menyiapkan rencana untuk menghadapi
peristiwa yang mungkin akan terjadi. Sepak terjang Angkatan Darat
dalam masa pasca-G-30-S tidak bisa diterangkan sebagai serangkaian
jawaban-jawaban improvisasi semata-mata.
Para perwira militer dalam G-30-S yang berkumpul di Halim
(Untung, Latief, Soejono) sudah siap menghentikan operasi sebelum
mereka mengetahui tentang rencana serangan balasan Suharto. Sukarno
sudah memerintahkan mereka untuk mundur saat hari menjelang siang.
Berbeda dengan Aidit dan Sjam, mereka bersedia menaati perintah
presiden. Beberapa saat menjelang siang Untung menandatangani
dokumen-dokumen yang menyerukan dibentuknya Dewan Revolusi
Indonesia, tapi ia sendiri memandang keikutsertaan dirinya di dalam
G-30-S sudah selesai. Bahkan saat ia, Latief, dan Soejono mengeta-
hui Suharto sedang merencanakan serangan balik, mereka tidak meng-
organisasi pasukan untuk membela diri. Supardjo bersikukuh bahwa
mereka harus melawan Suharto dan Nasution. Ia berusaha menyusun
kembali pasukan G-30-S yang ada di Lapangan Merdeka dan bekerja
sama dengan pasukan udara Omar Dani. namun Supardjo mendapati
pimpinan inti aksi ini tidak tanggap, bingung, dan lelah. Para perwira
sudah marah kepada Sjam sebab mengkhianati tujuan semula mereka
dengan pengumumannya melalui radio tentang pendemisioneran kabinet
Sukarno. Mereka belum pernah berunding untuk mengadakan kup. Di
tengah-tengah keadaan genting demikian Latief berbicara panjang lebar
tentang tetek-bengek yang tidak perlu. Untung dan Latief mengharap-
kan teman lama mereka, Suharto, akan mengambil sikap netral atau
tampil mendukung mereka. saat pada siang hari mereka mendengar
tentang tindakan-tindakan Suharto, mereka menduga ia mempunyai tipu
muslihat yang dirahasiakan, bahwa sebenarnya ia tidak akan menyerang
G-30-S.
Begitu pasukan Suharto merebut kembali Lapangan Merdeka dan
stasiun RRI pada sekitar pukul 18.00 dan sekitar satu jam kemudian
ia membacakan pengumuman yang menyatakan G-30-S sebagai kon-
trarevolusioner, lima pimpinan inti G-30-S menyadari bahwa mereka
telah dikalahkan di Jakarta. Dalam keadaan putus asa dan bingung oleh
semua penyimpangan dari rencana semula, mereka tidak bisa mengambil
keputusan tentang strategi untuk menghadapi Suharto. Mereka tidak
mendesak perwira-perwira Angkatan Udara di Halim untuk membom
Kostrad pada malam hari 1 Oktober. Mereka tidak memakai
Batalyon 454 yang berdiri di sekitar jalan-jalan di selatan Halim untuk
mempertahankan diri terhadap pasukan RPKAD yang sedang mendekat
pada pagi 2 Oktober. Komandan batalyon, atas prakarsa sendiri, hampir
terlibat dalam pertempuran dengan pasukan RPKAD, tapi mengundur-
kan diri memenuhi permintaan para perwira AURI yang tidak meng-
ingini adanya pertempuran di sekitar pangkalan udara. Begitu Batalyon
454 bubar pagi itu, G-30-S tidak lagi mempunyai sisa kelompok pasukan
yang cukup besar.
Satu-satunya harapan tinggal terletak di daerah-daerah. Jawa Tengah
merupakan basis PKI yang paling kuat dan tempat Biro Chusus menjalin
jaringan paling luas di kalangan militer. sebab alasan inilah Jawa Tengah
merupakan satu-satunya provinsi tempat G-30-S mewujudkan diri.
Aidit dan Sjam, yang telah berketetapan untuk meneruskan G-30-S
memutuskan bahwa Aidit harus terbang ke Jawa Tengah dan memimpin
perlawanan dari sana. Malam hari itu mereka meminta Supardjo, yang
berhubungan baik dengan Omar Dani, agar meminta bantuan Dani
untuk menerbangkan Aidit keluar Jakarta. Dani menyiapkan sebuah
pesawat untuk Aidit, dan satu pesawat lagi untuknya sendiri. Walaupun
Dani tidak ikut bertanggung jawab atas G-30-S, tapi pernyataan du-
kungannya terhadap gerakan ini, yang dirancang sebelum pengumuman
pembubaran kabinet Sukarno, telanjur disiarkan melalui radio. Ia lari
untuk melindungi dirinya.
Begitu Aidit tiba di Yogyakarta, ia tidak tahu harus pergi ke mana
dan menemui siapa. Tindakan ini tidak ada dalam rencana semula. Ia
akhirnya tidak bisa mengorganisasikan gerakan perlawanan. Di Jawa
Tengah sayap militer G-30-S juga hancur dengan cepat, dan akibatnya,
sisi sipil gerakan ini menjadi ragu-ragu untuk secara terbuka menyatakan
dukungannya. Provinsi ini secara umum tenang sejak 3 Oktober sampai
kedatangan pasukan RPKAD di ibu kota provinsi, Semarang, pada 18
Oktober. Aidit tetap berada di bawah tanah, menunggu Sukarno mengu-
payakan agar Angkatan Darat mengikuti perintahnya dan menghentikan
penindasannya terhadap PKI. Aidit tidak mengorganisasi atau memerin-
tahkan perlawanan terhadap Angkatan Darat. Perang mati-matian antara
PKI dan Angkatan Darat bukan hanya akan mengakibatkan kematian
banyak pendukung partai, tapi juga akan mempersulit Sukarno mene-
gaskan kembali wewenangnya terhadap Suharto. Kehancuran G-30-S
memaksa Aidit memutar haluan. Pada sore hari 1 Oktober ia mengira
G-30-S akan meluas dan menjadi cukup kuat untuk menata kembali
seluruh negara. Ia menyetujui pengumuman radio yang mendemi-
sionerkan kabinet Sukarno. Tapi begitu G-30-S hancur, ia kembali ke
strategi lama partai, yaitu bergantung kepada Sukarno untuk melindungi
partai.
Menghilangnya Aidit dari Jakarta dan strategi yang mendadak
berbalik, serta sikap Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto yang
agresif sangat membingungkan pimpinan partai di Jakarta. Kekuatan
partai selama ini terletak pada hierarkinya yang ketat, dengan perintah-
perintah dan informasi dari atas ke bawah. Bahkan anggota-anggota inti
Politbiro (misalnya Lukman, Njoto, dan Sudisman) kelabakan oleh suatu
aksi yang – berlawanan dengan harapan mereka – mengumumkan pen-
demisioneran kabinet Sukarno, lalu tumbang dengan cepat. Dengan PKI
yang tidak siap dan pasif, tentara Suharto tak mengalami kesulitan yang
berarti untuk menyerangnya. Seandainya saja PKI memutuskan untuk
melawan, partai ini bisa dengan serius menghalangi tentara Suharto.
Buruh kereta api bisa menyabot kereta api yang mengangkut pasukan
ke Jawa Tengah; montir-montir anggota serikat buruh di pangkalan
kendaraan bermotor militer bisa menyabot jip, truk, dan tank; kaum
tani bisa menggali lubang-lubang besar di jalan-jalan untuk menghadang
gerak pasukan; para perwira dan prajurit simpatisan partai di kalangan
militer bisa menyerang kelompok loyalis Suharto; pemuda-pemuda
anggota Pemuda Rakjat bisa memerangi pemuda-pemuda antikomunis
yang digalang militer. Namun partai tidak melawan ofensif Angkatan
Darat. Banyak orang yang terkait dengan PKI atau organisasi-organi-
sasi sayap kiri dengan sukarela melapor ke kantor-kantor atau pos-pos
militer dan polisi saat mereka dipanggil dalam Oktober-November
1965, dengan keyakinan akan dibebaskan kembali sesudah beberapa
saat lamanya mereka diperiksa. sebab merasa tidak berbuat apa pun
untuk membantu G-30-S, mereka tidak menduga akan ditahan selama
waktu tak terbatas tanpa dakwaan dan dituduh memainkan peranan
dalam rencana besar untuk melakukan pembunuhan massal.13 Huru-
hara itu diduga ibarat badai yang akan segera berlalu dan membiarkan
kewenangan Sukarno tetap utuh.
PURNAKATA
Orang boleh memandang pembunuhan politik terhadap PKI yang diatur
Angkatan Darat merupakan hasil dari pertikaian amoral untuk mem-
perebutkan kekuasaan negara: jika G-30-S berhasil dan PKI menang,
Angkatan Darat dan orang-orang sipil nonkomunis yang memihak
Angkatan Darat akan mengalami penderitaan yang sama. Kedua belah
pihak bisa dilihat sebagai para petinju. Bahasa yang digunakan saat itu
pun memperlihatkan analogi, misalnya: “memukul atau dipukul” dan
“pukulan yang menentukan.” Koran PKI menggambarkan G-30-S
sebagai tinju yang menghantam wajah Dewan Jenderal. sebab orang
tidak akan merasa kasihan kepada petinju yang terjungkal, maka ia se-
harusnya, demikian tampaknya, juga tidak akan merasa kasihan kepada
anggota-anggota PKI yang ditahan dan yang dibantai oleh Angkatan
Darat. Pandangan seperti ini di Indonesia sudah menjadi lumrah di
kalangan orang-orang yang mendapat keuntungan dari rezim Suharto.
Korban sebenarnya sama sekali bukan korban. Mereka orang-orang
kalah yang akan berbuat kekerasan yang sama atau bahkan lebih kejam
terhadap lawan mereka seandainya mereka memperoleh kesempatan.
Pandangan serupa ini keliru menafsirkan pembunuhan politik
antikomunis. G-30-S diorganisasi sebagai pemberontakan terhadap
pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Seandainya pasukan Suharto menang-
gapi G-30-S dengan setimpal, seharusnya mereka hanya menangkap
dua belas orang anggota Politbiro PKI, begitu juga tokoh-tokoh militer
dan sipil yang terlibat di dalam G-30-S. Tapi bahwa Angkatan Darat
memburu setiap anggota PKI dan setiap anggota ormas yang terkait
dengan PKI memperlihatkan bahwa tanggapan Angkatan Darat tidak
ditetapkan oleh kebutuhan untuk menindas G-30-S saja. Maka, kita
berhadapan dengan seorang petinju yang tidak sekadar memukul knock-
out lawannya di atas gelanggang, tapi meneruskan serangannya kepada
semua penggemar petinju yang kalah yang ada di stadion, kemudian
mengejar-ngejar serta menyerang semua penggemar petinju lawannya
di seluruh penjuru tanah air, bahkan terhadap mereka yang tinggal jauh
dan tidak pernah mendengar tentang pertandingan itu sama sekali.
Bagi Suharto identitas para organisator G-30-S yang sebenarnya
tidak penting. Dia dan para perwira Angkatan Darat kliknya mulai
menyerang PKI dalam empat hari sesudah kejadian, bahkan sebelum
mereka mendapat bukti bahwa PKI memimpin G-30-S. Bukan masalah
bagi Suharto dan para opsirnya bila mereka tidak pernah menemukan
bukti bahwa tidak semua orang, kecuali Aidit dan sejumlah kecil
kawan-kawan kepercayaannya (seperti diakui Sudisman dan Sjam pada
1967), sedikit banyak terlibat. Angkatan Darat mulai merekayasa bukti
tentang PKI pada awal Oktober 1965. G-30-S merupakan dalih yang
tepat sekali untuk melaksanakan rencana Angkatan Darat yang sudah
ada sebelumnya untuk merebut kekuasaan. Jenderal-jenderal Angkatan
Darat itu sudah berketetapan hati bahwa perampasan kekuasaan harus
menyasar PKI sebagai musuh sambil tetap berpura-pura melindungi
Presiden Sukarno.
Tragedi sejarah Indonesia modern tidak hanya terletak pada pem-
bunuhan massal 1965-66 yang diorganisasi Angkatan Darat saja, tapi
juga pada bertakhtanya para pembunuh, yang memandang pembunuhan
massal dan operasi-operasi perang urat syaraf sebagai cara-cara sah dan
wajar dalam mengelola tata pemerintahan. Sebuah rezim yang meng-
absahkan dirinya dengan mengacu kepada sebuah kuburan massal di
Lubang Buaya dan bersumpah “peristiwa sematjam ini tidak terulang
lagi” (seperti tertera di Monumen Pancasila Sakti) mewariskan kuburan
massal tak terbilang dari satu ujung tanah air ke ujung lainnya, dari
Aceh di tepi barat sampai Papua di tepi timur. Pendudukan Timor Leste
dari 1975 sampai 1999 telah meninggalkan puluhan ribu, jika bukan
ratusan ribu, korban mati, kebanyakan terkubur tanpa nama. Setiap
kuburan massal di Nusantara menandai pelaksanaan kekuasaan negara
yang sewenang-wenang, tidak terbuka, dan rahasia, serta mencemooh
budaya politik era-Suharto: hanya orang-orang sipil yang melakukan
kekejaman dan hanya tentara yang menjaga kesatuan negeri ini. Pengera-
matan peristiwa yang relatif kecil (G-30-S) dan penghapusan peristiwa
bersejarah tingkat dunia (pembunuhan massal 1965-66) telah mengha-
langi empati terhadap korban, seperti keluarga para perempuan dan laki-
laki yang hilang. Sementara berdiri sebuah monumen di dekat sumur,
tempat tentara G-30-S membuang jasad tujuh perwira Angkatan Darat
pada 1 Oktober 1965, tidak ada satu monumen pun menandai kuburan-
kuburan massal yang menyimpan ratusan ribu orang yang telah dibunuh
atas nama penumpasan G-30-S. Begitu sedikit yang diketahui dengan
rinci atau kepastian tentang jumlah orang yang mati, nama mereka,
lokasi kuburan massal, cara bagaimana mereka dibantai, dan jati diri
para pelaku. Di luar Lubang Buaya tersimpan misteri lebih banyak dan
lebih ruwet lagi.
BEBERAPA PENDAPAT JANG MEMPENGARUHI
GAGALNJA “G-30-S” DIPANDANG DARI SUDUT MILITER
(1966)
Brigadir Jenderal Supardjo
Dokumen ini merupakan bagian dari berkas rekaman persidangan
Mahmilub untuk Supardjo pada 1967. Petugas-petugas militer mem-
peroleh salinan dari dokumen asli mungkin saat mereka menangkap
Supardjo pada Januari 1967 atau saat mereka menyita dokumen-
dokumen yang diselundupkan ke dalam penjara. Anggota staf Mahmilub
menyalin dari aslinya dengan mengetik. Satu orang yang membaca
dokumen asli pada akhir 1960-an saat berada di dalam penjara bersama
Supardjo yaitu Heru Atmodjo. Ia menegaskan bahwa salinan yang saya
perlihatkan kepadanya sama dengan yang pernah ia baca. saat saya
memperlihatkan salinan yang sama kepada salah satu putra Supardjo,
Sugiarto, ia mengenali gaya penulisan ayahnya dan argumen-argumen
yang dikemukakan ayahnya kepada keluarganya secara lisan.
Pengetik di Mahmilub kemungkinan sudah membuat kesalahan-
kesalahan dalam proses penyalinan. Ia juga mungkin memberi
terjemahan bahasa Indonesia dalam tanda kurung biasa untuk istilah-
istilah Belanda. Semua komentar dalam tanda kurung siku dari saya.
Motto: Dalam kalah terkandung unsur2 menang!
(Falsafah “Satu petjah djadi dua.”)
Kawan pimpinan,
Kami berada di “Gerakan 30 September” selama satu hari
sebelum peristiwa, “pada waktu peristiwa berlangsung” dan “satu hari
sesudah peristiwa berlangsung.”1 Dibanding dengan seluruh persiapan,
waktu jang kami alami yaitu sangat sedikit. Walaupun jang kami
ketahui yaitu hanja pengalaman selama tiga hari sadja, namun yaitu
pengalaman saat2 jang sangat menentukan. Saat2 dimana bedil mulai
berbitjara dan persoalan2 militer dapat menentukan kalah menangnja
aksi2 selandjutnja. Dengan ini kami sampaikan beberapa pendapat,
dipandang dari sudut militer tentang kekeliruan2 jang telah dilakukan,
guna melengkapi bahan2 analisa setjara menjeluruh oleh pimpinan
dalam rangka menelaah peristiwa “G-30-S.”2
Tjara menguraikannja mula2 kami utarakan fakta2 peristiwa
jang kami lihat dan alami, kemudian kami sampaikan pendapat kami
atas fakta2 ini .
Fakta2 pada malam pertama sebelum aksi dimulai:
1. Kami djumpai kawan2 kelompok pimpinan militer pada malam
sebelum aksi dimulai, dalam keadaan sangat letih disebabkan kurang
tidur. Misalnja: kawan Untung tiga hari ber-turut2 mengikuti rapat2
Bung Karno di Senajan dalam tugas pengamanan.3
2. Waktu laporan2 masuk, tentang pasukan sendiri dari daerah2,
misalnja Bandung, ternjata mereka terpaksa melaporkan siap,
sedangkan keadaan jang sebenarnja belum.
3. sebab tidak ada uraian jang jelas bagaimana aksi itu akan
dilaksanakan maka terdapat kurang kemufakatan tentang gerakan
itu sendiri dikalangan kawan2 perwira di dalam Angkatan Darat.
Sampai ada seorang kawan perwira jang telah ditetapkan duduk dalam
team pimpinan pada saat jang menentukan menjatakan terang2-an
mengundurkan diri.4
4. Waktu diteliti kembali ternjata kekuatan jang positip di fi hak kita
hanja satu kompi dari Tjakrabirawa. Pada waktu itu telah timbul ke-
ragu2-an, namun ditutup dengan sembojan “apa boleh buat, kita tidak
bisa mundur lagi.”
5. Dengan adanja kawan perwira jang mengundurkan diri, maka
terasa adanja prasangka dari team pimpinan terhadap kawan lain di
dalam kelompok itu. Saran2 dan pertanjaan2 dihubungkan dengan
pengertian tidak kemantapan dari si penanja. Misalnja, bila ada jang
menanjakan bagaimana imbangan kekuatan, maka didjawab dengan
nada jang menekan: “ja, Bung, kalau mau revolusi banjak jang
mundur, namun kalau sudah menang, banjak jang mau ikut.” Utjapan2
lain: “kita ber-revolusi pung-pung5 kita masih muda, kalau sudah tua
buat apa.”
6. Atjara persiapan di L.B. [Lubang Buaya] kelihatan sangat padat,
sampai djauh malam masih belum selesai, mengenai penentuan code2
jang berhubungan dengan pelaksanaan aksi. Penentuan dari peleton2
jang harus menghadapi tiap2 sasaran, tidak dilakukan dengan
teliti. Misalnja, terdjadi bahwa sasaran utama mula2 diserahkan
pelaksanaannja kepada peleton dari pemuda2 jang baru sadja
memegang bedil, kemudian diganti dengan peleton lain dari tentara,
namun ini pun bukan pasukan jang setjara mental telah dipersiapkan
untuk tugas-tugas chusus.6
Fakta2 pada hari pelaksanaan:
7. Berita pertama jang masuk bahwa Djenderal Nasution telah
disergap, namun lari. Kemudian team pimpinan kelihatan agak bingung
dan tidak memberi perintah2 selandjutnja.
8. Menjusul berita bahwa Djenderal Nasution bergabung dengan
Djenderal Suharto dan Djenderal Umar di Kostrad. sesudah menerima
berita ini pun, pimpinan operasi tidak menarik kesimpulan apa2.
9. Masuk berita lagi bahwa pasukan sendiri dari Jon Djateng dan Jon
Djatim tidak mendapat makanan, kemudian menjusul berita bahwa
Jon Djatim minta makan ke Kostrad. Pendjagaan RRI ditinggalkan
tanpa adanja instruksi.
10. Menurut rentjana, kota Djakarta dibagi dalam tiga sektor, Selatan,
Tengah dan sektor Utara. namun waktu sektor2 itu dihubungi, semua-
semua tidak ada di tempat (bersembunji).
11. Suasana kota mendjadi sepi dan lawan selama 12 djam dalam
keadaan panik.
12. Djam 19.00 (malam kedua). Djenderal Nasution-Harto dan
Umar membentuk suatu komando. Mereka sudah memperlihatkan
tanda2 untuk tegenaanval [serangan balik] pada esok harinja.
13. Mendengar berita ini Laksamana Omar Dani mengusulkan
kepada Kw. Untung agar AURI dan pasukan “G-30-S” diintegrasikan
untuk menghadapi tegenaanval Nato cs (Nasution-Harto).7 namun
tidak didjawab setjara kongkrit. Dalam team pimpinan G-30-S, tidak
memiliki off ensi-geest [semangat menyerang] lagi.8
14. Kemudian timbul persoalan ketiga. Ja, ini dengan hadirnja Bung
Karno di Lapangan Halim. Bung Karno kemudian melantjarkan
kegiatan sbb:
a) Memberhentikan gerakan pada kedua belah pihak (dengan
keterangan bila perang saudara berkobar, maka jang untung
Nekolim).
b) Memanggil Kabinet dan Menteri2 Angkatan.9 Nasution-
Harto dan Umar menolak panggilan ini . Djenderal Pranoto
dilarang oleh Nasution untuk memenuhi panggilan Bung
Karno.10
c) Menetapkan caretaker bagi pimpinan A.D.
Hari kedua:
15. Kawan2 pimpinan dari “G-30-S” kumpul di L.B. Kesatuan
RPKAD mulai masuk menjerang, keadaan mulai “wanordelik”
[wanordelijk] (katjau). Pasukan2 pemuda belum biasa menghadapi
praktek perang jang sesungguhnja. Pada moment jang gawat itu, sadja
mengusulkan agar semua pimpinan sadja pegang nanti bila situasi
telah bisa diatasi, sadja akan kembalikan lagi. Tidak ada djawaban jang
kongkrit.
16. Kemudian diadakan rapat, diputuskan untuk memberhentikan
perlawanan masing2 bubar, kembali ke rumahnja, sambil menunggu
situasi. Bataljon Djateng dan sisa Bataljon Djatim jang masih ada akan
diusahakan untuk kembali ke daerah asalnja.
17. Hari itu djuga keluar perintah dari Bung Karno agar pasukan
berada di tempatnja masing2 dan akan diadakan perundingan. namun
fi hak Nato tidak menghiraukan dan memakai kesempatan itu
untuk terus mengobrak-abrik pasukan kita dan bahkan P.K.I.
Demikianlah fakta2 jang kami saksikan sendiri dan dari fakta2
ini tiap2 orang akan dapat menarik peladjaran atau kesimpulan jang
berbeda-beda.
Adapun kesimpulan jang dapat kami tarik yaitu sbb:
1. Keletihan dari kawan2 team pimpinan jang memimpin aksi di
bidang militer sangat mempengaruhi semangat operasi, keletihan ini
mempengaruhi kegiatan2 pengomandoan pada saat2 jang terpenting
di mana dibutuhkan keputusan2 jang tjepat dan menentukan dari
padanja.
2. Waktu info2 masuk dari daerah2, sebetulnja daerah belum dalam
keadaan siap sedia. Hal ini terbukti kemudian bahwa masih banjak
penghubung2 belum sampai di daerah2 jang ditudju dan peristiwa
sudah meletus (kurir jang ke Palembang baru sampai di Tandjung
Karang). Di Bandung siap sepenuhnja tapi untuk tidak repot2
menghadapi pertanjaan2 didjawab sadja “sudah beres.”
3. Rentjana operasinja ternjata tidak djelas. Terlalu dangkal. Titik berat
hanja pada pengambilan 7 Djenderal sadja. Bagaimana kemudian
bila berhasil, tidak djelas, atau bagaimana kalau gagal djuga tidak
djelas. Dan apa rentjananja bila ada tegenaanval, misalnja dari
Bandung, bahkan tjukup dengan djawaban: “sudah, djangan pikir2
mundur!” Menurut lazimnja dalam operasi2 militer, maka kita sudah
memikirkan pengunduran waktu kita madju dan menang, dan sudah
memikirkan gerakan madju menjerang waktu kita dipukul mundur.
Hal demikian, maksud kami persoalan mundur dalam peperangan
bukanlah persoalan hina, namun yaitu prosedur biasa pada setiap
peperangan atau kampanje. Mundur bukan berarti kalah, yaitu suatu
bentuk dalam peperangan jang dapat berubah menjadi penjerangan
dari kemenangan. Membubarkan pasukan yaitu menjerah kalah.
Hal ini pula jang menjebabkan beberapa kawan militer
mengundurkan diri, selain kawan tsb di hinggapi unsur ragu2,
namun bisa ditutup bila ada rentjana jang djelas dan mejakinkan atas
djalannja kemenangan.
4. Waktu dihitung2 kembali kekuatan jang bisa diandalkan hanja satu
kompi dari Tjakrabirawa, satu bataljon diperkirakan dari Djateng
dapat digunakan dan satu bataljon dari Djatim bisa digunakan
sebagai fi guran. Ditambah lagi dengan seribu lima ratus pemuda jang
dipersendjatai. Waktu diajukan pendapat, apakah kekuatan jang ada
dapat mengimbangi, maka djawaban dengan nada menekan, bahwa
bila mau revolusi sedikit jang turut, namun kalau revolusi berhasil
tjoba lihat nanti banjak jang turut. Ada pula pendjelasan jang sifatnja
bukan tehnis, misalnja, “kita masih muda, kalau sudah tua, bakal
apa revolusi.” Kembali lagi mengenai masalah kekuatan kita, tjukup
mempunjai kekuatan di Angkatan Darat jang tjukup tangguh.
Dipandang dari segi tehnis militer, maka serangan pokok, dimana
komandan operasi tertinggi sendiri memimpin, harus memusatkan
kekuatannja pada sasaran jang menentukan. Saja berpendapat bahwa
strategi kawan pimpinan yaitu strategi “menjumet sumbu petasan”
di Ibu kota, dan diharapkan mertjonnja akan meledak dengan
sendirinja, jang berupa pemberontakan Rakjat dan perlawanan di
daerah2 sesudah mendengar isjarat ini . Disini terdapat sesuatu
kekeliruan: pertama: Tidak memusatkan induk kekuatan pada sasaran
pokok. Kedua: Tidak bekerdja dengan perhitungan kekuatan jang
sudah kongkrit.
5. Kami dan kawan2 di Staf melakukan kesalahan sebagai
berikut: Menilai kemampuan kawan pimpinan operasi terlalu tinggi.
Meskipun fakta2 njata tidak logis. namun percaya bahwa pimpinan
pasti mempunjai perhitungan jang ulung, jang akan dikeluarkan
pada waktunja. Sesuatu keajaiban pasti akan diperlihatkan nanti,
sebab pimpinan operasi selalu bersembojan “Sudah kita mulai sadja,
dan selandjutnja nanti djalan sendiri.” Kami sendiri mempunjai
kejakinan akan hal ini, sebab terbukti operasi2 jang dipimpin oleh
partai sekawan, seperti kawan Mao Tzetung jang dimulai dengan satu
regu, kemudian kita menumbangkan kekuatan Tjiang Kai Sek jang
djumlahnja ratusan ribu. sesudah peristiwa jang pahit ini, maka kita
sekalian perlu kritis dan bekerdja dengan perhitungan2 jang kongkrit.
Apa jang kami lihat di Lobang Buaja, sebetulnja taraf mempersiapkan
diri sadja belum selesai. Pada malam terachir bematjam2 hal jang
penting belum terselesaikan, umpama: Pasukan jang seharusnja
datang, belum djuga hadir (dari AURI). Ketentuan atau petundjuk2
masih dipersiapkan. Peluru2 di peti2 belum dibuka dan dibagikan.
Dalam hal ini kelihatan tidak ada pembagian pekerdjaan, semua
tergantung dari Pak Djojo.11 Kalau Pak Djojo belum datang,
semua belum berdjalan. Dan kalau Pak Djojo datang, waktu sudah
mendesak.
saat masuk berita bahwa Nasution tidak kena dan melarikan
diri, kelompok pimpinan mendjadi terperandjat, kehilangan akal
dan tidak berbuat apa2. Meskipun ada advis untuk segera melakukan
off ensip lagi, hanja didjawab: “Ja”, namun tidak ada pelaksanaannja.
Selama 12 djam, djadi satu siang penuh, musuh dalam keadaan panik.
Tentara2 dikota diliputi suasana tanda tanja, dan tidak sedikit jang
kebingungan. (Waktu ini kami di istana, djadi melihat sendiri keadaan
di kota.)
Disini kami mentjatat suatu kesalahan jang fundamentil jang
pernah terdjadi dalam suatu operasi (kampanje), jani: “Tidak uitbuiten
[memanfaatkan] sesuatu sukses” (prosedur biasa dalam melaksanakan
prinsip2 pertempuran jang harus dilakukan oleh tiap2 komandan
pertempuran). Prinsip ini diatas, sebetulnja bersumber dari
adjaran Marx jang mengatakan: “Bahwa sesudah terdjadi suatu
pemberontakan, tidak boleh ada sesaat pun dimana serangan terhenti.
Ini berarti bahwa massa jang turut dalam pemberontakan dan
mengalahkan musuh dengan mendadak, tidak boleh memberi
suatu kesempatan pun kepada kelas jang berkuasa untuk mengatur
kembali kekuasaan politiknja. Mereka harus memakai saat jang
itu sepenuhnja, untuk mengachiri kekuasaan rezim dalam negeri.”12
Kami berpendapat, bahwa sebab dari semua kesalahan ini sebab
staf pimpinan dibagi 3 sjaf: a) Kelompok Ketua, b) Kelompok Sjam
cs, c) Kelompok Untung cs. Seharusnja operasi berada di satu tangan.
sebab jang menondjol pada saat itu yaitu gerakan militer, maka
sebaiknja komando pertempuran diserahkan sadja kepada kawan
Untung dan kawan Sjam bertindak sebagai Komisaris politik. Atau
sebaliknja, kawan Sjam memegang komando tunggal sepenuhnja.
Dengan sistim komando dibagi ber-syaf2, maka ternjata pula terlalu
banjak diskusi2 jang memakan waktu sangat lama sedangkan pada
moment tsb. dibutuhkan pengambilan keputusan jang tjepat, sebab
persoalan setiap menit ber-ganti2, susul-menjusul dan tiap2 taraf
persoalan harus satu persatu setjepat mungkin ditanggulangi.
[tidak ada poin enam]
7. Setiap penjelenggaraan perang, seharusnja djauh sebelumnja
mempunjai “Picture of the Battle” (Gambaran Perang). Apa jang
mungkin terdjadi sesudah peristiwa penjergapan, bagaimana situasi
lawan pada setiap saat dan setiap taraf pertempuran, bagaimana situasi
pasukan sendiri, bagaimana situasi pasukan di Djakarta, bagaimana
situasi di Bandung (ingat pusat Siliwangi13), bagaimana situasi di
Djateng dan Djatim, dan bagaimana situasi diseluruh pelosok tanah
air (dapat diikuti via radio). Dengan berbuat demikian, maka kita bisa
melihat posisi taktis di Djakarta dalam hubungannja dengan strategi
jang luas. Dan sebaliknja, perhubungan strategi jang menguntungkan
atau merugikan dapat tjepat2 kita mengubah taktik kita di medan
pertempuran.
Pada waktu musuh panik seharusnja tidak usah diberi waktu.
Kita harus masuk menjempurnakan kemenangan kita. Dalam keadaan
demikian musuh dalam keadaan serba salah dan kita dalam keadaan
serba benar. Satu bataljon jang panik akan dapat dikuasai oleh hanja
kekuatan satu regu sadja. namun hal jang menguntungkan ini tidak
kita manfaatkan. Bahkan kita berlaku sebaliknja:
1) Komandan Sektor (Selatan/Tengah/Utara) dalam keadaan
dimana kita sedang djaya, malah pada menghilang. Mereka
bertugas di antaranja mengurus soal2 administrasi, terhadap
pasukan jang beroperasi dan berada di masing2 sektornja.
namun semua sektor seperti jang telah ditetapkan, hanja tinggal
di atas kertas sadja. Dari sini kita menarik peladjaran dengan
tidak adanja kontak antara satu sama lain (faktor verbinding-
komunikasi), maka masing2 mendjadi terdjerumus dalam
kedudukan terasing, sehingga buta situasi dan menimbulkan
ketakutan.
2) Siaran radio RRI jang telah kita kuasai tidak kita manfaatkan.
Sepandjang hari hanja dipergunakan untuk membatjakan
beberapa pengumuman sadja. Radio stasion yaitu alat
penghubung (mass media). Seharusnja digunakan semaksimal
mungkin oleh barisan Agitasi Propaganda. Bila dilakukan,
keampuhannja dapat disamakan dengan puluhan Divisi tentara.
(Dalam hal ini lawan telah sukses dalam perang radio dan pers.)
3). Pada djam2 pertama Nato cs menjusun komando kembali.
Posisi jang sedemikian ialah posisi jang sangat lemah. Saat itu
seharusnja pimpinan operasi musuh disergap tanpa chawatir
resiko apa2 bagi pasukan kita.
8. Semua kematjetan gerakan pasukan disebabkan diantaranja tidak
makan. Mereka tidak makan semendjak pagi, siang dan malam,
hal ini baru diketahui pada malam hari saat ada gagasan untuk
dikerahkan menjerbu kedalam kota. Pada waktu itu Bataljon Djateng
berada di Halim. Bataljon dari Djatim sudah ditarik ke Kostrad
dengan alasan makanan. Sebetulnja ada 2 djalan jang bisa ditempuh,
pertama: Komandan Bataljon diberi wewenang untuk merektuir
makanan di tempat2 dimana ia berada. Hubungan dengan penduduk
atau mengambil inisiatip membuka gudang2 makanan, separo bisa
dimakan dan selebihnja diberikan kepada Rakjat jang membantu
memasaknja. Dengan demikian ada timbal balik dan tjukup simpatik
dan dapat dipertanggung djawabkan. Djalan kedua: Organisasi sektor
seharusnja menjelenggarakan hal tsb.
9. sesudah menerima berita bahwa Djenderal Harto menjiapkan
tegenaanval dan Laksamana Omar Dani menawarkan integrasi untuk
melawan pada waktu itu, harus disambut baik. Dengan menerima
itu maka seluruh kekuatan AURI di seluruh tanah air, akan turut
serta. namun sebab tidak ada kepertjajaan, bahwa kemenangan
harus ditempuh dengan darah, maka tawaran jang sedemikian
pentingnja tidak mendapat djawaban jang positip. Pak Omar Dani
telah bertindak begitu djauh sehingga telah memerintahkan untuk
memasang roket2 pada pesawat.
10. Faktor2 lain jang menjebabkan kematjetan, terletak pada tiada
pembagian kerdja. Bila kita ikuti sadja prosedur staf jang lazim
digunakan pada tiap2 kesatuan militer, maka semua kesimpang siuran
dapat diatasi. Seharusnja dilakukan tjara bekerdja sbb: Pertama,
perlu ditentukan siapa komandan jang langsung memimpin aksi
(kampanje). Kawan Sjam-kah atau kawan Untung. Kemudian
pembantu2nja atau stafnja dibagi. Seorang ditunjuk bertanggung
djawab terhadap pekerdjaan intel (penjelidikan/informasi). Jang
kedua, ditundjuk dan bertanggung djawab terhadap persoalan
situasi pasukan lawan maupun pasukan sendiri. Dimana, bagaimana
bergeraknja pasukan lawan, bila demikian, apakah advisnja tentang
pasukan sendiri kepada komandan. Kawan jang ketiga ditundjuk
untuk bertanggung djawab terhadap segala sesuatu jang berhubungan
dengan perorangan (personil). Apakah ada jang luka atau gugur,
apakah ada pasukan jang absen, apakah ada anggauta jang morilnja
merosot. Djuga personil lawan mendjadi persoalannja umpama:
soal tawanan, pemeliharaanja, pengamannja dan dsb. Kemudian
kepada kawan jang keempat, ditugaskan untuk memikirkan hal2
jang ada sangkut pautnja dan logistik, pembagian sendjata dan
munisi, pakaian, makanan, kendaraan dsb. sebab menang kalahnja
pertempuran pada dewasa ini tergantung djuga pada peranan bantuan
Rakjat, maka ditundjuk kawan jang kelima, untuk tugas seperti
ini di atas. Djadi singkatnja, komandan dibantu oleh staf-1,
staf-2, staf-3, staf-4, staf-5. Komandan, bila terlalu sibuk, ia bisa
menundjuk seorang wakilnja. Selandjutnja tjara bekerdjanja staf, saja
rasa tidak ada bedanja dengan prinsip2 pekerdjaan partai, berlaku
djuga prinsip sentralisme demokrasi. Staf memberi pandangan2-
nja dan komandan mendengarkan, mengolahnja di dalam fi kiran dan
kemudian menentukan. berdasar keputusan ini staf memberi
directive [perintah] untuk melaksana oleh echelon2 bawahan. Dengan
tjara demikian maka seorang komandan terhindar dari pemikiran
jang subjektif. namun djuga terhindar dari suasana jang liberal. Apa
jang terdjadi pada waktu itu yaitu suatu debat, atau diskusi jang
langdradig (tak berudjungpangkal), sehingga kita bingung melihatnja,
siapa sebetulnja komandan: kawan Sjamkah, kawan Untungkah,
kawan Latifkah atau Pak Djojo? Mengenai hal ini perlu ada
penindjauan jang lebih mendalam sebab letak kegagalan kampanje
di ibu kota sebagian besar sebab tidak ada pembagian komandan dan
kerdja jang wajar.
11. yaitu hal jang remeh, namun hal ini perlu mendapat
perhatian. Umpamanja, tjara2 diskusi terutama jang banjak
dilakukan oleh kawan Latif. Tidak mendahulukan soal2 jang lebih
pokok untuk dipetjahkan terlebih dahulu. Soal2 jang masih bisa
ditunda dibitjarakan kemudian. Di waktu mulut meriam diarahkan
kepada kita, maka jang urgen yaitu bagaimana tindakan kita untuk
membungkam meriam tsb, bukan membitjarakan soal2 lain jang
sebetulnja bisa dibitjarakan kemudian.
12. Dengan kehadirannja Bung Karno di Halim, maka persoalan
telah mendjadi lain. Pada waktu itu, kita harus tjepat dalam silat
politik. Harus tjepat menentukan titik berat strategi kita. Apakah kita
berdjalan sendiri, apakah kita berdjalan dengan Bung Karno. Kalau
kita merasa mampu, segera tentukan garis djalan sendiri. Kalau kita
menurut perhitungan, tidak mampu untuk memenangkan revolusi
sendirian, maka harus tjepat pula merangkul Bung Karno, untuk
bersama2 menghantjurkan kekuatan lawan. Menurut pendapat saya
pada saat2 itu situasi telah berubah dengan keterangan sbb:
1) Bung Karno: a. Memanggil kabinet dan para Menteri Angkatan.
b. Mengeluarkan surat perintah, kedua fi hak agar
tidak bertempur.
c. Memegang sementara pimpinan A.D. dan
menundjuk seorang caretaker untuk pekerjaan intern
A.D.
2) Omar Dani: Tidak mau kalau harus berhadapan dengan Bung
Karno, dan sarannja supaya bersama-sama dengan
Bung Karno melanjutkan revolusi.
3) Ibrahim Adji: Mengeluarkan pernjataan, bila terdjadi apa2 terhadap
Bung Karno, maka Siliwangi akan bergerak ke
Djakarta.
4) M. Sabur: Menilpun RPKAD untuk siap sewaktu2 Bung Karno
dalam bahaya.
5) NATO cs: Menolak panggilan Bung Karno untuk hadir di
Halim.
6) G-30-S: Kawan Sjam tetap revolusi harus djalan sendiri tanpa
Bung Karno. Keadaan Jon Djateng sudah letih dan
belum selesai memetjahkan soal bagaimana makan.
Keadaan pimpinan dalam keadaan bimbang.
7) “Daerah”: Baru Nusatenggara jang memberi reaksi, Bandung
sepi, Djateng sepi, djuga Djatim sepi.
Massa di Djakarta sepi. Daerah2 di seluruh kepulauan
Indonesia, pada waktu itu tidak terdengar tjetusan2
imbangan.
Pertimbangan:
- Bila kita teruskan berevolusi sendiri, maka kita akan berhadapan
dengan Bung Karno + Nato cs dengan Angkatan Daratnja.
- Bila kita rangkul Bung Karno, maka kontradiksi pokok akan beralih
di satu fi hak golongan kiri + golongan Demokratis Revolusioner
dan di lain fi hak hanja golongan kanan sadja. namun dari kita tidak
ada ketentuan garis mana jang harus ditempuh. Dan sementara
itu pun waktu berlalu terus, dan perkembangan semakin kongkrit.
Nato menjusun kekuatannja, Bung Karno mengumpulkan anggota
kabinetnja jang diperlukan.
Pada saat itu sebetulnja situasipun belum terlalu terlambat. Ada tjelah2
di mana segara harus kita masuki dalam persoalan menundjukan siapa
jang mengganti Pangad. Bung Karno minta tjalon dari kita. Dari
fi hak Bung Karno mentjalonkan: 1) Ibrahim Adji dan 2) Mursid.
Dari fi hak kita mentjalonkan Rukman, Pranoto dan Basuki Rachmat.
Achirnja disetudjui Pranoto. Seharusnja kita serahkan sadja kepada
Bung Karno. Dengan demikian kita tidak meminta terlalu banjak.
Dan Bung Karno ada kekuatan dalam menjelesaikan masalah intern
A.D. dan dapat menghalang-halangi glundungnja aksi2 Nato cs.14
namun walaupun demikian, bila Pak Pranoto waktu itu tjekatan
dan dapat memakai wewenang, maka situasi tidak seburuk ini.
Seharusnja dengan surat keputusan itu, ia tjepat pidato di radio dan
umumkan pengangkatannja. Tindakan kedua supaja kedua fi hak
menanti perintah2 tidak saling bertempur. Pak Pran harus djuga
menjusun kekuatan brigade2 di sekitarnja dan langsung ia pimpin.15
Dengan demikian maka langkah2 selandjutnja akan mempunjai
kekuatan. Kemudian segera diisi dengan dalih2 sementara lowongan
staf SUAD jang kosong. Sajang sekali kesempatan jang terachir ini
tidak dipergunakan. Pak Pranoto achirnja sesudah terlambat mulai
berpidato di radio. Itu pun atas desakan saja melalui kawan Endang.16
namun isi pidatonja pun tidak karuan malah mengutuk G-30-S sebagai
gerakan petualangan. Kata2 ini otomatis melumpuhkan perangsang2
revolusi di daerah2 terutama di Djateng. Idee seperti jang dilukiskan
diatas, yaitu idee merangkul Bung Karno bukan semata-mata fi kiran
kompromi jang negatip, namun sesuatu “om te redden wat er te redden
valt,” membela apa jang masih dapat dibela. Andaikata kalah, harus
ada pertanggung djawab, maka hanja pelaksana2 G-30-S sadjalah jang
tampil mempertanggung djawabkannja, sehingga keutuhan Partai
tidak terganggu. Taktik ini diatas tidak lain bila kita mengetahui
akan mendapatkan hanja kulitnja telur sadja, maka lebih baik
mendapatkan isinja, walaupun hanja separuh sadja (beter een halve ei
dan een lege dop).
13. Achirnja Nato cs memegang inisiatip dan tidak menghiraukan
apa2 dan memulai dengan tegen off ensifnja. Kekuatan militer G-30-S
mereka kedjar dan kesempatan jang lama mereka tunggu2 tidak disia-
siakan, yaitu: mengobrak-abrik PKI.
14. Sementara itu semua slagorde G-30-S berkumpul di LB. Disana-
sini mulai terdengar tembakan dari RPKAD jang mulai mentjari
kontak tembak. Kawan Sjam dan Kawan Untung cs, mulai rapat
tentang menentukan sikap hadir di tempat tsb. komandan Jon
Djateng dan seluruh anggota Bataljonnja. Komandan Bataljon Djatim
djuga hadir tanpa pasukan. Kurang lebih seribu limaratus Sukwan
jang dilatih di LB. Melihat situasi jang gawat ini tidak ada pilihan lain:
a) Bertempur mati2-an atau, b) tjepat menghilang menjelamatkan
diri. Diskusi berdjalan lama tanpa keputusan. Achirnja kami sarankan
agar seluruh komando diserahkan kepada kami dan nanti bila situasi
telah dapat diatasi wewenang akan diserahkan kembali kepada kawan
Untung. Kawan Untung tidak setudju, sebab bertempur terus
pendapatnja sudah tidak ada dasar politiknja lagi. Apa jang di maksud
dengan kata2nja itu, kami tidak begitu mengerti. Di lain fi hak kawan
Sjam tidak memberi reaksi atas usul kami. Kemudian saja desak
lagi supaja segera mengambil keputusan, bila terlambat nanti, maka
kita terdjepit dalam suatu sudut di mana tidak ada pilihan lain,
melawan pun hantjur dan lari pun hantjur. sebab posisi kita pada
waktu sudah labil. Kemudian rapat memutuskan memberhentikan
perlawanan dan setiap kawan diperintahkan kembali ketempat asal
mereka masing2, dalam keadan jang serba lambat ini kemudian kami
ambil inisiatip untuk menjelamatkan kawan pimpinan (Kawan Sjam)
dan masuk ke kota Djakarta (Senen). Kawan Untung dalam tjara
membubarkan pasukannja pun melakukan kesalahan, seharusnja
ia sebagai komandan langsung harus memberi petundjuk teknis
bagaimana pelaksanaan menjebar dan menjusup kembali. sebab
di LB banjak kawan2 Sukwan jang berasal dari luar kota Djakarta,
bahkan ada jang dari Djateng. Mereka tentunja merasa asing dan tidak
tahu djalan. sebab peraturannja: “pur manuk” sadja atau dilepaskan
sekehendak masing2 maka banjak jang tertawan dan mendjadi mangsa
penjiksaan pasukan2 Nato cs.
15. Pada hari ketiga dan keempat, kami menjarankan kepada
pimpinan untuk tampil kemuka mendampingi Bung Karno untuk
mentjoba menolong apa jang perlu ditolong. Pada saat itu, situasi
belum sama sekali hantjur. Kabinet di mana terdapat orang2
revolusioner masih namun , usul kami di-tunda2 sehingga surat kami
kepada Bung Karno baru diterima satu bulan kemudian. Bung Karno
dalam kedudukan jang sudah terdjepit, mungkin djuga chawatir, bila
sadja dekat2 padanja.
16. Demikianlah proses aksi “G-30-S” dari sukses berubah
terdesak dan semakin terdesak sehingga achirnja tidak berdaja dan
menjerahkan, segala inisiatip kepada fi hak lawan.
17. Sebagai kesimpulan umum, maka kami berpendapat bahwa:
a. Kita telah melakukan suatu politiek strategisch verassing (serangan
tiba2) [strategi politik serangan mendadak] jang dapat
dipergunakan oleh propaganda lawan sehingga memberi
kepada PKI suatu kedudukan jang terpentjil.
b. Rentjana semula jang akan dilakukan: Revolusi bertingkat
tiba2 dirobah dirubah mendjadi gerakan PKI seluruhnja. Bila
gerakan dilakukan bertingkat, ja’ni taraf pertama hanja terbatas
gerakan di dalam tubuh AD dengan tehnisnja sbb: sesudah
berhasil merebut pimpinan AD maka mulai mengganti para
Panglima dan para Komandan jang mempunjai fungsi potensiil
dengan unsur2, atau perwira2 demokratis revolusioner.
Kemudian dalam taraf kedua baru revolusi jang dipimpin oleh
Partai. Dimulai dengan gerakan2 massa jang dibajangi oleh
militer2 jang progresip, persis seperti jang dilakukan oleh lawan
terhadap Pemerintah sekarang. Bila rentjana revolusi bertingkat
ini ditempuh, maka keuntungannja yaitu sbb: Andaikata
kita dipukul, maka Partai jang tetap mempunjai legalitet dan
utuh dapat melindungi kawan2 militer. Bila aksi taraf pertama
berhasil, maka suatu pidjakan jang baik untuk melontjat ke taraf
revolusi berikutnja. Menurut hemat kami, kegagalan revolusi kita
kali ini disebabkan di antaranja, dipindahkannja rentjana operasi
jang semula bersifat intern AD, mendjadi operasi jang langsung
dipimpin oleh Partai, sehingga menjebabkan terseretnja Partai
dan diobrak-abriknja Partai.
c. Bidang persiapan: Gerakan 30 September dilakukan tanpa
melalui proses persiapan jang teliti. Terlalu mempertjajai
laporan2 dari kader2 bawahan. Seharusnja dalam keadan
bagaimanapun pimpinan harus memeriksa dengan mata
kepala sendiri tentang persiapannja, Komandan harus hadir
menjaksikan 3 markas sektor, meskipun untuk beberapa
menit sadja supaja ia bahwa semua pos2 telah terisi. Begitu
pula persiapan2 lainnja. Sudah mendjadi kebiasaan di dalam
ketentaraan dimanapun, melakukan pemeriksaan barisan
sebelum ia bertugas. Misalnja ada satu regu hendak patroli,
maka komandan peleton melihat regu itu, memeriksa alat2
perlengkapannja regu itu, persediaan pelurunja, menanjakan
apakah perintah2-nja telah dimengerti dan baru regu itu bisa
berangkat patroli. Apalagi/seharusnja G-30-S, suatu gerakan
jang menentukan djutaan nasib rakjat. Gerakan jang bukan
sadja bernilai nasional namun djuga mendjadi harapan kaum
proletar seluruh dunia. Seharusnja kita djangan bertindak dengan
gegabah.
d. Dalam saat2 jang kritis, pimpinan operasi harus terdjun di
tengah pasukan, menjemangati anak buah supaja mereka
bangkit melawan, meskipun dengan resiko hantjur semua. Bila
sampai terdjadi, hantjur tidak apa2, kawan2 jang masih hidup
akan melandjutkan usaha revolusi. Dan kalau kita bertindak
demikian besar kemungkinan lawanlah jang akan angkat
tangan, sebab pada saat2 itu Nato belum mempunjai grip
[cengkeraman] terhadap TNI jang ada di kota. Suasana di mana2
belum mengutuk G-30-S. Dalam tiap2 perang revolusioner,
seorang pemimpin harus sanggup membangkitkan di kalangan
pengikutnja:
1. Djiwa kepahlawanan.
2. Kebulatan pikiran dan tekad.
3. Semangat berkorban.
e. Ada hal jang perlu dipelajari setjara mendalam. Kawan2
jang selama ini hidup di organisasi tentara bordjuis, sangat
sulit dan mirip tidak sampai hati untuk mendahului teman2
seangkatannja. Hal ini terdjadi djuga pada bataljon jang berasal
dari Djateng,18 dan djuga pada peristiwa jang kami dengar
kemudian, waktu menghadapi Pangdam Surjosumpeno.19
Mungkin letaknja pada kelemahan pandangan ideologi,
kelemahan dalam pandangan kelas. Adjaran Marxisme-
Leninisme bahwa “Kalau tidak mereka jang kita basmi, maka
merekalah jang akan membasmi kita.”20 Belum meresap, dan
belum mendjadi keyakinan kawan2 di ABRI pada umumnja.
Dari pengalaman ini maka pendidikan ideologi dan kesadaran
pandangan kelas perlu mendjadi program Partai.
f. Strategi jang dianut dalam gerakan keseluruhan yaitu
sematjam strategi: “Bakar Petasan.” Tjukup sumbunja dibakar
di Djakarta dan selandjutnja mengharap dengan sendirinja
bahwa meretjonnja akan meledak di daerah2. Ternjata tjara
ini tidak berhasil. Ada dua sebab: mungkin sumbunja kurang
lama membakar atau mesiu jang ada dalam tubuh meretjon itu
sendiri dalam keadaan masih basah, kami hubungkan ini dengan
pekerdjaan2 di waktu jang lampau, tjara2 menarik kesimpulan
tentang kawan2 jang di ABRI dan massa yaitu subjektif. Dari
pengalaman ini kita harus bikin kebiasaan membesar2-kan
situasi jang sebenarnja.21 Biasanja kalau ada 10 orang sadja
dalam satu peleton jang sudah dapat kita hubungi, dilaporkan
bahwa seluruh peletonnja sudah kita (kawan). Kalau ada seorang
Dan Jon jang kita hubungi, maka ada kemungkinan bahwa
seluruh Bataljon itu sudah kawan. Kekeliruan strategi G-30-S
itu disebabkan djuga banjak kawan2 dari ABRI maupun dari
daerah2 jang melaporkan bahwa massa sudah tidak dapat
ditahan lagi. Bila pimpinan tidak mengambil sikap, maka rakjat
akan 22 djalan sendiri (ber-revolusi). Mengikuti suara2 jang
belum diperiksa kebenarannja berarti kita kena “agitasi” massa,
sama halnja tidak mendjalankan “garis mangsa setjara tepat.”
g. Melihat kemampuan dan kebesaran organisasi Partai di waktu2
jang lalu maka asalkan sadja kita taktis menggerakannja, kami
rasa PKI tidak perlu kalah. Saja ibaratkan seorang pemasak
jang mempunjai bumbu, sayur2 jang serba tjukup, namun kalau
tidak pandai menilai temperatur dari panasnja minjak, besarnja
api, bilamana bumbu2 itu ditjemplungkan dan mana jang
didahulukan dimasak maka masakan itu pun tidak akan enak,
satu tjontoh misalnja. Kami membawahi 18 Bataljon,23 3 di
antaranja bisa dikerahkan untuk tugas2 revolusi, dan sudah
dipersiapkan lengkap dengan pesawat angkutan Hercules
berkat solidaritas dari kawan2 perwira di AD, jang mempunjai
kedudukan komando, namun semua ini tidak dimanfaatkan,
sehingga bukan kita jang menghantjurkan lawan “satu demi
satu”, namun sebaliknja kita jang di hantjurkan setjara “satu demi
satu.”
Sekian, dan kami tutup dengan sembojan :
Sekali gagal, akan bertambah.
Madju terus pada djalan pengrevolusioneran!
CATATAN
1 Saya tidak tahu mengapa frasa ini diberi tanda petik ganda.
2 Dari keseluruhan dokumen, cukup jelas bahwa yang dimaksud Supardjo yaitu
pimpinan PKI. Ada kemungkinan bahwa Supardjo menyerahkan analisis ini kepada
Sudisman, pimpinan Politbiro yang tersisa, yang sedang mempersiapkan otokritik
terhadap partai pada pertengahan 1966.
3 Pada 30 September 1965 malam Presiden Sukarno menghadiri upacara penutupan
Konferensi Nasional Ahli Teknikdi stadion Senayan. Letnan Kolonel Untung
menjadi bagian pengamanan untuk kehadiran Sukarno di dalam acara ini.
4 Perwira ini boleh jadi Mayor Bambang Supeno, komandan Batalyon 530 Jawa
Timur. Dalam laporan interogasinya (yang ditulis oleh tim intelijen Angkatan
Darat), Supardjo diduga mengatakan (ini laporan interogasi yang harus dibaca
dengan skeptisisme) Sjam memberitahu dia pada 1 Oktober pagi bahwa Mayor
Supeno “masih diragukan.” (Departemen Angkatan Darat Team Optis-Perpu-Intel,
“Laporan Interogasi Supardjo di RTM,” 19 Januari 1967, 4; dokumen ini termaktub
dalam berkas rekaman persidangan Mahmilub untuk Supardjo.) Pasukan-pasukan
Mayor Supeno merupakan yang pertama mundur; mereka menyerahkan diri ke
Kostrad pada sore hari 1 Oktober meski Mayor Supeno sendiri tinggal di pangkalan
Halim dengan anggota komplotan yang lain sampai dini hari 2 Oktober. Mayor
Supeno menjemput wakil komandan batalyon, Letnan Ngadimo, di istana pada
sekitar pukul 14.00 saat pasukan-pasukannya mulai menyerah, dan membawanya
ke Halim, menurut kesaksian Letnan Ngadimo di persidangan Untung. Komandan
Batalyon 454, sebaliknya, berusaha mempertahankan pasukan-pasukannya di
Lapangan Merdeka; saat ia akhirnya meninggalkan posisi ini , ia membawa
sebagian besar anak buahnya ke Halim.
5 Istilah pung-pung tampaknya salah ketik. Seharusnya mumpung.
6 Sasaran utama kemungkinan yaitu Jenderal Nasution. Pasukan-pasukan yang
dikirim untuk menculiknya dipimpin oleh seorang prajurit.
7 Nato yaitu singkatan cerdas yang dibuat Supardjo untuk Nasution dan
Suharto.
8 Istilah ini merupakan kombinasi kata Indonesia off ensi yang berasal dari kata
Belanda off ensief dan kata Belanda geest yang berarti semangat.
9 Para panglima keempat angkatan – Angkatan Udara, Angkatan Laut, Angkatan
Darat, Angkatan Kepolisian – yaitu menteri-menteri dalam kabinet Sukarno.
10 Suharto, bukan Nasution, yang melarang Pranoto pergi ke Halim.
11 Pak Djojo yaitu nama samaran untuk Mayor Soejono dari AURI, komandan
pasukan-pasukan yang menjaga pangkalan Halim. Supardjo mungkin memakai
nama samaran dalam dokumen ini sebab ia tidak tahu nama Soejono sebenarnja.
Ini kemungkinan yang nyata sebab Supardjo baru bergabung dengan komplotan
ini sehari sebelumnya dan mungkin diperkenalkan kepada anggota-anggota lainnya
saat mereka memakai nama-nama sandi. Nama Pak Djojo juga disebut oleh
Njono, ketua CDB (Comite Daerah Besar) PKI Jakarta, pada pengadilannya di
Mahmilub. Menurut Njono, Pak Djojo yaitu nama samaran seorang perwira
militer yang mencari sukarelawan PKI untuk dilatih di Lubang Buaya dari Juni
sampai September 1965 (G-30-S Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 53-54,
64-65, 79-82). Heru Atmodjo menegaskan dalam pembicaraan dengan saya bahwa
Pak Djojo yaitu nama alias Mayor Soejono.
12 Supardjo tampaknya menerjemahkan dan menulis ulang (memparafrasakan)
salah satu bagian dari Revolution and Counter-revolution in Germany (1896),
kumpulan artikel-artikel koran yang aslinya diterbitkan pada 1852 dengan nama
Marx tapi terutama ditulis oleh Engels: “[Posisi] defensif yaitu kematian setiap
pemberontakan bersenjata; pemberontakan itu kalah sebelum ia mengukur dirinya
dengan musuh-musuhnya. Kejutkan musuh-musuhmu saat kekuatan mereka
masih tercerai-berai, siapkan sukses-sukses baru, betapapun kecilnya, tapi setiap hari;
pertahankan peningkatan moral yang diberikan oleh keberhasilan pemberontakan
pertama padamu; galang elemen-elemen yang ragu dan goyah itu ke sisimu yang
selalu mengikuti letupan terkuat, dan yang selalu mencari sisi lebih aman; paksa
musuh-musuhmu ke posisi mundur sebelum mereka mampu mengumpulkan
kekuatan mereka untuk melawanmu.” (www.marxist.org/archive/marx/works/1852/
germany/ch17.htm) Supardjo mungkin tidak membaca teks ini; dalam kumpulan
karya Marx dan Engels teks ini kurang dikenal. Supardjo mungkin membaca esai
Lenin “Advice of an Onlooker” (yang ditulis pada 21 Oktober 1917), yang me-
ngomentari bagian teks di atas. Karya-karya Lenin lebih jamak dibaca pada masa
sebelum 1965 di Indonesia. Tak bisa diragukan sebab karya-karya Lenin lebih
mudah dipahami dan lebih relevan bagi suatu partai komunis yang begitu disibuk-
kan dengan berstrategi politik dari hari ke hari.
13 Kodam Siliwangi di Jawa Barat terkenal oleh anti-komunismenya; pasukan-
pasukannya digunakan oleh kepemimpinan nasionalis untuk menjerang PKI di
Jawa Timur pada 1948. Jenderal Nasution berasal dari Kodam Siliwangi.
14 Pernyataan ini tampaknya merupakan kritik terhadap pengumuman radio dari
G-30-S yang mendemisionerkan kabinet Sukarno.
15 Saya tidak tahu Supardjo mengacu ke brigade yang mana. Pranoto yaitu asisten
Yani untuk personalia dan tidak membawahi pasukan langsung.
16 Identitas Kawan Endang tak diketahui.
17 Penggunaan kata unsur-unsur untuk mengacu pada “perwira-perwira demokrasi
revolusioner“ yaitu suatu keanehan yang tidak bisa saya jelaskan.
18 Batalyon dari Jawa Tengah harus mengacu ke Batalyon 454, yang menduduki
Lapangan Merdeka pada pagi hari dan kemudian meninggalkan posisi itu di sore
hari sesudah menerima perintah Suharto untuk menyerah. Namun aneh bahwa
Supardjo tidak menyalahkan para perwira dari Batalyon 530 dari Jawa Timur juga
yang menjerah ke Kostrad. Paling tidak saat pasukan-pasukan Batalyon 454
meninggalkan Lapangan Merdeka, mereka menghindar untuk masuk Kostrad.
Mereka melarikan diri ke Halim.
19 Surjosumpeno yaitu Pangdam Diponegoro. Para perwira Gerakan 30 September
mengambil alih markas kodam di Semarang pada 1 Oktober dan menahannya.
Anderson dan McVey mencatat bahwa “Surjosumpeno berhasil mengecoh perwira-
perwira muda yang mudah terkesan untuk meninggalkan dia sendiri cukup lama
sehingga memungkinkan dia melarikan diri.” (Preliminary Analysis, 46) Supardjo
mengacu ke insiden ini saat mengkritik ketidakmampuan perwira-perwira junior
untuk menentang atasan-atasan mereka.
20 Saya belum berhasil menemukan sumber kutipan ini.
21 Tampaknya ada kata “tidak” sebelum kata “membesar2-kan” yang tak tertulis
entah oleh Supardjo sendiri atau oleh pengetik salinan dokumen ini.
23 Terjemahan Fic atas dokumen ini menyebut jumlah batalyon yaitu tigabelas.
Dokumen versi saya jelas-jelas menunjukkan delapanbelas.
KESAKSIAN SJAM (1967)
Sjam membuat pernyataan publik tentang Gerakan 30 September
untuk pertamakalinya pada 7 Juli 1967. Militer, yang telah menangkap
dia empat bulan sebelumnya, membawa dia ke Mahmilub untuk memberi
pernyataan sebagai saksi dalam persidangan untuk salah satu pimpinan
PKI, Sudisman. Pernyataan-pernyataan dia yang belakangan dalam per-
sidangannya sendiri pada 1968 dan sebagai saksi di persidangan-persi-
dangan lain tidak mengalihkan atau mengubah kesaksian awalnya secara
substansial. Pengajuan pertanyaan terhadap Sjam berlangsung hampir
sehari penuh. Saya hanya mengambil sejumlah kutipan dari kesaksian dia
yang saya anggap cukup penting. Beberapa pertanyaan diajukan Hakim
Ketua, sebagian lain diajukan oleh oditur. Saya menganggap tidak penting
untuk mengidentifi kasi masing-masing penanya.
Kesaksian
T: Apakah djabatan sdr dalam partai?
J: Pimpinan Biro Chusus PKI.
T: Pimpinan, apakah kepala?
J: Jah.
T: Kepala Biro Chusus Pusat?
J: Jah.
T: Dari PKI? PKI yaitu singkatan dari?
J: Partai Komunis Indonesia.
T: Jah. Sdr masuk kedalam partai itu sedjak kapan?
J: Tahun ’49.
T: Tahun ’49, dimana itu?
J: Di Djakarta.
T: Waktu pertama kali masuk apakah djabatan sdr dalam partai?
J: Belum ada.
T: Belum ada, djadi sebagai apa?
J: Anggota biasa.
T: Anggota biasa. Sedjak kapan sdr mendjabat sebagai kepala Biro
Chusus itu?
J: Achir tahun 1964.
T: Achir tahun 1964, kira-kira bulan berapa?
J: Nopember.
T: Sebelum itu apa djabatan sdr?
J: Anggota Departemen Organisasi.
T: Sedjak kapan sdr mendjadi anggota Departemen Organisasi?
J: Tahun ’60.
T: Apakah pendidikan umum sdr?
J: Sekolah rakjat.
T: Dulu namanja apa?
J: H.I.S.
T: Sesudah itu?
J: Sekolah pertanian.
T: Sekolah pertanian, namanja asli?
J: Landbouw School.
T: Dimana?
J: Di Surabaja.
T: Tamat?
J: Hampir.
T: Hampir tamat. Itu Landbouw School djuga tamat?
J: Hampir.
T: Sampai klas berapa?
J: Sampai klas 3.
T: Mengapa tidak tamat?
J: Djepang datang.
T: Sesudah itu apakah sdr menempuh kursus-kursus?
J: Di djaman Djepang sekolah dagang. Di Jogja.
T: Sampai tamat?
J: Djuga tidak sampai tamat, sampai klas V.
T: Sebabnja?
J: Revolusi.
T: Klas berapa?
J: Klas 2 bavenbouw.
T: Biro Chusus itu dimana letaknja didalam struktur organisasi partai?
J: Tidak ada.
T: Djadi bagaimana?
J: Biro Chusus yaitu aparat dari Ketua partai.
T: Djadi sdr selaku Kepala dari Biro Chusus, kepada siapa
bertanggung djawab?
J: Kepada ketua partai.
T: Langsung?
J: Langsung.
T: Tidak ada orang lain?
J: Tidak ada.
T: Atau organ lain?
J: Tidak ada.
T: Djadi sdr djuga mendapat perintah langsung dari ketua partai?
J: Jah.
T: Dalam hal ini siapa?
J: Kawan D.N. Aidit.
T: Apakah tugas dari Biro Chusus itu?
J: Bekerdja di kalangan Angkatan Darat.
T: Bekerdja di kalangan Angkatan Darat, bagaimana itu
pendjelasannja?
J: Mentjari anggota di kalangan anggota-anggota Angkatan
Bersendjata.
T: Kalau sudah dapat lalu di…?
J: Lalu diorganisasi.
T: Kalau sudah diorganisasi?
J: Dididik.
T: Apakah pendidikan jang diberikan?
J: Soal theori dan ideologi.
T: Th eori dan ideologi, theori apa?
J: Marxisme-Leninisme.
T: Ideologi apa?
J: Tjinta kepada partai.
T: Maksudnja partai apa ini?
J: Partai PKI.
T: Siapa jang membantu sdr?
J: Kawan Pono dan kawan Walujo [Bono].
T: Kawan Pono dan kawan Walujo, dan?
J: Itu sadja jang dekat.
T: Apa djabatan sdr Pono?
J: Kawan Pono wakil saja.
T: Sdr Walujo?
J: Wakil kedua.
T: Adanja Biro Chusus itu apakah diketahui djuga oleh lain-lain
anggota partai?
J: Saja tidak tahu.
T: Sdr kenal dengan sdr Sudisman ini?
J: Ja.
T: Bagaimana sdr berkenalan dengan dia itu, artinja bagaimana
sdr bisa mengenal dia, tjara perkenalan pertama dan sebagainja
bagaimana?
J: Pertama saja kenal nama sadja. Lalu pernah ketemu dalam
Departemen Organisasi. Disitu saja berkenalan.
T: Berkenalan dalam Departemen Organisasi itu sadja?
J: Jah.
T: Lain-lain tidak?
J: Tidak ada.
T: Apakah sdr Sudisman djuga mengenal sdr sebagai kepala Biro
Chusus?
J: Saja tidak tahu.
T: Oh sdr tidak tahu. Tjoba disini sdr sudah banjak membuat Berita
Atjara? Tadi sudah sdr mulai bahwa tugas Biro Chusus yaitu mentjari
apa tadi itu?
J: Mentjari anggota di kalangan Angkatan Bersendjata.
T: Tjoba silahkan tjerita. Tjerita jang bebas sadja mengenai pekerdjaan
Biro Chusus.
J: Djadi aktifi teit Biro Chusus yaitu suatu aktifi teit sebagian
dibandingkan PKI didalam AB. Tiap-tiap anggauta pimpinan dari Biro
Chusus mempunjai kewadjiban untuk melebarkan organisasi di
kalangan Angkatan Bersendjata. Kalau sudah bisa meneliti dan
mengetahui pedjabat-pedjabat jang ada, berusaha untuk mendekati
dan mengenal. Sudah dapat mengenal, lalu berbitjara mengenai
soal-soal politik umum. Sesudah mengetahui bagaimana seseorang
pedjabat pada Angkatan Bersendjata ini apakah dia anti Komunis
ataukah dia seseorang Demokrat, maka terus diadakan pertukaran
pikiran mengenai soal-soal politik dalam negeri dan mengenai soal
fi kiran-fi kiran jang madju. Sesudah diketahui bahwa pedjabat ini
yaitu orang jang mempunjai fi kiran jang menurut pandangan dari
sudut PKI orang ini yaitu orang jang berpikiran madju, maka terus
diadakan pembitjaraan-pembitjaraan soal-soal kepartaian. Kalau
kelihatannja orang ini tidak menolak, tidak memberi reaksi jang
negatif, maka dilandjutkan pada soal-soal jang lebih mendalam,
jaitu mengenai masalah teori Marxisme. Djuga sesudah mengetahui
orang ini mempunjai landasan jang baik untuk bisa mengerti dan
memahami tentang Marxisme, terus ditingkatkan kesadarannja ke
arah mentjintai partai. Itu proses, mula-mula bagaimana aktifi teit, dari
pada seorang anggauta Biro Chusus dalam mentjari keanggautaannja
dalam Angkatan Bersendjata. Sesudah mendapatkan seseorang,
ditingkatkan dalam pengertian-pengertian teoritisnja. Terus diberikan
beberapa kewadjiban untuk membantu partai, terutama dalam fi kiran
maupun dalam bidang-bidang materiil, umpamanja soal iuran sesudah
itu, kalau ada beberapa orang jang sudah bisa ditarik, baru dibentuk
satu group. Group ini melakukan pendiskusian tentang soal-soal
politik praktis dan soal-soal teori. Artinja politik praktis ialah politik
jang situasi politik jang terdjadi pada waktu itu, dan bagaimana garis
dibandingkan atau garis politik dibandingkan Partai Komunis Indonesia pada
waktu itu kalau menghadapi situasi jang kongkrit. Djadi demikian
tjara-tjara dibandingkan Biro Chusus dalam mentjari keanggautaannja
dalam Angkatan Bersendjata.
T: Ja, ini masih garis umumnja, lalu pelaksanaannja. Maksud saja
pelaksanaan tehnis bagaimana? Apa jang dikerdjakan dalam bulan atau
dalam permulaan tahun ‘65 dalam rangka uraian sdr tadi itu?
J: Saja belum begitu mengerti apa jang sdr Ketua maksudkan.
T: Dalam bulan Mei ’65 sdr ingat, apakah ada sesuatu perintah dari
Ketua partai? Apa itu isi perintahnja?
J: Berita tentang adanja Dewan Djenderal.
T: Bagaimana itu. Siapa jang memerintahkan?
J: Kawan D.N. Aidit.
T: Tjeritanja bagaimana itu?
J: Bahwa didalam meneliti mengenai soal-soal aktifi teit dibandingkan
Angkatan Darat terutama, jaitu dalam bidang politik dalam negeri
dan masalah agraria, mengenai masalah Nasakom, mengenai masalah
Kekaryawanan, mengenai masalah Front Nasional, mengenai masalah
mempersendjatai buruh dan tani dan mengenai masalah pemerintahan
daerah, ternjata bahwa aktifi teit-aktifi teit ini tidak berdiri sendiri atau
tidak merupakan satu aktifi teit jang bersifat lokal, namun bahwa semua
aktifi teit ini yaitu aktifi eit jang dipimpin setjara sentral. Dan djuga
tentang disebarkannja fi kiran-fi kiran tentang anti Komunisme, djuga
diluaskannja tentang aktifi teit dibandingkan PKI jang selalu merupakan
aktifi teit untuk menundjukan kekuatannja.
Maka ini bisa diambil kesimpulan bahwa aktifi teit ini yaitu
terpimpin setjara sentral, dan pimpinan dalam sentral ini yaitu
merupakan satu pimpinan dibandingkan para Djenderal-djenderal
pimpinan Angkatan Darat. Dan Djenderal-djenderal pimpinan
Angkatan Darat dalam memimpin aktifi tet ini dinamakan,
menamakan dirinja Dewan Djenderal. Maka dengan adanja aktifi tet
jang tersentralisir dan Dewan Djenderal ini, maka perlu kita waspada
dan bersiap diri, itu jang didjelaskan kepada saja.
T: Lalu djadi sdr diperintahkan supaja waspada, dan bagaimana tadi?
J: Bersiap diri.
T: Kelandjutannja bagaimana? Waspada dan siap diri itu. Apa jang
sdr ambil, langkah-langkah apa jang sdr tempuh sebagai Kepala Biro
Chusus, sesudah menerima perintah demikian dari Ketua Partai?
J: sesudah ada berita itu dari Ketua Partai saja terus mengadakan
pemeriksaan Organisasi. Jaitu dilihat bagaimana kekuatan-kekuatan
kita jang ada didalam ABRI, terutama dikalangan Angkatan Darat.
Sesudah itu bisa dilaksanakan terus kita adakan penindjauan terhadap
tenaga-tenaga didalam Angkatan Darat jang bisa pada waktunja nanti
melaksanakan tugas selandjutnja dibandingkan kawan D.N. Aidit. Dan
pada waktu untuk menetapkan ini saja dengan Pono dan Walujo
mengadakan satu perundingan untuk memilih tenaga-tenaga jang
tjotjok dan memenuhi sarat-sarat untuk diberikan tugas menerima
perintah dibandingkan kawan D.N. Aidit. Sehingga dalam perundingan
itu dapat disimpulkan untuk memilih tenaga-tenaga seperti Latief,
Untung, Sujono, Sigit dan Wahjudi, ditambah dengan saja sendiri dan
kawan Pono.
Sesudah mendapatkan kesimpulan tentang tenaga-tenaga ini,
maka selandjutnja diadakan rapat-rapat persiapan sesudah bulan
Agustus menerima keterangan dibandingkan kawan D.N. Aidit tentang
makin memuntjaknja situasi. Dan gedjala jang ada menundjukkan
bahwa Dewan Djenderal sudah mulai melakukan persiapan-persiapan
terachir untuk pada achirnja melakukan perebutan kekuasaan.
sesudah ada soal-soal itu maka kami diberikan garis, apakah dalam
menghadapi situasi jang sematjam ini, kami menunggu dipukul atau
mesti memberi pukulan terlebih dahulu. sebab kesimpulannja
bahwa kami harus memberi pukulan terlebih dahulu, kami
melakukan persiapan-persiapan dengan mengadakan pertemuan-
pertemuan antara saja, Pono, Untung, Latief, Sujono, Sigit, dan
Wahjudi. Sebagai pertemuan-pertemuan persiapan untuk melakukan
gerakan jang pada achirnja dinamakan G 30 S. Dalam pertemuan-
pertemuan itu jang memimpin yaitu saja sendiri, dan dalam
pertemuan pertama saja djelaskan tentang situasi jang memuntjak,
dan tentang bahwa kita tidak boleh berlengah sebab dalam situasi
jang sematjam ini bagi kita yaitu soalnja dipukul atau memukul.
Dan pada saat-saat jang sematjam ini perlu siap siaga. Dan persiapan-
persiapan jang perlu kita lakukan untuk menghimpun kekuatan
menghadapi Dewan Djenderal. Dan sesudah pertemuan jang pertama
ini diambillah satu kesimpulan, bahwa kita semua, artinja semua
jang hadir disitu pada waktu itu, bisa menerima tentang gambaran
situasi dan tentang garis jang harus dilakukan. Dan dalam pertemuan-
pertemuan selandjutnja dilakukan djuga mulai dilakukan pemeriksaan
barisan. Pemeriksaan artinja pemeriksaan kekuatan dan pemeriksaan
anggota-anggota kita jang ada dalam ABRI, terutama jang ada di
Djakarta. Sesudah kita bisa melihat adanja kekuatan-kekuatan dalam
pertemuan-pertemuan selandjutnja diperintji tentang kekuatan-
kekuatan jang ada, dan apakah ada kekuatan-kekuatan bantuan jang
bisa diharapkan jang datang dari luar, artinja dari luar daerah Djakarta
Raya. Sehingga pada waktu itu bisa disimpulkan adanja tambahan
dua Bataljon jaitu Jon 530 dan 454 dari Djawa Tengah. Sehingga
dengan tambahan 2 Jon ini genaplah kurang lebih 6 Jon kekuatan
jang bisa dihimpun pada waktu itu. Dengan kekuatan 6 Jon tempur
ini bisa diperhitungkan untuk dapat melakukan satu gerakan. Sesudah
tentang kekuatan bersendjata ini bisa disimpulkan dan bisa diambil
satu keputusan, baru kira-kira pada antara pertengahan dan 20
September saja bertemu kepada kawan D.N. Aidit dan diminta untuk
bisa menjusun satu konsep sebab Dewan Djenderal telah memiliki
satu konsep jang konkrit dalam menghadapi situasi ini. Bagaimana
kita? Waktu itu sesudah saja pikirkan di rumah, saja membikin konsep
tentang organisasi gerakan dan tentang organisasi politiknja. Organ
gerakan pada waktu itu saja berpikiran untuk dinamakan Gerakan
September dan mengenai organisasi politiknja yaitu dua pikiran, jang
ada pada saja pada waktu itu jaitu tentang namanja Dewan Militer
ataukah Dewan Revolusi. Pada waktu itu saja tjondong pada nama
Dewan Militer sebagaimana tjatatan jang ada dalam artikel saja jang
ada ditangan CPM.1
namun sesudah saja adjukan depada kawan D.N. Aidit tidak
disetudjui tentang nama Dewan Militer, sebab Dewan Militer
mengandung arti jang terlalu sempit dan mengandung militerisme,
dan terlalu sektoris maka itu dipilih nama Dewan Revolusi sebab
Dewan Revolusi lebih luas artinja dan lebih bisa mentjakup segala
unsur-unsur nama badan politik didalam masjarakat jang ada.
Achirnja diambillah keputusan nama badan politiknja yaitu Dewan
Revolusi. Djuga saja mengadjukan konsep tentang nama-nama
dan achirnja djuga diadakan, saja adjukan kepada kawan D.N.
Aidit terus diadakan perubahan-perubahan disana-sini dan achirnja
timbullah susunan Dewan Revolusi, jang ada seperti jang sudah
disiarkan. Tentang gerakan sesudah itu diputuskan kira-kira pada
tanggal 29, bahwa gerakan itu akan dilakukan mulai pada tanggal 30
maka gerakan dinamakan gerakan 30 September. Djadi sebelum itu
dinamakan gerakan itu Gerakan 30 September.
Dalam gerakan ini saja pegang pimpinan politiknja dan sdr
Untung pegang pimpinan Militernja namun pimpinan militer ini
dibawah pimpinan politik. Djadi segala kedjadian jang terdjadi
dalam gerakan yaitu saja jang bertanggung djawab. Sesudah gerakan
ini berdjalan gerakan ini dalam rentjananja, yaitu melakukan
pengamanan terhadap Djenderal-djenderal anggota dari Dewan
Djenderal. Adapun pada waktu kedjadian itu terdjadi pembunuhan
itu sebenarnja tidak ada rentjana sebelumnja oleh sebab tudjuan
dibandingkan gerakan yaitu pengamanan dan untuk mentjari fakta-fakta
lebih djelas dan bukti-bukti adanja Dewan Djenderal. yaitu terdjadi
penembakan-penembakan sampai mati Djenderal-djenderal ini yaitu
terdjadi pada waktu gerakan itu, djadi merupakan salah satu ekses dari
suatu gerakan, memang itu satu konsekwensi; sekalipun demikian saja
sebagai pimpinan bertanggung-djawab atas segala kedjadian jang ada.
Pada waktu gerakan itu berdjalan, maka gerakan ini tidak
berdjalan menurut semestinja. Soal apa sebabnja, saja sendiri belum
bisa mengetahui sampai sekarang. Sebab itu menghendaki suatu
penelitian jang lebih mendalam dan lebih teliti, namun pada waktu
gerakan itu berdjalan dan pada waktu Jon jang digerakkan didepan
jaitu 454 dan 530, sudah menggabung kepada Kostrad dan artinja
kekuatan sudah makin bertambah ketjil, maka saja ambil keputusan
untuk mengundurkan gerakan ini jang tadinja bermarkas besar di
Penas diundurkan masuk ke Halim.2 Dan sesudah dipertimbangkan
setjara masak bagaimana djalannja gerakan ini kalau dilandjutkan
djuga kekuatan sudah makin ketjil, sedangkan tidak ada tanda-tanda
gerakan masa ini djuga mendukung dan mengikuti G 30 S maka
achirnja saja ambil keputusan untuk melakukan pemunduran.
Djuga sesudah mendengar dibandingkan Supardjo dari utjapan Presiden
Sukarno bahwa djangan dilandjutkan tentang pertumpahan darah
itu, maka achirnja diambil keputusan, jang saja ambil keputusan
untuk mengundurkan gerakan. Biarpun sudah bisa dilihat lebih djauh
sebelumnja bahwa akan timbul soal-soal jang gekomplisir sesudah
pemunduran dibandingkan gerakan ini. namun keputusan itu saja ambil
djustru untuk menjelamatkan dari pada seluruh nation ini, artinja
seluruh bangsa ini dibandingkan satu keadaan jang chaos.
Tapi ternjata usaha ini sebab ada tangan-tangan ketiga
jang memasuki keadaan jang tidak normal dalam negeri kita ini,
achirnja toch keadaan itu, biarpun tidak berdjalan lama, namun djuga
menimbulkan hal-hal jang kurang diharapkan oleh semua orang
jang mentjintai tanah airnja. Sekalipun kedjadian ini djuga saja
sendiri bertanggung djawab atas terdjadinja hal-hal jang sematjam
itu. Tudjuan dibandingkan , kalau gerakan ini berhasil, sebetulnja untuk
Dewan Revolusi itu yaitu merupakan satu Dewan dimana nanti
akan menjodorkan satu konsep kepada Bung Karno sebagai Presiden
Republik Indonesia untuk melaksanakan politik nasakom, djadi
membentuk suatu pemerintahan koalisi nasional berporoskan
nasakom.
Djadi tidak ada maksud-maksud untuk mendirikan Negara
Komunis itu tidak ada, namun untuk mendirikan Pemerintah Koalisi
Nasional berporoskan nasakom. Djadi kalau bisa disetudjui oleh Bung
Karno sebagai Presiden demikian, namun kalau ada tapi masih ada
djuga hal-hal jang bisa diamandir kalau Bung Karno tidak setudju.
Dus dasarnja Dewan Revolusi itu bersifat sementara artinja masih bisa
dilakukan perubahan-perubahan.
Demikianlah apa jang saja masih ingat. Bagaimana hal-hal jang
barangkali masih diperlukan.….
T: Apakah Biro Chusus mempunjai tjabang-tjabang di daerah?
J: Punja.
T: Apa bentuknja itu?
J: Biro Chusus Daerah.
T: Apakah Biro Chusus Daerah djuga berada dalam organisasi CDB?
J:Tidak.
T: Bagaimana?
J: Dia langsung berhubungan dengan Pusat.
T: Langsung berhubungan dengan Pusat?
J: Ja.
T: Djadi sekretaris CDB tidak tahu?
J: Ada jang tahu ada jang tidak.
T: Baik. Tadi sdr katakan bahwa Biro Chusus itu tidak terdapat dalam
struktur organisasi Partai, betulkah demikian?
J: Betul.
T: Apakah dapat dikatakan bahwa Biro Chusus itu bersifat ilegaal?
J: Ilegaal setjara artinja setjara negatif tidak, oleh sebab didjamin oleh
dasar dibandingkan PKI itu tentang dasarnja jaitu Centralisme Demokrasi,
dimana Ketua mempunjai hak untuk melakukan tindakan-tindakan
atau untuk melakukan sesuatu aktivitet jang bersifat organisatoris.
Djadi itu djaminannja. Tapi kalau itu dinamakan setjara umum setjara
hukum memang itu bisa dinamakan ilegal. Tapi tidak dalam arti jang
negatif.
T: Tjoba harap diulangi mengenai djaminan jang chusus tadi.
J: Djaminannya yaitu dasar dibandingkan organisasi PKI jaitu
Centralisme Demokrasi, atau kalau itunja “Democratie Centralisme”.
Didalam soal sentralisme Ketua mempunjai wewenang untuk
melakukan tindakan-tindakan jang tidak ada didalam Konstitusi
Partai. Dan djuga itu didjamin oleh salah satu pasal terachir dibandingkan
Konstitusi Partai jaitu bahwa didalam keadaan jang luar biasa Partai
dapat diorganisir setjara Luar Biasa. Sedangkan pada tahun ’64 itu
sebetulnja mungkin oleh Pimpinan Partai terutama oleh Ketua bisa
dianggap adanja gedjala-gedjala seperti Dewan Djenderal ini dianggap
sebagai suatu keadaan jang luar biasa maka itu Ketua memakai
wewenangnja didalam Demokrasi Sentralisme jang ada ditangannja
itu untuk melakukan kebidjaksanaan organisasi.
T: Ja. Tadi sdr katakan bahwa mendekati anggota-anggota ABRI itu
sedjak tahun 1957. Betulkah itu?
J: Ja. Betul.
T: Apakah itu berlaku djuga di daerah-daerah?
J: Tidak seluruhnja, terutama hanja di Djawa.
T: Di Djawa Timur siapa-siapa jang didekati?
J: Wah saja tidak tahu kalau didaerah-daerah.
T: Tidak tahu. Di Djawa Tengah?
J: Djuga tidak tahu.
T: Di Djakarta?
J: Kalau di Djakarta jang saja sendiri langsung mendekati itu yaitu
Pardjo, Major Suganda, Kolonel Sidik, sedang jang baru didekati
waktu itu. Pada tahun-tahun sesudah enampuluhan Kolonel Mustofa,
Brig. Djen. Djuhartono, Kolonel Machmud Pasha itu jang saja
langsung.
T: Sdr sebut Pardjo maksudnja Brigdjen Supardjo?
J: Ja.
[Sjam menjelaskan bahwa pada pagi 26 Agustus, dia , Pono dan
Walujo bertemu untuk mendiskusikan penyusunan Gerakan 30
September.]
T: Sore harinja [26 Agustus] sdr pergi kemana?
J: Sore harinja saja menghadap Ketua.
T: Ketua siapa?
J: Ketua D.N. Aidit.
T: Dimana?
J: Dirumahnja.
T: Kira-kira djam berapa?
J: Antara djam 9 dan 10.
T: Rumahnja didjalan mana?
J: Di Pegangsaan Barat.
T: Waktu sdr datang dengan siapa?
J: Sendiri.
T: Apa jang sdr bitjarakan dan sdr laporkan?
J: Melaporkan tentang hasil pertemuan pagi hari.
T: Lalu apa kata sdr Aidit?
J: Ja, baik, landjutkan tentang persiapannja.
T: Lalu? Apakah sdr. Aidit sudah puas dengan 3 tenaga ini?
J: Oh belum puas.
T: Lalu?
J: Supaja ditambah.
T: Siapa jang memerintahkan itu? Siapa jang mengatakan supaja
ditambah?
J: Ketua D.N. Aidit.
T: Kepada siapa?
J: Kepada saja.
Tentang Keterlibatan Pimpinan Partai
T: Baik, didalam rangkaian ini apakah saudara mendengar dari sdr.
Aidit, bahwa gerakan ini yaitu sudah mendjadi keputusan partai?
J: Tidak.
T: Begini saudara Sjam didalam Berita Atjara menjebut bahwa waktu
saudara mendapat instruksi dari D.N. Aidit dalam pentjetusan Dewan
Revolusi?
J: Ja.
T: Sdr menanjakan kepada saudara Aidit betulkah itu?
J: Ja.
T: Apa pertanjaan saudara?
J: Apakah ini sudah mendjadi keputusan partai?
T: Lalu djawab dari Ketua?
J: Ketua djawab keputusan partai.
T: Keputusan partai itu saudara dengar itu kapan, tanggal 20 itukah
atau hari lain?
J: Sebelumnja.
T: Djadi sebelumnja, jadi kapan?
J: Sebelumnja.
T: Persisnja?
J: Kira-kira tanggal 27.
T: 27, saudara pasti ataukah …?
J: Kira-kira.
T: Kalau itu saja katakan tanggal 28 atau 29 bagaimana?
J: Tidak keberatan.
T: Tidak keberatan, dus betul saudara mendengar dari sdr Aidit bahwa
instruksi dari sdr Aidit kepada sdr dalam rangka pentjetusan Dwan
Revoulsi dan alatnya G 30 S atau oleh sdr Aidit didjawab sudah
merupakan keputusan partai, betul?
J: Ja.
T: Tidak keliru lagi?
J: Tidak.
Tentang Pasukan-pasukan yang Digunakan untuk G-30-S
T: Tadi sdr menjebut bahwa untuk melaksanakan gerakan itu, jang
achirnja bernama G 30 S, telah tersedia 6 bataljon tempur, betulkah
itu?
J: Betul.
T: 6 Bataljon tempur itu Bataljon mana sadja?
J: Dari Tjakra dari Brigif 1 Bataljon.
T: Tjakra berapa Bataljon?
J: Satu kompi, Brigif satu bataljon kemudian dari P.3.
T: Apa itu P.3?
J:. Pasukan Pembela Pangkalan dari AURI. P-3 AURI, satu bataljon,
terus tenaga-tenga tjampuran 2 kompi, terus dari 530-454 dan 1
bataljon dari sukwan [sukarelawan].
T: Tadi sdr mengatakan bataljon 530 itu berasal dari mana?
J: Dari Djawa Timur.
T: 454 dari mana?
J: Djawa Tengah.
T: Sdr berada di Djakarta, bagaimana bisa mengumpulkan bataljon-
bataljon ini?
J: Tidak dikumpulkan setjara sengadja, bisa mengumpulkan. Djadi
bataljon ini kebetulan ditugaskan untuk ke Djakarta dalam rangka
hari ABRI. Dan sebab ini merupakan, kami pandang, suatu kekuatan
jang bisa dipergunakan, kami mengambil kesempatan ini.
T: Sdr mengatakan tidak sengadja. Saja belum begitu mengerti,
mengapa itu suatu vervalligheid, satu kebetulan, lalu sdr dapat
mengumpulkan 2 bataljon. Bagaimana, tjoba pendjelasannja,
b











