Secara mutlak membuktikan bahwa Benediktus XVI yaitu seseorang yang murtad. Ini yaitu
salah satu skandal terbesar di dalam sejarah manusia.
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. I-II Pertanyaan 103, Artikel 4:
“Semua perayaan yaitu pengakuan iman, di dalam mana ada penyembahan Allah. namun ,
manusia dapat membuat pengakuan atas iman di dalam dirinya, baik lewat tindakan
maupun lewat kata-kata: dan di dalam salah satu pun dari pengakuan iman ini , jikalau ia
membuat suatu pernyataan yang sesat, ia berdosa berat.”
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. II Pertanyaan 12, Artikel 1, Penolakan 2:
“...jika seseorang...menyembah di kubur Muhammad, ia akan dianggap seseorang yang
murtad.”
St. Thomas berkata bahwa seseorang yang menyembah di kubur Muhammad dianggap sebagai orang
yang murtad; berdoa di dalam mesjid, menghadap Mekkah seperti para Muslim, jauh lebih buruk.
Itulah mengapa bahkan tidak ada sama sekali Paus di dalam sejarah yang pergi ke dalam mesjid; mereka
336
semua tahu bahwa bahkan untuk pergi ke sana yaitu berarti untuk menerima agama sesat. Lewat
tindakan ini, perdebatan apakah Benediktus XVI yaitu Paus selesai sudah untuk seseorang yang
mengenal fakta-fakta ini dan yang memiliki sedikit pun kehendak baik. Katakan kepada teman-teman dan
saudara-saudara anda bahwa Benediktus XVI yaitu seorang bidah, murtad, dan oleh sebab itu, seorang
Anti-Paus.
Benediktus XVI, Audiens Umum, 6 Desember 2006:
“Di dalam bidang dialog antaragama, Penyelenggaraan ilahi telah memberi kepada saya,
hampir pada akhir Perjalanan saya, sebuah Kunjungan yang tidak direncanakan yang terbukti
cukup penting: Kunjungan saya ke Mesjid Biru Istanbul yang terkenal. Sambil berhenti
dalam beberapa menit untuk berrekoleksi di dalam tempat ibadah ini , saya berdoa
kepada Tuhan yang satu dari Surga dan Bumi, Bapa yang Pengasih dari seluruh umat manusia.”93
DENGAN PAGANISME
BENEDIKTUS XVI MENDUKUNG SECARA PENUH EKUMENISME DAN PERAYAAN-PERAYAAN
EKUMENISME YANG MENYEMBAH SETAN DI ASSISI
337
Kita sudah membahas perkumpulan-perkumpulan ekumenis Yohanes Paulus II yang terkenal di Assisi
pada tahun 1986 di mana ia berdoa bersama lebih dari 130 pemimpin agama dari berbagai agama-agama
sesat dari Iblis, yang menyetarakan agama yang sejati dengan penyembahan berhala. Tindakan ini sama
sekali dikutuk oleh Tradisi Katolik. Hal ini telah dikecam sebagai kemurtadan oleh Paus Pius XI.
Nah, kereta yang membawa para pemimpin agama sesat dari Vatikan kepada acara Assisi tahun 2002
ini (acara ulangan) disebut oleh Benediktus XVI sebagai “sebuah simbol ziarah kita di dalam
sejarah... perukunan kembali orang-orang dan agama, suatu ilham yang besar...”94
Pada tahun 2006, Benediktus XVI juga memuji ibadat doa antaragama Assisi tahun 1986.
Benediktus XVI, Pesan, 2 September 2006:
“Tahun ini yaitu ulang tahun ke-20 Pertemuan Doa Antaragama untuk Perdamaian, yang
dikehendaki oleh Pendahulu saya yang terhormat Yohanes Paulus II pada tanggal 27 Oktober
1986 di Assisi. yaitu suatu hal yang diketahui secara umum bahwa ia tidak hanya mengundang
orang-orang Kristiani dari berbagai denominasi ke dalam Pertemuan ini namun juga berbagai
agama lain yang berbeda. Hal ini merupakan sebuah pesan yang hidup untuk
memajukan perdamaian dan sebuah acara yang meninggalkan tandanya di dalam sejarah zaman
kita... bukti-bukti bahwa ikatan yang erat yang hadir di antara hubungan dengan Allah serta etika
cinta kasih ada di segala tradisi agama-agama yang agung.
“Dari antara corak-corak Pertemuan tahun 1986, harus ditekankan bahwa nilai doa ini di dalam
pembangunan perdamaian telah disaksikan oleh para perwakilan tradisi agama-agama
yang berbeda, dan hal ini tidak terjadi dari jauh, namun di dalam konteks sebuah pertemuan...
Kami membutuhkan dialog ini terutama pada saat ini... Oleh sebab itu, saya bergembira,
sebab inisiatif yang direncanakan di Assisi tahun ini sejalan dengan hal ini dan,
terutama, bahwa Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama telah memiliki ide untuk
menerapkan hal-hal ini di dalam jalan yang khusus untuk orang-orang muda... Saya dengan
senang mengambil kesempatan ini untuk memberi salam kepada para perwakilan agama-agama
lain yang mengambil bagian di dalam salah satu perayaan ataupun perayaan-perayaan Assisi
yang lain. Seperti kami, para umat Kristiani, mereka mengetahui bahwa di dalam doa,
ada kemungkinan untuk memiliki sebuah pengalaman yang khusus akan Allah dan
untuk menarik dari hal ini insentif-insentif yang efektif untuk dedikasi sebab
perdamaian.”95
Benediktus XVI mendukung perkumpulan-perkumpulan ekumenis murtad di Assisi di mana Yohanes
Paulus II berdoa dengan berbagai pemimpin agama-agama iblis dan penyembah berhala – di mana
Yohanes Paulus II memerintahkan agar dicabut dari ruangan-ruangan Katolik salib-salib agar para pagan
dapat menyembah dewa-dewi sesat. Perhatikan bahwa Benediktus XVI berkata bahwa para agama lain
mengetahui bahwa doa memberi mereka pengalaman akan Allah. Hal ini berarti bahwa pengalaman-
pengalaman rohani mereka, contohnya, penyembahan dewa-dewi sesat di dalam doa, yaitu benar.
BENEDIKTUS XVI MENGKRITIK ORANG-ORANG YANG MENGHANCURKAN KUIL-KUIL
PAGAN SEBAGAI ‘PEMBERANG’
Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 373:
“Kenyataannya, ada orang-orang Kristen yang pemberang dan fanatik, yang
menghancurkan kuil-kuil, yang tak mampu memandang paganisme lebih dari
penyembahan berhala yang harus dilenyapkan secara radikal.”96
338
Para “pemberang” yang dikritiknya ini akan mencakup St. Fransiskus Xaverius:dan St. Benediktus.
St. Fransiskus Xaverius [mengenai anak-anak pagan yang telah dikonversikannya kepada iman
sejati, sekitar tahun 1543): “Anak-anak ini … mempertunjukkan cinta yang membara
terhadap hukum Ilahi, dan suatu semangat yang luar biasa terhadap agama kita yang suci
dan dalam menanamkannya kepada orang lain. Kebencian mereka terhadap
penyembahan berhala mengagumkan adanya. Mereka bertengkar dengan orang-orang
pagan tentang perkara itu … Kapan pun saya mendengar dilakukannya ibadat
penyembahan berhala, saya pergi ke tempat itu bersama kumpulan anak-anak yang
jumlahnya besar ini, yang dengan amat segera melontarkan olok-olok dan cercaan kepada
Iblis yang lebih banyak jumlahnya dibandingkan penghormatan serta ibadat dari orang tua
mereka … Anak-anak itu berlari ke arah berhala-berhala, menjatuhkan mereka,
menghancurkan mereka berkeping-keping, meludahi mereka, menginjak-injak mereka,
menendang mereka ke sana, ke mari, dan pendek kata menghina mereka habis-habisan.”97
St. Benediktus menghancurkan sebuah altar pagan dan membakar semak-semak yang dipersembahkan
kepada Apollo pertama kalinya ia sampai di Monte Cassino:
Paus Pius XII, Fulgens Radiatur (#11), 21 Maret 1947:
“...ia [St. Benediktus] pergi ke selatan dan sampai di sebuah benteng yang disebut Cassino yang
terletak di sisi sebuah gunung yang tinggi; di atasnya terletak sebuah kuil kuno di mana
Apollo disembah oleh orang-orang desa yang bodoh, menurut budaya para penyembah
berhala kuno. Di sekililingnya tumbuh semak-semak di mana sampai waktu itu, kumpulan
orang-orang tidak beriman yang gila memakai nya untuk mempersembahkan korban-
korban mereka yang musyrik. Sang pria yang diutus Allah itu mendatangi tempat ini
untuk memecahkan berhala, menghancurkan altarnya, membakar semak-semak, dan dari kuil
Apollo itu, ia membuat sebuah kapel St. Martinus. Di mana tadinya terletak altar berhala itu, ia
membangun kapel St. Yohanes; dan lewat khotbahnya yang terus-menerus, ia mengonversikan
banyak orang-orang di sana.’”98
BENEDIKTUS XVI MENGATAKAN KEPADA KITA BAHWA AGAMA-AGAMA PAGAN DAN
MUSYRIK yaitu TINGGI DAN MURNI
Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal. 23:
“Maka kita juga dapat melihat bahwa di dalam kosmos rohani India (‘Hinduisme’ yaitu
sebutan yang agak rancu akan keberagaman berbagai agama) ada berbagai bentuk
yang berbeda: yang tinggi dan murni yang ditandai oleh ide akan cinta kasih, namun juga yang
sangat mengerikan, termasuk yang mengikutsertakan pembunuhan secara ritual.”99
Ia berkata bahwa agama-agama musyrik ini tinggi dan murni. Ini yaitu bidah dan kemurtadan.
1 Korintus 10:20- “...persembahan mereka {penyembah berhala} yaitu persembahan kepada
roh-roh jahat, bukan kepada Allah.”
Paus Leo XIII, Ad Extremas (#1), 24 Juni 1893:
“ … Rasul Thomas yang terberkati yang secara pantas disebut sebagai perintis
pengkhotbahan Injil kepada orang-orang Hindu. Lalu, Fransiskus Xaverius juga ... Dengan
ketekunannya yang luar biasa, ia mengonversikan ratusan ribu orang-orang Hindu dari
mitos-mitos dan takhayul-takhayul jahat dari kaum Brahmana kepada agama yang
sejati.”100
339
BENEDIKTUS XVI MEMILIKI RASA HORMAT YANG MENDALAM UNTUK IMAN-IMAN SESAT
Benediktus XVI, Homili, 10 September 2006:
“Kami tidak gagal untuk menunjukkan rasa hormat untuk agama-agama serta budaya-budaya
lain, kami tidak gagal untuk menunjukkan rasa hormat kami yang mendalam untuk iman
mereka...”101
Perhatikan bahwa Benediktus XVI bukan hanya menghormati anggota-anggota iman-iman sesat namun ia
menunjukkan RASA HORMAT YANG MENDALAM untuk iman-iman sesat sendiri! Ini yaitu kemurtadan.
Hal ini berarti bahwa ia menghormati penolakan Kristus, penolakan Kepausan, dukngan untuk
kontrasepsi dan aborsi, dst. (yang seluruhnya yaitu ajaran ‘iman-iman’ lain).
Paus Leo XIII, Custodi di Quella fede (#15), 8 Desember 1892:
“Semua orang harus menghindari kedekatan atau persahabatan dengan setiap orang yang diduga
merupakan bagian dari perkumpulan Masonik atau kelompok-kelompok yang berkaitan.
Kenalilah mereka lewat buah-buah mereka dan hindari mereka. Setiap keakraban harus
dihindari, bukan hanya dengan para penjangak fasik yang secara terbuka
mempromosikan ciri khas dari sekte ini , namun juga dengan mereka yang
bersembunyi di balik topeng toleransi universal, rasa hormat terhadap semua agama ....”102
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA KEHADIRAN AGAMA-AGAMA SESAT yaitu
SUMBER DARI KEKAYAAN UNTUK SEMUA ORANG
Benediktus XVI, Pidato (#15), 28 November 2006:
“...Saya yakin bahwa kebebasan beragama yaitu ungkapan mendasar akan kebebasan manusia
dan bahwa kehadiran yang aktif dari agama-agama di dalam masyarakat yaitu sumber
dari kemajuan dan kekayaan untuk semua orang.”103
Hal ini berarti bahwa berbagai agama-agama sesat yaitu sumber dari kemajuan dan kekayaan untuk
semua orang! Ini yaitu kemurtadan.
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA TEOLOGI HARUS BELAJAR DARI PENGALAMAN-
PENGALAMAN AGAMA-AGAMA SESAT
Benediktus XVI, Sambutan Khusus, 12 September 2006:
“Untuk filosofi dan, walaupun dengan cara yang berbeda, untuk teologi, mendengarkan
pengalaman-pengalaman yang besar serta wawasan tradisi-tradisi rohani dari umat
manusia, dan terutama mereka yang memiliki iman Kristiani, yaitu sumber dari
pengetahuan, dan dengan tidak mengacuhkannya yaitu sebuah larangan yang tidak
dapat diterima untuk pendengaran dan tanggapan kita.”104
Benediktus XVI berkata bahwa teologi Katolik harus mendengarkan ‘pengalaman-pengalaman besar’
serta ‘wawasan’ dari agama-agama sesat, dan dengan tidak mengacuhkannya yaitu sebuah
ketidakbertanggungjawaban. Ini jelas-jelas menunjukkan bahwa ia tidak memandang agama-agama ini
(termasuk yang pagan dan musyrik) sebagai sesat dan berasal dari Iblis. Pernyataannya hanyalah suatu
ungkapan lain dari kemurtadan Modernis bahwa semua agama pada dasarnya yaitu benar sebab
seseorang menjadi seorang umat beriman lewat ‘pengalaman-pengalaman’ rohani seseorang.
Paus St. Pus X, Pascendi (#14), 8 September 1907:
“[Menurut para Modernis] Pengalaman inilah yang, sewaktu diperoleh seseorang,
340
membuat orang itu sungguh-sungguh menjadi seorang umat beriman. Betapa jauhnya kita
dari ajaran Katolik yang telah kita lihat di dalam dekret Konsili Vatikan. Kita akan melihat,
lalu , bagaimana dengan teori-teori semacam itu, yang ditambahkan kepada kesalahan-
kesalahan lain yang telah disebutkan, terbukalah jalan yang lebar menuju ateisme. Di sini, patut
untuk segera dicatat bahwa, dengan doktrin pengalaman ini, yang dipersatukan dengan
doktrin lain, yakni simbolisme, semua agama, bahkan paganisme, harus dipercaya sebagai
agama yang benar. Hal apakah yang dapat mencegah pengalaman-pengalaman ini
untuk dijumpai di dalam setiap agama? Kenyataannya, tidak sedikit jumlah orang yang
menyatakan hal yang serupa. Dan dengan hak apakah para modernis akan menyangkal
kebenaran tentang suatu pengalaman yang diakui oleh seorang pengikut Islam? Atas dasar
prinsip apakah mereka mungkin memberi kepada orang-orang Katolik satu-satunya
hak atas pengalaman-pengalaman yang benar? Memang, para modernis tidak menyangkal,
melainkan mengakui, beberapa dari mereka secara tersembunyi, sedangkan yang lainnya secara
terang-terangan, bahwa semua agama benar adanya. Jelas bahwa mereka tidak dapat merasakan
hal yang sebaliknya”.105
BENEDIKTUS XVI MENOLAK BAHWA DI LUAR GEREJA TIDAK ada
KESELAMATAN
Yang telah kita lihat sampai saat ini membuktikan berulang-ulang kali bahwa Benediktus XVI menolak
dogma yang sudah didefinisikan bahwa Di Luar Gereja Katolik Tidak ada Keselamatan. Benediktus
XVI percaya bahwa kita bahkan tidak boleh mengonversikan para bidah dan skismatis. namun di sini
ada lebih banyak contoh-contoh bidah di mana Benediktus XVI secara spesifik menjawab dan
menolak dogma yang penting ini.
BENEDIKTUS XVI MENJAWAB DOGMA DI LUAR GEREJA TIDAK ada KESELAMATAN
DAN MENOLAKNYA SECARA PENUH
Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal. 24:
“Pertanyaan. namun tidakkah kita bisa menerima bahwa seseorang dapat diselamatkan
lewat suatu iman yang bukan Katolik? Jawaban. Itu yaitu pertanyaan yang seluruhnya
berbeda. Tentu saja mungkin bahwa seseorang dapat menerima dari agamanya petunjuk-
petunjuk yang menolongnya untuk menjadi seseorang yang lebih murni, yang juga, jika
kita ingin memakai kata ini , membantunya untuk menyenangkan Allah dan
mencapai keselamatan. Hal ini sama sekali dikecualikan oleh apa yang saya sudah
katakan; malah sebaliknya, hal ini terjadi dalam skala yang besar.”106
Gereja mengajarkan bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja. Benediktus XVI mengajarkan
bahwa tidak diragukan bahwa ada keselamatan di luar Gereja dalam skala yang besar. Hal ini yaitu
penolakan yang lancang akan dogma bahwa Di Luar Gereja Tidak ada Keselamatan.
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA ada SANTO-SANTA PAGAN
Benediktus XVI, Truth and Tolerance {Kebenaran dan Toleransi}, 2004, hal. 207:
“Fakta bahwa di setiap zaman ada , dan masihlah ada , ‘santo-santa pagan’ yaitu
sebab di mana-mana dan di setiap masa – walaupun dengan kesulitan dan cara yang terpisah-
pisah – kata-kata dari ‘hati’ dapat didengar sebab Taurat Allah dapat didengar dalam diri kita
sendiri...”107
341
Ini yaitu sebuah bidah yang lancang. Ingat bahwa Paus Eugenius IV secara infalibel menolak bahwa
semua orang yang meninggal sebagai ‘pagan’ tidaklah diselamatkan.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, ex cathedra:
“...semua yang berada di luar Gereja Katolik, bukan hanya orang pagan namun juga Yahudi atau
bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal...”108
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA ada BANYAK JALAN MENUJU SURGA DI
SAMPING IMAN KRISTIANI
Benediktus XVI, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal. 217:
“Pertanyaan yang benar-benar meresahkan kita, pertanyaan yang sungguh menekan diri
kita, yaitu mengapa kita diwajibkan terutama untuk mempraktikkan Iman Kristiani di
dalam totalitasnya; mengapa, sewaktu ada banyak sekali cara-cara lain yang
menuntun ke Surga dan keselamatan, kita harus diwajibkan untuk menanggung hari demi hari
seluruh beban dogma-dogma gerejawi dan etos-etos gerejawi. Dan lalu kita kembali sampai
kepada pertanyaan ini : Apakah itu sebenarnya realitas Kristiani? Apakah elemen yang
spesifik di dalam Kekristenan yang bukan hanya membenarkannya, namun membuatnya
diwajibkan untuk kita? Sewaktu kita mempertanyakan fondasi dan arti dari keberadaan
Kristiani kita, terselisip suatu keinginan palsu tertentu untuk kehidupan orang-orang lain
yang tampaknya lebih nyaman yang juga akan masuk Surga. Kita sedemikian serupanya
dengan para pekerja dari jam pertama di dalam perumpamaan pekerja-pekerja di dalam kebun
anggur (Mt. 20:1-16). Sewaktu mereka menyadari bahwa mereka seharusnya dapat memperoleh
upah harian satu denarius mereka dengan suatu cara yang jauh lebih mudah, mereka tidak dapat
mengerti mengapa mereka harus bekerja seluruh hari. namun betapa anehnya sikap ini
yang menemukan bahwa tanggung jawab hidup Kristiani kita tidak bernilai hanya sebab
denarius keselamatan dapat diperoleh tanpa tanggung jawab hidup Kristiani ini !
Mungkin tampak bahwa kita – bagaikan para pekerja dari jam pertama – ingin dibayar bukan
hanya dengan keselamatan kita, namun lebih khususnya dengan ketidakberpunyaan orang lain
akan keselamatan. Pandangan ini benar-benar sangat manusiawi dan sangat tidak
Kristiani.”109
Benediktus XVI mengajukan pertanyaan yang sungguh penting: Mengapakah diperlukan untuk
mempraktikkan Iman Kristiani sewaktu ada banyak jalan lain menuju keselamatan? Benediktus XVI
menjawab pertanyaan ini dengan mengakui bahwa ada banyak jalan lain selain Iman Kristiani
yang menuntun kepada keselamatan. Ia bahkan mengkritik orang-orang yang menanyakan pertanyaan
ini .
342
Benediktus XVI terang-terangan menolak sebuah kebenaran yang diwahyukan akan Iman Katolik: Yesus
Kristus yaitu satu-satunya jalan keselamatan, dan Iman Katolik diperlukan untuk keselamatan.
Paus Leo XII, Ubi Primum (#14), 5 Mei 1824:
“ ... dengan Iman Ilahi Kami percaya akan satu Tuhan, satu Iman, satu Pembaptisan, dan bahwa
tiada nama lain yang diberikan di bawah Surga kepada manusia selain nama Yesus Kristus dari
Nazaret, yang di dalamnya kita harus diselamatkan, dan oleh sebab itu Kami mengakui bahwa
tidak ada keselamatan di luar Gereja.”110
BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA SEMUA AGAMA DAPAT MENUNTUN KEPADA
ALLAH
Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal. 29:
“...di dalam semua agama ada orang-orang yang memiliki kemurnian dalam yang
lewat mitos-mitos mereka, entah bagaimana menyentuh misteri agung dan menemukan
cara yang benar untuk menjadi manusia.”111
Ini benar-benar sesat.
BENEDIKTUS XVI MENGEJEK DOGMA KATOLIK
BENEDIKTUS XVI MENGEJEK DEKRET KONSILI TRENTE TENTANG EKARISTI
Benediktus XVI, Feast of Faith {Perayaan Iman}, 1981, hal. 130:
“Konsili Trente mengakhiri kata-katanya tentang Corpus Christi dengan sesuatu yang
menyinggung telinga-telinga ekumenis kami dan tidak diragukan lagi tidak sedikit
berkontribusi kepada hilangnya kepercayaan akan perayaan ini di dalam opini para
saudara Protestan kami. namun jika yang kami membersihkan rumusannya dari nada yang
bersemangat dari abad keenam belas, kami akan dikejutkan oleh sesuatu yang besar dan
positif.”112
Benediktus XVI mengatakan bahwa pernyataan infalibel Konsili Trente ‘menyinggung’ telinga-telinga
ekumenisnya dan bahwa ‘rumusannya’ perlu ‘dibersihkan’, yang berarti untuk membersihkan atau
menyingkirkan elemen-elemen yang tidak dapat diterima. Ini sangatlah sesat.
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA DOKTRIN TRENTE TENTANG IMAMAT yaitu
LEMAH DAN MEMBAWA BENCANA DI DALAM DAMPAKNYA
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 247-
248:
“...[Berbicara tentang pandangan-pandangan Protestan versus Katolik tentang Imamat] Konsili
Trente tidak mencoba sebuah perawatan yang menyeluruh akan masalah ini . Di
dalamnya ada kelemahan naskah yang dipermaklumkannya, yang dampaknya
sangatlah membawa bencana...”113
BENEDIKTUS XVI SUNGGUH-SUNGGUH MENGHUJAT TRADISI GEREJA
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 100:
“...masalah tentang tradisi seperti yang hadir di dalam Gereja... Gereja yaitu tradisi... yang di
dalamnya – marilah mengakui – ada banyak pseudo-tradisi manusia, sangatlah banyak
343
sehingga, faktanya, dan lebih tepatnya, Gereja telah berkontribusi kepada krisis umum akan
tradisi yang merongrong umat manusia.”114
Ini yaitu sebuah penolakan dari salah satu dari kedua sumber Wahyu, yaitu Tradisi Suci.
Paus Pius IX, Vatikan I, ex cathedra:
“ ... segala hal yang termuat di dalam sabda Allah yang tertulis atau yang diwariskan melalui
tradisi ... harus dipercayai ....”115
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 378:
“Tidak semua Konsili yang sah di dalam sejarah Gereja berbuah; di dalam analisis
terakhir, banyak dari mereka hanyalah membuang waktu.”116
BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA ISTILAH ‘DOSA ASAL’ yaitu SALAH
Benediktus XVI, In the Beginning {Pada Mulanya}, 1986, hal. 72:
“...Teologi merujuk kepada keadaan ini lewat istilah yang rancu dan tidak tepat ‘dosa asal.’”117
Konsili Trente mempermaklumkan sebuah ‘Dekret tentang Dosa Asal’ di mana digunakan istilah ‘dosa
asal” setidaknya empat kali.118
BENEDIKTUS XVI MENGKRITIK SYAHADAT PARA RASUL
Benediktus XVI, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, 2004, hal. 326:
“...Mungkin akan harus diakui bahwa kecenderungan akan sebuah perkembangan yang
salah ini , yang hanya melihat bahaya-bahaya dari tanggung jawab dan tidak lagi
kebebasan cinta, yang sudah hadir di dalam Syahadat [Para Rasul]...’”119
BENEDIKTUS XVI MENGAKUI BAHWA VATIKAN II TELAH MENGUBAH ATAU
MENOLAK DOGMA KATOLIK
BENEDIKTUS XVI TERANG-TERANGAN MENGAKUI BAHWA VATIKAN II MENENTANG
AJARAN INFALIBEL DARI PAUS PIUS IX TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA DAN AGAMA-
AGAMA SESAT
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 381:
“Jika suatu diagnosis secara keseluruhan tentang teks itu [dokumen Vatikan II, Gaudium et
Spes] dikehendaki, kita mungkin berkata bahwa (bersama teks tentang kebebasan
beragama dan agama-agama dunia), teks itu yaitu suatu revisi terhadap Silabus Pius IX,
semacam kontra-silabus ... Akibatnya, kesatusisian posisi yang dipegang oleh Gereja di
bawah Pius IX dan Pius X sebagai tanggapan terhadap situasi yang diciptakan oleh fase
sejarah yang baru yang dimulai oleh Revolusi Prancis, telah, dalam skala yang besar,
dikoreksi via facti, terutama di Eropa Tengah, namun masih belum ada pernyataan mendasar
akan hubungan yang harus berada di antara Gereja dan dunia yang telah dihasilkan sesudah tahun
1789 ....”120
Benediktus XVI tidak dapat menjadi lebih sesat. Ia mengakui bahwa ajaran Vatikan II (yang ia pegang)
secara langsung menentang ajaran Magisterium di dalam Silabus Kesalahan-kesalahan yang dikutuk oleh
Paus Pius IX. Kami telah menunjukkan bahwa ajaran Vatikan II tentang kebebasan beragaman
menentang ajaran Katolik tradisional. Benediktus XVI hanya mengakuinya. Seseorang tidak perlu
344
meminta lagi sebuah penegasan bahwa ajaran Vatikan II yaitu sesat. Di dalam bukunya, Benediktus XVI
mengulang-ulangi hal ini, menyebut ajaran Vatikan II sebagai ‘kontra-silabus’, dan berkata bahwa tidak
ada jalan untuk kembali kepada Silabus Kesalahan-kesalahan.
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 385:
“Lewat suatu jenis kebutuhan dalam, oleh sebab itu, optimisme dari kontra-silabus
memberi jalan kepada teriakan yang jauh lebih intens dan dramatis dari yang
sebelumnya.”121
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 391:
“Tugas ini bukanlah, oleh sebab itu, untuk menghapuskan Konsili namun untuk menemukan
Konsili sejati dan untuk memperdalam niat sejatinya sehubungan dengan pengalaman masa kini.
Hal ini berarti tidak diperbolehkan untuk kembali kepada Silabus yang mungkin telah
memberi tanda untuk tahap pertama di dalam pertarungan dengan liberalisme dan Marxisme
yang baru saja dilahirkan namun bukanlah tahap terakhirnya.”122
Ini yaitu bidah yang mencengangkan!
BENEDIKTUS XVI MENGAKUI BAHWA SEKTE VATIKAN II TELAH MENINGGALKAN
LARANGAN TRADISIONAL GEREJA KATOLIK UNTUK KREMASI
Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, hal. 436:
“Pertanyaan: Apakah diperkenankan untuk mengkremasikan jenazah, atau apakah itu hanya suatu
ritus pagan? Jawaban … Sampai waktu Konsili Vatikan Kedua, kremasi dikenakan pinalti-
pinalti. Menimbang segala keadaan dunia modern, Gereja telah meninggalkan hal ini.”123
Hukum tradisional Gereja mengutuk kremasi, dan melarang penguburan gerejawi untuk mereka yang
memintanya.
MELAWAN GEREJA
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA AJARAN GEREJA TIDAK MENGECUALIKAN MEREKA
YANG BERPEGANG KEPADA PANDANGAN YANG BERLAWANAN
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 229:
“Pernyataan dari Kongregasi... mengajukan untuk mengatasi krisis lewat penyajian yang
positif terutama tentang poin-poin ini tentang doktrin Gereja yang dipertentangkan
dan untuk mendirikan identitas Katolisisme, dengan tidak mengecualikan mereka yang
berpegang kepada pandangan-pandangan yang berlawanan...”124
Ini sungguh-sungguh sesat.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Bulla Cantate Domino, 1441:
“Maka Gereja Roma yang Kudus mengecam, menolak, mengutuk dan menyatakan di luar Tubuh
Kristus, yang yaitu Gereja, siapa pun yang berpegang pada pandangan-pandangan yang
berlawanan atau bertentangan.”125
BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA ‘GEREJA’ HADIR DI LUAR GEREJA
Benediktus XVI, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal. 29:
“...tidaklah dapat ataupun boleh terjadi penyangkalan terhadap kehadiran Kristus dan nilai-nilai
345
Kristiani di antara orang-orang Kristiani yang terpisahkan... Teologi Katolik harus menyatakan
secara lebih jelas dari yang sebelumnya bahwa, bersama dengan kehadiran yang nyata
akan dunia di luar batas-batas gereja, ‘Gereja’ juga hadir di sana dalam suatu bentuk...”126
Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja sendiri hadir di luar Gereja. Hal ini yaitu suatu omong
kosong yang sesat yang menolak bahwa hanya ada satu Gereja.
Syahadat Nicea-Konstantinopel, 381, ex cathedra:
“Kami percaya akan... Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.”127
BENEDIKTUS XVI SAMA SEKALI MENOLAK KESATUAN GEREJA KATOLIK
Kesatuan atau keesaan Gereja Katolik yaitu suatu dogma yang sangat penting. Kesatuan yaitu salah
satu dari empat tanda milik Gereja, yaitu satu, kudus, Katolik dan apostolik. Sewaktu para bidah
membentuk sekte-sekte, mereka tidak memecahkan kesatuan dari Gereja Katolik, sebab kesatuan
Gereja tidak dapat dipecahkan. Mereka hanya meninggalkan Gereja Katolik.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#4), 29 Juni 1896:
“Gereja, yang satu adanya, tergolong hal yang berkodrat tunggal ....”128
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#5), 29 Juni 1896:
“ … Kesatuannya tak dapat dipatahkan: tubuh yang tetap satu adanya tak bisa dibagi-bagi
dengan memecah-belah anggota-anggota penyusunnya.”129
namun BENEDIKTUS XVI SAMA SEKALI MENOLAK DOGMA TENTANG KESATUAN GEREJA
KATOLIK
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 121:
“...pada akhirnya, lewat faktor-faktor ini, menjadi jelas bahwa kesatuan Gereja tidaklah terjadi
lewat upaya manusiawi namun hanya dapat diadakan oleh Roh Kudus.”130
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 148:
“Kanon dari Kitab Suci dapat ditelusuri kembali kepada mereka, atau, paling tidak, kepada
Gereja yang tidak terbagi-bagi dari abad-abad pertama, dari mana mereka merupakan
perwakilannya”131
Benediktus XVI mengajarkan bahwa Gereja dipersatukan selama seribu tahun pertama, namun terbagi-
bagi sesudah nya oleh pemberontakan skismatis dan pemberontakan Protestan. Ini yaitu penolakan
keseluruhan dari salah satu tanda dari Gereja Katolik. Hal ini sendiri membuktikan bahwa ia bukan
seorang Katolik.
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 147:
“Para Bapa, kita dapat mengatakannya sekarang, merupakan guru-guru teologis dari Gereja yang
tidak terbagi-bagi...”
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 127:
“Untuk tujuan kita, tipe keempat simbolum ini tidak perlu lagi didiskusikan lebih jauh sebab hal
ini bukanlah bagian dari sejarah simbolum Gereja yang tidak terbagi-bagi...”
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 145-146:
“Para Bapa merupakan guru-guru dari Gereja yang masih belum terbagi-bagi.”
346
Benediktus XVI, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal. 29:
“...Hal ini berarti bahwa bahkan di dalam kepercayaan Katolik, kesatuan Gereja masih dalam
proses pembentukan; bahwa hal ini hanya akan tercapai pada akhir dunia...”
Benediktus XVI berkata bahwa kesatuan Gereja (keesaan Gereja), salah satu ciri Gereja sejati, tidak ada
dan tidak akan ada sampai akhir dunia!
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#7), 6 Jan. 1928, berbicara tentang para bidah:
“Sudah tiba saatnya untuk menyingkap dan membantah suatu kesalahan yang merupakan dasar
semua perkara ini ... mereka berpendapat bahwa kesatuan iman dan pemerintahan (ciri Gereja
yang satu dan sejati), hampir tidak pernah ada sampai saat ini, dan pada hari ini tidak ada lagi
....”132
BIDAH-BIDAH LAIN DARI BENEDIKTUS XVI
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA YUDAS MUNGKIN TIDAK ADA DI DALAM NERAKA
Benediktus XVI, 18 Oktober 2006: “Hal ini mengajukan dua pertanyaan yang berkaitan dengan
apa yang terjadi [dengan Yudas]. Yang pertama yaitu dengan bertanya kepada diri kita sendiri
bagaimana mungkin Yesus memilih pria ini dan memercayainya. Faktanya, walaupun Yudas
yaitu pengelola kelompok ini (bandingkan Yohanes 12:6b; 13:29a), kenyataannya ia juga
disebut ‘pencuri’ (Yohanes 12:6a). Misteri pemilihan ini lebih besar, sebab Yesus
mengucapkan sebuah penghakiman yang sangat parah untuknya: “Celakalah orang yang olehnya
Anak Manusia itu diserahkan!” (Matius 26:24). Misteri ini bahkan lebih dalam jika seseorang
berpikir akan takdirnya yang abadi, sewaktu seseorang mengetahui bahwa Yudas
“menyesal. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam
kepala dan tua-tua, dan berkata: ‘Aku telah berdosa sebab menyerahkan darah orang
yang tak bersalah.’” (Matius 27:3-4). Walaupun ia lalu pergi untuk menggantung dirinya
sendiri (bandingkan Matius 27:5), kita tidak berhak untuk menghakimi sikapnya,
meletakkan diri kita sendiri di tempat Allah, yang secara tidak terbatas pengampun dan
adil.”133
Kata-kata Benediktus XVI ini menunjukkan bahwa ia percaya bahwa Yudas mungkin tidak ada di dalam
Neraka. Ini yaitu penolakan Injil. Jika Yudas tidak berada di dalam Neraka (seperti yang ditunjukkan
sebagai mungkin oleh Benediktus XVI), maka kata-kata Tuhan kita di Matius 26:24 (dikutip di bawah)
yaitu salah.
“...celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. yaitu lebih baik bagi orang itu
sekiranya ia tidak dilahirkan” (Matius 26:24)
Jika Yudas tidak berakhir di Neraka, maka ia akan pergi ke Api Penyucian atau Surga. Dalam kasus
ini , Tuhan Kita (yang mengetahui segalanya) tidak akan mengatakan bahwa lebih baik bahwa
Yudas tidak dilahirkan. Hal ini sangatlah jelas dan sederhana; namun , kebenaran-kebenaran sederhana
tentang Iman Katolik ini diinjak-injak oleh sekte Vatikan II yang tidak Katolik.
Sangatlah menarik bahwa, di dalam perkataannya ini, Benediktus XVI mengutip bagian pertama dari
Matius 26:24 (“Celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!”), namun ia tidak mengutip
bagian terakhirnya (“yaitu lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”). Anda dapat
347
melihat di sini pengabaian bagian yang penting dari ayat di kutipan di atas. Ini yaitu sebuah contoh
yang menonjol yang memotong-motong Injil yang tidak ia sukai atau yang ia akan tolak.
Untuk membantah Anti-Paus Benediktus XVI lebih jauh, yaitu fakta bahwa Tuhan kita juga berkata
bahwa Yudas ‘binasa’ dan menyebutnya ‘dia yang telah ditentukan untuk binasa’ {‘anak kebinasaan’ di
dalam Terjemahan Lama dan MILT 2008}, yang berarti ‘anak yang terkutuk’. Yudas juga mengakhiri
hidupnya dengan dosa berat, yaitu bunuh diri.
Yohanes 17:12- “...tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang
telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.”
Gereja Katolik telah selalu percaya bahwa Yudas masuk Neraka, berdasar kata-kata yang jelas dari
Tuhan kita.
St. Alfonsus, Preparation for Death {Persiapan untuk Kematian}, hal. 127:
“Yudas yang malang! Lebih dari seribu tujuh ratus tahun telah berjalan sejak ia telah
berada di dalam Neraka, dan Nerakanya itu masihlah baru bermula.”134
namun layaknya dogma-dogma lain yang sudah didefinisikan tentang keselamatan, bahkan kata-kata
serta pesan-pesan yang terjelas dari Kitab Suci ditolak oleh sekte bidah terang-terangan yang non-
Katolik, yaitu Vatikan II dan para Anti-Pausnya.
Paus Pius X, Pascendi (#3), 8 September 1907:
“Terlebih lagi, mereka [para Modernis] mengayunkan kapak bukan kepada batang dan
ranting, melainkan kepada akarnya sendiri, yakni kepada iman dan serat-seratnya yang
terdalam. Dan sesudah menyerang akar imortalitas ini, mereka lalu menyebarkan racun kepada
seluruh pohon, agar tidak satu bagian pun dari iman Katolik terlindung dari tangan mereka,
tidak satu hal pun yang tidak mereka bejatkan sepenuhnya.”135
BENEDIKTUS XVI MENGHORMATI JALAN PENOLAKAN HANS KUNG TERHADAP YESUS
KRISTUS
Untuk mereka yang tidak mengenalnya, Hans Kung menolak antara lain Infalibilitas Paus dan Keilahian
Tuhan kita Yesus Kristus.
Hans Kung
Hans Kung dapat disebut secara benar sebagai seorang Arian, sebab ia menolak bahwa Tuhan kita
sehakikat dengan Bapa.
348
Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal 95-96:
“Pertanyaan. Dan bagaimana dengan jalan Hans Kung? Maksud saya, ia sekarang berharap bisa
mendapat sebuah rehabilitasi. Jawaban. ...ia [Hans Kung] tidak sama sekali menarik
ketidaksetujuannya akan Kepausan; memang, ia telah meradikalisasikan posisi-posisinya,
Di dalam Kristologi dan di dalam teologi trinitarian, ia telah semakin menjauhkan dirinya
sendiri dari iman Gereja. Saya menghormati jalannya, yang diambilnya sesuai dengan hati
nuraninya, namun ia seharusnya tidak oleh sebab itu meminta persetujuan Gereja namun harus
mengakui bahwa di dalam pertanyaan-pertanyaan penting ini , ia telah sampai kepada
keputusan-keputusan dirinya sendiri yang sangat pribadi.”136
Benediktus XVI bukan hanya semata-mata berkata bahwa ia menghormati Hans Kung, yang itu saja
sudah amat buruk, namun ia berkata bahwa ia menghormati pandangannya – yaitu, penolakan Yesus
Kristus! Ini yaitu sebuah kemurtadan besar-besaran.
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA PENTING BAGI SETIAP ORANG UNTUK MENGANUT
AGAMA PILIHANNYA SENDIRI
Benediktus XVI, Sambutan, 18 Mei 2006:
“Seperti hal itu juga, perdamaian berakar di dalam rasa hormat akan kebebasan beragama, yang
merupakan aspek dasar dan pertama dari kebebasan berhati nurani dari setiap individu dan
kebebasan orang-orang. Penting bagi setiap orang di seluruh dunia untuk menganut agama
pilihannya sendiri dan mempraktikannya dengan bebas tanpa rasa takut sebab tidak
seorang pun dapat mendasari hidupnya akan pencarian hal-hal material saja.”137
Menurut Benediktus XVI, penting bagi setiap orang untuk menganut agama yang dipilihnya sendiri. Ini
yaitu indiferentisme rohani. Benediktus XVI lalu menjelaskan alasannya untuk mengatakan hal ini:
“sebab tidak seorang pun dapat mendasari hidupnya akan pencarian hal-hal material saja.” Dalam
kata lain, hidup yaitu lebih dari hal-hal material, ada kenyataan rohani, maka pentinglah untuk
menganut suatu agama – agama apa pun yang seseorang pilih! Benar-benar murtad.
BENEDIKTUS XVI MENGUCAPKAN LEBIH BANYAK BIDAH TENTANG KEBEBASAN
BERAGAMA, YANG SECARA LANGSUNG MENENTANG AJARAN DOGMATIS PIUS IX
Benediktus XVI, Sambutan kepada duta besar Spanyol, 20 Mei 2006:
“Gereja juga menuntut hak asasi individu untuk mengakui agama-agama mereka sendiri
tanpa hambatan, secara publik dan pribadi, serta hak orang tua untuk membuat anak-anak
mereka menerima suatu pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai serta kepercayaan-
kepercayaan mereka tanpa diskriminasi yang eksplisit maupun implisit.”138
Ini persis kebalikan dari ajaran infalibel Gereja Katolik. Gereja mengutuk secara khusus hal yang ia
katakan bahwa Gereja tuntut! Lihatlah betapa jelasnya bahwa ajaran Benediktus XVI berlawanan dengan
ajaran dogmatis Paus Pius IX. Perhatikan terutama bagian yang digarisbawahi, dan bandingkan hal
ini dengan ajaran Benediktus XVI:
Paus Pius IX, Quanta Cura (#3-6), 8 Desember 1864, ex cathedra:
“Gagasan yang sepenuhnya sesat tentang pemerintahan sosial ini membuat mereka tidak
ragu untuk mendukung opini yang sesat ini, yang dampak-dampaknya paling mematikan kepada
Gereja Katolik dan keselamatan jiwa-jiwa, dan yang disebut oleh Pendahulu Kami dari kenangan
yang berbahagia, Gregorius XVI, sebagai suatu kegilaan, yaitu bahwa ‘KEBEBASAN BERHATI
NURANI DAN BERIBADAH MERUPAKAN HAK PRIBADI DARI SETIAP MANUSIA, YANG
349
HARUS SECARA HUKUM DIPROKLAMASIKAN DAN DIJAMIN DI DALAM SETIAP
MASYARAKAT YANG TERSUSUN SECARA BENAR; dan BAHWA WARGA NEGARA MEMILIKI
SUATU HAK ATAS KEBEBASAN YANG PENUH UNTUK MEWUJUDKAN DENGAN SUARA
LANTANG DAN SECARA PUBLIK OPINI-OPINI MEREKA, APA PUN OPINI MEREKA ITU,
MELALUI PERKATAAN, MELALUI PERCETAKAN ATAU MELALUI SARANA APA PUN, tanpa
dikekang oleh otoritas gerejawi maupun sipil.’ namun , walaupun mereka menekankan
pernyataan-pernyataan yang lancang ini, mereka tidak memikirkan, tidak pun mereka
mempertimbangkan bahwa mereka mengajarkan suatu kebebasan untuk menjadi binasa … Maka,
Maka, DENGAN OTORITAS APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK, MENGECAM, DAN
MENGUTUK SELURUH DAN SETIAP OPINI SERTA DOKTRIN YANG JAHAT YANG SECARA
RINCI DISEBUTKAN DI DALAM SURAT INI, DAN KAMI MENGHENDAKI DAN
MEMERINTAHKAN KEPADA ANAK-ANAK GEREJA KATOLIK AGAR MEREKA MENGANGGAP
OPINI-OPINI DAN DOKTRIN-DOKTRIN ini SEPENUHNYA DITOLAK, DIKECAM, DAN
DIKUTUK.”139
Benediktus XVI vs ajaran Katolik ex cathedra
Gereja juga menuntut hak asasi individu untuk
mengakui agama-agama mereka sendiri tanpa
hambatan, secara publik dan pribadi
bahwa warga negara memiliki suatu hak ... UNTUK
MEWUJUDKAN DENGAN SUARA LANTANG DAN
SECARA PUBLIK OPINI-OPINI MEREKA, APA
PUN OPINI MEREKA ITU ... DENGAN OTORITAS
APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK,
MENGECAM, DAN MENGUTUK [seluruh opini
yang jahat ini]
BENEDIKTUS XVI MENOLAK KEBANGKITAN BADAN
Kebangkitan Badan yaitu sebuah dogma yang sangat penting. Di samping bahwa hal ini
merupakan bagian dari Syahadat para Rasul, dogma ini telah didefinisikan hampir lebih banyak kali dari
pada dogma lain akan Iman.
Paus Gregorius X, Konsili Lyon II, 1274, ex cathedra:
“Gereja Roma kudus yang sama secara teguh percaya dan secara teguh menyatakan bahwa
bagaimanapun pada hari penghakiman, semua manusia akan dipersatukan dengan badan
mereka di depan pengadilan Kristus untuk memberi pertanggungjawaban atas perbuatan-
perbuatan mereka.”140
Paus Inosensius III, 1215, ex cathedra:
“...yang seluruhnya akan naik bersama badan-badan mereka yang sekarang mereka
bawa...”141
Paus Benediktus XII, 1336, ex cathedra:
“...semua manusia bersama badan-badan mereka akan membuat diri mereka sendiri siap
untuk mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan mereka...”142
Benediktus XVI terang-terangan menolak dogma ini dan membuktikan kembali bahwa ia yaitu seorang
bidah terang-terangan.
Benediktus XVI, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, 2004, hal. 349:
“Sekarang telah menjadi jelas bahwa makna sejati dari iman akan kebangkitan sama
350
sekali bukan ide akan pemulihan badan, yang kita telah sederhanakan di dalam pikiran kita;
demikianlah adanya walaupun inilah gambaran ilustrasi yang digunakan di sepanjang Kitab
Suci.”143
Benediktus XVI, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, hal. 353:
“Renungan-renungan sebelumnya mungkin telah menjelaskan sampai taraf tertentu apa yang
terlibat di dalam pernyataan-pernyataan Kitab Suci tentang kebangkitan: intinya yang
penting bukanlah pemulihan badan-badan kepada jiwa-jiwa sesudah selang waktu lama...”144
Benediktus XVI, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, hal. 357-358:
“Sebagai rangkuman, Paulus tidak mengajarkan kebangkitan badan-badan secara jasmani,
namun kebangkitan pribadi-pribadi...”145
Kita dapat melihat bahwa Benediktus XVI menolak dogma ini di dalam bukunya Introduction to
Christianity {Perkenalan akan Kekristenan} (seperti yang dikutip di atas) dengan mengajarkan bahwa St.
Paulus tidak mengajarkan kebangkitan badan-badan secara jasmani, dan bahwa kebangkitan bukanlah
pemulihan badan-badan. Ini yaitu bidah yang mencengangkan.
Benediktus XVI memberi tanda satanik El Diablo
Di bawah kita melihat Benediktus XVI memberi tanda El Diablo (Iblis). Gerakan tangan ini populer di
antara para Satanis dan grup rock satanis. Banyak yang melakukan gerakan tangan ini tanpa
mengetahuinya sebab mereka telah dirasuki roh jahat. Beberapa orang menunjukkan bahwa tanda
Iblis ini mirip dengan gerakan tangan “Aku cinta kamu” dalam bahasa isyarat. Hal ini benar, namun
hal ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa sang pelopor bahasa isyarat orang tuna wicara
yaitu Helen Keller, yang juga seorang okultis dan Teosofis. Ia menulis sebuah buku yang berjudul
My Religion {Agama Saya} di dalam mana ia menjelaskan tentang pandangan-pandangan okultnya.146
Beberapa orang percaya bahwa ia merancang tanda “aku cinta kamu” sedemikian rupa sehingga
menyerupai tanda Iblis supaya seseorang yang membuatnya akan berkata bahwa ia mencintai Setan.
351
Bagaimanapun, kami percaya bahwa di atas Benediktus XVI membuat tanda Iblis – tanda Iblis ganda,
secara faktual – dan ia tahu apa yang ia lakukan. Kami mengatakan hal ini sebab , sesudah membaca
banyak buku-bukunya, kami dapat berkata bahwa ia jelas salah satu dari pria yang paling pintar di dunia,
di samping fakta bahwa ia memiliki pengetahuan tentang hal-hal Katolik bagaikan ensiklopedia. Maka,
sewaktu ia mengulang-ulangi di dalam buku-bukunya bahwa seseorang bebas untuk tidak memandang
Yesus sebagai sang Mesias (seperti yang kami telah dokumentasikan), Benediktus XVI (seorang pria yang
sangat berilmu) tahu dengan sangat baik bahwa ia sedang mengkhotbahkan suatu Injil baru antikristus
dari dalam struktur-struktur fisik Gereja Katolik, sambil mengaku-ngaku sebagai seorang Paus yang dari
tampaknya, berdedikasi kepada Injil. Maka, ia sadar sepenuhnya akan muslihat jahat yang ia jalankan.
Hanya seseorang yang secara sengaja menyembah Setan atau sangtlah dikendalikan atau dirasuki Setan
dapat melakukan hal semacam itu.
KESIMPULAN TENTANG BENEDIKTUS XVI
Benediktus XVI yaitu seorang bidah terang-terangan. Kami telah membuktikan hal ini tanpa
keraguan. Ia mengajarkan bahwa Tuhan kita tidak mungkin yaitu sang Mesias, bahwa Perjanjian Lama
sah; bahwa para Yahudi dan orang-orang lain dapat diselamatkan tanpa percaya akan Kristus; bahwa
para skismatis dan Protestan tidak memerlukan konversi; bahwa para non-Katolik tidak terikat untuk
menerima Vatikan I; bahwa biara-biara Protestan harus didirikan; bahwa Protestantisme bahkan
bukanlah bidah; bahwa Misa itu valid tanpa kata-kata konsekrasi; bahwa pembaptisan bayi tidak
memiliki tujuan; bahwa Kitab Suci dipenuhi mitos-mitos; bahwa agama sesat Islam yaitu agama yang
mulia; bahwa agama-agama pagan tinggi; bahwa keselamatan bisa didapatkan di luar Gereja Katolik;
bahwa dogma-dogma Katolik perlu dibersihkan; bahwa Vatikan II menolak ajaran Katolik akan
kebebasan beragama; bahwa kesatuan Gereja tidak ada sama sekali; dan bahwa Kebangkitan Badan tidak
akan terjadi, hanya untuk menamakan sedikit dari bidah-bidahnya.
sebab ia yaitu seorang bidah, ia tidak mungkin menjadi Paus yang dipilih secara sah. Seperti
yang telah dikutip, Paus Paulus IV secara khidmat mengajarkan di dalam Bullanya di tanggal 15 Februari
352
1559, Cum ex Apostolatus officio, bahwa tidak mungkin bagi seorang bidah untuk menjadi seorang Paus
yang dipilih secara sah.
Oleh sebab itu, menurut ajaran Gereja Katolik, Benediktus XVI bukanlah seorang Paus, melainkan
seorang Anti-Paus non-Katolik yang para Katolik harus tolak sama sekali. Ia memimpin agama baru
Vatikan II, suatu Katolisisme palsu yang telah meninggalkan tradisi-tradisi dan dogma-dogma Gereja
Katolik.
Salah satu ciri khas Benediktus XVI yaitu bahwa ia yaitu seorang penipu. Walaupun ia mengajarkan
bidah-bidah yang tidak dapat dipungkiri, mencengangkan, dan terang-terangan, salah satu cara ia
meyakinkan banyak sekaling orang bahwa ia yaitu seseorang yang konservatif yaitu bahwa, di antara
bidah-bidah di dalam tulisan-tulisannya ini, ada banyak tulisan-tulisan konservatif. namun ini
bukanlah hal yang baru. Paus Pius VI menyatakan bahwa para bidah, terilhami oleh Iblis, telah selalu
memakai taktik ini untuk menanamkan bidah dan untuk menipu orang-orang.
Paus Pius VI, Bulla “Auctorem fidei,” 28 Agustus 1794:
“[Doktor-Doktor {Gereja} Kuno] mengenali kemampuan para inovator dalam seni
penipuan. Agar tidak mengejutkan telinga-telinga para Katolik, mereka mencoba untuk
menyembunyikan kelicikan-kelicikan dari muslihat mereka… dengan memakai kata-
kata yang kelihatannya tidak berbahaya yang sedemikian rupa sehingga membuat mereka
mampu menyisipkan kesesatan ke dalam jiwa-jiwa dengan cara yang paling halus.
Sekalinya kebenaran ini dikompromikan, mereka dapat, dengan memakai
perubahan-perubahan kecil atau tambahan-tambahan dalam susunan kata, menyesatkan
pengakuan iman yang diperlukan demi keselamatan kita, dan menuntun para umat beriman
lewat kesesatan-kesesatan yang licin ke dalam kebinasaan kekal.”
Paus Pius VI menunjukkan bahwa dengan menyembunyikan bidah-bidah di dalam pernyataan-
pernyataan yang ambigu atau kelihatannya konservatif atau bertentangan yaitu taktik sang bidah
Nestorius, dan bahwa para Katolik tidak dapat memperbolehkan para bidah lepas dari hal ini atau
menipu mereka lewat hal ini . Mereka harus mengikat sang bidah kepada ajaran sesat mereka
bagaimanapun:
Paus Pius VI, “Auctorem fidei”:
“…cara ini tidak boleh dibenarkan sewaktu seseorang melihatnya dilakukan – di
bawah dalih bahwa pernyataan-pernyataan yang kelihatannya mengejutkan di satu
tempat diajukan lebih lanjut di antara pernyataan-pernyataan yang ortodoks di tempat
lain; dan bahkan jika di tempat-tempat yang lain [pernyataan-pernyataan mengejutkan
ini ] dikoreksi; seolah-olah memperkenankan kemungkinan baik untuk menyetujui
atau menolak pernyataan ini … demikianlah metode yang tidak jujur dan lancang
yang telah selalu digunakan oleh para inovator untuk menegakkan kesalahan. Metode
ini memperkenankan kemungkinan untuk memajukan kesalahan dan
membenarkannya.”
“…Teknik ini yaitu suatu teknik yang paling tercela untuk menyusupkan kesalahan-
kesalahan doktrin, dan suatu teknik yang dahulu kala dikutuk oleh Pendahulu Kami, Santo
Selestinus, yang menemukan penggunaannya di dalam karya tulis Nestorius, Uskup
Konstantinopel, dan yang disingkapnya demi mengutuknya dengan hukuman yang paling besar
yang mungkin dijatuhkan. Sekalinya karya tulis ini ditelaah dengan berhati-hati, sang
penipu tersingkap dan menjadi kebingungan, sebab ia menjelaskan dirinya sendiri dengan kata-
353
kata yang begitu banyak, menyelang-selingi hal-hal yang benar dengan hal-hal lain yang tidak
jelas, terkadang mencampuradukkan yang satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga ia
juga dapat mengiyakan hal-hal yang bahkan ditolaknya, sembari, pada waktu yang bersamaan,
memiliki dasar untuk menolak kata-kata yang sama yang ia akui.”
Para bidah selalu bergantung kepada ambiguitas dan penipuan untuk menyisipkan ajaran-ajaran sesat
mereka dan membuat mereka tidak tampak seburuk yang sebenarnya. Faktanya, semakin sang bidah
lihai dalam penipuannya, biasanya semakin ia berhasil bekerja untuk Iblis. Sang bidah Arius
menyebarkan penolakannya akan Keilahian Kristus dengan efektif sebab ia mengesankan orang-orang
dengan tampak luarnya, yaitu asketisme dan ketaatan.
Paus Pius XI, Rite expiatis (#6), 30 April 1926:
“...bidah-bidah sedikit demi sedikit muncul dan bertumbuh di dalam kebun anggur Tuhan,
disebarkan oleh bidah terang-terangan atau oleh para penipu yang lihai yang, sebab
mereka berlagak keras dalam kehidupan mereka dan memberi kesan yang palsu akan
kebajikan dan kesalehan, dengan mudah menyesatkan orang-orang yang lemah dan
sederhana.”147
Paus Pius VI mengakhiri poinnya dengan memberi para Katolik petunjuk-petunjuk untuk
menghadapi tipuan atau ambiguitas ini di antara tulisan-tulisan para bidah:
“Untuk menyingkap jebakan-jebakan yang demikian, suatu hal yang menjadi diperlukan dengan
kekerapan tertentu di setiap abad, tiada suatu metode lain pun yang dibutuhkan selain metode berikut:
MANAKALA DIBUTUHKAN UNTUK MENYINGKAP PERNYATAN-PERNYATAAN YANG
MENYEMBUNYIKAN KESALAHAN TERTENTU YANG DICURIGAI ATAU BAHAYA YANG DISELUBUNGI
OLEH AMBIGUITAS, SESEORANG HARUS MENCELA MAKNANYA YANG SESAT YANG
MENYAMARKAN KESALAHAN YANG BERLAWANAN DENGAN KEBENARAN KATOLIK.”
Paus Pius VI mengajarkan kita bahwa jika seseorang menyamarkan sebuah bidah di dalam ambiguitas,
seorang Katolik harus membuat seseorang mempertanggungjawabkan makna yang sesat ini dan
mencela makna yang sesat itu yang tersembunyi di dalam ambiguitas. namun hal ini hanyalah logika: jika
seseorang berkata bahwa ia menentang aborsi, namun berulang-ulang kali memberi suara untuk
aborsi, ia yaitu pendukung aborsi dan yaitu seorang bidah. Fakta bahwa kadangkala ia mengaku
memegang ajaran Katolik menentang aborsi sama sekali tidak berarti apa-apa.
Demikian pula, fakta bahwa Benediktus XVI mengatakan beberapa hal yang konservatif, ambigu atau
bertentangan tidak mengubah kenyataan bahwa ia mengajarkan bidah-bidah yang mencengangkan dan
bahwa ia bukanlah seorang Katolik.
PENCABUTAN PERNYATAAN BENEDIKTUS XVI TENTANG ISLAM MENUNJUKKAN SIFAT ASLINYA
SEBAGAI SEORANG PENIPU
Hampir semua orang yang membaca buku ini mungkin telah mendengar tentang pernyataan-pernyataan
kontroversial Benediktus XVI tentang Muhammad di dalam pidatonya di Bavaria pada tanggal 12
September 2006. Di dalam pidatonya yang sekarang menjadi terkenal ini, Benediktus XVI mengutip
seorang pemimpin negara dari abad pertengahan yang mencela kebijakan Muhammad (dan oleh sebab
itu Islam) sebagai jahat dan tidak manusiawi.
Benediktus XVI, Pidato di Bavaria, 12 September 2006:
“Di dalam percakapan ketujuh... sang raja berbicara tentang tema perang suci... di mana ia
354
berkata: ‘Tunjukkan saya hal-hal baru yang dibawa oleh Muhammad dan di sana kalian
hanya akan menemukan hal-hal yang jahat dan tidak manusiawi, seperti perintahnya
untuk menyebarkan iman dengan pedang.’ Sang raja, sesudah mengungkapkan dirinya
dengan tegas, menjelaskan dengan rinci alasan-alasan mengapa penyebaran iman lewat
kekerasan yaitu sesuatu yang tidak masuk akal. Kekerasan tidaklah sesuai dengan sifat
Tuhan dan sifat dari jiwa. ‘Allah’, katanya, ‘tidak dibahagiakan oleh darah – dan kelakuan yang
tidak masuk akal berlawanan dengan sifat Allah.’”148
Di dalam konteks ini, kita dapat melihat dengan jelas bahwa Benediktus XVI tidak semata-mata mengutip
pernyataan dari sang raja yang menentang kebijakan Muhammad, namun ia mendukung pernyataan sang
raja.
Lalu, mengapa Benediktus XVI membuat sebuah pernyataan yang menentang Islam? Apakah sebab ia
percaya bahwa Islam itu jahat? Tentunya tidak. Benediktus XVI berkata bahwa Islam melambangkan
‘keagungan’ (Truth and Tolerance {Kebenaran dan Toleransi}, hal. 204). Benediktus XVI sepenuhnya
menyetujui ajaran Vatikan II yang mendukung Islam, seperti yang kita telah lihat. Benediktus XVI
berpikir bahwa Yohanes Paulus II – yang mencintai agama sesat Islam dan melakukan tindakan-tindakan
murtad yang terhitung jumlahnya yang memuji Islam – yaitu seorang Paus yang agung yang layak
dikanonisasikan. Alasan Benediktus XVI membuat satu pernyataan ini yaitu bahwa misinya, seperti
yang kita telah tunjukkan, yaitu untuk kadangkala membuat beberapa pernyataan yang konservatif dan
melakukan beberapa hal yang konservatif untuk menipu orang-orang yang berpikian tradisionalis untuk
kembali ke dalam cengkeraman Gereja sesat – sambil mengkhotbahkan kemurtadan Vatikan II. Dan satu
pernyataan konservatifnya ini mendapat dampak yang diinginkan, sampai Allah mengizinkan hal
ini untuk menjadi bumerang untuknya.
Segera sesudah pidato Benediktus XVI pada tanggal 12 September tersebar, kami dihubungi oleh individu-
individu yang, di masa lalu, bergumul akan isu-isu apakah para Anti-Paus yaitu Paus-Paus yang
sesungguhnya. Salah satu individu ini menulis kepada kita dan merujuk kepada pidato Benediktus
XVI tentang Islam; imannya melawan Kontra-Gereja tentunya melemah. Benar-benar menyedihkan dan
sebetulnya menjijikkan bahwa satu pernyataan atau tindakan konservatif di sini atau di sana dari sang
Anti-Paus – walaupun ia menolak Kristus, beribadat di sinagoga, berkat bahwa kita tidak boleh
mengonversikan para Protestan, dst... – yaitu satu-satunya yang diperlukan untuk menghancurkan
iman yang lemah dari orang ini.
namun begitulah kebanyakan orang. Mereka tidak memiliki iman sejati dalam Kristus, mereka tidak
membenci kejahaan, atau iman mereka serapuh buluh. Banyak dari antara mereka terpikat oleh satu
pernyataan konservatif di sini atau di sana, bahkan dari seorang bidah murtad terang-terangan yang
didokumentasikan dengan baik yang bahkan tidak percaya bahwa Yesus yaitu sang Mesias, seperti yang
kita telah buktikan. Itulah mengapa Benediktus XVI, yang benar-benar di bawah kekuatan Iblis,
melakukan hal semacam ini.
KEBENARAN PUN BERSINAR: BENEDIKTUS XVI MEMINTA MAAF UNTUK PIDATONYA TENTANG
ISLAM DAN BERKATA BAHWA PERNYATAANNYA YANG MENENTANG AJARAN MUHAMMAD ‘SAMA
SEKALI TIDAK MENGUNGKAPKAN’ PENDAPAT PRIBADINYA
Benediktus XVI, Permohonan maaf untuk pidatonya tanggal 12 September 2006:
“Pada waktu ini, saya juga ingin menambahkan bahwa saya sungguh meminta maaf untuk re











