Tampilkan postingan dengan label Filosofi 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi 2. Tampilkan semua postingan

Filosofi 2

 


nan yang positif atau terbaik saja daripada memikirkan 

hal negatif yang mungkin terjadi. Ajakan untuk "berpikir yang positif saja" seperti ini 

sudah sangat populer.

Saya ingat di pertengahan tahun 2000-an pernah membaca artikel  populer 

The Secret yang bahkan mengklaim bahwa sekadar berpikir positif dan 

memikirkan hal yang kita dambakan saja mampu membawa perubahan 

yang kita mau! (Saya sudah berpikir keras supaya Gal Gadot menghubungi 

saya, tapi tidak kejadian tuh....)

Perkembangan terakhir ilmu psikologi justru menemukan adanya potensi 

masalah dengan anjuran berpikir positif. Artikel "The Problem With Positive 

Thinking" menyebutkan bahwa positive thinking justru sering menghambat 

kita. Beberapa eksperimen menunjukkan, mereka yang menerapkan positive

thinking dalam berusaha mencapai tujuannya sering kali memperoleh hasil 

yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menerapkan 

positive thinking. Positive Thinking "menipu" pikiran kita, beranggapan 

seolah-olah kita "sudah" mencapai apa yang kita inginkan, sehingga 

melemahkan keuletan kita dalam berusaha mencapainya. Namun, 

sebaliknya, sekadar menyuruh orang berpikir realistis saja juga tidak 

memberikan hasil yang lebih baik.

Penulis artikel ini  mengusulkan "mental contrasting", yaitu 

menggabungkan positive thinking (membayangkan hasil yang diharapkan 

telah tercapai), dengan memikirkan hambatan- hambatan apa saja yang 

akan ditemui. Penelitian menunjukkan peserta eksperimen yang melakukan 

"mental contrasting" ini memperoleh pencapaian yang lebih baik 

dibandingkan dengan mereka yang hanya membayangkan hal-hal positif 

saja, atau yang hanya membayangkan hal negatif saja.

Artikel "The Tyranny of Positive Thinking Can Threaten Your Health and 

Happiness" (Tirani Berpikir Positif Dapat Mengancam Kesehatan dan 

Kebahagiaan Anda) di Newsweek menyatakan bahwa positive thinking 

justru bisa menyebabkan sebagian orang gagal dan merasa depresi, sebab  

secara implisit "menyalahkan" diri sendiri jika mereka tidak merasa bahagia. 

Misalnya, kita sedang merasa terpuruk sebab  tidak lulus ujian. Kesedihan 

ini masih ditambah lagi kita menjadi merasa bersalah sebab  merasakan 

kesedihan itu sendiri ("Saya harusnya bisa positive thinking, kenapa saya 

masih merasa sedih?"]. Ini bagaikan kena tinju dua kali, dan tinju yang 

kedua— merasa bersalah sebab  tidak bisa bahagia—justru yang lebih 

merusak dibandingkan kegagalan saat ujian itu sendiri.

 20

Julie Norem, Profesor Psikologi dari Wellesley College yang menjadi narasumber 

artikel ini , meneliti mengapa beberapa orang justru memberi respon lebih 

baik terhadap peristiwa negatif, sebuah sikap yang disebutnya sebagai "pesimisme

defensif". Penelitiannya menunjukkan bahwa dengan memikirkan segala sesuatu 

yang bisa berjalan tidak sesuai rencana, orang-orang ini justru mengurangi 

kekhawatiran mereka dan sering kali sanggup untuk mengantisipasi hambatan-

hambatan ini .

Dari artikel yang sama, penulis Barbara Ehrenreich menyalahkan krisis finansial 

2008 kepada para investor yang menolak untuk memikirkan kemungkinan yang 

buruk (berinvestasi hanya membayangkan untung besar saja, tidak mau 

memikirkan bahwa investasi bisa juga merugi). Nanti kita akan melihat bagaimana 

temuan di atas sudah dipikirkan oleh para filsuf Stoa sejak 2.000 tahun yang 

lampau.

Bagaimana dengan agama? Tidakkah agama (seharusnya) menawarkan cara 

memperoleh kedamaian di dunia (selain di surga)?

Walaupun di atas kertas memang demikian, namun  dari pengamatan pribadi saya 

banyak orang masih menjadikan agama hanya sebagai "tiket ke surga", di mana 

ritual keagamaan menjadi sekadar daftar yang harus dicentang untuk memenuhi 

syarat masuk surga, namun  para penganutnya tidak memahami dan menerapkan 

substansinya sebagai pedoman kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, 

sering kali (interpretasi) agama dijadikan alasan untuk bertengkar dan menyakiti 

orang lain.

Selain itu, identitas agama sering dijadikan dasar untuk “membedakan", bukan 

untuk mencari kesamaan yang mempertemukan [common ground]. Boro-boro 

mencari kesamaan antar-agama dan keyakinan yang berbeda, bahkan di dalam 

agama dan keyakinan yang sama saja kita bisa mencari-cari perbedaan 

interpretasi, mazhab, dan ritual untuk dipertengkarkan.

Ini sebenarnya sangat disayangkan, sebab  berbagai agama menawarkan mutiara 

kehidupan yang kaya dan saling melengkapi, namun  label identitas agama yang 

berbeda-beda


 22

justru bisa mendirikan tembok-tembok yang memisahkan, misalnya, '‘sebab  gue 

Kristen gue gak mau membaca kebijaksanaan yang ada di agama Islam," atau, 

“sebab  gue Muslim gue gak mau membaca kebijaksanaan yang ada di agama 

Hindu," dan seterusnya.

Adakah ide alternatif yang bisa membantu kita merasa lebih tenang dan damai, 

tanpa terbentur label dan politik identitas?


Kira-kira 300 tahun sebelum Masehi (atau sekitar 2.300 tahun yang lalu), seorang 

pedagang kaya dari Siprus (sebuah pulau di Selatan Turki) bernama Zeno 

melakukan perjalanan dari Phoenicia ke Peiraeus dengan kapal laut melintasi 

Laut Mediterania. Zeno membawa barang dagangan khas daerah Phoenicia, yaitu

semacam pewarna tekstil berwarna ungu yang sangat mahal, yang sering dipakai 

untuk mewarnai jubah raja-raja. Pewarna ini dibuat dari ekstrak siput laut, dan 

proses pembuatannya sangat melelahkan, sebab  ribuan siput laut ini harus 

dibuka dengan tangan hanya untuk mendapatkan beberapa gram ekstrak 

pewarna. sebab nya tidak heran barang ini sangat berharga dan mahal.

Malang tidak bisa ditolak, kapal yang ditumpangi Zeno karam. Zeno tidak hanya 

kehilangan seluruh barang dagangannya yang teramat mahal, namun  ia juga harus 

terdampar di Athena. Ini tentunya sebuah cobaan yang besar, tidak hanya 

kehilangan harta benda, namun  juga harus menjadi orang asing yang luntang-

lantung di kota yang bukan rumahnya.

Suatu hari di Athena, ia pergi mengunjungi sebuah toko artikel  dan menemukan 

sebuah artikel  filsafat yang menarik hatinya, la bertanya kepada si pemilik toko 

artikel , di manakah ia bisa bertemu dengan f i lsuf-f ilsuf seperti penulis artikel  itu. 

Kebetulan saat itu melintaslah Crates, seorang filsuf aliran Cynic, dan sang 

penjual artikel  menunjuk kepadanya. Zeno pun pergi mengikuti Crates untuk belajar

filsafat darinya.

Zeno kemudian belajar dari berbagai filsuf yang berbeda, dan kemudian ia pun 

mulai mengajar filosofinya sendiri, la senang mengajar di sebuah teras berpilar 

(dalam bahasa Yunani


disebut stoa] yang terletak di sisi Utara dari agora (tempat publik 

yang digunakan untuk berdagang dan berkumpul. Mungkin semacam

alun-alun Yunani kuno ya) di kota Athena.

Sejak itu, para pengikutnya disebut "kaum Stoa". Dalam proses 

penulisan artikel  ini, saya menemukan banyak orang sulit 

menyebutkan "Stoisisme”. sebab nya, untuk memudahkan judul 

artikel , saya menyebutnya  (terjemahan langsung dari 

kata stoa].

Dari Zeno, filsafat ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh para filsuf 

lain, mulai dari Yunani sampai ke kekaisaran Romawi. Beberapa dari 

mereka adalah Chrysippus dari Soli, Yunani, yang dianggap sebagai 

pendiri kedua Stoisisme; Cato The Younger dari Roma, seorang 

politisi dan negarawan yang terkenal sebab  berani menentang Julius

Caesar; Lucius Seneca dari Roma, seorang filsuf, negarawan, 

penulis drama; Musonius Rufus dari Roma, mengajar filsafat di era 

Kaisar Nero; Epictetus dari Yunani, terlahir sebagai budak, kemudian 

mendapat kebebasan dan tinggal di Roma; dan Kaisar Marcus 

Aurelius, yang dikenal sebagai salah satu dari Lima Kaisar Yang Baik

[The Five Good Emperors).

Stoisisme kemudian meredup di awal abad ke-4, saat  Kekaisaran 

Romawi mengadopsi agama Kristen sebagai agama resmi negara. 

Sekarang, di abad 21, di belahan dunia Barat, filosofi ini mulai 

populer kembali dengan artikel -artikel  dan presentasi yang 

memperkenalkannya kembali ke publik, seperti karya-karya dari 

William Irvine, Tim Ferris, Ryan Holiday, dan Massimo Pigliucci. 

Bahkan, sekarang ada acara tahunan Minggu Stoa [Stoic Week) 

pada sekitar bulan Oktober sampai November, di mana para peminat

Stoisisme dari seluruh dunia bisa bersama-sama melakukan refleksi 

dan mempraktikkan filosofi ini selama seminggu dengan panduan 

online.

Saat mempelajari Stoisisme, saya menemukan filosofi ini jauh dari 

mengawang-awang, atau lebih dari sekadar konsep yang abstrak dan

"intelek”. Stoisisme bersifat sangat practical dan bisa diterapkan 

sehari-hari. Saya pribadi menemukan alternatif laku hidup (meminjam

terjemahan Romo Setyo Wibowo untuk “way of Z/fe”) yang lebih baik 

dari ajaran positive thinking.

Contoh sederhana bagaimana Stoisisime telah mengubah karakter 

saya adalah sebagai berikut.

Dahulu saya bisa berubah menjadi orang yang sangat pemarah jika 

terjebak di dalam...kemacetan. Saya bisa sangat merasa stres, 

mengalami peningkatan detak jantung, dan sangat emosional di balik 

kemudi (bayangkan Bruce Banner mau berubah jadi Hulk, tapi minus 

jadi gede dan ijo aja...] Bahkan, saat saya hanya menjadi penumpang

dan tidak perlu mengemudi pun saya masih mengalami kemarahan 

ini. Jika berada di tengah kemacetan, saya merasa stuck, terjebak, 

frustrasi, dan hal ini membuat saya murka. Perilaku saya sudah 

sampai mengganggu keluarga. Setelah menemukan dan belajar 

mempraktikkan Stoisisme, saya berubah drastis. Kemacetan sudah 

tidak membuat saya emosional lagi (bahkan saat  menghadapi 

perilaku pengguna jalan lain yang terkadang ajaib dan membuat saya 

ingin mengelus dada ayam...).

Efek dari Stoisisme di hidup saya tidak hanya terbatas di situasi jalan 

raya. Stoisisme membantu saya dalam menjalani hidup sehari-hari 

dengan lebih tenteram dan tidak mudah terganggu oleh hal-hal 

negatif, kesialan, tekanan pekerjaan, sampai ke perilaku orang yang 

menyebalkan di sekitar. sebab  saya telah merasakan manfaat 

mempraktikkan Stoisisme, saya ingin berbagi kepada orang lain 

melalui artikel  ini, siapa tahu  ini bisa membantu orang-

orang lain seperti saya. Minimal, memulai ketertarikan untuk 

mempelajarinya lebih dalam.

Satu hal yang saya temui saat mempelajari Stoisisme adalah betapa 

banyak prinsip-prinsipnya yang serupa dengan yang diajarkan 

berbagai agama, orang tua, nasihat kakek nenek, sampai budaya asli 

Indonesia. Saat membaca artikel  ini, saya rasa akan banyak dari kamu

yang berpikir, "Lho, ini sama dengan ajaran agama saya!" atau, "Eh 

ini kayak kata-kata orang jaman dulu ya," atau, "Ini seper ti'quote 

tokoh besar yang itu!" Atau, mungkin kamu kenal langsung dengan 

orang yang sudah mempraktikkan prinsip-prinsip filosofi ini walaupun 

ia belum pernah membaca tentang Stoisisme.

Bagi saya, prinsip Stoisisme ini  menunjukkan kebijaksanaan 

universal yang terkandung di dalamnya. Selain itu, sebab  ini adalah 

sebuah aliran filsafat dan bukan agama/kepercayaan, seharusnya 

tidak terjadi tembok dan benturan-benturan yang umum timbul 

dengan ide-ide yang memiliki “label agama”. Saya merasa kelebihan 

Stoisisme adalah sifatnya yang kompatibel dan

r “Seorang praktisi

Stoa seharusnya merasakan

keceriaan senantiasa dan

sukacita yang terdalam,

sebab  ia mampu menemukan

kebahagiaannya sendiri, dan tidak

menginginkan sukacita yang lebih

daripada sukacita yang datang dari

dalam (inner joys)”

komplementer dengan berbagi kepercayaan. Dari yang sangat religius 

sampai agnostik sekalipun bisa mendapat manfaat dari mempelajari 

Stoisisme.

Stoisisme juga tidak bersifat "dogmatis” sebab  ia bukan agama yang 

k

K.

Seneca (On Happy Life)

memiliki aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar, atau ada ancaman 

masuk neraka jika tidak dilakukan. Di luar ajaran- ajaran mendasar, para 

filsuf Stoa memiliki pengajaran yang tidak seluruhnya seragam satu sama 

lain. Sebagai filosofi, ia terbuka untuk diperdebatkan atau diadaptasi 

menurut kebutuhan masing-masing. artikel  ini lebih memusatkan pada 

prinsip-prinsip dasar  yang bisa membantu kita menjalani 

hidup dan ketidak-pastiannya. Pada akhirnya, praktisi Stoisisme lebih 

mementingkan praktik nyata dan manfaatnya di dalam hidup mereka 

ketimbang meributkan dogma dan teks.

Apa TUJUAN UTAMA dari ?

Mari kita mulai dari apa yang BUKAN merupakan tujuan Stoisisme. 

Stoisisme tidak dimaksudkan untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat 

eksternal, seperti sukses jodoh, disayang bos dan istri (istri sendiri, bukan 

istri si bos!), mendapatkan ide bisnis start-up yang gampang memperoleh 

investasi jutaan dolar, atau anak-anak yang jenius. Ini yang 

membedakannya dari banyak ajaran self-help populer masa kini. Nanti 

akan dijelaskan alasan mengapa para filsuf Stoa tidak mengejar hal- hal 

ini .

Yang terutama ingin dicapai oleh Stoisisme adalah:

1. Hidup bebas dari emosi negatif (sedih, marah, cemburu, curiga, 

baper, dan lain-lain), mendapatkan hidup yang tenteram 

[tranquil). Ketenteraman ini hanya bisa diperoleh dengan 

memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Kita 

akan membahas lebih lanjut di bagian-bagian berikutnya.

2. Hidup mengasah kebajikan [virtues). Ada empat kebajikan utama 

menurut Stoisisme:

a. Kebijaksanaan [wisdom): kemampuan mengambil 

keputusan terbaik di dalam situasi apa pun.

b. Keadilan [justice): memperlakukan orang lain dengan adil 

dan jujur.

c. Keberanian /courage): keberanian berbuat yang benar, 

berani berpegang pada prinsip yang benar. Ini bukan 

‘‘berani’’ dalam makna sempit, seperti bernyali masuk 

kandang singa (walaupun jika kita membaca kisah hidup 

para filsuf Stoa, rasanya mereka juga akan berani masuk 

kandang singa jika memang perlu....).

d. Menahan diri /temperance): disiplin, kesederhanaan, 

kepantasan, dan kontrol diri (atas nafsu dan emosi).

Saat saya mempelajari Stoisisme, saya menemukan bahwa 

“kebahagiaan” (dalam pengertian umum) bukanlah tujuan utama yang 

dicari dalam filosofi ini. Para filsuf Stoa lebih menekankan pada 

mengendalikan emosi negatif, dan mengasah virtue (kebajikan, atau 

terjemahan lainnya “keutamaan”). Virtue dalam bahasa Inggris diambil 

dari kata dalam Bahasa Latin virtus, dan kata ini sendiri diambil dari 

bahasa Yunani arete. Dalam proses penerjemahan berlapis ini tentu ada 

makna yang hilang, dan penting untuk kita mengetahui apa makna asli 

dari kata arete.

Dalam artikel nya Stoicism and The Art of Happiness, Donald Robertson 

menerangkan bahwa arete bermakna menjalankan sifat dan esensi dasar 

kita dengan sebaik mungkin, dengan cara sehat dan terpuji. Atau, kalau 

saya mencoba menggunakan kata-kata saya sendiri, hidup sebaik-

baiknya sesuai dengan peruntukkan kita.

Mungkin lebih jelas jika kita melihat contoh penggunaan arete dalam 

penggunaan bahasa Yunani aslinya. Seekor kuda yang kuat, tangguh, 

dan bisa berlari kencang bisa disebut memiliki arete (sementara dalam 

bahasa Inggris tidak mungkin kuda itu disebut memiliki virtue, atau dalam 

bahasa Indonesia kuda itu disebut ‘bajik’). Ini artinya si kuda yang kuat 

dan berlari kencang ini sudah menjalankan hidupnya sebaik-baiknya 

sesuai sifat dan esensi dasar dari ‘kuda’.

 percaya bahwa hidup dengan arete/v/rtue/kebajikan ini 

yang harus dikejar oleh kita semua. Bersama-sama dengan kemampuan 

mengendalikan emosi negatif, maka hidup yang tenteram, damai, dan 

tangguh akan hadir sebagai konsekuensi.

Namun, untuk bisa hidup dengan arete, kita harus terlebih dahulu 

mengetahui apa sebenarnya esensi dan peruntukkan kita sebagai 

manusia. Ini yang akan dibahas di bab berikutnya.

Berbeda dari banyak aliran filsafat lain, Stoisisme terasa lebih 

menekankan pada praktik, dan tidak terlalu pada diskusi intelektual 

menyangkut ide-ide dan konsep abstrak. Semakin banyak saya membaca

mengenai Stoisisme, semakin saya merasa para tokoh-tokoh filsafat ini 

lebih menyerupai psikolog, konselor, guru BP (eh, sekarang namanya 

guru BK, Bimbingan Konseling, ya?), dan life coach untuk zamannya. 

Mereka adalah pengamat perilaku manusia dan human condition yang 

tajam, sangat mengerti kehidupan manusia, bisa membedakan 

kebahagiaan dan damai yang substansial dari yang dangkal, dan juga 

pragmatis dalam penerapan sehari-hari.

Salah satu alasan mengapa saya menyukai filosofi ini adalah sebab  

SIAPA PUN bisa ikut mempraktikkannya tanpa harus bergantung pada 

atribut-atribut, seperti kekayaan, prestasi akademis, inteligensi bawaan, 

warna kulit, suku, karier, atau profesi. Stoisisme sama sekali tidak 

terpesona dan tidak mementingkan pencapaian-pencapaian dunia, seperti

kekayaan, kesuksesan karier, popularitas, dan lain-lain.

Ini yang menjadikan Stoisisme sebagai filosofi yang bersifat inklusif—

merangkul semua. Harta benda, popularitas, gelar akademisi yang 

melebihi panjang nama-hal-hal ini  bukan definisi sukses, dan juga 

bukan bukti bahwa seseorang mempraktikkan Stoisisme. Ini tampak nyata

dari latar belakang para filsuf Stoa yang beragam, mulai dari politisi, 

kaisar, pedagang, sampai mantan budak. Sebaliknya, jika seseorang 

memiliki rasa tenteram dan sukacita yang tidak mudah goyah di situasi 

hidup apa pun, jika ia menunjukkan kepedulian sosial, jika ia hidup dalam 

kebajikan, maka inilah buah-buah dari praktik Stoisisme.

’‘Seorang praktisi Stoa seharusnya merasakan keceriaan senantiasa

dan sukacita yang terdalam, sebab  ia mampu menemukan 

kebahagiaannya sendiri, dan tidak menginginkan sukacita yang 

lebih daripada sukacita yang datang dari dalam /inner joys/." - 

Seneca lOn Happy Life)

Damai dan

tenteram ini kokoh

sebab  berakar dari

dalam diri kita, bukan

pada hal-hal eksternal

yang bisa berubah,

hancur, atau direnggut

dari kita.

Tujuan membebaskan kita dari emosi negatif, minimal menguranginya, 

rasanya sangat relevan dengan kehidupan sekarang yang penuh 

ketidakpastian. Setelah membaca hasil Survei Khawatir Nasional, rasanya 

pemikiran purba ini tetap relevan, bahkan sesudah lewat lebih dari 2.000 

tahun. Di dalam artikel "Why Stoicism Matters Today", Kare Anderson 

menyebutkan beberapa alasan mengapa Stoisisme tetap relevan di masa 

kini:

1. Stoisisme ditulis untuk menghadapi masa sulit.

Stoisisme lahir di era penuh peperangan dan krisis di Yunani. 

Filsafat ini tidak menjanjikan materi ataupun damai di akhirat, 

namun  damai dan tenteram yang kokoh di kehidupan sekarang. 

Damai dan tenteram ini kokoh sebab  berakar dari dalam diri kita, 

bukan pada hal-hal eksternal yang bisa berubah, hancur, atau 

direnggut dari kita.

Di era di mana banyak hoaks, fake news, maupun fitnah yang 

beredar dengan liar di media sosial ataupun chat group, serta 

keriuhan politik yang sering kali berdampak pada relasi personal 

dan menyebabkan perpecahan di masyarakat, rasanya Stoisisme 

sama relevannya untuk Indonesia saat ini, seperti halnya di Yunani

& Romawi 2.000 tahun yang lalu.

2. Stoisisme dibuat untuk globalisasi. Stoisisme mungkin adalah 

filsafat Barat pertama yang mengajarkan persaudaraan universal 

[universal brotherhood). Di tengah dunia yang rasanya semakin 

terpolarisasi dengan "kiri” versus "kanan”, "konservatif” versus 

"liberal”, tersekat oleh identitas suku dan agama, sebuah filosofi 

yang mengajarkan bahwa "kita semua adalah saudara dalam 

kemanusiaan” sungguh sangat dibutuhkan. Ini juga pas dengan 

kondisi Indonesia yang terasa memanas sebab  politik, di mana 

label-label pemisah dan penyekat terasa semakin menguat.

3. Stoisisme adalah filsafat kepemimpinan.

Kepemimpinan di sini tidak sesempit memimpin tim, organisasi, 

ataupun negara, namun  dimulai dari memimpin diri sendiri. 

Stoisisme mengajarkan kita untuk memprioritaskan mengendalikan

diri sendiri sebelum mencoba mengendalikan kehidupan dan 

orang-orang di luar kita. Stoisisme membekali para pemimpin 

untuk tegar di dalam kegagalan dan rendah hati di saat sukses. 

Bekal ini berguna bagi siapa pun, tidak terbatas pada mereka yang

memangku jabatan resmi.

artikel  The Daily Stoic memaparkan beberapa orang terkenal yang diketahui

—berdasarkan pengakuan langsung maupun tulisan-tulisan mereka—

mempelajari dan mempraktikkan Stoisisme dalam kehidupannya, seperti 

mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton, aktris Anna Kendrick, aktor 

Tom Hiddleston, penulis J.K. Rowlings, dan Nicolas Nassim Taleb— 

penulis favorit saya, yang menulis artikel  keuangan The Black Swan\ artikel  

 tidak dimaksudkan menjadi artikel  pengantar resmi Stoisisme, 

apalagi sebagai referensi utama. artikel  kecil ini tidak mungkin cukup 

menjelaskan keseluruhan filosofi ini. Saya hanya mengambil inti-inti yang 

saya rasakan paling mudah dan relevan untuk kehidupan sehari-hari, yang 

saya gabungkan dengan insight pribadi saya dan juga perspektif para 

praktisi dari bidang-bidang yang saya anggap relevan.

Saya menganjurkan kamu untuk membaca lebih dalam dan menemukan 

sendiri filosofi ini secara lebih utuh, baik melalui tulisan-tulisan kontemporer

mengenainya, atau membaca langsung tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh 

filosofi ini—walaupun sayangnya hampir semua literatur yang saya baca 

masih menggunakan bahasa Inggris. Referensi di internet juga sangat 

banyak, dari tulisan sampai video, meskipun lagi-lagi sebagian besar masih

dalam bahasa Inggris.

Anggaplah artikel  ini menjadi appetizer (hidangan pembuka) terhadap 

filsafat Stoisisme, dan semoga dari 'hidangan pembuka’ ini, kamu tertarik 

untuk ‘menyantap hidangan utama’, yaitu tulisan-tulisan mengenai 

Stoisisime, baik dari penulis asli maupun penulis kontemporer lainnya.

Mari kita mulai memasuki  ini!

Br Tujuan utama dari^

F  adalah

hidup dengan emosi

negatif yang terkendali,

dan hidup dengan

kebajikan (virtue/arete)

—atau bagaimana kita

hidup sebaik-baiknya

seperti seharusnya kitaj

menjadi manusia,

• w

•1

w

B r

<

Intisari Bab 2:

• , atau Stoisisme, adalah aliran filsafat Yunani-Romawi 

purba yang sudah berusia lebih dari 2.000 tahun, namun  masih relevan 

untuk kondisi manusia zaman sekarang.

• Sebagai sebuah filsafat, Stoisisme bisa melengkapi cara kita menjalani 

hidup. Stoisisme bukan agama kepercayaan.

• Stoisisme mengandung banyak ajaran dan nilai-nilai universal yang 

mungkin kita dengar dari filosofi lain, nilai budaya, atau agama.

• Tujuan utama dari  adalah hidup dengan emosi negatif 

yang terkendali, dan hidup dengan kebajikan (virtue/arete)—atau 

bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi 

manusia.

BAB TIGA

Hidup 

Selaras 

dengan 

Alam

36

aat menulis artikel  ini, anak saya masih berusia 21 bulan. Jika 

memungkinkan, saya senang menyempatkan diri berjalan- jalan 

dengannya di kompleks perumahan saat pagi atau sore hari. Saya

senang mengamati bagaimana dia berkembang dari bayi yang tidak 

bisa apa-apa hingga sekarang sudah mulai berjalan dan mencoba 

belajar berlari. Ada yang lucu dari caranya berlari yang belum 

sempurna, tangannya masih lurus menggantung dan belum berayun 

layaknya cara berlari orang yang lebih dewasa. Dalam proses 

pertumbuhannya, kelak dia akan mengerti bagaimana cara berlari 

yang ‘seharusnya’. Sampai ia mengerti cara berlari yang ‘seharusnya’,

ia selalu tampak kurang seimbang dan sepertinya bisa tersandung 

kapan saja.

S

Satu prinsip utama Stoisisme adalah bahwa kita harus "hidup selaras 

alam” [in accordance with nature). Jika kamu langsung mengantuk 

mendengar ini, atau tiba-tiba teringat pernah membuang sampah 

sembarangan, tunggu dulu! "Hidup selaras alam" dalam Stoisisme 

tidak sesempit "memelihara harmoni dengan lingkungan hidup", 

seperti tidak membuang sampah sembarangan, mencemari 

lingkungan, atau mencintai dan melindungi satwa langka (walaupun 

tentu hal-hal ini juga baik dilakukan). Di dalam Stoisisme, "Alam” 

[Nature—dengan huruf pertama kapital/ di sini lebih besar dari 

"lingkungan hidup”, serta mencakup keseluruhan alam semesta dan 

seluruh penghuninya.

Dalam konteks nature dari manusia, Stoisisme menekankan satu-

satunya hal yang dimiliki “manusia” yang membedakannya dari 

"binatang”. Hal ini  adalah nalar, akal sehat, rasio, dan 

kemampuan menggunakannya untuk hidup berkebajikan [life of 

virtues). Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia 

yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu makhluk bernalar.

Dikaitkan dengan konsep arete di bab sebelumnya, maka manusia 

yang hidup dengan arete/vVrtue/kebajikan adalah ia yang sebaik-

baiknya menggunakan nalar dan rasionya— sebab  itulah esensi, 

nature mendasar dari menjadi manusia.

Yang menarik, nalar/rasionalitas yang sangat dipentingkan di dalam 

 adalah konsep yang bisa diterima oleh

37

siapa pun tanpa harus memperdebatkan asal muasalnya. 

Mereka yang religius akan memandang nalar/rasio sebagai 

sebuah karunia dari Sang Pencipta dan mungkin bersifat 

abstrak, dalam arti tidak berwujud fisik atau bagian 

dari ruh manusia. Sebaliknya, mereka yang skeptis dan 

sangat berpegangan pada sains mungkin melihat nalar 

murni sebagai fungsi biologis, produk evolusi ratusan 

ribu tahun, hasil kerja dan interaksi berbagai bagian di

otak yang rumit.

It does not matter where it came from. Stoisisme lebih menekankan 

bahwa rasionalitas adalah fitur unik dari manusia. Walaupun ilmu 

psikiatri dan saraf modern mengerti bahwa fungsi nalar bisa menjadi 

rusak/terganggu sebab  gangguan otak atau penggunaan narkoba, 

namun  untuk pembahasan ini kita mengasumsikan fungsi nalar yang 

sehat pada kebanyakan orang.

Sampai di sini mungkin kamu berpikir, “YA ELAH, APA 

ISTIMEWANYA INI? GUE JUGA UDAH TAU KALO MANUSIA LEBIH 

PINTER DARI BINATANG!" Ini mungkin pemahaman lama bagi kita 

semua, namun  kemudian Stoisisme lebih jauh lagi mengajarkan 

mengapa kita harus selalu menggunakan rasionalitas. Argumennya 

kurang lebih seperti berikut:

• Jika kita ingin hidup bahagia, bebas dari emosi negatif, kita 

“harus hidup selaras dengan Alam".

• Alam memberikan manusia rasionalitas sebagai fitur unik yang 

membedakannya dari binatang.

• “Hidup selaras dengan Alam" untuk manusia artinya kita 

HARUS menggunakan nalar. Saat kita tidak menggunakannya,

praktis kita tidak berbeda dengan binatang.

• saat  kita tidak menggunakan nalar kita, selain kita menjadi 

sama dengan binatang, kita akan rentan merasa tidak bahagia,

sebab  kita telah “tidak selaras lagi dengan Alam”. Bayangkan 

seekor singa yang sifat dasarnya adalah tinggal di savanna 

luas di alam bebas, kemudian harus tinggal di kurungan sempit

di kebun binatang. Singa yang hidupnya sudah tidak selaras 

lagi dengan Alam ini rasanya sulit merasa 'bahagia’, bahkan 

walaupun makanannya dijamin sekalipun.

 38

Coba kita pikirkan situasi-situasi sehari-hari di mana kita mungkin 

kehilangan nalar, akal sehat, atau kepala dingin—-walau hanya sesaat:

• Kita menerima e-mail pekerjaan yang—menurut kita— sengaja 

menyinggung perasaan pribadi. Kita segera membalas e-mail 

ini  dengan kosakata berbagai penghuni kebun binatang 

(padahal kita tidak berkantor di kebun binatang).

• Kita sedang berkendara di jalan, kemudian kendaraan kita 

disalip orang. Serta-merta kita emosi dan marah- marah, 

bahkan sampai mengejar penyerobot ini  untuk membalas

dendam (padahal, kita sedang naik skuter, sementara yang 

nyalip naik mobil Ferrari. Etapi ke/ce/erjuga sih kalau lagi 

macet....).

• Kita mencium wangi parfum perempuan lain di baju suami dan 

tanpa berpikir panjang kita menyentuhkan panci ke pipi suami 

(dengan kecepatan tinggi).

• Kita baru berkenalan dengan perempuan cantik, kemudian 

langsung mengajaknya tidur bersama.

• Kita membaca sebuah posting-an provokatif di media sosial 

dan langsung emosi, sehingga kita marah-marah di bagian 

comment atau segera mem-forward-nya ke banyak orang 

tanpa mengecek dulu kebenarannya.

Di semua contoh situasi tadi, kita sedang tidak menggunakan 

nalar/rasio dan hanya mengikuti hawa nafsu. Apakah kira- kira semua 

tindakan tadi akan membawa hasil yang positif? (Bayangkan nasib 

sang suami yang dielus panci dengan kecepatan tinggi tadi). Inilah 

yang dimaksudkan di dalam Stoisisme, agar kita "hidup selaras 

dengan Alam", yaitu, sebisa mungkin, di setiap situasi hidup, kita tidak 

kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang, yang akhirnya 

berujung kepada ketidakbahagiaan (dan dalam beberapa kasus, benjol

di kepala orang lain).

Makhluk Sosial

Selain memiliki nalar, Stoisisme percaya bahwa sifat alami [nature) 

manusia adalah social creatures (makhluk sosial). Artinya, kita harus 

hidup sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Jika ini 

digabungkan dengan prinsip manusia harus menggunakan nalar tadi, 

seorang praktisi Stoa—seharusnya— hidup secara sosial, yaitu tidak 

mengisolasi diri dari manusia lainnya, dan juga berhubungan dengan 

39 

orang lain secara rasional.

Percuma kalau kita menjadi bijak dan tahu segala hal, namun  memutus

hubungan  dengan  sesamanya.  Sebaliknya,  percuma  juga  kita  aktif

secara  sosial,  namun   tidak  menggunakan  nalar,  dan  bahkan  sampai

dikuasai emosi negatif, seperti marah, dengki, dan iri hati. Penggunaan

nalar  dan  hidup  sosial  berjalan  beriringan.  Kita  semua tahu  bahwa

hidup dengan orang lain pada kenyataannya memang tidak mudah.

Setiap  hari  kita  akan  berhadapan  dengan  perilaku  orang  lain  yang

menjengkelkan.  Para filsuf  Stoa menyadari  sepenuhnya hal  itu,  dan

nanti  kita  akan  melihat  bagaimana  caranya  praktisi  Stoisisme  bisa

hidup berdampingan dengan  orang  lain  secara  rasional  dan damai,

bahkan di antara orang yang (kita anggap) menyebalkan sekalipun.

Keterkaitan Segala Sesuatu di Dalam Hidup 

(Interconnectedness)

"Hidup selaras dengan Alam” menuntut kita menyadari adanya 

keterkaitan [interconnectedness] di kehidupan ini. Stoisisme melihat 

segala sesuatu di alam semesta ini sebagai keterkaitan, bagaikan 

jaring-jaring raksasa, termasuk semua peristiwa di dalam hidup kita 

sehari-hari. Dengan kata lain, kejadian-kejadian yang ada di dalam 

hidup kita adalah hasil rantai peristiwa yang panjang, dari peristiwa 

"besar” sampai peristiwa yang terkesan “remeh” sekalipun.

Jadi, jika suatu hari kita menginjak eek kucing di jalan (umumnya tidak 

sengaja, saya tidak pernah kenal orang yang senang menginjak eek 

kucing....), maka ini bukanlah sebuah peristiwa acak/random, namun  

adalah hasil rantai banyak peristiwa lain. Misalnya, si kucing eek di situ

sebab  memang sudah kebelet dan pada saat itu titik ini  tampak 

nyaman untuk si kucing buang hajat. Kemudian, kita pas sedang 

melewati jalanan ini  dan sibuk stalking media sosial mantan 

sampai tidak memperhatikan jalan, dan JREK\ Terinjaklah eek kucing 

itu oleh kita.

 40

Tidak ada peristiwa yang betul-betul "kebetulan". Atau, dengan kata lain, 

sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu dan sedang terjadi pada detik ini juga

adalah hal tak terhindarkan sebab  merupakan mata rantai dari peristiwa-

peristiwa sebelumnya.

Kamu mungkin berpikir bahwa ini mirip dengan konsep "takdir”. 

41 

Perbedaannya adalah Stoisisme tidak mengharuskan adanya dewa-dewi 

atau Tuhan yang merancang keterkaitan peristiwa- peristiwa ini. Sebagian 

filsuf Stoa mengatribusikannya kepada Tuhan, sementara sebagian lainnya 

sekadar melihat alam semesta bagaikan mekanisme raksasa yang bergerak 

menuruti hukum-hukum alam. Sama seperti konsep nalar di atas, tidak terlalu

penting "dari mana” keterkaitan ini ada untuk kita bisa menjadikan Stoisisme 

sebagai laku hidup, yang penting adalah menyadari bahwa eksistensi setiap 

manusia adalah bagian dari Alam yang lebih besar. Hidup kita sangat terkait 

di jaring semesta ini, dan semua peristiwa di dalam hidup ini menaati hukum 

dan aturan ”Alam”.

Dunia sains modern mengenal The Butterfly Effect (Efek Kupu- Kupu) di 

dalam Chaos Theory yang mengingatkan saya pada interconnectedness di 

Stoisisme. Singkatnya, Efek Kupu-Kupu berkata kepakan sayap seekor kupu-

kupu di Amerika Serikat bisa menyebabkan topan badai di China beberapa 

waktu kemudian. Waduh! Lebay amat? Masak iya? Efek Kupu-Kupu ini sering

dijadikan ilustrasi dalam menjelaskan Chaos Theory.

Menurut sains, di dalam sebuah sistem nonlinear (seperti cuaca), perubahan 

kecil saja (seperti kepakan sayap kupu) di waktu dan tempat yang tepat, bisa 

menyebabkan reaksi berantai yang berujung pada perubahan yang sangat 

besar (seperti topan badai di tempat lain yang jauh). Menurut saya, teori 

sains modern ini sesuai dengan interconnectedness di dalam  

yang berusia 2.000 tahun lebih.

Kembali ke kehidupan sehari-hari kita. Coba kita membayangkan peristiwa-

peristiwa penting dalam hidup kita yang tentunya lebih signifikan daripada 

menginjak e'ek kucing di jalan. Bisa dimulai dari proses kelahiran kita. 

Tidakkah kita bisa merunut ke belakang rantai peristiwa yang akhirnya 

berujung kepada kelahiran kita? Dan mungkin kita akan menemukan hal- hal 

signifikan di hidup kita sekarang adalah hasil rantai panjang konsekuensi 

sebuah peristiwa sepele belasan atau bahkan puluhan tahun yang lampau. 

Misalnya:

• Bagaimana kita bisa ada di dunia? sebab  selama kira- kira sembilan 

bulan kita dikandung ibu kita dengan baik.

• Bagaimana ibu kita bisa mengandung kita? Well, tidak perlu dijelaskan

di sini harusnya, ahem. Ya gitu deh, bapak nakal....

• Bagaimana terjadinya “ehem-ehem" itu? sebab  ayah dan ibu kita 

sebelumnya menikah.

• Mengapa mereka menikah? sebab  sebelumnya mereka mungkin 

sudah pacaran selama beberapa lama dan kemudian memutuskan 

untuk mengikat tali pernikahan.

 42

• Bagaimana mereka awalnya bertemu? sebab  dikenalkan oleh teman 

yang merasa mereka berdua akan cocok.

• Bagaimana teman ini tahu kedua calon orang tua kita ini? sebab  dia 

kebetulan adalah teman kuliah mereka.

• Bagaimana orang tua kita bisa menjadi teman kuliah dengan orang 

ini? sebab  orang tua kita secara terpisah memilih, atau dipaksa, 

untuk kuliah di tempat ini .

• Dan seterusnya, dan seterusnya.

Maka, jika dirunut, kelahiran kita di dunia ternyata adalah konsekuensi dari 

mata rantai peristiwa hidup yang sangat panjang, yaitu gabungan banyaknya 

peristiwa dan keputusan- keputusan yang diambil para pelaku hidup di sekitar

kita dan juga orang-orang yang tidak kita kenal. Hal ini berlaku untuk 

''seluruh” hal yang pernah dan sedang terjadi di dalam hidup kita, baik besar 

maupun ‘‘kecil”. Dari tempat kita akhirnya bersekolah/kuliah atau bekerja, 

sampai kejadian kita ketinggalan kereta, semua peristiwa-peristiwa ini 

sesungguhnya tidak "berdiri sendiri” [isolated], namun  hanyalah bagian dari 

mata rantai peristiwa yang terus bersambung.  melihat semua 

peristiwa hidup sebagai sebuah keteraturan kosmos dari peristiwa-peristiwa 

terkait yang mengikuti aturan alam.

Hidup selaras dengan

Alam artinya kita

harus sebaik-baiknya

menggunakan nalar,

akal sehat, rasio,

sebab  itulah yang

membedakan manusia .

dan binatang.

sebab  keterkaitan (termasuk di dalamnya semua peristiwa di 

kehidupan kita) adalah bagian dari “Alam” [Nature], maka “melawan 

atau mengingkari peristiwa yang terjadi" dianggap sama dengan 

“melawan Alam”, dan seperti telah dijelaskan sebelumnya, Stoisisme 

mengajarkan agar manusia hidup “selaras dengan alam”.

Melanjutkan contoh sebelumnya, marah-marah sebab  sepatu Jordan 

terbaru kita menginjak e’ek kucing adalah melawan alam dan sebuah 

kesia-siaan (lebih sia-sia lagi marah-marah kepada sang empunya 

e’ek.] Begitu juga dengan menyesali kondisi kita dilahirkan, entah itu 

kondisi keluarga, negara kita dilahirkan, kondisi kesehatan kita saat 

dilahirkan, dan lain-lain. Semuanya sudah terjadi mengikuti keteraturan 

"Alam”. Jadi, untuk apa disesali, ditangisi, dan disumpahserapahi? 

Semua hal yang telah terjadi di masa lalu dan baru saja terjadi detik ini

—termasuk sekarang saat kamu sedang membaca artikel  ini—terjadi 

mengikuti aturan "Alam" ini. [Forfun, coba dirunut peristiwa-peristiwa 

yang menyebabkan kamu detik ini sedang membaca artikel  ini).

Apakah artinya filosofi ini mengajarkan pasrah pada keadaan? Sama 

sekali tidak! Di bab berikut kita akan memahami mengapa penerimaan 

Stoisisme akan peristiwa hidup sama sekali tidak sama dengan 

kepasrahan totaL

Intisari Bab 3:

• Manusia harus hidup selaras dengan Alam jika ingin hidup yang 

baik.

• Keluar dari keselarasan dengan Alam adalah pangkal 

ketidakbahagiaan.

• Hidup selaras dengan Alam artinya kita harus sebaik- baiknya 

menggunakan nalar, akal sehat, rasio, sebab  itulah yang 

membedakan manusia dan binatang.

•  percaya bahwa segala sesuatu di Alam ini saling 

terkait (interconnected), termasuk di dalamnya segala peristiwa 

yang terjadi di dalam hidup kita.

• Melawan atau mengingkari apa yang telah terjadi artinya keluar 

dari keselarasan dengan Alam.

BAB EMPAT 

Dikotomi

Kendali

46

H > A ita kalah tender", kira-kira begitu bunyi e-mail yang masuk ke inbox 

saya. Sebuah tender proyek yang f B proposalnya sudah dikerjakan selama 

berhari-hari oleh perusahaan tempat saya bekerja, bahkan sampai masuk 

kantor hari Sabtu dan Minggu, akhirnya berujung dengan kekalahan. Calon 

klien akhirnya menyerahkan bisnisnya ke pihak lain. Tentunya saat pertama 

kali membaca e-mail itu, saya merasa lumayan kecewa. Siapa sih yang tidak 

ingin memenangkan tender? Kekecewaan ini kemudian berlanjut menjadi 

pikiran-pikiran yang mengganggu, "Di mana salah kami ya?", ‘Apakah 

eksekusi idenya kurang baik?", "Apakah ada tutur kata yang salah saat 

presentasi?", dan seterusnya. Pada akhirnya, saya harus menegur diri saya 

sendiri untuk berhenti. Kami tentunya harus mengevaluasi diri, namun  tidak 

perlu sampai menyesali secara berlebihan. Keputusan calon klien tidak ada 

dalam kendali kami. Kami memang bisa berusaha sebaik-baiknya dalam 

menyiapkan proposal, namun  keputusan akhir sepenuhnya sudah di luar 

kekuasaan kami. Mengingat kembali hal ini membantu membuat saya 

merasa sedikit lebih tenang. Masih ada hari esok yang masih harus 

diperjuangkan.

Some things are up to us, some things are 

not up to us"

- Epictetus [Enchiridion]

“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal- hal yang tidak 

di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita.”

Jika harus memilih hanya bisa mengingat satu kutipan saja dari berbagai teks

tentang , biarkan kalimat dari Epictetus di atas yang selalu 

pembaca ingat. Kalimat ini begitu sederhana, begitu mudah dipahami, dan 

mungkin saat ini kamu berpikir, "HAH, NENEK-NENEK GEN-X JUGA TAU, 

APALAGI GUE YANG MILENIAL!" Namun...apakah kamu benar-benar 

TAHU? Sekadar pernah mendengar dan “merasa” tahu tidak sama dengan 

benar-benar "tahu”, yaitu benar-benar meresapi, mendalami, dan 

menerapkannya.

• 

-t

(Epictetus)

 48

Prinsip ini disebut "dikotomi kendali” [dichotomy of control). Bisa dibilang 

semua filsuf Stoa sepakat pada prinsip fundamental ini, bahwa ada hal-

hal di dalam hidup yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak. Hal-hal

apa saja yang masuk ke dalam kedua definisi ini menurut Stoisisme?

TIDAK di bawah kendali kita:

• Tindakan orang lain (kecuali tentunya dia berada di bawah 

ancaman kita).

• Opini orang lain.

• Reputasi/popularitas kita.

• Kesehatan kita.

• Kekayaan kita.

• Kondisi saat kita lahir, seperti jenis kelamin, orang tua, 

saudara-saudara, etnis/suku, kebangsaan, warna kulit, dan 

lain-lain.

• Segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca, 

gempa bumi, dan peristiwa alam lainnya.

• Ada banyak hal-hal yang belum ada di masa para filsuf Stoa 

hidup, namun  dapat kita kategorikan di sini, seperti harga 

saham, indeks pasar modal, razia sepeda motor, dan nilai 

tukar rupiah.

DI BAWAH kendali kita:

1. Pertimbangan [judgment], opini, atau persepsi kita.

2. Keinginan kita.

3. Tujuan kita.

4. Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita 

sendiri.

Lebih lanjut, Epictetus menjelaskan dalam artikel  Enchiridion,

"Hal-hal yang ada di bawah kendali kita bersifat merdeka, tidak 

terikat, tidak terhambat; namun  hal-halyang tidak di bawah kendali 

kita bersifat lemah, bagai budak, terikat, dan milik orang lain. 

sebab nya, ingatlah, jika kamu menganggap hal-halyang bagaikan

budak sebagai bebas, dan hal-halyang merupakan milik orang lain

sebagai milikmu sendiri...maka kamu akan meratap, dan kamu 

akan selalu menyalahkan para dewa dan manusia.”

Dalam bahasa gampangnya: siap-siap saja kecewa cuy kalau lo 

terobsesi pada hal-hal di luar kendali lo, seperti perbuatan/ opini orang 

lain, kekayaan kita, bahkan sampai kesehatan kita sendiri. Atau, 

49 

menyesali kondisi kita terlahir misalnya. Awal eksistensi kita di dunia ini 

adalah sebuah hal yang sangat di luar kendali kita.

Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan (ini adalah konsekuensi 

perbuatan orang tua kita di sebuah malam yang dingin dan romantis, 

saat hujan baru usai dan bulan purnama...) dan kita sama sekali tidak 

memiliki hak suara untuk menentukan jenis kelamin kita, warna kulit kita 

(walau nanti saat sudah dewasa boleh dicoba diganti), jenis rambut kita 

(lurus, keriting, jigrak], kesehatan kita (memiliki anggota tubuh yang 

lengkap atau disabilitas), sampai etnis/suku dan kewarganegaraan kita 

saat lahir.

Banyak orang sampai usia dewasanya masih menyesali kondisi dia 

terlahir. Pikiran-pikiran seperti, “Mengapa saya terlahir menjadi orang 

Sunda, padahal seharusnya saya orang Viking!”, “Mengapa saya terlahir

di tahun 1990-an, padahal saya maunya lahir di jaman Star Trek?”, 

"Mengapa saya punya rambut keriting?”, "Mengapa saya pendek?”, dan 

lain-lain. Bagi , penyesalan seperti ini adalah kesia-siaan, 

sebab  menyesali hal yang ada di luar kendali kita.

Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang 

dari "things we can control", hal-hal yang di bawah kendali kita. Dengan 

kata lain, kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari dalam. Sebaliknya, 

kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian sejati 

kepada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Bagi para filsuf Stoa, 

menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita 

kendalikan, seperti perlakuan orang lain, opini orang lain, status dan 

popularitas (yang ditentukan orang lain), kekayaan, dan lainnya adalah 

tidak rasional.

Di bab sebelumnya, kita sudah melihat bagaimana Stoisisme 

mengajarkan bahwa kita wajib menggunakan nalar dan rasionalitas agar

selaras dengan alam dan terhindar dari kebiasaan menyalahkan Tuhan 

dan orang lain (pernah menyalahkan Tuhan atau orang lain untuk 

urusan rezeki, reputasi, atau kesehatan kita? Udah, ngaku aja...].

Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang di luar kendali itu tidak

rasional, sebab  bagaimana kita bisa benar-benar bahagia jika 

pencapaian akan hal-hal ini  tidak sepenuhnya berada di tangan 

kita? Hal-hal ini tidak merdeka, bagaikan budak, dan merupakan milik 

(atau ditentukan) orang lain. Jika kita hanya bisa merasa bahagia 

dengan hal-halyang ada di luar kendali kita, ini sama saja dengan 

menyerahkan kebahagiaan dan kedamaian hidup kita ke pihak/orang 

lain. Perilaku ini  bertentangan dengan , seperti yang 

 50

akan kita bahas berikut.

Sampai di sini, mungkin ada dari kamu yang berpikir, tidakkah kekayaan 

datang dari kerja keras dan ide-ide start-up brilian kita? Tidakkah 

ketenaran bisa dibangun dengan jerih payah kita, seperti misalnya mem-

post/ng ratusan selfie dan video di media sosial? Apalagi soal kesehatan

—masak sih ini di luar kendali kita? Sejak kecil, kita diajarkan untuk 

memelihara kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat dan 

berolahraga. Harusnya, kekayaan dan ketenaran, apalagi kesehatan, 

termasuk dalam hal-hal yang bisa kita kendalikan dong?

Di sinilah pentingnya memahami bahwa “kendali” bukan hanya soal 

kemampuan kita “memperoleh”, namun  juga “mempertahankan”. 

Kenyataannya, kekayaan, ketenaran, dan kesehatan memang bisa 

diusahakan untuk dimiliki, namun  apakah kita yakin bisa sepenuhnya 

mempertahankannya? Atau, sesungguhnya semua itu adalah hal-

halyang sangat rapuh, ringkih, dan mudah lenyap bagai asap rokok 

disedot pemurni udara?

• Kekayaan bisa lenyap dalam sekejap. Rumah, mobil, atau tas mewah 

kita bisa terbakar. Bisnis kita bisa bangkrut atau disita pemerintah. 

Bencana alam bisa melenyapkan properti kita dalam sekejap. Pasar

saham dan investasi lain kita bisa merosot mendadak (dapat salam 

dari koleksi batu akik dan Investasi Pandawa). Kita berpikir orang 

tua kita tajir melintir kepuntir, sampai tiba-tiba suatu hari rumah kita 

kedatangan tamu dengan rompi oranye KPK. Sesungguhnya, 

kekayaan bisa dibangun, namun  mempertahankannya tidak semudah

itu.  dimulai oleh seorang pedagang kaya yang 

kehilangan


Siapa pun yang

mengingini atau

menghindari hal-hal yang ada

di luar kendalinya tidak pernah akan

benar-benar merdeka dan

bisa setia pada dirinya sendiri,

namun  akan terus terombang-ambing

terseret hal-hal ini ,”

ujar Epictetus dalam

Discourses.

kekayaannya dalam sekejap di kapal

karam. Zeno

tahu betul

bahwa harta

miliknya adalah

"tidak

tergantung

padanya".

Ketenaran. Yakinkah kita bisa sepenuhnya mempertahankan ketenaran?

Popularitas yang dibangun bertahun-tahun dengan susah payah bisa 

lenyap dalam sekejap hanya sebab  salah omong/salah posting di media

sosial, sekadar mendukung calon kepala daerah yang "salah", atau foto 

ena-ena dengan mantan tiba-tiba tersebar. Sesungguhnya, ketenaran 

dan reputasi kita sangatlah rapuh. Artinya, sebenarnya ketenaran di luar 

kendali kita sepenuhnya.

Persahabatan. sebab  persahabatan melibatkan orang lain, maka sudah

jelas hal ini di luar kendali kita, walaupun kita sudah melakukan segala 

upaya untuk mempertahankannya. Kita bisa bersikap jujur, 

CC

menghormati, menghargai, dan berusaha menyenangkan teman, namun  

tetap saja persahabatan bisa menjadi dingin dan mati sebab  satu dan 

lain hal, misalnya sama-sama naksir orang yang sama!

Kesehatan. Ini pasti bagian yang paling membingungkan, namun  sangat 

mudah dijelaskan. Mengapa kesehatan tidak termasuk hal yang bisa kita

kendalikan? Bayangkan skenario ini: seseorang hidup sangat sehat, 

menjaga makanan, tidak merokok (apalagi narkoba), tidak mabuk- 

mabukan, olahraga teratur, mencukur bulu ketiak setiap minggu, dan 

semua kebiasaan sehat lainnya. Namun, suatu hari dia didiagnosis 

menderita kanker— yang menurut pengetahuan medis saat ini masih 

bisa dipengaruhi faktor keturunan/genetik. Atau, orang yang sama 

traveling ke belahan dunia lain dan terinfeksi dengan kuman setempat. 

Atau, orang yang sama sedang lari pagi dan tiba-tiba ditabrak secara 

tidak sengaja oleh anak muda yang baru pulang party dalam keadaan 

mabuk, dan pada akhirnya orang ini  menderita cacat seumur 

hidup. Sesungguhnya, sama seperti kekayaan, kesehatan sewaktu-

waktu bisa direnggut oleh nasib.

Jadi, menyangkut hal-hal di luar kendali kita seperti kekayaan, 

reputasi, dan kesehatan, bahkan sesudah memilikinya, kita akan 

selalu dihantui rasa was-was kehilangan hal-hal ini . sebab  

semua ini berada di luar kendali kita, maka kemungkinan hal ini  

hilang benar-benar nyata. Kita bisa kehilangan karier, reputasi, status,

pacar, maupun harta dalam sekejap. Lalu, sebab  tidak berada di 

bawah kendali kita, maka hal ini  bisa direnggut sewaktu-waktu 

dari kita, dan tidak masuk akal untuk menggantungkan kebahagiaan 

pada hal-hal yang kapan pun bisa lenyap dari hidup kita. Filsuf Stoa 

mengambil pendekatan yang sangat logis, ngapain lo bahagia untuk 

sesuatu yang sewaktu-waktu bisa hilang?

"Siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di 

luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa 

setia pada dirinya sendiri, namun  akan terus terombang- ambing 

terseret hal-hal ini ,” ujar Epictetus dalam Discourses. Menarik di

sini bahwa Epictetus mencatat dua sikap umum terhadap hal-hal di 

luar kendali kita: mengingininya [seperti mengingini kekayaan, 

popularitas, kecantikan, dan lain-lain), dan juga menghindarinya.

Kita bisa terobsesi menghindari hal-hal buruk dalam hidup kita, 

seperti kemiskinan, kesusahan hidup, kejahatan, kematian, dan lain-

lain. Namun, sama dengan keinginan, maka menghindari hal-hal yang

di luar kendali kita adalah kesia-siaan. Keinginan dan ketakutan akan 

hal-hal di luar kendali kita bagaikan rantai yang membelenggu, 

sehingga kita tidak pernah benar-benar merdeka. saat  segala 

keputusan hidup kita didorong dan dipengaruhi oleh nafsu ingin 

memiliki—atau menghindari—hal- hal di luar kendali kita, sebenarnya 

kita telah diperbudak hal- hal ini .

Jika ingat empat kebajikan/wrfue dalam  (keberanian, 

kebijaksanaan, menahan d'\r'\/temperance, dan keadilan), maka dua 

di antaranya (keberanian dan menahan diri) adalah sikap 

menghadapi hal-hal di luar kendali di atas. Manusia yang rasional 

diharapkan bisa menahan diri dari keinginan akan hal-hal di luar 

kendali kita (harta benda, reputasi, kenikmatan ragawi seperti 

makanan, minuman, seks, kesehatan). Sebaliknya, keberanian timbul

sebab  kita sadar

kebahagiaan kita tidak tergantung pada hal-hal di luar kendali kita. Jika 

kekayaan, reputasi, kesehatan kita diambil dari kita, kita bisa tetap bahagia, jadi 

mengapa takut?

Pasrah pada Keadaan?

Dengan dikotomi kendali seperti di atas, apakah Stoisisme mengajarkan kita 

untuk pasrah pada keadaan? Sama sekali tidak. Di semua situasi, bahkan saat 

kita merasa tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang

tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi. Ada sebuah analogi menarik di dalam 

literatur Stoisisme yang menjelaskan tentang kemerdekaan di dalam situasi yang

tidak bisa kita kendalikan:

Bayangkan seekor anjing yang terikat lehernya ke sebuah gerobak. Saat 

gerobak bergerak, anjing ini punya pilihan. Pertama, dia bisa ngotot pergi 

berlawanan arah dengan si gerobak, yang hasilnya adalah lelah, sebab  dia tidak

mungkin bisa menang melawan gerobak itu, dan lehernya akan tercekik sampai 

tersengal-sengal. Pilihan kedua, dia bisa memilih untuk berjalan mengikuti arah 

dan kecepatan si gerobak tanpa harus tercekik. Bahkan, dia masih bisa 

menikmati pemandangan—dan bergenit ria dengan anjing lain di jalan. saat  

anjing ini melawan hal-hal yang di luar kendalinya, dalam hal ini gerobak yang 

berjalan, dia hanya menemui penderitaan. Namun, saat  dia memfokuskan 

pada hal yang bisa dikendalikan, yaitu mengikuti gerobak, menikmati 

pemandangan, sambil mengedipkan mata pada anjing-anjing lain, maka dia 

tetap bisa merasa bahagia.

Kalau kita berpikir analogi anjing di atas terlalu “kejam” untuk diterapkan di 

situasi manusia, coba bayangkan pengalaman kedua orang berikut. Pertama, 

ada Vice Admiral James Stockdale, seorang pilot Angkatan Laut Amerika Serikat

yang terjun di Perang Vietnam. Stockdale menerbangkan 150 misi terbang di 

atas wilayah musuh, Vietnam Utara, dan pada September 1965, pesawatnya 

ditembak jatuh di wilayah musuh. Stockdale berhasil menyelamatkan diri dengan

terjun keluar menggunakan parasut.  yang dipelajarinya akan 

menjadi bekalnya bertahan hidup, secara fisik dan moril. Saat ia harus memasuki

wilayah musuh, Stockdale berkata pada dirinya sendiri, "Saya meninggalkan 

dunia teknologi, dan memasuki dunia Epictetus."


Sesudah ditangkap, Stockdale dikeroyok dan dipukuli oleh tentara 

musuh sedemikian rupa yang di kemudian hari menyebabkan ia 

berjalan pincang untuk seumur hidupnya. Stockdale ditahan sebagai 

tawanan perang selama 7,5 tahun, dan lebih dari 4 tahun dari masa 

itu dihabiskan dalam sel isolasi (bayangkan, kamu tidak bisa 

berhubungan dengan manusia lain selama lebih dari 4 tahun!).

Selama ditawan, Stockdale disiksa selama 15 kali. Selama di 

tahanan itu juga, Stockdale berusaha mempertahankan moril 

tawanan yang lain dan menghibur mereka jika mereka akhirnya 

takluk di bawah penyiksaan fisik. Sesudah bertahun-tahun melalui 

isolasi, cedera permanen, sampai penyiksaan, akhirnya Stockdale 

dibebaskan dan kembali ke Amerika Serikat. Beliau kemudian 

menuliskan esai berjudul “Courage Under Fire: Testing Epictetus's 

Doctrines In A Laboratory of Human Behavior" [Keberanian Dalam 

Serangan: Menguji Doktrin Epictetus Di Dalam Laboratorium Perilaku 

Manusia), bagaimana Stoisisme membantunya melalui episode 

paling gelap dalam hidupnya.

Kedua, jika kamu mengalami situasi di mana ayah, ibu, saudara laki-

laki, dan istrimu yang sedang hamil harus mati di kompleks tahanan 

[ghetto] dan kamp konsentrasi di waktu yang berdekatan, apakah 

kamu bisa tetap waras dan tegar? Itulah yang dialami Viktor Frankl, 

seorang psikiater yang hidup di Austria saat Perang Dunia II. saat  

tentara Nazi Jerman memasuki Austria, Frankl dan keluarganya yang 

keturunan Yahudi diciduk dan dikirim ke ghetto Yahudi, kemudian 

dipindahkan lagi ke kamp konsentrasi. Ayah Frankl meninggal di 

ghetto pada 1943, lalu ibu, saudara laki-laki, dan istrinya dibunuh di 

kamp konsentrasi.

Selama di kamp konsentrasi, Frankl tetap aktif bekerja menyediakan 

kelas pengajaran dan juga layanan kesehatan bagi sesama tawanan,

sampai akhirnya ia dibebaskan dengan datangnya pasukan Amerika 

Serikat. Seusai Perang Dunia II, Frankl kembali ke Vienna dan 

menulis artikel  mengenai pengalamannya di kamp konsentrasi. 

artikel nya yang berjudul Man’s Search for Meaning (Pencarian 

Manusia akan Makna] menjadi salah satu artikel  psikologi paling 

populer sepanjang masa dan menjadi basis untuk terapi psikologi 

Frankl yang disebut Logotherapy.

Dari pengalamannya, Frankl menyimpulkan bahwa di dalam situasi 

yang paling menyakitkan dan tidak manusiawi, hidup masih bisa 

memiliki makna, dan sebab nya, penderitaan pun dapat bermakna 

[meaningful). Kita tidak bisa memilih situasi kita, namun  kita selalu bisa

menentukan sikap [attitude) kita atas situasi yang sedang dialami.

Kisah kedua tokoh di atas cukup memberikan jawaban apakah 

 artinya identik dengan "pasrah pada keadaan”. Baik 

Stockdale maupun Frankl berada di situasi yang tidak bisa 

dikendalikannya—ditahan oleh musuh perang—namun  dalam kondisi 

yang terkesan dibatasi, ternyata mereka masih memiliki kebebasan 

untuk "memberikan respon”. Baik respon di dalam diri, di dalam 

pikiran (menolak untuk menyerah dan putus asa), sampai respon 

eksternal (tetap memilih aktif membantu sesama di dalam situasi 

nestapa).

Seperti dikatakan Epictetus dalam Discourses,

"Misalkan saya harus mati. Haruskah saya mati sambil menjerit-

jerit dan menangis?

Atau, tangan dan kaki saya harus dirantai. Haruskah saya 

melakukannya sambil mengeluh dan menggerutu?

Saya harus dibuang [exiled]. Adakah yang bisa menghentikan 

saya untuk menjalaninya dengan senyuman dan tetap tenang?”

Tidak ada kemerdekaan yang benar-benar hilang, bahkan di situasi di

mana seolah kebebasan kita sudah direnggut sama sekali, atau 

situasi yang tampak sudah sangat gelap sekalipun.

Dikotomi Kendali di Situasi Sehari-hari

Dalam kisah Admiral Stockdale dan Viktor Frankl di atas, jelas sekali 

penerapan dari apa yang dimaksud para filsuf Stoa mengenai 

memisahkan hal-halyang bisa dikendalikan dan yang tidak. Fokus 

kepada hal-halyang bisa kita kendalikan bisa membantu kita melalui 

masa hidup tersulit sekalipun, sebab  sikap dan persepsi kita "ada 

sepenuhnya di bawah kendali kita”.

Saya rasa sebagian besar pembaca artikel  ini mungkin tidak akan 

pernah harus menghadapi risiko ditawan musuh di dalam 

peperangan. Namun, jika  bisa membantu Admiral 

Stockdale dan Viktor Frankl dalam menjalani situasi terberat hidup 

mereka, tentunya filosofi ini bisa lebih banyak membantu kita dalam 

menghadapi tantangan hidup yang mungkin tidak seberat dan 

sekeras kedua orang ini .

Mari kita ambil situasi umum di antara para pembaca muda, yaitu first

date, atau kencan pertama, situasi yang bisa menyebabkan penuh 

kecemasan bagi kedua belah pihak.  bahkan bisa 

diterapkan di sini. Rasanya, hampir sebagian besar dari kita pasti 

merasa deg-degan saat akan nge- date pertama, apalagi jika orang 

yang diajak kencan sudah lama kita idam-idamkan. Ketakutan paling 

besar adalah, "Apakah kencan gue akan sukses?", "Apakah dia 

bakalan tertarik sama gue?", Apakah orang tuanya bakalan melepas 

anjing doberman saat gue memencet bel rumahnya?", dan lain-lain.

Dengan dikotomi kendali, kita bisa memisahkan kencan pertama ini 

menjadi beberapa bagian. Misalnya dari perspektif si cowok:

• Perasaan si cewek ini . Ini sudah jelas di luar kendali kita. 

Para filsuf Stoa akan berkata kepada kita, "Gak usah dipusingin\ 

Lo gak bisa memaksa perasaan dan opini si cewek! Berhenti 

mikirin hal-hal di luar kendali lo!”

• Kalau begitu, apa yang masih bisa di bawah kendali kita? 

BANYAK! Kita bisa memilih untuk tampil bersih, mandi sebelum 

bertemu, sikat gigi, memakai deodoran, jangan berbau seperti 

daging tetelan (ingat ada doberman), wangi dengan parfum (tapi 

jangan berlebihan supaya wanginya tidak sama seperti toilet 

mal...), memakai baju yang rapi dan matching dari atasan sampai

kaus kaki, datang TEPAT WAKTU, sopan menyapa dia (dan 

orang tuanya kalau ada, juga dobermannya), mengajak makan di

tempat yang menyenangkan, dan selalu bersikap gentleman. 

Masih banyak hal lain di bawah kendali kita yang bisa dipikirkan.

• Saat kita sudah melakukan semua yang terbaik di dalam kendali 

kita, maka itu sudah cukup. Relax and enjoy the result. 

Seandainya si cewek ternyata menyukai kita, syukurlah. Akan 

namun , jika ternyata si cewek tidak menyukai kita—dengan 

catatan kita tidak melakukan

 60

hal-hal memalukan selama nge-date, seperti mengupil di depan dia, 

misalnya—maka, dengan menyadari bahwa respon orang di lain 

berada di luar kendali diri sendiri, kita bisa lebih cepat menerima 

keadaan itu.

• Saat kita mengurangi memusingkan hal-hal di luar kendali diri 

sendiri, seperti "Duh, gue keliatan ganteng apa gentong ya di mata 

dia?", "Gue keliatan pintar gak ya?", "Bokapnya tadi impressed 

gakya sama gue?", dan lain-lain, kita jadi lebih memiliki waktu dan 

energi untuk hal-hal lain yang bisa kita lakukan dan justru 

meningkatkan daya tarik kita di mata si cewek. Inilah manfaat praktis

dari penerapan dikotomi kendali, yaitu realokasi waktu dan tenaga 

untuk hal-hal yang lebih bisa kita atur/kendalikan.

Skenario di atas hanyalah sebuah contoh situasi sehari-hari di mana 

dikotomi kendali bisa diterapkan. Mari kita lihat contoh situasi lainnya 

yang umum kita temui:

• Prestasi di sekolah. Apakah nilai, prestasi akademis, dan kelulusan 

sepenuhnya berada di bawah kendali kita? Pasti jawaban spontan 

adalah, “Iya dong! Kan kita berupaya mati-matian untuk 

mendapatkan nilai yang bagus, dari belajar sampai menyontek. 

Masa sih tidak berada di bawah kendali kita?” Namun, coba kita 

renungkan juga betapa banyak faktor eksternal yang bisa 

menentukan prestasi akademis kita, mulai dari kebagian dosen/ guru

killer, mendapatkan teman tugas kelompok yang malas, sampai hal-

hal tak terduga seperti orang tua yang mendadak tidak memiliki uang

untuk membiayai sekolah kita. Masih yakin prestasi akademis ada 

sepenuhnya di bawah kendali kita?

• Karier di kantor. Mirip dengan prestasi akademis, jika kita bekerja 

keras, pandai, rajin, apakah kita bisa menjamin akan mendapatkan 

kenaikan jabatan dan gaji secara fair? Kamu yang sudah beberapa 

tahun bekerja di kantor akan menyadari bahwa ada banyak sekali 

faktor di luar kendali, seperti bos yang punya sentimen pribadi atau 

anak emas sendiri, subjektivitas soal definisi “kinerja yang baik”, 

kolega yang dengki, aturan perusahaan yang berubah, kinerja 

perusahaan (untung/rugi), atau hal-hal di luar perusahaan seperti 

kondisi ekonomi, perubahan selera


Have  courage  and  be  kind

(hiduplah  dengan  berani  dan

tetap ramah kepada orang lain)”

pasar, dan lain-lain. Sesungguhnya, perjalanan karier kita di kantor 

banyak sekali dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar kendali kita.

• Relationship. Kamu yang pernah patah hati akibat 

diputusin semena-mena pasti tahu bahwa rasa cinta

dan sayang pasangan kita sesungguhnya tidak bisa

dipaksakan. Kita bisa rajin mengirimkan bunga, 

cokelat, sampai bitcoin kepada sang kekasih, tapi 

pada akhirnya, perasaannya yang sesungguhnya 

ada di hatinya.

• Kompetisi/perlombaan yang kita ikuti. Kita bisa 

berlatih keras, namun  saat hari pertandingan, selalu ada faktor- 

faktoryang bisa tidak memihak kita, entah itu perubahan cuaca, 

macam-macam gangguan teknis di lapangan, sampai kenyataan 

bahwa peserta lomba/kompetisi yang lain memang lebih bagus dari 

kita.

• Keadaan sosial politik di sekitar kita. Membaca berita tentang 

korupsi, ketidakadilan, teror, dan kebencian yang ada membuat kita 

sadar bahwa kita sungguh- sungguh tidak memiliki kendali atas 

kejadian-kejadian di masyarakat.

• Di samping itu, ada begitu banyak bagian hidup lain yang akan 

membuat kita menyadari bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki 

kendali atasnya, seperti hasil investasi, pilihan hidup anak-anak, dan 

banyak lagi.

F

F

“saat  orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan 

rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha 

menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka 

akan merasa terganggu, ketakutan, dan labil.” - Epictetus 

[Discourses)

Cinderella adalah tokoh fiktif, dongengan untuk anak kecil. Akan namun , 

bagi saya film Cinderella (2015) mengingatkan tentang  

melalui perbandingan antara tokoh Cinderella dan Ibu Tiri.

Di dalam filmnya, Cinderella (Ella) dikisahkan sebagai seseorang yang 

memiliki masa kecil yang bahagia dengan orang tua yang kaya raya, 

sampai suatu hari ibunya meninggal dan ayahnya menikahi seorang 

janda dari sahabatnya. Saat 

ayahnya pun meninggal, Ella harus menghadapi kenyataan bahwa ibu 

tirinya berlaku kejam terhadapnya dan keindahan masa kecilnya, yang 

penuh kemewahan dan kasih sayang orang tua, berubah drastis seratus 

delapan puluh derajat.

Film Cinderella mengontraskan perbedaan sikap antara Ella dan si ibu 

tiri. Sebelum meninggal, ibu kandung Ella berpesan kepadanya, “Have 

courage and be kind (hiduplah dengan berani dan tetap ramah kepada 

orang lain)". Dengan pesan ini, Ella menjalani perubahan hidupnya 

dengan tabah dan tetap ramah kepada orang lain, bahkan kepada 

makhluk hidup lain, seperti tikus penghuni rumahnya. Sebaliknya, si ibu 

tiri digambarkan tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia kehilangan 

sumber uang, yaitu suami yang juga ayah Ella, dan terus merasa 

terancam akan jatuh miskin.

Cinderella menunjukkan nilai Stoa dengan tidak terobsesi pada hal di luar

kendalinya (kekayaan keluarga), dan mengikuti nasihat mendiang ibunya 

untuk selalu bersikap "berani dan ramah” (yang ada di bawah 

kendalinya). Dia juga digambarkan sebagai karakter yang bisa tetap 

merasa riang dan bahagia. Sebaliknya, si ibu tiri yang selalu memikirkan 

harta (yang ada di luar kendalinya), digambarkan sebagai sosok yang 

serakah, bahkan bisa bengis pada anak tirinya sebab  nafsu kekayaan. Si

ibu tiri tidak mampu merasakan kebahagiaan yang sejati.

Dari Dikotomi Kendali menjadi Trikotomi Kendali

Sebagian dari kamu mungkin saat ini merasa tidak nyaman dengan 

pembagian kategori menjadi dua seperti contoh sebelumnya. Okelah,

kalau mengenai cuaca hari ini (apakah hari akan panas atau hujan) 

atau saya akan duduk di sebelah siapa di kereta [saat bepergian 

sendirian), hal-hal ini  benar-benar di luar kendali kita. Namun, 

ikut memasukkan prestasi sekolah, pekerjaan, prestasi perlombaan, 

sampai relationship ke dalam kategori yang sama (tidak bisa 

dikendalikan) sepertinya sangat tidak memotivasi kita untuk 

berupaya dan bekerja keras. Tentunya realitas hidup tidak 

sesederhana pembagian dua kategori ini?

Ini adalah protes yang cukup valid, sebab  bagaimanapun, tentunya 

kita masih bisa punya andil dan kontribusi di dalam menentukan 

prestasi sekolah, prestasi kerja, kinerja bisnis, kesehatan, dan 

reputasi kita. William Irvine di dalam artikel nya A Guide To Good Life: 

The Ancient Art of Stoic Joy menawarkan solusi untuk keresahan di 

atas dengan cara merevisi dikotomi kendali menjadi trikotomi (tiga 

kategori) kendali. Trikotomi kendali terdiri dari:

• Hal-hal yang bisa kita kendalikan, seperti opini, persepsi dan 

pertimbangan kita sendiri.

• Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti cuaca, opini dan 

tindakan orang lain.

• Hal-hal yang bisa SEBAGIAN kita kendalikan. Irvine 

mengusulkan bahwa sekolah, pekerjaan, perlombaan, 

hubungan dengan pasangan, bisa dimasukkan ke dalam 

kategori ketiga (SEBAGIAN dalam kendali). Bagaimana cara 

penerapan kategori yang ketiga ini di dalam hidup sehari-hari? 

Dengan memisahkan tujuan di dalam diri /internal goal) dari 

hasil eksternal /outcome-nya].

Contoh penerapan poin ketiga adalah sebagai berikut. Kamu menghadapi 

sidang skripsi. Kita tahu bahwa HASIL dari sidang skripsi tidak bisa 

dimasukkan ke dalam kategori ‘di bawah kendali kita’, sebab  banyak faktor 

tak terduga di luar kendali kita, seperti mood dosen penguji hari itu, apakah 

laptop kita akan berfungsi atau tidak, dan lainnya. Akan namun , tentunya ada 

bagian dari pengerjaan skripsi yang masih berada di bawah kendali kita, 

misalnya persiapan kita dalam memahami topik, presentasi yang kita 

siapkan, dan istirahat fisik yang cukup. Maka, Irvine menganjurkan kita untuk

memisahkan "hasil” (sebagai hal yang di luar kendali kita), dari ''internalgoal"

atau target bagi diri sendiri yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita.

Dalam contoh sidang skripsi, internal goal adalah belajar yang rajin, benar-

benar memahami materi skripsi, latihan pr