aksi
di beberapa negara kepada beberapa kata-kata di dalam sambutan saya di Universitas
Regensburg, yang dianggap menyinggung para Muslim. Hal-hal ini sesungguhnya yaitu
355
kutipan dari sebuah naskah abad pertengahan yang sama sekali tidak mengungkapkan
pendapat pribadi saya.”149
Hal ini sangat, amat menarik di berbagai tingkat.
Pertama, ini yaitu BUKTI MUTLAK BAHWA BENEDIKTUS XVI yaitu SEORANG PEMBOHONG DAN
SEORANG PENIPU. Hal ini membuktikan bahwa ia yaitu seorang pembohong sebab kita telah melihat
bahwa Benediktus XVI jelas-jelas mendukung kutipan sang raja di dalam pidatonya pada tanggal 12
September. Hal ini tidak dapat dipungkiri. namun sekarang ia berkata bahwa pernyataan dari
sang raja sama sekali tidak mengungkapkan pendapat pribadinya, yang sama sekali bertentangan
dengan pidato pada tanggal 12 September. Maka, tidak peduli bagaimana anda memandangnya,
Benediktus XVI tertangkap basah berbohong besar.
Kedua, di samping MEMBUKTIKAN bahwa Benediktus XVI yaitu pembohong publik dan seorang
penipu, pernyataannya bahwa kutipan dari sang raja sama sekali tidak mengungkapkan pendapat
pribadinya membuktikan bahwa ia murtad. sebab dalam menghadapi reaksi kepada pidatonya, ia
mempunyai kesempatan yang besar untuk menegaskan posisinya yang nyata bahwa Islam itu jahat. Ia
diberikan suatu kesempatan besar di dalam sebuah kontroversi yang kacau ini untuk meyakinkan
orang-orang bahwa posisi pidatonya terbukti benar oleh reaksi jahat orang-orang Muslim dan keinginan
untuk membunuh; namun tidak... ia malah meninggalkan pernyataan melawan Islam. Ia lalu
melanjutkannya dengan masuk Islam lewat doa menghadap Mekkah di dalam sebuah mesjid dengan
seorang mufti pada tanggal 30 November 2006.
Maka, apa yang pada awalnya memang diniatkan oleh Iblis sebagai rencana liciknya, lewat Anti-Pausnya,
Benediktus XVI, untuk membuat sebuah pernyataan konservatif yang akan menipu para ‘tradisionalis’
tertentu, tersingkapkan sewaktu Allah membiarkan rencana ini menghancurkan dirinya sendiri
sesudah reaksi para Muslim menjadi sangat tidak stabil sampai Benediktus XVI harus meminta maaf dan
mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya – dan yang oleh sebab itu menghancurkan
kredibilitasnya dengan siapa pun yang memiliki mata untuk melihat betapa ia yaitu seorang
pembohong yang terbukti jelas.
Maka, jangan tertipu jika sang bidah terang-terangan dan pembohong besar, Anti-Paus Benediktus XVI,
berkata atau berbuat sesuatu yang lain yang konservatif dengan tujuan menipu para tradisionalis.
Janganlah tertipu jika Benediktus XVI memberi indult universal untuk mengadakan Misa
Latin pada masa di mana kebanyakan imam tidak valid dan harus menerima kemurtadan Vatikan
II untuk dapat mengambil manfaatnya. Iblis akan menyerahkan semua ini selama seseorang
menerima agama baru Benediktus XVI atau menerima Benediktus XVI beserta para Uskupnya
yang murtad sebagai Katolik, sembari mereka mengajarkan bahwa Yesus Kristus dan Iman
Katolik sama sekali tidak berarti apa-apa. Janganlah tertipu jika ia mencoba memanggil para
kelompok yang cenderung tradisional untuk mengurung mereka, atau membawa mereka
kembali di dalam sekte Vatikan II. Hal ini tidak akan mengubah fakta bahwa ia yaitu seorang
bidah terang-terangan yang memimpin sebuah sekte non-Katolik.
Ini semua yaitu bagian dari tipuan zaman terakhir yang telah diperkirakan di dalam nubuat Katolik.
Bunda Maria di La Salette, Prancis, 19 September 1846:
“Roma akan kehilangan Iman dan menjadi takhta sang Antikristus... Gereja akan berada
dalam gerhana.”
356
Nubuat La Salette ini bertepatan dengan nubuat-nubuat di Kitab Suci (Wahyu 17 dan 18) bahwa kota di
atas tujuh gunung (Roma) akan menjadi seorang pelacur (sebuah Gereja palsu), seperti yang akan kami
bahas lebih lanjut. Sang pelacur besar yang dinubuatkan oleh Kitab Suci bukanlah Gereja Katolik; ia
yaitu Gereja Katolik palsu (sekte Vatikan II), mempelai yang murtad dan palsu yang muncul pada akhir
zaman untuk menipu para Katolik dan menjadi gerhana bagi Gereja sejati yang jumlahnya telah
disusutkan hanya menjadi sisa-sisa saja.
Kami telah menunjukkan bahwa pesan Bunda Maria di La Salette telah terpenuhi di depan mata kita
sendiri: Benediktus XVI dan sekte Vatikan II mengajarkan bahwa para Yahudi bebas untuk sama sekali
tidak percaya akan Yesus Kristus. Hal ini diterbitkan di dalam buku-buku Benediktus XVI dan Vatikan;
hal ini membuktikan bahwa Roma telah menjadi takhta sang Antikristus. Sebuah urutan Anti-Paus yang
memimpin dari Roma telah membuat Roma takhta sang Antikristus.
Tuhan kita juga menunjukkan bahwa pada akhir zaman akan ada ‘pembinasa yang keji’ ‘di tempat
kudus’ (Mt. 24:15). Ia memberi tahu kita bahwa akan ada sebuah penipuan yang begitu besar
sehingga, jika hal ini mungkin, bahkan para orang-orang pilihan akan tersesatkan pula (Mt. 24:24).
Ia bahkan bertanya jika akan ada iman di bumi:
Lukas 18:8 – “Akan namun , jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
Penipuan ini akan terjadi di tengah-tengah struktur fisik Gereja – di dalam “Bait Allah” (2 Tes. 2:4) dan
‘tempat kudus’ (Mt. 24:15) – dan akan terjadi sebab orang-orang tidak memiliki kasih untuk kebenaran.
Allah membiarkan hal ini terjadi sebagai hukuman tertinggi untuk dosa-dosa dunia. Kita sekarang sedang
hidup di dalam kemurtadan dan penipuan. Orang-orang perlu menolak sama sekali Anti-Paus Benediktus
XVI, para Anti-Paus Vatikan II yang lain serta agama Vatikan II baru ini.
Benediktus XVI yaitu salah satu pria terjahat di dalam sejarah manusia, sebab ia mengaku-ngaku
memiliki otoritas di atas Gereja Kristus, sembari mengajarkan bahwa seseorang bebas menolak Yesus
Kristus. Ia mengaku-ngaku sebagai Paus sembari mengajarkan bahwa orang-orang bebas menolak
Kepausan. Ia mengaku-ngaku sebagai pemimpin Iman Kristiani, sembari mengajarkan bahwa Tuhan kita
Yesus Kristus bahkan tidak perlu dipandang sebagai sang Mesias.
20b.
Pada tanggal 13 Maret 2013, pria Argentina yang bernama Jorge
Bergoglio terpilih menjadi Anti-Paus Fransiskus dari sekte Vatikan
II. Berita-berita berikut yang mencatat tindakan-tindakan serta
perkataan Fransiskus membuktikan bahwa ia yaitu seorang
bidah. Kami akan mengutip surat kabar resmi dari Vatikan –
L’Osservatore Romano – dan kedua buku dari Fransiskus, yang
mendokumentasikan kepercayaannya di dalam berbagai hal: Je
crois en l’homme, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Saya Percaya
Akan Manusia, Percakapan dengan Jorge Bergoglio} dan Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di
dalam Surga}.
tentang Orang-orang Yahudi
Orang-orang Yahudi menolak bahwa Yesus Kristus yaitu Allah. namun Yesus Kristus telah berkata di
dalam Yohanes 8:24:
“...sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.”
Gereja Katolik mengajarkan secara infalibel bahwa anda harus percaya akan Yesus Kristus dan
memegang iman Katolik agar dapat memperoleh keselamatan. Gereja mengajarkan bahwa yaitu sebuah
dosa berat untuk mempraktikkan agama Yahudi. namun Fransiskus menyetujui agama sesat ini dan
berdoa di dalam sinagoga-sinagoga Yahudi.
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 178:
“Baru-baru ini, saya mengambil bagian di dalam perayaan dalam sebuah sinagoga. Saya
berdoa banyak, dan dalam doa saya, saya mendengar kalimat dari bacaan-bacaan Kebijaksanaan
yang saya telah lupakan sebelumnya: ‘Tuhan, buatlah aku tetap diam walaupun aku diolok-olok.’
Bacaan ini memberi saya kedamaian serta
sukacita yang besar.”1
Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas
Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 192:
“Gereja mengakui secara resmi bahwa orang-
orang dari Israel tetap merupakan ahli waris
dari janji-janji [sebagai orang-orang terpilih].
Tidak suatu waktu pun kita berkata: ‘Mereka
telah kehilangan warisan mereka, sekarang
kitalah orang-orang terpilih ini .’ Ini
yaitu pengakuan akan orang-orang Israel.”2
Hal ini jelas-jelas berarti bahwa Fransiskus mendukung bahwa orang-orang yang menolak Yesus Kristus
merupakan orang-orang terpilih di mata Allah. Hal ini yaitu suatu penistaan melawan Allah.
Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 51:
“ada pula suatu perantaraan di dalam pelayanan oleh para rabbi atau dari imam yang
berdoa untuk kesehatan orang-orang lain, dan hal itu pun manjur. Untuk saya sendiri, mengenai
364
hal kesembuhan, hal yang memberi kredibilitas bahwa seseorang mengikuti hukum Allah yaitu
kesederhanaan, kerendahan hati, dan tiadanya kesombongan.”3
Maka Fransiskus percaya bahwa para rabbi Yahudi memiliki pelayanan sebagai perantara sejati dan
rohani menurut Hukum Allah.
Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 222: (berbicara
tentang rabbi Yahudi Skorka, Fransiskus berbicara kepadaya):
“Saya pun tidak lupa bahwa anda telah mengundang saya dua kali untuk berdoa dan berbicara di
dalam sinagoga anda. Dan saya sendiri pun mengundang anda untuk berbicara akan nilai-
nilai kepada seminari-seminari kami.”4
Di dalam katedral di Buenos Aires, di Argentina, pada tanggal 15 April 1998, Fransiskus mengadakan
sebuah perayaan antaragama untuk memberi penghormatan kepada para orang Yahudi yang telah
meninggal. Pada acara ini , Fransiskus berkata kepada para Yahudi: “Kita semua bersaudara, sebab
kita semua memiliki meterai Allah di dalam hati kita.”5 Meterai Allah yaitu suatu istilah yang berarti
‘Pembaptisan’, yang ditolak oleh para Yahudi.
Bulan September 2004, Fransiskus mengambil bagian di
dalam perayaan Yahudi di dalam sebuah sinagoga.6
Pada tanggal 9 November 2005, Fransiskus menghadiri
sebuah perayaan lain di dalam sebuah basilika untuk
memberi penghormatan kepada para Yahudi yang telah
meninggal. Di dalamnya, Fransiskus menyalakan lilin
sebagai penghormatan untuk mereka.
Di tahun 2007, Fransiskus merayakan Rosh Hashana
dalam sebuah sinagoga di Argentina. Pada
kunjungannya, Fransiskus berkata kepada Kongregasi
Yahudi bahwa ia telah mengunjungi sinagoga ini untuk menelaah hatinya, ‘seperti seorang beriman,
seperti kalian semua, kakak-kakakku’.7
Pada tanggal 7 Juli 2008, Fransiskus memberi restu kepada buku-buku rabbi Sergio Bergman. Fransiskus
memberi kepadanya suatu titel ‘orang beriman’, dan berkata bahwa “karyanya yaitu karya seorang
rabbi, yang memandu kita sebagai seorang master.”
Pada tanggal 7 Juli 2010, Fransiskus mengunjungi pusat agama Yahudi di Argentina; ia menyebut para
Yahudi ‘kakak-kakak kita’, dan ‘orang-orang yang terpilih oleh Allah’. Ia juga berdoa di depan sebuah
papan yang menamakan para Yahudi yang telah meninggal untuk memberi mereka hormat.8
Pada tanggal 11 Oktober 2012, di dalam sebuah
‘universitas Katolik’, Fransiskus memberi sebuah
diploma penghormatan kepada rabbi Abraham
Skorka – yang dikenal sebagai pendukung
homoseksualitas. sesudah menerima diplomanya,
sang rabbi berkata, “Kami menunggu sang Mesias.
namun agar ia datang, kami harus mempersiapkan
jalannya.” Maka, sang rabbi telah terang-terangan
Abraham Skorka dan Fransiskus
365
menolak sang Mesias Yesus Kristus – di depan muka Fransiskus!
Pada tanggal 8 November 2012, Fransiskus mengambil bagian secara aktif di dalam suatu perayaan
Yahudi di dalam katedral di Buenos Aires, di Argentina. Di sana ia yaitu sang pembicara utama.
Perayaan Yahudi ini sekali lagi didedikasikan untuk menghormati para Yahudi yang telah
meninggal. Lilin terakhir untuk penghormatan orang-orang Yahudi yang telah meninggal ini telah
dinyalakan bersama-sama oleh seorang rabbi dan Fransiskus. Di bawah panduan Fransiskus, perayaan-
perayaan penghormatan para Yahudi yang telah meninggal telah diselenggarakan di dalam ‘gereja
Katolik’ di Argentina, setiap tahun sejak tahun 1998.9
Untuk mengambil bagian di dalam sebuah upacara keagamaan Yahudi untuk orang-orang Yahudi yang
telah meninggal yaitu sebuah kemurtadan total dari Iman Katolik.
Tanggal 14 Desember 2012, hanya beberapa bulan sebelum pemilihannya menjadi seorang Anti-Paus,
Fransiskus merayakan Hanukkah bersama para Yahudi di Argentina; Fransiskus bahkan juga
menyalakan sebuah Menorah.
Pada tanggal 13 Maret 2013, beberapa
jam sesudah dipilihnya Fransiskus
sebagai seorang Anti-Paus, ia
mengirimkan salam kepada rabbi dari
Roma, yang menolak Kristus.10
Pada tanggal 25 Maret 2013, Fransiskus
mengirimkan sebuah telegram untuk
Paskah kepada rabbi utama dari Roma.11
Fransiskus berkata bahwa ia
menghormati para orang Yahudi dan
meminta mereka untuk mendoakannya.
Ia juga meminta Allah untuk
‘menyelamatkan mereka dari semua
kejahatan’, dan walaupun sang rabbi menolak Yesus, Ia yang Esa, yang dapat menyelamatkan kita dari
kejahatan.
Di dalam percakapannya dengan anggota Komunitas Yahudi internasional pada tanggal 24 Juni 2013,
Fransiskus memberi kepada para Yahudi titel ‘umat beriman’; dan meminta mereka mendoakannya.
Rabbi Skorka yaitu salah satu tamu yang diundang Fransiskus ke Vatikan selama beberapa hari pada
akhir September 2013. Pada sebuah interviu dengan surat kabar La Stampa, Skorka berbicara tentang
kunjungannya dengan Fransiskus.12 Skorka berkata bahwa Fransiskus meyakinkannya bahwa ia akan
diberikan makanan yang kosher {‘halal’ untuk orang Yahudi} dan telah berdoa dengannya.
Rabbi Skorka: “Saya makan setiap hari bersamanya, pada waktu sarapan, waktu makan siang, dan waktu
makan malam. Ia mengurusi saya dan mengontrol segalanya yang berkaitan dengan makanan saya untuk
memastikan bahwa semuanya kosher dan sesuai dengan tradisi Yahudi saya. Ia menemani kami semua di
meja – para sekretarisnya dan seorang uskup, dan mereka semua berkata ‘Amin’ pada akhirnya... Kami
berharap untuk dapat berlibur bersama ke Israel dalam waktu dekat ini, dan sang Paus sedang
mengurusi hal ini ... Saya telah berbicara kepadanya [kepada Fransiskus] tentang evangelisasi dan ia
berkata dengan tegas bahwa Gereja Katolik tidak boleh berusaha melakukan proselitisme.”
366
Proselitisme yaitu upaya untuk mencoba mengonversikan seseorang. Fransiskus menegaskan bahwa
orang-orang tidak boleh mencoba mengonversikan orang-orang non-Katolik kepada iman Katolik.
Fransiskus, Pesan video untuk perayaan St. Cajetan ; 7 Agustus 2013:
“Kamu akan meyakinkan orang lain untuk menjadi Katolik? Tidak, tidak, tidak!”13
Ajaran-ajaran sesat Fransiskus tentang Islam
Pada tanggal 2 Agustus 2005, Fransiskus berdoa di depan jenazah Direktur Muslim dari Pusat Islam di
Argentina. Jenazahnya menghadap ke Timur, kepada Mekkah. Seorang imam muslim membaca ayat-ayat
Al-Quran dan meminta berkat dari Muhammad. Ini yaitu yang dikatakan Fransiskus:
“Lewat doa saya, saya meminta kepada sang Pencipta, yang Maharahim, untuk memberi
anugerah untuk semua kebaikan yang ia telah lakukan.”14
St. Thomas Aquinas mengajarkan: “jika seseorang...menyembah di kubur Muhammad, ia akan
dianggap seseorang yang murtad.”15
Tindakan-tindakan Fransiskus yang menghormati jenazah seorang kepala agama Islam sama dengan
menghormati kuburan Muhammad.
Pada tanggal 29 Juni 2010, Fransiskus mengunjungi Pusat Islam dan berkata: “Saya telah datang sebagai
saudara untuk mempererat hubungan-hubungan.”16
Di dalam homilinya pada tanggal 8 Juli 2013, Fransiskus berbicara kepada para Muslim, “Saya berharap
untuk memberi perhatian saya kepada para imigran Muslim yang memulai, pada sore hari ini, puasa
Ramadan, dengan harapan agar buah-buah rohaninya berlimpah.”17
Di dalam pesannya pada tanggal 10 Juli 2013 kepada para Muslim pada akhir Ramadan, Fransiskus
berkata:
“...saya sendiri telah memutuskan untuk menandatangani Pesan tradisional ini dan untuk
mengirimkan kepada kalian, teman-teman terkasih, sebagai ungkapan rasa hormat dan
pertemanan kepada semua umat Muslim, terutama kepada para pemimpin agama
mereka... antara umat Kristiani dan Muslim, kita harus menghormati agama satu sama
lain, ajaran-ajarannya, simbol-simbolnya, dan nilai-nilainya. Itulah mengapa kita memiliki
rasa hormat yang begitu besar untuk para pemimipin agama serta tempat ibadahnya... kita
harus mendorong orang-orang muda kita untuk berpikir serta berbicara dengan sopan
tentang agama-agama lain dan mereka yang mempraktikkannya serta tidak mencemooh
atau merendahkan kepercayaan dan ritus-ritus mereka... Selamat hari raya kepada kalian
semua!”18
Menghormati sebuah agama sesat, ajaran-ajarannya, atau pengikut-pengikutnya, seperti yang dilakukan
Fransiskus, yaitu hal yang dikecam oleh ajaran Katolik. Ini yaitu kemurtadan dari Iman Katolik.
tentang agama-agama sesat lain
Pada halaman 237 di dalam buku Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga},
Fransiskus menulis tentang sistem dan gerakan kepercayaan-kepercayaan baru:
367
“Saya terlebih lagi memiliki rasa hormat yang paling besar kepada ajaran-ajaran rohani
yang baru, namun ajaran-ajaran ini haruslah autentik dan dapat bertahan tempaan zaman,
hal yang membuktikan apakah pesannya yaitu dibuat-buat atau memang asli. Bukti terbaik
untuk keaslian rohani, yaitu ia bertahan dalam arus zaman.”19
Maka menurut Fransiskus yang murtad, agama sesat Hindu merupakan sebuah agama yang murni, asli
sebab kepercayaannya telah ada selama 3.000
tahun dan bertahan dalam arus zaman...
Fransiskus, Percakapan; 18 Mei 2013:
“...mempromosikan kebebasan beragama
untuk semua orang, untuk semua orang!
Semua lelaki dan perempuan haruslah
bebas dalam mengakui agamanya, apa
pun itu.”20
Gereja Katolik mengecam ide bahwa kebebasan
beragama harus menjadi sebuah hak sipil
universal.
sesudah serangan 11 September 2001 di Amerika
Serikat, Fransiskus mengambil bagian di dalam
sebuah pertemuan untuk doa antar para
pemimpin agama-agama sesat, di bawah sebuah
obelisk di Argentina.21 Obelisk yaitu sebuah lingga {simbol kelamin laki-laki} yang merupakan simbol
masonik.
Di dalam ensikliknya yang berjudul Mortalium Animos, bertanggal 6 Januari 1928, Paus Pius XI
mengecam bahwa semua partisipasi orang Katolik dalam perkumpulan antaragama yaitu suatu
kemurtadan. Ia mengajarkan bahwa mereka yang mendukung aktivitas ini telah meninggalkan
agama Katolik. Ia berkata pula:
“Maka, Saudara-Saudara yang Terhormat, jelaslah mengapa Takhta Apostolik ini tidak pernah
mengizinkan umat-umatnya untuk mengambil bagian di dalam perkumpulan-perkumpulan
orang-orang non-Katolik...”22
namun seperti yang kita telah lihat, Fransiskus terlibat di dalam berbagai perkumpulan doa antaragama.
Pada tanggal 23 Januari 2002, Fransiskus mengundang berbagai pemimpin agama sesat untuk berdoa di
dalam katedral Buenos Aires, di Argentina. Perkumpulan ini mengikutsertakan pemimpin
Hinduisme, Buddhisme, Islam, dan Yahudi.23 Fransiskus telah mengumumkan di dalam pertemuan
ini bahwa “setiap kelompok agama akan berdoa menurut imannya masing-masing, di dalam bahasa
dan tradisinya, serta dengan rasa hormat kepada satu sama lain yang paling besar.” Ini benar-benar
sebuah kemurtadan!
Pada tanggal 5 Mei 2006, Fransiskus berdoa bersama anggota-anggota dari Parlemen agama-agama
sedunia. Dan pada tahun 2011, Fransiskus melangsungkan pertemuan antaragamanya sendiri.24
Pada tanggal 20 Maret 2013, Fransiskus bertemu dengan berbagai pemimpin agama sesat, termasuk para
skismatis, Yahudi, dan Muslim. Fransiskus berkata: “Pagi hari, kemarin, pada saat Misa Kudus, saya
368
merasakan secara rohani kehadiran komunitas-komunitas anda lewat para pengikut anda.” Ia
melanjutkannya dengan memuji mereka.25
Seperti yang kami baru saja tunjukkan, Fransiskus menolak mentah-mentah ajaran infalibel dari Gereja
Katolik bahwa anggota-anggota agama sesat harus menerima Iman Katolik untuk dapat diselamatkan.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1439, ex cathedra:
“Siapa pun yang hendak diselamatkan harus pertama-tama memegang iman Katolik, sebab siapa
pun yang tidak memegangnya secara penuh dan utuh, tanpa keraguan sedikit pun, ia akan binasa
untuk selamanya.”26
Fransiskus menghormati para ateis
Pada halaman 27-28 dari bukunya Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga},
Fransiskus berkata bahwa ia menghormati para ateis dan tidak mencoba untuk mengonversikan mereka:
“Saya tidak membayangkan bahwa hubungan saya dengan seorang ateis yaitu untuk
mengonversikannya; saya menghormatinya... saya tidak akan pernah mengatakan kepadanya
bahwa hidupnya telah terkutuk sebab saya merasa bahwa saya tidak memiliki hak untuk
menghakimi kejujuran orang ini ... semua orang yaitu citra Allah, tidak peduli apakah ia
beriman atau tidak. Cukup dengan memberi mereka berbagai kebajikan dan nilai-nilai.”27
Seorang ateis mewawancarai Fransiskus untuk surat kabar Italia La Repubblica. Wawancara ini
telah diterbitkan pada tanggal 1 Oktober 2013.28 Fransiskus telah terang-terangan berkata kepada
seorang ateis bahwa ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk mencoba mengonversikannya. Fransiskus
menolak empat kali sesudah nya upaya proselitisme {untuk mengonversikan seseorang} dalam
wawancara ini . Fransiskus telah berkata: “Proselitisme yaitu sebuah kebohongan yang khidmat,
hal ini sama sekali tidak memiliki arti.” Fransiskus melanjutkannya dengan berkata bahwa setiap
orang memiliki ide masing-masing tentang yang baik dan yang buruk. Ia mendorong setiap orang untuk
mengikuti kebaikan menurut ide mereka sendiri. Ini yaitu sebuah kemurtadan yang paling memalukan.
Di dalam suratnya yang bertanggal 11 September 2013 kepada surat kabar La Repubblica, Fransiskus
mengajarkan bahwa orang-orang yang tidak percaya akan Allah dapat diselamatkan.29 Ini yaitu sebuah
kemurtadan total dari iman Katolik.
Fransiskus menghormati orang-orang yang bunuh diri
Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 101:
“Pada suatu masa, orang-orang yang membunuh dirinya sendiri tidak memiliki hak atas upacara
pemakaman sebab ia berhenti untuk sampai kepada tujuannya, ia telah menolak kepalanya
sendiri. namun saya memiliki rasa hormat untuk mereka yang bunuh diri, mereka yaitu individu
yang tidak tahu bagaimana mengatasi pertentangan-pertentangan mereka sendiri. Saya tidak
menolak mereka.”30
Ajaran Fransiskus tentang manusia
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 190:
“Bagi saya, harapan terletak di dalam umat manusia, di dalam apa yang ia miliki di dalam hatinya.
Saya percaya akan manusia. Saya tidak berkata apakah ia baik atau jahat, namun saya percaya
kepadanya.”31
369
Ajaran sesat Fransiskus tentang dosa:
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 109:
“Saya memiliki kebiasaan untuk berkata seperti yang digarisbawahi Santo Paulus, bahwa
keadaan kita sebagai para pendosa yaitu kemuliaan kita satu-satunya.”32
St. Paulus tidak pernah berkata demikian. Ini yaitu sebuah skandal. Fransiskus lalu berkata dalam
beberapa paragraf selanjutnya: “sebab itu, di mata saya, dosa bukanlah sebuah noda yang harus kita
singkirkan.”
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 116:
“...hal ini berkenaan dengan masalah dosa. Sejak beberapa tahun, Argentina berada dalam
keadaan dosa sebab ia tidak memperhatikan mereka yang tidak memiliki roti ataupun
pekerjaan.”33
Perhatikan bahwa satu-satunya dosa yang dikatakan oleh Fransiskus yaitu bahwa Argentina tidak
memberi kepada orang-orang makanan atau pekerjaan. Ia tidak berkata sedikit pun tentang dosa
yang melawan Allah atau yang melawan Iman Allah.
Fransiskus, Wawancara dengan surat kabar La Repubblica; 1 Oktober 2013:
“Kejahatan yang paling besar di dunia di masa ini yaitu pengangguran orang-orang muda dan
kesepian orang-orang tua... Itulah yang bagi saya masalah satu-satunya yang paling urjen yang
dihadapi Gereja.”34
Fransiskus tentang komunisme
Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 138:
“Di sekolah saya, kami memiliki seorang profesor komunis. Kami memiliki hubungan yang sangat
baik dengannya, ia sama sekali tidak mempertanyakan akan hal apa pun dan hal ini
bermanfaat untuk kami. namun ia tidak pernah berbohong kepada kami...”35
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 47-48:
“Memang benar bahwa waktu itu saya yaitu , seperti semua keluarga saya, seorang Katolik yang
beriman. namun pikiran saya tidak hanya berpacu di dalam masalah rohani... Saya membaca
Nuestra Palabra, Propositos, sebuah terbitan Partai Komunis, dan saya sangat menyukai artikel-
artikel dari dramaturgi Leonidas Barletta tentang dunia budaya. Pustaka ini berkontribusi
kepada kemampuan politik saya, namun saya tidak pernah menjadi komunis.”36
Perhatikan bahwa dunia budaya menurut Barletta yaitu dunia komunis merah, sebab Barletta yaitu
bagian dari kelompok yang mendukung ide-ide komunis Bolshevik, yang menginginkan sebuah revolusi
untuk menanamkan ide komunis.37 Dan Fransiskus berkata bahwa ia menyukai artikel-artikel pria
komunis ini .
Fransiskus tentang hukuman mati
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 94:
“Masa kini, contohnya. Hati nurani khalayak umum semakin bergerak untuk menentang
ketidakmoralan hukuman mati.”38
Pernyataan ini yaitu sangat sesat. Gereja Katolik selalu mendukung legitimitas hukuman mati untuk
kejahatan-kejahatan yang paling berat.
370
Fransiskus mempromosikan pendidikan seksual
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 101:
“Gereja tidak menentang pendidikan seksual. Secara pribadi, saya berpikir bahwa hal ini
harus menemani evolusi sang anak, dengan penyesuaian-penyesuaian di setiap tahapan.
Sebenarnya, Gereja telah selalu memberi pendidikan seksual, walaupun benar bahwa tidak
selalu dilakukan dengan cara yang terbaik.”39
Paus Pius XI; 31 Desember 1931:
“Banyak orang mendukung dan mempromosikan dengan tidak masuk akal dan berbahaya,
sebuah bentuk pendidikan yang disebut secara memalukan ‘seksual’.”40
Francis Mendukung para “Imam” untuk Meninggalkan “Imamat” Jika Mereka Jatuh Cinta
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 107:
“Memang benar, kadangkala seorang imam benar-benar jatuh cinta; suatu hal yang membuatnya
merenungkan panggilannya untuk mengubah hidupnya. Ia akan mencari seorang uskup, dan
berkata kepadanya: ‘Di sinilah hidup saya... Saya belum pernah berpikir sebelumnya bahwa saya
suatu hari akan merasakan suatu perasaan yang sangat indah... Wanita itu, saya benar-benar
mencintainya...’ Lalu ia meminta untuk keluar dari imamat. – Anda, bagaimana anda akan
menanggapinya? – Fransiskus:... saya tidak akan meninggalkannya, saya akan mengikutinya
sepanjang jalan, di dalam kehidupan rohaninya yang ia jalani. Jika ia yakin akan keputusannya,
saya bahkan akan membantunya untuk menemukan sebuah pekerjaan... Saya akan menasihatinya
agar ia tetap tinggal dirumahnya, selama kami meminta sebuah dispensasi, yaitu persetujuan dari
Roma yang memperbolehkannya untuk menerima sakramen pernikahan.”41
Maka Fransiskus akan membantu seorang pria untuk melanggar kaul kesucian kekalnya yang ia telah
buat di depan Allah untuk meninggalkan imamat.
Ajaran sesat Fransiskus tentang ‘pernikahan’ sesama jenis dan homoseksualitas
Telah didokumentasikan dan dipastikan bahwa Fransiskus mendukung hubungan sipil resmi antara
pasangan sesama jenis sewaktu ia berada di Argentina. Ia hanya menentang bahwa hal ini disebut
sebagai pernikahan.42 Ini yaitu ajaran sesat. Hal ini berarti bahwa Fransiskus menyetujui perilaku
seksual yang keji dan bejat, yang telah dikecam oleh Injil dan ajaran Katolik. Pandangannya tidak berbeda
sama sekali dengan pandangan yang mendukung aborsi jika Negara tidak memberi status spesial atau
hak-hak tertentu, lewat penggunaan dana publik. Perhatikan pernyataan yang menarik berikut dari
Fransiskus tentang ‘pernikahan’ sesama jenis dan para homoseksual.
Fransiskus, Sur la terre comme au Ciel, {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 125-126:
“Sewaktu Mauricio Macri, kepala pemerintahan kota autonom Buenos Aires memilih untuk tidak
menggugat keputusan seorang jaksa yang dari awalnya memperbolehkan pernikahan [sesama
jenis] ini , saya merasa bahwa saya harus mengungkapkan pendapat saya. Di situlah
pertama kalinya di dalam delapan belas tahun di mana saya menjabat sebagai uskup bahwa saya
merasa harus menjalankan kewajiban saya sebagai pegawai negeri. Jika anda menelaah
pernyataan saya dulu, saya tidak pernah berbicara tentang para homoseksual ataupun memberi
kesan yang buruk sedikit pun kepada mereka... Macri berkata bahwa hal ini berkaitan
dengan kepercayaannya; saya menghormati kepercayaannya, namun seorang kepala
pemerintahan tidak boleh membiarkan kepercayaan pribadinya campur tangan dengan hukum.
371
Saya tidak pernah berbicara buruk tentang para homoseksual, intervensi saya hanya
menyangkut sebuah masalah legal.”43
Fransiskus berkata bahwa ia menghormati mereka yang mendukung kekejian ‘pernikahan’ sesama jenis,
dan ia berkata bahwa ia tidak pernah tidak menghormati orang-orang yang bejat dan para homoseksual!
Fransiskus juga menyebutkan bagaimana ia telah
memberi izin kepada presiden Argentina yang pro-
homoseksual – Nestor Kirchner (di foto kiri) – untuk
memimpin sebuah perayaan peringatan ‘imam’ ‘Katolik’
dan para ‘seminari’ yang telah meninggal.
Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio,
{Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 129:
“Sewaktu ia [Kirchner] telah sampai, saya memintanya
untuk membuka perayaan ini ...”44
Sewaktu presiden ini meninggal beberapa waktu
lalu , Fransiskus langsung memberi kepadanya
sebuah ‘misa Requiem’. 45 Fransiskus juga mengizinkan para politikus pro-aborsi, pro-‘pernikahan’
sesama jenis, untuk menerima ‘komuni’ palsu pada saat ‘Misa’ instalasi.46
Pada tanggal 19 Agustus 2013, Fransiskus diwawancarai oleh Antonio Spadero dari La Civiltà Cattolica.
Pada saat wawancara ini, Fransiskus mengajarkan secara jelas bahwa para homoseksual yang aktif tidak
dikecam ataupun ditolak oleh Allah.47 Gereja, berdasar Injil, mengajarkan hal yang sama sekali
berkebalikan.
Ajaran sesat Fransiskus tentang para bidah dan skismatis
Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 135:
“Saya tidak setuju dengan pendidikan agama di sekolah yang mengecualikan pendidikan non-
Katolik.”48
Di Argentina, Fransiskus menunjukkan kepada para ‘umat Katolik’ yang mencari pengusir roh jahat
kepada seorang pengusir roh yang beragama Lutheran.48a
Pada halaman 84 di dalam buku Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga},
Fransiskus mengutip apa yang dikatakan neneknya sewaktu ia masih muda: “...’mereka Protestan,
namun mereka pemberani’. Itulah kebijaksanaan dari sebuah agama sejati.”49
372
Pada tahun 2006, Fransiskus berlutut untuk menerima berkat dari para Protestan, pada suatu pertemuan
ekumenis.50 Fransiskus melakukan hal yang sama segera sesudah dipilih sebagai seorang Anti-Paus pada
tanggal 13 Mei 2013. Bukannya memberkati orang-orang, Fransiskus meminta orang-orang untuk
memberkatinya!51 Termasuk dari antaranya anggota dari berbagai agama non-Katolik.
Pada tanggal 18 Maret 2013, Fransiskus menulis kepada kepala sekte Anglikan yang baru. Ia
memberi kepada Justin Welby status ‘reverend’ walaupun Gereja Katolik – di bawah Paus Leo XIII
telah menegaskan pada tanggal 13 September 1896 bahwa Ritus penahbisan Anglikan sama sekali tidak
valid.
Fransiskus berkata bahwa Welby memiliki sebuah ‘pelayanan
penggembalaan’ dan menyebutnya sebagai ‘Uskup Agung
Canterbury’, yang berarti bahwa ia percaya bahwa kepala dari
sekte skismatis dan bidah Anglikan ini yaitu kepala
yuridis sesungguhnya dari satu-satunya Gereja Canterbury di
Inggris. Ia juga meminta kepada kepala bidah dan skismatis
ini untuk mendoakannya.52
Di dalam percakapannya pada tanggal 14 Juni 2013
dengan Welby yang skismatis, Fransiskus berkata bahwa
ia menyambutnya “bukan sebagai orang asing ataupun
tawanan; kalian yaitu warga negara, bersama kami,
yang suci, kalian berasal dari rumah Allah.”53
Maka Fransiskus mengajarkan dengan bersemangat bahwa Welby, sang non-Katolik, yang disebut oleh
Fransiskus ‘Yang Mulia’, merupakan bagian dari Gereja Kristus. Ini yaitu salah satu bidah yang paling
memalukan! Fransiskus lalu berkata bahwa ia akan sangat ‘berterima kasih’ jika sang bidah
skismatis ini berdoa untuknya. Fransiskus lalu mengungkapkan ‘rasa hormatnya yang dalam’ untuk
para Anglikan, dan bahwa di masa ini ada sebuah penghargaan yang lebih baik untuk spiritualitas
dan ‘tradisi liturgi’ Anglikan.
Seperti yang diajarkan di dalam Vatikan II, Fransiskus berpendapat bahwa para Protestan dan para
‘Ortodoks’ ada di dalam Gereja Kristus, dan bahwa mereka tidak perlu berkonversi kepada iman
Katolik untuk mendapat keselamatan. Hal ini yaitu sebuah ajaran sesat!
Welby dan Fransiskus
373
Fransiskus, harapan kepada sang Ortodoks Skismatis yang
memproklamasikan dirinya ‘Paus’ dari Aleksandria, Mesir; 10
Mei 2013:
“Yang Mulia, saya mendoakan anda agar seluruh umat yang
dipercayakan kepada kuasa penggembalaan anda semakin
beriman kepada panggilan Tuhan, saya berdoa untuk
perlindungan dari kedua Rasul Petrus dan Markus sang
penginjil...”54
Fransiskus menyebut sang skismatis ini ‘Yang Mulia’ dan
berkata bahwa Allah memercayakan umat-Nya kepada seorang
skismatis. Ia juga menyebutnya seorang ‘gembala’ yang berarti bahwa ia percaya bahwa pemimpin
skismatis ini yaitu benar-benar seorang kepada yuridis dari satu-satunya Gereja Kristus yang
sejati.
Di dalam percakapannya pada tanggal 28 Juni 2013 dengan
Patriark skismatis ‘Ortodoks’ Timur dari Konstantinopel,
Fransiskus memohon kepadannya untuk berdoa untuknya, dan
berkata, “Terakhir, saya meminta anda untuk berdoa untuk saya
dan agar orang-orang mendoakan saya – saya sangat
membutuhkannya.”55
Fransiskus, Audiens; 19 Juni 2013:
“Hari ini, sebelum keluar rumah saya, saya melewatkan empat
puluh menit, kurang lebih setengah jam dengan seorang pendeta
Evangelis dan kami berdoa bersama...”56
Pada halaman 220 dari Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, Fransiskus
menyarankan agar orang-orang Kristen yang berbeda-beda agamanya ‘hidup bersama, dengan
melakukan hal-hal bersama, dengan berdoa bersama... tanpa menghapuskan berbagai tradisi yang
berbeda...’57
Di sini Fransiskus mengedepankan bidah bahwa kita tidak boleh mencoba mengonversikan para non-
Katolik, namun sebaliknya, berjalan bersama mereka, berdoa bersama mereka tanpa mereka perlu
menanggalkan tradisi-tradisi sesat serta skismatis mereka.
Fransiskus, berbicara tentang para ‘Ortodoks’ skismatis di dalam wawancara pada tanggal 19
Agustus 2013, berkata:
“Kita harus berjalan bersama-sama di dalam perbedaan: tidak ada jalan lain untuk
menyatukan kita. Itu yaitu jalan Yesus.”58
Maka menurut Fransiskus, para skismatis harus terus menolak ajaran Katolik, dan tidak perlu
berkonversi.
Paus Pius XI, Mortalium Animos:
“ ... upaya memajukan persatuan orang-orang Kristiani sama sekali tidak diizinkan selain dengan
cara mendukung pemulangan para pembangkang kepada Gereja Kristus yang satu dan sejati ....” 59
374
Fransiskus, Sang Revolusioner Liturgi
Di sisi kanan, kita melihat Fransiskus menyelenggarakan ‘Misa’ modernis untuk para anak-anak bersama
para penari liturgis perempuan.
Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi
Seperti di dalam Surga}, hal. 111:
“Di dalam Katolisisme, contohnya, banyak wanita
memimpin liturgi Sabda...”60
Fransiskus
tentunya telah
membagikan komuni di tangan sepanjang hidupnya.
Fransiskus tidak pernah mengadakan suatu Misa yang
valid; bukan hanya sebab ia mengadakan Misa Baru
yang tidak valid, namun juga sebab ia ‘ditahbiskan’ pada
tanggal 13 Desember 1969 di dalam penahbisan baru
yang tidak valid. Seperti pendahulunya, Benediktus XVI,
Fransiskus ‘ditahbiskan’ sebagai ‘Uskup’ di dalam ritus penahbisan yang tidak valid. Seorang Paus sejati
yaitu uskup Roma. Fransiskus bukanlah seorang uskup; itulah suatu alasan lain mengapa ia bukanlah
Paus.
Para Freemason mendukung Fransiskus
Baru-baru ini Fransiskus dipuji oleh para Grand Master
loji-loji Timur Agung dari Italia dan Argentina.61 Mereka
terang-terangan mendukung pemilihan Fransiskus
sebagai Anti-Paus yang baru.
Di dalam foto Fransiskus ini,62 kita dapat melihat sebuah
tanda yang menyerupai tanda Master dari cadar kedua
di dalam Freemasonry. Bukanlah sebuah hal yang
mengejutkan untuk melihat bahwa Fransiskus sendiri
yaitu seorang mason, sebab memang kepercayaannya
– yang terlihat jelas lewat kelakuan-kelakuan serta tindakan-tindakannya – yaitu kepercayaan masonik.
Ajaran utama dari Freemasonry yaitu bahwa semua agama memimpin kepada Allah.
Sebagai kesimpulan, Fransiskus percaya dengan tegar dan mengajarkan bidah-bidah yang sama yang
dimajukan oleh para Anti-Paus Vatikan II. Fransiskus yaitu seorang bidah total, dan seseorang yang
murtad.
Dogma Katolik mendefinisikan bahwa seorang bidah bukanlah anggota dari Gereja Katolik. Dari fakta ini,
tidak salah lagi: Fransiskus bukanlah seorang Paus yang valid, namun seorang Anti-Paus bidah non-
Katolik.
21. Jawaban-Jawaban untuk Penolakan-
Penolakan
Paus Vigilius, Konsili Konstantinopel II, 553:
“ ... Kami mengingat apa yang telah dijanjikan tentang Gereja yang kudus dan Ia yang berkata
bahwa pintu gerbang Neraka tidak akan berjaya melawannya, (Kami memahami pintu
gerbang Neraka sebagai lidah-lidah yang mematikan dari para bidah) ....”1
ada banyak bantahan-bantahan melawan posisi sedevakantis – yaitu, posisi yang diuraikan di
dalam buku ini yang menurutnya, Takhta St. Petrus kosong sebab ‘Paus-paus’ sesudah Vatikan II
bukanlah Paus-Paus sejati, melainkan para Anti-Paus non-Katolik. Kami sekarang akan menjawab semua
bantahan-bantahan terbesar melawan posisi ini.
Penolakan 1): Pintu Gerbang Neraka tidak dapat berjaya melawan Gereja seperti
yang dikatakan oleh Kristus (Matius 16). Ia berkata bahwa Ia akan menyertai
Gereja-Nya sampai akhir zaman (Matius 28). Apa yang anda katakan berlawanan
dengan janji-janji Kristus
Jawaban: Tidak, indefektibilitas (janji bahwa Kristus akan selalu menyertai Gereja-Nya, dan bahwa pintu
Gerbang Neraka tidak akan berjaya melawan Gereja) berarti bahwa Gereja akan, sampai akhir zaman,
tetap pada dasarnya mempertahankan esensinya. Indefektibilitas Gereja mensyaratkan agar setidaknya
sisa-sisa Gereja tetap ada sampai akhir zaman, dan bahwa seorang Paus sejati tidak akan pernah
mengajarkan kesalahan secara otoritatif kepada seluruh Gereja. Indefektibilitas tidak memustahilkan
Anti-Paus yang mengaku-ngaku diri sebagai Paus (seperti yang kita telah lihat berkali-kali di masa lalu,
bahkan di Roma), atau sebuah sekte sesat yang mengurangi jumlah pengikut Gereja Katolik sejati
sehingga menjadi suatu sisa pada akhir zaman. Itulah persisnya apa yang diperkirakan akan terjadi di
akhir zaman dan apa yang terjadi pada krisis Arian.
St. Atanasius: “Walaupun para umat Katolik yang setia kepada tradisi berkurang sehingga
jumlah mereka hanya sekelumit saja, mereka itulah Gereja Yesus Kristus yang sejati.”2
Di samping itu, harus dicatat bahwa Gereja telah mendefinisikan bahwa para bidah yaitu pintu gerbang
Neraka seperti yang disebutkan oleh Tuhan kita di dalam Matius 16!
Paus Vigilius, Konsili Konstantinopel II, 553:
“ ... Kami mengingat apa yang telah dijanjikan tentang Gereja yang kudus dan Ia yang berkata
bahwa pintu gerbang Neraka tidak akan berjaya melawannya, (Kami memahami pintu
gerbang Neraka sebagai lidah-lidah yang mematikan dari para bidah) ...”3
Paus St. Leo IX, 2 September 1053:
“Gereja yang kudus yang dibangun di atas sebuah batu karang, yaitu Kristus, dan di atas Petrus ...
sebab oleh pintu gerbang Neraka, yakni, oleh pertentangan-pertentangan para bidah yang
menuntun orang yang angkuh kepada kehancuran, Gereja tidak akan pernah ditaklukkan.”4
St. Thomas Aquinas (+1252):
“Kebijaksanaan dapat mengisi hati para umat beriman, dan membungkam kegilaan yang jahat
380
dari para bidah, yang secara pantas disebut sebagai pintu gerbang Neraka.”5 (Intro. To
Catena Aurea {Perkenalan kepada Catena Aurea})
Perhatikan bahwa para bidah yaitu pintu gerbang Neraka. Para bidah bukanlah anggota Gereja. Itulah
mengapa seorang bidah tidak akan pernah bisa menjadi seorang Paus. Pintu gerbang Neraka (para bidah)
tidak pernah mampu memiliki otoritas atas Gereja Kristus. Orang-orang yang menyingkap para Anti-Paus
Vatikan II bukanlah yang menyatakan bahwa pintu gerbang Neraka telah berjaya melawan Gereja;
melainkan mereka yang bersikeras membela para Anti-Paus Vatikan II sebagai Paus, walaupun dapat
dibuktikan bahwa mereka yaitu bidah terang-terangan.
Paus Inosensius III, Eius exemplo, 18 Desember 1208:
“Dari hati kami percaya dan dari mulut kami mengakui Gereja yang satu, yang tidak terdiri
dari para bidah, melainkan Gereja Roma yang kudus, Katolik, dan Apostolik di luar mana kami
percaya bahwa tidak seorang pun diselamatkan.”6
St. Fransiskus de Sales (abad ke 17), Doktor Gereja, The Catholic Controversy {Kontroversi
Katolik}, hal. 305-306:
“namun sewaktu ia [Sri Paus] yaitu seorang bidah secara eksplisit, ia secara ipso facto
jatuh dari pangkatnya dan berada di luar Gereja ....”
Tidak ada satu ajaran Gereja Katolik pun yang dapat dikutip yang bertentangan dengan fakta bahwa
ada pada saat ini suatu sekte sesat yang telah menyusutkan Gereja Katolik sejati menjadi sebuah
sisa pada hari-hari Kemurtadan Besar, yang dipimpin oleh para Anti-Paus yang telah mengaku diri
sebagai Paus. Mereka yang menyatakan bahwa sekte Vatikan II yaitu Gereja Katolik menyatakan bahwa
Gereja Katolik secara resmi mendukung agama-agama sesat dan doktrin-doktrin sesat. Hal ini mustahil
dan berarti bahwa pintu gerbang Neraka telah berjaya melawan Gereja Katolik.
Penolakan 2): Apakah otoritas anda untuk membuat penghakiman-penghakiman
ini? Penggunaan pernyataan-pernyataan dogmatis anda yaitu interpretasi
pribadi.
Jawaban: Otoritas yang dimiliki oleh seorang Katolik untuk menentukan bahwa para bidah bukanlah
anggota Gereja yaitu dogma Katolik, yang mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang yang
meninggalkan Iman dianggap terasing dari Gereja.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896:
“Adat Gereja selalu sama, dan juga diteguhkan oleh putusan semufakat para Bapa yang kudus.
Mereka tentunya terbiasa menganggap siapa saja YANG TELAH MENYIMPANG SESEDIKIT APA
PUN DARI DOKTRIN YANG DIAJUKAN OLEH MAGISTERIUM OTORITATIF, sebagai orang yang
sama sekali bukan bagian dari persekutuan Katolik dan terasing dari Gereja.”7
Di samping itu, untuk berpendapat bahwa seseorang menerapkan interpretasi pribadi dengan memegang
dogma Katolik ini, seperti yang dilakukan oleh penolakan ini, yaitu untuk menyatakan secara persis hal
yang dikutuk oleh Paus St. Pius X di dalam Silabus Kesalahan-Kesalahan melawan para Modernis.
Paus St. Pius X, Lamentabili, Kesalahan-kesalahan para Modernis, 3 Juli 1907, #22:
“Dogma-dogma yang oleh Gereja dinyatakan terwahyu, bukanlah kebenaran-kebenaran
yang turun dari Surga, melainkan semacam interpretasi fakta-fakta agama, yang dibentuk
oleh pikiran manusia dengan bersusah payah.” – Dikutuk8
381
Paus St. Pius X, Lamentabili, Kesalahan-kesalahan para Modernis, 3 Juli 1907, #54:
“Dogma-dogma, sakramen-sakramen, hierarki, baik dalam gagasan maupun realitas, hanyalah
interpretasi-interpretasi dan evolusi-evolusi pikiran Kristiani, yang telah memperbesar dan
menyempurnakan benih laten kecil dalam Injil melalui perkembangan-perkembangan lahiriah.”
– Dikutuk9
Perhatikan, gagasan bahwa dogma-dogma hanyalah interpretasi-interpretasi itu dikutuk. namun inilah
persisnya apa yang dinyatakan oleh penolakan ini, terlepas bilamana orang yang membuat penolakan ini
mengakuinya atau tidak. Mereka berkata bahwa untuk menerapkan kebenaran dari sebuah dogma
yaitu untuk melakukan ‘interpretasi pribadi’. Penolakan ini selanjutnya dibantah oleh fakta bahwa di
dalam Dekret Sakramen Imamat, Konsili Trente secara khidmat menyatakan bahwa kanon-kanon
dogmatis diperuntukan bagi semua umat beriman.
Paus Pius IV, Konsili Trente, Sesi 13, Bab 4:
“Hal-hal ini secara umum tampak baik bagi Konsili suci ini untuk diajarkan kepada para umat
beriman Kristus tentang sakramen imamat. namun , konsili ini telah bertekad untuk mengutuk
hal-hal yang bertentangan di dalam kanon-kanonnya yang pasti dan tepat di dalam cara
berikut, agar semua orang, dengan memakai aturan iman ini , dengan bantuan
dari Kristus, dapat mengenali dengan lebih mudah kebenaran Katolik di tengah-tengah
gelapnya kesalahan-kesalahan yang begitu banyak.”10
Kata ‘kanon’ (dalam bahasa Yunani: kanon) berarti sebuah buluh; sebuah tongkat yang lurus; tongkat
pengukur; suatu benda yang digunakan untuk menentukan, mengatur, atau mengukur. Konsili Trente
secara infalibel menyatakan bahwa kanon-kanonnya merupakan tongkat pengukur bagi ‘semua orang’
agar mereka, dengan memakai aturan-aturan Iman ini, dapat mengenali dan membela kebenaran di
tengah-tengah kegelapan! Pernyataan yang sangat penting ini menghancurkan klaim orang-orang yang
berkata bahwa penggunaan dogma-dogma untuk membuktikan poin-poin yaitu ‘interpretasi pribadi’.
Dogma Katolik yaitu otoritas bagi semua orang yang sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang
benar ini.
Paus Gregorius XVI, Mirari Vos (#7), 15 Agustus 1832:
“ ... agar tiada suatu hal pun dikurangi dari hal-hal yang telah didefinisikan secara kanonik dan
agar tiada suatu hal pun diubah atau ditambahkan kepadanya, namun agar hal-hal yang
sama itu, baik di dalam kata-katanya serta maknanya, dijaga sehingga tak terjamah.”11
Penolakan 3): Anda tidak dapat tahu bilamana seseorang yaitu bidah atau
mencelanya sebagai bidah tanpa sebuah pengadilan dan deklarasi vonis.
Jawaban: Tidak. Sebuah deklarasi vonis yang mengikuti sebuah ekskomunikasi otomatis yaitu semata-
mata sebuah pengakuan secara hukum tentang sesuatu yang sudah ada. Andaikata tidak demikian
adanya, ekskomunikasi otomatis akan menjadi tidak bermakna.
Kanon 2314, Kitab Hukum Kanonik 1917:
“Semua pemurtad dari iman Kristiani dan setiap serta masing-masing bidah ataupun skismatis:
1) mendapat ekskomunikasi ipso facto [lewat fakta itu sendiri]...12
Orang yang terekskomunikasikan itu sudah dipotong dari Gereja. Kebanyakan bidah sudah dikenali
sebagai bidah tanpa pengadilan ataupun deklarasi vonis, dan harus dicela secara demikian.
382
Paus Pius VI, Auctorem fidei, 28 Agustus 1794:
“47. Begitu pula, gagasan yang mengajarkan bahwa yaitu sesuatu yang diperlukan,
menurut hukum-hukum alam dan ilahi, untuk ekskomunikasi ataupun pemecatan, bahwa
sebuah pemeriksaan pribadi harus berlangsung sebelumnya, dan bahwa, oleh sebab itu,
vonis yang disebut ‘ipso facto’ tidak memiliki kekuatan apa pun selain sebagai suatu ancaman
yang serius tanpa dampak yang nyata apa pun” – salah, lancang, jahat, berbahaya bagi
kekuatan Gereja, keliru.13
Seperti yang kita lihat di sini, Gereja Katolik mengajarkan bahwa proses-proses serta
penghakiman-penghakiman yang formal tidak diperlukan agar ekskomunikasi ipso facto (lewat
fakta ini ) berlangsung. Acapkali, proses serta penghakiman ini , seperti di dalam kasus
bidah Martin Luther, merupakan pengakuan-pengakuan resmi terhadap ekskomunikasi ipso facto yang
sudah terjadi. Hal ini seharusnya jelas begi seorang Katolik; namun , untuk menggambarkan poin ini ,
inilah apa yang dikatakan Martin Luther sebelum ia dikutuk sebagai bidah oleh Sri Paus.
Martin Luther, sewaktu ia berbicara di depan Bulla Paus Leo X yang memberi kepadanya
selambat-lambatnya enam puluh hari untuk mencabut pernyataan bidahnya sebelum deklarasi
ekskomunikasi diterbitkan: “Bagi saya, hal ini sudah mantap adanya: saya membenci baik
dukungan maupun murka Roma; saya tidak ingin berdamai dengannya ataupun bersekutu
dengannya. Biarkan ia mengutuk dan membakar buku-buku saya; saya, sebagai
balasannya, kecuali jika saya tidak bisa menemukan api, akan mengutuk dan membakar
secara publik semua hukum Kepausan, yang yaitu rawa bidah itu.’”14
Apakah kita harus percaya bahwa seorang pria yang mengatakan kutipan ini (lama sebelum ia dikutuk
secara resmi sebagai seorang bidah melalui sebuah deklarasi vonis) yaitu seorang Katolik atau dapat
dianggap Katolik? Tiada hal yang lebih absurd dibandingkan gagasan semacam itu. Jelas, Martin Luther yaitu
seorang bidah terang-terangan sebelum deklarasi resmi itu, dan seorang Katolik mana pun yang
mengetahui kepercayaan-kepercayaannya telah dapat dan seharusnya telah mencelanya sebagai seorang
bidah terang-terangan sekalinya orang Katolik ini mengenali pandangan-pandangan Martin Luther
yang bukan main sesatnya.
Itulah mengapa, sebelum pengadilan Luther, Kardinal Cajetan menghubungi Elektor Frederick, penguasa
dan pelindung Luther, memohonnya untuk tidak ‘menyebabkan aib kepada nama baik para nenek
moyangnya’ dengan mendukung seorang bidah. ’15
Prinsip yang sama diterapkan kepada seorang bidah, seperti John Kerry, pendukung aborsi yang
terkenal. Hampir semua orang yang mengaku diri Katolik yang jalan pikirannya konservatif akan dengan
segera setuju bahwa John Kerry yaitu seorang bidah dan bukan seorang Katolik, sebab ia bersikeras
menolak ajaran Katolik terhadap aborsi. namun mereka membuat “penghakiman” ini berdasar
diri mereka sendiri, sebab tidak satu pun deklarasi vonis pernah dikeluarkan untuk John Kerry.
Maka mereka membuktikan poin bahwa sebuah deklarasi tidak diperlukan untuk mengutuk seorang
bidah. Kebanyakan bidah di dalam sejarah Gereja, dan hampir semua bidah di dunia masa kini, telah dan
harus dianggap bidah tanpa deklarasi apa pun sewaktu bidah mereka menjadi nyata.
Sewaktu bidah menjadi nyata dan tegar, seperti di dalam kasus Luther atau Benediktus XVI (yang berkata
bahwa kita tidak boleh mengonversikan orang-orang non-Katolik dan yang berpartisipasi secara aktif di
dalam ibadat Sinagoga), orang-orang Katolik bukan hanya dapat mencelanya sebagai non-Katolik tanpa
sebuah penghakiman, namun mereka harus melakukannya. Itulah persisnya mengapa St. Robertus
Bellarminus, Doktor Gereja, saat menjawab pertanyaan yang persis ini, mengatakan dengan jelas bahwa
383
sang bidah terang-terangan itu digulingkan dan harus dihindari sebagai seorang non-Katolik tanpa
otoritas sebelum ‘ekskomunikasi ataupun vonis yuridis’ apa pun. Di dalam konteks ini, St. Robertus
memakai kata ‘ekskomunikasi’ untuk merujuk kepada hukuman ferendae setentiae (deklarasi resmi
oleh Sri Paus ataupun hakim).
St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, II, 30, berbicara tentang seorang klaiman
Kepausan:
“sebab , pertama-tama, argumen-argumen dari otoritas dan akal budi membuktikan bahwa
sang bidah terang-terangan ini secara ‘ipso facto’ digulingkan. Argumen dari otoritas
berasal dari St. Paulus (Titus 3:10), yang memerintahkan untuk menghindari sang bidah sesudah
dua peringatan, yaitu, sesudah sang bidah terlihat tegar secara terang-terangan – yang berarti
sebelum ekskomunikasi ataupun vonis yuridis apa pun. Dan inilah yang dituliskan oleh St.
Hieronimus, yang menambahkan bahwa para pendosa lainnya diasingkan dari Gereja melalui
vonis ekskomunikasi, namun para bidah mengasingkan diri mereka sendiri dan memisahkan diri
mereka sendiri melalui tindakan mereka sendiri dari tubuh Kristus.”
Izinkan kami mengulangi hal ini: YANG BERARTI SEBELUM EKSKOMUNIKASI ATAUPUN VONIS YURIDIS
APA PUN! Maka, kita dapat melihat bahwa para non-sedevakantis, dengan berargumentasi bahwa para
Katolik tidak dapat mencela para bidah terang-terangan seperti Benediktus XVI sebab suatu pengadilan
resmi belum terjadi, sama sekali salah. Kesimpulan mereka mengolok-olok kesatuan Iman di dalam
Gereja. Agar kita tidak lupa, ada suatu kesatuan Iman di dalam Gereja Katolik (yang satu, kudus,
Katolik, dan apostolik).
Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#22):
“Oleh sebab di dalam komunitas Kristiani sejati hanya ada satu Tubuh, satu Roh, satu
Tuhan, dan satu Pembaptisan, hanyalah mungkin ada satu iman. Dan oleh sebab itu jika
seorang manusia menolak untuk mendengar Gereja, biarkan ia dianggap – seperti yang
diperintahkan oleh Tuhan – sebagai seorang kafir dan pemungut cukai. Oleh sebab itu, mereka
yang terbagi-bagi di dalam iman atau pemerintahan tidak dapat hidup di dalam kesatuan
Tubuh itu, tidak pun mereka dapat menghayati hidup Roh Ilahinya yang esa.”16
Menurut kesimpulan para non-sedevakantis, orang-orang Katolik harus mengakui persekutuan dengan
seorang manusia yang secara terang-terangan mengaku bahwa ia tidak ingin bersekutu dengan Gereja
Katolik, dan berpegang bahwa seluruh hukum Kepausan yaitu rawa bidah; atau seseorang pro-aborsi
yang tegar, hanya sebab tiada deklarasi resmi yang dibuat terhadap orang ini . Untuk menyatakan
bahwa orang-orang Katolik harus bersekutu dengan seorang bidah terang-terangan sebab suatu
penghakiman yang tuntas belum dibuat terhadapnya yaitu hal yang bertentangan dengan ajaran
Katolik, Tradisi Katolik dan pengertian Katolik.
St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, II, 30:
“...sebab manusia tidak diwajibkan untuk, ataupun dapat membaca hati; namun SEWAKTU
MEREKA MELIHAT BAHWA SESEORANG yaitu SEORANG BIDAH LEWAT PERILAKU
EKSTERNALNYA, MEREKA MENGHAKIMINYA SEBAGAI BIDAH SECARA MURNI DAN
SEDERHANA, DAN MENGUTUKNYA SEBAGAI BIDAH.”
Penolakan 4): Bagaimana dengan bidah material? Tidakkah mungkin bahwa para
Paus Vatikan II hanyalah bidah material?
384
Jawaban: Seorang bidah “material” yaitu seorang Katolik yang melakukan kesalahan di dalam itikad
baik tentang suatu masalah dogmatis. Tidak diragukan bahwa para Anti-Paus Vatikan II sungguh yaitu
bidah. Mereka tidak mungkin yaitu bidah material (orang-orang Katolik yang melakukan kesalahan
dalam itikad baik) sebab berbagai alasan, terutama 1) mereka tidak berpegang kepada misteri-misteri
Iman yang esensial 2) mereka menolak dogma-dogma yang jelas mereka ketahui secara penuh.
“Bidah material” yaitu sebuah istilah yang digun











