Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 15. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 15. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 15

 


aksi 

di beberapa negara kepada beberapa kata-kata di dalam sambutan saya di Universitas 

Regensburg, yang dianggap menyinggung para Muslim. Hal-hal ini  sesungguhnya yaitu  


355 

 

kutipan dari sebuah naskah abad pertengahan yang sama sekali tidak mengungkapkan 

pendapat pribadi saya.”149 

Hal ini sangat, amat menarik di berbagai tingkat. 

Pertama, ini yaitu  BUKTI MUTLAK BAHWA BENEDIKTUS XVI yaitu  SEORANG PEMBOHONG DAN 

SEORANG PENIPU. Hal ini membuktikan bahwa ia yaitu  seorang pembohong sebab  kita telah melihat 

bahwa Benediktus XVI jelas-jelas mendukung kutipan sang raja di dalam pidatonya pada tanggal 12 

September. Hal ini  tidak dapat dipungkiri. namun  sekarang ia berkata bahwa pernyataan dari 

sang raja sama sekali tidak mengungkapkan pendapat pribadinya, yang sama sekali bertentangan 

dengan pidato pada tanggal 12 September. Maka, tidak peduli bagaimana anda memandangnya, 

Benediktus XVI tertangkap basah berbohong besar. 

Kedua, di samping MEMBUKTIKAN bahwa Benediktus XVI yaitu  pembohong publik dan seorang 

penipu, pernyataannya bahwa kutipan dari sang raja sama sekali tidak mengungkapkan pendapat 

pribadinya membuktikan bahwa ia murtad. sebab  dalam menghadapi reaksi kepada pidatonya, ia 

mempunyai kesempatan yang besar untuk menegaskan posisinya yang nyata bahwa Islam itu jahat. Ia 

diberikan suatu kesempatan besar di dalam sebuah kontroversi yang kacau ini  untuk meyakinkan 

orang-orang bahwa posisi pidatonya terbukti benar oleh reaksi jahat orang-orang Muslim dan keinginan 

untuk membunuh; namun  tidak... ia malah meninggalkan pernyataan melawan Islam. Ia lalu 

melanjutkannya dengan masuk Islam lewat doa menghadap Mekkah di dalam sebuah mesjid dengan 

seorang mufti pada tanggal 30 November 2006. 

Maka, apa yang pada awalnya memang diniatkan oleh Iblis sebagai rencana liciknya, lewat Anti-Pausnya, 

Benediktus XVI, untuk membuat sebuah pernyataan konservatif yang akan menipu para ‘tradisionalis’ 

tertentu, tersingkapkan sewaktu Allah membiarkan rencana ini  menghancurkan dirinya sendiri 

sesudah  reaksi para Muslim menjadi sangat tidak stabil sampai Benediktus XVI harus meminta maaf dan 

mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya – dan yang oleh sebab  itu menghancurkan 

kredibilitasnya dengan siapa pun yang memiliki mata untuk melihat betapa ia yaitu  seorang 

pembohong yang terbukti jelas. 

Maka, jangan tertipu jika sang bidah terang-terangan dan pembohong besar, Anti-Paus Benediktus XVI, 

berkata atau berbuat sesuatu yang lain yang konservatif dengan tujuan menipu para tradisionalis. 

Janganlah tertipu jika Benediktus XVI memberi  indult universal untuk mengadakan Misa 

Latin pada masa di mana kebanyakan imam tidak valid dan harus menerima kemurtadan Vatikan 

II untuk dapat mengambil manfaatnya. Iblis akan menyerahkan semua ini selama seseorang 

menerima agama baru Benediktus XVI atau menerima Benediktus XVI beserta para Uskupnya 

yang murtad sebagai Katolik, sembari mereka mengajarkan bahwa Yesus Kristus dan Iman 

Katolik sama sekali tidak berarti apa-apa. Janganlah tertipu jika ia mencoba memanggil para 

kelompok yang cenderung tradisional untuk mengurung mereka, atau membawa mereka 

kembali di dalam sekte Vatikan II. Hal ini  tidak akan mengubah fakta bahwa ia yaitu  seorang 

bidah terang-terangan yang memimpin sebuah sekte non-Katolik. 

Ini semua yaitu  bagian dari tipuan zaman terakhir yang telah diperkirakan di dalam nubuat Katolik. 

Bunda Maria di La Salette, Prancis, 19 September 1846:  

“Roma akan kehilangan Iman dan menjadi takhta sang Antikristus... Gereja akan berada 

dalam gerhana.” 


356 

 

Nubuat La Salette ini bertepatan dengan nubuat-nubuat di Kitab Suci (Wahyu 17 dan 18) bahwa kota di 

atas tujuh gunung (Roma) akan menjadi seorang pelacur (sebuah Gereja palsu), seperti yang akan kami 

bahas lebih lanjut. Sang pelacur besar yang dinubuatkan oleh Kitab Suci bukanlah Gereja Katolik; ia 

yaitu  Gereja Katolik palsu (sekte Vatikan II), mempelai yang murtad dan palsu yang muncul pada akhir 

zaman untuk menipu para Katolik dan menjadi gerhana bagi Gereja sejati yang jumlahnya telah 

disusutkan hanya menjadi sisa-sisa saja. 

Kami telah menunjukkan bahwa pesan Bunda Maria di La Salette telah terpenuhi di depan mata kita 

sendiri: Benediktus XVI dan sekte Vatikan II mengajarkan bahwa para Yahudi bebas untuk sama sekali 

tidak percaya akan Yesus Kristus. Hal ini diterbitkan di dalam buku-buku Benediktus XVI dan Vatikan; 

hal ini membuktikan bahwa Roma telah menjadi takhta sang Antikristus. Sebuah urutan Anti-Paus yang 

memimpin dari Roma telah membuat Roma takhta sang Antikristus. 

Tuhan kita juga menunjukkan bahwa pada akhir zaman akan ada  ‘pembinasa yang keji’ ‘di tempat 

kudus’ (Mt. 24:15). Ia memberi tahu kita bahwa akan ada  sebuah penipuan yang begitu besar 

sehingga, jika hal ini  mungkin, bahkan para orang-orang pilihan akan tersesatkan pula (Mt. 24:24). 

Ia bahkan bertanya jika akan ada  iman di bumi: 

Lukas 18:8 – “Akan namun , jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” 

Penipuan ini akan terjadi di tengah-tengah struktur fisik Gereja – di dalam “Bait Allah” (2 Tes. 2:4) dan 

‘tempat kudus’ (Mt. 24:15) – dan akan terjadi sebab  orang-orang tidak memiliki kasih untuk kebenaran. 

Allah membiarkan hal ini terjadi sebagai hukuman tertinggi untuk dosa-dosa dunia. Kita sekarang sedang 

hidup di dalam kemurtadan dan penipuan. Orang-orang perlu menolak sama sekali Anti-Paus Benediktus 

XVI, para Anti-Paus Vatikan II yang lain serta agama Vatikan II baru ini. 

Benediktus XVI yaitu  salah satu pria terjahat di dalam sejarah manusia, sebab  ia mengaku-ngaku 

memiliki otoritas di atas Gereja Kristus, sembari mengajarkan bahwa seseorang bebas menolak Yesus 

Kristus. Ia mengaku-ngaku sebagai Paus sembari mengajarkan bahwa orang-orang bebas menolak 

Kepausan. Ia mengaku-ngaku sebagai pemimpin Iman Kristiani, sembari mengajarkan bahwa Tuhan kita 

Yesus Kristus bahkan tidak perlu dipandang sebagai sang Mesias. 

20b. 

Pada tanggal 13 Maret 2013, pria Argentina yang bernama Jorge 

Bergoglio terpilih menjadi Anti-Paus Fransiskus dari sekte Vatikan 

II. Berita-berita berikut yang mencatat tindakan-tindakan serta 

perkataan Fransiskus membuktikan bahwa ia yaitu  seorang 

bidah. Kami akan mengutip surat kabar resmi dari Vatikan – 

L’Osservatore Romano – dan kedua buku dari Fransiskus, yang 

mendokumentasikan kepercayaannya di dalam berbagai hal: Je 

crois en l’homme, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Saya Percaya 

Akan Manusia, Percakapan dengan Jorge Bergoglio} dan Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di 

dalam Surga}. 

tentang Orang-orang Yahudi 

Orang-orang Yahudi menolak bahwa Yesus Kristus yaitu  Allah. namun  Yesus Kristus telah berkata di 

dalam Yohanes 8:24: 

“...sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” 

Gereja Katolik mengajarkan secara infalibel bahwa anda harus percaya akan Yesus Kristus dan 

memegang iman Katolik agar dapat memperoleh keselamatan. Gereja mengajarkan bahwa yaitu  sebuah 

dosa berat untuk mempraktikkan agama Yahudi. namun  Fransiskus menyetujui agama sesat ini  dan 

berdoa di dalam sinagoga-sinagoga Yahudi. 

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 178: 

“Baru-baru ini, saya mengambil bagian di dalam perayaan dalam sebuah sinagoga. Saya 

berdoa banyak, dan dalam doa saya, saya mendengar kalimat dari bacaan-bacaan Kebijaksanaan 

yang saya telah lupakan sebelumnya: ‘Tuhan, buatlah aku tetap diam walaupun aku diolok-olok.’ 

Bacaan ini memberi saya kedamaian serta 

sukacita yang besar.”1 

Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas 

Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 192: 

“Gereja mengakui secara resmi bahwa orang-

orang dari Israel tetap merupakan ahli waris 

dari janji-janji [sebagai orang-orang terpilih]. 

Tidak suatu waktu pun kita berkata: ‘Mereka 

telah kehilangan warisan mereka, sekarang 

kitalah orang-orang terpilih ini .’ Ini 

yaitu  pengakuan akan orang-orang Israel.”2 

Hal ini jelas-jelas berarti bahwa Fransiskus mendukung bahwa orang-orang yang menolak Yesus Kristus 

merupakan orang-orang terpilih di mata Allah. Hal ini yaitu  suatu penistaan melawan Allah. 

Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 51: 

“ada  pula suatu perantaraan di dalam pelayanan oleh para rabbi atau dari imam yang 

berdoa untuk kesehatan orang-orang lain, dan hal itu pun manjur. Untuk saya sendiri, mengenai 


364 

 

hal kesembuhan, hal yang memberi kredibilitas bahwa seseorang mengikuti hukum Allah yaitu  

kesederhanaan, kerendahan hati, dan tiadanya kesombongan.”3 

Maka Fransiskus percaya bahwa para rabbi Yahudi memiliki pelayanan sebagai perantara sejati dan 

rohani menurut Hukum Allah. 

Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 222: (berbicara 

tentang rabbi Yahudi Skorka, Fransiskus berbicara kepadaya): 

“Saya pun tidak lupa bahwa anda telah mengundang saya dua kali untuk berdoa dan berbicara di 

dalam sinagoga anda. Dan saya sendiri pun mengundang anda untuk berbicara akan nilai-

nilai kepada seminari-seminari kami.”4 

Di dalam katedral di Buenos Aires, di Argentina, pada tanggal 15 April 1998, Fransiskus mengadakan 

sebuah perayaan antaragama untuk memberi penghormatan kepada para orang Yahudi yang telah 

meninggal. Pada acara ini , Fransiskus berkata kepada para Yahudi: “Kita semua bersaudara, sebab  

kita semua memiliki meterai Allah di dalam hati kita.”5 Meterai Allah yaitu  suatu istilah yang berarti 

‘Pembaptisan’, yang ditolak oleh para Yahudi. 

Bulan September 2004, Fransiskus mengambil bagian di 

dalam perayaan Yahudi di dalam sebuah sinagoga.6 

Pada tanggal 9 November 2005, Fransiskus menghadiri 

sebuah perayaan lain di dalam sebuah basilika untuk 

memberi penghormatan kepada para Yahudi yang telah 

meninggal. Di dalamnya, Fransiskus menyalakan lilin 

sebagai penghormatan untuk mereka. 

Di tahun 2007, Fransiskus merayakan Rosh Hashana 

dalam sebuah sinagoga di Argentina. Pada 

kunjungannya, Fransiskus berkata kepada Kongregasi 

Yahudi bahwa ia telah mengunjungi sinagoga ini  untuk menelaah hatinya, ‘seperti seorang beriman, 

seperti kalian semua, kakak-kakakku’.7 

Pada tanggal 7 Juli 2008, Fransiskus memberi restu kepada buku-buku rabbi Sergio Bergman. Fransiskus 

memberi  kepadanya suatu titel ‘orang beriman’, dan berkata bahwa “karyanya yaitu  karya seorang 

rabbi, yang memandu kita sebagai seorang master.” 

Pada tanggal 7 Juli 2010, Fransiskus mengunjungi pusat agama Yahudi di Argentina; ia menyebut para 

Yahudi ‘kakak-kakak kita’, dan ‘orang-orang yang terpilih oleh Allah’. Ia juga berdoa di depan sebuah 

papan yang menamakan para Yahudi yang telah meninggal untuk memberi  mereka hormat.8 

Pada tanggal 11 Oktober 2012, di dalam sebuah 

‘universitas Katolik’, Fransiskus memberi  sebuah 

diploma penghormatan kepada rabbi Abraham 

Skorka – yang dikenal sebagai pendukung 

homoseksualitas. sesudah  menerima diplomanya, 

sang rabbi berkata, “Kami menunggu sang Mesias. 

namun  agar ia datang, kami harus mempersiapkan 

jalannya.” Maka, sang rabbi telah terang-terangan 

Abraham Skorka dan Fransiskus 


365 

 

menolak sang Mesias Yesus Kristus – di depan muka Fransiskus! 

Pada tanggal 8 November 2012, Fransiskus mengambil bagian secara aktif di dalam suatu perayaan 

Yahudi di dalam katedral di Buenos Aires, di Argentina. Di sana ia yaitu  sang pembicara utama. 

Perayaan Yahudi ini  sekali lagi didedikasikan untuk menghormati para Yahudi yang telah 

meninggal. Lilin terakhir untuk penghormatan orang-orang Yahudi yang telah meninggal ini  telah 

dinyalakan bersama-sama oleh seorang rabbi dan Fransiskus. Di bawah panduan Fransiskus, perayaan-

perayaan penghormatan para Yahudi yang telah meninggal telah diselenggarakan di dalam ‘gereja 

Katolik’ di Argentina, setiap tahun sejak tahun 1998.9 

Untuk mengambil bagian di dalam sebuah upacara keagamaan Yahudi untuk orang-orang Yahudi yang 

telah meninggal yaitu  sebuah kemurtadan total dari Iman Katolik. 

Tanggal 14 Desember 2012, hanya beberapa bulan sebelum pemilihannya menjadi seorang Anti-Paus, 

Fransiskus merayakan Hanukkah bersama para Yahudi di Argentina; Fransiskus bahkan juga 

menyalakan sebuah Menorah. 

Pada tanggal 13 Maret 2013, beberapa 

jam sesudah  dipilihnya Fransiskus 

sebagai seorang Anti-Paus, ia 

mengirimkan salam kepada rabbi dari 

Roma, yang menolak Kristus.10 

Pada tanggal 25 Maret 2013, Fransiskus 

mengirimkan sebuah telegram untuk 

Paskah kepada rabbi utama dari Roma.11 

Fransiskus berkata bahwa ia 

menghormati para orang Yahudi dan 

meminta mereka untuk mendoakannya. 

Ia juga meminta Allah untuk 

‘menyelamatkan mereka dari semua 

kejahatan’, dan walaupun sang rabbi menolak Yesus, Ia yang Esa, yang dapat menyelamatkan kita dari 

kejahatan. 

Di dalam percakapannya dengan anggota Komunitas Yahudi internasional pada tanggal 24 Juni 2013, 

Fransiskus memberi  kepada para Yahudi titel ‘umat beriman’; dan meminta mereka mendoakannya. 

Rabbi Skorka yaitu  salah satu tamu yang diundang Fransiskus ke Vatikan selama beberapa hari pada 

akhir September 2013. Pada sebuah interviu dengan surat kabar La Stampa, Skorka berbicara tentang 

kunjungannya dengan Fransiskus.12 Skorka berkata bahwa Fransiskus meyakinkannya bahwa ia akan 

diberikan makanan yang kosher {‘halal’ untuk orang Yahudi} dan telah berdoa dengannya. 

Rabbi Skorka: “Saya makan setiap hari bersamanya, pada waktu sarapan, waktu makan siang, dan waktu 

makan malam. Ia mengurusi saya dan mengontrol segalanya yang berkaitan dengan makanan saya untuk 

memastikan bahwa semuanya kosher dan sesuai dengan tradisi Yahudi saya. Ia menemani kami semua di 

meja – para sekretarisnya dan seorang uskup, dan mereka semua berkata ‘Amin’ pada akhirnya... Kami 

berharap untuk dapat berlibur bersama ke Israel dalam waktu dekat ini, dan sang Paus sedang 

mengurusi hal ini ... Saya telah berbicara kepadanya [kepada Fransiskus] tentang evangelisasi dan ia 

berkata dengan tegas bahwa Gereja Katolik tidak boleh berusaha melakukan proselitisme.” 


366 

 

Proselitisme yaitu  upaya untuk mencoba mengonversikan seseorang. Fransiskus menegaskan bahwa 

orang-orang tidak boleh mencoba mengonversikan orang-orang non-Katolik kepada iman Katolik. 

Fransiskus, Pesan video untuk perayaan St. Cajetan ; 7 Agustus 2013:  

“Kamu akan meyakinkan orang lain untuk menjadi Katolik? Tidak, tidak, tidak!”13 

Ajaran-ajaran sesat Fransiskus tentang Islam 

Pada tanggal 2 Agustus 2005, Fransiskus berdoa di depan jenazah Direktur Muslim dari Pusat Islam di 

Argentina. Jenazahnya menghadap ke Timur, kepada Mekkah. Seorang imam muslim membaca ayat-ayat 

Al-Quran dan meminta berkat dari Muhammad. Ini yaitu  yang dikatakan Fransiskus:  

“Lewat doa saya, saya meminta kepada sang Pencipta, yang Maharahim, untuk memberi  

anugerah untuk semua kebaikan yang ia telah lakukan.”14 

St. Thomas Aquinas mengajarkan: “jika seseorang...menyembah di kubur Muhammad, ia akan 

dianggap seseorang yang murtad.”15 

Tindakan-tindakan Fransiskus yang menghormati jenazah seorang kepala agama Islam sama dengan 

menghormati kuburan Muhammad. 

Pada tanggal 29 Juni 2010, Fransiskus mengunjungi Pusat Islam dan berkata: “Saya telah datang sebagai 

saudara untuk mempererat hubungan-hubungan.”16 

Di dalam homilinya pada tanggal 8 Juli 2013, Fransiskus berbicara kepada para Muslim, “Saya berharap 

untuk memberi  perhatian saya kepada para imigran Muslim yang memulai, pada sore hari ini, puasa 

Ramadan, dengan harapan agar buah-buah rohaninya berlimpah.”17 

Di dalam pesannya pada tanggal 10 Juli 2013 kepada para Muslim pada akhir Ramadan, Fransiskus 

berkata: 

“...saya sendiri telah memutuskan untuk menandatangani Pesan tradisional ini dan untuk 

mengirimkan kepada kalian, teman-teman terkasih, sebagai ungkapan rasa hormat dan 

pertemanan kepada semua umat Muslim, terutama kepada para pemimpin agama 

mereka... antara umat Kristiani dan Muslim, kita harus menghormati agama satu sama 

lain, ajaran-ajarannya, simbol-simbolnya, dan nilai-nilainya. Itulah mengapa kita memiliki 

rasa hormat yang begitu besar untuk para pemimipin agama serta tempat ibadahnya... kita 

harus mendorong orang-orang muda kita untuk berpikir serta berbicara dengan sopan 

tentang agama-agama lain dan mereka yang mempraktikkannya serta tidak mencemooh 

atau merendahkan kepercayaan dan ritus-ritus mereka... Selamat hari raya kepada kalian 

semua!”18 

Menghormati sebuah agama sesat, ajaran-ajarannya, atau pengikut-pengikutnya, seperti yang dilakukan 

Fransiskus, yaitu  hal yang dikecam oleh ajaran Katolik. Ini yaitu  kemurtadan dari Iman Katolik. 

tentang agama-agama sesat lain 

Pada halaman 237 di dalam buku Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, 

Fransiskus menulis tentang sistem dan gerakan kepercayaan-kepercayaan baru: 

  


367 

 

“Saya terlebih lagi memiliki rasa hormat yang paling besar kepada ajaran-ajaran rohani 

yang baru, namun  ajaran-ajaran ini  haruslah autentik dan dapat bertahan tempaan zaman, 

hal yang membuktikan apakah pesannya yaitu  dibuat-buat atau memang asli. Bukti terbaik 

untuk keaslian rohani, yaitu  ia bertahan dalam arus zaman.”19 

Maka menurut Fransiskus yang murtad, agama sesat Hindu merupakan sebuah agama yang murni, asli 

sebab  kepercayaannya telah ada selama 3.000 

tahun dan bertahan dalam arus zaman... 

Fransiskus, Percakapan; 18 Mei 2013: 

“...mempromosikan kebebasan beragama 

untuk semua orang, untuk semua orang! 

Semua lelaki dan perempuan haruslah 

bebas dalam mengakui agamanya, apa 

pun itu.”20 

Gereja Katolik mengecam ide bahwa kebebasan 

beragama harus menjadi sebuah hak sipil 

universal. 

sesudah  serangan 11 September 2001 di Amerika 

Serikat, Fransiskus mengambil bagian di dalam 

sebuah pertemuan untuk doa antar para 

pemimpin agama-agama sesat, di bawah sebuah 

obelisk di Argentina.21 Obelisk yaitu  sebuah lingga {simbol kelamin laki-laki} yang merupakan simbol 

masonik. 

Di dalam ensikliknya yang berjudul Mortalium Animos, bertanggal 6 Januari 1928, Paus Pius XI 

mengecam bahwa semua partisipasi orang Katolik dalam perkumpulan antaragama yaitu  suatu 

kemurtadan. Ia mengajarkan bahwa mereka yang mendukung aktivitas ini  telah meninggalkan 

agama Katolik. Ia berkata pula: 

“Maka, Saudara-Saudara yang Terhormat, jelaslah mengapa Takhta Apostolik ini tidak pernah 

mengizinkan umat-umatnya untuk mengambil bagian di dalam perkumpulan-perkumpulan 

orang-orang non-Katolik...”22 

namun  seperti yang kita telah lihat, Fransiskus terlibat di dalam berbagai perkumpulan doa antaragama. 

Pada tanggal 23 Januari 2002, Fransiskus mengundang berbagai pemimpin agama sesat untuk berdoa di 

dalam katedral Buenos Aires, di Argentina. Perkumpulan ini  mengikutsertakan pemimpin 

Hinduisme, Buddhisme, Islam, dan Yahudi.23 Fransiskus telah mengumumkan di dalam pertemuan 

ini  bahwa “setiap kelompok agama akan berdoa menurut imannya masing-masing, di dalam bahasa 

dan tradisinya, serta dengan rasa hormat kepada satu sama lain yang paling besar.” Ini benar-benar 

sebuah kemurtadan! 

Pada tanggal 5 Mei 2006, Fransiskus berdoa bersama anggota-anggota dari Parlemen agama-agama 

sedunia. Dan pada tahun 2011, Fransiskus melangsungkan pertemuan antaragamanya sendiri.24 

Pada tanggal 20 Maret 2013, Fransiskus bertemu dengan berbagai pemimpin agama sesat, termasuk para 

skismatis, Yahudi, dan Muslim. Fransiskus berkata: “Pagi hari, kemarin, pada saat Misa Kudus, saya 


368 

 

merasakan secara rohani kehadiran komunitas-komunitas anda lewat para pengikut anda.” Ia 

melanjutkannya dengan memuji mereka.25 

Seperti yang kami baru saja tunjukkan, Fransiskus menolak mentah-mentah ajaran infalibel dari Gereja 

Katolik bahwa anggota-anggota agama sesat harus menerima Iman Katolik untuk dapat diselamatkan. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1439, ex cathedra: 

“Siapa pun yang hendak diselamatkan harus pertama-tama memegang iman Katolik, sebab  siapa 

pun yang tidak memegangnya secara penuh dan utuh, tanpa keraguan sedikit pun, ia akan binasa 

untuk selamanya.”26 

Fransiskus menghormati para ateis 

Pada halaman 27-28 dari bukunya Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, 

Fransiskus berkata bahwa ia menghormati para ateis dan tidak mencoba untuk mengonversikan mereka: 

“Saya tidak membayangkan bahwa hubungan saya dengan seorang ateis yaitu  untuk 

mengonversikannya; saya menghormatinya... saya tidak akan pernah mengatakan kepadanya 

bahwa hidupnya telah terkutuk sebab  saya merasa bahwa saya tidak memiliki hak untuk 

menghakimi kejujuran orang ini ... semua orang yaitu  citra Allah, tidak peduli apakah ia 

beriman atau tidak. Cukup dengan memberi  mereka berbagai kebajikan dan nilai-nilai.”27 

Seorang ateis mewawancarai Fransiskus untuk surat kabar Italia La Repubblica. Wawancara ini  

telah diterbitkan pada tanggal 1 Oktober 2013.28 Fransiskus telah terang-terangan berkata kepada 

seorang ateis bahwa ia tidak memiliki niat sedikit pun untuk mencoba mengonversikannya. Fransiskus 

menolak empat kali sesudah nya upaya proselitisme {untuk mengonversikan seseorang} dalam 

wawancara ini . Fransiskus telah berkata: “Proselitisme yaitu  sebuah kebohongan yang khidmat, 

hal ini  sama sekali tidak memiliki arti.” Fransiskus melanjutkannya dengan berkata bahwa setiap 

orang memiliki ide masing-masing tentang yang baik dan yang buruk. Ia mendorong setiap orang untuk 

mengikuti kebaikan menurut ide mereka sendiri. Ini yaitu  sebuah kemurtadan yang paling memalukan. 

Di dalam suratnya yang bertanggal 11 September 2013 kepada surat kabar La Repubblica, Fransiskus 

mengajarkan bahwa orang-orang yang tidak percaya akan Allah dapat diselamatkan.29 Ini yaitu  sebuah 

kemurtadan total dari iman Katolik. 

Fransiskus menghormati orang-orang yang bunuh diri 

Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 101: 

“Pada suatu masa, orang-orang yang membunuh dirinya sendiri tidak memiliki hak atas upacara 

pemakaman sebab  ia berhenti untuk sampai kepada tujuannya, ia telah menolak kepalanya 

sendiri. namun  saya memiliki rasa hormat untuk mereka yang bunuh diri, mereka yaitu  individu 

yang tidak tahu bagaimana mengatasi pertentangan-pertentangan mereka sendiri. Saya tidak 

menolak mereka.”30 

Ajaran Fransiskus tentang manusia 

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 190: 

“Bagi saya, harapan terletak di dalam umat manusia, di dalam apa yang ia miliki di dalam hatinya. 

Saya percaya akan manusia. Saya tidak berkata apakah ia baik atau jahat, namun  saya percaya 

kepadanya.”31 


369 

 

Ajaran sesat Fransiskus tentang dosa: 

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 109: 

“Saya memiliki kebiasaan untuk berkata seperti yang digarisbawahi Santo Paulus, bahwa 

keadaan kita sebagai para pendosa yaitu  kemuliaan kita satu-satunya.”32 

St. Paulus tidak pernah berkata demikian. Ini yaitu  sebuah skandal. Fransiskus lalu berkata dalam 

beberapa paragraf selanjutnya: “sebab  itu, di mata saya, dosa bukanlah sebuah noda yang harus kita 

singkirkan.” 

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 116: 

“...hal ini  berkenaan dengan masalah dosa. Sejak beberapa tahun, Argentina berada dalam 

keadaan dosa sebab  ia tidak memperhatikan mereka yang tidak memiliki roti ataupun 

pekerjaan.”33 

Perhatikan bahwa satu-satunya dosa yang dikatakan oleh Fransiskus yaitu  bahwa Argentina tidak 

memberi  kepada orang-orang makanan atau pekerjaan. Ia tidak berkata sedikit pun tentang dosa 

yang melawan Allah atau yang melawan Iman Allah. 

Fransiskus, Wawancara dengan surat kabar La Repubblica; 1 Oktober 2013: 

“Kejahatan yang paling besar di dunia di masa ini yaitu  pengangguran orang-orang muda dan 

kesepian orang-orang tua... Itulah yang bagi saya masalah satu-satunya yang paling urjen yang 

dihadapi Gereja.”34 

Fransiskus tentang komunisme 

Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 138: 

“Di sekolah saya, kami memiliki seorang profesor komunis. Kami memiliki hubungan yang sangat 

baik dengannya, ia sama sekali tidak mempertanyakan akan hal apa pun dan hal ini  

bermanfaat untuk kami. namun  ia tidak pernah berbohong kepada kami...”35 

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 47-48: 

“Memang benar bahwa waktu itu saya yaitu , seperti semua keluarga saya, seorang Katolik yang 

beriman. namun  pikiran saya tidak hanya berpacu di dalam masalah rohani... Saya membaca 

Nuestra Palabra, Propositos, sebuah terbitan Partai Komunis, dan saya sangat menyukai artikel-

artikel dari dramaturgi Leonidas Barletta tentang dunia budaya. Pustaka ini  berkontribusi 

kepada kemampuan politik saya, namun  saya tidak pernah menjadi komunis.”36 

Perhatikan bahwa dunia budaya menurut Barletta yaitu  dunia komunis merah, sebab  Barletta yaitu  

bagian dari kelompok yang mendukung ide-ide komunis Bolshevik, yang menginginkan sebuah revolusi 

untuk menanamkan ide komunis.37 Dan Fransiskus berkata bahwa ia menyukai artikel-artikel pria 

komunis ini . 

Fransiskus tentang hukuman mati 

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 94: 

“Masa kini, contohnya. Hati nurani khalayak umum semakin bergerak untuk menentang 

ketidakmoralan hukuman mati.”38 

Pernyataan ini yaitu  sangat sesat. Gereja Katolik selalu mendukung legitimitas hukuman mati untuk 

kejahatan-kejahatan yang paling berat. 


370 

 

Fransiskus mempromosikan pendidikan seksual 

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 101: 

“Gereja tidak menentang pendidikan seksual. Secara pribadi, saya berpikir bahwa hal ini  

harus menemani evolusi sang anak, dengan penyesuaian-penyesuaian di setiap tahapan. 

Sebenarnya, Gereja telah selalu memberi  pendidikan seksual, walaupun benar bahwa tidak 

selalu dilakukan dengan cara yang terbaik.”39 

Paus Pius XI; 31 Desember 1931: 

“Banyak orang mendukung dan mempromosikan dengan tidak masuk akal dan berbahaya, 

sebuah bentuk pendidikan yang disebut secara memalukan ‘seksual’.”40 

Francis Mendukung para “Imam” untuk Meninggalkan “Imamat” Jika Mereka Jatuh Cinta  

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, {Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 107: 

“Memang benar, kadangkala seorang imam benar-benar jatuh cinta; suatu hal yang membuatnya 

merenungkan panggilannya untuk mengubah hidupnya. Ia akan mencari seorang uskup, dan 

berkata kepadanya: ‘Di sinilah hidup saya... Saya belum pernah berpikir sebelumnya bahwa saya 

suatu hari akan merasakan suatu perasaan yang sangat indah... Wanita itu, saya benar-benar 

mencintainya...’ Lalu ia meminta untuk keluar dari imamat. – Anda, bagaimana anda akan 

menanggapinya? – Fransiskus:... saya tidak akan meninggalkannya, saya akan mengikutinya 

sepanjang jalan, di dalam kehidupan rohaninya yang ia jalani. Jika ia yakin akan keputusannya, 

saya bahkan akan membantunya untuk menemukan sebuah pekerjaan... Saya akan menasihatinya 

agar ia tetap tinggal dirumahnya, selama kami meminta sebuah dispensasi, yaitu persetujuan dari 

Roma yang memperbolehkannya untuk menerima sakramen pernikahan.”41 

Maka Fransiskus akan membantu seorang pria untuk melanggar kaul kesucian kekalnya yang ia telah 

buat di depan Allah untuk meninggalkan imamat. 

Ajaran sesat Fransiskus tentang ‘pernikahan’ sesama jenis dan homoseksualitas 

Telah didokumentasikan dan dipastikan bahwa Fransiskus mendukung hubungan sipil resmi antara 

pasangan sesama jenis sewaktu ia berada di Argentina. Ia hanya menentang bahwa hal ini  disebut 

sebagai pernikahan.42 Ini yaitu  ajaran sesat. Hal ini berarti bahwa Fransiskus menyetujui perilaku 

seksual yang keji dan bejat, yang telah dikecam oleh Injil dan ajaran Katolik. Pandangannya tidak berbeda 

sama sekali dengan pandangan yang mendukung aborsi jika Negara tidak memberi  status spesial atau 

hak-hak tertentu, lewat penggunaan dana publik. Perhatikan pernyataan yang menarik berikut dari 

Fransiskus tentang ‘pernikahan’ sesama jenis dan para homoseksual. 

Fransiskus, Sur la terre comme au Ciel, {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 125-126: 

“Sewaktu Mauricio Macri, kepala pemerintahan kota autonom Buenos Aires memilih untuk tidak 

menggugat keputusan seorang jaksa yang dari awalnya memperbolehkan pernikahan [sesama 

jenis] ini , saya merasa bahwa saya harus mengungkapkan pendapat saya. Di situlah 

pertama kalinya di dalam delapan belas tahun di mana saya menjabat sebagai uskup bahwa saya 

merasa harus menjalankan kewajiban saya sebagai pegawai negeri. Jika anda menelaah 

pernyataan saya dulu, saya tidak pernah berbicara tentang para homoseksual ataupun memberi 

kesan yang buruk sedikit pun kepada mereka... Macri berkata bahwa hal ini  berkaitan 

dengan kepercayaannya; saya menghormati kepercayaannya, namun  seorang kepala 

pemerintahan tidak boleh membiarkan kepercayaan pribadinya campur tangan dengan hukum. 


371 

 

Saya tidak pernah berbicara buruk tentang para homoseksual, intervensi saya hanya 

menyangkut sebuah masalah legal.”43 

Fransiskus berkata bahwa ia menghormati mereka yang mendukung kekejian ‘pernikahan’ sesama jenis, 

dan ia berkata bahwa ia tidak pernah tidak menghormati orang-orang yang bejat dan para homoseksual! 

Fransiskus juga menyebutkan bagaimana ia telah 

memberi izin kepada presiden Argentina yang pro-

homoseksual – Nestor Kirchner (di foto kiri) – untuk 

memimpin sebuah perayaan peringatan ‘imam’ ‘Katolik’ 

dan para ‘seminari’ yang telah meninggal. 

Fransiskus, Conversations avec Jorge Bergoglio, 

{Percakapan dengan Jorge Bergoglio}, hal. 129: 

“Sewaktu ia [Kirchner] telah sampai, saya memintanya 

untuk membuka perayaan ini ...”44 

Sewaktu presiden ini  meninggal beberapa waktu 

lalu , Fransiskus langsung memberi  kepadanya 

sebuah ‘misa Requiem’. 45 Fransiskus juga mengizinkan para politikus pro-aborsi, pro-‘pernikahan’ 

sesama jenis, untuk menerima ‘komuni’ palsu pada saat ‘Misa’ instalasi.46 

Pada tanggal 19 Agustus 2013, Fransiskus diwawancarai oleh Antonio Spadero dari La Civiltà Cattolica. 

Pada saat wawancara ini, Fransiskus mengajarkan secara jelas bahwa para homoseksual yang aktif tidak 

dikecam ataupun ditolak oleh Allah.47 Gereja, berdasar  Injil, mengajarkan hal yang sama sekali 

berkebalikan. 

Ajaran sesat Fransiskus tentang para bidah dan skismatis 

Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, hal. 135: 

“Saya tidak setuju dengan pendidikan agama di sekolah yang mengecualikan pendidikan non-

Katolik.”48 

Di Argentina, Fransiskus menunjukkan kepada para ‘umat Katolik’ yang mencari pengusir roh jahat 

kepada seorang pengusir roh yang beragama Lutheran.48a 

Pada halaman 84 di dalam buku Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, 

Fransiskus mengutip apa yang dikatakan neneknya sewaktu ia masih muda: “...’mereka Protestan, 

namun  mereka pemberani’. Itulah kebijaksanaan dari sebuah agama sejati.”49 


372 

 

 

Pada tahun 2006, Fransiskus berlutut untuk menerima berkat dari para Protestan, pada suatu pertemuan 

ekumenis.50 Fransiskus melakukan hal yang sama segera sesudah  dipilih sebagai seorang Anti-Paus pada 

tanggal 13 Mei 2013. Bukannya memberkati orang-orang, Fransiskus meminta orang-orang untuk 

memberkatinya!51 Termasuk dari antaranya anggota dari berbagai agama non-Katolik. 

Pada tanggal 18 Maret 2013, Fransiskus menulis  kepada kepala sekte Anglikan yang baru. Ia 

memberi  kepada Justin Welby status ‘reverend’ walaupun Gereja Katolik – di bawah Paus Leo XIII 

telah menegaskan pada tanggal 13 September 1896 bahwa Ritus penahbisan Anglikan sama sekali tidak 

valid. 

Fransiskus berkata bahwa Welby memiliki sebuah ‘pelayanan 

penggembalaan’ dan menyebutnya sebagai ‘Uskup Agung 

Canterbury’, yang berarti bahwa ia percaya bahwa kepala dari 

sekte skismatis dan bidah Anglikan ini  yaitu  kepala 

yuridis sesungguhnya dari satu-satunya Gereja Canterbury di 

Inggris. Ia juga meminta kepada kepala bidah dan skismatis 

ini  untuk mendoakannya.52 

Di dalam percakapannya pada tanggal 14 Juni 2013 

dengan Welby yang skismatis, Fransiskus berkata bahwa 

ia menyambutnya “bukan sebagai orang asing ataupun 

tawanan; kalian yaitu  warga negara, bersama kami, 

yang suci, kalian berasal dari rumah Allah.”53  

Maka Fransiskus mengajarkan dengan bersemangat bahwa Welby, sang non-Katolik, yang disebut oleh 

Fransiskus ‘Yang Mulia’, merupakan bagian dari Gereja Kristus. Ini yaitu  salah satu bidah yang paling 

memalukan! Fransiskus lalu  berkata bahwa ia akan sangat ‘berterima kasih’ jika sang bidah 

skismatis ini  berdoa untuknya. Fransiskus lalu mengungkapkan ‘rasa hormatnya yang dalam’ untuk 

para Anglikan, dan bahwa di masa ini ada  sebuah penghargaan yang lebih baik untuk spiritualitas 

dan ‘tradisi liturgi’ Anglikan. 

Seperti yang diajarkan di dalam Vatikan II, Fransiskus berpendapat bahwa para Protestan dan para 

‘Ortodoks’ ada  di dalam Gereja Kristus, dan bahwa mereka tidak perlu berkonversi kepada iman 

Katolik untuk mendapat  keselamatan. Hal ini yaitu  sebuah ajaran sesat! 

Welby dan Fransiskus 


373 

 

Fransiskus, harapan kepada sang Ortodoks Skismatis yang 

memproklamasikan dirinya ‘Paus’ dari Aleksandria, Mesir; 10 

Mei 2013: 

“Yang Mulia, saya mendoakan anda agar seluruh umat yang 

dipercayakan kepada kuasa penggembalaan anda semakin 

beriman kepada panggilan Tuhan, saya berdoa untuk 

perlindungan dari kedua Rasul Petrus dan Markus sang 

penginjil...”54 

Fransiskus menyebut sang skismatis ini  ‘Yang Mulia’ dan 

berkata bahwa Allah memercayakan umat-Nya kepada seorang 

skismatis. Ia juga menyebutnya seorang ‘gembala’ yang berarti bahwa ia percaya bahwa pemimpin 

skismatis ini  yaitu  benar-benar seorang kepada yuridis dari satu-satunya Gereja Kristus yang 

sejati.  

Di dalam percakapannya pada tanggal 28 Juni 2013 dengan 

Patriark skismatis ‘Ortodoks’ Timur dari Konstantinopel, 

Fransiskus memohon kepadannya untuk berdoa untuknya, dan 

berkata, “Terakhir, saya meminta anda untuk berdoa untuk saya 

dan agar orang-orang mendoakan saya – saya sangat 

membutuhkannya.”55 

Fransiskus, Audiens; 19 Juni 2013: 

“Hari ini, sebelum keluar rumah saya, saya melewatkan empat 

puluh menit, kurang lebih setengah jam dengan seorang pendeta 

Evangelis dan kami berdoa bersama...”56 

Pada halaman 220 dari Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi Seperti di dalam Surga}, Fransiskus 

menyarankan agar orang-orang Kristen yang berbeda-beda agamanya ‘hidup bersama, dengan 

melakukan hal-hal bersama, dengan berdoa bersama... tanpa menghapuskan berbagai tradisi yang 

berbeda...’57 

Di sini Fransiskus mengedepankan bidah bahwa kita tidak boleh mencoba mengonversikan para non-

Katolik, namun  sebaliknya, berjalan bersama mereka, berdoa bersama mereka tanpa mereka perlu 

menanggalkan tradisi-tradisi sesat serta skismatis mereka. 

Fransiskus, berbicara tentang para ‘Ortodoks’ skismatis di dalam wawancara pada tanggal 19 

Agustus 2013, berkata: 

“Kita harus berjalan bersama-sama di dalam perbedaan: tidak ada  jalan lain untuk 

menyatukan kita. Itu yaitu  jalan Yesus.”58 

Maka menurut Fransiskus, para skismatis harus terus menolak ajaran Katolik, dan tidak perlu 

berkonversi. 

Paus Pius XI, Mortalium Animos: 

“ ... upaya memajukan persatuan orang-orang Kristiani sama sekali tidak diizinkan selain dengan 

cara mendukung pemulangan para pembangkang kepada Gereja Kristus yang satu dan sejati ....”  59 

  


374 

 

Fransiskus, Sang Revolusioner Liturgi 

Di sisi kanan, kita melihat Fransiskus menyelenggarakan ‘Misa’ modernis untuk para anak-anak bersama 

para penari liturgis perempuan.  

Fransiskus, Sur la terre comme au ciel {Di Atas Bumi 

Seperti di dalam Surga}, hal. 111: 

“Di dalam Katolisisme, contohnya, banyak wanita 

memimpin liturgi Sabda...”60 

 

 

Fransiskus 

tentunya telah 

membagikan komuni di tangan sepanjang hidupnya. 

Fransiskus tidak pernah mengadakan suatu Misa yang 

valid; bukan hanya sebab  ia mengadakan Misa Baru 

yang tidak valid, namun  juga sebab  ia ‘ditahbiskan’ pada 

tanggal 13 Desember 1969 di dalam penahbisan baru 

yang tidak valid. Seperti pendahulunya, Benediktus XVI, 

Fransiskus ‘ditahbiskan’ sebagai ‘Uskup’ di dalam ritus penahbisan yang tidak valid. Seorang Paus sejati 

yaitu  uskup Roma. Fransiskus bukanlah seorang uskup; itulah suatu alasan lain mengapa ia bukanlah 

Paus. 

Para Freemason mendukung Fransiskus 

Baru-baru ini Fransiskus dipuji oleh para Grand Master 

loji-loji Timur Agung dari Italia dan Argentina.61 Mereka 

terang-terangan mendukung pemilihan Fransiskus 

sebagai Anti-Paus yang baru. 

Di dalam foto Fransiskus ini,62 kita dapat melihat sebuah 

tanda yang menyerupai tanda Master dari cadar kedua 

di dalam Freemasonry. Bukanlah sebuah hal yang 

mengejutkan untuk melihat bahwa Fransiskus sendiri 

yaitu  seorang mason, sebab  memang kepercayaannya 

– yang terlihat jelas lewat kelakuan-kelakuan serta tindakan-tindakannya – yaitu  kepercayaan masonik. 

Ajaran utama dari Freemasonry yaitu  bahwa semua agama memimpin kepada Allah. 

Sebagai kesimpulan, Fransiskus percaya dengan tegar dan mengajarkan bidah-bidah yang sama yang 

dimajukan oleh para Anti-Paus Vatikan II. Fransiskus yaitu  seorang bidah total, dan seseorang yang 

murtad. 

Dogma Katolik mendefinisikan bahwa seorang bidah bukanlah anggota dari Gereja Katolik. Dari fakta ini, 

tidak salah lagi: Fransiskus bukanlah seorang Paus yang valid, namun  seorang Anti-Paus bidah non-

Katolik. 

  


21. Jawaban-Jawaban untuk Penolakan-

Penolakan 

 

Paus Vigilius, Konsili Konstantinopel II, 553: 

“ ... Kami mengingat apa yang telah dijanjikan tentang Gereja yang kudus dan Ia yang berkata 

bahwa pintu gerbang Neraka tidak akan berjaya melawannya, (Kami memahami pintu 

gerbang Neraka sebagai lidah-lidah yang mematikan dari para bidah) ....”1 

ada  banyak bantahan-bantahan melawan posisi sedevakantis – yaitu, posisi yang diuraikan di 

dalam buku ini yang menurutnya, Takhta St. Petrus kosong sebab  ‘Paus-paus’ sesudah  Vatikan II 

bukanlah Paus-Paus sejati, melainkan para Anti-Paus non-Katolik. Kami sekarang akan menjawab semua 

bantahan-bantahan terbesar melawan posisi ini. 

Penolakan 1): Pintu Gerbang Neraka tidak dapat berjaya melawan Gereja seperti 

yang dikatakan oleh Kristus (Matius 16). Ia berkata bahwa Ia akan menyertai 

Gereja-Nya sampai akhir zaman (Matius 28). Apa yang anda katakan berlawanan 

dengan janji-janji Kristus 

 

Jawaban: Tidak, indefektibilitas (janji bahwa Kristus akan selalu menyertai Gereja-Nya, dan bahwa pintu 

Gerbang Neraka tidak akan berjaya melawan Gereja) berarti bahwa Gereja akan, sampai akhir zaman, 

tetap pada dasarnya mempertahankan esensinya. Indefektibilitas Gereja mensyaratkan agar setidaknya 

sisa-sisa Gereja tetap ada sampai akhir zaman, dan bahwa seorang Paus sejati tidak akan pernah 

mengajarkan kesalahan secara otoritatif kepada seluruh Gereja. Indefektibilitas tidak memustahilkan 

Anti-Paus yang mengaku-ngaku diri sebagai Paus (seperti yang kita telah lihat berkali-kali di masa lalu, 

bahkan di Roma), atau sebuah sekte sesat yang mengurangi jumlah pengikut Gereja Katolik sejati 

sehingga menjadi suatu sisa pada akhir zaman. Itulah persisnya apa yang diperkirakan akan terjadi di 

akhir zaman dan apa yang terjadi pada krisis Arian. 

St. Atanasius: “Walaupun para umat Katolik yang setia kepada tradisi berkurang sehingga 

jumlah mereka hanya sekelumit saja, mereka itulah Gereja Yesus Kristus yang sejati.”2 

Di samping itu, harus dicatat bahwa Gereja telah mendefinisikan bahwa para bidah yaitu  pintu gerbang 

Neraka seperti yang disebutkan oleh Tuhan kita di dalam Matius 16! 

Paus Vigilius, Konsili Konstantinopel II, 553: 

“ ... Kami mengingat apa yang telah dijanjikan tentang Gereja yang kudus dan Ia yang berkata 

bahwa pintu gerbang Neraka tidak akan berjaya melawannya, (Kami memahami pintu 

gerbang Neraka sebagai lidah-lidah yang mematikan dari para bidah) ...”3 

Paus St. Leo IX, 2 September 1053: 

“Gereja yang kudus yang dibangun di atas sebuah batu karang, yaitu Kristus, dan di atas Petrus ... 

sebab  oleh pintu gerbang Neraka, yakni, oleh pertentangan-pertentangan para bidah yang 

menuntun orang yang angkuh kepada kehancuran, Gereja tidak akan pernah ditaklukkan.”4 

St. Thomas Aquinas (+1252): 

“Kebijaksanaan dapat mengisi hati para umat beriman, dan membungkam kegilaan yang jahat 


380 

 

dari para bidah, yang secara pantas disebut sebagai pintu gerbang Neraka.”5 (Intro. To 

Catena Aurea {Perkenalan kepada Catena Aurea}) 

Perhatikan bahwa para bidah yaitu  pintu gerbang Neraka. Para bidah bukanlah anggota Gereja. Itulah 

mengapa seorang bidah tidak akan pernah bisa menjadi seorang Paus. Pintu gerbang Neraka (para bidah) 

tidak pernah mampu memiliki otoritas atas Gereja Kristus. Orang-orang yang menyingkap para Anti-Paus 

Vatikan II bukanlah yang menyatakan bahwa pintu gerbang Neraka telah berjaya melawan Gereja; 

melainkan mereka yang bersikeras membela para Anti-Paus Vatikan II sebagai Paus, walaupun dapat 

dibuktikan bahwa mereka yaitu  bidah terang-terangan. 

Paus Inosensius III, Eius exemplo, 18 Desember 1208: 

“Dari hati kami percaya dan dari mulut kami mengakui Gereja yang satu, yang tidak terdiri 

dari para bidah, melainkan Gereja Roma yang kudus, Katolik, dan Apostolik di luar mana kami 

percaya bahwa tidak seorang pun diselamatkan.”6 

St. Fransiskus de Sales (abad ke 17), Doktor Gereja, The Catholic Controversy {Kontroversi 

Katolik}, hal. 305-306: 

“namun  sewaktu ia [Sri Paus] yaitu  seorang bidah secara eksplisit, ia secara ipso facto 

jatuh dari pangkatnya dan berada di luar Gereja ....” 

Tidak ada  satu ajaran Gereja Katolik pun yang dapat dikutip yang bertentangan dengan fakta bahwa 

ada  pada saat ini suatu sekte sesat yang telah menyusutkan Gereja Katolik sejati menjadi sebuah 

sisa pada hari-hari Kemurtadan Besar, yang dipimpin oleh para Anti-Paus yang telah mengaku diri 

sebagai Paus. Mereka yang menyatakan bahwa sekte Vatikan II yaitu  Gereja Katolik menyatakan bahwa 

Gereja Katolik secara resmi mendukung agama-agama sesat dan doktrin-doktrin sesat. Hal ini mustahil 

dan berarti bahwa pintu gerbang Neraka telah berjaya melawan Gereja Katolik. 

Penolakan 2): Apakah otoritas anda untuk membuat penghakiman-penghakiman 

ini? Penggunaan pernyataan-pernyataan dogmatis anda yaitu  interpretasi 

pribadi. 

 

Jawaban: Otoritas yang dimiliki oleh seorang Katolik untuk menentukan bahwa para bidah bukanlah 

anggota Gereja yaitu  dogma Katolik, yang mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang yang 

meninggalkan Iman dianggap terasing dari Gereja.  

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896: 

“Adat Gereja selalu sama, dan juga diteguhkan oleh putusan semufakat para Bapa yang kudus. 

Mereka tentunya terbiasa menganggap siapa saja YANG TELAH MENYIMPANG SESEDIKIT APA 

PUN DARI DOKTRIN YANG DIAJUKAN OLEH MAGISTERIUM OTORITATIF, sebagai orang yang 

sama sekali bukan bagian dari persekutuan Katolik dan terasing dari Gereja.”7 

Di samping itu, untuk berpendapat bahwa seseorang menerapkan interpretasi pribadi dengan memegang 

dogma Katolik ini, seperti yang dilakukan oleh penolakan ini, yaitu  untuk menyatakan secara persis hal 

yang dikutuk oleh Paus St. Pius X di dalam Silabus Kesalahan-Kesalahan melawan para Modernis.  

Paus St. Pius X, Lamentabili, Kesalahan-kesalahan para Modernis, 3 Juli 1907, #22: 

“Dogma-dogma yang oleh Gereja dinyatakan terwahyu, bukanlah kebenaran-kebenaran 

yang turun dari Surga, melainkan semacam interpretasi fakta-fakta agama, yang dibentuk 

oleh pikiran manusia dengan bersusah payah.” – Dikutuk8 


381 

 

Paus St. Pius X, Lamentabili, Kesalahan-kesalahan para Modernis, 3 Juli 1907, #54: 

“Dogma-dogma, sakramen-sakramen, hierarki, baik dalam gagasan maupun realitas, hanyalah 

interpretasi-interpretasi dan evolusi-evolusi pikiran Kristiani, yang telah memperbesar dan 

menyempurnakan benih laten kecil dalam Injil melalui perkembangan-perkembangan lahiriah.”  

– Dikutuk9 

Perhatikan, gagasan bahwa dogma-dogma hanyalah interpretasi-interpretasi itu dikutuk. namun  inilah 

persisnya apa yang dinyatakan oleh penolakan ini, terlepas bilamana orang yang membuat penolakan ini 

mengakuinya atau tidak. Mereka berkata bahwa untuk menerapkan kebenaran dari sebuah dogma 

yaitu  untuk melakukan ‘interpretasi pribadi’. Penolakan ini selanjutnya dibantah oleh fakta bahwa di 

dalam Dekret Sakramen Imamat, Konsili Trente secara khidmat menyatakan bahwa kanon-kanon 

dogmatis diperuntukan bagi semua umat beriman. 

Paus Pius IV, Konsili Trente, Sesi 13, Bab 4: 

“Hal-hal ini secara umum tampak baik bagi Konsili suci ini untuk diajarkan kepada para umat 

beriman Kristus tentang sakramen imamat. namun , konsili ini telah bertekad untuk mengutuk 

hal-hal yang bertentangan di dalam kanon-kanonnya yang pasti dan tepat di dalam cara 

berikut, agar semua orang, dengan memakai  aturan iman ini , dengan bantuan 

dari Kristus, dapat mengenali dengan lebih mudah kebenaran Katolik di tengah-tengah 

gelapnya kesalahan-kesalahan yang begitu banyak.”10 

Kata ‘kanon’ (dalam bahasa Yunani: kanon) berarti sebuah buluh; sebuah tongkat yang lurus; tongkat 

pengukur; suatu benda yang digunakan untuk menentukan, mengatur, atau mengukur. Konsili Trente 

secara infalibel menyatakan bahwa kanon-kanonnya merupakan tongkat pengukur bagi  ‘semua orang’ 

agar mereka, dengan memakai  aturan-aturan Iman ini, dapat mengenali dan membela kebenaran di 

tengah-tengah kegelapan! Pernyataan yang sangat penting ini menghancurkan klaim orang-orang yang 

berkata bahwa penggunaan dogma-dogma untuk membuktikan poin-poin yaitu  ‘interpretasi pribadi’. 

Dogma Katolik yaitu  otoritas bagi semua orang yang sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang 

benar ini. 

Paus Gregorius XVI, Mirari Vos (#7), 15 Agustus 1832: 

“ ... agar tiada suatu hal pun dikurangi dari hal-hal yang telah didefinisikan secara kanonik dan 

agar tiada suatu hal pun diubah atau ditambahkan kepadanya, namun  agar hal-hal yang 

sama itu, baik di dalam kata-katanya serta maknanya, dijaga sehingga tak terjamah.”11 

Penolakan 3): Anda tidak dapat tahu bilamana seseorang yaitu  bidah atau 

mencelanya sebagai bidah tanpa sebuah pengadilan dan deklarasi vonis. 

 

Jawaban: Tidak. Sebuah deklarasi vonis yang mengikuti sebuah ekskomunikasi otomatis yaitu  semata-

mata sebuah pengakuan secara hukum tentang sesuatu yang sudah ada. Andaikata tidak demikian 

adanya, ekskomunikasi otomatis akan menjadi tidak bermakna. 

Kanon 2314, Kitab Hukum Kanonik 1917: 

“Semua pemurtad dari iman Kristiani dan setiap serta masing-masing bidah ataupun skismatis: 

1) mendapat  ekskomunikasi ipso facto [lewat fakta itu sendiri]...12 

Orang yang terekskomunikasikan itu sudah dipotong dari Gereja. Kebanyakan bidah sudah dikenali 

sebagai bidah tanpa pengadilan ataupun deklarasi vonis, dan harus dicela secara demikian. 


382 

 

Paus Pius VI, Auctorem fidei, 28 Agustus 1794: 

“47. Begitu pula, gagasan yang mengajarkan bahwa yaitu  sesuatu yang diperlukan, 

menurut hukum-hukum alam dan ilahi, untuk ekskomunikasi ataupun pemecatan, bahwa 

sebuah pemeriksaan pribadi harus berlangsung sebelumnya, dan bahwa, oleh sebab  itu, 

vonis yang disebut ‘ipso facto’ tidak memiliki kekuatan apa pun selain sebagai suatu ancaman 

yang serius tanpa dampak yang nyata apa pun” – salah, lancang, jahat, berbahaya bagi 

kekuatan Gereja, keliru.13 

Seperti yang kita lihat di sini, Gereja Katolik mengajarkan bahwa proses-proses serta 

penghakiman-penghakiman yang formal tidak diperlukan agar ekskomunikasi ipso facto (lewat 

fakta ini ) berlangsung. Acapkali, proses serta penghakiman ini , seperti di dalam kasus 

bidah Martin Luther, merupakan pengakuan-pengakuan resmi terhadap ekskomunikasi ipso facto yang 

sudah terjadi. Hal ini seharusnya jelas begi seorang Katolik; namun , untuk menggambarkan poin ini , 

inilah apa yang dikatakan Martin Luther sebelum ia dikutuk sebagai bidah oleh Sri Paus. 

Martin Luther, sewaktu ia berbicara di depan Bulla Paus Leo X yang memberi  kepadanya 

selambat-lambatnya enam puluh hari untuk mencabut pernyataan bidahnya sebelum deklarasi 

ekskomunikasi diterbitkan: “Bagi saya, hal ini sudah mantap adanya: saya membenci baik 

dukungan maupun murka Roma; saya tidak ingin berdamai dengannya ataupun bersekutu 

dengannya. Biarkan ia mengutuk dan membakar buku-buku saya; saya, sebagai 

balasannya, kecuali jika saya tidak bisa menemukan api, akan mengutuk dan membakar 

secara publik semua hukum Kepausan, yang yaitu  rawa bidah itu.’”14 

Apakah kita harus percaya bahwa seorang pria yang mengatakan kutipan ini (lama sebelum ia dikutuk 

secara resmi sebagai seorang bidah melalui sebuah deklarasi vonis) yaitu  seorang Katolik atau dapat 

dianggap Katolik? Tiada hal yang lebih absurd dibandingkan  gagasan semacam itu. Jelas, Martin Luther yaitu  

seorang bidah terang-terangan sebelum deklarasi resmi itu, dan seorang Katolik mana pun yang 

mengetahui kepercayaan-kepercayaannya telah dapat dan seharusnya telah mencelanya sebagai seorang 

bidah terang-terangan sekalinya orang Katolik ini  mengenali pandangan-pandangan Martin Luther 

yang bukan main sesatnya. 

Itulah mengapa, sebelum pengadilan Luther, Kardinal Cajetan menghubungi Elektor Frederick, penguasa 

dan pelindung Luther, memohonnya untuk tidak ‘menyebabkan aib kepada nama baik para nenek 

moyangnya’ dengan mendukung seorang bidah. ’15 

Prinsip yang sama diterapkan kepada seorang bidah, seperti John Kerry, pendukung aborsi yang 

terkenal. Hampir semua orang yang mengaku diri Katolik yang jalan pikirannya konservatif akan dengan 

segera setuju bahwa John Kerry yaitu  seorang bidah dan bukan seorang Katolik, sebab  ia bersikeras 

menolak ajaran Katolik terhadap aborsi. namun  mereka membuat “penghakiman” ini berdasar  

diri mereka sendiri, sebab  tidak satu pun deklarasi vonis pernah dikeluarkan untuk John Kerry. 

Maka mereka membuktikan poin bahwa sebuah deklarasi tidak diperlukan untuk mengutuk seorang 

bidah. Kebanyakan bidah di dalam sejarah Gereja, dan hampir semua bidah di dunia masa kini, telah dan 

harus dianggap bidah tanpa deklarasi apa pun sewaktu bidah mereka menjadi nyata. 

Sewaktu bidah menjadi nyata dan tegar, seperti di dalam kasus Luther atau Benediktus XVI (yang berkata 

bahwa kita tidak boleh mengonversikan orang-orang non-Katolik dan yang berpartisipasi secara aktif di 

dalam ibadat Sinagoga), orang-orang Katolik bukan hanya dapat mencelanya sebagai non-Katolik tanpa 

sebuah penghakiman, namun  mereka harus melakukannya. Itulah persisnya mengapa St. Robertus 

Bellarminus, Doktor Gereja, saat menjawab pertanyaan yang persis ini, mengatakan dengan jelas bahwa 


383 

 

sang bidah terang-terangan itu digulingkan dan harus dihindari sebagai seorang non-Katolik tanpa 

otoritas sebelum ‘ekskomunikasi ataupun vonis yuridis’ apa pun. Di dalam konteks ini, St. Robertus 

memakai  kata ‘ekskomunikasi’ untuk merujuk kepada hukuman ferendae setentiae (deklarasi resmi 

oleh Sri Paus ataupun hakim). 

St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, II, 30, berbicara tentang seorang klaiman 

Kepausan: 

“sebab , pertama-tama, argumen-argumen dari otoritas dan akal budi membuktikan bahwa 

sang bidah terang-terangan ini  secara ‘ipso facto’ digulingkan. Argumen dari otoritas 

berasal dari St. Paulus (Titus 3:10), yang memerintahkan untuk menghindari sang bidah sesudah  

dua peringatan, yaitu, sesudah  sang bidah terlihat tegar secara terang-terangan – yang berarti 

sebelum ekskomunikasi ataupun vonis yuridis apa pun. Dan inilah yang dituliskan oleh St. 

Hieronimus, yang menambahkan bahwa para pendosa lainnya diasingkan dari Gereja melalui 

vonis ekskomunikasi, namun  para bidah mengasingkan diri mereka sendiri dan memisahkan diri 

mereka sendiri melalui tindakan mereka sendiri dari tubuh Kristus.” 

Izinkan kami mengulangi hal ini: YANG BERARTI SEBELUM EKSKOMUNIKASI ATAUPUN VONIS YURIDIS 

APA PUN! Maka, kita dapat melihat bahwa para non-sedevakantis, dengan berargumentasi bahwa para 

Katolik tidak dapat mencela para bidah terang-terangan seperti Benediktus XVI sebab  suatu pengadilan 

resmi belum terjadi, sama sekali salah. Kesimpulan mereka mengolok-olok kesatuan Iman di dalam 

Gereja. Agar kita tidak lupa, ada  suatu kesatuan Iman di dalam Gereja Katolik (yang satu, kudus, 

Katolik, dan apostolik). 

Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#22): 

“Oleh sebab  di dalam komunitas Kristiani sejati hanya ada  satu Tubuh, satu Roh, satu 

Tuhan, dan satu Pembaptisan, hanyalah mungkin ada  satu iman. Dan oleh sebab  itu jika 

seorang manusia menolak untuk mendengar Gereja, biarkan ia dianggap – seperti yang 

diperintahkan oleh Tuhan – sebagai seorang kafir dan pemungut cukai. Oleh sebab  itu, mereka 

yang terbagi-bagi di dalam iman atau pemerintahan tidak dapat hidup di dalam kesatuan 

Tubuh itu, tidak pun mereka dapat menghayati hidup Roh Ilahinya yang esa.”16 

Menurut kesimpulan para non-sedevakantis, orang-orang Katolik harus mengakui persekutuan dengan 

seorang manusia yang secara terang-terangan mengaku bahwa ia tidak ingin bersekutu dengan Gereja 

Katolik, dan berpegang bahwa seluruh hukum Kepausan yaitu  rawa bidah; atau seseorang pro-aborsi 

yang tegar, hanya sebab  tiada deklarasi resmi yang dibuat terhadap orang ini . Untuk menyatakan 

bahwa orang-orang Katolik harus bersekutu dengan seorang bidah terang-terangan sebab  suatu 

penghakiman yang tuntas belum dibuat terhadapnya yaitu  hal yang bertentangan dengan ajaran 

Katolik, Tradisi Katolik dan pengertian Katolik. 

St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, II, 30: 

“...sebab  manusia tidak diwajibkan untuk, ataupun dapat membaca hati; namun  SEWAKTU 

MEREKA MELIHAT BAHWA SESEORANG yaitu  SEORANG BIDAH LEWAT PERILAKU 

EKSTERNALNYA, MEREKA MENGHAKIMINYA SEBAGAI BIDAH SECARA MURNI DAN 

SEDERHANA, DAN MENGUTUKNYA SEBAGAI BIDAH.” 

Penolakan 4): Bagaimana dengan bidah material? Tidakkah mungkin bahwa para 

Paus Vatikan II hanyalah bidah material? 

 


384 

 

Jawaban: Seorang bidah “material” yaitu  seorang Katolik yang melakukan kesalahan di dalam itikad 

baik tentang suatu masalah dogmatis. Tidak diragukan bahwa para Anti-Paus Vatikan II sungguh yaitu  

bidah. Mereka tidak mungkin yaitu  bidah material (orang-orang Katolik yang melakukan kesalahan 

dalam itikad baik) sebab  berbagai alasan, terutama 1) mereka tidak berpegang kepada misteri-misteri 

Iman yang esensial 2) mereka menolak dogma-dogma yang jelas mereka ketahui secara penuh. 

“Bidah material” yaitu  sebuah istilah yang digun