Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 26. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 26. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 26

 


Allah yang Sama, dst. yaitu  

tindakan yang menghormati ajaran Katolik. Seseorang yang ingin ‘mengikuti’ khotbah ini, 

oleh sebab  itu, harus mengakui bahwa mereka yang menerima bidah-bidah ini  

menghormati ajaran Katolik! Ini jelas-jelas konyol dan sesat; hal ini membuktikan bahwa, tidak 

peduli cara seseorang ingin memandang masalah ini bersama Audiens Umum dari Paulus VI 

ini, Vatikan II mengikat semua orang yang percaya bahwa Paulus VI yaitu  seorang Paus yang 

valid – yang membuktikan bahwa Paulus VI sama sekali bukan Paus sejati. Anda tidak dapat 

mengutip Audiens Umum ini untuk berkata bahwa seseorang tidak terikat untuk menerima Vatikan II, 

sewaktu Audiens Umum yang sama berkata bahwa setiap orang yang mengikutinya, juga 

menghormati Magisterium! Paulus VI lalu berkata di dalam khotbah yang sama: 

 

“ia [Konsili ini ] tetap memberi  ajarannya dengan otoritas magisterium yang 

biasa. Magisterium biasa ini, yang jelas-jelas yaitu  resmi, harus diterima dengan 

kepatuhan dan ketulusan, sesuai dengan cara pikir Konsili tentang sifat dan tujuan-tujuan 

dari masing-masing dokumen.” 

 

Bagian dari khotbah ini hampir tidak pernah dikutip oleh para pembela Paulus VI, mungkin sebab  

mereka mengetahui bahwa ajaran dari Magisterium Biasa Tertinggi yaitu  infalibel, yang berarti 

bahwa bahkan Audiens Umum dari Anti-Paus Paulus VI ini mendukung infalibilitas dari Vatikan II. Di 

dalam Audiens Umum yang sama, Paulus VI juga mengatakan hal ini: 

 

“yaitu  kewajiban dan keberuntungan dari manusia di masa pasca-Konsiliar ini untuk mengenal 

dokumen-dokumen ini, untuk mempelajari dan menerapkan dokumen-dokumen ini .” 

 

Terlebih lagi, Paulus VI menyatakan di dalam ensikliknya Ecclesiam Suam (yang ditujukan kepada 

Gereja secara keseluruhan) bahwa Vatikan II memiliki tugas untuk membela doktrin. 

 

Paulus VI, Ecclesiam Suam, (#30), 6 Agustus 1964: 

“Ini persisnya sebab  Konsili Vatikan II memiliki tugas untuk berurusan sekali lagi dengan 

doktrin de Ecclesia (yang berhubungan dengan Gereja) dan untuk mendefinisikannya, 

sehingga konsili ini  telah disebut sebagai kelanjutan dan pelengkap dari Konsili Vatikan I.”11 

 

Hal ini berarti bahwa Vatikan II memiliki tugas untuk mengajar secara infalibel. Dan di bagian 

selanjutnya, kami akan mengutip dari khotbah Paulus VI di tahun 1976 di mana ia membahas hal 

tentang apabila Vatikan II dan Misa Baru mengikat dan secara khusus menolak klaim para 

Apakah Vatikan II Infalibel? 

577 

 

tradisionalis palsu yang ingin berpegang kepada legitimitas Paulus VI dan dalam waktu yang 

bersamaan menolak Misanya dan konsilinya. 

 

Bantahan #3) Vatikan II tidak infalibel sebab  ada  catatan yang dilampirkan di dalam 

dokumennya Lumen Gentium yang berkata bahwa konsili itu tidak infalibel. 

 

Jawaban: [Catatan: jawaban akan bantahan ini sangat dalam dan rinci, dan beberapa orang mungkin 

tidak merasa tertarik. Jika anda tidak ingin mencari jawaban akan bantahan ini, anda mungkin dapat 

melongkapi hal ini.] 

 

Beberapa pembela Paulus VI merujuk kepada sebuah catatan teologis yang terlampir di dokumen 

Lumen Gentium. Mereka berpikir bahwa penjelasan ini membuktikan bahwa Paulus VI tidak 

mempermaklumkan Vatikan II secara infalibel atau dengan berkuasa. namun  argumen ini tidak 

masuk akal sesudah  dicermati. Berikut yaitu  bagian yang penting dari catatan teologis yang 

dilampirkan di dokumen Lumen Gentium: 

 

“Dengan mempertimbangkan kebiasaan konsiliar dan tujuan penggembalaan dari konsili ini, 

sinode kudus ini mendefinisikan sebagai mengikat kepada Gereja hanya hal-hal yang berkenaan 

dengan iman dan moralitas yang ia nyatakan secara terbuka memang berkenaan dengan iman 

dan moral. HAL-HAL LAIN YANG DINYATAKAN OLEH SINODE INI SEBAGAI AJARAN 

MAGISTERIUM TERTINGGI DARI GEREJA, SETIAP DAN SELURUH ANGGOTA DARI UMAT 

BERIMAN HARUS MENERIMA DAN MEMELUKNYA MENURUT POLA PIKIR SINODE ITU 

SENDIRI, YANG SUDAH JELAS DARI POKOK HAL ini  ATAUPUN CARA 

PENGUNGKAPAN HAL ini  SESUAI DENGAN ATURAN-ATURAN INTERPRETASI 

TEOLOGIS.”12 

 

Pertama, catatan ini bahkan bukan bagian dari naskah sesungguhnya dari dokumen Lumen Gentium; 

catatan ini yaitu  suatu lampiran dari naskah Lumen Gentium.13 

 

Kedua, catatan ini dilampirkan hanya kepada Lumen Gentium, dan tidak kepada dokumen-dokumen 

yang lain. Dalam kata lain, bahkan jika catatan teologis ini ‘menyelamatkan’ maklumat Paulus VI dari 

bidah-bidah di dalam Lumen Gentium (nyatanya tidak), catatan ini tetap tidak ‘menyelamatkan’ 

maklumatnya untuk bidah-bidah Vatikan II yang lain. 

 

Ketiga, jika seseorang membaca catatan di atas, ia dapat melihat bahwa catatan itu menyatakan 

bahwa pokok hal, atau cara pengungkapan sesuatu di dalam Vatikan II, menunjukkan bahwa Vatikan 

II menetapkan Magisterium Gereja yang tertinggi. Pernyataan Paulus VI pada permulaan dan 

akhir dari setiap dokumen Vatikan II (yang telah dikutip) jelas-jelas menyatakan, lewat ‘cara 

pengungkapannya’, ‘sesuai dengan aturan-aturan interpretasi teologis’ (yaitu, sejajar dengan 

dekret-dekret dogmatis dari masa lalu), bahwa ia menetapkan Magisterium yang tertinggi 

(jika ia yaitu  seorang Paus). Oleh sebab  itu, penjelasan teologis yang terlampir kepada dokumen 

Lumen Gentium ini tidak mengurangi ataupun merendahkan gaya bahasa yang khidmat dari Paulus VI 

yang ditemukan pada akhir dari setiap dokumen Vatikan II. namun , gaya bahasanya pada akhir dari 

setiap dokumen Vatikan II memenuhi syarat-syarat catatan teologis ini . 

 

Keempat, mereka yang mencoba untuk memakai  catatan ini untuk ‘menyelamatkan’ semua 

dokumen dari Vatikan II agar tidak mengkompromikan Infalibilitas Kepausan tidak memperhatikan 

Apakah Vatikan II Infalibel? 

578 

 

apa yang dikatakan catatan itu. Catatan itu jelas-jelas menyatakan bahwa 'hal-hal lain yang 

dinyatakan oleh sinode ini sebagai ajaran Magisterium tertinggi dari Gereja, setiap dan 

seluruh anggota dari umat beriman harus menerima dan memeluknya menurut pola pikir 

sinode itu sendiri, yang sudah jelas dari pokok hal ini  ataupun cara pengungkapan hal 

ini  sesuai dengan aturan-aturan interpretasi teologis.” 

 

Ini yaitu  poin yang sangat penting! ada  contoh-contoh di dalam Vatikan II di mana Vatikan II 

menyatakan apa yang dipercayainya sebagai ajaran tertinggi dari Magisterium, di mana “setiap dan 

seluruh anggota dari umat beriman harus menerima dan memeluknya menurut pola pikir 

sinode itu sendiri, yang sudah jelas dari pokok hal ini  ataupun cara pengungkapan hal 

ini ...” Contohnya, di dalam Deklarasi tentang Kebebasan Beragamanya yang sesat (Dignitatis 

Humanae), Vatikan II berkata demikian: 

 

Dokumen Vatikan II, Dignitatis Humanae (#9): 

“Pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh sinode Vatikan ini tentang kebebasan beragama yaitu  

berdasar  martabat manusia, tuntutan-tuntutan yang telah diketahui secara lebih penuh oleh 

akal manusia dari pengalaman berabad-abad. namun  ajaran akan kebebasan ini berakar di 

dalam wahyu ilahi, dan sebab  alasan ini harus dianggap sedemikian sakral oleh para 

umat Kristiani.”14 

 

Di sini Vatikan II secara terang-terangan menunjukkan bahwa ajarannya yang sesat tentang 

kebebasan beragama berakar di dalam wahyu ilahi dan harus dianggap sakral oleh para umat 

Kristiani. Hal ini jelas-jelas memenuhi persyaratan dari catatan teologis tentang ajaran bahwa "setiap 

dan seluruh anggota dari umat beriman harus menerima dan memeluknya menurut pola pikir sinode 

itu {Vatikan II} sendiri, yang sudah jelas dari pokok hal ini  ataupun cara pengungkapan 

hal ini ...” Hal ini tidak berhenti di sini saja: 

 

Dokumen Vatikan II, Dignitatis Humanae (#12): 

“Maka, Gereja setia kepada kebenaran Injil dan mengikuti jalan Kristus dan para rasul, 

sewaktu ia memandang bahwa prinsip kebebasan beragama sesuai dengan martabat 

manusia dan wahyu ilahi, dan sewaktu Gereja mempromosikannya. Sepanjang sejarah, ia telah 

menjaga dan mewariskan ajaran yang diterima dari Kristus dan para rasul.”15 

 

Di sini Vatikan II secara terang-terangan menunjukkan bahwa ajarannya yang sesat tentang 

kebebasan beragama 1) setia kepada kebenaran Injil; 2) mengikuti jalan Kristus dan para rasul; dan 

3) sesuai dengan wahyu ilahi! Kami mengingatkan sang pembaca kembali akan kata-kata di dalam 

catatan teologis ini , yang menyatakan bahwa “hal-hal lain yang dinyatakan oleh sinode ini 

sebagai ajaran magisterium tertinggi dari Gereja, setiap dan seluruh anggota dari umat beriman harus 

menerima dan memeluknya menurut pola pikir sinode itu sendiri, yang sudah jelas dari pokok hal 

ini  ataupun cara pengungkapan hal ini  sesuai dengan aturan-aturan interpretasi 

teologis.” 

 

Maka, menurut catatan teologis itu sendiri, mereka yang menerima Paulus VI sebagai seorang Paus 

terikat untuk menerima ajaran sesat Vatikan II tentang kebebasan beragama sebagai ajaran dari 

Magisterium tertinggi Gereja! Catatan teologis ini mengikat mereka untuk menerima ajaran sesat 

Vatikan II tentang kebebasan beragama sebagai 1) setia kepada kebenaran Injil; 2) mengikuti jalan 

Kristus dan para rasul; dan 3) sesuai dengan wahyu ilahi sebab  inilah pola pikir sinode itu sendiri, 

Apakah Vatikan II Infalibel? 

579 

 

yang sudah jelas dari pokok hal ini  ataupun cara pengungkapan hal ini ...” Sangatlah 

sederhana: mereka yang percaya bahwa Anti-Paus Paulus VI yaitu  seorang Paus terikat kepada 

dokumen tentang kebebasan beragama. 

Untuk merangkum semua poin-poin yang telah dibuat sejauh ini: 1) catatan teologis yang terlampir 

di Lumen Gentium tidak berlaku untuk semua dokumen; 2) catatan teologis yang terlampir di Lumen 

Gentium tidak mengurangi ataupun merendahkan gaya bahasa Paulus II pada akhir dari setiap 

dokumen Vatikan II, namun  membuktikan bahwa gaya bahasanya di akhir dari setiap dokumen 

memenuhi syarat-syarat ajaran infalibel dari Magisterium; 3) walaupun jika catatan teologis ini  

berlaku untuk setiap dokumen – dan jika, entah bagaimana, catatan ini  membuat gaya bahasa 

Paulus VI yang khidmat pada akhir setiap dokumen tidak mengikat (tentunya tidak) – catatan 

teologis ini  sendiri namun  membuktikan bahwa berbagai dokumen di dalam Vatikan II 

infalibel dan mengikat lewat cara Vatikan II menyajikan ajarannya tentang hal-hal ini. 

Seseorang akan gagal jika ia mencoba untuk menghindari kenyataan bahwa Anti-Paus Paulus VI tidak 

dapat menjadi Paus sejati sedangkan pada waktu yang bersamaan, ia mempermaklumkan Vatikan II. 

 

St. Petrus vs Anti-Petrus 

Di dalam ensiklik dogmatisnya yang berjudul Quanta Cura, Paus Pius IX secara infalibel mengutuk 

doktrin sesat kebebasan beragama (yang juga telah dikutuk oleh banyak Paus lain). Paus Pius IX secara 

terang-terangan menganatemakan bidah bahwa kebebasan beragama harus menjadi suatu hak sipil di 

dalam setiap masyarakat yang terbentuk secara benar. Gereja Katolik mengajarkan bahwa suatu 

pemerintahan yang mengakui hak kebebasan beragama – seperti AS – tentunya lebih baik dibandingkan  

pemerintahan yang mengekang Katolisisme. namun , ini hanyalah keadaan di mana seseorang 

menentukan yang mana yang lebih baik dari dua kejahatan. Idealnya yaitu  bahwa suatu pemerintahan 

yang mengakui agama Katolik sebagai satu-satunya agama negara dan tidak memberi  kepada setiap 

orang ‘kebebasan’ untuk mempraktikkan dan menyebarkan agama sesatnya di area publik. Maka, ide 

bahwa kebebasan beragama harus menjadi suatu hak sipil universal yaitu  sesat, seperti yang 

didefinisikan secara infalibel oleh Paus Pius IX di dalam Quanta Cura. 

Paus Pius IX, Quanta Cura, (#3-6), 8 Desember 1864, ex cathedra: 

“Gagasan yang sepenuhnya sesat tentang pemerintahan sosial ini  membuat mereka tidak 

ragu untuk mendukung opini yang sesat ini, yang dampak-dampaknya paling mematikan kepada 

Gereja Katolik dan keselamatan jiwa-jiwa, dan yang disebut oleh Pendahulu Kami dari kenangan 

yang berbahagia, Gregorius XVI, sebagai suatu kegilaan, YAITU BAHWA ‘KEBEBASAN BERHATI 

NURANI DAN BERIBADAH MERUPAKAN HAK PRIBADI DARI SETIAP MANUSIA, YANG HARUS 

SECARA HUKUM DIPROKLAMASIKAN DAN DIJAMIN DI DALAM SETIAP MASYARAKAT YANG 

TERSUSUN SECARA BENAR … ‘ namun , walaupun mereka menekankan pernyataan-pernyataan 

yang lancang ini, mereka tidak memikirkan, tidak pun mereka mempertimbangkan bahwa 

mereka mengajarkan suatu kebebasan untuk menjadi binasa … Maka, DENGAN OTORITAS 

APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK, MENGECAM, DAN MENGUTUK SELURUH DAN SETIAP OPINI 

SERTA DOKTRIN YANG JAHAT YANG SECARA RINCI DISEBUTKAN DI DALAM SURAT INI, DAN 

KAMI MENGHENDAKI DAN MEMERINTAHKAN KEPADA ANAK-ANAK GEREJA KATOLIK AGAR 

MEREKA MENGANGGAP OPINI-OPINI DAN DOKTRIN-DOKTRIN ini  SEPENUHNYA 

DITOLAK, DILARANG, DAN DIKUTUK.”16 

Paus Pius IX mengutuk, melarang, dan menolak (menjadikan tidak legal) lewat otoritas apostoliknya ide 

yang sesat bahwa setiap negara harus memberi  hak sipil untuk kebebasan beragama. namun  

perhatikanlah! Berbeda dengan Paus Pius IX yang mengutuk, melarang, dan menolak (menjadikan tidak 

Apakah Vatikan II Infalibel? 

580 

 

legal) doktrin ini dengan otoritas apostoliknya, Anti-Paus Paulus VI menyetujui, mendekretkan dan 

menetapkan ajaran yang terkutuk ini lewat ‘otoritas apostoliknya’. Dalam kata lain, ajaran yang telah 

dikutuk oleh Paus Pius IX lewat otoritas apostoliknya yaitu  ajaran yang persis diajarkan oleh 

Anti-Paus Paulus VI lewat ‘otoritas apostolik’-nya! 

Anti-Paus Paulus VI, Deklarasi tentang Kebebasan Beragama Vatikan II: 

“PAULUS, USKUP, HAMBA PARA HAMBA ALLAH, BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI SUCI DEMI 

KENANGAN ABADI... Sinode Vatikan ini mendeklarasikan bahwa pribadi manusia memiliki 

sebuah hak kebebasan beragama... HAK KEBEBASAN BERAGAMA DARI PRIBADI MANUSIA INI 

HARUS DIBERIKAN PENGAKUAN DALAM HUKUM MASYARAKAT AGAR MENJADI SEBUAH 

HUKUM SIPIL... Setiap dan segala hal yang ditetapkan di dalam dekret ini telah mendapat  

persetujuan dari para bapa. KAMI PULA, DENGAN OTORITAS APOSTOLIK YANG DIBERIKAN 

KEPADA KAMI OLEH KRISTUS, BERSAMA PARA BAPA-BAPA YANG TERHORMAT 

MENYETUJUI, MENDEKRETKAN DAN MENETAPKAN HAL-HAL INI DI DALAM ROH KUDUS, dan 

kami memerintahkan supaya apa yang sudah dinyatakan di dalam sinode diterbitkan untuk 

kemuliaan Allah... 

 

saya, Paulus, Uskup Gereja Katolik.”17 

 

Otoritas St. Petrus    vs.  Otoritas Anti-Petrus 

Paus Pius IX, Quanta Cura, (#3-6), 8 

Desember 1864, ex cathedra: 

“Gagasan yang sepenuhnya sesat tentang 

pemerintahan sosial ini  membuat 

mereka tidak ragu untuk mendukung opini 

yang sesat ini, yang dampak-dampaknya 

paling mematikan kepada Gereja Katolik dan 

keselamatan jiwa-jiwa, dan yang disebut oleh 

Pendahulu Kami dari kenangan yang 

berbahagia, Gregorius XVI, sebagai suatu 

kegilaan, YAITU BAHWA ‘KEBEBASAN 

BERHATI NURANI DAN BERIBADAH 

MERUPAKAN HAK PRIBADI DARI SETIAP 

MANUSIA, YANG HARUS SECARA HUKUM 

DIPROKLAMASIKAN DAN DIJAMIN DI 

DALAM SETIAP MASYARAKAT YANG 

TERSUSUN SECARA BENAR … ‘ namun , 

walaupun mereka menekankan pernyataan-

pernyataan yang lancang ini, mereka tidak 

memikirkan, tidak pun mereka 

mempertimbangkan bahwa mereka 

mengajarkan suatu kebebasan untuk menjadi 

binasa … Maka, DENGAN OTORITAS 

APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK, 

MENGECAM, DAN MENGUTUK SELURUH 

DAN SETIAP OPINI SERTA DOKTRIN YANG 

JAHAT YANG SECARA RINCI DISEBUTKAN 

DI DALAM SURAT INI, DAN KAMI 

MENGHENDAKI DAN MEMERINTAHKAN 

KEPADA ANAK-ANAK GEREJA KATOLIK 

AGAR MEREKA MENGANGGAP OPINI-OPINI 

DAN DOKTRIN-DOKTRIN ini  

Anti-Paus Paulus VI, Deklarasi tentang 

Kebebasan Beragama Vatikan II: 

“PAULUS, USKUP, HAMBA PARA HAMBA 

ALLAH, BERSAMA BAPA-BAPA KONSILI 

SUCI DEMI KENANGAN ABADI... Sinode 

Vatikan ini mendeklarasikan bahwa pribadi 

manusia memiliki sebuah hak kebebasan 

beragama... HAK KEBEBASAN BERAGAMA 

DARI PRIBADI MANUSIA INI HARUS 

DIBERIKAN PENGAKUAN DALAM 

HUKUM MASYARAKAT AGAR MENJADI 

SEBUAH HUKUM SIPIL... Setiap dan segala 

hal yang ditetapkan di dalam dekret ini 

telah mendapat  persetujuan dari para 

bapa. KAMI PULA, DENGAN OTORITAS 

APOSTOLIK YANG DIBERIKAN KEPADA 

KAMI OLEH KRISTUS, BERSAMA PARA 

BAPA-BAPA YANG TERHORMAT 

MENYETUJUI, MENDEKRETKAN DAN 

MENETAPKAN HAL-HAL INI DI DALAM 

ROH KUDUS, dan kami memerintahkan 

supaya apa yang sudah dinyatakan di dalam 

sinode diterbitkan untuk kemuliaan Allah... 

 

Saya, Paulus, Uskup Gereja Katolik.”19 

Apakah Vatikan II Infalibel? 

581 

 

SEPENUHNYA DITOLAK, DIKECAM, DAN 

DIKUTUK.”18 

Apakah mungkin Paulus VI memiliki ‘otoritas apostolik’ yang sama dengan Paus Pius IX? Apakah otoritas 

apostolik St. Petrus dapat menentang dirinya sendiri? Tidak! yaitu  suatu bidah untuk mengatakan hal 

ini ! (Lukas 22:32; Vatikan I, Sesi 4, Bab 4) 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896: 

“ ... Yesus Kristus telah menginstitusikan di dalam Gereja suatu Magisterium yang hidup, autentik, 

dan permanen, yang dikaruniai oleh-Nya dengan kuasa-Nya sendiri, yang diajar oleh Roh 

Kebenaran, yang diteguhkan oleh mukjizat-mukjizat, dan Ia menghendaki serta memerintahkan 

dengan amat ketat agar ajaran-ajaran doktrinal dari Magisterium ini diterima layaknya ajaran-

ajaran-Nya sendiri. Oleh sebab  itu, setiap kali sabda dari Magisterium ini menyatakan bahwa 

suatu kebenaran tertentu merupakan bagian dari keseluruhan doktrin yang diwahyukan secara 

ilahi, setiap orang harus percaya dengan kepastian bahwa hal itu benar. Sebab seandainya 

Magisterium itu entah bagaimana mungkin salah, akibatnya yaitu , yang jelas absurd, bahwa 

Allah sendiri akan menjadi pencipta kesesatan umat manusia!”20 

 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 4, Bab 4, ex cathedra: 

“Karunia kebenaran dan iman yang tidak pernah gugur ini oleh sebab  itu telah 

dianugerahkan secara ilahi kepada Petrus dan kepada para penerusnya di dalam Takhta 

ini ... agar, dengan ditiadakannya penyebab skisma, Gereja sepenuhnya dilestarikan dalam 

kesatuan, dan dengan bertumpu di atas fondasinya, ia [Gereja] berdiri dengan tak tergoyahkan 

melawan pintu gerbang Neraka.”21 

sesudah  mempertimbangkan fakta-fakta ini, seseorang dapat melihat mengapa mereka yang dengan keras 

kepala menggugat bahwa Paulus VI yaitu  seorang Paus menolak Infalibilitas Kepausan. Mereka 

menolak indefektibilitas Gereja; mereka berkata bahwa otoritas apostolik yang diberikan oleh Kristus 

kepada penerus Petrus menentang dirinya sendiri; dan mereka menyatakan bahwa pintu Alam Maut 

telah mengalahkan Gereja Katolik. 

Faktanya yaitu  bahwa Anti-Paus Paulus VI tidaklah pernah menjadi seorang Paus Gereja Katolik yang 

terpilih secara sah; dan oleh sebab  itu, maklumat khidmatnya akan bidah-bidah Vatikan II tidak 

melanggar Infalibilitas Kepausan. Seperti yang kita telah lihat, Gereja Katolik mengajarkan bahwa 

seorang bidah tidak mungkin terpilih menjadi Paus, sebab  seorang bidah bukanlah anggota dari Gereja 

Katolik. Hal ini telah didefinisikan oleh Konstitusi Apostolik Paus Paulus IV, Cum Ex Apostolatus Officio.  

  

Apakah Vatikan II Infalibel? 

582 

 

_______________________________ Bagian 38:

 

1 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, The America Press, 1966, hal. 366, 

dst. 

 

2 Denzinger, The Sources of Catholic Dogma {Sumber-Sumber Dogma Katolik}, B. Herder Book. Co., Edisi Ketiga 

puluh, 1957, no. 1839. 

3 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 137, 199, dst. 

4 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Sheed & Ward dan Georgetown 

University Press, 1990, Vol. 1, hal. 559. 

 

5 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 1, hal. 597. 

6 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 2, hal. 802. 

7 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 366, dst. 

 

8 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 738-739. 

9 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 715. 

10 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, by Claudia Carlen, Raleigh: The Pierian Press, 1990,Vol. 3 (1903-

1939), hal. 355. 

 

11 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 5, hal. 140. 

12 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 2, hal. 898. 

13 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 97. 

 

14 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 2, hal. 1006. 

 

15 Decrees of the Ecumenical Councils {Dekret-Dekret Konsili-Konsili Ekumenis}, Vol. 2, hal. 1008-1009. 

 

16 Denzinger 1690, 1699. 

17 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-dokumen Vatikan II}, hal. 675, 679, 696. 

18 Denzinger 1690, 1699. 

 

19 Walter M. Abbott, The Documents of Vatican II {Dokumen-Dokumen Vatikan II}, hal. 675, 679, 696. 

 

20 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 2 (1878-1903), hal. 394. 

 

21 Denzinger 1837. 

Paulus VI Menyatakan bahwa Vatikan II dan Misa Baru Mengikat 

583 

 

39. Paulus VI Menyudahi Mitos dari Para 

Tradisionalis Palsu yang Begitu Populer 

dan Penting dengan Menyatakan bahwa 

Vatikan II dan Misa Baru Mengikat 

“Mereka pun menegaskan bahwa Konsili Vatikan II tidak mengikat... Penggunaan Misa Orde Baru tidak 

sama sekali diserahkan kepada pilihan bebas para imam ataupun para umat beriman.”1 (Paulus VI, 

Sambutan; 24 Mei 1976) 

(Mengikuti poin-poin yang telah dibahas sampai bagian ini, bab ini menepiskan salah satu dari mitos 

terbesar dari para tradisionalis palsu: mitos yang berkata bahwa Anti-Paus Paulus VI tidak pernah 

membuat Vatikan II dan Misa Baru mengikat. sebab  Vatikan II sesat dan Misa Baru itu palsu, hal 

ini  yaitu  suatu bukti yang penting bahwa Paulus VI bukanlah seorang Paus). Seperti yang kami 

telah diskusikan, dari kalangan orang-orang yang mengakui masalah-masalah tentang kemurtadan 

pasca-Vatikan II, banyak orang yang mengaku ‘tradisionalis’ menolak Misa Baru dan Vatikan II, namun  

tetap berteguh bahwa Paulus VI, sang pria yang mempermaklumkannya, tidak pernah mewajibkan atau 

mengikat seorang pun untuk menerima Misa Baru atau Vatikan II. 

Chris Ferrara, The Remnant, “A Challenge to the Sedevacantist Enterprise {Tantangan untuk 

Kelompok Sedevakantis},” 15 November 2005, hal. 11: 

“Seperti yang telah disebutkan, bahkan para anggota resmi dari Vatikan, termasuk komisi 

Kardinal dari tahun 1984, mengakui bahwa Misa tradisional tidak pernah dihapuskan de 

jure akibat maklumat dari Misa baru, dan bahwa para imam selalu bebas untuk terus 

memakai  tata cara Misa sebelum konsili {Vatikan II}... Pada dasarnya, Paulus VI hanya 

semata-mata menciptakan suatu ritus baru di samping ritus yang lama, meninggalkan 

yang lama utuh dan tidak pernah melarang penggunaannya yang berkelanjutan.”2 

Nah, marilah mengutip Paulus VI sendiri untuk meledakkan dan menghancurkan kepalsuan ini. Anda 

mungkin tidak akan pernah melihat hal ini dikutip di dalam suatu penerbitan tradisionalis palsu yang 

tetap ingin berpegang erat kepada mitos bahwa Paulus VI mungkin yaitu  seorang Paus sejati, sebab  hal 

ini  berbahaya bagi KELOMPOK TRADISIONALIS PALSU. Berikut kutipannya (kencangkan sabuk 

pengaman anda, para tradisionalis palsu): 

Paulus VI, Sambutan, 24 Mei 1976: 

“Dan faktanya yang jauh lebih serius yaitu  bahwa perlawanan yang kami sebutkan bukan hanya 

didukung oleh beberapa imam, namun  dipimpin oleh seorang uskup, Uskup Agung Marcel 

Lefebvre, yang bagaimanapun namun  kami hormati. 

 

“Begitu menyakitkan untuk mencatat hal ini: namun  bagaimanakah kami tidak memandang sikap 

ini  – apa pun niat dari orang-orang ini – sebagai menempatkan diri mereka sendiri di 

luar kepatuhan dan persekutuan bersama Penerus Petrus dan oleh sebab  itu di luar 

Gereja? sebab  hal ini, sayangnya, yaitu  hasilnya secara logis, sewaktu mereka 

menganggap bahwa lebih baik tidak patuh di bawah dalih untuk menjaga utuh iman 

seseorang dan untuk menjaga dengan caranya sendiri kelestarian Gereja Katolik, namun  

pada waktu yang sama menolak untuk taat. Dan hal ini dikatakan secara terang-terangan. 

Paulus VI Menyatakan bahwa Vatikan II dan Misa Baru Mengikat 

584 

 

Mereka pun menegaskan bahwa Konsili Vatikan II tidak mengikat: bahwa iman juga akan 

terancam akibat pembaruan-pembaruan dan perintah-perintah sesudah  konsili, bahwa 

seseorang memiliki kewajiban untuk menentang untuk mempertahankan tradisi-tradisi 

tertentu. Tradisi-tradisi apa? Kelompok inilah, bukan sang Paus, bukan Dewan Uskup, 

bukan Konsili Ekumenis, yang menentukan dari tradisi-tradisi yang tidak terhitung 

jumlahnya yang harus dianggap sebagai norma iman! Seperti yang anda lihat, Saudara-

saudara yang Terhormat, sikap semacam itu mendirikan dirinya sendiri sebagai hakim 

atas kehendak ilahi yang menempatkan Petrus dan penerus-penerusnya yang sah sebagai 

kepala Gereja untuk menguatkan para saudaranya di dalam iman, dan untuk 

menggembalakan domba-domba universal, dan yang menetapkannya sebagai penanggung 

dan penjaga khazanah iman... 

 

“Penggunaan Misa Orde Baru tidak sama sekali diserahkan kepada pilihan bebas para 

imam ataupun para umat beriman. Petunjuk dari tanggal 14 Juni 1971 telah mencanangkan, 

dengan otorisasi dari Ordinaris, penyelenggaraan Misa di dalam formula lama hanya oleh imam-

imam yang berusia lanjut dan sakit, yang mempersembahkan Kurban ilahi sine populo [tanpa 

umat]. Misa Orde baru dipermaklumkan untuk menggantikan yang lama, sesudah  melalui 

pertimbangan yang matang, yang mengikuti permintaan-permintaan dari Konsili Vatikan 

II. Pendahulu suci kami Pius V membuat wajib dengan cara yang tidak berbeda Missal yang 

diperbarui di bawah kuasanya, mengikuti Konsili Trente... 

 

“Kami telah memohon perhatian Uskup Agung Lefebvre akan perilakunya yang 

mengkhawatirkan, inisiatif-inisiatif utamanya di masa ini yang tidak reguler, ketidakkonsistenan 

posisi-posisi doktrinnya yang sering salah yang mendasari perilakunya dan inisiatif-inisiatif 

ini , dan kerusakan yang disebabkan kepada seluruh Gereja akibat hal-hal ini .”3 

Begitulah. Paulus VI sendiri menolak secara langsung Chris Ferrara dan para tradisionalis palsu akan 

kedua argumen utama mereka. Paulus VI menyatakan bahwa para imam ataupun umat beriman ‘tidak 

sama sekali’ diberikan ‘pilihan bebas’ untuk tidak memakai  Misa Orde Baru. Ia juga mencela 

pernyataan mereka bahwa Vatikan II tidak mengikat, dan ia menunjukkan bahwa konsekuensi logis dari 

posisi Lefebvre, yang menolak Misa Baru dan Vatikan II, dan beroperasi secara independen dari hierarki 

yang ia akui, yaitu  bahwa ia menempatkan dirinya sendiri di luar Gereja. 

Sudah waktunya bagi semua orang untuk bangun dan menyadari bahwa Sekte Vatikan II hanyalah suatu 

sekte palsu dari kepala sampai ujung kaki dan bahwa tidak ada satu cara pun untuk menyembuhkannya – 

Vatikan II ataupun para Anti-Pausnya. Inilah mengapa para ‘uskup’ dengan ‘yurisdiksi biasa’ di dalam 

Sekte Vatikan II mendukung bahwa Vatikan II yaitu  ajaran resmi dari Gereja. Itulah mengapa semua 

kelompok ‘tradisionalis’ yang menerima ‘persetujuan resmi’ dari Sekte Vatikan II harus menerima 

Vatikan II. Itulah mengapa Benediktus XVI telah berkata kepada kepala SSPX bahwa mereka tidak dapat 

diterima secara penuh di dalam Sekte Vatikan II jika mereka tidak menerima Vatikan II. 

_______________________________ Bagian 39: 

 

1 Situs Vatikan, Paulus VI, Sambutan, Konsistori untuk nominasi 20 Kardinal, 24 Mei 1976, versi Itali, no II, 2, a. 

http://www.vatican.va/holy_father/paul_vi/speeches/1976/documents/hf_p-vi_spe_19760524_concistoro_it.html 

 

2 Chris Ferrara, The Remnant, “A Challenge to the Sedevacantist Enterprise {Tantangan untuk Kelompok  

Sedevakantis},” 15 November 2005, hal. 11. 

 

Paulus VI Menyatakan bahwa Vatikan II dan Misa Baru Mengikat 

585 

 

 

3 Situs Vatikan, Paulus VI, Konsistori untuk Nominasi 20 Kardinal, 24 Mei 1976, versi Italia, no II, 2, a. L’Osservatore 

Romano, Edisi Inggris, 3 Juni 1976, hal. 2. 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

586 

 

40. Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

 

 

Uskup Agung Lefebvre (pendiri SSPX) dan keempat uskup yang ditahbiskannya pada tanggal 30 Juni 19881 

“Kita menghadapi suatu dilema yang besar yang, saya percayai, tidak pernah terjadi 

sebelumnya di dalam Gereja: ia yang duduk di Takhta Petrus mengambil bagian dalam 

ibadat kepada ilah-ilah sesat. Kesimpulan apa yang akan harus kita tarik, kemungkinan dalam 

jangka waktu beberapa bulan, di hadapan perbuatan-perbuatan yang dilakukan berulang kali ini, 

yakni mengambil bagian dalam ibadat agama-agama sesat, saya tidak tahu. namun  saya memang 

bertanya-tanya. Kita mungkin terpaksa percaya bahwa Sri Paus bukanlah Paus.”2 (Uskup 

Agung Lefebvre, Khotbah, Paskah 1986) 

[Catatan: Hal yang dibahas di dalam bab ini bukan hanya berlaku kepada Serikat Santo Pius X, namun  juga 

kepada banyak dari kelompok-kelompok “tradisionalis” independen, yang berpendapat secara serupa 

dan yang melawan kemurtadan Vatikan II serta Misa Baru dengan memegang posisi-posisi yang serupa 

dengan yang dipegang oleh SSPX.] 

SSPX yaitu  sekelompok imam “tradisionalis” yang didirikan oleh mendiang Uskup Agung Marel 

Lefebvre. Lefebvre yaitu  seorang uskup agung di Prancis yang melawan banyak hal sehubungan agama 

pasca-Vatikan II dan mengakui bahwa hal-hal itu merupakan penyimpangan dari agama Katolik 

tradisional. Ia mengakui bahwa Misa Baru yaitu  ibadat Protestan dan berlawanan dengan Tradisi. Ia 

juga menentang bidah-bidah “ekumenisme” dan kebebasan beragama, yang diajarkan di Vatikan II.  

Ia merintis seminari-seminari untuk pembentukan para imam yang akan secara eksklusif 

menyelenggarakan Misa Tradisional, dan ia menahbiskan para imam itu dalam ritus imamat tradisional. 

Untuk melaksanakannya, ia harus terus bertindak secara independen dari para Anti-Paus Vatikan II, 

meskipun ia terus mengambil posisi bahwa para Anti-Paus Vatikan II yaitu  para Paus yang sah yang 

memegang jabatan Kepausan. Lefebvre juga bekerja secara independen dari para “uskup” yang turut 

serta dalam agama yang baru.  

Pada tanggal 30 Juni 1988, Lefebvre memutuskan (secara independen dari para Anti-Paus Vatikan II) 

untuk mengonsekrasikan empat orang uskup dalam ritus Konsekrasi Uskup tradisional, agar para uskup 

ini dapat terus menahbiskan para imam untuk menyelenggarakan ritus-ritus tradisional. Lefebvre 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

587 

 

“diekskomunikasikan” oleh Yohanes Paulus II dalam kurun waktu 72 jam, walaupun (seperti yang sudah 

dibahas sebelumnya) tidak ada seorang politikus pro-aborsi pun yang terkemuka yang sampai sekarang 

pernah diekskomunikasikan oleh salah seorang pun dari para Anti-Paus Vatikan II. 

SSPX memiliki banyak lokasi di dunia di mana lembaga ini menyelenggarakan Misa tradisional, dan 

merupakan gerakan yang besar yang memengaruhi dan menyediakan sakramen-sakramen bagi orang-

orang yang mengaku diri sebagai orang Katolik yang berpikiran secara tradisional. Kami ingin 

menekankan bahwa SSPX melakukan banyak hal yang baik; mereka telah menjadi suatu jalan yang dilalui 

oleh banyak orang sehingga mereka mengenal dan kembali kepada Iman Katolik tradisional. namun , SSPX 

sayangnya memegang berbagai posisi yang bidah dan berlawanan dengan Iman Katolik. Pertama-tama, 

SSPX percaya dan mengajarkan bahwa jiwa-jiwa dapat diselamatkan dalam agama-agama non-Katolik, 

suatu ajaran yang sesat. 

Romo Schmidberger, Time Bombs of the Second Vatican Council {Bom Waktu Konsili Vatikan II}, 

Angelus Press [SSPX], hal. 10: 

“Bapak ibu, jelas bahwa para pengikut agama-agama lain dapat diselamatkan dengan 

syarat-syarat tertentu, yaitu, jika mereka berada dalam kesalahan yang tidak teratasi.” 

Uskup Agung Marcel Lefebvre, Against the Heresies {Melawan Bidah}, Angelus Press [SSPX], hal. 

216: 

“Jelas adanya bahwa pembedaan-pembedaan tertentu harus dibuat. Jiwa-jiwa dapat 

diselamatkan di dalam suatu agama selain agama Katolik (Protestantisme, Islam, 

Buddhisme, dll.), namun  bukan oleh agama ini.” 

Pernyataan-pernyataan ini tergolong suatu bidah yang jelas melawan dogma Di Luar Gereja Tidak 

ada  Keselamatan; namun demikian pernyataan-pernyataan ini dicetak di dalam materi-materi SSPX 

yang terlaris. Kenyataannya, hampir semua imam yang bahkan menyelenggarakan Misa tradisional 

percaya akan bidah yang sama ini. 

Paus Gregorius XVI, Summo Iugiter Studio (#2), 27 Mei 1832: 

“Pada akhirnya beberapa orang yang teperdaya ini mencoba meyakinkan diri mereka 

sendiri dan orang-orang lain bahwa manusia tidak hanya diselamatkan di dalam agama 

Katolik, namun  bahwa bahkan para bidah dapat memperoleh kehidupan kekal..”3 

Juga, walaupun SSPX menentang kemurtadan Vatikan II, SSPX berkeras kepala mempertahankan suatu 

kesetiaan kepada para “uskup” yang bidah secara manifes dari Gereja Novus Ordo/Vatikan II, seperti 

yang telah disebutkan di atas. Bagaimanapun, SSPX tidak bekerja pada saat itu juga dalam persekutuan 

dengan lembaga yang disebutnya sebagai “Gereja Baru” – Gereja Novus Ordo – Gereja para “uskup” dan 

“paus” Vatikan II (yang sebenarnya yaitu  Anti-Paus). Posisi mereka yaitu  suatu kontradiksi, yang 

menghina ajaran Katolik dalam tiga hal: 

1) Mereka mengakui para bidah manifes (para uskup Novus Ordo dan para Anti-Paus Vatikan II) 

sebagai orang-orang Katolik yang memiliki otoritas di dalam Gereja, suatu pandangan yang bidah. 

Mereka perlu mengakui bahwa para uskup yang bidah ini berada di luar Gereja dan sama sekali 

tidak memiliki otoritas. 

St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, Bab 30: 

“Pada akhirnya, para Bapa yang Kudus mengajarkan secara semufakat bahwa para bidah tidak 

hanya berada di luar Gereja, namun  juga bahwa mereka secara ‘ipso facto’ kehilangan semua 

yurisdiksi dan jabatan gerejawi.” 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

588 

 

St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, Bab 30: 

“Seorang Paus yang yaitu  bidah secara manifes [terang-terangan] secara otomatis (per se) 

berhenti menjadi Paus dan kepala, layaknya ia berhenti menjadi seorang Kristiani dan seorang 

anggota dari tubuh Gereja. Maka dari itu, ia dapat dihakimi dan dihukum oleh Gereja. Ini yaitu  

ajaran dari semua Bapa Kuno yang mengajarkan bahwa para bidah manifes langsung kehilangan 

semua yurisdiksi.” 

2) SSPX bersikeras beroperasi di luar persekutuan hierarki Novus Ordo, walaupun mereka 

menganggap hierarki Novus Ordo sebagai hierarki Katolik sejati. Posisi ini sebenarnya skismatis. 

Kenyataannya, SSPX berani menolak persekutuan dengan Gereja Novus Ordo (seperti yang 

disebutkan di atas), walaupun SSPX sendiri mengakui hierarki Novus Ordo sebagai hierarki 

Katolik sejati! 

 

Uskup Agung Marcel Lefebvre, Deklarasi; Agustus 1976: 

“Mereka semua yang membantu dalam mewujudkan pemberontakan ini dan yang 

mengikuti Gereja Konsiliar yang baru ini terlibat dalam skisma, seperti yang dinyatakan oleh 

Yang Mulia Uskup Benelli di dalam surat yang ditujukan kepada saya dalam nama Bapa Suci pada 

tanggal 25 Juni lalu.” (Dikutip dalam Sacerdotium) 

 

Romo Franz Schmidberger, mantan Jenderal Superior SSPX: 

“Kami tidak pernah berkehendak untuk menjadi bagian dari sistem ini yang menyebut 

dirinya sendiri Gereja Konsiliar, dan yang menyatakan dirinya sendiri terkait erat dengan 

Misa Novus Ordo ... Para umat beriman memang memiliki suatu hak yang ketat untuk 

mengetahui bahwa para imam yang melayani mereka tidak berada dalam persekutuan 

dengan suatu gereja palsu.” (Dikutip dalam Sacerdotium) 

 

The Angelus, Publikasi resmi dari Serikat St. Pius X (SSPX), Mei 2000: 

“Arus pembaruan ini telah melahirkan suatu gereja baru di pangkuan Gereja Katolik, yang 

dijuluki oleh Msgr. Benelli sendiri sebagai ‘gereja konsiliar,’ yang batasan-batasan serta 

jalan-jalannya amat sulit untuk didefinisikan ... Perlawanan kami ini bertahan melawan gereja 

konsiliar ini. Kami tidak menolak untuk taat kepada Sri Paus pada hakikatnya, namun  kami 

menolak untuk taat kepada gereja konsiliar ini, sebab gagasan-gagasannya asing berbanding 

dengan gagasan-gagasan Gereja Katolik.”4 

Seseorang yang menolak bersekutu dengan Gereja Novus Ordo namun  tidak menolak bersekutu dengan 

kepala Gereja Novus Ordo bagaikan seseorang berkata bahwa dirinya menolak bersekutu dengan Partai 

Komunis namun  tidak menolak bersekutu dengan kepala Partai Komunis! Ini yaitu  suatu kontradiksi. 

Di samping itu, dengan mengakui para “Paus” dan “uskup” Vatikan II sebagai hierarki Katolik, SSPX 

bersekutu dengan “gereja palsu” ini . Pada saat itu juga, SSPX berada dalam skisma dengan “gereja 

palsu” ini sebab  SSPX secara terang-terangan menolak bersekutu dengan para anggota Gereja ini, 

seperti yang kita lihat di atas. (Jika posisi mereka terdengar berkontradiksi, sebabnya yaitu  posisi 

mereka memang yaitu  suatu kontradiksi). Posisi mereka ini skismatis. 

Kanon 1325.2, Kitab Hukum Kanonik 1917: 

“Seseorang yang sesudah  pembaptisan ... menolak otoritas Sri Paus yang Berdaulat atau menolak 

persekutuan dengan para anggota Gereja yang tunduk kepadanya, orang itu yaitu  

seorang skismatis.”  

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

589 

 

St. Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada jemaat di Tralles, (110 M): 

“Barang siapa berada dalam ruang mahakudus yaitu  orang yang tahir; namun  barang siapa 

berada di luar ruang mahakudus yaitu  orang yang najis. Dalam kata lain, siapa pun yang 

bertindak tanpa uskup dan presbiter serta para diakon tidak memiliki hati nurani yang 

bersih.”5 

Selama puluhan tahun, SSPX bersikeras beroperasi di luar persekutuan dengan para “uskup” dan para 

“Paus” yang, menurut SSPX sendiri, yaitu  hierarki Katolik. Perbuatan mereka ini skismatis. 

St. Hieronimus, Komentar-Komentar tentang Surat kepada Titus, (386 M): 

“Antara bidah dan skisma, ada suatu pembedaan yang dibuat, bahwa bidah melibatkan doktrin 

yang sesat, sedangkan skisma memisahkan seseorang dari Gereja akibat ketidaksetujuan 

dengan Uskup.6 

3) SSPX percaya bahwa Gereja Katolik telah menjadi suatu “Gereja baru” – suatu sekte modernis dan 

non-Katolik yang penuh dengan bidah dan kemurtadan – suatu hal yang mustahil. Gereja yaitu  

Mempelai Kristus yang Tak Bernoda, yang tidak dapat mengajarkan kesalahan secara resmi. 

Paus Pius XI, Mortalium Animos, 6 Januari 1928: 

“sebab , sang Mempelai mistis Kristus tidak pernah ternodai di sepanjang abad, tidak pun sang 

Mempelai mistis akan pernah ternodai, sebagaimana kesaksian Santo Siprianus: ‘Mempelai 

Kristus tidak dapat ternodai; ia tidak pernah dapat mengalami kerusakan dan murni 

adanya. Hanya ada satu rumah yang dia kenal dan kekudusan dari pelaminannya yang esa 

itu dijaganya dengan kesucian yang murni.’”7 

Paus Pius XI, Quas Primas, 11 Desember 1925: 

“Gereja telah menerima manfaat-manfaat yang mewajibkannya untuk memberi  

penghormatan secara publik dan legitim kepada Bunda Allah dan para kudus di Surga. Salah satu 

dari manfaat-manfaat itu, yang bukanlah manfaat yang terkecil, yaitu  kekebalan yang 

sempurna yang senantiasa dimiliki oleh Gereja terhadap kesalahan dan bidah.”8 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 4, Bab 4, ex cathedra: 

“ ... mengetahui secara penuh bahwa Takhta St. Petrus tidak pernah ternodakan oleh suatu 

kesalahan pun, seturut janji ilahi yang dibuat oleh Tuhan kita sang Juru Selamat kepada sang 

kepala dari para rasul-Nya: ‘Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan 

sewaktu engkau telah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.’ (Lk. 22:32)”9 

Contohnya, SSPX bahkan menolak kanonisasi-kanonisasi khidmat yang dilakukan oleh para “Paus” 

Vatikan II, yakni para pria yang mereka sendiri akui sebagai “Paus”. Posisi ini begitu skismatisnya, sebab 

posisi ini menyatakan bahwa SSPX mengakui bahwa seorang Paus sejati dan Gereja Katolik telah secara 

resmi melakukan kesalahan dalam menganonisasikan santo-santa. 

St. Alfonsus de Liguori, The Great Means of Salvation and Perfection {Jalan Agung untuk Mencapai 

Keselamatan dan Kesempurnaan}, 1759, hal. 23: 

“Menganggap bahwa Gereja dapat membuat kesalahan dalam kanonisasi yaitu  suatu 

dosa atau bidah, menurut St. Bonaventura, Bellarminus, dan lain-lain; atau setidaknya 

suatu kesalahan yang sangat dekat dengan bidah, menurut Suarez, Azorius, Gotti, dsb.; 

sebab  Sri Paus yang Berdaulat, menurut St. Thomas, dibimbing oleh pengaruh yang 

infalibel dari Roh Kudus dalam suatu cara yang istimewa sewaktu menganonisasikan 

santo-santa.”10  

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

590 

 

Prospero Lambertini, yang di lalu  hari menjadi Paus Benediktus XIV (1740-58 M), Tentang 

Beatifikasi dan Kanonisasi: 

“Seandainya seseorang berani menyatakan bahwa Sri Paus telah membuat kesalahan 

dalam kanonisasi yang satu atau yang lain, kami berkata bahwa orang itu yaitu  seorang 

bidah, atau setidaknya lancang, penyebab skandal bagi segenap Gereja, penghina para 

kudus, penyokong para bidah yang menyangkal otoritas Gereja dalam menganonisasikan 

para kudus, menikmati bidah dengan mengadakan kesempatan bagi orang-orang kafir untuk 

menghina para umat beriman, menyatakan suatu pandangan yang salah dan patut dikenakan 

penalti-penalti yang amat berat.”11 

sebab  ada begitu banyak orang yang sangat menghormati SSPX, mereka telah dibimbing sehingga 

memegang posisi skismatis yang sama. Semua posisi yang sesat tentang situasi pasca-Vatikan II ini 

merupakan hasil keengganan SSPX untuk melihat kebenaran bahwa sekte Vatikan II sama sekali 

yaitu  Gereja palsu, dan bahwa para “Paus” pasca-Vatikan II sebenarnya yaitu  para Anti-Paus 

yang tidak valid.  

Beberapa pernyataan yang sangat menarik dari Uskup Agung Lefebvre yang 

mengutarakan pandangannya bahwa para “Paus” Vatikan II mungkin bukan 

Paus yang valid 

Meski posisi mereka pada saat ini sungguh tidak dapat dibela – dan kendati betapa jelasnya bukti yang 

mendukung posisi sedevakantis – SSPX tetap terus (bahkan pada fase ini di mana kemurtadan Vatikan II 

sedemikian parahnya) menerbitkan buku-buku dan risalah-risalah yang menyerang posisi sedevakantis. 

Mereka gagal untuk menyadari bahwa pendiri Serikat mereka, Uskup Agung Lefebvre, dahulu membuat 

banyak pernyataan yang membuktikan bahwa pandangannya dekat dengan posisi sedevakantis sekitar 

tahun 1970 dan 1980-an. Hendaknya kutipan-kutipan berikut dikenal oleh para anggota Serikat Santo 

Pius X. 

Uskup Agung Lefebvre, 4 Agustus 1976: 

“Konsili ini  [Vatikan II] berbalik badan dari Tradisi dan memutuskan hubungan dengan 

Gereja masa lalu. Konsili itu yaitu  konsili yang skismatis … Jika kami meyakini bahwa Iman 

yang diajarkan oleh Gereja selama dua puluh abad tidak dapat memuat kesalahan sama 

sekali, kami jauh lebih tidak yakin bahwa Sri Paus sungguh yaitu  Paus. Bidah, skisma, 

ekskomunikasi ipso facto, atau pemilihan yang tidak valid merupakan segala penyebab 

yang mengakibatkan Sri Paus tidak pernah menjadi Paus, atau bukan lagi seorang Paus … 

Sebab pada hakikatnya, sejak awal masa Kepausan Paulus VI, hati nurani dan iman semua orang 

Katolik telah menghadapi suatu masalah yang serius. Bagaimanakah Sri Paus, penerus Petrus 

yang sejati, yang dijaminkan pertolongan Roh Kudus, dapat meresmikan kehancuran Gereja – 

kehancuran yang tercepat, tergesit, dan teramat luas di dalam sejarahnya – sesuatu yang tidak 

pernah dapat dicapai oleh seorang pemimpin bidah pun?”12 

Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, 29 Agustus 1976: 

“Ritus Misa yang baru yaitu  suatu ritus yang haram jadah, sakramen-sakramennya haram 

jadah, imam-imam yang dihasilkan dari seminaris-seminarisnya yaitu  imam-imam haram jadah 

….”13 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

591 

 

Uskup Agung Lefebvre, Pertemuan dengan Paulus VI, 11 September 1976: 

“[Dokumen Vatikan II tentang kebebasan beragama] memuat teks-teks yang kata demi 

kata bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Gregorius XVI dan Pius IX.”14 

Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, 22 Februari 1979: 

“Sejauh mana Konsili itu menentang Tradisi, kami menolak Konsili ini  [Vatikan II].”15 

Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, Paskah 1986: 

“Inilah situasi di mana kita mendapati diri kita sendiri. Bukan saya yang menciptakannya. Saya 

rela mati demi melenyapkannya! Kita menghadapi suatu dilema yang besar yang, saya 

percayai, tidak pernah terjadi sebelumnya di dalam Gereja: ia yang duduk di Takhta 

Petrus mengambil bagian dalam ibadat kepada ilah-ilah sesat. Kesimpulan apa yang akan 

harus kita tarik, kemungkinan dalam jangka waktu beberapa bulan, di hadapan perbuatan-

perbuatan yang dilakukan berulang kali ini, yakni mengambil bagian dalam ibadat agama-agama 

sesat, saya tidak tahu. namun  saya memang bertanya-tanya. Kita mungkin terpaksa percaya 

bahwa Sri Paus bukanlah Paus. Sebab pada awalnya, saya mendapat  kesan – saya belum 

ingin mengatakannya secara khidmat dan publik – bahwa mustahil adanya bagi seorang Paus 

untuk menjadi bidah secara publik dan resmi.”16 

Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, 27 Agustus 1986: 

“Ia yang sekarang duduk di takhta Petrus secara publik menghina artikel pertama dari 

Syahadat dan Perintah yang pertama dari Dekalog [Sepuluh Perintah Allah]. Skandal yang 

ditimbulkan bagi para umat Katolik tidak terukur besarnya. Gereja terguncang sampai kepada 

landasan-landasannya sendiri.”17 

Uskup Agung Lefebvre, Khotbah, 28 Oktober 1986: 

“Yohanes Paulus II telah menganjurkan kepada agama-agama sesat untuk berdoa kepada 

ilah-ilah sesat mereka: perbuatan ini yaitu  suatu penghinaan yang tidak dapat ditolerir dan 

yang tidak pernah terjadi sebelumnya bagi mereka yang tetap Katolik ….”18 

Uskup Agung Lefebvre, Pertemuan dengan “Kardinal” Ratzinger, 14 Juli 1987: 

“Jika terjadi suatu skisma, sebabnya yaitu  apa yang dilakukan oleh Vatikan di Assisi … perkara 

diekskomunikasikan oleh Gereja yang liberal, ekumenis, dan revolusioner yaitu  perkara 

yang tidak kami acuhkan.”19 

Uskup Agung Lefebvre, Pertemuan dengan “Kardinal” Ratzinger, 14 Juli 1987: 

“Roma telah kehilangan iman, Roma berada dalam kemurtadan.”20 

Uskup Agung Lefebvre, Pertemuan dengan “Kardinal” Ratzinger, 29 Agustus 1987: 

“ ... Takhta Petrus dan kedudukan-kedudukan otoritas di Roma sedang diduduki oleh para 

anti-Kristus, kehancuran Kerajaan Tuhan kita sedang dilakukan dengan cepat … Inilah apa yang 

telah menjatuhkan atas kepala kita penganiayaan oleh Roma milik para anti-Kristus.”21 

Uskup Agung Lefebvre, Pernyataan kepada pers sebelum Konsekrasi Uskup di tahun 1988: 

“Gereja melangsungkan segala persekutuan dengan agama-agama sesat dan bidah … dalam 

kengerian … Demi menjaga imamat Katolik yang menyebarkan Gereja dan bukan Gereja 

yang pezina, harus ada uskup-uskup Katolik.”22 

Uskup Agung Lefebvre, berbicara tentang para pemimpin Sekte Vatikan II: 

“Kita tidak dapat bekerja sama dengan para musuh dari Kerajaan Tuhan kita ini.”23 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

592 

 

Uskup Agung Lefebvre, berbicara tentang para pemimpin Sekte Vatikan II: 

“Kita tidak boleh mengikuti orang-orang itu. Mereka berada dalam kemurtadan, mereka 

tidak percaya akan keilahian Tuhan kita Yesus Kristus yang harus meraja. Apa gunanya 

menunggu? Mari kita lakukan konsekrasi itu!”24 

Beberapa poin lainnya yang lebih penting sehubungan posisi-posisi SSPX 

ditemukan dalam judul-judul berikut; berikut rangkuman singkatnya: 

Uskup Fellay dari SSPX menolak dogma Katolik dengan mengajarkan bahwa para Hindu 

dapat diselamatkan 

Uskup Bernard Fellay, Konferensi di Denver, Co., 18 Februari 2006: 

“ ... Dan Gereja selalu mengajarkan bahwa akan ada orang-orang, yang berada di dalam 

keadaan rahmat, yang telah diselamatkan tanpa mengenal Gereja Katolik. Kita mengetahui 

hal ini. namun , bagaimanakah hal itu mungkin terjadi jika anda tidak dapat diselamatkan 

di luar Gereja? Sungguh benar bahwa mereka akan diselamatkan melalui Gereja Katolik, 

sebab  mereka akan dipersatukan kepada Kristus, kepada Tubuh Mistis Kristus, yang yaitu  

Gereja Katolik. namun , pemersatuan itu akan tetap tidak terlihat, sebab  hubungan yang kelihatan 

ini tidak mungkin terjadi bagi mereka. Ambillah contoh seorang Hindu di Tibet yang sama 

sekali tidak mengenal Gereja Katolik. Ia hidup menurut hati nuraninya dan hukum-hukum 

yang ditempatkan oleh telah Allah di dalam hatinya. Ia dapat berada di dalam keadaan 

rahmat, dan jika ia meninggal dalam keadaan rahmat, ia akan masuk Surga.” (The Angelus, A 

Talk Heard Round the World [Percakapan yang Terdengar di Sekeliling Dunia], April 2006, hal. 5) 

SSPX menolak “kanonisasi” Josemaria Escriva oleh Yohanes Paulus II, yang dengan 

demikian menyingkapkan Skisma lembaga ini  

Romo Peter Scott, Seminari Holy Cross dari SSPX di Australia, 1 November 2002: 

“Salah satu contoh yang umum dari hal ini yaitu  kanonisasi yang memalukan dan yang sangat 

dipertanyakan dari Mons. Josemaria Escriva dari Balaguer, pada tanggal 6 Oktober lalu ... sesudah  

ditekankan bahwa proses itu tidak kanonik dan tidak jujur, mereka berkata demikian: ‘Ini 

(kanonisasi ini ) akan menyinggung Allah. Ini akan menodai Gereja untuk selamanya. 

Ini akan merampas kekudusan yang khusus dari santo-santa. Ini akan membuat kredibilitas 

segala kanonisasi yang dilakukan pada masa Kepausan anda dipertanyakan. Ini akan 

memperlemah otoritas Kepausan di masa yang akan datang’ … Surat mereka tentunya akan 

menjadi suatu nubuat, sebab kelak, mereka akan terbukti benar dalam penilaian mereka tentang 

Escriva … Oleh sebab  segala alasan yang mereka berikan, kami tidak mungkin menganggap 

‘kanonisasi’ ini sebagai suatu ketetapan Kepausan yang valid dan infalibel. Kami percaya 

bahwa ia berada di Surga, namun  kami tidak mungkin menganggap bentara Vatikan II ini sebagai 

seroang Santo ….” (Southern Sentinel no. 3, November 2002) 

sebab  mereka mengakui Yohanes Paulus II sebagai seorang Paus sejati, penolakan “kanonisasi”-nya 

yang khidmat ini yaitu  suatu sikap yang jelas-jelas skismatis. 

Uskup Richard Williamson dari SSPX berkata bahwa Yohanes Paulus II yaitu  seorang 

“pria yang baik” dan bahwa agama SSPX tidaklah sama dengan agama para “Paus” 

Vatikan II diakui SSPX! 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

593 

 

“Jawaban dari uskup Williamson: Saya sedikit terkejut, pertama kalinya, sebab  orang-orang 

tertentu telah berkata bahwa ia sesungguhnya tidak mendaftar sebagai calon Paus. sesudah  hal itu 

terjadi, jujur saja, saya tidak berharap banyak dari Roma, mengingat keadaannya sekarang. 

Mereka sudah terlampau jauh dalam ‘Agama Baru’ dan ‘Agama Baru’ ini secara radikal 

terlalu berbeda dan jauh secara radikal dari Agama Sejati. Namun demikian, Roma tetaplah 

Roma, dan saya sungguh percaya bahwa di sanalah para Paus berada, dan di sanalah para 

kardinal berada, dan di sanalah tempat di mana struktur resmi Gereja ditemukan. namun , saya 

takut bahwa demi membela Iman, anda harus menantikan suatu peristiwa besar yang akan 

mengguncangkan Roma dan/atau mengusir para kardinal yang sejati ke luar dari Roma dan 

memulai kembali di suatu tempat yang lain. Saya takut Roma sudah tenggelam terlalu dalam di 

dalam cengkeraman para musuh Allah.”25 

Uskup Williamson dari SSPX menyatakan dengan lancang bahwa ia tidak menganut agama yang sama 

dengan yang dianut oleh para “Paus” dan para “uskup” yang diakuinya sebagai hierarki Katolik! Bapak, 

ibu, pernyataannya ini merupakan rangkuman dari posisi SSPX yang sungguh konyol dan skismatis, yang 

(sebab  tiada sebutan lain yang dapat menggambarkannya dengan lebih baik) sebegitu tegar dalam 

ketidakkonsistenannya sehingga posisi itu secara benar dicap sebagai MUNTAHAN TEOLOGIS. 

Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#22): 

“Maka, sebab  di dalam komunitas Kristiani yang sejati hanya ada satu Tubuh, satu Roh, satu 

Tuhan dan satu Pembaptisan, itulah sebabnya hanya mungkin ada satu iman. Dan oleh sebab  

itu, jika seseorang menolak untuk mendengarkan Gereja, hendaknya ia dianggap – sebagaimana 

yang diperintahkan oleh Tuhan – sebagai seorang pagan dan seorang pemungut cukai. Itulah 

sebabnya, mereka yang terbagi-bagi di dalam iman atau pemerintahan tidak dapat hidup 

baik di dalam kesatuan dari Tubuh yang semacam itu, maupun di dalam Roh Ilahi yang esa 

dari Tubuh ini .”26 

Uskup Tissier de Mallerais dari SSPX menolak konsep persekutuan Gereja dan 

menyatakan bahwa Benediktus XVI mengajarkan bidah 

“Jawaban dari Uskup Tissier de Mallerais: “Pertama-tama, saya tidak akrab dengan teks ini. Saya 

tidak mengenalinya. Teks ini tidak menarik bagi saya sebab  saya tidak mengikuti berita 

semacam itu. Itu bukanlah permasalahannya. Permasalahannya bukanlah ‘persekutuan’. Itu 

yaitu  gagasan yang bodoh dari para uskup ini sejak Vatikan II – tidak ada masalah 

persekutuan, yang ada yaitu  masalah tentang pengakuan iman. ‘Persekutuan’ bukan apa-apa, 

itu hanya suatu rekaan Konsili Vatikan Kedua. Inti permasalahannya yaitu  bahwa orang-

orang ini (para uskup) tidak memiliki Iman Katolik. ‘Persekutuan’ sama sekali tidak berarti 

apa-apa bagi saya – itu yaitu  slogan Gereja yang baru. Definisi Gereja yang baru yaitu  

‘persekutuan’ namun  itu tidak pernah menjadi definisi Gereja Katolik. Saya hanya dapat 

memberi anda definisi Gereja sebagaimana yang telah dipahami secara tradisional.” 

“Jawaban dari Uskup Tissier de Mallerais: Hal itu terjadi sewaktu ia dahulu seorang imam. 

Sewaktu ia dahulu seorang teolog, ia mengakui bidah, ia menerbitkan sebuah buku yang 

penuh dengan bidah … Ya, tentunya. Ada bukunya yang berjudul Introduction to Christianity; 

di tahun 1968. Buku itu penuh dengan bidah. Terutama penyangkalan terhadap dogma 

Penebusan.”27 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#10), 29 Juni 1896: 

“Demikian pula, sebab  Gereja yaitu  suatu lembaga yang didirikan secara ilahi, kesatuan milik 

Posisi-Posisi Serikat Santo Pius X (SSPX) 

594 

 

Gereja memerlukan, atas dasar hukum ilahi, kesatuan pemerintahan, suatu kesatuan yang 

menghasilkan dan mengikutsertakan kesatuan persekutuan.”28 

Masuk akal bahwa SSPX (atau, setidaknya Uskup Tissier de Mallerais) tidak percaya akan konsep 

keberadaan dalam persekutuan bersama semua orang yang berada dalam Gereja. “Persekutuan sama 

sekali tidak berarti apa-apa bagi saya”, ujar Uskup Tissier De Mallerais. Ya, kita dapat melihatnya dengan 

sangat jelas. sebab  ia tidak percaya akan hal itu, jelas bahwa hati nuraninya tidak terganggu oleh 

penolakannya untuk bersekutu dengan hierarki dan para anggota dari lembaga yang dianggapnya 

sebagai Gereja Katolik. 

Buku SSPX, Most Asked Questions about the Society of St. Pius X [Pertanyaan-Pertanyaan 

yang Paling Sering Diajukan tentang Serikat St. Pius X] berkata bahwa para “Paus” Vatikan 

II TIDAK DAPAT mengajar secara infalibel 

Most Asked Questions about the Society of St. Pius X [Pertanyaan-Pertanyaan yang Paling Sering 

Diajukan tentang Serikat St. Pius X], hal. 38-40, Pertanyaan 7: 

“namun , bukankah kita harus mengikuti Yoh