Tampilkan postingan dengan label Filosofi 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi 7. Tampilkan semua postingan

Filosofi 7


 , kecerdasan, dan kreativitas bersifat 

statis/tidak berubah. sebab nya, sukses menjadi "bukti" akan kualitas-

kualitas itu. Akibatnya, anak dan orang tua yang memiliki mentalitas 

ini akan berjuang mati- matian meraih sukses dan menghindari 

kegagalan agar bisa mempertahankan persepsi saya/anak saya 

“pintar". Kegagalan dianggap mengancam realitas bahwa sang anak 

adalah anak yang “pintar”.

Mentalitas kedua adalah "growth mindset" (mentalitas bertumbuh). 

Mentalitas ini justru menyukai tantangan. Kegagalan tidak dilihat 

sebagai bukti "kebodohan”, namun  sebagai batu loncatan yang perlu 

untuk pertumbuhan mental dan meningkatkan kemampuan kita. 

Kecerdasan dan kreativitas dilihat sebagai sesuatu yang bisa 

dikembangkan Igrow), dan bukan paket pemberian yang sudah 

absolut.

Contoh perbedaan kedua mentalitas ini adalah bagaimana kita 

memuji anak saat mereka sukses, misalnya meraih nilai ujian yang 

bagus. Jika kita berkata, "Wah, nilai kamu bagus sekali. Kamu 

memang anak yang pintar\", ini akan melahirkan anak bermental 

fixed. Anak mulai tumbuh dengan persepsi bahwa dia memang 

terlahir pintar.

Lho, memang apa salahnya jika anak mengira dirinya pintar? Hal ini 

bisa berpotensi menjadi dua masalah. Yang pertama, jika dia akhirnya

mengalami kegagalan (kejadian yang sangat mungkin dalam 

kehidupan nyata), fixed mentality bisa membuatnya terguncang 

1"Katanya saya pintar...kok saya gagal?") Kedua, fixed mentality bisa 

mengurangi motivasi untuk berkembang, sebab  kepandaian 

dianggap sebagai super power yang sudah tertanam sejak kecil 

l"Saya kan pintar, untuk apa susah payah belajar lagi, saya pasti bisa 

kok...").

Alternatif lain memuji prestasi anak adalah dengan memuji effort 

(upaya), misalnya, "Wah, nilai kamu bagus sekali. Kamu pasti sudah 

229 

bekerja keras untuk bisa mendapatkannya." saat  sukses 

diatribusikan ke upaya dan kerja keras, kita memberikan pesan 

bahwa kecerdasan dan bakat bukan sesuatu yang statis, namun  bisa 

terus diasah. Inilah yang dimaksud dengan pola pikir growth 

(bertumbuh). Anak dan orang tua percaya bahwa kemampuan diri 

bisa ditumbuhkan terus. Kegagalan tidak dilihat sebagai indikator 

seseorang terlahir "bodoh", namun  sebagai hambatan sementara yang 

bisa dilampaui dengan usaha.

Konsep fixed mindset vs. growth mindset ini sangat kompatibel 

dengan dikotomi kendali. Di awal,  sudah mengajarkan 

bahwa kesuksesan sesungguhnya tidak (sepenuhnya) berada di 

bawah kendali kita. Saat anak terobsesi pada meraih sukses (atau 

menghindari kegagalan), padahal kedua hal ini banyak sekali 

dipengaruhi faktor eksternal, apakah anak disiapkan menjadi realistis?

Saat dia meraih sukses, apakah itu akan membuat dia menepuk dada

"Ha, ini sebab  saya memang pintar”, dan saat gagal meratapi, "Ini 

semua sebab  saya bodoh”? Dengan mengalihkan fokus pada hal-hal 

yang berada di bawah kendali (belajar sungguh- sungguh, berlatih, 

rajin), kita memberikan anak sesuatu yang bisa mereka kendalikan 

dan tingkatkan, dan kegagalan bukan berarti vonis atas karakter 

mereka.

Kita juga bisa mulai memperkenalkan "kendali” secara perlahan 

kepada anak. Misalnya dari hal-hal kecil, seperti menentukan mau 

main apa hari ini, atau mau memakai baju apa hari ini. Sebaliknya, 

kita juga mulai menjelaskan hal-hal di luar kendali dari hal-hal 

sederhana, misalnya saat cuaca buruk menghalangi acara bermain. 

Atau, saat si anak sakit sehingga tidak bisa bersekolah dan 

ketinggalan mata pelajaran. Kita bisa menunjukkan sikap tidak stres 

sebab  sakitnya itu sendiri (sesuatu yang di luar kendali orang tua dan

juga si anak), dan lebih memfokuskan pada bagaimana bisa mengejar

ketertinggalan, misalnya.

Semakin bertambah usia sang anak, tentunya percakapan yang kita 

miliki bisa lebih kompleks dan mendalam. Kita bisa bersama-sama 

membahas tentang dikotomi kendali;

mengajarkan untuk tidak terobsesi dan mengharapkan kebahagiaan 

dari hal-hal di luar kendali, belajar tidak terlalu mencintai hal-hal 

seperti kekayaan atau ketenaran, dan belajar untuk mengendalikan 

pikiran kita. Anak yang lebih dewasa juga bisa diajarkan bahwa dia 

punya kendali sepenuhnya atas emosinya, dan bagaimana sebisa 

 230

mungkin dia tidak terlalu reaktif pada peristiwa di sekitarnya.

Dikotomi Kendali bagi Orang tua

Mengajarkan dikotomi kendali kepada anak adalah satu hal, namun  

menerapkan ke diri sendiri adalah hal lain lagi. Apakah kita mampu 

menerapkan dikotomi kendali ke diri kita sendiri sebagai orang tua?

Menerapkan dikotomi kendali tidak hanya sekadar urusan memahami 

hal-hal mana yang ada di luar kendali kita, namun  juga kerelaan untuk 

“melepas ilusi kendali" ini . Sebagai orang tua, rasanya melepas 

sebagian kendali menyangkut anak adalah hal yang paling sulit 

dilakukan. Saya pun pasti harus melalui ujian ini . Ini mungkin 

bisa menjadi salah satu jawaban terhadap tingginya kekhawatiran 

para orang tua mengenai peran ataupun anak-anak mereka.

Seperti apa dikotomi kendali bagi orang tua? Ada sebagian hal 

tentang anak kita yang ada di dalam kendali kita, ada sebagian lagi 

yang tidak di dalam kendali kita. Ada beberapa hal yang bisa kita 

kendalikan, misalnya nutrisi, dana pendidikan, dana kesehatan, 

pilihan sekolah (sampai usia di mana mereka mau memilih sendiri), 

pendidikan nilai-nilai agama (kalau kita mau), pendidikan budaya dan 

etika, pendidikan filsafat (!), dan lain- lain.

Yang lebih berat diterima adalah hal-hal yang seharusnya sudah di 

luar kendali kita.

• Kesehatan mereka. Kita memang bisa memilihkan nutrisi dan 

imunisasi bagi mereka, namun  pada akhirnya datangnya penyakit 

tidak bisa sepenuhnya kita tangkal. Apalagi kecelakaan yang bisa

menimpa anak kita. Tidak hanya di jalan raya, di lapangan basket

atau sepak bola di dalam sekolah pun anak kita bisa cedera.

• Minat dan hobi mereka. Apakah kita rela mereka memiliki hobi 

apa pun? Ataukah diam-diam kita ingin mereka menekuni hobi 

tertentu saja?

• Aspirasi studi/kuliah. Apakah kita mendukung jika mereka ingin 

kuliah jurusan tertentu, yang mungkin tidak sesuai dengan 

ambisi dan impian kita sebagai orang tua? Kita mungkin bisa 

mencoba membujuk dengan argumen, namun  apakah kita akan 

membiarkan sang anak menentukan sendiri pilihannya? Atau, 

kita akan memaksa mereka wajib mengambil bidang studi 

tertentu (dengan alasan, kan saya yang bayarin kuliahnya?)

231 

• Pilihan pacar sampai pasangan menikah. Jengjengi Mungkin 

kondisi dari zaman Siti Nurbaya belum banyak berubah sampai 

hari ini. Masih ada orang tua yang ingin memiliki “hak suara" 

dalam pemilihan pasangan hidup. Terkadang, orang tua 

memiliki kriteria-kriteria tertentu yang bisa sangat membatasi: 

harus dari suku tertentu, harus dari latar belakang keluarga 

tertentu, harus dengan yang berdomisili di kode pos tertentu 

(kan lumayan kalau alamat besan di perumahan tajir....), harus 

tinggi badan tertentu, dan lain-lain. Hati dan perasaan si anak 

tentunya adalah miliknya. Sampai sejauh mana masih ingin kita 

kendalikan?

• Bahkan, sesudah sang anak berkeluarga pun masih banyak 

orang tua yang ingin mengendalikan hidup si anak. Mulai dari 

masakan apa yang harus dibuatkan menantu, nama anak, 

sampai cara melipat popok si cucu, dan lain sebagainya.

Tapi kan maksud kita baik?! Filsuf Stoa akan berkata bahwa 

poinnya bukanlah “maksud”-nya /intention), namun  bahwa kita harus 

bersiap terhadap kekecewaan, kemarahan, air mata, dan rasa 

frustrasi saat  kita memelihara ilusi bisa mengendalikan kehidupan 

anak yang tidak berada di bawah kendali kita. Trikotomi kendali dari 

William Irvine rasanya sangat relevan diterapkan.

Usahakanlah agar kamu

meninggalkan anak-anak

yang terdidik dengan

baik dan

bukannya kaya (harta), sebab 

mereka yang terdidik memiliki

harapan yang lebih baik daripada

kekayaan si bodoh (ignorant)” -

Epictetus (Discourses).

Sebagai contoh, misalnya urusan memilih bidang studi. Tentu orang 

tua memiliki perspektif tertentu mengapa ingin si anak memilih kuliah 

tertentu, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman orang tua 

(misalnya dengan meyakini karier/profesi tertentu akan lebih menjamin

penghidupan si anak kelak). Dalam model trikotomi kendali, pilihan 

akhir sang anak tetaplah miliknya dan tidak di bawah kendali kita. 

Namun, kita bisa fokus pada tujuan internal /internal goal), yaitu 

menerangkan sebaik- baiknya mengapa anak harus 

mempertimbangkan sebuah jurusan, dengan semua aspek positifnya.

Jika kita sudah sampai di tahap ini , berarti kita sudah cukup 

k

k

k

k

■P'

W

berbuat dan bisa "berpuas diri”. Namun, keputusan terakhir ada di 

tangan sang anak. Begitu juga dalam pilihan pasangan hidup. Pilihan 

hati bukan di bawah kendali kita, namun  kita bisa berbagi pengalaman 

kita dalam urusan relationship dan memberi nasihat dari perspektif 

kita. Sudah, sampai di situ saja.

Membekali dengan Kebijaksanaan, bukan Harta

"Usahakanlah agar kamu meninggalkan anak-anak yang terdidik 

dengan baik dan bukannya kaya (harta), sebab  mereka yang 

terdidik memiliki harapan yang lebih baik daripada kekayaan si 

bodoh /ignorant)" - Epictetus /Discourses).

"Terdidik” di sini memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar 

pendidikan formal, namun  mencakup pendidikan nilai- nilai dan filsafat 

hidup yang seharusnya datang dari orang tua. Etos kerja keras, jujur, 

memperlakukan orang lain dengan baik, bangkit dari kegagalan, dan 

lain-lain.

Tidakkah kita melihat etos kerja ini  di banyak kisah inspirasi 

orang-orang yang sukses? Mereka menjadi ulet, tangguh, tidak mudah

putus asa, bijak dalam memperlakukan orang lain—semua itu sebab  

ditanamkan oleh orang tua sejak kecil? Menurut Epictetus 

meninggalkan bekal ini kepada anak jauh lebih baik daripada 

meninggalkan warisan harta kekayaan kepada anak tanpa 

kebijaksanaan.

Pendidikan bagi Anak Laki-laki dan Perempuan

"Tidak ada macam kebajikan yang hanya untuk laki-laki dan 

kebajikan lain untuk perempuan. Seorang laki-laki harus memiliki 

akal sehat, begitu juga perempuan. Apakah gunanya seorang 

laki-laki dan seorang perempuan yang (sama-sama) bodoh?” - 

Musonius Rufus [Lectures]

Musonius Rufus membahas khusus mengenai pendidikan laki- laki dan

perempuan. Menurutnya, laki-laki dan perempuan sama dalam hal-hal 

berikut: kemampuan bernalar [reasoning], pancaindra dan anggota 

tubuh, keinginan untuk kebajikan, keinginan untuk perbuatan baik, dan 

ketidaksukaan akan kejahatan. Dia tidak percaya bahwa ada nilai-nilai 

kebajikan yang berlaku hanya untuk laki-laki. sebab nya, Musonius 

menyimpulkan bahwa perempuan juga harus mendapatkan pendidikan

yang sama, baik pendidikan nilai-nilai/filosofi maupun pendidikan 

akademis.

Pandangan yang telah lahir 2.000 tahun yang lalu ini sangat maju 

untuk zamannya, dan sungguh kontras dengan pandangan banyak 

orang tua masa kini yang masih menganggap anak perempuan tidak 

perlu belajar setinggi anak laki-laki. Alasannya umumnya adalah 

sebab  anak perempuan akan menikah dan hanya fokus pada urusan 

rumah tangga saja. Alasan lain adalah takut tidak ada laki-laki yang 

ingin menikah dengan perempuan yang berpendidikan tinggi.

Padahal, sesungguhnya banyak sekali keuntungan bagi istri dan ibu 

untuk memiliki latar belakang pendidikan. Selain bisa mengajari anak-

anaknya, istri berpendidikan bisa menjadi backup tulang punggung 

keluarga jika terjadi apa-apa dengan suami (pendidikan membantu 

dalam mencari pekerjaan ataupun melakukan bisnis).

Pentingnya Anak Bersosialisasi

Penerapan lain dari  dalam parenting adalah menyadari 

pentingnya anak tumbuh dengan pengalaman sosialisasi yang 

memadai. Hal ini disebab kan salah satu prinsip dasar  

adalah manusia sebagai makhluk sosial. Hidup selaras dengan Alam 

juga berarti anak harus dibiasakan hidup bersosialisasi.

Interpersonal skill, atau keahlian hubungan antarmanusia sering kali 

dianggap sebagai soft skill, keahlian yang tidak terlalu penting, kalah 

dengan keahlian matematika, fisika, bahasa Inggris, dan lain-lain. 

Walaupun keahlian-keahlian dalam aspek kognitif tetaplah penting, 

semakin banyak orang setuju bahwa kemampuan berinteraksi sosial 

dan bekerja sama dengan orang lain adalah faktor yang tidak kalah 

penting dalam menunjang kesuksesan seseorang. Kita juga sudah 

mengetahui bahwa hubungan sosial mendapat perhatian dari para 

filsuf Stoa juga.

Sebagai orang tua, saya mengartikan bahwa porsi relasi sosial ini 

harus diperhatikan dan ditumbuhkan dalam anak sejak kecil. Saya 

sering mendengar kisah anak-anak yang kesehariannya tenggelam 

dari satu kursus ke kursus yang lain: matematika, renang, balet, 

taekwondo, programming, dan lain-lain. Jika kegiatan-kegiatan 

tambahan itu membuka peluang si anak berhubungan dengan orang 

lain tentunya tidak apa-apa. Akan namun , jika anak terlalu banyak 

diikutkan dalam kegiatan yang bersifat individu dan solitary (sendirian),

misalnya terlalu banyak bermain game, maka dia mungkin tidak 

mendapat banyak kesempatan berinteraksi dengan anak lain, belajar 

berkomunikasi, bekerja sama, termasuk merasakan konflik (dan 

belajar mengatasinya).

Di tengah tren temperamen introver, latihan hubungan sosial ini tidak 

berlaku hanya kepada anak-anak ekstrover. Anak introver pun memiliki

kebutuhan berhubungan dengan anak-anak lain, walaupun mungkin 

frekuensi, durasi, dan jumlah interaksinya berbeda dengan anak-anak 

yang bertemperamen ekstrover.

Kita bisa tetap membina keahlian sosial bagi anak introver, dengan 

memilihkan kegiatan sosial yang tepat (misalnya aktivitas kelompok 

yang kecil, dibandingkan kelompok besar.) Atau, kegiatan yang 

memberi kesempatan si anak untuk melakukan refleksi dan pemikiran 

dan tidak dipaksa “berbagi” di depan banyak orang.

Melatih Anak Menghadapi Perlakuan Buruk

Sama seperti Stoisisme mempersiapkan kita untuk hidup dengan 

perilaku buruk dari orang lain, kita bisa mulai mengajarkan prinsip-

prinsip yang sama kepada anak. Prinsip S-T-A-R bisa mulai 

diteladankan ke anak. Jika kita sendiri sebagai orang tua cepat 

emosional mendengar perlakuan anak lain kepada anak kita, maka ini 

teladan yang juga akan dipelajarinya. Contoh:

• Adi: “Pa, masak temen Adi bilang tampang Adi kayak monyet..."

• Ayah Adi: "Oh ya? MAMAAAAA, MANA GOLOK PEMBUNUH 

NAGA WARISAN ENGKONG????"

Jika peristiwa ini menimpa Epictetus, Seneca, atau Marcus

Aurelius, mungkin diskusinya menjadi seperti ini:

• Adi: “Pa, masak temen Adi bilang tampang Adi kayak monyet..."

• Seneca: "Menurut Adi sendiri, Adi kayak monyet gak? Mau Papa 

cariin foto monyet?"

• Adi: “Nggak, Pa. Adi gak mirip monyet."

• Seneca: “Terus masalahnya di mana?"

Jika orang tua terlihat tenang, rasional, tidak reaktif, dan tidak cepat-

cepat membuka peti senjata Dinasti Ming, rasanya anak juga bisa 

meneladani itu. Orang tua S-T-A-R akan membesarkan anak-anak 

yang S-T-A-R juga. Hasek.

Melatih Anak Menghadapi Kegagalan

Mungkin saya naif, tapi saya benar-benar percaya bahwa “kegagalan 

adalah guru yang terbaik” (apalagi ini juga diucapkan Yoda di Star 

Wars: The Last Jedi...] Ingat yang dikatakan Seneca, kemalangan 

memperkuat mereka yang ditimpanya. Apa prinsip  yang 

bisa diterapkan saat  anak harus menghadapi kegagalan atau 

kemalangan?

• Melatih interpretasi terhadap kemalangan/kegagalan.

Saat anak kita gagal di sekolah atau perlombaan, sikap seperti 

apa yang kita tampilkan? Memarah-marahi dia? Menuduh juri: 

(coret yang tidak perlu) goblok/buta/ curang/disuap? Ikut-ikutan 

meratapi nasib? Atau, kita bisa menunjukkan sikap yang tenang, 

sebab  dalam Stoisisme kalah dan menang itu hanya sebuah 

fakta. Makna/va/ue judgment dari fakta itu sepenuhnya dari kita. 

Kita bisa mengajarkan anak kita bahwa kegagalan dan 

kemalangan adalah musibah/kebodohan, atau mengajarkan 

bahwa ini adalah fakta hidup biasa, dan yang penting apa yang 

bisa dipelajari untuk ke depannya.

• Mengidentifikasi dan mencegah pola pikir 3P (Personalization, 

Pervasiveness, Permanence) pada anak. Kita harus cepat 

mengidentifikasi jika anak mulai terjebak dalam pola pikir 3P: 

menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atas sebuah 

kegagalan/musibah (kembali ke dikotomi kendali), memperlebar 

masalah ke aspek hidup lain ["sebab  saya gagal mendapat nilai 

10 di matematika artinya saya anak yang bodoh di semua hal."], 

dan menganggap rasa kecewa akan berlangsung selamanya.

Stoisisme adalah filosofi yang sangat pragmatis dengan orientasi 

manajemen emosi melalui kendali nalar, persepsi, dan pertimbangan. 

sebab nya, ia bukan filosofi untuk orang dewasa yang pemikir saja. 

Menurut saya, prinsip-prinsipnya sangat relevan untuk ditanamkan 

sejak usia dini, tentunya sekali lagi

dengan memperhatikan tahap perkembangan daya tangkap si anak. 

Misalnya, “dikotomi kendali" tidak perlu disebutkan kepada anak 

berusia enam tahun tentunya, namun  esensinya bisa disampaikan 

dengan proses dialog dan tanya-jawab. saat  anak semakin dewasa, 

konsep-konsep  bisa disampaikan dengan lebih 

gamblang.

Tidak Merasa Anak Berhutang kepada Kita?

Pernahkah kita mendengar ujaran seperti ini,

"Kamu tidak tahu pengorbanan Ibu mengandungmu selama 9 

bulan! Jangan durhaka kamu!"

"Bapak Ibu sudah berkorban begitu banyak untuk 

membesarkanmu..."

"Dulu kami harus begadang mengurusmu saat sakit, sekarang 

kamu kurang ajar seperti ini?"

Pernah mendengar kata-kata seperti di atas? Atau, mungkin pembaca 

pernah mengucapkannya sendiri kepada anak? Rasanya konsep 

"anak harus berbakti kepada orang tua sebab  pengorbanan orang 

tua” sangat familier bagi kita. Segala jerih payah, pengorbanan, 

bahkan penderitaan kita menjadi orang tua diperlakukan sebagai 

"investasi", dan saat  anak kita tidak berlaku "semestinya” (baca: 

sesuai yang kita kehendaki), kita pun mengungkit-ungkit segala yang 

sudah kita lakukan sebagai orang tua, dan seperti "menagih” anak 

untuk memberikan imbal balik atas "investasi” itu.

Bagaimana posisi  menyangkut segala jerih payah yang 

dilakukan orang tua untuk anak? Ada baiknya kita mendengarkan 

kisah Epictetus yang termuat di Discourses:

Suatu hari, Epictetus bertanya kepada seorang laki-laki apakah 

ia mempunyai istri dan anak. Orang itu mengiyakan. Epictetus 

bertanya, "Kamu senang tidak menjadi suami dan ayah?”

"Saya menderita,” jawabnya.

Maka Epictetus bertanya, "Lho, kok bisa? Laki-laki menikah dan 

memiliki anak tidak untuk menderita, namun  untuk bahagia."

Orang itu menjawab, "Saya sangat cemas akan anak saya yang 

malang. Waktu itu, saat  anak perempuan saya sakit dan 

tampak terancam jiwanya, saya tidak kuat untuk terus berada di 

sisinya. Saya harus beranjak pergi dari sisi ranjangnya sampai 

saya mendapat kabar bahwa ia sudah membaik."

"Kalau begitu," jawab Epictetus, "Apakah menurutmu kamu 

sudah melakukan hal yang benar di situasi ini ?"

"Saya melakukan hal yang wajar/alamiah”, jawabnya.

"Jika kamu bisa meyakinkan saya bahwa kamu sudah berlaku 

wajar/alamiah dengan meninggalkan putrimu yang sakit, maka 

saya siap mendukungmu bahwa apa yang kamu lakukan sudah 

benar, sebab  sudah ‘selaras dengan Alam.'"

“Ini adalah hal yang harus dirasakan hampir semua ayah."

"Saya tidak menyangkal reaksimu waktu itu terjadi," kata 

Epictetus. "Isunya di sini adalah apakah reaksimu 

meninggalkannya saat sakit itu harus dilakukan. sebab , jika 

mengikuti jalan pikiranmu tadi, maka tumor adalah hal yang baik 

bagi tubuh, sebab  tumor timbul secara alami. Jadi, tunjukan 

pada saya bahwa apa yang kamu lakukan— meninggalkan 

anakmu saat sakit—adalah hal alami."

"Rasanya saya tidak mampu. Ya sudah, bagaimana kalau ANDA 

yang menunjukkan mengapa hal yang saya lakukan tidak selaras

dengan Alam, dan tidak semestinya terjadi?”

"Katakan pada saya, apakah kasih sayang antarkeluarga adalah 

hal yang baik, dan selaras dengan Alam?"

"Tentunya."

"Setujukah kamu bahwa segala hal yang rasional juga selaras 

dengan Alam?"

"Setuju."

"Artinya apa yang rasional tidak mungkin bertentangan dengan 

kasih sayang keluarga. Benar?"

"Harusnya tidak ya."

"sebab  jika hal rasional bertentangan dengan kasih sayang 

keluarga, maka yang satu selaras dengan Alam dan satunya lagi 

tidak."

"Benar."

"sebab nya jika ada sesuatu yang bersifat kasih sayang dan juga

rasional, maka kita dapat berkata bahwa hal ini benar dan baik."

"Setuju."

"Untuk beranjak pergi dari sisi anakmu saat ia sakit bukanlah hal 

yang rasional, dan saya yakin kamu pun setuju dengan 

pernyataan ini. Sekarang tinggal menentukan apakah tindakan 

meninggalkan anak saat sedang sakit sesuai dengan kasih 

sayang keluarga."

"Okay, mari kita coba."

"Apakah bisa dibenarkan bahwa kamu, yang katanya 

menyayangi anakmu, meninggalkan dia? Mari kita bahas ibunya. 

Tidakkah ibunya juga sayang pada putrinya?”

“Tentu saja."

"Kalau begitu haruskah dia juga meninggalkan putrinya?"

"Tentu tidak.”

"Bagaimana dengan perawatnya. Apakah perawatnya juga 

sayang pada si anak ini?"

"Dia sayang pada anak saya.”

"Kalau begitu apakah dia harus meninggalkan juga putrimu?”

"Ya tidak dong."

"Dan guru putrimu, apakah dia juga sayang pada anakmu?"

"Betul."

“Kalau meninggalkan putrimu yang sakit adalah tanda sayang, 

maka seharusnya anakmu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya 

dan juga oleh semua penjaganya yang menyayanginya, agar dia 

mati dikelilingi orang-orang yang tidak peduli kepadanya."

“Waduh, tentu tidak."

"Jika kamu sendiri sakit, apakah kamu mengingini keluargamu, 

istrimu, anak-anakmu, dan seluruh isi rumahmu 

menelantarkanmu sendirian sebagai bukti mereka sayang 

padamu?"

“Tidak mau."

“Kamu hanya berharap ditinggalkan seseorang (saat kamu 

sedang sakit) hanya jika orang itu adalah musuhmu bukan? 

sebab nya, kesimpulannya adalah apa yang kamu lakukan 

dengan meninggalkan putrimu saat sakit bukanlah tanda kasih 

sayang sama sekali."

Percakapan antara Epictetus dengan seorang ayah ini bagi saya 

menunjukkan bahwa menyayangi dan merawat anak kita dalam 

kondisi apa pun adalah hal yang selaras dengan Alam dan juga sudah 

semestinya dilakukan oleh orang tua yang menyayangi anak kita. Jika 

kita memutuskan menjadi orang tua, dengan melahirkan jiwa baru ke 

dunia ini, maka merawat dan menyayangi mereka sudah menjadi 

konsekuensinya-terlepas apakah anak kita akan membalasnya atau 

tidak.

Jika kita memahami ini, maka kita tidak akan menagih anak untuk hal-

hal baik yang telah kita berikan untuknya, sebab  itu semua sudah 

semestinya dan baik kita lakukan. Ini bagaikan seorang dokter yang 

terus-menerus mengingatkan dan menagih hutang budi kepada kita 

sebab  dia sudah menyembuhkan kita dari sakit. Lah, kan memang 

sudah tugasnya?

Anak memang bisa diharapkan untuk berlaku sopan dan hormat 

kepada orang tua. Namun, jika dia tidak melakukannya, kita tidak perlu

berusaha membuatnya merasa bersalah (guilt trip] dengan 

mengungkit-ungkit segala hal yang memang sudah semestinya kita 

lakukan sebagai orang tua.

Seneca berkata

bahwa

kita tidak boleh sampai

berlarut-larut di

dalam

kesedihan itu (bahkan sampai

dibawa mati).

Menghadapi Kehilangan Anak

Saya pernah mendengar seseorang berkata, "Tidak ada kesedihan 

yang lebih besar dari kesedihan orang tua yang harus

menguburkan anaknya.” Anak menguburkan orang

tua adalah sesuatu yang "lumrah”, yang lebih tua

harus terlebih dahulu meninggalkan yang lebih

muda. Namun, untuk bisa mengandung, membawa 

manusia baru ke dalam dunia sebagai anak, dan 

kemudian harus menyaksikannya meninggalkan kita

juga, tak terbayang duka yang bisa dirasakan. Apa 

yang bisa ditawarkan  di dalam situasi 

ini?

Saat Seneca, sang filsuf yang juga seorang politisi, 

harus menjalani pembuangan di Pulau Corsica oleh Kaisar Claudius, ia 

menyadari duka yang dirasakan oleh ibunya yang masih hidup, Helvia. 

Di masa itu, jika seseorang dihukum buang, tidak ada yang tahu kapan 

■F

w

T

hukuman itu harus berakhir. Terkadang, pembuangan baru berhenti 

saat terjadi pergantian kekuasaan. Di dalam pembuangan, Seneca 

menuliskan surat untuk menghibur hati ibunya, dan di dalamnya dia juga

menyentuh situasi di mana orang tua harus ditinggalkan anak mereka 

selama-lamanya.

"Janganlah engkau menggunakan alasan sebagai perempuan 

(untuk berduka berlebihan), sebab  perempuan telah mendapatkan

hak untuk berkubang di dalam air mata, namun  tidak untuk selama-

lamanya. sebab  inilah nenek moyang kita mengizinkan janda 

untuk berkabung selama sepuluh bulan....mereka tidak melarang 

berkabung, namun  membatasinya. sebab  berduka tak henti atas 

kehilangan seseorang tercinta sesungguhnya adalah keegoisan 

yang bodoh, sebaliknya, tidak merasakan duka sama sekali adalah

tak berhati. Jalan tengah terbaik antara kasih sayang dan akal 

sehat adalah untuk merasakan kehilangan dan di saat yang sama 

menaklukkannya.

Saya mengerti bahwa emosi yang begitu kuat sulit dikendalikan 

oleh kita, apalagi emosi yang lahir dari dukacita...terkadang kita 

ingin meremukkannya dan menelan keluh kesah kita, namun  

dengan mencoba berpura-pura, air mata kita masih juga menetes. 

Terkadang kita ingin mengalihkan perhatian kita dengan menonton

pertunjukan (hiburan), namun  kenikmatan kita saat menonton 

berkurang saat teringat kehilangan kita. sebab nya, lebih baik jika 

kita menaklukkan kesedihan daripada mencoba menipu diri 

sendiri.

sebab , dukacita yang dicoba ditutupi atau dialihkan perhatiannya 

akan terus kembali, dengan kekuatan yang lebih besar. Namun, 

dukacita yang telah ditaklukkan nalar akan tenang selamanya..."

Saya tersentuh sekali saat membaca bagian tulisan Seneca dari 

Consolations to Helvia {Penghiburan Untuk Helvia] ini. Seneca 

menunjukan empati dan pengertian yang luar biasa terhadap betapa 

dalamnya dukacita orang tua yang kehilangan anaknya, namun  di saat 

yang sama tetap teguh bahwa nalar tidak boleh diabaikan, bahkan di 

situasi sesulit apa pun.

Ini berarti berani menghadapi dukacita itu—tidak lari darinya, atau 

berusaha menutupinya dengan mengalihkan perhatian. Dukacita itu 

dirasakan dan dihadapi. Namun, di saat yang sama, Seneca berkata 

bahwa kita tidak boleh sampai berlarut-larut di dalam kesedihan itu 

(bahkan sampai dibawa mati). sebab nya, kita harus menaklukkannya 

dengan nalar dan rasional. Prinsipnya sama dengan yang dibahas di 

dalam bab-bab sebelumnya mengenai menghadapi tantangan, kesialan 

sehari- hari, atau orang-orang menjengkelkan, yaitu mengendalikan 

sepenuhnya interpretasi, persepsi, value judgment kita atas kehilangan 

kita.

Bagi , meninggalnya seorang anak adalah sebuah fakta 

yang netral, bukan hal yang "baik” dan bukan hal yang "buruk". 

Kemudian, manusialah yang menginterpretasikan dan memberikan 

maknanya sendiri, misalnya:

• Anak saya meninggal sebab  hukuman Tuhan atas dosa- dosa 

saya.

• Anak saya meninggal sebab  kesalahan saya dan saya adalah ibu 

yang buruk.

• Anak saya dipanggil pulang, ini sudah rencana-Nya, dan saya 

bersyukur ia pernah hadir dalam hidup saya.

Bagaimana kita memaknai kehilangan anak kita, itu sepenuhnya 

dikembalikan kepada kita. Kita bisa memaknainya dengan negatif dan 

menyiksa diri kita terus-menerus, atau dengan positif, sehingga 

membawa keikhlasan dan ketenangan. Di dalam Stoisisme, pemaknaan

dan interpretasi sepenuhnya ada di tangan kita.

Demikian usaha saya menerapkan  di dalam parenting. 

Besar harapan saya bahwa hal-hal di atas bisa membantu kamu yang 

juga orang tua dalam menjalankan peranmu dengan lebih positif dan 

tenang. Saya sangat berharap bab ini bisa dibaca dan diperkuat lagi 

oleh mereka yang memang pakar pendidikan dan perkembangan anak.

Intisari Bab 9:

• Prinsip “hidup selaras dengan Alam" berarti juga hidup 

menggunakan nalar dan rasio kita. Orang tua bisa membantu anak 

membangun kebiasaan ini.

• Anak bisa diajarkan "dikotomi kendali" dalam menghadapi peristiwa

hidup, dengan teladan dari orang tua.

• "Fixed" vs. "Growth" mindset. "Fixed" mindset menganggap

kecerdasan dan bakat adalah sesuatu yang statis, nasib. "Growth" 

mindset percaya kita semua bisa berkembang menjadi lebih baik 

lagi.

• "Dikotomi kendali" bagi orang tua. Apakah orang tua bisa menerima

banyak hal dalam hidup anak mereka yang tidak ada di bawah 

kendali orang tua?

• Dalam , laki-laki dan perempuan memiliki anugerah 

nalar/rasio yang sama dan sejajar, dan sebab nya pendidikan laki-

laki dan perempuan harus sama.

• Anak juga harus dilatih kemampuan hidup sosialnya, sebab  

manusia adalah makhluk sosial.

• Melatih anak menghadapi perilaku buruk secara sehat dan rasional,

termasuk dengan teladan orang tua. Bisakah menyayangi dan 

merawat anak tanpa ‘pamrih* (mengharapkan dan menagih 

balasan)? sebab  merawat anak dengan baik adalah hal selaras 

dengan Alam yang harus dilakukan.

• Bagaimana menghadapi duka kehilangan anak?  

mengajarkan berduka yang terkendali nalar.

ncara dengan ed 

Piethers

Anak dan Pendidikan

"Parenting

adalah 

memilih 

untuk 

berdamai 

dengan 

hal-hal yang tidak bisa kita 

kontrol”

Agstried Piethers adalah seorang psikolog anak dan pendidikan. Survei 

Khawatir Nasional menunjukkan bahwa peran menjadi orang tua justru 

menjadi salah satu sumber kekhawatiran. Selain kekhawatiran 

mengenai finansial (sekolah dan kesehatan anak), juga ada 

kekhawatiran lain seperti kepribadian sang anak, kenakalan anak, dan 

lain- lain. Saya memutuskan untuk mewawancara Agstried untuk 

mendapatkan insight mengenai berbagai tantangan parenting masa kini,

dengan harapan menemukan relevansi Stoisisme di dalam topik ini.

Hi Agstried, apa aktivitasnya sehari-hari sekarang?

Profesi gue psikolog pendidikan, gue sudah berkecimpung di dunia 

psikologi pendidikan dan parenting selama tujuh tahun. Sekarang, 

sehari-hari gue mengelola Rumah Dandelion sebagai salah satu co-

founder-nya. Rumah Dandelion adalah tempat aktivitas dan pusat 

edukasi parenting dan early childhood education (pendidikan anak usia 

dini). Ada kelas bermain terstruktur, di mana anak dan orang tua main 

bareng sambil diawasi psikolog, kemudian mereka diberikan feedback.

Mengapa Agstried dulu kuliah di psikologi, dan mengambil fokus 

pendidikan?

Gue tertarik psikologi sebab  pada dasarnya gue tertarik pada manusia. 

Gue gak kebayang gue kerja dengan dokumen terus- menerus, 

paperwork yang banyak, apalagi banyak angkanya. Entah bagaimana 

Semesta seperti turut memberi tahu. Di suatu hari, gue turun angkot 

menuju sekolah dan berjalan di gang, ada ibu-ibu nyamperin gue dari 

pasar, nanya, “Nenek bingung, cucu nenek diapain ya, emaknya baru 

kemaren bunuh diri." Akhirnya kami ngobrol sepanjang perjalanan. Gue 

jadi mikir, mungkin ini yang gue cari. Sesudah gue nanya-nanya dan 

diskusi, kata orang-orang, Psikologi adalah jurusan yang tepat.

Dalam perjalanan studi, kenapa memilih fokus di pendidikan dan anak, 

sebab  gue datang dari keluarga yang isinya guru. Mbah gue guru, 

nyokap gue guru, tante gue guru. Tapi gue gak mau jadi guru. Kayaknya

gue gak punya cukup kesabaran, hahaha. Jadi gue memilih menjadi 

school counselor. Memilih fokus di psikologi pendidikan.

Apa yang bikin kamu bahagia sesudah menjalankan profesi ini?

Gue percaya parenting is a process. Hal yang paling kena buat gue 

dalam bidang ini adalah perubahan/kemajuan anak. Tapi kan kemajuan 

anak harus ada dari orang tua juga. Anak tidak akan berubah perilaku 

kalau proses di rumah tidak berubah. Kalo elo berharap (anak) berubah 

tapi tidak ada yang berubah dari lo, itu aneh kan? Jadi harus ada yang 

berubah dari lo, baru anak juga berubah.

Yang paling berkesan itu adalah saat  gue menjadi psikolog di Cirebon.

Suatu hari gue membawakan seminar tentang penggunaan gadget oleh 

anak, ada orang tua yang hadir yang terkesan. Anaknya dulu sulit 

berbicara dan mengikuti terapi bicara tanpa banyak kemajuan, sejak 

seminar dia tidak lagi memberi gadget ke anaknya, dan ternyata 

anaknya bisa ngomong sekarang. Anak yang bisa ngomong itu kan 

lebih sehat ya, sebab  bisa berekspresi. Jika ada kemauan mereka bisa 

mengatakannya. Akhirnya anaknya juga lebih bahagia di sekolah. Gue 

merasakan inilah kebahagiaan menjadi psikolog.

Kalau tidak enaknya?

Gue ada kelas bayi, dulu hanya buka di weekend, akhirnya sebab  

banyaknya peminat dibuka di weekdays (hari kerja) juga. Ternyata, 

karakteristik orang tua kelas weekend dan kelas weekdays berbeda. 

Kalau kelas weekend umumnya adalah orang tua bekerja, jadi mereka 

mengambil kesempatan akhir pekan untuk bermain dengan anak. Kalau

kelas hari kerja, biasanya orang tua yang tidak perlu bekerja, atau stay-

at home mom. Jadi di kelas weekdays, ada satu anak dari awal 

pertemuan sampai akhir tidak mau berinteraksi sama sekali. Bukannya 

tidak bisa ya, tapi tidak mau, jadi avoiding (menghindari interaksi). Jadi 

kalo gue samperin dia merem gitu. Gue tidak mendengar suaranya 

sama sekali, baik ke guru, ke teman sekelas, maupun ke orang tuanya.

Terus, gue meminta orang tuanya ke klinik tumbuh kembang untuk 

dievaluasi, kalau perlu diterapi. Lalu minggu depannya orang tuanya 

datang lagi dan berkata tidak mau melanjutkan terapinya. Alasannya, 

"Saya tidak sreg anak saya satu ruang terapi dengan anak down 

syndrome”. Padahal ruang terapi terbatas, dan toh terapinya berbeda. 

Ini contoh ketidakpahaman bahwa pilihan lo sebagai orang tua bisa 

memengaruhi anak.

Sesudah mengamati banyak macam orang tua, apa yang rata- rata 

paling dikhawatirkan orang tua?

Yang paling banyak dikeluhkan adalah anak yang sulit berkonsentrasi. 

Surprisingly banyak, pada anak-anak usia di bawah tiga tahun. Berarti 

tuntutan orang tua bahwa anak harus bisa konsentrasi agar bisa sukses

secara akademis sedemikian besarnya, bahkan sejak usia sedini itu. 

Padahal anak seusia itu bisa berkonsentrasi dua kali usianya saja 

sudah bagus, contoh: anak usia dua tahun artinya bisa fokus 2x2 menit 

= 4 menit tanpa distraksi saja sudah bagus.

Jadi keluhan orang tua tadi tidak realistis?

Kalau anak kecil terlalu pasif, duduk saja terokupasi pada satu benda 

kelamaan bukannya harusnya kita malah khawatir ya? Jadi saya 

tanyakan ke orang tuanya, “Memang menurut ibu kenapa 

konsentrasinya? Apa yang dilihat dari si anak di rumah? Jika diberi 

instruksi dia bisa menangkap atau tidak?” Saya coba memberi instruksi 

‘dance and freeze' ke si anak—“Kamu goyang mengikuti musik, kalo 

tante matiin musiknya kamu diem ya." Ini untuk menilai kemampuan dia 

untuk kontrol diri, untuk mengikuti instruksi. Kalau bisa ya artinya tidak 

ada masalah. Atau, gue bilang bahwa cara anak belajar berbeda-beda. 

Misalnya, tidak perlu ngajarin warna dengan cara anaknya harus duduk 

diam di meja, terus diajarin, ini merah, ini biru, dan seterusnya. Kita bisa

saja main mobil-mobilan dengan warna- warna solid, terus kita minta, 

“Coba jalanin mobil merah,” atau “Coba jalanin mobil hijau.” Atau, coba 

pindahkan bola merah ke dalam keranjang merah. Jadi cara belajar 

tidak perlu duduk (diam), itu yang terkadang orang tua lupa.

Menurut Agstried mengapa orang tua jadi terobsesi secara tidak realistis

mengenai konsentrasi anak?

sebab  tuntutan sekolah jaman sekarang mungkin? Ada konsepsi yang 

salah mengenai kecerdasankah? Seolah-olah anak pintar itu harus bisa 

masuk TK dengan kemampuan sudah bisa berhitung. Anak pintar harus

bisa kenal huruf. Padahal untuk bisa menghitung 1, 2, 3...tanpa 

mengenal konsep kuantitas, buat apa? Satu itu berapa, dua itu berapa, 

jika mereka tidak tahu buat apa? Jika mereka tahu huruf A, B, C tapi 

tidak tahu bunyinya seperti apa saat digabung jadi kata, untuk apa? 

Daripada belajar huruf dan angka, kenapa tidak main kata saja. 

Misalnya kuda, "da”-nya diganti “di”, jadi apa? Kudi! Mereka familiar 

dulu dengan sound.

Jadi yang ada “lompat” step. Orang tua tidak realistis, tapi juga sebab  

tuntutan sekolah bahwa anaknya harus sudah “jadi”. Ada SD yang 

menuntut anak yang masuk sudah harus bisa

baca. Ditambah keterbatasan informasi, bahwa it's okay anak itu belajar

pelan-pelan. Anak yang bisa membaca di usia empat tahun dengan 

yang baru bisa membaca di usia tujuh tahun, bedanya apa sih? Pada 

akhirnya yang menentukan adalah minat baca, bukan kemampuan 

baca.

Apakah ini bisa disamakan dengan "controlling parents”?

Sebenarnya relasi orang tua dengan anak dengan adalah bagaimana 

kamu bisa berdamai dengan dirimu sendiri sebagai orang tua. Misalnya,

gue mengunjungi sebuah sekolah internasional yang sangat 

menekankan prestasi akademik. Suatu hari gue seminar di sekolah itu, 

terus ada orang tua bilang gimana ngomongin ke anak kalo udah masuk

SD, nilai gak boleh 80, harus 100. Terus anaknya nanya balik ke orang 

tuanya, "Kan 80 sudah bagus?" dan orang tuanya bertanya ke gue, gue 

harus bilang apa ke anak itu?

Ya kenapa juga anak itu harus dapet 100? Ada anggapan bahwa 

seseorang menjadi better parent kalau anaknya berprestasi di sekolah. 

sebab nya, memberi bad news ke orang tua itu sangat susah. Misalnya,

memberi tahu bahwa anaknya memiliki kebutuhan khusus, tidak cocok 

di sekolah tertentu. Itu sangat sulit sebab  itu menyinggung personal 

mereka sebagai parents. Padahal belum tentu salah mereka juga. Jadi 

personal.

Memang apa salahnya menjadi orang tua yang demanding? Kan untuk 

kemajuan anaknya juga...

Gue berpendapat suatu hal tidak worth (berarti) dikejar kalau lo tidak 

enjoy mengejarnya. sebab  pada akhirnya lo bisa belajar lebih banyak 

saat  lo menikmati the journey, not the result. Misalnya, ada seorang 

anak juara internasional taekwondo. Dia berantem sama temannya 

yang tidak bisa taekwondo, terus dia menendang temannya. namun  

anak ini sebenarnya diprovokasi. Kemudian saya tanya ke anak ini, 

kenapa kamu mudah diprovokasi? Dia menjawab bahwa dia sangat 

lelah. Memang apa yang kamu kerjakan sampai lelah? Jawabnya, 

"Bayangin miss, untuk ikut kejuaraan taekwondo, saya harus latihan 

lima hari seminggu, sesudah pulang sekolah." Padahal sekolahnya 

metode Cambridge, kurikulum internasional. Dan dia hanya

Kalau mau jadi parents yang

sehat, ingatlah selalu bahwa

tidak ada yang

sempurna.

Dan benar-benar

memikirkan,

nilai-nilai apa yang

ingin

anak kita miliki.

punya dua hari di weekend, itu pun harus diisi dengan olahraga yang 

berbeda untuk menjaga ototnya. Dan dia juga melakukan diet. Anak ini 

masih kelas 1 SMP.

Terus saya tanya, "Kamu senang tidak dengan semua ini?" Dia 

menjawab, "Kalau boleh milih, gue lebih suka sepak bola.", "Terus 

kenapa kamu tidak bilang ke orang tua?" "sebab  sepak bola tidak bisa 

membawa saya menjadi juara internasional...." Dia sama sekali tidak 

fun/enjoy, jadi buat apa? Setiap bangun tidur dia melihat

jam sudah merasa berat. Ini baru anak SMP loh.

Akhirnya dia tidak belajar apa-apa.

Belajar dari kasus ini, bagaimana dong kita harus

menjadi orang tua?

Silakan memperkenalkan anak kepada banyak

hal (hobi, aktivitas), namun  jangan memaksa mana

yang dia harus kejar. Memperkenalkan banyak

hal dan memfasilitasi itu tidak sama dengan

memaksa. Kita memberikan fasilitas dan pilihan. Biasakan dari kecil 

anak diberi pilihan, sesimpel nanti mau pakai baju apa? Hari ini ada 

waktu kosong mau main di mana? Awali dari dua pilihan, dan perlahan 

«

dibuka pilihannya. saat  mereka bebas memilih, artinya mereka 

dihargai sebagai individu, dan mereka akan menjadi individu yang lebih 

sehat. Mereka berani speak up their mind. Dan mereka mengenali diri 

sendiri, oh ternyata gue sukanya ini. Gue sering bertemu anak remaja 

dan gue tanya, nanti rencana kariernya apa? Mereka menjawab, tidak 

tahu, gue ikut papa aja. Mereka tidak biasa memilih, tidak mengenal 

dirinya sendiri.

Agstried menangani anak dari rentang umur yang cukup lebar, dari 

batita sampai remaja. Apakah ada observasi menarik dari anak-anak 

yang tangguh dan ulet? Atau sebaliknya, anak-anak yang tidak ulet, 

vulnerable. Apa perbedaan di antara mereka?

Kepribadian yang tangguh atau vulnerable adalah gabungan dari 

pengalaman dan karakter bawaan. Kalau karakter bawaan, memang 

ada sebagian orang yang terlahir tidak "se-baper-an” itu. namun  selain 

itu, lingkungannya bisa tidak men-support dia, apalagi di fase usia 3-5 

tahun saat mereka mencoba berinisiatif. Contoh, anak berinisiatif 

mencuci piring sendiri, atau mengambil baju sendiri dari lemari, tapi 

malah dimarahi, "Kamu malah bikin berantakan saja! Lemari baju jadi 

berantakan, dan seterusnya." Akhirnya dia merasa bahwa inisiatif dia 

percuma, saya bukan orang yang perlu initiate duluan, sebab  hanya 

akan melakukan kesalahan. Ini akan berdampak pada kepribadian dia, 

sehingga jadi tidak mau mencoba sesuatu yang baru.

Kemudian dia menjadi seseorang yang terus berpikiran, "Saya gak 

boleh salah. Saya gak boleh salah. Saya gak boleh salah....’’ 

Akhirnya anak yang (merasa) tidak boleh salah akan menjadi lebih 

vulnerable (rentan). Jadi respon dari orang tua sejak anak masih kecil

akan membentuk kepribadian anak, selain karakter bawaan dan 

situasi lingkungan sekitarnya seperti apa.

Saya juga pernah membaca, salah satu cara kita bisa 

mengidentifikasi seseorang resilient (tangguhi atau tidak adalah dari 

selera humornya. Apakah lo bisa mentertawakan diri sendiri saat  

gagaL Dan saat  orang tua mencontohkan itu, misalnya, "Eh iya 

mama salah ya, maaf ya hahaha", itu mengirimkan pesan bahwa it 's 

okay to make mistake.

Memang anak kecil bisa mencapai tahap mentertawakan diri sendiri?

Bisa! Anak itu observer yang "menakutkan’’, hahaha. Pernah gak liat 

anak kita marah atau komplain, dan mikir, kok dia mirip banget 

istri/saya sendiri ya. Dia menyerap. Apa pun perilaku kita, mereka 

melihat itu dan mereka mengira itu yang benar.

Kalau begitu apa yang bisa orang tua lakukan agar menjadi contoh 

bagi anak menjadi resilient (ulet dan tangguh)?

Kalau mau jadi parents yang sehat, ingatlah selalu bahwa tidak ada 

yang sempurna. Dan benar-benar memikirkan, nilai-nilai apa yang 

ingin anak kita miliki. Dan kita harus hidup sesuai dengan nilai 

ini . Misalnya, ingin anak kita menjadi orang yang bisa 

mentertawakan kesalahan, kita bisa memberi contoh, "Wah saya 

salah, jadi tumpah, yuk kita ambil lap, kita beresin." Kita pun harus 

hidup sesuai dengan nasihat yang kita berikan.

Jadi orang tua yang sedikit ada masalah jadi marah-marah lebay 

begitu bisa memberi pesan yang salah?

Iya. Di kelas, sebab  kita sering bermain "messyplay" (permainan 

berantakan) untuk menstimulasi indra (bermain pake tepung, oats, 

agar-agar), itu kan kotor banget. Ketahuan banget anak-anak yang 

kalau di rumah selalu dimarahin agar jangan kotor. Mereka akan 

terlihat segan untuk ikut bermain kotor-kotoran dan merasa tidak 

nyaman, dikit-dikit ngambil tisu, hahaha. Ada lagi yang sangat 

semangat.

artikel  yang sedang saya tulis ini membahas tentang mengurangi stres

dengan mengenali hal-hal mana yang bisa kita kendalikan dan mana 

yang tidak bisa kita kendalikan. Apakah hal ini relevan dengan orang 

tua dan parenting?

Gua suka tidak mengerti jika ada orang tua yang berkonsultasi, kok 

anak saya belum bisa jalan, padahal saya sudah melakukan ini dan 

itu. Bagaimana ya? Ya bagaimana, memang anak itu belum 

mencapai milestone-nya. Satu-satunya yang bisa dilakukan orang tua

adalah terus melakukan stimulasi. Jika ini sudah dilakukan, maka ya 

hanya bisa menunggu. Parenting itu adalah memilih untuk berdamai 

dengan hal-hal yang bisa lo kontrol atau tidak. Dari awal sekali, 

bahkan saat janin baru terbentuk. Dari gender si anak misalnya, kita 

tidak tahu apakah dia cowok atau cewek. Yang bisa kita kontrol 

adalah setelah dia lahir, apa pun dia, kita bisa mempersiapkan yang 

terbaik untuk dia semampu kita. Itu bisa kita kontrol.

Beberapa saat sesudah melahirkan, gue sempat mengalami baby 

blues (kesedihan yang biasa menimpa ibu yang baru melahirkan). Itu 

sebab  gue berusaha mengontrol apa yang tidak bisa gue kontrol. 

Gue maunya anak gue nanti lahir dengan proses normal dan full ASI, 

maka gue memilih rumah sakit untuk melahirkan yang sangat pro-ASI

dan pro-kelahiran normal. Tapi, Tuhan berkata sebaliknya. saat  

USG selama kehamilan ternyata dinyatakan dia tidak bisa lahir 

dengan proses normal. Itu tidak bisa gue ubah. saat  gue masuk RS

full ASI, gue berharap dapat full support untuk menyusui. namun  

ternyata, sebab  satu dan lain hal gue, gak bisa menyusui sebab  

harus menjalani pengobatan. Ini tidak bisa gue kontrol.

Akhirnya gue merasa capek dan menutup diri dari dunia.

Akhirnya selesai cuti melahirkan gue mulai bekerja kembali, melihat 

dunia luar, dan akhirnya berpikir, anak gue baik-baik saja. Emang 

kenapa dengan sufor (susu formula)? Yang bisa gue kontrol hanyalah 

asupan anak kita agar dia tetap hidup, dan itu tidak harus ASI. Apa lagi 

yang bisa gue kontrol? Gue bisa memastikan tumbuh kembang anak 

kita dengan memberi stimulasi yang cukup. Akhirnya gue belajar the 

hard way bahwa ada hal-hal yang tidak bisa gue kontrol.

Parenting is all about letting go hal-hal yang gak bisa lo kontrol, dan 

fokus di hal-hal yang bisa lo kontrol. Dan hal yang paling dasar yang 

bisa lo kontrol adalah lo bisa membuat mereka merasa diterima apa pun

wujud mereka.

Bisa tolong diperjelas?

Bayangin anak SD pada umumnya. Sekarang anak SD baru pulang 

sekolah jam 14:30. Di sekolah sudah belajar bilingual (dua bahasa). Tas

sekolahnya pun sudah harus diseret (saking beratnya). Anak ini 

kecapekan, kemudian di rumah minum terus tidak sengaja menjatuhkan

gelas sampai pecah. Terus anak ini dimarah-marahi. Kita tidak tahu apa

yang sudah dilaluinya sehari ini. Jadi sesimpel lo bisa menerima dia as 

the way they are—dia merasa aman menjadi siapa pun di deket lo, itu 

yang bisa lo kontrol.

Bagaimana mengajarkan hal yang sama ke anak?

Contoh: anak jatuh. Jatuh itu kan wajar banget, anak kecil 

keseimbangannya belum sempurna, mereka mudah ter- distract, jalan 

sambil melihat yang lain. Jangan bertanya, "Kok bisa jatoh?!” Kita bisa 

sekedar berkata, "Hati-hati yaaa. Liat jalan ya, sakit kan kalo jatoh...."

Atau kita menuntut hal-hal yang tidak masuk akal dari mereka. Contoh, 

saat mereka malas bersekolah terus kita marahi, "Kamu tahu gak bayar 

uang sekolah kamu mahal?!" Ya mereka belum bisa mengerti konsep 

itu. Kita kan bisa bilang, "Kamu kenapa tidak mau sekolah? Apa yang 

bisa membuat kamu tidak mau sekolah?" Ini mereka bisa tahu, sebab  

tidak di luar kemampuan mereka untuk memaklumi. Tidak seperti 

konsep "sekolah mahal" dan betapa beratnya biaya yang harus dipikul 

orang tua.

Terakhir adakah pesan Agstried kepada para orang tua milenial?

Jangan tuntut anak menjadi sempurna, sebab  lo bukan orang tua yang 

sempurna. Sama seperti lo jangan menuntut pasangan lo menjadi 

sempurna, sebab  lo juga tidak sempurna. Capek kan.

Yang kedua, jadi orang tua itu harus menyadari bahwa proses menjadi 

orang tua itu ada hal-hal yang tidak bisa lo kontrol.

And that's okay too. Hal-hal yang tidak bisa lo kontrol juga akan 

membentuk anak lo.

Intisari wawancara dengan Agstried Piethers:

• Sering kali orang tua memiliki tuntutan yang tidak realistis terhadap 

perkembangan putra-putri mereka.

• Prestasi anak menjadi tidak worth it jika proses pencapaiannya 

tidak menyenangkan.

• Parenting adalah bisa melepaskan hal-hal yang tidak bisa kita 

kontrol, dan fokus pada hal-hal yang bisa kita kontrol.

BAB SEPULUH

Citizen of 

the World

258

i suatu kesempatan beberapa tahun yang lalu, saya 

mengunjungi kota Paris bersama istri. Ini adalah kunjungan 

saya ke Prancis dan kota Paris yang pertama kalinya.D

Berdasarkan apa yang saya baca, konon orang Prancis, apalagi 

warga Paris, adalah orang-orang yang tidak ramah kepada 

pengunjung. Ini membuat saya memiliki ‘prasangka’ saat berada di 

sana.

Maka, betapa terkejutnya saya saat  mendapatkan pengalaman 

yang sebaliknya. Suatu saat kami sedang berada di kawasan 

Montmartre, mengunjungi katedral besar Sacre-Coeur. saat  

sedang asyik memfoto-foto katedral ini  dari kejauhan, kami 

dihampiri seorang perempuan lokal pirang yang sangat cantik. 

Dengan aksen Prancis berat dan bahasa Inggris yang terpatah- 

patah, dia memperingatkan kami akan bahaya copet yang sering 

mengincar turis yang sedang mengambil foto. Sesudah itu dia pamit 

dengan senyuman amat manis (saya tidak bisa terlalu manis juga 

sebab  ada istri di sisi).

Sesudah dia berlalu, saya membahas dengan istri betapa saya 

merasa malu dengan prasangka saya. Ternyata, ada warga Paris 

yang ramah, bahkan menolong pengunjung tanpa diminta. Kalau 

saya balik situasinya, adakah warga kota tempat tinggal saya yang 

akan suka rela berinisiatif memberi tahu pengunjung/turis asing tanpa

ditanya?

'Berlakulah seperti Socrates. Tidak pernah membalas 

pertanyaan daerah asalnya dengan 'Saya orang Athena’, atau 

'Saya dari Korintus’, namun  selalu menjawab, ‘Saya adalah 

warga dunia.’” - Epictetus (Enchiridion)

Apa yang terbayang oleh kita saat mendengar kata "kosmopolitan"? 

Sebagian besar mungkin terpikir nama sebuah majalah. Sebagian 

lain mungkin terbayang sebuah minuman cocktail manis yang identik 

dengan peminum perempuan. Kita perlu mencari kamus untuk 

menyadari bahwa makna cosmopolitan aslinya lebih dalam dari 

sekadar majalah atau minuman.

Kosmopolitan diambil dari kata Yunani"kosmopolites", yang artinya 

"warga dunia”. Hierocles—seorang filsuf Stoa yang hidup di zaman 

yang sama dengan Marcus Aurelius— menjelaskan praktik untuk 

memperlebar lingkup kasih sayang

259

kita terhadap orang-orang di sekitar. Dia mengatakan bahwa relasi 

sosial kita bisa digambarkan sebagai beberapa lingkaran dari yang 

kecil sampai besar, di mana diri kita ada di tengahnya.

Lingkaran terdekat kita adalah keluarga (ayah, ibu, istri, anak, 

saudara), kemudian di luarnya lagi adalah lingkaran orang- orang di 

desa, kelurahan kita, kota kita. Lebih besar lagi adalah orang-orang 

sebangsa kita. Kemudian, masih lebih besar lagi adalah seluruh umat

manusia. Dalam , kasih sayang kita terhadap sesama 

seharusnya "meluas", mulai dari keluarga inti kita, kemudian 

menyayangi orang-orang di desa atau kota kita. Terus lagi, 

menyayangi mereka yang sebangsa dengan kita. Bahkan pada 

akhirnya, diperluas lagi sampai menyayangi seluruh umat manusia.

Hierocles mengajarkan untuk menyapa siapa pun sebagai "sahabat" 

atau "saudara", sesuatu yang rasanya sudah lumrah dipraktikkan di 

negeri kita (dengan sapaan "Mas", "Mbak", "Kak", "Bang", dan lain-

lain).

Dalam , ini artinya mengakui bahwa pada akhirnya 

semua manusia adalah bagian dari dunia dan semesta yang sama, 

dan sebab nya tidak semestinya kita membedakan orang, apalagi 

sampai mendiskriminasi dan menyakiti orang yang berbeda. 

Kewajiban berbuat baik kepada orang lain yang telah kita bahas 

sebelumnya harusnya menembus lingkup keluarga sendiri, suku 

sendiri, agama sendiri, bangsa sendiri, dan bahkan mencakup 

seluruh manusia.

Jika kita ingat latihan untuk membayangkan diri kita terus terbang ke 

atas, sampai keluar planet, bahkan keluar tata surya, sampai di luar 

galaksi, maka barulah kita merasa planet ini sungguh kesepian di 

alam semesta, dan seharusnya kita bisa hidup rukun bersama-sama. 

Di sini lah saya (semakin) jatuh cinta pada , sebab  

sejalan dengan prinsip kemanusiaan universal yang sudah saya 

pegang sedari dulu. Konsep ini juga mengingatkan saya pada quote 

dari Sayyidina Ali bin Thalib yang pernah saya baca, “Yang bukan 

saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan." Ini 

sungguh quote yang indah, sebab  apa lagi yang lebih tinggi dari 

saudara dalam "kemanusiaan”? Kecuali mungkin jika kita bertemu 

alien—itu pun kalau ada alien yang baik hati.

Jika persaudaraan yang diajarkan Stoisisme menembus identitas 

agama, bahkan bangsa, tidakkah seharusnya kita merasa betapa 

260

absurdnya pertengkaran yang disebabkan hanya sebab  pilihan 

politik? Apalagi permusuhan yang lebih sepele lagi, seperti 

perbedaan klub bola favorit, perbedaan kampung halaman, atau 

perbedaan sekolah. Kita bisa membenci orang lain sedemikian rupa 

bukan sebab  mereka menyakiti atau menghina kita (padahal, dalam 

Stoisisme, hal ini  sebenarnya juga bukan masalah), namun  

hanya sebab  mereka memiliki warna kulit yang berbeda, bahasa 

yang berbeda, cara ibadah yang berbeda, dan memiliki budaya yang 

berbeda.

saat  saat ini ada begitu banyak pihak yang berusaha memisahkan 

dan membedakan kita—baik dalam lingkup tetangga sekitar, kota 

kita, sampai negara kita, Stoisisme terasa semakin relevan untuk 

menjadi antidote melawan kekuatan yang hendak memisahkan dan 

mengadu domba kita.

Jika kita menggabungkan ini dengan kata-kata Marcus Aurelius 

bahwa, "Kita datang ke dunia ini demi satu sama lain,” maka, prinsip 

"kosmopolitan” di atas jauh lebih dalam dari sekadar menoleransi 

atau menerima mereka yang berbeda. Yang dituntut Stoisisme lebih 

dari sekadar sebuah sikap pasif—yang penting tidak berbuat jahat—

seperti, "Yang penting saya tidak menyakiti mereka yang berbeda." 

Sebaliknya, kewajiban utama kita adalah berbuat baik secara aktif 

tanpa membedakan siapa pun.

Pernahkah kita membaca atau mengetahui adanya penderitaan dan 

kesusahan di lingkungan kita, atau saudara sebangsa di daerah lain, 

kemudian setelah mengetahui mereka adalah suku lain atau 

beragama lain, kita menjadi tidak termotivasi untuk membantu? 

"Ooooh, ternyata dia agamanya beda sama saya, gak jadi menolong 

ah.”

Yang menarik, konsep kosmopolitan ini sebenarnya mendapatkan 

dukungan dari dunia sains. Dengan ilmu genetika, dunia sains saat 

ini menerima bahwa seluruh umat manusia yang ada sekarang 

sebenarnya memiliki nenek moyang yang sama yang berasal dari 

Afrika. Spesies kita, Homo sapiens, meninggalkan Afrika sekitar 

60.000-120.000 tahun yang lalu, kemudian mulai menjelajah bumi 

dan bermukim di belahan bumi yang berbeda. Perbedaan warna kulit,

warna mata, rambut, dan fitur fisik lainnya terjadi perlahan sebagai 

bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang baru (misalnya, para 

nenek moyang bangsa Eropa yang harus hidup di daerah yang 

miskin sinar matahari tidak membutuhkan perlindungan dalam bentuk

261

warna kulit dan mata yang gelap dibandingkan mereka yang akhirnya

bermukim di daerah kaya sinar matahari, seperti di ekuator atau 

Australia).

Ini artinya, walaupun kita terlihat berbeda sekarang (ditambah lagi 

dengan perbedaan budaya, sistem kepercayaan, dan adat istiadat), 

pada dasarnya akar kita sama dan kita semua bersaudara sebagai 

satu spesies.

Sampai di mana kita saat ini sebagai individu? Apakah kita masih 

menyimpan kebencian dan dengki terhadap mereka yang kita anggap

"berbeda”. Atau, kita baru sampai tahap, "Yang penting gue gak 

ganggu lo, dan lo gak ganggu gue"? Atau mungkin kamu sudah 

mencapai tahapan tertinggi, "Gue akan berbuat baik kepada siapa 

pun, tanpa membedakan suku, agama, ras, pilihan politik, atau klub 

bola dia." Bagi kamu yang sudah mencapai tahap terakhir, para filsuf 

Stoa akan mengacungkan jempol untukmu.

Mengatasi Masalah Dunia

Dunia ini banyak masalahnya. Kecuali kita selama ini tinggal di gua 

tanpa TV dan internet, rasanya kita akan tahu bahwa ada banyak 

masalah dan problem di dunia. Dari peperangan yang tidak pernah 

berakhir, kebencian antargolongan, hoaks, rusaknya lautan sebab  

sampah plastik, sumber air yang semakin menurun, pemanasan 

global, cuaca ekstrem, dan masih banyak lagi.

Mungkin sebagian dari kamu pernah atau bahkan detik ini juga 

berkata dalam hati, "Hidup gue sendiri aja udah ribet, ngapain sih 

mikirin masalah-masalah besar?" Lagi pula, namanya saja "masalah 

dunia”, apa yang bisa diperbuat sendirian? Jika kita kembali ke 

prinsip dikotomi kendali, ngapain memusingkan hal- hal besaryang 

jelas ada "di luar kendali kita"?

Seperti pernah dibahas sebelumnya, besar sekali godaan untuk 

menggunakan  sebagai alasan, excuse, untuk 

berpangku tangan dengan alasan sebuah isu eksternal ada di luar 

kendali kita. Apalagi isu eksternal yang skalanya mendunia. Selain 

itu. sebelumnya kita menemukan konsep amorfati, yang mengajarkan

kita untuk mencintai kondisi hidup kita saat ini. Jadi, untuk apa protes 

dan bersusah payah? Mari kita mencintai keadaan planet ini yang 

penuh polusi, api angkara, dan kehancuran ekosistem! Apakah 

begitu? Benarkah Stoisisme jika diterapkan berarti kita tidak perlu 

262

peduli dengan masalah besar seperti ancaman perang nuklir dan 

cuaca ekstrem, sebab  toh kita tidak bisa berbuat apa-apa?

Tidak semua pemikir dan praktisi  memiliki satu 

pemahaman menyangkut masalah-masalah besar dunia seperti 

perubahan iklim, kerusakan lingkungan, rasisme, atau kemiskinan. 

Sebagian menginterpretasikan filosofi ini sebagai hanya 

mementingkan kualitas dari hal-halyang ada di dalam diri kita. 

Kualitas karakter, moral, dan persepsi kita sudah cukup menjadi 

pusat perhatian kita. Segala hal eksternal dianggap sebagai 

indifferent yang tidak perlu mendapatkan prioritas perhatian kita. 

sebab nya, segala urusan dunia eksternal (termasuk semua masalah

lingkungan dan sosial) dianggap tidak menjadi tanggung jawab, 

apalagi kewajiban seorang praktisi Stoisisme.

Sebagian pemikir dan praktisi Stoisisme lainnya mengambil 

interpretasi berbeda. Kita semua memiliki kewajiban untuk turut 

berpartisipasi mengatasi masalah dunia, sebab  argumen-argumen 

sebagai berikut:

• Mengikuti ajaran Hierocles di atas. Jika kita dianjurkan untuk 

memperluas kepedulian dan kasih sayang kita bahkan sampai ke

seluruh umat manusia, maka masalah dunia seperti perubahan 

iklim seharusnya menjadi perhatian kita dan membutuhkan 

partisipasi kita. Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim akan 

merugikan dan banyak manusia lain, dan bahkan mungkin kita 

sendiri—dan sebab nya sebagai warga dunia, kita juga harus 

berkontribusi.

• Manusia sebagai bagian dari Alam /Nature). Selaras dengan 

"alam”, dalam hal ini lingkungan hidup /environment) adalah 

bagian dari prinsip ini, termasuk di dalamnya merawat 

lingkungan dan alam tempat kita tinggal. Mencemari alam 

sampai menyebabkan perubahan iklim yang mengancam 

kehidupan banyak makhluk hidup, termasuk kita sendiri, jelas 

sudah menyimpang dengan tuntutan hidup selaras dengan alam,

dan sebab nya kita juga harus turut bertindak.

• Antara hal "internal” dan “eksternal”. Benar bahwa Stoisisme 

sangat menekankan pada pengembangan kualitas karakter di 

dalam diri. Namun, di saat yang sama, karakter di dalam diri ini 

harus mengikuti kebajikan- kebajikan /virtues), seperti 

kebijaksanaan dalam memilih /wisdom), menahan diri 

/temperance), berani /courage), dan keadilan /justice). Jika kita 

263

sekarang dihadapkan dengan berbagai masalah besar dunia, 

seperti perubahan iklim, ketidakadilan sosial, diskriminasi, 

kebencian, dan lain- lain, kira-kira apakah hal "bijaksana” yang 

harus kita lakukan? Apakah berlaku cuek dan menutup mata 

bisa digambarkan sebagai berlaku sesuai kebajikan?

Dari argumen-argumen di atas, saya mengambil posisi yang sama 

dengan kelompok yang percaya bahwa mempraktikkan Stoisisme 

artinya juga peduli pada masalah dunia dan umat manusia, dan 

sebisa mungkin berkontribusi dalam solusinya.

Apalah Kemampuan Saya Menghadapi Masalah 

Dunia?

Jika semua manusia adalah "warga dunia", maka masalah dunia bisa

dihadapi kita bersama sebagai warga dunia juga. Some things are 

not in MY control, but it can be in OUR control. Jika suatu kondisi 

tidak bisa diubah oleh satu orang, ia mungkin bisa diubah oleh 100 

orang, atau 1.000 orang, atau 1.000.000 orang.

Sejarah juga membuktikan bahwa banyak hal besar bisa diraih saat 

kita menyisihkan perbedaan dan mulai bekerja sama. 

Memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari penjajah, isu

Sejarah juga

membuktikan

bahwa

banyak hal besar

bisa diraih saat 

kita menyisihkan

perbedaan dan mulai

bekerja sama.

diskriminasi gender dan ras, sampai kerusakan lingkungan; semua itu

bisa diubah saat  manusia bersama-sama sepakat untuk bergerak 

memperbaikinya. Social movement, protes, petisi, adalah contoh 

sekelompok orang yang memindahkan situasi dari domain "not in 

r

control" menjadi "incontrol" saat  dihadapi bersama.

Besarnya dan banyaknya masalah dunia ini membuat konsep "warga 

dunia” yang berusia 2.000 tahun lalu ini terasa menjadi semakin 

penting, la bukan lagi sebuah konsep romantis perdamaian dunia, la 

telah menjadi sebuah konsep genting untuk keberlangsungan spesies

kita sendiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah planet ini spesies 

kita sedang berhadapan dengan risiko kepunahan besar yang 

disebabkan oleh diri kita sendiri.

Jika jutaan tahun lalu dinosaurus punah diduga sebab  tumbukan 

meteor ke bumi, maka manusia bisa jadi akan hancur sebab  ulah 

kita sendiri. Ketidakpedulian pada alam, teknologi yang tidak 

diimbangi kebajikan, insting primordial yang dibiarkan merajalela, 

kecurigaan yang dipelihara bahkan dipanas-panasi, dan lain-lainnya.

Sepanjang kita tidak mampu untuk secara sadar mengesampingkan 

label-label pemisah di antara kita, rasanya para "warga dunia” ini 

tidak akan bisa menggabungkan pikiran dan tenaga untuk mencegah 

diri kita dari kepunahan. Kita akan terus sibuk mempertengkarkan 

perbedaan di antara kita, sampai akhirnya bersama-sama kita 

dihapuskan oleh cuaca ekstrem, atau senjata nuklir.

Kita bisa mengawali perjuangan kita sebagai "warga dunia” secara 

bertahap. Adakah masalah di kota kita yang bisa diselesaikan secara 

bersama? Adakah bagian dari warga sekitaryang menderita yang 

bisa dibantu, apapun agama dan latar belakangnya? Lebih luas lagi, 

adakah isu-isu bangsa yang menuntut “warga dunia” yang tidak 

diskriminatif untuk memecahkannya? Dari isu ekonomi, politik, 

gender, bencana penyakit, kekurangan gizi, sampai persekusi 

kelompok minoritas—bahkan di Indonesia saja banyak masalah yang

bisa diselesaikan oleh kita semua bersama-sama sebagai saudara 

sebangsa.

Selain itu, bagaimana kita masing-masing bisa menahan arus ajaran 

kebencian dan diskriminasi, dari lingkungan kita sendiri? Dari hal 

yang paling sederhana, seperti di media sosial. Banyak dari kita yang

terganggu dengan konten media sosial yang bersifat menghasut dan 

membenci mereka yang diam. Sebagian besar dari kita memilih 

"diam”—tidak mau mencari masalah dengan orang lain. Sebagian 

hanya sekadar memilih unfollow, mute, atau yang paling ekstrem pun

adalah unfriend.

Namun, ajaran kebencian itu sendiri tidak pernah dibahas. Ini 

mengingatkan saya pada kata-kata Cania Citta mengenai analogi 

mobilyang rusak dan ditinggal saja dijalan. Dengan unfollow, mute, 

unfriend kita mungkin tidak melihat lagi konten kebencian, namun  

konten itu tetap ada, dan orang yang men- share tidak pernah 

mendapat feedback bahwa itu keliru. Kita bisa melakukan banyak hal,

dari mulai reporting posting-an yang memprovokasi, sampai dengan 

berani—ingat salah satu virtue Stoisisme adalah courage/keberanian

—menegur jika ada yang menyebarkan konten kebencian (bahkan 

dengan risiko kita yang di-mi/te dan di-unfriend].

Mereka Datang....dan Kita Diam

Abad 20 mencatat salah satu episode paling kelam dalam peradaban

manusia “modern", dengan dua Perang Dunia beserta kekejaman 

yang menyertainya. Sejarah mencatat kekejaman rezim Nazi Jerman 

di Perang Dunia II yang secara sistematis memisahkan dan berusaha

memusnahkan semua orang keturunan Yahudi yang ada di daerah 

yang diduduki Jerman.

Orang-orang Yahudi ini ditangkap dan dikirimkan ke kamp 

konsentrasi, untuk kemudian melakukan kerja paksa dan 

dimusnahkan dengan metode pabrik (awalnya dengan ditembaki, 

kemudian sebab  metode ini dirasa tidak cukup efisien, mereka 

dimasukkan ke kamar gas). Kekejaman Nazi berakhir dengan 

kekalahan Jerman di Perang Dunia II, dan para pelaku holocaust ini 

pun telah menjalani pengadilan perang dan mendapatkan hukuman.

Yang menjadi perhatian banyak pakar dari episode gelap ini adalah 

mengapa banyak warga Jerman yang sebenarnya tidak sealiran 

dengan Nazi tidak berbuat apa-apa? (Ada segelintir pahlawan yang 

berusaha membantu dengan cara mereka, salah satunya adalah 

Oskar Schindleryang menginspirasi film Schindlers List, namun  jumlah 

mereka tidak seberapa dibanding dengan seluruh penduduk Jerman 

saat itu).

Tentu ada sebagian dari warga Jerman yang diam-diam menyetujui 

tindakan rezim Nazi saat itu. Sebagian besar lagi mungkin tidak 

peduli, merasa ini penderitaan kelompok lain yang tidak ada 

hubungannya dengan mereka. Sebagian lain mungkin peduli dan 

tidak menyetujui genosida ini, namun  terlalu takut kepada rezim yang 

represif.

Pendeta Martin Niemoller menuliskan sebuah puisi yang mengkritik 

kebungkaman orang-orang saat  melihat ketidakadilan menerpa 

sesamanya—hanya sebab  korban adalah bagian kelompok yang 

“berbeda”. Dalam puisi ini, Niemoller bagaikan menceritakan apa 

yang terjadi di Jerman era Nazi, di mana penguasa mulai menciduk 

para musuh politik dan kelompok-kelompok yang tidak disukai partai 

Nazi, dan menyindir diamnya kaum intelektual Jerman:

Pertama-tama, mereka mendatangi kaum Sosialis, dan saya 

diam saja—sebab  saya bukan Sosialis,

Kemudian mereka mendatangi para kaum Serikat Dagang, dan 

saya diam saja—sebab  saya bukan anggota Serikat Dagang,

Kemudian mereka mendatangi kaum Yahudi, dan saya diam 

saja—sebab  saya bukan orang Yahudi,

Kemudian mereka mendatangi saya—dan tidak ada lagi orang 

tersisa untuk angkat bicara demi saya.

Puisi Niemoller di atas sangat sejalan dengan prinsip kosmopolitan 

yang diusung . Kita semua memiliki kewajiban moral 

untuk membela mereka yang terzolimi, bahkan mereka dari suku, 

agama, ras, dan golongan yang berbeda, ap