Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 3. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 3

 


erbagai derajat 

keputusasaan, mendukung konsili ini  terlepas siapakah Sri Paus yang sejati atau bagaimana 

konsili ini  harus diotorisasikan.”20 

SAMPAI PADA AKHIR SKISMA BARAT BESAR, TIDAK SATU PUN PAUS SEJATI DI DALAM SEJARAH 

GEREJA MEMILIKI DUKUNGAN YANG SEKECIL PAUS GREGORIUS XII 

Pada tahun 1411, Sigismund, Kaisar Romawi Suci yang baru saja terpilih, mengikuti sentimen umum dan 

meninggalkan Paus sejati, Gregorius XII. 

“Sigismund menginginkan persetujuan elektoral yang serempak, dan sehubungan dengan 

ditinggalkannya Gregorius oleh mereka yang tadinya mematuhi Gregorius XII (terutama di 

Italia dan Inggris), kepercayaan Sigismund terhadap keabsahan Gregorius XII telah secara tulus 

Skisma Barat Besar 

48 

 

tergoyahkan... Tidak ada  Paus sejati di dalam sejarah Gereja yang memiliki dukungan 

sekecil Paus Gregorius XII, sesudah  Konsili Pisa.”21 

Anti-Paus yang baru saja dipilih, Aleksander V, tidak hidup lama. Ia meninggal kurang dari satu tahun 

sesudah  pemilihannya di bulan Mei 1410. Untuk meneruskannya, tanggal 17 Mei 1410, para kardinal Pisa 

memilih kembali secara serempak Baldassare Cossa sebagai Yohanes XXIII. Seperti pendahulunya, 

Aleksander V, Yohanes XXIII juga mendapat  dukungan terbesar dari antara para klaiman yang lain. 

“Walaupun masih ada  tiga klaiman kepausan, Yohanes [XXIII] mendapat  

dukungan yang paling besar, Prancis, Inggris, dan beberapa negara Italia dan Jerman juga 

mengakuinya. Dibantu oleh Louis dari Anjou... ia dapat menetapkan dirinya di Roma.”22 

Seperti yang kita lihat, Anti-Paus Yohanes XXIII mampu memerintah dari Roma. Yohanes XXIII (1410-

1415) yaitu  Anti-Paus terakhir yang memerintah dari Roma, sampai kemurtadan pasca-Vatikan II, yang 

dimulai dengan seorang pria yang juga menyebut dirinya sendiri sebagai Yohanes XXIII (Angelo Roncalli, 

1958-1963). 

Pada tahun keempat dari masa pemerintahannya sebagai seorang Anti-Paus, Anti-Paus Yohanes XXIII 

menghimpun Konsili Konstanz pada tahun 1414 atas desakan dari Kaisar Sigismund. Sangatlah menarik 

menarik bahwa Yohanes XXIII (yang baru-baru ini) juga mengadakan Vatikan II pada tahun keempat dari 

masa pemerintahannya, di tahun 1962. Dan seperti Vatikan II, Konsili Konstanz bermula sebagai sebuah 

konsili yang palsu, sebab  digelar oleh seorang Anti-Paus. 

Pada fase skisma ini, Kaisar Sigismund bertekad untuk menyatukan Kekristenan dengan mencoba 

membuat ketiga klaiman untuk turun takhta. Sewaktu Anti-Paus Yohanes XXIII menyadari bahwa ia tidak 

akan diterima sebagai Paus yang sejati di Konsili Konstanz, ia melarikan diri dari konsili itu. “Pada sore 

hari itu, Cossa melarikan diri dari Konstanz, dengan menunggang seekor kuda hitam kecil (suatu kontras 

terhadap sembilan kuda putih di belakang mana ia memasuki kota pada bulan Oktober), berkerudungkan 

sebuah mantel kelabu untuk menyembunyikan sebagian besar badan dan mukanya...”23 

Anti-Paus Yohanes XXIII lalu secara resmi dikutuk dan digulingkan oleh konsili itu. Sebuah mandat dari 

Kaisar dikirimkan untuk menangkapnya; Ia ditangkap dan dipenjarakan. Di dalam penjara, Anti-Paus 

Yohanes XXIII “menyerahkan meterai Kepausannya serta cincin nelayannya, dengan air mata, kepada 

para perwakilan dari konili itu.” Ia menerima keputusan konsili itu terhadap dirinya tanpa protes.24 

“Sewaktu Konsili Konstanz (yang dianggap sebagian atau secara keseluruhan sebagai 

konsili umum yang keenam belas (1414-1417)... telah menggulingkan Yohanes [XXIII], 

konsili ini membuat negosiasi-negosiasi dengan Gregorius, yang mengungkapkan kepada 

konsili ini  kehendaknya untuk turun takhta dengan syarat bahwa ia diizinkan secara 

resmi untuk kembali memanggil para prelat serta dignitaris yang berhimpun sebagai 

suatu konsili umum; sebagai Paus, ia tidak dapat mengakui sebuah konsili yang diadakan oleh 

Yohanes. Prosedur ini diterima, dan pada sesi khidmat ke-14, pada tanggal 4 Juli 1415, 

kardinalnya, Jean Dominici, membaca bulla yang menghimpun konsili itu; di sana, Carlo Malatesta 

[Paus Gregorius XII] mengumumkan pemakzulannya. Kedua dewan kardinal bersatu, akta-akta 

Gregorius XII di dalam Kepausannya dipermaklumkan...”25 

Maka, sesudah  Anti-Paus Yohanes XXIII telah digulingkan, Paus Gregorius XII setuju untuk menghimpun 

Konsili Konstanz (agar dapat memberi  kepada konsili ini  keabsahan Kepausan, yang tidak dapat 

diberikan kepada konsili ini  oleh Yohanes XXIII) dan lalu untuk turun takhta dalam harapan untuk 

mengakhiri skisma itu. 

Skisma Barat Besar 

49 

 

Pada waktu itu, Anti-Paus Benediktus XIII (klaiman dari Avignon) telah didatangi oleh Kaisar Sigismund 

yang memintanya untuk mengundurkan diri. Ia bersikeras menolak sampai akhirnya, namun  pada saat ini, 

sentimen umum sungguh telah menentangnya sehingga jumlah pengikutnya berkurang secara drastis. 

“Sigismund, yang telah melakukan segala hal yang ia dapat lakukan untuk meyakinkan 

Benediktus XIII dari urut-urutan Avignon untuk mengundurkan diri, berhasil mencabut Spanyol 

yang tadinya mendukung Benediktus XIII. Di sana, pada tanggal 16 Juli 1415, konsili ini  

mengumumkan penggulingannya.”26 

sesudah  kedua Anti-Paus digulingkan, dan Sri Paus yang sejati telah mengundurkan diri, Konsili Konstanz 

lalu memilih Paus Martinus V pada tanggal 11 November 1417, menyudahi secara resmi Skisma Barat 

Besar (urut-urutan Anti-Paus dari Avignon berlanjut sesudah  kematian Anti-Paus Benediktus XIII dengan 

pemilihan Anti-Paus Klemens VIII sebagai penerusnya oleh empat kardinal yang tersisa. Kardinal-

kardinal ini  lalu menganggap pemilihan Anti-Paus Klemens VIII sebagai tidak sah, dan memilih 

Anti-Paus Benediktus XIV; namun , pada waktu penggulingan Anti-Paus Benediktus XIII oleh Konsili 

Konstanz, urut-urutan Avignon telah benar-benar kehilangan dukungan sehingga kedua penerus terakhir 

dari Anti-Paus Benediktus XIII sedemikian tidak signifikan sehingga hanya patut mendapat  suatu 

catatan kaki.) 

KESIMPULAN : APA YANG KITA PELAJARI DARI SKISMA BARAT BESAR UNTUK MASA INI 

Di dalam artikel ini, kita telah membahas salah satu bab yang paling penting dalam sejarah Gereja. 

Selanjutnya, kita telah melihat beberapa  hal yang sangat penting – yang relevan dengan situasi di mana 

kita hidup. 

  Kita melihat bahwa para Anti-Paus dapat berada. 

  Kita melihat bahwa para Anti-Paus dapat memerintah dari Roma. 

  Kita melihat bahwa semua kardinal yang hidup, segera sesudah  pemilihan Paus Urbanus VI, 

menolaknya (Sri Paus yang sejati) dan mengakui Anti-Paus Klemens VII. Hal ini menggambarkan 

bahwa sama sekali bukan hal bertentangan dengan indefektibilitas (yaitu janji Kristus bahwa Ia 

akan selalu bersama Gereja-Nya dan kepausan sampai akhir zaman) fakta bahwa seluruh 

kardinal mengakui seorang Anti-Paus. 

 

  Kita telah melihat bahwa kebanyakan teolog zaman itu mendukung urutan ketiga – urutan Anti-

Paus dari Pisa. Urutan Anti-Paus ini  pastilah merupakan sebuah pilihan yang menggoda 

untuk banyak orang sebab  para kardinal dari kedua kubu mendukungnya. Hal ini menunjukkan 

bahwa kadangkala Allah dapat membiarkan situasi menjadi begitu kacau, tanpa melanggar janji-

janji-Nya yang Ia telah buat kepada Gereja-Nya. Di samping itu, mayoritas dari dukungan teolog 

untuk urut-urutan Pisa menunjukkan dengan jelas bahwa ajaran umum dari para teolog tentang 

suatu hal tertentu (contoh, tentang keselamatan), terlepas betapa terpelajarnya para teolog itu, 

tidaklah mengikat, bertentangan dengan apa yang dipercayai beberapa orang di masa kini. 

 

  Kita telah melihat bahwa prinsip bahwa seorang bidah terang-terangan tidak dapat dianggap 

sebagai seorang Paus yaitu  sebuah konsep yang kuno, dan telah diungkapkan oleh sang kanonis 

utama pada waktu itu, Baldus. 

 

  Kita telah melihat bahwa keadaan begitu buruknya dan begitu putus asanya pada saat Skisma 

Barat Besar, sehingga orang-orang sama sekali tidak melihat jalan keluar dari malapetaka ini – 

sebuah malapetaka di mana kita memiliki pada waktu yang bersamaan tiga uskup yang 

Skisma Barat Besar 

50 

 

bersaingan, tiga superior yang bersaingan, dan tiga klaiman Kepausan yang bersaingan, yang 

saling mengekskomunikasikan satu sama lain. 

 

  Dengan mengetahui ha ini, kita dibantu untuk melihat bahwa apa yang kami telah 

buktikan atas dasar doktrin, yaitu sebuah urut-urutan Anti-Paus sejak Vatikan II telah 

memberlakukan kepada dunia suatu agama baru yang palsu, yang telah mengurangi 

Gereja Katolik sejati menjadi suatu sisa (yang menggenapi nubuat Kitab Suci dan Katolik 

tentang penyesatan di dalam Kemurtadan Besar dan akhir zaman) bukanlah sebuah 

KEABSURDAN PATEN seperti yang dikatakan oleh beberapa orang. 

 

Sebaliknya, jika Allah mengizinkan malapetaka di atas terjadi pada saat Skisma Barat 

Besar (yang hanyalah sebuah perkenalan kepada Kemurtadan Besar), dengan beberapa 

Anti-Paus yang memerintah pada waktu yang bersamaan dan bahwa sang Paus sejati 

yaitu  yang paling lemah dari ketiganya, malapetaka dan penyesatan macam apa yang Ia 

akan izinkan (tanpa pernah melanggar janji yang Ia telah buat kepada Gereja-Nya) dengan 

para Anti-Paus pada saat pengadilan rohani terakhir, yang akan menjadi yang paling 

menyesatkan dari antara yang lain? yaitu  suatu KEABSURDAN PATEN, dan yang ditolak 

secara langsung oleh ajaran Katolik dan fakta-fakta dari sejarah Gereja, untuk 

menyatakan bahwa suatu urut-urutan Anti-Paus yang telah menciptakan suatu sekte palsu 

untuk menentang Gereja sebagai suatu kemustahilan. Terlebih lagi, yaitu  suatu hal yang 

luar biasa tercelanya untuk menyatakan bahwa suatu keadaan semacam itu yaitu  “keabsurdan 

paten” sesudah  merevieu fakta-fakta yang tak terpungkiri yang telah kami kemukakan untuk 

membuktikannya sebagai benar. 

 

Kami menyudahi sintesis tentang Skisma Barat Besar ini dengan mengutip Romo Edmund James 

O’Reilly, SJ. Ia mengatakan hal-hal yang sangat menarik tentang Skisma Barat Besar di dalam 

bukunya The Relations of the Church to Society – Theological Essays {Hubungan Gereja dengan 

Masyarakat – Esai Teologi}, yang ditulis pada tahun 1882. Di dalamnya, ia menyebutkan 

kemungkinan ada nya sebuah interregnum kepausan (kurun waktu di mana tidak ada Paus), 

yang mencakup seluruh kurun waktu Skisma Barat Besar (hampir 40 tahun). 

Berikut kutipan dari diskusi Romo O’Reilly tentang Skisma Barat Besar. 

“Kita dapat berhenti disini untuk bertanya apa yang harus dikatakan tentang posisi ini , 

pada waktu itu, tentang ketiga klaiman, dan hak-hak mereka sehubungan dengan Kepausan. 

Pertama-tama, ada  di sepanjang waktu seorang Paus sejak kematian Gregorius XI pada 

tahun 1378 – kecuali tentunya pada saat interval-interval antara kematian-kematian dan 

pemilihan-pemilihan untuk memenuhi kekosongan yang terjadi oleh sebab  hal-hal ini . 

Selalu ada , ujar saya, pada setiap waktu seorang Paus yang sungguh memiliki jabatan 

sebagai Wakil Kristus dan Kepala Gereja, terlepas pendapat orang tentang keaslian Paus ini ; 

namun  bukan berarti sebuah interregnum yang berlangsung selama seluruh kurun waktu 

ini  tidak mungkin terjadi atau bertentangan dengan janji Kristus, sebab  hal ini sama 

sekali tidak terwujud, namun  bahwa, kenyataannya, tidak ada  sebuah interregnum semacam 

itu.”27 

Romo O’Reilly berkata bahwa sebuah interregnum (sebuah kurun waktu di mana tidak ada seorang 

Paus) yang mencakup seluruh kurun waktu Skisma Barat Besar bukanlah hal yang bertentangan dengan 

janji Kristus tentang Gereja-Nya. Periode yang dikatakan oleh Romo O’Reilly bermula pada tahun 1378 

Skisma Barat Besar 

51 

 

dengan meninggalnya Paus Gregorius XI dan yang berakhir pada dasarnya pada tahun 1417 dengan 

pemilihan Paus Martinus V. Interregnum ini  berlangsung selama tiga puluh sembilan tahun! 

Romo O’Reilly menulis sesudah  Konsili Vatikan Pertama, jelas bahwa ia memihak sisi dari mereka, yang 

dalam menolak Anti-Paus Yohanes XXIII, Paulus VI, Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II dan Benediktus 

XVI, mendukung kemungkinan akan terjadinya kekosongan Takhta Suci dalam kurun waktu yang lama. 

Bahkan, pada halaman 287 dari bukunya, Romo O’Reilly memberi  peringatan berikut yang 

merupakan sebuah nubuat: 

“Skisma besar di Dunia Barat membuat saya teringat akan suatu renungan yang langsung saja 

saya tuangkan di sini. Seandainya skisma ini dahulu tidak terjadi, hipotesis terjadinya 

peristiwa semacam itu akan tampak absurd bagi banyak orang. Mereka akan berkata 

peristiwa itu tidak mungkin terjadi; Allah tidak akan membiarkan Gereja mengalami suatu 

situasi yang sedemikian mengenaskannya. Bidah-bidah mungkin bermunculan dan menyebar 

dan bertahan selama kurun waktu yang luar biasa panjang, yang diakibatkan oleh kesalahan dan 

yang menyebabkan kebinasaan para pencipta serta pendukungnya, yang juga menyebabkan 

kegelisahan para umat beriman, yang membesar akibat penganiayaan yang nyata di banyak 

tempat di mana kaum bidah menjadi dominan. namun  perkara apakah Gereja yang sejati harus 

berada antara tiga puluh dan empat puluh tahun tanpa seorang Kepala yang sepenuhnya 

pasti, dan tanpa wakil Kristus di atas bumi, hal ini tidak akan terjadi. Namun hal ini sudah 

pernah terjadi; dan kita tidak mempunyai jaminan bahwa hal ini tidak akan terulang 

kembali, meskipun kita mungkin kuat mengharapkan hal yang sebaliknya. Yang hendak saya 

simpulkan yaitu  bahwa kita tidak boleh terlalu sigap untuk menyatakan apa yang mungkin 

dibiarkan terjadi oleh Allah. Kita tahu dengan kepastian yang mutlak bahwa Ia akan 

menepati janji-janji-Nya … Kita juga boleh percaya bahwa Ia akan melakukan apa yang jauh 

lebih besar dibandingkan  kewajiban yang diikatkan-Nya kepada diri-Nya sendiri dengan janji-janji-

Nya. Kita boleh dengan penuh suka menantikan kemungkinan diri kita ke depannya diselamatkan 

dari masalah dan bencana-bencana tertentu yang telah menimpa di masa lalu. Namun kita, atau 

para penerus diri kita yaitu generasi-generasi orang Kristiani di masa depan, mungkin akan 

melihat kejahatan-kejahatan yang lebih ganjil dibandingkan  yang pernah dialami sebelumnya, 

bahkan sebelum peristiwa yang satu itu akan segera terjadi, yaitu berakhirnya segala sesuatu di 

atas bumi yang akan mendahului hari penghakiman. Saya bukannya sedang berbuat sebagai 

seorang nabi, tidak pun saya sedang berpura-pura menyaksikan keajaiban-keajaiban yang 

menyedihkan yang sama sekali tidak saya ketahui. Saya hanya bermaksud untuk 

mengungkapkan bahwa ketidakpastian-ketidakpastian sehubungan Gereja, yang tidak 

dimustahilkan oleh janji-janji Ilahi, tidak dapat dipandang secara praktik sebagai mustahil, 

hanya sebab  hal-hal semacam itu akan menjadi sangat amat mengerikan dan 

menggelisahkan.”28 

Romo O’Reilly berkata bahwa andaikata Skisma Barat Besar tidak pernah terjadi, orang-orang akan 

berkata bahwa peristiwa itu sama sekali mustahil dan bertentangan dengan janji-janji Kristus kepada 

Gereja-Nya, dan bahwa kita tidak bisa memustahilkan kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang 

serupa atau yang mungkin lebih buruk di masa depan sebab  peristiwa-peristiwa semacam itu akan 

menjadi sangat amat mengerikan dan menggelisahkan. 


6. Gereja Katolik Mengajarkan bahwa 

Seorang Bidah Akan Langsung Berhenti 

Menjadi Paus, dan bahwa Seorang Bidah 

Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus yang 

Terpilih Secara Sah 

The Catholic Encyclopedia {Ensiklopedia Katolik}, “Heresy [Bidah]” 1914, Vol. 7, hal. 261: 

“Seandainya Sri  Paus sendiri secara terbuka bersalah atas bidah,  ia akan berhenti 

menjadi seorang Paus sebab  ia berhenti menjadi anggota Gereja.”1 

Bidah (heresy dalam bahasa Inggris) yaitu  penolakan atau keraguan yang tegar dari orang yang telah 

dibaptis tentang suatu artikel/pasal dari Iman ilahi dan Katolik. Dalam kata lain, orang yang telah 

dibaptis yang secara sengaja menyangkal ajaran otoritatif Gereja Katolik yaitu  seorang bidah. 

 

Martin Luther, kemungkinan seorang bidah yang paling terkenal di dalam sejarah Gereja, mengajarkan 

banyak ajaran sesat, antara lain, Pembenaran melalui iman saja 

Di samping para Anti-Paus yang memimpin dari Roma akibat pemilihan-pemilihan yang tidak kanonik, 

Gereja Katolik mengajarkan bahwa seandainya seorang Paus menjadi seorang bidah, ia akan secara 

otomatis kehilangan jabatannya dan berhenti menjadi Paus. Ini yaitu  ajaran semua Doktron dan Bapa 

Gereja yang membahas perkara ini: 

St. Robertus Bellarminus, Kardinal dan Doktor Gereja, De Romano Pontifice, II, 30 

“Seorang Paus yang yaitu  bidah secara manifes [terang-terangan] secara otomatis (per 

se) berhenti menjadi Paus dan kepala, layaknya ia berhenti menjadi seorang Kristiani dan 

seorang anggota dari tubuh Gereja. Maka dari itu, ia dapat dihakimi dan dihukum oleh Gereja. Ini 

yaitu  ajaran dari semua Bapa Kuno yang mengajarkan bahwa para bidah manifes langsung 

kehilangan semua yurisdiksi.” 

St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, II, 30: 

“Prinsip ini yaitu  prinsip yang teramat pasti. Seorang non-Kristiani sama sekali tidak 

Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus 

55 

 

dapat menjadi Paus, seperti yang diakui oleh Gaetanus sendiri (ib. C. 26). Alasan untuk hal 

ini yaitu  ia tidak bisa menjadi kepala dari sesuatu yang di dalamnya ia bukan seorang 

anggota; akan namun , barang siapa bukan seorang Kristiani bukanlah anggota Gereja, dan 

seorang bidah manifes bukan seorang Kristiani seperti yang diajarkan secara jelas oleh St. 

Siprianus (lib. 4, epist. 2), St. Atanasius (Scr. 2 cont. Arian), St. Agustinus (lib. De grat. 

Christ. Cap. 20), St. Hieronimus (contra Lucifer.) dan lain-lain; maka, seorang bidah 

manifes tidak dapat menjadi Paus.” 

St. Fransiskus de Sales (abad ke 17), Doktor Gereja, The Catholic Controversy {Kontroversi 

Katolik}, hal. 305-306: 

“namun  sewaktu ia [Sri Paus] yaitu  seorang bidah secara eksplisit, ia secara ipso facto 

jatuh dari pangkatnya dan berada di luar Gereja ....” 

St. Antoninus (1459):  

“Dalam kasus di mana Sri Paus menjadi seorang bidah, ia akan menyadari bahwa dirinya, 

oleh sebab  kenyataan itu sendiri dan tanpa vonis lainnya, terpisah dari Gereja. Sebuah 

kepala yang terpisah dari sebuah tubuh tidak mungkin, selama kepala itu tetap terpisahkan, 

merupakan kepala dari tubuh yang sama, yang darinya kepala itu terpenggal. Maka dari itu, 

seorang Paus yang akan terpisah dari Gereja akibat bidah, ia, akibat kenyataan itu sendiri, 

berhenti sebagai kepala Gereja. Ia tidak dapat menjadi seorang bidah dan tetap menjadi 

Paus, sebab, sebab  ia berada di luar Gereja, ia tidak dapat memiliki kunci-kunci Gereja.” 

(Summa Theologica, dikutip di dalam Actes de Vatican I. V. Frond pub.) 

Kenyataan bahwa seorang bidah dapat menjadi Paus bersumber dari dogma bahwa para 

bidah bukanlah anggota Gereja Katolik 

Harus dicatat bahwa ajaran dari para kudus dan Doktor Gereja, yang dikutip di atas – bahwa seorang 

Paus yang menjadi seorang bidah secara otomatis berhenti menjadi Paus – bersumber dari dogma yang 

infalibel bahwa seorang bidah bukanlah anggota Gereja Katolik. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino,” 1441: 

“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa ‘semua 

orang yang berada di luar Gereja Katolik, bukan hanya orang-orang pagan namun  juga Yahudi 

atau bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal dan akan 

masuk ke dalam api yang kekal yang telah disiapkan untuk iblis dan para malaikatnya,’ kecuali 

jika mereka bergabung ke dalam Gereja sebelum akhir hidup mereka ….”2 

Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#23) 29 Juni 1943: 

“ … tidak semua dosa, betapapun berat dan besarnya dosa itu, sedemikian rupa adanya sehingga 

oleh sebab  hakikatnya sendiri memisahkan seseorang dari Tubuh Gereja, seperti dosa 

skisma, atau bidah, atau kemurtadan.”3 

Kita dapat melihat Gereja Katolik mengajarkan bahwa bidah, skisma, atau kemurtadan memisahkan 

manusia dari Gereja. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896: 

“Praktik Gereja selalu sama, dan demikianlah pula penilaian yang semufakat dari para Bapa yang 

kudus: yaitu, bahwa mereka telah selalu menganggap sebagai terbuang dari persekutuan 

Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus 

56 

 

Katolik dan terasing dari Gereja siapa pun yang telah menyimpang bahkan sedikit pun dari 

doktrin yang diajukan oleh Magisterium yang autentik.”4 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9): 

“Tidak semua orang yang semata-mata tidak percaya akan hal-hal ini (yakni, bidah-bidah yang 

telah disebutkan) dengan demikian dapat menganggap atau menyebut dirinya sendiri Kristen 

Katolik. Sebab mungkin ada  atau mungkin muncul bidah-bidah lainnya yang tidak 

disebutkan di dalam karya kami ini, dan barang siapa menganut satu pun dari bidah-bidah 

ini , ia bukan seorang Kristen Katolik.”5 

Paus Inosensius III, Eius exemplo, 18 Desember 1208: 

“Dari hati kami percaya dan dari mulut kami mengakui Gereja yang satu, yang tidak terdiri 

dari para bidah, melainkan Gereja Roma yang Kudus, Katolik, dan Apostolik di luar mana kami 

percaya bahwa tidak seorang pun diselamatkan.”6 

Maka, gagasan bahwa seorang bidah akan berhenti menjadi Paus bukanlah sekadar opini dari beberapa 

orang kudus dan doktor Gereja tertentu; gagasan itu merupakan suatu fakta yang tecara tak terpisahkan 

terikat dengan ajaran dogmatis. Kebenaran yang secara tak terpisahkan terikat dengan ajaran dogmatis 

disebut sebagai suatu fakta dogmatis. Maka, gagasan bahwa seorang bidah tidak dapat menjadi Paus 

yaitu  suatu fakta dogmatis. Seorang bidah tidak dapat menjadi Paus, sebab seseorang yang berada di 

luar Gereja tidak dapat mengepalai lembaga yang di dalamnya ia bahkan bukan seorang anggota. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#15), 29 Juni 1896: 

“Tidak seorang pun yang tidak berada dalam persekutuan dengan Petrus dapat mengambil 

bagian dalam otoritasnya, sebab, yaitu  suatu hal yang absurd untuk membayangkan bahwa 

seseorang yang berada di luar Gereja dapat memerintah di dalam Gereja.”7 

Paus Paulus IV mengeluarkan sepucuk Surat Bulla Kepausan yang secara 

khidmat mendeklarasikan bahwa pemilihan seorang bidah sebagai Paus 

bersifat batal demi hukum 

Pada tahun 1559, Paus Paulus IV mengeluarkan sepucuk Surat Bulla Kepausan yang membahas perkara 

kemungkinan terpilihnya seorang bidah menjadi Paus. 

 

 

(Paus Paulus IV) 

Sewaktu Paulus IV mengeluarkan Surat Bulla ini  (yang dikutip di bawah) tersebar desas-desus 

bahwa salah seorang dari para kardinal diam-diam yaitu  seorang Protestan. Untuk mencegah 

Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus 

57 

 

terpilihnya seorang bidah semacam itu untuk mengambil jabatan Kepausan, Paus Paulus IV secara 

khidmat mendeklarasikan bahwa seorang bidah tidak dapat terpilih secara sah menjadi Paus. 

Berikut bagian yang relevan dari Surat Bulla ini . Anda dapat melihat Surat Bulla ini secara lengkap 

di dalam situs internet kami. 

Paus Paulus IV, Surat Bulla Cum ex Apostolatus Officio, 15 Februari 1559: 

”1 ... menimbang kenyataan bahwa … manakala bahaya menjadi semakin besar, bahaya itu pun 

harus ditangani secara lebih penuh dan giat, agar para nabi palsu ataupun orang-orang lain yang 

memiliki yurisdiksi sekuler tidak dengan durjananya menjebak jiwa-jiwa dari orang-orang yang 

sederhana dan menyeret bersama diri mereka sendiri ke dalam kebinasaan serta pengutukan 

yang jahanam orang-orang yang tak terhitung jumlahnya yang telah dipercayakan kepada 

perhatian dan pemerintahan mereka dalam perkara-perkara rohani maupun duniawi, dan 

agar Kami tidak akan mendapat  kemalangan untuk 

melihat sang Pembinasa keji, yang telah dibicarakan 

oleh sang nabi Daniel, di dalam Tempat Suci dan dalam 

keinginan diri Kami (sejauh mana Kami sanggup dengan pertolongan Allah, dan demi tanggung 

jawab penggembalaan Kami) untuk menangkap rubah-rubah yang menyibukkan diri untuk 

menghancurkan kebun anggur Tuhan, dan untuk menghalau serigala-serigala dari kandang 

domba, agar Kami tidak tampak seperti anjing yang bisu yang tidak sanggup menggonggong, dan 

binasa bersama dengan para petani yang jahat, dan diumpakan seperti pekerja upahan … 

6. Di samping itu, [dengan Konstitusi Kami ini, yang tetap valid untuk selamanya … Kami 

memberlakukan, menetapkan, mendekretkan dan mendefinisikan bahwa:-] jika pada waktu 

kapan pun tampak bahwa Uskup mana pun (walaupun ia bertindak sebagai seorang Uskup 

Agung, Patriark atau Primat), atau Kardinal mana pun dari Gereja Roma yang telah 

disebutkan, bahkan seorang Duta Besar seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, atau 

bahkan Sri Paus Roma, sebelum promosinya atau pengangkatannya sebagai Kardinal atau 

Paus Roma, telah menyimpang dari Iman Katolik atau jatuh ke dalam suatu bidah: 

(i) promosi atau pengangkatan ini , bahkan jika tidak ditentang dan tercapai lewat 

persetujuan yang bulat suara dari semua Kardinal, tidak sah, batal, dan tidak bernilai; 

(ii) tidak pun promosi atau pengangkatan ini  dapat dikatakan telah memperoleh validitas, 

atau akan memperoleh validitas, melalui penerimaan jabatan dan konsekrasinya, atau melalui 

masa jabatannya yang selanjutnya dalam pemerintahan dan administrasi, atau peristiwa yang 

disebut-sebut sebagai penakhtaannya sebagai Sri Paus Roma sendiri, atau melalui upeti yang 

dibayar kepadanya, atau melalui kepatuhan yang diberikan kepadanya oleh semua orang, atau 

dengan berjalannya waktu dalam situasi yang terlebih dahulu; 

(iii) tidak pun satu bagian pun dari promosi atau pengangkatan ini  dapat dipandang sebagai 

legitim … 

(vi) dan orang-orang yang dipromosikan dan diangkat secara demikian secara otomatis dan 

tanpa perlu suatu deklarasi selanjutnya kehilangan segala jabatan, posisi, kehormatan, titel, 

otoritas, kedudukan dan kuasa ... 

10. Maka dari itu, tidak seorang pun diperkenankan untuk melanggar dokumen ini yang berasal 

dari kesetujuan, restorasi, sanksi, undang-undang, derogasi, kehendak, dan dekret Kami, atau 

dengan keberanian yang lancang menentangnya. Bagaimanapun, barang siapa sedemikian 

gegabahnya sehingga berupaya melakukannya, hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan 

Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus 

58 

 

mendapat  murka dari Allah yang Mahakuasa dan dari Rasul-Rasul yang terberkati, Petrus dan 

Paulus. 

Diberikan di Roma di Gereja Santo Petrus pada tahun Penjelmaan Tuhan kita, tahun 1559, pada 

tanggal 15 Februari, pada tahun keempat dari masa Kepausan Kami. 

+Saya, Paulus, Uskup Gereja Katolik ....” 

Dengan segenap otoritas Kepausannya, Paus Paulus IV mendeklarasikan bahwa pemilihan seorang bidah 

bersifat tidak valid, meskipun pemilihan itu berlangsung dengan persetujuan yang semufakat dari semua 

kardinal dan diterima oleh semua orang. 

Paus Paulus IV juga mendeklarasikan bahwa ia sedang membuat pernyataan ini untuk melawan 

kedatangan sang Pembinasa Keji, yang dibicarakan oleh Daniel, di dalam tempat suci. Hal ini 

sangat menakjubkan, dan kelihatannya mengindikasikan bahwa Magisterium Gereja sendiri 

menghubungkan kedatangan sang Pembinasa Keji di dalam tempat suci (Matius 24:15) dengan 

seorang bidah yang memampangkan diri sebagai Paus – kemungkinan sebab  sang bidah yang 

memampangkan diri sebagai Paus akan memberi  kita Pembinasa Keji di dalam tempat suci (Misa 

Baru), seperti yang kami percayai memang demikian adanya, atau sebab  sang Anti-Paus yang bidah 

sendiri merupakan Pembinasa Keji di dalam tempat suci. 

The Catholic Encyclopedia mengulangi kenyataan ini yang dideklarasikan oleh Paus Paulus IV dengan 

menyatakan bahwa pemilihan seorang bidah sebagai Paus akan, tentunya bersifat batal dan tidak valid. 

The Catholic Encyclopedia, “Papal Elections [Pemilihan Paus],” 1914, Vol. 14, 

hal. 456:  

“Tentunya, pemilihan seorang bidah, skismatis, atau perempuan 

[sebagai Paus] bersifat batal dan tidak valid.”8 

Sejalan dengan kenyataan bahwa seorang bidah tidak dapat menjadi Paus, 

Gereja mengajarkan bahwa para bidah tidak bisa didoakan di dalam  

kanon Misa 

Seorang Paus didoakan di dalam doa Te Igitur dari kanon Misa. namun , Gereja juga mengajarkan bahwa 

para bidah tidak bisa didoakan di dalam kanon Misa. Jika seorang bidah dapat menjadi Paus sejati, akan 

terjadi suatu dilema yang tidak terpecahkan. namun  hal ini  sebetulnya bukanlah sebuah dilema 

sebab  seorang bidah tidak dapat menjadi Paus yang valid: 

Libellus professionis fidei, 2 April 517, pernyataan iman yang ditetapkan di bawah Paus St. 

Hormisdas: “Dan, maka dari itu, saya berharap bahwa saya dapat menjadi layak untuk berada di 

dalam satu persekutuan bersama anda, yang diserukan oleh Takhta Apostolik, di dalam mana 

ada  keseluruhan dan kekukuhan agama Kristiani, yang berjanji bahwa di masa yang 

mendatang nama dari mereka yang terpisahkan dari persekutuan Gereja Katolik, yaitu, 

mereka yang tidak setuju dengan Takhta Apostolik, tidak akan dibacakan pada misteri-

misteri suci. namun  jika saya mencoba dengan cara apa pun untuk menyimpang dari pengakuan 

iman saya, saya mengakui bahwa saya sependapat bersama mereka yang telah saya kutuk. 

Bagaimanapun, dengan tangan saya sendiri, saya telah menandatangani pengakuan iman saya, 

Seorang Bidah Tidak Bisa Menjadi Seorang Paus 

59 

 

dan kepada anda, HORMISDAS, Paus yang suci dan terhormat dari Kota Roma, saya telah 

memberi nya.”9 

Paus Benediktus XIV, Ex Quo Primum (#23), 1 Maret 1756: 

“Di samping itu, para bidah dan skismatis terkena sensura ekskomunikasi mayor atas dasar 

hukum Kanon De Ligu. 23, quest. 5, dan Kanon Nulli, 5, dist. 19. namun  kanon-kanon suci milik 

Gereja melarang doa publik bagi orang-orang yang diekskomunikasikan seperti yang 

dapat kita lihat di dalam bab A nobis, 2, dan bab Sacris tentang vonis ekskomunikasi. 

Walaupun vonis ini tidak melarang doa demi berkonversinya diri mereka, namun demikian doa 

semacam itu tidak boleh dipanjatkan dengan mengucapkan nama-nama mereka dalam 

doa khidmat selama kurban Misa berlangsung.”10 

Paus Pius IX, Quartus Supra (#9), 6 Januari 1873: 

“Itulah sebabnya, Yohanes, Uskup Konstantinopel, dengan khidmat mendeklarasikan – dan 

seluruh Konsili Ekumenis Kedelapan melakukannya pula sesudah nya – ‘bahwa nama dari 

mereka yang terpisahkan dari persekutuan dengan Gereja Katolik, yaitu dari mereka yang 

tidak setuju dalam segala hal dengan Takhta Apostolik, tidak boleh dibacakan pada 

misteri-misteri suci.’”11 

 

 

7. Musuh-Musuh Gereja, Komunis dan 

Freemason, Membuat Sebuah Usaha yang 

Terorganisir untuk Menyusupi Gereja 

Katolik 

 

 

Para Anti-Paus dari sekte Vatikan II memberi  jabat tangan Masonik 

Paus Leo XIII, Dall’Alto (#2), 15 Oktober 1890:  

“Sekarang tidaklah lagi perlu untuk menjatuhkan penghakiman kepada sekte-sekte Masonik. 

Mereka telah dihakimi; tujuan mereka, jalan mereka dan doktrin-doktrin mereka, serta aksi mereka, 

seluruhnya telah diketahui dengan kepastian yang tidak terpungkiri. Dirasuki roh Setan yang 

memakai  mereka sebagai alatnya, mereka terbakar seperti ia {Setan} dengan sebuah 

kebencian yang mematikan dan tidak terpuaskan akan Yesus Kristus dan usaha-Nya; dan 

mereka bersusah payah dengan segala cara untuk menggulingkan dan merantainya.”1 

Paus Leo XIII, In Ipso (#1), 3 Maret 1891: 

“Bagaimanapun, hal ini menyedihkan kami untuk berpikir bahwa musuh-musuh Gereja, bersatu di 

dalam sebuah konspirasi yang terjahat, merencanakan untuk melemahkan dan bahkan, jika 

mungkin, menghapus sama sekali struktur yang menakjubkan yang Allah Sendiri telah 

dirikan sebagai naungan untuk umat manusia.”2 

yaitu  sebuah fakta yang diketahui secara umum bahwa para Komunis dan Freemason membuat usaha 

yang terorganisir untuk menyusup Gereja Katolik. Mereka mengutus orang-orang mereka sendiri ke 

Penyusupan Masonik dan Komunis 

61 

 

dalam imamat dengan harapan untuk melemahkan dan menyerang Gereja dengan cara memasukkan 

orang-orang ini ke dalam posisi-posisi tinggi. 

Bella Dodd melewatkan kebanyakan hidupnya di dalam Communist Party of America {Partai Komunis 

Amerika} dan ditunjuk menjadi Jaksa Agung jika partai ini  menang di Rumah Putih. sesudah  

meninggalkan partai ini , ia mengungkapkan bahwa salah satu tugasnya sebagai seorang agen 

Komunis yaitu  untuk menyemangati para radikal muda (tidak seluruh radikal muda ini  terdaftar 

sebagai Komunis) untuk memasuki seminari Katolik. Ia berkata bahwa sebelum ia telah meninggalkan 

partai ini  di AS, ia telah mendorong hampir 1.000 radikal-radikal muda untuk menyusup seminari-

seminari dan ordo religius; ia sendiri hanyalah satu Komunis. 

Bruder Joseph Natale, pendiri Biara Keluarga Terkudus, hadir di dalam salah satu ceramah Bella Dodd 

pada awal 1950-an. Ia berkata: 

“Saya mendengarkan wanita ini  selama empat jam dan ia membuat bulu kuduk saya berdiri. 

Semua yang ia katakan telah benar-benar terpenuhi. Anda akan berpikir bahwa ia yaitu  seorang 

nabi terbesar di dunia, namun  ia bukanlah seorang nabi. Ia hanya menguak langkah-langkah dari 

rencana peperangan Komunis untuk menyesatkan Gereja Katolik. Ia menjelaskan bahwa dari 

semua agama-agama dunia, Gereja Katolik yaitu  satu-satunya yang ditakuti oleh para Komunis, 

sebab  itulah satu-satunya musuhnya yang efektif.”3 

Bella Dodd berkonversi kepada Katolisisme pada akhir hidupnya. Berbicara sebagai seorang eks-

Komunis, ia berkata: “Pada tahun 1930-an, kami menempatkan seribu seratus pria untuk menjadi 

imam agar dapat menghancurkan Gereja dari dalam.” Idenya yaitu  agar para pria ini  

ditahbiskan, lalu memanjat tangga pengaruh dan otoritas sebagai monsinyur dan uskup. Pada waktu itu, 

katanya: “Sekarang mereka sudah berada di dalam tempat-tempat tertinggi di dalam Gereja. Mereka 

bekerja untuk mengubah aturan supaya Gereja Katolik menjadi tidak efektif melawan Komunisme.” Ia 

juga berkata bahwa perubahan-perubahan ini akan menjadi sangat drastis sampai “anda tidak akan 

mengenali Gereja Katolik.” (Ini yaitu  10 sampai 12 tahun sebelum Vatikan II.) 

Bruder Joseph lalu menceritakan apa yang Bella Dodd telah katakan: “Ide keseluruhannya yaitu  

untuk menghancurkan, bukan institusi Gereja, namun  Iman dari para umat, dan bahkan 

memakai  institusi Gereja, jika mungkin, untuk menghancurkan Iman lewat promosi sebuah 

agama palsu: sesuatu yang menyerupai Katolisisme, namun  bukanlah agama yang asli. Sekalinya Iman 

ini  dihancurkan, ia menjelaskan bahwa akan ada  sebuah kompleks rasa bersalah yang 

diperkenalkan ke dalam Gereja... untuk memberi label ‘Gereja zaman dahulu’ sebagai opresif, otoriter, 

penuh penghakiman, sombong dalam mengklaim sebagai satu-satunya pemilik kebenaran, dan 

bertanggung jawab untuk perpecahan-perpecahan badan-badan keagamaan selama berabad-abad. Hal 

ini akan menjadi diperlukan untuk memaksakan pemimpin-pemimpin Gereja ke dalam sebuah 

‘keterbukaan kepada dunia’, dan kepada sebuah sikap yang lebih fleksibel kepada seluruh agama dan 

filosofi. Para Komunis lalu akan mempergunakan keterbukaan ini untuk memperlemah Gereja.”4 

Para Freemason membuat usaha-usaha yang mirip untuk menyusup Gereja Katolik dan 

meluncurkan orang-orang mereka ke tingkat-tingkat tertinggi. Sebuah kelompok rahasia, Karbonari, 

yang dikenal sebagai Alta Vendita, menulis rangkaian Permanent Instructions {Instruksi Permanen}, atau 

Kode-kode Aturan, yang muncul di Italia pada tahun 1818. Hal itu menyatakan: 

”...Telah menjadi kewajiban kelompok-kelompok rahasia untuk membuat langkah pertama 

kepada Gereja dan kepada Paus, dengan maksud menaklukan keduanya. Usaha dengan mana 

kami mengikat diri sendiri bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu hari, ataupun sebulan, 

Penyusupan Masonik dan Komunis 

62 

 

tidak pun setahun. Usaha itu mungkin berlangsung selama bertahun-tahun, mungkin satu abad... 

Yang harus kita minta, yang harus kita cari dan nantikan, layaknya para Yahudi 

menantikan sang Mesias, yaitu  seorang Paus yang sesuai keinginan kita. Kita memerlukan 

seorang Paus untuk diri kita sendiri, jika Paus yang sedemikian mungkin adanya. Dengan Paus 

yang seperti itu, kita akan berjalan dengan lebih aman untuk menyerbu Gereja, dibandingkan  dengan 

buku-buku kecil Prancis dan Inggris dari saudara-saudara kita.”5 

Dokumen Freemason yang sama membuat prediksi yang menakjubkan berikut: 

“Di dalam waktu seratus tahun... para uskup dan imam akan berpikir bahwa mereka berjalan 

di belakang bendera dan kunci Petrus, padahal faktanya mereka akan mengikuti bendera 

kita... Reformasi ini  harus dijalankan dalam nama kepatuhan.”6 

Badan-badan dan orang-orang ini  yang termasuk gerakan-gerakan ini  yaitu  para agen yang 

digunakan Setan untuk menyerang Gereja Kristus yang sejati. 

Efesus 6:12- “sebab  perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, namun  melawan 

pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang 

gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” 

Pada tanggal 3 April 1844, pemimpin dari Alta Vendita yang bernama Nubius menulis sebuah surat 

kepada seorang mason yang tinggi jabatannya. Surat ini  berbicara kembali tentang sebuah 

rencana untuk menyusup Gereja Katolik, dan usaha untuk memasukkan seorang ‘Paus’ masonik, 

yang akan mempromosikan agama Freemasonry. “Sekarang, untuk memastikan bahwa seorang Paus 

sesuai kebutuhan {kita}, kita harus pertama-tama mempersiapkan sebuah generasi yang layak akan 

kerajaan yang kita impikan... Hendaknya para imam bergerak di bawah bendera anda (bendera 

masonik) dengan memercayai bahwa mereka maju di bawah bendera kunci apostolik. Tebarkan 

jalamu seperti Simon bin Yunus; tebarkanlah jalamu ke bawah sakristi, seminari, dan biara... Anda akan 

menyelesaikan sebuah revolusi yang berpakaian mahkota tripel Paus dan jubah, membawa salib dan 

benderanya, sebuah revolusi yang hanya memerlukan sebuah dorongan kecil untuk menyalakan api di 

dalam keempat sudut dunia.”7 

Eliph Levi, Freemason, berkata pada tahun 1862: “Suatu hari akan datang di mana sang Paus... akan 

menyatakan bahwa semua ekskomunikasi dihapuskan dan semua kutukan ditarik, waktu di mana semua 

umat Kristiani akan bergabung di dalam Gereja, di mana para Yahudi dan Muslim akan diberkati dan 

dipanggil kembali ke dalamnya... Gereja akan memperbolehkan semua sekte untuk mendekatinya dan 

memeluk semua manusia di dalam persekutuan cintanya dan doa-doanya. Lalu, para Protestan tidak lagi 

ada. Kepada siapa mereka akan berprotes? Sang raja Paus akan lalu benar-benar menjadi raja dari dunia 

rohani, dan ia akan melakukan apa yang ia inginkan bersama semua bangsa-bangsa dunia.”8 

Seorang imam yang murtad dan seorang mantan pengacara hukum kanon,9 yang bernama Romo Roca 

(1830-1893), sesudah  diekskomunikasikan berkata: “Kepausan akan jatuh, ia akan mati di bawah pisau 

suci yang bapa-bapa dari konsili terakhir akan tempa.”10 Roca juga berkata: “Anda harus memiliki dogma 

baru, sebuah agama baru, sebuah pelayanan baru, dan ritus-ritus baru yang sangat menyerupai 

kepunyaan Gereja. Penyembahan ilahi yang dipimpin oleh liturgi, upacara, ritus dan aturan-aturan Gereja 

Katolik Roma akan sebentar lagi mengalami transformasi di dalam sebuah Konsili ekumenis.”11 

  

Penyusupan Masonik dan Komunis 

63 

 

8. Revolusi Vatikan II (1962-1965) 

Yves Marsaudon, Freemason derajat ke-33 dari Ritus Skotlandia, 1965: 

” ... gagasan yang pemberani tentang kebebasan berpendapat ... – di sini, seseorang dapat 

berbicara secara benar tentang suatu revolusi yang telah datang dari loji-loji Masonik 

kami – telah dengan agung membentangkan sayapnya di atas kubah Basilika St. Petrus.”1 

 

(Suatu sesi Vatikan II) 

Vatikan II yaitu  suatu konsili yang berlangsung dari tahun 1962-1965. Vatikan II yaitu  sebuah konsili 

sesat yang merupakan suatu revolusi melawan ajaran dan Tradisi Katolik selama 2000 tahun. Vatikan II 

memuat banyak ajaran sesat yang secara langsung dikutuk sebelumnya oleh para Paus dan konsili-

konsili yang infalibel, seperti yang kita akan lihat. Vatikan II berupaya untuk memberi  kepada para 

umat Katolik suatu agama yang baru. Di dalam kurun waktu pasca-Vatikan II, perubahan-perubahan 

besar di setiap aspek Iman Katolik berlanjut, termasuk implementasi sebuah Misa Baru. 

 

(Sebelum Vatikan II)    (sesudah  Vatikan II) 

Vatikan II juga mengeluarkan praktik-praktik baru serta pandangan-pandangan baru terhadap agama-

agama lain. Gereja Katolik tidak dapat mengubah ajarannya tentang agama-agama lain dan bagaimana ia 

memandang anggota-anggota agama-agama lain, sebab  hal-hal semacam ini yaitu  kebenaran Iman 

Revolusi Vatikan II 

65 

 

yang disampaikan oleh Yesus Kristus. Vatikan II mencoba untuk mengubah kebenaran-kebenaran Gereja 

Katolik ini . 

Vatikan II dihimpun oleh Yohanes XXIII, dan secara khidmat dipermaklumkan dan diteguhkan oleh 

Paulus VI pada tanggal 8 Desember 1965. Vatikan II bukanlah suatu konsili umum atau ekumenis yang 

sejati dari Gereja Katolik sebab , seperti yang kita akan lihat secara rinci, konsili ini diadakan dan 

diteguhkan oleh para bidah manifes (Yohanes XXIII dan Paulus VI) yang tidak memenuhi syarat untuk 

terpilih sebagai Paus (lihat Konstitusi Apostolik Paulus IV di atas). Buah-buah Vatikan II sangatlah mudah 

untuk dilihat. Seorang Katolik yang jujur yang hidup sebelum konsili ini  dan yang 

membandingkannya dengan agama yang ada  di dalam dioses-dioses di zaman ini dapat memberi  

kesaksian akan fakta bahwa Vatikan II memulai suatu agama baru. 

- Bidah yang Paling Spesifik di dalam Vatikan II – 

Vatikan II memakai  kata kerja yang digunakan oleh Konsili Florence untuk 

mengajarkan hal yang justru berlawanan 

Konsili Florence secara dogmatis mendefinisikan bahwa seorang individu yang memiliki suatu 

pandangan yang berlawanan dengan ajaran Gereja Katolik tentang Tuhan kita Yesus Kristus atau Allah 

Tritunggal, atau salah satu pun dari kebenaran-kebenaran tentang Tuhan kita atau Allah Tritunggal, 

ditolak oleh Allah. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Bulla Cantate Domino, 1442, ex cathedra: 

” ... Gereja Roma yang Kudus, yang dibangun oleh suara Tuhan dan Juru Selamat kita, dengan 

teguh percaya, mengakui, dan mengkhotbahkan satu Allah yang esa dan sejati, Mahakuasa, yang 

tidak dapat berubah dan abadi; Bapa, Putra, dan Roh Kudus … Maka, semua orang yang 

percaya akan pandangan-pandangan yang bertentangan atau berlawanan, Gereja 

mengutuk, menolak, menganatemakan, dan mencela mereka sebagai terasing dari tubuh 

Kristus yang yaitu  Gereja.”2 

Ini yaitu  definisi dogmatis yang infalibel dari Gereja Katolik tentang individu-individu yang memiliki 

pandangan tentang Tuhan kita Yesus Kristus atau Allah Tritunggal Mahakudus yang berlawanan dengan 

pandangan Gereja (misal. orang-orang Yahudi, Muslim, dsb.). Konsili Florence mendefinisikan secara 

khidmat bahwa siapa pun yang memiliki pandangan yang berlawanan dengan pandangan Gereja tentang 

Tuhan kita dan Allah Tritunggal (misal. orang-orang Yahudi) dikutuk dan ditolak! Catatan: Konsili 

Florence tidak semata-mata berkata bahwa pandangan yang berlawanan tentang Tuhan kita ditolak, 

namun  bahwa individu ini  (misal. orang Yahudi itu) ditolak. Dogma ini bersumber dari kebenaran 

yang secara spesifik diwahyukan oleh Tuhan kita di dalam Kitab Suci. 

Matius 10:33- “namun  barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan 

menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” 

Kata “menyangkal” berarti menolak. Orang yang menyangkal Tuhan kita ditolak oleh-Nya. namun  di 

dalam Dekret tentang Agama-Agama Non-Kristiani, Vatikan II justru mengajarkan hal yang sama sekali 

berlawanan. 

  

Revolusi Vatikan II 

66 

 

Deklarasi Vatikan II, Nostra Aetate (#4):  

“Walaupun Gereja yaitu  umat Allah yang baru, namun orang-orang 

Yahudi tidak boleh digambarkan sebagai ditolak atau dikutuk oleh 

Allah, seakan-akan hal itu berasal dari Kitab Suci.”3 

Vatikan II menyangkal kebenaran yang diwahyukan secara ilahi di dalam Matius 10:33, yang 

didefinisikan secara khidmat oleh Konsili Florence. Ajaran Vatikan II jelas merupakan bidah. 

namun  bidah ini  menjadi lebih buruk jika seseorang mempertimbangkannya dengan lebih rinci. Jika 

anda meragukan bidah ini, pertimbangkan hal berikut: 

Vatikan II vs. Konsili Dogmatis Florence 

 

 

Nostra Aetate #4 dari Vatikan II: ”... orang-orang 

Yahudi tidak boleh digambarkan sebagai ditolak 

atau dikutuk oleh Allah ….” 

 

 

Vatikan II, Nostra Aetate #4, Latin Orisinal: 

“…Iudaei tamen neque ut a Deo reprobati neque ut 

maledicti exhibeantur…”4 

Konsili Dogmatis Florence: “Maka, semua orang 

yang percaya akan pandangan-pandangan yang 

bertentangan atau berlawanan, Gereja mengutuk, 

menolak, menganatemakan, dan mencela mereka 

sebagai terasing dari tubuh Kristus yang yaitu  

Gereja.” 

 

Konsili Florence dalam bahasa Latin: 

“Quoscunque ergo adversa et contraria 

sentientes damnat, reprobat et anathematizat 

et a Christi corpore, quod est ecclesia, alienos 

esse denuntiat.”5 

 

Untuk membuat deklarasi dogmatis yang infalibel bahwa Gereja menolak semua orang yang memiliki 

pandangan yang berlawanan terhadap iman akan Tuhan kita atau Allah Tritunggal, Konsili Florence di 

dalam bahasa Latin orisinalnya memakai  kata “reprobat”, yang berarti “menolak”. Kata ini 

berasal dari kata kerja Latin reprobo, yang berarti “Saya menolak” atau “mengutuk”.  

namun  kenyataan yang sungguh menakjubkan yaitu  demikian: Di dalam Nostra Aetate #4 (Dekret 

Vatikan II tentang Agama-Agama Non-Kristiani), untuk menyatakan hal yang sepenuhnya berlawanan, 

Vatikan II memakai  kata kerja yang sama! Vatikan II memakai  “reprobati”, yang merupakan 

partisip perfek pasif dari reprobo – kata kerja yang sama yang digunakan oleh Konsili Florence! 

Hal ini berarti Vatikan II dan Konsili Florence sedang berbicara tentang hal yang persis sama – 

keduanya memakai  kata kerja yang sama – dan keduanya mengajarkan hal yang sama sekali 

berlawanan! Gereja Katolik mendefinisikan bahwa Gereja me-reprobat-kan (menolak) semua individu 

(orang Yahudi, dsb.) yang berpendapat secara berlawanan dengan Iman akan Kristus atau Allah 

Tritunggal. Vatikan II mengatakan bahwa para Yahudi tidak boleh digambarkan sebagai “reprobati” 

(yakni, telah ditolak). Vatikan II hampir tidak dapat menentang dogma Katolik dengan lebih persis! 

Tidak mungkin ada keraguan bahwa Vatikan II menentang ajaran dogmatis dari Konsili Florence. 

Walaupun ada  banyak bidah yang terang-terangan di dalam Vatikan II, seperti yang kita akan lihat, 

seperti yang kita akan lihat, bidah ini yaitu  bidah yang paling spesifik. Seseorang yang menyangkal 

bahwa Vatikan II mengajarkan ajaran sesat, di hadapan fakta-fakta ini, hanyalah seorang pendusta. 

Bidah di dalam Deklarasi Vatikan II Nostra Aetate yaitu  fondasi teologis untuk ajaran Vatikan II di 

zaman ini tentang orang-orang Yahudi. Itulah alasan bahwa Vatikan pada masa kini menerbitkan buku-

Revolusi Vatikan II 

67 

 

buku yang mengajarkan bahwa para Yahudi sama sekali bebas untuk hidup seakan-akan Kristus belum 

datang. Itulah alasan bahwa sekte Vatikan II mengajarkan bahwa Perjanjian yang Lama tetap sah. Itulah 

alasan mengapa Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI melakukan perjalanan-perjalanan ke Sinagoga 

dalam upaya untuk memberi  validitas kepada agama Yahudi, yang akan kita lihat. 

Bidah-Bidah Utama yang Lain dari Vatikan II 

Sekarang kami akan membahas bidah-bidah lain yang ditemukan di dalam dokumen-dokumen Vatikan II 

berikut: 

1. Unitatis Redintegratio – Dekret tentang Ekumenisme 

2. Orientalium Ecclesiarum – Dekret tentang Gereja Katolik Timur 

3. Lumen Gentium – Konstitusi “Dogmatis” tentang Gereja 

4. Dignitatis Humanae – Deklarasi tentang Kebebasan Beragama 

5. Ad Gentes – Dekret tentang Aktivitas Misionaris 

6. Nostra Aetate – Dekret tentang Agama-Agama Non-Kristiani 

7. Gaudium et Spes – Konstitusi Gereja di dalam Dunia Modern 

8. Sacrosanctum Concilium – Konstitusi tentang Liturgi Kudus 

Ajaran-ajaran sesat di dalam tiap Dokumen 

1. Unitatis Redintegratio - Dekret Vatikan II tentang Ekumenisme 

 

Dokumen Vatikan II, Unitatis Redintegratio #1: 

“Bagaimanapun, hampir semua orang, walaupun dengan cara yang berbeda-beda, merindukan Gereja 

Allah yang satu, Gereja yang sungguh universal itu yang memiliki misi untuk mengonversikan seluruh 

dunia kepada Injil, agar dunia dapat memperoleh keselamatan, demi kemuliaan Allah.”6 

Pada permulaan dari dokumennya, Dekret tentang Ekumenisme, Vatikan II mengajarkan bahwa hampir 

semua orang merindukan suatu Gereja yang sungguh universal. Gereja manakah yang sungguh universal 

itu, yang memiliki misi untuk mengonversikan dunia kepada Injil? Gereja itu tentunya yaitu  Gereja 

Katolik, yang merupakan satu-satunya Gereja Kristus yang sejati. Lantas, apakah yang sedang 

dibicarakan oleh Vatikan II ini? Mengapa Vatikan II mengajarkan bahwa hampir semua orang 

merindukan Gereja Kristus yang sungguh universal itu, walaupun sebenarnya kita sudah memiliki Gereja 

semacam itu? Jawabannya: Vatikan II mengajarkan bahwa orang-orang harus merindukan Gereja Katolik 

Revolusi Vatikan II 

68 

 

yang sejati sebab  menurut ajaran Vatikan II, Gereja ini  belum ada! Bagi orang-orang yang ragu 

bahwa di sini, Vatikan II menyangkal adanya Gereja Katolik, kami akan mengutip interpretasi Yohanes 

Paulus II sendiri tentang paragraf ini. 

Yohanes Paulus II, Homili, 5 Des. 1996, berbicara tentang doa bersama orang-orang non-Katolik: 

“Sewaktu kita berdoa bersama, kita melakukannya dengan kerinduan ‘bahwa akan ada 

Gereja Allah yang satu dan kelihatan, Gereja yang sungguh universal dan yang diutus kepada 

seluruh dunia agar dunia dapat berkonversi kepada Injil dan oleh sebab  itu memperoleh 

keselamatan, demi kemuliaan Allah.’ (Unitatis Redintegratio, 1.).” 

Di sini kita melihat bahwa Yohanes Paulus II sendiri menegaskan bahwa kerinduan akan Gereja Allah 

yang satu dan kelihatan yaitu  kerinduan di kedua belah pihak – Katolik dan non-Katolik. Maknanya 

yaitu  bahwa di dalam Dekret tentang Ekumenisme-nya (yang dikutip oleh Yohanes Paulus II), Vatikan II 

memang merindukan Gereja Allah yang satu dan universal. Dengan demikian, Vatikan II menyangkal 

kenyataan bahwa Gereja Katolik yaitu  Gereja Kristus yang satu dan universal. 

Unitatis Redintegratio juga menegaskan bahwa semua orang-orang yang sudah dibaptis, yang mengaku 

“Kristen” berada di dalam persekutuan dengan Gereja dan memiliki hak untuk menyandang nama 

Kristen, tanpa menyebutkan sama sekali bahwa mereka perlu berkonversi kepada iman Katolik untuk 

memperoleh keselamatan. 

Vatikan II, Unitatis Redintegratio #3:  

“Sebab manusia yang percaya akan Kristus dan telah dibaptis secara valid berada di dalam 

persekutuan dengan Gereja Katolik walaupun persekutuan ini tidak sempurna. Perbedaan-

perbedaan yang ada dalam berbagai derajat antara mereka dan Gereja Katolik – baik dalam hal 

doktrin maupun terkadang dalam hal disiplin, atau mengenai struktur Gereja – memang 

menciptakan banyak hambatan, yang terkadang merupakan hambatan-hambatan yang serius 

terhadap persekutuan gerejawi yang penuh. Gerakan ekumenis berjuang untuk mengatasi 

hambatan-hambatan ini. namun  kendati hambatan-hambatan ini , tetaplah benar 

adanya bahwa semua orang yang telah dibenarkan oleh iman yang diterima di dalam 

Pembaptisan diinkorporasikan ke dalam Kristus, dan memiliki hak untuk menyandang 

nama Kristen, dan oleh sebab  itu, mereka secara benar diterima sebagai saudara-saudara 

oleh anak-anak Gereja Katolik.”7 

Perhatikan: Vatikan II mengajarkan bahwa para anggota sekte Protestan dan skismatis berada di dalam 

persekutuan dengan Gereja Katolik (walaupun persekutuan itu tidak sempurna), dan merupakan 

saudara-saudara dari Gereja yang sama, serta memiliki hak untuk menyandang nama Kristen. Gereja 

Katolik, sebaliknya, mengajarkan bahwa mereka berada di luar persekutuan Gereja dan terasing dari 

umatnya. Ajaran Gereja Katolik ini menentang secara langsung ajaran Vatikan II: 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896: 

“Adat Gereja selalu sama, dan juga diteguhkan oleh putusan semufakat para Bapa yang kudus. 

Mereka tentunya terbiasa menganggap siapa saja yang telah menyimpang sesedikit apa 

pun dari doktrin yang diajukan oleh Magisterium otoritatif, sebagai orang yang sama 

sekali bukan bagian dari persekutuan Katolik dan terasing dari Gereja.”8 

Kutipan berikut berasal dari sebuah artikel yang ada  di dalam publikasi yang dibaca banyak orang 

dan disetujui oleh sekte Vatikan II, St. Anthony Messenger [Utusan St. Antonius]. Kita dapat melihat 

bagaimana publikasi yang “disetujui” ini memahami ajaran Vatikan II dalam Dekret tentang Ekumenisme 

Vatikan II. 

Revolusi Vatikan II 

69 

 

Renee M. Lareau, “Vatican II for Gen-Xers {Vatikan II untuk Generasi X},” St. Anthony Messenger, 

November 2005, hal. 25:  

“Unitatis Redintegratio (Dekret tentang ekumenisme) dan Nostra Aetate (Deklarasi 

tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Non-Kristiani) mempertunjukkan 

perubahan-perubahan yang menonjol dalam sikap-sikap Gereja terhadap iman-iman yang 

lain. Jika kita mempertimbangkan institusi ini yang pada suatu kala picik, yang dahulunya 

menekankan bahwa tidak ada  keselamatan di luar Gereja dan bahwa Gereja Katolik yaitu  

Gereja Kristus yang satu dan sejati, keterbukaan pikiran yang merupakan ciri-ciri dari 

ajaran-ajaran ini sangatlah menakjubkan. Unitatis Redintegratio menegaskan bahwa 

Gereja mengikutsertakan semua orang Kristen dan tidak terbatas hanya kepada Gereja 

Katolik, sedangkan Nostra Aetate mengakui bahwa kebenaran dan kesucian agama-agama non-

Kristiani merupakan karya dari Allah benar yang esa dan yang sama.”9 

Apakah Renee salah mengerti Vatikan II? Tidak, kami baru saja menunjukkan bahwa Unitatis 

Redintegratio memang mengajarkan hal yang satu ini. Sekarang kita akan melihat bahwa dekret ini 

menentang bahwa Gereja sepenuhnya Katolik dan menegaskan bahwa sekte-sekte yang telah disebutkan 

memiliki keselamatan. 

Dokumen Vatikan II, Unitatis redintegratio (#4): 

“Bagaimanapun, perpecahan-perpecahan antara para umat Kristen mencegah Gereja untuk 

mewujudkan secara nyata Katolisitas yang penuh, yang merupakan ciri khas Gereja, di dalam diri 

para putra-putrinya yang, walaupun dijadikan miliknya oleh pembaptisan, tetap terpisahkan dari 

persekutuan yang penuh dengan Gereja. Di samping itu, Gereja sendiri merasakan kesulitan yang 

lebih besar untuk mengungkapkan di dalam kehidupannya yang riil segenap Katolisitasnya di 

dalam semua aspeknya.”10 

Di sini, di dalam #4 dari Dekret tentang Ekumenisme yang sama, Vatikan II menyangkal kenyataan bahwa 

Gereja Kristus sepenuhnya Katolik! Jika anda percaya akan ajaran Vatikan II ini, anda bahkan tidak akan 

dapat berdoa Aku Percaya: “Aku percaya akan... Gereja Katolik yang kudus.” Anda harus berkata “Aku 

percaya akan Gereja yang tidak sepenuhnya Katolik.” namun  mengapa Vatikan II mengajukan suatu bidah 

yang sedemikian konyolnya? ada  suatu alasan. Arti kata Katolik yaitu  “universal”. Seperti yang 

telah kita lihat, Vatikan II menolak bahwa Gereja Katolik yaitu  Gereja Kristus yang universal dengan 

mengajarkan bahwa semua orang merindukan Gereja yang universal, seolah-olah Gereja semacam itu 

tidak