an perumpamaan itu (ay. 11-
21). namun , di bagian penutup,
II. Allah berjanji sesudah nya Dia akan membangkitkan kembali
keluarga kerajaan Yehuda, keluarga Daud, dalam diri Mesias
dan kerajaan-Nya (ay. 22-24).
Perumpamaan Rajawali; Perumpamaan Dijelaskan;
Kehancuran Zedekia Dinubuatkan
(17:1-21)
1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Hai anak manusia, katakanlah
suatu teka-teki dan ucapkanlah suatu perumpamaan kepada kaum Israel.
3 Katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Seekor burung rajawali yang
besar dengan sayapnya yang besar dan panjang, penuh dengan bulu yang
berwarna-warna datang ke gunung Libanon dan ia mengambil puncak pohon
aras. 4 Ia mematahkan pucuknya yang paling ujung dan dibawanya ke se-
buah negeri perdagangan lalu diletakkannya dia di kota perniagaan. 5 Ia
mengambil sebuah dari taruk-taruk tanah itu dan menanamnya di ladang
yang sudah sedia ditaburi; ia menempatkannya dekat air yang berlimpah-
limpah seperti pohon gandarusa 6 sehingga ia tumbuh dan menjadi pohon
anggur yang rimbun, yang tumbuhnya rendah dan cabang-cabangnya me-
lengkung menuju burung itu dan akar-akarnya tetap di bawahnya. Demi-
kianlah ia menjadi pohon anggur dan mengeluarkan tunas-tunas dan
memancarkan taruk-taruk. 7 Dalam pada itu ada juga burung rajawali besar
yang lain dengan sayapnya yang besar dan bulu yang lebat. Dan sungguh,
pohon anggur ini mengarahkan akar-akarnya ke burung itu dan cabang-
cabangnya dijulurkannya kepadanya, supaya burung itu mengairi dia lebih
baik dari bedeng di mana ia ditanam. 8 Namun ia ditanam di ladang yang
baik, dekat air yang berlimpah-limpah, supaya ia bercabang-cabang dan
berbuah dan supaya menjadi pohon anggur yang bagus. 9 Katakanlah:
Beginilah firman Tuhan ALLAH: Apakah itu akan berhasil? Apakah orang
tidak akan mencabut akar-akarnya dan menyentakkan buahnya, sehingga
semua ulamnya yang baru menjadi kering? Tidak usah tangan yang kuat dan
banyak orang untuk mencabut dia dengan akar-akarnya. 10 Lihat, ia memang
ditanam, namun apakah ia akan memberi hasil? Apakah ia tidak akan layu
kering kalau ditimpa angin timur? Ia akan layu kering di bedeng tempat
tumbuhnya itu.” 11 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 12 “Katakanlah
kepada kaum pemberontak: Tidakkah kamu mengetahui apa artinya ini?
Katakan: Lihat, raja Babel datang ke Yerusalem dan ia mengambil rajanya
dan pemuka-pemukanya dan membawa mereka ke Babel baginya. 13 Lalu ia
mengambil seorang yang berasal dari keturunan raja dan mengadakan per-
janjian dengan dia sambil menyuruh dia bersumpah. Ia mengambil juga
orang-orang berkuasa negeri itu, 14 supaya kerajaan itu menjadi lemah dan
jangan memberontak lagi, juga supaya memegang teguh perjanjian itu dan
dengan demikian tetap ada. 15 namun orang itu memberontak kepadanya
dengan menyuruh utusannya ke Mesir, supaya ia diberi kuda dan tentara
yang besar. Apakah ia akan berhasil? Apakah orang yang berbuat demikian
dapat luput? Apakah orang yang mengingkari perjanjian dapat luput?
16 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ia pasti mati di
Babel, di tempat raja yang mengangkatnya menjadi raja. sebab ia
memandang ringan kepada sumpah yang dimintakan raja itu dari padanya
dan mengingkari perjanjian raja itu dengan dia. 17 Dan Firaun tidak akan
membantu dia dalam peperangan dengan tentara yang besar dan sekum-
pulan banyak orang, pada waktu tembok pengepungan ditimbun dan benteng
pengepungan didirikan untuk melenyapkan banyak orang. 18 Ya, ia meman-
dang ringan kepada sumpah dan mengingkari perjanjian. Sungguh, walau-
pun ia menyungguhkan hal itu dengan berjabat tangan, namun ia melanggar
semuanya itu, maka ia tidak dapat luput. 19 Oleh sebab itu, beginilah firman
Tuhan ALLAH: Demi Aku yang hidup, Aku pasti menimpakan atas kepalanya
sumpahnya kepada-Ku, yang dipandangnya ringan dan perjanjiannya di
hadapan-Ku, yang diingkarinya. 20 Aku akan memasang jaring-Ku untuk
menangkap dia dan di dalam perangkap-Ku ia akan terjebak; Aku akan
membawa dia ke Babel dan di sana Aku akan berperkara dengan dia, sebab
ia berobah setia terhadap Aku. 21 Dan semua tentara pilihannya akan tewas
dimakan pedang dan yang terluput akan dihamburkan ke semua mata angin.
Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang mengatakannya.
Kita harus membaca semua ayat ini sekaligus agar kita dapat melihat
perumpamaan dan penjelasannya bersama-sama secara utuh di
hadapan kita, sebab keduanya akan saling menjelaskan.
Kitab Yehezkiel 17:1-21
1. Sang nabi ditunjuk untuk mengatakan suatu teka-teki kepada
kaum Israel (ay. 2), bukan untuk membuat mereka bingung,
seperti teka-teki Simson bagi orang Filistin, bukan pula untuk
menyembunyikan dan mengaburkan pikiran Allah dari mereka,
atau membiarkan mereka merasa tidak pasti, yang satu mengaju-
kan terkaan ini, yang lain mengajukan terkaan itu, seperti biasa
orang berusaha menjawab teka-teki. Tidak, sang nabi akan segera
memberi tahu mereka makna teka-teki itu. Siapa yang berkata-
kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya di-
berikan juga karunia untuk menafsirkannya (1Kor. 14:13). Namun,
ia harus menyampaikan pesan ini dalam bentuk teka-teki atau
perumpamaan agar mereka lebih memperhatikannya, agar mere-
ka sendiri lebih tergugah olehnya dan lebih baik mengingatnya,
lalu menyampaikannya kepada yang lain. sebab alasan-alasan
inilah, Allah sering kali menggunakan perumpamaan melalui
hamba-hamba-Nya para nabi, bahkan Kristus sendiri membuka
mulut-Nya mengatakan perumpamaan (KJV). Teka-teki dan perum-
pamaan menarik perhatian kita dan menjadi hiburan bagi teman-
teman kita. Sang nabi harus menggunakan teka-teki dan perum-
pamaan untuk melihat apakah dengan cara ini, perkara-perkara
Allah dapat diterima, dan masuk serta menempelak pikiran orang-
orang yang tidak peduli. Perhatikanlah, hamba-hamba Allah
harus belajar dan mencari tahu kata-kata yang dapat diterima,
dan mencoba berbagai cara agar dapat berhasil. Dan selama ada
alasan untuk berpikir dapat membangun iman orang, mereka
harus memasukkan hal sehari-hari dalam pemberitaan mereka
dan juga membawa pemberitaan mereka dalam bentuk per-
cakapan sehari-hari. Dengan demikian, apa yang mereka katakan
di mimbar tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka katakan di
luar mimbar, seperti yang terjadi pada beberapa hamba Tuhan.
2. Ia ditugaskan untuk menjelaskan teka-teki ini kepada kaum
pemberontak itu (ay. 12). Sekalipun sebagai pemberontak, mereka
sudah selayaknya dibiarkan dalam kebodohan mereka, supaya
mereka melihat dan mendengar, namun tidak menanggap. Namun,
perkara itu akan dijelaskan kepada mereka: Tidakkah kamu
mengetahui apa artinya ini? Mereka yang mengetahui latar bela-
kang cerita ini, dan perkara apa yang sedang bergolak, mungkin
dapat melontarkan terkaan cerdas apa makna teka-teki ini. Na-
mun, agar mereka tidak dapat berdalih, sang nabi akan memberi
tahu maknanya kepada mereka secara terang-terangan, tanpa
kiasan. Namun, pertama-tama teka-teki ini dikemukakan agar
mereka merenungkannya dahulu sejenak, lalu menyampaikannya
kepada teman-teman mereka di Yerusalem, agar nanti teman-
teman mereka menanyakan maknanya dan ingin mengetahui
jawabannya kemudian.
Marilah kita sekarang melihat apakah isi dari pesan ini.
I. Nebukadnezar beberapa waktu lalu mengangkut Yoyakhin, yang
juga bernama Yekhonya, saat Yoyakhin baru berusia delapan
belas tahun dan baru memerintah di Yerusalem selama tiga bulan.
Nebukadnezar mengangkut dia, pemimpin-pemimpinnya, dan
orang-orang besarnya, dan membawa mereka ke Babel (2Raj.
24:12). Peristiwa ini dalam perumpamaan itu digambarkan seba-
gai burung rajawali yang mematahkan ujung cabang pohon aras
yang lembut dan membawanya ke negeri perdagangan, kota per-
niagaan (ay. 3-4), yang dijelaskan dalam ayat 12. Raja Babel
mengangkut raja Yerusalem yang tidak dapat melawannya, bagai
sebatang ranting muda yang tidak dapat melawan burung pe-
mangsa yang paling kuat, yang dengan mudah mematahkannya,
mungkin untuk membuat sarangnya. Nebukadnezar, dalam peng-
lihatan Daniel, yaitu seekor singa, raja binatang buas (Dan. 7:4).
Di sana dalam penglihatan Daniel, ia memiliki sayap burung raja-
wali, sangat tangkas gerakannya, sangat cepat penaklukannya. Di
sini, dalam perumpamaan ini, ia yaitu seekor burung rajawali,
raja segala burung, seekor burung rajawali yang besar, yang
hidup dari jarahan dan penerkaman, yang anak-anaknya meng-
hirup darah (Ayb. 39:33). Kekuasaannya sangat meluas sampai
jauh, seperti sayap burung rajawali yang besar dan panjang. Rak-
yatnya banyak, sebab burung itu penuh dengan bulu. Kerajaan-
nya megah, sebab bulunya berwarna-warna, tampak seperti
tenunan, menurut perkataan aslinya. Yerusalem yaitu Libanon,
hutan kumpulan rumah-rumah, dan sangat menyenangkan.
Keluarga raja yaitu pohon aras itu. Yoyakhin ialah puncaknya,
pucuknya yang paling ujung, yang dipatahkan oleh Nebukadnezar.
Babel yaitu negeri perdagangan dan kota perniagaan tempat
pucuk itu diletakkan. Dan raja Yehuda, sebagai keturunan Daud,
akan berpikir ia sangat direndahkan dan dihinakan sebab ditem-
Kitab Yehezkiel 17:1-21
patkan di antara pedagang. Namun, ia sedapat mungkin harus
menerimanya.
II. saat Nebukadnezar mengangkut Yoyakhin ke Babel, ia meng-
angkat paman Yoyakhin, Zedekia, menjadi raja menggantikan
Yoyakhin (ay. 5-6). Namanya yaitu Matanya – karunia Allah,
yang diubah Nebukadnezar menjadi Zedekia – keadilan Allah, un-
tuk mengingatkan Matanya agar ia adil seperti Allah yang disebut-
nya sebagai Allahnya, sebab takut akan keadilan-Nya. Inilah
sebuah dari taruk-taruk tanah itu, orang asli, bukan orang asing,
bukan salah seorang pemimpin Nebukadnezar di Babel. Ia
ditanam di ladang yang sudah sedia ditaburi, memang masih
demikianlah Yerusalem saat itu. Nebukadnezar menempatkannya
dekat air yang berlimpah-limpah, tempat ia dapat bertumbuh,
seperti pohon gandarusa, yang tumbuh cepat, dan tumbuh subur
di tanah basah, namun tidak pernah dirancangkan atau diharap-
kan menjadi pohon yang megah. Nebukadnezar menempatkannya
dengan penuh kepedulian dan perhatian (demikianlah beberapa
penafsir membacanya). Ia memeliharanya dengan cermat agar
pohon itu dapat bertumbuh, namun tidak bertumbuh terlalu besar.
Ia mengambil seorang yang berasal dari keturunan raja, demi-
kianlah dijelaskan dalam ayat 13, dan mengadakan perjanjian
dengan dia bahwa ia akan memiliki kerajaan itu, dan menikmati
kuasa dan kemuliaan raja, asalkan ia menjalankannya sebagai
hamba Nebukadnezar, bergantung padanya dan bertanggung
jawab kepadanya. Nebukadnezar menyuruhnya bersumpah, mem-
buatnya bersumpah setia kepadanya, bersumpah demi nama
Allahnya sendiri, Allah Israel, bahwa ia akan menjadi pembayar
upeti yang setia kepadanya (2Taw. 36:13). Nebukadnezar meng-
ambil juga orang-orang berkuasa negeri itu, yakni panglima pe-
rangnya, di satu pihak sebagai sandera untuk terlaksananya per-
janjian itu, di lain pihak agar negeri itu menjadi lemah, sehingga
sang raja berkurang kuasanya, dan sebab itu berkurang juga
godaannya untuk melanggar kesepakatannya. Apa yang diran-
cangkan Nebukadnezar dijelaskan kepada kita (ay. 14): supaya
kerajaan itu menjadi lemah, baik dalam kehormatan maupun
kekuatan, tidak bersaing dengan negeri-negeri sekitarnya yang
kuat, ataupun menjadi ancaman bagi yang lemah, seperti yang
dilakukannya dahulu, supaya kerajaan itu jangan memberontak
lagi untuk merebut kekuasaan dari kerajaan Babel, atau menekan
negeri-negeri lemah di bawahnya. Namun, Nebukadnezar tetap
menginginkan agar, dengan memegang teguh perjanjian itu, ke-
rajaan itu tetap ada. Dengan demikian, kesombongan dan ambisi
penguasa yang angkuh itu akan terpuaskan, yang hendak menya-
mai Yang Mahatinggi (Yes. 14:14), dan membuat semua yang di
sekitarnya tunduk kepadanya. Sekarang lihatlah di sini,
1. Betapa menyedihkan perubahan yang dibuat dosa pada ke-
luarga raja Yehuda. Ada waktu saat semua bangsa di seki-
tarnya menjadi pembayar upeti padanya. Sekarang, bukan
saja kehilangan kuasanya atas bangsa-bangsa lain, namun ke-
rajaan itu sendiri menjadi pembayar upeti. Ah, sungguh pudar
emas itu! Bangsa-bangsa, sebab dosanya, menjual kebe-
basannya, dan raja-raja menjual martabatnya, dan menajiskan
mahkotanya laksana debu.
2. Betapa tepat keputusan yang diambil Zedekia bagi dirinya
dengan menerima perjanjian ini, sekalipun merendahkan mar-
tabat, saat keadaan mengharuskan dia berbuat demikian.
Seseorang dapat hidup sangat tenang dan puas, sekalipun ia
tidak dapat berperan dan menjadi seorang tokoh seperti
sebelumnya. Kerajaan dapat tetap berdiri dan aman, sekalipun
tidak menjulang tinggi seperti yang pernah terjadi dahulu, dan
begitu pula suatu keluarga.
III. Zedekia, selama ia tetap setia kepada raja Babel, keadaannya
baik-baik saja, dan, seandainya saja ia mau memperbarui keraja-
annya, dan berbalik kepada Allah serta melakukan kewajibannya,
ia bisa melakukan yang lebih baik lagi, dan dengan begitu, mung-
kin dapat segera memulihkan kebesarannya yang semula (ay. 6).
Tanaman ini bertumbuh, dan meskipun ditanam seperti pohon
gandarusa, yang sedikit saja diperhitungkan, namun tanaman itu
menjadi pohon anggur yang rimbun, yang tumbuhnya rendah,
berkat yang besar bagi negerinya sendiri, dan buahnya menyuka-
kan hati manusia. Dan memang lebih baik menjadi pohon anggur
yang rimbun dan tumbuh rendah daripada pohon aras yang tinggi
namun tidak berguna. Nebukadnezar senang sebab cabang-
cabangnya melengkung menuju burung itu, dan bersandar pada-
nya, seperti pohon anggur bersandar ke dinding, dan ia mendapat
bagian dalam hasil pohon anggur ini. Akar-akarnya juga tetap di
Kitab Yehezkiel 17:1-21
bawahnya, dan ada dalam perintahnya. Orang Yahudi juga boleh
senang, sebab mereka duduk di bawah pohon anggurnya sendiri,
yang mengeluarkan tunas-tunas dan memancarkan taruk-taruk,
dan tampak sedap serta menjanjikan. Lihatlah betapa perlahan-
nya penghakiman Allah dijatuhkan atas bangsa yang memberon-
tak ini, dan betapa Allah memberi mereka kelonggaran untuk
memberi mereka kesempatan bertobat. Dia membuat kerajaan
mereka menjadi lemah, untuk melihat apakah hal itu akan
merendahkan hati mereka, sebelum Dia memusnahkan kerajaan
itu sama sekali. Namun, Dia melakukannya dengan perlahan
terhadap mereka, untuk melihat apakah hal itu akan membuat
mereka berbalik kepada-Nya, sehingga ancaman celaka itu dapat
dicegah.
IV. Zedekia tidak sadar kalau ia sudah makmur dan sejahtera, se-
hingga ia menjadi tidak sabar menanggung malu harus membayar
upeti kepada raja Babel, dan, untuk membebaskan diri, diam-
diam membuat perjanjian dengan raja Mesir. Tidak ada alasan
baginya untuk mengeluh bahwa raja Babel menimpakan kesulitan
baru kepadanya atau berusaha mengeruk keuntungan lebih ba-
nyak darinya, sehingga menekan dan menyengsarakan negerinya,
sebab, seperti yang dikatakan sang nabi sebelumnya (ay. 6),
untuk memperberat pengkhianatannya, dan dikatakannya lagi
(ay. 8), betapa baik keadaannya waktu itu, jika ia menyadarinya:
Ia ditanam di ladang yang baik, dekat air yang berlimpah-limpah.
Keluarganya kemungkinan besar akan bangkit, dan perbendaha-
raannya akan terisi, dalam sedikit waktu lagi, sehingga, kalau
saja ia berlaku setia, ia mungkin sudah menjadi pohon anggur
yang bagus. Namun, ada burung rajawali besar yang lain yang
diperhatikannya, dan diandalkannya, dan burung itu yaitu raja
Mesir (ay. 7). Dua penguasa besar itu, raja Babel dan raja Mesir,
hanyalah dua burung rajawali besar, burung-burung buas. Burung
rajawali besar dari Mesir ini dikatakan memiliki sayap yang besar,
namun bukan sayap yang panjang seperti raja Babel, sebab,
sekalipun kerajaan Mesir kuat, namun belum meluas sampai
sejauh kerajaan Babel. Burung rajawali besar itu dikatakan
memiliki bulu yang lebat, kekayaan yang besar dan prajurit yang
banyak, yang diandalkannya sebagai perlindungan yang kuat,
namun sebenarnya tidak lebih dari sekedar bulu yang lebat. Zede-
kia, yang mengharapkan kebebasan, menjadikan dirinya hamba
raja Mesir, dan dengan bodohnya mengharapkan kelepasan
dengan mengganti majikan. Nah, pohon anggur ini dengan diam-
diam dan sembunyi-sembunyi mengarahkan akar-akarnya ke raja
Mesir, burung rajawali besar itu, dan beberapa waktu kemudian
dengan terang-terangan menjulurkan cabang-cabangnya kepada-
nya, memberinya isyarat betapa ia ingin bersekutu dengannya,
supaya burung itu mengairi dia lebih baik dari bedeng di mana ia
ditanam, padahal pohon itu ditanam dekat air yang berlimpah-
limpah, dan tidak perlu bantuan apa-apa darinya. Kiasan ini
dijelaskan dalam ayat 15. Zedekia memberontak terhadap raja
Babel dengan menyuruh utusannya ke Mesir, supaya Mesir mem-
berinya kuda dan tentara yang besar, agar ia dapat menentang
raja Babel. Lihatlah betapa berubahnya umat Allah sebab dosa.
Allah berjanji bahwa mereka akan menjadi bangsa yang banyak
jumlahnya, seperti pasir di laut. Namun sekarang, sebab raja
mereka menginginkan bangsa yang banyak jumlahnya (KJV),
sehingga ia harus mengutus orang ke Mesir untuk mendapat-
kannya, maka mereka pun, sebab dosa, menjadi berkurang dan
membungkuk (Mzm. 107:39). Lihatlah juga kebodohan orang-
orang yang rohnya resah dan tidak puas, yang malah menghan-
curkan diri mereka saat berusaha mendapatkan yang lebih baik,
padahal mereka bisa merasa cukup tenang dan bahagia kalau
saja mereka mau berusaha menerima keadaan yang ada sebaik
mungkin.
V. Allah di sini mengancam Zedekia dengan kehancuran menyeluruh
atas dirinya dan kerajaannya, dan, dalam kemarahan-Nya terha-
dap Zedekia, menjatuhkan malapetaka atasnya untuk pengkhia-
natannya membelot dari raja Babel. Hal ini digambarkan dalam
perumpamaan (ay. 9, 19) dengan mencabut akar-akarnya dan me-
nyentakkan buahnya dan semua ulamnya (daun-daunnya – pen.)
yang baru menjadi kering, ulam musim seminya, yang sedang hijau-
hijaunya (Ayb. 8:12), sebelum daun-daun itu berguguran sendiri di
musim gugur. Rencana pemberontakan itu akan digagalkan.
Pohon itu akan layu kering. Siasat pemimpin durhaka ini akan
dihancurkan sampai tak terpulihkan lagi. Seperti pohon anggur
yang ditiup angin timur sampai pohon itu tidak berguna untuk
apa-apa lagi kecuali untuk dibakar, seperti yang kita lihat dalam
Kitab Yehezkiel 17:1-21
perumpamaan itu (15:4). Pohon itu akan kering meskipun ter-
tanam di bedeng tempat tumbuhnya itu, meskipun selalu diairi
dengan baik. Pohon itu akan dihancurkan, tidak usah tangan
yang kuat dan banyak orang untuk mencabut dia. Sebab, untuk
apa membangkitkan prajurit perang hanya untuk mencabut seba-
tang pohon anggur? Perhatikanlah, Allah dapat melaksanakan
perkara-perkara besar tanpa banyak huru-hara. Dia tidak perlu
tangan yang kuat dan banyak orang untuk melaksanakan tujuan-
Nya. Segelintir orang saja cukup jika Dia mau. Dia bisa, tanpa
kesulitan apa pun, menghancurkan raja dan kerajaan yang ber-
dosa, dan membuatnya tidak ada lagi, seperti kita mencabut
pohon yang mengganggu tanah sampai ke akar-akarnya. Dalam
penjelasan perumpamaan itu, kalimat ini dicatat dengan penuh
penekanan: Apakah ia akan berhasil? (ay. 15). Apakah ia dapat
berbuat curang dan berharap mengakhiri dengan baik? Bahkan,
apakah ia yang melakukan perbuatan sejahat itu akan luput?
Apakah ia yang mengingkari perjanjian dapat luput dari pembalas-
an, yang merupakan hukuman yang adil untuk pengkhianatan-
nya? Tidak. Apakah ia dapat berbuat jahat dan berharap tidak
mengalami hal yang jahat? Biarlah ia mendengar kebinasaannya.
1. Kebinasaannya dikukuhkan dengan sumpah Allah (ay. 16):
Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ia
pasti mati sebab kejahatan itu. Hal ini mengisyaratkan betapa
Allah membenci kejahatan itu, dan betapa pasti dan berat
hukuman itu. Allah bersumpah dalam murka-Nya, seperti yang
dilakukan-Nya dalam Mazmur 95:11. Perhatikanlah, seperti
janji-janji Allah diteguhkan dengan sumpah, untuk menenang-
kan hati orang-orang kudus, begitu pula ancaman-ancaman
Allah, untuk menggentarkan orang-orang fasik. Demi Allah
yang hidup dan jika Dia berkenan (dapat saya tambahkan, dan
selama Dia berkenan), pastilah, selama Dia berkenan, orang
berdosa yang tidak mau bertobat pasti akan mati dan men-
derita sengsara.
2. Kebinasaannya dibenarkan oleh kejinya kejahatan yang diper-
buatnya.
(1) Zedekia sangat tidak tahu berterima kasih kepada orang
yang telah berbuat baik kepadanya, yang mengangkatnya
menjadi raja, dan bersusah-susah untuk melindunginya,
mengangkatnya menjadi raja saat mudah saja bagi dia un-
tuk menjadikannya tawanan. Perhatikanlah, kita berdosa
terhadap Allah saat kita berbuat jahat terhadap sahabat-
sahabat kita dan mengangkat tumit kita terhadap orang-
orang yang telah menolong kita untuk bangkit.
(2) Zedekia berlaku sangat serong terhadap orang yang mem-
buat perjanjian dengannya. Hal ini sangat dipertegas: Ia
memandang ringan sumpah itu. Saat hati nuraninya atau
teman-temannya mengingatkannya akan hal itu, ia mener-
tawakannya, dan membulatkan hatinya, lalu mengingkari-
nya (ay. 15-16, 18-19). Ia mengingkari sumpah itu, dan me-
rasa bangga sebab bisa meremehkannya, seperti yang di-
perbuat penguasa jahat pada zaman kita sendiri, yang sem-
boyannya (kata orang) yaitu , Pemimpin tidak boleh menjadi
hamba perkataannya lagi kecuali untuk kepentingannya
sendiri. Kedurhakaan Zedekia menjadi semakin besar sebab
sumpah yang diikatnya dengan raja Babel yaitu ,
[1] Sumpah yang khidmat. Penekanan diberikan pada hal
ini (ay. 18): Ia menyungguhkan hal itu dengan berjabat
tangan, untuk menjadi sekutu dengan raja Babel, bu-
kan hanya sebagai hambanya, namun sebagai temannya.
Penjabatan tangan itu yaitu tanda penjabatan hati.
[2] Sebagai sumpah kudus. Allah berkata (ay. 19): Sumpah-
nya kepada-Ku, yang dipandangnya ringan dan perjanji-
annya di hadapan-Ku, yang diingkarinya. Dalam setiap
sumpah yang khidmat, Allah dimohon menjadi saksi
ketulusan orang yang bersumpah, dan Allah diminta
menjadi hakim dan pembalas pengkhianatannya, jika ia
bersumpah palsu waktu mengucapkannya, atau kapan
pun sesudah waktu itu, mengingkari sumpahnya. Na-
mun, sumpah setia kepada seorang pemimpin secara
khusus disebut sebagai sumpah kepada Allah (Pkh.
8:2), seolah-olah sumpah itu mengandung sesuatu yang
lebih sakral dibandingkan sumpah yang lain. Sebab,
pemimpin yaitu hamba Allah untuk kebaikanmu (Rm.
13:4). Nah, pelanggaran Zedekia terhadap sumpah dan
perjanjian inilah yang menjadi dosa yang dibalas Allah,
yang akan ditimpakan Allah atas kepalanya (ay. 19),
sebab ia berobah setia terhadap Allah. Untuk itu, Allah
Kitab Yehezkiel 17:1-21
akan berperkara dengan dia (ay. 20). Ingatlah, sumpah
palsu yaitu dosa yang keji dan sangat memicu kema-
rahan Allah semesta langit. Tidak bisa dipakai sebagai
alasan, Pertama, bahwa sebab orang yang bersumpah
ini yaitu seorang raja, seorang raja dari kaum keturun-
an Daud, maka kebebasan dan kebesarannya pastilah
menempatkannya di atas keharusan sumpah. Tidak.
Sekalipun raja-raja seperti para dewa bagi kita, mereka
hanyalah manusia di hadapan Allah, dan tidak dibebas-
kan dari hukum dan penghakiman-Nya. Pemimpin
sama terikatnya di hadapan Allah dengan bangsanya
melalui sumpah penobatannya seperti bangsa terikat
pada pemimpinnya melalui sumpah setianya. Kedua,
bukan alasan pula bahwa sumpah ini disumpahkan
kepada raja Babel, seorang raja kafir, yang lebih buruk
daripada seorang bidat, sehingga ada yang berkata,
Tidak ada kepercayaan yang perlu dijaga. Tidak. Meski-
pun Nebukadnezar menyembah allah-allah palsu, na-
mun Allah yang benar akan berperkara dalam perseli-
sihan ini, saat seorang penyembah-Nya mengingkari
perjanjian dengannya. Sebab kebenaran yaitu utang
yang harus dibayar kepada semua orang. Dan, jika para
pemeluk agama yang benar berlaku khianat terhadap
para pemeluk agama palsu, maka pengakuan iman me-
reka tidak akan membebaskan mereka, apalagi mem-
benarkan tindakan mereka itu, malahan justru akan
memperberat dosa mereka, dan Allah akan lebih pasti
dan lebih berat lagi menghukum mereka, sebab, oleh
sebab kejahatan itu, mereka memberi kesempatan
kepada musuh Allah untuk menghujat. Contohnya pe-
mimpin Muslim itu, yang saat orang Kristen melang-
gar perjanjian dengannya, berseru, Oh Yesus! Beginikah
orang Kristen-Mu? Ketiga, Tidak pula ia akan dibenar-
kan dengan alasan sumpah itu dipaksakan kepadanya
oleh seorang penjajah, sebab perjanjian itu dibuat di
atas pertimbangan yang menguntungkan. Ia menggan-
tungkan hidupnya dan mahkotanya di atas persyaratan
ini, bahwa ia akan setia dan menunjukkan pengabdian
sejati kepada raja Babel. Maka, jika ia menikmati ke-
untungan dari tawaran ini, sangatlah tidak adil jika ia
tidak mematuhi persyaratannya. Oleh sebab itu, biar-
lah ia mengetahui bahwa, dengan memandang ringan
kepada sumpah, dan mengingkari perjanjian, ia tidak
dapat luput. Dan, jika penghinaan dan pelanggaran
terhadap sumpah semacam ini, perjanjian semacam ini,
akan dihukum sedemikian, betapa lebih beratnya hu-
kuman yang dianggap layak untuk orang-orang yang
melanggar perjanjian dengan Allah (mereka menyung-
guhkan hal itu dengan berjabat tangan bahwa mereka
akan setia), yang menginjak-injak darah perjanjian itu
seperti hal yang najis. Kedua perjanjian ini tidak dapat
dibandingkan.
3. Kebinasaannya dirancang khusus dalam berbagai keadaan,
dengan hukuman yang disesuaikan dengan dosanya.
(1) Ia memberontak terhadap raja Babel, maka raja Babel akan
menjadi penakluk yang menghabisinya. Di tempat raja itu
berdiam, yaitu raja yang perjanjiannya ia ingkari, ya dengan
raja itu, ia pasti mati di Babel (ay. 16). Ia berpikir dapat
lolos dari tangannya, namun ia akan jatuh, lebih dari sebe-
lumnya, ke dalam tangan raja itu. Allah sendiri kini akan
berpihak dengan raja Babel itu untuk melawannya: Aku
akan memasang jaring-Ku untuk menangkap dia (ay. 20).
Allah memiliki jaring untuk orang-orang yang berlaku khia-
nat dan mengira dapat lolos dari penghakiman-Nya yang
benar, jaring yang akan menangkap mereka dan mengikat
mereka yang tidak mau diikat oleh ikatan sumpah dan
kovenan. Zedekia sangat ngeri akan Babel: “Ke sana Aku
akan membawanya,” Allah berkata, “dan di sana Aku akan
berperkara dengan dia.” Manusia sudah sepantasnya di-
paksa masuk dalam kengerian yang berusaha mereka
hindari dengan berbuat dosa.
(2) Ia bersandar pada raja Mesir, dan raja Mesir akan menjadi
penolong yang tidak berguna baginya: Firaun tidak akan
membantu dia dalam peperangan dengan tentara yang
besar (ay. 17). Firaun tidak akan memberi pertolongan apa-
apa, atau membantu menghentikan pasukan Kasdim. Ia
tidak akan menolong Zedekia dalam pengepungan dengan
Kitab Yehezkiel 17:22-24
menimbun tembok pengepungan dan mendirikan benteng
pengepungan, maupun dalam pertempuran dengan mele-
nyapkan banyak orang. Perhatikanlah, setiap ciptaan ber-
guna bagi kita sesuai dengan yang Allah ciptakan baginya.
Dan Allah sering kali melemahkan dan melayukan tangan
manusia yang kita percaya dan yang kepadanya kita
menyandarkan diri kita. Di sini, tergenapilah lagi apa yang
dikatakan di peristiwa serupa yang terjadi sebelum ini (Yes.
30:7), Mesir yang memberi pertolongan yang tak berguna.
Mesir memang tidak berguna. Sebab meskipun saat ten-
tara Mesir mendekat, orang Kasdim menarik diri dari penge-
pungan Yerusalem, namun sesudah tentara Mesir mundur,
orang Kasdim pun kembali dan merebutnya. Tampaknya,
orang Mesir tidak sepenuh hati, kekuatan mereka cukup,
namun tidak ada niat baik untuk menolong Zedekia. Perhati-
kanlah, orang yang berlaku khianat terhadap orang yang
menaruh percaya padanya dengan adil pula akan dikhia-
nati oleh orang yang mereka percayai. Namun, orang Mesir
bukanlah satu-satunya andalan Zedekia. Zedekia memiliki
tentara sendiri yang berdiri di pihaknya. Meskipun demi-
kian, tentara itu, sekalipun kita pikir mereka pasti tentara
berpengalaman dan prajurit terbaik yang mampu dibentuk
oleh kerajaannya, akan menjadi pelarian, akan meninggal-
kan tempat jaga mereka, dan menyelamatkan diri mereka
sendiri, dan akan tewas dimakan pedang musuh, sedang-
kan yang terluput akan dihamburkan (ay. 21). Ancaman ini
digenapi saat dibelah oranglah tembok kota itu. Melihat
hal itu maka melarikan dirilah raja dengan semua tentara
(Yer. 52:7). Melihat hal ini, kamu akan mengetahui bahwa
Akulah TUHAN, yang mengatakannya. Perhatikanlah, cepat
atau lambat Firman Allah akan terbukti sendiri. Dan mere-
ka yang tidak mau percaya akan menjadi percaya sebab
mengalami penggenapan dan akibatnya.
Janji Belas Kasihan
(17:22-24)
22 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan mengambil sebuah ca-
rang dari puncak pohon aras yang tinggi dan menanamnya; Aku mematah-
kannya dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda dan Aku sendiri
akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas;
23 di atas gunung Israel yang tinggi akan Kutanam dia, agar ia bercabang-
cabang dan berbuah dan menjadi pohon aras yang hebat; segala macam
burung dan yang berbulu bersayap tinggal di bawahnya, mereka bernaung di
bawah cabang-cabangnya. 24 Maka segala pohon di ladang akan mengetahui,
bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan
pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan
membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang
mengatakannya dan akan membuatnya.”
saat keluarga raja Yehuda runtuh dengan dibuangnya Yoyakhin
dan Zedekia, orang mungkin bertanya-tanya, “Apa jadinya sekarang
dengan perjanjian kerajaan yang dibuat dengan Daud, bahwa anak-
anaknya selama-lamanya akan duduk di atas takhtanya? Apakah
kasih setia yang teguh yang dijanjikan kepada Daud dengan demikian
terbukti tidak teguh?” Terhadap pertanyaan ini, cukuplah kita mem-
bungkam para pendebat dengan menjawab bahwa janji itu bersyarat.
Jika mereka berpegang pada perjanjian-Ku, mereka akan terus meme-
rintah (Mzm. 132:12). Namun, anak cucu Daud melanggar syarat itu,
sehingga mereka pun kehilangan janji itu. namun , ketidak-
percayaan manusia tidak akan membatalkan janji Allah. Dia akan
mencari keturunan Daud yang lain yang di dalamnya janji itu akan
digenapi. Dan hal itulah yang dijanjikan di dalam ayat-ayat di atas.
I. Keluarga Daud akan dibuat menjadi besar lagi, dan dari dalam
debunya seorang hebat yang lain akan bangkit. Kiasan sebatang
pohon yang digunakan dalam ancaman itu, di sini diutarakan lagi
dalam janji ini (ay. 22-23). Janji ini digenapi sebagian saat
Zerubabel, salah satu keturunan Daud, diangkat untuk menge-
palai orang Yahudi dalam kembalinya mereka dari pembuangan,
dan untuk membangun kembali kota itu dan Bait Suci, serta
menegakkan kembali jemaat dan negeri mereka. namun , janji
ini akan digenapi sepenuhnya dalam kerajaan Mesias, sang tunas
dari tanah kering, yang kepadanya Allah, sesuai dengan janji-Nya,
mengaruniakan takhta Daud, bapa leluhur-Nya (Luk. 1:32).
1. Allah sendiri mengambil tindakan untuk menghidupkan dan
memulihkan kembali keluarga Daud. Nebukadnezar, burung
rajawali besar itu, telah mencoba menegakkan kembali keluar-
ga Daud dalam ketergantungan kepadanya (ay. 5). Namun,
usaha itu gagal. Tanamannya layu dan dicabut. “Baiklah,”
Allah berkata, “yang berikut yaitu tanaman-Ku: Aku sendiri
Kitab Yehezkiel 17:22-24
akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang
tinggi dan menanamnya.” Perhatikanlah, seperti manusia me-
miliki rancangan mereka, Allah juga memiliki rancangan-Nya.
Namun, rancangan Allah akan berhasil saat rancangan ma-
nusia gagal. Nebukadnezar berbangga diri sebab dapat men-
dirikan kerajaan-kerajaan sekehendak hatinya (Dan. 5:19).
Namun, kerajaan-kerajaan itu segera saja berakhir, sedangkan
Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang
tidak akan binasa sampai selama-lamanya (Dan. 2:44).
2. Keluarga Daud dibangkitkan kembali dalam pucuk yang paling
ujung dan yang masih muda. Zerubabel menggenapi perkataan
ini, namun yang memberi pengharapan dalam dirinya hanyalah
hari peristiwa-peristiwa yang kecil (Za. 4:10), namun di depan-
nya gunung yang besar menjadi tanah rata. Tuhan kita Yesus
yaitu carang dari puncak pohon aras yang tinggi, yang ter-
jauh dari akar itu (sebab segera sesudah kemunculannya,
keluarga Daud semua dilenyapkan dan dimusnahkan), namun
yang terdekat ke sorga dibanding semuanya, sebab kerajaan-
Nya bukan berasal dari dunia ini. Dia diambil dari pucuk yang
paling ujung dan yang masih muda, sebab Dialah sang manu-
sia, ranting, taruk, dan tunas dari tanah kering (Yes. 53:2),
namun Dia juga tunas keadilan, tanaman Tuhan, untuk memper-
lihatkan keagungan-Nya.
3. Carang ini ditanam di atas sebuah gunung yang menjulang
tinggi (ay. 22), di atas gunung Israel yang tinggi (ay. 23). Ke
sanalah Allah membawa Zerubabel dalam kemenangan. Di
sanalah Dia membangkitkan Putra-Nya, Yesus, mengutus-Nya
untuk mengumpulkan domba-domba yang hilang dari umat
Israel yang bercerai-berai di gunung-gunung, menetapkan-Nya
menjadi Raja-Nya di atas gunung-Nya yang kudus Sion, me-
ngirim Injil dari Gunung Sion, firman TUHAN dari Yerusalem. Di
sana, di ketinggian Israel (KJV), bangsa yang dipandang negeri
sekitarnya sebab mencolok dan termasyhur, jemaat Kristen
pertama ditanam. Jemaat Yudealah jemaat yang paling tua.
Orang Yahudi yang tidak percaya berbuat segala sesuatu
untuk mencegah ditanamnya jemaat itu di sana. Namun, siapa
yang dapat mencabut apa yang Allah tanam?
4. Dari sana, jemaat itu menyebar sampai jauh dan meluas.
Negeri Yahudi, meskipun dimulai dengan sangat sederhana di
zaman Zerubabel, ditempatkan sebagai tunas muda, yang da-
pat dicabut dengan mudah, namun pohon itu berakar, menye-
bar luar biasa, dan sesudah beberapa waktu menjadi sangat
besar. Bangsa-bangsa lain, segala macam burung dan yang
berbulu bersayap, menempatkan dirinya di bawah naungan
pohon itu. Jemaat Kristen pada mulanya seperti biji sesawi,
namun seperti tunas muda ini, menjadi pohon yang besar,
permulaannya kecil, namun akhirnya bertumbuh secara menga-
gumkan. saat bangsa-bangsa bukan Yahudi masuk ke da-
lam jemaat, begitulah segala macam burung dan yang berbulu
bersayap (bahkan burung pemangsa, yang memangsa segala
burung itu, seperti serigala dan domba makan bersama, Yes.
11:6) datang dan bernaung di bawah cabang-cabangnya (Dan.
4:21).
II. Allah sendiri yang akan dipermuliakan dengan semuanya ini (ay.
24). Penegakan kerajaan Mesias di dunia akan mengungkapkan
dengan jelas, lebih dari sebelumnya, kepada anak-anak manusia
bahwa Allah yaitu Raja seluruh bumi (Mzm. 47:8). Belum pernah
kebenaran ini diteguhkan dan diyakinkan sepenuh-penuhnya ke-
pada manusia melalui peninggian Kristus dan penegakan keraja-
an-Nya di antara manusia, bahwa segala sesuatu diatur oleh Sang
Pemelihara yang kebijaksanaan dan kebesaran-Nya tidak ter-
batas. Sebab, dengan demikian, tampaklah bahwa Allah meme-
gang semua hati dalam tangan-Nya, dan berdaulat atas segala
perkara. Segala pohon di ladang akan mengetahui,
1. Bahwa pohon yang akan direndahkan dan dibuat layu kering
oleh Allah, pasti akan menjadi demikian, walaupun tadinya
begitu tinggi dan megah, begitu hijau dan berkembang. Tidak
ada kehormatan ataupun kekayaan, keberhasilan lahiriah
ataupun kecakapan-kecapakan batiniah, bisa meluputkan ma-
nusia dari tindakan penyelenggaraan-Nya yang merendahkan
dan membuat layu kering.
2. Bahwa pohon yang akan ditinggikan, dan dibuat berkembang
oleh Allah, pasti akan menjadi demikian, pasti akan terbukti
demikian, meskipun tadinya begitu rendah, dan begitu kering.
Keluarga Nebukadnezar, yang sekarang sangat besar bangun-
nya, akan dipunahkan, dan keluarga Daud, yang sekarang sa-
ngat hina keadaannya, akan dibuat terkenal lagi. Dan bangsa
Kitab Yehezkiel 17:22-24
Yahudi, yang sekarang direndahkan, akan diperhitungkan.
Kerajaan Iblis, yang sudah ada sejak dahulu, begitu besar dan
berkuasa, akan dihancurkan, dan kerajaan Kristus, yang di-
pandang dengan rasa hina, akan ditegakkan. Orang Yahudi,
yang tadinya, dalam hal kepemilikan hak-hak istimewa seba-
gai jemaat, yaitu pohon yang tinggi dan hijau, akan dilem-
parkan keluar, sedangkan bangsa-bangsa lain, yang tadinya
pohon yang rendah dan kering, akan dibawa masuk menggan-
tikan mereka (Yes. 54:1). Semua musuh Kristus akan diren-
dahkan dan dijadikan tumpuan kaki-Nya, dan semua kepen-
tingan-Nya akan diteguhkan dan dimajukan: Aku, TUHAN,
yang mengatakannya (inilah titah itu, titah yang telah ditetap-
kan, bahwa Kristus harus ditinggikan, harus menjadi batu
utama dan batu penjuru), dan Aku akan membuatnya, yaitu,
Aku akan melakukannya pada waktunya, dan itu sangatlah
pasti seperti sudah terjadi. Bagi manusia, berbicara dan ber-
buat yaitu dua hal yang berbeda, namun tidak demikian bagi
Allah. Apa yang telah dikatakan-Nya, kita boleh yakin, pasti
dilakukan-Nya, tidak ada satu iota atau satu titik pun dari
firman-Nya yang gugur, sebab Dia bukanlah manusia, sehing-
ga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal
baik sebab ancaman-ancaman-Nya maupun sebab janji-
janji-Nya.
PASAL 18
ungkin, sewaktu membaca beberapa pasal sebelumnya, kita
tergoda untuk berpikir bahwa kita tidak begitu berkepentingan
dalam apa yang dibicarakan di dalamnya (meskipun pasal-pasal itu
juga ditulis bagi pembelajaran kita). namun pasal ini, pada pandangan
pertama, tampak sangat dekat menyangkut kepentingan kita semua,
sungguh sangat dekat. Sebab, tanpa merujuk pada Yehuda dan Yeru-
salem secara khusus, pasal ini membeberkan aturan penghakiman
yang menurutnya Allah akan memperlakukan anak-anak manusia
dalam menentukan kehidupan kekal mereka. Dan aturan itu sejalan
dengan aturan yang sejak dari dulu sudah ditetapkan (Kej. 4:7),
yakni, “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat
baik?” namun , “jika tidak, dosa,” hukuman terhadap dosa, “sudah
mengintip di depan pintu.” Di sini ada,
I. Kata-kata sindiran bejat yang diucapkan oleh orang-orang
Yahudi yang duniawi, yang mengakibatkan pesan ini dikirim-
kan kepada mereka. Dan perbuatan mereka ini mengharus-
kan perlunya Allah bertindak terhadap mereka (ay. 1-3).
II. Jawaban yang menanggapi kata-kata sindiran mereka ini,
yang di dalamnya Allah menegaskan secara umum kedaulatan
dan keadilan-Nya (ay. 4). Celakalah orang fasik, mereka akan
bernasib buruk (ay. 4, 20). namun katakanlah kepada orang-
orang benar, mereka akan bernasib baik (ay. 5-9). Secara khu-
sus, mengenai masalah yang diadukan, Ia meyakinkan kita,
1. Bahwa orang fasik akan bernasib buruk, meskipun ia
memiliki ayah yang baik (ay. 10-13).
2. Bahwa orang baik akan bernasib baik, meskipun ia mem-
punyai ayah yang fasik (ay. 14-18). Dan sebab itu, dalam
hal ini Allah bertindak benar (ay. 19-20).
3. Bahwa orang-orang yang bertobat akan bernasib baik,
meskipun mereka memulai dengan begitu buruk (ay. 21-
23, 27-28).
4. Bahwa orang-orang yang murtad akan bernasib buruk,
meskipun mereka memulai dengan begitu baik (ay. 24,
26). Dan tujuan dari semuanya ini yaitu ,
(1) Untuk membenarkan Allah dan menjelaskan keadilan
dari semua tindakan-Nya (ay. 25, 29).
(2) Untuk mengajak dan mendorong kita supaya bertobat
dari dosa-dosa kita dan berbalik kepada Allah (ay. 30-
32). Dan inilah hal-hal yang diperlukan untuk damai
sejahtera kita yang kekal. Oh, semoga saja kita mema-
hami dan memperhatikannya sebelum hal-hal itu di-
sembunyikan dari mata kita!
Sindiran tentang Buah Mentah;
Jawaban terhadap Sindiran itu;
Penghakiman-penghakiman Ilahi Dibenarkan
(18:1-9)
1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Ada apa dengan kamu, sehing-
ga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan
buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? 3 Demi Aku yang hidup,
demikianlah firman Tuhan ALLAH, kamu tidak akan mengucapkan kata
sindiran ini lagi di Israel. 4 Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah
maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus
mati. 5 Kalau seseorang yaitu orang benar dan ia melakukan keadilan dan
kebenaran, 6 dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau
tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri
sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, 7 tidak
menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-
apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang,
8 tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari
kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan
manusia, 9 hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku
dengan berlaku setia – ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah
firman Tuhan ALLAH.
Kita berkata bahwa perilaku-perilaku yang jahat melahirkan hukum-
hukum yang baik. Dan dengan cara serupa terkadang sindiran-sin-
diran yang tidak adil memunculkan pembelaan-pembelaan yang adil.
Di sini sindiran-sindiran yang jahat melahirkan nubuat-nubuat yang
baik. Inilah,
Kitab Yehezkiel 18:1-9
I. Sebuah sindiran yang jahat yang biasa diucapkan orang-orang
Yahudi dalam pembuangan mereka. Kita sudah mendapati satu
sindiran sebelumnya (12:22) dan jawaban terhadapnya. Di sini
kita mendapati sindiran lain. Sindiran sebelumnya menantang
keadilan Allah: “Sudah lama berselang, namun satu penglihatan pun
tak jadi. Ancaman-ancaman dianggap mereka hanyalah sebuah
gurauan.” Sindirian di sini, dalam pasal ini, menuduh Allah ber-
buat tidak adil, seolah-olah penghakiman-penghakiman yang dija-
lankan-Nya tidak benar: “Kamu mengucapkan kata sindiran ten-
tang tanah Israel, sebab sekarang tanah itu sudah porak-poran-
da oleh penghakiman-penghakiman Allah, dengan berkata, ayah-
ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu.
Kata kalian, kami dihukum sebab dosa-dosa nenek moyang
kami, dan sungguh tidak masuk akal cara kerja ilahi ini, seolah-
olah gigi anak-anak merasa ngilu, atau merasa asam, sebab ayah
mereka memakan buah mentah. Padahal, biasanya yang seharus-
nya terjadi yaitu , jika orang salah makan atau minum, mereka
sendirilah yang kena akibatnya, bukan orang lain.” Nah,
1. Harus diakui bahwa ada suatu alasan mengapa sindiran ini
diucapkan oleh orang-orang buangan itu. Allah sudah sering
kali berkata bahwa Ia akan membalaskan kesalahan bapa ke-
pada anak-anaknya, terutama dosa penyembahan berhala.
Dengan berkata begitu Ia bermaksud mengungkapkan keja-
hatan dari dosa, dari dosa itu, kebencian-Nya terhadapnya,
kemarahan-Nya yang wajar terhadapnya, dan hukuman-hu-
kuman berat yang akan didatangkan-Nya atas para penyem-
bah berhala. Hal itu dimaksudkan supaya orangtua bisa dike-
kang untuk tidak berbuat dosa oleh sebab kasih sayang
mereka terhadap anak-anak mereka, dan anak-anak tidak ter-
dorong untuk berbuat dosa oleh sebab penghormatan mereka
terhadap orangtua mereka. Allah juga sudah sering kali me-
nyatakan melalui nabi-nabi-Nya bahwa dalam mendatangkan
kehancuran ke atas Yehuda dan Yerusalem sekarang ini,
mata-Nya tertuju pada dosa-dosa Manasye dan raja-raja lain
sebelumnya. Sebab, dengan melihat bangsa itu sebagai satu
tubuh, mereka dihukum dengan hukuman-hukuman yang
menimpa seluruh bangsa atas dosa-dosa seluruh bangsa. Dan
dengan mengakui pepatah dalam hukum kita bahwa badan
hukum tidak pernah mati, mereka dimintai perhitungan seka-
rang atas kejahatan-kejahatan di masa-masa lalu. Tindakan
ini hanya seperti membuat seseorang, saat sudah tua, dihu-
kum sebab kesalahan pada masa mudanya (Ayb. 13:26). Dan
tidak ada kelaliman pada Allah dalam melakukan hal-hal
demikian. namun ,
2. Orang-orang buangan itu mencela Allah atas semua tindakan-
Nya itu, dan mempertanyakan keadilan-Nya dalam memper-
lakukan mereka. Apa yang tersirat sejauh ini dalam sindiran
ini yaitu benar, bahwa orang-orang yang sengaja berbuat
bersalah, dialah yang makan buah mentah. Mereka berbuat se-
suatu dan akan merasakan akibat dari perbuatan mereka itu,
cepat atau lambat. Buah mentah itu mungkin terlihat meng-
giurkan sewaktu mereka digoda, namun akan terasa pahit sepa-
hit-pahitnya sewaktu mereka merenungkannya. Buah itu akan
membuat gigi si pendosa menjadi ngilu. saat hati nurani ter-
sadar, dan menempatkan dosa di hadapan mereka, hal itu
akan merusak kenikmatan dari kesenangan-kesenangan mere-
ka, seperti kalau gigi mereka menjadi ngilu. namun mereka
menganggap tidak masuk akal kalau anak-anak harus men-
derita sebab kebodohan ayah mereka, dan merasakan kesa-
kitan dari sesuatu yang kenikmatannya tidak pernah mereka
rasakan. Mereka menyindir Allah bertindak tidak benar dalam
mengadakan pembalasan seperti itu dan tidak dapat membuk-
tikan diri benar dalam melakukan hal itu. Lihatlah betapa
fasiknya sindiran itu, betapa kurang ajarnya kelancangan itu.
namun , lihatlah betapa cerdiknya sindiran itu, dan betapa
liciknya perbandingan yang dipakai. Banyak orang yang tidak
saleh dalam cemoohan-cemoohan mereka, cerdik dalam gu-
rauan-gurauan mereka. Dan dengan demikian kebencian nera-
ka terhadap Allah dan agama disindirkan dan disebarluaskan.
Celaan itu di sini dijadikan sindiran, dan sindiran itu diucap-
kan, menjadi umum dipakai orang. Orang terkadang memakai-
nya bila ada kesempatan. Dan, meskipun sindiran itu jelas-
jelas memiliki makna yang menghujat, namun mereka
melindungi diri dengan perumpamaan yang dipakai itu. Nah,
dengan ini tampak bahwa mereka tidak merendah di bawah
hajaran tongkat, sebab, bukannya menyalahi diri sendiri dan
membenarkan Allah, mereka malah menyalahi Allah dan mem-
Kitab Yehezkiel 18:1-9
benarkan diri sendiri. namun celakalah orang yang berbantah
dengan Pembentuknya seperti itu.
II. Teguran dan jawaban yang adil terhadap kata-kata sindiran ini:
Apa maksudmu dengan menggunakannya? Itulah tegurannya.
“Apakah dengan ini kamu berniat mencobai Allah? Tidak terpikir-
kah olehmu bahwa dengan ini kamu akan menyulut-Nya untuk
murka kepada kamu sampai kamu habis binasa? Beginikah cara-
nya kamu kembali kepada-Nya dan berdamai dengan Dia?” Ja-
wabannya diberikan selanjutnya, dan di dalamnya Allah memberi
tahu mereka,
1. Bahwa ucapan kata-kata sindiran itu akan ditiadakan. Hal ini
dikatakan, dikatakan dengan sumpah (ay. 3): Kamu tidak akan
mengucapkan kata sindiran ini lagi. Atau (seperti yang dapat
dibaca), kamu tidak akan bisa menggunakan kata sindiran ini
lagi. Dihapuskannya kata sindiran ini dijadikan sebagai janji
dalam Yeremia 31:29. Dalam pasal ini penghapusan dibuat
dalam bentuk ancaman. Dalam kitab Yeremia, dihapuskannya
kata sindiran ini menyiratkan bahwa Allah akan kembali ke-
pada mereka di jalan belas kasihan. namun dalam pasal ini hal
itu menyiratkan bahwa Allah akan bertindak terhadap mereka
dengan menjatuhkan penghukuman. Ia akan menghukum
mereka dengan begitu rupa sebab sindiran yang kurang ajar
ini, sehingga mereka tidak akan berani mengucapkannya lagi.
Contohnya misalnya dalam Yeremia 23:34, 36. Allah akan me-
nemukan cara-cara yang mujarab untuk membungkam orang-
orang yang suka mempermasalahkan hal-hal kecil itu. Atau
Allah akan menyingkapkan kepada mereka sendiri maupun
kepada orang lain bahwa mereka sendiri sudah cukup berbuat
fasik sampai mendatangkan semua penghakiman yang meng-
hancurkan ini atas diri mereka sendiri. Dengan begitu mereka,
sebab malu, tidak lagi mempersalahkan dosa-dosa nenek
moyang mereka atas tindakan Allah terhadap mereka itu: “Hati
nuranimu sendiri akan memberi tahu kamu, dan sesamamu
akan meneguhkannya, bahwa kamu sendiri sudah makan
buah mentah yang sama yang dimakan oleh bapa leluhurmu
sebelum kamu, sebab kalau tidak demikian gigimu tidak akan
menjadi ngilu.”
2. Bahwa sungguh kata sindiran itu sendiri tidak adil dan meru-
pakan celaan yang tak berdasar terhadap pemerintahan Allah.
Sebab,
(1) Allah tidak menghukum anak-anak sebab dosa-dosa ne-
nek moyang, kecuali mereka mengikuti jejak nenek moyang
mereka dan memenuhi takaran kedurhakaan mereka (Mat.
23:32). Lagi pula, mereka tidak memiliki alasan untuk
mengeluh, sebab, apa pun yang mereka derita, itu kurang
dari apa yang pantas didapatkan sebab dosa mereka
sendiri. Dan, saat Allah berbicara tentang membalaskan
kesalahan bapa kepada anak-anaknya, itu sama sekali
tidak berarti bahwa Ia bermaksud menyusahkan anak-
anak. Kepada mereka Ia hanya membalas menurut perbuat-
an mereka. Justru itu mengambarkan kesabaran Allah
terhadap orangtua, yang sebab itu tidak dihukum-Nya
dengan segera, sebab bencana untuk mereka disimpan-Nya
bagi anak-anak mereka (Ayb. 21:19).
(2) Hanya dalam malapetaka-malapetaka duniawilah anak-
anak (dan terkadang mereka yang tidak berdosa) bernasib
lebih buruk sebab kefasikan orangtua mereka. namun
Allah dapat mengubah sifat dari malapetaka-malapetaka
itu, dan membuatnya bekerja demi kebaikan orang-orang
yang ditimpa olehnya. namun berkenaan dengan keseng-
saraan rohani dan kekal (dan itulah kematian yang di-
bicarakan di sini) anak-anak sama sekali tidak akan men-
derita sebab dosa-dosa orangtua. Hal ini ditunjukkan di
sini secara panjang lebar. Dan sungguh tindakan rendah
hati yang menakjubkan bahwa Allah yang maha besar
berkenan berbantah dengan orang-orang yang begitu fasik
dan tak berpikir waras seperti itu. Ia tidak langsung meng-
hajar mereka sehingga mereka bisu atau mati sesaat itu
juga, namun bersedia menjelaskan perkaranya di hadapan
mereka, supaya Ia bersih saat dinilai. Nah, dalam jawab-
an-Nya,
[1] Ia menegaskan dan mempertahankan kedaulatan-Nya
sendiri yang mutlak dan tak tertandingi: Sungguh, se-
mua jiwa Aku punya! (ay. 4). Allah di sini menegaskan
bahwa Ia memiliki semua jiwa anak-anak manusia, baik
Kitab Yehezkiel 18:1-9
yang satu maupun yang lain. Pertama, jiwa-jiwa yaitu
kepunyaan-Nya. Dia yang yaitu Pencipta segala sesua-
tu secara khusus yaitu Bapa segala roh, sebab gam-
bar-Nya dicetakkan pada jiwa-jiwa manusia. Demikian-
lah di dalam penciptaan mereka, dan demikian pulalah
di dalam pembaruan mereka. Ia menciptakan roh dalam
diri manusia, dan sebab itu disebut Allah dari roh
segala makhluk, dari roh-roh yang bertubuh. Kedua,
semua jiwa yaitu kepunyaan-Nya, semuanya dicipta-
kan oleh Dia dan untuk Dia, dan bertanggung jawab
kepada-Nya. Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku pu-
nya. Orangtua duniawi kita hanyalah ayah dari daging
kita. Jiwa kita bukan kepunyaan mereka. Allah menan-
tang orang-orang buangan itu. Nah, itulah sebabnya
dikatakan selanjutnya, untuk menjelaskan perkara ini,
1. Bahwa Allah pasti boleh melakukan apa yang dike-
hendaki-Nya baik terhadap ayah maupun anak, dan
tak seorang pun dapat berkata kepada-Nya, Apa
yang Kaulakukan? Dia yang membuat kita ada tidak
berbuat salah kepada kita jika Ia mengambil keber-
adaan kita lagi, apalagi jika Ia hanya mengambil
sebagian dari penyokong dan penghiburan keberada-
an kita. Sungguh janggal berbantah dengan Dia, ini
sama saja seperti yang dibentuk berkata kepada
yang membentuknya, Mengapakah…?
2. Bahwa Allah pasti memiliki kehendak baik terha-
dap ayah maupun anak, dan tidak akan menyusah-
kan keduanya. Kita yakin bahwa Allah tidak memben-
ci apa pun yang sudah dijadikan-Nya, dan sebab itu
(berbicara tentang orang dewasa, yang mampu bertin-
dak bagi diri mereka sendiri) Ia memiliki kebaikan
yang begitu rupa terhadap semua jiwa sehingga tak
satu pun yang akan mati kecuali sebab kesalahan
mereka sendiri. Semua jiwa Dia punya, dan sebab itu
Ia tidak berat sebelah dalam menghakimi mereka.
Marilah kita menerima kepentingan-Nya dalam diri
kita dan pemerintahan-Nya atas diri kita. Ia berkata,
semua jiwa Aku punya, dan marilah kita menjawab,
“Tuhan, jiwaku yaitu kepunyaan-Mu. Aku meng-
abdikannya kepada-Mu untuk dipekerjakan bagi-Mu
dan dibuat berbahagia di dalam Engkau.” Untuk
alasan yang baik Allah berkata, “Hai anakku, beri-
kanlah hatimu kepadaku, sebab itu yaitu milik-Ku
sendiri,” dan untuk ini kita harus berserah, “Bapa,
ambillah hatiku, itu yaitu milik-Mu sendiri.”
[2] Meskipun Allah bisa saja membenarkan diri-Nya dengan
menegaskan kedaulatan-Nya, namun Ia tidak berbuat
demikian. Ia menetapkan aturan penghakiman yang
adil dan tanpa kecuali, yang dengannya Ia akan bertin-
dak terhadap setiap orang. Dan inilah aturan itu: Per-
tama, pendosa yang bersikeras dalam dosa pasti akan
mati, kesalahannya akan menjadi kehancurannya:
Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati, akan
mati seperti jiwa bisa mati, akan dikucilkan dari per-
kenanan Allah, yang merupakan kehidupan dan keba-
hagiaan jiwa, dan akan terbaring selama-lamanya di
bawah murka-Nya, yang merupakan kematian dan
kesengsaraannya. Dosa yaitu tindakan jiwa, sebab
tubuh hanya menjadi senjata kelaliman. Dosa disebut
sebagai dosa jiwa (Mi. 6:7, KJV). Oleh sebab itu hukum-
an terhadap dosa yaitu penderitaan dan kesesakan
jiwa (Rm. 2:9). Kedua, orang benar yang bertekun
dalam kebenarannya pasti akan hidup. Kalau seseorang
yaitu orang benar, memiliki dasar pegangan yang baik,
roh dan kecenderungan hati yang baik, dan, sebagai
buktinya, melakukan keadilan dan kebenaran (ay. 5), ia
pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH (ay. 9).
Orang yang dalam segala hal mematuhi kehendak Allah
dengan kesadaran hati nurani, yang menjadikan peker-
jaannya melayani Allah dan menjadikan tujuannya me-
muliakan Allah, tak pelak lagi ia akan berbahagia di
dunia ini dan untuk selama-lamanya di dalam kasih
dan perkenanan Allah. Dan, jika ia tidak dapat me-
menuhi kewajibannya dengan baik, ia akan diampuni,
melalui Pengantara. Sekarang inilah bagian dari tabiat
orang benar ini.
Kitab Yehezkiel 18:1-9
1. Ia berhati-hati untuk menjaga dirinya agar bersih dari
kecemaran-kecemaran dosa, dan menjauhkan diri
dari segala sesuatu yang tampak sebagai kejahatan.
(1) Dari dosa-dosa terhadap perintah kedua. Dalam
hal ibadah kepada Allah, ia melakukannya de-
ngan cemburu, sebab ia tahu bahwa Allah itu
cemburu. Ia bukan saja tidak memberi per-
sembahan korban di bukit-bukit kepada patung-
patung yang didirikan di sana, namun juga bah-
kan tidak makan daging persembahan di atas gu-
nung, yaitu, tidak bersekutu sama sekali dengan
para penyembah berhala dengan makan makan-
an yang dipersembahkan kepada berhala-berhala
(1Kor. 10:20). Ia bukan saja tidak akan berlutut
dengan mereka di mezbah-mezbah mereka, namun
juga tidak akan duduk dengan mereka di meja
mereka di bukit-bukit mereka. Ia tidak hanya
membenci berhala-berhala orang kafir, namun
juga berhala-berhala kaum Israel, yang tidak ha-
nya diperbolehkan, namun juga pada umumnya
disanjung dan dipuja oleh orang-orang yang
mengaku sebagai umat Allah. Ia bukan saja tidak
menyembah berhala-berhala itu, namun juga bah-
kan tidak melihat kepada mereka. Ia tidak me-
layangkan pandangan manis terhadap mereka,
bahkan tidak menganggap mereka sama sekali,
tidak menginginkan perkenanan mereka atau
merasa ngeri terhadap kernyit dahi mereka. Ia
sudah mengamati begitu banyak orang yang ter-
sihir oleh mereka, sehingga ia bahkan tidak bera-
ni melihat kepada mereka, supaya ia tidak ikut
terjerat. Mata para penyembah berhala dikatakan
selalu berzinah (Yeh. 6:9). Lihat Ul. 4:19.
(2) Dari dosa-dosa terhadap perintah ketujuh. Ia ber-
hati-hati dalam mengambil seorang perempuan
menjadi istrinya sendiri, dan hidup di dalam pe-
ngudusan dan penghormatan, dan bukan di dalam
keinginan hawa nafsu sebab ingin mencemarkan
diri. Oleh sebab itu, ia tidak berani mencemari
isteri sesamanya, tidak pula berkata atau ber-
buat sedikit pun yang cenderung membuatnya
rusak atau bejat. Ia bahkan tidak akan men-
dekati istrinya sendiri dengan tidak semestinya
pada waktu cemar kainnya yang menajiskan,
sebab hal itu dilarang oleh hukum (Im. 18:19;
20:18). Perhatikanlah, suatu bagian yang penting
dari hikmat dan keadilan yaitu untuk menjaga
keinginan tubuh supaya selalu tunduk pada akal
budi dan kebajikan.
(3) Dari dosa-dosa terhadap perintah kedelapan. Dia
yaitu orang yang benar, yang tidak menindas
orang lain dengan berbuat curang dan memakai
hukum atau kebenaran sebagai kedok, dan yang
tidak merampas apa-apa dengan paksaan dan
senjata, tidak merampas barang-barang atau
harta milik mereka, apalagi kebebasan dan kehi-
dupan mereka (ay. 7). Penindasan dan kekerasan
yaitu dosa-dosa dari dunia lama, yang menda-
tangkan air bah, dan merupakan dosa-dosa yang
atasnya Allah masih dan akan menjadi pemba-
lasnya. Bahkan, ia yaitu orang yang tidak me-
minjamkan uangnya dengan memungut bunga,
atau mengambil riba (ay. 8), meskipun, kalau
dilakukan berdasar perjanjian, tampaknya
itu tidak adil (Volenti non fit injuria – Apa yang
dilakukan terhadap seseorang atas persetujuan-
nya sendiri bukanlah kejahatan terhadapnya).
Namun, sejauh itu dilarang oleh hukum Taurat,
ia tidak berani melakukannya. Bunga yang secu-
kupnya boleh mereka terima dari orang-orang
asing, namun tidak dari saudara-saudara mereka
sendiri. Orang benar tidak akan mengambil ke-
untungan dari kekurangan sesamanya untuk
memangsa dia, atau memanjakan dirinya dalam
kenyamanan dan kemalasan untuk hidup di atas
keringat dan jerih payah orang lain. Oleh sebab
itu, ia tidak akan mengambil riba dari orang-
orang yang tidak bisa membuat pertambahan
Kitab Yehezkiel 18:1-9
dari apa yang dia pinjamkan kepada mereka. Ia
juga tidak akan berlaku ketat dalam menuntut
apa yang sudah disepakati dari orang-orang
yang, oleh tindakan Allah sendiri, tidak mampu
untuk membayarnya. namun ia bersedia berbagi
kerugian dan juga keuntungan. Qui sentit commo-
dum, sentire debet et onus – Orang yang menik-
mati keuntungan harus menanggung bebannya.
2. Ia melakukan apa yang sudah menjadi kewajiban-
kewajibannya dengan kesadaran hati nurani. Ia
sudah mengembalikan gadaian kepada orang ber-
utang yang miskin, sesuai dengan hukum Taurat
(Kel. 22:26). “Jika engkau sampai mengambil jubah
temanmu sebagai gadai, pakaian yang perlu dipakai,
maka haruslah engkau mengembalikannya kepada
dia, supaya ia bisa tidur memakai baju tidurnya sen-
diri.” Bahkan, ia bukan saja sudah mengembalikan
kepada orang miskin apa yang menjadi milik mereka
sendiri, namun juga sudah memberi makan orang
lapar. Amatilah, makanan itu disebut makanannya
(KJV), sebab makanan itu didapat dengan jujur. Apa
yang diberikan kepada orang lain janganlah apa
yang didapat secara tidak adil dari orang yang lain-
nya. Sebab Allah telah berfirman, Aku membenci pe-
rampasan dan kecurangan. Orang-orang duniawi
bersikeras bahwa makanan mereka yaitu kepunya-
an mereka sendiri, seperti Nabal, yang sebab itu
tidak mau memberi nya kepada Daud (1Sam.
25:11). namun , biarlah mereka tahu bahwa makanan
itu bukan milik mereka sendiri, namun bahwa mereka
terikat kewajiban untuk berbuat baik kepada orang
lain dengannya. Pakaian yaitu barang yang diper-
lukan seperti halnya makanan, dan sebab itu orang
benar ini begitu murah hati sehingga memberi pakai-
an kepada orang telanjang (ay. 7). Baju-baju yang
dijahit Dorkas untuk orang miskin dibuat sebagai
saksi atas kemurahan hatinya (Kis. 9:39). Orang be-
nar ini sudah menjauhkan diri dari kecurangan (ay.
8). Jika di suatu waktu, sebab tidak hati-hati, ia
terseret ke dalam kesalahan dan lalu menyadarinya,
maka ia tidak akan berkeras di dalamnya. Sebalik-
nya, ia akan menjauhkan diri dari apa yang sekarang
disadarinya sebagai kecurangan. Sebab ia melaku-
kan hukum yang benar di antara manusia dengan
manusia, saat ada kesempatan baginya untuk me-
lakukannya (sebagai hakim, sebagai saksi, sebagai
juri, sebagai penengah). Dan dalam semua jual beli,
ia peduli supaya keadilan dijalankan, supaya tak
seorang pun dijahati, supaya orang yang sudah
dijahati harus dibenarkan, dan supaya setiap orang
mendapatkan kepunyaannya sendiri. Ia sendiri siap
maju, dan melakukan perbuatan baik apa saja, un-
tuk mewujudkannya. Inilah tabiatnya terhadap sesa-
manya. namun tidak cukup bahwa ia adil dan jujur
terhadap saudaranya. Untuk melengkapi tabiatnya,
ia harus demikian juga terhadap Allahnya (ay. 9): ia
hidup menurut ketetapan-Ku, ketetapan-ketetapan
yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban ibadah-
nya yang harus dia lakukan pada saat itu juga. Ia
tetap mengikuti ketetapan-ketetapan itu dan semua
penghakiman-Nya yang lain. Ia menghormati itu
semua, ia senantiasa peduli dan berusaha untuk
menuruti dan memenuhinya, untuk berlaku jujur,
supaya ia dapat membuktikan dirinya setia terhadap
kovenannya dengan Allah. Dan, sesudah mengga-
bungkan dirinya dengan Allah, ia tidak berkhianat
dan meninggalkan Dia, atau bersungut-sungut terha-
dap-Nya. Inilah orang benar, dan sungguh ia akan
hidup. Ia pasti akan hidup, akan memiliki hidup dan
memilikinya dengan lebih berkelimpahan, akan be-
nar-benar hidup, hidup dengan nyaman, hidup sela-
ma-lamanya. Turutilah segala perintah Allah, maka
engkau akan masuk ke dalam hidup (Mat. 19:17).
Kitab Yehezkiel 18:10-20
Jalan-jalan Allah Dibenarkan;
Pembenaran Allah terhadap Diri-Nya Sendiri
(18:10-20)
10 namun kalau ia melahirkan seorang anak yang menjadi perampok, dan
yang suka menumpahkan darah atau melakukan salah satu dari hal-hal itu
11 – walaupun ayah tidak melakukan satupun – juga makan daging persem-
bahan di atas gunung dan mencemari isteri sesamanya, 12 menindas orang
sengsara dan miskin, merampas, tidak mengembalikan gadaian orang, meli-
hat kepada berhala-berhala dan melakukan kekejian, 13 memungut bunga
uang dan mengambil riba, orang yang demikian tidak akan hidup. Segala
kekejian ini dilakukannya, ia harus mati; darahnya tertimpa kepadanya
sendiri. 14 Sesungguhnya, kalau ia melahirkan seorang anak dan anak ini
melihat segala dosa yang dilakukan ayahnya, namun menginsafi hal itu,
sehingga tidak melakukan seperti itu: 15 ia tidak makan daging persembahan
di atas gunung dan tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak
mencemari isteri sesamanya, 16 tidak menindas orang lain, tidak mau memin-
ta gadai, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi
pakaian kepada orang telanjang, 17 menjauhkan diri dari kecurangan, tidak
mengambil bunga uang atau riba, melakukan peraturan-Ku dan hidup me-
nurut ketetapan-Ku – orang yang demikian tidak akan mati sebab kesalah-
an ayahnya, ia pasti hidup. 18 Ayahnya, yang melakukan pemerasan, yang
merampas sesuatu, dan yang melakukan hal-hal yang tidak baik di tengah-
tengah bangsanya, sungguh, ia akan mati sebab kesalahannya. 19 namun
kamu berkata: Mengapa anak tidak turut menanggung kesalahan ayahnya? –
sebab anak itu melakukan keadilan dan kebenaran, melakukan semua
ketetapan-Ku dengan setia, maka ia pasti hidup. 20 Orang yang berbuat dosa,
itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya
dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar
akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan
tertanggung atasnya.
Allah, melalui sang nabi, sudah menetapkan aturan penghakiman
secara umum, bahwa Ia akan memberi upah berupa hidup yang
kekal kepada orang-orang yang dengan tekun berbuat baik, namun
amarah dan murka kepada orang-orang yang tidak taat kepada
kebenaran, namun taat kepada kelaliman (Rm. 2:7-8). Dalam ayat-ayat
ini Ia menunjukkan bahwa orangtua dan hubungan darah tidak akan
mengubah aturan di atas dalam hal apa saja.
I. Allah banyak menjelaskannya dan secara khusus pada hubungan
orangtua kepada anak dan anak kepada orangtua. Sama seperti
dalam garis keturunan raja-raja Yehuda, demikian pula sering
terjadi dalam keluarga-keluarga biasa, bahwa orangtua yang saleh
memiliki anak-anak yang fasik dan orangtua yang fasik memiliki
anak-anak yang saleh. Sekarang di sini Ia menunjukkan,
1. Bahwa orang fasik pasti akan binasa dalam kesalahannya, mes-
kipun ia anak dari seorang ayah yang saleh. Jika orang benar
yang digambarkan sebelumnya itu melahirkan seorang anak
yang tabiatnya bertentangan dengan ayahnya, maka keadaan
anak itu pasti akan bertentangan juga.
(1) Kita tahu betul bahwa sudah biasa terjadi, walaupun sa-
ngat menyedihkan, bahwa anak dari ayah yang sangat
saleh ternyata terkenal sebagai orang yang fasik dan keji,
kendati dengan segala ajaran yang diberikan kepadanya,
pendidikan baik yang telah diterimanya, teguran-teguran
yang diperlukan yang telah diberikan kepadanya, dan ke-
kangan-kekangan yang dikenakan kepadanya, dan sesudah
semua jerih payah yang dilakukan untuknya, serta doa-doa
yang dipanjatkan untuknya. Hal ini membuat ayahnya
sedih, keluarganya malu, dan ia menjadi kutuk dan wabah
bagi angkatannya. Di sini si anak dianggap membiarkan
dirinya melakukan semua kejahatan besar yang ditakuti
dan dihindari dengan hati-hati oleh ayahnya itu. Dan ia
melepaskan semua kewajiban yang baik yang dijalankan
ayahnya itu dengan kesadaran hati nurani dan sepenuh
hati. Ia membatalkan semua yang dilakukan ayahnya, dan
berlaku bertentangan dengan teladannya dalam segala hal.
Di sini dia digambarkan sebagai penjahat yang suka
menghadang di jalan – perampok dan penumpah darah. Dia
seorang penyembah berhala: Ia makan daging persembahan
di atas gunung (ay. 11) dan melihat kepada berhala-berhala,
yang tidak pernah dilakukan oleh ayahnya yang baik. Dan
ia pada akhirnya sampai melakukan tindakan bukan hanya
berpesta dengan penyembah-penyembah berhala, namun
juga mempersembahkan korban dengan mereka, yang di
sini disebut melakukan kekejian, sebab jalan dosa yaitu
terjal ke bawah. Dia seorang pezinah, telah mencemari isteri
sesamanya. Dia seorang penindas yang bahkan menindas
orang sengsara dan miskin. Ia merampok rumah sakit, dan
memeras orang-orang yang ia tahu tidak bisa membela diri.
Ia bangga dan senang menginjak-injak orang yang lemah
dan memiskinkan orang-orang yang sudah miskin. Ia
mengambil dari orang-orang yang kepada mereka seharus-
nya ia memberi. Ia merampas dan memaksa secara terang-
terangan. Ia memungut bunga uang, dan dengan demikian
merusak perjanjian. Dan ia tidak mengembalikan gadaian
Kitab Yehezkiel 18:10-20
orang, malah secara tidak adil menahannya, meskipun
utangnya sudah dibayar. Biarlah orangtua yang baik yang
memiliki anak-anak fasik tidak memandang bahwa ma-
salah itu hanya menimpa mereka sendiri. Ini sebuah con-
toh perkara, dan melaluinya kita melihat bahwa anugerah
tidak mengalir di dalam darah, tidak pula selalu disertai
sarana-sarana anugerah. Perlombaan tidak selalu untuk
yang cepat, tidak pula pertempuran itu hanya untuk yang
kuat, sebab seandainya demikian, anak-anak yang dididik
dengan baik akan berbuat baik. namun Allah ingin kita tahu
bahwa anugerah-Nya yaitu milik-Nya sendiri dan Roh-Nya
yaitu Pekerja yang bebas. Dan bahwa meskipun kita ter-
ikat kewajiban untuk memberi anak-anak kita pendi-
dikan yang baik, namun Allah tidak terikat kewajiban
untuk memberkatinya. Dalam hal ini, seperti dalam hal-hal
lain, tampaklah kuasa dosa asal dan perlunya anugerah
khusus.
(2) Kita diyakinkan di sini bahwa orang fasik ini akan binasa
untuk selama-lamanya dalam kesalahannya, sekalipun ia
anak dari seorang ayah yang baik. Ia bisa saja sejahtera
untuk sementara waktu di dunia, oleh sebab kesalehan
nenek moyangnya. namun , sebab sudah melakukan
semua kekejian ini, dan tidak pernah bertobat darinya, ia
tidak akan hidup, ia tidak akan berbahagia dalam perke-
nanan Allah. Meskipun ia dapat terluput dari pedang ma-
nusia, ia tidak akan terluput dari kutukan Allah. Ia harus
mati. Ia akan sengsara untuk selama-lamanya. Darahnya
tertimpa kepadanya sendiri. Dia sendirilah yang harus di-
persalahkan sebab itu. Ia menjadi penghancur dirinya
sendiri. Dan hubungannya dengan ayah yang baik sama
sekali tidak akan bermanfaat baginya, justru akan mem-
perberat dosanya dan kutukannya. Hubungannya itu mem-
buat dosanya semakin keji, bahkan, benar-benar membuat-
nya semakin busuk dan durjana, dan, sebagai akibatnya,
akan membuat kesengsaraannya di dunia nanti semakin tak
tertanggungkan.
2. Bahwa orang benar pasti akan berbahagia, meskipun ia anak
dari seorang ayah yang fasik. Meskipun ayahnya makan buah
mentah, namun jika anak-anaknya tidak ikut-ikutan, mereka
tidak akan bernasib lebih buruk sebab nya. Di sini,
(1) Biasanya dianggap benar (dan terpujilah Allah, kadang-
kadang itu merupakan kejadian yang sebenarnya) bahwa
anak dari seorang ayah yang tidak saleh bisa saja saleh,
bahwa, dengan mengamati betapa mematikannya kesalah-
an-kesalahan ayahnya, ia menjadi begitu bijak sehingga
mendapat peringatan, dan tidak mengikuti jejak-jejak pen-
cobaan ayahnya (ay. 14). Biasanya anak-anak ambil bagian
dalam watak orangtua, dan terdorong untuk meniru contoh
mereka. namun di sini sang anak, bukannya melihat segala
dosa yang dilakukan ayahnya, dan, seperti yang biasa
terjadi, berbuat hal yang serupa, justru melihat segala dosa
itu dan ngeri untuk berbuat seperti itu. Orang memang
tidak memetik buah anggur dari semak duri, namun kadang-
kadang Allah melakukannya. Ia mengambil ranting dari
pohon zaitun liar dan mencangkokkannya ke pohon zaitun
yang baik. Ahas yang fasik melahirkan Hizkia yang baik,
yang melihat segala dosa yang dilakukan ayahnya. Dan
meskipun ia tidak mau, seperti Ham, mengumumkan aib
ayahnya, atau melakukan sesuatu yang buruk darinya,
namun ia membencinya, malu sebab nya, dan memandang
dosa dengan lebih buruk sebab sudah menjadi cela dan
kehancuran ayahnya sendiri. Ia menginsafi hal itu, sehingga
tidak melakukan seperti itu. Ia menginsafi betapa jahatnya
ayahnya dalam berbuat hal-hal seperti itu, betapa hal itu
merupakan pelanggaran terhadap Allah dan semua orang
baik, betapa besar luka dan cela yang dia dapat darinya,
dan betapa besar malapetaka-malapetaka yang dibawa
ayahnya ke dalam keluarganya. Dan sebab itu ia tidak
melakukan seperti itu. Perhatikanlah, jika saja kita mere-
nungkan kel