Allah yang Sama, dst. yaitu
tindakan yang menghormati ajaran Katolik. Seseorang yang ingin ‘mengikuti’ khotbah ini,
oleh sebab itu, harus mengakui bahwa mereka yang menerima bidah-bidah ini
menghormati ajaran Katolik! Ini jelas-jelas konyol dan sesat; hal ini membuktikan bahwa, tidak
peduli cara seseorang ingin memandang masalah ini bersama Audiens Umum dari Paulus VI
ini, Vatikan II mengikat semua orang yang percaya bahwa Paulus VI yaitu seorang Paus yang
valid – yang membuktikan bahwa Paulus VI sama sekali bukan Paus sejati. Anda tidak dapat
mengutip Audiens Umum ini untuk berkata bahwa seseorang tidak terikat untuk menerima Vatikan II,
sewaktu Audiens Umum yang sama berkata bahwa setiap orang yang mengikutinya, juga
menghormati Magisterium! Paulus VI lalu berkata di dalam khotbah yang sama:
“ia [Konsili ini ] tetap memberi ajarannya dengan otoritas magisterium yang
biasa. Magisterium biasa ini, yang jelas-jelas yaitu resmi, harus diterima dengan
kepatuhan dan ketulusan, sesuai dengan cara pikir Konsili tentang sifat dan tujuan-tujuan
dari masing-masing dokumen.”
Bagian dari khotbah ini hampir tidak pernah dikutip oleh para pembela Paulus VI, mungkin sebab
mereka mengetahui bahwa ajaran dari Magisterium Biasa Tertinggi yaitu infalibel, yang berarti
bahwa bahkan Audiens Umum dari Anti-Paus Paulus VI ini mendukung infalibilitas dari Vatikan II. Di
dalam Audiens Umum yang sama, Paulus VI juga mengatakan hal ini:
“yaitu kewajiban dan keberuntungan dari manusia di masa pasca-Konsiliar ini untuk mengenal
dokumen-dokumen ini, untuk mempelajari dan menerapkan dokumen-dokumen ini .”
Terlebih lagi, Paulus VI menyatakan di dalam ensikliknya Ecclesiam Suam (yang ditujukan kepada
Gereja secara keseluruhan) bahwa Vatikan II memiliki tugas untuk membela doktrin.
Paulus VI, Ecclesiam Suam, (#30), 6 Agustus 1964:
“Ini persisnya sebab Konsili Vatikan II memiliki tugas untuk berurusan sekali lagi dengan
doktrin de Ecclesia (yang berhubungan dengan Gereja) dan untuk mendefinisikannya,
sehingga konsili ini telah disebut sebagai kelanjutan dan pelengkap dari Konsili Vatikan I.”11
Hal ini berarti bahwa Vatikan II memiliki tugas untuk mengajar secara infalibel. Dan di bagian
selanjutnya, kami akan mengutip dari khotbah Paulus VI di tahun 1976 di mana ia membahas hal
tentang apabila Vatikan II dan Misa Baru mengikat dan secara khusus menolak klaim para
Apakah Vatikan II Infalibel?
577
tradisionalis palsu yang ingin berpegang kepada legitimitas Paulus VI dan dalam waktu yang
bersamaan menolak Misanya dan konsilinya.
Bantahan #3) Vatikan II tidak infalibel sebab ada catatan yang dilampirkan di dalam
dokumennya Lumen Gentium yang berkata bahwa konsili itu tidak infalibel.
Jawaban: [Catatan: jawaban akan bantahan ini sangat dalam dan rinci, dan beberapa orang mungkin
tidak merasa tertarik. Jika anda tidak ingin mencari jawaban akan bantahan ini, anda mungkin dapat
melongkapi hal ini.]
Beberapa pembela Paulus VI merujuk kepada sebuah catatan teologis yang terlampir di dokumen
Lumen Gentium. Mereka berpikir bahwa penjelasan ini membuktikan bahwa Paulus VI tidak
mempermaklumkan Vatikan II secara infalibel atau dengan berkuasa. namun argumen ini tidak
masuk akal sesudah dicermati. Berikut yaitu bagian yang penting dari catatan teologis yang
dilampirkan di dokumen Lumen Gentium:
“Dengan mempertimbangkan kebiasaan konsiliar dan tujuan penggembalaan dari konsili ini,
sinode kudus ini mendefinisikan sebagai mengikat kepada Gereja hanya hal-hal yang berkenaan
dengan iman dan moralitas yang ia nyatakan secara terbuka memang berkenaan dengan iman
dan moral. HAL-HAL LAIN YANG DINYATAKAN OLEH SINODE INI SEBAGAI AJARAN
MAGISTERIUM TERTINGGI DARI GEREJA, SETIAP DAN SELURUH ANGGOTA DARI UMAT
BERIMAN HARUS MENERIMA DAN MEMELUKNYA MENURUT POLA PIKIR SINODE ITU
SENDIRI, YANG SUDAH JELAS DARI POKOK HAL ini ATAUPUN CARA
PENGUNGKAPAN HAL ini SESUAI DENGAN ATURAN-ATURAN INTERPRETASI
TEOLOGIS.”12
Pertama, catatan ini bahkan bukan bagian dari naskah sesungguhnya dari dokumen Lumen Gentium;
catatan ini yaitu suatu lampiran dari naskah Lumen Gentium.13
Kedua, catatan ini dilampirkan hanya kepada Lumen Gentium, dan tidak kepada dokumen-dokumen
yang lain. Dalam kata lain, bahkan jika catatan teologis ini ‘menyelamatkan’ maklumat Paulus VI dari
bidah-bidah di dalam Lumen Gentium (nyatanya tidak), catatan ini tetap tidak ‘menyelamatkan’
maklumatnya untuk bidah-bidah Vatikan II yang lain.
Ketiga, jika seseorang membaca catatan di atas, ia dapat melihat bahwa catatan itu menyatakan
bahwa pokok hal, atau cara pengungkapan sesuatu di dalam Vatikan II, menunjukkan bahwa Vatikan
II menetapkan Magisterium Gereja yang tertinggi. Pernyataan Paulus VI pada permulaan dan
akhir dari setiap dokumen Vatikan II (yang telah dikutip) jelas-jelas menyatakan, lewat ‘cara
pengungkapannya’, ‘sesuai dengan aturan-aturan interpretasi teologis’ (yaitu, sejajar dengan
dekret-dekret dogmatis dari masa lalu), bahwa ia menetapkan Magisterium yang tertinggi
(jika ia yaitu seorang Paus). Oleh sebab itu, penjelasan teologis yang terlampir kepada dokumen
Lumen Gentium ini tidak mengurangi ataupun merendahkan gaya bahasa yang khidmat dari Paulus VI
yang ditemukan pada akhir dari setiap dokumen Vatikan II. namun , gaya bahasanya pada akhir dari
setiap dokumen Vatikan II memenuhi syarat-syarat catatan teologis ini .
Keempat, mereka yang mencoba untuk memakai catatan ini untuk ‘menyelamatkan’ semua
dokumen dari Vatikan II agar tidak mengkompromikan Infalibilitas Kepausan tidak memperhatikan
Apakah Vatikan II Infalibel?
578
apa yang dikatakan catatan itu. Catatan itu jelas-jelas menyatakan bahwa 'hal-hal lain yang
dinyatakan oleh sinode ini sebagai ajaran Magisterium tertinggi dari Gereja, setiap dan
seluruh anggota dari umat beriman harus menerima dan memeluknya menurut pola pikir
sinode itu sendiri, yang sudah jelas dari pokok hal ini ataupun cara pengungkapan hal
ini sesuai dengan aturan-aturan interpretasi teologis.”
Ini yaitu poin yang sangat penting! ada contoh-contoh di dalam Vatikan II di mana Vatikan II
menyatakan apa yang dipercayainya sebagai ajaran tertinggi dari Magisterium, di mana “setiap dan
seluruh anggota dari umat beriman harus menerima dan memeluknya menurut pola pikir
sinode itu sendiri, yang sudah jelas dari pokok hal ini ataupun cara pengungkapan hal
ini ...” Contohnya, di dalam Deklarasi tentang Kebebasan Beragamanya yang sesat (Dignitatis
Humanae), Vatikan II berkata demikian:
Dokumen Vatikan II, Dignitatis Humanae (#9):
“Pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh sinode Vatikan ini tentang kebebasan beragama yaitu
berdasar martabat manusia, tuntutan-tuntutan yang telah diketahui secara lebih penuh oleh
akal manusia dari pengalaman berabad-abad. namun ajaran akan kebebasan ini berakar di
dalam wahyu ilahi, dan sebab alasan ini harus dianggap sedemikian sakral oleh para
umat Kristiani.”14
Di sini Vatikan II secara terang-terangan menunjukkan bahwa ajarannya yang sesat tentang
kebebasan beragama berakar di dalam wahyu ilahi dan harus dianggap sakral oleh para umat
Kristiani. Hal ini jelas-jelas memenuhi persyaratan dari catatan teologis tentang ajaran bahwa "setiap
dan seluruh anggota dari umat beriman harus menerima dan memeluknya menurut pola pikir sinode
itu {Vatikan II} sendiri, yang sudah jelas dari pokok hal ini ataupun cara pengungkapan
hal ini ...” Hal ini tidak berhenti di sini saja:
Dokumen Vatikan II, Dignitatis Humanae (#12):
“Maka, Gereja setia kepada kebenaran Injil dan mengikuti jalan Kristus dan para rasul,
sewaktu ia memandang bahwa prinsip kebebasan beragama sesuai dengan martabat
manusia dan wahyu ilahi, dan sewaktu Gereja mempromosikannya. Sepanjang sejarah, ia telah
menjaga dan mewariskan ajaran yang diterima dari Kristus dan para rasul.”15
Di sini Vatikan II secara terang-terangan menunjukkan bahwa ajarannya yang sesat tentang
kebebasan beragama 1) setia kepada kebenaran Injil; 2) mengikuti jalan Kristus dan para rasul; dan
3) sesuai dengan wahyu ilahi! Kami mengingatkan sang pembaca kembali akan kata-kata di dalam
catatan teologis ini , yang menyatakan bahwa “hal-hal lain yang dinyatakan oleh sinode ini
sebagai ajaran magisterium tertinggi dari Gereja, setiap dan seluruh anggota dari umat beriman harus
menerima dan memeluknya menurut pola pikir sinode itu sendiri, yang sudah jelas dari pokok hal
ini ataupun cara pengungkapan hal ini sesuai dengan aturan-aturan interpretasi
teologis.”
Maka, menurut catatan teologis itu sendiri, mereka yang menerima Paulus VI sebagai seorang Paus
terikat untuk menerima ajaran sesat Vatikan II tentang kebebasan beragama sebagai ajaran dari
Magisterium tertinggi Gereja! Catatan teologis ini mengikat mereka untuk menerima ajaran sesat
Vatikan II tentang kebebasan beragama sebagai 1) setia kepada kebenaran Injil; 2) mengikuti jalan
Kristus dan para rasul; dan 3) sesuai dengan wahyu ilahi sebab inilah pola pikir sinode itu sendiri,
Apakah Vatikan II Infalibel?
579
yang sudah jelas dari pokok hal ini ataupun cara pengungkapan hal ini ...” Sangatlah
sederhana: mereka yang percaya bahwa Anti-Paus Paulus VI yaitu seorang Paus terikat kepada
dokumen tentang kebebasan beragama.
Untuk merangkum semua poin-poin yang telah dibuat sejauh ini: 1) catatan teologis yang terlampir
di Lumen Gentium tidak berlaku untuk semua dokumen; 2) catatan teologis yang terlampir di Lumen
Gentium tidak mengurangi ataupun merendahkan gaya bahasa Paulus II pada akhir dari setiap
dokumen Vatikan II, namun membuktikan bahwa gaya bahasanya di akhir dari setiap dokumen
memenuhi syarat-syarat ajaran infalibel dari Magisterium; 3) walaupun jika catatan teologis ini
berlaku untuk setiap dokumen – dan jika, entah bagaimana, catatan ini membuat gaya bahasa
Paulus VI yang khidmat pada akhir setiap dokumen tidak mengikat (tentunya tidak) – catatan
teologis ini sendiri namun membuktikan bahwa berbagai dokumen di dalam Vatikan II
infalibel dan mengikat lewat cara Vatikan II menyajikan ajarannya tentang hal-hal ini.
Seseorang akan gagal jika ia mencoba untuk menghindari kenyataan bahwa Anti-Paus Paulus VI tidak
dapat menjadi Paus sejati sedangkan pada waktu yang bersamaan, ia mempermaklumkan Vatikan II.
St. Petrus vs Anti-Petrus
Di dalam ensiklik dogmatisnya yang berjudul Quanta Cura, Paus Pius IX secara infalibel mengutuk
doktrin sesat kebebasan beragama (yang juga telah dikutuk oleh banyak Paus lain). Paus Pius IX secara
terang-terangan menganatemakan bidah bahwa kebebasan beragama harus menjadi suatu hak sipil di
dalam setiap masyarakat yang terbentuk secara benar. Gereja Katolik mengajarkan bahwa suatu
pemerintahan yang mengakui hak kebebasan beragama – seperti AS – tentunya lebih baik dibandingkan
pemerintahan yang mengekang Katolisisme. namun , ini hanyalah keadaan di mana seseorang
menentukan yang mana yang lebih baik dari dua kejahatan. Idealnya yaitu bahwa suatu pemerintahan
yang mengakui agama Katolik sebagai satu-satunya agama negara dan tidak memberi kepada setiap
orang ‘kebebasan’ untuk mempraktikkan dan menyebarkan agama sesatnya di area publik. Maka, ide
bahwa kebebasan beragama harus menjadi suatu hak sipil universal yaitu sesat, seperti yang
didefinisikan secara infalibel oleh Paus Pius IX di dalam Quanta Cura.
Paus Pius IX, Quanta Cura, (#3-6), 8 Desember 1864, ex cathedra:
“Gagasan yang sepenuhnya sesat tentang pemerintahan sosial ini membuat mereka tidak
ragu untuk mendukung opini yang sesat ini, yang dampak-dampaknya paling mematikan kepada
Gereja Katolik dan keselamatan jiwa-jiwa, dan yang disebut oleh Pendahulu Kami dari kenangan
yang berbahagia, Gregorius XVI, sebagai suatu kegilaan, YAITU BAHWA ‘KEBEBASAN BERHATI
NURANI DAN BERIBADAH MERUPAKAN HAK PRIBADI DARI SETIAP MANUSIA, YANG HARUS
SECARA HUKUM DIPROKLAMASIKAN DAN DIJAMIN DI DALAM SETIAP MASYARAKAT YANG
TERSUSUN SECARA BENAR … ‘ namun , walaupun mereka menekankan pernyataan-pernyataan
yang lancang ini, mereka tidak memikirkan, tidak pun mereka mempertimbangkan bahwa
mereka mengajarkan suatu kebebasan untuk menjadi binasa … Maka, DENGAN OTORITAS
APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK, MENGECAM, DAN MENGUTUK SELURUH DAN SETIAP OPINI
SERTA DOKTRIN YANG JAHAT YANG SECARA RINCI DISEBUTKAN DI DALAM SURAT INI, DAN
KAMI MENGHENDAKI DAN MEMERINTAHKAN KEPADA ANAK-ANAK GEREJA KATOLIK AGAR
MEREKA MENGANGGAP OPINI-OPINI DAN DOKTRIN-DOKTRIN ini SEPENUHNYA
DITOLAK, DILARANG, DAN DIKUTUK.”16
Paus Pius IX mengutuk, melarang, dan menolak (menjadikan tidak legal) lewat otoritas apostoliknya ide
yang sesat bahwa setiap negara harus memberi hak sipil untuk kebebasan beragama. namun
perhatikanlah! Berbeda dengan Paus Pius IX yang mengutuk, melarang, dan menolak (menjadikan tidak
Apakah Vatikan II Infalibel?
580
legal) doktrin ini dengan otoritas apostoliknya, Anti-Paus Paulus VI menyetujui, mendekretkan dan
menetapkan ajaran yang terkutuk ini lewat ‘otoritas apostoliknya’. Dalam kata lain, ajaran yang telah
dikutuk oleh Paus Pius IX lewat otoritas apostoliknya yaitu ajaran yang persis diajarkan oleh
Anti-Paus Paulus VI lewat ‘otoritas apostolik’-nya!
Anti-Paus Paulus VI, Deklarasi tentang Kebebasan Beragama Vatikan II:
“PAULUS, USKUP, HAMBA PARA HAMBA ALLAH, BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI SUCI DEMI
KENANGAN ABADI... Sinode Vatikan ini mendeklarasikan bahwa pribadi manusia memiliki
sebuah hak kebebasan beragama... HAK KEBEBASAN BERAGAMA DARI PRIBADI MANUSIA INI
HARUS DIBERIKAN PENGAKUAN DALAM HUKUM MASYARAKAT AGAR MENJADI SEBUAH
HUKUM SIPIL... Setiap dan segala hal yang ditetapkan di dalam dekret ini telah mendapat
persetujuan dari para bapa. KAMI PULA, DENGAN OTORITAS APOSTOLIK YANG DIBERIKAN
KEPADA KAMI OLEH KRISTUS, BERSAMA PARA BAPA-BAPA YANG TERHORMAT
MENYETUJUI, MENDEKRETKAN DAN MENETAPKAN HAL-HAL INI DI DALAM ROH KUDUS, dan
kami memerintahkan supaya apa yang sudah dinyatakan di dalam sinode diterbitkan untuk
kemuliaan Allah...
saya, Paulus, Uskup Gereja Katolik.”17
Otoritas St. Petrus vs. Otoritas Anti-Petrus
Paus Pius IX, Quanta Cura, (#3-6), 8
Desember 1864, ex cathedra:
“Gagasan yang sepenuhnya sesat tentang
pemerintahan sosial ini membuat
mereka tidak ragu untuk mendukung opini
yang sesat ini, yang dampak-dampaknya
paling mematikan kepada Gereja Katolik dan
keselamatan jiwa-jiwa, dan yang disebut oleh
Pendahulu Kami dari kenangan yang
berbahagia, Gregorius XVI, sebagai suatu
kegilaan, YAITU BAHWA ‘KEBEBASAN
BERHATI NURANI DAN BERIBADAH
MERUPAKAN HAK PRIBADI DARI SETIAP
MANUSIA, YANG HARUS SECARA HUKUM
DIPROKLAMASIKAN DAN DIJAMIN DI
DALAM SETIAP MASYARAKAT YANG
TERSUSUN SECARA BENAR … ‘ namun ,
walaupun mereka menekankan pernyataan-
pernyataan yang lancang ini, mereka tidak
memikirkan, tidak pun mereka
mempertimbangkan bahwa mereka
mengajarkan suatu kebebasan untuk menjadi
binasa … Maka, DENGAN OTORITAS
APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK,
MENGECAM, DAN MENGUTUK SELURUH
DAN SETIAP OPINI SERTA DOKTRIN YANG
JAHAT YANG SECARA RINCI DISEBUTKAN
DI DALAM SURAT INI, DAN KAMI
MENGHENDAKI DAN MEMERINTAHKAN
KEPADA ANAK-ANAK GEREJA KATOLIK
AGAR MEREKA MENGANGGAP OPINI-OPINI
DAN DOKTRIN-DOKTRIN ini
Anti-Paus Paulus VI, Deklarasi tentang
Kebebasan Beragama Vatikan II:
“PAULUS, USKUP, HAMBA PARA HAMBA
ALLAH, BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI
SUCI DEMI KENANGAN ABADI... Sinode
Vatikan ini mendeklarasikan bahwa pribadi
manusia memiliki sebuah hak kebebasan
beragama... HAK KEBEBASAN BERAGAMA
DARI PRIBADI MANUSIA INI HARUS
DIBERIKAN PENGAKUAN DALAM
HUKUM MASYARAKAT AGAR MENJADI
SEBUAH HUKUM SIPIL... Setiap dan segala
hal yang ditetapkan di dalam dekret ini
telah mendapat persetujuan dari para
bapa. KAMI PULA, DENGAN OTORITAS
APOSTOLIK YANG DIBERIKAN KEPADA
KAMI OLEH KRISTUS, BERSAMA PARA
BAPA-BAPA YANG TERHORMAT
MENYETUJUI, MENDEKRETKAN DAN
MENETAPKAN HAL-HAL INI DI DALAM
ROH KUDUS, dan kami memerintahkan
supaya apa yang sudah dinyatakan di dalam
sinode diterbitkan untuk kemuliaan Allah...
Saya, Paulus, Uskup Gereja Katolik.”19
Apakah Vatikan II Infalibel?
581
SEPENUHNYA DITOLAK, DIKECAM, DAN
DIKUTUK.”18
Apakah mungkin Paulus VI memiliki ‘otoritas apostolik’ yang sama dengan Paus Pius IX? Apakah otoritas
apostolik St. Petrus dapat menentang dirinya sendiri? Tidak! yaitu suatu bidah untuk mengatakan hal
ini ! (Lukas 22:32; Vatikan I, Sesi 4, Bab 4)
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896:
“ ... Yesus Kristus telah menginstitusikan di dalam Gereja suatu Magisterium yang hidup, autentik,
dan permanen, yang dikaruniai oleh-Nya dengan kuasa-Nya sendiri, yang diajar oleh Roh
Kebenaran, yang diteguhkan oleh mukjizat-mukjizat, dan Ia menghendaki serta memerintahkan
dengan amat ketat agar ajaran-ajaran doktrinal dari Magisterium ini diterima layaknya ajaran-
ajaran-Nya sendiri. Oleh sebab itu, setiap kali sabda dari Magisterium ini menyatakan bahwa
suatu kebenaran tertentu merupakan bagian dari keseluruhan doktrin yang diwahyukan secara
ilahi, setiap orang harus percaya dengan kepastian bahwa hal itu benar. Sebab seandainya
Magisterium itu entah bagaimana mungkin salah, akibatnya yaitu , yang jelas absurd, bahwa
Allah sendiri akan menjadi pencipta kesesatan umat manusia!”20
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 4, Bab 4, ex cathedra:
“Karunia kebenaran dan iman yang tidak pernah gugur ini oleh sebab itu telah
dianugerahkan secara ilahi kepada Petrus dan kepada para penerusnya di dalam Takhta
ini ... agar, dengan ditiadakannya penyebab skisma, Gereja sepenuhnya dilestarikan dalam
kesatuan, dan dengan bertumpu di atas fondasinya, ia [Gereja] berdiri dengan tak tergoyahkan
melawan pintu gerbang Neraka.”21
sesudah mempertimbangkan fakta-fakta ini, seseorang dapat melihat mengapa mereka yang dengan keras
kepala menggugat bahwa Paulus VI yaitu seorang Paus menolak Infalibilitas Kepausan. Mereka
menolak indefektibilitas Gereja; mereka berkata bahwa otoritas apostolik yang diberikan oleh Kristus
kepada penerus Petrus menentang dirinya sendiri; dan mereka menyatakan bahwa pintu Alam Maut
telah mengalahkan Gereja Katolik.
Faktanya yaitu bahwa Anti-Paus Paulus VI tidaklah pernah menjadi seorang Paus Gereja Katolik yang
terpilih secara sah; dan oleh sebab itu, maklumat khidmatnya akan bidah-bidah Vatikan II tidak
melanggar Infalibilitas Kepausan. Seperti yang kita telah lihat, Gereja Katolik mengajarkan bahwa
seorang bidah tidak mungkin terpilih menjadi Paus, sebab seorang bidah bukanlah anggota dari Gereja
Katolik. Hal ini telah didefinisikan oleh Konstitusi Apostolik Paus Paulus IV, Cum Ex Apostolatus Officio.
Apakah Vatikan II Infalibel?
582
_______________________________ Bagian 38:
1 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, The America Press, 1966, hal. 366,
dst.
2 Denzinger, The Sources of Catholic Dogma {Sumber-Sumber Dogma Katolik}, B. Herder Book. Co., Edisi Ketiga
puluh, 1957, no. 1839.
3 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 137, 199, dst.
4 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Sheed & Ward dan Georgetown
University Press, 1990, Vol. 1, hal. 559.
5 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 1, hal. 597.
6 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 2, hal. 802.
7 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 366, dst.
8 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 738-739.
9 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 715.
10 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, by Claudia Carlen, Raleigh: The Pierian Press, 1990,Vol. 3 (1903-
1939), hal. 355.
11 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 5, hal. 140.
12 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 2, hal. 898.
13 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 97.
14 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 2, hal. 1006.
15 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 2, hal. 1008-1009.
16 Denzinger 1690, 1699.
17 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-dokumen Vatikan II}, hal. 675, 679, 696.
18 Denzinger 1690, 1699.
19 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 675, 679, 696.
20 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 2 (1878-1903), hal. 394.
21 Denzinger 1837.
Paulus VI Menyatakan bahwa Vatikan II dan Misa Baru Mengikat
583
39. Paulus VI Menyudahi Mitos dari Para
Tradisionalis Palsu yang Begitu Populer
dan Penting dengan Menyatakan bahwa
Vatikan II dan Misa Baru Mengikat
“Mereka pun menegaskan bahwa Konsili Vatikan II tidak mengikat... Penggunaan Misa Orde Baru tidak
sama sekali diserahkan kepada pilihan bebas para imam ataupun para umat beriman.”1 (Paulus VI,
Sambutan; 24 Mei 1976)
(Mengikuti poin-poin yang telah dibahas sampai bagian ini, bab ini menepiskan salah satu dari mitos
terbesar dari para tradisionalis palsu: mitos yang berkata bahwa Anti-Paus Paulus VI tidak pernah
membuat Vatikan II dan Misa Baru mengikat. sebab Vatikan II sesat dan Misa Baru itu palsu, hal
ini yaitu suatu bukti yang penting bahwa Paulus VI bukanlah seorang Paus). Seperti yang kami
telah diskusikan, dari kalangan orang-orang yang mengakui masalah-masalah tentang kemurtadan
pasca-Vatikan II, banyak orang yang mengaku ‘tradisionalis’ menolak Misa Baru dan Vatikan II, namun
tetap berteguh bahwa Paulus VI, sang pria yang mempermaklumkannya, tidak pernah mewajibkan atau
mengikat seorang pun untuk menerima Misa Baru atau Vatikan II.
Chris Ferrara, The Remnant, “A Challenge to the Sedevacantist Enterprise {Tantangan untuk
Kelompok Sedevakantis},” 15 November 2005, hal. 11:
“Seperti yang telah disebutkan, bahkan para anggota resmi dari Vatikan, termasuk komisi
Kardinal dari tahun 1984, mengakui bahwa Misa tradisional tidak pernah dihapuskan de
jure akibat maklumat dari Misa baru, dan bahwa para imam selalu bebas untuk terus
memakai tata cara Misa sebelum konsili {Vatikan II}... Pada dasarnya, Paulus VI hanya
semata-mata menciptakan suatu ritus baru di samping ritus yang lama, meninggalkan
yang lama utuh dan tidak pernah melarang penggunaannya yang berkelanjutan.”2
Nah, marilah mengutip Paulus VI sendiri untuk meledakkan dan menghancurkan kepalsuan ini. Anda
mungkin tidak akan pernah melihat hal ini dikutip di dalam suatu penerbitan tradisionalis palsu yang
tetap ingin berpegang erat kepada mitos bahwa Paulus VI mungkin yaitu seorang Paus sejati, sebab hal
ini berbahaya bagi KELOMPOK TRADISIONALIS PALSU. Berikut kutipannya (kencangkan sabuk
pengaman anda, para tradisionalis palsu):
Paulus VI, Sambutan, 24 Mei 1976:
“Dan faktanya yang jauh lebih serius yaitu bahwa perlawanan yang kami sebutkan bukan hanya
didukung oleh beberapa imam, namun dipimpin oleh seorang uskup, Uskup Agung Marcel
Lefebvre, yang bagaimanapun namun kami hormati.
“Begitu menyakitkan untuk mencatat hal ini: namun bagaimanakah kami tidak memandang sikap
ini – apa pun niat dari orang-orang ini – sebagai menempatkan diri mereka sendiri di
luar kepatuhan dan persekutuan bersama Penerus Petrus dan oleh sebab itu di luar
Gereja? sebab hal ini, sayangnya, yaitu hasilnya secara logis, sewaktu mereka
menganggap bahwa lebih baik tidak patuh di bawah dalih untuk menjaga utuh iman
seseorang dan untuk menjaga dengan caranya sendiri kelestarian Gereja Katolik, namun
pada waktu yang sama menolak untuk taat. Dan hal ini dikatakan secara terang-terangan.
Paulus VI Menyatakan bahwa Vatikan II dan Misa Baru Mengikat
584
Mereka pun menegaskan bahwa Konsili Vatikan II tidak mengikat: bahwa iman juga akan
terancam akibat pembaruan-pembaruan dan perintah-perintah sesudah konsili, bahwa
seseorang memiliki kewajiban untuk menentang untuk mempertahankan tradisi-tradisi
tertentu. Tradisi-tradisi apa? Kelompok inilah, bukan sang Paus, bukan Dewan Uskup,
bukan Konsili Ekumenis, yang menentukan dari tradisi-tradisi yang tidak terhitung
jumlahnya yang harus dianggap sebagai norma iman! Seperti yang anda lihat, Saudara-
saudara yang Terhormat, sikap semacam itu mendirikan dirinya sendiri sebagai hakim
atas kehendak ilahi yang menempatkan Petrus dan penerus-penerusnya yang sah sebagai
kepala Gereja untuk menguatkan para saudaranya di dalam iman, dan untuk
menggembalakan domba-domba universal, dan yang menetapkannya sebagai penanggung
dan penjaga khazanah iman...
“Penggunaan Misa Orde Baru tidak sama sekali diserahkan kepada pilihan bebas para
imam ataupun para umat beriman. Petunjuk dari tanggal 14 Juni 1971 telah mencanangkan,
dengan otorisasi dari Ordinaris, penyelenggaraan Misa di dalam formula lama hanya oleh imam-
imam yang berusia lanjut dan sakit, yang mempersembahkan Kurban ilahi sine populo [tanpa
umat]. Misa Orde baru dipermaklumkan untuk menggantikan yang lama, sesudah melalui
pertimbangan yang matang, yang mengikuti permintaan-permintaan dari Konsili Vatikan
II. Pendahulu suci kami Pius V membuat wajib dengan cara yang tidak berbeda Missal yang
diperbarui di bawah kuasanya, mengikuti Konsili Trente...
“Kami telah memohon perhatian Uskup Agung Lefebvre akan perilakunya yang
mengkhawatirkan, inisiatif-inisiatif utamanya di masa ini yang tidak reguler, ketidakkonsistenan
posisi-posisi doktrinnya yang sering salah yang mendasari perilakunya dan inisiatif-inisiatif
ini , dan kerusakan yang disebabkan kepada seluruh Gereja akibat hal-hal ini .”3
Begitulah. Paulus VI sendiri menolak secara langsung Chris Ferrara dan para tradisionalis palsu akan
kedua argumen utama mereka. Paulus VI menyatakan bahwa para imam ataupun umat beriman ‘tidak
sama sekali’ diberikan ‘pilihan bebas’ untuk tidak memakai Misa Orde Baru. Ia juga mencela
pernyataan mereka bahwa Vatikan II tidak mengikat, dan ia menunjukkan bahwa konsekuensi logis dari
posisi Lefebvre, yang menolak Misa Baru dan Vatikan II, dan beroperasi secara independen dari hierarki
yang ia akui, yaitu bahwa ia menempatkan dirinya sendiri di luar Gereja.
Sudah waktunya bagi semua orang untuk bangun dan menyadari bahwa Sekte Vatikan II hanyalah suatu
sekte palsu dari kepala sampai ujung kaki dan bahwa tidak ada satu cara pun untuk menyembuhkannya –
Vatikan II ataupun para Anti-Pausnya. Inilah mengapa para ‘uskup’ dengan ‘yurisdiksi biasa’ di dalam
Sekte Vatikan II mendukung bahwa Vatikan II yaitu ajaran resmi dari Gereja. Itulah mengapa semua
kelompok ‘tradisionalis’ yang menerima ‘persetujuan resmi’ dari Sekte Vatikan II harus menerima
Vatikan II. Itulah mengapa Benediktus XVI telah berkata kepada kepala SSPX bahwa mereka tidak dapat
diterima secara penuh di dalam Sekte Vatikan II jika mereka tidak menerima Vatikan II.
_______________________________ Bagian 39:
1 Situs Vatikan, Paulus VI, Sambutan, Konsistori untuk nominasi 20 Kardinal, 24 Mei 1976, versi Itali, no II, 2, a.
http://www.vatican.va/holy_father/paul_vi/speeches/1976/documents/hf_p-vi_spe_19760524_concistoro_it.html
2 Chris Ferrara, The Remnant, “A Challenge to the Sedevacantist Enterprise {Tantangan untuk Kelompok
Sedevakantis},” 15 November 2005, hal. 11.
Paulus VI Menyatakan bahwa Vatikan II dan Misa Baru Mengikat
585
3 Situs Vatikan, Paulus VI, Konsistori untuk Nominasi 20 Kardinal, 24 Mei 1976, versi Italia, no II, 2, a. L’Osservatore
Romano, Edisi Inggris, 3 Juni 1976, hal. 2.
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
586
40. Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
Uskup Agung Lefebvre (pendiri SSPX) dan keempat uskup yang ditahbiskannya pada tanggal 30 Juni 19881
“Kita menghadapi suatu dilema yang besar yang, saya percayai, tidak pernah terjadi
sebelumnya di dalam Gereja: ia yang duduk di Takhta Petrus mengambil bagian dalam
ibadat kepada ilah-ilah sesat. Kesimpulan apa yang akan harus kita tarik, kemungkinan dalam
jangka waktu beberapa bulan, di hadapan perbuatan-perbuatan yang dilakukan berulang kali ini,
yakni mengambil bagian dalam ibadat agama-agama sesat, saya tidak tahu. namun saya memang
bertanya-tanya. Kita mungkin terpaksa percaya bahwa Sri Paus bukanlah Paus.”2 (Uskup
Agung Lefebvre, Khotbah, Paskah 1986)
[Catatan: Hal yang dibahas di dalam bab ini bukan hanya berlaku kepada Serikat Santo Pius X, namun juga
kepada banyak dari kelompok-kelompok “tradisionalis” independen, yang berpendapat secara serupa
dan yang melawan kemurtadan Vatikan II serta Misa Baru dengan memegang posisi-posisi yang serupa
dengan yang dipegang oleh SSPX.]
SSPX yaitu sekelompok imam “tradisionalis” yang didirikan oleh mendiang Uskup Agung Marel
Lefebvre. Lefebvre yaitu seorang uskup agung di Prancis yang melawan banyak hal sehubungan agama
pasca-Vatikan II dan mengakui bahwa hal-hal itu merupakan penyimpangan dari agama Katolik
tradisional. Ia mengakui bahwa Misa Baru yaitu ibadat Protestan dan berlawanan dengan Tradisi. Ia
juga menentang bidah-bidah “ekumenisme” dan kebebasan beragama, yang diajarkan di Vatikan II.
Ia merintis seminari-seminari untuk pembentukan para imam yang akan secara eksklusif
menyelenggarakan Misa Tradisional, dan ia menahbiskan para imam itu dalam ritus imamat tradisional.
Untuk melaksanakannya, ia harus terus bertindak secara independen dari para Anti-Paus Vatikan II,
meskipun ia terus mengambil posisi bahwa para Anti-Paus Vatikan II yaitu para Paus yang sah yang
memegang jabatan Kepausan. Lefebvre juga bekerja secara independen dari para “uskup” yang turut
serta dalam agama yang baru.
Pada tanggal 30 Juni 1988, Lefebvre memutuskan (secara independen dari para Anti-Paus Vatikan II)
untuk mengonsekrasikan empat orang uskup dalam ritus Konsekrasi Uskup tradisional, agar para uskup
ini dapat terus menahbiskan para imam untuk menyelenggarakan ritus-ritus tradisional. Lefebvre
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
587
“diekskomunikasikan” oleh Yohanes Paulus II dalam kurun waktu 72 jam, walaupun (seperti yang sudah
dibahas sebelumnya) tidak ada seorang politikus pro-aborsi pun yang terkemuka yang sampai sekarang
pernah diekskomunikasikan oleh salah seorang pun dari para Anti-Paus Vatikan II.
SSPX memiliki banyak lokasi di dunia di mana lembaga ini menyelenggarakan Misa tradisional, dan
merupakan gerakan yang besar yang memengaruhi dan menyediakan sakramen-sakramen bagi orang-
orang yang mengaku diri sebagai orang Katolik yang berpikiran secara tradisional. Kami ingin
menekankan bahwa SSPX melakukan banyak hal yang baik; mereka telah menjadi suatu jalan yang dilalui
oleh banyak orang sehingga mereka mengenal dan kembali kepada Iman Katolik tradisional. namun , SSPX
sayangnya memegang berbagai posisi yang bidah dan berlawanan dengan Iman Katolik. Pertama-tama,
SSPX percaya dan mengajarkan bahwa jiwa-jiwa dapat diselamatkan dalam agama-agama non-Katolik,
suatu ajaran yang sesat.
Romo Schmidberger, Time Bombs of the Second Vatican Council {Bom Waktu Konsili Vatikan II},
Angelus Press [SSPX], hal. 10:
“Bapak ibu, jelas bahwa para pengikut agama-agama lain dapat diselamatkan dengan
syarat-syarat tertentu, yaitu, jika mereka berada dalam kesalahan yang tidak teratasi.”
Uskup Agung Marcel Lefebvre, Against the Heresies {Melawan Bidah}, Angelus Press [SSPX], hal.
216:
“Jelas adanya bahwa pembedaan-pembedaan tertentu harus dibuat. Jiwa-jiwa dapat
diselamatkan di dalam suatu agama selain agama Katolik (Protestantisme, Islam,
Buddhisme, dll.), namun bukan oleh agama ini.”
Pernyataan-pernyataan ini tergolong suatu bidah yang jelas melawan dogma Di Luar Gereja Tidak
ada Keselamatan; namun demikian pernyataan-pernyataan ini dicetak di dalam materi-materi SSPX
yang terlaris. Kenyataannya, hampir semua imam yang bahkan menyelenggarakan Misa tradisional
percaya akan bidah yang sama ini.
Paus Gregorius XVI, Summo Iugiter Studio (#2), 27 Mei 1832:
“Pada akhirnya beberapa orang yang teperdaya ini mencoba meyakinkan diri mereka
sendiri dan orang-orang lain bahwa manusia tidak hanya diselamatkan di dalam agama
Katolik, namun bahwa bahkan para bidah dapat memperoleh kehidupan kekal..”3
Juga, walaupun SSPX menentang kemurtadan Vatikan II, SSPX berkeras kepala mempertahankan suatu
kesetiaan kepada para “uskup” yang bidah secara manifes dari Gereja Novus Ordo/Vatikan II, seperti
yang telah disebutkan di atas. Bagaimanapun, SSPX tidak bekerja pada saat itu juga dalam persekutuan
dengan lembaga yang disebutnya sebagai “Gereja Baru” – Gereja Novus Ordo – Gereja para “uskup” dan
“paus” Vatikan II (yang sebenarnya yaitu Anti-Paus). Posisi mereka yaitu suatu kontradiksi, yang
menghina ajaran Katolik dalam tiga hal:
1) Mereka mengakui para bidah manifes (para uskup Novus Ordo dan para Anti-Paus Vatikan II)
sebagai orang-orang Katolik yang memiliki otoritas di dalam Gereja, suatu pandangan yang bidah.
Mereka perlu mengakui bahwa para uskup yang bidah ini berada di luar Gereja dan sama sekali
tidak memiliki otoritas.
St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, Bab 30:
“Pada akhirnya, para Bapa yang Kudus mengajarkan secara semufakat bahwa para bidah tidak
hanya berada di luar Gereja, namun juga bahwa mereka secara ‘ipso facto’ kehilangan semua
yurisdiksi dan jabatan gerejawi.”
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
588
St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, Bab 30:
“Seorang Paus yang yaitu bidah secara manifes [terang-terangan] secara otomatis (per se)
berhenti menjadi Paus dan kepala, layaknya ia berhenti menjadi seorang Kristiani dan seorang
anggota dari tubuh Gereja. Maka dari itu, ia dapat dihakimi dan dihukum oleh Gereja. Ini yaitu
ajaran dari semua Bapa Kuno yang mengajarkan bahwa para bidah manifes langsung kehilangan
semua yurisdiksi.”
2) SSPX bersikeras beroperasi di luar persekutuan hierarki Novus Ordo, walaupun mereka
menganggap hierarki Novus Ordo sebagai hierarki Katolik sejati. Posisi ini sebenarnya skismatis.
Kenyataannya, SSPX berani menolak persekutuan dengan Gereja Novus Ordo (seperti yang
disebutkan di atas), walaupun SSPX sendiri mengakui hierarki Novus Ordo sebagai hierarki
Katolik sejati!
Uskup Agung Marcel Lefebvre, Deklarasi; Agustus 1976:
“Mereka semua yang membantu dalam mewujudkan pemberontakan ini dan yang
mengikuti Gereja Konsiliar yang baru ini terlibat dalam skisma, seperti yang dinyatakan oleh
Yang Mulia Uskup Benelli di dalam surat yang ditujukan kepada saya dalam nama Bapa Suci pada
tanggal 25 Juni lalu.” (Dikutip dalam Sacerdotium)
Romo Franz Schmidberger, mantan Jenderal Superior SSPX:
“Kami tidak pernah berkehendak untuk menjadi bagian dari sistem ini yang menyebut
dirinya sendiri Gereja Konsiliar, dan yang menyatakan dirinya sendiri terkait erat dengan
Misa Novus Ordo ... Para umat beriman memang memiliki suatu hak yang ketat untuk
mengetahui bahwa para imam yang melayani mereka tidak berada dalam persekutuan
dengan suatu gereja palsu.” (Dikutip dalam Sacerdotium)
The Angelus, Publikasi resmi dari Serikat St. Pius X (SSPX), Mei 2000:
“Arus pembaruan ini telah melahirkan suatu gereja baru di pangkuan Gereja Katolik, yang
dijuluki oleh Msgr. Benelli sendiri sebagai ‘gereja konsiliar,’ yang batasan-batasan serta
jalan-jalannya amat sulit untuk didefinisikan ... Perlawanan kami ini bertahan melawan gereja
konsiliar ini. Kami tidak menolak untuk taat kepada Sri Paus pada hakikatnya, namun kami
menolak untuk taat kepada gereja konsiliar ini, sebab gagasan-gagasannya asing berbanding
dengan gagasan-gagasan Gereja Katolik.”4
Seseorang yang menolak bersekutu dengan Gereja Novus Ordo namun tidak menolak bersekutu dengan
kepala Gereja Novus Ordo bagaikan seseorang berkata bahwa dirinya menolak bersekutu dengan Partai
Komunis namun tidak menolak bersekutu dengan kepala Partai Komunis! Ini yaitu suatu kontradiksi.
Di samping itu, dengan mengakui para “Paus” dan “uskup” Vatikan II sebagai hierarki Katolik, SSPX
bersekutu dengan “gereja palsu” ini . Pada saat itu juga, SSPX berada dalam skisma dengan “gereja
palsu” ini sebab SSPX secara terang-terangan menolak bersekutu dengan para anggota Gereja ini,
seperti yang kita lihat di atas. (Jika posisi mereka terdengar berkontradiksi, sebabnya yaitu posisi
mereka memang yaitu suatu kontradiksi). Posisi mereka ini skismatis.
Kanon 1325.2, Kitab Hukum Kanonik 1917:
“Seseorang yang sesudah pembaptisan ... menolak otoritas Sri Paus yang Berdaulat atau menolak
persekutuan dengan para anggota Gereja yang tunduk kepadanya, orang itu yaitu
seorang skismatis.”
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
589
St. Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada jemaat di Tralles, (110 M):
“Barang siapa berada dalam ruang mahakudus yaitu orang yang tahir; namun barang siapa
berada di luar ruang mahakudus yaitu orang yang najis. Dalam kata lain, siapa pun yang
bertindak tanpa uskup dan presbiter serta para diakon tidak memiliki hati nurani yang
bersih.”5
Selama puluhan tahun, SSPX bersikeras beroperasi di luar persekutuan dengan para “uskup” dan para
“Paus” yang, menurut SSPX sendiri, yaitu hierarki Katolik. Perbuatan mereka ini skismatis.
St. Hieronimus, Komentar-Komentar tentang Surat kepada Titus, (386 M):
“Antara bidah dan skisma, ada suatu pembedaan yang dibuat, bahwa bidah melibatkan doktrin
yang sesat, sedangkan skisma memisahkan seseorang dari Gereja akibat ketidaksetujuan
dengan Uskup.6
3) SSPX percaya bahwa Gereja Katolik telah menjadi suatu “Gereja baru” – suatu sekte modernis dan
non-Katolik yang penuh dengan bidah dan kemurtadan – suatu hal yang mustahil. Gereja yaitu
Mempelai Kristus yang Tak Bernoda, yang tidak dapat mengajarkan kesalahan secara resmi.
Paus Pius XI, Mortalium Animos, 6 Januari 1928:
“sebab , sang Mempelai mistis Kristus tidak pernah ternodai di sepanjang abad, tidak pun sang
Mempelai mistis akan pernah ternodai, sebagaimana kesaksian Santo Siprianus: ‘Mempelai
Kristus tidak dapat ternodai; ia tidak pernah dapat mengalami kerusakan dan murni
adanya. Hanya ada satu rumah yang dia kenal dan kekudusan dari pelaminannya yang esa
itu dijaganya dengan kesucian yang murni.’”7
Paus Pius XI, Quas Primas, 11 Desember 1925:
“Gereja telah menerima manfaat-manfaat yang mewajibkannya untuk memberi
penghormatan secara publik dan legitim kepada Bunda Allah dan para kudus di Surga. Salah satu
dari manfaat-manfaat itu, yang bukanlah manfaat yang terkecil, yaitu kekebalan yang
sempurna yang senantiasa dimiliki oleh Gereja terhadap kesalahan dan bidah.”8
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 4, Bab 4, ex cathedra:
“ ... mengetahui secara penuh bahwa Takhta St. Petrus tidak pernah ternodakan oleh suatu
kesalahan pun, seturut janji ilahi yang dibuat oleh Tuhan kita sang Juru Selamat kepada sang
kepala dari para rasul-Nya: ‘Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan
sewaktu engkau telah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.’ (Lk. 22:32)”9
Contohnya, SSPX bahkan menolak kanonisasi-kanonisasi khidmat yang dilakukan oleh para “Paus”
Vatikan II, yakni para pria yang mereka sendiri akui sebagai “Paus”. Posisi ini begitu skismatisnya, sebab
posisi ini menyatakan bahwa SSPX mengakui bahwa seorang Paus sejati dan Gereja Katolik telah secara
resmi melakukan kesalahan dalam menganonisasikan santo-santa.
St. Alfonsus de Liguori, The Great Means of Salvation and Perfection {Jalan Agung untuk Mencapai
Keselamatan dan Kesempurnaan}, 1759, hal. 23:
“Menganggap bahwa Gereja dapat membuat kesalahan dalam kanonisasi yaitu suatu
dosa atau bidah, menurut St. Bonaventura, Bellarminus, dan lain-lain; atau setidaknya
suatu kesalahan yang sangat dekat dengan bidah, menurut Suarez, Azorius, Gotti, dsb.;
sebab Sri Paus yang Berdaulat, menurut St. Thomas, dibimbing oleh pengaruh yang
infalibel dari Roh Kudus dalam suatu cara yang istimewa sewaktu menganonisasikan
santo-santa.”10
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
590
Prospero Lambertini, yang di lalu hari menjadi Paus Benediktus XIV (1740-58 M), Tentang
Beatifikasi dan Kanonisasi:
“Seandainya seseorang berani menyatakan bahwa Sri Paus telah membuat kesalahan
dalam kanonisasi yang satu atau yang lain, kami berkata bahwa orang itu yaitu seorang
bidah, atau setidaknya lancang, penyebab skandal bagi segenap Gereja, penghina para
kudus, penyokong para bidah yang menyangkal otoritas Gereja dalam menganonisasikan
para kudus, menikmati bidah dengan mengadakan kesempatan bagi orang-orang kafir untuk
menghina para umat beriman, menyatakan suatu pandangan yang salah dan patut dikenakan
penalti-penalti yang amat berat.”11
sebab ada begitu banyak orang yang sangat menghormati SSPX, mereka telah dibimbing sehingga
memegang posisi skismatis yang sama. Semua posisi yang sesat tentang situasi pasca-Vatikan II ini
merupakan hasil keengganan SSPX untuk melihat kebenaran bahwa sekte Vatikan II sama sekali
yaitu Gereja palsu, dan bahwa para “Paus” pasca-Vatikan II sebenarnya yaitu para Anti-Paus
yang tidak valid.
Beberapa pernyataan yang sangat menarik dari Uskup Agung Lefebvre yang
mengutarakan pandangannya bahwa para “Paus” Vatikan II mungkin bukan
Paus yang valid
Meski posisi mereka pada saat ini sungguh tidak dapat dibela – dan kendati betapa jelasnya bukti yang
mendukung posisi sedevakantis – SSPX tetap terus (bahkan pada fase ini di mana kemurtadan Vatikan II
sedemikian parahnya) menerbitkan buku-buku dan risalah-risalah yang menyerang posisi sedevakantis.
Mereka gagal untuk menyadari bahwa pendiri Serikat mereka, Uskup Agung Lefebvre, dahulu membuat
banyak pernyataan yang membuktikan bahwa pandangannya dekat dengan posisi sedevakantis sekitar
tahun 1970 dan 1980-an. Hendaknya kutipan-kutipan berikut dikenal oleh para anggota Serikat Santo
Pius X.
Uskup Agung Lefebvre, 4 Agustus 1976:
“Konsili ini [Vatikan II] berbalik badan dari Tradisi dan memutuskan hubungan dengan
Gereja masa lalu. Konsili itu yaitu konsili yang skismatis … Jika kami meyakini bahwa Iman
yang diajarkan oleh Gereja selama dua puluh abad tidak dapat memuat kesalahan sama
sekali, kami jauh lebih tidak yakin bahwa Sri Paus sungguh yaitu Paus. Bidah, skisma,
ekskomunikasi ipso facto, atau pemilihan yang tidak valid merupakan segala penyebab
yang mengakibatkan Sri Paus tidak pernah menjadi Paus, atau bukan lagi seorang Paus …
Sebab pada hakikatnya, sejak awal masa Kepausan Paulus VI, hati nurani dan iman semua orang
Katolik telah menghadapi suatu masalah yang serius. Bagaimanakah Sri Paus, penerus Petrus
yang sejati, yang dijaminkan pertolongan Roh Kudus, dapat meresmikan kehancuran Gereja –
kehancuran yang tercepat, tergesit, dan teramat luas di dalam sejarahnya – sesuatu yang tidak
pernah dapat dicapai oleh seorang pemimpin bidah pun?”12
Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, 29 Agustus 1976:
“Ritus Misa yang baru yaitu suatu ritus yang haram jadah, sakramen-sakramennya haram
jadah, imam-imam yang dihasilkan dari seminaris-seminarisnya yaitu imam-imam haram jadah
….”13
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
591
Uskup Agung Lefebvre, Pertemuan dengan Paulus VI, 11 September 1976:
“[Dokumen Vatikan II tentang kebebasan beragama] memuat teks-teks yang kata demi
kata bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Gregorius XVI dan Pius IX.”14
Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, 22 Februari 1979:
“Sejauh mana Konsili itu menentang Tradisi, kami menolak Konsili ini [Vatikan II].”15
Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, Paskah 1986:
“Inilah situasi di mana kita mendapati diri kita sendiri. Bukan saya yang menciptakannya. Saya
rela mati demi melenyapkannya! Kita menghadapi suatu dilema yang besar yang, saya
percayai, tidak pernah terjadi sebelumnya di dalam Gereja: ia yang duduk di Takhta
Petrus mengambil bagian dalam ibadat kepada ilah-ilah sesat. Kesimpulan apa yang akan
harus kita tarik, kemungkinan dalam jangka waktu beberapa bulan, di hadapan perbuatan-
perbuatan yang dilakukan berulang kali ini, yakni mengambil bagian dalam ibadat agama-agama
sesat, saya tidak tahu. namun saya memang bertanya-tanya. Kita mungkin terpaksa percaya
bahwa Sri Paus bukanlah Paus. Sebab pada awalnya, saya mendapat kesan – saya belum
ingin mengatakannya secara khidmat dan publik – bahwa mustahil adanya bagi seorang Paus
untuk menjadi bidah secara publik dan resmi.”16
Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, 27 Agustus 1986:
“Ia yang sekarang duduk di takhta Petrus secara publik menghina artikel pertama dari
Syahadat dan Perintah yang pertama dari Dekalog [Sepuluh Perintah Allah]. Skandal yang
ditimbulkan bagi para umat Katolik tidak terukur besarnya. Gereja terguncang sampai kepada
landasan-landasannya sendiri.”17
Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, 28 Oktober 1986:
“Yohanes Paulus II telah menganjurkan kepada agama-agama sesat untuk berdoa kepada
ilah-ilah sesat mereka: perbuatan ini yaitu suatu penghinaan yang tidak dapat ditolerir dan
yang tidak pernah terjadi sebelumnya bagi mereka yang tetap Katolik ….”18
Uskup Agung Lefebvre, Pertemuan dengan “Kardinal” Ratzinger, 14 Juli 1987:
“Jika terjadi suatu skisma, sebabnya yaitu apa yang dilakukan oleh Vatikan di Assisi … perkara
diekskomunikasikan oleh Gereja yang liberal, ekumenis, dan revolusioner yaitu perkara
yang tidak kami acuhkan.”19
Uskup Agung Lefebvre, Pertemuan dengan “Kardinal” Ratzinger, 14 Juli 1987:
“Roma telah kehilangan iman, Roma berada dalam kemurtadan.”20
Uskup Agung Lefebvre, Pertemuan dengan “Kardinal” Ratzinger, 29 Agustus 1987:
“ ... Takhta Petrus dan kedudukan-kedudukan otoritas di Roma sedang diduduki oleh para
anti-Kristus, kehancuran Kerajaan Tuhan kita sedang dilakukan dengan cepat … Inilah apa yang
telah menjatuhkan atas kepala kita penganiayaan oleh Roma milik para anti-Kristus.”21
Uskup Agung Lefebvre, Pernyataan kepada pers sebelum Konsekrasi Uskup di tahun 1988:
“Gereja melangsungkan segala persekutuan dengan agama-agama sesat dan bidah … dalam
kengerian … Demi menjaga imamat Katolik yang menyebarkan Gereja dan bukan Gereja
yang pezina, harus ada uskup-uskup Katolik.”22
Uskup Agung Lefebvre, berbicara tentang para pemimpin Sekte Vatikan II:
“Kita tidak dapat bekerja sama dengan para musuh dari Kerajaan Tuhan kita ini.”23
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
592
Uskup Agung Lefebvre, berbicara tentang para pemimpin Sekte Vatikan II:
“Kita tidak boleh mengikuti orang-orang itu. Mereka berada dalam kemurtadan, mereka
tidak percaya akan keilahian Tuhan kita Yesus Kristus yang harus meraja. Apa gunanya
menunggu? Mari kita lakukan konsekrasi itu!”24
Beberapa poin lainnya yang lebih penting sehubungan posisi-posisi SSPX
ditemukan dalam judul-judul berikut; berikut rangkuman singkatnya:
Uskup Fellay dari SSPX menolak dogma Katolik dengan mengajarkan bahwa para Hindu
dapat diselamatkan
Uskup Bernard Fellay, Konferensi di Denver, Co., 18 Februari 2006:
“ ... Dan Gereja selalu mengajarkan bahwa akan ada orang-orang, yang berada di dalam
keadaan rahmat, yang telah diselamatkan tanpa mengenal Gereja Katolik. Kita mengetahui
hal ini. namun , bagaimanakah hal itu mungkin terjadi jika anda tidak dapat diselamatkan
di luar Gereja? Sungguh benar bahwa mereka akan diselamatkan melalui Gereja Katolik,
sebab mereka akan dipersatukan kepada Kristus, kepada Tubuh Mistis Kristus, yang yaitu
Gereja Katolik. namun , pemersatuan itu akan tetap tidak terlihat, sebab hubungan yang kelihatan
ini tidak mungkin terjadi bagi mereka. Ambillah contoh seorang Hindu di Tibet yang sama
sekali tidak mengenal Gereja Katolik. Ia hidup menurut hati nuraninya dan hukum-hukum
yang ditempatkan oleh telah Allah di dalam hatinya. Ia dapat berada di dalam keadaan
rahmat, dan jika ia meninggal dalam keadaan rahmat, ia akan masuk Surga.” (The Angelus, A
Talk Heard Round the World [Percakapan yang Terdengar di Sekeliling Dunia], April 2006, hal. 5)
SSPX menolak “kanonisasi” Josemaria Escriva oleh Yohanes Paulus II, yang dengan
demikian menyingkapkan Skisma lembaga ini
Romo Peter Scott, Seminari Holy Cross dari SSPX di Australia, 1 November 2002:
“Salah satu contoh yang umum dari hal ini yaitu kanonisasi yang memalukan dan yang sangat
dipertanyakan dari Mons. Josemaria Escriva dari Balaguer, pada tanggal 6 Oktober lalu ... sesudah
ditekankan bahwa proses itu tidak kanonik dan tidak jujur, mereka berkata demikian: ‘Ini
(kanonisasi ini ) akan menyinggung Allah. Ini akan menodai Gereja untuk selamanya.
Ini akan merampas kekudusan yang khusus dari santo-santa. Ini akan membuat kredibilitas
segala kanonisasi yang dilakukan pada masa Kepausan anda dipertanyakan. Ini akan
memperlemah otoritas Kepausan di masa yang akan datang’ … Surat mereka tentunya akan
menjadi suatu nubuat, sebab kelak, mereka akan terbukti benar dalam penilaian mereka tentang
Escriva … Oleh sebab segala alasan yang mereka berikan, kami tidak mungkin menganggap
‘kanonisasi’ ini sebagai suatu ketetapan Kepausan yang valid dan infalibel. Kami percaya
bahwa ia berada di Surga, namun kami tidak mungkin menganggap bentara Vatikan II ini sebagai
seroang Santo ….” (Southern Sentinel no. 3, November 2002)
sebab mereka mengakui Yohanes Paulus II sebagai seorang Paus sejati, penolakan “kanonisasi”-nya
yang khidmat ini yaitu suatu sikap yang jelas-jelas skismatis.
Uskup Richard Williamson dari SSPX berkata bahwa Yohanes Paulus II yaitu seorang
“pria yang baik” dan bahwa agama SSPX tidaklah sama dengan agama para “Paus”
Vatikan II diakui SSPX!
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
593
“Jawaban dari uskup Williamson: Saya sedikit terkejut, pertama kalinya, sebab orang-orang
tertentu telah berkata bahwa ia sesungguhnya tidak mendaftar sebagai calon Paus. sesudah hal itu
terjadi, jujur saja, saya tidak berharap banyak dari Roma, mengingat keadaannya sekarang.
Mereka sudah terlampau jauh dalam ‘Agama Baru’ dan ‘Agama Baru’ ini secara radikal
terlalu berbeda dan jauh secara radikal dari Agama Sejati. Namun demikian, Roma tetaplah
Roma, dan saya sungguh percaya bahwa di sanalah para Paus berada, dan di sanalah para
kardinal berada, dan di sanalah tempat di mana struktur resmi Gereja ditemukan. namun , saya
takut bahwa demi membela Iman, anda harus menantikan suatu peristiwa besar yang akan
mengguncangkan Roma dan/atau mengusir para kardinal yang sejati ke luar dari Roma dan
memulai kembali di suatu tempat yang lain. Saya takut Roma sudah tenggelam terlalu dalam di
dalam cengkeraman para musuh Allah.”25
Uskup Williamson dari SSPX menyatakan dengan lancang bahwa ia tidak menganut agama yang sama
dengan yang dianut oleh para “Paus” dan para “uskup” yang diakuinya sebagai hierarki Katolik! Bapak,
ibu, pernyataannya ini merupakan rangkuman dari posisi SSPX yang sungguh konyol dan skismatis, yang
(sebab tiada sebutan lain yang dapat menggambarkannya dengan lebih baik) sebegitu tegar dalam
ketidakkonsistenannya sehingga posisi itu secara benar dicap sebagai MUNTAHAN TEOLOGIS.
Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#22):
“Maka, sebab di dalam komunitas Kristiani yang sejati hanya ada satu Tubuh, satu Roh, satu
Tuhan dan satu Pembaptisan, itulah sebabnya hanya mungkin ada satu iman. Dan oleh sebab
itu, jika seseorang menolak untuk mendengarkan Gereja, hendaknya ia dianggap – sebagaimana
yang diperintahkan oleh Tuhan – sebagai seorang pagan dan seorang pemungut cukai. Itulah
sebabnya, mereka yang terbagi-bagi di dalam iman atau pemerintahan tidak dapat hidup
baik di dalam kesatuan dari Tubuh yang semacam itu, maupun di dalam Roh Ilahi yang esa
dari Tubuh ini .”26
Uskup Tissier de Mallerais dari SSPX menolak konsep persekutuan Gereja dan
menyatakan bahwa Benediktus XVI mengajarkan bidah
“Jawaban dari Uskup Tissier de Mallerais: “Pertama-tama, saya tidak akrab dengan teks ini. Saya
tidak mengenalinya. Teks ini tidak menarik bagi saya sebab saya tidak mengikuti berita
semacam itu. Itu bukanlah permasalahannya. Permasalahannya bukanlah ‘persekutuan’. Itu
yaitu gagasan yang bodoh dari para uskup ini sejak Vatikan II – tidak ada masalah
persekutuan, yang ada yaitu masalah tentang pengakuan iman. ‘Persekutuan’ bukan apa-apa,
itu hanya suatu rekaan Konsili Vatikan Kedua. Inti permasalahannya yaitu bahwa orang-
orang ini (para uskup) tidak memiliki Iman Katolik. ‘Persekutuan’ sama sekali tidak berarti
apa-apa bagi saya – itu yaitu slogan Gereja yang baru. Definisi Gereja yang baru yaitu
‘persekutuan’ namun itu tidak pernah menjadi definisi Gereja Katolik. Saya hanya dapat
memberi anda definisi Gereja sebagaimana yang telah dipahami secara tradisional.”
“Jawaban dari Uskup Tissier de Mallerais: Hal itu terjadi sewaktu ia dahulu seorang imam.
Sewaktu ia dahulu seorang teolog, ia mengakui bidah, ia menerbitkan sebuah buku yang
penuh dengan bidah … Ya, tentunya. Ada bukunya yang berjudul Introduction to Christianity;
di tahun 1968. Buku itu penuh dengan bidah. Terutama penyangkalan terhadap dogma
Penebusan.”27
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#10), 29 Juni 1896:
“Demikian pula, sebab Gereja yaitu suatu lembaga yang didirikan secara ilahi, kesatuan milik
Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX)
594
Gereja memerlukan, atas dasar hukum ilahi, kesatuan pemerintahan, suatu kesatuan yang
menghasilkan dan mengikutsertakan kesatuan persekutuan.”28
Masuk akal bahwa SSPX (atau, setidaknya Uskup Tissier de Mallerais) tidak percaya akan konsep
keberadaan dalam persekutuan bersama semua orang yang berada dalam Gereja. “Persekutuan sama
sekali tidak berarti apa-apa bagi saya”, ujar Uskup Tissier De Mallerais. Ya, kita dapat melihatnya dengan
sangat jelas. sebab ia tidak percaya akan hal itu, jelas bahwa hati nuraninya tidak terganggu oleh
penolakannya untuk bersekutu dengan hierarki dan para anggota dari lembaga yang dianggapnya
sebagai Gereja Katolik.
Buku SSPX, Most Asked Questions about the Society of St. Pius X [Pertanyaan-Pertanyaan
yang Paling Sering Diajukan tentang Serikat St. Pius X] berkata bahwa para “Paus” Vatikan
II TIDAK DAPAT mengajar secara infalibel
Most Asked Questions about the Society of St. Pius X [Pertanyaan-Pertanyaan yang Paling Sering
Diajukan tentang Serikat St. Pius X], hal. 38-40, Pertanyaan 7:
“namun , bukankah kita harus mengikuti Yoh











