mazmur 51-100 17


 g diperbuat Daud 

(1Sam. 20:17). Sebab, firman dan sumpah-Nya merupakan dua 

hal yang tidak dapat diganggu gugat. Sama seperti Kristus 

dijadikan sebagai Imam, demikian pula Ia dijadikan sebagai 

Raja dengan sumpah (Ibr. 7:21). Sebab baik kerajaan-Nya mau-

pun jabatan imamat-Nya tidak dapat diubah-ubah.    

II. Pilihan terhadap seorang pribadi yang kepadanya janji itu diberi-

kan (ay. 20-21). Daud yaitu  raja yang dipilih Tuhan   sendiri, demi-

kian pula Kristus, dan oleh sebab itu keduanya disebut raja-raja 

Tuhan   (2:6). Daud yaitu  orang besar, berjiwa pemberani dan 

cocok untuk bekerja. Ia dipilih dari antara orang-orang biasa, bu-

kan dari antara para pembesar melainkan dari antara para gem-

bala. Tuhan   menemukannya, meninggikannya, memberi  perto-

longan baginya, dan memerintah Samuel untuk mengurapinya. 

Namun ini terutama harus diterapkan kepada Kristus. 

1.  Dialah orang besar itu, yang memenuhi syarat dari segala segi 

untuk melakukan pekerjaan besar yang harus dikerjakan-Nya, 

mampu menyelamatkan dengan sepenuh-penuhnya. Ia perkasa 

dalam kekuatan, sebab Dia Anak Tuhan  . Ia besar dalam kasih, 

sebab, sesudah  dicobai sendiri, Dia mampu berbelas kasihan 

kepada orang-orang yang dicobai. Dialah Tuhan   yang perkasa 

(Yes. 9:5).  

2. Dia dipilih dari antara bangsa itu, salah seorang dari kita, 

tulang dari tulang kita, yang turut mengambil rupa darah dan 

daging seperti kita.  sebab  diurapi bagi manusia, Dia diambil 

dari antara manusia, sehingga kengerian-Nya tidak membuat 

kita takut.  

3. Tuhan   telah menemukan-Nya. Dia yaitu  Juruselamat yang 

disediakan Tuhan   sendiri. Sebab keselamatan, dari mula hingga 

akhir, murni  sebab  perbuatan Tuhan. Tebusan telah diper-

oleh-Nya (Ayb. 33:24). Kita tidak akan pernah bisa menemu-

kan seorang pribadi yang pantas untuk menjalankan pekerja-

an besar ini (Why. 5:3-4). 

4. Tuhan   telah memberi  pertolongan kepada-Nya, tidak hanya 

menolong-Nya namun  juga menyediakan pertolongan di dalam 

Dia bagi kita, menyerahkan tugas kepada Dia untuk memban-

tu mengangkat kembali manusia yang sudah jatuh, untuk 

menolong sisa umat pilihan pergi ke sorga. Pertolongan-Mu ada 

di dalam Aku (Hos. 13:9, KJV).  

5.  Tuhan   telah meninggikan-Nya, dengan menetapkan-Nya sebagai 

Nabi, Imam, dan Raja bagi jemaat-Nya, mengenakan kuasa ke-

pada-Nya, membangkitkan-Nya dari antara orang mati, dan 

mendudukkan-Nya di sebelah kanan-Nya. Siapa yang dipilih 

dan dipakai Tuhan   pasti akan ditinggikan-Nya.  

6. Ia telah mengurapi-Nya, telah memperlengkapi-Nya untuk me-

laksanakan tugas-Nya, dan dengan demikian meneguhkan-

Nya di dalamnya, dengan memberi  kepada-Nya Roh, bukan 

secara terbatas, melainkan secara tidak terbatas, jauh melam-

paui teman-teman sekutu-Nya. Ia disebut Mesias, atau Kristus, 

Yang Diurapi.  

7. Dalam semua ini Tuhan   merancang Kristus untuk menjadi ham-

ba-Nya sendiri, untuk menggenapi tujuan kekal-Nya dan demi 

kemajuan kepentingan-kepentingan kerajaan-Nya di tengah-

tengah manusia. 

III. Janji-janji yang dibuat untuk orang pilihan ini, untuk Daud seba-

gai pelambang dan untuk Anak Daud sebagai yang dilambangkan. 

Di dalam janji-janji ini hal-hal yang bukan saja penuh rahmat 

melainkan juga penuh kemuliaan dibicarakan tentang Dia. 

1. Dengan merujuk pada diri-Nya sendiri, sebagai Raja dan Ham-

ba Tuhan  : apa yang diperbuat untuk-Nya diperbuat juga untuk 

semua hamba-Nya yang dikasihi-Nya. Dijanjikan di sini,  

(1) Bahwa Tuhan   akan mendampingi-Nya dan menguatkan-Nya 

dalam melaksanakan tugas-Nya (ay. 22): Maka tangan-Ku 

akan tetap dengan Dia, sesuai dengan janji, akan Kutetap-

kan sedemikian rupa sehingga dengannya Ia akan ditetap-

kan dan diteguhkan dalam menjalankan semua tugas-Nya, 

sehingga tidak satu pun dari tugas-tugas itu yang akan 

diremehkan dan dikacaukan, meskipun oleh manusia dur-

haka tugas-tugas-Nya itu akan direnggut dan diperangi. 

Kristus harus melakukan banyak sekali pekerjaan berat, 

dan harus melalui banyak kesukaran. namun  Dia yang 

memberi-Nya amanat juga memberi-Nya kekuatan yang 

memadai untuk menjalankan amanat-Nya: “Bahkan le-

ngan-Ku akan meneguhkan Dia untuk menerobos dan me-

nanggung segala kesulitan yang dijumpai-Nya.” Tidak ada 

pekerjaan baik yang dapat gagal di tangan orang-orang 

yang akan dikuatkan oleh Tuhan   sendiri.  

(2) Bahwa Ia akan menang atas musuh-musuh-Nya, sehingga 

mereka tidak akan datang mengganggu-Nya (ay. 23): Musuh 

tidak akan menyergap-Nya atau melukai-Nya. Iblis yang 

pertama kali menghancurkan perdamaian akan menantang 

Dia yang ingin membuat damai. Ia akan berbuat sebisa 

mungkin untuk mengacaukan rancangan-Nya. Namun, ia 

hanya bisa meremukkan tumit-Nya. Ia tidak bisa menyer-

gap-Nya atau melukai-Nya lebih jauh. Kristus menjadi ja-

minan bagi utang kita, dan dengan demikian Iblis dan 

maut menyangka bahwa mereka telah mendapat keuntung-

an dalam melawan-Nya. namun  Kristus memenuhi semua 

tuntuan keadilan Tuhan  , sehingga Iblis tidak bisa menyer-

gap-Nya. Penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa 

sedikit pun atas diri-Ku (Yoh. 14:30). Bahkan, mereka bu-

kan hanya tidak akan berhasil melawan-Nya, namun  juga 

akan jatuh di hadapan-Nya (ay. 24): Aku akan menghancur-

kan lawan-Nya dari hadapan-Nya. Penguasa dunia ini akan 

dicampakkan, pemerintah-pemerintah dan penguasa-pengua-

sa akan dihancurkan, dan Ia akan menjadi maut bagi maut 

itu sendiri, dan menjadi kehancuran bagi dunia orang mati 

(Hos. 13:14). Sebagian orang menerapkan ini pada kehan-

curan yang ditimpakan Tuhan   atas bangsa Yahudi, yang 

menganiaya Kristus dan menghukum mati Dia. namun  se-

mua seteru Kristus, yang membenci-Nya dan tidak mau 

Dia menjadi raja atas mereka, akan dibawa dan dibunuh di 

depan mata-Nya (Luk. 19:27). 

(3) Bahwa Ia akan menjadi satu-satunya orang kepercayaan 

dalam kovenan antara Tuhan   dan manusia, sehingga Tuhan   

akan bermurah hati dan berlaku setia kepada kita (ay. 25): 

Kesetiaan-Ku dan kasih-Ku menyertai dia. Kesetiaan dan 

kasih itu menyertai Daud. Tuhan   tetap mengasihinya, dan 

dengan demikian membuktikan diri-Nya tetap setia. Kese-

tiaan dan kasih itu menyertai Kristus. Tuhan   menepati se-

gala janji-Nya kepada-Nya. namun  ini belum seberapa. 

Kasih Tuhan   kepada kita, dan kesetiaan-Nya terhadap kita, 

beserta Kristus. Tuhan   tidak saja berkenan kepada-Nya, te-

tapi juga berkenan kepada kita di dalam Dia. Dan di dalam 

Dialah semua janji Tuhan   Ya dan Amin. Sehingga jika ada 

orang-orang berdosa yang malang berharap akan mendapat 

keuntungan dari kesetiaan dan kasih Tuhan  , biarlah mereka 

tahu bahwa semua itu ada pada Kristus. Semuanya tersim-

pan dalam tangan-Nya, kepada-Nya-lah mereka harus me-

mintanya (ay. 29): Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi 

dia, untuk dipergunakan oleh-Nya, untuk selama-lamanya. 

Di dalam saluran kepengantaraan Kristus, semua sungai 

kebaikan ilahi akan mengalir selama-lamanya. Oleh sebab 

itu, rahmat Tuhan kita Yesus Kristus-lah yang kita harap-

kan untuk hidup yang kekal (Yud. 1:21; Yoh. 17:2). Dan, 

sama seperti rahmat Tuhan   mengalir kepada kita melalui 

Kristus, demikian pula janji Tuhan  , melalui Dia, teguh bagi 

kita: Perjanjian-Ku teguh bagi Dia, baik itu kovenan pene-

busan yang dibuat dengan-Nya maupun kovenan anugerah 

yang dibuat dengan kita di dalam Dia. Oleh sebab itu, kove-

nan baru akan selalu baru, dan ditetapkan dengan teguh, 

 sebab  tersimpan di dalam tangan seorang Pengantara (Ibr. 

8:6). Kovenan itu berdiri teguh, sebab berdiri di atas dasar 

ini. Dan inilah yang membawa kehormatan kekal bagi 

Tuhan Yesus, bahwa kepada-Nya diserahkan secara sepe-

nuhnya kepentingan besar antara Tuhan   dan manusia, dan 

bahwa Bapa telah menyerahkan penghakiman seluruhnya 

kepada-Nya, supaya semua orang menghormati Anak (Yoh. 

5:22-23). Oleh sebab itu dikatakan di sini, oleh  sebab  

nama-Ku tanduk-Nya akan meninggi. Inilah yang akan men-

jadi kemuliaan-Nya, bahwa nama Tuhan   ada di dalam Dia 

(Kel. 23:21), dan bahwa Ia bertindak di dalam nama Tuhan  . 

Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan 

Bapa kepada-Ku. 

(4) Bahwa kerajaan-Nya akan sangat diperluas (ay. 26): Aku 

akan membuat tangan-Nya menguasai laut (Ia akan berkua-

sa atas laut-laut dan atas pulau-pulau di laut), dan tangan 

kanan-Nya menguasai sungai-sungai, menguasai tanah-

tanah di negeri yang diairi sungai-sungai. Kerajaan Daud 

meluas dengan sendirinya sampai ke Laut Besar, dan Laut 

Merah, ke sungai Mesir dan sungai Efrat. namun  di dalam 

kerajaan Mesiaslah hal ini mendapatkan kegenapannya, 

dan akan semakin digenapi lagi, saat  pemerintahan atas 

dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya 

(Why. 11:15), dan segala pulau mengharapkan pengajaran-

Nya.  

(5) Bahwa Ia akan mengakui Tuhan   sebagai Bapa-Nya, dan 

Tuhan   akan mengakui-Nya sebagai Anak-Nya, Anak Sulung-

Nya (ay. 27-28). Ini merupakan komentar atas perkataan 

Natan mengenai Salomo (sebab Salomo pun merupakan pe-

lambang Kristus, sama seperti Daud), Aku akan menjadi 

Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku (2Sam. 7:14), dan 

hubungan itu akan diakui oleh kedua belah pihak.  

[1] Dia pun akan berseru kepada-Ku: “Bapaku Engkau.” Ada 

kemungkinan bahwa Salomo melakukan itu. namun  kita 

yakin bahwa Kristus berbuat demikian, saat  Ia meng-

ambil rupa daging, saat  berseru dengan nyaring ke-

pada Tuhan  , dan memanggil-Nya Bapa yang kudus, Bapa 

yang adil, dan mengajar kita untuk berseru kepada-Nya 

dengan memanggil Bapa kami yang ada di sorga. Kris-

tus, dalam kesengsaraan-Nya, berseru kepada Tuhan  , 

Bapa-Ku Engkau (Mat. 26:39, 42, Ya Bapa-Ku), dan di 

atas salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka. Ya Bapa, ke da-

lam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Kristus pun 

memandang Tuhan   sebagai Tuhan  -Nya, dan oleh sebab itu 

benar-benar patuh kepada-Nya, dan berserah kepada 

kehendak-Nya dalam segala pekerjaan-Nya (Dia Tuhan  -

Ku dan Tuhan  mu, Yoh. 20:17). Tuhan   yaitu  batu karang 

keselamatan-Nya, yang akan menopang-Nya dan mem-

bela-Nya dalam segala tugas-Nya, dan membuat-Nya 

menjadi lebih dibandingkan  pemenang, bahkan sebagai Juru-

selamat yang seutuhnya. Oleh sebab itulah, dengan 

tekad bulat Ia mengabaikan kehinaan dan tekun memi-

kul salib, sebab Ia tahu bahwa Ia akan dibenarkan dan 

juga dipermuliakan.  

[2] Aku pun juga akan mengangkat Dia menjadi anak su-

lung. Saya pribadi tidak melihat bagaimana ucapan ini 

dapat diterapkan kepada Daud. Hanya Kristuslah yang 

memiliki hak istimewa untuk menjadi yang sulung dari 

segala yang diciptakan, dan sebagai yang sulung, Ia 

berhak menerima segala yang ada (Kol. 1:15; Ibr. 1:2, 

6). saat  segala kuasa baik yang di sorga maupun yang 

di bumi diberikan kepada Kristus, dan semua diserah-

kan kepada-Nya oleh Bapa, maka pada saat itulah Tuhan   

menjadikan-Nya sebagai Anak sulung-Nya, yang jauh 

lebih tinggi, jauh lebih agung dan terhormat, dibandingkan  

raja-raja di bumi. Sebab Ia Raja segala raja, segala 

malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya 

(1Ptr. 3:22). 

2.  Dengan merujuk pada keturunan-Nya. Kovenan Tuhan   akan se-

lalu berlaku bagi keturunan pihak-pihak yang berjanji. Demi-

kian pula dengan kovenan ini (ay. 30, 37): Aku menjamin akan 

adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan begitu 

pula dengan takhtanya. Nah, ini akan dimengerti secara ber-

beda-beda tergantung apakah kita menerapkannya kepada 

Kristus atau Daud.   

(1) Jika kita menerapkannya kepada Daud, maka keturunan-

nya di sini harus kita mengerti sebagai para penerusnya, 

Salomo dan raja-raja Yehuda yang mengikutinya, yang 

berasal dari keturunan Daud. Orang menganggap bahwa 

mereka ini kemudian merosot, dan tidak berjalan di dalam 

roh atau mengikuti jejak langkah Daud ayah mereka. Da-

lam keadaan demikian, mereka harus sadar bahwa tegur-

an-teguran ilahi akan menimpa mereka, seperti yang 

sedang dialami keluarga Daud pada saat ini (ay. 39). namun  

biarlah hal ini mendorong mereka, bahwa, meskipun mere-

ka dihukum, mereka tidak akan ditinggalkan atau kehi-

langan warisan. Ini merujuk pada salah satu bagian dalam 

pesan Natan itu (2Sam. 7:14-15), jika  ia melakukan ke-

salahan, maka Aku akan menghukum dia, namun  kasih 

setia-Ku tidak akan hilang dari padanya. Sejauh itulah 

keturunan dan takhta Daud akan bertahan selamanya, 

bahwa, kendati dengan kefasikan yang dilakukan banyak 

keturunannya, yang merupakan aib bagi keluarganya, na-

mun keluarganya tetap ada, dan terus ada menjunjung 

martabat kerajaan, untuk waktu yang sangat lama. Bahwa, 

selama Yehuda tetap menjadi sebuah kerajaan, keturunan 

Daud menjadi raja-raja di dalamnya, dan hak kerajaan itu 

tidak pernah berpindah ke keluarga lain mana pun, seperti 

hak kerajaan kesepuluh suku, pertama-tama pada Yero-

boam, kemudian pada Baesa, dan seterusnya dan bahwa 

keluarga Daud tetap merupakan keluarga yang terhormat 

hingga tampilnya Anak Daud yang takhta-Nya akan ber-

tahan sampai selama-lamanya (Luk. 1:27, 32; 2:4, 11). Jika 

keturunan Daud, pada masa-masa sesudahnya, sampai 

meninggalkan Tuhan   dan kewajiban mereka, dan berpaling 

pada jalan-jalan dosa, maka Tuhan   akan mendatangkan 

penghakiman-penghakiman yang merusakkan ke atas me-

reka dan menghancurkan keluarganya. Namun, Ia tidak 

mau menarik kasih setia-Nya dari Daud, atau melanggar 

kovenan-Nya dengan dia. Sebab, di dalam Mesias, yang 

akan datang dari keturunannya, semua janji ini akan dige-

napi dengan seutuhnya. Demikianlah, saat  orang-orang 

Yahudi ditolak, Rasul Paulus menunjukkan bahwa kovenan 

Tuhan   dengan Abraham tidak dilanggar,  sebab  kovenan itu 

digenapi dalam keturunannya secara rohani, keturunan 

 sebab  kebenaran, dan berdasar  iman (Rm. 4:13). 

(2)  Jika kita menerapkannya kepada Kristus, maka keturun-

an-Nya di sini harus kita mengerti sebagai hamba-hamba-

Nya, semua orang percaya, keturunan-Nya secara rohani, 

anak-anak yang telah diberikan Tuhan   kepada-Nya (Ibr. 

2:13). Inilah keturunan yang akan ada sampai selama-lama-

nya, dan takhta-Nya akan ada di tengah-tengah mereka, di 

dalam jemaat, di dalam hati, seumur langit. Sampai pada 

akhirnya, Kristus akan mempunyai sebuah umat di dunia 

yang melayani dan menghormati-Nya. Ia akan melihat ketu-

runan-Nya, umur-Nya akan lanjut. Keturunan kudus ini 

akan ada sampai selama-lamanya dalam keadaan yang su-

dah dimuliakan, saat  waktu dan hari-hari tidak ada lagi. 

Dan demikianlah takhta dan kerajaan Kristus akan diaba-

dikan: kerajaan anugerah-Nya akan terus berlanjut sepan-

jang masa, dan kerajaan kemuliaan-Nya sampai pada kehi-

dupan kekal yang tiada berakhir.   

[1]  Keberlangsungan Kerajaan Kristus di sini dipertanya-

kan  sebab  ada dosa-dosa dan penderitaan yang me-

nimpa hamba-hamba-Nya. Pelanggaran dan malapetaka 

yang menimpa mereka mengancam kehancuran kelang-

sungan kerajaan-Nya itu. Keadaan ini digambarkan di 

sini agar kita tidak merasa heran bilamana dosa dan 

malapetaka benar-benar terjadi, agar kita bisa mema-

hami dan menerimanya dengan mengerti dan yakin 

bahwa kovenan Tuhan   itu tetap teguh tidak berubah 

biarpun ada dosa dan malapetaka. Pertama, di sini di-

anggap bahwa akan ada banyak kesalahan pada ham-

ba-hamba di dalam Kerajaan Kristus. Anak-anak-Nya 

mungkin akan meninggalkan Taurat Tuhan   (ay. 31) ka-

rena lalai, dan melanggar ketetapan-Nya (ay. 32)  sebab  

berbuat jahat. Ada noda-noda yang diperbuat oleh 

anak-anak Tuhan   (Ul. 32:5). Sungguh banyak kerusakan 

yang ada  di dalam rahim jemaat, seperti juga di 

dalam hati para anggotanya, dan kerusakan-kerusakan 

ini mencuat keluar. Kedua, mereka diberi tahu di sini 

bahwa mereka harus menderita  sebab nya (ay. 33): Aku 

akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, pelang-

garan mereka terlebih dulu, baru pelanggaran orang lain. 

Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka 

bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu (Am. 3:2). 

Hubungan mereka dengan Kristus tidak akan bisa me-

reka jadikan dalih untuk meloloskan diri dari tanggung 

jawab. namun  Lihatlah   apa penderitaan itu bagi umat 

Tuhan  .  

1. Penderitaan hanyalah gada, bukan kapak, atau pe-

dang. Penderitaan hanya untuk membetulkan, bu-

kan untuk menghancurkan. Ini menandakan kelem-

butan dalam penderitaan. Penderitaan yaitu  gada 

bagi manusia, gada yang mereka pergunakan untuk 

membetulkan anak-anak mereka. Dan ini menanda-

kan sebuah rancangan yang baik di dalam dan mela-

lui penderitaan itu. Gada yang demikian menghasil-

kan buah kebenaran yang memberi  damai.  

2. Gada ini yaitu  gada di tangan Tuhan   (Aku akan 

membalas mereka). Ia yang bijak, dan tahu apa yang 

diperbuat-Nya, juga penuh rahmat, dan akan ber-

buat apa yang terbaik.  

3.  Gada ini yaitu  gada yang tidak akan pernah mere-

ka rasakan pukulannya kecuali jika  memang sa-

ngat diperlukan: Jika ketetapan-Ku mereka langgar, 

maka Aku akan membalas pelanggaran mereka de-

ngan gada, namun  jika tidak, maka itu tidak akan 

terjadi. Maka sudah wajiblah kehormatan Tuhan   di-

junjung, dan mereka direndahkan serta diturunkan.  

[2] Keberlangsungan Kerajaan Kristus dipastikan melalui 

janji dan sumpah Tuhan   yang tidak bisa dilanggar, ken-

dati dengan semua ini (ay. 34): namun  kasih setia-Ku 

tidak akan Kujauhkan dari pada-Nya sama sekali pada 

akhirnya. Pertama, “Kendati dengan tindakan mereka 

yang membangkitkan amarah-Ku, kovenan-Ku tidak 

akan Kulanggar.” Perhatikanlah, penderitaan itu tidak 

saja sejalan dengan kovenan kasih, namun  juga dengan 

umat Tuhan   yang mengalir dari kovenan itu. Meskipun 

keturunan Daud dihukum, itu tidak berarti bahwa me-

reka sudah kehilangan warisan. Mereka bisa saja dibuat 

terpuruk, namun  tidak dibuang. Kebaikan Tuhan   dilanjut-

kan kepada umat-Nya,  

1.  Demi Kristus. Di dalam Dia belas kasihan disedia-

kan bagi kita, dan Tuhan   berkata, Kasih setia-Ku 

tidak akan Kujauhkan dari padanya (ay. 34), Aku 

tidak akan berbohong kepada Daud (ay. 36). Kita 

tidak layak, namun  Dia layak.  

2. Demi kovenan: Aku tidak akan berlaku curang dalam 

hal kesetiaan-Ku, Aku tidak akan melanggar perjanji-

an-Ku. Mereka dianggap telah melanggar ketetapan-

ketetapan Tuhan  , telah mencemarkan dan mengotori-

nya (begitulah arti kata yang dipakai). “namun ,” tegas 

Tuhan  , “Aku tidak akan melanggar, Aku tidak akan 

mencemarkan dan mengotori kovenan-Ku.” Kata 

yang digunakan di sini sama saja. Apa yang diucap-

kan dengan sumpah yaitu  bahwa Tuhan   akan mem-

punyai sebuah jemaat di dunia selama ada matahari 

dan bulan (ay. 37-38). Matahari dan bulan yaitu  

saksi-saksi setia yang ada di langit terhadap hikmat, 

kuasa, dan kebaikan Sang Pencipta, dan akan terus 

ada selama waktu bergulir, yang diukur menurut 

keduanya. namun  keturunan Kristus akan tetap ada 

sampai selama-lamanya, sebagai terang dunia sela-

ma roda dunia masih berputar, yang akan bersinar 

di dalamnya. Dan, jika  dunia sudah berakhir, 

mereka akan ditetapkan menjadi terang-terang yang 

bersinar di cakrawala karya Bapa.  

Keluhan-keluhan dan Pertanyaan-pertanyaan; 

Pertanyaan Daud kepada Tuhan    

(89:39-53) 

39 namun  Engkau sendiri menolak dan membuang, menjadi gemas kepada 

orang yang Kauurapi, 40 membatalkan perjanjian dengan hamba-Mu, mena-

jiskan mahkotanya laksana debu, 41 melanda segala temboknya, membuat 

kubu-kubunya menjadi reruntuhan. 42 Semua orang yang lewat di jalan me-

rampoknya, dan ia menjadi cela bagi tetangganya. 43 Engkau telah mening-

gikan tangan kanan para lawannya, telah membuat semua musuhnya bersu-

kacita. 44 Juga Kaubalikkan mata pedangnya, dan tidak membuat dia dapat 

bertahan dalam peperangan. 45 Engkau menghentikan kegemilangannya, dan 

takhtanya Kaucampakkan ke bumi. 46 Kaupendekkan masa mudanya, Kau-

selubungi dia dengan malu. S e l a 47 Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau 

bersembunyi terus-menerus, berkobar-kobar murka-Mu laksana api? 48 

Ingatlah apa umur hidup itu, betapa sia-sia Kauciptakan semua anak manu-

manusia! 49 Siapakah orang yang hidup dan yang tidak mengalami kematian, 

yang dapat meluputkan nyawanya dari kuasa dunia orang mati? S e l a 50 Di 

manakah kasih setia-Mu yang mula-mula, ya Tuhan, yang telah Kaujanjikan 

dengan sumpah kepada Daud demi kesetiaan-Mu? 51 Ingatlah cela hamba-

Mu, ya Tuhan, bahwa dalam dadaku aku menanggung penghinaan segala 

bangsa, 52 yang dilontarkan oleh musuh-musuh-Mu, ya TUHAN, yang dilon-

tarkan mencela jejak langkah orang yang Kauurapi. 53 Terpujilah TUHAN 

untuk selama-lamanya! Amin, ya amin. 

Dalam perikop di atas kita mendapati, 

I.   Keluhan yang sangat sedih tentang keadaan keluarga Daud yang 

mengenaskan pada saat ini, yang menurut si pemazmur sulit 

diterima bila mengingat kovenan yang telah dibuat Tuhan   dengan 

Daud. “Engkau berkata bahwa Engkau tidak akan membuang 

kasih setia-Mu, namun  Engkau sendiri menolak.” Kadang-kadang, 

memang bukanlah hal mudah untuk menerima bahwa tindakan-

tindakan pemeliharaan Tuhan   seturut dengan janji-janji-Nya. Na-

mun, yakinlah bahwa keduanya itu bersesuaian satu sama lain. 

Sebab, pekerjaan-pekerjaan Tuhan   menggenapi firman-Nya, dan 

tidak pernah bertentangan dengannya.  

1.  Keluarga Daud tampak kehilangan bagiannya di dalam Tuhan  , 

yang merupakan kekuatan dan keindahan terbesar baginya. 

Selama ini Tuhan   berkenan dengan orang yang diurapi-Nya, 

namun  sekarang Ia menjadi gemas kepadanya (ay. 39). Ia sudah 

masuk ke dalam kovenan dengan keluarga itu, namun  seka-

rang, dari apa yang dimengerti si pemazmur, Ia sudah tidak 

memberlakukan kovenan itu, tidak dengan menghancurkan 

sebagian isinya, namun  dengan membatalkan seluruhnya (ay. 

40). Kita salah menafsirkan teguran-teguran Pemeliharaan 

ilahi jika kita berpikir bahwa semua teguran itu membuat 

kovenan-Nya tidak berlaku lagi. saat  Sang Agung yang di-

urapi-Nya, yaitu Kristus sendiri, tergantung di kayu salib, 

Tuhan   tampak membuang Dia, dan menjadi gemas kepada-Nya, 

namun Ia tidak membatalkan kovenan-Nya dengan Dia, sebab 

kovenan itu ditetapkan untuk selama-lamanya.  

2.  Kehormatan keluarga Daud hilang dan terkubur di dalam 

debu: Engkau menajiskan mahkotanya (yang selalu dipandang 

suci) dengan mencampakkannya ke tanah laksana debu, un-

tuk diinjak-injak (ay. 40). Engkau menghentikan kegemilangan-

nya (begitu tidak pastinya semua kemuliaan duniawi, dan be-

gitu cepatnya ia layu) dan takhtanya Kaucampakkan ke bumi. 

Tidak saja Kaugulingkan takhta raja, namun  juga Kauhentikan 

kerajaannya (ay. 45). Jika mazmur ini ditulis pada masa 

Rehabeam, maka hal itu benar bila menyangkut sebagian 

besar dari kerajaannya, lima dari enam bagian. Jika ditulis 

pada masa Zedekia, maka hal itu jauh lebih benar  sebab  yang 

tersisa sungguhlah sedikit. Perhatikanlah, takhta dan mah-

kota yaitu  hal-hal yang goyah, dan sering kali terkubur di 

dalam debu. namun  ada mahkota kemuliaan yang disediakan 

bagi keturunan Kristus secara rohani yang tidak akan pudar.  

3. Keluarganya dibiarkan menjadi mangsa bagi semua tetangga-

nya, yang menghina keluarga yang sudah terhormat sejak dari 

dulu itu (ay. 41): Engkau telah melanda segala temboknya 

(segala sesuatu yang menjadi perlindungannya, dan terutama 

tembok perlindungan yang menurut mereka telah dibangun di 

sekeliling mereka oleh kovenan dan janji Tuhan  ) dan Engkau 

telah membuat kubu-kubunya menjadi reruntuhan, sehingga 

kubu-kubu itu lebih menjadi suatu penghinaan dibandingkan  tem-

pat perlindungan bagi mereka. Dan lalu, semua orang yang le-

wat di jalan merampoknya (ay. 42) dan menjadikannya sebagai 

mangsa yang empuk (80:13-14). Musuh-musuhnya berbicara 

dengan kurang ajar: Ia menjadi cela bagi tetangganya, yang 

bersorak-sorai atas kejatuhannya dari kehormatan yang dulu 

begitu besar. Bahkan, setiap musuhnya membantu menda-

tangkan malapetaka itu (ay. 43): “Engkau telah meninggikan 

tangan kanan para lawannya, tidak saja memberi mereka 

kuasa, namun  juga mencondongkan mereka untuk mengerah-

kan kekuatan mereka melawannya.” Jika musuh-musuh 

jemaat mengangkat tangan mereka melawannya, kita harus 

melihat bahwa Tuhan  -lah yang meninggikan tangan mereka. 

Sebab mereka tidak akan mempunyai kuasa jikalau kuasa itu 

tidak diberikan kepada mereka dari atas. namun , jika  Tuhan   

memperbolehkan mereka untuk berbuat jahat terhadap je-

maat-Nya, hal itu membuat mereka senang: “Engkau telah 

membuat semua musuhnya bersukacita. Ini demi kemuliaan-

Mu, bahwa orang-orang yang membenci-Mu sampai menda-

patkan kesenangan untuk melihat air mata dan kesengsaraan 

orang-orang yang mengasihi-Mu.”  

4. Keluarga itu tidak dapat menolong dirinya sendiri (ay. 44): 

“Kaubalikkan mata pedangnya, dan membuatnya tumpul, 

sehingga ia tidak dapat membunuh seperti yang selama ini 

dapat dilakukannya. Yang lebih buruk, telah Kaubalikkan juga 

mata rohnya, dan mengikis keberaniannya, dan tidak membuat 

dia dapat bertahan, seperti yang dulu bisa diperbuatnya, da-

lam peperangan.” Roh manusia menjadi sesuatu yang sesuai 

dengan apa yang telah dijadikan Bapa sebagai Pencipta roh-

roh. Kita juga tidak dapat bertahan dengan kekuatan atau te-

kad apa pun secara lebih jauh dibandingkan  apa yang diperkenan-

kan Tuhan   dalam menopang kita. Jika hati manusia membuat 

mereka berkecil hati, maka Tuhan  -lah yang mengecilkan roh 

mereka. namun  sungguh menyedihkan bila di dalam jemaat, 

orang-orang yang seharusnya berdiri membelanya tidak dapat 

bertahan.  

5.  Keluarganya berada di tepi kehancuran yang memalukan (ay. 

46): Kaupendekkan masa mudanya. Masa mudanya akan 

segera putus, seperti seorang pemuda dalam usianya yang 

tengah bersemi. Ini tampak menunjukkan bahwa mazmur ini 

ditulis pada masa Rehabeam, saat  keluarga Daud masih 

berada pada tahap masa mudanya, namun sudah menua dan 

mulai keropos. Demikianlah keluarga itu diliputi dengan aib, 

dan sungguh menjadi penghinaan baginya bahwa keluarga 

yang pada masa kekuasaannya yang pertama dan kedua tam-

pak begitu hebat dan menjadi begitu tersohor, namun pada 

masa kekuasaan yang ketiga menjadi redup dan tampak 

begitu kecil, seperti yang terjadi pada keluarga Daud di masa 

Rehabeam. namun  ini dapat diterapkan pada masa pembuang-

an di Babel, yang jika dibandingkan dengan apa yang sudah 

diharapkan, hanyalah merupakan masa muda kerajaan itu. 

Namun demikian, raja-raja pada masa itu secara luar biasa 

diperpendek masa muda mereka, sebab pada masa muda 

merekalah, saat  mereka berumur sekitar tiga puluh tahun, 

Yoyakhin dan Zedekia dibawa ke Babel sebagai tawanan.  

Dari semua keluhan ini marilah kita belajar,  

1. Apa akibat yang dibuat oleh dosa terhadap keluarga-keluarga, 

terhadap keluarga-keluarga kerajaan, terhadap keluarga-keluar-

ga yang di dalamnya agama telah menjadi hal yang utama. Ke-

tika keturunannya merosot, maka ia jatuh ke dalam penghina-

an, dan pelanggaran menodai kemuliaannya.  

2. Betapa kita cenderung menempatkan kehormatan dan keba-

hagiaan yang dijanjikan Tuhan   kepada jemaat dalam bentuk 

ukuran lahiriah. Akibatnya kita cenderung berpikir bahwa jan-

ji itu dibatalkan, dan kovenan itu tidak berlaku lagi, jika kita 

dikecewakan dalam hal yang lahiriah itu. Ini suatu kesalahan 

yang tidak dapat dimaafkan jika kita jatuh ke dalamnya, 

 sebab  Guru kita sudah dengan begitu jelas memberi tahu kita 

bahwa kerajaan-Nya bukanlah dari dunia ini.  

II. Sebuah pertanyaan yang sangat menyedihkan yang ditujukan ke-

pada Tuhan   mengenai hal ini. Empat hal yang mereka serukan 

kepada Tuhan   untuk meminta belas kasihan-Nya:  

1.  Berlarut-larutnya permasalahan itu (ay. 47): Berapa lama lagi, 

ya TUHAN, Engkau bersembunyi terus-menerus? Apa yang mem-

buat mereka teramat sangat bersedih hati yaitu  bahwa Tuhan   

sendiri, sebagai pihak yang tidak berkenan, tidak tampil bagi 

mereka melalui nabi-nabi-Nya untuk menghibur mereka. Ia 

tidak tampil bagi mereka melalui pemeliharaan-pemeliharaan-

Nya untuk melepaskan mereka, dan ia telah lama membiarkan 

mereka dalam kegelapan. Terasa seperti malam yang tiada 

berujung bila Tuhan   telah menarik diri: Engkau bersembunyi 

terus-menerus. Bahkan, Tuhan   tidak saja menyembunyikan diri-

Nya dari mereka, namun  juga tampak membuat diri-Nya mela-

wan mereka: “Akankah murka-Mu berkobar-kobar laksana api? 

Berapa lamakah murka-Mu akan berkobar-kobar? Akankah ia 

padam? Apakah neraka itu, selain bahwa murka Tuhan   berko-

bar-kobar untuk selama-lamanya? Dan itukah bagian yang 

Kautetapkan bagi orang yang Kauurapi?”  

2. Singkatnya hidup, dan pastinya kematian: “Tuhan, kiranya 

Engkau menghentikan murka-Mu, dan kembalilah Engkau da-

lam belas kasihan-Mu kepada kami. Ingatlah betapa singkat-

nya waktuku dan betapa pastinya akhir hidupku. Tuhan, 

 sebab  hidupku begitu fana, dan sebentar lagi akan berakhir, 

janganlah biarkan hidupku selalu sengsara, supaya jangan 

sampai aku lebih memilih untuk tidak ada sama sekali dari-

pada ada namun  hidup seperti ini.” Ayub pun pernah berseru 

demikian (Ayb. 10:20-21). Ada kemungkinan bahwa si pemaz

mur di sini mengajukannya atas nama keluarga Daud, dan 

atas nama raja yang memerintah pada saat ini dari keluarga 

itu, yang masa mudanya diperpendek (ay. 46).  

(1) Ia menyerukan betapa pendek dan sia-sianya hidup (ay. 

48): Ingatlah apa umur hidup itu, betapa fananya aku (me-

nurut sebagian orang), dan oleh sebab itu tidak mampu 

menanggung kuasa murka-Mu.  sebab  itu aku yaitu  

orang yang pantas Kaukasihani. Mengapakah Engkau men-

ciptakan semua manusia dalam kesia-siaan? Atau, betapa 

sia-sianya Kauciptakan semua anak Adam! Nah, ini dapat 

dipahami entah,  

[1] Sebagai sesuatu yang menyatakan sebuah kebenaran 

agung. Jika kasih setia yang dulu yang sudah dicerita-

kan itu (ay. 50) kini dilupakan (yaitu kasih setia yang 

berhubungan dengan kehidupan lain), maka memang 

sia-sia saja manusia diciptakan. Dengan menimbang 

manusia sebagai makhluk fana, maka seandainya tidak 

ada masa depan di seberang alam maut sana, sudah 

sewajarnyalah kita berpikir bahwa manusia diciptakan 

dengan sia-sia, dan sia-sia saja ia dikaruniai dengan ke-

kuatan-kekuatan yang mulia dan kemampuan-kemam-

puan akal budi, dan dipenuhi dengan berbagai macam 

rancangan serta keinginan yang begitu luas. namun  

Tuhan   tidaklah menciptakan manusia dengan sia-sia. Oleh 

 sebab  itu, Tuhan, ingatlah akan semua kasih setia itu. 

Atau,  

[2] Sebagai sesuatu yang menyiratkan sebuah godaan kuat 

yang tengah melanda si pemazmur. Sudah pasti bahwa 

Tuhan   tidak menciptakan semua manusia, atau manusia 

mana pun, dengan sia-sia (Yes. 45:18). Sebab, Pertama, 

jika kita berpikir bahwa Tuhan   telah menciptakan manu-

sia dengan sia-sia  sebab  begitu banyak orang yang 

berumur pendek dan menderita lama di dunia ini, maka 

memang benar bahwa Tuhan   telah membuat mereka de-

mikian, namun  tidaklah benar bahwa oleh sebab itu me-

reka diciptakan dengan sia-sia. Sebab orang-orang yang 

umurnya pendek dan dipenuhi dengan permasalahan 

tetap bisa memuliakan Tuhan   dan melakukan kebaikan. 

Mereka masih bisa menjaga persekutuan mereka de-

ngan Tuhan   dan masuk sorga. Jadi tidak sia-sialah mere-

ka diciptakan. Kedua, jika kita berpikir bahwa Tuhan   

telah menciptakan manusia dengan sia-sia  sebab  seba-

gian besar dari mereka tidak mengabdi kepada-Nya atau 

mendapatkan kepuasan di dalam Dia, maka memang 

benar bahwa, dalam kaitannya dengan diri mereka sen-

diri, mereka diciptakan dengan sia-sia, dan lebih baik 

bagi mereka untuk tidak dilahirkan sama sekali dari-

pada tidak dilahirkan baru. namun , bukan  sebab  kesa-

lahan Tuhan  -lah mereka diciptakan sia-sia, melainkan 

 sebab  kesalahan mereka sendiri. Juga, mereka tidak 

diciptakan dengan sia-sia dalam kaitannya dengan Dia, 

sebab Dia telah membuat segala sesuatu untuk tujuan-

nya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya un-

tuk hari malapetaka, dan di antara orang-orang yang 

tidak memuliakan-Nya, Dia akan dipermuliakan.      

(2) Ia menyerukan masalah kematian yang ada di mana-mana 

dan tidak dapat dihindari (ay. 49): “Siapakah orang” (siapa-

kah orang kuat, sesuai dengan arti katanya) “yang hidup 

dan yang tidak mengalami kematian? Raja sendiri, yang 

berasal dari keluarga Daud, tidak luput dari hukuman, dari 

hantaman. Tuhan,  sebab  ia sudah pasti akan mati, ja-

nganlah biarkan seluruh hidupnya menjadi sedemikian 

sengsara. Dapatkah ia meluputkan nyawanya dari kuasa 

dunia orang mati? Tidak, ia tidak bisa melakukannya apa-

bila waktunya tiba. Oleh sebab itu, janganlah biarkan ia 

jatuh ke dalam dunia orang mati  sebab  kesengsaraan-

kesengsaraan hidup yang susah, sampai waktunya tiba.” 

Kita harus belajar dari sini bahwa kematian yaitu  akhir 

bagi semua orang. Mata kita pasti akan terpejam untuk 

melihat kematian. Tak seorang pun bisa terlepas dari pepe-

rangan itu, dan juga tidak akan ada jaminan yang dapat 

menyelamatkan kita dari penjara alam kubur. Oleh sebab 

itu, sudah menjadi kepentingan kitalah untuk memastikan 

bagi diri kita untuk memperoleh kebahagiaan di seberang 

alam maut dan kubur, sehingga, jika tidak ada lagi yang 

dapat menolong kita, kita boleh diterima di dalam kemah 

abadi.   

3.  Seruan berikutnya menggambarkan kebaikan yang disediakan 

Tuhan   bagi, dan kovenan yang dibuat-Nya dengan, hamba-Nya 

Daud (ay. 50): “Di manakah kasih setia-Mu yang mula-mula, ya 

Tuhan, yang telah Engkau tunjukkan, bahkan, yang telah Kau-

janjikan dengan sumpah kepada Daud demi kesetiaan-Mu? 

Akankah Engkau gagal menepati apa yang sudah Engkau jan-

jikan? Akankah Engkau menarik kembali apa yang sudah 

Engkau perbuat? Bukankah Engkau tetap sama? Jika demi-

kian, mengapakah kami tidak boleh mendapatkan keuntungan 

dari kasih setia yang teguh yang Kaujanjikan kepada Daud?” 

Ketidak-berubahan dan kesetiaan Tuhan   meyakinkan kita bah-

wa Tuhan   tidak akan membuang orang-orang yang telah dipilih-

Nya dan yang terikat kovenan dengan-Nya. 

4.  Seruan yang terakhir menggambarkan kekurangajaran mu-

suh-musuhnya dan penghinaan yang mereka perbuat terha-

dap orang yang diurapi Tuhan   (ay. 51-52): “Ingatlah cela hamba-

Mu, ya Tuhan, dan biarlah cela itu menjauh dari kami dan ber-

balik menimpa musuh-musuh kami.”  

(1) Mereka itu hamba-hamba Tuhan   yang dicela, dan segala 

pelecehan yang diperbuat terhadap mereka dipantulkan 

kepada Tuan mereka. Terutama, mereka dicela oleh  sebab  

pengabdian mereka kepada-Nya.  

(2) Penghinaan yang ditujukan kepada hamba-hamba Tuhan   

merupakan beban yang teramat berat bagi semua orang 

yang peduli dengan kehormatan Tuhan  : “Dalam dadaku aku 

menanggung penghinaan segala bangsa, dan aku bahkan 

kewalahan menanggungnya. Aku begitu peduli terhadap 

permasalahan ini dan aku nyaris tak berdaya menopang 

rohku dengan menanggung bebannya.” 

(3) “Musuh-musuh-Mulah yang menghina kami sedemikian 

rupa. Akankah Engkau tidak bangkit melawan mereka itu?”  

(4) Mereka mencela jejak langkah orang yang Kauurapi. Mereka 

menghina semua jejak langkah yang telah diambil raja 

dalam menjalankan pemerintahannya, melacaknya dalam 

segala tindak tanduknya, supaya mereka dapat melontar-

kan ucapan-ucapan yang menyakitkan tentang segala hal 

yang telah diucapkan dan diperbuatnya. Atau, jika kita 

bisa menerapkannya kepada Kristus, Mesias Tuhan, mere-

ka menghina orang-orang Yahudi  sebab  jejak langkah-

Nya,  sebab  kedatangan-Nya yang lamban. Mereka meng-

olok-olok kedatangan Mesias yang tertunda, begitu menu-

rut Dr. Hammond. Mereka menyebut-Nya, Dia yang akan 

datang. namun ,  sebab  Dia belum datang,  sebab  Dia tidak 

datang sekarang untuk melepaskan mereka dari tangan 

musuh-musuh mereka, padahal mereka tidak mempunyai 

siapa-siapa untuk membebaskan mereka, maka mereka 

berkata bahwa Ia tidak akan pernah datang, jadi mereka 

harus berhenti menantikan-Nya. Pengejek-pengejek di za-

man akhir pun menghina, dengan cara serupa, jejak lang-

kah Mesias saat  mereka bertanya, “Di manakah janji ten-

tang kedatangan-Nya itu?” (2Ptr. 3:3-4). Menurut sebagian 

orang, penghinaan terhadap jejak langkah orang yang di-

urapi ini merujuk pada perbuatan ular yang meremukkan 

tumit keturunan wanita, atau pada penderitaan-penderitaan 

para pengikut Kristus, yang mengikuti jejak langkah-Nya 

dan dicemooh  sebab  nama-Nya.   

III. Mazmur ini diakhiri dengan pujian, bahkan sesudah  keluhan yang 

menyedihkan ini (ay. 53): Terpujilah TUHAN untuk selama-lama-

nya! Amin, ya amin. Demikianlah ia menantang penghinaan-peng-

hinaan para musuhnya. Semakin orang lain menghujat Tuhan  , 

semakin kita harus memuji-Nya. Demikianlah ia meralat keluhan-

keluhannya sendiri, menegur dirinya sendiri  sebab  sudah ber-

bantah dengan Tuhan   atas tindak-tindakan pemeliharaan-Nya dan 

mempertanyakan janji-janji-Nya. Kiranya kedua hasrat yang ber-

dosa ini disumbat dengan puji-pujian kepada Tuhan  . Bagaimana-

pun keadaannya, Tuhan   itu baik, dan janganlah kita memikirkan 

hal-hal yang keras tentang Dia. Tuhan   itu benar, dan kita tidak 

akan pernah meragukan-Nya. Meskipun kemuliaan keluarga 

Daud telah ternoda dan tercemar, inilah yang akan menjadi peng-

hiburan bagi kita, bahwa Tuhan   terpuji sampai selama-lamanya, 

dan kemuliaan-Nya tidak akan pernah pudar. Jika kita ingin men-

dapatkan penghiburan dari tetap berlakunya janji Tuhan  , maka 

kita harus memberi-Nya puji-pujian untuk itu. Dengan memuji 

Tuhan  , kita membesarkan hati kita sendiri. Di sini ada  kata 

Amin yang diucapkan sebanyak dua kali, sesuai dengan arti gan-

da yang dimilikinya. Amin – begitulah adanya, Tuhan   dipuji sampai 

selama-lamanya. Dan Amin – jadilah demikian, kiranya Tuhan   di-

puji sampai selama-lamanya. Ia memulai mazmur ini dengan 

ucapan syukur sebelum mengutarakan keluhannya (ay. 2), dan 

sekarang ia menutupnya dengan kidung pujian. Orang-orang yang 

mengucap syukur kepada Tuhan   atas apa yang telah diperbuat-

Nya, dapat mengucap syukur juga kepada-Nya atas apa yang 

akan diperbuat-Nya. Tuhan   akan mengikuti orang-orang dengan 

belas kasihan-Nya jika mereka, dengan cara yang benar, meng-

ikuti-Nya dengan puji-pujian mereka.  

 

  

PASAL  90  

rang percaya bahwa Mazmur sebelum ini ditulis paling lambat 

pada masa pembuangan di Babel. namun  mazmur yang ini jelas 

ditulis paling cepat pada masa orang Israel dibebaskan dari Mesir. 

Walaupun demikian, kedua mazmur ini  diletakkan berdekatan 

dalam kumpulan lagu-lagu rohani ini. Mazmur ini ditulis oleh Musa 

(seperti yang tampak pada judulnya), pengarang paling awal semasa 

zaman dahulu kala dalam bidang tulisan suci. Kita memiliki catatan 

perihal nyanyian pujian Musa (Kel. 15, yang disinggung dalam Why. 

15:3), dan juga nyanyian berisi pengajaran darinya dalam Ulangan 

32. Namun, nyanyian dalam Kitab Keluaran ini  berbeda dengan 

kedua mazmur yang disebutkan di atas,  sebab  nyanyian dalam 

Kitab Keluaran ini disebut sebagai doa. Orang percaya bahwa Maz-

mur pasal 90 ini ditulis pada waktu hukuman dijatuhkan ke atas 

orang Israel di padang gurun  sebab  ketidakpercayaan, keluh kesah, 

dan pemberontakan mereka. Hukuman itu yaitu  bahwa mayat 

mereka akan bergelimpangan di padang gurun, bahwa mereka akan 

musnah oleh sejumlah penderitaan selama kurun waktu tiga puluh 

delapan tahun, dan bahwa tak seorang pun dari mereka yang saat  

itu sudah dewasa akan masuk ke Kanaan. Hal ini diperhitungkan 

selama pengembaraan mereka di padang gurun, sama seperti dalam 

nyanyian lain Musa (Ul. 31:19, 21), yang menyebutkan bahwa mereka 

akan menetap di Kanaan. Ada juga cerita dalam Bilangan 14 yang 

tampaknya dimaksudkan dalam mazmur ini. Boleh jadi Musa menu-

lis doa ini untuk digunakan setiap hari selama masa-masa di padang 

belantara yang penat dan melelahkan itu, baik oleh umat Israel 

dalam tenda mereka, atau setidaknya oleh para imam saat melayani 

di kemah suci. Di dalamnya, 

I.   Musa menghibur diri sendiri dan umatnya dengan kenyataan 

akan kekekalan Tuhan   dan bagian mereka di dalam Dia (ay. 1-

2). 

II. Ia merendahkan diri dan umatnya dengan menimbang-nim-

bang kelemahan manusia (ay. 3-6). 

III. Ia dan umatnya tunduk pada hukuman yang adil yang dija-

tuhkan Tuhan   ke atas mereka (ay. 7-11). 

IV. Ia dan umatnya berserah diri kepada Tuhan   melalui doa me-

mohon belas kasihan dan anugerah ilahi, serta kembalinya 

perkenan Tuhan   (ay. 12-17).  

Walaupun tampaknya ditulis khusus atas dasar kejadian terse-

but, namun mazmur ini juga dapat diterapkan untuk merujuk pada 

kelemahan manusia secara umum. Dengan menyanyikannya, kita 

dapat dengan mudah menerapkannya kepada masa pengembaraan 

kita melintasi padang gurun dunia ini. Mazmur ini juga melengkapi 

kita dengan renungan dan doa-doa yang sangat sesuai bagi upacara 

kematian yang khidmat. 

Perhatian Tuhan   terhadap Umat-Nya; 

Kelemahan Hidup Manusia  

(90:1-6) 

Doa Musa, abdi Tuhan  . 1 Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-

temurun. 2 Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diper-

anakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah 

Tuhan  . 3 Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kem-

balilah, hai anak-anak manusia!” 4 Sebab di mata-Mu seribu tahun sama 

seperti hari kemarin, jika  berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu 

malam. 5 Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti 

rumput yang bertumbuh, 6 di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di 

waktu petang lisut dan layu. 

Mazmur ini berjudul Doa Musa. Tidak jelas di mana dan di kitab apa 

doa ini disimpan sejak masa kehidupan Musa hingga masa saat  

kumpulan mazmur mulai dibuat. Namun,  sebab  diilhami secara 

ilahi, mazmur ini dilindungi secara istimewa. Boleh jadi mazmur ini 

ditulis dalam artikel  Yasar atau artikel  perihal peperangan Tuhan. 

Musa mengajar umat Israel berdoa, dan memberi  perkataan-per-

kataan kepada mereka supaya dapat mereka pakai saat  berpaling 

kepada Tuhan. Di sini Musa disebut abdi Tuhan  ,  sebab  ia seorang 

nabi, bapa para nabi, dan pelambang yang luar biasa akan nabi yang 

agung. Di dalam ayat-ayat ini kita diajar, 

I.  Untuk memuji Tuhan   atas perhatian-Nya terhadap umat-Nya se-

panjang waktu, dan terhadap kita semasa hidup kita (ay. 1): 

Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami, atau tempat tinggal, 

tempat perlindungan, atau pertolongan turun-temurun. Sekarang, 

saat  perbuatan mereka membuat Tuhan   tidak senang dan meng-

ancam untuk meninggalkan mereka, mereka pun memohon ke-

baikan yang dulu pernah ditunjukkan-Nya kepada nenek moyang 

mereka. Bagi para bapa leluhur mereka yang tinggal di dalam 

kemah suci, Kanaan merupakan negeri ziarah. Namun, saat  itu 

mereka tinggal bersama Tuhan  . Ke mana pun mereka pergi, mereka 

merasa nyaman dan tenteram di dalam Dia. Selama bertahun-

tahun Mesir merupakan negeri perhambaan bagi mereka. Namun, 

bahkan di masa itu pun Tuhan   yaitu  tempat perlindungan mere-

ka. di dalam Dia, umat yang tertindas dan malang itu tetap hidup 

dan terpelihara. Perhatikanlah, orang-orang percaya sejati merasa 

seperti di rumah sendiri saat berada di dalam Tuhan  . Itulah peng-

hiburan mereka berkenaan dengan semua kerja keras dan pen-

deritaan yang mereka alami di dunia ini. Di dalam Dia kita dapat 

beristirahat dan berlindung, seperti di dalam tempat tinggal kita 

sendiri. 

II. Untuk memberi  kemuliaan kepada Tuhan   perihal kekekalan-

Nya (ay. 2): Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum Ia mem-

buat debu dataran yang pertama (sebagaimana yang disebutkan 

dalam Ams. 8:26), sebelum bumi dilahirkan, atau seperti yang 

bisa kita baca, sebelum bumi dan dunia diperanakkan (artinya, 

sebelum permulaan zaman) Engkau telah ada. Bahkan dari sela-

ma-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Tuhan  , Tuhan   yang 

kekal, yang keberadaan-Nya tanpa awal ataupun masa waktu 

tertentu, dan tidak diukur dengan rangkaian serta perputaran 

waktu, namun  yang tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan 

sampai selama-lamanya, tanpa awal hari-hari, ataupun akhir ke-

hidupan, atau perubahan waktu. Perhatikanlah, meskipun meng-

alami kesusahan yang timbul  sebab  kefanaan kita sendiri dan 

juga teman-teman kita, kita boleh mengharapkan penghiburan 

dari ketidakfanaan Tuhan  . Kita yaitu  makhluk-makhluk fana, 

dan semua kesenangan kita di dunia yaitu  kesenangan yang 

fana juga. namun , Tuhan   yaitu  Tuhan   yang hidup selamanya, dan 

orang-orang yang memiliki Dia akan membuktikannya sendiri. 

III. Untuk mengakui kekuasaan tertinggi Tuhan   atas manusia, dan 

kuasa-Nya yang tidak tertahankan dan tidak perlu diragukan lagi, 

yang dapat dipergunakan-Nya sesuai kehendak-Nya (ay. 3): Eng-

kau mengembalikan manusia kepada debu, dengan satu perkata-

an, kapan pun menghendakinya, Engkau menghancurkan tubuh-

nya, atau kemah tempat kediamannya di bumi. Dan Engkau ber-

kata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”  

1. saat  Tuhan  , melalui penyakit ataupun penderitaan lain, me-

ngembalikan manusia kepada debu, maka Ia juga memanggil 

manusia untuk kembali kepada-Nya. Yaitu, bertobat dari dosa-

dosa mereka dan menjalani hidup baru. Tuhan   ini pula yang 

berfirman dengan satu dua cara. “Kembalilah engkau kepada-

Ku, dari siapa engkau memberontak” (Yer. 4:1). 

2. saat  Tuhan   mengancam untuk mengembalikan manusia ke-

pada debu, membawa mereka kepada maut, dan mereka telah 

menerima hukuman mati dalam diri mereka sendiri, adakala-

nya Ia memulihkan mereka dengan cara luar biasa, dan ber-

kata, Kembalilah kepada kehidupan dan kesehatan lagi. Tuhan   

sanggup mencabut nyawa dan menghidupkan kembali, mem-

bawa seseorang turun ke kubur dan membangkitkannya kem-

bali. 

3.  saat  Tuhan   mengembalikan manusia kepada debu, ini sesuai 

dengan perkataan yang disampaikan secara umum kepada 

semua orang. “Kembalilah, hai anak-anak manusia, satu per 

satu, kembalilah engkau kepada asal mulamu. Biarlah tubuh 

kembali ke bumi seperti semula (debu kembali menjadi debu, 

Kej. 3:19) dan biarlah jiwa manusia kembali kepada Tuhan   yang 

mengaruniakannya” (Pkh. 12:7). 

4. Meskipun Tuhan   mengembalikan semua orang kepada debu, Ia 

akan berkata lagi, Kembalilah, hai anak-anak manusia, pada 

hari kebangkitan, saat  orang yang sudah mati pun akan 

hidup kembali. Maka “Engkau akan memanggil, dan aku pun 

akan menyahut (Ayb. 14:14-15). Engkau akan memanggilku 

kembali, dan aku akan kembali.” Tubuh dan jiwa akan kem-

bali dan dipersatukan lagi. 

IV. Untuk mengakui ketidakseimbangan tak terhingga yang ada di 

antara Tuhan   dan manusia (ay. 4). Beberapa dari bapa leluhur kita 

hidup sampai hampir seribu tahun. Musa tahu betul mengenai 

hal ini dan ia telah mencatatnya. namun  apa artinya umur mereka 

yang panjang itu dibanding kehidupan kekal Tuhan  ? “Seribu tahun 

bagi kami yaitu  masa yang panjang, yang tidak bisa kami harap-

kan untuk bisa terus bertahan hidup. Atau kalaupun kami bisa, 

kami tidak akan mampu mengingatnya. Namun, di mata-Mu, 

seribu tahun seperti hari kemarin, seperti satu hari, yang masih 

segar di ingatan. Bahkan sama seperti giliran jaga di waktu ma-

lam,” yang hanya tiga jam lamanya. 

1.  Bagi kekekalan Tuhan  , seribu tahun tidak ada artinya. Seribu 

tahun lebih singkat dibandingkan  satu hari atau bahkan satu jam. 

Di antara satu menit dan sejuta tahun ada  perbandingan, 

namun  di antara waktu dan kekekalan tidak ada perbandingan 

apa pun. Umur panjang para bapa leluhur tidak ada artinya 

bagi Tuhan  . Umur panjang mereka itu tidak ada bedanya de-

ngan hidup seorang anak (yang lahir dan mati pada hari yang 

sama). 

2.  Bagi Sang Akal Budi Yang Kekal, semua kejadian dalam kurun 

waktu seribu tahun, baik yang sudah lalu maupun yang akan 

datang, sama seperti baru terjadi kemarin atau satu jam yang 

lalu bagi kita. Pada hari yang agung itu Tuhan   akan berkata 

kepada orang-orang yang telah dikembalikan-Nya kepada 

debu, “Kembalilah – Bangunlah dari kematian.” Boleh-boleh 

saja ada orang yang membantah pengajaran tentang kebang-

kitan itu, bahwa sudah sejak lama saat itu dinantikan namun  

tidak kunjung tiba juga. Namun, janganlah hal ini membuat 

kita risau,  sebab  di mata Tuhan  , seribu tahun sama dengan 

satu hari. Nullum tempus occurit regi – Bagi sang raja, semua 

kurun waktu sama saja. Sesuai dengan pokok inilah kata-kata 

itu dikutip dalam 2 Petrus 3:8. 

V.  Untuk melihat kelemahan manusia dan kesia-siaannya bahkan di 

tengah puncak kejayaan mereka (ay. 5-6): pandanglah semua 

anak manusia dan kita akan melihat, 

1.  Bahwa kehidupan mereka yaitu  kehidupan yang fana: Eng-

kau menghanyutkan manusia, artinya, mereka terus terhanyut 

mengikuti arus waktu menuju lautan kekal. Air bah itu terus 

mengalir, dan mereka terhanyut bersamanya. Begitu dilahir-

kan, kita mulai menuju kematian, dan setiap hari dalam hidup 

ini membawa kita semakin dekat kepada kematian. Atau, kita 

terbawa arus dengan deras dan tak terbendung, seperti oleh 

arus air bah, atau banjir yang menyeret segala sesuatu yang 

menghalanginya. Seperti dunia lama tersapu air bah di zaman 

Nuh. Meskipun Tuhan   telah berjanji untuk tidak menenggelam-

kan bumi lagi, kematian tetap merupakan air bah yang terus 

menanti. 

2. Bahwa kehidupan mereka bagaikan mimpi. Manusia seakan 

terseret air bah, namun  meskipun demikian, mereka seperti 

mimpi. Mereka tidak memperhitungkan kelemahan diri sendiri 

ataupun menyadari betapa dekatnya mereka dengan kekekal-

an yang mengerikan. Seperti orang yang terlelap, mereka mem-

bayangkan hal-hal yang besar, sampai maut membangunkan 

mereka dan mengakhiri mimpi indah itu. Waktu terus berjalan 

tanpa kita sadari, sama seperti yang terjadi pada orang yang 

sedang tidur. saat  mimpi itu berakhir, tidak ada lagi yang 

tersisa. 

3.  Bahwa kehidupan mereka singkat dan bersifat sementara be-

laka, sama seperti rumput yang bertumbuh dan berkembang. 

Di pagi hari rumput itu tampak hijau dan menyenangkan, te-

tapi di petang hari rumput itu dipangkas dan langsung layu, 

berubah warna, dan kehilangan keindahannya. Maut akan meng-

ubah kita dalam waktu singkat, mungkin juga dengan tiba-tiba. 

Besar kemungkinan maut akan menjelang dalam sekejap. Dalam 

puncak kehidupannya, manusia berkembang bak rumput yang 

sebenarnya lemah, rendah, rapuh, dan tidak terlindung. Keti-

ka usia lanjut tiba bak musim dingin, ia akan layu dengan 

sendirinya. Namun, kita juga bisa ditebas oleh penyakit atau 

bencana, sama seperti rumput di tengah musim panas. Semua 

yang hidup yaitu  seperti rumput. 

Ketaatan Penuh Penyesalan 

(90:7-11) 

7 Sungguh, kami habis lenyap  sebab  murka-Mu, dan  sebab  kehangatan 

amarah-Mu kami terkejut. 8 Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-

Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu. 9 Sungguh, 

segala hari kami berlalu  sebab  gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun 

kami seperti keluh. 10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami 

kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya yaitu  kesukaran dan pen-

deritaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. 11 Siapa-

kah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu? 

Di dalam ayat-ayat sebelum ini, Musa meratapi kelemahan kehidup-

an manusia secara umum. Anak-anak manusia seperti mimpi dan se-

perti rumput. Namun, di sini ia mengajar umat Israel untuk menerima 

hukuman mati yang memang pantas dijatuhkan ke atas mereka 

 sebab  dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Bagian mereka dalam 

kefanaan belumlah cukup. Mereka juga harus hidup dan mati di 

bawah tanda khusus yang menyatakan ketidaksenangan Tuhan  . Di 

sini mereka berbicara tentang diri sendiri: Kami orang Israel habis 

lenyap dan terkejut, dan segala hari kami berlalu.  

I.  Di sini mereka diajar untuk mengakui murka Tuhan   sebagai penye-

bab semua kesengsaraan mereka. Kami habis lenyap, terkejut, dan 

ini yaitu  akibat dari murka-Mu dan kehangatan amarah-Mu (ay. 

7). Segala hari kami berlalu  sebab  gemas-Mu (ay. 9). Penderitaan 

orang-orang kudus acap kali semata-mata berasal dari kasih 

Tuhan  , seperti yang dialami Ayub. Namun, teguran kepada orang-

orang berdosa dan orang-orang baik atas dosa-dosa mereka, 

harus dipandang sebagai datang dari murka Tuhan   yang memper-

hatikan dan sangat tidak suka kepada dosa-dosa orang Israel. 

Kita terlampau mudah memandang kematian sebagai sesuatu 

yang tidak lebih dibandingkan  utang kepada alam yang harus dilunasi. 

Padahal, sebenarnya bukan demikian halnya. Seandainya watak 

manusia tetap bertahan dalam kemurnian dan kebenaran, tidak 

akan ada utang semacam itu yang harus dilunasi. Ini yaitu  

utang kepada keadilan Tuhan  , utang kepada hukum. Dosa telah 

masuk ke dalam dunia, dan oleh dosa itu juga maut. Apakah kita 

habis lenyap  sebab  pembusukan alami,  sebab  kelemahan usia 

lanjut, atau  sebab  penyakit menahun? Kita harus menganggap-

nya sebagai berasal dari murka Tuhan  . Apakah kita disusahkan 

oleh serangan stroke yang tiba-tiba atau mengejutkan? Itu pun 

yaitu  buah dari murka Tuhan   yang diungkapkan dengan cara itu 

dari sorga  sebab  kefasikan dan kelaliman manusia. 

II. Mereka diajar untuk mengakui dosa-dosa mereka yang telah me-

micu murka Tuhan   atas mereka (ay. 8): Engkau menaruh kesalahan 

kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi. Bukannya 

tanpa alasan bila Tuhan   marah kepada mereka. Ia telah berkata, 

Janganlah kamu menimbulkan sakit hati-Ku, supaya jangan Aku 

mendatangkan malapetaka kepadamu, namun  mereka telah menya-

kiti hati-Nya. Mereka akan mengakui bahwa dengan menjatuhkan 

hukuman berat ini ke atas mereka, Ia telah menghukum mereka 

dengan adil, 

1.   sebab  dengan terang-terangan mereka menganggap rendah 

Dia dan berani menghina-Nya: Engkau menaruh kesalahan 

kami di hadapan-Mu. Dalam hal ini Tuhan   melihat ketidakper-

cayaan dan keluh kesah mereka, keraguan mereka terhadap 

kuasa-Nya, dan juga sikap memandang rendah negeri yang 

indah itu. Hal-hal inilah yang ditaruh-Nya di hadapan mereka 

pada waktu Ia menjatuhkan hukuman itu ke atas mereka. 

Hal-hal ini menyulut murka Tuhan   terhadap mereka dan mena-

han hal-hal yang baik dari mereka. 

2.  sebab  mereka semakin sering meninggalkan-Nya dengan 

diam-diam: “Engkau telah menaruh dosa kami yang tersembu-

nyi (dosa-dosa yang disimpan di dalam hati dan yang berada di 

dasar semua tindakan yang bermaksud jahat) dalam cahaya 

wajah-Mu. Artinya, Engkau telah membongkar dosa-dosa ini 

dan menyuruh kami mempertanggungjawabkan tindakan-tin-

dakan itu, serta menyebabkan kami melihat sebelum kami 

mengabaikannya.” Dosa-dosa yang tersembunyi terlihat oleh 

Tuhan   dan harus dipertanggungjawabkan. Orang-orang yang 

kembali ke Mesir dan mendirikan berhala di dalam hati akan 

diperlakukan seperti pemberontak atau penyembah berhala. 

Lihatlah kebodohan orang-orang yang berusaha menutupi 

dosa-dosa mereka, sebab mereka sebenarnya tidak dapat me-

nyembunyikannya. 

III. Mereka diajar untuk memandang diri sendiri sebagai orang yang 

fana dan akan berlalu, supaya tidak berpikir tentang umur pan-

jang atau hidup yang menyenangkan, sebab keputusan yang telah 

dibuat terhadap mereka tidak dapat diubah lagi (ay. 9): Segala 

hari kami berlalu  sebab  gemas-Mu di bawah tanda rasa geram-

Mu. Walaupun sisa hidup kami tidak dicabut sepenuhnya, kami

mungkin saja menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh. Wak-

tu tiga puluh delapan tahun sesudah itu, yang mereka lewatkan 

di padang gurun, bukan merupakan pokok sejarah suci,  sebab  

hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang dicatat perihal apa 

yang terjadi atas mereka mulai dari tahun kedua sampai tahun 

keempat puluh. sesudah  mereka keluar dari Mesir, seluruh waktu 

mereka terbuang dengan percuma, dan tidak layak dijadikan 

pokok sejarah, namun  hanya pantas dianggap keluh. Tahun-tahun 

yang mereka lewatkan di padang gurun itu hanya dianggap seba-

gai perintang waktu, sama seperti menceritakan kisah. Sepanjang 

waktu itu mereka habiskan begitu saja, dan sementara itu mun-

cullah generasi baru. Waktu mereka keluar dari Mesir, di antara 

suku-suku mereka tidak ada yang tergelincir (105:37). Namun, 

sekarang mereka tergelincir. Harapan mereka yang penuh suka-

cita tentang kehidupan makmur dan kegemilangan di Kanaan di-

ubah menjadi pengharapan menyedihkan tentang kematian me-

ngenaskan di padang gurun. Dengan demikian seluruh hidup 

mereka sekarang menjadi menyimpang, tidak bermakna seperti 

layaknya kisah di musim dingin. Hal itu dapat diterapkan kepada 

keadaan setiap kita yang sedang melintasi padang gurun dunia 

ini: Segala hari kami berlalu, kami menyudahinya tiap tahun dan 

akhirnya seluruhnya, seperti keluh – seperti embusan nafas kami 

di musim dingin (demikianlah yang dikatakan beberapa orang), 

yang segera lenyap seperti gagasan (demikianlah pendapat bebe-

rapa orang). Tidak ada yang lebih cepat – seperti perkataan, yang 

begitu diucapkan langsung lenyap tanpa bekas – atau seperti 

keluh. Habisnya tahun-tahun kita bagaikan menceritakan sebuah 

kisah. Satu tahun, bila sudah berlalu, bagaikan sebuah kisah 

yang telah diceritakan. Sebagian dari tahun-tahun kita bagaikan 

kisah yang menyenangkan. Sebagian lagi menyedihkan, sedang-

kan sebagian besar merupakan perpaduan dari keduanya. Na-

mun, semuanya singkat dan bersifat sementara saja: hal yang bu-

tuh waktu panjang untuk menyelesaikannya mungkin saja habis 

diceritakan dalam waktu singkat. Tahun-tahun kita, bila sudah 

berlalu, tidak dapat lebih diingat orang dibanding perkataan yang 

telah kita ucapkan. Kehilangan dan terbuangnya waktu kita yang 

merupakan kesalahan dan kebodohan kita, bisa dikeluhkan seba-

gai berikut: seharusnya kita melewatkan tahun-tahun kita bagai-

kan menyelesaikan urusan dengan hati-hati dan giat. Namun 

sayang sekali, kita malah menghabiskan waktu bagaikan menceri-

takan kisah dengan bermalas-malas nyaris tanpa tujuan, dengan 

gegabah dan tanpa kepedulian. Tiap tahun berlalu seperti keluh, 

namun  seberapa banyak jumlahnya? Sama seperti tahun-tahun itu 

berlalu dengan sia-sia, jumlahnya pun sedikit (ay. 10), paling ba-

nyak tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Ini dapat dipahami 

sebagai, 

1.  Kehidupan orang Israel di padang gurun. Semua orang yang 

telah dicatat pada waktu mereka keluar dari Mesir, berusia di 

atas dua puluh tahun, akan mati dalam kurun waktu tiga pu-

luh delapan tahun. Mereka hanya mencatat orang-orang yang 

sanggup berperang. Kita dapat beranggapan bahwa kebanyak-

an dari mereka berusia di antara dua puluh dan empat puluh 

tahun. Oleh sebab itu, mereka semua tentunya sudah mati 

sebelum mencapai usia delapan puluh tahun. Banyak lagi 

yang bahkan sudah mati sebelum mencapai usia enam puluh 

dan mungkin juga jauh lebih awal, usia yang jauh lebih 

singkat dibanding umur para leluhur mereka. Namun, mereka 

yang berhasil mencapai usia tujuh puluh atau delapan puluh 

tahun, akan habis lenyap dan tidak punya harapan untuk da-

pat mengatasi masa penuh kesusahan di padang gurun ini. 

Kekuatan dan hidup mereka hanya dihabiskan untuk mengha-

dapi kesukaran dan penderitaan, yang seharusnya dapat dija-

lani dalam kehidupan baru yang penuh sukacita di Kanaan. 

Lihatlah apa yang dikerjakan oleh dosa.  

2.  Kehidupan manusia secara umum, mulai sejak masa Musa. 

Sebelum masa kehidupan Musa, umur manusia biasa menca-

pai seratus atau hampir seratus lima puluh tahun. Namun, 

sesudah  itu, usia tujuh puluh atau delapan puluh merupakan 

batas umum yang hanya dicapai oleh sedikit orang. Banyak 

yang bahkan hanya mencapai usia jauh di bawah itu. Kita 

dapat beranggapan bahwa orang-orang yang mencapai usia 

tujuh puluh tahun telah mencapai batas umur orang dewasa 

dan telah meraih sebagian besar kehidupan sesuai harapan. 

Betapa singkatnya waktu ini bila dibandingkan dengan keke-

kalan! Musa yaitu  orang pertama yang menulis wahyu ilahi 

yang sebelum itu hanya diteruskan secara lisan menurut adat 

kebiasaan. Sekarang, baik dunia maupun gereja cukup penuh 

dengan manusia, dan oleh  sebab  itu manusia tidak memiliki 

alasan untuk hidup panjang seperti mereka dari zaman da-

hulu. Jika  sebab  faktor kesehatan dan tubuh yang kuat ada 

yang berhasil mencapai usia delapan puluh tahun, padahal 

kekuatan mereka tidak seberapa sehingga justru menyusah-

kan, sebenarnya tidak ada gunanya untuk memperpanjang 

kesengsaraan mereka dan membuat hidup mereka semakin 

membosankan.  sebab  bahkan kebanggaan mereka saat itu 

hanyalah berupa kesukaran dan penderitaan, ditambah lagi 

dengan kelemahan mereka, sebab tahun-tahun telah tiba bagi 

mereka di mana tidak ada lagi sukacita. Bisa juga dikatakan 

sebagai berikut: Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan masa 

hidup beberapa orang jika kuat, yaitu  delapan puluh tahun. 

namun  panjang hidup kita (demikianlah arti istilah “kuat” tadi), 

seluruhnya, mulai sejak lahir hingga usia lanjut, hanyalah 

kesukaran dan penderitaan. Dengan berpeluh kita memperoleh 

makanan. Seluruh hidup kita penuh dengan kerja keras dan 

kesukaran. Mungkin juga di tengah masa yang kita andalkan, 

masa itu justru berlalu buru-buru, dan kita melayang lenyap, 

tidak sampai menjalani separuhnya.  

IV. Melalui semua hal ini mereka diajar untuk menaruh hormat kepada 

murka Tuhan   (ay. 11): Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu? 

1. Tidak seorang pun dapat memahaminya dengan sempurna. 

Sang pemazmur berbicara sebagai orang yang takut akan mur-

ka Tuhan   dan takjub akan kedahsyatan kekuatannya. Siapa 

yang tahu sejauh apa kuasa murka Tuhan   dapat menjangkau 

dan separah apa luka yang bisa ditimbulkannya? Para malai-

kat yang berdosa tahu dari pengalaman seperti apa kekuatan 

murka Tuhan   itu. Orang-orang berdosa terkutuk yang ada di 

dalam neraka tahu itu. namun , siapa dari antara kita yang 

mampu mengerti dengan sepenuhnya atau melukiskannya? 

2. Hanya sedikit yang memikirkan hal ini dengan sungguh-sung-

guh sebagaimana mestinya. Siapakah yang mengenal kekuatan 

murka-Mu, untuk menambah pemahaman mengenai hal itu? 

Orang-orang yang menertawakan dosa dan meremehkan Kris-

tus, pasti tidak mengenal kekuatan murka Tuhan  . Sebab me-

ngenal kekuatan murka-Mu yaitu  takut kepada gemas-Mu. 

Murka Tuhan   setara dengan ketakutan terhadap apa yang bakal 

terjadi yang melanda orang-orang yang paling memikirkannya 

dengan sungguh-sungguh. Biarlah manusia merasa ketakutan 

terhadap murka Tuhan  , yang tidak akan lebih besar dibandingkan  

perkara itu sendiri dan sifatnya yang memang sudah sepantas-

nya. Tuhan   tidak menyebutkan murka-Nya sebagai sesuatu 

yang lebih dahsyat dibandingkan  sebenarnya. Bahkan lebih dari 

itu, apa yang dirasakan di alam lain, jauh lebih parah dari-

pada yang ditakutkan di dunia ini. Siapakah di antara kita 

yang dapat tinggal dalam api yang menghabiskan ini? 

Doa Memohon Belas Kasihan 

(90:12-17) 

12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh 

hati yang bijaksana. 13 Kembalilah, ya TUHAN – berapa lama lagi? – dan 

sayangilah hamba-hamba-Mu! 14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan 

kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-

hari kami. 15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau 

menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka. 16 

Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu 

kepada anak-anak mereka. 17 Kiranya kemurahan Tuhan, Tuhan   kami, atas 

kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, 

teguhkanlah itu. 

Inilah permohonan-permohonan dari doa ini yang beralaskan semua 

perenungan dan pengakuan sebelumnya. Kalau ada seorang yang 

menderita, baiklah ia belajar berdoa demikian. Di sini mereka ditun-

tun untuk mendoakan empat hal: 

I.  Untuk menggunakan dengan kudus takdir menyedihkan yang se-

karang harus mereka tanggung.  sebab  ditakdirkan untuk men-

jalani hidup yang singkat, “Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-

hari kami sedemikian (ay. 12). Tuhan, berilah kami anugerah 

sepantasnya untuk dapat mengingat betapa sedikitnya hari-hari 

itu, dan betapa singkatnya hidup yang kami jalani di dunia ini.” 

Perhatikanlah: 

1.  Sungguh merupakan keahlian yang luar biasa untuk dapat 

mengingat hari-hari kita dengan benar sehingga tidak keliru 

menghitung seperti orang yang menyangka masih akan ber-

umur panjang namun  malam itu juga nyawanya diambil. Kita 

harus senantiasa menjalani kehidupan dengan memperhitung-

kan betapa singkat dan tidak pastinya hidup ini, serta betapa

 semakin dekatnya kematian dan kekekalan. Kita juga harus 

menghitung hari-hari kita untuk dibandingkan dengan peker-

jaan yang telah kita lakukan, memperhatikannya dengan kete-

kunan yang ditingkatkan seperti orang yang tidak punya wak-

tu lagi untuk bermalas-malasan. 

2.  Orang-orang yang mampu menghitungnya harus berdoa untuk 

memperoleh pengajaran ilahi. Mereka harus datang kepada 

Tuhan   dan memohon kepada-Nya untuk mengajarkannya mela-

lui Roh-Nya, memampukan mereka untuk mengingatnya, dan 

memberi mereka pemahaman yang baik. 

3.  Kita telah menghitung hari-hari kita demi tujuan yang baik 

jika  hati kita kemudian tertuju dan terlibat dengan hikmat 

sejati, yakni menjalani kesalehan dengan sungguh. Hidup ber-

agama berarti hidup dengan bijaksana. Ini yaitu  hal yang 

perlu kita terapkan di dalam hati, yang membutuhkan dan 

layak menerima penerapan yang ketat. Sering memikirkan 

ketidakpastian kelangsungan hidup kita di dunia dan menya-

dari kepastian bahwa kita akan dipindahkan dari sini, akan 

sangat membantu. 

II. Supaya murka Tuhan   disingkirkan dari mereka. Meskipun kepu-

tusan telah dibuat dan tidak dapat ditarik kembali, tidak ada 

jalan keluar kecuali bahwa mereka harus mati di padang belan-

tara: “Kembalilah, ya TUHAN, kiranya Engkau diperdamaikan 

dengan kami, dan sayangilah hamba-hamba-Mu (ay. 13). Kirim-

kanlah lagi kabar damai sejahtera untuk menghibur kami sesu-

dah kabar yang sangat berat ini. Berapa lama kami harus meman-

dang diri di bawah murka-Mu, dan kapankah kami akan mene-

rima tanda yang diberikan kepada kami perihal pulihnya perke-

nan-Mu? Kami sekalian yaitu  umat-Mu (Yes. 64:9). Kapankah 

Engkau akan berubah sikap terhadap kami?” Sebagai jawaban 

atas doa ini, sesudah  mereka mengaku dan bertobat (Bil. 14:39-

40), di dalam pasal berikutnya Tuhan   melanjutkan dengan hukum-

hukum berkenaan dengan korban (Bil. 15:1 dst.), yang merupa-

kan tanda bahwa Ia menyayangi hamba-hamba-Nya. Sebab, sean-

dainya TUHAN hendak membunuh mereka, tidaklah Ia mem-

perlihatkan semuanya itu kepada mereka. 

III. Untuk memperoleh penghiburan dan sukacita dengan kembalinya 

perkenan Tuhan   kepada mereka (ay. 14-15). Mereka berdoa 

memohon belas kasihan Tuhan  , dan tidak menuntut bahwa mereka 

layak untuk itu  sebab  jasa mereka. Kasihanilah kami, ya TUHAN! 

merupakan doa yang harus kita aminkan. Marilah kita berdoa 

memohon belas kasihan awal, penyampaian belas kasihan ilahi 

yang tepat waktu, supaya rahmat Tuhan   segera menyongsong kita, 

di waktu pagi hari-hari kita, saat  kita masih muda dan berkem-

bang (ay. 6). Marilah kita berdoa memohon kepuasan dan kebaha-

giaan sejati yang hanya dapat diperoleh dalam perkenan dan 

kasih setia Tuhan   (4:7-8). Jiwa penuh rahmat yang hanya dapat 

dipuaskan oleh kasih karunia Tuhan  , akan dipuaskan, bahkan sa-

ngat dipuaskan olehnya, dan akan membicarakan hal itu semata. 

Ada dua hal yang diajukan untuk menguatkan permohonan akan 

kasih setia Tuhan   ini: 

1. Supaya bisa menjadi sumber sukacita di kemudian hari: “Ke-

nyangkanlah kami dengan kasih setia-Mu, bukan saja supaya 

kami dapat merasa tenteram, sesuatu yang tidak akan pernah 

terjadi selama kami berada di bawah murka-Mu, melainkan 

juga supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita. Bukan 

sekadar untuk sementara waktu, saat  perkenan-Mu mulai 

tampak, melainkan juga semasa hari-hari kami, walaupun 

kami harus menjalaninya di padang gurun.” Dengan menaruh 

hormat kepada orang-orang yang menjadikan Tuhan   sebagai 

sukacita utama mereka, supaya sukacita mereka menjadi 

sempurna (1Yoh. 1:4), maka sukacita itu juga akan terus ber-

langsung, bahkan dalam lembah penuh air mata ini. Salah 

mereka sendiri jika  mereka tidak bersukacita semasa hari-

hari mereka, sebab kasih setia-Nya dapat memperlengkapi me-

reka dengan sukacita di tengah kesengsaraan, dan tidak ada 

sesuatu pun yang dapat memisahkan mereka darinya. 

2.  Supaya bisa seimbang dengan kesusahan mereka di masa 

lalu: “Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Eng-

kau menindas kami. Biarlah hari-hari sukacita kami di dalam 

perkenan-Mu sama banyaknya dengan hari-hari penderitaan 

kami  sebab  ketidaksenangan-Mu. Biarlah menyenangkan, 

bukan suram seperti dahulu. Hari malang ini pun dijadikan 

Tuhan   seperti juga hari mujur (Pkh. 7:14). Perbuatlah begitu juga 

dengan perkara kami. Sudahlah cukup bila kami telah sekian 

lama minum dari cawan yang membuat kami gemetar. Seka-

rang letakkan di tangan kami cawan keselamatan itu.” Umat 

Tuhan   memandang kembalinya kasih karunia Tuhan   sebagai 

ganti rugi yang memadai bagi semua kesengsaraan mereka. 

IV. Bagi kesinambungan pekerjaan Tuhan   di antara mereka, apa pun 

yang telah terjadi (ay. 16-17).  

1. Supaya Ia menyatakan diri sementara melaksanakannya: 

“Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu. 

Biarlah kelihatan apa yang telah Engkau kerjakan bagi kami 

untuk membawa kami kembali kepada-Mu dan untuk mela-

yakkan kami dengan diri-Mu.” Hamba-hamba Tuhan   tidak da-

pat bekerja bagi-Nya kecuali Ia mempersiapkan mereka, baik 

dalam kehendak maupun perbuatan. Sesudah itu kita boleh 

berharap agar pelaksanaan anugerah-Nya tampak oleh kita. 

“Biarlah kelihatan perbuatan-Mu, dan di dalamnya kemuliaan-

Mu dinyatakan kepada kami dan juga kepada mereka yang 

datang sesudah kami.” Dalam berdoa memohon anugerah 

Tuhan  , kemuliaan Tuhan   harus menjadi tujuan utama kita. 

Dalam hal ini kita juga harus memperhatikan anak-anak kita 

selain diri kita sendiri, supaya mereka pun dapat mengalami 

kemuliaan Tuhan   yang dinyatakan kepada mereka, untuk 

mengubah mereka dalam gambaran yang sama, dari kemulia-

an kepada kemuliaan. Ada kemungkinan, dalam doa ini me-

reka membedakan diri mereka dengan anak-anak mereka, 

 sebab  begitu pulalah Tuhan   membedakan mereka dalam pesan 

yang disampaikan-Nya sebelum itu (Bil. 14:31-32, Bangkai-

bangkaimu akan berhantaran di padang gurun ini, namun  anak-

anakmu akan Kubawa masuk ke Kanaan): “Tuhan,” kata mere-

ka, “biarlah kelihatan kepada kami perbuatan-Mu, untuk mem-

perbarui kami dan untuk memberi kami perangai yang lebih 

baik. Biarlah semarak-Mu kelihatan kepada anak-anak kami, 

dalam melaksanakan janji yang gagal kami peroleh.” 

2.  Supaya Ia be


Related Posts:

  • mazmur 51-100 17 g diperbuat Daud (1Sam. 20:17). Sebab, firman dan sumpah-Nya merupakan dua hal yang tidak dapat diganggu gugat. Sama seperti Kristus dijadikan sebagai Imam, demikian pula Ia dijadikan sebagai Raja de… Read More