Tampilkan postingan dengan label pembunuhan masal 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembunuhan masal 4. Tampilkan semua postingan

pembunuhan masal 4

 



g sama atau perwira-perwira dari kesatuan yang sama atau peserta 

dalam operasi militer tertentu.42 Tapi G-30-S terdiri dari sekelompok 

perwira yang sangat berlain-lainan latar belakangnya.

Seandainya Anderson dan McVey benar dalam berpendapat bahwa 

para perwira militer itulah yang memimpin G-30-S, lalu mengapa strategi 

104

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

militer gerakan ini dirancang dengan sangat compang-camping? Perwira-

perwira ini seharusnya mampu merancang aksi militer yang masuk akal, 

yang tidak akan begitu rentan terhadap serangan balasan. Suatu aksi yang 

dirancang murni menurut pertimbangan militer barangkali akan berakhir 

dengan hasil yang berlainan.

Rintangan utama yang menjadi sandungan bagi tesis Anderson dan 

McVey ada di sekitar pengumuman-pengumuman radio pada siang hari 

1 Oktober. Mengapa para perwira yang ingin membersihkan Angkatan 

Darat dari jenderal-jenderal yang korup dan anti-Sukarno juga memu-

tuskan untuk mengumumkan pemerintah baru dari “Dewan Revolusi”? 

Mengapa mereka tidak puas dengan membersihkan jenderal-jenderal 

dan kemudian memberi kesempatan Sukarno dengan kewenangan 

penuh mengambil tindakan lebih lanjut? Mengapa mereka bersusah-

payah mencampuri hak istimewa presiden dalam memilih kabinetnya? 

sebab  tidak mempunyai jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan ini, 

Anderson dan McVey berspekulasi bahwa pernyataan-pernyataan siang 

hari itu yaitu  akibat dari “kekacauan dan kebodohan.” Pernyataan-

pernyataan itu merupakan “reaksi panik” terhadap munculnya serangan 

balasan Suharto dan penolakan presiden untuk mengeluarkan pernyataan 

terbuka yang memberi dukungan penuh kepada aksi mereka. “Tujuan 

utama” pernyataan-pernyataan itu “agaknya sebagai usaha mengimbangi 

ketidaksediaan Presiden bekerja sama yang semakin besar, dengan meraih 

dukungan dari kelompok-kelompok ‘luar’ dalam warga .” Dengan 

mengumumkan nama-nama empat puluh lima anggota Dewan Revolusi 

Indonesia, sebuah “spektrum luar biasa dari tokoh-tokoh yang tak 

terduga,” G-30-S berharap dapat memperluas basis pendukungnya.43 

Jika demikian halnya, timbul pertanyaan: Mengapa G-30-S berusaha 

memperluas basis dukungannya dengan mengganggu wewenang presiden 

dan menyatakan bahwa seluruh kekuasaan negara telah jatuh ke tangan 

gerakan ini? Bukankah tindakan itu tak perlu-perlunya mengundang 

permusuhan seluruh pendukung Sukarno yang cukup banyak? Ada 

kesan bahwa G-30-S seharusnya dapat menemukan jalan yang lebih baik 

untuk menggalang dukungan ketimbang dengan menyatakan adanya 

perubahan pemerintahan sipil secara drastis seperti itu.

Anderson, dalam artikelnya yang terbit belakangan, telah mengubah 

penafsirannya terhadap pengumuman-pengumuman radio siang hari 

105

 

itu. Ia sekarang melihat semua itu sebagai petunjuk bahwa G-30-S 

yaitu  sebuah jebakan. Pengumuman-pengumuman ini  dimak-

sudkan terdengar konyol dan kontraproduktif. Anderson menulis bahwa 

rangkaian panjang “kebodohan” dan “kesalahan besar” G-30-S telah 

menimbulkan kecurigaan “bahwa rangkaian ini disusun dengan sengaja 

untuk memastikan kegagalan G-30-S.” Pengumuman-pengumuman itu 

“hanya membingungkan warga , melumpuhkan massa, dan menye-

diakan dalih mudah untuk menghancurkan Gerakan 30 September itu 

sendiri.” Ia menjelaskan kesemrawutan kejadian-kejadian sebagai hasil 

kerja terampil para perwira Angkatan Darat tak dikenal yang berharap 

menciptakan suatu dalih untuk menyerang PKI. Dengan mengajukan 

pendapat bahwa G-30-S memang dirancang untuk gagal, Anderson 

menyetujui argumentasi Wertheim, yang akan saya uraikan lebih rinci 

kemudian dalam bab ini.44 Anderson tetap berpegang pada gagasan 

bahwa PKI bukanlah si dalang. Dalam sebuah wawancara pada 1996 

ia menyatakan, “Saya tidak bisa mutlak mengatakan bahwa PKI tidak 

mempunyai hubungan dengan G-30-S. Tapi saya masih tetap ber-

pendapat, bahwa ia bukanlah perancang utama G-30-S.”45

G-30-S SEBAGAI PERSEKUTUAN ANTARA PERWIRA 

ANGKATAN DARAT DAN PKI

Seperti Anderson dan McVey, Harold Crouch menganggap bahwa 

kekukuhan Angkatan Darat menyatakan bahwa PKI yaitu  dalang tidak 

didukung pembuktian. Dalam artikel nya Th e Army and Politics in Indonesia 

(1978) ia menyatakan bahwa tidak ada “bukti kuat yang menunjuk-

kan bahwa para perwira yang tersangkut dalam Gerakan Tiga Puluh 

September yaitu  pendukung setia PKI.” Terdapat “sedikit [informasi] 

yang menunjukkan bahwa mereka siap mengikuti instruksi partai dengan 

membabi buta.”46 Dalam merumuskan alternatif terhadap versi resmi pe-

merintah, Crouch tidak mempercayai bahwa versi sebaliknya yang harus 

disampaikan, bahwa para perwira militer itu yaitu  dalang-dalang yang 

melibatkan anggota-anggota PKI sebagai korban penipuan. Menurut 

Crouch, bukti-bukti yang muncul dalam persidangan Mahmilub yang 

digelar sesudah Anderson dan McVey menulis laporan mereka menun-

106

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

jukkan bahwa anggota-anggota PKI yang terlibat dalam G-30-S tidak 

dapat digambarkan sebagai sosok-sosok terperdaya. Kesaksian-kesaksian 

di ruang pengadilan menunjukkan bahwa keterlibatan PKI, terutama 

anggota-anggotanya, Sjam dan Pono, terlalu mendalam untuk dapat 

disusut sebagai gegabah dan kebetulan. Crouch tidak dapat menerima 

naskah Cornell yang membebaskan PKI sepenuhnya dari kesalahan. 

Meski demikian, kesimpulan menyeluruh Crouch sesuai dengan premis 

dasar naskah Cornell. Ia berpendapat bahwa “inisiatif awal timbul dari 

tubuh Angkatan Darat.”47 PKI sangat terlibat namun  tetap sebagai pemain 

kedua.

Crouch memandang para perwira yang terlibat dalam G-30-S 

sebagai sekutu-sekutu PKI, bukan sebagai budak-budaknya, “Jelas mereka 

mau bekerja sama dengan wakil-wakil partai untuk dapat mencapai 

tujuan mereka. Agaknya semua peserta utama G-30-S mungkin sudah 

jauh sebelumnya dinilai oleh Biro Chusus dan dipandang memuaskan 

oleh Sjam dan kawan-kawannya … Walaupun wakil-wakil Biro Chusus 

merupakan anggota-anggota penting dalam komplotan, sedikit bukti 

yang menunjukkan bahwa peran mereka dominan.”48 Crouch menggam-

barkan G-30-S sebagai hasil kolaborasi yang kokoh antara para perwira 

militer “progresif” dengan Biro Chusus PKI.

Versi Crouch dapat dicocokkan dengan versi yang diajukan 

Sudisman, anggota yang selamat dari Dewan Harian Politbiro CC-PKI, 

badan yang merupakan inti kepemimpinan partai. (Tiga anggota Dewan 

Harian yang lain – Aidit, Lukman, dan Njoto – dieksekusi diam-diam 

oleh militer sekitar akhir 1965. Anggota Dewan yang kelima, Oloan 

Hutapea, dieksekusi pada 1968 di Jawa Timur). Dalam pidatonya yang 

terakhir di depan mahkamah militer pada 1967, Sudisman mengajukan 

pembedaan antara pimpinan tertentu dalam partai yang terlibat dalam 

G-30-S sebagai perseorangan, dengan partai sebagai sebuah lembaga 

yang “tidak tahu-menahu tentang G-30-S.” Partai sebagai lembaga, 

Sudisman menyatakan, memandang G-30-S sebagai peristiwa “intern 

AD”. Ia menjelaskan bahwa Central Comite tidak pernah membahas 

tentang G-30-S dan para anggota biasa partai tidak pernah diinstruksikan 

untuk mendukungnya. Dengan demikian partai tidak bertanggung jawab 

sebagai sebuah lembaga. Sudisman mengakui bahwa beberapa “tokoh-

tokoh PKI, termasuk saya sendiri” telah ikut berperan serta dalam hal-hal 

107

 

yang tidak dirincinya.49 Menurut keterangan Sudisman, sekelompok 

perwira militer progresif bertindak atas inisiatif pribadi, dan beberapa 

anggota partai tertentu bertindak atas inisiatif sendiri dan tanpa memberi 

tahu atau berkoordinasi dengan organisasi-organisasi partai secara formal, 

memberi  bantuan kepada para perwira ini . Pimpinan PKI secara 

perseorangan, paling tidak Aidit dan Sudisman, melibatkan diri di dalam 

operasi militer rahasia ini dan membawa serta kelompok-kelompok 

terpilih dari kalangan pendukung PKI. Bagi segelintir pemimpin PKI 

G-30-S bukanlah merupakan operasi resmi partai. Ia yaitu  putsch 

militer yang akan membuahkan hasil yang menguntungkan bagi partai. 

Pimpinan partai ingin mendukung G-30-S namun  tidak ingin melibatkan 

seluruh partai di dalamnya. Sudisman menegaskan bahwa inisiatif dan 

kepemimpinan G-30-S tetap pada para perwira militer. 

Sejauh ini penjelasan Crouch merupakan penjelasan yang paling 

bijaksana dan beralasan yang dapat diperoleh. Masalahnya terletak pada 

keterbatasannya. Sementara Crouch memecahkan soal dalang dengan 

rapih, ia membiarkan soal-soal lain tak terpecahkan. Ia tidak dapat 

menjelaskan mengapa G-30-S dirancang dengan buruk dan mengapa 

gerakan ini menyiarkan pengumuman-pengumuman radio di sore 

hari. Seperti Anderson dan McVey, uraiannya tidak cukup menjelas-

kan bagaimana awalnya kelompok perwira militer yang berbeda-beda 

itu bergabung. Jika mereka yang melahirkan rencana dan mempunyai 

kemandirian dalam berhadapan dengan PKI, apa yang menjadi dasar 

kesamaan mereka?

G-30-S SEBAGAI KONSPIRASI PKI

Versi rezim Suharto mulai tampak sangat mencurigakan pada akhir 

1990-an saat  informasi tentang latar belakang Suharto muncul. W.F. 

Wertheim, seorang Belanda pakar keindonesiaan terkemuka, meng-

ungkapkan dalam sebuah artikel pendek pada 1970, bahwa Suharto 

yaitu  teman dua orang pimpinan G-30-S: Letnan Kolonel Untung 

dan Kolonel Latief.50 Suharto pergi dari Jakarta ke sebuah kota kecil 

di Jawa Tengah (Kebumen) pada akhir April 1964 untuk menghadiri 

pernikahan Untung. Hubungan antara kedua orang ini tentu cukup rapat 

108

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

sebab  seorang jenderal Angkatan Darat kiranya tidak akan melakukan 

perjalanan jauh hanya untuk urusan remeh-temeh belaka.51 Suharto 

juga mengenal Kolonel Latief sebagai teman dekat. Dua orang ini sudah 

saling mengenal sejak hari-hari perang gerilya melawan Belanda dalam 

akhir 1940-an. Suharto dua kali bercerita kepada wartawan asing bahwa 

Latief datang menengoknya pada malam menjelang G-30-S dimulai. 

Penjelasan Suharto yaitu  bahwa Latief entah berniat membunuhnya 

atau memeriksa keberadaannya. Ia tidak mengaku telah berbicara 

dengan Latief malam itu.52 Bahwa Latief dikurung di penjara di dalam 

sel isolasi selama bertahun-tahun sebelum diizinkan tampil di depan 

umum mengesankan bahwa Suharto ada dalam dilema: ia tidak ingin 

Latief dieksekusi seperti yang lain-lain tapi juga tidak ingin ia berbicara 

di depan umum.

Wertheim melihat aspek-aspek mencurigakan lain lagi di dalam 

G-30-S. Suharto tidak termasuk jenderal-jenderal yang diculik, meski 

ia panglima pasukan yang penting di Jakarta dan merupakan ancaman 

potensial bagi setiap percobaan pemberontakan atau kup. Pasukan G-30-S 

tidak memblokade markas Kostrad, walaupun markas itu tidak jauh dari 

posisi mereka di depan istana. Suharto bergerak bebas dari kantornya 

di Kostrad sementara pasukan-pasukan pemberontak berkerumun di 

Lapangan Merdeka langsung di depannya. Suharto, menurut Wertheim, 

bergerak dengan “efi siensi yang ajaib di tengah-tengah keadaan yang luar 

biasa membingungkan.”53 Sebagian besar perwira militer di Jakarta tidak 

tahu harus bertindak bagaimana. Tapi Suharto rupanya tahu persis apa 

yang diperlukan untuk mematahkan G-30-S.

Misteri identitas Sjam juga menggelitik kecurigaan Wertheim. Rezim 

Suharto menampilkan Sjam di depan umum pada 1967 dan menyatakan 

bahwa Sjam ialah orang kepercayaan Aidit, yang dipercaya memelihara 

hubungan-hubungan di kalangan militer. Wertheim mengemukakan, 

barangkali sebaliknyalah yang benar bahwa Sjam yaitu  orang militer 

yang ditugasi menyusup ke PKI. Tak seorang pun “yang memainkan 

peranan di dalam PKI atau mempunyai hubungan dekat dengan partai, 

pernah mendengar tentang tokoh Sjam ini.”54 Kesaksian Sjam tidak 

dapat dipercaya. Bisa jadi ia seorang agen ganda yang bekerja atas nama 

unsur tertentu di kalangan militer. Jika benar demikian, kemungkinan ia 

memainkan “peranan provokator” untuk membawa PKI terlibat dalam 

109

 

sebuah aksi yang direncanakan untuk gagal.55 Dalam karangan berikut-

nya pada 1979 Wertheim sekali lagi menuduh Sjam sebagai antek tentara 

di dalam PKI. Ada “satu orang tertentu sebagai manipulator konspirasi 

yang lihai: manusia misterius Sjam yang bekerja sebagai agen Angkatan 

Bersenjata.”56 Sjam bekerja atas nama unsur-unsur antikomunis dalam 

Angkatan Darat dan diganjar dengan perlakuan istimewa di penjara, “Ia 

diperlakukan dengan hormat oleh para interogator dan tak seorang pun 

pernah melihatnya dianiaya atau disiksa selama atau sesudah interogasi. 

Ia diberi balas jasa untuk sikapnya yang ‘kooperatif ’ selama persidangan 

dengan perlakuan yang sangat istimewa baik saat  di penjara Nirbaya 

dekat Jakarta, maupun belakangan saat  di Rumah Tahanan Militer 

(RTM). Ia dipindahkan ke RTM atas permintaan sendiri sebab  rupanya 

ia merasa lebih aman di sana. Semua ini terjadi kendati putusan hukuman 

mati telah dijatuhkan atasnya.”57

Kiranya Wertheim benar dalam satu hal: Suharto mengenal dekat 

baik Latief maupun Untung. Dalam sidangnya pada 1968 Latief mem-

benarkan apa yang sudah diakui Suharto: keduanya bertemu pada malam 

hari 30 September 1965. Tapi ia membantah pernyataan Suharto bahwa 

keduanya tidak saling berbicara. Latief bersaksi bahwa ia memberi tahu 

Suharto tentang adanya beberapa perwira Angkatan Darat yang akan 

mengambil tindakan terhadap Dewan Jenderal, “sehari sebelum kejadian 

itu saya melapor langsung kepada Bapak Mayjen. Suharto, sewaktu 

beliau berada di RSPAD [Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat] sedang 

menunggui putranya yang ketumpahan sup panas. Dengan laporan 

saya ini, berarti saya mendapat bantuan moril, sebab  tidak ada reaksi 

dari beliau.”58 Latief bercerita lebih lanjut. Ia menyatakan bahwa ia juga 

sudah membicarakan masalah Dewan Jenderal dengan Suharto satu hari 

sebelumnya (29 September) di kediaman Suharto di Jakarta,

Dua hari sebelum peristiwa tanggal 1 Oktober 1965, saya 

beserta keluarga mendatangi ke rumah keluarga Bapak Jenderal 

Suharto di Jalan Haji Agus Salim, yang waktu itu beliau masih 

menjabat sebagai Panglima Kostrad. Di samping acara keke-

luargaan saya juga bermaksud: ‘Menanyakan dengan adanya 

info Dewan Jenderal, sekaligus melaporkan kepada beliau.’ 

Beliau sendiri justru memberitahukan kepada saya: ‘Bahwa 

110

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

sehari sebelum datang ke rumah beliau, ada seorang bekas anak 

buahnya berasal dari Yogyakarta bernama Subagiyo, membe-

ritahukan tentang adanya info Dewan Jenderal, yang akan 

mengadakan coup d’etat terhadap kekuasaan pemerintahan 

Presiden Soekarno.’” Tanggapan dari beliau, akan diadakan 

penyelidikan. Oleh sebab  di tempat/ruangan ini  banyak 

sekali tamu, maka pembicaraan dialihkan pada soal-soal lain, 

antara lain soal rumah.59

Di depan mahkamah Latief menceritakan bagaimana ia menjadi 

teman bagi keluarga Suharto. Ia bertugas bersama Suharto sejak akhir 

1940-an,

Saya sebagai anak buah sekalipun sudah terlepas dari ikatan 

komando dengan Bapak Jenderal Suharto, di mana pun 

beliau berada selalu saya temui. Dengan sendirinya timbul 

keakraban secara kekeluargaan di luar dinas … Memang 

saya pribadi yaitu  bekas anak buah beliau yang langsung 

di bawah pimpinan beliau, sewaktu menjabat sebagai Dan 

Kie 100 yang langsung organisatoris dan taktis pada Brigade 

X, pada waktu zaman gerilya … Mengenai kekeluargaan di 

luar dinas pun, saya mempunyai keakraban semenjak di Jawa 

Tengah, sekalipun beliau sudah terlepas dari komando saya, 

tetap sering saya datangi. Kebiasaan perwira-perwira bawahan 

yang sejajar dengan saya (Komandan-komandan Batalyon), 

jarang datang ke tempat beliau, terkecuali saya, kata teman-

teman saya itu, mereka merasa segan, sebab  Jenderal Suharto 

dianggap terlalu seram. Penilaian saya tidak. Sebagai bukti 

lagi sewaktu beliau mengkhitankan puteranya bernama Sigit, 

keluarga saya pun datang. Saya sendiri tidak dapat datang, 

sebab  ibu saya sedang sakit keras di Surabaya. Sebaliknya 

pada waktu saya mengkhitankan anak saya, beliau dengan Ibu 

Tien juga datang ke rumah saya. Jadi kesimpulan saya dengan 

Jenderal Suharto sekeluarga tidak mempunyai persoalan 

apapun, malahan mempunyai hubungan akrab.60

111

 

Latief demikian dekat dengan Suharto sehingga pada kunjungan 

29 September ini  ia mengusulkan bertukar rumah dengan Suharto. 

Sebagai perwira komando distrik Jakarta, Latief mendapat sebuah rumah 

besar bekas kediaman duta besar Inggris. Latief mengatakan bahwa ia 

berencana memberi  rumah itu kepada Suharto dan kemudian ia 

dan keluarganya pindah ke rumah Suharto yang lebih sederhana. Latief 

ingin agar teman lama dan perwira atasannya itu memiliki rumah yang 

lebih bagus.61

Untung, menurut Latief, juga bekas bawahan yang mempunyai 

hubungan baik dengan Suharto, “Letkol Untung pun juga pernah menjadi 

anak buah langsung sewaktu di daerah Korem Sala, yang kemudian 

Letkol Untung terpilih sebagai salah seorang pimpinan Gerilyawan yang 

diterjunkan di Halmana [di Irian Barat] sewaktu Trikora. Pernah saya 

dengar dari pembicaraan Letkol Untung sendiri, sewaktu selesai tugas 

Trikora ia dipindahkan ke Resimen Cakrabirawa, ia katakan dengan 

peristiwa itu Jenderal Suharto pernah marah-marah atas kepindahannya 

ke Men Cakra itu. sebab  ia akan ditarik sebagai pasukan Kostrad di 

bawah pimpinan beliau.”62

Kecurigaan terhadap Suharto bertimbun: ia mempunyai hubungan 

baik dengan Untung dan Latief, dua batalyon yang digunakan G-30-S 

dibawa ke Jakarta atas perintahnya, dan ialah yang mengambil keun-

tungan paling banyak dari aksi itu. Bagi Wertheim kenyataan-kenyataan 

ini menunjukkan bahwa Suharto yaitu  salah seorang di antara dalang-

dalang G-30-S. Dalang-dalang sebenarnya yaitu  “tokoh-tokoh militer 

yang memakai  agen ganda seperti Sjam untuk tujuan mereka sendiri.” 

Tujuan mereka ialah menciptakan dalih yang dapat mereka gunakan untuk 

menyerang PKI dan merongrong kekuasaan Sukarno. “Seluruh peristiwa 

itu lebih kelihatan seperti sebuah rancangan komplot yang terencana 

dengan baik, secara khusus ditujukan untuk dengan telak mencemarkan 

PKI maupun Presiden Sukarno sendiri, dan dengan demikian memberi 

kesempatan dan alasan untuk membersihkan pengaruh mereka dalam 

kehidupan politik di Indonesia.”63 Gerakan 30 September kelihatan 

begitu semrawut dan sia-sia sebab  merupakan operasi gadungan yang 

memang dibuat untuk dipatahkan dengan mudah.64

Wertheim tidak berspekulasi tentang peranan setepatnya yang 

dimainkan Suharto, Untung, dan Latief dalam G-30-S. Alur kisah 

112

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

Wertheim secara tidak langsung menyatakan bahwa Suharto bagaimana 

pun juga bersekongkol dengan teman-temannya dalam mengorganisasi-

kan G-30-S. Barangkali Suharto memprakarsai G-30-S, menempatkan 

dua teman lamanya dan Sjam dalam kepemimpinan, lalu mengkhianati 

mereka. Atau, barangkali Suharto menyatakan kepada teman-temannya 

bahwa G-30-S memang akan gagal namun menjanjikan kepada mereka 

bahwa mereka akan selamat dan diberi kedudukan yang enak dalam 

pemerintahan baru.65

Walaupun penyelesaian Wertheim atas teka-teki G-30-S ini 

cukup anggun, menjelaskan beberapa kejanggalan dengan penuturan 

yang ajeg, ia harus menghadapi sejumlah keberatan yang mencolok. 

Pertama, penjelasannya tampak mustahil. Dalam skenario Wertheim 

Suharto menjadi seorang tokoh jenius yang adimanusia. Segala sesuatu 

berjalan menurut rencananya. G-30-S tidak sekadar melibatkan PKI 

dan runtuh dengan cepat, ia juga membuka jalan bagi Suharto untuk 

menjadi panglima Angkatan Darat. Perwira atasan Suharto (Yani) dan 

sebagian besar kawan-kawan dan lawan-lawannya dibersihkannya dalam 

sekali tebas. Sukar dipercaya bahwa Suharto dapat menjadi sedemikian 

pintar dalam menyusun aksi klandestin yang secara sangat sempurna 

bermanfaat baginya. Suharto tidak mempunyai reputasi sebagai pengatur 

siasat yang luar biasa pandai.

Kedua, jika Suharto bekerja dengan jenderal-jenderal lain di 

dalam apa yang Wertheim sebut sebagai “konspirasi para jenderal” 

untuk mengorganisasi G-30-S, agaknya tidak mungkin mereka akan 

merancang sebuah rencana yang menghendaki pembunuhan terhadap 

tujuh jenderal lainnya. Jika tujuannya ialah dalih untuk mengganyang 

PKI dan membawa Angkatan Darat ke panggung kekuasaan negara, 

mengapa dalam prosesnya mereka bersedia dengan serius mengacaukan 

Angkatan Darat? Mengapa mereka mau mengorbankan perwira-perwira 

antikomunis sesama mereka? Wertheim menyadari satu soal yang jelas, 

bahwa tidak mungkin staf umum Yani yang mengorganisasi G-30-S 

sebab  begitu banyak di kalangan mereka yang menjadi korban. Jenderal-

jenderal lain mana yang mungkin bersekongkol untuk mengorganisasi 

G-30-S? Satu-satunya alasan untuk membunuh jenderal-jenderal ini ialah 

untuk melapangkan jalan bagi Suharto naik tahta. Maka kemungkinan 

dalangnya ialah Suharto sendiri, oleh sebab  tidak mungkin ia akan 

113

 

menerima bantuan dari jenderal siapa pun untuk sebuah rencana yang 

mempertaruhkan nyawa tujuh jenderal. Wertheim mengakui bahwa 

Suharto satu-satunya jenderal yang mempunyai motivasi untuk mengor-

ganisasi G-30-S, namun  bersisurut dari argumen bahwa memang Suharto 

yang telah mengorganisasinya. Alih-alih, Wertheim mengajukan klaim 

yang lebih sederhana bahwa Suharto “seandainya pun secara pribadi ia 

tidak terlibat konspirasi,” telah mengetahui sebelumnya tentang gerakan 

itu. Bagi Wertheim, kesalahan Suharto, setidak-tidaknya, terletak pada 

kenyataan bahwa ia tidak memberi tahu perwira-perwira atasannya 

tentang adanya rencana komplot ini .66 Ini merupakan pernyataan 

yang jauh lebih lunak ketimbang pernyataan bahwa sejumlah perwira 

militer pro-Suharto telah memakai  Sjam sebagai agen ganda untuk 

menciptakan kup palsu.

Ketiga, tujuan mengaitkan PKI di dalam usaha kup dapat saja 

tercapai dengan cara yang jauh lebih tegas dan terang-terangan. Jika 

jenderal-jenderal tertentu Angkatan Darat atau Suharto sendiri, telah 

merancang G-30-S dengan tujuan seperti itu di dalam pikiran mereka, 

tentu mereka akan memakai  kelompok Untung agar mengu-

mumkan melalui radio bahwa mereka bekerja untuk PKI dan bertekad 

hendak menggulingkan Sukarno. G-30-S menyembunyikan rapat-rapat 

hubungannya dengan PKI dan tidak pernah menyatakan dengan jelas 

bahwa gerakan ini ingin melancarkan kup terhadap Sukarno. Pengu-

muman pertama G-30-S menyatakan bahwa Untung berniat melin-

dungi Sukarno. Tidak satu pun dari pengumuman-pengumumannya 

menyebutkan PKI.

Keempat, pimpinan G-30-S tidak berpikir bahwa mereka bertindak 

atas nama Suharto. Jika seandainya demikian, mereka pasti akan meminta 

Sukarno mengangkat Suharto sebagai pengganti Yani. Melalui Supardjo 

pimpinan G-30-S merekomendasikan nama-nama tiga jenderal sebagai 

calon pejabat sementara pimpinan Angkatan Darat: Pranoto, Basuki 

Rachmat, dan U. Rukman.67 Mereka tidak mengusulkan nama Suharto. 

Sambil memikirkan segala kemungkinan Sukarno menolak Suharto 

sebab  ia “terlalu koppig,” dan Supardjo tampaknya tidak memohon 

atas nama Suharto.68 Sukar dipahami G-30-S membunuh tujuh jenderal 

demi kepentingan Suharto dan kemudian tidak mencoba mempengaruhi 

Sukarno agar mengangkatnya sebagai panglima interim.

114

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

Uraian yang diajukan Wertheim – G-30-S sebagai “komplotan 

yang terorganisasi dengan baik” untuk menjebak PKI – tetap pada taraf 

spekulasi, sebagaimana diakui oleh Wertheim sendiri.69 Tindakan-

tindakan Suharto justru dengan gampang dapat dijelaskan dengan 

memperhatikan cerita Latief. Pada persidangannya Latief menyatakan 

bahwa ia dan Untung bertindak bebas dari Suharto dan mereka hanya 

menerima dukungan tak terucapkan (“tidak ada reaksi dari beliau”) 

darinya. Latief menjelaskan bahwa ia dan Untung sudah memandang 

Suharto sebagai pendukung teguh Presiden Sukarno dan percaya bahwa 

ia akan mendukung aksi-aksi mereka dalam melawan Dewan Jenderal: 

“Memang saya berpendapat, bahwa satu-satunya orang, beliaulah, yang 

saya anggap loyal terhadap kepemimpinan Presiden Soekarno, dan saya 

kenal semenjak dari Yogyakarta, siapa sebenarnya Bapak Jenderal Suharto 

ini.”70 Menurut Latief, ia keliru saja menilai Suharto.

Persahabatan Latief dan Untung dengan Suharto dan kepercayaan 

mereka tentang kesetiaannya kepada Presiden Sukarno dapat menjelaskan 

mengapa G-30-S tidak menjadikan Suharto sebagai sasaran penculikan 

dan pembunuhan. sebab  gerakan ini memperhitungkan dukungan 

Suharto, kemungkinan Latief dan Untung berpikir bahwa rencana mereka 

kebal dari kesalahan dan bahwa mereka hanya memerlukan sejumlah kecil 

pasukan untuk menduduki Jakarta dengan sukses. Bahwa dua batalyon 

utama yang terlibat dalam G-30-S ada di bawah komando Kostrad tidak 

membuktikan keterlibatan Suharto. Bisa saja para konspirator menga-

dakan perjanjian dengan para komandan batalyon tanpa sepengetahuan 

Suharto atau perwira lain siapa pun di markas besar Kostrad. Pemberi-

tahuan Latief kepada Suharto dapat menjelaskan mengapa ia berhasil 

melakukan aksi dengan “efi siensi yang ajaib di tengah-tengah keadaan 

yang luar biasa membingungkan.” Rasa kasih sayang kekeluargaan yang 

tersisa, dan barangkali rasa syukur atas pemberitahuan yang diterimanya, 

dapat menjelaskan mengapa Suharto tidak membiarkan Latief diek-

sekusi. Walaupun bukti-bukti yang ada tidak mendukung pendapat 

bahwa Suharto yaitu  dalang, mereka setidak-tidaknya memberi kesan 

bahwa ia telah mengetahui keberadaan G-30-S sebelumnya, memberi  

dukungan dengan diam-diam, dan akhirnya mengkhianati bekas sahabat-

sahabatnya yang naïf itu.

Masing-masing dari empat strategi naratif di atas gagal memberi 

115

 

penjelasan yang memuaskan tentang semua keganjilan G-30-S. Kadar 

keterandalan masing-masing bergantung pada sorotannya atas rangkaian 

fakta-fakta yang terbatas sementara mengabaikan, menutupi, atau keliru 

menjelaskan fakta-fakta lain. Sepanjang dasawarsa-dasawarsa yang telah 

berlalu sejak peristiwa ini  tak seorang pun tiba pada uraian menye-

luruh yang memuaskan. Gerakan 30 September telah menjadi semacam 

sebuah kubus Rubik yang tak terpecahkan, dengan enam warna yang 

tidak dapat bersesuaian dengan keenam sisinya. Tak satu orang pun dapat 

menyelaraskan fakta-fakta itu dengan uraian yang masuk akal.

Satu kendala dalam memecahkan teka-teki ini ialah pemaksaan cara 

penyelesaian palsu yang teramat kuat segera sesudah peristiwa terjadi. 

Saat tentara Suharto mendesakkan uraiannya sendiri – PKI sebagai 

dalang – ia juga menciptakan fakta-fakta (misalnya kisah penyiksaan 

di Lubang Buaya dan pengakuan para pemimpin PKI). Dengan banjir 

propagandanya rezim Suharto telah memasang ranjau di sepanjang jalan 

kaum sejarawan dengan petunjuk palsu, jalan belokan yang buntu, dan 

penggalan-penggalan bukti yang direkayasa. Kepalsuan cara penyelesaian 

Suharto terlihat nyata dalam penggunaan istilah PKI yang tidak tepat. 

Menurut versi pemerintah, PKI mendalangi G-30-S. namun  jelas bahwa 

sebagai lembaga yang terdiri dari jutaan manusia, PKI tidak mungkin 

dapat mengorganisasi pemberontakan militer yang bersifat rahasia.

Jika PKI secara keseluruhan tidak bertanggung jawab, bagaimanakah 

tepatnya hubungan antara pimpinan PKI dengan G-30-S? Misalnya, 

apa yang dilakukan Aidit di pangkalan udara Halim? Anderson dan 

McVey menampilkannya sebagai “korban penipuan” para perwira pem-

berontak. Tapi mereka menulis analisis itu sebelum timbul keterangan 

tentang peranan penting yang dimainkan oleh Sjam dan Biro Chusus dan 

sebelum Sudisman mengakui bahwa beberapa pimpinan partai tertentu 

telah “terlibat dalam G-30-S” namun  “PKI sebagai partai tidak terlibat.” 

Crouch merujukkan informasi baru ini dengan analisis naskah Cornell 

dengan menyatakan bahwa pimpinan dan anggota tertentu PKI telah 

membantu secara aktif, namun  tidak mengarahkan, putsch para perwira 

menengah Angkatan Darat. Sejauh ini uraian yang dikemukakan Crouch 

merupakan yang paling kaya informasi, namun seperti halnya naskah 

Cornell, ia pun tidak mampu menjelaskan, mengapa pemberontakan 

militer yang pro-Sukarno harus menyasar pada pendemisioneran kabinet 

116

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

Sukarno. 

Uraian Wertheim berhasil memecahkan keganjilan ini dengan 

menggambarkannya sebagai suatu provokasi yang disengaja. Pendemi-

sioneran kabinet dimaksud untuk memberi jaminan bahwa warga  

tidak akan mendukung G-30-S. Menurut Wertheim, beberapa pemimpin 

tertentu PKI menjadi terlibat dalam G-30-S, sebab  mereka – seperti 

naskah Cornell juga berargumen – menjadi korban penipuan. Tapi 

mereka tidak ditipu oleh para perwira pemberontak melainkan oleh 

komplotan perwira-perwira anti-PKI dan agen ganda mereka, Sjam. Para 

perwira yang ingin menghancurkan PKI dan menggulingkan Sukarno 

merancang G-30-S sehingga akan dapat mengaitkan PKI dalam tindak 

kejahatan dan kemudian runtuh. Sjam memikat Aidit dan elemen-

elemen lain dalam PKI ke dalam perangkap. Sementara garis besar uraian 

Wertheim itu memecahkan keganjilan dalam pendemisioneran kabinet, 

ia melahirkan keganjilan-keganjilan baru. Jika G-30-S merupakan sebuah 

perangkap, ia haruslah dirancang oleh Suharto atau para perwira yang 

bekerja untuknya. Namun para perwira dalam G-30-S tidak mengusul-

kan kepada Sukarno agar ia menunjuk Suharto sebagai pengganti Yani. 

Akhirnya, cara pemecahan Wertheim tidak berhasil menjelaskan banyak 

bagian dalam teka-teki ini. 

CATATAN

1 Saya akan mengabaikan tiga penjelasan lainnya, yaitu dari Dake, Holtzappel, dan Fic. Dake 

berpendapat, atas dasar bukti-bukti yang tidak andal, bahwa Presiden Sukarno yaitu  otak 

di balik G-30-S (Dake, In the Spirit of the Red Banteng). Satu-satunya bukti yang dipunyai 

Dake ialah transkrip interogasi ajudan Presiden Sukarno, Kapten Bambang Widjanarko, oleh 

personil Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban). Dake juga 

menulis kata pengantar untuk teks transkrip interogasi asli yang berbahasa Indonesia dan 

terjemahannya dalam bahasa Inggris (Karni, Devious Dalang). Untuk kritik lunak terhadap 

tesis Dake yang berlebihan, lihat Crouch, Army and Politics in Indonesia, 119-121. Untuk 

kritik yang lebih tajam, lihat tinjauan Ernst Utrecht terhadap artikel -artikel  Dake dan Karni, 

dalam “An Attempt to Corrupt Indonesian History.” Holtzappel berpendapat, berdasar salah 

tafsir yang sembrono terhadap kesaksian-kesaksian di depan Mahmilub, bahwa para perwira 

AURI, khususnya Mayor Soejono, yaitu  pimpinan-pimpinan G-30-S yang sebenarnya 

(Holtzappel, “30 September Movement”). Artikelnya terlalu dipenuhi informasi yang buruk 

sehingga tak layak ditentang. Fic berpendapat bahwa Mao Zedong memberi saran Aidit 

agar PKI membunuh jenderal-jenderal sayap kanan dan bahwa selanjutnya Aidit mendapat 

117

 

persetujuan Sukarno untuk rencananya itu. Fic menjalin kisah ini dari angan-angannya 

sendiri (Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, 94-105). Hanya bukti-bukti yang kokoh dapat 

mengungguli banyaknya alasan untuk memercayai bahwa Sukarno dan Tiongkok tidak 

mempunyai urusan dengan perencanaan G-30-S. 

2 Suharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 100. Alimin tidak lagi menjadi “boss PKI” 

sejak angkatan Aidit menggantikannya pada 1951. 

3 Sugama, Memori Jenderal Yoga, 148, 152-153.

4 Brigadir Jenderal Sucipto yaitu  asisten Staf Koti urusan politik. Koti, Komando Operasi 

Tertinggi, dibentuk pada 1963 oleh Sukarno agar ia dapat mengendalikan militer dengan 

lebih baik dan mengurangi pengaruh Nasution. Sukarno memasukkan banyak tokoh-tokoh 

sekutunya di dalamnya, bahkan juga dari kalangan sipil. Tapi para perwira antikomunis, 

seperti Sucipto, masih mendapat tempat. Tentang peranan Subchan, lihat A.M. Mandan, 

“Subchan Z.E,” 54.  

5 Pusat Penerangan Angkatan Darat, Fakta-fakta Persoalan Sekitar “Gerakan 30 September,” 

Penerbitan Chusus no. 1, 5 Oktober 1965, 15-18. Angkatan Darat membuat artikel  ini sebagai 

penerbitan berseri bulanan dan menerbitkan sekurang-kurangnya dua artikel  lagi, bertanggal 

5 November 1965, dan 5 Desember 1965.

6 CIA Report No. 22 from U.S. Embassy in Jakarta to White House [Laporan CIA No. 

22 dari Kedutaan Besar AS di Jakarta ke Gedung Putih], 8 Oktober 1965, dikutip dalam 

Robinson, Dark Side of Paradise, 283.

7 Banyak bangunan PKI menjadi milik pemerintah. Di bawah Suharto gedung CC-PKI 

menjadi kantor Kementerian Pariwisata.

8 Sudisman, Uraian Tanggungdjawab, 17. Lihat juga, Hughes, End of Sukarno, 141.

9 Laporan intelijen militer Australia pada Desember 1965 menyatakan bahwa, “Bukti ke-

terlibatan PKI sebenarnya – yaitu perencanaan sebelumnya oleh Central Comite – sebagian 

besar bersifat tidak langsung.” Dikutip dalam Easter, “’Keep the Indonesian Pot Boiling,’” 

59-60.

10 Pusat Penerangan Angkatan Darat, Fakta-fakta Persoalan Sekitar “Gerakan 30 September,” 

Penerbitan Chusus no. 2, 5 November 1965, 4.

11 “Berita Atjara Pemeriksaan,” laporan interogasi Latief, 25 Oktober 1965, sidang penga-

dilan Latief, dokumen-dokumen Mahmilub. Interogator ialah Kapten Hasan Rany dari 

polisi militer. Tentang keadaan kesehatan Latief selama interogasi, lihat Latief, Pledoi Kol. A. 

Latief, 54-59. Banyak bekas tahanan politik yang ditahan di penjara Salemba ingat bahwa 

sel Latief menyebarkan bau menyengat dari daging yang membusuk. Luka pada kakinya 

mengakibatkan ia menjadi pincang seumur hidup. 

12 Untung menyatakan, ia tidak mempunyai hubungan dengan PKI, dan bahwa ia bersama 

Latief yang memulai G-30-S (“Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara 

Untung, 35-37).

13 Anderson dan McVey menerbitkan ulang dan mengomentari pengakuan Njono dalam 

Preliminary Analysis, 157-162. Hughes menerbitkan ulang pengakuan Aidit dan menya-

118

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

takan bahwa pengakuan itu mungkin pemalsuan (lihat End of Sukarno, 177-182). saat  

itu Aidit sebagai wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (Sementara) atau MPR(S) 

dan menteri dalam kabinet Sukarno. Aidit tidak mungkin menyusun penjelasan tentang 

G-30-S di depan personil perwira menengah di pedalaman Jawa Tengah tidak lama sesudah 

ia tertangkap. Ia tentu akan menunggu sampai ia dibawa di depan umum dan Presiden 

Sukarno. Jika demikian itulah yang dikehendaki, ia dapat memberi  penjelasan kapan 

saja sebelum tertangkap pada 22 November 1965. Teks itu sendiri terbaca seperti sebuah 

catatan rangkaian kejadian umum. Penekanannya pada waktu dan tanggal. Tidak tampak 

petunjuk bahwa Aidit sendiri yang menulis teks itu. Satu pertanda bahwa pengakuan itu 

palsu terletak pada pernyataan bahwa PKI berencana menghapus Pancasila sesudah kup. Ide 

bahwa PKI anti-Pancasila merupakan salah satu dari fi tnah-fi tnah baku dari Angkatan Darat. 

(Pada kenyataannya, PKI sudah mendukung ide menjadikan Pancasila sebagai ideologi 

negara dalam sidang badan pembuat undang-undang dasar, Konstituante, dari November 

1957 sampai Juli 1959). Maka menggelikan jika orang menduga Aidit akan menentang 

Pancasila, khususnya pada saat krisis seperti itu, sementara ia tidak pernah sebelumnya me-

nentangnya. Juga, pengakuan bahwa Aidit bertemu Sukarno di Halim. Sukarno dikelilingi 

orang-orang lain selagi di Halim. Tak seorang pun pernah menyatakan bahwa kedua tokoh 

itu pernah bertemu di sana.

14 Anderson, “How Did the Generals Die?”

15 Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia pada 1965, Marshall Green, mengikuti garis 

rezim Suharto dalam melukiskan perwira-perwira militer seperti Untung sebagai “pion-pion 

PKI” (Green, Indonesia, 53).

16 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Untung, 35, 38, 54.

17 Ibid., 55.

18 Ibid., 51.

19 Kesaksian Mayor Soejono pada 16 Februari 1966 dalam “Gerakan 30 September” 

Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 208. Berdiri sendiri, pernyataan Soejono bahwa Sjam 

sebagai pimpinan tidak dapat diterima begitu saja. Kesaksian Soejono penuh kejanggalan dan 

ketidakserasian. Tampaknya ia terbelit oleh usaha sia-sia untuk mengalihkan beban kesalahan 

dari dirinya. Kesaksiannya menjadi penting sebab  salah satu dari yang pertama kali, kalau 

bukan memang yang pertama kali, menyebut-nyebut nama Sjam di depan umum.

20 Pada awal 1967 Hughes menulis, “‘Sjam’ yang misterius, sekarang dipercaya, sebenarnya 

ialah Tjugito” (End of Sukarno, 35). 

21 Ibid., 35-36, 78.

22 Justus van der Kroef pernah menyatakan bahwa laporan Cornell “mengabaikan kinerja 

Biro Chusus.” Ia tidak menyebutkan bahwa laporan itu ditulis pada Januari 1966, lebih 

dari setahun sebelum istilah “Biro Chusus” menjadi dikenal (Van der Kroef, “Origins of 

the 1965 Coup in Indonesia,” 284). 

23 artikel  yang hanya terbit dalam bahasa Inggris ini dimaksud untuk meyakinkan para pakar, 

wartawan, dan diplomat asing bahwa laporan Anderson dan McVey keliru (Notosusanto 

119

 

and Saleh, Coup Attempt of the “September 30 Movement”). Dua puluh tahun kemudian 

artikel  ini baru diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia: Tragedi Nasional: Percobaan Kup 

G30S/PKI di Indonesia. 

24 artikel  Putih yang saya maksud di sini ialah dari Sekretariat Negara Republik Indonesia, 

September 30th Movement.

25 Ibid., 63-70.

26 Njono, Supardjo, dan Latief, misalnya menolak keabsahan berita interogasi mereka 

saat  memberi  kesaksian pada persidangan masing-masing. Untung tidak dengan 

tegas menolak berita interogasinya, namun  ia memberi kesaksian yang bertentangan dengan 

berita interogasi itu. 

27 CIA, Indonesia – 1965, 312. Seorang mantan agen CIA yang mengkhususkan diri dalam 

masalah Asia Tenggara, Ralph McGehee, menyatakan bahwa laporan yang telah terbit ini 

dimaksudkan untuk menyesatkan. CIA “menggubah cerita palsu tentang apa yang telah 

terjadi” untuk konsumsi publik. Sementara itu untuk kebutuhan intern CIA “menyusun 

penelitian rahasia tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.” Bagian dalam artikel  McGehee 

tentang dua laporan ini sebagian dikenai sensor saat  CIA mengkaji naskahnya. Beberapa 

detil yang diketahui McGehee masih tetap ditutupi (lihat Deadly Deceits, 58).

28 Anderson and McVey, Preliminary Analysis, 92.

29 Van der Kroef, “Gestapu in Indonesia”; “Indonesia”; “Sukarno’s Fall”; “Indonesian 

Communism since the 1965 Coup”; Indonesia after Sukarno, chap. 1; “Interpretations of 

the 1965 Coup in Indonesia”; “Origins of the 1965 Coup in Indonesia.”

30 Pauker, Rise and Fall of the Communist Party of Indonesia.

31 Brackman, Communist Collapse in Indonesia dan Indonesia: Th e Gestapu Aff air.

32 Politbiro CC-PKI terdiri atas dua belas orang. Di antara mereka, empat atau lima orang 

dipilih untuk bertugas sebagai anggota Komite Kerja, atau yang dikenal sebagai Dewan 

Harian. Menurut Sudisman, Dewan Harian pada 1965 mempunyai empat anggota: Aidit, 

Lukman, Njoto, dan Sudisman sendiri. Sudisman mengoreksi keterangan Sjam bahwa 

Dewan Harian terdiri dari lima orang (lihat transkrip persidangan Mahmilub untuk 

Sudisman, 7 Juli 1967). Subekti, dalam catatan rahasianya pada 1986, yang ditulis untuk 

kelompok kecil kaum loyalis partai yang masih hidup, mengenang bahwa Dewan Harian 

terdiri atas lima orang, yaitu selain empat ini  di atas juga Oloan Hutapea (Subekti, 

“G-30-S Bukan Buatan PKI,” 3). Dalam hal ini saya mempercayai Subekti sebab  catatan-

nya, walaupun ditulis lebih kemudian dari keterangan Sudisman, ditujukan bagi kalangan 

dalam partai. Agaknya Sudisman sengaja ingin mengingkari bahwa Hutapea, yang pada 

1967 masih menjadi buron, yaitu  pemimpin dengan kedudukan begitu tinggi.

33 Anderson dan McVey, “What Happened in Indonesia?” 40-42. 

34 Anderson, “Petrus Dadi Ratu,” 14. Versi Indonesia karangan ini terbit dalam Tempo, 

10-16 April, 2000.

35 Aidit dieksekusi di suatu tempat dekat Boyolali, Jawa Tengah. Wartawan John Hughes 

pada 1967 menulis, “Matinya Aidit tidak dicatat dalam dokumen resmi apa pun yang 

120

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

tersedia bagi umum” (End of Sukarno, 175). Pada 1980 seorang perwira Angkatan Darat, 

Yasir Hadibroto, mengaku bertanggung jawab terhadap pembunuhan itu. Pada akhir 1965 

Hadibroto yaitu  kolonel yang memimpin pasukan Kostrad yang dikirim ke Jawa Tengah 

untuk “menghancurkan” PKI. Ia menyatakan bahwa ia dan anak buahnya membunuh 

Aidit tanpa menerima perintah langsung dari Suharto (lihat “Menangkap Maling dengan 

memakai  Maling,” Kompas, 5 Oktober 1980; versi Inggris terbit dalam Tapol Bulletin, 

no. 41-42 [September-Oktober 1980]: 11-14). Mengingat ketokohan Aidit, tidak mungkin 

kiranya seorang kolonel berani bertindak tanpa perintah langsung dari Suharto. 

36 Anderson and McVey, Preliminary Analysis, 95.

37 Ibid., 95.

38 Ibid., 89.

39 Wertheim, “Whose Plot?” 202.

40 Anderson and McVey, Preliminary Analysis, 1.

41 Ibid., 1, 18.

42 Dalam menganalisis percobaan kup di Filipina pasca-Marcos, Alfred McCoy berpendapat 

bahwa para perwira pemberontak (RAM Boys yang bernama buruk) telah saling terikat 

sejak mereka di akademi militer (Closer Th an Brothers, 259-298).

43 Anderson and McVey, Preliminary Analysis, 38.

44 Anderson, “Petrus Dadi Ratu.”

45 Anderson, “Tentang Pembunuhan Massal ‘65’.”

46 Crouch, Army and Politics, 116.

47 Crouch, “Another Look at the Indonesian ‘Coup’,” 4.

48 Crouch, Army and Politics, 116-117.

49 Sudisman, Analysis of Responsibility, 4, 6-7.

50 Wertheim, “Suharto and the Untung Coup.” 

51 Wertheim tidak mengutip sumber kisah tentang Suharto yang menghadiri pernikahan 

Untung. Salah seorang bawahan Suharto di Kostrad, Kemal Idris, sambil lalu menyebut 

dalam memoarnya bahwa ia menghadiri pernikahan Untung atas nama Suharto. “Saya 

kenal Untung dari saat saya menerima perintah untuk mewakili Suharto pada upacara 

pernikahannya sebab  ia bekas salah seorang bawahan Suharto” (Anwar et.al., Kemal Idris, 

180). Apakah Suharto pribadi hadir ataukah mengirim Kemal Idris untuk mewakilinya, 

tampak bahwa ia mengenal dekat Untung.

52 Brackman, Communist Collapse in Indonesia, 100; Der Spiegel, 27 Juni 1970, hal. 98.

53 Wertheim, “Suharto and the Untung Coup,” 53.

54 Ibid., 54.

55 Ibid., 53.

56 Wertheim, “Whose Plot?” 205.

121

 

57 Ibid., 207.

58 Latief, Pledoi Kol. A.Latief, 129. 

59 Ibid., 277.

60 Ibid., 279, 282.

61 Ibid., 282.

62 Ibid., 280.

63 Wertheim, “Whose Plot?” 204-205.

64 Peter Dale Scott berpendapat dengan nada yang serupa, “Gestapu, tanggapan Suharto, 

dan pertumpahan darah merupakan bagian dari skenario tunggal terpadu untuk perebutan 

kekuasaan oleh militer.” Suharto yaitu  “konspirator utama dalam skenario ini.” (Scott, 

“United States and the Overthrow of Sukarno,” 244-245).

65 Wakil Perdana Menteri Sukarno, Soebandrio, menceritakan bahwa saat  ia dan Untung 

bersama-sama di penjara, Untung bercerita kepadanya bahwa Suharto suatu saat akan 

menyelamatkannya. Untung yakin bahwa hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya 

“hanya sandiwara” dan tidak akan pernah dilaksanakan (Soebandrio, Kesaksianku Tentang 

G-30-S, 23). Informasi ini tidak dapat diandalkan. Heru Atmodjo, yang dipenjarakan 

bersama Untung dan Soebandrio di Cimahi, meragukan keterangan ini sebab  Untung 

tidak pernah berbicara semacam itu kepadanya (wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 

Desember 2002). Beberapa eks tapol lain teringat bahwa dalam tahun-tahun terakhir di 

penjara Soebandrio sedikit banyak telah kehilangan kesehatan jiwanya. Berdiri sendiri, 

artikel nya yang ringkas itu (ditulis tahun 2000, sesudah dibebaskan dari penjara) tidak cukup 

dapat dipercaya. Walaupun dalam judulnya tercantum kata kesaksian, artikel  ini memuat 

lebih banyak spekulasi dan informasi dari tangan kedua ketimbang laporan saksi mata dan 

argumentasi yang cermat.

66 Wertheim, “Indonesia’s Hidden History,” 299.

67 Menurut versi rezim Suharto, Supardjo merekomendasikan Pranoto dan Rukman (Sekre-

tariat Negara Republik Indonesia, Gerakan 30 September,145). Menurut Supardjo sendiri, 

ia mengajukan Pranoto, Rukman, dan Basuki Rachmat. Lihat lampiran 1.

68 Sambil duduk di rumah Komodor Susanto di pangkalan udara Halim, Sukarno membahas 

masalah pengangkatan itu dengan Supardjo, di depan sekurang-kurangnya tujuh menteri 

dan perwira-perwira militer. Tidak seorang pun dari mereka kemudian menyatakan bahwa 

Supardjo mengajukan nama Suharto.

69 Wertheim, “Indonesia’s Hidden History,” 305.

70 Latief, Pledoi Kol.A.Latief, 279.

122

3

DOKUMEN SUPARDJO

Gelegar musik pembuka yang mencanangkan pertandingan melenyap 

dari pendengaran dengan geraman malas segera saat berlaga harus 

dimulai, para pemain berhenti memperhitungkan dirinya dengan 

serius, dan lakon pun ambruk sama sekali, seperti gelembung-gelembung 

tercoblos … Revolusi itu sendiri melumpuhkan para pengusungnya dan 

memberkahi musuh-musuhnya saja dengan kekuatan bergelora.

Karl Marx, Th e Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852)

Pengakuan akibat siksaan, kesaksian berselubung, kisah media yang 

direkayasa para tentara ahli perang urat syaraf – di tengah-tengah 

limpahan informasi tentang G-30-S, teramat sedikit yang dapat 

ditimbang sebagai bukti teruji. Para peneliti tidak dapat mengajukan 

sesuatu lebih dari dugaan cerdas tentang identitas pemimpin-pemimpin 

yang sebenarnya dan motivasi mereka. Apakah Sjam dan Aidit bertang-

gung jawab, seperti diakui Sjam sendiri di persidangannya? Atau Untung 

dan para perwira militer lainnya bertanggung jawab, seperti yang mereka 

akui di persidangan mereka? Atau apakah mereka bekerja bersama sebagai 

satu tim tanpa kejelasan siapa yang bertanggung jawab? Atau apakah 

Suharto dengan satu atau lain cara berdiri di belakang mereka sebagai 

dalang dari seluruh drama yang memilukan itu? Dengan tidak adanya 

bukti yang tidak dapat disangsikan, pertanyaan-pertanyaan di atas tidak 

bisa dijawab dengan kepastian sedikit pun.

Mengingat bahwa bukti-bukti tentang G-30-S sudah dikacaukan 

123

 

dan dipertanyakan, tidak mengherankan saat  ditemukan bahwa suatu 

bukti yang sangat penting telah diabaikan. Salah seorang konspirator 

G-30-S yang ada di pangkalan udara Halim pada 1 Oktober, yaitu 

Brigadir Jenderal Supardjo, menulis sebuah analisis postmortem tentang 

kegagalan mereka. Tulisan ini diberinya judul “Beberapa Pendapat jang 

Mempengaruhi Gagalnja ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer” (lihat 

lampiran 1). Hingga sekarang para peneliti tidak mengakui dokumen 

ini sebagaimana adanya: sumber utama terpenting tentang G-30-S. Ini 

satu-satunya dokumen yang tersedia sampai sekarang yang ditulis oleh 

pelaku G-30-S sebelum ia tertangkap. Dengan demikian, informasi yang 

terkandung di dalamnya mempunyai bobot keterandalan dan kejujuran 

yang khas. Supardjo menulis demi kepentingan kawan-kawannya, bukan 

bagi para interogator dan penuntut umum yang memusuhinya. Jika kita 

hendak menganalisis G-30-S lagi, seyogianya kita mulai dengan dokumen 

ini, melihat kesimpulan apa yang dapat ditarik dari sana, dan kemudian 

memeriksa kembali bukti-bukti yang ada dengan mempertimbangkan 

dokumen ini.

Sudah barang tentu dokumen Supardjo tidak dapat menjawab 

semua persoalan tentang G-30-S. Penulis yaitu  seorang pribadi dengan 

sudut pandang sendiri yang khusus. Supardjo juga bukan salah seorang 

pimpinan inti G-30-S. Hanya lima orang yang memimpin G-30-S dan, 

kemungkinan, mengerti semua atau sebagian besar seluk-beluk dan 

kiat-kiatnya: Sjam, Pono, Letnan Kolonel Untung, Kolonel Latief, dan 

Mayor Soejono. Pada hari G-30-S dimulai Supardjo bersama lima tokoh 

itu berada di pangkalan udara AURI di Halim, dan ia berperan selaku 

wakil mereka untuk berhubungan dengan Presiden Sukarno. namun  

ia sama sekali tidak menghadiri rapat-rapat perencanaan mereka pada 

pekan-pekan sebelumnya. Ia tiba di Jakarta hanya tiga hari sebelum aksi 

dimulai. Sementara Supardjo bisa memenuhi janji judul dokumennya 

– “faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan” G-30-S – ia tidak mengerti 

semua alasan kegagalan itu. saat  ia melihat aksi digelar, ia kebingungan 

menghadapi penalaran yang mendasari keputusan-keputusan tertentu. 

Di sinilah ketidaktahuannya tentang diskusi-diskusi dan rapat-rapat pe-

rencanaan sepanjang pekan-pekan sebelumnya menjadi penyebab dari 

keterbatasan analisisnya. Selain itu, ia tidak banyak mengetahui tentang 

status G-30-S di Jawa Tengah, provinsi tempat gerakan ini paling kuat. 

124

3. DOKUMEN SUPARDJO

Supardjo berusaha sangat rasional di dalam menuliskan analisisnya: pada 

bagian pertama naskah ia laporkan peristiwa-peristiwa yang disaksikan-

nya, kemudian pada bagian kedua ia tuliskan pemahamannya tentang 

peristiwa-peristiwa itu. Tentu saja, bisa jadi ia salah menangkap peristiwa-

peristiwa tertentu atau salah menafsirkan apa yang ia tangkap.

Dalam bagian ini saya sajikan informasi tentang latar belakang 

Supardjo dan kemudian menguraikan pernyataan-pernyataan penting 

dalam dokumen mengenai kepemimpinan G-30-S, rencana aksi G-30-S, 

pelaksanaan rencana itu, dan strategi G-30-S sehubungan dengan Presiden 

Sukarno dan Mayor Jenderal Suharto.

LATAR BELAKANG SUPARDJO DAN ANALISISNYA

saat  saya pertama-tama mulai meneliti peristiwa-peristiwa pertengahan 

1960-an, saya terkesima oleh keganjilan keterlibatan Supardjo dalam 

G-30-S. Namanya disebut dalam pengumuman radio yang kedua (Dekrit 

no. 1) pada 1 Oktober 1965 sebagai orang nomor dua dalam hierarki 

G-30-S; ia sebagai wakil komandan, yang berada langsung sesudah nama 

komandannya, Letnan Kolonel Untung. Mengapa seorang perwira yang 

berpangkat lebih tinggi mau menempatkan dirinya di bawah perwira 

yang berpangkat lebih rendah? Pengumuman keempat (Keputusan no. 

2), dibacakan melalui radio di ujung siang, membatalkan semua pangkat 

di atas letnan kolonel. Mengapa seorang perwira militer karier dengan 

tanda jasa, yang telah bekerja keras untuk meraih posisi tinggi selama 

dua puluh tahun, ikut ambil bagian dalam suatu aksi yang akan berke-

sudahan dengan penurunan pangkatnya? Akan berarti apa pembatalan 

pangkat yang lebih tinggi itu saat , di sekitar saat pengumuman itu 

dikumandangkan, Supardjo sedang duduk di depan presiden berseragam 

lengkap dengan lencana brigadir jenderalnya?

Kehadiran Supardjo di Jakarta pada saat aksi itu sendiri sudah 

menimbulkan tanda tanya sebab  ia semestinya ditempatkan jauh di 

Kalimantan Barat, sebagai komandan pasukan di sepanjang perbatasan 

dengan Malaysia. Jabatan resmi Supardjo yaitu  sebagai Panglima 

Komando Tempur IV Komando Mandala Siaga.1 Perwira-perwira lain 

yang terlibat dalam G-30-S, seperti Letnan Kolonel Untung, Kolonel 

125

 

Latief, dan Mayor Soejono, memimpin pasukan-pasukan mereka di 

Jakarta. Tapi Supardjo agaknya tidak dapat menyediakan pasukan apa 

pun untuk aksi itu. Lalu, apa tujuan pelibatan dirinya jika ia tampil 

sebagai pemain perseorangan belaka dan tidak mempunyai pasukan untuk 

disumbangkan? Ia tidak mungkin terlibat secara berarti dalam perenca-

naan aksi 1 Oktober sebab  selama bulan-bulan sebelumnya ia berada di 

sepanjang perbatasan dengan Malaysia. Lalu, jika ia tidak terlibat dalam 

perencanaan, mengapa ia mau ikut di dalamnya? Ia bukanlah teman 

lama yang akrab dan terpercaya bagi para perwira yang lain. Ia berasal 

dari komando militer Jawa Barat (Siliwangi), sedangkan Untung dan 

Latief dari komando Jawa Tengah (Diponegoro), dan Soejono seorang 

perwira AURI yang berpangkalan di Jakarta. Bagaimana bisa Supardjo 

tergelung dalam kelompok ini pada awalnya?

Kedudukan Supardjo yang istimewa sebagai orang luar dan orang 

dalam itu menyebabkan dokumen ini menjadi sangat berharga. Ia 

dapat mengamati peristiwa-peristiwa dari sudut seorang pengamat yang 

berjarak. Ia memulai tulisannya dengan menyatakan bahwa ia terlibat 

dalam G-30-S hanya selama tiga hari – artinya pada 30 September, 1 

Oktober, dan 2 Oktober – dan ini merupakan waktu yang sangat pendek 

jika “dibandingkan dengan seluruh persiapan.” Di sisi lain, Supardjo 

yaitu  orang dalam. Ia ada bersama para pimpinan inti di tempat per-

sembunyian mereka di pangkalan udara Halim, berbicara dengan mereka 

dari menit ke menit tentang bagaimana aksi harus berlangsung. Mereka 

memercayainya untuk bicara dengan Presiden Sukarno atas nama mereka. 

Pada saat aksi dimulai tidak ada orang lain yang dekat dengan penggerak 

inti seperti Supardjo.

Paling sedikit dokumen ini dapat membantu menjelaskan beberapa 

keliru gagas tentang peran Supardjo. sebab  dialah perwira berpangkat 

tertinggi dalam G-30-S, banyak pengulas yang salah menduga bahwa 

dia seorang pemimpin kunci gerakan ini, jika bukan pimpinan yang 

paling kunci. Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia waktu itu 

dalam memoarnya menggambarkan Supardjo sebagai “komandan taktis 

kup yang sebenarnya.”2 Otobiografi  Suharto menyatakan bahwa dalam 

percakapan pribadi Sukarno pernah mengatakan bahwa seluruh gerakan 

ada di bawah pimpinan Supardjo.3 Yang lain lagi mendesakkan bahwa ia 

komandan pasukan yang menduduki Lapangan Merdeka.4 Pada 1966 

126

3. DOKUMEN SUPARDJO

pengacara Untung, dalam usaha sia-sia untuk melindungi kliennya, 

menyatakan di depan mahkamah bahwa Supardjo yaitu  dalang dari 

seluruh komplotan dan bahwa Untung hanya mengikuti perintah perwira 

atasan belaka.5 Dokumen Supardjo sendiri mengungkapkan bahwa ia 

bukan pimpinan gerakan dan juga tidak memimpin pasukan apa pun 

dalam G-30-S.6

Penjelasan Supardjo pribadi tentang bagaimana ia tiba di Jakarta 

mungkin saja benar. Di depan mahkamah ia mengatakan bahwa ia 

meninggalkan Kalimantan sebab  anak bungsunya sakit keras dan di-

perkirakan akan meninggal. Istrinya mengirim radiogram, memintanya 

segera kembali ke Jakarta.7 Begitu tiba di ibu kota, ia memanfaatkan 

kunjungannya untuk mendengarkan berita terakhir tentang rencana per-

lawanan terhadap Dewan Jenderal. Ia mengakui bertemu dengan teman 

lamanya, Sjam, yang menceritakan kepadanya tentang aksi yang akan 

datang. Supardjo mengatakan, rencananya ia akan kembali ke posnya 

di Kalimantan sebelum 1 Oktober andaikata atasannya, Omar Dani, 

tidak memintanya agar tinggal sampai 3 Oktober untuk suatu rapat 

dengan presiden. Mereka berdua, Dani dan Supardjo, ingin berbicara 

dengan Sukarno tentang apa yang akan dilakukan untuk mencegah kup 

Dewan Jenderal. Supardjo mengikuti adanya dua usaha terpisah untuk 

melawan jenderal-jenderal sayap kanan: rencana Dani di satu pihak dan 

rencana G-30-S di pihak lain. Gerakan 30 September bergerak lebih 

dulu dan mendahului rencana Dani.8 Barangkali Supardjo tidak berterus 

terang dalam memberi  kesaksiannya di depan mahkamah; bisa jadi 

ia memang sengaja datang ke Jakarta agar dapat bekerja sama dengan 

Sjam. Barangkali ia sudah sepakat dengan G-30-S sejak awal. Apa pun 

kemungkinannya, peranan Supardjo dalam G-30-S terbatas; aksi itu bisa 

berjalan tanpa partisipasinya.

Supardjo lebih berfungsi sebagai penasihat atau asisten ketimbang 

sebagai panglima. Pada pagi hari 1 Oktober ia dibawa ke istana oleh 

dua komandan batalyon, yang sebenarnya dengan mudah bisa bertugas 

sebagai penghubung gerakan dengan presiden. Dalam segala kemung-

kinan rencana awal G-30-S untuk bertemu presiden bertumpu pada 

dua perwira ini saja, yaitu Kapten Sukirno dan Mayor Supeno. Keikut-

sertaan Supardjo tidak dapat diperhitungkan sebab  ia berada jauh di 

Kalimantan dan tidak ada perintah baginya untuk kembali ke Jakarta. 

127

 

Gambar 5. Supardjo dan Ibu Supardjo, ca. 1962.

Kredit foto: koleksi keluarga Supardjo

Komandan-komandan batalyon itulah yang diperintahkan masuk Jakarta 

dengan membawa pasukan mereka untuk parade Hari ABRI 5 Oktober. 

Tiba di Jakarta tiga hari saja sebelum aksi, Supardjo bisa jadi mendadak 

ditambahkan dalam rencana.

Analisis postmortem Supardjo memberi kesan bahwa ia tidak ber-

tanggung jawab dalam pengorganisasian G-30-S. Ia menulis sebagai 

seorang perwira militer yang dibingungkan oleh semua penyimpangan 

gerakan dari praktik baku kemiliteran. Seandainya ia yang bertanggung 

jawab, orang dapat berharap bahwa aksi G-30-S akan menjadi operasi 

yang lebih profesional. Supardjo menjadi brigadir jenderal pada umur 

empat puluh empat justru sebab  keberhasilannya yang gemilang dalam 

pertempuran. Sampai 1965 ia sudah mengabdi dalam ketentaraan selama 

dua puluh tahun, dari saat perang kemerdekaan, saat  ia menjadi terkenal 

128

3. DOKUMEN SUPARDJO

dalam pertempuran di Jawa Barat melawan pasukan Belanda. Melawan 

perkubuan Belanda yang seakan tak tertembus itu, ia memakai  

variasi industrial modern dari taktik kuda Troya. Ia mencegat kereta 

api, diam-diam menaikkan tiga ratus prajurit ke gerbong-gerbongnya, 

dan selanjutnya mengejutkan pasukan Belanda yang jauh lebih besar 

saat  kereta api itu lewat dekat kubu pertahanan mereka.9 Belakangan, 

sebagai komandan distrik militer di Jawa Barat pada akhir 1950-an dan 

awal 1960-an, ia memainkan peranan sangat penting dalam perang 

pengikisan pemberontakan gerakan Darul Islam. Ia juga belajar teori 

peperangan, sesudah  menghabiskan satu tahun di sekolah staf tentara 

Pakistan di Quetta, tempat ia menulis naskah tentang perang gerilya.10 

Berbicara tentang masalah-masalah kemiliteran, jenderal bertubuh 

ramping berkumis tipis inilah ahlinya.

Supardjo menulis analisis tentang Gerakan 30 September saat  

ia dalam pengejaran. Hidupnya di ambang kehancuran: G-30-S telah 

ambruk; pangkatnya dilucuti dan ia dipecat dari ketentaraan; ia dipisah-

kan dari istri dan sembilan anak-anaknya (yang terus-menerus berada 

di bawah pengawasan); kawan-kawannya sesama konspirator, seperti 

Untung, telah disidang dan dijatuhi hukuman mati. Angkatan Darat 

memburu Supardjo ke seluruh penjuru negeri. Namun terlepas dari 

hal-hal yang tentu sangat mengecewakannya, ia telah menuliskan tentang 

G-30-S tanpa rasa dengki atau dendam.

sebab  dokumen ini tidak bertanggal, kita hanya dapat menduga-

duga kapan waktu penyusunannya. Supardjo menulis analisis ini setidak-

tidaknya satu bulan sesudah peristiwa; dia menyebutkan bahwa sepucuk 

surat yang ditulisnya untuk Sukarno pada awal Oktober 1965 baru dikirim 

satu bulan kemudian. Kita dapat menduga bahwa ia menulis analisisnya 

untuk kepentingan Sudisman, yang, sebagai anggota senior inti Politbiro 

PKI yang masih hidup, mengambil tanggung jawab pada 1966 dengan 

menulis kritik terhadap kebijakan PKI sebelumnya. Supardjo mencatat 

pada alinea pertama bahwa analisisnya dimaksudkan untuk membantu 

“kawan pimpinan” dalam mengembangkan “analisa secara menyeluruh” 

tentang G-30-S. Kritik Politbiro diumumkan pada September 1966, 

sehingga analisis Supardjo kemungkinan ditulis sebelumnya.11 

Selama tanya jawab di persidangannya di Mahmilub, Supardjo 

mengakui telah menyampaikan kritiknya tentang G-30-S secara lisan 

129

 

kepada pimpinan partai yang lain, yaitu Soejono Pradigdo, dalam 

September 1966 dan bertemu Sudisman satu bulan sesudah itu melalui 

perantaraan Pradigdo. Hakim Ketua menanyai Supardjo dua kali pada 

hari terakhir tanya jawab apakah ia pernah menulis “analisa tentang 

kegagalan G-30-S” dan apakah Sudisman meminta kepadanya agar 

menulis “semacam otokritik.” Supardjo menjawab singkat tidak.12 Tidak 

ada alasan untuk memercayai baik kronologi Supardjo bertemu Sudisman 

maupun pengingkaran Supardjo bahwa ia telah menulis dokumen 

semacam itu. Sepanjang tanya jawab dalam persidangan jawaban-jawaban 

Supardjo, wajar saja, selalu singkat dan terkadang mengelak. Jawaban-

jawaban Supardjo terutama menjadi berbelit-belit saat ia ditanya tentang 

hubungannya dengan PKI.

Penyangkalan Supardjo terhadap dokumen itu dapat dipahami 

sebab  pada alinea-alinea tertentu bersifat sangat memberatkan. Soal 

yang belum terjawab yaitu  mengapa para hakim dan penuntut umum 

Mahmilub memutuskan untuk tidak mengajukan dokumen itu sebagai 

bukti dan dengan demikian membuat keberadaannya diketahui umum, 

terutama sebab  dokumen itu memperlihatkan bahwa Supardjo menaruh 

simpati kepada PKI dan Sjam memegang peranan memimpin dalam 

G-30-S. Para hakim tidak meneruskan bertanya kepada Supardjo tentang 

dokumen itu dan tidak mengungkapkan kepada publik bahwa majelis 

hakim mempunyainya.13 Barangkali mereka berpendapat hal itu akan 

membikin ruwet alur kisah mereka sehingga akan membuka serang-

kaian pertanyaan yang sama sekali baru. Barangkali mereka mewaspadai 

dampak yang akan timbul dari dokumen ini  bagi para aktivis PKI 

yang masih berjuang melawan tentara Suharto. Supardjo menulis anali-

sisnya untuk membantu mereka belajar dari kesalahan-kesalahan mereka. 

sebab  sidang-sidang Mahmilub dimaksudkan sebagai pertunjukan dan 

bukan untuk mencari kebenaran peristiwa, maka kita tidak perlu terlalu 

heran jika penuntut umum tidak memakai  dokumen itu untuk 

mengajukan perkara mereka. Putusan sudah ditetapkan sebelumnya; 

mereka hanya perlu bergerak mengikuti arus. Lebih dari itu, mahkamah 

militer tidak mengikuti aturan-aturan pembuktian yang ketat; para hakim 

mungkin sudah membaca dokumen ini secara pribadi dan tidak harus 

memasukkannya ke dalam berkas pengadilan agar ia menjadi bagian dari 

pertimbangan mereka – jika memang ada pertimbangan yang dibuat. 

130

3. DOKUMEN SUPARDJO

Para penuntut umum dan hakim memutuskan bukti-bukti apa yang 

akan muncul di persidangan berdasar  pertimbangan tentang kegu-

naannya bagi pendapat umum. Rezim Suharto tidak pernah menghen-

daki warga  Indonesia mengkaji peristiwa-peristiwa awal Oktober 

1965 dengan kepala dingin dan rasional. Tentara Suharto mengobar-

kan kampanye pengejaran secara histeris terhadap PKI dan kemudian 

menciptakan undang-undang antikomunis yang ganjil, yang berlaku 

begitu jauh sehingga mendiskriminasi anak cucu orang-orang yang dicap 

PKI oleh pemerintah. Baru pada 1994 rezim ini mengeluarkan artikel  

putih tentang G-30-S, untuk meyakinkan warga  Indonesia melalui 

argumentasi yang rasional bahwa PKI telah memimpin G-30-S, dan, 

meskipun begitu, yang diterbitkan yaitu  campur aduk yang absurd 

dari pernyataan-pernyataan yang belum dibuktikan kebenarannya dan 

tidak ada rujukannya.14

Sedikit sekali keraguan terhadap otentisitas dokumen Supardjo, 

walaupun ia sendiri menyangkalnya. Naskah ini terlalu rumit untuk 

dipalsukan. Usaha militer untuk memalsu – pengakuan Aidit dan Njono 

– sungguh-sungguh kasar. Selain itu, agen-agen intelijen militer tidak 

akan berusaha begitu keras menyusun dokumen yang demikian ruwet lalu 

tidak memakai nya sama sekali. Baik Letnan Kolonel Heru Atmodjo, 

yang dipenjarakan bersama Supardjo, maupun putra Supardjo, Sugiarto, 

telah memastikan bahwa Supardjo memang menulis dokumen itu.

KEPEMIMPINAN G-30-S

Walaupun Supardjo mengamati G-30-S dari dekat, ia mengaku bahwa ia 

sendiri pun bingung siapa sebenarnya yang memimpin G-30-S. Gerakan 

ini, yang  mengabaikan prinsip-prinsip baku organisasi kemiliteran, 

tidak memiliki komandan tunggal secara keseluruhan yang memberi  

perintah dalam rantai komando yang jelas. Kerja sama antara kelompok 

PKI (Sjam dan Pono) dengan kelompok militer (Untung, Latief, dan 

Soejono) tersusun sangat longgar, sehingga dua kelompok ini  

terus-menerus berdebat tentang apa yang harus dilakukan, bahkan 

pada saat-saat kritis saat  keputusan harus segera diambil. Supardjo, 

sang insan militer, menjadi frustrasi sebab  tidak dapat menetapkan 

131

 

siapa sebenarnya yang memegang kewenangan terakhir. Melukiskan 

hari terakhir, 2 Oktober 1965, saat  mereka dikepung dan pasukan 

Suharto semakin mendekat, Supardjo menulis, “Apa yang terjadi pada 

waktu itu yaitu  suatu debat, atau diskusi yang langiradis [langdradig, tak 

berujung pangkal], sehingga kita bingung melihatnya, siapa sebetulnya 

komandan, kawan Sjamkah, kawan Untungkah, kawan Latifkah atau 

Pak Djojo [Mayor Soejono]?”

Dalam pikiran Supardjo calon-calon untuk kedudukan pimpinan 

semestinya Untung atau Sjam, “Seharusnya operasi berada di satu tangan. 

sebab  yang menonjol pada waktu itu yaitu  gerakan militer, maka 

sebaiknya komando pertempuran diserahkan saja pada kawan Untung, 

dan kawan Sjam bertindak sebagai komisaris politik. Atau sebaliknya, 

kawan Sjam memegang komando tunggal sepenuhnya.” Supardjo benar-

benar merasa sangat terganggu oleh masalah kepemimpinan ini. Ia kembali 

mempersoalkan hal ini dalam bagian belakang analisisnya, “Pertama, perlu 

ditentukan siapa komandan yang langsung memimpin aksi (kampanye), 

kawan Sjamkah atau kawan Untung. Kemudian pembantu-pembantu-

nya atau stafnya dibagi.” Jelas Sjam memainkan peranan sangat penting 

di dalam kelompok inti jika Supardjo memandangnya setara dengan 

Untung selaku pimpinan nominal G-30-S. Walaupun nama Untung 

di depan umum ditempatkan sebagai komandan (dalam pernyataan 

pertama yang dibacakan di radio), tampaklah bahwa Sjam yang namanya 

tidak disiarkan itu setidak-tidaknya mempunyai bobot yang sama dalam 

proses pengambilan keputusan pada saat aksi dimulai.

Bukannya rantai komando, G-30-S justru menciptakan apa yang 

Supardjo namakan baris. Perkataan yang dipakainya ialah sjaf, mengi-

ngatkan pada baris-baris seperti orang shalat di masjid. Supardjo melihat 

ada tiga baris: “a) Kelompok Ketua, b) Kelompok Sjam cs., c) Kelompok 

Untung cs.” Dengan “Kelompok Sjam cs.,” rupanya Supardjo bermaksud 

menyebut kelompok Biro Chusus: Sjam, Pono, dan Bono. Dengan 

“Kelompok Untung cs.,” agaknya yang ia maksud ialah para perwira 

militer Untung, Latief, dan Soejono. Kelompok pertama, “Kelompok 

Ketua,” tidak dikenali melalui nama-nama orang, seperti dua kelompok 

lainnya. Walaupun Supardjo secara tidak langsung menyatakan, bahwa 

tiga kelompok ini bukan merupakan satu garis komando yang ketat 

(turun dari a ke b ke c), istilah “Kelompok Ketua” benar-benar memberi 

132

3. DOKUMEN SUPARDJO

kesan bahwa kelompok ini bagaimana pun ada di atas dua kelompok 

lainnya. Siapakah yang ada di atas Sjam dan Untung? Pada akhir dokumen 

jawaban pertanyaan itu menjadi jelas. Belakangan Supardjo menyata-

kan bahwa Kelompok Ketua ialah pimpinan PKI: G-30-S merupakan 

“operasi yang langsung dipimpin oleh partai.” Supardjo menempatkan 

orang-orang Biro Chusus pada urutan kedua sebab  mereka berfungsi 

sebagai pasak penyambung antara pimpinan PKI dan personil militer. 

Walaupun barangkali Sjam berbagi komando dengan Untung pada hari 

aksi dimulai, sebenarnya ia tetap berdiri di atas Untung sebab  ia bagian 

dari “partai” yang merupakan pimpinan G-30-S sebenarnya.

Kita hendaknya tidak beranggapan bahwa Supardjo mempunyai pe-

ngetahuan langsung dan rinci tentang keterlibatan partai dalam gerakan 

ini. sebab  kontaknya dengan PKI hanya melalui Sjam, maka pendapat 

Supardjo bahwa “partai” memimpin G-30-S pastilah didasarkan atas pe-

nyimpulan saja. Mengamati Sjam memainkan peranan memimpin dalam 

G-30-S dan meyakini bahwa Sjam bertindak atas perintah petinggi-

petinggi PKI, Supardjo menyimpulkan bahwa “partai” yaitu  pimpinan 

sebenarnya. Setidak-tidaknya ia me-ngetahui bahwa Aidit ada di Halim 

dan bahwa Sjam berunding dengan Aidit saat  aksi dilakukan. (Supardjo 

bertemu Dani pada 1 Oktober malam hari untuk minta pesawat terbang 

AURI untuk melarikan Aidit ke Jawa Tengah). Namun, Supardjo tidak 

mungkin mengetahui siapa lagi, jika pun memang ada, orang partai yang 

terlibat. Tidak sepatah kata pun dalam dokumen itu yang menyatakan 

bahwa Supardjo mengetahui peranan masing-masing yang dimainkan 

oleh Aidit, Politbiro, dan Comite Central. Sebagai seorang tentara, ia 

tidak akan mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang proses pengam-

bilan keputusan di dalam partai. saat  Supardjo bicara tentang “partai,” 

hendaknya kita tidak memahaminya seakan-akan ia tahu dengan pasti 

bahwa pimpinan partai secara keseluruhan telah merancang G-30-S, alih-

alih mendukung atau mengetahui tentangnya. Bagi Supardjo, “partai” 

ialah kependekan dari Aidit dan tokoh-tokoh lain tak dikenal di atas 

Sjam. Dakwaan Supardjo bahwa “partai” memimpin G-30-S tidak 

membuktikan bahwa PKI bertanggung jawab sebagai satu lembaga. Ia 

mungkin hanya bisa tahu dengan pasti bahwa Sjam memimpin G-30-S 

dan dengan satu atau lain cara juga bekerja sama dengan Aidit.

Menurut penglihatan Supardjo, Sjam yaitu  penghubung antara 

133

 

Kelompok Ketua dan para perwira militer yang menyediakan dirinya 

untuk melayani partai. Dengan demikian Sjam mempunyai wewenang 

lebih besar di dalam G-30-S dibanding para perwira ini . Mengingat 

pernyataan Supardjo, kesaksian Sjam tentang hal ini mungkin sekali 

benar, “Dalam G-30-S ini saja pegang pimpinan politiknja dan sdr 

Untung pegang pimpinan militernja, namun  pimpinan militer ini dibawah 

pimpinan politik. Djadi segala kejadian jang terjadi dalam G-30-S yaitu  

saja jang bertanggung djawab.”15

Dalam persidangannya Supardjo mengakui bahwa ia menjadi 

terlibat di dalam G-30-S sebab  hubungannya dengan Sjam. Ia bertemu 

Sjam pertama kali, dikatakannya, pada 1965 dan kadang-kadang meng-

gunakannya sebagai sumber intelijen militer. Bagi Supardjo, Sjam yaitu  

orang yang memiliki banyak koneksi dan informasi melimpah tentang 

soal-soal politik dan militer. Ia mengenal Sjam baik sebagai “wakil” PKI 

dan sebagai “intel tentara” yang mempunyai kartu identitas tentara.16 

saat  Supardjo terbang ke Jakarta dari front Malaysia pada 28 September 

1965, ia langsung menuju ke rumah Sjam hanya beberapa jam sesudah 

mendarat. Ia mengunjungi Sjam lagi malam berikut dan berdiskusi 

dengannya tentang aksi yang akan datang. Pada 30 September malam, 

Supardjo pergi lagi ke rumah Sjam dan berangkat bersama dengannya ke 

pangkalan AURI di Halim untuk memulai aksi. Supardjo tidak banyak 

dikenal, kalau bukan sama sekali tidak dikenal, oleh para perwira lain 

dalam G-30-S seperti misalnya Untung dan Latief.

Dalam analisis postmortem-nya Supardjo menjelaskan bahwa ia 

bersedia bergabung dengan G-30-S sebab  ia berpikir partai menge-

tahui apa yang sedang terjadi. saat  itu PKI mempunyai nama baik 

sebab  disiplin yang tinggi dan terorganisasi secara ketat. Bagaimana 

pun juga, PKI merupakan organisasi raksasa dengan jutaan anggota 

di seluruh negeri, dari para menteri dalam kabinet Sukarno sampai ke 

petani buta huruf di desa-desa terpencil yang tidak mudah dicapai, dan 

mampu menjalankan kegiatan-kegiatan yang keragamannya menge-

sankan. PKI menyelenggarakan sekolah-sekolahnya sendiri, menerbitkan 

surat kabar-surat kabar, mementaskan pertunjukan kesenian. Banyak 

ilmuwan sukar mengerti mengapa PKI mengorganisasi G-30-S justru 

sebab  gerakan itu merupakan operasi yang sedemikian semrawut dan 

amatiran. Supardjo menduga bahwa partai mempunyai penglihatan yang 

134

3. DOKUMEN SUPARDJO

lebih jauh ketimbang dirinya dan telah merancang sebuah rencana brilian 

yang tak mungkin salah. Ia mengakui sungguh merupakan kekeliruan 

yang sangat besar di pihaknya sebab  telah “menilai kemampuan kawan 

pimpinan operasi terlalu tinggi.” saat  ia bergabung dengan G-30-S, 

ia mempunyai kepercayaan penuh terhadap “pimpinan” kendati ia ragu 

terhadap kemungkinan gerakan ini  akan berhasil, “Meskipun fakta-

fakta nyata tidak logis. namun  percaya bahwa pimpinan pasti mempunyai 

perhitungan yang ulung, yang akan dikeluarkan pada waktunya. Sesuatu 

keajaiban pasti akan diperlihatkan nanti, sebab pimpinan operasi selalu 

bersemboyan: ‘Sudah kita mulai saja, dan selanjutnya nanti jalan 

sendiri.’”

Penjelasan Supardjo tentang kesediaannya mengikuti G-30-S 

mungkin dapat memberi petunjuk tentang alasan mengapa para perwira 

militer lain, seperti Untung, Latief dan Soejono, juga bersedia ikut. 

Supardjo mengatakan bahwa para perwira militer itu sangat meragukan 

keberhasilan rencana yang diajukan Sjam dan sekurang-kurangnya ada 

satu orang yang memutuskan untuk menarik diri.17 Perwira-perwira 

seperti Supardjo bertahan, kendati ragu, hanya sebab  mereka percaya 

kepada kebijaksanaan kepemimpinan sebuah partai yang telah sangat 

berhasil dalam mengorganisasi jutaan rakyat.

Kebimbangan para pimpinan inti pada hari dimulainya aksi 

tampaknya merupakan akibat dari ambiguitas dalam peranan mereka 

masing-masing. Supardjo menampilkan G-30-S sebagai sesuatu yang 

sejak awal telah terjangkiti ketidakajegan di dalam tubuhnya. Di satu 

pihak, Sjam yaitu  pimpinan keseluruhan yang mendorong para perwira 

militer bergabung dengan jaminan akan berhasil; oleh sebab nya para 

perwira itu tunduk kepada kepemimpinannya. Di pihak lain Sjam, sebab  

telah memulai operasi, bergantung kepada para perwira militer untuk 

pelaksanaan operasi itu. Ia harus pasrah kepada mereka sementara operasi 

berjalan sebab  ia seorang sipil yang tidak dapat memimpin pasukan. 

Supardjo, walaupun sadar bahwa Sjam yaitu  pimpinan, bingung melihat 

pengambilan keputusan dalam kelompok inti dan terpaksa bertanya, 

“Siapa sebetulnya komandan?”

Nama-nama para wakil komandan yang diumumkan melalui radio 

tidak ada hubungannya dengan rantai komando yang sebenarnya. Empat 

orang yang ini  dalam daftar nama itu semuanya tidak mempunyai 

135

 

kewenangan dalam G-30-S. Supardjo, yang ini  di urutan pertama, 

tidak memimpin satu pasukan pun dalam aksi ini. (Ia mengakui dalam 

analisisnya bahwa pada hari terakhir ia minta agar diberi kewenangan 

mengomando sisa-sisa pasukan G-30-S tapi ia tak pernah menerima 

jawaban tegas dari Sjam dan Untung). Dalam kesaksiannya di ruang 

sidang Supardjo menyangkal bahwa ia pernah diajak berunding tentang 

daftar nama-nama wakil komandan; namanya “ditulis menurut kemauan 

mereka sadja.”18 (Supardjo tidak menjelaskan siapa yang dimaksud 

dengan “mereka” itu. Kita hanya dapat menduga-duga mungkin yang 

dimaksud ialah Sjam dan Pono). saat  saya mewawancarai perwira lain 

yang tercantum dalam daftar sebagai wakil komandan, Letnan Kolonel 

Heru Atmodjo, ia menyangkal bahwa ia tahu tentang daftar para wakil 

komandan itu, apalagi ikut menandatanganinya. Ia menyatakan Sjam 

dan Pono mencantumkan namanya dalam daftar dan belakangan, saat  

ia sudah di penjara, Pono minta maaf kepadanya sebab  telah mencan-

tumkan namanya tanpa minta izin.19 Sjam memerlukan nama empat 

perwira, satu orang dari setiap angkatan di militer, untuk memperlihatkan 

bahwa G-30-S mendapat dukungan luas di dalam angkatan bersenjata. 

Simbolisme serupa ini lebih penting ketimbang sumbangan konkret 

mereka bagi G-30-S. Barangkali Sjam menduga bahwa mereka akan 

bahagia sebab  akan dikenal sebagai wakil komandan seandainya G-30-S 

berhasil. Supardjo mencatat bahwa “pimpinan” (ini sekali lagi tentu saja 

Sjam) mengatakan, “Ya, Bung, kalau mau revolusi banyak yang mundur, 

namun  kalau sudah menang, banyak yang mau ikut.”

Salah satu aspek paling menarik dalam analisis Supardjo ialah 

pembedaan yang dibuatnya antara rencana semula dan rencana perbaikan. 

Kesalahan “partai,” menurut Supardjo, yaitu  merebut rencana yang 

sudah dibuat para perwira “demokrasi revolusioner” untuk mengha-

dapi kepemimpinan militer sayap kanan. Ia menyebut adanya rencana 

semula yang terdiri atas dua tahap, dengan tahap pertama “hanya terbatas 

gerakan didalam tubuh AD” dan “bersifat intern AD.” Tujuan tahap 

pertama ini untuk menyingkirkan jenderal-jenderal Angkatan Darat yang 

pro-Amerika dan tidak melibatkan PKI sama sekali. Para perwira militer 

pendukung Sukarno itu sendiri yang harus melaksanakan tahap pertama 

rencana ini. Di dalam proses yang tidak dijelaskan oleh Supardjo, rencana 

ini  ditinggalkan. Lalu terjadi “dipindahnya rencana operasi yang 

136

3. DOKUMEN SUPARDJO

semula bersifat inter