a? Mengapa hal ini tidak boleh terjadi pada saya?
Apa manfaat yang bisa saya tarik dari kejadian ini? Yang
pertama, sebagai ujian terhadap kesabaran saya menanggung
rasa sakit fisik. Toh ini hanya keseleo, bukan kondisi medis
yang lebih berat. Kedua, sekarang saya bisa empati kepada
orang lain yang mengalami hal yang sama."
So far so good. Perlahan, dialog internal ini membuat saya lebih
tenang dan mulai bisa menerima keadaan ini tanpa harus mengutuk
diri sendiri (langkah: Respond}. Kemudian, saya
teringat dengan prinsip amor fati. Barulah saya menyadari betapa
sulitnya ajaran yang satu ini. Bisa menerima sebuah musibah yang
terjadi kepada kita rasanya sudah sebuah pencapaian tersendiri,
namun “mencintai” musibah ini bagaikan kejadian yang sudah
didamba-dambakan? Seperti kata Obelix, tokoh komik Asterix,
“Orang-orang Romawi memang gila!"
Walaupun terasa absurd untuk mencoba mencintai musibah, namun
saya mencobanya juga. Anehnya, perlahan saya bisa merasakan
bahwa ide ini tidaklah seabsurd itu. Saya memang tidak berubah
drastis menjadi gembira atas keadaan ini ["INILAH YANG
SELAMA INI KUDAMBA, KESELEO!!"], apalagi setiap kali kaki terasa
nyeri saat harus naik tangga atau tidak sengaja diinjak anak saya
yang masih berusia 17 bulan.
Namun, saya menyadari bahwa sangat mungkin menggeser
perasaan saya terhadap keseleo ini sedikit lebih jauh lagi, lebih dari
sekadar ikhlas, bahwa mungkin saya merasa mulai menyukainya
(walaupun tidak sampai tahap sadomasochist tentunya). Minimal,
saya bisa mulai mentertawakan situasi ini, dan juga mentertawakan
saya sendiri.
Coba renungkan kondisi hidupmu sekarang ini. Sebagian pembaca
sedang merasa bahagia dengan kondisinya sekarang, good for you.
Namun, sebagian pembaca lagi mungkin berharap kondisi hidupnya
berbeda dari yang sekarang. Bagi kamu yang masuk dalam kelompok
ini, bisakah sedikit saja merenungkan, '‘Mungkinkah gue mencintai
kondisi gue saat ini?" Jangan terlalu cepat dijawab /"Penderitaan gue
saat ini terlalu berat!! Tidak mungkin gue bisa mengharapkan
terjadi!!"). Berikan waktu sedikit saja untuk dipikirkan. Tidak ada yang
bisa menghentikanmu untuk memutuskan mencintai hidupmu. Saat
ini. Hari ini. Detik ini.
Masa Lalu Sudah Mati
Jika memiliki perspektif yang cukup tegas terhadap
masa kini [present), bisa terbayang kan bagaimana para filsuf Stoa
menyikapi masa lalu? Benar, masa lalu sudah benar-benar masuk
kategori "di luar kendali”—tidak ada celah sama sekali untuk keluar
dari situ. Masa lalu sudah mati semati- matinya. Kecuali kamu
menemukan mesin waktu, sayBHAYto the past. Maka, menyesali
masa lalu [regret), terus-menerus memikirkan, "Seandainya saja gue
waktu itu begini....atau begitu...." adalah hal irasional, tidak masuk
akal, dan tidak didukung oleh .
Sebagian mungkin memakai alasan, "Bukankah kita harus belajar
dari kesalahan masa lalu?" Setuju banget. Akan namun , kita harusnya
bisa menarik garis antara belajar dari kesalahan masa lalu dan
terobsesi terus dengan masa lalu (gagal move on). Jujur saja, banyak
dari kita (termasuk saya) yang masih kadang- kadang menyesali
masa lalu. Menyesali tindakan/perkataan kita, atau orang lain ["Coba
dulu DIA tidak berkata/berbuat begitu...") - apa pun itu, jika sudah di
masa lalu, maka tidak bisa diubah lagi. Sudah selesai.
Sama dengan sikap kita menghadapi masa kini di atas, maka
Stoisisme juga mengajarkan kita untuk "mencintai" masa lalu kita,
bahkan yang kita anggap pedih sekalipun. Kita bisa belajar darinya,
dan merencanakan yang lebih baik untuk ke depannya, namun masa
lalu itu sendiri telah terjadi, dan bagaimana kita
menyikapinya sepenuhnya di bawah kendali kita. Tidak ada yang
perlu disesali. Semua terjadi mengikuti keteraturan dan hukum Alam
/Nature). Bisakah kita tidak hanya menerima masa lalu, tapi bahkan
mencintainya?
Intisari Bab 6:
• Kekhawatiran dan kecemasan kita lebih banyak yang akhirnya
tidak terjadi.
• Premeditatio malorum adalah teknik memperkuat mental dengan
membayangkan semua kejadian buruk yang mungkin terjadi di
hidup kita di hari ini dan ke depannya.
• Perbedaan premeditatio malorum dan kekhawatiran tidak
beralasan adalah dalam premeditatio malorum kita bisa
mengenali peristiwa di luar kendali kita dan memilih bersikap
rasional.
• Manfaat lain dari premeditatio malorum adalah membantu kita
mengantisipasi peristiwa buruk jika terjadi, dan sebab nya tidak
terlalu terkejut jika benar-benar terjadi.
• Hubungan kita dengan rezeki adalah “pengguna” atau
"peminjam”, kita harus selalu siap saat segala rejeki dan
keberuntungan kita diminta kembali oleh Dewi Fortuna.
• Ada banyak hal-hal negatif dalam hidup ini yang sebenarnya
remeh dan tidak perlu dibesar-besarkan ("ketimun pahit").
• Saat kita mendapat musibah besar dan kecil, bayangkan
bagaimana kita akan bersikap jika ini menimpa orang lain.
• Orang yang benar-benar kaya adalah dia yang merasakan
cukup. Orang yang benar-benar miskin adalah dia yang masih
mengingini lebih.
• Amor fati: cintailah nasib—apa yang telah terjadi dan sedang
terjadi saat ini.
L ia salsabeela
^^■ncara dengan
"Kita sebenarnya sama.
Ngapain sih berantem hanya
sebab politik?”
Saya tertarik untuk mewawancara LLia sejak berteman dengannya di
media sosiaL Selain sosoknya sebagai pengusaha media perempuan
yang sukses, Llia juga kerap menjadi pembicara di banyak acara
seminar/pelatihan perempuan. Namun, yang lebih menarik lagi, Llia
menaruh di profil akun Twitternya sebagai 'A Stoic'. Penasaran
sebab jarang sekali menemui orang Indonesia yang mengaku
sebagai seorang Stoa, saya pun meminta kesempatan mengobrol
dengan beliau. Berikut kutipannya.
Hi Llia, apa aktivitas sehari-harinya sekarang?
Gue adalah foundertiga perusahaan konten dan media:
nulisartikel .com, storial.co, dan zettamedia. Sekarang gue Chief
Content Officer di Zetta. Gue udah nulis lebih dari 30 artikel sejak
2005. Dua artikel terakhir adalah biografi orang terkenal. Gue memang
punya ketertarikan mengenai kisah orang lain. Kuliah gue teknologi,
jadi gue senang menggabungkan stories dengan technology.
Personally, gue juga build personal branding.
Bagaimana awal mula bertemu Stoisisme?
Sekitar tiga tahun yang lalu gue lagi liburan di Italia dengan my best
friend. Saat jalan-jalan di sekitar Roma, gue masuk ke sebuah toko
artikel kecil. Hanya sedikit artikel yang dipajang dan dijual di situ. Gue
iseng-iseng mengambil sebuah artikel . Itu adalah artikel nya Marcus
Aurelius, Meditations. Gue iseng, ini apaan sih, terus gue baca. Gue
baca dikit, ternyata bagus banget nih, lean relate. Jadi gue beli.
(Dalam perjalanan), setiap capek, gue duduk dan baca.
Saat itu gue lagi LDR [Long Distance Re/af/onsh/p/Hubungan Jarak
Jauh), pacar gue di Amerika. Gue lagi stres sebab saat itu pacar gue
lagi “menghilang”, sedang ada masalah. Saat gue stres gak tahu
what to do, pas gue baca Meditations, gue berasa kayak diingetin
banget. Dari dulu gue tuh emang udah ‘lempeng’. Gue Stoic dari dulu
tapi gue gak tahu. Gue ikutan tes yang menyatakan bahwa gue
terlahir sudah ’mentally stable'. Dari dulu orang lain udah stres kayak
gimana, tapi gue ya lempeng. Masalahnya kalo terlalu lempeng kan
gue jadi dingin.
Pas gue baca Meditations, wah ini gue banget. Gue gak tahu bahwa
selama ini gue Stoic. Sekarang ada namanya (untuk sifat ini) gue
bahagia banget. Ternyata, nothing is wrong with me, hahaha. sebab
tertarik, gue googling, gue baru tahu kalo Marcus ini menulis jurnal.
Dia seorang kaisar, namun menyempatkan waktu setiap hari menulis
jurnal untuk dirinya sendiri.
Tiap gue baca Meditations, selalu ada hal berbeda yang gue tangkep.
Gak pernah bosen. Gue biasanya gak pernah baca satu artikel sampai
dua kali. artikel ada miliaran di dunia, masak gue baca dua kali? Tapi,
Meditations gue jadiin "bible”, selalu balik ke situ. Yang khususnya
mengena untuk gue adalah tulisan dia tentang "batu". Batu yang
dilempar ke udara tidak lebih baik atau lebih buruk jika naik ataupun
turun. Kita kan kalo liat batu tadi gak ada perasaan apa-apa. Ya hidup
seperti itu, naik turun mengikuti hukum alam.
Ada yang lain lagi, seperti saat bangun pagi harus mengharapkan di
hari itu akan ketemu orang akan kasar, bohongin lo, dan lain-lain.
Ada yang lucu juga, kalo lo makan ketimun, ketemu yang pahit ya
dibuang. Makes sense sih. Ternyata, sejak jaman tahun 300-400 M
sudah ada ketimun yang pahit, kalo ketemu ya buang aja. Bener juga,
hahaha.
The good and the bad of life gue udah aware dan sudah bisa accept.
Itu ajaran Stoisisme yang selalu gue bawa. Dari sebelum gue baca
Meditations, gue juga sudah journalling. Gue penulis jurnal pribadi.
Gue nulisnya gratitude journal, semua hal yang bisa gue sukurin. Gue
punya artikel khusus untuk itu. Sebentar lagi gue akan menerbitkan
gratitude journal bersama Gramedia, sehingga membantu orang lain
bisa menulis jurnal syukur mereka sendiri.
Kapan menulis jurnal bersyukur ini?
Setiap pagi, untuk mensyukuri hari kemarin. Kalau gue lagi ada
kejadian luar biasa, misalnya putus, gue bisa journalling di setiap
menit gue merasakan yang tidak nyaman. Langsung dituangkan.
Untuk itu ada artikel nya beda lagi. Makanya berat tas gue, hahaha.
Ada kata-kata Marcus Aurelius yang bisa jadi dasar untuk gratitude
journal juga, "Jangan mimpiin sesuatu yang kamu gak punya. Tapi
reflect the greatest blessing that you have." Kalau kita memiliki
sesuatu, ada kemungkinan barang itu hilang. Jangan mikir bahwa
halyang kita miliki tidak akan hilang selamanya. Expect everything.
Gue ada metode “rewrite" yang sedang gue ajarin. Menurut gue,
hidup itu seperti cerita. Kalo di novel ada plot. Misalnya, The Lord of
The Rings. Lo mau cincin (ajaib) gak? Gak mau. Terus terpaksa mau.
Terus berantem kalah. Ketemu mentor, diajarin. Terus akhirnya
menang. Hidup kita seperti cycle itu. Kita hanya perlu aware kita
sedang berada di mana di dalam plot itu. Misalnya, gue lagi di fase di
mana gue nolak-nolakin tantangan hidup. Gue bagaikan disuruh cari
cincin, tapi menolak. Akhirnya hidup gue stuck di situ-situ aja. Gue
harus menyadari hal ini dulu. Gue identify kenapa gue tolak-tolakin
dan hidup gue gak jalan. Kemudian gue harus menulis kembali versi
hidup gue yang gue inginkan agar hidup gue moving forward.
Apakah ada yang berubah sejak menemukan Stoisisme?
Bagi gue ini sifatnya confirming my belief. Kadang jika tidak tahu
pasti, apakah gue bener gak sih memiliki sifat kayak gini. Jangan-
jangan gue dingin nih, sebab beda dengan yang lain. Orang lain
suka baper gitu, gue biasa aja. Jangan-jangan gue berhati es?
Sekarang gue tahu namanya apa, dan praktiknya bisa membantu kita
banyak. Misalnya, saat gue lagi stres mikirin mantan gue, ini
membantu banget supaya gue gak terlalu stres. Jadi reminder dan
pegangan gue.
Apa prinsip Stoisisme yang mejadi pegangan saat masa sulit
bersama mantan?
Jangan bilang, ‘It is bad luck that it happens to me.' (sial banget gue
mengalami ini). Tapi bilang, ‘It is good luck that although it happens
tome, lean bear it without pain.' (beruntung banget gue, walaupun
mengalami ini, namun bisa gue jalani tanpa sakit/ hancur). Gue tetep
bisa belajar dari apa pun kejadian yang menimpa gue. Gue gak perlu
sampe remuk sebab nya.
Yang lain, "Universe, your harmony is my harmony, nothing in your
good time is too early or too late forme" (Semesta, apa yang selaras
bagimu pastilah selaras bagiku. Apa yang baik menurut waktumu
tidak akan terlalu cepat atau terlalu lambat bagiku). Jadinya,
harusnya lo percaya aja sama the whole process. Kalau seseorang
emang bukan buat gue, ada yang lebih bagus pasti.
Fakta bahwa Marcus Aurelius seorang kaisar, kalo jaman sekarang
presiden kali ya, dia pasti banyak stresnya, toh dia take time untuk
menulis juga dan dia masih mau berusaha "naik” menjadi lebih baik
lagi.
Sekarang kan jamannya “milenial'’, menurut Llia, ajaran purba ini
masih relevan gak dengan generasi ini?
Masih. Yang gue tangkep dari Stoisisme adalah 'santai aja’. Ada
timun pahit buang aja, ada jalan rusak belok aja. Jangan dibikin stres,
jangan dibikin susah. Menurut gue banyak banget di kompleksitas
hidup sekarang hal-hal kecil yang bisa bikin orang stres, sebab dia
gak bisa melihat big picture-nya.
Contohnya, “Duh, follower gue cuma seratus gak nambah- nambah,”
atau, "Kemaren gue d‘\-unfollow sama si X.” Kita mungkin ketawa
dengernya, tapi bagi sebagian orang ini penting. Gue mau kasih tahu
(ke mereka), look at the big picture. Kalo to tahu to mau ngapain
dalam hidup lo, yang kayak gini-gini gak penting lagi untuk
diperhatiin. Dan the ability to just brush off (mengesampingkan)
problem itu no.1 skill yang dibutuhkan saat ini. Elo jago data
analytics, tapi sering stres, ya gak efektif juga. Tapi juga bukan berarti
menjadi tidak peduli, tapi pedulilah pada hal penting.
Sekarang banyak orang terlalu memedulikan media sosial dan orang-
orang yang gak penting dalam hidup mereka. Salah menurut gue.
Ribet aja jadinya hidupnya, gak maju-maju, muter aja di situ. Contoh
lain, soal jodoh. Banyak orang yang stuck di relationship yang tidak
membangun diri mereka. Hanya sebab takut gak dapet lagi
misalnya.
Contoh nyata lagi nih, baru saja terjadi pagi ini. Mbak gue minta maaf
sebab baju gue kesetrika sampe bolong. Panjang nih minta maafnya
di WA (WhatsApp). "Jangan marah ya mbak," tulisnya. Gue bilang,
gak apa apa, buang aja. Itu Stoic banget kan, hahaha. Pada saat gue
beli baju atau apa pun, gue udah tahu kalo ini bisa rusak, bisa ilang
suatu hari. Orang-orang sekitar gue heran, kok gue gak marah?
Orang lain pasti ngomel dulu kan? Gue gak merasa ada kebutuhan
untuk ngomel. Yang penting apakah dia belajar dari kesalahannya,
dan lain kali dia akan lebih hati-hati.
Pernah menerapkan prinsip Stoisisme untuk tantangan yang berat?
Beberapa tahun lalu gue melepas jilbab. Kebayang kan gue di- bully
seperti apa di Instagram, dan gue bisa melihat di Google orang
penasaran searching kenapa gue lepas jilbab. Kata kunci "Ollie lepas
jilbab” jadi begitu populer. Jadi pendekatan Stoic gue adalah dengan
menulis blog dengan judul "Ollie lepas jilbab", supaya nambah traffic.
Kemarin banget, ada sahabat yang menulis nyindir gue pake tulisan
fiksi, dan nama gue ditulis pulak di tulisan itu. Dia minta ‘restu’ untuk
publish tulisannya. Gue bilang ‘jangan lupa kasih link ke Instagram
gue ya’, hahaha. Bagi gue Stoa itu sama dengan woles.
Kalau soal menjadi entrepreneur, apa yang bisa diterapkan dari
stoisisme?
Mungkin rejection ya. Kalo lo menjadi entrepreneur, pasti
berhubungan dengan jualan. Kalau kita menawarkan sesuatu, orang
bisa bilang ‘nggak’ sama kita. Kalau setiap kalo orang bilang ‘nggak’
kita bapernya tiga hari, mau sampai kapan? Kalau orang bilang
‘nggak’, ya jangan take it personally. Elo gak mau (jualan gue)? Ya
udah, next. Sama kayak saat entrepreneur mencari funding. Jangan
baper, gitu. Stoisisme mengajarkan kita supaya tidak baper, sebab
kita tahu kemungkinannya. Saat saya dateng ke kamu [investor], dan
kamu punya fund, ya jawabannya cuma dua, iya (dapet funding] atau
nggak. Kalau iya, oke. Kalo nggak, ya oke juga.
(Bisa) menghadapi rejection itu bagus untuk entrepreneur, jadi kita
tetep centered. Tidak dikit-dikit baper. Begitu juga soal d‘\-complain
pembeli. Ya kita belajar apa yang bisa diambil dari situ. Jangan habis
kena complain langsung kayak mau tutup toko besok. "Aduh gue
kayaknya gak bakat dagang nih.” sebab seumur hidup lo akan
menghadapi orang-orang yang negatif, yang bete-in, yang nipu lo. Itu
pasti ada. Kalo di metode “rewrite" tadi, itu masuk dalam cerita hidup
lo. Coba, sinetron mana yang gak ada orang jahatnya. Pasti ada.
Kalo dalam cerita hidup lo, lo sudah sadar sebagai pemeran utama
hidup lo, gue pasti akan punya sahabat, mentor, dan ada musuhnya.
Pasti ada gagalnya. Dan pasti ada bagian di mana gue berhasil. Kalo
sadar lo ditipu, misalnya, berarti gue harus gimana supaya (move) ke
next step-nya.
Menjadi pengusaha juga butuh mengambil keputusan dengan kepala
jernih. Kalo running your own business pasti banyak masalah kan.
Tapi harus fokus pada solusi. Bukan malah menyalahkan karyawan.
Langsung solusinya apa, dan bagaimana biar tidak terjadi lagi. Kalau
kita marah-marah ada ilusi ego kita sudah terpenuhi. Padahal kita
hanya buang sampah, bahkan ke orang yang salah mungkin.
Topik berikutnya, soal sosial politik. Tentunya Llia menyadari banyak
yang jadi sensitif, atau terpecah sebab sosial politik. Ada yang bisa
diterapkan kah dari Stoisisme?
Pemahaman bahwa "we are in this together". Kita sebenarnya sama.
Ngapain sih kita berantem hanya sebab beda politik. Kita semua
kebakaran jenggot, sebab gue merasa gue Jawa, lo Batak. Atau gue
Muslim lo Kristen. Ada ilusi perbedaan di situ. Padahal kita semua
datang dari sumberyang sama. Kita melupakan sifat universal kita.
Media sosialjuga bikin pusing lagi. Misalnya jaman Pilpres dulu. Ada
seleb-seleb yang mengusung berita-berita positif Prabowo dan begitu
juga dengan Jokowi. Kalo kita (empati) dengan sudut pandang
mereka, ya makes sense juga sih. We are not as good as we thought,
and they are not as bad as we thought. Jadi, tergantung perspektif
masing-masing. Understand each other version of the story, dan
menerima bahwa orang yang berbeda memiliki realita yang berbeda.
(Twitter: (dsalsabeela. Instagram: fdsalsabeela)
Intisari wawancara dengan Llia:
• Santai saja, jangan memusingkan hal-hal yang tidak perlu.
• Jangan biarkan media sosial dan penghuninya mengambil terlalu
banyak perhatian kita.
• Stoisisme sangat relevan bagi entrepreneur/pengusaha dalam
menyikapi kegagalan dan penolakan.
• Jangan biarkan politik dan ilusi perbedaan memecah belah kita.
BAB TUJUH
Hidup di
antara Orang
yang
Menyebalkan
160
prnah enggak merasa malas ke acara keramaian sebab malas
bertemu orang? Tidak hanya malas bertemu orang, tapi dalam hati
kita sudah berpikir bahwa orang-orang yang akan kita temui akan
berperilaku menyebalkan ke kita (tanpa pernah berpikir bahwa kita pun
mungkin punya perilaku menyebalkan juga). Pergi ke luar rumah, kita
harus berhadapan dengan perilaku pengendara yang tidak tertib. Pergi ke
tempat umum seperti di mal, kita akan bertemu orang-orang egois di
antrian lift atau toilet. Pergi ke acara keluarga besar, akan bertemu
saudara yang usil atau mulutnya setajam silet. Rasanya ingin tinggal di
rumah saja, menyendiri, dan tidak bertemu orang lain. ‘ Daripada jadi
dosa, marah dan jengkel sebab orang lain, mending enggak ketemu
mereka," demikian yang sering terlintas di pikiran saya.
P
Manusia adalah makhluk sosial. Para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu
sudah meyakini itu. Kemampuan berbahasa yang dimiliki spesies kita
diduga berevolusi dari kebutuhan berkomunikasi sesama manusia, sebab
dengan komunikasi kita bisa berkoordinasi untuk bersama-sama bertahan
hidup. Spesies kita kemudian berhasil meninggalkan cara hidup berburu
dan mengumpulkan buah-buahan menjadi bercocok tanam (Revolusi
Agrikultur) yang akhirnya memicu nenek moyang kita untuk tinggal tetap di
sebuah tempat, dan akhirnya melahirkan desa, kota, sampai kerajaan.
Kemudian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengantarkan
kita masuk ke Revolusi Industri. Akhirnya, sampai di masa sekarang di era
informasi dan digital di mana kita senang berbagi selfie. Semua ini adalah
cerminan keinginan paling mendalam dalam diri kita untuk terhubung
dengan manusia lain. Sejak 2.000 tahun yang lalu, para filsuf Stoa sudah
menyadari nature manusia yang harus hidup sebagai makhluk sosial.
Dalam Meditations, Marcus Aurelius berkata, “Semua manusia diciptakan
untuk satu sama lain."
Namun, manusia juga adalah Homo Homini /Vyebe//n-manusia yang
nyebelin bagi manusia lainnya. Kita adalah manusia yang seringkali
nyebelin bagi orang lain dengan ulah dan perkataan kita. Di artikel saya
sebelumnya, 7Kebiasaan Orang Yang Nyebelin Banget [Penerbit artikel
Kompas], dibahas survei yang
161
menunjukkan kalau ada begitu banyak hal-hal menyebalkan yang
kita lakukan kepada satu sama lain, baik sengaja maupun
tidak disengaja. Manusia saling menyebalkan satu sama lain,
misalnya lewat basa-basi ngeselin seperti, “Kapan kawin?”,
“Kapan punya anak?”, “Kok kamu gendutan sekarang?”, dan
lain-lain. Perilaku menyebalkan ini juga termasuk tindakan-
tindakan kecil kita, seperti main HP di dalam bioskop, masuk
lift tidak menunggu yang keluar terlebih dahulu, atau segala
perilaku tidak tertib di jalan raya. Lagi-lagi, tidak ada
yang banyak berubah sejak 2.000 tahun yang lalu: kita sering
dibuat sebal oleh orang lain. Di pembahasan sebelumnya
mengenai premeditatio malorum, kita melihat bagaimana Marcus
Aurelius menjadikan kebiasaan untuk mengawali hari dengan
membayangkan semua hal-hal tidak menyenangkan yang dilakukan
orang lain kepada kita.
People hurt and offend each other—manusia saling menyakiti dan
menyinggung sesamanya—ini kenyataan. Tidak ada tempat di mana pun
di dunia ini untuk kita bisa menghindari orang-orang menyebalkan, bahkan
di tempat ibadah sekalipun. Mungkin hanya di surga kita terbebas dari
perilaku menyebalkan. sebab ini adalah realitas, maka seorang praktisi
Stoisisme sudah harus bisa mengantisipasinya. “Mengharapkan orang
jahat untuk tidak menyakiti orang lain adalah gila. Itu adalah meminta hal
yang tidak mungkin. Arogan sekali jika kita bisa memaklumi orang jahat
memperlakukan orang lain seperti itu namun kita tidak terima jika terjadi
pada kita. Itu kelakuan seorang tiran,” ujar Marcus Aurelius [Meditations).
Kalau dibahasakan ulang, ya wajar dong orang jahat menyakiti orang lain.
Yang aneh itu kalo lo berharap sebaliknya. Lebih ngeselin lagi kalo lo
berharap mendapat kekecualian, orang lain boleh disakiti kecuali lo. Siape
lo?
Bayangkan betapa seringnya kita membaca tentang perlakuan buruk
orang ke orang lainnya. Kita sering kali mengelus dada dan berdecak. Kok
bisa ya? Cuma ya sebatas itu saja, kita hanya “merasa prihatin" jika itu
terjadi pada orang lain. mengingatkan kita untuk selalu siap
bahwa kita pun akan mendapat perlakuan buruk suatu saat dalam hidup
kita. Saat kita diperlakukan buruk oleh orang lain, apakah kita bisa
setenang jika menyikapi pengalaman orang lain? Atau, kita akan marah-
marah lebay?
162
Kalau kita renungkan sejenak kata-kata Marcus di atas, maka bisa
dibayangkan karakter luar biasa dari beliau. Beliau adalah seorang kaisar
di sebuah kekaisaran yang terbesar dan terkuat di masanya. Jika kita saja
segan terhadap seorang presiden dari negara demokrasi, terbayang
betapa menakutkannya seorang “kaisar” dari sistem monarki. Sebagai
seorang kaisar, celaan orang lain harusnya menjadi masalah sepele, toh
dia bisa saja dengan mudah memerintahkan memisahkan kepala para
kritikusnya dari tubuh mereka. Namun, Marcus Aurelius bisa mencapai
kebijaksanaan seperti di atas mengenai perlakuan manusia. Kalau orang
jahat ngejahatin orang lain, ya wajar dong?
Jika kita kembali ke dikotomi kendali, maka orang-orang yang
menyebalkan ada di luar kontrol kita. Kita tidak bisa mengendalikan
perilaku orang lain, namun kita sepenuhnya bisa menentukan apakah kita
akan terganggu atau tidak oleh perilaku orang lain. Perilaku orang lain
masuk dalam kategori indifferent, yang artinya tidak punya pengaruh
kepada kebahagiaan kita. Yang artinya, aneh kalau kita terganggu oleh
kelakuan menyebalkan orang lain, saat sesungguhnya mereka
seharusnya tidak punya pengaruh apa-apa pada kita.
mengajarkan kita untuk tidak memberikan kuasa kepada
orang lain untuk mengganggumu. Artinya, kuasa itu sudah ada di tangan
kita. Perasaan terganggu oleh perilaku orang lain sepenuhnya terserah
kita, dan kitalah yang menentukan mau memberi power itu ke orang lain
atau tidak. Orang lain tidak bisa membuat kita merasa terganggu jika kita
tidak memberikan izin. Teman sekolah mengolok-olok kita? Kolega di
kantor memiliki kebiasaan menyebalkan? Atau, bahkan orang tua kita
sendiri rasanya sering memperlakukan kita tidak seperti yang kita
harapkan? Jika kita terganggu oleh itu semua, Stoisisme mengingatkan
bahwa kitalah yang mengizinkannya.
Terkadang, orang lain bisa menjengkelkan kita bukan sebab apa yang
mereka lakukan, namun sebab apa yang TIDAK mereka lakukan. Misalnya,
orang-orang yang tak tahu berterima kasih. Stoisisme mengajarkan agar
kita jangan bete jika kebaikan atau keramahan kita TIDAK dibalas. Contoh,
saat kita tersenyum pada orang lain dengan maksud ramah, namun orang
ini melengos saja. Keselgak? Sebelum saya belajar Stoisisme,
saya akan kesal sekali kalau sudah bersikap ramah pada orang lain, terus
dikacangin begitu. Atau, saya sudah berbuat hal yang memikirkan orang
lain [considerate], tapi tidak dianggap. Misalnya, saya membuka pintu
gedung dan menahankan pintu untuk orang yang di belakang saya, namun
orang yang di belakang saya boro- boro bilang terima kasih, menengok
163
saja tidak, melengos saja seolah-olah sudah pekerjaan saya menahankan
pintu untuknya. Setelah menerapkan , saya tidak perlu lagi
merasa kesal. Sekali lagi, prinsip dikotomi kendali menjadi panduan saya.
Saya tidak bisa mengendalikan respons orang. Bersikap baik kepada
orang lain adalah pilihan dan di bawah kendali saya, namun "respons orang
lain" tidak di bawah kendali saya, dan betapa bodohnya jika saya
mengharapkan orang lain "harus" memberi respons yang sesuai. Saya
sudah harus cukup bahagia bahwa saya telah bertindak memedulikan
orang lain. Tidak lebih dari itu.
"Kamu salah jika kamu melakukan kebaikan pada orang dan
berharap dibalas, dan tidak melihat perbuatan baik itu sendiri sudah
menjadi upahmu. Apa yang kamu harapkan dari membantu
seseorang? Tidakkah cukup bahwa kamu sudah melakukan yang
dituntut Alam [Nature]? Kamu ingin diupah juga? Itu bagaikan mata
menuntut imbalan sebab sudah melihat, atau kaki meminta imbalan
sebab sudah melangkah. Memang sudah itu rancangan
mereka...begitu juga kita manusia diciptakan untuk membantu
sesama. Dan saat kita membantu sesama, kita melakukan apa yang
sudah dirancang untuk kita. Kita melakukan fungsi kita.” - Marcus
Aurelius [Meditations)
Butuh Dua Pihak untuk Merasa Terhina
"Ingat, untuk bisa benar-benar menyakitimu, tidak cukup dengan
hinaan saja. Kamu harus percaya bahwa kamu sedang disakiti. Jika
seseorang sukses membuat kamu terprovokasi, sadarilah bahwa
pikiranmu pun turut berperan dalam provokasi ini. Itulah pentingnya
untuk kita tidak memberi respons secara impulsif. Berikan waktu
sebelum bereaksi, maka akan lebih mudah bagi kamu memegang
kendali (atas dirimu sendiri)." - Epictetus [Enchiridion)
Ini adalah human insightyang brilian dari para filsuf Stoa. Untuk bisa
sungguh terjadi “penghinaan”, harus ada yang merasa terhina. Sebuah
penghinaan sesungguhnya tidak bernilai sampai objeknya merasa bahwa
ia disakiti. Saat ini terjadi, maka penghinaan itu “sukses". Namun, jika sang
objek tidak merasa terhina, maka hinaan itu sesungguhnya sebuah
serangan yang tumpul dan tidak berarti. Jika ada seseorang yang dihina
dan merasa terhina, maka Epictetus akan menyalahkan si terhina, “Salah
lo sendiri kalo tersinggung!” Ini konsisten dengan yang telah kita bahas
sebelumnya tentang mengendalikan persepsi kita sendiri. Menghina ada di
164
bawah kendali orang lain, merasa terhina ada di bawah kendali kita.
Bahwa celaan dan hinaan tidak pernah benar-benar bisa melukai objeknya
—kecuali diijinkan—bisa diilustrasikan dengan contoh berikut. Suatu hari,
kamu berdiri menghadap sebuah lukisan masterpiece karya seniman besar
Indonesia Affandi. Coba kamu berteriak-teriak, menghina-hina lukisan itu.
"Lukisan sampah! Apa bagusnya kamu? Anak kecil juga bisa hanya coret-
coret gak keruan seperti kamu!” Apakah lukisan itu menjadi lebih buruk,
kehilangan keagungannya hanya sebab hujatan kita? Apakah lukisan
ini menjadi “turun derajat” dari status mahakarya hanya sebab
celaan satu orang? Ditambah lagi, lukisan ini hanya sebuah benda mati.
Tidakkah kita jauh lebih bernilai dan bisa lebih berpikir daripada sebuah
lukisan?
“Kamu tidak bisa dihina orang lain, kecuali kamu sendiri yang
pertama-pertama menghina dirimu sendiri.” - Epictetus [Enchiridion)
Tidakkah ini tepat menggambarkan keadaan di media sosial saat ini? Di
media sosial, ada begitu banyak pihak yang sengaja menciptakan
kemarahan dan emosi dengan hanya bermodalkan jempol. Entah itu
meninggalkan komen-komen yang menyulut kemarahan di posting-an kita
atau sengaja memancing debat kusir. Sayangnya, ada begitu banyak juga
orang yang terprovokasi oleh ulah para provokator di media sosial (yang
konyolnya lagi sering datang dari akun-akun anonim). Banyak yang
terprovokasi, marah-marah, dan saling perang membalas hinaan antar
pihak yang berbeda (yang saat ini sering kali disebabkan oleh politik). Jika
Epictetus hidup saat ini, dia justru
165
sydralw akhirnya kesampaian juga :) #eiffeltower
#traveling2018 #likes
thaacntxbgt asli atau photoshop tuh, fotonya? :p akan
menegur mereka yang terprovokasi, bukan mereka yang sengaja
memprovokasi. Para troll di internet dan media sosial tidak akan bisa
mencapai apa-apa jika lebih banyak orang lebih bisa mengendalikan
pikirannya dan tidak mengacuhkan para provokator.
'‘Ambillah waktu sebelum bereaksi..." Tips dari Epictetus ini juga konsisten
FOLLOW
sydralw
Eiffel Tower, Paris
166
dengan prinsip S-T-A-R [Stop-Think & Assess-Respond). Saat emosi mulai
mendidih akibat membaca linimasa media sosial, stop! Jangan tergesa-
gesa menggerakkan jempol, jangan melakukan apa-apa. Time out dulu,
kemudian berpikir. Kata-kata hinaan, celaan, provokasi hanyalah “kata-
kata”. Kata- kata tidak mengubah realitas, sama halnya dengan saat kita
mencaci maki sebuah lukisan mahakarya. Nilai lukisan ini tidak akan
berubah. Jika saya sampai merasa tersinggung dan terpancing, maka ini
sepenuhnya salah saya. Lagipula, dengan demikian tujuan si provokator
justru tercapai. Namun, jika kita tidak terpancing, bahkan bisa menjawab
dengan kepala dingin dan tidak emosional, ada hal positif yang bisa
tercapai. Wawancara di akhir bab dengan Cania Irlanie, seorang aktivis,
akan lebih memperjelas bagian ini.
"The best revenge is to be unlike him who performed the injury." -
Marcus Aurelius [Meditations)
Untuk mereka yang menghina kita dengan sengaja, bagaimanakah kita
bisa “membalas dendam"? Marcus Aurelius, seorang kaisar, memiliki
jawaban yang singkat dan jelas, “Sesungguhnya balas dendam yang
terbaik adalah dengan tidak berubah menjadi seperti sang pelaku". Jika
kita menerima hinaan dan kemudian kita pun berubah menjadi penghina
yang emosional dan dikuasai kemarahan, maka yang menang adalah
kemarahan dan kebencian. Seperti di film-film zombi, jika si manusia
normal digigit oleh zombi dan kemudian berubah menjadi zombi juga,
maka sang zombi sudah menang.
Ada orang sengaja menjelekkan atau ingin memprovokasi kita? Stand your
ground. Tetap menjadi praktisi Stoa yang memegang kendali atas persepsi
dan responsnya yang baik. Maka, itu akan seperti adegan di mana zombi
'menggigit’ kita, namun tidak mempan. Itulah "pembalasan” terbaik menurut
Marcus Aurelius, saat kita tidak turun derajat menjadi sama dengan yang
ingin berbuat jahat kepada kita.
"Sebagai obat untuk melawan ketidakramahan, kita dianugerahi
keramahan." - Marcus Aurelius iMeditations). Eh? Tidak hanya kita tidak
boleh ikut berubah menjadi jahat saat diperlakukan jahat, Marcus
Aurelius mengajarkan bahwa cara menghadapi orang yang judes, kasar,
pemarah, tidak ramah, dan tidak sopan adalah justru dengan keramahan.
Ini memang ajaran yang sulit di masyarakat yang sangat reaktif, dan
rasanya tangan ini ingin menampol orang-orang menyebalkan. Namun,
seperti prinsip bahwa api akan padam dengan air dan bukan dengan api
lagi, begitu juga ketidakramahan hanya bisa "diperangi” dengan kebaikan.
Mengapa? sebab sering kali orang yang kasar pada kita tidak menyangka
167
akan menerima reaksi yang ramah dan santun. saat mereka sudah
bersiap-siap menghadapi serangan judes balik, betapa kagetnya mereka
saat malah diperlakukan dengan baik /Lah....kok gue judes sama dia,
tapi doi malah baik. Terus aku kudu piye...J Lagi, bayangkan seorang
kaisar mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak membalas perilaku buruk
dengan perilaku buruk juga—sebuah halyang jarang ditemui di jajaran
penguasa, rasanya.
Mungkin Tidak Ada Motivasi Jahat...
Sedari tadi kita membahas situasi-situasi di mana ada pihak-pihak yang
sengaja hendak menyakiti, menghina, atau menyinggung kita. Akan namun ,
para filsuf Stoa juga menyadari ada kemungkinan lain, yang bahkan lebih
sering terjadi, yaitu banyak orang sebenarnya menyakiti kita ”tanpa
sengaja”.
“saat ada yang menyakitimu, atau berkata buruk tentangmu,
ingatlah bahwa dia bertindak dan berbicara sebab mengira itu
memang tugasnya. Ingatlah bahwa tidak mungkin dia mengerti sudut
pandang kita, namun hanya sudut pandang dia sendiri. sebab nya, jika
dia melakukan kesalahan dalam menilai, sebenarnya dialah yang
dirugikan, sebab dia telah tertipu [deceived]. Jika seseorang
menganggap kebenaran sebagai sebuah kekeliruan, kebenaran itu
sendiri tidak rugi, namun justru dia yang tertipu yang rugi. Dengan
prinsip ini, kamu bisa dengan rendah hati menanggung orang yang
menghina kamu, dengan cukup berkata, ‘Itu kan menurut dia.'” -
Epictetus [Discourses]
Epictetus mengingatkan adanya kemungkinan lain saat kita merasa
tersinggung oleh perkataan dan tindakan orang lain, yaitu bahwa orang
ini tidak bermaksud menyakiti kita, namun justru dia melakukannya
untuk “kebaikan” menurut sudut pandang dia. Bahkan, Epictetus
mengatakan orang ini merasakan sudah "tugasnya” untuk
melakukan/mengatakan hal ini .
Mari kita coba gunakan contoh situasi yang paling umum di kalangan
milenial Indonesia, yaitu pertanyaan paling dibenci, "Kapan kawin?”, yang
kerap ditanyakan di acara-acara keluarga. Jika kita emosi, kita pasti sudah
jengkel duluan di dalam hati. Dasar kurang ajar, tidak tahu etiket, tidak
tahu privacy orang, tidak tahu sopan santun, dan lain-lain. Akan namun ,
kalau kita mengikuti jalan pikiran Epictetus, maka si penanya "kapan nikah”
mungkin sebenarnya merasa dia melakukan tugasnya, dari sudut pandang
168
dia. Sang penanya mungkin anggota keluarga yang merasa kasihan
sebab [bagi dia) kamu sudah kelamaan hidup melajang, dan usia mulai
mendekati kedaluwarsa. Sang penanya mungkin benar-benar tulus merasa
kalau kamu melajang, maka pasti hidupmu nelangsa. Juga, sang penanya
mungkin benar- benar secara tulus mengharapkan kamu untuk bahagia di
dalam bahtera pernikahan.
Saat kita mulai memikirkan kemungkinan ini, apakah kita masih ingin
marah? Betul, mungkin perspektif dia keliru. Mungkin kita memang masih
bahagia melajang. Mungkin kita memang tidak mau memaksakan asal
menikah sekadar sebab tekanan deadline. Namun, sang penanya tidak
mungkin sepenuhnya bisa melihat perspektif kita. Dia tidak menjalani hidup
kita dan tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dia bertindak dan
bertutur kata mengikuti perspektif dia, pengalaman hidup dia, perasaan
dia, dan menurutnya apa yang dilakukannya adalah “baik”. Jadi untuk apa
merasa tersinggung dan marah?
169
Epictetus pun menambahkan, jika seseorang berkata-kata/ bertindak
berangkat dari perspektif yang keliru atau salah, sesungguhnya yang rugi
adalah dia sendiri, bukan kamu, sebab dia sudah tertipu /deceived).
Kembali ke contoh tadi. Jika sesungguh-sungguhnya kamu bahagia hidup
170
melajang, namun orang lain merasa kamu tidak bahagia, maka, fakta bahwa
kamu sebenarnya bahagia tidak berubah dan berkurang nilainya sebab
persepsi keliru itu. Bahkan, orang lain ini lah yang sebenarnya
dirugikan, sebab gagal melihat kebenaran (truth) bahwa kamu sebenarnya
merasa bahagia. Kemudian, seperti dikatakan Epictetus, kamu cukup
berpikir, “Ya itu kan menurut dia...” dengan senyum manis.
Menyadari bahwa orang lain bertindak menurut apa yang baik sesuai
perspektifnya bisa membantu kita lebih tidak reaktif terhadap ujaran dan
tindakan orang lain. sebab , seberapa pun menyehatkannya perilaku atau
perkataan orang lain, belajar memahami intent (niat) dan perspektif
mereka bisa membantu kita memberi respon yang lebih baik. Ini bisa
diterapkan di banyak situasi, tidak hanya soal pertanyaan "kapan kawin?",
tapi juga di kampus, dengan dosen atau teman-teman sekelas; di kantor,
dengan para kolega; di tempat umum seperti di mal, dengan orang-orang
tak dikenal. Atau, bahkan dalam interaksi di media sosial. Media sosial
memang memudahkan orang untuk mengomentari orang lain dan kita
mungkin sering jengkel dengan komentar-komentar sotoy (sok tahu) yang
kita terima. Para filsuf Stoa sudah mengingatkan bahwa manusia memang
harus sotoy, sebab keterbatasan pengetahuan dan sudut pandang
mereka. Kita pun tidak luput dari ke-sotoy-an saat kita menilai hidup orang
lain. Jadi, kenapa harus (cepat) gusar di media sosial?
Mengasihani Mereka yang Jahat kepada Kita
Apa? Ada orang yang jahat malah dikasihani? Bukannya harusnya dibalas
yang setimpal? Stoisisme memiliki perspektif yang menarik mengenai
orang "jahat" yang dipengaruhi Socrates. memang sangat
pemaaf terhadap kesalahan orang, dan ini masih berhubungan dengan di
atas. Stoisisme percaya bahwa banyak orang yang berbuat jahat tidak
sebab
"berniat jahat”. Sebelumnya telah kita lihat bahwa setiap orang bertindak
menurut sudut pandangnya, yang bisa sangat terbatas atau keliru. Menurut
filsuf Stoa, orang berbuat jahat akibat ketidaktahuannya (ignorant) dan dia
tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Atau, dia sesaat kehilangan nalar/akal
sehat (khilafi untuk mengetahui mana yang baik dan jahat. Jika dia
memiliki kebijaksanaan dan nalarnya sedang berfungsi baik, dia pasti akan
memilih yang baik.
Menyangkut orang "jahat", Epictetus berkata, "Mengapa kamu justru tidak
mengasihaninya? Sama seperti kita merasa iba kepada mereka yang buta
171
atau pincang, maka kita juga harus merasa iba kepada mereka yang
(nalarnya) ‘buta dan pincang’.” (Discourses)
Selama ini saya menganggap manusia hitam dan putih, ada manusia
"baik", ada manusia "jahat”. Namun, label "baik" dan "jahat” ini mereduksi
manusia lain menjadi dua kelompok saja, seolah-olah yang baik akan baik
terus selamanya, begitu juga dengan yang jahat. Stoisisme memberi
alternatif sudut pandang lain, yaitu perbuatan “jahat" bisa jadi lahir sebab
ketidaktahuan (ignorance), bukan sebab memang diniatkan. Sama halnya
seperti kita tidak mungkin marah-marah kepada anak bayi yang ingin
mencolok sambungan listrik dengan jarinya dan membahayakan dirinya,
sebab dia "tidak mengerti” konsep bahaya listrik. Begitu juga dengan
orang-orang yang berbuat jahat di mata kita—bagaikan si anak bayi tadi—
sebab mereka tidak mengerti.
Seseorang menyalip antrean di depanmu? Mungkin dia belum tahu soal
antre. Atau, kalau sudah tahu pun, mungkin dia tidak tahu perilaku ini
menyakiti perasaan orang lain. Ada yang bergosip jahat di belakangmu?
Mungkin dia tidak tahu bahwa itu tercela. Ada yang bersikap tidak ramah
kepadamu di kantor? Mungkin dia tidak tahu soal etiket di kantor. Ada
orang yang memakimu? Mungkin dia sedang dikuasai emosi sesaat,
sehingga "tidak tahu” kalau itu jahat.
Saya yakin masih ada orang yang berbuat jahat dan sangat sadar
mengetahui itu jahat. Namun, orang-orang seperti ini rasanya sangat
sedikit jumlahnya. Jika kita renungkan orang-orang yang pernah
“menyakiti” kita dalam hidup, dan kita mau mencoba benar-benar berpikir
objektif dan empati, maka kita akan menemukan bahwa sebagian besar
dari mereka tidak benar- benar berniat menjahati orang lain. Bahkan,
mereka yang kita yakini memang berniat menjahati kita pun mungkin
terdorong oleh rasa ketakutan mereka (yang bisa jadi tidak beralasan).
Frederick Douglass adalah seorang kulit hitam yang hidup di Amerika
Serikat pada abad ke-19, di mana praktik perbudakan dan ketidakadilan
terhadap kaum kulit hitam masih terjadi, la adalah seorang mantan budak
yang melarikan diri, kemudian menjadi aktivis pejuang penghapusan
perbudakan, la dianggap sebagai tokoh kulit hitam paling berpengaruh di
masanya. Pada suatu saat, Douglass, yang melakukan perjalanan dengan
angkutan umum, dipaksa untuk duduk di gerbong bagasi sebab warna
kulitnya. Padahal, beliau membayar tiket sama dengan yang lain.
Beberapa orang kulit putih yang mengenalnya dan simpati pada
perjuangannya kemudian menghampirinya di gerbong bagasi untuk
menghiburnya. Salah satu dari mereka berkata, “Saya turut menyesal
172
Tuan Douglass, bahwa anda sudah direndahkan seperti ini.” Mendengar
ini, Frederick Douglass menjawab, “Mereka tidak bisa merendahkan
seorang Frederick Douglass. Tidak ada seorang pun yang bisa
merendahkan jiwa di dalam diri saya. Sesungguhnya bukan sayalah yang
direndahkan dengan kejadian ini, namun justru mereka yang melakukan ini
pada saya.”
Kisah ini sungguh mengagumkan dan sangat menggambarkan Filosofi
Teras, menyangkut kemampuan kita untuk mengendalikan interpretasi
atas perlakuan orang lain terhadap kita. Rasanya, sebagian besar dari kita
akan merasa marah luar biasa jika diperlakukan secara diskriminatif oleh
orang lain, apalagi sampai dilihat oleh orang lain. Akan namun , Frederick
Douglass menunjukkan bahwa merasa "direndahkan” adalah subjektif.
Kata-kata beliau tepat menohok, bahwa tidak ada seorang pun yang bisa
merendahkan jiwa seseorang.
Seperti Epictetus yang mengajarkan kita untuk mengasihani orang yang
jahat kepada kita, Douglass pun menunjukkan bahwa mereka yang rasis
justru merendahkan diri mereka sendiri. Dengan bersifat diskriminatif dan
menzalimi orang yang berbeda, justru merekalah yang "turun kelas”, lebih
rendah daripada yang terzalimi—dalam hal ini Frederick Douglass.
Saat kita berulang kali sudah mulai merasa akan terprovokasi sebab
perlakuan jahat atau tidak adil dari orang lain, ingatlah kata-kata Frederick
Douglass di atas. Tidak ada seorang pun yang bisa merendahkan jiwa
orang lain, dan, mungkin, mereka yang berlaku jahat kepada kitalah yang
patut dikasihani.
Kemarahan Kita Lebih Merusak daripada Perlakuan
yang Kita Terima
"How much more damage ANGER and GRIEF do than the things
that cause them." - Marcus Aurelius /Meditations)
Kamu gusar sebab perlakuan orang lain? Kamu sedih sebab perlakuan
keluarga dan pasangan? Marcus mengatakan bahwa kemarahan dan
kesedihan/baperkamu itu jauh lebih merusak daripada perlakuan itu
sendiri. Sekali lagi: BAPER ITU SUMBER SEGALA MASALAH. sebab
baper dimulai dari persepsi kita sendiri atas sebuah peristiwa /impression)
yang sering kali tidak dianalisis dahulu, dan sebab nya bisa keliru. Kalau
pun benar, tetap saja tidak berguna (sebab kita baper mengenai sesuatu
di luar kendali kita. Dikotomi kendali lagi!)
173
Sebagai contoh: sahabat dekat kita tidak mengucapkan selamat ulang
tahun. Persepsi kita sendiri: dia sengaja! Dia sudah benci sama saya! Kok
tega-teganya dia berlaku seperti ini sementara saya tidak pernah lupa
mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia. Ingat, bahwa hal yang
benar-benar fakta objektif adalah "tidak mengucapkan selamat ulang
tahun". Soal sahabat kita sudah membenci kita adalah murni bikinan
pikiran kita sendiri (interpretasi/va/ue judgment yang kita tambahkan
kemudian).
Rantai persepsi (yang hanya ada di dalam pikiran kita) ini bisa berlanjut
sampai panjang sekali. Sekali kita membiarkannya menguasai pikiran kita,
maka respon apa yang muncul? Kita mulai marah. Mungkin kita sengaja
mengambek. Kemudian kita mulai mengumpulkan sekutu di antara teman-
teman. Kita mulai mencari bukti bahwa teman yang tadi memang ngeselin.
Kemudian, dari mengambek, mulailah konflik terbuka, dimulai dari chat
pribadi, chat grup, sampai akhirnya berantem beneran dengan menyewa
ormas. Alhasil, rusaklah sebuah pertemanan. Semua ini dimulai dari apa?
Hanya sebab seseorang lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepada
kita dan kemudian "dibumbui" persepsi kita! Apakah worth it (sepadan)
sesuatu yang lebih besar seperti pertemanan atau persaudaraan hancur
sebab emosi yang tidak bisa kita kendalikan? Sudah berapa pertemanan,
persaudaraan, kerjasama yang bubar hanya sebab salah paham dan
emosi yang lebih merusak dari hal yang memicu emosi itu sendiri?
Saat kita mulai merasakan kemarahan atau sakit hati yang timbul sebab
perlakuan orang lain, selalu ingat tehnik S-T- A-R. Rasa marah dan emosi
negatif lainnya pasti timbul sebab sebuah interpretasi
/representation)yang kita buat sendiri. Saat kita bisa memisahkan antara
"fakta objektif" dari interpretasi rekaan kita, kita bisa lebih merasa tenang.
Apalagi saat kita mengingatkan diri bahwa perilaku orang lain ada di luar
kendali kita, dan sebab nya bukanlah sumber kebahagiaan—atau
ketenangan—kita.
Mungkin Kita yang Salah?
Saat kita merasa tersinggung oleh perlakuan dan kata-kata orang lain,
ingatlah bahwa bisa jadi kita yang keliru. Saat kita "mendengar" pendapat
orang lain, gosip yang beredar, sampai pesan berantai di group chat,
selalu sadari ini mungkin hanya opini saja. Di samping itu, opini, persepsi,
interpretasi belum tentu sama dengan fakta objektif yang ada. Bahkan,
penglihatan kita pun bisa menipu kita, sebab sudut pandang kita terbatas
dan sebab sering kali penglihatan kita bias.
174
Apakah kamu benar-benar yakin orang lain melakukan kesalahan?
Sudahkah kita benar-benar MENGERTI situasinya? Sebagai contoh: kita
sedang berkendara, lalu tiba-tiba ada kendaraan yang cepat melaju
menyalip kita secara membahayakan. Maka, kita pun marah sebab
merasa diperlakukan buruk. Pertanyaannya, apakah kita yakin bahwa dia
melakukan itu dengan sengaja untuk memprovokasi kita? Atau, yakinkah
kita bahwa dia memang pengendara yang ceroboh? Atau, mungkinkah
sebenarnya dia sedang dalam situasi darurat/emergency, sebab istrinya
harus melahirkan di rumah, di saat yang sama kucingnya juga? Faktanya
hanyalah kendaraan kita disalip secara membahayakan, namun hanya
sampai di situ. “Kreativitas” kita yang menambahkan motivasi di balik
perbuatan ini , dan sering kali bumbu kita hanya semakin menambah
kemarahan.
Dalam situasi antarmanusia, contoh sederhana soal “penglihatan” yang
menyesatkan /deceiving! sering menimpa teman-teman kita yang memiliki
temperamen introver. Introver butuh waktu menyendiri untuk “mengisi
ulang baterai” mereka, sebab berada di antara orang banyak melelahkan
bagi mereka. Ini kebalikan dari kaum ekstrover yang justru menjadi lebih
berenergi di tengah banyak orang. Saat introver memilih untuk menyendiri,
teman ekstrover yang "melihat” ini akan mudah menganggap kalau dia
seorang yang sombong, tidak sudi bergaul, eksklusif, dan lain-lain. Contoh
lain, pasangan yang lupa menanyakan keadaan kita. Kita bisa tergesa-
gesa mengartikannya sebagai dia tidak peduli lagi dengan kita, padahal
mungkin dia sedang sangat sibuk atau tertimpa masalah yang harus
diselesaikan. Kita harus senantiasa berhati-hati dengan apa yang kita pikir
kita lihat dan dengar, sebab itu hanya dari sudut pandang kita saja.
Jika kita menyadari betapa rentannya kita sendiri pada kesalahan dan
kekeliruan, maka tahap “Think & Assess” (Pikirkan dan Nilai) dalam S-T-A-
R menjadi sangat krusial dalam menentukan respon yang benar. Sebelum
kita emosi merasa "kebenaran" kita dilanggar, cek terlebih dahulu apakah
mungkin kita yang salah.
Waspada “Kurang Kerjaan"
"Kurang kerjaan banget sih lo?" Pernah mendengar ujaran yang kerap
diberikan kepada orang yang melakukan aktivitas yang tak berguna dan
hanya merugikan orang lain? Hampir 2.000 tahun lalu pun Seneca sudah
menyadari bahwa “kurang kerjaan” bisa menjadikan kita orang yang
menyebalkan:
175
"Kurang kerjaan [unproductive idleness] hanyalah memelihara niat
jahat, dan sebab orang-orang kurang kerjaan tidak bisa menjadi
makmur, maka mereka menginginkan orang-orang lain nasibnya
sama dengan mereka. Dari sini, mereka menjadi benci pada
kesuksesan
“People exist for
one another. You can
instruct or endure
them.” - Marcus Aurelius
(Meditations) orang lain, dan menyadari kegagalan
mereka, mereka menjadi marah pada nasib, mengeluhkan zaman ini,
kemudian menjauhkan diri dan merenungi kesusahan hidup mereka
sampai mereka muak akan diri mereka sendiri.” [Discourses)
Sounds familiar? Pernah menemui orang-orang seperti ini di media sosial
atau di dunia nyata? Mereka sering memberikan komentar negatif, seperti
menjatuhkan, menjelek-jelekkan, dan menghina, bahkan kepada orang-
orang yang tidak mereka kenal (seperti selebriti). Jika ada yang berbagi
keberhasilan, selalu saja orang-orang ini bisa menemukan kejelekan untuk
berusaha dijatuhkan.
Sutradara legendaris dari Jepang Akira Kurosawa dikenal dengan
ujarannya, 7 cant afford to hate anyone. I don't have that kind of time."
(Saya tidak mampu membenci siapa pun. Saya tidak punya waktu untuk
itu). Seperti yang dikatakan Seneca, hanya kita yang “kurang kerjaan"
yang memiliki waktu untuk membenci dan mendengki pada orang lain. Jika
kita punya kesibukan dan keasikan sendiri, niscaya kita tidak punya cukup
waktu untuk membenci dan nyinyir pada orang lain. Jadi, lain kali kita
mulai merasakan keinginan jahat untuk menjatuhkan orang lain, mungkin
kita harus cepat-cepat berpikir untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang
produktif.
Instruct or Endure
"People exist for one another. You can instruct or endure them." -
Marcus Aurelius [Meditations)
Hidup bersama manusia lain menuntut lebih dari sekadar “menolerir”
perilaku mereka. Sekadar menolerir orang lain sifatnya pasif. "Yang
penting gue gak ganggu orang lain, orang lain gak ganggu gue". Sebagian
dari kamu mungkin mendapat kesan bahwa sedari tadi
hanya mengajarkan untuk pasif saja sebagai objek dari perlakuan tidak
enak orang lain. Ini tidak benar.
Marcus Aurelius berkata bahwa kita hidup untuk satu sama lain [exist for
one another). Artinya, keberadaan kita harus bisa membantu satu sama
lain, secara aktif. Membantu di sini lebih dari sekadar membantu uang atau
bantuan bencana, namun setiap hari kita bisa saling mengajar dan
membangun satu sama lain. “Kamu bisa mengajari [instruct] orang lain,
atau hidup menolerir mereka,” kata Marcus. Kita bisa mengajari orang lain
menjadi lebih baik, dan jika itu tidak tercapai, minimal kita bisa
menanggung (hidup bersama) mereka [endure them). Jika kita melihat ada
perilaku yang keliru, maka pastikan bahwa itu memang keliru, dan
kemudian kewajiban kita untuk membenarkan.
Contoh sehari-hari. Kita melihat seseorang yang memotong antrean—
sebab memang tidak mengerti prinsip mengantre, atau memang egois
saja. Seorang praktisi Stoisisme tidak akan hanya diam saja melihat itu,
namun akan memberi tahu baik- baik kesalahannya dan menunjukkan
bagaimana seharusnya mengantre [to instruct). Jika orang ini sudah
diberi tahu namun tetap ngotot dan berperilaku menjengkelkan, barulah opsi
kedua diambil, to endure them. Di Bab VI sudah dibahas bahwa kita
mampu tidak merasa tersinggung atau marah atas ulah orang lain. Selain
itu, salah satu nilai kebajikan [virtue) Stoisisme adalah temperance atau
menahan diri. We can endure other people if we practice temperance.
Jadi, mengajukan keluhan [complaint) dengan tujuan memperbaiki situasi
atau orang lain tidak bertentangan dengan Stoisisme. Yang tidak didukung
oleh Stoisisme adalah menggerutu dan menggosipkan kesalahan orang
lain, namun tidak memperbaiki keadaan maupun membuat orang lain
menjadi lebih baik.
Tentunya ini tidak berarti kita menjadi sangat mudah menegur orang lain,
sedikit-sedikit menjadi hakim yang tegur ke sana sini, baik di dunia nyata
maupun online. Sebelum kita mencoba memperbaiki orang lain, kita harus
benar-benaryakin bahwa kita sudah betul-betul mengerti situasi yang ada
dan bahwa teguran memang diperlukan. Ada standar ketat yang harus kita
terapkan kepada diri sendiri sebelum bisa menegur orang lain. Yakinkah
bahwa penilaian kita akan seseorang sudah akurat? Bagaimana jika kita
yang salah? Jika masih ada keraguan bahwa kita benar-benar mengerti
situasi sebenarnya, termasuk dari perspektif orang lain, mungkin lebih baik
kita diam.
Apalagi saat kita memasuki konteks perbedaan budaya, di mana sebuah
perilaku bisa dianggap tidak layak di budaya yang satu, tapi layak di
budaya lainnya. Contohnya, bagi kamu, bersendawa di depan orang lain
sesudah makan mungkin menjijikkan. Namun, bisa saja kamu traveling ke
suatu daerah di mana bersendawa tidak hanya normal, bahkan dianggap
hal yang baik (misalnya tanda seseorang sungguh-sungguh menikmati
makanan yang disuguhkan tuan rumah). Maka, jika kamu menegur
seseorang bersendawa di daerah di mana hal itu diterima (bahkan
diharapkan), kamulah yang terlihat bodoh, egois, bahkan menyebalkan. Di
sinilah kebijaksanaan Iwisdom) diperlukan.
Ada banyak situasi lain di mana prinsip instruct or endure bisa diterapkan.
Dari di rumah sendiri, keluarga besar, di sekolah atau pekerjaan, atau di
masyarakat luas, baik offline maupun online, kita bisa melakukan hal ini.
Sayangnya, banyak dari kita yang tidak mau menyampaikan teguran
membangun kepada orang lain, dan hanya mengomel, bahkan bergosip, di
belakang orang itu. Seperti karyawan yang terus-menerus mengeluhkan
perilaku kolega/bosnya, namun tidak berani berkata langsung kepada si
kolega/bos maupun menyampaikan keluhan melalui kanal resmi (misalnya
ke departemen SDM). Perilaku cuma berkeluh kesah, namun tidak mau
membantu orang lain memperbaiki dirinya, pada akhirnya hanya
merugikan semua orang. Si orang yang bersangkutan tidak tahu bahwa
dia perlu memperbaiki diri, si pengeluh tidak menyelesaikan apa-apa,
bahkan memperoleh predikat sebagai tukang gosip, dan hidup orang-
orang lainnya juga tidak berubah menjadi lebih baik.
Contoh lainnya, saat artikel ini ditulis, hoaks, fake news (berita bohong), dan
black campaign marak beredar baik di media sosial maupun chat group,
terlebih menjelang tahun politik 2018-2019. Jika kita menerima sebuah
berita yang diragukan kredibilitasnya, apalagi bersifat merusak
(menimbulkan kebencian dan kecurigaan pada kelompok tertentu), yang
paling minimal bisa kita lakukan adalah tidak ikut-ikutan menyebarkannya.
Namun, ini tidak cukup. Marcus Aurelius akan menasihati kita untuk
memberi tahu /instruct) pihak yang menyebarkan bahwa berita ini
berpotensi merusak, tidak jelas kebenarannya, dan sebaiknya tidak
disebarkan. Saya mengerti bahwa melakukan ini pasti tidak nyaman,
apalagi jika pelakunya keluarga yang dituakan, namun , menurut saya ini
hanyalah masalah cara penyampaian. Jika pihak yang diberitahu masih
nyolot, ngeyel, atau tidak mau mengalah, kita tidak perlu merasa kesal.
Opsi kedua, endure, selalu ada di kendali kita.
“Dalam hidup, orang-orang akan menghalangi jalanmu. Mereka tidak bisa
mencegah kamu melakukan hal yang baik, dan tidak bisa mencegah kamu
menolerir [put up] mereka juga...sebab marah adalah juga kelemahan,
sama seperti menjadi patah arang dan menyerah berjuang. Keduanya
adalah desertir: mereka yang menghindar dan mereka yang memutuskan
hubungan dari sesama manusia.” - Marcus Aurelius /Meditations). Bagi
Marcus, marah pada orang lain adalah kelemahan, begitu juga dengan
menghindari mereka. Kita digambarkan bagaikan prajurit yang desersi, lari
meninggalkan tugas, dan di dalam dunia militer, perilaku desersi sangat
terhina.
Kemarahan: “Gila Sementara”
Bagi Seneca, orang yang marah sedang mengalami "gila sementara”
/temporary madness). "Keburukan dan kejahatan (v/ces) lain memengaruhi
pertimbangan [judgment] kita, namun kemarahan memengaruhi kewarasan
kita: keburukan dan kejahatan (lain) menyerang kita dengan lunak dan
tumbuh tak terlihat, namun kemarahan menjerumuskan pikiran manusia
secara mendadak...kemarahan bisa begitu memuncak hanya dari
penyebab awal yang remeh.” /On Anger)
Kemarahan bisa begitu memuncak hanya dari penyebab awal yang
REMEH. Betapa benar dan tragis. Pernahkah kita membaca berita dua
kampung bisa tawuran hanya sebab urusan pertandingan bola? Orang-
orang berpendidikan bisa naik pitam, bahkan baku hantam di jalan, hanya
sebab urusan mobil keserempet? Dua keluarga bisa tidak berbicara
bertahun-tahun sebab urusan sesepele undangan nikah, hutang, atau
perangkat Tupperware yang tidak dikembalikan? Tidak ada pemicu
sesepele apa pun yang tidak mampu menciptakan kemarahan berlipat-
lipat.
Dalam bentuk lain, namun sama ”gila”-nya, adalah perilaku kita di media
sosial. Hanya sebab urusan satu tweet atau satu post di Facebook atau
Instagram, bisa terjadi pertengkaran berjilid- jilid dengan modal jempol.
Bagi pihak ketiga yang mengamati ini dengan kepala dingin, pasti setuju
dengan perkataan Seneca: kemarahan memengaruhi kewarasan kita.
Mungkin, sebab hal ini juga orang Jawa zaman dulu menarik kesimpulan,
“Yang waras mengalah.” sebab percuma berhadapan dengan orang yang
sedang tidak waras, walau hanya sementara.
Berikut kali kita merasakan kemarahan mulai terbangun, segeralah
menghentikannya. Rasanya tidak ada yang mau dibilang sebagai “orang
gila”, walaupun hanya untuk sementara. Sekali lagi, ingatlah S-T-A-R.
Ajaran orang zaman dulu untuk menghitung sampai sepuluh sebelum
mengekspresikan kemarahan mungkin ada benarnya, sebab memberi
kesempatan untuk “kewarasan” kita pulih kembali.
Jangan Sampai Kita Mengisolasi Diri
“Dahan yang dipotong dari dahan sebelahnya juga terputus dari
pohon keseluruhan. Begitu juga manusia yang terpisahkan dari
manusia lain juga terputus dari masyarakat keseluruhan. Dahan
pohon dipatahkan oleh orang lain, namun manusia 'mematahkan’ diri
mereka sendiri—melalui kebencian dan penolakan—dan tidak
menyadari bahwa mereka telah memotong diri mereka dari seluruh
masyarakat...Kita memang bisa melekatkan lagi diri kita dan sekali
lagi menjadi bagian dari keseluruhan. Akan namun , jika kita memotong
diri terlalu sering, maka akan makin sulit untuk melekatkan diri
kembali. Kamu bisa melihat perbedaan antara dahan yang selalu
tumbuh di sebuah pohon, dan dahan yang sudah pernah dipotong
dan dilekatkan kembali." - Marcus Aurelius iMeditations)
Analogi yang sangat tepat menggambarkan relasi manusia dengan
manusia lain, bahkan masyarakat keseluruhan, dan menunjukkan betapa
sungguh-sungguh serius dalam mengingatkan kita untuk
selalu menjaga kehidupan sosial kita, dengan menjaga kerukunan dan
silaturahmi kita. Marcus Aurelius berpendapat bahwa sebisa mungkin kita
tidak memutuskan tali hubungan dengan sesama kita, yang bahkan bisa
menyebabkan kita terpotong dari masyarakat keseluruhan.
Bagaikan dahan yang dipotong dari dahan lainnya, dia juga terpotong dari
pohon pokoknya. Yang merugi adalah si dahan, sebab dia terpotong dari
aliran makanan dan hidup. Dahan yang terpotong memang bisa
“dilekatkan” kembali, dan mungkin pulih, namun terlalu sering dipotong
akhirnya akan makin sulit untuk bisa melekat kembali.
Apakah kita mengenali seseorang dalam hidup kita yang “memotong
dirinya sendiri” dari pertemanan atau lingkungan sosial? Bagi saya ini tidak
ada hubungannya dengan karakter introver versus ekstrover. Mungkin kita
mengenal seseorang yang sering ngambek, menyimpan marah, kepahitan,
atau kebencian terhadap teman-temannya, atau lingkungan sekitarnya,
sehingga dia memilih memisahkan diri. Menurut Marcus Aurelius, ini hal
yang patut disayangkan dan sebaiknya dihindari.
Ajaran Stoisisme bahwa manusia adalah makhluk sosial dan sebaiknya
tidak mengisolir diri mendapatkan semakin banyak dukungan dari ilmu
kesehatan. Dalam artikel di The New York Times berjudul “The Surprising
Effects of Loneliness on Health” (Efek Mengejutkan dari Kesepian
Terhadap Kesehatan), disebutkan bahwa kesepian bisa meningkatkan
hormon stres dan inflamasi, yang kemudian bisa menambah risiko
penyakit jantung, arthritis, pikun, bahkan upaya bunuh diri. Artikel ini juga
mencatat rasa kesepian tidak ada hubungannya dengan jumlah teman
atau kenalan. Seseorang bisa memiliki sedikit hubungan namun tidak
merasa kesepian, sementara seseorang bisa dikelilingi banyak orang,
namun merasa kesepian. Kualitas dari hubungan antarmanusia menjadi
lebih penting dari kuantitas. Artikel ini mengukuhkan apa yang telah
ditemukan para filsuf Stoa 2.000 tahun yang lalu, manusia harus hidup
bersama manusia lainnya dengan baik.
Prinsip-prinsip hubungan antar manusia di dalam Stoisisme saling terkait
dan bisa sangat membantu kualitas hubungan. Satu- satunya cara agar
kita tidak “memotong” diri kita dari hubungan sosial, menjadi pahit hati dan
menjauh dari teman, keluarga, dan masyarakat adalah dengan tidak
baperan, tidak sensitif atau mudah terprovokasi, apalagi mudah marah-
marah. Intinya, kembali seperti yang di ajaran : hidup selaras
dengan Alam, dengan cara menggunakan nalar/rasio/reason kita sebaik-
baiknya. Jika kita sering mengabaikan nalar/akal sehat kita, yang
Maka jika
hidup harus selaras denga
Alam, konsekuensinya
tidak ada ruang untuk k
berbohong.
artinya menjadi sama dengan binatang, maka kita menjadi mudah
terprovokasi, terlalu sensitif, dan selalu menanggapi apa kata orang, dan
niscaya kita tidak akan tahan dan selalu tergoda untuk menghindari kontak
sosial saja. Bagaimana caranya supaya kita tidak mudah baperan?
Dengan menyadari bahwa kita sendirilah yang bertanggung jawab jika kita
merasa tersinggung, marah, tertolak-dan bukan orang lain. Selain itu,
kerendahan hati untuk menyadari bahwa kita sendiri tidak sempurna dan
sering melakukan kesalahan juga menjadi penyeimbang.
Berkata Jujur Selalu
“Betapa menjijikkannya saat seseorang berkata, 'Sejujurnya nih
.............................’ di awal kalimat. Apa maksudnya? Itu
seharusnya tidak perlu diucapkan. Itu sudah semestinya, tertulis
dengan huruf besar di jidat. (Kejujuran) harus terdengar di suaramu,
nampak di matamu, bagaikan kekasih yang menatap wajahmu dan
percaya seluruh kisahmu dengan sekilas pandang. Seorang yang
jujur dan terus terang bagaikan seorang dengan bau badan. saat
kamu seruangan dengan dia, kamu langsung tahu. Akan namun ,
kepalsuan bagaikan pisau (yang menancap) di punggung.” - Marcus
Aurelius (Meditations)
[Pak Marcus, analogi orang bau ini agak aneh, tapi saya mengerti kalau
jaman Romawi kuno dulu belum ada deodoran. Jadi, ya sudahlah yaaa
...........................)
Waktu membaca, saya lumayan tertegun. Kata-kata Marcus Aurelius
bagaikan tertuju kepada saya pribadi. Saya menyadari selama berbicara
dengan orang lain saya sering kali membuka kalimat seperti berikut,
"Kalau boleh jujur....."
"Sejujur-jujurnya nih...."
"Gue boleh jujur gak?...."
Marcus Aurelius berkata bahwa hal ini 'menjijikkan*. Kalau dia hidup di
masa kini, mungkin dia akan berkata, "Maksud looh? Jadi, kemarin-
kemarin lo selalu berdusta kalau ngomong?!" Jika kita semua terbiasa
berkata jujur senantiasa, maka tidak perlu ada saat-saat di mana kita
membuka kalimat kita dengan pembukaan “Kalau boleh jujur..." Ini sama
saja dengan mengakui selama ini kita sering berbohong. Skakmat dari Bos
Marcus.
Menarik untuk mengerti alasan mengapa berbohong dilarang dalam
. Umumnya berbohong dilarang oleh agama sebab
dikategorikan sebagai dosa. Kita terbiasa menakut-nakuti anak kecil,
"Jangan bohong kamu! Dosa! Nanti kamu masuk neraka dan di situ
tidak ada wi-fi gratis!!” Stoisisme mempunyai argumen mengapa
berbohong itu keliru, bukan sekadar label dosa atau tidak. Kembali ke
prinsip hidup selaras dengan Alam [to live in accordance with Nature).
Prinsip fundamental ini juga yang mendasari argumen agar tidak
berbohong. Argumennya adalah sebagai berikut.
Segala hal yang benar [truth] otomatis adalah bagian dari Alam
[Nature], dan sebaliknya kebohongan adalah sesuatu yang tidak
benar/tidak ada, dan artinya bukan bagian dari Alam.
Maka jika hidup harus selaras dengan Alam, konsekuensinya tidak ada
ruang untuk berbohong. sebab dalam kebahagiaan sejati
hanya bisa datang dari keselarasan dengan Alam, maka berbohong
akan menghalangi meraih kebahagiaan itu. Dengan kata lain, si
pembohong sudah membuat dirinya sendiri menderita dengan
bohongnya, sebab dia sudah menyimpang dari Alam.
Jadi, inilah insentif yang diberikan para filsuf Stoa agar kita mau hidup
dalam kejujuran dan menghindari dusta. Bukan dengan ancaman
neraka di akhirat, namun dengan argumen logis bahwa yang merugi
adalah kita sendiri. Dengan meninggalkan keselarasan dengan Alam,
kita mempersulit diri sendiri memperoleh kebahagiaan, damai, dan
tenteram. Belum lagi risiko ketahuan yang bisa mengancam hubungan
antar manusia kita (atau, lebih buruk lagi, sampai berujung hukuman
pidana!)
Terkadang, Ada Orang-orang yang Harus Dihindari
So far so good. Namun, saya











