yang
terjahat.
Paus Kalikstus III:
“Saya bersumpah untuk ... meninggikan Iman sejati, dan untuk menumpas sekte iblis dari
Mahomet [Islam] yang terkutuk dan tidak beriman di Dunia Timur.”40
Di sepanjang abad pertengahan, berlangsung pertempuran rohaniah dan jasmaniah yang terus-menerus
antara Dunia Kristiani Barat dan pasukan Islam. Pernyataan Yohanes Paulus II ini tergolong suatu
penolakan terhadap Yesus Kristus dan kemurtadan formal. Tidak ada orang Katolik yang boleh membuat
pernyataan semacam itu bahkan sekali pun.
Yohanes Paulus II meminta St. Yohanes Pembaptis untuk
melindungi Islam!
Pada tanggal 21 Maret 2000, Yohanes Paulus II meminta St. Yohanes Pembaptis untuk melindungi Islam
(agama para Muslim), yang menolak Yesus Kristus dan Allah Tritunggal, dan mengurung ratusan juta
jiwa di dalam kegelapan Iblis.
Yohanes Paulus II, 21 Maret 2000:
“Semoga Santo Yohanes Pembaptis melindungi Islam dan semua warga
Yordania...”41
237
Perbuatan ini setara dengan meminta St. Yohanes untuk melindungi penyangkalan terhadap Kristus dan
pengutukan jiwa-jiwa.
Pada tanggal 12 April 2000, Yohanes Paulus II bertemu dengan Raja Maroko, seorang keturunan dari
nabi palsu Islam, Muhammad. Yohanes Paulus II bertanya kepadanya, “Anda seorang keturunan dari sang
Nabi, kan?”42
238
Kemurtadan Yohanes Paulus II di dalam Mesjid
Pada tanggal 6 Mei 2001, Yohanes Paulus II mencapai puncak kemurtadannya yang dilakukannya selama
bertahun-tahun bersama para Muslim dengan mendatangi dan dengan hadir dalam “Mesjid Agung
Umayyah” di Damaskus. Sewaktu ia berada di dalam Mesjid itu, Yohanes Paulus II melepaskan sepatunya
untuk menghormati bait kekafiran ini .
Di kiri atas, kita dapat melihat Yohanes Paulus II memasuki “Mesjid Agung Umayyah” di Damaskus pada
tanggal 6 Mei 2001. Pada foto-foto lainnya, kita melihat Yohanes Paulus II di dalam mesjid bersama
dengan “Mufti Agung” yang kafir, Sheikh Ahmad Kfutaro. Sewaktu ia berada dalam Mesjid ini ,
Yohanes Paulus II juga terduduk di sebuah kursi yang identik dengan “Mufti Agung” yang kafir itu.
Berikut pernyataan yang dibuat oleh Yohanes Paulus II kepada orang-orang Muslim pada hari itu:
Yohanes Paulus II, Pidato kepada para Muslim dari Mesjid, 6 Mei 2001:
“Di dalam mesjid-mesjid dan gereja-gerejalah, komunitas-komunitas Muslim dan Kristiani
membentuk identitas keagamaan mereka ... Identitas macam apa yang ditanamkan dalam diri
239
orang muda Kristiani dan orang muda Muslim di dalam gereja-gereja dan mesjid-mesjid kita?
Saya memiliki harapan yang membara agar bahwa pemimpin dan pengajar agama Muslim
dan Kristiani menghadirkan kedua komunitas kita yang agung ini dalam dialog yang
penuh rasa saling hormat, dan tidak lagi pernah menghadirkan mereka sebagai komunitas-
komunitas yang berkonflik.”43
Ada suatu kenyataan yang sangat menarik untuk dicatat, yaitu bahwa Khilafah “Umayyah” (yaitu garis
kepemimpinan Muslim), yang menjadi nama Mesjid yang didatangi oleh Yohanes Paulus II, merupakan
suatu garis kepemimpinan Muslim yang terlibat erat dalam peperangan melawan negeri Spanyol yang
Katolik pada perang 700 tahun antara orang-orang Muslim melawan Kristen di Spanyol.
“Abdurrahman yaitu penyintas Umayyah yang terakhir telah menjadi pemimpin negeri
Spanyol yang Muslim kira-kira pada waktu Fruela menjadi pemimpin negeri Spanyol yang
Kristen; sewaktu tahun 759 tiba, kedua raja itu bertempur di Galisia.”44
Kenyataan bahwa nama Mesjid yang didatangi Yohanes Paulus II diambil dari suatu kelompok yang
sungguh mewakili paham anti-Kristiani hanya menjadi suatu penghinaan lain di samping kemurtadan
dirinya. Darah semua umat Katolik yang setia yang meninggal dalam pertempuran melawan kaum
Umayyah demi bertahannya negeri Spanyol yang Kristen berteriak dalam perlawanan terhadap Yohanes
Paulus II.
Wahyu 17:6- “Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan
darah saksi-saksi Yesus. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat heran ....”
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa para Muslim dan Katolik
memiliki Allah yang sama
Sebelumnya di dalam buku ini, kami telah membahas ajaran bidah Vatikan II yang menyatakan bahwa
orang Katolik bersama dengan orang Muslim menyembah Allah yang satu dan sejati. Begitu seringnya
Yohanes Paulus II mengulangi ajaran sesat Vatikan II ini.
Yohanes Paulus II, Ensiklik tentang Kepedulian Sosial (#47), 30 Desember 1987:
” ... orang-orang Muslim yang, seperti kita, percaya akan Allah yang adil dan rahim.”45
Yohanes Paulus II, Homili, 13 Oktober 1989:
” ... para pengikut Islam yang percaya akan Allah yang sama yang baik dan adil.”46
Yohanes Paulus II, Homili, 28 Januari 1990:
” ... saudara-saudari kita kaum Muslimin ... yang seperti kita menyembah Allah yang esa
dan rahim.”47
Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, 16 Mei 2001:
” ... para umat Islam; kita bersatu bersama mereka melalui penyembahan kepada Allah
yang esa.”48
Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, 5 Mei 1999:
“Pada hari ini, saya hendak mengulangi apa yang telah saya katakan kepada muda-mudi Muslim
beberapa tahun lalu di Kasablanka: ‘Kita percaya akan Allah yang sama ….’”49
240
Ini yaitu penghujatan dan kemurtadan. Orang-orang Muslim menolak Allah Tritunggal Mahakudus.
Mereka tidak menyembah Allah yang satu dan sejati. Dengan menyatakan bahwa orang-orang Muslim
dan Katolik percaya akan Allah yang sama berulang-ulang kali, Yohanes Paulus II menolak Allah
Tritunggal Mahakudus berulang-ulang kali. Di samping itu, seseorang menjadi tertegun oleh kespesifikan
Yohanes Paulus II (seperti Vatikan II pula) dalam hal menyangkal Yesus Kristus pada banyak kutipan ini.
Sebagai contoh:
Yohanes Paulus II, Katekismus Baru (paragraf 841):
” ... kaum Muslimin; mereka mengakui bahwa mereka percaya akan iman Abraham, dan bersama
dengan kita, mereka menyembah Allah yang tunggal dan Maharahim, yang akan menghakimi
manusia pada hari kiamat.”50
Di sini kita melihat ajaran katekismus Yohanes Paulus II, yaitu bahwa ilah kaum Muslimin (yang bukan
Yesus Kristus) akan menghakimi umat manusia pada hari kiamat. Hal ini berarti bukan Yesus Kristus
yang akan menghakimi umat manusia pada hari kiamat, melainkan ilah orang Muslim. Ajaran ini yaitu
penyangkalan terhadap Kedatangan Kedua Yesus Kristus yang akan menghakimi orang yang hidup dan
yang mati.
Paus St. Damasus I, Konsili Roma, 382, Kanon 15:
“Barang siapa tidak berkata bahwa Ia, Yesus Kristus ... akan datang untuk menghakimi orang
yang hidup dan yang mati, ia yaitu seorang bidah.”51
Kemurtadan Yohanes Paulus II bersama Orang-Orang Yahudi
Pada tanggal 13 April 1986, Yohanes Paulus II mengunjungi Sinagoga Yahudi di Roma.
Yohanes Paulus II tiba di Sinagoga Yahudi, 13 April 1986
Di sini kita melihat Yohanes Paulus II tiba di Sinagoga Yahudi di Roma pada tahun 1986, di mana ia
mengambil bagian dalam suatu ibadat Yahudi. Dengan mengambil bagian dalam ibadat Yahudi, Yohanes
Paulus II melakukan suatu tindakan kemurtadan publik, dan sekali lagi menunjukkan bahwa ia yaitu
seorang bidah manifes dan seorang pemurtad. Perhatikan bahwa Yohanes Paulus II dan sang rabi
menyambut satu sama lain seakan-akan mereka yaitu sahabat yang lama tidak berjumpa. Pada saat ia
241
berada di sinagoga, Yohanes Paulus II menundukkan kepalanya sewaktu para Yahudi berdoa untuk
kedatangan “Mesias” mereka.
Yohanes Paulus II di dalam Sinagoga Orang-Orang Yahudi
Tindak kemurtadan yang mencengangkan yang dilakukan oleh Yohanes Paulus II ini secara langsung
berhubungan dengan ajaran sesatnya bahwa Perjanjian Lama masih berlaku. Gereja Katolik mengajarkan
bahwa dengan datangnya Yesus Kristus dan pemakluman Injil, Perjanjian Lama (yakni perjanjian yang
dibuat antara Allah dan orang-orang Yahudi melalui perantaraan Musa) telah berakhir, dan digantikan
dengan Perjanjian Baru Tuhan kita Yesus Kristus. Memang benar bahwa beberapa aspek Perjanjian Lama
masih berlaku sebab aspek-aspek itu termasuk dalam Perjanjian yang Baru dan Abadi dari Yesus
Kristus, seperti Sepuluh Perintah Allah; namun Perjanjian Lama sendiri (perjanjian antara Allah dan
orang-orang Yahudi) telah berakhir dengan kedatangan sang Mesias. Oleh sebab itu, pernyataan bahwa
Perjanjian Lama masih tetap berlaku setara dengan menyatakan bahwa agama Yahudi yaitu agama
yang benar dan bahwa Yesus Kristus sebenarnya bukan sang Mesias. Pernyataan itu juga merupakan
penyangkalan terhadap dogma Katolik yang telah didefinisikan, seperti ajaran Konsili Florence, yang
mendefinisikan secara ex cathedra, bahwa Hukum Lama telah berakhir dan mereka yang berupaya
mengamalkannya (yakni, orang-orang Yahudi) tidak dapat diselamatkan.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1441, ex cathedra:
“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui, dan mengajarkan bahwa
ketentuan-ketentuan hukum dari Perjanjian Lama, atau dari hukum Musa, yang terbagi
menjadi perayaan-perayaan, ritus-ritus kudus, kurban-kurban, dan sakramen-sakramen...
sesudah kedatangan Tuhan kita ... telah berakhir dan sakramen-sakramen Perjanjian Baru
bermula ... Oleh sebab itu, ia [Gereja] mencela sebagai orang-orang yang terasing dari
iman akan Kristus, semua orang yang, sejak dari masa itu menaati penyunatan, Sabat, dan
segala kewajiban dari hukum ini , dan menyatakan bahwa mereka tidak dapat
mengambil bagian di dalam keselamatan kekal.”52
Paus Benediktus XIV mengulangi dogma ini di dalam surat ensikliknya Ex Quo Primum:
Paus Benediktus XIV, Ex Quo Primum (#61):
“Pertimbangan pertama yaitu bahwa perayaan-perayaan Hukum Musa telah dihapuskan
242
oleh kedatangan Kristus dan bahwa perayaan-perayaan ini tidak lagi dapat ditaati
tanpa dosa sesudah pemakluman Injil.”53
Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#29-30), 29 Juni 1943:
“Dan pertama-tama, dengan wafatnya Penebus kita, Perjanjian Baru telah mengambil alih
Hukum Lama yang telah dihapuskan … pada tiang kematian-Nya, Yesus telah membuat batal
Hukum Lama dengan ketentuan-ketentuannya [Ef. 2:15] … menetapkan Perjanjian Baru di
dalam Darah-Nya, yang ditumpahkan untuk segenap umat manusia. ‘Lalu’, ujar St. Leo Agung,
sewaktu ia berbicara tentang Salib Tuhan kita, ‘terjadi suatu peralihan yang sedemikian
rupa dari Hukum Lama kepada Injil, dari Sinagoga kepada Gereja, dari banyak kurban
kepada satu Kurban, sehingga, sewaktu Tuhan kita wafat, tabir mistis yang menyembunyikan
bagian terdalam dari bait dan rahasianya yang kudus, telah terkoyakkan dengan dahsyat
dari atas ke bawah. Di Salib, oleh sebab itu, Hukum Lama telah mati; dan akan segera
dikuburkan dan menjadi suatu pembawa kematian ….”54
Yohanes Paulus II menentang dogma ini berulang kali, dalam perkataan dan perbuatan – suatu dogma
yang diajarkan oleh Gereja Katolik selama 2000 tahun, yang didefinisikan secara infalibel oleh Konsili
Florence, dan diteguhkan dengan jelas oleh Paus Benediktus XIV dan Paus Pius XII.
Di dalam sambutan kepada para Yahudi di Mainz, Jerman Barat, 17 November 1980, Yohanes
Paulus II berbicara tentang, “Perjanjian Lama, tidak pernah dibatalkan oleh Allah...”55
Paus Benediktus XIV, Ex Quo Primum (#59), 1 Maret 1756:
“Bagaimanapun, mereka tidak berupaya untuk menaati asas-asas dari Hukum lama, yang,
seperti yang diketahui oleh semua orang, telah dbuat batal dengan kedatangan Kristus.”56
Kita melihat di sini bahwa Paus Benediktus XIV mengecam bidah yang diajarkan oleh Yohanes Paulus II,
bahwa Perjanjian Lama tidak pernah dibuat batal oleh Allah! Yohanes Paulus II mengulangi bidah yang
lancang yang sama ini di dalam suatu pidato pada tahun 1997:
Yohanes Paulus II, Pertemuan tentang Akar Anti-Semitisme, 1997:
“Bangsa ini [orang-orang Yahudi] telah dipanggil dan dibimbing oleh Allah, Pencipta Surga dan
Bumi. Maka dari itu, keberadaan mereka bukanlah suatu kejadian yang sekadar bersifat alamiah
atau kultural … Keberadaan mereka bersifat supernatural. Bangsa ini, walau bagaimanapun,
tetap merupakan bangsa milik perjanjian ….”57
Penting untuk dicatat bahwa “Uskup Agung” Sekte Vatikan II dari Strasbourg, Prancis, yang bernama
Joseph Doré, dengan gembira mengenang bidah Yohanes Paulus II yang telah disebutkan itu sehubungan
dengan Perjanjian Lama, yang dituturkan oleh Yohanes Paulus II di Mainz, Jerman Barat dan di tempat
lainnya. Perhatikan bahwa “Uskup Agung” Doré mengakui bahwa Vatikan II telah mengubah ajaran
tradisional Gereja tentang berakhirnya Perjanjian Lama.
Uskup Agung Joseph Doré dari Strasbourg, Prancis, Pidato kepada B’nai Brith (Serikat Freemason
Yahudi), Agustus 2003:
“Apa pun gambarannya [tentang orang-orang Yahudi di dalam seni Katolik tradisional] ... pesan
teologisnya tetap sama – pilihan Allah sekarang telah berpindah kepada orang-orang
Kristiani; dan Gereja, Israel yang sejati, dapat berjaya, Ia yang mengakui kebenaran yang
menyelamatkan yang dibawakan oleh Kristus.
243
“Di Vatikan II, Gereja Katolik pada akhirnya merevisi ajaran ini dan memahami
seberapa jauhnya ajaran itu menentang Alkitab sendiri ... Pada tahun 1973, keuskupan Prancis,
terutama di bawah pengaruh Mons. Elchinger, [mantan] Uskup Strasbourg, menerbitkan sebuah
dokumen yang tiada tara kekuatan moralnya tentang hubungan Yahudi-Kristiani, sedangkan
Paus Yohanes Paulus II pada beberapa kesempatan mengenang kepermanenan Perjanjian
yang Pertama [Ed. Perjanjian Lama], ‘yang tidak pernah dibatalkan’ oleh Allah [Yohanes
Paulus II, Mainz, Jerman Barat, 1980]. Pada hari ini, kami ingin bekerja bersama dengan saudara-
saudara kami yang lebih tua demi mencapai rekonsiliasi dan dialog persaudaraan. namun , kita
harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa doktrin pelecehan itu dan ‘teologi
substitusi’ – yang menjadikan Gereja sebagai satu-satunya Israel Allah yang baru – masih
meresapi benak banyak orang.”58
Kenyataannya, Yohanes Paulus II mengajarkan bidah yang sama tentang Perjanjian Lama di
katekismusnya yang baru, yang kembali menentang dogma Katolik secara langsung.
Yohanes Paulus II, Katekismus Baru Gereja Katolik, paragraf 121:
” ... sebab Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.”59
Pesan Yohanes Paulus II yang Mencengangkan pada Perayaan di Sinagoga
Yahudi
Yohanes Paulus II, Pesan kepada Kepala Rabi dari Roma, 23 Mei 2004:
“Kepada Dr. Riccardo Di Segni yang amat terhormat, Kepala Rabi dari Roma. Shalom! Dengan sukacita
yang mendalam saya bergabung dengan Komunitas Yahudi di Roma yang sedang merayakan ulang
tahun keseratus Sinagoga Agung Roma, suatu simbol dan peringatan seratus tahunan beradanya
bangsa milik Perjanjian Sinai di kota ini. Selama lebih dari 2000 tahun komunitas anda telah menjadi
suatu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan di kota ini; komunitas anda dapat berbangga diri
sebagai komunitas Yahudi terkuno di Eropa Barat dan sebab komunitas anda telah memainkan
peran yang terpenting di dalam penyebaran agama Yahudi di Benua ini. Oleh sebab itu, perayaan
yang berlangsung pada hari ini memiliki makna yang khusus ... sebab saya tidak dapat hadir secara
pribadi, saya telah meminta Vikaris Jenderal saya, Camillo Ruini, untuk mewakili saya; ia didampingi oleh
Kardinal Walter Kasper, Presiden dari Komisi Takhta Suci untuk Hubungan dengan Orang-Orang Yahudi.
Mereka secara resmi mengungkapkan keinginan saya untuk berada bersama anda pada hari ini.
“Dalam memberi kepada anda sambutan yang penuh hormat ini, yang terhormat Dr. Riccardo Di
Segni, saya menyampaikan salam hangat saya kepada segenap Anggota dari Komunitas ini, kepada
Presiden Mereka, Bapak Leone Elio Paserman, dan kepada semua orang yang berhimpun untuk
menyaksikan sekali lagi besarnya kepentingan dan kekuatan dari warisan rohani yang dirayakan
setiap hari Sabtu di dalam Sinagoga Agung Roma …
Kami semua dengan berbahagia bergabung dalam sukacita perayaan yang berlangsung pada
hari ini, perayaan yang memperingati abad pertama dari Sinagoga yang mengagumkan ini.
Sinagoga berdiri di tepi sungai Tiber ini memberi kesaksian iman dan pujian kepada Yang Mahakuasa
dengan keharmonisan garis-garis arsitekturnya. Komunitas Kristiani Roma, melalui Penerus Petrus,
bergabung bersama anda dalam mengucap syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang
berbahagia ini [ulang tahun ke-100 dari Sinagoga ini !]. Seperti yang saya katakan pada saat
Kunjungan yang telah saya sebutkan, kami memberi salam kepada anda sebagai ‘saudara-saudara
yang terkasih’ dalam iman Abraham, Bapa bangs akita … anda terus menjadi anak sulung milik
Perjanjian (Liturgi Jumat Agung, Doa Syafaat Umum, Untuk Orang-Orang Yahudi) …
244
[Hubungan-hubungan yang bersahabat ini] menyaksikan kesatuan kita dalam mengenang para
korban Shoah [orang-orang Yahudi yang telah meninggal yang tidak menerima Kristus], terutama
mereka yang direnggut dari keluarga-keluarga mereka dan dari Komunitas Yahudi anda yang
tercinta di Roma pada bulan Oktober 1943 dan yang diasingkan di Auschwitz. Semoga kenangan akan
mereka diberkati dan mendorong kita untuk bekerja sama sebagai saudara-saudari ...
Gereja tidak ragu untuk mengutarakan dukacitanya atas ‘kegagalan putra-putrinya di sepanjang
masa’ dan, dalam tindak pertobatan, Gereja telah memohon ampun atas tanggung jawab mereka
yang terhubung sedikit pun dengan wabah anti-Yahudi dan anti-Semitisme ….
Hari ini ... kami memanjatkan sebuah doa yang penuh semangat kepada Yang Abadi, kepada Allah
Shalom, agar permusuhan dan kebencian tidak lagi menguasai mereka yang berpaling kepada bapa kita,
Abraham – orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim ...
“Pertemuan kita pada hari ini kiasannya mempersiapkan hari raya Shavu’ot anda dan hari raya
Pentakosta kami yang sebentar lagi akan datang yang genapnya perayaan paskah kita masing-masing.
Semoga pesta-pesta ini mempersatukan kita dalam doa paskah Hallel milik Daud.” (L’Osservatore
Romano, 2 Juni 2004, hal. 7.)
Berikut suatu rangkuman singkat dari pesan Yohanes Paulus II pada tahun 2004 dalam perayaan
sinagoga itu:
1) Ia bergabung bersama komunitas Yahudi dalam merayakan ulang tahun ke-100 sinagoga ini
– kemurtadan.
2) Ia berkata bahwa komunitas Yahudi ini dapat berbangga diri sebagai sinagoga terkuno di Eropa
Barat dan sebagai sinagoga yang telah menyebarkan agama Yahudi –kemurtadan total.
3) Ia secara resmi mengungkapkan harapannya agar ia dapat berada bersama mereka, di dalam
sinagoga, dan merayakannya – kemurtadan.
4) Ia memuji pentingnya dan semangat dari agama yang diselenggarakan setiap Sabtu di Roma –
kemurtadan.
5) Mewakili seluruh Komunitas Kristiani di Roma, sebagai yang diakuinya ‘penerus St. Petrus’. Ia
berterima kasih secara resmi kepada Tuhan untuk 100 tahun sinagoga! – kemurtadan!
6) Ia menyambut para Yahudi sebagai saudara-saudara seiman dari Abraham, yang merupakan
sebuah penolakan penuh Kristus, seperti yang Kitab Suci ajarkan, hanya mereka yang milik
Kristuslah yang memiliki iman Abraham.
Galatia 3:14 – “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham
sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah
dijanjikan itu.
Galatia 3:29- “Dan jikalau kamu yaitu milik Kristus, maka kamu juga yaitu
keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”
245
Paus St. Gregorius Agung (sekitar 590 Masehi):
”...jikalau kamu yaitu milik Kristus, maka kamu juga yaitu keturunan Abraham (Gal.
3:29). Jika kita sebab iman kita kepada Kristus dijadikan anak-anak Abraham,
maka dari itu para Yahudi akibat ketidakberimanan mereka telah berhenti
menjadi keturunan-Nya.”60
Paus St. Leo Agung, Surat Dogmatis kepada Flavianus (449), dibacakan pada Konsili
Kalsedon (451), ex cathedra:
“Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak
dikatakan ‘kepada keturunan-keturunannya’ seolah-olah dimaksud banyak orang, namun
hanya satu orang: ‘dan kepada keturunanmu‘, yaitu Kristus. (Gal. 3:16)”61
7) Ia berkata bahwa para Yahudi ‘tetap menjadi menjadi anak sulung dari orang-orang terjanji di
dalam Perjanjian’, untuk mengutip doa Jumat Agung Misa Baru, yang mendoakan agar para
Yahudi ‘terus’ bertumbuh di dalam kesetiaan kepada Perjanjian Allah. Yohanes Paulus II
mengajarkan terang-terangan, sekali lagi, bahwa Perjanjian orang-orang Yahudi dengan Allah
masihlah berlaku – suatu bidah yang lancang.
8) Ia memperingati mereka yang meninggal sebagai orang Yahudi dan berkata bahwa kenangan
akan mereka harus diberkati – bidah.
9) Mewakili ‘Gereja’, ia bertobat dari seluruh anti-Yahudi – kemurtadan. Hal ini termasuk dogma
Gereja yang anti-Yahudi bahwa orang-orang Yahudi yang meninggal tanpa berkonversi ke
Katolisisme masuk Neraka, dan oleh sebab itu harus berkonversi untuk dapat diselamatkan. Ia
hanyalah mengolok-olok Tuhan kita dan Gereja.
Pidato ini yaitu salah satu penghujatan dan bidah Yohanes Paulus II yang terburuk. Yohanes Paulus II
sama sekali menolak Kristus; ia jelas-jelas mengajarkan bahwa Perjanjian Lama masih berlaku; ia sama
sekali menolak Yesus Kristus dan Iman Katolik; ia melakukan kemurtadannya ini di depan muka dunia.
Mereka yang tetap percaya bahwa bidah dan orang murtad terang-terangan ini yaitu Katolik, walaupun
mereka sadar akan fakta-fakta ini, dan menolak untuk menyangkalnya sebagai seorang bidah, benar-
benar musuh-musuh dari Allah.
1 Yohanes 22- “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus yaitu
Kristus? Dia itu yaitu antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.”
Teman terdekat Yohanes Paulus, Jerzy Kluger, yaitu seorang Yahudi.
246
Yohanes Paulus II memeluk teman baiknya, seorang Yahudi, Jerzy Kluger
Tentu saja, Yohanes Paulus II tidak pernah mencoba mengonversikan Kluger. Kluger berkata terang-
terangan bahwa Yohanes Paulus II tidak pernah memberi kepadanya tanda-tanda sedikit pun bahwa
ia ingin mengonversikannya. Malah, Kluger menyatakan berutang budi kepada hubungannya yang
panjang bersama Yohanes Paulus II yang membuatnya ‘merasa lebih Yahudi’. Sewaktu muda, Yohanes
Paulus II menjadi kiper sepak bola di tim Yahudi bersama Kluger; mereka bermain melawan anak-anak
Katolik. Di dalam sebuah surat kepada Kluger pada tanggal 30 Maret 1989, tentang penghancuran sebuah
sinagoga pada Perang Dunia II, Yohanes Paulus II menuliskan hal berikut:
“Saya menghormati... juga tempat ibadah ini [sinagoga], yang dihancurkan para penyerbu.”62
Ini yaitu kemurtadan terang-terangan. Dengan menghormati sinagoga ini , Yohanes Paulus II
menghormati penolakan para Yahudi bahwa Yesus Kristus yaitu sang Mesias.
namun Jerzy Kluger bukan hanya satu-satunya orang Yahudi yang merasa lebih Yahudi akibat Yohanes
Paulus II. Juga ada sang maestro Yahudi, Gilbert Levine.
Maestro Yahudi, Gilbert Levine, bersama Yohanes Paulus II63
247
Levine mengatakan bahwa selama hubungannya bertahun-tahun, Yohanes Paulus II tidak pernah
menunjukkan tanda-tanda sedikit pun bahwa ia ingin mengonversikannya. Levine juga menunjukkan
secara publik bahwa, sesudah mengenal Yohanes Paulus II, ia kembali mempraktikkan agama Yahudi.
Yohanes Paulus II meminta Levine untuk mengadakan konser di Vatikan untuk memperingati Holocaust.
Levine setuju, dan dengan kehadiran Anti-Paus Yohanes Paulus II konser ini terlaksana di Vatikan.
Semua salib ditutupi.
Yohanes Paulus II duduk di samping Rabbi Yahudi untuk Konser Holocaust di dalam sebuah Ibadat Doa
Yahudi di Vatikan
Konser ini dimulai dengan “Kol Nidre”, doa yang dinyanyikan pada hari tersuci di kalender Yahudi.
Beberapa dari orang-orang Yahudi yang hadir juga menyalakan lilin-lilin pada saat perayaan ini ,
yang segera menjadi sebuah ibadat rohani di Vatikan. sesudah konser ini , Levine menyatakan:
“Saya merasa seperti berada di dalam sebuah ibadat liturgi di Vatikan. Itu yaitu sebuah malam
doa... doa Yahudi.”64
sesudah konser, Yohanes Paulus II memanggil Levine untuk menerima penghargaan Kekesatriaan
Vatikan. Levine menjadi Knight Commander dari Ordo Ekuestrian St. Gregorius Agung. Yohanes Paulus II
menunjuk ‘Kardinal’ Lustiger dari Paris untuk menganugerahkan penghormatan ini . Lustiger
sendiri, yang dibesarkan sebagai seorang Yahudi, menyatakan pada sebuah wawancara di tahun 1981:
“Saya seorang Yahudi. Untuk saya, kedua agama ini yaitu satu.”65 Penghargaan yang Yohanes
Paulus II berikan kepada Levine yaitu salah satu penghargaan tertinggi yang dapat dianugerahkan
kepada seorang awam.
Gilbert Levine menyingkap dalamnya kemurtadan Yohanes Paulus II di
dalam sebuah wawancara pada acara Larry King Live, 4 April 2005.
Pada sebuah wawancara di Larry King Live di CNN, 4 April 2005, Gilbert Levine menunjukkan bahwa
Yohanes Paulus II:
- Mengirimkan tiap-tiap dari putranya surat untuk memberi mereka selamat atas bar mitzvah
mereka;
- Bahwa Yohanes Paulus II sendiri memberi keluarganya sebuah menorah Yahudi;
- Bahwa Yohanes Paulus II memerintahkan ‘Kardinal’ Kasper untuk mengirimkan kepada Levine
sebuah surat dalam rangka bar mitzvah ini yang ‘sangat bagus’, yang mengatakan agar
mereka bangga akan warisan Yahudi mereka dan supaya mereka ‘hidup sepenuhnya sebagai
orang Yahudi’, dan bahwa surat ini sangatlah Yahudi sampai sang rabbi yang berkata bahwa
surat ini datang dari seorang rabbi, walaupun sebenarnya dari Kasper yang
mengirimkannya atas nama Yohanes Paulus II.
248
Hal ini membuktikan bahwa Yohanes Paulus II secara resmi mendorong praktik Yahudi; bahwa ia
menyutujui secara resmi penolakan Kristus; bahwa ia secara resmi membantu orang-orang
mempraktikkan Perjanjian Lama; dan bahwa ia menyelenggarakan perayaan agama Yahudi bersama
mereka. Jika seseorang telah mengetahui fakta-fakta ini dan tetap berkata bahwa Yohanes Paulus II
bukanlah seorang non-Katolik yang murtad, orang itu menolak Yesus Kristus – tanda titik. Berikut yaitu
petikan dari wawancara di Larry King Live di saluran CNN:
“KING: Sejauh mana ia mengerti musiknya?
“LEVINE: Dengan sangat baik. Ia mengerti banyak sekali sampai saya, sebagai seorang
konduktor Yahudi menyarankan konser tahun 1994 di mana saya memainkan sebuah
karya untuk Mahler. Dan ia berkata, “bukankah Mahler berkonversi ke Katolisisme untuk
menjadi seorang direktur musik dari Philharmonic Wina?” Saya sebagai seorang musisi
tidak berpikir sampai hal itu. Bukannya saya tidak mengetahuinya, saya tidak
memikirkannya. Ia sangat sensitif akan isu-isu Yahudi. Dan ia ingin memperluasnya. Dan
apa yang terjadi yaitu ia merasa bahwa musik dapat menjadi alat untuk dialog
antaragama.
“KING: Paus menyelamati bar mitzvah {ritual Yahudi untuk anak-anak yang menginjak
masa remaja} anak-anak anda?
“LEVINE: Bukan hanya menyelamati kami, ia mengirimkan sebuah menorah kepada kami.
“KING: Ia mengirimkan kalian sebuah menorah?
“LEVINE: Sebenarnya, ia memberi nya kepada kami, ia tidak mengirimkannya. Ia benar-
benar memberi kami sebuah menorah. Saya kira {menorah} itu berasal dari abad ke-16 di
Praha. Itu yaitu menorah yang sangat cantik. Ia mengirimkan sebuah surat pada acara bar
mitzvah untuk setiap putra-putra saya. Ia juga memerintahkan kardinal bertugas atas
hubungan Katolik/Yahudi untuk mengirimkan sebuah surat yang dibaca keras-keras di
depan sinagoga Ortodoks saya pada acara bar mitzvah putra saya baru-baru ini, dan sang
rabbi membacakannya seperti halnya surat ini datang dari seorang rabbi. Pada
akhirnya, surat itu berkata ‘dari Rabbi Joel Schwartz’. Ia berkata, namun surat itu bukanlah
dari Rabbi Joel Schwartz. Surat itu dari Rabbi – dari Kardinal Kasper. Sungguh
mengagumkan. Itu yaitu surat yang berkata, anda harus bangga akan warisan Yahudi
anda dan hidup sepenuhnya sebagai seorang Yahudi.
“KING: Di mana anda selama ini? Mengapa kami bertemu anda baru-baru ini saja? Anda menjadi
konduktor di banyak tempat?
“LEVINE: Ya. Saya menjadi konduktor di mana-mana, dan saya menjadi konduktor untuknya di
Vatikan banyak kali. Saya menjadi konduktor untuknya pula pada Hari Orang Muda Sedunia di
Denver. Saya, menjadi konduktor untuk orang-orang muda Katolik? Dan untuk hal ini , ia
datang kepada saya dan mengganggu pertunjukan seluruhnya, memeluk saya dan berkata,
apakah saya mengganggu anda, Maestro? Dan bahkan ia menyetop seluruh pertunjukan itu.
“KING: Apakah anda akan pergi ke pemakamannya?
“LEVINE: Tentu saja. Saya akan pergi besok pagi. Dan saya akan berada di pemakaman itu. Saya
tidak bisa tidak berada di sana.” – Akhir dari kutipan wawancara66
249
Perhatikan bahwa Gilbert Levine ingin memakai musik seorang mantan Yahudi, Mahler, untuk
konser ini , namun Yohanes Paulus II tidak memperbolehkannya dengan berkata bahwa Mahler
yaitu seorang Yahudi yang berkonversi kepada Katolisisme!
Yohanes Paulus II Berdoa di Tembok Ratapan
Pada tanggal 26 Maret 2000, Yohanes Paulus II berdoa di Tembok Ratapan di Yerusalem. Tembok
Ratapan yaitu bebatuan sisa dari Bait Yahudi di Yerusalem yang dihancurkan orang Romawi pada tahun
70 Masehi. Para orang Yahudi berdoa di Tembok Barat sebagai tempat tersuci di dalam agama Yahudi.
Yohanes Paulus II berdoa di Tembok Ratapan atau Tembok Barat di Yerusalem
Kehancuran Bait Yahudi pada tahun 70 Masehi, yang hanya meninggalkan Tembok Barat selalu
dimengerti oleh orang-orang Katolik sebagai penghakiman Allah atas orang-orang Yahudi. Kehancuran
Bait Yahudi ini mencegah orang-orang Yahudi untuk dapat memberi kurban, yang
berarti agama mereka telah berakhir Kehancuran Bait Yahudi yaitu tanda yang kuat dari Allah
kepada para Yahudi bahwa sang Mesias telah datang, bahwa Perjanjian Lama telah berakhir, dan
bahwa Bait ini telah digantikan oleh Gereja Katolik.
Maka, sewaktu seorang Yahudi berdoa di Tembok Barat, atau meninggalkan sebuah doa di sana, hal
ini yaitu sebuah penolakan bahwa Yesus yaitu sang Mesias, hal itu yaitu sebuah penegasan
bahwa ia berteguh bahwa Perjanjian Lama masih berlaku; dan hal ini yaitu sebuah upaya yang
menyedihkan dan memilukan untuk tidak mengindahkan tanda dari Allah yang sangat jelas bahwa
orang-orang Yahudi harus meninggalkan Bait yang telah dihancurkan dan masuk kepada Gereja Katolik.
Maka, sewaktu Yohanes Paulus II sendiri berdoa di Tembok Barat pada bulan Maret 2000, hal ini
yaitu sebuah upaya untuk mengesahkan agama Yahudi. Hal ini yaitu penolakan bahwa Yesus
Kristus yaitu Mesias, sebuah tanda bahwa ia berpegang teguh bahwa Perjanjian Lama masih berlaku,
dan sebuah olok-olok akan tanda yang jelas dari Allah bahwa orang-orang Yahudi harus meninggalkan
Bait yang telah dihancurkan itu dan memasuki Gereja Katolik. Seorang komentator yang memperhatikan
hal ini menyatakan bahwa, sewaktu Yohanes Paulus II berdoa di Tembok Barat, kebanyakan dari
bangsa Israel menontonnya di televisi. Hal ini berarti bahwa semua orang Yahudi yang menonton
di televisi diberikan kesan oleh Yohanes Paulus II bahwa ia tidak perlu berkonversi kepada Yesus Kristus
sebab Kristus bukanlah sang Mesias.
Doa yang ditinggalkan oleh Yohanes Paulus II di Tembok Barat memohon ampun atas dosa-dosa yang
dilakukan kepada orang-orang Yahudi.
250
Kemurtadan Lain bersama orang-orang Yahudi di dalam Kepemimpinan
Yohanes Paulus II
Pada akhir tahun 2001, sebuah Komisi Vatikan di bawah Yohanes Paulus II mengeluarkan sebuah buku
yang berjudul The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible {Orang-orang Yahudi
dan Kitab Suci Mereka di dalam Kitab Suci Kristiani}. Buku ini mengusulkan bahwa penantian orang-
orang Yahudi untuk Mesias yang akan datang tetaplah sah. Lebih banyak tentang buku ini akan
dibahas di dalam bagian tentang Benediktus XVI.
Pada tanggal 12 Agustus 2002, uskup-uskup Amerika bersama Yohanes Paulus II mengeluarkan sebuah
dokumen tentang orang-orang Yahudi. Dipimpin oleh William Keeler dari Baltimore, seseorang yang
murtad, dan tanpa penolakan sedikit pun dari Yohanes Paulus II, dokumen ini berkata: ”...upaya-
upaya yang menargetkan konversi orang-orang Yahudi kepada Kekristenan tidak lagi dapat diterima
secara teologis di dalam Gereja Katolik.”67
Seluruh hal ini membuktikan bahwa Yohanes Paulus II dan para uskupnya yaitu orang-orang yang
sudah murtad dari Iman Katolik.
yang mencengangkan tentang orang-orang
Non-Katolik yang telah dibaptis (yaitu para bidah dan skismatis)
Kami telah menelaah dan menunjukkan secara rinci kemurtadan Yohanes Paulus II yang tidak
terpungkiri bersama paganisme, Islam, dan Yahudi. Di samping banyak pernyataan dan tindakan yang
sesat dan murtad yang Yohanes Paulus II lakukan bersama para pengikut agama-agama sesat non-
Kristiani ini , ada pula bidah-bidahnya yang mencengangkan tentang orang-orang non-Katolik
yang telah dibaptis dan sekte-sekte sesat mereka. Misalnya:
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa para skismatis tidak perlu
dikonversikan
Yohanes Paulus II di dalam Katedral St. George ’Ortodoks’ Suriah bersama para skismatis, Patriark Zakka
I dan Ignatius IV pada tahun 200168
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa para Skismatis Timur (para ‘Ortodoks’) tidak perlu dikonversikan
ke dalam Gereja Katolik. Sebagai latar belakang: para Skismatis Timur (para ‘Ortodoks’) menolak dogma
Kepausan, yang berarti mereka menolak otoritas tertinggi dari semua Paus di dalam sejarah. Mereka
menolak dogma Infalibilitas Kepausan: suatu kebenaran bahwa seorang Paus mengajarkan secara
infalibel sewaktu ia berbicara dari Takhta Petrus. Mereka menolak dogma bahwa Bunda Maria
251
Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal, mereka menolak 13 Konsili Gereja Katolik Roma terakhir, dan mereka
mengizinkan perceraian dan pernikahan ulang.
Yohanes Paulus II, Homili, 23 Mei 2002:
“Saya ingin mengulangi sekali lagi, hormat saya kepada anda, Gereja Ortodoks yang
Kudus...”69
Di dalam Directory for the Application of the Principles and Norms of Ecumenism {Pedoman Penerapan
Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme}-nya yang memalukan, Yohanes Paulus II mendorong
ibadat antaragama bersama para Skismatis Timur ini dan berkata: ”...semua kesan-kesan proselitisme
harus dihindari.”70 Seperti yang kami akan bahas lebih lanjut, Yohanes Paulus II menyetujui Petunjuk
Ekumenisme di dalam Ut Unum Sint #58 dan di tempat lain.
Proselitisme yaitu upaya untuk mengonversikan seseorang. Maka, Yohanes Paulus II menegaskan
bahwa semua upaya untuk mengonversikan para Skismatis Timur harus dihindari. Berikut yaitu kata-
kata seorang Paus Katolik sejati, Paus Benediktus XIV tentang topik yang benar-benar sama.
Paus Benediktus XIV, Allatae Sunt (#19), 26 Juli 1755:
“Pertama-tama, misionaris yang berupaya bersama bantuan Allah untuk membawa kembali para
skismatis Yunani dan timur kepada persatuan harus membaktikan semua usahanya kepada
satu tujuan yaitu untuk membebaskan mereka dari doktrin-doktrin yang bertentangan
dengan iman Katolik.”71
Paus Benediktus XIV, Allatae Sunt (#19):
“Sebab satu-satunya karya yang dipercayakan kepada misionaris ini yaitu untuk
memanggil para Oriental untuk kembali kepada iman Katolik...”72
Seseorang dapat dengan mudah melihat perbedaan antara kedua agama ini : agama Katolik
mengajarkan bahwa semua ajaran-ajarannya harus diterima dan para non-Katolik harus dikonversikan.
Agama non-Katolik Yohanes Paulus II (agama Vatikan II) mengajarkan bahwa iman Katolik sama sekali
tidak berarti dan bahwa orang-orang non-Katolik tidak seharusnya dikonversikan.
Walter Kasper, seorang anggota tingkat tinggi Gereja Vatikan II, mengerti hal ini dengan sangat baik.
Kasper dijadikan seorang ‘Kardinal’ dan kepala dari Konsili Vatikan untuk Promosi Kesatuan Kristiani
oleh Yohanes Paulus II. Benediktus XVI meneguhkan Kasper di dalam posisinya sebagai kepala dari
Konsili Vatikan untuk Promosi Kesatuan Kristiani. Kasper mengungkapkan pandangan Yohanes Paulus II
dan Benediktus XVI dengan berkata sebagai berikut:
” ... pada hari ini kita tidak lagi memahami ekumenisme dengan makna kepulangan, yang
membuat orang lain ‘berkonversi’ dan kembali menjadi Katolik. Makna ini secara jelas
ditinggalkan oleh Vatikan II.”73
Orang-orang Katolik yang disiksa dan dimartir sebab mereka menolak
menjadi Skismatis Timur
Di dalam ensikliknya di tahun 1945 Orientalis Omnes Ecclesias, Paus Pius XII memberi beberapa
contoh orang-orang Katolik di dalam sejarah yang disiksa dan dibunuh sebab mereka tidak
meninggalkan kesetiaan kepada Kepausan dan menjadi skismatis ‘Ortodoks’ Timur. St. Yosafat yaitu
salah satu contoh yang terkenal, namun ada banyak yang lain. St. Yosafat mengonversikan banyak
252
orang-orang Skismatis Timur kembali kepada Iman Katolik sampai waktu ia dibunuh oleh mereka atas
upaya-upayanya untuk membawa orang-orang kembali kepada kesatuan bersama Kepausan.
Paus Pius XII, Orientales Omnes Ecclesias (#15), 23 Desember 1945:
“Yosafat Kuntzevitch... terkenal untuk kesucian hidupnya dan semangat apostoliknya, dan yaitu
seorang juara kesatuan Katolik yang berani. Ia diburu oleh para skismatis dengan kebencian
yang pahit dan niat untuk membunuhnya, dan pada tanggal 12 November 1623 ia dilukai
dan dibunuh secara tidak manusiawi dengan tombak.”74
ada banyak orang-orang lain yang didenda, dicambuk, disiksa, ditenggelamkan, dan dibunuh sebab
mereka tidak ingin menjadi Skismatis Timur.
Paus Pius XII, Orientales Omnes Ecclesias (#20), 23 Desember 1945:
“Orang-orang beriman ini yang tidak meninggalkan iman sejati, dan yang dengan
penuh tanggung jawab dan keberanian melawan persatuan dengan Gereja pemberontak
[skismatis] yang dipaksakan pada tahun 1875, dengan secara hina dihukum dengan
denda, cambuk, dan pengasingan.”75
Paus Pius XII, Orientales Omnes Ecclesias (#46), 23 Desember 1945:
“Komunitas Rutenia menerima...kumpulan para pengaku dosa dan martir yang mulia. Untuk
menjaga iman mereka agar tidak cacat dan untuk menjaga kesetiaan mereka yang
bersemangat kepada para Paus Roma, orang-orang ini tidak berpikir dua kali untuk
menanggung berbagai susah payah, ataupun dengan senang hati bertemu ajal mereka...
Yosafat Kuntzevitch... Ia yaitu seorang martir yang luar biasa untuk iman Katolik dan
kesatuan pada waktu itu, namun ia bukan hanya satu-satunya; tidak sedikit dari para imam
dan orang awam menerima daun palma kemenangan sesudah nya; beberapa orang dibunuh
dengan pedang, beberapa orang dicambuk dengan kejam sampai mati, beberapa
ditenggelamkan di dalam {sungai} Dneiper, sampai mereka memperoleh kemenangan atas
kematian di Surga.”76
Paus Pius XII, Orientales Omnes Ecclesias (#49), 23 Desember 1945:
“Di samping semua ini, sebuah penindasan baru Katolisisme yang sama pahitnya dimulai
beberapa tahun sebelum pembagian Polandia. Pada waktu serdadu kaisar Russia telah menyerbu
Polandia, banyak gereja-gereja dari ritus Rutenia dirampas dari orang-orang Katolik dengan
kekerasan senjata; para imam yang menolak untuk murtad dari iman mereka [dan menjadi
skismatis] dirantai, diejek, disesah dan dimasukkan penjara, di mana mereka menderita
dengan sengsara dari kelaparan, kehausan dan kedinginan.”77
Lewat ajaran sesatnya bahwa para skismatis ‘Ortodoks’ tidak berada di luar Gereja dan tidak
membutuhkan konversi untuk kesalamatan, sekte Vatikan II mengolok-olok para santo-santa dan para
martir yang menderita sengsara agar tidak menjadi skismatis.
Deklarasi Balamand Vatikan bersama para Skismatis Timur yang disetujui
oleh Yohanes Paulus II, menolak dan menganggap upaya pengonversikan
orang-orang non-Katolik sebagai ‘eklesiologi yang ketinggalan zaman’
Pada tanggal 24 Juni 1993 Vatikan menandatangani Deklarasi Balamand bersama para Skismatis Timur
(yaitu ‘Gereja Ortodoks’). Di dalam Deklarasi Balamand ini (dikutip di bawah), yang telah disetujui oleh
Yohanes Paulus II, semua upaya untuk mengonversikan para Skismatis Timur ditolak sebagai ‘eklesiologi
253
berpulang ketinggalan zaman dari Gereja Katolik’ {eklesiologi berpulang – ecclesiology of return – lewat
upaya konversi, para Skismatis dapat ‘berpulang’ kembali ke dalam Iman Katolik}. Berikut yaitu
beberapa kutipan dari Deklarasi Balamand yang sangatlah sesat:
Deklarasi Balamand sekte Vatikan II bersama para ‘Ortodoks’, 1993, #10:
“Oleh sebab itu, situasi yang mengikuti hal ini menciptakan ketegangan dan pertentangan. Lambat
laun, beberapa dekade sesudah persatuan-persatuan ini, aktivitas misionaris cenderung
mengikutsertakan di dalam prioritasnya upaya-upaya untuk mengonversikan orang-orang
Kristen lain, secara individu atau di dalam kelompok, agar dapat ‘memulangkan mereka’ ke
dalam Gereja. Untuk memperlayak kecenderungan ini, yang merupakan sumber dari proselitisme,
Gereja Katolik mengembangkan pandangan teologis di mana ia menggambarkan dirinya sendiri
sebagai satu-satunya yang dipercayakan jalan keselamatan. Untuk menanggapi hal ini, Gereja
Ortodoks juga memegang pandangan ini, di mana hanya di dalamnya {Gereja Ortodoks} ada
keselamatan...”
#14-15: ” ... Menurut perkataan Paus Yohanes Paulus II, perjuangan ekumenis Gereja-Gereja Timur
dan Barat yang bersaudara, yang berlandaskan dialog dan doa, yaitu mengejar persekutuan yang
sempurna dan penuh, yang tidak terjadi melalui penyerapan ataupun peleburan melainkan melalui
pertemuan dalam kebenaran dan kasih (bandingkan Slavorum Apostoli, 27). 15. Walaupun kebebasan
para pribadi dan kewajiban mereka untuk mengikuti syarat-syarat hati nurani mereka tetap terjamin,
upaya untuk kembali menjalin kesatuan tidak melibatkan berkonversinya orang-orang dari
Gereja yang satu kepada Gereja yang lain demi memastikan keselamatan mereka.”
22. “Aktivitas penggembalaan di dalam Gereja Katolik, Latin maupun Oriental, tidak lagi
bertujuan untuk membuat umat satu Gereja berpindah ke Gereja yang lain; dalam kata lain, tidak
lagi bertujuan untuk mengonversikan orang-orang Ortodoks. Aktivitas ini bertujuan untuk
menjawab kebutuhan-kebutuhan rohani umat-umatnya sendiri dan tidak menginginkan ekspansi
yang menargetkan Gereja Ortodoks.”
30. “Untuk meratakan jalan bagi hubungan masa depan antara kedua Gereja, dengan cara
meninggalkan eklesiologi pemulangan yang ketinggalan zaman dari Gereja Katolik yang
berhubungan dengan masalah yang hendak diatasi dokumen ini, kami memberi sebuah perhatian
khusus kepada persiapan imam-imam di masa depan dan untuk semua yang terlibat secara langsung
maupun tidak langsung di dalam sebuah aktivitas penggembalaan di mana Gereja yang satunya berakar
secara tradisional. Pendidikan mereka haruslah menjadi, secara objektif, positif sehubungan Gereja yang
satunya.” (http://www.cin.org/east/balamand/html)
Ini yaitu sebuah bidah yang sangat lancang! Dokumen ini, yang disetujui oleh para Anti-Paus Vatikan II,
benar-benar salah satu bidah yang terburuk dari sekte Vatikan II. Dokumen ini menyebutkan secara
terang-terangan, lalu menolak sepenuhnya, dogma tradisional Gereja Katolik bahwa para skismatis harus
dikonversikan kepada Iman Katolik untuk persatuan dan keselamatan.
Yohanes Paulus II menyebut Deklarasi Balamand sebagai ‘langkah baru’ yang ‘seharusnya membantu
semua Gereja Ortodoks lokal dan semua Gereja Katolik lokal, Latin maupun Oriental, yang tinggal
bersama di dalam satu daerah, untuk melanjutkan komitmen mereka kepada dialog kasih dan untuk
memulai atau melanjutkan hubungan gotong-royong di dalam bidang penggembalaan mereka’.78
Mohon perhatikan terutama #14-15 yang mengatakan bahwa “upaya untuk kembali menjalin kesatuan
tidak melibatkan berkonversinya orang-orang dari Gereja yang satu kepada Gereja yang lain demi
memastikan keselamatan mereka ....” Mohon perhatikan bahwa Gereja Katolik ‘tidak menginginkan
ekspansi yang menargetkan Gereja Ortodoks’ dan #30, yang menolak “eklesiologi pemulangan yang
ketinggalan zaman dari Gereja Katolik”. Perhatikan bagaimana semuanya ini secara terang-terangan
254
menolak dogma Katolik bahwa para non-Katolik harus berpulang kembali kepada Gereja Katolik untuk
memperoleh keselamatan dan kesatuan Kristiani.
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10), 6 Januari 1928:
” ... upaya memajukan persatuan orang-orang Kristiani sama sekali tidak diizinkan selain dengan
cara mendukung pemulangan para pembangkang kepada Gereja Kristus yang satu dan sejati,
yang sayangnya telah mereka tinggalkan pada suatu kala.”79
Maka, faktanya yaitu bahwa Yohanes Paulus II dan sekte sesatnya menolak kata demi kata dogma iman
Katolik: kesatuan Kristiani hanya tercapai lewat konversi ke dalam Katolisisme. Kita melihat penolakan
ulang dogma Katolik ini di dalam kutipan berikutnya.
yang lain bersama para Skismatis ‘Ortodoks’
Timur
Yohanes Paulus II, Homili, 25 Januari 1993:
“Jalan untuk mencapai kesatuan Kristiani, sebenarnya, ‘menurut dokumen Komisi
Kepausan untuk Rusia, ‘bukanlah dengan proselitisme melainkan dialog
persaudaraan...’”80
Maka, kenyataannya yaitu bahwa Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa iman Roma tidak perlu dianut
oleh orang-orang non-Katolik; oleh sebab itu, ia tidak dapat dipandang sebagai orang yang menganut
Iman Katolik yang sejati.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#13), 29 Juni 1896:
“Tidaklah dapat dipercayai bahwa anda menganut iman Katolik yang sejati, jika anda tidak
mengajarkan bahwa iman Roma harus dianut.”81
Mereka yang berteguh, walaupun telah melihat fakta-fakta ini, bahwa Yohanes Paulus II harus dipandang
sebagai seseorang yang memegang iman Katolik yang sejati (dalam kata lain, bahwa ia yaitu seorang
Paus Katolik sejati) menolak ajaran Gereja Katolik ini.
Di dalam ensikliknya tentang Sts. Cyril and Methodius {St. Sirilus dan Methodius} (#27), Yohanes Paulus II
mengulangi bahwa para Skismatis Timur tidak boleh dikonversikan ke dalam Gereja Katolik. Ia berkata
bahwa kesatuan bersama para skismatis ‘tidak terjadi lewat penyerapan ataupun penggabungan’,82
yang berarti bukan lewat konversi. Seperti yang kita lihat di atas, Deklarasi Balamand dengan para
Ortodoks mengutip kata-kata ini dari ensiklik Yohanes Paulus II tentang St. Sirilus dan Methodius untuk
membuktikan bahwa orang-orang Katolik tidak seharusnya mengonversikan para Ortodoks.
Yohanes Paulus II meneguhkan ajaran sesat ini di dalam berbagai pertemuan dengan para skismatis.
Pada tanggal 24 Februari 2000, Yohanes Paulus II bertemu dengan Uskup skismatis dari Aleksandria
yang non-Katolik, ‘Paus’ Shenouda III.
255
Yohanes Paulus II bertemu dengan Uskup skismatis dari Aleksandria, yang menyebut dirinya sendiri
‘Paus’ Shenouda III
Di dalam pesannya kepada sang uskup skismatis ini , Yohanes Paulus II menyebutnya ‘Yang Mulia’
dan berkata:
Yohanes Paulus II, Pesan kepada ‘Paus’ Shenouda III, 24 Februari 2000:
“Saya bersyukur atas semua yang anda katakan Yang Mulia...Allah memberkati Gereja Paus
Shenouda. Terima kasih.”83
Di dalam kata lain, Yohanes Paulus II berkata: “Allah memberkati Gereja skismatis!” Hal ini yaitu sebuah
penolakan Iman Katolik. Kitab Suci secara khusus memberi tahu kita bahwa kita tidak boleh berkata
“Allah memberkati” kepada para bidah.
“Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima
dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.” (2 Yoh 1:10)
Dengan mengucapkan “Allah memberkati” kepada sebuah Gereja yang sesat, seseorang meminta Allah
untuk menggandakan dan menyebarkan sekte sesat ini .
256
Yohanes Paulus II dan Teoctist (Patriark skismatis dari Rumania) bersama-sama menolak untuk
mengonversikan satu sama lain di dalam sebuah Deklarasi Gabungan di tahun 2002.
Pada tanggal 12 Oktober 2002, Yohanes Paulus II dan Patriark skismatis dari Rumania bersama-sama
menolak untuk mencoba mengonversikan satu sama lain di dalam sebuah pernyataan bersama. Mereka
menyatakan “Tujuan dan keinginan kami yang besar yaitu persatuan secara penuh, yang tidak terjadi
lewat penyerapan...”84 Hal ini berarti bukan lewat konversi. Yohanes Paulus II sering memakai kata-
kata ‘tidak terjadi lewat penyerapan ataupun penggabungan’ untuk menunjukkan bahwa kesatuan
dengan para skismatis tidak terjadi dengan mengonversikan mereka. Ingatlah bahwa kata-kata ini
digunakan dengan arti ini di dalam Deklarasi Balamand (yang dikutip di atas) dengan sang ‘Ortodoks’
skismatis.
Teoctist, Patriark skismatis Rumania telah menyatakan bahwa pada tahun 1999, Yohanes Paulus II
memberi sebuah sumbangan besar kepada Gereja non-Katoliknya.85 Zenit News Services dan lainnya
(lihat gambar di atas) melaporkan bahwa sumbangan Yohanes Paulus II kepada sang patriark skismatis
berjumlah $100.000!
“Imam Rumania Ortodoks berkata hari ini bahwa Yohanes Paulus II telah menyumbangkan
$100.000 untuk pembangunan sebuah Katedral Ortodoks di sini yang dapat menampung hingga
2.000 orang, laporan dari Agence France-Presse.”86
Paus Inosensius III, Konsili Lateran IV, Konstitusi 3 tentang Bidah, 1215:
“Di samping itu, kami menetapkan bahwa orang-orang beriman yang menerima, melindungi, atau
menyokong para bidah diberikan ekskomunikasi.”87
Di dalam sambutannya pada hari yang sama dengan Deklarasi Gabungan mereka, Yohanes Paulus II
berkata kepada Patriark skismatis Teoctist: “Tujuannya yaitu ... untuk mencapai sebuah kesatuan yang
‘tidak dilakukan lewat penyerapan maupun penggabungan...’88
Maka, Yohanes Paulus II telah secara terang-terangan memastikan para pendengarnya berulang-ulang
kali bahwa para Katolik tidak boleh mengonversikan orang-orang non-Katolik dan bahwa Iman Katolik
tidak diperlukan untuk mencapai keselamatan.
Paus Pius IX, Nostis et Nobiscum (#10), 8 Desember 1849:
“Terutama, pastikan bahwa para umat beriman yakin secara mendalam dan menyeluruh
257
akan kebenaran tentang doktrin bahwa iman Katolik diperlukan untuk mencapai
keselamatan.”89
Faktanya, di dalam sambutan yang sama kepada Patriark Rumania, Yohanes Paulus II membuat
pernyataan yang mencengangkan berikut:
“Gereja Katolik mengakui misi Gereja-gereja Ortodoks di dalam negara-negara di mana ia telah
berakar selama berabad-abad. Ia {Gereja ‘Katolik’} hanya ingin membantu misi ini...”90
Untuk Yohanes Paulus II: Peduli amat Kepausan! Peduli amat bahwa selama 1000 tahun terakhir, para
skismatis telah menolak pernyataan-pernyataan dogmatis! Peduli amat tentang perceraian dan
pernikahan ulang! Peduli amat Gereja Katolik, menurut Yohanes Paulus II. Menurut si murtad ini, semua
hal ini tidak berarti apa-apa dan bahkan tidak boleh dipercayai sebab ‘Gereja’ hanya ingin agar orang-
orang ini tetap berada di dalam skisma dan di luar ajaran-ajarannya.
Paus Gregorius XVI, 27 Mei 1832:
“Janganlah tertipu, saudaraku, jika seseorang mengikuti seorang skismatis, ia tidak akan
mendapat warisan kerajaan Allah.”91
Paus Leo XII, Ensiklik, 24 Mei 1824:
“Kami berkata kepada anda semua yang masih terpisah dari Gereja yang sejati dan jalam
keselamatan. Di dalam sukacita universal ini, satu hal masih kurang, hendaknya...anda dapat
dengan tulus setuju dengan bunda Gereja, yang di luar ajarannya tidak ada
keselamatan.”92
Paus Leo XII, Ubi Primum (#14), 5 Mei 1824:
“yaitu sesuatu yang tidak mungkin bahwa Allah yang benar, yang merupakan kebenaran itu
sendiri, sang Penyedia yang terbaik dan terbijaksana, dan Pemberi karunia kepada manusia yang
baik, menyetujui semua sekte yang mengakui ajaran-ajaran sesat yang sering tidak konsisten
satu sama lain dan bertentangan, dan memberi keselamatan abadi kepada anggota-
anggotanya... oleh iman ilahi kami mengakui satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan... Inilah
mengapa kami mengakui bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja.”93
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#11), 6 Januari 1928:
“Gereja Katolik yaitu satu-satunya yang menjaga ibadat sejati ... jika seseorang tidak masuk ke
dalamnya, atau jika seseorang keluar darinya, ia kehilangan segala harapan akan hidup
dan keselamatan.”94
258
Di sini kita melihat Yohanes Paulus II dan Patriark skismatis Teoctist duduk di kursi yang sama tingginya
Ini merupakan sebuah tindakan lain yang Yohanes Paulus II tunjukkan bahwa ia menerima bidah
‘Ortodoks’ bahwa semua uskup yaitu sama derajatnya. Yohanes Paulus II berpegang bahwa tidak
masalah jika seseorang menolak Keutamaan Uskup Roma.
Di musim panas 2003, Yohanes II sekali lagi menolak proselitisme para Skismatis Timur.
Yohanes Paulus II, Ecclesia in Europa, Nasihat Penggembalaan sesudah Sinode, 28 Juni 2003:
“Pada waktu yang bersamaan saya ingin meyakinkan sekali lagi para imam dan saudara-
saudara kami dari Gereja Ortodoks bahwa penginjilan baru tidak sama sekali boleh
dicampuradukkan dengan proselitisme...”95
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 4, Bab 3, ex cathedra:
“Terlebih lagi, Kami mengajarkan dan mendeklarasikan bahwa Gereja Roma, lewat aturan dari
Tuhan, memegang kekuasaan dari semua kekuatan biasa di atas yang lain-lain...Ini yaitu
doktrin kebenaran Katolik yang dari mana tidak seorang pun dapat menyimpang dan
tetap menjaga iman dan keselamatannya.”96
Definisi infalibel Vatikan I mendeklarasikan bahwa setiap orang yang menyimpang dari dogma Kepausan
(bahwa Paus Roma memegang kekuasaan di dalam Gereja Kristus); sehingga para skismatis ’Ortodoks’
dan para Protestan tidak dapat menjaga iman dan keselamatan mereka. namun , Yohanes Paulus II
mengatakan kepada kita bahwa para skismatis Ortodoks dan Protestan tidak hanya dapat menjaga iman
dan keselamatan mereka sambil menolak Kepausan, namun tidak boleh percaya akan Kepausan. Ia benar-
benar yaitu seorang bidah yang menolak dogma Vatikan I ini.
Yohanes Paulus II mengumumkan sebuah Persatuan dan Kesatuan Iman
dengan Sekte-sekte Non-Katolik
Di dalam ensikliknya Ut Unum Sint, Yohanes Paulus II mengumumkan bahwa ‘Gereja’-nya ada di
dalam persatuan dengan sekte-sekte non-Katolik 16 kali, dan ia mengumumkan bahwa ia memiliki iman
yang sama dengan sekte-sekte non-Katolik 8 kali.
259
Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#62), 25 Mei 1995, berbicara tentang Patriark Skismatis non-
Katolik dari Etiopia:
“Sewaktu Patriark yang terhormat dari Gereja Etiopia, Abuna Paulos, mengunjungi saya di Roma
pada tanggal 11 Juni 1003, bersama-sama kami menegaskan persatuan yang dalam yang
ada di antara kedua Gereja kami: ‘Kami memiliki iman yang sama yang diturunkan
dari para Rasul... terlebih lagi, kami dapat menekankan bahwa kami memiliki iman yang satu
di dalam Kristus...’”97
Paus St. Leo Agung, Khotbah 129:
“Oleh sebab itu, sebab di luar Gereja Katolik tiada sesuatu pun yang sempurna, tiada yang tidak
cemar... kami tidak sedikit pun sama seperti mereka yang terpisah dari kesatuan Tubuh
Kristus; kami sama sekali tidak bersatu {dengan mereka}.”98
Sewaktu Yohanes Paulus II berkata b











