Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 27. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 27. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 27

 


anes Paulus II? : “Sri Paus itu infalibel pertama-tama 

dalam perkara-perkara iman dan moral, dan kedua dalam perkara-perkara disiplin (legislasi 

Gereja universal, kanonisasi-kanonisasi, dll.) sejauh mana perkara-perkara ini melibatkan iman 

dan moral (bandingkan Prinsip 4), dan lalu hanya sewaktu memberlakukan suatu ajaran yang 

definitif untuk selamanya. 

“namun  ‘infalibel’ berarti tidak dapat berubah dan tidak dapat diubah (Prinsip 6), namun , 

ciri-ciri khas dari para Paus konsiliar, seperti para Modernis, yaitu  semangat evolusi. 

Sejauh mana pikiran-pikiran semacam itu ingin membuat definisi yang tak dapat diubah 

atau pemberlakuan yang mutlak? Mereka tidak menginginkannya, dan kenyataannya, 

‘mereka tidak dapat melakukannya ….’ (Uskup Agung Lefebvre, Écône; 12 Juni 1984.) 

Bandingkan Pertanyaan 15, no. 3.” (Angelus Press, 1997) 

Di sini, Serikat St. Pius X tidak sekedar menyatakan bahwa Yohanes Paulus II tidak memenuhi 

persyaratan untuk berbicara secara infalibel; SSPX (yang sedang menulis pada masa kepemimpinan 

Yohanes Paulus II) menyatakan bahwa ia (pria yang mereka anggap sebagai Paus yang sejati) tidak 

dapat berbicara secara infalibel. 

Untuk mereka yang oleh sebab  suatu alasan tertentu tidak dapat menangkap akibat yang timbul dari 

pernyataan SSPX ini, izinkan kami untuk memberi  rangkumannya: SSPX secara benar menegaskan 

bahwa suatu ajaran yang infalibel dari seorang Paus tentang iman atau moral tidak dapat diubah, seperti 

yang dinyatakan oleh Vatikan II (Denz. 1839). namun  menurut SSPX, para “Paus” Vatikan II yaitu  orang-

orang Modernis yang sedemikian rupa sehingga mereka percaya akan evolusi doktrin; mereka tidak 

percaya adanya hal yang tidak dapat diubah. Maka, menurut SSPX, walaupun mereka yaitu  para Paus 

yang valid, para “Paus” pasca-Vatikan II TIDAK DAPAT mengajar secara infalibel! Ini yaitu  penolakan 

terhadap dogma Infalibilitas Kepausan. 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 4, Bab 4, 1870: 

“ ... sewaktu Sri Paus Roma berbicara secara ‘ex cathedra’, yakni, sewaktu ia mendefinisikan 

atas dasar otoritas apostoliknya yang tertinggi, demi menunaikan tanggung jawabnya sebagai 

gembala dan pengajar segenap umat Kristiani, bahwa suatu doktrin tentang iman atau moral 

harus dipercayai oleh Gereja universal, ia bertindak sepenuhnya dengan infalibilitas ini, … 

yang telah dikehendaki oleh sang Penebus ilahi sebagai bekal bagi Gereja dalam mendefinisikan 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

595 

 

doktrin yang menyangkut iman atau moral … Barang siapa, hendaknya Allah mencegahnya, 

sedemikian gegabahnya sehingga menentang definisi Kami ini; terkutuklah dia.”29 

Secara definisi, seorang Paus yaitu  Uskup Roma, yang memiliki yurisdiksi tertinggi di dalam Gereja dan 

yang DAPAT mengajar secara infalibel, jika ia memenuhi persyaratan yang diperlukan. Jika ia tidak dapat 

berbicara secara infalibel, maka ia bukanlah seorang Paus yang valid! 

Semua posisi skismatis ini (misalnya, penolakan SSPX terhadap “kanonisasi” yang secara resmi 

diumumkan oleh “Paus” mereka) dan pembejatan-pembejatan Jabatan Kepausan diakibatkan oleh 

kegagalan SSPX untuk melihat kebenaran dari posisi sedevakantis (yakni, bahwa para “Paus Vatikan II” 

sama sekali bukan Paus, melainkan Anti-Paus). 

Benediktus XVI secara pribadi memberi tahu SSPX bahwa SSPX harus menerima  

Vatikan II 

Pada konferensinya di Denver di tahun 2006 (yang dilaporkan di dalam suatu artikel yang diterbitkan di 

dalam surat kabar SSPX, The Angelus), Uskup Fellay dari SSPX menyebutkan suatu poin yang sangat 

penting. Ia mengakui bahwa, pada suatu pertemuan pribadi dengan Anti-Paus Benediktus XVI, sang Anti-

Paus telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa SSPX harus menerima Vatikan II. 

Uskup Bernard Fellay, Konferensi di Denver, 18 Februari 2006: 

“Lalu ia [Benediktus XVI] mengambil langkah berikutnya. Dan ia berkata bahwa langkah kedua 

yaitu  penerimaan Konsili itu [Vatikan II] ... Sri Paus telah secara jelas menunjukkan dalam 

kata-kata yang digunakannya pada saat audiensi itu, bahwa baginya, mustahil adanya 

untuk menerima seseorang di dalam Gereja, setidaknya, katakanlah, seturut cara 

pandangnya yang modern terhadap Gereja, orang yang tidak akan menerima Konsili itu. Ia 

sangat jelas. Sewaktu saya mendengar kata-katanya di sana, dan terutama satu kata yang 

selanjutnya, bagi saya, pertarungan besar yang akan kita hadapi di bawah masa Kepausan ini 

akan merupakan pertarungan sehubungan Konsili itu.”30 

Hal ini harus dibuktikan berapa kali lagi? Para tradisionalis palsu perlu meninggalkan posisi mereka yang 

mustahil, yang menurutnya, seseorang dapat menolak Vatikan II dan menerima para “Paus” Vatikan II 

sebagai Paus yang legitim. Mereka harus menolak Vatikan II dan para Anti-Paus non-Katolik yang 

memberlakukannya. 

Poin-poin yang penting sehubungan klaim para pendukung SSPX – dan mereka yang 

memegang posisi yang serupa – bahwa mereka hanya menjalani kehidupan Katolik, 

menghadiri SSPX (atau kapel independen lainnya) dan tidak terlibat dalam perkara-

perkara ini, seperti sedevakantisme 

Kami sering mendengar dari banyak orang, terutama dari para pembela SSPX, bahwa mereka hanya 

orang awam yang tidak bisa terlibat dalam perkara-perkara teologis ini, seperti perkara sedevakantisme. 

Mereka hanya pergi ke Misa di SSPX, mendukung SSPX, dan mencoba menjadi orang-orang rohani yang 

baik yang taat kepada Iman. Inilah tanggapan dari banyak pengikut SSPX sewaktu mereka menghadapi 

argumen-argumen sedevakantis. 

Baiklah, jika demikian adanya – jika anda tidak memiliki otoritas untuk terlibat dalam perkara-perkara 

ini dan anda hanya “seorang awam yang pergi ke Misa” dan mencoba menaati Iman Katolik – MAKA 

ANDA SAMA SEKALI TIDAK BERHAK MENGHADIRI SSPX ATAU KAPEL INDEPENDEN LAINNYA. 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

596 

 

JIKA ANDA TERLALU SEDERHANA UNTUK “DAPAT MENGERTI HAL INI”, DAN JIKA ANDA TIDAK DAPAT 

TERLIBAT DALAM PERKARA-PERKARA INI – JIKA DEMIKIAN POSISI ANDA (SEMOGA ALLAH 

MENCEGAHNYA) – MAKA SECARA LOGIS ANDA HARUS SEKADAR MENERIMA GEREJA NOVUS ORDO 

SETEMPAT SAJA, MENGHADIRI MISA BARU, DAN MENERIMA VATIKAN II, YANG yaitu  AGAMA YANG 

DISETUJUI OLEH “USKUP” NOVUS ORDO SETEMPAT. namun , “tidak”, orang awam yang berpura-pura 

“sederhana” yang “hanya pergi ke SSPX dan mencoba hidup dengan baik” dan tidak terlibat dalam 

“perkara-perkara ini” tiba-tiba terlibat dalam perkara-perkara ini dan menjadi seorang “teolog”. Ia 

“tahu” bahwa ia tidak dapat menerima Misa Baru dan agama Novus Ordo setempat. Makai a 

mengutuk dirinya sendiri dengan mulutnya sendiri, membantah argumennya sendiri, dan membuktikan 

kemunafikannya hanya dengan “terlibat” di mana ia ingin menjadi terlibat. 

Sebab inti permasalahannya yaitu  bahwa jika seseorang dapat menerima Misa Baru dan agama Vatikan 

II dan menyelamatkan jiwanya maka sama sekali tidak ada pembenaran apa pun untuk pergi ke kapel 

independen atau SSPX. Ini semua yaitu  masalah preferensi, jika demikian adanya. namun  jika 

seseorang percaya bahwa Iman mewajibkannya untuk menolak Misa Baru dan agama Vatikan II 

sebagai sesuatu yang akan menyebabkan hilangnya keselamatan dirinya (yang yaitu  

kebenaran), maka gereja setempat dan Misa Baru (serta para otoritas yang memberlakukannya) 

tidak mungkin mewakili Gereja Katolik. Kenyataan itu menuntun orang kepada posisi sedevakantis, 

yang tidak dapat dihindarinya, sebab Gereja Katolik yang Kudus tidak menuntun kita ke dalam Neraka. 

Semua hal ini kembali membuktikan bahwa satu-satunya posisi yang Katolik yaitu  posisi sedevakantis, 

dan bahwa segala posisi sesat lainnya tidak konsisten dengan ajaran Katolik. sebab  SSPX 

mempromosikan posisi-posisi bidah yang tidak konsisten dengan ajaran Katolik, orang Katolik sama 

sekali tidak boleh menyokong SSPX secara finansial di bawah ancaman dosa berat. 

Paus Inosensius III, Konsili Lateran IV, 1215: 

“Di samping itu, kami menetapkan bahwa orang-orang beriman yang menerima, 

melindungi, atau menyokong para bidah terkena ekskomunikasi.”31 

Komentar-komentar Singkat tentang Kemungkinan Terjadinya Persatuan Kembali secara 

Penuh antara SSPX dan Gereja Baru 

Pada saat buku ini hampir selesai ditulis (versi orisinalnya dari tahun 2007), berlangsung diskusi 

tertentu bahwa SSPX akan masuk ke dalam persekutuan penuh dengan sekte Vatikan II, sebagai gantinya, 

Anti-Paus Benediktus XVI akan memperbolehkan Misa bahasa Latin diselenggarakan secara lebih luas 

serta mengangkat ekskomunikasi yang sebelumnya telah dikenakan kepada SSPX. Jika hal ini terjadi, 

peristiwa ini akan melambangkan pembelotan penuh oleh SSPX ke dalam Kontra-Gereja Vatikan II. 

Benediktus XVI, yang dibimbing oleh Iblis, sungguh menyadari bahwa, pada tahapan ini, kemurtadan 

sekte Vatikan II sedemikian kukuhnya, dan hampir semua imamnya tidak valid sebab  mereka ditahbiskan 

dalam Ritus-Ritus Baru Paulus II, sehingga ia dapat memberi  keringanan-keringanan kepada 

kelompok-kelompok berjurusan tradisionalis demi memancing mereka untuk kembali ke dalam Kontra-

Gereja, dan dengan demikian, mereka akan sepenuhnya menyangkal Kristus ketika mereka menerima 

agama baru itu secara penuh dan hal-hal seperti “kanonisasi” sang pemurtad Yohanes Paulus II. 

Jika Benediktus XVI memang membuat tawaran semacam itu kepada SSPX, janganlah tertipu, perbuatan 

itu yaitu  siasati Iblis untuk mencoba menipu para tradisionalis pada fase yang begitu jauh dalam 

Kemurtadan Besar. Jika hal ini memang terjadi, kami menduga bahwa SSPX akan terpecah menjadi fraksi-

fraksi pro dan kontra persatuan kembali secara penuh dengan Kontra-Gereja. 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

597 

 

_______________________________ Bagian 40:  

 

1 Bernard Tissier de Mallerais, Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, Edisi Suntingan Kedua, Clovis, 

Etampes, 2002. 

 

2 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 564. 

 

3 Claudia Carlen, The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, The Pierian Press, Raleigh , 1990,Vol. 1 (1740-1878), 

hal. 229, no. 2. 

 

4 The Angelus, Angelus Press, Mei 2000, hal. 21. 

 

5 Sagesses chrétiennes, Les Pères Apostoliques, Texte intégral {Para Bapa Apostolik, Naskah Integral}, Editions du 

Cerf, Paris, 2012, hal. 180. 

 

6 Jurgens, The Faith of the Early Fathers {Iman Bapa-Bapa Gereja Perdana}, The Liturgical Press, Collegeville, MN, 

1970,Vol. 2, no. 1371 a. 

 

7 Pius XI, Lettre encyclique Mortalium Animos contre l’Å“cuménisme {Surat Ensiklik Mortalium Animos Melawan 

Ekumenisme}, Association Saint-Jérôme, Bruxelles, 1987, hal.29. 

 

8 Pius XI, Lettre encyclique Quas primas {Surat Ensiklik Quas Primas}, Pierre Téqui penyunting, Paris, 1987, hal. 15-

16. 

 

9 Peter Hünermann, Heinrich Denzinger, Enchiridion Symbolorum, Symboles et définitions de la Foi catholique 

{Simbol-Simbol dan Definisi-Definisi Iman Katolik}, edisi ketiga puluh delapan, Edisi bahasa Prancis, Editions du Cerf, 

Paris, 2010, no. 3070. 

 

10 St. Alfonsus de Liguori, The Great Means of Salvation and Perfection {Jalan Besar Menuju Keselamatan dan 

Kesempurnaan}, 1759, hal. 23. 

 

11 Dikutip oleh Tanquerey, Synopsis Theologiae Dogmaticae Fundamentalis’ (Paris, Tournai, Rome: Desclee, 1937, 

edisi baru oleh J.B. Bord, Vol. I, hal. 624, catatan 2. 

 

12 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 514-515. 

 

13 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 517. 

14 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 519. 

 

15 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 529. 

16 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 564. 

17 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 565. 

18 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 565. 

19 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 576. 

20 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 577. 

 

21 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 578. 

22 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 591. 

 

23 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 577. 

 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

598 

 

 

24 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 578. 

 

25 Wawancara dengan The Remnant, edisi tanggal 15 Mei 2005. 

26 Pius XII, Lettre encyclique Mystici Corporis Christi, Le Corps Mystique de Jésus-Christ {Surat Ensiklik Mystici Corporis 

Christi, Tubuh Mistik Yesus Kristus}, Bonne Presse, 1943, hal. 14. 

 

27 Wawancara yang diterbitkan di dalam The Remnant, Forest Lake, MN. 

28 Leo XIII, Lettres apostoliques de S.S. Léon XIII, encycliques, brefs, etc. {Surat-Surat Apostolik dari Takhta Suci Leo 

XIII, Ensiklik-Ensiklik, Surat Singkat, dst.} (Edisi 1893), Hachette livre / BnF, Paris, 1893- 1904, Vol. 5, hal. 33. 

29 Denzinger, Ed. du Cerf, no. 3074, 3075. 

 

30 The Angelus, A Talk Heard Round the World {Percakapan yang Terdengar di Sekeliling Dunia}, April 2006, hal. 15. 

31 G. Alberigo, Les Conciles Å’cuméniques, Les Décrets {Konsili-Konsili Ekumenis, Dekret-dekret}, Edisi bahasa Prancis, 

Editions du Cerf, Paris, 1994, Vol. II-1 (dari Nicea sampai Lateran V), hal. 503. 

Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina 

599 

 

41. Hindari Devosi Suster Faustina kepada 

Kerahiman Ilahi 

 

Suster Faustina Kowalska dan gambar Devosi Kerahiman Ilahi-nya 

Bertahun-tahun kami telah mendengar berbagai opini tentang Devosi Kerahiman Ilahi; sebelumnya kami 

tidak tahu persis bagaimana kami harus menyikapinya. Faktanya yaitu  pada tahun 1950-an, Devosi 

Kerahiman Ilahi dilarang dan buku harian Suster Faustina ada  di dalam indeks buku-buku 

terlarang. Devosi ini hanya diperbolehkan di dunia oleh Yohanes Paulus II sesudah  Vatikan II. Di samping 

itu, sesuatu yang mengkhawatirkan kami yaitu  bahwa devosi ini kelihatannya populer di kalangan 

‘Katolik’ Karismatik, di mana devosi ini menggantikan Rosario. Beberapa waktu lalu, salah satu dari kami 

memutuskan untuk membaca secara singkat 600 halaman dari buku Divine Mercy in my Soul Diary {Buku 

Harian Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku} yang ditulis oleh Suster Faustina Kowalska. Kami mencatat di 

bawah hal-hal aneh yang kami temukan di dalam penelitian ini  yang cukup untuk meyakinkan kami 

bahwa ‘devosi’ ini harus dihindari. 

Pada halaman 23 dari buku Divine Mercy in my Soul Diary {Buku Harian Kerahiman Ilahi di dalam 

Jiwaku} (Buku Harian Sr. Faustina), dikatakan: “...dan hosti itu keluar dari tabernakel dan 

datang untuk menetap di dalam tanganku dan aku, dengan sukacita, menempatkannya 

kembali ke dalam tabernakel. Hal ini terulang kedua kalinya, dan aku melakukan hal yang 

sama. Walaupun begitu, hal ini terjadi ketiga kalinya...”1 

Pada halaman 89 dari buku Divine Mercy in my Soul Diary {Buku Harian Kerahiman Ilahi di dalam 

Jiwaku}, dikatakan: “Sewaktu sang imam mendekati aku kembali, aku mengangkat hosti itu 

untuknya dan meletakkannya kembali ke dalam piala, sebab  sewaktu pertama kali aku 

menyambut Yesus aku tidak dapat berbicara sebelum memakan hosti itu, maka aku tidak dapat 

mengatakan kepada-Nya bahwa hosti yang lain telah jatuh. namun  sewaktu aku memegang 

hosti itu di dalam tanganku, aku merasakan suatu kekuatan cinta yang begitu besar 

sehingga sepanjang hari aku tidak dapat makan ataupun menjadi sadar. Aku mendengar kata-

kata ini dari hosti itu: Aku ingin berada di dalam tanganmu, bukan hanya di dalam hatimu.”2 

  

Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina 

600 

 

Pada halaman 168, dikatakan: “Pada saat aku berlutut untuk menghalau keinginanku sendiri, 

sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadaku, aku mendengar suara ini di dalam jiwaku: 

Sejak saat ini, janganlah menakuti penghakiman Allah, sebab  engkau tidak akan 

dihakimi.”3 (Dari 4 Februari 1935) 

Pada halaman 176, ‘Yesus’ berkata kepadanya: “Engkau yaitu  sebuah anggur yang manis dan 

kumpulan buah yang terpilih, Aku ingin orang-orang lain untuk berbagi sari buah yang 

mengalir di dalam dirimu.”4 

Pada halaman 191, ‘Yesus’ berkata kepadanya: “Demi dirimu Aku akan menahan tangan yang 

menghukum; demi dirimu aku akan memberkati Dunia.”’5 (Lihat pula halaman 378.) 

Pada halaman 247, ‘Yesus’ berkata kepadanya: “Dan ketahui pula hal ini, anak-Ku: Segala 

ciptaan, tidak peduli apakah mereka mengetahuinya atau tidak, dan tidak peduli apakah 

mereka menginginkannya atau tidak, selalu memenuhi kehendak-Ku... Anak-Ku, jika engkau 

menginginkannya, pada saat ini Aku akan menciptakan suatu dunia baru, yang lebih indah dari 

yang ini, dan engkau akan hidup di dalamnya sepanjang hidupmu.”6 

Pada halaman 260, ‘Yesus’ berkata: “sebab  banyak jiwa akan berpaling dari gerbang Alam Maut 

dan menyembah kerahiman-Ku.”7 

Pada halaman 374, ‘Yesus’ berkata: “Jika mereka tidak akan menyembah kerahiman-Ku, 

mereka akan binasa untuk selamanya.”8 

Pada halaman 382, ‘Yesus’ berkata: “Aku ingin agar kerahiman-Ku disembah,”9 

Pada halaman 288, ‘Yesus’ berkata: “Itulah mengapa Aku menyatukan diri-Ku denganmu lebih 

erat dengan ciptaan lain.”10 

Pada halaman 400, ‘Yesus’ berkata: “Aku melihat bahwa cintamu begitu murni, lebih murni dari 

cinta para malaikat, dan terlebih lagi, sebab  engkau terus berjuang. Demi engkau, Aku 

memberkati dunia.”11 

Pada halaman 417, kita membaca bahwa ‘Yesus’ dikatakan memberi  kepada Sr. Faustina 

petunjuk berikut: “Katakan kepada Jenderal Superior untuk bersanding kepadamu sebagai 

putri yang paling setia di dalam Ordo ini.”12 

Pada halaman 583, kita membaca bahwa Sr. Faustina berkata: “Sewaktu aku mengambil 

‘Pengabar Hati Kudus’ di dalam tanganku dan membaca cerita kanonisasi St. Andreas Bobola, 

jiwaku langsung dipenuhi oleh penantian yang besar agar kongregasi kami, juga, dapat 

memiliki seorang kudus dan aku menangis seperti seorang anak kecil bahwa tidak ada 

seorang kudus di antara kita. Dan aku berkata kepada Tuhan, ‘Aku mengenal kemurahan hati-

Mu, namun  kelihatannya Engkau tidak sebegitu murah hati terhadap kami.’ Dan aku mulai 

menangis kembali seperti seorang anak keci. Dan Tuhan Yesus berkata kepadaku, ‘Jangan 

menangis. Engkaulah orang kudus itu.’”13 

Pada halaman 602, kita membaca bahwa ‘Yesus’ dikatakan berkata: “Aku tidak bisa tahan akan 

mereka, sebab  mereka tidak baik, tidak pun mereka jahat.”14 

  

Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina 

601 

 

Pada halaman 612, kita membaca bahwa ‘Yesus’ dikatakan berkata: “Aku memiliki suatu cinta 

yang khusus kepada Polandia, dan jika ia akan taat kepada kehendak-Ku, Aku akan 

meninggikannya di dalam kuasa dan kesucian. Dari ialah akan datang percikan api yang akan 

mempersiapkan dunia untuk kedatangan terakhir-Ku.”15 

Pada halaman 643, kita membaca bahwa Sr. Faustina berkata sesudah  menerima Komuni: “Yesus 

mengubahku menjadi suatu hosti lain!... Engkau yaitu  Tuhan yang besar dan mahakuasa; 

Engkau dapat memberi  kepadaku anugerah ini. Dan Tuhan menjawabku, “Engkau yaitu  

hosti hidup.’”16 

Pada halaman 208 kita membaca bahwa ‘Yesus’ dikatakan berkata kepada Sr. Faustina tentang 

Devosi Kerahiman Ilahi dan dikatakan memerintahkannya untuk berdoa di atas manik-manik 

Rosario: “Doa ini [Devosi Kerahiman Ilahi] akan membantu untuk meredakan murka-Ku. Engkau 

akan mendoakannya selama sembilan hari, di atas manik-manik Rosario, dengan cara 

berikut: Pertama-tama, engkau akan mendoakan satu Bapa Kami dan Salam Maria dan Aku 

Percaya. Lalu pada manik-manik Bapa Kami engkau akan mengatakan kata-kata berikut: 

‘Bapa Yang Kekal, kupersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Allahan Putera-Mu 

terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus demi penebusan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia.’ 

Pada manik-manik Salam Maria engkau akan mengatakan kata-kata berikut: ‘Demi 

sengsara Yesus yang pedih tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.’ Pada 

akhirnya, tiga kali engkau akan mengatakan kata-kata berikut: ‘Allah yang Kudus, Allah yang 

Mahakuasa, Allah yang Kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia.’”17 (Sabtu, 14 September 

1935) 

ada  beberapa masalah dengan pernyataan-pernyataan di atas. Masalah pertama yaitu  promosi 

Komuni di dalam tangan, yang dikatakan disetujui oleh Tuhan kita. Hostinya terbang ke dalam tangannya 

berulang kali; Tuhan kita dikatakan berkata bahwa Ia ingin tinggal di dalam tangannya. Kami percaya 

bahwa ini yaitu  jebakan iblis untuk mendorong penerimaan Komuni di dalam tangan secara intelektual 

sebelum dimulainya agama Vatikan II. 

Kedua, kami melihat pujian yang tidak perlu yang diberikan kepada suster ini. Kami melihat hal-hal yang 

dikatakan kepadanya oleh ‘Tuhan kita’ yang tidak akan memupuk kerendahan hati, melainkan 

keangkuhan – bahwa pada dasarnya Suster Faustina yaitu  hal yang terbaik di dunia ini. Kami tidak 

percaya bahwa Tuhan kita pernah memerintahkannya untuk berkata kepada superiornya bahwa ia 

yaitu  putri yang paling setia di dalam Ordo itu. Tuhan kita bisa saja berkata kepada sang superior akan 

hal ini , jika Ia menghendakinya. 

Ketiga, kami melihat bahwa Sr. Faustina diberi tahu bahwa percikan api Allah – yang akan 

mempersiapkan dunia untuk Kedatangan Kedua-Nya – datang dari Polandia! Hal ini telah ditafsirkan 

bahwa orang pilihan Allah ini  yaitu  Yohanes Paulus II, yang berasal dari Polandia! sebab  kita 

tahu bahwa Yohanes Paulus II yaitu  seseorang yang murtad, seorang Anti-Paus non-Katolik, seorang 

pria yang mendukung agama-agama sesat dunia, ini menunjukkan kembali kepada kita bahwa wahyu-

wahyu kepada Sr. Faustina berasal dari Iblis. Faktanya, hal ini menunjukkan betapa Iblis ingin 

memberi  dukungan kepada Yohanes Paulus II. 

Keempat, Devosi Kerahiman Ilahi berpusat kepada kerahiman pada saat di mana umat manusia sudah 

hampir memenuhi cawan keadilan ilahi. Masalahnya pada saat itu dan pada hari ini, tentunya, yaitu  

bahwa manusia tidak menakuti Allah dan tetap terus menghina-Nya. Mereka perlu mendengar tentang 

keadilan-Nya. namun  devosi Kerahiman Ilahi yaitu  devosi palsu dan pesan yang sempurna untuk 

Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina 

602 

 

membuat orang-orang percaya bahwa mereka akan mendapat  kerahiman Allah walaupun mereka 

tetap berada di dalam dosa-dosa mereka; devosi ini bahkan juga memerintahkan orang-orang untuk 

‘menyembah’ kerahiman-Nya. 

Kelima, dan mungkin yang terpenting, apakah Allah akan mewahyukan suatu devosi baru yang didoakan 

di atas manik-manik Rosario tidak lama sesudah  Ibunda-Nya datang ke Fatima untuk membuat suatu 

mukjizat yang luar biasa, untuk mewahyukan, di antaranya, perlunya berdoa Rosario? Petunjuk yang 

diberikan kepada Suster Faustina untuk Devosi Kerahiman Ilahi untuk didoakan di atas manik-manik 

Rosario jelas, kami percaya, yaitu  rencana Iblis untuk menggantikan Rosario. Dan kami telah melihatnya 

digunakan seperti itu dengan banyak orang. Devosi Kerahiman Ilahi yaitu  devosi palsu yang lihai, yang 

kelihatan tradisional dari berbagai sudut, yang membantu tujuan Iblis untuk memasukkan kontra-devosi 

ini di antara kalangan orang-orang yang berpikiran konservatif, yang diharapkan oleh Iblis dapat menjadi 

pengganti Rosario. 

sesudah  mempertimbangkan semua hal ini, Devosi Kerahiman Ilahi yaitu  sesuatu yang harus 

dihindari oleh para Katolik. Orang-orang Katolik cukup mendoakan lebih banyak Rosario atau Jalan 

Salib saja. 

_______________________________ Bagian 41: 

 

1 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina} 

Stockbridge, MA: Marian Press, 1987, hal. 23. 

 

2 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

89. 

 

3 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

168. 

 

4 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

176. 

 

5 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

191. 

 

6 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

247. 

 

7 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

260. 

 

8 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

347. 

 

9 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

382. 

 

10 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

288. 

 

11 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

400. 

 

12 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

417. 

Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina 

603 

 

 

 

13 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

583. 

 

14 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

602. 

 

15 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

612. 

 

16 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

643. 

 

17 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal. 

208. 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

604 

 

42. Keluarga Berencana Alami yaitu  

Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

 

Di dalam Artikel ini: 

- Apa itu Keluarga Berencana Alami (KBA)? 

- Mengapa KBA yaitu  sebuah dosa? 

- Ajaran dari Magisterium Paus Katolik 

- Sabda Allah 

- Orang-orang Mengetahui bahwa KBA yaitu  sebuah Dosa 

- Planned Parenthood dan KBA 

- KBA memiliki dampak-dampak yang kekal dan tidak terbatas 

- Bantahan-bantahan 

- Kesimpulan 

Apa itu Keluarga Berencana Alami (KBA)? 

Keluarga Berencana Alami (KBA) yaitu  praktik di mana seseorang dengan sengaja membatasi 

hubungan perkawinan hanya pada waktu-waktu di mana sang istri infertil dengan tujuan menghindari 

dikandungnya seorang anak. KBA digunakan untuk alasan-alasan yang sama bahwa orang-orang 

memakai  kontrasepsi artifisial: untuk secara sengaja menghindari dikandungnya anak sewaktu 

melakukan hubungan perkawinan. 

Anti-Paus Paulus VI secara benar menjelaskan bahwa KBA yaitu  pengendalian kelahiran sewaktu ia 

mempromosikannya di dalam ensikliknya Humanae Vitae. 

Paulus VI, Humanae Vitae, (#16), 25 Juli 1968: 

“...orang-orang yang sudah menikah dapat mengambil manfaat dari siklus-siklus alami yang 

ada  di dalam sistem reproduksi dan melakukan hubungan perkawinan hanya pada saat-

saat {di mana sang istri} infertil, untuk mengendalikan kelahiran dalam suatu cara yang 

sama sekali tidak menyinggung prinsip-prinsip moral yang Kami baru saja jelaskan.”1 

Mengapa KBA yaitu  sebuah dosa? 

KBA yaitu  sebuah dosa sebab  hal ini  yaitu  pengendalian kelahiran; hal itu berlawanan dengan 

pengandungan. Hal ini  yaitu  penolakan dari penggunanya untuk membuka diri kepada anak-anak 

yang Allah telah rencanakan untuk diberikan kepada mereka. Tujuan hal ini sama sekali tidak 

berbeda dari kontrasepsi artifisial, dan oleh sebab  itu, hal ini  yaitu  suatu kejahatan moral 

sama seperti kontrasepsi artifisial. 

Ajaran dari Magisterium Paus Katolik 

Paus Pius XI berbicara dari Takhta Petrus di dalam ensikliknya di tahun 1931 Casti Connubii tentang 

pernikahan Kristiani. Ajarannya menunjukkan bahwa segala bentuk pencegahan kelahiran yaitu  jahat. 

Kami mengutip suatu kutipan yang panjang dari ensikliknya yang merangkum masalah ini. 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

605 

 

Paus Pius XI, Casti Connubii (#53-56), 31 Desember 1930: 

“Dan sekarang, Saudara-saudara yang Terhormat, kami akan menjelaskan dengan rinci 

kejahatan-kejahatan yang berlawanan dengan setiap manfaat dari perkawinan. Pertimbangan 

pertama diberikan kepada sang anak, yang banyak orang dengan lancang menyebutnya sebagai 

beban pernikahan yang memberatkan dan yang kata mereka harus dihindari secara berhati-hati, 

bukan lewat pengendalian diri yang bajik (yang diperbolehkan oleh hukum Kristiani di dalam 

pernikahan jika kedua belah pihak bersetuju) oleh orang-orang yang telah menikah, melainkan 

dengan cara menghalangi tindakan perkawinan. Beberapa orang memberi alasan untuk 

penyalahgunaan yang jahat ini atas dasar bahwa mereka terberatkan oleh anak-anak dan ingin 

memuaskan gairah-gairah mereka tanpa beban yang menyertainya. Orang-orang lain berkata 

bahwa mereka tidak dapat di satu sisi menahan diri tidak pun di sisi lain mereka dapat memiliki 

anak-anak akibat kesulitan-kesulitan dari sisi ibu ataupun akibat dari situasi-situasi di dalam 

keluarga. 

 

“namun  tidak ada alasan, betapapun seriusnya, yang dapat diajukan untuk hal apa pun 

yang secara intrinsik berlawanan dengan alam untuk membuatnya menjadi sesuai dengan 

alam dan baik secara moral. Oleh sebab  itu, sebab hubungan perkawinan terutama 

ditakdirkan oleh alam untuk menciptakan anak-anak, mereka yang dalam pelaksanaannya 

menghalangi kekuatan-kekuatan alaminya dan tujuannya berdosa melawan alam dan 

melakukan suatu hal yang memalukan dan secara intrinsik jahat. 

 

“Oleh sebab  itu, tidak mengejutkan bahwa Kitab Suci bersaksi bahwa Keagungan Ilahi 

memandang dengan kebencian yang paling besar kejahatan yang sangat buruk ini dan 

kadangkala menghukumnya dengan kematian. Seperti yang dicatat oleh St. Agustinus, “Tindakan 

perkawinan bahkan dengan istri seseorang yang legitim haram dan jahat adanya jika 

dicegah dikandungnya seorang anak.” Onan, putra dari Yehuda, melakukan hal ini dan Allah 

membunuhnya untuk hal itu (Kej. 38:8-10). 

 

“Oleh sebab  itu, sebab beberapa orang yang menjauh secara terang-terangan dari doktrin 

Kristiani yang telah diwariskan sejak permulaan, dan yang selalu dijaga dengan setia, baru-baru 

ini telah memandang sebagai hal yang baik untuk mengkhotbahkan secara lantang, tentang 

praktik-praktik ini , yang yaitu  suatu doktrin yang asing, Gereja Katolik, yang kepadanya 

Allah telah memercayakan pertahanan atas integritas dan kemurnian dari moral, berdiri tegak di 

antara puing-puing moral yang mengelilinginya, agar ia dapat mempertahankan kesucian 

persatuan pernikahan dari noda yang busuk ini, mengangkat suaranya sebagai tanda dari misi 

ilahinya dan lewat mulut Kami berkata kembali: tindakan perkawinan yang dilakukan 

dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga menghalangi kekuatan alami dari 

tindakan ini  untuk menghasilkan hidup yaitu  suatu penghinaan terhadap hukum 

Allah dan alam, dan mereka yang melakukannya dengan suka hati dicap dengan 

kebersalahan dosa berat.”2 

Seseorang dapat melihat bahwa Paus Pius XI mengutuk segala bentuk kontrasepsi sebagai hal yang 

menghasilkan dosa berat sebab  hal ini  menghalangi tindakan perkawinan. Apakah hal ini 

mengutuk KBA? Ya, namun  para pembela Keluarga Berencana Alami berkata ‘tidak’. Mereka beralasan 

bahwa dalam memakai  Keluarga Berencana Alami untuk menghindari kandungan, mereka tidak 

dengan sengaja menghalangi tindakan perkawinan atau dengan sengaja menghapuskan kekuatan 

alaminya untuk menghasilkan kehidupan, seperti kontrasepsi-kontrasepsi artifisial. Mereka 

berargumentasi bahwa KBA itu ‘alami’. 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

606 

 

Akal sehat seharusnya berkata kepada mereka yang sungguh-sungguh mempertimbangkan hal ini bahwa 

argumen-argumen ini munafik sebab  segala tujuan dari KBA yaitu  untuk menghindari kandungan. 

namun , upaya pembenaran KBA – klaim bahwa hal itu tidak mengganggu tindakan perkawinan sendiri 

dan oleh sebab nya diizinkan – harus dibantah secara khusus. Klaim ini dibantah secara khusus dengan 

melihat secara hati-hati ajaran Gereja Katolik tentang pernikahan TUJUAN UTAMANYA. Menurut ajaran 

Katolik, tujuan utama pernikahan (dan tujuan utama tindakan perkawinan) mengutuk KBA. 

Dogma Katolik mengajarkan kita bahwa tujuan utama pernikahan (dan tindakan perkawinan) yaitu  

prokreasi dan pendidikan anak-anak. 

Paus Pius XI, Casti Connubii (#17), 31 Desember 1930: 

“Tujuan utama pernikahan yaitu  prokreasi dan pendidikan anak-anak.”3 

Paus Pius XI, Casti Connubii (#54), 31 Desember 1930: 

“Oleh sebab  itu, sebab hubungan perkawinan terutama ditakdirkan oleh alam untuk 

menciptakan anak-anak, mereka yang dalam pelaksanaannya menghalangi kekuatan-kekuatan 

alaminya dan tujuannya berdosa melawan alam dan melakukan suatu hal yang memalukan dan 

secara intrinsik jahat.”4 

Di samping tujuan utama ini, ada  pula tujuan-tujuan sekunder dari pernikahan, seperti tujuan saling 

membantu, menenangkan nafsu, dan pertumbuhan rasa saling cinta. namun  tujuan-tujuan sekunder ini 

harus selalu dilalu kan oleh tujuan utama dari pernikahan (yaitu prokreasi dan pendidikan 

anak-anak). Ini yaitu  kunci utama yang harus diingat di dalam diskusi tentang KBA. 

Paus Pius XI, Casti Connubii (#59), 31 Desember 1930: 

“sebab  di dalam pernikahan dan juga di dalam penggunaan hak pernikahan, ada  pula 

tujuan-tujuan sekunder, seperti tujuan saling membantu, menenangkan nafsu, dan pertumbuhan 

rasa saling cinta yang sang suami dan istri tidak dilarang untuk pertimbangkan SELAMA 

TUJUAN-TUJUAN SEKUNDER ini  DIlalu KAN OLEH TUJUAN UTAMANYA dan 

selama sifat intrinsik dari tindakan ini  dijaga.”5 

Oleh sebab  itu, walaupun KBA tidak secara langsung mengganggu tindakan perkawinan sendiri, seperti 

yang gemar ditekankan oleh para pembelanya, tidak ada bedanya. KBA yaitu  suatu dosa sebab  

praktiknya mengemudiankan tujuan utama perkawinan dan tindakan perkawinan (yaitu 

prokreasi dan pendidikan anak-anak) dibandingkan  tujuan-tujuan sekundernya. 

KBA mengemudiankan tujuan utama perkawinan dibandingkan  hal-hal lain dengan cara 

mengupayakan dengan sengaja untuk menghindari anak-anak (yaitu, untuk menghindari tujuan 

utamanya) sewaktu tindakan perkawinan dilakukan. KBA oleh sebab  itu memutarbalikkan aturan 

yang dikehendaki oleh Allah. Hal ini  melakukan hal yang diajarkan oleh Paus Pius XI secara 

khidmat tidak dapat dilakukan secara sah. Dan poin ini membantah segala argumen yang dibuat oleh 

mereka yang membela KBA; sebab  segala argumen-argumen yang dibuat oleh mereka yang membela 

KBA berpusat kepada tindakan perkawinan itu sendiri, sedangkan mereka tidak menghiraukan fakta 

bahwa tidak ada bedanya jika satu pasangan tidak mengganggu tindakan itu sendiri jika mereka 

mengemudiankan atau menghalangi TUJUAN utama pernikahan. 

Sebagai rangkuman: satu-satunya perbedaan antara kontrasepsi artifisial dan KBA yaitu  bahwa 

kontrasepsi artifisial menghalangi kekuatan dari tindakan perkawinan sendiri, sedangkan KBA 

menghalangi tujuan utamanya (dengan cara mengemudiankan prokreasi anak-anak dibandingkan  hal-hal 

yang lain). 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

607 

 

Sabda Allah 

Bukanlah suatu hal yang rumit untuk mengerti bahwa penggunaan KBA untuk menghindari kehamilan 

yaitu  dosa. Hal ini dituliskan di dalam hati manusia bahwa tindakan ini  yaitu  dosa. 

Kejadian 30:1-2- “Ketika dilihat Rahel, bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia 

kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub: "Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku 

akan mati." Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan ia berkata: "Akukah 

pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?” 

Kita semua tahu bahwa Allah yaitu  Ia yang membuka kandungan, Ia yang mematikan dan 

menghidupkan 

Kejadian 30:22- “Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta 

membuka kandungannya.” 

1 Samuel 2:6- “TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang 

mati dan mengangkat dari sana.” 

Lalu mengapakah seorang wanita yang ingin memenuhi kehendak Allah membuat suatu upaya yang 

sistematis untuk menghindari hidup baru yang diberikan Allah kepadanya? Alasan apakah yang orang 

ini  dapat gunakan untuk mencari cara bagaimana dapat melakukan tindakan-tindakan perkawinan 

tanpa menjadi hamil dengan anak yang akan dikirimkan oleh Allah? Mengapakah seorang wanita (atau 

seorang pria) yang percaya bahwa Allah membuka kandungan mencoba untuk menghindari-Nya untuk 

membuka kandungan lewat upaya yang berhati-hati dan terorganisir, yang melibatkan grafik, siklus, dan 

termometer? Jawabannya yaitu  mereka yang melakukan tindakan semacam itu seperti KBA 

membalikkan badan terhadap Allah (yang pada dasarnya yaitu  dosa) dan menolak untuk membuka diri 

kepada kehendak-Nya. 

Sewaktu pasangan berusaha sedemikian rupa untuk menghindari anak-anak, di mana mereka dengan 

sengaja menghindari waktu-waktu fertil dan membatasi tindakan perkawinan hanya pada waktu infertil, 

mereka berdosa melawan hukum alam – mereka berdosa kepada Allah yang mereka tahu, menciptakan 

kehidupan. KBA, oleh sebab  itu, yaitu  dosa melawan hukum alam, sebab  Allah yaitu  pencipta 

kehidupan dan KBA menghalangi rancangan-Nya. 

Orang-orang Mengetahui bahwa KBA yaitu  sebuah Dosa 

Berikut yaitu  beberapa kesaksian yang sangat menarik dari orang-orang yang telah memakai  KBA 

atau telah diajarkan tentang KBA. Komentar-komentar mereka diambil dari bagian ‘the letters to the 

editor’ {‘surat-surat kepada penyunting’} dari suatu publikasi yang menulis artikel tentang KBA6 (Nama-

nama mereka ada  di surat orisinalnya). Surat-surat mereka menunjukkan bahwa para wanita yang 

memakai  KBA, dan juga para pria yang mentolerir atau bekerja sama dengannya, berdosa melawan 

hukum alam yang terukir di hati mereka. Mereka yang memakai  KBA mengetahui bahwa mereka 

menghalangi kehendak Allah dan mempraktikkan kontrasepsi. 

“Penyunting Yang Terhormat... Saya dulunya seorang pagan yang tidak religius dan telah bercerai 

sebelum saya bertemu suami saya yang, pada waktu itu, seorang Katolik yang tidak mengikuti 

agamanya. Saya menjadi Katolik pada tahun 1993 dan kami menikah pada tahun 1994. Saya sama 

sekali tidak tahu pada saat itu bahwa orang-orang Katolik diperbolehkan untuk melakukan hal 

apa pun untuk mencegah dikandungnya seorang anak. Saya tidak pernah mendengar tentang 

KBA sampai sang imam yang kami temui selama enam bulan sebelum pernikahan kami 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

608 

 

memberi  kepada saya sebuah paket berisi kertas dan pada dasarnya berkata, ‘ini, kamu pasti 

perlu mempelajari hal ini.’ Sewaktu saya sampai di rumah, saya dengan sekilas memeriksa kertas-

kertas ini . Saya melihat kalender, stiker, dan grafik. Jujur, saya begitu kaget akan segala 

upaya yang orang-orang lakukan hanya untuk mendapat  keintiman tanpa konsekuensi. Saya 

juga begitu kaget bahwa hal ini dipromosikan bahkan sebelum saya mengambil sumpah pada hari 

pernikahan saya! Saya membuang paket itu dan tidak pernah melihat ke belakang. Saya 

berterima kasih bahwa saya tidak pernah belajar tentang KBA... Saya penasaran anak saya yang 

mana yang tidak akan pernah ada jika saya waktu itu memilih untuk menyimpan kertas-kertas 

ini  dan belajar tentang KBA?” 

“Penyunting Yang Terhormat... Saya yaitu  ibu dari tujuh orang anak dan saya dapat 

membagikan pengalaman-pengalaman saya. KBA TIDAK membuat pernikahan saya lebih mesra. 

Saya bergulat dengan fakta bahwa Kitab Suci menyatakan bahwa seorang suami dan istri harus 

tunduk dan tidak memisahkan diri kecuali untuk berdoa. Kami menghindari kehamilan... pada 

dasarnya. Sama sekali tidak spiritual jika anda berkata kepada pasangan anda bahwa anda tidak 

dapat melakukan hubungan perkawinan sebab  menakuti dikandungnya seorang anak. Kamus 

Webster mendefinisikan kontrasepsi sebagai ‘pencegahan secara sengaja kandungan atau 

kehamilan.’ Dengan membuat grafik dan mengamati hari-hari fertil secara sistematis, seseorang 

secara sengaja mencegah kandungan. Saya memiliki teman-teman yang memakai nya. Saya 

telah berbicara kepada mereka dengan cara yang begitu pribadi. Mereka tidak lagi ingin memiliki 

anak. Mereka memakai  KBA sebagai pengendalian kelahiran, yang memang itulah KBA. Dan 

seorang teman yang telah memakai nya selama 11 tahun dan ‘tidak pernah mengalami 

kecelakaan.’ ...Saya dapat berkata bahwa St. Agustinus benar-benar tepat sewaktu ia menuliskan 

di dalam The Morals of the Manichees {Moral Para Pengikut Manikheisme}: ‘Pernikahan, 

sebagaimana yang dinyatakan catatan pernikahan sendiri, menyatukan lelaki dan perempuan 

untuk prokreasi anak-anak. Siapa pun yang berkata bahwa prokreasi anak-anak yaitu  suatu 

dosa yang lebih buurk dibandingkan  berhubungan badan oleh sebab  itu menghalangi tujuan dari 

pernikahan; dan ia membuat sang wanita tidak lagi seorang istri, namun  seorang pelacur, yang, 

sewaktu ia telah diberikan hadiah-hadiah tertentu, bersatu dengan seorang pria untuk 

memuaskan nafsu birahinya. Jika ada  seorang istri, ada  pula pernikahan. namun  tidak 

ada  pernikahan di mana harkat keibuan dihalangi, sebab  tidak ada  seorang istri.’ 

...Komentar favorit saya baru-baru ini dibuat oleh seorang penulis yang membandingkan KBA 

dengan seorang petani yang menanam jagungnya di tengah-tengah musim dingin untuk 

menghindari panen yang berlimpah.” 

“Penyunting Yang Terhormat... Persilakan saya memperpendek debat tentang KBA: jika niat anda 

yaitu  untuk menghindari anak-anak, sama sekali tidak penting cara yang anda gunakan. Anda 

telah berdosa. namun , jika anda memakai  kontrasepsi sebagai cara pilihan anda, anda 

menambahkan dosa kedua kepada dosa pertama. Dan untuk menjawab mantra yang sering 

diucapkan yaitu ‘alasan-alasan yang besar’, persilakan saya untuk mengatakan hal ini: 

sebutkanlah satu saja. Lihatlah dalam-dalam ke dalam hati anda dan sebutkanlah satu alasan 

yang sangat, amat besar... Kami melakukan KBA untuk sementara... dan sejak saat itu kami 

merasa jijik. Pada saat itu kami mungkin bisa memiliki paling tidak dua orang anak.” 

“Kepada Penyunting: KBA yaitu  salah satu penyusup dari pemujaan hubungan badan new-age 

ke dalam Gereja, bersama pendidikan seksual dan pakaian yang tidak senonoh... sebab  orang-

orang Katolik modern telah dibiasakan untuk merangkul ide-ide yang bertentangan dan pada 

waktu yang bersamaan membela mereka bagaikan mereka tidak bertentangan, mereka dengan 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

609 

 

mudah tertipu oleh ide bahwa KBA, seperti yang dipraktikkan secara umum, entah bagaimana 

berbeda dari pengendalian kelahiran. Saya tidak pernah mendapat pelajaran tentang teologi 

moral, namun  bahkan saya tahu bahwa tujuan dari suatu tindakan menentukan substansinya. 

Sewaktu pasangan melakukan hubungan yang secara sengaja yaitu  steril, hal ini dikenal sebagai 

pengendalian kelahiran, secara sederhana.” 

Planned Parenthood dan KBA 

Apakah anda pernah melihat persamaan antara Planned Parenthood (penyedia aborsi terbesar di dunia) 

dan Keluarga Berencana Alami? Kontrasepsi artifisial dan obat-obatan aborsi ditemukan di bawah rak-

rak toko yang dilabeli ‘Keluarga Berencana’. Layaknya aborsionis, para perencana keluarga menganggap 

anak-anak sebagai sesuatu yang tidak diinginkan, setidaknya untuk sementara; sedangkan para orang 

beriman sejati selalu menganggap mereka sebagai berkat yang tidak dapat dipungkiri dari Allah Sendiri, 

yang direncanakan oleh penyelenggaraan-Nya sepanjang masa. “Sesungguhnya, anak-anak lelaki yaitu  

milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan yaitu  suatu upah... Berbahagialah orang yang telah 

membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu...” (Mazmur 

126:3,5). 

Di dalam publikasi-publikasi yang mempromosikan KBA, jangka waktu fertil seorang istri kadang-kadang 

disebut ‘tidak aman’ dan ‘berbahaya’, bagaikan penciptaan hidup baru yaitu  suatu pelanggaran 

keamanan nasional dan bagaikan seorang anak kecil yaitu  suatu kejahatan yang berbahaya! Ini benar-

benar menjijikkan. 

Bukankah hal ini jelas sudah, bahwa mereka yang mengikuti perilaku semacam ini dan cara ini  

mengasingkan Allah dan anak-anak serta menggantikan mereka dengan rencana mereka yang egois? 

Sang pemuda suci Tobit berhubungan dengan mempelainya Sara sesudah  berdoa selama tiga hari, bukan 

untuk hawa nafsu birahi namun  hanya untuk cinta akan keturunan. Ia diajarkan oleh Malaikat Agung 

Santo Rafael bahwa untuk dapat melakukan tindakan perkawinan, ia harus digerakkan oleh cinta akan 

anak-anak dan bukan oleh nafsu birahi. 

Tobit 6:17* sebab  mereka yang dengan demikian menerima pernikahan {matrimony}, 

agar dapat mengasingkan Tuhan dibandingkan  diri mereka sendiri, dan dari pikiran mereka, 

dan untuk menyerahkan diri mereka sendiri kepada nafsu birahi mereka, bagaikan kuda 

dan keledai, yang tidak memiliki akal budi, mereka dikuasai oleh Setan. 

*” For they who in such manner receive matrimony, as to shut out God from themselves, and from 

their mind, and to give themselves to their lust, as the horse and mule, which have not 

understanding, over them the Devil hath power.” 

{Penerjemah menerjemahkan langsung ayat ini dari Kitab Suci Douay-Rheims, terjemahan bahasa 

Inggris dari Alkitab Latin Vulgata. Ayat ini tidak ada  di naskah Deuterokanonika Alkitab 

Katolik Indonesia Terjemahan Baru. Salah satu penerjemah Alkitab Latin Vulgata ke bahasa lain, 

misal. bahasa Prancis yaitu  abbé Louis-Claude Fillion yang berkomentar tentang ayat ini di 

dalam La Sainte Bible commentée d'après la Vulgate (Kitab Suci terjemahan dari Latin Vulgata 

dengan komentar} bahwa ayat 17 tidak diikutsertakan oleh terjemahan-terjemahan lain (‘Le vers. 

17, qui est omis par les autres traductions...’)} 

Kata matrimony berarti ‘jabatan keibuan’. Mereka yang memakai  KBA mencoba untuk menghindari 

matrimony (jabatan keibuan) dan untuk mengasingkan Tuhan dibandingkan  diri mereka sendiri. 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

610 

 

Santo Caesar dari Arles:  

“Setiap kali ia berhubungan badan dengan istrinya tanpa menginginkan anak-anak... tidak 

diragukan bahwa ia berdosa.”7 

Kesalahan-kesalahan yang Dikutuk oleh Paus Inosensius XI:  

“9. Tindakan perkawinan yang dilakukan hanya untuk kenikmatan sama sekali bebas dari 

kesalahan apa pun dan kecacatan ringan.” – Dikutuk8 

KBA memiliki dampak-dampak yang kekal dan tidak terbatas 

Fakta-fakta berikut mungkin yaitu  yang paling mempersalahkan praktik ‘Keluarga Berencana Alami’. 

Jika para perencana keluarga dapat melakukan kehendaknya, tidak akan ada St. Bernadette dari Lourdes, 

yang terlahir di dalam ruangan penjara bawah tanah; tidak pun ada St. Theresia dari Lisieux, yang 

terlahir dari seorang ibunda yang sakit-sakitan yang kehilangan tiga anak berturut-turut; tidak pun ada 

St. Ignatius Loyola, anak ketiga belas dari tiga belas anak;9 dan tentunya tidak akan ada St. Katarina 

dari Siena yang yaitu  anak kedua puluh tiga di dalam keluarga yang memiliki dua puluh lima 

anak!10 

Contoh-contoh santo-santa yang merupakan anak bungsu dari banyak anak mungkin dapat didaftar 

dalam begitu banyak halaman. St. Katarina dari Siena dan santo-santa lain yang akan dilenyapkan sama 

sekali oleh KBA akan bangkit mengadili generasi KBA. Para Perencana Keluarga Alami tentunya akan 

memberi tahu ibunda St. Katarina bahwa tidak perlu ia memiliki lima anak (apalagi dua puluh lima!), dan 

bahwa ia membuang-buang waktu sewaktu ia mengandung anak-anaknya. 

Hanya di dalam alam bakalah kita akan mengenal jiwa-jiwa abadi yang telah dirampas kesempatannya 

untuk masuk Surga akibat perilaku yang egois ini. Satu-satunya hal yang dapat menggagalkan kehendak 

Allah Yang Mahakuasa yaitu  kehendak mahkluk ciptaan-Nya yang fana; sebab  Ia tidak akan 

memaksakan seorang pun untuk memiliki anak-anak, seperti halnya Ia tidak akan melanggar kehendak 

bebas seorang pun. KBA yaitu  kejahatan yang tidak terbayangkan besarnya. (Renungkan saja dalam 

waktu singkat pikiran berikut, yaitu bila ibunda anda memutuskan untuk tidak memiliki anda.) 

Jika para perencana keluarga mendapat  apa yang mereka inginkan, penampakan-penampakan Bunda 

Maria dari Fatima tidak akan terjadi, sebab  ia menampakkan diri kepada Lucia (anak ketujuh dari tujuh 

bersaudara), Francisco (anak kedelapan dari sembilan bersaudara) dan Jacinta (anak kesembilan dari 

sembilan bersaudara). Para perencana keluarga, yang dengan egois menghalangi kehendak Allah, akan 

menghapuskan semua pesan Fatima dari sejarah manusia, serta mukjizat matahari, kehidupan yang 

luar biasa dari ketiga anak gembala ini, dan semua rahmat konversi yang didapatkan dari pengorbanan 

mereka yang mulia. Berapa banyak santo-santa, konversi, dan mukjizat akan terhapuskan oleh praktik 

pengendalian kelahiran yang keji ini? Hanya Allah yang tahu. 

Seorang ibu yang memiliki banyak anak, yang sedang mengandung, datang ke Ars (tempat di mana St. 

Yohanes Vianney tinggal) untuk mencari dukungan moral darinya. Ia berkata kepadanya, “Oh Romo, usia 

saya sudah begitu lanjut!” St. Yohanes Vianney membalas: “Hendaknya engkau merasa lega, anakku; jika 

saja engkau mengetahui wanita-wanita yang akan masuk Neraka sebab  mereka tidak melahirkan kepada 

dunia ini anak-anak yang seharusnya mereka lahirkan!” 

1 Timotius 2:15- “namun  perempuan akan diselamatkan sebab  melahirkan anak, asal ia 

bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.” 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

611 

 

Kitab Suci mengajarkan bahwa seorang wanita dapat diselamatkan sebab  melahirkan anak (jika ia 

Katolik dan berada di dalam keadaan rahmat). namun  para pendukung KBA akan membuat kita percaya 

bahwa seorang wanita dapat diselamatkan sebab  menghindari anak. Terlebih lagi, layaknya seorang 

wanita yang memenuhi kehendak Allah dan menjaga keadaan rahmat di dalam pernikahan diselamatkan 

sebab  melahirkan anak, juga tidak terhitung jumlahnya para wanita yang akan terkutuk sebab  tidak 

melahirkan anak-anak yang Allah inginkan untuk mereka. 

“namun  carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan 

kepadamu.” (Matius 6:33) 

Bantahan-bantahan 

Bantahan 1) Keluarga Berencana Alami yaitu  suatu praktik pengendalian kelahiran yang dapat 

dibenarkan sebab  hal itu sama sekali tidak menghalangi kekuatan alami prokreasi. 

Jawaban: Kami telah menjawab bantahan ini di atas. Kami tidak akan mengulangi seluruh hal itu kembali. 

Kami hanya akan meringkas kembali bahwa KBA terkutuk sebab  hal ini mengemudiankan TUJUAN 

utama pernikahan dan tindakan perkawinan dibandingkan  hal-hal lain. Hal ini membuat fakta bahwa KBA 

sama sekali menghalangi tindakan perkawinan itu sendiri tidak relevan, sebab  tujuan utamanya 

terhalangi. 

Bantahan 2) Paus Pius XII mengajarkan bahwa KBA sah untuk paling tidak beberapa alasan. Maka 

anda tidak memiliki hak untuk mengutuknya, sebab  ia yaitu  seorang Paus. 

Jawaban: Benar bahwa Paus Pius XII mengajarkan bahwa Keluarga Berencana sah untuk beberapa alasan 

di dalam rentetan khotbah yang falibel pada tahun 1950-an. namun , hal ini tidak membenarkan KBA. 

Khotbah-khotbah Pius XII falibel, dan oleh sebab  itu rentan terhadap kesalahan. 

Sewaktu mempelajari kesalahan-kesalahan Paus di sepanjang sejarah untuk mempersiapkan deklarasi 

tentang infalibilitas Kepausan, para teolog di Vatikan I menemukan bahwa lebih dari 40 Paus percaya 

akan pandangan-pandangan teologis yang salah. Suatu kasus kesalahan Paus yang terkenal 

keburukannya, Paus Yohanes XXII menganut pandangan yang salah bahwa jiwa-jiwa dari orang-orang 

yang baik di dalam Perjanjian Lama tidak menerima Visiun Beatifis {berkomunikasi langsung dengan 

Allah} sampai sesudah  Pengadilan Terakhir. Paus Honorius I, seorang Paus Roma yang terpilih secara 

valid, mendukung bidah monotelitisme (bahwa Tuhan kita Yesus Kristus hanya memiliki satu kehendak), 

yang untuknya ia dikutuk oleh Konsili Konstantinopel III. namun  tidak satu pun dari kesalahan-kesalahan 

ini diajarkan oleh para Paus dari Takhta St. Petrus, sama seperti khotbah Pius XII kepada bidan-bidan 

Italia bukanlah suatu deklarasi dari Takhta St. Petrus. 

Salah satu kasus yang paling terkenal keburukannya mengenai kesalahan Paus di dalam sejarah Gereja 

yaitu  “Sinode Jenazah” di tahun 897. Di sini, jenazah Paus Formosus yang telah meninggal – yang yaitu  

seorang Paus yang suci dan berbakti – dikutuk sesudah  kematiannya oleh Paus Stefanus VII untuk 

beberapa  tuduhan akan pelanggaran hukum kanon.11 Paus Sergius III juga mendukung penghakiman 

ini , sedangkan Paus-Paus yang berikutnya, Theodorus II dan Yohanes IX menentangnya. Hal ini 

menunjukkan kepada kita dengan sangat jelas bahwa tidak semua keputusan, khotbah, pendapat 

atau penghakiman seorang Paus infalibel. 

Seseorang dapat berargumentasi bahwa Pius XII yaitu  salah satu Paus terlemah di dalam sejarah Gereja. 

(Kami tidak mengikutsertakan para Anti-Paus Vatikan II, sebab  mereka bukanlah Paus). Pius XII 

membiarkan bidah dan modernisme berkembang; ia memodernisasikan liturgi pekan suci; ia 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

612 

 

mengajarkan bahwa evolusi teistik dapat dipercayai dan diajarkan oleh para imam dan teolog Katolik; 

dan ia membiarkan penolakan dogma Di Luar Gereja Tidak ada  Keselamatan merajalela, antara lain. 

Ia yaitu  seorang Paus yang sah, namun  ia benar-benar merupakan jembatan kepada Konsili Vatikan II 

yang murtad dan para Anti-Paus yang melaksanakannya. Mereka yang berpikir bahwa mereka aman-

aman saja untuk mengikuti sesuatu hanya sebab  hal ini  didukung oleh para teolog sebelum 

Vatikan II atau oleh Paus Pius XII di dalam kapasitasnya yang falibel tidaklah benar. Walaupun ledakan 

dari Kemurtadan Besar terjadi di Vatikan II, momentumnya yang diakibatkan oleh ditinggalkannya Iman 

sudah berakar jauh sebelum Vatikan II, seperti yang terbukti dari banyak buku-buku sebelum Vatikan II 

yang mempromosikan bidah dan modernisme yang terkutuk. Kebanyakan imam sudah jatuh ke dalam 

bidah pada tahun 1950-an, seperti yang dibuktikan oleh fakta bahwa hampir semuanya menerima dan 

memeluk agama Vatikan II sewaktu Vatikan II dilaksanakan. 

Intinya tetap bahwa yaitu  suatu ajaran yang infalibel dari Gereja Katolik bahwa tujuan utama 

pernikahan (dan tindakan perkawinan) yaitu  prokreasi dan pendidikan anak-anak. Keluarga Berencana 

Alami mengemudiankan tujuan utama pernikahan dan tindakan perkawinan dibandingkan  hal-hal lain dan 

oleh sebab  itu merupak