ukan kepada mereka per-
bedaan antara yang najis dengan yang tahir, supaya mereka
tidak mengacaukan perbedaan-perbedaan antara yang benar
dan yang salah, atau keliru menilainya, sehingga mengubah
kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan.
Kitab Yehezkiel 44:17-31
namun supaya mereka dapat menilai dengan baik dan bijak
tindakan-tindakan mereka sendiri.
2. yaitu bagian dari pekerjaan mereka untuk menghakimi tun-
tutan-tuntutan yang diajukan kepada mereka (Ul. 17:8-9). Dan
di dalam sesuatu perkara mereka harus bertindak sebagai
hakim (ay. 24). Mereka harus memiliki kejujuran untuk
membela apa yang benar, dan, jika mereka sudah men-
jatuhkan penghakiman yang benar, mereka harus memiliki
keberanian untuk berpegang padanya dan menyokongnya.
Mereka harus menghakimi, bukan menurut angan-angan me-
reka sendiri, atau kecenderungan-kecenderungan hati mereka,
atau kepentingan-kepentingan duniawi mereka, melainkan
menurut peraturan-peraturan-Ku. Itulah yang harus menjadi
pedoman dan patokan mereka. Perhatikanlah, hamba-hamba
Tuhan harus menyelesaikan perseteruan-perseteruan menurut
firman Allah. Carilah pengajaran dan kesaksian. Sit liber judex
– Janganlah hakim berlaku berat sebelah. Pekerjaan mereka
yaitu menjaga pengadilan di dalam nama Allah, menjadi
pemimpin dalam kumpulan jemaat-Nya. Dan dalam hal ini
mereka harus melihat kitab undang-undang: Mereka harus
berpegang pada ketetapan-ketetapan-Ku pada hari-hari raya-
Ku (KJV: dalam kumpulan-kumpulan). Allah menyebut kumpul-
an-kumpulan umat-Nya sebagai kumpulan-kumpulan-Nya,
sebab kumpulan-kumpulan itu diselenggarakan dalam nama-
Nya, bagi kemuliaan-Nya. Hamba-hamba Tuhan yaitu kepala
dari kumpulan-kumpulan itu, mereka harus memimpin di
dalamnya, dan dalam semua tindakan mereka harus mema-
tuhi hukum-hukum Allah. Bagian lain dari pekerjaan mereka,
sebagai pemimpin-pemimpin jemaat, yaitu menguduskan
hari-hari Sabat Allah, melakukan pekerjaan bersama orang
banyak pada hari itu dengan perhatian dan penghormatan
yang semestinya, sebagaimana pekerjaan hari kudus harus
dilakukan. Dan mereka harus memastikan bahwa umat Allah
juga menguduskan hari itu dan tidak berbuat sesuatu yang
mencemarkannya.
VI. Mengenai perkabungan mereka atas sanak saudara yang sudah
meninggal. Di sini aturannya sejalan dengan hukum Musa (Im.
21:1, 11). Seorang imam tidak boleh dekat-dekat dengan mayat
(sebab mereka harus dimurnikan dari perbuatan yang berhubung-
an dengan orang mati) kecuali saudara-saudara dekatnya (ay. 25).
Ungkapan-ungkapan dukacita yang pantas dan saleh atas sau-
dara-saudara terkasih saat mereka dibawa pergi oleh kematian,
sah-sah saja diucapkan oleh seorang hamba Tuhan. Namun
masalahnya, dengan mendekati mayat saudara yang meninggal,
mereka menjadi najis menurut hukum, sehingga harus dibersih-
kan oleh korban penghapus dosa sebelum mereka masuk lagi
untuk melakukan tugas pelayanan (ay. 26-27). Perhatikanlah,
meskipun berduka untuk orang mati sangat diperbolehkan dan
terpuji, namun ada bahaya dosa di dalamnya, yaitu jangan sam-
pai orang melakukannya secara belebihan atau hanya berpura-
pura saja. Dan sering kali air mata itu perlu ditumpahkan lagi.
VII. Mengenai tanggungan penghidupan mereka. Mereka harus hidup
dari mezbah yang di atasnya mereka mengadakan kebaktian, dan
hidup dengan nyaman (ay. 28): “Janganlah berikan kepada mere-
ka tanah milik di Israel, tanah ataupun rumah tinggal, supaya
jangan sampai mereka terjerat oleh urusan-urusan kehidupan
ini.” Sebab Allah telah berfirman, Akulah milik pusaka mereka,
dan mereka tidak memerlukan yang lain sebagai cadangan. Aku-
lah milik mereka, dan mereka tidak memerlukan hal lain dalam
tangan mereka. Sebagian tanah boleh mereka miliki (ps. 48:10),
namun penghidupan utama mereka yaitu dari jabatan mereka.
Apa yang diperuntukkan Allah bagi diri-Nya sendiri, merekalah
yang menerimanya, untuk mereka gunakan dan manfaatkan
dengan baik. Mereka hidup dari barang-barang yang kudus, dan
dengan demikian Allah sendiri yaitu bagian dari milik pusaka
mereka maupun piala mereka. Perhatikanlah, orang-orang yang
memiliki Allah sebagai milik pusaka mereka bisa puas dengan
sedikit yang ada pada mereka, dan tidak boleh menginginkan
banyak harta benda dan warisan dari bumi ini. Jika kita memiliki
Allah, kita memiliki segala-galanya. Oleh sebab itu kita bisa yakin
bahwa kita sudah berkecukupan. Amatilah,
1. Apa yang harus didapatkan para imam dari umat, untuk
menopang penghidupan mereka dan menyemangati mereka.
(1) Mereka harus mendapat daging dari banyak korban, kor-
ban penghapus dosa dan korban penebus salah, yang akan
Kitab Yehezkiel 44:17-31
menyediakan daging bagi mereka dan keluarga-keluarga
mereka, dan persembahan, yang akan menyediakan roti
bagi mereka. Apa yang kita persembahkan kepada Allah
akan mendatangkan keuntungan bagi diri kita sendiri.
(2) Mereka harus mendapatkan segala sesuatu yang dipersem-
bahkan dan diabdikan di Israel, yang dalam banyak hal
akan diubah menjadi uang dan diberikan kepada imam.
Hal ini dijelaskan dalam ayat 30. Segala persembahan
khusus atau persembahan sukarela (yang pada masa-masa
pembaruan dan pengabdian akan berjumlah banyak dan
besar) dari apa pun, dari segala persembahan khususmu,
yaitu bagian imam-imam. Kita memiliki hukum ten-
tang korban-korban persembahan itu (Im. 27).
(3) Mereka harus mendapat yang terbaik (KJV: yang pertama)
dari tepung jelai yang dimasukkan ke dalam tungku, dan
yang pertama dari hasil-hasil bumi mereka yang dimasuk-
kan ke dalam lumbung. Allah, yang merupakan yang per-
tama, harus mendapat yang pertama. Dan, jika itu milik-
Nya, maka imam-imam-Nya harus mendapatkannya. Kita
akan dapat menikmati dengan nyaman apa yang kita mi-
liki, jika sebagian darinya terlebih dulu dipisahkan untuk
pekerjaan-pekerjaan kesalehan dan amal. Aturan sang
rasul memiliki persamaan dengan ini, yaitu memulai
hari pertama dalam minggu dengan menyisihkan sesuatu
untuk keperluan-keperluan kesalehan (1Kor. 16:2). saat
imam-imam sudah begitu terpenuhi dengan baik kebutuh-
annya, maka tidak ada alasan bagi mereka jika mereka
(bertentangan dengan hukum yang mengikat setiap orang
Israel) sampai makan binatang yang menjadi sisa mangsa
binatang buas atau yang sudah mati (ay. 31). Orang-orang
yang kekurangan makanan pokok mungkin dapat dike-
cualikan dalam masalah seperti itu. Kemiskinan mempu-
nyai cobaan-cobaannya, namun saat para imam sudah
terpenuhi dengan baik kebutuhannya, maka tidak ada
alasan bagi mereka untuk hidup dalam kemiskinan.
2. Apa yang dapat diharapkan orang banyak dari imam sebagai
imbalan untuk mereka. Orang yang baik terhadap nabi, atau
imam, akan mendapat upah nabi, upah imam: supaya rumah-
rumahmu mendapat berkat (ay. 30), supaya Allah menurunkan
berkat dengan memerintahkannya, supaya imam menurunkan
berkat dengan mendoakannya. Dan merupakan bagian dari
pekerjaan imam untuk memberkati bangsa demi nama TUHAN,
bukan hanya memberkati jemaat-jemaat mereka, melainkan
juga keluarga-keluarga mereka. Perhatikanlah, suatu peng-
hiburan besar bagi rumah siapa saja jika berkat Allah turun
atasnya dan jika berkat itu tinggal di dalamnya, berdiam di
mana kita berdiam, dan terus mengikuti berkat itu sampai
kepada orang-orang yang akan datang sesudah kita. Cara
supaya berkat Allah tinggal dalam harta benda kita yaitu
dengan menghormati Allah dengan harta benda itu, memberi-
kan bagian kepada Dia dan hamba-hamba-Nya, kepada Dia
dan kaum miskin-Nya. Allah memberkati, Ia pasti memberkati,
tempat kediaman orang benar seperti itu (Ams. 3:33). Dan
hamba-hamba Tuhan, dengan mengajar dan berdoa untuk
keluarga-keluarga yang berbaik hati kepada mereka, harus
melakukan bagian mereka dengan membuat berkat tinggal
dalam keluarga-keluarga itu. Damai sejahtera bagi rumah ini.
PASAL 45
alam pasal ini digambarkan lebih jauh kepada sang nabi, dalam
penglihatan,
I. Pembagian tanah suci, sekian banyak untuk Bait Suci, dan
para imam yang bertugas melayani di dalamnya (ay. 1-4),
sekian banyak untuk orang-orang Lewi (ay. 5), sekian banyak
untuk kota (ay. 6), sekian banyak untuk raja, dan sisanya
untuk orang banyak (ay. 7-8).
II. Ketetapan-ketetapan keadilan yang diberikan kepada raja
maupun rakyat (ay. 9-12).
III. Persembahan-persembahan khusus yang harus mereka per-
sembahkan, dan bagian raja dalam persembahan-persem-
bahan itu (ay. 13-17). Khususnya pada awal tahun (ay. 18-
20) dan pada hari raya Paskah, dan pada hari raya Pondok
Daun (ay. 21-25). Kesemuanya ini tampak menunjuk pada
pemerintahan-jemaat yang baru yang akan didirikan di bawah
Injil, yang, baik dalam cakupan maupun kemurniannya, akan
jauh melampaui pemerintahan-jemaat Perjanjian Lama.
Pembagian Tanah Suci
(45:1-8)
1 “Pada waktu kamu membagi-bagi negeri itu menjadi milik pusakamu
dengan jalan mengundi, kamu harus mengkhususkan sebidang dari tanah
itu menjadi persembahan khusus yang kudus bagi TUHAN, panjangnya dua
puluh lima ribu hasta dan lebarnya dua puluh ribu hasta. Seluruh tanah
yang di dalam batas ini yaitu kudus. 2 Dari tanah ini harus disediakan
untuk tempat kudus suatu empat persegi yang panjang dan lebarnya lima
ratus hasta dan sekelilingnya ada lapangan yang lebarnya lima puluh hasta.
3 Dari daerah yang sudah diukur ini ukurlah sebagian yang panjangnya dua
puluh lima ribu hasta dan lebarnya sepuluh ribu hasta: di situlah letaknya
tempat kudus, dan bagian ini yaitu maha kudus. 4 Ini yaitu bagian yang
kudus dari tanah itu dan menjadi tempat bagi imam-imam yang menyeleng-
garakan kebaktian di tempat kudus, yang datang mendekat untuk melayani
TUHAN. Itulah tempat perumahan mereka dan menjadi daerah kudus untuk
tempat kudus. 5 Yang dua puluh lima ribu hasta panjangnya dan sepuluh
ribu hasta lebarnya harus menjadi milik orang-orang Lewi yang mendapat
tugas pelayanan dalam Bait Suci; itulah kota-kotanya, tempat tinggal
mereka. 6 Sebagai milik kota harus engkau tentukan: lima ribu hasta lebar-
nya dan dua puluh lima ribu hasta panjangnya, berbatasan dengan persem-
bahan khusus yang kudus itu. Itulah untuk seluruh kaum Israel. 7 Mengenai
bagian raja itu haruslah ada di sebelah barat dan di sebelah timur dari
persembahan khusus yang kudus dan milik kota itu dan harus berbatasan
dengan kedua bagian itu. Yang di sebelah barat harus sampai ke perbatasan
barat dan yang di sebelah timur harus sampai ke perbatasan timur. Jadi
panjangnya harus sama dengan panjang dari bagian suatu suku Israel, yaitu
dari perbatasan barat sampai perbatasan timur negeri itu. 8 Itulah yang men-
jadi miliknya di tanah Israel. Dan raja-raja Israel tidak lagi akan menindas
umat-Ku; mereka akan menyerahkan negeri itu kepada kaum Israel menurut
suku-suku mereka.”
Di sini diberikan petunjuk-petunjuk untuk membagi tanah sesudah
mereka kembali ke negeri mereka. Dan, sebab Allah sudah memberi-
kan perintah kepada mereka untuk melakukannya, maka merupakan
suatu tindakan iman, dan bukan tindakan kebodohan, untuk mem-
bagi-baginya seperti itu sebelum mereka memilikinya. Dan akan
menjadi kabar yang menyukakan hati para tawanan untuk men-
dengar bahwa mereka tidak hanya akan kembali ke tanah mereka
sendiri, namun juga bahwa, meskipun pada saat itu jumlah mereka
sedikit, mereka akan beranak cucu dan bertambah banyak, hingga
akan memenuhi tanah itu. Namun demikian, hal ini tidak pernah
digenapi dalam pemerintahan bangsa Yahudi sesudah mereka kembali
dari pembuangan, namun akan digenapi dalam pola jemaat Kristen,
yang sifatnya baru secara sempurna (sama seperti pembagian tanah
ini sangat berbeda dari pembagian tanah pada masa Yosua) dan
banyak diperluas dengan masuknya bangsa-bangsa bukan Yahudi ke
dalamnya. Dan jemaat itu akan disempurnakan dalam kerajaan
sorgawi, di mana tanah Kanaan selalu merupakan perlambangnya.
Sekarang,
1. Di sini ada bagian tanah yang ditentukan untuk tempat kudus,
yang di tengah-tengahnya Bait Suci akan dibangun, dengan
semua pelataran dan sekelilingnya. Semua sisa di sekelilingnya
yaitu untuk para imam. Ini disebut (ay. 1) sebagai persembahan
khusus bagi TUHAN. Sebab apa yang diberikan dalam pekerjaan-
pekerjaan kesalehan, untuk memelihara dan menyokong ibadah
kepada Allah dan kemajuan agama, Allah menerimanya sebagai
Kitab Yehezkiel 45:1-8
sesuatu yang diberikan kepada-Nya, jika itu dilakukan tanpa me-
nyimpang. Bagian itu yaitu bagian yang kudus dari tanah, yang
harus pertama-tama dikhususkan, sebagai hasil pertama yang
menguduskan lahan itu. Disediakannya bidang-bidang tanah
untuk menyokong agama dan pelayanan yaitu suatu tindakan
kesalehan yang akan berguna untuk selama-lamanya, dan ber-
manfaat bagi anak cucu, seperti hal-hal lain. Bagian yang kudus
dari tanah ini harus diukur, dan batas-batasnya harus ditetap-
kan, supaya tempat kudus itu sendiri tidak mendapat lebih dari
bagiannya, dan tidak menempati seluruh tanah itu nantinya.
Sejauh itu sajalah tanah-tanah jemaat akan meluas, dan tidak
lebih dari itu. Seperti dalam kerajaan kita sendiri (kerajaan Inggris
– pen.), sumbangan-sumbangan kepada jemaat di zaman dulu
dibatasi oleh undang-undang kepemilikan tanah oleh lembaga
agama. Tanah-tanah yang di sini ditetapkan untuk tempat kudus
yaitu 25.000 tongkat pengukur panjangnya (demikian yang
ditetapkan dalam terjemahan kita, meskipun sebagian orang me-
mandangnya hanya sebagai hasta), dan lebarnya 10.000 tongkat
pengukur, sekitar 130.000 meter ke satu arah dan 50.000 meter
ke arah lain (demikian menurut sebagian orang). 40.000 meter ke
satu arah dan 16.000 meter ke arah lain, demikian menurut seba-
gian yang lain. Para imam dan orang-orang Lewi yang akan da-
tang mendekat untuk melayani harus memiliki tempat tinggal
di bagian tanah yang ada di sekeliling tempat kudus ini, supaya
mereka dekat dengan pekerjaan mereka. Sementara menurut
pembagian tanah pada masa Yosua, kota-kota para imam dan
orang-orang Lewi tersebar di seluruh negeri. Ini menyiratkan bah-
wa pelayan-pelayan Injil harus berdiam di tempat tugas mereka.
Di mana mereka melayani, di situlah mereka harus tinggal.
2. Di sebelah tanah-tanah tempat kudus ditetapkan tanah-tanah
kota, yang di atasnya kota suci akan dibangun, dan yang dengan
hasil-hasil dan keuntungan-keuntungannya para warganya akan
dipelihara (ay. 6): Itulah untuk seluruh kaum Israel, tidak disedia-
kan, seperti sebelumnya, untuk satu atau dua suku, melainkan
sebagian orang dari semua suku akan menetap di kota itu, seperti
yang kita dapati demikian (Neh. 11:1-2). Bagian untuk kota sama
panjangnya dengan, namun hanya setengah lebarnya dari, bagian
untuk tempat kudus. Sebab kota diperkaya oleh perdagangan dan
sebab itu tidak begitu memerlukan tanah.
3. Bagian berikutnya sesudah tanah-tanah jemaat dan tanah-tanah
kota yaitu tanah-tanah raja (ay. 7-8). Di sini tidak ada bagian
yang ditentukan untuk tanah-tanah ini, namun tanah-tanah itu
dikatakan terletak di sebelah barat dan di sebelah timur tanah-
tanah jemaat dan tanah-tanah kota, untuk menyiratkan bahwa
sang raja bersama kekayaan dan kekuasaannya harus menjadi
perlindungan bagi jemaat maupun kota. Sebagian orang meng-
anggap bahwa bagian raja sama dengan gabungan dari bagian
jemaat dan bagian kota. Menurut sebagian penafsir lain, bagian
raja yaitu sepertiga belas dari sisa tanah yang ada, sedangkan
dua belas bagian lainnya untuk kedua belas suku. Raja yang
terus-menerus melayani kepentingan-kepentingan umum harus
memiliki persediaan untuk menyokong martabatnya, dan memi-
likinya dengan berlimpah, supaya ia tidak tergoda untuk menin-
das rakyat, meskipun memiliki jumlah banyak pun tidak men-
cegah orang untuk melakukannya. namun anugerah Allah akan
mencegahnya, sebab dijanjikan di sini, raja-raja Israel tidak lagi
akan menindas umat-Ku. Sebab Allah akan memberi damai
sejahtera kepada para petugas dan keadilan kepada para penagih
(Yes. 60:17, KJV). Meskipun demikian, kita mendapati bahwa
sesudah kembalinya orang-orang Yahudi ke tanah mereka sendiri,
para pemimpin dikeluhkan sebab mereka memeras rakyat.
namun Nehemia yaitu orang yang tidak berbuat seperti para
bupati yang sebelumnya, dan sekalipun begitu ia membuat
istananya tetap menyenangkan (Neh. 5:15, 18). namun sedemikian
banyak dikatakan tentang sang raja dalam pemerintahan yang
rohani, misteri, dan kudus ini, untuk menyiratkan bahwa dalam
jemaat Injil para hakim akan menjadi pengasuhnya dan raja-raja
atau para pemimpin Kristen menjadi pengayom dan pelindung-
nya. Dan agama kudus yang mereka akui, sejauh mereka tunduk
pada kuasanya, akan menahan mereka dari menindas umat
Allah, sebab umat Allah lebih merupakan umat-Nya daripada
umat mereka.
4. Semua tanah lain yang tersisa harus dibagi-bagikan kepada orang
banyak menurut suku-suku mereka, yang akan merasa sudah
berdiam dengan tenang saat peraturan bagi Israel maupun
kursi-kursi pengadilan ada begitu dekat dengan mereka.
Kitab Yehezkiel 45:9-12
Aturan-aturan Keadilan
(45:9-12)
9 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Cukuplah itu, hai raja-raja Israel, jauh-
kanlah kekerasan dan aniaya, namun lakukanlah keadilan dan kebenaran;
hentikanlah kekerasanmu yang mengusir umat-Ku dari tanah miliknya,
demikianlah firman Tuhan ALLAH. 10 Neraca yang betul, efa yang betul dan
bat yang betullah patut ada padamu. 11 Sepatutnyalah efa dan bat mem-
punyai ukuran yang sama yang ditera, sehingga satu bat isinya sepersepuluh
homer, dan satu efa ialah sepersepuluh homer juga; jadi menurut homerlah
ukuran-ukuran itu ditera. 12 Bagi kamu satu syikal sepatutnya sama dengan
dua puluh gera, lima syikal, ya lima syikal dan sepuluh syikal, ya sepuluh
syikal, dan lima puluh syikal yaitu satu mina.
Di sini kita mendapati beberapa aturan keadilan umum yang ditetap-
kan baik untuk raja maupun rakyat, aturan keadilan dalam membagi
dan aturan keadilan dalam bertukar atau berdagang barang. Sebab
kesalehan tanpa kejujuran hanyalah bentuk lahiriah dari kesalehan,
dan tidak akan menyenangkan Allah atau bermanfaat bagi siapa saja.
Oleh sebab itu hendaklah ditetapkan, oleh wewenang Raja dan Allah
jemaat,
1. Bahwa raja-raja tidak lagi akan menindas rakyat mereka, namun
dengan sepatutnya dan setia menegakkan keadilan di antara
mereka (ay. 9): “Cukuplah itu, hai raja-raja Israel! Bahwa kamu
telah menindas rakyat dan memperkaya dirimu sendiri dengan
rampasan dan kekerasan, bahwa kamu sudah begitu lama men-
cukur kawanan domba, bukannya memberi mereka makan, jadi
mulai saat ini janganlah kamu berbuat demikian lagi.” Perhati-
kanlah, bahkan para raja dan pembesar yang sudah lama berbuat
salah pada akhirnya harus berpikir bahwa sudah tiba waktunya,
sekaranglah waktunya, untuk memperbarui dan memperbaiki
diri. Sebab tidak ada perintah yang akan membenarkan kesalah-
an. Janganlah mereka berkata bahwa sebab sudah lama terbiasa
menindas, maka mereka boleh terus saja melakukannya, sebab
kebiasaan akan membenarkan mereka. namun yang harus mereka
katakan yaitu , bahwa sebab sudah lama terbiasa melakukan-
nya, maka, seperti dikatakan di sini, cukuplah itu, dan hendaklah
sekarang mereka menyingkirkan kekerasan dan aniaya. Biarlah
mereka mencabut tuntutan-tuntutan yang salah, membatalkan
kebiasaan-kebiasaan yang salah, dan memecat orang-orang di
bawah mereka yang melakukan kekerasan. Hendaklah mereka
menghentikan pemerasan, meringankan rakyat dari pajak-pajak
yang menindih mereka dengan berat, dan hendaklah mereka
melakukan keadilan dan kebenaran menurut hukum, seperti yang
dituntut dari kewajiban pekerjaan mereka. Perhatikanlah, semua
raja, namun terutama raja-raja Israel, berkepentingan untuk mela-
kukan keadilan. Sebab tentang rakyat mereka Allah berkata, me-
reka yaitu umat-Ku, dan raja-raja Israel secara khusus memerin-
tah untuk Allah.
2. Bahwa yang satu tidak boleh berbuat curang terhadap yang lain
dalam berdagang (ay. 10): Patut ada padamu neraca yang betul,
untuk menimbang uang maupun barang, efa yang betul untuk
mengukur gandum dan tepung, dan bat yang betul untuk meng-
ukur cairan, anggur, dan minyak. Efa dan bat harus memiliki
ukuran yang sama, sepersepuluh homer, atau kor (ay. 11). Sehing-
ga efa dan bat isinya (seperti yang dihitung oleh seorang cendekia-
wan, Dr. Cumberland) lebih dari tiga puluh liter. Sehomer hanya-
lah sepersepuluh efa (Kel. 16:36) dan seperseratus khomer, atau
homer, isinya sekitar tiga liter. Satu syikal ditetapkan di sini (ay.
12). Nilainya dua puluh gera, hanya setengah ons Romawi, seperti
yang dihitung dengan tepat oleh cendekiawan yang sudah
disebutkan tadi. Mina dihitung dengan syikal, yang jika ditimbang
beratnya saja (kata Uskup Cumberland), tanpa memandang nilai
uang logam, isinya hanya 100 syikal, seperti yang tampak dengan
membandingkan 1 Raja-raja 10:17, di mana dikatakan tiga mina
emas dipakai untuk setiap perisai kecil, dengan ayat yang sepa-
dan, 2 Tawarikh 9:16, di mana dikatakan 300 syikal emas dipakai
untuk setiap perisai kecil. namun jika mina dilihat sebagai
jumlah uang atau uang logam, isinya hanya enam puluh syikal,
seperti yang tampak di sini (KJV), di mana dua puluh syikal, dua
puluh lima syikal, dan lima belas syikal, yang semuanya berjum-
lah enam puluh syikal, yaitu satu mina. namun dihitung demi-
kian sebab pada mereka ada satu keping uang yang beratnya
dua puluh syikal, keping lain dua puluh lima, dan keping lain lagi
lima belas, yang kesemuanya bernilai satu mina, seperti yang
dicermati oleh sang cendekiawan di sini. Perhatikanlah, merupa-
kan kepentingan Israel milik Allah untuk berlaku sangat jujur dan
adil dalam semua urusan mereka, sangat tepat dalam waktu dan
jumlah saat memberi kepada semua orang apa yang sepa-
tutnya mereka terima, dan sangat berhati-hati supaya tidak ber-
buat jahat kepada siapa pun. Sebab jika tidak, mereka merusak
Kitab Yehezkiel 45:13-25
keberkenanan pengakuan mereka di hadapan Allah dan nama
baik pengakuan itu di hadapan manusia.
Persembahan-persembahan Khusus Diperintahkan
(45:13-25)
13 Inilah persembahan khusus yang kamu harus persembahkan: seperenam
efa dari sehomer gandum dan seperenam efa dari sehomer jelai. 14 Tentang
ketetapan mengenai minyak: sepersepuluh bat dari satu kor; satu kor yaitu
sama dengan sepuluh bat. 15 Seekor anak domba dari setiap dua ratus ekor
milik sesuatu kaum keluarga Israel. Semuanya itu untuk korban sajian,
korban bakaran dan korban keselamatan untuk mengadakan pendamaian
bagi mereka, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 16 Seluruh penduduk negeri
harus mempersembahkan persembahan khusus ini kepada raja di Israel.
17 Dan rajalah yang bertanggung jawab mengenai korban bakaran, korban
sajian, korban curahan pada hari-hari raya, bulan-bulan baru, hari-hari
Sabat dan pada setiap perayaan kaum Israel. Ialah yang akan mengolah kor-
ban penghapus dosa, korban sajian, korban bakaran dan korban keselamat-
an untuk mengadakan pendamaian bagi kaum Israel.” 18 Beginilah firman
Tuhan ALLAH: “Pada bulan yang pertama, pada tanggal satu bulan itu
ambillah seekor lembu jantan muda yang tidak bercela dan sucikanlah
tempat kudus itu. 19 Imam harus mengambil sedikit dari darah korban peng-
hapus dosa dan membubuhnya pada tiang-tiang Bait Suci dan pada keempat
sudut jalur keliling yang ada pada mezbah dan pada tiang-tiang pintu
gerbang pelataran dalam. 20 Demikianlah engkau harus perbuat pada hari
pertama bulan yang ketujuh demi orang-orang yang berbuat dosa dengan
tidak sengaja dan tanpa diketahui. Dengan demikian engkau mengadakan
pendamaian bagi Bait Suci. 21 Pada bulan pertama, pada tanggal empat belas
bulan itu haruslah kamu merayakan hari raya Paskah, dan selama tujuh
hari kamu harus makan roti yang tidak beragi. 22 Pada hari itu raja harus
mengolah lembu jantan sebagai korban penghapus dosa sebab dirinya dan
sebab seluruh penduduk negeri. 23 Selama tujuh hari hari raya itu ia harus
mengolah korban bakaran bagi TUHAN: tiap hari tujuh ekor lembu jantan
dan tujuh ekor domba jantan yang tidak bercela dan untuk korban peng-
hapus dosa tiap hari seekor kambing jantan. 24 Sebagai korban sajian ia
harus mengolah satu efa tepung dengan seekor lembu dan satu efa tepung
dengan seekor domba jantan dan minyak satu hin untuk satu efa. 25 Pada
bulan ketujuh, pada tanggal lima belas bulan itu, yaitu pada hari raya, ia
harus mengolah seperti ini selama tujuh hari: korban penghapus dosa,
korban bakaran, korban sajian dan minyak.
sesudah menetapkan aturan-aturan kebenaran dan keadilan terhadap
manusia, yang sesungguhnya merupakan bagian dari agama yang
benar, selanjutnya sang nabi datang untuk memberi beberapa
petunjuk tentang ibadah keagamaan mereka terhadap Allah, yang
merupakan bagian dari kebenaran yang berlaku terhadap siapa saja
dan di mana saja.
I. Dituntut supaya mereka mempersembahkan persembahan khu-
sus kepada Tuhan dari apa yang mereka miliki (ay. 13): Seluruh
penduduk negeri harus memberi persembahan khusus (ay.
16). Sebagai penyewa-penyewa tanah Allah, mereka harus mem-
bayar uang sewa kepada Tuan tanah mereka yang agung. Mereka
telah mempersembahkan persembahan khusus dari lahan-lahan
mereka, bagian tanah yang kudus (ay. 1). Sekarang mereka di-
perintahkan untuk mempersembahkan persembahan khusus dari
harta pribadi mereka, harta benda mereka, sebagai pengakuan
bahwa mereka menerimanya dari Dia, bahwa mereka bergantung
pada-Nya, dan bahwa mereka memiliki kewajiban-kewajiban ter-
hadap-Nya. Perhatikanlah, apa pun harta benda kita, kita harus
menghormati Allah dengan harta benda itu, dengan memberi
kepada-Nya apa yang sepatutnya Dia dapatkan darinya. Bukan
berarti bahwa Allah membutuhkan atau dapat diuntungkan oleh
apa saja yang bisa kita berikan kepada-Nya (Mzm. 50:9). Tidak,
itu hanya persembahan khusus. Kita hanya mempersembahkan itu
kepada-Nya. Keuntungan darinya kembali kepada kita sendiri,
kepada kaum miskin-Nya, yang, sebagai sesama kita, yaitu diri
kita sendiri, atau kepada hamba-hamba-Nya yang terus-menerus
melayani demi kebaikan kita.
II. Pembagian persembahan khusus ini ditentukan di sini, yang tidak
ditentukan menurut hukum Musa. Tidak disebutkan tentang
nama persembahannya, namun hanya tentang persembahan khu-
sus ini. Dan jumlah persembahan ini ditetapkan demikian:
1. Dari gandum mereka, mereka harus mempersembahkan seper-
enam puluhnya. Dari setiap homer gandum dan jelai, yang berisi
sepuluh efa, mereka harus mempersembahkan seperenam dari
satu efa, yang merupakan seperenam puluh dari keseluruhan-
nya (ay. 13).
2. Dari minyak mereka (dan mungkin dari anggur mereka juga)
mereka harus mempersembahkan seperseratusnya, untuk per-
sembahan khusus ini. Dari setiap kor, atau homer, yang berisi
sepuluh bat, mereka harus mempersembahkan sepersepuluh
dari satu bat (ay. 14). Ini diberikan kepada mezbah. Sebab
dalam setiap korban sajian ada tepung yang diolah dengan
minyak.
Kitab Yehezkiel 45:13-25
3. Dari kawanan domba mereka, mereka harus memberi se-
ekor anak domba dari 200 ekor. Itu yaitu perbandingan ter-
kecil dari semuanya (ay. 15). namun itu harus diambil dari
milik sesuatu kaum keluarga Israel (KJV: dari padang-padang
rumput Israel yang subur). Mereka tidak boleh mempersem-
bahkan kepada Allah domba yang diambil dari domba-domba
biasa, namun yang paling gemuk dan paling baik yang mereka
miliki, itulah yang dipersembahkan untuk korban bakaran dan
korban keselamatan. Korban bakaran dipersembahkan untuk
memberi kemuliaan kepada Allah, sedangkan korban kese-
lamatan untuk mendatangkan belas kasihan, anugerah, dan
damai sejahtera dari Allah. Dan dalam korban-korban rohani
kita, kedua hal inilah yang menjadi dua tugas besar kita di
hadapan takhta anugerah. namun , supaya kedua-duanya di-
terima, korban-korban ini harus untuk mengadakan penda-
maian bagi mereka. Kristus yaitu korban penebusan kita,
yang oleh-Nya pendamaian diadakan, dan yang kepada-Nya
kita harus mengarahkan pandangan dalam korban-korban
pengakuan kita.
III. Persembahan khusus ini harus diberikan untuk raja di Israel (ay.
16). Sebagian orang membacanya kepada raja, dan memahaminya
sebagai Kristus, yang memang merupakan Raja di Israel, yang
kepada-Nya kita harus mempersembahkan persembahan-persem-
bahan khusus kita, dan yang ke dalam tangan-Nya kita harus
menyerahkan persembahan-persembahan itu, untuk disampaikan
kepada Bapa. Atau, mereka akan memberi nya dengan sang
raja. Setiap orang harus membawa persembahannya sendiri, un-
tuk dipersembahkan dengan persembahan raja. Sebab dikatakan
selanjutnya (ay. 17), rajalah yang bertanggung jawab mengenai
semua korban, untuk mengadakan pendamaian bagi kaum Israel.
Rakyat biasa harus membawa persembahan-persembahan khu-
sus mereka kepadanya sesuai dengan aturan-aturan di atas, dan
sang raja harus membawa persembahan-persembahan itu ke
tempat kudus, dan menambahkan apa yang kurang dari persem-
bahannya sendiri. Perhatikanlah, yaitu kewajiban para pengua-
sa untuk menjaga agama, dan memastikan bahwa kewajiban-
kewajibannya dijalankan secara teratur dan hati-hati oleh orang-
orang yang berada di bawah perintah mereka, dan bahwa tidak
ada yang kurang dari apa yang dituntut untuk itu. Hakim yaitu
penjaga meja para penguasa maupun rakyat. Sungguh membaha-
giakan jika orang-orang yang berada di atas orang lain dalam
kekuasaan dan martabat maju mendahului mereka dalam mela-
yani Allah.
IV. Beberapa perayaan tertentu ditetapkan di sini.
1. Di sini ada satu perayaan pada awal tahun, yang tampaknya
sama sekali baru, dan tidak ditetapkan oleh hukum Musa. Itu
yaitu perayaan tahunan membersihkan tempat kudus.
(1) Pada bulan yang pertama, pada tanggal satu bulan itu (pada
hari pertama tahun baru) mereka harus mempersembah-
kan korban untuk menyucikan tempat kudus (ay. 18), yaitu
mengadakan pendamaian atas kesalahan terhadap segala
yang dikuduskan pada tahun lalu, supaya mereka tidak
membawa satu pun kesalahan itu ke dalam ibadah-ibadah
pada tahun baru. Mereka juga harus mempersembahkan
korban untuk memohonkan anugerah untuk mencegah
kesalahan itu, dan untuk melakukan pelayanan di tempat
kudus dengan lebih baik pada tahun berikutnya. Dan,
sebagai tanda akan hal ini, darah dari korban penghapus
dosa ini harus dibubuhkan pada tiang-tiang pintu gerbang
pelataran dalam (ay. 19), untuk menandakan bahwa de-
ngan itu dimaksudkan dibuat pendamaian atas dosa-dosa
semua hamba Tuhan yang melayani di Bait Suci, para
imam, orang-orang Lewi, dan umat, bahkan dosa-dosa
yang didapati dalam semua pelayanan mereka. Perhatikan-
lah, bahkan tempat-tempat kudus di bumi perlu dibersih-
kan, sering-sering dibersihkan, sedangkan tempat kudus di
atas tidak memerlukannya. Orang-orang yang menyembah
Allah bersama-sama harus sering bergabung untuk mem-
perbarui pertobatan mereka atas berbagai macam keku-
rangan mereka, dan membubuhkan darah Kristus untuk
pengampunannya, dan untuk memperbarui kovenan
mereka supaya lebih berhati-hati untuk ke depannya. Dan
sangatlah tepat untuk memulai tahun dengan pekerjaan
ini, seperti yang dilakukan Hizkia saat pekerjaan itu su-
dah lama diabaikan (2Taw. 29:17). Mereka di sini ditunjuk
Kitab Yehezkiel 45:13-25
untuk menyucikan tempat kudus pada hari pertama bulan
itu, sebab pada hari keempat belas pada bulan itu mereka
harus makan perjamuan Paskah, suatu ketetapan yang,
dari semua ketetapan Perjanjian Lama, paling banyak me-
nyatakan Kristus dan anugerah Injil. Oleh sebab itu
sangat patutlah jika mereka mulai mempersiapkannya dua
minggu sebelumnya dengan menyucikan tempat kudus.
(2) Korban ini harus diulangi pada hari pertama bulan yang
ketujuh (ay. 20, KJV: pada hari ketujuh bulan yang pertama).
Dan pada saat itu korban dimaksudkan untuk mengada-
kan pendamaian demi orang-orang yang berbuat dosa
dengan tidak sengaja dan tanpa diketahui (KJV: demi setiap
orang yang berbuat salah, dan untuk orang yang tidak
berpengetahuan). Perhatikanlah, orang yang berdosa ber-
buat salah dan tidak berpengetahuan. Ia melakukan kesa-
lahan, ia menyimpang, dan menunjukkan dirinya bodoh
dan tidak bijak. namun di sini dibicarakan tentang dosa-
dosa yang dilakukan sebab ketidaktahuan, kekeliruan,
atau kelalaian, apakah oleh para imam, atau orang-orang
Lewi, atau orang-orang awam. Korban-korban ditetapkan
untuk mengadakan pendamaian bagi dosa-dosa yang dila-
kukan orang tanpa sengaja, atau yang mereka lakukan
tanpa kesadaran, yang tidak akan mereka lakukan sean-
dainya mereka mengetahui dan mengingatnya baik-baik,
sehingga sesudah melakukannya mereka merasa khilaf.
namun untuk dosa-dosa yang diperbuat secara lancang,
yang dilakukan dengan tangan teracung, tidak ada korban
yang ditetapkan (Bil. 15:30). Dengan korban-korban yang
diulangi ini engkau harus mengadakan pendamaian bagi
Bait Suci, yaitu, Allah akan berdamai dengannya, dan
meneruskan tanda-tanda kehadiran-Nya di dalamnya, dan
akan membiarkan dia tumbuh tahun ini lagi.
2. Paskah itu harus dijalankan dalam ibadah pada waktu yang
ditentukan (ay. 21). Kristus yaitu anak domba Paskah kita,
yang telah disembelih bagi kita. Kita merayakan peringatan
akan korban itu dan berpesta untuknya, berkemenangan da-
lam terbebasnya kita dari perbudakan Mesir, yakni perbudak-
an dosa, dan terluputnya kita dari pedang malaikat maut, pe-
dang keadilan ilahi, dalam perjamuan Tuhan, yang merupakan
perayaan Paskah kita. Sebab seluruh kehidupan Kristen ada-
lah, dan harus menjadi, perayaan roti tidak beragi. Di sini dite-
tapkan bahwa sang raja harus mempersiapkan korban peng-
hapus dosa, untuk dipersembahkan bagi dirinya dan seluruh
penduduk negeri, lembu jantan pada hari pertama (ay. 22) dan
seekor kambing jantan tiap hari (ay. 23). Ini mengajar kita,
setiap kali kita beribadah kepada Allah untuk bersekutu
dengan-Nya, agar mengarahkan pandangan kepada korban
penghapus dosa yang agung, yang olehnya kefasikan dilenyap-
kan dan keadilan yang kekal didatangkan. Setiap hari peraya-
an itu, harus ada korban bakaran, semata-mata untuk kehor-
matan Allah, tidak kurang dari tujuh ekor lembu jantan dan
tujuh ekor domba jantan, dengan korban sajiannya, yang
dimakan habis di atas mezbah, dan tidak boleh ada yang
terbuang (ay. 23-24).
3. Hari raya Pondok Daun. Itulah yang dibicarakan berikutnya
(ay. 25), namun tidak disebutkan tentang hari raya Pentakosta,
yang jatuh antara hari raya Paskah dan hari raya Pondok
Daun. Di sini diberikan perintah-perintah (melebihi apa yang
sudah diberikan oleh hukum Musa) supaya korban-korban
yang sama dipersembahkan selama tujuh hari perayaan
Paskah. Lihatlah betapa korban-korban untuk penebusan
dosa yang dilakukan menurut hukum Taurat itu banyak
cacatnya. sebab itulah korban-korban itu sering kali diulangi,
bukan hanya setiap tahun, melainkan juga setiap hari raya,
setiap hari pada masa perayaan, sebab korban-korban itu
tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengam-
bil bagian di dalamnya (Ibr. 10:1, 3). Lihatlah betapa perlunya
kita untuk sering mengulangi tindakan-tindakan ibadah yang
sama. Meskipun korban pendamaian dipersembahkan satu
kali untuk selama-lamanya, namun korban-korban pengakuan,
yaitu korban pengakuan hati yang hancur, korban pengakuan
hati yang bersyukur, korban-korban pengakuan rohani yang
berkenan kepada Allah melalui Kristus Yesus itu, harus diper-
sembahkan setiap hari. Kita harus, seperti yang digambarkan
dalam aturan-aturan di atas, mengikuti cara pelaksanaan ke-
wajiban-kewajiban yang kudus, dan tetap menjalankannya.
PASAL 46
Dalam pasal ini kita mendapati,
I. Beberapa aturan lebih jauh yang diberikan kepada para imam
maupun kepada umat, yang berkaitan dengan ibadah mereka
(ay. 1-15).
II. Hukum tentang bagaimana raja harus memberi pemberi-
an dari milik pusakanya (ay. 16-18).
III. Gambaran tentang tempat-tempat yang disediakan untuk
memasak korban-korban dan membakar korban sajian (ay.
19-24).
Aturan-aturan Menyangkut Ibadah
(46:1-15)
1 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pintu gerbang pelataran dalam yang
menghadap ke sebelah timur haruslah tertutup selama enam hari kerja,
namun pada hari Sabat supaya dibuka; pada hari bulan baru juga supaya
dibuka. 2 Raja itu akan masuk dari luar melalui balai gerbang dan akan ber-
diri dekat tiang pintu gerbang itu. Sementara itu imam-imam akan mengolah
korban bakaran dan korban keselamatan raja itu dan ia akan sujud
menyembah di ambang pintu gerbang itu, lalu keluar lagi. Dan pintu gerbang
itu tidak boleh ditutup sampai petang hari. 3 Penduduk negeri juga harus
turut sujud menyembah di hadapan TUHAN di pintu gerbang itu pada hari
Sabat dan hari bulan baru. 4 Korban bakaran yang harus dipersembahkan
raja itu kepada TUHAN pada hari Sabat ialah enam ekor domba yang tidak
bercela dan seekor domba jantan yang tidak bercela. 5 Korban sajian dari
domba jantan harus diolah dengan satu efa tepung, namun korban sajian dari
domba-domba yang lain bergantung pada kemampuannya, serta minyak satu
hin untuk satu efa. 6 Pada bulan baru harus dipersembahkan seekor lembu
jantan muda yang tiada bercela, serta enam ekor domba dan seekor domba
jantan yang tiada bercela. 7 Sebagai korban sajian ia harus mengolah satu efa
tepung dengan seekor lembu dan satu efa tepung dengan seekor domba jan-
tan, namun korban sajian dari domba-domba lain bergantung pada kemam-
puannya, serta minyak satu hin untuk satu efa. 8 Kalau raja hendak masuk
ke dalam, ia harus masuk melalui balai gerbang dan keluar dari situ juga.
9 namun kalau penduduk negeri pada perayaan-perayaan yang tetap berkum-
pul di hadapan TUHAN, dan yang masuk melalui pintu gerbang utara untuk
turut sujud menyembah biarlah mereka keluar melalui pintu gerbang selat-
an, dan yang masuk melalui pintu gerbang selatan, biarlah keluar melalui
pintu gerbang utara. Janganlah seorang kembali melalui pintu gerbang
kemasukannya, namun masing-masing harus keluar dari pintu gerbang yang
di depannya. 10 Mengenai raja itu, ia akan masuk bersama-sama mereka dan
keluar bersama-sama mereka. 11 Pada hari-hari raya dan perayaan-perayaan
yang tetap harus ada korban sajian, yaitu satu efa tepung diolah dengan
seekor lembu jantan dan satu efa tepung diolah dengan seekor domba jantan,
namun korban sajian dari domba-domba yang lain bergantung pada kemam-
puannya, serta minyak satu hin untuk satu efa. 12 Kalau raja mengolah
korban bakaran sukarela atau korban keselamatan sukarela bagi TUHAN,
maka orang harus membukakan pintu gerbang sebelah timur untuk dia dan
ia akan mempersembahkan korban bakarannya dan korban keselamatannya
itu seperti ia perbuat pada hari Sabat. Kemudian ia keluar, dan sesudah ia
keluar pintu gerbang harus ditutup. 13 Tiap hari ia harus mengolah domba
yang berumur satu tahun dan yang tiada bercela sebagai korban bakaran
bagi TUHAN; setiap pagi ia harus melakukan itu. 14 Di samping itu setiap
pagi ia harus mempersembahkan korban sajian seperenam efa tepung
dengan minyak sepertiga hin untuk mencampur tepung yang terbaik itu;
itulah korban sajian bagi TUHAN, dan ketetapan itu tetap selama-lamanya. 15
Demikianlah mereka harus mempersembahkan domba dan korban sajian
dan minyak setiap pagi sebagai korban bakaran yang tetap.
Apakah aturan-aturan untuk ibadah umum yang ditetapkan di sini
dirancang untuk dilaksanakan, bahkan dalam beberapa hal yang
berbeda dari hukum Musa, dan apakah harus dilaksanakan demi-
kian di bawah Bait Suci kedua, tidaklah pasti. Kita tidak mendapati
dalam sejarah jemaat Yahudi yang belakangan bahwa mereka
mengatur diri mereka dengan ketetapan-ketetapan ini dalam ibadah
mereka, seperti yang dianggap orang seharusnya mereka lakukan.
Yang terjadi yaitu bahwa mereka hanya menjalankan seperti yang
ditetapkan hukum Musa. Jadi, oleh sebab itu, ketetapan-ketetapan
yang diberikan di sini harus dipandang sebagai yang akan digenapi
secara rohani nanti pada zaman berikutnya, dan bukan secara
harfiah. Kita dapat mengamati, dalam ayat-ayat ini,
I. Bahwa tempat ibadah sudah ditetapkan, dan diberikan aturan-
aturan mengenai itu, baik kepada raja maupun kepada rakyat.
1. Pintu gerbang timur, yang tetap dibiarkan tertutup pada wak-
tu-waktu lain, harus dibuka pada hari-hari Sabat, pada bulan-
bulan baru (ay. 1), dan setiap kali sang raja mempersem-
bahkan korban sukarela (ay. 12). Pintu gerbang yang biasanya
tetap dibiarkan tertutup ini sudah kita baca sebelumnya
dalam pasal 44:2. Sementara pintu-pintu gerbang lain dari
Kitab Yehezkiel 46:1-15
pelataran dibuka setiap hari, pintu gerbang yang satu ini di-
buka hanya pada hari-hari raya dan pada kesempatan-kesem-
patan khusus, saat dibuka untuk raja, yang akan masuk
dari luar melalui balai gerbang (ay. 2, 8). Menurut sebagian
orang, ia masuk dengan imam-imam dan orang-orang Lewi ke
pelataran dalam (sebab pintu gerbang ini merupakan jalan
masuk ke pelataran itu), dan mereka mengamati bahwa para
hakim dan hamba Tuhan harus bergabung, dan berjalan ke
arah yang sama, sambil saling bergandeng tangan, dalam
memajukan pelayanan terhadap Allah. namun tampaknya ia
tidak masuk melalui pintu gerbang (seperti kemuliaan Tuhan
telah masuk), meskipun pintu itu terbuka, namun ia masuk
melalui balai gerbang, berdiri dekat tiang pintu gerbang itu, dan
sujud menyembah di ambang pintu gerbang itu (ay. 2). Dari situ
ia dapat memandang semua kegiatan para imam di mezbah,
dan memberi tanda persetujuannya terhadap kegiatan-
kegiatan itu, bagi dirinya sendiri dan bagi penduduk negeri,
yang berdiri di belakangnya di pintu gerbang itu (ay. 3). Demi-
kianlah setiap raja harus menunjukkan dirinya sejalan dengan
pikiran Daud, yang sangat bersedia untuk berdiri di ambang
pintu rumah Allahnya (Mzm. 84:11, KJV: menjadi penjaga pintu
di rumah Allahnya), dan, seperti kata yang digunakan dalam
ayat itu, berbaring di ambang pintu. Perhatikanlah, yang ter-
besar dari manusia sekalipun masih lebih kecil dari ketetapan-
ketetapan Allah yang terkecil. Bahkan raja-raja sendiri, saat
datang mendekat kepada Allah, harus menyembah dengan
hormat dan takut, dengan mengakui bahwa bahkan mereka
sekalipun tidak layak untuk mendekati-Nya. namun Kristus
yaitu Raja kita, yang digerakkan Allah untuk maju dan
mendekat kepada-Nya (Yer. 30:21).
2. Mengenai pintu gerbang utara dan pintu gerbang selatan, yang
melaluinya mereka masuk ke dalam pelataran orang banyak
(bukan ke pelataran dalam), diberikan aturan ini, bahwa siapa
saja yang masuk dari pintu gerbang utara harus keluar dari
pintu gerbang selatan, dan siapa saja yang masuk dari pintu
gerbang selatan harus keluar dari pintu gerbang utara (ay. 9).
Menurut sebagian orang, hal ini untuk mencegah orang saling
berdesak-desakan. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan,
namun ketertiban. Kita dapat menduga bahwa mereka masuk
dari pintu gerbang yang ada di sebelah rumah mereka sendiri.
namun , saat mereka pulang, Allah ingin supaya mereka
keluar dari pintu gerbang yang akan menuntun mereka ke
jalan berputar yang paling jauh, supaya mereka memiliki
waktu untuk bermenung. sebab dengan begitu mereka harus
berjalan sangat jauh mengitari tempat kudus, maka mereka
mendapat kesempatan untuk mencermati puri-purinya, dan,
jika mereka memanfaatkan waktu mereka dengan baik dalam
mengitari putaran ini, maka mereka akan menyebutnya seba-
gai jalan terdekat menuju rumah. Sebagian orang mengamati
bahwa hal ini dapat mengingatkan kita, dalam melayani Allah,
untuk senantiasa maju mendesak ke depan (Flp. 3:13) dan
tidak melihat ke belakang. Dan, dalam mengikuti ketetapan-
ketetapan ibadah, untuk tidak kembali seperti waktu kita
datang, namun menjadi lebih kudus, lebih sorgawi, dan lebih
rohani.
3. Ditetapkan bahwa penduduk negeri harus turut sujud menyem-
bah di pintu gerbang timur, di mana sang raja menyembah, dia
sebagai kepala dan mereka sebagai pengiringnya, baik pada
hari Sabat maupun pada hari bulan baru (ay. 3), dan bahwa,
saat mereka datang dan pergi, sang raja akan berada di
tengah-tengah mereka (ay. 10, KJV). Perhatikanlah, orang-orang
besar haruslah, dengan melayani Allah secara terus-menerus
dan penuh hormat dalam ibadah umum, memberi contoh
yang baik kepada bawahan-bawahan mereka, baik dengan
melibatkan mereka maupun mendorong mereka untuk ber-
buat hal yang serupa. Suatu hal yang sangat menyenangkan
dan sudah sepatutnya bagi orang-orang penting untuk pergi
beribadah dengan hamba-hamba mereka, dan orang-orang
yang menyewa tanah ladang mereka, dan tetangga-tetangga
miskin di sekitar mereka. Selain itu, mulialah bagi mereka
untuk berperilaku dengan penuh kesungguhan dan penuh
kesalehan. Orang-orang yang menghormati Allah dengan
kehormatan mereka seperti itu akan diberi-Nya kehormatan
dengan senang hati.
II. Bahwa upacara-upacara ibadah ditetapkan. Meskipun sang raja
sendiri dianggap sebagai teman yang sepenuh hati dan sangat
bersemangat bagi tempat kudus, namun bukan terserah kepada-
Kitab Yehezkiel 46:1-15
nya, sekalipun bersama-sama dengan para imam, untuk menetap-
kan korban-korban apa saja yang akan dipersembahkan, namun
Allah sendirilah yang menetapkannya. Sebab hak istimewa-Nyalah
untuk menetapkan tata ibadah dan upacara-upacara ibadah
keagamaan.
1. Setiap pagi, begitu pagi hari tiba, mereka harus mempersem-
bahkan seekor domba sebagai korban bakaran (ay. 13). Meng-
herankan bahwa tidak disebutkan tentang korban petang.
namun sebab Kristus sudah datang, dan sudah mempersem-
bahkan diri-Nya sendiri sekarang pada zaman akhir (Ibr. 9:26),
kita harus memandang-Nya sebagai korban petang, yang kira-
kira pada waktu itulah Dia wafat sebagai korban persembahan.
2. Pada hari-hari Sabat, kalau menurut hukum Musa empat ekor
domba harus dipersembahkan (Bil. 28:9), di sini ditetapkan
bahwa (atas perintah sang raja) harus ada enam ekor domba
yang dipersembahkan, dan seekor domba jantan di samping
itu (ay. 4). Hal ini untuk menyiratkan betapa kita harus ba-
nyak melakukan pekerjaan Sabat, sekarang pada zaman Injil,
dan betapa kita harus mempersembahkan banyak korban doa
dan pujian kepada Allah pada hari itu. Dan, jika korban-
korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah, maka
pasti ada banyak alasan bagi kita untuk senang juga dengan
korban-korban itu.
3. Pada bulan-bulan baru, pada awal bulan-bulan mereka, di
atas korban-korban Sabat biasa ada korban tambahan berupa
korban lembu jantan muda (ay. 6). Orang-orang yang banyak
berbuat bagi Allah dan jiwa mereka, secara teratur dan terus-
menerus, sekalipun begitu, pada beberapa kesempatan, masih
harus berbuat lebih banyak lagi.
4. Semua korban harus tak bernoda. Demikian pulalah Kristus,
sang korban agung (1Ptr. 1:19), dan demikian pula orang-
orang Kristen, yang harus mempersembahkan diri mereka sen-
diri kepada Allah sebagai korban yang hidup, harus bertujuan
dan berusaha untuk menjadi tiada beraib dan tiada bernoda,
dan tidak bercela.
5. Semua korban harus ditambah dengan korban-korban sajian,
sebab begitulah yang sudah ditetapkan oleh hukum Musa,
untuk menunjukkan betapa baiknya meja yang disediakan
Allah di rumah-Nya, dan bahwa kita harus menghormati-Nya
dengan hasil bumi kita dan juga dengan hasil ternak kita,
sebab dalam kedua-duanya Ia telah memberkati kita (Ul.
28:4). Pada mulanya, Kain mempersembahkan hasil bumi, dan
Habel hasil ternak. Sebagian orang mencermati bahwa korban-
korban sajian di sini jauh lebih banyak perbandingannya
daripada korban-korban sajian menurut hukum Musa. Dalam
hukum Musa perbandingannya yaitu tiga persepuluh efa
untuk satu ekor lembu, dan dua persepuluh efa untuk satu ekor
domba jantan (dalam jumlah persepuluh efa) dan paling
banyak setengah hin minyak (Bil. 15:6-9). namun di sini, untuk
setiap lembu jantan dan setiap domba jantan, satu efa dan
satu hin minyak penuh (ay. 7), yang menyiratkan bahwa di
bawah Injil, sebab korban penebusan agung telah dipersem-
bahkan, korban-korban yang tak berdarah ini akan lebih
berlimpah. Atau, secara umum, itu menyiratkan bahwa sama
seperti sekarang, di bawah Injil, Allah melimpah dalam pem-
berian-pemberian anugerah-Nya kepada kita, lebih daripada
sewaktu di bawah hukum Taurat, demikian pula kita harus
melimpah dalam membalas-Nya dengan puji-pujian dan kewa-
jiban terhadap-Nya. namun dapat diamati bahwa untuk korban
sajian dari domba-domba, sang raja diperbolehkan untuk
mempersembahkannya bergantung pada kemampuannya (ay.
5, 7, 11), sesuai yang sanggup diperoleh tangannya (KJV).
Perhatikanlah, raja-raja sendiri harus membelanjakan uang
sesuai kemampuan mereka. Dan bahkan dalam apa yang
ditetapkan untuk pekerjaan-pekerjaan kesalehan, Allah ber-
harap dan menuntut supaya kita berbuat sesuai kemampuan
kita, sesuai dengan apa yang kita peroleh (1Kor. 16:2; KJV:
sesuai kesejahteraan yang diberikan Allah kepadanya). Allah
tidak memberati kita dengan menuntut korban sajian (Yes.
43:23), namun Ia mempertimbangkan kemampuan dan keadaan
kita. Namun, ini tidak akan memperbolehkan orang-orang
yang berpura-pura tidak mampu, padahal sesungguhnya
mampu, atau orang-orang yang dengan melakukan hal-hal
lain secara berlebihan, menjadi tidak mampu berbuat kebaik-
an yang seharusnya mereka perbuat. Dan kita mendapati
pujian terhadap orang-orang yang, dalam perbuatan kasih
yang luar biasa, berbuat tidak hanya menurut kemampuan
mereka, namun juga melampaui kemampuan mereka.
Kitab Yehezkiel 46:16-18
Hukum-hukum mengenai Milik Pusaka Raja
(46:16-18)
16 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Kalau raja itu memberi sesuatu pemberian
dari milik pusakanya kepada salah seorang anaknya, maka itu menjadi kepu-
nyaan anaknya, dan milik ini menjadi pusaka mereka. 17 Kalau ia memberi-
kan pemberian dari milik pusakanya kepada salah seorang hambanya, maka
itu menjadi kepunyaannya sampai tahun kebebasan, lalu harus kembali
kepada raja itu; hanya anak-anak raja itu boleh mewarisi milik pusakanya.
18 Dan janganlah raja itu mengambil sesuatu dari milik pusaka rakyat, se-
hingga mereka terdesak dari miliknya; hanya dari miliknya boleh ia mewaris-
kan kepada anak-anaknya supaya jangan seorangpun dari umat-Ku didesak
dari miliknya.”
Di sini kita mendapati hukum untuk membatasi kekuasaan raja
dalam memberi tanah-tanah kerajaan kepada orang lain.
1. Jika ia memiliki seorang anak laki-laki kesayangan, atau jika anak
itu sudah pantas mendapat warisan, maka ia boleh, kalau mau,
sebagai tanda kasihnya dan untuk memberi upah atas pela-
yanan-pelayanannya, mewariskan sebagian dari tanah-tanahnya
kepada anak itu dan ahli warisnya untuk selama-lamanya (ay.
16), asalkan warisan itu tidak keluar dari keluarga. Bisa jadi ada
alasan untuk orangtua, saat anak-anak mereka tumbuh de-
wasa, untuk bersikap lebih baik kepada yang satu dibandingkan
kepada yang lain, seperti Yakub memberi kepada Yusuf satu
bagian melebihi saudara-saudaranya (Kej. 48:22).
2. Namun, jika ia memiliki seorang hamba kesayangan, ia tidak
boleh dengan cara serupa mewariskan tanah kepadanya (ay. 17).
Hamba boleh mendapat uang sewa, hasil-hasil tanah, dan keun-
tungan-keuntungan darinya, untuk jangka waktu tertentu, namun
warisan, jus proprietarium – hak kepemilikan, akan tetap berada di
tangan raja dan para ahli warisnya. Pantas jika dibuat perbedaan
antara anak dan hamba, seperti dalam Yohanes 8:35. Hamba
tidak tetap tinggal dalam rumah, seperti anak.
3. Harta benda yang dia berikan kepada anak-anaknya haruslah
dari kepunyaannya sendiri (ay. 18): Janganlah raja itu mengambil
sesuatu dari milik pusaka rakyat, dengan dalih ia memiliki
banyak anak yang harus diurus. Ia tidak boleh mencari cara-cara
untuk membuat rakyat kehilangan harta benda mereka, atau
membuat mereka terpaksa menjualnya, sehingga mereka terdesak
dari miliknya. namun hendaklah ia dan anak-anaknya mencukup-
kan diri dengan harta benda mereka sendiri. Sama sekali tidak
menjadi kehormatan raja untuk memperbanyak kekayaan keluar-
ga dan kerajaan dengan menyerobot hak-hak dan harta benda
rakyatnya. Ia sendiri juga tidak akan mendapat keuntungan
darinya pada akhirnya, sebab ia hanya akan menjadi raja yang
buruk jika rakyat didesak dari miliknya, jika mereka me-
ninggalkan negeri asal mereka. Ia akan menjadi raja yang buruk
bila sampai rakyat dipaksa meninggalkan harta milik dan memilih
hidup di antara orang-orang asing yang merupakan kaum mer-
deka, dan di mana apa yang mereka miliki dapat mereka sebut
sebagai milik mereka sendiri, sekalipun itu begitu sedikit. yaitu
kepentingan para raja untuk bisa memerintah dalam hati rakyat
mereka, maka kalau sudah begitu, semua yang dimiliki rakyat,
dengan cara terbaik, akan digunakan untuk melayani mereka.
Lebih baik mereka memperoleh kasih sayang rakyat dengan
melindungi hak-hak mereka daripada memperoleh harta benda
mereka dengan menyerangnya.
Bangunan-bangunan di Sekitar Bait Suci
(46:19-24)
19 Lalu dibawanya aku melalui pintu masuk yang di samping pintu gerbang
ke bilik-bilik untuk para imam yang di sebelah utara tempat kudus, dan
sungguh, di sana di bahagian barat sekali ada suatu tempat. 20 Ia berkata
kepadaku: “Di sinilah tempatnya imam-imam memasak korban penebus
salah dan korban penghapus dosa dan membakar korban sajian, dan mereka
tidak boleh membawanya ke pelataran luar, supaya dengan demikian mereka
jangan menguduskan umat TUHAN.” 21 Kemudian diiringnya aku ke pelatar-
an luar dan membiarkan aku pergi ke keempat sudut pelataran itu, sungguh,
di tiap sudut pelataran itu ada lagi pelataran. 22 Pada keempat sudut pelatar-
an itu ada pelataran-pelataran kecil, empat puluh hasta panjangnya dan tiga
puluh hasta lebarnya, keempatnya sama ukurannya. 23 Mengelilingi keempat
pelataran kecil itu ada tembok batu dan di bagian bawah tembok-tembok
batu itu sekelilingnya diperbuat tempat-tempat memasak. 24 Ia berkata
kepadaku: “Inilah dapur tempat memasak, di mana petugas-petugas Bait
Suci memasak korban sembelihan umat TUHAN.”
Di sini kita mendapati penyingkapan lebih jauh tentang bangunan-
bangunan di sekitar Bait Suci, yang tidak kita amati sebelumnya, dan
bangunan-bangunan itu yaitu tempat untuk memasak daging-
daging korban (ay. 20). Dia yang menyediakan meja yang begitu
melimpah di mezbah-Nya membutuhkan dapur-dapur yang besar.
Dan tukang bangunan yang bijak akan menyediakan kemudahan-
kemudahan untuk itu. Amatilah,
Kitab Yehezkiel 46:19-24
1. Di mana tempat-tempat memasak itu terletak. Sebagian ada di
pintu masuk ke pelataran dalam (ay. 19) dan sebagian lagi di
bagian bawah tembok-tembok batu, di keempat sudut pelataran
luar (ay. 21-23). Ini yaitu tempat-tempat di mana, ada kemung-
kinan, ada sebagian besar ruang yang disediakan untuk
keperluan memasak ini. Dan keperluan ini dimaksudkan untuk
ruang yang disediakan itu, supaya tak ada satu ruang pun yang
tidak terpakai. Sangat disayangkan jika tanah yang kudus sampai
harus terbuang sia-sia.
2. Untuk keperluan apa tempat-tempat itu dipakai. Di tempat-tem-
pat itu mereka harus memasak korban penebus salah dan korban
penghapus dosa, bagian-bagian korban yang diperuntukkan bagi
para imam dan yang lebih kudus daripada sajian korban kesela-
matan, yang di dalamnya orang yang mempersembahkan juga
ikut berbagi. Di sana juga mereka harus membakar korban sajian,
bagian mereka dari korban itu, yang mereka dapatkan dari mez-
bah untuk meja-meja mereka sendiri (ay. 20). Mereka juga harus
memperhatikan, agar tidak membawanya ke pelataran luar, su-
paya dengan demikian mereka jangan menguduskan umat TUHAN.
Janganlah mereka berlagak menguduskan umat Tuhan dengan
sajian yang kudus ini, dan dengan demikian menipu mereka. Atau
janganlah umat Tuhan membayangkan bahwa dengan menyentuh
hal-hal sakral itu mereka dikuduskan, dan menjadi lebih baik
atau lebih berkenan kepada Allah. Tampak bahwa ada orang-
orang yang memiliki pikiran-pikiran khayalan seperti itu (Hag.
2:13). Oleh sebab itu, para imam tidak boleh membawa sedikit
pun sajian yang kudus bersama mereka, supaya mereka tidak
membuat orang berkhayal seperti itu. Hamba-hamba Tuhan ha-
rus berjaga-jaga supaya tidak melakukan apa saja yang menyo-
kong orang-orang bodoh dalam kesia-siaan mereka yang penuh
takhayul.
PASAL 47
Pada pasal ini kita temukan,
I. Penglihatan akan air suci, ketinggian, luas, kuasa penyem-
buhan, banyak ikan di dalamnya, dan bermacam-macam
pohon yang tumbuh di tepinya (ay. 1-12).
II. Penetapan batas-batas tanah Kanaan, yang harus dibagi-bagi
di antara suku-suku Israel dan orang-orang asing yang ting-
gal di antara mereka (ay. 13-23).
Penglihatan akan Air Suci
(47:1-12)
1 Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu Bait Suci, dan sungguh, ada
air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke
timur; sebab Bait Suci juga menghadap ke timur; dan air itu mengalir dari
bawah bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah.
2 Lalu diiringnya aku ke luar melalui pintu gerbang utara dan dibawanya aku
berkeliling dari luar menuju pintu gerbang luar yang menghadap ke timur,
sungguh, air itu membual dari sebelah selatan. 3 Sedang orang itu pergi ke
arah timur dan memegang tali pengukur di tangannya, ia mengukur seribu
hasta dan menyuruh aku masuk dalam air itu, maka dalamnya sampai di
pergelangan kaki. 4 Ia mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku masuk
sekali lagi dalam air itu, sekarang sudah sampai di lutut; kemudian ia
mengukur seribu hasta lagi dan menyuruh aku ketiga kalinya masuk ke
dalam air itu, sekarang sudah sampai di pinggang. 5 Sekali lagi ia mengukur
seribu hasta lagi, sekarang air itu sudah menjadi sungai, di mana aku tidak
dapat berjalan lagi, sebab air itu sudah meninggi sehingga orang dapat bere-
nang, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi lagi. 6 Lalu ia berkata kepa-
daku: “Sudahkah engkau lihat, hai anak manusia?” Kemudian ia membawa
aku kembali menyusur tepi sungai. 7 Dalam perjalanan pulang, sungguh,
sepanjang tepi sungai itu ada amat banyak pohon, di sebelah sini dan di
sebelah sana. 8 Ia berkata kepadaku: “Sungai ini mengalir menuju wilayah
timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang
mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, 9 sehingga ke mana
saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana
akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air
itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu meng-
alir, semuanya di sana hidup. 10 Maka penangkap-penangkap ikan penuh
sepanjang tepinya mulai dari En-Gedi sampai En-Eglaim; daerah itu menjadi
penjemuran pukat dan di sungai itu ada berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan
di laut besar, sangat banyak. 11 namun rawa-rawanya dan paya-payanya tidak
menjadi tawar, itu menjadi tempat mengambil garam. 12 Pada kedua tepi
sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan yang daunnya
tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang
baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya
menjadi makanan dan daunnya menjadi obat.”
Begitu pastinya bagian penglihatan Yehezkiel ini mengandung makna
yang mistis dan rohani sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa
bagian-bagian lain dari penglihatannya juga mengandung makna
yang mistis dan rohani. Sebab penglihatan ini tidak dapat diterapkan
pada air yang mengalir melalui pipa ke dalam Bait Suci untuk
mencuci korban, membersihkan Bait Suci, dan kemudian mengalir
keluar, sebab hal itu akan mengubah sungai yang menyenangkan
ini menjadi bak cuci atau selokan biasa. Nubuat dalam Zakharia 14:8
dapat menjelaskan hal ini, bahwa akan mengalir air kehidupan dari
Yerusalem, setengahnya mengalir ke laut timur, dan setengah lagi
mengalir ke laut barat. Dan dengan jelas ada rujukan mengenai
sungai ini dalam penglihatan Rasul Yohanes akan sungai air kehidup-
an, yang jernih (Why. 22:1). Air dalam penglihatan Rasul Yohanes itu
melambangkan kemuliaan dan sukacita yang disempurnakan oleh
anugerah. Sementara air dalam penglihatan Yehezkiel ini melam-
bangkan anugerah dan sukacita yang dimulai dari kemuliaan.
Kebanyakan penafsir sepakat bahwa air ini melambangkan Injil
Kristus, yang keluar dari Yerusalem dan menyebar ke negeri-negeri di
sekeliling. Air ini juga melambangkan karunia-karunia dan kuasa
Roh Kudus yang menyertai Injil Kristus, di mana oleh semua karunia
dan kuasa Roh Kudus Injil tersebar luas dan membawa dampak-
dampak ajaib dan mulia. Yehezkiel telah berkali-kali mengitari bait
itu, namun baru sekarang memperhatikan air tersebut. sebab Allah
menyatakan pikiran dan kehendak-Nya kepada umat-Nya tidak
sekaligus, namun secara bertahap. Sekarang perhatikan,
I. Ketinggian air ini. Yehezkiel tidak dituntun untuk mengikuti alir-
an air sampai ke sumbernya, namun terlebih dahulu diperlihatkan
akan sumber mata air itu (ay. 1): Air keluar dari bawah ambang
pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju ke timur, dan dari bawah
bagian samping kanan dari Bait Suci itu, sebelah selatan mezbah.
Kitab Yehezkiel 47:1-12
Kemudian (ay. 2), air itu membual dari sebelah selatan, yang
menandakan bahwa dari Sion akan keluar pengajaran dan firman
TUHAN dari Yerusalem (Yes. 2:3). Di Yerusalem Roh Kudus
dicurahkan ke atas para rasul, dan memperlengkapi mereka
dengan karunia lidah, sehingga mereka mampu membawa air ini
kepada segala bangsa. Di Bait Allah mereka pertama-tama berdiri
dan memberitakan seluruh firman hidup itu (Kis. 5:20). Mereka
harus memberitakan Injil kepada segala bangsa, namun harus
mulai dari Yerusalem (Luk. 24:47). namun tidak hanya itu saja:
Kristus yaitu Sang Bait. Ia yaitu Sang Pintu, melalui-Nya air
hidup mengalir, memancar keluar dari lambung-Nya yang di-
tikam. Air yang Ia berikan kepada kita yaitu mata air yang terus-
menerus memancar (Yoh. 4:14). Melalui percaya kepada-Nyalah
kita menerima aliran air hidup, dan yang dimaksudkan-Nya ialah
Roh (Yoh. 7:38-39). Air ini tidak berasal dari atas permukaan
tanah, namun memancar keluar dari bawah ambang pintu. Sebab
mata air kehidupan orang percaya yaitu sebuah misteri, yang
tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:3). Ada
yang memperhatikan bahwa air ini mengalir dari samping kanan
dari bait suci untuk menyatakan bahwa anugerah Injil yaitu
berkat dari tangan kanan. Hal ini juga menjadi pengharapan bagi
orang-orang yang menunggu pada pintu Hikmat, pada tiang pintu
gerbangnya, yang bersedia berbaring di pelataran rumah Tuhan,
seperti Daud, berbaring pada sumber mata air penghiburan dan
anugerah. Jalan masuk ke dalam firman Allah memberi terang
dan hidup (Mzm. 119:130). Daud mengatakannya untuk memuji
Sion, Segala mata airku ada di dalammu (Mzm. 87:7). Air itu
mengalir dari sebelah mezbah, sebab di dalam dan melalui Yesus
Kristuslah, Sang Mezbah Agung (yang menguduskan persembahan
kita bagi Allah), Allah telah mengaruniakan kepada kita segala
berkat rohani di dalam sorga. Dari Allah sebagai mata air, melalui
Yesus Kristus sebagai saluran, mengalir sungai yang menyukakan
kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi (Mzm. 46:5). Perhatikan
betapa besar kebahagiaan dan sukacita orang-orang kudus yang
dipermuliakan di surga melampaui segala kebahagiaan dan suka-
cita orang-orang kudus yang terbaik dan paling berbahagia di
bumi ini. Dari mata air ini mengalir sungai penghiburan dari
bawah ambang pintu, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan
takhta Anak Domba itu (Why. 22:1).
II. Aliran dan kenaikan ketinggian air ini: si penunjuk jalan dan sang
nabi pergi ke arah timur (ay. 3), menuju wilayah timur (ay. 8),
sebab ke sana mereka diperintahkan. Sang nabi dan penunjuk
jalannya mengikuti aliran air itu menuruni gunung-gunung yang
suci, dan saat mereka telah mengikutinya sampai sekitar seribu
hasta, mereka menyeberanginya untuk mengukur kedalamannya,
dan dalamnya sudah sampai pergelangan kaki (ay. 3). Kemudian
mereka berjalan menyusur tepi sungai itu dari sisi lain, seribu
hasta lagi, kemudian untuk mengukur kedalamannya. Mereka
menyeberanginya lagi untuk kedua kali, dan air itu sudah sampai
ke lutut (ay. 4). Mereka berjalan menyusur seribu hasta lagi, dan
menyeberanginya lagi untuk ketiga kali, dan air itu sudah sampai
setinggi badan mereka, air itu sekarang sudah sampai di pinggang.
Mereka kemudian berjalan seribu hasta lagi, dan mencoba
menyeberanginya untuk keempat kali, namun tidak dapat: sebab
air itu sudah meninggi, suatu sungai yang tidak dapat diseberangi
lagi (ay. 5). Perhatikanlah,
1. Air dari tempat kudus yaitu air yang mengalir seperti sungai,
bukan air yang diam seperti kolam. Injil, sejak pertama kali
diberitakan, terus menyebar luas. Anugerah dalam jiwa terus
mendesak maju. Anugerah itu maju dan giat, plus ultra – terus
maju, sampai mencapai kesempurnaan.
2. Ketinggian air ini terus naik. Sungai ini, sebab terus meng-
alir, maka semakin jauh mengalir, ia menjadi semakin penuh.
Jemaat-Injil sangat kecil pada mulanya, seperti cabang aliran
air yang kecil, namun secara bertahap naik sampai ke per-
gelangan kaki, sampai ke lutut. Jumlahnya terus bertambah
setiap hari, dan biji sesawi tumbuh menjadi sebatang pohon.
Karunia-karunia rohani meningkat melalui latihan, dan anu-
gerah, jika sejati, terus bertumbuh, seperti cahaya fajar,
yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
3. yaitu baik bagi kita untuk mengikuti aliran air ini, dan
mengalir bersamanya. Perhatikan perkembangan Injil di dunia,
amati cara anugerah bekerja di dalam hati, ikuti gerakan Roh
Kudus, dan berjalanlah mengikutinya, di bawah pimpinan
ilahi, seperti yang Yehezkiel lakukan di sini.
4. yaitu baik untuk sering menyelidiki dan menyelami hal-hal
ilahi, dan mengukur kedalamannya, tidak hanya melihat ke
permukaan air itu, namun untuk menyelami sedalam yang
Kitab Yehezkiel 47:1-12
kita mampu, sering menggali, sering menyelam ke dalam
misteri kerajaan sorga, sebagai orang-orang yang senantiasa
ingin erat dengan hal-hal itu.
5. jika kita menyelidiki hal-hal ilahi, kita akan menemukan
bahwa beberapa hal sangat sederhana dan mudah dimengerti,
seperti air yang hanya sampai di pergelangan kaki, sebagian
lainnya lebih sulit dan membutuhkan penyelidikan yang lebih
mendalam, seperti air yang sampai ke lutut atau ke pinggang,
dan sebagian melampaui jangkauan kita, yang tidak dapat kita
selami, atau jelaskan, namun, putus asa untuk menemukan
dasarnya, maka harus, seperti Rasul Paulus, duduk di
tepinya, dan mengagumi dalamnya (Rm. 11:33). Dalam Kitab
Suci sering dikatakan bahwa, seperti air dari tempat kudus ini,
ada air yang begitu dangkal sehingga seekor domba dapat
menyeberanginya, dan yang lainnya begitu dalam sehingga
seekor gajah dapat berenang di dalamnya. yaitu bijaksana
bagi kita, seperti sang nabi di bagian ini, untuk memulai de-
ngan hal yang paling mudah dan membasuh hati kita dengan
hal-hal tersebut sebelum kita meneruskan ke bagian yang
sukar difahami. sebab itu yaitu baik untuk mempertim-
bangkan pekerjaan kita sendiri.
III. Luasnya sungai ini: Sungai ini mengalir menuju wilayah timur,
namun dari sana ia terbagi-bagi menjadi beberapa aliran atau
memutar, sehingga ia menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di
Laut Asin, ke laut mati yang mengalir ke sebelah tenggara, atau ke
laut Tiberias, yang mengalir ke sebelah timur laut (ay. 8). Hal ini
tergenapi saat Injil telah berhasil diberitakan di seluruh daerah
Yudea dan Samaria (Kis. 8:1), dan sesudah itu ke segala bangsa di
luar, bahkan mencapai bangsa yang berada di tempat paling ter-
pencil. Bahkan orang-orang yang berada di pulau-pulau kecil, telah
tercerahkan dan khamir oleh Injil. Perkataan mereka sampai ke
ujung bumi, dan sang musuh tidak lagi berkuasa untuk menahan
alirannya seperti sungai yang selalu mengalir dengan derasnya.
IV. Kuasa menyembuhkan dari sungai ini. Air yang keluar dari tem-
pat kudus, ke mana pun sampai dan mengalir bebas, akan mem-
bawa kesembuhan yang ajaib. Bermuara di laut asin, danau yang
berbelerang di Sodom, tugu peringatan akan pembalasan ilahi itu,
bahkan air itu menjadi tawar (ay. 8), akan menjadi manis, menye-
nangkan dan menyehatkan. Hal ini menandakan perubahan yang
ajaib dan mulia yang dilakukan Injil, ke mana pun ia datang
dalam kuasanya, akan mendatangkan perubahan yang besar,
baik dalam sifat maupun keadaan, layaknya laut asin yang dibuat
menjadi mata air di taman. saat anak-anak murka menjadi
anak-anak kasih, dan mereka yang telah mati dalam dosa menjadi
hidup kembali, maka hal ini pun tergenapi. Injil seperti garam
yang dilempar Elisa ke mata air di Yerikho, yang telah Kusehat-
kan. Kristus, datang ke dalam dunia sebagai tabib, mengirim Injil-
Nya sebagai obat penawar. Di dalam Injil ada penawar untuk
setiap penyakit. Bahkan, ke mana saja sungai itu mengalir, se-
muanya di sana hidup (ay. 9), baik tumbuh-tumbuhan maupun
binatang-binatang. Ia yaitu air kehidupan (Why. 22:1, 17). Kris-
tus datang, supaya kita memiliki hidup dan untuk itu Ia mengi-
rimkan Injil-Nya. Ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di
sana hidup. Anugerah Allah menghidupkan orang berdosa yang
mati dan memberi kepenuhan bagi orang-orang suci yang hidup.
Segala sesuatu dijadikan berbuah dan berkembang olehnya. Na-
mun dampaknya tergantung bagaimana ia diterima, dan bagai-
mana akal budi disiapkan dan bersedia menerimanya. Sebab
mengenai rawa-rawa dan paya-payanya, yang tinggal dalam
lumpur dosa mereka, dan tidak mau disehatkan, atau tetap
tinggal dalam pembenaran diri mereka, dan berpikir diri mereka
tidak memerlukan penawar, maka celakalah mereka, mereka
tidak menjadi tawar (ay. 11). Injil yang sama yang bagi sebagian
orang yaitu bau kehidupan akan menjadi bau kematian bagi
mereka. Mereka akan menjadi hangus oleh garam, selama-lama-
nya tandus (Ul. 29:23). Mereka yang tidak mau disirami anugerah
Allah dan dijadikan berbuah, akan diserahkan kepada keinginan
hati mereka akan kecemaran, dan dibiarkan tidak berbuah lagi
sel ama-lamanya. Barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar.
Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya. Mereka menjadi
tempat mengambil garam, yaitu, menjadi tugu peringatan akan
keadilan ilahi, seperti istri Lot yang dijadikan tiang garam, untuk
menggarami yang lain.
V. Banyaknya ikan yang hidup dalam sungai ini. Segala makhluk
hidup yang berkeriapan dapat ditemukan di sana, akan hidup di
Kitab Yehezkiel 47:1-12
sana (ay. 9), akan berdatangan dan berlimpah, akan menjadi yang
terbaik, dan sangat subur, sehingga ikan-ikan akan menjadi
sangat banyak, berjenis-jenis ikan, seperti ikan-ikan di laut besar,
sangat banyak. Di sana ada amat banyak ikan-ikan sungai, dan
banyak pula jenisnya, seperti ikan-ikan di laut (ay. 10). Akan ada
begitu besar jumlah orang Kristen dalam jemaat, dan jumlah
tersebut berlipatganda seperti ikan-ikan dalam angkatan yang
akan datang dan embun keremajaan mereka. Pada saat pencipta-
an, dalam air berkeriapan makhluk hidup (Kej. 1:20-21), dan
mereka tetap hidup di dalam dan melalui air yang mengeluarkan
mereka. Demikian orang-orang percaya dijadikan oleh firman
kebenaran (Yak. 1:18), dan dilahirkan kembali (1Ptr. 1:23), dari
sungai Allah itu. Oleh sungai itu mereka hidup, darinya mereka
beroleh pemeliharaan dan penghidupan. Di dalam air dari tempat
kudus itu mereka menemukan sumber kehidupan mereka, namun
di luar air itu mereka bagaikan ikan di tempat kering. Seperti
itulah keadaan Daud saat ia haus dan rindu kepada Allah,
kepada Allah yang hidup. Di mana ada banyak ikan, di sana akan
berkumpul para penangkap-penangkap ikan, dan di sana mereka
akan menebarkan jala. Maka, untuk menandakan terus bertam-
bah tingginya air ini dan kegunaanya dalam segala hal, maka di
bagian ini dinubuatkan bahwa penangkap-penangkap ikan akan
berdiri di sepanjang tepinya, mulai dari En-Gedi, yang terletak di
batas laut asin, sampai En-Eglaim, kota lain, yang bergabung
dengan laut tersebut, dan bersama-sama menebarkan jala. Laut
asin, yang dahulu dihindari sebab berbau busuk dan beracun,
akan sering dikunjungi. Anugerah-Injil menjadikan orang-orang
dan tempat-tempat yang dahulu tidak menguntungkan dan tidak
berguna menjadi bermanfaat bagi Allah dan manusia.
VI. Pepohonan yang berada di tepi sungai ini. ada amat banyak
pohon, di sebelah sini dan di sebelah sana (ay. 7), yang membuat
pemandangan indah dan sedap dipandang. Pepohonan ini juga
memberi keteduhan bagi para penangkap ikan. Namun tidak
hanya itu (ay. 12), tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan,
dan buahnya tidak habis-habis dimakan, sebab tiap bulan ada
lagi buahnya yang baru. Daunnya menjadi obat, dan tidak layu.
Bagian penglihatan ini sama persis dengan penglihatan Rasul
Yohanes (Why. 22:2), di mana, di seberang-menyeberang sungai
itu, dikatakan tumbuh pohon-pohon kehidupan yang berbuah tiap-
tiap bulan sekali, dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk
menyembuhkan bangsa-bangsa. Orang-orang Kristen, terutama
para pelayan Tuhan, seharusnya menjadi pohon-pohon ini, pohon
tarbantin kebenaran, tanaman TUHAN (Yes. 61:3), ditanam di tepi
aliran air, air dari tempat kudus (Mzm. 1:3), dicangkokkan ke
dalam Kristus Sang Pohon Kehidupan, dan berkat penyatuannya
dengan Kristus dijadikan pohon-pohon kehidupan juga, berakar
di dalam Dia (Kol. 2:7). Ada bermacam-macam pohon, melalui
berbagai-bagai karunia yang dikaruniakan oleh Roh yang satu
dan yang sama, yang memberi karunia kepada tiap-tiap orang.
Pohon-pohon ini tumbuh di tepi sungai, mereka terus berada
dekat dengan ketetapan-ketetapan suci, dan melaluinya mereka
menerima sari dan kebaikan Kristus. Mereka yaitu pohon buah-
buahan, dirancang, seperti pohon ara dan zaitun, dengan buah-
buahnya supaya dipakai untuk menghormati Allah dan manusia
(Hak. 9:9). Buahnya menjadi makanan, sebab bibir orang benar
menggembalakan banyak orang. Buah-buah kebenaran mereka
berguna dalam banyak hal. Dedaunan pohon-pohon ini menjadi
obat, untuk memar dan luka. Orang Kristen yang baik dengan
perkataan yang baik, yang bagaikan daun-daun, dan perbuatan
baik, yang bagaikan buah-buah, berguna bagi orang-orang di
sekitar mereka. Mereka menanggung kelemahan orang yang tidak
kuat, dan membalut yang patah hati. Kegembiraan mereka yaitu
obat yang manjur, tidak hanya bagi diri mereka sendiri, namun
juga bagi orang-orang lain. Mereka akan dimampukan oleh
anugerah Allah untuk bertekun dalam kebaikan dan kegunaan
mereka. Daunnya tidak layu, atau kehilangan kemampuan me-
nyembuhkan, tidak hanya memiliki hidup di bagian akar, namun
juga mengandung sari di setiap rantingnya. Pengakuan iman
mereka tidak layu (Mzm. 1:3), buahnya tidak habis-habis. Mereka
tidak akan kehilangan nilai-nilai kegunaan mereka, malahan
pada masa tua pun mereka masih berbuah, untuk memberitakan
bahwa TUHAN itu benar (Mzm. 92:15-16). Hasil buah mereka akan
tinggal untuk selama-lamanya. Mereka menghasilkan buah yang
melimpah yang akan diperhitungkan pada hari agung itu, buah
untuk hidup yang kekal; yaitu, buahnya tidak habis-habis. Mereka
menghasilkan buah yang baru tiap bulan, sebagian dalam bulan
yang satu, dan sebagian dalam bulan lainnya, sehingga selalu
Kitab Yehezkiel 47:13-23
ditemukan buah untuk melayani kemuliaan Allah bagi tujuan
yang Ia rancang. Tiap-tiap mereka akan menghasilkan buah
setiap bulan, yang menandakan kecenderungan untuk berbuah
yang melimpah (mereka tidak pernah lelah berbuat baik), dan
iklim yang sangat menyenangkan, sedemikian rupa sehingga
selalu musim semi dan musim panas. Dan alasan kesuburan
yang luar biasa ini yaitu sebab pohon-pohon itu mendapat air
dari tempat kudus. Kesuburan yang luar biasa ini tidak berasal
dari diri mereka sendiri, namun dari anugerah ilahi yang terus-
menerus disediakan, yang dengannya TUHAN setiap saat menyi-
raminya (Yes. 27:3). sebab Dia yang menanam, Ialah yang mem-
beri pertumbuhan.
Batas-batas Tanah Ditetapkan
(47:13-23)
13 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Inilah batas-batas tanah yang kamu
harus bagi-bagi menjadi milik pusakamu di antara kedua belas suku Israel.
Yusuf mendapat dua bagian. 14 Tanah itu harus kamu bagi rata, yaitu tanah
yang dengan sumpah Kujanjikan memberi nya kepada nenek moyangmu
dan dengan demikian tanah ini menjadi milik pusakamu. 15 Inilah perbatasan
tanah itu: di sebelah utara: dari laut besar terus ke Hetlon sampai jalan
masuk ke Hamat dan terus ke Zedad, 16 Berota, Sibraim, yang terletak di
antara daerah kota Damsyik dan daerah kota Hamat, terus ke Hazar-Enon
yang di daerah kota Hauran. 17 Demikianlah perbatasannya itu mulai dari
laut sampai di Hazar-Enon, sehingga daerah kota Damsyik dan juga daerah
kota Hamat terletak di sebelah utaranya. Itulah sebelah utara. 18 Di sebelah
timur: mulai dari Hazar-Enon yang terletak di antara Hauran dan Damsyik,
sungai Yordan menjadi perbatasan di antara Gilead dan tanah Israel, terus
ke Laut Timur sampai ke Tamar. Itulah sebelah timur. 19 Di sebelah selatan:
perbatasan mulai dari Tamar sampai mata air Meriba dekat Kadesh, terus ke
sungai Mesir, terus ke laut besar. Itulah di sebelah selatan perbatasan
dengan Tanah Negeb. 20 Di sebelah barat laut besar merupakan perbatasan
sampai tempat jalan masuk ke Hamat. Itulah sebelah barat.” 21 “Tanah inilah
kamu harus bagi-bagi di antara kamu menurut suku-suku Israel. 22 Dan
kamu harus membagi-baginya menjadi milik pusaka di antara kamu dan di
antara orang-orang asing yang tinggal di antara kamu, yang melahirkan anak
di tengah-tengahmu dan mereka harus kamu anggap sama seperti orang
Israel asli; bersama-sama kamu mereka harus mendapat bagian milik pusaka
di tengah-tengah suku-suku Israel. 23 Jadi kalau di tengah-tengah suatu
suku ada tinggal orang asing, di situlah kamu berikan milik pusakanya,
demikianlah firman Tuhan ALLAH.
Sekarang kita berpindah dari urusan tempat kudus ke urusan
negara, dari kota ke desa.
1. Di bagian ini tanah Kanaan dijamin kepada mereka sebagai milik
pusaka (ay. 14): Dengan sumpah Kujanjikan memberi nya ke-
pada nenek moyangmu, dijanjikan melalui sumpah kepada mere-
ka dan keturunan mereka. Meskipun kepemilikan mereka telah
lama berhenti, namun Allah tidak melupakan sumpah-Nya yang
Ia ucapkan kepada nenek moyang mereka. Meskipun penyeleng-
garaan Allah untuk sementara waktu kelihatan seolah-olah
bertentangan dengan janji-janji-Nya, namun janji-Nya akan genap
pada akhirnya, sebab Allah ingat untuk selama-lamanya akan
perjanjian-Nya. Dengan sumpah kujanjikan memberi nya, maka
tanah itu tidak akan gagal menjadi milik pusakamu. Kanaan
sorgawi pasti diberikan bagi semua keturunan, sebab hal itu
yang dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta.
2. Di bagian ini, batas-batas tanah itu ditentukan, dan garis-garis
batas telah ditetapkan, sehingga mereka tidak boleh menerobos
untuk melanggar tetangganya, dan tetangga mereka tidak boleh
menerobos untuk melanggar mereka. Kita pernah melihat gam-
baran batas-batas Kanaan yang serupa saat Yosua diperintah-
kan untuk membagi-bagi milik pusaka bangsa Israel (Bil. 34:1).
Pembagian itu mulai dari Laut Asin di selatan, memutar dan
sampai di sana. Mulai dari Hamat dekat Damaskus di utara,
memutar dan sampai di sana (ay. 20). Perhatikan, Allah sendiri
yang menentukan batas-batas kediaman mereka, dan bangsa
Israel kepunyaan Allah selalu memiliki alasan untuk mengatakan
bahwa tali pengukur telah jatuh bagi mereka di tempat-tempat yang
permai. Danau di Sodom di bagian ini disebut Laut Timur, sebab
laut itu telah ditawarkan oleh air dari tempat kudus. Ia tidak lagi
disebut Laut Asin, sebagaimana dicatat dalam Kitab Bilangan.
3. Di bagian ini diperintahkan supaya tanah itu dibagi-bagi di antara
suku-suku Israel, dengan menghitung Yusuf mendapat dua
bagian, untuk menggenapi kedua belas suku, sebab Lewi dike-
luarkan dari hitungan untuk melayani kemah suci, dan mendapat
bagian di sekitarnya (ay. 13, 21). Tanah itu harus kamu bagi rata
(ay. 14). Setiap suku harus mendapat bagian yang sama rata,
antara satu dengan yang lainnya. saat suku-suku Israel keluar
dari Babel, pembagian ini kelihatannya tidak sama rata, sebab
beberapa suku jumlahnya lebih besar dari yang lainnya, dan
sesungguhnya kebanyakan mereka berasal dari suku Yehuda dan
Benyamin dan sangat sedikit dari sepuluh suku lainnya. Namun
Kitab Yehezkiel 47:13-23
saat kedua belas suku berdiri, dalam suku dan visi, bagi gereja-
Injil, bangsa Israel kepunyaan Allah, sangat sama rata, sebab
dalam penglihatan lainnya kita menemukan jumlah yang sama
rata dari setiap suku dimeteraikan bagi Allah yang hidup, hanya
dua belas ribu masing-masing suku (Why. 7:5). Bagi mereka yang
dimeteraikan bagian ini diberikan. Hal ini melambangkan bahwa
semua anggota kerajaan Kristus telah memperoleh iman. Laki-laki
dan perempuan, bangsa Yahudi dan kafir, budak dan orang mer-
deka, semua sama disambut oleh Kristus dan berbagian di dalam
Dia.
4. Orang-orang asing yang tinggal di antara mereka, yang melahir-
kan anak dan menjadi keluarga-keluarga, dan dengan demikian
membantu orang-orang di negeri itu, mereka harus mendapat
bagian milik pusaka di tengah-tengah suku-suku, seperti mereka
yaitu orang Israel asli (ay. 22-23). Hal ini tidak diizinkan sama
sekali dalam pembagian tanah oleh Yosua. Hal ini melambangkan
tindakan pewarganegaraan umum, untuk mengajar bangsa Ya-
hudi mengenai siapa sesama mereka, tidak hanya orang sebangsa
dan seagama dengan mereka, namun juga, siapa pun yang, terha-
dapnya mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkan kebaik-
an, sebab dari bangsa Yahudi mereka akan menerima kebaikan.
Hal ini akan mengundang orang-orang asing untuk datang dan
berdiam ditengah-tengah mereka dan meletakkan diri di bawah
sayap kebesaran Ilahi. Hal ini tentunya memandang kepada zaman
Injil, saat dinding pemisah antara bangsa Yahudi dan kafir telah
diruntuhkan, dan keduanya disatukan di dalam Kristus, di dalam
Dia tidak ada perbedaan (Rm. 10:12). Tanah ini yaitu gambaran
Kanaan sorgawi, tanah air yang lebih baik itu (Ibr. 11:16), yang di
dalamnya orang-orang kafir yang percaya menerima bagian kemu-
liaan, sama seperti orang Yahudi yang percaya (Yes. 56:3-8).
PASAL 48
alam pasal ini kita mendapati petunjuk-petunjuk khusus yang
diberikan untuk pembagian tanah, yang penetapan batas-batas-
nya kita dapati dalam pasal sebelumnya.
I. Bagian-bagian untuk kedua belas suku, tujuh suku di sebe-
lah utara tempat kudus (ay. 1-7) dan lima suku di sebelah
selatannya (ay. 23-29).
II. Penentuan bagian tanah untuk tempat kudus dan para imam
(ay. 8-11), untuk orang-orang Lewi (ay. 12-14), untuk kota
(ay. 15-20), dan untuk raja (ay. 21-22). Banyak dari hal ini
sudah kita dapati sebelumnya (ps. 45).
III. Rancangan kota, pintu-pintu gerbangnya, dan nama baru
yang diberikan kepadanya (ay. 30-35), yang memeteraikan,
dan menutup, penglihatan dan nubuat dalam kitab ini.
Pembagian Tanah
(48:1-30)
1 Inilah nama suku-suku itu: Yang paling utara: dari laut terus ke Hetlon, ke
jalan masuk ke Hamat, Hazar-Enon, sehingga daerah kota Damsyik, yang
berdekatan dengan Hamat, terletak di sebelah utaranya, dari perbatasan
sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat ada bagian Dan. 2 Ber-
batasan dengan wilayah Dan, dari perbatasan sebelah timur sampai per-
batasan sebelah barat, ada bagian Asyer. 3 Berbatasan dengan wilayah
Asyer, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat,
ada bagian Naftali. 4 Berbatasan dengan wilayah Naftali, dari perbatasan
sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ada bagian Manasye.
5 Berbatasan dengan wilayah Manasye, dari perbatasan sebelah timur sampai
perbatasan sebelah barat, ada bagian Efraim. 6 Berbatasan dengan wila-
yah Efraim, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat,
ada bagian Ruben. 7 Berbatasan dengan wilayah Ruben, dari perbatasan
sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ada bagian Yehuda.
8 Berbatasan dengan wilayah Yehuda, dari perbatasan sebelah timur sampai
perbatasan sebelah barat, ada persembahan khusus yang harus kamu
khususkan, yaitu dua puluh lima ribu hasta lebarnya, dan panjangnya sama
dengan panjang satu bagian, yaitu dari perbatasan sebelah timur sampai
perbatasan sebelah barat, dan di tengah-tengahnya ada tempat kudus.
9 Bagian persembahan khusus yang harus kamu khususkan bagi TUHAN,
panjangnya dua puluh lima ribu hasta dan lebarnya dua puluh ribu hasta.
10 Dan bagi orang-orang inilah persembahan khusus yang kudus itu: Bagian
imam-imam ialah panjangnya di utara dan selatan dua puluh lima ribu
hasta, dan lebarnya di timur dan di barat sepuluh ribu hasta. Dan di tengah-
tengahnyalah terletak tempat kudus TUHAN. 11 Inilah bagian imam-imam,
yang sudah dikuduskan, yaitu bani Zadok, yang memelihara kewajibannya
terhadap Aku dan yang tidak turut sesat dalam kesesatan orang Israel,
seperti orang-orang Lewi. 12 Ini yaitu bagian khusus bagi mereka dari tanah
yang sudah dikhususkan, suatu hal yang maha kudus, berbatasan dengan
bagian orang-orang Lewi. 13 Bagian orang-orang Lewi ialah sejajar dengan
wilayah imam-imam, panjangnya dua puluh lima ribu hasta dan lebarnya
sepuluh ribu hasta. Jadi seluruhnya ialah: panjang dua puluh lima ribu
hasta dan lebar dua puluh ribu hasta. 14 Mereka tidak boleh menjual sedikit
pun dari situ atau menukarnya, dan mereka tidak boleh mewariskan yang
terbaik dari negeri itu kepada orang lain, sebab itu kudus bagi TUHAN.
15 Yang tertinggal dari lebarnya, yaitu lima ribu hasta lagi, yang berbatasan
dengan yang dua puluh lima ribu hasta itu yaitu tidak kudus, namun itu
untuk keperluan kota sebagai tempat tinggal dan tanah perladangan. 16 Dan
ukurannya yaitu begini: sebelah utara dan selatan: empat ribu lima ratus
hasta, sebelah timur dan barat: juga empat ribu lima ratus hasta. 17 Seke-
liling kota itu ada tanah lapang, di sebelah utara dan selatan dua ratus lima
puluh hasta, serta di sebelah timur dan barat dua ratus lima puluh hasta
juga. 18 Yang tertinggal dari panjangnya, yang sejajar dengan persembahan
khusus yang kudus itu, yaitu sepuluh ribu hasta di sebelah timur dan
sepuluh ribu hasta di sebelah barat dan hasilnya ialah menjadi makanan
untuk pekerja-pekerja di kota itu. 19 Pekerja-pekerja ini, yang datang dari
semua suku Israel, akan mengerjakannya. 20 Seluruh persembahan khusus
itu yaitu dua puluh lima ribu hasta kali dua puluh lima ribu hasta. Dalam
bentuk empat persegi kamu harus mengkhususkan persembahan khusus
yang kudus itu bersama milik kota itu. 21 Selebihnya yaitu milik raja, yaitu
di sebelah timur dan barat dari persembahan khusus yang kudus dan milik
kota itu, dan berbatasan dengan yang dua puluh lima ribu hasta itu, ke
timur sampai di perbatasan timur dan ke barat sampai di perbatasan barat
dan sejajar dengan bagian suku-suku lain, yaitu untuk raja. Di tengah-
tengah bagian itu yaitu persembahan khusus yang kudus dan Bait Suci.
22 Terkecuali milik orang-orang Lewi dan milik kota itu – yang terletak di
tengah-tengah kepunyaan raja itu – maka yang diapit oleh wilayah Yehuda
dan Benyamin yaitu bagi raja. 23 Mengenai suku-suku yang lain: dari per-
batasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ada bagian
Benyamin. 24 Berbatasan dengan wilayah Benyamin, dari perbatasan sebelah
timur sampai perbatasan sebelah barat, ada bagian Simeon. 25 Berbatas-
an dengan wilayah Simeon, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan
sebelah barat, ada bagian Isakhar. 26 Berbatasan dengan wilayah
Isakhar, dari perbatasan sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ter-
dapat bagian Zebulon. 27 Berbatasan dengan wilayah Zebulon, dari perbatas-
an sebelah timur sampai perbatasan sebelah barat, ada bagian Gad.
28 Perbatasan wilayah Gad di sebelah selatan ialah dari Tamar sampai mata
air Meriba dekat Kadesh, terus ke sungai Mesir, terus ke laut besar. 29 Inilah
negeri yang harus kamu bagi-bagi menjadi milik pusakamu di antara suku-
suku Israel, dan itulah bagian-bagian mereka, demikianlah firman Tuhan
Kitab Yehezkiel 48:1-30
ALLAH.” 30 “Inilah pintu-pintu keluar kota itu: di sisi sebelah utara, yang
ukurannya yaitu empat ribu lima ratus hasta.
Kita mendapati di sini cara yang sangat singkat dan siap untuk
dipakai dalam membagi-bagi tanah di antara kedua belas suku Israel.
Cara ini tidak begitu membosankan dan berbelit-belit seperti cara
yang dipakai pada masa Yosua. Sebab dalam pembagian berkat-
berkat rohani dan sorgawi tidak ada bahaya orang akan bersungut-
sungut dan berseteru, seperti yang terjadi dalam pembagian berkat-
berkat duniawi. saat Allah memberi kepada tiap-tiap pekerja
upah mereka, orang-orang yang berkeberatan terhadapnya langsung
dibungkam dengan perkataan, tidakkah Aku bebas mempergunakan
milik-Ku menurut kehendak hati-Ku? Dan seperti itulah pembagian
yang rata di sini di antara suku-suku itu. Dalam pembagian tanah ini
kita dapat mengamati,
1. Bahwa pembagian itu sangat berbeda dari pembagian tanah pada
masa Yosua, dan tidak mengikuti urutan kelahiran mereka, tidak
pula sesuai dengan urutan berkat yang diucapkan kepada mereka
oleh Yakub atau Musa. Simeon di sini tidak dibagi dalam Yakub,
tidak pula Zebulon menjadi pangkalan kapal. Ini sebuah pertanda
jelas bahwa pembagian itu tidak harus dipahami secara harfiah
dalam bentuk jasmani, melainkan terlebih secara rohani, meski-
pun rahasianya banyak tersembunyi dari kita. Di zaman Injil,
yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
Israel milik Allah dicetak dengan cara yang baru.
2. Bahwa suku Dan, yang mendapat urutan terakhir dalam pem-
bagian pertama di Kanaan (Yos. 19:40), mendapat urutan pertama
di sini (ay. 1). Demikianlah di dalam Injil yang terakhir akan men-
jadi yang terdahulu (Mat. 19:30). Allah, dalam masa penyeleng-
garaan anugerah-Nya, tidak mengikuti cara yang sama seperti
yang dipakai-Nya dalam tindakan-tindakan penyelenggaraan-Nya.
namun suku Dan sekarang mendapat bagiannya di sekitar wila-
yah-wilayah di mana sebelumnya ia hanya mendapat satu kota, di
sebelah utara, di perbatasan Damsyik, dan paling jauh dari tem-
pat kudus, sebab suku itu telah memberontak dengan menyem-
bah berhala.
3. Bahwa kesepuluh suku yang dibawa pergi oleh raja Asyur, dan
juga kedua suku yang lama sesudah itu dibawa ke Babel, men-
dapat bagian mereka di tanah yang tampak dalam penglihatan ini,
yang menurut sebagian orang digenapi dalam orang-orang dan
keluarga-keluarga tertentu dari suku-suku yang kembali bersama
Yehuda dan Benyamin itu. Banyak contohnya kita dapati dalam
diri Ezra dan Nehemia. Dan ada kemungkinan bahwa ada lebih
banyak orang lagi yang kembali sesudah itu dalam beberapa ke-
sempatan, yang tidak dicatat. Dan sebab Galilea, serta wilayah-
wilayah lain, yang sebelumnya dimiliki kesepuluh suku, diserah-
kan ke tangan orang-orang Yahudi, bersama-sama dengan kese-
puluh suku itu, maka mereka menikmati kembalinya banyak
orang itu. Grotius (negarawan Belanda abad ke-16 – pen.) berkata,
seandainya kesepuluh suku bertobat dan kembali kepada Allah,
seperti yang dilakukan kepala-kepala kaum keluarga orang
Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang
Lewi (Ezr. 1:5), maka mereka akan bernasib sama seperti kedua
suku itu. namun keuntungan dari nubuat yang mulia ini diambil
dari mereka sebab dosa mereka sendiri. Walaupun begitu, kita
percaya bahwa penggenapan yang dirancangkan dalam nubuat ini
terwujud saat jemaat Injil ditegakkan dan diperluas, dan saat
semua orang Israel yang sejati berdiam dengan bahagia, dalam
menikmati dengan pasti dan manis hak-hak istimewa dari
kovenan baru. Di dalamnya ada cukup untuk semua dan setiap
orang.
4. Bahwa setiap suku dalam pembagian yang tampak dalam peng-
lihatan ini mendapat bagian yang ditetapkan untuknya oleh
ketentuan ilahi. Sebab Injil tidak pernah bermaksud merobohkan
pagar harta milik dan menjadikan semuanya milik bersama. Atas
dasar kasihlah, dan bukan hak hukum, orang-orang Kristen
mula-mula menganggap segala kepunyaan mereka yaitu kepu-
nyaan bersama (Kis. 2:44). Banyak ajaran Injil mengandaikan
bahwa setiap orang harus mengetahui miliknya sendiri. Kita tidak
hanya harus mengakui, namun juga menyetujui, tangan Allah yang
menetapkan bagian kita, dan dengan senang hati menerimanya,
sebab percaya bahwa itulah yang paling pantas untuk kita. Ia
memilih bagi kita tanah pusaka kita (Mzm. 47:5).
5. Bahwa suku-suku itu hidup berdampingan. Perbatasan satu suku
yaitu bagian dari suku lain, semuanya dalam satu baris, dalam
urutan yang tepat, sehingga, seperti batu-batu yang tersusun da-
lam suatu dinding bangunan, mereka saling mengikat, menguat-
kan, dan mengapit satu sama lain. Sungguh, alangkah baiknya
dan indahnya, jika saudara-saudara diam bersama seperti itu
Kitab Yehezkiel 48:1-30
dengan rukun! Ini merupakan bayangan dari persekutuan jemaat-
jemaat dan orang-orang kudus di bawah pemerintahan Injil.
Dengan demikian, meskipun mereka banyak, mereka yaitu satu,
dan harus saling berpegangan tangan dalam kasih yang kudus
dan saling bantu.
6. Bahwa bagian Ruben, yang sebelumnya terletak jauh di luar Yor-
dan, sekarang terletak di sebelah Yehuda, dan satu bangunan di
sebelah tempat kudus. Sebab aib yang menimpanya, yang sebab
itu ia diberi tahu bahwa tidak lagi ia yang terutama, mulai memu-
dar pada saat itu. Apa yang sudah menjadi aib bagi seseorang
atau suatu kaum tidak boleh diingat-ingat untuk seterusnya,
namun dengan baik hati harus dilupakan pada akhirnya.
7. Bahwa tempat kudus itu ada di tengah-tengah mereka. Ada tujuh
suku di sebelah utaranya beserta orang-orang Lewi, bagian raja,
dan bagian kota, dan bagian lima suku lagi di sebelah selatannya.
Dengan begitu tempat kudus itu, seperti yang seharusnya, berada
di pusat kerajaan, supaya ia dapat menyebarkan pengaruh-
pengaruhnya yang baik ke seluruh penjuru, dan bisa menjadi
pusat persatuan mereka. Suku-suku yang terletak paling jauh dari
satu sama lain akan bertemu di sana untuk saling mengenal dan
bersekutu. Orang-orang yang berasal dari jemaat atau perseku-
tuan yang sama, kalau mereka tinggal di tempat-tempat yang ter-
sebar, tidak memiliki kesempatan untuk mengenal satu sama
lain selain di dalam jemaat. Walaupun begitu, dengan bertemu
pada waktu yang ditetapkan untuk menyembah Allah bersama-
sama, hati mereka akan saling terjalin dalam kasih yang kudus.
8. Bahwa di mana ada tempat kudus, di situ ada para imam: Bagi
orang-orang inilah persembahan khusus yang kudus itu, yaitu bagi
para imam (ay. 10). Sama seperti, di satu sisi, ini menandakan
kehormatan dan penghiburan bagi hamba-hamba Tuhan, bahwa
apa yang diberikan untuk menyokong dan memelihara mereka
dianggap sebagai persembahan khusus yang kudus bagi Tuhan,
demikian pula hal itu menyiratkan kewajiban mereka, yaitu bah-
wa, sebab mereka ditunjuk dan ditopang penghidupannya untuk
melayani tempat kudus, maka mereka harus terus-menerus
mengurus hal itu, harus tinggal di tempat pelayanan mereka.
Orang-orang yang hidup dari mezbah harus melayani di mezbah,
dan tidak mengambil upahnya untuk diri mereka sendiri dan
mengalihkan pekerjaan kepada orang lain. Bagaimana mereka
dapat melayani mezbah, mezbah-Nya yang dari situ mereka
hidup, jika mereka tidak tinggal di dekatnya?
9. Imam-imam yang telah membuktikan diri mereka setia kepada
Allah pada masa-masa pencobaan, mereka itu akan mendapatkan
bagian imam dari tanah-tanah ini (ay. 11): Inilah bagian bani
Zadok, yang, tampaknya, telah membuat diri mereka menonjol
saat keadaan sedang gawat, dan tidak turut sesat saat orang
Israel, dan orang-orang Lewi lainnya, sesat. Allah akan memberi-
kan kehormatan kepada orang-orang yang tetap menjaga keutuh-
an hati mereka pada masa-masa terjadi kemurtadan di mana-
mana, dan Ia menyediakan perkenanan-perkenanan yang isti-
mewa untuk mereka. Orang-orang yang berenang melawan arus,
mereka itu sedang berenang ke arah hulu, dan demikianlah yang
akan mereka dapati pada akhirnya.
10. Tanah yang diperuntukkan bagi hamba-hamba Tuhan di tempat
kudus sama sekali tidak boleh dipindahkan. Tanah itu secara
alami menghasilkan yang terbaik dari negeri itu, dan sebab itu
kudus bagi TUHAN. Dan, meskipun imam-imam maupun orang-
orang Lewi berhak memakainya dan juga mewariskannya kepada
kaum mereka dan ahli waris mereka, namun mereka tidak boleh
menjualnya atau menukarnya (ay. 14). Suatu penistaan jika kita
memakai untuk keperluan-keperluan lain apa yang diabdikan
kepada Allah.
11. Tanah yang diperuntukkan bagi kota dan tanah perladangan di-
sebut tidak kudus (ay. 15), atau umum. Bukan berarti bahwa kota
itu bukan kota yang kudus di atas kota-kota lain, sebab Tuhan
hadir di situ, namun , dibandingkan dengan tempat kudus, itu
yaitu tempat yang tidak kudus. Namun sering kali benar dalam
arti yang terburuk bahwa kota-kota besar, bahkan kota-kota
yang, seperti kota ini, memiliki tempat kudus di dekatnya, yaitu
tempat-tempat yang tidak kudus, dan itu harus sangat disesal-
kan. Suatu keluhan yang terdengar dari zaman dulu, dari Yeru-
salem telah meluas kefasikan ke seluruh negeri (Yer. 23:15).
12. Kota itu dibuat tepat dalam bentuk persegi, dan tanah-tanah per-
ladangannya meluas secara sepadan ke semua sisi, seperti kota-
kota orang Lewi dalam pembagian pertama tanah itu (ay. 16-17).
sebab hal ini tidak pernah digenapi secara harfiah dalam bentuk
jasmani di kota mana pun, maka tersirat bahwa haruslah dipa-
hami secara rohani pembicaraan tentang keindahan dan keman-
Kitab Yehezkiel 48:1-30
tapan jemaat Injil, kota Allah yang hidup itu, yang dibentuk sesuai
kebijaksanaan dan keputusan hikmat Allah, dan dibuat teguh dan
tak tergoyahkan oleh janji-Nya.
13. Kalau sebelumnya para penduduk Yerusalem terutama berasal
dari Yehuda dan Benyamin, yang di dalam kedua suku itu ia
terletak, sekarang kota utamanya tidak terletak di bagian suku-
suku mana pun. namun pekerja-pekerja yang melayani kota, dan
bertugas di sana, akan mengerjakannya dari semua suku Israel
(ay. 19). Orang-orang yang paling terkemuka harus dipilih dari
semua suku Israel untuk melayani kota itu, sebab banyak mata
tertuju kepadanya, dan banyak orang datang ke sana dari segala
penjuru negeri dan dari negeri-negeri lain. Orang-orang yang
tinggal di kota dikatakan harus melayani kota itu, sebab, di mana
pun kita berada, kita harus berusaha untuk menjadi berguna bagi
tempat itu, dengan satu atau lain cara, sesuai kemampuan kita.
Mereka tidak boleh keluar dari suku-suku Israel dan datang ke
kota untuk hidup nyaman, dan bersenang-senang, namun untuk
melayani kota, untuk melakukan segala kebaikan yang bisa
mereka lakukan di sana, dan dengan berbuat demikian mereka
akan memberi pengaruh yang baik kepada negeri juga.
14. Diberikan perhatian bahwa orang-orang yang bekerja mengurusi
urusan umum di kota, dan juga di tempat kudus, akan mendapat
tunjangan hidup yang nyaman dan penuh hormat. Tanah-tanah
ditetapkan, dan hasilnya ialah menjadi makanan untuk pekerja-
pekerja di kota itu (ay. 18). Siapa yang mau pergi berperang
dengan biaya sendiri? Hakim-hakim, yang melayani pemerintah,
dan juga hamba-hamba Tuhan, yang melayani jemaat, semuanya
harus diberi dorongan dan dukungan yang semestinya dalam
melakukan tugas mereka. Dan itulah juga sebabnya maka kita
membayar pajak.
15. Sang raja mendapat bagian untuk dirinya sendiri, yang sesuai
dengan martabat dan kedudukannya yang tinggi (ay. 21). Kita
mendapati penjelasan tentang itu sebelumnya (ps. 45). Ia duduk
di dekat tempat kudus, di mana ada kesaksian Israel, dan di
dekat kota, di mana ada kursi-kursi pengadilan, supaya ia bisa
menjadi perlindungan bagi tempat kudus dan kota, dan bisa
memastikan bahwa kewajiban dari keduanya dikerjakan dengan
hati-hati dan setia. Dan dalam hal ini dia yaitu hamba Allah
untuk kebaikan seluruh masyarakat. Kristus yaitu Raja jemaat,
yang membelanya dari segala arah, dan menciptakan pertahanan.
Bahkan, Dia sendirilah yang menjadi pertahanan atas semua
kemuliaannya dan yang mengelilinginya dengan perkenanan-Nya.
16. Sama seperti Yehuda mendapat bagiannya di sebelah tempat
kudus di satu sisi, demikian pula Benyamin, dari semua suku,
mendapat bagiannya paling dekat dengan tempat kudus di sisi
lain. Kehormatan itu disediakan bagi orang-orang yang setia
kepada kaum keluarga Daud dan Bait Suci di Yerusalem, saat
kesepuluh suku yang lain menyimpang dari keluarga Daud dan
Bait Suci. Sudah cukup jika pengkhianatan dan kemurtadan kita,
pada waktu kita bertobat, mendapat pengampunan-Nya, namun
keteguhan dan kesetiaan akan diberi upah dan diutamakan.
Rancangan Kota
(48:31-35)
31 ada tiga pintu gerbang, yaitu pintu gerbang Ruben, pintu gerbang
Yehuda dan pintu gerbang Lewi – sebab pintu-pintu gerbang kota itu disebut
menurut nama suku-suku Israel –. 32 Di sisi sebelah timur, yang ukurannya
empat ribu lima ratus hasta, ada tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu
gerbang Yusuf, pintu gerbang Benyamin dan pintu gerbang Dan. 33 Di sisi
sebelah selatan, yang ukurannya empat ribu lima ratus hasta, ada tiga
pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Simeon, pintu gerbang Isakhar dan
pintu gerbang Zebulon. 34 Di sisi sebelah barat, yang ukurannya empat ribu
lima ratus hasta, ada tiga pintu gerbang juga, yaitu pintu gerbang Gad,
pintu gerbang Asyer dan pintu gerbang Naftali. 35 Jadi keliling kota itu yaitu
delapan belas ribu hasta. Sejak hari itu nama kota itu ialah: TUHAN HADIR
DI SITU.”
Kita mendapati di sini gambaran lebih jauh tentang kota yang akan
dibangun sebagai ibu kota dari tanah yang mulia ini, dan yang akan
menjadi wadah bagi orang-orang yang akan datang dari segala
penjuru untuk beribadah di tempat kudus yang ada di dekatnya. Di
mana pun kota itu tidak ada lagi disebut dengan nama Yerusalem,
tidak pula tanah, yang gambaran tentang pembagiannya begitu
terperinci, disebut sebagai tanah Kanaan di mana pun. Sebab nama-
nama lama telah dilupakan, untuk menyiratkan bahwa yang lama
sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Nah, menge-
nai kota ini, amatilah di sini,
1. Ukuran pintu-pintu keluarnya, dan lahan-lahan yang menjadi
miliknya, untuk sejumlah kemudahannya. Di setiap sisi, perleng-
kapan-perlengkapannya seluas 4.500 hasta (KJV: 4.500 ukuran),
Kitab Yehezkiel 48:31-35
jadi kelilingnya 18.000 hasta (ay. 35). namun apa ukuran-ukuran
ini tidaklah pasti. Tidak pernah dikatakan, dalam seluruh pasal
ini, apakah ukuran itu sama dengan sekian banyak tongkat peng-
ukur (seperti terjemahan kita menentukannya dengan menyisip-
kan kata itu [ay. 8], setiap tongkat pengukur panjangnya enam
hasta satu jengkal [40:5], dan mengapa sang pengukur muncul
dengan tongkat pengukur sepanjang itu di tangannya jika ia tidak
mengukur dengan tongkat itu, kecuali pada waktu dikatakan
dengan jelas bahwa ia mengukur dengan hasta?). Atau, seperti
menurut sebagian penafsir lain, tongkat pengukur itu sama
dengan sekian banyak hasta, sebab hasta-hasta itu disebutkan
(ps. 45:2 dan ps. 47:3). Namun itu membuat saya lebih cenderung
berpikir bahwa jika hasta-hasta tidak disebutkan, pasti yang
dimaksudkan yaitu sekian panjang tongkat pengukur. namun
orang-orang yang memahaminya sebagai sekian banyak hasta
tidak sepakat apakah yang dimaksudkan itu hasta biasa, yaitu
seribu lima ratus meter, ataukah hasta dalam ilmu ukur, yang,
supaya hasilnya lebih tepat, dianggap paling banyak dipakai
dalam mengukur tanah, yang menurut sebagian orang sama
dengan enam hasta, dan menurut sebagian yang lain sekitar tiga
setengah hasta. Dengan demikian 1.000 hasta sama dengan 1.000
langkah, yaitu seribu enam ratus meter. namun dibiarkannya kita
dalam ketidakpastian ini merupakan pertanda bahwa hal-hal ini
harus dipahami secara rohani, dan bahwa apa yang terutama
dimaksudkan yaitu ada perbandingan yang tepat dan adil yang
diamati oleh Hikmat Tak Terbatas dalam membentuk jemaat Injil,
yang meskipun sekarang kita tidak bisa memahaminya, namun
kita akan memahaminya kelak saat sampai di sorga.
2. Jumlah pintu-pintu gerbangnya. Kota itu memiliki dua belas
pintu gerbang secara keseluruhan, tiga pintu di setiap sisi, yang
sangat selaras sebab bentuk kota itu empat persegi. Dan dalam
kedua belas pintu gerbang ini tertulis nama kedua belas suku.
sebab kota itu harus dikerjakan oleh semua suku Israel (ay. 19),
maka pantas jika setiap suku memiliki pintu gerbangnya
sendiri. Dan, sebab suku Lewi dimasukkan di sini, maka supaya
jumlahnya tetap dua belas, Efraim dan Manasye dijadikan satu
dalam Yusuf (ay. 32). Di sisi utara ada pintu gerbang Ruben,
pintu gerbang Yehuda, dan pintu gerbang Lewi (ay. 31), di sebelah
timur ada pintu gerbang Yusuf, pintu gerbang Benyamin, dan
pintu gerbang Dan (ay. 32), di sebelah selatan ada pintu gerbang
Simeon, pintu gerbang Isakhar, dan pintu gerbang Zebulon (ay.
33), dan di sebelah barat ada pintu gerbang Gad, pintu gerbang
Asyer, dan pintu gerbang Naftali (ay. 34). Selaras dengan ini,
dalam penglihatan Rasul Yohanes, Yerusalem baru (sebab
demikianlah kota yang kudus disebut di sana, meskipun tidak di
sini) memiliki dua belas pintu gerbang, tiga pintu di setiap sisi,
dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel (Why. 21:12-
13). Perhatikanlah, ke dalam jemaat Kristus, baik yang sedang
berjuang maupun yang sudah menang, semua orang dari setiap
suku, dari segala penjuru, bisa masuk secara cuma-cuma dengan
iman. Kristus telah membuka kerajaan sorga bagi semua orang
percaya. Siapa saja yang mau, boleh datang dan mengambil air
kehidupan, dari pohon kehidupan, dengan cuma-cuma.
3. Nama yang diberikan kepada kota ini: Sejak hari itu, saat ia
didirikan secara baru menurut pola ini, namanya menjadi, tidak
seperti sebelumnya, Yerusalem – Penglihatan akan damai sejah-
tera, melainkan yang merupakan asal dari kata itu, dan lebih
daripada padanannya, Yehovah Shammah – Tuhan hadir di situ
(ay. 35). Ini menyiratkan,
(1) Bahwa orang-orang buangan, sesudah kembali, akan diberi
tanda-tanda nyata akan hadirat Allah bersama mereka dan
berdiamnya Dia di antara mereka, baik dalam ketetapan-kete-
tapan-Nya maupun dalam penyelenggaraan-penyelenggaraan-
Nya. Mereka tidak akan memiliki alasan untuk bertanya,
seperti yang ditanyakan nenek moyang mereka, adakah
TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak? Sebab mereka akan
melihat dan berkata bahwa Ia sungguh-sungguh ada bersama
mereka. Dan pada saat itu, meskipun kesusahan-kesusahan
mereka banyak dan mengancam, mereka menjadi seperti
semak duri yang menyala namun tidak dimakan api, sebab
Tuhan hadir di situ. namun saat Allah pergi meninggalkan
Bait Suci mereka, saat Ia berkata, Migremus hinc – Marilah
kita pergi dari sini, rumah mereka segera ditinggalkan dan
menjadi sunyi. sebab sudah tidak lagi menjadi milik-Nya,
rumah itu juga tidak lagi menjadi milik mereka.
(2) Bahwa jemaat Injil juga akan dipenuhi dengan hadirat Allah di
dalamnya, meskipun tidak di dalam Shekhinah, seperti pada
zaman dulu, namun itu pertanda akan hadirat yang sama
Kitab Yehezkiel 48:31-35
pastinya, yaitu hadirat Roh-Nya. jika Injil diberitakan de-
ngan setia, ketetapan-ketetapan Injil dijalankan sebagaimana
mestinya, dan Allah disembah hanya dalam nama Yesus Kris-
tus, maka dapat benar-benar dikatakan, Tuhan hadir di situ.
Sebab Dia yang sudah berkata yaitu setia, dan Dia akan
menepati kata-kata-Nya, Ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman. Tuhan hadir di situ di
dalam jemaat-Nya, untuk memerintah dan mengaturnya, un-
tuk melindungi dan membelanya, dan dengan penuh rahmat
menerima dan mengakui para penyembah-Nya yang tulus, dan
dekat kepada mereka setiap kali mereka memanggil kepada-
Nya. Ini harus menggugah kita untuk tetap dekat dengan
persekutuan orang-orang kudus, sebab Tuhan hadir di situ.
Jadi, ke mana lagi kita akan pergi untuk membuat diri kita
lebih baik? Bahkan, perkataan itu benar untuk setiap orang
Kristen yang baik. Ia berdiam di dalam Allah, dan Allah ber-
diam di dalam dia. saat di dalam jiwa ada pegangan anuge-
rah ilahi yang hidup, maka dapat benar-benar dikatakan
bahwa, Tuhan hadir di situ.
(3) Bahwa kemuliaan dan kebahagiaan sorga harus terutama
menyangkut hal ini, bahwa Tuhan hadir di situ. Gambaran
Rasul Yohanes tentang keadaan yang penuh berkat itu me-
mang jauh melampaui penjelasan ini dalam banyak hal. Ke-
adaan penuh berkat itu semuanya berupa emas, mutiara, dan
batu permata. Keadaan penuh berkat itu jauh lebih besar
daripada gambaran di sini, dan jauh lebih terang, sebab di
sana tidak memerlukan cahaya matahari. namun , kedua gam-
baran ini sepakat dalam menjadikan hadirat Allah sebagai hal
yang paling utama dari kebahagiaan sorga. Di sorga sana yang
menjadi kebahagiaan orang-orang kudus yang dimuliakan
yaitu bahwa Allah sendiri akan diam bersama-sama dengan
mereka (Why. 21:3), bahwa Ia yang duduk di atas takhta itu
akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka (Why. 7:15).
Dan dalam gambaran Yehezkiel di sini yang memahkotai
kebahagiaan kota kudus ini yaitu bahwa Tuhan hadir di situ.
Oleh sebab itu, marilah kita giat sekuat-kuatnya untuk me-
mastikan bahwa kita mendapat tempat di kota itu, supaya kita
bisa selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.