ah dalam menunjukkan belas kasihan-Nya yaitu
alasan-alasan yang berkaitan dengan kemuliaan-Nya sendiri.
III. Ketetapan hati Allah untuk membinasakan angkatan mereka di
padang gurun itu. Dia yang sudah mengangkat tangan-Nya untuk
mereka (ay. 6, KJV), sekarang mengangkat tangan-Nya melawan
mereka. Dia yang meneguhkan janji-Nya dengan sumpah untuk
membawa mereka keluar dari Mesir, sekarang meneguhkan an-
caman-ancaman-Nya dengan sumpah bahwa Ia tidak akan me-
nuntun mereka ke Kanaan (ay. 15-16): Aku mengangkat tangan-
Ku kepada mereka, dengan berkata, demi Aku yang hidup, orang-
orang ini yang telah sepuluh kali mencobai Aku tidak akan pernah
melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek
moyang mereka (Bil. 14:22-23; Mzm. 95:11). Dengan penghinaan
mereka terhadap hukum-hukum Allah, dan khususnya hari-hari
Sabat-Nya, mereka menaruh penghalang di depan pintu mereka
sendiri. Dan apa yang mendasari ketidaktaatan mereka kepada
Allah, dan pengabaian mereka terhadap ketetapan-ketetapan-Nya,
yaitu rasa sayang tersembunyi terhadap dewa-dewa Mesir: Hati
mereka mengikuti berhala-berhala mereka. Perhatikanlah, kecen-
derungan pikiran terhadap dunia dan kedagingan, uang dan perut
(dua berhala besar secara rohani itu), yaitu akar kepahitan yang
darinya muncul segala ketidaktaatan terhadap hukum ilahi. Hati
yang mengikuti berhala-berhala itu merendahkan peraturan-
peraturan Allah.
IV. Dipeliharanya keturunan yang akan diperbolehkan masuk ke
Kanaan sesudah melewati ujian baru, dan ajaran-ajaran yang
diberikan kepada keturunan itu (ay. 17). Meskipun mereka pantas
mendapatkan kehancuran seperti itu, dan dihukum dengan ke-
hancuran itu, namun Aku merasa sayang melihat mereka. saat
Ia melihat mereka, Ia berbelas kasihan terhadap mereka, dan
Kitab Yehezkiel 20:10-26
tidak menghabisi mereka, namun menangguhkan hukuman mereka
sampai angkatan baru bertumbuh. Perhatikanlah, sebab rahmat
Allahlah Ia tidak menghabisi kita sejak dari dulu. Angkatan yang
baru ini terdidik dengan baik. Musa dalam Kitab Ulangan menu-
liskan dan menegakkan hukum-hukum yang sudah diberikan
kepada orang-orang yang keluar dari Mesir, supaya anak-anak
mereka memegangnya, seolah-olah hukum itu terngiang-ngiang di
telinga mereka dengan cara yang baru saat mereka memasuki
Kanaan (ay. 18): “Aku berkata kepada anak-anak mereka di pa-
dang gurun, di dataran Moab, hiduplah menurut ketetapan-
ketetapan Allahmu dan janganlah kamu hidup menurut ketetapan-
ketetapan ayahmu. Jangan meniru perilaku-perilaku takhayul
mereka atau mempertahankan kebiasaan-kebiasaan mereka yang
bodoh dan fasik. Jauhilah cara hidup mereka yang sia-sia, yang
tidak memiliki hal lain untuk membenarkan dirinya selain
bahwa itu diwarisi dari nenek moyangmu (1Ptr. 1:18). Janganlah
menajiskan dirimu dengan berhala-berhala mereka, sebab kamu
melihat bagaimana mereka membuat diri mereka najis di mata
Allah oleh berhala-berhala itu. namun lakukanlah peraturan-
peraturan-Ku dan kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku” (ay. 19-20).
Perhatikanlah, jika orangtua tidak peduli, dan tidak memberi
ajaran-ajaran yang baik kepada anak-anak mereka sebagaimana
mestinya, maka anak-anak harus menebus kehilangan itu dengan
mempelajari firman Allah dengan lebih hati-hati dan tekun
sewaktu mereka tumbuh dewasa. Dan contoh-contoh buruk dari
orangtua harus dipakai oleh anak-anak sebagai peringatan, dan
bukan untuk ditiru.
V. Pemberontakan angkatan selanjutnya terhadap Allah, yang dengan-
nya mereka juga menjadikan diri mereka sasaran murka Allah (ay.
21): Anak-anak mereka memberontak terhadap Aku juga. Dan hal
yang sama yang dikatakan tentang pemberontakan ayah-ayah di
sini dikatakan tentang pemberontakan anak-anak, sebab mereka
yaitu keturunan para pembuat kejahatan. Musa berkata kepada
mereka bahwa Ia mengenal kedegilan dan tegar tengkuk mereka
(Ul. 31:27). Dan (Ul. 9:24), Kamu menentang TUHAN, sejak aku
mengenal kamu. Mereka tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-
Ku (ay. 21). Bahkan, mereka menolak ketetapan-ketetapan-Ku (ay.
24). Orang-orang yang tidak mematuhi ketetapan-ketetapan Allah
berarti merendahkannya. Mereka menunjukkan bahwa mereka
memiliki pandangan yang rendah terhadap semua ketetapan itu
dan terhadap Dia yang empunya ketetapan-ketetapan itu. Mereka
melanggar kekudusan hari-hari Sabat Allah, seperti ayah-ayah
mereka. Perhatikanlah, penajisan hari Sabat yaitu jalan masuk
bagi semua bentuk ketidaksalehan. Orang-orang yang menajiskan
waktu yang kudus tidak akan menjaga kemurnian dari apa pun.
Dikatakan tentang para ayah (ay. 16) bahwa hati mereka meng-
ikuti berhala-berhala mereka. Mereka menyembah berhala-berhala
sebab memiliki rasa sayang pada berhala-berhala itu. Dikatakan
tentang anak-anak (ay. 24) bahwa mata mereka selalu tertuju
kepada berhala-berhala ayah-ayah mereka. Mereka telah tumbuh
menjadi orang yang tidak percaya pada Tuhan, dan hatinya tidak
terpatri pada dewa-dewa mana pun selain menyembah berhala-
berhala ayah-ayah mereka, sebab berhala itu yaitu berhala
ayah-ayah mereka, dan ayah-ayah mereka menempatkan berhala-
berhala itu di depan mata mereka. Mereka sudah terbiasa dengan
berhala-berhala itu. Dan, jika mereka harus memiliki allah-allah,
maka mereka ingin memiliki allah-allah yang bisa mereka lihat,
yang bisa mereka atur. Dan apa yang memperparah ketidaktaatan
mereka terhadap ketetapan-ketetapan Allah yaitu bahwa, jika
saja mereka melakukannya, mereka akan hidup (ay. 21), akan
menjadi bangsa yang berbahagia dan berkembang. Perhatikanlah,
orang-orang yang berlaku bertentangan dengan kewajiban mere-
ka, berlaku bertentangan dengan kepentingan mereka. Mereka
tidak mau patuh, tidak mau datang kepada Kristus, padahal
dengan berbuat hal itu mereka memperoleh hidup (Yoh. 5:40).
Oleh sebab itu wajar kalau orang-orang yang tidak mau hidup
dan berkembang seperti yang bisa saja terwujud dalam ketaatan
mereka, harus mati dan binasa dalam ketidaktaatan mereka. Nah,
contoh besar dari pemberontakan dan kecenderungan angkatan
itu pada penyembahan berhala yaitu noda yang di Peor, seperti
contoh dari pemberontakan ayah-ayah mereka yaitu anak lembu
emas. Pada waktu itu bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel
(Bil. 25:3). Pada waktu itu ada tulah dalam jemaat Tuhan, yang,
seandainya tidak dihentikan pada waktunya oleh kegigihan Pine-
has, sudah membinasakan mereka semua. Dan mereka masih
mengakuinya, pada masa Yosua, kita belum mentahirkan diri dari
noda itu sampai hari ini (Yos. 22:17; Mzm. 106:29). Pada waktu
Kitab Yehezkiel 20:10-26
itulah Allah berkata bahwa Ia bermaksud mencurahkan amarah-
Nya ke atas mereka (ay. 21), bahwa Ia bersumpah kepada mereka
di padang gurun, saat mereka untuk kedua kalinya sudah siap
memasuki Kanaan, bahwa Ia akan menyerakkan mereka di antara
bangsa-bangsa. Hal ini dikatakan-Nya kepada mereka melalui
Musa dalam lagu perpisahannya (Ul. 32:20). Oleh sebab mereka
membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, Ia berkata, Aku
akan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka. Dan (ay. 26-
27) Ia berkata, Aku meniupkan mereka, namun Aku kuatir disakiti
hati-Ku oleh musuh, yang menjelaskan pernyataan ini (ay. 21-22),
Aku bermaksud mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka, namun
Aku menarik tangan-Ku kembali sebab nama-Ku. Perhatikanlah,
saat kebobrokan-kebobrokan jemaat yang kasat mata sudah
sedemikian rupa, dan begitu menyulut murka Allah sehingga
beralasan bagi kita untuk takut akan kemusnahannya secara
menyeluruh, namun pada saat itu kita bisa yakin akan hal ini,
bagi penghiburan kita, bahwa Allah akan melindungi kehormatan-
Nya sendiri, dengan menggenapi tujuan-Nya, bahwa selama dunia
berdiri Ia akan memiliki jemaat di dalamnya.
VI. Penghakiman-penghakiman Allah atas mereka sebab pemberon-
takan mereka. Mereka tidak mau memperhatikan ketetapan-kete-
tapan dan peraturan-peraturan yang dengannya Allah menentu-
kan kewajiban mereka, malah merendahkannya. Oleh sebab itu
Allah memberi kepada mereka ketetapan-ketetapan dan peraturan-
peraturan yang tidak baik, dan yang sebab nya mereka tidak
dapat hidup (ay. 25). Dari sini kita bisa memahami sejumlah cara
yang dengannya Allah menghukum mereka selama mereka berada
di padang gurun, yaitu dengan tulah yang menyeruak masuk di
tengah-tengah mereka, ular tedung, dan sejenisnya. Cara-cara ini,
merujuk pada hukum yang telah mereka langgar, disebut sebagai
penghakiman-penghakiman (KJV), sebab ditimpakan oleh keadilan
Allah. Cara-cara ini juga disebut sebagai ketetapan-ketetapan,
sebab Ia memberi perintah-perintah menyangkut mereka,
dan memerintahkan kehancuran-kehancuran seperti terkadang Ia
memerintahkan pembebasan-pembebasan, dan menetapkan tu-
lah-tulah bagi Israel seperti yang Ia lakukan dengan tulah-tulah
Mesir. saat Allah berkata, Kuhancurkan mereka dalam sekejap
mata (Bil. 16:21), saat Ia berkata, tangkaplah semua orang yang
mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka (Bil. 25:4), saat Ia
mengancam mereka dengan kutukan dan mengharuskan mereka
berkata Amin untuk setiap kutukan (Ul. 27:26), pada saat itulah
Ia memberi mereka penghakiman-penghakiman yang sebab nya
mereka tidak dapat hidup. Lebih banyak yang tersirat daripada
yang diungkapkan. Itulah penghakiman-penghakiman yang oleh-
nya mereka akan mati. Orang-orang yang tidak mau diikat oleh
aturan-aturan hukum, akan diikat oleh penghukumannya. Sebab
dengan satu atau lain cara firman Allah akan sampai kepada ma-
nusia (Za. 1:6). Penghakiman-penghakiman rohani yaitu peng-
hakiman-penghakiman yang paling mengerikan. Dan dengan peng-
hakiman-penghakiman inilah Allah menghukum mereka. Kete-
tapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang dijalankan orang
kafir dalam menyembah berhala-berhala mereka tidaklah baik,
dan dengan menjalankannya mereka tidak dapat hidup. Allah
membiarkan saja mereka hidup seperti itu. Ia menjadikan dosa
mereka sebagai hukuman mereka, menyerahkan mereka pada
pikiran-pikiran yang terkutuk, seperti yang dilakukan-Nya ter-
hadap para penyembah berhala dari bangsa-bangsa lain (Rm.
1:24, 26). Ia menyerahkan mereka pada kedegilan hati mereka
sendiri (Mzm. 81:13), menghukum mereka sebab kebiasaan-
kebiasaan takhayul yang menentang hukum tertulis, dengan
menyerahkan mereka pada kebiasaan-kebiasaan takhayul yang
menentang terang dan hukum alam itu sendiri. Ia membiarkan
mereka terus bersalah atas penyembahan-penyembahan berhala
yang sungguh teramat cemar, seperti dalam penyembahan Baal-
Peor (Ia membiarkan mereka menjadi najis, yaitu, Ia membiarkan
mereka mencemari diri sendiri, dengan persembahan-persembah-
an mereka, ay. 26). Dan Ia membiarkan mereka bersalah atas
penyembahan-penyembahan berhala yang teramat biadab, seperti
dalam penyembahan dewa Molokh, saat mereka mempersem-
bahkan anak-anak mereka sebagai korban dalam api, untuk
dipersembahkan kepada berhala-berhala mereka, terutama anak
sulung mereka, yang diminta Allah untuk menjadi milik-Nya se-
cara khusus (yang sulung dari anak-anakmu lelaki haruslah
kaupersembahkan kepada-Ku, Kel. 22:29 – pen.). Dengan demi-
kian Ia dapat membuat mereka tertegun. Bukan saja supaya Ia
dapat melakukannya dengan adil, namun juga supaya Ia dapat
melakukannya melalui tangan mereka sendiri. Sebab cara ini
Kitab Yehezkiel 20:27-32
pasti akan sangat membuat kaum-kaum mereka tersadar dan
teramat mengurangi kehormatan dan kekuatan negeri mereka.
Perhatikanlah, Allah kadang-kadang menjadikan dosa sebagai
hukumannya sendiri, namun Ia bukanlah penyebab dosa. Tidak
perlu hal lain untuk membuat orang sengsara selain dengan
membiarkan mereka terus saja pada hasrat dan hawa nafsu
mereka sendiri yang keji. Biarlah mereka mengikuti putusan
kehendak mereka sendiri, maka mereka pun akan menghancur-
kan diri sendiri dan membuat diri sengsara. Dengan demikian
Allah membuat mereka tahu bahwa Dia yaitu Tuhan, dan bahwa
Dialah Allah yang benar. Mereka akan terpaksa mengakui Dia,
saat melihat betapa segala pelanggaran yang mereka perbuat
dengan sengaja itulah yang mengakibatkan kehancuran mereka
sendiri. Perhatikanlah, orang-orang yang tidak mau mengakui
Allah sebagai Tuhan yang mengatur mereka, akan dibuat meng-
akui-Nya sebagai Tuhan yang menghakimi mereka saat sudah
terlambat waktunya.
Pemberontakan-pemberontakan Israel
(20:27-32)
27 Oleh sebab itu berbicaralah kepada kaum Israel, hai anak manusia, dan
katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini
juga nenek moyangmu menghujat Aku, yaitu mereka berobah setia kepada-
Ku. 28 Sebab sesudah Aku membawa mereka ke negeri yang dengan sumpah
telah Kujanjikan memberi nya kepada mereka, mereka melihat ke setiap
bukit yang tinggi dan ke setiap pohon yang penuh cabang-cabang dan
mereka mempersembahkan di sana korban sembelihannya dan membawa
persembahannya yang menyakiti hati, juga menyerbakkan di sana persem-
bahan-persembahan mereka yang harum dan mempersembahkan mereka di
sana korban-korban curahan mereka. 29 Maka Aku berkata kepada mereka:
Tempat tinggi apa itu yang kamu naiki? Maka namanya disebut Tempat
Tinggi sampai hari ini. 30 Oleh sebab itu katakanlah kepada kaum Israel:
Beginilah firman Tuhan ALLAH: Apakah kamu menajiskan dirimu juga de-
ngan cara hidup nenek moyangmu dan berzinah dengan mengikuti dewa-
dewanya yang menjijikkan? 31 Dalam membawa persembahan-persembahan-
mu, yaitu mempersembahkan anak-anakmu sebagai korban dalam api, kamu
menajiskan dirimu dengan segala berhala-berhalamu sampai hari ini, apakah
Aku masih mau kamu minta petunjuk dari pada-Ku, hai kaum Israel? Demi
Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak mau lagi
kamu minta petunjuk dari pada-Ku. 32 Dan apa yang timbul dalam hatimu
sama sekali tidak akan terjadi, yaitu yang kamu katakan: Kami ingin seperti
bangsa-bangsa lain, seperti segala kaum di negeri-negeri untuk berbakti
kepada pohon dan batu.
Di sini sang nabi melanjutkan dengan cerita tentang pemberontakan-
pemberontakan bangsa Israel, untuk lebih mempermalukan mereka
lagi, dan menunjukkan,
I. Bahwa mereka bersikeras dalam pemberontakan-pemberontakan
mereka sesudah menetap di tanah Kanaan. Meskipun Allah sudah
berkali-kali menyatakan murka-Nya terhadap jalan-jalan mereka
yang jahat, “namun dalam hal ini juga (yaitu, dalam hal yang
sama pula) nenek moyangmu menghujat Aku, terus menghina-Ku,
bahwa mereka juga berobah setia kepada-Ku” (ay. 27). Perhati-
kanlah, sangat memperberat dosa jika orang tidak mau di-
peringatkan akan akibat-akibat dosa yang mencelakakan yang
dilakukan orang-orang yang sudah mendahului mereka: ini
berarti menghujat Allah. Ini berarti berbicara dengan mencela ten-
tang penghakiman-penghakiman-Nya, seolah-olah penghakiman-
Nya tidak berarti apa-apa dan tidak layak diperhatikan.
1. Allah telah menepati janji-Nya: Aku membawa mereka ke
negeri yang dengan sumpah akan Kuberikan kepada mereka.
Meskipun ketidakpercayaan dan ketidaktaatan mereka meng-
akibatkan penggenapan janji-Nya berjalan lambat, dan sangat
menghambatnya, namun itu tidak membatalkan janji itu.
Mereka sudah sering hampir binasa di padang gurun, tinggal
selangkah lagi menuju kehancuran, namun mereka sampai ke
Kanaan juga pada akhirnya. Perhatikanlah, bahkan Israel mi-
lik Allah sampai juga ke sorga melalui gerbang-gerbang nera-
ka. Begitu banyaknya pelanggaran mereka, dan begitu kuat-
nya kebobrokan-kebobrokan mereka, sehingga merupakan
suatu keajaiban rahmat ilahi bahwa mereka berbahagia pada
akhirnya. Ini seperti orang-orang munafik masuk neraka me-
lalui gerbang-gerbang sorga. Orang benar hampir-hampir tidak
diselamatkan (1Ptr. 4:18). Per tot discrimina rerum tendimus ad
cœlum – Seribu satu bahaya memenuhi jalan ke sorga.
2. Mereka telah melanggar peraturan-Nya dengan penyembahan-
penyembahan berhala mereka yang menjijikkan. Allah telah
memerintahkan mereka untuk menghancurkan semua tugu
penyembahan berhala, supaya mereka tidak tergoda untuk
meninggalkan tempat kudus-Nya. namun , bukannya me-
rusak berhala-berhala itu, mereka malah jatuh cinta kepada-
nya. Dan saat mereka melihat ke setiap bukit yang tinggi,
Kitab Yehezkiel 20:27-32
yang dari sana mereka mendapat pemandangan yang amat
menyenangkan, dan setiap pohon yang penuh cabang-cabang,
yang di bawahnya mereka dapat berteduh dengan amat nya-
man (Bukit yang tinggi memperlihatkan penyembahan berhala
mereka yang megah, dan pohon yang penuh cabang menyem-
bunyikan penyembahan berhala mereka yang memalukan),
mereka mempersembahkan di sana korban sembelihannya dan
menyerbakkan di sana persembahan-persembahan mereka
yang harum, yang seharusnya dipersembahkan di atas mezbah
Allah saja. Di sana mereka membawa persembahannya yang
menyakiti hati (ay. 28), yaitu, persembahan-persembahan me-
reka, yang bukannya menenangkan hati Allah, atau menye-
nangkan Dia, malah menyakiti hati-Nya, yang walaupun ma-
hal, namun sebab salah tempat, merupakan kekejian bagi
Tuhan.
3. Mereka tetap keras kepala dalam hal ini, kendati dengan se-
mua peringatan yang sudah diberikan kepada mereka (ay. 29):
“Maka Aku berkata kepada mereka, melalui hamba-hamba-Ku
para nabi, di mana tempat tinggi yang mereka naiki? Bahkan,
Aku membuat mereka merenungkannya, dan bertanya kepada
hati nurani mereka sendiri mengenai hal itu, dengan mengaju-
kan pertanyaan ini kepada mereka, tempat tinggi apa itu yang
kamu naiki? Apa yang begitu memikat hatimu di sana sehingga
kamu mau meninggalkan mezbah-mezbah Allah, yang seha-
rusnya kamu datangi sebagaimana dikehendaki-Nya? Apa
yang begitu memikat hatimu di sana sampai kamu lebih suka
mengunjungi tempat-tempat seperti itu, yang dilarang-Nya
untuk kamu beribadah di dalamnya? Apakah kamu tidak tahu
bahwa tempat-tempat tinggi itu berasal dari kepercayaan kafir,
dan bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan oleh bangsa-
bangsa lain dipersembahkan kepada setan-setan, dan bukan
kepada Allah? Bukankah Musa sudah memberi tahu kamu
demikian? (Ul. 32:17). Aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu
dengan roh-roh jahat. Tempat tinggi apa itu yang kamu naiki,
sesudah kamu berpaling dari mezbah-mezbah Allah? Hai orang-
orang Israel yang bodoh, siapakah atau apakah yang telah
mempesona kamu? sehingga kamu mau meninggalkan sumber
air hidup demi sumur-sumur yang bocor, meninggalkan iba-
dah yang ditetapkan Allah dan yang berkenan bagi-Nya, demi
ibadah yang dilarang-Nya, yang dibenci-Nya, dan yang akan
dihukum-Nya?” Namun demikian, namanya disebut Tempat
Tinggi sampai hari ini. Mereka mau mengikuti jalan mereka
sendiri, tak peduli Allah dan nabi-nabi-Nya mengatakan hal
yang bertentangan dengan yang mereka kehendaki. Mereka
sudah melekat pada tempat-tempat tinggi mereka. Bahkan
dalam pemerintahan-pemerintahan yang terbaik sekalipun,
tempat-tempat tinggi itu tidak dimusnahkan. Kamu tidak bisa
berhasil menghapuskan nama Bamah – tempat tinggi, dari
mulut mereka. Sebaliknya, mereka tetap ingin supaya nama
itu ada di tempat ibadah mereka. Dosa dan pendosa susah
dipisahkan.
II. Bahwa angkatan ini, sesudah mereka tidak lagi menetap di negeri
mereka, terus berada di bawah kuasa kecenderungan-kecen-
derungan bobrok yang sama, yaitu penyembahan berhala (ay. 30).
Sang nabi harus berkata kepada kaum Israel yang sekarang, yang
sebagian dari tua-tuanya sedang duduk di hadapannya, “Apakah
kamu menajiskan dirimu juga dengan cara hidup nenek moyang-
mu? sesudah semua yang telah dikatakan Allah melawan kamu
melalui nabi demi nabi, dan sesudah semua yang telah dilakukan-
Nya melawan kamu melalui serangkaian penghakiman, masih
jugakah kamu tidak mau diperingatkan? Masih jugakah kamu
jahat seperti nenek moyangmu, dan mau melakukan kekejian-
kekejian yang sama seperti yang mereka lakukan? Aku lihat kamu
begitu. Kamu condong kembali pada kekejian-kekejian yang dulu,
kamu membawa persembahan-persembahanmu di tempat-tempat
tinggi, dan kamu mempersembahkan anak-anakmu sebagai kor-
ban dalam api. Entah kamu benar-benar melakukannya atau
kamu melakukannya di dalam tujuan dan khayalan, kamu tetap
saja terus menjadi penyembah-penyembah berhala sampai hari
ini.” Tua-tua ini sekarang tampak sedang berencana bergabung
dengan bangsa-bangsa kafir. Hati mereka diperuntukkan bagi
Allah Israel, namun lutut mereka akan bebas berlutut di depan
dewa-dewa dari bangsa-bangsa yang di antaranya mereka tinggal,
supaya mereka mendapat penghormatan dan tempat tinggal yang
lebih baik di antara bangsa-bangsa itu. Nah, sang nabi di sini
diperintahkan untuk memberi tahu orang-orang yang sedang
membuat rancangan ini, dan yang ingin mencampuradukkan
Kitab Yehezkiel 20:27-32
perkara Allah dan Baal, bahwa mereka tidak akan mendapat
penghiburan atau keuntungan dari kedua-duanya.
1. Mereka tidak akan mendapat keuntungan dengan meminta
petunjuk secara diam-diam dari nabi-nabi Tuhan. Oleh sebab
mereka mendengarkan berhala-berhala, Allah tidak mau lagi
berhubungan dengan mereka (ay. 31): Demi Aku yang hidup,
demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak mau lagi kamu
minta petunjuk dari pada-Ku. Apa yang sudah Dia katakan
sebelumnya (ay. 3), sesudah menunjukkan secara panjang lebar
betapa adilnya perkataan itu, diulangi-Nya lagi di sini, sebagai
hal yang akan Ia pegang teguh. Janganlah mereka berpikir
bahwa mereka menghormati Dia dengan berlagak minta
petunjuk dari-Nya, atau mengharapkan jawaban damai dari-
Nya, selama mereka terus mencintai dan bersekutu dengan
berhala-berhala mereka. Perhatikanlah, orang-orang yang
tidak sepenuh hati dan tulus dalam agama mereka tidak akan
menuai keuntungan apa pun darinya. Kita tidak bisa menda-
pat persekutuan yang menghibur hati dengan Allah sekalipun
kita mengikuti ketetapan-ketetapan ibadah, kecuali hati kita
lurus dalam mengikuti Dia. Pengakuan kita tidak berarti apa-
apa jika itu hanya sekadar pengakuan. Bahkan,
2. Mereka tidak akan mendapat keuntungan dengan mengikuti
kebiasaan tetangga-tetangga mereka di depan umum (ay. 32):
“Apa yang timbul dalam hatimu sebagai cara yang baik untuk
berhubungan dengan bangsa lain pada saat yang sulit seperti
ini, dan sekalipun cara itu disarankan kepadamu untuk kamu
lakukan supaya kamu bisa selamat, yaitu supaya kamu
jangan mengucil diri, supaya dengan begitu kamu tidak akan
dianiaya, semua ini sama sekali tidak akan terjadi. Itu tidak
akan bermanfaat untukmu. Kamu berkata, ‘Kami ingin seperti
bangsa-bangsa lain, kami akan bergabung dengan mereka
dalam menyembah dewa-dewa mereka, meskipun pada saat
yang sama kami tidak memercayainya sebagai allah, melain-
kan pohon dan batu, supaya kami dianggap seperti segala
kaum di negeri-negeri. Mereka tidak akan tahu, atau hanya
sebentar saja mereka akan lupa, bahwa kami yaitu orang-
orang Yahudi, dan akan memberi kami hak-hak istimewa yang
sama dengan warga mereka sendiri.’ Katakanlah kepada me-
reka,” firman Allah, “bahwa rencana ini tidak akan pernah
berhasil. Entah tetangga-tetangga mereka tidak mau menerima
mereka untuk bergabung dalam ibadah mereka, atau, kalau-
pun menerima, tetangga-tetangga mereka tidak akan berpikir-
an lebih baik, namun lebih buruk, tentang mereka sebab nya,
dan akan memandang mereka sebagai orang-orang munafik,
dan tidak pantas dipercaya. Tetangga mereka akan berpikir
mereka hanya pura-pura terhadap Allah mereka, dan itu ber-
arti menipu tetangga-tetangga mereka.” Perhatikanlah, tidak
ada yang bisa diperoleh dengan ikut-ikutan berbuat dosa.
Rancangan-rancangan yang bersifat kedagingan dari orang-
orang munafik tidak akan bermanfaat sama sekali bagi
mereka. Hanya kelurusan dan kejujuran hatilah yang akan
membuat orang selamat, dan dipuji oleh Allah dan manusia.
Dosa-dosa Israel
(20:33-44)
33 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku akan
memerintah kamu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan
amarah yang tercurah. 34 Aku akan membawa kamu keluar dari tengah
bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari negeri-negeri, di mana kamu
berserak dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan amarah
yang tercurah, 35 dan Aku akan membawa kamu ke padang gurun bangsa-
bangsa dan di sana Aku akan beperkara dengan kamu berhadapan muka. 36
Seperti Aku beperkara dengan nenek moyangmu di padang gurun tanah
Mesir, begitulah Aku akan beperkara dengan kamu, demikianlah firman
Tuhan ALLAH. 37 Aku akan membiarkan kamu lewat dari bawah tongkat
gembala-Ku dan memasukkan kamu ke kandang dengan menghitung kamu.
38 Aku akan memisahkan dari tengah-tengahmu orang-orang yang mem-
berontak dan mendurhaka terhadap Aku; Aku akan membawa mereka keluar
dari negeri, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, namun di tanah Israel
mereka tidak akan masuk. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah
TUHAN. 39 Hai kamu, kaum Israel, beginilah firman Tuhan ALLAH, biarlah
masing-masing pergi beribadah kepada berhala-berhalanya. namun kemudian
kamu akan mendengarkan Aku dan tidak lagi melanggar kekudusan nama-
Ku yang kudus dengan persembahan-persembahanmu dan berhala-berhala-
mu. 40 Sebab di atas gunung-Ku yang kudus, di atas gunung Israel yang
tinggi, demikianlah firman Tuhan ALLAH, di sana di tanah itu segenap kaum
Israel dalam keseluruhannya akan beribadah kepada-Ku. Di sana Aku akan
berkenan kepadamu dan di sana Aku akan menuntut dari kamu persem-
bahan-persembahan khususmu dan sajian-sajianmu yang terpilih, segala
yang kamu kuduskan. 41 Seperti kepada persembahan yang harum Aku ber
kenan kepadamu pada waktu Aku mengeluarkan kamu dari tengah bangsa-
bangsa dan mengumpulkan kamu dari negeri-negeri, di mana kamu berse-
rak, dan Aku akan menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan
bangsa-bangsa. 42 Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada
waktu Aku membawa kamu masuk ke tanah Israel, ke negeri yang dengan
sumpah telah Kujanjikan memberi nya kepada nenek moyangmu. 43 Di
Kitab Yehezkiel 20:33-44
sana kamu akan teringat-ingat kepada segala tingkah lakumu, dengan mana
kamu menajiskan dirimu, dan kamu akan merasa mual melihat dirimu
sendiri sebab segala kejahatan-kejahatan yang kamu lakukan. 44 Dan kamu
akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada masa Aku, oleh sebab nama-
Ku, tidak memperlakukan kamu selaras dengan tingkah lakumu yang jahat
dan busuk, hai kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.”
Rancangan yang sekarang sedang berjalan di antara tua-tua Israel
yaitu bahwa kaum Israel, sebab tersebar di antara bangsa-bangsa,
harus mengesampingkan segala keunikan mereka dan mengikuti
kebiasaan orang-orang yang di antaranya mereka hidup. namun Allah
sudah berkata kepada mereka bahwa rancangan itu tidak akan
berhasil (ay. 32). Sekarang, dalam ayat-ayat ini, Ia menunjukkan
secara khusus bagaimana rancangan itu akan digagalkan. Mereka
bertujuan supaya kaum-kaum Israel berbaur dengan segala kaum di
negeri-negeri. namun pada akhirnya akan terbukti bahwa orang-orang
Israel yang fasik, kendati sudah mengikuti kebiasaan bangsa lain,
tidak akan berbaur dengan mereka dalam kemakmuran mereka,
namun akan dibedakan dari mereka untuk menemui kehancuran.
Sebab orang-orang Israel penyembah berhala, yang murtad dari
Allah, akan dihukum lebih dulu dan lebih pedih daripada orang-
orang Babel penyembah berhala yang tidak pernah mengetahui jalan
kebenaran. Baca dan gemetarlah terhadap hukuman yang dijatuhkan
di sini atas mereka. Hukuman itu didukung dengan sumpah yang
tidak akan dicabut: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan
ALLAH, beginilah Aku akan memperlakukan kamu. Mereka berpikir
untuk menjadikan Yerusalem maupun Babel sebagai teman-teman
mereka dengan bolak-balik berpihak di antara keduanya. namun Allah
mengancam bahwa tak satu pun dari keduanya akan menjadi tempat
perhentian atau perlindungan bagi mereka.
I. Babel tidak akan melindungi mereka, begitu pula dengan negeri-
negeri bangsa kafir. Sebab Allah akan membuang mereka dari
perlindungan-Nya, lalu penguasa mana, bangsa mana, tempat
mana, yang bisa menjadi tempat kudus bagi mereka? Allah yaitu
Raja Israel di zaman dulu, dan andai saja mereka terus menjadi
rakyat yang setia, Ia akan memerintah atas mereka dengan penuh
perhatian dan kelembutan demi kebaikan mereka. namun seka-
rang Ia memerintah dengan tangan yang kuat dan lengan yang
teracung dan amarah yang tercurah (ay. 33). Kekuatan yang
seharusnya dikerahkan untuk melindungi mereka itu akan
dikerahkan untuk menghancurkan mereka. Perhatikanlah, tidak
ada yang bisa menggoncangkan kekuasaan Allah. Dia akan tetap
memerintah, entah dengan tongkat emas atau dengan gada besi.
Dan orang-orang yang tidak mau tunduk pada kuasa anugerah-
Nya akan ditenggelamkan di dalam kuasa murka-Nya. Sekarang
saat Allah murka terhadap mereka, mereka akan dikecewakan,
sekalipun mereka menyangka mereka tidak bisa ditemukan di
tengah-tengah kepadatan orang-orang kafir di mana mereka ter-
serak-serak. Sebab (ay. 34) Aku akan mengumpulkan kamu dari
negeri-negeri, di mana kamu berserak, seperti saat para pem-
berontak terserak dalam pertempuran, mereka yang lolos dari
pedang perang terus dikejar-kejar dan dibawa bersama-sama dari
semua tempat di mana mereka terserak, untuk dihukum oleh
pedang keadilan. Mereka akan dibawa ke padang gurun bangsa-
bangsa (ay. 35), entah ke Babel, yang disebut padang gurun
(19:13), dan padang gurun di tepi laut (Yes. 21:1), atau ke suatu
tempat yang, meskipun padat penduduk, akan menjadi bagi
mereka seperti padang gurun bagi Israel sesudah keluar dari Mesir.
Itu tempat di mana Allah akan beperkara dengan mereka berha-
dapan muka, seperti Ia beperkara dengan nenek moyang mereka
di padang gurun tanah Mesir (ay. 36). Di sana bangkai-bangkai
mereka akan bergeletakan, dan di sana Ia akan bersumpah me-
ngenai mereka bahwa mereka tidak akan pernah kembali ke
Kanaan, seperti Ia bersumpah mengenai nenek moyang mereka
bahwa mereka tidak akan pernah sampai ke Kanaan. Di sana Ia
akan membalaskan pelanggaran terhadap hukum-Nya dengan
banyak kengerian, seperti kengerian yang ditunjukkan-Nya di
padang gurun Sinai. Perhatikanlah, Allah memiliki tindakan
yang bagus untuk melawan orang-orang murtad, dan akan mene-
mukan bukan hanya waktu, melainkan juga tempat yang tepat,
untuk beperkara dengan mereka dalam tindakan itu, di padang
gurun bahkan di tengah-tengah bangsa demi tujuan-Nya itu.
II. Israel tidak akan mampu melindungi mereka seperti halnya Babel.
Dan hubungan mereka dengan umat Allah tidak akan bermanfaat
bagi mereka untuk dunia nanti, seperti halnya tindakan mereka
dalam mengikuti para penyembah berhala tidak akan berguna
bagi mereka di dunia ini. Mereka juga tidak akan berdiri dalam
perkumpulan orang benar, lebih dari di dalam perkumpulan para
Kitab Yehezkiel 20:33-44
pembuat kejahatan. Sebab akan tiba hari penentuan, saat Allah
memisahkan antara yang berharga dan yang hina. Ia akan
membiarkan mereka, seperti gembala membiarkan domba-domba-
nya, lewat dari bawah tongkat gembala, saat Ia menghitung
mereka untuk dijadikan korban persepuluhan (Im. 27:32), supaya
Ia dapat menandai yang mana untuk Allah. Allah akan memberi-
kan perhatian khusus terhadap tiap-tiap dari mereka, satu per
satu, seperti domba-domba dihitung, dan Ia akan memasukkan
mereka ke dalam ikatan perjanjian (ay. 37, KJV). Ia akan menguji
mereka dan menghakimi mereka sesuai dengan syarat perjanjian,
dan pemisahan akan dibuat antara yang sebagian dan sebagian
yang lain berdasar berkat-berkat dan kutuk-kutuk dari per-
janjian itu. Atau itu mungkin merujuk pada orang-orang dari
antara mereka yang bertobat dan memperbarui diri. Ia akan mem-
buat mereka lewat di bawah tongkat penderitaan, dan, sesudah
memberi mereka pelajaran dengannya, Ia akan membawa mereka
kembali ke dalam ikatan perjanjian, akan menjadi bagi mereka
Allah dalam perjanjian, dan memakai mereka lagi sebagai yang
berhak menerima janji.
1. Ia akan memisahkan yang fasik dari antara mereka (ay. 38):
“Aku akan memisahkan dari tengah-tengahmu orang-orang
yang memberontak, yang sudah membawa kesedihan dan aib
bagimu, dan yang dengan pemberontakan-pemberontakan me-
reka telah mendatangkan semua malapetaka ini atas kamu.”
Penghakiman-penghakiman Allah akan menemukan mereka,
dan sekalipun mereka menyebut diri orang Israel, itu tidak
akan melindungi mereka. Mereka akan dibawa keluar dari
negeri, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, dan tidak
akan mendapat tempat perhentian di dalamnya seperti yang
sudah mereka harap-harapkan. namun di tanah Israel mereka
tidak akan masuk dan menikmati keuntungan dari tempat per-
hentian yang sudah dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Per-
hatikanlah, meskipun bisa jadi orang-orang saleh ikut berbagi
dengan orang-orang fasik dalam malapetaka-malapetaka di
dunia, namun orang-orang fasik tidak akan ikut berbagi dengan
orang-orang saleh di Kanaan sorgawi. namun akan menjadi
bagian dari kebahagiaan dunia sorgawi itu bahwa orang-orang
fasik akan dipisahkan dari tengah-tengah mereka, lalang dari
gandum, jerami dari jagung (13:9). Jadi di mana pun para
penyembah berhala dari kaum Israel ini berusaha menyembah
baik Allah maupun berhala-berhala mereka, dengan berpikir
akan menyenangkan keduanya, Allah menentangnya di sini
(ay. 39), seperti yang sudah dilakukan Elia dalam nama-Nya:
“Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah
dia. Kalau kamu ingin berbakti pada berhala-berhalamu, laku-
kanlah itu, dan tanggunglah akibatnya. namun jangan menga-
ku-ngaku memiliki hubungan dengan Allah dan bertakwa
kepada Nya, dan jangan melanggar kekudusan nama-Nya yang
kudus dengan persembahan-persembahanmu di mezbah-Nya.”
Penghakiman-penghakiman rohani yaitu penghakiman-peng-
hakiman yang paling pedih. Dua dari penghakiman-pengha-
kiman seperti itu diancamkan dalam ayat 39 ini (KJV) terhadap
orang-orang yang berbagi antara Allah Israel dan dewa-dewa
dari bangsa-bangsa:
(1) Bahwa mereka akan diserahkan untuk melayani berhala-
berhala mereka. Kepada mereka Ia berkata dengan menyin-
dir, “sebab kamu tidak mau mendengarkan Aku, biarlah
masing-masing pergi beribadah kepada berhala-berhalanya,
sebab kamu berpikir bahwa itu demi kepentinganmu seka-
rang dan selanjutnya juga. Kamu akan terus melakukan-
nya. Efraim bersekutu dengan berhala-berhala, biarkanlah
dia! Biarlah dia mengambil jalannya, dan lihat saja apa
yang akan dia dapatkan pada akhirnya.” Perhatikanlah,
orang-orang yang berpikir bahwa mereka melayani diri
mereka sendiri dengan dosa pada akhirnya akan mendapati
bahwa mereka hanya memperbudak diri sendiri pada dosa.
(2) Bahwa mereka akan diputus dari melayani Allah dan ber-
sekutu dengan-Nya. “Kamu tidak akan lagi melanggar keku-
dusan nama-Ku yang kudus dengan persembahan-persem-
bahanmu yang tidak sungguh (Yes. 1:13). Kamu membawa
pemberian-pemberianmu di tanganmu, dan berlagak hen-
dak menghormati Aku dengannya, namun pada saat yang
sama kamu membawa berhala-berhala di hatimu. Oleh
sebab itu kamu hanya menajiskan Aku, yang tidak akan
Kubiarkan lagi” (Am. 5:21-22). Perhatikanlah, orang-orang
yang menajiskan bait Allah sewajarnya dilarang masuk ke
dalam bait-Nya.
Kitab Yehezkiel 20:33-44
2. Ia akan memisahkan mereka bagi diri-Nya lagi.
(1) Dalam belas kasihan Ia akan mengumpulkan mereka dari
negeri-negeri di mana mereka berserak, untuk menjadi tugu
peringatan belas kasihan, seperti halnya orang-orang yang
sudah tak dapat diperbaiki lagi dikumpulkan untuk men-
jadi bejana murka (ay. 41). Tak satu pun dari permata-per-
mata Allah akan terhilang dalam tumpukan kayu dunia ini.
(2) Ia akan membawa mereka masuk ke tanah Israel, yang su-
dah Dia janjikan akan memberi nya kepada nenek mo-
yang mereka. Mereka sudah memilikinya selama beberapa
waktu, namun itu tidak berarti hak milik mereka dicabut.
Tanah itu masih tetap tanah Israel, dan ke sanalah Allah
akan membawa mereka kembali dengan aman (ay. 42).
(3) Ia akan menegakkan kembali ketetapan-ketetapan-Nya di
antara mereka, akan mendirikan tempat kudus-Nya di atas
gunung-Nya yang kudus, yang di sini disebut gunung Israel
yang tinggi. Sebab, meskipun Gunung Sion bukanlah salah
satu gunung tertinggi, namun bait suci di sana yaitu
salah satu kehormatan Israel yang tertinggi. Dijanjikan
bahwa orang-orang yang menjaga keutuhan hati mereka,
dan tidak mau berbakti kepada berhala-berhala di negeri-
negeri lain, akan kembali pada kemakmuran mereka, dan
akan mengabdi kepada Allah yang benar di negeri mereka
sendiri: Segenap kaum Israel dalam keseluruhannya akan
beribadah kepada-Ku. Perhatikanlah, suatu kebahagiaan
sejati bagi sebuah bangsa, dan pertanda baik yang pasti
bagi mereka, jika ada kecenderungan yang meraja da-
lam diri mereka untuk mengabdi kepada Allah. Allah mela-
rang para penyembah berhala untuk membawa pemberian-
pemberian mereka ke mezbah-Nya, namun dari orang-orang
yang menjaga keutuhan hati mereka ini, Ia akan menuntut
korban persembahan dan buah bungaran, dan Ia akan
menerimanya (ay. 40). Apa yang tidak dituntut-Nya tidak
akan diterima-Nya, namun apa yang dilakukan sebab
mengindahkan perintah-perintah-Nya, Ia sangat berkenan
menerimanya. Ia akan menerima mereka dengan persem-
bahan harum mereka, atau bau harum yang menenangkan
(ay. 41), sebagai persembahan yang penuh syukur kepada-
Nya dan yang dengannya Ia merasa puas. Sedangkan
kepada para penyembah yang munafik, Ia berkata, Aku
tidak senang kepada perkumpulan rayamu.
(4) Ia akan memberi mereka pertobatan yang sejati atas dosa-
dosa mereka (ay. 43). saat mereka mendapati betapa
Allah berlaku penuh rahmat terhadap mereka, maka mere-
ka akan dikuasai oleh kebaikan-Nya, dan menjadi malu
memikirkan perilaku buruk mereka terhadap Allah yang
begitu baik. “Di sana, di atas gunung-Ku yang kudus, saat
kamu datang untuk menikmati hak-hak istimewa dari
tempat itu lagi, di sana kamu akan teringat-ingat kepada
segala tingkah lakumu, yang dengannya kamu sudah me-
najiskan dirimu.” Perhatikanlah, semakin kita mengenal
kekudusan Allah, semakin kita melihat sifat yang menjijik-
kan dari dosa. Di sana kamu akan merasa mual melihat
dirimu sendiri. Perhatikanlah, pertobatan Injili yang tulus
membuat orang mual melihat diri mereka sendiri sebab
dosa-dosa mereka, seperti dalam Ayub 42:5-6.
(5) Ia akan memberi mereka pengenalan akan diri-Nya: Mereka
akan mengetahui dari pengalaman bahwa Dialah TUHAN,
bahwa Dia yaitu Allah yang mahakuasa dan kebaikan-
Nya tiada habis-habisnya, baik kepada umat-Nya dan setia
kepada kovenan-Nya dengan mereka. Perhatikanlah, semua
perkenanan yang kita terima dari Allah haruslah membuat
kita mengenal-Nya dengan lebih akrab lagi.
(6) Ia akan melakukan semuanya ini demi nama-Nya sendiri,
kendati mereka tidak layak mendapatkannya dan layak
mendapatkan apa yang buruk (ay. 44). Ia telah memperla-
kukan mereka, yaitu, bekerja untuk mereka, bekerja untuk
membela mereka, bekerja dalam persetujuan dengan mere-
ka, sementara mereka melakukan usaha mereka. Ia telah
bekerja dengan mereka oleh sebab nama-Nya semata.
Alasan-alasan yang dipakai-Nya berkaitan dengan diri-Nya
sendiri. Seandainya Dia memperlakukan mereka selaras
dengan tingkah laku mereka yang jahat dan busuk, maka
meskipun mereka yaitu bagian yang lebih baik dan lebih
sehat dari Israel, Ia akan membiarkan mereka tersebar dan
terhilang bersama yang lain. namun Ia memulihkan dan me-
ngembalikan mereka oleh sebab nama-Nya sendiri. Bukan
saja supaya nama-Nya tidak dinajiskan (ay. 14), namun juga
Kitab Yehezkiel 20:45-49
403
supaya Ia dapat menunjukkan kekudusan-Nya kepada
mereka di hadapan bangsa-bangsa (ay. 41), supaya Ia
dapat menguduskan diri-Nya sendiri (demikian kata yang
dipakai). Sebab sudah menjadi kewajiban Allah untuk me-
muliakan nama-Nya sendiri. Ia akan berbuat baik bagi
umat-Nya supaya Ia mendapat kemuliaan darinya, supaya
Ia dapat menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang mengam-
puni dosa, dan dengan demikian memegang janji. supaya
umat-Nya dapat memuji Dia, dan supaya tetangga-tetangga
mereka juga dapat memberi perhatian terhadap-Nya, seper-
ti yang orang-orang lakukan saat Allah mengembalikan
mereka (umat Israel – pen.) dari pembuangan (Mzm. 126:2).
Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa:
“TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang
ini!”
Penghakiman dan Belas Kasihan
(20:45-49)
45 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 46 “Hai anak manusia, tujukan-
lah mukamu ke selatan dan ucapkanlah banyak tegoran terhadap tanah
selatan dan bernubuatlah terhadap tanah kehutanan di sebelah selatan;
47 dan katakanlah kepada hutan di sebelah selatan: Dengarlah firman
TUHAN: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku akan menyalakan api di
dalammu yang akan memakan habis setiap pohon yang hidup padamu dan
setiap pohon yang layu kering. Apinya yang sedang bernyala-nyala tidak akan
padam dan semua muka dari selatan sampai utara akan terbakar kepanasan
olehnya. 48 Dan setiap manusia akan melihat, bahwa Aku, TUHANlah yang
memasangnya; api itu tidak akan padam.” 49 Lalu aku berkata: “Aduh, Tuhan
ALLAH, mereka berkata tentang aku: Apakah ia tidak hanya mengucapkan
kata-kata sindiran?”
Kita mendapati di sini sebuah nubuat tentang murka terhadap
Yehuda dan Yerusalem, yang akan lebih cocok untuk membuka pasal
selanjutnya daripada menutup pasal ini. Sebab nubuat itu tidak
bergantung pada apa yang disampaikan sebelumnya. namun apa yang
selanjutnya dikatakan di awal pasal berikutnya yaitu uraian ten-
tangnya, saat orang-orang mengeluh bahwa nubuat itu yaitu per-
umpamaan yang tidak mereka pahami. Dalam perumpamaan ini,
1. Hutanlah yang ditentang dalam nubuat ini, tanah kehutanan di
sebelah selatan, Yehuda dan Yerusalem. Keduanya terletak di
sebelah selatan dari Babel, tempat Yehezkiel sedang berada pada
404
waktu itu, dan sebab itu ia diperintahkan untuk menujukan
mukanya ke selatan (ay. 46), untuk mengisyaratkan kepada
mereka bahwa Allah telah menujukan wajah-Nya melawan mere-
ka, merasa murka terhadap mereka, dan menetapkan hati untuk
menghancurkan mereka. namun , meskipun pesan murka
yang harus disampaikannya, ia harus menyampaikannya dengan
lemah lembut. Ia harus mengucapkan banyak tegoran terhadap
tanah selatan. Ajarannya harus menitik laksana hujan (Ul. 32:2),
supaya hati orang-orang dilembutkan olehnya, seperti bumi oleh
sungai Allah, yang menitik di tanah-tanah padang gurun (Mzm.
65:13), dan yang terutama dibutuhkan oleh tanah di selatan (Yos.
15:19). Yehuda dan Yerusalem disebut hutan, bukan saja sebab
keduanya padat penduduk, seperti hutan pohon-pohon, namun
juga sebab mereka tidak berbuah, sebab pohon buah tidak
tumbuh di hutan. Dan hutan dipertentangkan dengan kebun
buah-buahan (Yes. 32:15). Orang-orang yang seharusnya menjadi
seperti taman Tuhan, dan kebun anggur-Nya, telah menjadi
seperti hutan, semuanya ditumbuhi onak dan duri. Dan orang-
orang yang demikian, yang tidak menghasilkan buah-buah kebe-
naran, ditentang dalam nubuat firman Allah.
2. Ini yaitu api yang dinyalakan di hutan-Nya yang dinubuatkan itu
(ay. 47). Semua penghakiman yang meluluhlantakkan dan mema-
kan habis baik kota maupun desa, seperti pedang, kelaparan, wa-
bah penyakit, dan pembuangan, dilambangkan dengan api ini.
(1) Ini yaitu api yang dinyalakan Allah sendiri: Aku akan me-
nyalakan api di dalammu; nafas TUHAN tidak seperti setetes air,
melainkan seperti sungai belerang yang membakar (Yes. 30:33).
Dia yang sudah menjadi api yang melindungi sekeliling Yeru-
salem, sekarang menjadi api yang memakan habis di dalamnya.
Setiap manusia akan melihat melalui keganasan api ini, dan
kehancuran-kehancuran yang akan dibuatnya, terutama saat
mereka membandingkannya dengan dosa-dosa yang telah men-
jadikan mereka bahan bakar untuk api ini, bahwa TUHANlah
yang telah memasangnya (ay. 48), sebagai pembalas yang adil
bagi kehormatan-Nya sendiri yang telah dinodai.
(2) Lautan api ini akan membakar semuanya: semua orang dari
berbagai pangkat dan kedudukan akan dimakan habis oleh-
nya, muda dan tua, kaya dan miskin, tinggi dan rendah. Bah-
kan pohon-pohon yang hidup, yang tidak mudah disergap api,
Kitab Yehezkiel 20:45-49
405
akan habis dimakan api ini. Bahkan sebagian dari orang-orang
baik akan ikut terkena malapetaka-malapetaka ini. Dan jika-
lau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang
akan terjadi dengan kayu kering? Pohon-pohon kering akan
menjadi seperti rabuk dan sumbu bagi api ini. Semua muka
(yaitu, semua yang menutupi muka bumi) dari selatan Kanaan
sampai ke utara, dari Bersyeba sampai ke Dan, akan terbakar
kepanasan olehnya.
(3) Api itu tidak akan padam. Tak satu pun dari usaha -usaha
yang dikerahkan untuk menghentikan pembumihangusan itu
akan berhasil. jika Allah hendak menghancurkan sebuah
bangsa, siapa atau apa yang bisa menyelamatkannya? Seka-
rang amatilah,
1. Sindiran orang-orang terhadap sang nabi sewaktu perkataan
ini disampaikan. Mereka berkata, apakah ia tidak hanya
mengucapkan kata-kata sindiran? (KJV: bukankah ia hanya
mengatakan perumpamaan saja?). Ini yaitu bahasa dari
rasa tidak peduli mereka atau ketidakpercayaan mereka
(kebenaran-kebenaran yang paling jelas seolah-olah hanya
seperti perumpamaan saja bagi mereka), atau ini bahasa
dari rasa kebencian dan kedengkian mereka terhadap sang
nabi. Perhatikanlah, sudah biasa bagi orang-orang yang tidak
mau diubahkan oleh firman untuk mencari-cari kesalah-
annya. Entah firman itu terlalu jelas atau terlalu kabur, ter-
lalu rumit atau terlalu sederhana, terlalu umum atau terlalu
khusus, ada saja satu atau lain kesalahan di dalamnya.
2. Keluhan sang nabi kepada Allah: Aduh, Tuhan ALLAH!
mereka berkata begini dan begitu tentang aku. Perhatikan-
lah, suatu penghiburan bagi kita, jika orang berkata
buruk tentang kita secara tidak adil, masih ada Allah yang
bisa kita datangi untuk mengadu.
PASAL 2 1
Dalam pasal ini kita mendapati,
I. Sebuah uraian dari nubuat dalam penutup pasal sebelumnya
mengenai api di hutan, yang dikeluhkan orang banyak bahwa
mereka tidak bisa memahaminya (ay. 1-5), dengan perintah-
perintah Allah kepada sang nabi supaya ia menunjukkan
dirinya sangat terenyuh oleh nubuat itu (ay. 6-7).
II. Sebuah nubuat lebih jauh tentang pedang yang sedang
menghampiri negeri itu, yang olehnya segala sesuatu akan
diporak-porandakan. Dan hal ini diungkapkan dengan sangat
tegas (ay. 8-17).
III. Sebuah penglihatan yang diberikan tentang kedatangan raja
Babel yang semakin dekat ke Yerusalem. Ia menetapkan hati
untuk pergi ke sana melalui tenungan (ay. 18-24).
IV. Hukuman yang dijatuhkan pada Zedekia, raja Yehuda (ay.
25-27).
V. Kehancuran bani Amon oleh pedang dinubuatkan (ay. 28-32).
Demikianlah pasal ini semuanya berisi ancaman.
Ancaman-ancaman terhadap Israel;
Penghakiman-penghakiman Dinubuatkan
(21:1-7)
1 Datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Hai anak manusia, tujukanlah mu-
kamu ke Yerusalem dan ucapkanlah banyak tegoran terhadap tempat kudus-
nya dan bernubuatlah melawan tanah Israel. 3 Katakanlah kepada tanah
Israel: Beginilah firman TUHAN: Lihat, Aku akan menjadi lawanmu dan akan
mencabut pedang-Ku dari sarungnya dan melenyapkan dari tengah-tengah-
mu orang benar dan orang fasik. 4 Oleh sebab Aku hendak melenyapkan
dari tengah-tengahmu orang benar dan orang fasik, maka pedang-Ku akan
terhunus dari sarungnya terhadap semua manusia dari selatan sampai
408
utara. 5 Dan semua manusia akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menca-
but pedang-Ku dari sarungnya, sehingga tidak akan kembali lagi ke situ.
6 Dan engkau anak manusia, mengeranglah! Mengeranglah di hadapan mere-
ka seperti seorang yang tulang pinggangnya patah dan yang berada dalam
kesengsaraan yang pahit. 7 Dan kalau mereka bertanya kepadamu: Mengapa
engkau mengeluh? jawablah: sebab suatu berita! Kalau berita itu sudah
tersiar, setiap hati akan menjadi tawar dan semua tangan menjadi lemah
lesu, segala semangat menghilang dan semua orang terkencing ketakutan.
Sungguh, pasti datang dan terjadi! demikianlah firman Tuhan ALLAH.”
Sang nabi sudah dengan setia menyampaikan pesan yang dipercaya-
kan kepadanya, dalam penutup pasal sebelumnya, sesuai syarat-
syarat yang dengannya ia menerimanya, tidak berani menambahkan
ucapannya sendiri pada pesan itu. namun , saat ia mengeluh
bahwa orang-orang mempersalahkan dia sebab berbicara dalam
peribahasa, firman Tuhan datang kepadanya lagi, dan memberinya
kunci untuk memahami kata-kata kiasan itu, supaya dengannya ia
bisa membuat orang banyak memahami maknanya, dan dengan
demikian membungkam keberatan mereka itu. Sebab semua orang
tidak akan bisa berdalih di depan pengadilan Allah dan setiap mulut
akan disumbat. Perhatikanlah, orang yang berkata-kata dengan baha-
sa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia
untuk menafsirkannya (1Kor. 14:13). saat kita berbicara kepada
orang lain tentang jiwa mereka, kita harus berusaha berbicara
dengan jelas, dan mengungkapkan diri sebaik mungkin supaya dapat
dipahami. Kristus menguraikan perumpamaan-perumpamaan-Nya ke-
pada murid-murid-Nya (Mrk. 4:34).
1. Sang nabi di sini diarahkan secara lebih jelas kepada siapa ia
harus membidik panah nubuat ini. Ia harus mengucapkan banyak
tegoran terhadap tempat kudus (ay. 2), terhadap Kanaan tanah
kudus, Yerusalem kota kudus, bait Allah rumah kudus itu.
Tempat-tempat ini dijunjung martabatnya mengatasi tempat-
tempat lain. namun , saat mereka menajiskan tempat-tem-
pat itu, ucapan yang dulu jatuh di tempat-tempat kudus sekarang
akan jatuh melawannya: Bernubuatlah melawan tanah Israel.
Suatu kehormatan bagi Israel bahwa ia memiliki nabi-nabi dan
nubuat. Namun semuanya ini, sebab direndahkan oleh mereka,
berbalik melawan mereka. Dan sudah sewajarnya Sion didobrak
dengan persenjataannya sendiri, yang dulu digunakan untuk me-
lawan musuh-musuhnya, sebab ia tidak tahu bagaimana meng-
hargainya.
Kitab Yehezkiel 21:1-7
409
2. Sang nabi diajar, dan harus mengajar orang banyak, arti dari api
yang mengancam akan memakan habis hutan di tanah selatan
itu. Api itu menandakan pedang yang dicabut, pedang perang
yang akan membuat tanah itu sunyi sepi (ay. 3): Lihat, Aku akan
menjadi lawanmu, hai tanah Israel! Tidak perlu hal lain untuk
membuat sebuah bangsa sengsara selain membuat Allah melawan
mereka. Sebab seperti halnya, jika Ia berpihak pada kita, kita
tidak perlu takut kepada siapa pun yang melawan kita, demikian
pula, jika Ia melawan kita, maka tak ada harapan bagi kita, tak
peduli siapa pun yang berpihak pada kita. Dan umat yang meng-
aku diri sebagai umat Allah, saat memberontak dari-Nya, mem-
buat Dia melawan mereka, yang sebelumnya berpihak pada mere-
ka. Bukankah api di hutan itu dinyalakan Allah? Pedang di sini
yaitu pedang-Nya, yang telah dipersiapkan-Nya, dan yang akan
diberi-Nya perintah. Dialah yang akan mencabut pedang dari
sarungnya, yang di dalamnya pedang itu sudah terbaring tenang
dan tidak mengancam bahaya. Perhatikanlah, saat pedang
dicabut dari sarungnya di antara bangsa-bangsa, maka tangan
Allah harus dilihat dan diakui sebagai yang melakukannya. Bu-
kankah api itu memakan habis setiap pohon yang hidup dan
setiap pohon yang layu kering? Pedang itu juga dengan cara
serupa akan melenyapkan orang benar dan orang fasik. Orang
baik dan orang jahat sama-sama ikut merasakan malapetaka-
malapetaka yang menimpa bangsa itu. Orang benar dilenyapkan
dari tanah Israel saat mereka dibawa sebagai tawanan di Babel,
meskipun mungkin hanya sedikit atau tak seorang pun dari
mereka yang dilenyapkan dari negeri orang hidup. Dan suatu
pertanda yang mengancam bagi tanah Israel bahwa pada awal
kesusahan-kesusahannya, orang-orang unggulan seperti Daniel
beserta teman-temannya, dan Yehezkiel, dilenyapkan darinya dan
dibawa ke Babel. namun meskipun pedang itu melenyapkan orang
benar dan orang fasik (sebab ia makan orang ini atau orang itu,
2Sam. 11:25), namun jauhlah kiranya dari kita untuk berpikir
bahwa orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik (Kej.
18:25). Tidak. Anugerah-anugerah dan penghiburan-penghiburan
Allah membuat pembedaan yang besar, walaupun pemeliharaan-
Nya tampak tidak membuat pembedaan itu. Buah ara yang baik
dibawa ke Babel untuk kebaikannya (Yer. 24:5-6). Hanya tampak
dari luar saja nasib orang sama: baik orang yang benar maupun
410
orang yang fasik (Pkh. 9:2). namun semuanya ini berbicara tentang
hebatnya murka Allah terhadap tanah Israel. Benarlah apa yang
dikatakan, Aku tidak akan merasa sayang, sebab Ia tidak merasa
sayang, bahkan kepada orang benar di dalamnya sekalipun.
sebab tidak ada cukup banyak orang benar untuk menyelamat-
kan tanah itu, maka untuk membuat keadilan Allah semakin nya-
ta, sedikit orang benar yang ada pun akan menderita bersamanya,
dan rahmat Allah akan menggantinya bagi mereka dengan suatu
cara lain. Bukankah api itu membakar semua muka dari selatan
sampai utara? Pedang itu akan terhunus dari sarungnya terhadap
semua manusia dari selatan sampai utara, akan terhunus, sebagai
pedang Allah, dengan perintah yang tak dapat dibantah, dengan
kekuatan yang tak dapat dilawan. Apakah semua orang diberi
tahu bahwa Allah menyalakan api itu? Mereka akan dibuat
mengetahui bahwa Dia telah mencabut pedang (ay. 5). Dan, ter-
akhir, apakah api yang menyala itu tidak pernah terpadamkan?
Demikianlah saat pedang Tuhan ini terhunus melawan Yehuda
dan Yerusalem, sarungnya dibuang, dan pedang itu tidak akan
pernah disarungkan lagi. Ia tidak akan kembali lagi ke situ,
sampai ia menghabisi dengan tuntas.
3. Sang nabi diperintahkan, melalui ungkapan-ungkapan kesedihan
dan keprihatinannya sendiri atas malapetaka-malapetaka yang
sedang menghampiri ini, untuk berusaha menanamkan kesan-
kesan serupa pada orang banyak. sesudah menyampaikan pesan-
nya, ia harus mengerang (ay. 6), harus banyak berkeluh kesah,
seperti seorang yang tulang pinggangnya patah. Ia harus menge-
rang seolah-olah jantungnya akan pecah, mengerang dalam
kesengsaraan yang pahit, dengan ungkapan-ungkapan dukacita
yang pahit. Dan ini harus dilakukan di depan umum, di hadapan
orang-orang yang sudah mendengar pesannya sebelumnya,
supaya ini bisa menjadi kabar bagi mata mereka, seperti sebelum-
nya bagi telinga mereka. Dan sungguh baik jika kedua kabar itu
berhasil ditanamkan pada diri mereka. Sang nabi harus menge-
rang, meskipun itu menyakitkan bagi dirinya sendiri dan mem-
buat dadanya sakit, dan walaupun ada kemungkinan bahwa
orang-orang duniawi di antara mereka akan mengolok-oloknya
sebab itu, dan menyebutnya pengkhotbah yang suka berbicara
dibuat-buat. namun , jika kami tidak menguasai diri, hal itu yaitu
dalam pelayanan Allah. Dan, jika ini dianggap hina, kami akan
Kitab Yehezkiel 21:1-7
411
melakukannya dengan lebih lagi. Perhatikanlah, hamba-hamba
Tuhan, kalau ingin membuat orang lain tergerak dengan hal-hal
yang mereka katakan, harus menunjukkan diri bahwa mereka
sendiri sungguh-sungguh tergerak dengan hal-hal itu, dan harus
bersedia berbuat sesuatu yang dapat membuat mereka merasa
tidak nyaman, supaya hal itu dapat memajukan tujuan-tujuan
pelayanan mereka. Orang banyak, sebab mengamati bahwa sang
nabi banyak berkeluh kesah dan tidak melihat ada alasan untuk
itu, akan bertanya, “Mengapa engkau mengeluh? Keluhan-keluhan
ini memiliki suatu makna batiniah. Mari kita cari tahu apa itu.”
Dan ia harus menjawab mereka (ay. 7): “Ini sebab suatu berita,
berita berat, yang akan kita dengar sebentar lagi. Berita itu sudah
tersiar (penghakiman-penghakiman itu sudah datang saat kita
mendengar kabar tentangnya), berita itu datang dengan cepat,
dan kemudian kamu semua akan mengeluh. Bahkan, itu tidak
akan cukup. Setiap hati akan menjadi tawar dan segala semangat
menghilang. Keberanianmu akan lenyap sepenuhnya dan kamu
tidak akan memiliki pemikiran-pemikiran yang menggugah sema-
ngat untuk menyokong dirimu sendiri. Dan, jika hati dan
semangat lenyap, tentu saja selanjutnya semua tangan menjadi
lemah lesu dan tidak mampu berperang, dan semua orang ter-
kencing ketakutan dan tidak mampu lari atau tetap berdiri tegak.”
Orang-orang yang memiliki Allah di pihak mereka, saat daging
dan hati menjadi tawar, memiliki-Nya sebagai kekuatan hati
mereka. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki Allah sebagai
lawan mereka tidak memiliki obat yang dapat menguatkan
semangat yang lemah, melainkan seperti Belsyazar saat pikiran-
pikirannya menggelisahkan dia (Dan. 5:6). Sebagian orang hanya
merasa ketakutan dan tidak benar-benar tersakiti. Mungkinkah
keadaannya demikian di sini, dan apa yang akan terjadi nanti
mungkin lebih baik daripada yang dibayangkan? Tidak: Sungguh,
pasti datang dan terjadi. Itu bukan momok untuk menakut-nakuti
mereka, namun sesuai dengan ketakutannya, demikian pula murka-
nya, dan malah lebih pedih daripada yang ditakutkan.
412
Penghakiman-penghakiman Dinubuatkan
(21:8-17)
8 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 9 “Hai anak manusia, bernu-
buatlah dan katakan: Beginilah firman TUHAN: Pedang! Pedang! Yang sudah
diasah dan juga digosok! 10 Diasah untuk menumpahkan darah dan digosok
supaya mengkilap seperti petir. Apakah kita akan bersukacita? – Tongkat
anakku menghina segala macam kayu. – 11 Pedang itu diberikan supaya
digosok, supaya sedia dipergunakan; pedang itu diasah dan digosok, supaya
diberikan ke tangan si pembunuh. 12 Berserulah dan merataplah, hai anak
manusia! Sebab pedang itu ditujukan melawan umat-Ku, ditujukan melawan
semua pemimpin Israel; mereka dan umat-Ku sama-sama dibiarkan dimakan
pedang. Oleh sebab itu tepuklah pinggangmu sebagai tanda perkabungan.
13 Sebab percobaan datang dan tidak suatupun yang dapat tahan,
demikianlah firman Tuhan ALLAH. 14 Dan engkau anak manusia, bernubuat-
lah dan tepuklah tanganmu, biarlah pedang itu menjadi dua kali lipat, tiga
kali lipat. Itu pedang pembunuh, pedang untuk pembunuhan besar-besaran,
yang berkeliling menghabiskan mereka. 15 supaya hati mereka hancur dan
yang jatuh berebahan bertambah-tambah di tiap pintu gerbang mereka, Aku
memerintahkan penumpahan darah dengan pedang itu. Aduh, pedang itu
dibuat menyamai petir dan digosok untuk menumpahkan darah. 16 Pancung
yang di kanan dan di kiri, ke mana saja matamu menetak. 17 Dan Aku juga
akan bertepuk tangan dan hati-Ku yang panas menjadi tenang kembali. Aku,
TUHAN, yang mengatakannya.”
Di sini ada nubuat lain tentang pedang itu, yang disampaikan dengan
cara yang sangat menyentuh. Ungkapan-ungkapan yang dipakai di
sini agak rumit, dan membingungkan para penafsir. Pedang itu
dicabut dari sarungnya dalam ayat-ayat sebelumnya. Sedangkan di
sini pedang itu dipersiapkan untuk menjalankan tugas, dan sang
nabi diperintahkan untuk meratapinya. Amatilah,
I. Bagaimana pedang itu digambarkan di sini.
1. Pedang itu diasah, supaya dapat memotong dan melukai, dan
menumpahkan darah. Murka Allah akan membuatnya tajam.
Dan, alat-alat apa saja yang berkenan dipakai Allah untuk
menjalankan penghakiman-penghakiman-Nya akan dipenuhi-
Nya dengan kekuatan, keberanian, dan kegeraman, sesuai
dengan pelayanan yang harus dijalankannya. Dari mulut
Kristus keluar sebilah pedang tajam (Why. 19:15).
2. Pedang itu digosok, supaya mengkilap, bagi kengerian orang-
orang yang kepada mereka pedang itu dicabut. Pedang itu
akan menjadi semacam pedang yang bernyala-nyala. Jika pe-
dang itu sudah berkarat di dalam sarung sebab tidak dipakai,
maka ia akan diasah dan dibuat mengkilap. Sebab meskipun
kemuliaan keadilan Allah mungkin tampak tertutup awan
Kitab Yehezkiel 21:8-17
413
untuk sementara waktu, selama hari kesabaran-Nya dan pe-
nangguhan penghakiman-penghakiman-Nya, namun kemulia-
an itu akan bersinar lagi dan dibuat mengkilap.
3. Pedang itu yaitu pedang yang penuh kemenangan, tak ada
yang bisa bertahan di hadapannya (ay. 10): Tongkat anakku
menghina segala macam kayu (KJV: Pedang itu menghina tong-
kat anakku seperti segala macam kayu). Israel, firman Allah
suatu kali, ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung. Pemerintahan
bangsa itu disebut tongkat, tongkat yang kuat. Kita membaca
(19:11) tentang cabang yang kuat yang mereka miliki yang
menjadi tongkat kerajaan. namun saat pedang keadilan Allah
dicabut, ia menghina tongkat ini, tidak menganggapnya sama
sekali. Meskipun itu tongkat yang kuat, dan tongkat anaknya,
itu tidak lebih daripada sekadar segala macam kayu. jika
umat yang mengaku sebagai umat Allah telah memberontak
dari-Nya, dan hidup dalam pemberontakan melawan Dia,
pedang-Nya merendahkan mereka. Siapa mereka bagi-Nya
melebihi bangsa lain? Tafsiran yang agak luas memberi
gagasan lain tentang pedang ini: Ini yaitu tongkat anak-Ku.
Dan kita tahu tentang siapa Allah berkata (Mzm. 2:7), Anak-Ku
engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini, dan (Mzm.
2:9) Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi.
Pedang ini yaitu gada besi itu yang menghina segala macam
kayu dan akan menebangnya. Atau, pedang ini yaitu tongkat
anak-Ku, tongkat yang menghajar, untuk mengganjar pelang-
garan umat Allah (2Sam. 7:14), bukan untuk melenyapkan
mereka sebagai bangsa. Tongkat itu menjadi pedang bagi
orang lain, namun tongkat bagi anak-Ku.
II. Bagaimana pedang itu di sini diserahkan ke tangan para pelak-
sana hukuman: “Ini yaitu tongkat Anak-Ku, dan Ia telah mem-
berikannya supaya digosok, supaya sedia dipergunakan (ay. 11),
supaya dapat dipakai untuk tujuan ia dicabut. Pedang itu tidak
diberikan ke tangan pemain anggar untuk dimainkan, melainkan
ke tangan si pembunuh untuk melaksanakan hukuman. Pedang
perang yang dipakai Anak-Ku yaitu pedang keadilan, dan
kepada-Nya diserahkan penghakiman seluruhnya. Pedang itu
dibuat menyamai petir (ay. 15), pedang itu dibungkus (KJV), supaya
tetap aman, bersih, dan tajam untuk menumpahkan darah, tidak
414
seperti pedang Goliat yang terbungkus dalam kain hanya sebagai
peringatan” (1Sam. 21:9).
III. Bagaimana pedang itu diarahkan, dan kepada siapa ia dikirim (ay.
12): Pedang itu ditujukan melawan umat-Ku. Mereka akan rebah
oleh pedang ini. Perkataan ini diulangi lagi, sebagai sesuatu yang
hampir-hampir tidak dapat dipercaya, bahwa pedang bangsa kafir
akan ditujukan melawan umat Allah sendiri. Bahkan, pedang itu
akan ditujukan melawan semua pemimpin Israel. Martabat dan
kekuasaan mereka sebagai pemimpin tidak akan melindungi
mereka, sama seperti pengakuan agama mereka sebagai pemim-
pin-pemimpin Israel. namun , jika di suatu waktu pedang itu
ditujukan kepada umat Allah, bukankah ada cukup penghiburan
dalam hati mereka untuk melindungi diri dari segala sesuatu yang
menakutkan? Ya, ada penghiburan bagi mereka, selama mereka
berperilaku pantas sebagai umat Allah. namun mereka ini tidak
berperilaku demikian, dan sebab itu kengerian-kengerian, oleh
sebab pedang, akan menimpa orang-orang yang menyebut diri
sebagai umat-Ku. Perhatikanlah, kalau orang baik akan tenang,
bukan hanya dari kejahatan, melainkan juga dari ketakutan
terhadapnya, maka orang fasik akan diganggu bukan hanya oleh
pedang, melainkan juga oleh kengerian-kengeriannya, yang timbul
dari kesadaran akan kesalahan mereka sendiri. Pedang ini diarah-
kan secara khusus melawan orang-orang besar, sebab mereka
sudah menjadi pendosa-pendosa terbesar di antara umat Allah.
Mereka pun semuanya telah mematahkan kuk, telah memutuskan
tali-tali pengikat (Yer. 5:5), dan sebab itu dengan merekalah Allah
secara khusus berseteru, yang sudah menjadi biang keladi dalam
dosa. Pedang orang-orang yang terbunuh yaitu pedang orang-
orang besar yang terbunuh (ay. 14, KJV). Meskipun mereka telah
melengkapi diri dengan tempat-tempat pelarian, tempat-tempat
persembunyian, di mana mereka membuai diri dengan harapan-
harapan bahwa mereka akan aman, mereka akan mendapati
bahwa pedang itu akan berkeliling menghabiskan mereka, dan
menemukan mereka di sana, seperti katak-katak, saat menjadi
salah satu tulah Mesir, bisa masuk ke dalam kamar raja-raja
mereka. Pedang, ujung pedang ini, diarahkan melawan pintu-pintu
gerbang mereka, melawan tiap pintu gerbang mereka (ay. 15),
melawan semua hal yang dengannya mereka berpikir akan men-
Kitab Yehezkiel 21:8-17
415
jauhkan pedang itu dan membentengi diri terhadapnya. Perhati-
kanlah, pintu-pintu gerbang yang paling kuat, meskipun itu pintu-
pintu tembaga, yang dikencangkan dengan begitu baik, dijaga
dengan begitu baik, tidak bisa menjadi pelindung terhadap ujung
pedang penghakiman-penghakiman Allah. namun saat pedang
itu ditujukan kepada orang-orang berdosa,
1. Mereka sudah takut akan hal-hal yang terburuk. Hati mereka
hancur, sehingga mereka tidak mampu membuat perlawanan
apa pun.
2. Yang terburuk sudah tiba. Perlawanan apa pun yang mereka
buat tidak ada gunanya, namun mereka akan hancur, dan yang
jatuh berebahan bertambah-tambah. namun apa gunanya kita
mencermati ke mana pedang ini menuju, kalau ia memiliki
tugas yang umum, dikirim dengan wewenang sepenuhnya?
(ay. 16): “Pancung yang di kanan dan di kiri, ke mana saja yang
kauinginkan, berbeloklah ke kanan dan ke kiri, engkau akan
menemukan orang-orang yang berbuat jahat, sebab tak
seorang pun bebas dari kesalahan. Dan engkau memiliki
wewenang untuk melawan mereka, sebab tak seorang pun
dikecualikan dari hukuman. Oleh sebab itu, ke mana saja
matamu menetak, ke sanalah engkau terus memancung, dan,
seperti pedang Yonatan, tanpa darah orang-orang yang mati
terbunuh dan tanpa lemak para pahlawan, engkau tidak
pernah kembali dengan hampa” (2Sam. 1:22). Perhatikanlah,
begitu penuhnya dunia ini dengan orang-orang fasik sehingga,
ke mana saja penghakiman-penghakiman Allah terarah, peng-
hakiman-penghakiman itu akan menemukan pekerjaan, akan
menemukan sesuatu untuk dikerjakan. Api itu tidak akan per-
nah padam sebab kekurangan bahan bakar di bumi ini. Dan
begitu beragamnya cara-cara Allah untuk menemui orang-
orang berdosa, sehingga pedang keadilan-Nya masih seperti
sedia kala saat ia menyala-nyala di tangan para kerub:
pedang itu menyambar-nyambar (Kej. 3:24).
IV. Apa sifat dari pedang ini, dan apa niat-niat dan batasan-batasan-
nya berkenaan dengan umat Allah (ay. 13). Pedang itu yaitu un-
tuk menghajar. Pedang itu dirancang demikian. Pedang bagi orang
lain, tongkat bagi umat Allah. Ini merupakan kata penghiburan
416
yang muncul di tengah-tengah perkataan yang mengerikan ini,
meskipun diungkapkan dengan agak samar.
1. Umat Allah mulai takut bahwa pedang itu bahkan akan meng-
hina tongkat, bahwa pedang itu akan terus bekerja dengan
kegeraman yang sedemikian rupa sehingga ia akan meman-
dang rendah tugasnya hanya sebagai tongkat, akan melupa-
kan batasan-batasannya dan menjadi pedang yang sesungguh-
nya, bahkan bagi umat Allah sendiri. Mereka takut kalau-
kalau pedang orang Kasdim, yang merupakan tongkat murka
Allah, tidak sudi disebut sebagai tongkat, dan menjadi seperti
kapak yang memegahkan diri terhadap orang yang memakai-
nya, atau tongkat yang mengangkat dirinya sendiri seolah-olah
itu bukan kayu (Yes. 10:15, KJV). Atau, “Bagaimana jika pedang
itu bahkan menghina tongkat? Yaitu, bagaimana jika pedang
ini membuat tongkat-tongkat sebelumnya, seperti pedang
Sanherib, dihina sebagai tidak ada apa-apanya dibandingkan
dengan pedang ini? Bagaimana jika pedang ini terbukti bukan
sebagai tongkat yang menghajar, melainkan pedang yang
menghancurkan, untuk menghabiskan jemaat dan bangsa
kita?” Inilah yang dikhawatirkan oleh sedikit orang yang agak
berpikir panjang, namun penakut. Perhatikanlah, saat peng-
hakiman-penghakiman yang mengancam sudah tiba, maka
sungguh baik untuk menduga hal terburuk yang mungkin
menjadi akibat-akibatnya, supaya kita membuat persiapan
sebagaimana mestinya. Bagaimana jika pedang itu menghina
suku atau tongkat? Yaitu, suku Yehuda dan kaum keturunan
Daud (demikian yang diartikan dari kata shebet di sini menu-
rut sebagian orang). Bagaimana jika pedang itu bertujuan
untuk menghancurkan pemerintahan kita? Kalau memang
begitu, Tuhan itu benar dan akan mengasihani kendati demi-
kian. namun ,
2. Ketakutan-ketakutan ini dibungkam oleh jaminan bahwa tidak
demikian halnya. Pedang itu tidak akan melupakan dirinya
sendiri, atau tugas yang untuknya ia dikirim: Ini yaitu per-
cobaan, dan tidak lebih dari sekadar percobaan. Dia yang me-
ngirimnya akan memakainya, dan menetapkan batasan-batas-
annya, dengan cara seperti yang dikehendaki-Nya. Di sinilah
gelombang-gelombangnya yang congkak akan dihentikan. Per-
hatikanlah, suatu penghiburan bagi umat Allah, saat peng-
Kitab Yehezkiel 21:8-17
417
hakiman-penghakiman-Nya sudah tiba, dan mereka siap-siap
gemetar sebab takut terhadapnya, bahwa, apa pun bagi orang
lain, bagi mereka penghakiman-penghakiman itu hanyalah
percobaan. Dan, seandainya mereka diuji, mereka akan timbul
seperti emas, dan ujian terhadap iman mereka akan menam-
bah iman mereka.
V. Di sini sang nabi dan orang banyak harus menunjukkan bahwa
mereka terenyuh dengan penghakiman-penghakiman yang dian-
camkan.
1. Sang nabi harus bersungguh-sungguh dalam mengecamkan
penghakiman-penghakiman ini. Ia harus berkata, Pedang!
pedang! (ay. 9). Janganlah ia berusaha mencari kata-kata yang
indah, dan berbagai macam ungkapan yang muluk-muluk.
saat kota sedang terbakar, orang tidak akan begitu memper-
hatikan kata-kata, namun akan berteriak, dengan suara keta-
kutan dan pedih, Kebakaran! kebakaran! Demikian pula sang
nabi harus berteriak, Pedang! pedang! dan (ay. 14), biarlah
pedang itu menjadi dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat dalam
khotbahmu. Allah berbicara satu kali, dua kali, bahkan tiga
kali. Sungguh baik jika kita, sesudah semuanya itu, mau mem-
perhatikan dan mengindahkannya. Pedang itu akan menjadi
dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat dalam pemeliharaan Allah.
Sebab serangan ketiga dari Nebukadnezar kepada Yerusalem-
lah yang menghabisi kota itu. Kehancuran datan