esentasi berulang-ulang, sampai
presentasi Power Point yang dibuat cantik dan profesional. Sepanjang kita
sudah berupaya maksimal di hal-hal ini, kita sudah melakukan halyang bisa
dilakukan di dalam kendali kita. Nilai dari skripsi kita adalah outcome (hasil)
yang berada di luar kendali. Jadi, menjadi stres dan khawatir mengenai
hasilnya adalah halyang irasional.
Contoh lainnya lagi misalnya dalam berbisnis. Bisnis masuk ke dalam
kategori “sebagian berada di bawah kendali kita". Maka, kita bisa
memisahkan antara internal goal dan outcome atau hasil. Internal
goal, misalnya, adalah tekad dan upaya kita memberikan produk/jasa
yang terbaik, melakukan promosi yang terbaik, menetapkan harga
yang kompetitif, menyediakan layanan konsumen yang andal, dan
lain-lain. Jika kita telah mengerahkan upaya yang sebaik-baiknya di
hal-hal yang bisa kita kendalikan, maka itu sudah cukup.
Kita bisa merasakan kepuasan, bahkan kebahagiaan, sebab sudah
mencapai tujuan internal yang kita tetapkan sebelumnya.
Selanjutnya, apakah bisnis akan sukses atau tidak akan tergantung
pada banyak faktor luar, seperti persaingan dan aturan pemerintah.
Oleh sebab itu, kita harus bisa menerimanya apa pun hasilnya. Baik
bisnis kita sukses atau gagal, kita masih bisa belajar darinya untuk
memperbaiki hal- halyang bisa dikendalikan.
Perhatikan bahwa dalam kategori "sebagian di bawah kendali" ini,
pada umumnya, semakin baik kita mengerjakan internal goal,
seharusnya semakin besar peluang kita mendapatkan hasil atau
outcome yang memang kita impi-impikan. Biasanya, kerja keras,
belajar sungguh-sungguh, berlatih dengan tekun, menyayangi dan
mencintai pasangan sepenuh hati, menjalankan usaha dengan rajin
dan keras, akan mendekatkan seseorang pada halyang ingin dicapai.
Dengan menyadari sepenuhnya bahwa outcome terakhir berada di
luar kendali kita, maka saat mengalami gagal kita tidak perlu meratapi
tujuh tahun lamanya, sebab kita tahu sudah berbuat yang terbaik
untuk internal goal ini berdasarkan persiapan yang kita lakukan.
Berikut adalah contoh-contoh trikotomi kendali dalam bentuk tabel:
Contoh hal-hal
yang
SEBAGIAN di
bawah kendali
kita
Internal Goa//target
Internal (DALAM
kendali kita), layak
menjadi perhatian kita
Hasil/outcome (DI
LUAR kendali kita),
tidak layak menjadi
sumber kekhawatiran
dan emosi kita
Perjalanan
karier
• Bekerja sebaik-
baiknya
• Menunjukkan
kompetensi kepada
atasan/kolega
• Menjalin kerja sama
yang baik dengan
kolega
• Penilaian atasan
(subjektif tergantung
dia)
• Keputusan
pengangkatan
jabatan
• Gosip/politik kolega
Perlombaan
olahraga/
kompetisi
• Berlatih dengan keras
• Nutrisi yang baik
• Mempersiapkan
kesehatan untuk
perlombaan
• Performa lawan (bisa
lebih baik atau lebih
buruk)
• Kondisi lapangan saat
bertanding
• Hal-hal lain seperti
gangguan teknis,
konsentrasi juri, dan
lain-lain, sakit yang
menyerang kita
mendadak
Kesehatan • Olahraga yang cukup
• Tidur yang cukup
• Nutrisi yang cukup
• Sehat senantiasa
• Kecelakaan
• Infeksi penyakit
• Salah diagnosis
dokter/malpraktik
Hubungan
asmara/
pernikahan
• Perhatian yang cukup
• Kasih sayang dari kita
• Kesetiaan diri sendiri
• Perasaan pasangan
• Kesetiaan pasangan
Berbisnis • Profesional
• Tidak menipu
pelanggan
• Memberi layanan
terbaik bagi
pelanggan
• Menjual barang dan
jasa dengan kualitas
yang baik
• Melakukan
administrasi dan
keuangan yang baik
• Menaati aturan dan
membayar pajak
• Dan lain-lain
• Ada pelanggan yang
membeli dari kita
• Kesetiaan pelanggan
• Kepuasan pelanggan
• Perubahan aturan
pemerintah (bisa
menguntungkan,
bisa merugikan)
Dalam situasi-situasi di atas dan situasi serupa lainnya, pemisahan
antara internal goal dan outcome memiliki dua manfaat:
1. Kita bisa memfokuskan energi dan kebahagiaan pada hal-
halyang ada di bawah kendali kita, dan tidak pusing/stres
untuk hal-hal di luar kendali kita. Saat kita sudah belajar
keras untuk ujian, berlatih sebaik-baiknya untuk
pertandingan, atau melakukan yang terbaik untuk pasangan,
kita bisa mendapatkan kepuasan dari hal-hal ini tanpa
harus menunggu outcome-nya.
2. Di saat ternyata outcome/hasil tidak seperti yang kita harapkan,
secara mental kita (seharusnya) tidak terlalu terpuruk, sebab fokus
kita adalah pada internal goal yang bisa kita lakukan dan bukan di
outcome. Kita tidak perlu meratapi kegagalan secara berlebihan,
apalagi sampai mengutuk diri sendiri. Contohnya, kita mengikuti
pertandingan basket antarkampus. Jika kita sudah berlatih keras dan
memberikan permainan terbaik, kekalahan tidak bisa sepenuhnya
merampas kebahagiaan kita. Ini mirip dengan ungkapan populer,
“Manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan." Kita bisa
merasakan kepuasan dan kebanggaan jika kita sudah memberikan
permainan basket yang terbaik, apa pun hasilnya.
3. Kerendahan hati. Mengakui bahwa outcome tidak ada di bawah
kendali kita sepenuhnya juga penting saat kita menikmati
keberhasilan. Saat sedang sukses, jangan terlena bahwa ini semua
adalah hasil “upaya saya sendiri”. Kesuksesan kita juga dipengaruhi
oleh banyak faktor di luar kendali kita. Jadi, jangan sombong.
Kamu
memiliki
kendali atas
pikiranmu
—bukan
kejadian-kejadian di
luar
sana. Sadari ini, dan
kamu akan
menemukan
kekuatan.”
- Marcus Aurelius (Meditations)
Berkarier di dunia advertising (periklanan) menyadarkan saya betapa
trikotomi kendali di atas sangat relevan dalam membantu mengurangi stres
pekerjaan. Bagi kami yang bekerja di biro periklanan, “dagangan” kami adalah
• w
• w
•1
■F
W
T
ide kreatif. Kami menghasilkan ide kreatif dan menawarkannya kepada klien.
Jika klien setuju dengan ide yang ditawarkan, maka barulah ide ini
diproduksi menjadi materi iklan.
Yang namanya menawarkan dagangan, entah itu pisang Ambon ataupun ide
kreatif, memiliki risiko yang sama, yaitu DITOLAK. Kalau dipikir-pikir,
pedekate gadis idaman pun bagi sang cowok adalah perdagangan—
menawarkan dagangan rasa ini [Halah, apa sih). Penolakan terjadi sangat
sering di dalam pekerjaan. Umumnya, reaksi kolega yang idenya baru saja
ditolak oleh klien adalah merasa kecewa dan jengkel (apalagi kalau sudah
ditolak berkali-kali untuk project yang sama), disertai kata-kata seperti berikut:
“Dasar klien bego, gak ngerti ide bagus." - (menyalahkan klien)
“Dasar account service dan planner bego, gak ngasih arahan yang bener." -
(menyalahkan anggota tim lain)
“Ini semua pasti gara-gara gue lupa membakar sesajen di depan kantor
klien." - (menyalahkan dunia supranatural)
Bagaimana contoh aplikasi dikotomi/trikotomi kendali di dalam lingkup
pekerjaan saya? Dengan mengategorikan outcome (klien menyenangi dan
menyetujui ide kita) sebagai hal “di luar kendali kita", dan memfokuskan
energi dan upaya pada hal-hal "di bawah kendali kita”, yaitu kualitas ide,
presentasi ide, dan lain-lain. Jika saya bisa mempraktikkan ini dengan baik,
maka "penolakan klien tidak seharusnya mengganggu kebahagiaan saya",
sebab praktisi tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-
hal yang ada di luar kendalinya (walaupun jika ide kita disenangi klien tentu
kita diperbolehkan untuk merasa senangi. Kepuasan kerja dikembalikan pada
"apa yang kita kerjakan" (apakah saya sendiri sudah bangga dengan ide yang
dihasilkan?) dan bukan "apa yang dikendalikan orang lain".
Ide kita ditolak? Tidak perlu menyumpahi dan menyalahkan orang lain.
Langsung move on kepada hal-hal yang ada di bawah kendali kita, yaitu
menerima input klien, kembali bekerja, dan berusaha lebih baik lagi.
Inilah mengapa saya menyadari bahwa saya lebih cocok dengan
dibandingkan positive thinking atau tips-tips selfhelp
lainnya. Sering kali tips-tips ini memfokuskan kita pada hal-hal
eksternal, seperti kesuksesan karier, bisnis, dan percintaan, yang
sebenarnya berada di luar kendali kita (atau hanya sebagian di
bawah kendali kita).
Bagi saya, pola pikir seperti itu adalah jalan menuju ekspektasi yang
tidak realistis atau kekecewaan dan kepahitan saat ternyata hal
yang kita idam-idamkan tidak terwujud. Sebaliknya,
tidak tertarik sama sekali dengan hal-hal eksternal dan lebih
mementingkan hal-hal di dalam diri kita, yaitu menghilangkan emosi
negatif, memaksimalkan hidup dengan hal-hal yang benar-benar
berguna dan yang bisa kita kerjakan.
Tirani Opini Orang Lain
Mari kita membahas mengenai salah satu dari “hal di luar kendali”
menurut Stoisisme, yaitu opini/pendapat orang lain. Entah sadar atau
tidak, berapa banyak dari kita yang hidup terus-menerus mengikuti
pendapat orang lain. “Apa kata orang?" adalah ucapan yang sering
kita dengar. Bagi kita yang hidup di Indonesia, tekanan opini orang
lain adalah sesuatu yang nyata. Ternyata, hal ini sudah ada bahkan
sejak masa Kekaisaran Romawi kuno. Marcus Aurelius pernah
berujar, “Saya selalu kagum. Kita yang selalu lebih mencintai diri
sendiri daripada orang lain, justru lebih peduli pada pendapat orang
lain daripada pendapat diri sendiri. Jika Dewa meminta seseorang
untuk selalu mengucapkan apa pun yang terlintas di pikirannya,
niscaya orang itu tidak akan mampu bertahan sehari saja. Begitulah
besarnya kepedulian kita akan pendapat orang lain dibanding
pendapat kita sendiri.” [Meditations]
Tanpa kita sadar, sering kali kita berencana dan bertindak demi
mengikuti pendapat orang lain, baik itu keputusan-keputusan besar
sampai keputusan-keputusan kecil. Misalnya,
• Memilih pacar. Gue diomongin orang gakya kalo pacaran sama
doi? Cinta sih, tapi dia lusuh gitu, gue jadi keliatan sobat miskin
• Memilih kuliah. Gue mau kuliah sesuai minat gue, tapi kalo gue
masuk jurusan itu, gue dikatain bego sama temen-temen gue....
• Memilih pekerjaan. Gue sebenarnya merasa gak cocok kerja di
perusahaan sekarang, tapi perusahaan ini keren banget di mata
orang-orang, jadi gue bertahan demi gengsi...
• Dan banyak pilihan-pilihan hidup lain yang membuat kita
memprioritaskan pendapat orang lain dari pendapat diri kita
sendiri.
Jika kita mengira pengaruh pendapat orang lain hanya berdampak
pada "keputusan-keputusan besar saja”, ini keliru. Bahkan, pada hal-
hal sepele yang kelihatannya tidak terkena pengaruh pendapat orang
lain pun kita tidak terbebas dari fenomena ini.
Kehadiran media sosial membuat efek pendapat orang lain justru
semakin dahsyat, sebab apa pun yang kita post di media sosial bisa
dinilai, disetujui, atau dicela oleh ratusan, bahkan ribuan orang di
internet. Coba jujur, berapa kali kita mem-posf sesuatu di media
sosial dengan harapan mendapatkan banyak likes, views, dan
menambah jumlah follower? [Udah, ngaku aja di dalam hati
.......................Saya pun sering begitu kok :D)
Epictetus menyebutkan bahwa hal-hal yang berada di luar kendali
kita itu "bagaikan budak...dan milik orang lain”. Interpretasi saya
adalah bahwa pendapat-pendapat orang lain ini bisa
"memperbudak” kita. Saat kita terus-menerus ingin menyenangkan
orang lain, ingin memenuhi ekspektasi orang lain, mendapatkan
approval orang lain, meraih sebanyak- banyaknya likes dan views,
tanpa sadar kita sudah diperbudak oleh pendapat orang lain. Dari
pilihan baju, sepatu, sekolah, pilihan karier, pilihan politik, pilihan
calon suami/istri—jika semuanya dilakukan tidak dengan kebebasan,
melainkan untuk menuruti pendapat orang lain, apa bedanya kita
dengan budak?
“Memang apa salahnya sih hidup mengikuti pendapat orang lain? Toh kita
happy juga melakukannya. Ribet amat hidup lo?” Jika disanggah seperti
ini, seorang filsuf Stoa akan menantang balik, "Yakin kamu akan bisa
merasa terus-menerus bahagia dengan cara ini?” Ingatlah bahwa
menggantungkan kebahagiaan kepada halyang di luar kendali
sesungguhnya sangat rapuh dan sangat berisiko berujung pada
kekecewaan. Jika pendapat orang lain di luar kendali kita, artinya,
pertama, tidak akan ada habisnya untuk diikuti, dan kedua, bisa berubah
semau si pemilik pendapat.
Contohnya begini. Bayangkan jika kita terus-menerus berusaha mengikuti
pendapat pacar. Pacar senang kamu berambut pendek, padahal kamu
berambut panjang, kemudian kamu turuti dengan memotong rambut. Pacar
senang film Star Wars, padahal menurut kamu semua film Star Wars
bodoh sekali, tapi kamu tetap nonton. Pacar mau berhubungan seks,
padahal kamu sebenarnya ingin menjaga keperawanan sampai menikah,
tapi kamu ikuti kemauannya. Kemudian kamu hamil, lalu pacar kamu
kabur. Akhirnya kamu tinggal sendirian, dengan rambut pendek, koleksi
film Star Wars, dan perut melendung. Semua sebab kamu terus-menerus
diperbudak pendapat orang lain. Contoh ini ekstrem, namun relevan di
banyak aspek hidup lain.
Tentunya ini bukan berarti Stoisisme mengajarkan kita untuk menutup
telinga sama sekali terhadap pendapat orang lain, sebab kita harus bisa
menerima kritik dan masukan yang membangun.
"Jika seseorang bisa membuktikan kekeliruan saya dan menunjukkan
kesalahan saya dalam berpikir dan bertindak, saya dengan senang hati
akan berubah. Saya mencari kebenaran yang tidak pernah melukai siapa
pun. Yang celaka adalah terus-menerus bertahan dalam menipu diri sendiri
dan ketidakpedulian,” Marcus Aurelius. {Meditations)
Jadi, umpan balik, nasihat, dan opini yang membangun dan memperbaiki
diri kita sendiri tetap harus kita hormati dan dengarkan. Yang
dipertanyakan oleh Stoisisme adalah saat kita mengira bisa bahagia dan
damai dengan terus-menerus menyenangkan orang lain.
Preferred/Unpreferred Indifferents
Dengan dikotomi kendali, maka dalam sesuatu hal hanya
bisa menjadi benar-benar “baik” atau “buruk” jika hal ini berada di
bawah kendali kita. Sebab, bagaimana kita bisa dinilai atas sesuatu yang
tidak di bawah kendali kita? Sebaliknya, baik atau buruknya seseorang
terletak pada hal-hal yang ada di bawah kendalinya, yaitu pemikiran, opini,
interpretasi, tindakan, dan perkataan. sebab hal-hal ini sepenuhnya
ada di bawah kendali seseorang (dengan asumsi dia memiliki jiwa yang
sehat, tidak sedang terganggu/sakit), maka baik tidaknya seseorang bisa
dinilai dari hal ini . Lalu, bagaimana dengan hal-hal di luar kendali
kita?
Stoisisme memasukkan semua hal di luar kendali kita sebagai “indifferent",
atau terjemahan bebasnya adalah "hal-hal yang gak ngaruh (bagi baik atau
buruknya kita)”. Jika melihat lagi daftar hal-hal di luar kendali, yaitu
pendapat orang lain, tindakan orang lain, reputasi/popularitas kita,
kekayaan/harta-benda kita, kesehatan/tubuh kita, cuaca besok, realitas
politik (dan banyak hal lain di luar kendali kita), maka artinya itu semua
tidak bisa menentukan kualitas karakter, kebahagiaan, dan rasa damai kita.
Entah kita kaya atau miskin, entah kita sehat atau sedang sakit, entah
anggota tubuh kita lengkap atau tidak, berkata bahwa kita
semua sanggup merasa bahagia dan tenteram, dan menjalani hidup yang
baik. Sebaliknya, kita bisa kaya raya, cantik, sehat, semua anggota tubuh
lengkap, dan populer, namun toh tetap merasa tidak bahagia dan tidak
menjalani hidup yang baik.
Salah satu alasan saya menyukai adalah sebab filosofi ini
secara eksplisit menyatakan sifat yang sangat inklusif (untuk semua orang,
apa pun kondisinya) dan menganggap semua manusia sama dalam
kapasitasnya menggapai kebahagiaan dan hidup yang baik. Para filsuf
Stoa tidak akan silau oleh pameran kekayaan, gelar atau pangkat
seseorang— sebab ini semua adalah hal-hal eksternal yang tidak bisa
digunakan menilai hidup seseorang. Sebaliknya, seseorang yang terkesan
jauh dari kekayaan dan ketenaran, tapi hidup dengan kebajikan /virtue) dan
bebas dari emosi negatif, maka hidupnya dianggap jauh lebih baik.
Di masa kini, saat kekayaan, kecantikan, popularitas dapat dengan
mudah "terlihat” dalam genggaman kita melalui media sosial dan
membuat kita merasa sedih sebab membandingkan hidup kita dengan
hidup orang lain, filosofi ini terasa makin relevan.
Sampai di sini, mungkin ada dari kamu yang mulai merasa kurang
tertarik dengan sebab terkesan anti kekayaan duniawi.
Sebagian mulai mempertanyakan apakah Stoisisme identik dengan
gambaran filsuf petapa yang hanya hidup di hutan, memakai sehelai
kain saja, dan hanya makan buah-buahan.
sebab kekayaan masuk di dalam daftar hal-hal di luar kendali, apakah
berarti anti kekayaan? Jika mengamati kehidupan para
filsuf Stoa, kita akan menemukan bahwa sebagian dari mereka cukup
kaya raya. Ada yang berprofesi sebagai politisi senior, pedagang,
bahkan kaisar. Tentunya hidup mereka tidak bisa dibilang sederhana,
apa lagi susah. Apakah ini sebuah kontradiksi, atau lebih parah lagi,
kemunafikan?
Tidak seperti filsafat Sinisme (aliran Cynic] dan beberapa aliran agama
atau mazhab agama yang menekankan bahwa semua kekayaan
materi adalah buruk, bahkan cenderung mengajarkan sikap memusuhi
pada semua hal duniawi, memiliki sikap yang lebih
moderat dan realistis. Realistis sebab tidak mungkin membebaskan
seluruh manusia dari menginginkan hal-hal duniawi. Lalu, mungkin
juga ada pertimbangan marketing, sebab filosofi yang ajarannya jika
diikuti membuat hidup kita terlalu menderita rasanya tidak akan
populer bagi banyak orang!
Mari terlebih dahulu kita lanjutkan dengan penjelasan Stoisisme
mengenai hal-hal yang disebut indifferent [gak ngaruh] tadi.
Ingat bahwa arti kata "indifferent”adalah "tidak memiliki pengaruh”,
dalam hal ini terhadap karakter dan kebahagiaan seseorang. Namun,
Stoisisme juga realistis sebab mengamati perilaku kebanyakan
manusia yang tidak bisa lepas dari rasa mengingini hal-hal duniawi,
seperti kekayaan, kecantikan, dan kesehatan. Dunia sains modern
sudah menyadari bahwa hasrat
“Manusia tidak memiliki
kuasa untuk memiliki apa
pun yang dia mau, namun dia
memiliki kuasa untuk tidak
mengingini apa
yang dia belum
miliki, dan dengan
gembira
memaksimalkan apa yang
dia terima.”
terhadap hal-hal ini tampaknya sudah “terprogram” di benak kita
selama ribuan tahun dan susah untuk dimatikan begitu saja.
Sebaliknya, tidak ada juga manusia waras yang menyukai kemiskinan,
kelaparan, dan sakit sebab penyakit. sebab nya,
membagi indifferent menjadi dua kategori:
• Preferred Indifferent. Hal-hal yang gak ngaruh, namun “kalau ada”
ya bagus. Harta benda, kesehatan, kecantikan, popularitas (yang
positif) masuk dalam kategori ini. Mereka tidak berdampak pada
kebahagiaan/karakter, namun jika ada tentunya lebih baik. Selain
itu, kekayaan, kesehatan, dan popularitas juga bisa membantu
kita dalam mempraktikkan kebajikan (virtue) melalui perbuatan
baik (misalnya, uang digunakan untuk membantu mereka yang
kesusahan, kesehatan menunjang kegiatan amal kita, dan lain-
lain).
• Unpreferred Indifferent. Hal-hal yang gak ngaruh, namun kalau
“tidak ada” ya lebih baik. Contohnya adalah sakit sebab penyakit,
kemiskinan, reputasi buruk. Stoisisme adalah filosofi yang realistis
dan tidak memaksa kita melakukan hal yang terlalu ekstrem. Di
saat yang sama, Stoisisme tetap konsisten dengan ajarannya.
Walaupun ada hal-hal yang kita “lebih sukai”, seperti punya uang
yang jumlah nolnya sampai tidak muat di artikel tabungan,
smartphone termahal, pensil alis dahsyat yang bisa menangkap
sinyal wi-fi, follower bejibun, dan semua nikmat duniawi lainnya,
jangan pernah lupakan bahwa itu semua ada di luar kendali kita,
bisa lenyap kapan pun, tidak berpengaruh pada kebahagiaan dan
kualitas karakter kita (bahkan bisa mengganggu), dan sebab nya
kita tidak boleh terlalu melekat (attached) pada hal-hal itu.
Seberapa pun menyenangkannya hal-hal itu semua, mereka
tetaplah indifferent, gak ngaruh, gak ada nilainya.
Sebaliknya, juga memberikan penghiburan saat kita
dalam "kesusahan”. Saat kita bangkrut, uang kiriman orang tua seret,
saat kita harus menderita sakit, saat reputasi kita jatuh (entah sebab
salah kita sendiri atau sebab fitnah), para filsuf Stoa bisa berempati
bahwa hal-hal ini memang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan
(unpreferred). Namun, di
saat yang sama, kita dihibur bahwa semua hal tidak enak itu tidak bisa
menghambat kita mencapai kebahagiaan sejati dan karakter yang
baik, sebab dalam keadaan sulit pun kita masih memiliki hal-hal di
dalam kendali kita (pikiran kita, persepsi kita, pertimbangan kita).
Memperlakukan Harta Benda (dan Preferred
Indifferent Lainnya) seperti Main Bola
Epictetus di dalam Discourses memberikan analogi menarik mengenai
cara menyikapi harta benda (dan preferred indifferent lainnya seperti
ketenaran, kecantikan, jabatan). Beliau menganalogikan itu semua
bagaikan “bola” dalam “permainan bola” kehidupan. Bola penting di
dalam permainan bola, namun para pemain bola lebih mementingkan
cara meng-handle bola ini dan bukan bola itu sendiri. Saat
pertandingan di Piala Dunia berakhir misalnya, kita tidak melihat para
pemain kedua kesebelasan baku hantam untuk bisa memiliki bola
yang baru dimainkan.
“Kamu akan menemukan bahwa para pemain bola andal melakukan
hal yang mirip (dengan seseorang menangani kekayaan). Bukan
bolanya yang dianggap berharga oleh mereka, namun yang dinilai baik
tidaknya adalah seberapa mahir mereka melemparkan dan
menangkap bola itu," ujar Epictetus.
Begitu juga dengan sikap kita akan kekayaan (dan preferred
indifferents lainnya—hal-hal ini dianggap sebagai 'bola' yang harus
dimainkan dengan baik, namun bukan untuk direbut dan dipeluk terus-
menerus. 'Permainan bola’, termasuk cara kita bermain, jauh lebih
penting dan berharga daripada si bola itu sendiri.
Mengingat Sifat Sebenarnya dari Benda-benda
(dan Manusia)
Satu teknik lain agar kita tidak menjadi dikendalikan oleh harta
kekayaan adalah dengan terus mengingatkan diri akan nature dari
benda-benda ini .
"Mengenai benda atau apa pun yang bikin kamu happy, sebab
memang berguna atau kamu sayang-sayang banget, ingatkanlah
selalu dirimu tentang sifat [nature] sebenarnya barang-barang itu,
dimulai dari yang paling tidak penting. Contohnya, kalau kamu
sayang banget pada sebuah mangkuk keramik, ingatkanlah
dirimu bahwa yang kamu sukai ya hanya sebuah mangkuk
keramik. Jadi, kalau pecah, kamu tidak akan terlalu bete. Saat
kamu mencium anakmu, atau istrimu, katakan pada dirimu sendiri
bahwa kamu hanya mencium manusia, sehingga kamu tidak
terganggu saat mereka meninggal dunia." - Epictetus
[Discourses]
Jadi, kita bisa kok enjoy hal-hal "duniawi". Silakan menikmati rezeki
yang kita dapatkan, namun selalu ingatkan diri sendiri untuk tidak
bergantung kepadanya (hindari attachment] dengan cara melihat hal-
hal ini secara apa adanya. Kamu senang punya pekerjaan
bagus? Kamu senang punya smartphone mahal? Kamu senang
terlahir cantik cetardengan alis paripurna? Bisnis kamu sukses? Pacar
kamu gantengnya ngalahin Zayn Malik dikawin silang sama Ryan
Gosling? Syukurlah ada itu semua, namun selalu ingatkan diri kamu
bahwa sesungguh-sungguhnya itu semua hanyalah sebuah
"pekerjaan", hanya sebuah “smartphone”, hanya "keberuntungan fisik”,
hanya "seorang cowok ganteng"—dan bahwa itu semua bisa hilang
sewaktu- waktu sebab tidak (sepenuhnya) di bawah kendalimu, dan
bahwa kamu MAMPU merasa tenang/bahagia "tanpa" itu semua.
Di sinilah biasanya kita semua mengalami kesulitan, sebab segala hal
yang nyaman, canggih, bagus, enak, cantik, elok, pastilah bersifat
nagih. Inilah mengapa Stoisisme menekankan nalar/rasio, sebab
(seharusnya) nalar/rasio kita bisa melawan efek nagih segala
kenikmatan dunia, dengan cara melihat benda, objek, dan kenikmatan
tidak lebih dari apa adanya.
"Maka manusia yang menahan dirinya untuk hidup dalam batas yang
ditetapkan Alam, tidak akan merasakan miskin. Sebaliknya, manusia
yang melewati batas-batas ini akan terus- menerus dikejar kemiskinan,
tak peduli betapa kayanya dia," ujar Seneca dalam On Shortness of
Life.
(Seneca)
Seneca percaya bahwa kebutuhan hidup manusia menurut yang
ditetapkan Alam tidaklah besar, namun ketidakpuasan manusialah yang
ingin mengejar hal-hal yang lebih banyak lagi. Sesungguhnya, segala
harta benda ini tidak penting dan tidak berpengaruh bagi kebahagiaan
kita. Ironisnya, mereka yang kaya raya, namun tidak pernah puas
mengejar lebih banyak lagi harta benda, justru dikatakan “terus-
menerus dikejar ‘kemiskinan’’’.
Dalam artikel nya Letters from a Stoic, Seneca berkata, “Manusia tidak
memiliki kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau, namun dia
memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan
dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima.’’
Apakah kamu terus-terusan resah melihat tas kulit sapi perawan,
sneaker yang masih ada bau jempolnya LeBron James, pacar orang,
atau foto Raja Ampat yang berkeliaran di media sosial, dan kamu
ng/7ertapi gak mampu meraihnya? Ingat quote di atas, kamu punya
power untuk tidak mengingininya. Coba lirik tas kamu, sneaker kamu,
atau pacar kamu sekarang. Bisakah kamu gembira dengan apa yang
telah kamu miliki? Bisakah kamu melihat mereka dan sungguh-
sungguh "mengingini” apa yang sudah kamu miliki?
"....Saat kamu mencium anakmu, atau istrimu, katakan
pada dirimu sendiri bahwa kamu hanya mencium manusia, sehingga
kamu tidak terganggu saat salah satu dari mereka meninggal dunia.” Ini
adalah bagian kutipan Epictetus dalam artikel Enchiridion yang sekilas
terasa ‘sadis’. Kok tega betul saat kita sedang menyayangi anak-istri—
atau suami—kita justru disuruh membayangkan kemungkinan mereka
mati? Ini masih bentuk disiplin untuk melihat substansi/sifat
sesungguhnya dari segala sesuatu—termasuk melihat orang-orang
yang kita kasihi sebagai makhluk fana. Kita harus mengingat terus-
menerus bahwa nature manusia adalah fana/”bisa mati”, sehingga
saat akhirnya kematian sungguh menjemput mereka, kita tidak
terkejut.
Pesan Epictetus ini seharusnya juga memiliki efek supaya kita
semakin menghargai keberadaan ayah, ibu, saudara, pasangan, anak,
dan teman-teman terdekat saat mereka masih hidup. Apakah kita
telah menganggap remeh keberadaan mereka /take them for granted),
sampai suatu hari mereka diambil dari kehidupan kita? Apakah selama
ini kita menghabiskan waktu bersama mereka namun perhatian kita tetap
di gadget [smartphone/tablet] kita?
Pesan Epictetus bisa diekspresikan ulang menjadi, "sebab anak, istri,
dan orang-orang terkasih di sekitarmu itu fana/ mortal, hargailah setiap
momen bersama mereka...” Jika ayah, ibu, istri, atau suami tiba-tiba
direnggut dari sisi kita, apakah kita baru akan menyesal telah
menghabiskan waktu pada layar smartphone selama berada bersama
mereka?
Sekali Lagi tentang Pasrah pada Nasib
Tadi telah dibahas salah satu kesalahpahaman yang umum terhadap
adalah mengira filosofi ini mengajarkan kepasrahan pada
situasi. sebab situasi eksternal adalah sesuatu di luar kendali, seolah-
olah kita hanya bisa mengubah persepsi saja, dan tidak perlu berupaya,
apalagi bekerja keras. Anggapan ini sudah diberikan solusinya oleh
William Irvine dalam bentuk “trikotomi kendali” di atas. Selain itu, kita
cukup melihat kehidupan para filsuf Stoisisme untuk melihat apakah
mereka tergolong orang-orang yang pasif, nrimo saja, dan tidak
berusaha.
Cato The Younger adalah seorang politisi di Kekaisaran Romawi yang
terkenal sebab berani menentang Julius Caesar. Seneca adalah guru
bagi kaisar dan aktif menulis, baik mengenai Stoisisme dan juga naskah
teater. Dia juga seorang anggota Senat. Marcus Aurelius, seorang kaisar
yang tidak hanya terkenal bijak, namun harus aktif menjaga keutuhan
kekaisarannya dari pemberontakan. Saat Roma diperintah oleh Kaisar
Nero yang sewenang-wenang, sekelompok filsuf Stoa melakukan
perlawanan secara politis. Saat membaca kisah- kisah mereka, tidak
terkesan praktisi Stoisisme sebagai orang- orang yang nongkrong saja
menerima nasib yang tiba.
Kata Marcus Aurelius dalam artikel Meditations:
"Saat subuh, saat kamu merasa sulit meninggalkan tempat tidur,
katakan pada dirimu sendiri: saya harus bekerja, sebagai manusia.
Apa yang harus saya keluhkan, jika saya memang mengerjakan hal-
hal yang untuknya saya dilahirkan—segala halyang memang harus
saya lakukan datang ke dunia ini? Atau INI-kah mengapa saya
diciptakan? Untuk meringkuk di bawah selimut agartetap hangat?”
Tapi kan rasanya nikmat melingkar di dalam selimut seperti kucing? Well,
Kaisar Marcus sudah punya jawabannya, "Jadi kamu dilahirkan untuk
‘merasa nikmat'? Dan bukannya bekerja dan mencari pengalaman?
Tidakkah kamu lihat tumbuhan, burung, semut, laba-laba, dan lebah,
semuanya mondar-mandir mengerjakan pekerjaan mereka, menempatkan
dunia ini sebagaimana mestinya, sebaik upaya yang bisa mereka lakukan?
Dan kamu tidak bersedia melakukan tugasmu sebagai manusia? Mengapa
kamu tidak bergegas melakukan apa yang dituntut oleh jati dirimu (sebagai
manusia)?”
Perhatikan konsistensi prinsip "hidup selaras alam”. Rajin bekerja dan
berkarya tidak dilihat sebagai sekadar jerih payah untuk bertahan hidup atau
memupuk kekayaan, namun sudah bagian jati diri manusia. Di dalam
Stoisisme tidak ada ancaman dosa untuk kemalasan, hanya kita diingatkan
bahwa dengan malas bekerja, kita sudah mengingkari Alam dan nature kita
sebagai manusia (bahkan kita dianggap lebih buruk dari binatang-binatang
yang rajin!). Kemudian, tanpa keselarasan dengan Alam, kita akan semakin
sulit meraih kebahagiaan dan ketenteraman batin yang sejati.
Dengan kata lain, kemalasanlah yang akan membawa kesusahan dan
bukanlah jerih payah itu sendiri. Sesungguhnya, kerajinan, kerja keras, dan
berkarya sudah menjadi panggilan kita.
Jika kamu hidup selaras dengan
Alam, kamu tidak akan
pernah menjadi miskin.
Menyikapi Kekayaan Orang Lain
Sejak 2.000 tahun yang lalu, yang namanya iri pada pencapaian, apalagi
kekayaan orang lain, ternyata sudah umum Padahal, zaman dahulu
belum ada media sosialyang sangat memudahkan untuk pamer
kekayaan. Saya terbayang zaman dulu saat belum ada televisi, kita
hanya bisa membandingkan diri kita dengan para tetangga. Untuk
membandingkan diri, kita harus melongok ke luar pagar untuk melihat
tetangga mana yang punya kendi baru sampai suami baru. saat ada
televisi, kita mulai bisa membandingkan diri dengan kekayaan para
selebriti dan tokoh terkenal yang muncul di layar kaca.
Kemudian, kehadiran media sosial membuat kita bisa membandingkan
diri dengan siapa saja, mulai dari teman yang dikenal, orang tak dikenal,
sampai berbagai macam selebriti, selama 24 jam, tujuh hari seminggu.
Sebegitu besarnya tekanan untuk memamerkan kekayaan (atau ‘terlihat’
kaya), bahkan saya sampai mendengar tentang akun-akun media
sosialyang niat 'memalsukan’ gaya hidup mereka agar terlihat hidup
dalam kemewahan.
Ini sebenarnya tragedi. Jika menempatkan kekayaan diri
sendiri saja sebagai di luar kendali kita, apalagi kekayaan orang lain?
Lalu, kita membiarkannya menentukan kebahagiaan kita. Apa yang
ditawarkan untuk melawan tendensi (manusiawi) untuk
membandingkan dan merasa iri?
Pertama, menempatkan kekayaan pada tempatnya. Epictetus, dalam
Enchiridion, berkata:
“Ini adalah nalar yang keliru, 'Saya lebih kaya, artinya saya lebih
baik dari kamu’, atau 'Saya lebih pandai berkata-kata [eloquent],
artinya saya lebih baik dari kamu.’
Yang benar seharusnya adalah, ‘Saya lebih kaya, artinya saya
memiliki lebih banyak aset dari kamu’, dan, ‘Saya lebih pandai
berkata-kata, artinya saya memiliki gaya bahasa yang lebih baik dari
kamu.’"
Kekayaan hanyalah ukuran kuantitas aset, properti, harta benda. Tidak
lebih dari itu. Masalahnya adalah ada orang yang tidak bisa memisahkan
kekayaan seseorang dari kualitas pribadinya. Seolah-olah, mereka yang
lebih kaya otomatis kualitasnya sebagai manusia juga lebih baik.
Dengan sangat logis, Epictetus mengklarifikasi hal ini . Kekayaan,
keahlian, kecantikan, kekuatan (fisik) tidak serta-merta membuat
seseorang "lebih baik dari kita”. Ini bisa membantu kita saat diterpa rasa
iri melihat kekayaan atau pencapaian orang lain. Sebaliknya, pesan
Epictetus juga berlaku bagi kita semua untuk tidak memandang rendah
mereka yang harta bendanya lebih sedikit atau keahliannya lebih rendah
dari kita.
Lebih lanjut, Epictetus memberikan tips mengenai iri hati (akan kekayaan)
dan perspektif baru:
"Setiap kali kamu melihat orang kaya, lebih baik cermati apa yang
telah kamu miliki. Seandainya kamu tidak bisa melihat apa pun,
kamu berada di situasi yang menyedihkan. Namun, jika kamu tidak
memiliki keinginan akan harta benda, sadarilah bahwa kamu
memiliki sesuatu yang lebih besar dan berharga. Atau, ada
seseorang yang mempunyai istri cantik dan kamu tidak memiliki
keinginan memiliki istri cantik. Apakah menurut kamu (tidak memiliki
keinginan akan harta/istri cantik) ini adalah hal sepele? Berapa
banyak dari mereka—orang- orang kaya, berkuasa, atau hidup
dengan perempuan cantik—yang bersedia membayar untuk bisa
menganggap remeh kekayaan, kekuasaan, dan semua perempuan
yang mereka puja dan dapatkan?”
Walaupun terkesan sebagai pembenaran diri ("Ah, ini sih bisa-bisanya
sobat miskin untuk menghibur diri.”), namun coba kita renungkan dalam-
dalam perkataan Epictetus ini. Kita semua, yang setiap hari dikejar
keinginan-keinginan, ingin lebih banyak uang lagi; ingin punya motor;
yang sudah punya motor ingin skuter mahal atau punya mobil; yang
sudah punya mobil ingin ganti mobil lebih mewah; yang punya tas ingin
tas lebih mahal lagi; yang sudah punya smartphone ingin yang lebih
canggih lagi; yang sudah punya istri ingin istri lebih cantik, dan lain
seterusnya. Semua keinginan ini mendera, membuat kita terobsesi, dan
terkadang mendorong kita untuk berbuat kejahatan, seperti korupsi.
Dalam , ada yang lebih nikmat daripada keinginan yang
terpenuhi, yaitu tiadanya keinginan itu sendiri. Ini lebih hebat dari sekadar
ikhlas menerima bahwa kita tidak memiliki
(tapi dalam hati masih mengingini). Kata Epictetus, orang- orang
kaya dan berkuasa harusnya bahkan bersedia membayar untuk bisa
terbebas dari keinginan-keinginan. mengajarkan kita
bahwa langkah awal untuk bisa terbebas— minimal mengurangi—
keinginan, adalah dengan benar-benar mengenali apa yang kita ingini
ini , apakah kita mengingini hal-hal di luar kendali kita (dikotomi
kendali).
"If you live according to what others think, you will never be
rich." - Seneca [Letters)
Senada dengan Epictetus, Seneca berkata bahwa kita yang hidup
terus-menerus mengikuti pendapat/opini orang lain tidak akan pernah
menjadi kaya. Kita bisa mengartikan quote ini dalam dua cara. Yang
pertama, hidup terus mengikuti opini orang lain, artinya kita tidak
habis-habisnya mengikuti tren. Tren sendiri artinya sesuatu yang
sedang populer di antara banyak orang di suatu periode. Mengikuti
tren artinya mengikuti opini orang banyak. Kalau kita terus-menerus
harus mengikuti tren yang ada dengan membeli barang- barang dan
makanan yang sedang populer, kapan kita menabung, berinvestasi,
dan menjadi kaya? Sayangnya, pola hidup “besar pasak daripada
tiang” ini rasanya selalu populer, apalagi di kota-kota besar.
Makna kedua dari pernyataan Seneca adalah jika terus- menerus
membandingkan diri dengan pendapat orang, kita tidak akan pernah
benar-benar merasa kaya, seberapa banyak pun harta yang sudah
kita kumpulkan. Berapa pun uang dan harta benda yang kita miliki,
akan selalu ada orang lain yang (tampak) lebih dari kita, dan akhirnya
kita tidak pernah bisa merasa “sudah kaya”. Bagaikan hamster yang
berlari di roda mainan tak berujung, pengejaran materi ini tidak akan
pernah usai.
Makna kedua ini sesuai dengan kalimat Seneca lainnya, “Jika kamu
hidup selaras dengan Alam, kamu tidak akan pernah menjadi miskin."
Ingat bahwa “Alam” dalam Stoisisme lebih bermakna nalar manusia.
Dengan kata lain, mereka yang hidup dengan nalarnya tidak akan
pernah (merasa) miskin, dan bisa mengenal kata “cukup”.
Hal-hal yang tidak di bawah
kendali kita: kekayaan
reputasi, kesehatan, dan
opini orang lain. Hal-hal yang
di bawah kendali kita: pikiran,
opini, persepsi, dan
Mungkin ada dari kamu yang saat ini berpikir, “Ah, filsafat ini >
terlalu meremehkan kemiskinan. Miskin kan gak enak? Yang
\ beneraja?" Epictetus pun sudah menyadari
kemungkinan
• tanggapan seperti ini, maka ia berkata (dalam
tindakan kita sendiri.
Enchiridion],
•
• "Ingatlah bahwa ada jauh lebih banyak orang miskin
* (daripada orang kaya), tapi kamu tidak melihat mereka
• semua terlihat lebih murung dan lebih khawatir daripada
• orang kaya. Bahkan, saya curiga mereka justru lebih
• bahagia sebab lebih sedikit hal-hal yang bisa mengganggu
1 pikiran mereka. Coba kita amati orang-orang kaya.
Tidakkah mereka sering kali terlihat sama saja dengan yang
miskin!"
Pengamatan dan konklusi yang masuk akal, dan bisa diterapkan di
negeri kita. Secara statistik, jumlah orang yang tidak berada pasti
jauh lebih banyak dari orang berada. Namun, cobalah kita melihat ke
sekeliling kita. Apakah kita dikelilingi orang-orang yang terus-
menerus terlihat muram, depresi, dan bersedih hati? Tidakkah kita
masih melihat tawa ceria, sukacita, keramahan di antara begitu
banyak orang yang tidak memiliki materi berlimpah? Maka, benarlah
bahwa kekayaan materi sesungguhnya tidak terlalu berpengaruh
pada kebahagiaan kita.
Di bab ini kita sudah berkenalan dengan prinsip dikotomi kendali
(atau trikotomi kendali). Jika bisa benar-benar meresapi prinsip ini
saja, seharusnya kita dapat menyadari bahwa ada banyak
kecemasan dan ketakutan dalam diri kita yang sebenarnya tidak
perlu. Stoisisme masih mempunyai beberapa "perangkat” lain untuk
membuat kita lebih sanggup mengelola emosi negatif kita di bab-bab
selanjutnya.
Intisari Bab 4:
• Dalam hidup, ada hal-hal yang di bawah kendali kita dan ada yang tidak.
Orang yang bijak adalah yang bisa mengenali kedua kategori ini dalam
segala hal di dalam hidupnya.
• Hal-hal yang tidak di bawah kendali kita: kekayaan, reputasi, kesehatan,
dan opini orang lain. Hal-hal yang di bawah kendali kita: pikiran, opini,
persepsi, dan tindakan kita sendiri.
• Walaupun kekayaan, kesehatan, kecantikan, ketenaran bisa
diusahakan, namun tidak bisa dijamin tidak bisa diambil dari hidup kita—
sebab nya mereka termasuk di dalam hal-hal di luar kendali.
• Baik tidaknya hidup kita hanya bisa dinilai dari hal-hal di bawah kendali
kita.
• Mengerti dikotomi kendali tidak sama dengan pasrah pada nasib.
• Trikotomi kendali dari William Irvine memperkenalkan kategori ketiga
“SEBAGIAN di bawah kendali kita”, misalnya studi, karier, dan bisnis.
Tugas kita adalah memfokuskan pada internal goal yang masih di
bawah kendali kita dan selalu siap menerima hasil/outcome yang di luar
kendali kita.
• Waspada tirani opini orang lain akan hidup kita.
• Segala hal di luar kendali kita adalah indifferent, tidak berpengaruh
terhadap baik tidaknya hidup kita. Sebagian dari indifferent ini lebih
diinginkan (preferred), sebagian lain tidak diinginkan (unpreferred).
• Belajar tidak mengingini hal-hal di luar kendali kita.
BAB LIMA
Mengendalikan
Interpretasi dan
Persepsi
94
uatu hari, saya merasakan malas yang luar biasa saat akan berangkat
bekerja. Ada sebuah jadwal meeting dengan klien yang saya merasa
sangat berat untuk dilakukan. Dalam perjalanan, saya mencoba
menganalisis pikiran saya sendiri di balik rasa berat ini. Setelah ditelusuri,
ternyata rasa berat saya timbul dari persepsi saya bahwa meeting ini hanya
membuang- buang waktu saya, bahwa tidak ada hal apa pun yang bisa saya
peroleh dari meeting ini. namun kemudian saya diingatkan Filosofi Teras
untuk berhati-hati dengan persepsi saya akan sebuah fakta objektif.
Faktanya adalah saya menghadapi sebuah meeting. Titik. Apakah meeting
ini hanya buang-buang waktu sudah menjadi penilaian (value judgment)
saya, dan bukan fakta. Menyadari bahwa rasa berat ini disebabkan oleh
persepsi saya sendiri, maka saya mencoba menantangnya. Kata siapa
meeting ini pasti buang-buang waktu—apalagi meeting-nya belum terjadi?
Dan kata siapa saya tidak bisa belajar sesuatu pun dari meeting apa pun?
Sesudah melakukan 'debat internal’ ini, saya merasakan sedikit lebih tenang.
S
Di bab sebelumnya, kita sudah diajarkan mengenai dikotomi kendali untuk
menyadarkan diri secara terus-menerus bahwa ada hal-halyang berada di
bawah kendali kita dan ada yang di luar kendali kita. Ini adalah fondasi
penting di dalam Stoisisme. Dengan bisa memahami hal ini saja, maka akan
sangat membantu kita mengatasi kekhawatiran sehari-hari.
Jika kita membuang waktu dan tenaga untuk memusingkan, meratapi, atau
terobsesi pada hal yang tidak di bawah kendali kita, maka itu adalah
irasional, tidak masuk akal. Walaupun prinsip ini sangat penting dalam
untuk memandu hidup kita sehari-hari, namun bukan satu-
satunya. Saya rasa kamu juga pasti merasa masih ada sesuatu yang hilang
jika hanya memahami dikotomi (atau trikotomi) kendali ini, sebab para filsuf
Stoa pun menyadari hal ini. Jadi, jangan khawatir. Ternyata mereka sadar
kok kalau kita semua punya kekuatan spesial untuk menghadapi hidup!
“It is not things that trouble us, but our judgment about things.”-
Epictetus [Enchiridion]
95
("Bukan hal-hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita,
namun pertimbangan/pikiran/persepsi akan hal-hal dan peristiwa
ini .”)
Dengan kata lain, Epictetus mengatakan bahwa sumber sebenar-
benarnya dari segala keresahan dan kekhawatiran kita ada di dalam
pikiran kita, dan bukan hal atau peristiwa di luar kita. Coba
bayangkan situasi-situasi berikut:
• Ketinggalan kereta saat mau ke kampus/kantor.
• Motor/mobil kita bannya kempes di tengah jalan.
• Smartphone baru beli dua hari jatuh, kacanya retak.
• Pacar salah sebut nama kita jadi nama mantan.
• Calon gubernur jagoan kita kalah di Pilkada.
• Rumah kebanjiran.
• Dimarahi mertua sebab masakan tidak enak.
• Kehilangan pekerjaan sebab perusahaan bangkrut.
• Anak kita kawin lari dengan pasangan yang berbeda agama.
Rasanya manusia normal akan setuju bahwa semua situasi di atas
tidak mengenakkan. Dari yang sekadar menyebalkan, yang serius
bikin mau marah, sampai yang bisa membuat kita putus asa.
Epictetus berkata bahwa sesungguhnya semua hal itu bukanlah
penyebab kita sedih, stres, galau, dan lain-lain. Menurut Stoisisme,
peristiwa-peristiwa ini adalah netral (tidak baik, tidak buruk).
Namun, persepsi, anggapan, dan pertimbanganlah yang membuat itu
semuanya menjadi "buruk”. Hah?Gimana?
Dalam , ada pemisahan antara apa yang bisa ditangkap
oleh indra kita /impression), dan interpretasi atau makna atas apa
yang kita lihat dan dengar ini /representation). Kita sering kali
gagal memisahkan keduanya. Pada umumnya, kita serta-merta
memberikan interpretasi/ penilaian lvalue judgment) dan pemaknaan
dari sebuah peristiwa yang dialami. Peristiwa itu sendiri hampir selalu
netral, namun kemudian menjadi "positif" atau "negatif" sebab
interpretasi dan makna yang kita berikan.
96
Sebuah ilustrasi sederhana, seorang Jawa Solo baru pertama kali bertemu
dengan seorang Batak Medan. Secara budaya, seseorang yang berasal dari
Batak Medan terkenal berbicara keras. Cara berbicara ini bagi diri sendirinya
adalah netral, namun kalau dilihat dari perspektif si orang Jawa Solo, dia bisa
menginterpretasi si orang Batak Medan sebagai ‘’kasar’’ dan "pemarah”,
padahal keduanya tidak benar. "Bicara keras” adalah impression, fakta
objektif yang bisa ditangkap indra, namun “kasar” adalah representation, sudah
ada penilaian lvalue judgment) subjektif.
Mari kita ambil beberapa contoh sebelumnya. Pacar salah sebut nama
mantan, misalnya. Secara fakta, kejadian ini "netral”. Apa yang bikin kamu
mengamuk kalau jadi pacarnya? sebab kamu menyusun persepsi dan
interpretasimu [value judgment) sendiri atas kejadian itu:
• '‘Bajingan, pacar gue belom move on dari si jalang itu!"
• "Selama ini jadi dia selingkuh sama mantannya?"
• "Sungguh cowok berengsek yang tidak menghargai gue!"
• Dan lain-lain.
Perhatikan, semua pernyataan di atas adalah murni dikonstruksi di dalam
kepalamu dan bukan datang dari peristiwa pacar salah sebut nama mantan.
Kejadian salah sebut nama mantan itu sendiri bersifat "netral”. Bahwa ia
dimaknai sebagai tanda belum move on, atau bahwa dia cowok brengsek,
adalah tambahan value judgment dari kita sendiri.
Mari kita ambil contoh lain. saat diputus hubungan kerja oleh perusahaan
sebab perusahaan bangkrut, apa yang melintas di pikiran kita?
• "Saya kena karma apa ya sampai apes seperti ini?”
• "Hidup saya selalu sial, kerjaan saja gak bisa bertahan.”
• "Ini adalah kiamat! Habis sudah hidupku..."
Sekali lagi, pikiran-pikiran di atas adalah opini dan interpretasi kita sendiri,
tidak datang secara objektif dari peristiwa PHK itu sendiri. Inilah yang
disebutkan oleh Epictetus bahwa sesungguhnya bukan peristiwa/hal yang
meresahkan kita, namun pikiran kita sendiri (mengenai peristiwa/hal ini ).
.pada dasarnya
semua emosi dipicu
oleh penilaian, opini,
persepsi kita.
Keduanya
saling terkait, dan jika
ada emosi negatif,
sumbernya ya nalar/rasio
, kita sendiri. J
Kekuatan Pertimbangan (Judgment) dan Persepsi
Senada dengan Epictetus, Marcus Aurelius [Meditations) menulis:
"Jika kamu merasa susah sebab hal eksternal, maka perasaan susah itu
tidak datang dari hal ini , namun oleh pikiran/persepsimu sendiri. Dan
kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapan pun
juga."
Kamu memiliki kekuatan untuk mengubahnya...kapan pun juga! Marcus Aurelius
melanjutkan ucapan Epictetus, bahwa kita harus menyadari semua rasa susah,
khawatir, cemas, iri hati, dan lain-lain datangnya dari pikiran kita sendiri. Kabar
baiknya, kita sebenarnya MAMPU mengubah pikiran/persepsi kita (tanpa
• w
• w
• 1
<
k k A
mengubah peristiwa eksternalyang terjadi).
Inilah yang dimaksudkan oleh Stoisisme bahwa kebahagiaan sejati datang dari hal-
hal yang bisa dikendalikan, yaitu pikiran, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri.
Kebahagiaan tidak perlu bergantung pada hal-hal eksternal.
Bagi saya, ajaran ini membebaskan sebab sifatnya memberdayakan
/empowering) kita. berkeyakinan bahwa kita bukanlah sekoci kecil
tak berdayung dan tak berlayar yang pasrah digoyang ke sana sini saat diterjang
badai "peristiwa hidup" lebuset, puitis amat yak]. Kita tidak harus menjadi makhluk
yang selalu reaktif terhadap hal-hal yang terjadi di dalam hidup kita. Kita bukanlah
makhluk pasif yang dibawa senang, sedih, dan marah oleh hal-hal eksternal.
Sebaliknya, perasaan kita datang dari pendapat dan persepsi yang sepenuhnya di
bawah kendali kita. Kita bisa aktif menentukan respon kita terhadap peristiwa-
peristiwa di dalam hidup kita.
Insight dari ini juga menghancurkan apa yang saya percayai sejak
kecil mengenai emosi vs rasional. Dulu, saya selalu memisahkan "emosi" dari
"nalar/rasio” sebagai dua kekuatan berbeda yang saling bertarung. Namanya
pertarungan, selalu ada yang ‘kalah’ dan ‘menang’. Seolah-olah jika nalar menang
dari emosi, maka kita menjadi manusia yang tenang dan terkendali. Sebaliknya,
saat gantian emosi menang dari nalar, maka kita melakukan hal-hal yang
destruktif.
Ajaran menantang konsep ini dengan menjelaskan
bahwa pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi
kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sumbernya ya
nalar/rasio kita sendiri.
Konsep ini cukup revolusioner bagi saya, sebab setiap kita merasakan
emosi negatif (seperti kisah saya di awal bab ini yang merasa berat
menghadiri sebuah meeting] kita bisa menelusuri apa pikiran, opini,
persepsi penyebabnya. Dan pikiran, opini, persepsi ini bisa di- 'debat”,
ditantang, diubah. Emosi (negatif) bukan lagi sesuatu yang harus
“diperangi”, namun bisa “diselidiki dan dikendalikan” dari sumbernya.
sebab nya ada ungkapan, emosi (negatif) adalah nalaryang tersesat.
Mari kita kembali ke contoh sebelumnya dan melihat bagaimana
interpretasi kita terhadap sebuah peristiwa bisa dikendalikan. Anggap saja
seperti menulis ulang drama hidup kita [rewrite the narrative!. Pacar salah
sebut nama mantan? Ada alternatif interpretasi, misalnya:
• "Semua manusia wajar salah sebut, apalagi dia lama pacaran
sama mantannya."
• "Mungkin dia memang belum move on. Saya bersyukur ditunjukkan
hal ini, sebab dia berhak bahagia, dan saya berhak bahagia."
• "Ini adalah ujian bagi saya apakah saya bisa memaafkan dan
menerima dia. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk saya."
Kehilangan pekerjaan? Ada alternatif interpretasi:
• "Ini kesempatan mengubah karier ke bidang yang saya mau." •
"Lumayan dapet pesangon, bisa nyoba bisnis online."
• "Ini ujian bagi kesabaran dan keuletan saya."
Perhatikan bahwa interpretasi ulang di atas bukan sekadar
menghindar/ngefes, namun sama valid-nya dengan semua interpretasi
negatif sebelumnya. Peristiwa yang terjadi (pacar salah sebut nama atau
kita kehilangan pekerjaan) tetap tidak berubah, akan namun kita memiliki
kendali atas ”makna7va/ue judgment apa yang hendak kita kenakan ke
peristiwa itu.
Dari makna dan persepsi inilah timbul perasaan dan emosi kita. Jika kita memberi
makna yang negatif, maka kita akan merasa marah, cemburu, iri, putus asa.
Namun, jika kita memberi makna yang positif, maka kita akan merasa terinspirasi,
lebih sabar, lebih tekun, dan tidak menyerah. Pilihan makna itu sepenuhnya ada di
tangan kita.
Melawan Interpretasi Otomatis
“Jangan katakan pada dirimu sendiri lebih dari impresi awal
yang kamu dapatkan. Kamu mendapatkan bahwa seseorang
berkata yang jelek tentang kamu. Ya, hanya ini kabarnya.
Kabarnya tidak berkata bahwa kamu sudah
dilukai/dicelakakan [harmed). Saya melihat putra saya sedang
sakit—tapi tidak sedang terancam jiwanya. sebab nya
tetaplah fokus pada impresi pertama (fakta objektif), dan
jangan ditambah-tambahkan lagi di kepalamu. Maka
sesungguhnya tidak ada yang benar- benar bisa terjadi
kepadamu.” - Marcus Aurelius [Meditations]
Mempelajari menyadarkan saya bahwa banyak dari emosi negatif
kita merupakan akibat dari "interpretasi otomatis” /representation) atas sebuah
kejadian/peristiwa. Ada kejadian yang tidak enak menimpa kita, maka kita secara
otomatis merasa dizalimi, diperlakukan tidak adil, ditimpa bencana, dihina, dan lain-
lain, dan akhirnya emosi negatif pun menyusul, yaitu jadi merasa jengkel, marah,
takut, dendam, cemburu, putus asa, dan lain-lain.
Coba perhatikan kalau lain kali kita berkeluh kesah. Sering kali keluh kesah keluar
segera setelah terjadinya sebuah peristiwa. Misalnya, saat kita kehilangan uang,
dikecewakan orang, stuck di kemacetan jalan, atau kuota data habis, maka dengan
cepat kita mengomel sebab interpretasi kita (ingat perkataan Epictetus bahkan
bukan hal/peristiwa itu sendiri yang membuat kita cemas/khawatir, tapi interpretasi
kita). Ini yang saya
maksud dengan "respon otomatis”. Begitu ada pemicu /trigger), interpretasi
otomatis muncul, diikuti dengan emosi. Kurang lebih, bagannya akan
seperti ini:
Setelah membaca quote Marcus Aurelius di atas, saya jadi sadar bahwa saya tidak
harus marah jika terjebak kemacetan. Jika saya mau meluangkan sedikit waktu saja
Inilah yang dimaksudkan oleh Marcus Aurelius, bahwa kita
sesungguhnya memiliki kendali terhadap rasa cemas, khawatir, dan
emosi negatif lainnya, yaitu jika kita bisa mengendalikan interpretasi
secara aktif. Dengan demikian, kita bisa menginterpretasi sebuah
peristiwa secara rasional, sesuai dengan nature manusia untuk
menggunakan nalar kita. Jika kita tidak menggunakan nalar, maka
kita tidak ada bedanya dengan binatang. Bagaikan kucing yang
dipegang oleh orang tidak dikenal, maka secara insting kucing
ini berniat mencakar sebab menganggap orang itu sebagai
ancaman.
Dalam , representation atau interpretasi kita akan
sebuah peristiwa tidak harus terjadi secara spontan tanpa ‘diperiksa'
/examined). Jika mau, sesungguhnya kita mampu memeriksa sebuah
peristiwa dan kemudian memutuskan makna apa yang ingin kita
berikan. Contohnya adalah pengalaman pribadi saya sebagai berikut.
Di awal artikel saya sudah bercerita bagaimana setelah mempelajari
Stoisisme saya menjadi jauh lebih sabar jika terjebak kemacetan dan
tidak marah-marah gak jelas lagi. Dulu, saya selalu mendapati situasi
saya seperti ini:
PERISTIWA:
Terjebak di
kemacetan
INTERPRETASI 1
OTOMATIS: Saya
buang-buang
aktu di sini! Saya
. terpenjara! J
EMOSI
(NEGATIF):
Marah, kesal,
frustrasi
untuk berpikir, saya mampu mengubah interpretasi atau persepsi otomatis ini. Saya
mencoba menerapkan prinsip ini ke diri saya sendiri, dan sekarang saya tidak marah-
marah lagi saat terjebak kemacetan. Proses berpikir saya menjadi sebagai berikut:
Sekarang, kemacetan tidak lagi secara otomatis memicu rasa amarah atau frustrasi. Dan
semakin sering saya berusaha mengendalikan pikiran saat terjebak kemacetan, semakin
terasa mudah bagi saya. Bagaikan latihan mengangkat beban, semakin sering dilatih,
maka beban yang sama makin lama akan makin terasa ringan. Begitu juga halnya
dengan mengendalikan interpretasi/makna/va/ue judgment sebuah peristiwa—semakin
sering maka akan terasa semakin mudah.
Sekarang, terjebak dalam kemacetan sudah tidak lagi membuat saya gelisah atau
marah-marah. Teknik ini bisa diterapkan dalam semua situasi saat kita mulai
merasakan adanya emosi negatif. Jika saya mau, saya selalu mampu untuk tidak
menuruti interpretasi otomatis yang menyeret saya pada emosi negatif yang berlarut-
larut.
sebab umumnya orang menyukai akronim (singkatan) untuk memudahkan mengingat
langkah-langkah, maka saya akan menggunakan akronim juga untuk membantu
pembaca mengambil kembali kendali interpretasi atas kehidupan kita sehari-hari.
Akronim ini saya temui di internet, namun tidak diciptakan oleh Stoisisme.
Langkah-langkah yang bisa diambil saat kita mulai merasakan emosi
negatif (mau mengamuk, sedih, baper, frustrasi, putus asa, dan lain-
lain) dapat disingkat menjadi S-T-A-R iStop, Think & Assess,
Respond):
1. STOP (berhenti). Begitu kita merasakan emosi negatif, secara
sadar kita harus berhenti dulu. Jangan terus larut dalam
perasaan ini . Anggap saja kita berteriak “time-out!" di
dalam hati. Cara ini bisa mulai dilatih di semua emosi negatif
begitu mulai terdeteksi, seperti takut, khawatir, marah, cemburu,
curiga, stres, sedih, frustrasi, dan lain-lain. Walau mungkin
terdengar aneh atau mustahil untuk "menghentikan” emosi yang
selama ini muncul begitu spontan, menurut pengalaman saya ini
sangat bisa dilakukan. Semakin sering dilakukan, kita akan
menjadi lebih efektif melakukannya.
2. THINK & ASSESS (dipikirkan dan dinilai). Sesudah
menghentikan proses emosi sejenak, kita bisa aktif berpikir.
Memaksakan diri untuk berpikir secara rasional saja sudah
mampu mengalihkan kita dari kebablasan menuruti emosi.
Kemudian, mulailah menilai /assess), apakah perasaan saya ini
bisa dibenarkan atau tidak? Apakah kita telah memisahkan fakta
objektif dari interpretasi/va/ue judgment kita sendiri?
Menggunakan , cara kita menilai adalah dengan
bertanya pada diri sendiri, "Apakah emosi saya ini terjadi sebab
sesuatu yang di dalam kendali saya atau di luar kendali saya?”
Contoh:
a. Terkena macet yang tidak biasanya. Ini di luar kendali kita,
kenapa gusar? Toh ngamuk-ngamuk tidak bisa mengubah
situasi.
b. Mau meeting, ketinggalan f/7e/dokumen penting.
Oke, kita bisa kesal sama diri sendiri sebab teledor
(sesuatu yang ada di bawah kendali kita), tapi, saat ini,
situasi sudah terjadi. Jadi, daripada marah-marah pada diri
sendiri, alihkan untuk mencari solusi.
c. Ketemu teman yang sudah lama tak berjumpa, tanpa basa-
basi dia langsung teriak, "GILEEEELO GEMUKAN
AMAAAT? EH, LO GEMUKAN APA HAMIL DI LUAR
NIKAH??" Kata-kata ini secara objektif ya hanya kata- kata,
namun interpretasi "ini sengaja menghina saya" sudah datang
dari pikiran kita sendiri. Kemudian, kita tidak bisa
mengendalikan congor orang lain, jadi mau berharap apa?
Berharap semua orang bisa tahu mana sapaan yang sopan
atau tidak? Ini tidak realistis. Juga ada kemungkinan dia
benar-benar tidak mengerti etiket, dan kalau tidak tahu,
artinya dia tidak tahu kalau yang dilakukannya tidak patut.
Kita bisa memberi tahu dia dengan baik-baik (kalau mau).
Nanti kita akan membahas nasihat praktis Stoisisme dalam
berurusan dengan manusia-manusia lain (yang kerap dirasa
menjengkelkan).
d. Permintaan dari atasan yang dirasa 'menakutkan', misalnya,
dari pengalaman saya pribadi, diminta untuk berbicara di
depan ratusan orang. Rasa gentar yang mendadak muncul
kemudian saya analisis. Ternyata, saya gentar sebab takut
membayangkan saya gagal (irasional sebab belum terjadi)
dan takut orang lain menganggap penampilan saya buruk
(irasional sebab opini orang lain tidak berada di bawah
kendali kita). Saya juga gagal memisahkan antara fakta
objektif (berbicara di depan banyak orang), dan interpretasi
pribadi (saya akan mempermalukan diri sendiri). Sesudah
melakukan think & assess ini, saya pun berangsur lebih
tenang dan bisa menerima tugas dari atasan.
Dari pengalaman saya, sekadar berusaha melakukan Think
& Assess saja sudah cukup untuk menahan laju emosi jiwa
yang sedang membuncah, sebab yang kita lakukan adalah
menginterupsi emosi yang selama ini bablas seperti gerbong
kereta lepas. Dalam Think & Assess, sebenarnya kita
sedang "memisahkan” [detach) diri kita dari sekadar orang
yang terbawa perasaan menjadi "pengamat”/pihak ketiga
yang berkepala dingin. Dicoba deh!
3. RESPOND. Sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk
rasional dalam mengamati situasi, dan, semoga saat ini, emosi
sudah sedikit turun, barulah kita memikirkan respon apa yang
akan kita berikan. Respon bisa dalam bentuk ucapan atau
tindakan. sebab pemilihan respon
ini datang sesudah kita memikirkannya situasinya baik-
baik, diharapkan ucapan dan tindakan respon ini adalah hasil
penggunaan nalar/rasio yang sebaik-baiknya, dengan prinsip
bijak, adil /fair), menahan diri /tidak terbawa perasaan/emosi/,
dan berani /courage).
Kerangka S-T-A-R ini menurut saya bisa dipakai di situasi apa pun.
APA-PUN. Tidak ada situasi yang terlalu berat sampai kita tidak
mampu mengendalikan interpretasi pribadi. Kapan kita tahu kita
harus melakukan S-T-A-R? Begitu kita mendeteksi adanya emosi
negatif dalam setiap situasi yang dihadapi. Sekolah, pacaran, karier,
bisnis, keluarga, jalan raya—rasanya tidak ada skenario hidup apa
pun yang tidak bisa merasakan manfaat kerangka S-T-A-R ini.
Mulai dari keputusan "kecil”, misalnya panik melihat sale sepatu di
mal (interpretasi otomatis yang harus dilawan, "ADUH KAPAN LAGI
ADA SALE SEPERTI INI, WALAUPUN GUE GAK BUTUH SEPATU
KE-200....”), sampai keputusan "besar", misalnya diajak menikah
masih muda, sampai peristiwa hidup yang mengguncang kita,
misalnya PHK atau kematian mendadak keluarga dekat. Memberikan
diri kita kesempatan untuk berpikir rasional hampir selalu lebih baik
dibandingkan dengan terus-menerus membiarkannya ditarik ke sana
sini oleh emosi.
Dalam Discourses, Epictetus berkata, "Jangan biarkan peristiwa yang
ada (di depanmu) menggoyahkan dirimu. Katakanlah (kepada
peristiwa/kejadian itu), 'Tunggu dulu; biarkan saya memeriksamu
sungguh-sungguh. Saya akan mengujimu terlebih dahulu.”’ Bagi saya
ini adalah teknik S-T-A-R di atas. Hampir 2.000 tahun yang lalu
Epictetus juga mengingatkan agar kita tidak tergesa-gesa menilai,
apalagi bertindak atas apa yang kita rasakan dan pikirkan tanpa
dianalisis terlebih dahulu.
Mungkinkah seseorang mampu bersikap sangat rasional di setiap
detik, di setiap kesempatan? Stoisisme mengerti sifat dasar manusia
yang memiliki emosi dan perasaan yang bersifat reflex. Dan ini
manusiawi. Sebagai contoh, saat kita sedang berkendara tiba-tiba
disalip ibu-ibu naik skutik yang menyalakan lampu sen ke kiri, namun
bermanuver ke kanan, pasti ada reaksi spontan kaget dan mungkin
marah. Atau, saat kita sedang sendirian di rumah di malam hari,
dan tiba-tiba terdengar suara dari loteng.
“Sudah saatnya kamu
menyadari bahwa kamu
memiliki sesuatu di dalam
dirimu yang lebih kuat dan
ajaib daripada hal-hal yang
memengaruhimu layaknya
sebuah boneka ” - Marcus
Aurelius (Meditations)
Reaksi pertama yang terpikir mungkin takut, bulu kuduk merinding,
dan berpikir ada setan lagi mampir. Stoisisme menerima impresi dan
reaksi spontan ini sebagai sifat manusiawi yang wajar. Tantangannya
adalah apakah kita akan membiarkan representation awal ini terus
berlanjut? ("Gue dizolimi ibu-ibu skutikl", atau, "ADA SETAN DI
LOTEEEEENGGGG!!!!"), atau kita bisa menghentikannya, memeriksa
pikiran kita sendiri, dan kemudian mengambil respons yang lebih baik
("Sabar. Pengendara sembarangan ya ada di mana-mana. Saya yang
musti waspada," atau, "Mungkin ada penjelasan lain untuk suara di
loteng, gak harus setan kan. Bisa aja maling, kucing, atau
genderuwo..."). Teknik S-T-A-R membutuhkan kemampuan deteksi
dini emosi negatif agar kita bisa segera sadar dan menghentikan
rantai pikiran buruk seawal mungkin.
Kita bisa menjadikan disiplin S-T-A-R ini kebiasaan sehat. Pada
awalnya pasti terasa menantang, apalagi jika selama bertahun- tahun
hidup dengan emosi yang sangat reaktif dan spontan terhadap apa
pun yang menimpa hidup kita.
Saat menulis artikel ini, saya sudah menerapkan S-T-A-R selama
kurang lebih 6 bulan, dan saya bisa katakan, semakin sering
diterapkan semakin dia menjadi kebiasaan. Menurut banyak
penelitian, kemampuan mental kita memang mirip dengan otot.
Kebiasaan berpikir bisa dilatih seperti mengangkat barbell atau lari
maraton—semakin sering dilatih, maka semakin kuat.
"Jagalah senantiasa persepsimu, sebab ia bukan hal yang
sepele, namun merupakan kehormatan, kepercayaan, ketekunan,
kedamaian, kebebasan dari kesakitan dan ketakutan—dengan
kata lain, kemerdekaanmu.” - Epictetus [Discourses]
Tentunya kita harus realistis bahwa teknik S-T-A-R bukan amunisi
ajaib [magic bullet) yang mengatasi segala emosi kita, membuat kita
selalu kalem luar biasa bagaikan tokoh Yoda di film Star Wars.
Namun, minimal kita bukan bagaikan sekoci lepas yang pasrah
mengikuti dibawa ombak ke mana. Stoisisme mengajarkan bahwa
interpretasi ini sepenuhnya di bawah kendali kita. Dengan S-T-A-R,
kita mulai berusaha memberikan "dayung” dan "layar” ke kapal kecil
emosi kita, sehingga tidak semudah itu diombang-ambing ke sana
sini.
Seperti disinggung oleh Dr. Andri SpKJ, FAPM di Bab I, bukan stres
yang membunuh kita, namun reaksi kita terhadap stres. Stres yang
sama bisa menimpa dua orang, namun responnya bisa sangat
berbeda, tergantung persepsi masing-masing individu. Bagi saya,
inilah bentuk validasi dunia medis terhadap .
Walaupun “ilmu” psikologi dan psikiatri mungkin belum resmi
dirumuskan di masa Yunani dan Romawi kuno, para filsuf Stoa sudah
memahami bahwa peristiwa buruk, kondisi yang tidak
menyenangkan, dan musibah adalah fakta hidup (Sang Buddha
berkata bahwa hidup pada dasarnya penuh kesedihan), namun bukan
itu semua yang ‘membunuh’ kita, melainkan apa yang kita pikirkan
tentangnya.
“Sudah saatnya kamu menyadari bahwa kamu memiliki sesuatu
di dalam dirimu yang lebih kuat dan ajaib daripada hal-hal yang
memengaruhimu layaknya sebuah boneka.” - Marcus Aurelius
[Meditations]
Kemampuan—dan kemauan—mengendalikan interpretasi semakin
diperlukan di masa kini, sebab adanya temuan psikologi bahwa
generasi millenial memiliki “rasa berhak” (entitlement)yang lebih tinggi
dari generasi sebelumnya. Persepsi hak ini datang dari
bef/ef/kepercayaan bahwa “saya lebih superior dari orang lain dan
berhak mendapatkan hal- hal yang baik juga”. Dr. Joshua Grubbs
yang melakukan riset bersama The University of Hampshire
mengatakan:
“Di tingkat ekstrem, rasa berhak/entitlement adalah sifat narsis
yang sangat merusak, menempatkan orang pada risiko frustrasi,
tidak bahagia, dan kecewa akan hidup. Sering kali, hidup,
kesehatan, bertambahnya usia, dan kehidupan sosial tidak
memperlakukan kita seperti yang kita inginkan.
Bertemu dengan batasan-batasan (hidup) ini sangat
mengancam bagi mereka yang merasa berhak/entitled sebab
tidak sejalan dengan persepsi mereka akan keunggulan mereka
sendiri."
Dr. Grubbs meneliti 170 kasus dan menentukan bahwa sebuah rasa
berhak membawa kita pada siklus kekecewaan, kemarahan,
perasaan negatif, dan kebutuhan terus-menerus
“Selalu ingat
bahwa ini
semua telah terjadi
sebelumnya, dan akan terjadi
lagi. Plot yang sama dari
awal hingga akhir, di tata
panggung yang sama.
Pikirkan hal ini, berdasarkan
yang kamu ketahui dari
pengalaman atau sejarah.” -
Marcus Aurelius
(Meditations).
bagi seseorang untuk
meyakinkan dirinya
bahwa dia istimewa.
Untuk bisa
melawan mentalitas ini, para pakar percaya bahwa seseorang harus
belajar untuk lebih rendah hati, lebih bersyukur /grateful), dan
menerima batasan yang dihadapi dan keterbatasan mereka sendiri.
Memba











