�ه َصلهى النهِبه ْعُت َسَِ قَاَل ُهَريْ َرَة َأَِب يَ َتَمثهُل ,َأنه َوَلَ ، اْليَ َقَظِة ِِف َفَسرَيَاِِن اْلَمَناِم ِِف رَآِِن َمْن يَ ُقوُل
.الشهْيطَاُن ِِب. قَاَل أَبُو َعْبِد اَّللِه قَاَل اْبُن ِسريِيَن ِإَذا رَآُه ِِف ُصورَتِهِ
Artinya : “Nabi Saw bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka
(seakan-akan) ia melihatku ketika terjaga, (karena) setan tidak bisa
menyerupaiku." Abû ‘Abdullāh mengatakan, Ibnu Sīrīn mengatakan;
'Maksudnya jika melihat beliau dengan bentuk aslinya.” (HR. Al-Bukhārī, 2002:
1733, 1077, 1077, 1733. Al-Tirmidzī, t.th: 537, 535. Ibnu Mājah, 2004: 627. Abū
Dāwud, t.th: 724. Ahmad bin Hanbal, 1998: 472, 269, 440, 342, 472. Al-Dārimī,
2013: 512, 511. Muslim bin Hajjaj, 2006: 1077).
Hadis tersebut menunjukkan keistimewaan Nabi Saw yaitu tidak bisa diserupai
oleh setan, baik dalam mimpi, terlebih dalam bentuk nyata. Menurut al-Baqilanī,
makna “melihatku” dalam hadis tersebut adalah benar adanya, bukan mimpi kosong,
juga bukan penyerupaan-penyerupaan setan (Ibrahim, 2013: 148). Sementara menurut
al-Ghazālī, makna hadis tersebut bukan berarti seseorang akan melihat jasadnya atau
badannya, melainkan seseorang akan melihat perumpamaan dari makna yang
terkandung dalam mimpi tersebut (Ibrahim, 2013: 151). Menurut al-Nawāwī, maksud
lafadz اليقظة mengandung tiga pengertian, yaitu : (1) Bagi orang-orang yang فسيراني في
sezaman dengan Nabi Saw, namun tidak sempat berhijrah, lalu orang tersebut
bermimpi melihat Nabi Saw, maka Allah akan memberikan taufik kepada mereka
sehingga bisa bertemu beliau. (2) Akan bertemu Nabi Saw di akhirat sebagai
pembenaran mimpinya, karena di akhirat setiap umat Nabi Saw, baik yang pernah
bertemu maupun belum, akan mengalami pertemuan langsung dengan beliau. (3)
Melihat Nabi Saw di akhirat secara dekat dan mendapat syafa’atnya (Al-Nawāwī, 1392
H: 26). Adapun menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalānī, penafsiran terhadap hadis mimpi
bertemu Nabi Saw dibagi menjadi enam pendapat, yaitu:
a. Hadis tersebut bermakna perumpamaan (tasybīh), karena diperkuat dengan
riwayat lain yang menunjukkan arti perumpamaan (لََكأَنََّما).
b. Orang yang bermimpi bertemu Nabi Saw akan melihat kebenaran, baik secara
nyata maupun hanya ta‘bir saja.
c. Hadis tersebut dikhususkan bagi orang-orang yang sezaman dengan Nabi Saw dan
orang yang beriman kepadanya yang belum sempat melihatnya.
d. Bahwa orang bermimpi tersebut akan melihat Nabi Saw, seperti ketika bercermin,
namun hal tersebut sangat mustahil.
e. Orang yang bermimpi tersebut akan melihat Nabi Saw pada hari Kiamat dan tidak
dikhususkan bagi mereka yang bermimpi bertemu dengan beliau saja.
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
f. Orang yang bermimpi melihat Nabi Saw, ia akan melihatnya secara nyata (Al-
'Asqalānī, 1379 H: 385).
Menurut penafsiran kaum sufi, hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi Saw
masih hidup dan bisa ditemui secara langsung seseorang. Bahkan jika didahului
mimpi bertemu dengan Nabi Saw, maka dapat dipastikan orang yang bermimpi
tersebut akan mengalami pertemuan langsung dengan beliau. Para sufi yang
mengklaim pernah bertemu dengan Nabi Saw antara lain adalah al-Tijānī, Abû Hasan
al-Syādzilī, Ibnu ‘Arabī, dan Muhammad al-Suhaimī (Sya’roni, 2008: 69-86). Untuk
membuktikan kebenaran mimpi bertemu dengan Nabi Saw, langkah yang harus
ditempuh adalah dengan menanyakan kepada orang yang bermimpi tentang sifat
beliau yang ditemuinya itu. Jika cocok dengan sifat yang telah diterangkan dalam
hadis, maka orang tersebut benar-benar telah melihat Nabi Saw dalam mimpinya.
Setan tidak dapat menyerupai Nabi Saw di dalam mimpi. Seseorang yang
bermimpi melihat beliau, berarti dia melihat beliau secara nyata (Ibnu Sīrīn, 2004: 2).
6. Mimpi Bagian dari Tanda Kenabian
a. Mimpi Orang Mu’min Bagian dari Kenabian
ُ َعلَْيِه َوَسلهَم قَاَل رُْؤََي اْلُمْؤِمِن ُجْزٌء ِمْن ةِ َعْن النهِبِي َصلهى اَّلله .ِستهٍة َوَأرْبَِعنَي ُجْزًءا ِمْن الن ُّبُ وه
Artinya : “Nabi Saw bersabda; "Mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari
empat puluh enam bagian kenabian.” (HR. Al-Bukhārī, 2002: 1731, 1733, 1738,
1730. Lihat juga dalam: Muslim: 1076. Abī Dāwud: 723. Al-Tirmidzī: 532, 536. Al-
Dārimī: 511. Ahmad bin Hanbal : 185, 1731, 106, 233. Ibnu Mājah: 626, 628).
b. Mimpi Baik Bagian dari Tanda Kenabian
َع َرُسوَل اَّللهِ ُ َعلَْيِه َوَسلهَم يَ ُقولُ َعْن َأِِب َسِعيٍد اْْلُْدِرىِي أَنهُه َسَِ الرُّْؤََي الصهاِِلَُة ُجْزٌء ِمْن ِستهٍة َوَأرْبَِعنَي ُجْزءًا َصلهى اَّلله
ةِ .ِمَن الن ُّبُ وه
Artinya : “Rasulullah Saw bersabda: "Mimpi yang baik adalah bagian dari empat
puluh enam kenabian." (HR. Al-Bukhārī: 1731, 1730, 1731. Hadis semakna
terdapat dalam: Ibnu Mājah: 626, 628, 627-628. Ahmad bin Hanbal: 11, 137, 10.
Muslim: 1076, Malik bin Anas: 956, 957).
c. Mimpi Orang Islam Bagian dari Tanda Kenabian
ُ َعلَْيِه َوَسلهَم قَاَل ِإَذا اْقََتََب الزهَماُن ََلْ َتَكْد رُْؤََي اْلُمْسِلِم َتْكِذُب وَ َأْصَدُقُكْم رُْؤََي َأْصَدُقُكْم َحِديثًا َعْن النهِبِي َصلهى اَّلله
ةِ َورُْؤََي الْ .ُمْسِلِم ُجْزٌء ِمْن ََخٍْس َوَأرْبَِعنَي ُجْزًءا ِمْن الن ُّبُ وه
Artinya : “... Nabi Saw bersabda: "Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang
sekali mimpi seorang Muslim yang tidak benar. Dan mimpi yang paling paling
benar adalah mimpi yang selalu bicara benar. Mimpi seorang muslim adalah
sebagian dari empat puluh lima macam Nubuwwah (wahyu).” (HR. Muslim,
hadis ke-2263. Lihat juga: Al-Tirmidzī, hadis ke-2270: 532.).
Hadis-hadis tersebut menunjukkan mimpi sebagai bagian, sifat dan bentuk
dari tanda seorang Nabi. Namun tidak ada yang mengetahui hakikatnya kecuali
malaikat atau para Nabi itu sendiri. Hal ini didasarkan pada mimpi Nabi Yusuf,
sebagaimana termuat dalam Surat Yusuf (12) ayat 4 : “(ingatlah), ketika Yusuf berkata
kepada ayahnya: "Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang,
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."( QS. Yusuf [12] : 4). Ayat
tersebut menunjukan bahwa Nabi Ya’qub-lah yang mengetahui bahwa mimpi tersebut
merupakan tanda kenabian putranya, Nabi Yusuf as. Namun, kadar yang dikehendaki
para Nabi adalah bahwa mimpi merupakan suatu bagian dari kenabian secara global,
karena dari satu sisi, di dalamnya seseorang melihat sesuatu yang ghaib. Adapun
mengenai perincian perbandingan itu, maka hanya orang yang telah mencapai derajat
kenabian yang mengetahuinya.
7. Tafsir Mimpi Hadis
a. Segelas Susu, ditafsirkan sebagai ilmu (HR. Al-Bukhārī, 2002: 43. Lihat juga
dalam: Al-Tirmidzī, t.th: 539, 619. Ahmad bin Hanbal, 1998: hadis ke-5295, 5602,
5868, 6059, 6138. Al-Dārimī, 2013: 171).
b. Tiga Rembulan, ditafsirkan dengan Tiga penduduk bumi paling mulia (HR.
Mālik bin Anas, t.th: hadis ke-548, 232).
c. Dibawa Malaikat ke Neraka, ditafsirkan dengan Faidah dan anjuran untuk
melakukan salat malam. (Al-Bukhārī, 2002: 1741, 919, 334-335, 272-273, 280.
Muslim bin Hajjaj, 2006: 1158-1159. Ibnu Mājah, 2004: 630. Ahmad bin Hanbal,
1998: 146).
d. Segumpal Awan ditafsirkan dengan agama Islam, Minyak Samin dan Madu
ditafsirkan dengan al-Qur’an. (Al-Bukhārī, 2002: 1744-1745. Muslim, 2006: 1077-
1078. Al-Dārimī, 2013: 515-516).
e. Dua Gelang Emas di lengan, ditafsirkan dengan akan muncul dua pendusta (al-
Aswad al-‘Ansī dan Musailamah al-Kadzdzab). (HR. Al-Bukhārī, 2002: 1742, 1072.
Lihat juga dalam : Ahmad bin Hanbal, 1998: 263).
f. Timbaan Air dan Sumur Tua, ditafsirkan dengan Orang yang kuat (‘Umar bin
Khattab). (HR. Muslim, 2006: 1123. Lihat juga dalam: Ahmad bin Hanbal”, 1998:
27, 89, 104).
g. Ikatan pada kaki ditafsirkan dengan Ikatan adalah ketetapan dalam agama, dan
Belenggu di leher ditafsirkan dengan siksa. (HR. Abū Dāwud, t.th: 723. Lihat
juga; Ahmad bin Hanbal, 1998: 269).
h. Bunyi Lonceng, ditafsirkan dengan Adzan suara Bilal bin Rabah. (HR. Abū
Dāwud, t.th: 189. Hadis semakna terdapat dalam: Al-Tirmidzī, t.th: 358. Dan
dalam: Ahmad bin Hanbal, 1998: 43, dan 42-43).
i. Pedang / Menghunus pedang yang bagian tengahnya patah, ditafsirkan dengan
Musibah yang menimpa orang-orang mukmin pada perang Uhud. (HR. Al-
Bukhārī, 2002: 1002, 1743. Hadis semakna terdapat dalam: Muslim bin Hajjaj,
2006: 1079. Ibnu Mājah, 2004: 630-631. Al-Dārimī, 2013: 516).
j. Tiang Rumah patah dan Melahirkan Anak Buta, ditafsirkan dengan Akan
melahirkan anak berbakti atau melahirkan anak durhaka. (HR. Al-Dārimī, 2013:
517-518.).
k. Ayam Jantan Merah, ditafsirkan dengan Seorang lelaki asing (selain Arab) akan
membunuh (‘Umar). (HR. Ahmad bin Hanbal, 1998: 15 dan 48).
l. Taman Hijau yang luas dan tiang, ditafsirkan dengan Islam. Tali yang kuat
ditafsirkan dengan Istiqomah dalam Islam hingga meninggal. (HR. Ahmad bin
Hanbal, 1998: hadis ke-24196, 452).
m. Wanita berkulit hitam dan berambut kumal meninggalkan kota Madinah dan
berdiri di Mahya'ah, ditafsirkan dengan Wabah penyakit kota Madinah telah
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
dipindahkan ke Mahya'ah (Juhfah). (HR. Ahmad bin Hanbal, 1998: hadis 5849,
107, dan hadis 5976, 117).
Dari hadis-hadis tentang penafsiran Mimpi Nabi Saw tersebut, dapat diketahui
bahwa panafsiran mimpi Nabi Saw hanya menggunakan metode simbolik (kata
benda). Namun penafsiran metode simbolik Nabi Saw tersebut bukan semata-mata
pengetahuan beliau sendiri, melainkan atas petunjuk Allah Swt dan melalui
pengamataan keadaan, seperti budaya dan keadaan jiwa seseorang. Ibnu Sīrīn
memberikan keterangan bahwa penafsiran mimpi bisa dilakukan dengan tujuh
karakteristik simbol mimpi, yaitu: dengan al-Qur’an, hadis, perumpamaan (amtsal),
arti nama (tekstual), pengertian kontekstual, dengan makna sebaliknya, dan dengan
melihat perbedaan perilaku dan kebiasaan (Ibnu Sīrīn, 2004: 3-4). Ibnu Hajar
memberikan kriteria untuk seorang penafsir mimpi, di antaranya adalah: (1) Kehati-
hatian. (2) Keluasan dan kedalaman analisis, meliputi: pengetahuan hermeneutik,
fenomenologis, syari’ah, tauhid, sejarah, kebudayaan, bahasa, perilaku, dan
kontekstual pena’bir. (3) Kualitas pena’wil, meliputi: kode moral, kejujuran, kesucian,
teladan, keimanan, kesederhanaan dan kemanusiaan (Nashori dan Diana, 2002: 293).
Tafsir mimpi dengan menggunakan simbol juga diperkuat dengan adanya
beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya:
a. Sebuah daerah atau rumah yang nilainya lebih rendah dari dirinya dan tidak
pantas dimasuki oleh seorang raja. Mimpi ini dilambangkan sebagai datangnya
musibah dan kehinaan yang akan menimpa penduduk tersebut. (QS. Al-Naml [27]
: 34).
b. Al-Habl (tali), ditakwilkan dengan janji. (QS. Ali ‘Imran [3] : 112).
c. Tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan tujuh ekor sapi betina kurus, tujuh
gandum hijau dan tujuh gandum kering. Simbol tersebut ditakwilkan dengan
masa kemarau dan paceklik selama tujuh tahun (QS. Yusuf [12] : 43). Selain itu, al-
Qur’an juga banyak menyebut beberapa tafsiran simbolik. Seperti tali yang
disimbolkan sebagai perjanjian (QS. Al-Baqarah [2]: 103), Kapal disimbolkan
sebagai keselamatan (QS. Al-‘Ankabut [29]: 15), Kayu dilambangkan dengan
kemunafikan (QS. Al-Munafiqun [63]: 4). Batu disimbolkan dengan kerasnya hati
(QS. Al-Baqarah [2]: 74). Lihat tafsir simbolik selengkapnya dalam QS. Al-Qashash
[28] : 8, QS. Ibrahim [14]: 18 dan 14-24, QS. Al-Jin [72]: 16-17, QS. Al-Hujrat [49]: 12,
QS. Al-Anfal [8]: 11. QS. Al-Baqarah [2]: 61, 187, 257, 266. Dan QS. Al-Shaffat [37] :
49.
Interpretasi Mimpi Perspektif Sigmund Freud
Sigmund Freud lahir pada hari Selasa, 6 Mei 1856 di Freiberg, kota kecil di
daerah Moravia, Austria. Freud berasal dari keluarga Yahudi (Bertens, 2006: 9).
Ayahnya, Jacob Freud, adalah seorang pedagang miskin. Sedangkan ibunya bernama
Amalia Nathanson, lebih muda 20 tahun dari suaminya serta merupakan istri ketiga
dari Jacob Freud (Semiun, 2006: 44). Freud merupakan tokoh produktif dan giat
bekerja, hal itu terbukti meskipun telah lanjut usia dan sering sakit, dia tetap bekerja
sebagai seorang dokter dan penulis. Freud meninggal pada 23 September 1939 di
London dalam usia 83 tahun (Storr, 1991: 1).
Pada tahun 1895, tepatnya pada bulan Juli, Freud berhasil menganalisis sebuah
mimpi. Selanjutnya dia menggunakan mimpi ini, yang disebut sebagai injeksi irma,
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
sebagai model bagi interpretasi mimpi psikoanalisis saat dia menerbitkan buku “The
Interpretation of Dreams” (Semiun, 2006: 50). Penemuan yang menjadikan nama
Freud terkenal adalah psikoanalisa. Istilah ini diciptakan oleh dia sendiri dan muncul
untuk pertama kali pada tahun 1896. Teori psikoanalisa lahir dari praktek dalam usaha
untuk menyembuhkan penyakit histeris.
Sebagai seorang ilmuan, Freud memiliki karya tulis yang banyak. Secara garis
besar karya-karyanya dapat diklasifikasikan menjadi tiga periode :
a. Periode Pertama ( 1895-9105 ) : Terbentuknya Teori Psikoanalisa. Antara lain buku;
“Studien Uber Hysteri” (1895), “The Interpretation of Dreams (1900)”, “The
Pshychopathology of Everyday Life (1901)”, “There Essay on The Theory of Sexuality
(1905)”, “Jokes and Their Relation to the Unconscious (1905)”, dan “Kasus Dora
(1905)” (Bertens, 2006: 12).
b. Periode kedua (1905-1920) : Pendalaman Teori Psikoanalisa. Antara lain buku
Delirium dan Mimpi-Mimpi dalam “Gradiva” (1907), Memperkenalkan Psikoanalisa
(1910), Sebuah Ingatan Dari Masa Anak Leonardo Da Vinci (1910), “Totem and Taboo
(1913), “On Narciccism (1914), dan “Introductory Lectures on Psychoanalysis (1916-
1917), “Naluri-Naluri dan Liku-Likunya”, “Represi Ketidaksadaran”, “Tambahan
Metapsikologis”, “Teori Mimpi”, dan “Perkabungan dan Melankoli” (Bertens, 2006:
25).
c. Periode Ketiga (1920-1940). Antara lain buku “The Pleasure Principle (1920)”, “The
Ego and the Id (1923)”, “Inhibisi (1926)” (Bertens, 2006: 29), “The Future of an
Illussion (1927)”, “Civilization and Its Discontens (1930)”, “Moses and Monotheism
(1939)”, dan “An Outline of Psychoanalysis (1940)” (Bertens, 2006: 35).
Interpretasi Mimpi Sigmund Freud
Kunci dalam psikoanalisis Freud yaitu perbuatan dan perasaan dapat
ditentukan oleh motivasi yang tidak disadari. Pemikiran Freud tentang kepribadian
terdiri dari sistem yang saling berhubungan, yaitu id, ego dan superego (Bertens, 2006:
32, dan Storr, 1991: 32, 70-73). Id bersifat hedonistik, yakni menghindari kasakitan dan
mencari kesenangan. Id dan ego tidak membedakan antara pikiran dan perbuatan,
antara yang nyata dan khayalan. Ego hanya berperan mensensor pengalaman dalam
otak. Adapun superego memainkan peran penting dalam mimpi, yang berkaitan
dengan perkembangan dan fungsi kepribadian (Bertens, 2006: 33-34).
a. Hubungan Mimpi dengan Kesadaran
Freud mengemukakan fenomena mimpi, bahwa dalam mimpi keteraturan
memori terkait kesadaran dan tingkah laku normal benar-benar hilang. Mental lepas
dari memori dan isinya terkait kondisi sadarnya (Freud, 2001: 42). Menurutnya, materi
dari alam sadar yang berisi hal menyakitkan atau diinginkan secara terpendam
didorong ke alam bawah sadar melalui mekanisme represi yang menutupi pikiran,
sikap, dan ingatan dari kesadaran. Akan tetapi, alam bawah sadar bukanlah tempat
bagi materi terepresi karena ada kemungkinan materi-materi tersebut akan meletup
karena dorongannya yang kuat. Salah satu jalannya adalah melalui mimpi (Freud,
2015: 14). Dalam proses mimpi, gambaran yang hadir dapat berupa percampuran
antara berbagai detail pengalaman dalam kesadarannya (Freud, 2001: 79). Pemahaman
kesadaran yang dikolaborasikan dengan konsepsi mimpi tersebut menjadi dasar
bagaimana kesadaran memiliki hubungan erat dengan mimpi sebagai
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
manifestasinya dalam kondisi tidak sadar. Mimpi akan menunjukkan interaksi
yang terjadi antara kesadaran dan ketidaksadaran. Mimpi yang hadir tidak berkaitan
seperti halnya pengalaman dalam dunia realitas dengan kondisi kesadarannya (Freud,
2001: 329).
b. Sumber, Faktor dan Mekanisme Mimpi
1) Rangsangan Inderawi Eksternal (beroreintasi pada objek). Yaitu pikiran tetap
berkomunikasi secara terus menerus dengan dunia luar meskipun masih dalam
kondisi tertidur (Freud, 2015: 22-23). Sebagai contoh, yaitu sorot lampu adalah
rangsangan inderawi yang ditimbulkan dari luar, sehingga rangsangan tersebut
dipastikan sebagai sumber dari mimpi (Freud, 2015: 33).
2) Rangsangan Inderawi Internal (beroreintasi pada subjek). Berupa halusinasi
hipnogogis, yaitu gambar-gambar hidup dan berubah-ubah yang muncul terus-
menerus selama periode sebelum tidur (Freud, 2015: 44). Misalnya cahaya Di saat
tidur dalam gelap.
3) Rangsangan Fisik Internal (berorientasi organ). Seluruh sistem organ tubuh
memainkan perannya ketika malam dan akan mencapai kekuatan yang lebih
besar, serta bekerja melalui komponen-komponennya, dan akan menjadi
sumber mimpi (Freud, 2015: 47-48).
4) Sumber Rangsangan Psikis Murni. Manusia memimpikan sesuatu yang terjadi
selama berada di alam sadar. Hal ini menjadi ikatan psikis dan menjadi sumber
penting dalam mimpi. (Freud, 2015: 53-54).
Di dalam mimpi ada tiga materi yang dikemukakan Freud, yaitu: Pertama,
materi-materi tertentu yang muncul dalam mimpi yang sesudahnya tidak bisa
dikenali di alam sadar adalah bagian dari pengetahuan dan pengalaman seseorang.
Kedua, sumber materi-materi untuk direproduksi dalam mimpi yang diambil adalah
dari masa kanak-kanak. Ketiga, pemilihan materi yang akan diproduksi (Freud, 2015:
24). Selain dari sumber dan faktor terjadinya mimpi tersebut, Freud mengemukakan
beberapa faktor psikologis dalam proses mimpi, di antaranya : (a) Pelupaan Mimpi.
Faktor utama dalam proses pembentukan mimpi ialah kondisi pasif jiwa (Freud, 2015:
491). (b) Regresi. Penafsiran yang benar terhadap mimpi bisa ditemukan dibalik arti
nyata dan memunculkan pemenuhan harapan yang tersembunyi. Dalam arti lain, isi
mimpi laten adalah penyebab mimpi (Semiun, 2006: 131-132).
Mimpi adalah aktivitas psikis yang penuh dengan kepentingan dan pemenuhan
harapan. Keanehan dan absurditas di dalam mimpi adalah pengaruh dari proses
sensor psikis yang bekerja selama pembentukan mimpi (Freud, 2015: 610). Adapun
faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan mimpi ialah: (1) Proses kondensasi
materi-materi psikis, (2) Kelayakan untuk mewakili rangsangan inderawi, (3) Tidak
konsistennya faktor eksterior struktur mimpi yang rasional dan jelas (Freud, 2015: 611).
Selain itu, Freud juga mengusulkan dua mekanisme dalam proses terjadinya mimpi.
Pertama, Pikiran yang tidur menciptakan mimpi dengan dasar pemenuhan harapan.
Kedua, Pikiran dikejutkan oleh harapan dan melakukan penyensoran terhadapnya.
Hal ini menyebabkan terjadinya distorsi pada cara munculnya harapan di dalam
mimpi (Bertens, 2006: 73).
c. Mimpi sebagai Proses Mental
Melalui pemahaman mimpi sebagai proses mental Freud menjelaskan
keterkaitan sisi kausalitas fisik dengan proses terjadinya mimpi. Sebagai gambaran
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
atas konsep serta pemahaman mimpi sebagai proses mental, diperlukan penjelasan
mimpi yang melibatkan kondisi fisik, faktor lingkungan sekitar, kesadaran dalam
bentuk ingatan, serta partikularitas gambaran mimpi (Freud, 2001: 513-514). Dengan
demikian, proses mental yang secara khusus ditunjukkan melalui pemenuhan
keinginan menjadi bagian penting untuk mengetahui hubungan referensial dari
kesadaran agar mimpi dapat terjadi, variabel yang mempengaruhinya, serta aplikasi
langsung terhadap mimpi sebagai gambaran kegiatan yang terjadi dari ranah mental
dalam kondisi tidak sadar.
d. Hubungan Mimpi dengan Penyakit Mental
Hubungan mimpi dengan penyakit mental digambarkan Freud dalam tiga
kerangka, yaitu: Pertama, penyebab abnormalitas dan hubungan klinis dari mimpi
sebagai gambaran, petunjuk, dan sisa kondisi kegilaan. Kedua, modifikasi mimpi
menjadi bahasan utama dalam penyakit mental. Ketiga, hubungan intrinsik mimpi
dan kegilaan dalam bentuk analogi menunjukkan hubungan yang dekat secara
esensial. Hubungan mimpi dan kegilaan juga ditunjukkan melalui kasus kegilaan
delusional karena mimpi buruk (Freud, 2015: 111). Gangguan mental atau kegilaan yang
hadir atas represi seseorang atas suatu dorongan atau kondisi mental yang mengalami
konflik tidak terselesaikan, serta tidak mengalami pemenuhan dalam kondisi mimpi
memiliki hubungan erat dengan kesadaran yang tidak dipertimbangkan. Hubungan
mimpi dengan kegilaan bersifat kualitatif dari segi kesadaran yang mengalami distorsi
manifestasinya dalam bentuk kesadarannya langsung ataupun dalam kondisi mimpi.
e. Distorsi dan Pola Kerja Mimpi
Distorsi adalah hasil kerja mimpi (Freud, 2015: 166). Mimpi merupakan suatu
bentuk kerja dari mental manusia yang terjadi dalam kondisi tidak sadar atas
berbagai impresi dan kejadian yang dialami pada kondisi sadarnya (Freud, 2015:
142). Berikut beberapa pola kerja mimpi, di antaranya adalah :
1. Kondensasi (Penyingkatan). Kondensasi dalam kerja mimpi akan mengarah
pada pikiran-pikiran hasil analisis bagian mimpi yang tidak hilang (Freud, 2015:
338). Mimpi berdampingan dengan psikis, mimpi diiringi dengan alam bawah
sadar, dan sebagainya terkait dengan pembentukan isi mimpi yang didasarkan pada
sebuah proses kondensasi, dengan cara kerja melalui suatu kegiatan penghilangan
(Freud, 2015: 339-340). Proses kondensasi mimpi terlihat pada perbandingan
konten mimpi yang disampaikan seseorang melalui recollection dengan
interpretasi yang dilakukan (Freud, 2001: 196). Hubungan tersebut menunjukkan
kondensasi sebagai bagian penting bagi kerja mimpi.
2. Pemindahan (Dreams- Displacement). Pola kerja dalam pemindahan mimpi
mempunyai gaya instrumental, di mana akan bisa mengenali sebuah kekuatan
psikis dalam pemindahan mimpi. Hasilnya akan menghabiskan hal yang dianggap
isi mimpi tidak lagi punya kemiripan dengan titik pusat pikiran mimpi, dan mimpi
hanya memproduksi bentuk terdistorsi dari harapan mimpi (Freud, 2015: 366).
3. Representasi, yaitu proses saat pikiran dirubah menjadi bayangan visual (Storr,
1991: 49).
4. Simbolisasi, yaitu simbol-simbol yang menyinggung beberapa aspek kehidupan
seksual atau orang-orang yang berhubungan dengan hal itu, yang tidak ingin
dikenal oleh si pemimpi (Storr, 1991: 49-50).
5. Revisi sekunder, yaitu suatu proses yang berusaha membuat mimpi dapat
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
dimengerti dengan cara mengubahnya ke dalam cerita logis (Storr, 1991: 50.
Semiun, 2006: 136 -137).
Dengan demikian, mimpi melalui proses terjadinya menurut teori Freud
dalam kerja mimpi merupakan suatu kegiatan mental yang tidak lepas dari
hubungan mental dan fisik yang menunjukkan terjadinya proses analogis dari
kondisi sadar dengan kondisi mimpi. Namun kesadaran tetap menjadi bagian
penting terkait referensi pengalaman yang hadir dalam mimpi tersebut.
f. Fungsi Mimpi
1) Aktivitas psikis di alam sadar akan diteruskan secara penuh dalam mimpi-
mimpi (Freud, 2015: 95).
2) Mimpi sebagai pengurangan aktivitas psikis, pelepasan hubungan, dan
pemiskinan materi yang tersedia (Freud, 2015: 96).
3) Mimpi memberi gambaran pada pikiran tentang kapasitas dan kecenderungan
terhadap aktivitas psikis khusus, di mana di alam sadar tidak dapat
dipergunakan secara tidak sempurna (Freud, 2015: 104).
4) Rangsangan harapan yang diabaikan alam sadar akan dipindahkan ke latar
belakang, masalah-masalah yang belum terpecahkan, perhatian yang mengusik,
kesan-kesan yang berlimpah, terus bekerja dalam pikiran selama tidur (Freud,
2015: 630). Gambaran dalam bentuk suasana mimpi hadir dengan referensi
kesadaran terhadap ingatan-ingatan atas berbagai pengalaman yang telah
dialaminya dalam realitas (Freud, 2001: 332).
g. Landasan Teori dan Metodelogi Tafsir Mimpi Sigmund Freud
1) Metode Simbolis
Dalam isi mimpi kebanyakan berisikan simbol-simbol yang dipengaruhi dari
pikiran-pikiran mimpi dengan menjadikan alam sadar sebagai rumah bagi manifestasi
dari simbol tersebut. Namun simbolisasi tidak menyinggung khusus hanya pada
mimpi, melainkan lebih pada imajinasi bawah sadar dalam diri manusia (Freud, 2015:
417). Dari cara kerja simbol tersebut, Freud menggunakan dua metode terkait dalam
memahami simbol-simbol. Pertama, mengekplorasi asosiasi dari pemimpi sendiri,
dan kedua menggunakan pengetahuan penganalisis mengenai simbol-simbol mimpi
(Freud, 2015: 122). Adapun secara khusus simbol-simbol yang digunakan Freud dalam
tafsir mimpinya antara lain:
a) Tongkat, pisau, payung, topi dan objek-objek berbatang lainnya disimbolkan
sebagai simbol pria (alat kelamin pria) (Freud, 2015: 427).
b) Kotak, lemari, oven, laci, dan barang-barang kontainer dilambangkan sebagai
rahim.
c) Benda kecil sebagai organ kelamin, menggilas atau melindas dilambangkan sebagai
hubungan seksual (Freud, 2015: 428).
d) Organ pria dilambangkan sebagai manusia, dan organ perempuan dilambangkan
sebagai pemandangan (Freud, 2015: 433).
Dalam menganalisis mimpi, Freud menjadikan simbol-simbol tersebut
mengarah kepada seksual. Berbagai analisis yang sama ditemukan dalam mimpi yang
berbeda dari mimpi-mimpi pasiennya, sehingga Freud mempunyai pandangan bahwa
dalam tafsir mimpi, arti penting dari kompleksitas seksual tidak pernah terlupakan,
meskipun dalam hal ini tidak boleh membesar-besarkannya hingga membuang faktor
lain
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
2) Metode Sandi Rahasia (Decoding)
Metode ini dikatakan Sandi Rahasia karena tanda diterjemahkan ke tanda lain
yang diketahui artinya sesuai dengan kunci yang telah ditetapkan. Dalam metode
Sandi Rahasia, isi mimpi, kepribadian dan status sosial ikut dipertimbangkan.
Sehingga sama isi mimpi dari orang yang berbeda status sosialnya. Dengan titik tekan
sebuah kerja tafsir diterapkan pada masing-masing bagian isi mimpi
3) Metode Injeksi Irma dan Asosiasi Bebas
Freud dalam menjalankan metode tafsir mimpinya melalui cerita mimpi
pasiennya terkait informasi tentang segala pikiran yang muncul dalam mimpi. Dengan
menjadikan mimpi disisipkan ke dalam jalinan psikis yang diikuti secara terbalik dari
ide patologis menuju ingatan pasien. Selanjutnya adalah menganggap mimpi itu
sebagai gejala dan menerapkan padanya tafsir yang terbukti berhasil. Freud
menganggap psikis penting dalam metodenya karena untuk merangsang konsentrasi
pasien terhadap penglihatan psikisnya dan untuk melenyapkan kondisi kritis
pikirannya seola-olah muncul di alam nyata (Freud, 2015: 126-127).
Freud menemukan bahwa pada saat pasiennya merasa santai dan
mengungkapkan ide-ide asosiasi bebas, maka mereka mulai memberitahukan kepada
Freud mengenai mimpi-mimpinya. Sehingga ketika terjadi asosiasi bebas dan analisis
mimpi, para pasien harus merasa santai dan aman. Hal ini dimaksudkan karena
terjadinya dua hal, pertama: pasien dan analisinya mungkin sama-sama memberikan
perhatian lebih terhadap segala proses pemikirannya. Kedua, pasien akan mampu
menyingkirkan sensor kritis yang merupakan proses pemikiran yang menyelidik.
4) Metode Pengamatan Diri
Freud menekankan itensitas pengamatan diri sesuai dengan persoalan
seseorang. Hal yang pertama untuk menjadikan aplikasi prosedur adalah seseorang
hanya bisa membuat komponen-komponen individual dari keseluruhan isi mimpinya.
Dengan harus memilah-milah potongan mimpi dan berharap pasien menceritakan
masing-masing potongan mimpinya itu, maka memungkinkan akan
menggambarkannya sebagai pikiran dibalik bagian mimpi tersebut (Freud, 2015: 130-
131).
Freud menghubungkan para penderita neurosis dengan orang-orang yang
sehat atau dengan contoh-contoh yang ditemukan dalam buku-buku tentang mimpi.
Freud berpandangan bahwa suatu mimpi dengan isi yang sama akan mempunyai arti
yang berbeda-beda pada masing-masing orang. Metode pengamatan diri mampu
menyelidiki seberapa besar tingkat penyelesaian dan kesempurnaan tafsir dengan
memakai analisis diri. Sehingga Freud lebih banyak memperlakukan mimpi-
mimpinya sendiri sebagai sumber dari materi-materi yang sesuai dan berlimpah serta
memuat referensi dari ragam aktivitas keseharian (Freud, 2015: 131-132).
Dalam hal interpretasi mimpi, Freud memberikan tiga peraturan penting yang
harus diperhatikan, yaitu: (1) Tidak membedakan makna yang muncul dari mimpi,
apakah beralasan atau absurd, jelas atau membingungkan, sebab tidak ada kasus yang
menunjukkan bahwa makna tersebut adalah pemikiran bawah sadar yang dicari. (2)
Membatasi untuk membangkitkan ide-ide pengganti dari setiap unsur dan tidak
terlalu mempertimbangkannya untuk melihat apakah ide-ide itu berisi sesuatu yang
sesuai harapan, dan juga tidak perlu mempersulit diri dengan mengikuti seberapa jauh
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
ide-ide itu membawa kepada unsur mimpi. (3) Menunggu sampai pemikiran bawah
sadar yang tersembunyi muncul dengan sendirinya (Bertens, 2006: 73-74).
Bagi Freud analisa tentang mimpi membawa banyak keuntungan. Pertama,
dapat memperkuat hepotesanya tentang susunan dan fungsi hidup psikis. Kedua,
dapat mencapai kesuksesan di bidang pengobatan penyakit neurosa, dimana mimpi
dapat membongkar ingatan-ingatan dari masa lampau (Bertens, 2006: 17).
Implikasi Mimpi Terhadap Pendidikan Mental
Implikasi adalah suatu konsekuensi (akibat langsung) dari hasil penemuan
suatu penelitian ilmiah. Implikasi berkaitan dengan kesimpulan dan saran dalam
sebuah penelitian ilmiah (https://www.freedomnesia.id/pengertianimplikasi).
Sedangkan pendidikan atau pembinaan mental adalah suatu proses atau usaha untuk
menjadikan seseorang harmonis jiwanya dengan tujuan membantu seseorang
terbebas dari gejala-gejala gangguan jiwa, memecahkan problematika hidup,
mengembangkan potensi, bakat, dan minat, serta menjadikan seseorang mempunyai
kepribadian mulia. Usaha atau proses tersebut bisa berupa pemberian pendidikan,
seperti membimbing jiwa, nyawa, sukma, dan roh. Sehingga secara sederhana bahwa
tujuan pendidikan mental adalah tercapainya kesehatan mental dan terhindar dari
gangguan atau penyakit mental.
Adapun implikasi mimpi terhadap pendidikan mental memiliki dua sisi, yaitu
sisi positif dan sisi negatif. Berikut ini gagasan dan pemaparan dari ke dua sisi tersebut:
1. Implikasi Positif Mimpi terhadap Pendidikan Mental
Nabi SAW bersabda : “Jika telah menghampiri zaman, mimpi seseorang yang
beriman itu hampir-hampir tidak dusta dan mimpi seorang mukmin adalah bagian dari
46 juz kenabian, dan sesungguhnya bagian kenabian itu bukanlah dusta, Muhammad
bin Sīrīn berkata : “Dan beliau mengatakan: “Mimpi ada tiga: Percakapan (bisikan) jiwa,
bisikan setan (yang menakut-nakuti) dan kabar gembira dari Allah” (HR. Al-Bukhārī).
Dari redaksi hadis tersebut mimpi yang berimplikasi terhadap pendidikan
mental dapat ditemukan pada bagian mimpi ِ .(kabar gembira dari Allah Swt) بُْشَرى ِمْن ّللاَّ
Dalam mimpi ini sisi pendidikan mental terletak pada pemaknaan bahwa mimpi dari
Allah Swt yaitu berupa petunjuk, ancaman, janji, peringatan, teguran, dan kabar
gembira. Sehingga dalam pendidikan mental, tentu mimpi jenis ini menjadi media
tercapainya kesehatan mental dan jiwa.
Al-Muhlabi berkata bahwa al-Mubasysirat adalah mimpi benar dari Allah Swt
yang membahagiakan dan terkadang yang terjadi adalah sebuah peringatan, Allah
memperlihatkannya kepada seseorang sebagai bentuk sifat RahmanNya agar ia
bersiap terhadap apa yang akan terjadi sebelum hal itu benar-benar terjadi (Al-‘Aini,
t.th: 135). Al-‘Awdi mengatakan bahwa peringatan itu menjadi bagian dari mimpi baik
karena Allah memperlihatkan mimpi tersebut untuk membimbingnya. Jika seorang
hamba melihat sesuatu yang buruk maka ia pasti meminta perlindungan dari mimpi
itu dan berlindung kepada Allah dengan berdoa (Al-‘Awdi, 1990: 12).
Ibnu Katsīr menceritakan kisah mimpi Imam al-Syafi’i‚ bahwa Imam Syafi’i
memerintahkan Rabī’ (muridnya) agar membawakan surat untuk Ahmad bin Hanbal.
Setelah membaca surat itu, Imam Ahmad meneteskan air mata. Rabi’ bertanya
kepadanya, Ada apa di dalamnya wahai Abu ‘Abdillah? Ahmad menjawab "Beliau
menyebut bahwa beliau melihat Nabi Saw dalam mimpi dan berkata kepadanya,
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
Tulislah surat kepada Ahmad bin Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya! Dan
katakan, ‘Engkau akan diuji dan dipaksa mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluq,
maka jangan engkau turuti permintaan mereka, Allah akan meninggikan derajatmu
sebagai panutan di setiap masa hingga hari kiamat” (Ibnu Katsīr, 1988: 365). Kisah
mimpi Imam Syafi’i tersebut mengandung kabar gembira sekaligus peringatan untuk
Imam Ahmad karena Nabi SAW datang kepada Imam Syafi’i untuk menitipkan
salamnya dan memberikan peringatan agar Imam Ahmad bersiap dan bersabar untuk
menghadapi cobaan.
Muhammad bin Salih Al-‘Asim mengatakan bahwa mimpi baik adalah apabila
seseorang melihat sesuatu yang disukainya maka itu datang dari Allah sebagai nikmat
terhadap orang tersebut karena ketika ia melihat apa yang disukainya ia pasti
bergembira dan bersukacita, maka jadilah mimpi baik ini bagian dari busyra’ (kabar
gembira) (Al-‘Asim, 1426 H: 371).
Mimpi itu dapat memberikan gambaran tentang tabiat diri dan hakikat jiwa
dan roh, yang awalnya tidak jelas bagi manusia. Hal ini menggambarkan tentang isi
lubuk hati dan sanubari sekaligus bukti tentang adanya alam rohani yang luas dalam
tubuh manusia yang bisa menerima cahaya ilahi, ilham dan petunjuk-petunjuk Tuhan
serta pengalaman-pengalaman lainnya yang terkait kehidupan, keilmuan, keagamaan
(Al-Nablusi, 2011: 39), dan hal lainnya yang mampu membina manusia.
Jenis mimpi ini adalah mimpi yang benar, mimpi ini sebagian dari tanda-tanda
kebesaran Allah. Mimpi ini adalah gambaran yang benar menurut akal batiniyah, yang
mengungkapkan kebenaran yang kukuh, tersimpan dalam benak, bahasa yang benar
dan menunjukkan aneka makna yang konsisten (Ibnu Sīrīn, 2004: 76). Mimpi yang
benar disebutkan al-Qur’an bahwa semuanya menjadi kenyataan (Al-Nablusi, 2011:
45). Mimpi ini menginformasikan kebenaran yang juga menjadi sebagian dari ke Nabi-
an, seperti halnya seseorang bermimpi ketika beristikhoroh, ketika tidur, maka dalam
mimpi seseorang akan melihat apa yang ia pinta dalam istikharahnya atau ia akan
bangun dan merasa dadanya terasa lapang dan tenang menuju kebenaran (Ibnu Sīrīn,
2004: 18). Untuk lebih jelasnya penulis perlu menampilkan ayat-ayat al-Qur’andan
hadis terkait dengan implikasi mimpi terhadap pendidikan mental.
Ayat Pertama: Surat Yunus Ayat 64: “Bagi mereka berita gembira di dalam
kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-
janji Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”.
Kata busyra yang artinya kabar gembira dalam kehidupan dunia adalah berita
tentang kemenangan dan kesudahan yang baik dalam segala hal, yaitu bahwa mereka
akan menjadi khalifah di bumi, juga dengan diberi ilham kepada kebenaran dan
kebaikan (Al-Marāghī, 1993: 250). Dalam hadis disebutkan : “Dari Ubadah bin Shamit
bahwa ia berkata kepada Rasulullah Saw, Apa kabar gembira di dunia ini? Rasulullah
Saw bersabda mimpi yang baik yang dilihat seorang hamba atau yang diperlihatkan
kepadanya” (Ibnu Katsīr, 1988: 623).
Nabi SAW mendapat wahyu melalui mimpi selama 6 bulan dan menerima
wahyu dalam keadaan bangun selama 20 tahun. Jika melihat 6 bulan dinisbahkan
kepada 20 tahun maka tepatlah jika dikatakan 6 bulan merupakan satu bagian dari 46
kenabian (Mutawallī, t.th: 6037). Yang lain mencoba menjelaskan maksud dari satu
bagian dari empat puluh enam kenabian yaitu: Nabi adalah sejak usia 40 hingga 63
tahun, jadi selama 23 tahun. Kita tahu dari sirah bahwa enam bulan sebelum menjadi
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
Nabi, Nabi SAW mendapat mimpi yang kemudian benar terjadi, sangat sering sekali
(demikian) hingga jika beliau mendapat mimpi pada malam hari, mimpi itu menjadi
nyata pada pagi esok harinya. Sehingga perbandingan dari 6 bulan dengan 23 tahun
adalah 1:46. Hadis ‘Ubadah bin Shamit di atas menunjukkan bahwa mimpi yang baik
berfungsi sebagai kabar gembira bagi seorang hamba.
Ayat Kedua: Surat al-Shaffat Ayat 102: “Maka tatkala anak itu sampai (pada
umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Ayat ini menceritakan mimpi Nabi Ibrahim as. menyembelih putranya, Isma’il
as. Mimpi yang kemudian diyakini bahwa itu adalah seruan Allah Swt dan segera
ditunaikan setelah berdiskusi dengan keluarganya dan merasa yakin dengan
kebenarannya (Al-Marāghī, 1993: 129).
Al-Quran mengungkapkan ujian untuk Ibrahim sebagai bala al-Mubin (ujian
yang jelas). Dalam Tafsir “Taisir al-Karim” dikatakan ujian yang jelas, karena ujian ini
menjelaskan betapa suci dan sempurnanya cinta Ibrahim kepada Tuhannya. Ketika
Allah menaganugrahkan Isma’il kepadanya, Ibrahim sangat mencintai putranya itu
maka Allah ingin memurnikan cinta Ibrahim kepadanya lalu Allah mengujinya
dengan perintah untuk menyembelih Isma’il. Di sisi lain di dalamnya bernilai ibadah
dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi syari`at yang abadi
sampai hari kiamat (Sa’di, 2000: 706).
Al-Zamakhsyari menukil sebuah riwayat bahwa Ibrahim bermimpi melihat
pada malam Tarwiyyah seolah-olah ada yang berkata padanya sesungguhnya Allah
menyuruhmu untuk menyembelih putramu maka Ibrahim ragu dengan perintah itu
apakah dari Allah Swt ataukah dari setan di sore hari ia pun melihat mimpi yang sama
maka tahulah ia kalau itu perintah Allah Swt, itu sebabnya hari itu dinamakan “yaumu
Arafah” hari dia mengetahui dan pada malamnya ia pun melihatnya kembali maka ia
pun hendak melakukan pengorbanan itu dan dinamaknlah hari itu yaumu al-Nahar
(hari kurban) (Al-Zamakhsyari, t.th: 3). Abdullah bin Umar menceritakan bahwa
beberapa orang dilihatkan Lailatil Qodar berada pada tujuh malam terakhir (bulan
Ramadhan). Nabi berkata, “Aku melihat bahwa mimpi kalian saling menguatkan satu
sama lain bahwa Lailatul Qodar ada pada tujuh malam terakhir pada bulan Ramadhan,
maka barangsiapa yang mencarinya, akan mencarinya pada tujuh malam terakhir
(bulan Ramadhan)”. Dalam penjelasan ini mimpi muncul dalam manifestasi berupa
perintah dan petunjuk yang berfungsi sebagai ujian keimanan dan keta’atan bagi Nabi
Ibrahim dan keluarganya, serta petunjuk terjadinya malam Lailatul Qadar.
Ketiga: Surat Yusuf Ayat 4: “Ingatlah, ketika Yusuf berkata kepada ayahnya:
"Wahai ayahku sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan
bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”.
Dalam ayat ini dikisahkan bahwa Nabi Yusuf as. melihat benda langit yang
dalam pandangan mata lahir tidak mungkin tampak secara bersamaan dimana sebelas
bintang, matahari dan bulan terlihat muncul bersamaan dan tidak lazim karena kita
memandang langit yang ditaburi ribuan bintang tetapi Yusuf hanya melihat sebelas
bintang dan benda-benda langit tersebut bersujud kepadanya (Mutawallī, t.th: 6841).
Mimpi itu kemudian menjadi jelas artinya ketika pada akhir kisah diceritakan bahwa
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
Ya’qub dan seluruh keluarganya bersujud memberikan penghormatan kepada Yusuf
setelah Yusuf mendudukan ayah dan ibunya di tempatnya duduk untuk memuliakan
keduanya dan mengatakan inilah arti mimpiku seperti termuat dalam surah Yusuf
ayat 100, yang artinya: “Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. dan
mereka merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku
inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya
suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku”.
Ayat Keempat: Surat Yusuf Ayat 43-49: “Raja berkata (kepada orang-orang
terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina
yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh
bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang
terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat
mena'birkan mimpi." Mereka menjawab: "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan
kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu." Dan berkatalah orang yang
selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu
lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai)
mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)." (Setelah pelayan itu berjumpa
dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada
kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor
sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya
yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya."
Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa;
maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk
kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang
menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali
sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun
yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras
anggur”.
Abdurrahman bin Nashir bin Sa’di mengomentari kisah ini bahwa ketika Allah
menginginkan Nabi Yusuf as. terbebas dari penjara maka Allah memperlihatkan
mimpi yang aneh kepada raja yang baru bisa ditakwilkan oleh Nabi Yusuf as. agar
tampak kelebihannya (Sa’di, 2000: 399). Demikian mimpi-mimpi tersebut memiliki
makna dan berfungsi sebagai informasi apa yang akan terjadi di masa lampau dan
pada ayat terakhir dapat diambil pelajaran bahwa mimpi dapat menjadi media
mempersiapkan segala hal yang akan dihadapi.
Ayat Kelima : Surat Al-Isra Ayat 60: “Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan
kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia." Dan Kami tidak
menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian
bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami
menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar
kedurhakaan mereka”.
Dalam memahami kata Ru’yā pada ayat ini Quraish Shihab menukil dua
pendapat yaitu kelompok pertama, menafsirkan Ru’yā dengan apa yang dilihat Nabi
SAW saat peistiwa Isra dan Mi’raj. Ayat tersebut mengisyaratkan tentang cepatnya
peristiwa itu dan karena kejadiannya di malam hari, seperti halnya mimpi yang terjadi
dengan cepat dan sering terjadi di malam hari. Pendapat kedua memahami kata al-
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
Ru’yā berarti mimpi dengan dua pendapat berbeda. Sebagian berpendapat mimpi
tentang terbunuhnya tokoh-tokoh kaum musyrikin dalam perang Badar, atau mimpi
Nabi SAW. Bahwa jumlah kaum musyrikin dalam perang itu sedikit (tidak sebanyak
kenyataan, agar hati kaum muslimin lebih kukuh) atau mimpi beliau memasuki
Masjid al-Haram setelah sekian lama dikuasai oleh kaum musyrikin (Shihab, 2002:
506-507). Terlepas dari pengertian yang mana yang digunakan karena keduanya di
luar panglihatan biasa baik itu mimpi atau menyerupai mimpi, namun secara jelas kita
dapat mengetahu dari ayat ini bahwa mimpi berimplikasi sebagai fungsi ujian
keimanan seseorang.
Ayat Keenam: Surat al-Fath ayat 27: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan
kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa
kamu pasti akan memasuki Masjid al-Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan
mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka
Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu
kemenangan yang dekat”.
Pada saat Nabi SAW berjalan ke Hudaibiyyah beliau melihat dalam mimpinya
seraya bersama para sahabat memasuki kota Mekah dengan aman mereka melakukan
thawaf, mencukur rambut kepala dan mengguntingnya lalu Nabi SAW mengabarkan
mimpinya kepada para sahabat maka bergembiralah mereka. Maka terbuktilah mimpi
Nabi SAW itu pada tahun ketujuh yaitu satu tahun setelah ayat ini turun (Abdul Hadi,
2001: 28). Ini merupakan kabar gembira kepada Nabi SAW melalui mimpi yang
melahirkan keyakinan dan semangat dalam perjuangan beliau. Sehingga dapat
diketahui bahwa implikasi mimpi bagi mental adalah sebagai janji sebuah
kemenangan dan kesuksesan.
Ayat Ketujuh: Surah al-Anfal ayat 43. “Ketika Allah menampakkan mereka
kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah
memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi
gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi
Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi
hati”.
Pada ayat ini Allah Swt memperlihatkan hal terbalik dengan kenyataan dimana
jumlah musuh yang banyak diperlihatkan sedikit oleh Allah, maka penglihatan itu
menghilangkan kegentaran tentara Muslim yang berjuang bersama-sama Nabi SAW.
Seperti yang diketahui bahwa dalam perang selain peralatan dan strategi hal lain yang
tidak boleh terlupakan adalah mental diri seorang prajurit. At-Ṭabarī mengatakan
bahwa mimpi Nabi SAW itu menjadi keberanian mereka menghadapi musuh dan
menghilangkan rasa takut karena kelemahan mereka. Selanjutnya dijelaskan alasan
mimpi Nabi yaitu kalau saja Allah memperlihatkan kepadanya musuh itu berjumlah
banyak tentulah para sahabat akan gagal, takut dan tidak sanggup memerangi kaum
kafir. Tentu pula akan terjadi perselisihan di antara mereka mengenai perang, karena
di antara mereka ada yang kuat iman dan tekadnya sehingga mereka menta’ati Allah
dan Rasul-Nya lalu berperang. Ada pula yang lemah untuk berperang (Al-Marāghī,
1993: 9).
Allah Swt mengajarkan Rasulnya dan umat Islam bagaimana cara
mempersiapkan diri untuk menghadapi perang, maka Allah memperlihatkan kepada
Nabi SAW jumlah sedikit tentara kafir dengan tujuan agar mereka yakin akan menang
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
melawan kaum kafir tersebut maka Nabi SAW melihat dalam tidurnya bahwa tentara
kafir tidaklah banyak sebagaimana mereka juga melihat tentara muslim berjumlah
sedikit agar masing-masing merasa yakin akan mendapati kemenangan, kalau tidak
demikian maka perang tidak akan berlangsung (Mutawallī, t.th: 4796). Dalam hal ini
dapat diketahui satu implikasi mimpi yaitu untuk menghilangkan kecemasan dan
kekhawatiran serta menimbulkan percaya diri yang tinggi dan menumbuhkan spirit.
Secara lebih khusus, pemaknaan mimpi baik (kabar gembira dari Allah Swt)
yang tercantum dalam redaksi hadis di atas dan implikasinya terhadap pendidikan
mental dapat penulis jabarkan sebagai berikut :
Pertama, Implikasi mimpi terhadap pendidikan mental adalah mimpi
berfungsi sebagai sarana penghubung untuk pewahyuan dan sarana komunikasi
Tuhan dengan orang-orang pilihan-Nya dalam bentuk ilham (lihat QS. Yunus (10): 62-
64). Wahyu ataupun ilham merupakan makna-makna yang berada pada dunia makna.
Dunia makna posisinya lebih tinggi dari dunia inderawi. Makna-makna hanya dapat
teraktualisasikan secara konkret dalam dunia inderawi melalui perantara yaitu dunia
imajinasi di mana mimpi berada. Di sinilah, menurut Ibnu ‘Arābī, mengapa awal
pewahyuan diberikan dalam bentuk mimpi (Ibnu ‘Arābī, 1972: 375). Al-Ghazālī
menegaskan bahwa aktualisasi dari makna-makna tersebut melalui salah satu pintu
jiwa. Karena jiwa di mana dunia imajinasi berada memiliki dua pintu, satu pintu
eksternal ke dunia materi dan satu pintu internal menuju ke dunia immateri yang
merupakan pintu ilham dan pewahyuan (Al-Ghazālī, 1989: 23 dan 29).
Kedua, Implikasi mimpi terhadap pendidikan mental adalah mimpi sebagai
sarana untuk menampakkan ilmu dan pengetahuan yang tersembunyi dalam jiwa.
Ilmu dan pengetahuan tersebut sudah ada di dalam jiwa sejak awal, dan sangat
berbeda baik dengan ilmu-ilmu aqliyah maupun dengan ilmu-ilmu naqliyah (Hilmī,
t.th: 192). Sebab ilmu ‘aqliyah dan ilmu naqliyah tersebut diperoleh dari luar jiwa,
sementara ilmu-ilmu yang tersembunyi itu diperoleh dan disandarkan jiwa dari
substansi jiwa itu sendiri. Ia berupa limpahan (emanasi) cahaya Ilahi dan pengajaran
langsung dari Allah (ta´līm rabbāni) tanpa perantara dengan dibukanya tabir hijab
(kasyf) (Ziai, 1998: 137).
Ketiga, Implikasi mimpi terhadap pendidikan mental adalah mimpi berfungsi
sebagai instrumen dan proses perjalanan serta transformasi spiritual. Hal ini dapat
dilihat dalam aliran-aliran tarekat yang ada, di mana mimpi merupakan barometer
untuk mengukur perkembangan proses perjalanan dan transformasi spiritual seorang
murid (Trimingham, 1973: 158). Bahkan dalam tarekat Halveti Jerrahi, mimpi
merupakan sarana untuk diterima menjadi murid (Frager, 2002: 14-15). Sebab menurut
mereka mimpi mengandung petunjuk spiritual. Bukti yang lebih otentik tentang ini
adalah autobiografi yang ditulis oleh al-Hakim al-Tirmidzi. “Buduwwu Sya’ni” yang
memuat mimpi-mimpi yang dialaminya dan mimpi istrinya (Al-Tirmidzī, 1965: 13-32).
Catatan-catatan tentang mimpi itu menunjukkan bukti fungsi praktis mimpi dalam
proses perjalanan dan transformasi spiritual al-Tirmidzi dan istrinya (Sara Sviri, 2002:
102).
Keempat, Implikasi mimpi terhadap pendidikan mental adalah mimpi
berfungsi sebagai media komunikasi seseorang dengan Nabi SAW (Al-Nabhānī, t.th:
409 dan 415) serta menandakan tingkat dan kedudukan seseorang dalam perjalanan
ruhani. Sebagai contoh adalah mimpi Ibn al-Fārid. Dalam mimpi itu Ibn al-Fārid
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
bertemu dengan Nabi Saw yang menanyakan nasabnya. Ia menjawab bahwa ia
bernasab ke Bani Sa’ad yang merupakan kabilah Halimah al-Sa´diyah yang menyusui
Nabi. Akan tetapi Nabi menjawab: “Tidak, engkau keturunanku dan nasabmu sampai
ke nasabku.” Ibn al-Fārid menjawab: “Tidak ya Rasulullah, saya telah menghafal nasab
saya ini dari bapak dan kakek saya, dan mereka mengatakan bahwa saya berasal dari
Bani Sa’ad.” Kemudian Rasulullah kembali menjawab: “Tidak, kamu adalah
keturunanku dan nasabmu sampai ke nasabku.” Maka Ibn al-Fārid mengatakan:
“Engkau benar ya Rasulullah, engkau benar ya Rasulullah.” Ibn al-Fārid menakwilkan
mimpinya ini dalam beberapa syair qashidahnya dan mengatakan bahwa nasabnya itu
bukanlah silsilah nasab kekeluargaan, akan tetapi nasab kecintaan yang menurut para
sufi lebih mulia dan lebih tinggi dibanding nasab kekeluargaan (Hilmī, t.th: 195-196).
Sementara dalam teori Sigmund Freud, implikasi mimpi terhadap pendidikan
mental adalah menjadi sarana untuk menyalurkan perasaan terpendam yang tidak
dapat diungkapkan di waktu sadar, dan menyalurkan dorongan dan hasrat itu agar
sesuai dengan norma-norma yang berlaku, ataupun memberi gambaran mengenai
sumber-sumber ketegangan dan sengketa batin yang mungkin saja orang
bersangkutan sendiri tidak memahaminya (Anwar, 2002: 98-99), atau dengan kata
lain mengkompensasi ketidakseimbangan yang terjadi dalam dialektika antara dunia
internal dengan realitas eksternal (Arif, 2006: 16).
Bagi Freud bahwa dengan mimpi seseorang secara tak sadar berusaha
memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran
tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit baginya untuk
mengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya
kepada obyek-obyek yang menjadi sumber kegelisahan, maka muncullah keinginan
itu dalam bentuk mimpi. Sehingga hal ini menjadi media tersendiri bagi seseorang
agar terhindar dari gangguan atau penyakit mental.
Masih menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi sadar dan
tidak sadar. Mimpi bisa dikatakan sebagai kunci ketidaksadaran, mimpi
melambangkan hasrat ketidaksadaran. Mimpi merupakan penggambaran dari hal-hal
yang tidak bisa dilakukan di kehidupan nyata, dan mimpi juga bisa menjelaskan
pemecahan masalah.
Setelah pemaparan beberapa gagasan di atas, maka implikasi mimpi terhadap
pendidikan mental dapat dikatakan positif, dalam arti mimpi baik yang dialami
seseorang bisa menjadi media pendidikan bagi mentalnya, karena melalui mimpi
tersebut seseorang merasa mendapatkan petunjuk, teguran, peringatan, dan
keinginan atau perasaan yang belum terealisasikan di alam sadarnya bisa terwakilkan
dalam mimpinya itu. Namun dengan syarat mimpi-mimpi tersebut harus
diinterpretasikan dengan pikiran positif seperti yang telah dikemukakan dalam hadis
maupun teori Sigmund Freud.
2. Implikasi Negatif Mimpi terhadap Pendidikan Mental
Selanjutnya implikasi mimpi terhadap pendidikan mental yang dapat
dikatakan negatif, dalam arti mimpi tersebut justru membuat seseorang menjadi
kacau, takut, kehilangan atau dampak-dampak lainnya yang berkonotasi negatif, yang
pada akhirnya akan membuat mental seseorang mengalami gangguan atau penyakit
mental.
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
Mimpi yang berimplikasi negatif ini tercantum dalam hadis pada bagian mimpi
kategori al-Ru’yā al-Nafsiyah (bisikan jiwa) dan al-Ru’yā al-Shaiṭāniyah (mimpi dari
setan). Kedua jenis mimpi ini disebut sebagai al-Hulm. Sementara dalam teori
Sigmund Freud, karena ia tidak membagi mimpi, maka mimpi yang berimplikasi
negatif ini sebenarnya hanya terjadi tergantung pada bagaimana pemikiran seseorang
tentang mimpi. Pemikiran yang menganggap bahwa mimpi merupakan suatu
pertanda/ramalan yang mempengaruhi hidup seseorang, sehingga hal-hal yang
dilakukan di dunia nyata akan dikaitkan atas dasar mimpi. Ini tentu dapat
mempengaruhi kehidupan orang tersebut, karena mimpi terkadang tidak selalu
indah.
Dalam hadis, pada al-Ru’yā al-Shaiṭāniyah merupakan mimpi yang bercampur
tangan jin-jin jahat pada saat seseorang bermimpi (Philiph, 2006: 27). Jin mampu
mengusik dan memasukkan pikiran-pikiran jahat dan jelek ke dalam otak manusia
dalam keadaan sadar, apalagi dalam keadaan tidak sadar dan tertidur. Campur tangan
setan dalam mimpi manusia bertujuan menyesatkan, dan menggoda manusia untuk
ingkar dari Tuhan. Mimpi buruk juga sering menghadirkan rasa takut mencengkram
dan sedih, namun hal ini mendorong timbulnya keadaan lemahnya jiwa dan
menyebabkan seseorang lebih mendapat serangan yang lebih parah lagi.
Mimpi buruk juga sering terjadi yang berisi bisikan-bisikan nafsu dan mimpi-
mimpi yang tidak sinkron atau tidak dapat dipahami bahkan oleh pemimpin itu
sendiri. seperti sabda Nabi SAW: ”Jangan sampai salah seorang diantara kalian
menceritakan tipu muslihat setan yang terjadi dalam tidur kalian”. Di antaranya mimpi
yang diciptakan setan, berupa halusinasi dan berhubungan intim atau mimpi
menakutkan, mengerikan, mengejutkan, mimpi hantu, mimpi kecacatan, dan mimpi
perbuatan hasud (Philiph, 2006: 34).
Gambaran mimpi buruk yang sesuai dengan gambaran ilmiah bersumber
selain keadaan mimpi dalam tidur REM (Rapid Eye movement) keadaan mimpi yang
tidak diketahui asalnya yang hadir secara spontan karena penolakan pemahaman
terkait dunia ruh. Para ilmuwan berupaya memahami dan tetap berspekulasi bahwa
mimpi buruk salah satu kejadian yang bersumber dari kekuatan jahat dari alam ruh
sebagai gambaran dari hadis di atas (Mustofa, 2011: 30).
Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis memahami bahwa setan adalah
sebuah sifat pembangkangan yang dilakukan oleh jin dan manusia terhadap ketetapan
Allah. Akan tetapi yang dimaksud oleh hadis adalah mimpi yang berasal dari setan jin
bukan setan dari golongan manusia. Setan adalah musuh manusia yang tidak akan
lelah untuk mengganggu manusia di setiap waktu dan tempat. Sebagaimana
pernyataan setan yang diabadikan dalam Surat al-A‘raf (7) ayat 17.
Nabi Saw juga menjelaskan bahwa setan berjalan di dalam tubuh manusia
melalui aliran darahnya, sebagaimana Hadis riwayat dari Anas bin Malik dalam kitab
“al-Musnad Shahīh” yang artinya; “Pada suatu ketika Nabi SAW sedang berdua dengan
salah seorang istri beliau. Kebetulan lewat ke dekat beliau seorang laki-laki. Orang itu
dipanggil oleh Nabi saw. maka dia datang menemui beliau. Lalu Nabi SAW berkata
kepadanya; 'Hai, Fulan! Ini isteriku, si Fulanah.' orang itu menjawab; 'Ya, Rasulullah!
Aku tidak menduga-duga dengan Anda.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya setan berjalan
dalam tubuh manusia melalui aliran darah” (Muslim bin al-Hajjaj, t.th: 1712).
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
Baik al-Qur’an maupun hadis, keduanya menunjukkan bahwa setan selalu
mendekati manusia untuk melancarkan gangguannya dengan berbagai cara. Jika
mereka tidak mampu mengganggu manusia di alam sadaranya, maka mereka akan
mengganggu manusia di alam mimpinya karena sekuat apapun manusia, pasti akan
sangat lemah ketika tertidur. Al-Hakim berkata bahwa setan selalu berusaha
menguasai manusia dengan segala cara, karena dendam dan kebenciannya. Berusaha
mengusik ketenangan manusia, dalam tidurpun dia mengganggu dengan mimpi-
mimpi aneh dan menyeramkan. Ini terjadi karena kesalahan dan kelalaian manusia
itu sendiri (Al-‘Awdi, 1990: 14). Allah Swt berfirman dalam Surat al-Zukhruf (43) ayat
36 yang artinya: “Barang Siapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha
Pemurah (al-Qur’an). Kami biarkan setan (menyesatkan) dan menjadi teman
karibnya”. Ayat tersebut menunjukkan bahwa setan memiliki kebebasan untuk terus
berupaya mengganggu dan membuat manusia tersesat. Sekalipun ayat tersebut tidak
menyebutkan secara spesifik bahwa setan akan mengganggu manusia melalui mimpi,
tetapi pada ayat ke-17 surat al-A’raf yang telah disebutkan sebelumnya menunjukkan
bahwa melalui mimpi termasuk salah satu cara setan mengganggu manusia.
Sementara pada kategori mimpi al-Ru’yā al-Nafsiyah (bisikan jiwa) merupakan
mimpi yang menggambarkan refleksi pikiran atau perbuatan manusia yang dilakukan
ketika dalam keadaan sadar disampaikan pada hatinya lalu dia melihat perilaku
tersebut di dalam mimpi (Ibnu Sīrīn, 2004: 12). Agus Mustofa mengatakan bahwa
mimpi diisi oleh keinginan dan perasaan yang tersimpan dalam bentuk data, sebagai
efek dari peristiwa yang telah menumpuk di masa lalu atau suatu kejadian yang belum
pernah terjadi sebelumnya namun bisa saja terjadi dalam mimpi sesuai dengan
tuntutan alam bawah sadar (Mustofa, 2011: 30).
Sahl bin Rifa’ mengatakan bahwa al-Ru’yā al-Nafsiyah adalah mimpi dari sebab
apa yang terjadi dalam hidupnya (Al-’Utaibi, 2009: 111). Al-Usamah berkata bahwa al-
Ru’yā al-Nafsiyah seperti orang yang menaruh perhatian terhadap sesuatu pada saat
terjaganya, lalu ia melihat hal tersebut di dalam tidurnya (Al-Rayyis, 1993: 45). ‘Abd
al-‘Aziz bin Bazi berkata bahwa al-Ru’yā al-Nafsiyah bukan sesuatu yang baik ataupun
buruk, dan tidak mengapa untuk menceritakannya (Al-’Utaibi, 2009: 112).
Berdasarkan paparan di atas, penulis memahami bahwa al-Ru’yā al-Nafsiyah
adalah mimpi yang dilihat seseorang berdasarkan keadaannya ketika menjelang tidur,
jika pada sebelum tidurnya memikirkan sesuatu maka kemungkinan ia akan
melihatnya ketika tidur, atau dapat juga disebabkan oleh kekhawatiran, angan-angan,
harapan ataupun keinginan yang ada dalam hatinya (bisikan hati).
Kategori mimpi ini biasanya merupakan hasil pikiran manusia. Mimpi yang
berasal dari khayalan yang tidak utuh yang di konsep dari beberapa pengalaman
manusia dalam keadaan sadar. Seperti Halnya yang dikatakan al-Baghāwī bahwa
mimpi adalah cerminan dari alam sadar manusia (Philiph, 2006: 50). Refleksi mental
hanya bagian dari fungsi biologis otak, karena tidak semua orang mencari penafsiran
dari mimpi tersebut. Mimpi ini lebih dianggap anugerah dari Allah meski secara
ilmiah menunjukkan bahwa mimpi tersebut lebih baik dari pada tidur tidak
bermimpi.
Dalam teori Freud dikatakan bahwa mimpi adalah pengalaman psikologis yang
terbawa ke alam tidur. Terdapat beberapa asumsi bahwa adanya mimpi diakibatkan
beberapa rangsangan fisik, maupun rangsangan mental. Di antaranya: (1). Eksternal
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
(tujuan) merangsang sensorik, yang mana setiap manusia tidak bisa melindungi organ
sensoriknya dan tidak pula dengan mudah menghapus rangsangan dari organ
sensorik, sehingga setiap ada rangsangan yang kuat maka dirinya harus membuktikan
bahwa pikirannya tetap selalu berkomunikasi dengan dunia luar meski dalam keadaan
tertidur. (2). Internal (subjektif) rangsangan sensorik, bagian yang tinggi yang
dimainkan dalam ilusi mimpi dengan sensasi-sensasi subjektif dari penglihatan dan
pendengaran sensori (3). Rangsangan Fisik (organik) internal, letaknya yang sejajar
dengan rangsangan eksternal dari rasa sakit dan sensasi. Asal-usul gambar mimpi dari
sensasi fisik. (4). Sumber rangsangan murni psikis; (Freud, 2015: 32). Jadi sebuah
pengalaman hidup dan emosi yang diterima otak meski tidak diterima secara sadar
oleh otak adalah salah satu pengaruh akan adanya mimpi. Karena keadaan otak, emosi
dan hati sangatlah erat kaitannya dalam psikologi mimpi.
Menurut Ibnu Sīrīn mimpi terjadi atas tiga keadaan yaitu: kadang-kadang
seseorang bermimpi tentang kebaikan atau keburukan yang baru saja terjadi atau
berlalu, yang telah lama berlalu, yang tengah berlangsung, yang akan terjadi, dan yang
kelak akan terjadi (Ibnu Sīrīn, 2004: 35). Di sini mimpi menjadi unsur yang tidak
mampu direka-reka sedikitpun (Ibnu Sīrīn, 2004: 15).
Dari pandangan hadis dan teori Freud tersebut, mimpi akan menjadi masalah
baru bagi mental seseorang jika mimpi itu hanya dimaknai dengan konotasi negatif.
Karena dalam hadis terdapat beberapa cara agar mendapatkan mimpi yang baik dan
menjadi pendidikan mental bagi dirinya sendiri. Sementara bagi Freud, mimpi adalah
ekspresi sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam
keadaan terjaga. Misalnya seorang siswa yang sering dipukuli oleh teman-temannya
bermimpi membalas pukulan atau bahkan membunuh teman-temannya itu. Freud
mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam
mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis
yang salah, pembicaraan, maupun lelucon. Freud juga menjelaskan bahwa analisis
mimpi perlu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Karena
sebagian besar cerminan interpretasi mimpi berisi ketakutan, keinginan, dan emosi
yang ada dalam pikiran bawah sadar.
Pemahaman terhadap hakikat mimpi tersebut berimplikasi kepada
pemahaman terhadap fungsi dan substansi mimpi. Implikasi mimpi menurut Hadis
mempunyai makna yang lebih mulia dari hanya sebagai bunga tidur. Mimpi dapat
berfungsi sebagai sarana Tuhan memberikan pendidikan mental, baik berupa
petunjuk, teguran, peringatan, cobaan, dan lain sebagainya. Barometer implikasi
mimpi terhadap pendidikan mental seseorang disesuaikan dengan tingkatan-
tingkatan spiritualnya. Saat jiwanya berada pada tahapan jiwa ammārah, substansi
yang muncul adalah mimpi-mimpi yang melambangkan kecenderungan pada
kejahatan. Pada saat jiwa berada pada tahapan lawwāmah, maka substansi yang
muncul adalah perlambangan dari kejahatan tersendiri tanpa menjerumuskan orang
lain. Namun saat jiwa berada pada tahapan mulhamah, maka mimpi-mimpi yang
muncul dapat berupa topografis alam dan tumbuhan-tumbuhan. Dan pada saat jiwa
telah mencapai tahapan muthma’innah maka jiwa akan didominasi oleh sifat
kestabilan yang memiliki karakter kemanusiaan, kemuliaan, kelembutan, serta
kepatuhan, dan mimpi-mimpi yang dapat menyehatkan jiwa dan mental.
Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental
Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta
KESIMPULAN
Mimpi merupakan kejadian yang dialami oleh semua manusia dalam kondisi
pra sadar dan tidak sadar, yaitu tidur. Namun ketika tidur jiwa tidak tidur secara
penuh (jiwa beraktivitas). Mimpi merupakan aktivitas somatik dan rohaniah serta alat
psikis jiwa. Mimpi merupakan salah satu aktivitas alam bawah sadar yang melibatkan
penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra-indra lain dalam tidur.
Terjadinya mimpi disebabkan oleh reaksi pikiran yang terjaga antara sadar dan tidak
sadar. Saat terlelap, kita mengalami beberapa tingkatan tidur. Pada tahap Rapid Eye
Movement (REM) seseorang akan mulai bermimpi.
Metode simbolik (nama benda) adalah metode untuk menafsirkan mimpi.
Karena mimpi berisi sebuah gambaran atau simbol. Dalam penggunaannya, metode
simbolik dikaitkan dengan keadaan jiwa dan fisik manusia, yang merupakan penyebab
dari terjadinya mimpi.
Implikasi terhadap pendidikan mental. Implikasi positif mimpi terhadap
pendidikan mental meliputi : (1) Meningkatkan kemampuan otak, (2) Sebagai
Inspirasi, (3) luapan emosi, dan (4) membantu memecahkan masalah, (5) Sebagai
petunjuk, peringatan, teguran, ujian dan janji. Sementara mimpi yang berimplikasi
negatif terhadap pendidikan mental hanya berlaku dan terjadi tergantung pada
keadaan jiwa dan fisik seseorang dan bagaimana ia menyikapinya. Jika jiwa dan
pikirannya tenang serta kondisi fisiknya stabil, maka akan mengalami mimpi baik.
Begitupun sebaliknya, apabila jiwa dan pikirannya sedang kalut serta kondisi fisik
lemah maka yang terjadi adalah mimpi buruk, yang berakibat langsung bagi mental
dan jiwanya.











