Yehezkiel 26


 ukan kepada mereka per-

bedaan antara yang najis dengan yang tahir, supaya  mereka 

tidak mengacaukan perbedaan-perbedaan antara yang benar 

dan yang salah, atau keliru menilainya, sehingga mengubah 

kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan. 

Kitab Yehezkiel 44:17-31  

namun  supaya  mereka dapat menilai dengan baik dan bijak 

tindakan-tindakan mereka sendiri.  

2. yaitu  bagian dari pekerjaan mereka untuk menghakimi tun-

tutan-tuntutan yang diajukan kepada mereka (Ul. 17:8-9). Dan 

di dalam sesuatu perkara mereka harus bertindak sebagai 

hakim (ay. 24). Mereka harus memiliki  kejujuran untuk 

membela apa yang benar, dan, jika  mereka sudah men-

jatuhkan penghakiman yang benar, mereka harus memiliki  

keberanian untuk berpegang padanya dan menyokongnya. 

Mereka harus menghakimi, bukan menurut angan-angan me-

reka sendiri, atau kecenderungan-kecenderungan hati mereka, 

atau kepentingan-kepentingan duniawi mereka, melainkan 

menurut peraturan-peraturan-Ku. Itulah yang harus menjadi 

pedoman dan patokan mereka. Perhatikanlah, hamba-hamba 

Tuhan harus menyelesaikan perseteruan-perseteruan menurut 

firman Allah. Carilah pengajaran dan kesaksian. Sit liber judex 

– Janganlah hakim berlaku berat sebelah. Pekerjaan mereka 

yaitu  menjaga pengadilan di dalam nama Allah, menjadi 

pemimpin dalam kumpulan jemaat-Nya. Dan dalam hal ini 

mereka harus melihat kitab undang-undang: Mereka harus 

berpegang pada ketetapan-ketetapan-Ku pada hari-hari raya-

Ku (KJV: dalam kumpulan-kumpulan). Allah menyebut kumpul-

an-kumpulan umat-Nya sebagai kumpulan-kumpulan-Nya, 

sebab  kumpulan-kumpulan itu diselenggarakan dalam nama-

Nya, bagi kemuliaan-Nya. Hamba-hamba Tuhan yaitu  kepala 

dari kumpulan-kumpulan itu, mereka harus memimpin di 

dalamnya, dan dalam semua tindakan mereka harus mema-

tuhi hukum-hukum Allah. Bagian lain dari pekerjaan mereka, 

sebagai pemimpin-pemimpin jemaat, yaitu  menguduskan 

hari-hari Sabat Allah, melakukan pekerjaan bersama orang 

banyak pada hari itu dengan perhatian dan penghormatan 

yang semestinya, sebagaimana pekerjaan hari kudus harus 

dilakukan. Dan mereka harus memastikan bahwa umat Allah 

juga menguduskan hari itu dan tidak berbuat sesuatu yang 

mencemarkannya. 

VI. Mengenai perkabungan mereka atas sanak saudara yang sudah 

meninggal. Di sini aturannya sejalan dengan hukum Musa (Im. 

21:1, 11). Seorang imam tidak boleh dekat-dekat dengan mayat 

(sebab mereka harus dimurnikan dari perbuatan yang berhubung-

an dengan orang mati) kecuali saudara-saudara dekatnya (ay. 25). 

Ungkapan-ungkapan dukacita yang pantas dan saleh atas sau-

dara-saudara terkasih saat  mereka dibawa pergi oleh kematian, 

sah-sah saja diucapkan oleh seorang hamba Tuhan. Namun 

masalahnya, dengan mendekati mayat saudara yang meninggal, 

mereka menjadi najis menurut hukum, sehingga harus dibersih-

kan oleh korban penghapus dosa sebelum mereka masuk lagi 

untuk melakukan tugas pelayanan (ay. 26-27). Perhatikanlah, 

meskipun berduka untuk orang mati sangat diperbolehkan dan 

terpuji, namun ada bahaya dosa di dalamnya, yaitu jangan sam-

pai orang melakukannya secara belebihan atau hanya berpura-

pura saja. Dan sering kali air mata itu perlu ditumpahkan lagi. 

VII. Mengenai tanggungan penghidupan mereka. Mereka harus hidup 

dari mezbah yang di atasnya mereka mengadakan kebaktian, dan 

hidup dengan nyaman (ay. 28): “Janganlah berikan kepada mere-

ka tanah milik di Israel, tanah ataupun rumah tinggal, supaya  

jangan sampai mereka terjerat oleh urusan-urusan kehidupan 

ini.” Sebab Allah telah berfirman, Akulah milik pusaka mereka, 

dan mereka tidak memerlukan yang lain sebagai cadangan. Aku-

lah milik mereka, dan mereka tidak memerlukan hal lain dalam 

tangan mereka. Sebagian tanah boleh mereka miliki (ps. 48:10), 

namun  penghidupan utama mereka yaitu  dari jabatan mereka. 

Apa yang diperuntukkan Allah bagi diri-Nya sendiri, merekalah 

yang menerimanya, untuk mereka gunakan dan manfaatkan 

dengan baik. Mereka hidup dari barang-barang yang kudus, dan 

dengan demikian Allah sendiri yaitu  bagian dari milik pusaka 

mereka maupun piala mereka. Perhatikanlah, orang-orang yang 

memiliki Allah sebagai milik pusaka mereka bisa puas dengan 

sedikit yang ada pada mereka, dan tidak boleh menginginkan 

banyak harta benda dan warisan dari bumi ini. Jika kita memiliki 

Allah, kita memiliki segala-galanya. Oleh sebab itu kita bisa yakin 

bahwa kita sudah berkecukupan. Amatilah, 

1.  Apa yang harus didapatkan para imam dari umat, untuk 

menopang penghidupan mereka dan menyemangati mereka.  

(1) Mereka harus mendapat daging dari banyak korban, kor-

ban penghapus dosa dan korban penebus salah, yang akan 

Kitab Yehezkiel 44:17-31  

menyediakan daging bagi mereka dan keluarga-keluarga 

mereka, dan persembahan, yang akan menyediakan roti 

bagi mereka. Apa yang kita persembahkan kepada Allah 

akan mendatangkan keuntungan bagi diri kita sendiri.  

(2) Mereka harus mendapatkan segala sesuatu yang dipersem-

bahkan dan diabdikan di Israel, yang dalam banyak hal 

akan diubah menjadi uang dan diberikan kepada imam. 

Hal ini dijelaskan dalam ayat 30. Segala persembahan 

khusus atau persembahan sukarela (yang pada masa-masa 

pembaruan dan pengabdian akan berjumlah banyak dan 

besar) dari apa pun, dari segala persembahan khususmu, 

yaitu  bagian imam-imam. Kita memiliki  hukum ten-

tang korban-korban persembahan itu (Im. 27).  

(3) Mereka harus mendapat yang terbaik (KJV: yang pertama) 

dari tepung jelai yang dimasukkan ke dalam tungku, dan 

yang pertama dari hasil-hasil bumi mereka yang dimasuk-

kan ke dalam lumbung. Allah, yang merupakan yang per-

tama, harus mendapat yang pertama. Dan, jika itu milik-

Nya, maka imam-imam-Nya harus mendapatkannya. Kita 

akan dapat menikmati dengan nyaman apa yang kita mi-

liki, jika sebagian darinya terlebih dulu dipisahkan untuk 

pekerjaan-pekerjaan kesalehan dan amal. Aturan sang 

rasul memiliki  persamaan dengan ini, yaitu memulai 

hari pertama dalam minggu dengan menyisihkan sesuatu 

untuk keperluan-keperluan kesalehan (1Kor. 16:2). saat  

imam-imam sudah begitu terpenuhi dengan baik kebutuh-

annya, maka tidak ada alasan bagi mereka jika mereka 

(bertentangan dengan hukum yang mengikat setiap orang 

Israel) sampai makan binatang yang menjadi sisa mangsa 

binatang buas atau yang sudah mati (ay. 31). Orang-orang 

yang kekurangan makanan pokok mungkin dapat dike-

cualikan dalam masalah seperti itu. Kemiskinan mempu-

nyai cobaan-cobaannya, namun  saat  para imam sudah 

terpenuhi dengan baik kebutuhannya, maka tidak ada 

alasan bagi mereka untuk hidup dalam kemiskinan. 

2. Apa yang dapat diharapkan orang banyak dari imam sebagai 

imbalan untuk mereka. Orang yang baik terhadap nabi, atau 

imam, akan mendapat upah nabi, upah imam: supaya  rumah-

rumahmu mendapat berkat (ay. 30), supaya  Allah menurunkan 

berkat dengan memerintahkannya, supaya  imam menurunkan 

berkat dengan mendoakannya. Dan merupakan bagian dari 

pekerjaan imam untuk memberkati bangsa demi nama TUHAN, 

bukan hanya memberkati jemaat-jemaat mereka, melainkan 

juga keluarga-keluarga mereka. Perhatikanlah, suatu peng-

hiburan besar bagi rumah siapa saja jika berkat Allah turun 

atasnya dan jika berkat itu tinggal di dalamnya, berdiam di 

mana kita berdiam, dan terus mengikuti berkat itu sampai 

kepada orang-orang yang akan datang sesudah kita. Cara 

supaya  berkat Allah tinggal dalam harta benda kita yaitu  

dengan menghormati Allah dengan harta benda itu, memberi-

kan bagian kepada Dia dan hamba-hamba-Nya, kepada Dia 

dan kaum miskin-Nya. Allah memberkati, Ia pasti memberkati, 

tempat kediaman orang benar seperti itu (Ams. 3:33). Dan 

hamba-hamba Tuhan, dengan mengajar dan berdoa untuk 

keluarga-keluarga yang berbaik hati kepada mereka, harus 

melakukan bagian mereka dengan membuat berkat tinggal 

dalam keluarga-keluarga itu. Damai sejahtera bagi rumah ini. 

 

 

PASAL 45  

alam pasal ini digambarkan lebih jauh kepada sang nabi, dalam 

penglihatan,  

I. Pembagian tanah suci, sekian banyak untuk Bait Suci, dan 

para imam yang bertugas melayani di dalamnya (ay. 1-4), 

sekian banyak untuk orang-orang Lewi (ay. 5), sekian banyak 

untuk kota (ay. 6), sekian banyak untuk raja, dan sisanya 

untuk orang banyak (ay. 7-8).  

II. Ketetapan-ketetapan keadilan yang diberikan kepada raja 

maupun rakyat (ay. 9-12).  

III. Persembahan-persembahan khusus yang harus mereka per-

sembahkan, dan bagian raja dalam persembahan-persem-

bahan itu (ay. 13-17). Khususnya pada awal tahun (ay. 18-

20) dan pada hari raya Paskah, dan pada hari raya Pondok 

Daun (ay. 21-25). Kesemuanya ini tampak menunjuk pada 

pemerintahan-jemaat yang baru yang akan didirikan di bawah 

Injil, yang, baik dalam cakupan maupun kemurniannya, akan 

jauh melampaui pemerintahan-jemaat Perjanjian Lama. 

Pembagian Tanah Suci 

(45:1-8)  

1 “Pada waktu kamu membagi-bagi negeri itu menjadi milik pusakamu 

dengan jalan mengundi, kamu harus mengkhususkan sebidang dari tanah 

itu menjadi persembahan khusus yang kudus bagi TUHAN, panjangnya dua 

puluh lima ribu hasta dan lebarnya dua puluh ribu hasta. Seluruh tanah 

yang di dalam batas ini yaitu  kudus. 2 Dari tanah ini harus disediakan 

untuk tempat kudus suatu empat persegi yang panjang dan lebarnya lima 

ratus hasta dan sekelilingnya ada lapangan yang lebarnya lima puluh hasta. 

3 Dari daerah yang sudah diukur ini ukurlah sebagian yang panjangnya dua 

puluh lima ribu hasta dan lebarnya sepuluh ribu hasta: di situlah letaknya 

tempat kudus, dan bagian ini yaitu  maha kudus. 4 Ini yaitu  bagian yang 

kudus dari tanah itu dan menjadi tempat bagi imam-imam yang menyeleng-

garakan kebaktian di tempat kudus, yang datang mendekat untuk melayani 

TUHAN. Itulah tempat perumahan mereka dan menjadi daerah kudus untuk 

tempat kudus. 5 Yang dua puluh lima ribu hasta panjangnya dan sepuluh 

ribu hasta lebarnya harus menjadi milik orang-orang Lewi yang mendapat 

tugas pelayanan dalam Bait Suci; itulah kota-kotanya, tempat tinggal 

mereka. 6 Sebagai milik kota harus engkau tentukan: lima ribu hasta lebar-

nya dan dua puluh lima ribu hasta panjangnya, berbatasan dengan persem-

bahan khusus yang kudus itu. Itulah untuk seluruh kaum Israel. 7 Mengenai 

bagian raja itu haruslah ada  di sebelah barat dan di sebelah timur dari 

persembahan khusus yang kudus dan milik kota itu dan harus berbatasan 

dengan kedua bagian itu. Yang di sebelah barat harus sampai ke perbatasan 

barat dan yang di sebelah timur harus sampai ke perbatasan timur. Jadi 

panjangnya harus sama dengan panjang dari bagian suatu suku Israel, yaitu 

dari perbatasan barat sampai perbatasan timur negeri itu. 8 Itulah yang men-

jadi miliknya di tanah Israel. Dan raja-raja Israel tidak lagi akan menindas 

umat-Ku; mereka akan menyerahkan negeri itu kepada kaum Israel menurut 

suku-suku mereka.” 

Di sini diberikan petunjuk-petunjuk untuk membagi tanah sesudah  

mereka kembali ke negeri mereka. Dan, sebab  Allah sudah memberi-

kan perintah kepada mereka untuk melakukannya, maka merupakan 

suatu tindakan iman, dan bukan tindakan kebodohan, untuk mem-

bagi-baginya seperti itu sebelum mereka memilikinya. Dan akan 

menjadi kabar yang menyukakan hati para tawanan untuk men-

dengar bahwa mereka tidak hanya akan kembali ke tanah mereka 

sendiri, namun  juga bahwa, meskipun pada saat itu jumlah mereka 

sedikit, mereka akan beranak cucu dan bertambah banyak, hingga 

akan memenuhi tanah itu. Namun demikian, hal ini tidak pernah 

digenapi dalam pemerintahan bangsa Yahudi sesudah  mereka kembali 

dari pembuangan, namun  akan digenapi dalam pola jemaat Kristen, 

yang sifatnya baru secara sempurna (sama seperti pembagian tanah 

ini sangat berbeda dari pembagian tanah pada masa Yosua) dan 

banyak diperluas dengan masuknya bangsa-bangsa bukan Yahudi ke 

dalamnya. Dan jemaat itu akan disempurnakan dalam kerajaan 

sorgawi, di mana tanah Kanaan selalu merupakan perlambangnya. 

Sekarang,  

1. Di sini ada bagian tanah yang ditentukan untuk tempat kudus, 

yang di tengah-tengahnya Bait Suci akan dibangun, dengan 

semua pelataran dan sekelilingnya. Semua sisa di sekelilingnya 

yaitu  untuk para imam. Ini disebut (ay. 1) sebagai persembahan 

khusus bagi TUHAN. Sebab apa yang diberikan dalam pekerjaan-

pekerjaan kesalehan, untuk memelihara dan menyokong ibadah 

kepada Allah dan kemajuan agama, Allah menerimanya sebagai

Kitab Yehezkiel 45:1-8  

sesuatu yang diberikan kepada-Nya, jika itu dilakukan tanpa me-

nyimpang. Bagian itu yaitu  bagian yang kudus dari tanah, yang 

harus pertama-tama dikhususkan, sebagai hasil pertama yang 

menguduskan lahan itu. Disediakannya bidang-bidang tanah 

untuk menyokong agama dan pelayanan yaitu  suatu tindakan 

kesalehan yang akan berguna untuk selama-lamanya, dan ber-

manfaat bagi anak cucu, seperti hal-hal lain. Bagian yang kudus 

dari tanah ini harus diukur, dan batas-batasnya harus ditetap-

kan, supaya  tempat kudus itu sendiri tidak mendapat lebih dari 

bagiannya, dan tidak menempati seluruh tanah itu nantinya. 

Sejauh itu sajalah tanah-tanah jemaat akan meluas, dan tidak 

lebih dari itu. Seperti dalam kerajaan kita sendiri (kerajaan Inggris 

– pen.), sumbangan-sumbangan kepada jemaat di zaman dulu 

dibatasi oleh undang-undang kepemilikan tanah oleh lembaga 

agama. Tanah-tanah yang di sini ditetapkan untuk tempat kudus 

yaitu  25.000 tongkat pengukur panjangnya (demikian yang 

ditetapkan dalam terjemahan kita, meskipun sebagian orang me-

mandangnya hanya sebagai hasta), dan lebarnya 10.000 tongkat 

pengukur, sekitar 130.000 meter ke satu arah dan 50.000 meter 

ke arah lain (demikian menurut sebagian orang). 40.000 meter ke 

satu arah dan 16.000 meter ke arah lain, demikian menurut seba-

gian yang lain. Para imam dan orang-orang Lewi yang akan da-

tang mendekat untuk melayani harus memiliki  tempat tinggal 

di bagian tanah yang ada di sekeliling tempat kudus ini, supaya  

mereka dekat dengan pekerjaan mereka. Sementara menurut 

pembagian tanah pada masa Yosua, kota-kota para imam dan 

orang-orang Lewi tersebar di seluruh negeri. Ini menyiratkan bah-

wa pelayan-pelayan Injil harus berdiam di tempat tugas mereka. 

Di mana mereka melayani, di situlah mereka harus tinggal.  

2. Di sebelah tanah-tanah tempat kudus ditetapkan tanah-tanah 

kota, yang di atasnya kota suci akan dibangun, dan yang dengan 

hasil-hasil dan keuntungan-keuntungannya para warganya akan 

dipelihara (ay. 6): Itulah untuk seluruh kaum Israel, tidak disedia-

kan, seperti sebelumnya, untuk satu atau dua suku, melainkan 

sebagian orang dari semua suku akan menetap di kota itu, seperti 

yang kita dapati demikian (Neh. 11:1-2). Bagian untuk kota sama 

panjangnya dengan, namun  hanya setengah lebarnya dari, bagian 

untuk tempat kudus. Sebab kota diperkaya oleh perdagangan dan 

sebab  itu tidak begitu memerlukan tanah.  

3. Bagian berikutnya sesudah  tanah-tanah jemaat dan tanah-tanah 

kota yaitu  tanah-tanah raja (ay. 7-8). Di sini tidak ada bagian 

yang ditentukan untuk tanah-tanah ini, namun  tanah-tanah itu 

dikatakan terletak di sebelah barat dan di sebelah timur tanah-

tanah jemaat dan tanah-tanah kota, untuk menyiratkan bahwa 

sang raja bersama kekayaan dan kekuasaannya harus menjadi 

perlindungan bagi jemaat maupun kota. Sebagian orang meng-

anggap bahwa bagian raja sama dengan gabungan dari bagian 

jemaat dan bagian kota. Menurut sebagian penafsir lain, bagian 

raja yaitu  sepertiga belas dari sisa tanah yang ada, sedangkan 

dua belas bagian lainnya untuk kedua belas suku. Raja yang 

terus-menerus melayani kepentingan-kepentingan umum harus 

memiliki persediaan untuk menyokong martabatnya, dan memi-

likinya dengan berlimpah, supaya  ia tidak tergoda untuk menin-

das rakyat, meskipun memiliki jumlah banyak pun tidak men-

cegah orang untuk melakukannya. namun  anugerah Allah akan 

mencegahnya, sebab dijanjikan di sini, raja-raja Israel tidak lagi 

akan menindas umat-Ku. Sebab Allah akan memberi  damai 

sejahtera kepada para petugas dan keadilan kepada para penagih 

(Yes. 60:17, KJV). Meskipun demikian, kita mendapati bahwa 

sesudah  kembalinya orang-orang Yahudi ke tanah mereka sendiri, 

para pemimpin dikeluhkan sebab  mereka memeras rakyat. 

namun  Nehemia yaitu  orang yang tidak berbuat seperti para 

bupati yang sebelumnya, dan sekalipun begitu ia membuat 

istananya tetap menyenangkan (Neh. 5:15, 18). namun  sedemikian 

banyak dikatakan tentang sang raja dalam pemerintahan yang 

rohani, misteri, dan kudus ini, untuk menyiratkan bahwa dalam 

jemaat Injil para hakim akan menjadi pengasuhnya dan raja-raja 

atau para pemimpin Kristen menjadi pengayom dan pelindung-

nya. Dan agama kudus yang mereka akui, sejauh mereka tunduk 

pada kuasanya, akan menahan mereka dari menindas umat 

Allah, sebab umat Allah lebih merupakan umat-Nya daripada 

umat mereka.  

4. Semua tanah lain yang tersisa harus dibagi-bagikan kepada orang 

banyak menurut suku-suku mereka, yang akan merasa sudah 

berdiam dengan tenang saat  peraturan bagi Israel maupun 

kursi-kursi pengadilan ada begitu dekat dengan mereka. 

  

Kitab Yehezkiel 45:9-12  

Aturan-aturan Keadilan 

(45:9-12) 

9 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Cukuplah itu, hai raja-raja Israel, jauh-

kanlah kekerasan dan aniaya, namun  lakukanlah keadilan dan kebenaran; 

hentikanlah kekerasanmu yang mengusir umat-Ku dari tanah miliknya, 

demikianlah firman Tuhan ALLAH. 10 Neraca yang betul, efa yang betul dan 

bat yang betullah patut ada padamu. 11 Sepatutnyalah efa dan bat mem-

punyai ukuran yang sama yang ditera, sehingga satu bat isinya sepersepuluh 

homer, dan satu efa ialah sepersepuluh homer juga; jadi menurut homerlah 

ukuran-ukuran itu ditera. 12 Bagi kamu satu syikal sepatutnya sama dengan 

dua puluh gera, lima syikal, ya lima syikal dan sepuluh syikal, ya sepuluh 

syikal, dan lima puluh syikal yaitu  satu mina. 

Di sini kita mendapati beberapa aturan keadilan umum yang ditetap-

kan baik untuk raja maupun rakyat, aturan keadilan dalam membagi 

dan aturan keadilan dalam bertukar atau berdagang barang. Sebab 

kesalehan tanpa kejujuran hanyalah bentuk lahiriah dari kesalehan, 

dan tidak akan menyenangkan Allah atau bermanfaat bagi siapa saja. 

Oleh sebab itu hendaklah ditetapkan, oleh wewenang Raja dan Allah 

jemaat,  

1.  Bahwa raja-raja tidak lagi akan menindas rakyat mereka, namun  

dengan sepatutnya dan setia menegakkan keadilan di antara 

mereka (ay. 9): “Cukuplah itu, hai raja-raja Israel! Bahwa kamu 

telah menindas rakyat dan memperkaya dirimu sendiri dengan 

rampasan dan kekerasan, bahwa kamu sudah begitu lama men-

cukur kawanan domba, bukannya memberi mereka makan, jadi 

mulai saat ini janganlah kamu berbuat demikian lagi.” Perhati-

kanlah, bahkan para raja dan pembesar yang sudah lama berbuat 

salah pada akhirnya harus berpikir bahwa sudah tiba waktunya, 

sekaranglah waktunya, untuk memperbarui dan memperbaiki 

diri. Sebab tidak ada perintah yang akan membenarkan kesalah-

an. Janganlah mereka berkata bahwa sebab  sudah lama terbiasa 

menindas, maka mereka boleh terus saja melakukannya, sebab 

kebiasaan akan membenarkan mereka. namun  yang harus mereka 

katakan yaitu , bahwa sebab  sudah lama terbiasa melakukan-

nya, maka, seperti dikatakan di sini, cukuplah itu, dan hendaklah 

sekarang mereka menyingkirkan kekerasan dan aniaya. Biarlah 

mereka mencabut tuntutan-tuntutan yang salah, membatalkan 

kebiasaan-kebiasaan yang salah, dan memecat orang-orang di 

bawah mereka yang melakukan kekerasan. Hendaklah mereka 

menghentikan pemerasan, meringankan rakyat dari pajak-pajak 

yang menindih mereka dengan berat, dan hendaklah mereka 

melakukan keadilan dan kebenaran menurut hukum, seperti yang 

dituntut dari kewajiban pekerjaan mereka. Perhatikanlah, semua 

raja, namun  terutama raja-raja Israel, berkepentingan untuk mela-

kukan keadilan. Sebab tentang rakyat mereka Allah berkata, me-

reka yaitu  umat-Ku, dan raja-raja Israel secara khusus memerin-

tah untuk Allah. 

2. Bahwa yang satu tidak boleh berbuat curang terhadap yang lain 

dalam berdagang (ay. 10): Patut ada padamu neraca yang betul, 

untuk menimbang uang maupun barang, efa yang betul untuk 

mengukur gandum dan tepung, dan bat yang betul untuk meng-

ukur cairan, anggur, dan minyak. Efa dan bat harus memiliki  

ukuran yang sama, sepersepuluh homer, atau kor (ay. 11). Sehing-

ga efa dan bat isinya (seperti yang dihitung oleh seorang cendekia-

wan, Dr. Cumberland) lebih dari tiga puluh liter. Sehomer hanya-

lah sepersepuluh efa (Kel. 16:36) dan seperseratus khomer, atau 

homer, isinya sekitar tiga liter. Satu syikal ditetapkan di sini (ay. 

12). Nilainya dua puluh gera, hanya setengah ons Romawi, seperti 

yang dihitung dengan tepat oleh cendekiawan yang sudah 

disebutkan tadi. Mina dihitung dengan syikal, yang jika ditimbang 

beratnya saja (kata Uskup Cumberland), tanpa memandang nilai 

uang logam, isinya hanya 100 syikal, seperti yang tampak dengan 

membandingkan 1 Raja-raja 10:17, di mana dikatakan tiga mina 

emas dipakai untuk setiap perisai kecil, dengan ayat yang sepa-

dan, 2 Tawarikh 9:16, di mana dikatakan 300 syikal emas dipakai 

untuk setiap perisai kecil. namun  jika  mina dilihat sebagai 

jumlah uang atau uang logam, isinya hanya enam puluh syikal, 

seperti yang tampak di sini (KJV), di mana dua puluh syikal, dua 

puluh lima syikal, dan lima belas syikal, yang semuanya berjum-

lah enam puluh syikal, yaitu  satu mina. namun  dihitung demi-

kian sebab  pada mereka ada satu keping uang yang beratnya 

dua puluh syikal, keping lain dua puluh lima, dan keping lain lagi 

lima belas, yang kesemuanya bernilai satu mina, seperti yang 

dicermati oleh sang cendekiawan di sini. Perhatikanlah, merupa-

kan kepentingan Israel milik Allah untuk berlaku sangat jujur dan 

adil dalam semua urusan mereka, sangat tepat dalam waktu dan 

jumlah saat  memberi  kepada semua orang apa yang sepa-

tutnya mereka terima, dan sangat berhati-hati supaya  tidak ber-

buat jahat kepada siapa pun. Sebab jika tidak, mereka merusak

Kitab Yehezkiel 45:13-25  

keberkenanan pengakuan mereka di hadapan Allah dan nama 

baik pengakuan itu di hadapan manusia. 

Persembahan-persembahan Khusus Diperintahkan 

(45:13-25)  

13 Inilah persembahan khusus yang kamu harus persembahkan: seperenam 

efa dari sehomer gandum dan seperenam efa dari sehomer jelai. 14 Tentang 

ketetapan mengenai minyak: sepersepuluh bat dari satu kor; satu kor yaitu  

sama dengan sepuluh bat. 15 Seekor anak domba dari setiap dua ratus ekor 

milik sesuatu kaum keluarga Israel. Semuanya itu untuk korban sajian, 

korban bakaran dan korban keselamatan untuk mengadakan pendamaian 

bagi mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 16 Seluruh penduduk negeri 

harus mempersembahkan persembahan khusus ini kepada raja di Israel.  

17 Dan rajalah yang bertanggung jawab mengenai korban bakaran, korban 

sajian, korban curahan pada hari-hari raya, bulan-bulan baru, hari-hari 

Sabat dan pada setiap perayaan kaum Israel. Ialah yang akan mengolah kor-

ban penghapus dosa, korban sajian, korban bakaran dan korban keselamat-

an untuk mengadakan pendamaian bagi kaum Israel.” 18 Beginilah firman 

Tuhan ALLAH: “Pada bulan yang pertama, pada tanggal satu bulan itu 

ambillah seekor lembu jantan muda yang tidak bercela dan sucikanlah 

tempat kudus itu. 19 Imam harus mengambil sedikit dari darah korban peng-

hapus dosa dan membubuhnya pada tiang-tiang Bait Suci dan pada keempat 

sudut jalur keliling yang ada pada mezbah dan pada tiang-tiang pintu 

gerbang pelataran dalam. 20 Demikianlah engkau harus perbuat pada hari 

pertama bulan yang ketujuh demi orang-orang yang berbuat dosa dengan 

tidak sengaja dan tanpa diketahui. Dengan demikian engkau mengadakan 

pendamaian bagi Bait Suci. 21 Pada bulan pertama, pada tanggal empat belas 

bulan itu haruslah kamu merayakan hari raya Paskah, dan selama tujuh 

hari kamu harus makan roti yang tidak beragi. 22 Pada hari itu raja harus 

mengolah lembu jantan sebagai korban penghapus dosa sebab  dirinya dan 

sebab  seluruh penduduk negeri. 23 Selama tujuh hari hari raya itu ia harus 

mengolah korban bakaran bagi TUHAN: tiap hari tujuh ekor lembu jantan 

dan tujuh ekor domba jantan yang tidak bercela dan untuk korban peng-

hapus dosa tiap hari seekor kambing jantan. 24 Sebagai korban sajian ia 

harus mengolah satu efa tepung dengan seekor lembu dan satu efa tepung 

dengan seekor domba jantan dan minyak satu hin untuk satu efa. 25 Pada 

bulan ketujuh, pada tanggal lima belas bulan itu, yaitu pada hari raya, ia 

harus mengolah seperti ini selama tujuh hari: korban penghapus dosa, 

korban bakaran, korban sajian dan minyak. 

sesudah  menetapkan aturan-aturan kebenaran dan keadilan terhadap 

manusia, yang sesungguhnya merupakan bagian dari agama yang 

benar, selanjutnya sang nabi datang untuk memberi  beberapa 

petunjuk tentang ibadah keagamaan mereka terhadap Allah, yang 

merupakan bagian dari kebenaran yang berlaku terhadap siapa saja 

dan di mana saja. 

I. Dituntut supaya  mereka mempersembahkan persembahan khu-

sus kepada Tuhan dari apa yang mereka miliki (ay. 13): Seluruh 

penduduk negeri harus memberi  persembahan khusus (ay. 

16). Sebagai penyewa-penyewa tanah Allah, mereka harus mem-

bayar uang sewa kepada Tuan tanah mereka yang agung. Mereka 

telah mempersembahkan persembahan khusus dari lahan-lahan 

mereka, bagian tanah yang kudus (ay. 1). Sekarang mereka di-

perintahkan untuk mempersembahkan persembahan khusus dari 

harta pribadi mereka, harta benda mereka, sebagai pengakuan 

bahwa mereka menerimanya dari Dia, bahwa mereka bergantung 

pada-Nya, dan bahwa mereka memiliki kewajiban-kewajiban ter-

hadap-Nya. Perhatikanlah, apa pun harta benda kita, kita harus 

menghormati Allah dengan harta benda itu, dengan memberi  

kepada-Nya apa yang sepatutnya Dia dapatkan darinya. Bukan 

berarti bahwa Allah membutuhkan atau dapat diuntungkan oleh 

apa saja yang bisa kita berikan kepada-Nya (Mzm. 50:9). Tidak, 

itu hanya persembahan khusus. Kita hanya mempersembahkan itu 

kepada-Nya. Keuntungan darinya kembali kepada kita sendiri, 

kepada kaum miskin-Nya, yang, sebagai sesama kita, yaitu  diri 

kita sendiri, atau kepada hamba-hamba-Nya yang terus-menerus 

melayani demi kebaikan kita. 

II.  Pembagian persembahan khusus ini ditentukan di sini, yang tidak 

ditentukan menurut hukum Musa. Tidak disebutkan tentang 

nama persembahannya, namun  hanya tentang persembahan khu-

sus ini. Dan jumlah persembahan ini ditetapkan demikian: 

1. Dari gandum mereka, mereka harus mempersembahkan seper-

enam puluhnya. Dari setiap homer gandum dan jelai, yang berisi 

sepuluh efa, mereka harus mempersembahkan seperenam dari 

satu efa, yang merupakan seperenam puluh dari keseluruhan-

nya (ay. 13).  

2. Dari minyak mereka (dan mungkin dari anggur mereka juga) 

mereka harus mempersembahkan seperseratusnya, untuk per-

sembahan khusus ini. Dari setiap kor, atau homer, yang berisi 

sepuluh bat, mereka harus mempersembahkan sepersepuluh 

dari satu bat (ay. 14). Ini diberikan kepada mezbah. Sebab 

dalam setiap korban sajian ada tepung yang diolah dengan 

minyak.  

Kitab Yehezkiel 45:13-25  

3. Dari kawanan domba mereka, mereka harus memberi  se-

ekor anak domba dari 200 ekor. Itu yaitu  perbandingan ter-

kecil dari semuanya (ay. 15). namun  itu harus diambil dari 

milik sesuatu kaum keluarga Israel (KJV: dari padang-padang 

rumput Israel yang subur). Mereka tidak boleh mempersem-

bahkan kepada Allah domba yang diambil dari domba-domba 

biasa, namun  yang paling gemuk dan paling baik yang mereka 

miliki, itulah yang dipersembahkan untuk korban bakaran dan 

korban keselamatan. Korban bakaran dipersembahkan untuk 

memberi  kemuliaan kepada Allah, sedangkan korban kese-

lamatan untuk mendatangkan belas kasihan, anugerah, dan 

damai sejahtera dari Allah. Dan dalam korban-korban rohani 

kita, kedua hal inilah yang menjadi dua tugas besar kita di 

hadapan takhta anugerah. namun , supaya  kedua-duanya di-

terima, korban-korban ini harus untuk mengadakan penda-

maian bagi mereka. Kristus yaitu  korban penebusan kita, 

yang oleh-Nya pendamaian diadakan, dan yang kepada-Nya 

kita harus mengarahkan pandangan dalam korban-korban 

pengakuan kita. 

III. Persembahan khusus ini harus diberikan untuk raja di Israel (ay. 

16). Sebagian orang membacanya kepada raja, dan memahaminya 

sebagai Kristus, yang memang merupakan Raja di Israel, yang 

kepada-Nya kita harus mempersembahkan persembahan-persem-

bahan khusus kita, dan yang ke dalam tangan-Nya kita harus 

menyerahkan persembahan-persembahan itu, untuk disampaikan 

kepada Bapa. Atau, mereka akan memberi nya dengan sang 

raja. Setiap orang harus membawa persembahannya sendiri, un-

tuk dipersembahkan dengan persembahan raja. Sebab dikatakan 

selanjutnya (ay. 17), rajalah yang bertanggung jawab mengenai 

semua korban, untuk mengadakan pendamaian bagi kaum Israel. 

Rakyat biasa harus membawa persembahan-persembahan khu-

sus mereka kepadanya sesuai dengan aturan-aturan di atas, dan 

sang raja harus membawa persembahan-persembahan itu ke 

tempat kudus, dan menambahkan apa yang kurang dari persem-

bahannya sendiri. Perhatikanlah, yaitu  kewajiban para pengua-

sa untuk menjaga agama, dan memastikan bahwa kewajiban-

kewajibannya dijalankan secara teratur dan hati-hati oleh orang-

orang yang berada di bawah perintah mereka, dan bahwa tidak 

ada yang kurang dari apa yang dituntut untuk itu. Hakim yaitu  

penjaga meja para penguasa maupun rakyat. Sungguh membaha-

giakan jika  orang-orang yang berada di atas orang lain dalam 

kekuasaan dan martabat maju mendahului mereka dalam mela-

yani Allah. 

IV. Beberapa perayaan tertentu ditetapkan di sini. 

1. Di sini ada satu perayaan pada awal tahun, yang tampaknya 

sama sekali baru, dan tidak ditetapkan oleh hukum Musa. Itu 

yaitu  perayaan tahunan membersihkan tempat kudus.  

(1) Pada bulan yang pertama, pada tanggal satu bulan itu (pada 

hari pertama tahun baru) mereka harus mempersembah-

kan korban untuk menyucikan tempat kudus (ay. 18), yaitu 

mengadakan pendamaian atas kesalahan terhadap segala 

yang dikuduskan pada tahun lalu, supaya  mereka tidak 

membawa satu pun kesalahan itu ke dalam ibadah-ibadah 

pada tahun baru. Mereka juga harus mempersembahkan 

korban untuk memohonkan anugerah untuk mencegah 

kesalahan itu, dan untuk melakukan pelayanan di tempat 

kudus dengan lebih baik pada tahun berikutnya. Dan, 

sebagai tanda akan hal ini, darah dari korban penghapus 

dosa ini harus dibubuhkan pada tiang-tiang pintu gerbang 

pelataran dalam (ay. 19), untuk menandakan bahwa de-

ngan itu dimaksudkan dibuat pendamaian atas dosa-dosa 

semua hamba Tuhan yang melayani di Bait Suci, para 

imam, orang-orang Lewi, dan umat, bahkan dosa-dosa 

yang didapati dalam semua pelayanan mereka. Perhatikan-

lah, bahkan tempat-tempat kudus di bumi perlu dibersih-

kan, sering-sering dibersihkan, sedangkan tempat kudus di 

atas tidak memerlukannya. Orang-orang yang menyembah 

Allah bersama-sama harus sering bergabung untuk mem-

perbarui pertobatan mereka atas berbagai macam keku-

rangan mereka, dan membubuhkan darah Kristus untuk 

pengampunannya, dan untuk memperbarui kovenan 

mereka supaya  lebih berhati-hati untuk ke depannya. Dan 

sangatlah tepat untuk memulai tahun dengan pekerjaan 

ini, seperti yang dilakukan Hizkia saat  pekerjaan itu su-

dah lama diabaikan (2Taw. 29:17). Mereka di sini ditunjuk 

Kitab Yehezkiel 45:13-25  

untuk menyucikan tempat kudus pada hari pertama bulan 

itu, sebab pada hari keempat belas pada bulan itu mereka 

harus makan perjamuan Paskah, suatu ketetapan yang, 

dari semua ketetapan Perjanjian Lama, paling banyak me-

nyatakan Kristus dan anugerah Injil. Oleh sebab  itu 

sangat patutlah jika mereka mulai mempersiapkannya dua 

minggu sebelumnya dengan menyucikan tempat kudus.  

(2) Korban ini harus diulangi pada hari pertama bulan yang 

ketujuh (ay. 20, KJV: pada hari ketujuh bulan yang pertama). 

Dan pada saat itu korban dimaksudkan untuk mengada-

kan pendamaian demi orang-orang yang berbuat dosa 

dengan tidak sengaja dan tanpa diketahui (KJV: demi setiap 

orang yang berbuat salah, dan untuk orang yang tidak 

berpengetahuan). Perhatikanlah, orang yang berdosa ber-

buat salah dan tidak berpengetahuan. Ia melakukan kesa-

lahan, ia menyimpang, dan menunjukkan dirinya bodoh 

dan tidak bijak. namun  di sini dibicarakan tentang dosa-

dosa yang dilakukan sebab  ketidaktahuan, kekeliruan, 

atau kelalaian, apakah oleh para imam, atau orang-orang 

Lewi, atau orang-orang awam. Korban-korban ditetapkan 

untuk mengadakan pendamaian bagi dosa-dosa yang dila-

kukan orang tanpa sengaja, atau yang mereka lakukan 

tanpa kesadaran, yang tidak akan mereka lakukan sean-

dainya mereka mengetahui dan mengingatnya baik-baik, 

sehingga sesudah melakukannya mereka merasa khilaf. 

namun  untuk dosa-dosa yang diperbuat secara lancang, 

yang dilakukan dengan tangan teracung, tidak ada korban 

yang ditetapkan (Bil. 15:30). Dengan korban-korban yang 

diulangi ini engkau harus mengadakan pendamaian bagi 

Bait Suci, yaitu, Allah akan berdamai dengannya, dan 

meneruskan tanda-tanda kehadiran-Nya di dalamnya, dan 

akan membiarkan dia tumbuh tahun ini lagi. 

2. Paskah itu harus dijalankan dalam ibadah pada waktu yang 

ditentukan (ay. 21). Kristus yaitu  anak domba Paskah kita, 

yang telah disembelih bagi kita. Kita merayakan peringatan 

akan korban itu dan berpesta untuknya, berkemenangan da-

lam terbebasnya kita dari perbudakan Mesir, yakni perbudak-

an dosa, dan terluputnya kita dari pedang malaikat maut, pe-

dang keadilan ilahi, dalam perjamuan Tuhan, yang merupakan 

perayaan Paskah kita. Sebab seluruh kehidupan Kristen ada-

lah, dan harus menjadi, perayaan roti tidak beragi. Di sini dite-

tapkan bahwa sang raja harus mempersiapkan korban peng-

hapus dosa, untuk dipersembahkan bagi dirinya dan seluruh 

penduduk negeri, lembu jantan pada hari pertama (ay. 22) dan 

seekor kambing jantan tiap hari (ay. 23). Ini mengajar kita, 

setiap kali kita beribadah kepada Allah untuk bersekutu 

dengan-Nya, agar mengarahkan pandangan kepada korban 

penghapus dosa yang agung, yang olehnya kefasikan dilenyap-

kan dan keadilan yang kekal didatangkan. Setiap hari peraya-

an itu, harus ada korban bakaran, semata-mata untuk kehor-

matan Allah, tidak kurang dari tujuh ekor lembu jantan dan 

tujuh ekor domba jantan, dengan korban sajiannya, yang 

dimakan habis di atas mezbah, dan tidak boleh ada yang 

terbuang (ay. 23-24). 

3. Hari raya Pondok Daun. Itulah yang dibicarakan berikutnya 

(ay. 25), namun  tidak disebutkan tentang hari raya Pentakosta, 

yang jatuh antara hari raya Paskah dan hari raya Pondok 

Daun. Di sini diberikan perintah-perintah (melebihi apa yang 

sudah diberikan oleh hukum Musa) supaya  korban-korban 

yang sama dipersembahkan selama tujuh hari perayaan 

Paskah. Lihatlah betapa korban-korban untuk penebusan 

dosa yang dilakukan menurut hukum Taurat itu banyak 

cacatnya. sebab  itulah korban-korban itu sering kali diulangi, 

bukan hanya setiap tahun, melainkan juga setiap hari raya, 

setiap hari pada masa perayaan, sebab korban-korban itu 

tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengam-

bil bagian di dalamnya (Ibr. 10:1, 3). Lihatlah betapa perlunya 

kita untuk sering mengulangi tindakan-tindakan ibadah yang 

sama. Meskipun korban pendamaian dipersembahkan satu 

kali untuk selama-lamanya, namun korban-korban pengakuan, 

yaitu korban pengakuan hati yang hancur, korban pengakuan 

hati yang bersyukur, korban-korban pengakuan rohani yang 

berkenan kepada Allah melalui Kristus Yesus itu, harus diper-

sembahkan setiap hari. Kita harus, seperti yang digambarkan 

dalam aturan-aturan di atas, mengikuti cara pelaksanaan ke-

wajiban-kewajiban yang kudus, dan tetap menjalankannya. 

 

PASAL 46  

Dalam pasal ini kita mendapati,  

I. Beberapa aturan lebih jauh yang diberikan kepada para imam 

maupun kepada umat, yang berkaitan dengan ibadah mereka 

(ay. 1-15).  

II. Hukum tentang bagaimana raja harus memberi  pemberi-

an dari milik pusakanya (ay. 16-18).  

III. Gambaran tentang tempat-tempat yang disediakan untuk 

memasak korban-korban dan membakar korban sajian (ay. 

19-24). 

Aturan-aturan Menyangkut Ibadah 

(46:1-15) 

1 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pintu gerbang pelataran dalam yang 

menghadap ke sebelah timur haruslah tertutup selama enam hari kerja, 

namun  pada hari Sabat supaya  dibuka; pada hari bulan baru juga supaya  

dibuka. 2 Raja itu akan masuk dari luar melalui balai gerbang dan akan ber-

diri dekat tiang pintu gerbang itu. Sementara itu imam-imam akan mengolah 

korban bakaran dan korban keselamatan raja itu dan ia akan sujud 

menyembah di ambang pintu gerbang itu, lalu keluar lagi. Dan pintu gerbang 

itu tidak boleh ditutup sampai petang hari. 3 Penduduk negeri juga harus 

turut sujud menyembah di hadapan TUHAN di pintu gerbang itu pada hari 

Sabat dan hari bulan baru. 4 Korban bakaran yang harus dipersembahkan 

raja itu kepada TUHAN pada hari Sabat ialah enam ekor domba yang tidak 

bercela dan seekor domba jantan yang tidak bercela. 5 Korban sajian dari 

domba jantan harus diolah dengan satu efa tepung, namun  korban sajian dari 

domba-domba yang lain bergantung pada kemampuannya, serta minyak satu 

hin untuk satu efa. 6 Pada bulan baru harus dipersembahkan seekor lembu 

jantan muda yang tiada bercela, serta enam ekor domba dan seekor domba 

jantan yang tiada bercela. 7 Sebagai korban sajian ia harus mengolah satu efa 

tepung dengan seekor lembu dan satu efa tepung dengan seekor domba jan-

tan, namun  korban sajian dari domba-domba lain bergantung pada kemam-

puannya, serta minyak satu hin untuk satu efa. 8 Kalau raja hendak masuk 

ke dalam, ia harus masuk melalui balai gerbang dan keluar dari situ juga. 

9 namun  kalau penduduk negeri pada perayaan-perayaan yang tetap berkum-

pul di hadapan TUHAN, dan yang masuk melalui pintu gerbang utara untuk 

turut sujud menyembah biarlah mereka keluar melalui pintu gerbang selat-

an, dan yang masuk melalui pintu gerbang selatan, biarlah keluar melalui 

pintu gerbang utara. Janganlah seorang kembali melalui pintu gerbang 

kemasukannya, namun  masing-masing harus keluar dari pintu gerbang yang 

di depannya. 10 Mengenai raja itu, ia akan masuk bersama-sama mereka dan 

keluar bersama-sama mereka. 11 Pada hari-hari raya dan perayaan-perayaan 

yang tetap harus ada korban sajian, yaitu satu efa tepung diolah dengan 

seekor lembu jantan dan satu efa tepung diolah dengan seekor domba jantan, 

namun  korban sajian dari domba-domba yang lain bergantung pada kemam-

puannya, serta minyak satu hin untuk satu efa. 12 Kalau raja mengolah 

korban bakaran sukarela atau korban keselamatan sukarela bagi TUHAN, 

maka orang harus membukakan pintu gerbang sebelah timur untuk dia dan 

ia akan mempersembahkan korban bakarannya dan korban keselamatannya 

itu seperti ia perbuat pada hari Sabat. Kemudian ia keluar, dan sesudah ia 

keluar pintu gerbang harus ditutup. 13 Tiap hari ia harus mengolah domba 

yang berumur satu tahun dan yang tiada bercela sebagai korban bakaran 

bagi TUHAN; setiap pagi ia harus melakukan itu. 14 Di samping itu setiap 

pagi ia harus mempersembahkan korban sajian seperenam efa tepung 

dengan minyak sepertiga hin untuk mencampur tepung yang terbaik itu; 

itulah korban sajian bagi TUHAN, dan ketetapan itu tetap selama-lamanya. 15 

Demikianlah mereka harus mempersembahkan domba dan korban sajian 

dan minyak setiap pagi sebagai korban bakaran yang tetap. 

Apakah aturan-aturan untuk ibadah umum yang ditetapkan di sini 

dirancang untuk dilaksanakan, bahkan dalam beberapa hal yang 

berbeda dari hukum Musa, dan apakah harus dilaksanakan demi-

kian di bawah Bait Suci kedua, tidaklah pasti. Kita tidak mendapati 

dalam sejarah jemaat Yahudi yang belakangan bahwa mereka 

mengatur diri mereka dengan ketetapan-ketetapan ini dalam ibadah 

mereka, seperti yang dianggap orang seharusnya mereka lakukan. 

Yang terjadi yaitu  bahwa mereka hanya menjalankan seperti yang 

ditetapkan hukum Musa. Jadi, oleh sebab  itu, ketetapan-ketetapan 

yang diberikan di sini harus dipandang sebagai yang akan digenapi 

secara rohani nanti pada zaman berikutnya, dan bukan secara 

harfiah. Kita dapat mengamati, dalam ayat-ayat ini, 

I. Bahwa tempat ibadah sudah ditetapkan, dan diberikan aturan-

aturan mengenai itu, baik kepada raja maupun kepada rakyat. 

1. Pintu gerbang timur, yang tetap dibiarkan tertutup pada wak-

tu-waktu lain, harus dibuka pada hari-hari Sabat, pada bulan-

bulan baru (ay. 1), dan setiap kali sang raja mempersem-

bahkan korban sukarela (ay. 12). Pintu gerbang yang biasanya 

tetap dibiarkan tertutup ini sudah kita baca sebelumnya 

dalam pasal 44:2. Sementara pintu-pintu gerbang lain dari 

Kitab Yehezkiel 46:1-15  

pelataran dibuka setiap hari, pintu gerbang yang satu ini di-

buka hanya pada hari-hari raya dan pada kesempatan-kesem-

patan khusus, saat  dibuka untuk raja, yang akan masuk 

dari luar melalui balai gerbang (ay. 2, 8). Menurut sebagian 

orang, ia masuk dengan imam-imam dan orang-orang Lewi ke 

pelataran dalam (sebab pintu gerbang ini merupakan jalan 

masuk ke pelataran itu), dan mereka mengamati bahwa para 

hakim dan hamba Tuhan harus bergabung, dan berjalan ke 

arah yang sama, sambil saling bergandeng tangan, dalam 

memajukan pelayanan terhadap Allah. namun  tampaknya ia 

tidak masuk melalui pintu gerbang (seperti kemuliaan Tuhan 

telah masuk), meskipun pintu itu terbuka, namun  ia masuk 

melalui balai gerbang, berdiri dekat tiang pintu gerbang itu, dan 

sujud menyembah di ambang pintu gerbang itu (ay. 2). Dari situ 

ia dapat memandang semua kegiatan para imam di mezbah, 

dan memberi  tanda persetujuannya terhadap kegiatan-

kegiatan itu, bagi dirinya sendiri dan bagi penduduk negeri, 

yang berdiri di belakangnya di pintu gerbang itu (ay. 3). Demi-

kianlah setiap raja harus menunjukkan dirinya sejalan dengan 

pikiran Daud, yang sangat bersedia untuk berdiri di ambang 

pintu rumah Allahnya (Mzm. 84:11, KJV: menjadi penjaga pintu 

di rumah Allahnya), dan, seperti kata yang digunakan dalam 

ayat itu, berbaring di ambang pintu. Perhatikanlah, yang ter-

besar dari manusia sekalipun masih lebih kecil dari ketetapan-

ketetapan Allah yang terkecil. Bahkan raja-raja sendiri, saat  

datang mendekat kepada Allah, harus menyembah dengan 

hormat dan takut, dengan mengakui bahwa bahkan mereka 

sekalipun tidak layak untuk mendekati-Nya. namun  Kristus 

yaitu  Raja kita, yang digerakkan Allah untuk maju dan 

mendekat kepada-Nya (Yer. 30:21). 

2. Mengenai pintu gerbang utara dan pintu gerbang selatan, yang 

melaluinya mereka masuk ke dalam pelataran orang banyak 

(bukan ke pelataran dalam), diberikan aturan ini, bahwa siapa 

saja yang masuk dari pintu gerbang utara harus keluar dari 

pintu gerbang selatan, dan siapa saja yang masuk dari pintu 

gerbang selatan harus keluar dari pintu gerbang utara (ay. 9). 

Menurut sebagian orang, hal ini untuk mencegah orang saling 

berdesak-desakan. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, 

namun  ketertiban. Kita dapat menduga bahwa mereka masuk 

dari pintu gerbang yang ada di sebelah rumah mereka sendiri. 

namun , saat  mereka pulang, Allah ingin supaya  mereka 

keluar dari pintu gerbang yang akan menuntun mereka ke 

jalan berputar yang paling jauh, supaya  mereka memiliki  

waktu untuk bermenung. sebab  dengan begitu mereka harus 

berjalan sangat jauh mengitari tempat kudus, maka mereka 

mendapat kesempatan untuk mencermati puri-purinya, dan, 

jika mereka memanfaatkan waktu mereka dengan baik dalam 

mengitari putaran ini, maka mereka akan menyebutnya seba-

gai jalan terdekat menuju rumah. Sebagian orang mengamati 

bahwa hal ini dapat mengingatkan kita, dalam melayani Allah, 

untuk senantiasa maju mendesak ke depan (Flp. 3:13) dan 

tidak melihat ke belakang. Dan, dalam mengikuti ketetapan-

ketetapan ibadah, untuk tidak kembali seperti waktu kita 

datang, namun  menjadi lebih kudus, lebih sorgawi, dan lebih 

rohani. 

3. Ditetapkan bahwa penduduk negeri harus turut sujud menyem-

bah di pintu gerbang timur, di mana sang raja menyembah, dia 

sebagai kepala dan mereka sebagai pengiringnya, baik pada 

hari Sabat maupun pada hari bulan baru (ay. 3), dan bahwa, 

saat  mereka datang dan pergi, sang raja akan berada di 

tengah-tengah mereka (ay. 10, KJV). Perhatikanlah, orang-orang 

besar haruslah, dengan melayani Allah secara terus-menerus 

dan penuh hormat dalam ibadah umum, memberi  contoh 

yang baik kepada bawahan-bawahan mereka, baik dengan 

melibatkan mereka maupun mendorong mereka untuk ber-

buat hal yang serupa. Suatu hal yang sangat menyenangkan 

dan sudah sepatutnya bagi orang-orang penting untuk pergi 

beribadah dengan hamba-hamba mereka, dan orang-orang 

yang menyewa tanah ladang mereka, dan tetangga-tetangga 

miskin di sekitar mereka. Selain itu, mulialah bagi mereka 

untuk berperilaku dengan penuh kesungguhan dan penuh 

kesalehan. Orang-orang yang menghormati Allah dengan 

kehormatan mereka seperti itu akan diberi-Nya kehormatan 

dengan senang hati. 

II. Bahwa upacara-upacara ibadah ditetapkan. Meskipun sang raja 

sendiri dianggap sebagai teman yang sepenuh hati dan sangat 

bersemangat bagi tempat kudus, namun bukan terserah kepada-

Kitab Yehezkiel 46:1-15  

nya, sekalipun bersama-sama dengan para imam, untuk menetap-

kan korban-korban apa saja yang akan dipersembahkan, namun  

Allah sendirilah yang menetapkannya. Sebab hak istimewa-Nyalah 

untuk menetapkan tata ibadah dan upacara-upacara ibadah 

keagamaan.  

1. Setiap pagi, begitu pagi hari tiba, mereka harus mempersem-

bahkan seekor domba sebagai korban bakaran (ay. 13). Meng-

herankan bahwa tidak disebutkan tentang korban petang. 

namun  sebab  Kristus sudah datang, dan sudah mempersem-

bahkan diri-Nya sendiri sekarang pada zaman akhir (Ibr. 9:26), 

kita harus memandang-Nya sebagai korban petang, yang kira-

kira pada waktu itulah Dia wafat sebagai korban persembahan.  

2. Pada hari-hari Sabat, kalau menurut hukum Musa empat ekor 

domba harus dipersembahkan (Bil. 28:9), di sini ditetapkan 

bahwa (atas perintah sang raja) harus ada enam ekor domba 

yang dipersembahkan, dan seekor domba jantan di samping 

itu (ay. 4). Hal ini untuk menyiratkan betapa kita harus ba-

nyak melakukan pekerjaan Sabat, sekarang pada zaman Injil, 

dan betapa kita harus mempersembahkan banyak korban doa 

dan pujian kepada Allah pada hari itu. Dan, jika korban-

korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah, maka 

pasti ada banyak alasan bagi kita untuk senang juga dengan 

korban-korban itu.  

3. Pada bulan-bulan baru, pada awal bulan-bulan mereka, di 

atas korban-korban Sabat biasa ada korban tambahan berupa 

korban lembu jantan muda (ay. 6). Orang-orang yang banyak 

berbuat bagi Allah dan jiwa mereka, secara teratur dan terus-

menerus, sekalipun begitu, pada beberapa kesempatan, masih 

harus berbuat lebih banyak lagi.  

4. Semua korban harus tak bernoda. Demikian pulalah Kristus, 

sang korban agung (1Ptr. 1:19), dan demikian pula orang-

orang Kristen, yang harus mempersembahkan diri mereka sen-

diri kepada Allah sebagai korban yang hidup, harus bertujuan 

dan berusaha  untuk menjadi tiada beraib dan tiada bernoda, 

dan tidak bercela.  

5. Semua korban harus ditambah dengan korban-korban sajian, 

sebab begitulah yang sudah ditetapkan oleh hukum Musa, 

untuk menunjukkan betapa baiknya meja yang disediakan 

Allah di rumah-Nya, dan bahwa kita harus menghormati-Nya

dengan hasil bumi kita dan juga dengan hasil ternak kita, 

sebab  dalam kedua-duanya Ia telah memberkati kita (Ul. 

28:4). Pada mulanya, Kain mempersembahkan hasil bumi, dan 

Habel hasil ternak. Sebagian orang mencermati bahwa korban-

korban sajian di sini jauh lebih banyak perbandingannya 

daripada korban-korban sajian menurut hukum Musa. Dalam 

hukum Musa perbandingannya yaitu  tiga persepuluh efa 

untuk satu ekor lembu, dan dua persepuluh efa untuk satu ekor 

domba jantan (dalam jumlah persepuluh efa) dan paling 

banyak setengah hin minyak (Bil. 15:6-9). namun  di sini, untuk 

setiap lembu jantan dan setiap domba jantan, satu efa dan 

satu hin minyak penuh (ay. 7), yang menyiratkan bahwa di 

bawah Injil, sebab  korban penebusan agung telah dipersem-

bahkan, korban-korban yang tak berdarah ini akan lebih 

berlimpah. Atau, secara umum, itu menyiratkan bahwa sama 

seperti sekarang, di bawah Injil, Allah melimpah dalam pem-

berian-pemberian anugerah-Nya kepada kita, lebih daripada 

sewaktu di bawah hukum Taurat, demikian pula kita harus 

melimpah dalam membalas-Nya dengan puji-pujian dan kewa-

jiban terhadap-Nya. namun  dapat diamati bahwa untuk korban 

sajian dari domba-domba, sang raja diperbolehkan untuk 

mempersembahkannya bergantung pada kemampuannya (ay. 

5, 7, 11), sesuai yang sanggup diperoleh tangannya (KJV). 

Perhatikanlah, raja-raja sendiri harus membelanjakan uang 

sesuai kemampuan mereka. Dan bahkan dalam apa yang 

ditetapkan untuk pekerjaan-pekerjaan kesalehan, Allah ber-

harap dan menuntut supaya  kita berbuat sesuai kemampuan 

kita, sesuai dengan apa yang kita peroleh (1Kor. 16:2; KJV: 

sesuai kesejahteraan yang diberikan Allah kepadanya). Allah 

tidak memberati kita dengan menuntut korban sajian (Yes. 

43:23), namun  Ia mempertimbangkan kemampuan dan keadaan 

kita. Namun, ini tidak akan memperbolehkan orang-orang 

yang berpura-pura tidak mampu, padahal sesungguhnya 

mampu, atau orang-orang yang dengan melakukan hal-hal 

lain secara berlebihan, menjadi tidak mampu berbuat kebaik-

an yang seharusnya mereka perbuat. Dan kita mendapati 

pujian terhadap orang-orang yang, dalam perbuatan kasih 

yang luar biasa, berbuat tidak hanya menurut kemampuan 

mereka, namun  juga melampaui kemampuan mereka. 

Kitab Yehezkiel 46:16-18 

Hukum-hukum mengenai Milik Pusaka Raja 

(46:16-18)  

16 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Kalau raja itu memberi sesuatu pemberian 

dari milik pusakanya kepada salah seorang anaknya, maka itu menjadi kepu-

nyaan anaknya, dan milik ini menjadi pusaka mereka. 17 Kalau ia memberi-

kan pemberian dari milik pusakanya kepada salah seorang hambanya, maka 

itu menjadi kepunyaannya sampai tahun kebebasan, lalu harus kembali 

kepada raja itu; hanya anak-anak raja itu boleh mewarisi milik pusakanya.  

18 Dan janganlah raja itu mengambil sesuatu dari milik pusaka rakyat, se-

hingga mereka terdesak dari miliknya; hanya dari miliknya boleh ia mewaris-

kan kepada anak-anaknya supaya  jangan seorangpun dari umat-Ku didesak 

dari miliknya.” 

Di sini kita mendapati hukum untuk membatasi kekuasaan raja 

dalam memberi tanah-tanah kerajaan kepada orang lain.  

1. Jika ia memiliki seorang anak laki-laki kesayangan, atau jika anak 

itu sudah pantas mendapat warisan, maka ia boleh, kalau mau, 

sebagai tanda kasihnya dan untuk memberi  upah atas pela-

yanan-pelayanannya, mewariskan sebagian dari tanah-tanahnya 

kepada anak itu dan ahli warisnya untuk selama-lamanya (ay. 

16), asalkan warisan itu tidak keluar dari keluarga. Bisa jadi ada 

alasan untuk orangtua, saat  anak-anak mereka tumbuh de-

wasa, untuk bersikap lebih baik kepada yang satu dibandingkan 

kepada yang lain, seperti Yakub memberi  kepada Yusuf satu 

bagian melebihi saudara-saudaranya (Kej. 48:22).  

2. Namun, jika ia memiliki seorang hamba kesayangan, ia tidak 

boleh dengan cara serupa mewariskan tanah kepadanya (ay. 17). 

Hamba boleh mendapat uang sewa, hasil-hasil tanah, dan keun-

tungan-keuntungan darinya, untuk jangka waktu tertentu, namun  

warisan, jus proprietarium – hak kepemilikan, akan tetap berada di 

tangan raja dan para ahli warisnya. Pantas jika dibuat perbedaan 

antara anak dan hamba, seperti dalam Yohanes 8:35. Hamba 

tidak tetap tinggal dalam rumah, seperti anak.  

3. Harta benda yang dia berikan kepada anak-anaknya haruslah 

dari kepunyaannya sendiri (ay. 18): Janganlah raja itu mengambil 

sesuatu dari milik pusaka rakyat, dengan dalih ia memiliki  

banyak anak yang harus diurus. Ia tidak boleh mencari cara-cara 

untuk membuat rakyat kehilangan harta benda mereka, atau 

membuat mereka terpaksa menjualnya, sehingga mereka terdesak 

dari miliknya. namun  hendaklah ia dan anak-anaknya mencukup-

kan diri dengan harta benda mereka sendiri. Sama sekali tidak 

menjadi kehormatan raja untuk memperbanyak kekayaan keluar-

ga dan kerajaan dengan menyerobot hak-hak dan harta benda 

rakyatnya. Ia sendiri juga tidak akan mendapat keuntungan 

darinya pada akhirnya, sebab ia hanya akan menjadi raja yang 

buruk jika  rakyat didesak dari miliknya, jika  mereka me-

ninggalkan negeri asal mereka. Ia akan menjadi raja yang buruk 

bila sampai rakyat dipaksa meninggalkan harta milik dan memilih 

hidup di antara orang-orang asing yang merupakan kaum mer-

deka, dan di mana apa yang mereka miliki dapat mereka sebut 

sebagai milik mereka sendiri, sekalipun itu begitu sedikit. yaitu  

kepentingan para raja untuk bisa memerintah dalam hati rakyat 

mereka, maka kalau sudah begitu, semua yang dimiliki rakyat, 

dengan cara terbaik, akan digunakan untuk melayani mereka. 

Lebih baik mereka memperoleh kasih sayang rakyat dengan 

melindungi hak-hak mereka daripada memperoleh harta benda 

mereka dengan menyerangnya. 

Bangunan-bangunan di Sekitar Bait Suci 

(46:19-24)  

19 Lalu dibawanya aku melalui pintu masuk yang di samping pintu gerbang 

ke bilik-bilik untuk para imam yang di sebelah utara tempat kudus, dan 

sungguh, di sana di bahagian barat sekali ada suatu tempat. 20 Ia berkata 

kepadaku: “Di sinilah tempatnya imam-imam memasak korban penebus 

salah dan korban penghapus dosa dan membakar korban sajian, dan mereka 

tidak boleh membawanya ke pelataran luar, supaya  dengan demikian mereka 

jangan menguduskan umat TUHAN.” 21 Kemudian diiringnya aku ke pelatar-

an luar dan membiarkan aku pergi ke keempat sudut pelataran itu, sungguh, 

di tiap sudut pelataran itu ada lagi pelataran. 22 Pada keempat sudut pelatar-

an itu ada pelataran-pelataran kecil, empat puluh hasta panjangnya dan tiga 

puluh hasta lebarnya, keempatnya sama ukurannya. 23 Mengelilingi keempat 

pelataran kecil itu ada tembok batu dan di bagian bawah tembok-tembok 

batu itu sekelilingnya diperbuat tempat-tempat memasak. 24 Ia berkata 

kepadaku: “Inilah dapur tempat memasak, di mana petugas-petugas Bait 

Suci memasak korban sembelihan umat TUHAN.” 

Di sini kita mendapati penyingkapan lebih jauh tentang bangunan-

bangunan di sekitar Bait Suci, yang tidak kita amati sebelumnya, dan 

bangunan-bangunan itu yaitu  tempat untuk memasak daging-

daging korban (ay. 20). Dia yang menyediakan meja yang begitu 

melimpah di mezbah-Nya membutuhkan dapur-dapur yang besar. 

Dan tukang bangunan yang bijak akan menyediakan kemudahan-

kemudahan untuk itu. Amatilah, 

 

Kitab Yehezkiel 46:19-24  

1.  Di mana tempat-tempat memasak itu terletak. Sebagian ada di 

pintu masuk ke pelataran dalam (ay. 19) dan sebagian lagi di 

bagian bawah tembok-tembok batu, di keempat sudut pelataran 

luar (ay. 21-23). Ini yaitu  tempat-tempat di mana, ada kemung-

kinan, ada  sebagian besar ruang yang disediakan untuk 

keperluan memasak ini. Dan keperluan ini dimaksudkan untuk 

ruang yang disediakan itu, supaya  tak ada satu ruang pun yang 

tidak terpakai. Sangat disayangkan jika tanah yang kudus sampai 

harus terbuang sia-sia.  

2.  Untuk keperluan apa tempat-tempat itu dipakai. Di tempat-tem-

pat itu mereka harus memasak korban penebus salah dan korban 

penghapus dosa, bagian-bagian korban yang diperuntukkan bagi 

para imam dan yang lebih kudus daripada sajian korban kesela-

matan, yang di dalamnya orang yang mempersembahkan juga 

ikut berbagi. Di sana juga mereka harus membakar korban sajian, 

bagian mereka dari korban itu, yang mereka dapatkan dari mez-

bah untuk meja-meja mereka sendiri (ay. 20). Mereka juga harus 

memperhatikan, agar tidak membawanya ke pelataran luar, su-

paya dengan demikian mereka jangan menguduskan umat TUHAN. 

Janganlah mereka berlagak menguduskan umat Tuhan dengan 

sajian yang kudus ini, dan dengan demikian menipu mereka. Atau 

janganlah umat Tuhan membayangkan bahwa dengan menyentuh 

hal-hal sakral itu mereka dikuduskan, dan menjadi lebih baik 

atau lebih berkenan kepada Allah. Tampak bahwa ada orang-

orang yang memiliki  pikiran-pikiran khayalan seperti itu (Hag. 

2:13). Oleh sebab itu, para imam tidak boleh membawa sedikit 

pun sajian yang kudus bersama mereka, supaya  mereka tidak 

membuat orang berkhayal seperti itu. Hamba-hamba Tuhan ha-

rus berjaga-jaga supaya  tidak melakukan apa saja yang menyo-

kong orang-orang bodoh dalam kesia-siaan mereka yang penuh 

takhayul. 

 

PASAL 47  

Pada pasal ini kita temukan, 

I. Penglihatan akan air suci, ketinggian, luas, kuasa penyem-

buhan, banyak ikan di dalamnya, dan bermacam-macam 

pohon yang tumbuh di tepinya (ay. 1-12). 

II. Penetapan batas-batas tanah Kanaan, yang harus dibagi-bagi 

di antara suku-suku Israel dan orang-orang asing yang ting-

gal di antara mereka (ay. 13-23). 

Penglihatan akan Air Suci 

(47:1-12) 

1 Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada 

air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke 

timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari 

bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah.  

2 Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku 

berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur, 

sungguh, air itu membual dari sebelah selatan. 3 Sedang orang itu pergi ke 

arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu 

hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di 

pergelangan kaki. 4 Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk 

sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut; kemudian ia 

mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke 

dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang. 5 Sekali lagi ia mengukur 

seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak 

dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat bere-

nang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi. 6 Lalu ia berkata kepa-

daku: “Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia?” Kemudian ia membawa 

aku kembali menyusur tepi sungai. 7 Dalam perjalanan pulang, sungguh, 

sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di 

sebelah sana. 8 Ia berkata kepadaku: “Sungai ini mengalir menuju wilayah 

timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang 

mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, 9 sehingga ke mana 

saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana 

akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air 

itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu meng-

alir, semuanya di sana hidup. 10 Maka penangkap-penangkap ikan penuh 

sepanjang tepinya mulai dari En-Gedi sampai En-Eglaim; daerah itu menjadi 

penjemuran pukat dan di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan 

di laut besar, sangat banyak. 11 namun  rawa-rawanya dan paya-payanya tidak 

menjadi tawar, itu menjadi tempat mengambil garam. 12 Pada kedua tepi 

sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan yang daunnya 

tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang 

baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya 

menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.” 

Begitu pastinya bagian penglihatan Yehezkiel ini mengandung makna 

yang mistis dan rohani sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa 

bagian-bagian lain dari penglihatannya juga mengandung makna 

yang mistis dan rohani. Sebab penglihatan ini tidak dapat diterapkan 

pada air yang mengalir melalui pipa ke dalam Bait Suci untuk 

mencuci korban, membersihkan Bait Suci, dan kemudian mengalir 

keluar, sebab  hal itu akan mengubah sungai yang menyenangkan 

ini menjadi bak cuci atau selokan biasa. Nubuat dalam Zakharia 14:8 

dapat menjelaskan hal ini, bahwa akan mengalir air kehidupan dari 

Yerusalem, setengahnya mengalir ke laut timur, dan setengah lagi 

mengalir ke laut barat. Dan dengan jelas ada rujukan mengenai 

sungai ini dalam penglihatan Rasul Yohanes akan sungai air kehidup-

an, yang jernih (Why. 22:1). Air dalam penglihatan Rasul Yohanes itu 

melambangkan kemuliaan dan sukacita yang disempurnakan oleh 

anugerah. Sementara air dalam penglihatan Yehezkiel ini melam-

bangkan anugerah dan sukacita yang dimulai dari kemuliaan. 

Kebanyakan penafsir sepakat bahwa air ini melambangkan Injil 

Kristus, yang keluar dari Yerusalem dan menyebar ke negeri-negeri di 

sekeliling. Air ini juga melambangkan karunia-karunia dan kuasa 

Roh Kudus yang menyertai Injil Kristus, di mana oleh semua karunia 

dan kuasa Roh Kudus Injil tersebar luas dan membawa dampak-

dampak ajaib dan mulia. Yehezkiel telah berkali-kali mengitari bait 

itu, namun baru sekarang memperhatikan air tersebut. sebab  Allah 

menyatakan pikiran dan kehendak-Nya kepada umat-Nya tidak 

sekaligus, namun secara bertahap. Sekarang perhatikan, 

I. Ketinggian air ini. Yehezkiel tidak dituntun untuk mengikuti alir-

an air sampai ke sumbernya, namun  terlebih dahulu diperlihatkan 

akan sumber mata air itu (ay. 1): Air keluar dari bawah ambang 

pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur, dan dari bawah 

bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah. 

Kitab Yehezkiel 47:1-12  

Kemudian (ay. 2), air itu membual dari sebelah selatan, yang 

menandakan bahwa dari Sion akan keluar pengajaran dan firman 

TUHAN dari Yerusalem (Yes. 2:3). Di Yerusalem Roh Kudus 

dicurahkan ke atas para rasul, dan memperlengkapi mereka 

dengan karunia lidah, sehingga mereka mampu membawa air ini 

kepada segala bangsa. Di Bait Allah mereka pertama-tama berdiri 

dan memberitakan seluruh firman hidup itu (Kis. 5:20). Mereka 

harus memberitakan Injil kepada segala bangsa, namun harus 

mulai dari Yerusalem (Luk. 24:47). namun  tidak hanya itu saja: 

Kristus yaitu  Sang Bait. Ia yaitu  Sang Pintu, melalui-Nya air 

hidup mengalir, memancar keluar dari lambung-Nya yang di-

tikam. Air yang Ia berikan kepada kita yaitu  mata air yang terus-

menerus memancar (Yoh. 4:14). Melalui percaya kepada-Nyalah 

kita menerima aliran air hidup, dan yang dimaksudkan-Nya ialah 

Roh (Yoh. 7:38-39). Air ini tidak berasal dari atas permukaan 

tanah, namun  memancar keluar dari bawah ambang pintu. Sebab 

mata air kehidupan orang percaya yaitu  sebuah misteri, yang 

tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:3). Ada 

yang memperhatikan bahwa air ini mengalir dari samping kanan 

dari bait suci untuk menyatakan bahwa anugerah Injil yaitu  

berkat dari tangan kanan. Hal ini juga menjadi pengharapan bagi 

orang-orang yang menunggu pada pintu Hikmat, pada tiang pintu 

gerbangnya, yang bersedia berbaring di pelataran rumah Tuhan, 

seperti Daud, berbaring pada sumber mata air penghiburan dan 

anugerah. Jalan masuk ke dalam firman Allah memberi terang 

dan hidup (Mzm. 119:130). Daud mengatakannya untuk memuji 

Sion, Segala mata airku ada di dalammu (Mzm. 87:7). Air itu 

mengalir dari sebelah mezbah, sebab  di dalam dan melalui Yesus 

Kristuslah, Sang Mezbah Agung (yang menguduskan persembahan 

kita bagi Allah), Allah telah mengaruniakan kepada kita segala 

berkat rohani di dalam sorga. Dari Allah sebagai mata air, melalui 

Yesus Kristus sebagai saluran, mengalir sungai yang menyukakan 

kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi (Mzm. 46:5). Perhatikan 

betapa besar kebahagiaan dan sukacita orang-orang kudus yang 

dipermuliakan di surga melampaui segala kebahagiaan dan suka-

cita orang-orang kudus yang terbaik dan paling berbahagia di 

bumi ini. Dari mata air ini mengalir sungai penghiburan dari 

bawah ambang pintu, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan 

takhta Anak Domba itu (Why. 22:1). 

II. Aliran dan kenaikan ketinggian air ini: si penunjuk jalan dan sang 

nabi pergi ke arah timur (ay. 3), menuju wilayah timur (ay. 8), 

sebab ke sana mereka diperintahkan. Sang nabi dan penunjuk 

jalannya mengikuti aliran air itu menuruni gunung-gunung yang 

suci, dan saat  mereka telah mengikutinya sampai sekitar seribu 

hasta, mereka menyeberanginya untuk mengukur kedalamannya, 

dan dalamnya sudah sampai pergelangan kaki (ay. 3). Kemudian 

mereka berjalan menyusur tepi sungai itu dari sisi lain, seribu 

hasta lagi, kemudian untuk mengukur kedalamannya. Mereka 

menyeberanginya lagi untuk kedua kali, dan air itu sudah sampai 

ke lutut (ay. 4). Mereka berjalan menyusur seribu hasta lagi, dan 

menyeberanginya lagi untuk ketiga kali, dan air itu sudah sampai 

setinggi badan mereka, air itu sekarang sudah sampai di pinggang. 

Mereka kemudian berjalan seribu hasta lagi, dan mencoba 

menyeberanginya untuk keempat kali, namun tidak dapat: sebab 

air itu sudah meninggi, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi 

lagi (ay. 5). Perhatikanlah, 

1. Air dari tempat kudus yaitu  air yang mengalir seperti sungai, 

bukan air yang diam seperti kolam. Injil, sejak pertama kali 

diberitakan, terus menyebar luas. Anugerah dalam jiwa terus 

mendesak maju. Anugerah itu maju dan giat, plus ultra – terus 

maju, sampai mencapai kesempurnaan. 

2. Ketinggian air ini terus naik. Sungai ini, sebab  terus meng-

alir, maka semakin jauh mengalir, ia menjadi semakin penuh. 

Jemaat-Injil sangat kecil pada mulanya, seperti cabang aliran 

air yang kecil, namun secara bertahap naik sampai ke per-

gelangan kaki, sampai ke lutut. Jumlahnya terus bertambah 

setiap hari, dan biji sesawi tumbuh menjadi sebatang pohon. 

Karunia-karunia rohani meningkat melalui latihan, dan anu-

gerah, jika  sejati, terus bertumbuh, seperti cahaya fajar, 

yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. 

3. yaitu  baik bagi kita untuk mengikuti aliran air ini, dan 

mengalir bersamanya. Perhatikan perkembangan Injil di dunia, 

amati cara anugerah bekerja di dalam hati, ikuti gerakan Roh 

Kudus, dan berjalanlah mengikutinya, di bawah pimpinan 

ilahi, seperti yang Yehezkiel lakukan di sini. 

4. yaitu  baik untuk sering menyelidiki dan menyelami hal-hal 

ilahi, dan mengukur kedalamannya, tidak hanya melihat ke 

permukaan air itu, namun untuk menyelami sedalam yang 

Kitab Yehezkiel 47:1-12  

kita mampu, sering menggali, sering menyelam ke dalam 

misteri kerajaan sorga, sebagai orang-orang yang senantiasa 

ingin erat dengan hal-hal itu. 

5. jika  kita menyelidiki hal-hal ilahi, kita akan menemukan 

bahwa beberapa hal sangat sederhana dan mudah dimengerti, 

seperti air yang hanya sampai di pergelangan kaki, sebagian 

lainnya lebih sulit dan membutuhkan penyelidikan yang lebih 

mendalam, seperti air yang sampai ke lutut atau ke pinggang, 

dan sebagian melampaui jangkauan kita, yang tidak dapat kita 

selami, atau jelaskan, namun, putus asa untuk menemukan 

dasarnya, maka harus, seperti Rasul Paulus, duduk di 

tepinya, dan mengagumi dalamnya (Rm. 11:33). Dalam Kitab 

Suci sering dikatakan bahwa, seperti air dari tempat kudus ini, 

ada air yang begitu dangkal sehingga seekor domba dapat 

menyeberanginya, dan yang lainnya begitu dalam sehingga 

seekor gajah dapat berenang di dalamnya. yaitu  bijaksana 

bagi kita, seperti sang nabi di bagian ini, untuk memulai de-

ngan hal yang paling mudah dan membasuh hati kita dengan 

hal-hal tersebut sebelum kita meneruskan ke bagian yang 

sukar difahami. sebab  itu yaitu  baik untuk mempertim-

bangkan pekerjaan kita sendiri. 

III. Luasnya sungai ini: Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, 

namun dari sana ia terbagi-bagi menjadi beberapa aliran atau 

memutar, sehingga ia menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di 

Laut Asin, ke laut mati yang mengalir ke sebelah tenggara, atau ke 

laut Tiberias, yang mengalir ke sebelah timur laut (ay. 8). Hal ini 

tergenapi saat  Injil telah berhasil diberitakan di seluruh daerah 

Yudea dan Samaria (Kis. 8:1), dan sesudah  itu ke segala bangsa di 

luar, bahkan mencapai bangsa yang berada di tempat paling ter-

pencil. Bahkan orang-orang yang berada di pulau-pulau kecil, telah 

tercerahkan dan khamir oleh Injil. Perkataan mereka sampai ke 

ujung bumi, dan sang musuh tidak lagi berkuasa untuk menahan 

alirannya seperti sungai yang selalu mengalir dengan derasnya. 

IV. Kuasa menyembuhkan dari sungai ini. Air yang keluar dari tem-

pat kudus, ke mana pun sampai dan mengalir bebas, akan mem-

bawa kesembuhan yang ajaib. Bermuara di laut asin, danau yang 

berbelerang di Sodom, tugu peringatan akan pembalasan ilahi itu, 

bahkan air itu menjadi tawar (ay. 8), akan menjadi manis, menye-

nangkan dan menyehatkan. Hal ini menandakan perubahan yang 

ajaib dan mulia yang dilakukan Injil, ke mana pun ia datang 

dalam kuasanya, akan mendatangkan perubahan yang besar, 

baik dalam sifat maupun keadaan, layaknya laut asin yang dibuat 

menjadi mata air di taman. saat  anak-anak murka menjadi 

anak-anak kasih, dan mereka yang telah mati dalam dosa menjadi 

hidup kembali, maka hal ini pun tergenapi. Injil seperti garam 

yang dilempar Elisa ke mata air di Yerikho, yang telah Kusehat-

kan. Kristus, datang ke dalam dunia sebagai tabib, mengirim Injil-

Nya sebagai obat penawar. Di dalam Injil ada  penawar untuk 

setiap penyakit. Bahkan, ke mana saja sungai itu mengalir, se-

muanya di sana hidup (ay. 9), baik tumbuh-tumbuhan maupun 

binatang-binatang. Ia yaitu  air kehidupan (Why. 22:1, 17). Kris-

tus datang, supaya  kita memiliki  hidup dan untuk itu Ia mengi-

rimkan Injil-Nya. Ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di 

sana hidup. Anugerah Allah menghidupkan orang berdosa yang 

mati dan memberi kepenuhan bagi orang-orang suci yang hidup. 

Segala sesuatu dijadikan berbuah dan berkembang olehnya. Na-

mun dampaknya tergantung bagaimana ia diterima, dan bagai-

mana akal budi disiapkan dan bersedia menerimanya. Sebab 

mengenai rawa-rawa dan paya-payanya, yang tinggal dalam 

lumpur dosa mereka, dan tidak mau disehatkan, atau tetap 

tinggal dalam pembenaran diri mereka, dan berpikir diri mereka 

tidak memerlukan penawar, maka celakalah mereka, mereka 

tidak menjadi tawar (ay. 11). Injil yang sama yang bagi sebagian 

orang yaitu  bau kehidupan akan menjadi bau kematian bagi 

mereka. Mereka akan menjadi hangus oleh garam, selama-lama-

nya tandus (Ul. 29:23). Mereka yang tidak mau disirami anugerah 

Allah dan dijadikan berbuah, akan diserahkan kepada keinginan 

hati mereka akan kecemaran, dan dibiarkan tidak berbuah lagi 

sel ama-lamanya. Barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar. 

Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya. Mereka menjadi 

tempat mengambil garam, yaitu, menjadi tugu peringatan akan 

keadilan ilahi, seperti istri Lot yang dijadikan tiang garam, untuk 

menggarami yang lain. 

V. Banyaknya ikan yang hidup dalam sungai ini. Segala makhluk 

hidup yang berkeriapan dapat ditemukan di sana, akan hidup di 

Kitab Yehezkiel 47:1-12  

sana (ay. 9), akan berdatangan dan berlimpah, akan menjadi yang 

terbaik, dan sangat subur, sehingga ikan-ikan akan menjadi 

sangat banyak, berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar, 

sangat banyak. Di sana ada amat banyak ikan-ikan sungai, dan 

banyak pula jenisnya, seperti ikan-ikan di laut (ay. 10). Akan ada 

begitu besar jumlah orang Kristen dalam jemaat, dan jumlah 

tersebut berlipatganda seperti ikan-ikan dalam angkatan yang 

akan datang dan embun keremajaan mereka. Pada saat pencipta-

an, dalam air berkeriapan makhluk hidup (Kej. 1:20-21), dan 

mereka tetap hidup di dalam dan melalui air yang mengeluarkan 

mereka. Demikian orang-orang percaya dijadikan oleh firman 

kebenaran (Yak. 1:18), dan dilahirkan kembali (1Ptr. 1:23), dari 

sungai Allah itu. Oleh sungai itu mereka hidup, darinya mereka 

beroleh pemeliharaan dan penghidupan. Di dalam air dari tempat 

kudus itu mereka menemukan sumber kehidupan mereka, namun  

di luar air itu mereka bagaikan ikan di tempat kering. Seperti 

itulah keadaan Daud saat  ia haus dan rindu kepada Allah, 

kepada Allah yang hidup. Di mana ada banyak ikan, di sana akan 

berkumpul para penangkap-penangkap ikan, dan di sana mereka 

akan menebarkan jala. Maka, untuk menandakan terus bertam-

bah tingginya air ini dan kegunaanya dalam segala hal, maka di 

bagian ini dinubuatkan bahwa penangkap-penangkap ikan akan 

berdiri di sepanjang tepinya, mulai dari En-Gedi, yang terletak di 

batas laut asin, sampai En-Eglaim, kota lain, yang bergabung 

dengan laut tersebut, dan bersama-sama menebarkan jala. Laut 

asin, yang dahulu dihindari sebab  berbau busuk dan beracun, 

akan sering dikunjungi. Anugerah-Injil menjadikan orang-orang 

dan tempat-tempat yang dahulu tidak menguntungkan dan tidak 

berguna menjadi bermanfaat bagi Allah dan manusia.  

VI. Pepohonan yang berada di tepi sungai ini. ada  amat banyak 

pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana (ay. 7), yang membuat 

pemandangan indah dan sedap dipandang. Pepohonan ini juga 

memberi  keteduhan bagi para penangkap ikan. Namun tidak 

hanya itu (ay. 12), tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, 

dan buahnya tidak habis-habis dimakan, sebab  tiap bulan ada 

lagi buahnya yang baru. Daunnya menjadi obat, dan tidak layu. 

Bagian penglihatan ini sama persis dengan penglihatan Rasul 

Yohanes (Why. 22:2), di mana, di seberang-menyeberang sungai 

itu, dikatakan tumbuh pohon-pohon kehidupan yang berbuah tiap-

tiap bulan sekali, dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk 

menyembuhkan bangsa-bangsa. Orang-orang Kristen, terutama 

para pelayan Tuhan, seharusnya menjadi pohon-pohon ini, pohon 

tarbantin kebenaran, tanaman TUHAN (Yes. 61:3), ditanam di tepi 

aliran air, air dari tempat kudus (Mzm. 1:3), dicangkokkan ke 

dalam Kristus Sang Pohon Kehidupan, dan berkat penyatuannya 

dengan Kristus dijadikan pohon-pohon kehidupan juga, berakar 

di dalam Dia (Kol. 2:7). Ada bermacam-macam pohon, melalui 

berbagai-bagai karunia yang dikaruniakan oleh Roh yang satu 

dan yang sama, yang memberi  karunia kepada tiap-tiap orang. 

Pohon-pohon ini tumbuh di tepi sungai, mereka terus berada 

dekat dengan ketetapan-ketetapan suci, dan melaluinya mereka 

menerima sari dan kebaikan Kristus. Mereka yaitu  pohon buah-

buahan, dirancang, seperti pohon ara dan zaitun, dengan buah-

buahnya supaya  dipakai untuk menghormati Allah dan manusia 

(Hak. 9:9). Buahnya menjadi makanan, sebab bibir orang benar 

menggembalakan banyak orang. Buah-buah kebenaran mereka 

berguna dalam banyak hal. Dedaunan pohon-pohon ini menjadi 

obat, untuk memar dan luka. Orang Kristen yang baik dengan 

perkataan yang baik, yang bagaikan daun-daun, dan perbuatan 

baik, yang bagaikan buah-buah, berguna bagi orang-orang di 

sekitar mereka. Mereka menanggung kelemahan orang yang tidak 

kuat, dan membalut yang patah hati. Kegembiraan mereka yaitu  

obat yang manjur, tidak hanya bagi diri mereka sendiri, namun 

juga bagi orang-orang lain. Mereka akan dimampukan oleh 

anugerah Allah untuk bertekun dalam kebaikan dan kegunaan 

mereka. Daunnya tidak layu, atau kehilangan kemampuan me-

nyembuhkan, tidak hanya memiliki hidup di bagian akar, namun 

juga mengandung sari di setiap rantingnya. Pengakuan iman 

mereka tidak layu (Mzm. 1:3), buahnya tidak habis-habis. Mereka 

tidak akan kehilangan nilai-nilai kegunaan mereka, malahan 

pada masa tua pun mereka masih berbuah, untuk memberitakan 

bahwa TUHAN itu benar (Mzm. 92:15-16). Hasil buah mereka akan 

tinggal untuk selama-lamanya. Mereka menghasilkan buah yang 

melimpah yang akan diperhitungkan pada hari agung itu, buah 

untuk hidup yang kekal; yaitu, buahnya tidak habis-habis. Mereka 

menghasilkan buah yang baru tiap bulan, sebagian dalam bulan 

yang satu, dan sebagian dalam bulan lainnya, sehingga selalu

Kitab Yehezkiel 47:13-23  

 ditemukan buah untuk melayani kemuliaan Allah bagi tujuan 

yang Ia rancang. Tiap-tiap mereka akan menghasilkan buah 

setiap bulan, yang menandakan kecenderungan untuk berbuah 

yang melimpah (mereka tidak pernah lelah berbuat baik), dan 

iklim yang sangat menyenangkan, sedemikian rupa sehingga 

selalu musim semi dan musim panas. Dan alasan kesuburan 

yang luar biasa ini yaitu  sebab pohon-pohon itu mendapat air 

dari tempat kudus. Kesuburan yang luar biasa ini tidak berasal 

dari diri mereka sendiri, namun  dari anugerah ilahi yang terus-

menerus disediakan, yang dengannya TUHAN setiap saat menyi-

raminya  (Yes. 27:3). sebab  Dia yang menanam, Ialah yang mem-

beri pertumbuhan. 

Batas-batas Tanah Ditetapkan 

(47:13-23) 

13 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Inilah batas-batas tanah yang kamu 

harus bagi-bagi menjadi milik pusakamu di antara kedua belas suku Israel. 

Yusuf mendapat dua bagian. 14 Tanah itu harus kamu bagi rata, yaitu tanah 

yang dengan sumpah Kujanjikan memberi nya kepada nenek moyangmu 

dan dengan demikian tanah ini menjadi milik pusakamu. 15 Inilah perbatasan 

tanah itu: di sebelah utara: dari laut besar terus ke Hetlon sampai jalan 

masuk ke Hamat dan terus ke Zedad, 16 Berota, Sibraim, yang terletak di 

antara daerah kota Damsyik dan daerah kota Hamat, terus ke Hazar-Enon 

yang di daerah kota Hauran. 17 Demikianlah perbatasannya itu mulai dari 

laut sampai di Hazar-Enon, sehingga daerah kota Damsyik dan juga daerah 

kota Hamat terletak di sebelah utaranya. Itulah sebelah utara. 18 Di sebelah 

timur: mulai dari Hazar-Enon yang terletak di antara Hauran dan Damsyik, 

sungai Yordan menjadi perbatasan di antara Gilead dan tanah Israel, terus 

ke Laut Timur sampai ke Tamar. Itulah sebelah timur. 19 Di sebelah selatan: 

perbatasan mulai dari Tamar sampai mata air Meriba dekat Kadesh, terus ke 

sungai Mesir, terus ke laut besar. Itulah di sebelah selatan perbatasan 

dengan Tanah Negeb. 20 Di sebelah barat laut besar merupakan perbatasan 

sampai tempat jalan masuk ke Hamat. Itulah sebelah barat.” 21 “Tanah inilah 

kamu harus bagi-bagi di antara kamu menurut suku-suku Israel. 22 Dan 

kamu harus membagi-baginya menjadi milik pusaka di antara kamu dan di 

antara orang-orang asing yang tinggal di antara kamu, yang melahirkan anak 

di tengah-tengahmu dan mereka harus kamu anggap sama seperti orang 

Israel asli; bersama-sama kamu mereka harus mendapat bagian milik pusaka 

di tengah-tengah suku-suku Israel. 23 Jadi kalau di tengah-tengah suatu 

suku ada tinggal orang asing, di situlah kamu berikan milik pusakanya, 

demikianlah firman Tuhan ALLAH. 

Sekarang kita berpindah dari urusan tempat kudus ke urusan 

negara, dari kota ke desa. 

1. Di bagian ini tanah Kanaan dijamin kepada mereka sebagai milik 

pusaka (ay. 14): Dengan sumpah Kujanjikan memberi nya ke-

pada nenek moyangmu, dijanjikan melalui sumpah kepada mere-

ka dan keturunan mereka. Meskipun kepemilikan mereka telah 

lama berhenti, namun Allah tidak melupakan sumpah-Nya yang 

Ia ucapkan kepada nenek moyang mereka. Meskipun penyeleng-

garaan Allah untuk sementara waktu kelihatan seolah-olah 

bertentangan dengan janji-janji-Nya, namun janji-Nya akan genap 

pada akhirnya, sebab Allah ingat untuk selama-lamanya akan 

perjanjian-Nya. Dengan sumpah kujanjikan memberi nya, maka 

tanah itu tidak akan gagal menjadi milik pusakamu. Kanaan 

sorgawi pasti diberikan bagi semua keturunan, sebab  hal itu 

yang dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta. 

2. Di bagian ini, batas-batas tanah itu ditentukan, dan garis-garis 

batas telah ditetapkan, sehingga mereka tidak boleh menerobos 

untuk melanggar tetangganya, dan tetangga mereka tidak boleh 

menerobos untuk melanggar mereka. Kita pernah melihat gam-

baran batas-batas Kanaan yang serupa saat  Yosua diperintah-

kan untuk membagi-bagi milik pusaka bangsa Israel (Bil. 34:1). 

Pembagian itu mulai dari Laut Asin di selatan, memutar dan 

sampai di sana. Mulai dari Hamat dekat Damaskus di utara, 

memutar dan sampai di sana (ay. 20). Perhatikan, Allah sendiri 

yang menentukan batas-batas kediaman mereka, dan bangsa 

Israel kepunyaan Allah selalu memiliki alasan untuk mengatakan 

bahwa tali pengukur telah jatuh bagi mereka di tempat-tempat yang 

permai. Danau di Sodom di bagian ini disebut Laut Timur, sebab  

laut itu telah ditawarkan oleh air dari tempat kudus. Ia tidak lagi 

disebut Laut Asin, sebagaimana dicatat dalam Kitab Bilangan. 

3. Di bagian ini diperintahkan supaya  tanah itu dibagi-bagi di antara 

suku-suku Israel, dengan menghitung Yusuf mendapat dua 

bagian, untuk menggenapi kedua belas suku, sebab  Lewi dike-

luarkan dari hitungan untuk melayani kemah suci, dan mendapat 

bagian di sekitarnya (ay. 13, 21). Tanah itu harus kamu bagi rata 

(ay. 14). Setiap suku harus mendapat bagian yang sama rata, 

antara satu dengan yang lainnya. saat  suku-suku Israel keluar 

dari Babel, pembagian ini kelihatannya tidak sama rata, sebab  

beberapa suku jumlahnya lebih besar dari yang lainnya, dan 

sesungguhnya kebanyakan mereka berasal dari suku Yehuda dan 

Benyamin dan sangat sedikit dari sepuluh suku lainnya. Namun 

Kitab Yehezkiel 47:13-23  

saat  kedua belas suku berdiri, dalam suku dan visi, bagi gereja-

Injil, bangsa Israel kepunyaan Allah, sangat sama rata, sebab  

dalam penglihatan lainnya kita menemukan jumlah yang sama 

rata dari setiap suku dimeteraikan bagi Allah yang hidup, hanya 

dua belas ribu masing-masing suku (Why. 7:5). Bagi mereka yang 

dimeteraikan bagian ini diberikan. Hal ini melambangkan bahwa 

semua anggota kerajaan Kristus telah memperoleh iman. Laki-laki 

dan perempuan, bangsa Yahudi dan kafir, budak dan orang mer-

deka, semua sama disambut oleh Kristus dan berbagian di dalam 

Dia. 

4. Orang-orang asing yang tinggal di antara mereka, yang melahir-

kan anak dan menjadi keluarga-keluarga, dan dengan demikian 

membantu orang-orang di negeri itu, mereka harus mendapat 

bagian milik pusaka di tengah-tengah suku-suku, seperti mereka 

yaitu  orang Israel asli (ay. 22-23). Hal ini tidak diizinkan sama 

sekali dalam pembagian tanah oleh Yosua. Hal ini melambangkan 

tindakan pewarganegaraan umum, untuk mengajar bangsa Ya-

hudi mengenai siapa sesama mereka, tidak hanya orang sebangsa 

dan seagama dengan mereka, namun juga, siapa pun yang, terha-

dapnya mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkan kebaik-

an, sebab  dari bangsa Yahudi mereka akan menerima kebaikan. 

Hal ini akan mengundang orang-orang asing untuk datang dan 

berdiam ditengah-tengah mereka dan meletakkan diri di bawah 

sayap kebesaran Ilahi. Hal ini tentunya memandang kepada zaman 

Injil, saat  dinding pemisah antara bangsa Yahudi dan kafir telah 

diruntuhkan, dan keduanya disatukan di dalam Kristus, di dalam 

Dia tidak ada perbedaan (Rm. 10:12). Tanah ini yaitu  gambaran 

Kanaan sorgawi, tanah air yang lebih baik itu (Ibr. 11:16), yang di 

dalamnya orang-orang kafir yang percaya menerima bagian kemu-

liaan, sama seperti orang Yahudi yang percaya (Yes. 56:3-8).  

 

PASAL 48  

alam pasal ini kita mendapati petunjuk-petunjuk khusus yang 

diberikan untuk pembagian tanah, yang penetapan batas-batas-

nya kita dapati dalam pasal sebelumnya.  

I. Bagian-bagian untuk kedua belas suku, tujuh suku di sebe-

lah utara tempat kudus (ay. 1-7) dan lima suku di sebelah 

selatannya (ay. 23-29).  

II. Penentuan bagian tanah untuk tempat kudus dan para imam 

(ay. 8-11), untuk orang-orang Lewi (ay. 12-14), untuk kota 

(ay. 15-20), dan untuk raja (ay. 21-22). Banyak dari hal ini 

sudah kita dapati sebelumnya (ps. 45).  

III. Rancangan kota, pintu-pintu gerbangnya, dan nama baru 

yang diberikan kepadanya (ay. 30-35), yang memeteraikan, 

dan menutup, penglihatan dan nubuat dalam kitab ini. 

Pembagian Tanah 

(48:1-30) 

1 Inilah nama suku-suku itu: Yang paling utara: dari laut terus ke Hetlon, ke 

jalan masuk ke Hamat, Hazar-Enon, sehingga daerah kota Damsyik, yang 

berdekatan dengan Hamat, terletak di sebelah utaranya, dari perbatasan 

sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat ada  bagian Dan. 2 Ber-

batasan dengan wilayah Dan, dari perbatasan sebelah timur sampai per-

batasan sebelah barat, ada  bagian Asyer. 3 Berbatasan dengan wilayah 

Asyer, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, 

ada  bagian Naftali. 4 Berbatasan dengan wilayah Naftali, dari perbatasan 

sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ada  bagian Manasye.  

5 Berbatasan dengan wilayah Manasye, dari perbatasan sebelah timur sampai 

perbatasan sebelah barat, ada  bagian Efraim. 6 Berbatasan dengan wila-

yah Efraim, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, 

ada  bagian Ruben. 7 Berbatasan dengan wilayah Ruben, dari perbatasan 

sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ada  bagian Yehuda.  

8 Berbatasan dengan wilayah Yehuda, dari perbatasan sebelah timur sampai 

perbatasan sebelah barat, ada  persembahan khusus yang harus kamu 

khususkan, yaitu dua puluh lima ribu hasta lebarnya, dan panjangnya sama 

dengan panjang satu bagian, yaitu dari perbatasan sebelah timur sampai 

perbatasan sebelah barat, dan di tengah-tengahnya ada  tempat kudus.  

9 Bagian persembahan khusus yang harus kamu khususkan bagi TUHAN, 

panjangnya dua puluh lima ribu hasta dan lebarnya dua puluh ribu hasta.  

10 Dan bagi orang-orang inilah persembahan khusus yang kudus itu: Bagian 

imam-imam ialah panjangnya di utara dan selatan dua puluh lima ribu 

hasta, dan lebarnya di timur dan di barat sepuluh ribu hasta. Dan di tengah-

tengahnyalah terletak tempat kudus TUHAN. 11 Inilah bagian imam-imam, 

yang sudah dikuduskan, yaitu bani Zadok, yang memelihara kewajibannya 

terhadap Aku dan yang tidak turut sesat dalam kesesatan orang Israel, 

seperti orang-orang Lewi. 12 Ini yaitu  bagian khusus bagi mereka dari tanah 

yang sudah dikhususkan, suatu hal yang maha kudus, berbatasan dengan 

bagian orang-orang Lewi. 13 Bagian orang-orang Lewi ialah sejajar dengan 

wilayah imam-imam, panjangnya dua puluh lima ribu hasta dan lebarnya 

sepuluh ribu hasta. Jadi seluruhnya ialah: panjang dua puluh lima ribu 

hasta dan lebar dua puluh ribu hasta. 14 Mereka tidak boleh menjual sedikit 

pun dari situ atau menukarnya, dan mereka tidak boleh mewariskan yang 

terbaik dari negeri itu kepada orang lain, sebab itu kudus bagi TUHAN.  

15 Yang tertinggal dari lebarnya, yaitu lima ribu hasta lagi, yang berbatasan 

dengan yang dua puluh lima ribu hasta itu yaitu  tidak kudus, namun  itu 

untuk keperluan kota sebagai tempat tinggal dan tanah perladangan. 16 Dan 

ukurannya yaitu  begini: sebelah utara dan selatan: empat ribu lima ratus 

hasta, sebelah timur dan barat: juga empat ribu lima ratus hasta. 17 Seke-

liling kota itu ada tanah lapang, di sebelah utara dan selatan dua ratus lima 

puluh hasta, serta di sebelah timur dan barat dua ratus lima puluh hasta 

juga. 18 Yang tertinggal dari panjangnya, yang sejajar dengan persembahan 

khusus yang kudus itu, yaitu  sepuluh ribu hasta di sebelah timur dan 

sepuluh ribu hasta di sebelah barat dan hasilnya ialah menjadi makanan 

untuk pekerja-pekerja di kota itu. 19 Pekerja-pekerja ini, yang datang dari 

semua suku Israel, akan mengerjakannya. 20 Seluruh persembahan khusus 

itu yaitu  dua puluh lima ribu hasta kali dua puluh lima ribu hasta. Dalam 

bentuk empat persegi kamu harus mengkhususkan persembahan khusus 

yang kudus itu bersama milik kota itu. 21 Selebihnya yaitu  milik raja, yaitu 

di sebelah timur dan barat dari persembahan khusus yang kudus dan milik 

kota itu, dan berbatasan dengan yang dua puluh lima ribu hasta itu, ke 

timur sampai di perbatasan timur dan ke barat sampai di perbatasan barat 

dan sejajar dengan bagian suku-suku lain, yaitu  untuk raja. Di tengah-

tengah bagian itu yaitu  persembahan khusus yang kudus dan Bait Suci.  

22 Terkecuali milik orang-orang Lewi dan milik kota itu – yang terletak di 

tengah-tengah kepunyaan raja itu – maka yang diapit oleh wilayah Yehuda 

dan Benyamin yaitu  bagi raja. 23 Mengenai suku-suku yang lain: dari per-

batasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ada  bagian 

Benyamin. 24 Berbatasan dengan wilayah Benyamin, dari perbatasan sebelah 

timur sampai perbatasan sebelah barat, ada  bagian Simeon. 25 Berbatas-

an dengan wilayah Simeon, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan 

sebelah barat, ada  bagian Isakhar. 26 Berbatasan dengan wilayah 

Isakhar, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ter-

dapat bagian Zebulon. 27 Berbatasan dengan wilayah Zebulon, dari perbatas-

an sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ada  bagian Gad.  

28 Perbatasan wilayah Gad di sebelah selatan ialah dari Tamar sampai mata 

air Meriba dekat Kadesh, terus ke sungai Mesir, terus ke laut besar. 29 Inilah 

negeri yang harus kamu bagi-bagi menjadi milik pusakamu di antara suku-

suku Israel, dan itulah bagian-bagian mereka, demikianlah firman Tuhan 

Kitab Yehezkiel 48:1-30  

ALLAH.” 30 “Inilah pintu-pintu keluar kota itu: di sisi sebelah utara, yang 

ukurannya yaitu  empat ribu lima ratus hasta. 

Kita mendapati di sini cara yang sangat singkat dan siap untuk 

dipakai dalam membagi-bagi tanah di antara kedua belas suku Israel. 

Cara ini tidak begitu membosankan dan berbelit-belit seperti cara 

yang dipakai pada masa Yosua. Sebab dalam pembagian berkat-

berkat rohani dan sorgawi tidak ada bahaya orang akan bersungut-

sungut dan berseteru, seperti yang terjadi dalam pembagian berkat-

berkat duniawi. saat  Allah memberi  kepada tiap-tiap pekerja 

upah mereka, orang-orang yang berkeberatan terhadapnya langsung 

dibungkam dengan perkataan, tidakkah Aku bebas mempergunakan 

milik-Ku menurut kehendak hati-Ku? Dan seperti itulah pembagian 

yang rata di sini di antara suku-suku itu. Dalam pembagian tanah ini 

kita dapat mengamati,  

1.  Bahwa pembagian itu sangat berbeda dari pembagian tanah pada 

masa Yosua, dan tidak mengikuti urutan kelahiran mereka, tidak 

pula sesuai dengan urutan berkat yang diucapkan kepada mereka 

oleh Yakub atau Musa. Simeon di sini tidak dibagi dalam Yakub, 

tidak pula Zebulon menjadi pangkalan kapal. Ini sebuah pertanda 

jelas bahwa pembagian itu tidak harus dipahami secara harfiah 

dalam bentuk jasmani, melainkan terlebih secara rohani, meski-

pun rahasianya banyak tersembunyi dari kita. Di zaman Injil, 

yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 

Israel milik Allah dicetak dengan cara yang baru.  

2. Bahwa suku Dan, yang mendapat urutan terakhir dalam pem-

bagian pertama di Kanaan (Yos. 19:40), mendapat urutan pertama 

di sini (ay. 1). Demikianlah di dalam Injil yang terakhir akan men-

jadi yang terdahulu (Mat. 19:30). Allah, dalam masa penyeleng-

garaan anugerah-Nya, tidak mengikuti cara yang sama seperti 

yang dipakai-Nya dalam tindakan-tindakan penyelenggaraan-Nya. 

namun  suku Dan sekarang mendapat bagiannya di sekitar wila-

yah-wilayah di mana sebelumnya ia hanya mendapat satu kota, di 

sebelah utara, di perbatasan Damsyik, dan paling jauh dari tem-

pat kudus, sebab  suku itu telah memberontak dengan menyem-

bah berhala.  

3.  Bahwa kesepuluh suku yang dibawa pergi oleh raja Asyur, dan 

juga kedua suku yang lama sesudah itu dibawa ke Babel, men-

dapat bagian mereka di tanah yang tampak dalam penglihatan ini, 

yang menurut sebagian orang digenapi dalam orang-orang dan 

keluarga-keluarga tertentu dari suku-suku yang kembali bersama 

Yehuda dan Benyamin itu. Banyak contohnya kita dapati dalam 

diri Ezra dan Nehemia. Dan ada kemungkinan bahwa ada lebih 

banyak orang lagi yang kembali sesudah itu dalam beberapa ke-

sempatan, yang tidak dicatat. Dan sebab  Galilea, serta wilayah-

wilayah lain, yang sebelumnya dimiliki kesepuluh suku, diserah-

kan ke tangan orang-orang Yahudi, bersama-sama dengan kese-

puluh suku itu, maka mereka menikmati kembalinya banyak 

orang itu. Grotius (negarawan Belanda abad ke-16 – pen.) berkata, 

seandainya kesepuluh suku bertobat dan kembali kepada Allah, 

seperti yang dilakukan kepala-kepala kaum keluarga orang 

Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang 

Lewi (Ezr. 1:5), maka mereka akan bernasib sama seperti kedua 

suku itu. namun  keuntungan dari nubuat yang mulia ini diambil 

dari mereka sebab  dosa mereka sendiri. Walaupun begitu, kita 

percaya bahwa penggenapan yang dirancangkan dalam nubuat ini 

terwujud saat  jemaat Injil ditegakkan dan diperluas, dan saat  

semua orang Israel yang sejati berdiam dengan bahagia, dalam 

menikmati dengan pasti dan manis hak-hak istimewa dari 

kovenan baru. Di dalamnya ada cukup untuk semua dan setiap 

orang.  

4. Bahwa setiap suku dalam pembagian yang tampak dalam peng-

lihatan ini mendapat bagian yang ditetapkan untuknya oleh 

ketentuan ilahi. Sebab Injil tidak pernah bermaksud merobohkan 

pagar harta milik dan menjadikan semuanya milik bersama. Atas 

dasar kasihlah, dan bukan hak hukum, orang-orang Kristen 

mula-mula menganggap segala kepunyaan mereka yaitu  kepu-

nyaan bersama (Kis. 2:44). Banyak ajaran Injil mengandaikan 

bahwa setiap orang harus mengetahui miliknya sendiri. Kita tidak 

hanya harus mengakui, namun  juga menyetujui, tangan Allah yang 

menetapkan bagian kita, dan dengan senang hati menerimanya, 

sebab  percaya bahwa itulah yang paling pantas untuk kita. Ia 

memilih bagi kita tanah pusaka kita (Mzm. 47:5).  

5.  Bahwa suku-suku itu hidup berdampingan. Perbatasan satu suku 

yaitu  bagian dari suku lain, semuanya dalam satu baris, dalam 

urutan yang tepat, sehingga, seperti batu-batu yang tersusun da-

lam suatu dinding bangunan, mereka saling mengikat, menguat-

kan, dan mengapit satu sama lain. Sungguh, alangkah baiknya 

dan indahnya, jika  saudara-saudara diam bersama seperti itu 

Kitab Yehezkiel 48:1-30  

dengan rukun! Ini merupakan bayangan dari persekutuan jemaat-

jemaat dan orang-orang kudus di bawah pemerintahan Injil. 

Dengan demikian, meskipun mereka banyak, mereka yaitu  satu, 

dan harus saling berpegangan tangan dalam kasih yang kudus 

dan saling bantu.  

6.  Bahwa bagian Ruben, yang sebelumnya terletak jauh di luar Yor-

dan, sekarang terletak di sebelah Yehuda, dan satu bangunan di 

sebelah tempat kudus. Sebab aib yang menimpanya, yang sebab  

itu ia diberi tahu bahwa tidak lagi ia yang terutama, mulai memu-

dar pada saat itu. Apa yang sudah menjadi aib bagi seseorang 

atau suatu kaum tidak boleh diingat-ingat untuk seterusnya, 

namun  dengan baik hati harus dilupakan pada akhirnya.  

7.  Bahwa tempat kudus itu ada di tengah-tengah mereka. Ada tujuh 

suku di sebelah utaranya beserta orang-orang Lewi, bagian raja, 

dan bagian kota, dan bagian lima suku lagi di sebelah selatannya. 

Dengan begitu tempat kudus itu, seperti yang seharusnya, berada 

di pusat kerajaan, supaya  ia dapat menyebarkan pengaruh-

pengaruhnya yang baik ke seluruh penjuru, dan bisa menjadi 

pusat persatuan mereka. Suku-suku yang terletak paling jauh dari 

satu sama lain akan bertemu di sana untuk saling mengenal dan 

bersekutu. Orang-orang yang berasal dari jemaat atau perseku-

tuan yang sama, kalau mereka tinggal di tempat-tempat yang ter-

sebar, tidak memiliki  kesempatan untuk mengenal satu sama 

lain selain di dalam jemaat. Walaupun begitu, dengan bertemu 

pada waktu yang ditetapkan untuk menyembah Allah bersama-

sama, hati mereka akan saling terjalin dalam kasih yang kudus.  

8.  Bahwa di mana ada tempat kudus, di situ ada para imam: Bagi 

orang-orang inilah persembahan khusus yang kudus itu, yaitu bagi 

para imam (ay. 10). Sama seperti, di satu sisi, ini menandakan 

kehormatan dan penghiburan bagi hamba-hamba Tuhan, bahwa 

apa yang diberikan untuk menyokong dan memelihara mereka 

dianggap sebagai persembahan khusus yang kudus bagi Tuhan, 

demikian pula hal itu menyiratkan kewajiban mereka, yaitu bah-

wa, sebab  mereka ditunjuk dan ditopang penghidupannya untuk 

melayani tempat kudus, maka mereka harus terus-menerus 

mengurus hal itu, harus tinggal di tempat pelayanan mereka. 

Orang-orang yang hidup dari mezbah harus melayani di mezbah, 

dan tidak mengambil upahnya untuk diri mereka sendiri dan 

mengalihkan pekerjaan kepada orang lain. Bagaimana mereka

dapat melayani mezbah, mezbah-Nya yang dari situ mereka 

hidup, jika mereka tidak tinggal di dekatnya?  

9. Imam-imam yang telah membuktikan diri mereka setia kepada 

Allah pada masa-masa pencobaan, mereka itu akan mendapatkan 

bagian imam dari tanah-tanah ini (ay. 11): Inilah bagian bani 

Zadok, yang, tampaknya, telah membuat diri mereka menonjol 

saat  keadaan sedang gawat, dan tidak turut sesat saat  orang 

Israel, dan orang-orang Lewi lainnya, sesat. Allah akan memberi-

kan kehormatan kepada orang-orang yang tetap menjaga keutuh-

an hati mereka pada masa-masa terjadi kemurtadan di mana-

mana, dan Ia menyediakan perkenanan-perkenanan yang isti-

mewa untuk mereka. Orang-orang yang berenang melawan arus, 

mereka itu sedang berenang ke arah hulu, dan demikianlah yang 

akan mereka dapati pada akhirnya.  

10. Tanah yang diperuntukkan bagi hamba-hamba Tuhan di tempat 

kudus sama sekali tidak boleh dipindahkan. Tanah itu secara 

alami menghasilkan yang terbaik dari negeri itu, dan sebab  itu 

kudus bagi TUHAN. Dan, meskipun imam-imam maupun orang-

orang Lewi berhak memakainya dan juga mewariskannya kepada 

kaum mereka dan ahli waris mereka, namun mereka tidak boleh 

menjualnya atau menukarnya (ay. 14). Suatu penistaan jika kita 

memakai untuk keperluan-keperluan lain apa yang diabdikan 

kepada Allah.  

11. Tanah yang diperuntukkan bagi kota dan tanah perladangan di-

sebut tidak kudus (ay. 15), atau umum. Bukan berarti bahwa kota 

itu bukan kota yang kudus di atas kota-kota lain, sebab Tuhan 

hadir di situ, namun , dibandingkan dengan tempat kudus, itu 

yaitu  tempat yang tidak kudus. Namun sering kali benar dalam 

arti yang terburuk bahwa kota-kota besar, bahkan kota-kota 

yang, seperti kota ini, memiliki tempat kudus di dekatnya, yaitu  

tempat-tempat yang tidak kudus, dan itu harus sangat disesal-

kan. Suatu keluhan yang terdengar dari zaman dulu, dari Yeru-

salem telah meluas kefasikan ke seluruh negeri (Yer. 23:15).  

12. Kota itu dibuat tepat dalam bentuk persegi, dan tanah-tanah per-

ladangannya meluas secara sepadan ke semua sisi, seperti kota-

kota orang Lewi dalam pembagian pertama tanah itu (ay. 16-17). 

sebab  hal ini tidak pernah digenapi secara harfiah dalam bentuk 

jasmani di kota mana pun, maka tersirat bahwa haruslah dipa-

hami secara rohani pembicaraan tentang keindahan dan keman-

Kitab Yehezkiel 48:1-30  

tapan jemaat Injil, kota Allah yang hidup itu, yang dibentuk sesuai 

kebijaksanaan dan keputusan hikmat Allah, dan dibuat teguh dan 

tak tergoyahkan oleh janji-Nya.  

13. Kalau sebelumnya para penduduk Yerusalem terutama berasal 

dari Yehuda dan Benyamin, yang di dalam kedua suku itu ia 

terletak, sekarang kota utamanya tidak terletak di bagian suku-

suku mana pun. namun  pekerja-pekerja yang melayani kota, dan 

bertugas di sana, akan mengerjakannya dari semua suku Israel 

(ay. 19). Orang-orang yang paling terkemuka harus dipilih dari 

semua suku Israel untuk melayani kota itu, sebab  banyak mata 

tertuju kepadanya, dan banyak orang datang ke sana dari segala 

penjuru negeri dan dari negeri-negeri lain. Orang-orang yang 

tinggal di kota dikatakan harus melayani kota itu, sebab, di mana 

pun kita berada, kita harus berusaha untuk menjadi berguna bagi 

tempat itu, dengan satu atau lain cara, sesuai kemampuan kita. 

Mereka tidak boleh keluar dari suku-suku Israel dan datang ke 

kota untuk hidup nyaman, dan bersenang-senang, namun  untuk 

melayani kota, untuk melakukan segala kebaikan yang bisa 

mereka lakukan di sana, dan dengan berbuat demikian mereka 

akan memberi  pengaruh yang baik kepada negeri juga.  

14. Diberikan perhatian bahwa orang-orang yang bekerja mengurusi 

urusan umum di kota, dan juga di tempat kudus, akan mendapat 

tunjangan hidup yang nyaman dan penuh hormat. Tanah-tanah 

ditetapkan, dan hasilnya ialah menjadi makanan untuk pekerja-

pekerja di kota itu (ay. 18). Siapa yang mau pergi berperang 

dengan biaya sendiri? Hakim-hakim, yang melayani pemerintah, 

dan juga hamba-hamba Tuhan, yang melayani jemaat, semuanya 

harus diberi dorongan dan dukungan yang semestinya dalam 

melakukan tugas mereka. Dan itulah juga sebabnya maka kita 

membayar pajak.  

15. Sang raja mendapat bagian untuk dirinya sendiri, yang sesuai 

dengan martabat dan kedudukannya yang tinggi (ay. 21). Kita 

mendapati penjelasan tentang itu sebelumnya (ps. 45). Ia duduk 

di dekat tempat kudus, di mana ada kesaksian Israel, dan di 

dekat kota, di mana ada kursi-kursi pengadilan, supaya  ia bisa 

menjadi perlindungan bagi tempat kudus dan kota, dan bisa 

memastikan bahwa kewajiban dari keduanya dikerjakan dengan 

hati-hati dan setia. Dan dalam hal ini dia yaitu  hamba Allah 

untuk kebaikan seluruh masyarakat. Kristus yaitu  Raja jemaat, 

yang membelanya dari segala arah, dan menciptakan pertahanan. 

Bahkan, Dia sendirilah yang menjadi pertahanan atas semua 

kemuliaannya dan yang mengelilinginya dengan perkenanan-Nya. 

16. Sama seperti Yehuda mendapat bagiannya di sebelah tempat 

kudus di satu sisi, demikian pula Benyamin, dari semua suku, 

mendapat bagiannya paling dekat dengan tempat kudus di sisi 

lain. Kehormatan itu disediakan bagi orang-orang yang setia 

kepada kaum keluarga Daud dan Bait Suci di Yerusalem, saat  

kesepuluh suku yang lain menyimpang dari keluarga Daud dan 

Bait Suci. Sudah cukup jika pengkhianatan dan kemurtadan kita, 

pada waktu kita bertobat, mendapat pengampunan-Nya, namun  

keteguhan dan kesetiaan akan diberi upah dan diutamakan. 

Rancangan Kota 

(48:31-35)  

31 ada  tiga pintu gerbang, yaitu pintu gerbang Ruben, pintu gerbang 

Yehuda dan pintu gerbang Lewi – sebab pintu-pintu gerbang kota itu disebut 

menurut nama suku-suku Israel –. 32 Di sisi sebelah timur, yang ukurannya 

empat ribu lima ratus hasta, ada  tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu 

gerbang Yusuf, pintu gerbang Benyamin dan pintu gerbang Dan. 33 Di sisi 

sebelah selatan, yang ukurannya empat ribu lima ratus hasta, ada  tiga 

pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Simeon, pintu gerbang Isakhar dan 

pintu gerbang Zebulon. 34 Di sisi sebelah barat, yang ukurannya empat ribu 

lima ratus hasta, ada  tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Gad, 

pintu gerbang Asyer dan pintu gerbang Naftali. 35 Jadi keliling kota itu yaitu  

delapan belas ribu hasta. Sejak hari itu nama kota itu ialah: TUHAN HADIR 

DI SITU.” 

Kita mendapati di sini gambaran lebih jauh tentang kota yang akan 

dibangun sebagai ibu kota dari tanah yang mulia ini, dan yang akan 

menjadi wadah bagi orang-orang yang akan datang dari segala 

penjuru untuk beribadah di tempat kudus yang ada di dekatnya. Di 

mana pun kota itu tidak ada lagi disebut dengan nama Yerusalem, 

tidak pula tanah, yang gambaran tentang pembagiannya begitu 

terperinci, disebut sebagai tanah Kanaan di mana pun. Sebab nama-

nama lama telah dilupakan, untuk menyiratkan bahwa yang lama 

sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Nah, menge-

nai kota ini, amatilah di sini, 

1. Ukuran pintu-pintu keluarnya, dan lahan-lahan yang menjadi 

miliknya, untuk sejumlah kemudahannya. Di setiap sisi, perleng-

kapan-perlengkapannya seluas 4.500 hasta (KJV: 4.500 ukuran),

Kitab Yehezkiel 48:31-35  

 jadi kelilingnya 18.000 hasta (ay. 35). namun  apa ukuran-ukuran 

ini tidaklah pasti. Tidak pernah dikatakan, dalam seluruh pasal 

ini, apakah ukuran itu sama dengan sekian banyak tongkat peng-

ukur (seperti terjemahan kita menentukannya dengan menyisip-

kan kata itu [ay. 8], setiap tongkat pengukur panjangnya enam 

hasta satu jengkal [40:5], dan mengapa sang pengukur muncul 

dengan tongkat pengukur sepanjang itu di tangannya jika ia tidak 

mengukur dengan tongkat itu, kecuali pada waktu dikatakan 

dengan jelas bahwa ia mengukur dengan hasta?). Atau, seperti 

menurut sebagian penafsir lain, tongkat pengukur itu sama 

dengan sekian banyak hasta, sebab  hasta-hasta itu disebutkan 

(ps. 45:2 dan ps. 47:3). Namun itu membuat saya lebih cenderung 

berpikir bahwa jika hasta-hasta tidak disebutkan, pasti yang 

dimaksudkan yaitu  sekian panjang tongkat pengukur. namun  

orang-orang yang memahaminya sebagai sekian banyak hasta 

tidak sepakat apakah yang dimaksudkan itu hasta biasa, yaitu 

seribu lima ratus meter, ataukah hasta dalam ilmu ukur, yang, 

supaya  hasilnya lebih tepat, dianggap paling banyak dipakai 

dalam mengukur tanah, yang menurut sebagian orang sama 

dengan enam hasta, dan menurut sebagian yang lain sekitar tiga 

setengah hasta. Dengan demikian 1.000 hasta sama dengan 1.000 

langkah, yaitu seribu enam ratus meter. namun  dibiarkannya kita 

dalam ketidakpastian ini merupakan pertanda bahwa hal-hal ini 

harus dipahami secara rohani, dan bahwa apa yang terutama 

dimaksudkan yaitu  ada perbandingan yang tepat dan adil yang 

diamati oleh Hikmat Tak Terbatas dalam membentuk jemaat Injil, 

yang meskipun sekarang kita tidak bisa memahaminya, namun 

kita akan memahaminya kelak saat  sampai di sorga.  

2. Jumlah pintu-pintu gerbangnya. Kota itu memiliki  dua belas 

pintu gerbang secara keseluruhan, tiga pintu di setiap sisi, yang 

sangat selaras sebab  bentuk kota itu empat persegi. Dan dalam 

kedua belas pintu gerbang ini tertulis nama kedua belas suku. 

sebab  kota itu harus dikerjakan oleh semua suku Israel (ay. 19), 

maka pantas jika setiap suku memiliki  pintu gerbangnya 

sendiri. Dan, sebab  suku Lewi dimasukkan di sini, maka supaya  

jumlahnya tetap dua belas, Efraim dan Manasye dijadikan satu 

dalam Yusuf (ay. 32). Di sisi utara ada pintu gerbang Ruben, 

pintu gerbang Yehuda, dan pintu gerbang Lewi (ay. 31), di sebelah 

timur ada pintu gerbang Yusuf, pintu gerbang Benyamin, dan 

pintu gerbang Dan (ay. 32), di sebelah selatan ada pintu gerbang 

Simeon, pintu gerbang Isakhar, dan pintu gerbang Zebulon (ay. 

33), dan di sebelah barat ada pintu gerbang Gad, pintu gerbang 

Asyer, dan pintu gerbang Naftali (ay. 34). Selaras dengan ini, 

dalam penglihatan Rasul Yohanes, Yerusalem baru (sebab 

demikianlah kota yang kudus disebut di sana, meskipun tidak di 

sini) memiliki  dua belas pintu gerbang, tiga pintu di setiap sisi, 

dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel (Why. 21:12-

13). Perhatikanlah, ke dalam jemaat Kristus, baik yang sedang 

berjuang maupun yang sudah menang, semua orang dari setiap 

suku, dari segala penjuru, bisa masuk secara cuma-cuma dengan 

iman. Kristus telah membuka kerajaan sorga bagi semua orang 

percaya. Siapa saja yang mau, boleh datang dan mengambil air 

kehidupan, dari pohon kehidupan, dengan cuma-cuma.  

3. Nama yang diberikan kepada kota ini: Sejak hari itu, saat  ia 

didirikan secara baru menurut pola ini, namanya menjadi, tidak 

seperti sebelumnya, Yerusalem – Penglihatan akan damai sejah-

tera, melainkan yang merupakan asal dari kata itu, dan lebih 

daripada padanannya, Yehovah Shammah – Tuhan hadir di situ 

(ay. 35). Ini menyiratkan,  

(1) Bahwa orang-orang buangan, sesudah  kembali, akan diberi 

tanda-tanda nyata akan hadirat Allah bersama mereka dan 

berdiamnya Dia di antara mereka, baik dalam ketetapan-kete-

tapan-Nya maupun dalam penyelenggaraan-penyelenggaraan-

Nya. Mereka tidak akan memiliki  alasan untuk bertanya, 

seperti yang ditanyakan nenek moyang mereka, adakah 

TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak? Sebab mereka akan 

melihat dan berkata bahwa Ia sungguh-sungguh ada bersama 

mereka. Dan pada saat itu, meskipun kesusahan-kesusahan 

mereka banyak dan mengancam, mereka menjadi seperti 

semak duri yang menyala namun  tidak dimakan api, sebab  

Tuhan hadir di situ. namun  saat  Allah pergi meninggalkan 

Bait Suci mereka, saat  Ia berkata, Migremus hinc – Marilah 

kita pergi dari sini, rumah mereka segera ditinggalkan dan 

menjadi sunyi. sebab  sudah tidak lagi menjadi milik-Nya, 

rumah itu juga tidak lagi menjadi milik mereka.  

(2) Bahwa jemaat Injil juga akan dipenuhi dengan hadirat Allah di 

dalamnya, meskipun tidak di dalam Shekhinah, seperti pada 

zaman dulu, namun itu pertanda akan hadirat yang sama 

Kitab Yehezkiel 48:31-35 


pastinya, yaitu hadirat Roh-Nya. jika  Injil diberitakan de-

ngan setia, ketetapan-ketetapan Injil dijalankan sebagaimana 

mestinya, dan Allah disembah hanya dalam nama Yesus Kris-

tus, maka dapat benar-benar dikatakan, Tuhan hadir di situ. 

Sebab Dia yang sudah berkata yaitu  setia, dan Dia akan 

menepati kata-kata-Nya, Ketahuilah, Aku menyertai kamu 

senantiasa sampai kepada akhir zaman. Tuhan hadir di situ di 

dalam jemaat-Nya, untuk memerintah dan mengaturnya, un-

tuk melindungi dan membelanya, dan dengan penuh rahmat 

menerima dan mengakui para penyembah-Nya yang tulus, dan 

dekat kepada mereka setiap kali mereka memanggil kepada-

Nya. Ini harus menggugah kita untuk tetap dekat dengan 

persekutuan orang-orang kudus, sebab Tuhan hadir di situ. 

Jadi, ke mana lagi kita akan pergi untuk membuat diri kita 

lebih baik? Bahkan, perkataan itu benar untuk setiap orang 

Kristen yang baik. Ia berdiam di dalam Allah, dan Allah ber-

diam di dalam dia. saat  di dalam jiwa ada pegangan anuge-

rah ilahi yang hidup, maka dapat benar-benar dikatakan 

bahwa, Tuhan hadir di situ.  

(3) Bahwa kemuliaan dan kebahagiaan sorga harus terutama 

menyangkut hal ini, bahwa Tuhan hadir di situ. Gambaran 

Rasul Yohanes tentang keadaan yang penuh berkat itu me-

mang jauh melampaui penjelasan ini dalam banyak hal. Ke-

adaan penuh berkat itu semuanya berupa emas, mutiara, dan 

batu permata. Keadaan penuh berkat itu jauh lebih besar 

daripada gambaran di sini, dan jauh lebih terang, sebab di 

sana tidak memerlukan cahaya matahari. namun , kedua gam-

baran ini sepakat dalam menjadikan hadirat Allah sebagai hal 

yang paling utama dari kebahagiaan sorga. Di sorga sana yang 

menjadi kebahagiaan orang-orang kudus yang dimuliakan 

yaitu  bahwa Allah sendiri akan diam bersama-sama dengan 

mereka (Why. 21:3), bahwa Ia yang duduk di atas takhta itu 

akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka (Why. 7:15). 

Dan dalam gambaran Yehezkiel di sini yang memahkotai 

kebahagiaan kota kudus ini yaitu  bahwa Tuhan hadir di situ. 

Oleh sebab itu, marilah kita giat sekuat-kuatnya untuk me-

mastikan bahwa kita mendapat tempat di kota itu, supaya  kita 

bisa selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. 

  

 

 

 

 

 

 



Related Posts:

  • Yehezkiel 26 ukan kepada mereka per-bedaan antara yang najis dengan yang tahir, supaya  mereka tidak mengacaukan perbedaan-perbedaan antara yang benar dan yang salah, atau keliru menilainya, sehingga mengubah keg… Read More