Yehezkiel 2


 garaan ilahi dibandingkan dengan 

roda-roda, entah roda-roda kereta, yang ditunggangi sang 

penakluk dalam kemenangan, atau lebih tepatnya roda-roda 

jam, atau arloji, yang berperan untuk menggerakkan mesinnya 

secara teratur. Kita membaca tentang peredaran alam atau 

roda kehidupan (Yak. 3:6), yang di sini diketengahkan kepada 

kita sebagai sesuatu yang berada di bawah pimpinan Allah 

dari alam. Roda-roda, meskipun tidak bergerak sendiri, seperti 

halnya makhluk hidup, dibuat dapat bergerak dan hampir tak 

pernah putus bergerak. Pemeliharaan ilahi, yang digambarkan 

melalui roda-roda ini, menghasilkan perubahan. Kadang-

kadang orang berbicara tentang roda yang ada di atas, dan 

kadang-kadang roda yang di bawah. namun  gerakan roda pada 

porosnya, seperti gerakan bola-bola yang di atas, sangat ter-

atur dan tetap. Gerakan roda-roda itu berputar dari satu titik 

dan kembali ke titik itu lagi dan begitu seterusnya. Oleh per-

putaran-perputaran Pemeliharaan ilahi, segala sesuatu dibawa 

ke dalam kedudukannya yang semula, dan melewati tempat 

yang sudah mereka lalui sebelumnya. Sebab apa yang pernah 

ada akan ada lagi, tak ada sesuatu yang baru di bawah mata-

hari (Pkh. 1:9-10). 

2. Roda itu dikatakan berada di samping makhluk hidup, yang 

mengiringinya untuk mengarahkan gerakannya. Sebab malai-

kat-malaikat dipekerjakan sebagai pelayan-pelayan untuk men-

jalankan pemeliharaan Allah, dan memiliki peran yang lebih 

besar daripada yang kita sangkakan dalam mengarahkan gerak-

an-gerakan berbagai hal di dunia untuk memenuhi tujuan ilahi. 

Demikianlah eratnya hubungan yang ada antara makhluk 

hidup dan roda-roda sehingga mereka bergerak dan beristi-

rahat secara bersamaan. Apakah malaikat-malaikat sangat 

sibuk dipekerjakan? Manusia sangat giat dipekerjakan sebagai 

alat-alat di tangan mereka, entah untuk mendapatkan belas 

kasihan atau penghakiman, meskipun mereka sendiri tidak 

sadar akan hal itu. Atau, apakah manusia giat bekerja untuk 

mewujudkan rencana-rencana mereka? Para malaikat pada 

saat yang sama bertindak untuk mengendalikan dan meng-

atasi rencana-rencana manusia itu. Hal ini banyak ditegaskan 

di sini (ay. 19): Kalau makhluk-makhluk hidup itu berjalan, 

untuk melaksanakan pekerjaan apa saja, roda-roda itu juga 

berjalan di samping mereka. jika  Allah memiliki  pekerja-

an untuk dilakukan melalui pelayanan para malaikat, hal-hal 

lain di dunia akan didapati, atau dijadikan, siap untuk sejalan 

dengannya. Dan (ay. 21) kalau mereka berhenti, roda-roda itu 

berhenti. sesudah  malaikat-malaikat melakukan pekerjaan 

mereka, hal-hal lain di dunia pun selesai melakukan pekerja-

annya. Kalau makhluk-makhluk hidup itu terangkat dari tanah, 

terangkat untuk melakukan pelayanan apa saja yang melam-

paui cara kerja alam seperti biasa dan di luar jalan yang biasa 

(seperti misalnya dalam mengerjakan mujizat-mujizat, mem-

belah air, dan memberhentikan matahari), maka roda-roda itu, 

bertentangan dengan kecenderungan alami mereka sendiri, 

yang selalu mengarah ke bumi, bergerak bersama-sama de-

ngan makhluk-makhluk hidup itu, dan sama-sama terangkat 

dengan mereka. Hal ini disebutkan sebanyak tiga kali (ay. 19-

21). Perhatikanlah, semua makhluk yang lebih rendah berada, 

bergerak, dan bertindak mengikuti sang Pencipta, melalui 

pelayanan para malaikat, yang mengarahkan dan mempenga-

ruhi mereka. Akibat-akibat yang terlihat diatur dan dipimpin 

Kitab Yehezkiel 1:15-25 

oleh sebab-sebab yang tak terlihat. Alasan yang diberikan 

untuk ini yaitu  sebab  roh makhluk-makhluk hidup itu ber-

ada di dalam roda-rodanya. Hikmat, kuasa, dan kekudusan 

Allah yang sama, serta kehendak dan keputusan hikmat-Nya 

yang sama, yang membimbing dan memerintah para malaikat 

dan semua pekerjaan mereka, melalui mereka, juga mengatur 

dan menentukan semua gerak-gerik makhluk-makhluk di 

dunia bawah ini, dan menentukan berbagai peristiwa dan 

masalah-masalahnya. Allah yaitu  jiwa dunia, yang meng-

hidupkan keseluruhannya, baik yang di atas maupun yang di 

bawah, sehingga mereka bergerak dalam keselarasan yang 

sempurna, sama seperti bagian atas dan bagian bawah tubuh 

alami, sehingga ke arah mana Roh itu hendak pergi, (apa saja 

yang dikehendaki dan diinginkan Allah untuk terjadi dan 

terwujud) ke sanalah mereka pergi. Yaitu, para malaikat, 

secara sadar dan sengaja, menetapkan hati mereka untuk me-

wujudkannya. Dan roh mereka berada di dalam roda-rodanya, 

yang sebab  itu terangkat dengan mereka. Yaitu, baik kekuat-

an-kekuatan alam maupun kehendak-kehendak manusia se-

muanya dibuat untuk memenuhi maksud ilahi, yang secara 

pasti dan tak terelakkan mereka pengaruhi, meskipun mung-

kin mereka sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak 

demikian rancangan hatinya (Yes. 10:7; Mi. 4:11-12). Dengan 

demikian, meskipun kehendak dari aturan Allah tidak terjadi 

di bumi seperti di sorga, namun kehendak dari tujuan dan 

keputusan hikmat-Nya terjadi, dan akan terjadi.  

3. Roda itu dikatakan memiliki empat muka, yang melihat ke 

empat arah (ay. 15), yang menunjukkan bahwa pemeliharaan 

Allah bekerja di semua belahan dunia, timur, barat, utara, dan 

selatan, dan melebarkan dirinya ke ujung-ujung dunia yang 

terpencil. Ke mana pun kamu melihat roda Pemeliharaan ilahi, 

ia memiliki  muka yang mengarah padamu, muka yang 

indah, yang dapat kamu kagumi roman mukanya. Ia melihat 

kepadamu dan siap berbicara kepadamu, kalau saja kamu 

siap mendengarkan suaranya. Seperti lukisan yang digambar 

dengan baik, ia memiliki mata yang menatap ke semua mata 

yang tertuju padanya. Roda itu memiliki empat muka, dan di 

dalamnya ada empat roda, yang menuju keempat jurusan (ay. 

17). Pada awalnya Yehezkiel melihatnya sebagai satu roda (ay. 

15), satu bola. namun  sesudahnya ia melihat empat, namun  keem-

patnya yaitu  serupa (ay. 16). Mereka bukan saja serupa satu 

sama lain, melainkan juga seolah-olah satu. Ini menyiratkan,  

(1) Bahwa satu peristiwa pemeliharaan ilahi serupa seperti 

peristiwa yang lain. Apa yang terjadi pada kita yaitu  pen-

cobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan 

manusia, yang terjadi kepada semua orang, dan sebab  itu 

janganlah kita memandangnya aneh.  

(2) Bahwa berbagai peristiwa cenderung mengenai masalah 

yang sama, dan semuanya memenuhi maksud yang sama. 

4. Rupa dan buatan mereka dikatakan seperti kilauan permata 

pirus (ay. 16), warna Tarsis (demikian kata yang dipakai), yaitu 

warna laut. Itulah warna pemata pirus itu, hijau laut, atau 

yang biasa kita sebut biru laut. Hakikat dari segala sesuatu di 

dunia ini yaitu  seperti hakikat dari segala sesuatu di dalam 

laut, yang terus-menerus mengalir, namun ada keselarasan 

dan pergantian terus-menerus dari bagian-bagiannya. Ada 

rantai peristiwa yang selalu menarik ke satu atau lain arah. 

Laut pasang surut, demikian pula Pemeliharaan ilahi dalam 

tindakan-tindakannya, namun  selalu terjadi masa-masa dan 

dalam takaran-takaran yang ditentukan dan ditetapkan. Laut 

terlihat biru, seperti udara, oleh sebab  pendek dan lemahnya 

pandangan kita, yang hanya dapat melihat sedikit saja dari-

nya. Oleh sebab  itu, dengan warna itulah rupa dan buatan 

Pemeliharaan ilahi pantas dibandingkan, sebab kita tidak bisa 

mengetahui apa yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir 

(Pkh. 3:11). Kita hanya melihat ujung-ujung jalan-Nya (Ayb. 

26:14), sementara segala sesuatu di seberangnya tampak biru, 

jadi jangankan kita memahaminya, mengetahuinya dengan 

benar saja tidak. Jalan-Nya tinggi sekali, jauh dari kita.  

5. Rupa dan buatan mereka juga dikatakan seolah-olah roda yang 

satu ada di tengah-tengah yang lain. Amatilah lagi di sini, rupa 

roda-roda yang dilihat sang nabi dimaksudkan untuk memper-

lihatkan apa pekerjaan mereka sebenarnya. Rupa manusia 

dan pekerjaannya sering kali berbeda, namun  rupa pemelihara-

an Allah dan pekerjaannya sesuai satu sama lain. Jika kedua-

nya tampak berbeda, itu sebab  ketidaktahuan dan kekeliruan 

kita. Nah, keduanya seperti roda yang satu di tengah-tengah 

Kitab Yehezkiel 1:15-25 

yang lain, roda yang lebih kecil digerakkan oleh roda yang 

lebih besar. Kita tidak berlagak untuk memberi  uraian 

matematis tentang itu. Maknanya yaitu  bahwa tindakan-tin-

dakan Pemeliharaan ilahi tampak rumit bagi kita, membingung-

kan, dan tak terjelaskan, namun semua itu pada akhirnya akan 

tampak sebagai sesuatu yang sudah diatur dengan bijak untuk 

yang terbaik. Sehingga meskipun apa yang diperbuat Allah, kita 

tidak tahu sekarang, namun  kita akan mengertinya kelak (Yoh. 

13:7).  

6. Gerakan roda-roda ini, seperti gerakan makhluk-makhluk hi-

dup itu, mantap, teratur, dan tetap: Mereka tidak berbalik 

kalau berjalan (ay. 17), sebab  mereka tidak pernah keliru, 

atau melakukan hal sebaliknya dari yang harus mereka laku-

kan. Allah, dalam pemeliharaan-Nya, menempatkan pekerja-

an-Nya di hadapan-Nya, dan Ia ingin pekerjaan itu berjalan 

maju. Pekerjaan itu berjalan terus sekalipun bagi kita tampak 

mundur. Mereka berjalan sebagaimana Roh mengarahkan me-

reka, dan sebab  itu tidak berbalik. Kita seharusnya tidak per-

lu berbalik seperti yang sudah kita lakukan, dan harus ber-

tobat lagi akibat kesalahan yang kita perbuat, dan mengulang 

lagi dari awal, kalau saja kita dipimpin oleh Roh dan mengikuti 

pimpinan-Nya. Roh kehidupan (demikian sebagian orang mem-

bacanya) berada di dalam roda-rodanya, yang terus membuat 

roda-roda itu melaju dengan tenang dan selaras, sehingga 

mereka tidak berbalik kalau berjalan.  

7. Lingkaran, atau bulatan, dari roda-roda itu begitu tinggi sehing-

ga menakutkan (ay. 18, KJV). Kelilingnya luas, sehingga saat  

roda-roda itu diangkat, dan digerakkan, sang nabi bahkan 

takut memandangnya. Perhatikanlah, pikiran Allah yang luas 

cakupannya, dan rancangan-Nya yang jauh jangkauannya, 

sungguh-sungguh menakjubkan. saat  kita hendak menggam-

barkan lingkaran Pemeliharaan ilahi, kita tersentak kagum dan 

bahkan tertelan di dalam pusarannya. Oh betapa tinggi dan 

dalamnya keputusan-keputusan hikmat Allah! Merenungkan 

hal ini haruslah membuat kita takjub.  

8. Sekeliling lingkar itu penuh dengan mata. Keadaan di seputar 

penglihatan itu paling mengejutkan dari semuanya, namun  juga 

paling penting, yang menunjukkan dengan jelas bahwa semua 

gerak-gerik Pemeliharaan ilahi dipimpin oleh hikmat yang tak 

terbatas. Perkara dari segala sesuatu tidaklah ditentukan oleh 

keberuntungan yang buta, melainkan oleh mata TUHAN yang 

menjelajah seluruh bumi, dan ada di segala tempat, mengawasi 

orang jahat dan orang baik. Perhatikanlah, suatu kepuasan 

besar bagi kita, dan memang harus demikian, bahwa, meski-

pun kita tidak dapat menjelaskan sumber dan arah dari berba-

gai macam peristiwa, namun semua itu berada di bawah peng-

awasan dan pimpinan Allah yang mahabijaksana dan maha-

melihat. 

II. Perhatian yang dia berikan terhadap cakrawala di atas kepala 

makhluk-makhluk hidup itu. saat  ia melihat makhluk-makhluk 

hidup itu bergerak, beserta roda-roda di samping mereka, ia mene-

ngadah, seperti yang patut kita lakukan saat  kita mengamati 

berbagai gerakan pemeliharaan ilahi di dunia bawah ini. sesudah  

menengadah, ia melihat cakrawala terbentang di atas kepala 

makhluk-makhluk hidup itu (ay. 22). Apa yang terjadi di atas bumi 

terjadi di bawah langit (seperti yang sering kali dikatakan Kitab 

Suci), di bawah pengawasan dan pengaruhnya. Cermatilah,  

1. Apa yang dilihatnya: Cakrawala itu kelihatan seperti hablur es 

yang mendahsyatkan, benar-benar mulia, namun  juga mengeri-

kan. Luas dan terang cakrawala itu membuat sang nabi takjub 

dan menyergapnya dengan rasa hormat dan takut. Es atau 

embun beku yang mengerikan (demikian ayat itu dapat dibaca), 

warna salju yang membeku, atau seperti gunung-gunung es di 

lautan utara, yang sangat menakutkan. Orang-orang berdosa 

yang kurang ajar bertanya, dapatkah Allah mengadili dari balik 

awan-awan yang gelap (Ayb. 22:13). namun  apa yang kita 

anggap sebagai awan hitam yaitu  bagi-Nya tembus pandang 

seperti kristal, yang melaluinya, dari tempat kediaman-Nya, Ia 

melihat semua penduduk bumi (Mzm. 33:14, KJV). Di bawah 

cakrawala itu sang nabi melihat sayap makhluk-makhluk hidup 

itu yang dikembangkan lurus (ay. 23). Mereka memakai sayap-

sayap mereka sesuai yang mereka inginkan, untuk terbang 

atau untuk menutupi diri. Allah berada di tempat tinggi, di 

atas cakrawala. Para malaikat berada di bawah cakrawala, 

yang menunjukkan ketundukan mereka pada pemerintahan 

Allah dan kesiapan mereka untuk terbang memenuhi tugas-

Kitab Yehezkiel 1:15-25 

tugas yang diberikan-Nya melintasi cakrawala, dan untuk 

melayani Dia dengan suara bulat.  

2. Apa yang dia dengar.  

(1) Ia mendengar suara sayap malaikat (ay. 24). Lebah dan 

serangga-serangga lain mengeluarkan suara yang sangat 

ribut dengan getaran sayap-sayap mereka. Di sini para 

malaikat melakukannya, untuk menggugah perhatian sang 

nabi pada apa yang hendak disampaikan Allah kepadanya 

dari cakrawala (ay. 25). Para malaikat, melalui pemelihara-

an-pemeliharaan ilahi yang di dalamnya mereka bekerja, 

membunyikan tanda-tanda bahaya dari Allah kepada anak-

anak manusia, dan menggugah mereka untuk mendengar 

suara-Nya. Sebab suara itulah yang berseru-seru di kota 

dan yang didengar dan dipahami oleh orang-orang bijak-

sana. Suara sayap mereka nyaring dan mengerikan, seperti 

suara air terjun yang menderu (seperti kecamuk dan deru 

laut), dan seperti keributan laskar yang besar, suara 

perang. namun  suara itu jelas dan dapat dimengerti, dan 

tidak memberi  bunyi yang tidak terang, sebab suara itu 

yaitu  suara orang berbicara. Bahkan, suara itu seperti 

suara Yang Mahakuasa, sebab  Allah, melalui pemelihara-

an-pemeliharaan-Nya, berfirman dengan satu dua cara, 

supaya  kita dapat memperhatikannya (Ayb. 33:14). TUHAN 

berseru (Mi. 6:9).  

(2) Ia mendengar suara dari atas cakrawala, dari Dia yang du-

duk di atas takhta di sana (ay. 25). saat  malaikat-malai-

kat bergerak, mereka membuat keributan dengan sayap-

sayap mereka. namun , saat  dengan suara itu mereka 

telah membangunkan dunia yang bersikap masa bodoh, 

mereka berhenti, dan membiarkan sayap mereka terkulai, 

supaya  ada keheningan yang mencekam, dan dengan demi-

kian suara Allah dapat didengar dengan lebih baik. Suara 

Pemeliharaan ilahi dimaksudkan untuk membuka telinga 

manusia pada suara firman. Suara itu membantu pekerja-

an seorang pembaca hukuman, yang dengan nyaring me-

nyuruh orang diam sewaktu hakim menjatuhkan hukum-

an. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. Perhatikan-

lah, keributan-keributan di bumi haruslah menggugah per-

hatian kita pada suara dari atas cakrawala. Sebab bagai-

mana kita akan luput, jika kita berpaling dari Dia yang ber-

bicara dari sorga? 

Penglihatan mengenai Takhta Ilahi  

(1:26-28)  

26 Di atas cakrawala yang ada di atas kepala mereka ada menyerupai takhta 

yang kelihatannya seperti permata lazurit; dan di atas yang menyerupai 

takhta itu ada yang kelihatan seperti rupa manusia. 27 Dari yang menyerupai 

pinggangnya sampai ke atas aku lihat seperti suasa mengkilat dan seperti api 

yang ditudungi sekelilingnya; dan dari yang menyerupai pinggangnya sampai 

ke bawah aku lihat seperti api yang dikelilingi sinar. 28 Seperti busur pelangi, 

yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar 

yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala 

aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman.   

Semua bagian lain dari penglihatan ini hanyalah merupakan pen-

dahulu dan pengantar untuk bagian ini. Allah di dalam penglihatan-

penglihatan itu telah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dari para 

malaikat dan Pengarah tertinggi dari semua perkara dunia bawah ini. 

Dari sini mudah untuk menyimpulkan bahwa apa saja yang dijanji-

kan atau diancamkan Allah melalui para nabi-Nya, sanggup untuk 

diwujudkan-Nya. Para malaikat yaitu  hamba-hamba-Nya. Manusia 

yaitu  alat-alat-Nya. namun  sebab  sekarang pewahyuan ilahi akan 

diberikan kepada seorang nabi, dan oleh dia kepada jemaat, kita 

harus melihat lebih tinggi daripada makhluk-makhluk hidup atau 

roda-roda, dan harus menantikan pewahyuan dari Firman kekal, 

yang tentang-Nya kita mendapati penjelasan dalam ayat-ayat ini. 

Yehezkiel, sesudah  mendengar suara dari cakrawala, menengadah, 

seperti yang dilakukan Yohanes, untuk melihat suara yang berbicara 

kepadanya, dan tampaklah seorang serupa Anak Manusia (Why. 1:12-

13). Pribadi kedua dari Tritunggal mencoba tampil dalam rupa 

manusia dalam beberapa kesempatan sebelum Ia mengenakan rupa 

itu pada diri-Nya sendiri untuk selama-lamanya. Roh nubuat disebut 

sebagai Roh Kristus (1Ptr. 1:11) dan kesaksian Yesus (Why. 19:10).  

1. Kemuliaan Kristus yang dilihat sang nabi ini berada di atas cakra-

wala yang di atas kepala makhluk-makhluk hidup itu (ay. 26). 

Perhatikanlah, kepala para malaikat sendiri berada di bawah kaki 

Tuhan Yesus. Sebab cakrawala yang ada di atas kepala mereka 

berada di bawah kaki-Nya. Segala malaikat, kuasa dan kekuatan 

ditaklukkan kepada-Nya (1Ptr. 3:22). Martabat dan kekuasaan

Kitab Yehezkiel 1:26-28 

 sang Penebus ini sebelum penjelmaan-Nya mengagungkan peren-

dahan diri-Nya dalam penjelmaan-Nya, saat  Ia dibuat sedikit 

lebih rendah dari pada malaikat-malaikat (Ibr. 2:9).  

2. Hal pertama yang diamati sang nabi yaitu  takhta. Sebab pewah-

yuan ilahi datang dengan didukung dan ditopang oleh wewenang 

rajawi. Kita harus mengarahkan mata iman kepada Allah dan 

Kristus sebagai Dia yang duduk di atas takhta. Hal pertama yang 

didapati Yohanes dalam penglihatan-penglihatannya yaitu  takh-

ta terdiri di sorga (Why. 4:2), yang menuntut penghormatan dan 

ketundukan. Takhta itu yaitu  takhta kemuliaan, takhta anuge-

rah, takhta kemenangan, takhta pemerintahan, takhta pengha-

kiman. TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga, sudah 

menyiapkannya bagi Anak-Nya, yang telah dilantik-Nya sebagai 

Raja di Sion, gunung yang kudus.  

3. Di atas takhta ia melihat rupa manusia. Ini kabar baik untuk 

anak-anak manusia, bahwa takhta di atas cakrawala diduduki 

oleh Dia yang tidak malu menampakkan diri, bahkan di sana, 

dalam rupa manusia. Daniel, dalam penglihatan, melihat kerajaan 

dan kekuasaan diberikan kepada seorang seperti Anak Manusia, 

yang oleh sebab itu telah diberikan kuasa untuk menghakimi, 

sebab  Ia yaitu  Anak Manusia (Yoh. 5:27), yang tampil demikian 

dalam penglihatan-penglihatan ini.  

4.  Sang nabi melihat-Nya sebagai seorang penguasa dan hakim di 

atas takhta ini. Meskipun menampakkan diri dalam keadaan 

sebagai manusia, Ia tampil dalam keadaan yang lebih daripada 

kemuliaan manusia (ay. 27).  

(1) Apakah Allah yaitu  pelita yang bercahaya? Demikian juga 

Anak Manusia. saat  sang nabi melihat-Nya, ia melihat seper-

ti suasa mengkilat, yaitu api yang dikelilingi sinar. Sebab Allah 

berdiam di dalam terang, dan berselimutkan terang seperti 

kain. Betapa rendahnya sang Penebus membungkuk bagi kita 

saat , demi mendatangkan keselamatan bagi kita, Ia mem-

biarkan kemuliaan-Nya memudar oleh selubung kemanusiaan-

Nya!  

(2) Apakah Allah yaitu  api yang menghanguskan? Demikian 

jugalah Anak Manusia itu: dari pinggang-Nya, baik yang ke 

atas maupun yang ke bawah, ada rupa seperti api. Api di atas 

pinggang menudungi sekelilingnya, api itu bersinar ke dalam 

dan terselubungi. Api yang di bawah pinggang lebih ke luar 

dan terbuka, namun api itu juga dikelilingi sinar. Sebagian 

orang memandang api yang di atas pinggang sebagai kodrat 

ilahi Kristus, yang kemuliaan dan kebajikannya tersembunyi 

dalam suasa mengkilat. Ini sesuatu yang tidak seorang pun 

pernah atau dapat melihat. Api yang di bawah pinggang mere-

ka anggap sebagai kodrat manusia-Nya, yang kemuliaannya 

pernah dilihat sebagian orang, kemuliaan sebagai Anak Tung-

gal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh. 1:14). Ia 

memiliki sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung 

kekuatan-Nya (Hab. 3:4). Api yang di dalamnya Anak Manusia 

menampakkan diri di sini mungkin dimaksudkan untuk me-

nandakan penghakiman-penghakiman yang siap dilaksanakan 

atas Yehuda dan Yerusalem, yang datang dari api yang 

dahsyat dari Yang Mahakuasa, yang akan menghanguskan 

semua orang durhaka. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi 

orang-orang berdosa yang sangat kurang ajar selain murka Dia 

yang duduk di atas takhta, dan murka Anak Domba (Why. 

6:16). Akan tiba saat Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di 

dalam api yang bernyala-nyala (2Tes. 1:7-8). Oleh sebab itu, 

sudah menjadi kepentingan kita untuk mencium kaki-Nya 

dengan gemetar, supaya  Ia jangan murka. 

5.  Takhta itu dikelilingi oleh pelangi (ay. 28). Demikian pula dalam 

penglihatan Yohanes (Why. 4:3). Cahaya yang meliputinya terdiri 

atas berbagai macam warna, seperti busur pelangi, yang terlihat 

pada musim hujan di awan-awan. Sama seperti busur pelangi 

memperlihatkan keagungan, dan tampak sangat agung, demikian 

pula busur pelangi itu merupakan janji rahmat, dan tampak 

sangat baik. Sebab busur pelangi yaitu  peneguhan bagi janji 

yang penuh rahmat yang telah dibuat Allah itu, bahwa Ia tidak 

akan menenggelamkan dunia lagi, dan Ia sudah berkata, Aku 

akan melihat busur itu dan mengingat perjanjian-Ku (Kej. 9:16). Ini 

menyiratkan bahwa Dia yang duduk di atas takhta yaitu  Pengan-

tara perjanjian, bahwa kekuasaan-Nya yaitu  untuk melindungi 

kita, bukan untuk menghancurkan kita, bahwa Ia menjadi 

penengah di antara kita dan hukuman-hukuman yang pantas kita 

dapatkan sebab  dosa-dosa kita, dan bahwa semua janji Allah 

yaitu  “ya“ dan “Amin“ di dalam Kristus. sebab  sekarang api 

murka Allah akan tercurah atas Yerusalem, maka harus ada 

batas-batas yang ditentukan untuknya, dan Ia tidak akan meng-

Kitab Yehezkiel 1:26-28 

hancurkan kota itu sampai musnah sama sekali, sebab Ia akan 

melihat busur itu dan mengingat perjanjian-Nya, seperti yang 

dijanjikan-Nya dalam perkara seperti itu (Im. 26:42). 

Terakhir, kita mendapati penutup dari penglihatan ini. Cermatilah,  

1.  Gagasan apa yang dimiliki sang nabi sendiri tentang penglihatan 

itu: Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Di sini, seperti 

di sepanjang penglihatan ini, ia bertindak hati-hati untuk men-

jauhkan segala pemikiran tentang Allah yang bersifat jasmani dan 

kasar, yang dapat merendahkan kemurnian kodrat-Nya yang jauh 

mengatasi dunia ini. Sang nabi tidak berkata, inilah TUHAN 

(sebab Ia tidak terlihat), melainkan, begitulah kemuliaan TUHAN, 

yang di dalamnya Ia berkenan menyatakan diri-Nya sebagai wujud 

yang mulia. Namun, itu juga bukan kemuliaan TUHAN, melainkan 

gambar kemuliaan itu, sesuatu yang secara samar-samar mirip 

dengan kemuliaan itu. Tidak pula gambar itu cukup menyerupai 

kemuliaan TUHAN, melainkan hanya gambar yang kelihatan dari 

kemuliaan itu, bayangannya, dan bukan hakekat dari hal itu 

sendiri (Ibr. 10:1).  

2. Kesan-kesan apa yang tertanam dalam dirinya: Tatkala aku 

melihatnya aku sembah sujud.  

(1) Ia dibuat kewalahan olehnya. Kemilau yang menyilaukan itu 

menaklukkannya dan membuatnya jatuh tersungkur. Sebab 

siapakah yang tahan berdiri di hadapan TUHAN, Allah yang 

kudus ini? Atau lebih tepatnya,  

(2) Ia sujud sebab  ia tersadar dengan penuh kerendahan hati, 

bahwa ia tidak layak menerima kehormatan yang tengah 

diberikan kepadanya, dan bahwa ada jarak yang tak terhingga 

yang sekarang, lebih daripada sebelumnya, disadarinya ada di 

antara dia dan Allah. Ia sujud sembah sebagai tanda ketakjub-

an dan penghormatan yang kudus kepada Allah, yang me-

nguasai dan memenuhi pikirannya. Perhatikanlah, semakin 

Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada kita, semakin 

merendah kita seharusnya di hadapan Dia. Sang nabi sembah 

sujud untuk memuja keagungan Allah, untuk memohonkan 

belas kasihan-Nya, dan untuk menjauhkan murka yang dilihat-

nya akan segera tumpah ruah ke atas anak-anak bangsanya.  

3. Pelajaran-pelajaran apa yang didapatnya dari penglihatan itu. 

Semua yang dilihatnya hanyalah untuk mempersiapkan dirinya 

untuk apa yang akan ia dengar, sebab iman timbul dari pende-

ngaran. Oleh sebab  itu ia lalu mendengar suara Dia yang berfir-

man. Sebab kita diajar oleh firman, dan bukan hanya oleh 

lambang-lambang huruf. saat  ia sembah sujud, siap menerima 

firman, pada saat itulah ia mendengar suara Dia yang berfirman. 

Sebab Allah senang mengajar orang yang rendah hati. 

 

PASAL  2  

pa yang dikatakan Yesus Tuhan kita kepada Rasul Paulus (Kis. 

26:16) cocok juga untuk diterapkan pada Nabi Yehezkiel, yang 

kepadanya Yesus yang sama sedang berbicara di sini, “Bangunlah 

dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan 

engkau menjadi pelayan.” Di sini kita mendapati penahbisan Yehez-

kiel pada jabatannya. Penglihatan itu dimaksudkan untuk membuat-

nya pantas memangku jabatan itu, bukan untuk menghibur rasa 

ingin tahunya dengan berbagai macam pemikiran dan dugaan yang 

tidak biasa, melainkan untuk membuatnya bekerja. Sekarang di sini,  

I. Ia ditugaskan untuk pergi sebagai nabi kepada kaum Israel, 

yang pada saat itu menjadi orang-orang buangan di Babel, 

dan untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada mereka 

dari waktu ke waktu (ay. 1-5).  

II. Ia diperingatkan untuk tidak takut terhadap mereka (ay. 6).  

III. Ia diajar tentang apa yang harus dikatakan kepada mereka, 

dan kata-kata diberikan ke dalam mulutnya, yang diperlam-

bangkan dengan penglihatan sebuah gulungan kitab, yang 

diperintahkan kepadanya untuk dimakan (ay. 7-10), dan 

yang dalam pasal selanjutnya kita dapati benar-benar dima-

kannya. 

Sang Nabi Ditugaskan untuk Menegur 

(2:1-5)  

1 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, sebab  

Aku hendak berbicara dengan engkau.” 2 Sementara Ia berbicara dengan aku, 

kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku 

mendengar Dia yang berbicara dengan aku. 3 Firman-Nya kepadaku: “Hai 

anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa 

pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek 

moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.  

4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus 

engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan 

ALLAH. 5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak – sebab mereka yaitu  

kaum pemberontak – mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di 

tengah-tengah mereka. 

Julukan yang di sini diberikan kepada Yehezkiel, seperti yang sering 

diberikan sesudahnya, sangatlah jelas. Allah, saat  berbicara ke-

padanya, menyebutnya anak manusia (ay. 1, 3), anak Adam, anak 

bumi. Daniel pernah sekali disebut demikian (Dan. 8:17) dan hanya 

sekali. Sapaan itu belum pernah digunakan kepada nabi-nabi lain 

sejauh ini selain kepada Yehezkiel. Kita dapat memahaminya,  

1. Sebagai julukan yang merendah dan mengecilkan. supaya  Yehez-

kiel tidak menjadi tinggi hati dengan melimpahnya pewahyuan 

kepadanya, ia diingatkan akan hal ini, bahwa tetap saja ia hanya 

seorang anak manusia, makhluk yang hina, lemah, dan fana. Di 

antara hal-hal lain yang diberitahukan kepadanya, penting bagi-

nya untuk tahu akan hal ini, bahwa ia yaitu  seorang anak ma-

nusia, dan sebab  itu sungguh menakjubkan bahwa Allah mau 

merendah dan berkenan menyatakan diri-Nya seperti itu kepada-

nya. Sekarang ia tengah berada di antara makhluk-makhluk 

hidup, para malaikat. Namun ia harus ingat bahwa ia sendiri 

yaitu  seorang manusia, makhluk yang akan mati. Apakah ma-

nusia, atau anak manusia, sehingga ia dilawat dengan cara seperti 

itu, dijunjung martabatnya seperti itu? Meskipun Allah di sini 

memiliki  para abdi yang semarak, yaitu malaikat-malaikat 

kudus di sekeliling takhta-Nya, yang siap pergi untuk melakukan 

tugas-Nya, namun Ia melewati mereka semua, dan memancang-

kan pandangan-Nya pada Yehezkiel, seorang anak manusia, un-

tuk menjadi utusannya kepada kaum Israel. Sebab kita mem-

punyai harta ini dalam bejana tanah liat, dan pesan-pesan Allah 

dikirimkan kepada kita oleh manusia seperti kita sendiri, yang 

kengeriannya tidak akan membuat kita gentar dan tekanannya 

terhadap kita tidak akan berat. Yehezkiel yaitu  seorang imam, 

namun  jabatan imamat pada waktu itu jatuh sangat rendah dan 

kehormatannya terhampar dalam debu. Oleh sebab itu, sudah 

sepatutnya dia, dan semua teman sejawatnya, merendahkan diri, 

dan bersimpuh, sebagai anak-anak manusia, orang-orang biasa. 

Sekarang ia akan dipekerjakan sebagai nabi, duta Allah, dan

Kitab Yehezkiel 2:1-5 

 penguasa atas kerajaan-kerajaan (Yer. 1:10), sebuah jabatan yang 

sangat terhormat, namun  ia harus ingat bahwa ia yaitu  seorang 

anak manusia, dan kebaikan apa saja yang dia lakukan bukanlah 

sebab  kekuatannya sendiri, sebab dia yaitu  anak manusia, 

namun  di dalam kekuatan anugerah ilahi, yang sebab  itu harus 

mendapat segala kemuliaan. Atau,  

2.  Kita dapat memandangnya sebagai sebutan yang terhormat dan 

bermartabat. Sebab sebutan itu yaitu  salah satu sebutan Mesias 

dalam Perjanjian Lama (Dan. 7:13, aku terus melihat dalam peng-

lihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit 

seorang seperti Anak manusia). Dari situlah Kristus meminjam 

sebutan yang sering dipakai-Nya untuk menyebut diri-Nya sen-

diri, Anak Manusia. Para nabi yaitu  perlambang dari Dia, sebab 

mereka memiliki  pintu masuk yang dekat kepada Allah dan 

wewenang yang besar di antara manusia. Oleh sebab itu, sama 

seperti raja Daud disebut orang yang diurapi Tuhan, atau Kristus, 

demikian pula nabi Yehezkiel disebut anak manusia. 

I.   Yehezkiel di sini dibangunkan, dan disuruh berdiri, supaya  ia 

dapat menerima tugasnya (ay. 1-2). Ia dibangunkan, 

1.  Oleh perintah ilahi: Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri. 

Sikap tubuhnya yang sujud tengkurap menunjukkan suatu 

penghormatan yang sangat besar, namun  sikap tubuhnya yang 

berdiri menunjukkan kesiapan dan kelayakan yang sangat 

besar untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemujaan kita ter-

hadap Allah tidak boleh menghalangi, namun  lebih harus meng-

hidupkan dan menggairahkan, tindakan-tindakan kita untuk 

Allah. Ia sembah sujud dalam ketakutan dan penghormatan 

yang kudus kepada Allah, namun  ia dengan cepat dibangunkan 

lagi. Sebab barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. 

Allah tidak bersuka dalam kesedihan hamba-hamba-Nya, 

namun  Dia yang sama yang telah merendahkan mereka, akan 

membangkitkan mereka. Dia yang sama yang menjadi Roh 

perbudakan, akan menjadi Roh yang menjadikan mereka seba-

gai anak. Berdirilah, Aku hendak berbicara dengan engkau. 

Perhatikanlah, kita dapat menantikan Allah untuk berbicara 

kepada kita jika  kita berdiri siap untuk melakukan apa 

yang diperintahkan-Nya kepada kita. 

2. Oleh kuasa ilahi yang menyertai perintah itu (ay. 2). Allah 

memintanya berdiri. namun , sebab  ia sendiri tidak memiliki  

kekuatan untuk memulihkan kakinya atau keberanian untuk 

menghadapi penglihatan itu, kembalilah rohnya ke dalam dia 

dan ditegakkannyalah dia (KJV: maka Roh memasukinya dan 

menegakkan dia). Perhatikanlah, Allah dengan penuh rahmat 

berkenan untuk mengerjakan dalam diri kita apa yang ditun-

tut-Nya dari kita dan membangunkan orang-orang yang dimin-

ta-Nya untuk bangun. Kita harus menggugah diri kita sendiri, 

maka kemudian Allah akan memberi  kekuatan ke dalam 

diri kita. Kita harus tetap mengerjakan keselamatan kita, maka 

kemudian Allah akan bekerja dalam diri kita. Yehezkiel meng-

amati bahwa Roh masuk ke dalam dirinya saat  Kristus ber-

bicara kepadanya (KJV). Sebab Kristus menyampaikan Roh-Nya 

melalui firman-Nya sebagai sarana yang biasa, dan membuat 

firman itu berhasil oleh Roh-Nya. Roh itu menegakkan sang 

nabi, untuk membangunkan dia dari kesedihan-kesedihannya, 

sebab Dia yaitu  Penghibur. Demikian pula, dalam keadaan 

serupa, Daniel dikuatkan oleh sebuah sentuhan ilahi (Dan. 

10:18), dan Yohanes dibangunkan oleh tangan kanan Kristus 

yang diletakkan di atasnya (Why. 1:17). Roh itu menegakkan 

dia, membuat dia bersedia dan tergerak untuk melakukan 

seperti yang diminta darinya, dan kemudian ia mendengar Dia 

yang berbicara kepadanya. Ia sudah mendengar suara itu 

sebelumnya (1:28), namun  sekarang ia mendengarnya dengan 

lebih terang dan jelas, mendengarnya dan tunduk padanya. 

Roh menegakkan kaki kita dengan mencondongkan kehendak 

kita pada kewajiban kita, dan dengan demikian mencondong-

kan pengertian untuk menerima pengetahuan tentangnya. 

II.  Yehezkiel di sini diutus, dan disuruh pergi, dengan sebuah pesan 

kepada orang Israel (ay. 3): Aku mengutus engkau kepada orang 

Israel. Allah selama berabad-abad telah mengutus kepada mereka 

hamba-hamba-Nya, para nabi, berulang-ulang mengirim pesan 

melalui utusan-utusan-Nya, namun  tidak ada gunanya. Mereka 

sekarang dibawa ke dalam pembuangan sebab  mengolok-olok 

para utusan Allah, namun walaupun begitu di sana pun Allah 

mengutus nabi ini ke tengah-tengah mereka, untuk menguji 

apakah telinga mereka terbuka untuk menerima disiplin, sebab  

Kitab Yehezkiel 2:1-5 

sekarang mereka tertangkap dalam tali kesengsaraan. Sama se-

perti penopang-penopang hidup, demikian pula sarana-sarana 

anugerah, terus diberikan kepada kita sesudah  beribu-ribu kali 

ditolak. Sekarang amatilah, 

1. Pemberontakan rakyat yang kepadanya duta ini diutus. Ia 

diutus untuk membuat mereka kembali setia, untuk mem-

bawa orang Israel kembali kepada Tuhan Allah mereka. Biar-

lah sang nabi tahu bahwa ada alasan untuk menjalankan 

tugas ini, sebab mereka yaitu  bangsa pemberontak (ay. 3), 

kaum pemberontak (ay. 5). Mereka disebut orang Israel. Mereka 

mempertahankan nama leluhur mereka yang saleh, namun  

mereka sudah merosot secara menyedihkan, mereka sudah 

menjadi Goim – bangsa-bangsa, kata yang biasa dipakai untuk 

menyebut bangsa-bangsa bukan Yahudi. Orang Israel telah 

menjadi seperti orang Etiopia (Am. 9:7), sebab  mereka pem-

berontak. Dan pemberontak-pemberontak di negeri sendiri 

lebih menyulut murka seorang penguasa daripada musuh-

musuh di luar. Penyembahan berhala mereka dan ibadah-

ibadah palsu mereka yaitu  dosa-dosa yang, lebih daripada 

apa pun juga, menandai mereka sebagai bangsa pemberontak. 

Sebab dengan begitu mereka meninggikan pemimpin lain 

melawan Penguasa mereka yang sah, serta memberi  peng-

hormatan dan membayar upeti kepada perampas, yang meru-

pakan pemberontakan setinggi-tingginya.  

(1) Mereka selama ini sudah menjadi angkatan pemberontak 

dan tetap bersikeras dalam pemberontakan mereka: Mere-

ka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap 

Aku. Perhatikanlah, tidak selalu benar orang-orang yang 

mengaku bahwa mereka masih berpegang pada kebiasaan 

turun-temurun dan bahwa nenek moyang ada pada pihak 

mereka, sebab ada kesalahan-kesalahan dan kebobrokan-

kebobrokan yang sudah berlangsung lama sejak dahulu. 

Dan sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk hidup 

tidak benar sebab  nenek-moyang kita juga dulu hidup 

demikian, sebab itu justru akan lebih memberatkan kita 

lagi, sebab itu berarti kita membenarkan dosa orang-orang 

yang sudah mendahului kita. Mereka terus memberontak 

bahkan sampai hari ini juga. Meskipun berbagai sarana dan 

cara sudah dipakai untuk membawa mereka kembali, sam-

pai hari ini, saat  mereka ditindih oleh teguran-teguran 

ilahi atas pemberontakan mereka, mereka terus saja mem-

berontak. Banyak dari mereka, seperti Ahas, bahkan dalam 

keadaan yang terdesak, semakin berubah tidak setia. Mere-

ka tidak menjadi lebih baik oleh semua perubahan yang 

telah menimpa mereka, namun  tetap saja tidak berubah.  

(2) Mereka sekarang sudah mengeras dalam pemberontakan 

mereka. Mereka yaitu  keturunan yang keras kepala, ber-

muka tembok, dan tidak bisa memerah padam sebab  

malu. Hati nurani mereka mati, mereka ingin menuruti 

keinginan sendiri, dan tidak bisa dibengkokkan, tidak bisa 

membungkuk, tidak malu atau takut untuk berbuat dosa. 

Mereka tidak mau digerakkan oleh kesadaran akan kehor-

matan atau kewajiban. Kita ingin berharap bahwa ini bu-

kanlah tabiat semua orang, melainkan tabiat banyak orang, 

dan mereka mungkin yaitu  orang-orang terkemuka. 

Amatilah,  

[1] Allah mengetahui hal ini tentang mereka, betapa mere-

ka tidak dapat berubah, betapa mereka tidak dapat di-

perbaiki. Perhatikanlah, Allah mengenal dengan sem-

purna tabiat sebenarnya dari setiap orang, apa pun itu 

kepura-puraan dan pengakuan mereka.  

[2] Allah memberitahukan hal ini kepada sang nabi, supaya  

ia mengetahui dengan lebih baik bagaimana harus 

menghadapi dan menangani mereka. Ia harus menegur 

orang-orang seperti itu dengan tajam, dengan menusuk, 

harus memperlakukan mereka secara terang-terangan, 

meskipun mereka menyebutnya berlaku kasar. Allah 

memberitahukan hal ini kepadanya, supaya  ia tidak 

terkejut atau tersandung jika ia mendapati bahwa khot-

bahnya tidak meninggalkan kesan apa-apa pada diri 

mereka, meskipun ia mungkin tidak mengira demikian.  

2. Kekuasaan Raja yang oleh-Nya duta ini diutus.  

(1) Ia memiliki  wewenang untuk memerintahkan orang 

yang diutus-Nya: “Aku mengutus engkau kepada mereka, 

dan sebab  itu harus kau katakan begini dan begini kepada 

mereka” (ay. 4). Perhatikanlah, merupakan hak istimewa 

Kitab Yehezkiel 2:1-5 

Kristus untuk mengutus para nabi dan hamba Tuhan, dan 

untuk memerintahkan pekerjaan kepada mereka. Rasul 

Paulus bersyukur kepada Kristus Yesus yang mempercaya-

kan pelayanan kepadanya (1Tim. 1:12). Sebab, sama seper-

ti Kristus diutus dari Bapa, demikian pula hamba-hamba 

Tuhan diutus oleh Kristus. Dan sebagaimana Ia menerima 

Roh dengan tiada terhingga, demikianlah Ia memberi  

Roh dengan tidak terbatas, dengan berkata, terimalah Roh 

Kudus. Mereka keras kepala dan memberontak, namun 

demikian Aku mengutus engkau kepada mereka. Perhati-

kanlah, Kristus memberi  sarana-sarana anugerah ke-

pada banyak orang yang diketahui-Nya tidak akan meman-

faatkan dengan baik sarana-sarana itu, membayar mahal 

untuk memberi  ke tangan orang-orang bodoh untuk 

mendapat hikmat, padahal mereka bukan saja tidak mem-

punyai hati untuk itu, namun  juga hati mereka sudah 

berbalik melawannya. Demikianlah Ia akan mengagungkan 

anugerah-Nya sendiri, membenarkan penghakiman-Nya 

sendiri, membuat mereka tidak bisa berdalih, dan mem-

buat hukuman mereka semakin tak tertahankan.  

(2) Sang duta memiliki wewenang dari Kristus untuk memerin-

tah orang-orang yang kepada mereka Kristus mengutus-

nya: Harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman 

Tuhan ALLAH. Semua yang dikatakan duta itu kepada 

mereka harus diucapkan dalam nama Allah, diteguhkan 

oleh wewenang-Nya, dan disampaikan sebagai berasal dari 

Dia. Kristus menyampaikan ajaran-ajaran-Nya sebagai Anak 

– Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, sedangkan para 

nabi sebagai hamba-hamba – Beginilah firman Tuhan ALLAH, 

Tuan kami dan Tuan kalian. Perhatikanlah, tulisan-tulisan 

para nabi yaitu  firman Allah, dan harus dipandang demi-

kian oleh kita semua.  

(3) Kristus memiliki  wewenang untuk mengadakan perhi-

tungan dengan orang-orang yang kepada mereka Ia meng-

utus duta-duta-Nya. Baik mereka mendengarkan atau 

tidak, baik mereka mau memperhatikan firman itu atau 

berpaling darinya, mereka akan mengetahui bahwa seorang 

nabi ada di tengah-tengah mereka, akan mengetahuinya 

dengan mengalami sendiri.  

[1] Jika mereka mendengar dan taat, maka mereka akan 

tahu melalui pengalaman yang menghibur, bahwa fir-

man yang memberi mereka kebaikan dibawa kepada 

mereka oleh orang yang mendapat perintah penugasan 

dari Allah, dan yang disertai oleh kuasa ilahi dalam 

menjalankannya. Demikianlah orang-orang yang diper-

tobatkan oleh pemberitaan Rasul Paulus dikatakan se-

bagai meterai dari kerasulannya (1Kor. 9:2). jika  hati 

manusia dibuat menyala-nyala saat  mendengar fir-

man, dan kehendak mereka ditundukkan kepadanya, 

maka mereka tahu dan bersaksi bagi diri mereka sendiri 

bahwa itu bukanlah perkataan manusia, melainkan 

firman Allah.  

[2] Jika mereka tidak mau mendengar, jika mereka menutup 

telinga bagi firman itu (seperti yang ditakutkan demikian, 

sebab mereka yaitu  kaum pemberontak), maka mereka 

akan tahu bahwa orang yang telah mereka remehkan 

yaitu  benar-benar seorang nabi, melalui teguran-

teguran yang berasal dari hati nurani mereka sendiri 

dan penghakiman-penghakiman Allah yang adil atas 

mereka sebab  telah menolak dia. Mereka akan 

mengetahuinya dan menderita rugi sendiri, mengetahui-

nya dan menjadi kebingungan sendiri, dan mengetahui-

nya dari pengalaman yang menyedihkan, betapa berba-

haya dan merusaknya jika meremehkan utusan-utusan 

Allah. Mereka akan tahu saat  ancaman-ancaman itu 

digenapi bahwa sang nabi yang mencela mereka me-

mang diutus oleh Allah. Demikianlah firman akan sam-

pai kepada orang banyak (Za. 1:6). Perhatikanlah, per-

tama, orang-orang yang kepada mereka firman Allah 

dikirimkan sedang diuji apakah mereka mau mende-

ngarkan atau tidak, dan sesuai dengan itulah hukuman 

mereka nanti. Kedua, apakah kita akan dibangun oleh 

firman atau tidak, tetap saja pasti bahwa Allah akan 

dimuliakan dan firman-Nya akan diagungkan dan di-

hormati. Apakah firman itu menjadi bau kehidupan 

yang menghidupkan atau bau kematian yang memati-

kan, kedua-duanya akan menunjukkan bahwa firman 

itu berasal dari Allah. 

Kitab Yehezkiel 2:6-10 

Sang Nabi Diperingatkan untuk Tidak Takut;  

Perintah Diberikan kepada Sang Nabi  

(2:6-10) 

6 Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun men-

dengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri 

dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-

kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka yaitu  

kaum pemberontak. 7 Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mere-

ka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka yaitu  pem-

berontak. 8 Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan 

kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Nganga-

kanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.” 9 Aku 

melihat, sesungguhnya ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, 

dipegang-Nya sebuah gulungan kitab, 10 lalu dibentangkan-Nya di hadapan-

ku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-

nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.       

Sang nabi, sesudah  menerima tugasnya, di sini menerima perintah 

bersamanya. Untuk tugas yang terhormatlah sang nabi diangkat, 

namun  bersamaan dengan itu pula, tugas itu yaitu  tugas untuk 

melayani dan bekerja, dan di sini ia dituntut, 

I.   supaya  ia berani. Dalam menjalankan kepercayaan ini, ia harus 

bertindak berani dan tak gentar, dan harus bertekad kuat, tidak 

mundur dari pekerjaannya atau meneruskan pekerjaannya de-

ngan berat sebab  berbagai kesulitan dan perlawanan yang 

kemungkinan akan dijumpainya: Anak manusia, janganlah takut 

melihat mereka (ay. 6). Perhatikanlah, orang yang mau berbuat 

apa saja dengan tujuan untuk melayani Allah tidak boleh takut 

menghadapi manusia. Sebab takut terhadap manusia akan mem-

bawa perangkap, yang akan begitu menjerat kita dalam mengerja-

kan pekerjaan Allah.  

1. Allah memberi tahu sang nabi bagaimana tabiat orang-orang 

yang kepada mereka Ia mengutusnya, seperti sebelumnya (ay. 

3-4). Mereka yaitu  onak dan duri, yang menggores, menyayat, 

dan menyusahkan orang, ke mana saja mereka melangkah. 

Mereka terus-menerus menggoda nabi-nabi Allah dan menjerat 

mereka dengan suatu pertanyaan (Mat. 22:15). Mereka yaitu  

duri yang menusuk dan onak yang memedihkan. Orang yang 

terbaik di antara mereka yaitu  seperti tumbuhan duri, dan 

yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri (Mi. 7:4). 

Onak dan duri yaitu  buah dari dosa dan kutukan, dan ada 

pada saat yang bersamaan saat  terjadi permusuhan antara 

keturunan perempuan dan keturunan ular. Perhatikanlah, 

orang-orang fasik, terutama para penganiaya nabi-nabi dan 

umat Allah, yaitu  seperti onak dan duri, yang merusak 

tanah, menghimpit benih yang baik, menghambat pekerjaan di 

ladang Allah, dan menyusahkan para pekerja-Nya. namun  onak 

dan duri sudah dekat pada kutuk dan akan berakhir dengan 

pembakaran. namun  adakalanya Allah memanfaatkan kedua-

nya untuk menghajar dan mengajar umat-Nya, seperti Gideon 

menghajar orang-orang Sukot dengan onak dan duri (Hak. 

8:16). Namun ini bukanlah yang terburuk dari tabiat mereka: 

mereka yaitu  kalajengking, berbisa dan ganas. Sengatan 

kalajengking seribu kali lebih menyakitkan daripada goresan 

duri. Para penganiaya yaitu  keturunan ular beludak, ketu-

runan si ular, dan bibir mereka mengandung bisa. Mereka 

lebih cerdik dari segala binatang di darat. Dan, yang membuat 

keadaan sang nabi lebih pedih lagi, ia tinggal di antara kala-

jengking-kalajengking ini. Mereka terus-menerus mengelilingi 

dia, sehingga ia tidak bisa aman atau tenang di rumahnya 

sendiri. Orang-orang jahat ini yaitu  tetangga-tetangganya 

yang jahat, yang dengan demikian memiliki  banyak kesem-

patan, dan tidak mau kehilangan satu pun darinya, untuk ber-

buat jahat kepadanya. Allah memberitahukan hal ini kepada 

sang nabi, seperti Kristus memberitahukan kepada malaikat 

dari salah satu jemaat (Why. 2:13). Aku tahu segala pekerjaan-

mu, dan di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta 

Iblis. Yehezkiel, dalam penglihatan, sudah bercakap-cakap 

dengan para malaikat, namun  saat  ia turun dari gunung ini, 

ia mendapati bahwa ia tinggal dekat kalajengking. 

2.  Allah memberi tahu dia bagaimana mereka akan bertindak 

terhadapnya, bahwa mereka akan berbuat semampu mereka 

untuk menakut-nakuti dia dengan muka mereka dan kata-kata 

mereka. Mereka akan menggertak dia dan mengancamnya, 

akan memandangnya dengan penuh cemooh dan dendam, dan 

berbuat semampu mereka untuk menjatuhkan dia dan mem-

buatnya kehilangan muka, supaya  mereka dapat menghalau-

nya sebagai nabi. Atau setidak-tidaknya supaya  ia tidak mem-

beri tahu mereka tentang kesalahan-kesalahan mereka dan 

mengancam mereka dengan penghakiman-penghakiman Allah. 

Atau, jika mereka tidak berhasil dalam hal ini, mereka akan 

Kitab Yehezkiel 2:6-10 

menyusahkan dan membingungkan dia, dan mengganggu 

ketenangan pikirannya. Mereka sendiri sekarang sedang dalam 

perhambaan, dilucuti dari semua kekuatan, sehingga mereka 

tidak punya cara lain untuk menganiaya sang nabi selain 

dengan muka mereka dan kata-kata mereka. Dan demikianlah 

mereka menganiaya dia. Lihatlah, engkau telah mengatakan 

dan melakukan kejahatan dengan sedapat-dapatnya (Yer. 3:5, 

KJV). Seandainya mereka memiliki  kekuatan yang lebih 

besar, mereka pasti akan melakukan kejahatan yang lebih 

banyak. Mereka sekarang sedang berada dalam pembuangan, 

menderita sebab  pemberontakan mereka, dan khususnya 

sebab  memperlakukan nabi-nabi Allah dengan tidak benar. 

Namun demikian, mereka tetap jahat seperti sebelumnya. 

Sekalipun engkau menumbuk orang bodoh dalam lesung, 

kebodohannya tidak akan lenyap dari padanya. Tidak ada 

pemeliharaan-pemeliharaan ilahi yang dengan sendirinya akan 

merendahkan dan memperbaharui orang, kecuali anugerah 

Allah turut bekerja dengannya. namun  , betapapun 

jahatnya mereka, Yehezkiel tidak boleh takut atau gentar 

terhadap mereka. Ia tidak boleh terhalang dari pekerjaannya, 

sekecil apa pun itu, juga tidak boleh berkecil hati atau patah 

semangat dalam mengerjakannya sebab  semua ancaman 

mereka, namun  harus meneruskannya dengan tekad dan hati 

yang gembira, dengan sepenuhnya yakin bahwa ia akan 

selamat di bawah perlindungan ilahi. 

II.  Ia dituntut supaya  setia (ay. 7).  

1. Ia harus setia kepada Kristus yang mengutusnya. Sampaikan-

lah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka. Perhatikanlah, 

sama seperti merupakan kehormatan bagi para nabi bahwa 

mereka dipercayai untuk menyampaikan perkataan-perkataan 

Allah, demikian pula merupakan kewajiban mereka untuk 

melekat erat-erat dengan perkataan-perkataan-Nya, dan tidak 

mengatakan hal lain selain apa yang sesuai dengan perkataan-

perkataan Allah. Hamba-hamba Tuhan harus selalu berbicara 

menurut aturan itu.  

2. Ia harus setia terhadap jiwa orang-orang yang kepada mereka 

ia diutus: Baik mereka mau mendengarkan atau tidak, ia harus 

menyampaikan pesannya kepada mereka sebagaimana ia 

menerimanya. Ia harus membuat mereka mematuhi perkataan 

itu, dan tidak berusaha menyesuaikan perkataan itu demi 

menyenangkan hati mereka. “Memang benar bahwa mereka 

amat memberontak, mereka yaitu  pemberontakan itu sendiri. 

namun , bagaimanapun juga, sampaikanlah perkataan-perkata-

an-Ku kepada mereka, entah itu menyenangkan atau tidak.” 

Perhatikanlah, sekalipun orang tetap tidak menurut dan tidak 

membuahkan hasil sesudah  mendengar firman, itu bukanlah 

alasan yang baik mengapa hamba-hamba Tuhan harus ber-

henti berkhotbah kepada mereka. Kita juga tidak boleh meno-

lak kesempatan yang dengannya kita dapat berbuat baik, mes-

kipun kita tahu betul bahwa tidak ada kebaikan yang akan 

terwujud. 

III. Ia dituntut supaya  menjalankan perintah-perintah yang diberikan 

kepadanya. 

1.  Di sini ada maksud umum tentang perintah-perintah yang di-

berikan kepadanya, dalam isi kitab yang dibentangkan di ha-

dapannya (ay. 10). 

(1) Perintah-perintahnya sangat banyak, sebab gulungan kitab 

itu ditulisi timbal balik, di dalam dan di luar gulungan ki-

tab. Itu berupa seperti selembar kertas yang penuh dengan 

tulisan di keempat sudutnya. Satu sisi memuat dosa-dosa 

mereka, dan sisi yang lain memuat penghakiman-pengha-

kiman Allah yang akan menimpa mereka sebab  dosa-dosa 

mereka. Perhatikanlah, Allah memiliki banyak hal untuk 

dikatakan kepada umat-Nya saat  mereka sudah merosot 

dan menjadi pemberontak.  

(2) Perintah-perintahnya memilukan. Ia diutus untuk suatu 

tugas yang menyedihkan. Isi yang termuat dalam kitab itu 

yaitu  nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintih-

an. Gagasan dari pesannya diambil dari kesan yang akan 

ditimbulkannya pada pikiran orang-orang yang mendengar-

kannya dengan penuh perhatian. Isi pesan itu akan mem-

buat mereka menangis dan berseru, celaka! dan, sungguh 

malang! Baik penyingkapan dosa maupun pernyataan mur-

ka akan menjadi suatu hal yang diratapi. Apa lagi yang 

lebih memilukan, lebih mendukakan, dan lebih celaka dari-

Kitab Yehezkiel 2:6-10

pada melihat bangsa yang kudus dan bahagia tenggelam ke 

dalam dosa dan kesengsaraan seperti orang-orang Yahudi 

pada saat itu, sebagaimana yang tampak dari nubuat 

dalam kitab ini? Yehezkiel menggemakan ratapan-ratapan 

Yeremia. Perhatikanlah, meskipun Allah kaya dengan rah-

mat, namun para pendosa yang tidak mau bertobat akan 

mendapati bahwa bahkan di antara perkataan-perkataan-

Nya ada nyanyian-nyanyian ratapan dan rintihan. 

2.  Di sini ada perintah yang jelas yang diberikan kepada sang 

nabi untuk menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya, 

baik dengan menerima pesannya maupun dengan menyampai-

kan pesan itu. Ia akan menerimanya sekarang, dan di sini ia 

diperintahkan,  

(1) Untuk memberi perhatian kepada pesan itu dengan tekun: 

anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu 

(ay. 8). Perhatikanlah, orang-orang yang menyampaikan 

pesan dari Allah kepada orang lain harus memastikan bah-

wa mereka sendiri mendengar dari Allah dan patuh pada 

suara-Nya: “Janganlah memberontak. Janganlah menolak 

untuk menjalankan tugas ini, atau untuk menyampaikan-

nya. Janganlah kabur, seperti Yunus, sebab  takut berbuat 

sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang-orang 

sebangsamu. Mereka yaitu  kaum pemberontak, dan di 

antara mereka engkau hidup. namun  janganlah engkau 

seperti mereka, janganlah mengikuti mereka dalam segala 

sesuatu yang jahat.” Jika hamba-hamba Allah, yang peker-

jaannya menegur, mendiamkan dosa dan memanjakan 

orang-orang berdosa, dengan tidak menunjukkan kepada 

mereka kefasikan mereka atau tidak menunjukkan kepada 

mereka akibat-akibat yang mematikan darinya, sebab  

takut membuat mereka tidak senang dan sakit hati, maka 

dengan begitu hamba-hamba Allah membuat diri mereka 

sendiri ikut ambil bagian dalam kesalahan mereka dan 

menjadi pemberontak seperti mereka. Jika rakyat tidak 

mau melakukan kewajiban mereka dengan memperbaharui 

diri, hendaklah hamba-hamba Tuhan melakukan kewajib-

an mereka dengan menegur, maka mereka akan mendapat 

penghiburan darinya saat  merenungkannya, entah itu 

berhasil atau tidak, seperti yang dialami Nabi Yesaya (Yes. 

50:5). Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku 

tidak memberontak. Bahkan orang-orang yang paling baik 

sekalipun, saat  nasib mereka melemparkan mereka di 

waktu-waktu dan tempat-tempat yang jahat, perlu diperi-

ngatkan akan kejahatan-kejahatan yang paling buruk.  

(2) Sang nabi diperintahkan untuk mencernanya dalam pikir-

annya sendiri dengan mengalami kebaikan dan kuasanya: 

“Jangan hanya mendengar apa yang Kufirmankan kepada-

mu, namun  juga ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa 

yang Kuberikan kepadamu. Bersiaplah untuk memakan-

nya, dan makanlah dengan rela, dengan keinginan.” Semua 

anak Allah akan puas dengan keputusan Bapa mereka di 

sorga, dan memakan apa saja yang diberikan-Nya kepada 

mereka. Apa yang diulurkan tangan Allah kepada Yehezkiel 

yaitu  sebuah gulungan kitab, atau jilid kitab, sebuah kitab 

atau gulungan kertas, atau perkamen yang sepenuhnya 

berisi tulisan dan digulung. Pewahyuan ilahi datang kepada 

kita dari tangan Kristus. Ia memberi nya kepada para 

nabi (Why. 1:1). saat  kita melihat gulungan kitab itu, kita 

harus mengarahkan pandangan kepada tangan yang 

olehnya gulungan kitab itu disampaikan kepada kita. Dia 

yang membawa gulungan kitab itu kepada sang nabi mem-

bentangkannya di hadapannya, supaya  ia tidak saja mene-

lannya dengan iman yang bulat, namun  juga dapat mema-

hami isinya sepenuhnya, dan kemudian menerimanya dan 

menjadikannya sebagai miliknya sendiri. Janganlah mem-

berontak, firman Kristus, namun  makanlah apa yang Kuberi-

kan kepadamu. Jika kita tidak menerima apa yang ditentu-

kan Kristus sebagai bagian kita dalam ketetapan-ketetapan 

dan pemeliharaan-pemeliharaan-Nya, jika kita tidak tun-

duk pada firman dan tongkat-Nya, dan tidak mendamaikan 

diri kita dengan firman dan tongkat-Nya itu, maka kita 

akan dianggap sebagai pemberontak. 

 

 

 

PASAL  3  

alam pasal ini diceritakan mengenai persiapan selanjutnya yang 

dilakukan sang nabi untuk tugas yang merupakan panggilan 

baginya dari Allah.  

I.  Ia memakan gulungan kitab yang diberikan kepadanya pada 

akhir pasal sebelumnya (ay. 1-3).  

II.  Arahan dan dorongan lebih lanjut yang diberikan kepadanya 

untuk tujuan yang sama dengan tujuan yang diberikan di 

pasal sebelumnya (ay. 4-11).  

III. Dorongan sangat kuat yang dialaminya, yang membawanya 

kepada orang-orang yang akan menjadi pendengarnya (ay. 

12-15).  

IV. Uraian lebih lanjut mengenai tugas dan pekerjaannya sebagai 

seorang nabi, dengan memakai seorang penjaga sebagai gam-

baran (ay. 16-21).  

V. Pengekangan dan pemulihan kebebasan bicara sang nabi, 

seturut dengan kehendak Allah (ay. 22-27). 

Nabi Memakan Gulungan Kitab; Petunjuk Diberikan kepada 

Sang Nabi; Keengganan Yehezkiel untuk Menjadi Penegur 

(3:1-15)  

1  Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau 

lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada 

kaum Israel.” 2 Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab 

itu kumakan. 3 Lalu firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah 

gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu. 

Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.  

4 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, mari, pergilah dan temuilah 

kaum Israel dan sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka.  

5  Sebab engkau tidak diutus kepada suatu bangsa yang berbahasa asing dan 

yang berat lidah, namun  kepada kaum Israel; 6 bukan kepada banyak bangsa-

bangsa yang berbahasa asing dan yang berat lidah, yang engkau tidak meng-

erti bahasanya.  Sekiranya aku mengutus engkau kepada bangsa yang demi-

kian, mereka akan mendengarkan engkau. 7 namun   kaum Israel tidak 

mau mendengarkan engkau, sebab mereka tidak mau mendengarkan Aku, 

sebab  seluruh kaum Israel berkepala batu dan bertegar hati. 8 Lihat, Aku 

meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan 

semangatmu melawan ketegaran hati mereka. 9 Seperti batu intan, yang lebih 

keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan 

janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka yaitu  kaum pemberontak.” 

10 Selanjutnya firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, perhatikanlah segala 

perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu 

kepadanya. 11 Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman se-

bangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman 

Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak.” 12 Maka Roh itu 

mengangkat aku, dan aku mendengar di belakangku suatu suara gemuruh 

yang besar, tatkala kemuliaan Allah naik ke atas dari tempatnya, 13 yakni 

suara dari sayap-sayap makhluk-makhluk hidup yang menggesek satu sama 

lain, dan di samping itu suara gemertak dari roda-roda, suatu suara 

gemuruh yang besar. 14 Dan Roh itu mengangkat dan membawa aku, dan 

aku pergi dengan hati panas dan dengan perasaan pahit, sebab  kekuasaan 

TUHAN memaksa aku dengan sangat. 15 Demikianlah aku datang kepada 

orang-orang buangan yang tinggal di tepi sungai Kebar di Tel-Abib dan di 

sana aku duduk tertegun di tengah-tengah mereka selama tujuh hari. 

Cocoklah bila ayat-ayat ini dihubungkan dengan pasal sebelumnya 

oleh beberapa penerjemah, sebab memang ayat-ayat tersebut ber-

sesuaian dengan pasal tersebut dan merupakan kelanjutan dari 

penglihatan yang sama. Para nabi mendapat Firman dari Allah agar 

mereka meneruskannya kepada umat Allah. Para nabi memperleng-

kapi dirinya sendiri agar mereka dapat memperlengkapi umat Allah 

dengan pengenalan akan pikiran dan kehendak Allah. Nah, di sini 

sang nabi diajar, 

I.  Bagaimana ia sendiri harus menerima penyataan ilahi (ay. 1). 

Kristus (yang ia lihat di atas takhta [1:26]) berkata kepadanya, 

“Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab ini, terimalah 

pewahyuan ini dalam akal budimu, camkanlah, camkanlah arti-

nya, pahamilah setepat-tepatnya, terimalah dalam hatimu, resapi-

lah, dan tergugahlah olehnya. Tanamkan dalam-dalam pewahyu-

an itu dalam pikiranmu, mamahlah dan kunyahlah hasil mamah-

anmu. Telanlah seluruhnya, dan jangan segan-segan. Bahkan, 

nikmatilah pewahyuan itu seperti engkau menikmati makanan, 

dan biarlah jiwamu mendapat gizi dan dikuatkan olehnya. Biarlah 

pewahyuan itu menjadi makanan dan minuman bagimu, seperti 

makananmu sehari-hari. Biarlah engkau dikenyangkan olehnya, 

seperti engkau dikenyangkan oleh makanan yang kau santap.”

Kitab Yehezkiel 3:1-15 

 Demikianlah, para pelayan Tuhan, dalam mendalami Firman dan 

merenungkannya, harus memahami Firman Tuhan yang akan 

diberitakannya kepada orang lain. jika  aku bertemu dengan 

perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya (Yer. 15:16). 

Mereka harus mengenal dengan baik dan benar-benar tergugah 

dengan perkara-perkara dari Allah, supaya  mereka dapat mem-

bicarakan perkara-perkara itu dengan jelas dan dekat, penuh 

dengan cahaya dan kehangatan ilahi. Sekarang amatilah,  

1. Bagaimana perintah ini ditanamkan dalam diri sang nabi. 

Dalam pasal sebelumnya dikatakan, makanlah apa yang Ku-

berikan kepadamu, dan di sini (ay. 1), “Makanlah apa yang 

engkau lihat di sini, yang disajikan kepadamu oleh tangan 

Kristus.” Perhatikanlah, apa pun yang kita dapati sebagai 

Firman Tuhan, apa pun yang diberikan kepada kita oleh Dia 

yang yaitu  Firman Tuhan, harus kita terima tanpa berban-

tah. Apa pun yang disajikan di hadapan kita dalam Kitab Suci, 

harus kita makan. Sekali lagi dikatakan, (ay. 3) “Makanlah 

gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perut-

mu dengan itu. Jangan memakannya dan memuntahkannya 

lagi, seperti makanan yang memualkan, namun  makanlah dan 

simpanlah, seperti makanan yang mengenyangkan dan me-

muaskan bagi perutmu. Nikmatilah penglihatan ini sampai 

engkau tumpat dengan kata-kata, seperti Elihu (Ayb. 32:18). 

Biarlah Firman itu mendapat tempat dalam dirimu, di tempat 

yang terdalam.” Kita harus berusaha dengan segenap hati kita 

agar hati kita dengan sepatutnya menerima dan menanggapi 

Firman Tuhan, agar segenap indra kemampuan kita melaku-

kan tugasnya untuk mencerna Firman Tuhan, sehingga Firman 

itu dapat berubah in succum et sanguinem – menjadi darah dan 

roh. Kita harus mengosongkan diri kita dari hal-hal duniawi 

agar kita bisa mengisi perut kita dengan gulungan kitab ini. 

2. Bagaimana perintah ini dijelaskan (ay. 10): “Segala perkataan-

Ku yang akan Kufirmankan kepadamu, untuk disampaikan 

kepada bangsa ini, perhatikanlah, dan berikanlah telingamu 

kepadanya, terimalah Firman itu dengan rasa kasih kepada-

nya.” Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini (Luk. 

9:44). Kristus meminta agar perhatian sang nabi bukan hanya 

pada perkataan-Nya saat ini, namun  juga pada semua yang 

akan Ia katakan di segala waktu sesudah  ini: Perhatikanlah 

semuanya itu. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalam-

nya (1Tim. 4:15).  

3. Bagaimana perintah ini ditaati dalam penglihatan. Ia membuka 

mulutnya dan Kristus memberi  gulungan kitab itu dimakan-

nya (ay. 2). Jika kita sungguh-sungguh mau menerima Firman 

Tuhan di dalam hati kita, Kristus, melalui Roh-Nya, akan 

membawa Firman itu masuk ke dalam hati kita dan membuat-

nya diam dengan segala kekayaannya di antara kita. Jika Ia 

yang membuka gulungan kitab itu, dan Roh-Nya, yang yaitu  

Roh wahyu, membentangkannya di hadapan kita, tidak sekali-

gus membuka pengertian kita, dan jika Roh-Nya, yang yaitu  

Roh hikmat, tidak memberi kita pemahaman dan memberi 

gulungan kitab itu kita makan, maka selamanya kita tidak 

akan pernah mengerti Firman itu. Wajar jika sang nabi kha-

watir gulungan kitab itu akan menjadi suapan yang tidak 

sedap dan hidangan yang mengecewakan sebagai makanan, 

namun  ternyata gulungan itu dalam mulutnya manis seperti 

madu. Perhatikanlah, jika kita segera taat pada perintah 

tersulit sekalipun, kita akan menemukan penghiburan saat  

kita merenungkannya, penghiburan yang akan sangat meno-

long kita dalam semua kesulitan yang kita temui saat  kita 

menyelesaikan tugas kita. Meskipun gulungan kitab itu penuh 

ditulisi dengan nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan 

rintihan, gulungan kitab itu manis seperti madu bagi sang 

nabi. Perhatikanlah, jiwa yang manis dapat menerima kebe-

naran-kebenaran yang berasal dari Tuhan dengan penuh 

sukacita, sekalipun semua kebenaran itu justru sangat mena-

kutkan bagi orang jahat. Kita melihat bahwa Rasul Yohanes 

dibawa ke dalam sebagian pewahyuannya melalui tanda 

seperti ini (Why. 10:9-10). Ia mengambil kitab itu dari tangan 

malaikat itu, dan memakannya dan, seperti Yehezkiel, di dalam 

mulutnya kitab itu terasa manis seperti madu, namun  pahit di 

perutnya. Oleh sebab  itu, kita dapat memahami bahwa demi-

kian pula kejadiannya di sini, sebab  (ay. 14) sang nabi pergi 

dengan perasaan pahit.  

II.  Bagaimana ia harus menyampaikan pewahyuan ilahi kepada 

orang lain, yaitu pewahyuan yang diterimanya sendiri (ay. 1): Ma-

kanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum 

Kitab Yehezkiel 3:1-15 

Israel. Ia tidak boleh memberitakan perkara-perkara Tuhan ke-

pada orang lain sampai ia sendiri betul-betul memahaminya. 

Janganlah ia pergi melakukan tugasnya tanpa itu, atau hanya 

membagikan separuh saja. Namun, sesudah  ia betul-betul mema-

haminya, ia harus rajin sekaligus berani memberitakannya untuk 

kebaikan orang lain. Kita tidak boleh menyembunyikan (KJV) fir-

man dari Yang Mahakudus (Ayb. 6:10) sebab  hal itu sama saja 

dengan menyembunyikan talenta yang diberikan kepada kita 

untuk dijalankan. Ia harus pergi dan berbicara kepada kaum 

Israel sebab  kaum itu berhak mengetahui ketetapan-ketetapan 

Tuhan dan penghakiman-penghakiman-Nya. Seperti penerimaan 

hukum Taurat (firman yang hidup), demikian pula nubuat (firman 

yang menghidupkan) yaitu  bagian kaum Israel. Ia tidak dikirim 

kepada orang Kasdim untuk menegur mereka akan dosa mereka, 

namun  kepada kaum Israel untuk menegur mereka akan dosa-dosa 

mereka. Seorang ayah mengoreksi anaknya sendiri jika anak itu 

melakukan kesalahan, bukan anak orang lain. 

1. Petunjuk yang diberikan kepadanya bagaimana berbicara de-

ngan kaum Israel hampir sama dengan petunjuk di pasal sebe-

lumnya. 

(1)  Ia harus mengatakan kepada mereka semua hal, dan ha-

nya itu saja, yang Allah katakan kepadanya. Allah berkata 

sebelumnya (2:7): Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku 

kepada mereka. Di sini, Dia berkata (ay. 4), Engkau harus 

menyampaikan perkataan-perkataan-Ku kepada mereka, 

atau berbicara dengan memakai perkataan-perkataan-Ku. 

Ia tidak boleh hanya mengatakan perkataan yang maksud-

nya sama dengan apa yang Allah katakan kepadanya, 

namun  harus mengatakan perkataan yang semirip mungkin 

dengan bahasa dan ungkapan yang dipakai Allah. Rasul 

Paulus yang terberkati, meskipun sangat suka akan hal-hal 

baru, tetap berkata-kata tentang perkara-perkara Allah 

dengan perkataan yang diajarkan oleh Roh (1Kor. 2:13). 

Kebenaran Kitab Suci paling baik ditampilkan dengan ba-

hasa kitab suci, pakaian aslinya. Lagi pula, bagaimana kita 

dapat menyampaikan pikiran Allah dengan lebih baik jika 

bukan dengan kata-kata-Nya sendiri? 

(2) Ia harus ingat bahwa mereka yaitu  kaum Israel, kaum 

yang kepadanya ia diutus, rumah Allah dan umat kepunya-

an-Nya. Oleh sebab  itu, ia harus memberi  perhatian 

khusus kepada mereka, dan harus melayani mereka 

dengan setia dan lemah lembut. Mereka, sebagaimana ada-

nya, memiliki pertalian yang dalam dengan dirinya, bukan 

hanya sebagai saudara sebangsa mereka, namun  juga se-

kutu dalam kesusahan mereka. Mereka dan dirinya yaitu  

kawan sependeritaan, dan belakangan menjadi kawan seper-

jalanan, dalam keadaan yang sangat menyedihkan, dari 

Yudea ke Babel, dan sering kali menangis bersama, sehingga 

tidak bisa tidak hati mereka menjadi terpaut satu sama lain. 

Sungguh suatu kebaikan bagi bangsa itu bahwa mereka 

memiliki seorang nabi yang mengerti, dari pengalamannya 

sendiri, bagaimana harus bersimpati terhadap mereka, dan 

tidak bisa tidak tersentuh oleh kelemahan yang mereka 

rasakan. Sungguh suatu kebaikan bagi sang nabi bahwa ia 

diutus kepada orang-orang dari bangsanya sendiri dan 

bukan kepada bangsa yang berbahasa asing dan yang 

berat lidah, yang ucapannya sulit, sehingga engkau tidak 

dapat menangkap makna pembicaraan mereka, dan ber-

berat lidah, sehingga sangat sukar bahkan tidak mungkin 

bercakap-cakap dengan mereka. Setiap bahasa asing tam-

pak sulit dan berat bagi kita. “Engkau tidak diutus kepada 

banyak bangsa-bangsa yang seperti itu, bangsa yang tidak 

bisa kau ajak bicara maupun kau pahami, bangsa yang 

tidak bisa kau mengerti ataupun dimengerti tanpa seorang 

penerjemah.” Para rasul memang dikirim ke banyak bang-

sa-bangsa yang berbahasa asing, namun  mereka tidak akan 

dapat berbuat banyak jika mereka tidak memiliki karunia 

bahasa roh. namun  , Yehezkiel hanya diutus kepada 

satu bangsa, itu pun bangsa yang orang-orangnya hanya 

sedikit, dan bangsanya sendiri, yang sebab  ada pertalian-

nya, ia dapat berharap untuk diterima. 

(3) Ia harus mengingat apa yang Allah katakan kepadanya 

mengenai watak buruk orang-orang yang kepadanya ia 

diutus. Dengan demikian, saat ia putus asa dan kecewa 

menghadapi mereka, ia tidak menjadi kecil hati. Mereka 

berkepala batu dan bertegar hati (ay. 7), saat  dinyatakan 

Kitab Yehezkiel 3:1-15 

berdosa, muka mereka tidak memerah tersipu, ancaman 

murka pun tidak akan membuat mereka gemetar. Dua hal 

yang memperberat kedegilan mereka: 

[1] Bahwa mereka lebih degil daripada bangsa-bangsa di 

sekitar mereka, yang tidak akan sedegil mereka sekira-

nya sang nabi diutus kepada bangsa-bangsa itu. Sekira-

nya Allah mengutus sang nabi kepada bangsa lain 

mana pun, sekalipun bangsa yang berbahasa asing, me-

reka akan mendengarkan dia. Mereka setidaknya akan 

mendengarkan dengan sabar dan menunjukkan rasa 

hormat yang tidak akan diperolehnya dari saudara se-

bangsanya. Orang Niniwe berubah sesudah  mendengar 

khotbah Yunus, sementara kaum Israel, yang dikelilingi 

oleh begitu banyak nabi, tidak merendahkan diri dan 

tidak berubah. Namun, apa yang akan kita katakan me-

ngenai hal ini? Sarana anugerah diberikan kepada me-

reka yang tidak akan menggunakannya dan ditarik dari 

mereka yang pasti akan memanfaatkannya. Kita harus 

menyerahkan hal ini ke dalam kedaulatan ilahi dan ber-

kata, Tuhan, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang 

hebat. 

[2] Bahwa bangsa Israel menegarkan hati terhadap Allah 

sendiri: “Mereka tidak mau mendengarkan engkau, dan 

itu tidak mengherankan, sebab mereka tidak mau men-

dengarkan Aku.” Mereka tidak akan mengindahkan per-

kataan sang nabi, sebab mereka tidak mengindahkan 

tongkat didikan Allah, tongkat didikan yang digunakan 

Tuhan untuk berseru kepada kota. Jika mereka tidak 

percaya bahwa Allah berbicara kepada mereka melalui 

seorang pelayan, mereka juga tidak akan percaya seka-

lipun Allah berbicara kepada mereka melalui suara dari 

sorga. Bahkan, oleh sebab  tahu itu dari sorga, mereka 

menolak perkataan sang nabi, sebab  perkataan itu 

berasal dari Allah, yang yaitu  seteru keinginan daging 

mereka. Mereka berprasangka buruk terhadap hukum 

Allah, dan sebab  itu mereka menulikan telinganya ter-

hadap para nabi-Nya, yang diutus untuk menegakkan 

hukum-Nya. 

(4) Ia harus meneguhkan hati untuk menjadi berani, dan Kris-

tus berjanji akan menyiapkan hatinya dengan keberanian 

(ay. 8-9). Ia diutus kepada orang-orang yang begitu ber-

kepala batu dan bertegar hati. Orang-orang yang tidak akan 

terkesan maupun disentuh hatinya, baik dengan cara yang 

baik ataupun buruk. Orang-orang yang merasa bangga 

menghina pembawa pesan Allah dan menentang pesan-

Nya. Sungguh tugas yang berat untuk mengetahui bagai-

mana harus menghadapi mereka. namun  ,  

[1]  Allah akan membuat dia mampu menghadapinya: “Aku 

meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala 

batu, memperlengkapimu dengan ketegaran dan kebe-

ranian yang diperlukan untuk menyelesaikan perkara 

itu.” Mungkin Yehezkiel pada dasarnya pemalu dan pena-

kut, namun , sekalip


Related Posts:

  • Yehezkiel 2 garaan ilahi dibandingkan dengan roda-roda, entah roda-roda kereta, yang ditunggangi sang penakluk dalam kemenangan, atau lebih tepatnya roda-roda jam, atau arloji, yang berperan untuk menggerakkan mesinn… Read More