Tampilkan postingan dengan label Filosofi 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi 3. Tampilkan semua postingan

Filosofi 3


 esentasi berulang-ulang, sampai 

presentasi Power Point yang dibuat cantik dan profesional. Sepanjang kita 

sudah berupaya maksimal di hal-hal ini, kita sudah melakukan halyang bisa 

dilakukan di dalam kendali kita. Nilai dari skripsi kita adalah outcome (hasil) 

yang berada di luar kendali. Jadi, menjadi stres dan khawatir mengenai 

hasilnya adalah halyang irasional.

Contoh lainnya lagi misalnya dalam berbisnis. Bisnis masuk ke dalam

kategori “sebagian berada di bawah kendali kita". Maka, kita bisa 

memisahkan antara internal goal dan outcome atau hasil. Internal 

goal, misalnya, adalah tekad dan upaya kita memberikan produk/jasa

yang terbaik, melakukan promosi yang terbaik, menetapkan harga 

yang kompetitif, menyediakan layanan konsumen yang andal, dan 

lain-lain. Jika kita telah mengerahkan upaya yang sebaik-baiknya di 

hal-hal yang bisa kita kendalikan, maka itu sudah cukup.

Kita bisa merasakan kepuasan, bahkan kebahagiaan, sebab  sudah 

mencapai tujuan internal yang kita tetapkan sebelumnya. 

Selanjutnya, apakah bisnis akan sukses atau tidak akan tergantung 

pada banyak faktor luar, seperti persaingan dan aturan pemerintah. 

Oleh sebab  itu, kita harus bisa menerimanya apa pun hasilnya. Baik 

bisnis kita sukses atau gagal, kita masih bisa belajar darinya untuk 

memperbaiki hal- halyang bisa dikendalikan.

Perhatikan bahwa dalam kategori "sebagian di bawah kendali" ini, 

pada umumnya, semakin baik kita mengerjakan internal goal, 

seharusnya semakin besar peluang kita mendapatkan hasil atau 

outcome yang memang kita impi-impikan. Biasanya, kerja keras, 

belajar sungguh-sungguh, berlatih dengan tekun, menyayangi dan 

mencintai pasangan sepenuh hati, menjalankan usaha dengan rajin 

dan keras, akan mendekatkan seseorang pada halyang ingin dicapai.

Dengan menyadari sepenuhnya bahwa outcome terakhir berada di 

luar kendali kita, maka saat mengalami gagal kita tidak perlu meratapi

tujuh tahun lamanya, sebab  kita tahu sudah berbuat yang terbaik 

untuk internal goal ini  berdasarkan persiapan yang kita lakukan.

Berikut adalah contoh-contoh trikotomi kendali dalam bentuk tabel:

Contoh hal-hal

yang 

SEBAGIAN di 

bawah kendali 

kita

Internal Goa//target 

Internal (DALAM 

kendali kita), layak 

menjadi perhatian kita

Hasil/outcome (DI 

LUAR kendali kita), 

tidak layak menjadi 

sumber kekhawatiran 

dan emosi kita

Perjalanan 

karier

• Bekerja sebaik- 

baiknya

• Menunjukkan 

kompetensi kepada 

atasan/kolega

• Menjalin kerja sama 

yang baik dengan 

kolega

• Penilaian atasan 

(subjektif tergantung 

dia)

• Keputusan 

pengangkatan 

jabatan

• Gosip/politik kolega

Perlombaan 

olahraga/ 

kompetisi

• Berlatih dengan keras

• Nutrisi yang baik

• Mempersiapkan 

kesehatan untuk 

perlombaan

• Performa lawan (bisa 

lebih baik atau lebih 

buruk)

• Kondisi lapangan saat

bertanding

• Hal-hal lain seperti 

gangguan teknis, 

konsentrasi juri, dan 

lain-lain, sakit yang 

menyerang kita 

mendadak

Kesehatan • Olahraga yang cukup

• Tidur yang cukup

• Nutrisi yang cukup

• Sehat senantiasa

• Kecelakaan

• Infeksi penyakit

• Salah diagnosis 

dokter/malpraktik

Hubungan 

asmara/ 

pernikahan

• Perhatian yang cukup

• Kasih sayang dari kita

• Kesetiaan diri sendiri

• Perasaan pasangan

• Kesetiaan pasangan

Berbisnis • Profesional

• Tidak menipu 

pelanggan

• Memberi layanan 

terbaik bagi 

pelanggan

• Menjual barang dan 

jasa dengan kualitas 

yang baik

• Melakukan 

administrasi dan 

keuangan yang baik

• Menaati aturan dan 

membayar pajak

• Dan lain-lain

• Ada pelanggan yang

membeli dari kita

• Kesetiaan pelanggan

• Kepuasan pelanggan

• Perubahan aturan 

pemerintah (bisa 

menguntungkan, 

bisa merugikan)

Dalam situasi-situasi di atas dan situasi serupa lainnya, pemisahan 

antara internal goal dan outcome memiliki dua manfaat:

1. Kita bisa memfokuskan energi dan kebahagiaan pada hal-

halyang ada di bawah kendali kita, dan tidak pusing/stres 

untuk hal-hal di luar kendali kita. Saat kita sudah belajar 

keras untuk ujian, berlatih sebaik-baiknya untuk 

pertandingan, atau melakukan yang terbaik untuk pasangan,

kita bisa mendapatkan kepuasan dari hal-hal ini  tanpa 

harus menunggu outcome-nya.

2. Di saat ternyata outcome/hasil tidak seperti yang kita harapkan, 

secara mental kita (seharusnya) tidak terlalu terpuruk, sebab  fokus 

kita adalah pada internal goal yang bisa kita lakukan dan bukan di 

outcome. Kita tidak perlu meratapi kegagalan secara berlebihan, 

apalagi sampai mengutuk diri sendiri. Contohnya, kita mengikuti 

pertandingan basket antarkampus. Jika kita sudah berlatih keras dan

memberikan permainan terbaik, kekalahan tidak bisa sepenuhnya 

merampas kebahagiaan kita. Ini mirip dengan ungkapan populer, 

“Manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan." Kita bisa 

merasakan kepuasan dan kebanggaan jika kita sudah memberikan 

permainan basket yang terbaik, apa pun hasilnya.

3. Kerendahan hati. Mengakui bahwa outcome tidak ada di bawah 

kendali kita sepenuhnya juga penting saat kita menikmati 

keberhasilan. Saat sedang sukses, jangan terlena bahwa ini semua 

adalah hasil “upaya saya sendiri”. Kesuksesan kita juga dipengaruhi 

oleh banyak faktor di luar kendali kita. Jadi, jangan sombong.

Kamu

memiliki

kendali atas

pikiranmu

—bukan

kejadian-kejadian di

luar

sana. Sadari ini, dan

kamu akan

menemukan

kekuatan.”

- Marcus Aurelius (Meditations)

Berkarier di dunia advertising (periklanan) menyadarkan saya betapa 

trikotomi kendali di atas sangat relevan dalam membantu mengurangi stres 

pekerjaan. Bagi kami yang bekerja di biro periklanan, “dagangan” kami adalah

• w

• w

•1

■F

T

ide kreatif. Kami menghasilkan ide kreatif dan menawarkannya kepada klien. 

Jika klien setuju dengan ide yang ditawarkan, maka barulah ide ini  

diproduksi menjadi materi iklan.

Yang namanya menawarkan dagangan, entah itu pisang Ambon ataupun ide 

kreatif, memiliki risiko yang sama, yaitu DITOLAK. Kalau dipikir-pikir, 

pedekate gadis idaman pun bagi sang cowok adalah perdagangan—

menawarkan dagangan rasa ini [Halah, apa sih). Penolakan terjadi sangat 

sering di dalam pekerjaan. Umumnya, reaksi kolega yang idenya baru saja 

ditolak oleh klien adalah merasa kecewa dan jengkel (apalagi kalau sudah 

ditolak berkali-kali untuk project yang sama), disertai kata-kata seperti berikut:

“Dasar klien bego, gak ngerti ide bagus." - (menyalahkan klien)

“Dasar account service dan planner bego, gak ngasih arahan yang bener." - 

(menyalahkan anggota tim lain)

“Ini semua pasti gara-gara gue lupa membakar sesajen di depan kantor 

klien." - (menyalahkan dunia supranatural)

Bagaimana contoh aplikasi dikotomi/trikotomi kendali di dalam lingkup 

pekerjaan saya? Dengan mengategorikan outcome (klien menyenangi dan 

menyetujui ide kita) sebagai hal “di luar kendali kita", dan memfokuskan 

energi dan upaya pada hal-hal "di bawah kendali kita”, yaitu kualitas ide, 

presentasi ide, dan lain-lain. Jika saya bisa mempraktikkan ini dengan baik, 

maka "penolakan klien tidak seharusnya mengganggu kebahagiaan saya", 

sebab  praktisi  tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-

hal yang ada di luar kendalinya (walaupun jika ide kita disenangi klien tentu 

kita diperbolehkan untuk merasa senangi. Kepuasan kerja dikembalikan pada

"apa yang kita kerjakan" (apakah saya sendiri sudah bangga dengan ide yang

dihasilkan?) dan bukan "apa yang dikendalikan orang lain".

Ide kita ditolak? Tidak perlu menyumpahi dan menyalahkan orang lain. 

Langsung move on kepada hal-hal yang ada di bawah kendali kita, yaitu 

menerima input klien, kembali bekerja, dan berusaha lebih baik lagi.


Inilah mengapa saya menyadari bahwa saya lebih cocok dengan 

 dibandingkan positive thinking atau tips-tips selfhelp 

lainnya. Sering kali tips-tips ini  memfokuskan kita pada hal-hal 

eksternal, seperti kesuksesan karier, bisnis, dan percintaan, yang 

sebenarnya berada di luar kendali kita (atau hanya sebagian di 

bawah kendali kita).

Bagi saya, pola pikir seperti itu adalah jalan menuju ekspektasi yang 

tidak realistis atau kekecewaan dan kepahitan saat  ternyata hal 

yang kita idam-idamkan tidak terwujud. Sebaliknya,  

tidak tertarik sama sekali dengan hal-hal eksternal dan lebih 

mementingkan hal-hal di dalam diri kita, yaitu menghilangkan emosi 

negatif, memaksimalkan hidup dengan hal-hal yang benar-benar 

berguna dan yang bisa kita kerjakan.

Tirani Opini Orang Lain

Mari kita membahas mengenai salah satu dari “hal di luar kendali” 

menurut Stoisisme, yaitu opini/pendapat orang lain. Entah sadar atau

tidak, berapa banyak dari kita yang hidup terus-menerus mengikuti 

pendapat orang lain. “Apa kata orang?" adalah ucapan yang sering 

kita dengar. Bagi kita yang hidup di Indonesia, tekanan opini orang 

lain adalah sesuatu yang nyata. Ternyata, hal ini sudah ada bahkan 

sejak masa Kekaisaran Romawi kuno. Marcus Aurelius pernah 

berujar, “Saya selalu kagum. Kita yang selalu lebih mencintai diri 

sendiri daripada orang lain, justru lebih peduli pada pendapat orang 

lain daripada pendapat diri sendiri. Jika Dewa meminta seseorang 

untuk selalu mengucapkan apa pun yang terlintas di pikirannya, 

niscaya orang itu tidak akan mampu bertahan sehari saja. Begitulah 

besarnya kepedulian kita akan pendapat orang lain dibanding 

pendapat kita sendiri.” [Meditations]

Tanpa kita sadar, sering kali kita berencana dan bertindak demi 

mengikuti pendapat orang lain, baik itu keputusan-keputusan besar 

sampai keputusan-keputusan kecil. Misalnya,

• Memilih pacar. Gue diomongin orang gakya kalo pacaran sama 

doi? Cinta sih, tapi dia lusuh gitu, gue jadi keliatan sobat miskin

• Memilih kuliah. Gue mau kuliah sesuai minat gue, tapi kalo gue 

masuk jurusan itu, gue dikatain bego sama temen-temen gue....

• Memilih pekerjaan. Gue sebenarnya merasa gak cocok kerja di 

perusahaan sekarang, tapi perusahaan ini keren banget di mata 

orang-orang, jadi gue bertahan demi gengsi...

• Dan banyak pilihan-pilihan hidup lain yang membuat kita 

memprioritaskan pendapat orang lain dari pendapat diri kita 

sendiri.

Jika kita mengira pengaruh pendapat orang lain hanya berdampak 

pada "keputusan-keputusan besar saja”, ini keliru. Bahkan, pada hal-

hal sepele yang kelihatannya tidak terkena pengaruh pendapat orang 

lain pun kita tidak terbebas dari fenomena ini.

Kehadiran media sosial membuat efek pendapat orang lain justru 

semakin dahsyat, sebab  apa pun yang kita post di media sosial bisa 

dinilai, disetujui, atau dicela oleh ratusan, bahkan ribuan orang di 

internet. Coba jujur, berapa kali kita mem-posf sesuatu di media 

sosial dengan harapan mendapatkan banyak likes, views, dan 

menambah jumlah follower? [Udah, ngaku aja di dalam hati

.......................Saya pun sering begitu kok :D)

Epictetus menyebutkan bahwa hal-hal yang berada di luar kendali 

kita itu "bagaikan budak...dan milik orang lain”. Interpretasi saya 

adalah bahwa pendapat-pendapat orang lain ini  bisa 

"memperbudak” kita. Saat kita terus-menerus ingin menyenangkan 

orang lain, ingin memenuhi ekspektasi orang lain, mendapatkan 

approval orang lain, meraih sebanyak- banyaknya likes dan views, 

tanpa sadar kita sudah diperbudak oleh pendapat orang lain. Dari 

pilihan baju, sepatu, sekolah, pilihan karier, pilihan politik, pilihan 

calon suami/istri—jika semuanya dilakukan tidak dengan kebebasan, 

melainkan untuk menuruti pendapat orang lain, apa bedanya kita 

dengan budak?

“Memang apa salahnya sih hidup mengikuti pendapat orang lain? Toh kita 

happy juga melakukannya. Ribet amat hidup lo?” Jika disanggah seperti 

ini, seorang filsuf Stoa akan menantang balik, "Yakin kamu akan bisa 

merasa terus-menerus bahagia dengan cara ini?” Ingatlah bahwa 

menggantungkan kebahagiaan kepada halyang di luar kendali 

sesungguhnya sangat rapuh dan sangat berisiko berujung pada 

kekecewaan. Jika pendapat orang lain di luar kendali kita, artinya, 

pertama, tidak akan ada habisnya untuk diikuti, dan kedua, bisa berubah 

semau si pemilik pendapat.

Contohnya begini. Bayangkan jika kita terus-menerus berusaha mengikuti 

pendapat pacar. Pacar senang kamu berambut pendek, padahal kamu 

berambut panjang, kemudian kamu turuti dengan memotong rambut. Pacar

senang film Star Wars, padahal menurut kamu semua film Star Wars 

bodoh sekali, tapi kamu tetap nonton. Pacar mau berhubungan seks, 

padahal kamu sebenarnya ingin menjaga keperawanan sampai menikah, 

tapi kamu ikuti kemauannya. Kemudian kamu hamil, lalu pacar kamu 

kabur. Akhirnya kamu tinggal sendirian, dengan rambut pendek, koleksi 

film Star Wars, dan perut melendung. Semua sebab  kamu terus-menerus 

diperbudak pendapat orang lain. Contoh ini ekstrem, namun  relevan di 

banyak aspek hidup lain.

Tentunya ini bukan berarti Stoisisme mengajarkan kita untuk menutup 

telinga sama sekali terhadap pendapat orang lain, sebab  kita harus bisa 

menerima kritik dan masukan yang membangun.

"Jika seseorang bisa membuktikan kekeliruan saya dan menunjukkan 

kesalahan saya dalam berpikir dan bertindak, saya dengan senang hati 

akan berubah. Saya mencari kebenaran yang tidak pernah melukai siapa 

pun. Yang celaka adalah terus-menerus bertahan dalam menipu diri sendiri

dan ketidakpedulian,” Marcus Aurelius. {Meditations)

Jadi, umpan balik, nasihat, dan opini yang membangun dan memperbaiki 

diri kita sendiri tetap harus kita hormati dan dengarkan. Yang 

dipertanyakan oleh Stoisisme adalah saat  kita mengira bisa bahagia dan 

damai dengan terus-menerus menyenangkan orang lain.

Preferred/Unpreferred Indifferents

Dengan dikotomi kendali, maka dalam  sesuatu hal hanya 

bisa menjadi benar-benar “baik” atau “buruk” jika hal ini  berada di 

bawah kendali kita. Sebab, bagaimana kita bisa dinilai atas sesuatu yang 

tidak di bawah kendali kita? Sebaliknya, baik atau buruknya seseorang 

terletak pada hal-hal yang ada di bawah kendalinya, yaitu pemikiran, opini, 

interpretasi, tindakan, dan perkataan. sebab  hal-hal ini  sepenuhnya 

ada di bawah kendali seseorang (dengan asumsi dia memiliki jiwa yang 

sehat, tidak sedang terganggu/sakit), maka baik tidaknya seseorang bisa 

dinilai dari hal ini . Lalu, bagaimana dengan hal-hal di luar kendali 

kita?

Stoisisme memasukkan semua hal di luar kendali kita sebagai “indifferent", 

atau terjemahan bebasnya adalah "hal-hal yang gak ngaruh (bagi baik atau

buruknya kita)”. Jika melihat lagi daftar hal-hal di luar kendali, yaitu 

pendapat orang lain, tindakan orang lain, reputasi/popularitas kita, 

kekayaan/harta-benda kita, kesehatan/tubuh kita, cuaca besok, realitas 

politik (dan banyak hal lain di luar kendali kita), maka artinya itu semua 

tidak bisa menentukan kualitas karakter, kebahagiaan, dan rasa damai kita.

Entah kita kaya atau miskin, entah kita sehat atau sedang sakit, entah 

anggota tubuh kita lengkap atau tidak,  berkata bahwa kita 

semua sanggup merasa bahagia dan tenteram, dan menjalani hidup yang 

baik. Sebaliknya, kita bisa kaya raya, cantik, sehat, semua anggota tubuh 

lengkap, dan populer, namun  toh tetap merasa tidak bahagia dan tidak 

menjalani hidup yang baik.

Salah satu alasan saya menyukai  adalah sebab  filosofi ini 

secara eksplisit menyatakan sifat yang sangat inklusif (untuk semua orang,

apa pun kondisinya) dan menganggap semua manusia sama dalam 

kapasitasnya menggapai kebahagiaan dan hidup yang baik. Para filsuf 

Stoa tidak akan silau oleh pameran kekayaan, gelar atau pangkat 

seseorang— sebab  ini semua adalah hal-hal eksternal yang tidak bisa 

digunakan menilai hidup seseorang. Sebaliknya, seseorang yang terkesan 

jauh dari kekayaan dan ketenaran, tapi hidup dengan kebajikan /virtue) dan

bebas dari emosi negatif, maka hidupnya dianggap jauh lebih baik.

Di masa kini, saat kekayaan, kecantikan, popularitas dapat dengan 

mudah "terlihat” dalam genggaman kita melalui media sosial dan 

membuat kita merasa sedih sebab  membandingkan hidup kita dengan

hidup orang lain, filosofi ini terasa makin relevan.

Sampai di sini, mungkin ada dari kamu yang mulai merasa kurang 

tertarik dengan  sebab  terkesan anti kekayaan duniawi. 

Sebagian mulai mempertanyakan apakah Stoisisme identik dengan 

gambaran filsuf petapa yang hanya hidup di hutan, memakai sehelai 

kain saja, dan hanya makan buah-buahan.

sebab  kekayaan masuk di dalam daftar hal-hal di luar kendali, apakah

berarti  anti kekayaan? Jika mengamati kehidupan para 

filsuf Stoa, kita akan menemukan bahwa sebagian dari mereka cukup 

kaya raya. Ada yang berprofesi sebagai politisi senior, pedagang, 

bahkan kaisar. Tentunya hidup mereka tidak bisa dibilang sederhana, 

apa lagi susah. Apakah ini sebuah kontradiksi, atau lebih parah lagi, 

kemunafikan?

Tidak seperti filsafat Sinisme (aliran Cynic] dan beberapa aliran agama

atau mazhab agama yang menekankan bahwa semua kekayaan 

materi adalah buruk, bahkan cenderung mengajarkan sikap memusuhi

pada semua hal duniawi,  memiliki sikap yang lebih 

moderat dan realistis. Realistis sebab  tidak mungkin membebaskan 

seluruh manusia dari menginginkan hal-hal duniawi. Lalu, mungkin 

juga ada pertimbangan marketing, sebab  filosofi yang ajarannya jika 

diikuti membuat hidup kita terlalu menderita rasanya tidak akan 

populer bagi banyak orang!

Mari terlebih dahulu kita lanjutkan dengan penjelasan Stoisisme 

mengenai hal-hal yang disebut indifferent [gak ngaruh] tadi.

Ingat bahwa arti kata "indifferent”adalah "tidak memiliki pengaruh”, 

dalam hal ini terhadap karakter dan kebahagiaan seseorang. Namun, 

Stoisisme juga realistis sebab  mengamati perilaku kebanyakan 

manusia yang tidak bisa lepas dari rasa mengingini hal-hal duniawi, 

seperti kekayaan, kecantikan, dan kesehatan. Dunia sains modern 

sudah menyadari bahwa hasrat

“Manusia tidak memiliki

kuasa untuk memiliki apa

pun yang dia mau, namun  dia

memiliki kuasa untuk tidak

mengingini apa

yang dia belum

miliki, dan dengan

gembira

memaksimalkan apa yang

dia terima.”

terhadap hal-hal ini tampaknya sudah “terprogram” di benak kita 

selama ribuan tahun dan susah untuk dimatikan begitu saja. 

Sebaliknya, tidak ada juga manusia waras yang menyukai kemiskinan,

kelaparan, dan sakit sebab  penyakit. sebab nya,  

membagi indifferent menjadi dua kategori:

• Preferred Indifferent. Hal-hal yang gak ngaruh, namun  “kalau ada” 

ya bagus. Harta benda, kesehatan, kecantikan, popularitas (yang 

positif) masuk dalam kategori ini. Mereka tidak berdampak pada 

kebahagiaan/karakter, namun  jika ada tentunya lebih baik. Selain 

itu, kekayaan, kesehatan, dan popularitas juga bisa membantu 

kita dalam mempraktikkan kebajikan (virtue) melalui perbuatan 

baik (misalnya, uang digunakan untuk membantu mereka yang 

kesusahan, kesehatan menunjang kegiatan amal kita, dan lain-

lain).

• Unpreferred Indifferent. Hal-hal yang gak ngaruh, namun  kalau 

“tidak ada” ya lebih baik. Contohnya adalah sakit sebab  penyakit, 

kemiskinan, reputasi buruk. Stoisisme adalah filosofi yang realistis

dan tidak memaksa kita melakukan hal yang terlalu ekstrem. Di 

saat yang sama, Stoisisme tetap konsisten dengan ajarannya. 

Walaupun ada hal-hal yang kita “lebih sukai”, seperti punya uang 

yang jumlah nolnya sampai tidak muat di artikel  tabungan, 

smartphone termahal, pensil alis dahsyat yang bisa menangkap 

sinyal wi-fi, follower bejibun, dan semua nikmat duniawi lainnya, 

jangan pernah lupakan bahwa itu semua ada di luar kendali kita, 

bisa lenyap kapan pun, tidak berpengaruh pada kebahagiaan dan 

kualitas karakter kita (bahkan bisa mengganggu), dan sebab nya 

kita tidak boleh terlalu melekat (attached) pada hal-hal itu. 

Seberapa pun menyenangkannya hal-hal itu semua, mereka 

tetaplah indifferent, gak ngaruh, gak ada nilainya.

Sebaliknya,  juga memberikan penghiburan saat kita 

dalam "kesusahan”. Saat kita bangkrut, uang kiriman orang tua seret, 

saat kita harus menderita sakit, saat reputasi kita jatuh (entah sebab  

salah kita sendiri atau sebab  fitnah), para filsuf Stoa bisa berempati 

bahwa hal-hal ini memang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan 

(unpreferred). Namun, di

saat yang sama, kita dihibur bahwa semua hal tidak enak itu tidak bisa

menghambat kita mencapai kebahagiaan sejati dan karakter yang 

baik, sebab  dalam keadaan sulit pun kita masih memiliki hal-hal di 

dalam kendali kita (pikiran kita, persepsi kita, pertimbangan kita).

Memperlakukan Harta Benda (dan Preferred 

Indifferent Lainnya) seperti Main Bola

Epictetus di dalam Discourses memberikan analogi menarik mengenai

cara menyikapi harta benda (dan preferred indifferent lainnya seperti 

ketenaran, kecantikan, jabatan). Beliau menganalogikan itu semua 

bagaikan “bola” dalam “permainan bola” kehidupan. Bola penting di 

dalam permainan bola, namun  para pemain bola lebih mementingkan 

cara meng-handle bola ini  dan bukan bola itu sendiri. Saat 

pertandingan di Piala Dunia berakhir misalnya, kita tidak melihat para 

pemain kedua kesebelasan baku hantam untuk bisa memiliki bola 

yang baru dimainkan.

“Kamu akan menemukan bahwa para pemain bola andal melakukan 

hal yang mirip (dengan seseorang menangani kekayaan). Bukan 

bolanya yang dianggap berharga oleh mereka, namun  yang dinilai baik 

tidaknya adalah seberapa mahir mereka melemparkan dan 

menangkap bola itu," ujar Epictetus.

Begitu juga dengan sikap kita akan kekayaan (dan preferred 

indifferents lainnya—hal-hal ini dianggap sebagai 'bola' yang harus 

dimainkan dengan baik, namun  bukan untuk direbut dan dipeluk terus-

menerus. 'Permainan bola’, termasuk cara kita bermain, jauh lebih 

penting dan berharga daripada si bola itu sendiri.

Mengingat Sifat Sebenarnya dari Benda-benda 

(dan Manusia)

Satu teknik lain agar kita tidak menjadi dikendalikan oleh harta 

kekayaan adalah dengan terus mengingatkan diri akan nature dari 

benda-benda ini .

"Mengenai benda atau apa pun yang bikin kamu happy, sebab  

memang berguna atau kamu sayang-sayang banget, ingatkanlah

selalu dirimu tentang sifat [nature] sebenarnya barang-barang itu,

dimulai dari yang paling tidak penting. Contohnya, kalau kamu 

sayang banget pada sebuah mangkuk keramik, ingatkanlah 

dirimu bahwa yang kamu sukai ya hanya sebuah mangkuk 

keramik. Jadi, kalau pecah, kamu tidak akan terlalu bete. Saat 

kamu mencium anakmu, atau istrimu, katakan pada dirimu sendiri

bahwa kamu hanya mencium manusia, sehingga kamu tidak 

terganggu saat mereka meninggal dunia." - Epictetus 

[Discourses]

Jadi, kita bisa kok enjoy hal-hal "duniawi". Silakan menikmati rezeki 

yang kita dapatkan, namun  selalu ingatkan diri sendiri untuk tidak 

bergantung kepadanya (hindari attachment] dengan cara melihat hal-

hal ini  secara apa adanya. Kamu senang punya pekerjaan 

bagus? Kamu senang punya smartphone mahal? Kamu senang 

terlahir cantik cetardengan alis paripurna? Bisnis kamu sukses? Pacar 

kamu gantengnya ngalahin Zayn Malik dikawin silang sama Ryan 

Gosling? Syukurlah ada itu semua, namun  selalu ingatkan diri kamu 

bahwa sesungguh-sungguhnya itu semua hanyalah sebuah 

"pekerjaan", hanya sebuah “smartphone”, hanya "keberuntungan fisik”,

hanya "seorang cowok ganteng"—dan bahwa itu semua bisa hilang 

sewaktu- waktu sebab  tidak (sepenuhnya) di bawah kendalimu, dan 

bahwa kamu MAMPU merasa tenang/bahagia "tanpa" itu semua.

Di sinilah biasanya kita semua mengalami kesulitan, sebab  segala hal

yang nyaman, canggih, bagus, enak, cantik, elok, pastilah bersifat 

nagih. Inilah mengapa Stoisisme menekankan nalar/rasio, sebab  

(seharusnya) nalar/rasio kita bisa melawan efek nagih segala 

kenikmatan dunia, dengan cara melihat benda, objek, dan kenikmatan 

tidak lebih dari apa adanya.

"Maka manusia yang menahan dirinya untuk hidup dalam batas yang 

ditetapkan Alam, tidak akan merasakan miskin. Sebaliknya, manusia 

yang melewati batas-batas ini akan terus- menerus dikejar kemiskinan,

tak peduli betapa kayanya dia," ujar Seneca dalam On Shortness of 

Life.

(Seneca)

Seneca percaya bahwa kebutuhan hidup manusia menurut yang 

ditetapkan Alam tidaklah besar, namun  ketidakpuasan manusialah yang

ingin mengejar hal-hal yang lebih banyak lagi. Sesungguhnya, segala 

harta benda ini tidak penting dan tidak berpengaruh bagi kebahagiaan 

kita. Ironisnya, mereka yang kaya raya, namun  tidak pernah puas 

mengejar lebih banyak lagi harta benda, justru dikatakan “terus-

menerus dikejar ‘kemiskinan’’’.

Dalam artikel nya Letters from a Stoic, Seneca berkata, “Manusia tidak 

memiliki kuasa untuk memiliki apa pun yang dia mau, namun  dia 

memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang dia belum miliki, dan 

dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima.’’

Apakah kamu terus-terusan resah melihat tas kulit sapi perawan, 

sneaker yang masih ada bau jempolnya LeBron James, pacar orang, 

atau foto Raja Ampat yang berkeliaran di media sosial, dan kamu 

ng/7ertapi gak mampu meraihnya? Ingat quote di atas, kamu punya 

power untuk tidak mengingininya. Coba lirik tas kamu, sneaker kamu, 

atau pacar kamu sekarang. Bisakah kamu gembira dengan apa yang 

telah kamu miliki? Bisakah kamu melihat mereka dan sungguh-

sungguh "mengingini” apa yang sudah kamu miliki?

"....Saat kamu mencium anakmu, atau istrimu, katakan

pada dirimu sendiri bahwa kamu hanya mencium manusia, sehingga 

kamu tidak terganggu saat salah satu dari mereka meninggal dunia.” Ini

adalah bagian kutipan Epictetus dalam artikel  Enchiridion yang sekilas 

terasa ‘sadis’. Kok tega betul saat kita sedang menyayangi anak-istri—

atau suami—kita justru disuruh membayangkan kemungkinan mereka 

mati? Ini masih bentuk disiplin untuk melihat substansi/sifat 

sesungguhnya dari segala sesuatu—termasuk melihat orang-orang 

yang kita kasihi sebagai makhluk fana. Kita harus mengingat terus-

menerus bahwa nature manusia adalah fana/”bisa mati”, sehingga 

saat  akhirnya kematian sungguh menjemput mereka, kita tidak 

terkejut.

Pesan Epictetus ini  seharusnya juga memiliki efek supaya kita 

semakin menghargai keberadaan ayah, ibu, saudara, pasangan, anak, 

dan teman-teman terdekat saat  mereka masih hidup. Apakah kita 

telah menganggap remeh keberadaan mereka /take them for granted), 

sampai suatu hari mereka diambil dari kehidupan kita? Apakah selama 

ini kita menghabiskan waktu bersama mereka namun  perhatian kita tetap

di gadget [smartphone/tablet] kita?

Pesan Epictetus bisa diekspresikan ulang menjadi, "sebab  anak, istri, 

dan orang-orang terkasih di sekitarmu itu fana/ mortal, hargailah setiap 

momen bersama mereka...” Jika ayah, ibu, istri, atau suami tiba-tiba 

direnggut dari sisi kita, apakah kita baru akan menyesal telah 

menghabiskan waktu pada layar smartphone selama berada bersama 

mereka?

Sekali Lagi tentang Pasrah pada Nasib

Tadi telah dibahas salah satu kesalahpahaman yang umum terhadap 

 adalah mengira filosofi ini mengajarkan kepasrahan pada 

situasi. sebab  situasi eksternal adalah sesuatu di luar kendali, seolah-

olah kita hanya bisa mengubah persepsi saja, dan tidak perlu berupaya, 

apalagi bekerja keras. Anggapan ini sudah diberikan solusinya oleh 

William Irvine dalam bentuk “trikotomi kendali” di atas. Selain itu, kita 

cukup melihat kehidupan para filsuf Stoisisme untuk melihat apakah 

mereka tergolong orang-orang yang pasif, nrimo saja, dan tidak 

berusaha.

Cato The Younger adalah seorang politisi di Kekaisaran Romawi yang 

terkenal sebab  berani menentang Julius Caesar. Seneca adalah guru 

bagi kaisar dan aktif menulis, baik mengenai Stoisisme dan juga naskah 

teater. Dia juga seorang anggota Senat. Marcus Aurelius, seorang kaisar 

yang tidak hanya terkenal bijak, namun  harus aktif menjaga keutuhan 

kekaisarannya dari pemberontakan. Saat Roma diperintah oleh Kaisar 

Nero yang sewenang-wenang, sekelompok filsuf Stoa melakukan 

perlawanan secara politis. Saat membaca kisah- kisah mereka, tidak 

terkesan praktisi Stoisisme sebagai orang- orang yang nongkrong saja 

menerima nasib yang tiba.

Kata Marcus Aurelius dalam artikel  Meditations:

"Saat subuh, saat  kamu merasa sulit meninggalkan tempat tidur, 

katakan pada dirimu sendiri: saya harus bekerja, sebagai manusia. 

Apa yang harus saya keluhkan, jika saya memang mengerjakan hal-

hal yang untuknya saya dilahirkan—segala halyang memang harus 

saya lakukan datang ke dunia ini? Atau INI-kah mengapa saya 

diciptakan? Untuk meringkuk di bawah selimut agartetap hangat?”

Tapi kan rasanya nikmat melingkar di dalam selimut seperti kucing? Well, 

Kaisar Marcus sudah punya jawabannya, "Jadi kamu dilahirkan untuk 

‘merasa nikmat'? Dan bukannya bekerja dan mencari pengalaman? 

Tidakkah kamu lihat tumbuhan, burung, semut, laba-laba, dan lebah, 

semuanya mondar-mandir mengerjakan pekerjaan mereka, menempatkan 

dunia ini sebagaimana mestinya, sebaik upaya yang bisa mereka lakukan? 

Dan kamu tidak bersedia melakukan tugasmu sebagai manusia? Mengapa 

kamu tidak bergegas melakukan apa yang dituntut oleh jati dirimu (sebagai 

manusia)?”

Perhatikan konsistensi prinsip "hidup selaras alam”. Rajin bekerja dan 

berkarya tidak dilihat sebagai sekadar jerih payah untuk bertahan hidup atau

memupuk kekayaan, namun  sudah bagian jati diri manusia. Di dalam 

Stoisisme tidak ada ancaman dosa untuk kemalasan, hanya kita diingatkan 

bahwa dengan malas bekerja, kita sudah mengingkari Alam dan nature kita 

sebagai manusia (bahkan kita dianggap lebih buruk dari binatang-binatang 

yang rajin!). Kemudian, tanpa keselarasan dengan Alam, kita akan semakin 

sulit meraih kebahagiaan dan ketenteraman batin yang sejati.

Dengan kata lain, kemalasanlah yang akan membawa kesusahan dan 

bukanlah jerih payah itu sendiri. Sesungguhnya, kerajinan, kerja keras, dan 

berkarya sudah menjadi panggilan kita.

Jika kamu hidup selaras dengan

Alam, kamu tidak akan

pernah menjadi miskin.

Menyikapi Kekayaan Orang Lain

Sejak 2.000 tahun yang lalu, yang namanya iri pada pencapaian, apalagi 

kekayaan orang lain, ternyata sudah umum Padahal, zaman dahulu 

belum ada media sosialyang sangat memudahkan untuk pamer 

kekayaan. Saya terbayang zaman dulu saat  belum ada televisi, kita 

hanya bisa membandingkan diri kita dengan para tetangga. Untuk 

membandingkan diri, kita harus melongok ke luar pagar untuk melihat 

tetangga mana yang punya kendi baru sampai suami baru. saat  ada 

televisi, kita mulai bisa membandingkan diri dengan kekayaan para 

selebriti dan tokoh terkenal yang muncul di layar kaca.

Kemudian, kehadiran media sosial membuat kita bisa membandingkan 

diri dengan siapa saja, mulai dari teman yang dikenal, orang tak dikenal, 

sampai berbagai macam selebriti, selama 24 jam, tujuh hari seminggu. 

Sebegitu besarnya tekanan untuk memamerkan kekayaan (atau ‘terlihat’ 

kaya), bahkan saya sampai mendengar tentang akun-akun media 

sosialyang niat 'memalsukan’ gaya hidup mereka agar terlihat hidup 

dalam kemewahan.

Ini sebenarnya tragedi. Jika  menempatkan kekayaan diri 

sendiri saja sebagai di luar kendali kita, apalagi kekayaan orang lain? 

Lalu, kita membiarkannya menentukan kebahagiaan kita. Apa yang 

ditawarkan  untuk melawan tendensi (manusiawi) untuk 

membandingkan dan merasa iri?

Pertama, menempatkan kekayaan pada tempatnya. Epictetus, dalam 

Enchiridion, berkata:

“Ini adalah nalar yang keliru, 'Saya lebih kaya, artinya saya lebih 

baik dari kamu’, atau 'Saya lebih pandai berkata-kata [eloquent], 

artinya saya lebih baik dari kamu.’

Yang benar seharusnya adalah, ‘Saya lebih kaya, artinya saya 

memiliki lebih banyak aset dari kamu’, dan, ‘Saya lebih pandai 

berkata-kata, artinya saya memiliki gaya bahasa yang lebih baik dari

kamu.’"

Kekayaan hanyalah ukuran kuantitas aset, properti, harta benda. Tidak 

lebih dari itu. Masalahnya adalah ada orang yang tidak bisa memisahkan 

kekayaan seseorang dari kualitas pribadinya. Seolah-olah, mereka yang 

lebih kaya otomatis kualitasnya sebagai manusia juga lebih baik.

Dengan sangat logis, Epictetus mengklarifikasi hal ini . Kekayaan, 

keahlian, kecantikan, kekuatan (fisik) tidak serta-merta membuat 

seseorang "lebih baik dari kita”. Ini bisa membantu kita saat diterpa rasa 

iri melihat kekayaan atau pencapaian orang lain. Sebaliknya, pesan 

Epictetus juga berlaku bagi kita semua untuk tidak memandang rendah 

mereka yang harta bendanya lebih sedikit atau keahliannya lebih rendah 

dari kita.

Lebih lanjut, Epictetus memberikan tips mengenai iri hati (akan kekayaan)

dan perspektif baru:

"Setiap kali kamu melihat orang kaya, lebih baik cermati apa yang 

telah kamu miliki. Seandainya kamu tidak bisa melihat apa pun, 

kamu berada di situasi yang menyedihkan. Namun, jika kamu tidak 

memiliki keinginan akan harta benda, sadarilah bahwa kamu 

memiliki sesuatu yang lebih besar dan berharga. Atau, ada 

seseorang yang mempunyai istri cantik dan kamu tidak memiliki 

keinginan memiliki istri cantik. Apakah menurut kamu (tidak memiliki 

keinginan akan harta/istri cantik) ini adalah hal sepele? Berapa 

banyak dari mereka—orang- orang kaya, berkuasa, atau hidup 

dengan perempuan cantik—yang bersedia membayar untuk bisa 

menganggap remeh kekayaan, kekuasaan, dan semua perempuan 

yang mereka puja dan dapatkan?”

Walaupun terkesan sebagai pembenaran diri ("Ah, ini sih bisa-bisanya 

sobat miskin untuk menghibur diri.”), namun  coba kita renungkan dalam-

dalam perkataan Epictetus ini. Kita semua, yang setiap hari dikejar 

keinginan-keinginan, ingin lebih banyak uang lagi; ingin punya motor; 

yang sudah punya motor ingin skuter mahal atau punya mobil; yang 

sudah punya mobil ingin ganti mobil lebih mewah; yang punya tas ingin 

tas lebih mahal lagi; yang sudah punya smartphone ingin yang lebih 

canggih lagi; yang sudah punya istri ingin istri lebih cantik, dan lain 

seterusnya. Semua keinginan ini mendera, membuat kita terobsesi, dan 

terkadang mendorong kita untuk berbuat kejahatan, seperti korupsi.

Dalam , ada yang lebih nikmat daripada keinginan yang 

terpenuhi, yaitu tiadanya keinginan itu sendiri. Ini lebih hebat dari sekadar 

ikhlas menerima bahwa kita tidak memiliki

(tapi dalam hati masih mengingini). Kata Epictetus, orang- orang 

kaya dan berkuasa harusnya bahkan bersedia membayar untuk bisa 

terbebas dari keinginan-keinginan.  mengajarkan kita 

bahwa langkah awal untuk bisa terbebas— minimal mengurangi—

keinginan, adalah dengan benar-benar mengenali apa yang kita ingini

ini , apakah kita mengingini hal-hal di luar kendali kita (dikotomi 

kendali).

"If you live according to what others think, you will never be 

rich." - Seneca [Letters)

Senada dengan Epictetus, Seneca berkata bahwa kita yang hidup 

terus-menerus mengikuti pendapat/opini orang lain tidak akan pernah

menjadi kaya. Kita bisa mengartikan quote ini dalam dua cara. Yang 

pertama, hidup terus mengikuti opini orang lain, artinya kita tidak 

habis-habisnya mengikuti tren. Tren sendiri artinya sesuatu yang 

sedang populer di antara banyak orang di suatu periode. Mengikuti 

tren artinya mengikuti opini orang banyak. Kalau kita terus-menerus 

harus mengikuti tren yang ada dengan membeli barang- barang dan 

makanan yang sedang populer, kapan kita menabung, berinvestasi, 

dan menjadi kaya? Sayangnya, pola hidup “besar pasak daripada 

tiang” ini rasanya selalu populer, apalagi di kota-kota besar.

Makna kedua dari pernyataan Seneca adalah jika terus- menerus 

membandingkan diri dengan pendapat orang, kita tidak akan pernah 

benar-benar merasa kaya, seberapa banyak pun harta yang sudah 

kita kumpulkan. Berapa pun uang dan harta benda yang kita miliki, 

akan selalu ada orang lain yang (tampak) lebih dari kita, dan akhirnya

kita tidak pernah bisa merasa “sudah kaya”. Bagaikan hamster yang 

berlari di roda mainan tak berujung, pengejaran materi ini tidak akan 

pernah usai.

Makna kedua ini sesuai dengan kalimat Seneca lainnya, “Jika kamu 

hidup selaras dengan Alam, kamu tidak akan pernah menjadi miskin."

Ingat bahwa “Alam” dalam Stoisisme lebih bermakna nalar manusia. 

Dengan kata lain, mereka yang hidup dengan nalarnya tidak akan 

pernah (merasa) miskin, dan bisa mengenal kata “cukup”.

Hal-hal yang tidak di bawah

kendali kita: kekayaan

reputasi, kesehatan, dan

opini orang lain. Hal-hal yang

di bawah kendali kita: pikiran,

opini, persepsi, dan

Mungkin  ada  dari  kamu  yang  saat  ini  berpikir,  “Ah,  filsafat  ini  >

terlalu meremehkan kemiskinan. Miskin kan gak enak? Yang

\ beneraja?" Epictetus pun sudah menyadari

kemungkinan

• tanggapan seperti ini, maka ia berkata (dalam 

tindakan kita sendiri.

Enchiridion],

• "Ingatlah bahwa ada jauh lebih banyak orang miskin

* (daripada orang kaya), tapi kamu tidak melihat mereka

• semua terlihat lebih murung dan lebih khawatir daripada

• orang kaya. Bahkan, saya curiga mereka justru lebih

• bahagia sebab  lebih sedikit hal-hal yang bisa mengganggu

1 pikiran mereka. Coba kita amati orang-orang kaya.

Tidakkah mereka sering kali terlihat sama saja dengan yang 

miskin!"

Pengamatan dan konklusi yang masuk akal, dan bisa diterapkan di 

negeri kita. Secara statistik, jumlah orang yang tidak berada pasti 

jauh lebih banyak dari orang berada. Namun, cobalah kita melihat ke 

sekeliling kita. Apakah kita dikelilingi orang-orang yang terus-

menerus terlihat muram, depresi, dan bersedih hati? Tidakkah kita 

masih melihat tawa ceria, sukacita, keramahan di antara begitu 

banyak orang yang tidak memiliki materi berlimpah? Maka, benarlah 

bahwa kekayaan materi sesungguhnya tidak terlalu berpengaruh 

pada kebahagiaan kita.

Di bab ini kita sudah berkenalan dengan prinsip dikotomi kendali 

(atau trikotomi kendali). Jika bisa benar-benar meresapi prinsip ini 

saja, seharusnya kita dapat menyadari bahwa ada banyak 

kecemasan dan ketakutan dalam diri kita yang sebenarnya tidak 

perlu. Stoisisme masih mempunyai beberapa "perangkat” lain untuk 

membuat kita lebih sanggup mengelola emosi negatif kita di bab-bab 

selanjutnya.

Intisari Bab 4:

• Dalam hidup, ada hal-hal yang di bawah kendali kita dan ada yang tidak.

Orang yang bijak adalah yang bisa mengenali kedua kategori ini dalam 

segala hal di dalam hidupnya.

• Hal-hal yang tidak di bawah kendali kita: kekayaan, reputasi, kesehatan,

dan opini orang lain. Hal-hal yang di bawah kendali kita: pikiran, opini, 

persepsi, dan tindakan kita sendiri.

• Walaupun kekayaan, kesehatan, kecantikan, ketenaran bisa 

diusahakan, namun  tidak bisa dijamin tidak bisa diambil dari hidup kita—

sebab nya mereka termasuk di dalam hal-hal di luar kendali.

• Baik tidaknya hidup kita hanya bisa dinilai dari hal-hal di bawah kendali 

kita.

• Mengerti dikotomi kendali tidak sama dengan pasrah pada nasib.

• Trikotomi kendali dari William Irvine memperkenalkan kategori ketiga 

“SEBAGIAN di bawah kendali kita”, misalnya studi, karier, dan bisnis. 

Tugas kita adalah memfokuskan pada internal goal yang masih di 

bawah kendali kita dan selalu siap menerima hasil/outcome yang di luar 

kendali kita.

• Waspada tirani opini orang lain akan hidup kita.

• Segala hal di luar kendali kita adalah indifferent, tidak berpengaruh 

terhadap baik tidaknya hidup kita. Sebagian dari indifferent ini lebih 

diinginkan (preferred), sebagian lain tidak diinginkan (unpreferred).

• Belajar tidak mengingini hal-hal di luar kendali kita.

BAB LIMA

Mengendalikan 

Interpretasi dan

Persepsi

94

uatu hari, saya merasakan malas yang luar biasa saat akan berangkat

bekerja.  Ada sebuah jadwal meeting  dengan klien yang saya merasa

sangat  berat  untuk  dilakukan.  Dalam  perjalanan,  saya  mencoba

menganalisis pikiran saya sendiri  di balik rasa berat ini. Setelah ditelusuri,

ternyata rasa berat saya timbul dari persepsi saya bahwa meeting ini hanya

membuang- buang waktu saya, bahwa tidak ada hal apa pun yang bisa saya

peroleh  dari meeting  ini.  namun   kemudian  saya  diingatkan  Filosofi  Teras

untuk  berhati-hati  dengan  persepsi  saya  akan  sebuah  fakta  objektif.

Faktanya adalah saya menghadapi sebuah meeting.  Titik. Apakah meeting

ini  hanya  buang-buang  waktu  sudah  menjadi  penilaian (value  judgment)

saya,  dan  bukan  fakta.  Menyadari  bahwa rasa  berat  ini  disebabkan  oleh

persepsi  saya  sendiri,  maka  saya  mencoba  menantangnya.  Kata  siapa

meeting  ini  pasti  buang-buang waktu—apalagi meeting-nya  belum terjadi?

Dan kata siapa saya tidak bisa belajar sesuatu pun dari meeting  apa pun?

Sesudah melakukan 'debat internal’ ini, saya merasakan sedikit lebih tenang.

S

Di bab sebelumnya, kita sudah diajarkan mengenai dikotomi kendali untuk 

menyadarkan diri secara terus-menerus bahwa ada hal-halyang berada di 

bawah kendali kita dan ada yang di luar kendali kita. Ini adalah fondasi 

penting di dalam Stoisisme. Dengan bisa memahami hal ini saja, maka akan 

sangat membantu kita mengatasi kekhawatiran sehari-hari.

Jika kita membuang waktu dan tenaga untuk memusingkan, meratapi, atau 

terobsesi pada hal yang tidak di bawah kendali kita, maka itu adalah 

irasional, tidak masuk akal. Walaupun prinsip ini sangat penting dalam 

 untuk memandu hidup kita sehari-hari, namun  bukan satu-

satunya. Saya rasa kamu juga pasti merasa masih ada sesuatu yang hilang 

jika hanya memahami dikotomi (atau trikotomi) kendali ini, sebab  para filsuf 

Stoa pun menyadari hal ini. Jadi, jangan khawatir. Ternyata mereka sadar 

kok kalau kita semua punya kekuatan spesial untuk menghadapi hidup!

“It is not things that trouble us, but our judgment about things.”- 

Epictetus [Enchiridion]

95

("Bukan hal-hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, 

namun  pertimbangan/pikiran/persepsi akan hal-hal dan peristiwa 

ini .”)

Dengan kata lain, Epictetus mengatakan bahwa sumber sebenar-

benarnya dari segala keresahan dan kekhawatiran kita ada di dalam 

pikiran kita, dan bukan hal atau peristiwa di luar kita. Coba 

bayangkan situasi-situasi berikut:

• Ketinggalan kereta saat mau ke kampus/kantor.

• Motor/mobil kita bannya kempes di tengah jalan.

• Smartphone baru beli dua hari jatuh, kacanya retak.

• Pacar salah sebut nama kita jadi nama mantan.

• Calon gubernur jagoan kita kalah di Pilkada.

• Rumah kebanjiran.

• Dimarahi mertua sebab  masakan tidak enak.

• Kehilangan pekerjaan sebab  perusahaan bangkrut.

• Anak kita kawin lari dengan pasangan yang berbeda agama.

Rasanya manusia normal akan setuju bahwa semua situasi di atas 

tidak mengenakkan. Dari yang sekadar menyebalkan, yang serius 

bikin mau marah, sampai yang bisa membuat kita putus asa. 

Epictetus berkata bahwa sesungguhnya semua hal itu bukanlah 

penyebab kita sedih, stres, galau, dan lain-lain. Menurut Stoisisme, 

peristiwa-peristiwa ini  adalah netral (tidak baik, tidak buruk). 

Namun, persepsi, anggapan, dan pertimbanganlah yang membuat itu

semuanya menjadi "buruk”. Hah?Gimana?

Dalam , ada pemisahan antara apa yang bisa ditangkap

oleh indra kita /impression), dan interpretasi atau makna atas apa 

yang kita lihat dan dengar ini  /representation). Kita sering kali 

gagal memisahkan keduanya. Pada umumnya, kita serta-merta 

memberikan interpretasi/ penilaian lvalue judgment) dan pemaknaan 

dari sebuah peristiwa yang dialami. Peristiwa itu sendiri hampir selalu

netral, namun  kemudian menjadi "positif" atau "negatif" sebab  

interpretasi dan makna yang kita berikan.

 96

Sebuah ilustrasi sederhana, seorang Jawa Solo baru pertama kali bertemu 

dengan seorang Batak Medan. Secara budaya, seseorang yang berasal dari 

Batak Medan terkenal berbicara keras. Cara berbicara ini bagi diri sendirinya 

adalah netral, namun  kalau dilihat dari perspektif si orang Jawa Solo, dia bisa 

menginterpretasi si orang Batak Medan sebagai ‘’kasar’’ dan "pemarah”, 

padahal keduanya tidak benar. "Bicara keras” adalah impression, fakta 

objektif yang bisa ditangkap indra, namun  “kasar” adalah representation, sudah

ada penilaian lvalue judgment) subjektif.

Mari kita ambil beberapa contoh sebelumnya. Pacar salah sebut nama 

mantan, misalnya. Secara fakta, kejadian ini "netral”. Apa yang bikin kamu 

mengamuk kalau jadi pacarnya? sebab  kamu menyusun persepsi dan 

interpretasimu [value judgment) sendiri atas kejadian itu:

• '‘Bajingan, pacar gue belom move on dari si jalang itu!"

• "Selama ini jadi dia selingkuh sama mantannya?"

• "Sungguh cowok berengsek yang tidak menghargai gue!"

• Dan lain-lain.

Perhatikan, semua pernyataan di atas adalah murni dikonstruksi di dalam 

kepalamu dan bukan datang dari peristiwa pacar salah sebut nama mantan. 

Kejadian salah sebut nama mantan itu sendiri bersifat "netral”. Bahwa ia 

dimaknai sebagai tanda belum move on, atau bahwa dia cowok brengsek, 

adalah tambahan value judgment dari kita sendiri.

Mari kita ambil contoh lain. saat  diputus hubungan kerja oleh perusahaan 

sebab  perusahaan bangkrut, apa yang melintas di pikiran kita?

• "Saya kena karma apa ya sampai apes seperti ini?”

• "Hidup saya selalu sial, kerjaan saja gak bisa bertahan.”

• "Ini adalah kiamat! Habis sudah hidupku..."

Sekali lagi, pikiran-pikiran di atas adalah opini dan interpretasi kita sendiri, 

tidak datang secara objektif dari peristiwa PHK itu sendiri. Inilah yang 

disebutkan oleh Epictetus bahwa sesungguhnya bukan peristiwa/hal yang 

meresahkan kita, namun  pikiran kita sendiri (mengenai peristiwa/hal ini ).

.pada dasarnya

semua emosi dipicu

oleh penilaian, opini,

persepsi kita.

Keduanya

saling terkait, dan jika

ada emosi negatif,

sumbernya ya nalar/rasio

, kita sendiri. J

Kekuatan Pertimbangan (Judgment) dan Persepsi

Senada dengan Epictetus, Marcus Aurelius [Meditations) menulis:

"Jika kamu merasa susah sebab  hal eksternal, maka perasaan susah itu 

tidak datang dari hal ini , namun  oleh pikiran/persepsimu sendiri. Dan 

kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapan pun 

juga."

Kamu memiliki kekuatan untuk mengubahnya...kapan pun juga! Marcus Aurelius 

melanjutkan ucapan Epictetus, bahwa kita harus menyadari semua rasa susah, 

khawatir, cemas, iri hati, dan lain-lain datangnya dari pikiran kita sendiri. Kabar 

baiknya, kita sebenarnya MAMPU mengubah pikiran/persepsi kita (tanpa 

• w

• w

• 1

<

k k A

mengubah peristiwa eksternalyang terjadi).

Inilah yang dimaksudkan oleh Stoisisme bahwa kebahagiaan sejati datang dari hal-

hal yang bisa dikendalikan, yaitu pikiran, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. 

Kebahagiaan tidak perlu bergantung pada hal-hal eksternal.

Bagi saya, ajaran ini membebaskan sebab  sifatnya memberdayakan 

/empowering) kita.  berkeyakinan bahwa kita bukanlah sekoci kecil 

tak berdayung dan tak berlayar yang pasrah digoyang ke sana sini saat diterjang 

badai "peristiwa hidup" lebuset, puitis amat yak]. Kita tidak harus menjadi makhluk 

yang selalu reaktif terhadap hal-hal yang terjadi di dalam hidup kita. Kita bukanlah 

makhluk pasif yang dibawa senang, sedih, dan marah oleh hal-hal eksternal. 

Sebaliknya, perasaan kita datang dari pendapat dan persepsi yang sepenuhnya di 

bawah kendali kita. Kita bisa aktif menentukan respon kita terhadap peristiwa-

peristiwa di dalam hidup kita.

Insight dari  ini juga menghancurkan apa yang saya percayai sejak 

kecil mengenai emosi vs rasional. Dulu, saya selalu memisahkan "emosi" dari 

"nalar/rasio” sebagai dua kekuatan berbeda yang saling bertarung. Namanya 

pertarungan, selalu ada yang ‘kalah’ dan ‘menang’. Seolah-olah jika nalar menang 

dari emosi, maka kita menjadi manusia yang tenang dan terkendali. Sebaliknya, 

saat gantian emosi menang dari nalar, maka kita melakukan hal-hal yang 

destruktif.

Ajaran  menantang konsep ini  dengan menjelaskan 

bahwa pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi 

kita. Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sumbernya ya 

nalar/rasio kita sendiri.

Konsep ini cukup revolusioner bagi saya, sebab  setiap kita merasakan 

emosi negatif (seperti kisah saya di awal bab ini yang merasa berat 

menghadiri sebuah meeting] kita bisa menelusuri apa pikiran, opini, 

persepsi penyebabnya. Dan pikiran, opini, persepsi ini bisa di- 'debat”, 

ditantang, diubah. Emosi (negatif) bukan lagi sesuatu yang harus 

“diperangi”, namun  bisa “diselidiki dan dikendalikan” dari sumbernya. 

sebab nya ada ungkapan, emosi (negatif) adalah nalaryang tersesat.

Mari kita kembali ke contoh sebelumnya dan melihat bagaimana 

interpretasi kita terhadap sebuah peristiwa bisa dikendalikan. Anggap saja 

seperti menulis ulang drama hidup kita [rewrite the narrative!. Pacar salah 

sebut nama mantan? Ada alternatif interpretasi, misalnya:

• "Semua manusia wajar salah sebut, apalagi dia lama pacaran

sama mantannya."

• "Mungkin dia memang belum move on.  Saya bersyukur ditunjukkan

hal ini, sebab  dia berhak bahagia, dan saya berhak bahagia."

• "Ini  adalah  ujian  bagi  saya  apakah  saya  bisa  memaafkan  dan

menerima dia. Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk saya."

Kehilangan pekerjaan? Ada alternatif interpretasi:

• "Ini kesempatan mengubah karier ke bidang yang saya mau." • 

"Lumayan dapet pesangon, bisa nyoba bisnis online."

• "Ini ujian bagi kesabaran dan keuletan saya."

Perhatikan bahwa interpretasi ulang di atas bukan sekadar 

menghindar/ngefes, namun  sama valid-nya dengan semua interpretasi 

negatif sebelumnya. Peristiwa yang terjadi (pacar salah sebut nama atau 

kita kehilangan pekerjaan) tetap tidak berubah, akan namun  kita memiliki 

kendali atas ”makna7va/ue judgment apa yang hendak kita kenakan ke 

peristiwa itu.

Dari makna dan persepsi inilah timbul perasaan dan emosi kita. Jika kita memberi 

makna yang negatif, maka kita akan merasa marah, cemburu, iri, putus asa. 

Namun, jika kita memberi makna yang positif, maka kita akan merasa terinspirasi, 

lebih sabar, lebih tekun, dan tidak menyerah. Pilihan makna itu sepenuhnya ada di 

tangan kita.

Melawan Interpretasi Otomatis

“Jangan katakan pada dirimu sendiri lebih dari impresi awal 

yang kamu dapatkan. Kamu mendapatkan bahwa seseorang 

berkata yang jelek tentang kamu. Ya, hanya ini kabarnya. 

Kabarnya tidak berkata bahwa kamu sudah 

dilukai/dicelakakan [harmed). Saya melihat putra saya sedang

sakit—tapi tidak sedang terancam jiwanya. sebab nya 

tetaplah fokus pada impresi pertama (fakta objektif), dan 

jangan ditambah-tambahkan lagi di kepalamu. Maka 

sesungguhnya tidak ada yang benar- benar bisa terjadi 

kepadamu.” - Marcus Aurelius [Meditations]

Mempelajari  menyadarkan saya bahwa banyak dari emosi negatif 

kita merupakan akibat dari "interpretasi otomatis” /representation) atas sebuah 

kejadian/peristiwa. Ada kejadian yang tidak enak menimpa kita, maka kita secara 

otomatis merasa dizalimi, diperlakukan tidak adil, ditimpa bencana, dihina, dan lain-

lain, dan akhirnya emosi negatif pun menyusul, yaitu jadi merasa jengkel, marah, 

takut, dendam, cemburu, putus asa, dan lain-lain.

Coba perhatikan kalau lain kali kita berkeluh kesah. Sering kali keluh kesah keluar 

segera setelah terjadinya sebuah peristiwa. Misalnya, saat kita kehilangan uang, 

dikecewakan orang, stuck di kemacetan jalan, atau kuota data habis, maka dengan

cepat kita mengomel sebab  interpretasi kita (ingat perkataan Epictetus bahkan 

bukan hal/peristiwa itu sendiri yang membuat kita cemas/khawatir, tapi interpretasi 

kita). Ini yang saya

maksud dengan "respon otomatis”. Begitu ada pemicu /trigger), interpretasi

otomatis muncul, diikuti dengan emosi. Kurang lebih, bagannya akan 

seperti ini:

Setelah membaca quote Marcus Aurelius di atas, saya jadi sadar bahwa saya tidak 

harus marah jika terjebak kemacetan. Jika saya mau meluangkan sedikit waktu saja 

Inilah yang dimaksudkan oleh Marcus Aurelius, bahwa kita 

sesungguhnya memiliki kendali terhadap rasa cemas, khawatir, dan 

emosi negatif lainnya, yaitu jika kita bisa mengendalikan interpretasi 

secara aktif. Dengan demikian, kita bisa menginterpretasi sebuah 

peristiwa secara rasional, sesuai dengan nature manusia untuk 

menggunakan nalar kita. Jika kita tidak menggunakan nalar, maka 

kita tidak ada bedanya dengan binatang. Bagaikan kucing yang 

dipegang oleh orang tidak dikenal, maka secara insting kucing 

ini  berniat mencakar sebab  menganggap orang itu sebagai 

ancaman.

Dalam , representation atau interpretasi kita akan 

sebuah peristiwa tidak harus terjadi secara spontan tanpa ‘diperiksa'

/examined). Jika mau, sesungguhnya kita mampu memeriksa sebuah

peristiwa dan kemudian memutuskan makna apa yang ingin kita 

berikan. Contohnya adalah pengalaman pribadi saya sebagai berikut.

Di awal artikel  saya sudah bercerita bagaimana setelah mempelajari 

Stoisisme saya menjadi jauh lebih sabar jika terjebak kemacetan dan 

tidak marah-marah gak jelas lagi. Dulu, saya selalu mendapati situasi

saya seperti ini:

PERISTIWA:

Terjebak di

kemacetan

INTERPRETASI 1

OTOMATIS: Saya

buang-buang

aktu di sini! Saya

. terpenjara! J

EMOSI

(NEGATIF):

Marah, kesal,

frustrasi

untuk berpikir, saya mampu mengubah interpretasi atau persepsi otomatis ini. Saya 

mencoba menerapkan prinsip ini ke diri saya sendiri, dan sekarang saya tidak marah-

marah lagi saat  terjebak kemacetan. Proses berpikir saya menjadi sebagai berikut:

Sekarang, kemacetan tidak lagi secara otomatis memicu rasa amarah atau frustrasi. Dan

semakin sering saya berusaha mengendalikan pikiran saat terjebak kemacetan, semakin

terasa mudah bagi saya. Bagaikan latihan mengangkat beban, semakin sering dilatih, 

maka beban yang sama makin lama akan makin terasa ringan. Begitu juga halnya 

dengan mengendalikan interpretasi/makna/va/ue judgment sebuah peristiwa—semakin 

sering maka akan terasa semakin mudah.

Sekarang, terjebak dalam kemacetan sudah tidak lagi membuat saya gelisah atau 

marah-marah. Teknik ini bisa diterapkan dalam semua situasi saat  kita mulai 

merasakan adanya emosi negatif. Jika saya mau, saya selalu mampu untuk tidak 

menuruti interpretasi otomatis yang menyeret saya pada emosi negatif yang berlarut-

larut.

sebab  umumnya orang menyukai akronim (singkatan) untuk memudahkan mengingat 

langkah-langkah, maka saya akan menggunakan akronim juga untuk membantu 

pembaca mengambil kembali kendali interpretasi atas kehidupan kita sehari-hari. 

Akronim ini saya temui di internet, namun  tidak diciptakan oleh Stoisisme.


Langkah-langkah yang bisa diambil saat kita mulai merasakan emosi 

negatif (mau mengamuk, sedih, baper, frustrasi, putus asa, dan lain-

lain) dapat disingkat menjadi S-T-A-R iStop, Think & Assess, 

Respond):

1. STOP (berhenti). Begitu kita merasakan emosi negatif, secara 

sadar kita harus berhenti dulu. Jangan terus larut dalam 

perasaan ini . Anggap saja kita berteriak “time-out!" di 

dalam hati. Cara ini bisa mulai dilatih di semua emosi negatif 

begitu mulai terdeteksi, seperti takut, khawatir, marah, cemburu, 

curiga, stres, sedih, frustrasi, dan lain-lain. Walau mungkin 

terdengar aneh atau mustahil untuk "menghentikan” emosi yang 

selama ini muncul begitu spontan, menurut pengalaman saya ini 

sangat bisa dilakukan. Semakin sering dilakukan, kita akan 

menjadi lebih efektif melakukannya.

2. THINK & ASSESS (dipikirkan dan dinilai). Sesudah 

menghentikan proses emosi sejenak, kita bisa aktif berpikir. 

Memaksakan diri untuk berpikir secara rasional saja sudah 

mampu mengalihkan kita dari kebablasan menuruti emosi. 

Kemudian, mulailah menilai /assess), apakah perasaan saya ini 

bisa dibenarkan atau tidak? Apakah kita telah memisahkan fakta 

objektif dari interpretasi/va/ue judgment kita sendiri? 

Menggunakan , cara kita menilai adalah dengan 

bertanya pada diri sendiri, "Apakah emosi saya ini terjadi sebab  

sesuatu yang di dalam kendali saya atau di luar kendali saya?” 

Contoh:

a. Terkena macet yang tidak biasanya. Ini di luar kendali kita, 

kenapa gusar? Toh ngamuk-ngamuk tidak bisa mengubah 

situasi.

b. Mau meeting, ketinggalan f/7e/dokumen penting.

Oke, kita bisa kesal sama diri sendiri sebab  teledor 

(sesuatu yang ada di bawah kendali kita), tapi, saat ini, 

situasi sudah terjadi. Jadi, daripada marah-marah pada diri 

sendiri, alihkan untuk mencari solusi.

c. Ketemu teman yang sudah lama tak berjumpa, tanpa basa-

basi dia langsung teriak, "GILEEEELO GEMUKAN 

AMAAAT? EH, LO GEMUKAN APA HAMIL DI LUAR 

NIKAH??" Kata-kata ini secara objektif ya hanya kata- kata, 

namun  interpretasi "ini sengaja menghina saya" sudah datang

dari pikiran kita sendiri. Kemudian, kita tidak bisa 

mengendalikan congor orang lain, jadi mau berharap apa? 

Berharap semua orang bisa tahu mana sapaan yang sopan 

atau tidak? Ini tidak realistis. Juga ada kemungkinan dia 

benar-benar tidak mengerti etiket, dan kalau tidak tahu, 

artinya dia tidak tahu kalau yang dilakukannya tidak patut. 

Kita bisa memberi tahu dia dengan baik-baik (kalau mau). 

Nanti kita akan membahas nasihat praktis Stoisisme dalam 

berurusan dengan manusia-manusia lain (yang kerap dirasa 

menjengkelkan).

d. Permintaan dari atasan yang dirasa 'menakutkan', misalnya, 

dari pengalaman saya pribadi, diminta untuk berbicara di 

depan ratusan orang. Rasa gentar yang mendadak muncul 

kemudian saya analisis. Ternyata, saya gentar sebab  takut 

membayangkan saya gagal (irasional sebab  belum terjadi) 

dan takut orang lain menganggap penampilan saya buruk 

(irasional sebab  opini orang lain tidak berada di bawah 

kendali kita). Saya juga gagal memisahkan antara fakta 

objektif (berbicara di depan banyak orang), dan interpretasi 

pribadi (saya akan mempermalukan diri sendiri). Sesudah 

melakukan think & assess ini, saya pun berangsur lebih 

tenang dan bisa menerima tugas dari atasan.

Dari pengalaman saya, sekadar berusaha melakukan Think 

& Assess saja sudah cukup untuk menahan laju emosi jiwa 

yang sedang membuncah, sebab  yang kita lakukan adalah 

menginterupsi emosi yang selama ini bablas seperti gerbong

kereta lepas. Dalam Think & Assess, sebenarnya kita 

sedang "memisahkan” [detach) diri kita dari sekadar orang 

yang terbawa perasaan menjadi "pengamat”/pihak ketiga 

yang berkepala dingin. Dicoba deh!

3. RESPOND. Sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk 

rasional dalam mengamati situasi, dan, semoga saat ini, emosi 

sudah sedikit turun, barulah kita memikirkan respon apa yang 

akan kita berikan. Respon bisa dalam bentuk ucapan atau 

tindakan. sebab  pemilihan respon

ini  datang sesudah kita memikirkannya situasinya baik-

baik, diharapkan ucapan dan tindakan respon ini adalah hasil 

penggunaan nalar/rasio yang sebaik-baiknya, dengan prinsip 

bijak, adil /fair), menahan diri /tidak terbawa perasaan/emosi/, 

dan berani /courage).

Kerangka S-T-A-R ini menurut saya bisa dipakai di situasi apa pun. 

APA-PUN. Tidak ada situasi yang terlalu berat sampai kita tidak 

mampu mengendalikan interpretasi pribadi. Kapan kita tahu kita 

harus melakukan S-T-A-R? Begitu kita mendeteksi adanya emosi 

negatif dalam setiap situasi yang dihadapi. Sekolah, pacaran, karier, 

bisnis, keluarga, jalan raya—rasanya tidak ada skenario hidup apa 

pun yang tidak bisa merasakan manfaat kerangka S-T-A-R ini.

Mulai dari keputusan "kecil”, misalnya panik melihat sale sepatu di 

mal (interpretasi otomatis yang harus dilawan, "ADUH KAPAN LAGI 

ADA SALE SEPERTI INI, WALAUPUN GUE GAK BUTUH SEPATU 

KE-200....”), sampai keputusan "besar", misalnya diajak menikah 

masih muda, sampai peristiwa hidup yang mengguncang kita, 

misalnya PHK atau kematian mendadak keluarga dekat. Memberikan 

diri kita kesempatan untuk berpikir rasional hampir selalu lebih baik 

dibandingkan dengan terus-menerus membiarkannya ditarik ke sana 

sini oleh emosi.

Dalam Discourses, Epictetus berkata, "Jangan biarkan peristiwa yang

ada (di depanmu) menggoyahkan dirimu. Katakanlah (kepada 

peristiwa/kejadian itu), 'Tunggu dulu; biarkan saya memeriksamu 

sungguh-sungguh. Saya akan mengujimu terlebih dahulu.”’ Bagi saya

ini adalah teknik S-T-A-R di atas. Hampir 2.000 tahun yang lalu 

Epictetus juga mengingatkan agar kita tidak tergesa-gesa menilai, 

apalagi bertindak atas apa yang kita rasakan dan pikirkan tanpa 

dianalisis terlebih dahulu.

Mungkinkah seseorang mampu bersikap sangat rasional di setiap 

detik, di setiap kesempatan? Stoisisme mengerti sifat dasar manusia 

yang memiliki emosi dan perasaan yang bersifat reflex. Dan ini 

manusiawi. Sebagai contoh, saat  kita sedang berkendara tiba-tiba 

disalip ibu-ibu naik skutik yang menyalakan lampu sen ke kiri, namun  

bermanuver ke kanan, pasti ada reaksi spontan kaget dan mungkin 

marah. Atau, saat  kita sedang sendirian di rumah di malam hari, 

dan tiba-tiba terdengar suara dari loteng.

“Sudah saatnya kamu

menyadari bahwa kamu

memiliki sesuatu di dalam

dirimu yang lebih kuat dan

ajaib daripada hal-hal yang

memengaruhimu layaknya

sebuah boneka ” - Marcus

Aurelius (Meditations)

Reaksi pertama yang terpikir mungkin takut, bulu kuduk merinding, 

dan berpikir ada setan lagi mampir. Stoisisme menerima impresi dan 

reaksi spontan ini sebagai sifat manusiawi yang wajar. Tantangannya

adalah apakah kita akan membiarkan representation awal ini terus 

berlanjut? ("Gue dizolimi ibu-ibu skutikl", atau, "ADA SETAN DI 

LOTEEEEENGGGG!!!!"), atau kita bisa menghentikannya, memeriksa

pikiran kita sendiri, dan kemudian mengambil respons yang lebih baik

("Sabar. Pengendara sembarangan ya ada di mana-mana. Saya yang

musti waspada," atau, "Mungkin ada penjelasan lain untuk suara di 

loteng, gak harus setan kan. Bisa aja maling, kucing, atau 

genderuwo..."). Teknik S-T-A-R membutuhkan kemampuan deteksi 

dini emosi negatif agar kita bisa segera sadar dan menghentikan 

rantai pikiran buruk seawal mungkin.

Kita bisa menjadikan disiplin S-T-A-R ini kebiasaan sehat. Pada 

awalnya pasti terasa menantang, apalagi jika selama bertahun- tahun

hidup dengan emosi yang sangat reaktif dan spontan terhadap apa 

pun yang menimpa hidup kita.

Saat menulis artikel  ini, saya sudah menerapkan S-T-A-R selama 

kurang lebih 6 bulan, dan saya bisa katakan, semakin sering 

diterapkan semakin dia menjadi kebiasaan. Menurut banyak 

penelitian, kemampuan mental kita memang mirip dengan otot. 

Kebiasaan berpikir bisa dilatih seperti mengangkat barbell atau lari 

maraton—semakin sering dilatih, maka semakin kuat.

"Jagalah senantiasa persepsimu, sebab  ia bukan hal yang 

sepele, namun  merupakan kehormatan, kepercayaan, ketekunan,

kedamaian, kebebasan dari kesakitan dan ketakutan—dengan 

kata lain, kemerdekaanmu.” - Epictetus [Discourses]

Tentunya kita harus realistis bahwa teknik S-T-A-R bukan amunisi 

ajaib [magic bullet) yang mengatasi segala emosi kita, membuat kita 

selalu kalem luar biasa bagaikan tokoh Yoda di film Star Wars. 

Namun, minimal kita bukan bagaikan sekoci lepas yang pasrah 

mengikuti dibawa ombak ke mana. Stoisisme mengajarkan bahwa 

interpretasi ini sepenuhnya di bawah kendali kita. Dengan S-T-A-R, 

kita mulai berusaha memberikan "dayung” dan "layar” ke kapal kecil 

emosi kita, sehingga tidak semudah itu diombang-ambing ke sana 

sini.

Seperti disinggung oleh Dr. Andri SpKJ, FAPM di Bab I, bukan stres 

yang membunuh kita, namun  reaksi kita terhadap stres. Stres yang 

sama bisa menimpa dua orang, namun  responnya bisa sangat 

berbeda, tergantung persepsi masing-masing individu. Bagi saya, 

inilah bentuk validasi dunia medis terhadap .

Walaupun “ilmu” psikologi dan psikiatri mungkin belum resmi 

dirumuskan di masa Yunani dan Romawi kuno, para filsuf Stoa sudah

memahami bahwa peristiwa buruk, kondisi yang tidak 

menyenangkan, dan musibah adalah fakta hidup (Sang Buddha 

berkata bahwa hidup pada dasarnya penuh kesedihan), namun  bukan 

itu semua yang ‘membunuh’ kita, melainkan apa yang kita pikirkan 

tentangnya.

“Sudah saatnya kamu menyadari bahwa kamu memiliki sesuatu

di dalam dirimu yang lebih kuat dan ajaib daripada hal-hal yang 

memengaruhimu layaknya sebuah boneka.” - Marcus Aurelius 

[Meditations]

Kemampuan—dan kemauan—mengendalikan interpretasi semakin 

diperlukan di masa kini, sebab  adanya temuan psikologi bahwa 

generasi millenial memiliki “rasa berhak” (entitlement)yang lebih tinggi

dari generasi sebelumnya. Persepsi hak ini datang dari 

bef/ef/kepercayaan bahwa “saya lebih superior dari orang lain dan 

berhak mendapatkan hal- hal yang baik juga”. Dr. Joshua Grubbs 

yang melakukan riset bersama The University of Hampshire 

mengatakan:

“Di tingkat ekstrem, rasa berhak/entitlement adalah sifat narsis 

yang sangat merusak, menempatkan orang pada risiko frustrasi,

tidak bahagia, dan kecewa akan hidup. Sering kali, hidup, 

kesehatan, bertambahnya usia, dan kehidupan sosial tidak 

memperlakukan kita seperti yang kita inginkan.

Bertemu dengan batasan-batasan (hidup) ini sangat 

mengancam bagi mereka yang merasa berhak/entitled sebab  

tidak sejalan dengan persepsi mereka akan keunggulan mereka

sendiri."

Dr. Grubbs meneliti 170 kasus dan menentukan bahwa sebuah rasa 

berhak membawa kita pada siklus kekecewaan, kemarahan, 

perasaan negatif, dan kebutuhan terus-menerus

“Selalu ingat

bahwa ini

semua telah terjadi

sebelumnya, dan akan terjadi

lagi. Plot yang sama dari

awal hingga akhir, di tata

panggung yang sama.

Pikirkan hal ini, berdasarkan

yang kamu ketahui dari

pengalaman atau sejarah.” -

Marcus Aurelius

(Meditations).

bagi seseorang untuk

meyakinkan dirinya

bahwa dia istimewa.

Untuk bisa

melawan mentalitas ini, para pakar percaya bahwa seseorang harus 

belajar untuk lebih rendah hati, lebih bersyukur /grateful), dan 

menerima batasan yang dihadapi dan keterbatasan mereka sendiri.

Memba