garaan ilahi dibandingkan dengan
roda-roda, entah roda-roda kereta, yang ditunggangi sang
penakluk dalam kemenangan, atau lebih tepatnya roda-roda
jam, atau arloji, yang berperan untuk menggerakkan mesinnya
secara teratur. Kita membaca tentang peredaran alam atau
roda kehidupan (Yak. 3:6), yang di sini diketengahkan kepada
kita sebagai sesuatu yang berada di bawah pimpinan Allah
dari alam. Roda-roda, meskipun tidak bergerak sendiri, seperti
halnya makhluk hidup, dibuat dapat bergerak dan hampir tak
pernah putus bergerak. Pemeliharaan ilahi, yang digambarkan
melalui roda-roda ini, menghasilkan perubahan. Kadang-
kadang orang berbicara tentang roda yang ada di atas, dan
kadang-kadang roda yang di bawah. namun gerakan roda pada
porosnya, seperti gerakan bola-bola yang di atas, sangat ter-
atur dan tetap. Gerakan roda-roda itu berputar dari satu titik
dan kembali ke titik itu lagi dan begitu seterusnya. Oleh per-
putaran-perputaran Pemeliharaan ilahi, segala sesuatu dibawa
ke dalam kedudukannya yang semula, dan melewati tempat
yang sudah mereka lalui sebelumnya. Sebab apa yang pernah
ada akan ada lagi, tak ada sesuatu yang baru di bawah mata-
hari (Pkh. 1:9-10).
2. Roda itu dikatakan berada di samping makhluk hidup, yang
mengiringinya untuk mengarahkan gerakannya. Sebab malai-
kat-malaikat dipekerjakan sebagai pelayan-pelayan untuk men-
jalankan pemeliharaan Allah, dan memiliki peran yang lebih
besar daripada yang kita sangkakan dalam mengarahkan gerak-
an-gerakan berbagai hal di dunia untuk memenuhi tujuan ilahi.
Demikianlah eratnya hubungan yang ada antara makhluk
hidup dan roda-roda sehingga mereka bergerak dan beristi-
rahat secara bersamaan. Apakah malaikat-malaikat sangat
sibuk dipekerjakan? Manusia sangat giat dipekerjakan sebagai
alat-alat di tangan mereka, entah untuk mendapatkan belas
kasihan atau penghakiman, meskipun mereka sendiri tidak
sadar akan hal itu. Atau, apakah manusia giat bekerja untuk
mewujudkan rencana-rencana mereka? Para malaikat pada
saat yang sama bertindak untuk mengendalikan dan meng-
atasi rencana-rencana manusia itu. Hal ini banyak ditegaskan
di sini (ay. 19): Kalau makhluk-makhluk hidup itu berjalan,
untuk melaksanakan pekerjaan apa saja, roda-roda itu juga
berjalan di samping mereka. jika Allah memiliki pekerja-
an untuk dilakukan melalui pelayanan para malaikat, hal-hal
lain di dunia akan didapati, atau dijadikan, siap untuk sejalan
dengannya. Dan (ay. 21) kalau mereka berhenti, roda-roda itu
berhenti. sesudah malaikat-malaikat melakukan pekerjaan
mereka, hal-hal lain di dunia pun selesai melakukan pekerja-
annya. Kalau makhluk-makhluk hidup itu terangkat dari tanah,
terangkat untuk melakukan pelayanan apa saja yang melam-
paui cara kerja alam seperti biasa dan di luar jalan yang biasa
(seperti misalnya dalam mengerjakan mujizat-mujizat, mem-
belah air, dan memberhentikan matahari), maka roda-roda itu,
bertentangan dengan kecenderungan alami mereka sendiri,
yang selalu mengarah ke bumi, bergerak bersama-sama de-
ngan makhluk-makhluk hidup itu, dan sama-sama terangkat
dengan mereka. Hal ini disebutkan sebanyak tiga kali (ay. 19-
21). Perhatikanlah, semua makhluk yang lebih rendah berada,
bergerak, dan bertindak mengikuti sang Pencipta, melalui
pelayanan para malaikat, yang mengarahkan dan mempenga-
ruhi mereka. Akibat-akibat yang terlihat diatur dan dipimpin
Kitab Yehezkiel 1:15-25
oleh sebab-sebab yang tak terlihat. Alasan yang diberikan
untuk ini yaitu sebab roh makhluk-makhluk hidup itu ber-
ada di dalam roda-rodanya. Hikmat, kuasa, dan kekudusan
Allah yang sama, serta kehendak dan keputusan hikmat-Nya
yang sama, yang membimbing dan memerintah para malaikat
dan semua pekerjaan mereka, melalui mereka, juga mengatur
dan menentukan semua gerak-gerik makhluk-makhluk di
dunia bawah ini, dan menentukan berbagai peristiwa dan
masalah-masalahnya. Allah yaitu jiwa dunia, yang meng-
hidupkan keseluruhannya, baik yang di atas maupun yang di
bawah, sehingga mereka bergerak dalam keselarasan yang
sempurna, sama seperti bagian atas dan bagian bawah tubuh
alami, sehingga ke arah mana Roh itu hendak pergi, (apa saja
yang dikehendaki dan diinginkan Allah untuk terjadi dan
terwujud) ke sanalah mereka pergi. Yaitu, para malaikat,
secara sadar dan sengaja, menetapkan hati mereka untuk me-
wujudkannya. Dan roh mereka berada di dalam roda-rodanya,
yang sebab itu terangkat dengan mereka. Yaitu, baik kekuat-
an-kekuatan alam maupun kehendak-kehendak manusia se-
muanya dibuat untuk memenuhi maksud ilahi, yang secara
pasti dan tak terelakkan mereka pengaruhi, meskipun mung-
kin mereka sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak
demikian rancangan hatinya (Yes. 10:7; Mi. 4:11-12). Dengan
demikian, meskipun kehendak dari aturan Allah tidak terjadi
di bumi seperti di sorga, namun kehendak dari tujuan dan
keputusan hikmat-Nya terjadi, dan akan terjadi.
3. Roda itu dikatakan memiliki empat muka, yang melihat ke
empat arah (ay. 15), yang menunjukkan bahwa pemeliharaan
Allah bekerja di semua belahan dunia, timur, barat, utara, dan
selatan, dan melebarkan dirinya ke ujung-ujung dunia yang
terpencil. Ke mana pun kamu melihat roda Pemeliharaan ilahi,
ia memiliki muka yang mengarah padamu, muka yang
indah, yang dapat kamu kagumi roman mukanya. Ia melihat
kepadamu dan siap berbicara kepadamu, kalau saja kamu
siap mendengarkan suaranya. Seperti lukisan yang digambar
dengan baik, ia memiliki mata yang menatap ke semua mata
yang tertuju padanya. Roda itu memiliki empat muka, dan di
dalamnya ada empat roda, yang menuju keempat jurusan (ay.
17). Pada awalnya Yehezkiel melihatnya sebagai satu roda (ay.
15), satu bola. namun sesudahnya ia melihat empat, namun keem-
patnya yaitu serupa (ay. 16). Mereka bukan saja serupa satu
sama lain, melainkan juga seolah-olah satu. Ini menyiratkan,
(1) Bahwa satu peristiwa pemeliharaan ilahi serupa seperti
peristiwa yang lain. Apa yang terjadi pada kita yaitu pen-
cobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan
manusia, yang terjadi kepada semua orang, dan sebab itu
janganlah kita memandangnya aneh.
(2) Bahwa berbagai peristiwa cenderung mengenai masalah
yang sama, dan semuanya memenuhi maksud yang sama.
4. Rupa dan buatan mereka dikatakan seperti kilauan permata
pirus (ay. 16), warna Tarsis (demikian kata yang dipakai), yaitu
warna laut. Itulah warna pemata pirus itu, hijau laut, atau
yang biasa kita sebut biru laut. Hakikat dari segala sesuatu di
dunia ini yaitu seperti hakikat dari segala sesuatu di dalam
laut, yang terus-menerus mengalir, namun ada keselarasan
dan pergantian terus-menerus dari bagian-bagiannya. Ada
rantai peristiwa yang selalu menarik ke satu atau lain arah.
Laut pasang surut, demikian pula Pemeliharaan ilahi dalam
tindakan-tindakannya, namun selalu terjadi masa-masa dan
dalam takaran-takaran yang ditentukan dan ditetapkan. Laut
terlihat biru, seperti udara, oleh sebab pendek dan lemahnya
pandangan kita, yang hanya dapat melihat sedikit saja dari-
nya. Oleh sebab itu, dengan warna itulah rupa dan buatan
Pemeliharaan ilahi pantas dibandingkan, sebab kita tidak bisa
mengetahui apa yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir
(Pkh. 3:11). Kita hanya melihat ujung-ujung jalan-Nya (Ayb.
26:14), sementara segala sesuatu di seberangnya tampak biru,
jadi jangankan kita memahaminya, mengetahuinya dengan
benar saja tidak. Jalan-Nya tinggi sekali, jauh dari kita.
5. Rupa dan buatan mereka juga dikatakan seolah-olah roda yang
satu ada di tengah-tengah yang lain. Amatilah lagi di sini, rupa
roda-roda yang dilihat sang nabi dimaksudkan untuk memper-
lihatkan apa pekerjaan mereka sebenarnya. Rupa manusia
dan pekerjaannya sering kali berbeda, namun rupa pemelihara-
an Allah dan pekerjaannya sesuai satu sama lain. Jika kedua-
nya tampak berbeda, itu sebab ketidaktahuan dan kekeliruan
kita. Nah, keduanya seperti roda yang satu di tengah-tengah
Kitab Yehezkiel 1:15-25
yang lain, roda yang lebih kecil digerakkan oleh roda yang
lebih besar. Kita tidak berlagak untuk memberi uraian
matematis tentang itu. Maknanya yaitu bahwa tindakan-tin-
dakan Pemeliharaan ilahi tampak rumit bagi kita, membingung-
kan, dan tak terjelaskan, namun semua itu pada akhirnya akan
tampak sebagai sesuatu yang sudah diatur dengan bijak untuk
yang terbaik. Sehingga meskipun apa yang diperbuat Allah, kita
tidak tahu sekarang, namun kita akan mengertinya kelak (Yoh.
13:7).
6. Gerakan roda-roda ini, seperti gerakan makhluk-makhluk hi-
dup itu, mantap, teratur, dan tetap: Mereka tidak berbalik
kalau berjalan (ay. 17), sebab mereka tidak pernah keliru,
atau melakukan hal sebaliknya dari yang harus mereka laku-
kan. Allah, dalam pemeliharaan-Nya, menempatkan pekerja-
an-Nya di hadapan-Nya, dan Ia ingin pekerjaan itu berjalan
maju. Pekerjaan itu berjalan terus sekalipun bagi kita tampak
mundur. Mereka berjalan sebagaimana Roh mengarahkan me-
reka, dan sebab itu tidak berbalik. Kita seharusnya tidak per-
lu berbalik seperti yang sudah kita lakukan, dan harus ber-
tobat lagi akibat kesalahan yang kita perbuat, dan mengulang
lagi dari awal, kalau saja kita dipimpin oleh Roh dan mengikuti
pimpinan-Nya. Roh kehidupan (demikian sebagian orang mem-
bacanya) berada di dalam roda-rodanya, yang terus membuat
roda-roda itu melaju dengan tenang dan selaras, sehingga
mereka tidak berbalik kalau berjalan.
7. Lingkaran, atau bulatan, dari roda-roda itu begitu tinggi sehing-
ga menakutkan (ay. 18, KJV). Kelilingnya luas, sehingga saat
roda-roda itu diangkat, dan digerakkan, sang nabi bahkan
takut memandangnya. Perhatikanlah, pikiran Allah yang luas
cakupannya, dan rancangan-Nya yang jauh jangkauannya,
sungguh-sungguh menakjubkan. saat kita hendak menggam-
barkan lingkaran Pemeliharaan ilahi, kita tersentak kagum dan
bahkan tertelan di dalam pusarannya. Oh betapa tinggi dan
dalamnya keputusan-keputusan hikmat Allah! Merenungkan
hal ini haruslah membuat kita takjub.
8. Sekeliling lingkar itu penuh dengan mata. Keadaan di seputar
penglihatan itu paling mengejutkan dari semuanya, namun juga
paling penting, yang menunjukkan dengan jelas bahwa semua
gerak-gerik Pemeliharaan ilahi dipimpin oleh hikmat yang tak
terbatas. Perkara dari segala sesuatu tidaklah ditentukan oleh
keberuntungan yang buta, melainkan oleh mata TUHAN yang
menjelajah seluruh bumi, dan ada di segala tempat, mengawasi
orang jahat dan orang baik. Perhatikanlah, suatu kepuasan
besar bagi kita, dan memang harus demikian, bahwa, meski-
pun kita tidak dapat menjelaskan sumber dan arah dari berba-
gai macam peristiwa, namun semua itu berada di bawah peng-
awasan dan pimpinan Allah yang mahabijaksana dan maha-
melihat.
II. Perhatian yang dia berikan terhadap cakrawala di atas kepala
makhluk-makhluk hidup itu. saat ia melihat makhluk-makhluk
hidup itu bergerak, beserta roda-roda di samping mereka, ia mene-
ngadah, seperti yang patut kita lakukan saat kita mengamati
berbagai gerakan pemeliharaan ilahi di dunia bawah ini. sesudah
menengadah, ia melihat cakrawala terbentang di atas kepala
makhluk-makhluk hidup itu (ay. 22). Apa yang terjadi di atas bumi
terjadi di bawah langit (seperti yang sering kali dikatakan Kitab
Suci), di bawah pengawasan dan pengaruhnya. Cermatilah,
1. Apa yang dilihatnya: Cakrawala itu kelihatan seperti hablur es
yang mendahsyatkan, benar-benar mulia, namun juga mengeri-
kan. Luas dan terang cakrawala itu membuat sang nabi takjub
dan menyergapnya dengan rasa hormat dan takut. Es atau
embun beku yang mengerikan (demikian ayat itu dapat dibaca),
warna salju yang membeku, atau seperti gunung-gunung es di
lautan utara, yang sangat menakutkan. Orang-orang berdosa
yang kurang ajar bertanya, dapatkah Allah mengadili dari balik
awan-awan yang gelap (Ayb. 22:13). namun apa yang kita
anggap sebagai awan hitam yaitu bagi-Nya tembus pandang
seperti kristal, yang melaluinya, dari tempat kediaman-Nya, Ia
melihat semua penduduk bumi (Mzm. 33:14, KJV). Di bawah
cakrawala itu sang nabi melihat sayap makhluk-makhluk hidup
itu yang dikembangkan lurus (ay. 23). Mereka memakai sayap-
sayap mereka sesuai yang mereka inginkan, untuk terbang
atau untuk menutupi diri. Allah berada di tempat tinggi, di
atas cakrawala. Para malaikat berada di bawah cakrawala,
yang menunjukkan ketundukan mereka pada pemerintahan
Allah dan kesiapan mereka untuk terbang memenuhi tugas-
Kitab Yehezkiel 1:15-25
tugas yang diberikan-Nya melintasi cakrawala, dan untuk
melayani Dia dengan suara bulat.
2. Apa yang dia dengar.
(1) Ia mendengar suara sayap malaikat (ay. 24). Lebah dan
serangga-serangga lain mengeluarkan suara yang sangat
ribut dengan getaran sayap-sayap mereka. Di sini para
malaikat melakukannya, untuk menggugah perhatian sang
nabi pada apa yang hendak disampaikan Allah kepadanya
dari cakrawala (ay. 25). Para malaikat, melalui pemelihara-
an-pemeliharaan ilahi yang di dalamnya mereka bekerja,
membunyikan tanda-tanda bahaya dari Allah kepada anak-
anak manusia, dan menggugah mereka untuk mendengar
suara-Nya. Sebab suara itulah yang berseru-seru di kota
dan yang didengar dan dipahami oleh orang-orang bijak-
sana. Suara sayap mereka nyaring dan mengerikan, seperti
suara air terjun yang menderu (seperti kecamuk dan deru
laut), dan seperti keributan laskar yang besar, suara
perang. namun suara itu jelas dan dapat dimengerti, dan
tidak memberi bunyi yang tidak terang, sebab suara itu
yaitu suara orang berbicara. Bahkan, suara itu seperti
suara Yang Mahakuasa, sebab Allah, melalui pemelihara-
an-pemeliharaan-Nya, berfirman dengan satu dua cara,
supaya kita dapat memperhatikannya (Ayb. 33:14). TUHAN
berseru (Mi. 6:9).
(2) Ia mendengar suara dari atas cakrawala, dari Dia yang du-
duk di atas takhta di sana (ay. 25). saat malaikat-malai-
kat bergerak, mereka membuat keributan dengan sayap-
sayap mereka. namun , saat dengan suara itu mereka
telah membangunkan dunia yang bersikap masa bodoh,
mereka berhenti, dan membiarkan sayap mereka terkulai,
supaya ada keheningan yang mencekam, dan dengan demi-
kian suara Allah dapat didengar dengan lebih baik. Suara
Pemeliharaan ilahi dimaksudkan untuk membuka telinga
manusia pada suara firman. Suara itu membantu pekerja-
an seorang pembaca hukuman, yang dengan nyaring me-
nyuruh orang diam sewaktu hakim menjatuhkan hukum-
an. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. Perhatikan-
lah, keributan-keributan di bumi haruslah menggugah per-
hatian kita pada suara dari atas cakrawala. Sebab bagai-
mana kita akan luput, jika kita berpaling dari Dia yang ber-
bicara dari sorga?
Penglihatan mengenai Takhta Ilahi
(1:26-28)
26 Di atas cakrawala yang ada di atas kepala mereka ada menyerupai takhta
yang kelihatannya seperti permata lazurit; dan di atas yang menyerupai
takhta itu ada yang kelihatan seperti rupa manusia. 27 Dari yang menyerupai
pinggangnya sampai ke atas aku lihat seperti suasa mengkilat dan seperti api
yang ditudungi sekelilingnya; dan dari yang menyerupai pinggangnya sampai
ke bawah aku lihat seperti api yang dikelilingi sinar. 28 Seperti busur pelangi,
yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar
yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala
aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman.
Semua bagian lain dari penglihatan ini hanyalah merupakan pen-
dahulu dan pengantar untuk bagian ini. Allah di dalam penglihatan-
penglihatan itu telah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan dari para
malaikat dan Pengarah tertinggi dari semua perkara dunia bawah ini.
Dari sini mudah untuk menyimpulkan bahwa apa saja yang dijanji-
kan atau diancamkan Allah melalui para nabi-Nya, sanggup untuk
diwujudkan-Nya. Para malaikat yaitu hamba-hamba-Nya. Manusia
yaitu alat-alat-Nya. namun sebab sekarang pewahyuan ilahi akan
diberikan kepada seorang nabi, dan oleh dia kepada jemaat, kita
harus melihat lebih tinggi daripada makhluk-makhluk hidup atau
roda-roda, dan harus menantikan pewahyuan dari Firman kekal,
yang tentang-Nya kita mendapati penjelasan dalam ayat-ayat ini.
Yehezkiel, sesudah mendengar suara dari cakrawala, menengadah,
seperti yang dilakukan Yohanes, untuk melihat suara yang berbicara
kepadanya, dan tampaklah seorang serupa Anak Manusia (Why. 1:12-
13). Pribadi kedua dari Tritunggal mencoba tampil dalam rupa
manusia dalam beberapa kesempatan sebelum Ia mengenakan rupa
itu pada diri-Nya sendiri untuk selama-lamanya. Roh nubuat disebut
sebagai Roh Kristus (1Ptr. 1:11) dan kesaksian Yesus (Why. 19:10).
1. Kemuliaan Kristus yang dilihat sang nabi ini berada di atas cakra-
wala yang di atas kepala makhluk-makhluk hidup itu (ay. 26).
Perhatikanlah, kepala para malaikat sendiri berada di bawah kaki
Tuhan Yesus. Sebab cakrawala yang ada di atas kepala mereka
berada di bawah kaki-Nya. Segala malaikat, kuasa dan kekuatan
ditaklukkan kepada-Nya (1Ptr. 3:22). Martabat dan kekuasaan
Kitab Yehezkiel 1:26-28
sang Penebus ini sebelum penjelmaan-Nya mengagungkan peren-
dahan diri-Nya dalam penjelmaan-Nya, saat Ia dibuat sedikit
lebih rendah dari pada malaikat-malaikat (Ibr. 2:9).
2. Hal pertama yang diamati sang nabi yaitu takhta. Sebab pewah-
yuan ilahi datang dengan didukung dan ditopang oleh wewenang
rajawi. Kita harus mengarahkan mata iman kepada Allah dan
Kristus sebagai Dia yang duduk di atas takhta. Hal pertama yang
didapati Yohanes dalam penglihatan-penglihatannya yaitu takh-
ta terdiri di sorga (Why. 4:2), yang menuntut penghormatan dan
ketundukan. Takhta itu yaitu takhta kemuliaan, takhta anuge-
rah, takhta kemenangan, takhta pemerintahan, takhta pengha-
kiman. TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga, sudah
menyiapkannya bagi Anak-Nya, yang telah dilantik-Nya sebagai
Raja di Sion, gunung yang kudus.
3. Di atas takhta ia melihat rupa manusia. Ini kabar baik untuk
anak-anak manusia, bahwa takhta di atas cakrawala diduduki
oleh Dia yang tidak malu menampakkan diri, bahkan di sana,
dalam rupa manusia. Daniel, dalam penglihatan, melihat kerajaan
dan kekuasaan diberikan kepada seorang seperti Anak Manusia,
yang oleh sebab itu telah diberikan kuasa untuk menghakimi,
sebab Ia yaitu Anak Manusia (Yoh. 5:27), yang tampil demikian
dalam penglihatan-penglihatan ini.
4. Sang nabi melihat-Nya sebagai seorang penguasa dan hakim di
atas takhta ini. Meskipun menampakkan diri dalam keadaan
sebagai manusia, Ia tampil dalam keadaan yang lebih daripada
kemuliaan manusia (ay. 27).
(1) Apakah Allah yaitu pelita yang bercahaya? Demikian juga
Anak Manusia. saat sang nabi melihat-Nya, ia melihat seper-
ti suasa mengkilat, yaitu api yang dikelilingi sinar. Sebab Allah
berdiam di dalam terang, dan berselimutkan terang seperti
kain. Betapa rendahnya sang Penebus membungkuk bagi kita
saat , demi mendatangkan keselamatan bagi kita, Ia mem-
biarkan kemuliaan-Nya memudar oleh selubung kemanusiaan-
Nya!
(2) Apakah Allah yaitu api yang menghanguskan? Demikian
jugalah Anak Manusia itu: dari pinggang-Nya, baik yang ke
atas maupun yang ke bawah, ada rupa seperti api. Api di atas
pinggang menudungi sekelilingnya, api itu bersinar ke dalam
dan terselubungi. Api yang di bawah pinggang lebih ke luar
dan terbuka, namun api itu juga dikelilingi sinar. Sebagian
orang memandang api yang di atas pinggang sebagai kodrat
ilahi Kristus, yang kemuliaan dan kebajikannya tersembunyi
dalam suasa mengkilat. Ini sesuatu yang tidak seorang pun
pernah atau dapat melihat. Api yang di bawah pinggang mere-
ka anggap sebagai kodrat manusia-Nya, yang kemuliaannya
pernah dilihat sebagian orang, kemuliaan sebagai Anak Tung-
gal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh. 1:14). Ia
memiliki sinar cahaya dari sisi-Nya dan di situlah terselubung
kekuatan-Nya (Hab. 3:4). Api yang di dalamnya Anak Manusia
menampakkan diri di sini mungkin dimaksudkan untuk me-
nandakan penghakiman-penghakiman yang siap dilaksanakan
atas Yehuda dan Yerusalem, yang datang dari api yang
dahsyat dari Yang Mahakuasa, yang akan menghanguskan
semua orang durhaka. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi
orang-orang berdosa yang sangat kurang ajar selain murka Dia
yang duduk di atas takhta, dan murka Anak Domba (Why.
6:16). Akan tiba saat Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di
dalam api yang bernyala-nyala (2Tes. 1:7-8). Oleh sebab itu,
sudah menjadi kepentingan kita untuk mencium kaki-Nya
dengan gemetar, supaya Ia jangan murka.
5. Takhta itu dikelilingi oleh pelangi (ay. 28). Demikian pula dalam
penglihatan Yohanes (Why. 4:3). Cahaya yang meliputinya terdiri
atas berbagai macam warna, seperti busur pelangi, yang terlihat
pada musim hujan di awan-awan. Sama seperti busur pelangi
memperlihatkan keagungan, dan tampak sangat agung, demikian
pula busur pelangi itu merupakan janji rahmat, dan tampak
sangat baik. Sebab busur pelangi yaitu peneguhan bagi janji
yang penuh rahmat yang telah dibuat Allah itu, bahwa Ia tidak
akan menenggelamkan dunia lagi, dan Ia sudah berkata, Aku
akan melihat busur itu dan mengingat perjanjian-Ku (Kej. 9:16). Ini
menyiratkan bahwa Dia yang duduk di atas takhta yaitu Pengan-
tara perjanjian, bahwa kekuasaan-Nya yaitu untuk melindungi
kita, bukan untuk menghancurkan kita, bahwa Ia menjadi
penengah di antara kita dan hukuman-hukuman yang pantas kita
dapatkan sebab dosa-dosa kita, dan bahwa semua janji Allah
yaitu “ya“ dan “Amin“ di dalam Kristus. sebab sekarang api
murka Allah akan tercurah atas Yerusalem, maka harus ada
batas-batas yang ditentukan untuknya, dan Ia tidak akan meng-
Kitab Yehezkiel 1:26-28
hancurkan kota itu sampai musnah sama sekali, sebab Ia akan
melihat busur itu dan mengingat perjanjian-Nya, seperti yang
dijanjikan-Nya dalam perkara seperti itu (Im. 26:42).
Terakhir, kita mendapati penutup dari penglihatan ini. Cermatilah,
1. Gagasan apa yang dimiliki sang nabi sendiri tentang penglihatan
itu: Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Di sini, seperti
di sepanjang penglihatan ini, ia bertindak hati-hati untuk men-
jauhkan segala pemikiran tentang Allah yang bersifat jasmani dan
kasar, yang dapat merendahkan kemurnian kodrat-Nya yang jauh
mengatasi dunia ini. Sang nabi tidak berkata, inilah TUHAN
(sebab Ia tidak terlihat), melainkan, begitulah kemuliaan TUHAN,
yang di dalamnya Ia berkenan menyatakan diri-Nya sebagai wujud
yang mulia. Namun, itu juga bukan kemuliaan TUHAN, melainkan
gambar kemuliaan itu, sesuatu yang secara samar-samar mirip
dengan kemuliaan itu. Tidak pula gambar itu cukup menyerupai
kemuliaan TUHAN, melainkan hanya gambar yang kelihatan dari
kemuliaan itu, bayangannya, dan bukan hakekat dari hal itu
sendiri (Ibr. 10:1).
2. Kesan-kesan apa yang tertanam dalam dirinya: Tatkala aku
melihatnya aku sembah sujud.
(1) Ia dibuat kewalahan olehnya. Kemilau yang menyilaukan itu
menaklukkannya dan membuatnya jatuh tersungkur. Sebab
siapakah yang tahan berdiri di hadapan TUHAN, Allah yang
kudus ini? Atau lebih tepatnya,
(2) Ia sujud sebab ia tersadar dengan penuh kerendahan hati,
bahwa ia tidak layak menerima kehormatan yang tengah
diberikan kepadanya, dan bahwa ada jarak yang tak terhingga
yang sekarang, lebih daripada sebelumnya, disadarinya ada di
antara dia dan Allah. Ia sujud sembah sebagai tanda ketakjub-
an dan penghormatan yang kudus kepada Allah, yang me-
nguasai dan memenuhi pikirannya. Perhatikanlah, semakin
Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada kita, semakin
merendah kita seharusnya di hadapan Dia. Sang nabi sembah
sujud untuk memuja keagungan Allah, untuk memohonkan
belas kasihan-Nya, dan untuk menjauhkan murka yang dilihat-
nya akan segera tumpah ruah ke atas anak-anak bangsanya.
3. Pelajaran-pelajaran apa yang didapatnya dari penglihatan itu.
Semua yang dilihatnya hanyalah untuk mempersiapkan dirinya
untuk apa yang akan ia dengar, sebab iman timbul dari pende-
ngaran. Oleh sebab itu ia lalu mendengar suara Dia yang berfir-
man. Sebab kita diajar oleh firman, dan bukan hanya oleh
lambang-lambang huruf. saat ia sembah sujud, siap menerima
firman, pada saat itulah ia mendengar suara Dia yang berfirman.
Sebab Allah senang mengajar orang yang rendah hati.
PASAL 2
pa yang dikatakan Yesus Tuhan kita kepada Rasul Paulus (Kis.
26:16) cocok juga untuk diterapkan pada Nabi Yehezkiel, yang
kepadanya Yesus yang sama sedang berbicara di sini, “Bangunlah
dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan
engkau menjadi pelayan.” Di sini kita mendapati penahbisan Yehez-
kiel pada jabatannya. Penglihatan itu dimaksudkan untuk membuat-
nya pantas memangku jabatan itu, bukan untuk menghibur rasa
ingin tahunya dengan berbagai macam pemikiran dan dugaan yang
tidak biasa, melainkan untuk membuatnya bekerja. Sekarang di sini,
I. Ia ditugaskan untuk pergi sebagai nabi kepada kaum Israel,
yang pada saat itu menjadi orang-orang buangan di Babel,
dan untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada mereka
dari waktu ke waktu (ay. 1-5).
II. Ia diperingatkan untuk tidak takut terhadap mereka (ay. 6).
III. Ia diajar tentang apa yang harus dikatakan kepada mereka,
dan kata-kata diberikan ke dalam mulutnya, yang diperlam-
bangkan dengan penglihatan sebuah gulungan kitab, yang
diperintahkan kepadanya untuk dimakan (ay. 7-10), dan
yang dalam pasal selanjutnya kita dapati benar-benar dima-
kannya.
Sang Nabi Ditugaskan untuk Menegur
(2:1-5)
1 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, sebab
Aku hendak berbicara dengan engkau.” 2 Sementara Ia berbicara dengan aku,
kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku
mendengar Dia yang berbicara dengan aku. 3 Firman-Nya kepadaku: “Hai
anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa
pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek
moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.
4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus
engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan
ALLAH. 5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak – sebab mereka yaitu
kaum pemberontak – mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di
tengah-tengah mereka.
Julukan yang di sini diberikan kepada Yehezkiel, seperti yang sering
diberikan sesudahnya, sangatlah jelas. Allah, saat berbicara ke-
padanya, menyebutnya anak manusia (ay. 1, 3), anak Adam, anak
bumi. Daniel pernah sekali disebut demikian (Dan. 8:17) dan hanya
sekali. Sapaan itu belum pernah digunakan kepada nabi-nabi lain
sejauh ini selain kepada Yehezkiel. Kita dapat memahaminya,
1. Sebagai julukan yang merendah dan mengecilkan. supaya Yehez-
kiel tidak menjadi tinggi hati dengan melimpahnya pewahyuan
kepadanya, ia diingatkan akan hal ini, bahwa tetap saja ia hanya
seorang anak manusia, makhluk yang hina, lemah, dan fana. Di
antara hal-hal lain yang diberitahukan kepadanya, penting bagi-
nya untuk tahu akan hal ini, bahwa ia yaitu seorang anak ma-
nusia, dan sebab itu sungguh menakjubkan bahwa Allah mau
merendah dan berkenan menyatakan diri-Nya seperti itu kepada-
nya. Sekarang ia tengah berada di antara makhluk-makhluk
hidup, para malaikat. Namun ia harus ingat bahwa ia sendiri
yaitu seorang manusia, makhluk yang akan mati. Apakah ma-
nusia, atau anak manusia, sehingga ia dilawat dengan cara seperti
itu, dijunjung martabatnya seperti itu? Meskipun Allah di sini
memiliki para abdi yang semarak, yaitu malaikat-malaikat
kudus di sekeliling takhta-Nya, yang siap pergi untuk melakukan
tugas-Nya, namun Ia melewati mereka semua, dan memancang-
kan pandangan-Nya pada Yehezkiel, seorang anak manusia, un-
tuk menjadi utusannya kepada kaum Israel. Sebab kita mem-
punyai harta ini dalam bejana tanah liat, dan pesan-pesan Allah
dikirimkan kepada kita oleh manusia seperti kita sendiri, yang
kengeriannya tidak akan membuat kita gentar dan tekanannya
terhadap kita tidak akan berat. Yehezkiel yaitu seorang imam,
namun jabatan imamat pada waktu itu jatuh sangat rendah dan
kehormatannya terhampar dalam debu. Oleh sebab itu, sudah
sepatutnya dia, dan semua teman sejawatnya, merendahkan diri,
dan bersimpuh, sebagai anak-anak manusia, orang-orang biasa.
Sekarang ia akan dipekerjakan sebagai nabi, duta Allah, dan
Kitab Yehezkiel 2:1-5
penguasa atas kerajaan-kerajaan (Yer. 1:10), sebuah jabatan yang
sangat terhormat, namun ia harus ingat bahwa ia yaitu seorang
anak manusia, dan kebaikan apa saja yang dia lakukan bukanlah
sebab kekuatannya sendiri, sebab dia yaitu anak manusia,
namun di dalam kekuatan anugerah ilahi, yang sebab itu harus
mendapat segala kemuliaan. Atau,
2. Kita dapat memandangnya sebagai sebutan yang terhormat dan
bermartabat. Sebab sebutan itu yaitu salah satu sebutan Mesias
dalam Perjanjian Lama (Dan. 7:13, aku terus melihat dalam peng-
lihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit
seorang seperti Anak manusia). Dari situlah Kristus meminjam
sebutan yang sering dipakai-Nya untuk menyebut diri-Nya sen-
diri, Anak Manusia. Para nabi yaitu perlambang dari Dia, sebab
mereka memiliki pintu masuk yang dekat kepada Allah dan
wewenang yang besar di antara manusia. Oleh sebab itu, sama
seperti raja Daud disebut orang yang diurapi Tuhan, atau Kristus,
demikian pula nabi Yehezkiel disebut anak manusia.
I. Yehezkiel di sini dibangunkan, dan disuruh berdiri, supaya ia
dapat menerima tugasnya (ay. 1-2). Ia dibangunkan,
1. Oleh perintah ilahi: Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri.
Sikap tubuhnya yang sujud tengkurap menunjukkan suatu
penghormatan yang sangat besar, namun sikap tubuhnya yang
berdiri menunjukkan kesiapan dan kelayakan yang sangat
besar untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemujaan kita ter-
hadap Allah tidak boleh menghalangi, namun lebih harus meng-
hidupkan dan menggairahkan, tindakan-tindakan kita untuk
Allah. Ia sembah sujud dalam ketakutan dan penghormatan
yang kudus kepada Allah, namun ia dengan cepat dibangunkan
lagi. Sebab barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Allah tidak bersuka dalam kesedihan hamba-hamba-Nya,
namun Dia yang sama yang telah merendahkan mereka, akan
membangkitkan mereka. Dia yang sama yang menjadi Roh
perbudakan, akan menjadi Roh yang menjadikan mereka seba-
gai anak. Berdirilah, Aku hendak berbicara dengan engkau.
Perhatikanlah, kita dapat menantikan Allah untuk berbicara
kepada kita jika kita berdiri siap untuk melakukan apa
yang diperintahkan-Nya kepada kita.
2. Oleh kuasa ilahi yang menyertai perintah itu (ay. 2). Allah
memintanya berdiri. namun , sebab ia sendiri tidak memiliki
kekuatan untuk memulihkan kakinya atau keberanian untuk
menghadapi penglihatan itu, kembalilah rohnya ke dalam dia
dan ditegakkannyalah dia (KJV: maka Roh memasukinya dan
menegakkan dia). Perhatikanlah, Allah dengan penuh rahmat
berkenan untuk mengerjakan dalam diri kita apa yang ditun-
tut-Nya dari kita dan membangunkan orang-orang yang dimin-
ta-Nya untuk bangun. Kita harus menggugah diri kita sendiri,
maka kemudian Allah akan memberi kekuatan ke dalam
diri kita. Kita harus tetap mengerjakan keselamatan kita, maka
kemudian Allah akan bekerja dalam diri kita. Yehezkiel meng-
amati bahwa Roh masuk ke dalam dirinya saat Kristus ber-
bicara kepadanya (KJV). Sebab Kristus menyampaikan Roh-Nya
melalui firman-Nya sebagai sarana yang biasa, dan membuat
firman itu berhasil oleh Roh-Nya. Roh itu menegakkan sang
nabi, untuk membangunkan dia dari kesedihan-kesedihannya,
sebab Dia yaitu Penghibur. Demikian pula, dalam keadaan
serupa, Daniel dikuatkan oleh sebuah sentuhan ilahi (Dan.
10:18), dan Yohanes dibangunkan oleh tangan kanan Kristus
yang diletakkan di atasnya (Why. 1:17). Roh itu menegakkan
dia, membuat dia bersedia dan tergerak untuk melakukan
seperti yang diminta darinya, dan kemudian ia mendengar Dia
yang berbicara kepadanya. Ia sudah mendengar suara itu
sebelumnya (1:28), namun sekarang ia mendengarnya dengan
lebih terang dan jelas, mendengarnya dan tunduk padanya.
Roh menegakkan kaki kita dengan mencondongkan kehendak
kita pada kewajiban kita, dan dengan demikian mencondong-
kan pengertian untuk menerima pengetahuan tentangnya.
II. Yehezkiel di sini diutus, dan disuruh pergi, dengan sebuah pesan
kepada orang Israel (ay. 3): Aku mengutus engkau kepada orang
Israel. Allah selama berabad-abad telah mengutus kepada mereka
hamba-hamba-Nya, para nabi, berulang-ulang mengirim pesan
melalui utusan-utusan-Nya, namun tidak ada gunanya. Mereka
sekarang dibawa ke dalam pembuangan sebab mengolok-olok
para utusan Allah, namun walaupun begitu di sana pun Allah
mengutus nabi ini ke tengah-tengah mereka, untuk menguji
apakah telinga mereka terbuka untuk menerima disiplin, sebab
Kitab Yehezkiel 2:1-5
sekarang mereka tertangkap dalam tali kesengsaraan. Sama se-
perti penopang-penopang hidup, demikian pula sarana-sarana
anugerah, terus diberikan kepada kita sesudah beribu-ribu kali
ditolak. Sekarang amatilah,
1. Pemberontakan rakyat yang kepadanya duta ini diutus. Ia
diutus untuk membuat mereka kembali setia, untuk mem-
bawa orang Israel kembali kepada Tuhan Allah mereka. Biar-
lah sang nabi tahu bahwa ada alasan untuk menjalankan
tugas ini, sebab mereka yaitu bangsa pemberontak (ay. 3),
kaum pemberontak (ay. 5). Mereka disebut orang Israel. Mereka
mempertahankan nama leluhur mereka yang saleh, namun
mereka sudah merosot secara menyedihkan, mereka sudah
menjadi Goim – bangsa-bangsa, kata yang biasa dipakai untuk
menyebut bangsa-bangsa bukan Yahudi. Orang Israel telah
menjadi seperti orang Etiopia (Am. 9:7), sebab mereka pem-
berontak. Dan pemberontak-pemberontak di negeri sendiri
lebih menyulut murka seorang penguasa daripada musuh-
musuh di luar. Penyembahan berhala mereka dan ibadah-
ibadah palsu mereka yaitu dosa-dosa yang, lebih daripada
apa pun juga, menandai mereka sebagai bangsa pemberontak.
Sebab dengan begitu mereka meninggikan pemimpin lain
melawan Penguasa mereka yang sah, serta memberi peng-
hormatan dan membayar upeti kepada perampas, yang meru-
pakan pemberontakan setinggi-tingginya.
(1) Mereka selama ini sudah menjadi angkatan pemberontak
dan tetap bersikeras dalam pemberontakan mereka: Mere-
ka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap
Aku. Perhatikanlah, tidak selalu benar orang-orang yang
mengaku bahwa mereka masih berpegang pada kebiasaan
turun-temurun dan bahwa nenek moyang ada pada pihak
mereka, sebab ada kesalahan-kesalahan dan kebobrokan-
kebobrokan yang sudah berlangsung lama sejak dahulu.
Dan sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk hidup
tidak benar sebab nenek-moyang kita juga dulu hidup
demikian, sebab itu justru akan lebih memberatkan kita
lagi, sebab itu berarti kita membenarkan dosa orang-orang
yang sudah mendahului kita. Mereka terus memberontak
bahkan sampai hari ini juga. Meskipun berbagai sarana dan
cara sudah dipakai untuk membawa mereka kembali, sam-
pai hari ini, saat mereka ditindih oleh teguran-teguran
ilahi atas pemberontakan mereka, mereka terus saja mem-
berontak. Banyak dari mereka, seperti Ahas, bahkan dalam
keadaan yang terdesak, semakin berubah tidak setia. Mere-
ka tidak menjadi lebih baik oleh semua perubahan yang
telah menimpa mereka, namun tetap saja tidak berubah.
(2) Mereka sekarang sudah mengeras dalam pemberontakan
mereka. Mereka yaitu keturunan yang keras kepala, ber-
muka tembok, dan tidak bisa memerah padam sebab
malu. Hati nurani mereka mati, mereka ingin menuruti
keinginan sendiri, dan tidak bisa dibengkokkan, tidak bisa
membungkuk, tidak malu atau takut untuk berbuat dosa.
Mereka tidak mau digerakkan oleh kesadaran akan kehor-
matan atau kewajiban. Kita ingin berharap bahwa ini bu-
kanlah tabiat semua orang, melainkan tabiat banyak orang,
dan mereka mungkin yaitu orang-orang terkemuka.
Amatilah,
[1] Allah mengetahui hal ini tentang mereka, betapa mere-
ka tidak dapat berubah, betapa mereka tidak dapat di-
perbaiki. Perhatikanlah, Allah mengenal dengan sem-
purna tabiat sebenarnya dari setiap orang, apa pun itu
kepura-puraan dan pengakuan mereka.
[2] Allah memberitahukan hal ini kepada sang nabi, supaya
ia mengetahui dengan lebih baik bagaimana harus
menghadapi dan menangani mereka. Ia harus menegur
orang-orang seperti itu dengan tajam, dengan menusuk,
harus memperlakukan mereka secara terang-terangan,
meskipun mereka menyebutnya berlaku kasar. Allah
memberitahukan hal ini kepadanya, supaya ia tidak
terkejut atau tersandung jika ia mendapati bahwa khot-
bahnya tidak meninggalkan kesan apa-apa pada diri
mereka, meskipun ia mungkin tidak mengira demikian.
2. Kekuasaan Raja yang oleh-Nya duta ini diutus.
(1) Ia memiliki wewenang untuk memerintahkan orang
yang diutus-Nya: “Aku mengutus engkau kepada mereka,
dan sebab itu harus kau katakan begini dan begini kepada
mereka” (ay. 4). Perhatikanlah, merupakan hak istimewa
Kitab Yehezkiel 2:1-5
Kristus untuk mengutus para nabi dan hamba Tuhan, dan
untuk memerintahkan pekerjaan kepada mereka. Rasul
Paulus bersyukur kepada Kristus Yesus yang mempercaya-
kan pelayanan kepadanya (1Tim. 1:12). Sebab, sama seper-
ti Kristus diutus dari Bapa, demikian pula hamba-hamba
Tuhan diutus oleh Kristus. Dan sebagaimana Ia menerima
Roh dengan tiada terhingga, demikianlah Ia memberi
Roh dengan tidak terbatas, dengan berkata, terimalah Roh
Kudus. Mereka keras kepala dan memberontak, namun
demikian Aku mengutus engkau kepada mereka. Perhati-
kanlah, Kristus memberi sarana-sarana anugerah ke-
pada banyak orang yang diketahui-Nya tidak akan meman-
faatkan dengan baik sarana-sarana itu, membayar mahal
untuk memberi ke tangan orang-orang bodoh untuk
mendapat hikmat, padahal mereka bukan saja tidak mem-
punyai hati untuk itu, namun juga hati mereka sudah
berbalik melawannya. Demikianlah Ia akan mengagungkan
anugerah-Nya sendiri, membenarkan penghakiman-Nya
sendiri, membuat mereka tidak bisa berdalih, dan mem-
buat hukuman mereka semakin tak tertahankan.
(2) Sang duta memiliki wewenang dari Kristus untuk memerin-
tah orang-orang yang kepada mereka Kristus mengutus-
nya: Harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman
Tuhan ALLAH. Semua yang dikatakan duta itu kepada
mereka harus diucapkan dalam nama Allah, diteguhkan
oleh wewenang-Nya, dan disampaikan sebagai berasal dari
Dia. Kristus menyampaikan ajaran-ajaran-Nya sebagai Anak
– Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, sedangkan para
nabi sebagai hamba-hamba – Beginilah firman Tuhan ALLAH,
Tuan kami dan Tuan kalian. Perhatikanlah, tulisan-tulisan
para nabi yaitu firman Allah, dan harus dipandang demi-
kian oleh kita semua.
(3) Kristus memiliki wewenang untuk mengadakan perhi-
tungan dengan orang-orang yang kepada mereka Ia meng-
utus duta-duta-Nya. Baik mereka mendengarkan atau
tidak, baik mereka mau memperhatikan firman itu atau
berpaling darinya, mereka akan mengetahui bahwa seorang
nabi ada di tengah-tengah mereka, akan mengetahuinya
dengan mengalami sendiri.
[1] Jika mereka mendengar dan taat, maka mereka akan
tahu melalui pengalaman yang menghibur, bahwa fir-
man yang memberi mereka kebaikan dibawa kepada
mereka oleh orang yang mendapat perintah penugasan
dari Allah, dan yang disertai oleh kuasa ilahi dalam
menjalankannya. Demikianlah orang-orang yang diper-
tobatkan oleh pemberitaan Rasul Paulus dikatakan se-
bagai meterai dari kerasulannya (1Kor. 9:2). jika hati
manusia dibuat menyala-nyala saat mendengar fir-
man, dan kehendak mereka ditundukkan kepadanya,
maka mereka tahu dan bersaksi bagi diri mereka sendiri
bahwa itu bukanlah perkataan manusia, melainkan
firman Allah.
[2] Jika mereka tidak mau mendengar, jika mereka menutup
telinga bagi firman itu (seperti yang ditakutkan demikian,
sebab mereka yaitu kaum pemberontak), maka mereka
akan tahu bahwa orang yang telah mereka remehkan
yaitu benar-benar seorang nabi, melalui teguran-
teguran yang berasal dari hati nurani mereka sendiri
dan penghakiman-penghakiman Allah yang adil atas
mereka sebab telah menolak dia. Mereka akan
mengetahuinya dan menderita rugi sendiri, mengetahui-
nya dan menjadi kebingungan sendiri, dan mengetahui-
nya dari pengalaman yang menyedihkan, betapa berba-
haya dan merusaknya jika meremehkan utusan-utusan
Allah. Mereka akan tahu saat ancaman-ancaman itu
digenapi bahwa sang nabi yang mencela mereka me-
mang diutus oleh Allah. Demikianlah firman akan sam-
pai kepada orang banyak (Za. 1:6). Perhatikanlah, per-
tama, orang-orang yang kepada mereka firman Allah
dikirimkan sedang diuji apakah mereka mau mende-
ngarkan atau tidak, dan sesuai dengan itulah hukuman
mereka nanti. Kedua, apakah kita akan dibangun oleh
firman atau tidak, tetap saja pasti bahwa Allah akan
dimuliakan dan firman-Nya akan diagungkan dan di-
hormati. Apakah firman itu menjadi bau kehidupan
yang menghidupkan atau bau kematian yang memati-
kan, kedua-duanya akan menunjukkan bahwa firman
itu berasal dari Allah.
Kitab Yehezkiel 2:6-10
Sang Nabi Diperingatkan untuk Tidak Takut;
Perintah Diberikan kepada Sang Nabi
(2:6-10)
6 Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun men-
dengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri
dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-
kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka yaitu
kaum pemberontak. 7 Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mere-
ka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka yaitu pem-
berontak. 8 Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan
kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Nganga-
kanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.” 9 Aku
melihat, sesungguhnya ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh,
dipegang-Nya sebuah gulungan kitab, 10 lalu dibentangkan-Nya di hadapan-
ku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-
nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.
Sang nabi, sesudah menerima tugasnya, di sini menerima perintah
bersamanya. Untuk tugas yang terhormatlah sang nabi diangkat,
namun bersamaan dengan itu pula, tugas itu yaitu tugas untuk
melayani dan bekerja, dan di sini ia dituntut,
I. supaya ia berani. Dalam menjalankan kepercayaan ini, ia harus
bertindak berani dan tak gentar, dan harus bertekad kuat, tidak
mundur dari pekerjaannya atau meneruskan pekerjaannya de-
ngan berat sebab berbagai kesulitan dan perlawanan yang
kemungkinan akan dijumpainya: Anak manusia, janganlah takut
melihat mereka (ay. 6). Perhatikanlah, orang yang mau berbuat
apa saja dengan tujuan untuk melayani Allah tidak boleh takut
menghadapi manusia. Sebab takut terhadap manusia akan mem-
bawa perangkap, yang akan begitu menjerat kita dalam mengerja-
kan pekerjaan Allah.
1. Allah memberi tahu sang nabi bagaimana tabiat orang-orang
yang kepada mereka Ia mengutusnya, seperti sebelumnya (ay.
3-4). Mereka yaitu onak dan duri, yang menggores, menyayat,
dan menyusahkan orang, ke mana saja mereka melangkah.
Mereka terus-menerus menggoda nabi-nabi Allah dan menjerat
mereka dengan suatu pertanyaan (Mat. 22:15). Mereka yaitu
duri yang menusuk dan onak yang memedihkan. Orang yang
terbaik di antara mereka yaitu seperti tumbuhan duri, dan
yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri (Mi. 7:4).
Onak dan duri yaitu buah dari dosa dan kutukan, dan ada
pada saat yang bersamaan saat terjadi permusuhan antara
keturunan perempuan dan keturunan ular. Perhatikanlah,
orang-orang fasik, terutama para penganiaya nabi-nabi dan
umat Allah, yaitu seperti onak dan duri, yang merusak
tanah, menghimpit benih yang baik, menghambat pekerjaan di
ladang Allah, dan menyusahkan para pekerja-Nya. namun onak
dan duri sudah dekat pada kutuk dan akan berakhir dengan
pembakaran. namun adakalanya Allah memanfaatkan kedua-
nya untuk menghajar dan mengajar umat-Nya, seperti Gideon
menghajar orang-orang Sukot dengan onak dan duri (Hak.
8:16). Namun ini bukanlah yang terburuk dari tabiat mereka:
mereka yaitu kalajengking, berbisa dan ganas. Sengatan
kalajengking seribu kali lebih menyakitkan daripada goresan
duri. Para penganiaya yaitu keturunan ular beludak, ketu-
runan si ular, dan bibir mereka mengandung bisa. Mereka
lebih cerdik dari segala binatang di darat. Dan, yang membuat
keadaan sang nabi lebih pedih lagi, ia tinggal di antara kala-
jengking-kalajengking ini. Mereka terus-menerus mengelilingi
dia, sehingga ia tidak bisa aman atau tenang di rumahnya
sendiri. Orang-orang jahat ini yaitu tetangga-tetangganya
yang jahat, yang dengan demikian memiliki banyak kesem-
patan, dan tidak mau kehilangan satu pun darinya, untuk ber-
buat jahat kepadanya. Allah memberitahukan hal ini kepada
sang nabi, seperti Kristus memberitahukan kepada malaikat
dari salah satu jemaat (Why. 2:13). Aku tahu segala pekerjaan-
mu, dan di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta
Iblis. Yehezkiel, dalam penglihatan, sudah bercakap-cakap
dengan para malaikat, namun saat ia turun dari gunung ini,
ia mendapati bahwa ia tinggal dekat kalajengking.
2. Allah memberi tahu dia bagaimana mereka akan bertindak
terhadapnya, bahwa mereka akan berbuat semampu mereka
untuk menakut-nakuti dia dengan muka mereka dan kata-kata
mereka. Mereka akan menggertak dia dan mengancamnya,
akan memandangnya dengan penuh cemooh dan dendam, dan
berbuat semampu mereka untuk menjatuhkan dia dan mem-
buatnya kehilangan muka, supaya mereka dapat menghalau-
nya sebagai nabi. Atau setidak-tidaknya supaya ia tidak mem-
beri tahu mereka tentang kesalahan-kesalahan mereka dan
mengancam mereka dengan penghakiman-penghakiman Allah.
Atau, jika mereka tidak berhasil dalam hal ini, mereka akan
Kitab Yehezkiel 2:6-10
menyusahkan dan membingungkan dia, dan mengganggu
ketenangan pikirannya. Mereka sendiri sekarang sedang dalam
perhambaan, dilucuti dari semua kekuatan, sehingga mereka
tidak punya cara lain untuk menganiaya sang nabi selain
dengan muka mereka dan kata-kata mereka. Dan demikianlah
mereka menganiaya dia. Lihatlah, engkau telah mengatakan
dan melakukan kejahatan dengan sedapat-dapatnya (Yer. 3:5,
KJV). Seandainya mereka memiliki kekuatan yang lebih
besar, mereka pasti akan melakukan kejahatan yang lebih
banyak. Mereka sekarang sedang berada dalam pembuangan,
menderita sebab pemberontakan mereka, dan khususnya
sebab memperlakukan nabi-nabi Allah dengan tidak benar.
Namun demikian, mereka tetap jahat seperti sebelumnya.
Sekalipun engkau menumbuk orang bodoh dalam lesung,
kebodohannya tidak akan lenyap dari padanya. Tidak ada
pemeliharaan-pemeliharaan ilahi yang dengan sendirinya akan
merendahkan dan memperbaharui orang, kecuali anugerah
Allah turut bekerja dengannya. namun , betapapun
jahatnya mereka, Yehezkiel tidak boleh takut atau gentar
terhadap mereka. Ia tidak boleh terhalang dari pekerjaannya,
sekecil apa pun itu, juga tidak boleh berkecil hati atau patah
semangat dalam mengerjakannya sebab semua ancaman
mereka, namun harus meneruskannya dengan tekad dan hati
yang gembira, dengan sepenuhnya yakin bahwa ia akan
selamat di bawah perlindungan ilahi.
II. Ia dituntut supaya setia (ay. 7).
1. Ia harus setia kepada Kristus yang mengutusnya. Sampaikan-
lah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka. Perhatikanlah,
sama seperti merupakan kehormatan bagi para nabi bahwa
mereka dipercayai untuk menyampaikan perkataan-perkataan
Allah, demikian pula merupakan kewajiban mereka untuk
melekat erat-erat dengan perkataan-perkataan-Nya, dan tidak
mengatakan hal lain selain apa yang sesuai dengan perkataan-
perkataan Allah. Hamba-hamba Tuhan harus selalu berbicara
menurut aturan itu.
2. Ia harus setia terhadap jiwa orang-orang yang kepada mereka
ia diutus: Baik mereka mau mendengarkan atau tidak, ia harus
menyampaikan pesannya kepada mereka sebagaimana ia
menerimanya. Ia harus membuat mereka mematuhi perkataan
itu, dan tidak berusaha menyesuaikan perkataan itu demi
menyenangkan hati mereka. “Memang benar bahwa mereka
amat memberontak, mereka yaitu pemberontakan itu sendiri.
namun , bagaimanapun juga, sampaikanlah perkataan-perkata-
an-Ku kepada mereka, entah itu menyenangkan atau tidak.”
Perhatikanlah, sekalipun orang tetap tidak menurut dan tidak
membuahkan hasil sesudah mendengar firman, itu bukanlah
alasan yang baik mengapa hamba-hamba Tuhan harus ber-
henti berkhotbah kepada mereka. Kita juga tidak boleh meno-
lak kesempatan yang dengannya kita dapat berbuat baik, mes-
kipun kita tahu betul bahwa tidak ada kebaikan yang akan
terwujud.
III. Ia dituntut supaya menjalankan perintah-perintah yang diberikan
kepadanya.
1. Di sini ada maksud umum tentang perintah-perintah yang di-
berikan kepadanya, dalam isi kitab yang dibentangkan di ha-
dapannya (ay. 10).
(1) Perintah-perintahnya sangat banyak, sebab gulungan kitab
itu ditulisi timbal balik, di dalam dan di luar gulungan ki-
tab. Itu berupa seperti selembar kertas yang penuh dengan
tulisan di keempat sudutnya. Satu sisi memuat dosa-dosa
mereka, dan sisi yang lain memuat penghakiman-pengha-
kiman Allah yang akan menimpa mereka sebab dosa-dosa
mereka. Perhatikanlah, Allah memiliki banyak hal untuk
dikatakan kepada umat-Nya saat mereka sudah merosot
dan menjadi pemberontak.
(2) Perintah-perintahnya memilukan. Ia diutus untuk suatu
tugas yang menyedihkan. Isi yang termuat dalam kitab itu
yaitu nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintih-
an. Gagasan dari pesannya diambil dari kesan yang akan
ditimbulkannya pada pikiran orang-orang yang mendengar-
kannya dengan penuh perhatian. Isi pesan itu akan mem-
buat mereka menangis dan berseru, celaka! dan, sungguh
malang! Baik penyingkapan dosa maupun pernyataan mur-
ka akan menjadi suatu hal yang diratapi. Apa lagi yang
lebih memilukan, lebih mendukakan, dan lebih celaka dari-
Kitab Yehezkiel 2:6-10
pada melihat bangsa yang kudus dan bahagia tenggelam ke
dalam dosa dan kesengsaraan seperti orang-orang Yahudi
pada saat itu, sebagaimana yang tampak dari nubuat
dalam kitab ini? Yehezkiel menggemakan ratapan-ratapan
Yeremia. Perhatikanlah, meskipun Allah kaya dengan rah-
mat, namun para pendosa yang tidak mau bertobat akan
mendapati bahwa bahkan di antara perkataan-perkataan-
Nya ada nyanyian-nyanyian ratapan dan rintihan.
2. Di sini ada perintah yang jelas yang diberikan kepada sang
nabi untuk menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya,
baik dengan menerima pesannya maupun dengan menyampai-
kan pesan itu. Ia akan menerimanya sekarang, dan di sini ia
diperintahkan,
(1) Untuk memberi perhatian kepada pesan itu dengan tekun:
anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu
(ay. 8). Perhatikanlah, orang-orang yang menyampaikan
pesan dari Allah kepada orang lain harus memastikan bah-
wa mereka sendiri mendengar dari Allah dan patuh pada
suara-Nya: “Janganlah memberontak. Janganlah menolak
untuk menjalankan tugas ini, atau untuk menyampaikan-
nya. Janganlah kabur, seperti Yunus, sebab takut berbuat
sesuatu yang bertentangan dengan keinginan orang-orang
sebangsamu. Mereka yaitu kaum pemberontak, dan di
antara mereka engkau hidup. namun janganlah engkau
seperti mereka, janganlah mengikuti mereka dalam segala
sesuatu yang jahat.” Jika hamba-hamba Allah, yang peker-
jaannya menegur, mendiamkan dosa dan memanjakan
orang-orang berdosa, dengan tidak menunjukkan kepada
mereka kefasikan mereka atau tidak menunjukkan kepada
mereka akibat-akibat yang mematikan darinya, sebab
takut membuat mereka tidak senang dan sakit hati, maka
dengan begitu hamba-hamba Allah membuat diri mereka
sendiri ikut ambil bagian dalam kesalahan mereka dan
menjadi pemberontak seperti mereka. Jika rakyat tidak
mau melakukan kewajiban mereka dengan memperbaharui
diri, hendaklah hamba-hamba Tuhan melakukan kewajib-
an mereka dengan menegur, maka mereka akan mendapat
penghiburan darinya saat merenungkannya, entah itu
berhasil atau tidak, seperti yang dialami Nabi Yesaya (Yes.
50:5). Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku
tidak memberontak. Bahkan orang-orang yang paling baik
sekalipun, saat nasib mereka melemparkan mereka di
waktu-waktu dan tempat-tempat yang jahat, perlu diperi-
ngatkan akan kejahatan-kejahatan yang paling buruk.
(2) Sang nabi diperintahkan untuk mencernanya dalam pikir-
annya sendiri dengan mengalami kebaikan dan kuasanya:
“Jangan hanya mendengar apa yang Kufirmankan kepada-
mu, namun juga ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa
yang Kuberikan kepadamu. Bersiaplah untuk memakan-
nya, dan makanlah dengan rela, dengan keinginan.” Semua
anak Allah akan puas dengan keputusan Bapa mereka di
sorga, dan memakan apa saja yang diberikan-Nya kepada
mereka. Apa yang diulurkan tangan Allah kepada Yehezkiel
yaitu sebuah gulungan kitab, atau jilid kitab, sebuah kitab
atau gulungan kertas, atau perkamen yang sepenuhnya
berisi tulisan dan digulung. Pewahyuan ilahi datang kepada
kita dari tangan Kristus. Ia memberi nya kepada para
nabi (Why. 1:1). saat kita melihat gulungan kitab itu, kita
harus mengarahkan pandangan kepada tangan yang
olehnya gulungan kitab itu disampaikan kepada kita. Dia
yang membawa gulungan kitab itu kepada sang nabi mem-
bentangkannya di hadapannya, supaya ia tidak saja mene-
lannya dengan iman yang bulat, namun juga dapat mema-
hami isinya sepenuhnya, dan kemudian menerimanya dan
menjadikannya sebagai miliknya sendiri. Janganlah mem-
berontak, firman Kristus, namun makanlah apa yang Kuberi-
kan kepadamu. Jika kita tidak menerima apa yang ditentu-
kan Kristus sebagai bagian kita dalam ketetapan-ketetapan
dan pemeliharaan-pemeliharaan-Nya, jika kita tidak tun-
duk pada firman dan tongkat-Nya, dan tidak mendamaikan
diri kita dengan firman dan tongkat-Nya itu, maka kita
akan dianggap sebagai pemberontak.
PASAL 3
alam pasal ini diceritakan mengenai persiapan selanjutnya yang
dilakukan sang nabi untuk tugas yang merupakan panggilan
baginya dari Allah.
I. Ia memakan gulungan kitab yang diberikan kepadanya pada
akhir pasal sebelumnya (ay. 1-3).
II. Arahan dan dorongan lebih lanjut yang diberikan kepadanya
untuk tujuan yang sama dengan tujuan yang diberikan di
pasal sebelumnya (ay. 4-11).
III. Dorongan sangat kuat yang dialaminya, yang membawanya
kepada orang-orang yang akan menjadi pendengarnya (ay.
12-15).
IV. Uraian lebih lanjut mengenai tugas dan pekerjaannya sebagai
seorang nabi, dengan memakai seorang penjaga sebagai gam-
baran (ay. 16-21).
V. Pengekangan dan pemulihan kebebasan bicara sang nabi,
seturut dengan kehendak Allah (ay. 22-27).
Nabi Memakan Gulungan Kitab; Petunjuk Diberikan kepada
Sang Nabi; Keengganan Yehezkiel untuk Menjadi Penegur
(3:1-15)
1 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau
lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada
kaum Israel.” 2 Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab
itu kumakan. 3 Lalu firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, makanlah
gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu.
Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.
4 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, mari, pergilah dan temuilah
kaum Israel dan sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka.
5 Sebab engkau tidak diutus kepada suatu bangsa yang berbahasa asing dan
yang berat lidah, namun kepada kaum Israel; 6 bukan kepada banyak bangsa-
bangsa yang berbahasa asing dan yang berat lidah, yang engkau tidak meng-
erti bahasanya. Sekiranya aku mengutus engkau kepada bangsa yang demi-
kian, mereka akan mendengarkan engkau. 7 namun kaum Israel tidak
mau mendengarkan engkau, sebab mereka tidak mau mendengarkan Aku,
sebab seluruh kaum Israel berkepala batu dan bertegar hati. 8 Lihat, Aku
meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala batu dan membajakan
semangatmu melawan ketegaran hati mereka. 9 Seperti batu intan, yang lebih
keras dari pada batu Kuteguhkan hatimu; janganlah takut kepada mereka dan
janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka yaitu kaum pemberontak.”
10 Selanjutnya firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, perhatikanlah segala
perkataan-Ku yang akan Kufirmankan kepadamu dan berikanlah telingamu
kepadanya. 11 Mari, pergilah dan temuilah orang-orang buangan, teman se-
bangsamu, berbicaralah kepada mereka dan katakanlah: Beginilah firman
Tuhan ALLAH; baik mereka mau mendengarkan atau tidak.” 12 Maka Roh itu
mengangkat aku, dan aku mendengar di belakangku suatu suara gemuruh
yang besar, tatkala kemuliaan Allah naik ke atas dari tempatnya, 13 yakni
suara dari sayap-sayap makhluk-makhluk hidup yang menggesek satu sama
lain, dan di samping itu suara gemertak dari roda-roda, suatu suara
gemuruh yang besar. 14 Dan Roh itu mengangkat dan membawa aku, dan
aku pergi dengan hati panas dan dengan perasaan pahit, sebab kekuasaan
TUHAN memaksa aku dengan sangat. 15 Demikianlah aku datang kepada
orang-orang buangan yang tinggal di tepi sungai Kebar di Tel-Abib dan di
sana aku duduk tertegun di tengah-tengah mereka selama tujuh hari.
Cocoklah bila ayat-ayat ini dihubungkan dengan pasal sebelumnya
oleh beberapa penerjemah, sebab memang ayat-ayat tersebut ber-
sesuaian dengan pasal tersebut dan merupakan kelanjutan dari
penglihatan yang sama. Para nabi mendapat Firman dari Allah agar
mereka meneruskannya kepada umat Allah. Para nabi memperleng-
kapi dirinya sendiri agar mereka dapat memperlengkapi umat Allah
dengan pengenalan akan pikiran dan kehendak Allah. Nah, di sini
sang nabi diajar,
I. Bagaimana ia sendiri harus menerima penyataan ilahi (ay. 1).
Kristus (yang ia lihat di atas takhta [1:26]) berkata kepadanya,
“Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab ini, terimalah
pewahyuan ini dalam akal budimu, camkanlah, camkanlah arti-
nya, pahamilah setepat-tepatnya, terimalah dalam hatimu, resapi-
lah, dan tergugahlah olehnya. Tanamkan dalam-dalam pewahyu-
an itu dalam pikiranmu, mamahlah dan kunyahlah hasil mamah-
anmu. Telanlah seluruhnya, dan jangan segan-segan. Bahkan,
nikmatilah pewahyuan itu seperti engkau menikmati makanan,
dan biarlah jiwamu mendapat gizi dan dikuatkan olehnya. Biarlah
pewahyuan itu menjadi makanan dan minuman bagimu, seperti
makananmu sehari-hari. Biarlah engkau dikenyangkan olehnya,
seperti engkau dikenyangkan oleh makanan yang kau santap.”
Kitab Yehezkiel 3:1-15
Demikianlah, para pelayan Tuhan, dalam mendalami Firman dan
merenungkannya, harus memahami Firman Tuhan yang akan
diberitakannya kepada orang lain. jika aku bertemu dengan
perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya (Yer. 15:16).
Mereka harus mengenal dengan baik dan benar-benar tergugah
dengan perkara-perkara dari Allah, supaya mereka dapat mem-
bicarakan perkara-perkara itu dengan jelas dan dekat, penuh
dengan cahaya dan kehangatan ilahi. Sekarang amatilah,
1. Bagaimana perintah ini ditanamkan dalam diri sang nabi.
Dalam pasal sebelumnya dikatakan, makanlah apa yang Ku-
berikan kepadamu, dan di sini (ay. 1), “Makanlah apa yang
engkau lihat di sini, yang disajikan kepadamu oleh tangan
Kristus.” Perhatikanlah, apa pun yang kita dapati sebagai
Firman Tuhan, apa pun yang diberikan kepada kita oleh Dia
yang yaitu Firman Tuhan, harus kita terima tanpa berban-
tah. Apa pun yang disajikan di hadapan kita dalam Kitab Suci,
harus kita makan. Sekali lagi dikatakan, (ay. 3) “Makanlah
gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perut-
mu dengan itu. Jangan memakannya dan memuntahkannya
lagi, seperti makanan yang memualkan, namun makanlah dan
simpanlah, seperti makanan yang mengenyangkan dan me-
muaskan bagi perutmu. Nikmatilah penglihatan ini sampai
engkau tumpat dengan kata-kata, seperti Elihu (Ayb. 32:18).
Biarlah Firman itu mendapat tempat dalam dirimu, di tempat
yang terdalam.” Kita harus berusaha dengan segenap hati kita
agar hati kita dengan sepatutnya menerima dan menanggapi
Firman Tuhan, agar segenap indra kemampuan kita melaku-
kan tugasnya untuk mencerna Firman Tuhan, sehingga Firman
itu dapat berubah in succum et sanguinem – menjadi darah dan
roh. Kita harus mengosongkan diri kita dari hal-hal duniawi
agar kita bisa mengisi perut kita dengan gulungan kitab ini.
2. Bagaimana perintah ini dijelaskan (ay. 10): “Segala perkataan-
Ku yang akan Kufirmankan kepadamu, untuk disampaikan
kepada bangsa ini, perhatikanlah, dan berikanlah telingamu
kepadanya, terimalah Firman itu dengan rasa kasih kepada-
nya.” Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini (Luk.
9:44). Kristus meminta agar perhatian sang nabi bukan hanya
pada perkataan-Nya saat ini, namun juga pada semua yang
akan Ia katakan di segala waktu sesudah ini: Perhatikanlah
semuanya itu. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalam-
nya (1Tim. 4:15).
3. Bagaimana perintah ini ditaati dalam penglihatan. Ia membuka
mulutnya dan Kristus memberi gulungan kitab itu dimakan-
nya (ay. 2). Jika kita sungguh-sungguh mau menerima Firman
Tuhan di dalam hati kita, Kristus, melalui Roh-Nya, akan
membawa Firman itu masuk ke dalam hati kita dan membuat-
nya diam dengan segala kekayaannya di antara kita. Jika Ia
yang membuka gulungan kitab itu, dan Roh-Nya, yang yaitu
Roh wahyu, membentangkannya di hadapan kita, tidak sekali-
gus membuka pengertian kita, dan jika Roh-Nya, yang yaitu
Roh hikmat, tidak memberi kita pemahaman dan memberi
gulungan kitab itu kita makan, maka selamanya kita tidak
akan pernah mengerti Firman itu. Wajar jika sang nabi kha-
watir gulungan kitab itu akan menjadi suapan yang tidak
sedap dan hidangan yang mengecewakan sebagai makanan,
namun ternyata gulungan itu dalam mulutnya manis seperti
madu. Perhatikanlah, jika kita segera taat pada perintah
tersulit sekalipun, kita akan menemukan penghiburan saat
kita merenungkannya, penghiburan yang akan sangat meno-
long kita dalam semua kesulitan yang kita temui saat kita
menyelesaikan tugas kita. Meskipun gulungan kitab itu penuh
ditulisi dengan nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan
rintihan, gulungan kitab itu manis seperti madu bagi sang
nabi. Perhatikanlah, jiwa yang manis dapat menerima kebe-
naran-kebenaran yang berasal dari Tuhan dengan penuh
sukacita, sekalipun semua kebenaran itu justru sangat mena-
kutkan bagi orang jahat. Kita melihat bahwa Rasul Yohanes
dibawa ke dalam sebagian pewahyuannya melalui tanda
seperti ini (Why. 10:9-10). Ia mengambil kitab itu dari tangan
malaikat itu, dan memakannya dan, seperti Yehezkiel, di dalam
mulutnya kitab itu terasa manis seperti madu, namun pahit di
perutnya. Oleh sebab itu, kita dapat memahami bahwa demi-
kian pula kejadiannya di sini, sebab (ay. 14) sang nabi pergi
dengan perasaan pahit.
II. Bagaimana ia harus menyampaikan pewahyuan ilahi kepada
orang lain, yaitu pewahyuan yang diterimanya sendiri (ay. 1): Ma-
kanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum
Kitab Yehezkiel 3:1-15
Israel. Ia tidak boleh memberitakan perkara-perkara Tuhan ke-
pada orang lain sampai ia sendiri betul-betul memahaminya.
Janganlah ia pergi melakukan tugasnya tanpa itu, atau hanya
membagikan separuh saja. Namun, sesudah ia betul-betul mema-
haminya, ia harus rajin sekaligus berani memberitakannya untuk
kebaikan orang lain. Kita tidak boleh menyembunyikan (KJV) fir-
man dari Yang Mahakudus (Ayb. 6:10) sebab hal itu sama saja
dengan menyembunyikan talenta yang diberikan kepada kita
untuk dijalankan. Ia harus pergi dan berbicara kepada kaum
Israel sebab kaum itu berhak mengetahui ketetapan-ketetapan
Tuhan dan penghakiman-penghakiman-Nya. Seperti penerimaan
hukum Taurat (firman yang hidup), demikian pula nubuat (firman
yang menghidupkan) yaitu bagian kaum Israel. Ia tidak dikirim
kepada orang Kasdim untuk menegur mereka akan dosa mereka,
namun kepada kaum Israel untuk menegur mereka akan dosa-dosa
mereka. Seorang ayah mengoreksi anaknya sendiri jika anak itu
melakukan kesalahan, bukan anak orang lain.
1. Petunjuk yang diberikan kepadanya bagaimana berbicara de-
ngan kaum Israel hampir sama dengan petunjuk di pasal sebe-
lumnya.
(1) Ia harus mengatakan kepada mereka semua hal, dan ha-
nya itu saja, yang Allah katakan kepadanya. Allah berkata
sebelumnya (2:7): Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku
kepada mereka. Di sini, Dia berkata (ay. 4), Engkau harus
menyampaikan perkataan-perkataan-Ku kepada mereka,
atau berbicara dengan memakai perkataan-perkataan-Ku.
Ia tidak boleh hanya mengatakan perkataan yang maksud-
nya sama dengan apa yang Allah katakan kepadanya,
namun harus mengatakan perkataan yang semirip mungkin
dengan bahasa dan ungkapan yang dipakai Allah. Rasul
Paulus yang terberkati, meskipun sangat suka akan hal-hal
baru, tetap berkata-kata tentang perkara-perkara Allah
dengan perkataan yang diajarkan oleh Roh (1Kor. 2:13).
Kebenaran Kitab Suci paling baik ditampilkan dengan ba-
hasa kitab suci, pakaian aslinya. Lagi pula, bagaimana kita
dapat menyampaikan pikiran Allah dengan lebih baik jika
bukan dengan kata-kata-Nya sendiri?
(2) Ia harus ingat bahwa mereka yaitu kaum Israel, kaum
yang kepadanya ia diutus, rumah Allah dan umat kepunya-
an-Nya. Oleh sebab itu, ia harus memberi perhatian
khusus kepada mereka, dan harus melayani mereka
dengan setia dan lemah lembut. Mereka, sebagaimana ada-
nya, memiliki pertalian yang dalam dengan dirinya, bukan
hanya sebagai saudara sebangsa mereka, namun juga se-
kutu dalam kesusahan mereka. Mereka dan dirinya yaitu
kawan sependeritaan, dan belakangan menjadi kawan seper-
jalanan, dalam keadaan yang sangat menyedihkan, dari
Yudea ke Babel, dan sering kali menangis bersama, sehingga
tidak bisa tidak hati mereka menjadi terpaut satu sama lain.
Sungguh suatu kebaikan bagi bangsa itu bahwa mereka
memiliki seorang nabi yang mengerti, dari pengalamannya
sendiri, bagaimana harus bersimpati terhadap mereka, dan
tidak bisa tidak tersentuh oleh kelemahan yang mereka
rasakan. Sungguh suatu kebaikan bagi sang nabi bahwa ia
diutus kepada orang-orang dari bangsanya sendiri dan
bukan kepada bangsa yang berbahasa asing dan yang
berat lidah, yang ucapannya sulit, sehingga engkau tidak
dapat menangkap makna pembicaraan mereka, dan ber-
berat lidah, sehingga sangat sukar bahkan tidak mungkin
bercakap-cakap dengan mereka. Setiap bahasa asing tam-
pak sulit dan berat bagi kita. “Engkau tidak diutus kepada
banyak bangsa-bangsa yang seperti itu, bangsa yang tidak
bisa kau ajak bicara maupun kau pahami, bangsa yang
tidak bisa kau mengerti ataupun dimengerti tanpa seorang
penerjemah.” Para rasul memang dikirim ke banyak bang-
sa-bangsa yang berbahasa asing, namun mereka tidak akan
dapat berbuat banyak jika mereka tidak memiliki karunia
bahasa roh. namun , Yehezkiel hanya diutus kepada
satu bangsa, itu pun bangsa yang orang-orangnya hanya
sedikit, dan bangsanya sendiri, yang sebab ada pertalian-
nya, ia dapat berharap untuk diterima.
(3) Ia harus mengingat apa yang Allah katakan kepadanya
mengenai watak buruk orang-orang yang kepadanya ia
diutus. Dengan demikian, saat ia putus asa dan kecewa
menghadapi mereka, ia tidak menjadi kecil hati. Mereka
berkepala batu dan bertegar hati (ay. 7), saat dinyatakan
Kitab Yehezkiel 3:1-15
berdosa, muka mereka tidak memerah tersipu, ancaman
murka pun tidak akan membuat mereka gemetar. Dua hal
yang memperberat kedegilan mereka:
[1] Bahwa mereka lebih degil daripada bangsa-bangsa di
sekitar mereka, yang tidak akan sedegil mereka sekira-
nya sang nabi diutus kepada bangsa-bangsa itu. Sekira-
nya Allah mengutus sang nabi kepada bangsa lain
mana pun, sekalipun bangsa yang berbahasa asing, me-
reka akan mendengarkan dia. Mereka setidaknya akan
mendengarkan dengan sabar dan menunjukkan rasa
hormat yang tidak akan diperolehnya dari saudara se-
bangsanya. Orang Niniwe berubah sesudah mendengar
khotbah Yunus, sementara kaum Israel, yang dikelilingi
oleh begitu banyak nabi, tidak merendahkan diri dan
tidak berubah. Namun, apa yang akan kita katakan me-
ngenai hal ini? Sarana anugerah diberikan kepada me-
reka yang tidak akan menggunakannya dan ditarik dari
mereka yang pasti akan memanfaatkannya. Kita harus
menyerahkan hal ini ke dalam kedaulatan ilahi dan ber-
kata, Tuhan, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang
hebat.
[2] Bahwa bangsa Israel menegarkan hati terhadap Allah
sendiri: “Mereka tidak mau mendengarkan engkau, dan
itu tidak mengherankan, sebab mereka tidak mau men-
dengarkan Aku.” Mereka tidak akan mengindahkan per-
kataan sang nabi, sebab mereka tidak mengindahkan
tongkat didikan Allah, tongkat didikan yang digunakan
Tuhan untuk berseru kepada kota. Jika mereka tidak
percaya bahwa Allah berbicara kepada mereka melalui
seorang pelayan, mereka juga tidak akan percaya seka-
lipun Allah berbicara kepada mereka melalui suara dari
sorga. Bahkan, oleh sebab tahu itu dari sorga, mereka
menolak perkataan sang nabi, sebab perkataan itu
berasal dari Allah, yang yaitu seteru keinginan daging
mereka. Mereka berprasangka buruk terhadap hukum
Allah, dan sebab itu mereka menulikan telinganya ter-
hadap para nabi-Nya, yang diutus untuk menegakkan
hukum-Nya.
(4) Ia harus meneguhkan hati untuk menjadi berani, dan Kris-
tus berjanji akan menyiapkan hatinya dengan keberanian
(ay. 8-9). Ia diutus kepada orang-orang yang begitu ber-
kepala batu dan bertegar hati. Orang-orang yang tidak akan
terkesan maupun disentuh hatinya, baik dengan cara yang
baik ataupun buruk. Orang-orang yang merasa bangga
menghina pembawa pesan Allah dan menentang pesan-
Nya. Sungguh tugas yang berat untuk mengetahui bagai-
mana harus menghadapi mereka. namun ,
[1] Allah akan membuat dia mampu menghadapinya: “Aku
meneguhkan hatimu melawan mereka yang berkepala
batu, memperlengkapimu dengan ketegaran dan kebe-
ranian yang diperlukan untuk menyelesaikan perkara
itu.” Mungkin Yehezkiel pada dasarnya pemalu dan pena-
kut, namun , sekalip