Yehezkiel 22


  tem-

pat itu. Seandainya Tuhan berkenan untuk meninggalkannya se-

lama-lamanya, sang nabi tidak akan berseru kepada mereka untuk 

mendengar firman TUHAN, tidak pula Ia akan memperlihatkan hal-hal 

yang demikian pada waktu sekarang ini. Di sini ada, 

I.   Perhatian yang penuh belas kasihan dari Allah terhadap keadaan 

tanah Israel yang menyedihkan pada saat itu. Tanah itu telah 

menjadi jarahan dan juga olok-olokan bagi bangsa-bangsa yang di 

sekitarnya (ay. 4).  

1. Tanah itu telah menjadi jarahan bagi mereka. Dan mereka 

semua diperkaya dengan rampasan itu. sesudah  orang Kasdim 

menaklukkan bangsa Israel, semua tetangga mereka lari ber-

hamburan untuk mengambil jarahan seperti menjarah kapal 

karam. Tiap-tiap orang berpikir bahwa apa yang dapat mereka 

raih dengan tangan mereka yaitu  milik mereka (ay. 3): Mere-

ka telah menjadikan kamu sunyi sepi dan mengingini kamu, 

supaya  kamu menjadi milik bangsa-bangsa, milik sisa bangsa-

bangsa, bahkan orang-orang yang nyaris tidak luput dari 

kehancuran serupa. Tak seorang pun berpikir bahwa melucuti 

orang Israel yaitu  suatu kejahatan. Turba Romæ sequitur 

fortunam ut semper – Rakyat Roma tetap memuji orang yang 

ditinggikan dan merendahkan orang yang jatuh. Teriakan yang 

biasa terdengar, saat  orang jatuh, “Enyahlah kamu.”  

2. Tanah itu telah menjadi cemoohan bagi bangsa-bangsa. Bang-

sa-bangsa sekitar mengambil semua yang mereka miliki dan 

menertawakan mereka sesudah  melakukannya. Musuh itu ber-

kata, “Syukur! Bukit-bukit dari dahulu kala sudah menjadi milik 

kita (ay. 2). Kepurbakalaan tanah Israel, atau martabatnya, 

atau kekudusannya dan benteng-bentengnya, tidak membuat-

nya aman, namun  sebaliknya, kita sudah menjadi penguasa 

atas seluruh tanah itu.” Semakin tinggi tanah itu dihiasi 

dengan kehormatan, dan semakin besar pengaruh yang sudah 

dimilikinya di antara bangsa-bangsa, semakin besar pula 

kebanggaan dan kesenangan yang dirasakan bangsa-bangsa 

dalam menjarahnya. Ini merupakan contoh keadaan jiwa yang 

rendah dan hina. Sebab, semakin mulia kemakmuran pada 

waktu dulu, semakin memilukan pula kesusahan bila terjadi 

sekarang. Dan Allah memperhatikan hal ini benar-benar ter-

jadi juga dalam malapetaka Israel pada saat itu: Kamu menjadi 

buah mulut orang dan banyak dipergunjingkan (ay. 3). Semua 

pembicaraan dari negeri sekitar yaitu  menyangkut terguling-

nya bangsa Yahudi. Dan setiap orang yang berbicara tentang-

nya mengucapkan satu atau lain penghinaan yang penuh 

amarah dan kebencian. Mereka menjadi olok-olok orang-orang 

yang merasa aman dan penghinaan orang-orang yang sombong 

(Mzm. 123:4). Ada sebagian orang yang dikenal sebagai tukang 

gunjing, ada saja yang digunjingkannya tentang seseorang, 

dan tidak ada sesuatu yang baik dalam hatinya untuk dibin-

cangkan tentang siapa pun. Dan di tengah orang-orang seperti 

itu, umat Allah pastilah menjadi bahan celaan saat mahkota 

jatuh dari kepala mereka. Demikianlah yang menjadi nasib 

Kekristenan, pada masa-masa susahnya, bahwa di mana-

mana pun ia mendapat perlawanan. 

II.  Ungkapan-ungkapan murka Allah yang adil terhadap orang-orang 

yang bersorak-sorai atas kehancuran tanah Israel, seperti yang di-

lakukan oleh banyak tetangganya, bahkan oleh sisa dari saudara-

saudara, dan orang Edom pada khususnya. Mari kita lihat,  

1. Bagaimana mereka memperlakukan Israel milik Allah. Mereka 

merampas sebagian besar harta milik tanah Israel, tanah 

Allah. Sebab memang begitulah tanah itu: “Mereka menentu-

kan tanah-Ku menjadi milik mereka (ay. 5), dan dengan demi-

Kitab Yehezkiel 36:1-15 

kian tidak hanya mengusik harta milik tetangga mereka, namun  

juga menyerobot hak istimewa Allah.” Tanah sucilah yang 

mereka jamah dengan tangan-tangan mereka yang cemar. 

Mereka sama sekali tidak mengakui kebergantungan mereka 

pada Allah, sebagai Allah atas tanah itu, tidak pula mengakui 

kepentingan apa saja yang tersisa yang dimiliki Israel di 

dalamnya. namun  tanah itu mereka miliki dan dapat habis 

dijarah, seolah-olah mereka sudah memenangkannya dalam 

peperangan yang sah. Dan hal ini mereka perbuat tanpa me-

rasa ngeri sedikit pun terhadap Allah dan penghakiman-peng-

hakiman-Nya, dan tanpa belas kasihan sedikit pun terhadap 

Israel dan malapetaka-malapetaka yang menimpa mereka. 

Sebaliknya, mereka melakukannya dengan segala rasa suka-

cita, sebab  mereka mendapat untung darinya, dan dengan 

rasa penghinaan terhadap Israel, yang menderita kerugian 

sebab nya. Kekayaan yang bertambah-tambah, dengan cara 

benar ataupun salah, yaitu  hal yang sepenuhnya menyuka-

kan hati yang duniawi. Dan malapetaka-malapetaka yang me-

nimpa umat Allah yaitu  hal yang sepenuhnya menyukakan 

pikiran yang penuh penghinaan. Dan saat  tidak mendapat 

kesempatan untuk memangsa umat Allah, mereka mencela 

umat-Nya itu. Dengan begitu, umat Allah menjadi noda yang 

ditimbulkan bangsa-bangsa (ay. 6). Semua orang mengolok-

olok mereka dan menertawakan mereka. Namun yang sebenar-

nya terjadi yaitu  mereka, dengan dosa mereka sendiri, telah 

menjadikan diri mereka hina. Dengan demikian, Allah benar 

dalam semua hal yang terjadi ini, sedangkan manusia sendiri 

yang bertindak tidak benar dan sangat biadab.  

2. Bagaimana Allah akan memperlakukan orang-orang yang 

dalam perkataan dan perbuatannya sangat melecehkan umat-

Nya sedemikian rupa. Ia telah berfirman melawan bangsa-

bangsa. Ia telah menjatuhkan hukuman atas mereka. Ia telah 

menetapkan hati untuk mengadakan perhitungan dengan 

mereka sebab nya, dan ini dilakukan dalam api cemburuan-

Nya, bagi kehormatan-Nya sendiri maupun kehormatan umat-

Nya (ay. 5). sebab  memiliki cinta yang kuat seperti maut 

terhadap kehormatan-Nya sendiri maupun kehormatan umat-

Nya, Ia memiliki kegairahan yang gigih seperti dunia orang mati 

dalam menyikapi kedua hal ini. Dengan penuh kebencian me-

reka mencerca umat Allah, dan Allah pun akan mengecam me-

reka dengan penuh kecemburuan. Maka, mudah saja untuk 

mengatakan siapa yang akan berkata-kata dengan penuh 

kuasa. Allah akan berbicara dalam amarah cemburuan-Nya 

(ay. 6). Amarah tidak ada pada Allah. namun  Ia akan menge-

rahkan kekuatan-Nya melawan mereka dan memperlakukan 

mereka dengan keras seperti orang yang sedang marah. Ia 

akan berkata kepada mereka dalam murka-Nya dengan begitu 

rupa sehingga mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-

Nya. Apa yang Dia katakan akan tetap dipegang-Nya, sebab 

perkataan-Nya didukung dengan sumpah. Ia telah mengangkat 

tangan-Nya dan bersumpah demi diri-Nya sendiri, telah ber-

sumpah dan tidak akan menyesal. Dan apa gerangan yang di-

ucapkan dengan amarah yang begitu memanas, namun de-

ngan begitu penuh pertimbangan seperti itu? Inilah dia (ay. 7), 

bangsa-bangsa yang di sekitarmu sendiri pasti akan menang-

gung noda mereka. Perhatikanlah, Allah yang benar, yang 

empunya pembalasan, akan membalaskan noda dengan noda. 

Orang-orang yang menimpakan penghinaan dan celaan ke-

pada umat Allah, cepat atau lambat, akan membuat penghina-

an dan celaan itu membakar diri mereka sendiri. Mungkin itu 

akan terjadi di dunia ini (segala kebodohan mereka atau mala-

petaka mereka, kegagalan mereka atau kesialan mereka, akan 

menjadi cela mereka), atau kalau tidak, pastilah akan terjadi 

pada hari itu nanti, saat  semua orang yang tidak mau ber-

tobat akan bangun untuk mengalami kehinaan dan kengerian 

yang kekal. 

III. Janji-janji perkenanan Allah kepada Israel milik-Nya dan jaminan-

jaminan akan rahmat besar yang disediakan Allah untuk mereka. 

Allah memanfaatkan kesempatan saat musuh-musuh berbuat 

geram dan kurang ajar terhadap mereka, untuk menunjukkan 

bahwa Dia jauh lebih peduli terhadap mereka dan siap untuk ber-

buat baik terhadap mereka. Seperti Daud berharap bahwa Allah 

akan membalasnya dengan kebaikan saat  Simei mengutuknya. 

Biar mereka mengutuk, Engkau akan memberkati. Dengan cara ini, 

seperti juga dengan cara-cara lain, musuh-musuh umat Allah 

justru sedang mengerjakan kebaikan bagi mereka, bahkan mela-

lui kejahatan-kejahatan yang mereka perbuat terhadap umat 

Kitab Yehezkiel 36:1-15 

Allah itu, bertentangan dengan kehendak mereka dan di luar niat 

mereka. Jadi tidaklah beralasan bagi kita untuk mengeluh jika, 

semakin jahat orang, semakin baik Allah. Jika, semakin baik Ia 

berbicara kepada kita melalui firman dan Roh-Nya, semakin baik 

Ia bertindak untuk kita dalam penyelenggaraan-Nya. Sang nabi 

harus berkata demikian kepada gunung-gunung Israel, yang seka-

rang menjadi sunyi sepi dan direndahkan, bahwa Allah baik kem-

bali terhadap mereka dan akan berpaling kepada mereka (ay. 9). 

Sama seperti kutukan Allah menjangkau bumi sebab  manusia, 

demikian pula berkat-Nya. Nah, apa yang dijanjikan yaitu , 

1. Bahwa para pemilik yang sah dari gunung-gunung itu akan 

kembali pada kepemilikan mereka: Umat-Ku Israel akan segera 

kembali (ay. 8). Meskipun mereka masih sangat jauh dari 

negeri mereka sendiri, walaupun mereka tersebar di banyak 

negeri, dan sekalipun mereka ditahan oleh kekuatan musuh-

musuh mereka, namun mereka akan kembali ke daerah 

mereka (Yer. 31:17). Waktu kepulangan mereka sudah dekat. 

Meskipun sudah lewat empat puluh tahun dari tujuh puluh 

tahun (mungkin lima puluh) yang tersisa, namun kepulangan 

mereka dikatakan sudah dekat, sebab  sudah pasti, dan ada 

sebagian dari antara mereka yang akan hidup untuk melihat-

nya. Seribu tahun di hadapan Tuhan sama seperti satu hari. 

Gunung-gunung Israel menjadi sunyi sepi pada saat itu. 

namun  Allah akan membuat manusia lalu-lalang di atas mereka 

lagi, yaitu umat-Nya Israel, bukan sebagai pelancong yang 

melewatinya, melainkan sebagai penduduk, bukan penyewa, 

melainkan pemilik yang utuh: Mereka akan menduduki 

engkau, bukan untuk jangka waktu tertentu, melainkan untuk 

diri mereka sendiri dan keturunan mereka. Engkau akan 

menjadi milik pusaka mereka. Ini merupakan perlambang dari 

Kanaan sorgawi, yang merupakan hak waris dari semua anak 

Allah, semua orang Israel sejati, dan ke dalamnya mereka 

akan segera dibawa bersama-sama, dari negeri-negeri di mana 

mereka terserak sekarang.  

2. Bahwa gunung-gunung itu akan mampu memberi  pemeli-

haraan yang berlimpah dan menghibur kepada para pemilik 

mereka pada saat kepulangan mereka. saat  tanah sudah 

menikmati hari-hari Sabatnya selama bertahun-tahun, tanah 

itu akan menjadi jauh lebih subur sesudahnya, seperti halnya 

kita sesudah beristirahat, terutama beristirahat di hari Sabat: 

Kamu akan dikerjakan dan ditaburi (ay. 9) dan akan memberi 

buah untuk umat-Ku Israel (ay. 8). Perhatikanlah, suatu berkat 

bagi bumi untuk menjadi berguna bagi manusia, terutama bagi 

orang-orang baik, yang mau melayani Allah dengan riang hati 

dalam memanfaatkan hal-hal baik yang disediakan bumi bagi 

mereka.  

3. Bahwa kaum Israel tidak hanya akan mendapat makanan dan 

minuman yang cukup, namun  juga tempat tinggal yang nya-

man, di negeri mereka sendiri: Kota-kota akan didiami lagi dan 

reruntuhan-reruntuhan akan dibangun kembali (ay. 10). Dan 

Aku akan membuat kamu didiami kembali seperti keadaan 

semula (ay. 11). Dosa mereka sendiri telah mengusir mereka 

dari situ, namun  sekarang perkenanan Allah akan membuat 

mereka berdiam kembali di situ. saat  anak yang hilang 

sudah bertobat, ia kembali tinggal di rumah ayahnya, seperti 

keadaannya semula. Bawa ke mari jubah yang terbaik, dan 

pakaikanlah itu kepadanya. Bahkan, Aku akan berbuat baik 

kepadamu sekarang lebih dari pada keadaan dahulu. Ada 

sukacita yang lebih besar untuk domba yang dibawa pulang 

daripada seandainya ia tidak pernah tersesat. Dan ada kala-

nya Allah melipatgandakan penghiburan-penghiburan umat-

Nya seimbang dengan hari-hari Ia menindas mereka. Demi-

kianlah Allah memberkati akhir hidup Ayub lebih daripada 

keadaannya dahulu, dan melipatgandakan baginya segala 

sesuatu yang dimilikinya.  

4. Bahwa bangsa itu, sesudah  kepulangan mereka, akan beranak 

cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi, sehingga tanah 

itu tidak hanya akan dihuni lagi, namun  juga dihuni dengan 

sesak, dan padat penduduk, seperti sebelumnya. Allah akan 

mengembalikan kepadanya segenap kaum Israel dalam keselu-

ruhannya (amatilah betapa kuat penekanan yang diberikan 

pada pernyataan itu [ay. 10]), yaitu semua orang yang rohnya 

digerakkan Allah untuk kembali. Dan orang-orang itu sajalah 

yang dianggap sebagai kaum Israel, sedangkan sisanya sudah 

memutuskan diri mereka sendiri darinya. Atau, jika diban-

dingkan dengan keseluruhannya, meskipun hanya sedikit 

yang pertama-tama kembali, namun sesudah itu, pada waktu 

yang berbeda-beda, mereka semua kembali. Dan kemudian 

Kitab Yehezkiel 36:1-15 

(firman Allah) Aku akan membuat manusia banyak (ay. 10), 

membuat manusia dan binatang banyak, dan mereka akan 

bertambah banyak (ay. 11). Perhatikanlah, kerajaan Allah di 

dunia yaitu  kerajaan yang bertumbuh. Dan jemaat-Nya, 

meskipun untuk sementara waktu mungkin berkurang, akan 

pulih lagi dan penuh kembali.  

5. Bahwa celaan yang sudah lama dilontarkan kepada tanah 

Israel oleh para mata-mata yang jahat, dan yang belakangan 

ini dihidupkan kembali, bahwa tanah itu yaitu  suatu negeri 

yang memakan penduduknya dengan kelaparan, sakit penya-

kit, dan pedang, akan disingkirkan jauh-jauh, dan tidak akan 

pernah ada lagi peluang untuk itu. Kanaan sudah mendapat 

nama buruk. Dulu ia memuntahkan para penduduknya (Im. 

18:28), penduduk asli, kaum pribumi, yang dijadikan cela 

baginya oleh orang-orang yang seharusnya memberi  gam-

baran lain tentangnya (Bil. 13:32). Belakangan ini tanah itu 

melahap orang-orang Israel, dan memuntahkan mereka juga. 

Dengan begitu, biasa dikatakan orang tentang tanah itu, bah-

wa itu yaitu  tanah yang, bukannya menyokong bangsa-

bangsa atau suku-suku yang mendiaminya, justru memunah-

kan mereka, menggulingkan mereka, dan menyebabkan mere-

ka jatuh. Tanah itu yaitu  tempat kediaman yang menghan-

curkan semua penghuni yang datang berdiam di dalamnya. 

Tabiatnya ini diperolehnya di antara tetangga-tetangganya. 

namun  sekarang Allah berjanji bahwa keadaannya tidak akan 

demikian lagi: Engkau tidak lagi terus memunahkan mereka 

(ay. 12), tidak akan makan orang lagi (ay. 14). namun  para 

penduduknya akan hidup dengan baik sampai tua, dan bulan-

bulan mereka tidak akan diputus di tengah-tengah. Banding-

kan ini dengan janji dalam Zakharia 8:4. Perhatikanlah, Allah 

akan menjauhkan cela umat-Nya dengan menjauhkan penye-

babnya. jika  bangsa itu dibuat berkembang dalam keda-

maian, kelimpahan, dan kekuatan, maka mereka tidak lagi 

mendengar noda yang ditimbulkan bangsa-bangsa terhadap 

mereka (ay. 15), terutama jika  bangsa itu diperbarui secara 

rohani. jika  dosa, yang merupakan cela bagi bangsa mana 

saja, khususnya bagi umat yang mengaku sebagai umat Allah, 

dijauhkan, maka mereka tidak lagi menanggung pencelaan 

bangsa-bangsa. Perhatikanlah, jika  Allah kembali dalam 

rahmat kepada sebuah bangsa yang kembali kepada-Nya da-

lam kewajiban ibadah, maka semua kesedihan mereka akan 

segera dihapuskan dan kehormatan mereka akan dipulihkan. 

Belas Kasihan Allah terhadap Israel 

(36:16-24)  

16 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 17 “Hai anak manusia, wak-

tu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan ting-

kah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapan-Ku. 

18 Maka Aku mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka sebab  darah yang 

dicurahkan mereka di tanah itu, sedang tanah itu mereka najiskan dengan 

berhala-berhala mereka. 19 Aku menghamburkan mereka di antara bangsa-

bangsa, sehingga mereka berserak-serak di semua negeri, Aku menghakimi 

mereka selaras dengan tingkah lakunya. 20 Di mana saja mereka datang di 

tengah bangsa-bangsa, mereka menajiskan nama-Ku yang kudus, dalam hal 

orang menyindir mereka: Katanya mereka umat TUHAN, namun  mereka harus 

keluar dari tanah-Nya. 21 Aku merasa sakit hati sebab  nama-Ku yang kudus 

yang dinajiskan oleh kaum Israel di tengah bangsa-bangsa, di mana mereka 

datang. 22 Oleh sebab  itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman 

Tuhan ALLAH: Bukan sebab  kamu Aku bertindak, hai kaum Israel, namun  

sebab  nama-Ku yang kudus yang kamu najiskan di tengah bangsa-bangsa 

di mana kamu datang. 23 Aku akan menguduskan nama-Ku yang besar yang 

sudah dinajiskan di tengah bangsa-bangsa, dan yang kamu najiskan di 

tengah-tengah mereka. Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah 

TUHAN, demikianlah firman Tuhan ALLAH, manakala Aku menunjukkan ke-

kudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. 24 Aku akan menjemput 

kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua 

negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu. 

saat  Allah menjanjikan kepada para tawanan yang malang itu bah-

wa mereka akan dibawa pulang dengan penuh kemuliaan ke negeri 

mereka sendiri, pada waktunya, hal itu sangat mengecilkan harapan-

harapan mereka, sebab  mereka merasa tidak layak, sepenuhnya 

tidak pantas, untuk mendapat perkenanan seperti itu. Oleh sebab 

itu, untuk menghapus perasaan kecil hati itu, Allah di sini menun-

jukkan kepada mereka bahwa Ia akan melakukannya untuk mereka 

demi nama-Nya semata, supaya  Ia dimuliakan dalam diri mereka dan 

oleh mereka, supaya  Ia bisa menyatakan dan mengagungkan rahmat 

dan kebaikan-Nya, yaitu sifat-Nya yang paling menjadi kemuliaan-

Nya dari semua sifat lain. Dan, sebab  kepulangan kembali bangsa 

itu merupakan perlambang dari penebusan kita oleh Kristus, maka 

hal ini dimaksudkan lebih jauh untuk menunjukkan bahwa tujuan 

akhir yang ingin dicapai dalam keselamatan kita, yang untuknya 

semua langkah dipersiapkan, yaitu  kemuliaan Allah. Untuk tujuan 

inilah Kristus mengarahkan segala sesuatu yang dikerjakan-Nya da-

Kitab Yehezkiel 36:16-24 

lam doa singkat itu, Bapa, muliakanlah nama-Mu. Dan Allah menya-

takan bahwa itulah tujuan-Nya dalam segala sesuatu yang dikerja-

kan Kristus, dalam jawaban yang diberikan langsung terhadap doa 

itu, melalui suara dari sorga: Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku 

akan memuliakan-Nya lagi (Yoh. 12:28). Sekarang amatilah di sini, 

I.   Bagaimana nama Allah sudah tercoreng oleh dosa-dosa maupun 

kesengsaraan-kesengsaraan Israel. Dan hal ini harus lebih di-

sesalkan daripada semua dukacita mereka, yang sudah mereka 

timpakan ke atas diri mereka sendiri. Sebab kehormatan Allah 

lebih melekat di hati orang-orang baik daripada semua kepenting-

an mereka sendiri.  

1. Kemuliaan Allah telah dilukai oleh dosa Israel saat  mereka 

berada di negeri mereka sendiri (ay. 17). Negeri mereka yaitu  

tanah yang baik, tanah suci, tanah yang kepadanya mata 

Allah tertuju. namun  mereka menajiskannya dengan tingkah 

laku mereka, tingkah laku mereka yang fasik. Itulah tingkah 

laku kita, tingkah laku yang kita pilih sendiri. Dan kita sendiri 

harus menanggung kesalahan dan aibnya. Dosa sebuah bang-

sa menajiskan tanah mereka, menjadikannya keji bagi Allah 

dan tidak nyaman bagi diri mereka sendiri. Dengan begitu, 

mereka tidak bisa memiliki  persekutuan yang kudus de-

ngan-Nya atau satu dengan yang lain. Apa yang najis tidak 

boleh digunakan. Dengan menyalahgunakan pemberian-pem-

berian dari kemurahan hati Allah kepada kita, kita kehilangan 

manfaat dari pemberian-pemberian itu. Dan, sebab  pikiran 

dan hati nurani dicemarkan oleh kesalahan, maka tidak ada 

penghiburan yang bisa kita peroleh, tidak ada yang murni bagi 

kita. Tingkah laku mereka di mata Allah yaitu  seperti kena-

jisan seorang perempuan selama ia harus memisahkan diri, 

yang menjauhkannya dari tempat kudus dan membuat apa 

saja yang disentuhnya menjadi najis (Im. 15:19). Dosa yaitu  

kejijikan yang dibenci Tuhan, dan yang tidak tahan dilihat-Nya. 

Mereka mencurahkan darah dan menyembah berhala-berhala 

(ay. 18), dan dengan dosa-dosa itu menajiskan tanah itu. Oleh 

sebab  inilah Allah mencurahkan amarah-Nya ke atas mereka, 

menghamburkan mereka di antara bangsa-bangsa. Tanah mere-

ka sendiri muak dengan mereka, dan mereka dikirim ke tanah-

tanah lain. Dalam hal ini Allah berbuat benar, dan dibenarkan 

dalam apa yang dilakukan-Nya. Tak ada yang bisa berkata bah-

wa Ia melakukan kejahatan apa pun terhadap mereka, malah, 

Ia berbuat adil bagi kehormatan-Nya sendiri, sebab Ia meng-

hakimi mereka selaras dengan tingkah lakunya (ay. 19). Namun 

demikian, sebab  tindakan-Nya itu tidak dimengerti dengan 

benar, Ia pun tidak dimuliakan oleh mereka dengan tindakan-

Nya itu. Sebab para musuh benar-benar berkata, seperti seru-

an Musa tentang apa yang akan dikatakan orang Mesir se-

andainya Allah memusnahkan mereka di padang gurun, 

bahwa Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpa-

kan malapetaka kepada mereka. Tetangga-tetangga mereka 

menganggap mereka lebih sebagai bangsa yang kudus dari-

pada bangsa yang berdosa, dan sebab  itu mereka memanfaat-

kan malapetaka-malapetaka yang tengah menimpa umat-Nya 

itu, bukan untuk memuliakan Dia, sebagaimana yang seha-

rusnya mereka lakukan, melainkan untuk mencela Dia dan 

melontarkan penghinaan terhadap-Nya. Dan nama Allah terus 

dihujat sepanjang hari oleh para penindas mereka (Yes. 52:5).  

2. saat  mereka datang di tengah bangsa-bangsa, Allah tidak 

mendapat kemulian melalui mereka di sana. namun , sebalik-

nya, nama-Nya yang kudus dinajiskan (ay. 20).  

(1) Nama-Nya dinajiskan oleh dosa-dosa Israel. Mereka tidak 

mendatangkan pujian bagi pengakuan iman mereka ke 

mana saja mereka pergi, namun  sebaliknya, mendatangkan 

cela kepada pengakuan itu. Nama Allah dan agama-Nya 

yang kudus dihujat sebab  mereka (Rm. 2:24). jika  

orang-orang yang mengaku berhubungan dengan Allah, 

yang mengikat kovenan dan bersekutu dengan-Nya, dida-

pati bermoral bejat, menjadi budak bagi hawa nafsu me-

reka, tidak jujur dalam kelakuan mereka, berdusta dalam 

perkataan mereka dan mengkhianati kepercayaan yang 

telah dipercayakan kepada mereka, maka musuh-musuh 

Tuhan mendapat peluang besar dari situ untuk menghujat. 

Terutama jika  mereka berseteru dengan Allah mereka 

sebab  Allah menghajar mereka, maka tidak lagi yang lebih 

memalukan daripada itu.  

(2) Nama-Nya dinajiskan oleh penderitaan-penderitaan Israel. 

Sebab dari penderitaan-penderitaan itu musuh-musuh 

Allah mendapat peluang untuk mencela Allah, sebagai 

Kitab Yehezkiel 36:16-24 

Allah yang tidak mampu untuk melindungi para penyem-

bah-Nya sendiri dan tidak mampu memanfaatkan pemberi-

an-pemberian-Nya sendiri. Mereka berkata, dengan men-

cemooh, “Mereka ini yaitu  penduduk negeri itu, orang-

orang fasik ini, dan kalian lihat Allah tidak dapat membuat 

mereka tetap patuh pada peraturan-peraturan-Nya. Orang-

orang yang menyedihkan ini, kalian lihat, Ia tidak dapat 

membuat mereka tetap menikmati perkenanan-perkenan-

an-Nya. Mereka ini yaitu  orang-orang yang keluar dari ne-

geri Yehova, mereka yaitu  sampah bangsa-bangsa. Inikah 

orang-orang yang memiliki ketetapan-ketetapan yang begitu 

baik, namun  yang hidupnya begitu jahat? Inikah bangsa yang 

begitu tersohor sebagai umat yang bijaksana dan berakal 

budi, dan yang dikatakan memiliki  Allah yang demikian 

dekat kepada mereka? Bukankah mereka ini bagian dari 

bangsa yang berani itu, yang kudus itu, namun  di sini tampak 

demikian hina, demikian rendah?” Demikianlah Allah men-

jual umat-Nya dan tidak mengambil keuntungan apa-apa dari 

penjualan itu (Mzm. 44:13). Celaan yang menindih mereka 

memberi  penghinaan terhadap-Nya. 

II. Sekarang mari kita lihat bagaimana Allah akan memulihkan ke-

hormatan-Nya, melindunginya, dan meninggikannya, dengan me-

ngerjakan pembaruan besar terhadap mereka, dan kemudian me-

ngerjakan keselamatan besar bagi mereka. Ia mau saja menyerak-

kan mereka di antara bangsa-bangsa, namun  Ia kuatir disakiti hati-

Nya oleh musuh (Ul. 32:26-27). namun , meskipun mereka tidak 

layak mendapat belas kasihan-Nya, namun Ia merasa iba ter-

hadap nama-Nya yang kudus (KJV), dan seribu kali sayang bahwa 

nama-Nya sampai diinjak-injak dan dilecehkan. Ia memandang 

kehormatan-Nya sendiri dengan belas kasihan, yang terbaring 

mengucurkan darah di antara bangsa-bangsa kafir, memandang 

permata yang diinjak-injak dalam debu tanah itu, yang telah 

dinajiskan kaum Israel (ay. 21), bahkan di negeri tempat mereka 

dibuang. Dalam  perasaan iba terhadap nama-Nya itu, Allah mem-

bawa mereka keluar dari bangsa-bangsa kafir, sebab dosa-dosa 

mereka lebih memalukan di sana daripada di negeri mereka sen-

diri. “Oleh sebab itu Aku akan mengumpulkan kamu dari semua 

negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu (ay. 24). 

Bukan sebab  kamu, sebab kamu tidak layak mendapat perke-

nanan seperti itu, sebab kamu amat sangat tidak layak, melain-

kan sebab  nama-Ku yang kudus (ay. 22), supaya  Aku mengudus-

kan nama-Ku yang besar” (ay. 23). Cermatilah sini, nama Allah 

yang kudus yaitu  nama-Nya yang besar. Kekudusan-Nya yaitu  

kebesaran-Nya. Demikianlah Ia sendiri memandangnya. Dan tidak 

ada hal lain yang dapat membuat orang benar-benar besar, selain 

dengan menjadi benar-benar baik, dan mengambil bagian dalam 

kekudusan Allah. Allah akan mengagungkan nama-Nya sebagai 

nama yang kudus, sebab Ia akan menguduskannya: Aku akan 

menguduskan nama-Ku yang besar yang sudah kamu najiskan. 

saat  Allah menjalankan apa yang sudah diucapkan-Nya dengan 

bersumpah demi kekudusan-Nya, maka Ia menguduskan nama-

Nya. Dampak dari hal ini akan sangat membahagiakan: Bangsa-

bangsa akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, manakala Aku 

menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bang-

sa dan di hadapanmu. saat  Allah membuktikan bahwa nama-

Nya sungguh kudus, dan orang-orang kudus-Nya memuji nama-

Nya, maka Ia pun dikuduskan dalam diri mereka, dan ini berperan 

dalam menyebarluaskan pengetahuan tentang-Nya. Cermatilah,  

1. Alasan-alasan Allah untuk memberi  rahmat didasarkan 

pada diri-Nya sendiri. Ia akan membawa umat-Nya keluar dari 

Babel, bukan demi mereka, melainkan sebab  nama-Nya, 

sebab  Ia akan dimuliakan.  

2. Kebaikan Allah memakai kesempatan di tengah keburukan 

manusia untuk tampil jauh lebih kemilau. Inilah mengapa Ia 

akan menguduskan nama-Nya melalui pengampunan dosa, 

sebab nama-Nya telah dinajiskan melalui perbuatan dosa. 

Janji akan Hati yang Baru;  

Janji akan Anugerah yang Menguduskan;  

Berkat-berkat yang Dijanjikan Harus Didoakan  

(36:25-38)  

25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan 

kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan 

mentahirkan kamu. 26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang 

baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang 

keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. 27 Roh-Ku akan Kuberikan 

diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala

Kitab Yehezkiel 36:25-38 

 695 

ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan mela-

kukannya. 28 Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan 

kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan 

menjadi Allahmu. 29 Aku akan melepaskan kamu dari segala dosa kenajisan-

mu dan Aku akan menumbuhkan gandum serta memperbanyaknya, dan Aku 

tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu. 30 Aku juga memperbanyak buah 

pohon-pohonanmu dan hasil ladangmu, supaya  kamu jangan lagi menang-

gung noda kelaparan di tengah bangsa-bangsa. 31 Dan kamu akan teringat-

ingat kepada kelakuanmu yang jahat dan perbuatan-perbuatanmu yang 

tidak baik dan kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri sebab  kesa-

lahan-kesalahanmu dan perbuatan-perbuatanmu yang keji. 32 Bukan sebab  

kamu Aku bertindak, demikianlah firman Tuhan ALLAH, ketahuilah itu. 

Merasa malulah kamu dan biarlah kamu dipermalukan sebab  kelakuanmu, 

hai kaum Israel. 33 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada hari Aku mentahir-

kan kamu dari segala kesalahanmu, Aku akan membuat kota-kota didiami 

lagi dan reruntuhan-reruntuhan akan dibangun kembali. 34 Tanah yang 

sudah lama tinggal tandus akan dikerjakan kembali, supaya  jangan lagi tetap 

tandus di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. 35 Sebaliknya 

mereka akan berkata: Tanah ini yang sudah lama tinggal tandus menjadi 

seperti taman Eden dan kota-kota yang sudah runtuh, sunyi sepi dan mus-

nah, sekarang didiami dan menjadi kubu. 36 Dan bangsa-bangsa yang 

tertinggal, yang ada di sekitarmu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, 

yang membangun kembali yang sudah musnah dan menanami kembali yang 

sudah tandus. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.  

37 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini juga Aku menginginkan, 

supaya  kaum Israel meminta dari pada-Ku apa yang hendak Kulakukan bagi 

mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia. 38 Seperti 

domba-domba persembahan kudus, dan seumpama domba-domba Yerusa-

lem pada waktu-waktu perayaannya, begitulah kota-kota yang sudah runtuh 

penuh dengan lautan manusia. Dengan begitu mereka akan mengetahui 

bahwa Akulah TUHAN.” 

Umat Allah mungkin berkecil hati dalam mengharapkan pemulihan 

mereka, bukan hanya sebab  menyadari ketidaklayakan mereka akan 

perkenanan seperti itu (yang dijawab, dalam ayat-ayat sebelumnya, 

bahwa Allah, dalam memulihkan mereka, mengarahkan pandangan-

Nya pada kemuliaan-Nya sendiri, bukan pada kelayakan mereka), 

namun  juga sebab  menyadari ketidakpantasan mereka untuk per-

kenanan seperti itu, sebab mereka masih bobrok dan berdosa. Dan 

itu dijawab dalam ayat-ayat di atas, dengan janji bahwa Allah dengan 

anugerah-Nya akan mempersiapkan dan melayakkan mereka untuk 

menerima rahmat-Nya, baru kemudian menganugerahkan rahmat itu 

kepada mereka. Hal ini digenapi sebagian dalam dampak yang me-

nakjubkan dari pembuangan di Babel terhadap orang-orang Yahudi 

di sana, bahwa pembuangan itu berhasil menyembuhkan mereka 

dari kecenderungan mereka pada penyembahan berhala. namun  hal 

itu diniatkan lebih jauh sebagai rancangan untuk kovenan anugerah, 

dan sebagai contoh dari berkat-berkat rohani, yang dengannya kita 

diberkati dalam perkara-perkara sorgawi melalui kovenan itu. Sama 

seperti di dalam pasal 34, sesudah  janji tentang kepulangan mereka, 

nubuat itu tanpa terasa bergerak terus untuk mencakup janji ten-

tang kedatangan Kristus, Sang Gembala Agung, demikian pula di sini 

nubuat itu tanpa terasa mengarah terus pada janji tentang Roh, dan 

pengaruh-pengaruh serta pekerjaan-pekerjaan-Nya yang penuh anu-

gerah, yang banyak kita butuhkan untuk menguduskan kita, sama 

seperti kita banyak membutuhkan jasa Kristus untuk membenarkan 

kita. 

I.   Allah di sini berjanji bahwa Ia akan mengerjakan pekerjaan yang 

baik dalam diri mereka, untuk melayakkan mereka bagi pekerjaan 

baik yang berniat diwujudkan-Nya untuk mereka (ay. 25-27). Kita 

mendapati janji-janji dengan maksud yang sama (11:18-20).  

1. Bahwa Allah akan membersihkan mereka dari kecemaran-

kecemaran dosa (ay. 25): Aku akan mencurahkan kepadamu air 

jernih, yang melambangkan sungai Kristus yang dipercikkan 

pada hati nurani untuk memurnikannya dan menghapuskan 

perasaan bersalah. Sama seperti orang-orang yang diperciki air 

suci dengan demikian dibebaskan dari kenajisan mereka di 

mata hukum Taurat. Itu juga melambangkan anugerah Roh 

yang dipercikkan pada seluruh jiwa untuk memurnikannya 

dari semua kecenderungan dan kecondongan yang bobrok, 

seperti Naaman dibersihkan dari penyakit kustanya dengan 

mencelupkan diri ke dalam Sungai Yordan. Kristus sendiri ber-

sih, sebab kalau tidak, darah-Nya tidak akan bisa membersih-

kan kita. Dan Roh Kuduslah yang membuat kita kudus: Dari 

segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku 

akan mentahirkan kamu. Dan Aku akan melepaskan kamu dari 

segala dosa kenajisanmu (ay. 29). Dosa itu menajiskan, khu-

susnya penyembahan berhala. Penyembahan berhala mem-

buat para pendosa menjijikkan bagi Allah dan menjadi beban 

bagi diri mereka sendiri. jika  kesalahan diampuni, dan 

kodrat yang rusak dikuduskan, maka kita pun dibersihkan 

dari kekotoran kita. Tidak ada cara lain lagi untuk diselamat-

kan dari kesalahan itu. Hal ini dijanjikan Allah kepada umat-

Nya di sini, supaya  Ia dikuduskan dalam diri mereka (ay. 23). 

Kita tidak bisa menguduskan nama Allah kecuali Ia mengu-

duskan hati kita, dan kita juga tidak bisa hidup bagi kemulia-

an-Nya, kecuali dengan anugerah-Nya.  

Kitab Yehezkiel 36:25-38 

2. Bahwa Allah akan memberi mereka hati yang baru, kecen-

derungan pikiran yang sungguh unggul dan jauh berbeda dari 

apa yang sebelumnya. Allah akan mengerjakan perubahan di 

dalam batin untuk mewujudkan perubahan yang menyeluruh. 

Perhatikanlah, semua orang yang memiliki  kepentingan 

dalam perjanjian baru, dan berhak atas Yerusalem baru, mem-

punyai hati yang baru dan roh yang baru, dan semuanya ini 

diperlukan supaya  mereka dapat berjalan dalam hidup yang 

baru. Inilah kodrat ilahi yang di dalamnya orang-orang percaya 

dibuat ambil bagian melalui janji-janji. 

3. Bahwa, sebagai ganti hati yang keras, yang tidak peka dan 

kaku, tidak mampu menerima kesan-kesan ilahi dan mem-

balas dengan rasa kasih yang saleh, Allah akan memberi  

hati yang taat, hati yang lemah lembut, yang terlatih indra-

indra rohaninya, yang sadar akan penderitaan-penderitaan 

dan kesenangan-kesenangan rohani, dan dalam segala sesua-

tu patuh pada kehendak Allah. Perhatikanlah, anugerah yang 

memperbarui akan mengerjakan perubahan yang sangat besar 

di dalam jiwa seperti mengubah batu yang mati menjadi 

daging yang hidup.  

4. Bahwa sebab , selain kecenderungan pada dosa, kita menge-

luh akan ketidakmampuan untuk melakukan kewajiban iba-

dah kita, maka Allah akan membuat mereka hidup menurut se-

gala ketetapan-Nya. Ia tidak hanya akan menunjukkan kepada 

mereka jalan ketetapan-ketetapan-Nya di hadapan mereka, 

namun  juga mencondongkan mereka untuk berjalan di dalam-

nya. Ia akan sepenuhnya melengkapi mereka dengan hikmat 

dan kehendak, dan kekuatan-kekuatan yang giat bekerja, 

untuk melakukan segala pekerjaan yang baik. supaya  semua 

ini terjadi, Ia akan membuat Roh-Nya diam di dalam batin me-

reka, sebagai pengajar, pembimbing, dan pengudus. Perhati-

kanlah, Allah tidak memaksa orang untuk hidup menurut 

segala ketetapan-Nya dengan memakai kekerasan lahiriah, 

namun  membuat mereka hidup menurut segala ketetapan-Nya 

berdasar  suatu pegangan batiniah. Dan amatilah bagai-

mana kita harus memanfaatkan kekuatan dan dasar pegangan 

yang penuh rahmat yang dijanjikan kepada kita ini, yang 

diletakkan di dalam batin kita: Engkau akan tetap berpegang 

pada peraturan-peraturan-Ku. Jika Allah mau melakukan bagi-

an-Nya ini sesuai dengan janji-Nya, maka kita harus melaku-

kan bagian kita sesuai dengan perintah-Nya. Perhatikanlah, 

janji dari anugerah Allah untuk memampukan kita melakukan 

kewajiban ibadah kita haruslah menggugah hati kita dan meng-

giatkan kita untuk senantiasa memberi perhatian dan berusaha 

melaksanakan kewajiban kita. Janji-janji Allah seharusnya 

mendorong kita pada perintah-perintah-Nya sebagai pedoman 

kita, dan perintah-perintah-Nya harus membawa kita kembali 

kepada janji-janji-Nya untuk memberi  kekuatan, sebab 

tanpa anugerah-Nya kita tidak dapat berbuat apa-apa. 

II. Allah di sini berjanji bahwa Ia akan membawa mereka masuk ke 

dalam kovenan dengan diri-Nya. Rangkuman dari kovenan anuge-

rah kita dapati dalam ayat 28: Kamu akan menjadi umat-Ku dan 

Aku akan menjadi Allahmu. Bukan, “Jika kamu mau menjadi 

umat-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu” (meskipun sungguh 

benar bahwa kita tidak dapat berharap Allah akan menjadi Allah 

bagi kita kecuali kita menjadi umat bagi-Nya). namun , Ia telah 

terlebih dulu memilih kita, dan mengasihi kita, bukan kita yang 

terlebih dulu memilih dan mengasihi Dia. Oleh sebab itu, syarat-

nya yaitu  sebab  anugerah, oleh janji. Demikian pula dengan 

upahnya, bukan sebab  jasa, bukan sebab  perbuatan. “Kamu 

akan menjadi umat-Ku. Aku akan menjadikan kamu demikian. 

Aku akan memberimu sifat dan roh sebagai umat-Ku, maka Aku 

akan menjadi Allahmu.” Ini yaitu  dasar dan batu penjuru dari 

kebahagiaan orang percaya. Ini yaitu  sorga itu sendiri (Why. 

21:3, 7). 

III. Allah berjanji bahwa Ia akan mewujudkan segala sesuatu yang 

baik bagi mereka, sesuai dengan tuntutan keadaan mereka yang 

mendesak. jika  mereka dipersiapkan untuk mendapat rahmat 

seperti itu,  

1. Maka mereka akan kembali kepada harta milik mereka dan 

menetap kembali di negeri mereka (ay. 28): Kamu akan diam di 

dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu. 

Allah, dalam membawa mereka kembali ke sana, mengarahkan 

pandangan-Nya bukan pada jasa-jasa nenek moyang mereka, 

melainkan pada janji yang dibuat-Nya kepada nenek moyang 

mereka. Sebab itulah Ia pertama-tama memberi  janji 

Kitab Yehezkiel 36:25-38 

kepada mereka (Ul. 7:7-8). Inilah mengapa Ia bermurah hati, 

sebab Ia sudah berkata bahwa Ia akan bermurah hati. Hal ini 

akan terjadi sesudah  pembaruan yang penuh berkat yang akan 

dikerjakan Allah di antara mereka (ay. 33): “Pada hari itu Aku 

mentahirkan kamu dari segala kesalahanmu, dan dengan 

demikian akan membuatmu pantas untuk menerima milik 

pusaka itu. Aku akan membuat kota-kota didiami lagi, dan de-

ngan demikian membuatmu memiliki milik pusaka itu.” Ini 

memang merupakan cara rahmat Allah, yaitu pertama-tama 

memisahkan orang dari dosa-dosa mereka, dan kemudian me-

mulihkan mereka kepada penghiburan-penghiburan mereka.  

2. Maka mereka akan menikmati kelimpahan dari segala sesuatu 

yang baik. saat  mereka diselamatkan dari kenajisan mereka, 

dari dosa-dosa mereka yang menahan hal-hal yang baik dari 

mereka, maka Aku akan menumbuhkan gandum serta memper-

banyaknya (ay. 29). Kelimpahan akan datang mengikuti pang-

gilan Allah, dan kelimpahan yang dipanggil-Nya akan senan-

tiasa bertumbuh. Dan saat Ia mengucapkan firman, maka 

buah dari pohon maupun ladang akan berlipat ganda. Seiring 

bertambah banyaknya penduduk, bertambah banyak pula 

hasil-hasil bumi untuk memelihara mereka. Sebab Dia yang 

menjadikan mulut akan mengirimkan makanan. Kelaparan 

yaitu  salah satu penghakiman yang di bawahnya mereka 

sudah kepayahan. Dan hal itu, seperti hal-hal lain, sudah 

menjadi cela bagi mereka, bahwa mereka sampai kelaparan di 

negeri yang termasyhur akan kesuburannya. namun  sekarang 

Aku tidak lagi mendatangkan kelaparan atasmu. Tak seorang 

pun ditindih tongkat itu kalau Ia tidak menindihkannya ke-

pada mereka. Maka mereka tidak akan lagi menanggung noda 

kelaparan, tidak akan pernah lagi dicela sebab nya. Tidak 

pula akan pernah dikatakan bahwa Allah yaitu  Tuan yang 

tidak memberi  upah yang semestinya kepada hamba-

hamba-Nya. Bahkan, mereka tidak hanya akan dibersihkan 

dari noda kelaparan, namun  juga akan dipuji sebab  kelimpah-

an. Tanah yang sudah lama tinggal tandus di hadapan semua 

orang yang lintas, yang melihatnya, sebagian dengan rasa hina 

dan sebagian lagi dengan rasa iba, akan dikerjakan kembali 

(ay. 34). Dan, sesudah  sekian lama tinggal tandus, sekarang 

tanah itu akan menjadi lebih subur. Camkanlah, Allah akan 

menumbuhkan gandum, namun mereka harus menggarap 

tanahnya. Ingatlah, bahkan rahmat-rahmat yang dijanjikan 

harus diperoleh dengan kerja keras. Sebab janji itu bukan 

untuk menggantikan, melainkan untuk menyemangati dan 

mendorong, ketekunan dan usaha kita. Dan berkat yang 

sedemikian rupa akan diperintahkan Allah kepada tangan 

orang rajin, sehingga semua yang lewat akan memperhatikan-

nya, dengan rasa takjub (ay. 35). Mereka akan berkata, 

“Lihatlah betapa ada perubahan yang penuh berkat di sini, 

bagaimana tanah yang sudah lama tinggal tandus ini sudah 

menjadi seperti taman Eden, padang gurun diubah kembali 

menjadi firdaus.” Perhatikanlah, Allah menyediakan kehormat-

an-kehormatan bagi umat-Nya, bahwa mereka akan dimah-

kotai dengan kecukupan untuk mengimbangi penghinaan yang 

tengah membebani mereka, dan dalam kehormatan-kehormat-

an itu Ia akan dihormati. Pertambahan yang menakjubkan 

dari penduduk negeri maupun hasil-hasilnya ini dibandingkan 

(ay. 38) dengan kawanan besar domba-domba yang dibawa ke 

Yerusalem, untuk dikorbankan pada salah satu perayaan 

ibadah. Bahkan kota-kota yang sekarang porak-poranda akan 

dipenuhi dengan lautan manusia, bukan seperti kawanan 

domba yang menyelimuti padang rumput (Mzm. 65:14), melain-

kan seperti domba-domba persembahan kudus yang dibawa ke 

pelataran rumah Tuhan. Perhatikanlah, bertambahnya jumlah 

orang dalam sebuah bangsa akan benar-benar mengundang 

hormat dan menghibur jika  mereka semua diabdikan ke-

pada Allah sebagai kawanan yang kudus, untuk dipersembah-

kan kepada-Nya sebagai korban-korban yang hidup. Kerumun-

an orang yaitu  pemandangan yang indah di bait Allah. 

IV. Allah menunjukkan apa yang akan menjadi dampak-dampak yang 

membahagiakan dari perubahan yang penuh berkat ini.  

1. Perubahan itu akan memberi  dampak yang membahagia-

kan terhadap umat Allah sendiri, sebab perubahan itu akan 

membuat mereka sungguh-sungguh bertobat dari dosa-dosa 

mereka (ay. 31): Dan kamu akan teringat-ingat kepada kelaku-

anmu yang jahat dan kamu akan merasa mual melihat dirimu 

sendiri. Lihatlah di sini apa dosa itu. Dosa yaitu  kekejian, hal 

yang menjijikkan, kekejian yang dibenci Tuhan. Lihatlah apa 

Kitab Yehezkiel 36:25-38 

langkah pertama menuju pertobatan; yaitu, mengingat-ingat 

kelakuan kita yang jahat, merenungkan dengan sungguh-

sungguh dosa-dosa yang telah kita perbuat dan melihat kem-

bali dengan terperinci. Kita harus mengingat bukan hanya 

kejahatan-kejahatan besar yang menjijikkan, yaitu kelakuan 

kita yang jahat, melainkan juga segala kekurangan dan kele-

mahan kita, yaitu perbuatan-perbuatan kita yang tidak baik, 

tidak begitu baik seperti seharusnya. Bukan hanya tindakan-

tindakan kita yang langsung melanggar hukum Tuhan, me-

lainkan juga kekurangan kita untuk memenuhinya. Lihatlah 

apa yang senantiasa menyertai pertobatan sejati, yaitu merasa 

muak dengan diri sendiri, rasa malu yang kudus dan wajah 

yang terpana: “Kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri, 

melihat betapa kamu telah menjadikan dirimu menjijikkan di 

hadapan Allah.” Cinta diri yaitu  dasar dari dosa, dan tidak 

bisa tidak, wajah kita memerah melihat betapa tidak masuk 

akalnya cinta diri itu. namun  perseteruan kita dengan diri kita 

sendiri memang sudah sepatutnya terjadi, supaya  kita, dengan 

alasan-alasan yang baik, diperdamaikan dengan diri kita 

sendiri. Dan, terakhir, lihatlah apa yang menjadi dorongan 

paling kuat untuk melakukan pertobatan Injili, yaitu kesadar-

an akan rahmat Allah. jika  Allah membuat mereka berdiam 

di tengah-tengah kelimpahan, maka mereka akan merasa mual 

melihat diri mereka sendiri sebab  kesalahan-kesalahan mere-

ka. Perhatikanlah, kebaikan Allah harus mengatasi keburukan 

kita, dan menuntun kita kepada pertobatan. Semakin banyak 

kita melihat kesiapan Allah untuk menerima kita ke dalam 

perkenanan-Nya pada saat kita bertobat, semakin banyak 

alasan yang akan kita lihat untuk merasa malu terhadap diri 

kita sendiri bahwa kita bisa berdosa terhadap kasih yang 

sedemikian besar. Hati yang tidak luluh sebab  itu pasti hati 

yang sungguh-sungguh keras.  

2. Perubahan itu akan memberi  dampak yang membahagia-

kan terhadap tetangga-tetangga mereka, sebab perubahan itu 

akan membawa mereka pada pengetahuan yang lebih jelas 

tentang Allah (ay. 36): “Dan bangsa-bangsa yang tertinggal, 

yang ada di sekitarmu, yang berbicara tentang Allah dengan 

sembarangan (sebab demikianlah semua orang yang berbicara 

buruk tentang-Nya), saat  melihat tanah Israel menjadi sunyi 

sepi, akan mulai mengetahui dengan lebih baik, dan berbicara 

tentang Allah dengan pengetahuan yang lebih baik. Sebab 

mereka diyakinkan bahwa Ia sanggup membangun kembali 

kota-kota yang sudah sunyi sepi dan menanam kembali 

negeri-negeri yang sudah sunyi sepi. Dan bahwa, meskipun 

aliran kebaikan-kebaikan-Nya terhadap umat-Nya bisa terha-

lang untuk sementara waktu, namun aliran-aliran itu tidak 

akan terputus untuk selama-lamanya.” Mereka akan dibuat 

mengetahui kebenaran dari wahyu ilahi saat  melihat ada 

kesesuaian antara perkataan Allah yang telah diucapkan-Nya 

kepada Israel dan perbuatan-perbuatan yang telah dikerjakan-

Nya untuk mereka: Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan 

akan membuatnya. Bagi kita berkata dan berbuat yaitu  dua 

hal yang berbeda, namun  tidak demikian bagi Allah. 

V. Allah mengajukan semuanya ini kepada mereka, bukan sebagai 

imbalan atas jasa-jasa mereka, melainkan sebagai jawaban bagi 

doa-doa mereka. 

1. Janganlah mereka berpikir bahwa mereka layak mendapat-

kannya: Bukan sebab  kamu Aku bertindak, ketahuilah itu (ay. 

22, 32). Tidak, merasa malulah kamu dan biarlah kamu diper-

malukan sebab  kelakuanmu. Allah sedang melakukan ini, 

semua hal yang telah dijanjikan-Nya ini. Hal itu sedemikian 

pasti akan dilakukan sehingga seolah-olah sudah dilakukan, 

dan peristiwa-peristiwa pada saat ini mengarah padanya. Akan 

namun , 

(1) Mereka harus menyangkal jasa dari perbuatan-perbuatan 

baik mereka sendiri, dan dibuat mengakui bahwa bukan 

sebab  mereka hal itu dilakukan. Demikianlah, saat  

Allah membawa Israel ke Kanaan untuk pertama kali, ada 

peringatan yang jelas terhadap pemikiran ini. Bukan sebab  

jasa-jasamu (Ul. 9:4-6). Bukan sebab  sifat-sifat baik mere-

ka atau perbuatan-perbuatan baik mereka, bukan sebab  

Allah membutuhkan mereka, atau berharap mendapat ke-

untungan apa pun dari mereka. Tidak, dalam menunjuk-

kan rahmat, Ia bertindak berdasar  hak istimewa-Nya, 

bukan sebab  kita layak mendapatkannya, melainkan demi 

kehormatan-Nya sendiri. Lihatlah betapa dengan tegas hal 

Kitab Yehezkiel 36:25-38 

ini diungkapkan: Ketahuilah, itu bukan sebab  kamu. Ini 

menyiratkan bahwa kita cenderung menilai tinggi jasa-jasa 

kita sendiri dan susah untuk diyakinkan supaya  tidak 

mengandalkan jasa-jasa diri sendiri. namun  , dengan 

satu atau lain cara, Allah akan membuat semua orang ke-

sayangan-Nya mengetahui dan mengakui bahwa anugerah-

Nyalah, dan bukan kebaikan mereka, rahmat-Nyalah, dan 

bukan jasa mereka, yang membuat mereka menjadi orang-

orang kesayangan-Nya. Dan bahwa sebab  itu bukan ke-

pada mereka, bukan kepada mereka, melainkan kepada-

Nya, segala kemuliaan semestinya diberikan.  

(2) Mereka harus bertobat dari dosa tingkah laku mereka yang 

jahat. Mereka harus mengakui bahwa rahmat-rahmat yang 

mereka terima dari Allah bukan saja tidak layak mereka 

terima, namun  juga malah sudah beribu kali diambil dari 

mereka sebab  perbuatan mereka sendiri. Oleh sebab itu, 

mereka sama sekali tidak boleh memegahkan perbuatan-

perbuatan baik mereka, namun  justru harus malu dan me-

nyesal atas kelakuan mereka yang jahat. Dengan begitu, 

mereka dipersiapkan dengan sangat baik untuk menerima 

rahmat. 

2. Namun hendaklah mereka tahu bahwa mereka harus meng-

inginkan dan mengharapkannya (ay. 37): Dalam hal ini juga 

Aku menginginkan, supaya  kaum Israel meminta dari pada-Ku. 

Allah telah berbicara, dan Ia akan melakukannya, dan Ia ingin 

supaya  orang memohon kepada-Nya untuk melakukannya. Ia 

menghendaki supaya  umat-Nya mencari Dia, maka Ia akan 

mencondongkan hati mereka untuk melakukannya, saat  Ia 

mendatangi mereka di jalan-jalan rahmat.  

(1) Mereka harus mendoakan rahmat itu, sebab melalui doa 

Allah dicari, dan diminta. Apa yang menjadi isi janji-janji 

Allah haruslah menjadi isi doa-doa kita. Dengan meminta 

rahmat yang dijanjikan, kita harus memberi  kemuliaan 

kepada Sang Pemberi, mengungkapkan penghargaan atas 

pemberian itu, mengakui kebergantungan kita, dan meng-

hargai tinggi doa yang telah direstui oleh Allah. Kristus sen-

diri harus meminta, maka Allah akan memberi  kepada-

Nya bangsa-bangsa menjadi milik pusaka-Nya, harus ber-

doa kepada Bapa, maka Ia akan mengutus sang Penghibur. 

Apalagi kita, kita harus meminta, supaya  dapat menerima.  

(2) Mereka harus mencari petunjuk dari sabda-sabda Allah, 

dan dengan begitu pula Allah dicari dan diminta. Rahmat 

itu pasti bukan hanya tindakan penyelenggaraan ilahi, me-

lainkan juga buah dari janji. Oleh sebab itu, janji itu harus 

dipandang, dan doa harus dipanjatkan untuknya, dengan 

mata iman yang terpancang pada janji itu, yang harus 

menjadi pedoman dan dasar dari semua pengharapan kita. 

Dengan kedua cara ini kita mendapati Allah dimintai 

petunjuk oleh Daniel, atas nama kaum Israel, saat  Ia 

hendak melakukan perkara-perkara yang besar itu bagi 

mereka. Daniel meminta petunjuk dari sabda-sabda Allah, 

sebab ia memahami berdasar  kitab-kitab, kitab Nabi Ye-

remia, apa yang harus dinantikan dan kapan. Dan kemu-

dian ia mengarahkan mukanya untuk mencari Allah de-

ngan doa (Dan. 9:2-3). Ingatlah, persekutuan kita dengan 

Allah, dalam segala tindakan penyelenggaraan-Nya me-

nyangkut kita, harus dijaga dengan firman dan doa, dan di 

dalam keduanya Ia harus dimintai petunjuk. 

 

PASAL 37  

ncaman-ancaman kehancuran Yehuda dan Yerusalem sebab  

dosa-dosa mereka, yang sudah kita dapati dalam bagian awal 

kitab ini, tidak begitu mengerikan jika dibandingkan dengan janji-

janji pemulihan dan pembebasan mereka yang begitu menghibur 

hati, yang diperuntukkan bagi kemuliaan Allah. Janji-janji ini kita 

dapati di sini dalam bagian akhir kitab ini. Juga, sama seperti 

ancaman-ancaman kehancuran Yehuda dan Yerusalem digambarkan 

dengan banyak penglihatan dan perumpamaan, untuk menimbulkan 

rasa takut yang kudus, demikian pula halnya dengan janji-janji 

pemulihan dan pembebasan mereka, untuk menyemangati iman yang 

kecil. Allah telah meyakinkan mereka, dalam pasal sebelumnya, 

bahwa Ia akan mengumpulkan kaum Israel, bahkan keseluruhannya, 

dan akan membawa mereka keluar dari pembuangan, dan mengem-

balikan mereka ke tanah mereka sendiri. namun  ada dua hal yang 

membuat hal ini tidak begitu memungkinkan:  

I. Bahwa mereka sedemikian tersebar di antara musuh-musuh 

mereka, dan merasa begitu putus asa bisa mendapatkan per-

tolongan dan nasib baik yang dapat menyokong atau men-

dorong kepulangan mereka. Mereka sangat tawar hati. Oleh 

sebab  semuanya ini, mereka di sini, dalam penglihatan, 

dibandingkan dengan sebuah lembah yang penuh dengan 

tulang-tulang kering orang-orang mati, yang akan dikumpul-

kan bersama-sama dan dihidupkan kembali. Penglihatan ten-

tang hal ini kita dapati dalam ayat 1-10, dan penjelasannya, 

beserta penerapannya pada masalah yang sedang dibahas 

sekarang (ay. 11-14).  

II. Bahwa mereka sedemikian terpecah-belah, terlalu banyak 

sisa permusuhan yang sudah ada sejak dahulu antara 

Yehuda dan Efraim, bahkan berlanjut dalam pembuangan 

mereka. namun  , berkenaan dengan hal ini, melalui tanda 

dua papan yang dijadikan satu dalam tangan sang nabi, 

ditunjukkan persatuan yang membahagiakan yang akan ter-

cipta, pada saat kepulangan mereka, di antara kedua bangsa 

Israel dan Yehuda itu (ay. 15-22). Dalam hal ini ada perlam-

bang tentang penyatuan bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa 

bukan Yahudi, orang-orang Yahudi dan orang-orang Sama-

ria, di dalam Kristus dan jemaat-Nya. Dan demikian bergerak 

maju dengan nubuat tentang kerajaan Kristus, yang akan 

didirikan di dunia dengan kemah Allah di dalamnya, dan 

tentang kemuliaan-kemuliaan serta anugerah-anugerah dari 

kerajaan itu (ay. 23-28). 

Penglihatan tentang Tulang-tulang Kering 

(37:1-14) 

1 Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan 

perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan 

lembah ini penuh dengan tulang-tulang. 2 Ia membawa aku melihat tulang-

tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di 

lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering. 3 Lalu Ia berfirman kepada-

ku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” 

Aku menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!” 4 Lalu fir-

man-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakan-

lah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!  

5 Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi 

nafas hidup di dalammu, supaya  kamu hidup kembali. 6 Aku akan memberi 

urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi 

kamu dengan kulit dan memberi  kamu nafas hidup, supaya  kamu hidup 

kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” 7 Lalu aku ber-

nubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, 

kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-

tulang itu bertemu satu sama lain. 8 Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, 

urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, 

namun  mereka belum bernafas. 9 Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah 

kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah 

kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, 

datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-

orang yang terbunuh ini, supaya  mereka hidup kembali.” 10 Lalu aku ber-

nubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di 

dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kaki-

nya, suatu tentara yang sangat besar. 11 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak 

manusia, tulang-tulang ini yaitu  seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka 

sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengha-

rapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. 12 Oleh sebab itu, bernubuat-

lah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, 

Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, 

Kitab Yehezkiel 37:1-14 

 707 

dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. 13 Dan kamu 

akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-

kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. 14 Aku 

akan memberi  Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan 

Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengeta-

hui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikian-

lah firman TUHAN.” 

Di sini ada,  

I.   Penglihatan tentang kebangkitan dari maut menuju hidup, dan 

itu kebangkitan yang mulia. Ini yaitu  perkara yang sepenuhnya 

tidak dikenal oleh alam, dan begitu bertentangan dengan cara-

cara kerjanya (a privatione ad habitum non datur regressus – dari 

tidak ada menjadi memiliki tidaklah ada jalannya), hingga tidak 

bisa terpikirkan oleh kita kecuali dengan firman Tuhan. Dan 

sebagian orang menegaskan dari penglihatan ini, bahwa melalui 

firman itu pasti akan ada kebangkitan semua orang mati. “Sebab,” 

kata mereka, “jika tidak demikian, kebangkitan itu tidak akan 

tepat dijadikan sebagai tanda untuk meneguhkan iman mereka 

akan janji pembebasan dari Babel, sama seperti kedatangan 

Mesias disebutkan untuk meneguhkan iman mereka berkenaan 

dengan pembebasan sebelumnya” (Yes. 7:14). namun  , 

1. Apakah penglihatan itu benar-benar menegaskan adanya ke-

bangkitan bagi semua orang atau tidak, tidak diragukan lagi 

bahwa itu merupakan gambaran yang paling hidup tentang 

kebangkitan dalam tiga hal, selain dari yang terutama dimak-

sudkan untuk menjadi tanda pembebasan bagi orang Yahudi. 

Kebangkitan dalam tiga hal itu yaitu , 

(1) Kebangkitan jiwa-jiwa dari kematian dosa kepada hidup 

atau kebenaran, kepada hidup yang kudus, sorgawi, ro-

hani, dan ilahi, oleh kuasa anugerah ilahi yang menyertai 

firman Kristus (Yoh. 5:24-25). 

(2) Kebangkitan jemaat Injil, atau suatu bagian dari jemaat 

Injil, dari keadaan yang menderita dan teraniaya, terutama 

di bawah kuk Babel Perjanjian Baru, kepada kemerdekaan 

dan damai sejahtera.  

(3) Kebangkitan tubuh pada akhir zaman, terutama tubuh-

tubuh orang percaya yang akan bangkit kepada hidup yang 

kekal. 

2. Marilah kita amati perincian-perincian dari penglihatan ini. 

(1) Keadaan yang menyedihkan dari tulang-tulang mati ini. 

Sang nabi dibuat,  

[1] Melihat tulang-tulang itu dengan saksama. Melalui do-

rongan nubuat dan kuasa ilahi, ia, dalam penglihatan, 

dibawa dan ditempatkan di tengah-tengah lembah, 

mungkin lembah yang dibicarakan dalam pasal 3:22 

itu, di mana Allah pada saat itu berbicara dengan dia. 

Dan lembah itu penuh dengan tulang-tulang, tulang-

tulang orang mati, tidak ditumpuk-tumpuk, seperti di 

kamar mayat, namun  terserak di atas permukaan tanah. 

Seolah-olah telah terjadi suatu pertempuran berdarah 

di sana, dan orang-orang yang terbunuh dibiarkan be-

gitu saja tanpa dikubur sampai semua daging dimakan 

habis atau membusuk, dan tidak ada yang tersisa ke-

cuali tulang-belulang, yang terputus satu dari yang lain 

dan berserakan di mana-mana. Ia berkeliling-keliling meli-

hat tulang-tulang itu, dan ia mengamati bukan saja 

bahwa tulang-tulang itu sangat banyak (sebab sudah ba-

nyak orang yang pergi ke tempat arwah-arwah berkum-

pul), namun  juga, lihat, tulang-tulang itu amat kering, 

sebab  sudah lama terpapar sinar matahari dan angin. 

Sumsum tulang-tulang yang sebelumnya masih segar 

(Ayb. 21:24), saat  baru mati beberapa saat, sekarang 

kehilangan semua kelembabannya, dan menjadi kering 

seperti debu. Sekarang tubuh dijalin dengan tulang 

(Ayb. 10:11), namun  nanti tulang-tulang itu sendiri tidak 

akan memiliki  pelindung lagi. Orang-orang Yahudi di 

Babel yaitu  seperti tulang-tulang yang mati dan kering 

itu, tidak mungkin lagi untuk disatukan bersama-sama, 

bahkan seperti tengkorak, lebih tidak mungkin lagi 

untuk dibentuk menjadi satu tubuh, apalagi menjadi 

satu tubuh yang hidup. namun  , mereka terbaring 

tanpa dikubur di lembah terbuka, yang membesarkan 

harapan-harapan akan ada kebangkitan bagi mereka, 

seperti kebangkitan dua orang saksi-Nya (Why. 11:8-9). 

Tulang-tulang Gog dan Magog akan dikuburkan (39:12, 

15), sebab kehancuran mereka sudah sehabis-habisnya. 

Kitab Yehezkiel 37:1-14 

namun  tulang-tulang Israel ada di lembah terbuka, di 

bawah mata Sorga, sebab ada harapan untuk hari depan 

mereka.  

[2] Sang nabi dibuat mengakui bahwa keadaan mereka 

mengenaskan, dan tidak dapat ditolong oleh kuasa apa 

pun selain kuasa Allah sendiri (ay. 3): “Hai anak ma-

nusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali? 

Apakah itu mungkin? Dapatkah engkau merancang 

bagaimana melakukannya? Sanggupkah pengetahuan-

mu menaruh hidup ke dalam tulang-tulang kering, atau 

hikmatmu memulihkan suatu bangsa yang tertawan?” 

“Tidak,” kata sang nabi, “Aku tidak tahu bagaimana itu 

harus dilakukan, namun  Engkaulah yang mengetahui.” Ia 

tidak berkata, “Mereka tidak bisa hidup,” supaya  ia 

tidak terkesan membatasi Yang Mahakudus dari Israel. 

namun , “Tuhan, Engkau tahu apakah mereka bisa hidup 

dan apakah mereka akan hidup. Jika Engkau tidak 

menaruh hidup ke dalam diri mereka, maka sudah pasti 

mereka tidak bisa hidup.” Perhatikanlah, Allah menge-

nal dengan sempurna kuasa-Nya sendiri dan tujuan-

tujuan-Nya sendiri, dan ingin supaya  kita menyerahkan 

semuanya kepada kuasa dan tujuan-tujuan-Nya itu, 

dan melihat serta mengakui bahwa pekerjaan-pekerja-

an-Nya sungguhlah menakjubkan, sehingga semuanya 

itu tidak bisa dikerjakan oleh hikmat atau kuasa apa 

pun selain hikmat dan kuasa-Nya saja. 

(2) Sarana-sarana yang dipakai untuk mengumpulkan tulang-

tulang yang terserak ini dan menghidupkan kembali tulang-

tulang yang mati dan kering ini. Itu harus dilakukan dengan 

nubuat. Yehezkiel diperintahkan untuk bernubuat mengenai 

tulang-tulang ini (ay. 4, 9), untuk bernubuat kepada nafas 

hidup itu. Jadi ia pun bernubuat seperti diperintahkan 

kepadanya (ay. 7, 10).  

[1] Ia harus berkhotbah, dan ia melakukannya. Dan tu-

lang-tulang yang mati itu menjadi hidup oleh kuasa 

yang menyertai firman Allah yang dikhotbahkannya.  

[2] Ia harus berdoa, dan ia melakukannya. Dan tulang-

tulang yang mati itu dibuat hidup sebagai jawaban atas 

doa. Sebab roh kehidupan masuk ke dalam tulang-

tulang itu. Lihatlah betapa mujarabnya firman dan doa, 

dan betapa perlunya kedua-duanya, untuk membang-

kitkan jiwa-jiwa yang mati. Allah memerintahkan ham-

ba-hamba-Nya untuk bernubuat mengenai tulang-tulang 

kering. Katakanlah kepada mereka, Hiduplah. Ya, kata-

kanlah kepada mereka, Hiduplah. Dan mereka pun 

menjadi seperti yang diperintahkan kepada mereka. 

Berserulah kepada mereka berulang kali, Hai tulang-

tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! namun  kita 

berseru dengan sia-sia, masih saja mereka mati, masih 

saja mereka sangat kering. Oleh sebab itu, kita harus 

bersungguh-sungguh dengan Allah di dalam doa supaya  

Roh bekerja dengan firman: Datanglah, hai nafas hidup! 

Dan embuskanlah napas pada mereka. Anugerah Allah 

dapat menyelamatkan jiwa-jiwa tanpa pemberitaan kita, 

namun  pemberitaan kita tidak dapat menyelamatkan 

mereka tanpa anugerah Allah, dan anugerah itu harus 

dimohonkan dengan doa. Perhatikanlah, hamba-hamba 

Tuhan harus dengan setia dan tekun menggunakan 

sarana-sarana anugerah, bahkan terhadap orang-orang 

yang tampak kecil kemungkinannya untuk dimenang-

kan. Bernubuat kepada tulang-tulang kering tampak-

nya merupakan laku tobat yang sangat berguna, ibarat 

menyirami sebuah batang yang kering. Namun, apakah 

mereka mau mendengar atau menahan diri, kita harus 

menjalankan kepercayaan yang diberikan kepada kita, 

harus bernubuat seperti yang diperintahkan kepada kita, 

di dalam nama Dia yang membangkitkan orang mati 

dan yang merupakan sumber hidup. 

(3)  Dampak yang menakjubkan dari sarana-sarana ini. Orang-

orang yang berbuat seperti yang diperintahkan kepada me-

reka, seperti yang ditugaskan kepada mereka, berhadapan 

dengan kejadian-kejadian yang sangat mengecilkan hati, 

tidak perlu meragukan keberhasilan, sebab Allah akan 

mengakui dan memperkaya penugasan yang telah ditetap-

kan-Nya sendiri.  

Kitab Yehezkiel 37:1-14 

[1] Yehezkiel melihat ke bawah dan bernubuat kepada tu-

lang-tulang di lembah, dan tulang-tulang itu pun men-

jadi tubuh-tubuh manusia. Pertama, yang harus dia 

katakan kepada mereka yaitu  bahwa Allah akan ber-

hasil menghidupkan mereka kembali: Beginilah firman 

Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini, kamu akan 

hidup kembali (ay. 5 dan lagi ay. 6). Dan Dia yang meng-

ucapkan perkataan, dengan demikian akan melakukan 

pekerjaan yang dikatakan itu. Dia yang berkata, Mereka 

akan hidup, akan membuat mereka hidup: Dia akan 

menutupi mereka dengan kulit dan daging (ay. 6), seperti 

yang dilakukan-Nya pada mulanya (Ayb. 10:11). Dia 

yang menjadikan kita dengan dahsyat dan ajaib, dan 

yang membuat kita secara mengherankan, dengan cara 

serupa dapat menjadikan kita baru, sebab lengan-Nya 

tidak kurang panjang. Kedua, apa yang langsung 

dikerjakan untuk mereka yaitu  bahwa mereka diben-

tuk menjadi baru. Kita dapat menduga bahwa sang nabi 

bernubuat dengan sangat hidup dan bersemangat, ter-

utama saat  ia mendapati bahwa apa yang dia katakan 

mulai terwujud. Perhatikanlah, membuka, memeterai-

kan, dan menerapkan janji-janji, yaitu  sarana-sarana 

yang biasa bagi kita untuk ambil bagian dalam kodrat 

yang baru dan ilahi. Pada waktu Yehezkiel bernubuat 

dalam penglihatan ini, kedengaranlah suara, suara 

perintah, dari sorga, mendukung apa yang dia katakan. 

Atau suara itu menandakan gerakan para malaikat 

yang akan dipekerjakan sebagai para pelayan dari Allah 

Sang Pemelihara dalam membebaskan orang-orang 

Yahudi, dan kita membaca tentang suara sayap mereka 

(1:24) dan bunyi derap langkah mereka (2Sam. 5:24). 

Dan, sungguh, suatu suara berderak-derak, atau suatu 

kegaduhan, terdengar di antara tulang-tulang itu. Bah-

kan tulang-tulang yang mati dan kering sekalipun mulai 

bergerak saat  mereka dipanggil untuk mendengar 

firman Tuhan. Hal ini digenapi saat , sesudah  Koresh 

menyatakan pembebasan orang Yahudi, orang-orang 

yang rohnya digerakkan Allah mulai berpikir untuk 

memanfaatkan kebebasan itu, dan bersiap-siap untuk 

pergi. saat  kedengaran suara, lihatlah, suara itu ber-

derak-derak. saat  Daud mendengar bunyi derap lang-

kah di puncak pohon-pohon kertau, maka ia bertindak 

cepat, dan pada saat itu ada suara berderak-derak. 

saat  Paulus mendengar suara yang berkata, Mengapa-

kah engkau menganiaya Aku? Lihat, tulang-tulang 

kering berderak-derak. Ia gemetar dan tertegun. namun  

ini belum semuanya: Tulang-tulang itu bertemu satu 

sama lain, di bawah pimpinan ilahi. Dan, meskipun 

dalam diri manusia ada banyak tulang, namun tak satu 

tulang pun dari banyak orang yang terbunuh itu hilang, 

tak satu pun kehilangan jalan, tak satu pun kehilangan 

tempat, namun , seolah-olah dengan naluri, tiap-tiap 

tulang mengetahui dan menemukan temannya. Tulang-

tulang yang terserak datang berkumpul bersama, dan 

tulang-tulang yang sudah lepas dijalin bersama-sama, 

sebab kuasa ilahi memberi  persediaan kepada 

tulang-tulang kering ini, yang di dalam tubuh yang 

hidup disediakan oleh tiap-tiap sendinya (Ef. 4:16, KJV). 

Demikianlah yang akan terjadi pada kebangkitan orang-

orang mati. Atom-atom yang tersebar akan dibariskan 

dan disusun di dalam tempat dan susunan mereka yang 

benar, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain, 

oleh hikmat dan kuasa yang sama yang dengannya 

tulang-tulang itu pertama-tama dibentuk dalam rahim 

seorang perempuan yang mengandung. Demikian pula 

yang terjadi dalam kembalinya orang-orang Yahudi. 

Orang-orang yang tersebar di sejumlah penjuru negeri 

Babel datang ke keluarga mereka masing-masing, dan 

semuanya, seolah-olah secara serempak, datang ke 

tempat perkumpulan bersama, untuk kembali pulang. 

Secara perlahan-lahan urat-urat dan daging mendatangi 

tulang-tulang ini, dan kulit menutupinya (ay. 8). Hal ini 

digenapi saat  para tawanan membawa serta harta 

benda mereka, dan penduduk setempat menyokong 

mereka dengan perak, dan emas, dan apa saja yang 

mereka butuhkan untuk kepindahan mereka (Ezr. 1:4). 

namun  tetap saja mereka belum bernafas. Mereka tidak 

memiliki  semangat dan keberanian untuk melaku-

Kitab Yehezkiel 37:1-14 

kan perjalanan yang sedemikian sulit dan berbahaya 

seperti ini untuk kembali ke negeri mereka sendiri.  

[2] Yehezkiel kemudian memandang ke atas dan bernubuat 

kepada angin, atau nafas, atau roh, dan berkata, Hai 

nafas hidup, datanglah, dan berembuslah ke dalam 

orang-orang yang terbunuh ini. Tulang-tulang yang 

kering sama saja dengan tubuh-tubuh yang mati. namun  

adapun Allah, pekerjaan-Nya sempurna. Dia bukan 

Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Oleh 

sebab  itu, berembuslah ke dalam orang-orang yang ter-

bunuh ini, supaya  mereka hidup kembali. Sebagai jawab-

an atas permintaan ini, nafas hidup itu pun langsung 

masuk di dalam mereka (ay. 10). Perhatikanlah, roh 

kehidupan datang dari Allah. Dia pada mulanya, dalam 

penciptaan, mengembuskan nafas hidup ke dalam 

manusia, dan demikian pula yang akan dilakukan-Nya 

pada akhirnya di hari kebangkitan. Para tawanan yang 

berpatah arang dan berputus asa digairahkan secara 

menakjubkan dengan tekad untuk menerobos segala 

sesuatu yang mengecilkan hati, yang menghadang di 

jalan mereka pulang, dan memegang teguh tekad itu 

dengan segenap kekuatan yang tak terbayangkan. Dan 

kemudian mereka menjejakkan kaki mereka, suatu 

tentara yang sangat besar. Mereka bukan hanya orang-

orang yang hidup, melainkan juga orang-orang yang 

siap menjalankan tugas, layak untuk bertempur di 

medan perang dan menakutkan bagi semua orang yang 

memberi mereka perlawanan. Perhatikanlah, bagi Allah 

tidak ada yang mustahil. Ia dapat menjadikan anak-

anak bagi Abraham dari batu-batu, dan dari tulang-

tulang yang mati dan kering Ia dapat mengerahkan 

suatu tentara yang sangat besar untuk berperang bagi-

Nya dan membela perkara-Nya. 

II.  Diterapkannya penglihatan ini pada keadaan orang-orang Yahudi 

yang tengah ditimpa malapetaka dalam pembuangan: Tulang-

tulang ini yaitu  seluruh kaum Israel, baik kesepuluh suku mau-

pun kedua suku. Lihatlah dalam hal ini seperti apa mereka itu 

dan akan jadi apa mereka. 

1. Dalamnya keputusasaan yang ke dalamnya mereka sekarang 

dijerumuskan (ay. 11). Mereka semua menyerah sudah hilang 

lenyap. Mereka berkata, “Tulang-tulang kami sudah menjadi ke-

ring, kekuatan kami habis, semangat kami hilang, pengharap-

an kami sudah lenyap semuanya. Segala sesuatu yang kami 

mintai pertolongan dan pembebasan sudah gagal, dan kami 

sudah hilang. Orang lain boleh berharap, namun  tidak bagi 

kami.” Perhatikanlah, jika  kesusahan-kesusahan terus ber-

langsung lama, harapan-harapan sering kali dikecewakan, dan 

semua makhluk ciptaan yang kita andalkan gagal, maka tidak 

heran jika roh tenggelam. Maka, tidak ada hal lain selain iman 

yang giat akan kuasa, janji, dan penyelenggaraan Allah yang 

akan menjaga roh supaya  tidak mati.  

2. Tingginya kesejahteraan yang ke dalamnya mereka akan diang-

kat, kendati dengan semuanya ini: “Oleh sebab itu, sebab  

keadaannya sudah sedemikan parahnya, bernubuatlah kepada 

mereka, dan beri tahulah mereka, sekarang yaitu  waktu Allah 

untuk tampil bagi mereka. Yehova-jireh – di atas gunung TUHAN 

akan disediakan (ay. 12-14).” Katakanlah kepada mereka,  

(1) “Bahwa mereka akan dibawa keluar dari negeri musuh-

musuh mereka, di mana mereka seolah-olah dikubur 

hidup-hidup: Aku akan membuka kubur-kuburmu.” Mereka 

akan dipulihkan, bukan hanya orang-orang yang tulang-

tulangnya berhamburan di mulut dunia orang mati (Mzm. 

141:7), melainkan juga yang dikuburkan di dalam makam. 

Meskipun kekuatan musuh seperti dasar dunia orang mati, 

yang orang pikir mustahil untuk diterobos, kuat seperti 

maut dan gigih seperti dunia orang mati, namun kekuatan 

itu akan ditaklukkan. Allah dapat menaikkan umat-Nya 

kembali dari samudera raya bumi (Mzm. 71:20).  

(2) “Bahwa mereka akan dibawa ke tanah mereka sendiri, di 

mana mereka akan hidup sejahtera: Aku akan membawa 

kamu ke tanah Israel (ay. 12) dan membiarkan kamu tinggal 

di sana (ay. 14), dan akan memberi  Roh-Ku ke dalammu, 

lalu kamu akan hidup kembali.” Perhatikanlah, Allah mena-

ruh roh dalam diri kita untuk tujuan yang baik, dan kita 

pun akan benar-benar hidup, jika  Ia memberi  Roh-

Nya ke dalam diri kita. Dan (terakhir) dalam semuanya ini 

Allah akan dimuliakan: Kamu akan mengetahui bahwa 

Kitab Yehezkiel 37:15-28 

Akulah TUHAN (ay. 13), dan bahwa Aku telah mengatakan-

nya dan membuatnya (ay. 14). Perhatikanlah, tindakan Allah 

yang membangkitkan orang-orang mati mendatangkan ke-

hormatan bagi-Nya lebih daripada apa pun, dan bagi firman-

Nya, yang telah diagungkan-Nya di atas segala nama-Nya, 

dan akan diagungkan dengan lebih dan lebih lagi dengan 

digenapinya setiap gelar nama-Nya pad


Related Posts:

  • Yehezkiel 22  tem-pat itu. Seandainya Tuhan berkenan untuk meninggalkannya se-lama-lamanya, sang nabi tidak akan berseru kepada mereka untuk mendengar firman TUHAN, tidak pula Ia akan memperlihatkan hal-hal yang demikian p… Read More