takh-
ta anugerah dengan permasalahan kita, jika kita tidak mu-
lai berusaha untuk mengenal Tuhan . Dan bila kita terus datang
kepada-Nya, maka permasalahan kita itu dengan sendirinya
akan menggerakkan roda doa sehingga bisa terus berputar.
Orang yang berpikir bahwa makan tiga kali sehari baik bagi
tubuh, seharusnya bisa lebih berpikir lagi bahwa doa tiga kali
sehari yang penuh kesungguhan hati juga baik bagi jiwa, dan
seharusnya ia menganggap doa itu sebagai suatu kesenangan,
dan bukan tugas. Seperti halnya pantas bagi kita untuk me-
mulai hari bersama Tuhan di pagi hari, dan di malam hari me-
nutupnya bersama Dia, demikian pula pantas bagi kita untuk
mengundurkan diri sejenak di tengah hari untuk bercakap-
cakap dengan-Nya. Sudah menjadi kebiasaan Daniel untuk
berdoa tiga kali sehari (Dan. 6:10), dan waktu tengah hari
merupakan salah satu waktu untuk berdoa bagi Petrus (Kis.
10:9). Janganlah kita jemu untuk selalu berdoa, sebab Tuhan
tidak jemu untuk mendengarkan. “Dia akan mendengarkan
suaraku, dan tidak akan mempersalahkanku sebab terlalu
Kitab Mazmur 55:17-24
799
sering datang kepada-Nya. Malahan, semakin sering justru
semakin baik, semakin disambut hangat.”
II. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan pada waktunya akan
memberi jawaban damai sejahtera bagi doa-doanya.
1. Bahwa ia sendiri akan diluputkan dan ketakutan-ketakutan-
nya diatasi. Ketakutan-ketakutan yang membuatnya tidak ke-
ruan itu (ay. 5-6) kini dibungkam melalui imannya yang dige-
rakkan, dan dia mulai bersukacita di dalam pengharapan (ay.
19): Ia membebaskan aku dengan aman, yakni, Dia akan melu-
putkan jiwaku. Daud sangat yakin akan pembebasan baginya
itu, seolah-olah pembebasan itu sudah terlaksana. Musuh-
musuhnya sedang berperang melawannya, dan pertempuran
dilancarkan menentangnya, namun Tuhan meluputkannya da-
lam damai, yakni, menyelamatkannya dengan penuh penghi-
buran seolah-olah dia tidak pernah berada di dalam bahaya.
Sekalipun tidak membebaskannya dalam kemenangan, Dia
meluputkannya dalam damai, dengan damai di dalam batin.
Dia membebaskan jiwanya dalam damai. Oleh kesabaran dan
sukacita yang kudus di dalam Tuhan , ia tetap memiliki damai
itu. Orang-orang yang aman dan tenang yaitu mereka yang
hati dan pikirannya dipelihara oleh damai sejahtera Tuhan yang
melampaui segala akal (Flp. 4:7). Daud, dalam rasa takut yang
amat sangat, berpikir bahwa semua orang menentangnya.
namun sekarang dia melihat bahwa ada banyak yang bersama-
nya, lebih dibandingkan yang dibayangkannya. Yang didapatkan-
nya terbukti melebihi apa yang diharapkannya, dan untuk ini
dia memberi kemuliaan kepada Tuhan . Sebab Dialah yang
membangkitkan teman-teman bagi kita saat kita membutuh-
kan mereka, dan membuat mereka setia kepada kita. Ada ba-
nyak yang besertanya, sebab meskipun rakyatnya meninggal-
kannya, dan beralih kepada Absalom, namun Tuhan dan para
malaikat yang baik bersamanya. Dengan mata iman ia seka-
rang melihat dirinya dikelilingi, seperti Elisa, dengan kuda-
kuda dan kereta-kereta berapi, dan sebab itu ia bermegah
seperti ini, “Ada banyak yang menyertai aku, lebih banyak
dibandingkan yang melawan aku” (2Raj. 6:16-17).
2. Bahwa musuh-musuhnya akan dibalas dan dijerumuskan.
Mereka telah menakut-nakutinya dengan ancaman-ancaman
800
mereka (ay. 4), namun di sini hanya dengan berkata-kata ia
membuat mereka ketakutan dan gemetar, dan tidak ada obat
penawar lagi bagi mereka. Sebab mereka tidak dapat mene-
nangkan diri dari ketakutan-ketakutan mereka, seperti yang
dilakukan Daud, dengan iman kepada Tuhan .
(1) Daud di sini menjadikan sifat mereka sebagai alasan meng-
apa dia berharap agar Tuhan menjerumuskan mereka.
[1] Mereka tidak saleh dan cemar, dan tidak hormat ter-
hadap Tuhan , terhadap kuasa atau murka-Nya (ay. 20):
“ sebab mereka tidak berubah (tidak ada penderitaan,
tidak ada gangguan di dalam jalan kemakmuran yang
terus mereka nikmati, tidak ada salib yang dapat me-
ngosongkan tempayan-tempayan mereka), maka mereka
tidak takut akan Tuhan . Mereka hidup dengan terus
mengabaikan dan menghina Tuhan serta agama, yang
merupakan penyebab dari semua kefasikan mereka.
Oleh sebab semua inilah mereka pasti ditentukan un-
tuk binasa.”
[2] Mereka penuh khianat dan kepalsuan. Perbuatan-per-
buatan kudus dan tulus pun tidak mempan bagi me-
reka (ay. 21): “Orang itu mengacungkan tangannya ke-
pada mereka yang hidup damai dengan dia, yang tidak
pernah membuatnya kesal, atau menimbulkan alasan
bagi dia untuk berselisih dengan mereka. Malah, ia
telah memberi mereka segala kemungkinan dorongan
untuk mengharapkan kebaikan darinya. Ia telah meng-
acungkan tangannya kepada mereka yang telah diberi-
nya uluran tangannya. Ia telah melanggar konvenannya
baik dengan Tuhan maupun dengan manusia. Ia telah
berkhianat dan menghancurkan pertaliannya dengan
Tuhan dan manusia.” Tidak ada lain lagi yang menjadi-
kan manusia segera binasa dibandingkan semuanya ini.
[3] Mereka rendah dan munafik, mengaku berteman pada-
hal merancangkan kejahatan (ay. 22): “Perkataan mulut-
nya” (mungkin secara khusus yang dimaksudkannya
yaitu Ahitofel) “lebih licin dari mentega dan lebih lem-
but dari minyak. Begitu sopan dan ramahnya dia, begitu
bebasnya dia dalam berpura-pura memberi peng-
Kitab Mazmur 55:17-24
801
hormatan dan kebaikan, dan dalam menawarkan ban-
tuan-bantuannya. Namun, pada saat yang sama, ia ber-
niat menyerang, dan semua kesopanan ini hanyalah
merupakan siasat perang, dan perkataan-perkataan
mulutnya mengandung rancangan yang licik sehingga
semua perkataan itu seperti pedang terhunus yang di-
maksudkan untuk menikam.” Wajah mereka tersenyum
kepada seseorang, namun mereka menggorok lehernya
pada saat yang sama, seperti Yoab, yang mencium lalu
membunuh. Iblis yaitu musuh yang begitu licik, ia
membuai manusia menuju kehancurannya. Kalau ia
ramah, janganlah percaya kepadanya.
(2) Daud di sini menubuatkan kehancuran mereka.
[1] Tuhan akan merendahkan mereka, dan membawa mereka
ke dalam kesukaran serta ketakutan. Ia membalaskan
kesengsaraan kepada orang-orang yang telah menyeng-
sarakan umat-Nya. Semuanya ini diperbuat-Nya untuk
menjawab doa-doa umat-Nya: Tuhan akan mendengar
dan merendahkan mereka, mendengar teriakan orang-
orang tertindas dan menyampaikan kengerian kepada
para penindas mereka. Dia yang bersemayam sejak
purbakala, yang yaitu Tuhan dari kekekalan, sampai
selamanya dan seterusnya, yang duduk sebagai Hakim
sejak permulaan waktu, dan yang selalu mengatur
segala perkara anak-anak manusia. Manusia yang fana
ini, meskipun berkedudukan begitu tinggi dan kuat,
akan dengan mudah dihancurkan oleh Tuhan yang
kekal. Mereka sama sekali tidak setara dengan Dia. Hal
inilah yang sungguh membuat orang-orang kudus ter-
hibur saat mereka menghadapi kuasa musuh-musuh
gereja yang mengancam mereka (Hab. 1:12): Bukankah
Engkau, ya TUHAN, dari dahulu?
[2] Tuhan akan menjerumuskan mereka, bukan hanya ke da-
lam debu, melainkan juga ke lubang sumur yang dalam
(ay. 24), ke lubang jurang maut, yang disebut sebagai
tempat kebinasaan (Ayb. 26:6). Ia merendahkan mereka
(ay. 20) untuk melihat apakah itu akan membuat mere-
ka rendah hati dan memperbaharui diri. namun , jika
802
mereka tidak diubahkan olehnya, maka pada akhirnya
Dia akan membawa mereka pada kehancuran. Orang-
orang yang tidak bisa dibawa kembali ke jalan yang be-
nar dengan tongkat penderitaan pasti akan dijerumus-
kan ke dalam lubang kebinasaan. Mereka itu para pe-
numpah darah dan penipu (yakni, manusia yang paling
buruk), dan oleh sebab itu tidak akan mencapai sete-
ngah umurnya, tidak akan mencapai setengah dari
umur orang pada umumnya, seperti yang dapat mereka
capai secara alamiah, dan seperti yang mereka harap-
kan sendiri. Mereka akan hidup seperti yang sudah di-
tentukan oleh Tuhan segala kehidupan, Sang Hakim
yang benar, yang di dalam Dia tersimpan rahasia jum-
lah hari yang harus kita jalani di dunia ini. namun Ia
telah memutuskan untuk merenggut mereka dengan
kematian yang lebih awal di tengah-tengah hari mereka.
Mereka itu para penumpah darah. Mereka menghabisi
orang lain, dan oleh sebab itu adillah pula bila Tuhan
juga menghabisi mereka. Mereka itu para penipu. Me-
reka memperdayai orang lain dengan mengambil sete-
ngah dari apa yang mungkin seharusnya menjadi milik
orang itu, dan sekarang Tuhan akan mengambil dari mere-
ka sampai mereka berkekurangan, sekalipun itu sebe-
narnya bukan hak mereka, apa pun yang dihitung me-
reka tetap saja akan diambil-Nya.
III. Ia mendorong dirinya sendiri dan semua orang baik untuk
berserah diri kepada Tuhan , dengan keyakinan teguh kepada-Nya.
Ia sendiri bertekad untuk melakukannya (ay. 24): “Aku ini percaya
kepada-Mu, akan pemeliharaan-Mu, akan kuasa dan kasih setia-
Mu, dan bukan pada kebijaksanaan, kekuatan, atau jasaku sen-
diri. Sekalipun orang penumpah darah dan penipu dibinasakan di
tengah-tengah hari mereka, aku akan tetap hidup dengan iman
akan Dikau.” Dan dia ingin orang lain juga melakukannya (ay.
23): “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN,” (KJV: Serahkanlah
bebanmu kepada Tuhan – pen.), siapa pun kamu yang sedang ber-
beban, dan apa pun beban itu. “Serahkanlah pemberianmu ke-
pada Tuhan” (begitulah sebagian orang membacanya). “Berkat apa
pun yang telah dikaruniakan Tuhan kepadamu untuk engkau nik-
Kitab Mazmur 55:17-24
803
mati, serahkanlah semuanya itu kepada penjagaan-Nya, dan ter-
utama serahkanlah pemeliharaan atas jiwamu kepada-Nya.” Atau,
“Apa pun yang engkau inginkan untuk diberikan Tuhan kepadamu,
serahkan saja itu kepada-Nya agar Dia memberi nya kepa-
damu dengan cara dan dalam waktu-Nya sendiri. Serahkanlah
segala kekhawatiranmu kepada Tuhan,” begitulah menurut terje-
mahan Septuaginta [Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani –
pen.], seperti yang dirujuk oleh Rasul Petrus (1Ptr. 5:7). Kekhawa-
tiran yaitu beban, kekhawatiran itu membuat hati orang bung-
kuk (Ams. 12:25). Kita harus menyerahkannya kepada Tuhan di
dalam iman dan doa, menyerahkan jalan dan pekerjaan-pekerjaan
kita kepada-Nya. Biarlah Dia melakukan apa yang tampak baik
bagi-Nya, maka kita pun akan puas. Menyerahkan beban kita ke-
pada Tuhan berarti tetap tinggal di dalam pemeliharaan dan janji-
Nya, dan dengan tenang meyakini bahwa segala sesuatunya akan
bekerja demi kebaikan. Jika kita melakukannya, maka kita dijan-
jikan,
1. Bahwa Dia akan menopang kita, mendukung dan juga menye-
diakan bagi kita. Dia sendiri akan menggendong kita di dalam
lengan kuasa-Nya, seperti seorang ibu yang menggendong ba-
yinya yang sedang menyusui. Dia akan menguatkan roh kita,
sehingga dengan Roh-Nya roh kita akan menopang kelemahan
kita. Ia tidak berjanji akan melepaskan kita dengan segera dari
permasalahan yang menimbulkan kekhawatiran dan ketakut-
an dalam diri kita. namun Dia akan mengatur sedemikian rupa
agar kita tidak dicobai melampaui kemampuan kita, dan agar
kita diberi kemampuan sesuai dengan pencobaan yang kita
alami.
2. Bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan orang benar goyah,
digoncangkan oleh permasalahan apa pun sehingga mereka
meninggalkan kewajiban mereka terhadap Tuhan ataupun kehi-
langan penghiburan mereka di dalam Dia. Bagaimanapun
juga, Dia tidak akan membiarkan mereka goyah untuk selama-
lamanya (begitulah sebagian orang membacanya). Meskipun
mereka jatuh, tidak akan sampai terempas.
PASAL 56
ampak dari mazmur ini, dan banyak mazmur lainnya, bahwa
dalam masa-masa yang tersulit dan menekan sekalipun, Daud
tidak pernah menggantungkan kecapinya di pohon gandarusa. Dia
tidak pernah melepaskan senarnya atau menyimpannya. Sebaliknya,
saat dalam bahaya dan ketakutan terbesar, dia tetap ingin menya-
nyikan pujian bagi Tuhan . Dia sedang dalam ancaman bahaya saat
menulis mazmur ini, atau setidaknya saat merenungkannya. Namun
pada saat seperti itu pun renungannya tentang Tuhan terasa manis.
I. Daud mengeluh tentang kebencian musuh-musuhnya, dan
memohon belas kasihan bagi dirinya dan keadilan dilakukan
terhadap mereka (ay. 2-3, 6-8).
II. Dia percaya kepada Tuhan , dengan keyakinan bahwa Dia telah
bertindak. Dia merasa terhibur, sebab dengan demikian
maka dia aman dan akan menang, dan selama hidup dia
akan memuji Tuhan (ay. 4-5, 9-14).
Betapa bersukacitanya orang Kristen yang baik saat ia menya-
nyikan mazmur ini, hatinya penuh syukur kepada Tuhan atas apa
yang akan Dia lakukan, maupun atas apa yang telah Dia kerjakan.
Doa Meminta Tolong saat Mengalami Penindasan;
Keyakinan kepada Tuhan
(56:1-8)
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Merpati di pohon-pohon tarbantin
yang jauh. Miktam dari Daud, saat orang Filistin menangkap dia di Gat. 2
Kasihanilah aku, ya Tuhan , sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepan-
jang hari orang memerangi dan mengimpit aku! 3 Seteru-seteruku menginjak-
injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan
sombong. 4 Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; 5 kepada Tuhan ,
T
806
yang firman-Nya kupuji, kepada Tuhan aku percaya, aku tidak takut. Apakah
yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? 6 Sepanjang hari mereka me-
ngacaukan perkaraku; mereka senantiasa bermaksud jahat terhadap aku. 7
Mereka mau menyerbu, mereka mengintip, mengamat-amati langkahku,
seperti orang-orang yang ingin mencabut nyawaku. 8 Apakah mereka dapat
luput dengan kejahatan mereka? Runtuhkanlah bangsa-bangsa dengan mur-
ka-Mu, ya Tuhan !
Dalam mazmur ini, dengan iman Daud menyerahkan dirinya ke
dalam tangan Tuhan , sekalipun saat itu dia sudah terjerumus ke da-
lam tangan orang-orang Filistin akibat ketakutan dan kebodohannya.
Ini terjadi saat mereka menangkap dia di Gat. Saat itu ia melarikan
diri ke sana sebab takut kepada Saul, lupa pada perselisihannya
dengan orang Filistin sebab membunuh Goliat. Dan, orang-orang
Filistin itu pun memperkarakan dia dengan persoalan ini
(1Sam. 21:10-11). Dalam keadaan itu dia mengubah tingkah lakunya,
namun wataknya hanya sedikit sekali berubah, seperti tampak saat
dia menulis mazmur ini dan Mazmur 34. Mazmur ini disebut Miktam
– sebuah mazmur emas. Beberapa mazmur lain juga disebut demi-
kian, namun yang ini memiliki kekhususan pada bagian judulnya.
Mazmur ini berdasar Jonath-elem-rechokim, yang artinya merpati
bisu di tempat yang jauh (TB: “Merpati di pohon-pohon tarbantin yang
jauh”). Beberapa orang mengartikan sebutan ini untuk Daud sendiri,
yang ingin memiliki sayap seperti merpati untuk terbang pergi. Dia
tidak bersalah dan tidak suka bertengkar, lembut dan sabar, seperti
seekor merpati, yang saat itu sedang terhalau dari sarangnya, dari
tempat kudus (74:3). Dia terpaksa jauh mengembara, untuk mencari
tempat berteduh di negeri-negeri yang jauh. Di sana dia seperti
burung-burung merpati di lembah-lembah, berduka dan bersedih,
namun diam membisu, tidak menggerutu terhadap Tuhan ataupun
mencerca orang-orang yang menyebabkan kesesakannya. Di sini dia
merupakan pelambang atau gambaran dari Kristus, yang seperti
seekor domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting
bulunya. Dia menjadi sebuah teladan bagi orang-orang Kristen, yang
harus seperti merpati bisu di mana pun mereka berada dan apa pun
ketidakadilan yang menimpa mereka.
I. Dia mengeluh kepada Tuhan tentang kebencian dan kejahatan mu-
suh-musuhnya, untuk menunjukkan apa alasannya dia takut ter-
hadap mereka, dan apa pentingnya serta apa perlunya agar Tuhan
seharusnya tampil melawan mereka (ay. 2): Kasihanilah aku, ya
Kitab Mazmur 56:1-8
807
Tuhan . Permohonan itu mencakup segala hal baik yang menjadi
tujuan kita menghampiri takhta kasih karunia. Jika kita menda-
patkan belas kasihan di sana, kita mendapatkan segala yang bisa
kita inginkan, dan tidak ada lagi yang kita perlukan untuk mem-
buat kita bahagia. Permohonan ini juga menyiratkan bahwa
seruan permohonan kita yang terbaik pun bukanlah yang men-
datangkan belas kasihan Tuhan yang kaya dan cuma-cuma itu,
melainkan belas kasihan-Nya semata. Daud berdoa supaya dia
bisa mendapatkan belas kasihan dari Tuhan , sebab dia tidak bisa
mendapatkannya dari manusia. saat dia melarikan diri dari
tangan Saul yang kejam, dia jatuh ke dalam tangan orang Filistin
yang bengis. “Tuhan,” katanya, “kiranya Engkau mengasihani aku
sekarang, atau aku binasa.” Belas kasihan Tuhan dapat menjadi
tempat tujuan kita melarikan diri, dan belas kasihan-Nya itu
dapat kita andalkan. Kita boleh meminta belas kasihan itu di
dalam doa dengan iman, saat kita sedang dikepung dari segala
penjuru oleh kesulitan dan bahaya. Daud mengeluh,
1. Bahwa musuh-musuhnya sangat banyak (ay. 3): “Banyak
orang yang memerangi aku, dan berpikir dapat mengalahkan
aku dengan jumlah mereka yang banyak itu. Perhatikanlah
ini, Engkau, ya Mahamulia (KJV), dan buatlah ini nyata, saat
mereka bersikap sombong, tunjukkanlah bahwa Engkau lebih
mulia dibandingkan mereka.” Tindakan yang menunjukkan kemu-
liaan yaitu datang menolong seseorang yang sedang melawan
orang banyak. Dan kalau Tuhan ada di pihak kita, berapa pun
banyaknya orang yang berperang melawan kita, kita boleh bang-
ga, atas dasar yang baik, bahwa ada lebih banyak yang bersama
kita. Yaitu, seperti yang dikatakan seorang jenderal besar, “Kita
memperhitungkan Dia sebagai berapa banyak orang?”
2. Bahwa mereka sangat biadab. Mereka hendak menginjak-injak
dia (ay. 2 dan 3; KJV: menelan – pen.). Mereka berusaha me-
mangsa dia, dan tidak akan puas jika belum berhasil. Mereka
mengejar dia dengan kegeraman yang dahsyat, seperti bina-
tang pemangsa, yang hendak menyantap habis dagingnya
(27:2). Manusia hendak menelan dia, padahal mereka makh-
luk yang serupa dengannya, dan dia mengharapkan sifat ke-
manusiaan dari mereka. Binatang yang paling buas pun tidak
akan memangsa binatang yang jenisnya sama dengan mereka,
namun orang yang jahat justru sebaliknya akan memangsa
808
orang yang baik jika ia mampu. “Mereka itu manusia, lemah
dan rapuh. Buatlah mereka menyadarinya” (9:21).
3. Bahwa persekutuan mereka sangat kuat (ay. 7): Mereka itu ber-
kumpul (TL). Walaupun jumlah mereka banyak, dan berbeda-
beda kepentingan di antara mereka sendiri, namun mereka
berkumpul dan bersatu melawan Daud, seperti Herodes dan
Pilatus melawan Anak Daud.
4. Bahwa mereka sangat kuat, benar-benar terlalu sulit baginya
jika Tuhan tidak membantunya: Mereka memerangi aku (ay. 3),
mereka mengimpit aku (ay. 2). Aku hampir dikalahkan dan
ditundukkan oleh mereka, sampai hampir mati.
5. Bahwa mereka sangat cerdik dan licik (ay. 7): Mereka mengin-
tip (KJV: Mereka bersembunyi – pen.). Mereka menyembunyikan
rencana-rencana mereka dengan cerdik, supaya dapat lebih
berhasil melaksanakan dan mengusahakannya. Mereka ber-
sembunyi bagaikan seekor singa di dalam liangnya, supaya
dapat mengamat-amati langkah-langkahku. Maksudnya, mereka
mengamat-amati semua yang aku katakan dan lakukan dengan
pandangan yang mencari-cari kesalahan, dengan maksud un-
tuk menemukan sesuatu yang dapat dipakai untuk menuduh-
ku (seperti itulah musuh-musuh Kristus mengamat-amati Dia,
Luk. 20:20). Atau, mereka mengawasi semua gerak-gerikku,
supaya dapat memperoleh kesempatan untuk melakukan
sesuatu yang jahat terhadapku, dan dapat mempersiapkan
jebakan untukku.
6. Bahwa mereka sangat dengki dan jahat. Mereka mereka-reka
yang jelek terhadap segala sesuatu yang dikatakannya supaya
orang marah kepada dia, walaupun semua itu mengandung
maksud yang sangat tulus dan disampaikan dengan sangat
bijaksana (ay. 6): “Mereka mengacaukan perkaraku (KJV: memu-
tarbalikkan kata-kataku – pen.), memberi penekanan yang
berlebihan pada kata-kataku, untuk menimbulkan kesan yang
berbeda dengan maksud yang sesungguhnya.” Dengan demi-
kian, mereka menuduh dia bersalah dengan perkataannya
(Yes. 29:21), dengan tidak menyampaikan perkataannya se-
cara benar kepada Saul dan melebih-lebihkannya, untuk me-
nyulut kemarahan Saul terhadap Daud. Mereka mengerahkan
segala upaya mereka untuk menghancurkan Daud. Seluruh
pikiran mereka menentang dia dengan maksud jahat, sehingga
Kitab Mazmur 56:1-8
809
mereka menafsirkan hal-hal jahat terhadap segala perkataan-
nya.
7. Bahwa mereka betul-betul tidak kenal lelah dan tidak pernah
bosan. Mereka terus saja mengincar nyawanya. Nyawalah,
nyawa yang berharga, yang mereka kejar-kejar. Kematiannya
yang mereka inginkan (ay. 7). Setiap hari mereka memerangi
dia (ay. 2), menginjak-injak dia (ay. 3; KJV: menelan – pen.),
dan mengacaukan perkaranya (ay. 6; KJV: memutarbalikkan
kata-katanya – pen.). Kebencian mereka tidak mengenal gen-
catan senjata atau penghentian tindakan permusuhan sedikit
pun. Sebaliknya, mereka terus-menerus mendesak dia. Seperti
inilah rasa permusuhan Iblis dan antek-anteknya melawan Ke-
rajaan Kristus dan kepentingan agama-Nya yang kudus. Jika
kita mengikatkan diri kepada-Nya dan kepada kepentingan
agama-Nya dengan sepenuh hati, maka kita tidak perlu me-
rasa heran jika sampai mendapat perlakuan seperti ini seolah-
olah ada hal aneh menimpa kita. Orang-orang terbaik kita
telah diperlakukan seperti itu. Demikian juga telah dianiaya
nabi-nabi.
II. Daud mendapatkan keberanian di dalam Tuhan , dan di dalam jan-
ji, kuasa dan pemeliharaan-Nya (ay. 4-5). Di tengah keluhan-
keluhannya, dan sebelum dia menyampaikan apa yang ingin dia
katakan tentang musuh-musuhnya, dia bersorak-sorai di dalam
perlindungan ilahi.
1. Tekadnya sudah bulat bahwa Tuhan lah andalannya. sebab itu,
saat bahaya begitu mengancam dan semua andalannya yang
lain gagal: “Waktu aku takut, pada hari ketakutanku, saat
aku merasa sangat ngeri dari luar dan sangat takut dalam
hati, maka aku ini percaya kepada-Mu, dan redalah segala
ketakutanku.” Perhatikanlah, ada masa-masa yang secara
khusus merupakan masa-masa yang menakutkan bagi umat
Tuhan . Pada masa-masa itu, sudah merupakan kewajiban dan
kepentingan mereka untuk mempercayai Tuhan sebagai Tuhan
mereka, dan menjadi sadar siapa itu yang mereka percayai. Ini
akan meneguhkan hati dan menjagainya tetap tenang.
2. Dia membulatkan hatinya untuk menjadikan janji-janji Tuhan
sebagai pokok puji-pujiannya, dan kita pun sudah sepantas-
nya melakukan hal yang sama (ay. 5): “Kepada Tuhan yang ku-
810
puji, bukan hanya sebab pekerjaan yang telah Dia lakukan,
melainkan juga sebab firman-Nya yang telah Dia katakan.
Aku hendak bersyukur kepada-Nya atas sebuah janji, walau-
pun janji itu belum digenapi. Kepada Tuhan , dalam kekuatan-
Nya dan oleh pertolongan-Nya, aku akan bermegah dalam fir-
man-Nya dan memegahkan Dia sebab nya.” Beberapa orang
mengartikan kata firman-Nya sebagai pemeliharaan-Nya, yakni
setiap peristiwa yang Dia atur dan tetapkan: “saat aku me-
muji Tuhan , aku akan memuji Dia atas segala yang Dia laku-
kan.”
3. Dengan dukungan dari Tuhan , dia akan menentang semua ke-
kuatan yang melawannya: “saat kepada Tuhan aku percaya,
aku aman, aku tenang, dan aku tidak takut. Apakah yang da-
pat dilakukan manusia terhadap aku? Mereka cuma manusia,
tidak banyak yang bisa mereka lakukan, bahkan tidak dapat
melakukan apa pun jika tidak diizinkan oleh Tuhan .” Sebagai-
mana kita tidak boleh mengandalkan kekuatan manusia yang
berperang untuk kita, demikian pula kita tidak boleh takut
terhadap kekuatan manusia yang dikerahkan melawan kita.
III. Daud sudah bisa melihat dan memperkatakan kejatuhan orang-
orang yang berperang melawan dia, termasuk juga semua orang
lain yang bermaksud hendak bertahan di dalam dan dengan per-
buatan jahat mereka (ay. 8): Apakah mereka dapat luput dengan
kejahatan mereka? Mereka berharap dapat luput dari hukuman
Tuhan , sebab mereka biasa luput dari hukuman manusia, melalui
cara kekerasan, penipuan, dan keahlian melakukan ketidakadilan
dan pengkhianatan. namun apakah mereka dapat luput? Tidak,
pasti tidak akan luput. Dosa orang-orang berdosa tidak akan
pernah melindungi mereka, begitu juga kekurangajaran maupun
kemunafikan mereka tidak akan menyelamatkan mereka dari
pengadilan Tuhan . Dalam murka-Nya Tuhan akan menjatuhkan dan
menghalau orang-orang seperti itu (Rm. 2:3). Tidak ada yang naik
begitu tinggi atau berdiri begitu teguh, sebab keadilan Tuhan bisa
menjatuhkan mereka, baik dari kehormatan maupun kepercayaan
diri mereka. Siapakah yang mengenal kekuatan murka Tuhan , be-
rapa tinggi jangkauannya dan berapa kuat pukulannya?
Kitab Mazmur 56:9-14
811
Penghiburan di dalam Penderitaan;
Keyakinan kepada Tuhan
(56:9-14)
9 Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke
dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? 10 Maka musuh-
ku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Tuhan memihak
kepadaku. 11 Kepada Tuhan , firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya
kupuji, 12 kepada Tuhan aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat di-
lakukan manusia terhadap aku? 13 Nazarku kepada-Mu, ya Tuhan , akan ku-
laksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.14 Sebab Engkau
telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga
tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Tuhan dalam cahaya
kehidupan.
Di sini Daud menghibur dirinya dengan beberapa hal pada hari dia
mengalami kesulitan dan ketakutan.
I. Bahwa Tuhan memberi perhatian khusus atas segala keluhan dan
kesedihannya (ay. 9).
1. Atas segala kesulitan keadaannya: Sengsaraku, (atau dalam
terjemahan lama pengembaraanku), Engkaulah yang menghi-
tung-hitung. Saat itu Daud masih muda yaitu di bawah tiga
puluh tahun, namun sudah sering berpindah-pindah tempat
tinggal. Dari rumah bapanya ke istana, kemudian ke perke-
mahan, dan sekarang dihalau keluar untuk menginap seben-
tar di tempat mana saja yang bisa dia temukan. Namun dia
tidak dibiarkan tenang di mana pun. Dia diburu seperti seekor
ayam hutan di gunung-gunung. Kengerian dan pergumulan
terus-menerus mengikuti dia. Namun yang menghibur dia
yaitu , bahwa Tuhan memperhatikan dengan teliti semua tin-
dak-tanduknya, dan menghitung semua langkah berat yang
dia ambil, baik siang maupun malam. Perhatikanlah, Tuhan
mengambil tanggungjawab atas semua penderitaan umat-Nya,
dan orang-orang yang telah disingkirkan manusia dari per-
gaulan dan percakapan mereka tidak Dia singkirkan dari
pemeliharaan dan kasih-Nya.
2. Atas semua tekanan yang dirasakan jiwanya. saat dalam
pengembaraan dia sering menangis, dan sebab itu berdoa,
“Air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu, untuk disimpan
dan diperhatikan. Bahkan, aku tahu semuanya telah Kaudaf-
tarkan, dalam kitab peringatan-Mu.” Tuhan memiliki sebuah
812
kirbat dan sebuah kitab untuk air mata umat-Nya, baik air
mata sebab dosa-dosa mereka maupun air mata sebab pen-
deritaan mereka. Ini menunjukkan,
(1) Bahwa Dia memperhatikan mereka dengan penuh kasih
sayang dan perhatian yang lembut. Dia menderita dalam
penderitaan mereka, dan memahami kesesakan jiwa mere-
ka. Sebagaimana darah dan kematian orang-orang kudus-
Nya berharga di mata Tuhan, demikian juga air mata me-
reka, tidak ada satu tetes pun yang akan jatuh ke tanah.
Telah kulihat air matamu (2Raj. 20:5). Telah Kudengar sung-
guh-sungguh Efraim meratap (Yer. 31:18).
(2) Bahwa Dia akan mengingat dan terus melihat kembali air
mata mereka, seperti yang kita lakukan pada catatan yang
sudah kita buat. Paulus teringat pada air mata Timotius
(2Tim. 1:4), dan Tuhan tidak akan melupakan kesedihan
umat-Nya. Air mata umat Tuhan yang dianiaya disimpan di
dalam kirbat dan termeterai dalam perbendaharaan Tuhan .
Dan, saat kitab-kitab akhirnya dibuka, keluarlah cawan-
cawan berisi murka, yang akan ditumpahkan ke atas peng-
aniaya-penganiaya mereka. Tuhan pasti akan berhadapan
dengan penganiaya-penganiaya itu untuk semua air mata
yang jatuh dari mata umat-Nya sebab mereka, dan itu
akan menjadi puncak penghiburan bagi umat Tuhan yang
berdukacita. Kain kabung umat Tuhan akan diganti dengan
gaun puji-pujian. Tuhan akan menghibur umat-Nya sebagai
ganti atas waktu yang Dia biarkan selama mereka menderi-
ta. Dia akan membuat orang-orang yang menabur dengan
bercucuran air mata menuai dengan bersorak-sorai. Air
mata yang ditaburkan akan dituai sebagai mutiara.
II. Bahwa doa-doanya memiliki kuasa untuk mengalahkan dan mem-
permalukan musuh-musuhnya. Doa-doanya juga mampu mendu-
kung dan mendorong semangatnya (ay. 10): “Maka musuhku akan
mundur pada waktu aku berseru. Aku tidak membutuhkan sen-
jata lain selain doa dan air mata. Aku yakin, bahwa Tuhan memi-
hak kepadaku, memperjuangkan perkaraku, melindungi dan mem-
bebaskan aku. Dan jika Tuhan di pihakku, siapa yang dapat me-
nang melawan aku?” Orang-orang kudus memiliki Tuhan di pihak
mereka. Mereka harus mengetahui hal ini, dan harus berteriak
Kitab Mazmur 56:9-14
813
kepada-Nya saat dikepung musuh. Jika mereka melakukan ini
dengan iman, maka mereka akan menemukan kekuatan ilahi
dikerjakan dan dikerahkan untuk mereka. Musuh-musuh mereka
akan dipukul mundur, yaitu musuh-musuh rohani mereka, yang
sebaiknya kita lawan dengan berlutut (Ef. 6:18).
III. Bahwa imannya kepada Tuhan mengangkat dia mengatasi rasa
gentarnya terhadap manusia (ay. 11-12). Di sini dia mengulangi
apa yang sudah dia katakan, dengan cara yang sangat menyentuh
(ay. 5): “Kepada Tuhan , firman-Nya kupuji. Artinya, aku akan
benar-benar mengandalkan janji demi Dia yang membuatnya. Dia
benar dan setia, dan memiliki kebijaksanaan, kekuasaan, dan ke-
baikan yang cukup untuk menggenapi janji-Nya.” Jika kita mem-
percayai surat pernyataan seseorang, maka kita mempercayai
orang yang menulisnya. Demikian pula, jika dalam penderitaan
kita mempercayai firman Tuhan , mengandalkan janji-Nya dan tidak
meragukannya, maka kita memuliakan Tuhan , dan dengan memuji
firman-Nya kita memuji Dia. sebab mempercayai Tuhan seperti
itu, Daud memandang kekuatan manusia yang mengancamnya
dengan sikap merendahkan yang kudus: Kepada Tuhan aku per-
caya, dan hanya kepada-Nya saja, dan oleh sebab itu aku tidak
takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku (ay.
12), walaupun aku tahu benar apa yang akan dia lakukan jika dia
dapat (ay. 2-3). Perkataan kemenangan ini sangat menunjukkan
kebesaran hati yang kudus, sehingga rasul menjadikannya per-
kataan setiap orang percaya sejati yang dia anggap sebagai pahla-
wan Kristen (Ibr. 13:6). Dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan
yaitu Penolongku,” oleh sebab itu aku tidak takut. Apakah yang
dapat dilakukan manusia terhadap aku? sebab manusia tidak
memiliki kekuatan kecuali diberikan dari atas.
IV. Bahwa dia terikat kepada Tuhan (ay. 13): “Nazarku kepada-Mu, ya
Tuhan , akan kulaksanakan. Bukan kulaksanakan sebagai beban
yang memberatkanku, melainkan sebagai lencana yang dengan-
nya aku bermegah, sebab dengannya aku dikenal sebagai ham-
ba-Mu yang rendah. Bukan kulaksanakan sebagai belenggu yang
menghambatku (seperti nazar yang berdasar takhayul), me-
lainkan sebagai kendali yang menahanku dari hal-hal yang dapat
membahayakan aku, dan yang mengarahkanku kepada tanggung-
814
jawabku. Nazarku kepada-Mu akan kulaksanakan, yaitu nazar
yang kubuat kepada-Mu, yang atasnya Engkau bukan hanya
menjadi saksi, melainkan juga merupakan pihak yang terlibat.
Engkaulah yang memerintahkan dan mendorong aku untuk mem-
buatnya.” Mungkin yang dia maksudkan terutama yaitu nazar-
nazar yang dia buat kepada Tuhan pada hari dia mengalami
kesulitan dan kesukaran. Dia hendak mengingat nazar-nazarnya
dan menjalankan kewajibannya, walaupun ketakutannya sudah
berlalu. Perhatikanlah, yang harus menjadi pertimbangan dan
sukacita kita yaitu bahwa nazar kita kepada Tuhan akan kita lak-
sanakan, yakni, nazar baptisan kita perlu diperbarui di meja per-
jamuan Tuhan, nazar yang kadang-kadang kita buat saat kita
insaf atas dosa kita, saat kita sedang ditegur. Kita terikat de-
ngan nazar-nazar ini untuk hidup bagi Tuhan .
V. Bahwa dia masih akan memiliki lebih dan lebih banyak lagi ke-
sempatan untuk menaikkan pujian syukur kepada-Nya: Korban
syukur akan kubayar kepada-Mu. Ini yaitu bagian dari pelak-
sanaan nazarnya, sebab nazar yang menyatakan rasa syukur
sudah sepatutnya menyertai doa yang meminta belas kasihan,
dan saat belas kasihan diterima maka nazar haruslah ditepati.
saat kita memikirkan apa yang akan kita berikan sebagai
balasan, setidaknya kita bisa memutuskan untuk membalas de-
ngan pujian syukur kepada Tuhan – balasan yang miskin untuk
berkat yang kaya! Dia akan menaikkan pujian syukur kepada
Tuhan atas dua hal:
1. Atas apa yang telah Dia lakukan baginya (ay. 14): “Sebab
Engkau telah meluputkan aku, hidupku, dari pada maut, yang
siap untuk mencengkeram aku.” Tuhan telah membebaskan
kita dari dosa, dengan anugerah-Nya yang mencegah kita me-
lakukannya, maupun dengan belas kasihan-Nya yang meng-
ampuni supaya kita tidak dihukum. Oleh sebab itu sudah
sepantasnya kita mengakui bahwa Dia telah meluputkan jiwa
kita dari kematian, yang merupakan upah dosa. Jika kita,
yang secara alami mati sebab dosa, dibangkitkan bersama-
sama dengan Kristus, dan dihidupkan secara rohani, maka
kita sudah sepantasnya mengakui bahwa Tuhan telah meluput-
kan jiwa kita dari maut.
Kitab Mazmur 56:9-14
815
2. Atas apa yang akan Dia lakukan baginya: “Sebab Engkau telah
meluputkan aku dari pada maut, dan dengan begitu telah
memberi aku hidup yang baru. Dengan demikian pula
Engkau memberi aku sebuah jaminan untuk mendapatkan
belas kasihan untuk selanjutnya, bahwa Engkau akan men-
jaga kakiku sehingga tidak tersandung. Engkau telah melaku-
kan perkara yang lebih besar, maka Engkau akan melakukan
juga perkara yang lebih kecil. Engkau telah memulai pekerjaan
yang baik, maka Engkau akan meneruskan dan menyempur-
nakannya.” Ini dapat dianggap sebagai isi doanya, dengan ber-
sandar pada pengalamannya, atau sebagai isi pujiannya, yang
mempertinggi pengharapannya. Orang-orang yang tahu bagai-
mana menaikkan puji-pujian syukur dengan iman, akan ber-
syukur kepada Tuhan atas segala belas kasihan-Nya, baik itu
yang ada di dalam janji-Nya dan pengharapan yang diberikan-
Nya, maupun yang sudah diterima oleh mereka.
Lihatlah di sini:
(1) Apa yang Daud harapkan, yaitu agar Tuhan akan menjaga
kakinya sehingga tidak jatuh, baik ke dalam dosa, yang
akan melukai hati nuraninya, maupun ke dalam sesuatu
yang tampak seperti dosa, yang bisa memberi kesempatan
kepada musuh-musuhnya untuk merusak nama baiknya.
Orang yang menyangka bahwa dia teguh berdiri, harus
berhati-hati supaya jangan jatuh, sebab orang hanya
dapat berdiri dengan kukuh teguh selama Tuhan berkenan
menopangnya. Kita ini lemah, jalan yang kita lalui licin,
banyak batu sandungan di jalan, dan musuh-musuh ro-
hani kita berusaha menjerumuskan kita. sebab itu kita
harus memercayakan diri kepada pemeliharaan-Nya de-
ngan iman dan doa, sebab langkah kaki orang-orang yang
dikasihi-Nya dilindungi-Nya.
(2) Apa yang Daud jadikan sebagai dasar bagi pengharapannya
itu: “Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut,
dan dengan itu Engkau telah menunjukkan betapa besar
kuasa dan kebaikan-Mu, dan melayakkan aku untuk me-
nerima belas kasihan untuk selanjutnya dibandingkan -Mu.
Maka masakan sekarang Engkau tidak akan melindungi
dan memahkotai pekerjaan-Mu sendiri?” Tuhan tidak pernah
816
membawa umat-Nya keluar dari Mesir untuk membantai
mereka di padang gurun. Dia yang membebaskan jiwa dari
kematian yang begitu besar, yaitu dosa, melalui pertobat-
an, tidak akan gagal pula untuk menyelamatkan jiwa itu,
sehingga dia masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga.
(3) Apa yang Daud rencanakan dengan harapan-harapan ter-
sebut: Maka aku boleh berjalan di hadapan Tuhan dalam
cahaya kehidupan. Artinya,
[1] Supaya aku boleh masuk ke dalam sorga, satu-satunya
negeri cahaya dan kehidupan. sebab di dunia ini kege-
lapan dan kematian berkuasa.
[2] Supaya aku boleh mengerjakan tanggung jawabku se-
lagi masih hidup. Perhatikanlah, yang harus menjadi
tujuan segala keinginan dan pengharapan kita untuk
dibebaskan baik dari dosa maupun dari kesulitan ada-
lah supaya kita dapat melayani Tuhan dengan jauh lebih
baik lagi. Supaya sesudah dilepaskan dari tangan mu-
suh, kita dapat melayani Dia tanpa takut.
PASAL 57
azmur ini sangat serupa dengan mazmur sebelumnya. Ditulis-
nya pun pada kesempatan yang serupa, yaitu saat Daud
sedang ada masalah dan godaan untuk berbuat dosa. Mazmur ini di-
mulai seperti mazmur sebelumnya, “Kasihanilah aku.” Cara penyam-
paiannya juga sama.
I. Ia memulai dengan doa dan keluhan, namun bukannya tan-
pa keyakinan sama sekali bahwa permintaannya akan dika-
bulkan (ay. 2-7).
II. Ia menutup dengan sukacita dan pujian (ay. 8-12).
Dengan demikian, saat menyanyikan mazmur ini kita dapat
mengambil suatu petunjuk dan dorongan, bahwa dalam menaikkan
permohonan maupun ucapan syukur, kita dapat mempersembahkan
doa dan keluhan kepada Tuhan .
Doa dalam Penderitaan
(57:1-7)
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam
Dari Daud, saat ia lari dari pada Saul, ke dalam gua. 2 Kasihanilah aku, ya
Tuhan , kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam na-
ungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. 3
Aku berseru kepada Tuhan , Yang Mahatinggi, kepada Tuhan yang menyelesai-
kannya bagiku. 4 Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan
aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. S e l a Kiranya Tuhan
mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya. 5 Aku terbaring di tengah-tengah
singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tom-
bak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam. 6 Tinggikanlah diri-Mu
mengatasi langit, ya Tuhan ! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi! 7
Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya
jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, namun mereka sendiri jatuh ke
dalamnya. S e l a.
M
818
Dalam judul mazmur ini ada satu kata yang baru, Al-taschith –
Jangan memusnahkan. Sebagian orang menganggap kata ini hanya
sebagai suatu nada tertentu yang sudah dikenal yang digunakan
sebagai dasar untuk menyanyikan mazmur ini. Ada juga yang me-
ngaitkannya pada kejadian dan isi dari mazmur ini. Jangan memus-
nahkan, maksudnya, Daud tidak akan membiarkan Saul dimusnah-
kan, walaupun sekarang di dalam gua ia mempunyai kesempatan
baik untuk membunuhnya, dan orang-orangnya pasti dengan senang
hati akan melakukannya. “Tidak”, kata Daud, “jangan musnahkan
dia” (1Sam. 24:5, 7). Atau lebih baik, Tuhan tidak akan membiarkan
Daud dimusnahkan oleh Saul. Dia membiarkan Saul mengejar-ngejar
Daud, namun tetap dalam batasan ini, Jangan musnahkan dia. Ini
seperti Dia mengizinkan Iblis membuat Ayub menderita, Hanya sa-
yangkan nyawanya. Daud tidak boleh dimusnahkan, sebab di dalam-
nya masih ada berkat (Yes. 65:8), dan terlebih lagi di dalam Kristus,
ada yang terbaik dari semua berkat. Pada saat berada di dalam gua,
nyaris terancam bahaya, Daud memberitahukan kepada kita di sini
bagaimana perasaan hatinya kepada Tuhan . Dan berbahagialah orang-
orang yang mempunyai pikiran-pikiran baik seperti itu dalam benak
mereka saat sedang terancam bahaya!
I. Ia menyokong dirinya sendiri dengan iman dan pengharapan ke-
pada Tuhan , dan dengan doa kepada-Nya (ay. 2-3). sebab melihat
dirinya dikepung oleh musuh-musuhnya, dia menengadah kepada
Tuhan sambil mengucapkan doa yang layak: Kasihanilah aku, ya
Tuhan , yang kemudian diulanginya lagi, dan ini bukanlah peng-
ulangan yang sia-sia: Kasihanilah aku. Ini juga doa yang diucap-
kan oleh pemungut cukai (Luk. 18:13). Sangat disayangkan bila
ada yang sampai mengucapkan doa ini begitu saja dan tanpa rasa
hormat, dengan berseru, “Ya Tuhan , berbelaskasihlah kepada kami,
atau, Ya Tuhan, kasihanilah kami,” padahal mereka hanya ber-
maksud mengungkapkan keheranan, keterkejutan, atau kejeng-
kelan mereka, sementara Tuhan dan belas kasihan-Nya sama
sekali tidak ada dalam pikiran mereka. Dengan perasaan saleh
yang begitu mendalam Daud di sini berdoa, “Kasihanilah aku, ya
Tuhan ! Pandanglah aku dengan kerahiman-Mu, dan di dalam kasih
serta belas kasihan-Mu, tebuslah aku.” Agar Tuhan berbelas kasih-
an kepadanya, dia di sini mengakui,
Kitab Mazmur 57:1-7
819
1. Bahwa dia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan : Kepada-Mu-
lah jiwaku berlindung (ay. 2). Ia tidak hanya mengakui bahwa
ia percaya atau berlindung kepada Tuhan , namun juga bahwa
jiwanya benar-benar hanya mengandalkan Tuhan , dengan iba-
dah yang tulus dan pengabdian diri, dan dengan penuh ke-
puasan seutuhnya. Ia datang kepada Tuhan , dan, di tumpuan
takhta anugerah-Nya, dengan rendah hati menyatakan keya-
kinannya kepada-Nya: Dalam naungan sayap-Mu aku akan
berlindung, seperti anak-anak ayam berlindung di bawah sa-
yap induknya, saat burung-burung pemangsa siap menyam-
bar mereka, sampai berlalu penghancuran itu.
(1) Ia yakin bahwa permasalahannya akan berakhir dengan
baik, pada waktunya. Penghancuran ini akan berlalu, badai
akan bertiup dan lenyap. Non si male nunc et olim sic erit –
Meskipun sekarang dalam kesusahan, tidak akan selama-
nya aku begitu. Yesus Tuhan kita menghibur diri-Nya de-
ngan hal ini dalam penderitaan-penderitaan-Nya, Apa yang
tertulis tentang Aku sedang digenapi (Luk. 22:37; KJV: Sega-
la sesuatu mengenai Aku ada akhirnya – pen.).
(2) Ia sangat tenang berada di bawah perlindungan ilahi
selama masa susahnya itu.
[1] Ia menghibur dirinya dengan kebaikan sifat Tuhan , yang
dengannya Dia tergerak untuk membantu dan melin-
dungi umat-Nya, seperti induk ayam yang secara
naluriah tergerak untuk menaungi anak-anaknya. Tuhan
datang dengan sayap untuk menolong umat-Nya, yang
menunjukkan cepatnya pembebasan itu (18:11). Dan
Dia membawa mereka di bawah sayap-Nya, yang me-
nunjukkan kehangatan dan kesegaran, sekalipun mala-
petaka sedang mengintai mereka (Mat. 23:37).
[2] Ia menghibur dirinya dengan janji firman-Nya dan
kovenan anugerah-Nya. Sebab ini mungkin merujuk
pada sayap-sayap para kerub yang terkembang, yang di
atasnya Tuhan dikatakan duduk (80:2) dan yang dari
sana Dia menyampaikan sabda-sabda-Nya. “Kepada
Tuhan , sebagai Tuhan sumber anugerah, aku akan ter-
bang, dan janji-Nya akan menjadi tempat perlindungan-
ku, dan akan menjadi jaminan bagiku untuk melewati
820
semua bahaya ini.” Tuhan , melalui janji-Nya, menawar-
kan diri-Nya kepada kita, untuk kita percayai. Kita, me-
lalui iman kita, harus menerima segala sesuatu dari-
Nya, dan percaya kepada-Nya.
2. Bahwa segala yang diinginkannya dinyatakannya hanya ke-
pada Tuhan (ay. 3): “Aku berseru kepada Tuhan , Yang Mahating-
gi, untuk meminta pertolongan dan kelepasan. Kepada Dia
yang mahatinggi aku hendak mengangkat jiwaku, dan berdoa
dengan sungguh-sungguh, bahkan kepada Tuhan yang menye-
lesaikannya bagiku.”
Perhatikanlah:
(1) Dalam segala sesuatu yang menimpa kita, kita harus me-
mandang dan mengakui pekerjaan tangan Tuhan . Apa pun
yang terjadi yaitu perbuatan-Nya, dan di dalam semua itu
kehendak-Nya terlaksana dan nas Kitab Suci digenapi.
(2) Apa pun yang diperbuat Tuhan berkenaan dengan umat-
Nya, akan tampak pada akhirnya bahwa semua itu diper-
buat bagi mereka dan demi kepentingan mereka. Meskipun
Tuhan itu tinggi, mahatinggi, Dia mau turun sampai sebegitu
rendahnya untuk menjaga agar segala sesuatu bekerja
demi kebaikan umat-Nya.
(3) Ini merupakan alasan yang baik mengapa kita, dalam se-
gala kesusahan dan kesukaran kita, harus berseru kepada-
Nya, tidak sekadar berdoa begitu saja, namun berdoa dengan
sungguh-sungguh.
3. Bahwa apa yang diharapkannya hanyalah dari Tuhan (ay. 4):
Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan
aku. Orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tem-
pat perlindungannya, dan terbang mendatangi-Nya di dalam
iman dan doa, boleh yakin akan keselamatannya, dengan cara
dan di dalam waktu-Nya.
Lihatlah di sini:
(1) Dari mana ia mengharapkan keselamatan – dari sorga. Ke
mana pun ia mencari di bumi ini, tidak ditemukannya tem-
pat perlindungan, tidak tampak baginya pertolongan. Te-
tapi ia menantikannya dari sorga. Orang yang mengangkat
Kitab Mazmur 57:1-7
821
hati mereka kepada perkara-perkara yang di atas boleh
mengharapkan segala kebaikan datang dari sana.
(2) Keselamatan apa gerangan yang diharapkannya itu. Ia per-
caya bahwa Tuhan akan menyelamatkannya dari celaan
orang-orang yang menginjak-injaknya, yang berusaha meng-
hancurkannya, dan, sementara itu, telah berbuat semampu
mereka untuk meresahkannya. Sebagian orang membaca-
nya demikian, Ia akan mengirim utusan dari sorga dan
menyelamatkan aku, sebab Dia telah mencela orang yang
akan menginjak-injak aku. Ia telah mengacaukan rancang-
an-rancangan mereka melawan aku sampai saat ini, dan
oleh sebab itu Ia akan membebaskanku sepenuhnya.
(3) Siapa yang akan dipandangnya sebagai sumber dari kese-
lamatannya: Kiranya Tuhan mengirim kasih setia dan kebe-
naran-Nya. Tuhan itu baik adanya dan setia pada setiap per-
kataan yang telah diucapkan-Nya. Kebaikan dan kasih
setia-Nya diperlihatkan-Nya saat Dia mengerjakan pem-
bebasan bagi umat-Nya. Kita tidak perlu hal lain lagi untuk
membuat kita berbahagia selain dibandingkan mengambil keun-
tungan dari kasih setia dan kebenaran Tuhan (25:10).
II. Ia menggambarkan kekuatan dan kebencian musuh-musuhnya
(ay. 5): Aku terbaring di tengah-tengah singa. Begitu ganas dan
geramnya Saul, dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, terha-
dap Daud, sehingga Daud seperti berada di gua singa saat di-
kelilingi oleh orang-orang seperti itu, yang terus-menerus meng-
aum melawannya dan siap memangsanya. Hati mereka sudah
terbakar, dan nafas yang mereka embuskan melulu kilatan api
saja. Seluruh hidup mereka terbakar api amarah, dan mengobar-
kan hati satu sama lain untuk melawan Daud, sedang mereka
sendiri dinyalakan oleh api neraka (Yak. 3:6). Mereka itu anak-
anak manusia, yang darinya orang dapat mengharapkan adanya
akal budi dan belas kasihan seorang manusia. Namun, mereka
justru menjadi binatang-binatang pemangsa dalam rupa manusia.
Gigi-gigi mereka, yang mereka kertakkan melawannya, dan yang
dengannya mereka berharap dapat mencabik-cabiknya dan me-
makannya lahap-lahap, laksana tombak dan panah yang cocok
digunakan untuk berbuat jahat dan membunuh. Dan lidah mere-
ka, yang dengannya mereka mengutukinya dan mencoreng nama
822
baiknya, laksana pedang tajam yang akan memotong dan mem-
bunuh (42:11). Lidah yang penuh dengan kebencian yaitu sen-
jata yang berbahaya, yang dengannya antek-antek Iblis berperang
melawan umat Tuhan . Ia menggambarkan rencana-rencana mereka
yang penuh kebencian melawannya (ay. 7) dan memperlihatkan
tujuan dari semua itu: “Mereka memasang jaring terhadap lang-
kah-langkahku, untuk menjeratku ke dalamnya, supaya aku tidak
bisa lagi menghindar dari tangan mereka. Mereka menggali lobang
di depanku, supaya aku, sebelum tersadar, akan jatuh terperosok
ke dalamnya.” Lihatlah rencana-rencana musuh-musuh gereja,
lihatlah betapa mereka bersusah payah untuk berbuat jahat. Na-
mun, marilah kita lihat apa jadinya dengan semua itu.
1. Perbuatan mereka itu memang sedikit banyak mengganggu
Daud: Ditundukkannya jiwaku. Semangatnya kendor dan ke-
palanya pusing saat berpikir bahwa ada saja orang-orang yang
berniat begitu jahat terhadapnya. Namun,
2. Perbuatan mereka itu akan menghancurkan diri mereka sen-
diri. Mereka menggali lobang untuk Daud, namun mereka sen-
diri jatuh ke dalamnya. Kejahatan yang mereka rancangkan
melawan Daud kembali menimpa mereka, dan mereka diper-
malukan sebab rancangan-rancangan mereka sendiri. Lalu
saat Saul mengejar-ngejar Daud, orang-orang Filistin malah
menyerang Saul sendiri. Bukan itu saja, di dalam gua, saat
Saul menyangka bahwa Daud akan segera jatuh ke dalam
tangannya, ia justru jatuh ke dalam tangan Daud, dan bergan-
tung pada kemurahan hati Daud.
III. Ia berdoa kepada Tuhan agar mempermuliakan diri-Nya dan nama-
Nya sendiri yang agung (ay. 6): “Apa pun yang terjadi pada diriku
dan kepentinganku, tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya
Tuhan ! Biarlah Engkau dipuji oleh para malaikat kudus, penghuni-
penghuni yang mulia dari dunia atas itu. Dan biarlah kemuliaan-
Mu mengatasi atau meliputi seluruh bumi! Biarlah semua pendu-
duk bumi ini mengenal dan memuji-Mu.” Demikianlah, kemuliaan
Tuhan sudah seharusnya lebih dekat lagi dengan hati kita, dan kita
harus lebih peduli akan kemuliaan-Nya dibandingkan peduli akan ke-
pentingan-kepentingan kita sendiri. saat Daud dilanda kesusah-
an dan kehinaan yang teramat besar, ia tidak berdoa, Tuhan, ting-
gikanlah aku, namun , Tuhan, tinggikanlah nama-Mu sendiri. Demi-
Kitab Mazmur 57:8-12
823
kian pula Anak Daud, saat jiwa-Nya resah, dan berdoa, Bapa,
selamatkanlah Aku dari saat ini, segera menarik kembali permo-
honan itu, dan mengucapkan ini sebagai gantinya, Untuk itulah
Aku datang ke dalam saat ini; Bapa, muliakanlah nama-Mu! (Yoh.
12:27-28). Atau doanya itu dapat dipandang sebagai seruan un-
tuk mempertegas permohonannya meminta kelepasan: “Tuhan,
kirimlah utusan dari sorga untuk menyelamatkan aku, dan dengan
demikian Engkau akan memuliakan diri-Mu sendiri sebagai Tuhan
atas sorga dan bumi.” Yang sungguh dapat mendorong hati kita
saat kita berdoa yaitu kemuliaan Tuhan , dan sebab itu, kemulia-
an Tuhan -lah, lebih dibandingkan penghiburan kita sendiri, yang seha-
rusnya kita tuju dalam semua permohonan kita saat meminta
belas kasihan dari-Nya. Sebab, permohonan inilah yang dijadikan
sebagai permohonan pertama dalam doa Bapa kami, sebagai per-
mohonan yang mengatur serta menuntun semua permohonan
lainnya, Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.
Doa Diubahkan Menjadi Pujian
(57:8-12)
8 Hatiku siap, ya Tuhan , hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermaz-
mur. 9 Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau
membangunkan fajar! 10 Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-
bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bang-
sa; 11 sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sam-
pai ke awan-awan. 12 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Tuhan ! Biarlah
kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi.
Betapa anehnya nada mazmur itu berubah di sini! Doa-doa dan
keluhan-keluhan Daud, melalui tindakan-tindakan iman yang hidup,
di sini, secara tiba-tiba, diubahkan menjadi puji-pujian dan ucapan
syukur. Kain kabungnya dilepaskan, dan kini dia berikatpinggangkan
kegembiraan, dan seruan haleluyanya begitu berkobar-kobar sama
seperti seruan hosananya. Ini haruslah membuat kita jatuh cinta
pada doa, bahwa, cepat atau lambat, doa itu akan diliputi oleh puji-
pujian.
Lihatlah :
I. Bagaimana ia mempersiapkan dirinya untuk menjalankan kewa-
jiban memuji Tuhan (ay. 8): Hatiku siap, ya Tuhan , hatiku siap.
824
Hatiku tegak, atau terangkat (begitulah menurut sebagian orang),
padahal sebelumnya tertunduk (ay. 7). Hatiku siap,
1. Dengan pengetahuan akan segala pemeliharaan Tuhan . Hatiku
siap menghadapi setiap peristiwa, sebab ia tetap tinggal pada
Tuhan (112:7; Yes. 26:3). Hatiku siap, maka aku tidak menghi-
raukan nyawaku sedikit pun (Kis. 20:24). Jika kita dengan
anugerah Tuhan dibawa ke dalam keadaan jiwa yang mantap
dan tenang seperti ini, maka kita mempunyai banyak alasan
untuk bersyukur.
2. Dengan terus menyembah Tuhan : Hatiku siap untuk bernyanyi
dan memuji. Tersiratnya yaitu bahwa hati merupakan hal
utama yang disyaratkan dalam semua kegiatan ibadah. Di da-
lam agama, apa yang tidak dilakukan dengan hati tidak akan
menghasilkan apa-apa. Hati harus siap, siap untuk menjalan-
kan kewajiban, harus disesuaikan dan dipersiapkan untuk-
nya, siap menjalankan kewajiban itu secermat mungkin, mela-
yani Tuhan tanpa gangguan.
II. Bagaimana ia menggugah dirinya sendiri untuk menjalankan ke-
wajiban memuji Tuhan (ay. 9): Bangunlah, hai jiwaku (KJV: Ba-
ngunlah, hai kemuliaanku – pen.), maksudnya, bangunlah lidahku
(lidah kita yaitu kemuliaan kita, dan terlebih lagi bila digunakan
untuk memuji Tuhan ), atau jiwaku yang pertama-tama harus di-
bangunkan. Ibadah yang kering dan tidak bersemangat tidak
akan pernah diterima oleh Tuhan . Kita harus menggugah diri kita
sendiri, dan segala apa yang ada di dalam diri kita, untuk memuji
Tuhan . Dengan api kuduslah korban itu harus dibakar, dan naik
ke hadapan-Nya dalam lidah api yang kudus. Lidah Daud akan
memimpin, dan gambus serta kecapinya akan mengiringi saat
menyanyikan lagu-lagu pujian ini. Aku sendiri akan bangun,
bukan hanya, “Aku tidak akan diam saja, dan mengantuk, dan
asal-asalan saja dalam melakukan pekerjaan ini,” melainkan,
“Jiwaku akan teramat sangat hidup, seperti orang yang baru ba-
ngun dari tidur yang nyenyak.” Dia akan bangun di kala fajar
untuk melakukan pekerjaan ini, pagi-pagi betul untuk memulai
hari bersama Tuhan , pagi-pagi benar saat kasih setia mulai mun-
cul. jika Tuhan mendatangi kita dengan kebaikan-kebaikan-
Nya, kita harus menyongsong-Nya dengan puji-pujian kita.
III. Bagaimana dia menghibur diri, dan (kalau boleh saya mengata-
kannya) bahkan memegahkan diri, dalam pekerjaan memuji ini.
Dia sama sekali jauh dari merasa malu untuk mengakui bahwa ia
mempunyai kewajiban-kewajiban kepada Tuhan dan bergantung
kepada-Nya. sebab itulah ia bertekad untuk bersyukur kepada-
Nya di antara bangsa-bangsa dan bermazmur bagi-Nya di antara
suku-suku bangsa (ay. 10). Ini berarti,
1. Bahwa hatinya sangat tergugah dan dibesarkan saat me-
muji-muji Tuhan . Ia bahkan ingin membuat bumi berdentang
dengan nyanyian-nyanyian sucinya, supaya semua orang bisa
melihat betapa ia melihat dirinya sangat berutang budi akan
kebaikan Tuhan .
2. Bahwa ia ingin mengajak orang lain untuk bergabung ber-
samanya dalam memuji Tuhan . Ia akan memberitakan puji-
pujian kepada Tuhan di antara bangsa-bangsa, supaya pengeta-
huan, ketakutan, dan kasih akan Tuhan disebarkan, dan
ujung-ujung bumi dapat melihat keselamatan yang datang
dari-Nya. saat Daud diusir ke negeri orang-orang kafir, ia
bukan saja tidak mau menyembah ilah-ilah mereka, namun
malah akan menyatakan secara terang-terangan pemujaannya
kepada Tuhan Israel. Ia hendak membawa agamanya bersama-
sama dengan dia ke mana pun dia pergi, berusaha mengajak
orang lain jatuh cinta pada agamanya, dan meninggalkan bau
harum agamanya. Daud, dalam mazmur-mazmurnya, yang
memenuhi jemaat Tuhan di mana-mana, dan akan tetap demi-
kian sampai akhir zaman, dapat dikatakan masih bersyukur
kepada Tuhan di antara bangsa-bangsa dan bermazmur bagi-
Nya di antara suku-suku bangsa. Sebab, semua orang baik
menggunakan kata-katanya dalam memuji Tuhan . Demikian
juga Rasul Yohanes, dalam tulisan-tulisannya, dikatakan ber-
nubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum (Why. 10:11).
IV. Bagaimana dia melengkapi dirinya dengan pokok pujian (ay. 11).
Apa yang menjadi pokok pengharapan dan penghiburannya (Kira-
nya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, [ay.
4]) di sini merupakan pokok ucapan syukurnya: Kasih setia-Mu
besar sampai ke langit, besar melampaui segala pemikiran dan
ungkapan. Dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan, tinggi me-
lampaui segala jangkauan, sebab adakah mata yang dapat men-
jangkau apa yang terbungkus di dalam awan-awan? Kasih setia
dan kebenaran Tuhan sampai ke langit, sebab keduanya akan
membawa ke sorga semua orang yang menyimpan harta mereka
di dalam kasih setia dan kebenaran itu dan yang membangun
pengharapan mereka di atasnya. Kasih setia dan kebenaran Tuhan
dipuji bahkan sampai ke langit, maksudnya, oleh semua peng-
huni dunia atas yang cemerlang dan terberkati, yang terus-mene-
rus menaikkan puji-pujian bagi Tuhan sampai setinggi-tingginya,
sementara Daud, di bumi, berusaha untuk menyebarkan puji-
pujian-Nya sampai ke tempat yang sejauh-jauhnya (ay. 10).
V. Bagaimana dia pada akhirnya menyerahkan kepada Tuhan untuk
memuliakan nama-Nya sendiri (ay. 12): Tinggikanlah diri-Mu, ya
Tuhan ! Perkataan sama yang telah digunakannya (ay. 6) untuk
meringkas doa-doanya di sini dipakainya lagi (dan ini bukanlah
pengulangan yang sia-sia) untuk meringkas puji-pujiannya:
“Tuhan, aku ingin meninggikan nama-Mu, dan itu agar semua
makhluk dapat meninggikannya. Namun, apakah yang dapat dila-
kukan oleh orang-orang terbaik dari kami untuk meninggikan
nama-Mu itu? Tuhan, ambillah pekerjaan ini ke dalam tangan-Mu
sendiri. Lakukanlah itu sendiri: Tinggikanlah diri-Mu, ya Tuhan !
Dalam puji-pujian gereja yang sudah menang, Engkau ditinggikan
sampai ke langit, dan dalam puji-pujian gereja yang berjuang,
kemuliaan-Mu tersebar di seluruh bumi. Namun Engkau meng-
atasi segala puji dan hormat baik dari gereja yang sudah menang
maupun dari gereja yang sedang berjuang (Neh. 9:5), dan oleh
sebab itu, Tuhan, tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit dan meng-
atasi seluruh bumi. Bapa, muliakanlah nama-Mu! Engkau telah me-
muliakan-Nya, dan akan memuliakan-Nya lagi!”
PASAL 58
da dugaan yang kemungkinan benar dari sebagian orang (khu-
susnya Amyraldus) bahwa sebelum Saul mulai mengejar-ngejar
Daud dengan bala tentaranya, dan mengerahkan pasukannya untuk
menangkap dia, ia terlebih dulu mengadili Daud melalui jalur hu-
kum. Dalam pengadilan itu, Daud dihukum tanpa diberi kesempatan
untuk membela diri, dan ia didakwa sebagai pengkhianat, oleh
mahkamah agung, atau mahkamah pengadilan tinggi, dan kemudian
dinyatakan sebagai “qui caput gerit lupinum – penjahat tanpa perlin-
dungan hukum,” yang boleh dibunuh oleh siapa saja dan tidak boleh
dilindungi oleh siapa pun. Diduga bahwa Daud menggoreskan maz-
mur ini saat para penatua Yahudi, dengan tujuan untuk menjilat
Saul, sudah mengesahkan hukuman ini.
I. Ia menggambarkan dosa mereka, dan mengungkapkan beta-
pa beratnya dosa mereka itu (ay. 2-6).
II. Ia mengutuk dan menubuatkan kehancuran mereka, serta
penghakiman-penghakiman yang akan ditimpakan oleh Tuhan
yang adil kepada mereka atas ketidakadilan mereka (ay. 7-
10), yang akan membawa,
1. Pada penghiburan orang-orang kudus (ay. 11).
2. Pada kemuliaan Tuhan (ay. 12).
Di sini dosa tampak sebagai sesuatu yang teramat sangat salah dan
teramat sangat berbahaya, dan bahwa Tuhan dengan adil akan mem-
balaskan segala kesalahan. sebab itu, dalam menyanyikan mazmur
ini, hati kita haruslah tergerak oleh hal ini .
Teguran bagi Hakim-hakim yang Fasik
(58:1-6)
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam
dari Daud. 2 Sungguhkah kamu memberi keputusan yang adil, hai para pe-
nguasa? Apakah kamu hakimi anak-anak manusia dengan jujur? 3 Malah
sesuai dengan niatmu kamu melakukan kejahatan, tanganmu, menjalankan
kekerasan di bumi. 4 Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak
dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat. 5 Bisa mereka serupa bisa
ular, mereka seperti ular tedung tuli yang menutup telinganya, 6 yang tidak
mendengarkan suara tukang-tukang serapah atau suara pembaca mantera
yang pandai.
Ada alasan untuk menduga bahwa mazmur ini mengacu pada keben-
cian Saul dan pasukannya dalam melawan Daud, sebab di dalam-
nya ada kata kenangan yang sama (Al-taschith dan Miktam dari Daud)
yang juga ada pada mazmur sebelumnya dan mazmur sesudah-
nya. Dari judulnya, tampak bahwa kedua mazmur yang mendahului
dan mengikuti mazmur sekarang ini ditulis dengan merujuk pada
peristiwa penganiayaan ini , di mana Daud dipelihara oleh Tuhan
(Al-taschith – Jangan memusnahkan). Oleh sebab itu, mazmur-maz-
mur yang digoreskannya pada waktu itu sungguh berharga baginya,
Miktam – perhiasan-perhiasan Daud, sebagaimana Dr. Hammond
menerjemahkannya.
Dalam perikop di atas, Daud bukanlah seorang raja, sebab pada
waktu itu ia belum naik takhta. Jadi ia seorang nabi, dan di dalam
nama Tuhan ia mendakwa dan mempersalahkan hakim-hakimnya, de-
ngan wewenang dan keadilan yang lebih besar dibandingkan yang mereka
tunjukkan dalam mengadilinya. Ada dua hal yang didakwakannya
kepada mereka:
I. Kebobrokkan pemerintahan mereka. Mereka yaitu anggota maje-
lis, dewan pengadilan, bahkan, mungkin dewan perwakilan atau
majelis tinggi negara. Dari mereka orang dapat mengharapkan
perlakuan yang adil, sebab mereka yaitu orang-orang yang ter-
pelajar dalam bidang hukum, yang telah dididik dalam segala
undang-undang dan penghakiman ini, yang begitu adil sehingga
tidak tertandingi oleh undang-undang dan penghakiman dari
suku-suku bangsa lain. Orang tidak akan menyangka bahwa de-
wan seperti itu dapat disuap dan dipengaruhi oleh uang, namun
tampaknya mereka berlaku seperti itu, sebab anak Kish dapat
berbuat bagi mereka apa yang tidak dapat diperbuat oleh anak
Isai (1Sam. 22:7). Saul mempunyai kebun anggur, ladang, dan ke-
dudukan untuk diberikan kepada mereka, dan sebab itu, untuk
menyenangkannya, mereka akan melakukan apa saja, benar atau
salah. Dari semua pandangan Salomo yang menyedihkan tentang
dunia beserta segala kesedihannya ini, tidak ada yang begitu
meresahkannya selain melihat bahwa di tempat pengadilan, di situ
pun ada ketidakadilan (Pkh. 3:16). Demikian pula halnya
pada masa Saul.
1. Hakim-hakim tidak mau melakukan apa yang benar, tidak
mau melindungi atau membenarkan orang-orang tidak bersa-
lah yang tertindas (ay. 2): “Sungguhkah kamu memberi kepu-
tusan yang adil, atau menghakimi dengan jujur? Tidak, kamu
jauh dari itu. Hati nuranimu sendiri tidak bisa tidak berbicara
kepadamu bahwa kamu tidak menjalankan dengan baik keper-
cayaan yang sudah diberikan kepadamu sebagai hakim, yang
dengannya kamu disumpah untuk menghukum orang-orang
yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat
baik. Inikah keadilan yang pura-pura kamu berikan? Inikah
perlindungan, inikah sokongan, yang dapat diharapkan dari-
mu oleh orang yang jujur, oleh perkara yang benar? Ingatlah,
engkau yaitu anak-anak manusia. Engkau fana dan akan
mati, dan engkau berdiri di hadapan Tuhan sederajat dengan
orang-orang paling hina yang kauinjak-injak itu, dan engkau
sendiri pasti akan dipanggil untuk dimintai pertanggungjawab-
an, dan akan dihakimi. Engkau yaitu anak-anak manusia,
dan oleh sebab itu engkau dapat melihat pada dirimu sendiri,
dan pada hukum alam yang tertulis di dalam hati setiap
manusia: Sungguhkah kamu memberi keputusan yang adil?
Dan, sesudah engkau merenung-renungkan kembali, akankah
engkau membenarkan apa yang telah kauperbuat?” Perhati-
kanlah, sering kali baik bagi kita untuk merenungkan apa
yang kita katakan dengan mengajukan pertanyaan yang sung-
guh-sungguh ini, Sungguhkah kita memperkatakan kebenaran?
Dengan demikian kita dapat menarik kembali perkataan salah
yang sudah kita ucapkan dan tidak melanjutkan untuk mela-
kukannya.
2. Mereka berbuat banyak kesalahan. Mereka menggunakan ke-
kuasaan mereka untuk menyokong kejahatan dan penindasan
(ay. 3): Dengan niatmu kamu melakukan kejahatan (KJV: Di da-
lam hatimu kamu mengerjakan kejahatan – pen.) (segala kefa-
sikan hidup dikerjakan di dalam hati). Ini mengartikan bahwa
mereka melakukannya dengan banyak persekongkolan dan
rancangan, bukan secara mendadak melainkan dengan per-
timbangan dan siasat, dan dengan hati yang berpaut padanya
serta tekad bulat untuk menjalankannya. Semakin besar hati
berperan dalam tindak kefasikan apa saja, semakin buruklah
hati itu (Pkh. 8:11). Dan apakah gerangan kefasikan mereka
itu? Selanjutnya dikatakan, “Tanganmu, menjalankan kekeras-
an di bumi” (atau di negeri), “padahal engkau sudah ditetapkan
untuk menjaga kedamaiannya.” Mereka melakukan segala
kekerasan dan kejahatan yang dapat mereka lakukan, untuk
memperkaya diri sendiri ataupun untuk membalaskan den-
dam pribadi, dan mereka melakukannya dengan pertimbang-
an, maksudnya,
(1) Mereka melakukannya dengan sangat terampil dan hati-
hati: “Engkau menjalankannya sesuai dengan aturan dan
ketentuan” (begitulah arti kata itu), “supaya perbuatanmu
dapat memenuhi niat-niat jahatmu dengan berhasil. Begitu
piawainya engkau dalam menjalankan penindasan.”
(2) Mereka melakukannya dengan berpura-pura menegakkan
keadilan. Mereka memegang timbangan (lambang keadilan)
di tangan mereka, seolah-olah mereka hendak berbuat be-
nar, dan kebenaran dapat diharapkan dari mereka, namun
hasilnya yaitu kekerasan dan penindasan, yang dijalan-
kan dengan lebih berhasil sebab dilakukan dengan dalih
hukum dan kebenaran.
II. Kebobrokan sifat mereka. Ini merupakan akar dari kepahitan yang
darinya empedu itu muncul (ay. 4): Sejak lahir orang-orang fasik,
yang mengerjakan kefasikan di dalam hatinya, telah menyimpang,
menyimpang dari Tuhan dan semua kebaikan, jauh dari hidup
persekutuan dengan Tuhan , dan dari asas-asas, kuasa-kuasa, serta
kesenangan-kesenangannya (Ef. 4:18). Keadaan berdosa yaitu
keadaan yang terasing sehingga orang tidak dapat mengenal Tuhan
dan melayani-Nya, yang untuk itu kita diciptakan. Janganlah ada
orang yang terheran-heran bila melihat orang-orang fasik ini
berani melakukan hal-hal seperti itu, sebab kefasikan sudah me-
rasuki tulang-tulang mereka. Mereka membawa kefasikan ber-
sama mereka ke dalam dunia. Di dalam sifat mereka ada
kecenderungan yang kuat untuk berbuat fasik. Mereka mempela-
jarinya dari orangtua mereka yang fasik, dan mereka sudah ter-
latih melakukannya melalui pendidikan yang buruk. Mereka
disebut pemberontak sejak dari kandungan, dan ini tidak salah
sebut. Oleh sebab itu, orang tidak dapat mengharapkan apa-apa
selain bahwa mereka akan berbuat khianat sekeji-kejinya (Yes.
48:8). Mereka menyimpang dari Tuhan dan dari kewajiban mereka
segera sesudah mereka dilahirkan, (maksudnya, sesegera mungkin
sesudah mereka mampu melakukannya). Kebodohan yang bersa-
rang di dalam hati mereka menampakkan diri dalam pekerjaan-
pekerjaan akal budi yang pertama-tama mereka lakukan. saat
gandum tumbuh, lalang juga tumbuh bersamanya. Ada tiga con-
toh yang diberikan di sini mengenai kerusakan sifat manusia:
1. Kebohongan. Mereka cepat belajar berkata dusta, dan melen-
turkan lidahnya seperti busur, untuk berdusta (Yer. 9:3). Beta-
pa cepatnya anak-anak kecil berdusta untuk berdalih atas
kesalahan mereka, atau untuk memuji diri mereka sendiri!
Begitu mereka bisa berbicara, mereka segera membicarakan
apa yang membawa penghinaan bagi Tuhan . Dosa-dosa lidah
merupakan beberapa dari tindak pelanggaran-pelanggaran kita
yang pertama.
2. Kebencian. Bisa mereka (yaitu, niat jahat mereka, dan kebenci-
an yang mereka berikan terhadap kebaikan dan semua orang
baik, terutama terhadap Daud) yaitu serupa bisa ular. Itu
sudah dari pembawaan, beracun, dan sangat berbahaya, dan
tidak dapat disembuhkan. Kita merasa kasihan pada seekor
anjing yang terkena racun tanpa sengaja, namun kita membenci
ular yang memang beracun dari pembawaannya. Seperti itulah
permusuhan terkutuk yang ada di antara keturunan ular ini
melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya.
3. Ketidaktaatan. Mereka penuh dengan kebencian, dan tidak
ada satu pun yang akan mengubah mereka. Akal budi atau-
pun kebaikan tidak dapat menenangkan mereka, atau men-
jadikan mereka berperilaku lebih baik. Mereka seperti ular
tedung tuli yang menutup telinganya (ay. 5-6). sesudah mem-
bandingkan orang-orang fasik ini dengan ular, sebab keben-
cian mereka yang beracun, sang pemazmur mengambil kesem-
patan dari situ, dalam hal lain, untuk membandingkan mereka
dengan ular tedung tuli atau ular berbisa. Berkenaan dengan
hal ini, ada adat kebiasaan pada masyarakat di kala itu bahwa
mereka mempunyai cara untuk memperdaya ular dengan
memainkan musik atau dengan menggunakan seni lain, entah
untuk membinasakannya atau setidak-tidaknya untuk mem-
buatnya tidak mampu berbuat jahat. Berbeda dengan ular-
ular lain, ular tedung tuli ini biasanya menempelkan satu teli-
nganya ke tanah dan menutup telinga lainnya dengan ekor-
nya, sehingga ia tidak dapat mendengar suara mantera, dan
dengan demikian menggagalkan mantera itu dan melindungi
dirinya sendiri. Penggunaan perbandingan ini tidaklah membe-
narkan cerita itu, atau, jika cerita itu benar, tidak membenar-
kan penggunaan mantera ini. Sebab ini hanya merupakan
kiasan saja untuk menggambarkan betapa keras kepalanya
orang-orang berdosa di dalam jalan dosa mereka. Rancangan
Tuhan , di dalam firman dan pemeliharaan-Nya, yaitu untuk
menyembuhkan ular-ular dari kejahatan mereka. Dan untuk
mencapai tujuan ini, betapa bijak, betapa berkuasa, dan beta-
pa jitunya mantera-mantera itu! Betapa berkuasanya perkata-
an yang benar! Namun, semua ini sia-sia belaka bagi sebagian
besar orang, dan apakah yang menjadi alasannya? Ini sebab
mereka tidak mau mendengarkan. Tidak ada lagi yang lebih
tuli dibandingkan orang yang tidak mau mendengar. Kami meniup
seruling bagi mereka, namun mereka tidak menari. Bagaimana
mungkin mereka mendengar bila mereka menutup telinga me-
reka?
Kutukan-kutukan Nubuatan
(58:7-12)
7 Ya Tuhan , hancurkanlah gigi mereka dalam mulutnya, patahkanlah gigi
geligi singa-singa muda, ya TUHAN! 8 Biarlah mereka hilang seperti air yang
mengalir lenyap! Biarlah mereka menjadi layu seperti rumput di jalan! 9
Biarlah mereka seperti siput yang menjadi lendir, seperti guguran perempuan
yang tidak melihat matahari. 10 Sebelum periuk-periukmu merasakan api
semak duri, telah dilanda-Nya baik yang hidup segar maupun yang hangus.
11 Orang benar itu akan bersukacita, sebab ia memandang pembalasan, ia
akan membasuh kakinya dalam darah orang fasik. 12 Dan orang akan ber-
kata: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Tuhan
yang memberi keadilan di bumi.