Yehezkiel 11


 an perumpamaan itu (ay. 11-

21). namun  , di bagian penutup,  

II. Allah berjanji sesudah nya Dia akan membangkitkan kembali 

keluarga kerajaan Yehuda, keluarga Daud, dalam diri Mesias 

dan kerajaan-Nya (ay. 22-24).  

Perumpamaan Rajawali; Perumpamaan Dijelaskan; 

Kehancuran Zedekia Dinubuatkan  

(17:1-21) 

1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Hai anak manusia, katakanlah 

suatu teka-teki dan ucapkanlah suatu perumpamaan kepada kaum Israel.  

3 Katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Seekor burung rajawali yang 

besar dengan sayapnya yang besar dan panjang, penuh dengan bulu yang 

berwarna-warna datang ke gunung Libanon dan ia mengambil puncak pohon 

aras. 4 Ia mematahkan pucuknya yang paling ujung dan dibawanya ke se-

buah negeri perdagangan lalu diletakkannya dia di kota perniagaan. 5 Ia 

mengambil sebuah dari taruk-taruk tanah itu dan menanamnya di ladang 

yang sudah sedia ditaburi; ia menempatkannya dekat air yang berlimpah-

limpah seperti pohon gandarusa 6 sehingga ia tumbuh dan menjadi pohon 

anggur yang rimbun, yang tumbuhnya rendah dan cabang-cabangnya me-

lengkung menuju burung itu dan akar-akarnya tetap di bawahnya. Demi-

kianlah ia menjadi pohon anggur dan mengeluarkan tunas-tunas dan 

memancarkan taruk-taruk. 7 Dalam pada itu ada juga burung rajawali besar 

yang lain dengan sayapnya yang besar dan bulu yang lebat. Dan sungguh, 

pohon anggur ini mengarahkan akar-akarnya ke burung itu dan cabang-

cabangnya dijulurkannya kepadanya, supaya  burung itu mengairi dia lebih 

baik dari bedeng di mana ia ditanam. 8 Namun ia ditanam di ladang yang 

baik, dekat air yang berlimpah-limpah, supaya  ia bercabang-cabang dan 

berbuah dan supaya  menjadi pohon anggur yang bagus. 9 Katakanlah: 

Beginilah firman Tuhan ALLAH: Apakah itu akan berhasil? Apakah orang 

tidak akan mencabut akar-akarnya dan menyentakkan buahnya, sehingga 

semua ulamnya yang baru menjadi kering? Tidak usah tangan yang kuat dan 

banyak orang untuk mencabut dia dengan akar-akarnya. 10 Lihat, ia memang 

ditanam, namun  apakah ia akan memberi hasil? Apakah ia tidak akan layu 

kering kalau ditimpa angin timur? Ia akan layu kering di bedeng tempat 

tumbuhnya itu.” 11 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 12 “Katakanlah 

kepada kaum pemberontak: Tidakkah kamu mengetahui apa artinya ini? 

Katakan: Lihat, raja Babel datang ke Yerusalem dan ia mengambil rajanya 

dan pemuka-pemukanya dan membawa mereka ke Babel baginya. 13 Lalu ia 

mengambil seorang yang berasal dari keturunan raja dan mengadakan per-

janjian dengan dia sambil menyuruh dia bersumpah. Ia mengambil juga 

orang-orang berkuasa negeri itu, 14 supaya  kerajaan itu menjadi lemah dan 

jangan memberontak lagi, juga supaya  memegang teguh perjanjian itu dan 

dengan demikian tetap ada. 15 namun  orang itu memberontak kepadanya 

dengan menyuruh utusannya ke Mesir, supaya  ia diberi kuda dan tentara 

yang besar. Apakah ia akan berhasil? Apakah orang yang berbuat demikian 

dapat luput? Apakah orang yang mengingkari perjanjian dapat luput?  

16 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ia pasti mati di 

Babel, di tempat raja yang mengangkatnya menjadi raja. sebab  ia 

memandang ringan kepada sumpah yang dimintakan raja itu dari padanya 

dan mengingkari perjanjian raja itu dengan dia. 17 Dan Firaun tidak akan 

membantu dia dalam peperangan dengan tentara yang besar dan sekum-

pulan banyak orang, pada waktu tembok pengepungan ditimbun dan benteng 

pengepungan didirikan untuk melenyapkan banyak orang. 18 Ya, ia meman-

dang ringan kepada sumpah dan mengingkari perjanjian. Sungguh, walau-

pun ia menyungguhkan hal itu dengan berjabat tangan, namun  ia melanggar 

semuanya itu, maka ia tidak dapat luput. 19 Oleh sebab itu, beginilah firman 

Tuhan ALLAH: Demi Aku yang hidup, Aku pasti menimpakan atas kepalanya 

sumpahnya kepada-Ku, yang dipandangnya ringan dan perjanjiannya di 

hadapan-Ku, yang diingkarinya. 20 Aku akan memasang jaring-Ku untuk 

menangkap dia dan di dalam perangkap-Ku ia akan terjebak; Aku akan 

membawa dia ke Babel dan di sana Aku akan berperkara dengan dia, sebab  

ia berobah setia terhadap Aku. 21 Dan semua tentara pilihannya akan tewas 

dimakan pedang dan yang terluput akan dihamburkan ke semua mata angin. 

Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang mengatakannya. 

Kita harus membaca semua ayat ini sekaligus agar kita dapat melihat 

perumpamaan dan penjelasannya bersama-sama secara utuh di 

hadapan kita, sebab  keduanya akan saling menjelaskan.  

Kitab Yehezkiel 17:1-21 

1. Sang nabi ditunjuk untuk mengatakan suatu teka-teki kepada 

kaum Israel (ay. 2), bukan untuk membuat mereka bingung, 

seperti teka-teki Simson bagi orang Filistin, bukan pula untuk 

menyembunyikan dan mengaburkan pikiran Allah dari mereka, 

atau membiarkan mereka merasa tidak pasti, yang satu mengaju-

kan terkaan ini, yang lain mengajukan terkaan itu, seperti biasa 

orang berusaha menjawab teka-teki. Tidak, sang nabi akan segera 

memberi tahu mereka makna teka-teki itu. Siapa yang berkata-

kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya  kepadanya di-

berikan juga karunia untuk menafsirkannya (1Kor. 14:13). Namun, 

ia harus menyampaikan pesan ini dalam bentuk teka-teki atau 

perumpamaan agar mereka lebih memperhatikannya, agar mere-

ka sendiri lebih tergugah olehnya dan lebih baik mengingatnya, 

lalu menyampaikannya kepada yang lain. sebab  alasan-alasan 

inilah, Allah sering kali menggunakan perumpamaan melalui 

hamba-hamba-Nya para nabi, bahkan Kristus sendiri membuka 

mulut-Nya mengatakan perumpamaan (KJV). Teka-teki dan perum-

pamaan menarik perhatian kita dan menjadi hiburan bagi teman-

teman kita. Sang nabi harus menggunakan teka-teki dan perum-

pamaan untuk melihat apakah dengan cara ini, perkara-perkara 

Allah dapat diterima, dan masuk serta menempelak pikiran orang-

orang yang tidak peduli. Perhatikanlah, hamba-hamba Allah 

harus belajar dan mencari tahu kata-kata yang dapat diterima, 

dan mencoba berbagai cara agar dapat berhasil. Dan selama ada 

alasan untuk berpikir dapat membangun iman orang, mereka 

harus memasukkan hal sehari-hari dalam pemberitaan mereka 

dan juga membawa pemberitaan mereka dalam bentuk per-

cakapan sehari-hari. Dengan demikian, apa yang mereka katakan 

di mimbar tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka katakan di 

luar mimbar, seperti yang terjadi pada beberapa hamba Tuhan.  

2. Ia ditugaskan untuk menjelaskan teka-teki ini kepada kaum 

pemberontak itu (ay. 12). Sekalipun sebagai pemberontak, mereka 

sudah selayaknya dibiarkan dalam kebodohan mereka, supaya  

mereka melihat dan mendengar, namun  tidak menanggap. Namun, 

perkara itu akan dijelaskan kepada mereka: Tidakkah kamu 

mengetahui apa artinya ini? Mereka yang mengetahui latar bela-

kang cerita ini, dan perkara apa yang sedang bergolak, mungkin 

dapat melontarkan terkaan cerdas apa makna teka-teki ini. Na-

mun, agar mereka tidak dapat berdalih, sang nabi akan memberi 

tahu maknanya kepada mereka secara terang-terangan, tanpa 

kiasan. Namun, pertama-tama teka-teki ini dikemukakan agar 

mereka merenungkannya dahulu sejenak, lalu menyampaikannya 

kepada teman-teman mereka di Yerusalem, agar nanti teman-

teman mereka menanyakan maknanya dan ingin mengetahui 

jawabannya kemudian.  

Marilah kita sekarang melihat apakah isi dari pesan ini.  

I. Nebukadnezar beberapa waktu lalu mengangkut Yoyakhin, yang 

juga bernama Yekhonya, saat  Yoyakhin baru berusia delapan 

belas tahun dan baru memerintah di Yerusalem selama tiga bulan. 

Nebukadnezar mengangkut dia, pemimpin-pemimpinnya, dan 

orang-orang besarnya, dan membawa mereka ke Babel (2Raj. 

24:12). Peristiwa ini dalam perumpamaan itu digambarkan seba-

gai burung rajawali yang mematahkan ujung cabang pohon aras 

yang lembut dan membawanya ke negeri perdagangan, kota per-

niagaan (ay. 3-4), yang dijelaskan dalam ayat 12. Raja Babel 

mengangkut raja Yerusalem yang tidak dapat melawannya, bagai 

sebatang ranting muda yang tidak dapat melawan burung pe-

mangsa yang paling kuat, yang dengan mudah mematahkannya, 

mungkin untuk membuat sarangnya. Nebukadnezar, dalam peng-

lihatan Daniel, yaitu  seekor singa, raja binatang buas (Dan. 7:4). 

Di sana dalam penglihatan Daniel, ia memiliki sayap burung raja-

wali, sangat tangkas gerakannya, sangat cepat penaklukannya. Di 

sini, dalam perumpamaan ini, ia yaitu  seekor burung rajawali, 

raja segala burung, seekor burung rajawali yang besar, yang 

hidup dari jarahan dan penerkaman, yang anak-anaknya meng-

hirup darah (Ayb. 39:33). Kekuasaannya sangat meluas sampai 

jauh, seperti sayap burung rajawali yang besar dan panjang. Rak-

yatnya banyak, sebab  burung itu penuh dengan bulu. Kerajaan-

nya megah, sebab  bulunya berwarna-warna, tampak seperti 

tenunan, menurut perkataan aslinya. Yerusalem yaitu  Libanon, 

hutan kumpulan rumah-rumah, dan sangat menyenangkan. 

Keluarga raja yaitu  pohon aras itu. Yoyakhin ialah puncaknya, 

pucuknya yang paling ujung, yang dipatahkan oleh Nebukadnezar. 

Babel yaitu  negeri perdagangan dan kota perniagaan tempat 

pucuk itu diletakkan. Dan raja Yehuda, sebagai keturunan Daud, 

akan berpikir ia sangat direndahkan dan dihinakan sebab  ditem-

Kitab Yehezkiel 17:1-21 

patkan di antara pedagang. Namun, ia sedapat mungkin harus 

menerimanya. 

II. saat  Nebukadnezar mengangkut Yoyakhin ke Babel, ia meng-

angkat paman Yoyakhin, Zedekia, menjadi raja menggantikan 

Yoyakhin (ay. 5-6). Namanya yaitu  Matanya – karunia Allah, 

yang diubah Nebukadnezar menjadi Zedekia – keadilan Allah, un-

tuk mengingatkan Matanya agar ia adil seperti Allah yang disebut-

nya sebagai Allahnya, sebab  takut akan keadilan-Nya. Inilah 

sebuah dari taruk-taruk tanah itu, orang asli, bukan orang asing, 

bukan salah seorang pemimpin Nebukadnezar di Babel. Ia 

ditanam di ladang yang sudah sedia ditaburi, memang masih 

demikianlah Yerusalem saat itu. Nebukadnezar menempatkannya 

dekat air yang berlimpah-limpah, tempat ia dapat bertumbuh, 

seperti pohon gandarusa, yang tumbuh cepat, dan tumbuh subur 

di tanah basah, namun  tidak pernah dirancangkan atau diharap-

kan menjadi pohon yang megah. Nebukadnezar menempatkannya 

dengan penuh kepedulian dan perhatian (demikianlah beberapa 

penafsir membacanya). Ia memeliharanya dengan cermat agar 

pohon itu dapat bertumbuh, namun  tidak bertumbuh terlalu besar. 

Ia mengambil seorang yang berasal dari keturunan raja, demi-

kianlah dijelaskan dalam ayat 13, dan mengadakan perjanjian 

dengan dia bahwa ia akan memiliki kerajaan itu, dan menikmati 

kuasa dan kemuliaan raja, asalkan ia menjalankannya sebagai 

hamba Nebukadnezar, bergantung padanya dan bertanggung 

jawab kepadanya. Nebukadnezar menyuruhnya bersumpah, mem-

buatnya bersumpah setia kepadanya, bersumpah demi nama 

Allahnya sendiri, Allah Israel, bahwa ia akan menjadi pembayar 

upeti yang setia kepadanya (2Taw. 36:13). Nebukadnezar meng-

ambil juga orang-orang berkuasa negeri itu, yakni panglima pe-

rangnya, di satu pihak sebagai sandera untuk terlaksananya per-

janjian itu, di lain pihak agar negeri itu menjadi lemah, sehingga 

sang raja berkurang kuasanya, dan sebab  itu berkurang juga 

godaannya untuk melanggar kesepakatannya. Apa yang diran-

cangkan Nebukadnezar dijelaskan kepada kita (ay. 14): supaya  

kerajaan itu menjadi lemah, baik dalam kehormatan maupun 

kekuatan, tidak bersaing dengan negeri-negeri sekitarnya yang 

kuat, ataupun menjadi ancaman bagi yang lemah, seperti yang 

dilakukannya dahulu, supaya  kerajaan itu jangan memberontak 

lagi untuk merebut kekuasaan dari kerajaan Babel, atau menekan 

negeri-negeri lemah di bawahnya. Namun, Nebukadnezar tetap 

menginginkan agar, dengan memegang teguh perjanjian itu, ke-

rajaan itu tetap ada. Dengan demikian, kesombongan dan ambisi 

penguasa yang angkuh itu akan terpuaskan, yang hendak menya-

mai Yang Mahatinggi (Yes. 14:14), dan membuat semua yang di 

sekitarnya tunduk kepadanya. Sekarang lihatlah di sini,  

1. Betapa menyedihkan perubahan yang dibuat dosa pada ke-

luarga raja Yehuda. Ada waktu saat  semua bangsa di seki-

tarnya menjadi pembayar upeti padanya. Sekarang, bukan 

saja kehilangan kuasanya atas bangsa-bangsa lain, namun  ke-

rajaan itu sendiri menjadi pembayar upeti. Ah, sungguh pudar 

emas itu! Bangsa-bangsa, sebab  dosanya, menjual kebe-

basannya, dan raja-raja menjual martabatnya, dan menajiskan 

mahkotanya laksana debu. 

2. Betapa tepat keputusan yang diambil Zedekia bagi dirinya 

dengan menerima perjanjian ini, sekalipun merendahkan mar-

tabat, saat  keadaan mengharuskan dia berbuat demikian. 

Seseorang dapat hidup sangat tenang dan puas, sekalipun ia 

tidak dapat berperan dan menjadi seorang tokoh seperti 

sebelumnya. Kerajaan dapat tetap berdiri dan aman, sekalipun 

tidak menjulang tinggi seperti yang pernah terjadi dahulu, dan 

begitu pula suatu keluarga. 

III. Zedekia, selama ia tetap setia kepada raja Babel, keadaannya 

baik-baik saja, dan, seandainya saja ia mau memperbarui keraja-

annya, dan berbalik kepada Allah serta melakukan kewajibannya, 

ia bisa melakukan yang lebih baik lagi, dan dengan begitu, mung-

kin dapat segera memulihkan kebesarannya yang semula (ay. 6). 

Tanaman ini bertumbuh, dan meskipun ditanam seperti pohon 

gandarusa, yang sedikit saja diperhitungkan, namun tanaman itu 

menjadi pohon anggur yang rimbun, yang tumbuhnya rendah, 

berkat yang besar bagi negerinya sendiri, dan buahnya menyuka-

kan hati manusia. Dan memang lebih baik menjadi pohon anggur 

yang rimbun dan tumbuh rendah daripada pohon aras yang tinggi 

namun  tidak berguna. Nebukadnezar senang sebab  cabang-

cabangnya melengkung menuju burung itu, dan bersandar pada-

nya, seperti pohon anggur bersandar ke dinding, dan ia mendapat 

bagian dalam hasil pohon anggur ini. Akar-akarnya juga tetap di 

Kitab Yehezkiel 17:1-21 

bawahnya, dan ada dalam perintahnya. Orang Yahudi juga boleh 

senang, sebab  mereka duduk di bawah pohon anggurnya sendiri, 

yang mengeluarkan tunas-tunas dan memancarkan taruk-taruk, 

dan tampak sedap serta menjanjikan. Lihatlah betapa perlahan-

nya penghakiman Allah dijatuhkan atas bangsa yang memberon-

tak ini, dan betapa Allah memberi mereka kelonggaran untuk 

memberi mereka kesempatan bertobat. Dia membuat kerajaan 

mereka menjadi lemah, untuk melihat apakah hal itu akan 

merendahkan hati mereka, sebelum Dia memusnahkan kerajaan 

itu sama sekali. Namun, Dia melakukannya dengan perlahan 

terhadap mereka, untuk melihat apakah hal itu akan membuat 

mereka berbalik kepada-Nya, sehingga ancaman celaka itu dapat 

dicegah. 

IV. Zedekia tidak sadar kalau ia sudah makmur dan sejahtera, se-

hingga ia menjadi tidak sabar menanggung malu harus membayar 

upeti kepada raja Babel, dan, untuk membebaskan diri, diam-

diam membuat perjanjian dengan raja Mesir. Tidak ada alasan 

baginya untuk mengeluh bahwa raja Babel menimpakan kesulitan 

baru kepadanya atau berusaha mengeruk keuntungan lebih ba-

nyak darinya, sehingga menekan dan menyengsarakan negerinya, 

sebab, seperti yang dikatakan sang nabi sebelumnya (ay. 6), 

untuk memperberat pengkhianatannya, dan dikatakannya lagi 

(ay. 8), betapa baik keadaannya waktu itu, jika ia menyadarinya: 

Ia ditanam di ladang yang baik, dekat air yang berlimpah-limpah. 

Keluarganya kemungkinan besar akan bangkit, dan perbendaha-

raannya akan terisi, dalam sedikit waktu lagi, sehingga, kalau 

saja ia berlaku setia, ia mungkin sudah menjadi pohon anggur 

yang bagus. Namun, ada burung rajawali besar yang lain yang 

diperhatikannya, dan diandalkannya, dan burung itu yaitu  raja 

Mesir (ay. 7). Dua penguasa besar itu, raja Babel dan raja Mesir, 

hanyalah dua burung rajawali besar, burung-burung buas. Burung 

rajawali besar dari Mesir ini dikatakan memiliki sayap yang besar, 

namun  bukan sayap yang panjang seperti raja Babel, sebab, 

sekalipun kerajaan Mesir kuat, namun belum meluas sampai 

sejauh kerajaan Babel. Burung rajawali besar itu dikatakan 

memiliki bulu yang lebat, kekayaan yang besar dan prajurit yang 

banyak, yang diandalkannya sebagai perlindungan yang kuat, 

namun  sebenarnya tidak lebih dari sekedar bulu yang lebat. Zede-

kia, yang mengharapkan kebebasan, menjadikan dirinya hamba 

raja Mesir, dan dengan bodohnya mengharapkan kelepasan 

dengan mengganti majikan. Nah, pohon anggur ini dengan diam-

diam dan sembunyi-sembunyi mengarahkan akar-akarnya ke raja 

Mesir, burung rajawali besar itu, dan beberapa waktu kemudian 

dengan terang-terangan menjulurkan cabang-cabangnya kepada-

nya, memberinya isyarat betapa ia ingin bersekutu dengannya, 

supaya  burung itu mengairi dia lebih baik dari bedeng di mana ia 

ditanam, padahal pohon itu ditanam dekat air yang berlimpah-

limpah, dan tidak perlu bantuan apa-apa darinya. Kiasan ini 

dijelaskan dalam ayat 15. Zedekia memberontak terhadap raja 

Babel dengan menyuruh utusannya ke Mesir, supaya  Mesir mem-

berinya kuda dan tentara yang besar, agar ia dapat menentang 

raja Babel. Lihatlah betapa berubahnya umat Allah sebab  dosa. 

Allah berjanji bahwa mereka akan menjadi bangsa yang banyak 

jumlahnya, seperti pasir di laut. Namun sekarang, sebab  raja 

mereka menginginkan bangsa yang banyak jumlahnya (KJV), 

sehingga ia harus mengutus orang ke Mesir untuk mendapat-

kannya, maka mereka pun, sebab  dosa, menjadi berkurang dan 

membungkuk (Mzm. 107:39). Lihatlah juga kebodohan orang-

orang yang rohnya resah dan tidak puas, yang malah menghan-

curkan diri mereka saat berusaha mendapatkan yang lebih baik, 

padahal mereka bisa merasa cukup tenang dan bahagia kalau 

saja mereka mau berusaha menerima keadaan yang ada sebaik 

mungkin. 

V. Allah di sini mengancam Zedekia dengan kehancuran menyeluruh 

atas dirinya dan kerajaannya, dan, dalam kemarahan-Nya terha-

dap Zedekia, menjatuhkan malapetaka atasnya untuk pengkhia-

natannya membelot dari raja Babel. Hal ini digambarkan dalam 

perumpamaan (ay. 9, 19) dengan mencabut akar-akarnya dan me-

nyentakkan buahnya dan semua ulamnya (daun-daunnya – pen.) 

yang baru menjadi kering, ulam musim seminya, yang sedang hijau-

hijaunya (Ayb. 8:12), sebelum daun-daun itu berguguran sendiri di 

musim gugur. Rencana pemberontakan itu akan digagalkan. 

Pohon itu akan layu kering. Siasat pemimpin durhaka ini akan 

dihancurkan sampai tak terpulihkan lagi. Seperti pohon anggur 

yang ditiup angin timur sampai pohon itu tidak berguna untuk 

apa-apa lagi kecuali untuk dibakar, seperti yang kita lihat dalam 

Kitab Yehezkiel 17:1-21 

perumpamaan itu (15:4). Pohon itu akan kering meskipun ter-

tanam di bedeng tempat tumbuhnya itu, meskipun selalu diairi 

dengan baik. Pohon itu akan dihancurkan, tidak usah tangan 

yang kuat dan banyak orang untuk mencabut dia. Sebab, untuk 

apa membangkitkan prajurit perang hanya untuk mencabut seba-

tang pohon anggur? Perhatikanlah, Allah dapat melaksanakan 

perkara-perkara besar tanpa banyak huru-hara. Dia tidak perlu 

tangan yang kuat dan banyak orang untuk melaksanakan tujuan-

Nya. Segelintir orang saja cukup jika Dia mau. Dia bisa, tanpa 

kesulitan apa pun, menghancurkan raja dan kerajaan yang ber-

dosa, dan membuatnya tidak ada lagi, seperti kita mencabut 

pohon yang mengganggu tanah sampai ke akar-akarnya. Dalam 

penjelasan perumpamaan itu, kalimat ini dicatat dengan penuh 

penekanan: Apakah ia akan berhasil? (ay. 15). Apakah ia dapat 

berbuat curang dan berharap mengakhiri dengan baik? Bahkan, 

apakah ia yang melakukan perbuatan sejahat itu akan luput? 

Apakah ia yang mengingkari perjanjian dapat luput dari pembalas-

an, yang merupakan hukuman yang adil untuk pengkhianatan-

nya? Tidak. Apakah ia dapat berbuat jahat dan berharap tidak 

mengalami hal yang jahat? Biarlah ia mendengar kebinasaannya. 

1. Kebinasaannya dikukuhkan dengan sumpah Allah (ay. 16): 

Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ia 

pasti mati sebab  kejahatan itu. Hal ini mengisyaratkan betapa 

Allah membenci kejahatan itu, dan betapa pasti dan berat 

hukuman itu. Allah bersumpah dalam murka-Nya, seperti yang 

dilakukan-Nya dalam Mazmur 95:11. Perhatikanlah, seperti 

janji-janji Allah diteguhkan dengan sumpah, untuk menenang-

kan hati orang-orang kudus, begitu pula ancaman-ancaman 

Allah, untuk menggentarkan orang-orang fasik. Demi Allah 

yang hidup dan jika Dia berkenan (dapat saya tambahkan, dan 

selama Dia berkenan), pastilah, selama Dia berkenan, orang 

berdosa yang tidak mau bertobat pasti akan mati dan men-

derita sengsara. 

2. Kebinasaannya dibenarkan oleh kejinya kejahatan yang diper-

buatnya. 

(1) Zedekia sangat tidak tahu berterima kasih kepada orang 

yang telah berbuat baik kepadanya, yang mengangkatnya 

menjadi raja, dan bersusah-susah untuk melindunginya, 

mengangkatnya menjadi raja saat mudah saja bagi dia un-

tuk menjadikannya tawanan. Perhatikanlah, kita berdosa 

terhadap Allah saat kita berbuat jahat terhadap sahabat-

sahabat kita dan mengangkat tumit kita terhadap orang-

orang yang telah menolong kita untuk bangkit.  

(2) Zedekia berlaku sangat serong terhadap orang yang mem-

buat perjanjian dengannya. Hal ini sangat dipertegas: Ia 

memandang ringan sumpah itu. Saat hati nuraninya atau 

teman-temannya mengingatkannya akan hal itu, ia mener-

tawakannya, dan membulatkan hatinya, lalu mengingkari-

nya (ay. 15-16, 18-19). Ia mengingkari sumpah itu, dan me-

rasa bangga sebab  bisa meremehkannya, seperti yang di-

perbuat penguasa jahat pada zaman kita sendiri, yang sem-

boyannya (kata orang) yaitu , Pemimpin tidak boleh menjadi 

hamba perkataannya lagi kecuali untuk kepentingannya 

sendiri. Kedurhakaan Zedekia menjadi semakin besar sebab  

sumpah yang diikatnya dengan raja Babel yaitu ,  

[1] Sumpah yang khidmat. Penekanan diberikan pada hal 

ini (ay. 18): Ia menyungguhkan hal itu dengan berjabat 

tangan, untuk menjadi sekutu dengan raja Babel, bu-

kan hanya sebagai hambanya, namun  sebagai temannya. 

Penjabatan tangan itu yaitu  tanda penjabatan hati.  

[2] Sebagai sumpah kudus. Allah berkata (ay. 19): Sumpah-

nya kepada-Ku, yang dipandangnya ringan dan perjanji-

annya di hadapan-Ku, yang diingkarinya. Dalam setiap 

sumpah yang khidmat, Allah dimohon menjadi saksi 

ketulusan orang yang bersumpah, dan Allah diminta 

menjadi hakim dan pembalas pengkhianatannya, jika ia 

bersumpah palsu waktu mengucapkannya, atau kapan 

pun sesudah  waktu itu, mengingkari sumpahnya. Na-

mun, sumpah setia kepada seorang pemimpin secara 

khusus disebut sebagai sumpah kepada Allah (Pkh. 

8:2), seolah-olah sumpah itu mengandung sesuatu yang 

lebih sakral dibandingkan sumpah yang lain. Sebab, 

pemimpin yaitu  hamba Allah untuk kebaikanmu (Rm. 

13:4). Nah, pelanggaran Zedekia terhadap sumpah dan 

perjanjian inilah yang menjadi dosa yang dibalas Allah, 

yang akan ditimpakan Allah atas kepalanya (ay. 19), 

sebab  ia berobah setia terhadap Allah. Untuk itu, Allah 

Kitab Yehezkiel 17:1-21 

akan berperkara dengan dia (ay. 20). Ingatlah, sumpah 

palsu yaitu  dosa yang keji dan sangat memicu kema-

rahan Allah semesta langit. Tidak bisa dipakai sebagai 

alasan, Pertama, bahwa sebab  orang yang bersumpah 

ini yaitu  seorang raja, seorang raja dari kaum keturun-

an Daud, maka kebebasan dan kebesarannya pastilah 

menempatkannya di atas keharusan sumpah. Tidak. 

Sekalipun raja-raja seperti para dewa bagi kita, mereka 

hanyalah manusia di hadapan Allah, dan tidak dibebas-

kan dari hukum dan penghakiman-Nya. Pemimpin 

sama terikatnya di hadapan Allah dengan bangsanya 

melalui sumpah penobatannya seperti bangsa terikat 

pada pemimpinnya melalui sumpah setianya. Kedua, 

bukan alasan pula bahwa sumpah ini disumpahkan 

kepada raja Babel, seorang raja kafir, yang lebih buruk 

daripada seorang bidat, sehingga ada yang berkata, 

Tidak ada kepercayaan yang perlu dijaga. Tidak. Meski-

pun Nebukadnezar menyembah allah-allah palsu, na-

mun Allah yang benar akan berperkara dalam perseli-

sihan ini, saat  seorang penyembah-Nya mengingkari 

perjanjian dengannya. Sebab kebenaran yaitu  utang 

yang harus dibayar kepada semua orang. Dan, jika para 

pemeluk agama yang benar berlaku khianat terhadap 

para pemeluk agama palsu, maka pengakuan iman me-

reka tidak akan membebaskan mereka, apalagi mem-

benarkan tindakan mereka itu, malahan justru akan 

memperberat dosa mereka, dan Allah akan lebih pasti 

dan lebih berat lagi menghukum mereka, sebab, oleh 

sebab  kejahatan itu, mereka memberi kesempatan 

kepada musuh Allah untuk menghujat. Contohnya pe-

mimpin Muslim itu, yang saat  orang Kristen melang-

gar perjanjian dengannya, berseru, Oh Yesus! Beginikah 

orang Kristen-Mu? Ketiga, Tidak pula ia akan dibenar-

kan dengan alasan sumpah itu dipaksakan kepadanya 

oleh seorang penjajah, sebab perjanjian itu dibuat di 

atas pertimbangan yang menguntungkan. Ia menggan-

tungkan hidupnya dan mahkotanya di atas persyaratan 

ini, bahwa ia akan setia dan menunjukkan pengabdian 

sejati kepada raja Babel. Maka, jika ia menikmati ke-

untungan dari tawaran ini, sangatlah tidak adil jika ia 

tidak mematuhi persyaratannya. Oleh sebab  itu, biar-

lah ia mengetahui bahwa, dengan memandang ringan 

kepada sumpah, dan mengingkari perjanjian, ia tidak 

dapat luput. Dan, jika penghinaan dan pelanggaran 

terhadap sumpah semacam ini, perjanjian semacam ini, 

akan dihukum sedemikian, betapa lebih beratnya hu-

kuman yang dianggap layak untuk orang-orang yang 

melanggar perjanjian dengan Allah (mereka menyung-

guhkan hal itu dengan berjabat tangan bahwa mereka 

akan setia), yang menginjak-injak darah perjanjian itu 

seperti hal yang najis. Kedua perjanjian ini tidak dapat 

dibandingkan. 

3. Kebinasaannya dirancang khusus dalam berbagai keadaan, 

dengan hukuman yang disesuaikan dengan dosanya. 

(1) Ia memberontak terhadap raja Babel, maka raja Babel akan 

menjadi penakluk yang menghabisinya. Di tempat raja itu 

berdiam, yaitu raja yang perjanjiannya ia ingkari, ya dengan 

raja itu, ia pasti mati di Babel (ay. 16). Ia berpikir dapat 

lolos dari tangannya, namun  ia akan jatuh, lebih dari sebe-

lumnya, ke dalam tangan raja itu. Allah sendiri kini akan 

berpihak dengan raja Babel itu untuk melawannya: Aku 

akan memasang jaring-Ku untuk menangkap dia (ay. 20). 

Allah memiliki jaring untuk orang-orang yang berlaku khia-

nat dan mengira dapat lolos dari penghakiman-Nya yang 

benar, jaring yang akan menangkap mereka dan mengikat 

mereka yang tidak mau diikat oleh ikatan sumpah dan 

kovenan. Zedekia sangat ngeri akan Babel: “Ke sana Aku 

akan membawanya,” Allah berkata, “dan di sana Aku akan 

berperkara dengan dia.” Manusia sudah sepantasnya di-

paksa masuk dalam kengerian yang berusaha mereka 

hindari dengan berbuat dosa.  

(2) Ia bersandar pada raja Mesir, dan raja Mesir akan menjadi 

penolong yang tidak berguna baginya: Firaun tidak akan 

membantu dia dalam peperangan dengan tentara yang 

besar (ay. 17). Firaun tidak akan memberi pertolongan apa-

apa, atau membantu menghentikan pasukan Kasdim. Ia 

tidak akan menolong Zedekia dalam pengepungan dengan

Kitab Yehezkiel 17:22-24 

menimbun tembok pengepungan dan mendirikan benteng 

pengepungan, maupun dalam pertempuran dengan mele-

nyapkan banyak orang. Perhatikanlah, setiap ciptaan ber-

guna bagi kita sesuai dengan yang Allah ciptakan baginya. 

Dan Allah sering kali melemahkan dan melayukan tangan 

manusia yang kita percaya dan yang kepadanya kita 

menyandarkan diri kita. Di sini, tergenapilah lagi apa yang 

dikatakan di peristiwa serupa yang terjadi sebelum ini (Yes. 

30:7), Mesir yang memberi pertolongan yang tak berguna. 

Mesir memang tidak berguna. Sebab meskipun saat  ten-

tara Mesir mendekat, orang Kasdim menarik diri dari penge-

pungan Yerusalem, namun sesudah  tentara Mesir mundur, 

orang Kasdim pun kembali dan merebutnya. Tampaknya, 

orang Mesir tidak sepenuh hati, kekuatan mereka cukup, 

namun  tidak ada niat baik untuk menolong Zedekia. Perhati-

kanlah, orang yang berlaku khianat terhadap orang yang 

menaruh percaya padanya dengan adil pula akan dikhia-

nati oleh orang yang mereka percayai. Namun, orang Mesir 

bukanlah satu-satunya andalan Zedekia. Zedekia memiliki 

tentara sendiri yang berdiri di pihaknya. Meskipun demi-

kian, tentara itu, sekalipun kita pikir mereka pasti tentara 

berpengalaman dan prajurit terbaik yang mampu dibentuk 

oleh kerajaannya, akan menjadi pelarian, akan meninggal-

kan tempat jaga mereka, dan menyelamatkan diri mereka 

sendiri, dan akan tewas dimakan pedang musuh, sedang-

kan yang terluput akan dihamburkan (ay. 21). Ancaman ini 

digenapi saat  dibelah oranglah tembok kota itu. Melihat 

hal itu maka melarikan dirilah raja dengan semua tentara 

(Yer. 52:7). Melihat hal ini, kamu akan mengetahui bahwa 

Akulah TUHAN, yang mengatakannya. Perhatikanlah, cepat 

atau lambat Firman Allah akan terbukti sendiri. Dan mere-

ka yang tidak mau percaya akan menjadi percaya sebab  

mengalami penggenapan dan akibatnya. 

Janji Belas Kasihan 

(17:22-24) 

22  Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan mengambil sebuah ca-

rang dari puncak pohon aras yang tinggi dan menanamnya; Aku mematah-

kannya dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda dan Aku sendiri 

akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas;   

23  di atas gunung Israel yang tinggi akan Kutanam dia, agar ia bercabang-

cabang dan berbuah dan menjadi pohon aras yang hebat; segala macam 

burung dan yang berbulu bersayap tinggal di bawahnya, mereka bernaung di 

bawah cabang-cabangnya. 24 Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, 

bahwa Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan 

pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan 

membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang 

mengatakannya dan akan membuatnya.” 

saat  keluarga raja Yehuda runtuh dengan dibuangnya Yoyakhin 

dan Zedekia, orang mungkin bertanya-tanya, “Apa jadinya sekarang 

dengan perjanjian kerajaan yang dibuat dengan Daud, bahwa anak-

anaknya selama-lamanya akan duduk di atas takhtanya? Apakah 

kasih setia yang teguh yang dijanjikan kepada Daud dengan demikian 

terbukti tidak teguh?” Terhadap pertanyaan ini, cukuplah kita mem-

bungkam para pendebat dengan menjawab bahwa janji itu bersyarat. 

Jika mereka berpegang pada perjanjian-Ku, mereka akan terus meme-

rintah (Mzm. 132:12). Namun, anak cucu Daud melanggar syarat itu, 

sehingga mereka pun kehilangan janji itu. namun  , ketidak-

percayaan manusia tidak akan membatalkan janji Allah. Dia akan 

mencari keturunan Daud yang lain yang di dalamnya janji itu akan 

digenapi. Dan hal itulah yang dijanjikan di dalam ayat-ayat di atas. 

I. Keluarga Daud akan dibuat menjadi besar lagi, dan dari dalam 

debunya seorang hebat yang lain akan bangkit. Kiasan sebatang 

pohon yang digunakan dalam ancaman itu, di sini diutarakan lagi 

dalam janji ini (ay. 22-23). Janji ini digenapi sebagian saat  

Zerubabel, salah satu keturunan Daud, diangkat untuk menge-

palai orang Yahudi dalam kembalinya mereka dari pembuangan, 

dan untuk membangun kembali kota itu dan Bait Suci, serta 

menegakkan kembali jemaat dan negeri mereka. namun  , janji 

ini akan digenapi sepenuhnya dalam kerajaan Mesias, sang tunas 

dari tanah kering, yang kepadanya Allah, sesuai dengan janji-Nya, 

mengaruniakan takhta Daud, bapa leluhur-Nya (Luk. 1:32).  

1. Allah sendiri mengambil tindakan untuk menghidupkan dan 

memulihkan kembali keluarga Daud. Nebukadnezar, burung 

rajawali besar itu, telah mencoba menegakkan kembali keluar-

ga Daud dalam ketergantungan kepadanya (ay. 5). Namun, 

usaha itu gagal. Tanamannya layu dan dicabut. “Baiklah,” 

Allah berkata, “yang berikut yaitu  tanaman-Ku: Aku sendiri 

Kitab Yehezkiel 17:22-24 

akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang 

tinggi dan menanamnya.” Perhatikanlah, seperti manusia me-

miliki rancangan mereka, Allah juga memiliki rancangan-Nya. 

Namun, rancangan Allah akan berhasil saat  rancangan ma-

nusia gagal. Nebukadnezar berbangga diri sebab  dapat men-

dirikan kerajaan-kerajaan sekehendak hatinya (Dan. 5:19). 

Namun, kerajaan-kerajaan itu segera saja berakhir, sedangkan 

Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang 

tidak akan binasa sampai selama-lamanya (Dan. 2:44).  

2. Keluarga Daud dibangkitkan kembali dalam pucuk yang paling 

ujung dan yang masih muda. Zerubabel menggenapi perkataan 

ini, namun  yang memberi pengharapan dalam dirinya hanyalah 

hari peristiwa-peristiwa yang kecil (Za. 4:10), namun di depan-

nya gunung yang besar menjadi tanah rata. Tuhan kita Yesus 

yaitu  carang dari puncak pohon aras yang tinggi, yang ter-

jauh dari akar itu (sebab  segera sesudah  kemunculannya, 

keluarga Daud semua dilenyapkan dan dimusnahkan), namun  

yang terdekat ke sorga dibanding semuanya, sebab  kerajaan-

Nya bukan berasal dari dunia ini. Dia diambil dari pucuk yang 

paling ujung dan yang masih muda, sebab  Dialah sang manu-

sia, ranting, taruk, dan tunas dari tanah kering (Yes. 53:2), 

namun  Dia juga tunas keadilan, tanaman Tuhan, untuk memper-

lihatkan keagungan-Nya. 

3. Carang ini ditanam di atas sebuah gunung yang menjulang 

tinggi (ay. 22), di atas gunung Israel yang tinggi (ay. 23). Ke 

sanalah Allah membawa Zerubabel dalam kemenangan. Di 

sanalah Dia membangkitkan Putra-Nya, Yesus, mengutus-Nya 

untuk mengumpulkan domba-domba yang hilang dari umat 

Israel yang bercerai-berai di gunung-gunung, menetapkan-Nya 

menjadi Raja-Nya di atas gunung-Nya yang kudus Sion, me-

ngirim Injil dari Gunung Sion, firman TUHAN dari Yerusalem. Di 

sana, di ketinggian Israel (KJV), bangsa yang dipandang negeri 

sekitarnya sebab  mencolok dan termasyhur, jemaat Kristen 

pertama ditanam. Jemaat Yudealah jemaat yang paling tua. 

Orang Yahudi yang tidak percaya berbuat segala sesuatu 

untuk mencegah ditanamnya jemaat itu di sana. Namun, siapa 

yang dapat mencabut apa yang Allah tanam? 

4. Dari sana, jemaat itu menyebar sampai jauh dan meluas. 

Negeri Yahudi, meskipun dimulai dengan sangat sederhana di 

zaman Zerubabel, ditempatkan sebagai tunas muda, yang da-

pat dicabut dengan mudah, namun  pohon itu berakar, menye-

bar luar biasa, dan sesudah  beberapa waktu menjadi sangat 

besar. Bangsa-bangsa lain, segala macam burung dan yang 

berbulu bersayap, menempatkan dirinya di bawah naungan 

pohon itu. Jemaat Kristen pada mulanya seperti biji sesawi, 

namun  seperti tunas muda ini, menjadi pohon yang besar, 

permulaannya kecil, namun  akhirnya bertumbuh secara menga-

gumkan. saat  bangsa-bangsa bukan Yahudi masuk ke da-

lam jemaat, begitulah segala macam burung dan yang berbulu 

bersayap (bahkan burung pemangsa, yang memangsa segala 

burung itu, seperti serigala dan domba makan bersama, Yes. 

11:6) datang dan bernaung di bawah cabang-cabangnya (Dan. 

4:21). 

II. Allah sendiri yang akan dipermuliakan dengan semuanya ini (ay. 

24). Penegakan kerajaan Mesias di dunia akan mengungkapkan 

dengan jelas, lebih dari sebelumnya, kepada anak-anak manusia 

bahwa Allah yaitu  Raja seluruh bumi (Mzm. 47:8). Belum pernah 

kebenaran ini diteguhkan dan diyakinkan sepenuh-penuhnya ke-

pada manusia melalui peninggian Kristus dan penegakan keraja-

an-Nya di antara manusia, bahwa segala sesuatu diatur oleh Sang 

Pemelihara yang kebijaksanaan dan kebesaran-Nya tidak ter-

batas. Sebab, dengan demikian, tampaklah bahwa Allah meme-

gang semua hati dalam tangan-Nya, dan berdaulat atas segala 

perkara. Segala pohon di ladang akan mengetahui,  

1. Bahwa pohon yang akan direndahkan dan dibuat layu kering 

oleh Allah, pasti akan menjadi demikian, walaupun tadinya 

begitu tinggi dan megah, begitu hijau dan berkembang. Tidak 

ada kehormatan ataupun kekayaan, keberhasilan lahiriah 

ataupun kecakapan-kecapakan batiniah, bisa meluputkan ma-

nusia dari tindakan penyelenggaraan-Nya yang merendahkan 

dan membuat layu kering.  

2. Bahwa pohon yang akan ditinggikan, dan dibuat berkembang 

oleh Allah, pasti akan menjadi demikian, pasti akan terbukti 

demikian, meskipun tadinya begitu rendah, dan begitu kering. 

Keluarga Nebukadnezar, yang sekarang sangat besar bangun-

nya, akan dipunahkan, dan keluarga Daud, yang sekarang sa-

ngat hina keadaannya, akan dibuat terkenal lagi. Dan bangsa 

Kitab Yehezkiel 17:22-24 

Yahudi, yang sekarang direndahkan, akan diperhitungkan. 

Kerajaan Iblis, yang sudah ada sejak dahulu, begitu besar dan 

berkuasa, akan dihancurkan, dan kerajaan Kristus, yang di-

pandang dengan rasa hina, akan ditegakkan. Orang Yahudi, 

yang tadinya, dalam hal kepemilikan hak-hak istimewa seba-

gai jemaat, yaitu  pohon yang tinggi dan hijau, akan dilem-

parkan keluar, sedangkan bangsa-bangsa lain, yang tadinya 

pohon yang rendah dan kering, akan dibawa masuk menggan-

tikan mereka (Yes. 54:1). Semua musuh Kristus akan diren-

dahkan dan dijadikan tumpuan kaki-Nya, dan semua kepen-

tingan-Nya akan diteguhkan dan dimajukan: Aku, TUHAN, 

yang mengatakannya (inilah titah itu, titah yang telah ditetap-

kan, bahwa Kristus harus ditinggikan, harus menjadi batu 

utama dan batu penjuru), dan Aku akan membuatnya, yaitu, 

Aku akan melakukannya pada waktunya, dan itu sangatlah 

pasti seperti sudah terjadi. Bagi manusia, berbicara dan ber-

buat yaitu  dua hal yang berbeda, namun  tidak demikian bagi 

Allah. Apa yang telah dikatakan-Nya, kita boleh yakin, pasti 

dilakukan-Nya, tidak ada satu iota atau satu titik pun dari 

firman-Nya yang gugur, sebab  Dia bukanlah manusia, sehing-

ga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal 

baik sebab  ancaman-ancaman-Nya maupun sebab  janji-

janji-Nya. 

 

 

 

PASAL 18  

ungkin, sewaktu membaca beberapa pasal sebelumnya, kita 

tergoda untuk berpikir bahwa kita tidak begitu berkepentingan 

dalam apa yang dibicarakan di dalamnya (meskipun pasal-pasal itu 

juga ditulis bagi pembelajaran kita). namun  pasal ini, pada pandangan 

pertama, tampak sangat dekat menyangkut kepentingan kita semua, 

sungguh sangat dekat. Sebab, tanpa merujuk pada Yehuda dan Yeru-

salem secara khusus, pasal ini membeberkan aturan penghakiman 

yang menurutnya Allah akan memperlakukan anak-anak manusia 

dalam menentukan kehidupan kekal mereka. Dan aturan itu sejalan 

dengan aturan yang sejak dari dulu sudah ditetapkan (Kej. 4:7), 

yakni, “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat 

baik?” namun , “jika tidak, dosa,” hukuman terhadap dosa, “sudah 

mengintip di depan pintu.” Di sini ada,  

I. Kata-kata sindiran bejat yang diucapkan oleh orang-orang 

Yahudi yang duniawi, yang mengakibatkan pesan ini dikirim-

kan kepada mereka. Dan perbuatan mereka ini mengharus-

kan perlunya Allah bertindak terhadap mereka (ay. 1-3).  

II. Jawaban yang menanggapi kata-kata sindiran mereka ini, 

yang di dalamnya Allah menegaskan secara umum kedaulatan 

dan keadilan-Nya (ay. 4). Celakalah orang fasik, mereka akan 

bernasib buruk (ay. 4, 20). namun  katakanlah kepada orang-

orang benar, mereka akan bernasib baik (ay. 5-9). Secara khu-

sus, mengenai masalah yang diadukan, Ia meyakinkan kita,  

1. Bahwa orang fasik akan bernasib buruk, meskipun ia 

memiliki  ayah yang baik (ay. 10-13).  

2.  Bahwa orang baik akan bernasib baik, meskipun ia mem-

punyai ayah yang fasik (ay. 14-18). Dan sebab  itu, dalam 

hal ini Allah bertindak benar (ay. 19-20).  

3. Bahwa orang-orang yang bertobat akan bernasib baik, 

meskipun mereka memulai dengan begitu buruk (ay. 21-

23, 27-28).  

4.  Bahwa orang-orang yang murtad akan bernasib buruk, 

meskipun mereka memulai dengan begitu baik (ay. 24, 

26). Dan tujuan dari semuanya ini yaitu ,  

(1) Untuk membenarkan Allah dan menjelaskan keadilan 

dari semua tindakan-Nya (ay. 25, 29).  

(2) Untuk mengajak dan mendorong kita supaya  bertobat 

dari dosa-dosa kita dan berbalik kepada Allah (ay. 30-

32). Dan inilah hal-hal yang diperlukan untuk damai 

sejahtera kita yang kekal. Oh, semoga saja kita mema-

hami dan memperhatikannya sebelum hal-hal itu di-

sembunyikan dari mata kita! 

Sindiran tentang Buah Mentah;  

Jawaban terhadap Sindiran itu;  

Penghakiman-penghakiman Ilahi Dibenarkan  

(18:1-9) 

1 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Ada apa dengan kamu, sehing-

ga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan 

buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? 3 Demi Aku yang hidup, 

demikianlah firman Tuhan ALLAH, kamu tidak akan mengucapkan kata 

sindiran ini lagi di Israel. 4 Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah 

maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus 

mati. 5 Kalau seseorang yaitu  orang benar dan ia melakukan keadilan dan 

kebenaran, 6 dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau 

tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri 

sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, 7 tidak 

menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-

apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang,  

8 tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari 

kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan 

manusia, 9 hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku 

dengan berlaku setia – ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah 

firman Tuhan ALLAH. 

Kita berkata bahwa perilaku-perilaku yang jahat melahirkan hukum-

hukum yang baik. Dan dengan cara serupa terkadang sindiran-sin-

diran yang tidak adil memunculkan pembelaan-pembelaan yang adil. 

Di sini sindiran-sindiran yang jahat melahirkan nubuat-nubuat yang 

baik. Inilah,  

Kitab Yehezkiel 18:1-9  

I. Sebuah sindiran yang jahat yang biasa diucapkan orang-orang 

Yahudi dalam pembuangan mereka. Kita sudah mendapati satu 

sindiran sebelumnya (12:22) dan jawaban terhadapnya. Di sini 

kita mendapati sindiran lain. Sindiran sebelumnya menantang 

keadilan Allah: “Sudah lama berselang, namun  satu penglihatan pun 

tak jadi. Ancaman-ancaman dianggap mereka hanyalah sebuah 

gurauan.” Sindirian di sini, dalam pasal ini, menuduh Allah ber-

buat tidak adil, seolah-olah penghakiman-penghakiman yang dija-

lankan-Nya tidak benar: “Kamu mengucapkan kata sindiran ten-

tang tanah Israel, sebab  sekarang tanah itu sudah porak-poran-

da oleh penghakiman-penghakiman Allah, dengan berkata, ayah-

ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu. 

Kata kalian, kami dihukum sebab  dosa-dosa nenek moyang 

kami, dan sungguh tidak masuk akal cara kerja ilahi ini, seolah-

olah gigi anak-anak merasa ngilu, atau merasa asam, sebab  ayah 

mereka memakan buah mentah. Padahal, biasanya yang seharus-

nya terjadi yaitu , jika orang salah makan atau minum, mereka 

sendirilah yang kena akibatnya, bukan orang lain.” Nah,  

1. Harus diakui bahwa ada suatu alasan mengapa sindiran ini 

diucapkan oleh orang-orang buangan itu. Allah sudah sering 

kali berkata bahwa Ia akan membalaskan kesalahan bapa ke-

pada anak-anaknya, terutama dosa penyembahan berhala. 

Dengan berkata begitu Ia bermaksud mengungkapkan keja-

hatan dari dosa, dari dosa itu, kebencian-Nya terhadapnya, 

kemarahan-Nya yang wajar terhadapnya, dan hukuman-hu-

kuman berat yang akan didatangkan-Nya atas para penyem-

bah berhala. Hal itu dimaksudkan supaya  orangtua bisa dike-

kang untuk tidak berbuat dosa oleh sebab  kasih sayang 

mereka terhadap anak-anak mereka, dan anak-anak tidak ter-

dorong untuk berbuat dosa oleh sebab  penghormatan mereka 

terhadap orangtua mereka. Allah juga sudah sering kali me-

nyatakan melalui nabi-nabi-Nya bahwa dalam mendatangkan 

kehancuran ke atas Yehuda dan Yerusalem sekarang ini, 

mata-Nya tertuju pada dosa-dosa Manasye dan raja-raja lain 

sebelumnya. Sebab, dengan melihat bangsa itu sebagai satu 

tubuh, mereka dihukum dengan hukuman-hukuman yang 

menimpa seluruh bangsa atas dosa-dosa seluruh bangsa. Dan 

dengan mengakui pepatah dalam hukum kita bahwa badan 

hukum tidak pernah mati, mereka dimintai perhitungan seka-

rang atas kejahatan-kejahatan di masa-masa lalu. Tindakan 

ini hanya seperti membuat seseorang, saat  sudah tua, dihu-

kum sebab  kesalahan pada masa mudanya (Ayb. 13:26). Dan 

tidak ada kelaliman pada Allah dalam melakukan hal-hal 

demikian. namun  ,  

2. Orang-orang buangan itu mencela Allah atas semua tindakan-

Nya itu, dan mempertanyakan keadilan-Nya dalam memper-

lakukan mereka. Apa yang tersirat sejauh ini dalam sindiran 

ini yaitu  benar, bahwa orang-orang yang sengaja berbuat 

bersalah, dialah yang makan buah mentah. Mereka berbuat se-

suatu dan akan merasakan akibat dari perbuatan mereka itu, 

cepat atau lambat. Buah mentah itu mungkin terlihat meng-

giurkan sewaktu mereka digoda, namun  akan terasa pahit sepa-

hit-pahitnya sewaktu mereka merenungkannya. Buah itu akan 

membuat gigi si pendosa menjadi ngilu. saat  hati nurani ter-

sadar, dan menempatkan dosa di hadapan mereka, hal itu 

akan merusak kenikmatan dari kesenangan-kesenangan mere-

ka, seperti kalau gigi mereka menjadi ngilu. namun  mereka 

menganggap tidak masuk akal kalau anak-anak harus men-

derita sebab  kebodohan ayah mereka, dan merasakan kesa-

kitan dari sesuatu yang kenikmatannya tidak pernah mereka 

rasakan. Mereka menyindir Allah bertindak tidak benar dalam 

mengadakan pembalasan seperti itu dan tidak dapat membuk-

tikan diri benar dalam melakukan hal itu. Lihatlah betapa 

fasiknya sindiran itu, betapa kurang ajarnya kelancangan itu. 

namun , lihatlah betapa cerdiknya sindiran itu, dan betapa 

liciknya perbandingan yang dipakai. Banyak orang yang tidak 

saleh dalam cemoohan-cemoohan mereka, cerdik dalam gu-

rauan-gurauan mereka. Dan dengan demikian kebencian nera-

ka terhadap Allah dan agama disindirkan dan disebarluaskan. 

Celaan itu di sini dijadikan sindiran, dan sindiran itu diucap-

kan, menjadi umum dipakai orang. Orang terkadang memakai-

nya bila ada kesempatan. Dan, meskipun sindiran itu jelas-

jelas memiliki  makna yang menghujat, namun mereka 

melindungi diri dengan perumpamaan yang dipakai itu. Nah, 

dengan ini tampak bahwa mereka tidak merendah di bawah 

hajaran tongkat, sebab, bukannya menyalahi diri sendiri dan 

membenarkan Allah, mereka malah menyalahi Allah dan mem-

Kitab Yehezkiel 18:1-9 

benarkan diri sendiri. namun  celakalah orang yang berbantah 

dengan Pembentuknya seperti itu.  

II.  Teguran dan jawaban yang adil terhadap kata-kata sindiran ini: 

Apa maksudmu dengan menggunakannya? Itulah tegurannya. 

“Apakah dengan ini kamu berniat mencobai Allah? Tidak terpikir-

kah olehmu bahwa dengan ini kamu akan menyulut-Nya untuk 

murka kepada kamu sampai kamu habis binasa? Beginikah cara-

nya kamu kembali kepada-Nya dan berdamai dengan Dia?” Ja-

wabannya diberikan selanjutnya, dan di dalamnya Allah memberi 

tahu mereka, 

1.  Bahwa ucapan kata-kata sindiran itu akan ditiadakan. Hal ini 

dikatakan, dikatakan dengan sumpah (ay. 3): Kamu tidak akan 

mengucapkan kata sindiran ini lagi. Atau (seperti yang dapat 

dibaca), kamu tidak akan bisa menggunakan kata sindiran ini 

lagi. Dihapuskannya kata sindiran ini dijadikan sebagai janji 

dalam Yeremia 31:29. Dalam pasal ini penghapusan dibuat 

dalam bentuk ancaman. Dalam kitab Yeremia, dihapuskannya 

kata sindiran ini menyiratkan bahwa Allah akan kembali ke-

pada mereka di jalan belas kasihan. namun  dalam pasal ini hal 

itu menyiratkan bahwa Allah akan bertindak terhadap mereka 

dengan menjatuhkan penghukuman. Ia akan menghukum 

mereka dengan begitu rupa sebab  sindiran yang kurang ajar 

ini, sehingga mereka tidak akan berani mengucapkannya lagi. 

Contohnya misalnya dalam Yeremia 23:34, 36. Allah akan me-

nemukan cara-cara yang mujarab untuk membungkam orang-

orang yang suka mempermasalahkan hal-hal kecil itu. Atau 

Allah akan menyingkapkan kepada mereka sendiri maupun 

kepada orang lain bahwa mereka sendiri sudah cukup berbuat 

fasik sampai mendatangkan semua penghakiman yang meng-

hancurkan ini atas diri mereka sendiri. Dengan begitu mereka, 

sebab  malu, tidak lagi mempersalahkan dosa-dosa nenek 

moyang mereka atas tindakan Allah terhadap mereka itu: “Hati 

nuranimu sendiri akan memberi tahu kamu, dan sesamamu 

akan meneguhkannya, bahwa kamu sendiri sudah makan 

buah mentah yang sama yang dimakan oleh bapa leluhurmu 

sebelum kamu, sebab kalau tidak demikian gigimu tidak akan 

menjadi ngilu.” 

2. Bahwa sungguh kata sindiran itu sendiri tidak adil dan meru-

pakan celaan yang tak berdasar terhadap pemerintahan Allah. 

Sebab, 

(1) Allah tidak menghukum anak-anak sebab  dosa-dosa ne-

nek moyang, kecuali mereka mengikuti jejak nenek moyang 

mereka dan memenuhi takaran kedurhakaan mereka (Mat. 

23:32). Lagi pula, mereka tidak memiliki  alasan untuk 

mengeluh, sebab, apa pun yang mereka derita, itu kurang 

dari apa yang pantas didapatkan sebab  dosa mereka 

sendiri. Dan, saat  Allah berbicara tentang membalaskan 

kesalahan bapa kepada anak-anaknya, itu sama sekali 

tidak berarti bahwa Ia bermaksud menyusahkan anak-

anak. Kepada mereka Ia hanya membalas menurut perbuat-

an mereka. Justru itu mengambarkan kesabaran Allah 

terhadap orangtua, yang sebab  itu tidak dihukum-Nya 

dengan segera, sebab  bencana untuk mereka disimpan-Nya 

bagi anak-anak mereka (Ayb. 21:19). 

(2) Hanya dalam malapetaka-malapetaka duniawilah anak-

anak (dan terkadang mereka yang tidak berdosa) bernasib 

lebih buruk sebab  kefasikan orangtua mereka. namun  

Allah dapat mengubah sifat dari malapetaka-malapetaka 

itu, dan membuatnya bekerja demi kebaikan orang-orang 

yang ditimpa olehnya. namun  berkenaan dengan keseng-

saraan rohani dan kekal (dan itulah kematian yang di-

bicarakan di sini) anak-anak sama sekali tidak akan men-

derita sebab  dosa-dosa orangtua. Hal ini ditunjukkan di 

sini secara panjang lebar. Dan sungguh tindakan rendah 

hati yang menakjubkan bahwa Allah yang maha besar 

berkenan berbantah dengan orang-orang yang begitu fasik 

dan tak berpikir waras seperti itu. Ia tidak langsung meng-

hajar mereka sehingga mereka bisu atau mati sesaat  itu 

juga, namun  bersedia menjelaskan perkaranya di hadapan 

mereka, supaya  Ia bersih saat  dinilai. Nah, dalam jawab-

an-Nya, 

[1] Ia menegaskan dan mempertahankan kedaulatan-Nya 

sendiri yang mutlak dan tak tertandingi: Sungguh, se-

mua jiwa Aku punya! (ay. 4). Allah di sini menegaskan 

bahwa Ia memiliki semua jiwa anak-anak manusia, baik 

Kitab Yehezkiel 18:1-9 

yang satu maupun yang lain. Pertama, jiwa-jiwa yaitu  

kepunyaan-Nya. Dia yang yaitu  Pencipta segala sesua-

tu secara khusus yaitu  Bapa segala roh, sebab gam-

bar-Nya dicetakkan pada jiwa-jiwa manusia. Demikian-

lah di dalam penciptaan mereka, dan demikian pulalah 

di dalam pembaruan mereka. Ia menciptakan roh dalam 

diri manusia, dan sebab  itu disebut Allah dari roh 

segala makhluk, dari roh-roh yang bertubuh. Kedua, 

semua jiwa yaitu  kepunyaan-Nya, semuanya dicipta-

kan oleh Dia dan untuk Dia, dan bertanggung jawab 

kepada-Nya. Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku pu-

nya. Orangtua duniawi kita hanyalah ayah dari daging 

kita. Jiwa kita bukan kepunyaan mereka. Allah menan-

tang orang-orang buangan itu. Nah, itulah sebabnya 

dikatakan selanjutnya, untuk menjelaskan perkara ini,  

1. Bahwa Allah pasti boleh melakukan apa yang dike-

hendaki-Nya baik terhadap ayah maupun anak, dan 

tak seorang pun dapat berkata kepada-Nya, Apa 

yang Kaulakukan? Dia yang membuat kita ada tidak 

berbuat salah kepada kita jika Ia mengambil keber-

adaan kita lagi, apalagi jika Ia hanya mengambil 

sebagian dari penyokong dan penghiburan keberada-

an kita. Sungguh janggal berbantah dengan Dia, ini 

sama saja seperti yang dibentuk berkata kepada 

yang membentuknya, Mengapakah…?  

2. Bahwa Allah pasti memiliki  kehendak baik terha-

dap ayah maupun anak, dan tidak akan menyusah-

kan keduanya. Kita yakin bahwa Allah tidak memben-

ci apa pun yang sudah dijadikan-Nya, dan sebab  itu 

(berbicara tentang orang dewasa, yang mampu bertin-

dak bagi diri mereka sendiri) Ia memiliki kebaikan 

yang begitu rupa terhadap semua jiwa sehingga tak 

satu pun yang akan mati kecuali sebab  kesalahan 

mereka sendiri. Semua jiwa Dia punya, dan sebab  itu 

Ia tidak berat sebelah dalam menghakimi mereka. 

Marilah kita menerima kepentingan-Nya dalam diri 

kita dan pemerintahan-Nya atas diri kita. Ia berkata, 

semua jiwa Aku punya, dan marilah kita menjawab, 

“Tuhan, jiwaku yaitu  kepunyaan-Mu. Aku meng-

abdikannya kepada-Mu untuk dipekerjakan bagi-Mu 

dan dibuat berbahagia di dalam Engkau.” Untuk 

alasan yang baik Allah berkata, “Hai anakku, beri-

kanlah hatimu kepadaku, sebab itu yaitu  milik-Ku 

sendiri,” dan untuk ini kita harus berserah, “Bapa, 

ambillah hatiku, itu yaitu  milik-Mu sendiri.” 

[2] Meskipun Allah bisa saja membenarkan diri-Nya dengan 

menegaskan kedaulatan-Nya, namun Ia tidak berbuat 

demikian. Ia menetapkan aturan penghakiman yang 

adil dan tanpa kecuali, yang dengannya Ia akan bertin-

dak terhadap setiap orang. Dan inilah aturan itu: Per-

tama, pendosa yang bersikeras dalam dosa pasti akan 

mati, kesalahannya akan menjadi kehancurannya: 

Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati, akan 

mati seperti jiwa bisa mati, akan dikucilkan dari per-

kenanan Allah, yang merupakan kehidupan dan keba-

hagiaan jiwa, dan akan terbaring selama-lamanya di 

bawah murka-Nya, yang merupakan kematian dan 

kesengsaraannya. Dosa yaitu  tindakan jiwa, sebab 

tubuh hanya menjadi senjata kelaliman. Dosa disebut 

sebagai dosa jiwa (Mi. 6:7, KJV). Oleh sebab  itu hukum-

an terhadap dosa yaitu  penderitaan dan kesesakan 

jiwa (Rm. 2:9). Kedua, orang benar yang bertekun 

dalam kebenarannya pasti akan hidup. Kalau seseorang 

yaitu  orang benar, memiliki dasar pegangan yang baik, 

roh dan kecenderungan hati yang baik, dan, sebagai 

buktinya, melakukan keadilan dan kebenaran (ay. 5), ia 

pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH (ay. 9). 

Orang yang dalam segala hal mematuhi kehendak Allah 

dengan kesadaran hati nurani, yang menjadikan peker-

jaannya melayani Allah dan menjadikan tujuannya me-

muliakan Allah, tak pelak lagi ia akan berbahagia di 

dunia ini dan untuk selama-lamanya di dalam kasih 

dan perkenanan Allah. Dan, jika  ia tidak dapat me-

menuhi kewajibannya dengan baik, ia akan diampuni, 

melalui Pengantara. Sekarang inilah bagian dari tabiat 

orang benar ini.  

Kitab Yehezkiel 18:1-9 

1. Ia berhati-hati untuk menjaga dirinya agar bersih dari 

kecemaran-kecemaran dosa, dan menjauhkan diri 

dari segala sesuatu yang tampak sebagai kejahatan.  

(1) Dari dosa-dosa terhadap perintah kedua. Dalam 

hal ibadah kepada Allah, ia melakukannya de-

ngan cemburu, sebab ia tahu bahwa Allah itu 

cemburu. Ia bukan saja tidak memberi  per-

sembahan korban di bukit-bukit kepada patung-

patung yang didirikan di sana, namun  juga bah-

kan tidak makan daging persembahan di atas gu-

nung, yaitu, tidak bersekutu sama sekali dengan 

para penyembah berhala dengan makan makan-

an yang dipersembahkan kepada berhala-berhala 

(1Kor. 10:20). Ia bukan saja tidak akan berlutut 

dengan mereka di mezbah-mezbah mereka, namun  

juga tidak akan duduk dengan mereka di meja 

mereka di bukit-bukit mereka. Ia tidak hanya 

membenci berhala-berhala orang kafir, namun  

juga berhala-berhala kaum Israel, yang tidak ha-

nya diperbolehkan, namun  juga pada umumnya 

disanjung dan dipuja oleh orang-orang yang 

mengaku sebagai umat Allah. Ia bukan saja tidak 

menyembah berhala-berhala itu, namun  juga bah-

kan tidak melihat kepada mereka. Ia tidak me-

layangkan pandangan manis terhadap mereka, 

bahkan tidak menganggap mereka sama sekali, 

tidak menginginkan perkenanan mereka atau 

merasa ngeri terhadap kernyit dahi mereka. Ia 

sudah mengamati begitu banyak orang yang ter-

sihir oleh mereka, sehingga ia bahkan tidak bera-

ni melihat kepada mereka, supaya  ia tidak ikut 

terjerat. Mata para penyembah berhala dikatakan 

selalu berzinah (Yeh. 6:9). Lihat Ul. 4:19.  

(2) Dari dosa-dosa terhadap perintah ketujuh. Ia ber-

hati-hati dalam mengambil seorang perempuan 

menjadi istrinya sendiri, dan hidup di dalam pe-

ngudusan dan penghormatan, dan bukan di dalam 

keinginan hawa nafsu sebab  ingin mencemarkan 

diri. Oleh sebab  itu, ia tidak berani mencemari 

isteri sesamanya, tidak pula berkata atau ber-

buat sedikit pun yang cenderung membuatnya 

rusak atau bejat. Ia bahkan tidak akan men-

dekati istrinya sendiri dengan tidak semestinya 

pada waktu cemar kainnya yang menajiskan, 

sebab hal itu dilarang oleh hukum (Im. 18:19; 

20:18). Perhatikanlah, suatu bagian yang penting 

dari hikmat dan keadilan yaitu  untuk menjaga 

keinginan tubuh supaya  selalu tunduk pada akal 

budi dan kebajikan.  

(3) Dari dosa-dosa terhadap perintah kedelapan. Dia 

yaitu  orang yang benar, yang tidak menindas 

orang lain dengan berbuat curang dan memakai 

hukum atau kebenaran sebagai kedok, dan yang 

tidak merampas apa-apa dengan paksaan dan 

senjata, tidak merampas barang-barang atau 

harta milik mereka, apalagi kebebasan dan kehi-

dupan mereka (ay. 7). Penindasan dan kekerasan 

yaitu  dosa-dosa dari dunia lama, yang menda-

tangkan air bah, dan merupakan dosa-dosa yang 

atasnya Allah masih dan akan menjadi pemba-

lasnya. Bahkan, ia yaitu  orang yang tidak me-

minjamkan uangnya dengan memungut bunga, 

atau mengambil riba (ay. 8), meskipun, kalau 

dilakukan berdasar  perjanjian, tampaknya 

itu tidak adil (Volenti non fit injuria – Apa yang 

dilakukan terhadap seseorang atas persetujuan-

nya sendiri bukanlah kejahatan terhadapnya). 

Namun, sejauh itu dilarang oleh hukum Taurat, 

ia tidak berani melakukannya. Bunga yang secu-

kupnya boleh mereka terima dari orang-orang 

asing, namun  tidak dari saudara-saudara mereka 

sendiri. Orang benar tidak akan mengambil ke-

untungan dari kekurangan sesamanya untuk 

memangsa dia, atau memanjakan dirinya dalam 

kenyamanan dan kemalasan untuk hidup di atas 

keringat dan jerih payah orang lain. Oleh sebab 

itu, ia tidak akan mengambil riba dari orang-

orang yang tidak bisa membuat pertambahan 

Kitab Yehezkiel 18:1-9

dari apa yang dia pinjamkan kepada mereka. Ia 

juga tidak akan berlaku ketat dalam menuntut 

apa yang sudah disepakati dari orang-orang 

yang, oleh tindakan Allah sendiri, tidak mampu 

untuk membayarnya. namun  ia bersedia berbagi 

kerugian dan juga keuntungan. Qui sentit commo-

dum, sentire debet et onus – Orang yang menik-

mati keuntungan harus menanggung bebannya.  

2. Ia melakukan apa yang sudah menjadi kewajiban-

kewajibannya dengan kesadaran hati nurani. Ia 

sudah mengembalikan gadaian kepada orang ber-

utang yang miskin, sesuai dengan hukum Taurat 

(Kel. 22:26). “Jika engkau sampai mengambil jubah 

temanmu sebagai gadai, pakaian yang perlu dipakai, 

maka haruslah engkau mengembalikannya kepada 

dia, supaya  ia bisa tidur memakai baju tidurnya sen-

diri.” Bahkan, ia bukan saja sudah mengembalikan 

kepada orang miskin apa yang menjadi milik mereka 

sendiri, namun  juga sudah memberi makan orang 

lapar. Amatilah, makanan itu disebut makanannya 

(KJV), sebab  makanan itu didapat dengan jujur. Apa 

yang diberikan kepada orang lain janganlah apa 

yang  didapat secara tidak adil dari orang yang lain-

nya. Sebab Allah telah berfirman, Aku membenci pe-

rampasan dan kecurangan. Orang-orang duniawi 

bersikeras bahwa makanan mereka yaitu  kepunya-

an mereka sendiri, seperti Nabal, yang sebab  itu 

tidak mau memberi nya kepada Daud (1Sam. 

25:11). namun , biarlah mereka tahu bahwa makanan 

itu bukan milik mereka sendiri, namun  bahwa mereka 

terikat kewajiban untuk berbuat baik kepada orang 

lain dengannya. Pakaian yaitu  barang yang diper-

lukan seperti halnya makanan, dan sebab  itu orang 

benar ini begitu murah hati sehingga memberi pakai-

an kepada orang telanjang (ay. 7). Baju-baju yang 

dijahit Dorkas untuk orang miskin dibuat sebagai 

saksi atas kemurahan hatinya (Kis. 9:39). Orang be-

nar ini sudah menjauhkan diri dari kecurangan (ay. 

8). Jika di suatu waktu, sebab  tidak hati-hati, ia 

terseret ke dalam kesalahan dan lalu menyadarinya, 

maka ia tidak akan berkeras di dalamnya. Sebalik-

nya, ia akan menjauhkan diri dari apa yang sekarang 

disadarinya sebagai kecurangan. Sebab ia melaku-

kan hukum yang benar di antara manusia dengan 

manusia, saat  ada kesempatan baginya untuk me-

lakukannya (sebagai hakim, sebagai saksi, sebagai 

juri, sebagai penengah). Dan dalam semua jual beli, 

ia peduli supaya  keadilan dijalankan, supaya  tak 

seorang pun dijahati, supaya  orang yang sudah 

dijahati harus dibenarkan, dan supaya  setiap orang 

mendapatkan kepunyaannya sendiri. Ia sendiri siap 

maju, dan melakukan perbuatan baik apa saja, un-

tuk mewujudkannya. Inilah tabiatnya terhadap sesa-

manya. namun  tidak cukup bahwa ia adil dan jujur 

terhadap saudaranya. Untuk melengkapi tabiatnya, 

ia harus demikian juga terhadap Allahnya (ay. 9): ia 

hidup menurut ketetapan-Ku, ketetapan-ketetapan 

yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban ibadah-

nya yang harus dia lakukan pada saat itu juga. Ia 

tetap mengikuti ketetapan-ketetapan itu dan semua 

penghakiman-Nya yang lain. Ia menghormati itu 

semua, ia senantiasa peduli dan berusaha untuk 

menuruti dan memenuhinya, untuk berlaku jujur, 

supaya  ia dapat membuktikan dirinya setia terhadap 

kovenannya dengan Allah. Dan, sesudah  mengga-

bungkan dirinya dengan Allah, ia tidak berkhianat 

dan meninggalkan Dia, atau bersungut-sungut terha-

dap-Nya. Inilah orang benar, dan sungguh ia akan 

hidup. Ia pasti akan hidup, akan memiliki hidup dan 

memilikinya dengan lebih berkelimpahan, akan be-

nar-benar hidup, hidup dengan nyaman, hidup sela-

ma-lamanya. Turutilah segala perintah Allah, maka 

engkau akan masuk ke dalam hidup (Mat. 19:17). 

 

Kitab Yehezkiel 18:10-20 


Jalan-jalan Allah Dibenarkan;  

Pembenaran Allah terhadap Diri-Nya Sendiri  

(18:10-20) 

10 namun  kalau ia melahirkan seorang anak yang menjadi perampok, dan 

yang suka menumpahkan darah atau melakukan salah satu dari hal-hal itu 

11 – walaupun ayah tidak melakukan satupun – juga makan daging persem-

bahan di atas gunung dan mencemari isteri sesamanya, 12 menindas orang 

sengsara dan miskin, merampas, tidak mengembalikan gadaian orang, meli-

hat kepada berhala-berhala dan melakukan kekejian, 13 memungut bunga 

uang dan mengambil riba, orang yang demikian tidak akan hidup. Segala 

kekejian ini dilakukannya, ia harus mati; darahnya tertimpa kepadanya 

sendiri. 14 Sesungguhnya, kalau ia melahirkan seorang anak dan anak ini 

melihat segala dosa yang dilakukan ayahnya, namun  menginsafi hal itu, 

sehingga tidak melakukan seperti itu: 15 ia tidak makan daging persembahan 

di atas gunung dan tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak 

mencemari isteri sesamanya, 16 tidak menindas orang lain, tidak mau memin-

ta gadai, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi 

pakaian kepada orang telanjang, 17 menjauhkan diri dari kecurangan, tidak 

mengambil bunga uang atau riba, melakukan peraturan-Ku dan hidup me-

nurut ketetapan-Ku – orang yang demikian tidak akan mati sebab  kesalah-

an ayahnya, ia pasti hidup. 18 Ayahnya, yang melakukan pemerasan, yang 

merampas sesuatu, dan yang melakukan hal-hal yang tidak baik di tengah-

tengah bangsanya, sungguh, ia akan mati sebab  kesalahannya. 19 namun  

kamu berkata: Mengapa anak tidak turut menanggung kesalahan ayahnya? –

sebab  anak itu melakukan keadilan dan kebenaran, melakukan semua 

ketetapan-Ku dengan setia, maka ia pasti hidup. 20 Orang yang berbuat dosa, 

itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya 

dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar 

akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan 

tertanggung atasnya. 

Allah, melalui sang nabi, sudah menetapkan aturan penghakiman 

secara umum, bahwa Ia akan memberi  upah berupa hidup yang 

kekal kepada orang-orang yang dengan tekun berbuat baik, namun  

amarah dan murka kepada orang-orang yang tidak taat kepada 

kebenaran, namun  taat kepada kelaliman (Rm. 2:7-8). Dalam ayat-ayat 

ini Ia menunjukkan bahwa orangtua dan hubungan darah tidak akan 

mengubah aturan di atas dalam hal apa saja.  

I.   Allah banyak menjelaskannya dan secara khusus pada hubungan 

orangtua kepada anak dan anak kepada orangtua. Sama seperti 

dalam garis keturunan raja-raja Yehuda, demikian pula sering 

terjadi dalam keluarga-keluarga biasa, bahwa orangtua yang saleh 

memiliki anak-anak yang fasik dan orangtua yang fasik memiliki 

anak-anak yang saleh. Sekarang di sini Ia menunjukkan, 

1. Bahwa orang fasik pasti akan binasa dalam kesalahannya, mes-

kipun ia anak dari seorang ayah yang saleh. Jika orang benar 

yang digambarkan sebelumnya itu melahirkan seorang anak 

yang tabiatnya bertentangan dengan ayahnya, maka keadaan 

anak itu pasti akan bertentangan juga.  

(1) Kita tahu betul bahwa sudah biasa terjadi, walaupun sa-

ngat menyedihkan, bahwa anak dari ayah yang sangat 

saleh ternyata terkenal sebagai orang yang fasik dan keji, 

kendati dengan segala ajaran yang diberikan kepadanya, 

pendidikan baik yang telah diterimanya, teguran-teguran 

yang diperlukan yang telah diberikan kepadanya, dan ke-

kangan-kekangan yang dikenakan kepadanya, dan sesudah  

semua jerih payah yang dilakukan untuknya, serta doa-doa 

yang dipanjatkan untuknya. Hal ini membuat ayahnya 

sedih, keluarganya malu, dan ia menjadi kutuk dan wabah 

bagi angkatannya. Di sini si anak dianggap membiarkan 

dirinya melakukan semua kejahatan besar yang ditakuti 

dan dihindari dengan hati-hati oleh ayahnya itu. Dan ia 

melepaskan semua kewajiban yang baik yang dijalankan 

ayahnya itu dengan kesadaran hati nurani dan sepenuh 

hati. Ia membatalkan semua yang dilakukan ayahnya, dan 

berlaku bertentangan dengan teladannya dalam segala hal. 

Di sini dia digambarkan sebagai penjahat yang suka 

menghadang di jalan – perampok dan penumpah darah. Dia 

seorang penyembah berhala: Ia makan daging persembahan 

di atas gunung (ay. 11) dan melihat kepada berhala-berhala, 

yang tidak pernah dilakukan oleh ayahnya yang baik. Dan 

ia pada akhirnya sampai melakukan tindakan bukan hanya 

berpesta dengan penyembah-penyembah berhala, namun  

juga mempersembahkan korban dengan mereka, yang di 

sini disebut melakukan kekejian, sebab jalan dosa yaitu  

terjal ke bawah. Dia seorang pezinah, telah mencemari isteri 

sesamanya. Dia seorang penindas yang bahkan menindas 

orang sengsara dan miskin. Ia merampok rumah sakit, dan 

memeras orang-orang yang ia tahu tidak bisa membela diri. 

Ia bangga dan senang menginjak-injak orang yang lemah 

dan memiskinkan orang-orang yang sudah miskin. Ia 

mengambil dari orang-orang yang kepada mereka seharus-

nya ia memberi. Ia merampas dan memaksa secara terang-

terangan. Ia memungut bunga uang, dan dengan demikian 

merusak perjanjian. Dan ia tidak mengembalikan gadaian 

Kitab Yehezkiel 18:10-20 

orang, malah secara tidak adil menahannya, meskipun 

utangnya sudah dibayar. Biarlah orangtua yang baik yang 

memiliki anak-anak fasik tidak memandang bahwa ma-

salah itu hanya menimpa mereka sendiri. Ini sebuah con-

toh perkara, dan melaluinya kita melihat bahwa anugerah 

tidak mengalir di dalam darah, tidak pula selalu disertai 

sarana-sarana anugerah. Perlombaan tidak selalu untuk 

yang cepat, tidak pula pertempuran itu hanya untuk yang 

kuat, sebab seandainya demikian, anak-anak yang dididik 

dengan baik akan berbuat baik. namun  Allah ingin kita tahu 

bahwa anugerah-Nya yaitu  milik-Nya sendiri dan Roh-Nya 

yaitu  Pekerja yang bebas. Dan bahwa meskipun kita ter-

ikat kewajiban untuk memberi  anak-anak kita pendi-

dikan yang baik, namun Allah tidak terikat kewajiban 

untuk memberkatinya. Dalam hal ini, seperti dalam hal-hal 

lain, tampaklah kuasa dosa asal dan perlunya anugerah 

khusus.  

(2) Kita diyakinkan di sini bahwa orang fasik ini akan binasa 

untuk selama-lamanya dalam kesalahannya, sekalipun ia 

anak dari seorang ayah yang baik. Ia bisa saja sejahtera 

untuk sementara waktu di dunia, oleh sebab  kesalehan 

nenek moyangnya. namun  , sebab  sudah melakukan 

semua kekejian ini, dan tidak pernah bertobat darinya, ia 

tidak akan hidup, ia tidak akan berbahagia dalam perke-

nanan Allah. Meskipun ia dapat terluput dari pedang ma-

nusia, ia tidak akan terluput dari kutukan Allah. Ia harus 

mati. Ia akan sengsara untuk selama-lamanya. Darahnya 

tertimpa kepadanya sendiri. Dia sendirilah yang harus di-

persalahkan sebab  itu. Ia menjadi penghancur dirinya 

sendiri. Dan hubungannya dengan ayah yang baik sama 

sekali tidak akan bermanfaat baginya, justru akan mem-

perberat dosanya dan kutukannya. Hubungannya itu mem-

buat dosanya semakin keji, bahkan, benar-benar membuat-

nya semakin busuk dan durjana, dan, sebagai akibatnya, 

akan membuat kesengsaraannya di dunia nanti semakin tak 

tertanggungkan. 

2. Bahwa orang benar pasti akan berbahagia, meskipun ia anak 

dari seorang ayah yang fasik. Meskipun ayahnya makan buah 

mentah, namun jika anak-anaknya tidak ikut-ikutan, mereka 

tidak akan bernasib lebih buruk sebab nya. Di sini,  

(1) Biasanya dianggap benar (dan terpujilah Allah, kadang-

kadang itu merupakan kejadian yang sebenarnya) bahwa 

anak dari seorang ayah yang tidak saleh bisa saja saleh, 

bahwa, dengan mengamati betapa mematikannya kesalah-

an-kesalahan ayahnya, ia menjadi begitu bijak sehingga 

mendapat peringatan, dan tidak mengikuti jejak-jejak pen-

cobaan ayahnya (ay. 14). Biasanya anak-anak ambil bagian 

dalam watak orangtua, dan terdorong untuk meniru contoh 

mereka. namun  di sini sang anak, bukannya melihat segala 

dosa yang dilakukan ayahnya, dan, seperti yang biasa 

terjadi, berbuat hal yang serupa, justru melihat segala dosa 

itu dan ngeri untuk berbuat seperti itu. Orang memang 

tidak memetik buah anggur dari semak duri, namun  kadang-

kadang Allah melakukannya. Ia mengambil ranting dari 

pohon zaitun liar dan mencangkokkannya ke pohon zaitun 

yang baik. Ahas yang fasik melahirkan Hizkia yang baik, 

yang melihat segala dosa yang dilakukan ayahnya. Dan 

meskipun ia tidak mau, seperti Ham, mengumumkan aib 

ayahnya, atau melakukan sesuatu yang buruk darinya, 

namun ia membencinya, malu sebab nya, dan memandang 

dosa dengan lebih buruk sebab  sudah menjadi cela dan 

kehancuran ayahnya sendiri. Ia menginsafi hal itu, sehingga 

tidak melakukan seperti itu. Ia menginsafi betapa jahatnya 

ayahnya dalam berbuat hal-hal seperti itu, betapa hal itu 

merupakan pelanggaran terhadap Allah dan semua orang 

baik, betapa besar luka dan cela yang dia dapat darinya, 

dan betapa besar malapetaka-malapetaka yang dibawa 

ayahnya ke dalam keluarganya. Dan sebab  itu ia tidak 

melakukan seperti itu. Perhatikanlah, jika saja kita mere-

nungkan kel

Related Posts:

  • Yehezkiel 11 an perumpamaan itu (ay. 11-21). namun  , di bagian penutup,  II. Allah berjanji sesudah nya Dia akan membangkitkan kembali keluarga kerajaan Yehuda, keluarga Daud, dalam diri Mesias dan kerajaan… Read More