erbagai derajat
keputusasaan, mendukung konsili ini terlepas siapakah Sri Paus yang sejati atau bagaimana
konsili ini harus diotorisasikan.”20
SAMPAI PADA AKHIR SKISMA BARAT BESAR, TIDAK SATU PUN PAUS SEJATI DI DALAM SEJARAH
GEREJA MEMILIKI DUKUNGAN YANG SEKECIL PAUS GREGORIUS XII
Pada tahun 1411, Sigismund, Kaisar Romawi Suci yang baru saja terpilih, mengikuti sentimen umum dan
meninggalkan Paus sejati, Gregorius XII.
“Sigismund menginginkan persetujuan elektoral yang serempak, dan sehubungan dengan
ditinggalkannya Gregorius oleh mereka yang tadinya mematuhi Gregorius XII (terutama di
Italia dan Inggris), kepercayaan Sigismund terhadap keabsahan Gregorius XII telah secara tulus
Skisma Barat Besar
48
tergoyahkan... Tidak ada Paus sejati di dalam sejarah Gereja yang memiliki dukungan
sekecil Paus Gregorius XII, sesudah Konsili Pisa.”21
Anti-Paus yang baru saja dipilih, Aleksander V, tidak hidup lama. Ia meninggal kurang dari satu tahun
sesudah pemilihannya di bulan Mei 1410. Untuk meneruskannya, tanggal 17 Mei 1410, para kardinal Pisa
memilih kembali secara serempak Baldassare Cossa sebagai Yohanes XXIII. Seperti pendahulunya,
Aleksander V, Yohanes XXIII juga mendapat dukungan terbesar dari antara para klaiman yang lain.
“Walaupun masih ada tiga klaiman kepausan, Yohanes [XXIII] mendapat
dukungan yang paling besar, Prancis, Inggris, dan beberapa negara Italia dan Jerman juga
mengakuinya. Dibantu oleh Louis dari Anjou... ia dapat menetapkan dirinya di Roma.”22
Seperti yang kita lihat, Anti-Paus Yohanes XXIII mampu memerintah dari Roma. Yohanes XXIII (1410-
1415) yaitu Anti-Paus terakhir yang memerintah dari Roma, sampai kemurtadan pasca-Vatikan II, yang
dimulai dengan seorang pria yang juga menyebut dirinya sendiri sebagai Yohanes XXIII (Angelo Roncalli,
1958-1963).
Pada tahun keempat dari masa pemerintahannya sebagai seorang Anti-Paus, Anti-Paus Yohanes XXIII
menghimpun Konsili Konstanz pada tahun 1414 atas desakan dari Kaisar Sigismund. Sangatlah menarik
menarik bahwa Yohanes XXIII (yang baru-baru ini) juga mengadakan Vatikan II pada tahun keempat dari
masa pemerintahannya, di tahun 1962. Dan seperti Vatikan II, Konsili Konstanz bermula sebagai sebuah
konsili yang palsu, sebab digelar oleh seorang Anti-Paus.
Pada fase skisma ini, Kaisar Sigismund bertekad untuk menyatukan Kekristenan dengan mencoba
membuat ketiga klaiman untuk turun takhta. Sewaktu Anti-Paus Yohanes XXIII menyadari bahwa ia tidak
akan diterima sebagai Paus yang sejati di Konsili Konstanz, ia melarikan diri dari konsili itu. “Pada sore
hari itu, Cossa melarikan diri dari Konstanz, dengan menunggang seekor kuda hitam kecil (suatu kontras
terhadap sembilan kuda putih di belakang mana ia memasuki kota pada bulan Oktober), berkerudungkan
sebuah mantel kelabu untuk menyembunyikan sebagian besar badan dan mukanya...”23
Anti-Paus Yohanes XXIII lalu secara resmi dikutuk dan digulingkan oleh konsili itu. Sebuah mandat dari
Kaisar dikirimkan untuk menangkapnya; Ia ditangkap dan dipenjarakan. Di dalam penjara, Anti-Paus
Yohanes XXIII “menyerahkan meterai Kepausannya serta cincin nelayannya, dengan air mata, kepada
para perwakilan dari konili itu.” Ia menerima keputusan konsili itu terhadap dirinya tanpa protes.24
“Sewaktu Konsili Konstanz (yang dianggap sebagian atau secara keseluruhan sebagai
konsili umum yang keenam belas (1414-1417)... telah menggulingkan Yohanes [XXIII],
konsili ini membuat negosiasi-negosiasi dengan Gregorius, yang mengungkapkan kepada
konsili ini kehendaknya untuk turun takhta dengan syarat bahwa ia diizinkan secara
resmi untuk kembali memanggil para prelat serta dignitaris yang berhimpun sebagai
suatu konsili umum; sebagai Paus, ia tidak dapat mengakui sebuah konsili yang diadakan oleh
Yohanes. Prosedur ini diterima, dan pada sesi khidmat ke-14, pada tanggal 4 Juli 1415,
kardinalnya, Jean Dominici, membaca bulla yang menghimpun konsili itu; di sana, Carlo Malatesta
[Paus Gregorius XII] mengumumkan pemakzulannya. Kedua dewan kardinal bersatu, akta-akta
Gregorius XII di dalam Kepausannya dipermaklumkan...”25
Maka, sesudah Anti-Paus Yohanes XXIII telah digulingkan, Paus Gregorius XII setuju untuk menghimpun
Konsili Konstanz (agar dapat memberi kepada konsili ini keabsahan Kepausan, yang tidak dapat
diberikan kepada konsili ini oleh Yohanes XXIII) dan lalu untuk turun takhta dalam harapan untuk
mengakhiri skisma itu.
Skisma Barat Besar
49
Pada waktu itu, Anti-Paus Benediktus XIII (klaiman dari Avignon) telah didatangi oleh Kaisar Sigismund
yang memintanya untuk mengundurkan diri. Ia bersikeras menolak sampai akhirnya, namun pada saat ini,
sentimen umum sungguh telah menentangnya sehingga jumlah pengikutnya berkurang secara drastis.
“Sigismund, yang telah melakukan segala hal yang ia dapat lakukan untuk meyakinkan
Benediktus XIII dari urut-urutan Avignon untuk mengundurkan diri, berhasil mencabut Spanyol
yang tadinya mendukung Benediktus XIII. Di sana, pada tanggal 16 Juli 1415, konsili ini
mengumumkan penggulingannya.”26
sesudah kedua Anti-Paus digulingkan, dan Sri Paus yang sejati telah mengundurkan diri, Konsili Konstanz
lalu memilih Paus Martinus V pada tanggal 11 November 1417, menyudahi secara resmi Skisma Barat
Besar (urut-urutan Anti-Paus dari Avignon berlanjut sesudah kematian Anti-Paus Benediktus XIII dengan
pemilihan Anti-Paus Klemens VIII sebagai penerusnya oleh empat kardinal yang tersisa. Kardinal-
kardinal ini lalu menganggap pemilihan Anti-Paus Klemens VIII sebagai tidak sah, dan memilih
Anti-Paus Benediktus XIV; namun , pada waktu penggulingan Anti-Paus Benediktus XIII oleh Konsili
Konstanz, urut-urutan Avignon telah benar-benar kehilangan dukungan sehingga kedua penerus terakhir
dari Anti-Paus Benediktus XIII sedemikian tidak signifikan sehingga hanya patut mendapat suatu
catatan kaki.)
KESIMPULAN : APA YANG KITA PELAJARI DARI SKISMA BARAT BESAR UNTUK MASA INI
Di dalam artikel ini, kita telah membahas salah satu bab yang paling penting dalam sejarah Gereja.
Selanjutnya, kita telah melihat beberapa hal yang sangat penting – yang relevan dengan situasi di mana
kita hidup.
Kita melihat bahwa para Anti-Paus dapat berada.
Kita melihat bahwa para Anti-Paus dapat memerintah dari Roma.
Kita melihat bahwa semua kardinal yang hidup, segera sesudah pemilihan Paus Urbanus VI,
menolaknya (Sri Paus yang sejati) dan mengakui Anti-Paus Klemens VII. Hal ini menggambarkan
bahwa sama sekali bukan hal bertentangan dengan indefektibilitas (yaitu janji Kristus bahwa Ia
akan selalu bersama Gereja-Nya dan kepausan sampai akhir zaman) fakta bahwa seluruh
kardinal mengakui seorang Anti-Paus.
Kita telah melihat bahwa kebanyakan teolog zaman itu mendukung urutan ketiga – urutan Anti-
Paus dari Pisa. Urutan Anti-Paus ini pastilah merupakan sebuah pilihan yang menggoda
untuk banyak orang sebab para kardinal dari kedua kubu mendukungnya. Hal ini menunjukkan
bahwa kadangkala Allah dapat membiarkan situasi menjadi begitu kacau, tanpa melanggar janji-
janji-Nya yang Ia telah buat kepada Gereja-Nya. Di samping itu, mayoritas dari dukungan teolog
untuk urut-urutan Pisa menunjukkan dengan jelas bahwa ajaran umum dari para teolog tentang
suatu hal tertentu (contoh, tentang keselamatan), terlepas betapa terpelajarnya para teolog itu,
tidaklah mengikat, bertentangan dengan apa yang dipercayai beberapa orang di masa kini.
Kita telah melihat bahwa prinsip bahwa seorang bidah terang-terangan tidak dapat dianggap
sebagai seorang Paus yaitu sebuah konsep yang kuno, dan telah diungkapkan oleh sang kanonis
utama pada waktu itu, Baldus.
Kita telah melihat bahwa keadaan begitu buruknya dan begitu putus asanya pada saat Skisma
Barat Besar, sehingga orang-orang sama sekali tidak melihat jalan keluar dari malapetaka ini –
sebuah malapetaka di mana kita memiliki pada waktu yang bersamaan tiga uskup yang
Skisma Barat Besar
50
bersaingan, tiga superior yang bersaingan, dan tiga klaiman Kepausan yang bersaingan, yang
saling mengekskomunikasikan satu sama lain.
Dengan mengetahui ha ini, kita dibantu untuk melihat bahwa apa yang kami telah
buktikan atas dasar doktrin, yaitu sebuah urut-urutan Anti-Paus sejak Vatikan II telah
memberlakukan kepada dunia suatu agama baru yang palsu, yang telah mengurangi
Gereja Katolik sejati menjadi suatu sisa (yang menggenapi nubuat Kitab Suci dan Katolik
tentang penyesatan di dalam Kemurtadan Besar dan akhir zaman) bukanlah sebuah
KEABSURDAN PATEN seperti yang dikatakan oleh beberapa orang.
Sebaliknya, jika Allah mengizinkan malapetaka di atas terjadi pada saat Skisma Barat
Besar (yang hanyalah sebuah perkenalan kepada Kemurtadan Besar), dengan beberapa
Anti-Paus yang memerintah pada waktu yang bersamaan dan bahwa sang Paus sejati
yaitu yang paling lemah dari ketiganya, malapetaka dan penyesatan macam apa yang Ia
akan izinkan (tanpa pernah melanggar janji yang Ia telah buat kepada Gereja-Nya) dengan
para Anti-Paus pada saat pengadilan rohani terakhir, yang akan menjadi yang paling
menyesatkan dari antara yang lain? yaitu suatu KEABSURDAN PATEN, dan yang ditolak
secara langsung oleh ajaran Katolik dan fakta-fakta dari sejarah Gereja, untuk
menyatakan bahwa suatu urut-urutan Anti-Paus yang telah menciptakan suatu sekte palsu
untuk menentang Gereja sebagai suatu kemustahilan. Terlebih lagi, yaitu suatu hal yang
luar biasa tercelanya untuk menyatakan bahwa suatu keadaan semacam itu yaitu “keabsurdan
paten” sesudah merevieu fakta-fakta yang tak terpungkiri yang telah kami kemukakan untuk
membuktikannya sebagai benar.
Kami menyudahi sintesis tentang Skisma Barat Besar ini dengan mengutip Romo Edmund James
O’Reilly, SJ. Ia mengatakan hal-hal yang sangat menarik tentang Skisma Barat Besar di dalam
bukunya The Relations of the Church to Society – Theological Essays {Hubungan Gereja dengan
Masyarakat – Esai Teologi}, yang ditulis pada tahun 1882. Di dalamnya, ia menyebutkan
kemungkinan ada nya sebuah interregnum kepausan (kurun waktu di mana tidak ada Paus),
yang mencakup seluruh kurun waktu Skisma Barat Besar (hampir 40 tahun).
Berikut kutipan dari diskusi Romo O’Reilly tentang Skisma Barat Besar.
“Kita dapat berhenti disini untuk bertanya apa yang harus dikatakan tentang posisi ini ,
pada waktu itu, tentang ketiga klaiman, dan hak-hak mereka sehubungan dengan Kepausan.
Pertama-tama, ada di sepanjang waktu seorang Paus sejak kematian Gregorius XI pada
tahun 1378 – kecuali tentunya pada saat interval-interval antara kematian-kematian dan
pemilihan-pemilihan untuk memenuhi kekosongan yang terjadi oleh sebab hal-hal ini .
Selalu ada , ujar saya, pada setiap waktu seorang Paus yang sungguh memiliki jabatan
sebagai Wakil Kristus dan Kepala Gereja, terlepas pendapat orang tentang keaslian Paus ini ;
namun bukan berarti sebuah interregnum yang berlangsung selama seluruh kurun waktu
ini tidak mungkin terjadi atau bertentangan dengan janji Kristus, sebab hal ini sama
sekali tidak terwujud, namun bahwa, kenyataannya, tidak ada sebuah interregnum semacam
itu.”27
Romo O’Reilly berkata bahwa sebuah interregnum (sebuah kurun waktu di mana tidak ada seorang
Paus) yang mencakup seluruh kurun waktu Skisma Barat Besar bukanlah hal yang bertentangan dengan
janji Kristus tentang Gereja-Nya. Periode yang dikatakan oleh Romo O’Reilly bermula pada tahun 1378
Skisma Barat Besar
51
dengan meninggalnya Paus Gregorius XI dan yang berakhir pada dasarnya pada tahun 1417 dengan
pemilihan Paus Martinus V. Interregnum ini berlangsung selama tiga puluh sembilan tahun!
Romo O’Reilly menulis sesudah Konsili Vatikan Pertama, jelas bahwa ia memihak sisi dari mereka, yang
dalam menolak Anti-Paus Yohanes XXIII, Paulus VI, Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II dan Benediktus
XVI, mendukung kemungkinan akan terjadinya kekosongan Takhta Suci dalam kurun waktu yang lama.
Bahkan, pada halaman 287 dari bukunya, Romo O’Reilly memberi peringatan berikut yang
merupakan sebuah nubuat:
“Skisma besar di Dunia Barat membuat saya teringat akan suatu renungan yang langsung saja
saya tuangkan di sini. Seandainya skisma ini dahulu tidak terjadi, hipotesis terjadinya
peristiwa semacam itu akan tampak absurd bagi banyak orang. Mereka akan berkata
peristiwa itu tidak mungkin terjadi; Allah tidak akan membiarkan Gereja mengalami suatu
situasi yang sedemikian mengenaskannya. Bidah-bidah mungkin bermunculan dan menyebar
dan bertahan selama kurun waktu yang luar biasa panjang, yang diakibatkan oleh kesalahan dan
yang menyebabkan kebinasaan para pencipta serta pendukungnya, yang juga menyebabkan
kegelisahan para umat beriman, yang membesar akibat penganiayaan yang nyata di banyak
tempat di mana kaum bidah menjadi dominan. namun perkara apakah Gereja yang sejati harus
berada antara tiga puluh dan empat puluh tahun tanpa seorang Kepala yang sepenuhnya
pasti, dan tanpa wakil Kristus di atas bumi, hal ini tidak akan terjadi. Namun hal ini sudah
pernah terjadi; dan kita tidak mempunyai jaminan bahwa hal ini tidak akan terulang
kembali, meskipun kita mungkin kuat mengharapkan hal yang sebaliknya. Yang hendak saya
simpulkan yaitu bahwa kita tidak boleh terlalu sigap untuk menyatakan apa yang mungkin
dibiarkan terjadi oleh Allah. Kita tahu dengan kepastian yang mutlak bahwa Ia akan
menepati janji-janji-Nya … Kita juga boleh percaya bahwa Ia akan melakukan apa yang jauh
lebih besar dibandingkan kewajiban yang diikatkan-Nya kepada diri-Nya sendiri dengan janji-janji-
Nya. Kita boleh dengan penuh suka menantikan kemungkinan diri kita ke depannya diselamatkan
dari masalah dan bencana-bencana tertentu yang telah menimpa di masa lalu. Namun kita, atau
para penerus diri kita yaitu generasi-generasi orang Kristiani di masa depan, mungkin akan
melihat kejahatan-kejahatan yang lebih ganjil dibandingkan yang pernah dialami sebelumnya,
bahkan sebelum peristiwa yang satu itu akan segera terjadi, yaitu berakhirnya segala sesuatu di
atas bumi yang akan mendahului hari penghakiman. Saya bukannya sedang berbuat sebagai
seorang nabi, tidak pun saya sedang berpura-pura menyaksikan keajaiban-keajaiban yang
menyedihkan yang sama sekali tidak saya ketahui. Saya hanya bermaksud untuk
mengungkapkan bahwa ketidakpastian-ketidakpastian sehubungan Gereja, yang tidak
dimustahilkan oleh janji-janji Ilahi, tidak dapat dipandang secara praktik sebagai mustahil,
hanya sebab hal-hal semacam itu akan menjadi sangat amat mengerikan dan
menggelisahkan.”28
Romo O’Reilly berkata bahwa andaikata Skisma Barat Besar tidak pernah terjadi, orang-orang akan
berkata bahwa peristiwa itu sama sekali mustahil dan bertentangan dengan janji-janji Kristus kepada
Gereja-Nya, dan bahwa kita tidak bisa memustahilkan kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang
serupa atau yang mungkin lebih buruk di masa depan sebab peristiwa-peristiwa semacam itu akan
menjadi sangat amat mengerikan dan menggelisahkan.
6. Gereja Katolik Mengajarkan bahwa
Seorang Bidah Akan Langsung Berhenti
Menjadi Paus, dan bahwa Seorang Bidah
Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus yang
Terpilih Secara Sah
The Catholic Encyclopedia {Ensiklopedia Katolik}, “Heresy [Bidah]” 1914, Vol. 7, hal. 261:
“Seandainya Sri Paus sendiri secara terbuka bersalah atas bidah, ia akan berhenti
menjadi seorang Paus sebab ia berhenti menjadi anggota Gereja.”1
Bidah (heresy dalam bahasa Inggris) yaitu penolakan atau keraguan yang tegar dari orang yang telah
dibaptis tentang suatu artikel/pasal dari Iman ilahi dan Katolik. Dalam kata lain, orang yang telah
dibaptis yang secara sengaja menyangkal ajaran otoritatif Gereja Katolik yaitu seorang bidah.
Martin Luther, kemungkinan seorang bidah yang paling terkenal di dalam sejarah Gereja, mengajarkan
banyak ajaran sesat, antara lain, Pembenaran melalui iman saja
Di samping para Anti-Paus yang memimpin dari Roma akibat pemilihan-pemilihan yang tidak kanonik,
Gereja Katolik mengajarkan bahwa seandainya seorang Paus menjadi seorang bidah, ia akan secara
otomatis kehilangan jabatannya dan berhenti menjadi Paus. Ini yaitu ajaran semua Doktron dan Bapa
Gereja yang membahas perkara ini:
St. Robertus Bellarminus, Kardinal dan Doktor Gereja, De Romano Pontifice, II, 30
“Seorang Paus yang yaitu bidah secara manifes [terang-terangan] secara otomatis (per
se) berhenti menjadi Paus dan kepala, layaknya ia berhenti menjadi seorang Kristiani dan
seorang anggota dari tubuh Gereja. Maka dari itu, ia dapat dihakimi dan dihukum oleh Gereja. Ini
yaitu ajaran dari semua Bapa Kuno yang mengajarkan bahwa para bidah manifes langsung
kehilangan semua yurisdiksi.”
St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, II, 30:
“Prinsip ini yaitu prinsip yang teramat pasti. Seorang non-Kristiani sama sekali tidak
Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus
55
dapat menjadi Paus, seperti yang diakui oleh Gaetanus sendiri (ib. C. 26). Alasan untuk hal
ini yaitu ia tidak bisa menjadi kepala dari sesuatu yang di dalamnya ia bukan seorang
anggota; akan namun , barang siapa bukan seorang Kristiani bukanlah anggota Gereja, dan
seorang bidah manifes bukan seorang Kristiani seperti yang diajarkan secara jelas oleh St.
Siprianus (lib. 4, epist. 2), St. Atanasius (Scr. 2 cont. Arian), St. Agustinus (lib. De grat.
Christ. Cap. 20), St. Hieronimus (contra Lucifer.) dan lain-lain; maka, seorang bidah
manifes tidak dapat menjadi Paus.”
St. Fransiskus de Sales (abad ke 17), Doktor Gereja, The Catholic Controversy {Kontroversi
Katolik}, hal. 305-306:
“namun sewaktu ia [Sri Paus] yaitu seorang bidah secara eksplisit, ia secara ipso facto
jatuh dari pangkatnya dan berada di luar Gereja ....”
St. Antoninus (1459):
“Dalam kasus di mana Sri Paus menjadi seorang bidah, ia akan menyadari bahwa dirinya,
oleh sebab kenyataan itu sendiri dan tanpa vonis lainnya, terpisah dari Gereja. Sebuah
kepala yang terpisah dari sebuah tubuh tidak mungkin, selama kepala itu tetap terpisahkan,
merupakan kepala dari tubuh yang sama, yang darinya kepala itu terpenggal. Maka dari itu,
seorang Paus yang akan terpisah dari Gereja akibat bidah, ia, akibat kenyataan itu sendiri,
berhenti sebagai kepala Gereja. Ia tidak dapat menjadi seorang bidah dan tetap menjadi
Paus, sebab, sebab ia berada di luar Gereja, ia tidak dapat memiliki kunci-kunci Gereja.”
(Summa Theologica, dikutip di dalam Actes de Vatican I. V. Frond pub.)
Kenyataan bahwa seorang bidah dapat menjadi Paus bersumber dari dogma bahwa para
bidah bukanlah anggota Gereja Katolik
Harus dicatat bahwa ajaran dari para kudus dan Doktor Gereja, yang dikutip di atas – bahwa seorang
Paus yang menjadi seorang bidah secara otomatis berhenti menjadi Paus – bersumber dari dogma yang
infalibel bahwa seorang bidah bukanlah anggota Gereja Katolik.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino,” 1441:
“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa ‘semua
orang yang berada di luar Gereja Katolik, bukan hanya orang-orang pagan namun juga Yahudi
atau bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal dan akan
masuk ke dalam api yang kekal yang telah disiapkan untuk iblis dan para malaikatnya,’ kecuali
jika mereka bergabung ke dalam Gereja sebelum akhir hidup mereka ….”2
Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#23) 29 Juni 1943:
“ … tidak semua dosa, betapapun berat dan besarnya dosa itu, sedemikian rupa adanya sehingga
oleh sebab hakikatnya sendiri memisahkan seseorang dari Tubuh Gereja, seperti dosa
skisma, atau bidah, atau kemurtadan.”3
Kita dapat melihat Gereja Katolik mengajarkan bahwa bidah, skisma, atau kemurtadan memisahkan
manusia dari Gereja.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896:
“Praktik Gereja selalu sama, dan demikianlah pula penilaian yang semufakat dari para Bapa yang
kudus: yaitu, bahwa mereka telah selalu menganggap sebagai terbuang dari persekutuan
Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus
56
Katolik dan terasing dari Gereja siapa pun yang telah menyimpang bahkan sedikit pun dari
doktrin yang diajukan oleh Magisterium yang autentik.”4
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9):
“Tidak semua orang yang semata-mata tidak percaya akan hal-hal ini (yakni, bidah-bidah yang
telah disebutkan) dengan demikian dapat menganggap atau menyebut dirinya sendiri Kristen
Katolik. Sebab mungkin ada atau mungkin muncul bidah-bidah lainnya yang tidak
disebutkan di dalam karya kami ini, dan barang siapa menganut satu pun dari bidah-bidah
ini , ia bukan seorang Kristen Katolik.”5
Paus Inosensius III, Eius exemplo, 18 Desember 1208:
“Dari hati kami percaya dan dari mulut kami mengakui Gereja yang satu, yang tidak terdiri
dari para bidah, melainkan Gereja Roma yang Kudus, Katolik, dan Apostolik di luar mana kami
percaya bahwa tidak seorang pun diselamatkan.”6
Maka, gagasan bahwa seorang bidah akan berhenti menjadi Paus bukanlah sekadar opini dari beberapa
orang kudus dan doktor Gereja tertentu; gagasan itu merupakan suatu fakta yang tecara tak terpisahkan
terikat dengan ajaran dogmatis. Kebenaran yang secara tak terpisahkan terikat dengan ajaran dogmatis
disebut sebagai suatu fakta dogmatis. Maka, gagasan bahwa seorang bidah tidak dapat menjadi Paus
yaitu suatu fakta dogmatis. Seorang bidah tidak dapat menjadi Paus, sebab seseorang yang berada di
luar Gereja tidak dapat mengepalai lembaga yang di dalamnya ia bahkan bukan seorang anggota.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#15), 29 Juni 1896:
“Tidak seorang pun yang tidak berada dalam persekutuan dengan Petrus dapat mengambil
bagian dalam otoritasnya, sebab, yaitu suatu hal yang absurd untuk membayangkan bahwa
seseorang yang berada di luar Gereja dapat memerintah di dalam Gereja.”7
Paus Paulus IV mengeluarkan sepucuk Surat Bulla Kepausan yang secara
khidmat mendeklarasikan bahwa pemilihan seorang bidah sebagai Paus
bersifat batal demi hukum
Pada tahun 1559, Paus Paulus IV mengeluarkan sepucuk Surat Bulla Kepausan yang membahas perkara
kemungkinan terpilihnya seorang bidah menjadi Paus.
(Paus Paulus IV)
Sewaktu Paulus IV mengeluarkan Surat Bulla ini (yang dikutip di bawah) tersebar desas-desus
bahwa salah seorang dari para kardinal diam-diam yaitu seorang Protestan. Untuk mencegah
Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus
57
terpilihnya seorang bidah semacam itu untuk mengambil jabatan Kepausan, Paus Paulus IV secara
khidmat mendeklarasikan bahwa seorang bidah tidak dapat terpilih secara sah menjadi Paus.
Berikut bagian yang relevan dari Surat Bulla ini . Anda dapat melihat Surat Bulla ini secara lengkap
di dalam situs internet kami.
Paus Paulus IV, Surat Bulla Cum ex Apostolatus Officio, 15 Februari 1559:
”1 ... menimbang kenyataan bahwa … manakala bahaya menjadi semakin besar, bahaya itu pun
harus ditangani secara lebih penuh dan giat, agar para nabi palsu ataupun orang-orang lain yang
memiliki yurisdiksi sekuler tidak dengan durjananya menjebak jiwa-jiwa dari orang-orang yang
sederhana dan menyeret bersama diri mereka sendiri ke dalam kebinasaan serta pengutukan
yang jahanam orang-orang yang tak terhitung jumlahnya yang telah dipercayakan kepada
perhatian dan pemerintahan mereka dalam perkara-perkara rohani maupun duniawi, dan
agar Kami tidak akan mendapat kemalangan untuk
melihat sang Pembinasa keji, yang telah dibicarakan
oleh sang nabi Daniel, di dalam Tempat Suci dan dalam
keinginan diri Kami (sejauh mana Kami sanggup dengan pertolongan Allah, dan demi tanggung
jawab penggembalaan Kami) untuk menangkap rubah-rubah yang menyibukkan diri untuk
menghancurkan kebun anggur Tuhan, dan untuk menghalau serigala-serigala dari kandang
domba, agar Kami tidak tampak seperti anjing yang bisu yang tidak sanggup menggonggong, dan
binasa bersama dengan para petani yang jahat, dan diumpakan seperti pekerja upahan …
6. Di samping itu, [dengan Konstitusi Kami ini, yang tetap valid untuk selamanya … Kami
memberlakukan, menetapkan, mendekretkan dan mendefinisikan bahwa:-] jika pada waktu
kapan pun tampak bahwa Uskup mana pun (walaupun ia bertindak sebagai seorang Uskup
Agung, Patriark atau Primat), atau Kardinal mana pun dari Gereja Roma yang telah
disebutkan, bahkan seorang Duta Besar seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, atau
bahkan Sri Paus Roma, sebelum promosinya atau pengangkatannya sebagai Kardinal atau
Paus Roma, telah menyimpang dari Iman Katolik atau jatuh ke dalam suatu bidah:
(i) promosi atau pengangkatan ini , bahkan jika tidak ditentang dan tercapai lewat
persetujuan yang bulat suara dari semua Kardinal, tidak sah, batal, dan tidak bernilai;
(ii) tidak pun promosi atau pengangkatan ini dapat dikatakan telah memperoleh validitas,
atau akan memperoleh validitas, melalui penerimaan jabatan dan konsekrasinya, atau melalui
masa jabatannya yang selanjutnya dalam pemerintahan dan administrasi, atau peristiwa yang
disebut-sebut sebagai penakhtaannya sebagai Sri Paus Roma sendiri, atau melalui upeti yang
dibayar kepadanya, atau melalui kepatuhan yang diberikan kepadanya oleh semua orang, atau
dengan berjalannya waktu dalam situasi yang terlebih dahulu;
(iii) tidak pun satu bagian pun dari promosi atau pengangkatan ini dapat dipandang sebagai
legitim …
(vi) dan orang-orang yang dipromosikan dan diangkat secara demikian secara otomatis dan
tanpa perlu suatu deklarasi selanjutnya kehilangan segala jabatan, posisi, kehormatan, titel,
otoritas, kedudukan dan kuasa ...
10. Maka dari itu, tidak seorang pun diperkenankan untuk melanggar dokumen ini yang berasal
dari kesetujuan, restorasi, sanksi, undang-undang, derogasi, kehendak, dan dekret Kami, atau
dengan keberanian yang lancang menentangnya. Bagaimanapun, barang siapa sedemikian
gegabahnya sehingga berupaya melakukannya, hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan
Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus
58
mendapat murka dari Allah yang Mahakuasa dan dari Rasul-Rasul yang terberkati, Petrus dan
Paulus.
Diberikan di Roma di Gereja Santo Petrus pada tahun Penjelmaan Tuhan kita, tahun 1559, pada
tanggal 15 Februari, pada tahun keempat dari masa Kepausan Kami.
+Saya, Paulus, Uskup Gereja Katolik ....”
Dengan segenap otoritas Kepausannya, Paus Paulus IV mendeklarasikan bahwa pemilihan seorang bidah
bersifat tidak valid, meskipun pemilihan itu berlangsung dengan persetujuan yang semufakat dari semua
kardinal dan diterima oleh semua orang.
Paus Paulus IV juga mendeklarasikan bahwa ia sedang membuat pernyataan ini untuk melawan
kedatangan sang Pembinasa Keji, yang dibicarakan oleh Daniel, di dalam tempat suci. Hal ini
sangat menakjubkan, dan kelihatannya mengindikasikan bahwa Magisterium Gereja sendiri
menghubungkan kedatangan sang Pembinasa Keji di dalam tempat suci (Matius 24:15) dengan
seorang bidah yang memampangkan diri sebagai Paus – kemungkinan sebab sang bidah yang
memampangkan diri sebagai Paus akan memberi kita Pembinasa Keji di dalam tempat suci (Misa
Baru), seperti yang kami percayai memang demikian adanya, atau sebab sang Anti-Paus yang bidah
sendiri merupakan Pembinasa Keji di dalam tempat suci.
The Catholic Encyclopedia mengulangi kenyataan ini yang dideklarasikan oleh Paus Paulus IV dengan
menyatakan bahwa pemilihan seorang bidah sebagai Paus akan, tentunya bersifat batal dan tidak valid.
The Catholic Encyclopedia, “Papal Elections [Pemilihan Paus],” 1914, Vol. 14,
hal. 456:
“Tentunya, pemilihan seorang bidah, skismatis, atau perempuan
[sebagai Paus] bersifat batal dan tidak valid.”8
Sejalan dengan kenyataan bahwa seorang bidah tidak dapat menjadi Paus,
Gereja mengajarkan bahwa para bidah tidak bisa didoakan di dalam
kanon Misa
Seorang Paus didoakan di dalam doa Te Igitur dari kanon Misa. namun , Gereja juga mengajarkan bahwa
para bidah tidak bisa didoakan di dalam kanon Misa. Jika seorang bidah dapat menjadi Paus sejati, akan
terjadi suatu dilema yang tidak terpecahkan. namun hal ini sebetulnya bukanlah sebuah dilema
sebab seorang bidah tidak dapat menjadi Paus yang valid:
Libellus professionis fidei, 2 April 517, pernyataan iman yang ditetapkan di bawah Paus St.
Hormisdas: “Dan, maka dari itu, saya berharap bahwa saya dapat menjadi layak untuk berada di
dalam satu persekutuan bersama anda, yang diserukan oleh Takhta Apostolik, di dalam mana
ada keseluruhan dan kekukuhan agama Kristiani, yang berjanji bahwa di masa yang
mendatang nama dari mereka yang terpisahkan dari persekutuan Gereja Katolik, yaitu,
mereka yang tidak setuju dengan Takhta Apostolik, tidak akan dibacakan pada misteri-
misteri suci. namun jika saya mencoba dengan cara apa pun untuk menyimpang dari pengakuan
iman saya, saya mengakui bahwa saya sependapat bersama mereka yang telah saya kutuk.
Bagaimanapun, dengan tangan saya sendiri, saya telah menandatangani pengakuan iman saya,
Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus
59
dan kepada anda, HORMISDAS, Paus yang suci dan terhormat dari Kota Roma, saya telah
memberi nya.”9
Paus Benediktus XIV, Ex Quo Primum (#23), 1 Maret 1756:
“Di samping itu, para bidah dan skismatis terkena sensura ekskomunikasi mayor atas dasar
hukum Kanon De Ligu. 23, quest. 5, dan Kanon Nulli, 5, dist. 19. namun kanon-kanon suci milik
Gereja melarang doa publik bagi orang-orang yang diekskomunikasikan seperti yang
dapat kita lihat di dalam bab A nobis, 2, dan bab Sacris tentang vonis ekskomunikasi.
Walaupun vonis ini tidak melarang doa demi berkonversinya diri mereka, namun demikian doa
semacam itu tidak boleh dipanjatkan dengan mengucapkan nama-nama mereka dalam
doa khidmat selama kurban Misa berlangsung.”10
Paus Pius IX, Quartus Supra (#9), 6 Januari 1873:
“Itulah sebabnya, Yohanes, Uskup Konstantinopel, dengan khidmat mendeklarasikan – dan
seluruh Konsili Ekumenis Kedelapan melakukannya pula sesudah nya – ‘bahwa nama dari
mereka yang terpisahkan dari persekutuan dengan Gereja Katolik, yaitu dari mereka yang
tidak setuju dalam segala hal dengan Takhta Apostolik, tidak boleh dibacakan pada
misteri-misteri suci.’”11
7. Musuh-Musuh Gereja, Komunis dan
Freemason, Membuat Sebuah Usaha yang
Terorganisir untuk Menyusupi Gereja
Katolik
Para Anti-Paus dari sekte Vatikan II memberi jabat tangan Masonik
Paus Leo XIII, Dall’Alto (#2), 15 Oktober 1890:
“Sekarang tidaklah lagi perlu untuk menjatuhkan penghakiman kepada sekte-sekte Masonik.
Mereka telah dihakimi; tujuan mereka, jalan mereka dan doktrin-doktrin mereka, serta aksi mereka,
seluruhnya telah diketahui dengan kepastian yang tidak terpungkiri. Dirasuki roh Setan yang
memakai mereka sebagai alatnya, mereka terbakar seperti ia {Setan} dengan sebuah
kebencian yang mematikan dan tidak terpuaskan akan Yesus Kristus dan usaha-Nya; dan
mereka bersusah payah dengan segala cara untuk menggulingkan dan merantainya.”1
Paus Leo XIII, In Ipso (#1), 3 Maret 1891:
“Bagaimanapun, hal ini menyedihkan kami untuk berpikir bahwa musuh-musuh Gereja, bersatu di
dalam sebuah konspirasi yang terjahat, merencanakan untuk melemahkan dan bahkan, jika
mungkin, menghapus sama sekali struktur yang menakjubkan yang Allah Sendiri telah
dirikan sebagai naungan untuk umat manusia.”2
yaitu sebuah fakta yang diketahui secara umum bahwa para Komunis dan Freemason membuat usaha
yang terorganisir untuk menyusup Gereja Katolik. Mereka mengutus orang-orang mereka sendiri ke
Penyusupan Masonik dan Komunis
61
dalam imamat dengan harapan untuk melemahkan dan menyerang Gereja dengan cara memasukkan
orang-orang ini ke dalam posisi-posisi tinggi.
Bella Dodd melewatkan kebanyakan hidupnya di dalam Communist Party of America {Partai Komunis
Amerika} dan ditunjuk menjadi Jaksa Agung jika partai ini menang di Rumah Putih. sesudah
meninggalkan partai ini , ia mengungkapkan bahwa salah satu tugasnya sebagai seorang agen
Komunis yaitu untuk menyemangati para radikal muda (tidak seluruh radikal muda ini terdaftar
sebagai Komunis) untuk memasuki seminari Katolik. Ia berkata bahwa sebelum ia telah meninggalkan
partai ini di AS, ia telah mendorong hampir 1.000 radikal-radikal muda untuk menyusup seminari-
seminari dan ordo religius; ia sendiri hanyalah satu Komunis.
Bruder Joseph Natale, pendiri Biara Keluarga Terkudus, hadir di dalam salah satu ceramah Bella Dodd
pada awal 1950-an. Ia berkata:
“Saya mendengarkan wanita ini selama empat jam dan ia membuat bulu kuduk saya berdiri.
Semua yang ia katakan telah benar-benar terpenuhi. Anda akan berpikir bahwa ia yaitu seorang
nabi terbesar di dunia, namun ia bukanlah seorang nabi. Ia hanya menguak langkah-langkah dari
rencana peperangan Komunis untuk menyesatkan Gereja Katolik. Ia menjelaskan bahwa dari
semua agama-agama dunia, Gereja Katolik yaitu satu-satunya yang ditakuti oleh para Komunis,
sebab itulah satu-satunya musuhnya yang efektif.”3
Bella Dodd berkonversi kepada Katolisisme pada akhir hidupnya. Berbicara sebagai seorang eks-
Komunis, ia berkata: “Pada tahun 1930-an, kami menempatkan seribu seratus pria untuk menjadi
imam agar dapat menghancurkan Gereja dari dalam.” Idenya yaitu agar para pria ini
ditahbiskan, lalu memanjat tangga pengaruh dan otoritas sebagai monsinyur dan uskup. Pada waktu itu,
katanya: “Sekarang mereka sudah berada di dalam tempat-tempat tertinggi di dalam Gereja. Mereka
bekerja untuk mengubah aturan supaya Gereja Katolik menjadi tidak efektif melawan Komunisme.” Ia
juga berkata bahwa perubahan-perubahan ini akan menjadi sangat drastis sampai “anda tidak akan
mengenali Gereja Katolik.” (Ini yaitu 10 sampai 12 tahun sebelum Vatikan II.)
Bruder Joseph lalu menceritakan apa yang Bella Dodd telah katakan: “Ide keseluruhannya yaitu
untuk menghancurkan, bukan institusi Gereja, namun Iman dari para umat, dan bahkan
memakai institusi Gereja, jika mungkin, untuk menghancurkan Iman lewat promosi sebuah
agama palsu: sesuatu yang menyerupai Katolisisme, namun bukanlah agama yang asli. Sekalinya Iman
ini dihancurkan, ia menjelaskan bahwa akan ada sebuah kompleks rasa bersalah yang
diperkenalkan ke dalam Gereja... untuk memberi label ‘Gereja zaman dahulu’ sebagai opresif, otoriter,
penuh penghakiman, sombong dalam mengklaim sebagai satu-satunya pemilik kebenaran, dan
bertanggung jawab untuk perpecahan-perpecahan badan-badan keagamaan selama berabad-abad. Hal
ini akan menjadi diperlukan untuk memaksakan pemimpin-pemimpin Gereja ke dalam sebuah
‘keterbukaan kepada dunia’, dan kepada sebuah sikap yang lebih fleksibel kepada seluruh agama dan
filosofi. Para Komunis lalu akan mempergunakan keterbukaan ini untuk memperlemah Gereja.”4
Para Freemason membuat usaha-usaha yang mirip untuk menyusup Gereja Katolik dan
meluncurkan orang-orang mereka ke tingkat-tingkat tertinggi. Sebuah kelompok rahasia, Karbonari,
yang dikenal sebagai Alta Vendita, menulis rangkaian Permanent Instructions {Instruksi Permanen}, atau
Kode-kode Aturan, yang muncul di Italia pada tahun 1818. Hal itu menyatakan:
”...Telah menjadi kewajiban kelompok-kelompok rahasia untuk membuat langkah pertama
kepada Gereja dan kepada Paus, dengan maksud menaklukan keduanya. Usaha dengan mana
kami mengikat diri sendiri bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu hari, ataupun sebulan,
Penyusupan Masonik dan Komunis
62
tidak pun setahun. Usaha itu mungkin berlangsung selama bertahun-tahun, mungkin satu abad...
Yang harus kita minta, yang harus kita cari dan nantikan, layaknya para Yahudi
menantikan sang Mesias, yaitu seorang Paus yang sesuai keinginan kita. Kita memerlukan
seorang Paus untuk diri kita sendiri, jika Paus yang sedemikian mungkin adanya. Dengan Paus
yang seperti itu, kita akan berjalan dengan lebih aman untuk menyerbu Gereja, dibandingkan dengan
buku-buku kecil Prancis dan Inggris dari saudara-saudara kita.”5
Dokumen Freemason yang sama membuat prediksi yang menakjubkan berikut:
“Di dalam waktu seratus tahun... para uskup dan imam akan berpikir bahwa mereka berjalan
di belakang bendera dan kunci Petrus, padahal faktanya mereka akan mengikuti bendera
kita... Reformasi ini harus dijalankan dalam nama kepatuhan.”6
Badan-badan dan orang-orang ini yang termasuk gerakan-gerakan ini yaitu para agen yang
digunakan Setan untuk menyerang Gereja Kristus yang sejati.
Efesus 6:12- “sebab perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, namun melawan
pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang
gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
Pada tanggal 3 April 1844, pemimpin dari Alta Vendita yang bernama Nubius menulis sebuah surat
kepada seorang mason yang tinggi jabatannya. Surat ini berbicara kembali tentang sebuah
rencana untuk menyusup Gereja Katolik, dan usaha untuk memasukkan seorang ‘Paus’ masonik,
yang akan mempromosikan agama Freemasonry. “Sekarang, untuk memastikan bahwa seorang Paus
sesuai kebutuhan {kita}, kita harus pertama-tama mempersiapkan sebuah generasi yang layak akan
kerajaan yang kita impikan... Hendaknya para imam bergerak di bawah bendera anda (bendera
masonik) dengan memercayai bahwa mereka maju di bawah bendera kunci apostolik. Tebarkan
jalamu seperti Simon bin Yunus; tebarkanlah jalamu ke bawah sakristi, seminari, dan biara... Anda akan
menyelesaikan sebuah revolusi yang berpakaian mahkota tripel Paus dan jubah, membawa salib dan
benderanya, sebuah revolusi yang hanya memerlukan sebuah dorongan kecil untuk menyalakan api di
dalam keempat sudut dunia.”7
Eliph Levi, Freemason, berkata pada tahun 1862: “Suatu hari akan datang di mana sang Paus... akan
menyatakan bahwa semua ekskomunikasi dihapuskan dan semua kutukan ditarik, waktu di mana semua
umat Kristiani akan bergabung di dalam Gereja, di mana para Yahudi dan Muslim akan diberkati dan
dipanggil kembali ke dalamnya... Gereja akan memperbolehkan semua sekte untuk mendekatinya dan
memeluk semua manusia di dalam persekutuan cintanya dan doa-doanya. Lalu, para Protestan tidak lagi
ada. Kepada siapa mereka akan berprotes? Sang raja Paus akan lalu benar-benar menjadi raja dari dunia
rohani, dan ia akan melakukan apa yang ia inginkan bersama semua bangsa-bangsa dunia.”8
Seorang imam yang murtad dan seorang mantan pengacara hukum kanon,9 yang bernama Romo Roca
(1830-1893), sesudah diekskomunikasikan berkata: “Kepausan akan jatuh, ia akan mati di bawah pisau
suci yang bapa-bapa dari konsili terakhir akan tempa.”10 Roca juga berkata: “Anda harus memiliki dogma
baru, sebuah agama baru, sebuah pelayanan baru, dan ritus-ritus baru yang sangat menyerupai
kepunyaan Gereja. Penyembahan ilahi yang dipimpin oleh liturgi, upacara, ritus dan aturan-aturan Gereja
Katolik Roma akan sebentar lagi mengalami transformasi di dalam sebuah Konsili ekumenis.”11
Penyusupan Masonik dan Komunis
63
8. Revolusi Vatikan II (1962-1965)
Yves Marsaudon, Freemason derajat ke-33 dari Ritus Skotlandia, 1965:
” ... gagasan yang pemberani tentang kebebasan berpendapat ... – di sini, seseorang dapat
berbicara secara benar tentang suatu revolusi yang telah datang dari loji-loji Masonik
kami – telah dengan agung membentangkan sayapnya di atas kubah Basilika St. Petrus.”1
(Suatu sesi Vatikan II)
Vatikan II yaitu suatu konsili yang berlangsung dari tahun 1962-1965. Vatikan II yaitu sebuah konsili
sesat yang merupakan suatu revolusi melawan ajaran dan Tradisi Katolik selama 2000 tahun. Vatikan II
memuat banyak ajaran sesat yang secara langsung dikutuk sebelumnya oleh para Paus dan konsili-
konsili yang infalibel, seperti yang kita akan lihat. Vatikan II berupaya untuk memberi kepada para
umat Katolik suatu agama yang baru. Di dalam kurun waktu pasca-Vatikan II, perubahan-perubahan
besar di setiap aspek Iman Katolik berlanjut, termasuk implementasi sebuah Misa Baru.
(Sebelum Vatikan II) (sesudah Vatikan II)
Vatikan II juga mengeluarkan praktik-praktik baru serta pandangan-pandangan baru terhadap agama-
agama lain. Gereja Katolik tidak dapat mengubah ajarannya tentang agama-agama lain dan bagaimana ia
memandang anggota-anggota agama-agama lain, sebab hal-hal semacam ini yaitu kebenaran Iman
Revolusi Vatikan II
65
yang disampaikan oleh Yesus Kristus. Vatikan II mencoba untuk mengubah kebenaran-kebenaran Gereja
Katolik ini .
Vatikan II dihimpun oleh Yohanes XXIII, dan secara khidmat dipermaklumkan dan diteguhkan oleh
Paulus VI pada tanggal 8 Desember 1965. Vatikan II bukanlah suatu konsili umum atau ekumenis yang
sejati dari Gereja Katolik sebab , seperti yang kita akan lihat secara rinci, konsili ini diadakan dan
diteguhkan oleh para bidah manifes (Yohanes XXIII dan Paulus VI) yang tidak memenuhi syarat untuk
terpilih sebagai Paus (lihat Konstitusi Apostolik Paulus IV di atas). Buah-buah Vatikan II sangatlah mudah
untuk dilihat. Seorang Katolik yang jujur yang hidup sebelum konsili ini dan yang
membandingkannya dengan agama yang ada di dalam dioses-dioses di zaman ini dapat memberi
kesaksian akan fakta bahwa Vatikan II memulai suatu agama baru.
- Bidah yang Paling Spesifik di dalam Vatikan II –
Vatikan II memakai kata kerja yang digunakan oleh Konsili Florence untuk
mengajarkan hal yang justru berlawanan
Konsili Florence secara dogmatis mendefinisikan bahwa seorang individu yang memiliki suatu
pandangan yang berlawanan dengan ajaran Gereja Katolik tentang Tuhan kita Yesus Kristus atau Allah
Tritunggal, atau salah satu pun dari kebenaran-kebenaran tentang Tuhan kita atau Allah Tritunggal,
ditolak oleh Allah.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Bulla Cantate Domino, 1442, ex cathedra:
” ... Gereja Roma yang Kudus, yang dibangun oleh suara Tuhan dan Juru Selamat kita, dengan
teguh percaya, mengakui, dan mengkhotbahkan satu Allah yang esa dan sejati, Mahakuasa, yang
tidak dapat berubah dan abadi; Bapa, Putra, dan Roh Kudus … Maka, semua orang yang
percaya akan pandangan-pandangan yang bertentangan atau berlawanan, Gereja
mengutuk, menolak, menganatemakan, dan mencela mereka sebagai terasing dari tubuh
Kristus yang yaitu Gereja.”2
Ini yaitu definisi dogmatis yang infalibel dari Gereja Katolik tentang individu-individu yang memiliki
pandangan tentang Tuhan kita Yesus Kristus atau Allah Tritunggal Mahakudus yang berlawanan dengan
pandangan Gereja (misal. orang-orang Yahudi, Muslim, dsb.). Konsili Florence mendefinisikan secara
khidmat bahwa siapa pun yang memiliki pandangan yang berlawanan dengan pandangan Gereja tentang
Tuhan kita dan Allah Tritunggal (misal. orang-orang Yahudi) dikutuk dan ditolak! Catatan: Konsili
Florence tidak semata-mata berkata bahwa pandangan yang berlawanan tentang Tuhan kita ditolak,
namun bahwa individu ini (misal. orang Yahudi itu) ditolak. Dogma ini bersumber dari kebenaran
yang secara spesifik diwahyukan oleh Tuhan kita di dalam Kitab Suci.
Matius 10:33- “namun barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan
menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”
Kata “menyangkal” berarti menolak. Orang yang menyangkal Tuhan kita ditolak oleh-Nya. namun di
dalam Dekret tentang Agama-Agama Non-Kristiani, Vatikan II justru mengajarkan hal yang sama sekali
berlawanan.
Revolusi Vatikan II
66
Deklarasi Vatikan II, Nostra Aetate (#4):
“Walaupun Gereja yaitu umat Allah yang baru, namun orang-orang
Yahudi tidak boleh digambarkan sebagai ditolak atau dikutuk oleh
Allah, seakan-akan hal itu berasal dari Kitab Suci.”3
Vatikan II menyangkal kebenaran yang diwahyukan secara ilahi di dalam Matius 10:33, yang
didefinisikan secara khidmat oleh Konsili Florence. Ajaran Vatikan II jelas merupakan bidah.
namun bidah ini menjadi lebih buruk jika seseorang mempertimbangkannya dengan lebih rinci. Jika
anda meragukan bidah ini, pertimbangkan hal berikut:
Vatikan II vs. Konsili Dogmatis Florence
Nostra Aetate #4 dari Vatikan II: ”... orang-orang
Yahudi tidak boleh digambarkan sebagai ditolak
atau dikutuk oleh Allah ….”
Vatikan II, Nostra Aetate #4, Latin Orisinal:
“…Iudaei tamen neque ut a Deo reprobati neque ut
maledicti exhibeantur…”4
Konsili Dogmatis Florence: “Maka, semua orang
yang percaya akan pandangan-pandangan yang
bertentangan atau berlawanan, Gereja mengutuk,
menolak, menganatemakan, dan mencela mereka
sebagai terasing dari tubuh Kristus yang yaitu
Gereja.”
Konsili Florence dalam bahasa Latin:
“Quoscunque ergo adversa et contraria
sentientes damnat, reprobat et anathematizat
et a Christi corpore, quod est ecclesia, alienos
esse denuntiat.”5
Untuk membuat deklarasi dogmatis yang infalibel bahwa Gereja menolak semua orang yang memiliki
pandangan yang berlawanan terhadap iman akan Tuhan kita atau Allah Tritunggal, Konsili Florence di
dalam bahasa Latin orisinalnya memakai kata “reprobat”, yang berarti “menolak”. Kata ini
berasal dari kata kerja Latin reprobo, yang berarti “Saya menolak” atau “mengutuk”.
namun kenyataan yang sungguh menakjubkan yaitu demikian: Di dalam Nostra Aetate #4 (Dekret
Vatikan II tentang Agama-Agama Non-Kristiani), untuk menyatakan hal yang sepenuhnya berlawanan,
Vatikan II memakai kata kerja yang sama! Vatikan II memakai “reprobati”, yang merupakan
partisip perfek pasif dari reprobo – kata kerja yang sama yang digunakan oleh Konsili Florence!
Hal ini berarti Vatikan II dan Konsili Florence sedang berbicara tentang hal yang persis sama –
keduanya memakai kata kerja yang sama – dan keduanya mengajarkan hal yang sama sekali
berlawanan! Gereja Katolik mendefinisikan bahwa Gereja me-reprobat-kan (menolak) semua individu
(orang Yahudi, dsb.) yang berpendapat secara berlawanan dengan Iman akan Kristus atau Allah
Tritunggal. Vatikan II mengatakan bahwa para Yahudi tidak boleh digambarkan sebagai “reprobati”
(yakni, telah ditolak). Vatikan II hampir tidak dapat menentang dogma Katolik dengan lebih persis!
Tidak mungkin ada keraguan bahwa Vatikan II menentang ajaran dogmatis dari Konsili Florence.
Walaupun ada banyak bidah yang terang-terangan di dalam Vatikan II, seperti yang kita akan lihat,
seperti yang kita akan lihat, bidah ini yaitu bidah yang paling spesifik. Seseorang yang menyangkal
bahwa Vatikan II mengajarkan ajaran sesat, di hadapan fakta-fakta ini, hanyalah seorang pendusta.
Bidah di dalam Deklarasi Vatikan II Nostra Aetate yaitu fondasi teologis untuk ajaran Vatikan II di
zaman ini tentang orang-orang Yahudi. Itulah alasan bahwa Vatikan pada masa kini menerbitkan buku-
Revolusi Vatikan II
67
buku yang mengajarkan bahwa para Yahudi sama sekali bebas untuk hidup seakan-akan Kristus belum
datang. Itulah alasan bahwa sekte Vatikan II mengajarkan bahwa Perjanjian yang Lama tetap sah. Itulah
alasan mengapa Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI melakukan perjalanan-perjalanan ke Sinagoga
dalam upaya untuk memberi validitas kepada agama Yahudi, yang akan kita lihat.
Bidah-Bidah Utama yang Lain dari Vatikan II
Sekarang kami akan membahas bidah-bidah lain yang ditemukan di dalam dokumen-dokumen Vatikan II
berikut:
1. Unitatis Redintegratio – Dekret tentang Ekumenisme
2. Orientalium Ecclesiarum – Dekret tentang Gereja Katolik Timur
3. Lumen Gentium – Konstitusi “Dogmatis” tentang Gereja
4. Dignitatis Humanae – Deklarasi tentang Kebebasan Beragama
5. Ad Gentes – Dekret tentang Aktivitas Misionaris
6. Nostra Aetate – Dekret tentang Agama-Agama Non-Kristiani
7. Gaudium et Spes – Konstitusi Gereja di dalam Dunia Modern
8. Sacrosanctum Concilium – Konstitusi tentang Liturgi Kudus
Ajaran-ajaran sesat di dalam tiap Dokumen
1. Unitatis Redintegratio - Dekret Vatikan II tentang Ekumenisme
Dokumen Vatikan II, Unitatis Redintegratio #1:
“Bagaimanapun, hampir semua orang, walaupun dengan cara yang berbeda-beda, merindukan Gereja
Allah yang satu, Gereja yang sungguh universal itu yang memiliki misi untuk mengonversikan seluruh
dunia kepada Injil, agar dunia dapat memperoleh keselamatan, demi kemuliaan Allah.”6
Pada permulaan dari dokumennya, Dekret tentang Ekumenisme, Vatikan II mengajarkan bahwa hampir
semua orang merindukan suatu Gereja yang sungguh universal. Gereja manakah yang sungguh universal
itu, yang memiliki misi untuk mengonversikan dunia kepada Injil? Gereja itu tentunya yaitu Gereja
Katolik, yang merupakan satu-satunya Gereja Kristus yang sejati. Lantas, apakah yang sedang
dibicarakan oleh Vatikan II ini? Mengapa Vatikan II mengajarkan bahwa hampir semua orang
merindukan Gereja Kristus yang sungguh universal itu, walaupun sebenarnya kita sudah memiliki Gereja
semacam itu? Jawabannya: Vatikan II mengajarkan bahwa orang-orang harus merindukan Gereja Katolik
Revolusi Vatikan II
68
yang sejati sebab menurut ajaran Vatikan II, Gereja ini belum ada! Bagi orang-orang yang ragu
bahwa di sini, Vatikan II menyangkal adanya Gereja Katolik, kami akan mengutip interpretasi Yohanes
Paulus II sendiri tentang paragraf ini.
Yohanes Paulus II, Homili, 5 Des. 1996, berbicara tentang doa bersama orang-orang non-Katolik:
“Sewaktu kita berdoa bersama, kita melakukannya dengan kerinduan ‘bahwa akan ada
Gereja Allah yang satu dan kelihatan, Gereja yang sungguh universal dan yang diutus kepada
seluruh dunia agar dunia dapat berkonversi kepada Injil dan oleh sebab itu memperoleh
keselamatan, demi kemuliaan Allah.’ (Unitatis Redintegratio, 1.).”
Di sini kita melihat bahwa Yohanes Paulus II sendiri menegaskan bahwa kerinduan akan Gereja Allah
yang satu dan kelihatan yaitu kerinduan di kedua belah pihak – Katolik dan non-Katolik. Maknanya
yaitu bahwa di dalam Dekret tentang Ekumenisme-nya (yang dikutip oleh Yohanes Paulus II), Vatikan II
memang merindukan Gereja Allah yang satu dan universal. Dengan demikian, Vatikan II menyangkal
kenyataan bahwa Gereja Katolik yaitu Gereja Kristus yang satu dan universal.
Unitatis Redintegratio juga menegaskan bahwa semua orang-orang yang sudah dibaptis, yang mengaku
“Kristen” berada di dalam persekutuan dengan Gereja dan memiliki hak untuk menyandang nama
Kristen, tanpa menyebutkan sama sekali bahwa mereka perlu berkonversi kepada iman Katolik untuk
memperoleh keselamatan.
Vatikan II, Unitatis Redintegratio #3:
“Sebab manusia yang percaya akan Kristus dan telah dibaptis secara valid berada di dalam
persekutuan dengan Gereja Katolik walaupun persekutuan ini tidak sempurna. Perbedaan-
perbedaan yang ada dalam berbagai derajat antara mereka dan Gereja Katolik – baik dalam hal
doktrin maupun terkadang dalam hal disiplin, atau mengenai struktur Gereja – memang
menciptakan banyak hambatan, yang terkadang merupakan hambatan-hambatan yang serius
terhadap persekutuan gerejawi yang penuh. Gerakan ekumenis berjuang untuk mengatasi
hambatan-hambatan ini. namun kendati hambatan-hambatan ini , tetaplah benar
adanya bahwa semua orang yang telah dibenarkan oleh iman yang diterima di dalam
Pembaptisan diinkorporasikan ke dalam Kristus, dan memiliki hak untuk menyandang
nama Kristen, dan oleh sebab itu, mereka secara benar diterima sebagai saudara-saudara
oleh anak-anak Gereja Katolik.”7
Perhatikan: Vatikan II mengajarkan bahwa para anggota sekte Protestan dan skismatis berada di dalam
persekutuan dengan Gereja Katolik (walaupun persekutuan itu tidak sempurna), dan merupakan
saudara-saudara dari Gereja yang sama, serta memiliki hak untuk menyandang nama Kristen. Gereja
Katolik, sebaliknya, mengajarkan bahwa mereka berada di luar persekutuan Gereja dan terasing dari
umatnya. Ajaran Gereja Katolik ini menentang secara langsung ajaran Vatikan II:
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896:
“Adat Gereja selalu sama, dan juga diteguhkan oleh putusan semufakat para Bapa yang kudus.
Mereka tentunya terbiasa menganggap siapa saja yang telah menyimpang sesedikit apa
pun dari doktrin yang diajukan oleh Magisterium otoritatif, sebagai orang yang sama
sekali bukan bagian dari persekutuan Katolik dan terasing dari Gereja.”8
Kutipan berikut berasal dari sebuah artikel yang ada di dalam publikasi yang dibaca banyak orang
dan disetujui oleh sekte Vatikan II, St. Anthony Messenger [Utusan St. Antonius]. Kita dapat melihat
bagaimana publikasi yang “disetujui” ini memahami ajaran Vatikan II dalam Dekret tentang Ekumenisme
Vatikan II.
Revolusi Vatikan II
69
Renee M. Lareau, “Vatican II for Gen-Xers {Vatikan II untuk Generasi X},” St. Anthony Messenger,
November 2005, hal. 25:
“Unitatis Redintegratio (Dekret tentang ekumenisme) dan Nostra Aetate (Deklarasi
tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Non-Kristiani) mempertunjukkan
perubahan-perubahan yang menonjol dalam sikap-sikap Gereja terhadap iman-iman yang
lain. Jika kita mempertimbangkan institusi ini yang pada suatu kala picik, yang dahulunya
menekankan bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja dan bahwa Gereja Katolik yaitu
Gereja Kristus yang satu dan sejati, keterbukaan pikiran yang merupakan ciri-ciri dari
ajaran-ajaran ini sangatlah menakjubkan. Unitatis Redintegratio menegaskan bahwa
Gereja mengikutsertakan semua orang Kristen dan tidak terbatas hanya kepada Gereja
Katolik, sedangkan Nostra Aetate mengakui bahwa kebenaran dan kesucian agama-agama non-
Kristiani merupakan karya dari Allah benar yang esa dan yang sama.”9
Apakah Renee salah mengerti Vatikan II? Tidak, kami baru saja menunjukkan bahwa Unitatis
Redintegratio memang mengajarkan hal yang satu ini. Sekarang kita akan melihat bahwa dekret ini
menentang bahwa Gereja sepenuhnya Katolik dan menegaskan bahwa sekte-sekte yang telah disebutkan
memiliki keselamatan.
Dokumen Vatikan II, Unitatis redintegratio (#4):
“Bagaimanapun, perpecahan-perpecahan antara para umat Kristen mencegah Gereja untuk
mewujudkan secara nyata Katolisitas yang penuh, yang merupakan ciri khas Gereja, di dalam diri
para putra-putrinya yang, walaupun dijadikan miliknya oleh pembaptisan, tetap terpisahkan dari
persekutuan yang penuh dengan Gereja. Di samping itu, Gereja sendiri merasakan kesulitan yang
lebih besar untuk mengungkapkan di dalam kehidupannya yang riil segenap Katolisitasnya di
dalam semua aspeknya.”10
Di sini, di dalam #4 dari Dekret tentang Ekumenisme yang sama, Vatikan II menyangkal kenyataan bahwa
Gereja Kristus sepenuhnya Katolik! Jika anda percaya akan ajaran Vatikan II ini, anda bahkan tidak akan
dapat berdoa Aku Percaya: “Aku percaya akan... Gereja Katolik yang kudus.” Anda harus berkata “Aku
percaya akan Gereja yang tidak sepenuhnya Katolik.” namun mengapa Vatikan II mengajukan suatu bidah
yang sedemikian konyolnya? ada suatu alasan. Arti kata Katolik yaitu “universal”. Seperti yang
telah kita lihat, Vatikan II menolak bahwa Gereja Katolik yaitu Gereja Kristus yang universal dengan
mengajarkan bahwa semua orang merindukan Gereja yang universal, seolah-olah Gereja semacam itu
tidak











