ibuat sunyi sepi, seperti yang
sudah dinubuatkan (25:13). Di antara makam bangsa-
bangsa di situ ada Edom (ay. 29). Di sana terbaring, tanpa
diagungkan dengan tugu-tugu atau prasasti, namun bercam-
pur baur dengan debu, raja-rajanya dan semua pemimpin-
nya, pemuka-pemuka negerinya yang bijak (yang sebab -
nya Edom tersohor), dan prajurit-prajuritnya yang gagah
berani. Mereka ini ditempatkan dekat orang-orang yang
mati terbunuh oleh pedang, walaupun mereka kuat. Kekuat-
an mereka tidak bisa mencegahnya, bahkan, kekuatan
mereka membantu menyebabkannya, sebab kekuatan itu
mendorong mereka untuk mengadakan perang dan menyu-
lut kemarahan negeri-negeri tetangga mereka terhadap me-
reka, yang menganggap perlu untuk mengekang kebesaran
mereka yang semakin bertumbuh. Betapa mereka bersusah
payah untuk menghancurkan diri mereka sendiri, seperti
yang dilakukan banyak orang, yang dengan kekuatan mere-
ka, dengan segala kekuatan mereka, ditempatkan dekat
orang-orang yang mati terbunuh oleh pedang. Orang-orang
Edom mempertahankan kebiasaan bersunat, sebab mere-
ka keturunan Abraham. namun itu tidak akan berguna
sama sekali untuk mereka. Mereka akan dibaringkan dekat
orang-orang yang tidak disunat.
(5) Di sana terbaring pemimpin-pemimpin dari utara, dan se-
mua orang Sidon. Mereka ini juga tahu banyak tentang
masalah-masalah kelautan seperti halnya orang Mesir,
yang banyak mengandalkan kekuatan mereka di bagian
itu, namun mereka telah turun dekat orang-orang yang mati
terbunuh (ay. 30), turun ke liang kubur. Sekarang mereka
malu dengan kekuatan mereka, malu memikirkan betapa
mereka sudah memegahkannya dan berharap padanya.
Dan, sama seperti orang Edom dengan kekuatan mereka,
demikian pula orang-orang ini dengan kengerian mereka,
dibaringkan bersama-sama orang-orang yang mati terbunuh
oleh pedang dan dipaksa untuk mengambil bagian mereka
dengan orang-orang itu. Mereka menanggung noda mereka
bersama orang-orang yang turun ke liang kubur, mati dalam
kehinaan yang besar seperti orang-orang yang dibinasakan
oleh tangan keadilan umum.
(6) Semuanya ini diterapkan pada Firaun dan orang-orang
Mesir, yang tidak memiliki alasan untuk membuai diri
mereka dengan harapan-harapan ketenteraman, saat
mereka melihat bagaimana yang paling bijak, yang paling
kaya, dan yang paling kuat dari tetangga-tetangga mereka
sekalipun sudah diporak-porandakan (ay. 28): “Engkau
akan telentang di tengah orang-orang yang tidak bersunat.
jika Allah sedang merobohkan bangsa-bangsa yang
tidak mau merendah dan memperbarui diri, engkau harus
bersiap-siap menantikan saatnya untuk turun bersama
mereka.”
[1] Akan sedikit banyak mengurangi kesengsaraan-keseng-
saraan Mesir dengan mengamati bahwa perkara itu su-
dah menimpa begitu banyak bangsa yang besar dan
kuat sebelumnya (ay. 31): Firaun akan melihat mereka
semuanya dan ia akan merasa terhibur. Pikirannya
akan sedikit banyak tenang dengan mengetahui bahwa
ia bukan raja pertama yang dibunuh dalam pertempur-
an. Bahwa tentaranya bukan tentara pertama yang di-
kalahkan habis-habisan, dan kerajaannya bukan kera-
jaan pertama yang dibuat sunyi sepi. Tuan Greenhill
mencermati di sini, “Penghiburan yang dirasakan orang-
orang fasik sesudah kematian hanyalah penghiburan
yang menyedihkan, tidak nyata, namun khayalan.” Mere-
ka hanya akan mendapat sedikit kepuasan dengan
memiliki begitu banyak teman-teman sependeritaan.
Si orang kaya di neraka itu ngeri dengan keadaan ini.
Hanya kehormatanlah yang bisa membuat Firaun dapat
melihat dan merasa terhibur.
[2] namun tidak akan ada yang luput dari kesengsaraan-
kesengsaraan ini. Sebab (ay. 32, KJV) Aku telah menim-
bulkan ketakutan di dunia orang-orang hidup. Orang-
orang besar sudah menimbulkan ketakutan, sudah
belajar bagaimana membuat semua orang takut ter-
hadap mereka. Oderint dum metuant – Biarlah mereka
membenci, selama mereka takut. namun sekarang Allah
yang mahabesar telah menimbulkan ketakutan-Nya di
dunia orang-orang hidup. Dan itulah mengapa Ia mener-
tawakan ketakutan yang mereka timbulkan terhadap
Kitab Yehezkiel 32:17-32
orang-orang itu, sebab Ia melihat bahwa hari-Nya sudah
dekat (Mzm. 37:13). Pada hari kengerian ini, Firaun
dengan seluruh khalayak ramai yang mengikutinya akan
dibaringkan dekat orang yang mati terbunuh oleh pe-
dang.
II. Pemandangan yang diberikan kepada kita oleh nubuat tentang
negeri-negeri yang dihancurkan ini dapat menunjukkan kita se-
suatu,
1. Tentang dunia sekarang ini, dan kerajaan maut di dalamnya.
Mari, dan lihatlah kehidupan manusia yang penuh mala-
petaka. Lihatlah betapa ini yaitu dunia yang sedang sekarat.
Yang kuat mati, yang perkasa mati, Firaun dengan seluruh
khalayak ramai yang mengikutinya. Lihatlah betapa ini yaitu
dunia yang membunuh. Mereka semua mati terbunuh oleh
pedang. Seolah-olah manusia tidak akan mati sendiri dengan
cukup cepat, orang-orang begitu cerdik menemukan cara-cara
untuk menghancurkan satu sama lain. Dunia ini bukan hanya
sebuah lubang besar, melainkan juga sebuah gelanggang besar.
2. Tentang dunia lain. Meskipun kehancuran bangsa-bangsa itu
saja yang mungkin terutama diniatkan di sini, namun di sini
ada rujukan yang jelas pada kehancuran terakhir dan kekal
dari orang-orang berdosa yang tidak mau bertobat, orang-
orang yang tidak bersunat hati. Mereka mati terbunuh oleh pe-
dang keadilan ilahi. Kejahatan mereka menempel pada mereka,
dan dengannya mereka menanggung malu. Mereka, seteru-
seteru Kristus, yang tidak suka Dia menjadi raja atas mereka,
akan dibawa dan dibunuh di depan mata-Nya, walaupun mere-
ka sama sombongnya, walaupun mereka sama banyaknya, se-
perti Firaun dan seluruh khalayak ramai yang mengikutinya.
PASAL 33
ekarang sang nabi meninggalkan perjalanan kelilingnya, perjalan-
an yang ia lakukan sebagai seorang hakim dalam nama Allah. Di
situ, ia mengadili dan menjatuhkan hukuman atas bangsa-bangsa di
sekitar Israel. sesudah selesai berurusan dengan mereka, dan mem-
bacakan keputusan hukuman bagi mereka semua, sebagaimana yang
dapat kita baca dalam delapan pasal sebelum pasal ini, sekarang ia
kembali kepada anak-anak bangsanya sendiri, dan menerima perin-
tah-perintah lebih lanjut mengenai berbagai hal yang harus disam-
paikan kepada mereka.
I. Sebagai seorang nabi di tengah-tengah mereka, ia harus
menjelaskan kepada mereka jabatan apa yang sedang diem-
bannya. Ia yaitu seorang penjaga, dan sudah menerima
tugas sebagai penjaga atas mereka, dan ia harus bertanggung
jawab atas tugas itu (ay. 1-9). Isi pokok mengenai tugas ini
telah kita dapati sebelumnya (3:17, dst.).
II. Ia harus memberitahukan persyaratan apa yang diperhadap-
kan kepada mereka di hadapan Allah, yaitu, bahwa mereka
sedang diadili, apakah mereka berlaku baik atau tidak; Bah-
wa jika seorang jahat bertobat, ia tidak akan binasa, namun ,
jika seorang benar menjadi murtad, ia akan binasa (ay. 10-
20).
III. Inilah pesan khusus yang disampaikan kepada orang-orang
yang masih tinggal di tanah Israel, dan anehnya, mereka ma-
kin merasa aman, merasa yakin bahwa mereka akan berakar
lagi di sana. Kepada mereka harus diberitahukan bahwa,
harapan-harapan mereka akan sia-sia belaka, sebab mereka
terus berkanjang dalam dosa-dosa mereka (ay. 21-29).
IV. Inilah teguran bagi orang-orang yang secara pribadi meng-
ikuti pelayanan Yehezkiel. namun sayangnya, mereka tidak
tulus hati dengan pengakuan-pengakuan ibadah mereka (ay.
30-33).
Jabatan Penjaga; Sang Nabi sebagai
Seorang Penjaga bagi Israel
(33:1-9)
1. Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku 2 “Hai anak manusia, berbicaralah
kepada teman-temanmu sebangsa dan katakanlah kepada mereka: Kalau
Aku mendatangkan pedang atas sesuatu negeri dan bangsa negeri itu meng-
ambil seorang dari antara mereka dan menetapkan dia menjadi penjaganya
3 dan penjaga ini melihat pedang itu datang atas negerinya, lalu meniup
sangkakala untuk memperingatkan bangsanya, 4 kalau ada seorang yang
memang mendengar suara sangkakala itu, namun ia tidak mau diperingatkan,
sehingga sesudah pedang itu datang ia dihabiskan, darahnya tertimpa ke-
padanya sendiri. 5 Ia mendengar suara sangkakala, namun ia tidak mau
diperingatkan, darahnya tertimpa kepadanya sendiri. Kalau ia mau diperi-
ngatkan, ia menyelamatkan nyawanya. 6 Sebaliknya penjaga, yang melihat
pedang itu datang, namun tidak meniup sangkakala dan bangsanya tidak
mendapat peringatan, sehingga sesudah pedang itu datang, seorang dari
antara mereka dihabiskan, orang itu dihabiskan dalam kesalahannya, namun
Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari penjaga itu.
7 Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi
kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku,
peringatkanlah mereka demi nama-Ku. 8 Kalau Aku berfirman kepada orang
jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! – dan engkau tidak berkata apa-
apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya,
orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, namun Aku akan menuntut
pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 9 namun jikalau engkau
memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, namun ia
tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, namun engkau telah
menyelamatkan nyawamu.
Oleh perintah Allah yang dinyatakan dengan tegas, sang nabi mele-
paskan tugasnya bernubuat kepada orang-orang Yahudi. Kemudian,
datanglah berita-berita bahwa Yerusalem dikepung, dan dikatakan
bahwa pengepungan ketat dilakukan atas kota itu (24:27). namun
sekarang, saat Yerusalem sudah ditaklukkan musuh, dua tahun
sesudah itu, ia ditunjuk kembali untuk menyampaikan pesan kepada
mereka, dan di sanalah tugasnya diperbarui. Jika Allah telah mening-
galkan umat-Nya itu sama sekali, Ia tidak akan mengutus nabi-nabi
kepada mereka. Juga, jika Ia tidak memiliki banyak persediaan belas
kasihan bagi mereka, akankah Dia menunjukkan kepada mereka hal-
hal serupa itu? Dalam ayat-ayat di atas kita dapati,
Kitab Yehezkiel 33:1-9
I. Jabatan seorang penjaga dijelaskan, kepercayaan ditaruh di da-
lam dirinya, tanggung jawab juga diberikan kepadanya, dan ber-
bagai persyaratan disesuaikan antara dia dan orang-orang yang
mempekerjakannya (ay. 2, 6).
1. Pastilah ada bahaya yang akan menimpa semua orang yang
menyebabkan perlunya menunjuk seorang penjaga, yaitu
saat Allah mendatangkan pedang atas suatu negeri tertentu
(ay. 2). Pedang perang itu, saat sewaktu-waktu datang me-
nimpa suatu negeri, Allah sendirilah yang mendatangkannya.
Pedang itu yaitu pedang TUHAN, pedang keadilan-Nya, tidak
peduli betapa tidak adilnya manusia yang menghunus pedang
itu. Pada saat seperti itu, saat suatu negeri tercekam dalam
ketakutan akan adanya serangan musuh dari luar, supaya
jangan sampai rakyat dikejutkan oleh suatu serangan men-
dadak, maka kepada mereka diberitahukan mengenai semua
gerakan musuh. Dengan memiliki peringatan dini seperti itu,
mereka dapat mempersenjatai diri dan siap memberi sam-
butan hangat kepada para penyerang. Untuk itulah mereka
mengambil seorang dari antara mereka, orang yang memiliki
kemampuan, yang tinggal di perbatasan negeri, tempat ancam-
an bahaya diperkirakan akan muncul. Orang seperti ini me-
ngenal dengan baik semua jaringan jalan, sehingga orang
menetapkan dia sebagai penjaga mereka. Demikianlah, cerdik-
lah anak-anak dunia ini terhadap sesamanya. Perhatikanlah,
satu orang dapat menjadi pelayan rakyat untuk seluruh negeri.
Raja-raja dan pejabat-pejabat negeri yaitu penjaga-penjaga se-
buah kerajaan. Mereka terus-menerus bekerja sesuai tugas ma-
sing-masing, dan, pada saat dibutuhkan, mereka menjadi pen-
jaga-penjaga, merelakan diri demi keselamatan rakyat banyak.
2. Pastilah kepercayaan untuk mengurus orang banyak yang
diberikan kepada penjaga itu, dan ia harus bertanggung jawab
kepada masyarakat umum atas pelaksanaan tugas itu. Tugas-
nya yaitu ,
(1) Melacak kedatangan musuh, dan sebab itu ia tidak boleh
lengah atau tertidur, sebab kalau tidak ia tidak dapat
melihat kedatangan pedang itu.
(2) memberi peringatan dini kepada rakyat tentang keda-
tangan musuh dengan meniup sangkakala, atau seperti
prajurit jaga pada zaman kita sekarang, menggunakan bu-
nyi tembakan senjata api sebagai tanda bahaya. Kepercaya-
an dan keyakinan khusus ditaruh dalam diri penjaga itu
oleh orang-orang yang menetapkannya menjadi penjaga
mereka, supaya ia bersedia menjalankan dua hal ini de-
ngan setia. Mereka mempertaruhkan hidup mereka pada
kesetiaannya. Nah,
[1] Jika penjaga itu menjalankan bagian tanggung jawab-
nya, kalau ia menyadari lebih dini semua bahaya yang
dapat diketahuinya, dan segera memperingatkan rakyat
akan bahaya itu, maka itu berarti ia telah melaksana-
kan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dengan
demikian, tidak saja ia telah menyelamatkan nyawanya,
namun juga menerima upahnya. Dan, jika rakyat meng-
abaikan peringatan itu, jika mereka tidak mempercayai
peringatan yang ia berikan, tidak mau meyadari bahaya
yang begitu besar, begitu dekat, dan begitu nyata, atau
tidak mau memperhatikan tanda-tanda yang diberikan,
dan dengan demikian keselamatan diri mereka dikejut-
kan oleh musuh, maka kejadian itu merupakan salah
mereka sendiri. Kesalahan tidak dijatuhkan kepada
sang penjaga, namun darah mereka tertimpa atas kepala
mereka sendiri. Seandainya ada orang dengan gegabah
memasuki mulut bahaya, walaupun ia telah mendengar
bunyi sangkakala, dan sudah diberi tahu oleh tanda itu
di mana tempat bahaya itu berada, sehingga sesudah
pedang itu datang ia dihabiskan dalam kebodohannya,
maka ia telah melakukan felo de se (dari bahasa Latin,
istilah hukum Inggris kuno pada abad ke-17 – pen.),
yang berarti bunuh diri. Orang bodoh, ia telah menghan-
curkan dirinya sendiri. namun ,
[2] Jika yang tidak menjalankan tugas yaitu penjaga itu
sendiri, tatkala mungkin ia telah melihat bahaya itu
namun tidak memberi tanda, malah tertidur, atau tidak
peduli, atau melihat ke arah lain, atau jika ia memang
melihat bahaya itu (sebab begitulah perkara itu dimak-
sudkan di sini) dan melarikan diri mencari selamat
sendiri, dan tidak meniup sangkakala untuk memperi-
ngatkan rakyat, sehingga ada yang dikejutkan dan
Kitab Yehezkiel 33:1-9
ditewaskan dalam kesalahan mereka (ay. 6), atau di-
binasakan dengan tiba-tiba, tanpa sempat berseru, Tu-
han, kasihanilah kami, tanpa punya waktu untuk ber-
tobat dan berdamai dengan Allah (yang membuat masa-
lah menjadi sangat buruk, sebab makhluk malang itu
dihabiskan dalam kesalahannya), maka darahnya akan
dituntut dari tangan penjaga itu. Penjaga itu akan
dinyatakan bersalah atas kematian orang malang itu,
sebab tidak memberi peringatan atas bahaya yang
sedang mendatanginya. namun , jika penjaga itu menja-
lankan bagian tanggung jawabnya, dan rakyat juga
melaksanakan bagian mereka, maka semuanya akan
baik-baik saja. Baik yang memberi peringatan maupun
yang memedulikan peringatan itu sama-sama menyela-
matkan nyawa mereka sendiri.
II. Penerapan gambaran ini kepada sang nabi (ay. 7, 9).
1. Yehezkiel yaitu seorang penjaga bagi kaum Israel. Kadang-
kadang ia juga memberi peringatan kepada bangsa-bangsa
lain di sekitar negerinya. namun bagi kaum Israel, ia yaitu
seorang penjaga sebagai jabatannya, sebab merekalah yang
mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam per-
janjian itu. Kaum Israel tidak menetapkan dia sebagai seorang
penjaga, seperti yang dilakukan oleh orang-orang di negeri itu
(ay. 2), sebab orang-orang Israel tidak begitu bijaksana untuk
melindungi kesejahteraan hidup mereka, sebagaimana negeri-
negeri tetangga mereka melindungi kepentingan-kepentingan
duniawi mereka yang bersifat sementara. Sebaliknya, Allah
sendirilah yang melakukannya untuk bangsa Israel. Ia mene-
tapkan bagi mereka seorang penjaga.
2. Tugasnya sebagai seorang penjaga yaitu memberi peri-
ngatan kepada orang-orang berdosa mengenai kesengsaraan
dan bahaya yang disebabkan oleh dosa. Inilah firman yang
harus ia dengar dari Allah dan sampaikan kepada mereka.
(1) Allah telah berfirman, Orang jahat pasti mati. Ia akan men-
jadi sangat menderita. Kalau ia tidak bertobat, ia akan di-
pisahkan dari Allah, dari semua penghiburan dan pengha-
rapan di dalam Dia, akan dipisahkan dari semua yang
baik. Ia akan jatuh dan berbaring selama-lamanya di ba-
wah murka Allah, yang berarti kematian jiwa, sebab kesu-
kaannya yaitu kehidupannya. Allah yang adil telah ber-
firman mengenai hal itu, dan tidak akan pernah menarik-
nya kembali, juga seluruh dunia tidak dapat menentang
hal itu, bahwa upah dosa ialah maut. jika dosa itu su-
dah matang, ia melahirkan maut. Murka Allah dinyatakan
dari sorga, tidak saja terhadap bangsa-bangsa jahat, de-
ngan memberitahukan kehancuran mereka sebagai bangsa,
namun juga terhadap orang-orang jahat secara pribadi, de-
ngan memberitahukan kehancuran mereka masing-masing
dalam kedudukan sebagai seorang pribadi, terhadap ke-
pentingan-kepentingan pribadi mereka. Kehancuran yang
menimpa kepentingan orang per orang ini terjadi bahkan
sampai ke dunia lain dan berlangsung sampai kekekalan,
sementara kehancuran yang menimpa kepentingan-kepen-
tingan suatu bangsa tidaklah sampai sejauh itu.
(2) Merupakan kehendak Allah bahwa orang jahat harus diberi
peringatan mengenai hal ini: Peringatkanlah mereka demi
nama-Ku. Peringatan ini mengisyaratkan bahwa masih ada
kemungkinan untuk mencegah hukuman itu. Kalau tidak,
pemberian peringatan itu hanyalah lelucon belaka. Lagi
pula, Allah benar-benar berkehendak supaya penghancur-
an itu harus dicegah. Itulah sebabnya orang-orang berdosa
harus diberi peringatan mengenai murka yang akan da-
tang, supaya mereka dapat melarikan diri dari murka itu
(Mat. 3:7).
(3) Merupakan pekerjaan para hamba Tuhan untuk memberi-
kan peringatan kepada orang jahat, dan berkata kepada-
nya, Malapetaka akan menimpamu (Yes. 3:11). Pada umum-
nya jalan-jalan Allah yaitu bahwa orang yang berbuat
dosa itu yang harus mati. Pekerjaan seorang hamba Tuhan
yaitu menerapkan kebenaran ini kepada orang-orang ter-
tentu, dan berkata, “Hai orang jahat! Engkau pasti mati,
siapa pun engkau. Jika engkau terus berkanjang dalam
pelanggaran-pelanggaranmu, tidak dapat dihindari kejahat-
an itu akan menjadi kehancuranmu. Hai, pezinah! Hai,
perampok! Hai, peminum! Hai, yang bersumpah palsu! Hai,
pelanggar Sabat! Engkau pasti mati.” Dan ia harus berkata
Kitab Yehezkiel 33:1-9
dengan cara begini, jangan disertai hawa nafsu yang dapat
menjengkelkan orang-orang berdosa itu, namun dengan
penuh kasih sayang, untuk memperingatkan orang jahat itu
supaya bertobat dari hidupnya, memperingatkan dia untuk
berbalik dari dosa itu, supaya ia dapat hidup. Hal ini harus
dilakukan dengan menyampaikan firman terus-menerus
kepada khalayak ramai, dan secara pribadi kepada orang-
orang yang dosanya jelas terbuka.
3. Jika jiwa-jiwa ini binasa sebab kelalaian hamba-hamba Tu-
han ini dalam menjalankan tugas tersebut, maka ia menda-
tangkan kesalahan atas dirinya sendiri. “Jika sang nabi tidak
memperingatkan orang jahat mengenai kehancuran yang ada
di ujung jalan hidupnya yang jahat, orang jahat itu akan mati
dalam kesalahannya sendiri. Sebab, meskipun penjaga itu
tidak melaksanakan tugas yang menjadi bagiannya, namun
orang berdosa itu masih dapat memperoleh peringatan dari fir-
man tertulis, dari hati nuraninya sendiri, dan dari penghakim-
an Allah atas orang-orang lain. Semua hal ini cukup untuk
membungkam mulut orang berdosa untuk beralasan, dan
Allah dibenarkan dalam kebinasaan orang itu.” Perhatikanlah,
pada hari yang mulia itu, orang-orang berdosa yang tidak mau
bertobat tidak dapat berdalih, bahwa penjaga-penjaga mereka
tidak memberi peringatan kepada mereka, bahwa para
penjaga itu tidak bertanggung jawab, tidak setia, dan sebagai-
nya. Sebab, walaupun para penjaga memang berlaku seperti
itu, namun akan ditunjukkan bahwa Allah tidak membiarkan
diri-Nya tanpa bukti dan saksi. “Namun demikian, orang jahat
itu tidak akan binasa sendirian dalam kesalahannya. Si pen-
jaga itu juga akan dipanggil untuk bertanggung jawab: Aku
akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari
padamu. Pemimpin buta pasti akan jatuh bersama pengikut
buta ke dalam lubang.” Lihatlah betapa rindunya Allah akan
keselamatan orang-orang berdosa, sampai Ia pun begitu ma-
rah, jika orang-orang yang berkepentingan tidak mengerjakan
tugas mereka guna mencegah kehancuran orang-orang ber-
dosa itu. Dan lihatlah, betapa banyaknya hamba-hamba Tu-
han yang harus bertanggung jawab di kemudian hari, yakni
mereka yang memandang rendah dosa, yang menyanjung-
nyanjung orang-orang berdosa dalam jalan mereka yang jahat.
Termasuk di sini para hamba Tuhan yang oleh kehidupan me-
reka yang jahat memberi dukungan dan mengeraskan orang
berdosa untuk tetap hidup dalam kejahatan, dan mendorong
mereka untuk percaya bahwa mereka tetap memiliki kedamai-
an meskipun terus menjalankan kehidupan seperti itu.
4. Jika penjaga itu menjalankan tugasnya, ia dapat menikmati
tugas itu, meskipun ia tidak melihat keberhasilannya (ay. 9):
“Jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia
bertobat dari hidupnya, jika engkau memberitahukan kepada
orang itu dengan setia mengenai apa yang akan terjadi pada
akhirnya, dan sungguh-sungguh mengajaknya supaya berbalik
dari jalan dosanya itu, namun dia menolak untuk berbalik, dan
tetap berkanjang di dalamnya, maka ia akan mati dalam kesa-
lahannya, dan peringatan baik yang telah diberikan kepadanya
itu akan memperburuk dosa dan kehancurannya, namun eng-
kau telah menyelamatkan nyawamu.” Perhatikanlah, merupa-
kan suatu penghiburan bagi para hamba Tuhan, bahwa mereka
dapat menyelamatkan diri mereka sendiri melalui kasih karu-
nia, meskipun mereka tidak dapat menjadi alat untuk menye-
lamatkan banyak orang yang mendengarkan mereka.
Kecaman-kecaman Rakyat Dijawab
(33:10-20)
10 Dan engkau anak manusia, katakanlah kepada kaum Israel: Kamu berkata
begini: Pelanggaran kami dan dosa kami sudah tertanggung atas kami dan
sebab itu kami hancur; bagaimanakah kami dapat tetap hidup? 11 Katakan-
lah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan
ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku
berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia
hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah
kamu akan mati, hai kaum Israel? 12 Dan engkau anak manusia, katakanlah
kepada teman-temanmu sebangsa: Kebenaran orang benar tidak menyela-
matkan dia, pada waktu ia jatuh dalam pelanggaran dan kejahatan orang
jahat tidak menyebabkan dia tersandung, pada waktu ia bertobat dari
kejahatannya; dan orang benar tidak dapat hidup sebab kebenarannya,
pada waktu ia berbuat dosa. 13 Kalau Aku berfirman kepada orang benar:
Engkau pasti hidup! – namun ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat
curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitung-
kan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya. 14 Kalau Aku
berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti mati! – namun ia bertobat dari
dosanya serta melakukan keadilan dan kebenaran, 15 orang jahat itu me-
ngembalikan gadaian orang, ia membayar ganti rampasannya, menuruti per-
aturan-peraturan yang memberi hidup, sehingga tidak berbuat curang lagi, ia
pasti hidup, ia tidak akan mati. 16 Semua dosa yang diperbuatnya tidak akan
Kitab Yehezkiel 33:10-20
629
diingat-ingat lagi; ia sudah melakukan keadilan dan kebenaran, maka ia
pasti hidup. 17 namun teman-temanmu sebangsa berkata: Tindakan Tuhan
tidak tepat! Padahal tindakan mereka yang tidak tepat. 18 Jikalau orang
benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia harus mati
sebab itu. 19 Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikannya dan ia
melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup sebab itu. 20 namun
kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Aku akan menghakimi kamu,
masing-masing menurut kelakuannya, hai kaum Israel.”
Ayat-ayat ini merupakan intisari dari apa yang telah kita dapati
sebelumnya (18:20, dst.). Ayat-ayat ini demikian lengkap dan meng-
ungkapkan sebuah pernyataan mengenai persyaratan bagaimana
kedudukan orang di hadapan Allah (seperti sebelumnya mengenai
persyaratan kedudukan para hamba Tuhan di hadapan-Nya). Tidak
heran kalau persyaratan itu diulang kembali di sini, meskipun
sebelumnya kita sudah memiliki inti sarinya. Amatilah di sini,
I. Kecaman-kecaman bangsa itu ditujukan terhadap cara Allah ber-
urusan dengan mereka. Sekarang, dalam penyelenggaraan-Nya,
Allah berbantah-bantah dengan mereka, namun hati mereka yang
belum disunat itu sampai sekarang belum juga merendah. Sebab
mereka begitu rajin membenarkan diri sendiri, meskipun dengan
bersikap demikian mereka menghina Allah. Dalam celaan mereka
kepada Allah, mereka menuntut dua hal, dan dalam kedua tun-
tutan itu mereka menambahkan kesalahan pada dosa mereka,
dan menambah kesengsaraan pada hukuman mereka:
1. Mereka mempertengkarkan janji-janji dan kemurahan Allah,
sebagai tidak memiliki kebaikan dan juga ketulusan di dalam-
nya, (ay. 10). Allah telah menghadapkan kehidupan kepada
mereka, namun mereka menjawab bahwa Allah menghadapkan-
nya terlalu jauh dari jangkauan mereka, sehingga menyebut
hal itu hanyalah olok-olok belaka bagi mereka. Beberapa
waktu lalu, sang nabi telah berkata (24:23) bahwa kamu akan
hancur lebur dalam hukumanmu. Dengan kata-kata itu ia
mengakhiri ancaman-ancamannya terhadap Yehuda dan Yeru-
salem. Sekarang, dengan kata-kata ini pulalah mereka men-
cela dia, seolah-olah yang telah dikatakannya itu merupakan
hal-hal yang pasti, untuk membuat mereka berputus asa.
Padahal kata-kata itu diucapkan oleh sang nabi secara ber-
syarat, untuk membawa mereka kepada pertobatan. Dengan
demikian, kata-kata hamba Tuhan itu sudah diselewengkan
oleh orang-orang yang berpikiran jahat ini, yang cenderung
mencari kesempatan untuk berbantah-bantah. Ia menempat-
kan mereka dalam pengharapan hidup dan kebahagiaan,
namun mereka justru membuat sang nabi membantah dirinya
sendiri, “sebab” (kata mereka) “jika pelanggaran kami dan dosa
kami sudah tertanggung atas kami, seperti yang sering engkau
beritahukan kepada kami, dan jika kami harus menjadi seperti
yang engkau katakan, hancur lebur di dalam hukuman kami,
dan melelahkan kami dengan penawanan menyedihkan dalam
pertobatan yang sia-sia, lalu bagaimanakah kami dapat tetap
hidup? Jika ini sudah menjadi nasib kami, maka tidak ada lagi
obat penawarnya. Sesungguhnya kami akan mati, kami akan
binasa, kami semuanya akan binasa.” Perhatikanlah, merupa-
kan hal yang sangat lazim bagi orang-orang yang telah dikeras-
kan hatinya untuk beranggapan bahwa saat mereka diperi-
ngatkan akan dosa-dosa, mereka akan tenggelam dalam kepu-
tusasaan, dan saat dipanggil supaya bertobat, mereka me-
nyimpulkan bahwa sudah tidak ada harapan hidup lagi bagi
mereka.
2. Mereka berbantah-bantah mengenai ancaman-ancaman dan
hukuman-hukuman-Nya, sebagai tidak memiliki keadilan atau
ketepatan di dalamnya. Mereka berkata bahwa tindakan Tuhan
tidak tepat (ay. 17), yang mengisyaratkan bahwa Allah berat
sebelah dalam semua tindakan-Nya, bahwa di satu sisi Ia
menghormati orang, namun di sisi lain Ia menjadi lebih keras
terhadap dosa dan orang-orang berdosa, dibandingkan dengan
penyebabnya.
II. Inilah jawaban memuaskan yang diberikan atas kedua kecaman itu.
1. Orang-orang yang berputus asa dalam mendapatkan belas
kasihan Allah, di sini dijawab dengan suatu pernyataan yang
disampaikan dengan sungguh-sungguh mengenai kesiapan
Allah menunjukkan belas kasihan (ay. 11). saat mereka ber-
bicara mengenai kehancuran dalam kejahatan mereka, dengan
segera Allah mengutus sang nabi kepada mereka, dengan
secepat-cepatnya, untuk memberitahukan bahwa meskipun
perkara mereka meyedihkan, namun tidaklah tanpa harapan,
sebaliknya masih ada harapan bagi Israel.
Kitab Yehezkiel 33:10-20
(1) Sudah pasti bahwa Allah tidak berkenan kepada kebinasa-
an orang fasik. Ia juga tidak menghendakinya. Jika mereka
mau mmenghancurkan diri mereka sendiri, Allah akan me-
muliakan diri-Nya sendiri di dalamnya, namun sama sekali
Ia tidak berkenan di dalamnya. Sebaliknya Ia lebih ingin
supaya mereka berbalik dan hidup, sebab kebaikan-Nya
merupakan sifat khas-Nya, yang tertinggi dalam kemulia-
an-Nya, yang paling disukai-Nya. Ia lebih menyukai orang-
orang berdosa itu berbalik dan hidup, dari pada terus ber-
jalan dan mati. Ia telah berfirman dan bersumpah tentang-
nya, sehingga oleh dua hal abadi yang tidak akan berubah
ini, mustahil bagi Allah untuk berdusta di dalam keduanya,
dan kita pantas memiliki penghiburan yang kuat. Kita me-
miliki firman-Nya dan juga sumpah-Nya, dan Ia bersumpah
demi diri-Nya sendiri, sebab tidak ada orang yang lebih
tinggi dari pada-Nya: Demi Aku yang hidup. Mereka mem-
pertanyakan apakah mereka akan hidup, walaupun mereka
bertobat dan memperbarui diri? Ya, firman Tuhan, seyakin
Aku hidup, orang-orang yang sungguh-sungguh bertobat
juga akan hidup, sebab hidup mereka tersembunyi bersama
dengan Kristus di dalam Allah.
(2) Sudah pasti bahwa Allah bersungguh-sungguh dan tulus
dalam memanggil orang-orang berdosa untuk bertobat: Ber-
tobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu. Bertobat
berarti berbalik dari jalan yang jahat. Inilah yang diminta
Allah supaya dilakukan oleh orang-orang berdosa. Inilah
yang Ia minta dengan sangat kepada mereka supaya
dilakukan, dengan berulang-ulang menekankan hal-hal ini:
Berbaliklah, berbaliklah. Oh, kalau saja mereka terbujuk
untuk berbalik, bertobat dengan segera, tanpa bertangguh-
tangguh lagi! Dengan ini Ia akan memungkinkan mereka
melakukan hal ini, kalau saja mereka mau meninggalkan
perbuatan-perbuatan mereka untuk berbalik kepada Allah
(Hos. 5:4, KJV). Sebab Ia sudah berfirman, Aku hendak men-
curahkan isi hati-Ku kepadamu (Ams. 1:23). Dan di dalam
ini Ia akan menerima mereka. Sebab, bukan saja itulah
yang Ia perintahkan, melainkan juga apa yang Ia kehendaki
untuk mereka kerjakan.
(3) Sudah pasti bahwa jika orang-orang berdosa binasa dalam
kefasikan mereka, itu yaitu sebab salah mereka sendiri.
Mereka mati sebab memang ingin mati, dan dalam hal ini
mereka bertindak dengan sangat tidak masuk akal dan
keterlaluan: Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?
Allah pasti bersedia mendengar mereka, namun mereka
tidak mau didengar.
2. Orang-orang yang berputus asa dalam mendapatkan keadilan
Allah di sini dijawab dengan suatu pernyataan yang disampai-
kan dengan sungguh-sungguh mengenai aturan penghakiman
yang akan dijalankan Allah dalam menangani anak-anak ma-
nusia, yang disertai dengan bukti keadilan. Ia yang mengatur,
dapat memahami keadilan bukti itu. Sebagai bangsa, sekarang
bangsa Yahudi sudah mati, hancur binasa dengan segala
kehendak dan tujuan-tujuannya. Oleh sebab itu, sang nabi
harus berurusan dengan orang per orang, dan aturan-aturan
pengadilan atas mereka sangat mirip dengan penghakiman
atas suatu bangsa (Yer. 18:8-10). Jika Allah berfirman menge-
nai membangun dan menanam untuk suatu bangsa, namun
mereka berbuat kejahatan, maka Ia akan menarik kembali
semua kemurahan-Nya, dan membiarkan mereka berjalan
menuju kehancuran. namun , jika Ia berfirman untuk mencabut
dan membinasakan, dan kemudian bangsa itu bertobat, maka
Ia akan menarik kembali hukuman itu dan membebaskan
mereka. Begitulah yang terjadi di sini. Singkatnya, jika orang-
orang yang tampaknya sangat beriman ternyata menjadi
murtad, maka pastilah mereka akan binasa selama-lamanya
dalam kemurtadan mereka dari Allah, sedangkan jika para
pendosa yang terkenal dengan dosa-dosanya ternyata bertobat,
maka pastilah mereka akan berbahagia selama-lamanya de-
ngan berbalik kepada Allah. Di sini, hal itu diulang berkali-
kali, sebab hal itu memang harus dipertimbangkan berkali-kali
juga, dan diberitakan berkali-kali kepada hati kita. Hal ini per-
lu diajarkan berulang-ulang kepada orang-orang bodoh yang
tidak berakal budi ini, yang berkata bahwa tindakan Tuhan
tidak tepat, sebab aturan-aturan penghakiman ini sudah be-
gitu jelas keadilannya, sehingga mereka tidak membutuhkan
penegasan lain lagi, selain mengulang-ulangnya berkali-kali.
Kitab Yehezkiel 33:10-20
(1) Jika orang-orang yang telah membuat pengakuan iman de-
ngan hebatnya kemudian menanggalkan pengakuan mere-
ka itu, meninggalkan jalan-jalan Allah yang baik dan men-
jadi kendur dan hidup dalam kedagingan, berhawa nafsu
rendah dan duniawi, maka pengakuan yang mereka buat
dan semua ibadah yang sudah lama mereka lakukan, se-
muanya itu tidak akan berguna. Mereka pasti akan binasa
dalam kesalahan mereka (ay. 12-13, 18).
[1] Allah berfirman kepada kepada orang benar bahwa ia
pasti hidup (ay. 13). Allah menyampaikan hal itu dengan
firman-Nya, melalui hamba-hamba-Nya. Orang yang
hidup tertib, hatinya sendiri akan berbicara kepadanya,
para tetangganya akan memberitahukan kepadanya,
bahwa ia akan hidup. Tidak bisa tidak, orang seperti ini
akan hidup berbahagia. Dan itu pasti, jika ia terus dan
bertekun dalam kebenaran-Nya, dan jika, untuk itu, ia
berdiri tegak dan bersungguh-sungguh di dalamnya, jika
ia benar-benar sebaik seperti yang tampak dari luarnya,
maka ia akan hidup. Ia akan terus berada di dalam kasih
Allah dan tetap berbahagia di dalam kasih itu.
[2] Orang-orang benar, yang memiliki harapan-harapan sa-
ngat baik atas diri mereka sendiri, dan memiliki nama
baik di hadapan banyak orang, masih menghadapi ba-
haya berbalik hidup dalam dosa bila mereka hanya
percaya pada kebenaran mereka sendiri. Demikianlah
perkaranya dipaparkan di sini: Jika ia mengandalkan
kebenarannya dan ia berbuat curang, dan akhirnya
berbuat dosa, jika ia tidak saja mengambil langkah yang
salah, namun juga berbalik ke jalan yang salah dan ber-
kanjang di dalamnya. Ini bisa saja terjadi pada seorang
benar, dan itu sebab ia mengandalkan kebenarannya
sendiri. Perhatikanlah, banyak orang percaya ternama
telah hancur sebab bangga atas kegagahan sendiri dan
menaruh percaya pada diri sendiri. Ia mengandalkan
jasa kebenarannya sendiri, dan mengira sudah mem-
buat Allah begitu banyak berutang kepadanya sehingga
sekarang ia merasa berani melakukan kejahatan. Ia
menyangka bahwa sebab ia memiliki cukup banyak ke-
benaran, ia dapat menebus kesalahan itu. Ia menyang-
ka bahwa perbuatan jahat apa pun yang dilakukan
selanjutnya dapat menjadi tidak membahayakan, sebab
sebelumnya ia sudah memiliki begitu banyak perbuatan
baik untuk mengimbanginya. Atau, ia percaya kepada
kekuatan kebenarannya sendiri, menganggap dirinya
sekarang sudah begitu mapan dalam kebajikan se-
hingga ia percaya dapat menghadapi pencobaan apa
pun, dan pencobaan itu tidak dapat mengalahkannya.
Jadi dengan menganggap diri mampu, ia dibawa kepada
perbuatan jahat. Dengan memandang enteng kekuatan
dosa akhirnya ia ditarik masuk ke dalam neraka. Hal ini
telah menghancurkan orang-orang Farisi. Mereka per-
caya pada diri sendiri bahwa mereka benar, dan bahwa
dengan doa mereka yang panjang-panjang dan berpua-
sa dua kali dalam seminggu dapat menebus kejahatan
mereka menelan rumah janda-janda.
[3] Jika orang-orang benar berbalik menuju kejahatan, dan
tidak kembali kepada kebenaran, maka mereka pasti
akan binasa dalam kejahatan. Semua kebenaran yang
tadinya mereka kerjakan, semua doa-doa mereka, dan
semua amal mereka akan dilupakan. Tidak ada yang
menyebut-nyebutnya lagi, tidak ada lagi ingatan akan
perbuatan-perbuatan baik mereka. Mereka akan diabai-
kan, seolah-olah mereka tidak pernah ada. Kebenaran
orang benar tidak menyelamatkan dia dari murka Allah
dan kutuk hukum Taurat pada waktu ia jatuh dalam
pelanggarannya. saat ia menjadi pengkhianat dan pem-
berontak, dan mengangkat senjata terhadap Penguasa-
nya yang sah, maka tidak ada gunanya baginya untuk
berdalih dan membela diri bahwa sebelumnya ia yaitu
warga yang setia dan melakukan banyak pelayanan
berguna bagi sang penguasa. Tidak, ia tidak akan dapat
hidup. Ingatan akan kebenarannya terdahulu tidak
akan memuaskan baik bagi keadilan Allah maupun hati
nuraninya sendiri pada waktu ia berbuat dosa. Malah-
an, kesetiaan dan perbuatan baiknya di masa dahulu
justru akan sangat memperburuk dosa dan kebodohan
perbuatan murtadnya. Oleh sebab itu, untuk kecu-
rangan yang diperbuatnya ia harus mati (ay. 13). Dan
Kitab Yehezkiel 33:10-20
sekali lagi (ay. 18), bahkan ia harus mati sebab itu, dan
itu semua akibat salahnya sendiri.
(2) Jika orang-orang yang hidup dalam kejahatan bertobat dan
memperbaiki diri, meninggalkan jalan-jalan mereka yang
jahat dan menjadi saleh, maka dosa-dosa mereka akan
diampuni dan mereka akan dibenarkan dan diselamatkan,
jika mereka bertekun dalam pembaruan mereka.
[1] Allah berfirman kepada orang-orang fasik, “Engkau pasti
mati. Jalan yang engkau tempuh memimpinmu kepada
penghancuran itu. Upah dosamu yaitu maut, dan
kejahatanmu akan segera menjadi kehancuranmu.”
Dan dikatakan kepada orang benar, Engkau pasti hidup,
sebab mau melanjutkan dan bertekun dalam jalan
kebenaran. namun kalau ia berbuat kejahatan,
maka ia merusak semua kebenaran yang dimilikinya
itu. Dikatakan kepada orang jahat, Engkau pasti mati,
sebagai peringatan kepadanya supaya jangan berkan-
jang di jalan-jalannya yang jahat. Dan ia memanfaatkan
peringatan itu dengan baik, jika mau kembali kepada
Allah dan kewajiban ibadahnya. Jadi, bahkan ancaman-
ancaman firman Allah itu, oleh kasih karunia Allah,
bagi sebagian orang akan menjadi bau kehidupan yang
menghidupkan. Sementara bagi orang lain, oleh kebo-
brokan mereka sendiri bahkan janji-janji firman akan
menjadi bau kematian yang mematikan. saat Allah
berfirman kepada orang jahat, Engkau pasti mati, mati
selamanya, firman itu yaitu untuk menakut-nakuti
dia, bukan supaya ia kehilangan akal budinya, namun
supaya ia keluar dari dosa-dosanya.
[2] Ada banyak orang jahat yang sedang melaju menuju
kehancurannya, tetap oleh kasih karunia Allah dibawa
berbalik dan bertobat, dan menjalani hidup yang kudus.
Ia bertobat dari dosanya (ay. 14), dan memutuskan un-
tuk tidak berurusan dengan dosa lagi. Sebagai bukti per-
tobatannya dari perbuatan salah, ia memulihkan janjinya
(ay. 15), bahwa apa yang telah ia rampas dari orang mis-
kin, akan dikembalikannya, termasuk apa yang diambil-
nya secara tidak adil dari orang-orang kaya. Ia tidak saja
berhenti berbuat jahat, namun ia juga belajar untuk ber-
buat baik. Ia melakukan apa yang sah dan benar, me-
nunaikan kewajibannya kepada Allah dan manusia de-
ngan sepenuh hati nurani. Ini sungguh suatu perubah-
an besar, sebab belum lama berselang, ia tidak takut
kepada Allah dan menghormati sesamanya. Banyak
perubahan-perubahan menakjubkan seperti ini, dan
yang penuh berkat, telah dikerjakan oleh kuasa kasih
karunia ilahi. Orang yang berjalan terus di jalan kemati-
an dan perusak sekarang berjalan menuruti peraturan-
peraturan yang memberi hidup, di jalan perintah-perin-
tah Allah, yang mengandung kehidupan di dalamnya
(Ams. 12:28) dan hidup sampai kesudahannya (Mat.
19:17). Dan di jalan yang baik ini ia bertekun tanpa me-
lakukan kejahatan, walaupun tidak bebas dari kele-
mahan yang tersisa, namun tidak berada di bawah ke-
kuasaan kejahatan. Ia bertobat tidak dari pertobatan-
nya, juga tidak kembali kepada perbuatan dosa-dosa
besar yang sebelumnya ia membiarkan dirinya ada di
dalamnya.
[3] Orang yang bertobat seperti ini dan berbalik akan terlu-
put dari kehancuran yang tadi hampir saja menimpa-
nya. Dan dosa-dosanya yang dahulu tidak menjadi
penghalang bagi Allah untuk menerimanya. Jadi jangan
tenggelam dalam kejahatanmu, sebab jika kamu meng-
akui dan meninggalkan kejahatanmu itu, maka kamu
akan menemukan belas kasihan. Orang demikian pasti
hidup, ia tidak akan mati (ay. 15). Lagi, ia pasti hidup
(ay. 16). Sekali lagi, ia telah melakukan keadilan dan
kebenaran, dan sebab itu ia pasti hidup (ay. 19). namun
apakah kejahatannya akan diingat untuk menentang
dia? Tidak, ia tidak akan dihukum untuk kejahatan itu
(ay. 12): Adapun mengenai kejahatan orang jahat, wa-
laupun sangat mengerikan, namun tidak menyebabkan
ia tersandung pada waktu ia bertobat dari kejahat-
annya. Walaupun sekarang kejahatannya itu menda-
tangkan kesedihan baginya, namun itu tidak akan men-
jadi kehancurannya. Sekarang ada pemisahan yang
tetap antara dia dan dosa, dan tidak ada lagi pemisahan
Kitab Yehezkiel 33:10-20
antara dia dan Allah. Bahkan sekarang ia tidak akan
dicela lagi sebab segala dosanya (ay. 16): Semua dosa
yang diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi, sebagai
tanda ia sudah diampuni, dan sebagai penghiburan
untuknya. Aibnya dihapus, dan ia tidak direndahkan
lagi sebagai kemuliaan yang dipersiapkan baginya.
Nah, semuanya ini sudah dibeberkan, jadi sekarang
buatlah penilaian apakah jalan Tuhan itu adil atau
tidak, apakah semuanya ini membenarkan Allah atau
tidak atas penghancuran orang-orang berdosa dan me-
muliakan Dia dalam keselamatan orang-orang yang ber-
tobat. Kesimpulan semua perkara ini yaitu (ay. 20):
“Hai kaum Israel, walaupun kamu semua sekarang
terlibat dalam malapetaka bersama, namun akan ada
pembedaan terhadap orang per orang mengenai keada-
an rohani dan kekekalan mereka, dan Aku akan meng-
hakimi kamu, masing-masing menurut kelakuannya.”
Meskipun mereka dikirim ke pembuangan dalam kelom-
pok besar bersama-sama, ikan yang baik dan tidak baik
terkurung dalam pukat yang sama, namun di sana Ia
akan memisahkan antara yang berharga dan yang hina,
lalu diberikan kepada setiap orang menurut perbuatan-
nya. Oleh sebab itu jalan Allah itu adil dan sempurna.
namun , mengenai anak-anak bangsamu, Allah menye-
rahkan mereka kepada sang nabi, seperti yang Ia laku-
kan kepada Musa (Kel. 32:7): “Mereka yaitu bangsamu,
tidak mudah bagi-Ku untuk mengaku mereka sebagai
milik-Ku.” Mengenai mereka, jalan mereka tidak setara.
Jalan ini, jalan yang mereka tempuh dengan berbantah-
bantah dengan Allah dan nabi-nabi-Nya, sangat janggal
dan tidak masuk akal. Dalam semua perselisihan antara
Allah dan makhluk ciptaan-Nya pasti didapati bahwa Ia
benar dan mereka salah.
Pesan kepada Penduduk Yudea; Peringatan Keras
bagi Orang-orang Yahudi yang Tinggi Hati
(33:21-29)
21 Pada tahun kesebelas sesudah pembuangan kami, dalam bulan yang kese-
puluh, pada tanggal lima bulan itu, datanglah kepadaku seorang yang ter-
luput dari Yerusalem dan berkata: “Kota itu sudah ditaklukkan!” 22 Maka ke-
kuasaan TUHAN meliputi aku pada malam sebelum kedatangan orang yang
terluput itu dan TUHAN membuka mulutku pada saat menjelang kedatangan
orang yang terluput itu pada pagi hari. Mulutku sudah terbuka dan aku
tidak bisu lagi. 23 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 24 “Hai anak
manusia, orang-orang yang tinggal pada reruntuhan-reruntuhan ini, yaitu
yang di tanah Israel, berkata begini: Abraham yaitu seorang diri, tatkala ia
mendapat tanah ini menjadi miliknya, namun kita banyak, tentu tanah ini
diberikan kepada kita menjadi milik. 25 Oleh sebab itu katakanlah kepada
mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Kamu makan daging dengan
darahnya, kamu melihat juga kepada berhala-berhalamu dan kamu menum-
pahkan darah – apakah kamu akan tetap memiliki tanah ini? 26 Kamu ber-
sandar pada pedangmu, kamu melakukan kekejian dan masing-masing men-
cemari isteri sesamanya – apakah kamu akan tetap memiliki tanah ini? 27
Katakanlah begini kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. Demi Aku
yang hidup, orang-orang yang tinggal pada reruntuhan-reruntuhan akan
mati rebah oleh pedang, dan orang-orang yang di padang akan Kuberikan
kepada binatang liar menjadi makanannya dan orang-orang yang di dalam
kubu dan gua akan mati kena sampar. 28 Tanah ini akan Kubuat musnah
dan sunyi sepi, dan kecongkakannya, yang ditimbulkan kekuatannya, akan
berakhir; gunung-gunung Israel akan menjadi sunyi sepi, sehingga tidak
seorangpun berani melintasinya. 29 Dan mereka akan mengetahui bahwa
Akulah TUHAN, pada saat Aku membuat tanah ini musnah dan sunyi sepi,
oleh sebab semua perbuatan-perbuatan mereka yang keji, yang mereka
lakukan.
Di sini kita dapati,
I. Kabar mengenai pembakaran Yerusalem oleh orang-orang Kasdim
dibawa kepada Yehezkiel. Kota itu dibakar pada tahun kesebelas
pembuangan dan pada bulan kelima (Yer. 52:12-13). Kabar ini
dibawa kepada sang nabi oleh seseorang yang menjadi saksi mata
penghancuran itu, pada tahun kedua belas dan bulan kesepuluh
(ay. 21), yaitu setahun dan hampir lima bulan sesudah pembakar-
an Yerusalem terjadi. Kita dapat menduga bahwa dengan adanya
hubungan terus-menerus antara Yerusalem dan Babel dibanding-
kan dengan waktu-waktu sebelumnya, maka pastilah sang nabi
telah mendengar kabar itu jauh sebelumnya. namun inilah kali
pertama ia mendapat laporan dari seorang pengungsi, dari
seseorang yang terluput dari pembakaran itu, yang bisa bercerita
dengan terperinci dan sepenuh hati sebab mengalaminya sendiri.
Dan tanda yang diberikan kepada sang nabi yaitu kedatangan
Kitab Yehezkiel 33:21-29
seorang seperti dirinya sendiri yang luput dari nyala api (24:26):
Pada hari itu juga akan datang seorang yang terluput membawa
berita kepadamu, untuk membuat engkau mendengar berita itu
langsung, mendengarnya dengan lebih jelas daripada yang pernah
engkau dengar sebelumnya, dari orang yang dapat berkata, Quæque
ipse miserrima vidi – Pemandangan menyedihkan ini yang saya lihat.
II. Kesan-kesan dan pengaruh ilahi yang meliputinya itu menyiapkan
dirinya untuk mendengar kabar buruk itu (ay. 22): Maka kekuasa-
an TUHAN meliputi aku pada malam sebelum kedatangan orang
yang terluput itu dan TUHAN membuka mulutku untuk berbicara
kepada kaum Israel tentang apa yang telah kita baca di bagian
sebelumnya dalam pasal ini. Dan sekarang ia sudah tidak bisu
lagi. Sekarang ia dapat bernubuat dengan lebih bebas dan berani,
sebab peristiwa itu membuktikan bahwa ia yaitu seorang nabi
sejati, dan ini akan membawa kebingungan kepada orang-orang
yang menentang dia. Semua nubuat dari pasal 24 sampai pasal
ini memiliki kaitan sepenuhnya dengan bangsa-bangsa di sekitar-
nya. Mungkin saat sang nabi menerima firman dari TUHAN bagi
mereka, ia tidak menyampaikannya secara lisan, namun secara
tertulis. Sebab ia tidak mungkin dapat mengatakan, Katakanlah
kepada bani Amon, Katakanlah kepada Tirus, Katakanlah kepada
Firaun, dan seterusnya, begini, dan begitu, namun dengan cara
menulis surat-surat yang ditujukan kepada orang-orang yang
berkepentingan, seperti yang dilakukan oleh Zakharia saat ia
tidak dapat berbicara, ia menulis. Dan di sini sang nabi melak-
sanakan jabatan kenabiannya seperti sebelumnya. Perhatikanlah,
meskipun dibungkam, para hamba Tuhan tetap dapat melakukan
banyak kebaikan dengan menulis surat-surat dan melakukan
kunjungan-kunjungan. namun sekarang mulut sang nabi sudah
dibuka, sehingga ia dapat berbicara kepada kaum Israel, bangsa-
nya. Ada kemungkinan bahwa selama tiga tahun ini, ia sudah
terus-menerus berbicara kepada mereka sebagai seorang sahabat,
mengingatkan mereka mengenai apa yang pernah ia sampaikan
kepada mereka sebelumnya. namun , ia belum pernah berbicara
oleh ilham kepada mereka sebagai seorang nabi sampai sekarang,
saat tangan Tuhan datang di atasnya, memperbarui jabatannya
kembali, memberi nya perintah-perintah baru, dan membuka
mulutnya, melengkapinya dengan kuasa untuk berbicara kepada
bangsa itu sebagaimana yang harus ia katakan.
III. Pesan khusus yang dipercayakan kepadanya mengenai orang-
orang Yahudi yang masih menetap di tanah Israel dan tinggal
pada reruntuhan-reruntuhan tanah itu (ay. 24). Lihatlah apa yang
telah dilakukan oleh dosa. Kota-kota Israel menjadi reruntuhan-
reruntuhan Israel, sebab semuanya sudah menjadi puing. Bebe-
rapa kelompok kecil yang terluput dari pedang dan dari pem-
buangan tetap tinggal di sana dan mulai berpikir untuk ber-
mukim kembali. Kejadian itu sudah lama sekali sesudah penghan-
curan Yerusalem, beberapa waktu sebelum Gedalya (seorang yang
sederhana dan rendah hati) dan teman-temannya dibunuh.
namun , kemungkinan pada saat itu Yohanan dan semua orang
congkak yang bergabung bersamanya berada di perbukitan (Yer.
43:2). Dan sebelum mereka sampai pada keputusan mengungsi ke
Mesir, yang ditentang oleh Yeremia, besar kemungkinan bahwa
rancangan itu yaitu untuk memantapkan kedudukan mereka di
atas reruntuhan tanah Israel, yang di sini ditentang oleh Yehez-
kiel, dan kemungkinan pesan itu ia titipkan kepada orang yang
membawa berita penghancuran Yerusalem itu. Atau, mungkin
yang dinubuatkan di sini yaitu untuk menentang kelompok-
kelompok orang Yahudi lain yang tetap tinggal di tanah itu
dengan harapan dapat mengakar di sana dan menjadi penguasa
tunggal atas tanah itu, sesudah Yohanan dan pasukannya meng-
ungsi ke Mesir. Nah, di sini kita mendapati,
1. Sebuah gambaran mengenai kecongkakan orang-orang Yahudi
yang masih tinggal itu, yang bermukim di reruntuhan-reruntuh-
an tanah Israel. Walaupun penyelenggaran Allah bagi mereka
telah sangat merendahkan mereka dan tetap sangat meng-
ancam, namun kecongkakan mereka sangat tak tertahankan
dan kukuh. Mereka menjanjikan damai bagi diri mereka sen-
diri. Orang yang membawa berita kepada sang nabi bahwa
Yerusalem sudah ditaklukkan, tidak dapat memberitahukan
kepadanya (kemungkinan) apa yang dikatakan oleh orang-
orang ini, namun Allah yang memberitahukan kepadanya.
Mereka berkata, “Tanah itu diberikan kepada kita untuk dimiliki
(ay. 24). Sekutu-sekutu kami telah pergi, jadi sekarang semua
menjadi milik kami sebab hanya kami yang selamat, atau
Kitab Yehezkiel 33:21-29
sebab tidak ada lagi ahli waris, maka hak atas tanah itu
sekarang jatuh pada kami sebagai penghuni. Hanya kami yang
sekarang ada di tengah-tengah bumi ini dan memiliki semua-
nya bagi kami sendiri.” Hal ini membuktikan kebodohan mere-
ka di bawah beratnya tangan Allah, sikap mementingkan diri
sendiri yang tak terkira, dan kerohanian yang sempit. Mereka
menyenangkan diri sendiri dalam kehancuran negeri mereka
selama mereka dapat berharap menemukan keuntungan di
sana. Mereka tidak peduli walaupun itu semua yaitu rerun-
tuhan, asalkan mereka dapat memilikinya sendiri sepenuhnya.
Padahal ini hanyalah sebuah warisan yang tidak ada harga
untuk dibanggakan! Dengan lancangnya mereka membanding-
kan perkara mereka dengan keadaan Abraham. Mereka me-
rasa bangga dengan hal ini, Abraham yaitu bapa kami.
“Abraham,” kata mereka, “hanya seorang sendiri, satu keluar-
ga, tatkala ia mendapat tanah ini menjadi miliknya, dan hidup
menikmati damai sejahteranya selama bertahun-tahun itu.
Kalau ia hanya sendiri saat itu, apalagi sekarang kami ini
banyak orang, banyak keluarga, lebih banyak jumlahnya
daripada dia, maka tentu tanah ini diberikan kepada kami.”
(1) Mereka mengira dapat memiliki hak dari Allah atas tanah
ini seperti halnya Abraham: “Jika Allah memberi tanah
ini kepada Abraham, yang hanya menjadi satu-satunya
penyembah Allah, sebagai upah atas kebaktiannya, maka
terlebih lagi Ia akan memberi tanah itu kepada kami,
para penyembah-Nya yang banyak jumlahnya, sebagai
upah kebaktian kami.” Hal ini menunjukkan kesombongan
besar mereka atas jasa-jasa mereka sendiri. Seolah-olah
jasa-jasa mereka lebih besar daripada jasa-jasa Abraham
bapa mereka, yang dibenarkan bukan sebab perbuatan-
perbuatannya.
(2) Mereka mengira dapat mempertahankan kepemilikan tanah
ini terhadap orang-orang Kasdim dan penyerang-penyerang
lainnya, sebaik Abraham dapat bertahan terhadap orang-
orang yang bersaing dengan dirinya atas tanah itu: “Jika ia,
yang hanya seorang diri, dapat mempertahankan tanah itu,
terlebih kami, yang banyak jumlahnya, dan memiliki lebih
banyak pasukan yang siap siaga daripada 300 hamba
Abraham yang terlatih.” Pernyataan ini menunjukkan keya-
kinan mereka atas kekuatan mereka sendiri. Mereka sudah
memiliki tanah itu, dan sekarang mereka bertekad mem-
pertahankannya.
2. Teguran atas kesombongan ini. sebab semua tindakan penye-
lenggaraan Allah tidak membuat mereka menjadi rendah hati,
dan juga tidak membuat mereka merasa ngeri, maka sang nabi
pun mengirimkan pesan yang cukup untuk membuat mereka
merendah dan ketakutan.
(1) Untuk merendahkan hati mereka, ia memberitahukan keja-
hatan mereka yang masih terus mereka lakukan, yang
menjadikan mereka sama sekali tidak layak memiliki tanah
ini. Dengan begitu mereka tidak dapat mengharapkan Allah
akan memberi tanah itu kepada mereka. Mereka telah
dikejar-kejar oleh hukuman demi hukuman, namun mereka
tidak belajar dari cara-cara kasih karunia itu seperti yang
diharapkan. Mereka masih tetap belum diperbarui, jadi
bagaimana mungkin mereka mengharapkan bahwa mereka
akan memiliki tanah itu? “Apakah kamu akan tetap memiliki
tanah ini? Apa! Orang-orang jahat seperti kalian? Bagai-
mana bisa Aku menempatkan engkau di tengah-tengah
anak-anak itu, dan memberi kepadamu negeri yang me-
nyenangkan itu? (Yer. 3:19). Pastilah kalian ini tidak per-
nah merenung mengenai diri kalian sendiri, sebab kalau
tidak kalian akan lebih suka bertanya-tanya untuk berada
di negeri orang hidup daripada mengharapkan untuk me-
miliki tanah ini. Sebab, tahukah kalian betapa buruknya
kalian?”
[1] “Kamu tidak memeriksa hati nurani mengenai buah-
buahan terlarang, makanan terlarang, kamu makan
daging dengan darahnya,” dan ini bertentangan langsung
dengan salah satu dari titah-titah yang diberikan kepada
Nuh dan anak-anaknya saat Allah memberi kepada
mereka hak untuk memiliki bumi ini (Kej. 9:4).
[2] Penyembahan berhala, dosa pelanggaran kovenan, dosa
yang secara khusus membangkitkan kecemburuan
Allah sehingga Ia membuat negerimu menjadi reruntuh-
an, dosa itu masih tetap dengan mudahnya menguasai-
mu dan yang kepadanya hatimu sangat condong. Kamu
Kitab Yehezkiel 33:21-29
melihat juga kepada berhala-berhalamu, yang menjadi
tanda bahwa meskipun mungkin kamu tidak menekuk
lututmu di depan berhala-berhala itu seperti yang kamu
lakukan dahulu, namun hatimu masih terpatri pada
mereka dan mendambakan mereka.”
[3] “Masih juga kamu ganas, kejam, dan biadab seperti bia-
sanya. Kamu menumpahkan darah, darah orang tidak
bersalah.”
[4] “Kamu percaya pada kekuatanmu sendiri, senjata pe-
rangmu sendiri, busurmu, dan tidak bergantung, tidak
punya rasa hormat kepada Allah dan tindakan penye-
lenggaraan-Nya. Kamu bersandar pada pedangmu (ay.
26). Kamu merancang untuk menyeret semua ke hadap-
anmu, dan membuat semua menjadi milikmu sendiri,
oleh kekuatan senjatamu.” Bagaimana mungkin orang
bisa mengharapkan warisan Ishak (seperti orang-orang
ini), sementara perangai mereka seperti Ismael, yang
tangannya akan melawan tiap-tiap orang (Kej. 16:12),
sementara tekad hati mereka seperti Esau yang akan
hidup dari pedangnya (Kej. 27:40). Kita menemukan
orang-orang seperti ini (32:27) yang saat mereka mati,
menyangka tidak dapat tergeletak di tanah dengan mu-
dahnya, kecuali kalau pedang-pedang mereka sudah
tergeletak di bawah kepala mereka. Di sini kita berjum-
pa dengan orang-orang yang saat mereka hidup, me-
nyangka mereka tidak dapat berdiri teguh di atas tanah
kecuali pedang-pedang mereka ditaruh di bawah kaki
mereka, seolah-olah pedang-pedang itu merupakan ban-
tal-bantal paling lembut dan tiang-tiang terkuat. Walau-
pun itu dosa, dan memang dosa, bagi orang yang per-
tama menghunus pedang. namun terpujilah Allah, ada
orang-orang yang tahu dengan lebih baik, yang berdiri di
atas dukungan kuasa dan janji ilahi, dan meletakkan
kepala mereka di pangkuan kasih ilahi, dan tidak mem-
percayakan diri pada pedang mereka sendiri (Mzm. 44:4).
[5] “Kamu bersalah atas segala macam kekejian, dan khu-
susnya, kamu masing-masing mencemari isteri sesama-
nya, yang merupakan perbuatan keji yang terhebat, dan
dengan begitu akankah kamu tetap memiliki tanah ini?
Apa? Penjahat keji seperti kamu?” Perhatikanlah, siapa-
pun tidak dapat berharap memiliki tanah, atau menik-
mati penghiburan atau kebahagiaan sejati apa pun di
sini atau di kehidupan yang akan datang, jika ia hidup
dalam pemberontakan melawan Tuhan.
(2) Untuk menggentarkan mereka, ia memberitahukan kepada
mereka hukuman-hukuman Allah selanjutnya yang sudah
tersedia bagi mereka. Dan hukuman-hukuman ini akan
membuat mereka sama sekali tidak dapat menduduki
negeri ini, sehingga mereka tidak dapat bertahan mengha-
dapi musuh. Apakah mereka berkata bahwa mereka akan
memiliki tanah itu? Allah sudah berfirman mereka tidak
akan, Ia sudah bersumpah, Demi Aku yang hidup, demi-
kianlah firman Tuhan. Meskipun Ia sudah bersumpah bah-
wa Ia tidak berkenan kepada kematian orang fasik, namun
ia juga telah bersumpah bahwa orang-orang yang tetap ber-
kanjang dalam kedurhakaan dan ketidakpercayaannya
tidak akan masuk ke tempat perhentian-Nya.
[1] Orang-orang yang berada di dalam kota, yang di sini di-
sebut orang-orang yang tinggal pada reruntuhan, akan
mati rebah oleh pedang, baik oleh pedang orang Kasdim,
yang sengaja datang untuk membalas pembunuhan
terhadap Gedalya, atau oleh pedang orang lain, yang
ditusukkan ke dalam perut mereka.
[2] Orang-orang yang berada di padang terbuka akan diberi-
kan kepada binatang liar, tentu saja binatang-binatang
yang bergerombol dalam jumlah besar di kawasan pede-
saan yang tidak berpenghuni lagi, dan di sana tidak ada
yang menguasai dan menaklukkan mereka (Kel. 23:29).
saat pasukan musuh sudah meninggalkan negeri itu,
tetap saja tidak ada keamanan di situ. Binatang-binatang
liar yang berbau busuk itu merupakan salah satu dari
empat hukuman yang berat-berat (14:15).
[3] Orang-orang yang berada di dalam kubu dan gua, yang
menyangka diri aman di dalam kubu-kubu buatan atau
kubu-kubu alami, sebab mata manusia tidak dapat
menemukan mereka dan juga anak panah manusia
tidak dapat menjangkau mereka, tetap saja di sana ada
Kitab Yehezkiel 33:30-33
anak panah dari Yang Mahakuasa yang akan menemu-
kan mereka. Yaitu, mereka akan mati kena sampar.
[4] Seluruh negeri, bahkan tanah Israel, yang sebelumnya
menjadi kemuliaan semua negeri, akan menjadi yang pa-
ling sunyi sepi (ay. 28). Akan ada pemusnahan dan sunyi
sepi, di mana-mana sunyi sepi, sesepi yang dapat ditim-
bulkan oleh sunyi sepi. Gunung-gunung Israel, gunung-
gunung yang subur itu, Sion itu sendiri, gunung yang
kudus itu, juga tidak dikecualikan, akan menjadi sunyi
sepi, jalan-jalan jarang dilintasi, rumah-rumah tak ber-
penghuni, sehingga tidak seorang pun berani melintasinya.
Keadaannya seperti yang sudah diancamkan (Ul. 28:62),
Dari pada kamu hanya sedikit orang yang tertinggal.
[5] Kecongkakan yang ditimbulkan kekuatan mereka, apa
pun yang ia muliakan sebagai kemegahannya, dan ia an-
dalkan sebagai kekuatannya, semuanya akan dihentikan.
[6] Penyebab semua ini sangat buruk. Ini semua akibat
segala kekejian yang mereka lakukan. Dosalah yang
melakukan semua kejahatan ini, yang membuat bang-
sa-bangsa menjadi sunyi sepi. Oleh sebab itu kita
harus menyebut dosa itu kekejian.
[7] Namun akibat dari semua ini akan sangat baik: Dan
mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yaitu
Tuhan mereka, dan akan kembali bersekutu dengan
mereka, saat Aku selesai membuat tanah ini musnah
dan sunyi sepi. Orang-orang yang keras kepala dan
tidak terjamah hatinya, akan dibuat mengetahui bahwa
mereka sangat bergantung pada Allah saat semua
kenyamanan yang biasa mereka dapatkan pada makh-
luk ciptaan tidak dapat lagi menolong mereka dan su-
dah dibuat menjadi sunyi sepi.
Pengakuan Iman yang Munafik
(33:30-33)
30. Dan engkau anak manusia, teman-temanmu sebangsa bercakap-cakap
mengenai engkau dekat tembok-tembok dan di pintu rumah-rumah dan ber-
kata satu sama lain, masing-masing kepada temannya. Silakan datang dan
dengar, apa yang difirmankan oleh TUHAN! 31 Dan mereka datang kepadamu
seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku,
mereka mendengar apa yang kauucapkan, namun mereka tidak melakukan-
nya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, namun hati mereka
mengejar keuntungan yang haram. 32 Sungguh, engkau bagi mereka seperti
seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan
yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kauucapkan, namun
mereka sama sekali tidak melakukannya. 33 Kalau hal itu datang – dan sung-
guh akan datang! – mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di
tengah-tengah mereka.”
Ayat-ayat sebelumnya membicarakan hukuman kepada orang-orang
Yahudi yang tetap tinggal di tanah Israel, yang menjadi tugu peri-
ngatan kasih sayang penuh belas kasihan Tuhan, namun tidak mau
berbalik kepada-Nya. Dalam ayat-ayat ini orang-orang yang ditegur
yaitu orang-orang yang sekarang ada dalam pembuangan di Babel,
ada di bawah hardikan ilahi, namun tidak memperbarui diri oleh
teguran itu. Mereka memang tidak dijatuhi tuduhan melakukan
kekejaman besar yang sama seperti yang dituduhkan kepada orang-
orang yang berdiam di tanah Israel. Mereka memamerkan kegiatan-
kegiatan keagamaan dan ibadah, namun hati mereka tidak benar di
hadapan Allah. Hal yang dituduhkan kepada mereka yaitu meng-
olok-olok utusan-utusan Allah, salah satu dari dosa-dosa mereka yang
sudah keterlaluan, yang membawa kehancuran ini ke atas mereka,
namun mereka tidak juga disembuhkan dari dosa itu. Dua cara
mereka mengolok-olok Nabi Yehezkiel:
I. Dengan celaan-celaan buruk yang menyakitkan hati ke atasnya.
Mereka melakukannya secara pribadi di antara mereka sendiri,
berusaha keras dengan segala cara untuk membuatnya tercela.
Sang nabi tidak mengetahui hal itu, sebab dengan kemurahan
hati ia pikir orang-orang yang berbicara dengan baik-baik di
hadapannya, dengan begitu penuh penghargaan dan rasa hormat,
pastilah mereka tidak akan berbicara buruk-buruk di balik pung-
gungnya. namun Allah datang dan memberitahukan hal itu kepada
sang nabi, engkau anak manusia, Teman-temanmu sebangsa ber-
cakap-cakap mengenai engkau (ay. 30), atau berbicara tidak baik
mengenai engkau. Aku meragukan mereka. Perhatikanlah, tokoh-
tokoh masyarakat biasanya menjadi bahan pembicaraan orang,
setiap orang bebas mengecam mereka sesukanya. Hamba-hamba
Tuhan yang setia tidak mengetahui berapa banyak hal-hal buruk
tentang mereka dikatakan orang setiap hari. yaitu baik bahwa
mereka tidak mengetahuinya, sebab, jika tidak, hal itu bisa mem-
buat mereka tawar hati dalam pekerjaan dan itu tidak mudah
Kitab Yehezkiel 33:30-33
mereka atasi. Allah memperhatikan semua yang dikatakan orang
terhadap pelayan-pelayan-Nya, tidak saja apa yang dilontarkan
melawan mereka, atau disumpahkan kepada mereka, tidak saja
apa yang tertulis menentang mereka, atau dikatakan dengan
sungguh hati dan sengaja, namun juga Ia memperhatikan apa yang
dikatakan mengenai mereka dalam percakapan umum sehari-
hari, di antara para tetangga saat mereka saling bertemu di
petang hari, di dekat tembok-tembok dan di pintu-pintu rumah-
rumah mereka, di mana mereka bebas berbicara sepenuh-penuh-
nya. Jika mereka mencela dan memfitnah pelayan-pelayan Tuhan,
maka Tuhan akan memperhitungkan perbuatan itu dengan mere-
ka. Nabi-nabi-Nya tidak boleh dijadikan lagu orang-orang pema-
buk. Tidak ada kejahatan yang dapat mereka tuduhkan kepada
sang nabi, namun mereka suka membicarakan dia dengan cara
yang kurang ajar, penuh ejekan, dan mengolok-olok. Dengan
bergurau mereka berkata, “Silakan datang dan dengar, apa yang
difirmankan oleh TUHAN, mungkin ada sesuatu yang baru untuk
menghibur kita, dan mungkin ada bahan lagi untuk percakap-
kan.” Perhatikanlah, orang sudah sampai pada puncak durhaka
bila ia menjadikan hak istimewa yang sedemikian agung, kewajib-
an ibadah yang sedemikian besar ini, yaitu berkhotbah dan men-
dengarkan firman Allah, sebagai bahan olok-olok dan ejekan. Ya,
ini bisa saja tidak dilakukan secara terbuka di depan orang
banyak, namun dalam percakapan pribadi di tengah-tengah orang-
orang durhaka itu sendiri. Hal-hal yang sungguh-sungguh harus
dibicarakan dengan sungguh-sungguh pula.
II. Dengan menyamarkan diri dalam kehadiran mereka di dalam
pelayanannya. Orang-orang munafik mencemooh Allah dan nabi-
nabi-Nya. namun kemunafikan mereka terbuka di hadapan Allah,
dan harinya sedang datang saat , seperti di sini, semua akan
diungkapkan. Amatilah di sini,
1. Pengakuan iman yang tampak masuk akal yang dibuat oleh
orang-orang ini dan tampak meyakinkannya kepura-puraan
mereka. Mereka seperti orang-orang yang disebutkan dalam
Matius 15:8, yang memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal
hatinya jauh dari pada-Ku.
(1) Mereka rajin dan terus mengikuti sarana-sarana kasih ka-
runia: Mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun.
Di Babel mereka tidak memiliki Bait Suci atau rumah-ru-
mah ibadat, namun mereka pergi ke rumah sang nabi (8:1).
Di situ mungkin mereka melewatkan waktu bulan baru dan
hari Sabat dalam upacara-upacara keagamaan (2Raj. 4:23).
saat sang nabi terbelenggu; firman Tuhan tidak terbe-
lenggu. Dan saat rakyat banyak tidak memiliki pertolong-
an yang mereka harapkan bagi jiwa mereka, mereka tetap
berterima kasih untuk apa yang mereka miliki. Itu yaitu
kebangkitan dalam perbudakan mereka. Sekarang datang-
lah orang-orang munafik ini, seperti rakyat berkerumun,
sebagaimana sepatutnya dan sedini mungkin sebagai salah
satu dari para pendengar sang nabi. Dikatakan bahwa ke-
datangan mereka seperti rakyat banyak tampaknya untuk
menunjukkan bahwa alasan mereka datang yaitu sebab
orang-orang lain datang. Mereka tidak datang sebab hati
nurani mereka terhadap Allah, namun hanya untuk berkeru-
mun ramai-ramai, demi gaya hidup, dan sebab sekarang
itulah kebiasaan teman-teman sebangsanya. Perhatikan-
lah, orang-orang yang tidak memiliki dasar pijakan rohani
dalam mengasihi ketetapan-ketetapan Allah, mereka dapat
ditemui sangat taat dalam menjalani ketetapan-ketetapan
itu secara lahiriah. Kain membawa korban persembahan-
nya seperti halnya Habel. Orang-orang Farisi pergi ke Bait
Suci untuk berdoa seperti halnya si pemungut cukai.
(2) Mereka berperilaku sangat sopan dan hormat dalam ibadah
bersama. Tidak ada di antara mereka yang berbisik-bisik,
tertawa, menatap sekeliling mereka, atau tertidur. namun
mereka duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, dengan
segala kesungguhan, ketenangan, dan penuh perhatian.
Mereka duduk dengan sabar, tanpa letih, atau ingin supaya
khotbah cepat-cepat selesai.
(3) Mereka sangat penuh perhatian pada firman yang dikhot-
bahkan: “Mereka tidak memikirkan sesuatu yang lain,
hanya mendengar apa yang kauucapkan, dan memperhati-
kan apa yang engkau katakan.”
(4) Mereka berpura-pura sangat berbaik hati terhadap sang
nabi dan menghormatinya. Meskipun di balik punggungnya
Kitab Yehezkiel 33:30-33
mereka tidak dapat berkata yang baik-baik tentang dia,
namun di mukanya, mereka menunjukkan kasih kepada-
nya dan pengajarannya. Mereka berpura-pura sangat pe-
duli, jangan sampai ia terlalu menghabiskan banyak waktu
untuk berkhotbah atau membahayakan diri terhadap orang-
orang Kasdim. Mereka ingin dikatakan orang sebagai teman-
teman baiknya, yang menginginkan yang baik untuk dia.
(5) Mereka menikmati banyak kesenangan di dalam firman.
Mereka suka untuk mengenal segala jalan-Ku (Yes. 58:2).
Herodes merasa senang mendengarkan Yohanes Pembaptis
(Mrk. 6:20). Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang
yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang mer-
du. Apa yang dikatakan Yehezkiel mencengangkan, bahasa-
nya halus, cara bicaranya anggun, tamsil-tamsilnya tepat,
suaranya merdu, penyampaiannya lemah lembut, sehingga
mereka betah duduk mendengarkan dia berkhotbah seperti
(jika saya diizinkan berbicara dalam bahasa masa kini) me-
nyaksikan sebuah pertunjukan atau opera, atau men-
dengarkan pagelaran musik. Bagi mereka, Yehezkiel meru-
pakan orang yang memiliki suara menyenangkan dan
dapat bernyanyi dengan baik, atau pandai main sebuah
alat musik. Perhatikanlah, manusia dapat menyenangkan
khayalan mereka dengan firman, namun hati nurani mere-
ka tidak juga tersentuh dan hati mereka berubah. Telinga
yang gatal dipuaskan, namun sifat yang bobrok tidak kun-
jung dikuduskan.
2. Kemunafikan pengakuan-pengakuan dan kepuraan-kepuraan
ini. Semuanya ini hanya pura-pura, hanya olok-olok belaka.
(1) Yang benar, mereka tidak memiliki rasa kasih sayang yang
hangat bagi firman Allah. Sementara mereka menunjukkan
banyak cinta kasih, itu hanyalah ungkapan dengan mulut
belaka, sebatas gigi, namun hati mereka mengejar keuntung-
an yang haram. Hati mereka sepenuh-penuhnya tertuju
pada dunia seperti biasa, penuh cinta dan persekutuan
dengan dunia seperti yang selama ini mereka lakukan.
Mendengarkan firman hanyalah selingan dan penyegaran
bagi mereka, suatu hiburan untuk sekitar satu atau dua
jam. namun pekerjaan utama mereka masih tetap sibuk
dengan ladang dan barang dagangan mereka. Minat dan
kecondongan jiwa mereka hanya tertuju kepada harta ben-
da tadi, sedang kata hati mereka digunakan untuk menger-
jakan bisnis mereka itu. Perhatikanlah, keserakahan ada-
lah dosa yang menghancurkan orang banyak yang melaku-
kan pengakuan iman. Kasih akan dunia itulah yang secara
diam-diam menggerogoti kasih Allah dari hati mereka.
Kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan yaitu
semak duri yang menghimpit benih itu, dan menghimpit
jiwa juga. Dan orang tidak menyenangkan hati Allah, saat
mendengar firman Allah, mereka merenungkan masalah-
masalah duniawi mereka. Allah melihat hati manusia yang
berbuat seperti itu.
(2) Mereka tidak tunduk pada firman. Mereka mendengar apa
yang kauucapkan, namun hanya pendengaran saja yang
mereka berikan kepadamu, sebab mereka tidak melakukan-
nya (ay. 31). Dan lagi (ay.