Tampilkan postingan dengan label Filosofi 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi 6. Tampilkan semua postingan

Filosofi 6


  bisa mengerti bahwa sebagian pembaca 

masih bersikap skeptis. “Okelah, idealnya memang kita tidak mudah 

ngambek, sensitif, atau terprovokasi oleh orang lain.

“Pertemanan palsu adalah^C

yang terburuk. Hindari '

sebisa mungkin. Jika kamu

jujur dan terus-terang dan

bermaksud baik, itu akan

tampak di matamu. Tidak

mungkin disalahartikan.”

- Marcus Aurelius

L (Meditations). A

Fine, gue yang bertanggung jawab atas respon diri kita sendiri. 

Setuju kalau kita harusnya menjaga kerukunan dengan sesama. 

namun ......kenyataannya memang ada aja orang di dunia ini yang 

sangat-sangat bikin gue naik darah terus. Gimana dong?”

Tenang.  adalah filosofi yang realistis, dan saat 

membaca tulisan-tulisan filsuf Stoa, kita akan menyadari bahwa 

pemikiran mereka didasarkan pada pengamatan akan perilaku 

manusia nyata, bukan teori mengawang-awang. Bahkan seorang 

Marcus Aurelius pun berkata pada akhirnya memang ada orang- 

orang tertentu yang harus dihindari.

“Pertemanan palsu adalah yang terburuk. Hindari sebisa 

mungkin. Jika kamu jujur dan terus-terang dan bermaksud baik,

itu akan tampak di matamu. Tidak mungkin disalahartikan.” - 

Marcus Aurelius [Meditations).

Rupanya, masalah teman palsu ini, sama seperti ketimun pahit, 

sudah ada selama ribuan tahun, dan ini adalah salah satu contoh 

tipe manusia yang terburuk dan harus dihindari sebisa mungkin. 

Menurut saya, ada alasan mengapa Marcus Aurelius tidak 

sembarangan menyuruh menghindari orang, dan secara eksplisit 

membahas 'teman palsu’ (bukan sekadar orang-orang yang 

menyebalkan, tidak tahu aturan, tidak sopan, dan lain- lain).

Teman palsu bisa mencelakakan kita sebab  kewaspadaan kita 

terkelabui. Jika kita harus berurusan dengan orang yang baru kita 

kenal, atau memang musuh kita, maka otomatis kita bersikap 

waspada. Namun, dengan mereka yang berstatus “teman", kita 

sering kali tidak kritis, atau membutakan diri kepada fakta bahwa dia 

sebenarnya tidak tulus, atau hanya berteman dengan kita untuk harta

kita, atau sesungguhnya ingin mencelakai kita. “Kesialan terburuk 

yang bisa menimpa seseorang yang kebanyakan duit adalah dia 

mengira orang- orang adalah temannya, padahal sebaliknya tidak 

demikian.” - Seneca. [Letters)

Selain teman palsu, rasanya selalu ada saja orang-orang yang 

kehadirannya toxic, atau merusak mental kita. Mungkin dia 

membawa pengaruh yang buruk, kata-katanya selalu menjatuhkan, 

tidak mau kalah, atau terang-terangan selalu ingin menyakiti kita. 

Usaha untuk memperbaiki [instruct) sudah dilakukan dan dia tidak 

mau berubah. Opsi menolerir [endure) pun dirasa sangat sulit, 

sebab  kehadirannya sangat membawa aura negatif. Apa yang harus

dilakukan?

Ingat quote Marcus Aurelius tentang kalau ketemu ketimun pahit 

dibuang aja? Saya rasa ini berlaku juga dengan hubungan sosial. 

Pada akhirnya akan selalu ada orang yang negatif, yang tidak mau 

dikoreksi, atau teman-teman palsu tadi. saat  sudah tidak mungkin 

untuk mengoreksi atau menolerir mereka, jalan terakhir menghindari 

orang-orang tertentu dalam hidup selalu ada. Ada teman yang 

korosif? Ya gak usah ditemenin. Ada teman yang kalau ngutang 

selalu amnesia dan kalau ditagih lebih galak dari yang menagih? Ya 

sudah, dihindari saja. Ini tidak bertentangan dengan prinsip tidak 

mengisolir/memotong diri kita dari pergaulan, sebab  kita masih tetap

mempertahankan kehidupan sosial, hanya kualitasnya saja yang 

dijaga. Tentunya, Stoisisme menganggap ini sebagai langkah 

terakhir, dan tidak bisa dilakukan seenaknya [dikit-dikit memutus 

pertemanan, menghindari orang, unfriend, block, dan lain-lain), 

sebab , jika keseringan, akhirnya kita yang “memotong diri" dari 

“pohon" masyarakat yang lebih besar.

Seneca juga menuliskan mengenai pentingnya berhati-hati dalam 

memilih teman:

“Kita harus ekstra hati-hati dalam memilih orang, dan 

memutuskan apakah mereka layak untuk kita berbagi (waktu) 

hidup dengan mereka....

“Tidak ada yang lebih menggembirakan kita seperti 

persahabatan yang akrab dan setia. Sungguh sebuah berkah 

untuk memiliki mereka yang siap dan mau menerima segala 

rahasia kita dengan aman. Bercakap- cakap dengan mereka 

menyejukkan kecemasan kita, nasehat mereka membantu kita 

menetapkan pilihan, keceriaan mereka mencairkan kesedihan 

kita, bahkan sekedar kemunculan mereka sudah membuat kita 

senang!

“Pilihlah teman yang paling tidak bercacat moral; seperti kita 

tidak ingin bercampur dengan orang sakit agar tidak 

tertular...khususnya, hindari mereka yang selalu murung dan 

meratap, dan selalu menemukan alasan untuk 

mengeluh...sesungguhnya teman yang selalu merasa kesal dan

menggerutu tentang segala hal adalah musuh bagi kedamaian 

jiwa kita.” (On Tranquility of Mind)

Berteman kok milih-mUih? Ya memang! Bukan memilih-milih atas dasar

suku, agama, atau ras, atau memilih sebab  siapa bapaknya dan di 

mana rumahnya, namun  memilih teman berdasarkan karakter mereka. 

sebab , karakter yang buruk sesungguhnya bisa menjangkiti orang lain, 

bagaikan penyakit menular.

Beberapa Tips Berurusan dengan Orang Lain, dari 

Marcus Aurelius

Marcus Aurelius menuliskan catatan untuk dirinya sendiri bagaimana 

berurusan dengan orang-orang lain, diambil dari Meditations:

• Menyadari bahwa orang lain didorong oleh apa yang mereka 

percayai, dan bahwa mereka bangga dengan apa yang mereka 

lakukan.

• Jika yang mereka lakukan benar, maka tidak ada alasan untuk kita 

mengeluh. Jika apa yang mereka lakukan adalah keliru, 

(menyadari) bahwa mereka tidak melakukannya dengan sengaja, 

namun  lebih sebab  ketidaktahuan (ignorance). Tidak ada orang 

yang senang disebut “tidak adil", “sombong”, atau “serakah”—apa 

pun sebutan yang mengesankan mereka bukan anggota 

masyarakat yang baik.

• Ingatlah bahwa kita sendiri melakukan banyak kesalahan. Kita tidak

berbeda dari mereka. Bahkan jika berhasil menghindari melakukan 

kesalahan, kita masih memiliki potensi melakukan kesalahan di 

masa depan.

• Jika kita menganggap orang lain melakukan kesalahan, kita belum 

tentu tahu dengan pasti bahwa itu suatu kesalahan. Apa yang 

mereka lakukan seringkah hanyalah jalan untuk mencapai tujuan 

tertentu. Kita harus benar-benar mengerti banyak hal sebelum bisa 

menghakimi tindakan orang lain.

• saat  kamu kehilangan kendali atas emosimu, atau bahkan 

sekadar merasa kesal, ingatlah bahwa hidup manusia sangatlah 

singkat dan tidak lama lagi kita semua akan dikuburkan.

• Bahwa bukan apa yang orang lain lakukan yang mengganggu kita, 

namun  persepsi yang salah dari kita sendiri. Buang itu semua. 

Berhenti beranggapan bahwa ini semua adalah bencana, maka 

akan lenyaplah amarahmu. Bagaimana kita bisa melakukan itu? 

Dengan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar 

terlukai.

• Lebih banyak kerusakan ditimbulkan oleh kemarahan dan 

kesedihan kita daripada hal-hal yang menyebabkan kemarahan dan

kesedihan ini .

• Sesungguhnya, kebaikan /kindness) itu sangatlah kuat asalkan 

dilakukan dengan tulus dan bukan pencitraan. Orang paling jahat 

pun tidak berdaya jika kita terus memperlakukan dia dengan 

kebaikan dan dengan lembut memperbaikinya. Biarlah nasihatmu 

disampaikan dengan lembut tanpa harus menudingkan jari. 

Lakukan dengan penuh kasih tanpa kebencian di hatimu. 

Berbicaralah dengan tidak menggurui dan ingin dikagumi orang 

lain, bahkan jika memang ada orang lain di situ.

Marcus Aurelius juga menambahkan bahwa murka bukanlah sifat yang 

terpuji. Kesantunan dan kebaikanlah yang menentukan kemanusiaan 

seseorang. Sesungguhnya, orang lembutlah yang memiliki kekuatan 

dan keberanian, bukan si pemarah dan tukang keluh. Sebaliknya, 

kemarahan pada orang lain adalah sebuah hambatan bagi tugas kita.

“Kita dilahirkan untuk bekerja sama bagaikan kaki, tangan dan mata, 

bagaikan dua baris gigi, atas dan bawah. Untuk menghambat orang lain

adalah melanggar Alam. Untuk menjadi marah pada orang lain, dan 

memunggunginya; ini semua adalah hambatan," ujar Marcus Aurelius.

Manusia Lain: Kerja Kita

"Bisa dikatakan, manusia lain adalah 'kerja' kita. Tugas kita adalah 

melakukan yang baik kepada mereka dan hidup berdampingan 

mereka. namun  saat  mereka menjadi halangan dalam kita 

menjalankan kerja kita, maka mereka menjadi irelevan—bagaikan 

sinar matahari, angin, dan


dicari, namun 

waktu

adalah harta yang

kehidupan kita, terus

mendekatkan diri kita

kepada kematian. .

binatang-binatang. Tindakan kita mungkin dihambat oleh mereka,

namun  tidak ada yang bisa menghambat niatan atau watak kita.” - 

Marcus Aurelius [Meditations]

Berkali-kali Marcus Aurelius, Seneca, dan para filsuf Stoa lainnya 

memberi penekanan pada hubungan antarmanusia. Bahkan, di kutipan

di atas dikatakan (hubungan kita) dengan manusia lain sebagai salah 

satu 'kerja' kita. Kewajiban kita adalah terlebih dahulu melakukan hal 

yang baik kepada orang lain dan bisa hidup rukun di sisi mereka 

(minimal bisa menerima/ menolerir keberadaan mereka). Ini menjadi 

default setting, atau kondisi standar kita.

•1

uane dan harta

tanpa amp

menghilc

un terus

Namun, kita tahu dalam hidup ini tidak semua manusia memiliki prinsip

yang sama (banyak yang belum mengerti !), dan mereka 

dengan sengaja atau tidak sengaja menghalangi atau tidak 

menghargai upaya kebaikan kita. Marcus Aurelius menasihati agar kita

tidak menjadi patah hati dan menyerah.

Pernahkah kita dikecewakan sesudah berbuat baik kepada orang lain, 

dan kemudian berkata dalam hati, ‘'Males banget. Kapok jadi orang 

baik. Toh nanti gak dihargai, gak diinget, gak dibales, de el 

el....."Sounds familiar?Saya rasa semua orang pernah merasa seperti 

ini (termasuk saya!), dan sebab nya, Marcus segera melanjutkan 

dengan kemungkinan ini-saat  orang lain menjadi halangan dan 

bagaimana orang-orang yang seperti ini irelevan. "Dianggap angin 

saja”, dan kita tetap melanjutkan berbuat baik pada orang lain. Jangan 

sampai kita patah arang, apalagi sampai membatalkan niatan dan 

mengubah watak.

Pentingnya “Manajemen Orang Lain” di Dalam 

Hidup Kita

"Manusia tidak mengizinkan orang lain merebut properti rumah 

dan tanah mereka. Jika ada sedikit saja perselisihan mengenai 

batas (tanah), manusia berlomba mengambil batu dan senjata. 

Akan namun , manusia mengizinkan manusia lain mencuri hidup 

mereka.

"Kamu tidak akan menemukan orang yang mau membagi- 

bagikan uangnya begitu saja, namun  berapa banyak dari kita yang 

justu membuang-buang hidup kita sendiri. Manusia pelit saat 

menjaga harta benda mereka, namun  begitu soal membuang-

buang waktu, kita justru boros. Padahal justru di sinilah kita harus

pelit.” - Seneca (On The Shortness of Life)

Seneca sungguh memiliki pengamatan tajam akan ironi dari perilaku 

manusia. Kita tidak segan-segan mengangkat senjata jika menyangkut 

urusan sengketa tanah dan harta. Pertemanan, bahkan tali hubungan 

saudara atau orang tua-anak bisa putus hanya sebab  perebutan 

warisan, rumah, perusahaan, dan lain- lain. Kita sangat murka saat  

ada yang mencuri harta kita, atau tidak mengembalikan hutangnya 

kepada kita. Namun, ironisnya, kita justru membuang-buang hal yang 

lebih bernilai dari semua itu, yaitu waktu yang ada di dalam hidup kita.

Kita bisa menyia-nyiakan waktu dengan memberikan terlalu banyak 

porsi waktu kita untuk emosi negatif kepada orang lain. Mungkin kita 

menyimpan dendam bertahun-tahun atas masalah yang sudah lama 

berlalu. Atau, kita menghabiskan berjam-jam menggosipkan orang lain 

tanpa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Atau, kita terus 

mengomel dan berkeluh kesah mengenai perilaku orang lain kepada 

kita, tanpa kita mencari solusinya. Atau, kita bertahan dalam 

pertemanan, pacaran, bahkan pernikahan yang toxic (beracun), 

selama bertahun-tahun, yang akhirnya menghancurkan jiwa kita 

sendiri. Semua ini sama saja seperti "menghamburkan” waktu kita 

kepada orang lain, yang mana menurut Seneca ini lebih buruk dari 

menghamburkan uang.

Seneca mengingatkan kita akan pentingnya "manajemen waktu" yang 

lebih penting dari "manajemen uang”. Mengatur waktu di sini termasuk 

juga memperhatikan waktu yang kita curahkan kepada orang lain. Jika 

kita tidak suka uang dan harta kita dicuri/diambil orang lain, tidakkah 

kita harus lebih ketat lagi menjaga waktu kita? Apakah kita akan 

menjalani detik-detik akhir kehidupan kita menyesali mengapa kita 

menghabiskan banyak waktu untuk orang-orang yang tidak 

seharusnya diberikan tempat di dalam kehidupan kita? sebab  uang 

dan harta benda selalu bisa dicari, namun  waktu adalah harta yang 

tanpa ampun terus menghilang dari kehidupan kita, terus mendekatkan

diri kita kepada kematian.

Intisari Bab 7:

•  sangat menaruh perhatian pada hubungan 

antarmanusia, sebab  para filsuf Stoa percaya bahwa nature 

manusia adalah makhluk sosial.

• Dalam kehidupan sosial, kita pasti harus berhadapan dengan 

perilaku manusia lain yang menyebalkan.

• Kalau kamu merasa tersinggung oleh ulah dan perkataan orang 

lain, itu sepenuhnya salahmu sendiri.

• Di balik perilaku menyebalkan orang lain, kemungkinan besar 

tidak ada motivasi/niatan jahat, namun  ketidaktahuan/ ignorance.

• Orang yang melakukan perbuatan menyebalkan sebab  tidak tahu 

(ignorant), justru seharusnya dikasihani dan diajari, bukan 

dimarahi.

• Tidak ada yang bisa merendahkan jiwamu.

• Kemarahan kita jauh lebih merusak daripada penyebab 

kemarahan itu sendiri.

• Selalu ingat kemungkinan bahwa kita yang salah/keliru.

• “Kurang kerjaan” membuka celah untuk niat jahat.

• Instruct and endure. Tugas kita adalah membangun orang lain, 

atau menanggung/menolerir mereka.

• Kemarahan sama dengan gila sementara.

• Kejujuran adalah bagian dari selaras dengan Alam. Ketidakjujuran 

membawa kerugian di saat ini juga.

• Terkadang, memang ada orang-orang yang layak dihindari dalam 

hidup.

• Waktu adalah harta yang terus menerus berkurang, jangan 

dihamburkan kepada orang-orang yang tidak membuat hidup kita 

lebih baik.

Wawancara dengan

Cania Citta Irlanie

Editor Geolive dan Geotimes

“Selalu 

mensimulasi

the worst case."

Saya mengenal Cania awalnya dari media sosial. Kehadirannya di 

media sosial tidak lepas dari perdebatan yang ditimbulkannya, baik 

dari cuitan di Twitter, posting-an di Facebook, atau vlog-nya, sebab  

memang hobi Cania adalah menyatakan opini secara apa adanya, 

yang sering tidak sejalan dengan pemahaman banyak orang. Namun, 

bukan ini alasan utama saya memutuskan mewawancara Cania. Saya 

justru tertarik menyaksikan bagaimana dia bersikap menghadapi 

serbuan banyak cercaan, bullying, bahkan sebagian sudah masuk 

kategori ancaman. Cania bersikap tenang dan chill banget. sebab  

sikapnya ini mengingatkan saya kepada banyak prinsip Stoisisme, 

saya tertarik untuk ngobrol dengannya. Berikut kutipannya.

Hi Cania, apa kegiatannya sehari-hari sekarang?

Seminggu sekali saya shooting produksi video untuk Geolive. Sisanya 

menulis untuk Geotimes, induk media dari Geolive, sambil 

menyelesaikan skripsi di Strata-1 Ilmu Politik Universitas Indonesia 

dengan peminatan di Comparative Politics, jadi membandingkan satu 

kawasan dengan yang lain. Misalnya, membandingkan kebijakan di 

Finland dengan di Amerika Serikat.

Kalau weekend, sebab  saya pianis saya juga mengisi wedding atau 

acara ulang tahun. Atau main di cafe atau di hotel.

Bisa ya membagi waktu antara skripsi, shooting video, sampai 

menulis?

Basically sebab  semua kegiatan ini adalah menulis dan membaca, 

jadi pembagian waktu tidak masalah. Yang jadi masalah lebih 

pembagian mood, hahaha. sebab  semuanya tentang menuangkan 

ide, jadi kalau pas ada mood untuk menulis suatu ide, saya akan 

meninggalkan dulu ide yang lain.

Mengapa waktu lulus SMA memutuskan mengambil Ilmu Politik?

Agak aneh ceritanya. Latar belakang saya sebelumnya sains banget. 

Tahun 2006, saya ikut Olimpiade Matematika dan Sains Internasional, 

sudah melalui karantina bareng Yohanes Surya (Pembimbing Tim 

Olimpiade Fisika Indonesia-penulis) juga. Di SMP juga ikut Olimpiade 

Biologi dua kali. Saat SMA, sebab  juga tertarik pada bahasa Inggris, 

saya ikutan speech contest. Kemudian diperkenalkan pada juga 

kepada English Debating.

Sejak kenal debating ini, saya jadi kenal social issues, sebab  

debatnya kan tidak mungkin tentang natural science, tapi social 

political issues. Di tingkat Jawa Barat saya dikarantina, setiap hari bisa 

berdebat tujuh mosi, seminggu 50 mosi. Mosinya semua tentang social

issues, seperti currency, kebijakan tobacco, dan lain-lain. Sejak itu 

minat saya di bidang ini bertambah, seperti hukum, politik, dan lain-

lain. Saya kayak ngerasa ada something bigger than natural science, 

biology, virus, genetics. Saat ikutan debat, baru menyadari ada yang 

lebih kompleks dari itu semua, yaitu...manusia. sebab nya, saya 

pengen menghabiskan masa kuliah di sesuatu yang lain dari sains. 

Itulah bagaimana saya akhirnya memutuskan belajar politik.

Sempet nyesel gak sekarang sesudah mempelajari Ilmu Politik?

Sesuai ekspektasi. Semua pengalaman gue selama debating benar-

benar ditemui saat belajar ilmu politik. Seperti perdebatan teori. Untuk 

satu isu yang sama, bisa ada enam teori yang berbeda-beda. Kalau 

belajar sains kan tidak seperti itu. Jika ada teori yang lebih baru dan 

lebih bagus, maka teori sebelumnya ya hilang, sebab  artinya dia gagal

dan yang baru menghapus itu.

Dalam (ilmu) sosial tidak seperti itu. Untuk setiap isu bisa ada lebih dari

satu analisis, teori, point of view, dan lain sebagainya. I used to obsess

with being right when in science. sebab  di sains itu tidak ada pilihan 

lain selain benar dan salah. Kalau lo gak salah ya lo benar, udah itu 

aja. Maka saat tenggelam dalam sains, saya sangat terobsesi menjadi 

‘'benar". Gak mungkin ada dua kebenaran di sains. Saya bisa bilang 

kalo saya mungkin lebih close-minded saat itu, sebab  saya gak 

menganggap kebenaran itu relatif. Kalo lo salah ya lo goblok.

Tapi, saat  kuliah di FISIP saya berbenturan dengan pemikiran- 

pemikiran lain, dan pada tahap yang keras. Kalau lo orangnya keras, lo

akan tetap close-minded. Tapi, saya selalu tertantang dengan adanya 

orang lain yang mungkin lebih bener dari saya. Akhirnya saya melihat 

bahwa ragam kebenaran itu tidak bisa direduksi menjadi satu. There 

are alternatives of truth, maksudnya truth dalam arti morality, virtue, 

orang-orang bisa memiliki definisi yang berbeda.

Jadi, waktu masuk kuliah politik tadinya saya mengharapkan hanya 

cognitive development aja, yaitu saya jadi lebih menguasai bidang ini. 

Ternyata it gives me a lot more than that, salah satunya saya jadi lebih 

open-minded dalam konteks ragam kebenaran itu.

Bagaimana awalnya bertemu dengan Stoisisme?

Group LINE di mana saya berada sering membahas hal-hal yang tidak 

mainstream. Waktu itu ada yang membahas spirituality. Kami biasanya

berkutat pada filsafat-fiIsafat yang memuaskan kognitif, seperti 

marxisme, dialektika, renaissance. Kemudian, suatu saat kami 

membahas apakah ada yang hilang jika tidak ada spirituality. Kami 

membahas alternatif (spiritualitas) selain divinity (ke-Tuhan-an), dan 

mungkin salah satu alternatif itu datang dari filsafat. Maka muncullah 

diskusi tentang Stoisisme itu.

Kami memang tidak membahas sangat dalam, tapi saya jadi 

penasaran, kemudian search di Google dan saya menangkapnya 

sebagai filsafat self-control. Menaklukkan diri sendiri. Itu yang saya 

tangkap. Diskusi tentang bagaimana jika filsafat membahas sisi 

emosional manusia, bukan kognitif. Ini melengkapi topik liberalisme, 

sebab  saat  kita memberikan kebebasan pada individu, maka individu

itu harus bisa mengelola dirinya di dalam kebebasan itu. Dan 

Stoisisme memberikan cara untuk menaklukkan diri lo sendiri, dalam 

kehidupan antarmanusia.

Adakah prinsip Stoisisme yang suka diterapkan?

Ada adagium (peribahasa): “10% masalah dalam hidup kita adalah 

masalah itu sendiri, 90% adalah how we react to the problem". Dan jika

90% dari masalah hidup adalah reaksi kita sendiri, maka kitalah yang 

harus belajar bagaimana bereaksi pada masalah itu. Dan Stoisisme 

memberikan cara bagaimana kita bereaksi dengan "inner calm", dan 

ekspresinya tidak perlu dengan murka, marah-marah, serta lebih fokus 

pada mencari solusi.

Kamu juga aktif di media sosial, dengan segala konsekuensinya. Bisa 

cerita pengalaman dalam bermedia sosial, seperti menghadapi hater, 

dan lain-lain?

Saya suka mensimulasi dalam kepala saya sendiri, apa "the worst 

case" kalau saya mengambil pilihan tertentu. Misalnya, bagaimana 

kalau saya menjadi jurnalis, dan saya menulis sesuatu yang 'keras', 

apa sih worst case that could happen? Pada saat masuk media sosial, 

saya juga mensimulasi hal yang pasti terjadi di social media, bullying 

(walaupun sejak di SMP saya sudah biasa menghadapi bullying]. Tapi, 

bullying di social media kan beda banget dari masa SMP.

Kemudian saya membayangkan kalau saya di-bully berdasarkan 

pemikiran, itu bisa sangat berbeda dengan jika d\-bully for no reason, 

seperti saat SMP di mana banyak orang yang d'\-bully. Kalau kita 

memberi sebuah pernyataan yang keras, yang challenge the norm of 

society, mungkin kita akan menerima bullying yang jauh lebih parah 

dari itu. Terus saya membayangkan, apa yang saya lakukan jika ada di

situasi itu.

Saya selalu simulasi the worst case sebelum memilih sesuatu. Untuk 

apa? Untuk menjamin bahwa saya bisa react in the right manner 

(bersikap dengan cara yang benar). Jadi, saya memutuskan untuk 

latihan, dengan membaca bullying yang diterima orang-orang lain. 

Saya mencari akun-akun yang sering d'\-bully orang, seperti Fadli Zon 

atau Mulan Jamila. Saya baca aja bullying orang (kepada mereka), 

(mau tahu) bullying bisa sampai sejauh mana sih. Akun Mulan Jamila 

yang d'\-bully, anaknya sampai disumpahin cacat. Saya baca dan 

renungkan kata-kata itu, supaya saya gak shock kalo (nanti) membaca 

itu semua (terhadap saya).

Pada akhirnya serangan (terhadap saya) itu benar-benar terjadi, dan 

persis seperti yang saya bayangkan. Saya dipanggil "cewek paling tolol

se-lndonesia", "Elo kaum sodomi, perek, gak punya agama ya?” dan 

lain-lain. Ini semua udah saya expect. Jadi saya sudah prepare kondisi

emosional jauh sebelum itu semua kejadian.

Jadi, gimana reaksi Cania saat akhirnya benar-benar ada yang mem-

bully?

sebab  saya selalu in calm state (kondisi tenang) saat membaca 

bullying, saya bisa berasumsi bahwa mungkin orang-orang ini tidak 

sungguh-sungguh bermaksud apa yang mereka katakan. Mungkin ada 

kesempatan untuk dialog. Untuk beberapa kasus saya akan mencoba 

ngobrol (dengan mereka yang mem-bully saya). Saya minta maaf dulu 

kalo ada kesalahpahaman. Dan sebagian dari mereka ternyata 

membalas, dengan bahasa yang jauh lebih halus dari pertama kali 

(menyapa saya).

Akhirnya soal bullying, saya mengambil kesimpulan sebagai berikut. 

Kalau kita tetap menjadi objek, mereka akan semakin ganas. Dalam 

bullying, saat  orang memaki-maki elo, mereka tidak melihat elo 

sebagai orang, namun  sebagai objek aja untuk dimaki-maki. Tapi saat 

elo memberi respon balik, mereka melihat elo sebagai subjek, dan 

mereka akan merubah sikapnya

f “Elo tuh anak muda dengan

segudang kemungkinan 

menjadi lebih besar, kenapa 

elo harus turun ke level ini? 

Menyimpan kemarahan dan 

marah- marah, artinya level 

elo jadi di bawah orang 

(yang elo

Ik marah-marahin) itu.

sebab  mereka akan kaget. Kayak elo lagi ngata-ngatain gelas, tiba-

tiba gelas ini ngomong balik, pasti elo shock dulu awalnya. sebab nya 

saya sesekali membangun dialog itu, agar orang- orang ini ke 

depannya bisa mengurangi cara merespon sesuatu dengan cara 

[bully] seperti ini. Saya berharap dengan berdialog, saya bisa 

memberikan saran, kalau melihat orang yang berbeda (opini), tidak 

merespon dengan cara [bully] ini.

The dialogue works. 8 dari 10 orang yang saya ajak ngobrol berubah 

k J

A

A

w

W

A

1

sikapnya. Bukan hanya sikapnya terhadap saya, namun  terhadap isu 

yang sedang dibahas. Conversation matters. Inilah pentingnya elo 

calm in the first place. saat  elo menerima hujatan, elo tenang dulu. 

sebab  kalo elonya juga murka, tidak akan mungkin terjadi dialog. 

Yang dilakukan orang-orang umumnya langsung blokir, langsung 

delete. Ini denial. Don’t do anything that does not contribute positively. 

Memblokir itu contribute negatively. Opportunity cost dari blokir itu 

besar. Elo membuang kesempatan untuk orang ini menjadi positif di 

media sosial. Dengan blokir/de/ete, elo men-deny (menyangkal) 

doang, orangnya tetap ada. Bagaikan mobil elo tabrakan, mobilnya gak

dibawa ke bengkel, tapi elo tinggal aja di jalan terus elo pulang. Elo 

emang gak liat lagi mobil itu, tapi mobil itu masih ada di jalan, masih 

rusak.

Sekali lagi, saya bisa calm sebab  saya sudah mensimulasi dulu the 

worst case. Untuk memastikan mental kita siap untuk apa pun. 

Masalahnya kalo saya liat teman-teman yang seumuran saya, mereka 

selalu berharap pada best case. Ini positive thinking in the wrong way, 

sebab  elo akan shock banget saat worst case terjadi.

Sejak kapan kebiasaan menyiapkan skenario terburuk di atas mulai 

terbentuk?

Mungkin sebab  hidup saya sekeras itu, hahaha. Saya lahir di keluarga

yang berada. Suatu hari orang tua saya berpisah saat gue masih kelas

1 SD. Kami anak-anak tinggal bersama nyokap, dan nyokap tidak 

punya bekal apa pun untuk bisa mempertahankan gaya hidup yang 

sama. Jadi, secara keuangan drop banget. Keadaannya berbalik 180 

derajat. Yang dilakukan nyokap tidak memanjakan saya, atau 

membuat anak-anaknya denial. Nyokap saya gak kayak gitu. Dia 

malah memberi tahu bahwa kami jatuh miskin, mama cerai, jadi aku 

harus menjaga adik. Nyokap gak pernah memperlunak masalah.

Jadi, saya gak pernah merasakan den/a//menyangkali keadaan. Kalo 

ada masalah ya dihadapi langsung sejak kecil. Nah itu baru soal 

kemiskinan. Selain kemiskinan, ada hal-hal yang muncul dari 

kemiskinan itu. sebab  elo miskin, elo harus menghadapi persaingan 

yang lebih berat. Di sekolah misalnya. saat  semua anak punya 

gadget, saya gak punya apa-apa. Semua orang gampang mencari 

informasi, tapi saya harus ke warnet, dan menghitung saya punya 

uang berapa, jadi saya harus efisien memakai internet.

Saya ranking 1 dari SD sampai SMA sebab  nyokap selalu bilang, 

"Kamu itu udah jelek, miskin pula. Kalo kamu gak pintar, kamu gak 

akan jadi apa-apa.”

Waktu di SMP saya di-bully tanpa alasan jelas, saya dibenci angkatan 

dan senior. Waktu kelas 3 SMP, saya dicegat di depan pagar sekolah. 

Apa yang saya lakukan? Saya harus cari jalan lain. Saya memanjat 

tembok samping dan pulang lewat samping. Saya gak pernah 

menghabiskan terlalu banyak energi dan pikiran pada masalah. Saya 

selalu langsung cari solusinya. Suatu hari saya d'\-bully dengan cara 

tas saya dimasukin sampah saat sedang tidak di kelas. Besoknya, 

saya ke kantin sambil membawa tasnya. Gak harus semua masalah 

elo pikirin. Banyak orang put too much energy on the problem. 

Harusnya elo put energy to the solution. Kalo saya gusar, marah-

marah di- bully, nangis-nangis ke orang tua, itu semua tidak 

memecahkan masalah.

Ada faktor orang tua?

Nyokap kalo ngeliat saya nangis waktu kecil, dia akan marah banget, 

"Ngapain nangis? Nangis itu tidak menyelesaikan masalah.” Ada 

benarnya kalimat itu. Beliau menuntut untuk tidak melakukan sesuatu 

jika itu tidak berkontribusi pada solusi masalah. Itu memang ekstrim, 

tapi poin yang mau saya angkat adalah bagaimana nyokap gue sangat

fokus pada solusi. Hal ini tertanam sangat dalam pikiran saya.

Kembali ke media sosial, apa sih kesalahan anak-anak muda dalam 

menggunakan media sosial menurut Cania?

Mungkin comparing (membanding-bandingkan) kali ya. Saya pernah 

baca artikel mengenai Instagram bisa berpengaruh pada depresi yang 

sedang banyak terjadi di antara anak muda. Mungkin sebab  Instagram

dipenuhi para selebgram yang memamerkan tentang hidup mereka. 

Ada yang pamer traveling, ada yang pamer baju mahal, ada yang 

pamer pacar gantengnya, kulit putihnya, dan lain-lain. Saya liat anak-

anak muda ini take it too seriously. Mereka kekurangan inspirasi untuk 

memikirkan diri mereka sendiri, what kind of person I want to be. What 

kind of myself that I aspire to be. Anak-anak muda ini kekurangan 

inspirasi untuk berdiri di kaki mereka sendiri dan menjadi diri mereka 

sendiri, bukan meng-copy orang lain.

Instagram ini menjadi tempat di mana mereka makin kehabisan 

inspirasi sebab  kerjaan mereka hanya ngeliatin akun-akun ini. Dan 

mereka menghabiskan terlalu banyak energi di sini, kemudian mereka 

marah sebab  kehidupan mereka tidak seindah itu, terus kemarahan itu

dialihkan ke tempat lain—mem- bully akun-akun seleb saat mereka 

melakukan kesalahan.

Anak-anak muda ini perlu spirituality, artikel -artikel , atau filosofi yang 

memberi mereka inspirasi bahwa mereka tidak perlu seperti itu. 

Bagaimana mereka bereaksi terhadap orang- orang yang 

kehidupannya lebih baik dari mereka, bahwa tidak perlu menunggu-

nunggu (seleb) melakukan kesalahan untuk memaki-maki mereka (di 

media sosial). Saya bingung sih, kalian ini dibesarkan di mana sih, gaul

sama siapa sampai jadi kayak gini.

Elo tuh anak muda dengan segudang kemungkinan menjadi lebih 

besar, kenapa elo harus turun ke level ini? Menyimpan kemarahan dan

marah-marah, artinya level elo jadi di bawah orang (yang elo marah-

marahin) itu.

Bisa gak saya simpulkan, kalau kita sudah cukup sibuk untuk 

merenungkan diri sendiri, kita mau jadi apa, kita tidak akan punya 

waktu untuk mengomentari para seleb media sosial?

Balik ke dikotomi kendali ya, harusnya elo fokus pada hal-hal yang bisa

elo kendalikan aja. Saya suka bingung, kenapa sih semua orang jadi 

begitu marah pada orang lain? Gak ada alasan sama sekali. Beberapa 

kali baju mahal saya rusak di laundry. Apakah terus saya memaki-maki

"Dasar laundry laknat!"? Gak ada alasan sama sekali untuk marah...

Saya punya temen di media sosial yang harus banget marah ke semua

orang. Mau saya unfriend gak enak, jadi saya mute, hahaha. Buat apa 

sih segala kata-kata kasar itu? Anak-anak muda butuh lebih banyak 

bacaan, atau filosofi, untuk membantu mereka menggunakan media 

sosial ini dengan lebih tenang, gak perlu dikit-dikit murka. Dan saya 

yakin ini awalnya iri hati/ dengki, yang kemudian berubah menjadi 

kemarahan. Elo akan mencari-cari kesalahan, dari rambut baru (seleb) 

yang gak cocoklah, apa sajalah. Orang sekarang merasa inferior 

sebab  gempuran social media, menyadari kalo mereka “nothing", 

hanya remah rempeyek, gak tau mau ngapain selain marah pada 

semuanya. Makanya be better, be proud of yourself.

(Twitter: (dcittairlanie. Facebook dan YouTube Channel: Geolive ID)

Intisari wawancara dengan Cania:

• Stoisisme adalah aliran filsafat yang lebih mementingkan 

pengendalian emosi, bukan sekadar topik intelek untuk 

diperbincangkan saja.

• 10% masalah dalam hidup adalah masalah itu sendiri,

90%-nya adalah bagaimana kita merespon masalah itu.

• Mensimulasi kemungkinan terburuk dari setiap tindakan 

membantu kita mengantisipasinya, termasuk di media sosial.

• Online bullying bisa dihadapi dengan tenang, bahkan bisa menjadi

kesempatan dialog positif yang membangun.

• Anak muda terlalu banyak membandingkan diri dengan hidup 

orang lain (yang tampak sempurna) di media sosial, ini bisa 

menyebabkan kekecewaan pada hidup sendiri yang berlanjut 

dengan rasa marah.

BAB DELAPAN 

Menghadapi 

Kesusahan 

dan Musibah

206

\san baru berusia 11 tahun. Dia dikenal guru-gurunya sebagai 

anak yang senang menolong, terutama kepada teman- 

temannya yang tertinggal dalam pelajaran. Dia tidak pernah 

menolak saat diminta tolong membantu mengerjakan tugas. Hari 

Minggu, 13 Mei 2018, dia bersama adiknya Nathan yang baru 

berusia 8 tahun berjalan bergandengan menuju Gereja Santa Maria 

Tak Bercela, Surabaya. Di sisi lain gereja, dua orang kakak beradik 

juga memasuki kompleks gereja, Firman, 15 tahun, dan Yusuf, 17 

tahun. Firman dan Yusuf meledakkan diri, Evan dan Nathan pun 

terhempas. Keduanya sempat dibawa ke rumah sakit, namun  nyawa 

mereka tak tertolong. Evan meninggal sebab  luka bakar, 

pendarahan dalam, dan benturan. Adiknya Nathan sempat menjalani

operasi amputasi kaki, namun  darah yang terlalu banyak hilang 

akhirnya membuatnya menyusul kakaknya. Hari Minggu itu, 

Indonesia terhenyak tak percaya akan aksi kekejaman yang harus 

memakan korban orang-orang tak bersalah, termasuk anak-anak 

kecil.

E

Salah satu aplikasi Stoisisme adalah bagaimana harus bersikap dan 

bertindak di dalam kesusahan, musibah, dan bencana. Kamu sudah 

belajar bagaimana segala sesuatu yang eksternal (di luar diri kita) 

dianggap sebagai indifferent, tidak baik dan tidak buruk, sebab  tidak 

bisa menentukan kualitas karakter kita. Tidak ada peristiwa hidup 

yang bisa disebut "baik’’ atau "buruk", yang ada hanyalah interpretasi

kita. William Shakespeare, pujangga Inggris pernah menggemakan 

halyang sama: “There is nothing either good or bad, but thinking 

makes it so." (Tidak ada hal yang baik, atau buruk. Pikiran kitalah 

yang menjadikannya 'baik’ atau ‘buruk’). Jika demikian, bagaimana 

Stoisisme bisa membantu kita menghadapi kesulitan hidup yang 

benar-benar sulit—bukan sekadar peristiwa sepele atau orang-orang 

yang menyebalkan?

sebab  interpretasi dan anggapan kita akan sebuah kejadian ada 

sepenuhnya di tangan kita, maka kita juga sepenuhnya mampu 

mereinterpretasi ulang episode hidup yang sulit.  

mengajarkan untuk melihat kesulitan dan tantangan sebagai ujian. I 

know, ini terdengar basi dan mengingatkan kita akan kata-kata Guru 

BP. Akan namun , ini berhubungan dengan topik interpretasi di atas.

207

Saat tertimpa kesulitan dan bencana, interpretasi kita malah bisa 

makin memperburuk kondisi kita. Misalnya, dengan terus- terusan 

bertanya-tanya, “Salah apa saya sampai tertimpa ini?" Atau, "Saya 

sudah berbuat baik, mengapa Tuhan tidak adil?”, "Saya tidak layak 

menerima ini, harusnya orang lain/si Anu,” dan berbagai interpretasi 

lain yang tidak mengubah situasi. Mungkin kita pun pernah 

melakukan hal ini saat kesulitan menimpa. Namun, pikiran-pikiran ini 

adalah irasional menurut , sebab  kita menghabiskan 

energi untuk hal-hal yang di luar kendali kita. Saat 

musibah/kesusahan telah terjadi, dia sudah berada di luar kendali 

kita, sudah masuk masa lalu Ipast) atau masa sekarang Ipresent). 

Dalam wawancara dengan Cania Citta, dia mengatakan bahwa lebih 

baik waktu dan energi segera dipusatkan kepada solusi (yang masih 

ada di masa depan), daripada mempertanyakan kenapa kita tertimpa

musibah (yang ada di masa lalu/masa sekarang).

 mengajarkan kita untuk menginterpretasi peristiwa 

negatif sebagai ujian, kesempatan untuk menjadi lebih baik. Seperti 

di sekolah, ada ujian matematika, ujian sejarah, ujian biologi, dan 

lain-lain, maka ujian dalam hidup ada banyak macam, menguji salah 

satu karakter kita. Kualitas karakter/v'vrtue apa dari saya yang bisa 

dikembangkan oleh peristiwa ini?

“Constant misfortune brings this one blessing: Those whom it 

always assails, it eventually fortifies." - Seneca

"Kesusahan yang datang terus menerus membawa berkah ini: 

mereka yang selalu tertimpanya, akhirnya akan diperkuat olehnya," 

ujar Seneca. Dalam bahasa modernnya, “What doesn't killyou only 

makes you stronger", apa yang tidak membunuhmu hanya akan 

memperkuat dirimu. Interpretasi pertama yang bisa ditanamkan 

adalah, di balik musibah ini, ada kesempatan kita menjadi seseorang 

yang lebih kuat. Jika kita membaca biografi orang-orang terkenal, 

mereka pun mengalami banyak musibah, kesialan, kesusahan—dan 

semua ini menjadikan mereka lebih kuat dalam mengejar cita-cita 

dan perjuangan mereka.

 208

• Sebelum sukses dengan bisnis animasinya, Walt Disney pernah 

dipecat oleh koran tempatnya bekerja sebab  dianggap “kurang 

imajinasi dan miskin ide".

• Oprah Winfrey dipecat dari pekerjaan pertamanya sebagai 

pembawa berita dengan alasan terlalu emosional dengan 

beritanya.

• Para guru dari Thomas Edison (penemu bola lampu dan banyak 

inovasi lainnya) mengatakan padanya bahwa dia “terlalu bodoh 

untuk belajar apa pun”.

• Lady Gaga diputus oleh perusahaan rekamannya hanya 

sesudah tiga bulan.

• Colonel Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken (KFC), saat 

berusaha menjual resepnya mengalami penolakan dari 1.000 

lebih restoran.

• George Lucas mengalami penolakan dua kali dari dua studio 

besar untuk ide Star Wars.

• Naskah Harry Potter ditolak oleh 12 [dua belas!) penerbit besar 

sampai akhirnya diterbitkan.

• Steve Jobs dipecat dari perusahaan Apple yang didirikannya di 

tahun 1985, dan kemudian kembali lagi untuk meraih sukses 

lebih besar.

Masih banyak lagi kisah kegagalan, penolakan, kesulitan di balik 

orang-orang yang akhirnya mencapai sukses besar. Maka, 

interpretasi paling minimal yang bisa kita bentuk saat mengalami 

kesulitan adalah: ini akan memperkuat saya.

“Unlucky raven....to me all omens are lucky. Whichever things 

happen it is my control to derive advantage from it" - Epictetus 

[Enchiridion)

“Burung gagak katanya adalah pertanda sial...tapi bagi saya semua 

pertanda adalah keuntungan. sebab , apa pun yang terjadi, saya 

memiliki sepenuhnya kendali untuk menarik manfaat darinya,” ujar 

Epictetus. Sebagian dari kamu mungkin berpikir, “Sombong beut!" 

Namun, sebelum menuduhnya sombong dan belagu, ingatlah bahwa 

Epictetus adalah seorang budak yang jalannya pincang. Dia bukan 

anak orang kaya yang mendapat akses mudah mendirikan bisnis dan

dibantu orang tuanya dengan koneksi. Jika ada yang bisa berbicara 

tentang nasib yang kurang beruntung, Epictetuslah orangnya. Akan 

namun , dia tetap mengatakan bahwa apa pun yang terjadi, dia 

209 

memegang kendali untuk bisa mengubahnya menjadi sebuah 

‘keuntungan’. Belakangan, Epictetus mendapat kebebasan sebagai 

orang merdeka, dan kemudian mendirikan sekolah filsafat, dan 

ajarannya akhirnya sampai membentuk sosok kaisar Marcus 

Aurelius.

Apa “keuntungan” di sini? Dikembalikan ke kita. Bagi sebagian orang,

masalah bisa menjadi latihan kesabaran, baik itu sabar secara waktu 

(menunggu), atau sabar menahan emosi. Bagi sebagian orang lain, 

keuntungan di sini justru kesempatan untuk mengganti arah—bisa 

arah karier, arah bisnis, atau bahkan arah hubungan. Ada yang 

menjadikan masalah sebagai kesempatan untuk mempelajari skill 

baru. Seperti banyak kisah di mana seseorang dipecat dari 

pekerjaannya, dan sesudah itu dia justru menciptakan ide bisnis baru

yang tidak hanya membuatnya kaya raya, namun  juga lebih bahagia 

daripada jika dia ngotot bertahan di pekerjaannya.

Tidak ada formula yang sama untuk setiap situasi, sebab  kesulitan, 

musibah, hambatan yang dialami orang berbeda-beda. Namun, yang 

penting adalah bagaimana kita tidak membiarkan pikiran kita terlalu 

lama dihabiskan di hal-halyang di luar kendali kita, dan 

memfokuskannya kembali ke hal-halyang di bawah kendali kita. 

Bagaimana kita mau memaknai musibah dan kesulitan ada 

sepenuhnya di tangan (atau pikiran) kita.

Wenny Angelina Hudojo adalah ibu dari Evan dan Nathan. Dikutip 

dari BBC.com, dalam keadaan berlinang air mata dia menyerahkan 

kembali kedua anak-anaknya ke pangkuan Tuhan, sambil 

mengucapkan doa sekaligus pengampunan bagi pelaku serangan 

yang telah merenggut nyawa anak-anaknya yang masih belia. 

Pengampunan yang diberikan oleh Wenny sepenuhnya ada di bawah

kendalinya, tidak ada yang bisa merenggutnya.

Melawan Pola Pikir Destruktif

Dalam menghadapi kesusahan atau musibah, ada pola pikir merusak

yang harus kita lawan. Di artikel  Option B: Facing Adversity, Building 

Resilience, And Finding Joy, karya Sheryl

“Why is it so hard when

things go against you? If it

is

imposed by nature, accept

gladly. If not, work out what

your own nature requires,

even if it brings you no

glory.” - Marcus Aurelius

(Meditations)

Sandberg bersama Adam Grant, disebutkan mengenai pola pikir 3P 

yang menurut psikolog Martin Seligman bisa menghambat kita untuk 

pulih dari musibah. Pola pikir 3P itu adalah:

• Personalization. Menjadikan musibah sebagai kesalahan pribadi.

• Pervasiveness. Menganggap musibah di satu aspek hidup 

sebagai musibah di seluruh aspek hidup.

• Permanence. Keyakinan bahwa akibat dari sebuah 

musibah/kesulitan akan dirasakan terus-menerus.

Sebagai ilustrasi dari Pola 3P, bayangkan seseorang perempuan 

yang baru patah hati berat, sampai nangis tujuh hari tujuh malam dan

menolak makan. Pola 3P bisa seperti ini:

• Personalization: “Cowok gue selingkuh sebab  SALAH GUE.

Gue yang kurang dandan, gue yang kurang semok, gue yang 

kurang merdu suaranya. Ini semua memang salah gue.

Cowok gue pasti akan setia sama gue kalo gue secantik Gal 

Gadot."

• Pervasiveness: “Hidup gue emang begini. Apes di percintaan, 

jadi mahasiswi juga gak becus, jadi anak gak bener. Pokoknya 

SEMUA hidup gue adalah kegagalan."

• Permanence: “Gue akan patah hati SEUMUR HIDUP, yakin 

gue/"

Perhatikan bahwa Pola 3P ini bukanlah fakta, namun  murni konstruksi 

di dalam kepala kita sendiri. Mari kita mulai dengan Personalization. 

Kenyataannya, tidak semua masalah hidup disebabkan hanya oleh 

kita sendiri. Memang ada yang sepenuhnya salah kita sendiri, 

misalnya mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk dan 

kemudian menabrak orang lain, namun  banyak juga yang sebenarnya 

di luar atau hanya sebagian di bawah kendali kita (jumpa lagi dengan 

dikotomi/trikotomi kendali).

Di Pervasiveness, lagi-lagi kita memiliki perspektif yang keliru (baca: 

lebay). Musibah/kegagalan di satu aspek hidup tidak otomatis berarti 

kegagalan di aspek hidup yang lain. Gagal di studi bukan berarti kita 

gagal menjadi anak yang baik. Gagal di percintaan bukan berarti kita 

juga gagal sebagai profesional, dan seterusnya.

Yang terakhir, Permanence. Rasa sedih, galau, kecewa yang dialami 

sekarang tidak otomatis masih akan dirasakan minggu depan, bulan 

depan, atau tahun depan. Memang ada kasus- kasus 

musibah/kesulitan yang menimbulkan luka psikologis yang lama 

efeknya, namun  sebagian besar akan terasa lebih ringan seiring 

berjalannya waktu.

Di saat Stoisisme sekadar memberi tahu bahwa kita mampu dan 

harus bisa mengendalikan persepsi kita mengenai musibah, konsep 

3P di atas membantu kita mengidentifikasi pola pikir apa yang harus 

dihindari. Minimal dengan mengenali adanya Pola 3P ini, kita bisa 

lebih cepat menyadari saat mulai terjebak dalam pola menyalahkan 

diri sendiri, atau membiarkan masalah merembet ke mana-mana, 

atau menganggap perasaan duka ini akan selamanya.

Menerima Penderitaan

” Why is it so hard when things go against you? If it is imposed 

by nature, accept gladly. If not, work out what your own nature 

requires, even if it brings you no glory." - Marcus Aurelius 

(Meditations)

Kita tadi sudah diingatkan oleh  bahwa apa yang kita 

sebut sebagai “bencana”, "musibah”, “kesulitan”, dan lainnya adalah 

konstruksi mental kita sendiri. Stoisisme melihat peristiwa, apa pun 

itu, sebagai sebuah fakta objektif. Makna dari peristiwa itu datang dari

kita sendiri, dan sebab nya kita punya pilihan hendak memaknainya 

sebagai hal buruk, atau sebagai hal yang baik (misalnya kesempatan 

memperkuat diri atau melatih sifat tertentu).

Ada satu lagi nasihat yang datang dari Marcus Aurelius, yaitu untuk 

’’menerimanya dengan senang hati”. Ini juga sesuai dengan 

pembahasan sebelumnya mengenai mencintai nasib famorfati), dan 

dengan sepenuh hati ’’mengharapkan” hal yang telah terjadi sebagai 

yang ditunggu-tunggu (walaupun terasa absurd). “Mengapa begitu 

sulit saat hidup dirasa melawan dirimu? Jika memang kejadian ini 

datang dari Alam, maka terimalah dengan senang hati. Jika tidak, 

maka cari tahulah apa yang harus kamu lakukan (yang selaras 

dengan Alam), dan kerjakan itu, bahkan jika hal itu tidak memberimu 

kemuliaan," ujar Marcus.

Masih ingat soal keteraturan dan keterkaitan semua yang ada di 

Alam [Nature] ini? Hal ini pun mencakup peristiwa musibah dan 

kedukaan. Jika memang hal itu adalah bagian dari Alam, maka kita 

diajak menerimanya dengan senang hati [Love of Fate). Semua hal 

yang memang harus dijalani makhluk hidup, seperti kematian dan 

sakit penyakit, atau segala tindakan di luar kendali kita, seperti sikap 

dan perasaan orang lain, serta segala bentuk bencana alam yang 

tidak bisa dikendalikan manusia.

Memang ada masalah yang timbul sebab  kesalahan kita sendiri. 

Misalnya, kita tidak menjalankan tanggung jawab kita sebagai 

pasangan, anak, ataupun orang tua sehingga kemudian menjadi 

masalah bagi kita. Atau, kita mengucapkan atau berbuat sesuatu 

yang merugikan kepada orang lain, makhluk lain, atau lingkungan 

yang akhirnya membawa kesusahan. Jika semua masalah ini 

ditimbulkan oleh kita sendiri, sebab  kita telah berbuat tidak selaras 

dengan Alam [not in accordance with Nature), maka kembali ke kita. 

Seperti dikatakan Marcus, kita yang bertugas mencari tahu 

bagaimana memperbaikinya, kemudian melakukannya sungguh-

sungguh.

Menang dengan Bertahan

Kaum Stoa senang menggunakan analogi kontes olahraga atau 

pertandingan untuk menggambarkan kesusahan hidup. Yang 

menarik, kita tidak diharapkan untuk menang dengan cara 

“mengalahkan” cobaan, layaknya atlit gulat atau taekwondo 

melumpuhkan lawan. Di dalam , kemenangan kita atas 

cobaan dan kesusahan hidup diperoleh dengan bertahan [endure] 

dan membuat lawan kita "lelah”.

"Dalam pertandingan suci banyak yang meraih kemenangan 

dengan cara membuat lawan mereka lelah. Dengan sikap 

bertahan yang keras kepala [stubborn endurance). Bayangkan 

seorang Stoa semacam (atlit) yang seperti itu, yang melalui 

latihan panjang dan tekun akhirnya memiliki kekuatan untuk 

bertahan menerima serangan dan akhirnya melelahkan lawan." 

Seneca /Firmness)

"Jadilah seperti tebing di pinggir laut yang terus dihujam ombak,

namun  tetap tegar dan menjinakkan murka air di sekitarnya." 

Marcus Aurelius /Meditations).

Analogi-analogi di atas mengingatkan saya pada kisah-kisah pemain 

bulu tangkis, petinju atau petarung yang memiliki strategi bermain 

panjang. Bukannya berusaha secepatnya menaklukkan atau melukai 

lawan, mereka memilih bermain 'partai panjang', memanfaatkan 

kesabaran dan stamina yang mereka miliki. Sampai akhirnya lawan 

mereka kelelahan, dan kemudian mereka baru bertindak merebut 

kemenangan.

Saat cobaan, kesusahaan, bencana terasa begitu berat melanda, 

yang diminta dari kita bukanlah teori, strategi, tips dan trik yang 

canggih-canggih.  hanya meminta kita untuk cukup 

'bertahan', tetap teguh, bagai tebing karang yang tidak bisa 

dikalahkan badai. Sampai akhirnya cobaan ini  yang 'lelah' 

sendiri. Hang in there, mungkin bukan anjuran yang buruk.

Latihan Menderita

Premeditatio malorum melatih kita untuk memikirkan skenario- 

skenario buruk yang mungkin terjadi di hari ini. Selain simulasi 

mental, Stoisisme juga menganjurkan "latihan menderita" dalam 

hidup kita, secara rutin. "Latihan apes” ini benar-benar dalam arti 

literal, artinya kita memaksa diri kita menderita secara fisik. Bukan 

dengan instrumen penyiksaan (ingat penjahat di film The Da Vinci 

Code yang senang mencambuk diri?), namun  dengan sengaja hidup 

jauh di bawah standar kenyamanan hidup kita sehari-hari secara 

berkala.

"Luangkan beberapa hari dalam setahun di mana kamu harus 

memuaskan dirimu dengan makanan yang paling sederhana 

dan murah, mengenakan baju yang paling jelek dan kasar, 

kemudian berkata pada dirimu sendiri, 'Inikah kondisi yang saya

takuti?’ Justru saat  keadaan kita sedang baik maka jiwa kita 

harus diperkuat untuk

Jika kamu ingin

seseorang tak goyah

saat krisis menghantam,

maka latihlah ia

sebelum krisis itu

datang.”

menghadapi

kesulitan yang

lebih besar. Justru

saat  Dewi

Keberuntungan

sedang ramah

maka kita harus

menyiapkan diri

terhadap murkanya.

Di masa perdamaian para tentara latihan melakukan manuver, 

menggali tanah padahal tidak ada musuh, dan melelahkan diri 

Seneca 

(Letters)

dengan kerja keras yang sebenarnya tidak perlu, agar dia 

akhirnya siap saat  harus bekerja keras betulan.

Jika kamu ingin seseorang tak goyah saat krisis menghantam, 

maka latihlah ia sebelum krisis itu datang.” - Seneca [Letters)

Seneca menganjurkan kita berlatih apes, atau “latihan kemiskinan” 

[practice poverty) secara rutin, misalnya makan makanan yang 

sangat sederhana dan murah—bahkan Seneca menyebut “roti yang 

sudah keras” sebagai simbol makanan yang sangat sederhana (yak, 

kamu yang anak kos juga tidak punya alasan untuk tidak melakukan 

ritual ini!)—dan memakai baju yang lusuh atau usang. Di masa kini, 

latihan ini tidak terbatas pada makan makanan sederhana atau 

berbaju jelek saja. Pada intinya, apakah kita bisa melepaskan 

kenyamanan yang biasa kita nikmati selama beberapa hari? Bagi 

yang bisa naik mobil pribadi ke sana sini, cobalah untuk merasakan 

naik kendaraan umum. Yang biasa naik taksi, cobalah untuk 

merasakan naik ojek. Yang biasa tidur di kamar AC, cobalah untuk 

tidur dengan udara alami. Yang biasa tidur di kasur spring bed, 

cobalah tidur di kasur tipis, atau bahkan di lantai beralas tikar. Yang 

biasa memakai smartphone, cobalah untuk...puasa internet? [Hayo, 

berat kan?) Masih banyak lagi kesempatan untuk melatih kesusahan 

dan kemiskinan—hidup jauh di bawah standar kenyamanan kita—jika

kita mau.

Saat melakukan ini semua, coba renungkan, apakah hidup melarat ini

sungguh-sungguh menakutkan? Apakah kondisi berkekurangan ini 

adalah sebuah bencana besar dalam hidup kita ataukah saat dijalani 

ternyata tidak semenakutkan yang kita pikir? sebab  ternyata, kita 

tetap bisa hidup dengan makanan sederhana. Atau, ternyata tidak 

ada yang peduli dengan baju bagus kita. Atau, ternyata kita masih 

bisa tidur tanpa segala fasilitas berlebih.

"Lakukan ini semua selama tiga atau empat hari, atau lebih lama, 

sehingga ini bisa sungguh menjadi ujian bagimu dan bukan hanya 

hobi. Percayalah, kamu akan bersukacita dengan makanan murah, 

dan kamu akan mengerti bahwa damai pikiran seseorang tidak 

bergantung pada Dewi Keberuntungan (kemakmuran), sebab  

bahkan saat murka pun ia memenuhi kebutuhan kita dengan cukup", 

lanjut Seneca.

Menurut William Irvine di dalam artikel nya A Guide To Good Life, ada 

beberapa manfaat dari "latihan kesusahan" ini. Yang pertama adalah 

melatih diri kita menjadi lebih tangguh. Bagaikan tentara yang berlatih

susah payah di masa damai, sehingga saat  pertempuran yang 

sebenarnya terjadi, mereka sudah siap menghadapinya. Ingat bahwa 

kekayaan adalah hal di luar kendali kita. Siapkah kita jika itu semua 

mendadak direnggut dari kita (saat  Dewi Keberuntungan marah 

kepada kita, misalnya dengan mengirimkan perampok, kebangkrutan,

bencana alam)? Dengan berlatih kemiskinan secara rutin, kita akan 

menjadi lebih tangguh menghadapi situasi apa pun.

"Kita akan melatih jiwa dan raga saat  kita membiasakan diri 

kita dengan dingin, panas, haus, lapar, kekurangan makanan, 

dipan yang keras, menahan diri dari kenikmatan, dan menjalani 

kesakitan.” - Musonius Rufus [Letters and Sayings)

Manfaat kedua dari practice poverty, menurut Irvine, adalah untuk 

membentuk rasa percaya diri, sehingga kita bisa menanggung 

musibah dengan tabah dan kuat. Seperti dikatakan Seneca, saat kita 

menyadari bahwa ternyata kita cukup kuat untuk menanggung 

latihan-latihan ini, perlahan kita menjadi lebih pede. Seandainya saat 

ini kita dianugerahi kekayaan dan rejeki lain, kita bisa berkata, "Jika 

harus jatuh miskin pun, saya tidak akan hancur."

Manfaat ketiga adalah melawan fenomena yang disebut ilmu 

psikologi sebagai hedonic adaptation, atau "adaptasi kenikmatan". 

Para psikolog menemukan bahwa apa pun yang membuat kita 

senang (uang, ketenaran, seks, harta benda, dan lain-lain) pada 

akhirnya akan kehilangan kenikmatannya seiring berjalannya waktu. 

Sebuah penelitian terhadap para pemenang lotere di Amerika Serikat

menemukan bahwa 18 bulan sesudah memenangkan lotere, para 

pemenang lotere tidak lebih bahagia daripada mereka yang tidak 

menang. Penjelasannya adalah, pada akhirnya kita akan beradaptasi 

dengan hal- hal baru yang tadinya membuat kita bahagia. Rasanya 

tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contoh dari hidup kita sendiri. 

Saat memenangkan kejuaraan, lulus dengan nilai tertinggi, mendapat

kenaikan jabatan (dan kenaikan gaji), membeli tas atau gadget baru, 

atau bahkan mendapat pacar/suami/istri baru, pada awalnya kita 

senang sekali dan grafik kebahagiaan kita mengalami peningkatan. 

Namun, seiring berjalannya waktu, maka kenikmatan yang kita 

rasakan perlahan turun, dan kita kembali ke kebahagiaan di awal 

Ibase level). Hal ini sebab  kita mulai terbiasa dengan kenikmatan 

baru kita. Gaji baru kita, jabatan baru kita, gadget baru kita, sampai 

pacar/suami/ istri baru kita perlahan menjadi norm baru, tidak lagi 

menjadi spesial.

Menurut Irvine, practice poverty bisa membantu kita melawan 

adaptasi kenikmatan ini . Dengan rutin “mengguncang” base 

level diri sendiri, maka kita kembali menghargai apa yang telah kita 

miliki. Jika kita terbiasa makan enak, maka saat menghabiskan waktu

untuk makan makanan yang tidak enak dan sangat sederhana, kita 

jadi kembali mengapresiasi makanan enak yang kita konsumsi 

selama ini. Saat terbiasa naik kendaraan pribadi, dan kemudian 

merasakan berdesakan bersama orang lain di kendaraan umum, kita 

akan kembali "menemukan” nikmatnya kendaraan pribadi. Saat 

memakai busana murah berbahan kasar, kita akan kembali 

menghargai pakaian bagus yang kita miliki. Saat kita menemukan 

kembali nikmatnya segala sesuatu yang telah kita miliki, maka kita 

pun bisa merasa lebih bahagia.

Di antara begitu banyak kenikmatan dan fasilitas dari kehidupan 

modern, makanan (food) mungkin adalah ujian terbaik mengenai 

pengendalian diri (self control). Makanan relatif tersedia di mana-

mana, dengan berbagai kualitas dan harga. Mengenai makanan, 

salah satu filsuf Stoa bernama Musonius Rufus memiliki prinsip yang 

umum kita dengar sekarang sebagai "makan untuk hidup, bukan 

hidup untuk makan”. Bagi Musonius, makanan ada hanya untuk 

sekadar mempertahankan hidup dan bukan sebagai sumber 

kenikmatan. "Bahwa Tuhan menyediakan makanan dan minuman 

hanya untuk mempertahankan hidup dan bukan sumber kenikmatan, 

dapat dibuktikan dari ini: saat  makanan menjalankan fungsinya 

(dalam pencernaan dan penyerapan), ia tidak memberikan 

kenikmatan apa pun bagi manusia.” [The Daily Stoic]. Walaupun kita 

menikmati rasa makanan di lidah, manfaat sesungguhnya dari 

makanan justru baru kita terima di dalam perut dan sistem 

pencernaan. Konsisten dengan ajarannya, Musonius Rufus dikenal 

hanya makan tumbuh- tumbuhan dan hasil dari susu, dan dia tidak 

makan daging.

Musonius Rufus tampaknya tidak akan menjadi filsuf yang populer di 

kalangan foodies dan food blogger\ Walaupun tidak semua dari kita 

bisa mengikuti anjuran Musonius Rufus sepenuhnya (saya kebetulan 

penganut "makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”, makanya 

saya paling tidak rewel soal makanan), namun  ada pesan lebih dalam 

yang bisa dihayati semua orang, pencinta kuliner dan food blogger 

sekalipun: jangan sampai kita diperbudak oleh makanan, baik dari 

segi kualitas (selalu hanya ingin makan yang enak dan mewah), 

maupun segi kuantitas (makan berlebihan, melebihi yang diperlukan 

oleh tubuh untuk tetap sehat). Di bab akhir mengenai latihan prinsip 

Stoisisme yang bisa kita lakukan, kita akan melihat contoh praktik 

melatih diri mengurangi ketergantungan pada makanan yang 

sekaligus memiliki manfaat kesehatan.

Jika kita telah mampu melakukan practice poverty secara rutin, 

Seneca mengingatkan kita untuk tidak merasa "bangga", dengan 

mengingat status hidup kita. Bagaimanapun, mereka yang mampu 

melakukan ritual ini adalah mereka yang tidak harus menghadapi 

kelaparan dan kemiskinan setiap hari.

"Tidak ada alasan bagimu untuk merasa hebat (melakukan hal 

ini semua); sebab  kamu hanya menjalani apa yang dijalankan 

ribuan budak dan orang miskin setiap hari.

Namun, kamu boleh sedikit memuji dirimu untuk ini: bahwa 

kamu melakukannya bukan sebab  terpaksa oleh keadaan, dan 

bahwa kamu mampu melakukan ini secara permanen semudah 

kamu melakukannya secara kadang- kadang...Biarlah kita 

menjadi akrab dengan kemiskinan, sehingga Nasib tidak bisa 

menyergap kita tiba-tiba. Kita akan bisa lebih menikmati rejeki 

kita, saat kita menyadari bahwa kemiskinan bukanlah beban." 

(Letters)

Menurut saya, inilah manfaat terakhir dari "Latihan Kemiskinan". 

Untuk mengajak kita (yang lebih beruntung) sesekali keluar dari 

kenyamanan yang telah kita anggap "normal”, dan menyadari ada 

jutaan orang lainnya yang tidak seberuntung kita dan bisa merasakan

apa yang mereka lalui setiap hari.

Halangan adalah Jalan

Jika kita kembali pada fundamental dikotomi kendali, kita akan 

menyadari bahwa hampir semua jalan hidup ini ada di luar kendali 

kita. Sebagian memang bisa dipengaruhi oleh pilihan- pilihan kita 

(pemilihan teman, pemilihan pasangan hidup, pemilihan pekerjaan, 

pemilihan tempat tinggal, pemilihan sekolah, dan lain-lain). Namun, 

sebenar-benarnya, hasil atau outcome dari pilihan kita banyak sekali 

bergantung pada faktor eksternal. Hanya pikiran, interpretasi, 

strategi, dan keputusan kitalah yang masih benar-benar di bawah 

kendali kita.

Keuletan dan ketangguhan

Inilah uatan pikiran kita

sejati bukan datang dari Otot

atau Uang yang kita miliki,

namun  dari pikiran (mind) kita.

yang bisa mengubah halangan

menjadi jalan itu sendiri.

Marcus Aurelius menyebutkan bahwa “halangan

adalah jalan” [the obstacle is the way). Sebuah

permainan kata yang menarik. Secara definisi,

“halangan” bukanlah jalan dan justru mengganggu

sang jalan bukan? Inilah penjelasan beliau:

“sebab  kita bisa menerima dan

menyesuaikan diri. Pikiran kita bisa beradaptasi dan bisa 

mengubah halangan agar justru mendukung tujuan. Halangan 

terhadap tindakan kita justru memajukan tindakan kita. Apa 

yang menghalangi jalan kita menjadi jalan itu sendiri.” 

[Meditations]

Keuletan dan ketangguhan sejati bukan datang dari otot atau uang 

yang kita miliki, namun  dari pikiran [mind] kita. Inilah kekuatan pikiran 

kita yang bisa mengubah halangan menjadi jalan itu sendiri. The 

obstacle becomes the way. Kisah Steve Jobs mengingatkan saya 

• w

• w

• w

•1

pada hal ini. Steve Jobs mendirikan Apple di tahun 1976, dan 9 tahun

kemudian dia dipecat dari perusahaan yang didirikannya, padahal 

komputer yang diluncurkannya cukup populer. Bagi banyak orang, 

dipecat dari tempat bekerja

(apalagi dari perusahaan yang dia dirikan sendiri!) adalah sebuah 

bencana besar. Akan namun , peristiwa yang bagi kebanyakan orang 

adalah “halangan” ini ternyata menjadi jalan baru bagi Steve.

"Dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku”, 

ujar Steve Jobs dalam pidato kelulusan di Stanford University 

bertahun-tahun kemudian. "Beratnya beban sukses, digantikan 

dengan rasa ringan menjadi pemula lagi,” tambahnya. Setelah 

dipecat, Steve mendirikan perusahaan komputer baru NeXT, dan 

kemudian Pixar (yang kita kenal dengan film-film produksinya seperti 

Toy Story, Up, Cars, dan The lncredibl.es]. Kira-kira satu dekade 

sesudah dipecat, Steve Jobs kembali ke Apple, dan kemudian 

menghasilkan inovasi- inovasi ikonik yang telah dikenal jutaan 

manusia, seperti iPod, iTunes, iPhone, dan iPad.

Mungkin pembaca saat ini sedang merasakan kesulitan dalam hidup, 

atau sedang merasa jalannya terhalang. Bisa jadi, apa yang 

dirasakan sebagai halangan justru adalah jalan yang baru. Untuk 

menemukan ini, kita harus kembali ke pikiran kita sendiri.

"Kamu sungguh sial jika kamu tidak pernah tertimpa musibah. 

sebab  artinya kamu menjalani hidup tanpa pernah menghadapi

'lawan'. Tidak ada yang tahu kemampuanmu sesungguhnya—

bahkan dirimu sendiri tidak." - Senece (On Providence]

Intisari Bab 8:

• Dalam , musibah' dan 'kesusahan’ adalah 

opini/va/ue judgement yang ditambahkan oleh kita sendiri.

• Walaupun musibah, bencana, dan kesusahan yang menimpa 

sering kali berada di luar kendali kita, respon kita atasnya 

sepenuhnya ada di tangan kita sendiri.

• Filsuf Stoa melihat semua kesusahan sebagai kesempatan 

melatih wrtue/arete/kebajikan kita. Saat kita tertimpa kesusahan, 

kita bisa memikirkan virtue yang bisa dilatih oleh keadaan ini.

• Saat tertimpa musibah dan kesusahan, waspadai pola pikir 3P 

yang merusak (Personal, Pervasive, Permanence).

• Kita bisa mengalahkan cobaan dan penderitaan dengan 

bertahan menanggungnya (endure), bagaikan atlet di 

pertandingan yang dengan keras kepala membuat lelah 

lawannya.

• Latihan menderita (poverty practice) selain membantu kita 

menghadapi kesusahan yang sebenarnya, juga bisa membuat 

kita kembali mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

• Halangan bisa menjadi jalan, dan ini tergantung kepada pikiran 

kita.

BAB SEMBILAN

Menjadi

Orang 

Tua

226

stri saya pernah membicarakan bagaimana kami bisa memastikan 

anak kami yang masih kecil (saat artikel  ini ditulis) bisa tumbuh 

menjadi anak yang tidak durhaka kepada orang tua./

Keprihatinannya muncul mendengar kisah-kisah orang tua yang 

dicampakkan oleh anak-anak mereka saat sudah dewasa, bahkan 

saat  orang tua ini sudah berusia lanjut, sakit-sakitan, dan sangat 

membutuhkan perhatian. Saya sendiri tidak punya jawaban yang 

pasti. Sekadar menyediakan kasih sayang, perhatian dan materi yang

cukup tidak menjamin kita membesarkan anak yang peduli pada 

orangtuanya kelak. Saya jadi terpikir, adakah yang bisa ditarik dari 

 untuk topik membesarkan anak?

Berdasarkan Survei Khawatir Nasional di Bab I, salah satu sumber 

kekhawatiran adalah menjadi orang tua. Sesudah saya menjadi orang

tua juga barulah saya bisa mengerti mengapa peran ini benar-benar 

bisa menjadi sumber kekhawatiran.

saat  saya bermain dengan anak saya (saat artikel  ini ditulis dia baru 

berusia satu setengah tahun), ribuan pikiran tentang masa depannya 

melanda: apakah dia akan tumbuh menjadi remaja yang baik atau 

menyusahkan orang tua? Apakah dia akan tumbuh cerdas dan 

berprestasi? Apakah dia akan bergabung dengan teman-teman yang 

memiliki pengaruh buruk? Apakah dia akan punya pacar kece seperti 

Victoria Secret Angels? Dan ribuan pikiran lain, dari yang penting 

sampai gak penting banget.

Saya bukanlah seorang pakar pendidikan atau psikolog anak 

(sebab nya di akhir bab kita akan ngobrol dengan seorang psikolog 

anak), dan sebagai orang tua pun saya tidak bisa dibilang sudah 

memiliki banyak pengalaman. Namun, saat menulis artikel  ini, saya 

tergelitik untuk mengetahui apakah  bisa diterapkan di 

dalam parenting juga. Saya tidak menemukan cukup banyak referensi

mengenai Stoisisme dan parenting, jadi berikut ini lebih banyak dari 

interpretasi saya sendiri.

Tentunya, saya berharap bagian ini bisa menjadi pemicu bagi para 

pakar pendidikan dan psikolog anak yang membaca artikel  ini untuk 

meneliti apakah prinsip-prinsip dalam  sungguh bisa 

membantu kita menjadi orang tua yang lebih baik.

227

Biasakan Menggunakan Nalar

Hidup haruslah selaras dengan Alam /Nature). Jadi, konsekuensi 

pertama dari prinsip ini adalah belajar menggunakan nalar. Bagi saya,

artinya sejak kecil anak saya bisa dibiasakan melakukan pilihan 

berdasarkan pertimbangannya sendiri, tentunya dalam kapasitas yang

sesuai dengan tahap perkembangannya. Di bagian wawancara di 

akhir bab kita akan mendapatkan beberapa tips dari psikolog 

pendidikan mengenai penerapan hal ini.

Konsekuensi anak bisa menggunakan nalar berarti kita harus mampu 

memberdayakan mereka untuk belajar berpikir, mengumpulkan 

informasi dan data, dan menarik kesimpulan sendiri. Anak kecil sering

bertanya, "Kenapa?", saat kita meminta mereka melakukan sesuatu. 

Jika mereka dibentak, "SUDAH NURUT SAJA PADA ORANG TUA 

GAK USAH NANYA- NANYA!”, rasanya tidak memberi mereka 

motivasi untuk berpikir sendiri.

Memberi penjelasan tentunya lebih membutuhkan waktu dan tenaga 

bagi orang tua, namun  seharusnya memberi contoh yang lebih baik 

daripada sekadar membentak mereka. Anak dibiasakan mengerti ada 

alasan di balik setiap permintaan, dan perlahan mulai belajar 

mencerna alasan dan pertimbangan di balik sesuatu. Sebaliknya, 

anak juga dibiasakan untuk memiliki pertimbangan dan alasan yang 

baik sebelum meminta sesuatu kepada kita.

Menerapkan Dikotomi Kendali kepada Anak?

Apakah kita sudah mulai melatih anak untuk menerima ada hal-hal 

yang memang di luar kendalinya? Misalkan, rencana bersenang-

senang keluar rumah harus dibatalkan sebab  hujan deras. Apakah 

kita akan marah-marah atau mengomeli cuaca di depan sang anak 

("SELALU SAJA KALO PAPA MAU PUNYA ACARA HARUS KENA 

HUJAN! DASAR CUACA KAMPRET!"/? Atau kita dengan tenang 

menerimanya dan segera mencari rencana lain yang di bawah kendali

kita ("Wah hujan, ya bagaimana. Yuk, cari ide aktivitas lain!")?

 228

Dalam artikel di The Independent berjudul "Parents of Successful 

Kids Have These 11 Things in Common" disebutkan bahwa salah 

satu kebiasaan orang tua dari anak-anak sukses adalah menghargai 

usaha lebih dari “menghindari kegagalan". Psikolog Stanford 

University Carol Dweck menjelaskan, bahwa anak-anak (dan juga 

orang dewasa) memiliki dua konsep yang berbeda mengenai sukses.

Mentalitas pertama, "Fixed mindset" (mentalitas “sudah tetap"), 

mengasumsikan bahwa karakter