teladan sahabat nabi 6


 a bernama Zaid bin Al Haritsah. Maka 

dihadiahkanlah Zaid kepada suaminya. 

Selagi budak yang beruntung ini tinggal di bawah pengawasan 

Muhammad bin Abdullah, bernasib baik dengan persahabatannya yang 

mulia, dan menikmati keindahan akhlak Beliau. Hal sebaliknya terjadi pada 

ibunya yang shock sebab  kehilangan anaknya. Air matanya tidak pernah 

berhenti mengalir, ia tidak pernah berhenti bersedih dan ia tidak pernah 

merasa tenang. Dan hal yang lebih membuatnya berputus asa yaitu  ia 

 

 

  165

tidak tahu, apakah anaknya masih hidup sehingga ia masih dapat berharap, 

ataukah sudah mati yang dapat membuatnya putus harapan. 

Sedangkan ayahnya mencari Zaid di seluruh penjuru bumi. Bertanya 

kepada setiap kafilah tentang anaknya. Dan ia membuatkan sebuah syair 

kerinduan yang dapat menyayat hati yang berbunyi: 

Aku menangis sebab  Zaid dan aku tidak tahu apa yang ia kerjakan 

Apakah ia masih hidup hingga masih dapat diharapkan, ataukah ajal 

telah menjemputnya? 

Demi Allah, aku tak mengerti dan aku terus bertanya 

Apakah yang memberi makan kepadamu yaitu  hamparan luas 

ataukah pegunungan? 

Matahari senantiasa membuat aku selalu mengenangnya saat ia terbit 

Dan kenangan tentang dirinya kembali terulang saat ia tenggelam 

Aku akan memberitahukan unta untuk terus berjalan menyusuri bumi 

Dan aku tidak akan bosan untuk berputar mencarimu sebagaimana 

unta yang tidak bosan berjalan 

Hidupku, atau harapanku tercapai… 

Setiap orang bakal binasa, meski harapan telah menipunya 

Dalam suatu musim haji74, sebuah rombongan dari kaum Zaid berniat 

untuk datang ke Baitullah Al Haram. Saat mereka sedang berthawaf di 

seputar Ka’bah, mereka bertemu dengan Zaid. Mereka mengenalinya dan 

Zaid mengenali mereka. Mereka saling bertanya. Begitu mereka semua 

selesai mengerjakan manasiknya dan kembali ke kampung. Mereka 

bercerita kepada Haritsah apa yang mereka lihat dan apa yang mereka 

dengar. 

Maka Haritsah segera menyiapkan kendaraannya, dan ia membawa 

sejumlah uang untuk menebus anaknya yang menjadi buah hati dan 

penyejuk mata. Ia ditemani oleh seorang saudaranya yang bernama Ka’b. 

Keduanya berangkat segera menuju Mekkah. Begitu sampai di sana, 

keduanya menghadap Muhammad bin Abdullah dan berkata: 

“Wahai Ibnu Abdul Muthalib. Kalian yaitu  tetangga Allah yang suka 

membebaskan orang yang menderita, memberi makan orang yang 

kelaparan dan membantu orang yang kesulitan. Kami datang untuk 

membawa anak kami yang ada padamu, dan kami membawa sejumlah 

uang sebagai tebusannya. Berbaik budilah kepada kami, dan serahkan ia 

kepada kami jika engkau izinkan.” 

Muhammad lalu berkata: “Siapakah anak yang kalian maksudkan itu?” 

Mereka menjawab: “Budakmu yang bernama Zaid bin Haritsah.” 

                                                     

74

 Ini terjadi pada masa Jahiliyah 

 166

Muhammad lalu berkata: “Apakah kalian memiliki hal yang lebih baik 

dari uang tebusan?” Keduanya bertanya: “Apa itu?”  

Muhammad menjawab: “Aku akan memanggilnya untuk berjumpa 

kalian. Suruhlah dia memilih untuk mengikutiku atau mengikuti kalian. 

Jika ia memilih untuk ikut dengan kalian, maka bawalah ia tanpa perlu 

membayar apa-apa. Jika ia memilih untuk mengikutiku, Demi Allah, aku 

tidak mempengaruhi dia saat memilih.” 

Keduanya berkata: “Engkau berlaku adil dengan demikian.” 

Muhammad lalu memanggil Zaid dan bertanya kepadanya: “Siapa 

kedua orang ini?” Zaid menjawab: “Ini yaitu  ayahku Haritsah bin 

Syurahil dan ini yaitu  pamanku, Ka’b.” 

Muhammad berkata: “Aku memintamu untuk memilih: Jika kau mau, 

kamu boleh pergi bersama mereka. Jika kamu mau, kau juga boleh tinggal 

bersamaku.” 

Zaid menjawab –tanpa ragu dan lambat-: “Aku akan tinggal 

bersamamu.” 

Maka ayahnya berkata: “Celaka kamu Zaid, apakah engkau memilih 

untuk menjadi seorang budak ketimbang hidup bersama ayah dan 

ibumu?!” 

Zaid menjawab: “Aku mendapatkan sesuatu dari orang ini, dan aku 

tidak akan pernah meninggalkannya!” 

Begitu Muhammad melihat apa yang dilakukan Zaid, kemudian 

Muhammad menggandeng tangan Zaid dan membawanya ke Baitullah Al 

Haram. Keduanya berhenti di Hijir Ismail di tengah kumpulan bangsa 

Quraisy. Muhammad berkata: “Wahai bangsa Quraisy, saksikanlah bahwa 

ini yaitu  anakku. Ia berhak mewarisiku dan aku berhak mewarisinya.”  

Maka menjadi tenanglah jiwa ayah dan pamannya. Mereka berdua 

membiarkan Zaid tinggal bersama Muhammad. Mereka lalu kembali ke 

kampungnya dengan hati yang tenang dan damai. 

Sejak saat itu, Zaid bin Haritsah mulai dipanggil dengan Zaid bin 

Muhammad. Ia terus menggunakan nama itu hingga Muhammad diutus 

sebagai Rasulullah. Islam melarang adopsi (mengangkat anak) saat turun 

firman Allah Swt:  

öΝèδθã ÷Š$# öΝÎγ Í←!$ t/Kψ    

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama 

bapak-bapak mereka.” (QS. al-Ahzab [33] : 5)  

Maka sejak itu, ia dipanggil dengan nama Zaid bin Haritsah. 

Zaid tidak mengetahui manfaat apa yang akan ia dapatkan –saat ia 

memilih Muhammad daripada ibu dan bapaknya-. Ia juga tidak tahu 

  167

bahwa tuannya yang ia pilih mengalahkan keluarga dan kabilahnya akan 

menjadi pemimpin manusia dari awal hingga akhir, juga akan menjadi 

seorang utusan Allah kepada semua makhluk-Nya. 

Tidak pernah terbersit di hatinya bahwa kerajaan langit akan berdiri di 

muka bumi yang akan memenuhi timur hingga baratnya dengan kebaikan 

dan keadilan. Dan Muhammad akan menjadi batu pertama dalam 

pembangunan kerajaan yang besar ini. 

Hal ini tidak pernah terbersit di benak Zaid, ini merupakan anugerah 

yang Allah berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Allah yaitu  Dzat 

Yang Memiliki anugerah yang amat besar. 

Hal itu sebab  tidak selang lama dari peristiwa pemilihan tadi kecuali 

hanya beberapa tahun saja sehingga Allah mengutus Nabi-Nya yang 

bernama Muhammad untuk membawa agama petunjuk dan kebenaran. 

Maka Zaid bin Haritsah yaitu  manusia pertama yang beriman kepadanya 

dari kalangan pria. 

Apakah ada kemuliaan seperti ini yang dikejar oleh manusia yang 

berlomba untuk mendapatkannya?! 

Zaid bin Haritsah yaitu  orang yang dipercaya untuk menyimpan 

rahasia Rasulullah. Ia juga yaitu  orang yang ditunjuk sebagai panglima 

delegasi dan pasukan Rasul. Dia juga salah seorang pengganti Rasul Saw 

sebagai penguasa Madinah, bila Beliau meninggalkan kota ini . 

Sebagaimana Zaid telah mencintai Nabi Saw dan memilih Beliau 

ketimbang ibu dan bapaknya, maka Rasul Saw juga mencintainya dan 

mengajak Zaid untuk hidup bersama keluarga dan anak-anak Beliau. Rasul 

sering kali merindukan Zaid, bila ia tidak ada. Rasul Saw gembira dengan 

kedatangannya saat ia baru kembali. Rasul Saw menyambutnya dengan 

gembira dimana tidak seorang pun yang mendapatkan kemuliaan seperti 

ini. 

Inilah kisah Aisyah ra yang menggambarkan kepada kita bagaimana 

gembiranya Rasulullah Saw saat berjumpa dengan Zaid. Ia menceritakan: 

“Zaid bin Haritsah datang ke Madinah. Rasulullah Saw saat itu sedang 

berada di rumahku. Lalu Zaid mengetuk pintu, Rasul lalu berdiri 

menyambutnya sambil telanjang –Beliau tidak memakai apapun kecuali 

pakaian yang menutupi bagian antara pusat dan lututnya- Beliau berjalan 

ke arah pintu dengan menggaet bajunya. Rasul lalu memeluk dan 

menciuminya. Demi Allah, aku belum pernah melihat Rasulullah Saw 

bertelanjang sebelum dan sesudah itu.”75 

Kisah Rasul Saw mencintai Zaid telah diketahui oleh kaum muslimin. 

Sehingga mereka menyebutnya dengan Zaid Al Hubb (Zaid yang dicintai), 

dan mereka memberinya gelar dengan nama Hibbi Rasulillah yang berarti 

kesayangan Rasulullah; dan mereka memberikan nama kepada anaknya 

                                                     

75

 Lihat dalam Jami Al Ushul : 10/25 dan kisah ini juga telah ditakhrij oleh At Tirmidzi. 

 168

Usamah dengan Hibbi Rasulillah wa ibnu hibbihi yang berarti anak dari 

orang yang disayang Rasulullah. 

Pada tahun 8 H Allah berkehendak –Maha Suci hikmah-Nya – untuk 

memberikan ujian dengan memisahkan orang yang dicintai dari 

kekasihnya. 

Hal itu dimulai saat Rasulullah Saw mengirim Al Harits bin Umair Al 

Azdy untuk membawa surat kepada raja Bushra agar ia masuk ke dalam 

Islam. Begitu Al Harits tiba di Mu’tah di daerah timur Yordania, salah 

seorang pemimpin Al Ghasasinah yang bernama Syurahbil bin Amr 

memberikan tawaran kepada Al Harits sehingga Al Harits tertawan dan 

terbunuh. 

Hal itu membuat Nabi Saw terkejut, sebab  tidak ada utusannya yang 

lain sampai terbunuh. 

Maka Rasulullah Saw lalu mempersiapkan pasukan yang terdiri dari 

3000 prajurit untuk menyerang Mu’tah. Rasul Saw menunjuk untuk 

menjadi pemimpin pasukan ini yaitu  kekasihnya Zaid bin Haritsah. Rasul 

bersabda: “Jika Zaid tewas, maka kepemimpinan akan dipegang oleh Ja’far 

bin Abu Thalib. Jika Ja’far juga tewas, maka kepemimpinan dipegang oleh 

Abdullah bin Rawahah.Jika Abdullah bin Rawahah tewas, maka pasukan 

muslimin harus memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi 

pemimpin.” 

Pasukan ini bergerak hingga tiba di Ma’an sebelah timur Yordania. 

Heraclius raja Romawi berangkat dengan diiringi 100 ribu prajurit demi 

mempertahankan Al Ghasasinah, dan ada 100 ribu kaum musyrikin Arab 

yang bergabung dengannya. Pasukan yang besar ini berkemah tidak terlalu 

jauh dari tempat pasukan muslimin berada. 

Pasukan muslimin menginap di Ma’an selama dua hari untuk 

bermusyawarah langkah apa yang mereka harus ambil. 

Salah seorang dari mereka berkata: “Kita kirimkan surat kepada 

Rasulullah Saw untuk memberitahukan Beliau jumlah musuh kita dan kita 

tunggu perintah Beliau.” 

Ada yang mengatakan: “Demi Allah, wahai kaumku, kita tidak berjuang 

dengan jumlah, kekuatan dan banyaknya pasukan. namun  kita 

berjuang dengan bekal agama ini! Berangkatlah sesuai niat kalian saat 

berangkat! Allah telah menjamin kalian dengan keberuntungan 

mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: baik itu berupa kemenangan… 

atau mati sebagai syahid.” 

Kemudian bertemulah kedua pasukan di bumi Mu’tah. Pasukan 

muslimin membuat heran pasukan Romawi, dan membuat mereka 

terpesona dengan kehebatan 3000 prajurit muslimin yang mampu 

menghadapi pasukan mereka yang amat besar berjumlah 200 ribu prajurit. 

Zaid bin Haritsah mempertahankan panji Rasulullah Saw dengan begitu 

semangat dan tidak ada dalam sejarah yang dapat menandinginya, 

  169

sehingga tubuhnya tertembus 100 tombak. Ia tersungkur tewas dengan 

berlumuran darah. Lalu Ja’far bin Abu Thalib mengambil panji dari 

tangannya. Ia lalu mempertahankan panji tadi dengan begitu hebatnya, 

sehingga ia menyusul sahabatnya tadi. 

Lalu panji ini  diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Ia 

mempertahankan panji ini  dengan begitu sengitnya sehingga kisahnya 

berakhir seperti kedua sahabatnya. 

Maka pasukan muslimin menunjuk Khalid bin Walid sebagai panglima 

mereka –saat itu ia baru masuk Islam-. Khalid menarik mundur pasukan 

muslimin dan menyelamatkan mereka dari kekalahan yang telak. 

Rasulullah Saw menerima kabar tentang peristiwa Mu’tah dan 

tewasnya ketiga panglima. Rasul Saw menjadi sedih dan belum pernah 

Beliau sesedih itu. Rasul Saw lalu pergi ke keluarga mereka untuk 

memberikan bela sungkawa. 

Saat Beliau tiba di rumah Zaid bin Haritsah, putrinya yang masih kecil 

berlari ke arah Beliau mencari perlindungan sambil menangis. Maka 

Rasulullah Saw menangis sehingga terdengar suaranya. 

Sa’d bin Ubadah bertanya kepada Beliau: “Apakah ini ya Rasulullah?” 

Beliau Saw menjawab: “Ini yaitu  tangisan seorang kekasih atas 

kekasihnya.” 


Usamah bin Zaid 

“Sungguh Ayah Usamah Lebih Dicintai oleh Rasulullah daripada 

Ayahmu, dan Dia yaitu  Orang yang Lebih Dicintai Rasul 

daripadamu” (Ucapan Umar Al Faruq kepada Anaknya) 

 

Kita sekarang berada pada tahun ketujuh sebelum hijrah dan berada di 

Mekkah. Rasulullah Saw saat itu sedang menderita sebab  siksaan kaum 

Quraisy kepadanya dan kepada para sahabatnya. 

Derita dakwah yang Beliau emban dapat dituliskan dalam serial yang 

panjang serta sarat dengan kesedihan dan penderitaan. 

Saat Beliau dalam kondisi demikian, maka tersembulah rona 

kebahagiaan di kehidupan Beliau. Ada seorang yang membawa kabar 

gembira kepadanya bahwa Ummu Aiman telah melahirkan seorang anak. 

Maka merebaklah kebahagiaan lewat wajah Rasulullah Saw. 

Siapakah anak beruntung ini yang telah membuat bahagia Rasulullah 

Saw?! Dia yaitu  Usamah bin Zaid. 

Tidak seorang pun sahabat Rasulullah Saw yang merasa aneh dengan 

kebahagiaan Beliau atas lahirnya anak ini. Hal itu sebab  posisi kedua 

orang tuanya bagi Beliau. 

Ibu dari anak ini yaitu  Barakah al Hasanah yang dikenal dengan 

Ummu Aiman. Dia yaitu  budak Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah 

Saw. Ummu Aiman membesarkan Rasulullah dalam hidupnya. Ia 

memelihara Rasulullah Saw sesudah  ibunda Beliau wafat. Rasul Saw 

membuka matanya untuk melihat dunia, dan tidak kenal siapapun sebagai 

ibunya kecuali Ummu Aiman. 

Rasul Saw betapa amat mencintai Ummu Aiman. Beliau sering berkata: 

“Dia yaitu  ibuku sesudah  ibuku, dan anggota keluargaku yang tersisa.” 

Inilah ibu dari anak yang beruntung. Adapun ayahnya yaitu  orang 

yang paling disayang oleh Rasulullah Saw yaitu Zaid bin Haritsah, yang 

merupakan anak yang diadopsi oleh Rasulullah Saw. Dia juga sahabat Rasul 

yang banyak mengetahui rahasia Rasulullah Saw. Menjadi salah seorang 

anggota keluarga Rasul dan merupakan orang yang paling Beliau cinta 

sesudah  Islam. 

Kaum muslimin bergembira dengan lahirnya Usamah bin Zaid, seperti 

belum pernah ada bayi yang terlahir selainnya. Sebab, apa yang membuat 

Nabi bahagia, akan membuat mereka semua bahagia. Setiap hal yang 

membuat Nabi Saw senang, maka akan membuat senang juga hati mereka. 

 

 

  171

Maka kaum muslimin memberikan gelar kepada anak yang beruntung 

ini dengan panggilan Al Hibb wa Ibnul Hibb (Orang yang disayangi dan 

anak dari orang yang disayangi). 


Kaum muslimin tidak berlebihan saat mereka memberikan gelar kepada 

anak kecil yang bernama Usamah ini. Rasul Saw amat mencintai dia 

sehingga dunia merasa cemburu kepadanya. Usamah hampir seusia dengan 

cucu Rasul yang bernama Al Hasan bin Fathimah al Zahra. 

Al Hasan ini berkulit putih, cerah dan amat mirip dengan kakeknya, 

yaitu Rasulullah Saw. 

Sedangkan Usamah berkulit hitam, pesek hidungnya dan amat mirip 

dengan ibunya yang berasal dari Habasyah. 

Namun dengan demikian, Rasul Saw tidak pernah membedakan kepada 

mereka berdua dalam membagikan cintanya. Ia menggendong Usamah dan 

menaruhnya di salah satu pahanya, dan ia juga menggendong Al Hasan 

dan menaruhnya pada paha satunya lagi. Kemudian Rasul menganggkat 

mereka berdua ke arah dadanya dan berdo’a: “Ya Allah, aku mencintai 

mereka berdua maka cintailah mereka berdua oleh Mu!” 

Rasul Saw amat mencintai Usamah hingga suatu saat Usamah melewati 

gerbang pintu, lalu kepalanya terantuk. Maka mengalirlah darah dari 

lukanya. Maka Nabi Saw menyuruh Aisyah ra untuk menghilangkan darah 

dari lukanya, namun Aisyah tidak mampu melakukannya. 

Maka Rasul Saw langsung menghampiri Usamah dan Rasul menyedot 

memar di tubuhnya sehingga darah habis, dan Rasul Saw menghibur 

Usamah dengan ucapan-ucapan yang baik sehingga Usamah merasa 

tenang dan tidak kesakitan. 


Sebagaimana Rasulullah Saw mencintai Usamah saat ia masih kecil, 

Beliau pun mencintai Usamah saat ia sudah menjadi remaja. Hakim bin 

Hazam salah seorang pembesar Quraisy menghadiahkan Rasulullah Saw 

sebuah pekaian bagus yang ia beli dari Yaman seharga 50 dinar emas yang 

dulunya milik Dzu Yazan salah seorang raja Yaman. 

Rasul Saw menolak untuk menerima hadiah ini  sebab Hakim saat 

itu masih menjadi seorang musyrik. Namun Rasul Saw malah membelinya. 

Suatu saat Rasul Saw mengenakan pakaian itu satu kali pada hari 

Jum’at. Kemudian Beliau menanggalkannya untuk diberikan kepada 

Usamah bin Zaid. Maka Usamah mengenakan pakaian ini  sepanjang 

pagi dan petang untuk pergi bersama para sahabatnya para pemuda 

Muhajirin dan Anshar. 

 172


Saat Usamah menginjak usia dewasa. Maka baru terlhatlah sifat mulia 

dari dirinya yang membuat ia pantas menjadi orang kesayangan Rasulullah 

Saw. 

Dia yaitu  orang yang amat cerdas. Dia seorang pemberani yang luar 

biasa. Bijak, dapat menempatkan segala urusan pada tempatnya. Memiliki 

iffah yang menjauhkan segala hal yang nista. Pencinta, sehingga manusia 

mencintainya. Taqwa serta wara’ yang membuat Allah cinta kepadanya. 

Pada peristiwa Uhud, Usamah bin Zaid beserta anak-anak para sahabat 

yang lain ingin ikut serta dalam jihad fi sabilillah. Maka Rasulullah Saw 

memilih di antara mereka siapa yang dapat ikut serta, dan Rasul menolak 

keikut sertaan mereka sebab  belum cukup umur. Salah seorang yang 

dilarang ikut oleh Rasulullah Saw yaitu  Usamah bin Zaid. Maka ia 

kembali pulang dan dari matanya mengalir deras deraian air mata sebab  

merasa sedih tidak dapat ikut berjihad di bawah panji Rasulullah Saw. 


Pada perang Khandaq, Usamah bin Zaid juga datang bersama para 

pemuda dari kalangan sahabat. Ia mengganjal kakinya agar supaya terlihat 

tinggi, sehingga Rasul Saw memperbolehkannya ikut serta dalam jihad. 

Maka Rasul Saw memilihnya dan memperbolehkan ia untuk ikut serta. Ia 

pun lalu membawa pedangnya untuk berjihad di jalan Allah dan pada saat 

itu ia baru berusia 15 tahun. 


Pada peristiwa Hunainin saat kaum muslimin kalah. Usamah bin Zaid 

beserta Abbas paman Rasulullah Saw, Abu Sufyan bin Al Harits sepupu 

Rasul, dan 6 orang lainnya dari para pembesar sahabat berjuang dengan 

begitu semangat. Maka dengan kelompok yang kecil namun berani ini, 

Rasulullah Saw mampu merubah kekalahan para sahabatnya menjadi 

kemenangan, dan mampu melindungi kaum muslimin yang mundur dari 

serangan kaum musyrikin yang dapat mencelakakan mereka. 


Pada peristiwa Mu’tah, Usamah bin Zaid berjuang di bawah komando 

ayahnya Zaid bin Haritsah padahal umurnya baru 18 tahun. Ia melihat 

dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya tewas. Ia tidak lemas 

dibuatnya dan tidak gentar.  Ia melanjutkan jihadnya dibawah komando 

Ja’far bin Abu Thalib sehingga ia pun tewas. Kemudian ia masih terus 

berjuang di bawah komando Abdullah bin Rawahah sehingga ia pun 

menyusul kedua sahabatnya. Kemudian ia masih berjihad di bawah 

komando Khalid bin Walid, sehingga pasukan yang sedikit tersisa ini 

mampu lolos dari cengkeraman Romawi. 

  173


Usamah kembali ke Madinah dengan berharap ayahnya mendapatkan 

ganjaran terbaik di sisi Allah. Ia meninggalkan jasad ayahnya yang suci di 

bumi Syam. Usamah menunggangi kuda ayahnya yang ia pakai saat 

berperang. 


Pada tahun 11 H. Rasulullah Saw memerintahkan untuk 

mempersiapkan pasukan demi menghadapi pasukan Romawi. Dalam 

pasukan ini  terdapat Abu Bakar, Umar, Sa’d bin Abi Waqash, Abu 

Ubaidah bin Al Jarrah dan banyak lagi para sahabat yang terkenal lainnya. 

Rasul menunjuk sebagai panglima pasukan ini yaitu  Usamah bin Zaid, 

padahal pada saat itu usianya belum genap 20 tahun… Rasul Saw 

memerintahkan Usamah untuk membawa pasukan ke Al Balqa, Benteng Al 

Darum yang terletak dekat Gaza di negeri Romawi. 

Begitu pasukan mulai bersiap, Rasulullah Saw jatuh sakit. Begitu 

sakitnya semakin parah, pasukan ini menunda keberangkatannya, sehingga 

mereka mengetahui kondisi Rasulullah Saw. 

Usamah berkata: “Begitu penyakit semakin parah pada diri Rasulullah. 

Aku menghadapnya dan banyak orang yang ikut bersamaku. Aku 

menghadapnya dan aku dapati Beliau diam tak mampu bicara sebab  

sulitnya penyakit yang ia derita. Beliau mengangkat tangannya kelangit lalu 

menurunkannya lagi di tubuhku.Aku mengerti bahwa ia baru saja 

mendo’akanku.” 


Begitu Rasulullah Saw wafat, dan bai’at telah dilangsungkan terhadap 

Abu Bakar, maka Abu Bakar memerintahkan agar pasukan Usamah 

diberangkatkan. 

namun  ada sekelompok orang Anshar berpendapat agar 

pengiriman pasukan dituda saja, dan mereka meminta Umar untuk 

menyampaikan hal ini kepada Abu Bakar. Mereka berkata kepada Umar: 

“Jika Abu Bakar masih berkeras untuk mengirimkan pasukan, tolong 

beritahukan ia agar mau menunjuk orang yang lebih tua dari Usamah.” 

Begitu Abu Bakar mendengar permintaan kaum Anshar dari Umar, ia 

langsung melompat –tadinya ia duduk- dan menarik janggut Umar dan 

berkata dengan nada emosi: “Ibumu tak pernah berharap mendapatkan 

anak sepertimu, ya Ibnu Khattab… Rasul Saw telah menunjuknya menjadi 

pemimpin dan engkau malah menyuruhku untuk menggantinya? Demi 

Allah, hal itub tidak akan pernah terjadi.” 

Begitu Umar bertemu lagi dengan orang-orang tadi, mereka 

menanyakannya apa yang telah diputuskan Abu Bakar. Umar menjawab: 

 174

“Ibu kalian tidak pernah berharap punya anak seperti kalian. Aku telah 

menjadi korban dari perbuatan kalian dihadapan khalifah Rasulullah.” 


Saat pasukan di bawah komando seorang panglima muda, khalifah 

Rasulillah Saw mengiringinya sambil berjalan kaki, sedangkan Usamah 

menunggang kuda. Usamah berkata: “Ya Khalifah Rasulillah, demi Allah 

naiklah kuda atau aku turun!” 

Abu Bakar menjawab: “Demi Allah, janganlah kau turun. Demi Allah, 

aku tidak akan naik… aku hanya ingin membasuh telapak kakiku dengan 

debu di jalan Allah sesaat saja.” 

Kemudian Abu Bakar berkata kepada Usamah: “Aku menitipkan kepada 

Allah agama, amanah dan akhir amalmu. Aku berpesan kepadamu untuk 

menjalankan apa yang telah diperintahkan Rasul Saw kepadamu.” 

Kemudian Abu Bakar mendekatinya sambil berkata: “Jika kau 

mempersilahkan aku meminta Umar untuk tinggal membantuku disini.” 

Kemudian Usamah mempersilahkan Umar untuk tidak berangkat 

berperang. 


Usamah bin Zaid berangkat dengan pasukannya dan ia melaksanakan 

semua perintah Rasulullah Saw. Maka pasukan berkudanya ia tempatkan di 

Al Balqa dan benteng Al Darum di daerah Palestina. Ia menghilangkan 

kehebatan Romawi dari hati pasukan muslimin. Usamah membuka jalan 

bagi pasukan muslimin untuk menaklukan beberapa wilayah Syam, Mesir 

dan Afrika Utara semuanya hingga sampai ke Laut Hitam. 

Kemudian Usamah kembali dengan menunggangi pelana yang sama 

digunakan oleh ayahnya sewaktu terbunuh dulu, dengan membawa 

ghanimah yang melampaui perkiraan manusia. Sehingga ada yang 

mengatakan: “Tidak pernah ada pasukan yang lebih selamat dan membawa 

ghanimah lebih banyak dari pasukan Usamah bin Zaid.” 


Usamah bin Zaid –selagi ia hidup- menjadi orang yang dihormati dan 

dicintai oleh kaum muslimin. Itu disebabkan sebab  ia menepati janjinya 

kepada Rasulullah Saw dan senantiasa menghormati Beliau. 

Umar Al Faruq bahkan memberikan gaji kepada Usamah melebihi apa 

yang ia berikan kepada anaknya Abdullah bin Umar. Maka Abdullah 

berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, Engkau memberikan gaji kepada 

Usamah 4000 sedangkan engkau memberikan aku hanya 3000. Padahal 

ayahnya tidak lebih utama dari dirimu, dan ia juga tidak lebih mulia 

daripadaku.” 

  175

Umar Al Faruq berkata: “Engkau keliru… Ayahnya lebih dicintai oleh 

Rasul daripada ayahmu. Dan ia lebih dicintai Rasul dari dirimu!” 

Maka Abdullah bin Umar rela menerima pemberian gaji yang diberikan 

untuknya. Dan Umar bin Khattab setiap kali ia berjumpa dengan Usamah 

bin Zaid akan berkata: “Selamat datang, Amirku!” Jika ada orang yang 

merasa aneh dengan tingkah Umar ini, ia akan berkata kepada orang itu: 

“Rasul Saw telah menjadikan dia sebagai amirku!” 


Semoga Allah Swt merahmati jiwa yang besar ini. Sejarah tidak pernah 

mencatat profil yang lebih agung, sempurna dan mulia daripada para 

sahabat Rasulullah Saw. 


Said Bin Zaid 

“Ya Allah, Jika Engkau telah Menghalangiku Untuk Mendapatkan 

Kebaikan ini, Maka Janganlah Kau Halangi Anakku Said untuk 

Melakukannya.” (Zaid, Orang Tua Said) 

 

Zaid bin ‘Amr bin Nufail berdiri jauh dari kerumunan manusia yang 

menyaksikan bangsa Quraisy yang sedang meramaikan sebuah hari raya. 

Zaid melihat para lelaki yang menggunakan ikat kepala yang terbuat dari 

sutra mahal dan mengenakan selendang mahal dari Yaman. Ia juga 

memandangi para wanita dan anak-anak yang mengenakan pakaian yang 

bagus dan perhiasan yang indah. Ia juga menatap hewan-hewan yang 

dibawa oleh beberapa pria yang berjalan. Hewan ini  telah dihiasi 

dengan berbagai macam perhiasan, untuk kemudian disembelih dihadapan 

berhala. 

Ia berdiri dengan punggung bersandar ke Ka’bah dan berkata: “Wahai 

bangsa Quraisy, domba yaitu  makhluk Allah! Allah Swt Yang telah 

menurunkan hujan dari langit sehingga domba-domba ini  tidak 

kehausan. Ia juga yang menumbuhkan rerumputan untuk mereka sehingga 

mereka kenyang. Lalu kalian menyembelih mereka bukan atas nama-Nya. 

Menurutku kalian yaitu  kaum yang bodoh!” 

Lalu berdirilah pamannya yang bernama Al Khattab lalu memukulnya 

dan berkata: “Celaka kamu. Kami sudah mencoba bersabar dan menahan 

diri saat mendengarkan omong kosong ini, hingga kami hilang kesabaran. 

Kemudian Al Khattab mengajak para rekannya untuk menyiksa Zaid, dan 

mereka pun langsung menyiksa Zaid sehingga Zaid menyingkir dari kota 

Mekkah dan berlindung di gunung Hira. Al Khattab kemudian 

mempercayakan kepada para pemuda Quraisy untuk mencegah Zaid 

masuk ke kota Mekkah lagi, dan nyata Zaid tidak dapat masuk ke kota 

Mekkah kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi. 


Lalu Zaid bin ‘Amr bin Nufail berkumpul –saat suku Quraisy lengah 

darinya- bersama Waraqah bin Naufal76, Abdullah bin Jahsy, Utsman bin 

Al Harits, Umaimah binti Abdul Muthalib bibi Rasulullah Saw. Mereka 

                                                     

76

 Waraqah bin Naufal bin Asad yaitu  sepupu Ummul Mukminin Sayidah Khadijah binti 

Khuwailid ra. Yaitu istri pertama Rasulullah Saw. Rasul memberitahukan Naufal apa yang terjadi 

dengan dirinya dan pertemuannya dengan Jibril dan apa yang diwahyukan kepada beliau. Maka Naufal 

membenarkan beliu dan berjanji akan membantu Rasul jika ia mampu dan ia beragama Nashrani. 

 

 

  177

semua mendiskusikan kesesatan yang terjadi pada bangsa Arab. Zaid lalu 

berkata kepada para sahabatnya: 

“Demi Allah, kalian semua tahu bahwa kaum kalian sudah tidak 

bernilai apa-apa lagi. Mereka semua sudah melanggar agama Ibrahim. 

Carilah oleh kalian agama yang dapat dianut, jika kalian ingin selamat!” 

Maka keempat pria ini  bergegas mencari para pendeta Yahudi dan 

Nashrani dan para pemuka agama lainnya untuk mencari agama hanafiyah 

Ibrahim. 

Adapun Waraqah bin Naufal, ia memeluk agama Nashrani. Abdullah 

bin Jahsy dan Utsman bin Al Harits tidak menemukan agama yang tepat. 

Sedangkan Zaid bin Amr bin Naufal memiliki kisah tersendiri. Mari kita 

dengarkan kisah yang akan ia sampaikan sendiri… 


Zaid bin Amr berkata: “Aku mempelajari agama Yahudi dan Nashrai 

namun aku berpaling dari keduanya sebab  aku tidak mendapatkan hal 

yang membuat jiwaku tenang. Aku lalu mencari ke seluruh penjuru demi 

menemukan agama Ibrahim sehingga aku sampai di negeri Syam. Ada yang 

menunjukkan kepadaku tentang adanya seorang Rahib yang mempunyai 

ilmu tentang kitab. Aku pun mendatanginya, dan aku ceritakan kisahku 

kepadanya.Ia berkata: “Aku lihat engkau sedang mencari agama Ibrahim, 

wahai saudara yang berasal dari Mekkah?” Aku menjawab: “Benar. Itulah 

yang aku cari.” Ia berkata: “Engkau mencari sebuah agama yang belum ada 

sekarang. Namun, kembalilah ke negerimu sebab  Allah akan mengutus 

seseorang dari kaummu untuk memperbaharui agama Ibrahim. Jika 

engkau telah menemuinya, maka peganglah olehmu agamanya itu!” 

Maka kembalilah Zaid ke Mekkah dengan menyusuri jalan untuk 

mencari Nabi yang dijanjikan. 

Saat ia sedang berada di tengah jalan, Allah Swt mengutus Muhammad 

untuk menjadi Nabi-Nya dengan agama petunjuk dan kebenaran. Akan 

tetapi Zaid belum sempat bertemu dengannya, sebab  ada segerombolan 

orang Badu’I yang membunuhnya sebelum ia tiba di Mekkah dan sebelum 

matanya merasa puas berjumpa dengan Rasulullah Saw. 

Saat Zaid menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia mengangkat 

pandangannya ke arah langit sambil berdo’a: “Ya Allah, jika Engkau telah 

mencegahku untuk mendapatkan kebaikan ini. Maka janganlah engkau 

halangi kebaikan itu dari anakku, Said!” 


Allah berkenan untuk mengabulkan permintaan Zaid. Begitu Rasulullah 

Saw memulai dakwahnya kepada manusia untuk masuk Islam, Said bin 

Zaid termasuk orang yang pertama beriman kepada Allah dan 

membenarkan kenabiannya. 

 178

Ini tidak mengherankan, sebab  Said tumbuh dalam suasana rumah 

yang menolak kesesatan yang dikerjakan oleh bangsa Quraisy. Dan ia 

dididik oleh seorang ayah yang selalu mencari kebenaran…Ayahnya 

meninggal dan ia dalam kondisi sedang mencari kebenaran. Said masuk 

Islam tidak sendirian, namun  turut masuk Islam bersamanya yaitu  

istrinya Fathimah binti Al Khattab, saudari Umar bin Khattab. 

Maka pemuda Quraisy ini merasakan penyiksaan kaumnya yang tidak 

sepantasnya ia terima sebab  agama ini. namun  tujuan Quraisy untuk 

mengeluarkan ia dari Islam tidak berhasil, malah ia dan istrinya mampu 

menarik seorang tokoh mereka yang paling berbobot dan berbahaya… 

sebab  Said dan istrinya merupakan penyebab masuknya Umar bin Khattab 

ke dalam Islam. 


Said mendedikasikan semua energinya untuk membantu Islam. Itu 

dilakukannya sebab  umurnya belum genap 20 tahun saat ia masuk ke 

dalam Islam. Ia turut serta bersama Rasulullah dalam seluruh peperangan 

yang Beliau lakukan kecuali dalam perang Badr saja. Ia tidak mengikutinya 

sebab pada hari itu Rasulullah Saw memerintahkan sesuatu kepadanya. 

Ia turut serta bersama pasukan muslimin dalam pengambil alihan 

kekuasaan Kisra dan menggulingkan kerajaan Kaisar. Ia memiliki peran 

tersendiri dalam setiap perang yang dilakukan kaum muslimin. 

Salah satu kisah patriotismenya yang terbaik yaitu  kisahnya yang 

tercatat dalam peristiwa Yarmuk. Maka kita akan membiarkan ia untuk 

menceritakan sebagian kisah peristiwa ini … 


Said bin Zaid berkata: Pada saat perang Yarmuk kami berjumlah kira-

kira 24 ribu orang. Pasukan Romawi saat itu berjumlah 120 ribu. Mereka 

melangkah dengan kaki yang kokoh ke arah kami seolah gunung yang 

digerakkan oleh tangan tersembunyi. Di bagian depan mereka ada para 

uskup, pastor dan pendeta yang membawa salib dan membacakan do’a 

dengan suara keras. Ucapan mereka diikuti oleh para tentaranya yang 

berada di belakang dengan suara keras bagaikan petir. 

Begitu pasukan muslimin melihat musuh yang sedemikian, maka 

jumlah mereka membuat pasukan muslimin menjadi gentar, dan di hati 

mereka ada rasa takut yang menyelimut. 

Pada saat itu, berdirilah Abu Ubaidah bin Al Jarrah yang memberikan 

semangat kepada pasukan muslimin untuk berperang. Ia berseru: “Wahai 

para hamba Allah. Tolonglah agama Allah, maka Ia akan menolong kalian 

dan akan mebuat kalian teguh! 

Wahai para hamba Allah, bersabarlah! Sebab sabar yaitu  penyelamat 

dari kekufuran dan dapat mendatangkan keridhaan Tuhan. Ia juga dapat 

  179

menolak kehinaan. Arahkanlah tombak kalian. Berlindunglah dengan 

tameng. Janganlah berbicara kecuali berdzikir kepada Allah dalam hati 

kalian, sehingga aku perintahkan kepada kalian, Insya Allah!” 

Said berkata: Pada saat itu ada seorang pria yang keluar dari barisan 

pasukan muslimin dan berkata kepada Abu Ubaidah: “Aku bertekad untuk 

mati pada saat ini. Maukah engkau membawa surat ini kepada Rasulullah 

Saw?!” 

Abu Ubaidah menjawab: “Ya.” Orang itu menyambung: “Sampaikan 

salam ku dan salam pasukan muslimin kepada Beliau dan katakan 

kepadanya: ‘Ya Rasulullah, Kami telah menemukan apa yang dijanjikan 

Tuhan kami yaitu  benar!” 

Said meneruskan ceritanya: Begitu aku mendengar ucapannya, dan aku 

melihat ia menghunuskan pedang dan pergi untuk menghadapi para 

musuh Allah. Maka akupun turun ke medan juang. Aku tersungkur di atas 

lutut. Aku angkat tombakku dan aku tusuk penunggang kuda pertama yang 

datang ke arah kami. Kemudian aku melompat ke arah musuh, dan Allah 

telah mencabut semua rasa takutku. Pasukan muslim begitu gagah berani 

dihadapan pasukan Romawi. Mereka terus berperang sehingga Allah 

memberikan kemenangan bagi kaum muslimin. 


Said turut serta dalam penaklukan kota Damaskus. Begitu penduduk 

kota ini  tunduk dan taat, Abu Ubaidah bin Al Jarrah menjadikan Said 

sebagai wali di sana. Dan Said yaitu  orang pertama dari kaum muslimin 

yang menjadi wali di Damaskus. 


Pada zaman Bani Umayyah, Said bin Zaid mendapat sebuah kejadian 

yang lama menjadi pembicaraan penduduk Yatsrib. 

Hal ini  bermula bahwa Arwa binti Uwais mengira bahwa Said bin 

Zaid telah merampas sebagian tanahnya dan kemudian diakui sebagai 

tanah Said. Arwa selalu menceritakan hal ini dikalangan kaum muslimin 

sehingga akhirnya hal ini sampai ke Marwan bin Al Hakam dan sampai ke 

Madinah. Oleh sebab nya, Marwan mengirimkan beberapa orang utusan 

untuk berbicara dengan Said tentang permasalahan ini. Hal ini  

membuat sulit sahabat Rasul Saw ini. Ia berkata: “Orang-orang mengira 

bahwa aku menzaliminya!! Bagaimana aku bisa menzaliminya?! Padahal 

aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: ‘Barang siapa yang 

merampas sejengkal tanah, maka Allah akan membebaninya dengan beban 

yang seberat 7 kali bumi.’ Ya Allah, dia telah mengira bahwa aku telah 

menzaliminya. Jika ia ternyata bohong, maka butakanlah matanya dan 

masukkanlah ia ke dalam sumur tanahnya dimana ia menggugatku. 

Tampakkanlah kebenaranku dengan sebuah cahaya yang dapat 

menjelaskan kepada kaum muslimin bahwa aku tidak menzaliminya.” 

 180


Tidak lama berselang, Al Aqiq77 mengalirkan air yang belum pernah 

sebegitu besar, sehingga menyingkapkan batas yang menjadi sengketa 

mereka berdua. Dan kaum muslimin tahu bahwa Said benar dan tidak 

salah. 

Hanya berselang satu bulan saja, wanita ini  menjadi buta. saat  

ia sedang berjalan mengelilingi tanahnya itu, ia terjerumus masuk ke dalam 

sumur. 

Abdullah bin Umar berkata: “Sejak saat itu kami –dan saat  itu kami 

masih anak-anak – sering mendengarkan orang yang berkata kepada orang 

lain: “Semoga Allah membutakanmu sebagaimana ia membutakan Arwa.” 

Hal itu tidak mengherankan, sebab Rasulullah Saw pernah bersabda: 

“Takutlah kepada do’a orang yang dizalimi, sebab tiada penghalang antara 

dirinya dengan Allah.” 

Apalagi bila yang dizalimi yaitu  Said bin Zaid, salah seorang dari 10 

nama yang dijamin surga?! 


 Sebuah lembah di Madinah 

 

Umair bin Sa’d 

“Umair bin Sa’d Menangisi Dirinya.” (Umar bin Khattab) 

Dalam Masa Belianya 

Bocah bernama Umair bin Sa’d Al Anshary telah merasakan hidup 

sebagai yatim dan orang miskin sejak kecilnya. Ayahnya telah kembali ke 

pangkuan Tuhan tanpa meninggalkan harta atau orang yang akan 

membiayainya. 

Namun ibunya berhasil untuk menikah lagi dengan seorang hartawan 

dari suku Aus78 yang dikenal dengan Al Julas bin Suwaid. Pria ini kemudian 

menanggung biaya hidup Umair dan menjadikan ia sebagai anggota 

keluarga. 

Umair merasakan kebaikan, asuhan dan perasaan lembut yang dimiliki 

Al Julas sehingga membuatnya terlupa bahwa dia yaitu  seorang yatim. 

Umair mencintai Al Julas seperti ayahnya sendiri. Sebagaimana Al Julas 

mencintai Umair seperti layaknya seorang anaknya. 

Semakin Umair bertambah dewasa, maka Al Julas semakin cinta 

kepadanya. Sebab Al Julas mendapati bahwa Umair memiliki tanda-tanda 

kecerdasan dan kemulyaan yang terlihat dari setiap amalnya. Ia juga 

memiliki sifat amanah, jujur yang terlihat dari prilakunya. 


Pemuda yang bernama Umair memeluk Islam pada saat ia masih belia 

belum genap 10 tahun. Iman merasuk ke dalam sebuah ruang di hatinya 

dan tidak berlari dari tempatnya. Ia juga mendapati Islam dalam jiwanya 

yang masih suci dan bersih. Meski masih dalam usia belia, namun ia tidak 

pernah absen dari shalat berjamaah di belakang Rasulullah Saw. Ibunya 

merasa bahagia setiap kali melihatnya pergi ke Masjid atau kembali 

darinya. Terkadang bersama suaminya, terkadang ia berangkat sendiri saja. 


Beginilah kehidupan pemuda Umair berlangsung; tenang tanpa ada 

halangan dan tidak ada kekeruhan. Sehingga kehendak Allah menentukan 

bahwa bocah yang hampir baligh ini akan mendapatkan cobaan yang 

                                                     

78

 Aus yaitu  sebuah kabilah besar dari Azd yang mendiami Madinah. Kabilah ini telah berjanji 

kepada Rasulullah Saw untuk melindungi beliau. 

 

 

 182

paling berat, dan memberikannya ujian yang jarang diterima oleh seorang 

pemuda dalam usianya. 

Pada tahun 9 H, Rasulullah Saw mengumumkan niatnya untuk 

menyerang Romawi di Tabuk79. Beliau memerintahkan kaum muslimin 

untuk bersiap-siap. 

Kebiasaan Rasulullah Saw yaitu  jika Beliau hendak melakukan perang, 

Beliau tidak akan menceritakannya. Manusia menduga bahwa Rasulullah 

Saw akan menuju suatu arah yang sebenarnya bukan itu yang dimaksud. 

Kecuali dalam perang Tabuk. Dalam perang ini, Rasul menceritakan 

niatnya kepada seluruh manusia sebab  jauhnya jarak, beratnya 

penderitaan, dan kuatnya musuh agar manusia semuanya mengerti akan 

tugas mereka. Agar mereka dapat mempersiapkan dengan baik tugas ini. 

Meskipun musim panas telah datang, cuaca panas terik terasa, buah-

buahan telah masak, bayangan telah sempurna dan jiwa manusia menjadi 

malas dan tak mau bergerak. Meski demikian kaum muslimin memenuhi 

seruan Nabi mereka dan langsung bersiap-siap. 

Namun sebagian kaum munafikin membuat tekad kaum muslimin 

melemah, membuat mereka ragu, dan menjelek-jelekkan Rasulullah Saw 

dan mengucapkan kata-kata yang dapat menjerumuskan mereka dalam 

kekufuran. 


Pada suatu hari saat  pasukan muslim akan berangkat, pemuda yang 

bernama Umair bin Sa’d kembali ke rumahnya sesudah  menyelesaikan 

shalat di Masjid. Hatinya dipenuhi dengan sekumpulan kisah menarik dari 

pengorbanan kaum muslimin yang ia lihat dengan matanya dan ia dengar 

lewat telinganya. 

Ia melihat para wanita kaum Muhajirin dan Anshar yang datang 

menghadap Rasulullah Saw lalu melepaskan dan memberikan perhiasan 

mereka kepada Rasulullah untuk membayar biaya pasukan yang berperang 

di jalan Allah Swt. 

Dan ia melihat dengan mata kepalanya bahwa Utsman bin Affan 

membawa sebuah kantung yang berisikan 1000 dinar emas dan diberikan 

kepada Nabi Saw. 

Ia menyaksikan Abdurrahman bin Auf membawa di atas lehernya 100 

awqiyah dari emas dan diberikan kepada Rasulullah Saw. 

Bahkan ia juga melihat seorang pria yang menjual kudanya untuk 

dibelikan pedang sehingga ia dapat berjuang di jalan Allah. 

Maka Umair bin Said menjadi amat kagum dengan peristiwa ini , 

dan ia merasa aneh mengapa Al Julas tidak bersegera untuk siap dan 

                                                     

79

 Tabuk yaitu  sebuah tempat di perbatasan Syam  

  183

berangkat bersama Rasulullah Saw, dan mengapa ia terlambat memberikan 

bantuan padahal ia yaitu  orang yang mampu dan memiliki keluasan. 

Maka Umair berusaha untuk membangkitkan semangat Al Julas dan 

memotivasinya. Umair menceritakan kisah tentang apa yang telah ia lihat 

dan ia dengar. Khususnya kisah beberapa orang muslimin yang datang 

menghadap Rasul Saw dan meminta Beliau agar mengizinkan mereka 

untuk bergabung dengan pasukan muslimin berjihad di jalan Allah. Namun 

Rasul menolak permintaan mereka sebab mereka tidak memiliki kendaraan 

yang dapat membawa mereka ke sana. Maka orang-orang tadi kembali 

dengan mata berlinang sebab  merasa sedih sebab mereka tidak 

menemukan harta yang dapat mewujudkan keinginan mereka untuk 

berjihad, dan mewujudkan impian mereka untuk mendapatkan kesyahidan. 

namun  Al Julas sesudah  ia mendengarkan pembicaraan Umair, 

maka meluncurlah dari mulut Al Julas yang membuat heran Umair saat 

Umair mendengarnya mengucapkan: “Jika Muhammad benar sebagaimana 

pengakuannya bahwa dia yaitu  seorang Nabi, bila demikian maka kita 

yaitu  lebih buruk dari keledai.” 


Umair kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tidak pernah 

mendengar bahwa seseorang yang berakal dan dewasa seperti Al Julas 

keluar dari mulutnya kalimat yang dapat mengeluarkan orang yang 

mengucapkannya dari keimanan dengan serta-merta, dan memasukkannya 

dalam kekafiran. 

Sebagaimana alat hitung canggih dapat menyelesaikan setiap 

permasalahan yang dilontarkan kepadanya, maka akal Umair bin Sa’d 

berpikir segera untuk mengerjakan apa yang semestinya ia lakukan. 

Ia menduga bahwa berdiam diri dari apa yang dikatakan Al Julas lalu 

menutupinya yaitu  sebuah pengkhianatan kepada Allah dan Rasul-Nya, 

juga dapat mencelakai Islam sebagaimana yang sering dilakukan oleh kaum 

munafik. 

Ia juga mengira bahwa mengumumkan kepada orang lain apa yang ia 

dengar dari Al Julas yaitu  merupakan kedurhakaan dirinya kepada orang 

yang telah menjadi seperti ayah baginya, dan membalas air susu dengan air 

tuba. Al Julas lah yang telah memelihara dia yang tadinya hanyalah seorang 

yatim. Ia telah mencukupkan kebutuhan dirinya dari kefakiran, dan 

menggantikan posisi ayahnya. 

Tiada lain, bagi bocah ini haruslah memilih mana yang paling manis 

dari dua pilihan pahit. Sesegera mungkin Umair memilih… 

Ia menatap Al Julas sambil berkata: “Demi Allah, ya Julas, tidak ada 

orang yang lebih aku cintai sesudah  Muhammad bin Abdullah selain 

kamu… Engkau yaitu  orang yang aku sayangi.Engkau yaitu  orang yang 

paling mencintaiku. Namun engkau telah mengucapkan kalimat yang bila 

aku ceritakan kepada orang lain, maka aku sudah membuatmu sulit. 

 184

Namun jika aku sembunyikan, itu berarti aku telah mengkhianati 

amanahku dan aku sama saja telah mencelakakan agama dan diriku. Aku 

bertekad untuk datang menghadap Rasulullah Saw dan menceritakan apa 

yang telah kau katakan. Sadarilah apa yang telah kau lakukan. 


Pemuda Umair bin Sa’d berangkat ke masjid dan menceritakan kepada 

Rasulullah Saw apa yang ia dengar dari Al Julas bin Suwaid. 

Maka Rasul Saw meminta Umair tinggal bersamanya dan Beliau 

mengirim salah seorang sahabatnya untuk memanggil Al Julas. 

Tidak berselang lama, maka datanglah Al Julas kemudian ia memberi 

salam kepada Rasulullah lalu duduk dihadapan Rasulullah Saw. Nabi Saw 

bertanya kepada Al Julas: “Ucapan apa yang kau katakan dan didengar oleh 

Umair bin Sa’d?!”… Rasul menyebutkan seperti apa yang telah ia ucapkan. 

Al Julas lalu berkata: “Dia telah berbohong tentangku dan telah 

membuat-buatnya, Ya Rasulullah! Aku tidak pernah mengucapkan hal itu.” 

Maka para sahabat memandangi Al Julas dan Umair bin Sa’d seolah 

mereka ingin melihat dari roman wajah keduanya apa yang tersimpan di 

dalam dada. 

Mereka lalu saling berbisik. Salah seorang yang memiliki penyakit di 

hatiny berkata: “Ini yaitu  pemuda yang durhaka. Ia mau membalas 

kebaikan orang yang mengasuhnya dengan keburukan.” 

Salah seorang lagi mengatakan: “Malah, anak ini tumbuh dalam 

ketaatan kepada Allah. Raut mukanya menggambarkan hal itu.” 

Rasul Saw memandang Umair. Beliau mendapati wajah Umair 

memerah, dan air mata mengalir dari bola matanya. Air mata ini  

menetes di pipi dan dadanya dan ia berdo’a: “Ya Allah, turunkanlah bukti 

kepada Nabi-Mu apa yang telah aku ceritakan kepadanya… Ya Allah, 

turunkanlah bukti kepada Nabi-Mu apa yang telah aku ceritakan 

kepadanya.” 

Maka berdirilah Al Julas sambil berkata: “Apa yang aku ceritakan 

kepadamu yaitu  benar, ya Rasulullah. Jika engkau berkenan, kami akan 

bersumpah dihadapanmu. Aku bersumpah kepada Allah bahwa aku tidak 

mengatakan seperti apa yang disampaikan Umair kepadamu.” 

Al Julas tidak berhenti mengucapkan sumpahnya sehingga mata 

manusia tertuju kepada Umair bin Sa’d sehingga Rasulullah terdiam. Para 

sahabat tahu bahwa ini pertanda turunnya wahyu. Mereka berdiri tak 

bergeming. Tidak satupun yang bergerak. Mereka membeku dan 

pandangan mereka tertuju kepada Nabi Saw. 

Saat itu, baru muncul rona ketakutan dan malu di wajah Al Julas. 

Munculah kemenangan pada Umair. Semua orang merasakan itu sehingga 

Rasulullah Saw siuman lagi. Beliau lalu membaca:  

  

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) 

Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). 

Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan 

telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang 

mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah 

dan Rasul-Nya), kecuali sebab  Allah dan Rasul-Nya telah 

melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka 

bertaubat, itu yaitu  lebih baik bagi mereka, dan jika mereka 

berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka denga azab yang 

pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak 

mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” 

(QS. At-Taubah [9] :74) 

Al Julas gemetar ketakutan usai mendengar ayat ini . Hampir saja 

lisannya terlilit sebab  takut. Kemudian ia menatap Rasulullah Saw dan 

berkata: “Aku bertaubat, ya Rasulullah… aku bertaubat. Umair benar, ya 

Rasulullah dan aku yaitu  orang yang berdusta. Pintalah Allah untuk 

menerima taubatku, aku siap menjadi tebusanmu, ya Rasulullah!” 

Lalu Rasulullah saw melihat ke arah Umair bin Sa’d, rupanya air mata 

kebahagiaan telah membasahi wajahnya yang bersinar dengan cahaya 

iman. 

Rasul Saw lalu menjulurkan tangannya yang mulia ke telinga Umair 

dan memegangnya dengan lembut sambil berkata: “Telingamu telah jujur 

mendengarkan, wahai anak dan Tuhanmu telah membenarkanmu.” 


Al Julas kembali ke pangkuan Islam dan ia menjalankan keislamannya 

dengan baik. Para sahabat mengetahui perbaikan kondisinya sebab  ia 

memberikan banyak kebaikan kepada Umair. 

Al Julas berkata setiap kali diingatkan tentang Umair: 

“Allah akan membalasnya atas kebaikan yang ia lakukan padaku. Ia 

telah menyelamatkan aku dari kekafiran, dan membebaskan diriku dari api 

neraka.” 

 186

Wa ba’du… ini bukanlah kisah yang paling menarik dalam hidup 

seorang pemuda yang menjadi sahabat Rasul bernama Umair bin Sa’d. 

Dalam hidupnya banyak sekali kisah yang lebih baik dan menarik. 

Sampai jumpa lagi dengan kisah Umair bin Sa’d pada usia dewasanya. 

Dalam Usia Dewasa 

“Aku Amat Berharap Memiliki Orang Seperti Umair bin Sa’d untuk 

Menjadi Pembantuku dalam Menangani Urusan Kaum Muslimin.” 

(Umar bin Khattab) 

Baru saja kita mengetahui sebuah kisah hidup seorang sahbat yang 

terkenal Umair bin Sa’d pada usia mudanya. Mari bersama kita ikuti kisah 

hidupnya yang hebat pada usia dewasanya. Kalian akan mendapati bahwa 

kisah ini tidak kalah menarik dengan kisah yang pertama. 


Penduduk Himsh80 yaitu  penduduk yang paling sering mengeluhkan 

pemimpin mereka. Tidak ada seorang wali yang datang kepada mereka, 

kecuali mereka mendapati pada diri wali ini  banyak sekali aib dan 

dosa yang ia lakukan dan mereka akan melaporkan hal ini kepada 

Khalifatul Muslimin, dan mereka berharap agar Khalifah berkenan 

menggantikannya dengan yang lebih baik lagi. 

Umar Al Faruq berniat untuk mengirimkan kepada mereka seorang 

wali yang tidak cacat dan memiliki track record yang baik di mata mereka. 

Maka Umar menyeleksi para pembantunya dan ia menguji mereka satu 

per satu, namun ia tidak menemukan adanya orang yang lebih baik 

daripada Umair bin Sa’d. 

Umair saat itu sedang berangkat berperang ke sebuah pulau di negeri 

Syam sebagai pemimpin pasukan pejuang di jalan Allah. Ia membebaskan 

banyak kota dan merobohkan banyak benteng, menundukkan banyak 

kabilah dan mendirikan banyak masjid di setiap daerah di manapun ia 

berada. 

Meski ia sedang melakukan itu semua, Amirul Mukminin 

memanggilnya, dan menyuruhnya untuk berangkat ke Himsh dan menjadi 

wali di sana. Ia pun menuruti perintah Amirul Mukminin meski 

sebenarnya ia tidak menyenanginya sebab  tidak ada yang lebih ia sukai 

selain jihad di jalan Allah. 


                                                     

80

 Himsh yaitu  sebuah kota di Syiria terletak di antara Damaskus dan Halb. Di sana terdapat 

makam Khalid bin Walid ra. 

  187

Umair tiba di Himsh dan ia mengajak manusia untuk shalat berjama’ah. 

Usai shalat, ia berkhutbah dihadapan manusia. Ia memulainya dengan 

memuji Allah dan bershalawat kepada Muhammad Saw. Ia lalu berkata:  

“Wahai manusia, Islam yaitu  benteng yang kokoh dan gerbang yang 

kuat. Benteng Islam yaitu  keadilan dan gerbangnya yaitu  kebenaran. 

Jika benteng telah dihancurkan dan gerbang telah dirobohkan, maka 

perlindungan agama ini tidak ada lagi. Islam akan senantiasa melindungi 

selagi kekuasaan tegak berdiri. Tegaknya kekuasaan bukanlah dengan 

cambukan dan sabetan pedang. namun  dengan keadilan dan 

kebenaran.” 

Kemudian ia meneruskan pekerjaannya untuk melaksanakan apa yang 

telah ia rancang untuk mereka dari rencananya yang ia paparkan lewat 

khutbah yang singkat. 


Umair menjalankan tugasnya di Himsh selama setahun penuh, namun 

tidak ada surat yang dikirimkan kepada Amirul Mukminin dan tidak ada 1 

dirham atau dinar dari harta fai’ yang sampai ke baitul mal. Maka hal itu 

menimbulkan keraguan pada diri Umar, sebab  ia amat khawatir terhadap 

para wali yang ia angkat akan ujian kepemimpinan. Tidak ada yang 

ma’shum menurut Umar selain Rasulullah Saw. 

Umar langsung memerintahkan kepada sekretarisnya: “Kirimkan surat 

kepada Umair bin Sa’d yang berbunyi: ‘Jika surat Amirul Mukminin telah 

sampai kepadamu, maka tinggalkanlah Himsh dan datanglah kepadanya. 

Bawalah harta fai’ muslimin yang kau sembunyikan.” 


Umair bin Sa’d menerima surat Umar bin Khattab ra. Ia lalu membawa 

tempat bekalnya, ia membawa tempat makannya di atas pundak dan juga 

tempat air wudhunya. Ia juga memegang senjatanya dengan tangan. Ia 

meninggalkan Himsh dan menyusuri jalan di atas kedua kakinya menuju 

Madinah. 

Begitu Umair tiba di Madinah, nampak sekali bahwa kulitnya telah 

berubah, tubuhnya kurus, rambutnya panjang. Dan nampak pada dirinya 

kelelahan akibat perjalanan. 


Umair datang menghadap Umar bin Khattab. Kondisi Umair membuat 

Umar keheranan dan berkata: “Apa yang terjadi padamu, wahai Umair?!” 

Umair menjawab: “Tidak ada yang terjadi pada diriku, wahai Amirul 

Mukminin. Aku seha wal afiat, Alhamdulillah. Aku membawa semua dunia 

bersamaku dan aku tarik dari kedua tanduknya.” 

 188

Umar bertanya: “Apa yang kau bawa dari dunia? (Umar menduga 

bahwa Umair membawa harta untuk Baitul Mal muslimin)” 

Umair menjawab: “Aku membawa tempat bekalku dimana aku simpan 

di situ bekal perjalananku. Aku juga membawa piring besar tempat aku 

makan dan membasuh tubuh dan menyuci bajuku. Aku juga membawa 

tempat air untuk wudhu dan minum.  

Lalu dunia semuanya –wahai amirul mukminin- mengikuti barang-

barangku ini, aku tidak memerlukan hal yang lebih dari ini, dan tidak ada 

selain aku yang memiliki barang-barang ini.” 

Umar bertanya: “Apakah engkau datang dengan berjalan kaki?” Ia 

menjawab: “Benar, ya Amirul Mukminin.” Umar bertanya: “Bukankah 

sebagai pemimpin engkau telah diberikan hewan tunggangan?” Ia 

menjawab: “Mereka belum memberiku, dan aku tidak minta kepada 

mereka.” Umar bertanya: “Lalu mana harta yang akan engkau setorkan ke 

Baitul Mal?” Ia menjawab: “Aku tidak membawa apapun.” Umar bertanya: 

“Mengapa demikian?” Ia menjawab: “Begitu aku sampai di Himsh, aku 

mengumpulkan para penduduknya yang shalih. Aku menunjuk mereka 

sebagai pengumpul fai’ dari para penduduk. Setiap kali mereka 

mengumpulkan fai’, aku bermusyawarah kepada mereka tentang 

penggunaan harta fai’ ini dan aku tempatkan pada alokasinya, dan aku 

infakkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.” 

Umar lalu berkata kepada sekretarisnya: “Perbaharuilah perjanjian 

untuk Umair agar menjadi wali di daerah Himsh!” 

Umair berkata: “Jangan… itulah yang tidak aku inginkan. Aku tidak 

akan bekerja untukmu dan tidak untuk orang sesudah mu, ya Amirul 

Mukminin.” 

Lalu Umair meminta izin untuk pergi ke suatu kampung di ujung 

Madinah dimana keluarganya berada. Maka Umar pun mengizinkannya. 

Tidak lama Umair pergi menuju kampungnya, Umar berniat untuk 

menguji sahabatnya ini, dan menguji kepercayaannya. Ia berkata kepada 

salah seorang kepercayaannya yang bernama Al Harits: “Susullah Umair 

bin Sa’d, wahai Al Harits! Singgahlah dirumahnya seolah engkau bertamu. 

Jika engkau menemukan tanda-tanda kemakmuran pada dirinya, maka 

kembalilah. Jika engkau melihatnya dalam kondisi amat sulit, maka 

berikanlah dinar-dinar ini.” 

Lalu Umar memberikan sekantung uang yang berisikan 100 dinar. 


Al Harits berangkat hingga tiba di kampun Umair bin Sa’d. Ia bertanya 

dimana alamatnya, lalu ia ditunjukkan oleh seseorang. 

Saat Al Harits menjumpainya, ia berkata: “Assalamu’alaika wa 

rahmatu-Llahi.” Umair menjawab: “Wa alaikas salam wa rahmatullahi wa 

barakatuhu. Dari mana engkau datang?” Al Harits menjawab: “Dari 

  189

Madinah.” Umair bertanya: “Bagaimana kondisi muslimin di sana saat kau 

meninggalkan mereka?” Al Harits menjawab: “Mereka baik-baik saja.” 

Umair bertanya: “Bagaimana kabar Amirul Mukminin?” Al Harits 

menjawab: “Ia sehat dan shalih.” Umair bertanya: “Bukankah ia 

menegakkan hukum hudud?” Al Harits menjawab: “Benar, Ia pernah 

mendera anaknya yang melakukan dosa keji.” Umair berkata: “Ya Allah, 

tolonglah Umar. Yang aku ketahui tentangnya yaitu  bahwa ia yaitu  

orang yang amat mencintai-Mu!” 


Al Harits menjadi tamu Umair bin Sa’d selama 3 malam. Setiap malam, 

Umair menghidangkan sepotong roti gandum. 

Pada hari ketiga; ada seorang dari kaum Umair berkata kepada Al 

Harits: “Engkau telah merepotkan Umair dan keluarganya. Mereka tidak 

memiliki apapun kecuali roti gandum yang mereka berikan kepadamu 

meski mereka sendiri tidak memakannya. Kelaparan telah mengancam 

hidup mereka. Jika kau berkenan, menginaplah di tempatku!” 


Saat itu, Al Harits mengeluarkan kantung dinar dan memberikannya 

kepada Umair. Umair bertanya: “Apa ini?” Al Harits menjawab: “Itu 

dikirimkan untukmu oleh Amirul Mukminin.” Umair berkata: “Kembalikan 

kepadanya, sampaikan salamku padanya dan katakan padanya bahwa 

Umair tidak membutuhkan dinar ini !” 

Tiba-tiba istri Umair berteriak –rupanya ia mendengarkan pembicaraan 

suaminya dengan si tamu- ia berkata: “Ambillah, ya Umair. Jika kau 

membutuhkannya engkau dapat memberi nafkah dari uang itu. Jika kau 

tidak membutuhkannya, maka engkau akan dapat menyalurkannya. 

Banyak orang yang membutuhkan di daerah ini.” 

Begitu Al Harits mendengar ucapan istri Umair, Al Harits menaruh 

uang dinar ini  di depan Umair dan lalu pergi. Lalu Umair mengambil 

uangdinar ini  dan ia bagikan dalam kantung-kantung kecil. Ia tidak 

tidur pada malam itu sebelum ia membagikan semuanya kepada orang 

yang membutuhkan, khususnya para anak syuhada. 


Al Harits kembali ke Madinah, dan Umar bertanya kepadanya: “Apa 

yang kau dapat, ya Harits?” Ia menjawab: “Kondisi yang amat sulit, wahai 

Amirul Mukminin!” Umar bertanya: “Apakah kau berikan dinar-dinar itu 

kepadanya?” Ia menjawab: “Ya, wahai Amirul Mukminin!” Umar bertanya 

lagi: “Lalu apa yang ia perbuat dengan uang dinar tadi?” Ia menjawab: 

“Aku tidak tahu. Aku menduga ia tidak akan menyisakan 1 dirham pun 

untuk dirinya.” 

 190

Lalu Umar mengirimkan surat kepada Umair yang berbunyi: “Jika 

suratku ini telah datang kepadamu, janganlah kau letakan sebelum kau 

datang kepadaku!” 


Umair bin Sa’d berangkat ke Madinah dan menghadap kepada Amirul 

Mukminin. Umar menyambutnya dan berkata kepadanya: “Apa yang kau 

perbuat dengan uang dinar itu, ya Umair?” Ia menjawab: “Apa urusanmu, 

ya Umar.” Umar berkata: “Aku berkeras untuk mengetahui apa yang telah 

kau lakukan dengan uang dinar itu?” Ia menjawab: “Aku telah 

menabungnya untuk diriku agar ia bermanfaat bagiku di hari tiada harta 

dan keturunan yang akan memberi manfaat…” 

Maka meneteslah air mata Umar. Ia berkata: “Aku bersaksi bahwa 

engkau yaitu  termasuk orang yang mengutamakan orang lain atas diri 

mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan 

itu).” Kemudian Umar memerintahkan agar Umair diberi makan dan 2 

helai baju. 

Umair berkata: “Kami tidak memerlukan makanan, wahai Amirul 

Mukminin. Aku telah menyisakan 2 sha’ gandum buat keluargaku. Jika 2 

sha’ tadi habis maka Allah Swt akan memberikan rizqi lagi kepada kami… 

Sedangkan baju, akan aku ambil untuk Ummu Fulan (maksudnya yaitu  

istrinya) bajunya sudah rusak dan hampir saja ia telanjang. 


Tidak lama berselang sesudah  perjumpaan itu antara Umar al Faruq dan 

sahabatnya, sehingga Allah Swt mengizinkan Umair bin Sa’d untuk 

menyusul Nabi dan kekasihnya Muhammad bin Abdullah Saw sesudah  

kerinduan yang lama ia simpan untuk berjumpa dengannya. 

Umair berangkat menyusuri jalan akhirat dengan meninggalkan 

dirinya, ia berjalan dengan langkah pasti, ia tidak merasa terbebani dengan 

segala macam permasalahan dunia, dan punggungnya tidak dibebani 

dengan hiruk-pikuk dunia. 

Tidak ada yang ia bawa selain cahaya, petunjuk, wara dan taqwa… 

Saat Umar Al Faruq berta’ziah, wajahnya diliputi dengan kesedihan, 

dan duka menghiasi hatinya. Ia berkata: “Aku amat berharap memiliki 

orang seperti Umair bin Sa’d untuk menjadi pembantuku dalam menangani 

urusan kaum muslimin.” 


Semoga Allah meridhai Umair bin Sa’d. Dia yaitu  seorang tauladan 

yang harus ditiru dari sekian banyak orang. Ia juga merupakan seorang 

  191

murid yang istimewa dalam asuhan Rasulullah Muhammad bin Abdullah 

Saw. 


Abdurrahman Bin Auf 

“Semoga Allah Memberkahi Harta yang Kau Berikan. Semoga Allah 

Memberkahi Harta yang Kau Simpan.” (Salah Satu Do’a Rasulullah 

Kepadanya) 

 

Dia yaitu  salah satu dari 8 orang yang pertama kali masuk ke dalam 

Islam. Ia juga termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga. Dia juga salah 

satu dari 6 orang ahli syura pada hari pemilihan khalifah sesudah  Umar Al 

Faruq. ……… 

Namanya pada masa jahiliah yaitu  Abdu Amrin. Saat ia masuk Islam 

Rasulullah Saw memanggilnya dengan Abdurrahman. Inilah Abdurrahman 

bin auf ra. 


Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah Saw masuk ke 

rumah Al Arqam81, dan itu terjadi sesudah  2 hari Abu Bakar memeluk Islam. 

Ia juga merasakan penyiksaan seperti yang dirasakan oleh kaum 

muslimin pada saat itu, dan ia mampu menghadapinya dengan sabar dan 

teguh. Ia menyelamatkan agamanya dengan melarikan diri ke Habasyah 

sebagaimana yang dilakukan oleh kaum muslimin lainnya. 

Saat Rasul Saw diizinkan untuk berhijrah ke Madinah, Abdurrahman 

termasuk orang muhajirin pertama yang berhijrah sebab  Allah dan Rasul-

Nya. 

Saat Rasulullah Saw menjadikan kaum Muhajirin dan Anshar 

bersaudara maka Beliau menjadikan Abdurrahman bin Auf sebagai saudara 

Sa’d bin Rabi’ Al Anshary82 ra. Sa’d berkata kepada saudara barunya 

Abdurrahman bin Auf: “Saudaraku, aku yaitu  penduduk Madinah yang 

paling banyak hartanya. Aku memiliki 2 kebun, dan aku punya dua istri. 

Pilihlah kebun mana yang kau sukai sehingga aku memberikannya 

padamu. Dan pilihlah istriku yang mana yang kau sukai agar aku 

mentalaknya untukmu!” 

Abdurrahman lalu berkata kepada saudara barunya yang berasal dari 

suku Anshar: “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tetapi, 

                                                     

81

 Darul Arqam yaitu  sebuah rumah tempat Rasul Saw menyampaikan Islam. Rumah ini milik 

Al Arqam bin Abdi Manaf Al Makhzumy dan rumah ini disebut juga dengan Darul Islam. 

82

 Sa’d bin Rabi’ bin Amr bin Abi Zuhair bin Malik Al Anshary  Al Khajrajy yaitu  seorang 

sahabat terkemuka. Dia gugur dalam perang Uhud. 

 

 

  193

tunjukkan kepadaku di mana pasar!” Sa’d lalu menunjukkan Abdurahman, 

dan ia mulai berdagang sehingga mendapatkan keuntungan dan ia tabung 

keuntungan ini . 

Tidak lama berselang, ia sudah dapat mengumpulkan uang sebagai 

mahar pengantin dan ia pun menikah. Maka datanglah Rasulullah Saw 

dengan membawa minyak wangi dan Beliau berkata: “Mahyam83, ya 

Abdurrahman!” Ia menjawab: “Aku menikah.” Rasul bertanya: “Mahar apa 

yang kau berikan kepada istrimu?” Ia menjawab: “Emas seberat atom.” 

Rasul Saw bersabda: “Buatlah walimah meski hanya dengan seekor domba. 

Semoga Allah memberkahi hartamu!” 

Abdurrahman berkata: Sepertinya dunia mendatangiku sehingga aku 

merasa bila aku mengangkat sebuah batu, maka aku menduga bahwa aku 

akan menemukan emas atau perak di bawahnya. 


Pada peristiwa Badr, Abdurrahman bin Auf berjihad dengan sungguh-

sungguh di jalan Allah Swt, dan ia berhasil membunuh musuh Allah yang 

bernama Umair bin Utsman bin Ka’b At Taimy. 

Pada perang Uhud, ia termasuk orang yang teguh berjuang, dan tetap 

tak bergeming saat banyak orang yang lari takut kalah. Ia keluar dari 

perang dan pada tubuhnya terdapat lebih dari 20 luka. Sebagian dari luka 

ini  amat dalam yang dapat dimasuki tangan seseorang. 

namun  jihad Abdurrahman yang dilakukan dengan jiwa lebih 

sedikit dengan jihadnya yang ia lakukan dengan harta.  

Suatu saat Rasulullah Saw hendak memberangkatkan sebuah pasukan. 

Ia berdiri dihadapan para sahabatnya dan bersabda: “Bersedekahlah kalian, 

sebab aku akan mengirimkan utusan!” 

Abdurrahman lalu pulang ke rumah dan kembali lagi dengan segera. Ia 

berkata: “Ya Rasulullah, aku mempunyai 4000: Dua ribu aku pinjamkan 

kepada Tuhanku, dan dua ribu lagi aku sisakan untuk keluargaku.” 

Rasulullah Saw lalu bersabda: “Semoga Allah memberkahi harta yang 

kau berikan dan semoga Ia memberkahi harta yang kau simpan!” 


Saat Rasul saw berniat melakukan perang Tabuk –perang ini yaitu  

perang terakhir yang Beliau lakukan dalam hidupnya- kebutuhan terhadap 

harta saat itu sama dengan kebutuhan jumlah pasukan. Pasukan Romawi 

saat itu berjumlah dan berbekal banyak. Padahal tahun itu di Madinah 

sedang paceklik. Perjalanan yang mereka lalui amat panjang. Biaya mereka 

sedikit. Kendaraan juga sedikit sehingga ada sekelompok mukminin datang 

                                                     

83

 Kalimat berasal dari bangsa Yaman yang mengekspresikan rasa takjub. 

 194

kepada Rasulullah Saw yang meminta Beliau untuk mengadakan kendaraan 

yang dapat membawa mereka ikut serta dalam jihad. Namun Rasulullah 

Saw menolak permintaan mereka, sebab mereka tidak memiliki kendaraan 

untuk membawa mereka ke sana. Maka mereka pun kembali dengan mata 

berlinang sebab  merasa sedih sebab mereka tidak memiliki apapun juga 

yang bisa diinfaqkan. Mereka itu dikenal dengan orang-orang yang 

menangis. Dan pasukan inipun dikenal dengan pasukan ‘susah.’ 

Saat itu Rasulullah Saw memerintahkan mereka untuk berinfaq di jalan 

Allah dan memohon balasannya kepada Allah. Maka kaum muslimin 

bersegera dalam menjawab seruan Rasulullah Saw, dan salah satu orang 

yang melakukan sedekah saat itu yaitu  Abdurrahman bin Auf. Ia 

bersedekah dengan 200 awqiyah dari emas. Umar bin Khattab lalu berkata 

kepada Nabi Saw: “Menurutku, Abdurrahman bin Auf telah berbuat dosa, 

sebab ia tidak menyisakan apapun untuk keluarganya…” Rasulullah Saw 

lalu bertanya kepada Abdurrahman bin Auf: “Apakah engkau telah 

menyisakan harta untuk keluargamu, ya Abdurrahman?” 

Ia menjawab: “Ya. Aku telah sisakan untuk mereka lebih dari apa yang 

telah aku infaqkan dan lebih baik.” 

Rasul bertanya: “Berapa?” Ia menjawab: “Sebanyak apa yang telah 

Allah dan Rasul-Nya janjikan dari rizqi, kebaikan dan balasan.” 


Pasukan ini lalu berangkat ke Tabuk… Di sana Allah Swt memberikan 

Abdurrahman bin Auf kemuliaan yang belum pernah diterima oleh 

muslimin lainnya. Waktu shalat sudah tiba, sedang Rasulullah Saw tidak 

ada. Maka Abdurrahman bin Auf menjadi imam bagi kaum muslimin saat 

itu. Hampir saja mereka menyelesaikan raka’at pertama, maka Rasulullah 

Saw menyusul mereka dalam jamaah. Beliau mengikuti shalat 

Abdurrahman bin Auf dan berada dibelakangnya… 

Apakah ada kemuliaan yang melebihi seseorang yang menjadi imam 

bagi pemimpin seluruh makhluk sekaligus pemimpin para Nabi, yaitu 

Muhammad bin Abdullah?!! 


sesudah  Rasulullah Saw kembali ke pangkuan Tuhannya, Abdurrahman 

bin Auf mencukupi segala kebutuhan Ummahatul Mukminin (para istri 

Rasulullah Saw)… Ia berangkat bersama mereka bila mereka bepergian. 

Berhaji, jika mereka melaksanakan haji. Ia membuat pada sekudup84 

mereka kain hijau untuk berteduh yang biasa dipakai oleh orang-orang 

tertentu. Ia akan menemani mereka berhenti di tempat yang mereka sukai. 

                                                    

 Sekudup yaitu  sebuah tempat yang memiliki kubah dan diletakkan di atas punggung unta, 

dikhususkan bagi wanita. 

 

Itulah kisah hidup Abdurrahman bin Auf dan kepercayaan para 

Ummahatul Mukminin kepadanya yang dapat ia banggakan. 


Kebaikan Abdurrahman terhadap kaum muslimin dan Ummahatul 

Mukminin bahkan membuatnya menjual tanah miliknya seharga 1000 

dinar. Ia bagikan semua uang itu kepada Bani Zuhra, orang-orang faqir 

dari golongan Muhajirin, dan para istri Nabi Saw. Saat ia mengirimkan 

bagian harta ini  untuk Ummul Mukminin Aisyah ra. Aisyah bertanya: 

“Siapakah yang mengirimkan harta ini?” Ada yang mengatakan kepadanya: 

“Abdurrahman bin Auf.” Kemudian Aisyah berkata: Rasulullah Saw pernah 

bersabda: “Tidak ada orang yang bersimpati kepada kalian sesudah  aku mati 

kecuali mereka orang-orang yang sabar.” 


Do’a Nabi Saw dikabulkan sehingga Abdurrahman bin Auf 

mendapatkan keberkahan pada hartanya. Perdagangan Abdurrahman bin 

Auf terus berkembang dan bertambah. Kafilah miliknya terus-menerus 

pergi dan kembali ke Madinah dengan membawa gandum, tepung, minyak, 

pakaian, bejana, minyak wangi dan semua kebutuhan masyarakat 

Madinah. 


Suatu hari datanglah kafilah Abdurrahman bin Auf ke Madinah yang 

terdiri dari 700 kendaraan. Ya, 700 kendaraan yang membawa makanan, 

barang-barang yang dibutuhkan oleh penduduk Madinah. 

Begitu kafilah ini memasuki Madinah, maka bumi terasa bergoyang dan 

terdengar sorak-sorai manusia. Aisyah ra bertanya: “Ada apa ramai-ramai 

begini?” Ada orang yang menjawabnya: “Ini yaitu  kafilah Abdurrahman 

bin Auf… 700 unta yang membawa, gandum, tepung dan makanan.” 

Aisyah ra berkata: “Semoga Allah memberkahi harta yang telah ia 

berikan di dunia demi ganjaran akhirat yang lebih besar.” 


Sebelum unta-unta ini  berhenti. Kabar ini  telah sampai 

kepada Abdurrahman bin Auf. Begitu telinganya mendengar apa yang 

dikatakan Ummul Mukminin Aisyah,


Related Posts:

  • teladan sahabat nabi 6 a bernama Zaid bin Al Haritsah. Maka dihadiahkanlah Zaid kepada suaminya. Selagi budak yang beruntung ini tinggal di bawah pengawasan Muhammad bin Abdullah, bernasib baik dengan persahabatannya yang … Read More