n tradisional.” Argumen ini sedemikian tidak jujurnya, dan
merupakan pemutarbalikan yang sedemikian rupa dari teks itu, sehingga orang-orang Katolik
seharusnya merasa terhina oleh argumen ini. Di dalam teks di atas, sembari mengajarkan bahwa tak
seorang pun (apa pun agama yang dianut orang itu) dapat dicegah untuk mengungkapkan
agamanya secara publik, Vatikan II semata-mata bertindak dengan keberhati-hatian dan
memastikan agar tulisannya tidak mengizinkan anarki untuk dilakukan di dalam Negara.
Vatikan II harus menambahkan klausul “dalam batas-batas yang wajar” agar tulisannya tidak
mendukung, misalnya, suatu kelompok religius yang memblokir lalu lintas pada jam yang tersibuk atau
ibadat-ibadat keagamaan yang diselenggarakan di tengah-tengah jalan tol yang padat. Itulah mengapa
Vatikan II mengajarkan bahwa “tak seorang pun … dihalang-halangi untuk bertindak melawan suara
hatinya … dalam batas-batas yang wajar, baik sebagai perorangan maupun di muka umum.” Vatikan II
sama sekali tidak berkata bahwa suatu Negara Katolik dapat mengekang hak kebebasan beragama dari
warga negara non-Katolik; Vatikan II tetap mengajarkan bidah yang tidak dapat dibela tentang
kebebasan beragama: bahwa kebebasan beragama harus menjadi hak sipil dan bahwa tak seorang pun
boleh dirintangi oleh Negara untuk bertindak sesuai dengan suara hatinya di muka umum; namun Vatikan
II hanya mengindikasikan bahwa ketertiban umum tidak boleh dilanggar oleh orang-orang yang
memakai hak ini.
Untuk membuktikan bahwa ini memang makna dari teks Vatikan II ini – yang, tentunya, jelas adanya bagi
orang yang jujur yang menilai hal ini – kami hanya perlu mengutip #2 yang sama di dalam Deklarasi
ini :
Dokumen Vatikan II, Dignitatis Humanae #2:
“Maka dari itu hak atas kebebasan itu tetap masih ada juga pada mereka, yang tidak memenuhi
kewajiban mereka mencari kebenaran dan berpegang teguh padanya; dan penggunaan hak itu
tidak dapat dirintangi, selama tata masyarakat tetap berdasar keadilan.”77
Kita bisa melihat bahwa “dalam batas-batas yang wajar” semata-mata berarti “selama tata masyarakat
tetap berdasar keadilan”. Maka, menurut Vatikan II, setiap orang memiliki hak kebebasan beragama,
termasuk ekspresi dan praktik publik agamanya, yang Negara tidak bisa batasi selama ketertiban publik
tetap terjaga. Ini yaitu ajaran sesat. Vatikan II tidak selaras dengan ajaran tradisional, tidak peduli
betapa pun kerasnya para bidah seperti “Romo” Brian Harrison berupaya dengan tidak jujur untuk
memakai klausul ini untuk berargumentasi demikian. Vatikan II mengajarkan bahwa Negara tidak
dapat mencegah agama-agama sesat untuk berekspresi secara publik, seperti yang kita lihat dengan
sangat jelas di dalam kutipan yang telah kami diskusikan.
Dokumen Vatikan II, Dignitatis Humanae #3:
“Maka dari itu pemerintah [Negara], yang bertujuan mengusahakan kesejahteraan umum di
dunia ini, memang wajib mengakui kehidupan beragama para warga negara dan mendukungnya.
namun harus dikatakan [bahwa Negara] melampaui batas wewenangnya, bila [Negara]
memberanikan diri mengatur atau merintangi kegiatan-kegiatan religius.”78
Ajaran sesat Vatikan II tentang kebebasan beragama sama sekali tidak dapat dipertahankan.
Penolakan: “Ajaran tentang Kebebasan Beragama bukanlah suatu dogma”
Sehubungan dengan kontradiksi yang jelas antara ajaran Vatikan II tentang kebebasan beragama dan
ajaran tradisional, para pembela kemurtadan pasca-Vatikan II yang lain telah menekankan bahwa,
Revolusi Vatikan II
89
walaupun ada kontradiksi, ajaran Vatikan II bukanlah suatu bidah sebab ajaran tradisional tentang
kebebasan beragama tidak diajarkan secara infalibel sebagai suatu dogma.
Chris Ferrara, Catholic Family News, “Opposing the Sedevacantist Enterprise, Part II” {“Melawan
Kelompok Sedevakantis, Bagian II”}, Oktober 2005, hal. 24-25:
“Kelompok [Sedevakantis] ini menyatakan bahwa ada suatu kontradiksi yang jelas
antara DH [dokumen Vatikan II Dignitatis Humanae tentang kebebasan beragama] dan ajaran
tradisional: DH menegaskan suatu hak kodrati [sic] akan kebebasan beragama dalam bentuk
perwujudan publik dari agama-agama sesat oleh para anggota dari sekte-sekte non-Katolik,
sedangkan ajaran tradisional mengecam gagasan ini ... namun mari mengandaikan demi
argumentasi bahwa ada suatu kontradiksi yang jelas antara DH [Dignitatis Humanae]
dan ajaran yang sebelumnya, dan bahwa pertentangan ini bersifat manifes – yakni, tidak
diperlukan suatu penjelasan untuk membuktikannya. Seandainya pun demikian, kontradiksi
ini tidak akan melibatkan bidah manifes semacam itu, sebab ajaran tradisional
Gereja tentang hak dan kewajiban Negara untuk mengekang pelanggaran-pelanggaran
eksternal terhadap agama Katolik bukanlah suatu dogma yang telah didefinisikan dari
Iman Katolik, dan demikian pula adanya dengan ajaran bahwa tidak ada hak semacam itu
untuk mempraktikkan agama sesat di dalam negara-negara Katolik.”79
Pernyataan ini sama sekali salah, dan dapat dengan mudah dibantah. Gagasan yang diajarkan Vatikan II,
bahwa setiap manusia harus dianugerahkan hak sipil atas kebebasan beragama, sehingga ia memiliki
jaminan hukum atas hak untuk secara publik mempraktikkan dan menyebarkan agama sesatnya, telah
secara dogmatis, secara khidmat, dan secara infalibel dikutuk oleh Paus Pius IX di dalam surat ensiklik
Quanta Cura. Gaya bahasa yang digunakan Pius IX lebih dari cukup untuk memenuhi persyaratan definisi
dogmatis. Perhatikan terutama bagian-bagian yang dicetak tebal dan digarisbawahi.
Paus Pius IX, Quanta Cura (#3-6), 8 Desember 1864, ex cathedra:
“Gagasan yang sepenuhnya sesat tentang pemerintahan sosial ini membuat mereka tidak
ragu untuk mendukung opini yang sesat ini, yang dampak-dampaknya paling mematikan kepada
Gereja Katolik dan keselamatan jiwa-jiwa, dan yang disebut oleh Pendahulu Kami dari kenangan
yang berbahagia, Gregorius XVI, sebagai suatu kegilaan, yaitu bahwa ‘KEBEBASAN BERHATI
NURANI DAN BERIBADAH MERUPAKAN HAK PRIBADI DARI SETIAP MANUSIA, YANG
HARUS SECARA HUKUM DIPROKLAMASIKAN DAN DIJAMIN DI DALAM SETIAP
MASYARAKAT YANG TERSUSUN SECARA BENAR; dan BAHWA WARGA NEGARA MEMILIKI
SUATU HAK ATAS KEBEBASAN YANG PENUH UNTUK MEWUJUDKAN DENGAN SUARA
LANTANG DAN SECARA PUBLIK OPINI-OPINI MEREKA, APA PUN OPINI MEREKA ITU,
MELALUI PERKATAAN, MELALUI PERCETAKAN ATAU MELALUI SARANA APA PUN, tanpa
dikekang oleh otoritas gerejawi maupun sipil.’ namun , walaupun mereka menekankan
pernyataan-pernyataan yang lancang ini, mereka tidak memikirkan, tidak pun mereka
mempertimbangkan bahwa mereka mengajarkan suatu kebebasan untuk menjadi binasa … Maka,
DENGAN OTORITAS APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK, MENGECAM, DAN MENGUTUK
SELURUH DAN SETIAP OPINI SERTA DOKTRIN YANG JAHAT YANG SECARA RINCI
DISEBUTKAN DI DALAM SURAT INI, DAN KAMI MENGHENDAKI DAN MEMERINTAHKAN
KEPADA ANAK-ANAK GEREJA KATOLIK AGAR MEREKA MENGANGGAP OPINI-OPINI DAN
DOKTRIN-DOKTRIN ini SEPENUHNYA DITOLAK, DIKECAM, DAN DIKUTUK.”80
Paus Pius IX secara khidmat menolak, melarang, dan mengutuk opini yang jahat ini dengan kuasa
apostoliknya, dan menyatakan secara khidmat bahwa semua anak Gereja Katolik harus mencamkan
bahwa opini yang jahat itu telah dikutuk. Ini yaitu gaya bahasa yang khidmat dan ajaran yang infalibel
Revolusi Vatikan II
90
yang dikeluarkan dari posisi yang tertinggi. Tidak diragukan lagi bahwa Quanta Cura merupakan
mengecam secara dogmatis ide bahwa kebebasan beragama dijadikan sebagai hak sipil yang diberikan
kepada setiap orang. Ajaran Vatikan II, oleh sebab itu, merupakan bidah yang bertentangan secara
langsung dengan ajaran dogmatis infalibel tentang perkara ini .
Ajaran Vatikan II tentang Kebebasan Beragama menentang seluruh Sejarah
Dunia Kristiani dan menghancurkan Masyarakat Katolik
Kami telah menunjukkan bahwa ajaran Vatikan II tentang kebebasan beragamaa yaitu ajaran sesat.
ada banyak contoh lain yang dapat diberikan untuk menggambarkan bahwa ajaran Vatikan II
tentang kebebasan beragama yaitu ajaran yang sesat, jahat, dan tidak Katolik. Misalnya, Konsili Vienne
yang dogmatis secara khusus memerintahkan para pemimpin Katolik dari Negara-Negara bahwa mereka
harus mengontrol secara publik (yaitu dengan mengekang secara publik) ibadah agama Islam yang
dilaksanakan secara publik. Paus Klemens V mengingatkan Negara akan kewajibannya untuk melarang
pengakuan secara publik agama-agama sesat.
Paus Klemens V, Konsili Vienne, 1311-1312:
“yaitu suatu penghinaan kepada nama yang kudus dan sebuah aib kepada iman Kristiani
bahwa di beberapa bagian dunia tertentu yang tunduk kepada para pangeran Kristiani di mana
para Saracen [yaitu pengikut agama Islam, yang juga disebut Muslim] tinggal, terkadang secara
terpisah, di lain waktu bersama para umat Kristiani, para pendeta Saracen, yang sering disebut
sebagai Zabasala, di dalam bait-bait atau Mesjid-Mesjid mereka, di mana para Saracen bertemu
untuk menghormati Mahomet yang kafir, memuji dan memanggil namanya dengan suara
lantang setiap harinya pada jam-jam tertentu dari suatu tempat yang tinggi ... Hal ini membawa
kehinaan kepada iman kita dan menimbulkan suatu skandal yang besar kepada para umat
beriman. Praktik-praktik ini tidak dapat ditolerir tanpa menyinggung kemegahan ilahi.
Maka dengan persetujuan konsili suci ini, Kami secara ketat melarang praktik-praktik semacam
itu mulai saat ini di negeri-negeri Kristiani. Kami memerintahkan kepada semua para
pangeran Katolik ... Mereka harus secara tegas melarang invokasi publik nama Mahomet
yang nista ... Orang-orang yang memberanikan diri untuk bertindak secara berlawanan harus
dihukum oleh para pangeran atas kekurangajaran mereka, agar orang lain menjadi tidak berani
untuk melakukan kelancangan semacam itu.”81
Menurut Vatikan II, ajaran Konsili Vienne ini salah. yaitu suatu hal yang juga salah, menurut ajaran
Vatikan II, bahwa agama Kristiani harus dideklarasikan sebagai agama dari Kekaisaran Romawi oleh
Theodosius pada tahun 392 Masehi, dan semua kuil pagan ditutup.82 Hal ini kembali menunjukkan bahwa
ajaran Vatikan II tentang kebebasan beragama yaitu ajaran yang jahat dan bidah.
Ajaran sesat Vatikan II tentang kebebasan beragama tepatnya yaitu alasan bahwa, sesudah Vatikan II,
beberapa bangsa Katolik mengubah konstitusi Katolik mereka menjadi konstitusi sekuler!
Konstitusi Katolik dari negeri Spanyol dan Kolombia bahkan dihapuskan atas arahan yang jelas dari
Vatikan, dan hukum-hukum di negara-negara ini diubah untuk mengizinkan praktik agama-agama
non-Katolik secara publik.
Perubahan-Perubahan kepada Hukum Katolik Negara Spanyol akibat Ajaran
Vatikan II
“Fuero de los Espanoles” [Piagam Bangsa Spanyol], hukum dasar dari Negara Spanyol yang
diadopsi pada tanggal 17 Juli 1945 hanya mengizinkan pelaksanaan ibadat [agama-agama]
Revolusi Vatikan II
91
non-Katolik secara pribadi dan melarang semua aktivitas propaganda dari pihak agama-
agama sesat.
Artikel 6, 1: “Pengakuan dan praktik dari Agama Katolik, yang merupakan agama Negara Spanyol,
akan menikmati perlindungan resmi.”
Artikel 6, 2: ” ... satu-satunya perayaan dan manifestasi keagamaan lainnya yang diizinkan secara
publik hanya akan merupakan perayaan dan manifestasi agama Katolik.”
Kita dapat melihat bahwa, sesuai dengan ajaran Katolik tradisional, hukum Spanyol mendekretkan
bahwa satu-satunya perayaan dan manifestasi keagamaan yang diizinkan secara publik yaitu hanya
akan merupakan perayaan dan manifestasi agama Katolik. namun , sesudah Vatikan II, “Ley Organica del
Estado” [Hukum Organik Negara] (10 Januari 1967) mengubah paragraf kedua dari artikel
ini sebagai berikut:
“Negara akan mengemban tanggung jawab untuk melindungi kebebasan beragama, yang akan
berada di bawah perlindungan Peradilan yang bertanggung jawab untuk menjaga moral dan
ketertiban publik.”
Terlebih lagi, pembukaan Konstitusi Spanyol, yang diubah oleh ‘Ley Organica del Estado’ yang sama
sesudah Vatikan II, secara eksplisit mendeklarasikan:
” ... Mengingat perubahan yang dibuat di dalam Artikel 6 ‘Ley Organica del Estado’, yang
diratifikasi oleh referendum bangsa, untuk menyesuaikan naskahnya kepada Deklarasi
kebebasan beragama konsiliar yang dipermaklumkan pada tanggal 7 Desember 1965
[oleh Vatikan II], yang menuntut pengakuan secara eksplisit atas hak [kebebasan beragama] ini,
dan yang di samping itu berselaras dengan Prinsip fundamental kedua dari Gerakan ini, yang
menurutnya, ajaran Gereja harus mengilhami hukum-hukum kami ....”
Kita dapat melihat bahwa bagian kedua dari Artikel 6 dari Konstitusi tahun 1945 digantikan pada tahun
1967 persisnya untuk menyesuaikan hukum Spanyol dengan deklarasi Vatikan II! Revisi terhadap
hukum Katolik di dalam negara Katolik ini, yang dilakukan demi membuat penyesuaian terhadap agama
baru dari Vatikan II, mungkin merupakan suatu ilustrasi yang paling jelas yang menggambarkan kuasa-
kuasa yang bekerja di sini. Spanyol berubah dari suatu negeri Katolik menjadi negara yang tidak
bertuhan, yang sekarang memberi perlindungan hukum kepada perceraian, sodomi,
pornografi, dan kontrasepsi – dan semuanya itu berkat Vatikan II.
Paus St. Pius X, Vehementer Nos, 11 Februari 1906:
“ … atas dasar otoritas tertinggi yang telah dipercayakan oleh Allah kepada Kami, dan atas
dasar-dasar yang telah ditetapkan di atas, Kami menolak dan mengutuk hukum yang dipilih
melalui pemungutan suara di Prancis untuk pemisahan Gereja dan Negara sebagai hukum
yang, secara mendalam, tidak adil terhadap Allah, yang disangkalnya, dan sebagai hukum
yang menetapkan prinsip bahwa Republik ini tidak mengakui suatu kultus apa
pun.”83
Paus Gregorius XVI, Inter Praecipuas (#14), Mei 8 1844:
“Memang, yaitu suatu hal yang konsisten dan yang telah dibuktikan oleh pengalaman dari masa
lalu, bahwa ketidakacuhan dalam hal agama, yang disebarkan oleh para pengikut sekte itu
atas nama Kebebasan beragama, yaitu jalan yang amat pasti untuk memisahkan orang-orang
dari kesetiaan dan kepatuhan yang mereka harus berikan kepada para Pangeran.”84
Revolusi Vatikan II
92
Sejalan dengan ajaran sesatnya tentang kebebasan beragama, Vatikan II mengajarkan bidah bahwa
semua agama memiliki kebebasan berbicara dan kebebasan pers.
Dokumen Vatikan II, Dignitatis Humanae #4:
“Jemaat-jemaat keagamaan berhak pula untuk tidak dirintangi dalam mengajarkan iman mereka
dan memberi kesaksian tentangnya di muka umum, secara lisan maupun melalui tulisan.”85
Gagasan bahwa semua orang memiliki hak kebebasan berbicara dan kebebasan pers telah dikecam oleh
banyak Paus. Kami hanya perlu mengutip Paus Gregorius XVI dan Paus Leo XIII. Perhatikan bahwa Paus
Gregorius XVI menyebut gagasan ini (hal yang sama yang diajarkan oleh Vatikan II) sebagai hal yang
berbahaya dan yang “tidak pernah cukup diperkejikan”.
Paus Gregorius XVI, Mirari Vos (#15), 15 Agustus 1832:
“Kesesatan itu juga disertai oleh kebebasan pers, yakni, kebebasan untuk menerbitkan karya
tulis apa pun kepada khalayak ramai - kebebasan yang paling mematikan, kebebasan
yang menjijikkan, yang tidak pernah cukup diperkejikan dan yang dengan begitu seringnya
dimintakan dan disebarluaskan oleh orang-orang tertentu secara lancang dengan suara yang
amat lantang. Saudara-Saudara yang terhormat, Kami bergidik ngeri sewaktu Kami
membayangkan doktrin-doktrin monster macam apa, atau bencana kesesatan macam apa yang
membuat Kami kewalahan; kesesatan-kesesatan yang disebarluaskan ke seluruh penjuru oleh
buku-buku, brosur-brosur, dan karya tulis lain yang begitu banyak jumlahnya, yang walaupun
memang kecil ukurannya, namun besar kebejatannya ….”86
Paus Leo XIII, Libertas (#42), 20 Juni 1888:
“berdasar hal yang telah dikatakan, yaitu hal yang amat terlarang untuk menuntut,
membela, atau menganugerahkan kebebasan tanpa syarat untuk berpendapat, untuk berbicara,
untuk menulis, atau untuk beribadat, seolah-olah hak-hak ini memang diberikan oleh
kodrat kepada manusia.”87
Paus Leo XIII, Immortale Dei (#34), 1 November 1885:
“Maka, Gregorius XVI di dalam surat ensikliknya Mirari Vos, yang bertanggal 15 Agustus
1832, mengecam dengan perkataan yang berat sofisme yang bahkan pada zamannya
sedang ditanamkan secara publik – yakni, bahwa tiada suatu preferensi pun yang boleh
dipertunjukkan kepada suatu bentuk ibadat tertentu; bahwa baik adanya bagi individu-
individu untuk membentuk penilaian-penilaian diri mereka sendiri tentang agama; bahwa hati
nurani dari setiap manusia yaitu satu-satunya pedoman dirinya yang mandiri; dan bahwa
setiap orang diizinkan untuk menerbitkan pandangan-pandangannya sendiri, apa pun
pandangannya itu dan bahkan untuk melakukan konspirasi melawan negara.”88
Semua ajaran Katolik ini menentang secara langsung ajaran sesat Vatikan II.
Revolusi Vatikan II
93
5. Ad Gentes – Dekret Vatikan II tentang Aktivitas Misionaris
Tidak mengherankan bahwa kami juga menemukan bidah di dalam Dekret tentang Aktivitas Misionaris
Vatikan II.
Dokumen Vatikan II, Ad Gentes #6:
“Sebab walaupun Gereja memiliki segenap sarana keselamatan secara penuh, Gereja tidak
senantiasa atau secara serta-merta mendayagunakan atau mampu mendayagunakan semua
sarana itu, namun Gereja harus menjalani masa-masa permulaan serta fase-fase di dalam aktivitas
yang harus ditempuh demi melaksanakan rencana Allah. Memang benar bahwa terkadang,
sesudah mengalami suatu permulaan dan kemajuan yang berhasil, Gereja harus meratapi suatu
kemunduran yang lain, atau setidaknya berhenti pada suatu keadaan yang tanggung atau tidak
memadai.”89
Vatikan II menegaskan bahwa Gereja Katolik tidak memadai sebagai sarana keselamatan. Ajaran ini
yaitu penolakan terhadap dogma Di Luar Gereja Tidak ada Keselamatan. Jika tidak ada
keselamatan di luar Gereja (yang merupakan suatu dogma), hal itu pastinya berarti bahwa Gereja bersifat
memadai sebagai sarana keselamatan manusia.
Paus Inosensius III, Eius exemplo, 18 Desember 1208:
“Dari hati kami percaya dan dari mulut kami mengakui Gereja yang satu, yang tidak terdiri dari
para bidah, melainkan Gereja Roma yang kudus, Katolik, dan Apostolik di luar mana kami
percaya bahwa tidak seorang pun diselamatkan.”90
Paus Klemens VI, Super quibusdam, 20 September 1351:
“Kami bertanya: kedua, bilamana anda dan orang-orang Armenia yang tunduk kepada anda,
percaya bahwa tidak seorang pun yang mengembara di luar iman Gereja ini, dan di luar
kepatuhan kepada Paus Roma, dapat diselamatkan pada akhirnya.”91
Dokumen Vatikan II, Ad Gentes #29:
“Bersama dengan Sekretariat untuk memajukan kesatuan Kristiani, dikasteria ini harus
mencari berbagai jalan dan sarana untuk menghasilkan dan mengorganisir kerja sama dan
hubungan-hubungan yang harmonis dengan komunitas-komunitas Kristiani lainnya di dalam
proyek-proyek misionaris mereka, agar skandal perpecahan dapat dihindarkan sejauh
mungkin.”92
Revolusi Vatikan II
94
Ad Gentes 29 mengajarkan bahwa orang-orang Katolik harus bekerja bersama sekte-sekte Protestan
dalam proyek-proyek misionaris mereka. Hal ini berarti bahwa Vatikan II menganggap bahwa konversi
kepada agama Protestan merupakan konversi sejati. Pandangan ini yaitu bidah. Tidak ada
keselamatan di luar Gereja Katolik. Konversi kepada Protestantisme bukanlah konversi sejati.
Paus Leo X, Konsili Lateran V, Sesi 8, 19 Desember 1513:
“Dan sebab kebenaran tidak dapat menentang kebenaran, kami mendefinisikan bahwa setiap
pernyataan yang menentang kebenaran yang dicerahkan tentang iman sama sekali salah adanya dan
kami secara ketat melarang agar izin tidak diberikan untuk mengajarkan hal yang sebaliknya. Kami
mendekretkan bahwa semua orang yang berpegang kepada pernyataan-pernyataan yang
sesat semacam ini, yang dengan demikian menyemaikan bidah-bidah yang sepenuhnya
dikutuk, harus dihindari dengan setiap cara dan dihukum sebagai orang-orang yang patut
dibenci dan sebagai para bidah dan orang kafir yang memperlemah iman Katolik.”93
6. Nostra Aetate- Dekret Vatikan II tentang Agama-Agama Non-Kristiani
Dokumen Vatikan II, Nostra aetate #3:
“Gereja juga memandang orang-orang Muslim dengan rasa hormat. Mereka menyembah Allah yang
Esa, yang hidup dan subsisten, yang Maharahim dan Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah
berbicara kepada umat manusia. Mereka berupaya untuk tunduk dengan segenap hati kepada
ketentuan-ketentuan-Nya, bahkan yang tersembunyi, sama seperti Abraham, yang kepadanya iman
Islamik mengacu dengan sukarela, tunduk kepada Allah … Maka dari itu, mereka menghargai
kehidupan moral dan menyembah Allah di dalam doa, derma, dan puasa.”94
Di sini kita melihat bahwa Vatikan II mengajarkan bahwa para Muslim menyembah Allah yang Esa,
Pencipta Langit dan Bumi. Ajaran ini serupa dengan, namun sedikit berbeda dari, bidah yang telah kami
ekspos di dalam Lumen Gentium. Ilah sesat orang-orang Muslim (yang bukan Allah Tritunggal) tidak
menciptakan Langit dan Bumi. Allah Tritunggal Mahakuduslah yang menciptakan Surga dan Bumi.
Paus St. Leo IX, Congratulamur vehementer, 13 April 1053:
“sebab saya percaya dengan teguh bahwa Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putra, dan
Roh Kudus yaitu Allah yang Esa dan Mahakuasa, dan di dalam Allah Tritunggal ini, seluruh
Keilahian ko-esensial dan sehakikat adanya, setara dalam keabadian, kemahakuasaan, dan
memiliki satu kehendak, kekuatan, kemegahan; Sang Pencipta dari segala ciptaan, dari-Nya,
oleh-Nya, di dalam-Nya segala sesuatu berada, baik yang kelihatan maupun yang tidak
kelihatan. Demikian pula, saya percaya bahwa masing-masing pribadi di dalam Allah Tritunggal
Mahakudus yaitu Allah yang esa dan sejati, yang penuh dan sempurna.”95
Revolusi Vatikan II
95
Perbandingan yang menarik antara gaya bahasa Vatikan II dan Konsili Florence
Dokumen Vatikan II, Nostra aetate #3:
“Gereja juga memandang orang Muslim
dengan rasa hormat. Mereka menyembah
Allah yang Esa, yang hidup dan subsisten,
yang Maharahim dan Mahakuasa, Pencipta
langit dan bumi, yang telah berbicara kepada
umat manusia. Mereka berupaya untuk
tunduk dengan segenap hati kepada
ketentuan-ketentuan-Nya, bahkan yang
tersembunyi, sama seperti Abraham, yang
kepadanya iman Islamik mengacu dengan
sukarela, tunduk kepada Allah … Maka dari
itu, mereka menghargai kehidupan moral dan
menyembah Allah di dalam doa, derma,
dan puasa.”
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate
Domino,” 1441, ex cathedra:
“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh
percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa ‘semua
orang yang berada di luar Gereja Katolik, bukan
hanya orang-orang pagan namun juga Yahudi atau
bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian
di dalam kehidupan kekal dan akan masuk ke dalam
api yang kekal yang telah disiapkan untuk iblis dan
para malaikatnya,' [Matius 25, 41] kecuali jika
mereka bergabung ke dalam Gereja sebelum akhir
hidup mereka; bahwa kesatuan dari tubuh gerejawi
ini sedemikian kuatnya sehingga hanya kepada
mereka yang tetap tinggal di dalamnyalah
sakramen-sakramen Gereja berdaya guna menuju
keselamatan, dan hanya kepada mereka jugalah
puasa, derma, dan karya-karya kesalehan serta
praktik-praktik lain dari para laskar Kristiani
menghasilkan upah yang abadi; dan bahwa tidak
seorang pun dapat diselamatkan, sebanyak apa pun
ia telah berderma, walaupun ia telah menumpahkan
darah dalam nama Kristus, kecuali jika ia telah
bertekun di pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja
Katolik.”
Mohon perhatikan bahwa sewaktu Konsili Florence mendefinisikan secara dogmatis bahwa Iman Katolik
diperlukan untuk keselamatan, Konsili itu menekankan doa, derma, dan puasa dari orang-orang yang
berada di pangkuan Gereja. Konsili Florence menyatakan bahwa derma semacam itu tidak akan berguna
bagi seseorang yang berada di luar Gereja. Menarik bahwa sewaktu Vatikan II memuji orang-orang
Muslim serta agama sesat mereka, Vatikan II memakai gaya bahasa yang hampir sama persis dengan
Konsili Florence, namun , kembali, dengan suatu makna yang bertentangan. Vatikan II memuji puasa,
derma, dan doa dari para anggota suatu agama sesat non-Katolik.
Nostra aetate 3 juga berkata bahwa Gereja Katolik memandang orang-orang Muslim dengan rasa hormat,
yang berupaya untuk tunduk kepada Allah dengan segenap hati, seperti yang dilakukan oleh Abraham.
namun kekaguman Vatikan II akan para Muslim yang kafir itu tidak dirasakan oleh Gereja Katolik. Gereja
mengharapkan agar orang-orang Muslim berkonversi dan memperoleh kebahagiaan kekal, namun Gereja
mengakui bahwa Islam yaitu agama yang jahat dan sesat. Gereja tidak berpura-pura berkata bahwa
mereka tunduk kepada Allah. Gereja tahu bahwa mereka berada di dalam suatu agama sesat.
Paus Eugenius IV, Konsili Basel, Sesi 19, 7 September 1434:
” ... ada harapan bahwa banyak dari pengikut sekte Mahomet yang keji akan berkonversi
kepada iman Katolik.”96
Paus Benediktus XIV bahkan melarang orang-orang Katolik untuk memberi nama Muslim kepada
anak-anak di bawah ancaman kutukan.
Paus Benediktus XIV, Quod Provinciale, 1 Agustus 1754:
“Konsili Provinsial dari provinsi Albania anda ... mendekretkan dengan sangat khidmat di dalam
Revolusi Vatikan II
96
kanon ketiganya, dari antaranya, seperti yang anda ketahui, bahwa nama-nama Turki atau
Mahometan tidak boleh diberikan kepada anak-anak ataupun orang dewasa di dalam
pembaptisan ... Hal ini seharusnya tidak sulit bagi anda, saudara-saudara yang terhormat,
sebab tidak seorang pun dari para skismatis dan para bidah telah cukup lancang untuk
mengambil suatu nama Mahometan, dan jika kebenaran anda tidak melimpah lebih
banyak dibandingkan kebenaran mereka, anda tidak akan masuk kedalam kerajaan Allah.”97
Di dalam bagian tentang bidah yang paling spesifik di dalam Vatikan II (yang terdahulu), kami telah
membahas bahwa Nostra Aetate #4 mengajarkan bidah bahwa para Yahudi tidak boleh digambarkan
sebagai ditolak oleh Allah. Kami tidak akan mengulanginya di sini.
Nostra aetate juga tidak lupa untuk mengingatkan dunia tentang betapa baiknya Buddhisme, dan
bagaimana agama sesat ini menuntun kepada pencerahan tertinggi.
Para Buddhis mengakui banyak ilah sesat
Dokumen Vatikan II, Nostra Aetate #2:
“Buddhisme, seturut berbagai macam alirannya, mengakui bahwa dunia yang senantiasa
berubah ini secara radikal tidak mencukupi, dan mengajarkan suatu jalan yang dilalui
oleh orang-orang yang memiliki jiwa yang penuh bakti dan kepercayaan agar mereka
dapat mencapai suatu kebebasan yang sempurna, atau, dengan mengandalkan upaya-
upaya mereka sendiri atau pertolongan dari tempat yang lebih tinggi, mencapai
pencerahan yang tertinggi.”98
Vatikan II mengajarkan bahwa Buddhisme, “mengajarkan suatu jalan” yang melaluinya manusia dapat
mencapai pencerahan yang tertinggi! Ini yaitu kemurtadan. Ini yaitu salah satu bidah yang terburuk di
dalam Vatikan II. Di samping itu, mohon membaca bagaimana Paulus VI (pria yang secara khidmat
mempermaklumkan Vatikan II) memahami ajaran Vatikan II tentang Buddhisme.
Paulus VI, Audiens Umum kepada para Buddhis dari Jepang, 5 September 1973:
“Dengan amat gembira, Kami menyambut para anggota dari Tur Eropa Umat Buddhis
Jepang, para pengikut sekte Soto-shu Buddhisme yang terhormat ... Di Konsili Vatikan II,
Gereja Katolik menasihati putra-putrinya untuk mempelajari dan mengamati tradisi-tradisi
keagamaan umat manusia dan untuk ‘mempelajari melalui dialog yang penuh ketulusan hati dan
kesabaran betapa besarnya harta karun yang telah dibagikan oleh Allah yang Mahamurah kepada
bangsa-bangsa di bumi’ (Ad Gentes, 11) ... Buddhisme yaitu salah satu kekayaan Asia ....”99
berdasar Vatikan II (yang dipermaklumkannya secara khidmat), Paulus VI berkata bahwa agama
pagan yang sesat ini yaitu salah satu “kekayaan Asia”!
Revolusi Vatikan II
97
Vatikan II juga memuji agama sesat Hinduisme atas kekayaan “penyelidikan filosofis yang mendalam”
yang berlimpah ruah serta kehidupan pertapaannya dan meditasinya yang mendalam.
Dokumen Vatikan II, Nostra Aetate #2:
“Maka, Hinduisme menyelami dan menguraikan misteri ilahi dengan kekayaan mitosnya serta
penyelidikan filosofisnya yang mendalam, yang berlimpah ruah, dan mencari pembebasan dari
kesulitan-kesulitan yang dialami di dalam keadaan hidup kita baik melalui berbagai jenis
kehidupan pertapaan atau dengan berlindung kepada Allah dengan kepercayaan yang penuh
kasih.”100
Vatikan II
Kali, salah satu dari sekitar 330.000 berhala yang disembah oleh orang-orang Hindu, suatu agama yang
tidak dikutuk, melainkan dipuji oleh Vatikan II
Sekarang perhatikan betapa spesifiknya Paus Leo XIII menentang pujian Vatikan II untuk agama sesat
Hinduisme:
Paus Leo XIII, Ad Extremas (#1), 24 Juni 1893:
“Benak Kami pertama-tama tertuju kepada Rasul Thomas yang terberkati yang secara pantas
disebut sebagai perintis pengkhotbahan Injil kepada orang-orang Hindu. Lalu, Fransiskus
Xaverius juga ... Dengan ketekunannya yang luar biasa, ia mengonversikan ratusan ribu orang-
Revolusi Vatikan II
98
orang Hindu dari mitos-mitos dan takhayul-takhayul jahat dari kaum Brahmana kepada
agama yang sejati. Para imam yang begitu banyak jumlahnya mengikuti jejak langkah dari orang
kudus ini ... mereka sedang melanjutkan upaya-upaya yang mulia ini; bagaimanapun, di pelosok-
pelosok Bumi yang amat terpencil, ada banyak orang yang masih terasing dari
kebenaran, yang terpenjara dengan malang di dalam kegelapan takhayul.”101
Dua Agama yang Sungguh Berbeda
Paus Leo XIII, Ad Extremas (1), 24 Juni 1893:
“Dengan ketekunannya yang luar biasa, ia
mengonversikan ratusan ribu orang Hindu dari
mitos-mitos dan takhayul-takhayul jahat dari
kaum Brahmana kepada agama yang sejati.
Para imam yang begitu banyak jumlahnya
mengikuti jejak langkah dari orang kudus ini ...
mereka sedang melanjutkan upaya-upaya yang
mulia ini; bagaimanapun, di pelosok-pelosok Bumi
yang amat terpencil, ada banyak orang yang
masih terasing dari kebenaran, yang terpenjara
dengan malang di dalam kegelapan takhayul.”
Dokumen Vatikan II, Nostra Aetate (#2):
“Maka, Hinduisme menyelami dan menguraikan
misteri ilahi dengan kekayaan mitosnya serta
penyelidikan filosofisnya yang mendalam, yang
berlimpah ruah, dan mencari pembebasan dari
kesulitan-kesulitan yang dialami di dalam keadaan
hidup kita baik melalui berbagai jenis kehidupan
pertapaan atau dengan berlindung kepada Allah
dengan kepercayaan yang penuh kasih.”102
Di tengah-tengah penghujatan di dalam Vatikan II, sama sekali tidak disebutkan bahwa orang-orang kafir
ini harus berkonversi kepada Kristus. Sama sekali tidak ada doa yang dipanjatkan agar orang-orang ini
dapat dikaruniakan iman; dan tidak ada teguran bahwa para penyembah berhala ini harus dibebaskan
dari kefasikan dan kegelapan takhayul-takhayul mereka. Apa yang kita lihat di sini yaitu pujian dan rasa
hormat kepada agama-agama milik Iblis ini. Apa yang kita lihat yaitu suatu sinkretisme tanpa
ambiguitas, yang memperlakukan semua agama seolah-olah semuanya itu yaitu jalan yang menuntun
kepada Allah.
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#2), 6 Januari 1928:
” ... pendapat yang sesat bahwa semua agama kurang lebih baik dan terpuji … Orang-orang
ini bukan hanya sepenuhnya tersesat di dalam kesalahan, namun orang-orang yang
menganut opini semacam itu juga menolak agama yang sejati; mereka menyesatkan gagasan
tentang agama sejati ....”103
Paus Pius IX, Qui Pluribus (#15), 9 November 1846:
“Demikianlah pula tujuan dari sistem yang mengerikan itu, yakni indiferentisme terhadap segala
agama, yang secara mutlak bertentangan dengan terang dari akal budi sendiri. Di dalam sistem
yang menakutkan ini, para rasul kesesatan menghapuskan segala perbedaan antara kebajikan
dan kefasikan, kebenaran dan kesalahan, kelurusan dan kebejatan, dan mengemukakan bahwa
manusia dapat memperoleh keselamatan abadi di dalam agama apa pun, seolah-olah mungkin
terjadi persetujuan antara keadilan dan kefasikan, antara terang dan kegelapan, antara
Kristus dan Belial.”104
Revolusi Vatikan II
99
7. Gaudium et Spes - Konstitusi Vatikan II tentang Gereja di dalam Dunia
Modern
Dokumen Vatikan II, Gaudium et Spes #22:
“Sebab melalui Penjelmaan-Nya, Putra Allah menyatukan diri-Nya sendiri dalam suatu cara
tertentu dengan setiap umat manusia. Ia bekerja dengan tangan manusia, berpikir dengan pikiran
manusia, dan bertindak dengan kehendak manusia, dan mencintai dengan hati manusia.”105
Salah satu bidah Vatikan II yang paling sering diulang-ulangi yaitu gagasan bahwa melalui Penjelmaan-
Nya, Kristus menyatukan diri-Nya sendiri dengan setiap umat manusia. Vatikan II berbicara tentang
suatu persatuan antara Kristus dan setiap orang, suatu persatuan yang dihasilkan oleh Penjelmaan-Nya
sendiri. Yohanes Paulus II mengambil obor bidah ini dan berlari secepat kilat kepada konsekuensi
logisnya –keselamatan universal.
Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis (#13), 4 Maret 1979:
“Kristus Tuhan menunjukkan jalan ini, terutama sewaktu Konsili itu [Vatikan II] mengajarkan,
‘melalui Penjelmaan-Nya, Ia, Putra Allah menyatukan diri-Nya sendiri dalam suatu cara tertentu
dengan setiap umat manusia. (Gaudium et Spes, 22.)’”106
Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis (#13), 4 Maret 1979:
“Kami sedang membahas setiap manusia, sebab setiap orang diikutsertakan di dalam misteri
Penebusan dan dengan setiap orang Kristus telah menyatukan diri-Nya sendiri untuk
selamanya melalui misteri ini.”107
Kami akan membahas lebih lanjut ajaran Yohanes Paulus II di dalam bagian tentang bidah-bidahnya.
Gagasan bahwa Allah menyatukan diri-Nya sendiri dengan setiap orang di dalam Penjelmaan-Nya yaitu
ajaran yang sesat dan bidah. Tiada persatuan antara Yesus Kristus dan setiap orang yang dihasilkan oleh
dari Penjelmaan sendiri.
Seluruh tujuan dari Gereja Katolik yaitu untuk menyatukan umat manusia dengan Yesus Kristus. Tujuan
ini dilakukan melalui iman dan pembaptisan. Seandainya persatuan antara segenap umat manusia dan
Yesus Kristus terjadi pada Penjelmaan, lantas, Gereja sama sekali tidak bernilai dan kenyataannya tidak
berguna. Hal yang sama lantas akan harus dikatakan tentang Penyaliban, Kebangkitan, ketujuh sakramen,
dll. Di dalam sistem ini, Penyaliban Kristus yang olehnya dunia sungguh ditebus dan diberi suatu
kesempatan untuk memperoleh keselamatan berubah semata-mata menjadi suatu tanda akan persatuan
antara Kristus dan setiap manusia yang sudah ada pada saat ini dan yang sudah ada sejak Penjelmaan.
Revolusi Vatikan II
100
Lantas, Penebusan sama sekali tidak memiliki nilai keselamatan. Seseorang dapat melihat bahwa di
dalam system ini, seluruh doktrin Katolik secara serentak dibuang ke dalam toilet.
Kenyataannya, doktrin Vatikan II ini, yang telah diulangi dan didedahkan begitu seringnya oleh
Yohanes Paulus II, sebenarnya lebih buruk dibandingkan doktrin sesat Martin Luther. Luther, walaupun
ia seorang bidah, setidaknya percaya bahwa untuk dipersatukan dengan Kristus, seseorang harus
memiliki iman akan Salib Yesus kristus. namun menurut doktrin Vatikan II dan Yohanes Paulus II, iman
akan Salib Yesus Kristus berlebihan dan tidak diperlukan sebab seluruh umat manusia telah disatukan
kepada Kristus “untuk selamanya” (Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis, 13). Kami berharap agar sang
pembaca dapat melihat niat jahat yang luar biasa yang terpendam di dalam pernyataan Konstitusi
Vatikan II Gaudium et Spes #22.
Sekarang kami akan mengutip dogma-dogma Katolik yang menunjukkan bahwa persatuan antara umat
manusia yang berdosa dan Kristus hanya datang dari iman dan pembaptisan; dosa asal tidak diampuni
dengan cara lain.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Sesi 11, 4 Februari 1442, “Cantate Domino”:
“Mengenai anak-anak, sebab bahaya maut sering terjadi dan sebab satu-satunya obat yang
tersedia untuk mereka yaitu sakramen pembaptisan yang melaluinya mereka telah
dirampas dari kekuasaan Iblis dan dipungut sebagai anak-anak Allah ….”108
Paus Pius XI, Quas Primas (#15), 11 Desember 1925:
“Kerajaan ini , sebagaimana yang dilukiskan oleh Injil, umat manusia bersiap diri untuk
memasukinya dengan melakukan penitensi. Tidak seorang pun dapat memasukinya selain
melalui iman dan pembaptisan; namun pembaptisan, yang sepenuhnya merupakan suatu ritus
eksterior, menandakan dan menghasilkan regenerasi interior.”109
Berpisahnya seseorang dari Gereja menghilangkan persatuan dirinya dengan Kristus. Vatikan II tidak
peduli untuk menyebutkannya.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#5), 29 Juni 1896:
“Barangsiapa memisahkan diri dari Gereja, ia bersatu dengan seorang pezina. Ia juga telah
memotong dirinya sendiri dari janji-janji yang telah dibuat kepada Gereja. Barangsiapa
meninggalkan Gereja Kristus, ia tidak akan sampai kepada pahala Kristus.”110
Di samping bidah di dalam Gaudium et Spes #22, ada beberapa bidah lain di dalam Gaudium et Spes
yang patut kami catat. Gaudium et Spes mengajarkan bahwa pengendalian kelahiran yaitu hal yang
bajik.
Dokumen Vatikan II, Gaudium et Spes #51:
“Konsili ini sadar bahwa dalam menjalani kehidupan pernikahan mereka secara harmonis, para
pasangan mungkin sering terhambat oleh kondisi-kondisi kehidupan modern dan menghadapi
situasi-situasi di mana jumlah anak tidak dapat bertambah, setidaknya untuk suatu waktu, serta
kesulitan untuk senantiasa mengungkapkan cinta kasih serta kemesraan.”111
Dokumen Vatikan II, Gaudium et Spes #52:
“Para pakar ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang biologi, medis, sosial, dan psikologi, dapat
berjasa banyak bagi kesejahteraan pernikahan dan keluarga, dan bagi ketenteraman hati nurani,
jika mereka bekerja sama untuk semakin menjelaskan berbagai kondisi yang mendukung
pengendalian prokreasi yang bajik.”112
Revolusi Vatikan II
101
Dokumen Vatikan II, Gaudium et Spes #87:
“Sebab, seturut hak asasi manusia yang tidak dapat diganggu gugat atas pernikahan dan
prokreasi, keputusan tentang jumlah anak yang akan dilahirkan bergantung kepada penilaian
yang benar dari orang tua, dan sama sekali tidak boleh diserahkan kepada penilaian dari otoritas
publik … Untuk menjelajahi metode-metode yang bertujuan mengatur jumlah anak mereka,
informasi yang tepat harus diberikan tentang kemajuan-kemajuan sains yang terbukti baik dan
yang sesuai dengan tatanan moral.”113
Di sini kita melihat Vatikan II mengajarkan bahwa pengendalian kelahiran mungkin menjadi sesuatu
yang bajik dan bahwa para pasangan boleh memilih jumlah anak yang akan dilahirkan. Ajaran ini
bertentangan dengan hukum kodrati. Allah yaitu sang pemberi hidup. Tidak seorang pun
diperbolehkan untuk melanggar kehendak Allah untuk membawa kehidupan baru di dalam dunia dengan
mengendalikan kelahiran atau membatasi keluarganya. Pengendalian kelahiran tidak pernah diizinkan
dengan cara apa pun, baik dengan cara “alami” ataupun dengan metode-metode artifisial. Untuk tahu
lebih banyak tentang hal ini, mohon baca bagian dari buku ini mengenai Keluarga Berencana Alami.
Selanjutnya, kita harus membahas penyembahan manusia oleh Vatikan II.
Dokumen Vatikan II, Gaudium et Spes #26:
“ada pula kesadaran yang semakin meningkat akan martabat yang istimewa yang dimiliki
oleh pribadi manusia, yang lebih tinggi dari segalanya dan yang hak-hak serta kewajibannya
bersifat universal dan tidak dapat diganggu gugat.”114
Dokumen Vatikan II, Gaudium et Spes #12:
“Baik kaum beriman maupun mereka yang tidak beriman hampir semufakat, bahwa segala
sesuatu yang ada di bumi harus terarah kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya.”115
Ini yaitu suatu penghujatan. Jika segala sesuatu yang ada di bumi harus terarah kepada manusia sebagai
pusat dan puncaknya, hal ini berarti segala sesuatu harus diukur dengan hukum manusia, bukan hukum
Allah. Hal ini berarti bahwa untuk segala tujuan, manusia sebenarnya yaitu Allah – segala sesuatu
terarah kepadanya. Manusia telah ditempatkan di tempat Allah.
Vatikan II
Revolusi Vatikan II
102
8. Sacrosanctum Concilium – Konstitusi Vatikan II tentang Liturgi Kudus
Sacrosanctum Concilium yaitu konstitusi Vatikan II tentang liturgi kudus. Dokumen ini yaitu sebab
dari perubahan-perubahan yang mencengangkan yang dibuat terhadap Misa serta sakramen-sakramen
lainnya sesudah Vatikan II.
Sebuah “Misa” pasca-Vatikan II
Perubahan-perubahan yang mencengangkan ini akan dibahas dengan lebih rinci di dalam bagian buku ini
yang membahas “Revolusi Liturgi”. Apa yang dimulai oleh Sacrosanctum Concilium, dituntaskan oleh
Paulus VI dengan menghapus Misa Latin tradisional dan menggantikannya dengan suatu ibadah
Protestan yang tidak valid yang sering disebut sebagai Misa Baru atau Novus Ordo Missae (Misa Orde
Baru). “Misa Baru” ini sendiri menyebabkan jutaan orang meninggalkan Gereja Katolik.
Revolusi Vatikan II
103
Sebuah “Misa” pasca-Vatikan II yang lain
Paulus VI juga mengubah ritus-ritus dari ketujuh sakramen Gereja. Ia membuat perubahan-perubahan
yang parah, dan yang kemungkinan menjadikan tidak valid Sakramen Pengurapan Terakhir, Krisma dan
Imamat. namun semua ini bermula dari Konstitusi Vatikan II, Sacrosanctum Concilium.
Intensi-intensi Vatikan II yang revolusioner terlihat jelas di dalam Sacrosanctum Concilium.
Sacrosanctum Concilium #63b:
"Edisi baru dari kitab ritus-ritus Roma harus diadakan. Dengan mengikuti edisi baru ini
sebagai contoh, setiap otoritas gereja setempat yang kompeten (lihat artikel 22.2) harus
mempersiapkan ritus-ritusnya masing-masing, yang disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan
dari masing-masing daerah, termasuk kebutuhan-kebutuhan yang berkenaan dengan bahasa,
sedini mungkin.”116
Sacrosanctum Concilium #66:
“Kedua ritus pembaptisan orang dewasa harus direvisi, baik yang lebih sederhana maupun lebih
khidmat, yang lebih khidmat sehubungan dengan katekumenat yang diperbarui ....”117
Sacrosanctum Concilium #67:
“Ritus pembaptisan anak-anak harus direvisi, dan disesuaikan kepada situasi yang nyata bahwa
anak-anak ini masih bayi.”118
Sacrosanctum Concilium #71:
“Ritus penguatan juga harus direvisi...”119
Sacrosanctum Concilium #72:
“Ritus-ritus dan formula-formula penitensi juga harus direvisi sedemikian rupa sehingga
mengungkapkan hakikat dan hasil dari sakramen ini .”120
Sacrosanctum Concilium #76:
“Ritus-ritus untuk berbagai jenis penahbisan harus direvisi – baik perayaan-perayaannya
maupun naskah-naskahnya.”121
Sacrosanctum Concilium #77:
“Ritus perayaan pernikahan di dalam kitab ritus-ritus Roma harus direvisi, dan diperkaya,
Revolusi Vatikan II
104
sedemikian rupa sehingga ritus itu akan mengungkapkan rahmat sakramen ini dengan
lebih jelas ....”122
Sacrosanctum Concilium #79:
“Sakramental-sakramental harus direvisi ... revisi ini harus memperhatikan kebutuhan-
kebutuhan di zaman kita ini.”123
Sacrosanctum Concilium #80:
“Ritus konsekrasi para perawan, yang ada di dalam kitab Pontificale Romanum, direncanakan
untuk direvisi.”124
Sacrosanctum Concilium #82:
“Ritus penguburan anak-anak kecil harus direvisi, dan suatu Misa khusus diberikan.”125
Sacrosanctum Concilium #89d:
“Ibadat Prima harus dihapuskan.”126
Sacrosanctum Concilium #93:
” ... himne-himne harus dikembalikan kepada bentuk asalnya. Hal-hal yang berbau mitologi atau
kurang pantas bagi kesucian Kristiani harus dihapuskan atau diubah.”127
Sacrosanctum Concilium #107:
“Tahun liturgi harus direvisi.”128
Sacrosanctum Concilium #128:
“Kanon-kanon dan undang-undang gereja yang berkenaan dengan penyediaan hal-hal yang
kelihatan untuk ibadah harus direvisi SEDINI MUNGKIN.”129
Ya, Iblis tidak dapat menanti untuk menghancurkan warisan liturgi yang berharga dari Gereja Katolik
dengan memakai para bidah di Vatikan II. Tujuannya yaitu untuk menyisakan sesedikit mungkin
Tradisi. Dan, seperti yang akan terus kami dokumentasikan, itulah persisnya yang telah dilakukannya.
“Misa” pasca-Vatikan II yang lain
Di dalam Sacrosanctum Concilium #37 dan #40.1, Konsili Vatikan II kembali jatuh ke dalam bidah dengan
menentang ajaran Paus Pius X di dalam Pascendi tentang Ibadat Modernis.
Sacrosanctum Concilium #37:
” ... (Gereja) membudidayakan dan memajukan karunia-karunia serta anugerah-anugerah pikiran
dan hati yang dimiliki oleh berbagai suku dan bangsa ... Memang benar bahwa Gereja terkadang
Revolusi Vatikan II
105
mengizinkan hal-hal semacam itu di dalam liturginya sendiri, dengan syarat bahwa hal-hal
ini konsisten dengan cara berpikir yang melandasi semangat liturgi yang sejati.”130
Mohon perhatikan: Vatikan II mengizinkan budaya-budaya serta tradisi-tradisi dari berbagai bangsa di
dalam ibadah liturgi.
Sacrosanctum Concilium #40.1:
“Otoritas Gereja setempat yang kompeten harus dengan berhati-hati dan dengan saksama
mempertimbangkan, sehubungan dengan hal ini, elemen-elemen mana dari tradisi-tradisi dan
bakat-bakat tertentu dari masing-masing bangsa yang dapat dibawa ke dalam ibadat ilahi.
Penyesuaian-penyesuaian yang dinilai berguna atau diperlukan harus diajukan kepada takhta
apostolik, dan dimasukkan dengan persetujuannya.”131
Perhatikan kembali bahwa Vatikan II secara resmi agar kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi berbagai
bangsa dimasukkan ke dalam liturgi.
Hal yang diajarkan oleh Vatikan II di atas (dan yang telah diimplementasikan di seluruh Gereja Vatikan II
pada dekade-dekade sesudah Vatikan II dipermaklumkan) yaitu hal persisnya dikutuk secara khidmat
oleh Paus Pius X di dalam surat ensiklik Pascendi sebagai ibadat Modernis!
Paus Pius X, Pascendi Dominici Gregis (#26), 8 September 1907, Tentang Ibadat Modernis:
“FAKTOR UTAMA EVOLUSI IBADAT yaitu PERLUNYA PENYESUAIAN DENGAN ADAT DAN
TRADISI-TRADISI RAKYAT, dan juga perlunya memanfaatkan nilai tindakan-tindakan tertentu
yang dilakukan sebab kebiasaan.”132
Ajaran Vatikan II telah dikecam kata demi kata oleh Paus Pius X pada tahun 1907!
Di dalam Sacrosanctum Concilium #34 dan #50, Vatikan II kembali menentang konstitusi dogmatis Gereja
kata demi kata.
Sacrosanctum Concilium #34:
“Ritus-ritus harus memancarkan kesederhanaan yang kaya. Ritus-ritus harus singkat dan jelas,
menghindari pengulangan-pengulangan yang tidak berguna; ritus-ritus ini harus
disesuaikan kepada daya tangkap para umat, dan secara umum tidak boleh memerlukan banyak
penjelasan.”133
Sacrosanctum Concilium #50:
“Maka, ritus-ritus harus disederhanakan, dengan suatu cara yang secara berhati-hati
mempertahankan hal-hal yang pokok. Pengulangan-pengulangan yang telah timbul seiring
berjalannya waktu harus ditiadakan, demikian pula tambahan-tambahan yang kurang berguna
harus ditiadakan.”134
Revolusi Vatikan II
106
Kita dapat melihat betapa ritus-ritus ini telah menjadi begitu “sederhana”
Paus Pius VI secara eksplisit mengutuk ide bahwa ritus-ritus liturgi tradisional Gereja harus
disederhanakan di dalam Konstitusi dogmatisnya Auctorem fidei!
Paus Pius VI, Auctorem fidei, 28 Agustus 1794, #33:
“Dalil dari Sinode itu yang mewujudkan semangat untuk menghapuskan perkara yang olehnya di
satu sisi, telah timbul kelupaan tentang prinsip-prinsip yang berkaitan dengan tata perayaan
liturgi, ‘dengan mengembalikannya (liturgi ini ) menjadi ritus-ritus yang jauh lebih
sederhana, dengan mengungkapkan liturgi ini dalam bahasa vernakular, dengan
mengucapkannya dengan suara lantang ….” – Dikutuk sebagai dalil yang lancang, menghina
bagi telinga orang saleh, mencela Gereja, dan mendukung tuduhan-tuduhan para bidah
dalam perkara ini.135
Sacrosanctum Concilium juga secara resmi meminta agar ritus dari setiap sakramen diubah, dan agar
“sikap badan” diikutsertakan di dalam liturgi (#30):
Sacrosanctum Concilium #30:
“Demi mendorong partisipasi aktif, aklamasi umat, bersama dengan tanggapan-tanggapan,
berbagai mazmur, antifona-antifona serta himne-himne haruslah dikembangkan, bersama gerak-
gerik, peragaan, dan sikap badan.”136
Vatikan II juga secara resmi meminta dilakukannya suatu “penyesuaian liturgi yang radikal” (#40):
Sacrosanctum Concilium #40:
“namun , di beberapa tempat atau di dalam beberapa situasi, mungkin timbul suatu kebutuhan
yang mendesak untuk suatu penyesuaian liturgi yang radikal.”137
Teks-teks dari Vatikan II ini mungkin merupakan bagian dari alasan bahwa gereja-gereja modern Vatikan
II sering melaksanakan “Misa” di mana ada band-band polka, gitar listrik, balon, drum, perayaan
orang pribumi Amerika, para penari yang telanjang dada, serta musik rock (lihatlah bagian tentang
“Revolusi Liturgi”). Orang juga dapat menemukan para “imam” menyelenggarakan “Misa-Misa” semacam
itu dengan mengenakan macam-macam pakaian yang berkisar dari kaus sepak bola sampai kostum
badut. Ya, “semangat Vatikan II” telah menjamah gereja-gereja Vatikan II masa kini. namun , orang-orang
Katolik sejati yang telah berteguh dalam perlawanan mereka terhadap kemurtadan Vatikan II dapat
bersukacita sebab Paus Gregorius X di Konsili Lyon II dan Paus Klemens V di Konsili Vienne, secara
otoritatif mengecam segala kekejian itu!
Revolusi Vatikan II
107
Paus Gregorius X, Konsili Lyon II, 1274, Konstitusi 25:
“Oleh sebab itu, orang harus memasuki Gereja dengan penuh kerendahan hati dan kesalehan;
perilaku di dalam Gereja haruslah tenang, berkenan kepada Allah, membawa kedamaian
kepada mereka yang melihatnya, menjadi suatu sumber pengajaran dan juga kesegaran
batin ... Di dalam gereja-gereja, kekhidmatan kudus haruslah meresapi seluruh hati dan pikiran;
seluruh perhatian haruslah dipusatkan kepada doa. Maka, manakala pantas adanya untuk
memanjatkan permohonan-permohonan surgawi dengan damai dan tenang, hendaknya tidak
seorang pun membangkitkan pemberontakan, mencetuskan kegaduhan atau menjadi bersalah
atas kekerasan … Semua percakapan yang sia-sia, apalagi percakapan yang kotor dan
profan harus dihentikan; segala bentuk celotehan harus berhenti. Pendek kata, segala
sesuatu yang dapat mengganggu ibadat ilahi atau yang mungkin bersifat menghina bagi
mata sang Raja ilahi harus secara mutlak terasing dari gereja-gereja, untuk mencegah agar
di mana pengampunan seharusnya dimohonkan atas dosa-dosa kita, kesempatan berdosa justru
ditimbulkan, atau dosa malah dilakukan … Memang benar bahwa orang-orang yang secara
lancang melanggar larangan-larangan di atas … akan harus menakuti ketegasan pembalasan
dendam dari Allah dan dari diri Kami sendiri, sehingga sesudah mereka telah bertekad teguh
untuk menghindarkan perilaku semacam itu di masa depan, mereka telah mengakui
kebersalahan diri mereka.”138
Paus Klemens V, Konsili Vienne, Dekret #22, 1311-1312:
“ada beberapa orang, baik dari antara para imam atau orang awam, terutama pada saat
vigilia pesta-pesta tertentu di mana mereka seharusnya berada di dalam gereja dan bertekun
dalam doa, yang tidak takut melakukan tarian-tarian yang jangak di daerah pemakaman
gereja-gereja dan terkadang menyanyikan balada-balada dan melakukan banyak
penghinaan. Terkadang, peristiwa-peristiwa semacam ini diikuti dengan penistaan
terhadap gereja-gereja dan pemakaman-pemakaman, perilaku yang tercela dan berbagai
kriminalitas; dan ofisi liturgi sangat terganggu, yang menimbulkan kehinaan bagi sang Raja
ilahi dan skandal bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.”139
Akhirnya, Sacrosanctum Concilium, yang ingin menjamah segala sesuatu, secara resmi meminta agar
tradisi-tradisi musik pagan diikutsertakan di dalam ibadat Katolik (#119):
Sacrosanctum Concilium #119:
“Di berbagai belahan dunia, terutama di daerah-daerah misi, ada bangsa-bangsa yang
memiliki suatu tradisi musik yang tersendiri, suatu tradisi yang amat penting bagi kehidupan
beragama dan berbudaya mereka … Itulah sebabnya, perhatian khusus harus ditujukan untuk
memberi pelatihan kepada para misionaris dalam bidang musik, sehingga, sebisa mungkin,
mereka akan mampu memajukan musik tradisional dari bangsa-bangsa ini di sekolahan, di dalam
paduan suara, dan di dalam ibadat.”140
Syukur, Paus Pius XII dan Konsili Trente telah mengutuk tradisi musik pagan di dalam gereja.
Paus Pius IV, Konsili Trente, Sesi 22:
Dekret tentang hal-hal yang harus dipatuhi dan dihindari di dalam Misa:
“Dan mereka harus menghalau dari gereja-gereja mereka jenis musik yang
mengikutsertakan suatu elemen yang tidak senonoh dan tidak murni, baik dalam hal
memainkan organ atau bernyanyi; dan demikian pula adanya dengan semua aktivitas
duniawi, percakapan yang sia-sia dan profan, orang yang berjalan-jalan, serta kegaduhan dan
Revolusi Vatikan II
108
keributan, sehingga rumah Allah dapat sungguh-sungguh disebut dan tampak sebagai
sebuah rumah doa.”141
Paus Pius XII, Musicae Sacrae (# 42), 25 Desember 1955:
“[Tentang musik liturgi] Musik itu haruslah suci. Hal-hal yang berbau profan tidak
diperbolehkan untuk dimasukkan ke dalam musik liturgi, tidak pun segala hal semacam itu
boleh terselisip ke dalam melodi-melodi yang mengekspresikannya.”142
Adakah suatu keraguan bahwa Vatikan II mencoba mendatangkan suatu liturgi baru yang pemurtad
untuk Gereja barunya yang pemurtad? Vatikan II menjatuhkan anatema Gereja di atas kepalanya sendiri!
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 7, Kanon 13, ex cathedra:
“Barangsiapa berkata bahwa ritus-ritus yang diwarisi dan disetujui dari Gereja Katolik
yang terbiasa digunakan di dalam administrasi khidmat sakramen-sakramen dapat dipandang
rendah atau ditiadakan oleh sang pelayan tanpa berbuat dosa sekehendak sang pelayan,
atau dapat diubah oleh imam gereja-gereja menjadi ritus-ritus baru yang lain: terkutuklah
dia.”143
ada bidah-bidah lain di dalam dokumen-dokumen Vatikan II. namun , apa yang sudah dibahas
seharusnya cukup untuk meyakinkan orang-orang yang berkehendak baik bahwa tidak seorang Katolik
pun dapat menerima konsili yang sesat ini tanpa menyangkal Iman Katolik. Dan tidaklah cukup untuk
hanya untuk melawan bidah-bidah Vatikan II; seseorang harus sepenuhnya mengutuk konsili yang
non-Katolik ini dan semua orang yang akan bersikeras berpegang kepada ajaran-ajarannya.
Sebab jika seseorang menolak bidah-bidah Vatikan II, namun masih menganggap dirinya sendiri berada di
dalam persekutuan bersama orang-orang yang menerima ajaran-ajaran sesat Vatikan II, maka orang
semacam itu sebenarnya masih berada dalam persekutuan bersama para bidah dan oleh sebab itu
yaitu seorang bidah.
9. Revolusi Liturgi– Sebuah Misa yang Baru
“Memang, seakan-akan salah satu iblis di dalam buku C.S. Lewis The Screwtape Letters
telah dipercayakan untuk menghancurkan liturgi, ia tidak dapat melakukannya
dengan lebih baik lagi.”1
MISA BARU VS MISA TRADISIONAL
Misa Latin Tradisi











