-
lam peperangan.” Roh manusia menjadi sesuatu yang sesuai
dengan apa yang telah dijadikan Bapa sebagai Pencipta roh-
roh. Kita juga tidak dapat bertahan dengan kekuatan atau te-
kad apa pun secara lebih jauh dibandingkan apa yang diperkenan-
kan Tuhan dalam menopang kita. Jika hati manusia membuat
mereka berkecil hati, maka Tuhan -lah yang mengecilkan roh
mereka. namun sungguh menyedihkan bila di dalam jemaat,
orang-orang yang seharusnya berdiri membelanya tidak dapat
bertahan.
5. Keluarganya berada di tepi kehancuran yang memalukan (ay.
46): Kaupendekkan masa mudanya. Masa mudanya akan
segera putus, seperti seorang pemuda dalam usianya yang
tengah bersemi. Ini tampak menunjukkan bahwa mazmur ini
ditulis pada masa Rehabeam, saat keluarga Daud masih
berada pada tahap masa mudanya, namun sudah menua dan
mulai keropos. Demikianlah keluarga itu diliputi dengan aib,
dan sungguh menjadi penghinaan baginya bahwa keluarga
yang pada masa kekuasaannya yang pertama dan kedua tam-
pak begitu hebat dan menjadi begitu tersohor, namun pada
masa kekuasaan yang ketiga menjadi redup dan tampak
begitu kecil, seperti yang terjadi pada keluarga Daud di masa
Rehabeam. namun ini dapat diterapkan pada masa pembuang-
an di Babel, yang jika dibandingkan dengan apa yang sudah
diharapkan, hanyalah merupakan masa muda kerajaan itu.
Namun demikian, raja-raja pada masa itu secara luar biasa
diperpendek masa muda mereka, sebab pada masa muda
merekalah, saat mereka berumur sekitar tiga puluh tahun,
Yoyakhin dan Zedekia dibawa ke Babel sebagai tawanan.
Dari semua keluhan ini marilah kita belajar,
1. Apa akibat yang dibuat oleh dosa terhadap keluarga-keluarga,
terhadap keluarga-keluarga kerajaan, terhadap keluarga-keluar-
ga yang di dalamnya agama telah menjadi hal yang utama. Ke-
tika keturunannya merosot, maka ia jatuh ke dalam penghina-
an, dan pelanggaran menodai kemuliaannya.
2. Betapa kita cenderung menempatkan kehormatan dan keba-
hagiaan yang dijanjikan Tuhan kepada jemaat dalam bentuk
ukuran lahiriah. Akibatnya kita cenderung berpikir bahwa jan-
ji itu dibatalkan, dan kovenan itu tidak berlaku lagi, jika kita
dikecewakan dalam hal yang lahiriah itu. Ini suatu kesalahan
yang tidak dapat dimaafkan jika kita jatuh ke dalamnya,
sebab Guru kita sudah dengan begitu jelas memberi tahu kita
bahwa kerajaan-Nya bukanlah dari dunia ini.
II. Sebuah pertanyaan yang sangat menyedihkan yang ditujukan ke-
pada Tuhan mengenai hal ini. Empat hal yang mereka serukan
kepada Tuhan untuk meminta belas kasihan-Nya:
1. Berlarut-larutnya permasalahan itu (ay. 47): Berapa lama lagi,
ya TUHAN, Engkau bersembunyi terus-menerus? Apa yang mem-
buat mereka teramat sangat bersedih hati yaitu bahwa Tuhan
sendiri, sebagai pihak yang tidak berkenan, tidak tampil bagi
mereka melalui nabi-nabi-Nya untuk menghibur mereka. Ia
tidak tampil bagi mereka melalui pemeliharaan-pemeliharaan-
Nya untuk melepaskan mereka, dan ia telah lama membiarkan
mereka dalam kegelapan. Terasa seperti malam yang tiada
berujung bila Tuhan telah menarik diri: Engkau bersembunyi
terus-menerus. Bahkan, Tuhan tidak saja menyembunyikan diri-
Nya dari mereka, namun juga tampak membuat diri-Nya mela-
wan mereka: “Akankah murka-Mu berkobar-kobar laksana api?
Berapa lamakah murka-Mu akan berkobar-kobar? Akankah ia
padam? Apakah neraka itu, selain bahwa murka Tuhan berko-
bar-kobar untuk selama-lamanya? Dan itukah bagian yang
Kautetapkan bagi orang yang Kauurapi?”
2. Singkatnya hidup, dan pastinya kematian: “Tuhan, kiranya
Engkau menghentikan murka-Mu, dan kembalilah Engkau da-
lam belas kasihan-Mu kepada kami. Ingatlah betapa singkat-
nya waktuku dan betapa pastinya akhir hidupku. Tuhan,
sebab hidupku begitu fana, dan sebentar lagi akan berakhir,
janganlah biarkan hidupku selalu sengsara, supaya jangan
sampai aku lebih memilih untuk tidak ada sama sekali dari-
pada ada namun hidup seperti ini.” Ayub pun pernah berseru
demikian (Ayb. 10:20-21). Ada kemungkinan bahwa si pemaz
mur di sini mengajukannya atas nama keluarga Daud, dan
atas nama raja yang memerintah pada saat ini dari keluarga
itu, yang masa mudanya diperpendek (ay. 46).
(1) Ia menyerukan betapa pendek dan sia-sianya hidup (ay.
48): Ingatlah apa umur hidup itu, betapa fananya aku (me-
nurut sebagian orang), dan oleh sebab itu tidak mampu
menanggung kuasa murka-Mu. sebab itu aku yaitu
orang yang pantas Kaukasihani. Mengapakah Engkau men-
ciptakan semua manusia dalam kesia-siaan? Atau, betapa
sia-sianya Kauciptakan semua anak Adam! Nah, ini dapat
dipahami entah,
[1] Sebagai sesuatu yang menyatakan sebuah kebenaran
agung. Jika kasih setia yang dulu yang sudah dicerita-
kan itu (ay. 50) kini dilupakan (yaitu kasih setia yang
berhubungan dengan kehidupan lain), maka memang
sia-sia saja manusia diciptakan. Dengan menimbang
manusia sebagai makhluk fana, maka seandainya tidak
ada masa depan di seberang alam maut sana, sudah
sewajarnyalah kita berpikir bahwa manusia diciptakan
dengan sia-sia, dan sia-sia saja ia dikaruniai dengan ke-
kuatan-kekuatan yang mulia dan kemampuan-kemam-
puan akal budi, dan dipenuhi dengan berbagai macam
rancangan serta keinginan yang begitu luas. namun
Tuhan tidaklah menciptakan manusia dengan sia-sia. Oleh
sebab itu, Tuhan, ingatlah akan semua kasih setia itu.
Atau,
[2] Sebagai sesuatu yang menyiratkan sebuah godaan kuat
yang tengah melanda si pemazmur. Sudah pasti bahwa
Tuhan tidak menciptakan semua manusia, atau manusia
mana pun, dengan sia-sia (Yes. 45:18). Sebab, Pertama,
jika kita berpikir bahwa Tuhan telah menciptakan manu-
sia dengan sia-sia sebab begitu banyak orang yang
berumur pendek dan menderita lama di dunia ini, maka
memang benar bahwa Tuhan telah membuat mereka de-
mikian, namun tidaklah benar bahwa oleh sebab itu me-
reka diciptakan dengan sia-sia. Sebab orang-orang yang
umurnya pendek dan dipenuhi dengan permasalahan
tetap bisa memuliakan Tuhan dan melakukan kebaikan.
Mereka masih bisa menjaga persekutuan mereka de-
ngan Tuhan dan masuk sorga. Jadi tidak sia-sialah mere-
ka diciptakan. Kedua, jika kita berpikir bahwa Tuhan
telah menciptakan manusia dengan sia-sia sebab seba-
gian besar dari mereka tidak mengabdi kepada-Nya atau
mendapatkan kepuasan di dalam Dia, maka memang
benar bahwa, dalam kaitannya dengan diri mereka sen-
diri, mereka diciptakan dengan sia-sia, dan lebih baik
bagi mereka untuk tidak dilahirkan sama sekali dari-
pada tidak dilahirkan baru. namun , bukan sebab kesa-
lahan Tuhan -lah mereka diciptakan sia-sia, melainkan
sebab kesalahan mereka sendiri. Juga, mereka tidak
diciptakan dengan sia-sia dalam kaitannya dengan Dia,
sebab Dia telah membuat segala sesuatu untuk tujuan-
nya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya un-
tuk hari malapetaka, dan di antara orang-orang yang
tidak memuliakan-Nya, Dia akan dipermuliakan.
(2) Ia menyerukan masalah kematian yang ada di mana-mana
dan tidak dapat dihindari (ay. 49): “Siapakah orang” (siapa-
kah orang kuat, sesuai dengan arti katanya) “yang hidup
dan yang tidak mengalami kematian? Raja sendiri, yang
berasal dari keluarga Daud, tidak luput dari hukuman, dari
hantaman. Tuhan, sebab ia sudah pasti akan mati, ja-
nganlah biarkan seluruh hidupnya menjadi sedemikian
sengsara. Dapatkah ia meluputkan nyawanya dari kuasa
dunia orang mati? Tidak, ia tidak bisa melakukannya apa-
bila waktunya tiba. Oleh sebab itu, janganlah biarkan ia
jatuh ke dalam dunia orang mati sebab kesengsaraan-
kesengsaraan hidup yang susah, sampai waktunya tiba.”
Kita harus belajar dari sini bahwa kematian yaitu akhir
bagi semua orang. Mata kita pasti akan terpejam untuk
melihat kematian. Tak seorang pun bisa terlepas dari pepe-
rangan itu, dan juga tidak akan ada jaminan yang dapat
menyelamatkan kita dari penjara alam kubur. Oleh sebab
itu, sudah menjadi kepentingan kitalah untuk memastikan
bagi diri kita untuk memperoleh kebahagiaan di seberang
alam maut dan kubur, sehingga, jika tidak ada lagi yang
dapat menolong kita, kita boleh diterima di dalam kemah
abadi.
3. Seruan berikutnya menggambarkan kebaikan yang disediakan
Tuhan bagi, dan kovenan yang dibuat-Nya dengan, hamba-Nya
Daud (ay. 50): “Di manakah kasih setia-Mu yang mula-mula, ya
Tuhan, yang telah Engkau tunjukkan, bahkan, yang telah Kau-
janjikan dengan sumpah kepada Daud demi kesetiaan-Mu?
Akankah Engkau gagal menepati apa yang sudah Engkau jan-
jikan? Akankah Engkau menarik kembali apa yang sudah
Engkau perbuat? Bukankah Engkau tetap sama? Jika demi-
kian, mengapakah kami tidak boleh mendapatkan keuntungan
dari kasih setia yang teguh yang Kaujanjikan kepada Daud?”
Ketidak-berubahan dan kesetiaan Tuhan meyakinkan kita bah-
wa Tuhan tidak akan membuang orang-orang yang telah dipilih-
Nya dan yang terikat kovenan dengan-Nya.
4. Seruan yang terakhir menggambarkan kekurangajaran mu-
suh-musuhnya dan penghinaan yang mereka perbuat terha-
dap orang yang diurapi Tuhan (ay. 51-52): “Ingatlah cela hamba-
Mu, ya Tuhan, dan biarlah cela itu menjauh dari kami dan ber-
balik menimpa musuh-musuh kami.”
(1) Mereka itu hamba-hamba Tuhan yang dicela, dan segala
pelecehan yang diperbuat terhadap mereka dipantulkan
kepada Tuan mereka. Terutama, mereka dicela oleh sebab
pengabdian mereka kepada-Nya.
(2) Penghinaan yang ditujukan kepada hamba-hamba Tuhan
merupakan beban yang teramat berat bagi semua orang
yang peduli dengan kehormatan Tuhan : “Dalam dadaku aku
menanggung penghinaan segala bangsa, dan aku bahkan
kewalahan menanggungnya. Aku begitu peduli terhadap
permasalahan ini dan aku nyaris tak berdaya menopang
rohku dengan menanggung bebannya.”
(3) “Musuh-musuh-Mulah yang menghina kami sedemikian
rupa. Akankah Engkau tidak bangkit melawan mereka itu?”
(4) Mereka mencela jejak langkah orang yang Kauurapi. Mereka
menghina semua jejak langkah yang telah diambil raja
dalam menjalankan pemerintahannya, melacaknya dalam
segala tindak tanduknya, supaya mereka dapat melontar-
kan ucapan-ucapan yang menyakitkan tentang segala hal
yang telah diucapkan dan diperbuatnya. Atau, jika kita
bisa menerapkannya kepada Kristus, Mesias Tuhan, mere-
ka menghina orang-orang Yahudi sebab jejak langkah-
Nya, sebab kedatangan-Nya yang lamban. Mereka meng-
olok-olok kedatangan Mesias yang tertunda, begitu menu-
rut Dr. Hammond. Mereka menyebut-Nya, Dia yang akan
datang. namun , sebab Dia belum datang, sebab Dia tidak
datang sekarang untuk melepaskan mereka dari tangan
musuh-musuh mereka, padahal mereka tidak mempunyai
siapa-siapa untuk membebaskan mereka, maka mereka
berkata bahwa Ia tidak akan pernah datang, jadi mereka
harus berhenti menantikan-Nya. Pengejek-pengejek di za-
man akhir pun menghina, dengan cara serupa, jejak lang-
kah Mesias saat mereka bertanya, “Di manakah janji ten-
tang kedatangan-Nya itu?” (2Ptr. 3:3-4). Menurut sebagian
orang, penghinaan terhadap jejak langkah orang yang di-
urapi ini merujuk pada perbuatan ular yang meremukkan
tumit keturunan wanita, atau pada penderitaan-penderitaan
para pengikut Kristus, yang mengikuti jejak langkah-Nya
dan dicemooh sebab nama-Nya.
III. Mazmur ini diakhiri dengan pujian, bahkan sesudah keluhan yang
menyedihkan ini (ay. 53): Terpujilah TUHAN untuk selama-lama-
nya! Amin, ya amin. Demikianlah ia menantang penghinaan-peng-
hinaan para musuhnya. Semakin orang lain menghujat Tuhan ,
semakin kita harus memuji-Nya. Demikianlah ia meralat keluhan-
keluhannya sendiri, menegur dirinya sendiri sebab sudah ber-
bantah dengan Tuhan atas tindak-tindakan pemeliharaan-Nya dan
mempertanyakan janji-janji-Nya. Kiranya kedua hasrat yang ber-
dosa ini disumbat dengan puji-pujian kepada Tuhan . Bagaimana-
pun keadaannya, Tuhan itu baik, dan janganlah kita memikirkan
hal-hal yang keras tentang Dia. Tuhan itu benar, dan kita tidak
akan pernah meragukan-Nya. Meskipun kemuliaan keluarga
Daud telah ternoda dan tercemar, inilah yang akan menjadi peng-
hiburan bagi kita, bahwa Tuhan terpuji sampai selama-lamanya,
dan kemuliaan-Nya tidak akan pernah pudar. Jika kita ingin men-
dapatkan penghiburan dari tetap berlakunya janji Tuhan , maka
kita harus memberi-Nya puji-pujian untuk itu. Dengan memuji
Tuhan , kita membesarkan hati kita sendiri. Di sini ada kata
Amin yang diucapkan sebanyak dua kali, sesuai dengan arti gan-
da yang dimilikinya. Amin – begitulah adanya, Tuhan dipuji sampai
selama-lamanya. Dan Amin – jadilah demikian, kiranya Tuhan di-
puji sampai selama-lamanya. Ia memulai mazmur ini dengan
ucapan syukur sebelum mengutarakan keluhannya (ay. 2), dan
sekarang ia menutupnya dengan kidung pujian. Orang-orang yang
mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah diperbuat-
Nya, dapat mengucap syukur juga kepada-Nya atas apa yang
akan diperbuat-Nya. Tuhan akan mengikuti orang-orang dengan
belas kasihan-Nya jika mereka, dengan cara yang benar, meng-
ikuti-Nya dengan puji-pujian mereka.
PASAL 90
rang percaya bahwa Mazmur sebelum ini ditulis paling lambat
pada masa pembuangan di Babel. namun mazmur yang ini jelas
ditulis paling cepat pada masa orang Israel dibebaskan dari Mesir.
Walaupun demikian, kedua mazmur ini diletakkan berdekatan
dalam kumpulan lagu-lagu rohani ini. Mazmur ini ditulis oleh Musa
(seperti yang tampak pada judulnya), pengarang paling awal semasa
zaman dahulu kala dalam bidang tulisan suci. Kita memiliki catatan
perihal nyanyian pujian Musa (Kel. 15, yang disinggung dalam Why.
15:3), dan juga nyanyian berisi pengajaran darinya dalam Ulangan
32. Namun, nyanyian dalam Kitab Keluaran ini berbeda dengan
kedua mazmur yang disebutkan di atas, sebab nyanyian dalam
Kitab Keluaran ini disebut sebagai doa. Orang percaya bahwa Maz-
mur pasal 90 ini ditulis pada waktu hukuman dijatuhkan ke atas
orang Israel di padang gurun sebab ketidakpercayaan, keluh kesah,
dan pemberontakan mereka. Hukuman itu yaitu bahwa mayat
mereka akan bergelimpangan di padang gurun, bahwa mereka akan
musnah oleh sejumlah penderitaan selama kurun waktu tiga puluh
delapan tahun, dan bahwa tak seorang pun dari mereka yang saat
itu sudah dewasa akan masuk ke Kanaan. Hal ini diperhitungkan
selama pengembaraan mereka di padang gurun, sama seperti dalam
nyanyian lain Musa (Ul. 31:19, 21), yang menyebutkan bahwa mereka
akan menetap di Kanaan. Ada juga cerita dalam Bilangan 14 yang
tampaknya dimaksudkan dalam mazmur ini. Boleh jadi Musa menu-
lis doa ini untuk digunakan setiap hari selama masa-masa di padang
belantara yang penat dan melelahkan itu, baik oleh umat Israel
dalam tenda mereka, atau setidaknya oleh para imam saat melayani
di kemah suci. Di dalamnya,
I. Musa menghibur diri sendiri dan umatnya dengan kenyataan
akan kekekalan Tuhan dan bagian mereka di dalam Dia (ay. 1-
2).
II. Ia merendahkan diri dan umatnya dengan menimbang-nim-
bang kelemahan manusia (ay. 3-6).
III. Ia dan umatnya tunduk pada hukuman yang adil yang dija-
tuhkan Tuhan ke atas mereka (ay. 7-11).
IV. Ia dan umatnya berserah diri kepada Tuhan melalui doa me-
mohon belas kasihan dan anugerah ilahi, serta kembalinya
perkenan Tuhan (ay. 12-17).
Walaupun tampaknya ditulis khusus atas dasar kejadian terse-
but, namun mazmur ini juga dapat diterapkan untuk merujuk pada
kelemahan manusia secara umum. Dengan menyanyikannya, kita
dapat dengan mudah menerapkannya kepada masa pengembaraan
kita melintasi padang gurun dunia ini. Mazmur ini juga melengkapi
kita dengan renungan dan doa-doa yang sangat sesuai bagi upacara
kematian yang khidmat.
Perhatian Tuhan terhadap Umat-Nya;
Kelemahan Hidup Manusia
(90:1-6)
Doa Musa, abdi Tuhan . 1 Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-
temurun. 2 Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diper-
anakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah
Tuhan . 3 Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kem-
balilah, hai anak-anak manusia!” 4 Sebab di mata-Mu seribu tahun sama
seperti hari kemarin, jika berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu
malam. 5 Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti
rumput yang bertumbuh, 6 di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di
waktu petang lisut dan layu.
Mazmur ini berjudul Doa Musa. Tidak jelas di mana dan di kitab apa
doa ini disimpan sejak masa kehidupan Musa hingga masa saat
kumpulan mazmur mulai dibuat. Namun, sebab diilhami secara
ilahi, mazmur ini dilindungi secara istimewa. Boleh jadi mazmur ini
ditulis dalam artikel Yasar atau artikel perihal peperangan Tuhan.
Musa mengajar umat Israel berdoa, dan memberi perkataan-per-
kataan kepada mereka supaya dapat mereka pakai saat berpaling
kepada Tuhan. Di sini Musa disebut abdi Tuhan , sebab ia seorang
nabi, bapa para nabi, dan pelambang yang luar biasa akan nabi yang
agung. Di dalam ayat-ayat ini kita diajar,
I. Untuk memuji Tuhan atas perhatian-Nya terhadap umat-Nya se-
panjang waktu, dan terhadap kita semasa hidup kita (ay. 1):
Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami, atau tempat tinggal,
tempat perlindungan, atau pertolongan turun-temurun. Sekarang,
saat perbuatan mereka membuat Tuhan tidak senang dan meng-
ancam untuk meninggalkan mereka, mereka pun memohon ke-
baikan yang dulu pernah ditunjukkan-Nya kepada nenek moyang
mereka. Bagi para bapa leluhur mereka yang tinggal di dalam
kemah suci, Kanaan merupakan negeri ziarah. Namun, saat itu
mereka tinggal bersama Tuhan . Ke mana pun mereka pergi, mereka
merasa nyaman dan tenteram di dalam Dia. Selama bertahun-
tahun Mesir merupakan negeri perhambaan bagi mereka. Namun,
bahkan di masa itu pun Tuhan yaitu tempat perlindungan mere-
ka. di dalam Dia, umat yang tertindas dan malang itu tetap hidup
dan terpelihara. Perhatikanlah, orang-orang percaya sejati merasa
seperti di rumah sendiri saat berada di dalam Tuhan . Itulah peng-
hiburan mereka berkenaan dengan semua kerja keras dan pen-
deritaan yang mereka alami di dunia ini. Di dalam Dia kita dapat
beristirahat dan berlindung, seperti di dalam tempat tinggal kita
sendiri.
II. Untuk memberi kemuliaan kepada Tuhan perihal kekekalan-
Nya (ay. 2): Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum Ia mem-
buat debu dataran yang pertama (sebagaimana yang disebutkan
dalam Ams. 8:26), sebelum bumi dilahirkan, atau seperti yang
bisa kita baca, sebelum bumi dan dunia diperanakkan (artinya,
sebelum permulaan zaman) Engkau telah ada. Bahkan dari sela-
ma-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Tuhan , Tuhan yang
kekal, yang keberadaan-Nya tanpa awal ataupun masa waktu
tertentu, dan tidak diukur dengan rangkaian serta perputaran
waktu, namun yang tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan
sampai selama-lamanya, tanpa awal hari-hari, ataupun akhir ke-
hidupan, atau perubahan waktu. Perhatikanlah, meskipun meng-
alami kesusahan yang timbul sebab kefanaan kita sendiri dan
juga teman-teman kita, kita boleh mengharapkan penghiburan
dari ketidakfanaan Tuhan . Kita yaitu makhluk-makhluk fana,
dan semua kesenangan kita di dunia yaitu kesenangan yang
fana juga. namun , Tuhan yaitu Tuhan yang hidup selamanya, dan
orang-orang yang memiliki Dia akan membuktikannya sendiri.
III. Untuk mengakui kekuasaan tertinggi Tuhan atas manusia, dan
kuasa-Nya yang tidak tertahankan dan tidak perlu diragukan lagi,
yang dapat dipergunakan-Nya sesuai kehendak-Nya (ay. 3): Eng-
kau mengembalikan manusia kepada debu, dengan satu perkata-
an, kapan pun menghendakinya, Engkau menghancurkan tubuh-
nya, atau kemah tempat kediamannya di bumi. Dan Engkau ber-
kata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”
1. saat Tuhan , melalui penyakit ataupun penderitaan lain, me-
ngembalikan manusia kepada debu, maka Ia juga memanggil
manusia untuk kembali kepada-Nya. Yaitu, bertobat dari dosa-
dosa mereka dan menjalani hidup baru. Tuhan ini pula yang
berfirman dengan satu dua cara. “Kembalilah engkau kepada-
Ku, dari siapa engkau memberontak” (Yer. 4:1).
2. saat Tuhan mengancam untuk mengembalikan manusia ke-
pada debu, membawa mereka kepada maut, dan mereka telah
menerima hukuman mati dalam diri mereka sendiri, adakala-
nya Ia memulihkan mereka dengan cara luar biasa, dan ber-
kata, Kembalilah kepada kehidupan dan kesehatan lagi. Tuhan
sanggup mencabut nyawa dan menghidupkan kembali, mem-
bawa seseorang turun ke kubur dan membangkitkannya kem-
bali.
3. saat Tuhan mengembalikan manusia kepada debu, ini sesuai
dengan perkataan yang disampaikan secara umum kepada
semua orang. “Kembalilah, hai anak-anak manusia, satu per
satu, kembalilah engkau kepada asal mulamu. Biarlah tubuh
kembali ke bumi seperti semula (debu kembali menjadi debu,
Kej. 3:19) dan biarlah jiwa manusia kembali kepada Tuhan yang
mengaruniakannya” (Pkh. 12:7).
4. Meskipun Tuhan mengembalikan semua orang kepada debu, Ia
akan berkata lagi, Kembalilah, hai anak-anak manusia, pada
hari kebangkitan, saat orang yang sudah mati pun akan
hidup kembali. Maka “Engkau akan memanggil, dan aku pun
akan menyahut (Ayb. 14:14-15). Engkau akan memanggilku
kembali, dan aku akan kembali.” Tubuh dan jiwa akan kem-
bali dan dipersatukan lagi.
IV. Untuk mengakui ketidakseimbangan tak terhingga yang ada di
antara Tuhan dan manusia (ay. 4). Beberapa dari bapa leluhur kita
hidup sampai hampir seribu tahun. Musa tahu betul mengenai
hal ini dan ia telah mencatatnya. namun apa artinya umur mereka
yang panjang itu dibanding kehidupan kekal Tuhan ? “Seribu tahun
bagi kami yaitu masa yang panjang, yang tidak bisa kami harap-
kan untuk bisa terus bertahan hidup. Atau kalaupun kami bisa,
kami tidak akan mampu mengingatnya. Namun, di mata-Mu,
seribu tahun seperti hari kemarin, seperti satu hari, yang masih
segar di ingatan. Bahkan sama seperti giliran jaga di waktu ma-
lam,” yang hanya tiga jam lamanya.
1. Bagi kekekalan Tuhan , seribu tahun tidak ada artinya. Seribu
tahun lebih singkat dibandingkan satu hari atau bahkan satu jam.
Di antara satu menit dan sejuta tahun ada perbandingan,
namun di antara waktu dan kekekalan tidak ada perbandingan
apa pun. Umur panjang para bapa leluhur tidak ada artinya
bagi Tuhan . Umur panjang mereka itu tidak ada bedanya de-
ngan hidup seorang anak (yang lahir dan mati pada hari yang
sama).
2. Bagi Sang Akal Budi Yang Kekal, semua kejadian dalam kurun
waktu seribu tahun, baik yang sudah lalu maupun yang akan
datang, sama seperti baru terjadi kemarin atau satu jam yang
lalu bagi kita. Pada hari yang agung itu Tuhan akan berkata
kepada orang-orang yang telah dikembalikan-Nya kepada
debu, “Kembalilah – Bangunlah dari kematian.” Boleh-boleh
saja ada orang yang membantah pengajaran tentang kebang-
kitan itu, bahwa sudah sejak lama saat itu dinantikan namun
tidak kunjung tiba juga. Namun, janganlah hal ini membuat
kita risau, sebab di mata Tuhan , seribu tahun sama dengan
satu hari. Nullum tempus occurit regi – Bagi sang raja, semua
kurun waktu sama saja. Sesuai dengan pokok inilah kata-kata
itu dikutip dalam 2 Petrus 3:8.
V. Untuk melihat kelemahan manusia dan kesia-siaannya bahkan di
tengah puncak kejayaan mereka (ay. 5-6): pandanglah semua
anak manusia dan kita akan melihat,
1. Bahwa kehidupan mereka yaitu kehidupan yang fana: Eng-
kau menghanyutkan manusia, artinya, mereka terus terhanyut
mengikuti arus waktu menuju lautan kekal. Air bah itu terus
mengalir, dan mereka terhanyut bersamanya. Begitu dilahir-
kan, kita mulai menuju kematian, dan setiap hari dalam hidup
ini membawa kita semakin dekat kepada kematian. Atau, kita
terbawa arus dengan deras dan tak terbendung, seperti oleh
arus air bah, atau banjir yang menyeret segala sesuatu yang
menghalanginya. Seperti dunia lama tersapu air bah di zaman
Nuh. Meskipun Tuhan telah berjanji untuk tidak menenggelam-
kan bumi lagi, kematian tetap merupakan air bah yang terus
menanti.
2. Bahwa kehidupan mereka bagaikan mimpi. Manusia seakan
terseret air bah, namun meskipun demikian, mereka seperti
mimpi. Mereka tidak memperhitungkan kelemahan diri sendiri
ataupun menyadari betapa dekatnya mereka dengan kekekal-
an yang mengerikan. Seperti orang yang terlelap, mereka mem-
bayangkan hal-hal yang besar, sampai maut membangunkan
mereka dan mengakhiri mimpi indah itu. Waktu terus berjalan
tanpa kita sadari, sama seperti yang terjadi pada orang yang
sedang tidur. saat mimpi itu berakhir, tidak ada lagi yang
tersisa.
3. Bahwa kehidupan mereka singkat dan bersifat sementara be-
laka, sama seperti rumput yang bertumbuh dan berkembang.
Di pagi hari rumput itu tampak hijau dan menyenangkan, te-
tapi di petang hari rumput itu dipangkas dan langsung layu,
berubah warna, dan kehilangan keindahannya. Maut akan meng-
ubah kita dalam waktu singkat, mungkin juga dengan tiba-tiba.
Besar kemungkinan maut akan menjelang dalam sekejap. Dalam
puncak kehidupannya, manusia berkembang bak rumput yang
sebenarnya lemah, rendah, rapuh, dan tidak terlindung. Keti-
ka usia lanjut tiba bak musim dingin, ia akan layu dengan
sendirinya. Namun, kita juga bisa ditebas oleh penyakit atau
bencana, sama seperti rumput di tengah musim panas. Semua
yang hidup yaitu seperti rumput.
Ketaatan Penuh Penyesalan
(90:7-11)
7 Sungguh, kami habis lenyap sebab murka-Mu, dan sebab kehangatan
amarah-Mu kami terkejut. 8 Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-
Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu. 9 Sungguh,
segala hari kami berlalu sebab gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun
kami seperti keluh. 10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami
kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya yaitu kesukaran dan pen-
deritaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. 11 Siapa-
kah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu?
Di dalam ayat-ayat sebelum ini, Musa meratapi kelemahan kehidup-
an manusia secara umum. Anak-anak manusia seperti mimpi dan se-
perti rumput. Namun, di sini ia mengajar umat Israel untuk menerima
hukuman mati yang memang pantas dijatuhkan ke atas mereka
sebab dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Bagian mereka dalam
kefanaan belumlah cukup. Mereka juga harus hidup dan mati di
bawah tanda khusus yang menyatakan ketidaksenangan Tuhan . Di
sini mereka berbicara tentang diri sendiri: Kami orang Israel habis
lenyap dan terkejut, dan segala hari kami berlalu.
I. Di sini mereka diajar untuk mengakui murka Tuhan sebagai penye-
bab semua kesengsaraan mereka. Kami habis lenyap, terkejut, dan
ini yaitu akibat dari murka-Mu dan kehangatan amarah-Mu (ay.
7). Segala hari kami berlalu sebab gemas-Mu (ay. 9). Penderitaan
orang-orang kudus acap kali semata-mata berasal dari kasih
Tuhan , seperti yang dialami Ayub. Namun, teguran kepada orang-
orang berdosa dan orang-orang baik atas dosa-dosa mereka,
harus dipandang sebagai datang dari murka Tuhan yang memper-
hatikan dan sangat tidak suka kepada dosa-dosa orang Israel.
Kita terlampau mudah memandang kematian sebagai sesuatu
yang tidak lebih dibandingkan utang kepada alam yang harus dilunasi.
Padahal, sebenarnya bukan demikian halnya. Seandainya watak
manusia tetap bertahan dalam kemurnian dan kebenaran, tidak
akan ada utang semacam itu yang harus dilunasi. Ini yaitu
utang kepada keadilan Tuhan , utang kepada hukum. Dosa telah
masuk ke dalam dunia, dan oleh dosa itu juga maut. Apakah kita
habis lenyap sebab pembusukan alami, sebab kelemahan usia
lanjut, atau sebab penyakit menahun? Kita harus menganggap-
nya sebagai berasal dari murka Tuhan . Apakah kita disusahkan
oleh serangan stroke yang tiba-tiba atau mengejutkan? Itu pun
yaitu buah dari murka Tuhan yang diungkapkan dengan cara itu
dari sorga sebab kefasikan dan kelaliman manusia.
II. Mereka diajar untuk mengakui dosa-dosa mereka yang telah me-
micu murka Tuhan atas mereka (ay. 8): Engkau menaruh kesalahan
kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi. Bukannya
tanpa alasan bila Tuhan marah kepada mereka. Ia telah berkata,
Janganlah kamu menimbulkan sakit hati-Ku, supaya jangan Aku
mendatangkan malapetaka kepadamu, namun mereka telah menya-
kiti hati-Nya. Mereka akan mengakui bahwa dengan menjatuhkan
hukuman berat ini ke atas mereka, Ia telah menghukum mereka
dengan adil,
1. sebab dengan terang-terangan mereka menganggap rendah
Dia dan berani menghina-Nya: Engkau menaruh kesalahan
kami di hadapan-Mu. Dalam hal ini Tuhan melihat ketidakper-
cayaan dan keluh kesah mereka, keraguan mereka terhadap
kuasa-Nya, dan juga sikap memandang rendah negeri yang
indah itu. Hal-hal inilah yang ditaruh-Nya di hadapan mereka
pada waktu Ia menjatuhkan hukuman itu ke atas mereka.
Hal-hal ini menyulut murka Tuhan terhadap mereka dan mena-
han hal-hal yang baik dari mereka.
2. sebab mereka semakin sering meninggalkan-Nya dengan
diam-diam: “Engkau telah menaruh dosa kami yang tersembu-
nyi (dosa-dosa yang disimpan di dalam hati dan yang berada di
dasar semua tindakan yang bermaksud jahat) dalam cahaya
wajah-Mu. Artinya, Engkau telah membongkar dosa-dosa ini
dan menyuruh kami mempertanggungjawabkan tindakan-tin-
dakan itu, serta menyebabkan kami melihat sebelum kami
mengabaikannya.” Dosa-dosa yang tersembunyi terlihat oleh
Tuhan dan harus dipertanggungjawabkan. Orang-orang yang
kembali ke Mesir dan mendirikan berhala di dalam hati akan
diperlakukan seperti pemberontak atau penyembah berhala.
Lihatlah kebodohan orang-orang yang berusaha menutupi
dosa-dosa mereka, sebab mereka sebenarnya tidak dapat me-
nyembunyikannya.
III. Mereka diajar untuk memandang diri sendiri sebagai orang yang
fana dan akan berlalu, supaya tidak berpikir tentang umur pan-
jang atau hidup yang menyenangkan, sebab keputusan yang telah
dibuat terhadap mereka tidak dapat diubah lagi (ay. 9): Segala
hari kami berlalu sebab gemas-Mu di bawah tanda rasa geram-
Mu. Walaupun sisa hidup kami tidak dicabut sepenuhnya, kami
mungkin saja menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh. Wak-
tu tiga puluh delapan tahun sesudah itu, yang mereka lewatkan
di padang gurun, bukan merupakan pokok sejarah suci, sebab
hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang dicatat perihal apa
yang terjadi atas mereka mulai dari tahun kedua sampai tahun
keempat puluh. sesudah mereka keluar dari Mesir, seluruh waktu
mereka terbuang dengan percuma, dan tidak layak dijadikan
pokok sejarah, namun hanya pantas dianggap keluh. Tahun-tahun
yang mereka lewatkan di padang gurun itu hanya dianggap seba-
gai perintang waktu, sama seperti menceritakan kisah. Sepanjang
waktu itu mereka habiskan begitu saja, dan sementara itu mun-
cullah generasi baru. Waktu mereka keluar dari Mesir, di antara
suku-suku mereka tidak ada yang tergelincir (105:37). Namun,
sekarang mereka tergelincir. Harapan mereka yang penuh suka-
cita tentang kehidupan makmur dan kegemilangan di Kanaan di-
ubah menjadi pengharapan menyedihkan tentang kematian me-
ngenaskan di padang gurun. Dengan demikian seluruh hidup
mereka sekarang menjadi menyimpang, tidak bermakna seperti
layaknya kisah di musim dingin. Hal itu dapat diterapkan kepada
keadaan setiap kita yang sedang melintasi padang gurun dunia
ini: Segala hari kami berlalu, kami menyudahinya tiap tahun dan
akhirnya seluruhnya, seperti keluh – seperti embusan nafas kami
di musim dingin (demikianlah yang dikatakan beberapa orang),
yang segera lenyap seperti gagasan (demikianlah pendapat bebe-
rapa orang). Tidak ada yang lebih cepat – seperti perkataan, yang
begitu diucapkan langsung lenyap tanpa bekas – atau seperti
keluh. Habisnya tahun-tahun kita bagaikan menceritakan sebuah
kisah. Satu tahun, bila sudah berlalu, bagaikan sebuah kisah
yang telah diceritakan. Sebagian dari tahun-tahun kita bagaikan
kisah yang menyenangkan. Sebagian lagi menyedihkan, sedang-
kan sebagian besar merupakan perpaduan dari keduanya. Na-
mun, semuanya singkat dan bersifat sementara saja: hal yang bu-
tuh waktu panjang untuk menyelesaikannya mungkin saja habis
diceritakan dalam waktu singkat. Tahun-tahun kita, bila sudah
berlalu, tidak dapat lebih diingat orang dibanding perkataan yang
telah kita ucapkan. Kehilangan dan terbuangnya waktu kita yang
merupakan kesalahan dan kebodohan kita, bisa dikeluhkan seba-
gai berikut: seharusnya kita melewatkan tahun-tahun kita bagai-
kan menyelesaikan urusan dengan hati-hati dan giat. Namun
sayang sekali, kita malah menghabiskan waktu bagaikan menceri-
takan kisah dengan bermalas-malas nyaris tanpa tujuan, dengan
gegabah dan tanpa kepedulian. Tiap tahun berlalu seperti keluh,
namun seberapa banyak jumlahnya? Sama seperti tahun-tahun itu
berlalu dengan sia-sia, jumlahnya pun sedikit (ay. 10), paling ba-
nyak tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Ini dapat dipahami
sebagai,
1. Kehidupan orang Israel di padang gurun. Semua orang yang
telah dicatat pada waktu mereka keluar dari Mesir, berusia di
atas dua puluh tahun, akan mati dalam kurun waktu tiga pu-
luh delapan tahun. Mereka hanya mencatat orang-orang yang
sanggup berperang. Kita dapat beranggapan bahwa kebanyak-
an dari mereka berusia di antara dua puluh dan empat puluh
tahun. Oleh sebab itu, mereka semua tentunya sudah mati
sebelum mencapai usia delapan puluh tahun. Banyak lagi
yang bahkan sudah mati sebelum mencapai usia enam puluh
dan mungkin juga jauh lebih awal, usia yang jauh lebih
singkat dibanding umur para leluhur mereka. Namun, mereka
yang berhasil mencapai usia tujuh puluh atau delapan puluh
tahun, akan habis lenyap dan tidak punya harapan untuk da-
pat mengatasi masa penuh kesusahan di padang gurun ini.
Kekuatan dan hidup mereka hanya dihabiskan untuk mengha-
dapi kesukaran dan penderitaan, yang seharusnya dapat dija-
lani dalam kehidupan baru yang penuh sukacita di Kanaan.
Lihatlah apa yang dikerjakan oleh dosa.
2. Kehidupan manusia secara umum, mulai sejak masa Musa.
Sebelum masa kehidupan Musa, umur manusia biasa menca-
pai seratus atau hampir seratus lima puluh tahun. Namun,
sesudah itu, usia tujuh puluh atau delapan puluh merupakan
batas umum yang hanya dicapai oleh sedikit orang. Banyak
yang bahkan hanya mencapai usia jauh di bawah itu. Kita
dapat beranggapan bahwa orang-orang yang mencapai usia
tujuh puluh tahun telah mencapai batas umur orang dewasa
dan telah meraih sebagian besar kehidupan sesuai harapan.
Betapa singkatnya waktu ini bila dibandingkan dengan keke-
kalan! Musa yaitu orang pertama yang menulis wahyu ilahi
yang sebelum itu hanya diteruskan secara lisan menurut adat
kebiasaan. Sekarang, baik dunia maupun gereja cukup penuh
dengan manusia, dan oleh sebab itu manusia tidak memiliki
alasan untuk hidup panjang seperti mereka dari zaman da-
hulu. Jika sebab faktor kesehatan dan tubuh yang kuat ada
yang berhasil mencapai usia delapan puluh tahun, padahal
kekuatan mereka tidak seberapa sehingga justru menyusah-
kan, sebenarnya tidak ada gunanya untuk memperpanjang
kesengsaraan mereka dan membuat hidup mereka semakin
membosankan. sebab bahkan kebanggaan mereka saat itu
hanyalah berupa kesukaran dan penderitaan, ditambah lagi
dengan kelemahan mereka, sebab tahun-tahun telah tiba bagi
mereka di mana tidak ada lagi sukacita. Bisa juga dikatakan
sebagai berikut: Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan masa
hidup beberapa orang jika kuat, yaitu delapan puluh tahun.
namun panjang hidup kita (demikianlah arti istilah “kuat” tadi),
seluruhnya, mulai sejak lahir hingga usia lanjut, hanyalah
kesukaran dan penderitaan. Dengan berpeluh kita memperoleh
makanan. Seluruh hidup kita penuh dengan kerja keras dan
kesukaran. Mungkin juga di tengah masa yang kita andalkan,
masa itu justru berlalu buru-buru, dan kita melayang lenyap,
tidak sampai menjalani separuhnya.
IV. Melalui semua hal ini mereka diajar untuk menaruh hormat kepada
murka Tuhan (ay. 11): Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu?
1. Tidak seorang pun dapat memahaminya dengan sempurna.
Sang pemazmur berbicara sebagai orang yang takut akan mur-
ka Tuhan dan takjub akan kedahsyatan kekuatannya. Siapa
yang tahu sejauh apa kuasa murka Tuhan dapat menjangkau
dan separah apa luka yang bisa ditimbulkannya? Para malai-
kat yang berdosa tahu dari pengalaman seperti apa kekuatan
murka Tuhan itu. Orang-orang berdosa terkutuk yang ada di
dalam neraka tahu itu. namun , siapa dari antara kita yang
mampu mengerti dengan sepenuhnya atau melukiskannya?
2. Hanya sedikit yang memikirkan hal ini dengan sungguh-sung-
guh sebagaimana mestinya. Siapakah yang mengenal kekuatan
murka-Mu, untuk menambah pemahaman mengenai hal itu?
Orang-orang yang menertawakan dosa dan meremehkan Kris-
tus, pasti tidak mengenal kekuatan murka Tuhan . Sebab me-
ngenal kekuatan murka-Mu yaitu takut kepada gemas-Mu.
Murka Tuhan setara dengan ketakutan terhadap apa yang bakal
terjadi yang melanda orang-orang yang paling memikirkannya
dengan sungguh-sungguh. Biarlah manusia merasa ketakutan
terhadap murka Tuhan , yang tidak akan lebih besar dibandingkan
perkara itu sendiri dan sifatnya yang memang sudah sepantas-
nya. Tuhan tidak menyebutkan murka-Nya sebagai sesuatu
yang lebih dahsyat dibandingkan sebenarnya. Bahkan lebih dari
itu, apa yang dirasakan di alam lain, jauh lebih parah dari-
pada yang ditakutkan di dunia ini. Siapakah di antara kita
yang dapat tinggal dalam api yang menghabiskan ini?
Doa Memohon Belas Kasihan
(90:12-17)
12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh
hati yang bijaksana. 13 Kembalilah, ya TUHAN – berapa lama lagi? – dan
sayangilah hamba-hamba-Mu! 14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan
kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-
hari kami. 15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau
menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka. 16
Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu
kepada anak-anak mereka. 17 Kiranya kemurahan Tuhan, Tuhan kami, atas
kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami,
teguhkanlah itu.
Inilah permohonan-permohonan dari doa ini yang beralaskan semua
perenungan dan pengakuan sebelumnya. Kalau ada seorang yang
menderita, baiklah ia belajar berdoa demikian. Di sini mereka ditun-
tun untuk mendoakan empat hal:
I. Untuk menggunakan dengan kudus takdir menyedihkan yang se-
karang harus mereka tanggung. sebab ditakdirkan untuk men-
jalani hidup yang singkat, “Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-
hari kami sedemikian (ay. 12). Tuhan, berilah kami anugerah
sepantasnya untuk dapat mengingat betapa sedikitnya hari-hari
itu, dan betapa singkatnya hidup yang kami jalani di dunia ini.”
Perhatikanlah:
1. Sungguh merupakan keahlian yang luar biasa untuk dapat
mengingat hari-hari kita dengan benar sehingga tidak keliru
menghitung seperti orang yang menyangka masih akan ber-
umur panjang namun malam itu juga nyawanya diambil. Kita
harus senantiasa menjalani kehidupan dengan memperhitung-
kan betapa singkat dan tidak pastinya hidup ini, serta betapa
semakin dekatnya kematian dan kekekalan. Kita juga harus
menghitung hari-hari kita untuk dibandingkan dengan peker-
jaan yang telah kita lakukan, memperhatikannya dengan kete-
kunan yang ditingkatkan seperti orang yang tidak punya wak-
tu lagi untuk bermalas-malasan.
2. Orang-orang yang mampu menghitungnya harus berdoa untuk
memperoleh pengajaran ilahi. Mereka harus datang kepada
Tuhan dan memohon kepada-Nya untuk mengajarkannya mela-
lui Roh-Nya, memampukan mereka untuk mengingatnya, dan
memberi mereka pemahaman yang baik.
3. Kita telah menghitung hari-hari kita demi tujuan yang baik
jika hati kita kemudian tertuju dan terlibat dengan hikmat
sejati, yakni menjalani kesalehan dengan sungguh. Hidup ber-
agama berarti hidup dengan bijaksana. Ini yaitu hal yang
perlu kita terapkan di dalam hati, yang membutuhkan dan
layak menerima penerapan yang ketat. Sering memikirkan
ketidakpastian kelangsungan hidup kita di dunia dan menya-
dari kepastian bahwa kita akan dipindahkan dari sini, akan
sangat membantu.
II. Supaya murka Tuhan disingkirkan dari mereka. Meskipun kepu-
tusan telah dibuat dan tidak dapat ditarik kembali, tidak ada
jalan keluar kecuali bahwa mereka harus mati di padang belan-
tara: “Kembalilah, ya TUHAN, kiranya Engkau diperdamaikan
dengan kami, dan sayangilah hamba-hamba-Mu (ay. 13). Kirim-
kanlah lagi kabar damai sejahtera untuk menghibur kami sesu-
dah kabar yang sangat berat ini. Berapa lama kami harus meman-
dang diri di bawah murka-Mu, dan kapankah kami akan mene-
rima tanda yang diberikan kepada kami perihal pulihnya perke-
nan-Mu? Kami sekalian yaitu umat-Mu (Yes. 64:9). Kapankah
Engkau akan berubah sikap terhadap kami?” Sebagai jawaban
atas doa ini, sesudah mereka mengaku dan bertobat (Bil. 14:39-
40), di dalam pasal berikutnya Tuhan melanjutkan dengan hukum-
hukum berkenaan dengan korban (Bil. 15:1 dst.), yang merupa-
kan tanda bahwa Ia menyayangi hamba-hamba-Nya. Sebab, sean-
dainya TUHAN hendak membunuh mereka, tidaklah Ia mem-
perlihatkan semuanya itu kepada mereka.
III. Untuk memperoleh penghiburan dan sukacita dengan kembalinya
perkenan Tuhan kepada mereka (ay. 14-15). Mereka berdoa
memohon belas kasihan Tuhan , dan tidak menuntut bahwa mereka
layak untuk itu sebab jasa mereka. Kasihanilah kami, ya TUHAN!
merupakan doa yang harus kita aminkan. Marilah kita berdoa
memohon belas kasihan awal, penyampaian belas kasihan ilahi
yang tepat waktu, supaya rahmat Tuhan segera menyongsong kita,
di waktu pagi hari-hari kita, saat kita masih muda dan berkem-
bang (ay. 6). Marilah kita berdoa memohon kepuasan dan kebaha-
giaan sejati yang hanya dapat diperoleh dalam perkenan dan
kasih setia Tuhan (4:7-8). Jiwa penuh rahmat yang hanya dapat
dipuaskan oleh kasih karunia Tuhan , akan dipuaskan, bahkan sa-
ngat dipuaskan olehnya, dan akan membicarakan hal itu semata.
Ada dua hal yang diajukan untuk menguatkan permohonan akan
kasih setia Tuhan ini:
1. Supaya bisa menjadi sumber sukacita di kemudian hari: “Ke-
nyangkanlah kami dengan kasih setia-Mu, bukan saja supaya
kami dapat merasa tenteram, sesuatu yang tidak akan pernah
terjadi selama kami berada di bawah murka-Mu, melainkan
juga supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita. Bukan
sekadar untuk sementara waktu, saat perkenan-Mu mulai
tampak, melainkan juga semasa hari-hari kami, walaupun
kami harus menjalaninya di padang gurun.” Dengan menaruh
hormat kepada orang-orang yang menjadikan Tuhan sebagai
sukacita utama mereka, supaya sukacita mereka menjadi
sempurna (1Yoh. 1:4), maka sukacita itu juga akan terus ber-
langsung, bahkan dalam lembah penuh air mata ini. Salah
mereka sendiri jika mereka tidak bersukacita semasa hari-
hari mereka, sebab kasih setia-Nya dapat memperlengkapi me-
reka dengan sukacita di tengah kesengsaraan, dan tidak ada
sesuatu pun yang dapat memisahkan mereka darinya.
2. Supaya bisa seimbang dengan kesusahan mereka di masa
lalu: “Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Eng-
kau menindas kami. Biarlah hari-hari sukacita kami di dalam
perkenan-Mu sama banyaknya dengan hari-hari penderitaan
kami sebab ketidaksenangan-Mu. Biarlah menyenangkan,
bukan suram seperti dahulu. Hari malang ini pun dijadikan
Tuhan seperti juga hari mujur (Pkh. 7:14). Perbuatlah begitu juga
dengan perkara kami. Sudahlah cukup bila kami telah sekian
lama minum dari cawan yang membuat kami gemetar. Seka-
rang letakkan di tangan kami cawan keselamatan itu.” Umat
Tuhan memandang kembalinya kasih karunia Tuhan sebagai
ganti rugi yang memadai bagi semua kesengsaraan mereka.
IV. Bagi kesinambungan pekerjaan Tuhan di antara mereka, apa pun
yang telah terjadi (ay. 16-17).
1. Supaya Ia menyatakan diri sementara melaksanakannya:
“Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu.
Biarlah kelihatan apa yang telah Engkau kerjakan bagi kami
untuk membawa kami kembali kepada-Mu dan untuk mela-
yakkan kami dengan diri-Mu.” Hamba-hamba Tuhan tidak da-
pat bekerja bagi-Nya kecuali Ia mempersiapkan mereka, baik
dalam kehendak maupun perbuatan. Sesudah itu kita boleh
berharap agar pelaksanaan anugerah-Nya tampak oleh kita.
“Biarlah kelihatan perbuatan-Mu, dan di dalamnya kemuliaan-
Mu dinyatakan kepada kami dan juga kepada mereka yang
datang sesudah kami.” Dalam berdoa memohon anugerah
Tuhan , kemuliaan Tuhan harus menjadi tujuan utama kita.
Dalam hal ini kita juga harus memperhatikan anak-anak kita
selain diri kita sendiri, supaya mereka pun dapat mengalami
kemuliaan Tuhan yang dinyatakan kepada mereka, untuk
mengubah mereka dalam gambaran yang sama, dari kemulia-
an kepada kemuliaan. Ada kemungkinan, dalam doa ini me-
reka membedakan diri mereka dengan anak-anak mereka,
sebab begitu pulalah Tuhan membedakan mereka dalam pesan
yang disampaikan-Nya sebelum itu (Bil. 14:31-32, Bangkai-
bangkaimu akan berhantaran di padang gurun ini, namun anak-
anakmu akan Kubawa masuk ke Kanaan): “Tuhan,” kata mere-
ka, “biarlah kelihatan kepada kami perbuatan-Mu, untuk mem-
perbarui kami dan untuk memberi kami perangai yang lebih
baik. Biarlah semarak-Mu kelihatan kepada anak-anak kami,
dalam melaksanakan janji yang gagal kami peroleh.”
2. Supaya Ia be