Yehezkiel 13


 ah dalam menunjukkan belas kasihan-Nya yaitu  

alasan-alasan yang berkaitan dengan kemuliaan-Nya sendiri. 

III. Ketetapan hati Allah untuk membinasakan angkatan mereka di 

padang gurun itu. Dia yang sudah mengangkat tangan-Nya untuk 

mereka (ay. 6, KJV), sekarang mengangkat tangan-Nya melawan 

mereka. Dia yang meneguhkan janji-Nya dengan sumpah untuk 

membawa mereka keluar dari Mesir, sekarang meneguhkan an-

caman-ancaman-Nya dengan sumpah bahwa Ia tidak akan me-

nuntun mereka ke Kanaan (ay. 15-16): Aku mengangkat tangan-

Ku kepada mereka, dengan berkata, demi Aku yang hidup, orang-

orang ini yang telah sepuluh kali mencobai Aku tidak akan pernah 

melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek 

moyang mereka (Bil. 14:22-23; Mzm. 95:11). Dengan penghinaan 

mereka terhadap hukum-hukum Allah, dan khususnya hari-hari 

Sabat-Nya, mereka menaruh penghalang di depan pintu mereka 

sendiri. Dan apa yang mendasari ketidaktaatan mereka kepada 

Allah, dan pengabaian mereka terhadap ketetapan-ketetapan-Nya, 

yaitu  rasa sayang tersembunyi terhadap dewa-dewa Mesir: Hati 

mereka mengikuti berhala-berhala mereka. Perhatikanlah, kecen-

derungan pikiran terhadap dunia dan kedagingan, uang dan perut 

(dua berhala besar secara rohani itu), yaitu  akar kepahitan yang 

darinya muncul segala ketidaktaatan terhadap hukum ilahi. Hati 

yang mengikuti berhala-berhala itu merendahkan peraturan-

peraturan Allah. 

IV. Dipeliharanya keturunan yang akan diperbolehkan masuk ke 

Kanaan sesudah  melewati ujian baru, dan ajaran-ajaran yang 

diberikan kepada keturunan itu (ay. 17). Meskipun mereka pantas 

mendapatkan kehancuran seperti itu, dan dihukum dengan ke-

hancuran itu, namun Aku merasa sayang melihat mereka. saat  

Ia melihat mereka, Ia berbelas kasihan terhadap mereka, dan 

Kitab Yehezkiel 20:10-26 

tidak menghabisi mereka, namun  menangguhkan hukuman mereka 

sampai angkatan baru bertumbuh. Perhatikanlah, sebab  rahmat 

Allahlah Ia tidak menghabisi kita sejak dari dulu. Angkatan yang 

baru ini terdidik dengan baik. Musa dalam Kitab Ulangan menu-

liskan dan menegakkan hukum-hukum yang sudah diberikan 

kepada orang-orang yang keluar dari Mesir, supaya  anak-anak 

mereka memegangnya, seolah-olah hukum itu terngiang-ngiang di 

telinga mereka dengan cara yang baru saat  mereka memasuki 

Kanaan (ay. 18): “Aku berkata kepada anak-anak mereka di pa-

dang gurun, di dataran Moab, hiduplah menurut ketetapan-

ketetapan Allahmu dan janganlah kamu hidup menurut ketetapan-

ketetapan ayahmu. Jangan meniru perilaku-perilaku takhayul 

mereka atau mempertahankan kebiasaan-kebiasaan mereka yang 

bodoh dan fasik. Jauhilah cara hidup mereka yang sia-sia, yang 

tidak memiliki  hal lain untuk membenarkan dirinya selain 

bahwa itu diwarisi dari nenek moyangmu (1Ptr. 1:18). Janganlah 

menajiskan dirimu dengan berhala-berhala mereka, sebab kamu 

melihat bagaimana mereka membuat diri mereka najis di mata 

Allah oleh berhala-berhala itu. namun  lakukanlah peraturan-

peraturan-Ku dan kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku” (ay. 19-20). 

Perhatikanlah, jika orangtua tidak peduli, dan tidak memberi  

ajaran-ajaran yang baik kepada anak-anak mereka sebagaimana 

mestinya, maka anak-anak harus menebus kehilangan itu dengan 

mempelajari firman Allah dengan lebih hati-hati dan tekun 

sewaktu mereka tumbuh dewasa. Dan contoh-contoh buruk dari 

orangtua harus dipakai oleh anak-anak sebagai peringatan, dan 

bukan untuk ditiru. 

V.  Pemberontakan angkatan selanjutnya terhadap Allah, yang dengan-

nya mereka juga menjadikan diri mereka sasaran murka Allah (ay. 

21): Anak-anak mereka memberontak terhadap Aku juga. Dan hal 

yang sama yang dikatakan tentang pemberontakan ayah-ayah di 

sini dikatakan tentang pemberontakan anak-anak, sebab mereka 

yaitu  keturunan para pembuat kejahatan. Musa berkata kepada 

mereka bahwa Ia mengenal kedegilan dan tegar tengkuk mereka 

(Ul. 31:27). Dan (Ul. 9:24), Kamu menentang TUHAN, sejak aku 

mengenal kamu. Mereka tidak hidup menurut ketetapan-ketetapan-

Ku (ay. 21). Bahkan, mereka menolak ketetapan-ketetapan-Ku (ay. 

24). Orang-orang yang tidak mematuhi ketetapan-ketetapan Allah 

berarti merendahkannya. Mereka menunjukkan bahwa mereka 

memiliki pandangan yang rendah terhadap semua ketetapan itu 

dan terhadap Dia yang empunya ketetapan-ketetapan itu. Mereka 

melanggar kekudusan hari-hari Sabat Allah, seperti ayah-ayah 

mereka. Perhatikanlah, penajisan hari Sabat yaitu  jalan masuk 

bagi semua bentuk ketidaksalehan. Orang-orang yang menajiskan 

waktu yang kudus tidak akan menjaga kemurnian dari apa pun. 

Dikatakan tentang para ayah (ay. 16) bahwa hati mereka meng-

ikuti berhala-berhala mereka. Mereka menyembah berhala-berhala 

sebab  memiliki rasa sayang pada berhala-berhala itu. Dikatakan 

tentang anak-anak (ay. 24) bahwa mata mereka selalu tertuju 

kepada berhala-berhala ayah-ayah mereka. Mereka telah tumbuh 

menjadi orang yang tidak percaya pada Tuhan, dan hatinya tidak 

terpatri pada dewa-dewa mana pun selain menyembah berhala-

berhala ayah-ayah mereka, sebab  berhala itu yaitu  berhala 

ayah-ayah mereka, dan ayah-ayah mereka menempatkan berhala-

berhala itu di depan mata mereka. Mereka sudah terbiasa dengan 

berhala-berhala itu. Dan, jika mereka harus memiliki allah-allah, 

maka mereka ingin memiliki allah-allah yang bisa mereka lihat, 

yang bisa mereka atur. Dan apa yang memperparah ketidaktaatan 

mereka terhadap ketetapan-ketetapan Allah yaitu  bahwa, jika 

saja mereka melakukannya, mereka akan hidup (ay. 21), akan 

menjadi bangsa yang berbahagia dan berkembang. Perhatikanlah, 

orang-orang yang berlaku bertentangan dengan kewajiban mere-

ka, berlaku bertentangan dengan kepentingan mereka. Mereka 

tidak mau patuh, tidak mau datang kepada Kristus, padahal 

dengan berbuat hal itu mereka memperoleh hidup (Yoh. 5:40). 

Oleh sebab  itu wajar kalau orang-orang yang tidak mau hidup 

dan berkembang seperti yang bisa saja terwujud dalam ketaatan 

mereka, harus mati dan binasa dalam ketidaktaatan mereka. Nah, 

contoh besar dari pemberontakan dan kecenderungan angkatan 

itu pada penyembahan berhala yaitu  noda yang di Peor, seperti 

contoh dari pemberontakan ayah-ayah mereka yaitu  anak lembu 

emas. Pada waktu itu bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel 

(Bil. 25:3). Pada waktu itu ada tulah dalam jemaat Tuhan, yang, 

seandainya tidak dihentikan pada waktunya oleh kegigihan Pine-

has, sudah membinasakan mereka semua. Dan mereka masih 

mengakuinya, pada masa Yosua, kita belum mentahirkan diri dari 

noda itu sampai hari ini (Yos. 22:17; Mzm. 106:29). Pada waktu 

Kitab Yehezkiel 20:10-26 

itulah Allah berkata bahwa Ia bermaksud mencurahkan amarah-

Nya ke atas mereka (ay. 21), bahwa Ia bersumpah kepada mereka 

di padang gurun, saat  mereka untuk kedua kalinya sudah siap 

memasuki Kanaan, bahwa Ia akan menyerakkan mereka di antara 

bangsa-bangsa. Hal ini dikatakan-Nya kepada mereka melalui 

Musa dalam lagu perpisahannya (Ul. 32:20). Oleh sebab  mereka 

membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, Ia berkata, Aku 

akan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka. Dan (ay. 26-

27) Ia berkata, Aku meniupkan mereka, namun  Aku kuatir disakiti 

hati-Ku oleh musuh, yang menjelaskan pernyataan ini (ay. 21-22), 

Aku bermaksud mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka, namun  

Aku menarik tangan-Ku kembali sebab  nama-Ku. Perhatikanlah, 

saat  kebobrokan-kebobrokan jemaat yang kasat mata sudah 

sedemikian rupa, dan begitu menyulut murka Allah sehingga 

beralasan bagi kita untuk takut akan kemusnahannya secara 

menyeluruh, namun pada saat itu kita bisa yakin akan hal ini, 

bagi penghiburan kita, bahwa Allah akan melindungi kehormatan-

Nya sendiri, dengan menggenapi tujuan-Nya, bahwa selama dunia 

berdiri Ia akan memiliki jemaat di dalamnya. 

VI. Penghakiman-penghakiman Allah atas mereka sebab  pemberon-

takan mereka. Mereka tidak mau memperhatikan ketetapan-kete-

tapan dan peraturan-peraturan yang dengannya Allah menentu-

kan kewajiban mereka, malah merendahkannya. Oleh sebab  itu 

Allah memberi kepada mereka ketetapan-ketetapan dan peraturan-

peraturan yang tidak baik, dan yang sebab nya mereka tidak 

dapat hidup (ay. 25). Dari sini kita bisa memahami sejumlah cara 

yang dengannya Allah menghukum mereka selama mereka berada 

di padang gurun, yaitu dengan tulah yang menyeruak masuk di 

tengah-tengah mereka, ular tedung, dan sejenisnya. Cara-cara ini, 

merujuk pada hukum yang telah mereka langgar, disebut sebagai 

penghakiman-penghakiman (KJV), sebab  ditimpakan oleh keadilan 

Allah. Cara-cara ini juga disebut sebagai ketetapan-ketetapan, 

sebab  Ia memberi  perintah-perintah menyangkut mereka, 

dan memerintahkan kehancuran-kehancuran seperti terkadang Ia 

memerintahkan pembebasan-pembebasan, dan menetapkan tu-

lah-tulah bagi Israel seperti yang Ia lakukan dengan tulah-tulah 

Mesir. saat  Allah berkata, Kuhancurkan mereka dalam sekejap 

mata (Bil. 16:21), saat  Ia berkata, tangkaplah semua orang yang 

mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka (Bil. 25:4), saat  Ia 

mengancam mereka dengan kutukan dan mengharuskan mereka 

berkata Amin untuk setiap kutukan (Ul. 27:26), pada saat itulah 

Ia memberi mereka penghakiman-penghakiman yang sebab nya 

mereka tidak dapat hidup. Lebih banyak yang tersirat daripada 

yang diungkapkan. Itulah penghakiman-penghakiman yang oleh-

nya mereka akan mati. Orang-orang yang tidak mau diikat oleh 

aturan-aturan hukum, akan diikat oleh penghukumannya. Sebab 

dengan satu atau lain cara firman Allah akan sampai kepada ma-

nusia (Za. 1:6). Penghakiman-penghakiman rohani yaitu  peng-

hakiman-penghakiman yang paling mengerikan. Dan dengan peng-

hakiman-penghakiman inilah Allah menghukum mereka. Kete-

tapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang dijalankan orang 

kafir dalam menyembah berhala-berhala mereka tidaklah baik, 

dan dengan menjalankannya mereka tidak dapat hidup. Allah 

membiarkan saja mereka hidup seperti itu. Ia menjadikan dosa 

mereka sebagai hukuman mereka, menyerahkan mereka pada 

pikiran-pikiran yang terkutuk, seperti yang dilakukan-Nya ter-

hadap para penyembah berhala dari bangsa-bangsa lain (Rm. 

1:24, 26). Ia menyerahkan mereka pada kedegilan hati mereka 

sendiri (Mzm. 81:13), menghukum mereka sebab  kebiasaan-

kebiasaan takhayul yang menentang hukum tertulis, dengan 

menyerahkan mereka pada kebiasaan-kebiasaan takhayul yang 

menentang terang dan hukum alam itu sendiri. Ia membiarkan 

mereka terus bersalah atas penyembahan-penyembahan berhala 

yang sungguh teramat cemar, seperti dalam penyembahan Baal-

Peor (Ia membiarkan mereka menjadi najis, yaitu, Ia membiarkan 

mereka mencemari diri sendiri, dengan persembahan-persembah-

an mereka, ay. 26). Dan Ia membiarkan mereka bersalah atas 

penyembahan-penyembahan berhala yang teramat biadab, seperti 

dalam penyembahan dewa Molokh, saat  mereka mempersem-

bahkan anak-anak mereka sebagai korban dalam api, untuk 

dipersembahkan kepada berhala-berhala mereka, terutama anak 

sulung mereka, yang diminta Allah untuk menjadi milik-Nya se-

cara khusus (yang sulung dari anak-anakmu lelaki haruslah 

kaupersembahkan kepada-Ku, Kel. 22:29 – pen.). Dengan demi-

kian Ia dapat membuat mereka tertegun. Bukan saja supaya  Ia 

dapat melakukannya dengan adil, namun  juga supaya  Ia dapat 

melakukannya melalui tangan mereka sendiri. Sebab cara ini

Kitab Yehezkiel 20:27-32 

 pasti akan sangat membuat kaum-kaum mereka tersadar dan 

teramat mengurangi kehormatan dan kekuatan negeri mereka. 

Perhatikanlah, Allah kadang-kadang menjadikan dosa sebagai 

hukumannya sendiri, namun Ia bukanlah penyebab dosa. Tidak 

perlu hal lain untuk membuat orang sengsara selain dengan 

membiarkan mereka terus saja pada hasrat dan hawa nafsu 

mereka sendiri yang keji. Biarlah mereka mengikuti putusan 

kehendak mereka sendiri, maka mereka pun akan menghancur-

kan diri sendiri dan membuat diri sengsara. Dengan demikian 

Allah membuat mereka tahu bahwa Dia yaitu  Tuhan, dan bahwa 

Dialah Allah yang benar. Mereka akan terpaksa mengakui Dia, 

saat  melihat betapa segala pelanggaran yang mereka perbuat 

dengan sengaja itulah yang mengakibatkan kehancuran mereka 

sendiri. Perhatikanlah, orang-orang yang tidak mau mengakui 

Allah sebagai Tuhan yang mengatur mereka, akan dibuat meng-

akui-Nya sebagai Tuhan yang menghakimi mereka saat  sudah 

terlambat waktunya. 

Pemberontakan-pemberontakan Israel 

(20:27-32) 

27 Oleh sebab  itu berbicaralah kepada kaum Israel, hai anak manusia, dan 

katakanlah kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini 

juga nenek moyangmu menghujat Aku, yaitu mereka berobah setia kepada-

Ku. 28 Sebab sesudah Aku membawa mereka ke negeri yang dengan sumpah 

telah Kujanjikan memberi nya kepada mereka, mereka melihat ke setiap 

bukit yang tinggi dan ke setiap pohon yang penuh cabang-cabang dan 

mereka mempersembahkan di sana korban sembelihannya dan membawa 

persembahannya yang menyakiti hati, juga menyerbakkan di sana persem-

bahan-persembahan mereka yang harum dan mempersembahkan mereka di 

sana korban-korban curahan mereka. 29 Maka Aku berkata kepada mereka: 

Tempat tinggi apa itu yang kamu naiki? Maka namanya disebut Tempat 

Tinggi sampai hari ini. 30 Oleh sebab itu katakanlah kepada kaum Israel: 

Beginilah firman Tuhan ALLAH: Apakah kamu menajiskan dirimu juga de-

ngan cara hidup nenek moyangmu dan berzinah dengan mengikuti dewa-

dewanya yang menjijikkan? 31 Dalam membawa persembahan-persembahan-

mu, yaitu mempersembahkan anak-anakmu sebagai korban dalam api, kamu 

menajiskan dirimu dengan segala berhala-berhalamu sampai hari ini, apakah 

Aku masih mau kamu minta petunjuk dari pada-Ku, hai kaum Israel? Demi 

Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak mau lagi 

kamu minta petunjuk dari pada-Ku. 32 Dan apa yang timbul dalam hatimu 

sama sekali tidak akan terjadi, yaitu yang kamu katakan: Kami ingin seperti 

bangsa-bangsa lain, seperti segala kaum di negeri-negeri untuk berbakti 

kepada pohon dan batu. 

Di sini sang nabi melanjutkan dengan cerita tentang pemberontakan-

pemberontakan bangsa Israel, untuk lebih mempermalukan mereka 

lagi, dan menunjukkan, 

I.  Bahwa mereka bersikeras dalam pemberontakan-pemberontakan 

mereka sesudah  menetap di tanah Kanaan. Meskipun Allah sudah 

berkali-kali menyatakan murka-Nya terhadap jalan-jalan mereka 

yang jahat, “namun dalam hal ini juga (yaitu, dalam hal yang 

sama pula) nenek moyangmu menghujat Aku, terus menghina-Ku, 

bahwa mereka juga berobah setia kepada-Ku” (ay. 27). Perhati-

kanlah, sangat memperberat dosa jika  orang tidak mau di-

peringatkan akan akibat-akibat dosa yang mencelakakan yang 

dilakukan orang-orang yang sudah mendahului mereka: ini 

berarti menghujat Allah. Ini berarti berbicara dengan mencela ten-

tang penghakiman-penghakiman-Nya, seolah-olah penghakiman-

Nya tidak berarti apa-apa dan tidak layak diperhatikan.  

1. Allah telah menepati janji-Nya: Aku membawa mereka ke 

negeri yang dengan sumpah akan Kuberikan kepada mereka. 

Meskipun ketidakpercayaan dan ketidaktaatan mereka meng-

akibatkan penggenapan janji-Nya berjalan lambat, dan sangat 

menghambatnya, namun itu tidak membatalkan janji itu. 

Mereka sudah sering hampir binasa di padang gurun, tinggal 

selangkah lagi menuju kehancuran, namun mereka sampai ke 

Kanaan juga pada akhirnya. Perhatikanlah, bahkan Israel mi-

lik Allah sampai juga ke sorga melalui gerbang-gerbang nera-

ka. Begitu banyaknya pelanggaran mereka, dan begitu kuat-

nya kebobrokan-kebobrokan mereka, sehingga merupakan 

suatu keajaiban rahmat ilahi bahwa mereka berbahagia pada 

akhirnya. Ini seperti orang-orang munafik masuk neraka me-

lalui gerbang-gerbang sorga. Orang benar hampir-hampir tidak 

diselamatkan (1Ptr. 4:18). Per tot discrimina rerum tendimus ad 

cœlum – Seribu satu bahaya memenuhi jalan ke sorga.  

2. Mereka telah melanggar peraturan-Nya dengan penyembahan-

penyembahan berhala mereka yang menjijikkan. Allah telah 

memerintahkan mereka untuk menghancurkan semua tugu 

penyembahan berhala, supaya  mereka tidak tergoda untuk 

meninggalkan tempat kudus-Nya. namun  , bukannya me-

rusak berhala-berhala itu, mereka malah jatuh cinta kepada-

nya. Dan saat  mereka melihat ke setiap bukit yang tinggi, 

Kitab Yehezkiel 20:27-32 

yang dari sana mereka mendapat pemandangan yang amat 

menyenangkan, dan setiap pohon yang penuh cabang-cabang, 

yang di bawahnya mereka dapat berteduh dengan amat nya-

man (Bukit yang tinggi memperlihatkan penyembahan berhala 

mereka yang megah, dan pohon yang penuh cabang menyem-

bunyikan penyembahan berhala mereka yang memalukan), 

mereka mempersembahkan di sana korban sembelihannya dan 

menyerbakkan di sana persembahan-persembahan mereka 

yang harum, yang seharusnya dipersembahkan di atas mezbah 

Allah saja. Di sana mereka membawa persembahannya yang 

menyakiti hati (ay. 28), yaitu, persembahan-persembahan me-

reka, yang bukannya menenangkan hati Allah, atau menye-

nangkan Dia, malah menyakiti hati-Nya, yang walaupun ma-

hal, namun sebab  salah tempat, merupakan kekejian bagi 

Tuhan.  

3. Mereka tetap keras kepala dalam hal ini, kendati dengan se-

mua peringatan yang sudah diberikan kepada mereka (ay. 29): 

“Maka Aku berkata kepada mereka, melalui hamba-hamba-Ku 

para nabi, di mana tempat tinggi yang mereka naiki? Bahkan, 

Aku membuat mereka merenungkannya, dan bertanya kepada 

hati nurani mereka sendiri mengenai hal itu, dengan mengaju-

kan pertanyaan ini kepada mereka, tempat tinggi apa itu yang 

kamu naiki? Apa yang begitu memikat hatimu di sana sehingga 

kamu mau meninggalkan mezbah-mezbah Allah, yang seha-

rusnya kamu datangi sebagaimana dikehendaki-Nya? Apa 

yang begitu memikat hatimu di sana sampai kamu lebih suka 

mengunjungi tempat-tempat seperti itu, yang dilarang-Nya 

untuk kamu beribadah di dalamnya? Apakah kamu tidak tahu 

bahwa tempat-tempat tinggi itu berasal dari kepercayaan kafir, 

dan bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan oleh bangsa-

bangsa lain dipersembahkan kepada setan-setan, dan bukan 

kepada Allah? Bukankah Musa sudah memberi tahu kamu 

demikian? (Ul. 32:17). Aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu 

dengan roh-roh jahat. Tempat tinggi apa itu yang kamu naiki, 

sesudah  kamu berpaling dari mezbah-mezbah Allah? Hai orang-

orang Israel yang bodoh, siapakah atau apakah yang telah 

mempesona kamu? sehingga kamu mau meninggalkan sumber 

air hidup demi sumur-sumur yang bocor, meninggalkan iba-

dah yang ditetapkan Allah dan yang berkenan bagi-Nya, demi 

ibadah yang dilarang-Nya, yang dibenci-Nya, dan yang akan 

dihukum-Nya?” Namun demikian, namanya disebut Tempat 

Tinggi sampai hari ini. Mereka mau mengikuti jalan mereka 

sendiri, tak peduli Allah dan nabi-nabi-Nya mengatakan hal 

yang bertentangan dengan yang mereka kehendaki. Mereka 

sudah melekat pada tempat-tempat tinggi mereka. Bahkan 

dalam pemerintahan-pemerintahan yang terbaik sekalipun, 

tempat-tempat tinggi itu tidak dimusnahkan. Kamu tidak bisa 

berhasil menghapuskan nama Bamah – tempat tinggi, dari 

mulut mereka. Sebaliknya, mereka tetap ingin supaya  nama 

itu ada di tempat ibadah mereka. Dosa dan pendosa susah 

dipisahkan. 

II.  Bahwa angkatan ini, sesudah  mereka tidak lagi menetap di negeri 

mereka, terus berada di bawah kuasa kecenderungan-kecen-

derungan bobrok yang sama, yaitu penyembahan berhala (ay. 30). 

Sang nabi harus berkata kepada kaum Israel yang sekarang, yang 

sebagian dari tua-tuanya sedang duduk di hadapannya, “Apakah 

kamu menajiskan dirimu juga dengan cara hidup nenek moyang-

mu? sesudah  semua yang telah dikatakan Allah melawan kamu 

melalui nabi demi nabi, dan sesudah  semua yang telah dilakukan-

Nya melawan kamu melalui serangkaian penghakiman, masih 

jugakah kamu tidak mau diperingatkan? Masih jugakah kamu 

jahat seperti nenek moyangmu, dan mau melakukan kekejian-

kekejian yang sama seperti yang mereka lakukan? Aku lihat kamu 

begitu. Kamu condong kembali pada kekejian-kekejian yang dulu, 

kamu membawa persembahan-persembahanmu di tempat-tempat 

tinggi, dan kamu mempersembahkan anak-anakmu sebagai kor-

ban dalam api. Entah kamu benar-benar melakukannya atau 

kamu melakukannya di dalam tujuan dan khayalan, kamu tetap 

saja terus menjadi penyembah-penyembah berhala sampai hari 

ini.” Tua-tua ini sekarang tampak sedang berencana bergabung 

dengan bangsa-bangsa kafir. Hati mereka diperuntukkan bagi 

Allah Israel, namun  lutut mereka akan bebas berlutut di depan 

dewa-dewa dari bangsa-bangsa yang di antaranya mereka tinggal, 

supaya  mereka mendapat penghormatan dan tempat tinggal yang 

lebih baik di antara bangsa-bangsa itu. Nah, sang nabi di sini 

diperintahkan untuk memberi tahu orang-orang yang sedang 

membuat rancangan ini, dan yang ingin mencampuradukkan 

Kitab Yehezkiel 20:27-32 

perkara Allah dan Baal, bahwa mereka tidak akan mendapat 

penghiburan atau keuntungan dari kedua-duanya.  

1. Mereka tidak akan mendapat keuntungan dengan meminta 

petunjuk secara diam-diam dari nabi-nabi Tuhan. Oleh sebab  

mereka mendengarkan berhala-berhala, Allah tidak mau lagi 

berhubungan dengan mereka (ay. 31): Demi Aku yang hidup, 

demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak mau lagi kamu 

minta petunjuk dari pada-Ku. Apa yang sudah Dia katakan 

sebelumnya (ay. 3), sesudah  menunjukkan secara panjang lebar 

betapa adilnya perkataan itu, diulangi-Nya lagi di sini, sebagai 

hal yang akan Ia pegang teguh. Janganlah mereka berpikir 

bahwa mereka menghormati Dia dengan berlagak minta 

petunjuk dari-Nya, atau mengharapkan jawaban damai dari-

Nya, selama mereka terus mencintai dan bersekutu dengan 

berhala-berhala mereka. Perhatikanlah, orang-orang yang 

tidak sepenuh hati dan tulus dalam agama mereka tidak akan 

menuai keuntungan apa pun darinya. Kita tidak bisa menda-

pat persekutuan yang menghibur hati dengan Allah sekalipun 

kita mengikuti ketetapan-ketetapan ibadah, kecuali hati kita 

lurus dalam mengikuti Dia. Pengakuan kita tidak berarti apa-

apa jika itu hanya sekadar pengakuan. Bahkan,  

2. Mereka tidak akan mendapat keuntungan dengan mengikuti 

kebiasaan tetangga-tetangga mereka di depan umum (ay. 32): 

“Apa yang timbul dalam hatimu sebagai cara yang baik untuk 

berhubungan dengan bangsa lain pada saat yang sulit seperti 

ini, dan sekalipun cara itu disarankan kepadamu untuk kamu 

lakukan supaya  kamu bisa selamat, yaitu supaya  kamu 

jangan mengucil diri, supaya  dengan begitu kamu tidak akan 

dianiaya, semua ini sama sekali tidak akan terjadi. Itu tidak 

akan bermanfaat untukmu. Kamu berkata, ‘Kami ingin seperti 

bangsa-bangsa lain, kami akan bergabung dengan mereka 

dalam menyembah dewa-dewa mereka, meskipun pada saat 

yang sama kami tidak memercayainya sebagai allah, melain-

kan pohon dan batu, supaya  kami dianggap seperti segala 

kaum di negeri-negeri. Mereka tidak akan tahu, atau hanya 

sebentar saja mereka akan lupa, bahwa kami yaitu  orang-

orang Yahudi, dan akan memberi kami hak-hak istimewa yang 

sama dengan warga mereka sendiri.’ Katakanlah kepada me-

reka,” firman Allah, “bahwa rencana ini tidak akan pernah 

berhasil. Entah tetangga-tetangga mereka tidak mau menerima 

mereka untuk bergabung dalam ibadah mereka, atau, kalau-

pun menerima, tetangga-tetangga mereka tidak akan berpikir-

an lebih baik, namun  lebih buruk, tentang mereka sebab nya, 

dan akan memandang mereka sebagai orang-orang munafik, 

dan tidak pantas dipercaya. Tetangga mereka akan berpikir 

mereka hanya pura-pura terhadap Allah mereka, dan itu ber-

arti menipu tetangga-tetangga mereka.” Perhatikanlah, tidak 

ada yang bisa diperoleh dengan ikut-ikutan berbuat dosa. 

Rancangan-rancangan yang bersifat kedagingan dari orang-

orang munafik tidak akan bermanfaat sama sekali bagi 

mereka. Hanya kelurusan dan kejujuran hatilah yang akan 

membuat orang selamat, dan dipuji oleh Allah dan manusia. 

Dosa-dosa Israel 

(20:33-44) 

33 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku akan 

memerintah kamu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan 

amarah yang tercurah. 34 Aku akan membawa kamu keluar dari tengah 

bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari negeri-negeri, di mana kamu 

berserak dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan amarah 

yang tercurah, 35 dan Aku akan membawa kamu ke padang gurun bangsa-

bangsa dan di sana Aku akan beperkara dengan kamu berhadapan muka. 36 

Seperti Aku beperkara dengan nenek moyangmu di padang gurun tanah 

Mesir, begitulah Aku akan beperkara dengan kamu, demikianlah firman 

Tuhan ALLAH. 37 Aku akan membiarkan kamu lewat dari bawah tongkat 

gembala-Ku dan memasukkan kamu ke kandang dengan menghitung kamu. 

38 Aku akan memisahkan dari tengah-tengahmu orang-orang yang mem-

berontak dan mendurhaka terhadap Aku; Aku akan membawa mereka keluar 

dari negeri, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, namun  di tanah Israel 

mereka tidak akan masuk. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah 

TUHAN. 39 Hai kamu, kaum Israel, beginilah firman Tuhan ALLAH, biarlah 

masing-masing pergi beribadah kepada berhala-berhalanya. namun  kemudian 

kamu akan mendengarkan Aku dan tidak lagi melanggar kekudusan nama-

Ku yang kudus dengan persembahan-persembahanmu dan berhala-berhala-

mu. 40 Sebab di atas gunung-Ku yang kudus, di atas gunung Israel yang 

tinggi, demikianlah firman Tuhan ALLAH, di sana di tanah itu segenap kaum 

Israel dalam keseluruhannya akan beribadah kepada-Ku. Di sana Aku akan 

berkenan kepadamu dan di sana Aku akan menuntut dari kamu persem-

bahan-persembahan khususmu dan sajian-sajianmu yang terpilih, segala 

yang kamu kuduskan. 41 Seperti kepada persembahan yang harum Aku ber

kenan kepadamu pada waktu Aku mengeluarkan kamu dari tengah bangsa-

bangsa dan mengumpulkan kamu dari negeri-negeri, di mana kamu berse-

rak, dan Aku akan menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan 

bangsa-bangsa. 42 Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada 

waktu Aku membawa kamu masuk ke tanah Israel, ke negeri yang dengan 

sumpah telah Kujanjikan memberi nya kepada nenek moyangmu. 43 Di 

Kitab Yehezkiel 20:33-44 

sana kamu akan teringat-ingat kepada segala tingkah lakumu, dengan mana 

kamu menajiskan dirimu, dan kamu akan merasa mual melihat dirimu 

sendiri sebab  segala kejahatan-kejahatan yang kamu lakukan. 44 Dan kamu 

akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada masa Aku, oleh sebab  nama-

Ku, tidak memperlakukan kamu selaras dengan tingkah lakumu yang jahat 

dan busuk, hai kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” 

Rancangan yang sekarang sedang berjalan di antara tua-tua Israel 

yaitu  bahwa kaum Israel, sebab  tersebar di antara bangsa-bangsa, 

harus mengesampingkan segala keunikan mereka dan mengikuti 

kebiasaan orang-orang yang di antaranya mereka hidup. namun  Allah 

sudah berkata kepada mereka bahwa rancangan itu tidak akan 

berhasil (ay. 32). Sekarang, dalam ayat-ayat ini, Ia menunjukkan 

secara khusus bagaimana rancangan itu akan digagalkan. Mereka 

bertujuan supaya  kaum-kaum Israel berbaur dengan segala kaum di 

negeri-negeri. namun  pada akhirnya akan terbukti bahwa orang-orang 

Israel yang fasik, kendati sudah mengikuti kebiasaan bangsa lain, 

tidak akan berbaur dengan mereka dalam kemakmuran mereka, 

namun  akan dibedakan dari mereka untuk menemui kehancuran. 

Sebab orang-orang Israel penyembah berhala, yang murtad dari 

Allah, akan dihukum lebih dulu dan lebih pedih daripada orang-

orang Babel penyembah berhala yang tidak pernah mengetahui jalan 

kebenaran. Baca dan gemetarlah terhadap hukuman yang dijatuhkan 

di sini atas mereka. Hukuman itu didukung dengan sumpah yang 

tidak akan dicabut: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan 

ALLAH, beginilah Aku akan memperlakukan kamu. Mereka berpikir 

untuk menjadikan Yerusalem maupun Babel sebagai teman-teman 

mereka dengan bolak-balik berpihak di antara keduanya. namun  Allah 

mengancam bahwa tak satu pun dari keduanya akan menjadi tempat 

perhentian atau perlindungan bagi mereka. 

I.   Babel tidak akan melindungi mereka, begitu pula dengan negeri-

negeri bangsa kafir. Sebab Allah akan membuang mereka dari 

perlindungan-Nya, lalu penguasa mana, bangsa mana, tempat 

mana, yang bisa menjadi tempat kudus bagi mereka? Allah yaitu  

Raja Israel di zaman dulu, dan andai saja mereka terus menjadi 

rakyat yang setia, Ia akan memerintah atas mereka dengan penuh 

perhatian dan kelembutan demi kebaikan mereka. namun  seka-

rang Ia memerintah dengan tangan yang kuat dan lengan yang 

teracung dan amarah yang tercurah (ay. 33). Kekuatan yang 

seharusnya dikerahkan untuk melindungi mereka itu akan 

dikerahkan untuk menghancurkan mereka. Perhatikanlah, tidak 

ada yang bisa menggoncangkan kekuasaan Allah. Dia akan tetap 

memerintah, entah dengan tongkat emas atau dengan gada besi. 

Dan orang-orang yang tidak mau tunduk pada kuasa anugerah-

Nya akan ditenggelamkan di dalam kuasa murka-Nya. Sekarang 

saat  Allah murka terhadap mereka, mereka akan dikecewakan, 

sekalipun mereka menyangka mereka tidak bisa ditemukan di 

tengah-tengah kepadatan orang-orang kafir di mana mereka ter-

serak-serak. Sebab (ay. 34) Aku akan mengumpulkan kamu dari 

negeri-negeri, di mana kamu berserak, seperti saat  para pem-

berontak terserak dalam pertempuran, mereka yang lolos dari 

pedang perang terus dikejar-kejar dan dibawa bersama-sama dari 

semua tempat di mana mereka terserak, untuk dihukum oleh 

pedang keadilan. Mereka akan dibawa ke padang gurun bangsa-

bangsa (ay. 35), entah ke Babel, yang disebut padang gurun 

(19:13), dan padang gurun di tepi laut (Yes. 21:1), atau ke suatu 

tempat yang, meskipun padat penduduk, akan menjadi bagi 

mereka seperti padang gurun bagi Israel sesudah  keluar dari Mesir. 

Itu tempat di mana Allah akan beperkara dengan mereka berha-

dapan muka, seperti Ia beperkara dengan nenek moyang mereka 

di padang gurun tanah Mesir (ay. 36). Di sana bangkai-bangkai 

mereka akan bergeletakan, dan di sana Ia akan bersumpah me-

ngenai mereka bahwa mereka tidak akan pernah kembali ke 

Kanaan, seperti Ia bersumpah mengenai nenek moyang mereka 

bahwa mereka tidak akan pernah sampai ke Kanaan. Di sana Ia 

akan membalaskan pelanggaran terhadap hukum-Nya dengan 

banyak kengerian, seperti kengerian yang ditunjukkan-Nya di 

padang gurun Sinai. Perhatikanlah, Allah memiliki  tindakan 

yang bagus untuk melawan orang-orang murtad, dan akan mene-

mukan bukan hanya waktu, melainkan juga tempat yang tepat, 

untuk beperkara dengan mereka dalam tindakan itu, di padang 

gurun bahkan di tengah-tengah bangsa demi tujuan-Nya itu. 

II.  Israel tidak akan mampu melindungi mereka seperti halnya Babel. 

Dan hubungan mereka dengan umat Allah tidak akan bermanfaat 

bagi mereka untuk dunia nanti, seperti halnya tindakan mereka 

dalam mengikuti para penyembah berhala tidak akan berguna 

bagi mereka di dunia ini. Mereka juga tidak akan berdiri dalam 

perkumpulan orang benar, lebih dari di dalam perkumpulan para 

Kitab Yehezkiel 20:33-44

pembuat kejahatan. Sebab akan tiba hari penentuan, saat  Allah 

memisahkan antara yang berharga dan yang hina. Ia akan 

membiarkan mereka, seperti gembala membiarkan domba-domba-

nya, lewat dari bawah tongkat gembala, saat  Ia menghitung 

mereka untuk dijadikan korban persepuluhan (Im. 27:32), supaya  

Ia dapat menandai yang mana untuk Allah. Allah akan memberi-

kan perhatian khusus terhadap tiap-tiap dari mereka, satu per 

satu, seperti domba-domba dihitung, dan Ia akan memasukkan 

mereka ke dalam ikatan perjanjian (ay. 37, KJV). Ia akan menguji 

mereka dan menghakimi mereka sesuai dengan syarat perjanjian, 

dan pemisahan akan dibuat antara yang sebagian dan sebagian 

yang lain berdasar  berkat-berkat dan kutuk-kutuk dari per-

janjian itu. Atau itu mungkin merujuk pada orang-orang dari 

antara mereka yang bertobat dan memperbarui diri. Ia akan mem-

buat mereka lewat di bawah tongkat penderitaan, dan, sesudah  

memberi mereka pelajaran dengannya, Ia akan membawa mereka 

kembali ke dalam ikatan perjanjian, akan menjadi bagi mereka 

Allah dalam perjanjian, dan memakai mereka lagi sebagai yang 

berhak menerima janji. 

1. Ia akan memisahkan yang fasik dari antara mereka (ay. 38): 

“Aku akan memisahkan dari tengah-tengahmu orang-orang 

yang memberontak, yang sudah membawa kesedihan dan aib 

bagimu, dan yang dengan pemberontakan-pemberontakan me-

reka telah mendatangkan semua malapetaka ini atas kamu.” 

Penghakiman-penghakiman Allah akan menemukan mereka, 

dan sekalipun mereka menyebut diri orang Israel, itu tidak 

akan melindungi mereka. Mereka akan dibawa keluar dari 

negeri, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, dan tidak 

akan mendapat tempat perhentian di dalamnya seperti yang 

sudah mereka harap-harapkan. namun  di tanah Israel mereka 

tidak akan masuk dan menikmati keuntungan dari tempat per-

hentian yang sudah dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Per-

hatikanlah, meskipun bisa jadi orang-orang saleh ikut berbagi 

dengan orang-orang fasik dalam malapetaka-malapetaka di 

dunia, namun orang-orang fasik tidak akan ikut berbagi dengan 

orang-orang saleh di Kanaan sorgawi. namun  akan menjadi 

bagian dari kebahagiaan dunia sorgawi itu bahwa orang-orang 

fasik akan dipisahkan dari tengah-tengah mereka, lalang dari 

gandum, jerami dari jagung (13:9). Jadi di mana pun para 

penyembah berhala dari kaum Israel ini berusaha menyembah 

baik Allah maupun berhala-berhala mereka, dengan berpikir 

akan menyenangkan keduanya, Allah menentangnya di sini 

(ay. 39), seperti yang sudah dilakukan Elia dalam nama-Nya: 

“Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah 

dia. Kalau kamu ingin berbakti pada berhala-berhalamu, laku-

kanlah itu, dan tanggunglah akibatnya. namun  jangan menga-

ku-ngaku memiliki  hubungan dengan Allah dan bertakwa 

kepada Nya, dan jangan melanggar kekudusan nama-Nya yang 

kudus dengan persembahan-persembahanmu di mezbah-Nya.” 

Penghakiman-penghakiman rohani yaitu  penghakiman-peng-

hakiman yang paling pedih. Dua dari penghakiman-pengha-

kiman seperti itu diancamkan dalam ayat 39 ini (KJV) terhadap 

orang-orang yang berbagi antara Allah Israel dan dewa-dewa 

dari bangsa-bangsa:  

(1) Bahwa mereka akan diserahkan untuk melayani berhala-

berhala mereka. Kepada mereka Ia berkata dengan menyin-

dir, “sebab  kamu tidak mau mendengarkan Aku, biarlah 

masing-masing pergi beribadah kepada berhala-berhalanya, 

sebab kamu berpikir bahwa itu demi kepentinganmu seka-

rang dan selanjutnya juga. Kamu akan terus melakukan-

nya. Efraim bersekutu dengan berhala-berhala, biarkanlah 

dia! Biarlah dia mengambil jalannya, dan lihat saja apa 

yang akan dia dapatkan pada akhirnya.” Perhatikanlah, 

orang-orang yang berpikir bahwa mereka melayani diri 

mereka sendiri dengan dosa pada akhirnya akan mendapati 

bahwa mereka hanya memperbudak diri sendiri pada dosa.  

(2) Bahwa mereka akan diputus dari melayani Allah dan ber-

sekutu dengan-Nya. “Kamu tidak akan lagi melanggar keku-

dusan nama-Ku yang kudus dengan persembahan-persem-

bahanmu yang tidak sungguh (Yes. 1:13). Kamu membawa 

pemberian-pemberianmu di tanganmu, dan berlagak hen-

dak menghormati Aku dengannya, namun  pada saat yang 

sama kamu membawa berhala-berhala di hatimu. Oleh 

sebab  itu kamu hanya menajiskan Aku, yang tidak akan 

Kubiarkan lagi” (Am. 5:21-22). Perhatikanlah, orang-orang 

yang menajiskan bait Allah sewajarnya dilarang masuk ke 

dalam bait-Nya. 

Kitab Yehezkiel 20:33-44 

2.  Ia akan memisahkan mereka bagi diri-Nya lagi.  

(1) Dalam belas kasihan Ia akan mengumpulkan mereka dari 

negeri-negeri di mana mereka berserak, untuk menjadi tugu 

peringatan belas kasihan, seperti halnya orang-orang yang 

sudah tak dapat diperbaiki lagi dikumpulkan untuk men-

jadi bejana murka (ay. 41). Tak satu pun dari permata-per-

mata Allah akan terhilang dalam tumpukan kayu dunia ini.  

(2) Ia akan membawa mereka masuk ke tanah Israel, yang su-

dah Dia janjikan akan memberi nya kepada nenek mo-

yang mereka. Mereka sudah memilikinya selama beberapa 

waktu, namun  itu tidak berarti hak milik mereka dicabut. 

Tanah itu masih tetap tanah Israel, dan ke sanalah Allah 

akan membawa mereka kembali dengan aman (ay. 42).  

(3) Ia akan menegakkan kembali ketetapan-ketetapan-Nya di 

antara mereka, akan mendirikan tempat kudus-Nya di atas 

gunung-Nya yang kudus, yang di sini disebut gunung Israel 

yang tinggi. Sebab, meskipun Gunung Sion bukanlah salah 

satu gunung tertinggi, namun bait suci di sana yaitu  

salah satu kehormatan Israel yang tertinggi. Dijanjikan 

bahwa orang-orang yang menjaga keutuhan hati mereka, 

dan tidak mau berbakti kepada berhala-berhala di negeri-

negeri lain, akan kembali pada kemakmuran mereka, dan 

akan mengabdi kepada Allah yang benar di negeri mereka 

sendiri: Segenap kaum Israel dalam keseluruhannya akan 

beribadah kepada-Ku. Perhatikanlah, suatu kebahagiaan 

sejati bagi sebuah bangsa, dan pertanda baik yang pasti 

bagi mereka, jika  ada kecenderungan yang meraja da-

lam diri mereka untuk mengabdi kepada Allah. Allah mela-

rang para penyembah berhala untuk membawa pemberian-

pemberian mereka ke mezbah-Nya, namun  dari orang-orang 

yang menjaga keutuhan hati mereka ini, Ia akan menuntut 

korban persembahan dan buah bungaran, dan Ia akan 

menerimanya (ay. 40). Apa yang tidak dituntut-Nya tidak 

akan diterima-Nya, namun  apa yang dilakukan sebab  

mengindahkan perintah-perintah-Nya, Ia sangat berkenan 

menerimanya. Ia akan menerima mereka dengan persem-

bahan harum mereka, atau bau harum yang menenangkan 

(ay. 41), sebagai persembahan yang penuh syukur kepada-

Nya dan yang dengannya Ia merasa puas. Sedangkan 

kepada para penyembah yang munafik, Ia berkata, Aku 

tidak senang kepada perkumpulan rayamu. 

(4) Ia akan memberi mereka pertobatan yang sejati atas dosa-

dosa mereka (ay. 43). saat  mereka mendapati betapa 

Allah berlaku penuh rahmat terhadap mereka, maka mere-

ka akan dikuasai oleh kebaikan-Nya, dan menjadi malu 

memikirkan perilaku buruk mereka terhadap Allah yang 

begitu baik. “Di sana, di atas gunung-Ku yang kudus, saat  

kamu datang untuk menikmati hak-hak istimewa dari 

tempat itu lagi, di sana kamu akan teringat-ingat kepada 

segala tingkah lakumu, yang dengannya kamu sudah me-

najiskan dirimu.” Perhatikanlah, semakin kita mengenal 

kekudusan Allah, semakin kita melihat sifat yang menjijik-

kan dari dosa. Di sana kamu akan merasa mual melihat 

dirimu sendiri. Perhatikanlah, pertobatan Injili yang tulus 

membuat orang mual melihat diri mereka sendiri sebab  

dosa-dosa mereka, seperti dalam Ayub 42:5-6.  

(5) Ia akan memberi mereka pengenalan akan diri-Nya: Mereka 

akan mengetahui dari pengalaman bahwa Dialah TUHAN, 

bahwa Dia yaitu  Allah yang mahakuasa dan kebaikan-

Nya tiada habis-habisnya, baik kepada umat-Nya dan setia 

kepada kovenan-Nya dengan mereka. Perhatikanlah, semua 

perkenanan yang kita terima dari Allah haruslah membuat 

kita mengenal-Nya dengan lebih akrab lagi.  

(6) Ia akan melakukan semuanya ini demi nama-Nya sendiri, 

kendati mereka tidak layak mendapatkannya dan layak 

mendapatkan apa yang buruk (ay. 44). Ia telah memperla-

kukan mereka, yaitu, bekerja untuk mereka, bekerja untuk 

membela mereka, bekerja dalam persetujuan dengan mere-

ka, sementara mereka melakukan usaha mereka. Ia telah 

bekerja dengan mereka oleh sebab  nama-Nya semata. 

Alasan-alasan yang dipakai-Nya berkaitan dengan diri-Nya 

sendiri. Seandainya Dia memperlakukan mereka selaras 

dengan tingkah laku mereka yang jahat dan busuk, maka 

meskipun mereka yaitu  bagian yang lebih baik dan lebih

 sehat dari Israel, Ia akan membiarkan mereka tersebar dan 

terhilang bersama yang lain. namun  Ia memulihkan dan me-

ngembalikan mereka oleh sebab  nama-Nya sendiri. Bukan 

saja supaya  nama-Nya tidak dinajiskan (ay. 14), namun  juga 

Kitab Yehezkiel 20:45-49 

 403 

supaya  Ia dapat menunjukkan kekudusan-Nya kepada 

mereka di hadapan bangsa-bangsa (ay. 41), supaya  Ia 

dapat menguduskan diri-Nya sendiri (demikian kata yang 

dipakai). Sebab sudah menjadi kewajiban Allah untuk me-

muliakan nama-Nya sendiri. Ia akan berbuat baik bagi 

umat-Nya supaya  Ia mendapat kemuliaan darinya, supaya  

Ia dapat menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang mengam-

puni dosa, dan dengan demikian memegang janji. supaya  

umat-Nya dapat memuji Dia, dan supaya  tetangga-tetangga 

mereka juga dapat memberi perhatian terhadap-Nya, seper-

ti yang orang-orang lakukan saat  Allah mengembalikan 

mereka (umat Israel – pen.) dari pembuangan (Mzm. 126:2). 

Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: 

“TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang 

ini!” 

Penghakiman dan Belas Kasihan 

(20:45-49) 

45 Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 46 “Hai anak manusia, tujukan-

lah mukamu ke selatan dan ucapkanlah banyak tegoran terhadap tanah 

selatan dan bernubuatlah terhadap tanah kehutanan di sebelah selatan;  

47 dan katakanlah kepada hutan di sebelah selatan: Dengarlah firman 

TUHAN: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku akan menyalakan api di 

dalammu yang akan memakan habis setiap pohon yang hidup padamu dan 

setiap pohon yang layu kering. Apinya yang sedang bernyala-nyala tidak akan 

padam dan semua muka dari selatan sampai utara akan terbakar kepanasan 

olehnya. 48 Dan setiap manusia akan melihat, bahwa Aku, TUHANlah yang 

memasangnya; api itu tidak akan padam.” 49 Lalu aku berkata: “Aduh, Tuhan 

ALLAH, mereka berkata tentang aku: Apakah ia tidak hanya mengucapkan 

kata-kata sindiran?” 

Kita mendapati di sini sebuah nubuat tentang murka terhadap 

Yehuda dan Yerusalem, yang akan lebih cocok untuk membuka pasal 

selanjutnya daripada menutup pasal ini. Sebab nubuat itu tidak 

bergantung pada apa yang disampaikan sebelumnya. namun  apa yang 

selanjutnya dikatakan di awal pasal berikutnya yaitu  uraian ten-

tangnya, saat  orang-orang mengeluh bahwa nubuat itu yaitu  per-

umpamaan yang tidak mereka pahami. Dalam perumpamaan ini,  

1.  Hutanlah yang ditentang dalam nubuat ini, tanah kehutanan di 

sebelah selatan, Yehuda dan Yerusalem. Keduanya terletak di 

sebelah selatan dari Babel, tempat Yehezkiel sedang berada pada 


 404

waktu itu, dan sebab  itu ia diperintahkan untuk menujukan 

mukanya ke selatan (ay. 46), untuk mengisyaratkan kepada 

mereka bahwa Allah telah menujukan wajah-Nya melawan mere-

ka, merasa murka terhadap mereka, dan menetapkan hati untuk 

menghancurkan mereka. namun  , meskipun pesan murka 

yang harus disampaikannya, ia harus menyampaikannya dengan 

lemah lembut. Ia harus mengucapkan banyak tegoran terhadap 

tanah selatan. Ajarannya harus menitik laksana hujan (Ul. 32:2), 

supaya  hati orang-orang dilembutkan olehnya, seperti bumi oleh 

sungai Allah, yang menitik di tanah-tanah padang gurun (Mzm. 

65:13), dan yang terutama dibutuhkan oleh tanah di selatan (Yos. 

15:19). Yehuda dan Yerusalem disebut hutan, bukan saja sebab  

keduanya padat penduduk, seperti hutan pohon-pohon, namun  

juga sebab  mereka tidak berbuah, sebab pohon buah tidak 

tumbuh di hutan. Dan hutan dipertentangkan dengan kebun 

buah-buahan (Yes. 32:15). Orang-orang yang seharusnya menjadi 

seperti taman Tuhan, dan kebun anggur-Nya, telah menjadi 

seperti hutan, semuanya ditumbuhi onak dan duri. Dan orang-

orang yang demikian, yang tidak menghasilkan buah-buah kebe-

naran, ditentang dalam nubuat firman Allah. 

2. Ini yaitu  api yang dinyalakan di hutan-Nya yang dinubuatkan itu 

(ay. 47). Semua penghakiman yang meluluhlantakkan dan mema-

kan habis baik kota maupun desa, seperti pedang, kelaparan, wa-

bah penyakit, dan pembuangan, dilambangkan dengan api ini.  

(1) Ini yaitu  api yang dinyalakan Allah sendiri: Aku akan me-

nyalakan api di dalammu; nafas TUHAN tidak seperti setetes air, 

melainkan seperti sungai belerang yang membakar (Yes. 30:33). 

Dia yang sudah menjadi api yang melindungi sekeliling Yeru-

salem, sekarang menjadi api yang memakan habis di dalamnya. 

Setiap manusia akan melihat melalui keganasan api ini, dan 

kehancuran-kehancuran yang akan dibuatnya, terutama saat  

mereka membandingkannya dengan dosa-dosa yang telah men-

jadikan mereka bahan bakar untuk api ini, bahwa TUHANlah 

yang telah memasangnya (ay. 48), sebagai pembalas yang adil 

bagi kehormatan-Nya sendiri yang telah dinodai.  

(2) Lautan api ini akan membakar semuanya: semua orang dari 

berbagai pangkat dan kedudukan akan dimakan habis oleh-

nya, muda dan tua, kaya dan miskin, tinggi dan rendah. Bah-

kan pohon-pohon yang hidup, yang tidak mudah disergap api, 

Kitab Yehezkiel 20:45-49 

 405 

akan habis dimakan api ini. Bahkan sebagian dari orang-orang 

baik akan ikut terkena malapetaka-malapetaka ini. Dan jika-

lau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, apakah yang 

akan terjadi dengan kayu kering? Pohon-pohon kering akan 

menjadi seperti rabuk dan sumbu bagi api ini. Semua muka 

(yaitu, semua yang menutupi muka bumi) dari selatan Kanaan 

sampai ke utara, dari Bersyeba sampai ke Dan, akan terbakar 

kepanasan olehnya.  

(3) Api itu tidak akan padam. Tak satu pun dari usaha -usaha  

yang dikerahkan untuk menghentikan pembumihangusan itu 

akan berhasil. jika  Allah hendak menghancurkan sebuah 

bangsa, siapa atau apa yang bisa menyelamatkannya? Seka-

rang amatilah,  

1. Sindiran orang-orang terhadap sang nabi sewaktu perkataan 

ini disampaikan. Mereka berkata, apakah ia tidak hanya 

mengucapkan kata-kata sindiran? (KJV: bukankah ia hanya 

mengatakan perumpamaan saja?). Ini yaitu  bahasa dari 

rasa tidak peduli mereka atau ketidakpercayaan mereka 

(kebenaran-kebenaran yang paling jelas seolah-olah hanya 

seperti perumpamaan saja bagi mereka), atau ini bahasa 

dari rasa kebencian dan kedengkian mereka terhadap sang 

nabi. Perhatikanlah, sudah biasa bagi orang-orang yang tidak 

mau diubahkan oleh firman untuk mencari-cari kesalah-

annya. Entah firman itu terlalu jelas atau terlalu kabur, ter-

lalu rumit atau terlalu sederhana, terlalu umum atau terlalu 

khusus, ada saja satu atau lain kesalahan di dalamnya.  

2. Keluhan sang nabi kepada Allah: Aduh, Tuhan ALLAH! 

mereka berkata begini dan begitu tentang aku. Perhatikan-

lah, suatu penghiburan bagi kita, jika  orang berkata 

buruk tentang kita secara tidak adil, masih ada Allah yang 

bisa kita datangi untuk mengadu. 

 

  

 

 

 

 

 

 

PASAL  2 1  

Dalam pasal ini kita mendapati,  

I. Sebuah uraian dari nubuat dalam penutup pasal sebelumnya 

mengenai api di hutan, yang dikeluhkan orang banyak bahwa 

mereka tidak bisa memahaminya (ay. 1-5), dengan perintah-

perintah Allah kepada sang nabi supaya  ia menunjukkan 

dirinya sangat terenyuh oleh nubuat itu (ay. 6-7).  

II. Sebuah nubuat lebih jauh tentang pedang yang sedang 

menghampiri negeri itu, yang olehnya segala sesuatu akan 

diporak-porandakan. Dan hal ini diungkapkan dengan sangat 

tegas (ay. 8-17).  

III. Sebuah penglihatan yang diberikan tentang kedatangan raja 

Babel yang semakin dekat ke Yerusalem. Ia menetapkan hati 

untuk pergi ke sana melalui tenungan (ay. 18-24).  

IV. Hukuman yang dijatuhkan pada Zedekia, raja Yehuda (ay. 

25-27).  

V. Kehancuran bani Amon oleh pedang dinubuatkan (ay. 28-32). 

Demikianlah pasal ini semuanya berisi ancaman. 

Ancaman-ancaman terhadap Israel;  

Penghakiman-penghakiman Dinubuatkan 

(21:1-7)  

1 Datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Hai anak manusia, tujukanlah mu-

kamu ke Yerusalem dan ucapkanlah banyak tegoran terhadap tempat kudus-

nya dan bernubuatlah melawan tanah Israel. 3 Katakanlah kepada tanah 

Israel: Beginilah firman TUHAN: Lihat, Aku akan menjadi lawanmu dan akan 

mencabut pedang-Ku dari sarungnya dan melenyapkan dari tengah-tengah-

mu orang benar dan orang fasik. 4 Oleh sebab  Aku hendak melenyapkan 

dari tengah-tengahmu orang benar dan orang fasik, maka pedang-Ku akan 

terhunus dari sarungnya terhadap semua manusia dari selatan sampai 


 408

utara. 5 Dan semua manusia akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menca-

but pedang-Ku dari sarungnya, sehingga tidak akan kembali lagi ke situ.  

6 Dan engkau anak manusia, mengeranglah! Mengeranglah di hadapan mere-

ka seperti seorang yang tulang pinggangnya patah dan yang berada dalam 

kesengsaraan yang pahit. 7 Dan kalau mereka bertanya kepadamu: Mengapa 

engkau mengeluh? jawablah: sebab  suatu berita! Kalau berita itu sudah 

tersiar, setiap hati akan menjadi tawar dan semua tangan menjadi lemah 

lesu, segala semangat menghilang dan semua orang terkencing ketakutan. 

Sungguh, pasti datang dan terjadi! demikianlah firman Tuhan ALLAH.” 

Sang nabi sudah dengan setia menyampaikan pesan yang dipercaya-

kan kepadanya, dalam penutup pasal sebelumnya, sesuai syarat-

syarat yang dengannya ia menerimanya, tidak berani menambahkan 

ucapannya sendiri pada pesan itu. namun  , saat  ia mengeluh 

bahwa orang-orang mempersalahkan dia sebab  berbicara dalam 

peribahasa, firman Tuhan datang kepadanya lagi, dan memberinya 

kunci untuk memahami kata-kata kiasan itu, supaya  dengannya ia 

bisa membuat orang banyak memahami maknanya, dan dengan 

demikian membungkam keberatan mereka itu. Sebab semua orang 

tidak akan bisa berdalih di depan pengadilan Allah dan setiap mulut 

akan disumbat. Perhatikanlah, orang yang berkata-kata dengan baha-

sa roh, ia harus berdoa, supaya  kepadanya diberikan juga karunia 

untuk menafsirkannya (1Kor. 14:13). saat  kita berbicara kepada 

orang lain tentang jiwa mereka, kita harus berusaha berbicara 

dengan jelas, dan mengungkapkan diri sebaik mungkin supaya  dapat 

dipahami. Kristus menguraikan perumpamaan-perumpamaan-Nya ke-

pada murid-murid-Nya (Mrk. 4:34). 

1.  Sang nabi di sini diarahkan secara lebih jelas kepada siapa ia 

harus membidik panah nubuat ini. Ia harus mengucapkan banyak 

tegoran terhadap tempat kudus (ay. 2), terhadap Kanaan tanah 

kudus, Yerusalem kota kudus, bait Allah rumah kudus itu. 

Tempat-tempat ini dijunjung martabatnya mengatasi tempat-

tempat lain. namun  , saat  mereka menajiskan tempat-tem-

pat itu, ucapan yang dulu jatuh di tempat-tempat kudus sekarang 

akan jatuh melawannya: Bernubuatlah melawan tanah Israel. 

Suatu kehormatan bagi Israel bahwa ia memiliki nabi-nabi dan 

nubuat. Namun semuanya ini, sebab  direndahkan oleh mereka, 

berbalik melawan mereka. Dan sudah sewajarnya Sion didobrak 

dengan persenjataannya sendiri, yang dulu digunakan untuk me-

lawan musuh-musuhnya, sebab  ia tidak tahu bagaimana meng-

hargainya. 

  

Kitab Yehezkiel 21:1-7 

 409 

2. Sang nabi diajar, dan harus mengajar orang banyak, arti dari api 

yang mengancam akan memakan habis hutan di tanah selatan 

itu. Api itu menandakan pedang yang dicabut, pedang perang 

yang akan membuat tanah itu sunyi sepi (ay. 3): Lihat, Aku akan 

menjadi lawanmu, hai tanah Israel! Tidak perlu hal lain untuk 

membuat sebuah bangsa sengsara selain membuat Allah melawan 

mereka. Sebab seperti halnya, jika Ia berpihak pada kita, kita 

tidak perlu takut kepada siapa pun yang melawan kita, demikian 

pula, jika Ia melawan kita, maka tak ada harapan bagi kita, tak 

peduli siapa pun yang berpihak pada kita. Dan umat yang meng-

aku diri sebagai umat Allah, saat  memberontak dari-Nya, mem-

buat Dia melawan mereka, yang sebelumnya berpihak pada mere-

ka. Bukankah api di hutan itu dinyalakan Allah? Pedang di sini 

yaitu  pedang-Nya, yang telah dipersiapkan-Nya, dan yang akan 

diberi-Nya perintah. Dialah yang akan mencabut pedang dari 

sarungnya, yang di dalamnya pedang itu sudah terbaring tenang 

dan tidak mengancam bahaya. Perhatikanlah, saat  pedang 

dicabut dari sarungnya di antara bangsa-bangsa, maka tangan 

Allah harus dilihat dan diakui sebagai yang melakukannya. Bu-

kankah api itu memakan habis setiap pohon yang hidup dan 

setiap pohon yang layu kering? Pedang itu juga dengan cara 

serupa akan melenyapkan orang benar dan orang fasik. Orang 

baik dan orang jahat sama-sama ikut merasakan malapetaka-

malapetaka yang menimpa bangsa itu. Orang benar dilenyapkan 

dari tanah Israel saat  mereka dibawa sebagai tawanan di Babel, 

meskipun mungkin hanya sedikit atau tak seorang pun dari 

mereka yang dilenyapkan dari negeri orang hidup. Dan suatu 

pertanda yang mengancam bagi tanah Israel bahwa pada awal 

kesusahan-kesusahannya, orang-orang unggulan seperti Daniel 

beserta teman-temannya, dan Yehezkiel, dilenyapkan darinya dan 

dibawa ke Babel. namun  meskipun pedang itu melenyapkan orang 

benar dan orang fasik (sebab ia makan orang ini atau orang itu, 

2Sam. 11:25), namun jauhlah kiranya dari kita untuk berpikir 

bahwa orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik (Kej. 

18:25). Tidak. Anugerah-anugerah dan penghiburan-penghiburan 

Allah membuat pembedaan yang besar, walaupun pemeliharaan-

Nya tampak tidak membuat pembedaan itu. Buah ara yang baik 

dibawa ke Babel untuk kebaikannya (Yer. 24:5-6). Hanya tampak 

dari luar saja nasib orang sama: baik orang yang benar maupun 


 410

orang yang fasik (Pkh. 9:2). namun  semuanya ini berbicara tentang 

hebatnya murka Allah terhadap tanah Israel. Benarlah apa yang 

dikatakan, Aku tidak akan merasa sayang, sebab Ia tidak merasa 

sayang, bahkan kepada orang benar di dalamnya sekalipun. 

sebab  tidak ada cukup banyak orang benar untuk menyelamat-

kan tanah itu, maka untuk membuat keadilan Allah semakin nya-

ta, sedikit orang benar yang ada pun akan menderita bersamanya, 

dan rahmat Allah akan menggantinya bagi mereka dengan suatu 

cara lain. Bukankah api itu membakar semua muka dari selatan 

sampai utara? Pedang itu akan terhunus dari sarungnya terhadap 

semua manusia dari selatan sampai utara, akan terhunus, sebagai 

pedang Allah, dengan perintah yang tak dapat dibantah, dengan 

kekuatan yang tak dapat dilawan. Apakah semua orang diberi 

tahu bahwa Allah menyalakan api itu? Mereka akan dibuat 

mengetahui bahwa Dia telah mencabut pedang (ay. 5). Dan, ter-

akhir, apakah api yang menyala itu tidak pernah terpadamkan? 

Demikianlah saat  pedang Tuhan ini terhunus melawan Yehuda 

dan Yerusalem, sarungnya dibuang, dan pedang itu tidak akan 

pernah disarungkan lagi. Ia tidak akan kembali lagi ke situ, 

sampai ia menghabisi dengan tuntas.  

3. Sang nabi diperintahkan, melalui ungkapan-ungkapan kesedihan 

dan keprihatinannya sendiri atas malapetaka-malapetaka yang 

sedang menghampiri ini, untuk berusaha menanamkan kesan-

kesan serupa pada orang banyak. sesudah  menyampaikan pesan-

nya, ia harus mengerang (ay. 6), harus banyak berkeluh kesah, 

seperti seorang yang tulang pinggangnya patah. Ia harus menge-

rang seolah-olah jantungnya akan pecah, mengerang dalam 

kesengsaraan yang pahit, dengan ungkapan-ungkapan dukacita 

yang pahit. Dan ini harus dilakukan di depan umum, di hadapan 

orang-orang yang sudah mendengar pesannya sebelumnya, 

supaya  ini bisa menjadi kabar bagi mata mereka, seperti sebelum-

nya bagi telinga mereka. Dan sungguh baik jika kedua kabar itu 

berhasil ditanamkan pada diri mereka. Sang nabi harus menge-

rang, meskipun itu menyakitkan bagi dirinya sendiri dan mem-

buat dadanya sakit, dan walaupun ada kemungkinan bahwa 

orang-orang duniawi di antara mereka akan mengolok-oloknya 

sebab  itu, dan menyebutnya pengkhotbah yang suka berbicara 

dibuat-buat. namun , jika kami tidak menguasai diri, hal itu yaitu  

dalam pelayanan Allah. Dan, jika ini dianggap hina, kami akan 

Kitab Yehezkiel 21:1-7 

 411 

melakukannya dengan lebih lagi. Perhatikanlah, hamba-hamba 

Tuhan, kalau ingin membuat orang lain tergerak dengan hal-hal 

yang mereka katakan, harus menunjukkan diri bahwa mereka 

sendiri sungguh-sungguh tergerak dengan hal-hal itu, dan harus 

bersedia berbuat sesuatu yang dapat membuat mereka merasa 

tidak nyaman, supaya  hal itu dapat memajukan tujuan-tujuan 

pelayanan mereka. Orang banyak, sebab  mengamati bahwa sang 

nabi banyak berkeluh kesah dan tidak melihat ada alasan untuk 

itu, akan bertanya, “Mengapa engkau mengeluh? Keluhan-keluhan 

ini memiliki suatu makna batiniah. Mari kita cari tahu apa itu.” 

Dan ia harus menjawab mereka (ay. 7): “Ini sebab  suatu berita, 

berita berat, yang akan kita dengar sebentar lagi. Berita itu sudah 

tersiar (penghakiman-penghakiman itu sudah datang saat  kita 

mendengar kabar tentangnya), berita itu datang dengan cepat, 

dan kemudian kamu semua akan mengeluh. Bahkan, itu tidak 

akan cukup. Setiap hati akan menjadi tawar dan segala semangat 

menghilang. Keberanianmu akan lenyap sepenuhnya dan kamu 

tidak akan memiliki pemikiran-pemikiran yang menggugah sema-

ngat untuk menyokong dirimu sendiri. Dan, jika  hati dan 

semangat lenyap, tentu saja selanjutnya semua tangan menjadi 

lemah lesu dan tidak mampu berperang, dan semua orang ter-

kencing ketakutan dan tidak mampu lari atau tetap berdiri tegak.” 

Orang-orang yang memiliki Allah di pihak mereka, saat  daging 

dan hati menjadi tawar, memiliki-Nya sebagai kekuatan hati 

mereka. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki Allah sebagai 

lawan mereka tidak memiliki  obat yang dapat menguatkan 

semangat yang lemah, melainkan seperti Belsyazar saat  pikiran-

pikirannya menggelisahkan dia (Dan. 5:6). Sebagian orang hanya 

merasa ketakutan dan tidak benar-benar tersakiti. Mungkinkah 

keadaannya demikian di sini, dan apa yang akan terjadi nanti 

mungkin lebih baik daripada yang dibayangkan? Tidak: Sungguh, 

pasti datang dan terjadi. Itu bukan momok untuk menakut-nakuti 

mereka, namun  sesuai dengan ketakutannya, demikian pula murka-

nya, dan malah lebih pedih daripada yang ditakutkan. 


 412

Penghakiman-penghakiman Dinubuatkan 

(21:8-17)  

8 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 9 “Hai anak manusia, bernu-

buatlah dan katakan: Beginilah firman TUHAN: Pedang! Pedang! Yang sudah 

diasah dan juga digosok! 10 Diasah untuk menumpahkan darah dan digosok 

supaya  mengkilap seperti petir. Apakah kita akan bersukacita? – Tongkat 

anakku menghina segala macam kayu. – 11 Pedang itu diberikan supaya  

digosok, supaya  sedia dipergunakan; pedang itu diasah dan digosok, supaya  

diberikan ke tangan si pembunuh. 12 Berserulah dan merataplah, hai anak 

manusia! Sebab pedang itu ditujukan melawan umat-Ku, ditujukan melawan 

semua pemimpin Israel; mereka dan umat-Ku sama-sama dibiarkan dimakan 

pedang. Oleh sebab itu tepuklah pinggangmu sebagai tanda perkabungan.  

13 Sebab percobaan datang dan tidak suatupun yang dapat tahan, 

demikianlah firman Tuhan ALLAH. 14 Dan engkau anak manusia, bernubuat-

lah dan tepuklah tanganmu, biarlah pedang itu menjadi dua kali lipat, tiga 

kali lipat. Itu pedang pembunuh, pedang untuk pembunuhan besar-besaran, 

yang berkeliling menghabiskan mereka. 15 supaya  hati mereka hancur dan 

yang jatuh berebahan bertambah-tambah di tiap pintu gerbang mereka, Aku 

memerintahkan penumpahan darah dengan pedang itu. Aduh, pedang itu 

dibuat menyamai petir dan digosok untuk menumpahkan darah. 16 Pancung 

yang di kanan dan di kiri, ke mana saja matamu menetak. 17 Dan Aku juga 

akan bertepuk tangan dan hati-Ku yang panas menjadi tenang kembali. Aku, 

TUHAN, yang mengatakannya.” 

Di sini ada nubuat lain tentang pedang itu, yang disampaikan dengan 

cara yang sangat menyentuh. Ungkapan-ungkapan yang dipakai di 

sini agak rumit, dan membingungkan para penafsir. Pedang itu 

dicabut dari sarungnya dalam ayat-ayat sebelumnya. Sedangkan di 

sini pedang itu dipersiapkan untuk menjalankan tugas, dan sang 

nabi diperintahkan untuk meratapinya. Amatilah, 

I. Bagaimana pedang itu digambarkan di sini.  

1. Pedang itu diasah, supaya  dapat memotong dan melukai, dan 

menumpahkan darah. Murka Allah akan membuatnya tajam. 

Dan, alat-alat apa saja yang berkenan dipakai Allah untuk 

menjalankan penghakiman-penghakiman-Nya akan dipenuhi-

Nya dengan kekuatan, keberanian, dan kegeraman, sesuai 

dengan pelayanan yang harus dijalankannya. Dari mulut 

Kristus keluar sebilah pedang tajam (Why. 19:15).  

2. Pedang itu digosok, supaya  mengkilap, bagi kengerian orang-

orang yang kepada mereka pedang itu dicabut. Pedang itu 

akan menjadi semacam pedang yang bernyala-nyala. Jika pe-

dang itu sudah berkarat di dalam sarung sebab  tidak dipakai, 

maka ia akan diasah dan dibuat mengkilap. Sebab meskipun 

kemuliaan keadilan Allah mungkin tampak tertutup awan

Kitab Yehezkiel 21:8-17 

 413 

 untuk sementara waktu, selama hari kesabaran-Nya dan pe-

nangguhan penghakiman-penghakiman-Nya, namun kemulia-

an itu akan bersinar lagi dan dibuat mengkilap. 

3. Pedang itu yaitu  pedang yang penuh kemenangan, tak ada 

yang bisa bertahan di hadapannya (ay. 10): Tongkat anakku 

menghina segala macam kayu (KJV: Pedang itu menghina tong-

kat anakku seperti segala macam kayu). Israel, firman Allah 

suatu kali, ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung. Pemerintahan 

bangsa itu disebut tongkat, tongkat yang kuat. Kita membaca 

(19:11) tentang cabang yang kuat yang mereka miliki yang 

menjadi tongkat kerajaan. namun  saat  pedang keadilan Allah 

dicabut, ia menghina tongkat ini, tidak menganggapnya sama 

sekali. Meskipun itu tongkat yang kuat, dan tongkat anaknya, 

itu tidak lebih daripada sekadar segala macam kayu. jika  

umat yang mengaku sebagai umat Allah telah memberontak 

dari-Nya, dan hidup dalam pemberontakan melawan Dia, 

pedang-Nya merendahkan mereka. Siapa mereka bagi-Nya 

melebihi bangsa lain? Tafsiran yang agak luas memberi  

gagasan lain tentang pedang ini: Ini yaitu  tongkat anak-Ku. 

Dan kita tahu tentang siapa Allah berkata (Mzm. 2:7), Anak-Ku 

engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini, dan (Mzm. 

2:9) Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi. 

Pedang ini yaitu  gada besi itu yang menghina segala macam 

kayu dan akan menebangnya. Atau, pedang ini yaitu  tongkat 

anak-Ku, tongkat yang menghajar, untuk mengganjar pelang-

garan umat Allah (2Sam. 7:14), bukan untuk melenyapkan 

mereka sebagai bangsa. Tongkat itu menjadi pedang bagi 

orang lain, namun  tongkat bagi anak-Ku. 

II. Bagaimana pedang itu di sini diserahkan ke tangan para pelak-

sana hukuman: “Ini yaitu  tongkat Anak-Ku, dan Ia telah mem-

berikannya supaya  digosok, supaya  sedia dipergunakan (ay. 11), 

supaya  dapat dipakai untuk tujuan ia dicabut. Pedang itu tidak 

diberikan ke tangan pemain anggar untuk dimainkan, melainkan 

ke tangan si pembunuh untuk melaksanakan hukuman. Pedang 

perang yang dipakai Anak-Ku yaitu  pedang keadilan, dan 

kepada-Nya diserahkan penghakiman seluruhnya. Pedang itu 

dibuat menyamai petir (ay. 15), pedang itu dibungkus (KJV), supaya  

tetap aman, bersih, dan tajam untuk menumpahkan darah, tidak 


 414

seperti pedang Goliat yang terbungkus dalam kain hanya sebagai 

peringatan” (1Sam. 21:9). 

III. Bagaimana pedang itu diarahkan, dan kepada siapa ia dikirim (ay. 

12): Pedang itu ditujukan melawan umat-Ku. Mereka akan rebah 

oleh pedang ini. Perkataan ini diulangi lagi, sebagai sesuatu yang 

hampir-hampir tidak dapat dipercaya, bahwa pedang bangsa kafir 

akan ditujukan melawan umat Allah sendiri. Bahkan, pedang itu 

akan ditujukan melawan semua pemimpin Israel. Martabat dan 

kekuasaan mereka sebagai pemimpin tidak akan melindungi 

mereka, sama seperti pengakuan agama mereka sebagai pemim-

pin-pemimpin Israel. namun  , jika di suatu waktu pedang itu 

ditujukan kepada umat Allah, bukankah ada cukup penghiburan 

dalam hati mereka untuk melindungi diri dari segala sesuatu yang 

menakutkan? Ya, ada penghiburan bagi mereka, selama mereka 

berperilaku pantas sebagai umat Allah. namun  mereka ini tidak 

berperilaku demikian, dan sebab  itu kengerian-kengerian, oleh 

sebab  pedang, akan menimpa orang-orang yang menyebut diri 

sebagai umat-Ku. Perhatikanlah, kalau orang baik akan tenang, 

bukan hanya dari kejahatan, melainkan juga dari ketakutan 

terhadapnya, maka orang fasik akan diganggu bukan hanya oleh 

pedang, melainkan juga oleh kengerian-kengeriannya, yang timbul 

dari kesadaran akan kesalahan mereka sendiri. Pedang ini diarah-

kan secara khusus melawan orang-orang besar, sebab  mereka 

sudah menjadi pendosa-pendosa terbesar di antara umat Allah. 

Mereka pun semuanya telah mematahkan kuk, telah memutuskan 

tali-tali pengikat (Yer. 5:5), dan sebab  itu dengan merekalah Allah 

secara khusus berseteru, yang sudah menjadi biang keladi dalam 

dosa. Pedang orang-orang yang terbunuh yaitu  pedang orang-

orang besar yang terbunuh (ay. 14, KJV). Meskipun mereka telah 

melengkapi diri dengan tempat-tempat pelarian, tempat-tempat 

persembunyian, di mana mereka membuai diri dengan harapan-

harapan bahwa mereka akan aman, mereka akan mendapati 

bahwa pedang itu akan berkeliling menghabiskan mereka, dan 

menemukan mereka di sana, seperti katak-katak, saat  menjadi 

salah satu tulah Mesir, bisa masuk ke dalam kamar raja-raja 

mereka. Pedang, ujung pedang ini, diarahkan melawan pintu-pintu 

gerbang mereka, melawan tiap pintu gerbang mereka (ay. 15), 

melawan semua hal yang dengannya mereka berpikir akan men-

Kitab Yehezkiel 21:8-17 

 415 

jauhkan pedang itu dan membentengi diri terhadapnya. Perhati-

kanlah, pintu-pintu gerbang yang paling kuat, meskipun itu pintu-

pintu tembaga, yang dikencangkan dengan begitu baik, dijaga 

dengan begitu baik, tidak bisa menjadi pelindung terhadap ujung 

pedang penghakiman-penghakiman Allah. namun  saat  pedang 

itu ditujukan kepada orang-orang berdosa,  

1. Mereka sudah takut akan hal-hal yang terburuk. Hati mereka 

hancur, sehingga mereka tidak mampu membuat perlawanan 

apa pun.  

2. Yang terburuk sudah tiba. Perlawanan apa pun yang mereka 

buat tidak ada gunanya, namun  mereka akan hancur, dan yang 

jatuh berebahan bertambah-tambah. namun  apa gunanya kita 

mencermati ke mana pedang ini menuju, kalau ia memiliki  

tugas yang umum, dikirim dengan wewenang sepenuhnya? 

(ay. 16): “Pancung yang di kanan dan di kiri, ke mana saja yang 

kauinginkan, berbeloklah ke kanan dan ke kiri, engkau akan 

menemukan orang-orang yang berbuat jahat, sebab tak 

seorang pun bebas dari kesalahan. Dan engkau memiliki  

wewenang untuk melawan mereka, sebab tak seorang pun 

dikecualikan dari hukuman. Oleh sebab  itu, ke mana saja 

matamu menetak, ke sanalah engkau terus memancung, dan, 

seperti pedang Yonatan, tanpa darah orang-orang yang mati 

terbunuh dan tanpa lemak para pahlawan, engkau tidak 

pernah kembali dengan hampa” (2Sam. 1:22). Perhatikanlah, 

begitu penuhnya dunia ini dengan orang-orang fasik sehingga, 

ke mana saja penghakiman-penghakiman Allah terarah, peng-

hakiman-penghakiman itu akan menemukan pekerjaan, akan 

menemukan sesuatu untuk dikerjakan. Api itu tidak akan per-

nah padam sebab  kekurangan bahan bakar di bumi ini. Dan 

begitu beragamnya cara-cara Allah untuk menemui orang-

orang berdosa, sehingga pedang keadilan-Nya masih seperti 

sedia kala saat  ia menyala-nyala di tangan para kerub: 

pedang itu menyambar-nyambar (Kej. 3:24). 

IV. Apa sifat dari pedang ini, dan apa niat-niat dan batasan-batasan-

nya berkenaan dengan umat Allah (ay. 13). Pedang itu yaitu  un-

tuk menghajar. Pedang itu dirancang demikian. Pedang bagi orang 

lain, tongkat bagi umat Allah. Ini merupakan kata penghiburan 


 416

yang muncul di tengah-tengah perkataan yang mengerikan ini, 

meskipun diungkapkan dengan agak samar.  

1. Umat Allah mulai takut bahwa pedang itu bahkan akan meng-

hina tongkat, bahwa pedang itu akan terus bekerja dengan 

kegeraman yang sedemikian rupa sehingga ia akan meman-

dang rendah tugasnya hanya sebagai tongkat, akan melupa-

kan batasan-batasannya dan menjadi pedang yang sesungguh-

nya, bahkan bagi umat Allah sendiri. Mereka takut kalau-

kalau pedang orang Kasdim, yang merupakan tongkat murka 

Allah, tidak sudi disebut sebagai tongkat, dan menjadi seperti 

kapak yang memegahkan diri terhadap orang yang memakai-

nya, atau tongkat yang mengangkat dirinya sendiri seolah-olah 

itu bukan kayu (Yes. 10:15, KJV). Atau, “Bagaimana jika pedang 

itu bahkan menghina tongkat? Yaitu, bagaimana jika pedang 

ini membuat tongkat-tongkat sebelumnya, seperti pedang 

Sanherib, dihina sebagai tidak ada apa-apanya dibandingkan 

dengan pedang ini? Bagaimana jika pedang ini terbukti bukan 

sebagai tongkat yang menghajar, melainkan pedang yang 

menghancurkan, untuk menghabiskan jemaat dan bangsa 

kita?” Inilah yang dikhawatirkan oleh sedikit orang yang agak 

berpikir panjang, namun  penakut. Perhatikanlah, saat  peng-

hakiman-penghakiman yang mengancam sudah tiba, maka 

sungguh baik untuk menduga hal terburuk yang mungkin 

menjadi akibat-akibatnya, supaya  kita membuat persiapan 

sebagaimana mestinya. Bagaimana jika pedang itu menghina 

suku atau tongkat? Yaitu, suku Yehuda dan kaum keturunan 

Daud (demikian yang diartikan dari kata shebet di sini menu-

rut sebagian orang). Bagaimana jika pedang itu bertujuan 

untuk menghancurkan pemerintahan kita? Kalau memang 

begitu, Tuhan itu benar dan akan mengasihani kendati demi-

kian. namun  ,  

2. Ketakutan-ketakutan ini dibungkam oleh jaminan bahwa tidak 

demikian halnya. Pedang itu tidak akan melupakan dirinya 

sendiri, atau tugas yang untuknya ia dikirim: Ini yaitu  per-

cobaan, dan tidak lebih dari sekadar percobaan. Dia yang me-

ngirimnya akan memakainya, dan menetapkan batasan-batas-

annya, dengan cara seperti yang dikehendaki-Nya. Di sinilah 

gelombang-gelombangnya yang congkak akan dihentikan. Per-

hatikanlah, suatu penghiburan bagi umat Allah, saat  peng-

Kitab Yehezkiel 21:8-17 

 417 

hakiman-penghakiman-Nya sudah tiba, dan mereka siap-siap 

gemetar sebab  takut terhadapnya, bahwa, apa pun bagi orang 

lain, bagi mereka penghakiman-penghakiman itu hanyalah 

percobaan. Dan, seandainya mereka diuji, mereka akan timbul 

seperti emas, dan ujian terhadap iman mereka akan menam-

bah iman mereka. 

V. Di sini sang nabi dan orang banyak harus menunjukkan bahwa 

mereka terenyuh dengan penghakiman-penghakiman yang dian-

camkan. 

1. Sang nabi harus bersungguh-sungguh dalam mengecamkan 

penghakiman-penghakiman ini. Ia harus berkata, Pedang! 

pedang! (ay. 9). Janganlah ia berusaha mencari kata-kata yang 

indah, dan berbagai macam ungkapan yang muluk-muluk. 

saat  kota sedang terbakar, orang tidak akan begitu memper-

hatikan kata-kata, namun  akan berteriak, dengan suara keta-

kutan dan pedih, Kebakaran! kebakaran! Demikian pula sang 

nabi harus berteriak, Pedang! pedang! dan (ay. 14), biarlah 

pedang itu menjadi dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat dalam 

khotbahmu. Allah berbicara satu kali, dua kali, bahkan tiga 

kali. Sungguh baik jika kita, sesudah  semuanya itu, mau mem-

perhatikan dan mengindahkannya. Pedang itu akan menjadi 

dua kali lipat, bahkan tiga kali lipat dalam pemeliharaan Allah. 

Sebab serangan ketiga dari Nebukadnezar kepada Yerusalem-

lah yang menghabisi kota itu. Kehancuran datan


Related Posts:

  • Yehezkiel 13 ah dalam menunjukkan belas kasihan-Nya yaitu  alasan-alasan yang berkaitan dengan kemuliaan-Nya sendiri. III. Ketetapan hati Allah untuk membinasakan angkatan mereka di padang gurun itu. Dia yang sud… Read More