mazmur 51-100 3


 takh-

ta anugerah dengan permasalahan kita, jika  kita tidak mu-

lai berusaha untuk mengenal Tuhan  . Dan bila kita terus datang 

kepada-Nya, maka permasalahan kita itu dengan sendirinya 

akan menggerakkan roda doa sehingga bisa terus berputar. 

Orang yang berpikir bahwa makan tiga kali sehari baik bagi 

tubuh, seharusnya bisa lebih berpikir lagi bahwa doa tiga kali 

sehari yang penuh kesungguhan hati juga baik bagi jiwa, dan 

seharusnya ia menganggap doa itu sebagai suatu kesenangan, 

dan bukan tugas. Seperti halnya pantas bagi kita untuk me-

mulai hari bersama Tuhan   di pagi hari, dan di malam hari me-

nutupnya bersama Dia, demikian pula pantas bagi kita untuk 

mengundurkan diri sejenak di tengah hari untuk bercakap-

cakap dengan-Nya. Sudah menjadi kebiasaan Daniel untuk 

berdoa tiga kali sehari (Dan. 6:10), dan waktu tengah hari 

merupakan salah satu waktu untuk berdoa bagi Petrus (Kis. 

10:9). Janganlah kita jemu untuk selalu berdoa, sebab Tuhan   

tidak jemu untuk mendengarkan. “Dia akan mendengarkan 

suaraku, dan tidak akan mempersalahkanku  sebab  terlalu 

Kitab Mazmur 55:17-24 

 799 

sering datang kepada-Nya. Malahan, semakin sering justru 

semakin baik, semakin disambut hangat.”  

II.  Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tuhan   pada waktunya akan 

memberi  jawaban damai sejahtera bagi doa-doanya.  

1.  Bahwa ia sendiri akan diluputkan dan ketakutan-ketakutan-

nya diatasi. Ketakutan-ketakutan yang membuatnya tidak ke-

ruan itu (ay. 5-6) kini dibungkam melalui imannya yang dige-

rakkan, dan dia mulai bersukacita di dalam pengharapan (ay. 

19): Ia membebaskan aku dengan aman, yakni, Dia akan melu-

putkan jiwaku. Daud sangat yakin akan pembebasan baginya 

itu, seolah-olah pembebasan itu sudah terlaksana. Musuh-

musuhnya sedang berperang melawannya, dan pertempuran 

dilancarkan menentangnya, namun Tuhan   meluputkannya da-

lam damai, yakni, menyelamatkannya dengan penuh penghi-

buran seolah-olah dia tidak pernah berada di dalam bahaya. 

Sekalipun tidak membebaskannya dalam kemenangan, Dia 

meluputkannya dalam damai, dengan damai di dalam batin. 

Dia membebaskan jiwanya dalam damai. Oleh kesabaran dan 

sukacita yang kudus di dalam Tuhan  , ia tetap memiliki damai 

itu. Orang-orang yang aman dan tenang yaitu  mereka yang 

hati dan pikirannya dipelihara oleh damai sejahtera Tuhan   yang 

melampaui segala akal (Flp. 4:7). Daud, dalam rasa takut yang 

amat sangat, berpikir bahwa semua orang menentangnya. 

namun  sekarang dia melihat bahwa ada banyak yang bersama-

nya, lebih dibandingkan  yang dibayangkannya. Yang didapatkan-

nya terbukti melebihi apa yang diharapkannya, dan untuk ini 

dia memberi  kemuliaan kepada Tuhan  . Sebab Dialah yang 

membangkitkan teman-teman bagi kita saat  kita membutuh-

kan mereka, dan membuat mereka setia kepada kita. Ada ba-

nyak yang besertanya, sebab meskipun rakyatnya meninggal-

kannya, dan beralih kepada Absalom, namun Tuhan   dan para 

malaikat yang baik bersamanya. Dengan mata iman ia seka-

rang melihat dirinya dikelilingi, seperti Elisa, dengan kuda-

kuda dan kereta-kereta berapi, dan  sebab  itu ia bermegah 

seperti ini, “Ada banyak yang menyertai aku, lebih banyak 

dibandingkan  yang melawan aku” (2Raj. 6:16-17).  

2.  Bahwa musuh-musuhnya akan dibalas dan dijerumuskan. 

Mereka telah menakut-nakutinya dengan ancaman-ancaman 


 800

mereka (ay. 4), namun  di sini hanya dengan berkata-kata ia 

membuat mereka ketakutan dan gemetar, dan tidak ada obat 

penawar lagi bagi mereka. Sebab mereka tidak dapat mene-

nangkan diri dari ketakutan-ketakutan mereka, seperti yang 

dilakukan Daud, dengan iman kepada Tuhan  .  

(1) Daud di sini menjadikan sifat mereka sebagai alasan meng-

apa dia berharap agar Tuhan   menjerumuskan mereka.  

[1] Mereka tidak saleh dan cemar, dan tidak hormat ter-

hadap Tuhan  , terhadap kuasa atau murka-Nya (ay. 20): 

“ sebab  mereka tidak berubah (tidak ada penderitaan, 

tidak ada gangguan di dalam jalan kemakmuran yang 

terus mereka nikmati, tidak ada salib yang dapat me-

ngosongkan tempayan-tempayan mereka), maka mereka 

tidak takut akan Tuhan  . Mereka hidup dengan terus 

mengabaikan dan menghina Tuhan   serta agama, yang 

merupakan penyebab dari semua kefasikan mereka. 

Oleh  sebab  semua inilah mereka pasti ditentukan un-

tuk binasa.”  

[2] Mereka penuh khianat dan kepalsuan. Perbuatan-per-

buatan kudus dan tulus pun tidak mempan bagi me-

reka (ay. 21): “Orang itu mengacungkan tangannya ke-

pada mereka yang hidup damai dengan dia, yang tidak 

pernah membuatnya kesal, atau menimbulkan alasan 

bagi dia untuk berselisih dengan mereka. Malah, ia 

telah memberi mereka segala kemungkinan dorongan 

untuk mengharapkan kebaikan darinya. Ia telah meng-

acungkan tangannya kepada mereka yang telah diberi-

nya uluran tangannya. Ia telah melanggar konvenannya 

baik dengan Tuhan   maupun dengan manusia. Ia telah 

berkhianat dan menghancurkan pertaliannya dengan 

Tuhan   dan manusia.” Tidak ada lain lagi yang menjadi-

kan manusia segera binasa dibandingkan  semuanya ini. 

[3] Mereka rendah dan munafik, mengaku berteman pada-

hal merancangkan kejahatan (ay. 22): “Perkataan mulut-

nya” (mungkin secara khusus yang dimaksudkannya 

yaitu  Ahitofel) “lebih licin dari mentega dan lebih lem-

but dari minyak. Begitu sopan dan ramahnya dia, begitu 

bebasnya dia dalam berpura-pura memberi  peng-

Kitab Mazmur 55:17-24 

 801 

hormatan dan kebaikan, dan dalam menawarkan ban-

tuan-bantuannya. Namun, pada saat yang sama, ia ber-

niat menyerang, dan semua kesopanan ini hanyalah 

merupakan siasat perang, dan perkataan-perkataan 

mulutnya mengandung rancangan yang licik sehingga 

semua perkataan itu seperti pedang terhunus yang di-

maksudkan untuk menikam.” Wajah mereka tersenyum 

kepada seseorang, namun mereka menggorok lehernya 

pada saat yang sama, seperti Yoab, yang mencium lalu 

membunuh. Iblis yaitu  musuh yang begitu licik, ia 

membuai manusia menuju kehancurannya. Kalau ia 

ramah, janganlah percaya kepadanya.   

(2) Daud di sini menubuatkan kehancuran mereka.  

[1] Tuhan   akan merendahkan mereka, dan membawa mereka 

ke dalam kesukaran serta ketakutan. Ia membalaskan 

kesengsaraan kepada orang-orang yang telah menyeng-

sarakan umat-Nya. Semuanya ini diperbuat-Nya untuk 

menjawab doa-doa umat-Nya: Tuhan   akan mendengar 

dan merendahkan mereka, mendengar teriakan orang-

orang tertindas dan menyampaikan kengerian kepada 

para penindas mereka. Dia yang bersemayam sejak 

purbakala, yang yaitu  Tuhan   dari kekekalan, sampai 

selamanya dan seterusnya, yang duduk sebagai Hakim 

sejak permulaan waktu, dan yang selalu mengatur 

segala perkara anak-anak manusia. Manusia yang fana 

ini, meskipun berkedudukan begitu tinggi dan kuat, 

akan dengan mudah dihancurkan oleh Tuhan   yang 

kekal. Mereka sama sekali tidak setara dengan Dia. Hal 

inilah yang sungguh membuat orang-orang kudus ter-

hibur saat mereka menghadapi kuasa musuh-musuh 

gereja yang mengancam mereka (Hab. 1:12): Bukankah 

Engkau, ya TUHAN, dari dahulu?  

[2] Tuhan   akan menjerumuskan mereka, bukan hanya ke da-

lam debu, melainkan juga ke lubang sumur yang dalam 

(ay. 24), ke lubang jurang maut, yang disebut sebagai 

tempat kebinasaan (Ayb. 26:6). Ia merendahkan mereka 

(ay. 20) untuk melihat apakah itu akan membuat mere-

ka rendah hati dan memperbaharui diri. namun , jika  


 802

mereka tidak diubahkan olehnya, maka pada akhirnya 

Dia akan membawa mereka pada kehancuran. Orang-

orang yang tidak bisa dibawa kembali ke jalan yang be-

nar dengan tongkat penderitaan pasti akan dijerumus-

kan ke dalam lubang kebinasaan. Mereka itu para pe-

numpah darah dan penipu (yakni, manusia yang paling 

buruk), dan oleh sebab itu tidak akan mencapai sete-

ngah umurnya, tidak akan mencapai setengah dari 

umur orang pada umumnya, seperti yang dapat mereka 

capai secara alamiah, dan seperti yang mereka harap-

kan sendiri. Mereka akan hidup seperti yang sudah di-

tentukan oleh Tuhan segala kehidupan, Sang Hakim 

yang benar, yang di dalam Dia tersimpan rahasia jum-

lah hari yang harus kita jalani di dunia ini. namun  Ia 

telah memutuskan untuk merenggut mereka dengan 

kematian yang lebih awal di tengah-tengah hari mereka. 

Mereka itu para penumpah darah. Mereka menghabisi 

orang lain, dan oleh sebab itu adillah pula bila Tuhan   

juga menghabisi mereka. Mereka itu para penipu. Me-

reka memperdayai orang lain dengan mengambil sete-

ngah dari apa yang mungkin seharusnya menjadi milik 

orang itu, dan sekarang Tuhan   akan mengambil dari mere-

ka sampai mereka berkekurangan, sekalipun itu sebe-

narnya bukan hak mereka, apa pun yang dihitung me-

reka tetap saja akan diambil-Nya.    

III. Ia mendorong dirinya sendiri dan semua orang baik untuk 

berserah diri kepada Tuhan  , dengan keyakinan teguh kepada-Nya. 

Ia sendiri bertekad untuk melakukannya (ay. 24): “Aku ini percaya 

kepada-Mu, akan pemeliharaan-Mu, akan kuasa dan kasih setia-

Mu, dan bukan pada kebijaksanaan, kekuatan, atau jasaku sen-

diri. Sekalipun orang penumpah darah dan penipu dibinasakan di 

tengah-tengah hari mereka, aku akan tetap hidup dengan iman 

akan Dikau.” Dan dia ingin orang lain juga melakukannya (ay. 

23): “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN,” (KJV: Serahkanlah 

bebanmu kepada Tuhan – pen.), siapa pun kamu yang sedang ber-

beban, dan apa pun beban itu. “Serahkanlah pemberianmu ke-

pada Tuhan” (begitulah sebagian orang membacanya). “Berkat apa 

pun yang telah dikaruniakan Tuhan   kepadamu untuk engkau nik-

Kitab Mazmur 55:17-24 

 803 

mati, serahkanlah semuanya itu kepada penjagaan-Nya, dan ter-

utama serahkanlah pemeliharaan atas jiwamu kepada-Nya.” Atau, 

“Apa pun yang engkau inginkan untuk diberikan Tuhan   kepadamu, 

serahkan saja itu kepada-Nya agar Dia memberi nya kepa-

damu dengan cara dan dalam waktu-Nya sendiri. Serahkanlah 

segala kekhawatiranmu kepada Tuhan,” begitulah menurut terje-

mahan Septuaginta [Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani – 

pen.], seperti yang dirujuk oleh Rasul Petrus (1Ptr. 5:7). Kekhawa-

tiran yaitu  beban, kekhawatiran itu membuat hati orang bung-

kuk (Ams. 12:25). Kita harus menyerahkannya kepada Tuhan   di 

dalam iman dan doa, menyerahkan jalan dan pekerjaan-pekerjaan 

kita kepada-Nya. Biarlah Dia melakukan apa yang tampak baik 

bagi-Nya, maka kita pun akan puas. Menyerahkan beban kita ke-

pada Tuhan   berarti tetap tinggal di dalam pemeliharaan dan janji-

Nya, dan dengan tenang meyakini bahwa segala sesuatunya akan 

bekerja demi kebaikan. Jika kita melakukannya, maka kita dijan-

jikan,  

1. Bahwa Dia akan menopang kita, mendukung dan juga menye-

diakan bagi kita. Dia sendiri akan menggendong kita di dalam 

lengan kuasa-Nya, seperti seorang ibu yang menggendong ba-

yinya yang sedang menyusui. Dia akan menguatkan roh kita, 

sehingga dengan Roh-Nya roh kita akan menopang kelemahan 

kita. Ia tidak berjanji akan melepaskan kita dengan segera dari 

permasalahan yang menimbulkan kekhawatiran dan ketakut-

an dalam diri kita. namun  Dia akan mengatur sedemikian rupa 

agar kita tidak dicobai melampaui kemampuan kita, dan agar 

kita diberi kemampuan sesuai dengan pencobaan yang kita 

alami.  

2.  Bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan orang benar goyah, 

digoncangkan oleh permasalahan apa pun sehingga mereka 

meninggalkan kewajiban mereka terhadap Tuhan   ataupun kehi-

langan penghiburan mereka di dalam Dia. Bagaimanapun 

juga, Dia tidak akan membiarkan mereka goyah untuk selama-

lamanya (begitulah sebagian orang membacanya). Meskipun 

mereka jatuh, tidak akan sampai terempas.  

 

 

 

  

 

 

PASAL 56  

ampak dari mazmur ini, dan banyak mazmur lainnya, bahwa 

dalam masa-masa yang tersulit dan menekan sekalipun, Daud 

tidak pernah menggantungkan kecapinya di pohon gandarusa. Dia 

tidak pernah melepaskan senarnya atau menyimpannya. Sebaliknya, 

saat  dalam bahaya dan ketakutan terbesar, dia tetap ingin menya-

nyikan pujian bagi Tuhan  . Dia sedang dalam ancaman bahaya saat  

menulis mazmur ini, atau setidaknya saat  merenungkannya. Namun 

pada saat seperti itu pun renungannya tentang Tuhan   terasa manis. 

I. Daud mengeluh tentang kebencian musuh-musuhnya, dan 

memohon belas kasihan bagi dirinya dan keadilan dilakukan 

terhadap mereka (ay. 2-3, 6-8). 

II. Dia percaya kepada Tuhan  , dengan keyakinan bahwa Dia telah 

bertindak. Dia merasa terhibur,  sebab  dengan demikian 

maka dia aman dan akan menang, dan selama hidup dia 

akan memuji Tuhan   (ay. 4-5, 9-14).  

Betapa bersukacitanya orang Kristen yang baik saat  ia menya-

nyikan mazmur ini, hatinya penuh syukur kepada Tuhan   atas apa 

yang akan Dia lakukan, maupun atas apa yang telah Dia kerjakan.  

Doa Meminta Tolong saat  Mengalami Penindasan; 

Keyakinan kepada Tuhan   

(56:1-8) 

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Merpati di pohon-pohon tarbantin 

yang jauh. Miktam dari Daud, saat  orang Filistin menangkap dia di Gat. 2 

Kasihanilah aku, ya Tuhan  , sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepan-

jang hari orang memerangi dan mengimpit aku! 3 Seteru-seteruku menginjak-

injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan 

sombong. 4 Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; 5 kepada Tuhan  , 


 806

yang firman-Nya kupuji, kepada Tuhan   aku percaya, aku tidak takut. Apakah 

yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? 6 Sepanjang hari mereka me-

ngacaukan perkaraku; mereka senantiasa bermaksud jahat terhadap aku. 7 

Mereka mau menyerbu, mereka mengintip, mengamat-amati langkahku, 

seperti orang-orang yang ingin mencabut nyawaku. 8 Apakah mereka dapat 

luput dengan kejahatan mereka? Runtuhkanlah bangsa-bangsa dengan mur-

ka-Mu, ya Tuhan  ! 

Dalam mazmur ini, dengan iman Daud menyerahkan dirinya ke 

dalam tangan Tuhan  , sekalipun saat  itu dia sudah terjerumus ke da-

lam tangan orang-orang Filistin akibat ketakutan dan kebodohannya. 

Ini terjadi saat  mereka menangkap dia di Gat. Saat itu ia melarikan 

diri ke sana  sebab  takut kepada Saul, lupa pada perselisihannya 

dengan orang Filistin  sebab  membunuh Goliat. Dan, orang-orang 

Filistin itu pun memperkarakan dia dengan persoalan ini  

(1Sam. 21:10-11). Dalam keadaan itu dia mengubah tingkah lakunya, 

namun wataknya hanya sedikit sekali berubah, seperti tampak saat  

dia menulis mazmur ini dan Mazmur 34. Mazmur ini disebut Miktam 

– sebuah mazmur emas. Beberapa mazmur lain juga disebut demi-

kian, namun yang ini memiliki kekhususan pada bagian judulnya. 

Mazmur ini berdasar  Jonath-elem-rechokim, yang artinya merpati 

bisu di tempat yang jauh (TB: “Merpati di pohon-pohon tarbantin yang 

jauh”). Beberapa orang mengartikan sebutan ini untuk Daud sendiri, 

yang ingin memiliki sayap seperti merpati untuk terbang pergi. Dia 

tidak bersalah dan tidak suka bertengkar, lembut dan sabar, seperti 

seekor merpati, yang saat itu sedang terhalau dari sarangnya, dari 

tempat kudus (74:3). Dia terpaksa jauh mengembara, untuk mencari 

tempat berteduh di negeri-negeri yang jauh. Di sana dia seperti 

burung-burung merpati di lembah-lembah, berduka dan bersedih, 

namun diam membisu, tidak menggerutu terhadap Tuhan   ataupun 

mencerca orang-orang yang menyebabkan kesesakannya. Di sini dia 

merupakan pelambang atau gambaran dari Kristus, yang seperti 

seekor domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting 

bulunya. Dia menjadi sebuah teladan bagi orang-orang Kristen, yang 

harus seperti merpati bisu di mana pun mereka berada dan apa pun 

ketidakadilan yang menimpa mereka.  

I. Dia mengeluh kepada Tuhan   tentang kebencian dan kejahatan mu-

suh-musuhnya, untuk menunjukkan apa alasannya dia takut ter-

hadap mereka, dan apa pentingnya serta apa perlunya agar Tuhan   

seharusnya tampil melawan mereka (ay. 2): Kasihanilah aku, ya

Kitab Mazmur 56:1-8 

 807 

Tuhan  . Permohonan itu mencakup segala hal baik yang menjadi 

tujuan kita menghampiri takhta kasih karunia. Jika kita menda-

patkan belas kasihan di sana, kita mendapatkan segala yang bisa 

kita inginkan, dan tidak ada lagi yang kita perlukan untuk mem-

buat kita bahagia. Permohonan ini  juga menyiratkan bahwa 

seruan permohonan kita yang terbaik pun bukanlah yang men-

datangkan belas kasihan Tuhan   yang kaya dan cuma-cuma itu, 

melainkan belas kasihan-Nya semata. Daud berdoa supaya dia 

bisa mendapatkan belas kasihan dari Tuhan  ,  sebab  dia tidak bisa 

mendapatkannya dari manusia. saat  dia melarikan diri dari 

tangan Saul yang kejam, dia jatuh ke dalam tangan orang Filistin 

yang bengis. “Tuhan,” katanya, “kiranya Engkau mengasihani aku 

sekarang, atau aku binasa.” Belas kasihan Tuhan   dapat menjadi 

tempat tujuan kita melarikan diri, dan belas kasihan-Nya itu 

dapat kita andalkan. Kita boleh meminta belas kasihan itu di 

dalam doa dengan iman, saat  kita sedang dikepung dari segala 

penjuru oleh kesulitan dan bahaya. Daud mengeluh, 

1. Bahwa musuh-musuhnya sangat banyak (ay. 3): “Banyak 

orang yang memerangi aku, dan berpikir dapat mengalahkan 

aku dengan jumlah mereka yang banyak itu. Perhatikanlah 

ini, Engkau, ya Mahamulia (KJV), dan buatlah ini nyata, saat  

mereka bersikap sombong, tunjukkanlah bahwa Engkau lebih 

mulia dibandingkan  mereka.” Tindakan yang menunjukkan kemu-

liaan yaitu  datang menolong seseorang yang sedang melawan 

orang banyak. Dan kalau Tuhan   ada di pihak kita, berapa pun 

banyaknya orang yang berperang melawan kita, kita boleh bang-

ga, atas dasar yang baik, bahwa ada lebih banyak yang bersama 

kita. Yaitu, seperti yang dikatakan seorang jenderal besar, “Kita 

memperhitungkan Dia sebagai berapa banyak orang?” 

2. Bahwa mereka sangat biadab. Mereka hendak menginjak-injak 

dia (ay. 2 dan 3; KJV: menelan – pen.). Mereka berusaha me-

mangsa dia, dan tidak akan puas jika belum berhasil. Mereka 

mengejar dia dengan kegeraman yang dahsyat, seperti bina-

tang pemangsa, yang hendak menyantap habis dagingnya 

(27:2). Manusia hendak menelan dia, padahal mereka makh-

luk yang serupa dengannya, dan dia mengharapkan sifat ke-

manusiaan dari mereka. Binatang yang paling buas pun tidak 

akan memangsa binatang yang jenisnya sama dengan mereka, 

namun  orang yang jahat justru sebaliknya akan memangsa 


 808

orang yang baik jika ia mampu. “Mereka itu manusia, lemah 

dan rapuh. Buatlah mereka menyadarinya” (9:21). 

3. Bahwa persekutuan mereka sangat kuat (ay. 7): Mereka itu ber-

kumpul (TL). Walaupun jumlah mereka banyak, dan berbeda-

beda kepentingan di antara mereka sendiri, namun mereka 

berkumpul dan bersatu melawan Daud, seperti Herodes dan 

Pilatus melawan Anak Daud. 

4. Bahwa mereka sangat kuat, benar-benar terlalu sulit baginya 

jika Tuhan   tidak membantunya: Mereka memerangi aku (ay. 3), 

mereka mengimpit aku (ay. 2). Aku hampir dikalahkan dan 

ditundukkan oleh mereka, sampai hampir mati. 

5. Bahwa mereka sangat cerdik dan licik (ay. 7): Mereka mengin-

tip (KJV: Mereka bersembunyi – pen.). Mereka menyembunyikan 

rencana-rencana mereka dengan cerdik, supaya dapat lebih 

berhasil melaksanakan dan mengusahakannya. Mereka ber-

sembunyi bagaikan seekor singa di dalam liangnya, supaya 

dapat mengamat-amati langkah-langkahku. Maksudnya, mereka 

mengamat-amati semua yang aku katakan dan lakukan dengan 

pandangan yang mencari-cari kesalahan, dengan maksud un-

tuk menemukan sesuatu yang dapat dipakai untuk menuduh-

ku (seperti itulah musuh-musuh Kristus mengamat-amati Dia, 

Luk. 20:20). Atau, mereka mengawasi semua gerak-gerikku, 

supaya dapat memperoleh kesempatan untuk melakukan 

sesuatu yang jahat terhadapku, dan dapat mempersiapkan 

jebakan untukku. 

6. Bahwa mereka sangat dengki dan jahat. Mereka mereka-reka 

yang jelek terhadap segala sesuatu yang dikatakannya supaya 

orang marah kepada dia, walaupun semua itu mengandung 

maksud yang sangat tulus dan disampaikan dengan sangat 

bijaksana (ay. 6): “Mereka mengacaukan perkaraku (KJV: memu-

tarbalikkan kata-kataku – pen.), memberi  penekanan yang 

berlebihan pada kata-kataku, untuk menimbulkan kesan yang 

berbeda dengan maksud yang sesungguhnya.” Dengan demi-

kian, mereka menuduh dia bersalah dengan perkataannya 

(Yes. 29:21), dengan tidak menyampaikan perkataannya se-

cara benar kepada Saul dan melebih-lebihkannya, untuk me-

nyulut kemarahan Saul terhadap Daud. Mereka mengerahkan 

segala upaya mereka untuk menghancurkan Daud. Seluruh 

pikiran mereka menentang dia dengan maksud jahat, sehingga 

Kitab Mazmur 56:1-8 

 809 

mereka menafsirkan hal-hal jahat terhadap segala perkataan-

nya. 

7. Bahwa mereka betul-betul tidak kenal lelah dan tidak pernah 

bosan. Mereka terus saja mengincar nyawanya. Nyawalah, 

nyawa yang berharga, yang mereka kejar-kejar. Kematiannya 

yang mereka inginkan (ay. 7). Setiap hari mereka memerangi 

dia (ay. 2), menginjak-injak dia (ay. 3; KJV: menelan – pen.), 

dan mengacaukan perkaranya (ay. 6; KJV: memutarbalikkan 

kata-katanya – pen.). Kebencian mereka tidak mengenal gen-

catan senjata atau penghentian tindakan permusuhan sedikit 

pun. Sebaliknya, mereka terus-menerus mendesak dia. Seperti 

inilah rasa permusuhan Iblis dan antek-anteknya melawan Ke-

rajaan Kristus dan kepentingan agama-Nya yang kudus. Jika 

kita mengikatkan diri kepada-Nya dan kepada kepentingan 

agama-Nya dengan sepenuh hati, maka kita tidak perlu me-

rasa heran jika sampai mendapat perlakuan seperti ini seolah-

olah ada hal aneh menimpa kita. Orang-orang terbaik kita 

telah diperlakukan seperti itu. Demikian juga telah dianiaya 

nabi-nabi. 

II. Daud mendapatkan keberanian di dalam Tuhan  , dan di dalam jan-

ji, kuasa dan pemeliharaan-Nya (ay. 4-5). Di tengah keluhan-

keluhannya, dan sebelum dia menyampaikan apa yang ingin dia 

katakan tentang musuh-musuhnya, dia bersorak-sorai di dalam 

perlindungan ilahi. 

1. Tekadnya sudah bulat bahwa Tuhan  lah andalannya.  sebab  itu, 

saat  bahaya begitu mengancam dan semua andalannya yang 

lain gagal: “Waktu aku takut, pada hari ketakutanku, saat  

aku merasa sangat ngeri dari luar dan sangat takut dalam 

hati, maka aku ini percaya kepada-Mu, dan redalah segala 

ketakutanku.” Perhatikanlah, ada masa-masa yang secara 

khusus merupakan masa-masa yang menakutkan bagi umat 

Tuhan  . Pada masa-masa itu, sudah merupakan kewajiban dan 

kepentingan mereka untuk mempercayai Tuhan   sebagai Tuhan   

mereka, dan menjadi sadar siapa itu yang mereka percayai. Ini 

akan meneguhkan hati dan menjagainya tetap tenang. 

2. Dia membulatkan hatinya untuk menjadikan janji-janji Tuhan   

sebagai pokok puji-pujiannya, dan kita pun sudah sepantas-

nya melakukan hal yang sama (ay. 5): “Kepada Tuhan   yang ku-


 810

puji, bukan hanya  sebab  pekerjaan yang telah Dia lakukan, 

melainkan juga  sebab  firman-Nya yang telah Dia katakan. 

Aku hendak bersyukur kepada-Nya atas sebuah janji, walau-

pun janji itu belum digenapi. Kepada Tuhan  , dalam kekuatan-

Nya dan oleh pertolongan-Nya, aku akan bermegah dalam fir-

man-Nya dan memegahkan Dia  sebab nya.” Beberapa orang 

mengartikan kata firman-Nya sebagai pemeliharaan-Nya, yakni 

setiap peristiwa yang Dia atur dan tetapkan: “saat  aku me-

muji Tuhan  , aku akan memuji Dia atas segala yang Dia laku-

kan.” 

3. Dengan dukungan dari Tuhan  , dia akan menentang semua ke-

kuatan yang melawannya: “saat  kepada Tuhan   aku percaya, 

aku aman, aku tenang, dan aku tidak takut. Apakah yang da-

pat dilakukan manusia terhadap aku?  Mereka cuma manusia, 

tidak banyak yang bisa mereka lakukan, bahkan tidak dapat 

melakukan apa pun jika tidak diizinkan oleh Tuhan  .” Sebagai-

mana kita tidak boleh mengandalkan kekuatan manusia yang 

berperang untuk kita, demikian pula kita tidak boleh takut 

terhadap kekuatan manusia yang dikerahkan melawan kita. 

III. Daud sudah bisa melihat dan memperkatakan kejatuhan orang-

orang yang berperang melawan dia, termasuk juga semua orang 

lain yang bermaksud hendak bertahan di dalam dan dengan per-

buatan jahat mereka (ay. 8): Apakah mereka dapat luput dengan 

kejahatan mereka? Mereka berharap dapat luput dari hukuman 

Tuhan  ,  sebab  mereka biasa luput dari hukuman manusia, melalui 

cara kekerasan, penipuan, dan keahlian melakukan ketidakadilan 

dan pengkhianatan. namun  apakah mereka dapat luput? Tidak, 

pasti tidak akan luput. Dosa orang-orang berdosa tidak akan 

pernah melindungi mereka, begitu juga kekurangajaran maupun 

kemunafikan mereka tidak akan menyelamatkan mereka dari 

pengadilan Tuhan  . Dalam murka-Nya Tuhan   akan menjatuhkan dan 

menghalau orang-orang seperti itu (Rm. 2:3). Tidak ada yang naik 

begitu tinggi atau berdiri begitu teguh,  sebab  keadilan Tuhan   bisa 

menjatuhkan mereka, baik dari kehormatan maupun kepercayaan 

diri mereka. Siapakah yang mengenal kekuatan murka Tuhan  , be-

rapa tinggi jangkauannya dan berapa kuat pukulannya? 

Kitab Mazmur 56:9-14 

 811 

Penghiburan di dalam Penderitaan; 

Keyakinan kepada Tuhan    

(56:9-14) 

9 Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke

dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? 10 Maka musuh-

ku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Tuhan   memihak 

kepadaku. 11 Kepada Tuhan  , firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya 

kupuji, 12 kepada Tuhan   aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat di-

lakukan manusia terhadap aku? 13 Nazarku kepada-Mu, ya Tuhan  , akan ku-

laksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.14 Sebab Engkau 

telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga 

tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Tuhan   dalam cahaya 

kehidupan.     

 

Di sini Daud menghibur dirinya dengan beberapa hal pada hari dia 

mengalami kesulitan dan ketakutan. 

I. Bahwa Tuhan   memberi perhatian khusus atas segala keluhan dan 

kesedihannya (ay. 9). 

1. Atas segala kesulitan keadaannya: Sengsaraku, (atau dalam 

terjemahan lama pengembaraanku), Engkaulah yang menghi-

tung-hitung. Saat itu Daud masih muda yaitu di bawah tiga 

puluh tahun, namun sudah sering berpindah-pindah tempat 

tinggal. Dari rumah bapanya ke istana, kemudian ke perke-

mahan, dan sekarang dihalau keluar untuk menginap seben-

tar di tempat mana saja yang bisa dia temukan. Namun dia 

tidak dibiarkan tenang di mana pun. Dia diburu seperti seekor 

ayam hutan di gunung-gunung. Kengerian dan pergumulan 

terus-menerus mengikuti dia. Namun yang menghibur dia 

yaitu , bahwa Tuhan   memperhatikan dengan teliti semua tin-

dak-tanduknya, dan menghitung semua langkah berat yang 

dia ambil, baik siang maupun malam. Perhatikanlah, Tuhan   

mengambil tanggungjawab atas semua penderitaan umat-Nya, 

dan orang-orang yang telah disingkirkan manusia dari per-

gaulan dan percakapan mereka tidak Dia singkirkan dari 

pemeliharaan dan kasih-Nya. 

2. Atas semua tekanan yang dirasakan jiwanya. saat  dalam 

pengembaraan dia sering menangis, dan  sebab  itu berdoa, 

“Air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu, untuk disimpan 

dan diperhatikan. Bahkan, aku tahu semuanya telah Kaudaf-

tarkan, dalam kitab peringatan-Mu.” Tuhan   memiliki sebuah 


 812

kirbat dan sebuah kitab untuk air mata umat-Nya, baik air 

mata  sebab  dosa-dosa mereka maupun air mata  sebab  pen-

deritaan mereka. Ini menunjukkan, 

(1) Bahwa Dia memperhatikan mereka dengan penuh kasih 

sayang dan perhatian yang lembut. Dia menderita dalam 

penderitaan mereka, dan memahami kesesakan jiwa mere-

ka. Sebagaimana darah dan kematian orang-orang kudus-

Nya berharga di mata Tuhan, demikian juga air mata me-

reka, tidak ada satu tetes pun yang akan jatuh ke tanah. 

Telah kulihat air matamu (2Raj. 20:5). Telah Kudengar sung-

guh-sungguh Efraim meratap (Yer. 31:18). 

(2) Bahwa Dia akan mengingat dan terus melihat kembali air 

mata mereka, seperti yang kita lakukan pada catatan yang 

sudah kita buat. Paulus teringat pada air mata Timotius 

(2Tim. 1:4), dan Tuhan   tidak akan melupakan kesedihan 

umat-Nya. Air mata umat Tuhan   yang dianiaya disimpan di 

dalam kirbat dan termeterai dalam perbendaharaan Tuhan  . 

Dan, saat  kitab-kitab akhirnya dibuka, keluarlah cawan-

cawan berisi murka, yang akan ditumpahkan ke atas peng-

aniaya-penganiaya mereka. Tuhan   pasti akan berhadapan 

dengan penganiaya-penganiaya itu untuk semua air mata 

yang jatuh dari mata umat-Nya  sebab  mereka, dan itu 

akan menjadi puncak penghiburan bagi umat Tuhan   yang 

berdukacita. Kain kabung umat Tuhan   akan diganti dengan 

gaun puji-pujian. Tuhan   akan menghibur umat-Nya sebagai 

ganti atas waktu yang Dia biarkan selama mereka menderi-

ta. Dia akan membuat orang-orang yang menabur dengan 

bercucuran air mata menuai dengan bersorak-sorai. Air 

mata yang ditaburkan akan dituai sebagai mutiara. 

II. Bahwa doa-doanya memiliki kuasa untuk mengalahkan dan mem-

permalukan musuh-musuhnya. Doa-doanya juga mampu mendu-

kung dan mendorong semangatnya (ay. 10): “Maka musuhku akan 

mundur pada waktu aku berseru. Aku tidak membutuhkan sen-

jata lain selain doa dan air mata. Aku yakin, bahwa Tuhan   memi-

hak kepadaku, memperjuangkan perkaraku, melindungi dan mem-

bebaskan aku. Dan jika Tuhan   di pihakku, siapa yang dapat me-

nang melawan aku?” Orang-orang kudus memiliki Tuhan   di pihak 

mereka. Mereka harus mengetahui hal ini, dan harus berteriak 

Kitab Mazmur 56:9-14 

 813 

kepada-Nya saat  dikepung musuh. Jika mereka melakukan ini 

dengan iman, maka mereka akan menemukan kekuatan ilahi 

dikerjakan dan dikerahkan untuk mereka. Musuh-musuh mereka 

akan dipukul mundur, yaitu musuh-musuh rohani mereka, yang 

sebaiknya kita lawan dengan berlutut (Ef. 6:18). 

III. Bahwa imannya kepada Tuhan   mengangkat dia mengatasi rasa 

gentarnya terhadap manusia (ay. 11-12). Di sini dia mengulangi 

apa yang sudah dia katakan, dengan cara yang sangat menyentuh 

(ay. 5): “Kepada Tuhan  , firman-Nya kupuji. Artinya, aku akan 

benar-benar mengandalkan janji demi Dia yang membuatnya. Dia 

benar dan setia, dan memiliki kebijaksanaan, kekuasaan, dan ke-

baikan yang cukup untuk menggenapi janji-Nya.” Jika kita mem-

percayai surat pernyataan seseorang, maka kita mempercayai 

orang yang menulisnya. Demikian pula, jika dalam penderitaan 

kita mempercayai firman Tuhan  , mengandalkan janji-Nya dan tidak 

meragukannya, maka kita memuliakan Tuhan  , dan dengan memuji 

firman-Nya kita memuji Dia.  sebab  mempercayai Tuhan   seperti 

itu, Daud memandang kekuatan manusia yang mengancamnya 

dengan sikap merendahkan yang kudus: Kepada Tuhan   aku per-

caya, dan hanya kepada-Nya saja, dan oleh  sebab  itu aku tidak 

takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku (ay. 

12), walaupun aku tahu benar apa yang akan dia lakukan jika dia 

dapat (ay. 2-3). Perkataan kemenangan ini sangat menunjukkan 

kebesaran hati yang kudus, sehingga rasul menjadikannya per-

kataan setiap orang percaya sejati yang dia anggap sebagai pahla-

wan Kristen (Ibr. 13:6). Dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan 

yaitu  Penolongku,” oleh  sebab  itu aku tidak takut. Apakah yang 

dapat dilakukan manusia terhadap aku?  sebab  manusia tidak 

memiliki kekuatan kecuali diberikan dari atas. 

IV. Bahwa dia terikat kepada Tuhan   (ay. 13): “Nazarku kepada-Mu, ya 

Tuhan  , akan kulaksanakan. Bukan kulaksanakan sebagai beban 

yang memberatkanku, melainkan sebagai lencana yang dengan-

nya aku bermegah,  sebab  dengannya aku dikenal sebagai ham-

ba-Mu yang rendah. Bukan kulaksanakan sebagai belenggu yang 

menghambatku (seperti nazar yang berdasar  takhayul), me-

lainkan sebagai kendali yang menahanku dari hal-hal yang dapat 

membahayakan aku, dan yang mengarahkanku kepada tanggung-


 814

jawabku. Nazarku kepada-Mu akan kulaksanakan, yaitu nazar 

yang kubuat kepada-Mu, yang atasnya Engkau bukan hanya 

menjadi saksi, melainkan juga merupakan pihak yang terlibat. 

Engkaulah yang memerintahkan dan mendorong aku untuk mem-

buatnya.” Mungkin yang dia maksudkan terutama yaitu  nazar-

nazar yang dia buat kepada Tuhan   pada hari dia mengalami 

kesulitan dan kesukaran. Dia hendak mengingat nazar-nazarnya 

dan menjalankan kewajibannya, walaupun ketakutannya sudah 

berlalu. Perhatikanlah, yang harus menjadi pertimbangan dan 

sukacita kita yaitu  bahwa nazar kita kepada Tuhan   akan kita lak-

sanakan, yakni, nazar baptisan kita perlu diperbarui di meja per-

jamuan Tuhan, nazar yang kadang-kadang kita buat saat  kita 

insaf atas dosa kita, saat  kita sedang ditegur. Kita terikat de-

ngan nazar-nazar ini  untuk hidup bagi Tuhan  . 

V. Bahwa dia masih akan memiliki lebih dan lebih banyak lagi ke-

sempatan untuk menaikkan pujian syukur kepada-Nya: Korban 

syukur akan kubayar kepada-Mu. Ini yaitu  bagian dari pelak-

sanaan nazarnya,  sebab  nazar yang menyatakan rasa syukur 

sudah sepatutnya menyertai doa yang meminta belas kasihan, 

dan saat  belas kasihan diterima maka nazar haruslah ditepati. 

saat  kita memikirkan apa yang akan kita berikan sebagai 

balasan, setidaknya kita bisa memutuskan untuk membalas de-

ngan pujian syukur kepada Tuhan   – balasan yang miskin untuk 

berkat yang kaya! Dia akan menaikkan pujian syukur kepada 

Tuhan   atas dua hal: 

1. Atas apa yang telah Dia lakukan baginya (ay. 14): “Sebab 

Engkau telah meluputkan aku, hidupku, dari pada maut, yang 

siap untuk mencengkeram aku.” Tuhan   telah membebaskan 

kita dari dosa, dengan anugerah-Nya yang mencegah kita me-

lakukannya, maupun dengan belas kasihan-Nya yang meng-

ampuni supaya kita tidak dihukum. Oleh  sebab  itu sudah 

sepantasnya kita mengakui bahwa Dia telah meluputkan jiwa 

kita dari kematian, yang merupakan upah dosa. Jika kita, 

yang secara alami mati  sebab  dosa, dibangkitkan bersama-

sama dengan Kristus, dan dihidupkan secara rohani, maka 

kita sudah sepantasnya mengakui bahwa Tuhan   telah meluput-

kan jiwa kita dari maut. 

Kitab Mazmur 56:9-14 

 815 

2. Atas apa yang akan Dia lakukan baginya: “Sebab Engkau telah 

meluputkan aku dari pada maut, dan dengan begitu telah 

memberi  aku hidup yang baru. Dengan demikian pula 

Engkau memberi aku sebuah jaminan untuk mendapatkan 

belas kasihan untuk selanjutnya, bahwa Engkau akan men-

jaga kakiku sehingga tidak tersandung. Engkau telah melaku-

kan perkara yang lebih besar, maka Engkau akan melakukan 

juga perkara yang lebih kecil. Engkau telah memulai pekerjaan 

yang baik, maka Engkau akan meneruskan dan menyempur-

nakannya.” Ini dapat dianggap sebagai isi doanya, dengan ber-

sandar pada pengalamannya, atau sebagai isi pujiannya, yang 

mempertinggi pengharapannya. Orang-orang yang tahu bagai-

mana menaikkan puji-pujian syukur dengan iman, akan ber-

syukur kepada Tuhan   atas segala belas kasihan-Nya, baik itu 

yang ada di dalam janji-Nya dan pengharapan yang diberikan-

Nya, maupun yang sudah diterima oleh mereka.  

Lihatlah di sini: 

(1) Apa yang Daud harapkan, yaitu agar Tuhan   akan menjaga 

kakinya sehingga tidak jatuh, baik ke dalam dosa, yang 

akan melukai hati nuraninya, maupun ke dalam sesuatu 

yang tampak seperti dosa, yang bisa memberi kesempatan 

kepada musuh-musuhnya untuk merusak nama baiknya. 

Orang yang menyangka bahwa dia teguh berdiri, harus 

berhati-hati supaya jangan jatuh,  sebab  orang hanya 

dapat berdiri dengan kukuh teguh selama Tuhan   berkenan 

menopangnya. Kita ini lemah, jalan yang kita lalui licin, 

banyak batu sandungan di jalan, dan musuh-musuh ro-

hani kita berusaha menjerumuskan kita.  sebab  itu kita 

harus memercayakan diri kepada pemeliharaan-Nya de-

ngan iman dan doa,  sebab  langkah kaki orang-orang yang 

dikasihi-Nya dilindungi-Nya. 

(2) Apa yang Daud jadikan sebagai dasar bagi pengharapannya 

itu: “Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, 

dan dengan itu Engkau telah menunjukkan betapa besar 

kuasa dan kebaikan-Mu, dan melayakkan aku untuk me-

nerima belas kasihan untuk selanjutnya dibandingkan -Mu. 

Maka masakan sekarang Engkau tidak akan melindungi 

dan memahkotai pekerjaan-Mu sendiri?” Tuhan   tidak pernah 


 816

membawa umat-Nya keluar dari Mesir untuk membantai 

mereka di padang gurun. Dia yang membebaskan jiwa dari 

kematian yang begitu besar, yaitu dosa, melalui pertobat-

an, tidak akan gagal pula untuk menyelamatkan jiwa itu, 

sehingga dia masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. 

(3) Apa yang Daud rencanakan dengan harapan-harapan ter-

sebut: Maka aku boleh berjalan di hadapan Tuhan   dalam 

cahaya kehidupan. Artinya, 

[1]  Supaya aku boleh masuk ke dalam sorga, satu-satunya 

negeri cahaya dan kehidupan.  sebab  di dunia ini kege-

lapan dan kematian berkuasa. 

[2]  Supaya aku boleh mengerjakan tanggung jawabku se-

lagi masih hidup. Perhatikanlah, yang harus menjadi 

tujuan segala keinginan dan pengharapan kita untuk 

dibebaskan baik dari dosa maupun dari kesulitan ada-

lah supaya kita dapat melayani Tuhan   dengan jauh lebih 

baik lagi. Supaya sesudah dilepaskan dari tangan mu-

suh, kita dapat melayani Dia tanpa takut.  

 

 

PASAL 57  

azmur ini sangat serupa dengan mazmur sebelumnya. Ditulis-

nya pun pada kesempatan yang serupa, yaitu saat  Daud 

sedang ada masalah dan godaan untuk berbuat dosa. Mazmur ini di-

mulai seperti mazmur sebelumnya, “Kasihanilah aku.” Cara penyam-

paiannya juga sama.  

I.  Ia memulai dengan doa dan keluhan, namun bukannya tan-

pa keyakinan sama sekali bahwa permintaannya akan dika-

bulkan (ay. 2-7).  

II.  Ia menutup dengan sukacita dan pujian (ay. 8-12).  

Dengan demikian, saat menyanyikan mazmur ini kita dapat 

mengambil suatu petunjuk dan dorongan, bahwa dalam menaikkan 

permohonan maupun ucapan syukur, kita dapat mempersembahkan 

doa dan keluhan kepada Tuhan  . 

Doa dalam Penderitaan 

(57:1-7) 

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam 

Dari Daud, saat  ia lari dari pada Saul, ke dalam gua. 2 Kasihanilah aku, ya 

Tuhan  , kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam na-

ungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. 3 

Aku berseru kepada Tuhan  , Yang Mahatinggi, kepada Tuhan   yang menyelesai-

kannya bagiku. 4 Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan 

aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. S e l a Kiranya Tuhan   

mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya. 5 Aku terbaring di tengah-tengah 

singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tom-

bak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam. 6 Tinggikanlah diri-Mu 

mengatasi langit, ya Tuhan  ! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi! 7 

Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku, ditundukkannya 

jiwaku, mereka menggali lobang di depanku, namun  mereka sendiri jatuh ke 

dalamnya. S e l a. 


 818

Dalam judul mazmur ini ada  satu kata yang baru, Al-taschith – 

Jangan memusnahkan. Sebagian orang menganggap kata ini hanya 

sebagai suatu nada tertentu yang sudah dikenal yang digunakan 

sebagai dasar untuk menyanyikan mazmur ini. Ada juga yang me-

ngaitkannya pada kejadian dan isi dari mazmur ini. Jangan memus-

nahkan, maksudnya, Daud tidak akan membiarkan Saul dimusnah-

kan, walaupun sekarang di dalam gua ia mempunyai kesempatan 

baik untuk membunuhnya, dan orang-orangnya pasti dengan senang 

hati akan melakukannya. “Tidak”, kata Daud, “jangan musnahkan 

dia” (1Sam. 24:5, 7). Atau lebih baik, Tuhan   tidak akan membiarkan 

Daud dimusnahkan oleh Saul. Dia membiarkan Saul mengejar-ngejar 

Daud, namun tetap dalam batasan ini, Jangan musnahkan dia. Ini 

seperti Dia mengizinkan Iblis membuat Ayub menderita, Hanya sa-

yangkan nyawanya. Daud tidak boleh dimusnahkan, sebab di dalam-

nya masih ada berkat (Yes. 65:8), dan terlebih lagi di dalam Kristus, 

ada yang terbaik dari semua berkat. Pada saat berada di dalam gua, 

nyaris terancam bahaya, Daud memberitahukan kepada kita di sini 

bagaimana perasaan hatinya kepada Tuhan  . Dan berbahagialah orang-

orang yang mempunyai pikiran-pikiran baik seperti itu dalam benak 

mereka saat  sedang terancam bahaya!       

I.  Ia menyokong dirinya sendiri dengan iman dan pengharapan ke-

pada Tuhan  , dan dengan doa kepada-Nya (ay. 2-3).  sebab  melihat 

dirinya dikepung oleh musuh-musuhnya, dia menengadah kepada 

Tuhan   sambil mengucapkan doa yang layak: Kasihanilah aku, ya 

Tuhan  , yang kemudian diulanginya lagi, dan ini bukanlah peng-

ulangan yang sia-sia: Kasihanilah aku. Ini juga doa yang diucap-

kan oleh pemungut cukai (Luk. 18:13). Sangat disayangkan bila 

ada yang sampai mengucapkan doa ini begitu saja dan tanpa rasa 

hormat, dengan berseru, “Ya Tuhan  , berbelaskasihlah kepada kami, 

atau, Ya Tuhan, kasihanilah kami,” padahal mereka hanya ber-

maksud mengungkapkan keheranan, keterkejutan, atau kejeng-

kelan mereka, sementara Tuhan   dan belas kasihan-Nya sama 

sekali tidak ada dalam pikiran mereka. Dengan perasaan saleh 

yang begitu mendalam Daud di sini berdoa, “Kasihanilah aku, ya 

Tuhan  ! Pandanglah aku dengan kerahiman-Mu, dan di dalam kasih 

serta belas kasihan-Mu, tebuslah aku.” Agar Tuhan   berbelas kasih-

an kepadanya, dia di sini mengakui, 

Kitab Mazmur 57:1-7 

 819 

1.  Bahwa dia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan  : Kepada-Mu-

lah jiwaku berlindung (ay. 2). Ia tidak hanya mengakui bahwa 

ia percaya atau berlindung kepada Tuhan  , namun  juga bahwa 

jiwanya benar-benar hanya mengandalkan Tuhan  , dengan iba-

dah yang tulus dan pengabdian diri, dan dengan penuh ke-

puasan seutuhnya. Ia datang kepada Tuhan  , dan, di tumpuan 

takhta anugerah-Nya, dengan rendah hati menyatakan keya-

kinannya kepada-Nya: Dalam naungan sayap-Mu aku akan 

berlindung, seperti anak-anak ayam berlindung di bawah sa-

yap induknya, saat  burung-burung pemangsa siap menyam-

bar mereka, sampai berlalu penghancuran itu.  

(1) Ia yakin bahwa permasalahannya akan berakhir dengan 

baik, pada waktunya. Penghancuran ini akan berlalu, badai 

akan bertiup dan lenyap. Non si male nunc et olim sic erit – 

Meskipun sekarang dalam kesusahan, tidak akan selama-

nya aku begitu. Yesus Tuhan kita menghibur diri-Nya de-

ngan hal ini dalam penderitaan-penderitaan-Nya, Apa yang 

tertulis tentang Aku sedang digenapi (Luk. 22:37; KJV: Sega-

la sesuatu mengenai Aku ada akhirnya – pen.).  

(2) Ia sangat tenang berada di bawah perlindungan ilahi 

selama masa susahnya itu.  

[1]  Ia menghibur dirinya dengan kebaikan sifat Tuhan  , yang 

dengannya Dia tergerak untuk membantu dan melin-

dungi umat-Nya, seperti induk ayam yang secara 

naluriah tergerak untuk menaungi anak-anaknya. Tuhan   

datang dengan sayap untuk menolong umat-Nya, yang 

menunjukkan cepatnya pembebasan itu (18:11). Dan 

Dia membawa mereka di bawah sayap-Nya, yang me-

nunjukkan kehangatan dan kesegaran, sekalipun mala-

petaka sedang mengintai mereka (Mat. 23:37).  

[2] Ia menghibur dirinya dengan janji firman-Nya dan 

kovenan anugerah-Nya. Sebab ini mungkin merujuk 

pada sayap-sayap para kerub yang terkembang, yang di 

atasnya Tuhan   dikatakan duduk (80:2) dan yang dari 

sana Dia menyampaikan sabda-sabda-Nya. “Kepada 

Tuhan  , sebagai Tuhan   sumber anugerah, aku akan ter-

bang, dan janji-Nya akan menjadi tempat perlindungan-

ku, dan akan menjadi jaminan bagiku untuk melewati 


 820

semua bahaya ini.” Tuhan  , melalui janji-Nya, menawar-

kan diri-Nya kepada kita, untuk kita percayai. Kita, me-

lalui iman kita, harus menerima segala sesuatu dari-

Nya, dan percaya kepada-Nya. 

2.  Bahwa segala yang diinginkannya dinyatakannya hanya ke-

pada Tuhan   (ay. 3): “Aku berseru kepada Tuhan  , Yang Mahating-

gi, untuk meminta pertolongan dan kelepasan. Kepada Dia 

yang mahatinggi aku hendak mengangkat jiwaku, dan berdoa 

dengan sungguh-sungguh, bahkan kepada Tuhan   yang menye-

lesaikannya bagiku.”  

Perhatikanlah:  

(1) Dalam segala sesuatu yang menimpa kita, kita harus me-

mandang dan mengakui pekerjaan tangan Tuhan  . Apa pun 

yang terjadi yaitu  perbuatan-Nya, dan di dalam semua itu 

kehendak-Nya terlaksana dan nas Kitab Suci digenapi.  

(2) Apa pun yang diperbuat Tuhan   berkenaan dengan umat-

Nya, akan tampak pada akhirnya bahwa semua itu diper-

buat bagi mereka dan demi kepentingan mereka. Meskipun 

Tuhan   itu tinggi, mahatinggi, Dia mau turun sampai sebegitu 

rendahnya untuk menjaga agar segala sesuatu bekerja 

demi kebaikan umat-Nya.  

(3) Ini merupakan alasan yang baik mengapa kita, dalam se-

gala kesusahan dan kesukaran kita, harus berseru kepada-

Nya, tidak sekadar berdoa begitu saja, namun  berdoa dengan 

sungguh-sungguh.  

3.  Bahwa apa yang diharapkannya hanyalah dari Tuhan   (ay. 4): 

Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan 

aku. Orang yang menjadikan Tuhan   sebagai satu-satunya tem-

pat perlindungannya, dan terbang mendatangi-Nya di dalam 

iman dan doa, boleh yakin akan keselamatannya, dengan cara 

dan di dalam waktu-Nya.  

Lihatlah   di sini:  

(1)  Dari mana ia mengharapkan keselamatan – dari sorga. Ke 

mana pun ia mencari di bumi ini, tidak ditemukannya tem-

pat perlindungan, tidak tampak baginya pertolongan. Te-

tapi ia menantikannya dari sorga. Orang yang mengangkat 

Kitab Mazmur 57:1-7 

 821 

hati mereka kepada perkara-perkara yang di atas boleh 

mengharapkan segala kebaikan datang dari sana. 

(2) Keselamatan apa gerangan yang diharapkannya itu. Ia per-

caya bahwa Tuhan   akan menyelamatkannya dari celaan 

orang-orang yang menginjak-injaknya, yang berusaha meng-

hancurkannya, dan, sementara itu, telah berbuat semampu 

mereka untuk meresahkannya. Sebagian orang membaca-

nya demikian, Ia akan mengirim utusan dari sorga dan 

menyelamatkan aku, sebab Dia telah mencela orang yang 

akan menginjak-injak aku. Ia telah mengacaukan rancang-

an-rancangan mereka melawan aku sampai saat ini, dan 

oleh sebab itu Ia akan membebaskanku sepenuhnya.  

(3) Siapa yang akan dipandangnya sebagai sumber dari kese-

lamatannya: Kiranya Tuhan   mengirim kasih setia dan kebe-

naran-Nya. Tuhan   itu baik adanya dan setia pada setiap per-

kataan yang telah diucapkan-Nya. Kebaikan dan kasih 

setia-Nya diperlihatkan-Nya saat  Dia mengerjakan pem-

bebasan bagi umat-Nya. Kita tidak perlu hal lain lagi untuk 

membuat kita berbahagia selain dibandingkan  mengambil keun-

tungan dari kasih setia dan kebenaran Tuhan   (25:10).   

II. Ia menggambarkan kekuatan dan kebencian musuh-musuhnya 

(ay. 5): Aku terbaring di tengah-tengah singa. Begitu ganas dan 

geramnya Saul, dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, terha-

dap Daud, sehingga Daud seperti berada di gua singa saat  di-

kelilingi oleh orang-orang seperti itu, yang terus-menerus meng-

aum melawannya dan siap memangsanya. Hati mereka sudah 

terbakar, dan nafas yang mereka embuskan melulu kilatan api 

saja. Seluruh hidup mereka terbakar api amarah, dan mengobar-

kan hati satu sama lain untuk melawan Daud, sedang mereka 

sendiri dinyalakan oleh api neraka (Yak. 3:6). Mereka itu anak-

anak manusia, yang darinya orang dapat mengharapkan adanya 

akal budi dan belas kasihan seorang manusia. Namun, mereka 

justru menjadi binatang-binatang pemangsa dalam rupa manusia. 

Gigi-gigi mereka, yang mereka kertakkan melawannya, dan yang 

dengannya mereka berharap dapat mencabik-cabiknya dan me-

makannya lahap-lahap, laksana tombak dan panah yang cocok 

digunakan untuk berbuat jahat dan membunuh. Dan lidah mere-

ka, yang dengannya mereka mengutukinya dan mencoreng nama 


 822

baiknya, laksana pedang tajam yang akan memotong dan mem-

bunuh (42:11). Lidah yang penuh dengan kebencian yaitu  sen-

jata yang berbahaya, yang dengannya antek-antek Iblis berperang 

melawan umat Tuhan  . Ia menggambarkan rencana-rencana mereka 

yang penuh kebencian melawannya (ay. 7) dan memperlihatkan 

tujuan dari semua itu: “Mereka memasang jaring terhadap lang-

kah-langkahku, untuk menjeratku ke dalamnya, supaya aku tidak 

bisa lagi menghindar dari tangan mereka. Mereka menggali lobang 

di depanku, supaya aku, sebelum tersadar, akan jatuh terperosok 

ke dalamnya.” Lihatlah rencana-rencana musuh-musuh gereja, 

lihatlah betapa mereka bersusah payah untuk berbuat jahat. Na-

mun, marilah kita lihat apa jadinya dengan semua itu.  

1. Perbuatan mereka itu memang sedikit banyak mengganggu 

Daud: Ditundukkannya jiwaku. Semangatnya kendor dan ke-

palanya pusing saat berpikir bahwa ada saja orang-orang yang 

berniat begitu jahat terhadapnya. Namun,  

2. Perbuatan mereka itu akan menghancurkan diri mereka sen-

diri. Mereka menggali lobang untuk Daud, namun  mereka sen-

diri jatuh ke dalamnya. Kejahatan yang mereka rancangkan 

melawan Daud kembali menimpa mereka, dan mereka diper-

malukan  sebab  rancangan-rancangan mereka sendiri. Lalu 

saat  Saul mengejar-ngejar Daud, orang-orang Filistin malah 

menyerang Saul sendiri. Bukan itu saja, di dalam gua, saat  

Saul menyangka bahwa Daud akan segera jatuh ke dalam 

tangannya, ia justru jatuh ke dalam tangan Daud, dan bergan-

tung pada kemurahan hati Daud.    

III.  Ia berdoa kepada Tuhan   agar mempermuliakan diri-Nya dan nama-

Nya sendiri yang agung (ay. 6): “Apa pun yang terjadi pada diriku 

dan kepentinganku, tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya 

Tuhan  ! Biarlah Engkau dipuji oleh para malaikat kudus, penghuni-

penghuni yang mulia dari dunia atas itu. Dan biarlah kemuliaan-

Mu mengatasi atau meliputi seluruh bumi! Biarlah semua pendu-

duk bumi ini mengenal dan memuji-Mu.” Demikianlah, kemuliaan 

Tuhan   sudah seharusnya lebih dekat lagi dengan hati kita, dan kita 

harus lebih peduli akan kemuliaan-Nya dibandingkan  peduli akan ke-

pentingan-kepentingan kita sendiri. saat  Daud dilanda kesusah-

an dan kehinaan yang teramat besar, ia tidak berdoa, Tuhan, ting-

gikanlah aku, namun , Tuhan, tinggikanlah nama-Mu sendiri. Demi-

Kitab Mazmur 57:8-12 

 823 

kian pula Anak Daud, saat  jiwa-Nya resah, dan berdoa, Bapa, 

selamatkanlah Aku dari saat ini, segera menarik kembali permo-

honan itu, dan mengucapkan ini sebagai gantinya, Untuk itulah 

Aku datang ke dalam saat ini; Bapa, muliakanlah nama-Mu! (Yoh. 

12:27-28). Atau doanya itu dapat dipandang sebagai seruan un-

tuk mempertegas permohonannya meminta kelepasan: “Tuhan, 

kirimlah utusan dari sorga untuk menyelamatkan aku, dan dengan 

demikian Engkau akan memuliakan diri-Mu sendiri sebagai Tuhan   

atas sorga dan bumi.” Yang sungguh dapat mendorong hati kita 

saat kita berdoa yaitu  kemuliaan Tuhan  , dan  sebab  itu, kemulia-

an Tuhan  -lah, lebih dibandingkan  penghiburan kita sendiri, yang seha-

rusnya kita tuju dalam semua permohonan kita saat meminta 

belas kasihan dari-Nya. Sebab, permohonan inilah yang dijadikan 

sebagai permohonan pertama dalam doa Bapa kami, sebagai per-

mohonan yang mengatur serta menuntun semua permohonan 

lainnya, Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.  

Doa Diubahkan Menjadi Pujian  

(57:8-12) 

8 Hatiku siap, ya Tuhan  , hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermaz-

mur. 9 Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau 

membangunkan fajar! 10 Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-

bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bang-

sa; 11 sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sam-

pai ke awan-awan. 12 Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Tuhan  ! Biarlah 

kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi. 

Betapa anehnya nada mazmur itu berubah di sini! Doa-doa dan 

keluhan-keluhan Daud, melalui tindakan-tindakan iman yang hidup, 

di sini, secara tiba-tiba, diubahkan menjadi puji-pujian dan ucapan 

syukur. Kain kabungnya dilepaskan, dan kini dia berikatpinggangkan 

kegembiraan, dan seruan haleluyanya begitu berkobar-kobar sama 

seperti seruan hosananya. Ini haruslah membuat kita jatuh cinta 

pada doa, bahwa, cepat atau lambat, doa itu akan diliputi oleh puji-

pujian.  

Lihatlah  :  

I. Bagaimana ia mempersiapkan dirinya untuk menjalankan kewa-

jiban memuji Tuhan (ay. 8): Hatiku siap, ya Tuhan  , hatiku siap. 


 824

Hatiku tegak, atau terangkat (begitulah menurut sebagian orang), 

padahal sebelumnya tertunduk (ay. 7). Hatiku siap,  

1. Dengan pengetahuan akan segala pemeliharaan Tuhan  . Hatiku 

siap menghadapi setiap peristiwa, sebab ia tetap tinggal pada 

Tuhan   (112:7; Yes. 26:3). Hatiku siap, maka aku tidak menghi-

raukan nyawaku sedikit pun (Kis. 20:24). Jika kita dengan 

anugerah Tuhan   dibawa ke dalam keadaan jiwa yang mantap 

dan tenang seperti ini, maka kita mempunyai banyak alasan 

untuk bersyukur.  

2. Dengan terus menyembah Tuhan  : Hatiku siap untuk bernyanyi 

dan memuji. Tersiratnya yaitu  bahwa hati merupakan hal 

utama yang disyaratkan dalam semua kegiatan ibadah. Di da-

lam agama, apa yang tidak dilakukan dengan hati tidak akan 

menghasilkan apa-apa. Hati harus siap, siap untuk menjalan-

kan kewajiban, harus disesuaikan dan dipersiapkan untuk-

nya, siap menjalankan kewajiban itu secermat mungkin, mela-

yani Tuhan tanpa gangguan. 

II.  Bagaimana ia menggugah dirinya sendiri untuk menjalankan ke-

wajiban memuji Tuhan (ay. 9): Bangunlah, hai jiwaku (KJV: Ba-

ngunlah, hai kemuliaanku – pen.), maksudnya, bangunlah lidahku 

(lidah kita yaitu  kemuliaan kita, dan terlebih lagi bila digunakan 

untuk memuji Tuhan  ), atau jiwaku yang pertama-tama harus di-

bangunkan. Ibadah yang kering dan tidak bersemangat tidak 

akan pernah diterima oleh Tuhan  . Kita harus menggugah diri kita 

sendiri, dan segala apa yang ada di dalam diri kita, untuk memuji 

Tuhan  . Dengan api kuduslah korban itu harus dibakar, dan naik 

ke hadapan-Nya dalam lidah api yang kudus. Lidah Daud akan 

memimpin, dan gambus serta kecapinya akan mengiringi saat  

menyanyikan lagu-lagu pujian ini. Aku sendiri akan bangun, 

bukan hanya, “Aku tidak akan diam saja, dan mengantuk, dan 

asal-asalan saja dalam melakukan pekerjaan ini,” melainkan, 

“Jiwaku akan teramat sangat hidup, seperti orang yang baru ba-

ngun dari tidur yang nyenyak.” Dia akan bangun di kala fajar 

untuk melakukan pekerjaan ini, pagi-pagi betul untuk memulai 

hari bersama Tuhan  , pagi-pagi benar saat kasih setia mulai mun-

cul. jika  Tuhan   mendatangi kita dengan kebaikan-kebaikan-

Nya, kita harus menyongsong-Nya dengan puji-pujian kita.    

III. Bagaimana dia menghibur diri, dan (kalau boleh saya mengata-

kannya) bahkan memegahkan diri, dalam pekerjaan memuji ini. 

Dia sama sekali jauh dari merasa malu untuk mengakui bahwa ia 

mempunyai kewajiban-kewajiban kepada Tuhan   dan bergantung 

kepada-Nya.  sebab  itulah ia bertekad untuk bersyukur kepada-

Nya di antara bangsa-bangsa dan bermazmur bagi-Nya di antara 

suku-suku bangsa (ay. 10). Ini berarti,  

1.  Bahwa hatinya sangat tergugah dan dibesarkan saat  me-

muji-muji Tuhan  . Ia bahkan ingin membuat bumi berdentang 

dengan nyanyian-nyanyian sucinya, supaya semua orang bisa 

melihat betapa ia melihat dirinya sangat berutang budi akan 

kebaikan Tuhan  .  

2. Bahwa ia ingin mengajak orang lain untuk bergabung ber-

samanya dalam memuji Tuhan  . Ia akan memberitakan puji-

pujian kepada Tuhan   di antara bangsa-bangsa, supaya pengeta-

huan, ketakutan, dan kasih akan Tuhan   disebarkan, dan 

ujung-ujung bumi dapat melihat keselamatan yang datang 

dari-Nya. saat  Daud diusir ke negeri orang-orang kafir, ia 

bukan saja tidak mau menyembah ilah-ilah mereka, namun  

malah akan menyatakan secara terang-terangan pemujaannya 

kepada Tuhan   Israel. Ia hendak membawa agamanya bersama-

sama dengan dia ke mana pun dia pergi, berusaha mengajak 

orang lain jatuh cinta pada agamanya, dan meninggalkan bau 

harum agamanya. Daud, dalam mazmur-mazmurnya, yang 

memenuhi jemaat Tuhan   di mana-mana, dan akan tetap demi-

kian sampai akhir zaman, dapat dikatakan masih bersyukur 

kepada Tuhan   di antara bangsa-bangsa dan bermazmur bagi-

Nya di antara suku-suku bangsa. Sebab, semua orang baik 

menggunakan kata-katanya dalam memuji Tuhan  . Demikian 

juga Rasul Yohanes, dalam tulisan-tulisannya, dikatakan ber-

nubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum (Why. 10:11). 

IV. Bagaimana dia melengkapi dirinya dengan pokok pujian (ay. 11). 

Apa yang menjadi pokok pengharapan dan penghiburannya (Kira-

nya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, [ay. 

4]) di sini merupakan pokok ucapan syukurnya: Kasih setia-Mu 

besar sampai ke langit, besar melampaui segala pemikiran dan 

ungkapan. Dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan, tinggi me-

lampaui segala jangkauan, sebab adakah mata yang dapat men-

jangkau apa yang terbungkus di dalam awan-awan? Kasih setia 

dan kebenaran Tuhan   sampai ke langit, sebab keduanya akan 

membawa ke sorga semua orang yang menyimpan harta mereka 

di dalam kasih setia dan kebenaran itu dan yang membangun 

pengharapan mereka di atasnya. Kasih setia dan kebenaran Tuhan   

dipuji bahkan sampai ke langit, maksudnya, oleh semua peng-

huni dunia atas yang cemerlang dan terberkati, yang terus-mene-

rus menaikkan puji-pujian bagi Tuhan   sampai setinggi-tingginya, 

sementara Daud, di bumi, berusaha untuk menyebarkan puji-

pujian-Nya sampai ke tempat yang sejauh-jauhnya (ay. 10).    

V.  Bagaimana dia pada akhirnya menyerahkan kepada Tuhan   untuk 

memuliakan nama-Nya sendiri (ay. 12): Tinggikanlah diri-Mu, ya 

Tuhan  ! Perkataan sama yang telah digunakannya (ay. 6) untuk 

meringkas doa-doanya di sini dipakainya lagi (dan ini bukanlah 

pengulangan yang sia-sia) untuk meringkas puji-pujiannya: 

“Tuhan, aku ingin meninggikan nama-Mu, dan itu agar semua 

makhluk dapat meninggikannya. Namun, apakah yang dapat dila-

kukan oleh orang-orang terbaik dari kami untuk meninggikan 

nama-Mu itu? Tuhan, ambillah pekerjaan ini ke dalam tangan-Mu 

sendiri. Lakukanlah itu sendiri: Tinggikanlah diri-Mu, ya Tuhan  ! 

Dalam puji-pujian gereja yang sudah menang, Engkau ditinggikan 

sampai ke langit, dan dalam puji-pujian gereja yang berjuang, 

kemuliaan-Mu tersebar di seluruh bumi. Namun Engkau meng-

atasi segala puji dan hormat baik dari gereja yang sudah menang 

maupun dari gereja yang sedang berjuang (Neh. 9:5), dan oleh 

sebab itu, Tuhan, tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit dan meng-

atasi seluruh bumi. Bapa, muliakanlah nama-Mu! Engkau telah me-

muliakan-Nya, dan akan memuliakan-Nya lagi!”  

PASAL 58  

da dugaan yang kemungkinan benar dari sebagian orang (khu-

susnya Amyraldus) bahwa sebelum Saul mulai mengejar-ngejar 

Daud dengan bala tentaranya, dan mengerahkan pasukannya untuk 

menangkap dia, ia terlebih dulu mengadili Daud melalui jalur hu-

kum. Dalam pengadilan itu, Daud dihukum tanpa diberi kesempatan 

untuk membela diri, dan ia didakwa sebagai pengkhianat, oleh 

mahkamah agung, atau mahkamah pengadilan tinggi, dan kemudian 

dinyatakan sebagai “qui caput gerit lupinum – penjahat tanpa perlin-

dungan hukum,” yang boleh dibunuh oleh siapa saja dan tidak boleh 

dilindungi oleh siapa pun. Diduga bahwa Daud menggoreskan maz-

mur ini saat  para penatua Yahudi, dengan tujuan untuk menjilat 

Saul, sudah mengesahkan hukuman ini.  

I. Ia menggambarkan dosa mereka, dan mengungkapkan beta-

pa beratnya dosa mereka itu (ay. 2-6).  

II. Ia mengutuk dan menubuatkan kehancuran mereka, serta 

penghakiman-penghakiman yang akan ditimpakan oleh Tuhan   

yang adil kepada mereka atas ketidakadilan mereka (ay. 7-

10), yang akan membawa,  

1.  Pada penghiburan orang-orang kudus (ay. 11).  

2.  Pada kemuliaan Tuhan   (ay. 12).  

Di sini dosa tampak sebagai sesuatu yang teramat sangat salah dan 

teramat sangat berbahaya, dan bahwa Tuhan   dengan adil akan mem-

balaskan segala kesalahan.  sebab  itu, dalam menyanyikan mazmur 

ini, hati kita haruslah tergerak oleh hal ini . 


Teguran bagi Hakim-hakim yang Fasik 

(58:1-6) 

1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan. Miktam 

dari Daud. 2 Sungguhkah kamu memberi keputusan yang adil, hai para pe-

nguasa? Apakah kamu hakimi anak-anak manusia dengan jujur? 3 Malah 

sesuai dengan niatmu kamu melakukan kejahatan, tanganmu, menjalankan 

kekerasan di bumi. 4 Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak 

dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat. 5 Bisa mereka serupa bisa 

ular, mereka seperti ular tedung tuli yang menutup telinganya, 6 yang tidak 

mendengarkan suara tukang-tukang serapah atau suara pembaca mantera 

yang pandai. 

Ada alasan untuk menduga bahwa mazmur ini mengacu pada keben-

cian Saul dan pasukannya dalam melawan Daud,  sebab  di dalam-

nya ada kata kenangan yang sama (Al-taschith dan Miktam dari Daud) 

yang juga ada  pada mazmur sebelumnya dan mazmur sesudah-

nya. Dari judulnya, tampak bahwa kedua mazmur yang mendahului 

dan mengikuti mazmur sekarang ini ditulis dengan merujuk pada 

peristiwa penganiayaan ini , di mana Daud dipelihara oleh Tuhan   

(Al-taschith – Jangan memusnahkan). Oleh  sebab  itu, mazmur-maz-

mur yang digoreskannya pada waktu itu sungguh berharga baginya, 

Miktam – perhiasan-perhiasan Daud, sebagaimana Dr. Hammond 

menerjemahkannya.  

     Dalam perikop di atas, Daud bukanlah seorang raja, sebab pada 

waktu itu ia belum naik takhta. Jadi ia seorang nabi, dan di dalam 

nama Tuhan   ia mendakwa dan mempersalahkan hakim-hakimnya, de-

ngan wewenang dan keadilan yang lebih besar dibandingkan  yang mereka 

tunjukkan dalam mengadilinya. Ada dua hal yang didakwakannya 

kepada mereka: 

I.  Kebobrokkan pemerintahan mereka. Mereka yaitu  anggota maje-

lis, dewan pengadilan, bahkan, mungkin dewan perwakilan atau 

majelis tinggi negara. Dari mereka orang dapat mengharapkan 

perlakuan yang adil, sebab mereka yaitu  orang-orang yang ter-

pelajar dalam bidang hukum, yang telah dididik dalam segala 

undang-undang dan penghakiman ini, yang begitu adil sehingga 

tidak tertandingi oleh undang-undang dan penghakiman dari 

suku-suku bangsa lain. Orang tidak akan menyangka bahwa de-

wan seperti itu dapat disuap dan dipengaruhi oleh uang, namun 

tampaknya mereka berlaku seperti itu, sebab anak Kish dapat 

berbuat bagi mereka apa yang tidak dapat diperbuat oleh anak 

Isai (1Sam. 22:7). Saul mempunyai kebun anggur, ladang, dan ke-

dudukan untuk diberikan kepada mereka, dan  sebab  itu, untuk 

menyenangkannya, mereka akan melakukan apa saja, benar atau 

salah. Dari semua pandangan Salomo yang menyedihkan tentang 

dunia beserta segala kesedihannya ini, tidak ada yang begitu 

meresahkannya selain melihat bahwa di tempat pengadilan, di situ 

pun ada  ketidakadilan (Pkh. 3:16). Demikian pula halnya 

pada masa Saul.  

1.  Hakim-hakim tidak mau melakukan apa yang benar, tidak 

mau melindungi atau membenarkan orang-orang tidak bersa-

lah yang tertindas (ay. 2): “Sungguhkah kamu memberi kepu-

tusan yang adil, atau menghakimi dengan jujur? Tidak, kamu 

jauh dari itu. Hati nuranimu sendiri tidak bisa tidak berbicara 

kepadamu bahwa kamu tidak menjalankan dengan baik keper-

cayaan yang sudah diberikan kepadamu sebagai hakim, yang 

dengannya kamu disumpah untuk menghukum orang-orang 

yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat 

baik. Inikah keadilan yang pura-pura kamu berikan? Inikah 

perlindungan, inikah sokongan, yang dapat diharapkan dari-

mu oleh orang yang jujur, oleh perkara yang benar? Ingatlah, 

engkau yaitu  anak-anak manusia. Engkau fana dan akan 

mati, dan engkau berdiri di hadapan Tuhan   sederajat dengan 

orang-orang paling hina yang kauinjak-injak itu, dan engkau 

sendiri pasti akan dipanggil untuk dimintai pertanggungjawab-

an, dan akan dihakimi. Engkau yaitu  anak-anak manusia, 

dan oleh sebab itu engkau dapat melihat pada dirimu sendiri, 

dan pada hukum alam yang tertulis di dalam hati setiap 

manusia: Sungguhkah kamu memberi keputusan yang adil? 

Dan, sesudah  engkau merenung-renungkan kembali, akankah 

engkau membenarkan apa yang telah kauperbuat?” Perhati-

kanlah, sering kali baik bagi kita untuk merenungkan apa 

yang kita katakan dengan mengajukan pertanyaan yang sung-

guh-sungguh ini, Sungguhkah kita memperkatakan kebenaran? 

Dengan demikian kita dapat menarik kembali perkataan salah 

yang sudah kita ucapkan dan tidak melanjutkan untuk mela-

kukannya.  

2. Mereka berbuat banyak kesalahan. Mereka menggunakan ke-

kuasaan mereka untuk menyokong kejahatan dan penindasan 

(ay. 3): Dengan niatmu kamu melakukan kejahatan (KJV: Di da-

lam hatimu kamu mengerjakan kejahatan – pen.) (segala kefa-

sikan hidup dikerjakan di dalam hati). Ini mengartikan bahwa 

mereka melakukannya dengan banyak persekongkolan dan 

rancangan, bukan secara mendadak melainkan dengan per-

timbangan dan siasat, dan dengan hati yang berpaut padanya 

serta tekad bulat untuk menjalankannya. Semakin besar hati 

berperan dalam tindak kefasikan apa saja, semakin buruklah 

hati itu (Pkh. 8:11). Dan apakah gerangan kefasikan mereka 

itu? Selanjutnya dikatakan, “Tanganmu, menjalankan kekeras-

an di bumi” (atau di negeri), “padahal engkau sudah ditetapkan 

untuk menjaga kedamaiannya.” Mereka melakukan segala 

kekerasan dan kejahatan yang dapat mereka lakukan, untuk 

memperkaya diri sendiri ataupun untuk membalaskan den-

dam pribadi, dan mereka melakukannya dengan pertimbang-

an, maksudnya,  

(1) Mereka melakukannya dengan sangat terampil dan hati-

hati: “Engkau menjalankannya sesuai dengan aturan dan 

ketentuan” (begitulah arti kata itu), “supaya perbuatanmu 

dapat memenuhi niat-niat jahatmu dengan berhasil. Begitu 

piawainya engkau dalam menjalankan penindasan.”  

(2) Mereka melakukannya dengan berpura-pura menegakkan 

keadilan. Mereka memegang timbangan (lambang keadilan) 

di tangan mereka, seolah-olah mereka hendak berbuat be-

nar, dan kebenaran dapat diharapkan dari mereka, namun  

hasilnya yaitu  kekerasan dan penindasan, yang dijalan-

kan dengan lebih berhasil  sebab  dilakukan dengan dalih 

hukum dan kebenaran. 

II.  Kebobrokan sifat mereka. Ini merupakan akar dari kepahitan yang 

darinya empedu itu muncul (ay. 4): Sejak lahir orang-orang fasik, 

yang mengerjakan kefasikan di dalam hatinya, telah menyimpang, 

menyimpang dari Tuhan   dan semua kebaikan, jauh dari hidup 

persekutuan dengan Tuhan  , dan dari asas-asas, kuasa-kuasa, serta 

kesenangan-kesenangannya (Ef. 4:18). Keadaan berdosa yaitu  

keadaan yang terasing sehingga orang tidak dapat mengenal Tuhan   

dan melayani-Nya, yang untuk itu kita diciptakan. Janganlah ada 

orang yang terheran-heran bila melihat orang-orang fasik ini 

berani melakukan hal-hal seperti itu, sebab kefasikan sudah me-

rasuki tulang-tulang mereka. Mereka membawa kefasikan ber-

sama mereka ke dalam dunia. Di dalam sifat mereka ada  

kecenderungan yang kuat untuk berbuat fasik. Mereka mempela-

jarinya dari orangtua mereka yang fasik, dan mereka sudah ter-

latih melakukannya melalui pendidikan yang buruk. Mereka 

disebut pemberontak sejak dari kandungan, dan ini tidak salah 

sebut. Oleh sebab itu, orang tidak dapat mengharapkan apa-apa 

selain bahwa mereka akan berbuat khianat sekeji-kejinya (Yes. 

48:8). Mereka menyimpang dari Tuhan   dan dari kewajiban mereka 

segera sesudah  mereka dilahirkan, (maksudnya, sesegera mungkin 

sesudah  mereka mampu melakukannya). Kebodohan yang bersa-

rang di dalam hati mereka menampakkan diri dalam pekerjaan-

pekerjaan akal budi yang pertama-tama mereka lakukan. saat  

gandum tumbuh, lalang juga tumbuh bersamanya. Ada tiga con-

toh yang diberikan di sini mengenai kerusakan sifat manusia: 

1. Kebohongan. Mereka cepat belajar berkata dusta, dan melen-

turkan lidahnya seperti busur, untuk berdusta (Yer. 9:3). Beta-

pa cepatnya anak-anak kecil berdusta untuk berdalih atas 

kesalahan mereka, atau untuk memuji diri mereka sendiri! 

Begitu mereka bisa berbicara, mereka segera membicarakan 

apa yang membawa penghinaan bagi Tuhan  . Dosa-dosa lidah 

merupakan beberapa dari tindak pelanggaran-pelanggaran kita 

yang pertama.  

2. Kebencian. Bisa mereka (yaitu, niat jahat mereka, dan kebenci-

an yang mereka berikan terhadap kebaikan dan semua orang 

baik, terutama terhadap Daud) yaitu  serupa bisa ular. Itu 

sudah dari pembawaan, beracun, dan sangat berbahaya, dan 

tidak dapat disembuhkan. Kita merasa kasihan pada seekor 

anjing yang terkena racun tanpa sengaja, namun  kita membenci 

ular yang memang beracun dari pembawaannya. Seperti itulah 

permusuhan terkutuk yang ada di antara keturunan ular ini 

melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya.  

3. Ketidaktaatan. Mereka penuh dengan kebencian, dan tidak 

ada satu pun yang akan mengubah mereka. Akal budi atau-

pun kebaikan tidak dapat menenangkan mereka, atau men-

jadikan mereka berperilaku lebih baik. Mereka seperti ular 

tedung tuli yang menutup telinganya (ay. 5-6). sesudah  mem-

bandingkan orang-orang fasik ini dengan ular,  sebab  keben-

cian mereka yang beracun, sang pemazmur mengambil kesem-

patan dari situ, dalam hal lain, untuk membandingkan mereka 

dengan ular tedung tuli atau ular berbisa. Berkenaan dengan 

hal ini, ada adat kebiasaan pada masyarakat di kala itu bahwa 

mereka mempunyai cara untuk memperdaya ular dengan 

memainkan musik atau dengan menggunakan seni lain, entah 

untuk membinasakannya atau setidak-tidaknya untuk mem-

buatnya tidak mampu berbuat jahat. Berbeda dengan ular-

ular lain, ular tedung tuli ini biasanya menempelkan satu teli-

nganya ke tanah dan menutup telinga lainnya dengan ekor-

nya, sehingga ia tidak dapat mendengar suara mantera, dan 

dengan demikian menggagalkan mantera itu dan melindungi 

dirinya sendiri. Penggunaan perbandingan ini tidaklah membe-

narkan cerita itu, atau, jika cerita itu benar, tidak membenar-

kan penggunaan mantera ini. Sebab ini hanya merupakan 

kiasan saja untuk menggambarkan betapa keras kepalanya 

orang-orang berdosa di dalam jalan dosa mereka. Rancangan 

Tuhan  , di dalam firman dan pemeliharaan-Nya, yaitu  untuk 

menyembuhkan ular-ular dari kejahatan mereka. Dan untuk 

mencapai tujuan ini, betapa bijak, betapa berkuasa, dan beta-

pa jitunya mantera-mantera itu! Betapa berkuasanya perkata-

an yang benar! Namun, semua ini sia-sia belaka bagi sebagian 

besar orang, dan apakah yang menjadi alasannya? Ini  sebab  

mereka tidak mau mendengarkan. Tidak ada lagi yang lebih 

tuli dibandingkan  orang yang tidak mau mendengar. Kami meniup 

seruling bagi mereka, namun  mereka tidak menari. Bagaimana 

mungkin mereka mendengar bila mereka menutup telinga me-

reka? 

Kutukan-kutukan Nubuatan 

(58:7-12) 

7 Ya Tuhan  , hancurkanlah gigi mereka dalam mulutnya, patahkanlah gigi 

geligi singa-singa muda, ya TUHAN! 8 Biarlah mereka hilang seperti air yang 

mengalir lenyap! Biarlah mereka menjadi layu seperti rumput di jalan! 9 

Biarlah mereka seperti siput yang menjadi lendir, seperti guguran perempuan 

yang tidak melihat matahari. 10 Sebelum periuk-periukmu merasakan api 

semak duri, telah dilanda-Nya baik yang hidup segar maupun yang hangus. 

11 Orang benar itu akan bersukacita, sebab ia memandang pembalasan, ia 

akan membasuh kakinya dalam darah orang fasik. 12 Dan orang akan ber-

kata: “Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Tuhan   

yang memberi keadilan di bumi.


Related Posts:

  • mazmur 51-100 3 takh-ta anugerah dengan permasalahan kita, jika  kita tidak mu-lai berusaha untuk mengenal Tuhan  . Dan bila kita terus datang kepada-Nya, maka permasalahan kita itu dengan sendirinya akan menggerakk… Read More