Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 10. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 10


 yang 

terjahat. 

Paus Kalikstus III: 

“Saya bersumpah untuk ... meninggikan Iman sejati, dan untuk menumpas sekte iblis dari 

Mahomet [Islam] yang terkutuk dan tidak beriman di Dunia Timur.”40 

Di sepanjang abad pertengahan, berlangsung pertempuran rohaniah dan jasmaniah yang terus-menerus 

antara Dunia Kristiani Barat dan pasukan Islam. Pernyataan Yohanes Paulus II ini tergolong suatu 

penolakan terhadap Yesus Kristus dan kemurtadan formal. Tidak ada orang Katolik yang boleh membuat 

pernyataan semacam itu bahkan sekali pun. 

Yohanes Paulus II meminta St. Yohanes Pembaptis untuk 

melindungi Islam! 

Pada tanggal 21 Maret 2000, Yohanes Paulus II meminta St. Yohanes Pembaptis untuk melindungi Islam 

(agama para Muslim), yang menolak Yesus Kristus dan Allah Tritunggal, dan mengurung ratusan juta 

jiwa di dalam kegelapan Iblis. 

Yohanes Paulus II, 21 Maret 2000: 

“Semoga Santo Yohanes Pembaptis melindungi Islam dan semua warga 

Yordania...”41 


237 

 

Perbuatan ini setara dengan meminta St. Yohanes untuk melindungi penyangkalan terhadap Kristus dan 

pengutukan jiwa-jiwa. 

 

Pada tanggal 12 April 2000, Yohanes Paulus II bertemu dengan Raja Maroko, seorang keturunan dari 

nabi palsu Islam, Muhammad. Yohanes Paulus II bertanya kepadanya, “Anda seorang keturunan dari sang 

Nabi, kan?”42 

  


238 

 

Kemurtadan Yohanes Paulus II di dalam Mesjid 

Pada tanggal 6 Mei 2001, Yohanes Paulus II mencapai puncak kemurtadannya yang dilakukannya selama 

bertahun-tahun bersama para Muslim dengan mendatangi dan dengan hadir dalam “Mesjid Agung 

Umayyah” di Damaskus. Sewaktu ia berada di dalam Mesjid itu, Yohanes Paulus II melepaskan sepatunya 

untuk menghormati bait kekafiran ini . 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di kiri atas, kita dapat melihat Yohanes Paulus II memasuki “Mesjid Agung Umayyah” di Damaskus pada 

tanggal 6 Mei 2001. Pada foto-foto lainnya, kita melihat Yohanes Paulus II di dalam mesjid bersama 

dengan “Mufti Agung” yang kafir, Sheikh Ahmad Kfutaro. Sewaktu ia berada dalam Mesjid ini , 

Yohanes Paulus II juga terduduk di sebuah kursi yang identik dengan “Mufti Agung” yang kafir itu. 

Berikut pernyataan yang dibuat oleh Yohanes Paulus II kepada orang-orang Muslim pada hari itu: 

Yohanes Paulus II, Pidato kepada para Muslim dari Mesjid, 6 Mei 2001: 

“Di dalam mesjid-mesjid dan gereja-gerejalah, komunitas-komunitas Muslim dan Kristiani 

membentuk identitas keagamaan mereka ... Identitas macam apa yang ditanamkan dalam diri 


239 

 

orang muda Kristiani dan orang muda Muslim di dalam gereja-gereja dan mesjid-mesjid kita? 

Saya memiliki harapan yang membara agar bahwa pemimpin dan pengajar agama Muslim 

dan Kristiani menghadirkan kedua komunitas kita yang agung ini dalam dialog yang 

penuh rasa saling hormat, dan tidak lagi pernah menghadirkan mereka sebagai komunitas-

komunitas yang berkonflik.”43 

Ada suatu kenyataan yang sangat menarik untuk dicatat, yaitu bahwa Khilafah “Umayyah” (yaitu garis 

kepemimpinan Muslim), yang menjadi nama Mesjid yang didatangi oleh Yohanes Paulus II, merupakan 

suatu garis kepemimpinan Muslim yang terlibat erat dalam peperangan melawan negeri Spanyol yang 

Katolik pada perang 700 tahun antara orang-orang Muslim melawan Kristen di Spanyol. 

“Abdurrahman yaitu penyintas Umayyah yang terakhir telah menjadi pemimpin negeri 

Spanyol yang Muslim kira-kira pada waktu Fruela menjadi pemimpin negeri Spanyol yang 

Kristen; sewaktu tahun 759 tiba, kedua raja itu bertempur di Galisia.”44 

Kenyataan bahwa nama Mesjid yang didatangi Yohanes Paulus II diambil dari suatu kelompok yang 

sungguh mewakili paham anti-Kristiani hanya menjadi suatu penghinaan lain di samping kemurtadan 

dirinya. Darah semua umat Katolik yang setia yang meninggal dalam pertempuran melawan kaum 

Umayyah demi bertahannya negeri Spanyol yang Kristen berteriak dalam perlawanan terhadap Yohanes 

Paulus II. 

Wahyu 17:6- “Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan 

darah saksi-saksi Yesus. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat heran ....” 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa para Muslim dan Katolik 

memiliki Allah yang sama 

Sebelumnya di dalam buku ini, kami telah membahas ajaran bidah Vatikan II yang menyatakan bahwa 

orang Katolik bersama dengan orang Muslim menyembah Allah yang satu dan sejati. Begitu seringnya 

Yohanes Paulus II mengulangi ajaran sesat Vatikan II ini. 

Yohanes Paulus II, Ensiklik tentang Kepedulian Sosial (#47), 30 Desember 1987: 

” ... orang-orang Muslim yang, seperti kita, percaya akan Allah yang adil dan rahim.”45 

Yohanes Paulus II, Homili, 13 Oktober 1989: 

” ... para pengikut Islam yang percaya akan Allah yang sama yang baik dan adil.”46 

Yohanes Paulus II, Homili, 28 Januari 1990: 

” ... saudara-saudari kita kaum Muslimin ... yang seperti kita menyembah Allah yang esa 

dan rahim.”47 

Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, 16 Mei 2001: 

” ... para umat Islam; kita bersatu bersama mereka melalui penyembahan kepada Allah 

yang esa.”48 

Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, 5 Mei 1999: 

“Pada hari ini, saya hendak mengulangi apa yang telah saya katakan kepada muda-mudi Muslim 

beberapa tahun lalu di Kasablanka: ‘Kita percaya akan Allah yang sama ….’”49 


240 

 

Ini yaitu  penghujatan dan kemurtadan. Orang-orang Muslim menolak Allah Tritunggal Mahakudus. 

Mereka tidak menyembah Allah yang satu dan sejati. Dengan menyatakan bahwa orang-orang Muslim 

dan Katolik percaya akan Allah yang sama berulang-ulang kali, Yohanes Paulus II menolak Allah 

Tritunggal Mahakudus berulang-ulang kali. Di samping itu, seseorang menjadi tertegun oleh kespesifikan 

Yohanes Paulus II (seperti Vatikan II pula) dalam hal menyangkal Yesus Kristus pada banyak kutipan ini. 

Sebagai contoh: 

Yohanes Paulus II, Katekismus Baru (paragraf 841): 

” ... kaum Muslimin; mereka mengakui bahwa mereka percaya akan iman Abraham, dan bersama 

dengan kita, mereka menyembah Allah yang tunggal dan Maharahim, yang akan menghakimi 

manusia pada hari kiamat.”50 

Di sini kita melihat ajaran katekismus Yohanes Paulus II, yaitu bahwa ilah kaum Muslimin (yang bukan 

Yesus Kristus) akan menghakimi umat manusia pada hari kiamat. Hal ini berarti bukan Yesus Kristus 

yang akan menghakimi umat manusia pada hari kiamat, melainkan ilah orang Muslim. Ajaran ini yaitu  

penyangkalan terhadap Kedatangan Kedua Yesus Kristus yang akan menghakimi orang yang hidup dan 

yang mati. 

Paus St. Damasus I, Konsili Roma, 382, Kanon 15: 

“Barang siapa tidak berkata bahwa Ia, Yesus Kristus ... akan datang untuk menghakimi orang 

yang hidup dan yang mati, ia yaitu  seorang bidah.”51 

Kemurtadan Yohanes Paulus II bersama Orang-Orang Yahudi 

Pada tanggal 13 April 1986, Yohanes Paulus II mengunjungi Sinagoga Yahudi di Roma. 

 

Yohanes Paulus II tiba di Sinagoga Yahudi, 13 April 1986 

Di sini kita melihat Yohanes Paulus II tiba di Sinagoga Yahudi di Roma pada tahun 1986, di mana ia 

mengambil bagian dalam suatu ibadat Yahudi. Dengan mengambil bagian dalam ibadat Yahudi, Yohanes 

Paulus II melakukan suatu tindakan kemurtadan publik, dan sekali lagi menunjukkan bahwa ia yaitu  

seorang bidah manifes dan seorang pemurtad. Perhatikan bahwa Yohanes Paulus II dan sang rabi 

menyambut satu sama lain seakan-akan mereka yaitu  sahabat yang lama tidak berjumpa. Pada saat ia 


241 

 

berada di sinagoga, Yohanes Paulus II menundukkan kepalanya sewaktu para Yahudi berdoa untuk 

kedatangan “Mesias” mereka. 

 

Yohanes Paulus II di dalam Sinagoga Orang-Orang Yahudi 

Tindak kemurtadan yang mencengangkan yang dilakukan oleh Yohanes Paulus II ini secara langsung 

berhubungan dengan ajaran sesatnya bahwa Perjanjian Lama masih berlaku. Gereja Katolik mengajarkan 

bahwa dengan datangnya Yesus Kristus dan pemakluman Injil, Perjanjian Lama (yakni perjanjian yang 

dibuat antara Allah dan orang-orang Yahudi melalui perantaraan Musa) telah berakhir, dan digantikan 

dengan Perjanjian Baru Tuhan kita Yesus Kristus. Memang benar bahwa beberapa aspek Perjanjian Lama 

masih berlaku sebab  aspek-aspek itu termasuk dalam Perjanjian yang Baru dan Abadi dari Yesus 

Kristus, seperti Sepuluh Perintah Allah; namun  Perjanjian Lama sendiri (perjanjian antara Allah dan 

orang-orang Yahudi) telah berakhir dengan kedatangan sang Mesias. Oleh sebab  itu, pernyataan bahwa 

Perjanjian Lama masih tetap berlaku setara dengan menyatakan bahwa agama Yahudi yaitu  agama 

yang benar dan bahwa Yesus Kristus sebenarnya bukan sang Mesias. Pernyataan itu juga merupakan 

penyangkalan terhadap dogma Katolik yang telah didefinisikan, seperti ajaran Konsili Florence, yang 

mendefinisikan secara ex cathedra, bahwa Hukum Lama telah berakhir dan mereka yang berupaya 

mengamalkannya (yakni, orang-orang Yahudi) tidak dapat diselamatkan. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1441, ex cathedra: 

“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui, dan mengajarkan bahwa 

ketentuan-ketentuan hukum dari Perjanjian Lama, atau dari hukum Musa, yang terbagi 

menjadi perayaan-perayaan, ritus-ritus kudus, kurban-kurban, dan sakramen-sakramen... 

sesudah  kedatangan Tuhan kita ... telah berakhir dan sakramen-sakramen Perjanjian Baru 

bermula ... Oleh sebab  itu, ia [Gereja] mencela sebagai orang-orang yang terasing dari 

iman akan Kristus, semua orang yang, sejak dari masa itu menaati penyunatan, Sabat, dan 

segala kewajiban dari hukum ini , dan menyatakan bahwa mereka tidak dapat 

mengambil bagian di dalam keselamatan kekal.”52 

Paus Benediktus XIV mengulangi dogma ini di dalam surat ensikliknya Ex Quo Primum: 

Paus Benediktus XIV, Ex Quo Primum (#61): 

“Pertimbangan pertama yaitu  bahwa perayaan-perayaan Hukum Musa telah dihapuskan 


242 

 

oleh kedatangan Kristus dan bahwa perayaan-perayaan ini  tidak lagi dapat ditaati 

tanpa dosa sesudah  pemakluman Injil.”53 

Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#29-30), 29 Juni 1943: 

“Dan pertama-tama, dengan wafatnya Penebus kita, Perjanjian Baru telah mengambil alih 

Hukum Lama yang telah dihapuskan … pada tiang kematian-Nya, Yesus telah membuat batal 

Hukum Lama dengan ketentuan-ketentuannya [Ef. 2:15] … menetapkan Perjanjian Baru di 

dalam Darah-Nya, yang ditumpahkan untuk segenap umat manusia.  ‘Lalu’, ujar St. Leo Agung, 

sewaktu ia berbicara tentang Salib Tuhan kita, ‘terjadi suatu peralihan yang sedemikian 

rupa dari Hukum Lama kepada Injil, dari Sinagoga kepada Gereja, dari banyak kurban 

kepada satu Kurban, sehingga, sewaktu Tuhan kita wafat, tabir mistis yang menyembunyikan 

bagian terdalam dari bait dan rahasianya yang kudus, telah terkoyakkan dengan dahsyat 

dari atas ke bawah. Di Salib, oleh sebab  itu, Hukum Lama telah mati; dan akan segera 

dikuburkan dan menjadi suatu pembawa kematian ….”54 

Yohanes Paulus II menentang dogma ini berulang kali, dalam perkataan dan perbuatan – suatu dogma 

yang diajarkan oleh Gereja Katolik selama 2000 tahun, yang didefinisikan secara infalibel oleh Konsili 

Florence, dan diteguhkan dengan jelas oleh Paus Benediktus XIV dan Paus Pius XII. 

Di dalam sambutan kepada para Yahudi di Mainz, Jerman Barat, 17 November 1980, Yohanes 

Paulus II berbicara tentang, “Perjanjian Lama, tidak pernah dibatalkan oleh Allah...”55 

Paus Benediktus XIV, Ex Quo Primum (#59), 1 Maret 1756: 

“Bagaimanapun, mereka tidak berupaya untuk menaati asas-asas dari Hukum lama, yang, 

seperti yang diketahui oleh semua orang, telah dbuat batal dengan kedatangan Kristus.”56 

Kita melihat di sini bahwa Paus Benediktus XIV mengecam bidah yang diajarkan oleh Yohanes Paulus II, 

bahwa Perjanjian Lama tidak pernah dibuat batal oleh Allah! Yohanes Paulus II mengulangi bidah yang 

lancang yang sama ini di dalam suatu pidato pada tahun 1997: 

Yohanes Paulus II, Pertemuan tentang Akar Anti-Semitisme, 1997: 

“Bangsa ini [orang-orang Yahudi] telah dipanggil dan dibimbing oleh Allah, Pencipta Surga dan 

Bumi. Maka dari itu, keberadaan mereka bukanlah suatu kejadian yang sekadar bersifat alamiah 

atau kultural … Keberadaan mereka bersifat supernatural. Bangsa ini, walau bagaimanapun, 

tetap merupakan bangsa milik perjanjian ….”57 

Penting untuk dicatat bahwa “Uskup Agung” Sekte Vatikan II dari Strasbourg, Prancis, yang bernama 

Joseph Doré, dengan gembira mengenang bidah Yohanes Paulus II yang telah disebutkan itu sehubungan 

dengan Perjanjian Lama, yang dituturkan oleh Yohanes Paulus II di Mainz, Jerman Barat dan di tempat 

lainnya. Perhatikan bahwa “Uskup Agung” Doré mengakui bahwa Vatikan II telah mengubah ajaran 

tradisional Gereja tentang berakhirnya Perjanjian Lama. 

Uskup Agung Joseph Doré dari Strasbourg, Prancis, Pidato kepada B’nai Brith (Serikat Freemason 

Yahudi), Agustus 2003: 

“Apa pun gambarannya [tentang orang-orang Yahudi di dalam seni Katolik tradisional] ... pesan 

teologisnya tetap sama – pilihan Allah sekarang telah berpindah kepada orang-orang 

Kristiani; dan Gereja, Israel yang sejati, dapat berjaya, Ia yang mengakui kebenaran yang 

menyelamatkan yang dibawakan oleh Kristus. 


243 

 

“Di Vatikan II, Gereja Katolik pada akhirnya merevisi ajaran ini dan memahami 

seberapa jauhnya ajaran itu menentang Alkitab sendiri ... Pada tahun 1973, keuskupan Prancis, 

terutama di bawah pengaruh Mons. Elchinger, [mantan] Uskup Strasbourg, menerbitkan sebuah 

dokumen yang tiada tara kekuatan moralnya tentang hubungan Yahudi-Kristiani, sedangkan 

Paus Yohanes Paulus II pada beberapa kesempatan mengenang kepermanenan Perjanjian 

yang Pertama [Ed. Perjanjian Lama], ‘yang tidak pernah dibatalkan’ oleh Allah [Yohanes 

Paulus II, Mainz, Jerman Barat, 1980]. Pada hari ini, kami ingin bekerja bersama dengan saudara-

saudara kami yang lebih tua demi mencapai rekonsiliasi dan dialog persaudaraan. namun , kita 

harus memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa doktrin pelecehan itu dan ‘teologi 

substitusi’ – yang menjadikan Gereja sebagai satu-satunya Israel Allah yang baru – masih 

meresapi benak banyak orang.”58 

Kenyataannya, Yohanes Paulus II mengajarkan bidah yang sama tentang Perjanjian Lama di 

katekismusnya yang baru, yang kembali menentang dogma Katolik secara langsung. 

Yohanes Paulus II, Katekismus Baru Gereja Katolik, paragraf 121: 

” ... sebab  Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.”59 

Pesan Yohanes Paulus II yang Mencengangkan pada Perayaan di Sinagoga 

Yahudi 

Yohanes Paulus II, Pesan kepada Kepala Rabi dari Roma, 23 Mei 2004: 

“Kepada Dr. Riccardo Di Segni yang amat terhormat, Kepala Rabi dari Roma. Shalom! Dengan sukacita 

yang mendalam saya bergabung dengan Komunitas Yahudi di Roma yang sedang merayakan ulang 

tahun keseratus Sinagoga Agung Roma, suatu simbol dan peringatan seratus tahunan beradanya 

bangsa milik Perjanjian Sinai di kota ini. Selama lebih dari 2000 tahun komunitas anda telah menjadi 

suatu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan di kota ini; komunitas anda dapat berbangga diri 

sebagai komunitas Yahudi terkuno di Eropa Barat dan sebab  komunitas anda telah memainkan 

peran yang terpenting di dalam penyebaran agama Yahudi di Benua ini. Oleh sebab  itu, perayaan 

yang berlangsung pada hari ini memiliki makna yang khusus ... sebab  saya tidak dapat hadir secara 

pribadi, saya telah meminta Vikaris Jenderal saya, Camillo Ruini, untuk mewakili saya; ia didampingi oleh 

Kardinal Walter Kasper, Presiden dari Komisi Takhta Suci untuk Hubungan dengan Orang-Orang Yahudi. 

Mereka secara resmi mengungkapkan keinginan saya untuk berada bersama anda pada hari ini. 

“Dalam memberi  kepada anda sambutan yang penuh hormat ini, yang terhormat Dr. Riccardo Di 

Segni, saya menyampaikan salam hangat saya kepada segenap Anggota dari Komunitas ini, kepada 

Presiden Mereka, Bapak Leone Elio Paserman, dan kepada semua orang yang berhimpun untuk 

menyaksikan sekali lagi besarnya kepentingan dan kekuatan dari warisan rohani yang dirayakan 

setiap hari Sabtu di dalam Sinagoga Agung Roma … 

Kami semua dengan berbahagia bergabung dalam sukacita perayaan yang berlangsung pada 

hari ini, perayaan yang memperingati abad pertama dari Sinagoga yang mengagumkan ini. 

Sinagoga berdiri di tepi sungai Tiber ini memberi kesaksian iman dan pujian kepada Yang Mahakuasa 

dengan keharmonisan garis-garis arsitekturnya. Komunitas Kristiani Roma, melalui Penerus Petrus, 

bergabung bersama anda dalam mengucap syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang 

berbahagia ini [ulang tahun ke-100 dari Sinagoga ini !]. Seperti yang saya katakan pada saat 

Kunjungan yang telah saya sebutkan, kami memberi salam kepada anda sebagai ‘saudara-saudara 

yang terkasih’ dalam iman Abraham, Bapa bangs akita … anda terus menjadi anak sulung milik 

Perjanjian (Liturgi Jumat Agung, Doa Syafaat Umum, Untuk Orang-Orang Yahudi) … 


244 

 

[Hubungan-hubungan yang bersahabat ini] menyaksikan kesatuan kita dalam mengenang para 

korban Shoah [orang-orang Yahudi yang telah meninggal yang tidak menerima Kristus], terutama 

mereka yang direnggut dari keluarga-keluarga mereka dan dari Komunitas Yahudi anda yang 

tercinta di Roma pada bulan Oktober 1943 dan yang diasingkan di Auschwitz. Semoga kenangan akan 

mereka diberkati dan mendorong kita untuk bekerja sama sebagai saudara-saudari ... 

Gereja tidak ragu untuk mengutarakan dukacitanya atas ‘kegagalan putra-putrinya di sepanjang 

masa’ dan, dalam tindak pertobatan, Gereja telah memohon ampun atas tanggung jawab mereka 

yang terhubung sedikit pun dengan wabah anti-Yahudi dan anti-Semitisme …. 

Hari ini ... kami memanjatkan sebuah doa yang penuh semangat kepada Yang Abadi, kepada Allah 

Shalom, agar permusuhan dan kebencian tidak lagi menguasai mereka yang berpaling kepada bapa kita, 

Abraham – orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim ... 

“Pertemuan kita pada hari ini kiasannya mempersiapkan hari raya Shavu’ot anda dan hari raya 

Pentakosta kami yang sebentar lagi akan datang yang genapnya perayaan paskah kita masing-masing. 

Semoga pesta-pesta ini mempersatukan kita dalam doa paskah Hallel milik Daud.” (L’Osservatore 

Romano, 2 Juni 2004, hal. 7.) 

Berikut suatu rangkuman singkat dari pesan Yohanes Paulus II pada tahun 2004 dalam perayaan 

sinagoga itu: 

1) Ia bergabung bersama komunitas Yahudi dalam merayakan ulang tahun ke-100 sinagoga ini  

– kemurtadan. 

 

2) Ia berkata bahwa komunitas Yahudi ini dapat berbangga diri sebagai sinagoga terkuno di Eropa 

Barat dan sebagai sinagoga yang telah menyebarkan agama Yahudi –kemurtadan total. 

 

3) Ia secara resmi mengungkapkan harapannya agar ia dapat berada bersama mereka, di dalam 

sinagoga, dan merayakannya – kemurtadan. 

 

4) Ia memuji pentingnya dan semangat dari agama yang diselenggarakan setiap Sabtu di Roma – 

kemurtadan.  

 

5) Mewakili seluruh Komunitas Kristiani di Roma, sebagai yang diakuinya ‘penerus St. Petrus’. Ia 

berterima kasih secara resmi kepada Tuhan untuk 100 tahun sinagoga! – kemurtadan! 

 

6) Ia menyambut para Yahudi sebagai saudara-saudara seiman dari Abraham, yang merupakan 

sebuah penolakan penuh Kristus, seperti yang Kitab Suci ajarkan, hanya mereka yang milik 

Kristuslah yang memiliki iman Abraham. 

 

Galatia 3:14 – “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham 

sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah 

dijanjikan itu. 

 

Galatia 3:29- “Dan jikalau kamu yaitu  milik Kristus, maka kamu juga yaitu  

keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” 

 


245 

 

Paus St. Gregorius Agung (sekitar 590 Masehi):  

”...jikalau kamu yaitu  milik Kristus, maka kamu juga yaitu  keturunan Abraham (Gal. 

3:29). Jika kita sebab  iman kita kepada Kristus dijadikan anak-anak Abraham, 

maka dari itu para Yahudi akibat ketidakberimanan mereka telah berhenti 

menjadi keturunan-Nya.”60 

 

Paus St. Leo Agung, Surat Dogmatis kepada Flavianus (449), dibacakan pada Konsili 

Kalsedon (451), ex cathedra:  

“Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak 

dikatakan ‘kepada keturunan-keturunannya’ seolah-olah dimaksud banyak orang, namun  

hanya satu orang: ‘dan kepada keturunanmu‘, yaitu Kristus. (Gal. 3:16)”61 

 

7) Ia berkata bahwa para Yahudi ‘tetap menjadi menjadi anak sulung dari orang-orang terjanji di 

dalam Perjanjian’, untuk mengutip doa Jumat Agung Misa Baru, yang mendoakan agar para 

Yahudi ‘terus’ bertumbuh di dalam kesetiaan kepada Perjanjian Allah. Yohanes Paulus II 

mengajarkan terang-terangan, sekali lagi, bahwa Perjanjian orang-orang Yahudi dengan Allah 

masihlah berlaku – suatu bidah yang lancang. 

 

8) Ia memperingati mereka yang meninggal sebagai orang Yahudi dan berkata bahwa kenangan 

akan mereka harus diberkati – bidah. 

 

9) Mewakili ‘Gereja’, ia bertobat dari seluruh anti-Yahudi – kemurtadan. Hal ini termasuk dogma 

Gereja yang anti-Yahudi bahwa orang-orang Yahudi yang meninggal tanpa berkonversi ke 

Katolisisme masuk Neraka, dan oleh sebab  itu harus berkonversi untuk dapat diselamatkan. Ia 

hanyalah mengolok-olok Tuhan kita dan Gereja. 

Pidato ini yaitu  salah satu penghujatan dan bidah Yohanes Paulus II yang terburuk. Yohanes Paulus II 

sama sekali menolak Kristus; ia jelas-jelas mengajarkan bahwa Perjanjian Lama masih berlaku; ia sama 

sekali menolak Yesus Kristus dan Iman Katolik; ia melakukan kemurtadannya ini di depan muka dunia. 

Mereka yang tetap percaya bahwa bidah dan orang murtad terang-terangan ini yaitu  Katolik, walaupun 

mereka sadar akan fakta-fakta ini, dan menolak untuk menyangkalnya sebagai seorang bidah, benar-

benar musuh-musuh dari Allah. 

1 Yohanes 22- “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus yaitu  

Kristus? Dia itu yaitu  antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.” 

Teman terdekat Yohanes Paulus, Jerzy Kluger, yaitu  seorang Yahudi. 


246 

 

 

Yohanes Paulus II memeluk teman baiknya, seorang Yahudi, Jerzy Kluger 

Tentu saja, Yohanes Paulus II tidak pernah mencoba mengonversikan Kluger. Kluger berkata terang-

terangan bahwa Yohanes Paulus II tidak pernah memberi  kepadanya tanda-tanda sedikit pun bahwa 

ia ingin mengonversikannya. Malah, Kluger menyatakan berutang budi kepada hubungannya yang 

panjang bersama Yohanes Paulus II yang membuatnya ‘merasa lebih Yahudi’. Sewaktu muda, Yohanes 

Paulus II menjadi kiper sepak bola di tim Yahudi bersama Kluger; mereka bermain melawan anak-anak 

Katolik. Di dalam sebuah surat kepada Kluger pada tanggal 30 Maret 1989, tentang penghancuran sebuah 

sinagoga pada Perang Dunia II, Yohanes Paulus II menuliskan hal berikut: 

“Saya menghormati... juga tempat ibadah ini [sinagoga], yang dihancurkan para penyerbu.”62 

Ini yaitu  kemurtadan terang-terangan. Dengan menghormati sinagoga ini , Yohanes Paulus II 

menghormati penolakan para Yahudi bahwa Yesus Kristus yaitu  sang Mesias. 

namun  Jerzy Kluger bukan hanya satu-satunya orang Yahudi yang merasa lebih Yahudi akibat Yohanes 

Paulus II. Juga ada sang maestro Yahudi, Gilbert Levine. 

 

Maestro Yahudi, Gilbert Levine, bersama Yohanes Paulus II63 


247 

 

Levine mengatakan bahwa selama hubungannya bertahun-tahun, Yohanes Paulus II tidak pernah 

menunjukkan tanda-tanda sedikit pun bahwa ia ingin mengonversikannya. Levine juga menunjukkan 

secara publik bahwa, sesudah  mengenal Yohanes Paulus II, ia kembali mempraktikkan agama Yahudi. 

Yohanes Paulus II meminta Levine untuk mengadakan konser di Vatikan untuk memperingati Holocaust. 

Levine setuju, dan dengan kehadiran Anti-Paus Yohanes Paulus II konser ini  terlaksana di Vatikan. 

Semua salib ditutupi. 

 

Yohanes Paulus II duduk di samping Rabbi Yahudi untuk Konser Holocaust di dalam sebuah Ibadat Doa 

Yahudi di Vatikan 

Konser ini  dimulai dengan “Kol Nidre”, doa yang dinyanyikan pada hari tersuci di kalender Yahudi. 

Beberapa dari orang-orang Yahudi yang hadir juga menyalakan lilin-lilin pada saat perayaan ini , 

yang segera menjadi sebuah ibadat rohani di Vatikan. sesudah  konser ini , Levine menyatakan: 

“Saya merasa seperti berada di dalam sebuah ibadat liturgi di Vatikan. Itu yaitu  sebuah malam 

doa... doa Yahudi.”64 

sesudah  konser, Yohanes Paulus II memanggil Levine untuk menerima penghargaan Kekesatriaan 

Vatikan. Levine menjadi Knight Commander dari Ordo Ekuestrian St. Gregorius Agung. Yohanes Paulus II 

menunjuk ‘Kardinal’ Lustiger dari Paris untuk menganugerahkan penghormatan ini . Lustiger 

sendiri, yang dibesarkan sebagai seorang Yahudi, menyatakan pada sebuah wawancara di tahun 1981: 

“Saya seorang Yahudi. Untuk saya, kedua agama ini  yaitu  satu.”65 Penghargaan yang Yohanes 

Paulus II berikan kepada Levine yaitu  salah satu penghargaan tertinggi yang dapat dianugerahkan 

kepada seorang awam. 

Gilbert Levine menyingkap dalamnya kemurtadan Yohanes Paulus II di 

dalam sebuah wawancara pada acara Larry King Live, 4 April 2005. 

 

Pada sebuah wawancara di Larry King Live di CNN, 4 April 2005, Gilbert Levine menunjukkan bahwa 

Yohanes Paulus II: 

- Mengirimkan tiap-tiap dari putranya surat untuk memberi mereka selamat atas bar mitzvah 

mereka; 

- Bahwa Yohanes Paulus II sendiri memberi  keluarganya sebuah menorah Yahudi; 

- Bahwa Yohanes Paulus II memerintahkan ‘Kardinal’ Kasper untuk mengirimkan kepada Levine 

sebuah surat dalam rangka bar mitzvah ini  yang ‘sangat bagus’, yang mengatakan agar 

mereka bangga akan warisan Yahudi mereka dan supaya mereka ‘hidup sepenuhnya sebagai 

orang Yahudi’, dan bahwa surat ini  sangatlah Yahudi sampai sang rabbi yang berkata bahwa 

surat ini  datang dari seorang rabbi, walaupun sebenarnya dari Kasper yang 

mengirimkannya atas nama Yohanes Paulus II.  

 


248 

 

Hal ini membuktikan bahwa Yohanes Paulus II secara resmi mendorong praktik Yahudi; bahwa ia 

menyutujui secara resmi penolakan Kristus; bahwa ia secara resmi membantu orang-orang 

mempraktikkan Perjanjian Lama; dan bahwa ia menyelenggarakan perayaan agama Yahudi bersama 

mereka. Jika seseorang telah mengetahui fakta-fakta ini dan tetap berkata bahwa Yohanes Paulus II 

bukanlah seorang non-Katolik yang murtad, orang itu menolak Yesus Kristus – tanda titik. Berikut yaitu  

petikan dari wawancara di Larry King Live di saluran CNN: 

 “KING: Sejauh mana ia mengerti musiknya? 

“LEVINE: Dengan sangat baik. Ia mengerti banyak sekali sampai saya, sebagai seorang 

konduktor Yahudi menyarankan konser tahun 1994 di mana saya memainkan sebuah 

karya untuk Mahler. Dan ia berkata, “bukankah Mahler berkonversi ke Katolisisme untuk 

menjadi seorang direktur musik dari Philharmonic Wina?” Saya sebagai seorang musisi 

tidak berpikir sampai hal itu. Bukannya saya tidak mengetahuinya, saya tidak 

memikirkannya. Ia sangat sensitif akan isu-isu Yahudi. Dan ia ingin memperluasnya. Dan 

apa yang terjadi yaitu  ia merasa bahwa musik dapat menjadi alat untuk dialog 

antaragama. 

“KING: Paus menyelamati bar mitzvah {ritual Yahudi untuk anak-anak yang menginjak 

masa remaja} anak-anak anda? 

“LEVINE: Bukan hanya menyelamati kami, ia mengirimkan sebuah menorah kepada kami. 

“KING: Ia mengirimkan kalian sebuah menorah? 

“LEVINE: Sebenarnya, ia memberi nya kepada kami, ia tidak mengirimkannya. Ia benar-

benar memberi  kami sebuah menorah. Saya kira {menorah} itu berasal dari abad ke-16 di 

Praha. Itu yaitu  menorah yang sangat cantik. Ia mengirimkan sebuah surat pada acara bar 

mitzvah untuk setiap putra-putra saya. Ia juga memerintahkan kardinal bertugas atas 

hubungan Katolik/Yahudi untuk mengirimkan sebuah surat yang dibaca keras-keras di 

depan sinagoga Ortodoks saya pada acara bar mitzvah putra saya baru-baru ini, dan sang 

rabbi membacakannya seperti halnya surat ini  datang dari seorang rabbi. Pada 

akhirnya, surat itu berkata ‘dari Rabbi Joel Schwartz’. Ia berkata, namun  surat itu bukanlah 

dari Rabbi Joel Schwartz. Surat itu dari Rabbi – dari Kardinal Kasper. Sungguh 

mengagumkan. Itu yaitu  surat yang berkata, anda harus bangga akan warisan Yahudi 

anda dan hidup sepenuhnya sebagai seorang Yahudi. 

“KING: Di mana anda selama ini? Mengapa kami bertemu anda baru-baru ini saja? Anda menjadi 

konduktor di banyak tempat? 

“LEVINE: Ya. Saya menjadi konduktor di mana-mana, dan saya menjadi konduktor untuknya di 

Vatikan banyak kali. Saya menjadi konduktor untuknya pula pada Hari Orang Muda Sedunia di 

Denver. Saya, menjadi konduktor untuk orang-orang muda Katolik? Dan untuk hal ini , ia 

datang kepada saya dan mengganggu pertunjukan seluruhnya, memeluk saya dan berkata, 

apakah saya mengganggu anda, Maestro? Dan bahkan ia menyetop seluruh pertunjukan itu. 

“KING: Apakah anda akan pergi ke pemakamannya? 

“LEVINE: Tentu saja. Saya akan pergi besok pagi. Dan saya akan berada di pemakaman itu. Saya 

tidak bisa tidak berada di sana.” – Akhir dari kutipan wawancara66 


249 

 

Perhatikan bahwa Gilbert Levine ingin memakai  musik seorang mantan Yahudi, Mahler, untuk 

konser ini , namun  Yohanes Paulus II tidak memperbolehkannya dengan berkata bahwa Mahler 

yaitu  seorang Yahudi yang berkonversi kepada Katolisisme! 

Yohanes Paulus II Berdoa di Tembok Ratapan 

Pada tanggal 26 Maret 2000, Yohanes Paulus II berdoa di Tembok Ratapan di Yerusalem. Tembok 

Ratapan yaitu  bebatuan sisa dari Bait Yahudi di Yerusalem yang dihancurkan orang Romawi pada tahun 

70 Masehi. Para orang Yahudi berdoa di Tembok Barat sebagai tempat tersuci di dalam agama Yahudi. 

 

Yohanes Paulus II berdoa di Tembok Ratapan atau Tembok Barat di Yerusalem 

Kehancuran Bait Yahudi pada tahun 70 Masehi, yang hanya meninggalkan Tembok Barat selalu 

dimengerti oleh orang-orang Katolik sebagai penghakiman Allah atas orang-orang Yahudi. Kehancuran 

Bait Yahudi ini  mencegah orang-orang Yahudi untuk dapat memberi  kurban, yang 

berarti agama mereka telah berakhir Kehancuran Bait Yahudi yaitu  tanda yang kuat dari Allah 

kepada para Yahudi bahwa sang Mesias telah datang, bahwa Perjanjian Lama telah berakhir, dan 

bahwa Bait ini  telah digantikan oleh Gereja Katolik. 

Maka, sewaktu seorang Yahudi berdoa di Tembok Barat, atau meninggalkan sebuah doa di sana, hal 

ini  yaitu  sebuah penolakan bahwa Yesus yaitu  sang Mesias, hal itu yaitu  sebuah penegasan 

bahwa ia berteguh bahwa Perjanjian Lama masih berlaku; dan hal ini  yaitu  sebuah upaya yang 

menyedihkan dan memilukan untuk tidak mengindahkan tanda dari Allah yang sangat jelas bahwa 

orang-orang Yahudi harus meninggalkan Bait yang telah dihancurkan dan masuk kepada Gereja Katolik. 

Maka, sewaktu Yohanes Paulus II sendiri berdoa di Tembok Barat pada bulan Maret 2000, hal ini  

yaitu  sebuah upaya untuk mengesahkan agama Yahudi. Hal ini  yaitu  penolakan bahwa Yesus 

Kristus yaitu  Mesias, sebuah tanda bahwa ia berpegang teguh bahwa Perjanjian Lama masih berlaku, 

dan sebuah olok-olok akan tanda yang jelas dari Allah bahwa orang-orang Yahudi harus meninggalkan 

Bait yang telah dihancurkan itu dan memasuki Gereja Katolik. Seorang komentator yang memperhatikan 

hal ini  menyatakan bahwa, sewaktu Yohanes Paulus II berdoa di Tembok Barat, kebanyakan dari 

bangsa Israel menontonnya di televisi. Hal ini  berarti bahwa semua orang Yahudi yang menonton 

di televisi diberikan kesan oleh Yohanes Paulus II bahwa ia tidak perlu berkonversi kepada Yesus Kristus 

sebab  Kristus bukanlah sang Mesias. 

Doa yang ditinggalkan oleh Yohanes Paulus II di Tembok Barat memohon ampun atas dosa-dosa yang 

dilakukan kepada orang-orang Yahudi. 


250 

 

Kemurtadan Lain bersama orang-orang Yahudi di dalam Kepemimpinan 

Yohanes Paulus II 

Pada akhir tahun 2001, sebuah Komisi Vatikan di bawah Yohanes Paulus II mengeluarkan sebuah buku 

yang berjudul The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible {Orang-orang Yahudi 

dan Kitab Suci Mereka di dalam Kitab Suci Kristiani}. Buku ini mengusulkan bahwa penantian orang-

orang Yahudi untuk Mesias yang akan datang tetaplah sah. Lebih banyak tentang buku ini akan 

dibahas di dalam bagian tentang Benediktus XVI. 

Pada tanggal 12 Agustus 2002, uskup-uskup Amerika bersama Yohanes Paulus II mengeluarkan sebuah 

dokumen tentang orang-orang Yahudi. Dipimpin oleh William Keeler dari Baltimore, seseorang yang 

murtad, dan tanpa penolakan sedikit pun dari Yohanes Paulus II, dokumen ini  berkata: ”...upaya-

upaya yang menargetkan konversi orang-orang Yahudi kepada Kekristenan tidak lagi dapat diterima 

secara teologis di dalam Gereja Katolik.”67 

Seluruh hal ini membuktikan bahwa Yohanes Paulus II dan para uskupnya yaitu  orang-orang yang 

sudah murtad dari Iman Katolik. 

yang mencengangkan tentang orang-orang 

Non-Katolik yang telah dibaptis (yaitu para bidah dan skismatis) 

Kami telah menelaah dan menunjukkan secara rinci kemurtadan Yohanes Paulus II yang tidak 

terpungkiri bersama paganisme, Islam, dan Yahudi. Di samping banyak pernyataan dan tindakan yang 

sesat dan murtad yang Yohanes Paulus II lakukan bersama para pengikut agama-agama sesat non-

Kristiani ini , ada  pula bidah-bidahnya yang mencengangkan tentang orang-orang non-Katolik 

yang telah dibaptis dan sekte-sekte sesat mereka. Misalnya: 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa para skismatis tidak perlu 

dikonversikan 

 

Yohanes Paulus II di dalam Katedral St. George ’Ortodoks’ Suriah bersama para skismatis, Patriark Zakka 

I dan Ignatius IV pada tahun 200168 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa para Skismatis Timur (para ‘Ortodoks’) tidak perlu dikonversikan 

ke dalam Gereja Katolik. Sebagai latar belakang: para Skismatis Timur (para ‘Ortodoks’) menolak dogma 

Kepausan, yang berarti mereka menolak otoritas tertinggi dari semua Paus di dalam sejarah. Mereka 

menolak dogma Infalibilitas Kepausan: suatu kebenaran bahwa seorang Paus mengajarkan secara 

infalibel sewaktu ia berbicara dari Takhta Petrus. Mereka menolak dogma bahwa Bunda Maria 


251 

 

Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal, mereka menolak 13 Konsili Gereja Katolik Roma terakhir, dan mereka 

mengizinkan perceraian dan pernikahan ulang. 

Yohanes Paulus II, Homili, 23 Mei 2002: 

“Saya ingin mengulangi sekali lagi, hormat saya kepada anda, Gereja Ortodoks yang 

Kudus...”69 

Di dalam Directory for the Application of the Principles and Norms of Ecumenism {Pedoman Penerapan 

Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme}-nya yang memalukan, Yohanes Paulus II mendorong 

ibadat antaragama bersama para Skismatis Timur ini dan berkata: ”...semua kesan-kesan proselitisme 

harus dihindari.”70 Seperti yang kami akan bahas lebih lanjut, Yohanes Paulus II menyetujui Petunjuk 

Ekumenisme di dalam Ut Unum Sint #58 dan di tempat lain. 

Proselitisme yaitu  upaya untuk mengonversikan seseorang. Maka, Yohanes Paulus II menegaskan 

bahwa semua upaya untuk mengonversikan para Skismatis Timur harus dihindari. Berikut yaitu  kata-

kata seorang Paus Katolik sejati, Paus Benediktus XIV tentang topik yang benar-benar sama. 

Paus Benediktus XIV, Allatae Sunt (#19), 26 Juli 1755: 

“Pertama-tama, misionaris yang berupaya bersama bantuan Allah untuk membawa kembali para 

skismatis Yunani dan timur kepada persatuan harus membaktikan semua usahanya kepada 

satu tujuan yaitu untuk membebaskan mereka dari doktrin-doktrin yang bertentangan 

dengan iman Katolik.”71 

Paus Benediktus XIV, Allatae Sunt (#19): 

“Sebab satu-satunya karya yang dipercayakan kepada misionaris ini  yaitu  untuk 

memanggil para Oriental untuk kembali kepada iman Katolik...”72 

Seseorang dapat dengan mudah melihat perbedaan antara kedua agama ini : agama Katolik 

mengajarkan bahwa semua ajaran-ajarannya harus diterima dan para non-Katolik harus dikonversikan. 

Agama non-Katolik Yohanes Paulus II (agama Vatikan II) mengajarkan bahwa iman Katolik sama sekali 

tidak berarti dan bahwa orang-orang non-Katolik tidak seharusnya dikonversikan. 

Walter Kasper, seorang anggota tingkat tinggi Gereja Vatikan II, mengerti hal ini dengan sangat baik. 

Kasper dijadikan seorang ‘Kardinal’ dan kepala dari Konsili Vatikan untuk Promosi Kesatuan Kristiani 

oleh Yohanes Paulus II. Benediktus XVI meneguhkan Kasper di dalam posisinya sebagai kepala dari 

Konsili Vatikan untuk Promosi Kesatuan Kristiani. Kasper mengungkapkan pandangan Yohanes Paulus II 

dan Benediktus XVI dengan berkata sebagai berikut: 

” ... pada hari ini kita tidak lagi memahami ekumenisme dengan makna kepulangan, yang 

membuat orang lain ‘berkonversi’ dan kembali menjadi Katolik. Makna ini secara jelas 

ditinggalkan oleh Vatikan II.”73 

Orang-orang Katolik yang disiksa dan dimartir sebab  mereka menolak 

menjadi Skismatis Timur 

Di dalam ensikliknya di tahun 1945 Orientalis Omnes Ecclesias, Paus Pius XII memberi  beberapa 

contoh orang-orang Katolik di dalam sejarah yang disiksa dan dibunuh sebab  mereka tidak 

meninggalkan kesetiaan kepada Kepausan dan menjadi skismatis ‘Ortodoks’ Timur. St. Yosafat yaitu  

salah satu contoh yang terkenal, namun  ada  banyak yang lain. St. Yosafat mengonversikan banyak 


252 

 

orang-orang Skismatis Timur kembali kepada Iman Katolik sampai waktu ia dibunuh oleh mereka atas 

upaya-upayanya untuk membawa orang-orang kembali kepada kesatuan bersama Kepausan. 

Paus Pius XII, Orientales Omnes Ecclesias (#15), 23 Desember 1945: 

“Yosafat Kuntzevitch... terkenal untuk kesucian hidupnya dan semangat apostoliknya, dan yaitu  

seorang juara kesatuan Katolik yang berani. Ia diburu oleh para skismatis dengan kebencian 

yang pahit dan niat untuk membunuhnya, dan pada tanggal 12 November 1623 ia dilukai 

dan dibunuh secara tidak manusiawi dengan tombak.”74 

ada  banyak orang-orang lain yang didenda, dicambuk, disiksa, ditenggelamkan, dan dibunuh sebab  

mereka tidak ingin menjadi Skismatis Timur. 

Paus Pius XII, Orientales Omnes Ecclesias (#20), 23 Desember 1945: 

“Orang-orang beriman ini  yang tidak meninggalkan iman sejati, dan yang dengan 

penuh tanggung jawab dan keberanian melawan persatuan dengan Gereja pemberontak 

[skismatis] yang dipaksakan pada tahun 1875, dengan secara hina dihukum dengan 

denda, cambuk, dan pengasingan.”75 

Paus Pius XII, Orientales Omnes Ecclesias (#46), 23 Desember 1945: 

“Komunitas Rutenia menerima...kumpulan para pengaku dosa dan martir yang mulia. Untuk 

menjaga iman mereka agar tidak cacat dan untuk menjaga kesetiaan mereka yang 

bersemangat kepada para Paus Roma, orang-orang ini tidak berpikir dua kali untuk 

menanggung berbagai susah payah, ataupun dengan senang hati bertemu ajal mereka... 

Yosafat Kuntzevitch... Ia yaitu  seorang martir yang luar biasa untuk iman Katolik dan 

kesatuan pada waktu itu, namun  ia bukan hanya satu-satunya; tidak sedikit dari para imam 

dan orang awam menerima daun palma kemenangan sesudah nya; beberapa orang dibunuh 

dengan pedang, beberapa orang dicambuk dengan kejam sampai mati, beberapa 

ditenggelamkan di dalam {sungai} Dneiper, sampai mereka memperoleh kemenangan atas 

kematian di Surga.”76 

Paus Pius XII, Orientales Omnes Ecclesias (#49), 23 Desember 1945: 

“Di samping semua ini, sebuah penindasan baru Katolisisme yang sama pahitnya dimulai 

beberapa tahun sebelum pembagian Polandia. Pada waktu serdadu kaisar Russia telah menyerbu 

Polandia, banyak gereja-gereja dari ritus Rutenia dirampas dari orang-orang Katolik dengan 

kekerasan senjata; para imam yang menolak untuk murtad dari iman mereka [dan menjadi 

skismatis] dirantai, diejek, disesah dan dimasukkan penjara, di mana mereka menderita 

dengan sengsara dari kelaparan, kehausan dan kedinginan.”77 

Lewat ajaran sesatnya bahwa para skismatis ‘Ortodoks’ tidak berada di luar Gereja dan tidak 

membutuhkan konversi untuk kesalamatan, sekte Vatikan II mengolok-olok para santo-santa dan para 

martir yang menderita sengsara agar tidak menjadi skismatis. 

Deklarasi Balamand Vatikan bersama para Skismatis Timur yang disetujui 

oleh Yohanes Paulus II, menolak dan menganggap upaya pengonversikan 

orang-orang non-Katolik sebagai ‘eklesiologi yang ketinggalan zaman’ 

Pada tanggal 24 Juni 1993 Vatikan menandatangani Deklarasi Balamand bersama para Skismatis Timur 

(yaitu ‘Gereja Ortodoks’). Di dalam Deklarasi Balamand ini (dikutip di bawah), yang telah disetujui oleh 

Yohanes Paulus II, semua upaya untuk mengonversikan para Skismatis Timur ditolak sebagai ‘eklesiologi 


253 

 

berpulang ketinggalan zaman dari Gereja Katolik’ {eklesiologi berpulang – ecclesiology of return – lewat 

upaya konversi, para Skismatis dapat ‘berpulang’ kembali ke dalam Iman Katolik}. Berikut yaitu  

beberapa kutipan dari Deklarasi Balamand yang sangatlah sesat: 

Deklarasi Balamand sekte Vatikan II bersama para ‘Ortodoks’, 1993, #10: 

“Oleh sebab  itu, situasi yang mengikuti hal ini  menciptakan ketegangan dan pertentangan. Lambat 

laun, beberapa dekade sesudah  persatuan-persatuan ini, aktivitas misionaris cenderung 

mengikutsertakan di dalam prioritasnya upaya-upaya untuk mengonversikan orang-orang 

Kristen lain, secara individu atau di dalam kelompok, agar dapat ‘memulangkan mereka’ ke 

dalam Gereja. Untuk memperlayak kecenderungan ini, yang merupakan sumber dari proselitisme, 

Gereja Katolik mengembangkan pandangan teologis di mana ia menggambarkan dirinya sendiri 

sebagai satu-satunya yang dipercayakan jalan keselamatan. Untuk menanggapi hal ini, Gereja 

Ortodoks juga memegang pandangan ini, di mana hanya di dalamnya {Gereja Ortodoks} ada  

keselamatan...” 

 

#14-15: ” ... Menurut perkataan Paus Yohanes Paulus II, perjuangan ekumenis Gereja-Gereja Timur 

dan Barat yang bersaudara, yang berlandaskan dialog dan doa, yaitu  mengejar persekutuan yang 

sempurna dan penuh, yang tidak terjadi melalui penyerapan ataupun peleburan melainkan melalui 

pertemuan dalam kebenaran dan kasih (bandingkan Slavorum Apostoli, 27). 15. Walaupun kebebasan 

para pribadi dan kewajiban mereka untuk mengikuti syarat-syarat hati nurani mereka tetap terjamin, 

upaya untuk kembali menjalin kesatuan tidak melibatkan berkonversinya orang-orang dari 

Gereja yang satu kepada Gereja yang lain demi memastikan keselamatan mereka.” 

 

22. “Aktivitas penggembalaan di dalam Gereja Katolik, Latin maupun Oriental, tidak lagi 

bertujuan untuk membuat umat satu Gereja berpindah ke Gereja yang lain; dalam kata lain, tidak 

lagi bertujuan untuk mengonversikan orang-orang Ortodoks. Aktivitas ini  bertujuan untuk 

menjawab kebutuhan-kebutuhan rohani umat-umatnya sendiri dan tidak menginginkan ekspansi 

yang menargetkan Gereja Ortodoks.” 

 

30. “Untuk meratakan jalan bagi hubungan masa depan antara kedua Gereja, dengan cara 

meninggalkan eklesiologi pemulangan yang ketinggalan zaman dari Gereja Katolik yang 

berhubungan dengan masalah yang hendak diatasi dokumen ini, kami memberi  sebuah perhatian 

khusus kepada persiapan imam-imam di masa depan dan untuk semua yang terlibat secara langsung 

maupun tidak langsung di dalam sebuah aktivitas penggembalaan di mana Gereja yang satunya berakar 

secara tradisional. Pendidikan mereka haruslah menjadi, secara objektif, positif sehubungan Gereja yang 

satunya.” (http://www.cin.org/east/balamand/html) 

 

Ini yaitu  sebuah bidah yang sangat lancang! Dokumen ini, yang disetujui oleh para Anti-Paus Vatikan II, 

benar-benar salah satu bidah yang terburuk dari sekte Vatikan II. Dokumen ini menyebutkan secara 

terang-terangan, lalu menolak sepenuhnya, dogma tradisional Gereja Katolik bahwa para skismatis harus 

dikonversikan kepada Iman Katolik untuk persatuan dan keselamatan. 

Yohanes Paulus II menyebut Deklarasi Balamand sebagai ‘langkah baru’ yang ‘seharusnya membantu 

semua Gereja Ortodoks lokal dan semua Gereja Katolik lokal, Latin maupun Oriental, yang tinggal 

bersama di dalam satu daerah, untuk melanjutkan komitmen mereka kepada dialog kasih dan untuk 

memulai atau melanjutkan hubungan gotong-royong di dalam bidang penggembalaan mereka’.78 

Mohon perhatikan terutama #14-15 yang mengatakan bahwa “upaya untuk kembali menjalin kesatuan 

tidak melibatkan berkonversinya orang-orang dari Gereja yang satu kepada Gereja yang lain demi 

memastikan keselamatan mereka ....” Mohon perhatikan bahwa Gereja Katolik ‘tidak menginginkan 

ekspansi yang menargetkan Gereja Ortodoks’ dan #30, yang menolak “eklesiologi pemulangan yang 

ketinggalan zaman dari Gereja Katolik”. Perhatikan bagaimana semuanya ini secara terang-terangan 


254 

 

menolak dogma Katolik bahwa para non-Katolik harus berpulang kembali kepada Gereja Katolik untuk 

memperoleh keselamatan dan kesatuan Kristiani. 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10), 6 Januari 1928: 

” ... upaya memajukan persatuan orang-orang Kristiani sama sekali tidak diizinkan selain dengan 

cara mendukung pemulangan para pembangkang kepada Gereja Kristus yang satu dan sejati, 

yang sayangnya telah mereka tinggalkan pada suatu kala.”79 

Maka, faktanya yaitu  bahwa Yohanes Paulus II dan sekte sesatnya menolak kata demi kata dogma iman 

Katolik: kesatuan Kristiani hanya tercapai lewat konversi ke dalam Katolisisme. Kita melihat penolakan 

ulang dogma Katolik ini di dalam kutipan berikutnya. 

yang lain bersama para Skismatis ‘Ortodoks’ 

Timur 

Yohanes Paulus II, Homili, 25 Januari 1993: 

“Jalan untuk mencapai kesatuan Kristiani, sebenarnya, ‘menurut dokumen Komisi 

Kepausan untuk Rusia, ‘bukanlah dengan proselitisme melainkan dialog 

persaudaraan...’”80 

Maka, kenyataannya yaitu  bahwa Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa iman Roma tidak perlu dianut 

oleh orang-orang non-Katolik; oleh sebab  itu, ia tidak dapat dipandang sebagai orang yang menganut 

Iman Katolik yang sejati. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#13), 29 Juni 1896: 

“Tidaklah dapat dipercayai bahwa anda menganut iman Katolik yang sejati, jika anda tidak 

mengajarkan bahwa iman Roma harus dianut.”81 

Mereka yang berteguh, walaupun telah melihat fakta-fakta ini, bahwa Yohanes Paulus II harus dipandang 

sebagai seseorang yang memegang iman Katolik yang sejati (dalam kata lain, bahwa ia yaitu  seorang 

Paus Katolik sejati) menolak ajaran Gereja Katolik ini. 

Di dalam ensikliknya tentang Sts. Cyril and Methodius {St. Sirilus dan Methodius} (#27), Yohanes Paulus II 

mengulangi bahwa para Skismatis Timur tidak boleh dikonversikan ke dalam Gereja Katolik. Ia berkata 

bahwa kesatuan bersama para skismatis ‘tidak terjadi lewat penyerapan ataupun penggabungan’,82 

yang berarti bukan lewat konversi. Seperti yang kita lihat di atas, Deklarasi Balamand dengan para 

Ortodoks mengutip kata-kata ini dari ensiklik Yohanes Paulus II tentang St. Sirilus dan Methodius untuk 

membuktikan bahwa orang-orang Katolik tidak seharusnya mengonversikan para Ortodoks. 

Yohanes Paulus II meneguhkan ajaran sesat ini di dalam berbagai pertemuan dengan para skismatis. 

Pada tanggal 24 Februari 2000, Yohanes Paulus II bertemu dengan Uskup skismatis dari Aleksandria 

yang non-Katolik, ‘Paus’ Shenouda III. 


255 

 

 

Yohanes Paulus II bertemu dengan Uskup skismatis dari Aleksandria, yang menyebut dirinya sendiri 

‘Paus’ Shenouda III 

Di dalam pesannya kepada sang uskup skismatis ini , Yohanes Paulus II menyebutnya ‘Yang Mulia’ 

dan berkata: 

Yohanes Paulus II, Pesan kepada ‘Paus’ Shenouda III, 24 Februari 2000: 

“Saya bersyukur atas semua yang anda katakan Yang Mulia...Allah memberkati Gereja Paus 

Shenouda. Terima kasih.”83 

Di dalam kata lain, Yohanes Paulus II berkata: “Allah memberkati Gereja skismatis!” Hal ini yaitu  sebuah 

penolakan Iman Katolik. Kitab Suci secara khusus memberi tahu kita bahwa kita tidak boleh berkata 

“Allah memberkati” kepada para bidah. 

“Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima 

dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.” (2 Yoh 1:10) 

Dengan mengucapkan “Allah memberkati” kepada sebuah Gereja yang sesat, seseorang meminta Allah 

untuk menggandakan dan menyebarkan sekte sesat ini . 

 


256 

 

 

Yohanes Paulus II dan Teoctist (Patriark skismatis dari Rumania) bersama-sama menolak untuk 

mengonversikan satu sama lain di dalam sebuah Deklarasi Gabungan di tahun 2002. 

Pada tanggal 12 Oktober 2002, Yohanes Paulus II dan Patriark skismatis dari Rumania bersama-sama 

menolak untuk mencoba mengonversikan satu sama lain di dalam sebuah pernyataan bersama. Mereka 

menyatakan “Tujuan dan keinginan kami yang besar yaitu  persatuan secara penuh, yang tidak terjadi 

lewat penyerapan...”84 Hal ini berarti bukan lewat konversi. Yohanes Paulus II sering memakai  kata-

kata ‘tidak terjadi lewat penyerapan ataupun penggabungan’ untuk menunjukkan bahwa kesatuan 

dengan para skismatis tidak terjadi dengan mengonversikan mereka. Ingatlah bahwa kata-kata ini  

digunakan dengan arti ini di dalam Deklarasi Balamand (yang dikutip di atas) dengan sang ‘Ortodoks’ 

skismatis. 

Teoctist, Patriark skismatis Rumania telah menyatakan bahwa pada tahun 1999, Yohanes Paulus II 

memberi  sebuah sumbangan besar kepada Gereja non-Katoliknya.85 Zenit News Services dan lainnya 

(lihat gambar di atas) melaporkan bahwa sumbangan Yohanes Paulus II kepada sang patriark skismatis 

berjumlah $100.000! 

“Imam Rumania Ortodoks berkata hari ini bahwa Yohanes Paulus II telah menyumbangkan 

$100.000 untuk pembangunan sebuah Katedral Ortodoks di sini yang dapat menampung hingga 

2.000 orang, laporan dari Agence France-Presse.”86 

Paus Inosensius III, Konsili Lateran IV, Konstitusi 3 tentang Bidah, 1215: 

“Di samping itu, kami menetapkan bahwa orang-orang beriman yang menerima, melindungi, atau 

menyokong para bidah diberikan ekskomunikasi.”87 

Di dalam sambutannya pada hari yang sama dengan Deklarasi Gabungan mereka, Yohanes Paulus II 

berkata kepada Patriark skismatis Teoctist: “Tujuannya yaitu ... untuk mencapai sebuah kesatuan yang 

‘tidak dilakukan lewat penyerapan maupun penggabungan...’88 

Maka, Yohanes Paulus II telah secara terang-terangan memastikan para pendengarnya berulang-ulang 

kali bahwa para Katolik tidak boleh mengonversikan orang-orang non-Katolik dan bahwa Iman Katolik 

tidak diperlukan untuk mencapai keselamatan. 

Paus Pius IX, Nostis et Nobiscum (#10), 8 Desember 1849: 

“Terutama, pastikan bahwa para umat beriman yakin secara mendalam dan menyeluruh 


257 

 

akan kebenaran tentang doktrin bahwa iman Katolik diperlukan untuk mencapai 

keselamatan.”89 

Faktanya, di dalam sambutan yang sama kepada Patriark Rumania, Yohanes Paulus II membuat 

pernyataan yang mencengangkan berikut: 

“Gereja Katolik mengakui misi Gereja-gereja Ortodoks di dalam negara-negara di mana ia telah 

berakar selama berabad-abad. Ia {Gereja ‘Katolik’} hanya ingin membantu misi ini...”90 

Untuk Yohanes Paulus II: Peduli amat Kepausan! Peduli amat bahwa selama 1000 tahun terakhir, para 

skismatis telah menolak pernyataan-pernyataan dogmatis! Peduli amat tentang perceraian dan 

pernikahan ulang! Peduli amat Gereja Katolik, menurut Yohanes Paulus II. Menurut si murtad ini, semua 

hal ini tidak berarti apa-apa dan bahkan tidak boleh dipercayai sebab  ‘Gereja’ hanya ingin agar orang-

orang ini tetap berada di dalam skisma dan di luar ajaran-ajarannya. 

Paus Gregorius XVI, 27 Mei 1832:  

“Janganlah tertipu, saudaraku, jika seseorang mengikuti seorang skismatis, ia tidak akan 

mendapat warisan kerajaan Allah.”91 

Paus Leo XII, Ensiklik, 24 Mei 1824:  

“Kami berkata kepada anda semua yang masih terpisah dari Gereja yang sejati dan jalam 

keselamatan. Di dalam sukacita universal ini, satu hal masih kurang, hendaknya...anda dapat 

dengan tulus setuju dengan bunda Gereja, yang di luar ajarannya tidak ada  

keselamatan.”92 

Paus Leo XII, Ubi Primum (#14), 5 Mei 1824: 

“yaitu  sesuatu yang tidak mungkin bahwa Allah yang benar, yang merupakan kebenaran itu 

sendiri, sang Penyedia yang terbaik dan terbijaksana, dan Pemberi karunia kepada manusia yang 

baik, menyetujui semua sekte yang mengakui ajaran-ajaran sesat yang sering tidak konsisten 

satu sama lain dan bertentangan, dan memberi  keselamatan abadi kepada anggota-

anggotanya... oleh iman ilahi kami mengakui satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan... Inilah 

mengapa kami mengakui bahwa tidak ada  keselamatan di luar Gereja.”93 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#11), 6 Januari 1928:  

“Gereja Katolik yaitu  satu-satunya yang menjaga ibadat sejati ... jika seseorang tidak masuk ke 

dalamnya, atau jika seseorang keluar darinya, ia kehilangan segala harapan akan hidup 

dan keselamatan.”94 


258 

 

 

Di sini kita melihat Yohanes Paulus II dan Patriark skismatis Teoctist duduk di kursi yang sama tingginya 

Ini merupakan sebuah tindakan lain yang Yohanes Paulus II tunjukkan bahwa ia menerima bidah 

‘Ortodoks’ bahwa semua uskup yaitu  sama derajatnya. Yohanes Paulus II berpegang bahwa tidak 

masalah jika seseorang menolak Keutamaan Uskup Roma. 

Di musim panas 2003, Yohanes II sekali lagi menolak proselitisme para Skismatis Timur. 

Yohanes Paulus II, Ecclesia in Europa, Nasihat Penggembalaan sesudah  Sinode, 28 Juni 2003: 

“Pada waktu yang bersamaan saya ingin meyakinkan sekali lagi para imam dan saudara-

saudara kami dari Gereja Ortodoks bahwa penginjilan baru tidak sama sekali boleh 

dicampuradukkan dengan proselitisme...”95 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 4, Bab 3, ex cathedra:  

“Terlebih lagi, Kami mengajarkan dan mendeklarasikan bahwa Gereja Roma, lewat aturan dari 

Tuhan, memegang kekuasaan dari semua kekuatan biasa di atas yang lain-lain...Ini yaitu  

doktrin kebenaran Katolik yang dari mana tidak seorang pun dapat menyimpang dan 

tetap menjaga iman dan keselamatannya.”96 

Definisi infalibel Vatikan I mendeklarasikan bahwa setiap orang yang menyimpang dari dogma Kepausan 

(bahwa Paus Roma memegang kekuasaan di dalam Gereja Kristus); sehingga para skismatis ’Ortodoks’ 

dan para Protestan tidak dapat menjaga iman dan keselamatan mereka. namun , Yohanes Paulus II 

mengatakan kepada kita bahwa para skismatis Ortodoks dan Protestan tidak hanya dapat menjaga iman 

dan keselamatan mereka sambil menolak Kepausan, namun  tidak boleh percaya akan Kepausan. Ia benar-

benar yaitu  seorang bidah yang menolak dogma Vatikan I ini. 

Yohanes Paulus II mengumumkan sebuah Persatuan dan Kesatuan Iman 

dengan Sekte-sekte Non-Katolik 

Di dalam ensikliknya Ut Unum Sint, Yohanes Paulus II mengumumkan bahwa ‘Gereja’-nya ada  di 

dalam persatuan dengan sekte-sekte non-Katolik 16 kali, dan ia mengumumkan bahwa ia memiliki iman 

yang sama dengan sekte-sekte non-Katolik 8 kali. 


259 

 

Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#62), 25 Mei 1995, berbicara tentang Patriark Skismatis non-

Katolik dari Etiopia: 

“Sewaktu Patriark yang terhormat dari Gereja Etiopia, Abuna Paulos, mengunjungi saya di Roma 

pada tanggal 11 Juni 1003, bersama-sama kami menegaskan persatuan yang dalam yang 

ada  di antara kedua Gereja kami: ‘Kami memiliki iman yang sama yang diturunkan 

dari para Rasul... terlebih lagi, kami dapat menekankan bahwa kami memiliki iman yang satu 

di dalam Kristus...’”97 

Paus St. Leo Agung, Khotbah 129: 

“Oleh sebab  itu, sebab di luar Gereja Katolik tiada sesuatu pun yang sempurna, tiada yang tidak 

cemar... kami tidak sedikit pun sama seperti mereka yang terpisah dari kesatuan Tubuh 

Kristus; kami sama sekali tidak bersatu {dengan mereka}.”98 

Sewaktu Yohanes Paulus II berkata b