Yehezkiel 16


 l 5:15, menunjukkan pengepungan Yerusalem oleh 

bangsa-bangsa utara). Selain dimaksudkan untuk meneguh-

kan penglihatan Yeremia, perbandingan ini juga digunakan 

untuk menentang keyakinan sia-sia para pemuka Yerusalem 

yang berkata, Kota inilah periuk dan kita dagingnya (11:3), 

yang artinya, “Kita aman di sini, seolah-olah kita dikelilingi 

dengan tembok tembaga.” “Baik,” Allah berfirman, “seperti 

itulah yang akan terjadi. Kamu akan direbus di Yerusalem, 

seperti daging di dalam periuk, direbus sampai hancur lebur. 

Taruhlah periuk itu di atas api, taruhlah, dan tuanglah juga air 

ke dalamnya (ay. 3). Penuhilah kuali itu dengan potongan 

daging pilihan dari kawanan domba di dalamnya (ay. 5, KJV), 

dengan semua potongan pilihan yang baik (ay. 4), dan tulang-

tulangnya yang bersumsum. Sedangkan tulang-tulang lainnya, 

biarkan sebagai bahan bakar, dengan cara dimasukkan ke 

dalam periuk atau ditaruh di bawahnya, sehingga keseluruhan 

tubuh binatang itu dapat dimanfaatkan.” Meskipun api dari 

tulang menyala lambat (sebab pengepungan akan berlangsung 

lama), namun merupakan api yang pasti dan tahan lama, 

sama seperti murka Allah terhadap mereka. Tidak seperti 

bunyi kayu semak duri terbakar di bawah periuk, yang bising 

saja suaranya dan berkobar-kobar nyala apinya, namun tidak 

hebat panasnya. Orang-orang dari segenap penjuru negeri yang 

mengungsi ke Yerusalem untuk menyelamatkan diri, akan me-

nemui kekecewaan dengan sedihnya saat  Yerusalem dikepung 

dan segera saja menjadi terlampau panas bagi mereka. Ditam-

bah lagi, tidak ada jalan keluar bagi mereka, selain tinggal terus 

di dalamnya, seperti daging di dalam periuk yang mendidih.  

2. Yehezkiel harus memberi hardikan kepada mereka atas tanda 

ini, yaitu berupa celaka bagi kota yang penuh hutang darah 

(ay. 6). Dan lagi sebab  penuh hutang darah, biarlah kota itu 

dicampakkan saja ke dalam kuali, direbus di dalamnya, itulah 

tempat paling cocok untuknya (ay. 9). Marilah kita lihat di sini, 

Kitab Yehezkiel 24:1-14 

 485 

(1) Cara apa yang Allah tempuh terhadap Yerusalem. Yerusalem, 

selama pengepungan itu, bagaikan sebuah periuk mendidih 

di atas api, dalam kepanasan, dalam ketergesa-gesaan.  

[1] Api terus dijaga supaya  tetap menyala di bawah periuk, 

yang menunjukkan ketatnya pengepungan itu, dan ba-

nyaknya serangan gencar yang dilakukan para penge-

pung atas kota itu, dan terutama murka Allah yang 

terus menyala-nyala membakar mereka: Aku juga hen-

dak memperbesar pancakanya (tumpukan kayu untuk 

memperbesar api – pen.; ay. 9). Tugas diserahkan kepada 

orang-orang Kasdim (ay. 10), untuk menumpuk kayu dan 

menyalakan api, untuk membuat Yerusalem semakin 

hari semakin panas bagi penduduknya. Ingatlah, api 

yang dinyalakan Allah untuk membinasakan orang-orang 

berdosa yang tidak mau bertobat, tidak akan pernah 

meredup, apalagi menjadi padam sebab  kekurangan 

bahan bakar. Dikatakan bahwa Tofet penuh dengan api 

dan kayu (Yes. 30:33).  

[2] Dagingnya, sesudah direbus, dikeluarkan, dan diberi-

kan kepada orang-orang Kasdim untuk berpesta. “Ha-

biskanlah dagingnya (ay. 10, KJV), biarlah dagingnya 

masak betul, direbus sampai lebur. Rempahi baik-baik, 

dibuat gurih, bagi orang-orang yang akan berpesta pora 

dengannya. Biarlah tulang-tulangnya hangus,” apakah 

itu tulang-tulang yang ada di bawah periuk (“biarlah 

mereka binasa dengan bahan bakar lain”) atau, sebagai-

mana pendapat beberapa orang, tulang-tulang yang ada 

di dalam periuk, “biarlah tulang-tulang itu direbus 

dengan hebat, supaya  tidak saja dagingnya menjadi 

sangat lunak sebab  jenuh, namun  tulang-tulangnya 

juga. Biarlah semua penduduk Yerusalem ditindih sam-

pai menderita sengsara yang teramat sangat hebat oleh 

penyakit, pedang, dan kelaparan.” Dan kemudian (ay. 

6), “Keluarkan potong demi potong dari dalamnya, biar-

lah setiap orang diserahkan ke tangan musuh, baik ke-

pada pedang maupun dijadikan sebagai seorang tawan-

an. Biarlah mereka menjadi mangsa yang empuk bagi 

musuh, dan biarlah orang-orang Kasdim itu menyergap 

mereka dengan penuh hasrat seperti yang dilakukan 


 486

oleh orang yang sangat lapar atas makanan yang disaji-

kan di hadapannya. Lakukanlah tanpa memilih-milih, 

setiap potong daging yang ada di dalam periuk akan 

dikeluarkan dan dilahap, baik potongan pertama mau-

pun yang terakhir, sehingga tidak perlu membuang 

undi yang mana yang akan dikeluarkan lebih dulu.” Hal 

itu berbeda dengan pelaksanaan hukuman mati saat  

Daud mengukur orang Moab untuk memilih siapa yang 

akan dihukum mati dan siapa yang dibiarkan hidup 

dengan menggunakan seutas tali, dua kali panjang tali 

untuk mematikan, dan satu tali penuh untuk membiar-

kan hidup (2Sam. 8:2). namun , di sini tidak ada tali, 

tidak ada undian belas kasihan yang dipakai, semuanya 

menuju ke satu arah, yaitu penghancuran.  

[3] saat  semua kuah daging itu menguap, periuk kosong 

itu diletakkan di atas bara api, supaya  periuk itu dapat 

terbakar juga. Hal itu menunjukkan dibakarnya kota itu 

(ay. 11). Sisa rebusan daging, atau (sebagaimana terje-

mahan lain) karat daging itu, telah begitu melekat erat 

pada dinding periuk, sehingga tidak dapat dibersihkan 

dengan cara mencuci atau menggosoknya, dan sebab  

itu harus dibersihkan dengan api. Jadi biarlah kenajis-

annya dibakar habis darinya, atau, lebih tepatnya, biar-

lah meleleh di dalamnya dan dibakar bersamanya. Biar-

lah ular beludak dan sarang mereka dibinasakan ber-

sama-sama.  

(2) Mengapa Allah sampai berseteru dengan Yerusalem. Ia 

tidak suka menerapkan cara-cara yang kejam ini kepada 

Yerusalem, namun  Ia disulut sampai melakukannya. Yeru-

salem pantas diperlakukan seperti itu, sebab ,  

[1] Ia menjadi kota yang banyak menumpahkan darah (ay. 

7-8): Sebab darah yang dicurahkannya masih ada  

di tengah-tengahnya. Banyak pembunuhan biadab telah 

dilakukan di jantung kota itu. Bahkan, di dalam hati 

mereka pun, orang-orang itu memiliki kecenderungan 

kepada kekejaman. Di dalam batin mereka bergembira 

dengan pencurahan darah, jadi hal itu memang ada di 

tengah-tengah mereka. Bahkan, mereka melakukan 

Kitab Yehezkiel 24:1-14 

 487 

pembunuhan-pembunuhan di siang hari bolong, dan 

mengakuinya secara terbuka tanpa malu-malu. Sung-

guh berlawanan dengan keadilan Allah maupun manu-

sia. Ia tidak mencurahkan darah yang ia tumpahkan di 

atas tanah, supaya  dapat ditutupinya dengan tanah, 

sebab  merasa malu atau takut pada hukuman. Ia tidak 

memandangnya sebagai hal najis, yang pantas disem-

bunyikan (Ul. 23:13), apalagi berbahaya. Sebaliknya, ia 

mencurahkan darah orang tidak bersalah di atas bukit 

batu, supaya  darah tidak dapat meresap ke dalamnya, 

di atas bukit batu yang gundul, walaupun ada peng-

awasan dan pembalasan ilahi. Mereka menumpahkan 

darah orang tidak bersalah di bawah penyamaran ke-

adilan, dan mereka merasa bangga dengan itu, seolah-

olah mereka sudah melaksanakan tugas yang baik bagi 

Allah dan negara. Jadi, begitulah, sebagaimana yang 

terjadi, mereka melakukannya di atas bukit batu yang 

gundul. Atau hal ini dapat juga menggambarkan pengor-

banan anak-anak mereka di bukit-bukit pengorbanan 

mereka, yang mungkin terletak di atas bukit-bukit batu 

yang gundul. Nah, dengan demikian mereka mengun-

dang datangnya murka dan bangkitnya pembalasan (ay. 

8). Tidak dapat dihindari bahwa Allah harus meng-

hukum mereka sebab  semuanya ini, Roh-Nya pasti 

menuntut balas kepada bangsa yang seperti ini. Demi 

membenarkan kehormatan dan keadilan ilahi, mutlak 

diperlukan bahwa kota yang berlumuran darah seperti 

itu diberikan darah kepadanya untuk diminum, sebab 

hal itu wajar bagi mereka. sebab  kejahatan itu telah 

diketahui umum dan terkenal, maka pantaslah bahwa 

hukuman yang dijatuhkan harus sama seperti itu juga: 

Aku akan mencurahkan darahnya sendiri ke atas bukit 

batu yang gundul (ay. 8). Yerusalem dijadikan sebuah 

contoh, dan itulah sebabnya ia menjadi tontonan bagi 

dunia. Allah berurusan dengan kota ini sesuai dengan 

hukum pembalasan. Sangat pantas jika orang-orang 

yang berbuat dosa di hadapan semua orang, juga harus 

ditegur di depan semua orang, supaya  mereka juga tidak 

dicari-cari lagi sebab  nama baik mereka akibat hu-


 488

kuman mereka tidak disembunyikan. Sebab, mereka 

juga tidak merasa perlu menutup-nutupi dosa mereka.  

[2] Kota itu yaitu  kota yang najis. Perhatian besar diberi-

kan di sini, dalam penjelasan perbandingan ini, menge-

nai karat periuk yang menunjukkan dosa Yerusalem, 

yang bangkit dan muncul saat  penghakiman Allah 

ada di atasnya. Itu yaitu  periuk yang berkarat di da-

lamnya, dan karatnya tidak dapat hilang dari padanya 

(ay. 6). Karatnya yang tebal tidak mau hilang dari pada-

nya (ay. 12), tetap menempel erat pada dinding periuk 

itu saat  direbus sampai kering, dan hancur di dalam-

nya (ay. 11). Sebagian yang hancur meluber jatuh ke 

dalam api (ay. 12), mengobarkan nyalanya, dan mem-

buat api terbakar lebih hebat lagi, namun  pada akhirnya 

semua karatnya akan dibakar habis (ay. 11). saat  

tangan Allah telah keluar melawan mereka, bukannya 

merendahkan diri di bawahnya, bertobat dan memper-

baiki diri, dan menerima hukuman atas kelaliman mere-

ka, mereka malah menjadi semakin lancang dan ganas 

dalam berbuat dosa, berbantah-bantah dengan Allah, 

menganiaya nabi-nabi-Nya, menjadi garang kepada satu 

sama lain, mengamuk sejadi-jadinya melawan orang-

orang Kasdim, menggeram kepada mereka, menggigiti 

rantai pengikat mereka, dan berlaku seperti banteng di 

dalam jala. Perbuatan ini seperti karat mereka. Di dalam 

keadaan tertekan mereka malah semakin berubah setia 

terhadap TUHAN, seperti halnya raja Ahas itu (2Taw. 

28:22). Hanya ada sedikit harapan bagi orang-orang 

yang ternyata menjadi lebih buruk oleh hal-hal yang 

seharusnya membuat mereka menjadi lebih baik, yaitu 

orang-orang yang kebejatannya ditimbulkan dan sema-

kin diperparah oleh teguran-teguran firman maupun 

tindakan penyelenggaraan Allah yang dirancang untuk 

menindas dan menundukkan mereka. Atau, kecil ha-

rapan orang-orang yang karatnya pernah direbus sam-

pai bertobat dan mengakui dosanya, seolah-olah sudah 

dihapuskan oleh pembaruan diri, namun  kemudian kem-

bali lagi membelot dari langkah-langkah mereka yang 

baik. Hati yang tampak melunak, sekarang mengeras 

Kitab Yehezkiel 24:1-14 

 489 

lagi. Inilah masalah Yerusalem: Kota itu telah dilelahkan 

dengan macam-macam kebohongan, melelahkan Allah-

nya dengan berbagai rencana dan janji-janji perubahan, 

yang tidak pernah ditepatinya, melelahkan dirinya sen-

diri dengan keyakinan-keyakinan duniawi, yang semua-

nya telah menipunya (ay. 12, KJV). Perhatikanlah, orang-

orang yang mengejar-ngejar kesia-siaan kebohongan, 

melelahkan diri mereka sendiri dengan pengejaran itu. 

Sekarang lihatlah nasib Yerusalem (ay. 13-14). sebab  

kejahatannya sudah tidak dapat disembuhkan lagi, 

maka ia akan ditinggalkan untuk dihancurkan, tanpa 

pertolongan.  

Pertama, berbagai cara dan usaha  pembaruan telah 

dicoba dan tidak membuahkan hasil (ay. 13): “Oleh 

sebab  engkau menajiskan dirimu dengan kemesuman-

mu, engkau telah menjadi keras kepala dan tidak tahu 

malu dalam hal itu. Hal itu sudah menjadi kebiasaan-

mu, yang ditegaskan oleh tindakan-tindakanmu yang 

berulang. Dalam kenajisanmu ada suatu kemesuman 

yang sudah demikian mendalam. Seperti yang ditampil-

kan oleh firman ini, Aku ingin mentahirkan engkau, 

namun  engkau tidak menjadi tahir dari kenajisanmu. Aku 

telah memberi  obat kepadamu, namun  tidak dapat 

membuatmu menjadi sembuh. Aku sudah mengguna-

kan berbagai cara untuk mentahirkanmu, namun  semua-

nya tidak berguna. Maksud dari semuanya itu tidak ter-

capai.” Perhatikanlah, sangat menyedihkan saat  me-

mikirkan berapa banyak orang yang sebenarnya memi-

liki ketetapan dan pemeliharaan ilahi, namun  kehilangan 

semuanya.  

Kedua, oleh sebab  itu diputuskan bahwa cara-cara 

seperti tersebut di atas, tidak akan digunakan lagi: 

Maka engkau tidak akan ditahirkan lagi. Api itu tidak 

lagi menjadi api yang memurnikan, namun  api yang 

menghanguskan. Itulah sebabnya tidak akan ada lagi 

keringanan dan pengurangan seperti sebelumnya, me-

lainkan semuanya berlanjut dalam takaran sepenuh-

penuhnya, sampai penghancuran selesai. Perhatikan-

lah, orang-orang yang tidak mau disembuhkan, pantas 


 490

untuk dibiarkan saja, dan perkaranya dianggap tidak 

tertolong lagi. Akan datang waktunya saat  akan di-

katakan, Barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus 

cemar. 

Ketiga, tidak ada yang tersisa saat pembinasaan itu, 

semuanya akan habis binasa: Sampai Aku melampias-

kan amarah-Ku atasmu (ay. 13). Kata-kata ini sama 

dengan kata-kata yang ditujukan kepada orang-orang 

Yahudi di kemudian hari, bahwa murka telah menimpa 

mereka sepenuh-penuhnya (1Tes. 2:16). Mereka pantas 

mendapatkannya: Menurut perbuatanmu mereka akan 

menghakimi engkau (ay. 14, KJV). Dan Allah akan mela-

kukannya. Hukumannya diikat dengan pengesahan 

yang berulang-ulang agar mereka tersadar untuk meli-

hat betapa pastinya kehancuran mereka: “Aku, TUHAN, 

yang mengatakannya, yang sanggup mewujudkan apa 

yang telah Aku katakan. Hal itu akan terjadi, tidak ada 

yang dapat menghalanginya, sebab Aku sendiri yang 

akan membuatnya, Aku tidak akan berbalik oleh sebab  

permohonan apa pun. Keputusan telah dikeluarkan, 

dan Aku tidak akan merasa sayang kepada mereka, dan 

Aku juga tidak akan menyesal.” Ia tidak akan mengubah 

pikiran-Nya maupun jalan-Nya. sebab  itu sang nabi 

dilarang mengajukan permohonan syafaat bagi mereka, 

dan mereka juga dilarang membuai diri dengan pengha-

rapan-pengharapan bisa melarikan diri. Allah telah ber-

firman, dan Ia akan melakukannya. Ingatlah, pernyata-

an akan murka Allah terhadap orang-orang berdosa 

tidak dapat diganggu gugat, sama seperti semua jamin-

an yang diberikan-Nya kepada umat-Nya bahwa Ia akan 

berbuat baik kepada mereka. Perkara seperti ini me-

mang sungguh menyedihkan, sebab  sudah sedemikian 

parahnya, sehingga tidak bisa diperbaiki lagi, kecuali 

Allah yang salah, atau mereka memang harus dihukum.

 

Kitab Yehezkiel 24:15-27 

 491 

Kematian Istri Sang Nabi;  

Sebuah Tanda Kehancuran Yerusalem 

(24:15-27)  

15 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 16 “Hai anak manusia, lihat, 

Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang 

kena tulah, namun  janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah 

mengeluarkan air mata. 17 Diam-diam saja mengeluh, jangan mengadakan 

ratapan kematian; lilitkanlah destarmu dan pakailah kasutmu, jangan tutupi 

mukamu dan jangan makan roti perkabungan.” 18 Pada paginya aku 

berbicara kepada bangsa itu dan pada malamnya isteriku mati. Pada pagi 

berikutnya aku melakukan seperti diperintahkan kepadaku. 19 Maka bangsa 

itu berkata kepadaku: “Tidakkah engkau bersedia memberitahukan kepada 

kami, apa artinya ini bagi kami, bahwa engkau melakukan demikian?” 20 Lalu 

kujawab mereka: “Firman TUHAN sudah datang kepadaku: 21 Katakanlah 

kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sesungguh-sungguhnya 

Aku akan menajiskan tempat kudus-Ku, kekuasaanmu yang kaubanggakan, 

kenikmatan bagi matamu dan bagi jiwamu; dan anak-anakmu lelaki dan 

perempuan yang kamu tinggalkan akan mati rebah oleh pedang 22 Kamu 

akan melakukan seperti yang kulakukan: Mukamu tidak akan kamu tutupi 

dan roti perkabungan tidak akan kamu makan, 23 kepalamu pakai destar dan 

kakimu pakai kasut; dan kamu tidak akan meratap atau menangis. namun  

kamu akan hancur lebur dalam hukumanmu, dan kamu akan mengeluh 

seorang kepada yang lain. 24 Demikianlah Yehezkiel menjadi lambang bagi-

mu; tepat seperti yang dilakukannya kamu akan lakukan. Kalau itu sudah 

terjadi maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan ALLAH. 25 Dan 

engkau, anak manusia, bukankah begini akan terjadi? Pada hari Aku meng-

ambil dari mereka benteng mereka, perhiasannya yang menggirangkan hati-

nya, kenikmatan matanya dan yang dirindukan jiwanya, anak-anak mereka 

lelaki dan perempuan, 26 pada hari itu juga akan datang seorang yang 

terluput membawa berita kepadamu. 27 Pada hari itu mulutmu akan terbuka 

dan engkau akan berbicara kepada orang yang terluput itu dan tidak lagi 

tetap bisu. Dengan demikian engkau menjadi lambang bagi mereka dan 

mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.” 

Ayat-ayat ini mengakhiri hal-hal yang telah kita pelajari sejak semula 

dari awal kitab ini, untuk menyaksikan nubuat-nubuat Yehezkiel 

mengenai penghancuran Yerusalem. Sebab sesudah ini, meskipun ia 

banyak bernubuat tentang bangsa-bangsa lain, ia tidak berbicara lagi 

mengenai Yerusalem, sampai ia mendengar penghancurannya itu 

hampir tiga tahun kemudian (33:21). Pada bagian sebelumnya dari 

pasal ini, ia telah meyakinkan kaum Israel bahwa sama sekali tidak 

ada pengharapan untuk mencegah kesengsaraan itu. Di sini ia 

meyakinkan orang-orang itu, bahwa mereka tidak akan mendapat 

kelegaan untuk menangisi penghancuran itu. Amatilah di sini,  

I. Tanda yang menggambarkan hal itu ditunjukkan kepada mereka, 

dan tanda itu harganya sangat mahal bagi sang nabi. Lebih 

memalukan lagi bagi mereka, saat  oleh ketetapan ilahi sang 


 492

nabi harus membayar harga demikian mahal untuk menggugah 

hati mereka dengan apa yang harus ia sampaikan, namun hati 

mereka tidak tersentuh juga.  

1. Sang nabi harus kehilangan istrinya yang baik, yang dengan 

tiba-tiba akan diambil dari sisinya oleh kematian. Allah telah 

memberitahukan hal itu sebelumnya, supaya  ia tidak terlalu 

terkejut mengenai kematian itu (ay. 16): Lihat, Aku hendak 

mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang 

kena tulah. Perhatikanlah, 

(1) Sangat baik juga bagi seorang nabi untuk menikah. Semua 

penuh hormat terhadap perkawinan, dan sebab  itu per-

kawinan bukan merupakan dosa bagi para pelayan Tuhan.  

(2) Banyak penghiburan hidup manusia terletak pada hubung-

an-hubungan yang serasi. Maka tidak diragukan lagi bah-

wa Yehezkiel telah menemukan seorang rekan sepenang-

gungan yang bijaksana dan lemah lembut, yang berbagi 

kesedihan dan kekhawatiran bersamanya, menjadi sahabat 

yang berbahagia dalam masa penawanannya.  

(3) Orang-orang yang berada dalam hubungan pernikahan tidak 

saja harus saling menjadi tudung mata (Kej. 20:16, KJV), 

untuk mengendalikan pandangan-pandangan menyimpang 

yang mengingini orang lain, namun  untuk menjaga kenikmat-

an mata untuk saling memandang dengan hati senang di 

antara suami istri. Seorang istri yang dikasihi merupakan 

kenikmatan mata, yang memandang orang lain tidak ada 

bandingannya.  

(4) Yang kurang aman yaitu  yang paling disayang. Kita tidak 

tahu seberapa cepat kenikmatan mata kita akan diambil 

dari samping kita, dan menjadi dukacita bagi hati kita. 

sebab  itu, menjadi alasan yang baik mengapa orang-orang 

yang beristri harus berlaku seolah-olah tidak beristri, dan 

orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira 

(1Kor. 7:29-30). Kematian merupakan pukulan yang paling 

saleh, paling berguna, paling ramah, dan yang tidak bisa 

ditampik. 

(5) saat  kenikmatan mata kita dibawa pergi dengan suatu 

pukulan, kita harus memandang dan mengakui bahwa 

tangan Allah ada di baliknya: Aku mengambil dari padamu 

Kitab Yehezkiel 24:15-27 

 493 

dia yang sangat kaucintai. Ia mengambil makhluk peng-

hibur kita, kapan saja dan dengan cara apa saja sesuai 

dengan kehendak-Nya. Ia memberi  mereka kepada kita, 

namun  menyimpan hak kepemilikan atas mereka pada diri-

Nya. Jadi, masakan Ia tidak boleh melakukan sesuatu yang 

Ia inginkan pada milik-Nya sendiri? 

(6) Mengalami kemalangan seperti ini merupakan hal yang 

baik bagi kita, agar kita ingat bahwa kita hanyalah anak-

anak manusia belaka. Begitulah Allah menyebut sang nabi 

di sini, sebagai anak manusia. Jika engkau yaitu  seorang 

anak Adam, maka istrimu yaitu  anak Hawa, dan oleh 

sebab  itu merupakan makhluk yang dapat mati. Inilah 

jenis kemalangan yang pasti dialami anak-anak manusia. 

sebab  itu, demi kepentinganmukah bumi harus menjadi 

sunyi? Sesuai dengan nubuat ini, sang nabi memberitahu-

kan kita (ay. 18), pada paginya aku berbicara kepada 

bangsa itu. Sebab Allah mengutus nabi-nabi-Nya, bangun 

jauh sebelum fajar dan kemudian mengirim mereka. Kemu-

dian ia berpikir, seandainya saja mereka bersedia men-

dengarkan dia. Amatilah, 

[1] Walaupun Allah sudah memberi  kepada Yehezkiel 

suatu pandangan tentang kemalangan yang akan me-

nimpanya, namun hal itu tidak membuat ia melepaskan 

pekerjaannya, malah sebaliknya ia bertekad untuk 

terus melanjutkan pekerjaan itu. 

[2] Kita dapat menanggung suatu penderitaan dengan lebih 

mudah, jika saat  hal itu terjadi kita sedang berada di 

jalan kewajiban ibadah kita. Sebab, tidak ada yang da-

pat menyakiti kita, tidak ada yang datang dengan mem-

bawa kerugian kepada kita, saat  kita tetap tinggal di 

dalam kasih Allah.  

2. Ia harus menyangkal diri untuk tidak melegakan dirinya de-

ngan meratapi istrinya, sekalipun hal itu merupakan penghor-

matan bagi istrinya, dan dapat menenangkan jiwanya yang 

tertekan. Ia dilarang mengeluarkan ungkapan-ungkapan kese-

dihan yang lazim (ay. 16). Ia dilarang melampiaskan rasa 

kasihnya dengan cara menangis atau membiarkan air matanya 

bercucuran, walaupun air mata merupakan penghormatan 


 494

sebab  ada yang meninggal, dan saat  jasad ditanam, sangat 

pantas untuk diairi seperti itu. Namun Yehezkiel tidak 

diperbolehkan melakukan semua hal ini, walaupun ia yakin 

memiliki  alasan untuk melakukan hal-hal itu sama seperti 

orang lain juga. Bahkan, mungkin akan timbul pikiran buruk 

dari banyak orang, jika ia tidak melakukan kebiasaan itu. Ia 

juga tidak diperbolehkan menggunakan tata cara yang lazim 

dengan memakai para peratap. Ia harus mengenakan pakaian 

sehari-harinya, harus melilitkan destarnya di atas kepala, 

yang di sini disebut sebagai hiasan kepalanya. Ia juga harus 

mengenakan kasutnya, tidak boleh pergi bertelanjang kaki, 

seperti yang biasa dilakukan orang dalam kejadian seperti ini. 

Ia juga tidak boleh menutupi mulutnya (ay. 17, KJV), tidak boleh 

menutupi mukanya (seperti yang biasa dipakai orang-orang 

sakit kusta, yang berseru-seru, Im. 13:45), tidak boleh bermu-

ram muka, supaya  tampak kepada orang seolah-olah sedang 

berpuasa (Mat. 6:18). Ia tidak boleh makan roti dari orang lain, 

atau mengharapkan para tetangga dan sahabat-sahabatnya 

mengirimkan perbekalan kepadanya seperti yang biasa dilaku-

kan orang dalam peristiwa perkabungan seperti itu, sebab  

menganggap orang yang sedang berkabung tidak sampai hati 

menyiapkan makanan untuk mereka sendiri. Namun, kalau 

makanan itu sudah terlanjur dikirim, ia tidak boleh memakan-

nya, namun  harus tetap meneruskan pekerjaannya seperti 

biasa. Tidak bisa tidak, larangan untuk tidak meratapi kemati-

an orang yang sangat ia kasihi itu sangat bertentangan dengan 

kecenderungan darah dan daging, namun itulah yang diperin-

tahkan Allah. Maka, pada pagi berikutnya aku melakukan 

seperti diperintahkan kepadaku (ay. 18). Ia tampil di depan 

umum, dengan kebiasaannya sehari-hari, tampak seperti 

biasa, tanpa tanda-tanda perkabungan sama sekali.  

(1) Ada sesuatu yang lain daripada biasanya di sini. Untuk men-

jadikan dirinya sebagai tanda bagi bangsa itu, Yehezkiel 

harus berusaha sekuat tenaga dan melakukan penyang-

kalan diri yang luar biasa. Perhatikanlah, kecenderungan 

hati kita haruslah selalu tunduk pada pimpinan Allah dan 

perintah-Nya harus dipatuhi, bahkan dalam perkara-perkara 

yang paling sulit dan tidak menyenangkan kita.  

Kitab Yehezkiel 24:15-27 

 495 

(2) Meskipun ratapan bagi yang mati merupakan suatu kewa-

jiban, namun harus selalu dijaga supaya  tetap ada di ba-

wah peraturan-peraturan keagamaan dan akal sehat. Kita 

juga tidak boleh berdukacita seperti orang-orang lain yang 

tidak memiliki  pengharapan, atau meratapi kematian 

makhluk apa pun, bahkan yang paling berharga sekalipun, 

dan yang kita sayangi tak terperikan, seolah-olah kita telah 

kehilangan Allah kita, atau seolah-olah semua kebahagiaan 

kita telah hilang bersamanya. saat  para hamba Tuhan 

mengalami kejadian seperti ini, kiranya sikap tidak ber-

lebih-lebihan dalam perkabungan ini dapat mereka tela-

dankan kepada orang lain. Pada saat seperti itu, kita harus 

belajar memanfaatkan penderitaan itu, supaya  dapat me-

nyesuaikan diri dengan kemalangan itu, dan juga supaya  

pengetahuan kita akan dunia lain makin bertambah de-

ngan kepindahan sanak saudara kita yang tercinta itu, dan 

belajar bersama Ayub untuk memuji nama TUHAN, bahkan 

saat  Ia yang memberi, Ia juga yang mengambil.  

II. Penjelasan dan penerapan tanda ini. Bangsa itu menanyakan apa 

arti tanda itu (ay. 19): Tidakkah engkau bersedia memberitahukan 

kepada kami, apa artinya ini bagi kami, bahwa engkau melakukan 

demikian? Mereka tahu bahwa Yehezkiel yaitu  seorang suami 

yang penyayang, sehingga kematian istrinya pasti merupakan 

suatu penderitaan besar baginya. Lagi pula ia tidak akan terlihat 

begitu acuh tak acuh dengan kematian istrinya, kecuali sebab  

beberapa alasan kuat dan untuk mendidik mereka. Mungkin juga 

mereka berharap bahwa kejadian itu memiliki suatu pengertian 

yang baik dan memberi  sebuah isyarat kepada mereka bahwa 

sekarang Allah akan menghibur mereka lagi sesudah Ia menda-

tangkan kesusahan kepada mereka, dan membuat mereka tam-

pak senang kembali. Perhatikanlah, saat  kita menanyakan per-

kara-perkara Allah, hendaknya pertanyaan kita seperti ini, “Apa 

artinya ini bagi kami? Apa hubungan kami di dalamnya? Teguran 

apa, nasihat apa, dan penghiburan apa yang disampaikan kepada 

kami? Apa kaitannya tanda itu dengan masalah kami?” Yehezkiel 

memberi  jawaban kata demi kata, seperti yang telah diterima-

nya dari Tuhan, yang telah memberitahukan kepadanya apa saja 

yang harus ia katakan kepada kaum Israel (ay. 21).  


 496

1. Biarlah mereka tahu bahwa seperti istri Yehezkiel diambil dari 

sisinya oleh suatu pukulan, begitu jugalah Allah akan meng-

ambil dari mereka semua yang paling mereka sayangi (ay. 21). 

Sebab jikalau orang berbuat demikian dengan kayu hidup, 

apakah yang akan terjadi dengan kayu kering? (Luk. 23:31) 

Jika seorang hamba Allah yang setia dibuat demikian men-

derita hanya untuk mengujinya, akankah angkatan pemberon-

tak terhadap Allah ini dibiarkan pergi tanpa dihukum? Oleh 

tindakan penyelenggaraan ilahi yang dimaksudkan untuk mem-

bangkitkan kesadaran orang ini, Allah menunjukkan bahwa Ia 

bersungguh-sungguh dalam ancaman-ancaman-Nya, dan tidak 

dapat diubah lagi. Kita dapat menduga bahwa Yehezkiel mung-

kin berdoa, bahwa kalau itu merupakan kehendak Allah, 

kiranya istrinya dibiarkan bersamanya, namun  ternyata Allah 

tidak mau mendengarkan dia. Dan kalau dia sendiri saja tidak 

bisa, bagaimana mungkin doa permohonannya bagi bangsa 

yang menjengkelkan ini akan didengar Tuhan? Tidak, sudah 

ditetapkan bahwa: Allah hendak mengambil dari padamu dia 

yang sangat kaucintai. Ingatlah, diambilnya penghiburan dari 

orang lain harus membuat kita tergugah untuk merenungkan 

perpisahan kita dengan segala penghiburan kita juga. Sebab 

adakah kita memiliki  kelebihan dari pada orang lain? Kita 

tidak tahu seberapa cepat cawan yang sama, atau yang lebih 

pahit, diletakkan ke atas tangan kita. Oleh sebab  itu kita 

sebaiknya menangis dengan orang yang menangis, sebab  kita 

juga serupa dengan mereka secara sorgawi. Allah hendak 

mengambil yang disayangi oleh jiwa mereka, yaitu, hal-hal 

yang mengenainya mereka berkata, sayang sekali bahwa hal 

itu harus dipotong dan dihancurkan! Untuk hal-hal yang 

ditakuti oleh jiwa-jiwamu (beberapa orang memahaminya 

seperti itu), kamu akan kehilangan hal-hal yang paling kamu 

takutkan akan hilang. Dan apakah itu?  

(1) Hal-hal yang menjadi kebanggaan mereka semua, yaitu 

Bait Suci: “Aku akan menajiskan tempat kudus-Ku, dengan 

menyerahkannya kepada tangan musuh, untuk dijarah dan 

dibakar.” Hal ini ditunjukkan oleh kematian seorang istri, 

istri tercinta, untuk mengajarkan kepada kita bahwa tem-

pat kudus Allah harus menjadi sesuatu yang lebih berhar-

ga bagi kita, lebih dari apa pun yang sangat kita cintai, 

Kitab Yehezkiel 24:15-27 

 497 

lebih dari penghiburan makhluk apa pun. Jemaat Kristus, 

yang yaitu  kekasih-Nya, harus menjadi kekasih kita juga. 

Walaupun bangsa ini sangat rusak, dan mereka sendiri 

yang telah menajiskan tempat kudus itu, namun tempat itu 

disebut sebagai kenikmatan bagi mata mereka. Perhatikan-

lah, banyak orang yang tidak mengalami dampak dari 

kuasa kesalehan, namun sangat tergila-gila dengan bentuk 

lahiriah kesalehan itu. Dan sebab  itu adillah bagi Allah 

untuk menghukum mereka atas kemunafikan mereka itu 

dengan melenyapkan segala bentuk lahiriah kesalehan itu 

dari mereka. Tempat kudus Allah di sini disebut sebagai 

keunggulan kekuatan mereka. Mereka memiliki banyak 

benteng dan tempat-tempat pertahanan, namun Bait Suci 

mengungguli semuanya. Bait Suci itu merupakan kekuatan 

yang mereka banggakan. Mereka membanggakan bangun-

an itu sebagai kekuatan mereka, bahwa mereka sendiri 

yaitu  bait TUHAN (Yer. 7:4). Perhatikanlah, hak-hak isti-

mewa jemaat yang dibangga-banggakan orang dinajiskan 

oleh dosa-dosa mereka, dan sebab  itu sangat adil bagi 

Allah untuk menajiskan hak-hak itu dengan berbagai peng-

hakiman-Nya. Dan bersama dengan semua hak istimewa 

jemaat ini, Allah juga akan mengambil,  

(2) Hal-hal yang menjadi kesenangan keluarga mereka, yang 

mereka pandang dengan penuh kegembiraan: “Anak-anak-

mu lelaki dan perempuan (yang terlebih kamu sayangi 

sebab  mereka hanyalah sedikit yang tersisa dari sekian 

banyak anak, selebihnya telah dibinasakan oleh kelaparan 

dan wabah sampar) akan mati rebah oleh pedang orang-

orang Kasdim.” Sungguh suatu pemandangan mengerikan 

melihat anak-anak mereka, bagian dan gambar diri mereka 

sendiri, yang telah mereka besarkan dengan susah payah, 

yang mereka kasihi seperti jiwa mereka sendiri, harus 

dikorbankan bagi amukan para penakluk yang tidak me-

ngenal belas kasihan! Ini, ini, inilah hukuman dosa.  

2. Biarlah mereka mengetahui bahwa seperti halnya Yehezkiel 

tidak menangisi kemalangannya, begitu pulalah mereka juga 

tidak akan menangisi kesusahan mereka. Ia harus berkata, 

kamu akan melakukan seperti yang kulakukan (ay. 22). Kamu 

tidak akan meratap dan menangis (ay. 23). Yeremia telah 


 498

mengatakan hal yang sama kepada mereka, bahwa tidak ada 

orang akan meratapi orang-orang yang mati dan menoreh-noreh 

diri sebab  mereka (Yer. 16:6). Bukan berarti akan ada belas 

kasihan begitu rupa di luar sana, atau ada hikmat dan kasih 

karunia di dalam diri, sehingga bisa meringankan dan mereda-

kan penderitaan itu. namun  mereka tidak akan meratap, sebab,  

(1) Dukacita mereka begitu besarnya sampai mereka kepayah-

an dengan rasa duka itu. Penderitaan mereka akan menye-

sakkan mereka, sehingga tidak sanggup lagi menenangkan 

diri sendiri dengan cara melampiaskan perasaan mereka 

terhadap keadaan itu. 

(2) Bencana-bencana itu akan datang begitu cepat atas mere-

ka, susul-menyusul tanpa sela, terus-menerus seperti itu 

dalam waktu lama, sampai mereka akan dikeraskan di 

dalam penderitaan mereka (Ayb. 6:10), sepenuhnya tidak 

bisa berpikir atau merasa dengan semestinya, dan mati 

rasa oleh semua bencana itu.  

(3) Mereka tidak akan berani mengungkapkan kepedihan me-

reka, sebab takut dianggap tidak puas terhadap penakluk, 

yang akan menganggap ratapan mereka sebagai penghina-

an dan gangguan terhadap kemenangan mereka.  

(4) Mereka tidak akan memiliki semangat, waktu, dan juga 

uang, yang dapat mereka gunakan untuk meratap, dan 

menjalankan upacara-upacara perkabungan: “Kamu akan 

sepenuhnya terbenam dalam-dalam dengan kesedihan  

yang sebenar-benarnya, sampai bayangan kesedihan pun 

tidak akan ada.”  

(5) Tidak perlu mengundang peratap-peratap khusus, yang 

biasanya menandai diri dengan menutupi mulut mereka (ay. 

22, KJV), dan menyimpan perhiasan-perhiasan mereka, ser-

ta pergi bertelanjang kaki, sebab semua orang tahu bahwa 

setiap orang yaitu  peratap.  

(6) Rasa penderitaan dan dukacita itu sedikit pun tidak akan 

membantu membawa mereka kepada pertobatan, selain 

hanya mendorong mereka kepada keputusasaan. Demi-

kianlah yang terjadi selanjutnya: “namun  kamu akan hancur 

lebur dalam hukumanmu, dengan hati nurani yang mati 

rasa dan pikiran yang terkutuk, dan kamu akan mengeluh, 

bukan kepada Allah di dalam doa dan pengakuan dosa, 

Kitab Yehezkiel 24:15-27 

 499 

melainkan seorang kepada yang lain,” bersungut-sungut, 

mengaduh, dan berkeluh-kesah akan Allah, sehingga 

dengan demikian membuat beban mereka menjadi lebih 

berat dan luka mereka semakin pedih, seperti yang dilaku-

kan oleh orang-orang yang tidak sabar di bawah kema-

langan mereka dengan mencampurkan penderitaan sendiri 

dengan rasa geram mereka.  

III. Sebuah imbauan atas peristiwa itu, sebagai penegasan atas se-

mua yang terjadi ini (ay. 24): “Kalau ini sudah terjadi sebagaimana 

yang telah dinubuatkan, saat  Yerusalem yang sekarang ini 

sedang dikepung sudah dihancurkan dan ditanduskan sama 

sekali, yang sekarang tidak kamu percayai bisa benar-benar ter-

jadi, maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah Tuhan ALLAH, 

yang telah memberi  peringatan demikian jelas mengenai hal 

itu. Saat itu pun kamu akan teringat bahwa Yehezkiel telah men-

jadi tanda bagimu.” Perhatikanlah, orang-orang yang tidak mem-

perhatikan segala ancaman firman Allah saat  dikhotbahkan, 

akan dibuat mengingat kembali saat  semua ancaman itu di-

jalankan. Amatilah,  

1. Kehancuran besar yang mengakhiri pengepungan Yerusalem 

(ay. 25): Pada hari itu, hari mengerikan itu, saat  kota itu hen-

dak diporak-porandakan, Aku mengambil dari mereka,  

(1) Hal-hal yang mereka andalkan, yakni kekuatan mereka, 

tembok-tembok mereka, harta benda mereka, benteng-ben-

teng pertahanan mereka, prajurit-prajurit mereka. Tidak 

ada satu pun yang akan berguna bagi mereka saat itu.  

(2) Hal-hal yang mereka bangga-banggakan, yakni sukacita 

atas kemuliaan mereka (KJV), yang mereka pandang sebagai 

kemuliaan tertinggi mereka, yang paling membuat mereka 

bersukacita, yaitu Bait Suci dari Allah mereka dan istana-

istana raja-raja mereka.  

(3) Hal-hal yang menjadi kegembiraan mereka, yakni hal-hal 

kenikmatan mata mereka, yang dirindukan jiwa mereka. 

Perhatikanlah, orang-orang yang hidup menurut daging 

mengarahkan pikiran-pikiran mereka pada hal-hal yang 

dapat dinikmati mata mereka. Mereka melihat dan sangat 

menyukai perkara-perkara yang kelihatan. Itulah kebodoh-


 500

an mereka, menempatkan hati mereka pada hal-hal yang 

tidak pasti dan yang dapat diambil dari mereka dalam 

sekejap (Ams. 23:5). Anak-anak mereka lelaki dan perem-

puan, semua ini yaitu  kekuatan, sukacita, dan kemuliaan 

mereka, dan semuanya akan pergi ke pembuangan.  

2. Pemberitahuan yang akan disampaikan kepada sang nabi, 

tidak diwahyukan, seperti pemberitahuan tentang pengepung-

an yang pernah disampaikan kepadanya (ay. 2), namun  disam-

paikan dengan cara biasa (ay. 26): “Pada hari itu juga, oleh 

pengarahan khusus Penyelenggaraan ilahi, akan datang se-

orang yang terluput membawa berita kepadamu,” yang kita 

dapati digenapi dalam pasal 33:21. Kabar buruk datang per-

lahan-lahan, namun  bagi Yehezkiel dan sesama tawanan lain-

nya datang terlampau cepat.  

3. Akibat ilahi yang harus ia alami saat  menerima pemberi-

tahuan  itu (ay. 27). Sejak saat ia menerima firman ini sampai 

saat ia menerima kabar itu, Yehezkiel menjadi bisu, sehingga 

ia tidak bernubuat lagi melawan Israel, namun  melawan bang-

sa-bangsa di sekitarnya, sebagaimana kita akan lihat nanti 

dalam pasal-pasal berikutnya. Saat bernubuat terhadap bang-

sa-bangsa sekitar itulah baru ia diperintahkan lagi untuk ber-

bicaralah kepada teman-temanmu sebangsa (33:2, 22); saat  

itulah mulutnya akan dibuka. Ia ditangguhkan untuk bernu-

buat melawan mereka selama itu, sebab  pada saat Yerusalem 

sedang dalam pengepungan, nubuat-nubuatnya tidak dapat 

disampaikan ke dalam kota. Sebab, saat  Allah berbicara 

begitu keras dengan tongkat, tidak begitu perlu berbicara 

dengan kata-kata. Dan juga, sebab saat terjadi pengepungan 

itu, semua nubuatnya terbukti terjadi dan menjadi peneguhan 

atas tugas perutusannya, sehingga hal itu akan semakin 

membersihkan jalan baginya untuk memulai tugas kenabi-

annya kembali. sebab  itu ia menjadi bisu, untuk menantikan 

saat-saat seperti ini. Demikianlah juga, Kristus melarang 

murid-murid-Nya berbicara di depan orang banyak bahwa Ia 

yaitu  Sang Mesias sampai sesudah kebangkitan-Nya, sebab 

kebangkitan itulah yang akan menjadi bukti sepenuhnya 

mengenai diri-Nya sebagai Mesias. Dan saat itulah engkau 

akan berbicara dengan jauh lebih yakin lagi, dan dengan lebih 

berhasil lagi, untuk meyakinkan mereka atau untuk menim-

Kitab Yehezkiel 24:15-27 

 501 

bulkan kebingungan di antara mereka.” Ingatlah, nabi-nabi 

Allah tidak pernah dibungkam, selain untuk tujuan-tujuan 

bijaksana dan kudus. Dan saat  Allah membuka mulut mereka 

lagi, seperti yang akan dilakukan-Nya pada waktu-Nya, bahkan 

saksi-saksi yang dibunuh akan bangkit, akan nyata jelas 

bawah untuk kemuliaan-Nyalah mereka berdiam diri untuk 

sejenak, supaya  orang mengetahui dengan lebih pasti dan 

sepenuhnya bahwa Allah yaitu  TUHAN. 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

PASAL  25  

enghakiman dimulai di rumah Allah, dan oleh sebab itu dengan 

umat Allahlah para nabi memulai, yang yaitu  hakim-hakim. 

namun  penghakiman itu tidak harus berakhir di sana, dan oleh sebab 

itu para nabi tidak boleh berhenti di situ. Yehezkiel telah menyelesai-

kan kesaksiannya yang berhubungan dengan kehancuran Yerusalem. 

Berkenaan dengan hal itu ia diperintahkan untuk tidak mengatakan 

apa-apa lagi, namun  harus berdiri di menara jaganya dan menunggu 

hasilnya. Namun ia tidak boleh diam. Ada berbagai bangsa yang ber-

batasan dengan tanah Israel, yang terhadap mereka ia harus ber-

nubuat, seperti yang sudah dilakukan Yesaya dan Yeremia sebelum-

nya. Dan ia harus menyatakan perseteruan Allah dengan mereka, 

terutama sebab  kejahatan-kejahatan dan penghinaan-penghinaan 

yang telah mereka lakukan terhadap umat Allah pada hari bencana 

mereka. Dalam pasal ini kita mendapati nubuat sang nabi,  

I. Melawan bani Amon (ay. 1-7).  

II. Melawan orang Moab (ay. 8-11).  

III. Melawan orang Edom (ay. 11-14).  

IV. Melawan orang Filistin (ay. 15-17).  

Apa yang didakwakan terhadap tiap-tiap dari mereka yaitu  perilaku 

mereka yang biadab dan kurang ajar terhadap Israel milik Allah, yang 

untuknya Allah mengancam akan menyerahkan ke dalam tangan 

mereka piala dengan isinya yang memusingkan. Dibencinya perilaku 

mereka yang seperti itu oleh Allah akan menjadi dorongan bagi Israel 

untuk percaya bahwa meskipun Ia telah memperlakukan mereka 

dengan begitu keras, namun Ia tidak mencampakkan mereka, me-

lainkan tetap akan mengakui mereka dan membela perkara mereka. 


 504

Berbagai Bangsa Diancam 

(25:1-7) 

1 Datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Hai anak manusia, tujukanlah 

mukamu kepada bani Amon dan bernubuatlah melawan mereka! 3 Katakan-

lah kepada bani Amon: Dengarlah firman Tuhan ALLAH: Beginilah firman 

Tuhan ALLAH: Oleh sebab  engkau menyerukan: Syukur! mengenai tempat 

kudus-Ku, waktu kekudusannya dilanggar, dan mengenai tanah Israel, wak-

tu itu dijadikan sunyi sepi, dan mengenai kaum Yehuda, waktu mereka ha-

rus pergi ke dalam pembuangan, 4 oleh sebab itu, sungguh, Aku menyerah-

kan engkau kepada orang dari sebelah timur menjadi miliknya; mereka akan 

mendirikan perkemahannya padamu dan membangun tempat kediamannya; 

mereka akan memakan buah-buahanmu dan meminum susu ternakmu.  

5 Aku akan membuat Raba menjadi padang rumput untuk unta dan kota-

kota bani Amon menjadi tempat kambing domba. Dan kamu akan mengeta-

hui bahwa Akulah TUHAN. 6 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh 

sebab  engkau bertepuk tangan dan mengentakkan kakimu ke tanah, dan 

bergembira dalam hatimu atas kecelakaan tanah Israel, 7 oleh sebab itu, 

sungguh, Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan engkau dan menye-

rahkan engkau menjadi jarahan bagi suku-suku bangsa dan melenyapkan 

engkau dari tengah bangsa-bangsa dan membinasakan engkau dari negeri-

negeri; Aku akan memusnahkan engkau. Dengan demikian engkau akan 

mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” 

Di sini,  

I.   Sang nabi diperintahkan untuk berkata-kata kepada bani Amon, 

dalam nama Tuhan Yehova, Allah Israel, yang juga yaitu  Allah 

seluruh bumi. namun  apa yang bisa dikatakan Kamos, dewa bani 

Amon, untuk menjawabnya? Ia diperintah untuk menujukan 

mukanya kepada bani Amon, sebab sebagai nabi dia yaitu  wakil 

Allah, dan dengan demikian ia harus menandakan bahwa Allah 

menujukan muka-Nya kepada mereka, sebab wajah TUHAN me-

nentang orang-orang yang berbuat jahat (Mzm. 34:17). Ia harus 

berbicara dengan berani dan yakin, sebagai orang yang menge-

tahui tugas siapa yang sedang diembannya, dan bahwa ia akan 

ditopang dalam menunaikannya. Oleh sebab itu ia harus mene-

guhkan hatinya seperti keteguhan gunung batu (Yes. 50:7). Ia 

harus menunjukkan ketidaksenangannya terhadap musuh-mu-

suh Israel yang sombong ini, dan menelungkupkan wajah mereka, 

meskipun mereka sangat kurang ajar. Dan dengan demikian ia 

harus menunjukkan bahwa, meskipun ia sudah bernubuat begitu 

banyak dan begitu lama melawan Israel, namun tetap saja ia 

berpihak pada Israel. Dan, walaupun ia bersaksi melawan kebo-

brokan-kebobrokan mereka, ia tetap berpegang dan bermegah 

dalam kovenan Allah dengan mereka. Perhatikanlah, sungguh

Kitab Yehezkiel 25:1-7 

 505 

 sengsara keadaan orang jika nabi-nabi Allah berkhotbah dan ber-

doa melawan mereka, jika wajah nabi-nabi Allah tertuju pada 

mereka. 

II.  Ia diberi petunjuk mengenai apa yang harus dikatakan kepada 

mereka. Yehezkiel pada saat itu sedang menjadi tawanan di Babel, 

dan sudah demikian selama bertahun-tahun, dan hanya mengeta-

hui sedikit tentang keadaan bangsanya sendiri, apalagi keadaan 

bangsa-bangsa di sekitarnya. namun  Allah memberi tahu dia apa 

yang sedang mereka lakukan dan juga apa yang hendak dilaku-

kan-Nya terhadap mereka. Dan dengan demikian, oleh roh nubuat 

ia dimampukan untuk mengatakan sesuatu yang berhubungan 

dengan masalah mereka, seolah-olah ia sudah lama berada di 

antara mereka. 

1. Ia harus mengecam bani Amon atas sorak-sorai mereka yang 

kurang ajar dan biadab terhadap bangsa Israel yang tertimpa 

malapetaka (ay. 3). Bani Amon berkata, saat  segala sesuatu 

bangkit melawan orang-orang Yahudi, “Syukur, itulah keingin-

an kami!” Mereka senang melihat,  

(1) Bait suci dibakar, tempat kudus dinajiskan oleh orang-

orang Kasdim yang berkemenangan. Hal ini disebutkan 

pertama-tama, untuk mengisyaratkan apa penyebab dari 

perseteruan itu. Mereka menyimpan permusuhan terhadap 

orang-orang Yahudi oleh sebab  agama mereka, meskipun 

yang dapat ditemukan di antara mereka itu hanyalah 

sedikit sisa yang hina dari pengakuan agama mereka.  

(2) Bangsa itu dihancurkan. Mereka bersukacita saat  tanah 

Israel dijadikan sunyi sepi, kota-kota dibakar, negeri itu 

diporak-porandakan, dan seluruh negeri tidak berpeng-

huni, dan saat  kaum Yehuda harus pergi ke dalam pem-

buangan. saat  mereka tidak memiliki  kekuatan sendiri 

untuk menindas Israel milik Allah, mereka senang melihat 

orang-orang Kasdim menindasnya. Hal ini sebagian sebab  

mereka iri hati pada kekayaan Israel dan tanah yang baik 

yang mereka nikmati, dan sebagian sebab  mereka takut 

pada kekuatan Israel yang bertambah, dan sebagian lagi 

sebab  mereka membenci agama kaum Israel dan sabda-

sabda ilahi yang dengannya mereka dikaruniai. Hal ini 


 506

diulang lagi (ay. 6): Mereka bertepuk tangan, untuk menam-

bah-nambah kemarahan orang Kasdim, dan membuat 

mereka menyerang seperti anjing-anjing dalam perburuan. 

Atau mereka bertepuk tangan dengan penuh kemenangan, 

mengiringi peristiwa celaka ini dengan sorak pujian mereka 

– Beri tepuk tangan, dengan berpikir bahwa peristiwa cela-

ka itu dipentaskan dengan baik. Tidak pernah ada hal lain 

yang lebih mengasyikkan atau menghibur bagi mereka 

seperti ini. Mereka mengentakkan kaki mereka ke tanah, 

siap untuk melompat dan menari kegirangan pada kesem-

patan ini. Mereka tidak hanya bergembira dalam hati, namun  

juga tidak bisa bersabar untuk menunjukkannya, meski-

pun siapa saja yang memiliki  rasa kehormatan dan 

perikemanusiaan akan berseru kepada mereka, sungguh 

memalukan. Terutama mengingat bahwa mereka bergem-

bira seperti itu bukan sebab  ada sesuatu yang mereka 

peroleh dari kejatuhan Israel (seandainya demikian, mereka 

akan lebih bisa berdalih: kebanyakan orang ingin mencari 

untung sendiri), namun  murni timbul oleh sebab  perasaan 

benci dan permusuhan: Engkau bergembira dalam hatimu 

(yang menandakan cemoohan dan juga kebencian) atas 

kecelakaan tanah Israel. Perhatikanlah, umat Allah selalu 

saja menjadi sasaran niat jahat dari dunia yang fasik ini. 

Dan malapetaka-malapetaka yang menimpa mereka telah 

menjadi hiburan bagi tetangga-tetangga mereka. Lihatlah 

bagaimana permusuhan yang ada dalam keturunan ular 

melawan keturunan perempuan ini membawa mereka pada 

perbuatan-perbuatan penuh kebencian yang sangat tidak 

wajar. Bani Amon, dari antara bani-bani lainnya, seharus-

nya tidak bersukacita atas kehancuran Yerusalem, namun  

justru harus gemetar, sebab  mereka sendiri hampir tidak 

terluput pada saat yang sama. Keadaan mereka hanyalah 

masalah menebak mana yang muncul pertama, “kepala 

atau ekor” [waktu melempar uang receh] yang harus dike-

pung terlebih dulu, Raba atau Yerusalem (21:20). Dan ber-

alasan bagi mereka untuk berpikir siapa yang akan diserang 

raja Babel berikutnya. namun  demikianlah hati mereka 

sudah mengeras bagi kehancuran mereka, dan penghinaan 

mereka terhadap Yerusalem menjadi tanda kebinasaan bagi 

Kitab Yehezkiel 25:1-7 

 507 

mereka (Flp.1:28). Sangat fasiklah untuk bergembira atas 

malapetaka-malapetaka yang menimpa siapa saja, ter-

utama yang menimpa umat Allah, dan ini merupakan dosa 

yang pasti akan dimintai perhitungan oleh Allah. Begitu 

senangnya Allah dalam menunjukkan belas kasihan, dan 

begitu lambatnya Ia untuk menghukum, sehingga tidak 

ada hal lain yang lebih menyenangkan-Nya selain dihenti-

kan di jalan-jalan penghakiman-Nya oleh campur tangan 

seseorang. Dan tidak ada hal lain yang lebih menyulut 

murka-Nya selain perbuatan membantu menimbulkan keja-

hatan saat  Ia hanya murka sedikit (Za. 1:15). 

2. Ia harus mengancam bani Amon dengan kehancuran yang se-

habis-habisnya atas penghinaan yang menjadi kesalahan 

mereka ini. Allah mengalihkan murka-Nya dari Israel kepada 

mereka, seperti yang dikatakan (Ams. 24:17-18). Allah cem-

buru bagi kehormatan umat-Nya, sebab  kehormatan-Nya 

sendiri berkaitan dengan kehormatan mereka. Oleh sebab itu 

orang-orang yang menyentuh kehormatan umat-Nya akan 

mengetahui bahwa mereka menyentuh biji mata-Nya. Sebe-

lumnya Ia sudah menubuatkan kehancuran bani Amon 

(21:28). Seandainya mereka bertobat, nubuat itu akan dicabut, 

namun  sekarang nubuat itu disahkan.  

(1) Musuh yang menghancurkan akan didatangkan untuk 

melawan mereka: Aku menyerahkan engkau kepada orang 

dari sebelah timur, pertama-tama kepada orang Kasdim, 

yang datang dari timur laut, dan yang tentaranya, di bawah 

perintah Nebukadnezar, menghancurkan negeri bani Amon, 

sekitar lima tahun sesudah  kehancuran Yerusalem (seperti 

yang diceritakan Yosefus, Antiq. 10.181). Dan kemudian 

kepada orang Arab, yang pantas disebut orang dari sebelah 

timur. sesudah  orang Kasdim membuat negeri itu sunyi sepi 

dan meninggalkannya, orang Arab datang dan merampas-

nya untuk menjadi milik mereka sendiri, mungkin dengan 

persetujuan para penakluk Kasdim itu. Tenda-tenda gem-

bala yaitu  istana mereka. Tenda-tenda ini mereka dirikan 

di negeri bani Amon. Di sana mereka membangun tempat 

kediaman mereka (ay. 4). Mereka menikmati hasil-hasil 

negeri itu: Mereka akan memakan buah-buahanmu dan 


 508

meminum susu ternakmu. Dan susu ternak yaitu  hasil 

bumi dari tangan kedua. Mereka bahkan memanfaatkan 

kota kerajaan untuk ternak mereka (ay. 5): Aku akan 

membuat Raba, kota yang menyenangkan dan indah itu, 

menjadi padang rumput untuk unta. Sebab tuan-tuannya 

yang baru, yang seluruh kekayaannya berupa ternak, tidak 

akan berpikir bahwa mereka bisa memanfaatkan istana-

istana kota Raba untuk keperluan lain yang lebih baik. 

Raba sudah menjadi tempat kediaman orang-orang kasar 

seperti binatang. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya kota itu 

sekarang dijadikan padang rumput untuk unta dan negeri 

itu dijadikan tempat kambing domba, binatang-binatang 

yang lebih polos daripada orang-orang yang sebelumnya 

menghuninya.  

(2) Allah sendiri bertindak sebagai musuh bagi mereka (ay. 7): 

Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan engkau, 

tangan yang akan menjangkau jauh dan menyerang tepat 

mengenai sasaran. Tangan yang hantamannya tak terelak-

kan, sebab  tangan itu yaitu  tangan yang perkasa, dan 

yang beratnya tidak bisa ditanggung, sebab  tangan itu 

yaitu  tangan yang berat. Tangan Allah yang teracung 

melawan bani Amon tidak hanya akan menyerahkan mere-

ka menjadi jarahan bagi suku-suku bangsa, sehingga se-

mua tetangga mereka akan memangsa mereka, namun  juga 

akan melenyapkan mereka dari tengah bangsa-bangsa dan 

membinasakan mereka dari negeri-negeri, sehingga tidak 

akan ada sisa-sisa dari mereka di tempat itu. Bandingkan 

ini dengan Yeremia 49:1, dst. Apa yang terdengar lebih 

mengerikan daripada ketetapan hati ini (ay. 7), Aku akan me-

musnahkan engkau? Sebab Allah yang maha kuasa sanggup 

untuk menyelamatkan dan membinasakan, dan ngeri benar, 

kalau jatuh ke dalam tangan-Nya. Kedua ancaman itu di sini 

(ay. 5 dan ay. 7) ditutup dengan pernyataan ini, engkau akan 

mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Sebab,  

[1] Demikianlah Allah akan mempertahankan kehormatan-

Nya sendiri, dan akan memperlihatkan bahwa Dia ada-

lah Allah Israel, meskipun Ia membiarkan mereka se-

lama beberapa waktu untuk menjadi tawanan-tawanan 

di Babel.  

Kitab Yehezkiel 25:8-17 

 509 

[2] Demikianlah Ia akan membuat orang-orang yang asing 

bagi-Nya untuk mengenal-Nya, dan itu akan menjadi 

dampak yang penuh berkat dari malapetaka-malapetaka 

yang menimpa orang Israel itu. Lebih baik mengenal 

Allah dan miskin daripada kaya dan tidak mengenal-Nya. 

Berbagai Bangsa Diancam 

(25:8-17)  

8 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Oleh sebab  Moab berkata: Sungguh, 

kaum Yehuda yaitu  sama dengan semua bangsa lain, 9 oleh sebab itu, 

sungguh, Aku akan membiarkan dataran tinggi Moab terbuka dengan run-

tuhnya kota-kotanya, ya, kota-kotanya tanpa terkecuali, yaitu kepermaian 

negeri itu: Bet-Yesimot, Baal-Meon dan Kiryataim. 10 Aku akan menyerahkan 

dia bersama bani Amon kepada orang dari sebelah Timur menjadi miliknya, 

supaya  bani Amon jangan diingat-ingat lagi di antara bangsa-bangsa. 11 Aku 

akan menjatuhkan hukuman kepada Moab dan mereka akan mengetahui 

bahwa Akulah TUHAN.” 12 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Oleh sebab  

Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda dan membuat 

kesalahan besar dengan melakukan pembalasan terhadap mereka, 13 oleh 

sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH, Aku akan mengacungkan tangan-

Ku melawan Edom dan melenyapkan dari padanya manusia dan binatang 

dan Aku membuatnya menjadi reruntuhan; dari Téman sampai Dedan 

mereka akan mati rebah oleh pedang. 14 Aku akan melakukan pembalasan-

Ku terhadap Edom dengan tangan umat-Ku Israel. Dan mereka akan mem-

perlakukan Edom selaras dengan murka-Ku dan amarah-Ku, dan mereka 

akan mengetahui, bahwa Akulah yang membalas, demikianlah firman Tuhan 

ALLAH.” 15 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Oleh sebab  orang Filistin mem-

balaskan dendam kesumat dan di dalam kegembiraannya atas kecelakaan 

Israel melakukan pembalasan dengan melakukan pembinasaan sebab  rasa 

permusuhan yang turun-temurun, 16 oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan 

ALLAH: Sungguh, Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan orang Filis-

tin dan melenyapkan orang Kreta dan membinasakan yang lain-lain di tepi 

pantai laut. 17 Aku akan melakukan pembalasan yang kejam terhadap mere-

ka disertai penghajaran-penghajaran kemarahan. Dan mereka akan mengeta-

hui bahwa Akulah TUHAN, pada waktu Aku melakukan pembalasan-Ku 

terhadap mereka.” 

Tiga lagi dari tetangga-tetangga jahat Israel didakwa di sini, dinyata-

kan bersalah, dan dihukum kehancuran, sebab  ikut berperan dan 

bersorak-sorak atas kejatuhan Yerusalem. 

I. Orang-orang Moab. Seir, yang merupakan pusat pemerintahan 

orang Edom, bergabung dengan mereka (ay. 8), sebab  mereka 

menyatakan hal yang sama seperti orang Moab. namun  sesudah  itu 

mereka sendiri diperhitungkan (ay. 12). Sekarang amatilah, 


 510

1. Apa dosa orang-orang Moab. Mereka berkata, “Sungguh, kaum 

Yehuda yaitu  sama dengan semua bangsa lain.” Mereka 

bersorak-sorak,  

(1) Atas kemurtadan-kemurtadan Israel. Mereka senang meli-

hat Israel meninggalkan Allah mereka dan menyembah 

berhala-berhala, dan berharap bahwa sebentar lagi agama 

mereka akan lenyap dan terlupakan, dan kaum Yehuda 

akan menjadi sama dengan semua bangsa lain, penyem-

bah-penyembah berhala yang sempurna. jika  orang-

orang yang mengaku beragama tidak hidup sesuai dengan 

pengakuan mereka itu, mereka mendorong musuh-musuh 

agama untuk berharap bahwa pada waktunya agama akan 

tenggelam, dilindas, dan betul-betul ditinggalkan. namun  

hendaklah orang Moab tahu bahwa, meskipun ada sebagi-

an orang dari kaum Yehuda yang sudah menjadikan diri 

mereka sama dengan bangsa lain, namun ada suatu sisa 

yang mempertahankan keutuhan hati mereka. Agama 

kaum Yehuda akan pulih, kekhususannya akan terpeli-

hara, ia tidak akan terhilang di antara bangsa-bangsa, 

melainkan membedakan dirinya dari mereka, sampai ia 

sendiri menjadi suatu tubuh yang lebih baik.  

(2) Mereka bersorak-sorak atas malapetaka-malapetaka yang 

menimpa Israel. Mereka berkata, “Kaum Yehuda yaitu  

sama dengan semua bangsa lain, dalam keadaan yang 

sama buruknya seperti mereka. Allah mereka sama-sama 

tidak mampu membebaskan mereka dari cemeti yang 

berdesik-desik dari bagian-bagian dunia ini, seperti halnya 

dewa-dewa bangsa kafir. Di mana janji-janji yang mereka 

megahkan itu, dan segala keajaiban yang diceritakan mere-

ka dan nenek moyang mereka kepada kami? Kebaikan apa 

yang mereka peroleh melebihi orang lain dari kovenan se-

bagai umat kesayangan itu, yang dengannya mereka begitu 

menjunjung tinggi diri sendiri? Orang-orang yang meman-

dang semua bangsa lain dengan begitu mencemooh seka-

rang berdiri sama rendah dengan mereka, atau lebih tepat-

nya tenggelam di bawah mereka.” Perhatikanlah, orang yang 

menghakimi hanya melalui penampilan luar cepat menyim-

pulkan bahwa umat Allah telah kehilangan semua hak isti-

mewa mereka sesudah  mereka kehilangan kemakmuran 

Kitab Yehezkiel 25:8-17 

 511 

duniawi mereka. namun  tidak lantas berarti demikian, se-

bab orang-orang baik, bahkan di dalam penderitaan, dalam 

pembuangan di antara bangsa-bangsa kafir, memiliki anu-

gerah dan penghiburan di dalam hati yang cukup untuk 

membedakan mereka dari semua orang kafir. Meskipun 

orang benar dan orang fasik tampak bernasib sama, namun 

sesungguhnya itu jauh berbeda. 

2. Apa yang akan menjadi hukuman bagi Moab sebab  dosa ini. 

sebab  mereka bersorak-sorak atas tergulingnya Yehuda, 

maka negeri mereka dengan cara serupa akan digulingkan ber-

sama-sama negeri bani Amon, yang bersalah atas dosa yang 

sama (ay. 9-10): “Aku akan membiarkan dataran tinggi Moab 

terbuka, akan menyingkapkan bahunya, akan meruntuhkan 

semua pertahanannya, supaya  ia menjadi mangsa yang empuk 

bagi siapa saja yang ingin memangsanya.”  

(1) Lihatlah di sini bagaimana negeri mereka akan dibukakan. 

Kota-kota perbatasan, yang menjadi kekuatan dan penjaga-

nya, akan dibongkar oleh pasukan-pasukan Kasdim, dan 

terbuka. Beberapa dari kota-kota mereka disebutkan di 

sini, yang dikatakan sebagai kepermaian negeri, yang mere-

ka andalkan, dan mereka banggakan sebagai kota-kota 

yang tak tertembus. Kota-kota ini akan runtuh, ditinggal-

kan, atau dikhianati, atau jatuh ke tangan para musuh. 

Dan Moab pun akan dibiarkan terbuka, dan siapa saja 

yang mau, dapat menembus ke jantung negeri. Perhatikan-

lah, orang-orang yang bermegah dalam pertahanan dan 

perlindungan apa saja selain dalam kuasa, pemeliharaan, 

dan janji ilahi, cepat atau lambat akan mengalami kejadian 

yang membuat mereka malu akan perbuatan mereka itu.  

(2) Lihatlah di sini kepada siapa kota itu akan dibukakan: 

Orang dari sebelah Timur, saat  mereka datang untuk 

menguasai negeri bani Amon, dan akan merebut negeri 

orang Moab juga. Allah, Tuhan atas segala negeri, akan 

memberi  negeri itu kepada mereka. Sebab kerajaan-

kerajaan manusia diberikan-Nya kepada siapa saja yang Ia 

kehendaki. Orang-orang Arab, yang yaitu  para gembala, 

dan hidup tenang, orang-orang polos yang tinggal di tenda-

tenda, oleh Penyelenggaran ilahi yang mengalahkan semua-


 512

nya, akan dibuat memiliki tanah orang Moab, yang yaitu  

para serdadu, prajurit perang, dan pemburu-pemburu licik, 

yang hidupnya penuh gejolak. Orang-orang Kasdim akan 

memperolehnya dengan perang, dan orang-orang Arab 

akan menikmatinya dalam damai. Tentang bani Amon 

dikatakan, mereka tidak akan diingat-ingat lagi di antara 

bangsa-bangsa (ay. 10), sebab mereka sudah menjadi kaki 

tangan dalam pembunuhan Gedalya (Yer. 40:14). namun  

tentang orang Moab dikatakan, Aku akan menjatuhkan 

hukuman kepada Moab. Mereka akan merasakan beratnya 

murka Allah, namun  mungkin tidak sampai seberat yang 

dirasakan bani Amon. Namun demikian, sampai sejauh itu 

mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, bahwa 

Allah Israel yaitu  Allah yang berkuasa, dan bahwa 

kovenan-Nya dengan umat-Nya tidak terputus. 

II.  Orang-orang Edom, yaitu keturunan Esau, yang menjadi musuh 

bebuyutan Yakub. Dan inilah, 

1. Dosa orang-orang Edom (ay. 12). Mereka tidak hanya ber-

sorak-sorak atas kehancuran Yehuda dan Yerusalem, seperti 

yang sudah dilakukan orang Moab dan bani Amon, namun  juga 

mengambil keuntungan dari keadaan tertekan yang menimpa 

orang-orang Yahudi pada saat itu. Mereka berbuat jahat 

kepada orang-orang Yahudi, mungkin dengan menjebol dae-

rah-daerah perbatasan mereka dan menjarah negeri mereka: 

Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda. 

Orang-orang Edom sudah lama menjadi pembayar upeti 

kepada orang-orang Yahudi, sesuai dengan putusan bahwa 

yang lebih tua harus melayani yang lebih muda. Pada zaman 

Yoram, mereka memberontak. Amazia menghajar mereka 

dengan keras (2Raj. 14:7), dan untuk itu mereka membalaskan 

dendam. Sekarang mereka ingin membalaskan semua dendam 

lama, dan tidak hanya membakar amarah orang-orang Babel 

melawan Yerusalem, dengan berseru, Runtuhkan, runtuhkan 

(Mzm. 137:7), namun  juga melenyapkan orang-orang yang luput, 

seperti yang kita dapati dalam nubuat Obaja, yang sepenuhnya 

ditujukan melawan Edom (Ob. 1:11-12, dst.). Hal ini di sini 

disebut sebagai membalaskan dendam kesumat, yang menyi-

ratkan bahwa mereka tidak hanya menginginkannya dengan 

Kitab Yehezkiel 25:8-17 

 513 

menggebu-gebu, namun  juga sangat kejam dalam melakukan-

nya, dan membalas orang-orang Yahudi lebih dari dua kali 

lipat. “Dalam hal ini ia telah membuat kesalahan besar.” Per-

hatikanlah, merupakan suatu kesalahan besar terhadap Allah 

jika  kita membalaskan dendam kepada saudara kita. 

Sebab Allah sudah berkata bahwa pembalasan itu yaitu  hak-

Ku. Kita dilarang untuk membalas dendam atau menyimpan 

dendam. Anggaplah Yehuda sudah memperlakukan Edom 

dengan keras sebelumnya, namun suatu perbuatan hina bagi 

orang Edom sekarang, sebagai balasannya, untuk menghajar 

mereka secara diam-diam. namun  orang-orang Yahudi menda-

pat perintah ilahi untuk memerintah atas orang-orang Edom, 

dan oleh sebab itu mereka seharusnya tidak mengadakan 

pembalasan. Mereka juga sudah bersikap tidak terus terang 

dengan menyimpan permusuhan lama itu, padahal Allah 

secara khusus sudah memerintahkan umat-Nya untuk melu-

pakannya. Janganlah engkau menganggap keji orang Edom (Ul. 

23:7).  

2. Penghakiman-penghakiman yang diancamkan terhadap mereka 

sebab  dosa ini. Allah akan memberi mereka peringatan untuk 

itu (ay. 13): Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan Edom. 

Negeri mereka akan menjadi sunyi sepi, mulai dari Téman, yang 

terletak di sebelah selatan darinya. Dan mereka akan mati rebah 

oleh pedang sampai Dedan, yang terletak di sebelah utara. 

Kehancuran-kehancuran akan melewati bangsa itu.  

(1) Mereka telah mengadakan pembalasan, dan sebab  itu 

Allah akan melakukan pembalasan-Nya terhadap mereka 

(ay. 14): Mereka akan mengetahui, bahwa Akulah yang 

membalas. Orang-orang yang tidak mau menyerahkan 

kepada Allah untuk membalas dendam bagi mereka dapat 

menantikan bahwa Ia akan melakukan pembalasan terha-

dap mereka. Dan orang-orang yang tidak mau percaya dan 

takut terhadap pembalasan-Nya akan mengetahui dan me-

rasakan pembalasan-Nya. Mereka akan diperlakukan sela-

ras dengan murka Allah dan selaras dengan amarah-Nya, 

bukan selaras dengan kelemahan alat-alat yang dipakai 

dalam menjalankan murka-Nya, melainkan selaras dengan 

kekuatan lengan yang memakai alat-alat itu.  


 514

(2) Mereka telah mengadakan pembalasan terhadap Israel, dan 

Allah akan melakukan pembalasan-Nya terhadap mereka 

dengan tangan umat-Nya Israel. Mereka banyak menderita 

oleh orang Kasdim, yang tampak dirujuk dalam Yeremia 

49:8. namun  selain itu ada penyelamat-penyelamat yang 

akan naik ke atas gunung Sion, yang akan menghukum 

pegunungan Esau (Ob. 1:21), dan Penebus Israel datang 

dari Bozra dengan baju yang merah (Yes. 63:1). Ini menyi-

ratkan sebuah janji bahwa Israel akan pulih kembali 

sampai sedemikian rupa sehingga mampu menahan peng-

hinaan tetangga-tetangganya. Dan kita mendapati (1Mak. 

5:3) bahwa Yudas Makabe berperang melawan bani Esau di 

daerah Idumea. Kekalahan besar ditimpakan Yudas kepada 

mereka; mereka direndahkan dan dirampasinya. Dan 

Yosefus berkata (Antiq. 13.257), bahwa Hirkanus membuat 

orang Edom menjadi pembayar upeti kepada Israel. Per-

hatikanlah, keadilan penghakiman-penghakiman Allah ha-

rus dicermati saat  Ia tidak hanya membalaskan kejahat-

an kepada orang-orang yang melakukannya, namun  juga 

melalui orang-orang yang terhadap mereka kejahatan itu 

dilakukan. 

III. Orang-orang Filistin. Dan,  

1. Dosa mereka banyak sama dengan dosa orang-orang Edom: 

Mereka telah membalaskan dendam kesumat terhadap orang-

orang Israel, dan di dalam kegembiraan mereka atas kecelaka-

an Israel, mereka melakukan pembalasan, bukan hanya untuk 

mengganggu mereka, namun  juga untuk melakukan pembinasa-

an, sebab  rasa permusuhan yang turun-temurun (ay. 15). 

sebab  dendam lama yang sudah mereka simpan, atau seperti 

dalam tafsiran yang agak luas, dengan kebencian yang abadi, 

kebencian yang dimulai sejak lama dan yang bertekad untuk 

mereka teruskan. Kemarahan itu tidak pernah surut. Mereka 

membalaskan dendam kesumat, menjalankan kebiasaan ber-

buat jahat. Itu perbuatan yang terus-menerus mereka laku-

kan, dan hati mereka, hati mereka yang penuh kebencian itu, 

terpatri padanya.  

2.  Hukuman mereka juga banyak sama (ay. 16). Orang-orang 

yang ingin menghancurkan umat Allah, mereka sendiri akan 

Kitab Yehezkiel 25:8-17 

 515 

dilenyapkan dan dihancurkan. Dan orang-orang yang ingin 

membalas dendam sendiri akan mendapati bahwa Allah akan 

melakukan pembalasan yang kejam terhadap mereka (ay. 17). 

Hal ini digenapi saat  negeri itu diporak-porandakan oleh 

tentara Kasdim, tidak lama sesudah kehancuran Yerusalem, 

yang dinubuatkan dalam Yeremia 47. Sungguh aneh bahwa 

bangsa-bangsa ini, yang berbatasan dengan tanah Israel, tidak 

khawatir melihat keberhasilan tentara Kasdim, dan tidak 

gemetar mencemaskan bahaya yang mengintai mereka sendiri. 

saat  rumah tetangga mereka terbakar, saat itulah mereka 

harus melihat rumah mereka sendiri. namun  hati yang jahat 

dan kebencian mereka membuat mereka lupa akan kepenting-

an negeri mereka, sampai Allah dengan penghakiman-pengha-

kiman-Nya meyakinkan mereka bahwa piala itu akan datang 

secara bergilir, dan mereka sama tidak amannya untuk sela-

mat. 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

PASAL  26  

ang nabi cepat saja selesai dalam berurusan dengan keempat 

bangsa itu, yang terhadap mereka ia tujukan mukanya dalam 

pasal-pasal sebelumnya. Sebab mereka pada waktu itu bukanlah 

bangsa-bangsa yang sangat besar di dunia, tidak pula kejatuhan 

mereka akan menimbulkan keributan besar di antara bangsa-bangsa 

atau diperhitungkan dalam sejarah. namun  kota Tirus yaitu  kota 

berikutnya yang dihadapkan ke pengadilan. Kota ini, sebagai tempat 

perdagangan besar, yaitu  yang termasyhur di seluruh dunia. Oleh 

sebab itu, di sini ada tiga pasal penuh, pasal ini dan dua pasal beri-

kutnya, yang dihabiskan untuk nubuat tentang kehancuran Tirus. 

Kita mendapatkan “ucapan ilahi tentang Tirus” dalam Yesaya 23. 

Tirus hanya disebutkan dalam Yeremia sebagai kota yang ikut ber-

bagi dengan penduduk asli dalam malapetaka yang menimpa semua 

orang (Yer. 25:22; 27:3; 47:4). namun  Yehezkiel diperintahkan untuk 

membicarakan pokok masalah ini secara panjang lebar. Dalam pasal 

ini kita mendapati,  

I. Dosa yang didakwakan kepada Tirus, yang bersorak-sorai 

atas kehancuran Yerusalem (ay. 2).  

II. Kehancuran Tirus sendiri dinubuatkan.  

1. Luar biasa hebatnya kehancuran ini: Tirus akan dirun-

tuhkan sehabis-habisnya (ay. 4-6, 12-14).  

2. Alat-alat yang dipakai dalam kehancuran ini, yaitu banyak 

bangsa (ay. 3) dan raja Babel, yang disebutkan namanya, 

dengan tentaranya yang besar dan penuh kemenangan (ay. 

7-11). 

3. Kejutan besar yang akan ditimbulkan oleh kehancuran ini 

pada bangsa-bangsa sekitar, yang semuanya akan terhe-


 518

ran-heran melihat kejatuhan kota yang begitu besar dan 

akan menjadi cemas sebab nya (ay. 15-21).  

Ucapan Ilahi tentang Tirus 

(26:1-14) 

1 Pada tahun kesebelas, dalam bulan yang tertentu, pada tanggal satu bulan 

itu, datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 “Hai anak manusia, oleh sebab  

Tirus berkata mengenai Yerusalem: Syukur! Sudah rusak pintu gerbang 

bangsa-bangsa itu; ia akan beralih kepadaku, sehingga aku menjadi penuh, 

namun  ia menjadi reruntuhan. 3 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan 

ALLAH: Lihat, Aku menjadi lawanmu, hai Tirus. Aku akan menyuruh bangkit 

banyak bangsa melawan engkau, seperti lautan menimbulkan gelombang-

gelombangnya. 4 Mereka akan memusnahkan tembok-tembok Tirus dan me-

runtuhkan menara-menaranya, debu tanahnya akan Kubuang sampai bersih 

dari padanya dan akan Kujadikan dia gunung batu yang gundul. 5 Ia akan 

menjadi penjemuran pukat di tengah lautan, sebab Aku yang mengatakan-

nya, demikianlah firman Tuhan ALLAH; ia akan menjadi jarahan bagi 

bangsa-bangsa. 6 Dan anak-anaknya perempuan, yang tinggal di daratan 

akan ditewaskan dengan pedang. Dan mereka akan mengetahui bahwa 

Akulah TUHAN. 7 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku mem-

bawa dari utara raja Nebukadnezar, raja Babel, raja segala raja untuk mela-

wan Tirus dengan memakai kuda, kereta, pasukan berkuda, dan sekumpulan 

tentara yang banyak. 8 Anak-anakmu perempuan yang tinggal di daratan 

akan dibunuhnya dengan pedang; ia akan menimbun tembok pengepungan 

dan menyusun alat-alat pendobrak dan memasang perisai melawan engkau.  

9 Tumbukan alat pendobraknya akan dilancarkan terhadap tembok-tembok-

mu dan menara-menaramu akan dirobohkan dengan beliung-beliungnya.  

10 Kudanya yaitu  begitu banyak, sehingga engkau akan ditutupi oleh abu; 

sebab  derap pasukan berkudanya dan kertak roda keretanya tembok-tem-

bokmu akan gemetar, kalau ia memasuki pintu-pintu gerbangmu seperti 

orang memasuki kota yang sudah terbuka sebab  pendobrakan. 11 Dengan 

kaki kuda-kudanya ia hendak menginjak-injak semua jalan-jalanmu, rakyat-

mu akan dibunuh dengan pedang, dan tugu-tugu yang kauandalkan akan 

dirobohkan ke tanah. 12 Mereka akan merampas kekayaanmu dan menjarah 

barang-barang perniagaanmu; mereka akan meruntuhkan tembok-tembok-

mu dan merobohkan rumah-rumahmu yang indah; batumu, kayumu dan 

tanahmu akan dibuang ke dalam air. 13 Aku akan mengakhiri keramaian 

nyanyianmu dan suara kecapimu tidak akan kedengaran lagi. 14 Aku akan 

menjadikan engkau gunung batu yang gundul dan dengan demikian engkau 

akan menjadi penjemuran pukat, sehingga engkau tidak akan dibangun 

kembali, sebab Aku, TUHANlah yang mengatakannya, demikianlah firman 

Tuhan ALLAH. 

Nubuat ini terjadi pada tahun kesebelas, yaitu tahun Yerusalem 

direbut, dan pada tanggal satu bulan itu, namun  tidak dikatakan bulan 

apa. Ada yang berpendapat, bulan pada waktu Yerusalem direbut, 

yaitu bulan keempat, sedangkan sebagian yang lain berpendapat 

bulan sesudahnya. Atau mungkin itu bulan pertama, dan dengan 

demikian hari pertama pada tahun itu. Amatilah di sini, 

Kitab Yehezkiel 26:1-14 

 519 

I. Rasa senang orang-orang Tirus saat  memandang reruntuhan 

Yerusalem. Yehezkiel pada waktu itu berada di tempat yang 

sangat jauh, di Babel, namun  Allah memberi tahu dia apa yang di-

katakan Tirus melawan Yerusalem (ay. 2): “Syukur! Sudah rusak, 

sudah hancur berkeping-keping, pintu gerbang bangsa-bangsa itu, 

yang dahulunya ke sana orang-orang berkunjung dan di sana 

semua bangsa bertemu, sebagian sebab  satu alasan dan sebagi-

an yang lain sebab  alasan lain, dan aku akan mendapat untung 

dari kehancuran itu. Semua kekayaan, kekuasaan, dan kepen-

tingan yang dimiliki Yerusalem, diharapkan, akan beralih kepada 

Tirus. Dan dengan demikian, sebab  sekarang ia menjadi rerun-

tuhan, aku akan menjadi penuh.” Kita tidak mendapati orang-

orang Tirus memiliki rasa kebencian dan permusuhan yang 

mendalam terhadap Yerusalem dan tempat kudusnya seperti yang 

dimiliki bani Amon dan orang Edom. Tirus juga tidak begitu men-

dendam dan berniat jahat terhadap orang-orang Yahudi. Orang-

orangnya yaitu  para pengusaha, luas kenalannya dan bebas 

pergaulannya, dan sebab  itu tidak begitu berpikiran sempit, dan 

berjiwa menganiaya, seperti jiwa-jiwa kerdil yang hidup jauh dari 

keramaian dan tidak mengenal dunia. Yang mereka pedulikan 

hanyalah mendapat harta kekayaan, dan memperluas perdagang-

an mereka, dan mereka tidak memandang Yerusalem sebagai 

musuh, melainkan sebagai saingan. Hira


Related Posts:

  • Yehezkiel 16 l 5:15, menunjukkan pengepungan Yerusalem oleh bangsa-bangsa utara). Selain dimaksudkan untuk meneguh-kan penglihatan Yeremia, perbandingan ini juga digunakan untuk menentang keyakinan sia-sia para pemuka Yeru… Read More