Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 6. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 6

 


onal, yaitu  ibadat terkudus di dalam Ritus Roma Gereja Katolik, yang telah ditetapkan 

oleh Paus St. Pius V di dalam bullanya Quo Primum pada tahun 1570. 

 

Di dalam Bullanya yang terkenal, Quo Primum, Paus St. Pius V melarang pengubahan Misa Latin 

Tradisional. 

Paus St. Pius V, Quo Primum Temore, 14 Juli 1570: 

“Oleh sebab  itu, sekarang, agar di seluruh tempat semua orang dapat menjalankan apa yang 

telah diberikan kepada mereka oleh Gereja Roma yang Kudus, Ibunda dan Pengajar dari gereja-

gereja lain, yaitu  suatu hal yang tidak sah mulai sekarang dan selama-lamanya di seluruh dunia 

kristiani untuk menyanyikan atau membaca Misa menurut formula apa pun selain Missal yang 

kami terbitkan... Oleh sebab  itu tidak seorang pun diperbolehkan untuk melanggar atau 

dengan sembrono menentang maklumat ini mengenai izin, undang-undang, peraturan, 

petunjuk, dukungan, indult, pernyataan, wasiat, dekret, dan larangan Kami. Jika seseorang 

mencoba melakukannya, hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan mendapat  murka 

Allah yang Mahakuasa dan Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati.”2 


115 

 

Pada tanggal 3 April 1969, Paulus VI menggantikan Misa Latin Tradisional di dalam gereja-gereja Vatikan 

II dengan rekayasanya sendiri, Misa Baru atau Novus Ordo. Sejak saat itu, dunia ini telah melihat hal-hal 

sebagai berikut di dalam gereja-gereja Vatikan II yang menyelenggarakan Misa Baru atau Novus Ordo: 

Dunia telah melihat Misa-misa Badut, di mana sang ‘imam’ berdandan sebagai badut sebagai ejekan 

terang-terangan kepada Allah. 

 

 

Dunia telah melihat seorang imam berpakaian seperti Drakula, dengan kaos sepak bola disertai para 

pemandu sorak; seorang imam mengenakan keju di atas kepalanya... 

 

...menyetir sebuah Volkswagen sampai ke lorong gereja disertai nyanyian hosanna para umat. Telah 

diselenggarakan Misa disko... 


116 

 

 

...pertunjukan gimnastik pada saat Misa Baru; Misa balon; Misa Karnaval 

 

 

 

...Misa telanjang, di mana orang-orang yang berpakaian sangat minim atau telanjang berpartisipasi. Dunia 

telah melihat Misa juggling, di mana seorang juggler beraksi pada saat Misa Baru. 

 

  


117 

 

Dunia telah melihat imam-imam menyelenggarakan Misa Baru dengan Dorito Chips {keripik Dorito}; 

 

 

...dengan Mountain Dew {minuman bersoda}; di atas kotak kardus; dengan kue kering; dengan teh Cina 

disertai pemujaan leluhur; dengan sebuah bola basket yang di-dribble sang imam sampai ke altar; dengan 

gitar yang dimainkan secara solo oleh sang imam. Dunia telah menyaksikan Misa Baru dengan sang imam 

yang hampir telanjang bulat sewaktu ia menari di sekeliling altar atau dengan kabel yang menjijikkan. 

 

 

  


118 

 

Dunia telah melihat Misa-misa Baru dengan imam yang mengenakan kostum penduduk asli yang pagan; 

 

 

...dengan sebuah Menorah Yahudi di atas altar; 

 

 

...dengan sebuah patung Buddha di atas altar; dengan para suster yang membawa persembahan kepada 

dewi-dewi; dengan lektor dan pembawa persembahan yang mengenakan kostum voodoo Satanis. Dunia 

telah melihat Misa Baru di mana ada  performer yang berpakaian tuksedo dan membuat lelucon. 

Dunia juga telah melihat konser rock di dalam Misa Baru; 


119 

 

 

 

...Misa Baru dengan gitar dan musik Polka 

 

 

 


120 

 

...Misa Baru boneka; Misa Baru di mana orang-orang berkumpul di sekeliling altar berpakaian seperti 

Setan. 

 

 

  


121 

 

...Misa Baru di mana orang-orang melakukan tarian yang seronok diiringi irama drum besi. Dunia telah 

melihat Misa Baru di mana para suster berdandan seperti perawan-perawan untuk dewi pagan dan 

memberi  persembahan pagan. 

 

 

 

 

  


122 

 

Dunia telah melihat Misa Baru yang mengikutsertakan setiap agama sesat. Telah diadakan Misa-misa 

Baru Buddhis; 

 

 

...Misa-misa Baru Hindu dan Muslim; 

 

 


123 

 

...Misa-misa Baru di mana orang-orang Yahudi dan Unitarian mempersembahkan lilin-lilin kepada dewa-

dewi sesat. Ada juga gereja-gereja di mana seluruh kongregasi mengucapkan Misa bersama imam. 

 

 

 

...di mana sang imam kadangkala bercakap-cakap dengan para umat dan bukan mengucapkan Misa. 

 

Apa yang kami telah katalogkan hanyalah sebuah sampel kecil dari hal-hal yang terjadi di setiap 

dioses di dunia di mana Misa Baru diselenggarakan. Tuhan kita berkata, “Dari buahnyalah kamu akan 

mengenal mereka.” (Matius 7:16). Buah-buah dari Misa Baru benar-benar memalukan, nista, dan 

musyrik. Hal ini disebabkan oleh sebab  Misa Baru itu sendiri, di dalam bentuknya yang paling murni, 

yaitu  Misa yang tidak valid, palsu, dan yaitu  sebuah kekejian. 

 


124 

 

 

 

Bahkan sebuah organisasi yang membela Misa Baru terpaksa mengakui hal berikut tentang Misa Baru 

yang umum – yaitu, Misa Baru yang biasa dilakukan di dalam gereja-gereja (tanpa perlu 

mempertimbangkan kekejian-kekejian yang kami telah sebutkan serta penistaan yang sering terjadi): 

“Kebanyakan dari Misa-misa Baru yang kami telah hadiri... merupakan pesta bersenang-senang diikuti 

tepuk tangan, musiknya sangat buruk, khotbahnya tidak berisi, dan sangat tidak hormat...”3 

 

 

Sewaktu Misa Baru dikeluarkan pada tahun 1969, Kardinal Ottaviani, Bacci, dan beberapa teolog lain 

menulis kepada Paulus VI. Ingat bahwa apa yang mereka katakan tentang Misa Baru berkaitan dengan 

Versi Latin, yaitu versi yang dalam tanda kutip ‘paling murni’ dari Misa Baru. Penelitian mereka dikenal 

dengan The Ottaviani Intervention {Intervensi Ottaviani}. 

 


125 

 

“Novus Ordo [Orde Baru Misa] melambangkan, secara keseluruhan dan secara rinci, 

penyimpangan yang menonjol dari teologi Katolik tentang Misa sebagaimana yang dirumuskan di 

dalam Sesi 22 dari Konsili Trente.”4 

 

Mereka dapat melihat dengan jelas bahwa versi Latin dari Misa Baru yaitu  penyimpangan yang 

menonjol dari ajaran Konsili Trente. Dari kedua belas doa-doa persembahan Ekaristi yang ada  di 

dalam Misa Tradisional, hanyalah dua yang dipertahankan di dalam Misa Baru. Doa-doa persembahan 

yang dihapuskan yaitu  doa-doa yang sama yang dihapuskan oleh para bidah Protestan Martin Luther 

dan Thomas Cranmer. Misa Baru dipermaklumkan oleh Paulus VI dengan bantuan enam Pelayan 

Protestan. 

 

 

Keenam Pelayan Protestan yang membantu pembentukan Misa Baru yaitu : Drs. George, Jasper, 

Shepherd, Kunneth, Smith dan Thurian. 

 

Paulus VI bahkan mengakui kepada teman baiknya, Jean Guitton bahwa tujuannya untuk mengubah Misa 

ini  yaitu  untuk membuatnya Protestan. 

 

Jean Guitton (sahabat karib Paulus VI) menuliskan: “Tujuan Paus Paulus VI berkenaan 

dengan apa yang sering disebut Misa [Baru], yaitu  untuk mereformasi liturgi Katolik 

sebagaimana mestinya agar bertepatan dengan liturgi Protestan. Paus Paulus VI memiliki 

intensi ekumenis untuk menghapus, atau mengoreksi, atau setidaknya mengendurkan, 

hal-hal yang terlalu Katolik secara tradisional di dalam Misa dan, saya ulangi, untuk 

menjadikan Misa Katolik mirip dengan Misa Kalvinis.”5 

 

Paulus VI menghapus apa yang terlalu Katolik di dalam Misa untuk membuat Misa ini  menjadi 

sebuah ibadat Protestan. 

 


126 

 

Suatu penelitian yang membandingkan antara proprium dan doa-doa Misa Tradisional dengan Misa Baru 

menunjukkan sebuah pembantaian terhadap Iman Tradisional. Buku Missal tradisional mengandung 

1.182 doa. Sekitar 760 dari doa-doa ini  ditiadakan sama sekali di dalam Misa Baru. Dari sekitar 

36% dari doa-doa yang tersisa, para pengubahnya merombak lebih dari separuhnya sebelum 

memasukkan doa-doa ini  ke dalam buku Missal yang baru. Maka, hanya sekitar 17% dari doa-

doa Misa Tradisional tetap tidak terjamah di dalam Misa Baru. Hal yang juga menonjol yaitu  isi 

dari revisi-revisi atas doa-doa ini . Doa-doa Tradisional yang menggambarkan konsep-konsep 

berikut secara khusus dihapuskan dari buku Missal Baru: kebejatan dosa; jerat-jerat kejahatan; 

pelanggaran berat dosa; jalan kebinasaan; ketakutan di depan murka Allah; kemarahan Allah; ledakan 

amarah-Nya; beban kejahatan; godaan-godaan; pikiran-pikiran yang jahat; bahaya yang mengancam 

jiwa; musuh dari jiwa dan raga. Doa-doa yang menyebutkan hal-hal berikut juga dihapuskan: waktu 

kematian; dirampasnya Surga dari seseorang; kematian yang kekal; hukuman yang abadi; rasa sakit 

Neraka dan apinya. Hal-hal yang ditekankan agar dihapuskan dari Misa Baru yaitu  doa-doa yang 

menggambarkan penjauhan diri dari dunia; doa-doa untuk orang yang sudah meninggal; Iman yang sejati 

dan ada nya bidah; rujukan-rujukan kepada militan Gereja; manfaat karya-karya santo-santa, 

mukjizat-mukjizat dan Neraka.6 Seseorang dapat melihat hasil dari pembantaian Iman Tradisional 

dengan melihat proprium Misa Baru. 

 

 

 

Misa Baru penuh dengan penistaan, pencemaran, dan kekejian-kekejian yang paling konyol yang dapat 

dibayangkan sebab  Misa Baru mencerminkan agama sesat yang telah meninggalkan Iman Katolik 

tradisional. 

 


127 

 

 

 

Agama sesat yang dicerminkan oleh Misa Baru yaitu  salah satu alasan mengapa Misa Baru sangatlah 

hampa; itulah mengapa buah-buahnya sangatlah gersang, tandus dan sangatlah buruk. Agama yang 

dipraktikkan di dalam Gereja-gereja di mana Misa Baru dirayakan yaitu , secara singkat, sebuah 

penistaan total dan penyembahan manusia yang hampa. 

 

 

 

Bahkan Dietrich von Hildebrand, pendukung agama Vatikan II, mengatakan hal berikut tentang Misa 

Baru: 

 


128 

 

“Memang, seakan-akan salah satu iblis di dalam buku C.S. Lewis The Screwtape Letters telah 

dipercayakan untuk menghancurkan liturgi, ia tidak dapat melakukannya dengan lebih baik 

lagi.”7 

 

 

Kecuali satu gerakan berlutut oleh imam sesudah  konsekrasi, dapat dikatakan bahwa setiap tanda 

penghormatan untuk Tubuh dan Darah Kristus yang mencirikan Misa Tradisional telah dihapuskan atau 

dibuat tidak wajib untuk Misa Baru. 

 

.  

 


129 

 

 

 

 

Cawan-cawan suci tidak perlu lagi disepuh emas bila tidak terbuat dari logam berharga. Cawan-cawan 

suci, yang tadinya hanya boleh disentuh oleh tangan-tangan imam yang telah diurapi, sekarang dipegang 

oleh semua orang. 

 

 

Para imam sering berjabatan tangan sebelum membagikan hosti.8 Pedoman Umum untuk Misa Baru juga 

menyatakan bahwa altar-altar tidak lagi perlu dibuat dari batu alami; bahwa batu altar yang berisi 

relikui-relikui martir-martir tidak lagi diwajibkan; hanya satu kain saja yang diwajibkan di atas altar; 

bahkan salib atau lilin pun tidak diperlukan di atas altar.9 

 


130 

 

Tidak satu pun dari hal-hal yang diwajibkan yang dibentuk selama 2.000 tahun untuk membuat 

altar Misa menjadi pantas ada  di dalam Misa Baru. 

 

Sewaktu para Protestan memisahkan diri dari Gereja Katolik di Inggris pada abad ke-16, mereka 

mengubah Misa untuk mencerminkan kepercayaan-kepercayaan mereka yang sesat. Altar-altar 

digantikan dengan meja-meja. Bahasa Latin digantikan dengan Bahasa Inggris. Patung-patung dan ikon-

ikon disingkirkan dari gereja-gereja. Injil Terakhir dan Doa Pengakuan Dosa dihapuskan. ‘Komuni’ 

dibagikan di dalam tangan. Misa diucapkan dengan lantang dan menghadap Kongregasi. Musik 

tradisional disingkirkan dan digantikan dengan musik baru. Tiga perempat dari para imam di Inggris 

mengikuti Ibadat Baru. 

namun  hal inilah yang persis terjadi pada tahun 1969, sewaktu Paulus VI mempermaklumkan Misa Baru, 

yaitu Novus Ordo Missae {Misa Orde Baru}. Persamaan antara 1549 Anglican Prayer Book {Buku Doa 

Anglikan tahun 1549} dan Misa Baru sangat mencolok. Seorang ahli mencatat: 

 

“Cara terbaik untuk mengukur cakupan penyimpangan antara Misa Novus Ordo dengan Konsili 

Trente yaitu  dengan membandingkan doa-doa yang dihapuskan dari liturgi oleh Konsilium 

dengan doa-doa yang dihapuskan oleh sang bidah Thomas Cranmer. Kebetulan ini bukan hanya 

mencolok – kebetulan ini menyeramkan. Kebetulan ini, kenyataannya, tidak mungkin yaitu  

suatu kebetulan.”10 

 

Untuk menekankan kepercayaan yang sesat bahwa Misa bukanlah sebuah kurban, melainkan hanyalah 

sebuah santapan, para Protestan menggantikan altar dengan meja. Di dalam negara Inggris yang 

Protestan, contohnya “Pada tanggal 23 November 1550, Konsili Privy memerintahkan agar semua altar-

altar di Inggris dihancurkan dan digantikan dengan meja-meja komuni.”11 

 


131 

 

 

Sebuah gereja Vatikan II dengan meja yang mirip meja ‘Protestan’ untuk Misa barunya yang Protestan 

 

Kepala bidah Protestan berkata: “Bentuk dari meja akan mengubah pikiran penuh takhayul orang-orang 

yang sederhana tentang Misa Papis agar mereka mengikuti penggunaannya yang benar untuk Perjamuan 

Makan Tuhan. sebab  altar digunakan untuk membuat kurban di atasnya: meja digunakan orang untuk 

makan.”12 Martir Katolik dari negara Wales, Richard Gwyn, menyatakan sebagai protes terhadap 

perubahan ini: “Altar digantikan dengan sebuah meja yang menyedihkan, Kristus digantikan dengan 

roti.”13 

 

Dan St. Robertus Bellarminus berkomentar: ”...sewaktu kami memasuki bait-bait para bidah, di mana 

hanya ada  sebuah kursi untuk berkhotbah dan sebuah meja untuk membuat santapan, kami 

sendiri merasa hanya memasuki ruangan yang profan dan bukan rumah Allah.”14 

 

 


132 

 

Seperti ibadat-ibadat para revolusioner Protestan, Misa Baru diselenggarakan di atas sebuah meja. 

 

 

 

Buku Doa Anglikan tahun 1549 juga disebut “The Supper of the Lord, and the holy Communion, commonly 

called the mass {Perjamuan Makan Tuhan, dan Komuni kudus, yang secara umum dikenal sebagai misa}.”15 

Judul ini menekankan kepercayaan Protestan bahwa Misa hanyalah sebuah santapan, makanan – dan 

bukan pengorbanan. Pedoman Umum untuk Misa Baru yang dipermaklumkan Paulus VI memiliki judul 

yang persis sama. Judulnya yaitu  “Perjamuan Makan Tuhan atau Misa.”16 

 

 

 

Buku Doa Anglikan Tahun 1549 menghapus dari Misa mazmur yang berjudul Adililah aku, ya Allah, 

sebab  rujukannya kepada altar Allah. Mazmur ini juga dihapuskan di dalam Misa Baru. 

 


133 

 

Buku Doa Anglikan Tahun 1549 menghapus dari Misa doa yang dimulai dengan “Hapuskanlah dosa kami” 

sebab  doa ini  mengingatkan akan kurban. Doa ini juga dihapus di dalam Misa Baru. 

 

Doa yang dimulai dengan Kami memohon kepada-Mu, ya Tuhan, merujuk kepada relikui-relikui para 

martir di dalam altar batu. Doa ini telah dihapuskan di dalam Misa Baru. 

 

Di dalam Buku Doa Anglikan Tahun 1549, Introit, Kyrie, Gloria, Collecta, Epistola, Injil dan Syahadat 

dipertahankan. Semua doa-doa ini ada  di dalam Misa Baru.  

 

Doa-doa yang mirip dengan Doa-doa Persembahan: Terimalah, ya Bapa yang kudus... ya Allah, yang telah 

menetapkan kodrat manusia... Kami mempersembahkan kepada-Mu, ya Tuhan... Dengan jiwa yang rendah 

hati... Datanglah, wahai Roh Kudus, Mahakuasa... dan Terimalah, Allah Tritunggal Mahakudus, seluruhnya 

telah dihapus di dalam Buku Doa Anglikan Tahun 1549. Semua doa-doa ini  telah dihapus dari Misa 

Baru, kecuali dua kutipan. 

 

Di dalam Buku Doa Anglikan Tahun 1549, dialog Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan, Prefasi dan 

Sanctus dipertahankan. Doa-doa ini  juga tetap ada di dalam Misa Baru.  

 

 

 

Kanon Roma dihapuskan oleh Buku Doa Anglikan Tahun 1549. Di dalam Misa Baru, Kanon Roma 

hanyalah sebuah opsi. 

 


134 

 

 

Bidah ‘agung’ revolusi Protestan: Thomas Cranmer (kiri) dan Martin Luther (kanan) 

 

Thomas Cranmer (penulis Buku Doa Anglikan Tahun 1549) dan Martin Luther menghapuskan doa 

Selamatkanlah kami, ya Tuhan – kemungkinan sebab  doa ini  menyebutkan perantaraan Bunda 

Maria dan santo-santa. Hanyalah sebuah versi yang telah diubah dari doa inilah yang dipertahankan di 

dalam Misa Baru, tanpa doa kepada santo-santa. Harus dicatat pula bahwa doa Persembahan di dalam 

Misa Baru yang bermula dengan Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam diambil dari Doa Meja 

Yahudi.17 

 

Bahkan, Misa Novus Ordo telah menghapuskan doa tradisional Jumat Agung untuk konversi para orang 

Yahudi. Doa ini telah digantikan dengan sebuah doa, yang tidak mengharapkan agar para Yahudi 

berkonversi, namun  agar mereka ‘bertumbuh’ di dalam kesetiaan akan perjanjian-Nya! Maka, ada  

ungkapan kemurtadan di dalam doa Jumat Agung resmi Misa Baru. Hal ini yaitu  sebuah promosi dari 

agama Yahudi dan sebuah ajaran sesat bahwa Perjanjian yang Lama masihlah berlaku. 

 

Dua doa Jumat Agung yang berbeda untuk para Yahudi dari dua agama yang 

berbeda 

Pada Jumat Agung, agama Novus Ordo berdoa: 

“untuk para orang Yahudi, mereka yang 

pertama kali mendengar sabda Allah, agar 

mereka dapat terus bertumbuh di dalam 

cinta akan nama-Nya dan kesetiaan akan 

perjanjian-Nya.” 

namun  Gereja Katolik berdoa pada Jumat 

Agung: “untuk para orang Yahudi yang tidak 

beriman: agar Tuhan dan Allah kita sudi 

mengangkat selubung yang menutupi hati 

mereka, agar mereka dapat mengakui Yesus 

Kristus, Tuhan kita.” 

 

Di dalam Buku Doa Anglikan Tahun 1549, doa yang setara dari doa yang bermula dengan, Semoga 

Percampuran dan Konsekrasi Tubuh dan Darah telah dihapuskan. Sangatlah menarik bahwa sebuah versi 

yang telah diubah dari doa ini telah dijaga di dalam Misa Baru, di dalam mana kata ‘konsekrasi’ yang 

penting telah dihapuskan. 

 

Buku Doa Anglikan Tahun 1549 meninggalkan disiplin Ritus Roma yang membagikan Komuni dalam satu 

jenis, dan berubah untuk membagikan Komuni di dalam kedua jenis. Di dalam Misa Baru, Komuni di 

dalam dua jenis dibagikan di berbagai tempat di dunia. 

 


135 

 

 

 

Versi tahun 1552 dari Buku Doa Anglikan berpesan agar Komuni diberikan di dalam tangan untuk 

menandakan bahwa roti ini  hanyalah roti biasa dan bahwa sang imam tidak berbeda secara esensi 

dengan orang awam.18 

 

 

 

Misa Baru membagikan Komuni di dalam tangan hampir di semua tempat di dunia dan, bahkan lebih 

parah dari Cranmer, mengizinkan para penerima komuni untuk berdiri dan menerima komuni dari 

pelayan awam. 

 


136 

 

Doa-doa di dalam Misa Tradisional yang dimulai dengan: Ya Tuhan, buatlah agar kami menjaga dengan 

hati murni dan Semoga Tubuh-Mu yang telah kuterima, Ya Tuhan yaitu  rujukan terang-terangan kepada 

Kehadiran Nyata Kristus di dalam Ekaristi. Keduanya telah dihapuskan di dalam Misa Baru. 

Doa yang bermula dengan Sudilah menerima, ya Allah Tritunggal Mahakudus, ketaatan dari pelayananku, 

yaitu  doa sesudah  Komuni yang paling tidak menyenangkan kepada para Protestan, oleh sebab  

rujukannya kepada kurban propisiasi. Martin Luther, dan Cranmer di dalam Buku Doa Anglikannya, 

menghapuskannya. Atas teladan mereka, doa ini  dihapuskan di dalam Misa Baru. 

 

Injil Terakhir – yaitu yang menutup Misa Tradisional. Jika Injil Terakhir yang menutup Misa Tradisional 

diikutsertakan di dalam Misa Baru, maka Misa Baru akan bertentangan dengan pola ibadat Protestan, 

yang menutup dengan pemberkatan. Maka, Injil Terakhir tidak diikutsertakan di dalam Misa Baru. 

 

Doa-doa sesudah  Misa Tradisional, Doa-doa Leonin {doa-doa Paus Leo XIII}, termasuk Salam Maria; Salam 

Ya Ratu; Ya Allah, perlindungan kami; doa kepada St. Mikhael; dan doa kepada Hati Kudus Yesus 

merupakan, secara praktik, bagian yang penting dari liturgi. Kelima doa yang tidak cocok dengan 

Protestantisme tidak dapat ditolerir. Seluruh doa ini  telah dihapuskan di dalam Misa Baru. 

 

Dengan mempertimbangkan hal ini, bahkan Michael Davies setuju: “Tidak dapat diperdebatkan lagi 

bahwa... Ritus Roma telah dihancurkan.”19 

 

Di samping fakta bahwa Misa Baru yaitu  sebuah ibadat Protestan, ada  pula fakta bahwa gereja-

gereja Novus Ordo memiliki kemiripan yang menonjol dan tidak terpungkiri dengan loji-loji Freemason. 

Lihatlah gambar-gambar berikut. Ini yaitu  sebuah loji Freemason: 

 

 

 

  


137 

 

Berikut yaitu  sebuah gereja Novus Ordo: 

 

 

Keduanya hampir tidak dapat dibedakan; keduanya berpusat kepada manusia, di mana Takhta dari sang 

pemimpin acara berada di tengah, dengan aksen berbentuk lingkaran. Hal ini mungkin disebabkan 

sebab  arsitek utama dari Misa Baru Paulus VI yaitu  Kardinal Annibale Bugnini, yang yaitu  seorang 

Freemason. 

 

 

Annibale Bugnini, arsitek utama dari Misa Baru dan seorang Freemason 

 

‘Kardinal’ Annibale Bugnini yaitu  Ketua dari Konsilium yang membuat konsep dari Misa Baru Paulus VI. 

Bugnini menerima inisiasi masuk loji Freemason pada tanggal 23 April 1963, menurut sebuah Daftar 

Mason pada tahun 1976.20 

 

Di samping semua masalah-masalah Misa Baru, ada  suatu hal yang lebih besar. Masalah yang paling 

besar dari Misa Baru yaitu  Misa ini tidak valid. Yesus Kristus tidak hadir di dalam Misa Baru sebab  

Misa Baru telah mengubah kata-kata konsekrasi. 


138 

 

BUKTI BAHWA MISA BARU TIDAK VALID – KATA-KATA KONSEKRASI TELAH 

DIUBAH 

 

Sebuah sakramen dikatakan valid bila sakramen ini  berlangsung. Sakramen Ekaristi itu valid jika 

roti dan anggur menjadi Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian sejati Yesus Kristus. Suatu sakramen yang 

valid memerlukan adanya materi, formula, pelayan, dan intensi yang diwajibkan. 

 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1439:  

“Semua sakramen-sakramen ini terdiri dari tiga elemen: yakni benda-benda sebagai materi, kata-

kata sebagai formula, dan pribadi dari pelayan yang memberi  sakramen dengan intensi untuk 

melakukan apa yang Gereja lakukan. Jika tidak ada  salah satu dari elemen-elemen ini, 

sakramen ini  tidak terlaksana.”21 

 

Masalah dari validitas Misa Baru berkaitan dengan formulanya, kata-kata yang diperlukan untuk 

melaksanakan Sakramen Ekaristi. Formula yang diperlukan untuk melaksanakan Ekaristi di dalam Ritus 

Roma telah dideklarasikan oleh Paus Eugenius IV dalam Konsili Florence. 

 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Cantate Domino, 1441: 

 ”...Gereja Roma yang kudus, yang diteguhkan oleh doktrin dan otoritas dari rasul-rasul 

Petrus dan Paulus... Di dalam konsekrasi Tubuh Tuhan… memakai  formula ini: 

SEBAB INILAH TUBUHKU; di dalam konsekrasi darah-Nya: SEBAB INILAH PIALA 

DARAHKU, DARAH PERJANJIAN BARU DAN KEKAL: MISTERI IMAN, YANG AKAN 

DITUMPAHKAN BAGIMU DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA.”22 

 

Di dalam Dekret Paus St. Pius V De Defectibus, kita menemukan kata-kata yang sama yang diulangi:  

 

Paus St. Pius V, De Defectibus, bab 5, Bagian 1: 

“Kata-kata Konsekrasi, yang merupakan FORMULA dari Sakramen ini, yaitu  sebagai 

berikut: SEBAB INILAH TUBUHKU. Dan: SEBAB INILAH PIALA DARAHKU, DARAH 

PERJANJIAN BARU DAN KEKAL: MISTERI IMAN, YANG AKAN DITUMPAHKAN BAGIMU DAN 

BAGI BANYAK ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA. Jikalau seseorang menghapuskan atau 

mengubah suatu hal pun di dalam FORMULA konsekrasi Tubuh dan Darah, dan dalam 

perubahan kata-kata ini , rumusan [yang baru] ini  gagal untuk memiliki arti 

yang sama, ia tidak akan mengonsekrasikan sakramen ini .”23 

 

Ajaran ini terpampang di depan semua Buku Missal Altar Roma dari tahun 1570-1962. Kita bisa melihat 

bahwa kata-kata yang sama yang disebutkan oleh Konsili Florence dideklarasikan sebagai diperlukan 

oleh Paus St. Pius V. Inilah mengapa semua kata-kata konsekrasi ini  dibuat tebal di dalam Buku 

Missal Altar Roma Tradisional, dan mengapa Missal Roma menginstruksikan para imam untuk 

memegang piala sampai seluruh kata-kata ini  sudah diucapkan. 

 

Ajaran Paus St. Pius V mengatakan bahwa jika kata-kata konsekrasi diubah untuk mengubah 

artinya, sang imam tidak membuat sebuah sakramen terlaksana. Di dalam Misa Baru, kata-kata 

konsekrasi telah diubah secara drastis, dan artinya telah diubah. 

 


139 

 

Pertama, versi Latin orisinal dari Misa Baru telah menghapuskan kata-kata mysterium fidei – ‘misteri 

Iman’ – dari kata-kata konsekrasi. Hal ini menyebabkan sebuah keraguan yang besar, sebab  ‘mysterium 

fidei’ yaitu  bagian dari formula Ritus Roma. Walaupun kata-kata ‘mysterium fidei’ bukanlah bagian dari 

formula konsekrasi beberapa Ritus Timur, kata-kata ini telah dideklarasikan sebagai bagian dari Ritus 

Roma. Kata-kata ini  juga ditemukan di beberapa Ritus Timur. Paus Inosensius III dan Kanon Misa 

juga menyatakan bahwa kata-kata ‘mysterium fidei’ diberikan oleh Yesus Kristus sendiri. 

 

Paus Inosensius III, Cum Marthae circa, 29 November 1202, untuk menjawab sebuah pertanyaan 

tentang formula Ekaristi dan diikutsertakannya ‘mysterium fidei’: 

“Anda telah bertanya (memang) siapakah yang telah menambahkan ke dalam formula kata-kata 

yang Kristus sendiri ucapkan sewaktu Ia mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah, 

yang ada  di dalam Kanon Misa yang digunakan secara umum oleh Gereja, yang tidak 

diucapkan oleh seorang pun dari para Penginjil... Di dalam Kanon Misa, istilah ‘mysterium 

fidei’ ada  di antara kata-kata-Nya... Tentunya kita melihat bahwa banyak hal-hal 

sejenis telah diabaikan dari kata-kata serta perbuatan Tuhan oleh Penginjil, yang, seperti 

yang kita bisa baca, para Rasul lengkapi secara lisan atau ungkapkan lewat tindakan mereka... 

Oleh sebab  itu, kami percaya bahwa formula dari kata-kata ini , seperti yang ada  

di dalam Kanon, diterima oleh para Rasul dari Kristus, dan para penerus mereka dari para 

Rasul.”24 

 

Kata-kata ‘misteri iman’ di dalam konsekrasi merupakan rujukan yang jelas kepada Kehadiran Nyata 

Kristus di dalam Ekaristi. Kata-kata ini juga telah dihapuskan oleh sang bidah Thomas Cranmer di dalam 

Buku Doa Anglikan tahun 1549 sebab  rujukannya yang jelas kepada Kehadiran Nyata Kristus di dalam 

Ekaristi.25 Sewaktu kata-kata dihapuskan dari sebuah ritus sebab  arti yang diungkapkan oleh kata-kata 

ini  bertentangan dengan arti yang dimaksudkan dari ritus ini , suatu keraguan menjadi timbul. 

Kita bisa membahas lebih banyak tentang hal ini , namun  kita sekarang harus membahas tentang 

bukti terbesar akan ketidakvalidan Misa Baru. 

 

Di dalam hampir seluruh terjemahan vernakular Misa Baru di dunia, kata-kata konsekrasi yaitu  sebagai 

berikut: 

 

FORMULA KONSEKRASI DI DALAM MISA BARU 

 

“Sebab inilah tubuh-Ku. Sebab inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan 

kekal, yang akan ditumpahkan bagimu dan BAGI SEMUA ORANG DEMI 

PENGAMPUNAN DOSA.” 

 

Kata-kata ‘bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa’ telah diubah menjadi bagimu dan 

bagi semua orang demi pengampunan dosa. Kata ‘banyak’ telah dihapuskan dan digantikan dengan 

kata ‘semua'. Perubahan besar ini membuat semua Misa Baru tidak valid. Pertama, kata banyak telah 

digunakan oleh Yesus untuk menginstitusikan sakramen Ekaristi, seperti yang kita lihat di dalam Matius 

26:28: “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk 

pengampunan dosa.” Kata-kata yang digunakan oleh Tuhan kita, “bagi banyak orang untuk pengampunan 

dosa” melambangkan kemujaraban dari darah yang ditumpahkan Yesus. Darah Yesus mujarab untuk 

keselamatan dari banyak, dan bukan semua orang. Untuk menjelaskan hal ini, Katekismus Konsili Trente 


140 

 

secara khusus mengatakan bahwa Tuhan Kita tidak memaksudkan ‘semua’ dan oleh sebab  itu tidak 

mengatakannya! 

 

Katekismus Konsili Trente, Tentang Formula Ekaristi, hal. 227: 

“Kata-kata tambahan bagimu dan bagi banyak orang diambil, sebagian dari Matius, sebagian dari 

Lukas, namun digabungkan bersama-sama oleh Gereja Katolik di bawah bimbingan Roh Allah. 

Kata-kata itu berguna menyatakan buah dan manfaat Sengsara-Nya. Sebab jika kita 

memandang nilainya, kita harus mengakui bahwa sang Penebus menumpahkan Darah-Nya demi 

keselamatan semua orang; namun jika kita memandang buah yang telah diterima umat manusia 

darinya, kita akan dengan mudah menemukan bahwa buah itu tidak berlaku kepada semua 

orang, namun kepada banyak orang dari antara umat manusia. Maka ketika (Tuhan kita) 

berkata: Bagimu, maksud-Nya yaitu  mereka yang pada waktu itu hadir, atau mereka yang 

terpilih dari antara bangsa Yahudi, seperti halnya, terkecuali Yudas, para murid yang dengannya 

Ia sedang berbicara. Ketika Ia menambahkan, Dan bagi banyak orang, kata-kata itu 

diinginkan-Nya supaya dipahami dengan makna sisa-sisa umat pilihan dari antara orang 

Yahudi dan bangsa-bangsa non-Yahudi. MAKA DENGAN BENAR KATA-KATA BAGI SEMUA 

ORANG TIDAK DIGUNAKAN, sebab di sini, hanya buah-buah Sengsara-Nyalah yang dibicarakan, 

dan hanya kepada para umat pilihanlah Sengsara-Nya membawa buah keselamatan.”26 

 

Seperti yang kita bisa lihat, menurut Katekismus Konsili Trente, kata-kata ‘bagi banyak orang’ secara 

spesifik tidak digunakan oleh Tuhan kita sebab  kata-kata ini  akan memberi arti yang salah. 

 

St. Alfonsus de Liguori, Treatise on The Holy Eucharist {Traktat akan Ekaristi Kudus}: 

“Kata-kata bagimu dan bagi banyak orang digunakan untuk membedakan kebajikan dari Darah 

Kristus dan buah-buahnya; sebab  Darah dari Juru Selamat kita memiliki nilai yang cukup untuk 

menyelamatkan semua orang namun  buah-buahnya hanyalah diterapkan kepada beberapa  orang 

tertentu dan bukan untuk semua orang, dan ini yaitu  sebab  kesalahan mereka sendiri...”27 

 

Penggunaan ‘semua orang’ mengubah arti dari formula konsekrasi. Tidak seorang pun, tidak pun seorang 

Paus, dapat mengubah kata-kata yang Yesus telah institusikan untuk sebuah sakramen Gereja. 

 

Paus Pius XII, Sacramentum Ordinis (#1), 30 November 1947: 

”...Gereja tidak memiliki kekuatan di atas ‘substansi sakramen’, yakni, diatas hal-hal yang, dengan 

wahyu ilahi sebagai saksi, didekretkan Kristus Tuhan sendiri untuk dijaga di dalam suatu tanda 

sakramental...”28 

 

sebab  ‘semua’ tidak memiliki arti yang sama dengan ‘banyak’, sakramen ini  tidak terlaksana di 

dalam Misa Baru. 

  

Paus St. Pius V, De Defectibus, bab 5, Bagian 1: 

“Kata-kata Konsekrasi, yang merupakan FORMULA dari Sakramen ini, yaitu  sebagai 

berikut: SEBAB INILAH TUBUHKU. Dan: SEBAB INILAH PIALA DARAHKU, DARAH 

PERJANJIAN BARU DAN KEKAL: MISTERI IMAN, YANG AKAN DITUMPAHKAN BAGIMU 

DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA. Jikalau seseorang 

menghapuskan atau mengubah suatu hal pun di dalam FORMULA konsekrasi 

Tubuh dan Darah, dan dalam perubahan kata-kata ini , rumusan [yang baru] 


141 

 

ini  gagal untuk memiliki arti yang sama, ia tidak akan mengonsekrasikan 

sakramen ini .”29 

 

SEBUAH SUDUT LAIN AKAN MASALAH INI MEMBUKTIKAN SECARA MUTLAK 

BAHWA MISA BARU TIDAK VALID 

 

ada  sebuah sudut lain akan masalah ini yang harus kita bahas sekarang. Di dalam Bullanya yang 

terkenal, Apostolicae Curae pada tahun 1896, Paus Leo XIII mengajarkan: 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:  

“Semua orang mengetahui bahwa sakramen-sakramen Hukum Baru, sebagai tanda-tanda yang 

terlihat dan mujarab dari sebuah rahmat yang tidak kelihatan, harus menandakan rahmat yang 

mereka hasilkan dan menghasilkan rahmat yang mereka tandakan.”30 

 

Jika hal ini  tidak menandakan rahmat yang dihasilkannya dan tidak menghasilkan rahmat yang 

ditandakannya, hal ini  bukanlah sebuah sakramen – tanda titik. Lalu, apakah rahmat yang diberikan 

oleh Sakramen Ekaristi Kudus? 

 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Exultate Deo”, Tentang Ekaristi, 1439:  

“Akhirnya, ini yaitu  sebuah hal yang pantas untuk menandakan hasil dari sakramen ini, 

yakni, persatuan antara umat Kristiani dengan Kristus.”31 

 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. III, Pertanyaan 73, Artikel 3: 

“Sekarang telah dikatakan di atas bahwa kenyataan dari sakramen [Ekaristi] yaitu  

persatuan dengan tubuh mistis, yang tanpanya tidak ada keselamatan...”32 

 

Seperti yang Konsili Florence, St. Thomas Aquinas, dan banyak teolog lain ajarkan, rahmat yang 

dihasilkan oleh Ekaristi yaitu  persatuan umat beriman dengan Kristus. St. Thomas menyebut rahmat ini 

‘persatuan dengan Tubuh Mistis’. Rahmat yang dihasilkan Ekaristi (persatuan para umat beriman 

dengan Kristus atau persatuan dengan Tubuh Mistis) harus dibedakan secara hati-hati dari Ekaristi 

sendiri: Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Kristus. 

 

sebab  persatuan umat beriman dengan Kristus yaitu  rahmat yang dihasilkan oleh Sakramen Ekaristi – 

atau yang disebut sebagai kenyataan dari Sakramen atau rahmat yang khusus dari Sakramen Ekaristi – 

rahmat ini harus ditandakan dalam formula konsekrasi, agar Sakramen ini  valid, seperti yang 

diajarkan oleh Paus Leo XIII. Baiklah, kita, oleh sebab  itu, harus melihat formula tradisional konsekrasi 

dan menemukan di mana rahmat ini – persatuan antara para umat beriman dengan Kristus – ditandakan. 

 

Formula konsekrasi tradisional, seperti yang dinyatakan Paus Eugenius IV pada Konsili Florence dan Paus 

St. Pius V di dalam De Defectibus yaitu  sebagai berikut:  

 

“SEBAB INILAH TUBUHKU. SEBAB INILAH PIALA DARAHKU, DARAH PERJANJIAN BARU DAN 

KEKAL: MISTERI IMAN, YANG AKAN DITUMPAHKAN BAGIMU DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI 

PENGAMPUNAN DOSA.” 

 


142 

 

Mohon mencatat kembali, kita mencari bagian dari formula ini  yang menandakan bahwa 

orang yang menerima sakramen ini secara layak menjadi dipersatukan atau dipersatukan 

dengan lebih kuat dengan Yesus Kristus dan Tubuh Mistis-Nya. 

 

Apakah kata-kata ‘PERJANJIAN BARU DAN KEKAL’ menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus 

/ Tubuh Mistis? Tidak. Kata-kata itu tidak menandakan Tubuh Mistis, namun  kata-kata itu 

membandingkan pengorbanan yang sementara dari Perjanjian Lama dengan pengorbanan yang 

menyelamatkan dan kekal dari Yesus Kristus. 

 

Apakah kata-kata ‘MISTERI IMAN’ menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus / Tubuh Mistis? 

Tidak. Kata-kata ini  menandakan Kehadiran Nyata Kristus di dalam Ekaristi, seperti yang diajarkan 

Inosensius III; kata-kata ini tidak menandakan Tubuh Mistis Yesus Kristus. 

 

Apakah kata-kata “YANG AKAN DITUMPAHKAN” menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus / 

Tubuh Mistis? Tidak. Kata-kata ini  menandakan pengorbanan sejati. 

 

Kata-kata yang tersisa di dalam formula konsekrasi yaitu  ‘BAGIMU DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI 

PENGAMPUNAN DOSA’. 

 

Pengampunan dosa diperlukan untuk dipersatukannya seseorang ke dalam Tubuh Mistis, dan 

pengampunan dosa-dosa yaitu  komponen pembenaran sejati yang tidak tergantikan, lewat mana 

seseorang dipersatukan kepada Yesus Kristus. Kata-kata ‘bagimu dan bagi banyak orang’ menandakan 

para anggota dari Tubuh Mistis yang telah menerima pengampunan dosa ini . 

 

Kata-kata ‘BAGIMU DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA’ yaitu  kata-kata di dalam 

formula Konsekrasi yang menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus/persatuan di dalam 

Tubuh Mistis Kristus, yakni rahmat yang khas dari Sakramen Ekaristi. 

 

Sekarang, jika kita melihat formula konsekrasi Novus Ordo, apakah kita menemukan tanda dari Tubuh 

Mistis / persatuan umat beriman dengan Kristus (yaitu rahmat khusus dari Sakramen Ekaristi)? Berikut 

yaitu  formula konsekrasi dari Misa Baru atau Novus Ordo:  

 

Formula Misa Baru: “Sebab inilah tubuh-Ku. Sebab inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal, 

yang akan ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa.” 

 

Apakah persatuan dengan Tubuh Mistis Yesus Kristus ditandakan oleh kata-kata ‘bagimu dan bagi semua 

orang demi pengampunan dosa?’ Tidak. Apakah semua orang yaitu  bagian dari Tubuh Mistis? Tidak. 

Apakah semua orang yaitu  bagian dari umat beriman yang dipersatukan dengan Kristus? Tidak. Kita 

dapat melihat dengan sangat jelas bahwa Misa Baru atau Novus Ordo tentunya tidak menandakan 

persatuan Tubuh Mistis (rahmat yang khas dari Sakramen Ekaristi), maka itu bukanlah sebuah sakramen 

yang valid! 

 

Tidak lagi diperlukan penjelasan... Misa Baru tidaklah valid! 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 1896:  

“Semua orang mengetahui bahwa sakramen-sakramen Hukum Baru, sebagai tanda-tanda yang 


143 

 

terlihat dan mujarab dari sebuah rahmat yang tidak kelihatan, harus menandakan rahmat yang 

mereka hasilkan dan menghasilkan rahmat yang mereka tandakan.”33 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 1896: 

“…formula ini  tidak dapat dianggap tepat ataupun cukup untuk sakramen ini , sebab 

formula ini  menghapuskan hal yang harus ditandakannya secara pokok.”34 

 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Exultate Deo”, 1438:  

”...ini yaitu  sebuah hal yang pantas untuk menandakan hasil dari sakramen ini, yakni, persatuan 

antara umat Kristiani dengan Kristus.”35 

 

Untuk membuktikan lebih lanjut poin ini, kami harus mencatat bahwa di seluruh formula konsekrasi di 

dalam ritus liturgi Gereja Katolik, yakni di dalam Liturgi Armenia, Koptik, Etiopia, Suriah, Kaldea, dsb., 

persatuan para umat beriman dengan Kristus / Tubuh Mistis ditandakan di dalam formula konsekrasi. 

Tidak ada satu liturgi pun yang pernah disetujui Gereja tidak menandakan persatuan umat beriman 

dengan Kristus. 

 

Berikut yaitu  bagian-bagian dari formula-formula konsekrasi Anggur yang 

digunakan di dalam Ritus Timur yang menandakan apa yang dilakukan Misa 

Tradisional dan tidak dilakukan Misa Baru: persatuan dan anggota dari 

Gereja 

 

LITURGI ARMENIA: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi penebusan dan 

pengampunan dosa.” 

 

Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan dengan kata-kata ‘bagimu dan 

bagi banyak orang demi pengampunan dosa’. 

 

LITURGI BYZANTINE: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan 

dosa.” 

 

Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan. 

 

LITURGI KALDEA: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa.” 

 

Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan. 

 

LITURGI KOPTIK: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa.” 

 

Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan. 

 

LITURGI ETIOPIA: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa.” 

 

Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan. 

 


144 

 

LITURGI MALABAR: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan 

dosa.” 

 

Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan. 

 

LITURGI MARONIT: (formula ini sama dengan formula yang telah selalu digunakan di dalam Ritus 

Roma) 

 

LITURGI SURIAH: “Inilah Darahku, Darah Perjanjian Baru, yang akan ditumpahkan dan 

dipersembahkan demi pengampunan dosa dan kehidupan kekal bagimu dan bagi banyak orang.” 

 

Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan dengan kata-kata ‘untuk 

pengampunan dosa dan kehidupan kekal bagimu dan bagi banyak orang’. 

 

Formula konsekrasi di semua liturgi Katolik menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus / 

Tubuh Mistis Kristus, seperti yang kita bisa lihat. Misa Baru, yang mengatakan, ‘bagimu dan bagi semua 

orang demi pengampunan dosa’, tidak menandakan Tubuh Mistis, sebab  semua orang bukanlah bagian 

dari Tubuh Mistis. Oleh sebab  itu, Misa Baru tidak menandakan rahmat yang dihasilkan Ekaristi. Misa 

Baru tidak valid. 

 

Maka, seorang Katolik tidak boleh menghadiri ‘Misa’ Baru di bawah ancaman dosa berat. Mereka 

yang berkeras kepala melakukannya melakukan penyembahan berhala (sebab  mereka menyembah 

sepotong roti). Yesus Kristus tidaklah hadir di sana. Hosti ini  hanyalah sepotong roti, bukanlah 

Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Tuhan kita. Gereja telah selalu mengajarkan bahwa untuk menerima 

sebuah sakramen yang diragukan (yang menggunaan materi atau formula yang diragukan) yaitu  suatu 

dosa berat. Faktanya, Paus Inosensius XI, Dekret Kementerian Suci, 4 Maret 1679,36 bahkan mengecam ide 

bahwa orang-orang Katolik dapat menerima sakramen-sakramen yang ‘mungkin’ valid. Dan Misa Baru 

bukan hanya diragukan, namun  tidak valid, sebab  tidak menandakan rahmat yang seharusnya 

ditandakannya. Misa Baru bahkan lebih buruk dari ibadat Protestan, Misa Baru yaitu  sebuah kekejian, 

yang memalsukan kata-kata Yesus Kristus dan Iman Katolik. 

 

Catatan: Sewaktu kami menulis hal ini, ada  kabar bahwa Vatikan, untuk menipu para tradisionalis 

untuk kembali kepada Kontra-Gereja dan Misa Baru yang sesat, berencana untuk mengoreksi kesalahan 

‘bagi semua’ di dalam formula konsekrasi. Fakta bahwa Vatikan akan melakukan hal ini membuktikan 

bahwa ‘bagi semua’ memberi , seperti yang kami telah katakan, sebuah makna yang palsu. Walaupun 

mereka melakukan hal ini, seorang Katolik tetap harus menghindari semua Misa-misa Baru di bawah 

ancaman dosa berat, sebab Misa Baru itu sendiri yaitu  ibadat non-Katolik. Misa Baru tetap tidak 

mengikutsertakan kata-kata ‘mysterium fidei’ di dalam konsekrasi, dan kebanyakan dari ‘imam-imam’ 

yang menyelenggarakannya tidak valid pula (seperti yang kami akan buktikan di dalam bagian berikut). 

 

  

 

10. 

Michael Davies: “ ... setiap doa di dalam ritus tradisional [Imamat] yang menyatakan secara 

khusus peran pokok seorang imam sebagai seorang manusia yang ditahbiskan untuk 

mempersembahkan kurban propisiasi untuk orang yang hidup dan yang mati telah 

dihapuskan [dari Ritus Baru Paulus VI]. Di dalam kebanyakan kasus, doa-doa ini 

merupakan doa-doa yang persis dihapuskan oleh para reformer Protestan, atau jika bukan 

doa yang persis sama, ada  paralel-paralel yang jelas.”1 

 

Iblis tidak hanya membuat perubahan-perubahan pada Misa yang membuatnya tidak valid, namun ia 

tahu dirinya juga harus menjamah ritus imamat supaya para imam Gereja Baru tidak valid pula. 

 

(uskup, imam, diakon) telah disetujui dan diberlakukan oleh Paulus VI pada 

tanggal 18 Juni 1968. Berikut ini informasi yang penting sekali untuk diketahui oleh semua umat 

Katolik, sebab  bersangkutan dengan validitas setiap “imam” yang ditahbiskan dalam struktur diosesan 

sejak sekitar tahun 1968; dan sebab  itu, bersangkutan dengan validitas pengakuan dosa dan Misa indult 

yang tak terhitung jumlahnya, dsb. 

 

Pada tanggal 30 November 1947, Paus Pius XII mengeluarkan sebuah Konstitusi apostolik berjudul 

“Sacramentum Ordinis”. Di dalam Konstitusi ini, Paus Pius XII menyatakan dengan otoritas apostolik 

tertingginya, kata-kata yang diperlukan untuk penahbisan imamat yang valid. 

 

FORMULA TRADISIONAL PENAHBISAN IMAM 

 

Paus Pius XII, Sacramentum Ordinis, 30 November 1947:  

“Namun sehubungan materi dan formula dalam penganugerahan setiap tahbisan, dengan 

otoritas apostolik tertinggi Kami yang sama ini, Kami mendekretkan dan menetapkan hal-

hal berikut: ... Dalam penahbisan para imam, materinya yaitu  penumpangan pertama tangan 

uskup yang dilakukan dalam keheningan ... namun , formulanya [formula Penahbisan] terdiri 

dari kata-kata prefasi yang bagian berikut bersifat esensial dan sebab  itu wajib untuk 

validitas: 

 

”Kami memohon kepada-Mu, Bapa yang Mahakuasa, agar Engkau mengaruniakan kepada 

hamba-hamba-Mu ini, jabatan Imamat (presbyterii dignitatem); perbaruilah roh kekudusan di 

dalam diri mereka, agar mereka dapat menjalankan dibandingkan -Mu, ya Allah, tugas derajat kedua, 

yang diterima dibandingkan -Mu, dan semoga tingkah laku mereka menjadi tolak ukur untuk hidup 

yang suci.”2 

 

FORMULA BARU PENAHBISAN IMAM 

 

Berikut yaitu  formula Ritus Baru Penahbisan IMAM: 

“Kami memohon kepada-Mu, Bapa yang Mahakuasa, agar Engkau mengaruniakan kepada 

hamba-hamba-Mu ini, jabatan Imamat; perbaruilah roh kekudusan di dalam diri mereka. Semoga 

mereka dapat menjalankan dibandingkan -Mu, ya Allah, tugas derajat kedua, yang diterima dibandingkan -

Mu, dan semoga tingkah laku mereka menjadi tolak ukur untuk hidup yang suci.”3 

 


148 

 

Perbedaan antara kedua formula ini  yaitu  kata Latin “ut” (yang berarti “agar”) telah 

dihapus di dalam Ritus Baru. Hal ini mungkin kelihatan sepele, namun  di dalam Sacramentum Ordinis 

Pius XII menyatakan bahwa kata ini diperlukan untuk validitas. Terlebih lagi, dihapusnya kata “agar” 

merelaksasi penyebutan hasil sakramental (yakni penganugerahan jabatan derajat kedua). Dalam kata 

lain, menghapus kata “agar” berpraanggapan bahwa ada suatu penahbisan yang sudah berlangsung, 

namun tidak sedang berlangsung ketika kata-katanya sedang diucapkan. 

 

sebab  ritus baru ini mengaku-ngaku Ritus Roma, penghapusan kata “ut” (agar) ini menjadikan ritus ini 

ber-validitas dipertanyakan. Namun, ada masalah yang jauh lebih besar, yang membuktikan bahwa Ritus 

Baru tidak valid. 

 

MASALAH TERBESAR PADA BUKANLAH FORMULANYA, namun  

UPACARA-UPACARA DI SEKELILINGNYA YANG TELAH DIHAPUS 

 

Perubahan pada formula esensial ritus itu bukanlah satu-satunya masalah pada yang 

dipermaklumkan Paulus VI. Poin-poin berikut sama pentingnya, meski Sakramen Imamat diinstitusikan 

oleh Tuhan kita Yesus Kristus, namun ritus itu tidak diinstitusikan oleh Tuhan kita dengan sebuah 

formula sakramental spesifik – tidak seperti Sakramen Ekaristi dan Sakramen Pembaptisan, yang 

diinstitusikan Tuhan kita dengan sebuah formula sakramental spesifik - sehingga formula dari kata-

kata dalam Sakramen Imamat beroleh makna dan kepentingannya dari ritus serta upacara-

upacara di sekelilingnya. 

 

Di dalam surat Bullanya yang terkenal, Apostolicae Curae, 13 September 1896, Paus Leo XIII secara 

khidmat menyatakan bahwa Penahbisan Anglikan tidak valid. Hal ini berarti bahwa sekte Anglikan tidak 

memiliki imam ataupun uskup yang valid. 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:  

“ ... dengan otoritas Kami, dengan mosi Kami dan dengan pengetahuan pasti, Kami 

mengumumkan dan menyatakan bahwa Penahbisan yang dilaksanakan seturut ritus 

Anglikan, baik dahulu maupun sekarang, batal secara mutlak dan sama sekali tidak 

valid.”4 

 

Dalam membuat pernyataan khidmat ini, harus dimengerti bahwa Paus Leo XIII pada waktu itu tidak 

sedang menjadikan Tahbisan Anglikan tidak valid, namun Sri Paus justru kala itu sedang menyatakan 

bahwa Tahbisan mereka tidak valid akibat cacat dalam ritusnya. Namun apa saja cacat atau masalah 

yang dilihat Paus Leo XIII pada Ritus Anglikan, yang menyebabkan invaliditasnya? 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:  

“Ketika siapa saja telah dengan sungguh-sungguh dan benar memakai  formula dan materi 

secara laik yang diwajibkan untuk menyelenggarakan atau menganugerahkan sakramen, oleh 

sebab fakta itu sendiri, orang ini  dianggap melakukan yang dilakukan oleh Gereja. Asas ini 

merupakan landasan bertumpunya doktrin bahwa bahwa sebuah sakramen benar-benar 

dianugerahkan melalui pelayanan seorang bidah atau orang tak dibaptis, asalkan ritus Katolik 

digunakan. Sebaliknya, jika ritusnya diubah, dengan intensi nyata untuk menghadirkan 

suatu ritus yang tak disetujui Gereja dan untuk menolak yang dilakukan Gereja serta yang 

tergolong hakikat sakramen seturut institusi Kristus, lantas jelas bahwa intensi yang 


149 

 

diperlukan tak hanya tiada pada sakramen itu, namun intensi itu juga merusak sakramen 

ini  dan berlawanan dengannya.”5 

 

Di sini kita melihat Paus Leo XIII mengajarkan bahwa jika seorang imam memakai  ritus Katolik 

dalam menganugerahkan Sakramen Imamat, dengan materi dan formula yang benar, ia sebab  alasan itu 

sendiri dianggap telah bermaksud (berintensi) melakukan yang dilakukan Gereja – berintensi melakukan 

yang dilakukan Gereja itu perlu untuk validitas segala sakramen. Sebaliknya, ujar Sri Paus, jika ritusnya 

diubah, dengan intensi nyata untuk menghadirkan suatu ritus yang tak disetujui Gereja dan 

untuk menolak yang dilakukan Gereja, lantas intensinya tidak hanya tak memadai, namun 

berlawanan dengan Sakramen itu. 

 

Lalu apa saja hal-hal yang digambarkan Paus Leo XIII sebagai penunjuk adanya intensi yang berlawanan 

pada ritus Imamat Anglikan? 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:  

“Sebab, agar kita dapat mengesampingkan alasan-alasan lain yang menunjukkan betapa tidak 

memadainya formula-formula ritus Anglikan untuk tujuan yang hendak dicapai, hendaknya 

semua orang menjadi puas dengan argumen yang satu ini: segala sesuatu dalam ritus 

Katolik yang jelas mengutarakan jabatan dan tugas-tugas imamat, telah dihapus secara 

sengaja dari formula-formula ritus Anglikan. Dengan demikian, formula itu tidak dapat 

dianggap layak maupun memadai untuk sakramen ini , sebab  formula itu mengabaikan hal 

esensial yang harus ditandakannya.”6 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:  

“Maka, terjadilah bahwa sebab  Sakramen Imamat dan imamat (sacerdotium) sejati milik 

Kristus telah dibuang sama sekali dari ritus Anglikan, dan akibatnya imamat 

(sacerdotium) itu sama sekali tidak dianugerahkan secara sungguh dan valid dalam 

konsekrasi Keuskupan ritus yang sama, lantas sebab  alasan itu jugalah, Keuskupan pun sama 

sekali tidak dapat dianugerahkan secara sungguh dan valid oleh ritus ini ; dan hal ini 

semakin berlaku demikian, sebab  tanggung jawab utama Keuskupan mencakup menahbiskan 

para pelayan untuk Ekaristi Mahakudus dan kurban.”7 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:  

“Sadar betul akan hubungan yang niscaya antara iman dan ibadat, antara hukum percaya dan 

hukum berdoa (legem credenda et legem supplicandi), dan dengan dalih ingin kembali ke formula 

asal, mereka merusak tata liturgi dalam berbagai cara demi menuruti doktrin-doktrin sesat para 

pembaru. Oleh sebab itulah di seluruh Ordinalnya, tidak disebutkan secara jelas tentang 

kurban, tentang konsekrasi, tentang imamat (sacerdotium) dan tentang kuasa 

mengonsekrasikan serta mempersembahkan kurban, namun juga, seperti yang sudah 

Kami sebutkan, tiap-tiap bekas dari hal-hal ini, yang dahulunya termuat dalam doa-doa 

tertentu dari ritus Katolik yang sebelumnya tidak mereka tolak seutuhnya, telah 

ditiadakan dan dihapus secara sengaja. Dengan demikian, terwujudlah dengan jelas sifat 

asli – atau semangat asli, demikianlah sebutannya – dari Ordinal ini . Maka dari itu, 

kalau sudah rusak dari asalnya, dan sebab  itu sama sekali tidak memadai untuk 

menganugerahkan Tahbisan, lantas mustahil Ordinal itu menjadi memadai seiring dengan 

berjalannya waktu, sebab  sama sekali belum ada perubahan yang terjadi.”8 

 


150 

 

Wahai pembaca, hal-hal yang digambarkan oleh Paus Leo XIII sebagai cacat pada Ritus Imamat 

Anglikan – penghapusan sistematis tiap-tiap rujukan kepada kurban Misa, konsekrasi serta imamat 

sejati pelaksana kurban – merupakan hal-hal persis yang terjadi dalam yang 

dipermaklumkan oleh Paulus VI! Di dalam bukunya, The Order of Melchisedech [Ordo Melkisedek], 

kendati menarik kesimpulan-kesimpulan yang salah pada perkara ini dan perkara-perkara lainnya, 

Michael Davies terpaksa mengakui fakta-fakta yang mencengangkan berikut: 

 

Michael Davies: 

“Seperti yang dijelaskan bagian sebelumnya, setiap doa di dalam ritus tradisional 

[Imamat] yang menyatakan secara khusus peran pokok seorang imam sebagai 

seorang manusia yang ditahbiskan untuk mempersembahkan kurban propisiasi 

untuk orang yang hidup dan yang mati telah dihapuskan [dari Ritus Baru Paulus 

VI]. Di dalam kebanyakan kasus, doa-doa ini merupakan doa-doa yang persis 

dihapuskan oleh para reformer Protestan, atau jika bukan doa yang persis sama, 

ada  paralel-paralel yang jelas.”9 

 

Michael Davies: 

“ ... tidak ada  satu pun doa wajib di dalam ritus imamat yang baru yang 

membuat jelas bahwa pokok dari imamat Katolik yaitu  pemberian kekuatan 

untuk mempersembahkan kurban Misa dan untuk melepaskan manusia dari dosa-

dosa mereka, dan bahwa sakramen ini  memberi  sebuah karakter yang 

membedakan seorang imam bukan hanya di dalam derajat, namun  juga secara 

esensi dari orang awam ... Tidak ada  kata di dalamnya yang tidak sesuai 

dengan kepercayaan Protestan.”10 

 

Berikut doa-doa serta upacara-upacara spesifik yang secara jelas mengutarakan sifat sejati imamat dalam 

ritus Tradisional, yang telah dihapus secara spesifik dari Paulus VI. Informasi berikut 

ditemukan di dalam buku Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 79 dan 

selanjutnya. 

 

Di dalam Ritus Tradisional, sang uskup berbicara kepada para calon imam dan berkata: 

  

”Sebab yaitu  tugas seorang imam untuk mempersembahkan kurban, memberkati, 

memimpin, berkhotbah dan membaptis.” 

 

Teguran ini telah dihapuskan. 

 

Litani Para Kudus lalu menyusul teguran di atas pada Ritus Tradisional. Upacara ini telah dipersingkat di 

dalam Ritus Baru. Ritus Baru juga menghapus pernyataan yang tidak ekumenis ini: 

 

 "Agar Engkau sudi mengingat semua orang yang telah terpisah dari persatuan Gereja, 

dan memimpin semua orang beriman kepada terang Injil.” 

 

  


151 

 

lalu , di dalam Ritus Tradisional, usai mengucapkan formula esensial, yang telah diubah di dalam 

Ritus Baru (lihat di atas), sang uskup mengucapkan sebuah doa lain, yang mengikutsertakan hal berikut: 

 

”Mereka ditugaskan untuk mengubah dengan berkat yang murni, demi umat-umat-Mu, 

roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Putra-Mu.” 

 

Doa ini telah dihapuskan. 

 

Di dalam Ritus Tradisional, sang uskup lalu menyanyikan Veni Creator Spiritus. Sambil mengurapi setiap 

calon tahbisan, ia berkata: 

 

”Sudilah, Tuhan, untuk menyucikan dan menguduskan tangan-tangan ini lewat urapan 

ini, dan berkat kami. Agar apa pun yang mereka berkati menjadi terberkati, dan apa pun 

yang mereka sucikan menjadi suci dan kudus di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus.” 

 

Doa ini telah dihapuskan. Dan doa ini sangatlah penting sampai bahkan disebutkan oleh Pius XII di 

dalam Mediator Dei #43: 

 

Paus Pius XII, Mediator Dei (#43), 20 November 1947:  

“ ... mereka sendirilah [para imam] yang telah ditandai dengan tanda yang tak terhapuskan yang 

‘menyelaraskan’ mereka kepada Kristus sang Imam, dan bahwa tangan-tangan mereka sendirilah 

yang telah dikuduskan, ‘agar apa pun yang mereka berkati menjadi terberkati, dan apa pun 

yang mereka sucikan menjadi suci dan kudus di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus.’”11 

 

Perhatikan bahwa sewaktu Pius XII berbicara tentang bagaimana para imam telah ditandai dalam 

tahbisan, ia merujuk kepada doa yang sangat penting ini, doa yang secara khusus dihapuskan oleh Paulus 

VI di dalam Ritus barunya di tahun 1968. 

 

Segera sesudah  doa ini, di dalam Ritus Tradisional, sang uskup berkata kepada calon imam:  

 

”Terimalah kekuatan untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, dan untuk 

menyelenggarakan Misa, untuk orang-orang yang hidup dan yang mati, dalam nama 

Tuhan.” 

 

Doa yang begitu penting ini telah dihapuskan di dalam Ritus Baru. 

 

Di dalam Ritus Tradisional, para imam baru lalu menyelenggarakan Misa bersama uskup. Pada akhirnya, 

masing-masing imam baru berlutut di depan uskup yang menumpangkan kedua tangan pada kepala 

masing-masing imam dan berkata: 

 

”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan 

jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” 

 

Upacara dan doa ini telah dihapuskan. 

 

  


152 

 

Di dalam Ritus Tradisional: 

 

” ... para imam baru lalu berjanji untuk patuh kepada uskup mereka yang ‘menugaskan’ 

mereka untuk mengingat bahwa dalam mempersembahkan Misa Kudus, mereka tidak 

bebas dari risiko, dan mereka harus mempelajari segala sesuatu yang perlu dari imam-imam 

yang rajin sebelum melaksanakan suatu tanggung jawab yang begitu menakutkan.” 

 

Teguran ini telah dihapuskan. 

 

Akhirnya, sebelum menyelesaikan Misa, sang uskup memberi  sebuah berkat: 

 

”Berkat Allah yang Mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, turun di atas kalian, dan membuat 

kalian terberkati di dalam Orde imamat, menyanggupkan kalian untuk mempersemba