tem-
pat itu. Seandainya Tuhan berkenan untuk meninggalkannya se-
lama-lamanya, sang nabi tidak akan berseru kepada mereka untuk
mendengar firman TUHAN, tidak pula Ia akan memperlihatkan hal-hal
yang demikian pada waktu sekarang ini. Di sini ada,
I. Perhatian yang penuh belas kasihan dari Allah terhadap keadaan
tanah Israel yang menyedihkan pada saat itu. Tanah itu telah
menjadi jarahan dan juga olok-olokan bagi bangsa-bangsa yang di
sekitarnya (ay. 4).
1. Tanah itu telah menjadi jarahan bagi mereka. Dan mereka
semua diperkaya dengan rampasan itu. sesudah orang Kasdim
menaklukkan bangsa Israel, semua tetangga mereka lari ber-
hamburan untuk mengambil jarahan seperti menjarah kapal
karam. Tiap-tiap orang berpikir bahwa apa yang dapat mereka
raih dengan tangan mereka yaitu milik mereka (ay. 3): Mere-
ka telah menjadikan kamu sunyi sepi dan mengingini kamu,
supaya kamu menjadi milik bangsa-bangsa, milik sisa bangsa-
bangsa, bahkan orang-orang yang nyaris tidak luput dari
kehancuran serupa. Tak seorang pun berpikir bahwa melucuti
orang Israel yaitu suatu kejahatan. Turba Romæ sequitur
fortunam ut semper – Rakyat Roma tetap memuji orang yang
ditinggikan dan merendahkan orang yang jatuh. Teriakan yang
biasa terdengar, saat orang jatuh, “Enyahlah kamu.”
2. Tanah itu telah menjadi cemoohan bagi bangsa-bangsa. Bang-
sa-bangsa sekitar mengambil semua yang mereka miliki dan
menertawakan mereka sesudah melakukannya. Musuh itu ber-
kata, “Syukur! Bukit-bukit dari dahulu kala sudah menjadi milik
kita (ay. 2). Kepurbakalaan tanah Israel, atau martabatnya,
atau kekudusannya dan benteng-bentengnya, tidak membuat-
nya aman, namun sebaliknya, kita sudah menjadi penguasa
atas seluruh tanah itu.” Semakin tinggi tanah itu dihiasi
dengan kehormatan, dan semakin besar pengaruh yang sudah
dimilikinya di antara bangsa-bangsa, semakin besar pula
kebanggaan dan kesenangan yang dirasakan bangsa-bangsa
dalam menjarahnya. Ini merupakan contoh keadaan jiwa yang
rendah dan hina. Sebab, semakin mulia kemakmuran pada
waktu dulu, semakin memilukan pula kesusahan bila terjadi
sekarang. Dan Allah memperhatikan hal ini benar-benar ter-
jadi juga dalam malapetaka Israel pada saat itu: Kamu menjadi
buah mulut orang dan banyak dipergunjingkan (ay. 3). Semua
pembicaraan dari negeri sekitar yaitu menyangkut terguling-
nya bangsa Yahudi. Dan setiap orang yang berbicara tentang-
nya mengucapkan satu atau lain penghinaan yang penuh
amarah dan kebencian. Mereka menjadi olok-olok orang-orang
yang merasa aman dan penghinaan orang-orang yang sombong
(Mzm. 123:4). Ada sebagian orang yang dikenal sebagai tukang
gunjing, ada saja yang digunjingkannya tentang seseorang,
dan tidak ada sesuatu yang baik dalam hatinya untuk dibin-
cangkan tentang siapa pun. Dan di tengah orang-orang seperti
itu, umat Allah pastilah menjadi bahan celaan saat mahkota
jatuh dari kepala mereka. Demikianlah yang menjadi nasib
Kekristenan, pada masa-masa susahnya, bahwa di mana-
mana pun ia mendapat perlawanan.
II. Ungkapan-ungkapan murka Allah yang adil terhadap orang-orang
yang bersorak-sorai atas kehancuran tanah Israel, seperti yang di-
lakukan oleh banyak tetangganya, bahkan oleh sisa dari saudara-
saudara, dan orang Edom pada khususnya. Mari kita lihat,
1. Bagaimana mereka memperlakukan Israel milik Allah. Mereka
merampas sebagian besar harta milik tanah Israel, tanah
Allah. Sebab memang begitulah tanah itu: “Mereka menentu-
kan tanah-Ku menjadi milik mereka (ay. 5), dan dengan demi-
Kitab Yehezkiel 36:1-15
kian tidak hanya mengusik harta milik tetangga mereka, namun
juga menyerobot hak istimewa Allah.” Tanah sucilah yang
mereka jamah dengan tangan-tangan mereka yang cemar.
Mereka sama sekali tidak mengakui kebergantungan mereka
pada Allah, sebagai Allah atas tanah itu, tidak pula mengakui
kepentingan apa saja yang tersisa yang dimiliki Israel di
dalamnya. namun tanah itu mereka miliki dan dapat habis
dijarah, seolah-olah mereka sudah memenangkannya dalam
peperangan yang sah. Dan hal ini mereka perbuat tanpa me-
rasa ngeri sedikit pun terhadap Allah dan penghakiman-peng-
hakiman-Nya, dan tanpa belas kasihan sedikit pun terhadap
Israel dan malapetaka-malapetaka yang menimpa mereka.
Sebaliknya, mereka melakukannya dengan segala rasa suka-
cita, sebab mereka mendapat untung darinya, dan dengan
rasa penghinaan terhadap Israel, yang menderita kerugian
sebab nya. Kekayaan yang bertambah-tambah, dengan cara
benar ataupun salah, yaitu hal yang sepenuhnya menyuka-
kan hati yang duniawi. Dan malapetaka-malapetaka yang me-
nimpa umat Allah yaitu hal yang sepenuhnya menyukakan
pikiran yang penuh penghinaan. Dan saat tidak mendapat
kesempatan untuk memangsa umat Allah, mereka mencela
umat-Nya itu. Dengan begitu, umat Allah menjadi noda yang
ditimbulkan bangsa-bangsa (ay. 6). Semua orang mengolok-
olok mereka dan menertawakan mereka. Namun yang sebenar-
nya terjadi yaitu mereka, dengan dosa mereka sendiri, telah
menjadikan diri mereka hina. Dengan demikian, Allah benar
dalam semua hal yang terjadi ini, sedangkan manusia sendiri
yang bertindak tidak benar dan sangat biadab.
2. Bagaimana Allah akan memperlakukan orang-orang yang
dalam perkataan dan perbuatannya sangat melecehkan umat-
Nya sedemikian rupa. Ia telah berfirman melawan bangsa-
bangsa. Ia telah menjatuhkan hukuman atas mereka. Ia telah
menetapkan hati untuk mengadakan perhitungan dengan
mereka sebab nya, dan ini dilakukan dalam api cemburuan-
Nya, bagi kehormatan-Nya sendiri maupun kehormatan umat-
Nya (ay. 5). sebab memiliki cinta yang kuat seperti maut
terhadap kehormatan-Nya sendiri maupun kehormatan umat-
Nya, Ia memiliki kegairahan yang gigih seperti dunia orang mati
dalam menyikapi kedua hal ini. Dengan penuh kebencian me-
reka mencerca umat Allah, dan Allah pun akan mengecam me-
reka dengan penuh kecemburuan. Maka, mudah saja untuk
mengatakan siapa yang akan berkata-kata dengan penuh
kuasa. Allah akan berbicara dalam amarah cemburuan-Nya
(ay. 6). Amarah tidak ada pada Allah. namun Ia akan menge-
rahkan kekuatan-Nya melawan mereka dan memperlakukan
mereka dengan keras seperti orang yang sedang marah. Ia
akan berkata kepada mereka dalam murka-Nya dengan begitu
rupa sehingga mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-
Nya. Apa yang Dia katakan akan tetap dipegang-Nya, sebab
perkataan-Nya didukung dengan sumpah. Ia telah mengangkat
tangan-Nya dan bersumpah demi diri-Nya sendiri, telah ber-
sumpah dan tidak akan menyesal. Dan apa gerangan yang di-
ucapkan dengan amarah yang begitu memanas, namun de-
ngan begitu penuh pertimbangan seperti itu? Inilah dia (ay. 7),
bangsa-bangsa yang di sekitarmu sendiri pasti akan menang-
gung noda mereka. Perhatikanlah, Allah yang benar, yang
empunya pembalasan, akan membalaskan noda dengan noda.
Orang-orang yang menimpakan penghinaan dan celaan ke-
pada umat Allah, cepat atau lambat, akan membuat penghina-
an dan celaan itu membakar diri mereka sendiri. Mungkin itu
akan terjadi di dunia ini (segala kebodohan mereka atau mala-
petaka mereka, kegagalan mereka atau kesialan mereka, akan
menjadi cela mereka), atau kalau tidak, pastilah akan terjadi
pada hari itu nanti, saat semua orang yang tidak mau ber-
tobat akan bangun untuk mengalami kehinaan dan kengerian
yang kekal.
III. Janji-janji perkenanan Allah kepada Israel milik-Nya dan jaminan-
jaminan akan rahmat besar yang disediakan Allah untuk mereka.
Allah memanfaatkan kesempatan saat musuh-musuh berbuat
geram dan kurang ajar terhadap mereka, untuk menunjukkan
bahwa Dia jauh lebih peduli terhadap mereka dan siap untuk ber-
buat baik terhadap mereka. Seperti Daud berharap bahwa Allah
akan membalasnya dengan kebaikan saat Simei mengutuknya.
Biar mereka mengutuk, Engkau akan memberkati. Dengan cara ini,
seperti juga dengan cara-cara lain, musuh-musuh umat Allah
justru sedang mengerjakan kebaikan bagi mereka, bahkan mela-
lui kejahatan-kejahatan yang mereka perbuat terhadap umat
Kitab Yehezkiel 36:1-15
Allah itu, bertentangan dengan kehendak mereka dan di luar niat
mereka. Jadi tidaklah beralasan bagi kita untuk mengeluh jika,
semakin jahat orang, semakin baik Allah. Jika, semakin baik Ia
berbicara kepada kita melalui firman dan Roh-Nya, semakin baik
Ia bertindak untuk kita dalam penyelenggaraan-Nya. Sang nabi
harus berkata demikian kepada gunung-gunung Israel, yang seka-
rang menjadi sunyi sepi dan direndahkan, bahwa Allah baik kem-
bali terhadap mereka dan akan berpaling kepada mereka (ay. 9).
Sama seperti kutukan Allah menjangkau bumi sebab manusia,
demikian pula berkat-Nya. Nah, apa yang dijanjikan yaitu ,
1. Bahwa para pemilik yang sah dari gunung-gunung itu akan
kembali pada kepemilikan mereka: Umat-Ku Israel akan segera
kembali (ay. 8). Meskipun mereka masih sangat jauh dari
negeri mereka sendiri, walaupun mereka tersebar di banyak
negeri, dan sekalipun mereka ditahan oleh kekuatan musuh-
musuh mereka, namun mereka akan kembali ke daerah
mereka (Yer. 31:17). Waktu kepulangan mereka sudah dekat.
Meskipun sudah lewat empat puluh tahun dari tujuh puluh
tahun (mungkin lima puluh) yang tersisa, namun kepulangan
mereka dikatakan sudah dekat, sebab sudah pasti, dan ada
sebagian dari antara mereka yang akan hidup untuk melihat-
nya. Seribu tahun di hadapan Tuhan sama seperti satu hari.
Gunung-gunung Israel menjadi sunyi sepi pada saat itu.
namun Allah akan membuat manusia lalu-lalang di atas mereka
lagi, yaitu umat-Nya Israel, bukan sebagai pelancong yang
melewatinya, melainkan sebagai penduduk, bukan penyewa,
melainkan pemilik yang utuh: Mereka akan menduduki
engkau, bukan untuk jangka waktu tertentu, melainkan untuk
diri mereka sendiri dan keturunan mereka. Engkau akan
menjadi milik pusaka mereka. Ini merupakan perlambang dari
Kanaan sorgawi, yang merupakan hak waris dari semua anak
Allah, semua orang Israel sejati, dan ke dalamnya mereka
akan segera dibawa bersama-sama, dari negeri-negeri di mana
mereka terserak sekarang.
2. Bahwa gunung-gunung itu akan mampu memberi pemeli-
haraan yang berlimpah dan menghibur kepada para pemilik
mereka pada saat kepulangan mereka. saat tanah sudah
menikmati hari-hari Sabatnya selama bertahun-tahun, tanah
itu akan menjadi jauh lebih subur sesudahnya, seperti halnya
kita sesudah beristirahat, terutama beristirahat di hari Sabat:
Kamu akan dikerjakan dan ditaburi (ay. 9) dan akan memberi
buah untuk umat-Ku Israel (ay. 8). Perhatikanlah, suatu berkat
bagi bumi untuk menjadi berguna bagi manusia, terutama bagi
orang-orang baik, yang mau melayani Allah dengan riang hati
dalam memanfaatkan hal-hal baik yang disediakan bumi bagi
mereka.
3. Bahwa kaum Israel tidak hanya akan mendapat makanan dan
minuman yang cukup, namun juga tempat tinggal yang nya-
man, di negeri mereka sendiri: Kota-kota akan didiami lagi dan
reruntuhan-reruntuhan akan dibangun kembali (ay. 10). Dan
Aku akan membuat kamu didiami kembali seperti keadaan
semula (ay. 11). Dosa mereka sendiri telah mengusir mereka
dari situ, namun sekarang perkenanan Allah akan membuat
mereka berdiam kembali di situ. saat anak yang hilang
sudah bertobat, ia kembali tinggal di rumah ayahnya, seperti
keadaannya semula. Bawa ke mari jubah yang terbaik, dan
pakaikanlah itu kepadanya. Bahkan, Aku akan berbuat baik
kepadamu sekarang lebih dari pada keadaan dahulu. Ada
sukacita yang lebih besar untuk domba yang dibawa pulang
daripada seandainya ia tidak pernah tersesat. Dan ada kala-
nya Allah melipatgandakan penghiburan-penghiburan umat-
Nya seimbang dengan hari-hari Ia menindas mereka. Demi-
kianlah Allah memberkati akhir hidup Ayub lebih daripada
keadaannya dahulu, dan melipatgandakan baginya segala
sesuatu yang dimilikinya.
4. Bahwa bangsa itu, sesudah kepulangan mereka, akan beranak
cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi, sehingga tanah
itu tidak hanya akan dihuni lagi, namun juga dihuni dengan
sesak, dan padat penduduk, seperti sebelumnya. Allah akan
mengembalikan kepadanya segenap kaum Israel dalam keselu-
ruhannya (amatilah betapa kuat penekanan yang diberikan
pada pernyataan itu [ay. 10]), yaitu semua orang yang rohnya
digerakkan Allah untuk kembali. Dan orang-orang itu sajalah
yang dianggap sebagai kaum Israel, sedangkan sisanya sudah
memutuskan diri mereka sendiri darinya. Atau, jika diban-
dingkan dengan keseluruhannya, meskipun hanya sedikit
yang pertama-tama kembali, namun sesudah itu, pada waktu
yang berbeda-beda, mereka semua kembali. Dan kemudian
Kitab Yehezkiel 36:1-15
(firman Allah) Aku akan membuat manusia banyak (ay. 10),
membuat manusia dan binatang banyak, dan mereka akan
bertambah banyak (ay. 11). Perhatikanlah, kerajaan Allah di
dunia yaitu kerajaan yang bertumbuh. Dan jemaat-Nya,
meskipun untuk sementara waktu mungkin berkurang, akan
pulih lagi dan penuh kembali.
5. Bahwa celaan yang sudah lama dilontarkan kepada tanah
Israel oleh para mata-mata yang jahat, dan yang belakangan
ini dihidupkan kembali, bahwa tanah itu yaitu suatu negeri
yang memakan penduduknya dengan kelaparan, sakit penya-
kit, dan pedang, akan disingkirkan jauh-jauh, dan tidak akan
pernah ada lagi peluang untuk itu. Kanaan sudah mendapat
nama buruk. Dulu ia memuntahkan para penduduknya (Im.
18:28), penduduk asli, kaum pribumi, yang dijadikan cela
baginya oleh orang-orang yang seharusnya memberi gam-
baran lain tentangnya (Bil. 13:32). Belakangan ini tanah itu
melahap orang-orang Israel, dan memuntahkan mereka juga.
Dengan begitu, biasa dikatakan orang tentang tanah itu, bah-
wa itu yaitu tanah yang, bukannya menyokong bangsa-
bangsa atau suku-suku yang mendiaminya, justru memunah-
kan mereka, menggulingkan mereka, dan menyebabkan mere-
ka jatuh. Tanah itu yaitu tempat kediaman yang menghan-
curkan semua penghuni yang datang berdiam di dalamnya.
Tabiatnya ini diperolehnya di antara tetangga-tetangganya.
namun sekarang Allah berjanji bahwa keadaannya tidak akan
demikian lagi: Engkau tidak lagi terus memunahkan mereka
(ay. 12), tidak akan makan orang lagi (ay. 14). namun para
penduduknya akan hidup dengan baik sampai tua, dan bulan-
bulan mereka tidak akan diputus di tengah-tengah. Banding-
kan ini dengan janji dalam Zakharia 8:4. Perhatikanlah, Allah
akan menjauhkan cela umat-Nya dengan menjauhkan penye-
babnya. jika bangsa itu dibuat berkembang dalam keda-
maian, kelimpahan, dan kekuatan, maka mereka tidak lagi
mendengar noda yang ditimbulkan bangsa-bangsa terhadap
mereka (ay. 15), terutama jika bangsa itu diperbarui secara
rohani. jika dosa, yang merupakan cela bagi bangsa mana
saja, khususnya bagi umat yang mengaku sebagai umat Allah,
dijauhkan, maka mereka tidak lagi menanggung pencelaan
bangsa-bangsa. Perhatikanlah, jika Allah kembali dalam
rahmat kepada sebuah bangsa yang kembali kepada-Nya da-
lam kewajiban ibadah, maka semua kesedihan mereka akan
segera dihapuskan dan kehormatan mereka akan dipulihkan.
Belas Kasihan Allah terhadap Israel
(36:16-24)
16 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 17 “Hai anak manusia, wak-
tu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan ting-
kah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapan-Ku.
18 Maka Aku mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka sebab darah yang
dicurahkan mereka di tanah itu, sedang tanah itu mereka najiskan dengan
berhala-berhala mereka. 19 Aku menghamburkan mereka di antara bangsa-
bangsa, sehingga mereka berserak-serak di semua negeri, Aku menghakimi
mereka selaras dengan tingkah lakunya. 20 Di mana saja mereka datang di
tengah bangsa-bangsa, mereka menajiskan nama-Ku yang kudus, dalam hal
orang menyindir mereka: Katanya mereka umat TUHAN, namun mereka harus
keluar dari tanah-Nya. 21 Aku merasa sakit hati sebab nama-Ku yang kudus
yang dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka
datang. 22 Oleh sebab itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman
Tuhan ALLAH: Bukan sebab kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, namun
sebab nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa
di mana kamu datang. 23 Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang
sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di
tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah
TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan ke-
kudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. 24 Aku akan menjemput
kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua
negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.
saat Allah menjanjikan kepada para tawanan yang malang itu bah-
wa mereka akan dibawa pulang dengan penuh kemuliaan ke negeri
mereka sendiri, pada waktunya, hal itu sangat mengecilkan harapan-
harapan mereka, sebab mereka merasa tidak layak, sepenuhnya
tidak pantas, untuk mendapat perkenanan seperti itu. Oleh sebab
itu, untuk menghapus perasaan kecil hati itu, Allah di sini menun-
jukkan kepada mereka bahwa Ia akan melakukannya untuk mereka
demi nama-Nya semata, supaya Ia dimuliakan dalam diri mereka dan
oleh mereka, supaya Ia bisa menyatakan dan mengagungkan rahmat
dan kebaikan-Nya, yaitu sifat-Nya yang paling menjadi kemuliaan-
Nya dari semua sifat lain. Dan, sebab kepulangan kembali bangsa
itu merupakan perlambang dari penebusan kita oleh Kristus, maka
hal ini dimaksudkan lebih jauh untuk menunjukkan bahwa tujuan
akhir yang ingin dicapai dalam keselamatan kita, yang untuknya
semua langkah dipersiapkan, yaitu kemuliaan Allah. Untuk tujuan
inilah Kristus mengarahkan segala sesuatu yang dikerjakan-Nya da-
Kitab Yehezkiel 36:16-24
lam doa singkat itu, Bapa, muliakanlah nama-Mu. Dan Allah menya-
takan bahwa itulah tujuan-Nya dalam segala sesuatu yang dikerja-
kan Kristus, dalam jawaban yang diberikan langsung terhadap doa
itu, melalui suara dari sorga: Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku
akan memuliakan-Nya lagi (Yoh. 12:28). Sekarang amatilah di sini,
I. Bagaimana nama Allah sudah tercoreng oleh dosa-dosa maupun
kesengsaraan-kesengsaraan Israel. Dan hal ini harus lebih di-
sesalkan daripada semua dukacita mereka, yang sudah mereka
timpakan ke atas diri mereka sendiri. Sebab kehormatan Allah
lebih melekat di hati orang-orang baik daripada semua kepenting-
an mereka sendiri.
1. Kemuliaan Allah telah dilukai oleh dosa Israel saat mereka
berada di negeri mereka sendiri (ay. 17). Negeri mereka yaitu
tanah yang baik, tanah suci, tanah yang kepadanya mata
Allah tertuju. namun mereka menajiskannya dengan tingkah
laku mereka, tingkah laku mereka yang fasik. Itulah tingkah
laku kita, tingkah laku yang kita pilih sendiri. Dan kita sendiri
harus menanggung kesalahan dan aibnya. Dosa sebuah bang-
sa menajiskan tanah mereka, menjadikannya keji bagi Allah
dan tidak nyaman bagi diri mereka sendiri. Dengan begitu,
mereka tidak bisa memiliki persekutuan yang kudus de-
ngan-Nya atau satu dengan yang lain. Apa yang najis tidak
boleh digunakan. Dengan menyalahgunakan pemberian-pem-
berian dari kemurahan hati Allah kepada kita, kita kehilangan
manfaat dari pemberian-pemberian itu. Dan, sebab pikiran
dan hati nurani dicemarkan oleh kesalahan, maka tidak ada
penghiburan yang bisa kita peroleh, tidak ada yang murni bagi
kita. Tingkah laku mereka di mata Allah yaitu seperti kena-
jisan seorang perempuan selama ia harus memisahkan diri,
yang menjauhkannya dari tempat kudus dan membuat apa
saja yang disentuhnya menjadi najis (Im. 15:19). Dosa yaitu
kejijikan yang dibenci Tuhan, dan yang tidak tahan dilihat-Nya.
Mereka mencurahkan darah dan menyembah berhala-berhala
(ay. 18), dan dengan dosa-dosa itu menajiskan tanah itu. Oleh
sebab inilah Allah mencurahkan amarah-Nya ke atas mereka,
menghamburkan mereka di antara bangsa-bangsa. Tanah mere-
ka sendiri muak dengan mereka, dan mereka dikirim ke tanah-
tanah lain. Dalam hal ini Allah berbuat benar, dan dibenarkan
dalam apa yang dilakukan-Nya. Tak ada yang bisa berkata bah-
wa Ia melakukan kejahatan apa pun terhadap mereka, malah,
Ia berbuat adil bagi kehormatan-Nya sendiri, sebab Ia meng-
hakimi mereka selaras dengan tingkah lakunya (ay. 19). Namun
demikian, sebab tindakan-Nya itu tidak dimengerti dengan
benar, Ia pun tidak dimuliakan oleh mereka dengan tindakan-
Nya itu. Sebab para musuh benar-benar berkata, seperti seru-
an Musa tentang apa yang akan dikatakan orang Mesir se-
andainya Allah memusnahkan mereka di padang gurun,
bahwa Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpa-
kan malapetaka kepada mereka. Tetangga-tetangga mereka
menganggap mereka lebih sebagai bangsa yang kudus dari-
pada bangsa yang berdosa, dan sebab itu mereka memanfaat-
kan malapetaka-malapetaka yang tengah menimpa umat-Nya
itu, bukan untuk memuliakan Dia, sebagaimana yang seha-
rusnya mereka lakukan, melainkan untuk mencela Dia dan
melontarkan penghinaan terhadap-Nya. Dan nama Allah terus
dihujat sepanjang hari oleh para penindas mereka (Yes. 52:5).
2. saat mereka datang di tengah bangsa-bangsa, Allah tidak
mendapat kemulian melalui mereka di sana. namun , sebalik-
nya, nama-Nya yang kudus dinajiskan (ay. 20).
(1) Nama-Nya dinajiskan oleh dosa-dosa Israel. Mereka tidak
mendatangkan pujian bagi pengakuan iman mereka ke
mana saja mereka pergi, namun sebaliknya, mendatangkan
cela kepada pengakuan itu. Nama Allah dan agama-Nya
yang kudus dihujat sebab mereka (Rm. 2:24). jika
orang-orang yang mengaku berhubungan dengan Allah,
yang mengikat kovenan dan bersekutu dengan-Nya, dida-
pati bermoral bejat, menjadi budak bagi hawa nafsu me-
reka, tidak jujur dalam kelakuan mereka, berdusta dalam
perkataan mereka dan mengkhianati kepercayaan yang
telah dipercayakan kepada mereka, maka musuh-musuh
Tuhan mendapat peluang besar dari situ untuk menghujat.
Terutama jika mereka berseteru dengan Allah mereka
sebab Allah menghajar mereka, maka tidak lagi yang lebih
memalukan daripada itu.
(2) Nama-Nya dinajiskan oleh penderitaan-penderitaan Israel.
Sebab dari penderitaan-penderitaan itu musuh-musuh
Allah mendapat peluang untuk mencela Allah, sebagai
Kitab Yehezkiel 36:16-24
Allah yang tidak mampu untuk melindungi para penyem-
bah-Nya sendiri dan tidak mampu memanfaatkan pemberi-
an-pemberian-Nya sendiri. Mereka berkata, dengan men-
cemooh, “Mereka ini yaitu penduduk negeri itu, orang-
orang fasik ini, dan kalian lihat Allah tidak dapat membuat
mereka tetap patuh pada peraturan-peraturan-Nya. Orang-
orang yang menyedihkan ini, kalian lihat, Ia tidak dapat
membuat mereka tetap menikmati perkenanan-perkenan-
an-Nya. Mereka ini yaitu orang-orang yang keluar dari ne-
geri Yehova, mereka yaitu sampah bangsa-bangsa. Inikah
orang-orang yang memiliki ketetapan-ketetapan yang begitu
baik, namun yang hidupnya begitu jahat? Inikah bangsa yang
begitu tersohor sebagai umat yang bijaksana dan berakal
budi, dan yang dikatakan memiliki Allah yang demikian
dekat kepada mereka? Bukankah mereka ini bagian dari
bangsa yang berani itu, yang kudus itu, namun di sini tampak
demikian hina, demikian rendah?” Demikianlah Allah men-
jual umat-Nya dan tidak mengambil keuntungan apa-apa dari
penjualan itu (Mzm. 44:13). Celaan yang menindih mereka
memberi penghinaan terhadap-Nya.
II. Sekarang mari kita lihat bagaimana Allah akan memulihkan ke-
hormatan-Nya, melindunginya, dan meninggikannya, dengan me-
ngerjakan pembaruan besar terhadap mereka, dan kemudian me-
ngerjakan keselamatan besar bagi mereka. Ia mau saja menyerak-
kan mereka di antara bangsa-bangsa, namun Ia kuatir disakiti hati-
Nya oleh musuh (Ul. 32:26-27). namun , meskipun mereka tidak
layak mendapat belas kasihan-Nya, namun Ia merasa iba ter-
hadap nama-Nya yang kudus (KJV), dan seribu kali sayang bahwa
nama-Nya sampai diinjak-injak dan dilecehkan. Ia memandang
kehormatan-Nya sendiri dengan belas kasihan, yang terbaring
mengucurkan darah di antara bangsa-bangsa kafir, memandang
permata yang diinjak-injak dalam debu tanah itu, yang telah
dinajiskan kaum Israel (ay. 21), bahkan di negeri tempat mereka
dibuang. Dalam perasaan iba terhadap nama-Nya itu, Allah mem-
bawa mereka keluar dari bangsa-bangsa kafir, sebab dosa-dosa
mereka lebih memalukan di sana daripada di negeri mereka sen-
diri. “Oleh sebab itu Aku akan mengumpulkan kamu dari semua
negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu (ay. 24).
Bukan sebab kamu, sebab kamu tidak layak mendapat perke-
nanan seperti itu, sebab kamu amat sangat tidak layak, melain-
kan sebab nama-Ku yang kudus (ay. 22), supaya Aku mengudus-
kan nama-Ku yang besar” (ay. 23). Cermatilah sini, nama Allah
yang kudus yaitu nama-Nya yang besar. Kekudusan-Nya yaitu
kebesaran-Nya. Demikianlah Ia sendiri memandangnya. Dan tidak
ada hal lain yang dapat membuat orang benar-benar besar, selain
dengan menjadi benar-benar baik, dan mengambil bagian dalam
kekudusan Allah. Allah akan mengagungkan nama-Nya sebagai
nama yang kudus, sebab Ia akan menguduskannya: Aku akan
menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah kamu najiskan.
saat Allah menjalankan apa yang sudah diucapkan-Nya dengan
bersumpah demi kekudusan-Nya, maka Ia menguduskan nama-
Nya. Dampak dari hal ini akan sangat membahagiakan: Bangsa-
bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, manakala Aku
menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bang-
sa dan di hadapanmu. saat Allah membuktikan bahwa nama-
Nya sungguh kudus, dan orang-orang kudus-Nya memuji nama-
Nya, maka Ia pun dikuduskan dalam diri mereka, dan ini berperan
dalam menyebarluaskan pengetahuan tentang-Nya. Cermatilah,
1. Alasan-alasan Allah untuk memberi rahmat didasarkan
pada diri-Nya sendiri. Ia akan membawa umat-Nya keluar dari
Babel, bukan demi mereka, melainkan sebab nama-Nya,
sebab Ia akan dimuliakan.
2. Kebaikan Allah memakai kesempatan di tengah keburukan
manusia untuk tampil jauh lebih kemilau. Inilah mengapa Ia
akan menguduskan nama-Nya melalui pengampunan dosa,
sebab nama-Nya telah dinajiskan melalui perbuatan dosa.
Janji akan Hati yang Baru;
Janji akan Anugerah yang Menguduskan;
Berkat-berkat yang Dijanjikan Harus Didoakan
(36:25-38)
25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan
kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan
mentahirkan kamu. 26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang
baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang
keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. 27 Roh-Ku akan Kuberikan
diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala
Kitab Yehezkiel 36:25-38
695
ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan mela-
kukannya. 28 Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan
kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan
menjadi Allahmu. 29 Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisan-
mu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku
tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu. 30 Aku juga memperbanyak buah
pohon-pohonanmu dan hasil ladangmu, supaya kamu jangan lagi menang-
gung noda kelaparan di tengah bangsa-bangsa. 31 Dan kamu akan teringat-
ingat kepada kelakuanmu yang jahat dan perbuatan-perbuatanmu yang
tidak baik dan kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri sebab kesa-
lahan-kesalahanmu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji. 32 Bukan sebab
kamu Aku bertindak, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ketahuilah itu.
Merasa malulah kamu dan biarlah kamu dipermalukan sebab kelakuanmu,
hai kaum Israel. 33 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada hari Aku mentahir-
kan kamu dari segala kesalahanmu, Aku akan membuat kota-kota didiami
lagi dan reruntuhan-reruntuhan akan dibangun kembali. 34 Tanah yang
sudah lama tinggal tandus akan dikerjakan kembali, supaya jangan lagi tetap
tandus di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. 35 Sebaliknya
mereka akan berkata: Tanah ini yang sudah lama tinggal tandus menjadi
seperti taman Eden dan kota-kota yang sudah runtuh, sunyi sepi dan mus-
nah, sekarang didiami dan menjadi kubu. 36 Dan bangsa-bangsa yang
tertinggal, yang ada di sekitarmu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN,
yang membangun kembali yang sudah musnah dan menanami kembali yang
sudah tandus. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.
37 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini juga Aku menginginkan,
supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku apa yang hendak Kulakukan bagi
mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia. 38 Seperti
domba-domba persembahan kudus, dan seumpama domba-domba Yerusa-
lem pada waktu-waktu perayaannya, begitulah kota-kota yang sudah runtuh
penuh dengan lautan manusia. Dengan begitu mereka akan mengetahui
bahwa Akulah TUHAN.”
Umat Allah mungkin berkecil hati dalam mengharapkan pemulihan
mereka, bukan hanya sebab menyadari ketidaklayakan mereka akan
perkenanan seperti itu (yang dijawab, dalam ayat-ayat sebelumnya,
bahwa Allah, dalam memulihkan mereka, mengarahkan pandangan-
Nya pada kemuliaan-Nya sendiri, bukan pada kelayakan mereka),
namun juga sebab menyadari ketidakpantasan mereka untuk per-
kenanan seperti itu, sebab mereka masih bobrok dan berdosa. Dan
itu dijawab dalam ayat-ayat di atas, dengan janji bahwa Allah dengan
anugerah-Nya akan mempersiapkan dan melayakkan mereka untuk
menerima rahmat-Nya, baru kemudian menganugerahkan rahmat itu
kepada mereka. Hal ini digenapi sebagian dalam dampak yang me-
nakjubkan dari pembuangan di Babel terhadap orang-orang Yahudi
di sana, bahwa pembuangan itu berhasil menyembuhkan mereka
dari kecenderungan mereka pada penyembahan berhala. namun hal
itu diniatkan lebih jauh sebagai rancangan untuk kovenan anugerah,
dan sebagai contoh dari berkat-berkat rohani, yang dengannya kita
diberkati dalam perkara-perkara sorgawi melalui kovenan itu. Sama
seperti di dalam pasal 34, sesudah janji tentang kepulangan mereka,
nubuat itu tanpa terasa bergerak terus untuk mencakup janji ten-
tang kedatangan Kristus, Sang Gembala Agung, demikian pula di sini
nubuat itu tanpa terasa mengarah terus pada janji tentang Roh, dan
pengaruh-pengaruh serta pekerjaan-pekerjaan-Nya yang penuh anu-
gerah, yang banyak kita butuhkan untuk menguduskan kita, sama
seperti kita banyak membutuhkan jasa Kristus untuk membenarkan
kita.
I. Allah di sini berjanji bahwa Ia akan mengerjakan pekerjaan yang
baik dalam diri mereka, untuk melayakkan mereka bagi pekerjaan
baik yang berniat diwujudkan-Nya untuk mereka (ay. 25-27). Kita
mendapati janji-janji dengan maksud yang sama (11:18-20).
1. Bahwa Allah akan membersihkan mereka dari kecemaran-
kecemaran dosa (ay. 25): Aku akan mencurahkan kepadamu air
jernih, yang melambangkan sungai Kristus yang dipercikkan
pada hati nurani untuk memurnikannya dan menghapuskan
perasaan bersalah. Sama seperti orang-orang yang diperciki air
suci dengan demikian dibebaskan dari kenajisan mereka di
mata hukum Taurat. Itu juga melambangkan anugerah Roh
yang dipercikkan pada seluruh jiwa untuk memurnikannya
dari semua kecenderungan dan kecondongan yang bobrok,
seperti Naaman dibersihkan dari penyakit kustanya dengan
mencelupkan diri ke dalam Sungai Yordan. Kristus sendiri ber-
sih, sebab kalau tidak, darah-Nya tidak akan bisa membersih-
kan kita. Dan Roh Kuduslah yang membuat kita kudus: Dari
segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku
akan mentahirkan kamu. Dan Aku akan melepaskan kamu dari
segala dosa kenajisanmu (ay. 29). Dosa itu menajiskan, khu-
susnya penyembahan berhala. Penyembahan berhala mem-
buat para pendosa menjijikkan bagi Allah dan menjadi beban
bagi diri mereka sendiri. jika kesalahan diampuni, dan
kodrat yang rusak dikuduskan, maka kita pun dibersihkan
dari kekotoran kita. Tidak ada cara lain lagi untuk diselamat-
kan dari kesalahan itu. Hal ini dijanjikan Allah kepada umat-
Nya di sini, supaya Ia dikuduskan dalam diri mereka (ay. 23).
Kita tidak bisa menguduskan nama Allah kecuali Ia mengu-
duskan hati kita, dan kita juga tidak bisa hidup bagi kemulia-
an-Nya, kecuali dengan anugerah-Nya.
Kitab Yehezkiel 36:25-38
2. Bahwa Allah akan memberi mereka hati yang baru, kecen-
derungan pikiran yang sungguh unggul dan jauh berbeda dari
apa yang sebelumnya. Allah akan mengerjakan perubahan di
dalam batin untuk mewujudkan perubahan yang menyeluruh.
Perhatikanlah, semua orang yang memiliki kepentingan
dalam perjanjian baru, dan berhak atas Yerusalem baru, mem-
punyai hati yang baru dan roh yang baru, dan semuanya ini
diperlukan supaya mereka dapat berjalan dalam hidup yang
baru. Inilah kodrat ilahi yang di dalamnya orang-orang percaya
dibuat ambil bagian melalui janji-janji.
3. Bahwa, sebagai ganti hati yang keras, yang tidak peka dan
kaku, tidak mampu menerima kesan-kesan ilahi dan mem-
balas dengan rasa kasih yang saleh, Allah akan memberi
hati yang taat, hati yang lemah lembut, yang terlatih indra-
indra rohaninya, yang sadar akan penderitaan-penderitaan
dan kesenangan-kesenangan rohani, dan dalam segala sesua-
tu patuh pada kehendak Allah. Perhatikanlah, anugerah yang
memperbarui akan mengerjakan perubahan yang sangat besar
di dalam jiwa seperti mengubah batu yang mati menjadi
daging yang hidup.
4. Bahwa sebab , selain kecenderungan pada dosa, kita menge-
luh akan ketidakmampuan untuk melakukan kewajiban iba-
dah kita, maka Allah akan membuat mereka hidup menurut se-
gala ketetapan-Nya. Ia tidak hanya akan menunjukkan kepada
mereka jalan ketetapan-ketetapan-Nya di hadapan mereka,
namun juga mencondongkan mereka untuk berjalan di dalam-
nya. Ia akan sepenuhnya melengkapi mereka dengan hikmat
dan kehendak, dan kekuatan-kekuatan yang giat bekerja,
untuk melakukan segala pekerjaan yang baik. supaya semua
ini terjadi, Ia akan membuat Roh-Nya diam di dalam batin me-
reka, sebagai pengajar, pembimbing, dan pengudus. Perhati-
kanlah, Allah tidak memaksa orang untuk hidup menurut
segala ketetapan-Nya dengan memakai kekerasan lahiriah,
namun membuat mereka hidup menurut segala ketetapan-Nya
berdasar suatu pegangan batiniah. Dan amatilah bagai-
mana kita harus memanfaatkan kekuatan dan dasar pegangan
yang penuh rahmat yang dijanjikan kepada kita ini, yang
diletakkan di dalam batin kita: Engkau akan tetap berpegang
pada peraturan-peraturan-Ku. Jika Allah mau melakukan bagi-
an-Nya ini sesuai dengan janji-Nya, maka kita harus melaku-
kan bagian kita sesuai dengan perintah-Nya. Perhatikanlah,
janji dari anugerah Allah untuk memampukan kita melakukan
kewajiban ibadah kita haruslah menggugah hati kita dan meng-
giatkan kita untuk senantiasa memberi perhatian dan berusaha
melaksanakan kewajiban kita. Janji-janji Allah seharusnya
mendorong kita pada perintah-perintah-Nya sebagai pedoman
kita, dan perintah-perintah-Nya harus membawa kita kembali
kepada janji-janji-Nya untuk memberi kekuatan, sebab
tanpa anugerah-Nya kita tidak dapat berbuat apa-apa.
II. Allah di sini berjanji bahwa Ia akan membawa mereka masuk ke
dalam kovenan dengan diri-Nya. Rangkuman dari kovenan anuge-
rah kita dapati dalam ayat 28: Kamu akan menjadi umat-Ku dan
Aku akan menjadi Allahmu. Bukan, “Jika kamu mau menjadi
umat-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu” (meskipun sungguh
benar bahwa kita tidak dapat berharap Allah akan menjadi Allah
bagi kita kecuali kita menjadi umat bagi-Nya). namun , Ia telah
terlebih dulu memilih kita, dan mengasihi kita, bukan kita yang
terlebih dulu memilih dan mengasihi Dia. Oleh sebab itu, syarat-
nya yaitu sebab anugerah, oleh janji. Demikian pula dengan
upahnya, bukan sebab jasa, bukan sebab perbuatan. “Kamu
akan menjadi umat-Ku. Aku akan menjadikan kamu demikian.
Aku akan memberimu sifat dan roh sebagai umat-Ku, maka Aku
akan menjadi Allahmu.” Ini yaitu dasar dan batu penjuru dari
kebahagiaan orang percaya. Ini yaitu sorga itu sendiri (Why.
21:3, 7).
III. Allah berjanji bahwa Ia akan mewujudkan segala sesuatu yang
baik bagi mereka, sesuai dengan tuntutan keadaan mereka yang
mendesak. jika mereka dipersiapkan untuk mendapat rahmat
seperti itu,
1. Maka mereka akan kembali kepada harta milik mereka dan
menetap kembali di negeri mereka (ay. 28): Kamu akan diam di
dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu.
Allah, dalam membawa mereka kembali ke sana, mengarahkan
pandangan-Nya bukan pada jasa-jasa nenek moyang mereka,
melainkan pada janji yang dibuat-Nya kepada nenek moyang
mereka. Sebab itulah Ia pertama-tama memberi janji
Kitab Yehezkiel 36:25-38
kepada mereka (Ul. 7:7-8). Inilah mengapa Ia bermurah hati,
sebab Ia sudah berkata bahwa Ia akan bermurah hati. Hal ini
akan terjadi sesudah pembaruan yang penuh berkat yang akan
dikerjakan Allah di antara mereka (ay. 33): “Pada hari itu Aku
mentahirkan kamu dari segala kesalahanmu, dan dengan
demikian akan membuatmu pantas untuk menerima milik
pusaka itu. Aku akan membuat kota-kota didiami lagi, dan de-
ngan demikian membuatmu memiliki milik pusaka itu.” Ini
memang merupakan cara rahmat Allah, yaitu pertama-tama
memisahkan orang dari dosa-dosa mereka, dan kemudian me-
mulihkan mereka kepada penghiburan-penghiburan mereka.
2. Maka mereka akan menikmati kelimpahan dari segala sesuatu
yang baik. saat mereka diselamatkan dari kenajisan mereka,
dari dosa-dosa mereka yang menahan hal-hal yang baik dari
mereka, maka Aku akan menumbuhkan gandum serta memper-
banyaknya (ay. 29). Kelimpahan akan datang mengikuti pang-
gilan Allah, dan kelimpahan yang dipanggil-Nya akan senan-
tiasa bertumbuh. Dan saat Ia mengucapkan firman, maka
buah dari pohon maupun ladang akan berlipat ganda. Seiring
bertambah banyaknya penduduk, bertambah banyak pula
hasil-hasil bumi untuk memelihara mereka. Sebab Dia yang
menjadikan mulut akan mengirimkan makanan. Kelaparan
yaitu salah satu penghakiman yang di bawahnya mereka
sudah kepayahan. Dan hal itu, seperti hal-hal lain, sudah
menjadi cela bagi mereka, bahwa mereka sampai kelaparan di
negeri yang termasyhur akan kesuburannya. namun sekarang
Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu. Tak seorang
pun ditindih tongkat itu kalau Ia tidak menindihkannya ke-
pada mereka. Maka mereka tidak akan lagi menanggung noda
kelaparan, tidak akan pernah lagi dicela sebab nya. Tidak
pula akan pernah dikatakan bahwa Allah yaitu Tuan yang
tidak memberi upah yang semestinya kepada hamba-
hamba-Nya. Bahkan, mereka tidak hanya akan dibersihkan
dari noda kelaparan, namun juga akan dipuji sebab kelimpah-
an. Tanah yang sudah lama tinggal tandus di hadapan semua
orang yang lintas, yang melihatnya, sebagian dengan rasa hina
dan sebagian lagi dengan rasa iba, akan dikerjakan kembali
(ay. 34). Dan, sesudah sekian lama tinggal tandus, sekarang
tanah itu akan menjadi lebih subur. Camkanlah, Allah akan
menumbuhkan gandum, namun mereka harus menggarap
tanahnya. Ingatlah, bahkan rahmat-rahmat yang dijanjikan
harus diperoleh dengan kerja keras. Sebab janji itu bukan
untuk menggantikan, melainkan untuk menyemangati dan
mendorong, ketekunan dan usaha kita. Dan berkat yang
sedemikian rupa akan diperintahkan Allah kepada tangan
orang rajin, sehingga semua yang lewat akan memperhatikan-
nya, dengan rasa takjub (ay. 35). Mereka akan berkata,
“Lihatlah betapa ada perubahan yang penuh berkat di sini,
bagaimana tanah yang sudah lama tinggal tandus ini sudah
menjadi seperti taman Eden, padang gurun diubah kembali
menjadi firdaus.” Perhatikanlah, Allah menyediakan kehormat-
an-kehormatan bagi umat-Nya, bahwa mereka akan dimah-
kotai dengan kecukupan untuk mengimbangi penghinaan yang
tengah membebani mereka, dan dalam kehormatan-kehormat-
an itu Ia akan dihormati. Pertambahan yang menakjubkan
dari penduduk negeri maupun hasil-hasilnya ini dibandingkan
(ay. 38) dengan kawanan besar domba-domba yang dibawa ke
Yerusalem, untuk dikorbankan pada salah satu perayaan
ibadah. Bahkan kota-kota yang sekarang porak-poranda akan
dipenuhi dengan lautan manusia, bukan seperti kawanan
domba yang menyelimuti padang rumput (Mzm. 65:14), melain-
kan seperti domba-domba persembahan kudus yang dibawa ke
pelataran rumah Tuhan. Perhatikanlah, bertambahnya jumlah
orang dalam sebuah bangsa akan benar-benar mengundang
hormat dan menghibur jika mereka semua diabdikan ke-
pada Allah sebagai kawanan yang kudus, untuk dipersembah-
kan kepada-Nya sebagai korban-korban yang hidup. Kerumun-
an orang yaitu pemandangan yang indah di bait Allah.
IV. Allah menunjukkan apa yang akan menjadi dampak-dampak yang
membahagiakan dari perubahan yang penuh berkat ini.
1. Perubahan itu akan memberi dampak yang membahagia-
kan terhadap umat Allah sendiri, sebab perubahan itu akan
membuat mereka sungguh-sungguh bertobat dari dosa-dosa
mereka (ay. 31): Dan kamu akan teringat-ingat kepada kelaku-
anmu yang jahat dan kamu akan merasa mual melihat dirimu
sendiri. Lihatlah di sini apa dosa itu. Dosa yaitu kekejian, hal
yang menjijikkan, kekejian yang dibenci Tuhan. Lihatlah apa
Kitab Yehezkiel 36:25-38
langkah pertama menuju pertobatan; yaitu, mengingat-ingat
kelakuan kita yang jahat, merenungkan dengan sungguh-
sungguh dosa-dosa yang telah kita perbuat dan melihat kem-
bali dengan terperinci. Kita harus mengingat bukan hanya
kejahatan-kejahatan besar yang menjijikkan, yaitu kelakuan
kita yang jahat, melainkan juga segala kekurangan dan kele-
mahan kita, yaitu perbuatan-perbuatan kita yang tidak baik,
tidak begitu baik seperti seharusnya. Bukan hanya tindakan-
tindakan kita yang langsung melanggar hukum Tuhan, me-
lainkan juga kekurangan kita untuk memenuhinya. Lihatlah
apa yang senantiasa menyertai pertobatan sejati, yaitu merasa
muak dengan diri sendiri, rasa malu yang kudus dan wajah
yang terpana: “Kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri,
melihat betapa kamu telah menjadikan dirimu menjijikkan di
hadapan Allah.” Cinta diri yaitu dasar dari dosa, dan tidak
bisa tidak, wajah kita memerah melihat betapa tidak masuk
akalnya cinta diri itu. namun perseteruan kita dengan diri kita
sendiri memang sudah sepatutnya terjadi, supaya kita, dengan
alasan-alasan yang baik, diperdamaikan dengan diri kita
sendiri. Dan, terakhir, lihatlah apa yang menjadi dorongan
paling kuat untuk melakukan pertobatan Injili, yaitu kesadar-
an akan rahmat Allah. jika Allah membuat mereka berdiam
di tengah-tengah kelimpahan, maka mereka akan merasa mual
melihat diri mereka sendiri sebab kesalahan-kesalahan mere-
ka. Perhatikanlah, kebaikan Allah harus mengatasi keburukan
kita, dan menuntun kita kepada pertobatan. Semakin banyak
kita melihat kesiapan Allah untuk menerima kita ke dalam
perkenanan-Nya pada saat kita bertobat, semakin banyak
alasan yang akan kita lihat untuk merasa malu terhadap diri
kita sendiri bahwa kita bisa berdosa terhadap kasih yang
sedemikian besar. Hati yang tidak luluh sebab itu pasti hati
yang sungguh-sungguh keras.
2. Perubahan itu akan memberi dampak yang membahagia-
kan terhadap tetangga-tetangga mereka, sebab perubahan itu
akan membawa mereka pada pengetahuan yang lebih jelas
tentang Allah (ay. 36): “Dan bangsa-bangsa yang tertinggal,
yang ada di sekitarmu, yang berbicara tentang Allah dengan
sembarangan (sebab demikianlah semua orang yang berbicara
buruk tentang-Nya), saat melihat tanah Israel menjadi sunyi
sepi, akan mulai mengetahui dengan lebih baik, dan berbicara
tentang Allah dengan pengetahuan yang lebih baik. Sebab
mereka diyakinkan bahwa Ia sanggup membangun kembali
kota-kota yang sudah sunyi sepi dan menanam kembali
negeri-negeri yang sudah sunyi sepi. Dan bahwa, meskipun
aliran kebaikan-kebaikan-Nya terhadap umat-Nya bisa terha-
lang untuk sementara waktu, namun aliran-aliran itu tidak
akan terputus untuk selama-lamanya.” Mereka akan dibuat
mengetahui kebenaran dari wahyu ilahi saat melihat ada
kesesuaian antara perkataan Allah yang telah diucapkan-Nya
kepada Israel dan perbuatan-perbuatan yang telah dikerjakan-
Nya untuk mereka: Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan
akan membuatnya. Bagi kita berkata dan berbuat yaitu dua
hal yang berbeda, namun tidak demikian bagi Allah.
V. Allah mengajukan semuanya ini kepada mereka, bukan sebagai
imbalan atas jasa-jasa mereka, melainkan sebagai jawaban bagi
doa-doa mereka.
1. Janganlah mereka berpikir bahwa mereka layak mendapat-
kannya: Bukan sebab kamu Aku bertindak, ketahuilah itu (ay.
22, 32). Tidak, merasa malulah kamu dan biarlah kamu diper-
malukan sebab kelakuanmu. Allah sedang melakukan ini,
semua hal yang telah dijanjikan-Nya ini. Hal itu sedemikian
pasti akan dilakukan sehingga seolah-olah sudah dilakukan,
dan peristiwa-peristiwa pada saat ini mengarah padanya. Akan
namun ,
(1) Mereka harus menyangkal jasa dari perbuatan-perbuatan
baik mereka sendiri, dan dibuat mengakui bahwa bukan
sebab mereka hal itu dilakukan. Demikianlah, saat
Allah membawa Israel ke Kanaan untuk pertama kali, ada
peringatan yang jelas terhadap pemikiran ini. Bukan sebab
jasa-jasamu (Ul. 9:4-6). Bukan sebab sifat-sifat baik mere-
ka atau perbuatan-perbuatan baik mereka, bukan sebab
Allah membutuhkan mereka, atau berharap mendapat ke-
untungan apa pun dari mereka. Tidak, dalam menunjuk-
kan rahmat, Ia bertindak berdasar hak istimewa-Nya,
bukan sebab kita layak mendapatkannya, melainkan demi
kehormatan-Nya sendiri. Lihatlah betapa dengan tegas hal
Kitab Yehezkiel 36:25-38
ini diungkapkan: Ketahuilah, itu bukan sebab kamu. Ini
menyiratkan bahwa kita cenderung menilai tinggi jasa-jasa
kita sendiri dan susah untuk diyakinkan supaya tidak
mengandalkan jasa-jasa diri sendiri. namun , dengan
satu atau lain cara, Allah akan membuat semua orang ke-
sayangan-Nya mengetahui dan mengakui bahwa anugerah-
Nyalah, dan bukan kebaikan mereka, rahmat-Nyalah, dan
bukan jasa mereka, yang membuat mereka menjadi orang-
orang kesayangan-Nya. Dan bahwa sebab itu bukan ke-
pada mereka, bukan kepada mereka, melainkan kepada-
Nya, segala kemuliaan semestinya diberikan.
(2) Mereka harus bertobat dari dosa tingkah laku mereka yang
jahat. Mereka harus mengakui bahwa rahmat-rahmat yang
mereka terima dari Allah bukan saja tidak layak mereka
terima, namun juga malah sudah beribu kali diambil dari
mereka sebab perbuatan mereka sendiri. Oleh sebab itu,
mereka sama sekali tidak boleh memegahkan perbuatan-
perbuatan baik mereka, namun justru harus malu dan me-
nyesal atas kelakuan mereka yang jahat. Dengan begitu,
mereka dipersiapkan dengan sangat baik untuk menerima
rahmat.
2. Namun hendaklah mereka tahu bahwa mereka harus meng-
inginkan dan mengharapkannya (ay. 37): Dalam hal ini juga
Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku.
Allah telah berbicara, dan Ia akan melakukannya, dan Ia ingin
supaya orang memohon kepada-Nya untuk melakukannya. Ia
menghendaki supaya umat-Nya mencari Dia, maka Ia akan
mencondongkan hati mereka untuk melakukannya, saat Ia
mendatangi mereka di jalan-jalan rahmat.
(1) Mereka harus mendoakan rahmat itu, sebab melalui doa
Allah dicari, dan diminta. Apa yang menjadi isi janji-janji
Allah haruslah menjadi isi doa-doa kita. Dengan meminta
rahmat yang dijanjikan, kita harus memberi kemuliaan
kepada Sang Pemberi, mengungkapkan penghargaan atas
pemberian itu, mengakui kebergantungan kita, dan meng-
hargai tinggi doa yang telah direstui oleh Allah. Kristus sen-
diri harus meminta, maka Allah akan memberi kepada-
Nya bangsa-bangsa menjadi milik pusaka-Nya, harus ber-
doa kepada Bapa, maka Ia akan mengutus sang Penghibur.
Apalagi kita, kita harus meminta, supaya dapat menerima.
(2) Mereka harus mencari petunjuk dari sabda-sabda Allah,
dan dengan begitu pula Allah dicari dan diminta. Rahmat
itu pasti bukan hanya tindakan penyelenggaraan ilahi, me-
lainkan juga buah dari janji. Oleh sebab itu, janji itu harus
dipandang, dan doa harus dipanjatkan untuknya, dengan
mata iman yang terpancang pada janji itu, yang harus
menjadi pedoman dan dasar dari semua pengharapan kita.
Dengan kedua cara ini kita mendapati Allah dimintai
petunjuk oleh Daniel, atas nama kaum Israel, saat Ia
hendak melakukan perkara-perkara yang besar itu bagi
mereka. Daniel meminta petunjuk dari sabda-sabda Allah,
sebab ia memahami berdasar kitab-kitab, kitab Nabi Ye-
remia, apa yang harus dinantikan dan kapan. Dan kemu-
dian ia mengarahkan mukanya untuk mencari Allah de-
ngan doa (Dan. 9:2-3). Ingatlah, persekutuan kita dengan
Allah, dalam segala tindakan penyelenggaraan-Nya me-
nyangkut kita, harus dijaga dengan firman dan doa, dan di
dalam keduanya Ia harus dimintai petunjuk.
PASAL 37
ncaman-ancaman kehancuran Yehuda dan Yerusalem sebab
dosa-dosa mereka, yang sudah kita dapati dalam bagian awal
kitab ini, tidak begitu mengerikan jika dibandingkan dengan janji-
janji pemulihan dan pembebasan mereka yang begitu menghibur
hati, yang diperuntukkan bagi kemuliaan Allah. Janji-janji ini kita
dapati di sini dalam bagian akhir kitab ini. Juga, sama seperti
ancaman-ancaman kehancuran Yehuda dan Yerusalem digambarkan
dengan banyak penglihatan dan perumpamaan, untuk menimbulkan
rasa takut yang kudus, demikian pula halnya dengan janji-janji
pemulihan dan pembebasan mereka, untuk menyemangati iman yang
kecil. Allah telah meyakinkan mereka, dalam pasal sebelumnya,
bahwa Ia akan mengumpulkan kaum Israel, bahkan keseluruhannya,
dan akan membawa mereka keluar dari pembuangan, dan mengem-
balikan mereka ke tanah mereka sendiri. namun ada dua hal yang
membuat hal ini tidak begitu memungkinkan:
I. Bahwa mereka sedemikian tersebar di antara musuh-musuh
mereka, dan merasa begitu putus asa bisa mendapatkan per-
tolongan dan nasib baik yang dapat menyokong atau men-
dorong kepulangan mereka. Mereka sangat tawar hati. Oleh
sebab semuanya ini, mereka di sini, dalam penglihatan,
dibandingkan dengan sebuah lembah yang penuh dengan
tulang-tulang kering orang-orang mati, yang akan dikumpul-
kan bersama-sama dan dihidupkan kembali. Penglihatan ten-
tang hal ini kita dapati dalam ayat 1-10, dan penjelasannya,
beserta penerapannya pada masalah yang sedang dibahas
sekarang (ay. 11-14).
II. Bahwa mereka sedemikian terpecah-belah, terlalu banyak
sisa permusuhan yang sudah ada sejak dahulu antara
Yehuda dan Efraim, bahkan berlanjut dalam pembuangan
mereka. namun , berkenaan dengan hal ini, melalui tanda
dua papan yang dijadikan satu dalam tangan sang nabi,
ditunjukkan persatuan yang membahagiakan yang akan ter-
cipta, pada saat kepulangan mereka, di antara kedua bangsa
Israel dan Yehuda itu (ay. 15-22). Dalam hal ini ada perlam-
bang tentang penyatuan bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa
bukan Yahudi, orang-orang Yahudi dan orang-orang Sama-
ria, di dalam Kristus dan jemaat-Nya. Dan demikian bergerak
maju dengan nubuat tentang kerajaan Kristus, yang akan
didirikan di dunia dengan kemah Allah di dalamnya, dan
tentang kemuliaan-kemuliaan serta anugerah-anugerah dari
kerajaan itu (ay. 23-28).
Penglihatan tentang Tulang-tulang Kering
(37:1-14)
1 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan
perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan
lembah ini penuh dengan tulang-tulang. 2 Ia membawa aku melihat tulang-
tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di
lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering. 3 Lalu Ia berfirman kepada-
ku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?”
Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!” 4 Lalu fir-
man-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakan-
lah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!
5 Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi
nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. 6 Aku akan memberi
urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi
kamu dengan kulit dan memberi kamu nafas hidup, supaya kamu hidup
kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” 7 Lalu aku ber-
nubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat,
kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-
tulang itu bertemu satu sama lain. 8 Sedang aku mengamat-amatinya, lihat,
urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya,
namun mereka belum bernafas. 9 Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah
kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah
kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup,
datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-
orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali.” 10 Lalu aku ber-
nubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di
dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kaki-
nya, suatu tentara yang sangat besar. 11 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak
manusia, tulang-tulang ini yaitu seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka
sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengha-
rapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. 12 Oleh sebab itu, bernubuat-
lah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh,
Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku,
Kitab Yehezkiel 37:1-14
707
dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. 13 Dan kamu
akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-
kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. 14 Aku
akan memberi Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan
Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengeta-
hui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikian-
lah firman TUHAN.”
Di sini ada,
I. Penglihatan tentang kebangkitan dari maut menuju hidup, dan
itu kebangkitan yang mulia. Ini yaitu perkara yang sepenuhnya
tidak dikenal oleh alam, dan begitu bertentangan dengan cara-
cara kerjanya (a privatione ad habitum non datur regressus – dari
tidak ada menjadi memiliki tidaklah ada jalannya), hingga tidak
bisa terpikirkan oleh kita kecuali dengan firman Tuhan. Dan
sebagian orang menegaskan dari penglihatan ini, bahwa melalui
firman itu pasti akan ada kebangkitan semua orang mati. “Sebab,”
kata mereka, “jika tidak demikian, kebangkitan itu tidak akan
tepat dijadikan sebagai tanda untuk meneguhkan iman mereka
akan janji pembebasan dari Babel, sama seperti kedatangan
Mesias disebutkan untuk meneguhkan iman mereka berkenaan
dengan pembebasan sebelumnya” (Yes. 7:14). namun ,
1. Apakah penglihatan itu benar-benar menegaskan adanya ke-
bangkitan bagi semua orang atau tidak, tidak diragukan lagi
bahwa itu merupakan gambaran yang paling hidup tentang
kebangkitan dalam tiga hal, selain dari yang terutama dimak-
sudkan untuk menjadi tanda pembebasan bagi orang Yahudi.
Kebangkitan dalam tiga hal itu yaitu ,
(1) Kebangkitan jiwa-jiwa dari kematian dosa kepada hidup
atau kebenaran, kepada hidup yang kudus, sorgawi, ro-
hani, dan ilahi, oleh kuasa anugerah ilahi yang menyertai
firman Kristus (Yoh. 5:24-25).
(2) Kebangkitan jemaat Injil, atau suatu bagian dari jemaat
Injil, dari keadaan yang menderita dan teraniaya, terutama
di bawah kuk Babel Perjanjian Baru, kepada kemerdekaan
dan damai sejahtera.
(3) Kebangkitan tubuh pada akhir zaman, terutama tubuh-
tubuh orang percaya yang akan bangkit kepada hidup yang
kekal.
2. Marilah kita amati perincian-perincian dari penglihatan ini.
(1) Keadaan yang menyedihkan dari tulang-tulang mati ini.
Sang nabi dibuat,
[1] Melihat tulang-tulang itu dengan saksama. Melalui do-
rongan nubuat dan kuasa ilahi, ia, dalam penglihatan,
dibawa dan ditempatkan di tengah-tengah lembah,
mungkin lembah yang dibicarakan dalam pasal 3:22
itu, di mana Allah pada saat itu berbicara dengan dia.
Dan lembah itu penuh dengan tulang-tulang, tulang-
tulang orang mati, tidak ditumpuk-tumpuk, seperti di
kamar mayat, namun terserak di atas permukaan tanah.
Seolah-olah telah terjadi suatu pertempuran berdarah
di sana, dan orang-orang yang terbunuh dibiarkan be-
gitu saja tanpa dikubur sampai semua daging dimakan
habis atau membusuk, dan tidak ada yang tersisa ke-
cuali tulang-belulang, yang terputus satu dari yang lain
dan berserakan di mana-mana. Ia berkeliling-keliling meli-
hat tulang-tulang itu, dan ia mengamati bukan saja
bahwa tulang-tulang itu sangat banyak (sebab sudah ba-
nyak orang yang pergi ke tempat arwah-arwah berkum-
pul), namun juga, lihat, tulang-tulang itu amat kering,
sebab sudah lama terpapar sinar matahari dan angin.
Sumsum tulang-tulang yang sebelumnya masih segar
(Ayb. 21:24), saat baru mati beberapa saat, sekarang
kehilangan semua kelembabannya, dan menjadi kering
seperti debu. Sekarang tubuh dijalin dengan tulang
(Ayb. 10:11), namun nanti tulang-tulang itu sendiri tidak
akan memiliki pelindung lagi. Orang-orang Yahudi di
Babel yaitu seperti tulang-tulang yang mati dan kering
itu, tidak mungkin lagi untuk disatukan bersama-sama,
bahkan seperti tengkorak, lebih tidak mungkin lagi
untuk dibentuk menjadi satu tubuh, apalagi menjadi
satu tubuh yang hidup. namun , mereka terbaring
tanpa dikubur di lembah terbuka, yang membesarkan
harapan-harapan akan ada kebangkitan bagi mereka,
seperti kebangkitan dua orang saksi-Nya (Why. 11:8-9).
Tulang-tulang Gog dan Magog akan dikuburkan (39:12,
15), sebab kehancuran mereka sudah sehabis-habisnya.
Kitab Yehezkiel 37:1-14
namun tulang-tulang Israel ada di lembah terbuka, di
bawah mata Sorga, sebab ada harapan untuk hari depan
mereka.
[2] Sang nabi dibuat mengakui bahwa keadaan mereka
mengenaskan, dan tidak dapat ditolong oleh kuasa apa
pun selain kuasa Allah sendiri (ay. 3): “Hai anak ma-
nusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?
Apakah itu mungkin? Dapatkah engkau merancang
bagaimana melakukannya? Sanggupkah pengetahuan-
mu menaruh hidup ke dalam tulang-tulang kering, atau
hikmatmu memulihkan suatu bangsa yang tertawan?”
“Tidak,” kata sang nabi, “Aku tidak tahu bagaimana itu
harus dilakukan, namun Engkaulah yang mengetahui.” Ia
tidak berkata, “Mereka tidak bisa hidup,” supaya ia
tidak terkesan membatasi Yang Mahakudus dari Israel.
namun , “Tuhan, Engkau tahu apakah mereka bisa hidup
dan apakah mereka akan hidup. Jika Engkau tidak
menaruh hidup ke dalam diri mereka, maka sudah pasti
mereka tidak bisa hidup.” Perhatikanlah, Allah menge-
nal dengan sempurna kuasa-Nya sendiri dan tujuan-
tujuan-Nya sendiri, dan ingin supaya kita menyerahkan
semuanya kepada kuasa dan tujuan-tujuan-Nya itu,
dan melihat serta mengakui bahwa pekerjaan-pekerja-
an-Nya sungguhlah menakjubkan, sehingga semuanya
itu tidak bisa dikerjakan oleh hikmat atau kuasa apa
pun selain hikmat dan kuasa-Nya saja.
(2) Sarana-sarana yang dipakai untuk mengumpulkan tulang-
tulang yang terserak ini dan menghidupkan kembali tulang-
tulang yang mati dan kering ini. Itu harus dilakukan dengan
nubuat. Yehezkiel diperintahkan untuk bernubuat mengenai
tulang-tulang ini (ay. 4, 9), untuk bernubuat kepada nafas
hidup itu. Jadi ia pun bernubuat seperti diperintahkan
kepadanya (ay. 7, 10).
[1] Ia harus berkhotbah, dan ia melakukannya. Dan tu-
lang-tulang yang mati itu menjadi hidup oleh kuasa
yang menyertai firman Allah yang dikhotbahkannya.
[2] Ia harus berdoa, dan ia melakukannya. Dan tulang-
tulang yang mati itu dibuat hidup sebagai jawaban atas
doa. Sebab roh kehidupan masuk ke dalam tulang-
tulang itu. Lihatlah betapa mujarabnya firman dan doa,
dan betapa perlunya kedua-duanya, untuk membang-
kitkan jiwa-jiwa yang mati. Allah memerintahkan ham-
ba-hamba-Nya untuk bernubuat mengenai tulang-tulang
kering. Katakanlah kepada mereka, Hiduplah. Ya, kata-
kanlah kepada mereka, Hiduplah. Dan mereka pun
menjadi seperti yang diperintahkan kepada mereka.
Berserulah kepada mereka berulang kali, Hai tulang-
tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! namun kita
berseru dengan sia-sia, masih saja mereka mati, masih
saja mereka sangat kering. Oleh sebab itu, kita harus
bersungguh-sungguh dengan Allah di dalam doa supaya
Roh bekerja dengan firman: Datanglah, hai nafas hidup!
Dan embuskanlah napas pada mereka. Anugerah Allah
dapat menyelamatkan jiwa-jiwa tanpa pemberitaan kita,
namun pemberitaan kita tidak dapat menyelamatkan
mereka tanpa anugerah Allah, dan anugerah itu harus
dimohonkan dengan doa. Perhatikanlah, hamba-hamba
Tuhan harus dengan setia dan tekun menggunakan
sarana-sarana anugerah, bahkan terhadap orang-orang
yang tampak kecil kemungkinannya untuk dimenang-
kan. Bernubuat kepada tulang-tulang kering tampak-
nya merupakan laku tobat yang sangat berguna, ibarat
menyirami sebuah batang yang kering. Namun, apakah
mereka mau mendengar atau menahan diri, kita harus
menjalankan kepercayaan yang diberikan kepada kita,
harus bernubuat seperti yang diperintahkan kepada kita,
di dalam nama Dia yang membangkitkan orang mati
dan yang merupakan sumber hidup.
(3) Dampak yang menakjubkan dari sarana-sarana ini. Orang-
orang yang berbuat seperti yang diperintahkan kepada me-
reka, seperti yang ditugaskan kepada mereka, berhadapan
dengan kejadian-kejadian yang sangat mengecilkan hati,
tidak perlu meragukan keberhasilan, sebab Allah akan
mengakui dan memperkaya penugasan yang telah ditetap-
kan-Nya sendiri.
Kitab Yehezkiel 37:1-14
[1] Yehezkiel melihat ke bawah dan bernubuat kepada tu-
lang-tulang di lembah, dan tulang-tulang itu pun men-
jadi tubuh-tubuh manusia. Pertama, yang harus dia
katakan kepada mereka yaitu bahwa Allah akan ber-
hasil menghidupkan mereka kembali: Beginilah firman
Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini, kamu akan
hidup kembali (ay. 5 dan lagi ay. 6). Dan Dia yang meng-
ucapkan perkataan, dengan demikian akan melakukan
pekerjaan yang dikatakan itu. Dia yang berkata, Mereka
akan hidup, akan membuat mereka hidup: Dia akan
menutupi mereka dengan kulit dan daging (ay. 6), seperti
yang dilakukan-Nya pada mulanya (Ayb. 10:11). Dia
yang menjadikan kita dengan dahsyat dan ajaib, dan
yang membuat kita secara mengherankan, dengan cara
serupa dapat menjadikan kita baru, sebab lengan-Nya
tidak kurang panjang. Kedua, apa yang langsung
dikerjakan untuk mereka yaitu bahwa mereka diben-
tuk menjadi baru. Kita dapat menduga bahwa sang nabi
bernubuat dengan sangat hidup dan bersemangat, ter-
utama saat ia mendapati bahwa apa yang dia katakan
mulai terwujud. Perhatikanlah, membuka, memeterai-
kan, dan menerapkan janji-janji, yaitu sarana-sarana
yang biasa bagi kita untuk ambil bagian dalam kodrat
yang baru dan ilahi. Pada waktu Yehezkiel bernubuat
dalam penglihatan ini, kedengaranlah suara, suara
perintah, dari sorga, mendukung apa yang dia katakan.
Atau suara itu menandakan gerakan para malaikat
yang akan dipekerjakan sebagai para pelayan dari Allah
Sang Pemelihara dalam membebaskan orang-orang
Yahudi, dan kita membaca tentang suara sayap mereka
(1:24) dan bunyi derap langkah mereka (2Sam. 5:24).
Dan, sungguh, suatu suara berderak-derak, atau suatu
kegaduhan, terdengar di antara tulang-tulang itu. Bah-
kan tulang-tulang yang mati dan kering sekalipun mulai
bergerak saat mereka dipanggil untuk mendengar
firman Tuhan. Hal ini digenapi saat , sesudah Koresh
menyatakan pembebasan orang Yahudi, orang-orang
yang rohnya digerakkan Allah mulai berpikir untuk
memanfaatkan kebebasan itu, dan bersiap-siap untuk
pergi. saat kedengaran suara, lihatlah, suara itu ber-
derak-derak. saat Daud mendengar bunyi derap lang-
kah di puncak pohon-pohon kertau, maka ia bertindak
cepat, dan pada saat itu ada suara berderak-derak.
saat Paulus mendengar suara yang berkata, Mengapa-
kah engkau menganiaya Aku? Lihat, tulang-tulang
kering berderak-derak. Ia gemetar dan tertegun. namun
ini belum semuanya: Tulang-tulang itu bertemu satu
sama lain, di bawah pimpinan ilahi. Dan, meskipun
dalam diri manusia ada banyak tulang, namun tak satu
tulang pun dari banyak orang yang terbunuh itu hilang,
tak satu pun kehilangan jalan, tak satu pun kehilangan
tempat, namun , seolah-olah dengan naluri, tiap-tiap
tulang mengetahui dan menemukan temannya. Tulang-
tulang yang terserak datang berkumpul bersama, dan
tulang-tulang yang sudah lepas dijalin bersama-sama,
sebab kuasa ilahi memberi persediaan kepada
tulang-tulang kering ini, yang di dalam tubuh yang
hidup disediakan oleh tiap-tiap sendinya (Ef. 4:16, KJV).
Demikianlah yang akan terjadi pada kebangkitan orang-
orang mati. Atom-atom yang tersebar akan dibariskan
dan disusun di dalam tempat dan susunan mereka yang
benar, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain,
oleh hikmat dan kuasa yang sama yang dengannya
tulang-tulang itu pertama-tama dibentuk dalam rahim
seorang perempuan yang mengandung. Demikian pula
yang terjadi dalam kembalinya orang-orang Yahudi.
Orang-orang yang tersebar di sejumlah penjuru negeri
Babel datang ke keluarga mereka masing-masing, dan
semuanya, seolah-olah secara serempak, datang ke
tempat perkumpulan bersama, untuk kembali pulang.
Secara perlahan-lahan urat-urat dan daging mendatangi
tulang-tulang ini, dan kulit menutupinya (ay. 8). Hal ini
digenapi saat para tawanan membawa serta harta
benda mereka, dan penduduk setempat menyokong
mereka dengan perak, dan emas, dan apa saja yang
mereka butuhkan untuk kepindahan mereka (Ezr. 1:4).
namun tetap saja mereka belum bernafas. Mereka tidak
memiliki semangat dan keberanian untuk melaku-
Kitab Yehezkiel 37:1-14
kan perjalanan yang sedemikian sulit dan berbahaya
seperti ini untuk kembali ke negeri mereka sendiri.
[2] Yehezkiel kemudian memandang ke atas dan bernubuat
kepada angin, atau nafas, atau roh, dan berkata, Hai
nafas hidup, datanglah, dan berembuslah ke dalam
orang-orang yang terbunuh ini. Tulang-tulang yang
kering sama saja dengan tubuh-tubuh yang mati. namun
adapun Allah, pekerjaan-Nya sempurna. Dia bukan
Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Oleh
sebab itu, berembuslah ke dalam orang-orang yang ter-
bunuh ini, supaya mereka hidup kembali. Sebagai jawab-
an atas permintaan ini, nafas hidup itu pun langsung
masuk di dalam mereka (ay. 10). Perhatikanlah, roh
kehidupan datang dari Allah. Dia pada mulanya, dalam
penciptaan, mengembuskan nafas hidup ke dalam
manusia, dan demikian pula yang akan dilakukan-Nya
pada akhirnya di hari kebangkitan. Para tawanan yang
berpatah arang dan berputus asa digairahkan secara
menakjubkan dengan tekad untuk menerobos segala
sesuatu yang mengecilkan hati, yang menghadang di
jalan mereka pulang, dan memegang teguh tekad itu
dengan segenap kekuatan yang tak terbayangkan. Dan
kemudian mereka menjejakkan kaki mereka, suatu
tentara yang sangat besar. Mereka bukan hanya orang-
orang yang hidup, melainkan juga orang-orang yang
siap menjalankan tugas, layak untuk bertempur di
medan perang dan menakutkan bagi semua orang yang
memberi mereka perlawanan. Perhatikanlah, bagi Allah
tidak ada yang mustahil. Ia dapat menjadikan anak-
anak bagi Abraham dari batu-batu, dan dari tulang-
tulang yang mati dan kering Ia dapat mengerahkan
suatu tentara yang sangat besar untuk berperang bagi-
Nya dan membela perkara-Nya.
II. Diterapkannya penglihatan ini pada keadaan orang-orang Yahudi
yang tengah ditimpa malapetaka dalam pembuangan: Tulang-
tulang ini yaitu seluruh kaum Israel, baik kesepuluh suku mau-
pun kedua suku. Lihatlah dalam hal ini seperti apa mereka itu
dan akan jadi apa mereka.
1. Dalamnya keputusasaan yang ke dalamnya mereka sekarang
dijerumuskan (ay. 11). Mereka semua menyerah sudah hilang
lenyap. Mereka berkata, “Tulang-tulang kami sudah menjadi ke-
ring, kekuatan kami habis, semangat kami hilang, pengharap-
an kami sudah lenyap semuanya. Segala sesuatu yang kami
mintai pertolongan dan pembebasan sudah gagal, dan kami
sudah hilang. Orang lain boleh berharap, namun tidak bagi
kami.” Perhatikanlah, jika kesusahan-kesusahan terus ber-
langsung lama, harapan-harapan sering kali dikecewakan, dan
semua makhluk ciptaan yang kita andalkan gagal, maka tidak
heran jika roh tenggelam. Maka, tidak ada hal lain selain iman
yang giat akan kuasa, janji, dan penyelenggaraan Allah yang
akan menjaga roh supaya tidak mati.
2. Tingginya kesejahteraan yang ke dalamnya mereka akan diang-
kat, kendati dengan semuanya ini: “Oleh sebab itu, sebab
keadaannya sudah sedemikan parahnya, bernubuatlah kepada
mereka, dan beri tahulah mereka, sekarang yaitu waktu Allah
untuk tampil bagi mereka. Yehova-jireh – di atas gunung TUHAN
akan disediakan (ay. 12-14).” Katakanlah kepada mereka,
(1) “Bahwa mereka akan dibawa keluar dari negeri musuh-
musuh mereka, di mana mereka seolah-olah dikubur
hidup-hidup: Aku akan membuka kubur-kuburmu.” Mereka
akan dipulihkan, bukan hanya orang-orang yang tulang-
tulangnya berhamburan di mulut dunia orang mati (Mzm.
141:7), melainkan juga yang dikuburkan di dalam makam.
Meskipun kekuatan musuh seperti dasar dunia orang mati,
yang orang pikir mustahil untuk diterobos, kuat seperti
maut dan gigih seperti dunia orang mati, namun kekuatan
itu akan ditaklukkan. Allah dapat menaikkan umat-Nya
kembali dari samudera raya bumi (Mzm. 71:20).
(2) “Bahwa mereka akan dibawa ke tanah mereka sendiri, di
mana mereka akan hidup sejahtera: Aku akan membawa
kamu ke tanah Israel (ay. 12) dan membiarkan kamu tinggal
di sana (ay. 14), dan akan memberi Roh-Ku ke dalammu,
lalu kamu akan hidup kembali.” Perhatikanlah, Allah mena-
ruh roh dalam diri kita untuk tujuan yang baik, dan kita
pun akan benar-benar hidup, jika Ia memberi Roh-
Nya ke dalam diri kita. Dan (terakhir) dalam semuanya ini
Allah akan dimuliakan: Kamu akan mengetahui bahwa
Kitab Yehezkiel 37:15-28
Akulah TUHAN (ay. 13), dan bahwa Aku telah mengatakan-
nya dan membuatnya (ay. 14). Perhatikanlah, tindakan Allah
yang membangkitkan orang-orang mati mendatangkan ke-
hormatan bagi-Nya lebih daripada apa pun, dan bagi firman-
Nya, yang telah diagungkan-Nya di atas segala nama-Nya,
dan akan diagungkan dengan lebih dan lebih lagi dengan
digenapinya setiap gelar nama-Nya pad