a analisis Wansbrough benar, maka akan menjadi semakin sulit untuk
mempertahankan Al-Qur'an sebagai sumber yang akurat bagi Islam, atau sebagai
sumber untuk Tradisi Islam, terutama mengingat kenyataan bahwa Al-Qur’an ditulis jauh
setelah tanggal perkiraan awal ditulisnya berdasarkan Tradisi Muslim sendiri. Sementara
penanggalan Qur'an yaitu batu sandungan besar bagi klaim keasliannya, pada
kenyataannya malahan itu bukan satu-satunya masalah.
35
Sebagai tanggapan, ada banyak ulama yang berpendapat bahwa kehadiran terus-
menerus beberapa pria yang telah hafal Al-Qur'an secara keseluruhan terjaga
kredibilitasnya. Orang-orang ini dipanggil Hafiz. Mereka yaitu para penghafal Al-Qur'an
yang darinya para pengumpul naskah Qur’an terkemudian bisa merujuk jika ada
pertanyaan muncul (Glasse 1991:143,230).
Saat ini kita memiliki cukup banyak hafiz yang masih hidup di Timur Tengah dan Asia
(bahkan ada satu yang kuliah di SOAS). Kita tahu apakah mereka telah hafal Al-Qur'an
dengan benar, sebagaimana kita bias merujuk pada teks yang ditulis dan memastikan
apakah apa yang mereka benar-benar mengikuti secara tepat atau tidak. Pertanyaannya
yaitu kepada apa para pengumpul naskah Qur’an itu merujuk dan memastikan
kebenaran dari Hafiz pada jaman itu jika terdapat perbedaan pelafalan, kata dll jika tidak
ada standard teks yang sudah tersusun? Kalaupun ada, seperti klaim Muslim, mana
dokumen-dokumennya?
Pada dasarnya kita kembali ke masalah yang sama yang kita bahas di bagian
sebelumnya. Para penghafal Qur’an awal , konon, memiliki dokumen yang mereka
hafalkan, sebab kredibilitas Hafiz didapat dari derajat kemiripan pendarasannya dengan
dokumen yang ia klaim miliki, bukan sebaliknya. Nah sekarang, apakah dokumen-
dokumen itu pernah ada? Jika mereka hanya menghafal apa yang mereka dengar dari
semacam tradisi lisan, maka pendarasan mereka menjadi lebih mencurigakan sebab
tradisi lisan, tradisi lisan terutama agama, secara alami rentan terhadap pelebih-lebihan,
pengarang-ngarangan, pembubuhan, dan akibatnya informasinya menyimpang.
Lalu apa yang harus kita lakukan dengan masalah internal yang kita temukan di
dalam Al Quran? Bagaimana kita menjelaskan masalah struktural dan sastra, dan
kisah-kisah contekan dan kejanggalan-kejanggalan ilmiahnya yang dimasukan ke dalam
halaman-halamannya? Kesulitan-kesulitan ini menjauhkan kita dari klaim penulisan
Qur’an yang dianggap ilahi, dan mengarahkan kita pada skenario yang paling
memungkinkan, bahwa Qur’an tidak lebih dar kumpulan kumpulan sumber-sumber
berbeda yang dicomot dari potongan-potongan sastra, cerita rakyat, atau tradisi lisan
yang beredar pada jaman itu, dan sengaja dicangkokkan oleh para kompiler yang tidak
mencurigai bahwa suatu saat modus mereka akan tercium dan diketahui.
sebab penanggalan Qur’an yang meragukan, fakta bahwa tidak ada dokumentasi
substansial yang hadir sebelum 750 AD, dan sumber-sumber berbeda yang darinya
kisah-kisah Qur’an berasal, dan aplikasi tertentu bagi kaum Arab, penting bagi kita
untuk tidak memakai nya sebagai sumber dalam memastikan keasliannya sendiri.
Pada dasarnya kita dibiarkan dengan begitu sedikit materi Islam awal yang darinya kita
dapat menggambarkan otoritas apapun untuk Quran, atau asal-usul Islam.
Dimana kemudian kita bisa menemukan asal-usul Islam yang benar jika baik Tradisi
Muslim dan Qur'an sendiri mencurigakan?
D.Kritik Eksternal Terhadap Quran
Untungnya kita tidak sepenuhnya bergantung pada sumber-sumber muslim yang
terlambat ini atau pada Al Qur'an itu sendiri untuk mengetahui asal-usul quran dan islam.
Ada orang lain yang hidup pada waktu itu, yang tinggal dekat dengan kejadian dan telah
meninggalkan kita bahan-bahan yang dapat kita gunakan. Bukti-bukti non-Muslim
36
ditemukan dalam serangkaian naskah literature dalam bahasa Yunani, Syria, Armenia,
Ibrani, Aram, dan Koptik dari masa penaklukan (abad ketujuh) dan seterusnya (Crone
1980:15). Kita juga memiliki beberapa besar tulisan Arab sebelum tanggal tradisi Muslim
(Nevo 1994:109). Namun, semua naskah ini tampaknya banyak yang bertentangan
dengan apa yang tradisi islam dan Al Qur'an katakan. Dan inilah bahan yang telah
terbukti paling membantu dalam menilai apakah Al-Qur'an yaitu Firman benar dan
terakhir dari Allah. yaitu naskah-naskah ini yang umat Islam perlu perhatikan di masa
depan, dan harus mereka jawab. Mari kita melihat apa yang dikatakan oleh dokumen-
dokumen ini:
D.1. Hijrah
Sebuah papirus tertanggal 643 Masehi telah ditemukan yang berbicara mengenai
tahun’dua puluh dua” yang menyarankan sesuatu terjadi pada tahun 622M diantara
orang Arab yang bertepatan dengan tahun dari hijrah (Cook 1983:74). Apa yang
sebenarnya terjadi kita tidak yakin benar, sebab papirus ini tidak memberitahu kita.
Mungkinkah ini tanggal Muhammad pindah dari Mekah ke Madinah, dan tidak lebih dari
itu, atau apakah tahun pada saat penaklukan Arab dimulai? Sementara tradisi Islam
menyebutkan Hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka tidak dapat memberikan sumber
awal (dengan kata lain sumber pada abad ketujuh) yang akan menguatkan historisitas
hijrah ini (Crone-Cook 1977:160). Naskah awal yang kita miliki yaitu sebuah biografi
Arab dalam dari nabi yang dibuktikan dalam papirus periode akhir Umayyah, yang
berkisar tahun 750 M, 100 tahun lebih kemudian (Grohmann 1963:71).
Material informasi berbahasa Arab yang kami miliki (koin, papirus, tulisan) semua
menghilangkan nama periode (batu nisan yang tanggal tahun 29 H ini , yang
banyak dikutip oleh Muslim, dikenal hanya dari sumber sastra yang datang belakangan .
Naskah-naskah Yunani dan Syria menyebut era ini tentang orang Arab, tetapi dua
dokumen gerejawi Nestorian dari 676 M dan 680 M yang memberi kita titik awal sebagai
emigrasi orang Ismael bukan dari satu tempat ke tempat lain di Arab (yaitu dari Mekkah
ke Medinah), tapi dari Arab ke Tanah Perjanjian (Crone-Cook 1977:9,160-161).
Dan apakah tanah yang dijanjikan ini? Sebuah tradisi Islam yang disusun oleh Abu
Dawud memberi kita petunjuk. Ia mengatakan, "akan ada hijrah setelah hijrah, 'tapi
sebaik-baiknya manusia yaitu yang mengikuti hijrah' Abraham." (Abu Dawud
1348:388) Sementara beberapa Muslim mempertahankan bahwa ini harus dipahami
secara teologis yaitu menyiratkan gerakan Abraham dari penyembahan berhala dengan
tauhid, saya pikir lebih baik mempertahankan pemahaman Alkitab Yahudi yaiut Eksodus
Abraham dari Ur-Kasdim ke tanah Kanaan, melalui Haran (Kejadian 11:31-0:05). Jadi
tampaknya lebih mungkin bahwa tanah yang dijanjikan untuk kaum Arab beremigrasi
tidak lain dari garis pantai Syro-Palestina: dari Sidon ke Gaza dan pedalaman , ke kota-
kota Laut Mati Sodom dan Gomora (Kitchen 1993:164). Patricia Crone, dalam artikel
terbarunya berjudul 'Satu Abad Pertama Setelah Hijrah', menemukan dukungan yang
menarik untuk Hijrah keluar Arab. Dalam artikel dia mendaftarkan 57 bukti penguat yang
berasal dari dalam dan luar tradisi Muslim, yang menunjuk pada Hijrah, atau eksodus,
bukan dari Mekah ke Madinah, tetapi dari Arab ke utara, atau kota-kota sekitar garnisun
(Crone 1994:355-363). Ini memang menarik, sebab banyak dari apa yang akan kita
pelajari di sini akan paralel dan menguatkan temuan-temuan ini juga.
Informasi mengenai Hijrah ini memberi kita bukti potensial pertama yang
menunjukkan bahwa banyak data yang ditemukan dalam Qur'an dan tradisi Islam
ternyata tidak sesuai dengan apa yang sumber-sumber eksternal katakan, dan bahwa
37
mungkin ada agenda lain yang bekerja di sini. sebab itu marilah kita lanjutkan untuk
menemukan apa agenda itu.
D.2. Kiblat
Menurut Quran segera setelah Hirah arah doa atau kiblat ditetapkan menghadap
mekkah. Penanggalannya kira-kira tahun 624 M (lihat Surah 2:144, 149-150). Namun,
bukti paling awal dari luar tradisi Muslim yang berkaitan dengan arah kiblat , yang
berimplikasi dengan lokasi tempat suci mereka, mengacu pada tempat yang jauh lebih
ke utara dari Mekkah, bahkan di suatu tempat di barat-laut Arabia (Crone-Cook 1977:
23). Pertimbangkan bukti arkeologi yang telah dan masih terus terungkap dari masjid-
masjid pertama yang dibangun pada abad ketujuh.
Menurut penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Creswell dan Fehervari pada
masjid-masjid kuno di Timur Tengah, rencana mesjid dua lantai dari masjid Umayyah di
Irak, yang dibangun oleh gubernur Hajjaj di Wasit (dicatat oleh Creswell sebagai, "masjid
tertua Islam yang diwarisi kepada kita "- Creswell 1989:41), dan yang lainnya yang
sejaman dengannya dekat Baghdad, memiliki kiblat yang tidak menghadapi Mekah,
tetapi berorientasi terlalu jauh di utara (Creswell 1969:137 ff & 1989:40; Fehervari
1961:89; Crone-Cook 1977:23,173). Masjid Wasit melenceng sekitar 33 derajat dan
Mesjid Baghdad melenceng sekitar 30 derajat (Creswell 1969:137 ff; Fehervari 1961:89).
Temuan ini selaras dengan dengan kesaksian Baladhuri's (yang disebut Futuh)
bahwa Kiblat masjid pertama di Kufa, Irak, yang seyogyanya dibangun pada 670 AD
(Creswell 1989:41), juga terletak di sebelah barat, yang seharusnya langsung menunjuk
ke selatan ( ke Mekkah) (al -Baladhuri 's Futuh, ed oleh de Goeje 1866:276;. Crone
1980:12; Cook Crone-1977:23,173).
Proyek rencana-asli dari Masjid Amr b. al As, yang terletak di Fustat, kota garnisun di
luar Kairo, Mesir menunjukkan bahwa kiblat lagi menunjuk terlalu jauh ke utara dan
harus diperbaiki kemudian di bawah gubernur Qurra b. Sharik (Creswell 1969:37,150).
Menariknya ini selaras dengan tradisi Islam kemudian yang disusun oleh Ahmad b. al-
Maqrizi yang berdoa sedikit menghadap ke tenggara, dan bukan ke arah selatan (1326:6
al-Maqrizi; Crone-Cook 1977:24,173).
Jika Anda mengambil peta Anda akan menemukan kemana titik yang masjid-masjid
ini tunjuk asalnya. Keempat contoh yang ditunjukan di atas mengarahkan posisi
kiblatnya tidak menuju Mekkah, tapi lebih jauh ke utara, sebenarnya lebih dekat ke
sekitar Yerusalem. Jika,beberapa umat Islam sekarang mengatakan, seseorang tidak
harus mengambil temuan ini terlalu serius, sebab banyak masjid bahkan sampai saat ini
arah kiblat yang masih salah arah, maka kita harus bertanya-tanya mengapa, jika kaum
muslim saat itu begitu mampu memastikan arah, mengapa mereka semua menunjuk ke
sebuah lokasi tunggal, untuk suatu tempat di Arabia utara, atau mungkin Yerusalem?
Kami menemukan bukti yg menguatkan lebih lanjut untuk arah kiblat ini dari seorang
penulis Kristen dan pelancong Yakub dari Edessa, yang, menulis hingga akhir 705 M.
Dialah saksi mata-kontemporer di Mesir. Dia mengatakan bahwa kaum Mahgraye di
Mesir berdoa menghadap ke timur ke arah Kabah (Crone-Cook 1977:24). Suratnya
(yang dapat ditemukan di British Museum) memang mengungkapkan sesuatu. saat
menulis di Syria, ia mengacu pada Mahgraye, dan berkata , "Jadi dari semua ini yaitu
jelas bahwa tidak ke selatan bahwa orang Yahudi dan Mahgraye di daerah Suriah sini berdoa,
tetapi ke arah Yerusalem atau Kakbah , tempat patriarkal ras mereka. " (Wright 1870:604)
38
Catatan: Penyebutan dari Ka'bah tidak selalu merujuk ke Mekah (sebagaimana kaum
Muslim langsung mengacu ke kabaah di Mekkah), sebab ada Kabbah-kabbah lain yang
ada selama waktu itu, biasanya di pasar-kota (Crone-Cook 1977 : 25.175). Creswell,
dalam catatan buku tentang 'Arsitektur Muslim awal' (halaman 17) merujuk pada artikel
Finster's, 'Kunst des Orients', yang menyatakan bahwa Finster menuliskan:
"... Menarik perhatian untuk bangunan berbentuk kubus lainnya di Arab, disebutkan
dalam sastra Arab awal, dan menyarankan bahwa Kakbah sehingga bisa menjadi bagian
dari tradisi bangunan Arab." (Creswell 1969:17; Finster 1973:88-98)
yaitu menguntungkan untuk membangun Ka'bah di pasar kota ini sehingga orang
yang datang ke pasar juga bisa melakukan ziarah atau penyesalan kepada dewa yang
ada di dalamnya. Kabbah yang dirujuk oleh Yakub dari Edessa mengacu terletak di
"tempat bapak bangsa-bangsa," yang dia juga mempertahankan tidak di selatan. Baik
Yahudi dan Arab (Mahgraye) mempertahankan keturunan bersama dari Abraham yang
diketahui telah tinggal dan meninggal di Palestina, sebagaimana telah dikuatkan oleh
penemuan-penemuan arkeologi baru-baru ini (lihat diskusi di Ebla, Mari dan tablet Nuzi,
dan tambahan referensi Alkitab abad kesepuluh kepada Abraham McDowell 1991:98-
104). Hal keturunan bersama dari Abraham ini juga dikuatkan oleh penulis sejarah
Armenia sedini 660 AD (Sebeos 1904:94-96; Crone-Cook 1977:8; Cook 1983:75).
Oleh sebab itu, menurut Yakub dari Edessa, hingga akhir 705 AD arah doa menuju
Mekah belum dikanonisasi. Pada tahun 1994 Dr Crone dalam artikelnya "Seabad
Tentang Konsep Hijrah', menambah satu lagi temuan yang bisa menyiratkan Yerusalem
sebagai kiblat awal. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Patricia Carlier di istana
musim panas Khalifah Umayyah mencatat bahwa masjid di istana ini menunjuk
Yerusalem sebagai arah kiblat juga. (Carlier 1989:118 f, 134)
Menurut Dr Hawting, yang mengajar Sumber-sumber Islam di SOAS , London, tidak
ada masjid yang telah ditemukan dari periode ini (abad ketujuh) yang menghadap ke
arah Mekkah (mencatat dari kelas kuliahnya pada tahun 1995). Namun Hawting
memperingatkan bahwa tidak mengarahkan kiblat ke Yerusalem. Beberapa masjid
Yordania menghadap ke utara, sementara ada masjid Afrika Utara mengarahkan
kiblatnya ke Selatan, yang menyiratkan bahwa ada beberapa kebingungan ke mana
tempat suci itu berada. Namun, Al Qur’an menyiratkan bahwa arah kiblat itu telah
ditetapkan ke Mekkah pada tahun 624, dan tetap arahnya sampai sekarang !
Jadi, menurut Crone, Cook, Carlier dan Hawting, kombinasi bukti arkeologi dari Irak
bersama dengan bukti sastra dari Suriah dan Mesir secara bulat mengacu kepada
tempat suci yang bukan di Selatan, melainkan di Barat Laut Arabia (bahkan jauh ke
utara) setidaknya sampai akhir abad ke tujuh. (Crone-Cook 1977:24).
Apa yang terjadi di sini? Mengapa Kiblat dari masjid-masjid awal tidak menghadap
ke Mekkah? Mengapa ada perbedaan antara Qur'an dan yang temuan arkeologi dan
dokumen-dokumen terungkap hingga akhir 705 AD?
Beberapa Muslim berpendapat bahwa mungkin kaum Muslim awal tidak mengetahui
arah Mekah. Namun ingatlah bahwa mereka yaitu pengembara padang gurun !
penghidupan mereka tergantung pada perjalanan padang pasir, yang hanya memiliki
sedikit tonggak petunjuk, dan, sebab badai pasir, tidak ada jalan. Di atas segalanya
mereka tahu bagaimana mengikuti bintang-bintang. Kehidupan mereka tergantung pada
hal itu. Tentu mereka tahu perbedaan antara utara dan selatan.
39
Selain itu, masjid di Irak dan Mesir dibangun di daerah perkotaan beradab, antara
orang-orang moderen saat itu yang juga mahir dalam menemukan arah. Sangat tidak
mungkin jika mereka salah menghitung kiblat dengan derajat begitu banyak. Bagaimana
pula mereka melakukan ibadah yang konon diwajibkan pada saat nabi masih hidup juga
? (pent- haji jika arah kiblatnya saja mengacu ke tempat yang begitu jauh dari Mekkah)
Dan mengapa begitu banyak masjid menghadap ke arah utara Arabia, atau mungkin
Yerusalem?
Jawabannya mungkin ada di tempat lain. Saya berpendapat bahwa ada kemungkinan
dua alasan untuk perbedaan ini:
1. bahwa masih ada hubungan baik antara kaum Arab (yang disebut Hagarin, Saracen
atau Mahgraye) dengan kaum Yahudi, dan untuk itu tidak diperlukan mengganti
kiblat (yang bahkan Al Qur’an sendiri akui tadinya menghadap Yerusalem Surah 2);
dan
2. bahwa Mekkah belum dikenal.
Pertimbangkan hal-hal di bawah ini :
D.3. Kaum Yahudi
Al-Qur'an menunjukkan bahwa Muhammad memutuskan hubungannya dengan
orang Yahudi pada tahun 624 M (atau segera setelah Hijrah pada tahun 622 M ), dan
kemudian memindahkan kiblat pada waktu itu (QS 2:144, 149-150). Namun sumber-
sumber non-Muslim awal menggambarkan hubungan yang baik antara Muslim dan
Yahudi pada saat penaklukan pertama (akhir 620an ), dan bahkan kemudian.
Doktrina Iacobi
Kita ambil contoh kesaksian awal Muhammad dan gerakannya yang tersedia bagi
kita di luar tradisi Islam, yakni sebuah traktat anti-Yahudi berbahasa Yunani disebut
Iacobi Doctrina yang ditulis di Palestina antara 634 dan 640M (Brock 1982:9; Crone-
Cook 1977:3). Traktat itu memperingatkan tentang orang Yahudi yang bercampur
dengan Saracen, dan betapa bahaya jatuh ke tangan orang-orang Yahudi dan Saracen
"(Bonwetsch 1910:88; Cook 1983:75). Pada kenyataannya, hubungan ini tampaknya
menafaskan hak penundukan Yerusalem oleh kaum Yahudi dan Arab sebab sumber
Armenia awal menyebutkan bahwa gubernur Yerusalem pasca penaklukan yaitu
seorang Yahudi (Patkanean 1879:111; Sebeos 1904:103).
Yang penting di sini yaitu kemungkinan bahwa orang-orang Yahudi dan Arab
(Saracen) tampaknya bersekutu selama masa penaklukan Palestina dan bahkan untuk
waktu yang singkat setelah (Crone-Cook 1977:6).
Dalam Doctrina Iacobi keintiman aliansi Yahudi -Arab ini kembali dibuktikan dengan
indikasi adanya permusuhan terhadap kekristenan di beberapa bagian wilayah
penaklukan. Menurut Bonwetsch, naskah ini menyebutkan seorang Yahudi Kristen yang
protes bahwa ia tidak akan menyangkal Kristus sebagai anak Allah bahkan jika orang-
orang Yahudi dan Saracen menangkapnya dan memotong dia untuk potong (Bonwetsch
40
1910:88). Hal ini jelas bahwa penulis percaya bahwa orang-orang Arab dan Yahudi
berada di aliansi secara rukun dalam penaklukannya.
Keaslian catatan ini ditegaskan oleh kompilator besar Sirat Muhammad, Muhammad
ibn Ishaq, dalam dokumen yang dikenal sebagai Konstitusi Madinah. "Dalam dokumen
ini orang-orang Yahudi ditampilkan sebagai satu elemen pembentuk masyarakat
(ummah) bersama dengan kaum beriman (muslim) meskipun mereka memeluk agama
mereka sendiri dan tersebar di antara beberapa suku Arab (Gottingen 1859:342;
Guillaume 1955:233; Crone-Cook 1977:7 ). sebab , menurut baik Crone dan Cook
dokumen ini salah satu unsur yang paling kuno dari tradisi Islam, kesesuaian dengan
catatan eksternal awal asal-usul Islam ini sangat signifikan (Crone-Cook 1977:7).
Jika saksi-saksi dokumen ini benar , maka kita harus bertanya bagaimana bisa kaum
Yahudi dan Saracen (Arab) bersekutu sampai setidaknya 640 M, manakala menurut Al-
Qur'an, Muhammad memutuskan hubungan dengan orang-orang Yahudi sejak 624 AD,
lebih dari 15 tahun yang sebelumnya?
Kitab Sejarah Armenia tahun 660 M
Untuk menjawab pertanyaan di atas kita perlu merujuk kepada catatan yang
berkaitan dengan karir awal sang nabi, yang tertulis dalam Dokumen Sejarah Armenia
ditulis oleh Uskup Sebeos sekitar tahun 660 M, (Sebeos 1904:94-96; Crone-Cook 1977
: 6). Penulis sejarah ini menjelaskan bagaimana Muhammad mendirikan sebuah
komunitas yang terdiri dari kaum Ismael (Arab misalnya) dan Yahudi, dan bahwa
platform bersama mereka yaitu sebagai sesama keturunan Abraham, Arab melalui
Ismael, dan Yahudi melalui Ishak (Sebeos 1904:94-96; Crone -Cook 1977:8; Cook
1983:75). Penulis sejarah percaya bahwa Muhammad telah memberkahi kedua
masyarakat ini dengan hak kesulungan ke Tanah Suci, sementara secara bersamaan
mengajarkan mereka dengan silsilah monoteis (Crone-Cook 1977:8). Ini bukan tanpa
preseden sebab idea tentang hak kesulungan Ismael ke Tanah Suci itu sebelumnya
dibahas dan ditolak di kitab Genesis Rabbah (61:7), di Talmud Babilonia dan dalam
Kitab Yobel (Crone-Cook 1977:159).
Dengan demikian visi Muhammad bukan hanya Arab, tetapi berorientasi pada
Palestina, dan secara istimewa bersama dengan kaum Yahudi (Crone-Cook 1977:8),
menurut karya yang dilakukan oleh JB Chabot secara independent dikuatkan dalam
tradisi Sejarah Yakobit (Chabot 1910:405).
Yang menarik, menurut penelitian yang dilakukan oleh Crone dan Cook, orientasi
Palestina bertahan bahkan dalam tradisi islam yang kemudian, dimana Palestina
disamarkan sebagai Suriah (Crone-Cook 1977:158). Kita hanya perlu mengacu pada
tulisan Abu Dawud Sulayman b. al-Ash'ath al-Sijistani, dan Ahmad b. Muhammad bin
Hanbal untuk menemukan bahwa nabi merekomendasikan Suriah sebagai lahan yang
dipilih oleh Allah untuk memilih hamba-hamba-Nya (Abu Dawud ... 1348:388; Ahmad b.
Muhammad bin Hanbal 1313:33 f; Munajid 1951:47-74). Kesimpulan ini juga cocok
dengan pernyataan yang disebutkan sebelumnya oleh Crone tentang Hijrah Arab, atau
eksodus, dari Arab ke utara, bukan hanya antar kota di Arabia, yaitu Mekkah ke
Madinah.
41
Perpecahan antara Yahudi dan Arab, menurut penulis sejarah Armenia dari 660 AD,
datang segera setelah penaklukan Yerusalem dari 640 AD (Sebeos 1904:98).
Sekali lagi kita menemukan beberapa sumber non-muslim bertentangan dengan Al
Qur'an, yang mempertahankan bahwa ada hubungan yang baik antara Arab dan Yahudi
untuk setidaknya lebih dari 15 tahun melampaui apa yang Al Qur’an tulsikan.
Jika Palestina yaitu fokus bagi kaum Arab, maka keberadaan kota Mekkah patut
dipertanyakan.
D.4. Mekkah
Muslim mempertahankan bahwa "Mekah yaitu pusat Islam, dan pusat sejarah."
Menurut Al-Qur'an, "Tempat suci pertama yang ditunjuk untuk umat manusia yaitu
Bakkah (atau Mekkah), tempat yang diberkati, menjadi petunjuk bagi bangsa-bangsa."
(QS 3:96) Dalam Surah 6:92 dan 42:5 kita menemukan bahwa Mekah yaitu "ibu dari
semua permukiman."
Menurut tradisi Muslim, Adam menempatkan batu hitam di Ka'bah asli sana,
sedang menurut Al-Qur'an (QS 2:125-127) itu yaitu Abraham dan Ismail yang
membangun kembali Kabah beberapa tahun sesudahnya. Hal ini berimplikasi bahwa
Mekah dianggap oleh umat Islam sebagai kota pertama dan paling penting di dunia!
Terlepas dari kesulitan yang jelas dalam mencari bukti dokumenter atau arkeologi
apapun bahwa Abraham pernah pergi ke atau tinggal di Mekah, masalah utama terletak
dalam menemukan setiap rujukan untuk kota sebelum kemunculan Islam. Dari riset yang
dilakukan oleh baik Crone dan Cook, rujukan awal dan satu-satunya kepada Mekkah
yaitu adanya sebuah kesimpulan kepada sebuah kota yang bernama "Makoraba" oleh
Ptolemeus seorang ahli bumi Yunani-Mesir di pertengahan abad ke-2. Meskipun kita
bahkan tidak yakin apakah penyebutan tempat ini oleh Ptolemy mengacu pada Mekah
atau bukan, sebab ia hanya menyebutkan namanya secara sepintas.
Selanjutnya, menurut Dr Crone, tiga huruf akar bahasa Arab untuk Mekah (MKK)
sama sekali tidak sesuai dengan tiga akar huruf Arab untuk Makoraba (KRB) (sebab
huruf 'ma-' yang mendahului 'koraba' menandakan 'tempat'). Dengan demikian, sama
sekali tidak ada laporan tentang Mekah atau Kabbah di dokumen kuno otentik ! Itu
berlaku sampai akhir abad ketujuh (Cook-74; Crone-Cook 1977:22). Bahkan, mereka
mempertahankan, "referensi paling awal ditemukan di satu versi kitab Apokalips Psude-
Metodius versi bahasa Siriah. (Crone-Cook 1977:22,171).
Namun, walaupun kitab apokalips itu sendiri berasal dari akhir abad ketujuh,
referensi ke Mekah hanya ditemukan di salinan terkemudian, dan tidak hadir dalam
tradisi Eropa atau tradisi Suriah belakangan, dan tidak pernah ada dalam Codex
Vatikan, 'yang oleh etymologis anggap sebagai teks paling awal (rujukan diskusi pada
pembahasan lihat catatan antara Nau dan Kmosko pada catatan "7", hal. 171, dalam
Crone & Cook, Hagarism: 1977).
Referensi selanjutnya ke Mekah, menurut Crone dan Cook, muncul di Continuatio
Byzantia Arabika, yang merupakan sumber yang berasal dari awal masa pemerintahan
khalifah Hisyam, yang memerintah antara 724-743 AD (Crone-Cook 1977:22,171).
42
Oleh sebab itu, bukti awal yang paling menguatkan yang kita miliki tentang
kberadaan kota Mekkah benar-benar baru ada 100 tahun setelah tanggal yang dirujuk
oleh Tradisi Islam dan Quran.
Mengapa? Jika Mekkah yaitu kota yang begitu penting, tentu saja seseorang, di
suatu tempat, akan pernah merujuk atau menyebut-nyebutkanya. Namun kita tidak
menemukan apa-apa di luar kesimpulan kecil oleh Ptolemy 500 tahun sebelumnya, dan
laporan awal pada abad ketujuh akhir dan kedelapan awal.
Dan itu belum semua, sebab muslim berpendapat bahwa Mekah itu bukan kota kuno
dan besar, tetapi juga pusat rute perdagangan untuk Saudi pada abad ketujuh dan
sebelumnya (Cook 1983:74; Crone 1987:3-6 ).
Namun, menurut penelitian yang luas oleh Bulliet tentang sejarah perdagangan di
Timur-Tengah kuno, klaim-klaim oleh umat Islam jelas keliru, sebab Mekah melulu tidak
terletak pada rute perdagangan utama. Alasan untuk ini, ia berpendapat, bahwa, "Mekah
ini terletak di tepi semenanjung. Hanya oleh pembacaan peta yang paling dipaksakan
maka Mekkah bisa digambarkan sebagai persimpangan alami antara rute utara-selatan
dan barat-timur salah satu . " (Bulliet 1975:105)
Hal ini dikuatkan oleh penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Groom dan Muller,
yang berpendapat bahwa Mekah benar-benar tidak mungkin berada di jalur
perdagangan, sebab akan mensyaratkan jalan memutar dari rute yang seharusnya.
Bahkan mereka akan menjauhi rute perdagangan yang harus dilewati beberapa
seratus mil jika bersikeras melewati Mekkah (Groom 1981:193; Muller 1978:723).
Patricia Crone, dalam karyanya tentang Meccan Trade and the Rise of Islam
menambahkan alasan praktis yang terlalu sering diabaikan oleh para sejarawan
sebelumnya. Dia menunjukkan bahwa, Mekkah yaitu tempat yang tandus, dan tempat-
tempat tandus tidak menyediakan penghentian alami (pent: maksudnya seperti tempat-
tempat teduh bagi para pemilk Caravan untuk beristirahat) , dan paling tidak saat bagi
mereka untuk menemukan lingkngan hijau pada jarak yang cukup dekat. Mengapa para
kafilah harus mengarungi perjalanan curam lembah tandus Mekah saat mereka bisa
berhenti di Thaif? Mekah tentu saja memiliki baik tempat kudus maupun sumur, namun
begitu pula Thaif, yang memiliki persediaan makanan, juga "(Crone 1987:6-7; Crone-.
Cook 1977:22).
Selanjutnya, Patricia Crone bertanya, "Komoditas apa yang tersedia di Arabia yang dapat
diangkut dengan jarak seperti itu, melalui lingkungan yang tak ramah, dan masih laku dijual
dengan keuntungan yang cukup besar untuk mendukung pertumbuhan sebuah kota di sebuah
daerah yang dikelilingi keterbatasan sumber alam yang begitu menyolok?" (Crone 1987:7)
Bukanlah dupa, rempah-rempah atau barang eksotis lainnya seperti yang banyak
penulis awal, yang sungguh tak dapat diandalkan keakuratannya tulisannya, telah
isyaratkan (lihat diskusi Crone tentang masalah akurasi sejarah, terutama antara
Lammens, Watts dan Kister, (Meccan Trade, 1987: 3).
Dalam pemaparan studi-nya di buku Meccan Trade and The Rise of Islam, Dr Crone
menunjukkan bahwa dari lima belas rempah-rempah yang dikaitkan ke Mekah: enam
jenis tidak ditemukan sebelum abad keenam, dua jenis diimpor lewat laut; dua jenis,
secara eksklusif dari Afrika Timur- yang berarti bukan dari Arab atau khas Arab, dua lagi
kurang bisa dipercaya dan tidak pernah diperdagangkan, satu jenis bermasalah dalam
identitas, dan dua lagi tidak dapat diidentifikasi sama sekali (Crone 1987:51-83).
Akibatnya, tak satu pun dari lima belas rempah-rempah dapat dikaitkan ke Mekkah. Jadi
perdagangan apa yang terkenal yang bisa dikaitkan dengan kota Mekkah? Beberapa
43
Muslim mempertahankan itu perbankan atau mungkin penggembalaan unta, namun
bagaimana mungkin dalam lingkungan setandus itu?
Menurut penelitian terbaru dan jauh lebih dapat diandalkan yang dilakukan oleh
Kister dan Sprenger, orang Arab terlibat dalam perdagangan dari jenis yang sangat
mendasar, yakni kulit dan pakaian; yang hampir tidak mungkin mampu menjadi
konglomerasi dalam dimensi internasional (Kister 1965:116; Sprenger 1869:94). (pent. :
maksudnya perdagangan dengan basic item seperti itu tidak memungkinkan untuk
memunculkan pergerakan dengan tentara yang massive dan professional seperti dalam
kisah-kisah peperangan Muhammad. Ini berimplikasi bahwa pergerakan awal Islam
bukanlah di Mekkah).
Bagaimanapun, masalah nyata dengan Mekah yaitu bahwa tidak ada perdagangan
internasional yang terjadi di Arabia, apalagi di Mekkah, dalam satu abad sebelum
kelahiran Muhammad. Tampaknya banyak data kita miliki tentang daerah ini telah
diambil dari luar kawasan sebenarnya, sebab penelitian ceroboh dari sumber asli yang
dilakukan oleh Lammens, "seorang sarjana tidak bisa diandalkan," dan diulangi oleh
orientalis besar seperti Watts, Shaban, Rodinson , Hitti, Lewis dan Shahid (Crone
1987:3,6). Lammens memakai sumber-sumber abad pertama (seperti Periplus - 50
AD - dan Pliny - 79 AD) seharusnya memakai data enam abad kemudian karangan
sejarawan Yunani, Bizantium dan Mesir yang dekat dengan kejadian munculnya Islam
(seperti Cosmas, Procopius dan Theodoretus - Crone 1987 :3,19-22, 44). sebab
mereka tidak hanya pedagang, wisatawan dan geografi, tetapi sejarawan, mereka tahu
area dan periode dan sebab itu akan memberikan gambaran yang lebih akurat.
Seandainya Lammens merujuk pada sejarawan-sejarawan ini , maka ia akan
menemukan bahwa perdagangan Yunani antara India dan Mediterania sepenuhnya
lewat jalur maritim setelah abad pertama Masehi (Crone 1987:29). Orang hanya perlu
melihat peta untuk mengerti alasannya. yaitu tidak masuk akal untuk mengirimkan
barang-barang melintasi jarak ini lewat darat saat jalur air tersedia. Patricia
Crone menunjukkan bahwa di masa kaisar Diocletian (berkuasa di Roma 284 – 305 M)
lebih murah untuk kapal gandum melewati laut sejauh 1.250 mil daripada
mengangkutnya dengan tanah sejauh 50 mil (Crone 1987:7). Jarak dari Najran, Yaman
di selatan, ke Gaza di sebelah utara yaitu sekitar 1.250 mil. Untuk apa kapal-kapal
pedagang dari India melaut sampai ke Aden, Yaman, lalu membongkarnya untuk
diletakkan pada punggung unta yang jauh lebih lambat dan lebih mahal demi melintasi
padang pasir Arab yang tidak ramah sampai ke Gaza, saat mereka bisa membawanya
terus di kapal dan mengikuti rute Laut Merah sampai pantai barat Arabia?
Dan tetap ada masalah lain juga. Seandainya Lammens meneliti sumber-sumbernya
dengan benar, ia juga akan menemukan bahwa perdagangan Yunani-Romawi runtuh
menjelang abad ketiga Masehi, sehingga pada saat Muhammad hanya ada rute darat,
dan ada pasar Romawi dimana barang-barang akan ditujukan (Crone 1987 : 29). Dia
akan juga menemukan bahwa bentuk perdagangan yang tersisa ternyata dikendalikan
oleh orang Etiopia dan bukan Arab, dan bahwa kota Adulis di pantai Ethiopia Laut Merah
dan bukan Mekah yaitu pusat perdagangan di daerah itu (Crone 1987:11, 41-42 ).
Bahkan yang lebih penting lagi, seandainya Lammens meluangkan waktu untuk
mempelajari sumber-sumber Yunani awal, ia akan menemukan bahwa orang-orang
Yunani, kepada siapa perdagangan ditujukan, bahkan tidak pernah mendengar apapun
tentang suatu tempat bernama Mekah (Crone 1987:11,41-42). Jika Mekkah benar-benar
begitu penting, menurut tradisi Muslim dan orientalis baru-baru ini, tentu si penerima
barang itu akan mencatat keberadaannya. Namun, kita tidak menemukan apa-apa.
Crone dalam risetnya menunjukkan bahwa dokumen-dokumen perdagangan Yunani
44
merujuk pada kota Thaif (yang dekat dengan Mekah sekarang), dan ke Yathrib (yang
kemudian disebut Madinah), dan Kaybar di utara, namun tidak disebutkan apa-apa
tentang Mekah (Crone 1987:11). Bahkan dinasti Sassanid Persia, yang pernah
menyerang Arab antara tahun 309 dan 570 Masehi menyebutkan menara kota Yatsrib
(Madinah) dan Tihama, tapi tidak Mekkah (Crone 1987:46-50). Hal ini memang sangat
mengganggu.
Seandainya para orientalis yang baru-baru ini meluangkan waktu untuk memeriksa
sumber-sumber yang Lammens gunakan, mereka juga akan menyadari bahwa sejak
jalur darat itu tidak digunakan setelah abad pertama Masehi, tentu saja jalur itu
digunakan pada abad kelima atau keenam (Crone 1987:42), dan banyak dari apa yang
telah ditulis mengenai Mekah harus diperbaiki sebelumnya.
Akhirnya, masalah lokasi Mekah dalam sumber-sumber sekuler awal tidaklah unik ,
bahkan ada beberapa kebingungan dalam tradisi Islam di mana tepatnya Mekah pada
awalnya terletak (lihat diskusi pada evolusi dari situs Mekah di Crone & Cook Hagarism
1977 : 23.173). Menurut riset yang dilakukan oleh J.van Ess, baik dalam perang sipil
pertama dan kedua, ada catatan tentang orang-orang bepergian dari Madinah ke Irak
melalui Mekah (van Ess 1971:16, lihat juga Muhammad b. Ahmad al-Dhahabi 1369:
343). Namun Mekah terletak di sebelah tenggara Madinah, dan Irak yaitu utara-timur.
Jadi tempat kudus bagi Islam, menurut tradisi-tradisi itu berada si sebelah utara
Madinah, yang merupakan arah yang berlawanan dari mana Mekah saat ini!
Kita dibiarkan dalam kebingungan. Jika Mekah bukan pusat komersial besar seperti
tradisi-tradisi Muslim ingin kita percayai, kalau Mekkah tidak diketahui dan ditulis oleh
orang-orang yang hidup pada jaman itu, dan jika tidak bisa memenuhi syarat sebagai
sebuah kota pada zaman Muhammad, tentu Mekkah tidak bisa menjadi pusat dunia
Islam pada waktu itu. Kalau begitu kota mana yang jadi pusat dunia islam? Jawabannya
yaitu tidak begitu sulit ditebak, seperti yang telah diisyaratkan sebelumnya.
Tampaknya Yerusalem dan bukan Mekah yaitu pusat dan tempat suci kaum Haggarin
atau Maghrabi (nama awal diberikan kepada orang-orang Arab) sampai sekitar 700 M.
Diskusi-diskusi di awal mengenai Hijrah, kiblat, dan Yahudi menunjukkan bahwa itu
yaitu ke arah utara, mungkin Palestina bahwa Hijrah diarahkan, bahwa tempat di
daerah barat-laut Arab saat kaum Hagarin berpaling untuk berdoa, dan bahwa itu
yaitu tujuan dimana mereka bersama orang-orang Yahudi melakukan penaklukan
(Crone-Cook 1977:9,160-161,23-24,6-9). Belum lagi kita tambahkan fakta lain yang
dapat membantu kita pada keyakinan ini:
D.5. Kubah Batu / Dome of The Rock (Qubbat al Sakhra)
Di tengah-tengah Yerusalem berdirilah bangunan mengesankan yang dikenal
sebagai Kubah Emas atau Mesjid Kubah Emas (bhs. Inggris Dome of The Rock) yang
dibangun oleh Abd al-Malik pada tahun 691 Masehi. Bagaimanapun kita akan mengenal
bahwa Kubah Emas ini bukanlah sebuah mesjid, sebab ia tidak memiliki kiblat.
Bangunan ini berbentuk octagonal atau bersegi delapan dengan delapan pilar (Nevo
1994:113), dimaksudkan sebagai tempat untuk melakukan waqaf / pradaksina (berjalan
mengitari). Dengan demikian, tampaknya bangun ini dimaksudkan sebagai tempat
perlindungan (glasse 1991:102). Saat ini dianggap sebagai situs ketiga paling suci ketiga
dalam agama Islam setelah Mekkah dan Madinah. Muslim berpendapat bahwa itu
dibangun untuk memperingati malam saat Muhammad pergi ke surga untuk berbicara
45
dengan Musa dan Allah menyoal berapa kali jumlah shalat yang harus dilakukan oleh
umat (dikenal sebagai Miraj dalam bahasa Arab) (glasse 1991:102).
Namun, menurut riset yang dilakukan pada inskripsi yang terpahat di sana oleh Van
Berchem dan Nevo, tanggal penulisan paling awal dari inskiripsi itu tidak mengatakan
apa-apa tentang Mi'raj, tetapi hanya berisi kutipan yang menyoal polemik yang bernada
pesan quran, meskipun inskripsi itu hanya bertujuan terutama pada orang Kristen.
Umat Islam akan segera menunjukkan Surah 17:01 dan 2:143-145, yang berbicara
tentang 'tempat yang tak dapat diganggu gugat' dan 'perubahan kiblat', dapat ditemukan
pada inskripsi drum kubah dan ambang pintu yang menghadap ke selatan. Mereka akan
melakukannya dengan baik untuk membaca sejarah inskripsi ini . Namun apa
sebenarnya terjadi yaitu bahwa baik inskripsi ini tidak asli, tidak pula inskripsi ini
berusia tua. Keseluruhan kubah dibangun kembali oleh al Zaher Li-L'zaz pada tahun
1022 M akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1016 Masehi (Duncan 1972:46).
Drum itu dibangun kembali pada 1318 M (Creswell 1969:30), tetapi inskrisinya (baik
Surah 36 bagian bawah dan Surah 17 bagian atas ) tidak ditambahkan sampai 1876
Masehi oleh Abdul Hamid II (Duncan 1972:66). Pintu-pintu yang ada pada saat ini
(dimana Surah 2:144 ditemukan) tidak didirikan sampai 1545 AD (Creswell 1969:26). Di
bagian selatan dimana ditulis Surah 2:143-145 tidak dibangun sampai 1817 M oleh
Sultan Mahmud (Duncan 1972:64). Jadi, sekali kita membaca sejarah kubah, kita
menemukan bahwa tak satupun dari dua Surah ini ini ditulis saat kubah itu dibangun
oleh Abdul Malik pada tahun 691 M.
Prasasti paling awal, sejauh yang kita bisa buktikan, hanya berbicara tentang status
mesianik Yesus, penerimaan para nabi, penerimaan wahyu oleh Muhammad wahyu,
dan penggunaan istilah "islam" dan "muslim" (Van Berchem 1927: nos.215, 217; Nevo
1994:113). Harus dicatat, bagaimanapun, bahwa bahkan tanggal awalan ini meragukan
disebab kan adanya perbedaan desain pada plar-pilar penyangga berdasarkan catatan
seorang Persia Nasir i Khusran di 1047 AD (lihat Duncan 1972: 44-46).
Jika tempat suci ini dibangun ditujukan untuk mengenang peristiwa sejarah penting
dalam kehidupan sang nabi (yakni Mi'raj), mengapa tidak ada inskripsi awal terlihat itu?
Tidak ditemukan dalam inskripsi itu entah menyebutkan perjalanan malam ke surga,
menaiki kuda bersayap, Buraq, juga tidak menyebutkan dialog Muhammad dengan
Musa pertama –tama dan kemudian dengan Allah, atau tentang shalat lima waktu
sehari, yang konon tujuan utama dari pendirian tempat suci itu !
Bagaimana hal ini bisa dijelaskan? Penjelasan yang mungkin yaitu bahwa cerita
tentang Mi'raj sama sekali tidak ada saat ini, tetapi dikarang di kemudian hari selama
periode Abbasiyah (setelah 750 AD). Hal ini tidak sulit untuk memahami saat
seseorang menyadari bahwa gagasan dari shalat lima waktu dirangkai saat itu juga.
Rujukan untuk shalat di Quran hanya ada di Surah 11:114, 17:78-79, 20:130, dan 30:17-
18 (meskipun ada keraguan apakah mereka semua berbicara tentang shalat doa, atau
apakah mereka berbicara tentang pujian [sabaha]). Apa yang kita temukan dalam
rujukan ini yaitu shalat wajib tiga kali. Ayat-ayat ini tidak berbicara tentang 5 kali sehari
(meskipun banyak komentator muslim berusaha keras untuk menambahkan kedua
shalat yang tak ditulis itu entah shalat subuh atau isha, melalui pembacaan yang
dipaksakan.)
Kisah Isra Miraj konon terjadi saat Muhammad tinggal di Madinah (paling mungkin
sekitar 624M). Namun saat kita merujuk pada Hadis yang dikumpulkan 200 – 250
tahun kemudian, kita mendapati bahwa tidak hanya shalat lima waktu saja yang
diperdebatkan, tentang bagaimana shalat dilakukan. Jika Quran yaitu firman allah,
46
mengapa tidak diketahui berapa kali muslim harus shalat dalam sehari? Dan lebih jauh
lagi, jika Kubah Emas dibangun untuk memperingati kejadian yang momentum,
mengapa quran tidak dibicarakan apa-apa sampai 100 tahun kemudian? Nampaknya
jelas bahwa bangunan itu asalnya didirikan bukan untuk tujuan memperingati Isra Miraj.
Fakta bahwa bangunan mengesankan itu berdiri lebih awal, memberi petunjuk bahwa
tempat ini yaitu sanctuary dan pusat islam sampai setidaknya abad 7 M dan bukan
Mekkah (Van Bercham 1927:217)!
Dari apa yang kita baca sebelumnya tentang tujuan Muhammad untuk memenuhi
hak waris yang ia dan kaumnya, Hagarin, miliki untuk kembali ke tanah Perjanjian, atau
Palestina, yaitu masuk akal jika Abdul Malik mendirikan bangunan ini sebagai titik
pusat dari penggenapan tujuan itu. Dan tidak aneh apabila Abdul Malik membangun
kubah dimana ia memproklamasikan misi kenabian Muhammad, lalu ia menaruhnya di
atas bangunan itu sendiri (Van Berchem 1927:217).
Menurut tradisi Islam, Kalifah Sulaeman, yang berkuasa paling tidak 715-717 AD,
pergi ke mekkah untuk bertanya tentang ibadah haji. Ia tidak puas dengan jawaban yang
ia terima disana, dan memilih untuk mengikuti Abdul Malik, yakni mengitari Kubah Batu
(catatan: jangan tertukar dengan Imam Malik bin Anas yang baru berumur 3 tahun saja
pada saat itu, sebab terlahir tahun 712 M). Dari fakta ini saja, menurut Dr. Hawting dari
SOAS, menunjukkan bahwa masih terdapat kebingungan sampai awal abad ke delapan
tentang bangunan suci yang mana yang harusnya jadi acuan. Kelihatannya baru baru
saat ini saja Mekkah mengambil tempat sebagai pusat keagamaan islam. Untuk itu kita
mulai mengerti mengapa, berdasarkan tradisi, Walid I, yang berkuasa sebagai kalifah
antara tahun 705 – 715 M, menuliskan kepada semua wilayah yang menitahkan
perombakan dan pelebaran mesjid (mengacu pada 'Kitab al-'uyun wa'l-hada'iq,' yang
diedit oleh M. de Goeje dan P. de Jong 1869:4). Mungkinkah pada saat ini kiblat
diarahkan ke Mekkah? Jika demikian, ini menunjukkan suatu kontradiksi lagi terhadap
Quran yang mensahkan Mekkah sebagai tempat suci, dan kemudian arah kiblat, 80 - 90
tahun setelah Muhammad meninggal. (lihat Surah 2:144-150).
Dan itu bukanlah satu-satunya masalah. Sebab kita masih memilki bukti arkeologis dan
manuskrip yang menunjukkan perbedaan dengan apa yang kita baca di dalam Quran.
D.6. Muhammad
Tulisan-tulisan para penulis sejarah Armenia dari sekitar 660 M ( telah disebut
sebelumnya) memberi kita narasi paling awal dari karir Muhammad yang masih ada
sampai saat ini dibanding dalam bahasa apa pun, yang menyatakan bahwa Muhammad
yaitu seorang pedagang yang berbicara banyak tentang Abraham, sehingga hal ini
memberikan kita bukti sejarah awal keberadaan Muhammad (Cook 1983:73). Namun
penulis sejarah ini tidak mengatakan apa-apa tentang kenabian universal dari
Muhammad, hanya mengisyaratkan bahwa ia seorang nabi lokal.
Bahkan dokumen Islam awal, menurut Dr John Wansbrough, tidak mengatakan
apapun tentang kenabian yang diklaim bersifat universal. Catatan Maghazi, yang
Wansbrough rujuk yang memuat cerita tentang pertempuran nabi dan kampanye, yaitu
dokumen-dokumen Islam yang paling awal yang kita miliki (Wansbrough 1978:119).
Mereka seharusnya memberi kita gambaran terbaik waktu itu, namun mereka hanya
menceritakan sedikit tentang kehidupan Muhammad atau ajarannya. Bahkan, tak satu
47
bagianpun dalam dokumen ini terdapat penghormatan terhadap Muhammad sebagai
nabi! Jika, menurut Al Quran, Muhammad dikenal terutama sebagai "segel dari semua
nabi" (QS 33:40), maka mengapa dokumen-dokumen ini tidak berkata apa-apa sama
sekali tentang hal yang sangat penting ini ?
Analisa Nevo Pada Prasasti-Prasasti
Untuk mengenal siapa Muhammad dan apa yang dia lakukan, kita harus kembali ke
waktu saat ia hidup dan melihat bukti yang ada pada saat itu. dan masih ada sampai
sekarang, untuk melihat informasi apa yang bisa memberitahu kita tentang tokoh yang
sangat penting ini. Wansbrough, yang telah melakukan penelitian yang begitu banyak
pada tradisi awal dan Al Quran berpendapat bahwa, sebab sumber-sumber Islam
semua sangat terlambat, dari 150 tahun untuk dokumen Sira-Maghazi, dan Al Qur'an
yang paling awal, mengharuskan kita untuk tidak menganggapnya otoritatif
(Wansbrough 1977:160-163; Rippin 1985:154-155). yaitu saat kita melihat dari
sumber-sumber non-muslim maka kita menemukan beberapa peringatan yang agak
menarik siapa manusia Muhammad ini.
Sumber non-muslim terbaik berasal dari Saudi abad ketujuh yang kita miliki yaitu
yang ditunjukan oleh batu prasasti Arab yang tersebar di seluruh gurun Siro-Yordania
dan Semenanjung Arab, dan terutama padang pasir Negev (Nevo 1994:109). yaitu
Yehuda Nevo dari Universitas Ibrani Yerusalem.yang telah melakukan penelitian
terbesar pada batu prasasti ini . Dan sumber yang akan saya rujuk ini berasal dari
penelitian Yehuda Nevo yang ia tulis dalam bukunya berjudul Towards a Prehestory of
Islam, yang diterbitkan pada tahun 1994.
Nevo menemukan dalam teks-teks relijius Arab berasal dari 150 tahun pertama
berkuasanya bangsa Arab, sebuah keyakinan monoteis. Namun, ia berpendapat bahwa
kredo ini "menunjukkan bukan Islam, tetapi [sebuah kredo] yang darinya Islam mungkin
berkembang." (Nevo 1994:109)
Nevo juga menemukan bahwa "di semua lembaga keagamaan Arab selama periode
Sufyani [661-684 AD] benar-benar tidak pernah ada rujukan kepada nama Muhammad." (Nevo
1994:109). Faktanya tidak nama Muhammad, tidak pula formula yang merujuk pada
Muhammad (bahwa ia yaitu nabi Allah) tertulis pada setiap prasasti tertanggal
sebelum tahun 691 Masehi. Hal ini terbukti, entah tujuan utama dari prasasti bersifat
agamawi, seperti misalnya doa, atau apakah itu digunakan sebagai prasasti peringatan,
yang mana seharusnya ada kandungan penekanan keagamaan, seperti prasasti di
bendungan dekat kota Thaif yang dibangun oleh Muawiyah Khalifah dalam AD 660s
(Nevo 1994:109).
Fakta bahwa nama Muhammad tidak pernah hadir pada semua prasasti awal,
terutama yang bersifat relijius yaitu signifikan. Padahal banyak catatan dari tradisi
kemudian (yaitu Sirah dan Hadis, yang merupakan literatur Muslim awal yang kita miliki)
dikarang hampir seluruhnya berdasarkan kisah kehidupan nabi. Dia yaitu contoh yang
harus diikuti semua muslim. Lalu mengapa kita tidak menemukan penekanan yang sama
dalam tulisan-tulisan Arab yang jauh lebih awal yang sebenarnya lebih mendekati jaman
dimana ia hidup? Bahkan yang lebih merisaukan lagi, mengapa namanya tidak disebut-
sebut sama sekali? Namanya hanya baru ditemukan pada prasasti Arab setelah 690 AD
(Nevo 1994:109-110).
48
Dan apa lagi, tanggal kemunculan pertama frase ‘Muhammad rasul Allah’ ditemukan
pada koin Arab-Sassanian dari Xalid bin Abdallah dari tahun 690 Masehi, yang
melimpah di Damaskus (Nevo 1994:110).
Yang lebih mencolok lagi, penampilan pertama dari apa yang Nevo sebut sebagai
“Syahadat Berlapis tiga” (triple Confession of faith), yang meliputi Tauhid (bahwa Allah
yaitu satu), kalimat Muhammad Rasul Allah (bahwa Muhammad yaitu utusan-Nya ,
dan sifat kemanusiaan Yesus (rasul Allah wa-abduhu), ditemukan dalam prasasti Abd al-
Malik di Kubah Batu di Yerusalem, tertanggal 691 AD (Nevo 1994:110)! Sebelum tulisan
ini pengakuan iman Muslim tidak dapat dibuktikan sama sekali. Harus dicatat,
bagaimanapun, bahwa tanggal tulisan ini bisa sendiri jauh kemudian , yakni sekitar 1022
AD yang mungkin ditambahkan oleh al Zaher Li-L'zaz saat ia membangun kembali
tembok melingkar (ambulatories) dalam dan luar di mana di sebelah atasnya prasasti itu
terletak (Duncan 1972 : 46).
Sebagai aturan, setelah 691 AD dan semua melalui dinasti Marwanid (sampai 750
AD), nama Muhammad biasanya muncul manakala rumus keagamaan digunakan,
seperti pada koin, tonggak, dan papirus "protokol" papyrus (Nevo 1994:110).
Mungkin kita bisa berargumen bahwa bisa saja tanggal-tanggal kemunculan nama
Muhammad ini terlambat disebab kan fakta bahwa gagasan-gagasan agama memang
memerlukan waktu untuk bisa dijadikan prasasti Arab. Namun, menurut Nevo, papirus
bahasa Arab pertama, seorang entaqion Mesir, yang merupakan tanda terima pajak
yang dibayar, tertanggal 642 AD dan ditulis dalam Yunani dan Arab yang dimulai dengan
kata "Basmala," namun tidak bercorak Kristen tidak pula bercorak Islam (Nevo
1994:110).
Konten relijius dalam prasasti-prasasti batu itu tidak menonjol sampai setelah 661 M.
Namun, meskipun mereka membawa-bawa teks-teks relijius, mereka tidak pernah
menyebutkan nabi atau formula muslim apapun (Nevo 1994:110). "Ini berarti," menurut
Nevo, "bahwa pengakuan agama resmi Arab tidak menyertakan Muhammad atau formula
muslim lainnya dalam frasa repertoar mereka saat itu selama 60 tahun penuh dan bahkan lebih
setelah kematian Muhammad.” (Nevo 1994:110 ). Apa yang prasasti-prasasti itu indikasikan
yaitu bahwa ia yaitu suatu bentuk kepercayaan monoteis, yang dimiliki oleh suatu
literatur sekte dengan konsepsi Yahudi-kristen yang dikembangkan dalam dalam gaya
sastra tertentu, tapi tidak berisi fitur spesifik setiap agama monoteisme dikenal (Nevo
1994:110,112).
Signifikansi yang lebih besar lagi, prasasti ini menunjukkan bahwa saat rumus
muslim diperkenalkan, selama periode Marwanid (pasca 684 AD), itu dilakukan "hampir
semalam" (Nevo 1994:110). Tiba-tiba a menjadi satu-satunya bentuk deklarasi
keagamaan resmi negara, dan digunakan secara eksklusif dalam dokumen formal dan
prasasti, seperti "protokol" papirus (Nevo 1994:110).
Namun, bahkan setelah teks-teks muslim menjadi resmi, mereka tidak diterima oleh
masyarakat begitu cepat. Selama bertahun-tahun setelah penampilan mereka dalam
deklarasi negara, orang-orang terus menyertakan legenda non-muslim di prasasti
pribadi, dan tulisan-tulisan arsip umum rutin (Nevo 1994:114). Maka dari itu misalnya
Nevo telah menemukan juru tulis tertentu yang tidak memakai rumus muslim dalam
korespondensi bahasa Arab dan Yunani, meskipun ia melakukannya di papirus
"protokol" dengan membawa nama dan gelarnya (Nevo 1994:114).
Kenyataannya, menurut Nevo, formula muslim baru mulai digunakan dalam inskripsi
di batu tulis popular di Negev Tengah sekitar 30 tahun (atau satu generasi) setelah
49
diperkenalkan oleh Abd al-Malik, di suatu masa pada masa pemerintahan Khalifah
Hisyam (antara 724 -743). Dan bahkan ini, menurut Nevo, meskipun mereka bercorak
muhammadan, namun bukan Muslim. Nevo percaya bahwa teks Islam baru mulai
muncul pada awal abad kesembilan (sekitar 822 AD), bertepatan dengan Al Qur’an
tertulis pertama, dan catatan Tradisi Islam pertama (Nevo 1994:115).
Akibatnya, tampak dari inskripsi-inskripsi ini bahwa hanya selama dinasti Marwanid
(setelah 684 AD), dan tidak selama hidup Muhammad bahwa ia diangkat ke posisi
seorang nabi universal, dan bahkan kemudian, rumusan muslim yang diperkenalkan
masih tidak setara dengan apa yang kita miliki saat ini.
Untuk diskusi lebih lanjut pada enam klasifikasi atau periode dari inskripsi batu tulis
ini, dan isinya, saya akan merekomendasikan artikel Nevo's (halaman 111-112).
D.7. Istilah 'Muslim' and 'Islam'
Sekarang kita sampai pada kata "Muslim" dan "Islam." Kepatuhan Muhammad
terhadap garis Ibrahim bisa menjelaskan mengapa tidak ada penyebutan nama Muslim
dibuat sampai tahun-tahun terakhir abad ketujuh (Cook 1983:74; Crone-Cook 1977:8).
Bahkan pemunculan istilah muslim pertama yang bisa dilacak penanggalannya tidak
ditemukan sampai tulisan di dinding Kubah Batu yang kita kenal dibangun pada 691 M,
60 tahun setelah kematian Muhammad (van Berchem 1927:217; Crone-Cook 1977:8).
Sebelum waktu itu kaum Arab disebut sebagai Magaritai, istilah kita temukan di
papirus Yunani 642 M (papyrus ini disebut PERF 564 dan 558 PERF: Grohmann
1957:28 f, 157). Dalam Suraht Syria Uskup Isho'yahb III paling dini tahun 640M mereka
disebut Mahgre atau Mahgraye (Duval 1904:97).
Munculnya istilah ini tidaklah unik, melainkan ditemukan sejauh Mesir dan Irak, yang
sangat mencolok (Crone-Cook 1977:159). Kata Arab yang parallel dengan Magaritai
yaitu Muhajirun, yang berarti secara silsilah sebab mereka yaitu keturunan
Abraham dan Hagar, dan secara sejarah, sebab mereka yaitu kaum yang mengambil
bagian dalam hijrah, atau eksodus. Pembahasan awal tentang hijrah (menurut sumber-
sumber eksternal) menunjukkan bahwa ini hijrah ini dilakukan kaum Arab ke wilayah
Palestian, bukan ke Madinah.
Athanasius pada tahun 684 M menulis dalam bahasa Syria memakai istilah
Maghrayes untuk merujuk pada kaum Arab. Yakub dari Edessa pada tahun 705 M
menyebutkan mereka sebagai Hagarin. Doctrina Iacobi merujuk mereka sebagai kaum
Saracen (Bonwetsch 1910:88; Cook 1983:75). Dengan demikian, bertentangan dengan
apa yang Al Quran katakana dalam Surah 33:35. Tampaknya bahwa istilah ‘Islam ‘ tidak
digunakan sampai abad ketujuh akhir (Crone-Cook 1977:8). Jadi dari mana nama ini
berasal?
Menurut Crone dan Cook istilah ‘Islam’ (dan istilah lain yang berkaitan dengannya
dalam dunia islam) dalam artian "penyerahan diri kepada Allah" dipinjam dari kaum
Samaria (Crone-Cook 1977:19-20). Crone dan Cook memaparkan bahwa kata kerja
"aslama” memiliki sanak dalam bahasa Ibrani, Aram dan Syria, sedang literatur
Yahudi ataupun Kristen tak satupun memberikan preseden yang memuaskan untuk
penggunaan Islam. Kita menemukan paralel yang tepat untuk Islam di Memar Marqah,
teks yang paling penting dari kaum Samaria pada periode pra-Islam. "(Crone-Cook
50
1977:19,169; Macdonald 1963:85) Mereka secara konsisten melihat bahwa :
reinterpretasi konsep penyerahan diri dapat dilihat sebagai usaha yang disengaja untuk
membedakan pengakuan kaum Hagarin dari penganut Yudaisme" (Crone-Cook
1977:20).
Meskipun Al Qur'an memakai istilah ini (Surah 33:35), jika dibandingkan dengan
dokumen-dokumen abad ketujuh yang kita miliki, tampaknya istilah ini tidak diketahui
selama kehidupan Muhammad, yang akibatnya menambah keyakinan bahwa ada lebih
banyak kemungkinan evolusi dalam teks-teks Al-Quran.
D.8. Quran
Jika inskripsi itu berasal dari Al Quran, dengan varian yang mereka kandung, lalu
bagaimana bisa Al Quran telah dikanonisasi sebelum saat ini (abad ketujuh akhir)? Kita
hanya bisa menyimpulkan bahwa pasti ada suatu evolusi dalam transmisi Al Qur'an
selama bertahun-tahun (jika memang inskripsi itu awalnya diambil dari Al Qur'an).
Sumber-sumber juga tampaknya menunjukkan bahwa Al Quran dikumpulkan secara
tergesa-gesa (seperti yang telah dipaparkan dalam bagian sebelumnya, di bagian Kritik
Internal Quran). Hal ini digarisbawahi oleh Dr John Wansbrough yang menyatakan
bahwa, "kitab ini benar-benar mencolok kekurangan dalam struktur bahasanya secara
keseluruhan, sering tidak jelas dan ngawur baik dari segi kebahasaan maupun isi, asal-
asalan dalam menghubungkan idea-idea materi yang berbeda, misalnya pengulangan
keseluruhan bacaan dalam versi-versi yang berbeda. Atas dasar ini masuk akal bila
dikatakan bahwa Quran yaitu produk dari editing yang terkemudian dan tidak
sempurna bahan dari tradisi kisah yang beragam. "(Crone-Cook 1977:18,167)
Crone dan Cook percaya bahwa sebab ketidaksempurnaan pengeditan dan
kemunculan Al Qur’an pasti sebab kejadian yang mendadak (Crone-Cook
1977:18,167). Referensi paling awal dari luar tradisi Islam untuk kitab yang disebut
"Qur'an" terjadi pada pertengahan abad ke-delapan antara seorang Arab dan seorang
pendeta dari Bet Hale (Nau 1915:6 f), tetapi tidak ada yang tahu apakah itu mungkin
berbeda jauh dalam isi dari Al-Qur'an yang kita miliki saat ini. Baik Crone dan Cook
menyimpulkan bahwa selain referensi kecil ini tidak ada indikasi adanya Al Qur'an
sebelum akhir abad ketujuh (Crone-Cook 1977:18).
Crone dan Cook dalam penelitian mereka tetap mempertahankan bahwa hanya pada
saat di bawah gubernur Hajjaj dari Irak pada 705 AD kita memiliki konteks historis logis
di mana "Qur'an" (atau badan literature nacsent literatur yang nantinya akan menjadi Qur
'an) pertama kali dikompilasi sebagai kitab suci Muhammad (Crone-Cook 1977:18).
Dalam sebuah catatan yang ditujukan pada Leo oleh Levond, gubernur Hajjaj
dilaporkan telah mengumpulkan semua tulisan lama kaum Hagarin dan menggantikan
mereka dengan tulisan lain "sesuai selera sendiri, dan disebarluaskan di mana saja di
antara kaumnya." (Jeffrey 1944:298) Kesimpulan alami yaitu bahwa selama periode
inilah Quran memulai evolusinya, mungkin mulai ditulis, sampai akhirnya dikanonisasi
pada pertengahan hingga akhir abad kedelapan sebagai Al Qur'an yang kita kenal saat
ini.
Semua temuan ini memberi kita alasan tepat untuk mempertanyakan otoritas
sebenarnya dari Al Qur'an yang dipercaya sebagai firman Allah. Bukti arrkeologis, dan
dokumen dan naskah menunjukkan bahwa banyak dari apa yang Qur'an pertahankan
tidak berpadanan dengan data yang kita miliki. Dari bahan-bahan yang dikumpulkan dari
sumber eksternal pada abad ketujuh dan kedelapan, kita dapat menyimpulkan:
1. Hijrah nampaknya paling memungkinkan bukan perjalanan ke Medinah, melainkan
ke Palestina.
2. Bahwa arah kiblat belum ditetapkan menghadap ke Mekkah sampah abad ke
delapan, tetapi ke arah jauh ke utara, dan kemungkinan Yerusalem.
3. bahwa Kaum Yahudi masih berhubungan baik dengan kaum Arab paling tidak
sampai tahun 640 M.
4. bahwa Yerusalem-lah, bukan Mekkah, yang paling memungkinkah menjadi tempat
suci kaum islam, sebab Mekkah belum dikenal sebagai kota yang hidup sampai akhir
abad ketujuh. Bahkan Mekkah tidak termasuk dalam jalur perdagangan.
5. bahwa Kubah Batu yaitu tempat suci pertama.
6. bahwa Muhammad tidak dianggap sebagai nabi Allah secara universal sampai akhir
abad ketujuh.
7. bahwa istilah Muslim / Islam 'tidak digunakan sampai akhir abad ketujuh;
8. bahwa lima waktu sehari dan ibadah haji tidak distandarkan sampai tahun 717 M
9. bahwa kabar tentang quran yang paling awal kita dengar tidak sampai pertengahan
abad ke-delapan;
10. dan bahwa inskripsi Quran paling awal tidak sesuai dengan teks Al-Quran saat ini.
Semua data ini bertentangan dengan Al Qur'an yang kita miliki, dan menambah
kecurigaan bahwa Qur'an yang kita baca sekarang TIDAK sama dengan yang
seharusnya dikumpulkan dan dikanonisasi pada tahun 650 M di bawah Kalifah Usman,
sebagaimana para muslim berpendapat (jika memang pada waktu itu Quran telah ada
dalam bentuk yang sekarang ini ). Kita hanya bisa berasumsi bahwa pasti ada suatu
evolusi dalam teks-teks Al-Quran. Akibatnya, satu-satunya hal yang kita dapat katakan
dengan pasti yaitu bahwa hanya dokumen-dokumen yang kita miliki sekarang (dari
790M seterusnya) yaitu identik dengan apa yang berada di tangan kita hari ini, ditulis
tidak 16 tahun setelah kematian Muhammad, tetapi 160 tahun kemudian, dan dengan
demikian bukan 1400 tahun yang lalu, melainkan 1200 tahun lalu. Konsekuensi dari
pernyataan ini memang luar biasa.
E. Bisakah Kita Gunakan Sumber-sumber Non-Muslim ?
Sementara ini para sejarawan Islam modern telah berjuang dengan tradisi
Muslim, mereka harus memiliki catatan-catatan berbahasa Yunani Armenia, Ibrani,
Aram, Syria dan literatur Koptik dari tetangga non-Muslim, beberapa di antaranya di
bawah para penakluk Arab (Crone 1980:15). Sebagian besar sumber-sumber ini diedit
dan diterjemahkan pada akhir abad lalu (tahun 1800) dan awal abad ini. Namun, mereka
dibiarkan berdebu di perpustakaan sejak saat itu. Pertanyaan yang harus kita tanyakan
yaitu , Mengapa?
Jawaban yang diberikan umat Islam yaitu bahwa sumber-sumber ini bertentangan,
dan ini mungkin benar. Namun, mengingat distribusi geografis dan sosial yang luas dari
mana mereka berasal, mereka hamper tak menafaskan sentiment anti-Muslim dengan
hasil yang seragam seperti itu (Crone 1980:16). Hal ini terjadi sebab ada kesepakatan
antara saksi independen dan kontemporer dunia non-muslim yang mana kesaksian
mereka harus dipertimbangkan. Dengan cara manapun kita menafsirkan catatan-catatan
itu , tidak diragukan lagi bahwa Al Qur'an yaitu produk dari sebuah wahyu berevolusi,
lebih dari tanggal kanonisasi selama periode Abbasiyah awal menuju pertengahan
hingga akhir abad kedelapan, di sekitar wilyah Irak dan Iran saat ini
Jadi, apa yang dapat kita katakan tentang Al Qur'an? Apakah ini Quran wahyu
illahi? Muslim berpendapat bahwa kita hanya bisa memahami asal-usul Al-Qur'an
melalui teropong Tradisi Islam, yang mengatakan bahwa Allah mengungkapkan
kebenaran-Nya melalui Al Qur'an yang diturunkan kepada Muhammad. Kita,
bagaimanapun, menyangka otentisitas klaim ini sebagai sumber-sumber primer hasil
tradisi yang terkemudian sama sekali tidak ada sebelum abad kedelapan. Bahkan
sumber-sumber muslim yang kita miliki berasal dari tanggal yang relatif terkemudian,
disusun antara 200-300 tahun setelah kejadian, dan tergantung pada tradisi lisan yang
diwariskan oleh pendongeng yang tidak hanya narasinya tidak dapat dibenarkan,
namun juga tiba-tiba muncul dan berkembang biak di akhir abad kedelapan.
Wansbrough berpendapat bahwa Al Qur'an disusun bahkan lebih terkemudian dari
cerita-cerita tradisi, dan digunakan sebagai stempel otoritatif untuk mengotentikasi
keyakinan kemudian dan hukum yang dibuat kemudia oleh mereka yang bertanggung
jawab dalam kanonisai tradisi Islam. Jika ini benar, maka orang akan bertanya-tanya
apakah Muhammad bahkan akan mengakui Al Qur'an yang kita miliki saat ini ?
Meskipun demikian, Al Qur’an sendiri telah disarankan sebagai sumber bagi Islam,
dan memiliki kewenangan yang terbaik. Namun terlalu lemah didera banyak masalah
seperti yang dituliskan di atas. saat kita membuka Al Qur'an dan membacanya kita
diperhadapkan langsung dengan banyak kesulitan sastra dan tata bahasa yang
menunjukkan kelemahan tersendiri bagi sebuah dokumen yang diaku-aku sebagai
firman yang terakhir dan sempurna dari Allah. Kita disajikan dengan kisah-kisah biblikal
palsu yang paralel dikenal di abad kedua sebagai dokumen Talmud dan Kristen yang
kebenarannya diragukan.
Dan sementara kita bertanya-tanya bagaimana dokumen yang sangat manusiawi ini,
penuh dengan kekurangan dan keterbatasan, dijadikan sebagai Kitab Suci non-manusia
yang diakui sempurna, kita diperkenalkan kepada kejanggalan ilmiah yang juga
ditemukan dalam halaman-halamannya. Kesulitan-kesulitan ini memang memperlihatkan
jauhnya kemungkinan dari kepengarangan ilahi dan menunjuk pada penjelasan yang
lebih masuk akal, bahwa Al-Qur'an hanyalah kumpulan sumber –sumber berbeda yang
dipinjam dari potongan-potongan sastra, cerita rakyat, dan tradisi lisan yang hadir
selama abad ketujuh dan kedelapan, dan sengaja dicangkokkan oleh para pengumpul
yang diduga berasal dari periode Abbasiyah.
Sumber-sumber non-muslim yang kita miliki dari berbagai komunitas yang mengitari
dunia islam juga menguatkan bukti atas. Banyak dari apa yang kita temukan dalam
sumber-sumber eksternal abad ketujuh dan kedelapan bertentangan dengan apa yang
dikatakan dalam tradisi muslim dan Al Qur'an. Dan hal ini memicu kita mencurigai
otentisitasnya yang dianggap dibentuk dikemudian hari
Pada akhirnya apa yang tersisa dan disodorkan pada kita semakin sedikit. Sumber-
sumber muslim patut dipertanyakan. sedang sumber-sumber non-muslim
meneguhkan fakta betapa kurangnya bukti nyata keakuratan Al-Qur'an. Memang ada
banyak bahan yang melemahkan klaim muslim selama ini yang para apologis muslim
harus pikirkan. Namun saya memiliki sedikit pelipur lara bahwa di waktu-waktu
kemudian saat saya melihat seorang Muslim memegang Al Qur'an tinggi-tinggi dan
mengklaimnya sebagai cetak biru Allah bagi umat manusia, saya hanya ingin bertanya
padanya satu saja pertanyaan sederhana , seperti yang para sejarawan tanyakan
selama ini, " Apa bukti-bukti yang bisa menguatkan klaim kalian?"











