anes Paulus II? : “Sri Paus itu infalibel pertama-tama
dalam perkara-perkara iman dan moral, dan kedua dalam perkara-perkara disiplin (legislasi
Gereja universal, kanonisasi-kanonisasi, dll.) sejauh mana perkara-perkara ini melibatkan iman
dan moral (bandingkan Prinsip 4), dan lalu hanya sewaktu memberlakukan suatu ajaran yang
definitif untuk selamanya.
“namun ‘infalibel’ berarti tidak dapat berubah dan tidak dapat diubah (Prinsip 6), namun ,
ciri-ciri khas dari para Paus konsiliar, seperti para Modernis, yaitu semangat evolusi.
Sejauh mana pikiran-pikiran semacam itu ingin membuat definisi yang tak dapat diubah
atau pemberlakuan yang mutlak? Mereka tidak menginginkannya, dan kenyataannya,
‘mereka tidak dapat melakukannya ….’ (Uskup Agung Lefebvre, Écône; 12 Juni 1984.)
Bandingkan Pertanyaan 15, no. 3.” (Angelus Press, 1997)
Di sini, Serikat St. Pius X tidak sekedar menyatakan bahwa Yohanes Paulus II tidak memenuhi
persyaratan untuk berbicara secara infalibel; SSPX (yang sedang menulis pada masa kepemimpinan
Yohanes Paulus II) menyatakan bahwa ia (pria yang mereka anggap sebagai Paus yang sejati) tidak
dapat berbicara secara infalibel.
Untuk mereka yang oleh sebab suatu alasan tertentu tidak dapat menangkap akibat yang timbul dari
pernyataan SSPX ini, izinkan kami untuk memberi rangkumannya: SSPX secara benar menegaskan
bahwa suatu ajaran yang infalibel dari seorang Paus tentang iman atau moral tidak dapat diubah, seperti
yang dinyatakan oleh Vatikan II (Denz. 1839). namun menurut SSPX, para “Paus” Vatikan II yaitu orang-
orang Modernis yang sedemikian rupa sehingga mereka percaya akan evolusi doktrin; mereka tidak
percaya adanya hal yang tidak dapat diubah. Maka, menurut SSPX, walaupun mereka yaitu para Paus
yang valid, para “Paus” pasca-Vatikan II TIDAK DAPAT mengajar secara infalibel! Ini yaitu penolakan
terhadap dogma Infalibilitas Kepausan.
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 4, Bab 4, 1870:
“ ... sewaktu Sri Paus Roma berbicara secara ‘ex cathedra’, yakni, sewaktu ia mendefinisikan
atas dasar otoritas apostoliknya yang tertinggi, demi menunaikan tanggung jawabnya sebagai
gembala dan pengajar segenap umat Kristiani, bahwa suatu doktrin tentang iman atau moral
harus dipercayai oleh Gereja universal, ia bertindak sepenuhnya dengan infalibilitas ini, …
yang telah dikehendaki oleh sang Penebus ilahi sebagai bekal bagi Gereja dalam mendefinisikan
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
595
doktrin yang menyangkut iman atau moral … Barang siapa, hendaknya Allah mencegahnya,
sedemikian gegabahnya sehingga menentang definisi Kami ini; terkutuklah dia.”29
Secara definisi, seorang Paus yaitu Uskup Roma, yang memiliki yurisdiksi tertinggi di dalam Gereja dan
yang DAPAT mengajar secara infalibel, jika ia memenuhi persyaratan yang diperlukan. Jika ia tidak dapat
berbicara secara infalibel, maka ia bukanlah seorang Paus yang valid!
Semua posisi skismatis ini (misalnya, penolakan SSPX terhadap “kanonisasi” yang secara resmi
diumumkan oleh “Paus” mereka) dan pembejatan-pembejatan Jabatan Kepausan diakibatkan oleh
kegagalan SSPX untuk melihat kebenaran dari posisi sedevakantis (yakni, bahwa para “Paus Vatikan II”
sama sekali bukan Paus, melainkan Anti-Paus).
Benediktus XVI secara pribadi memberi tahu SSPX bahwa SSPX harus menerima
Vatikan II
Pada konferensinya di Denver di tahun 2006 (yang dilaporkan di dalam suatu artikel yang diterbitkan di
dalam surat kabar SSPX, The Angelus), Uskup Fellay dari SSPX menyebutkan suatu poin yang sangat
penting. Ia mengakui bahwa, pada suatu pertemuan pribadi dengan Anti-Paus Benediktus XVI, sang Anti-
Paus telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa SSPX harus menerima Vatikan II.
Uskup Bernard Fellay, Konferensi di Denver, 18 Februari 2006:
“Lalu ia [Benediktus XVI] mengambil langkah berikutnya. Dan ia berkata bahwa langkah kedua
yaitu penerimaan Konsili itu [Vatikan II] ... Sri Paus telah secara jelas menunjukkan dalam
kata-kata yang digunakannya pada saat audiensi itu, bahwa baginya, mustahil adanya
untuk menerima seseorang di dalam Gereja, setidaknya, katakanlah, seturut cara
pandangnya yang modern terhadap Gereja, orang yang tidak akan menerima Konsili itu. Ia
sangat jelas. Sewaktu saya mendengar kata-katanya di sana, dan terutama satu kata yang
selanjutnya, bagi saya, pertarungan besar yang akan kita hadapi di bawah masa Kepausan ini
akan merupakan pertarungan sehubungan Konsili itu.”30
Hal ini harus dibuktikan berapa kali lagi? Para tradisionalis palsu perlu meninggalkan posisi mereka yang
mustahil, yang menurutnya, seseorang dapat menolak Vatikan II dan menerima para “Paus” Vatikan II
sebagai Paus yang legitim. Mereka harus menolak Vatikan II dan para Anti-Paus non-Katolik yang
memberlakukannya.
Poin-poin yang penting sehubungan klaim para pendukung SSPX – dan mereka yang
memegang posisi yang serupa – bahwa mereka hanya menjalani kehidupan Katolik,
menghadiri SSPX (atau kapel independen lainnya) dan tidak terlibat dalam perkara-
perkara ini, seperti sedevakantisme
Kami sering mendengar dari banyak orang, terutama dari para pembela SSPX, bahwa mereka hanya
orang awam yang tidak bisa terlibat dalam perkara-perkara teologis ini, seperti perkara sedevakantisme.
Mereka hanya pergi ke Misa di SSPX, mendukung SSPX, dan mencoba menjadi orang-orang rohani yang
baik yang taat kepada Iman. Inilah tanggapan dari banyak pengikut SSPX sewaktu mereka menghadapi
argumen-argumen sedevakantis.
Baiklah, jika demikian adanya – jika anda tidak memiliki otoritas untuk terlibat dalam perkara-perkara
ini dan anda hanya “seorang awam yang pergi ke Misa” dan mencoba menaati Iman Katolik – MAKA
ANDA SAMA SEKALI TIDAK BERHAK MENGHADIRI SSPX ATAU KAPEL INDEPENDEN LAINNYA.
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
596
JIKA ANDA TERLALU SEDERHANA UNTUK “DAPAT MENGERTI HAL INI”, DAN JIKA ANDA TIDAK DAPAT
TERLIBAT DALAM PERKARA-PERKARA INI – JIKA DEMIKIAN POSISI ANDA (SEMOGA ALLAH
MENCEGAHNYA) – MAKA SECARA LOGIS ANDA HARUS SEKADAR MENERIMA GEREJA NOVUS ORDO
SETEMPAT SAJA, MENGHADIRI MISA BARU, DAN MENERIMA VATIKAN II, YANG yaitu AGAMA YANG
DISETUJUI OLEH “USKUP” NOVUS ORDO SETEMPAT. namun , “tidak”, orang awam yang berpura-pura
“sederhana” yang “hanya pergi ke SSPX dan mencoba hidup dengan baik” dan tidak terlibat dalam
“perkara-perkara ini” tiba-tiba terlibat dalam perkara-perkara ini dan menjadi seorang “teolog”. Ia
“tahu” bahwa ia tidak dapat menerima Misa Baru dan agama Novus Ordo setempat. Makai a
mengutuk dirinya sendiri dengan mulutnya sendiri, membantah argumennya sendiri, dan membuktikan
kemunafikannya hanya dengan “terlibat” di mana ia ingin menjadi terlibat.
Sebab inti permasalahannya yaitu bahwa jika seseorang dapat menerima Misa Baru dan agama Vatikan
II dan menyelamatkan jiwanya maka sama sekali tidak ada pembenaran apa pun untuk pergi ke kapel
independen atau SSPX. Ini semua yaitu masalah preferensi, jika demikian adanya. namun jika
seseorang percaya bahwa Iman mewajibkannya untuk menolak Misa Baru dan agama Vatikan II
sebagai sesuatu yang akan menyebabkan hilangnya keselamatan dirinya (yang yaitu
kebenaran), maka gereja setempat dan Misa Baru (serta para otoritas yang memberlakukannya)
tidak mungkin mewakili Gereja Katolik. Kenyataan itu menuntun orang kepada posisi sedevakantis,
yang tidak dapat dihindarinya, sebab Gereja Katolik yang Kudus tidak menuntun kita ke dalam Neraka.
Semua hal ini kembali membuktikan bahwa satu-satunya posisi yang Katolik yaitu posisi sedevakantis,
dan bahwa segala posisi sesat lainnya tidak konsisten dengan ajaran Katolik. sebab SSPX
mempromosikan posisi-posisi bidah yang tidak konsisten dengan ajaran Katolik, orang Katolik sama
sekali tidak boleh menyokong SSPX secara finansial di bawah ancaman dosa berat.
Paus Inosensius III, Konsili Lateran IV, 1215:
“Di samping itu, kami menetapkan bahwa orang-orang beriman yang menerima,
melindungi, atau menyokong para bidah terkena ekskomunikasi.”31
Komentar-komentar Singkat tentang Kemungkinan Terjadinya Persatuan Kembali secara
Penuh antara SSPX dan Gereja Baru
Pada saat buku ini hampir selesai ditulis (versi orisinalnya dari tahun 2007), berlangsung diskusi
tertentu bahwa SSPX akan masuk ke dalam persekutuan penuh dengan sekte Vatikan II, sebagai gantinya,
Anti-Paus Benediktus XVI akan memperbolehkan Misa bahasa Latin diselenggarakan secara lebih luas
serta mengangkat ekskomunikasi yang sebelumnya telah dikenakan kepada SSPX. Jika hal ini terjadi,
peristiwa ini akan melambangkan pembelotan penuh oleh SSPX ke dalam Kontra-Gereja Vatikan II.
Benediktus XVI, yang dibimbing oleh Iblis, sungguh menyadari bahwa, pada tahapan ini, kemurtadan
sekte Vatikan II sedemikian kukuhnya, dan hampir semua imamnya tidak valid sebab mereka ditahbiskan
dalam Ritus-Ritus Baru Paulus II, sehingga ia dapat memberi keringanan-keringanan kepada
kelompok-kelompok berjurusan tradisionalis demi memancing mereka untuk kembali ke dalam Kontra-
Gereja, dan dengan demikian, mereka akan sepenuhnya menyangkal Kristus ketika mereka menerima
agama baru itu secara penuh dan hal-hal seperti “kanonisasi” sang pemurtad Yohanes Paulus II.
Jika Benediktus XVI memang membuat tawaran semacam itu kepada SSPX, janganlah tertipu, perbuatan
itu yaitu siasati Iblis untuk mencoba menipu para tradisionalis pada fase yang begitu jauh dalam
Kemurtadan Besar. Jika hal ini memang terjadi, kami menduga bahwa SSPX akan terpecah menjadi fraksi-
fraksi pro dan kontra persatuan kembali secara penuh dengan Kontra-Gereja.
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
597
_______________________________ Bagian 40:
1 Bernard Tissier de Mallerais, Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, Edisi Suntingan Kedua, Clovis,
Etampes, 2002.
2 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 564.
3 Claudia Carlen, The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, The Pierian Press, Raleigh , 1990,Vol. 1 (1740-1878),
hal. 229, no. 2.
4 The Angelus, Angelus Press, Mei 2000, hal. 21.
5 Sagesses chrétiennes, Les Pères Apostoliques, Texte intégral {Para Bapa Apostolik, Naskah Integral}, Editions du
Cerf, Paris, 2012, hal. 180.
6 Jurgens, The Faith of the Early Fathers {Iman Bapa-Bapa Gereja Perdana}, The Liturgical Press, Collegeville, MN,
1970,Vol. 2, no. 1371 a.
7 Pius XI, Lettre encyclique Mortalium Animos contre l’Å“cuménisme {Surat Ensiklik Mortalium Animos Melawan
Ekumenisme}, Association Saint-Jérôme, Bruxelles, 1987, hal.29.
8 Pius XI, Lettre encyclique Quas primas {Surat Ensiklik Quas Primas}, Pierre Téqui penyunting, Paris, 1987, hal. 15-
16.
9 Peter Hünermann, Heinrich Denzinger, Enchiridion Symbolorum, Symboles et définitions de la Foi catholique
{Simbol-Simbol dan Definisi-Definisi Iman Katolik}, edisi ketiga puluh delapan, Edisi bahasa Prancis, Editions du Cerf,
Paris, 2010, no. 3070.
10 St. Alfonsus de Liguori, The Great Means of Salvation and Perfection {Jalan Besar Menuju Keselamatan dan
Kesempurnaan}, 1759, hal. 23.
11 Dikutip oleh Tanquerey, Synopsis Theologiae Dogmaticae Fundamentalis’ (Paris, Tournai, Rome: Desclee, 1937,
edisi baru oleh J.B. Bord, Vol. I, hal. 624, catatan 2.
12 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 514-515.
13 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 517.
14 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 519.
15 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 529.
16 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 564.
17 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 565.
18 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 565.
19 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 576.
20 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 577.
21 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 578.
22 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 591.
23 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 577.
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
598
24 Marcel Lefebvre – une vie {Biografi Marcel Lefebvre}, hal. 578.
25 Wawancara dengan The Remnant, edisi tanggal 15 Mei 2005.
26 Pius XII, Lettre encyclique Mystici Corporis Christi, Le Corps Mystique de Jésus-Christ {Surat Ensiklik Mystici Corporis
Christi, Tubuh Mistik Yesus Kristus}, Bonne Presse, 1943, hal. 14.
27 Wawancara yang diterbitkan di dalam The Remnant, Forest Lake, MN.
28 Leo XIII, Lettres apostoliques de S.S. Léon XIII, encycliques, brefs, etc. {Surat-Surat Apostolik dari Takhta Suci Leo
XIII, Ensiklik-Ensiklik, Surat Singkat, dst.} (Edisi 1893), Hachette livre / BnF, Paris, 1893- 1904, Vol. 5, hal. 33.
29 Denzinger, Ed. du Cerf, no. 3074, 3075.
30 The Angelus, A Talk Heard Round the World {Percakapan yang Terdengar di Sekeliling Dunia}, April 2006, hal. 15.
31 G. Alberigo, Les Conciles Œcuméniques, Les Décrets {Konsili-Konsili Ekumenis, Dekret-dekret}, Edisi bahasa Prancis,
Editions du Cerf, Paris, 1994, Vol. II-1 (dari Nicea sampai Lateran V), hal. 503.
Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina
599
41. Hindari Devosi Suster Faustina kepada
Kerahiman Ilahi
Suster Faustina Kowalska dan gambar Devosi Kerahiman Ilahi-nya
Bertahun-tahun kami telah mendengar berbagai opini tentang Devosi Kerahiman Ilahi; sebelumnya kami
tidak tahu persis bagaimana kami harus menyikapinya. Faktanya yaitu pada tahun 1950-an, Devosi
Kerahiman Ilahi dilarang dan buku harian Suster Faustina ada di dalam indeks buku-buku
terlarang. Devosi ini hanya diperbolehkan di dunia oleh Yohanes Paulus II sesudah Vatikan II. Di samping
itu, sesuatu yang mengkhawatirkan kami yaitu bahwa devosi ini kelihatannya populer di kalangan
‘Katolik’ Karismatik, di mana devosi ini menggantikan Rosario. Beberapa waktu lalu, salah satu dari kami
memutuskan untuk membaca secara singkat 600 halaman dari buku Divine Mercy in my Soul Diary {Buku
Harian Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku} yang ditulis oleh Suster Faustina Kowalska. Kami mencatat di
bawah hal-hal aneh yang kami temukan di dalam penelitian ini yang cukup untuk meyakinkan kami
bahwa ‘devosi’ ini harus dihindari.
Pada halaman 23 dari buku Divine Mercy in my Soul Diary {Buku Harian Kerahiman Ilahi di dalam
Jiwaku} (Buku Harian Sr. Faustina), dikatakan: “...dan hosti itu keluar dari tabernakel dan
datang untuk menetap di dalam tanganku dan aku, dengan sukacita, menempatkannya
kembali ke dalam tabernakel. Hal ini terulang kedua kalinya, dan aku melakukan hal yang
sama. Walaupun begitu, hal ini terjadi ketiga kalinya...”1
Pada halaman 89 dari buku Divine Mercy in my Soul Diary {Buku Harian Kerahiman Ilahi di dalam
Jiwaku}, dikatakan: “Sewaktu sang imam mendekati aku kembali, aku mengangkat hosti itu
untuknya dan meletakkannya kembali ke dalam piala, sebab sewaktu pertama kali aku
menyambut Yesus aku tidak dapat berbicara sebelum memakan hosti itu, maka aku tidak dapat
mengatakan kepada-Nya bahwa hosti yang lain telah jatuh. namun sewaktu aku memegang
hosti itu di dalam tanganku, aku merasakan suatu kekuatan cinta yang begitu besar
sehingga sepanjang hari aku tidak dapat makan ataupun menjadi sadar. Aku mendengar kata-
kata ini dari hosti itu: Aku ingin berada di dalam tanganmu, bukan hanya di dalam hatimu.”2
Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina
600
Pada halaman 168, dikatakan: “Pada saat aku berlutut untuk menghalau keinginanku sendiri,
sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadaku, aku mendengar suara ini di dalam jiwaku:
Sejak saat ini, janganlah menakuti penghakiman Allah, sebab engkau tidak akan
dihakimi.”3 (Dari 4 Februari 1935)
Pada halaman 176, ‘Yesus’ berkata kepadanya: “Engkau yaitu sebuah anggur yang manis dan
kumpulan buah yang terpilih, Aku ingin orang-orang lain untuk berbagi sari buah yang
mengalir di dalam dirimu.”4
Pada halaman 191, ‘Yesus’ berkata kepadanya: “Demi dirimu Aku akan menahan tangan yang
menghukum; demi dirimu aku akan memberkati Dunia.”’5 (Lihat pula halaman 378.)
Pada halaman 247, ‘Yesus’ berkata kepadanya: “Dan ketahui pula hal ini, anak-Ku: Segala
ciptaan, tidak peduli apakah mereka mengetahuinya atau tidak, dan tidak peduli apakah
mereka menginginkannya atau tidak, selalu memenuhi kehendak-Ku... Anak-Ku, jika engkau
menginginkannya, pada saat ini Aku akan menciptakan suatu dunia baru, yang lebih indah dari
yang ini, dan engkau akan hidup di dalamnya sepanjang hidupmu.”6
Pada halaman 260, ‘Yesus’ berkata: “sebab banyak jiwa akan berpaling dari gerbang Alam Maut
dan menyembah kerahiman-Ku.”7
Pada halaman 374, ‘Yesus’ berkata: “Jika mereka tidak akan menyembah kerahiman-Ku,
mereka akan binasa untuk selamanya.”8
Pada halaman 382, ‘Yesus’ berkata: “Aku ingin agar kerahiman-Ku disembah,”9
Pada halaman 288, ‘Yesus’ berkata: “Itulah mengapa Aku menyatukan diri-Ku denganmu lebih
erat dengan ciptaan lain.”10
Pada halaman 400, ‘Yesus’ berkata: “Aku melihat bahwa cintamu begitu murni, lebih murni dari
cinta para malaikat, dan terlebih lagi, sebab engkau terus berjuang. Demi engkau, Aku
memberkati dunia.”11
Pada halaman 417, kita membaca bahwa ‘Yesus’ dikatakan memberi kepada Sr. Faustina
petunjuk berikut: “Katakan kepada Jenderal Superior untuk bersanding kepadamu sebagai
putri yang paling setia di dalam Ordo ini.”12
Pada halaman 583, kita membaca bahwa Sr. Faustina berkata: “Sewaktu aku mengambil
‘Pengabar Hati Kudus’ di dalam tanganku dan membaca cerita kanonisasi St. Andreas Bobola,
jiwaku langsung dipenuhi oleh penantian yang besar agar kongregasi kami, juga, dapat
memiliki seorang kudus dan aku menangis seperti seorang anak kecil bahwa tidak ada
seorang kudus di antara kita. Dan aku berkata kepada Tuhan, ‘Aku mengenal kemurahan hati-
Mu, namun kelihatannya Engkau tidak sebegitu murah hati terhadap kami.’ Dan aku mulai
menangis kembali seperti seorang anak keci. Dan Tuhan Yesus berkata kepadaku, ‘Jangan
menangis. Engkaulah orang kudus itu.’”13
Pada halaman 602, kita membaca bahwa ‘Yesus’ dikatakan berkata: “Aku tidak bisa tahan akan
mereka, sebab mereka tidak baik, tidak pun mereka jahat.”14
Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina
601
Pada halaman 612, kita membaca bahwa ‘Yesus’ dikatakan berkata: “Aku memiliki suatu cinta
yang khusus kepada Polandia, dan jika ia akan taat kepada kehendak-Ku, Aku akan
meninggikannya di dalam kuasa dan kesucian. Dari ialah akan datang percikan api yang akan
mempersiapkan dunia untuk kedatangan terakhir-Ku.”15
Pada halaman 643, kita membaca bahwa Sr. Faustina berkata sesudah menerima Komuni: “Yesus
mengubahku menjadi suatu hosti lain!... Engkau yaitu Tuhan yang besar dan mahakuasa;
Engkau dapat memberi kepadaku anugerah ini. Dan Tuhan menjawabku, “Engkau yaitu
hosti hidup.’”16
Pada halaman 208 kita membaca bahwa ‘Yesus’ dikatakan berkata kepada Sr. Faustina tentang
Devosi Kerahiman Ilahi dan dikatakan memerintahkannya untuk berdoa di atas manik-manik
Rosario: “Doa ini [Devosi Kerahiman Ilahi] akan membantu untuk meredakan murka-Ku. Engkau
akan mendoakannya selama sembilan hari, di atas manik-manik Rosario, dengan cara
berikut: Pertama-tama, engkau akan mendoakan satu Bapa Kami dan Salam Maria dan Aku
Percaya. Lalu pada manik-manik Bapa Kami engkau akan mengatakan kata-kata berikut:
‘Bapa Yang Kekal, kupersembahkan pada-Mu Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Allahan Putera-Mu
terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus demi penebusan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia.’
Pada manik-manik Salam Maria engkau akan mengatakan kata-kata berikut: ‘Demi
sengsara Yesus yang pedih tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.’ Pada
akhirnya, tiga kali engkau akan mengatakan kata-kata berikut: ‘Allah yang Kudus, Allah yang
Mahakuasa, Allah yang Kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia.’”17 (Sabtu, 14 September
1935)
ada beberapa masalah dengan pernyataan-pernyataan di atas. Masalah pertama yaitu promosi
Komuni di dalam tangan, yang dikatakan disetujui oleh Tuhan kita. Hostinya terbang ke dalam tangannya
berulang kali; Tuhan kita dikatakan berkata bahwa Ia ingin tinggal di dalam tangannya. Kami percaya
bahwa ini yaitu jebakan iblis untuk mendorong penerimaan Komuni di dalam tangan secara intelektual
sebelum dimulainya agama Vatikan II.
Kedua, kami melihat pujian yang tidak perlu yang diberikan kepada suster ini. Kami melihat hal-hal yang
dikatakan kepadanya oleh ‘Tuhan kita’ yang tidak akan memupuk kerendahan hati, melainkan
keangkuhan – bahwa pada dasarnya Suster Faustina yaitu hal yang terbaik di dunia ini. Kami tidak
percaya bahwa Tuhan kita pernah memerintahkannya untuk berkata kepada superiornya bahwa ia
yaitu putri yang paling setia di dalam Ordo itu. Tuhan kita bisa saja berkata kepada sang superior akan
hal ini , jika Ia menghendakinya.
Ketiga, kami melihat bahwa Sr. Faustina diberi tahu bahwa percikan api Allah – yang akan
mempersiapkan dunia untuk Kedatangan Kedua-Nya – datang dari Polandia! Hal ini telah ditafsirkan
bahwa orang pilihan Allah ini yaitu Yohanes Paulus II, yang berasal dari Polandia! sebab kita
tahu bahwa Yohanes Paulus II yaitu seseorang yang murtad, seorang Anti-Paus non-Katolik, seorang
pria yang mendukung agama-agama sesat dunia, ini menunjukkan kembali kepada kita bahwa wahyu-
wahyu kepada Sr. Faustina berasal dari Iblis. Faktanya, hal ini menunjukkan betapa Iblis ingin
memberi dukungan kepada Yohanes Paulus II.
Keempat, Devosi Kerahiman Ilahi berpusat kepada kerahiman pada saat di mana umat manusia sudah
hampir memenuhi cawan keadilan ilahi. Masalahnya pada saat itu dan pada hari ini, tentunya, yaitu
bahwa manusia tidak menakuti Allah dan tetap terus menghina-Nya. Mereka perlu mendengar tentang
keadilan-Nya. namun devosi Kerahiman Ilahi yaitu devosi palsu dan pesan yang sempurna untuk
Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina
602
membuat orang-orang percaya bahwa mereka akan mendapat kerahiman Allah walaupun mereka
tetap berada di dalam dosa-dosa mereka; devosi ini bahkan juga memerintahkan orang-orang untuk
‘menyembah’ kerahiman-Nya.
Kelima, dan mungkin yang terpenting, apakah Allah akan mewahyukan suatu devosi baru yang didoakan
di atas manik-manik Rosario tidak lama sesudah Ibunda-Nya datang ke Fatima untuk membuat suatu
mukjizat yang luar biasa, untuk mewahyukan, di antaranya, perlunya berdoa Rosario? Petunjuk yang
diberikan kepada Suster Faustina untuk Devosi Kerahiman Ilahi untuk didoakan di atas manik-manik
Rosario jelas, kami percaya, yaitu rencana Iblis untuk menggantikan Rosario. Dan kami telah melihatnya
digunakan seperti itu dengan banyak orang. Devosi Kerahiman Ilahi yaitu devosi palsu yang lihai, yang
kelihatan tradisional dari berbagai sudut, yang membantu tujuan Iblis untuk memasukkan kontra-devosi
ini di antara kalangan orang-orang yang berpikiran konservatif, yang diharapkan oleh Iblis dapat menjadi
pengganti Rosario.
sesudah mempertimbangkan semua hal ini, Devosi Kerahiman Ilahi yaitu sesuatu yang harus
dihindari oleh para Katolik. Orang-orang Katolik cukup mendoakan lebih banyak Rosario atau Jalan
Salib saja.
_______________________________ Bagian 41:
1 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}
Stockbridge, MA: Marian Press, 1987, hal. 23.
2 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
89.
3 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
168.
4 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
176.
5 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
191.
6 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
247.
7 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
260.
8 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
347.
9 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
382.
10 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
288.
11 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
400.
12 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
417.
Hindari Devosi kepada Kerahiman Ilahi Suster Faustina
603
13 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
583.
14 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
602.
15 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
612.
16 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
643.
17 Divine Mercy in My Soul, The Diary of Sr. Faustina {Kerahiman Ilahi di dalam Jiwaku, Buku Harian Sr. Faustina}, hal.
208.
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
604
42. Keluarga Berencana Alami yaitu
Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
Di dalam Artikel ini:
- Apa itu Keluarga Berencana Alami (KBA)?
- Mengapa KBA yaitu sebuah dosa?
- Ajaran dari Magisterium Paus Katolik
- Sabda Allah
- Orang-orang Mengetahui bahwa KBA yaitu sebuah Dosa
- Planned Parenthood dan KBA
- KBA memiliki dampak-dampak yang kekal dan tidak terbatas
- Bantahan-bantahan
- Kesimpulan
Apa itu Keluarga Berencana Alami (KBA)?
Keluarga Berencana Alami (KBA) yaitu praktik di mana seseorang dengan sengaja membatasi
hubungan perkawinan hanya pada waktu-waktu di mana sang istri infertil dengan tujuan menghindari
dikandungnya seorang anak. KBA digunakan untuk alasan-alasan yang sama bahwa orang-orang
memakai kontrasepsi artifisial: untuk secara sengaja menghindari dikandungnya anak sewaktu
melakukan hubungan perkawinan.
Anti-Paus Paulus VI secara benar menjelaskan bahwa KBA yaitu pengendalian kelahiran sewaktu ia
mempromosikannya di dalam ensikliknya Humanae Vitae.
Paulus VI, Humanae Vitae, (#16), 25 Juli 1968:
“...orang-orang yang sudah menikah dapat mengambil manfaat dari siklus-siklus alami yang
ada di dalam sistem reproduksi dan melakukan hubungan perkawinan hanya pada saat-
saat {di mana sang istri} infertil, untuk mengendalikan kelahiran dalam suatu cara yang
sama sekali tidak menyinggung prinsip-prinsip moral yang Kami baru saja jelaskan.”1
Mengapa KBA yaitu sebuah dosa?
KBA yaitu sebuah dosa sebab hal ini yaitu pengendalian kelahiran; hal itu berlawanan dengan
pengandungan. Hal ini yaitu penolakan dari penggunanya untuk membuka diri kepada anak-anak
yang Allah telah rencanakan untuk diberikan kepada mereka. Tujuan hal ini sama sekali tidak
berbeda dari kontrasepsi artifisial, dan oleh sebab itu, hal ini yaitu suatu kejahatan moral
sama seperti kontrasepsi artifisial.
Ajaran dari Magisterium Paus Katolik
Paus Pius XI berbicara dari Takhta Petrus di dalam ensikliknya di tahun 1931 Casti Connubii tentang
pernikahan Kristiani. Ajarannya menunjukkan bahwa segala bentuk pencegahan kelahiran yaitu jahat.
Kami mengutip suatu kutipan yang panjang dari ensikliknya yang merangkum masalah ini.
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
605
Paus Pius XI, Casti Connubii (#53-56), 31 Desember 1930:
“Dan sekarang, Saudara-saudara yang Terhormat, kami akan menjelaskan dengan rinci
kejahatan-kejahatan yang berlawanan dengan setiap manfaat dari perkawinan. Pertimbangan
pertama diberikan kepada sang anak, yang banyak orang dengan lancang menyebutnya sebagai
beban pernikahan yang memberatkan dan yang kata mereka harus dihindari secara berhati-hati,
bukan lewat pengendalian diri yang bajik (yang diperbolehkan oleh hukum Kristiani di dalam
pernikahan jika kedua belah pihak bersetuju) oleh orang-orang yang telah menikah, melainkan
dengan cara menghalangi tindakan perkawinan. Beberapa orang memberi alasan untuk
penyalahgunaan yang jahat ini atas dasar bahwa mereka terberatkan oleh anak-anak dan ingin
memuaskan gairah-gairah mereka tanpa beban yang menyertainya. Orang-orang lain berkata
bahwa mereka tidak dapat di satu sisi menahan diri tidak pun di sisi lain mereka dapat memiliki
anak-anak akibat kesulitan-kesulitan dari sisi ibu ataupun akibat dari situasi-situasi di dalam
keluarga.
“namun tidak ada alasan, betapapun seriusnya, yang dapat diajukan untuk hal apa pun
yang secara intrinsik berlawanan dengan alam untuk membuatnya menjadi sesuai dengan
alam dan baik secara moral. Oleh sebab itu, sebab hubungan perkawinan terutama
ditakdirkan oleh alam untuk menciptakan anak-anak, mereka yang dalam pelaksanaannya
menghalangi kekuatan-kekuatan alaminya dan tujuannya berdosa melawan alam dan
melakukan suatu hal yang memalukan dan secara intrinsik jahat.
“Oleh sebab itu, tidak mengejutkan bahwa Kitab Suci bersaksi bahwa Keagungan Ilahi
memandang dengan kebencian yang paling besar kejahatan yang sangat buruk ini dan
kadangkala menghukumnya dengan kematian. Seperti yang dicatat oleh St. Agustinus, “Tindakan
perkawinan bahkan dengan istri seseorang yang legitim haram dan jahat adanya jika
dicegah dikandungnya seorang anak.” Onan, putra dari Yehuda, melakukan hal ini dan Allah
membunuhnya untuk hal itu (Kej. 38:8-10).
“Oleh sebab itu, sebab beberapa orang yang menjauh secara terang-terangan dari doktrin
Kristiani yang telah diwariskan sejak permulaan, dan yang selalu dijaga dengan setia, baru-baru
ini telah memandang sebagai hal yang baik untuk mengkhotbahkan secara lantang, tentang
praktik-praktik ini , yang yaitu suatu doktrin yang asing, Gereja Katolik, yang kepadanya
Allah telah memercayakan pertahanan atas integritas dan kemurnian dari moral, berdiri tegak di
antara puing-puing moral yang mengelilinginya, agar ia dapat mempertahankan kesucian
persatuan pernikahan dari noda yang busuk ini, mengangkat suaranya sebagai tanda dari misi
ilahinya dan lewat mulut Kami berkata kembali: tindakan perkawinan yang dilakukan
dengan suatu cara yang sedemikian rupa sehingga menghalangi kekuatan alami dari
tindakan ini untuk menghasilkan hidup yaitu suatu penghinaan terhadap hukum
Allah dan alam, dan mereka yang melakukannya dengan suka hati dicap dengan
kebersalahan dosa berat.”2
Seseorang dapat melihat bahwa Paus Pius XI mengutuk segala bentuk kontrasepsi sebagai hal yang
menghasilkan dosa berat sebab hal ini menghalangi tindakan perkawinan. Apakah hal ini
mengutuk KBA? Ya, namun para pembela Keluarga Berencana Alami berkata ‘tidak’. Mereka beralasan
bahwa dalam memakai Keluarga Berencana Alami untuk menghindari kandungan, mereka tidak
dengan sengaja menghalangi tindakan perkawinan atau dengan sengaja menghapuskan kekuatan
alaminya untuk menghasilkan kehidupan, seperti kontrasepsi-kontrasepsi artifisial. Mereka
berargumentasi bahwa KBA itu ‘alami’.
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
606
Akal sehat seharusnya berkata kepada mereka yang sungguh-sungguh mempertimbangkan hal ini bahwa
argumen-argumen ini munafik sebab segala tujuan dari KBA yaitu untuk menghindari kandungan.
namun , upaya pembenaran KBA – klaim bahwa hal itu tidak mengganggu tindakan perkawinan sendiri
dan oleh sebab nya diizinkan – harus dibantah secara khusus. Klaim ini dibantah secara khusus dengan
melihat secara hati-hati ajaran Gereja Katolik tentang pernikahan TUJUAN UTAMANYA. Menurut ajaran
Katolik, tujuan utama pernikahan (dan tujuan utama tindakan perkawinan) mengutuk KBA.
Dogma Katolik mengajarkan kita bahwa tujuan utama pernikahan (dan tindakan perkawinan) yaitu
prokreasi dan pendidikan anak-anak.
Paus Pius XI, Casti Connubii (#17), 31 Desember 1930:
“Tujuan utama pernikahan yaitu prokreasi dan pendidikan anak-anak.”3
Paus Pius XI, Casti Connubii (#54), 31 Desember 1930:
“Oleh sebab itu, sebab hubungan perkawinan terutama ditakdirkan oleh alam untuk
menciptakan anak-anak, mereka yang dalam pelaksanaannya menghalangi kekuatan-kekuatan
alaminya dan tujuannya berdosa melawan alam dan melakukan suatu hal yang memalukan dan
secara intrinsik jahat.”4
Di samping tujuan utama ini, ada pula tujuan-tujuan sekunder dari pernikahan, seperti tujuan saling
membantu, menenangkan nafsu, dan pertumbuhan rasa saling cinta. namun tujuan-tujuan sekunder ini
harus selalu dilalu kan oleh tujuan utama dari pernikahan (yaitu prokreasi dan pendidikan
anak-anak). Ini yaitu kunci utama yang harus diingat di dalam diskusi tentang KBA.
Paus Pius XI, Casti Connubii (#59), 31 Desember 1930:
“sebab di dalam pernikahan dan juga di dalam penggunaan hak pernikahan, ada pula
tujuan-tujuan sekunder, seperti tujuan saling membantu, menenangkan nafsu, dan pertumbuhan
rasa saling cinta yang sang suami dan istri tidak dilarang untuk pertimbangkan SELAMA
TUJUAN-TUJUAN SEKUNDER ini DIlalu KAN OLEH TUJUAN UTAMANYA dan
selama sifat intrinsik dari tindakan ini dijaga.”5
Oleh sebab itu, walaupun KBA tidak secara langsung mengganggu tindakan perkawinan sendiri, seperti
yang gemar ditekankan oleh para pembelanya, tidak ada bedanya. KBA yaitu suatu dosa sebab
praktiknya mengemudiankan tujuan utama perkawinan dan tindakan perkawinan (yaitu
prokreasi dan pendidikan anak-anak) dibandingkan tujuan-tujuan sekundernya.
KBA mengemudiankan tujuan utama perkawinan dibandingkan hal-hal lain dengan cara
mengupayakan dengan sengaja untuk menghindari anak-anak (yaitu, untuk menghindari tujuan
utamanya) sewaktu tindakan perkawinan dilakukan. KBA oleh sebab itu memutarbalikkan aturan
yang dikehendaki oleh Allah. Hal ini melakukan hal yang diajarkan oleh Paus Pius XI secara
khidmat tidak dapat dilakukan secara sah. Dan poin ini membantah segala argumen yang dibuat oleh
mereka yang membela KBA; sebab segala argumen-argumen yang dibuat oleh mereka yang membela
KBA berpusat kepada tindakan perkawinan itu sendiri, sedangkan mereka tidak menghiraukan fakta
bahwa tidak ada bedanya jika satu pasangan tidak mengganggu tindakan itu sendiri jika mereka
mengemudiankan atau menghalangi TUJUAN utama pernikahan.
Sebagai rangkuman: satu-satunya perbedaan antara kontrasepsi artifisial dan KBA yaitu bahwa
kontrasepsi artifisial menghalangi kekuatan dari tindakan perkawinan sendiri, sedangkan KBA
menghalangi tujuan utamanya (dengan cara mengemudiankan prokreasi anak-anak dibandingkan hal-hal
yang lain).
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
607
Sabda Allah
Bukanlah suatu hal yang rumit untuk mengerti bahwa penggunaan KBA untuk menghindari kehamilan
yaitu dosa. Hal ini dituliskan di dalam hati manusia bahwa tindakan ini yaitu dosa.
Kejadian 30:1-2- “Ketika dilihat Rahel, bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia
kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub: "Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku
akan mati." Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan ia berkata: "Akukah
pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?”
Kita semua tahu bahwa Allah yaitu Ia yang membuka kandungan, Ia yang mematikan dan
menghidupkan
Kejadian 30:22- “Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta
membuka kandungannya.”
1 Samuel 2:6- “TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang
mati dan mengangkat dari sana.”
Lalu mengapakah seorang wanita yang ingin memenuhi kehendak Allah membuat suatu upaya yang
sistematis untuk menghindari hidup baru yang diberikan Allah kepadanya? Alasan apakah yang orang
ini dapat gunakan untuk mencari cara bagaimana dapat melakukan tindakan-tindakan perkawinan
tanpa menjadi hamil dengan anak yang akan dikirimkan oleh Allah? Mengapakah seorang wanita (atau
seorang pria) yang percaya bahwa Allah membuka kandungan mencoba untuk menghindari-Nya untuk
membuka kandungan lewat upaya yang berhati-hati dan terorganisir, yang melibatkan grafik, siklus, dan
termometer? Jawabannya yaitu mereka yang melakukan tindakan semacam itu seperti KBA
membalikkan badan terhadap Allah (yang pada dasarnya yaitu dosa) dan menolak untuk membuka diri
kepada kehendak-Nya.
Sewaktu pasangan berusaha sedemikian rupa untuk menghindari anak-anak, di mana mereka dengan
sengaja menghindari waktu-waktu fertil dan membatasi tindakan perkawinan hanya pada waktu infertil,
mereka berdosa melawan hukum alam – mereka berdosa kepada Allah yang mereka tahu, menciptakan
kehidupan. KBA, oleh sebab itu, yaitu dosa melawan hukum alam, sebab Allah yaitu pencipta
kehidupan dan KBA menghalangi rancangan-Nya.
Orang-orang Mengetahui bahwa KBA yaitu sebuah Dosa
Berikut yaitu beberapa kesaksian yang sangat menarik dari orang-orang yang telah memakai KBA
atau telah diajarkan tentang KBA. Komentar-komentar mereka diambil dari bagian ‘the letters to the
editor’ {‘surat-surat kepada penyunting’} dari suatu publikasi yang menulis artikel tentang KBA6 (Nama-
nama mereka ada di surat orisinalnya). Surat-surat mereka menunjukkan bahwa para wanita yang
memakai KBA, dan juga para pria yang mentolerir atau bekerja sama dengannya, berdosa melawan
hukum alam yang terukir di hati mereka. Mereka yang memakai KBA mengetahui bahwa mereka
menghalangi kehendak Allah dan mempraktikkan kontrasepsi.
“Penyunting Yang Terhormat... Saya dulunya seorang pagan yang tidak religius dan telah bercerai
sebelum saya bertemu suami saya yang, pada waktu itu, seorang Katolik yang tidak mengikuti
agamanya. Saya menjadi Katolik pada tahun 1993 dan kami menikah pada tahun 1994. Saya sama
sekali tidak tahu pada saat itu bahwa orang-orang Katolik diperbolehkan untuk melakukan hal
apa pun untuk mencegah dikandungnya seorang anak. Saya tidak pernah mendengar tentang
KBA sampai sang imam yang kami temui selama enam bulan sebelum pernikahan kami
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
608
memberi kepada saya sebuah paket berisi kertas dan pada dasarnya berkata, ‘ini, kamu pasti
perlu mempelajari hal ini.’ Sewaktu saya sampai di rumah, saya dengan sekilas memeriksa kertas-
kertas ini . Saya melihat kalender, stiker, dan grafik. Jujur, saya begitu kaget akan segala
upaya yang orang-orang lakukan hanya untuk mendapat keintiman tanpa konsekuensi. Saya
juga begitu kaget bahwa hal ini dipromosikan bahkan sebelum saya mengambil sumpah pada hari
pernikahan saya! Saya membuang paket itu dan tidak pernah melihat ke belakang. Saya
berterima kasih bahwa saya tidak pernah belajar tentang KBA... Saya penasaran anak saya yang
mana yang tidak akan pernah ada jika saya waktu itu memilih untuk menyimpan kertas-kertas
ini dan belajar tentang KBA?”
“Penyunting Yang Terhormat... Saya yaitu ibu dari tujuh orang anak dan saya dapat
membagikan pengalaman-pengalaman saya. KBA TIDAK membuat pernikahan saya lebih mesra.
Saya bergulat dengan fakta bahwa Kitab Suci menyatakan bahwa seorang suami dan istri harus
tunduk dan tidak memisahkan diri kecuali untuk berdoa. Kami menghindari kehamilan... pada
dasarnya. Sama sekali tidak spiritual jika anda berkata kepada pasangan anda bahwa anda tidak
dapat melakukan hubungan perkawinan sebab menakuti dikandungnya seorang anak. Kamus
Webster mendefinisikan kontrasepsi sebagai ‘pencegahan secara sengaja kandungan atau
kehamilan.’ Dengan membuat grafik dan mengamati hari-hari fertil secara sistematis, seseorang
secara sengaja mencegah kandungan. Saya memiliki teman-teman yang memakai nya. Saya
telah berbicara kepada mereka dengan cara yang begitu pribadi. Mereka tidak lagi ingin memiliki
anak. Mereka memakai KBA sebagai pengendalian kelahiran, yang memang itulah KBA. Dan
seorang teman yang telah memakai nya selama 11 tahun dan ‘tidak pernah mengalami
kecelakaan.’ ...Saya dapat berkata bahwa St. Agustinus benar-benar tepat sewaktu ia menuliskan
di dalam The Morals of the Manichees {Moral Para Pengikut Manikheisme}: ‘Pernikahan,
sebagaimana yang dinyatakan catatan pernikahan sendiri, menyatukan lelaki dan perempuan
untuk prokreasi anak-anak. Siapa pun yang berkata bahwa prokreasi anak-anak yaitu suatu
dosa yang lebih buurk dibandingkan berhubungan badan oleh sebab itu menghalangi tujuan dari
pernikahan; dan ia membuat sang wanita tidak lagi seorang istri, namun seorang pelacur, yang,
sewaktu ia telah diberikan hadiah-hadiah tertentu, bersatu dengan seorang pria untuk
memuaskan nafsu birahinya. Jika ada seorang istri, ada pula pernikahan. namun tidak
ada pernikahan di mana harkat keibuan dihalangi, sebab tidak ada seorang istri.’
...Komentar favorit saya baru-baru ini dibuat oleh seorang penulis yang membandingkan KBA
dengan seorang petani yang menanam jagungnya di tengah-tengah musim dingin untuk
menghindari panen yang berlimpah.”
“Penyunting Yang Terhormat... Persilakan saya memperpendek debat tentang KBA: jika niat anda
yaitu untuk menghindari anak-anak, sama sekali tidak penting cara yang anda gunakan. Anda
telah berdosa. namun , jika anda memakai kontrasepsi sebagai cara pilihan anda, anda
menambahkan dosa kedua kepada dosa pertama. Dan untuk menjawab mantra yang sering
diucapkan yaitu ‘alasan-alasan yang besar’, persilakan saya untuk mengatakan hal ini:
sebutkanlah satu saja. Lihatlah dalam-dalam ke dalam hati anda dan sebutkanlah satu alasan
yang sangat, amat besar... Kami melakukan KBA untuk sementara... dan sejak saat itu kami
merasa jijik. Pada saat itu kami mungkin bisa memiliki paling tidak dua orang anak.”
“Kepada Penyunting: KBA yaitu salah satu penyusup dari pemujaan hubungan badan new-age
ke dalam Gereja, bersama pendidikan seksual dan pakaian yang tidak senonoh... sebab orang-
orang Katolik modern telah dibiasakan untuk merangkul ide-ide yang bertentangan dan pada
waktu yang bersamaan membela mereka bagaikan mereka tidak bertentangan, mereka dengan
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
609
mudah tertipu oleh ide bahwa KBA, seperti yang dipraktikkan secara umum, entah bagaimana
berbeda dari pengendalian kelahiran. Saya tidak pernah mendapat pelajaran tentang teologi
moral, namun bahkan saya tahu bahwa tujuan dari suatu tindakan menentukan substansinya.
Sewaktu pasangan melakukan hubungan yang secara sengaja yaitu steril, hal ini dikenal sebagai
pengendalian kelahiran, secara sederhana.”
Planned Parenthood dan KBA
Apakah anda pernah melihat persamaan antara Planned Parenthood (penyedia aborsi terbesar di dunia)
dan Keluarga Berencana Alami? Kontrasepsi artifisial dan obat-obatan aborsi ditemukan di bawah rak-
rak toko yang dilabeli ‘Keluarga Berencana’. Layaknya aborsionis, para perencana keluarga menganggap
anak-anak sebagai sesuatu yang tidak diinginkan, setidaknya untuk sementara; sedangkan para orang
beriman sejati selalu menganggap mereka sebagai berkat yang tidak dapat dipungkiri dari Allah Sendiri,
yang direncanakan oleh penyelenggaraan-Nya sepanjang masa. “Sesungguhnya, anak-anak lelaki yaitu
milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan yaitu suatu upah... Berbahagialah orang yang telah
membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu...” (Mazmur
126:3,5).
Di dalam publikasi-publikasi yang mempromosikan KBA, jangka waktu fertil seorang istri kadang-kadang
disebut ‘tidak aman’ dan ‘berbahaya’, bagaikan penciptaan hidup baru yaitu suatu pelanggaran
keamanan nasional dan bagaikan seorang anak kecil yaitu suatu kejahatan yang berbahaya! Ini benar-
benar menjijikkan.
Bukankah hal ini jelas sudah, bahwa mereka yang mengikuti perilaku semacam ini dan cara ini
mengasingkan Allah dan anak-anak serta menggantikan mereka dengan rencana mereka yang egois?
Sang pemuda suci Tobit berhubungan dengan mempelainya Sara sesudah berdoa selama tiga hari, bukan
untuk hawa nafsu birahi namun hanya untuk cinta akan keturunan. Ia diajarkan oleh Malaikat Agung
Santo Rafael bahwa untuk dapat melakukan tindakan perkawinan, ia harus digerakkan oleh cinta akan
anak-anak dan bukan oleh nafsu birahi.
Tobit 6:17* sebab mereka yang dengan demikian menerima pernikahan {matrimony},
agar dapat mengasingkan Tuhan dibandingkan diri mereka sendiri, dan dari pikiran mereka,
dan untuk menyerahkan diri mereka sendiri kepada nafsu birahi mereka, bagaikan kuda
dan keledai, yang tidak memiliki akal budi, mereka dikuasai oleh Setan.
*” For they who in such manner receive matrimony, as to shut out God from themselves, and from
their mind, and to give themselves to their lust, as the horse and mule, which have not
understanding, over them the Devil hath power.”
{Penerjemah menerjemahkan langsung ayat ini dari Kitab Suci Douay-Rheims, terjemahan bahasa
Inggris dari Alkitab Latin Vulgata. Ayat ini tidak ada di naskah Deuterokanonika Alkitab
Katolik Indonesia Terjemahan Baru. Salah satu penerjemah Alkitab Latin Vulgata ke bahasa lain,
misal. bahasa Prancis yaitu abbé Louis-Claude Fillion yang berkomentar tentang ayat ini di
dalam La Sainte Bible commentée d'après la Vulgate (Kitab Suci terjemahan dari Latin Vulgata
dengan komentar} bahwa ayat 17 tidak diikutsertakan oleh terjemahan-terjemahan lain (‘Le vers.
17, qui est omis par les autres traductions...’)}
Kata matrimony berarti ‘jabatan keibuan’. Mereka yang memakai KBA mencoba untuk menghindari
matrimony (jabatan keibuan) dan untuk mengasingkan Tuhan dibandingkan diri mereka sendiri.
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
610
Santo Caesar dari Arles:
“Setiap kali ia berhubungan badan dengan istrinya tanpa menginginkan anak-anak... tidak
diragukan bahwa ia berdosa.”7
Kesalahan-kesalahan yang Dikutuk oleh Paus Inosensius XI:
“9. Tindakan perkawinan yang dilakukan hanya untuk kenikmatan sama sekali bebas dari
kesalahan apa pun dan kecacatan ringan.” – Dikutuk8
KBA memiliki dampak-dampak yang kekal dan tidak terbatas
Fakta-fakta berikut mungkin yaitu yang paling mempersalahkan praktik ‘Keluarga Berencana Alami’.
Jika para perencana keluarga dapat melakukan kehendaknya, tidak akan ada St. Bernadette dari Lourdes,
yang terlahir di dalam ruangan penjara bawah tanah; tidak pun ada St. Theresia dari Lisieux, yang
terlahir dari seorang ibunda yang sakit-sakitan yang kehilangan tiga anak berturut-turut; tidak pun ada
St. Ignatius Loyola, anak ketiga belas dari tiga belas anak;9 dan tentunya tidak akan ada St. Katarina
dari Siena yang yaitu anak kedua puluh tiga di dalam keluarga yang memiliki dua puluh lima
anak!10
Contoh-contoh santo-santa yang merupakan anak bungsu dari banyak anak mungkin dapat didaftar
dalam begitu banyak halaman. St. Katarina dari Siena dan santo-santa lain yang akan dilenyapkan sama
sekali oleh KBA akan bangkit mengadili generasi KBA. Para Perencana Keluarga Alami tentunya akan
memberi tahu ibunda St. Katarina bahwa tidak perlu ia memiliki lima anak (apalagi dua puluh lima!), dan
bahwa ia membuang-buang waktu sewaktu ia mengandung anak-anaknya.
Hanya di dalam alam bakalah kita akan mengenal jiwa-jiwa abadi yang telah dirampas kesempatannya
untuk masuk Surga akibat perilaku yang egois ini. Satu-satunya hal yang dapat menggagalkan kehendak
Allah Yang Mahakuasa yaitu kehendak mahkluk ciptaan-Nya yang fana; sebab Ia tidak akan
memaksakan seorang pun untuk memiliki anak-anak, seperti halnya Ia tidak akan melanggar kehendak
bebas seorang pun. KBA yaitu kejahatan yang tidak terbayangkan besarnya. (Renungkan saja dalam
waktu singkat pikiran berikut, yaitu bila ibunda anda memutuskan untuk tidak memiliki anda.)
Jika para perencana keluarga mendapat apa yang mereka inginkan, penampakan-penampakan Bunda
Maria dari Fatima tidak akan terjadi, sebab ia menampakkan diri kepada Lucia (anak ketujuh dari tujuh
bersaudara), Francisco (anak kedelapan dari sembilan bersaudara) dan Jacinta (anak kesembilan dari
sembilan bersaudara). Para perencana keluarga, yang dengan egois menghalangi kehendak Allah, akan
menghapuskan semua pesan Fatima dari sejarah manusia, serta mukjizat matahari, kehidupan yang
luar biasa dari ketiga anak gembala ini, dan semua rahmat konversi yang didapatkan dari pengorbanan
mereka yang mulia. Berapa banyak santo-santa, konversi, dan mukjizat akan terhapuskan oleh praktik
pengendalian kelahiran yang keji ini? Hanya Allah yang tahu.
Seorang ibu yang memiliki banyak anak, yang sedang mengandung, datang ke Ars (tempat di mana St.
Yohanes Vianney tinggal) untuk mencari dukungan moral darinya. Ia berkata kepadanya, “Oh Romo, usia
saya sudah begitu lanjut!” St. Yohanes Vianney membalas: “Hendaknya engkau merasa lega, anakku; jika
saja engkau mengetahui wanita-wanita yang akan masuk Neraka sebab mereka tidak melahirkan kepada
dunia ini anak-anak yang seharusnya mereka lahirkan!”
1 Timotius 2:15- “namun perempuan akan diselamatkan sebab melahirkan anak, asal ia
bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.”
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
611
Kitab Suci mengajarkan bahwa seorang wanita dapat diselamatkan sebab melahirkan anak (jika ia
Katolik dan berada di dalam keadaan rahmat). namun para pendukung KBA akan membuat kita percaya
bahwa seorang wanita dapat diselamatkan sebab menghindari anak. Terlebih lagi, layaknya seorang
wanita yang memenuhi kehendak Allah dan menjaga keadaan rahmat di dalam pernikahan diselamatkan
sebab melahirkan anak, juga tidak terhitung jumlahnya para wanita yang akan terkutuk sebab tidak
melahirkan anak-anak yang Allah inginkan untuk mereka.
“namun carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan
kepadamu.” (Matius 6:33)
Bantahan-bantahan
Bantahan 1) Keluarga Berencana Alami yaitu suatu praktik pengendalian kelahiran yang dapat
dibenarkan sebab hal itu sama sekali tidak menghalangi kekuatan alami prokreasi.
Jawaban: Kami telah menjawab bantahan ini di atas. Kami tidak akan mengulangi seluruh hal itu kembali.
Kami hanya akan meringkas kembali bahwa KBA terkutuk sebab hal ini mengemudiankan TUJUAN
utama pernikahan dan tindakan perkawinan dibandingkan hal-hal lain. Hal ini membuat fakta bahwa KBA
sama sekali menghalangi tindakan perkawinan itu sendiri tidak relevan, sebab tujuan utamanya
terhalangi.
Bantahan 2) Paus Pius XII mengajarkan bahwa KBA sah untuk paling tidak beberapa alasan. Maka
anda tidak memiliki hak untuk mengutuknya, sebab ia yaitu seorang Paus.
Jawaban: Benar bahwa Paus Pius XII mengajarkan bahwa Keluarga Berencana sah untuk beberapa alasan
di dalam rentetan khotbah yang falibel pada tahun 1950-an. namun , hal ini tidak membenarkan KBA.
Khotbah-khotbah Pius XII falibel, dan oleh sebab itu rentan terhadap kesalahan.
Sewaktu mempelajari kesalahan-kesalahan Paus di sepanjang sejarah untuk mempersiapkan deklarasi
tentang infalibilitas Kepausan, para teolog di Vatikan I menemukan bahwa lebih dari 40 Paus percaya
akan pandangan-pandangan teologis yang salah. Suatu kasus kesalahan Paus yang terkenal
keburukannya, Paus Yohanes XXII menganut pandangan yang salah bahwa jiwa-jiwa dari orang-orang
yang baik di dalam Perjanjian Lama tidak menerima Visiun Beatifis {berkomunikasi langsung dengan
Allah} sampai sesudah Pengadilan Terakhir. Paus Honorius I, seorang Paus Roma yang terpilih secara
valid, mendukung bidah monotelitisme (bahwa Tuhan kita Yesus Kristus hanya memiliki satu kehendak),
yang untuknya ia dikutuk oleh Konsili Konstantinopel III. namun tidak satu pun dari kesalahan-kesalahan
ini diajarkan oleh para Paus dari Takhta St. Petrus, sama seperti khotbah Pius XII kepada bidan-bidan
Italia bukanlah suatu deklarasi dari Takhta St. Petrus.
Salah satu kasus yang paling terkenal keburukannya mengenai kesalahan Paus di dalam sejarah Gereja
yaitu “Sinode Jenazah” di tahun 897. Di sini, jenazah Paus Formosus yang telah meninggal – yang yaitu
seorang Paus yang suci dan berbakti – dikutuk sesudah kematiannya oleh Paus Stefanus VII untuk
beberapa tuduhan akan pelanggaran hukum kanon.11 Paus Sergius III juga mendukung penghakiman
ini , sedangkan Paus-Paus yang berikutnya, Theodorus II dan Yohanes IX menentangnya. Hal ini
menunjukkan kepada kita dengan sangat jelas bahwa tidak semua keputusan, khotbah, pendapat
atau penghakiman seorang Paus infalibel.
Seseorang dapat berargumentasi bahwa Pius XII yaitu salah satu Paus terlemah di dalam sejarah Gereja.
(Kami tidak mengikutsertakan para Anti-Paus Vatikan II, sebab mereka bukanlah Paus). Pius XII
membiarkan bidah dan modernisme berkembang; ia memodernisasikan liturgi pekan suci; ia
Keluarga Berencana Alami yaitu Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa
612
mengajarkan bahwa evolusi teistik dapat dipercayai dan diajarkan oleh para imam dan teolog Katolik;
dan ia membiarkan penolakan dogma Di Luar Gereja Tidak ada Keselamatan merajalela, antara lain.
Ia yaitu seorang Paus yang sah, namun ia benar-benar merupakan jembatan kepada Konsili Vatikan II
yang murtad dan para Anti-Paus yang melaksanakannya. Mereka yang berpikir bahwa mereka aman-
aman saja untuk mengikuti sesuatu hanya sebab hal ini didukung oleh para teolog sebelum
Vatikan II atau oleh Paus Pius XII di dalam kapasitasnya yang falibel tidaklah benar. Walaupun ledakan
dari Kemurtadan Besar terjadi di Vatikan II, momentumnya yang diakibatkan oleh ditinggalkannya Iman
sudah berakar jauh sebelum Vatikan II, seperti yang terbukti dari banyak buku-buku sebelum Vatikan II
yang mempromosikan bidah dan modernisme yang terkutuk. Kebanyakan imam sudah jatuh ke dalam
bidah pada tahun 1950-an, seperti yang dibuktikan oleh fakta bahwa hampir semuanya menerima dan
memeluk agama Vatikan II sewaktu Vatikan II dilaksanakan.
Intinya tetap bahwa yaitu suatu ajaran yang infalibel dari Gereja Katolik bahwa tujuan utama
pernikahan (dan tindakan perkawinan) yaitu prokreasi dan pendidikan anak-anak. Keluarga Berencana
Alami mengemudiankan tujuan utama pernikahan dan tindakan perkawinan dibandingkan hal-hal lain dan
oleh sebab itu merupak











